Obsession – Chapter 6

Title                 : Obsession

Rate                 : T+

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, JongKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary      : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 6

A Dream-Lover Man

            Kyuhyun melirik arloji di tangan kirinya, ia sudah menunggu selama lebih dari dua puluh menit. Tapi tidak ada kebosanan yang terpancar di wajahnya. Ia kembali menyeruput cokelat panasnya. Ia menolehkan pandangannya keluar. Ia malah asik bersenandung riang seraya mengamati derasnya hujan yang jatuh di luar sana.

Hujan di luar belum berhenti. Sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa langit akan berhenti mencurahkan titik-titik air itu. Kaca besar yang berfungsi sebagai dinding pembatas antara bagian dalam dan luar café itu tampak sedikit berembun. Meski demikian, Kyuhyun masih bisa melihat sosok-sosok pejalan kaki di luar sana.

Sebagian diantara mereka tengah berlari dibawah naungan jaketnya, ada yang menggunakan koran atau tangan mereka sendiri sebagai pelindung, membuat mereka harus berlari cepat demi menghindari basah. Bagi yang menggunakan payung bisa berjalan sedikit santai, menikmati cuaca musim semi yang basah itu.

Kyuhyun memandang kursi di depannya. Biasanya tempat itu diduduki oleh Minho. Tetapi lelaki itu kini tengah menikmati bulan madunya bersama Yeonhee di Paris, jadi Kyuhyun harus rela menikmati rinai hujan itu sendirian.

“Tidak, aku serius! Kita sejak dulu sudah bersama. Berbagi segalanya, melewati banyak hal, menghadapi tantangan. Aku tidak akan meninggalkanmu. Jadi, kalau kau menikah barulah aku juga menikah. Kalau perlu kita menikah di hari yang sama. Dan Yeonhee setuju akan hal ini.” terang Minho panjang lebar setahun yang lalu ketika Kyuhyun menyuruhnya menikah secepatnya.

Kyuhyun tersenyum haru. Choi Minho memang sahabat terbaik sepanjang masa. Ketika semua orang datang dan pergi, ia akan tetap ada di sana, berdiri di sampingnya.

“Jadi.. Aku harap dia yang terakhir.” Kata Minho dengan tatapan serius saat itu.

“Kuharap juga begitu.” Kata Kyuhyun.

“Hampir tiga tahun menyendiri, mencoba berdamai dengan hati dan pikiranmu sendiri, dan kini akhirnya kau memantapkan dirimu untuk benar-benar melangkah maju.” Minho menambahkan.

Maksud Minho sudah jelas, mereka berbicara mengenai lelaki yang saat itu banyak membantu Kyuhyun untuk kembali berdiri dengan kakinya sendiri. Lelaki yang menerimanya sepenuh hati, walau ia tahu kalau hati Kyuhyun sebagian telah dimiliki orang lain. Tapi ia tidak pernah menyerah. Dengan lembut ia mendekati Kyuhyun, membantu mengobati lukanya, menyambuhkan hatinya yang hancur dan membalut kembali impian yang pernah terjalin.

Kyuhyun pernah menolaknya. Bukan sekali, melainkan berkali-kali. Tapi lelaki itu tidak pernah putus asa,  membuat Kyuhyun sendiri heran mengapa lelaki itu sangat tegar. Memang ia tidak ditolak secara gamblang, tetapi Kyuhyun selalu menyiratkan bahwa ia tidak ingin bersama seseorang sebagai pendamping. Dan lelaki itu mengerti. Ia tidak memaksa melainkan menawarkan bantuan sebagai teman baik.

“Aku tidak keberatan sama sekali jika menjadi temanmu, sahabatmu, teman berbagi cerita atau apalah itu. Selama aku masih boleh berada di sisimu, aku akan menerimanya.”

Memang terdengar bodoh. Tapi itulah dia. Seperti janjinya, ia selalu mendampingi Kyuhyun, menjadi semua yang Kyuhyun inginkan walaupun hubungan mereka tidak lebih dari sekedar teman biasa.

Awalnya Kyuhyun hanya memanfaatkannya, membiarkan lelaki itu ada di sekitarnya tanpa bisa membalas sedikitpun. Membuat lelaki itu pada akhirnya bosan dan memutuskan untuk pergi karena menyerah. Namun tidak ada tanda-tanda itu hingga sekian lama, sebaliknya, Kyuhyun justru merasa sangat tersentuh dengan ketulusannya.

Dan tanpa bisa ia cegah, perasaan itu akhirnya datang, mengalahkan semua ego dan pertahanan Kyuhyun yang selama ini dengan susah payah ia bangun. Pesona lelaki itu terlalu kuat. Dan ketika akhirnya Kyuhyun memberi sedikit celah, ia kembali menyatakan perasaannya dan siap menunggu hingga Kyuhyun siap menerimanya.

“Kau hanya menyia-nyiakan waktumu. Bagaimana jika aku tidak pernah berpaling kepadamu?”

“Maka aku akan terus berusaha. Bukankah cinta itu berarti mau menunggu? Aku rela jika aku harus menghabiskan seluruh waktuku untuk menunggumu, artinya aku sudah benar-benar siap.” Jawabnya dengan tenang kala itu.

“Tapi kau tahu pasti bahwa aku mencintai lelaki lain. Disamping itu, sudah terlalu banyak hati yang kukecewakan. Bisa saja dengan bersamaku, kau akan merasakan kekecewaan itu juga.”

“Maka biarkanlah aku membantumu. Membalut lukamu, merawat hatimu, membuatmu siap mencintaiku. Biarkan aku berusaha untuk menghapus segala kepedihanmu, menjadi pundak yang kau butuhkan saat kau ingin menangis dan menjadi pelukanmu saat kau kedinginan. Aku mungkin tidak bisa menggeser orang itu di hatimu, tapi setidaknya biarkan aku mencoba untuk mengisi tempat yang tersisa di hatimu.”

Tidak ada lagi yang bisa Kyuhyun katakan pada saat itu. Melewati hari-hari bersamanya membuat Kyuhyun yakin, bahwa mungkin lelaki itulah penyelamatnya, membawanya keluar dari lubang sempit yang sesak dan menyakitkan itu selama lebih dari sepuluh tahun mengurungnya.

Dan ketika hatinya sudah nyaris pulih, ketika ia bisa setidaknya merasakan debaran aneh di jantungnya lagi, ketika ia mulai bersemu ketika mendengar rayuan atau bahkan hanya dengan memandang wajah penuh senyum lelaki itu, Kyuhyun yakin itulah saatnya untuk membuka kembali hatinya.

Keduanya akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Kyuhyun selalu menyebut lelaki itu sebagai Mr. Rain, dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya saat hujan. Dan anehnya, segala kenangan indah tentang mereka sering tercipta saat hujan.

Kyuhyun masih ingat dengan jelas bagaimana cara lelaki itu berterima kasih dengan penerimaan Kyuhyun. Ketika akhirnya mereka makan malam dengan romantis dalam rangka perayaan hubungan mereka di salah satu restoran terbaik yang di sewa Jonghyun hanya untuk mereka berdua. Restoran itu bukan restoran mahal, makanan yang mereka makan pun sederhana. Tapi lelaki itu menyiapkan segalanya dengan sangat baik.

Malam itu terasa sangat istimewa, terutama ketika si pemilik senyum manis itu menyanyikan sebuah lagu cinta dengan gitarnya, membuat perasaan Kyuhyun benar-benar meluap, emosi dan haru bercampur, mengeluarkan airmata bahagia yang tanpa bisa ia cegah mengalir turun membasahi pipinya.

“Aku tidak bisa memberimu sesuatu yang mahal, karena menurutku sesuatu yang mahal itu belum tentu bisa membahagiakan kita. Tapi sesuatu yang istimewa akan terasa lebih berarti.”

Ia memberikan sebuah bros kecil yang terbuat dari perak indah berukirkan inisial nama keduanya yang sejak saat itu selalu Kyuhyun sematkan di dasi kerjanya.

Dan hari-harinya hingga bulan kedelapan hubungan mereka terasa sangat menyenangkan. Lelaki itu memberi segalanya yang Kyuhyun inginkan. Baik yang ia ucapkan atau yang ia rahasiakan. Ia seperti tahu apa yang Kyuhyun pikirkan, membuat Kyuhyun semakin mencintai kekasihnya itu.

Dan yang paling membahagiakan adalah ketika lelaki itu melamarnya, mengajaknya untuk mendampinginya sehidup semati, berbagi suka dan duka hingga ajal menjemput. Tiada kata yang bisa menggantikan perasaan Kyuhyun saat itu. Ia kehilangan semua kata, bahkan daya untuk berbicara ikut lenyap. Ia hanya bisa mengangguk. Dan berikutnya yang ia tahu, ia sudah berada dalam dekapan hangat kekasihnya.

Dan beberapa bulan pernikahan mereka adalah surga terindah untuk Kyuhyun. Sangat indah. Walau keduanya tidak bisa diberikan keturunan karena keduanya lelaki, tetapi mereka tidak pernah bersedih. Suaminya justru mengusulkan untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan seperti yang selama ini dipikirkan Kyuhyun tapi ia ragu mengatakannya pada pasangannya itu.

Lihat kan? Ia bisa menebak apa isi kepalaku.’

Dan hari ini adalah hari dimana mereka akan mengadopsi seorang anak. Tapi lelaki itu belum juga menjemput Kyuhyun.

Dia lama sekali.’ Pikir Kyuhyun. Kebosanan kini mulai melandanya.

Namun baru saja ia berpikir untuk menelepon suaminya itu, ia menangkap sosok yang amat di kenalnya itu. Lelaki tampan dengan lesung pipi ketika ia tersenyum, kulit pucat seperti dirinya, dan mata yang memancarkan sinar hangat kala mereka bertatapan. Wajah mereka pun terlihat mirip.

“Itu tanda kalau kalian berjodoh.” Kata Lee Yeonhee dulu.

Kyuhyun memandang lelaki itu. Ketika mata mereka beradu, kembali rasa hangat mengisi relung hatinya. Ia bagaikan malaikat paling tampan di bawah naungan payung besarnya, dikelilingi rinai hujan.

Lee Jonghyun memang selalu tampan.

Kyuhyun berlari keluar, menyongsong kekasih hatinya. Hilang sudah semua kejenuhan yang ia rasakan selama hampir sejam menunggu.

“Jonghyunnie..”

Kyuhyun melemparkan tubuhnya kedepan lalu mendekap erat suaminya. “Kenapa kau lama sekali?”

Lee Jonghyun tersenyum mendengar rengekan Kyuhyun. “Maafkan aku, ada beberapa hal yang harus kukerjakan sebelum datang kemari.”

“Sudah kuduga. Kau pasti lebih mencintai pekerjaanmu daripada aku.” Rajuk Kyuhyun lagi.

Dan lagi-lagi Jonghyun tertawa. “Jangan cemburu pada calon anak kita, baby. Aku harus melengkapi semua sisa persyaratan adopsinya sebelum kita bisa menjemputnya sekarang. Jadi, maafkan aku, ne?”

Kyuhyun mengembangkan senyumnya. “Aku tadi hanya bercanda. Jadi.. Kita akan menjemputnya sekarang? Aku benar-benar sudah tidak sabar..”

Jonghyun melingkarkan tangannya kirinya di pinggang Kyuhyun. “Kalau begitu, mari kita jemput dia.”

*

            Anak lelaki itu sangat tampan. Umurnya baru akan menginjak usia empat tahun bulan depan. Dengan mata besar yang berbinar lucu dan bibir berbentuk hati yang cukup berisi. Dia sangat menggemaskan.

“Namanya Kyungsoo. Ia bersama ibunya mengalami kecelakaan setahun lalu dan ibunya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Ayahnya tidak bisa ditemukan hingga hari ini dan ia tidak punya keluarga lain jadi polisi membawanya kemari. Satu-satunya yang kami tahu hanyalah namanya.” Terang Seohyun, salah satu penjaga panti asuhan.

Jonghyun menatap Kyuhyun. Lelaki itu balas menatapnya dengan mata berbinar. “Baiklah, kita akan mengadopsinya.”

“Terima kasih..” Kyuhyun tidak kuasa berkata-kata lagi. Ia memeluk suaminya itu dengan penuh rasa syukur. Setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada lelaki kecil yang kini resmi menjadi anaknya dan Jonghyun dan berlutut di depannya.

“Kyungsoo-ya, terima kasih karena telah melengkapi kebahagiaan kami. Selamat datang di keluarga kami.” Kata Kyuhyun penuh haru, menahan keras airmatanya yang hendak tumpah.

Mata besar Kyungsoo menatapnya lekat-lekat. “Apa.. Apa artinya Kyungsoo akan punya rumah baru?”

Jonghyun ikut berlutut di depan Kyungsoo. “Benar sekali. Sekarang Kyungsoo adalah anak appa dan eomma. Apa Kyungsoo keberatan?”

Kyungsoo terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Ini adalah hadiah ulang tahun terindah untuk Kyungsoo.. Terima kasih ahjuss..”

“Appa. Kyungsoo sudah bisa memanggil appa mulai sekarang.” Potong Jonghyun.

Kyungsoo mendekat lalu memeluk sang appa dalam rengkuhan hangat. “Kyungsoo punya appa.. Kyungsoo punya appa..”

Melihat itu Kyuhyun tidak lagi bisa membendung airmatanya. Isakannya tidak keras tapi cukup bisa membuat Kyungsoo dan Jonghyun menoleh.

“Dia eomma-mu, Kyungsoo. Sapalah eomma.” Bisik Jonghyun.

Kyungsoo tersenyum lebar. Ia segera melepaskan pelukannya lalu berlari memeluk Kyuhyun. “Eomma.. Mengapa eomma menangis?”

Kyuhyun tersenyum haru ketika tangan kecil Kyungsoo membelai lembut pipinya, menghapus airmatanya. “Eomma hanya benar-benar bahagia karena kau ada disini bersama kami. Terima kasih Kyungsoo-ya.”

“Lee Kyungsoo. Karena sekarang ia adalah anak kita, ia akan memakai nama Lee sebagai nama keluarganya. Bagaimana Kyungsoo?” Jonghyun menambahkan.

Kyungsoo mengangguk ceria. “Kyungsoo suka bermarga Lee. Seohyun ahjumma, sekarang Kyungsoo punya appa dan eomma lagi.”

Kyuhyun mengawasi anak lelakinya itu dengan bangga. Dirinya, Jonghyun dan Kyungsoo. Sempurna.

*

            Hari-hari baru sebagai eomma dari Lee Kyungsoo membuat hari-hari Kyuhyun jauh lebih bersinar dari sebelumnya. Ia menjadi sangat protektif kepada anak semata wayangnya itu. Ia bahkan kerap kali bertengkar dengan Minho karena sahabatnya itu suka sekali ‘meminjam’ Kyungsoo lebih dari jam-jam yang mereka sepakati.

“Aku hanya membawanya jalan-jalan. Kami makan es krim, membeli beberapa buku gambar serta makan siang. Aku bukan penculik, mengapa kau harus menelponku setiap sejam sekali?” keluh Minho sore itu ketika membawa Kyungsoo kembali ke rumah keluarga Lee.

“Kau membawanya terlalu lama. Tidak melihatnya selama enam jam membuatku benar-benar tersiksa.” Kata Kyuhyun, masih memeluk Kyungsoo yang tertidur lelap.

Di lain waktu, ia juga mengeluh pada Lee Yeonhee tentang betapa sepupu gadis itu, Lee Donghae pandai sekali mencuri hati Kyungsoo dan akibatnya membuat Kyungsoo sering merengek meminta agar eommanya membawanya bertemu Donghae.

Belum lagi sikap Kyuhyun yang tiba-tiba berubah dingin kalau sudah terlalu banyak ahjumma-ahjumma di luar sana yang mencubit pipi Kyungsoo atau menciumnya atu memintanya untuk berfoto bersama.

“Itu karena Kyungsoo sangat istimewa, baby. Kita tidak bisa terus-menerus mengurungnya di rumah. Tahun depan ia akan masuk sekolah. Ia harus mulai bergaul, bukan?” Jonghyun menenangkan Kyuhyun ketika istrinya itu dilihat terlalu berlebihan menanggapi semua orang yang terpikat pada anak mereka.

Kyuhyun yang bergelung dalam pelukan suaminya itu hanya bisa mengeluh mendengar tanggapan suaminya itu.

“Mereka ingin mengambil Kyungsoo dariku. Aku tidak suka. Bagaimana kalau Kyungsoo juga menyukai mereka dan akhirnya memilih untuk meninggalkan kita?”

Jonghyun tertawa. “Bagaimana mungkin? Tidak pernahkah kau mendengar setidaknya ia berbicara pada orang-orang di luar sana betapa menyenangkannya hidupnya karena ia punya appa Jonghyun dan eomma Kyuhyun?”

Benarkah? Benarkah Kyungsoo memujinya di luar sana?

Jonghyun menghela nafas. “Baby.. Jebal.. Berhentilah khawatir. Sungguh, aku senang dengan sikapmu seperti ini. Artinya kau benar-benar menyayangi anak kita. Tapi dengan over-protective seperti ini, akan membuat Kyungsoo merasa terkekang. Apa kau mau ia sedih karena ia selalu dikurung di rumah atau dijaga terlalu ketat ketika ia bepergian?”

“Tapi ia masih berumur lima tahun, bagaimana mungkin aku tidak menjaganya dengan ketat? Bagaimana kalau..”

“Kita harus menjaganya dengan baik.” Jonghyun setuju. “Tapi bukan berarti tidak ada kebebasan untuknya. Ia tidak akan senang jika ia dibuntuti kemanapun ketika sedang bermain di taman. Berilah ia sedikit kelonggaran. Mengawasinya dari jarak tertentu sudah cukup. Biarkan ia menjadi anak yang cerdas dan mandiri.”

Kyuhyun mempererat pelukannya, menghangatkan tubuhnya yang dingin di malam cerah itu. “Aku yakin tidak ada ayah sebaik dirimu. Kaulah ayah yang paling tepat untuk Kyungsoo. Dan pendamping paling tepat untukku. Terima kasih.”

Jonghyun menyipitkan matanya. “Terima kasih? Aku tidak menerima ucapan terima kasih saat ini.”

Kyuhyun melebarkan matanya. “Tidak? Lalu apa?”

A kiss maybe?” tanya Jonghyun penuh harap.

Tanpa banyak kata lagi Kyuhyun segera menarik wajah Jonghyun turun lebih dekat kepadanya lalu mulai melumat bibir itu perlahan, dengan lembut dan penuh kasih sayang.

*

            “Appa..Appa.. Kyungsoo mau main itu..”

Kyungsoo melompat-lompat girang seraya menggucang jemari ayahnya ketika ia melihat rollercoaster yang menukik tajam ke bawah lalu berayun naik ke atas bagai ular raksasa dengan puluhan manusia diatasnya.  Minggu yang cerah itu ia diajak oleh kedua orang tuanya beserta Donghae dan Minho untuk mengunjungi Amusement Park.

“Tidak.. Tidak.. Kyungsoo-ya, no scary rides for you, son. Big NO.” jawab Kyuhyun segera. Ketakutan langsung memenuhi kepalanya bagai film yang diputar cepat. Bagaimana nantinya Kyungsoo naik ke atas sana kemudian terpental keluar atau bagaimana ia mengira segalanya akan baik-baik saja padahal ketika mengendarai permainan itu ia akan menangis ketakutan.

Jonghyun memberikan tatapan memperingatkan padanya. Suaminya itu lalu menoleh pada Kyungsoo seraya tersenyum. “Kau belum boleh menaikinya, chagi. Tinggi mu belum mencukupi. Petugas disana tidak akan mengizinkanmu untuk mengendarainya.”

“Benarkah?” tanya Kyungsoo dengan kecewa.

Jonghyun mengangguk. “Kita bisa kesana dan melihat papan larangannya kalau kau tak percaya.”

Kyungsoo menggigit bibirnya. Ia tahu appanya pasti tidak berbohong. Segera setelah itu senyumnya mengembang. “Baiklah, Kyungsoo mengerti. Kyungsoo akan makan lebih banyak agar cepat tinggi seperti appa dan eomma lalu bisa menaiki permainan itu.”

Jonghyun mengacak rambut nakanya dengan penuh sayang. “Ini baru anak appa yang paling pintar dan tampan. Nah, ayo beli es krim.”

“Jawaban cerdas yang sangat tepat.” Kata Minho seraya memandang Jonghyun dan Kyungsoo yang tengah berjalan riang menuju kedai es krim.

Kyuhyun membentuk pout sempurna di bibirnya. “Aku hanya tidak ingin Kyungsoo terluka.”

“Tapi setidaknya kau memberikan jawaban yang lebih lembut. Ketakutanmu terlalu berlebihan.” Donghae menambahkan.

“Aku tahu. Aku hanya tidak bisa mencegah diriku untuk khawatir pada Kyungsoo. Dia begitu berharga.” Kyuhyun menghembuskan nafas kesal. “YA! Kalian akan tahu bagaimana perasaanku ketika nanti kalian sudah punya anak!”

“Ya, ya, ya, kami tahu. Tidak perlu berteriak seperti itu.” Protes Minho seraya mengusap telinganya yang baru saja tersabet kata-kata tajam dari teriakan Kyuhyun barusan.

Donghae tertawa. Kyuhyun masih belum berubah. Ia masih sangat protektif kepada semua orang terdekatnya. Dan yang membuat Donghae jauh lebih senang lagi adalah karena Kyuhyun tampaknya sudah bisa mengatasi rasa obsesinya terhadap Yunho, walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa sesekali Kyuhyun masih memikirkannya.

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Aku senang kau bahagia sekarang. Mempunyai pendamping yang baik serta memiliki anak yang lucu dan menggemaskan.”

“Ditambah aku punya sahabat-sahabat baik seperti kalian.” Jawab Kyuhyun penuh rasa terima kasih.

“Sempurna!” tambah Minho. “Kita tinggal menunggu Hae hyung untuk menikah juga.”

Donghae dengan cepat menggeleng. “Menikah itu perkara mudah. Yang sulit adalah menemukan pasangan yang cocok untuk menjadi temanmu seumur hidup. Dan untuk mendapatkannya, bukankah kita harus melewati berbagai tahap?”

Kyuhyun mengerti. Kata-kata Donghae tadi sangat mudah ditebak. Lelaki itu pasti sangat sulit mencari pendamping karena dirinya bisa membaca pikiran seseorang. Pastilah ia banyak menemukan ketidaknyamanan ketika menjalin hubungan percintaan dengan pikiran-pikiran pasangannya. Dan ketika pikiran-pikiran itu buruk, pastilah Donghae mengundurkan diri.

“Tidak selamanya yang terlihat buruk berarti benar-benar tidak baik, hyung.” Kyuhyun mencoba membantu.

“Aku tahu. Aku hanya benar-benar sedang mencari seseorang yang tepat. Mungkin belum saatnya. Ah.. Jujur aku iri sekali pada kalian berdua. Pastilah kalian menemukan banyak sekali kebahagiaan bersama keluarga baru kalian.” Ujar Donghae dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.

Minho dan Kyuhyun tertawa. Mereka selalu suka pada si barista ini. Donghae merupakan kakak sekaligus sahabat yang bisa diandalkan. Mereka belum pernah dikecewakan oleh Lee Donghae, justru keduanya lah yang biasa membuat Donghae kerepotan karena ulah-ulah keduanya.

“Kau tidak lagi memikirkan masa lalu kan, Kyu?” tanya Minho. Sebenarnya ia cukup penasaran. Sudah lama ia ingin menanyakan hal ini tapi selalu saja ada penghalang.

