Million Words – Chapter 3

Title                 : Million Words

Rate                 : T

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 3

Hari-hari berikutnya tidak bisa dibilang lebih baik untuk Kyuhyun juga Woobin. Kyuhyun tidak bisa berhenti mengumpat dalam hati dan menahan amarah setiap saat ketika Woobin menatapnya dalam-dalam dengan pandangan menjijikkan di dalam kelas lalu menjilat bibirnya dengan gaya sensual. Ingin sekali ia melemparkan jurnal-nya yang setebal karton pizza ke wajah tolol itu.

Ia tidak mengerti mengapa anak itu bisa bertingkah seperti pelacur kesepian sementara Kyuhyun tidak pernah memberinya perhatian apalagi sedikit pun celah. Namun anak lelaki yang berbeda sepuluh tahun darinya itu tampaknya amat sangat tidak peduli. Dan herannya ia tidak terganggu sama sekali dengan kenyataan bahwa Kyuhyun sudah punya Changmin.

Kyuhyun sudah berusaha mengabaikannya, terkadang membentaknya atau bahkan memaki anak itu. Tapi sama sekali ia tidak berhenti mengejar gurunya ini. Kyuhyun bahkan pernah mengancam akan melaporkannya pada pihak sekolah atau ke polisi sekalian agar Woobin berhenti.

Namun Woobin justru tertawa dengan mengatakan bahwa ia masih di bawah umur dan Kyuhyun adalah gurunya, sudah pasti yang akan terkena omelan adalah Kyuhyun sebagai guru yang dianggap tidak bisa mengatur muridnya sendiri atau bahkan mungkin mengada-ngada mengenai Woobin yang menyukainya. Mungkin bisa jadi ia benar-benar dituduh sebagai pedofilia.

“Cho songsaengnim..”

Kyuhyun memejamkan matanya seraya menahan emosinya. Ia mengenal suara itu. Siapa lagi kalau bukan salah satu monyet kesayangan Kim Woobin? Pasti ini ada kaitannya dengan lelaki tolol yang tengah membuatnya nyaris gila saat ini. Ia lalu berbalik dengan wajah datar dan dugaannya benar.

“Ya? Ada apa?”

Jongin dan Myungsoo terlihat sedikit ragu, namun kedua anak bandel yang sebenarnya sangat tampan itu akhirnya berbicara juga setelah beberapa detik.

“Hm.. Begini. Hari ini akan ada tes di kelas kami. Tes bahasa Inggris. Dan pengajarnya adalah Kim Youngwoon jadi..”

“Aku tahu itu.” potong Kyuhyun tak sabar, membuat Jongin kembali terlihat ragu.

Kim Myungsoo berdehem kecil lalu ikut bicara. “Kim Woobin tidak mau masuk kelas.”

Kyuhyun mendecih. “Seperti biasanya, bukan? Walaupun ia tidak masuk kelas, bukankah ia akan mendapatkan nilai seperti yang dia inginkan? Jadi untuk apa kalian cemas?”

“Bukan.. Bukan seperti itu, songsaengnim. Tapi.. Kim songsaengnim mengatakan bahwa jika siapa saja tidak mengikuti ujian kali ini, maka tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir bahasa Inggris nanti.” Jongin menjelaskan dengan nada yang lebih tegas daripada sebelumnya.

Namun Kyuhyun hanya menggeleng tak peduli. “Lalu mengapa kalian datang padaku? Bukankah ia adalah teman kalian? Kalian tinggal menyeretnya kemari atau hubungi Lee Hyukjae karena ia adalah wali kelas kalian. Gampang kan?”

“Kami bisa saja menyeretnya andai saja kami tahu ia ada dimana.” Kim Myungsoo langsung menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon. “Kami sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi ia tidak membalas pesan kami ataupun menjawab teleponnya. Kami pikir.. Mungkin anda bisa membantu.”

What??!! Membantu? Membantu anak nakal itu? Apa urusan Kyuhyun hingga ia harus mengusahakan agar anak itu mengikuti ujian? Untuk apa ia turun tangan sedangkan ia tidak merasa punya kewajiban terhadap anak itu?

Bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran yang ia ajarkan, ia juga bukan wali kelas Woobin. Jadi untuk apa ia bersusah payah membantu dua anak yang sama nakalnya dengan ketua mereka walaupun mereka tidak kurang ajar.

Tapi Kim Youngwoon adalah lelaki galak yang tidak pernah main-main jika mengancam muridnya. Jika ia mengatakan bahwa seseorang dilarang ikut pelajarannya selama sisa semester, maka hal itu benar-benar dilarang. Ia selalu tegas dalam mendidik muridnya.

Dan jika Woobin tidak mengikuti ujian, artinya anak itu tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir semester nanti. Dan artinya lagi, tanpa nilai akhir semester pertama, ia tidak akan diijinkan mengikuti kelas ataupun ujian di semester berikutnya padahal ini adalah tahun terakhirnya di sekolah ini. Apa Kyuhyun akan setega itu?

“Songsaengnim..”

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu tanpa menjawab kedua sahabat Woobin, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang pernah ia sumpahi tidak akan pernah dihubungi seumur hidupnya.

*

            “Kau sudah pulang?”

Kyuhyun berlari memeluk Changmin ketika lelaki jangkung yang berstatus tunangannya itu memasuki apartemen mereka setelah hampir dua minggu tidak pulang karena kegiatan yang berhubungan dengan yayasan keluarganya.

Changmin mengangguk singkat. Lalu dengan wajah lelah ia balas memeluk Kyuhyun kemudian mengecup dahinya sekilas.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Baik-baik saja. Dan aku lelah sekali. Aku akan mandi lalu tidur.”

Changmin baru akan beranjak ke kamar ketika Kyuhyun menahan tangannya. “Aku sudah menyiapkan masakan spesial malam ini, tidak bisakah kita makan bersama terlebih dahulu lalu kau beristirahat setelahnya?”

Changmin tampak berpikir sebentar. “Baiklah.”

Mereka makan dalam diam. Changmin tampak makan dengan setengah hati, wajar saja, ia sangat lelah. Namun Kyuhyun makan dengan berbagai pikiran di kepalanya. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya lalu menatap Changmin dengan ragu.

“Changmin-ah, hm.. Aku ingin pindah kerja.”

Changmin mengangkat wajahnya dari piringnya sambil masih terus mengunyah. “Kenapa?”

“Aku hanya ingin mengajar di tempat lain.”

“Tapi itu adalah sekolah terbaik di Seoul. Untuk apa mencari pekerjaan lain jika kau sudah punya yang terbaik?” tanya Changmin lagi.

“Kurasa.. aku bosan.”

“Sepertinya kau perlu angin segar. Kenapa tidak mengajukan cuti?”

“Disamping itu.. Ada seseorang yang membuatku tidak nyaman.” Kali ini suara Kyuhyun mengecil.

Changmin tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan isi piringnya dengan cepat, meneguk sisa air di gelasnya lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Kyuhyun.

“Jika ada masalah, bukankah seharusnya kau menyelesaikannya? Jika ada yang membuatmu tak nyaman, berusahalah menghadapinya, bukan lari seperti ini. Besok kita akan membicarakannya. Nah, aku akan mandi lalu beristirahat, tulangku serasa remuk semua.”

Ia bangkit dan meninggalkan Kyuhyun yang termenung sendiri. Kyuhyun sangat mengerti saat ini Changmin lelah. Tapi dengan waktunya yang minim untuk Kyuhyun, kapan lagi mereka bisa bicara dan mendiskusikan keresahan Kyuhyun saat ini? Kesibukan Changmin semakin menjadi-jadi karena perluasan cabang yayasan di beberapa tempat secara berkala, lalu kapan ia punya waktu untuk Kyuhyun?

