Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Heart Without a Home – Chapter 2

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, BL, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin,  Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 2

Bagai mimpi buruk, Yunho harus menghadapi situasi seperti ini. Niat awalnya adalah untuk mencari daerah kekuasaan tapi ia justru terperangkap menghadapi musuh baru. Sebagai pimpinan sudah seharusnya ia maju menerjang siapapun yang dianggap bisa mengancam keselamatan kawanannya.

Namun ia tidak ingin ada peperangan semacam ini. Ia tidak mau membuat masalah dalam kehidupan desanya yang  tenang. Selama ini ia hanya sering mendengar cerita para Henuriad mengenai betapa hebatnya suku mereka dalam membasmi semua musuh mereka. Ia tidak mau menimbulkan keresahan untuk seluruh penduduk desanya. Ia pimpinan para serigala muda, sang Alpha. Dan ia tidak ingin adanya kewaspadaan untuk setiap orang karena akhirnya mereka kembali ke masa perang.

Dan ketika sang pimpinan kecil Heglog itu menerjangnya dengan tombak mengerikan di tangannya, hal pertama yang Yunho lakukan adalah melolong keras memperingatkan para Eifre seraya menghindari tusukan yang diarahkan tepat ke lehernya itu.

“Yonghwa, Kris, bawa Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi.”

Begitu perintah bergema di kepala mereka, Kris dan Yonghwa segera menarik Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan protes ketiganya untuk ikut melawan. Tapi perintah sang Alpha sudah sangat jelas. Kewajiban mereka adalah menurutinya.

“Lawan aku, serigala lemah! Jangan terus menghindar, pengecut!” raung si pimpinan Heglog, masih terus berusaha menikam lawannya. Kali ini ia menusuk lebih cepat hingga nyaris menggores bahunya.

Alpha!”

Yunho bisa mendengar jeritan Yuri yang mencemaskannya. Taecyeon sudah menggeram tak sabar namun Yunho tetap memperingatkan para Eifre agar tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sebelum ia memerintahkan. Padahal kawanannya sudah sangat bernafsu untuk menanamkan cakar-cakar mereka ke sekujur tubuh anggota Heglog lainnya yang ada di sana.

“Cukup! Hentikan!”

Sang pemimpin Heglog berhenti menyerang. Ia masih menatap Yunho dengan tatapan marah namun ia menuruti perintah suara tanpa tubuh itu. Yunho mencari ke sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan sumber suara.

Berdiri dengan raut mengerikan diantara pepohonan, seorang Heglog lain yang tubuhnya sedikit lebih besar menatapnya angkuh.

“Mengapa kau ada disini? Jangan ganggu kesenanganku!” pimpinan Heglog berteriak kasar, masih tanpa menoleh.

Tawa dingin terdengar. “Jangan bertingkah seperti kaulah pimpinan suku. Walau kau adalah pimpinan Heglog muda. Jadi kalau kau mendengarku mengatakan berhenti, artinya kau harus berhenti, adikku.”

Sang pimpinan menampakkan ekspresi hendak membunuh mendengar saudaranya sendiri mempermalukannya di depan musuh. Tapi ia sendiri seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kakaknya.

Ketika ia menurunkan tombaknya, Heglog lain yang tadinya berdiri diantara pepohonan kini mendekati Yunho dan adiknya.

“Aku tahu siapa kau. Yunho, sang Alpha dari Gyfraddia, suku yang dulunya adalah suku terkuat.”

“Dulunya? Kami masih yang terkuat hingga saat ini.” Geram Yunho di kepalanya walau ia tahu hanya kawanannya yang bisa mendengarnya karena mereka tengah berada dalam wujud serigala.

Kembali lelaki bungkuk berbulu itu tertawa. “Aku tahu pasti kau memprotes dalam kepalamu dan aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku tidak berbohong. Jika kalian ingin membuktikannya, kalian harus berperang bersama kami jadi kalian akan tahu mengapa aku mengatakan kata ‘dulu’ pada kalimatku tadi.”

“Tapi tidak hari ini.” Heglog tadi melanjutkan. “Mungkin besok? minggu depan? Yang jelas bukan hari ini.” Kemudian ia menoleh pada adiknya. “Kita harus kembali sekarang.”

Gerutu kasar terdengar namun para Heglog lain tampaknya menurutinya. Lambat laun satu persatu meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, Heglog tadi berbalik dan berkata. “Ah, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Ji Yong dan adikku yang pemarah itu adalah Taeyang. Sampai bertemu lagi, Yunho. pertemuan berikutnya tidak akan seramah ini, aku janji.”

Lalu ia ikut melesat memasuki hutan, meninggalkan Yunho dan kawanannya yang masih terpaku.

*

            Yunho masih menerima gumam-gumam ketidaksetujuan sebagai bentuk protes dari kawanannya selama beberapa hari kedepan setelah insiden bersama para Heglog.

“Seharusnya kita ikut menyerang. Mereka sudah dengan tidak sopannya menghina suku kita!” kata Minho yang terkadang paling cepat tersulut emosi.

“Tapi kita membawa Kyungsoo dan Jongin hari itu, tidak mungkin kita membahayakan nyawa mereka hanya karena amarah kita.” Ujar Hoya. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai anggota kawanan serta sahabat dalam hal ini.

“Aku setuju dengan Minho. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menghina kita? Lagipula ia hendak mencelakai Alpha kita.” Gikwang ikut menyuarakan pendapatnya.

“Kalian tenanglah. Apa kalian lupa perintah Alpha tidak boleh dilanggar? Tidak seharusnya kalian bersikap seperti ini.” Yonghwa menengahi.

“Kita harus memikirkan jalan keluar bersama bagaimana agar tidak terjadi peperangan. Walaupun aku sendiri sangat ingin menghabisi mereka tempo hari.” Kris menambahkan.

“Aku yakin Alpha punya alasan tersendiri mengapa ia justru menghindar alih-alih menyerang.” Taecyeon akhirnya ikut bicara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.

Mendengar itu, semua yang ada di sana minus Yuri, Kyuhyun, Sandara, Kyungsoo dan Jongin menatap sang Alpha, menunggu ia angkat bicara dan menjelaskan tindakannya tempo hari setelah ia bungkam selama beberapa hari.

Masih mempermainkan batu-batu kecil dalam genggamannya lalu melemparkannya ke sungai hingga beberapa saat lalu akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Aku bukan pengecut. Walaupun tindakanku bisa dikategorikan sebagai pengecut oleh para Heglog tempo hari. Tapi aku punya beberapa pertimbangan. Pertama, kita jauh dari rumah, bahkan sangat jauh. Kita membawa serigala muda bersama kita, bagaimana mungkin kita bisa bertindak yang nantinya bisa membuat mereka terluka? Mereka adalah tanggung jawabku.”

“Dan lagi, sebisa mungkin aku menghindari pertarungan. Jika aku menyerang dan ia terluka, bisa jadi mereka benar-benar menyusun kekuatan dan menyerang kita. Apa kalian tega melihat senyum-senyum bahagia beserta kehidupan kita yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba terusik karena hal ini?”

“Kalaupun kita pada akhirnya akan berperang, alangkah baiknya jika bukan kita yang memulai. Kalau kita gegabah, kita hanya akan menghancurkan suku kita sendiri.”

Para Eifre terdiam. Mereka tahu, Yunho benar. Mereka tidak boleh ceroboh dengan bertindak cepat. Akan ada konsekuensi yang lebih besar menanti mereka jika mereka bersikeras.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?”

Ketujuh lelaki disana menoleh dan mendapati dua orang yang sangat mereka kenal berdiri di sana.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?”

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon, lelaki lain yang berdiri bersama Changmin menjawab sambil balik bertanya dengan nada bercanda.

Changmin dan Dongwoon adalah Dhampire, setengah Vampire dan setengah manusia. Tugas mereka adalah memburu Vampire yang berkeliaran di luar sana. Seperti halnya Dhampire, kaum Werewolf pun tidak menyukai kaum Vampire. Makhluk penghisap darah tersebut dianggap makhluk keji yang mengambil nyawa manusia demi memuaskan dahaga mereka. Werewolf dilarang keras bergaul dengan kaum seperti itu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?”

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh.. Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

“Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawab Dongwoon seraya menyeringai lebar.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris gembira, membuat Changmin dan Dongwoon tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

Sepeninggal Changmin dan Dongwoon, Yunho berpikir. Sepertinya kekuatan Heglog sudah meyebar luas. Apalagi ditambah dengan dukungan penuh dari suku Drygoni, tidak mustahil kalau mereka nantinya akan menyerang Gyfraddia.

*

            Salju sudah mulai turun, menyambut musim dingin yang membekukan tubuh itu. Tapi tidak bagi pada Werewolf. Tubuh mereka yang tetap hangat sehangat duduk di depan perapian dibalut selimut tebal dan ditemani secangkir cokelat panas. Mereka tidak pernah kedinginan walaupun bertelanjang dada dibawah guyuran hujan ataupun di bawah curahan salju.

Kyuhyun duduk di atas tebing yang cukup tinggi, memandang ke sungai di bawah, tempatnya biasa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sebentar lagi sungai itu akan sepenuhnya membeku dan baru akan mencair di bulan maret. Bukankah tempat ini jadi terlihat sangat romantis? Pepohonan dengan daun-daun cokelat yang masih bertahan di rantingnya tertutup salju, sungai yang nyaris beku, angin musim dingin berhembus lembut di hari yang cukup berawan ini.

Dan Kyuhyun harus menahan rasa irinya dalam-dalam melihat sepasang pemuda yang tengah bersenda gurau dengan mesra di bawah sana.

“Mesra sekali..” monolog Kyuhyun.

“Mesra? Siapa?”

Kyuhyun tersentak. Ia tidak menyangka akan ada yang orang lain yang bertransformasi menjadi serigala selain dirinya saat ini. Bukan berarti tidak boleh, tentu saja kawanan lain boleh bertransformasi kapan saja mereka mau. Hanya saja, di hari-hari seperti ini, biasanya teman-temannya akan bermain salju atau melakukan kegiatan lain dengan wujud aslinya. Maka ia tidak berpikir bahwa ada yang akan mencuri dengar perkataannya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati serigala paling gagah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya berjalan pelan mendatanginya. Dengan rambut-rambut halus berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan salju di sekitarnya, dengan rahang kokoh disertai gigi dan cakar-cakar tajam yang mampu membelah kayu tebal sekalipun, dengan mata tajam yang selalu membuat jantungnya berdebar menyenangkan.

Alpha..”

“Sedang apa kau disini? Dimana yang lain? Dan mengapa kau bertransformasi?”

Kyuhyun merebahkan dagunya di atas kedua kaki depannya yang merapat. “Aku tidak tahu kemana Taecyeon tengah membantu ayahnya. Hoya, Minho dan Jongin tengah berubah menjadi anak-anak liar pencinta salju. Yonghwa tengah pergi bersama Sandara, entah kemana sedangkan Gikwang seperti biasa, ia lebih mencintai kasurnya daripada hal lainnya.”

Yunho sudah ada di samping Kyuhyun. “Yonghwa dan Sandara tadi pamit kepadaku. Mereka ingin jalan-jalan berdua. Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau katakana mesra tadi?”

Kyuhyun tertawa dengan suaranya yang khas. Suara itu bahkan menggema indah di kepala Yunho. “Adikmu, siapa lagi? Lihatlah..”

Yunho mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Benar saja, di bawah sana tampak Kyungsoo dan Kris tengah bermesraan. Kris duduk bersandar di sebatang pohon sedangkan Kyungsoo bersandar di dada kekasihnya yang memeluknya erat. Kyungsoo asik bercerita sedangkan Kris senantiasa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di pipi atau rambut Kyungsoo.

Yunho tersenyum. Adik bungsunya itu memang suka sekali bercerita selain memasak dan membaca. Dan Yunho selalu bersyukur karena ia mendapatkan lelaki seperti Kris yang selalu sabar menghadapinya.

“Ya aku tahu, kau pasti mengatakan bahwa Kyungsoo beruntung telah mendapatkan Kris, bukan? Kalau tebakanku benar, kau salah. Kris lah yang selalu merasa beruntung telah mendapatkan si ajaib Kyungsoo, percayalah, adikmu terlalu populer. Jadi jangan kaget kalau Kris selalu menempel padanya. Ia adalah pencemburu yang sangat protektif.” Kyuhyun berbicara seolah memahami isi kepala Yunho.