Donghae langsung memberi tatapan memperingatkan. Alangkah tidak baiknya mengangkat topik yang membuat Kyuhyun nantinya akan kembali mengenang cinta pertamanya. Ia sudah berhasil sejauh ini, apa gunanya kembali mengingatnya?

Tapi Kyuhyun justru tersenyum. “Sejujurnya, terkadang aku masih mengingatnya. Adalah hal yang paling aneh jika kita bisa melupakan dengan mudah seseorang yang sangat kita cintai, atau pernah kita cintai. Aku tahu mungkin kami berdua memang tidak berjodoh atau bahkan tidak bisa bertemu lagi. Namun aku masih sesekali mengingatnya. Apa ia baik-baik saja? Apa ia sebahagia aku? Apa ia juga punya anak lucu seperti Kyungsoo?”

Minho lega mendengarnya. Setidaknya Kyuhyun sudah menanggapi masalah ini dengan dewasa dan bijak. Kekhawatirannya lenyap sudah.

“Aku sangat bersyukur memiliki Jonghyun. Ia tipe lelaki yang tidak mau mengungkit masa laluku. Menurutnya, yang berlalu biarlah berlalu. Ia hanya berjanji akan membuatku bahagia hingga aku hanya akan melihatnya. Ia pernah berkata bahwa terkadang dengan mengingat masa lalu bisa membantu kita lebih kuat di masa kini. Dan dari situlah aku tahu, Jonghyun memang tidak mempermasalahkan apapun yang terjadi padaku di masa lalu. Ia justru mengajariku untuk belajar menerima dan memaafkan semua yang telah terjadi.”

“Kalian tahu, aku sudah menyerah untuk memiliki seorang Jung Yunho. Tapi aku tidak akan pernah menyerah mencintainya. Sekali ini, hanya sekali ini, tolong biarkan aku terus mencintainya.” Kyuhyun menambahkan pada akhirnya.

*

            Sudah tiga bulan Jonghyun berada di Hongkong dalam rangka pembukaan kantor cabang baru perusahaan tempatnya bekerja. Dengan berat hati ia harus meninggalkan keluarga kecilnya untuk sementara.

“Apa kau selalu meminum vitamin yang aku siapkan di tas mu? Minumlah sebelum tidur jadi kau akan merasa lebih segar di pagi hari. Lalu bagaimana pekerjaanmu disana? Jangan bilang kau dikelilingi gadis-gadis cantik nan seksi hingga kau melupakan aku dan Kyungsoo disini.”

Jonghyun tertawa di seberang. Saat itu, baru lima hari ia berada di Hongkong dan Kyuhyun sudah mencecarnya seperti ia telah meninggalkan rumah sebulan. Namun hatinya terasa sangat hangat seperti meminum cokelat panas di musim bersalju, ketika mendengar kicauan riuh Kyuhyun dan Kyungsoo di telepon. Walaupun ia lelah, meski ia mengantuk, tapi ia rela mendengarkan omelan serta keluhan keduanya kala ia tidak ada di sana bersama keluarganya. Selama nyaris tiga bulan ia mendengarkan dengan baik semua omelan yang terdengar begitu merdu di telinganya itu.

Walau usia pernikahannya dengan Kyuhyun baru menginjak tahun kedua dan kebersamaan Kyungsoo dengannya baru setahun,  tapi ia merasa hidupnya sudah lengkap. Mungkin akan lebih lengkap lagi jika kedua orang tuanya masih menganggapnya anak. Ia sudah dibuang oleh kedua orang tuanya sejak ia memutuskan untuk menikah dengan Kyuhyun, pernikahan yang dianggap haram karena menyatukan dua insan yang sejenis.

Dan ia tetap memilih Kyuhyun walaupun orang tuanya tidak memberi restu. Bukan.. bukan ia tidak meminta restu. Ia dan Kyuhyun sudah berulangkali meminta restu, tapi usaha mereka sia-sia. Jonghyun mencintai Kyuhyun. Masa depannya ada bersama Kyuhyun, ia bisa merasakan hal itu sejak pertama. Untuknya, ia siap melepaskan segalanya, agar ia bisa tetap bersama Kyuhyun.

“Appa.. Cepatlah pulang. Kyungsoo ingin bermain bersama appa. Jangan lupa belikan Kyungsoo mainan. Kyungsoo ingin punya mainan pesawat, seperti pesawat yang appa tumpangi ke Hongkong.”

“Appa akan cepat pulang, Kyungsoo-ya. Appa berjanji. Nanti, appa akan membelikan pesawat mainan untukmu, persis seperti pesawat appa. Tapi berjanjilah satu hal pada appa.”

“Apa itu?” tanya Kyungsoo bergairah.

“Jagalah eomma dengan baik selama appa tidak ada. Kaulah kepala keluarga saat appa tidak ada di rumah. Jangan banyak mengeluh dan jangan nakal. Jadilah anak baik. Jika eomma dalam kesulitan dan Kyungsoo tidak bisa membantu, teleponlah uncle Minho atau uncle Donghae.” Jonghyun menjabarkan pelan-pelan. Dengan nada kebapakan yang sangat arif, dengan suara lembut namun tegas yang membuat anaknya langsung mengerti.

“Kyungsoo mengerti appa.” Anak kecil ini menjawab dengan sungguh-sungguh, seperti menerima tugas yang sangat berat dari komandannya di camp militer. Disampingnya eomma-nya ikut mendengarkan sambil tersenyum.

“Dan Kyungsoo harus rajin belajar. Kyungsoo harus bisa membuat appa dan eomma bangga. Kyungsoo harus tumbuh jadi anak yang baik hati dan selalu menolong sesama.” Jonghyun mengakhiri petuahnya.

“Kyungsoo berjanji, appa.”

Entahlah, dalam pikiran kecilnya, Kyungsoo berjanji bukan demi pesawat mainan yang dijanjikan oleh appa-nya, tapi demi mengikuti perkataan sang appa yang sangat dirindukannya dan akan kembali dilihatnya dua hari ke depan.

“Dan Kyungsoo-ya.. Lee Kyungsoo, saranghae..”

“Nado saranghaeyo, appa..”

Namun tidak pernah ia bayangkan bahwa kata-kata itu adalah pesan terakhir dari sang appa. Kyungsoo tidak akan pernah lagi melihat appa-nya yang sabar dan penyayang itu.

Siang itu ia melihat eomma-nya menangis seperti orang gila setelah menerima telepon. Ponselnya jatuh begitu saja ke lantai, membuat goresan panjang dan mengerikan di layarnya. Satu-satunya yang ia ingat dari pesan appa-nya saat itu adalah jika ia tidak bisa membantu eommanya, ia harus menelepon uncle Minho atau uncle Donghae.

Tak lama setelah Kyungsoo menelepon kedua pamannya itu melalui ponsel tergores Kyunhyun, Minho dan Donghae datang dan menenangkan sahabat mereka itu. Mereka berempat kemudian pergi ke rumah sakit, dimana saat itu banyak sekali orang yang terluka dan lebih banyak lagi yang menangis.

Kyungsoo tidak mengerti. Ia juga tidak berani bertanya. Atau mungkin lebih tepatnya terlalu takut bertanya melihat Minho menenangkan Kyuhyun dan Donghae sibuk mendengarkan penjelasan ahjussi yang berpakaian seragam.

“Kami sudah mengidentifikasi mayat berikut semua barang bawaan dengan nama beliau. Maafkan kami Kyuhyun-ssi, tapi itu memang suami anda. Pihak kami meminta maaf sebesar-besarnya atas kecelakaan ini. Kami akan memberikan..”

Hanya itu. Hanya itu yang bisa Kyungsoo dengarkan baik-baik karena detik berikutnya ia sudah berada dalam dekapan eomma-nya yang menangis jauh lebih keras daripada sebelumnya. Dan tak lama kemudian, Kyuhyun jatuh pingsan.

*

            Siang itu mungkin adalah siang paling suram di kehidupan Cho Kyuhyun. Suaminya, Lee Jonghyun pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Pesawat yang ia tumpangi untuk kembali ke Korea Selatan mengalami kecelakaan saat hendak mendarat. Sebagian penumpang luka-luka dan beberapa diantaranya meninggal dunia, salah satunya adalah Jonghyun.

Mungkin hidup terkadang tidak adil. Dengan cepat ia memberikan kebahagiaan, namun dengan cepat pula ia merenggutnya. Baru sebentar Kyuhyun benar-benar mengecap kebahagiaan dengan suaminya, dan baru sebentar mereka berbagi segalanya dengan anak mereka, Kyungsoo. Namun kini Kyuhyun harus menerima kenyataan bahwa ia baru saja ditinggalkan.

Kyuhyun masih belum berhenti menangis. Ia juga masih belum melepaskan Kyungsoo dari pelukannya. Dan anak kecil yang akhirnya menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi, ikut menangis. Ia baru saja bersyukur telah mempunyai sepasang orang tua yang lengkap, namun kini ia juga harus kembali kehilangan. Ia ikut menangis hingga akhirnya kelelahan dan tertidur.

Kyuhyun dan Kyungsoo sama-sama menghadapi hal yang sama. Keduanya pernah ditinggalkan orang terkasih dan kini mereka kembali harus merasakan hal yang sama. Beruntung keduanya saling memiliki kini.

“Kyuhyunnie, biar aku membawa Kyungsoo pulang. Yeonhee akan menjaganya. Kasihan, ia terlalu lealh. Ia harus beristirahat.” Kata Minho seraya menepuk pundak sahabatnya itu.

Kyuhyun tidak menjawab, kedua tangannya masih tetap memeluk tubuh kecil Kyungsoo. Seperti enggan melepaskan.

“Minho benar, ia masih terlalu kecil. Terlalu banyak tekanan yang ia hadapi di usianya. Berada disini lebih lama hanya akan membuatnya merasa tertekan lebih dalam. Biarlah aku yang membawanya pulang ke rumah Yeonhee. Minho kau tinggal lah disini bersama Kyuhyun sampai jenazah Jonghyun siap diantar ke rumah.” Kata Donghae lalu perlahan mengambil Kyungsoo.

Kali ini Kyuhyun membiarkannya. Ia hanya bisa memandang Donghae membawa anaknya dalam diam hingga akhirnya mereka benar-benar menghilang dari pandangannya.

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun?”

Kyuhyun tersentak. Sebuah suara berat memanggil namanya. Sepertinya ia mengenal suara itu. Namun..

“H-Hyung?”

Kali ini terdengar suara Minho yang tampaknya menyapa lelaki asing itu. Kyuhyun mengangat wajahnya. Di depannya, berdiri seseorang yang sangat dikenalnya. Seseorang yang paling ingin ia temui sekaligus yang paling ia hindari selama ini, Jung Yunho.

“Yu..Yunho hyung?”

Jung Yunho masih tetap tampan. Masih tetap bertubuh tegap. Matanya masih tetap memancarkan sinar teduh. Bahkan hatinya masih saja berdebar melihat cinta pertamanya itu. Namun kini ia terlihat letih dan.. sedih. Barulah Kyuhyun menyadari sebagian memar yang ada di wajah Yunho. Ada apa dengannya?

“Aku.. Aku sengaja datang menemuimu. Aku juga menumpangi pesawat Thunder Airlines.” Kata Yunho dengan suara bergetar.

Bukankah itu pesawat yang sama dengan yang ditumpangi Jonghyun?’ pikir Kyuhyun.

“Dan aku.. Duduk bersebelahan dengan Lee Jonghyun.”

Kyuhyun memejamkan matanya. Kembali air matanya menetes. Kembali sakit itu ia rasakan. Hatinya serasa diremas oleh tangan besi, dingin dan menyakitkan.

“Sebelum ia pergi, ia memintaku untuk menyampaikan ini kepada istri dan anaknya.” Yunho berkata seraya memandang benda kecil di tanganya. Benda berbentuk persegi yang cukup tebal, berwarna coklat, terbuat dari kulit. Kyuhyun mengenali benda itu, bahkan sangat mengenalinya. Dompet Jonghyun.

“Aku sempat membukanya dan barulah aku menyadari bahwa kau adalah istri dan anak di dalam foto di dalam dompet ini pastilah anak kalian.” Kata Yunho lagi. Ia kemudian mendekati Kyuhyun dan menyodorkan dompet itu.

Kyuhyun menerimanya dengan tangan bergetar. Ketika benda itu telah sepenuhnya berada dalam genggamannya, ia mengelus permukaan benda itu dengan sayang lalu perlahan membukanya.

Bagaimana mungkin Yunho tidak langsung mengenali siapa pasangan Jonghyun, ketika dompet itu dibuka, foto bahagia Jonghyun, Kyuhyun dan Kyungsoo berada di sana. Ketiganya tersenyum bahagia tanpa beban. Foto itu diambil setelah seminggu Kyungsoo resmi menyandang nama Lee sebagai nama keluarganya.

Di dalam foto itu, Kyungsoo mengenakan topeng batman. Waktu itu Kyuhyun meminta Kyungsoo untuk melepaskannya tapi Kyungsoo ingin sekali memakainya karena ia sangat menyukai batman. Dan tentu saja Jonghyun mengijinkannya.

“Dan ia juga ingin anaknya memiliki ini. Ia memeluknya selama di pesawat, ia bahkan berulang kali mengabaikan permintaan pramugari untuk melepaskannya dan menyimpannya di bagasi. Ia bilang, benda ini sangat berharga.”

Yunho menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Kyuhyun. Kotak itu terbungkus kertas kado berwarna cerah, bergambar batman dalam berbagai posisi heroic. Sebenarnya kado itu adalah milik Kyungsoo, namun karena Kyuhyun sangat penasaran, ia merobek kertas kado yang membungkus kotak itu.

Dan hatinya kembali hancur ketika melihat isi kotak itu. Sebuah pesawat mini seperti yang dijanjikan Jonghyun kepada Kyungsoo. Kyungsoo pasti akan senang sekali menerimanya. Tapi dengan siapa ia akan memainkannya? Karena setiap membicarakan pesawat itu, ia selalu berkata ingin memainkannya bersama appanya terlebih dahulu. Bagaimana cara Kyuhyun memberikannya pada Kyungsoo?

Kyuhyun memeluk kotak itu dengan tangis memilukan. Minho dan Yunho tidak bisa berbuat apa-apa. Menenangkan Kyuhyun pun tidak ada artinya. Ada saat dimana menangis justru membuat seseorang jauh lebih lega setelahnya. Jadi, keduanya memutuskan untuk membiarkan Kyuhyun menangis. Mereka tetap berada di sana, menemani Kyuhyun dalam diam.

*

            “Maaf aku baru bisa datang sekarang. Karena luka-lukaku, dokter tidak mengijinkanku untuk pergi kemana-mana. Aku harus dirawat.” Kata Yunho ketika ia bertemu Kyuhyun di makam Jonghyun seminggu setelah kecelakaan maut itu.

Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum maklum. “Tidak apa-apa, hyung. Seharusnya aku menjengukmu. Kau sudah berbaik hati mau mengantarkan pesan suamiku, setidaknya aku harus membalasmu. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih.”

Kali ini Yunho yang menggeleng. “Aku sangat mengerti posisimu saat itu. Kau sedang berduka, jadi aku tidak ingin mengganggu. Menyampaikan pesan Jonghyun saja sudah membuatku merasa tenang. Setidaknya aku telah membantu satu orang dalam kecelakaan itu.”

Keduanya lalu berjalan keluar dari area pemakaman dalam diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Yunho sibuk dengan percakapan apa yang membuat Kyuhyun nyaman sedangkan Kyuhyun sibuk menenangkan debaran jantungnya. Ia tidak menghianati Jonghyun, tidak! Ia bahkan tidak berpikir untuk melakukannya. Hatinyalah yang berdebar tanpa diminta. Inilah susahnya jika terobsesi dengan cinta pertama, sangat sulit melepaskannya. Yunho menawarkan diri untuk mengantar Kyuhyun pulang setelah itu.

“Masuklah dulu hyung, aku akan membuatkan teh untukmu.” Kata Kyuhyun ketika mereka sudah berada di halaman rumah keluarga Lee.

“Tidak, terima kasih. Kau butuh istirahat. Lain kali saja aku akan berkunjung.”

“Aku bersikeras. Sungguh, aku tidak apa-apa. Setidaknya biarkan aku menjamumu dengan teh atau kopi, karena hanya itu yang bisa kulakukan sebagai tanda terima kasihku. Lagipula, ada yang ingin kutanyakan.” Ujar Kyuhyun penuh harap.

Yunho tersenyum. “Baiklah.”

Keduanya masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang tidak terlalu besar namun sangat asri dan tertata dengan sangat cantik. Rumah itu sangat menggambarkan seorang Lee Jonghyun. Yunho merasa nyaman karenanya.

“Hyung.. silahkan diminum.” ujar Kyuhyun seraya menuangkan secangkir teh panas dari teko besar di atas tatakan yang ia bawa ke ruang tamu.

Yunho minum dengan sopan. Sudah sangat lama ia tidak bertemu Kyuhyun. Dan baru kali ini mereka berbicara berdua, tanpa ada orang lain. Mengingat pertemuan terakhir mereka adalah di rumah sakit, dimana Kyuhyun tidak bicara sama sekali.

“Hyung.. Apa.. Apa kalian, maksudku kau dan Jonghyun banyak berbincang ketika berada di pesawat? Apa ada yang dikatakan oleh Jonghyun tentang aku atau.. anak kami?” tanya Kyuhyun. Awalnya ia sempat ragu, namun rasa ingin tahunya mengalahkan rasa sungkannya.

Yunho menunduk sebentar. Bukanlah hal yang menyenangkan ketika membicarakan seseorang yang telah tiada dimana orang itu pergi di depan matamu. Ia menarik nafas kecil sebentar lalu menghembuskannya perlahan.

“Seperti yang kau tahu, aku baru tahu bahwa ia adalah suamimu ketika aku membuka dompetnya. Ia tidak pernah menyebutkan nama kalian. Tapi ia tidak berhenti bercerita tentang betapa bahagianya ia menjadi seorang suami darimu, juga menjadi ayah walaupun anak kalian adalah anak angkat.”

Kyuhyun ulai meremas kedua belah tangannya ketika Yunho mulai berbicara. Perasaannya kini campur aduk, antara bahagia dan sedih.

“Ia bercerita kalau kalian melewati banyak sekali hal bersama. Bagaimana ia menunggumu, lalu akhirnya kau membuka hati, kemudian tentang orang tuanya, keputusannya untuk tetap bersamamu, dan akhirnya tentang pernikahan sederhana serta keinginan kalian untuk mengadopsi seorang anak.”

Kyuhyun mulai menangis. Ia sudah melarang dirinya berulang kali untuk berhenti menangis. Ia yakin Jonghyun akan sedih melihat dirinya seperti ini. Namun dengan mengenang lelaki itu, ia tak kuasa membendung airmatanya.

“Ia bercerita tentang anak kalian yang sangat lucu dengan mata besar yang selalu bersinar ceria. Ia mengatakan kalau anak kalian sangat pandai dan sangat patuh. Betapa ia sangat bangga ketika mendengar permintaannya yang hanya berupa pesawat dan keinginan agar Jonghyun cepat pulang. Ia menyebutnya sebagai anugerah.”

“Maaf jika aku membuatmu menangis..” kata Yunho menutup ceritanya.

“Tidak hyung.. Akulah yang tidak bisa menahan airmataku. Maaf jika aku mengacaukan pertemuan ini. Seharusnya ini menjadi reuni yang mengesankan.” Kata Kyuhyun diantara isakannya.

Lalu pada saat itu suara deru mobil memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian langkah-langkah kecil memasuki rumah itu dengan cepat.

“Eomma.. Eomma.. Aku pulang.. Tadi di sekolah..”

Perkataan Kyungsoo tidak selesai karena melihat eomma-nya menangis sementara di sampingnya ada lelaki lain yang tampaknya tidak asing. Namun Yunho langsung bangkit dari duduknya ketika melihat Kyungsoo. Seolah melihat hantu, wajahnya mendadak pucat.

“K-Kyung..soo?

*

jongkyusoo

To Be Continued..

Obsession – Teaser

Proloque

 

Apakah suatu saat ia akan melihatku?

Apakah suatu hari nanti ia akan menyadari,

Bahwa selama ini aku ada dan hidup untuk mencintainya?

Apakah ia akan mengerti perasaanku?

 

Sia-sia kuteriakkan cintaku,

Sia-sia ku lindungi harapanku.

Rasanya sungguh menyakitkan,

Ketika cinta pertama tidak pernah menemukanku.

 

Ketika harapanku musnah,

Ketika tak tahu lagi harus bertahan atau pergi,

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa

Meminta padaNya untuk diberi kekuatan dan jalan terbaik

 

Jika nanti suatu hari kita bertemu lagi,

Maukah kau memberiku kesempatan?

Maukah kau setidaknya memberiku satu tanda,

Bahwa penantianku tidak sia-sia..?

 

 

 

The Casts :

 

Cho Kyuhyun

kyuhyun OBS

Choi Minho

choi minho OBS

Shim Changmin

Changmin OBS

Lee Jonghyun

Jonghyun OBS

Yoon Doojoon

Doojoon OBS

Choi Seunghyun (TOP)

TOP OBS

Lee Donghae

Donghae OBS

Ok Taecyeon

Taecyeon OBS

 

 

Jung Yunho

Yunho OBS

 

 

Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

 

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

To Be Continued..

PREGNANT???

Tittle : PREGNANT???

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline members.

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Genre : BL, Drabble, Fluff,  Friendship, Mpreg (clue), Typo.

Rate : T

Summary : Kyuhyun menyangkal kemungkinan jika dirinya hamil. Namun kekecewaannya muncul ketika apa yang diam-diam ia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

“Aku akan segera kembali ne…”

Kyuhyun hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya saat ia merasakan pelipisnya dikecup oleh namja yang membisikkan kalimat tersebut. Ia menatap punggung namja tinggi itu yang kemudian melangkah keluar dari kamar yang tengah ia tempati bersama dokter yang baru saja memeriksanya beberapa saat lalu.

Sepeninggal Changmin, namja tinggi tersebut,  Kyuhyun memejamkan kedua matanya seraya memijit keningnya. Berharap setidaknya rasa pusing yang ia rasakan sedikit berkurang. Rasanya kali ini ia seperti baru saja menaiki roller coaster lima kali. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing, terlebih lagi penglihatannya serasa berputar. Dan keadaannya semakin diperparah dengan perutnya yang mual seolah ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya yang bahkan belum terisi sama sekali.

Saat ia membuka kelopak matanya kembali, retinanya menangkap sosok dua orang namja yang duduk dipinggiran dan ujung tempat tidur yang ia tempati. Dua orang namja yang semenjak tadi terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Wae?” tanya Kyu parau saat ia mendapati sorot mata yang mengintimidasi dari dua sosok tersebut.

Mereka berdua tetap terdiam tanpa merubah sorot matanya pada Kyuhyun.

“Berapa bulan, hyung?” celetuk salah satu namja bermata kodok yang duduk di ujung tempat tidurnya itu.

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Belum sempat ia menanyakan apa maksud dari pertanyaan tersebut, seorang namja lagi langsung memotong niatannya.

“Kenapa kau tidak memberi tahu kami, hyung?”

Kyuhyun semakin tidak mengerti dengan tuduhan yang baru saja ia terima. Entah karena pengaruh dari rasa pusing dan mualnya atau entah apa hingga kini ia sulit mencerna maksud dari ucapan ambigu kedua sahabatnya.