“Ia terlalu lelah saat ini. Aku akan membicarakannya besok.” Kata Kyuhyun, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

*

            Keesokan harinya hingga beberapa minggu kedepan bukanlah waktu yang tepat untuk Kyuhyun dan Changmin. Jangankan membicarakan masalah Kyuhyun, bertemu saja mereka jarang. Jika Changmin tidak pergi ke luar kota, ia akan pulang lewat tengah malam dimana Kyuhyun sudah tertidur.

Terkadang ia berangkat terlebih dahulu sebelum Kyuhyun bangun karena mengejar rapat-rapat atau seminar yang telah menantinya dan meletakkan selembar note permintaan maaf di meja kecil di samping tempat tidur mereka untuk Kyuhyun.

Terkadang Kyuhyun bahkan yang bangun terlebih dahulu karena harus berangkat ke sekolah sementara Changmin belum bangun karena jadwalnya baru di mulai siang nanti. Dan Kyuhyun tidak akan tega membangunkan lelaki yang kelelahan yang terdengar dari dengkurannya. Mereka bahkan sudah tidak pernah berhubungan sex sejak beberapa bulan lalu.

Dan hal-hal seperti ini sudah berlangsung sejak dua tahun ini. jadi jangan salahkan jika tingkat kejenuhan Kyuhyun semakin menjadi-jadi belakangan ini karena kesibukan Changmin yang juga semakin meningkat.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun enggan menggeleng ataupun mengangguk. Ia bahkan melupakan es krim kesukaannya dan membiarkannya mencair sementara ia memikirkan hubungannya dengan Changmin yang terasa sangat hambar. Adakah yang bisa mengerti perasaannya saat ini?

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun menoleh, menyeruput juice jambunya sebentar lalu kembali memandang lelaki di depannya.

“Bersikaplah sedikit lebih sopan.” Kyuhyun menjawab dengan nada enggan yang terdengar sangat lemah. Ia lalu kembali menoleh ke jalanan luar.

Kim Woobin sedikit tersentak mendengarnya. Biasanya Kyuhyun akan mengomelinya atau bahkan langsung pergi jika Woobin mendekatinya.

‘Ada apa ini? Mengapa ia tidak seperti biasanya?’ pikir Woobin seraya menatap Kyuhyun heran.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun menghela nafas panjang. Pandangannya belum menoleh dari jalanan di luar sana. “Jawaban seperti apa yang kau inginkan?”

Sungguh, Woobin lebih baik mendengar Kyuhyun marah-marah seperti biasa. Memaki, mengumpat atau bahkan mencercanya dengan kalimat-kalimat menyakitkan hati daripada melihatnya seperti kehilangan semangat hidup seperti ini.

“Katakan padaku ada apa denganmu.” Kata Woobin lagi. Kali ini dengan nada yang cukup tegas.

“Pulanglah. Tinggalkan aku sendiri, jangan ganggu aku.” Kyuhyun menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia lelah. Sangat lelah. Ia butuh teman bicara. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritanya.

“Kau bisa menceritakan masalahmu padaku.”

Dengan cepat Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajahnya. ‘Apa benar anak ini tidak bisa membaca pikiranku? Ini sudah kedua kalinya ia menebak pikiranku dengan tepat.’

Kyuhyun menatap lelaki muda di depannya. Mata lelaki yang biasanya memancarkan sinar nakal kekanakan itu kini menatapnya tajam dengan sinar yang sulit ia artikan. Dan entah mengapa ia jadi sulit beranjak dari sana, terpaku dengan tatapan itu.

“Katakan padaku siapa yang membuatmu jadi seperti ini!”

Bagai cambuk, Kyuhyun segera tersadar mendengar suara berat itu. Ia tidak boleh berlama-lama dengan bocah ini. Ia bangkit dari duduknya lalu bergegas meninggalkan Woobin di café yang tadinya cukup membuatnya nyaman.

“Hei, tunggu aku. Aku tengah bertanya kepadamu. Mengapa kau melarikan diri seperti ini?” Woobin sudah muncul dan menghadang jalannya.

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Minggir!” bentak Kyuhyun kesal.

Kembali Woobin menghalangi jalannya. “Tidak sampai kau bicara mengenai apa yang membuatmu murung seperti tadi. Apa lelaki itu yang membuatmu seperti ini?”