“Aku terlalu sibuk mengatur para Eifre dan memenuhi permintaan Henuriad. Kadang aku kesal jika waktuku kurang untuk dihabiskan bersama Sandara dan Kyungsoo. Walaupun kadang aku pikir mereka tidak akan kesepian karena keduanya telah memiliki kekasih.” Jawab Yunho, matanya masih senantiasa memperhatikan gerak gerik dua pemuda yang kini tengah berciuman mesra itu.

“Oh mataku.. Tidak bisakah mereka melakukannya di tempat lain?” keluh Kyuhyun sambil tertawa kecil.

Yunho ikut tertawa. “Untunglah Kris begitu sopan. Ia bisa menahan hawa nafsunya dan tetap memperlakukan Kyungsoo dengan baik. Kau tahu, aku tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang lebih yah.. intim. Kyungsoo masih terlalu kecil dan.. Aku terlalu khawatir pada awalnya tapi kupikir Kris takkan melakukan hal-hal negatif, bukan? Bagaimana menurutmu?”

Kini tawa Kyuhyun lebih keras. “Mana mungkin ia bisa menahan diri jika Kyungsoo ada di dekatnya? Selain ia memang lelaki yang baik, ia tidak akan berani menyentuh anak Arweinydd dan adik sang Alpha jika ia masih tetap ingin diakui sebagai seorang Gyfraddia.”

Yunho menatap Kyuhyun dalam-dalam tanpa kata. Setelah membisu selama hampir semenit, ia akhirnya bicara. “Kau tahu, selalu menyenangkan berbicara denganmu. Kau selalu berada di tengah. Menjadi netral untuk siapa saja. Berpikirab dewasa dan sangat memperhatikan anggota muda. Walau terkadang kau sendiri sangat manja.”

Jika Kyuhyun tidak dalam bentuk serigala saat ini, ia yakin rona merah akan menjalar di seluruh permukaan wajahnya dan membuatnya sulit untuk menyembunyikannya dari Yunho. Yunho memang bukan lelaki yang bisa menggombal atau berkata-kata romantis. Tapi kejujurannya membuat siapa saja akan tersentuh.

“Dan aku sangat mengagumi warna putih yang menempel di tubuhmu itu. Indah sekali. Kau memang sangat rupawan dengan warna putih.” Yunho menambahkan sambil masih terus menatap Kyuhyun.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan di tanah ke udara, butiran salju yang turun mengikuti arah angin, membuat pandangan menjadi sedikit terhalangi. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu kakinya. Ketika ia ingin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di antara kedua kakinya, sesuatu terjadi.

Kaki-kaki kokoh sang Alpha berdiri tepat diatasnya, menghalangi angin kencang yang menerpa wajahnya. Sang Alpha berdiri di situ, melindungi Kyuhyun dengan tubuhnya yang besar. Ia tetap diam, tanpa sepatah kata pun. Tapi mampu membuat perasaan Kyuhyun melambung di udara.

Disini, tepat berada di bawah lindungan pemimpin yang dicintainya seraya menyaksikan mentari yang tertutup awan pelan-pelan turun ke peraduannya, di atas tebing kecil, di hutan mereka tercinta, merupakan tempat terindah untuknya. Dan ia tidak ingin beranjak dari sana sedetik pun.

*

            “Alpha..! Arweinydd mencarimu. Sekarang!”

Yunho yang tengah membelah batang pohon besar untuk dijadikan potongan-potongan kecil kayu bakar di belakang rumahnya cukup terkejut ketika melihat Gikwang datang dengan tergesa-gesa. Keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya pucat dan ia tampak shock.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho ketika mereka dalam perjalanan ke Pentrafe atau balai desa, tempat dimana ayahnya menunggunya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan.. tampaknya itu adalah hal buruk.” Jawab Gikwang, masih terengah.

Alangkah terkejutnya Yunho ketika ia dan Gikwang sudah sampai di Pentrafe. Banyak yang sudah berkumpul di sana dan anehnya sebagian diantaranya tampak marah dan sedih. Begitu melihat kedatangan Yunho, kerumunan terbuka, memberi jalan untuk sang pemimpin. Yunho bisa melihat ayahnya tidak duduk di kursi kebesarannya seperti biasanya melainkan di lantai, seperti seorang lelaki lemah yang terpuruk.

Yunho baru akan bertanya ketika ia melihat dua sosok yang dikenalnya terbaring melintang di atas karpet merah di tengah ruangan. Keduanya masih dalam tubuh serigala. Yang satu berwarna abu-abu kecoklatan, yang satu lagi berwarna putih abu-abu. Dan sama-sama terbujur lemah disana dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Yunho akan mengira keduanya sudah tak bernyawa andaikan ia tak melihat perut keduanya bergerak naik turun, berusaha sekuat tenaga untuk bernafas.

Tubuhnya bergetar hebat saat itu. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan semua bercampur jadi satu.

“Kyungsoo.. Jongin..” Yunho jatuh berlutut, lalu meraih kedua serigala muda itu dalam rengkuhannya. Air matanya turun satu persatu.

Ia menoleh pada ayahnya yang tampak sama terpukulnya dengan dirinya. “Ayah..” bahkan suaranya pun ikut bergetar.

Alpha.. Adikmu dan Jongin.. Keduanya diserang oleh Drygoni. Mereka memakai bisa mereka untuk melumpuhkan keduanya.. Anakku.. Anak lelakiku..”

Bisa Drygoni sangat terkenal bisa melumpuhkan sistem saraf dan otak. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terkena melebihi batas, akan berakibat kematian. Dan melihat beberapa tempat yang terkena bisa Drygoni di tubuh Kyungsoo dan Jongin, bisa dikatakan mereka di ambang kematian.

“Tidak.. Kyungsoo.. Jongin.. Bertahanlah.. Aku mohon..” Yunho masih memeluk keduanya.

“Tabib sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi ia sampai. Tadi Minho dan Kyuhyun yang menjemputnya. Bersabarlah Alpha, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan penduduk lainnya. Kau adalah harapan mereka.”

Tanpa mengangkat kepalanya, Yunho tahu bahwa Jinyoung lah yang berbicara. Walaupun ia benar, namun bagaimana mungkin Yunho bersikap tenang di saat seperti ini?

“Gikwang..”

“Ya, Alpha.”

“Kumpulkan yang lain di rumahku, sekarang. Aku akan segera kesana. Jangan bicara apa-apa sampai aku datang. Aku tidak ingin membuat yang lain khawatir.”

Gikwang membungkuk hormat lalu berlari keluar.

*

            Peraturan baru diberlakukan. Penduduk dilarang keluar dari rumah diatas jam sepuluh malam. Dan setiap wanita juga anak-anak harus ditemani oleh lelaki jika terpaksa harus keluar rumah. Mereka juga dilarang bepergian terlalu jauh. Itupun mereka harus dikawal oleh para Rhyfel.

Sedangkan para Eifre bertugas berjaga bergiliran di setiap pos yang sudah ditentukan. Mereka akan berjaga di empat penjuru utama. Yonghwa dan Sandara di pos timur, Minho dan Gikwang di pos barat, Taecyeon dan Kyuhyun di pos selatan, Kris dan Hoya di pos utara. Sedangkan Yunho dan Yuri akan berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Absennya Kyungsoo dan Jongin merupakan pukulan berat untuk mereka. Walaupun kata tabib mereka akan baik-baik saja setelah sepuluh hari, bahkan katanya akan kembali sehat seperti biasa, tapi tetap saja membuat para Eifre merasa sangat khawatir.

Kekejian Drygoni ini tidak bisa ditolerir oleh Yunho. Mereka tahu kedua serigala ini masih muda dan belum mendapatkan kekuatan secara menyeluruh jadi merekalah yang diserang. Licik! Seandainya ia yang ada disana, atau Taecyeon, bisa dipastikan suku setengah ular itu akan benar-benar hancur sampai tak berbekas.

Yunho masih bisa mendengar Kris, Sandara dan ibunya terisak sesekali ketika mengunjungi Kyungsoo di kamarnya. Ia juga tidak bisa mengabaikan tangisan kedua orang tua Jongin serta kesedihan Hoya sebagai sahabat terdekat Jongin.

Untuk beberapa hari kedepan, suasana tampak aman. Semuanya terkendali dengan baik. Hingga tiba-tiba serangan lain datang, kali ini menyerang beberapa rumah dan kebun penduduk. Tidak ada yang terluka, namun kerugian materil tidak bisa dibilang sedikit.

Mereka baru saja akan menuduh Drygoni sebagai biang keladinya namun petunjuk lain datang. Mereka menemukan rambut-rambut halus berwarna cokelat tua di beberapa tempat. Dan Yunho pernah melihatnya. Heglog.

“Ini adalah kesengajaan. Mereka sengaja memberi tanda agar kita tahu merekalah pelakunya.” Gikwang menganalisis.

“Aku bahkan masih bisa mengendus bau mereka disini.” Sandara menambahkan.

“Mereka sengaja memperlihatkan diri. Tujuannya sudah jelas, mereka ingin kita menyerang.” Kata Taecyeon dengan nada kesal.

“Tapi kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu. Kita harus menyelidiki sekuat apa mereka.” Ujar Kris. Ia masih terlalu sakit hati dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Dan ia tidak akan tinggal diam kini.

Alpha, kami menunggu perintahmu.” Yuri menyentuh lengan sang Alpha yang sedaritadi tampak berpikir sendiri.

Yunho mengembuskan nafas panjang. Dengan ekspresi tegas, ia menatap teman-temannya. “Taecyeon, selidikilah Heglog sekali lagi, bawa Sandara dan Hoya bersamamu. Yuri, pergilah bersama  Gikwang dan Yonghwa, selidiki Drygoni. Kris, Kyuhyun dan Minho, pergilah ke utara, minta bantuan kepada Centaurus. Kita tidak pernah ada masalah dengan mereka, siapa tahu mereka mau membantu kita.”

“Tidak! Bagaimana denganmu, Alpha? Kau tidak boleh tinggal sendirian!” Hoya langsung memprotes ketika ia menyadari bahwa Yunho akan sendirian berjaga.

“Hoya benar, kau tidak boleh sendirian, Alpha. Menyelidiki suku-suku ini memakan waktu berhari-hari. Dan keadaan sedang tidak stabil. Bagaimana mungkin kau bisa berjaga sendirian?” Minho menambahkan dengan cemas.

“Kalian kira aku tidak bisa menjaga desa ini tanpa kalian?” Yunho mengangkat alisnya.

“Bukan begitu, jangan tersingung. Tapi kami sangat cemas padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kami pergi? Kau adalah Alpha kami, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?” kata-kata Kyuhyun yang terkesan khawatir justru terdengar sangat manja bagi Yunho.

‘Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika sesuatu terjadi padamu?’ bisik Kyuhyun di hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Yunho.

“Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Rhyfel disini bersamaku. Tempatku adalah di sini. Aku tidak boleh meninggalkan desa dalam keadaan seperti ini. Keselamatan desa ini adalah tanggung jawabku. Pergilah, semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian kembali bukan?” kata Yunho lagi, mencoba tersenyum walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

“Kami akan cepat kembali, aku berjanji.” Yonghwa menghampirinya lalu memberinya tepukan ringan di bahu. “Dan kami akan pulang dengan membawa kabar baik. Tolong jaga dirimu.”

Sandara dan Yuri segera berlari memeluk Alpha mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkan desa. Keduanya tidak menangis tapi hati mereka sangat sedih karena harus meninggalkan orang yang mereka sayangi sendirian. Karena memang Yunho tidak bisa pergi. Seluruh beban ada di pundaknya kini.

Kyuhyun adalah orang terakhir yang memeluk Yunho setelah satu persatu kawanannya melakukan hal yang sama.

“Jaga dirimu, Alpha. Tunggulah aku kembali.” Ujar Kyuhyun lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Yunho. Membuat Yunho merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Satu persatu teman-temannya bertransformasi menjadi serigala lalu berlari masuk dan menghilang ke dalam gelapnya hutan malam itu. Yunho masih berdiri disana, menatap kepergian kesembilan Werewolf perkasa yang dibanggakannya.

Tanpa ia sadari, beberapa makhluk aneh tengah mengintainya. Beberapa diantaranya bersisik seperti ular, beberapa lagi berbulu seperti tarantula.

“Ia mengutus teman-temannya untuk pergi menyelidiki suku kita. Ayo kembali dan memberitahukan anggota suku.” Kata salah satu yang bertubuh penuh sisik.

“Sangat bodoh! Baiklah, kita kembali ke tempat masing-masing.” Kata yang lain, si bungkuk penuh bulu selayaknya tarantula. “Si keparat ini akan merasakan bagaimana rasanya seluruh kawanannya dimusnahkan di tempat berbeda-beda sementara ia juga harus menyaksikan kita membantai desanya tercinta.”