“Apa yang kalian katakan?” Tanyanya kebingungan. Kondisinya yang seperti saat ini membuat ia kehilangan gairah untuk bersilat lidah.

Kedua namja tersebut, yang tidak lain adalah member Kyuline, Minho dan Jonghyun saling memutar bola matanya kompak mendengar pertanyaan bodoh dari sang  founder Kyuline.

“Tidak usah berpura-pura bodoh, hyung …” Kyuhyun menggertakan giginya tidak suka demi mendengar kata bodoh ditujukan untuk dirinya, “… kau hamil kan?”

Kyuhyun embelalakkna matanya demi mendengar pertanyaan Minho. Jika Kyuhyun mengidap hipertensi, dapat dipastikan saat ini ia akan terkena stroke mendadak mendengar tuduhan dari pria bermarga Choi dihadapannya itu. Terlebih  saat ia melihat tatapan menusuk dari kedua namja tersebut.

BLUKK

“Aww…” Minho mengerang saat ia merasakan bantal yang baru saja dilempar oleh Kyuhyun telak mengenai wajah tampannya.

“Leluconmu sama sekali tidak lucu Choi Minho!” seru Kyuhyun sarkatik.

“Kami serius Cho Kyuhyun.” Sahut Jonghyun yang dengan sigap langsung menghindar dari lemparan bantal yang Kyuhyun lemparkan padanya.

“Hyung dengar…”

“Apa? Jika kau mengatakan lelucon bodohmu itu lagi, lebih baik kalian keluar.” Dengus Kyuhyun sinis. Ia sudah cukup menderita dengan kondisinya saat ini. Dan lelucon yang dilontarkan oleh kedua bocah tersebut sama sekali tidak membantu.

“HYUNG!”

Kyuhyun tersentak mendengar seruan kedua evil juniornya itu.

“OK hyung, mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Tapi setidaknya berikan kami kesempatan untuk berbicara.”

“Ini hanya dugaan sementara kami, tapi tentu saja dengan didasari alasan yang cukup kuat.” Gitaris CN Blue itu menambahi ucapan Minho. Ia terdiam dan melirik sekilas partnernya yang berada di seberangnya.

“Kau…”

“… hamil”

Kyuhyun terdiam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.

“Kau mual dan pusing. Bahkan kau sampai nyaris pingsan tadi pagi.“

Kyuhyun masih terdiam belum menanggapi perkataan namja kodok itu.

“Dari artikel yang pernah aku baca, wanita hamil pasti akan mengalami morning sickness. Sama seperti yang kau alami tadi pagi hyung. Selain itu wanita hamil juga mudah kelelahan. Semalam kau juga mengeluh pada kami kan jika kau sangat lelah?” Jonghyun mulai berargumen dengan semangat menggebu yang di iyakan dengan semangat pula oleh Minho.

Kyuhyun menghela nafasnya mencoba bersabar menghadapi kedua sahabat sekaligus dongsaengnya yang mungkin masih terkena pengaruh alkohol semalam.

“Aku ini namja Choi Minho, seratus persen namja. Dan namja tidak mungkin hamil karena aku bahkan kalian berdua pun tidak memiliki rahim, Lee Jonghyun.” Desisnya dengan penekanan pada kata namja.

“Memangnya kenapa kalau kau namja? Kau tentu tidak lupa kan fenomena tentang male pregnancy?”

“Apalagi dengan intensitas kegiatan this-and-that-mu dengan Changmin hyung yang errr…“ Jonghyun tidak melanjutkan kata-katanya. Ingatannya kembali pada kejadian semalam dimana ia dan Minho yang harus rela tidur di sofa ruang tamu apartement milik Changmin ini karena terganggu dengan suara-suara penuh hasrat yang terus terdengar bahkan hingga fajar menyingsing.

Blusshh

Kyuhyun merona dan tertohok di saat yang bersamaan. Ia kini mulai termakan dengan lelucon yang ia anggap bodoh beberapa saat lalu. Male pregnancy memang bukan fenomena baru untuk saat ini. Sama halnya dengan LGBT . Tapi… apa mungkin ia merupakan salah satu dari fenomena langka tersebut?

“Kau lihat Kyu, bukankah anak itu terlihat sangat cute?” Changmin menunjuk pada layar kaca yang tengah menampilkan seorang gadis kecil yang tengah menangis karenanya di Moonlight Prince.

“Ya! Kau jahat sekali Min-ah membuat anak seimut itu menangis.” Protes Kyuhyun pada sang namjachingu yang tengah merengkuhnya dalam dekapannya.

Changmin terkekeh mendengar kalimat Kyuhyun, “Aissh, aku kan tidak sengaja membuatnya menangis, chagi…”

“Tapi tetap saja kau membuatnya menangis, kan?” Kyuhyun tidak mau kalah. Ia mencubit kecil paha Changmin yang membuat namja tersebut meringis kecil dan berjengit karena kaget.

“Kau tahu Kyu, jika suatu hari nanti aku memiliki anak, aku tidak ingin memiliki anak perempuan.” Ucap Changmin tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi yang ada dihadapannya.

Kyuhyun seperti tertampar mendengar ucapan Changmin, namun ia segera mengabaikan perasaannya tersebut, “Me… memangnya kenapa Min-ah?”

“Karena aku tidak ingin jika kelak ia menikah, ia akan pergi bersama suaminya dan meninggalkanku.” Jawab Changmin lirih tanpa menyadari ekspresi Kyuhyun yang tengah menundukkan kepalanya, murung. Dia seorang namja,bagaimana bisa ia memberikan anak pada Changmin?

Ia lalu merasakan jemari panjang Changmin mengangkat dagunya untuk menatap wajah tampan dihadapannya.

“Jadi… kau tidak keberatan kan jika kedepannya kita cukup mengadopsi anak laki-laki saja. Nde?”

Kyuhyun tanpa sadar tersenyum kala kilasan memorinya bersama Changmin melintas dengan sendirinya dalam benaknya. Memiliki buah cinta dari orang yang dicintai merupakan impian semua pasangan bukan? Meskipun terdengar mustahil, namun saat ini sedikit-banyak ia jadi berharap jika dalam perutnya kini terdapat kehidupan baru yang nantinya dapat menjadi bukti cinta antara dirinya dengan sang namjachingu, Shim Changmin.

Tanpa sadar ia mengusap perut datarnya dari balik selimut yang menutupi tubuhnya. Mengabaikan kehebohan dua manusia lain yang kini tengah bereuforia jika mereka akan segera memiliki keponakan dan menjadi ahjusshi.

Cklekk

Ketiga namja yang tengah larut dalam kesibukannya masing-masing, refleks mengalihkan pandangannya ketika pintu kamar terbuka dengan menampilkan sosok namja setinggi tiang.

Changmin berjalan menghampiri Kyuhyun yang menyambutnya dengan senyuman tipis dari bibirnya yang kini terlihat pucat.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Kyuhyunnie? Apa yang kau rasakan?” tanya maknae Tohoshinki itu seraya menggenggam dan mencium punggung tangan Kyuhyun.

Minho dan Jonghyun memutar bola matanya bosan melihat adegan lovey dovey didepan matanya yang mereka klaim masih suci itu.

“Aku baik-baik saja, Min-ah. Hanya masih terasa pusing dan sedikit mual.”

“Jadi, hyung…” Minho menginterupsi kemesraan evil couple dihadapannya, “apa yang terjadi pada Kyunnie hyung?”

Dengan sendirinya ketiga namja tersebut, Kyuhyun-Minho-dan-Jonghyun serempak menahan nafas mereka sejenak demi mendengar apa yang akan dikatakan oleh namja bersuara tinggi  itu.

“Kyuhyunnie baik-baik saja. Ia hanya kelelahan karena terlalu memforsir tenaganya. Terlebih semalam ia mabuk karena minum wine terlalu banyak…”

Minho dan Jonghyun menghembuskan nafas kecewa mendengar penjelasan Changmin yang kini menatap mereka berdua dengan heran. Sementara Kyuhyun? Ia hanya dapat menggigit bibir bawahnya untuk menahan kekecewaan yang ia rasakan. Bukankah awalnya ia menyangkal dugaan kehamilannya? Tapi kenapa kini ia malah merasa kecewa saat ia mendengar kenyataan bahwa dirinya tidak hamil?

“Mianhe…” bisik Changmin menyadarkan Kyuhyun. Namja manis itu mengerjapkan matanya dan baru menyadari jika saat ini hanya ada mereka berdua didalam kamar bernuansa putih yang kini mereka tempati.

“Wae?”

“Karena membuat Kyuhyunnie-Ku terbaring lemah dan kepayahan seperti ini.”

Kyuhyun tersenyum, membelai wajah Changmin lembut, “Aniyo. Ini bukan kesalahanmu Min-ah…”

“Saranghe…” Ucap Changmin menggenggam tangan Kyuhyun yang berada di wajahnya dan menciumnya dengan sepenuh hati.

“Nado saranghe…” balas Kyuhyun, mianhe Min-ah sambungnya dalam hati.

pregant 3

END

Sacrificial Love – Chapter 7

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa, Lee Joon Hyuk and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 7

Hari yang ditentukan telah tiba, dimana hari yang paling dinantikan oleh Kyuhyun tapi juga paling dibenci oleh kakeknya. Di hari senin yang cerah itu, seluruh anggota keluarga Cho yang awalnya melarikan diri telah kembali ke rumah. Sebenarnya Mr. dan Mrs. Cho juga lega karena kepulangan anak dan cucu-cucunya, kalau saja Kyuhyun tidak melakukan tekanan pada awalnya.

Dan kini, dihadapan seluruh anggota keluarga, disaksikan oleh team pengacara Kyuhyun yang dipimpin oleh Lee Joon Hyuk, Mr. Cho menyerahkan semua hartanya kepada cucu pertamanya, Cho Kyuhyun.

“Dengan ini, saya selaku pihak pertama memberikan 80% hak kepemilikan harta saya kepada cucu pertama saya, Cho Kyuhyun, dan tidak lagi mencampuri urusan keuangan maupun perusahaan utama seperti yang telah saya setujui sebelumnya. Sebanyak 20% sisa properti masih akan menjadi milik saya berikut keuangannya.” Kata Lee Joon Hyuk seraya membacakan isi surat penyerahan harta tersebut.

Kemudian ia melanjutkan. “Kepada Mr. Cho, silahkan tanda tangan disini. Dan anda, Kyuhyun-ssi, silahkan tanda tangan disini.”

Setelah Mr. Cho membubuhkan tanda tangan mereka di tempat yang ditentukan oleh Joon Hyuk, ia lalu memasukkan surat itu kedalam amplop dan menyegelnya dengan rapi. Tidak lupa ia membubuhkan cap dari firma hukumnya.

“Sesuai dengan surat yang ditulis oleh Cho Kyuhyun, maka dengan ini beliau sebagai pemilik semua kekayaan dan properti dari Cho Corporation akan dibagi secara adil kepada Cho Kyuhyun sendiri, Cho Mhia, Cho Jonghyun dan Cho Shin Hye.” Kata Lee Joon Hyuk lagi.

Betapa leganya Cho In Sung saat itu, ia tidak perlu takut lagi anak-anaknya akan terlantar karena kemarahan ayahnya. Kyuhyun sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik seperti yang ia katakan dulu. Ia bahkan membagi dengan adil properti lainnya agar adik-adiknya mendapatkan hak yang sama.

Setelah berita acara pembagian harta dilaksanakan, Mr. dan Mrs. Cho meninggalkan ruangan. Mereka terlalu muak melihat wajah Kyuhyun yang polos tapi ternyata sangat jahat. Namun Song Ji Hyo tetap ada disana. Tetap duduk dengan tegak, menunjukkan sisi tangguhnya.

“Omoni, maafkan kami karena telah meninggalkan omoni sendirian disini.” Kata Mhia membuka percakapan dengan Ji Hyo.

“Mhia benar, kami minta maaf. Bukan maksud kami untuk pergi dan meninggalkanmu sendirian, tapi kami hanya tidak ingin Shin Hye mendapatkan ketidakadilan hanya karena masih bernaung di rumah ini.” kata Ye Jin menjelaskan.

Song Ji Hyo menatap Ye Jin dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apakah dengan itu kalian dengan bebas membawa kedua anakku pergi? Siapa kau? Jonghyun dan Shin Hye adalah anak dari rahimku. Keduanya adalah milikku. Kau tidak berhak membawanya. Bahkan In Sung oppa juga tidak berhak membawanya hanya karena dia adalah ayahnya. Aku ini ibunya!”

Cho In Sung tahu benar bahwa yang dikatakan Song Ji Hyo ada benarnya. Sangat tidak adil membawa anak-anak mereka jauh dari ibunya. Sekaku apapun hubungan mereka, seburuk apapun itu, anak-anak tidak seharusnya dipisahkan dari orang yang yang telah membawa mereka ke dunia ini, ibunya.

“Aku tahu, aku bersalah. Tapi sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Akupun tidak akan menyalahkanmu karena menjodohkan Shin Hye dengan Siwon. Aku sangat mengerti bahwa kau berpikir yang terbaik untuk anak kita. Tapi setidaknya pikirkanlah kebahagiaan Shin Hye. Dia telah melakukan yang terbaik sesuai keinginanmu selama ini, biarkanlah ia mengikuti kata hatinya sekali ini saja. Aku yakin, jika kau mau mencoba mengenal Yonghwa, kau pasti tahu bahwa dia adalah orang yang tepat untuk Shin Hye. Bukankah seorang ibu selalu tahu?” kata In Sung lembut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menggenggam tangan Ji Hyo atas keinginannya sendiri. Ketika mata keduanya bertemu, lagi-lagi untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tersenyum tulus pada istri keduanya itu. Melihat itu, Ji Hyo menjatuhkan dirinya dalam pelukan In Sung dan menangis tersedu-sedu disana.

Selama pelariannya, In Sung banyak berintrospeksi dan diberi saran oleh Ye Jin. Dari awal ia sudah tahu bahwa ia bertemu dengan seorang wanita berhati paling murni di dunia. Penuh kasih sayang, cinta dan pengertian. Son Ye Jin lah yang membuka mata In Sung bahwa Song Ji Hyo tidak akan mungkin bersikap seperti ini jika dari awal dirinya bisa membagi kasih sayang kepada kedua istrinya dengan adil.

Dengan sabar Ye Jin menyadarkan suaminya agar mulai bersikap adil pada Ji Hyo. Walaupun ia tidak bisa mencintai Ji Hyo sepenuh hati, namun Ji Hyo adalah ibu dari kedua anaknya. Jonghyun dan Shin Hye juga pasti akan bahagia jika ibu mereka bisa diterima oleh ayah mereka sendiri. Jadi tidak ada lagi perbedaan diantara anak-anak Cho. Bahkan Ji Hyo mungkin saja bisa membuka hatinya untuk Kyuhyun dan Mhia.

Sejak saat itu, In Sung banyak berpikir. Pelan-pelan ia mulai menyadari bahwa semua yang dikatakan istrinya memang benar. Bukan kesalahan Ji Hyo sepenuhnya kalau ia harus terjepit dengan keadaan seperti ini tetapi karena intimidasi kedua orang tuanya. Jika Ji Hyo pernah bersalah, sudah seharusnya ia memaafkannya. Karena, sampai kapanpun Ji Hyo tetap ibu dari kedua anaknya. Sudah saatnya merobohkan dinding kokoh yang menghalangi hubungan Ji Hyo dan Ye Jin serta anak-anak mereka.

“Oppa.. Mianhae..” isak Ji Hyo.

“Tidak apa-apa. Aku juga banyak bersalah padamu.  Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Bisakah kita semua memulai lagi dari awal? Aku, kau, Ye Jin dan anak-anak?” tanya In Sung.

Song Ji Hyo melepaskan pelukannya. Ia menghapus airmatanya lalu memandang suaminya, Son Ye Jin kemudian kedua anak kandungnya dan kedua anak tirinya. Ia tahu, sudah saatnya menghentikan semuanya. Sudah saatnya ia belajar menerima bahwa suaminya mempunyai istri dan anak-anak lain. Artinya In Sung harus membagi kasih sayangnya. Dan kini suaminya itu mengulurkan tawaran baru : memulai segalanya dari awal, meninggalkan segala masalah yang telah lewat di belakang. Bukankah ini bagus? Artinya In Sung sudah mulai membuka dirinya untuk Ji Hyo.

“Aku tahu ini sulit. Oppa akan sulit menerimaku, begitu juga Ye Jin. Aku sendiri merasa cukup sulit menerima kenyataan bahwa aku harus berbagi. Tapi, jika oppa dan Ye Jin mau belajar dan berusaha, mengapa aku tidak? Tolong bantu aku..” kata Ji Hyo akhirnya.

Son Ye Jin mendekatkan dirinya pada Ji Hyo. “Ji Hyo-ssi, aku tidak pernah keberatan jika harus berbagi. Bukankah kita ini keluarga? Sudah sepantasnya keluarga saling berbagi kan?”

Kedua wanita paruh baya itu lalu saling berpelukan sambil menangis. Keempat anak mereka beserta In Sung melihatnya dengan penuh sukacita. Mhia dan Shin Hye bahkan ikut menangis.

Cukup lama situasi haru menyelimuti mereka. Bahkan Ji Hyo memeluk keempat anak-anaknya satu persatu setelah itu.

“Baiklah.. Kita sudah saling menerima sekarang. Bagaimana kalau kita membahas soal pernikahan Kyuhyun dan Siwon?” kata In Sung memecahkan suasana.

“Benar.. Karena Shin Hye dan Yonghwa sudah bersama, tidak mungkin Shin Hye melakukan pernikahan itu kan? Kyu, kapan kau mau membicarakan masalah pernikahannya? Apa kau mau melakukannya di tanggal yang telah di tetapkan? Dengan kata lain kau tinggal menggantikan Shin Hye. Tapi jika kau keberatan, kita bisa memilih tanggal lain.” kata Ji Hyo. Ia terlihat lebih tulus kini.

Kyuhyun tersenyum canggung. Sejak kejadian ia menemukan Siwon bersama wanita lain di hotel tempo hari, ia belum berhubungan lagi dengan Siwon. Ia memblokir nomor telepon Siwon hingga Siwon sendiri sulit menghubungi Kyuhyun. Bukannya tidak mau bersikap dewasa, Kyuhyun hanya ingin fokus pada masalah keluarganya barulah ia bicara dengan Siwon. Karena jika bicara dengan hati panas, maka semua tidak akan berhasil. Ia harus meredakan amarahnya dulu.

“Oppa..?” Shin Hye menyentuh lengan Kyuhyun hingga membuatnya sedikit tersentak dari lamunannya.

“Eh? Bagaimana kalau kita mengundur pernikahannya dulu? Aku.. Ingin membicarakannya lagi dengan Siwon hyung, jadi..”

“Mengundur? Tapi Kyu, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau sangat mencintai Siwon? Mengapa kau ingin mengundurnya lagi?” tanya Ye Jin.

Kyuhyun jadi bingung. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana mungkin ia mengatakan pada keluarganya bahwa ia menemukan Siwon sedang telanjang di kasur sementara ada wanita yang juga telanjang dalam kamar itu? Walaupun Kyuhyun tidak melihat kejadiannya, tapi tidak mungkin Siwon dan wanita itu hanya saling menatap dalam keadaan seperti itu kan?

*

            “Kau yakin?” tanya Joon Hyuk pada Kyuhyun.

“Hyung, bisa jadi mereka salah orang. Kita pulang saja, siapa tahu laporan itu salah.” Kata Jonghyun.

Larut malam itu, ketiganya tengah menunggu dengan sabar di dalam mobil Joon Hyuk. Sudah hampir sejam mereka menunggu tapi Kyuhyun tidak juga bergerak.

“Kyuhyun-ssi..” tegur Joon Hyuk lagi.

“Aku yakin mereka benar. Kita akan menunggu sebentar lagi. Kalau kalian mau pulang terlebih dahulu, silahkan. Aku bisa menunggu sendiri.” Jawab Kyuhyun.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri, hyung?” balas Jonghyun. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke jok mobil dan memandang keluar.

Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, namun ketika mendengar pembicaraan Kyuhyun dan Joon Hyuk di telepon tadi, ia memaksa untuk ikut serta. Sebelumnya Kyuhyun memang bercerita tentang kelakuan Siwon beberapa waktu lalu. Ditambah dengan rencana Joon Hyuk dan Kyuhyun malam ini, maka Jonghyun ingin ikut ambil bagian.

Kyuhyun memang menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengikuti Siwon selama Di Seoul. Dan menurut mereka, Siwon suka menghabiskan malam-malam panjang di salah satu bar mewah yang letaknya cukup tersembunyi. Jadilah Kyuhyun, Joon Hyuk dan Jonghyun ada disana malam ini. Kyuhyun ingin memastikan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang dikatakan oleh anak buahnya itu memang benar atau salah.

Lima belas menit kemudian, pertanyaan ketiganya terjawab. Sebuah mobil hitam memasuki pelataran parkir bar itu dan berhenti tak jauh dari mobil Joon Hyuk. Seorang lelaki muda keluar dari dalam mobil itu. Walaupun suasana gelap dan hanya diterangi lampu jalan, tapi Kyuhyun dan Jonghyun tahu benar bahwa lelaki muda itu adalah Siwon.

Wajah kedua besaudara itu menegang. Mungkin karena berasal dari ayah yang sama dan dilahirkan di hari yang sama, keduanya mempunyai banyak sekali persamaan sifat dan terkadang mereka bahkan seperti mempunyai kontak batin.

“Sialan kau, Choi Siwon!” geram Kyuhyun.

“Sabar Kyuhyun-ssi. Kita harus menunggu sampai dia cukup lama di dalam barulah kita bergerak.” Kata Joon Hyuk.

Namun Kyuhyun membantah. “Kurasa, aku berubah pikiran. Sudah cukup melihatnya masuk kesana, tidak ada alasan lagi untukku memergokinya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam.”

“Hyung, bagaimana kalau ternyata Siwon melakukan hal lain di dalam? Bukankah kita harus mencari tahu? Kuakui memang akulah yang paling tidak setuju awalnya kalau kita harus kemari, tapi jika kita pergi begitu saja, pertanyaanmu tidak akan terjawab, hyung!” ujar Jonghyun.

“Jonghyun-ssi benar. Mari kita tunggu saja. Percayalah padaku, setidaknya kau harus memastikan sendiri apa yang terjadi di dalam.” Joon Hyuk menambahkan.

Kyuhyun menyerah. Dia akhirnya setuju dengan pendapat kedua lelaki yang bersamanya itu. Namun ia duduk dengan gelisah. Di satu sisi, ia ingin sekali memergoki Siwon, namun di sisi lain dirinya tak sanggup dan memilih pergi. Ia terlalu takut dengan kenyataan yang akan dilihatnya nanti.

Tiga puluh menit kemudian, Kyuhyun, Jonghyun dan Joon Hyuk melangkah masuk ke bar. Ketiganya memandang berkeliling guna mencari sosok Siwon diantara banyaknya lelaki hidung belang disana.

Pemandangan yang disuguhkan di hadapan mereka sungguh membuat ketiganya muak. Para wanita tak henti-hentinya datang kepada mereka lalu merayu dengan segala cara agar mereka mau menghabiskan malam panjang bersama. Di atas panggung, gadis-gadis muda berlenggak-lenggok dengan pakaian serba mini. Pole dance yang terletak di keempat sudut panggung pun tak ada yang menganggur. Tiang-tiang besi itu berdiri tegak sementara dua orang gadis meliuk-liuk melingkarinya.