Kyuhyun kembali tersentak. Namun kali ini bukan hanya dikarenakan suara Woobin yang meninggi tapi juga tebakan anak itu yang lagi-lagi tepat.

“Dia tunanganku! Dan ini urusan kami.” Jawab Kyuhyun enggan.

Ekspresi Woobin semakin mengeras. “Ah.. Jadi dugaanku benar kan? Lelaki brengsek itu yang membuatmu seperti ini. Apa yang ia lakukan padamu? Apa ia melukaimu?”

“Ya! Berhenti menyebutnya seperti itu. Dia tunanganku!” kini Kyuhyun menjerit keras hingga kerongkongannya terasa perih.

“Aku tahu!” Woobin balas menjerit keras.

“Bagus kalau kau mengerti! Jadi berhenti mengendus urusan pribadiku. Tugasmu hanya satu, belajar dengan baik agar kau bisa lulus sekolah tahun depan dan membuat kedua orang tuamu bangga. Bukan menjadi sampah di sekolah seperti yang selalu kau lakukan. Aku muak padamu!”

Woobin terdiam sejenak tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kyuhyun. “Setidaknya aku hanya merugikan diriku sendiri. Aku menjadi sampah untuk diriku sendiri. Aku tidak merugikan dirimu. Aku tidak merugikan orang tuaku karena aku tetap mendapatkan nilai yang baik dan aku tidak merugikan sekolah karena aku tetap membayar kewajibanku. Namun pantang bagiku menjadi sampah yang merugikan orang lain.”

Setelah itu Woobin berbalik pergi. Wajahnya yang sempat terlihat sedih segera ditutupinya dengan kacamata yang ia kantongi sedaritadi, meninggalkan Kyuhyun yang merasa amat bersalah karena bersikap kekanakan dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dikatakan oleh seorang guru kepada muridnya. Siapa yang kekanakan dan tidak dewasa kini?

*

            Kyuhyun benar-benar dilanda perasaan bersalah hingga beberapa hari kedepan. Kim Woobin masih melakukan kebiasaannya, hanya memasuki kelas jika ia menginginkannya. Ia juga bersikap acuh terhadap Kyuhyun yang membuat Kyuhyun setidaknya merasa beryukur karena tidak adanya penginterupsi setiap kegiatannya.

Namun di sisi lain ia merasa aneh. Jujur ia menikmati pertengkaran kecil yang hanya berdurasi tak lebih dari satu menit bersama Woobin beberapa hari lalu walaupun ia harus meminum pereda sakit untuk kerongkongannya setelah itu. Ia tidak punya banyak teman. Ia selalu bersama Changmin. Hidupnya adalah Changmin, teman-teman Changmin di yayasan dan kedua orang tua Changmin. Jadi ketika ia punya masalah seperti ini dan Changmin tengah sibuk dengan pekerjaannya, Kyuhyun akan merasa amat kesepian.

Kyuhyun memperhatikan Woobin yang tengah mengerjakan soal-soal pertanyaan yang diberikan Kyuhyun kepada seluruh kelas siang itu sebagai tes kecil untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan anak-anak didiknya dalam mencerna mata pelajaran yang ia ajarkan. Lelaki itu tampak mengisi lembaran kertas di atas mejanya dengan serius. Ia tampak jauh lebih baik daripada berkeliaran di luar kelas dengan sikap menyebalkan.

Tiba-tiba Woobin mengangkat wajahnya, menatap langsung ke wajah gurunya. Kyuhyun yang tersentak segera membuang pandangannya ke luar lain sambil mengumpat dalam hati.

Tak lama kemudian bel tanda sekolah sudah usai berbunyi. Kyuhyun bisa bernafas lega karena di menit-menit terakhir pelajarannya harus dihabiskan dengan menghindari tatapan tajam Kim Woobin.

“Kumpulkan kertas ujian kalian dan kalian boleh pulang.” Ujar Kyuhyun yang disusul bunyi kursi-kursi digeser dan langkah-langkah kaki bersemangat.