Keduanya lalu tertawa bengis.

*

Yunkyu wolf

To be continued..

Obsession – Chapter 6

Title                 : Obsession

Rate                 : T+

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, JongKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary      : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 6

A Dream-Lover Man

            Kyuhyun melirik arloji di tangan kirinya, ia sudah menunggu selama lebih dari dua puluh menit. Tapi tidak ada kebosanan yang terpancar di wajahnya. Ia kembali menyeruput cokelat panasnya. Ia menolehkan pandangannya keluar. Ia malah asik bersenandung riang seraya mengamati derasnya hujan yang jatuh di luar sana.

Hujan di luar belum berhenti. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan berhenti mencurahkan titik-titik air itu. Kaca besar yang berfungsi sebagai dinding pembatas antara bagian dalam dan luar café itu tampak sedikit berembun. Meski demikian, Kyuhyun masih bisa melihat sosok-sosok pejalan kaki di luar sana.

Sebagian diantara mereka tengah berlari dibawah naungan jaketnya, ada yang menggunakan koran atau tangan mereka sendiri sebagai pelindung, membuat mereka harus berlari cepat demi menghindari basah. Bagi yang menggunakan payung bisa berjalan sedikit santai, menikmati cuaca musim semi yang basah itu.

Kyuhyun memandang kursi di depannya. Biasanya tempat itu diduduki oleh Minho. Tetapi lelaki itu kini tengah menikmati bulan madunya bersama Yeonhee di Paris, jadi Kyuhyun harus rela menikmati rinai hujan itu sendirian.

“Tidak, aku serius! Kita sejak dulu sudah bersama. Berbagi segalanya, melewati banyak hal, menghadapi tantangan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, kalau kau menikah barulah aku juga menikah. Kalau perlu kita menikah di hari yang sama. Dan Yeonhee setuju akan hal ini.” terang Minho panjang lebar setahun yang lalu ketika Kyuhyun menyuruhnya menikah secepatnya.

Kyuhyun tersenyum haru. Choi Minho memang sahabat terbaik sepanjang masa. Ketika semua orang datang dan pergi, ia akan tetap ada di sana, berdiri di sampingnya.

“Jadi.. Aku harap dia yang terakhir.” Kata Minho dengan tatapan serius saat itu.

“Kuharap juga begitu.” Kata Kyuhyun.

“Hampir tiga tahun menyendiri, mencoba berdamai dengan hati dan pikiranmu sendiri, dan kini akhirnya kau memantapkan dirimu untuk benar-benar melangkah maju.” Minho menambahkan.

Maksud Minho sudah jelas, mereka berbicara mengenai lelaki yang saat itu banyak membantu Kyuhyun untuk kembali berdiri dengan kakinya sendiri. Lelaki yang menerimanya sepenuh hati, walau ia tahu kalau hati Kyuhyun sebagian telah dimiliki orang lain. Tapi ia tidak pernah menyerah. Dengan lembut ia mendekati Kyuhyun, membantu mengobati lukanya, menyambuhkan hatinya yang hancur dan membalut kembali impian yang pernah terjalin.

Kyuhyun pernah menolaknya. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Tapi lelaki itu tidak pernah putus asa,  membuat Kyuhyun sendiri heran mengapa lelaki itu sangat tegar. Memang ia tidak ditolak secara gamblang, tetapi Kyuhyun selalu menyiratkan bahwa ia tidak ingin bersama seseorang sebagai pendamping. Dan lelaki itu mengerti. Ia tidak memaksa melainkan menawarkan bantuan sebagai teman baik.

“Aku tidak keberatan sama sekali jika menjadi temanmu, sahabatmu, teman berbagi cerita atau apalah itu. Selama aku masih boleh berada di sisimu, aku akan menerimanya.”

Memang terdengar bodoh. Tapi itulah dia. Seperti janjinya, ia selalu mendampingi Kyuhyun, menjadi semua yang Kyuhyun inginkan walaupun hubungan mereka tidak lebih dari sekedar teman biasa.

Awalnya Kyuhyun hanya memanfaatkannya, membiarkan lelaki itu ada di sekitarnya tanpa bisa membalas sedikitpun. Membuat lelaki itu pada akhirnya bosan dan memutuskan untuk pergi karena menyerah. Namun tidak ada tanda-tanda itu hingga sekian lama, sebaliknya, Kyuhyun justru merasa sangat tersentuh dengan ketulusannya.

Dan tanpa bisa ia cegah, perasaan itu akhirnya datang, mengalahkan semua ego dan pertahanan Kyuhyun yang selama ini dengan susah payah ia bangun. Pesona lelaki itu terlalu kuat. Dan ketika akhirnya Kyuhyun memberi sedikit celah, ia kembali menyatakan perasaannya dan siap menunggu hingga Kyuhyun siap menerimanya.

“Kau hanya menyia-nyiakan waktumu. Bagaimana jika aku tidak pernah berpaling kepadamu?”

“Maka aku akan terus berusaha. Bukankah cinta itu berarti mau menunggu? Aku rela jika aku harus menghabiskan seluruh waktuku untuk menunggumu, artinya aku sudah benar-benar siap.” Jawabnya dengan tenang kala itu.

“Tapi kau tahu pasti bahwa aku mencintai lelaki lain. Disamping itu, sudah terlalu banyak hati yang kukecewakan. Bisa saja dengan bersamaku, kau akan merasakan kekecewaan itu juga.”

“Maka biarkanlah aku membantumu. Membalut lukamu, merawat hatimu, membuatmu siap mencintaiku. Biarkan aku berusaha untuk menghapus segala kepedihanmu, menjadi pundak yang kau butuhkan saat kau ingin menangis dan menjadi pelukanmu saat kau kedinginan. Aku mungkin tidak bisa menggeser orang itu di hatimu, tapi setidaknya biarkan aku mencoba untuk mengisi tempat yang tersisa di hatimu.”

Tidak ada lagi yang bisa Kyuhyun katakan pada saat itu. Melewati hari-hari bersamanya membuat Kyuhyun yakin, bahwa mungkin lelaki itulah penyelamatnya, membawanya keluar dari lubang sempit yang sesak dan menyakitkan itu selama lebih dari sepuluh tahun mengurungnya.

Dan ketika hatinya sudah nyaris pulih, ketika ia bisa setidaknya merasakan debaran aneh di jantungnya lagi, ketika ia mulai bersemu ketika mendengar rayuan atau bahkan hanya dengan memandang wajah penuh senyum lelaki itu, Kyuhyun yakin itulah saatnya untuk membuka kembali hatinya.

Keduanya akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Kyuhyun selalu menyebut lelaki itu sebagai Mr. Rain, dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya saat hujan. Dan anehnya, segala kenangan indah tentang mereka sering tercipta saat hujan.

Kyuhyun masih ingat dengan jelas bagaimana cara lelaki itu berterima kasih dengan penerimaan Kyuhyun. Ketika akhirnya mereka makan malam dengan romantis dalam rangka perayaan hubungan mereka di salah satu restoran terbaik yang di sewa Jonghyun hanya untuk mereka berdua. Restoran itu bukan restoran mahal, makanan yang mereka makan pun sederhana. Tapi lelaki itu menyiapkan segalanya dengan sangat baik.

Malam itu terasa sangat istimewa, terutama ketika si pemilik senyum manis itu menyanyikan sebuah lagu cinta dengan gitarnya, membuat perasaan Kyuhyun benar-benar meluap, emosi dan haru bercampur, mengeluarkan airmata bahagia yang tanpa bisa ia cegah mengalir turun membasahi pipinya.

“Aku tidak bisa memberimu sesuatu yang mahal, karena menurutku sesuatu yang mahal itu belum tentu bisa membahagiakan kita. Tapi sesuatu yang istimewa akan terasa lebih berarti.”

Ia memberikan sebuah bros kecil yang terbuat dari perak indah berukirkan inisial nama keduanya yang sejak saat itu selalu Kyuhyun sematkan di dasi kerjanya.

Dan hari-harinya hingga bulan kedelapan hubungan mereka terasa sangat menyenangkan. Lelaki itu memberi segalanya yang Kyuhyun inginkan. Baik yang ia ucapkan atau yang ia rahasiakan. Ia seperti tahu apa yang Kyuhyun pikirkan, membuat Kyuhyun semakin mencintai kekasihnya itu.

Dan yang paling membahagiakan adalah ketika lelaki itu melamarnya, mengajaknya untuk mendampinginya sehidup semati, berbagi suka dan duka hingga ajal menjemput. Tiada kata yang bisa menggantikan perasaan Kyuhyun saat itu. Ia kehilangan semua kata, bahkan daya untuk berbicara ikut lenyap. Ia hanya bisa mengangguk. Dan berikutnya yang ia tahu, ia sudah berada dalam dekapan hangat kekasihnya.

Dan beberapa bulan pernikahan mereka adalah surga terindah untuk Kyuhyun. Sangat indah. Walau keduanya tidak bisa diberikan keturunan karena keduanya lelaki, tetapi mereka tidak pernah bersedih. Suaminya justru mengusulkan untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan seperti yang selama ini dipikirkan Kyuhyun tapi ia ragu mengatakannya pada pasangannya itu.

Lihat kan? Ia bisa menebak apa isi kepalaku.’

Dan hari ini adalah hari dimana mereka akan mengadopsi seorang anak. Tapi lelaki itu belum juga menjemput Kyuhyun.

Dia lama sekali.’ Pikir Kyuhyun. Kebosanan kini mulai melandanya.

Namun baru saja ia berpikir untuk menelepon suaminya itu, ia menangkap sosok yang amat di kenalnya itu. Lelaki tampan dengan lesung pipi ketika ia tersenyum, kulit pucat seperti dirinya, dan mata yang memancarkan sinar hangat kala mereka bertatapan. Wajah mereka pun terlihat mirip.

“Itu tanda kalau kalian berjodoh.” Kata Lee Yeonhee dulu.

Kyuhyun memandang lelaki itu. Ketika mata mereka beradu, kembali rasa hangat mengisi relung hatinya. Ia bagaikan malaikat paling tampan di bawah naungan payung besarnya, dikelilingi rinai hujan.

Lee Jonghyun memang selalu tampan.

Kyuhyun berlari keluar, menyongsong kekasih hatinya. Hilang sudah semua kejenuhan yang ia rasakan selama hampir sejam menunggu.

“Jonghyunnie..”

Kyuhyun melemparkan tubuhnya kedepan lalu mendekap erat suaminya. “Kenapa kau lama sekali?”

Lee Jonghyun tersenyum mendengar rengekan Kyuhyun. “Maafkan aku, ada beberapa hal yang harus kukerjakan sebelum datang kemari.”

“Sudah kuduga. Kau pasti lebih mencintai pekerjaanmu daripada aku.” Rajuk Kyuhyun lagi.

Dan lagi-lagi Jonghyun tertawa. “Jangan cemburu pada calon anak kita, baby. Aku harus melengkapi semua sisa persyaratan adopsinya sebelum kita bisa menjemputnya sekarang. Jadi, maafkan aku, ne?”

Kyuhyun mengembangkan senyumnya. “Aku tadi hanya bercanda. Jadi.. Kita akan menjemputnya sekarang? Aku benar-benar sudah tidak sabar..”

Jonghyun melingkarkan tangannya kirinya di pinggang Kyuhyun. “Kalau begitu, mari kita jemput dia.”

*

            Anak lelaki itu sangat tampan. Umurnya baru akan menginjak usia empat tahun bulan depan. Dengan mata besar yang berbinar lucu dan bibir berbentuk hati yang cukup berisi. Dia sangat menggemaskan.

“Namanya Kyungsoo. Ia bersama ibunya mengalami kecelakaan setahun lalu dan ibunya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Ayahnya tidak bisa ditemukan hingga hari ini dan ia tidak punya keluarga lain jadi polisi membawanya kemari. Satu-satunya yang kami tahu hanyalah namanya.” Terang Seohyun, salah satu penjaga panti asuhan.

Jonghyun menatap Kyuhyun. Lelaki itu balas menatapnya dengan mata berbinar. “Baiklah, kita akan mengadopsinya.”

“Terima kasih..” Kyuhyun tidak kuasa berkata-kata lagi. Ia memeluk suaminya itu dengan penuh rasa syukur. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada lelaki kecil yang kini resmi menjadi anaknya dan Jonghyun dan berlutut di depannya.