Di beberapa tempat terlihat sangkar-sangkar ukuran besar tergantung. Di setiap sangkar ada dua orang gadis dengan hanya mengenakan bikini, meliuk-liuk erotis sambil saling menyentuh satu sama lain, mencoba menggoda para pelanggan yang datang.

“Ini bukan bar biasa, ini tempat prostitusi!” erang Jonghyun.

“Jangan sampai terpisah. Pelan-pelan saja. Lihat baik-baik di setiap tempat, siapa tahu salah satu diantara kita menemukan Siwon terlebih dahulu.” Kata Joon Hyuk.

Ketiganya lalu berjalan pelan-pelan, mata mereka bergerak ke segala arah. Lalu Jonghyun memekik tertahan.

“Hyungnim..”

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

Tangan Jonghyun terangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu tangga melingkar di sudut ruangan.

“Aku melihat Siwon hyung menaiki tangga itu.” kata Jonghyun.

“Kau yakin?” kali ini Joon Hyuk yang bertanya.

Jonghyun mengangguk. Ketiganya lalu bergerak dengan cepat mendekati tangga pualam itu. Diliputi rasa penasaran yang besar, mereka tetap bergerak menaiki anak-anak tangga itu dengan kecepatan yang sama dengan sebelumnya.

Ketika mereka sudah sampai di lantai dua, ketiganya sedikit bingung. Pasalnya lantai dua terdiri dari sebuah koridor panjang dengan banyak pintu di sisi kanan dan kiri.

“Di setiap sisi terdiri dari sepuluh pintu, artinya ada dua puluh kamar. Dan kita harus mencari kamar mana yang dimasuki Siwon. Ini tidak mudah.” Kata Joon Hyuk menganalisis.

Belum sempat Joon Hyuk berpikir lebih jauh, Jonghyun sudah bergerak. Dibukanya pintu pertama di sebelah kiri koridor itu. Begitu Jonghyun masuk, ia cepat-cepat membungkuk hormat sambil mengucapkan maaf beberapa kali. Setelah itu  Jonghyun keluar lalu menutup pintu di belakangnya dengan cepat.

“Wae?” tanya Jonghyun ketika didapatinya Kyuhyun dan Joon Hyuk menatapnya dengan pandangan aneh. “Kita harus mencari tahu dimana si brengsek itu berada kan? Bagaimana mungkin kita menunggu terus-menerus disini?”

“Tidak ada cara lain. Baiklah.” Kata Kyuhyun lalu bergerak ke pintu berikutnya. Joon Hyuk dan Jonghyun ikut bergerak membuka pintu lainnya. Ketiganya sama-sama tidak menemukan Siwon. Mereka harus menanggung malu karena terus-menerus berpura-pura salah masuk kamar dan akhirnya mendapat omelan panjang dari si penyewa kamar.

Kyuhyun hampir saja putus asa ketika matanya menangkap kamar nomor tujuh di sisi kanan koridor. Ia berjanji bahwa ini adalah pintu terakhir yang akan dibukanya, jika memang Siwon tidak ada disana, maka ia akan menyerah.

Kyuhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia mempersiapkan diri untuk menerima makian jika ternyata si penyewa kamar bukan orang yang dicarinya. Lalu dengan sekali sentak, ia membuka pintu itu dengan cepat.

Pemandangan yang disajikan di depannya membuatnya membeku di tempatnya. Kamar yang ia buka ternyata memang kamar yang tepat. Di depannya, Choi Siwon sedang duduk berciuman dengan seorang gadis sementara dua gadis lainnya sedang melakukan oral seks di kemaluannya.

Dengan posisi membelakangi Kyuhyun, Siwon masih asik bercumbu dengan gadis di depannya sedangkan tangannya menjamah tubuh sang gadis malam. Ia dan ketiga gadis-nya tidak sadar bahwa Kyuhyun sudah masuk ke ruangan itu.

“Hyungnim!”

Jong Hyun dan Joon Hyuk sudah ikut masuk ke ruangan itu. Seketika keduanya terperangah melihat Siwon yang mereka kenal sebagai anak bangsawan ternama dan bersikap sopan di depan setiap orang ternyata bertingkah seperti ini di belakang.

“CHOI SIWON..!!!” Kyuhyun berteriak keras. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan kecil itu.

Mendengar  itu Siwon dan gadis-gadisnya berhenti beraktivitas dan menoleh ke arah sumber suara.

“Kyu..hyun.. Kau..” Siwon terkejut luar biasa mendapati Kyuhyun lagi-lagi memergokinya melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. Dengan cepat Siwon bergerak memperbaiki celananya yang berantakan lalu berdiri di depan Kyuhyun.

“Kyu.. Kenapa kau ada disini? Aku..”

“Cukup! Jangan bicara lagi! Kau bahkan tidak pantas menyebut nama hyungku dengan mulut kotormu itu!” bentak Jonghyun. Ekspresi lembut kekanakan yang biasanya menghiasi wajahnya hilang berganti ketegangan.

“Dengarkan, Kyu.. Tidak seharusnya kau..”

“Aku tahu. Tidak seharusnya aku kemari. Tidak seharusnya aku melihat semua ini. Bahkan, tidak seharusnya aku mencintai lelaki bejat sepertimu. Aku tahu..” kata Kyuhyun pelan. Dengan wajah sangat terluka ia keluar dari ruangan itu, disusul oleh Jonghyun.

“Kyuhyun..!”

Siwon hendak mengejar Kyuhyun tapi Joon Hyuk menahannya. “Jangan. Tolong jangan memperumit keadaan. Selesaikan saja urusan anda disini.”

“Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!” bentak Siwon.

“Aku Lee Joon Hyuk, pengacara Cho Corporation sekaligus kuasa hukum Cho Kyuhyun. Jika ada yang ingin anda sampaikan pada Kyuhyun-ssi, sebaiknya anda mengatakannya kepadaku terlebih dahulu. Dan anda dilarang keras menemuinya tanpa seijin beliau terlebih dahulu.”

*

            Dua hari setelah malam itu, Siwon datang ke rumah keluarga Cho dengan kedua orang tuanya. Seakan tidak pernah terjadi kesalahpahaman dengan dirinya dan Kyuhyun, ia bertingkah sangat wajar di depan seluruh anggota keluarga Cho.

Jonghyun yang sedaritadi ingin sekali merobek-robek wajah Siwon mati-matian menahan keinginannya karena Lee Joon Hyuk terus-menerus memperingatinya.

“Tahan dirimu, Jonghyun-ssi. Kedua orang tua kalian tidak tahu-menahu dengan kejadian beberapa malam lalu. Bagaimana caramu menjelaskannya? Jika kejadian tersebut terungkap, maka nama keluarga kalian juga akan terseret karena malam itu kau dan Kyuhyun juga ada di tempat terkutuk itu. Jadi tolong, setidaknya pikirkan perasaan kedua orangtuamu. Lagipula ini masalah Kyuhyun, dialah yang paling berhak memutuskan apa langkah terbaik untuk masalah ini. Jika dia tidak meminta kita melakukan apa-apa, maka kita harus tetap diam.”

Jonghyun tahu, Lee Joon Hyuk benar. Ini mungkin terlihat seperti masalah sepele, ia bisa saja mengatakan kebenarannya pada keluarganya juga keluarga Siwon. Tapi, dampak setelah itulah yang tidak memungkinkannya untuk berterus terang.

Sementara itu, Kyuhyun menatap Siwon seperti biasa. Ekspresi wajahnya tenang, walaupun sebenarnya ia muak sekali melihat wajah tampan yang dicintainya. Ya, sekejam apapun Siwon menyakitinya, ia tidak bisa membuang perasaan cintanya begitu saja. Jika ia bisa memilih, ia ingin sekali melepas semua perasaan cinta itu dan membuangnya jauh-jauh. Tapi ia tidak bisa. Semakin ia coba, semakin kuat rasa itu menjeratnya.

Dan lagi, ia tidak sanggup mengatakannya pada keluarganya. Rasa cinta yang ia miliki selama bertahun-tahun ternyata bermuara di laut petaka. Kakeknya akan menertawainya karena dulu Kyuhyun sangat bernafsu untuk memiliki Siwon, namun ternyata kejadiannya seperti itu. Di sisi lain, ia sendiri tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tua Siwon yang selalu menatap anaknya dengan penuh rasa bangga. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan perasaan kedua orang yang tidak bersalah itu?

“Jadi, kita tetap akan menyelenggarakan pernikahan Siwon dan Kyuhyun sesuai dengan tanggal yang ditetapkan sebelumnya?” tanya Mr. Choi.

“Tentu saja. Rupanya Kyuhyun sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk bersanding dengan Siwon hingga ia tidak mengubah tanggal pernikahan.” Kata Mr. Cho. Setelah kejadian Kyuhyun mengambil hampir seluruh harta kekayaannya, Mr. Cho masih tetap bersikap seperti biasa : bossy. Tapi anggota keluarga yang lain tidak memperdulikan hal itu, karena keadaan mereka sudah jauh lebih baik sejak Kyuhyun yang mengendalikan kekayaan keluarga mereka.

“Berarti kita hanya perlu mengganti cincin, juga pakaian dan sepatu untuk pengantin. Aku sendiri yang akan mengantar Kyuhyun untuk melengkapi kebutuhan pernikahannya.” Kata In Sung menambahkan.

“Bagus sekali. Kami juga sudah tidak sabar melihat Siwon menikah. Kami bangga sekali padanya. Pendidikannya sudah selesai dan ia menjalankan semua amanat kami dengan baik. Pastinya ia akan menjadi suami yang baik untuk Kyuhyun.” kata Mrs. Choi.

Muak sekali Kyuhyun mendengarnya. Ia menatap Siwon dengan tajam, sementara Siwon merasa jengah dengan pandangan itu. Ia tahu benar bahwa Kyuhyun marah padanya. Terbukti dengan keengganan Kyuhyun untuk bicara dengan Siwon. Namun keputusan Kyuhyun untuk tetap menikah dengannya membuatnya sedikit bingung. Apakah Kyuhyun memang mencintainya dan memaafkan perbuatannya, ataukah lelaki itu punya rencana lain? Tapi apapun itu, Siwon bersyukur karena Kyuhyun tidak mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya.

“Nah, bagaimana? Apa yang kalian inginkan untuk hadiah pernikahan kalian? Dan dimana kalian berencana menghabiskan bulan madu kalian?” tanya Son Ye Jin. Dengan didampingi suaminya dan Song Ji Hyo yang kini bersikap sangat baik padanya, ia jadi menemukan keberanian untuk ikut bicara dalam pertemuan keluarga seperti ini.

“Tidak usah repot-repot omonim. Kami tidak ingin hadiah, bisa bersatu dengan Kyuhyun saja sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak perlu hadiah. Mengenai tempat bulan madu, kami akan membicarakannya terlebih dahulu. Dimana tepat terbaik untuk kami tuju.” Kata Siwon dengan sangat sopan.

Selama rapat berlangsung, Kyuhyun dan Jonghyun lebih banyak diam. Sedangkan Shin Hye dan Mhia terlihat sangat bersemangat membicarakan pernikahan Kyuhyun dengan kedua omoni mereka. Sementara In Sung tengah bercakap-cakap dengan Jonghyun, Joon Hyuk, dan Yonghwa.

“Kyu, aku ingin bicara denganmu.” Kata Siwon setelah berhasil ‘menculik’ Kyuhyun ketika semua orang tengah sibuk dengan rencana susunan acara pernikahan nanti.

“Lepaskan aku!” kata Kyuhyun tajam seraya mengibaskan lengannya yang di pegang Siwon.

“Apa yang mau kau bicarakan, hyung? Kuharap penjelasanmu masuk akal.” Kata Kyuhyun masih dengan nada tajam seperti sebelumnya.

Siwon terdiam sebentar lalu mulai bicara. “Kyu, aku tahu aku bersalah. Aku bahkan tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Aku akui, aku sudah sering melakukannya, terutama jika aku tengah dirudung masalah.”

“Aku tahu, semua orang punya masalah dan jalan keluar sendiri-sendiri, tidak lantas melampiaskannya dengan perbuatan bodoh seperti yang kulakukan. Tapi, entah mengapa aku justru bisa menghilangkan beban pikiranku jika melakukannya. Sekali lagi kukatakan, aku bersalah dan aku mengerti jika kau tidak bisa memaafkanku.”

“Mungkin kau merasa dibohongi, dikhianati, dan disakiti. Namun aku tidak pernah melakukannya dengan maksud melukaimu. Aku hanya sudah terbiasa melakukannya sejak dulu, maka sulit sekali bagiku untuk menghilangkan kebiasaanku ini. Aku tahu, kau pasti muak mendengarnya. Terkadang aku sendiri muak dengan hidupku, muak dengan segalanya yang aku hadapi. Ditengah semua masalahku, hanya hal menjijikkan itu yang mampu membuatku sedikit lega. Walaupun memang cara yang aku tempuh untuk menemukan kelegaan itu salah.”

“Ketahuilah Kyu, aku memang bukan yang terbaik untukmu. Aku hanya lelaki lemah yang terlalu takut pada kedua orang tuaku. Aku satu-satunya harapan mereka, aku tidak bisa menolak keinginan mereka walaupun itu tidak sesuai dengan keinginanku sendiri. Oleh karena itu, kumohon padamu.. Batalkan pernikahan ini.”

Kyuhyun terkesiap mendengar kata-kata terakhir Siwon. Pada awalnya memang ia kesal setengah mati. Namun dipertengahan ia justru kasihan dengan lelaki itu. Tapi kata-kata terakhir Siwon membuatnya terkejut. Ia bahkan mempertanyakan apakah telinganya masih bekerja dengan baik, karena ia sendiri tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan.

“Hyung.. Jangan bercanda.”

Siwon menggeleng. Wajahnya yang pucat terlihat lelah. Ia lalu menekuk lututnya dan jatuh bersimpuh di hadapan Kyuhyun.

“Kumohon Kyu, kumohon.. Batalkan pernikahan ini.” kata Siwon lagi.

“Hyung.. Sungguh bodoh jika kau merasa tidak pantas menikahiku karena menyakitiku sebelumnya. Karena aku telah memaafkanmu. Aku akan berusaha melupakannya. Aku akan membantumu untuk berhenti dari kegiatan bodohmu itu.” kata Kyuhyun yang terdengar sedikit panik.

Kembali Siwon menggeleng. “Kau tidak boleh memaafkanku. Jangan. Aku tidak bisa mengatakannya di depan semua orang, kedua orang tuaku akan sangat terluka. Aku tidak bisa. Hanya kau yang bisa membatalkan pernikahan ini. Kumohon, jika kau memang mencintaiku, tolong lakukan untukku.”

“Hyung! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Sudah kukatakan bahwa aku telah memaafkanmu. Aku akan membantumu keluar dari masalah-masalahmu. Aku akan menjadi pendamping yang baik. Jangan seperti ini hyung, kita bisa mencoba segalanya lagi dari awal hyung..” kata Kyuhyun. Kini ia terdengar sedikit frustasi. Ia bahkan sudah ikut bersimpuh di depan Siwon, memegang kedua bahu lelaki yang dicintainya itu.

“Mianhae Kyu.. Tapi ini bukan karena akan jadi apa kita selanjutnya. Karena tidak ada lagi awal yang baru untuk kita. Aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku.. Aku sudah tidak lagi mencintaimu.” Kata Siwon. Airmatanya sudah mulai mengalir.

“Tidak, kau bohong. Pasti kau berbohong kan hyung?”

“Aku tidak bohong.. Dengan banyaknya tekanan dan masalah yang kuhadapi, dengan kegiatan gilaku di luar sana, pelan-pelan hatiku mati. Aku tidak bisa lagi mencintai siapapun, termasuk kau. Mianhae Kyu.. Mianhae.. Tidak ada lagi cinta untukmu. Semuanya telah mati. Semuanya telah pergi. Kumohon, batalkan pernikahan ini, jadi kita bisa berpisah selamanya setelah ini..”

*

wonkyu avoiding

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 6

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa, Lee Joon Hyuk and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 6

Kyuhyun masih menatap Mr. Cho dengan tatapan dingin, tak sedikitpun terbesit rasa ingin beramah-ramah atau bersikap hangat pada kakeknya itu.

“Jangan berpikir terlalu lama. Kalau anda tidak setuju, aku bisa menarik kata-kataku. Dan anda bisa menyelesaikan masalah anda sendiri.” Kata Kyuhyun seraya berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.

“Tidak! Tunggu!” kata Mr. Cho cepat.

Mendengar itu Kyuhyun berbalik dengan angkuh. Ia kemudian menatap haraboji-nya, menunggu jawabannya dengan tenang. Ya, tenang di permukaan. Tapi ia sangat gelisah dalam hatinya.

“Baiklah. Kau boleh kembali dan melakukan apa yang kau janjikan.” Kata Mr. Cho pelan. Seolah mengakui kalau ia kalah dari cucunya sendiri.

“Dengan syarat tentu saja.” Kata Kyuhyun tajam.

“Apa itu?”

“Anda harus menyetujui tiga permintaanku.”

“Mana mungkin bisa seperti itu? Kau pikir aku bodoh?”

“Hanya tiga, tidak lebih. Sedangkan anda bisa menggunakanku semau anda, bukankah itu lebih tidak adil lagi?” tanya Kyuhyun.

Kembali Mr. Cho berpikir keras untuk menjawab Kyuhyun.

“Anda mau aku membawa seluruh anggota keluarga dan menyelamatkan wajah dan martabat anda atau tidak?” tantang Kyuhyun lagi.

“Baiklah! Kau mendapatkan apa yang kau inginkan!” kata Mr. Cho dengan kesal karena Kyuhyun dirasa berhasil mengintimidasinya.

“Aku senang anda mau bekerjasama dengan baik. Nah, segeralah siapkan surat kuasa agar aku bisa menggantikan Jonghyun. Paling lambat dalam dua hari, aku sudah harus menjadi pimpinan perusahaan yang resmi.”

“Tunggu! Aku menyetujui usulmu karena kau bisa menggantikan Jonghyun untuk sementara, bukan untuk menggantikannya secara permanen!”

“Terserah.. Aku tidak bisa memaksa. Aku hanya bisa memberikan saran. Keputusan ada di tangan anda. Tapi jika keluarga Song dan keluarga Choi muncul di hadapan anda dan meminta pertanggungjawaban, jangan salahkan aku. Jika rumor meluas diluar sana, jangan katakan kalau aku tidak memperingatkan anda sebelumnya. Dan ingat satu hal, aku bukan Kyuhyun yang dulu, yang bisa kalian tindas begitu saja.”

“Baiklah!” kata Mr. Cho dengan gusar. “Tapi itu kuanggap sebagai permintaan pertama darimu!”

Kyuhyun menggeleng sambil tertawa dingin. “Perusahaan sedang dalam keadaan kacau, Jonghyun meninggalkan sejumlah pekerjaan yang hanya ia sendiri yang tahu disimpan dimana. Anda pikir, anda bisa mencarinya? Ketahuilah, aku bisa memecahkan semua metodenya, kami sangat dekat satu sama lain. Dan lagi, ketika pimpinan tidak ada, bukankah sudah sewajarnya wakilnya yang naik menggantikannya? Jadi itu bukan permintaan, itu adalah bantuan.. Ani, bukan bantuan tapi belas kasihanku. Betapa baiknya aku..”

Wajah Mr. Cho merah padam menahan gejolak emosinya. Ia memang masih kaget dengan sikap Kyuhyun saat ini, namun ia tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Karena meredam kemarahan keluarga Song dan keluarga Choi, serta membungkam publik di luar sana akan jauh lebih sulit daripada mengurus seorang Kyuhyun. Dan untuk itu, ia harus melakukan kemauan Kyuhyun terlebih dahulu. Setelah semuanya beres, ia bisa ‘mengurus’ bocah itu.

*

            Kyuhyun menatap ruang kerja Jonghyun yang kini secara permanen telah menjadi ruang kerjanya. Rupanya kakeknya benar-benar tidak mau kehilangan harga diri di depan keluarga bangsawan lain, maka dengan cepat ia menaikkan jabatan Kyuhyun.

Masih diingatnya dengan jelas ketika malam pertama ia harus kembali ke rumah. Ayahnya datang dan mengamuk di depan pekarangan. Untungnya saat itu haraboji-nya sedang tidak ada di rumah. Mr. dan Mrs. Cho serta Song Ji Hyo sedang menghadiri pertemuan yang Kyuhyun yakin dengan terpaksa mereka hadiri untuk menekan rumor bahwa keluarga mereka sedang berantakan.

Ayahnya tampak kaget mendengar pengakuan Kyuhyun tentang kepulangannya. Ternyata ia sendiri yang menelepon haraboji-nya dan minta di jemput. Ayahnya sangat marah saat itu.

“Ada apa denganmu? Mengapa kau melakukan hal ini? Kau tahu, aboji mempertaruhkan segalanya agar kalian bisa keluar dari neraka ini. Mengapa kau memilih kembali? Kau tahu, omoni-mu tak bisa berhenti menangis di luar sana. Saudara-saudaramu mencemaskanmu. Hentikan kegilaan ini, pulanglah bersama aboji!”

“Tidak! Aboji, dengarkan aku. Sampai kapan kita harus melarikan diri? Selama haraboji dan Ji Hyo omoni masih hidup, mereka tidak akan membiarkan kita begitu saja. Aku harus kembali, aku harus menyelamatkan keluarga kita.” Kata Kyuhyun pada ayahnya.

“Tapi dengan melakukan ini, kau juga mengorbankan dirimu. Tidak, jangan lakukan ini pada aboji dan omoni. Pulanglah. Aboji berjanji, kita akan pergi sejauh mungkin, dimana tidak ada seorangpun akan menemukan kita.” Bujuk In Sung lagi.

“Aboji, kumohon percayalah padaku. Aku bisa mengatasinya. Aku harus mencari cara agar haraboji berhenti menekan kita semua. Aku akan menyusun rencana terbaik yang pernah ada. Aku akan membuat omoni diterima dan menyelamatkan hubungan Shin Hye dan Yonghwa. Kumohon aboji, percayalah padaku. Aku baik-baik saja. Selama 23 tahun aku bisa bertahan, mengapa sekarang tidak? Kumohon..”

Kyuhyun memejamkan matanya. Berat rasanya meninggalkan keluarganya lalu tinggal di tempat yang dingin sendirian. Tapi jika ia tidak melakukannya, keluarganya tidak akan pernah tenang. Kadang ia iri dengan orang-orang di luar sana, mereka bebas bersikap karena tidak harus menjaga kehormatan keluarga bangsawan seperti dirinya.

Seperti yang dikatakan pada ayahnya, ia kembali bukan untuk menyerahkan diri namun untuk memperbaiki segalanya. Selain itu, ia masih terlalu penasaran dengan Siwon. Ia tahu, mungkin Siwon tidak perduli dengan siapa ia akan menikah semasa orang tuanya senang. Tapi Kyuhyun tidak bisa menerima itu. Bukan hanya karena ia tidak ingin Shin Hye dan Yonghwa berpisah, tapi ia sendiri tidak mampu melupakan Siwon. Ia telah mencobanya bertahun-tahun tapi selalu tidak berhasil. Dan kini, mereka punya kesempatan untuk kembali, mengapa tidak ia mengusahakan segalanya?

“Sajangnim, segalanya sudah siap. Mereka menunggu anda sekarang.” Tiba-tiba salah satu pengawalnya masuk dan berkata demikian padanya.

“Baiklah.”

Keduanya berjalan keluar menuju meeting room Cho Corporation yang maha megah dengan dinding kaca. Hari ini Kyuhyun akan berbicara di depan publik sebagai pimpinan yang baru. Ia dan Harabojinya telah berbicara semalam mengenai hal ini. Hanya untuk memulihkan nama keluarga yang sempat tercemar.