Dalam sekejap ruang kelas itu kosong, menyisakan Woobin dan kedua kroni-nya yang kini berdiri di depan meja guru, mengumpulkan kertas ujian mereka sendiri. Ketika Myungsoo dan Jongin sudah keluar, Woobin segera menyusul tanpa memandang Kyuhyun lagi.

“Maaf..” Kata Kyuhyun pelan ketika tubuh Woobin sudah nyaris keluar dari ruang kelas.

Kim Woobin berhenti di tempatnya. Ia tidak menjawab atau pun menoleh. Ia hanya berdiri di tempatnya, mendengarkan kalimat Kyuhyun.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Ia jadi agak menyesal kini melihat sikap Woobin yang acuh seperti itu.

“Maafkan kata-kataku beberapa hari lalu. Aku.. Aku sedang ada masalah dan benar-benar sedang tidak ingin berdebat jadi..”

Kebohongan lain Kyuhyun ciptakan karena malu. Tidak mungkin ia mengakui pada Woobin kalau ia menikmati pertengkaran mereka. Ia rindu berdebat. Ia rindu bertengkar dengan orang lain. Memperebutkan sesuatu,berargumen atau mempertahankan pendapat.

“Kata-kataku kemarin cukup bodoh. Maaf kalau membuatmu tersinggung.” Ujar Kyuhyun akhirnya.

Woobin belum menjawab apa-apa. Ia masih berdiri mematung selama beberapa detik lalu pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang. Kyuhyun menghela nafas lega karenanya. Setidaknya ia sudah meminta maaf atas kesalahannya. Terasa sangat menyiksa beberapa hari ini karena mengeluarkan kata-kata tolol kepada muridnya sendiri.

“Seperti biasa.. Tidak sopan dan tidak peduli.”

Kyuhyun beranjak keluar. Ia berpikir untuk singgah sebentar ke restaurant untuk membeli makanan. Lagi-lagi makan siang sendiri. Tapi apa boleh buat?

Namun alangkah terkejutnya ia melihat trio Kim berdiri di depan gerbang, apalagi Woobin kembali melayangkan tatapan tajam kepadanya.

‘Ada apa lagi ini?’ pikir Kyuhyun. ‘Apa ia masih tersinggung dengan kata-kataku tempo hari dan kini mengajak teman-temannya untuk mengeroyokku?’

“Songsaenim.. Apa anda akan pulang?”

Kyuhyun menatap Jongin dengan ragu. Anak itu tersenyum, namun Kyuhyun khawatir hal buruk akan menimpanya jika ia ikut tersenyum.

“Kami juga akan pulang tapi seperti biasa, kami ingin makan siang terlebih dahulu bersama.” Kali ini Kim Myungsoo yang berbicara.

Kyuhyun masih belum berani menjawab. Jadi ketiganya akan makan siang sebelum pulang. Tunggu, makan siang? Jangan bilang Kyuhyun akan menjadi santapan makan siang mereka karena berani membuat pimpinan mereka tersinggung. Bulu kuduk Kyuhyun jadi sedikit meremang karenanya.

“Kami ingin kau ikut dengan kami. Bukankah makan siang beramai-ramai jauh lebih menyenangkan daripada makan sendirian?” akhirnya Woobin angkat bicara setelah sekian lama ia hanya memandangi wajah Kyuhyun tanpa berkedip.

“Aku?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk dirinya sendiri. “Makan siang bersama kalian?”

Myungsoo dan Jongin mengangguk. Senyum lebar masih terpatri di wajah tampan keduanya. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Kim Woobin sudah menarik tangannya. Detik berikutnya ia sudah berada di dalam mobil, duduk di kursi belakang berdampingan dengan sang pemilik mobil sementara Jongin duduk di depan menemani Myungsoo yang bertugas mengemudi siang itu.

*

            Dari satu makan siang berlanjut ke makan siang lainnya. Kyuhyun baru tahu bahwa Jongin dan Myungsoo adalah anak-anak pejabat kota Seoul tapi tidak pernah membuka identitas mereka di depan teman-teman sekolahnya dan bertindak seolah-olah mereka lahir dari keluarga biasa.