“Kyungsoo-ya, terima kasih karena telah melengkapi kebahagiaan kami. Selamat datang di keluarga kami.” Kata Kyuhyun penuh haru, menahan keras airmatanya yang hendak tumpah.

Mata besar Kyungsoo menatapnya lekat-lekat. “Apa.. Apa artinya Kyungsoo akan punya rumah baru?”

Jonghyun ikut berlutut di depan Kyungsoo. “Benar sekali. Sekarang Kyungsoo adalah anak appa dan eomma. Apa Kyungsoo keberatan?”

Kyungsoo terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Ini adalah hadiah ulang tahun terindah untuk Kyungsoo.. Terima kasih ahjuss..”

“Appa. Kyungsoo sudah bisa memanggil appa mulai sekarang.” Potong Jonghyun.

Kyungsoo mendekat lalu memeluk sang appa dalam rengkuhan hangat. “Kyungsoo punya appa.. Kyungsoo punya appa..”

Melihat itu Kyuhyun tidak lagi bisa membendung airmatanya. Isakannya tidak keras tapi cukup bisa membuat Kyungsoo dan Jonghyun menoleh.

“Dia eomma-mu, Kyungsoo. Sapalah eomma.” Bisik Jonghyun.

Kyungsoo tersenyum lebar. Ia segera melepaskan pelukannya lalu berlari memeluk Kyuhyun. “Eomma.. Mengapa eomma menangis?”

Kyuhyun tersenyum haru ketika tangan kecil Kyungsoo membelai lembut pipinya, menghapus airmatanya. “Eomma hanya benar-benar bahagia karena kau ada disini bersama kami. Terima kasih Kyungsoo-ya.”

“Lee Kyungsoo. Karena sekarang ia adalah anak kita, ia akan memakai nama Lee sebagai nama keluarganya. Bagaimana Kyungsoo?” Jonghyun menambahkan.

Kyungsoo mengangguk ceria. “Kyungsoo suka bermarga Lee. Seohyun ahjumma, sekarang Kyungsoo punya appa dan eomma lagi.”

Kyuhyun mengawasi anak lelakinya itu dengan bangga. Dirinya, Jonghyun dan Kyungsoo. Sempurna.

*

            Hari-hari baru sebagai eomma dari Lee Kyungsoo membuat hari-hari Kyuhyun jauh lebih bersinar dari sebelumnya. Ia menjadi sangat protektif kepada anak semata wayangnya itu. Ia bahkan kerap kali bertengkar dengan Minho karena sahabatnya itu suka sekali ‘meminjam’ Kyungsoo lebih dari jam-jam yang mereka sepakati.

“Aku hanya membawanya jalan-jalan. Kami makan es krim, membeli beberapa buku gambar serta makan siang. Aku bukan penculik, mengapa kau harus menelponku setiap sejam sekali?” keluh Minho sore itu ketika membawa Kyungsoo kembali ke rumah keluarga Lee.

“Kau membawanya terlalu lama. Tidak melihatnya selama enam jam membuatku benar-benar tersiksa.” Kata Kyuhyun, masih memeluk Kyungsoo yang tertidur lelap.

Di lain waktu, ia juga mengeluh pada Lee Yeonhee tentang betapa sepupu gadis itu, Lee Donghae pandai sekali mencuri hati Kyungsoo dan akibatnya membuat Kyungsoo sering merengek meminta agar eommanya membawanya bertemu Donghae.

Belum lagi sikap Kyuhyun yang tiba-tiba berubah dingin kalau sudah terlalu banyak ahjumma-ahjumma di luar sana yang mencubit pipi Kyungsoo atau menciumnya atu memintanya untuk berfoto bersama.

“Itu karena Kyungsoo sangat istimewa, baby. Kita tidak bisa terus-menerus mengurungnya di rumah. Tahun depan ia akan masuk sekolah. Ia harus mulai bergaul, bukan?” Jonghyun menenangkan Kyuhyun ketika istrinya itu dilihat terlalu berlebihan menanggapi semua orang yang terpikat pada anak mereka.

Kyuhyun yang bergelung dalam pelukan suaminya itu hanya bisa mengeluh mendengar tanggapan suaminya itu.

“Mereka ingin mengambil Kyungsoo dariku. Aku tidak suka. Bagaimana kalau Kyungsoo juga menyukai mereka dan akhirnya memilih untuk meninggalkan kita?”

Jonghyun tertawa. “Bagaimana mungkin? Tidak pernahkah kau mendengar setidaknya ia berbicara pada orang-orang di luar sana betapa menyenangkannya hidupnya karena ia punya appa Jonghyun dan eomma Kyuhyun?”

Benarkah? Benarkah Kyungsoo memujinya di luar sana?

Jonghyun menghela nafas. “Baby.. Jebal.. Berhentilah khawatir. Sungguh, aku senang dengan sikapmu seperti ini. Artinya kau benar-benar menyayangi anak kita. Tapi dengan over-protective seperti ini, akan membuat Kyungsoo merasa terkekang. Apa kau mau ia sedih karena ia selalu dikurung di rumah atau dijaga terlalu ketat ketika ia bepergian?”

“Tapi ia masih berumur lima tahun, bagaimana mungkin aku tidak menjaganya dengan ketat? Bagaimana kalau..”

“Kita harus menjaganya dengan baik.” Jonghyun setuju. “Tapi bukan berarti tidak ada kebebasan untuknya. Ia tidak akan senang jika ia dibuntuti kemanapun ketika sedang bermain di taman. Berilah ia sedikit kelonggaran. Mengawasinya dari jarak tertentu sudah cukup. Biarkan ia menjadi anak yang cerdas dan mandiri.”

Kyuhyun mempererat pelukannya, menghangatkan tubuhnya yang dingin di malam cerah itu. “Aku yakin tidak ada ayah sebaik dirimu. Kaulah ayah yang paling tepat untuk Kyungsoo. Dan pendamping paling tepat untukku. Terima kasih.”

Jonghyun menyipitkan matanya. “Terima kasih? Aku tidak menerima ucapan terima kasih saat ini.”

Kyuhyun melebarkan matanya. “Tidak? Lalu apa?”

A kiss maybe?” tanya Jonghyun penuh harap.

Tanpa banyak kata lagi Kyuhyun segera menarik wajah Jonghyun turun lebih dekat kepadanya lalu mulai melumat bibir itu perlahan, dengan lembut dan penuh kasih sayang.

*

            “Appa..Appa.. Kyungsoo mau main itu..”

Kyungsoo melompat-lompat girang seraya menggucang jemari ayahnya ketika ia melihat rollercoaster yang menukik tajam ke bawah lalu berayun naik ke atas bagai ular raksasa dengan puluhan manusia diatasnya.  Minggu yang cerah itu ia diajak oleh kedua orang tuanya beserta Donghae dan Minho untuk mengunjungi Amusement Park.

“Tidak.. Tidak.. Kyungsoo-ya, no scary rides for you, son. Big NO.” jawab Kyuhyun segera. Ketakutan langsung memenuhi kepalanya bagai film yang diputar cepat. Bagaimana nantinya Kyungsoo naik ke atas sana kemudian terpental keluar atau bagaimana ia mengira segalanya akan baik-baik saja padahal ketika mengendarai permainan itu ia akan menangis ketakutan.

Jonghyun memberikan tatapan memperingatkan padanya. Suaminya itu lalu menoleh pada Kyungsoo seraya tersenyum. “Kau belum boleh menaikinya, chagi. Tinggi mu belum mencukupi. Petugas disana tidak akan mengizinkanmu untuk mengendarainya.”

“Benarkah?” tanya Kyungsoo dengan kecewa.

Jonghyun mengangguk. “Kita bisa kesana dan melihat papan larangannya kalau kau tak percaya.”

Kyungsoo menggigit bibirnya. Ia tahu appanya pasti tidak berbohong. Segera setelah itu senyumnya mengembang. “Baiklah, Kyungsoo mengerti. Kyungsoo akan makan lebih banyak agar cepat tinggi seperti appa dan eomma lalu bisa menaiki permainan itu.”

Jonghyun mengacak rambut nakanya dengan penuh sayang. “Ini baru anak appa yang paling pintar dan tampan. Nah, ayo beli es krim.”

“Jawaban cerdas yang sangat tepat.” Kata Minho seraya memandang Jonghyun dan Kyungsoo yang tengah berjalan riang menuju kedai es krim.

Kyuhyun membentuk pout sempurna di bibirnya. “Aku hanya tidak ingin Kyungsoo terluka.”

“Tapi setidaknya kau memberikan jawaban yang lebih lembut. Ketakutanmu terlalu berlebihan.” Donghae menambahkan.

“Aku tahu. Aku hanya tidak bisa mencegah diriku untuk khawatir pada Kyungsoo. Dia begitu berharga.” Kyuhyun menghembuskan nafas kesal. “YA! Kalian akan tahu bagaimana perasaanku ketika nanti kalian sudah punya anak!”

“Ya, ya, ya, kami tahu. Tidak perlu berteriak seperti itu.” Protes Minho seraya mengusap telinganya yang baru saja tersabet kata-kata tajam dari teriakan Kyuhyun barusan.

Donghae tertawa. Kyuhyun masih belum berubah. Ia masih sangat protektif kepada semua orang terdekatnya. Dan yang membuat Donghae jauh lebih senang lagi adalah karena Kyuhyun tampaknya sudah bisa mengatasi rasa obsesinya terhadap Yunho, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa sesekali Kyuhyun masih memikirkannya.

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Aku senang kau bahagia sekarang. Mempunyai pendamping yang baik serta memiliki anak yang lucu dan menggemaskan.”

“Ditambah aku punya sahabat-sahabat baik seperti kalian.” Jawab Kyuhyun penuh rasa terima kasih.

“Sempurna!” tambah Minho. “Kita tinggal menunggu Hae hyung untuk menikah juga.”

Donghae dengan cepat menggeleng. “Menikah itu perkara mudah. Yang sulit adalah menemukan pasangan yang cocok untuk menjadi temanmu seumur hidup. Dan untuk mendapatkannya, bukankah kita harus melewati berbagai tahap?”

Kyuhyun mengerti. Kata-kata Donghae tadi sangat mudah ditebak. Lelaki itu pasti sangat sulit mencari pendamping karena dirinya bisa membaca pikiran seseorang. Pastilah ia banyak menemukan ketidaknyamanan ketika menjalin hubungan percintaan dengan pikiran-pikiran pasangannya. Dan ketika pikiran-pikiran itu buruk, pastilah Donghae mengundurkan diri.

“Tidak selamanya yang terlihat buruk berarti benar-benar tidak baik, hyung.” Kyuhyun mencoba membantu.

“Aku tahu. Aku hanya benar-benar sedang mencari seseorang yang tepat. Mungkin belum saatnya. Ah.. Jujur aku iri sekali pada kalian berdua. Pastilah kalian menemukan banyak sekali kebahagiaan bersama keluarga baru kalian.” Ujar Donghae dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

Minho dan Kyuhyun tertawa. Mereka selalu suka pada si barista ini. Donghae merupakan kakak sekaligus sahabat yang bisa diandalkan. Mereka belum pernah dikecewakan oleh Lee Donghae, justru keduanya lah yang biasa membuat Donghae kerepotan karena ulah-ulah keduanya.

“Kau tidak lagi memikirkan masa lalu kan, Kyu?” tanya Minho. Sebenarnya ia cukup penasaran. Sudah lama ia ingin menanyakan hal ini tapi selalu saja ada penghalang.

Donghae langsung memberi tatapan memperingatkan. Alangkah tidak baiknya mengangkat topik yang membuat Kyuhyun nantinya akan kembali mengenang cinta pertamanya. Ia sudah berhasil sejauh ini, apa gunanya kembali mengingatnya?

Tapi Kyuhyun justru tersenyum. “Sejujurnya, terkadang aku masih mengingatnya. Adalah hal yang paling aneh jika kita bisa melupakan dengan mudah seseorang yang sangat kita cintai, atau pernah kita cintai. Aku tahu mungkin kami berdua memang tidak berjodoh atau bahkan tidak bisa bertemu lagi. Namun aku masih sesekali mengingatnya. Apa ia baik-baik saja? Apa ia sebahagia aku? Apa ia juga punya anak lucu seperti Kyungsoo?”

Minho lega mendengarnya. Setidaknya Kyuhyun sudah menanggapi masalah ini dengan dewasa dan bijak. Kekhawatirannya lenyap sudah.