Selain itu, Kyuhyun ingin Siwon setidaknya melihat berita itu di internet ataupun surat kabar agar ia bisa cepat kembali ke Seoul. Siwon sendiri tidak ada pada malam In Sung pergi dari rumah. Ia harus menyelesaikan beberapa hal di Kanada dan belum kembali sampai saat ini. Jadi baik Siwon maupun keluarganya tidak ada yang tahu bahwa kekacauan besar tengah terjadi di rumah keluarga Cho.

Begitu Kyuhyun memasuki meeting room itu, puluhan kilatan cahaya yang berasal dari kamera para wartawan menghantamnya. Kyuhyun tersenyum lalu membungkuk hormat pada para wartawan yang hadir. Diantara para pemegang saham, duduk Mr. Cho, Mrs. Cho dan kedua orang tua Siwon. Kyuhyun tersenyum dalam hati, haraboji-nya pasti sengaja mengundang keluarga Siwon agar ia tidak bisa bicara yang aneh-aneh.

“Selamat siang. Terima kasih sudah hadir. Saya, Cho Kyuhyun, dengan bangga memperkenalkan diri sebagai pimpinan Cho Corporation yang baru. Saya akan mengerjakan tugas saya sebaik-baiknya, bekerja lebih keras dan menghasilkan lebih banyak. Mohon dukungannya.”

Kyuhyun kembali memberikan hormat pada para hadirin. Namun beberapa pertanyaan mengenai keluarga lainnya yang tidak tampak saat itu membuatnya harus bicara lagi.

“Seperti yang kalian tahu, Cho Corporation bekerja di berbagai bidang. Kami membagi tugas sehingga semua bisa berhasil dengan baik. Adik saya, Cho Jonghyun bersama ayah saya, Cho In Sung, sedang mancari partner kerja di luar negeri sehubungan dengan akan dibangunnya perusahaan cabang di luar negeri. Oleh karena itu mereka tidak bisa hadir. Sedangkan kedua omoni, noona dan adik termuda Cho, Shin Hye sedang mengurus pernikahan. Seperti kalian ketahui, tak lama lagi pernikahan akbar akan terjadi di keluarga kami. Jadi kami mohon pengertiannya. Maafkan jika tidak semua anggota keluarga bisa hadir.”

“Tapi Kyuhyun-ssi, kami mendengar rumor bahwa semua anggota keluarga pergi meninggalkan rumah dan menghilang lebih dari seminggu ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Bisakah anda menjelaskan kepada kami?” tanya seorang wartawan.

Kyuhyun melirik kakeknya yang tampak tegang. Namun ia tersenyum hangat. “Jika ada kejadian seperti itu, mana mungkin saya berdiri disini? Kami hanya terlalu sibuk dengan persiapan pembukaan perusahaan baru dan pernikahan salah satu anggota keluarga. Jadi saya mohon kalian bisa mengerti.”

Setelah itu Kyuhyun membungkuk sekali lagi dan meninggalkan ruangan. Mr. dan Mrs. Cho beserta kedua orang tua Siwon mengikutinya ke ruang kerjanya.

“Ada apa ini? Mr. Cho, bisakah anda menjelaskannya? Aku tidak mengerti. Mengapa ada rumor bahwa keluarga kalian pergi meninggalkan rumah?” tanya ayah Siwon ketika mereka semua sudah sampai di ruang kerja Kyuhyun.

“Ah, itu tidak benar.. Ada sedikit kesalahan yang..”

“Hal itu benar adanya.” Kata Kyuhyun memotong perkataan haraboji-nya. Para orang tua yang ada di sana bersamanya tercengang.

Kyuhyun melanjutkan. “Kami semua pergi dari rumah sebagai bentuk protes pada pertunangan Shin Hye dan Siwon-ssi. Shin Hye telah memiliki kekasih dan ia menerima pertunangan itu atas dasar paksaan. Tahukah kalian bahwa tidak ada cinta diantara Siwon dan Shin Hye? Tahukah kalian bahwa demi menyenangkan kalian semua, mereka rela mengorbankan diri kalian? Tahukah kalian apa yang menjadi keinginan dan kebahagiaan mereka? Tidak! Kalian tidak tahu menahu. Yang kalian tahu hanya harga diri, martabat dan kejayaan semata.”

“Jika kalian menyempatkan diri sebentar saja mendengar keluhan mereka, mungkin kalian akan mengutuk diri kalian karena merebut kebahagiaan mereka. Apa kalian pikir tanpa cinta keduanya bisa bahagia? Tidak! Mereka hanya tersenyum di depan semua orang dan menangis kala sendirian.”

Kedua orang tua Siwon tampak shock sedangkan Mr. dan Mrs. Cho tampak murka. Tapi Kyuhyun tidak perduli. Ini bagian dari rencananya. Ia harus berbicara dengan kedua orang tua Siwon, keduanya sama-sama orang yang berpikiran terbuka karena belajar di luar negeri dulunya. Pasti mereka bisa menerima andai saja Siwon tidak dengan bodohnya mengikuti kemauan mereka.

“Aku mencintai Siwon hyung. Kami telah bersama sebelumnya saat kuliah dulu. Namun kami tidak melanjutkan hubungan kami ketika Siwon hyung meneruskan kuliahnya di Kanada. Jika kalian tidak keberatan, aku akan menggantikan posisi Shin Hye.”

Kedua orang tua Siwon bertukar pandang heran. Mereka seperti dugaan Kyuhyun, tidak menyangka bahwa Siwon pernah menjalin hubungan dengan salah satu keluarga Cho sebelumnya.

“Kyuhyun!” bentak Mr. Cho.

Tapi seakan tuli, Kyuhyun terus berbicara. “Bukankah tidak ada ruginya jika aku yang menggantikan Shin Hye? Kami berdua sama-sama berasal dari keluarga Cho. Dan lagi, aku dan Siwon-ssi sudah saling mengenal dan masih saling mencintai hingga saat ini, anda bisa menanyakan padanya jika tidak percaya.”

“Yang pasti, sebagai cucu tertua keluarga Cho, aku tidak mau melihat adikku menikah tanpa cinta. Aku akan membantunya untuk tetap bersama kekasihnya dan tidak akan muncul di hari pernikahan. Jadi.. Apakah kalian setuju dengan tawaranku?”

“Anak ini..! Siapa yang mengajarimu tidak sopan seperti ini?” tanya Mrs. Cho.

Kyuhyun tetap menatap orang tua Siwon, seolah tidak ada interupsi sebelumnya. Ia tahu, dengan tawarannya tadi, ia akan tampak seperti seorang lelaki putus asa yang sangat mengharapkan cinta Siwon. Tapi jika ia terus diam, maka ia dan Siwon tidak akan pernah bersatu. Ini satu-satunya harapannya. Ia bahkan terus-menerus berdoa dalam hati agar orang tua Siwon menyetujui tawarannya.

“Sebenarnya.. Kami tidak masalah. Semasa Siwon menikah dengan salah satu keluarga Cho, kami sama sekali tidak keberatan. Jadi, kami terima tawaranmu, Kyuhyun-ssi.” Kata ayah Siwon.

Mendengar itu, Kyuhyun tersenyum puas. Ia bahkan nyaris menjerit riang ketika melihat wajah kakek dan neneknya yang shock seperti habis terkena malapetaka besar.

*

            Sedaritadi Kyuhyun tak henti-hentinya tersenyum-senyum senang. Ia senang sekali karena kemarin kedua orang tua Siwon sudah memberi ijin padanya untuk menggantikan posisi Shin Hye. Dan ia melarang kedua calon mertuanya itu untuk memberi tahu Siwon mengenai hal ini, karena ia ingin melakukannya sendiri. Ia bahkan sudah merangkai kata-kata yang akan disampaikannya pada Siwon nanti.

Dan kini, jantungnya berdegup kencang. Sebentar lagi ia akan melihat pujaan hatinya itu. Menurut informasi anak buahnya, Siwon sudah kembali ke Seoul semalam. Tapi ia tidak langsung pulang, entah apa alasannya, Kyuhyun tidak tahu. Ia akan menanyakannya nanti. Hari ini ia ingin mendatangi Siwon dan memberi kejutan pada calon suaminya itu.

Mobil yang membawa Kyuhyun akhirnya berhenti di depan sebuah hotel bintang lima di kawasan Cheongdam-dong. Sebelum turun, Kyuhyun merapikan rambut dan dasinya terlebih dahulu.

“Selamat pagi. Aku ingin menemui Mr. Choi Siwon. Beliau ada di kamar nomor berapa?” tanya Kyuhyun ketika ia sudah sampai di meja receptionist.

“Selamat pagi. Anda, Mr. Cho Kyuhyun bukan? Mr. Choi Siwon berada di kamar 1201. Terima kasih sudah mengunjungi hotel kami.” Kata si receptionist dengan sopan.

Kyuhyun mengangguk kemudian langsung berjalan menuju kamar 1201 seperti yang diinformasikan tadi. Ketika sampai disana, Kyuhyun membunyikan bel dan menunggu dengan sabar di depan pintu. Namun setelah dua kali membunyikan bel, sang pemilik kamar tidak juga keluar. Setelah ia menekan bel untuk ketiga kalinya, barulah pintu itu terbuka.

Namun alangkah kagetnya Kyuhyun karena yang membuka pintu itu bukan Siwon namun seorang gadis dengan wajah kuyu karena baru saja bangun tidur. Gadis muda itu tampaknya tidak memakai apa-apa dibalik selembar kain putih yang ia gunakan hanya untuk menutupi bagian-bagian intim di tubuhnya.

“Siapa anda?” tanya wanita itu masih terlihat mengantuk dan belum sadar sepenuhnya.

Tanpa menjawab, Kyuhyun mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan langkah-langkah panjang. Di sana, di atas ranjang berukuran super besar, Choi Siwon terlihat tidur dengan tenang. Bagian bawah tubuhnya tertutup selimut tebal.

“Siapa chagi?” tanya Siwon dengan nada suara berat, tapi matanya masih tertutup. Gadis yang bersamanya itu terlihat enggan menjawab, tampaknya ia tahu benar apa yang akan terjadi padanya jika ia buka suara.

Dengan geram Kyuhyun menarik lepas selimut itu. seketika tubuh polos Siwon terpampang jelas di depan mata Kyuhyun, membuat darahnya mendidih.

Sementara itu, Siwon langsung membuka matanya ketika selimutnya disingkap. Dan ketika melihat Kyuhyun, kantuknya hilang seketika, berganti kecemasan luar biasa.

*

            Ketukan di pintu kerja Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Dengan enggan ia menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk.

“Selamat pagi, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun menjadi ceria begitu tahu siapa yang datang. Ia lalu tersenyum pada lelaki yang baru saja masuk tadi dan memperhatikan dengan seksama lelaki yang telah ia rekrut sebagai pengacaranya itu. Ia meminta salah satu pegawainya mencari pengacara terbaik untuk membelanya dan keluarganya jika sesuatu yang buruk terjadi.

“Silahkan duduk. Nama anda Lee Joon Hyuk bukan? Terima kasih sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami.” Kata Kyuhyun dengan sopan.

“Seharusnya akulah yang berterima kasih. Karena anda sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku telah mempelajari semua berkas yang diberikan oleh pegawai anda. Dan aku juga telah menyiapkan beberapa senjata untuk anda. Silahkan dibaca.” Kata Lee Joon Hyuk seraya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Kyuhyun.

Setelah membaca kertas-kertas itu, Kyuhyun tersenyum cerah. “Brilian. Sungguh, aku tidak menyangka anda akan menyusun strategi sebaik ini. Baiklah, menurut anda, kapan kita bisa mulai bergerak?”

“Aku telah mengatur segalanya, kita bisa bergerak mulai minggu depan.” Kata Joon Hyuk dengan yakin.

*

            Seminggu kemudian, seperti yang dijanjikan Lee Joon Hyuk, dimulailah aksi yang membuat Mr. Cho kalang kabut. Dimulai dari surat kaleng yang dikirimkan pada keluarga Song bahwa In Sung akan menceraikan Ji Hyo. Mr Cho langsung mendapatkan tekanan besar dari keluarga bangsawan kaya raya itu. Mereka bahkan mengancam akan memutuskan hubungan kerja dan akan membuat perhitungan dengan Mr. Cho jika hal itu terjadi.

Kyuhyun muncul menjadi penyelamat saat itu. Dengan gaya meyakinkan ia menemui orang tua Song Ji Hyo dan menjelaskan segalanya.

“Mana mungkin aboji menceraikan Ji Hyo omoni sedangkan beliau tengah mempersiapkan hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh empat? Tapi karena anda sepertinya termakan dengan surat kaleng tolol itu, maka dengan sangat terpaksa aku membocorkan rahasia ini. Jangan salahkan aboji-ku jika ini nantinya tidak lagi menjadi sebuah kejutan.” Kata Kyuhyun seraya menyerahkan sebuah sertifikat beserta memo berisikan keterangan tentang sebuah kalung berlian.

Dalam memo tersebut dinyatakan bahwa pemesan kalung berlian itu adalah Cho In Sung sedangkan kepemilikan kalung tersebut atas nama Song Ji Hyo. Melihat itu, keduan orang tua Song Ji Hyo segera menghubungi Mr. Cho dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi dan mengatakan bahwa untunglah Kyuhyun datang dan menjelaskan segalanya. Mereka pikir, mana mungkin ada perceraian jika In Sung bersikap sedemikian romantis pada anak mereka menjelang ulang tahun pernikahannya?

Beberapa hari setelah kejadian itu, muncul kekacauan lain. Berita ini lebih gempar dari berita sebelumnya. Surat kaleng kedua datang pada keluarga Choi. Sebuah amplop besar berisi foto-foto Siwon dengan wanita lain di sebuah kamar hotel tanpa mengenakan pakaian membuat kedua orang tuanya kaget setangah mati. Tidak hanya itu, foto-foto Siwon di luar rumah yang ternyata sangat ‘tak terduga’ terkuak di depan Mr. dan Mrs. Choi.

Tak hanya itu, sebuah ancaman juga muncul dari si pengirim surat yang mengatakan bahwa ia akan menyebarkan foto-foto tersebut ke media jika pertunangan Siwon dan Shin Hye tetap diteruskan. Bahkan si pengirim surat mengatakan bahwa jika pernikahan nantinya dilanjutkan, maka pesta itu akan menjadi lautan darah karena akan di bom hingga tak ada satupun yang hidup.

Dalam situasi itu, kembali Kyuhyun muncul sebagai penolong. Dengan segenap kekuatannya ia dan anak buahnya mencari tahu siapa dalang dari kekacauan itu dan menangkap pelakunya lalu menjebloskannya ke penjara.

Kembali ia mendapat pujian tinggi, tanpa seorangpun menyadari bahwa sebenarnya Kyuhyunlah pelaku dibalik semua itu. Mereka terlalu lega dan cepat merasa puas dengan yang terjadi. Tujuannya memang menekan kakeknya lewat keluarga Song, lalu lewat keluarga Choi dan kini akan langsung mengenai Mr. Cho sendiri.

Dan langkah terakhir Kyuhyun dalam rencananya pun kini dilaksanakan. Pagi itu, di setiap surat kabar muncul berita bahwa Mr. Cho dengan kejam memisahkan hubungan Siwon dan Kyuhyun dan menjodohkan Siwon dengan Shin Hye, hanya karena Kyuhyun adalah anak dari Son Ye Jin, menantu yang tidak diharapkan oleh Mr. Cho.

Masyarakat d luar sana mengunjing keluarga Cho, terutama Mr. Cho karena hal ini. Dan seluruh pekerja Cho Corporation di berbagai bidang mengamuk melihat berita itu. Mereka mogok kerja sebagai protes dari pemberitaan yang mereka baca. Bagaimana tidak, mereka sangat menyayangi Son Ye Jin dan anak-anak keluarga Cho karena mereka sangat baik hati dan rendah diri. Mereka pikir, tidak sepantasnya ada perlakuan tidak adil hanya karena kedudukan yang tidak setara.

Betapa kagetnya Cho In Sung beserta seluruh anggota keluarga yang tengah bersamanya, bisa dikatakan bahwa Kyuhyun memang jenius. Dengan berita ini, bukan hanya membawa nama Cho, tapi nama keluarga Song dan Choi terseret di dalamnya. Selama ini mereka menutup mulut karena tidak ingin diketahui oleh publik, tapi dengan berani Kyuhyun membuka aib ini. Ya, aib untuk Mr. Cho, tapi hadiah terindah untuk Cho In Sung karena pada akhirnya dunia mengetahui kebenarannya.

Namun reaksi ketiga keluarga besar itu adalah sebaliknya. Mereka marah besar. Merasa dipermalukan karena secara tidak langsung, nama keluarga mereka ikut terseret dan disangkut-pautkan di media.

“Cho Kyuhyun! Ani, Kyuhyun! Kau tidak pantas disebut sebagai seorang Cho. Beraninya kau menyebarkan berita seperti ini?” raung Mr. Cho setelah melihat berita-berita itu.

Kyuhyun justru tersenyum. “Kata siapa aku yang menyebarkannya? Apa anda punya cukup bukti yang kuat? Jangan lupa, bahwa akulah yang menyelamatkan muka anda di depan umum di hari pengangkatanku sebagai pimpinan baru perusahaan. Aku juga yang menyelamatkan anda dari amukan keluarga Song dan juga Choi.”

“Aku tidak sebodoh yang kau kira! Aku tahu dengan pasti kaulah yang merencanakan semua ini. Kau yang menyalakan api dan kau juga yang memadamkannya!”

“Tunjukkan buktinya, barulah anda berani bicara di seperti itu.” kata Kyuhyun tajam.

“Aku tahu, aku tidak punya bukti saat ini. Tapi lihat saja nanti. Sejak awal aku sudah mencurigai keinginanmu untuk pulang ke rumah ini. Sekarang, cepat selesaikan kekacauan yang kau sebarkan!” kata Mr. Cho lagi. Wajahnya merah padam menahan amarahnya. Jika ia meledak marah, bisa jadi Kyuhyun menolak membantunya dalam situasi seperti ini.

“Baiklah.. Kurasa sudah saatnya aku mengajukan permintaanku yang pertama.”

“Kita tidak sedang bernegosiasi kini!” bentak Mr. Cho.

“Terserah anda. Jika anda tidak mau mendengarkanku, anda tentu merasa siap dengan amukan para karyawan juga gunjingan masyarakat di luar sana bukan?” kata Kyuhyun kejam.

“Baiklah! Apa maumu! Cepat katakan!”

Dengan senyum puas Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian Lee Joon Hyuk muncul dalam ruangan itu dan membawa sebuah map. Ia lalu meletakkan map itu di meja kerja Mr. Cho.

“Silahkan dibaca, Mr. Cho. Anda hanya punya waktu lima belas menit untuk memutuskan langkah selanjutnya atau Kyuhyun-ssi akan membatalkan semua negosiasi dengan anda.” Kata Lee Joon Hyuk.

Dengan kasar Mr. Cho membuka map itu. Tak sampai lima menit, ia telah selesai membaca berkas-berkas itu lalu menatap Kyuhyun dengan murka.

“KAUUUUUUU…!!! BERANINYA KAU…!!!” raung Mr. Cho.

Kyuhyun membalas tatapan kakeknya. Jika bisa ia lakukan, dengan senang hati ia membunuh orang tua yang telah membuat ibunya terus menerus menangis sepanjang umur pernikahannya. Namun ia rasa kematian terlalu mudah, kakeknya itu harus merasakan bagaimana rasanya segalanya yang ia bangga-banggakan diambil darinya.

“Tidak akan pernah.. Tidak akan pernah kutandatangani hal bodoh seperti ini! Kau.. Pemeras! Tidak tahu balas budi! Kacang lupa pada kulitnya! Seharusnya aku tahu bahwa keturunan kotor dari wanita seperti Ye Jin akan seperti ini! Kau.. Aku kan membunuhmu! Aku akan membunuhmu juga omoni dan noona-mu itu!”

“Jangannn.. Pernah.. Mengucapkan.. Satu kata penghinaan.. Untuk omoniku.. Dari mulut kotor anda..!!!” kata Kyuhyun marah. Tubuhnya bergetar karena kata-kata kakeknya. Silahkan menghina dirinya sepuasnya, tapi jangan pernah menghina ibunya.

“Mr. Cho, anda bisa dituntut karena pencemaran nama baik karena kata-kata anda. Jika anda tidak segera menandatangani surat ini, maka anda akan kami laporkan ke polisi karena anda telah mencemarkan nama baik Son Ye Jin dan mengancam akan membunuh Kyuhyun-ssi.” Kata Joon Hyuk lagi.

Ia lalu menunjukkan sebuah recorder kecil yang ternyata sedaritadi telah ia siapkan di tangannya. Kemudian recorder itu dinyalakan.

“Seharusnya aku tahu bahwa keturunan kotor dari wanita seperti Ye Jin akan seperti ini! Kau.. Aku kan membunuhmu! Aku akan membunuhmu juga omoni dan noona-mu itu!”

Wajah Mr. Cho memucat karenanya. Ia memadang sang pengacara dengan tatapan tidak percaya. Baru ia sadari bahwa sedaritadi ia telah dijebak. Dengan tubuh bergetar, ia meraih pena di saku kemejanya lalu menandatangani berkas itu. Hilang.. Hilanglah sudah semua yang telah ia perjuangkan selama ini, jatuh ke tangan orang yang selama ini selalu ia remehkan : Kyuhyun.

*

wonkyuhyuk

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 5

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 5

Jonghyun masih menangis keras di atas aspal keras. Udara dingin menyergap tubuhnya yang hanya dibalut baju kaos tipis. Ia enggan bangun dari duduknya, ia bahkan enggan bergerak untuk sekedar pindah ke sisi jalan karena saat ini ia duduk di tengah jalan.

Hatinya terlalu sakit karena ditinggalkan. Seolah ia tidak diinginkan, seolah tiada yang perduli. Ayahnya meninggalkannya, saudara-saudaranya pergi, dan ia sangat amat sadar bahwa ia harus tinggal sebagai tumbal. Jika ia ikut, maka selamanya keluarganya tidak akan pernah tenang. Setidaknya memang ia harus tinggal demi menyelamatkan Shin Hye.

Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, seiring dengan itu muncul juga ejekan-ejekan lain yang membuatnya berkecil hati. Apa karena ia anak seorang Song Ji Hyo maka ia tidak diinginkan? Apa karena ia pimpinan Cho Corporation maka ia yang harus tinggal? Atau karena ia adalah anak lelaki yang ‘sah’ menurut kakek neneknya maka ia yang harus menanggung semua ini? Bolehkah ia memilih untuk melepaskan semuanya dan tinggal bersama orang-orang yang disayanginya?

Jonghyun masih menangis ketika sebuah tangan hangat memeluknya dari belakang. Sebuah kecupan dalam mendarat di pelipis dan pipi kirinya.

“Jonghyun-ah, uljima.. Omoni disini.”

Jonghyun terkesiap. Dengan cepat ia menoleh ke belakang dan mendapati seraut wajah penuh kasih tersenyum padanya. Wanita cantik yang kini juga menangis itu memeluknya dengan sayang seraya tersenyum padanya.

“Omoni.. Benarkah ini kau? Apakah aku tidak bermimpi?” tanya Jonghyun.

Son Ye Jin kembali memeluk Jonghyun dengan penuh kasih sayang. Ia mempererat pelukannya seolah Jonghyun yang akan pergi.