Dan Kim Woobin yang selalu bersikap seenaknya ternyata adalah sahabat yang sangat setia serta merupakan anak yang sangat menyayangi ibunya. Walaupun ia tengah melakukan hal yang disukainya, jika ibunya menelepon karena butuh bantuan, saat itu juga Woobin akan mendatangi ibunya. Membuat Kyuhyun menggeleng tak percaya mengetahui kenyataan yang sangat kontras dengan kelakuan Woobin di sekolah. Don’t judge the book by it’s cover!

Seperti Jongin dan Myungsoo menyayangi Woobin, mereka juga menyayangi Kyuhyun. Mungkin dikarenakan akhir-akhir ini mereka sering bersama Kyuhyun, atau karena Woobin menyukai Kyuhyun, atau karena Kyuhyun dengan berbaik hati memberi mereka ‘pelajaran tambahan’ di sela-sela pertemuan mereka yang sangat berguna dalam pelajaran geografi.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Kyuhyun merasa hidup kembali. Ia punya teman-teman baru, atau mungkin adik-adik baru, dimana ia bisa merasa cemas ketika adik-adiknya belum juga muncul di sekolah tepat pada waktunya, atau adik-adiknya terkena masalah atau bahkan ketika mereka mengeluh mengenai hal-hal kecil. Ia jadi punya banyak teman bicara, lebih sering mengomel dan memberi nasihat juga teman berdebat.

Terutama ketika Kim Woobin ikut di dalam pembicaraannya dengan Jongin dan Myungsoo. Woobin akan bertindak seperti sahabat yang mengenal duo Kim selama bertahun-tahun sedangkan Kyuhyun akan bertindak sebagai kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya. Jika ia akhirnya kalah berdebat dengan Woobin, ia akan kembali menjadi Cho songsaengnim yang bisa mengancam akan memberikan nilai jelek kepada murid-muridnya yang suka membangkang. Kalau sudah begini, kemenangan sudah pasti ada di tangan Kyuhyun.

Kyuhyun benar-benar menyukai hari-harinya kini. Ia tidak lagi sedih ataupun kesepian. Ia tidak harus menghabiskan hari-hari membosankan seorang diri di apartemen ketika Changmin tidak ada karena trio Kim membuatnya selalu sibuk. Sibuk bepergian, berbelanja, atau bahkan mengomel.

“Aku senang kau kini lebih banyak tersenyum. Dulu kau selalu murung.” Kata Woobin di balik kemudi ketika mengantar Kyuhyun pulang malam itu. Mereka baru saja selesai jalan-jalan dengan Jongin dan Myungsoo di penghujung minggu itu. Dan kedua sahabatnya itu melarikan diri agar Woobin bisa mengantar Kyuhyun pulang sendirian setelah acara mereka sepanjang hari itu telah usai.

“Aku tidak murung dahulu. Aku hanya sedang banyak masalah.” Sambar Kyuhyun cepat.

“Tetap saja kau murung. Lihatlah bagaimana menyenangkannya hidupmu sekarang setelah kami bertiga muncul di kehidupanmu.” Serang Woobin lagi.

“Ohhh.. Sangat membuatku menderita. Mengomel lebih banyak, menghabiskan asupan energiku.” Balas Kyuhyun dengan nada sarkastik.

“Tapi kau menyukainya, jangan bohong. Aku bisa melihatmu sangat cemas pada kami. Kau tahu, mengomel tanda menyayangi.” Kata Woobin lagi.

Kyuhyun tersenyum kecil. Ia memang menyukainya. Berdebat seperti ini, membuatnya bisa merasakan ketegangan di dadanya, bahkan ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Segalanya menyenangkan. Atau mungkin terlihat menyenangkan karena ia tengah berada dalam puncak kejenuhan? Ia tidak tahu, yang jelas Kyuhyun menikmati segalanya yang terjadi saat ini. Dan melupakan sejenak masalah pribadinya.