“Aku sangat bersyukur memiliki Jonghyun. Ia tipe lelaki yang tidak mau mengungkit masa laluku. Menurutnya, yang berlalu biarlah berlalu. Ia hanya berjanji akan membuatku bahagia hingga aku hanya akan melihatnya. Ia pernah berkata bahwa terkadang dengan mengingat masa lalu bisa membantu kita lebih kuat di masa kini. Dan dari situlah aku tahu, Jonghyun memang tidak mempermasalahkan apapun yang terjadi padaku di masa lalu. Ia justru mengajariku untuk belajar menerima dan memaafkan semua yang telah terjadi.”

“Kalian tahu, aku sudah menyerah untuk memiliki seorang Jung Yunho. Tapi aku tidak akan pernah menyerah mencintainya. Sekali ini, hanya sekali ini, tolong biarkan aku terus mencintainya.” Kyuhyun menambahkan pada akhirnya.

*

            Sudah tiga bulan Jonghyun berada di Hongkong dalam rangka pembukaan kantor cabang baru perusahaan tempatnya bekerja. Dengan berat hati ia harus meninggalkan keluarga kecilnya untuk sementara.

“Apa kau selalu meminum vitamin yang aku siapkan di tas mu? Minumlah sebelum tidur jadi kau akan merasa lebih segar di pagi hari. Lalu bagaimana pekerjaanmu disana? Jangan bilang kau dikelilingi gadis-gadis cantik nan seksi hingga kau melupakan aku dan Kyungsoo disini.”

Jonghyun tertawa di seberang. Saat itu, baru lima hari ia berada di Hongkong dan Kyuhyun sudah mencecarnya seperti ia telah meninggalkan rumah sebulan. Namun hatinya terasa sangat hangat seperti meminum cokelat panas di musim bersalju, ketika mendengar kicauan riuh Kyuhyun dan Kyungsoo di telepon. Walaupun ia lelah, meski ia mengantuk, tapi ia rela mendengarkan omelan serta keluhan keduanya kala ia tidak ada di sana bersama keluarganya. Selama nyaris tiga bulan ia mendengarkan dengan baik semua omelan yang terdengar begitu merdu di telinganya itu.

Walau usia pernikahannya dengan Kyuhyun baru menginjak tahun kedua dan kebersamaan Kyungsoo dengannya baru setahun,  tapi ia merasa hidupnya sudah lengkap. Mungkin akan lebih lengkap lagi jika kedua orang tuanya masih menganggapnya anak. Ia sudah dibuang oleh kedua orang tuanya sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Kyuhyun, pernikahan yang dianggap haram karena menyatukan dua insan yang sejenis.

Dan ia tetap memilih Kyuhyun walaupun orang tuanya tidak memberi restu. Bukan.. bukan ia tidak meminta restu. Ia dan Kyuhyun sudah berulangkali meminta restu, tapi usaha mereka sia-sia. Jonghyun mencintai Kyuhyun. Masa depannya ada bersama Kyuhyun, ia bisa merasakan hal itu sejak pertama. Untuknya, ia siap melepaskan segalanya, agar ia bisa tetap bersama Kyuhyun.

“Appa.. Cepatlah pulang. Kyungsoo ingin bermain bersama appa. Jangan lupa belikan Kyungsoo mainan. Kyungsoo ingin punya mainan pesawat, seperti pesawat yang appa tumpangi ke Hongkong.”

“Appa akan cepat pulang, Kyungsoo-ya. Appa berjanji. Nanti, appa akan membelikan pesawat mainan untukmu, persis seperti pesawat appa. Tapi berjanjilah satu hal pada appa.”

“Apa itu?” tanya Kyungsoo bergairah.

“Jagalah eomma dengan baik selama appa tidak ada. Kaulah kepala keluarga saat appa tidak ada di rumah. Jangan banyak mengeluh dan jangan nakal. Jadilah anak baik. Jika eomma dalam kesulitan dan Kyungsoo tidak bisa membantu, teleponlah uncle Minho atau uncle Donghae.” Jonghyun menjabarkan pelan-pelan. Dengan nada kebapakan yang sangat arif, dengan suara lembut namun tegas yang membuat anaknya langsung mengerti.

“Kyungsoo mengerti appa.” Anak kecil ini menjawab dengan sungguh-sungguh, seperti menerima tugas yang sangat berat dari komandannya di camp militer. Disampingnya eomma-nya ikut mendengarkan sambil tersenyum.

“Dan Kyungsoo harus rajin belajar. Kyungsoo harus bisa membuat appa dan eomma bangga. Kyungsoo harus tumbuh jadi anak yang baik hati dan selalu menolong sesama.” Jonghyun mengakhiri petuahnya.

“Kyungsoo berjanji, appa.”

Entahlah, dalam pikiran kecilnya, Kyungsoo berjanji bukan demi pesawat mainan yang dijanjikan oleh appa-nya, tapi demi mengikuti perkataan sang appa yang sangat dirindukannya dan akan kembali dilihatnya dua hari ke depan.

“Dan Kyungsoo-ya.. Lee Kyungsoo, saranghae..”

“Nado saranghaeyo, appa..”

Namun tidak pernah ia bayangkan bahwa kata-kata itu adalah pesan terakhir dari sang appa. Kyungsoo tidak akan pernah lagi melihat appa-nya yang sabar dan penyayang itu.

Siang itu ia melihat eomma-nya menangis seperti orang gila setelah menerima telepon. Ponselnya jatuh begitu saja ke lantai, membuat goresan panjang dan mengerikan di layarnya. Satu-satunya yang ia ingat dari pesan appa-nya saat itu adalah jika ia tidak bisa membantu eommanya, ia harus menelepon uncle Minho atau uncle Donghae.

Tak lama setelah Kyungsoo menelepon kedua pamannya itu melalui ponsel tergores Kyunhyun, Minho dan Donghae datang dan menenangkan sahabat mereka itu. Mereka berempat kemudian pergi ke rumah sakit, dimana saat itu banyak sekali orang yang terluka dan lebih banyak lagi yang menangis.

Kyungsoo tidak mengerti. Ia juga tidak berani bertanya. Atau mungkin lebih tepatnya terlalu takut bertanya melihat Minho menenangkan Kyuhyun dan Donghae sibuk mendengarkan penjelasan ahjussi yang berpakaian seragam.

“Kami sudah mengidentifikasi mayat berikut semua barang bawaan dengan nama beliau. Maafkan kami Kyuhyun-ssi, tapi itu memang suami anda. Pihak kami meminta maaf sebesar-besarnya atas kecelakaan ini. Kami akan memberikan..”

Hanya itu. Hanya itu yang bisa Kyungsoo dengarkan baik-baik karena detik berikutnya ia sudah berada dalam dekapan eomma-nya yang menangis jauh lebih keras daripada sebelumnya. Dan tak lama kemudian, Kyuhyun jatuh pingsan.

*

            Siang itu mungkin adalah siang paling suram di kehidupan Cho Kyuhyun. Suaminya, Lee Jonghyun pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Pesawat yang ia tumpangi untuk kembali ke Korea Selatan mengalami kecelakaan saat hendak mendarat. Sebagian penumpang luka-luka dan beberapa diantaranya meninggal dunia, salah satunya adalah Jonghyun.

Mungkin hidup terkadang tidak adil. Dengan cepat ia memberikan kebahagiaan, namun dengan cepat pula ia merenggutnya. Baru sebentar Kyuhyun benar-benar mengecap kebahagiaan dengan suaminya, dan baru sebentar mereka berbagi segalanya dengan anak mereka, Kyungsoo. Namun kini Kyuhyun harus menerima kenyataan bahwa ia baru saja ditinggalkan.

Kyuhyun masih belum berhenti menangis. Ia juga masih belum melepaskan Kyungsoo dari pelukannya. Dan anak kecil yang akhirnya menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi, ikut menangis. Ia baru saja bersyukur telah mempunyai sepasang orang tua yang lengkap, namun kini ia juga harus kembali kehilangan. Ia ikut menangis hingga akhirnya kelelahan dan tertidur.

Kyuhyun dan Kyungsoo sama-sama menghadapi hal yang sama. Keduanya pernah ditinggalkan orang terkasih dan kini mereka kembali harus merasakan hal yang sama. Beruntung keduanya saling memiliki kini.

“Kyuhyunnie, biar aku membawa Kyungsoo pulang. Yeonhee akan menjaganya. Kasihan, ia terlalu lealh. Ia harus beristirahat.” Kata Minho seraya menepuk pundak sahabatnya itu.

Kyuhyun tidak menjawab, kedua tangannya masih tetap memeluk tubuh kecil Kyungsoo. Seperti enggan melepaskan.

“Minho benar, ia masih terlalu kecil. Terlalu banyak tekanan yang ia hadapi di usianya. Berada disini lebih lama hanya akan membuatnya merasa tertekan lebih dalam. Biarlah aku yang membawanya pulang ke rumah Yeonhee. Minho kau tinggal lah disini bersama Kyuhyun sampai jenazah Jonghyun siap diantar ke rumah.” Kata Donghae lalu perlahan mengambil Kyungsoo.

Kali ini Kyuhyun membiarkannya. Ia hanya bisa memandang Donghae membawa anaknya dalam diam hingga akhirnya mereka benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun tersentak. Sebuah suara berat memanggil namanya. Sepertinya ia mengenal suara itu. Namun..

“H-Hyung?”

Kali ini terdengar suara Minho yang tampaknya menyapa lelaki asing itu. Kyuhyun mengangat wajahnya. Di depannya, berdiri seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang paling ingin ia temui sekaligus yang paling ia hindari selama ini, Jung Yunho.

“Yu..Yunho hyung?”

Jung Yunho masih tetap tampan. Masih tetap bertubuh tegap. Matanya masih tetap memancarkan sinar teduh. Bahkan hatinya masih saja berdebar melihat cinta pertamanya itu. Namun kini ia terlihat letih dan.. sedih. Barulah Kyuhyun menyadari sebagian memar yang ada di wajah Yunho. Ada apa dengannya?

“Aku.. Aku sengaja datang menemuimu. Aku juga menumpangi pesawat Thunder Airlines.” Kata Yunho dengan suara bergetar.

Bukankah itu pesawat yang sama dengan yang ditumpangi Jonghyun?’ pikir Kyuhyun.

“Dan aku.. Duduk bersebelahan dengan Lee Jonghyun.”

Kyuhyun memejamkan matanya. Kembali air matanya menetes. Kembali sakit itu ia rasakan. Hatinya serasa diremas oleh tangan besi, dingin dan menyakitkan.

“Sebelum ia pergi, ia memintaku untuk menyampaikan ini kepada istri dan anaknya.” Yunho berkata seraya memandang benda kecil di tanganya. Benda berbentuk persegi yang cukup tebal, berwarna coklat, terbuat dari kulit. Kyuhyun mengenali benda itu, bahkan sangat mengenalinya. Dompet Jonghyun.

“Aku sempat membukanya dan barulah aku menyadari bahwa kau adalah istri dan anak di dalam foto di dalam dompet ini pastilah anak kalian.” Kata Yunho lagi. Ia kemudian mendekati Kyuhyun dan menyodorkan dompet itu.

Kyuhyun menerimanya dengan tangan bergetar. Ketika benda itu telah sepenuhnya berada dalam genggamannya, ia mengelus permukaan benda itu dengan sayang lalu perlahan membukanya.

Bagaimana mungkin Yunho tidak langsung mengenali siapa pasangan Jonghyun, ketika dompet itu dibuka, foto bahagia Jonghyun, Kyuhyun dan Kyungsoo berada di sana. Ketiganya tersenyum bahagia tanpa beban. Foto itu diambil setelah seminggu Kyungsoo resmi menyandang nama Lee sebagai nama keluarganya.

Di dalam foto itu, Kyungsoo mengenakan topeng batman. Waktu itu Kyuhyun meminta Kyungsoo untuk melepaskannya tapi Kyungsoo ingin sekali memakainya karena ia sangat menyukai batman. Dan tentu saja Jonghyun mengijinkannya.

“Dan ia juga ingin anaknya memiliki ini. Ia memeluknya selama di pesawat, ia bahkan berulang kali mengabaikan permintaan pramugari untuk melepaskannya dan menyimpannya di bagasi. Ia bilang, benda ini sangat berharga.”

Yunho menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Kyuhyun. Kotak itu terbungkus kertas kado berwarna cerah, bergambar batman dalam berbagai posisi heroic. Sebenarnya kado itu adalah milik Kyungsoo, namun karena Kyuhyun sangat penasaran, ia merobek kertas kado yang membungkus kotak itu.