“Uljima, kami datang kembali untukmu. Cepatlah berdiri sebelum anak buah haraboji datang.” Kata Son ye Jin lagi.

Masih dengan tidak percaya, Jonghyun mengikuti instruksi ibu tirinya. Ternyata ini bukan mimpi, begitu ia dan Ye Jin berdiri dan berbalik, ketiga saudara dan ayahnya berdiri disana.

“Cepat masuk ke mobil. Kurasa sebentar lagi mereka akan tiba disini.” Perintah In Sung dengan waspada.

Ye Jin dan Jonghyun berlari ke mobil. Mhia sudah pindah ke kursi depan sedangkan Shin Hye dan Kyuhyun pindah ke kursi belakang agar Jonghyun dan Ye Jin bisa duduk di tengah. Begitu mereka semua sudah duduk di mobil, In Sung lalu melarikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, meninggalkan masa lalu yang menyesakkan di belakang.

*

            Cho In Sung dan keluarganya kini duduk di dalam apartemen kecil milik Yonghwa. Awalnya In Sung berencana tidur di mobil sampai pagi lalu mereka akan bergerak ke tempat lain. In Sung memang meminta Mr. Lee secara diam-diam untuk membantunya dalam melakukan strategi ‘melarikan diri’, dan hanya Jonghyun yang tahu mengenai hal ini diantara saudara-saudaranya. Namun karena teryata In Sung ‘meledak’ sebelum rencananya dan Mr. Lee matang, maka terpaksa mereka harus mencari tempat tinggal sementara.

Dan Kyuhyun memberi saran agar mereka menginap di tempat Yonghwa. Walaupun kecil, setidaknya mereka bisa tinggal dulu untuk sementara. Tentu saja Shin Hye keberatan pada awalnya, karena ia merasa malu. Namun karena mereka tidak punya pilihan lain, akhirnya ia menuruti saran Kyuhyun.

“Yonghwa-ssi, maafkan jika aku dan keluargaku merepotkanmu.” Kata In Sung memulai pembicaraan ketika mereka semua sudah duduk dengan tenang di ruang tengah apartemen itu.

“Tidak.. Sama sekali tidak merepotkan. Aku senang bisa membantu kalian.” Kata Yonghwa dengan hormat. Walaupun Shin Hye telah meninggalkannya, bukan berarti ia bisa melupakan gadis itu begitu saja. Apalagi ia juga akrab dengan ketiga saudara Shin Hye. Membantu keluarga Cho adalah kehormatan besar untuknya.

“Kami akan segera mencari tempat tinggal baru besok. Jadi..”

“Kalian boleh tinggal disini selama kalian mau. Sungguh. Aku senang sekali bisa membantu kalian semua.” Kata Yonghwa memotong perkataan In Sung.

Mereka semua terdiam. Rasa bersalah mengaliri hati mereka. Yonghwa lah yang dicampakkan disini, namun dia juga yang menolong mereka ketika mereka kesusahan. Jonghyun lalu menggenggam tangan Shin Hye dan berusaha mendapatkan kontak mata. Ketika mata mereka bertemu, ia hanya memandang adiknya tanpa ekspresi. Namun Shin Hye mengerti maksud tatapan kakaknya.

“Aboji.. Aku.. Ingin mengatakan.. sesuatu..” kata Shin Hye takut-takut.

“Katakanlah.”

Shin Hye kembali menatap Jonghyun setelah itu, seolah meminta dukungan. Ketika kakaknya itu mengangguk, Shin Hye menarik nafas panjang sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak pernah mencintai Siwon oppa. Aku melakukannya karena terpaksa. Omoni memaksaku melakukannya karena ia tidak mau melihat Kyuhyun oppa bersama dengan Siwon oppa.”

Wajah In Sung mengeras sedangkan wajah Kyuhyun berpendar merah. Ia malu sekali karena namanya disebut-sebut dalam percakapan ini.

“Omoni berpikir bahwa..”

“Cukup!” ujar In Sung memotong perkataan anak bungsunya itu. “Berhentilah berpura-pura mulai saat ini. Kau bukan lagi tunangan Choi Siwon. Jika ada yang ingin menyanggah, ia harus bicara langsung padaku.”

“Tapi aboji.. Aku melakukannya demi Ye Jin omoni. Omoni akan melukai Ye Jin omoni, Kyuhyun oppa dan Mhia eonni jika aku membantah.” Kata Shin Hye sedikit histeris.

Son Ye Jin sangat paham mengapa Ji Hyo membencinya. Bahkan kebenciannya juga menurun pada Mhia dan Kyuhyun. Semua karena kecemburuannya pada In Sung. Jika saja In Sung mau berlaku adil, mungkin saja Ji Hyo tidak akan bertingkah seperti ini.

“Tidak ada yang bisa memaksamu melakukan keinginanya. Jika kau mencintai Yonghwa, maka kembalilah padanya. Tentukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan seperti aboji, merelakan kebahagiaanku sendiri dan menyakiti perasaan orang yang aku cintai hanya karena mengikuti kemauan orang tuaku. Cukup aboji yang merasakannya. Kalian tidak boleh ikut merasakannya.” Kata In Sung dengan tegas.

Son Ye Jin menatap suaminya dengan bangga. Mungkin memang sudah saatnya In Sung bangkit dari sikap penurutnya selama ini. Mungkin memang tekanan terhadap anak-anaknyalah yang bisa membuatnya sadar.

Tiba-tiba ponsel Jonghyun berdering. Ia sangat terkejut melihat nama haraboji-nya tertera disana. Namun sebelum ia menjawab telepon itu, ayahnya sudah merebutnya dan menjawab dengan berani.

“Berhenti menghubungi kami. Jika dulu aboji bisa menguasai aku, bukan berarti aboji juga bisa melakukannya pada Jonghyun. Dia adalah anakku, dan sampai kapanpun aku akan melindunginya dari kalian. Selamat tinggal aboji. Silahkan menuai apa yang pernah aboji tanam selama ini.”

In Sung lalu menutup telepon itu, melepas baterainya, mengambil kartu SIM nya kemudian mematahkannya jadi dua. Ia lalu berpaling pada anggota keluarganya yang lain.

“Lakukan hal yang sama dengan kartu SIM kalian. Bisa jadi kita dilacak kalau terus menggunakan nomor yang sama.”

Semuanya menuruti apa yang dikatakan oleh In Sung dengan cepat, termasukYonghwa. Menurut Kyuhyun, bisa saja anak buah kakeknya mencari Yonghwa lewat nomor ponselnya. Dengan kekuasaannya, hal tersebut bisa saja terjadi.

Ditengah hiruk pikuk itu, Jonghyun terpaku melihat ayahnya. Dengan mata-berkata-kaca ia menapat ayahnya dengan rasa bangga yang meluap-luap di dadanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendengar ayahnya menyebutnya sebagai ‘anak yang akan dilindungi’. Dan itu sudah cukup, Joghyun tidak butuh tindakan ayahnya yang lebih. Pengakuan tadi sudah cukup membuatnya bahagia, membuatnya merasa diterima di hati ayahnya.

*

            Kyuhyun terpekur di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi matanya tetap tidak bisa terpejam. Ia tidak tahu kenapa matanya tidak mau bekerja sama malam ini. Sudah seminggu mereka melarikan diri dari rumah, memang sampai saat ini mereka aman , tapi menurutnya hal ini hanya keberuntungan semata. Bahkan Yonghwa pun tidak bekerja dulu untuk sementara sampai keadaan mulai membaik. Namun mereka tidak berani bersantai sedikitpun, mereka sangat mengenal Mr. Cho. Jika satu hal kecil yang bisa menimbulkan jejak dimana anggota keluarganya berada muncul di depannya, dalam waktu singkat ia bisa menemukan mereka semua.

Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan, semuanya tertidur lelap. Ibunya tidur sambil bersandar di sandaran ranjang. Jonghyun dan Mhia tidur di pangkuannya. Shin Hye dan Yonghwa tidur di sofa lain. Keduanya tampak lelah namun bahagia.

Hanya Kyuhyun yang masih terjaga, juga ayahnya. Ayahnya itu duduk di sofa bersamanya. Bedanya Kyuhyun duduk bermalas-malasan sedangkan ayahnya tampak waspada..

“Kyu.. Tidurlah..” kata In Sung seraya membelai surai Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak bisa tidur, aboji.”

“Kenapa? Jangan pikirkan hal lain. beristirahatlah. Beberapa hari lagi semua yang telah aboji siapkan akan selesai. Kita semua bisa pergi dari sini dengan tenang.” Kata In Sung meyakinkan.

“Dari Seoul?”

In Sung mengangguk. “Tentu saja. Kita tidak mungkin tinggal di satu kota dengan haraboji-mu jika ia masih saja memaksakan kehendaknya pada kita semua.”

Kyuhyun terdiam. Ia tahu pemikirannya sangat bodoh saat ini. Di saat keluarganya sedang dalam masalah, ia malah memikirkan Siwon. Entahlah, ia merasa setidaknya Siwon harus tahu yang sebenarnya terjadi. Bukankah ia juga korban dalam hal ini? Bukankah ia hanya mengikuti kemuan orang tuanya juga?

“Aboji tahu kau memikirkan Choi Siwon.”

Kyuhyun terkesiap. Sesaat wajahnya berpendar merah. “Eh.. Aku..”

“Aboji sangat mengerti perasaanmu. Tapi kita saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Jika segalanya telah siap, aboji berjanji, kau akan bertemu Siwon sekali lagi dan disitulah kau bisa memutuskan akan kembali padanya atau tidak.”

“Tapi mengapa aku harus..”

“Memilih? Kyu, aboji tahu dengan sangat baik bahwa kau dan Siwon saling mencintai. Aboji tahu permasalahan yang telah kalian alami sebelumnya. Sebagai orang tua, tentunya aboji akan marah jika kau disakiti berulang kali. Tapi sebagai individu bebas, aboji tahu kau sudah dewasa. Kau bebas menentukan yang terbaik untukmu. Jika suatu saat ternyata pilihanmu salah dan kau kembali sakit karenanya, tugas aboji dan omoni bukan menyalahkanmu melainkan membantumu bangkit dari keterpurukan.”

“Memang saat ini aboji belum bisa sepenuhnya menerima Siwon untukmu. Tapi setiap orang punya alasan dalam melakukan sesuatu. Apapun alasannya, Siwon memang bersalah. Tapi bukan berarti ia tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika kau bisa memaafkannya, kenapa aboji tidak? Hanya saja, aboji minta padamu untuk bersabar. Akan tiba saatnya kau bisa benar-benar memikirkan masa depanmu. Tapi untuk saat ini, pikirkanlah dulu keselamatan keluarga kita.”

Cho In Sung menjelaskan panjang lebar dengan harapan anaknya itu mengerti. Karena ia hanya ingin mereka semua selamat terlebih dahulu baru memikirkan hal lain. Dan ia juga tahu tidak mudah bagi Kyuhyun yang terperangkap dalam kelainan seksualnya untuk menemukan orang yang benar-benar ia cintai dan juga balik mencintainya.

Cho In Sung berjanji dalam hatinya sendiri. Ketika segala sudah membaik, ia akan membebaskan anaknya memilih segalanya yang mereka inginkan. Karena ia tidak ingin menekan mereka, seperti yang dilakukan ayahnya padanya.

“Ne aboji, aku mengerti.” jawab Kyuhyun dengan patuh.

“Aboji lega mendengarnya. Nah sekarang tidurlah.”

“Aboji, bolehkah aku menanyakan satu hal lagi?” tanya Kyuhyun hati-hati.

“Tentu saja, Kyu. Ada apa?”

“Apakah benar aboji membenci Jonghyun dan Shin Hye hanya karena Ji Hyo omoni?”

Cho In Sung menghela nafas sebentar lalu menjawab. “Sebenarnya.. Ya. Bukannya aboji tidak bisa menerima mereka. Aboji sayang pada keduanya, namun aboji ingin berlaku adil walaupun mungkin caranya salah. Mereka berdua selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, kau dan Mhia tidak. Mereka selalu dimanja dengan kedua orang tuaku, kalian tidak. Mereka selalu diberikan yang terbaik, kalian tidak.”

“Dari kecil, omoni-mu selalu mengajarkan kalian untuk tidak iri dan mensyukuri segala sesuatu yang diberikan pada kalian walaupun yang kalian terima sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka terima. Aboji masih ingat ketika ulang tahunmu dan Jonghyun beberapa tahun lalu. Jonghyun dibelikan mobil sport mewah oleh haraboji-mu, sedangkan kau hanya diberikan mobil biasa, itupun bukan seri terbaru. Tapi lihat, kau sangat mensyukurinya. Bahkan kau tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada omoni-mu yang membelikan mobil itu dari tabungannya selama bertahun-tahun.”

“Kau tahu, sebagai ayah kalian, hatiku sakit sekali. Melihat kedua anakku diperlakukan secara berbeda. Padahal di mataku kalian berdua sama. Hal itu juga terjadi ketika kalian kecil. Ketika kenaikan kelas kalian berdua mendapatkan nilai teratas di kelas masing-masing, Jonghyun mendapatkan satu set mini theater yang ia impikan. Sedangkan kau hanya dibelikan lapotop baru untuk mengerjakan tugas sekolahmu. Itupun aboji yang membelikannya.”

“Kau pasti masih ingat dengan jelas masih banyak hal lain yang membuat kalian sangat berbeda dengan Jonghyun dan Shin Hye. Tapi kalian selalu berbesar hati menerimanya. Karena itulah aboji mencurahkan seluruh kasih sayang pada kalian. Apalagi Jonghyun dan Shin Hye tidak pernah mengeluh karenanya, mereka malah tampak biasa saja seolah nyaman dengan keadaan seperti itu. Dan kini aboji sadar, hal itu salah. Bagaimanapun juga, mereka pasti terluka. Mereka butuh kasih sayang aboji.”

“Sungguh, aboji tidak ingin meninggalkan Jonghyun saat itu. Tapi satu orang harus tinggal disana untuk menjinakkan haraboji-mu. Jika waktunya sudah siap, aboji sendiri yang akan mengambil Jonghyun dari rumah itu. Aboji tidak bisa meninggalkan kau ataupun Mhia disana. Mereka tidak akan menekan Jonghyun seperti menekan aboji dulu. Karena Jonghyun lebih tegas dari aboji, ia pasti bisa bertahan. Saat ini yang harus diselamatkan adalah Shin Hye karena dialah yang akan dinikahkan dengan Siwon atas dasar paksaan.”

“Jadi tolong, jangan salah mengerti. Aboji telah memikirkan semuanya. Inilah jalan keluar terbaik. Namun, ketika omoni-mu memohon malam itu untuk kembali mengambil Jonghyun, aboji sadar bahwa seperti itulah keluarga. Bahagia bersama dan menderita juga bersama. Yang perlu kalian tahu adalah, aboji menyayangi kalian semua. Hanya saja, caranya yang berbeda-beda.”

Tanpa Kyuhyun dan In Sung sadari, sedaritadi Jonghyun mendengarkan dengan baik percakapan mereka. Dan ia kini mengerti segalanya dengan baik. Penjelasan ayahnya memberinya kekuatan baru.

‘Terima kasih aboji.’ Bisiknya dalam hati.

Sementara itu, Kyuhyun jadi berpikir tentang banyak hal tentang keluarganya. Bagaimana nasib mereka jika terus melarikan diri, bagaimana jadinya jika suatu saat mereka tertangkap, bagaimana akhir perjalanan cintanya dengan Siwon. Semua ia pikirkan dengan cermat. Seumur hidupnya belum pernah ia seberani ini, namun melihat wajah keluarganya membuat tekadnya semakin kuat. Ya, ia harus mengambil keputusan besar itu. Tidak ada jalan lain lagi.

*

             Shin Hye terbangun pagi itu dengan senyuman. Walaupun tubuhnya terasa pegal karena harus tidur di sofa, tapi ia menikmatinya. Tidur dalam pelukan kekasihnya memang tidur terbaik sepanjang masa. Ia melihat berkeliling. Ye Jin omoni sedang berkutat di dapur, pasti sarapan pagi mereka akan sangat lezat mengingat Ye Jin sangat pandai memasak. Jonghyun terlihat tengah membersihkan ruang tengah. Mhia eonni-nya tengah merapikan bunga-bunga dalam vas. Ia sempat mempertanyakan dimana aboji-nya, tapi mendengar suara dari kamar mandi, ia yakin abojinya ada di baliknya. Ia hanya tidak melihat Kyuhyun oppa-nya dan Yonghwa. Tapi ia rasa, keduanya mungkin menyelinap keluar seperti biasa untuk membeli bahan makanan.

“Selamat pagi, eonni. Dimana Yonghwa-ssi dan Kyuhyun oppa?” tanya Shin Hye pada Mhia.

Cho Mhia tersenyum. “Seperti biasa, mereka menyelinap tadi pagi-pagi sekali untuk berbelanja di pasar. Bahan makanan kita sudah hampir habis, bukan?”

Nah kan, dugaannya benar. Memang keduanya tengah berbelanja. Keduanya memang cukup akrab, jadi bukan hal baru kalau keduanya yang selalu berbelanja. Yonghwa pandai memilih bahan makanan, sedangkan Kyuhyun pandai mencari harga terbaik. Karena ia terbiasa hidup irit sejak kecil, maka ia bisa mendapatkan bahan makanan terbaik dengan harga yang cukup murah.

Tiba-tiba Yonghwa masuk ke muncul dengan tergesa-gesa. Napasnya tak beraturan. Ia seperti habis berlari.

“Yonghwa-ssi, ada apa? Mengapa kau tampak tergesa-gesa seperti ini? Dimana Kyuhyun hyung?” tanya Jonghyun.

“Aku.. Kyuhyun.. Dia..” kata Yonghwa terbata-bata. Sulit baginya untuk bicara saat ini ketika napasnya sendiri nyaris putus.

“Yonghwa-ssi, tenanglah. Ceritakan pada kami, ada apa sebenarnya?” tanya Cho In Sung yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi.

“Maafkan aku. Tadi ketika.. Ketika aku akan membayar sayuran yang kami beli, tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Aku berusaha mencarinya kemana-mana tapi tidak juga menemukannya sampai..”

“Sampai?” tanya Mhia kini.

“Sampai aku melihatnya naik ke dalam satu mobil mewah berwarna hitam dan.. Pergi meninggalkanku.” Kata Yonghwa pelan.

“Tidak…!!!” kata Ye Jin yang terdengar sedikit histeris. “Tidak mungkin.. Oppa.. Mereka menemukan Kyuhyun, mereka mengambilnya.. Bagaimana ini? Kembalikan dia padaku. Kembalikan anakku..”

Son Ye Jin sudah mulai menangis sambil memeluk lengan suaminya. Sedangkan raut wajah Cho In Sung sama seperti yang lain, terkejut sekaligus cemas. Semuanya takut akan terjadi hal buruk pada Kyuhyun.

“Tenanglah, aku akan mencari cara. Kita tidak boleh gegabah.” Kata In Sung menenangkan istrinya.

“Tidak.. Pasti haraboji memaksa Kyuhyun oppa untuk mengatakan dimana kita tinggal. Haraboji dan omoni pasti mencariku karena pernikahanku akan segera dilaksanakan tiga minggu lagi.” Kata Shin Hye panik.

“Shin Hye! Bukan saatnya untuk berpikir seperti ini. Kita semua harus bersatu, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Kyuhyun hyung dari sana.” Hardik Jonghyun.

“Aku akan menemui kakek kalian. Sementara aku pergi, kalian tidak boleh kemana-mana. Tetap tinggal di dalam apartemen dan saling menjaga.” Kata In Sung seraya mengenakan jaketnya.

“Aku ikut!” kata Jonghyun.

“Tidak! Kau harus tetap disini dan memastikan semuanya baik-baik saja.” Bantah In Sung cepat.

“Tapi aku tidak bisa diam saja disini sedangkan Kyuhyun hyung dalam bahaya!” kata Jonghyun tak kalah keras membantah ayahnya.

“Aku bilang tidak! Aku akan pergi sendiri. Tugasmu adalah menjaga omoni dan saudara-saudaramu disini. Jika terjadi sesuatu padaku atau Kyuhyun, setidaknya aku bisa lega karena ada kau yang menjaga anggota keluarga kita disini. Apakah kau mau menyerahkan hidup keluargamu pada Yonghwa? Dimana rasa tanggung jawabmu?”

Jonghyun terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali ikut, tapi ia juga membenarkan kata-kata ayahnya. Jika ia pergi dan seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bagaimana dengan keluarganya disini? Tidak mungkin ia mempercayakan Yonghwa untuk mengurus semuanya, mengingat mereka sudah terlalu banyak menyusahkan Yonghwa.

“Baiklah. Aku akan tinggal.”

“Bagus. Jangan gunakan ponsel atau apapun. Aboji akan berusaha mengeluarkan Kyuhyun dari sana. Jangan membuka pintu sembarangan jika ada yang mengetuk. Kalau aku pulang, kalian akan mendengar suaraku di luar. Jonghyun-ah, Yonghwa-ya, aku mengandalkan kalian.”

Jonghyun dan Yonghwa mengangguk mantap.

Kemudian In Sung menoleh pada Mhia dan Shin Hye. “Tetaplah siaga. Dengarkan Jonghyun dan Yonghwa. Jaga omoni. Aboji akan segera kembali.”

Kali ini Mhia dan Shin Hye yang mengangguk patuh.

Terakhir, In Sung menoleh pada istrinya dan bicara dengan nada lembut seraya menghapus airmata istrinya. “Ye Jin-ah, jangan khawatir. Kyuhyun akan baik-baik saja. Kau tahu betul bahwa ia adalah anak yang kuat. Aku akan membawanya pulang. Aku berjanji.”

Ye Jin menatap suaminya penuh keyakinan. “Kumohon, kembalilah dengan selamat.”

Cho In Sung tersenyum seraya mengangguk. Ia kemudian melangkah keluar. Sebelumnya, ia menoleh ke belakang untuk melihat seluruh keluarganya. Dalam hati ia bertekad akan pulang membawa Kyuhyun. Namun jika dalam usahanya itu ia gagal, setidaknya ia tahu Jonghyun ada disana, menjaga anggota keluarga yang lain. seperti itulah keluarga yang sebenarnya, saling menjaga dan mengasihi.

*

Sementara itu, di tempat lain..

Seorang lelaki muda tengah berdiri di depan seorang lelaki tua. Keduanya tengah saling menatap penuh kebencian dan bersikap kaku satu sama lain, padahal mereka telah hidup di bawah satu atap yang sama selama bertahun-tahun.

“Mengapa kau memutuskan untuk kembali? Apa karena kau takut aku akan menyeret semua kembali? Percayalah, akan kulakukan. Kau tidak perlu pura-pura berkorban seperti ini.” Kata Mr. Cho dingin.

“Aku kembali bukan untuk berpura-pura. Aku hanya ingin kembali dan menjalani semua yang seharusnya dijalani oleh Jonghyun dan Shin Hye. Aku akan menggantikan tempat mereka. Kalian boleh menekan aku, memperalat aku, bahkan menggunakan aku untuk kepentingan kalian. Tapi lepaskan mereka.” Jawab Kyuhyun dengan tekad besar di dadanya.

Ya, Kyuhyun telah kembali. Ia sendiri yang memutuskan akan kembali. Pagi itu dia menelepon haraboji-nya dan mengatakan bahwa ia ingin bicara. Ternyata setelah menemui kakeknya itu, ia menyampaikan maksudnya akan kembali.

“Walaupun kau tidak kembali, aku masih bisa mengatasi segala kekacauan yang telah kalian lakukan.”