“Kita sudah sampai.”

Kata-kata Woobin membawanya kembali ke dunia nyata, meninggalkan lamunanya sebentar. Ia memandang areal parkir yang ia kenal selama ini sebagai areal parkir apartemennya.

“Terima kasih untuk hari ini. Katakan pada Jongin dan Myungsoo kalau aku akan menjewer mereka besok di sekolah karena berani melarikan diri hari ini. Dan ingat janjimu tadi bahwa kau akan masuk ke kelas besok pagi.”

“Shireo!”

“Ya! Kau sudah berjanji.” Kata Kyuhyun. Lagi-lagi emosinya dibuat naik.

“Aku akan masuk untuk menyimpan tasku di loker. Setelah itu aku akan keluar.” Jawab Woobin seenaknya.

“Kim Woobin!”

“Sudah kukatakan, aku tidak mau.”

Kyuhyun menangkupkan wajah Woobin di kedua belah telapak tangannya. Menatapnya lekat-lekat. “Aku benci dengan pengingkar janji.”

Woobin meraih tangan-tangan itu lalu menyatukannya dalam genggaman besarnya. “Arasso.. Aku akan masuk kelas besok pagi. Ini karena kau yang memintanya.”

Tatapan itu membuat Kyuhyun merona. “Dan tolong panggil aku Cho songsaengnim di depan anak-anak lain.”

“Kau manis sekali jika tengah merona seperti itu.” kata Woobin seraya mengelus lembut jari-jari dalam genggamannya. Namun ketika ia melihat Kyuhyun semakin merona, ia tertawa. “Baiklah, di depan semua orang aku akan memanggilmu seperti yang kau mau. Tapi di depan Jongin dan Kyungsoo serta ketika kita sedang berdua, aku akan memanggilmu seperti yang kumau.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak mau memanggilku dengan sopan? Menggunakan embel-embel ‘ssi’ atau hyung pun aku tidak keberatan. Kau sungguh tidak sopan.”

“Aku tidak terbiasa memanggil calon kekasihku dengan panggilan-panggilan seperti itu.”

Mata Kyuhyun membulat sempurna. “Ca-calon kekasih?” Ia segera menarik tangannya. “Jangan bermimpi! Aku sudah punya kekasih, tidak, lebih tepatnya tunangan dan kami akan segera menikah.”

“Aku tidak akan berhenti mengejarmu. Jadi kau juga jangan pernah bermimpi.” Balas Woobin.

“Terserah! Aku mau pulang.” Kyuhyun membuka pintu mobil lalu berjalan keluar ke arah lift terdekat.

“Cho songsaengnim..”

Ternyata Woobin mengikutinya. “Selamat malam.”

Kyuhyun berbalik menatap lelaki jangkung yang berdiri sangat dekat dengannya itu. “Selamat ma..”

Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sepenuhnya diambil alih oleh kecupan mesra dari bibir Woobin. Kyuhyun hanya diam, tidak membalas atau mungkin tidak sanggup membalas. Ia terlalu terkejut dengan aksi muridnya itu.

Sebuah sentuhan mendarat di pipinya lalu mengelusnya perlahan. Detik berikutnya bibir mereka terpisah. Ketika bibirnya benar-benar bebas, ketika wajah di depannya benar-benar menjauh, dan ketika kelumpuhannya akhirnya benar-benar sirnah, Kyuhyun merasakan debaran keras di dadanya. Berdetak lembut dengan irama menyenangkan dan membuatnya tak kuasa untuk mengabaikannya.

*

changkyubin

To be continued..

53 thoughts on “Million Words – Chapter 3

  1. Changmin.x jga shi, knp gak bisa luangin waktu buat kyu ..lw kyu udah ke ambil sma woobin gmana.. Kasihan kyu.x kesepian😦

  2. Wow woobin oppa murid yg sgt kurang ajar msa seosangnim sndr maen cium ja, bahkan babykyu kn udh pnya tunangan kymn klo chwang oppa liat dan marah trus mutusin babykyu kn pasti woobin oppa seneng bgt hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s