Dan hatinya kembali hancur ketika melihat isi kotak itu. Sebuah pesawat mini seperti yang dijanjikan Jonghyun kepada Kyungsoo. Kyungsoo pasti akan senang sekali menerimanya. Tapi dengan siapa ia akan memainkannya? Karena setiap membicarakan pesawat itu, ia selalu berkata ingin memainkannya bersama appanya terlebih dahulu. Bagaimana cara Kyuhyun memberikannya pada Kyungsoo?

Kyuhyun memeluk kotak itu dengan tangis memilukan. Minho dan Yunho tidak bisa berbuat apa-apa. Menenangkan Kyuhyun pun tidak ada artinya. Ada saat dimana menangis justru membuat seseorang jauh lebih lega setelahnya. Jadi, keduanya memutuskan untuk membiarkan Kyuhyun menangis. Mereka tetap berada di sana, menemani Kyuhyun dalam diam.

*

            “Maaf aku baru bisa datang sekarang. Karena luka-lukaku, dokter tidak mengijinkanku untuk pergi kemana-mana. Aku harus dirawat.” Kata Yunho ketika ia bertemu Kyuhyun di makam Jonghyun seminggu setelah kecelakaan maut itu.

Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum maklum. “Tidak apa-apa, hyung. Seharusnya aku menjengukmu. Kau sudah berbaik hati mau mengantarkan pesan suamiku, setidaknya aku harus membalasmu. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih.”

Kali ini Yunho yang menggeleng. “Aku sangat mengerti posisimu saat itu. Kau sedang berduka, jadi aku tidak ingin mengganggu. Menyampaikan pesan Jonghyun saja sudah membuatku merasa tenang. Setidaknya aku telah membantu satu orang dalam kecelakaan itu.”

Keduanya lalu berjalan keluar dari area pemakaman dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Yunho sibuk dengan percakapan apa yang membuat Kyuhyun nyaman sedangkan Kyuhyun sibuk menenangkan debaran jantungnya. Ia tidak menghianati Jonghyun, tidak! Ia bahkan tidak berpikir untuk melakukannya. Hatinyalah yang berdebar tanpa diminta. Inilah susahnya jika terobsesi dengan cinta pertama, sangat sulit melepaskannya. Yunho menawarkan diri untuk mengantar Kyuhyun pulang setelah itu.

“Masuklah dulu hyung, aku akan membuatkan teh untukmu.” Kata Kyuhyun ketika mereka sudah berada di halaman rumah keluarga Lee.

“Tidak, terima kasih. Kau butuh istirahat. Lain kali saja aku akan berkunjung.”

“Aku bersikeras. Sungguh, aku tidak apa-apa. Setidaknya biarkan aku menjamumu dengan teh atau kopi, karena hanya itu yang bisa kulakukan sebagai tanda terima kasihku. Lagipula, ada yang ingin kutanyakan.” Ujar Kyuhyun penuh harap.

Yunho tersenyum. “Baiklah.”

Keduanya masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang tidak terlalu besar namun sangat asri dan tertata dengan sangat cantik. Rumah itu sangat menggambarkan seorang Lee Jonghyun. Yunho merasa nyaman karenanya.

“Hyung.. silahkan diminum.” ujar Kyuhyun seraya menuangkan secangkir teh panas dari teko besar di atas tatakan yang ia bawa ke ruang tamu.

Yunho minum dengan sopan. Sudah sangat lama ia tidak bertemu Kyuhyun. Dan baru kali ini mereka berbicara berdua, tanpa ada orang lain. Mengingat pertemuan terakhir mereka adalah di rumah sakit, dimana Kyuhyun tidak bicara sama sekali.

“Hyung.. Apa.. Apa kalian, maksudku kau dan Jonghyun banyak berbincang ketika berada di pesawat? Apa ada yang dikatakan oleh Jonghyun tentang aku atau.. anak kami?” tanya Kyuhyun. Awalnya ia sempat ragu, namun rasa ingin tahunya mengalahkan rasa sungkannya.

Yunho menunduk sebentar. Bukanlah hal yang menyenangkan ketika membicarakan seseorang yang telah tiada dimana orang itu pergi di depan matamu. Ia menarik nafas kecil sebentar lalu menghembuskannya perlahan.

“Seperti yang kau tahu, aku baru tahu bahwa ia adalah suamimu ketika aku membuka dompetnya. Ia tidak pernah menyebutkan nama kalian. Tapi ia tidak berhenti bercerita tentang betapa bahagianya ia menjadi seorang suami darimu, juga menjadi ayah walaupun anak kalian adalah anak angkat.”

Kyuhyun ulai meremas kedua belah tangannya ketika Yunho mulai berbicara. Perasaannya kini campur aduk, antara bahagia dan sedih.

“Ia bercerita kalau kalian melewati banyak sekali hal bersama. Bagaimana ia menunggumu, lalu akhirnya kau membuka hati, kemudian tentang orang tuanya, keputusannya untuk tetap bersamamu, dan akhirnya tentang pernikahan sederhana serta keinginan kalian untuk mengadopsi seorang anak.”

Kyuhyun mulai menangis. Ia sudah melarang dirinya berulang kali untuk berhenti menangis. Ia yakin Jonghyun akan sedih melihat dirinya seperti ini. Namun dengan mengenang lelaki itu, ia tak kuasa membendung airmatanya.

“Ia bercerita tentang anak kalian yang sangat lucu dengan mata besar yang selalu bersinar ceria. Ia mengatakan kalau anak kalian sangat pandai dan sangat patuh. Betapa ia sangat bangga ketika mendengar permintaannya yang hanya berupa pesawat dan keinginan agar Jonghyun cepat pulang. Ia menyebutnya sebagai anugerah.”

“Maaf jika aku membuatmu menangis..” kata Yunho menutup ceritanya.

“Tidak hyung.. Akulah yang tidak bisa menahan airmataku. Maaf jika aku mengacaukan pertemuan ini. Seharusnya ini menjadi reuni yang mengesankan.” Kata Kyuhyun diantara isakannya.

Lalu pada saat itu suara deru mobil memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian langkah-langkah kecil memasuki rumah itu dengan cepat.

“Eomma.. Eomma.. Aku pulang.. Tadi di sekolah..”

Perkataan Kyungsoo tidak selesai karena melihat eomma-nya menangis sementara di sampingnya ada lelaki lain yang tampaknya tidak asing. Namun Yunho langsung bangkit dari duduknya ketika melihat Kyungsoo. Seolah melihat hantu, wajahnya mendadak pucat.

“K-Kyung..soo?

*

jongkyusoo

To Be Continued..

School Time

Title                :  School Time (1st teaser of the MBIAG’s sequel)

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Main Cast      : Baekhyun

Other Cast     : Yunho, Kyuhyun, Je Hoon, TOP, Donghae, Suho, and others

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary       : Akhirnya Baekhyun akan masuk sekolah, bagaimana reaksi para lelaki ini?

 

Mentari pagi bersinar cerah. Langit biru terlihat bersih tanpa awan. Burung-burung bernyanyi menyambut musim semi yang indah itu. Dari balik jendela di lantai dua di sebuah rumah mewah bergaya modern, terlihat seorang anak lelaki berumur tujuh tahun tengah tertidur pulas. Sinar mentari yang jatuh di wajahnya melalui kaca jendela sepertinya tidak mengusiknya sama sekali.

Tak lama kemudian seorang lelaki muda berparas manis memasuki kamar itu lalu tersenyum. “Aigoo.. Tidurnya lelap sekali. Aku tidak tega membangunkannya.”

“Ini adalah hari yang bersejarah untuknya, baby. Hari dimana ia akan menginjakkan kaki di sekolah untuk pertama kalinya.” Jung Yunho ikut masuk ke kamar itu lalu duduk di tempat tidur, tepat di samping kepala anaknya berada.

Cho Kyuhyun tersenyum. “AKu tahu, hyung. Aku masih ingat semalam betapa bersemangatnya ia menyiapkan peralatan sekolahnya dan tidak mengijinkan siapapun menyentuh ranselnya. Ia bahkan terus-menerus membelai seragam sekolahnya dan mengeluh mengapa pagi hari datang terlalu lambat.”

Keduanya tertawa seraya menatap satu-satunya buah hati mereka, Jung Baekhyun, yang masih tertidur pulas.

“Baekki.. Chagi.. Bangun sayang.. Sudah pagi.” Kyuhyun membelai rambut anaknya penuh sayang seraya mencoba membangunkannya.

“Hmmmmm..” Baekhyun hanya mengeliat bak anak kucing tanpa membuka matanya ataupun menjawab.

“Bukankah hari ini Baekhyunnie mau ke sekolah? Hari pertama sekolah tidak boleh terlambat, chagi.”

Mata Baekhyun sepenuhnya terbuka ketika mendengar kata ‘sekolah’. Dengan cepat ia langsung bangun dari tidurnya dan melompat turun dari tempat tidurnya.

“Appa.. Eomma.. Baekki mau mandi.. Sekolah.. Baekki mau sekolah..” ujarnya sambil melompat-lompat riang.

Kyuhyun tertawa lalu berpura-pura cemberut. Tangannya bersedekap di depan dadanya. “Mana ciuman selamat pagi untuk eomma dan appa?”

Baekhyun menyeringai lalu menghampiri kedua orang tuanya, menghadiahkan ciuman kecil di pipi keduanya lalu kembali melompat-lompat dengan tak sabar. “Cepat appa, Baekki mau ke sekolah.”

“Baiklah, kau akan mandi dengan appa sementara eomma akan menyiapkan sarapanmu. Let’s go buddy.” Kata Yunho seraya merentangkan tangannya.

Baekhyun menyambut rengkuhan ayahnya lalu melompat ke dalam pelukan hangat itu.

*

            Baekhyun menyantap sarapannya dengan lahap hanya karena eomma-nya mengatakan bahwa gurunya akan terkesan dengan anak yang pandai karena menghabiskan makanannya. Hal yang sama terjadi ketika ia akan mengenakan sepatunya. Ia melakukannya sendirian, bahkan ia mengikat tali sepatunya dengan benar. Lagi-lagi hal ini terjadi karena hasutan dari sang eomma yang mengatakan kalau ia akan dipuja oleh teman-temannya jika ia bisa mengikat tali sepatunya dengan benar.

Dan Baekhyun menelan semua kata-kata itu seperti ia menelan susunya pagi ini. Ia sama sekali tidak curiga kalau hal itu hanyalan alasan Kyuhyun agar membuat anaknya lebih mandiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit ketika Baekhyun sudah siap berangkat. Mereka bisa saja pergi jam tujuh pagi karena sekolah akan di mulai pukul delapan nanti. Tapi Baekhyun bersikeras ingin menjadi orang pertama yang sampai di sekolah sebelum anak-anak lainnya.

Berkali-kali ia mencuri pandang ke arah kaca jendela mobil mewah ayahnya untuk memastikan bahwa ia sudah terlihat tampan dan rapi.

“Narsis sekali.” Bisik Yunho pada Kyuhyun ketika dilihatnya Baekhyun sekali lagi menyisir rambutnya menggunakan jari-jari kecilnya dan merapikan pakaiannya sekali lagi.

“Tentu saja. Ia mengingatkanku pada seorang lelaki yang selalu mengecek penampilannya semenit sekali setiap akan keluar dari rumah. Sifatnya itu pasti menurun pada anakku.” Balas Kyuhyun sambil melirik suaminya.

Yunho tahu, dirinya lah yang disindir oleh Kyuhyun. Karena seperti itulah yang terjadi ketika ia hendak keluar rumah, tidak berhenti berkaca dan memastikan penampilannya sudah sempurna.

Tiba-tiba beberapa mobil mewah muncul di halamannya. Pintu-pintu mobil itu terbuka bersamaan dan dari dalamnya muncul orang-orang yang sangat dikenalnya : Je Hoon dan Seung Hyun di mobil pertama, Donghae dan Suho di mobil kedua, Geun Suk dan In Ah di mobil terakhir. Hanya Ji Sub dan Wonbin yang absen hari ini karena mereka berada di New York sejak dua hari lalu.

Wajah-wajah tampan mereka terlihat mengantuk tapi anehnya mereka tidak tampak lelah. Sebaliknya, mereka justru terlihat sangat ceria. Dan seakan tidak melihat Kyuhyun dan Yunho, mereka menyerbu si kecil Baekhyun.

“Baekhyunnie.. Ini hari pertamamu pergi ke sekolah. Wah kau tampan sekali.” Puji Yoo Ah In seraya mengacak rambut si kecil.

Bukannya senang atas pujian itu, Baekhyun justru menjerit. “Ya! Ahjussi! Jangan mengacak rambutku. Baekki sudah menyisirnya dengan rapi.”