Kyuhyun tersenyum dingin. “Benarkah? Bagaimana dengan perusahaan yang sedikit tak terurus karena pimpinan mereka pergi? Bagaimana pula anda menjelaskan pada keluarga Choi mengenai tunangan Siwon yang melarikan diri bersama kekasihnya? Dan lagi, apa yang bisa anda lakukan untuk meredam rumor di luar sana mengenai cara anda memimpin keluarga dengan tangan besi sehingga semuanya pergi begitu saja?”

“Dan lagi, bagaimana anda melarang Shin Hye tampil di muka umum dengan kekasihnya padahal tanggal pernikahannya telah ditentukan? Bagaimana cara menyelamatkan muka anda di depan keluarga Song Ji Hyo apabila mereka sadar aboji telah meninggalkan anak mereka?”

Kata ‘anda’ memang sangat tidak sopan untuk ukuran cucu pada kakeknya. Tapi Kyuhyun sudah terlalu muak dengan perlakuan tidak adil pada ibu dan noona-nya.

Mr. Cho tampak terkejut. Ia tidak menyangka dalam pelariannya Kyuhyun akan mendengar rumor yang beredar di luar. Ia juga tidak menyangka bahwa Kyuhyun cukup teliti menganalisa perasaan yang ditutupinya karena ego dan keangkuhannya.

Tanpa menunggu jawaban haraboji-nya, Kyuhyun kembali melanjutkan kata-katanya. “Hanya aku yang bisa membawa mereka kembali kesini. Hanya aku yang bisa membujuk aboji, omoni, bahkan Jonghyun dan Shin Hye sekaligus. Aku juga bisa memimpin perusahaan dengan baik. Anda tahu benar bahwa aku jauh lebih cerdas daripada Jonghyun.”

Kembali Mr. Cho terperanjat. Ia tahu benar apa yang dikatakan Kyuhyun benar adanya. Jika ia mendapatkan Kyuhyun, ia bisa memulangkan anggota keluarga yang lain. Yang artinya, ia bisa menyelamatkan mukanya di depan keluarga Song dan keluarga Choi. Ia juga bisa mendapatkan kembali anaknya satu-satunya, Cho In Sung. Dan juga bisa menyelamatkan perusahaan yang telah di pindahtangankan pada Jonghyun sebelumnya.

Jika Kyuhyun ingin kembali dengan sukarela, bukankah itu adalah sebuah ide bagus? Ia bisa menggunakan Kyuhyun seperti yang Kyuhyun tawarkan. Mr. Cho menatap cucunya itu dalam-dalam, mencari kebenaran dalam setiap kata-kata Kyuhyun. Ia berpikir keras, bagaimana cara memanfaatkan anak itu sebelum dirinyalah yang dimanfaatkan.

*

yong-kyu-jong

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 4

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 4

Pesta pertunangan Siwon dan Shin Hye siang itu berlangsung dengan meriah. Para undangan yang hadir tak henti-hentinya memuji sepasang insan yang dinilai sangat serasi itu. Keduanya memaksakan senyum bahagia di wajah mereka. Sempurna. Sandiwara mereka sempurna. Kalau saja Shin Hye tidak mengingat ancaman ibunya, mungkin ia sudah melarikan diri dari pesta itu dan menerima tawaran Jonghyun untuk melarikan diri bersama Yonghwa.

Sementara Siwon sendiri tampak tenang di permukaan, padahal dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Sedih, luka, dan sakit bercampur jadi satu. Apalagi ketika ia harus bertukar cincin dengan Shin Hye. Saat itu, ia justru memandang ke arah Kyuhyun, andai sekali Kyuhyun yang berdiri di sana, bertukar cincin denganya. Dan ketika mata mereka bertemu, Kyuhyun tersenyum tulus. Namun senyum itu justru mengiris hati Siwon.

Kyuhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ketika Siwon memeluknya di hutan pinus tadi, ia berjanji bahwa ia akan benar-benar belajar melupakan Siwon. Demi Shin Hye, demi keluarganya, dan demi kebaikan semua orang.

“Kyuhyun-ah, haraboji memanggilmu. Temuilah beliau di ruang kerjanya.”

Kyuhyun menoleh, Mhia berdiri di sampingnya. Tangannya memegang gelas berisi wine kesukaan Kyuhyun.

“Mengapa haraboji ingin bertemu denganku, noona? Bukankah acara masih berlangsung?” tanya Kyuhyun.

Mhia menggeleng. “Haraboji hanya mengatakan bahwa ia ingin bicara denganmu. Tapi aku tidak tahu ada apa. Cepatlah temui beliau, aku tidak mau sampai ia memarahimu karena kau terlambat.”

Kyuhyun menghela nafas. Ia kemudian merebut gelas di tangan Mhia lalu menenggak isinya hingga habis. Mhia hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan adiknya. Ia tahu pasti Kyuhyun enggan bicara dengan kakek mereka maka ia butuh sedikit wine agar bisa mempersiapkan dirinya.

Kyuhyun lalu beranjak dan berjalan menuju ruang kerja kakeknya. Sesampainya disana, ia dipersilahkan duduk sedangkan kakeknya berdiri menghadap jendela. Dengan memunggungi Kyuhyun seperti itu, Kyuhyun jadi tidak tahu apakah kakeknya tengah marah atau senang saat ini.

“Kyuhyun-ah, kau lihat ponsel di depanmu? Bukalah. Aku ingin kau melihat video disana.” Kata kakeknya tanpa basa-basi.

Kyuhyun memang melihat ponsel hitam keluaran terbaru itu. Ponsel itu diletakkan persis di tengah meja. Kyuhyun lalu mengambilnya dan melihat isinya. Begitu melihat isi video itu, ia terkejut luar biasa. Tangannya bergetar. Ketakutan melanda dirinya. Isi video itu adalah rekaman ketika ia dan Siwon tengah berpelukan dan berciuman di hutan pinus beberapa saat tadi sebelum acara pertunangan dilangsungkan.

“Kau sudah liat kan?” tanya kakeknya lagi.

“Haraboji.. Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud untuk..”

“Untuk apa? Untuk merebut tunangan adikmu?” tanya Mr. Cho seraya membalikkan tubuhnya. Ia lalu duduk di depan Kyuhyun seraya memandang cucunya itu dengan tajam.

Kyuhyun menunduk. Ia takut mengangkat wajahnya. Ia tidak pernah mau berurusan dengan kakeknya karena ia tahu, apa yang ia dan Mhia lakukan hanya akan memberikan hukuman untuk ibu mereka.

“Mengapa kau bertemu Siwon? Mengapa kau mengajaknya kesana?” tanya Mr. Cho tajam.

“Aku tidak mengajaknya, haraboji. Siwon-ssi yang mendatangiku di sana.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Benarkah? Mengapa aku tidak bisa mempercayaimu? Kau tidak pernah membuat kesalahan selama ini. Tapi mengapa justru kesalahan pertamamu ini membuatku sangat marah. Ada urusan apa yang membuatmu harus berpelukan bahkan berciuman dengan tunangan Shin Hye di hutan pinus?”suara kakeknya kini mulai meninggi.

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya di atas lututnya. Ia tetap menunduk. Tubuhnya masih bergetar. Ia selalu mendengarkan kata ayahnya bahwa satu kesalahan saja bisa membuatnya ‘dalam bahaya’. Dan kini ia tahu, ia benar-benar tak tertolong. Kesalahan pertama yang fatal. Dan sepertinya kakeknya tidak bisa menerima hal itu. Pasti tadi anak buah kakeknya mengikuti Siwon dan merekam semuanya.

“Cho Kyuhyun! jawab pertanyaanku!”

Kyuhyun tersentak. Lidahnya kelu, sulit sekali bicara namun ia harus berusaha mengatakan sesuatu. Karena ia tidak punya alasan lain. Ia dan Siwon tertangkap sedang berpelukan dan berciuman, tidak mungkin sepasang sahabat atau teman lama melakukan hal itu kan? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah mantan kekasih Siwon, bisa jadi kakeknya bertambah marah. Bisa jadi ia dituduh memfitnah Siwon agar ia selamat dari hukuman kakeknya.

“Kami.. Kami dulu berteman baik. Dan aku.. Aku hanya memberinya selamat karena ia akan bertunangan dengan Shin Hye.”

“Dengan ciuman? Dimana harga dirimu? Kau adalah seorang Cho dan kau mencium calon tunangan adikmu? Kau mencoreng nama keluarga ini. Entah apa yang dipikirkan Siwon sekarang. Setelah acara ini selesai, kau harus minta maaf pada Siwon dan Shin Hye.” Kata Mr. Cho keras.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. “Haraboji, mengapa aku harus melakukannya? Aku memang bersalah, tapi tolong jangan..”

“Kau mau membantahku? Setelah mencoreng nama keluarga kini kau mau membantahku?” tanya Mr. Cho tajam.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak, haraboji. Aku..”

Ketika ia mencoba menatap kakeknya, meminta belas kasihan, sebaliknya mata lelaki tua dihadapannya itu justru memandangnya dingin.  “Aku akan meminta maaf pada Siwon-ssi dan Shin Hye setelah ini.”

“Bagus. Dan kau juga harus menjaga jarak dengan Siwon. Aku tidak tahu kalian ada hubungan apa sebelumnya. Tapi tidak baik terlalu dekat dengan calon suami adikmu. Kalau perlu kau harus mencari pendamping secepatnya, jadi tidak akan ada skandal dalam rumah ini. jika kau belum mempunyai pendamping, aku akan mencarikan lelaki yang pantas untukmu.”

*

            Acara pertunangan telah selesai, keluarga Cho sudah pulang. Namun karena Siwon sebentar lagi akan menjadi keluarga Cho, maka ia sudah mulai tinggal di kediaman Cho mulai hari itu. Kini seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.

Mr. Cho berbicara banyak mengenai pesta hari itu, juga untuk menyambut kedatangan Siwon ke dalam keluarga mereka. Kyuhyun diam saja sedaritadi, ia tidak berani membuka suara atau memandang siapapun. Ia hanya berharap bahwa kakeknya melupakan pembicaraan mereka di ruang kerjanya tadi. Namun sepertinya kakeknya punya ingatan yang sangat bagus.

“Kyuhyun-ah, ada yang mau kau sampaikan?” tanya Mr. Cho.

Kyuhyun mengumpulkan keberaniannya. Sebentar lagi ia akan membuka aibnya dengan sangat terpaksa. Ia menarik nafas panjang dan mulai bicara.

“Siwon-ssi, maafkan aku karena tadi telah dengan lancang menciummu. Dan untuk Shin Hye, maafkan aku karena mengganggu hubungan kalian. Aku bersalah hari ini, mohon maafkan aku.” Kata Kyuhyun dengan cepat. Betapa malunya ia saat ini. dipaksa mengatakan suatu kebohongan hanya karena keinginan sang kakek.

Siwon dan Shin Hye terpana. Shin Hye tidak perduli apa benar Kyuhyun dan Siwon berciuman, karena ia tahu keduanya masih saling mencintai. Dirinyalah yang tidak tahu malu karena masuk diantara mereka. Namun Siwon tampak marah, ia tahu pasti Kyuhyun dipaksa melakukan semua itu. Ia tahu benar siapa penguasa di rumah itu. Namun pertanyaannya, darimana Mr. Cho mengetahui apa yang mereka berdua lakukan tadi?

“Shin Hye-ya, jawablah oppamu. Ia minta maaf karena berani mencium tunanganmu. Dan kau Siwon-ah, sebagai korban dalam hal ini, bisakah kau memaafkan Kyuhyun?” tanya Mr. Cho pada Shin Hye dan Siwon.

‘Korban? Oh Tuhan, akulah yang mencium Kyuhyun tadi! Dialah korbannya, bukan aku.’ Kata Siwon dalam hati. Ia tahu karena kelancangannya tadi, Kyuhyun harus dihukum. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melawan. Ia mempertaruhkan kehormatan keluarganya dalam hal ini.

“Tidak apa-apa, haraboji. Kami memang sangat dekat semasa kuliah dulu, jadi mungkin Kyuhyun menganggap itu adalah hal yang biasa. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.” Kata Siwon dengan hormat.

‘Mianhae Kyu.. Mianhae..’ Siwon ingin sekali merobek mulutnya sendiri yang mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan Kyuhyun seperti tadi. Namun ia hanya bisa diam.

Sedangkan Shin Hye ingin sekali marah pada kakeknya itu. Bagaimana mungkin ia menyuruh Kyuhyun meminta maaf di hadapan seluruh anggota keluarga seperti ini? Ini sama saja membuat Kyuhyun malu. Tapi ia tahu ia tidak punya pilihan lain selain menjawab agar hal ini cepat selesai.

“Aku.. Aku memaafkan Kyuhyun oppa. Siapapun pasti pernah melakukan kesalahan kan? Yang penting oppa tidak melakukannya lagi.”

“Lihat? Shin Hye sangat pemaaf. Bahkan ketika kau menusuknya dari belakang dengan menggoda tunangannya, ia masih bisa memaafkanmu.” Kata Mrs. Cho yang kini ikut bicara.

“Beraninya kau! Kau mencium tunangan Shin Hye?” Song Ji Hyo ikut bicara dengan marah.

“Ji Hyo, hentikan! Kyuhyun sudah minta maaf, jadi jangan memperkeruh suasana.” Tegur In Sung.

“Oppa, kau masih membelanya? Shin Hye juga anakmu. Harusnya kau memberi pelajaran pada anak ini agar lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya.”

Detik berikutnya Ji Hyo sudah bergerak mendekati Kyuhyun dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tapi sebelum telapak tangan itu sampai ke pipi Kyuhyun, Ye Jin muncul tepat di depan Kyuhyun dan menerima tamparan keras Ji Hyo.

“Omoni…!” jerit Mhia keras. Ia langsung berlari memeluk ibunya. Kyuhyun langsung tersadar karenanya. Ia ikut maju memeluk ibunya.

“Ji Hyo…!” teriak In Sung gusar.

“Kau baik sekali mau menggantikan anakmu.” Kata Ji Hyo kejam tanpa peduli teriakan suaminya. “Tapi ada bagusnya juga kau yang menerima tamparan itu, jadi kau bisa memberitahukan pada Kyuhyun bagaimana rasanya. Ini akibatnya jika mengganggu kedua anakku.”

Cho In Sung segera maju dan membawa Ye Jin, Mhia dan Kyuhyun pergi dari situ. Jonghyun hanya bisa melihat punggung ayahnya yang menjauh. Jika tamparan bisa membuat ayahnya memperlakukannya dengan protektif seperti tadi, ia rela menerima seribu tamparan sekaligus. Tapi apakah itu akan berhasil? Atau mungkin ayahnya hanya akan diam saja karena bukan sekali lagi, Jonghyun tetap Jonghyun. Jonghyun bukan Kyuhyun. Dan sampai kapanpun Jonghyun akan tetap menjadi anak Ji Hyo.

*

            “Aboji, bolehkah aku bicara dengan? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Kata Mhia pagi itu. Ia sengaja mendatangi kantor ayahnya pagi-pagi sekali agar tidak ada yang melihat kedatangannya, terutama kakeknya yang belakangan ini sering berkunjung ke perusahaan mereka.

“Tentu saja, kemarilah. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya In Sung lembut.

Mhia duduk di depan ayahnya. Sebenarnya ia sedikit gelisah, namun ia harus mengatakan segalanya pada ayahnya, satu-satunya harapannya.

“Aboji.. Bolehkah aku meminta sesuatu?”

Cho In Sung tersenyum. “Apapun itu. Katakanlah, apa yang kau inginkan? Mobil baru? Ani.. Kau pasti menginginkan sesuatu yang lebih besar bukan?”

Mhia menggeleng. “Aku selalu merasa cukup. Tapi, aku tidak bisa melihat adik-adikku menderita. Sebagai anak tertua, aku merasa bertanggung jawab membantu adik-adikku ketika mereka kesulitan.”

“Kau adalah anak aboji yang paling mengerti. Tak heran adik-adikmu sangat menyayangimu. Apa yang terjadi hingga kau mau bicara denganku sepagi ini?”

“Aboji, bisakah kau membatalkan pertunangan Shin Hye dan Siwon?”

Cho In Sung cukup terkejut dengan permintaan putri sulungnya itu. “Mwo? Membatalkan? Kau tau sendiri aku meminta haraboji-mu untuk membatalkan semuanya tapi ia tidak mau. Jika sudah menyangkut nama keluarga, bisakah kita melawan kehendak harabojimu?”

“Tapi.. Tidak bisakah aboji berusaha lebih keras lagi? Jebal.. Shin Hye tidak mencintai Siwon. Dia.. Dia telah mempunyai kekasih.”

Cho In Sung tertawa jengah. “Tidak mungkin. Shin Hye tidak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tengah berkencan dengan seseorang selama ini. Bagaimana mungkin ia punya kekasih?”

Mhia menghela nafas lelah. “Aboji, nama kekasih Shin Hye adalah Yonghwa. Mereka telah menjalin hubungan selama empat tahun dan Ji Hyo omoni mengetahui hal ini tapi beliau meminta Shin Hye untuk menyembunyikannya dari aboji.”

“Apa?! Empat tahun? Dan Shin Hye tidak pernah mengatakannya? Mengapa Ji Hyo menyembunyikan semua ini dariku?”

“Mungkin.. Karena Ji Hyo omoni takut hal yang sama terulang lagi. Karena Yonghwa-ssi bukan keturunan bangsawan.”

Cho In Sung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu, Ji Hyo tidak akan mau menerima menantu dari kalangan bawah. Tidak peduli apakah anaknya akan bahagia atau tidak, kedudukan dan harta jelas paling utama untuk Ji Hyo. Ia sadar, Mhia pasti mengatakan semua ini karena ia tidak tahan lagi melihat adiknya menderita dan ia sudah melakukan hal yang benar.

Namun di satu sisi In Sung merasa amat sedih karena ia merasa gagal menjadi ayah. Karena ia sibuk membenci Ji Hyo, tanpa sengaja ia telah membangun dinding kokoh yang menghalangi hubungannya dengan kedua anaknya dari Ji Hyo ; Jonghyun dan Shin Hye. Dan kalau saja sejak dulu ia tidak bersikap dingin pada kedua anaknya ini, mungkin Shin Hye akan mengatakan semuanya padanya dan mungkin saja pertunangan ini tidak terjadi.

“Apa omoni-mu tahu akan hal ini?”

Mhia mengangguk singkat. “Omoni tahu segalanya, namun omoni tidak berani mencampuri urusan Ji Hyo omoni.”

“Sebentar, bukankah kita tahu pasti bahwa Shin Hye sendiri yang menyetujui pertunangan ini? Ia mengatakan bahwa ia menyukai Siwon.”

“Kami.. Maksudku aku bersama Jonghyun dan Kyuhyun merasa bahwa Shin Hye berbohong. Kami curiga bahwa Ji Hyo omoni memaksa Shin Hye untuk melakukannya. Aku tahu, tidak ada bukti kuat untuk mengatakan hal ini tapi.. Aboji percayalah padaku. Tolong batalkan pertunangan ini.”

In Sung menghela nafas berat. Inilah Song Ji Hyo, dia akan menutupi segalanya dari In Sung. Ia jadi merasa bertanggung jawab atas segala kesedihan anak-anaknya.

“Tapi, mengapa baru sekarang kau katakan hal ini? Pertunangan itu sudah berlangsung seminggu lalu dan pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan.”

“Karena jika pernikahan itu dilaksanakan, akan ada empat hati yang terluka.” Jawab Mhia. Wajahnya kini terlihat semakin muram.

“Apa? Empat hati? Apa maksudmu? Siapa empat hati yang kau maksud?”

“Shin Hye.. Yonghwa.. Siwon dan.. Kyuhyun.” Jawab Mhia hati-hati.

“Siwon? Kyuhyun? Mhia-ya, jelaskan padaku ada apa sebenarnya. Jangan berbelit-belit!”

Mhia akhirnya menceritakan semuanya. Tentang hubungan Kyuhyun dan Siwon pada awalnya, tentang bagaimana Siwon akhirnya meninggalkan Kyuhyun, tentang perasaan Kyuhyun yang masih tersisa untuk Siwon dan bagaimana keduanya mengalah demi keinginan keluarga.

Kembali In Sung tenggelam dalam penyesalannya. Kini dua anaknya terluka karena keegoisan keluarga. Dan kalau ia tetap diam, maka anak-anaknya akan menerima hal yang sama dengan apa yang ia alami dua puluh lima tahun yang lalu.

*

            Malam itu, Cho In Sung dan Son Ye Jin menemui Mr. Cho. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi karena In Sung tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan kata-kata semua Mhia pagi tadi mengenai Kyuhyun, Siwon, Shin Hye dan Yonghwa.

“Apa? Membatalkan pertunangan Shin Hye dengan Siwon? Apa kalian sudah tidak waras lagi? Kalian tahu apa artinya ini?” kata Mr. Cho tajam.

“Aku tahu. Aku tahu kita akan mempertaruhkan kehormatan keluarga. Tapi aku tidak ingin membuat anak-anakku menderita sepertiku.” Kata In Sung menjawab perkataan ayahnya.

Brakk..! Mr. Cho menggebrak meja dengan kasar. “Kau bilang menderita? Selama ini kau dan semua anak-anak serta istri-istrimu mendapatkan apapun yang kalian inginkan. Kalian tidak pernah kekurangan apa-apa. dan kini kau bilang kau menderita? Jangan membuatku tertawa!”

“Aboji, tolong.. Aku tidak mau berdebat. Tidak bisakah kau membiarkan cucu-cucumu menentukan apa yang mereka inginkan? Tidak bisakah kau membiarkan mereka bahagia dengan pilihannya sendiri?” kata In Sung masih dengan nada sabar.

“Jika pilihan mereka tepat, mengapa tidak? Sayangnya mereka terkadang tidak mengerti mana yang terbaik untuk mereka. Dan Shin Hye adalah anak yang sangat bijaksana dengan menerima perjodohan ini. Berhenti mencampuri apa yang telah aku tentukan!”

Dengan takut-takut Son Ye Jin mencoba bicara. “Abonim, maafkan aku. Tapi Shin Hye sepertinya tidak menyetujui gagasan ini, namun ia tidak mau membuat kita semua tersinggung. Lagipula ia masih sangat muda, bukankah sebaiknya kita bersikap sedikit lebih lunak kepadanya? Bagaimana kalau kita..”

“Apa kau berhak bicara di rumah ini?” potong Mr. Cho tajam.

Son Ye Jin langsung bungkam sedangkan Cho In Sung tampak berang. “Aboji! Hargai Ye Jin! Selama ia masih menjadi istriku, ia berhak bicara di rumah ini.”

Mr. Cho tampak sedikit terkejut melihat keberanian anaknya. Tapi In Sung memanfaatkan hal itu dengan bicara mengenai apa yang harus dikatakannya sebelum ayahnya mulai bicara lagi.

“Aku tidak bisa membiarkan Shin Hye mengorbankan kebahagiannya. Disamping itu, Kyuhyun dan Siwon saling mencintai. Bukankah sebaiknya kita menjodohkan mereka? Kita tidak akan mencoreng nama keluarga karena Kyuhyun juga merupakan anggota keluarga kita, ia juga anakku. Dan lagi, tidak ada pihak yang tersakiti jika keduanya bersatu.”