“Jangan marah Baekki. Nanti ketampananmu hilang. Aku akan memperbaikinya.” Suho melangkah ke samping Baekhyun lalu menata kembali rambut halus itu dengan jari-jarinya.

“Kami semua kemari untuk mengantarmu ke sekolah.” Kata Donghae.

Geun Suk mengiyakan. “Benar. Kami ingin melihatmu masuk ke gerbang sekolah. Bahkan kami juga akan menjemputmu sepulang sekolah.”

“Jangan!”

Keenam lelaki itu menoleh. Ternyata Kyuhyun lah yang berbicara.

“Maksudku, jangan menjemputnya beramai-ramai seperti itu.”

Protes-protes langsung terdengar.

“Ya! Mana mungkin kami tidak diijinkan menjemput Baekki?”

“Dia sudah seperti anakku sendiri.”

“Aku akan tetap menjemputnya, tidak peduli kau akan melarang atau tidak.”

Yunho mengangkat tangannya, memberi isyarat agar yang lainnya tenang. Setelah keenam lelaki itu diam, barulah ia bicara. “Maksud Kyuhyun bukan kalian tidak boleh menjemputnya. Boleh saja, tapi tidak beramai-ramai. Kalian boleh mengatur schedule siapa yang akan menjemputnya setiap hari. Jadi setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama.”

“Benar.” Kyuhyun menambahkan. “Karena jika kalian menjemputnya beramai-ramai, akan terlihat aneh. Dia hanya anak biasa, bukan anak presiden atau anak spesial lainnya. Aku tidak mau ia justru mendapat ledekan dari teman-temannya karena hal ini.”

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan menjemputnya bergiliran. Tapi hari ini, karena ini adalah hari pertamanya bersekolah, tolong biarkan kami mengantar dan menjemputnya.” Kata TOP yang langsung diiyakan dengan anggukan dari Yunho.

“Dan kalau kau mengatakan Baekhyun hanya anak biasa, kau salah. Ia sangat spesial untuk kami. Dan untuknya kami rela memberikan apa saja, bahkan nyawa sekalipun.” Kata Je Hoon tajam.

Kyuhyun benar-benar terharu dibuatnya. Ia tidak akan khawatir lagi kalau begini. Baekhyun dicintai oleh para pamannya. Sudah pasti ia akan dilindungi kapan dan dimanapun ia berada.

“Appaaaa… Kenapa kita belum juga berangkat?” Tanya Baekhyun dengan cebikan khas di bibirnya.

“Kita berangkat sekarang chagi, kemarilah, naik ke mobil.” Kata Yunho seraya membukakan pintu mobil untuk putra semata wayangnya itu.

“Tunggu. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan langsung pada Baekhyun.” Kata Geun Suk.

Dahi Kyuhyun berkerut. “Apa itu?”

Keenam laki-laki itu mendekati Baekhyun yang sudah berdiri di antara kedua orang tuanya alih-alih menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Baekki, ini adalah jam tangan perekam. Kau bisa merekam suara melalui jam tangan ini dan hasilnya sangat jernih, seperti mendengarkan seseorang bicara langsung di telingamu.” Kata Je Hoon seraya melingkarkan sebuah jam tangan mungil di pergelangan tangan kiri Baekhyun.

“Ini adalah pena melarikan diri. Tekan tombolnya dan ujungnya akan mengeluarkan tali tipis yang sangat kuat yang lalu mencari sasaran sebagai penyangga. Kau tinggal memegangnya erat-erat dan pena ini akan membawa dan menyelamatkanmu di situasi-situasi tertentu.” Kata Ah In lalu memasukkan pena tersebut ke dalam ransel Baekhyun.

“Kalau yang ini adalah kalung pengintai yang dilengkapi dengan video recorder berdurasi dua jam. Kau cukup memakainya setiap hari lalu mengaktifkannya di saat-saat tertentu. Ia akan merekam apa saja yang ada di depanmu.” Kali ini Geun Suk memberikan hadiahnya. Baekhyun dengan senang hati memakai kalung berliontin senapan itu ke lehernya.

“Bubuk ajaib. AKu sendiri yang meramunya. Lemparkan sedikit saja kepada seseorang dan ia akan sedikit buta karenanya hingga jika kau dalam kesulitan, ia tidak bisa mengejarmu.” TOP memberikan hadiahnya dengan hati-hati. Bubuk ajaibnya di tempatkan di sebuah botol plastik kecil lalu di letakkan di kantong sebelah kiri ransel Baekhyun.

“Aku butuh tahu dimana kau berada setiap saat, Baekki. Jadi kapanpun kau tidak bersama kami atau kedua orang tuamu, tolong pakailah selalu cincin ini. Ini adalah alat pelacak terbaik. Jangan sampai hilang, ne?” Donghae menyematkan sebuah cincin mungil ke jari tengah Baekhyun, jari yang cukup aman menurutnya dibanding jari lainnya mengingat posisinya di tengah.

“Dan yang ini adalah dariku.” Kata Suho seraya menyerahkan sebuah benda berbentuk kotak, remote control dengan layar kecil. “Mungkin orang-orang akan melihatnya sebagai game controller, tapi fungsinya adalah sebagai senter sekaligus laser.”

Baekhyun sedikit terkejut dengan pemberian semua ahjussi-nya yang secara tiba-tiba itu. Terlebih ketika wajah appanya berubah sedikit cemas.

“Teman-teman, untuk apa memberinya barang-barang seperti itu? Kita tidak lagi dalam masa perang bukan? Lagipula, bisa jadi Baekhyun salah menekan tombol dan terjadi hal-hal yang justru sangat tidak kita inginkan.”

Lee Je Hoon dengan cepat menanggapi. “Mencegah kemungkinan buruk itu jauh lebih baik daripada menghambat. Kami hanya memberinya barang-barang sederhana yang sekiranya nanti dapat ia pakai sebagai pertahanan.”

Yoo Ah In mengangguk setuju. “Benar, kita tidak tahu apa yang akan terjadi bukan? Hanya mencegah kemungkinan buruk.”

“Lagipula..” Donghae menambahkan. “Aku yakin Baekhyun sangat mengerti fungsinya dan ia akan menggunakannya secara bijaksana.”

“Dia masih terlalu kecil. “ sanggah Kyuhyun. “Dia belum mengerti apa maksud kalian semua. Dia hanya menerimanya sebagai hadiah dari keluarganya.”

“Tujuh tahun dia tumbuh di lingkungan kita, Kyu. Walaupun ia tidak pernah melihat kita membunuh atau melukai seseorang, tapi dia adalah anak yang cerdas. Aku sangat yakin kalau Baekhyun sangat mengerti seperti apa kita semua.” Kali ini TOP yang angkat bicara.

Namun perkataan para ahjussinya memang benar. Baekhyun adalah anak yang sangat cerdas. Sifat dan bakat gangster secara tidak langsung sudah menurun kepadanya. Ia memang tidak pernah melihat pertempuran. Ia hanya mendengar bisik-bisik juga beberapa peralatan para pengawalnya itu juga betapa seriusnya para penjaga di sekeliling rumahnya. Belum lagi sikap appa-nya yang selalu serius ketika mengajarinya ilmu bela diri. Ia sudah tahu dari dulu bahwa ini bukanlah keluarga biasa.

“Baekki mengerti. Baekki tahu pekerjaan appa dan ahjussi. Tapi Baekki tidak takut, Baekki sangat bangga. Kalau sudah besar nanti, aku ingin ikut appa dan ahjussi berperang.” Kata Baekhyun dengan lantang.

“Ooopss..” kata Baekhyun seraya membekap mulutnya. “Baekki lupa, mulai hari ini Baekki akan memanggil semua ahjussi dengan sebutan uncle. Karena kata appa kalian semua masih muda. Dan samchon untuk Suho dan Donghae ahjussi, eh maksudnya samchon. Lagipula semua sudah berbaik hati memberikan Baekki hadiah.”

“Mengapa kami dibeda-bedakan seperti ini?” protes Je Hoon. “Harusnya semua menjadi uncle atau samchon.”

“Suho dan Hae samchon adalah paman Baekki.” Baekhyun mempertahankan argumennya.

“Tapi Donghae bukan pamanmu.” Kata Yoo Ah In dengan iri.

“Tapi teman baik eomma. Jadi Donghae ahjussi akan jadi Donghae samchon.”

“Mana bisa seperti itu?”

“Ya! Baekhyunnie, ini tidak adil!”

Kembali protes-protes terdengar. Mau tidak mau Yunho memutuskan untuk berhenti menonton dan langsung turun tangan.

“Baekhyunnie, semuanya sayang padamu dalam porsi yang sama. Semuanya rela mempertaruhkan nyawa untuk Baekki. Jadi, untuk apa ada perbedaan?” tanya Yunho lembut.

Baekhyun mengembungkan kedua pipinya. “Arasso.. Semuanya akan jadi uncle kalau begitu.”

Gumanan lega langsung terdengar dimana-mana.

“Lagipula uncle lebih gampang, appa. Geun Suk uncle, lemparkan senjatanya, ada musuh disana. Dor dor dor!” seru Baekhyun riang seraya memperagakan adegan menembak ke sembarang arah.

“Tidak akan ada peperangan.” Sahut Kyuhyun kesal. “Cepat naik ke mobil atau kau akan terlambat ke sekolah.”

Baekhyun hanya bisa menurut dengan cemberut.

*

Sekolah dasar tempat Baekhyun akan menimba ilmu ke depannya itu bisa dikatakan sebagai yang terbaik di Seoul. Dengan para pengajar handal, kurikulum terdepan disertai fasilitas lengkap, biaya yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat ini tidak sedikit.

“Huaaa… appa.. sekolah Baekki besar sekali.. Baekki suka.” Jerit Baekhyun riang ketika ia sudah turun dari mobil.

“Kau suka? Semua yang terbaik ada di sini. Tugasmu di sini adalah bersenang-senang, bermain dan berteman sebanyak-banyaknya. Tapi jangan melupakan tugas utamamu untuk belajar dan menjadi yang terbaik.” Kata Kyuhyun seraya memeluk buah hatinya itu.

“Pasti eomma. Baekki akan mengalahkan semua anak di kelas. Baekki harus jadi ketua kelas.” Kata Baekhyun dengan bangga.

“Tapi kau tidak boleh sombong, ne? Harus selalu mendengarkan gurumu dan menjaga teman-temanmu.”

“Tentu, Baekki ingin punya teman seperti teman-teman appa.”

Yunho tersenyum melihat anaknya yang penuh semangat itu. Ia kemudia berjongkok di depan Baekhyun dan menatap anaknya dengan serius.

“Baekhyunnie, hari ini adalah hari bersejarah yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Isilah dengan hal-hal berarti. Hari ini adalah pertama kalinya kau bersekolah, bertemu teman baru atau bahkan sahabat baru, dan sendirian tanpa kami semua selama enam jam kedepan. Buatlah appa dan eomma bangga. Jadilah anak baik.”

Baekhyun melintangkan tangan kanannya di depan dadanya, seperti mengambil sumpah suci, ia berkata dengan serius. “Baik appa. Baekki akan menuruti semua kata-kata appa dan eomma.”

Kedua orang tuanya bergantian memeluknya.

“Ayo kita masuk.” Kata Kyuhyun lalu meraih jemari kecil Baekhyun.

Ketiganya bergerak memasuki halaman sekolah, begitu juga keenam lelaki di belakang mereka.

“Ya! Mengapa kalian ikut masuk? Nanti kalian akan menakuti anak-anak lain di dalam. Lagipula akan menjadi pertanyaan mengapa Baekhyun diantar beramai-ramai seperti ini.” protes Kyuhyun ketika menyadari para lelaki itu mengikuti mereka hingga ke depan kelas Baekhyun.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau hari ini adalah pengecualian?” TOP dengan cepat membalas protes Kyuhyun.

Kyuhyun baru akan meladeni TOP ketika seseorang mendekat. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mata bersinar ramah menghapiri mereka.

“Oh.. cantik sekali..” goda Yoo Ah In.

“Hai.. Mentari pagi.. Namamu pasti Sunny..” kali ini godaan keluar dari bibir Geun Suk.

Yunho langsung melemparkan pandangan memperingatkan. Bukan hanya karena wanita itu adalah wanita asing yang harus dihormati melainkan juga karena ia mencegah Baekhyun mendengar hal ini.

Para lelaki itu langsung diam. Mereka tidak ingin hari pertama Baekhyun ke sekolah jadi kacau hanya karena si kecil mengamuk.

“Anneyong haseyo.. Perkenalkan, namaku adalah Seohyun. Aku adalah wali di kelas ini.” kata gadis muda itu seraya menunjuk ke kelas yang akan menjadi kelas Baekhyun nantinya.

Yunho dan Kyuhyun mengangguk bersamaan, memberikan salam pada Seohyun lalu memperkenalkan Baekhyun padanya seraya berdoa gadis muda itu akan tahan terhadap sikap Baekhyun nantinya, siapa tahu Baekhyun tidak menepati janjinya untuk bersikap baik. Mengingat pada saat pre-school yang dilakukan di rumah saja sudah membuat gurunya nyaris menangis setiap hari. Mungkin ia akan mengundurkan diri andai Kyuhyun tak terus menerus menahannya dengan menaikkan bayarannya.

“Jadi, namamu adalah Baekhyun? Selamat datang. Rupanya banyak sekali orang yang menyayangimu, terlihat dari banyaknya yang mengantarmu saat ini.” kata Seohyun lagi, melirik kumpulan lelaki tampan yang mengantar Mr. Jung cilik.

“Ahjuss.. maksudnya uncle hanya ingin melihat kelas Baekki.” Jawab Baekhyun malu-malu. Tepat pada saat itu, bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.

Seohyun mengangguk. “Baiklah, karena bel sudah berbunyi, artinya Baekhyun harus segera masuk kelas.”

Kyuhyun tahu, ini saatnya melepaskan anaknya untuk sementara. Ia pasti akan sangat merindukan Baekhyun yang nakal dan menggemaskan selama beberapa jam kedepan. Dan ia pasti akan merasa sangat kesepian mengingat ia sudah terbiasa melihat Baekhyun di sekitarnya.

“Rumah pasti akan terasa sangat sepi. Pertama tanpa kau, hyung, karena kau harus bekerja. Sekarang anak kita akan bersekolah.” Kata Kyuhyun sedih, berusaha keras menahan tangisnya. Ia sendiri sudah berhenti bekerja sejak ia melahirkan Baekhyun.

“Jangan sedih, kau bisa jalan-jalan atau bersantai sejenak. Mulanya akan terasa aneh, lama-lama kau akan terbiasa.” Yunho menenangkan istrinya dengan mengusap lembut pundak Kyuhyun.

“Apa ia akan baik-baik saja? Apa uang yang kita berikan cukup untuk membeli makanan di kantin? Apa bekal yang disiapkan bisa membuatnya bertahan? Apa teman-temannya akan bersikap baik padanya?” tanya Kyuhyun ketakutan. Ia masih menggenggam erat jemari kecil Baekhyun, belum rela melepaskannya.

“Baby.. Ia akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Ia adalah anak kita bukan, ia sudah kuat sejak kecil. Jadi, sekali ini, percayalah padanya.” kembali Yunho menenangkan Kyuhyun.

Setelah mendengar kalimat suaminya,  barulah Kyuhyun mau melepaskan genggamannya.

“Appa.. Eomma.. Uncle.. Baekki akan masuk ne? Jemput Baekki sepulang sekolah, ne?” kata Baekhyun dengan suara lemah. Semua tahu, Baekhyun nyaris menangis saat ini. Tapi ia berusaha keras terlihat gembira agar tidak ada yang khawatir terhadapnya.

“Baekhyun-ah, ayo masuk..” panggil Seohyun yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk. Hanya Baekhyun yang tersisa di luar kelas.

Baekhyun melangkah pelan meninggalkan rombongan yang mengantarnya. Air mata Kyuhyun langsung jatuh melihat anaknya melangkah pergi. Langkah Baekhyun terasa sangat berat. Ketika selangkah lagi ia mencapai Seohyun, ia berbalik ke belakang dan melihat wajah-wajah cemas di sana. Dengan cepat ia berlari dan memeluk semua pengantarnya satu persatu. Dan betapa leganya ia karena bebannya terasa ringan kini.

Dengan riang ia berkata. “Sampai jumpa semua, Baekki akan melakukan yang terbaik hari ini.” kemudian ia kembali berlari ke arah wali kelasnya lalu keduanya menghilang ke dalam ruang kelas.

*

“Eommaaaaaaaaa… Appaaaaaaaaaa…” jerit Baekhyun riang ketika melihat kedua orang tuanya menjemputnya sepulang sekolah. Ia memeluk keduanya bersamaan. Kedua tangan kecilnya dikalungkan di leher kedua orang tuanya.

“Baekhyunnieeeee..” jerit para uncle dengan tak kalah riangnya.

“Uncleeeee… Wah, semuanya menjemput Baekki. Semuanya menepati janji. Yeaahhhhh..” jerit riang sekali lagi terdengar dari bibir kecil Baekhyun.

“Nah, bagaimana rasanya ke sekolah untuk pertama kalinya?” tanya Kyuhyun.

“Semuanya menyenangkan, eomma. Teman-temanku, guruku, lapangannya besar sekali, kami tadi bermain bola setelah makan siang. Dan bahkan makanan disini semuanya enak.” Kata Baekhyun berapi-api.

“Lihat kan? Ia baik-baik saja. Kau hanya perlu percaya padanya, baby.” Kata Yunho pada Kyuhyun. Ia lalu berpaling pada anaknya. “Lalu, apa kau mendapatkan teman baru?” tanya Yunho.

Baekhyun menepuk dahinya. “Oh, Baekki lupa. Sebentar..”

Anak kecil itu berlari ke balik tembok sebentar lalu muncul dengan anak lelaki lain. Anak itu terlihat malu-malu ketika Baekhyun menariknya. Ia terus menunduk, menghindari tatapan-tatapan para penjemput Baekhyun, terutama para uncle Baekhyun.

“Appa, eomma, uncle, ini adalah teman sebangku Baekki. Dia sangat baik. Tadi kami bertukar bekal dan membeli minuman bersama. Ia juga menyukai es krim cokelat. Namanya adalah Kyungsoo, Jo Kyungsoo.” Baekhyun memamerkan sahabat barunya.

“Halo, Kyungsoo..” sapa Kyuhyun dengan ramah. Tapi si kecil Kyungsoo tidak mengangkat wajahnya. Ia masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Kyungie. Appa, eomma dan uncle Baekki semuanya baik. Mereka akan sayang juga pada Kyungie.” Bisik Baekhyun dengan lembut.

Yunho mengangkat alisnya. ‘Kyungie? Baekhyun bahkan sudah memanggil Kyungsoo dengan nama kecilnya? Betapa mudahnya anak-anak saling dekat, tidak seperti orang dewasa yang membutuhkan proses.

“Tidak apa-apa, Kyungsoo.. Aku adalah appa Baekhyun. Kemarilah.” Pelan-pelan Yunho berjongkok lalu meraih jemari kecil Kyungsoo dan menariknya lebih dekat padanya dan Kyuhyun. Di sebelahnya, Kyuhyun ikut berjongkok.

Dengan ragu Kyungsoo mengangkat wajahnya. Wajah anak itu berbentuk oval dengan pipi gempal dan mata besar yang bersinar malu-malu. Ia mirip dengan Baekhyun, kecuali mata dan bibir keduanya. Mata Kyungsoo berbentuk bulat sedangkan mata Baekhyun lebih kecil dan menyipit. Bibir Kyungsoo berbentuk hati dan berisi sedangkan bibir Baekhyun lebih tipis. Disamping itu, keduanya cukup mirip.

Saat itu juga, entah mengapa, hati Yunho dan Kyuhyun menghangat. Perasaan ketika melihat Kyungsoo sama seperti melihat Baekhyun, penuh rasa sayang.

“Aku terlalu merindukan mempunyai anak lagi hingga aku langsung jatuh cinta ketika melihat Kyungsoo. Oh, dia manis sekali, hyung..” Bisik Kyuhyun pada Yunho.

“Kita sepemikiran, baby. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kau tahu sendiri bagaimana reaksi Baekhyun kalau kita akan memberinya adik.” Yunho ikut berbisik di telinga istrinya.

“Kyungie.. Apa aku boleh memanggilmu, Kyungie?” tanya Kyuhyun.

Jo Kyungsoo mengangguk.

“Kau manis sekali.” Kyuhyun tidak tahan lagi, ia mendaratkan cubitan gemas di kedua pipi Kyungsoo. Membuat sang pemilik pipi bersemu merah.

“Kau benar-benar manis, Kyungie. Orang tuamu pasti sangat sayang padamu.” Kata Yunho seraya mengacak rambut Kyungsoo.

Bahkan rambutnya pun sangat bagus.’ Kata Yunho dalam hati, mengagumi sahabat anaknya itu.

“Nah, Kyungie, itu adalah uncle yang aku ceritakan.” Tunjuk Baekhyun seraya menunjuk para unclenya yang sedaritadi menunggu untuk dikenalkan.

Ia lalu membawa Kyungsoo mendekat pada uncle-uncle nya lalu mengenalkan mereka satu persatu dengan bangga. Seperti biasa, Baekhyun akan sedikit bersikap bossy di depan para uncle-nya.

“Kyungsoo..”

Yunho menoleh, seorang lelaki jangkung berambut pirang berdiri disana, menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sama seperti miliknya.

“Krisss….”  Kyungsoo berlari ke pelukan sang lelaki jangkung. Barulah Kyuhyun dan Yunho bisa melihat Kyungsoo bersikap santai. Ia bahkan tersenyum lebar.

“Halo.. Kami adalah orang tua Baekhyun, teman sekelas Kyungsoo.” Kata Yunho memperkenalkan diri.

“Halo.. Aku Kris. Aku adalah paman Kyungsoo. Senang berkenalan dengan kalian. Maaf, kami tidak bisa lama-lama, aku masih ada urusan setelah ini.” kata lelaki jangkung alias Kris itu.

“Tidak sopan sekali.” Bisik Je Hoon dengan kesal. Walaupun ia tertarik dengan gaya berpakaian Kris yang hampir sama dengan caranya dan TOP berpakaian.

“Seolah kita akan menculik Kyungsoo. Lihat caranya memegang anak itu.” Donghae ikut berbisik.

“Tapi anak itu manis sekali.” Kata Suho dengan pandangan memuja.

“Ya! Kami sedang membicarakan pamannya!” hardik Geun Suk.

“Ah, tidak masalah. Kami mengerti. Nah, sampai jumpa lagi, Kyungsoo, Kris. Hati-hati di jalan.” Terdengar Yunho menjawab dengan sopan.

Setelah membungkuk hormat dan melambai pada Baekhyun, Kyungsoo dan Kris berbalik pergi. Anak itu terlihat senang sekali, ia bahkan melompat-lompat riang sambil berjalan.

“Ia pasti menceritakan apa saja yang ia lalui di sekolah hari ini. Ah, aku suka sekali pada anak itu.” kata Kyuhyun, masih tetap memandang sosok Kyungsoo hingga anak itu menaiki mobil mewah berwarna hitam di depan sana.

“Nah, ayo kita pulang.” Kata Kyuhyun seraya menarik Baekhyun ke mobil, diikuti para lelaki yang ikut menjemput Baekhyun hari itu.

Yunho baru akan ikut berbalik ketika dilihatnya TOP berdiri mematung menatap ke depan. Di sampingnya, Yoo Ah In memegang lengan TOP dengan keras, ekspresinya sama dengan ekspresi orang di sebelahnya.

Yunho mengikuti arah pandangan keduanya dan mendapati seorang lelaki bertampang dingin keluar dari salah satu ruangan di sekolah yang tampaknya seperi ruang guru. Lelaki itu awalnya tidak menyadari tatapan TOP maupun Ah In, namun sebelum berhenti di samping mobil sport-nya, ia menoleh lalu tersenyum dingin.

“Nickhun..” bisik TOP. Wajahnya pucat karena shock sedangkan ia sendiri masih mematung di tempatnya. Lain lagi dengan Ah In yang memandang sosok yang bernama Nickhun itu dengan penuh kebencian.

Di sana, lelaki yang bernama Nickhun itu berdiri. Masih dengan senyum dinginnya, ia menatap TOP dan Yoo Ah In. Tiba-tiba lelaki lain keluar dari dalam mobil sport itu, ikut menatap kedua anggota klan Naga itu dengan seringaian mengerikan.

Bahkan Yoo Ah In kini terbelalak. “G-Dragon?”

Nickhun? G-Dragon? Siapa mereka?’ pikir Yunho. Dan entah mengapa, tiba-tiba perasaannya memburuk.

*

yunkyubaek-mbiag2

           To Be Continued..

 

The sequel of My Boyfriend is A Gangster (MBIAG) will be released very soon after the second teaser. Don’t miss it..!