“Jadi kau menentang perjodohan ini karena Kyuhyun? Ah.. Aku mengerti sekarang. Setelah kau lebih menyayangi Ye Jin daripada Ji Hyo, sekarang kau mau mendahulukan anaknya daripada anak Ji Hyo? Dimana letak keadilanmu? Aku tidak bisa membiarkannya. Pertunangan tidak akan dibatalkan dan pernikahan akan tetap dilaksanakan bulan depan.” Kata Mr. Cho dengan tenang. Seolah anaknya tidak menyela sebelumnya.

“Aku juga tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak akan membuat anak-anakku harus mengikuti keinginan aboji. Mereka anak-anakku, akulah yang berhak atas mereka. Jika aboji memaksa, maka..”

“Maka apa? Apa yang akan kau lakukan?” tantang Mr. Cho.

“Aku akan keluar dari rumah ini. Membawa anak-anakku. Cukup aku yang merasakan penderitaan menikahi orang yang tidak pernah aku cintai. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah selalu mengikuti kehendakmu dan mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi.” Kata In Sung dengan mantap.

“Kaauuu…! Kau pikir siapa kau bisa bicara seperti itu padaku? Aku adalah aboji-mu! Kau pikir apa yang aku lakukan selama ini untuk diriku? Ini semua untukmu. Agar kau tetap mendapatkan tempat di luar sana. Kau pikir siapa yang akan melihatmu jika kau adalah orang biasa? Jika kau tidak diselamatkan oleh Ji Hyo, kau hanya lelaki lemah yang menikahi wanita dari kalangan menengah!” kini suara Mr. Cho benar-benar sudah meninggi.

Seisi rumah terkejut karenanya dan berkumpul di depan ruang kerja Mr. Cho yang pintunya memang tidak ditutup sejak awal. Son Ye Jin hanya bisa diam mendengar kata-kata mertuanya. Ia tahu benar kedudukannya, berulang kali ia disindir akan kedudukannya tapi entah mengapa ia tidak lagi merasa terhina karenanya. Ia sudah terbiasa.

“Wanita yang haus akan kekuasaan seperti itu yang aboji banggakan? Wanita yang hanya bisa memaksakan kehendak seperti dia? Ji Hyo sama saja dengan aboji dan omoni, sama-sama suka merebut kebahagiaan orang lain!” kata In Sung tak kalah keras dari suara ayahnya.

“Oppa..” Ji Hyo sudah masuk ke dalam ruangan, Shin Hye dan Jonghyun berdiri tak jauh di belakangnya. “Teganya kau berkata demikian? Selama ini aku..”

“Diam! Aku tidak mau lagi mendengar kata-katamu. Sekali lagi kutekankan padamu, aku tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah! Dan karena kau, aku jadi jauh dengan anak-anakku sendiri, karena apa? Karena kebencianku yang mendalam padamu membuatku selalu membayangkan wajahmu di wajah Jonghyun dan Shin Hye. Tapi aku sudah tidak perduli. Aku muak dengan kalian semua yang bertahun-tahun mencoba mengaturku, membuatku tunduk pada kemauan kalian, membuat Ye Jin dan anak-anakku menderita. Tidak akan kubiarkan lagi. Aku pergi dari sini! Selamat tinggal.”

Selesai berkata demikian, In Sung meraih tangan Ye Jin kemudian melangkah ke pintu keluar.

“Cho In Sung, kembali kau! Atau kau akan merasakan akibatnya! Cho In Sung!” teriakan Mr. Cho bergema keras. Namun In Sung tetap berjalan tegak, seolah tuli terhadap teriakan ayahnya.

“Oppa.. Jangan tinggalkan aku.. Oppa jebal..” In Sung juga tidak memperdulikan tangisan Ji Hyo yang kini ikut mengejarnya dan menarik ujung kemejanya. In Sung berhenti dan mendorong Ji Hyo dengan keras. Wanita itu terjatuh. Jonghyun segera membantu ibunya berdiri.

Cho In Sung berbalik dan menatap Ji Hyo. “Maaf jika aku tidak bisa mempertahankan semua ini lagi. Jika kalian masih tetap berpikiran seperti ini, lebih baik aku pergi. Aku tidak butuh semua ini jika sampai mati aku dan anak-anakku tersiksa.”

Kemudian ia beralih pada Kyuhyun dan Mhia. “Bereskan barang kalian. Bawa seperlunya. Kita pergi dari sini. Mhia, bereskan juga barang-barang Shin Hye. Sekarang!”

“Oppa, kau tidak boleh membawa Shin Hye, dia anakku. Tidak.. Kau tidak boleh membawanya..!” jerit Ji Hyo yang terisak keras.

In Sung tersenyum sinis. “Anakmu? Kau lupa? Dia juga anakku. Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang ibu jika selama ini kau sibuk mengurus hartamu daripada anakmu sendiri? Kau tidak akan pernah melihatnya lagi!”

In Sung segera menarik Shin Hye dan Ye Jin ke halaman depan, dimana satu mobil sudah menunggu. Kyuhyun dan Mhia sudah ada di sana, masing-masing hanya membawa satu ransel. Mhia juga menggandeng sebuah tas yang berisi barang-barang Shin Hye.

“Cepat masuk ke mobil. Jangan berlama-lama disini. Kalian tidak perlu berpamitan. Mereka tidak akan merasa kehilangan kalian. Cepat!” perintah In Sung pada anak-anaknya juga pada istri tuanya, Son Ye Jin.

“Oppa.. Tapi mengapa kau meninggalkan Jonghyun..” kata Ye Jin seraya memandang Jonghyun dengan iba.

Cho In Sung hanya diam sesaat. Kemudian ia berbalik. Dilihatnya Ji Hyo memeluk Jonghyun protektif. Di sebelahnya Mr. Cho dan Mrs. Cho berdiri, menatapnya penuh amarah.

“Aboji.. Jangan tinggalkan aku..” kata Jonghyun. Ia tampak terpukul semua orang yang disayanginya akan pergi meninggalkannya. Ia berusaha menyusul ayah dan saudara-saudaranya tapi anak buah Mr. Cho muncul dan menahannya dengan kuat-kuat.

“Aboji.. Ye Jin omoni.. tolong aku.. Jeballl!!!!” Jonghyun masih berusaha keras lepas dari beberapa lelaki yang menahannya.

“Oppa..” bisik Shin Hye. Ia, Mhia dan Kyuhyun sudah menangis. Ingin sekali mereka menyelamatkan saudaranya, tapi jika mereka kembali kesana, mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu.

“Oppa, tolong dia.. Tolong Jonghyun..” Ye Jin memohon pada suaminya tapi In Sung diam tanpa ekspresi. Satu tangannya menahan Ye Jin kuat-kuat karena istrinya itu hendak lari menyelamatkan Jonghyun.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Hanya ini kesempatan kita untuk pergi. Kalau kita semua pergi, maka aboji dan omoni akan mencari kita. Kita tidak akan pernah tenang. Harus ada satu orang yang tinggal. Dan karena ia cucu kebanggan aboji juga pimpinan Cho Corporation, Jonghyun-lah yang harus tinggal.”

Son Ye Jin menatap suaminya tak percaya. Ia masih berusaha melepaskan diri untuk mengambil Jonghyun yang juga tampak susah payah melepaskan diri dari sergapan anak buah kakeknya. Bahkan Jonghyun kini sudah menangis.

Detik berikutnya In Sung sudah menyeret Ye Jin ke dalam mobil dan menguncinya. Ia lalu duduk di balik kemudi dan segera meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Cho.

“Tidakk..!! Abojiii…!! Hyungnimm..!!!” raung Jonghyun keras ketika mobil ayahnya mulai bergerak. Sekuat tenaga ia melepaskan pegangan para penjaganya lalu mulai berlari mengejar mobil hitam itu.

“Abojii… Omoni.. Jangan tinggalkan aku..!!” Tangis Jonghyun semakin deras, matanya kabur karena airmata berkumpul di pelupuk matanya. Namun ia tidak berhenti berlari, di belakangnya para anak buah kakeknya ikut berlari mengejarnya.

“Oppa..!!” Shin Hye memandang kakaknya dari dalam mobil. Sementara Kyuhyun mengeluarkan satu tangannya untuk menggapai Jonghyun yang kini jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja dari tangannya.

“Hyungnim.. Jangan pergi..!!” teriak Jonghyun.

“Aboji, Jangan tinggalkan Jonghyun.” Kata Mhia dalam tangisnya.

“Oppa, hentikan mobil ini. Jebal. Jangan biarkan Jonghyun sendirian. Jebal oppa.. Jika kita harus menderita, kita menderita bersama. Jangan biarkan dia sendiri. Jeball..” kata Ye Jin yang kini menangis histeris.

Jarak Jonghyun dengan mobil semakin menjauh, ia juga sudah berlari cukup jauh meninggalkan rumah. Namun ia tidak putus asa, ia tetap berlari sekuat tenaga. Harapannya Cuma satu, mobil hitam yang kini semakin jauh itu berhenti dan ia bisa masuk ke dalamnya. Walaupun harapannya kecil, ia tidak putus asa. Ia tidak akan berhenti berlari.

Walaupun hatinya sakit karena ditinggalkan, walaupun kakinya perih karena ia berlari di aspal keras tanpa alas kaki, walau tubuhnya menggigil tanpa jaket dihantam udara malam, ia tidak perduli. Meski ayahnya tidak mau menerimanya, namun ia tidak mau terpisah dari orang-orang yang dicintainya.

“Aboji..”

Jonghyun masih senantiasa menangis, kakinya sudah sangat lelah kini. Kedua kakinya yang kokoh terasa akan patah. Tubuhnya nyaris membeku. Namun airmata dan tekadnya masih kuat.

Kini mobil In Sung bagai titik d kegelapan malam. Jonghyun sudah tidak bisa lagi mengejarnya. Ia menyerang. Ia jatuh berlutut. Satu tangannya memengang dadanya yang terasa sangat sesak karena sedih dan sakit hati, sementara tangan lainnya bertumpu pada aspal di bawahnya.

Jonghyun terisak keras, menangisi kepergian keluarganya terutama orang yang paling ia dambakan kasih sayangnya, ayahnya sendiri. Sakit yang ia rasakan menusuk ke hatinya dan seolah-olah menusuk-nusuknya hingga Jonghyun sulit sekali untuk bernafas. Ia rela kehilangan segalanya, asal ia bisa tetap bersama ayahnya. Karena ia ingin sekali menunjukkan pada ayahnya bahwa ia sangat menyayangi ayahnya yang selama ini menyia-nyiakannya.

“Aboji.. Jangan pergi.. Jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersamamu. Saranghaeyo aboji, saranghaeyo..”

*

yongshin1

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 3

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 3

Shin Hye memasuki rumah dengan wajah sumringah. Sejak turun dari mobil, wajahnya sudah terlihat berseri-seri. Ia berlari secepatnya menuju ke kebun belakang, tempat Son Ye Jin, ibu tirinya, suka menghabiskan sore yang indah dengan duduk di bangku sambil membaca buku. Ia ingin sekali membagi kebahagiaannya dengan wanita yang telah diangapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Bukannya ia tidak mau menceritakan pada Ji Hyo terlebih dahulu, tapi terkadang ibunya sendiri suka tidak menanggapi hal-hal yang dikatakan Shin Hye.

Begitu tiba disana, wajahnya semakin terlihat cerah karena ternyata Kyuhyun oppanya juga ada disana. Ia mendekati kedua orang itu pelan-pelan dari belakang. Namun langkahnya langsung terhenti ketika mendengar kedua orang itu tengah bicara dengan serius.

“Apa yang harus aku lakukan omoni? Aku mencintai Siwon hyung, sangat mencintainya. Tapi mengapa ketika aku bertemu lagi dengannya, ia harus menjadi milik orang lain?” Shin Hye mendengar Kyuhyun bicara.

Son Ye Jin mengelus rambut anak bungsunya itu seraya berkata. “Kyu, terkadang hidup memang tidak memberikan kita pilihan lain. Apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan.”

“Ye, omoni.. Aku tahu. Tapi belum pernah aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkan Siwon hyung. Sejak dulu aku selalu mengalah. Apapun yang Jonghyun dan Shin Hye dapatkan tidak pernah kudapatkan tapi aku selalu bisa mengerti. Tapi apakah aku harus merelakan kepergian Siwon hyung sekali lagi?”

“Kyu.. Kebahagiaan keluarga adalah diatas segalanya. Apa artinya kita bahagia jika keluarga kita menentang? Bagaimana mungkin kau bisa bahagia sementara keluargamu terluka? Kau adalah anak yang baik, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan lelaki terbaik yang bisa membuatmu bahagia, walaupun itu bukan Siwon. Percayalah.. Jadi dengarkan omoni, lepaskanlah Siwon, biarkan ia bersama adikmu.” Kata Ye Jin lagi pada anaknya.

Shin Hye melihat kedua orang di depannya itu berpelukan. Ia tahu pasti bahwa oppanya sangat terluka dengan perjodohan ini. Ia memang tahu kalau oppanya itu sangat mencintai cinta pertamanya. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau orang itu adalah Siwon. Dan yang membuat mereka tidak bisa bersatu adalah Shin Hye sendiri.

“Kau sudah dengar?”

Terdengar sebuah suara berbisik halus di belakang Shin Hye. Dengan gugup ia menoleh ke belakang dan mendapati ibu kandungnya menatapnya tajam. Detik berikutnya Ji Hyo sudah menyeret Shin Hye menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya barulah Ji Hyo melepaskan cengkramannya di lengan anaknya.

“Kau dengar semuanya kan? Ani.. Kau hanya mendengar sebagian. Kau tidak mendengar secara keseluruhan bahwa bagaimana kuatnya perasaan Kyuhyun pada Siwon. Kau tidak mendengar bahwa..”

“Aku memang tidak mendengar semuanya. Tapi aku tahu bahwa Kyuhyun oppa sangat mencintai Siwon oppa. Dan aku menolak perjodohan ini, omoni. Aku tidak mau menyakiti Kyuhyun oppa, dan.. diriku sendiri..” kata Shin Hye memotong kalimat ibunya.

“Mwo??? Menolak? Apa kau dalam posisi menawar saat ini? Tidak! Kau hanya ada dalam posisi menerima. Kau tidak boleh menolak apa yang sudah ditentukan untukmu. Ini takdirmu, terima itu!” balas Ji Hyo sengit.

“Tapi omoni.. Siwon oppa dan Kyuhyun oppa saling mencintai. Aku pun tidak mencintai Siwon oppa, aku hanya mencintai..”

“Siapa? Lelaki miskin itu? Lelaki yang hanya mengejar uangmu itu? Lelaki seperti itu yang kau inginkan? Demi Tuhan, Shin Hye! Buka matamu! Kau tinggal menerima Siwon, menikah dengannya dan menjalani segalanya. Kau tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi perasaan Kyuhyun. Dia pasti mau mengalah untukmu, seperti yang biasa dilakukannya.” Kata Ji Hyo lagi.

“Tapi mana mungkin membangun hubungan tanpa cinta? Mana mungkin aku dan Siwon oppa bisa bahagia jika kami melukai orang lain?” kata Shin Hye masih tetap pada pendiriannya.

“Cinta? Kau pikir aku dan aboji-mu menikah atas dasar cinta? Apakah ia mencintaiku? Tidak! Apakah ia pernah sekali saja memikirkanku? Tidak! Seluruh hati dan pikirannya hanya untuk Ye Jin. Bahkan aku telah memberikan dua anak padanya pun, ia masih saja tidak menggubrisku. Kau pikir bagaimana perasaanku? Tapi aku tetap bertahan karena aku memikirkan kalian! Kalian adalah cucu sah keluarga Cho. Kalian berhak mendapatkan semua yang dimiliki keluarga ini. Jangan membuat perjuanganku sia-sia..!”

“Omoni.. jebal.. Aku tidak bisa.. Aku..”

Ji Hyo kembali menyambar lengan anaknya. “Dengarkan aku! Aku hanya bicara sekali dan tidak akan kuulangi lagi. Putuskan hubunganmu dengan lelaki miskin itu dan terima perjodohan ini. Kalau kau tidak mau melakukannya, ibu tiri tersayangmu itu beserta kedua anaknya yang akan menerima akibatnya. Dan aku bersungguh-sungguh.”

Shin Hye tahu benar jika ibunya serius. Kalau ia berani menolak, kalau ia berani tidak mengindahkan kata-kata ibunya, maka ia akan menyebabkan kesengsaraan baru pada kedua kakak serta ibu tirinya. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi.

*

            Beberapa hari kemudian, Shin Hye mengajak Kyuhyun untuk bertemu kekasihnya, Jung Yonghwa. Mereka akan bertemu di salah satu kedai kopi yang cukup terkenal di daerah Myeongdong. Ketika Shin Hye dan Kyuhyun tiba disana, Yonghwa sudah menunggu dan tersenyum hangat melihat gadis yang dicintainya datang.

“Anneyong Kyuhyun-ssi.. Tidak kusangka kau juga akan datang kemari.” sapa Yonghwa pada Kyuhyun sembari membungkuk hormat.

“Ah.. Tadi aku sedang di luar. Shin Hye menelepon dan memintaku untuk menemaninya hari ini. Katanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Mianhae Mhia noona tidak bisa hadir hari ini, ia harus menemani omoni untuk menghadiri undangan acara makan siang. Sedangkan Jonghyun sangat sibuk akhir-akhir ini, kami saja jarang sekali bertemu di rumah ataupun di kantor.” Kata Kyuhyun menjelaskan.

Ia sendiri juga heran mengapa Jonghyun sangat sibuk. Ia sudah bertanya pada sekretaris Jonghyun dan gadis itu berkata bahwa Jonghyun memang menangani banyak sekali proyek baru dan ia tidak mengijinkan siapapun membantunya ataupun mengganggunya. Entahlah, tapi Kyuhyun merasa ada jarak antara dirinya dengan Jonghyun akhir-akhir ini.

“Aku merindukan saat-saat kita semua berkumpul bersama. Tapi tidak apa-apa, kehadiranmu hari ini sudah cukup.” Kata Yonghwa seraya mempersilahkan dua orang di depannya duduk.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Shin Hye ketika mereka bertiga sudah duduk.

“Ada apa?” tanya Yonghwa lembut seraya menggenggam jemari Shin Hye.

Namun alangkah terkejutnya Yonghwa ketika Shin Hye menarik tangannya dan melepaskannya dari genggaman Yonghwa.

“Aku ingin kalian berdua mendengarkan dengan baik apa yang akan aku katakan. Dan tolong, jangan suruh aku untuk berubah pikiran karena keputusanku sudah bulat.” Kata Shin Hye lagi. Ia terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya sangat gelisah.

“Ada apa? Kenapa kau serius sekali?” tanya Kyuhyun.

Shin Hye tampak diam sebentar lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kemudian ia mulai bicara. “Kyuhyun Oppa.. Yonghwa-ssi.. Mianhae.. Aku telah memutuskan bahwa aku.. aku akan menerima perjodohanku dengan Siwon oppa.”

Baik Yonghwa maupun Kyuhyun tampak terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka Shin Hye bisa memutuskan hal itu.

“Shin Hye-ah.. Jangan bercanda. Kau sendiri yang bilang saat itu bahwa kau tidak mau menerima perjodohan itu. Kau sendiri yang memintaku untuk membantumu agar keluar dari perjodohan itu. Mengapa tiba-tiba kau..”

Shin Hye memotong perkataan Kyuhyun. “Aku berubah pikiran, oppa.”

“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan hubungan kita? Kau bilang kau tidak mencintainya.. Kau memintaku untuk segera menikahimu. Maka aku berusaha mati-matian. Beberapa hari lalu ketika aku mengabarimu bahwa aku berhasil membangun toko roti itu, kau sangat bahagia. Bahkan kau memintaku untuk segera bersiap-siap karena kau akan mengenalkanku pada kedua orangtuamu. Mengapa sekarang kau..”

Lagi-lagi Shin Hye memotong perkataan, kali ini perkataan Yonghwa. “Sudah kukatakan bahwa aku berubah pikiran. Aku juga manusia yang bisa berubah pikiran. Setelah berkencan dengan Siwon oppa, aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Siapa yang tidak mau menjadi pendampingnya? Ia impian setiap orang. Ia tampan, cerdas, kaya dan dari keturunan bangsawan yang terhormat.”

Bibir Shin Hye bergetar ketika mengatakan semua itu. hatinya sakit sekali karena harus berbohong pada kekasihnya, oppanya, dan pada hatinya sendiri.

“Shin Hye-ya, jebal.. Katakan padaku bahwa kau hanya bercanda. Kau tidak serius kan? Jebal..” tanya Yonghwa masih dengan nada tidak percaya.

Shin Hye menjawab pertanyaan itu tanpa memandang langsung ke kekasihnya. “Aku serius. Aku akan sudah memutuskannya dan aku tidak akan membatalkannya.”

Selesai berkata demikian, Shin Hye langsung berdiri dan hendak pergi namun Yonghwa lebih cepat. Ia sudah menghalangi jalan Shin Hye dengan melebarkan kedua tangannya.

“Kau tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaanku. Katakan sejujurnya, apa kau benar-benar telah jatuh hati padanya?”

Shin Hye masih tetap menolak kontak mata dengan Yonghwa. “Ya, aku telah jatuh hati padanya. Dan aku tidak kuasa menolak pesonanya.”

“Tatap aku ketika kau bicara! Tatap aku!” bentak Yonghwa sedikit kesal.

Namun Shin Hye masih tetap menghindari tatapan mata Yonghwa. Kemudian Yonghwa meraih wajah Shin Hye dan membuat gadis itu menatapnya langsung ke dalam manik matanya.

“Kumohon, jujurlah padaku. Apa kau masih mencintaiku? Kumohon.. Jika kau memang masih mencintaiku, aku akan melupakan kata-katamu tadi dan aku berjanji akan berjuang untuk kita. Tapi jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Menatap mata itu, melihat sinar mata yang selalu membuatnya bahagia, membuat keteguhan hati Shin Hye mencair. Akhirnya ia menangis pelan. Pelan-pelan ia melepaskan kedua tangan Yonghwa di wajahnya.

“Yonghwa-ssi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu. Kita tidak bisa bersama. Terlalu banyak perbedaan diantara kita.Dan perbedaan-perbedaan itu semakin membuka mataku bahwa kau tidak pantas untukku. Aku lebih memilih Siwon oppa. Ia jauh lebih terpandang, terhormat, terpelajar dan yang penting, ia setara dengan kami. Kumohon, lepaskanlah aku. Karena sampai kapanpun kita berusaha, tidak akan pernah ada jalan keluar untuk kita.”

Sekali lagi Yonghwa memandang Shin Hye dengan tatapan tak percaya. Ia telah mengenal Shin Hye sejak lama. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Dan hubungan mereka sudah terjalin selama empat tahun. Namun, tidak sekalipun ia pernah melihat Shin Hye setegas ini.

Shin Hye adalah gadis rapuh yang selalu ragu dalam mengambil keputusan. Ia tidak pernah bisa memilih dengan baik atau menentukan sesuatu untuknya tanpa bertanya pada siapapun. Melihat Shin Hye begitu yakin saat ini, membuatnya berpikir apakah mungkin memang Shin Hye sudah tidak bisa lagi mempertahankan segalanya.

“Shin Hye-ya.. Apa benar sudah tidak ada lagi jalan untuk kita? Walaupun aku berusaha? Tidak bisakah kau memilihku? Aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu, aku akan memberikan segalanya yang kau inginkan.. Segalanya.. Tapi tolong, jangan menerima perjodohan itu.”

Air mata Shin Hye masih senantiasa mengalir. Sakit sekali melihat kekasihnya memohon seperti itu. Sulit sekali baginya untuk meninggalkan cinta yang telah terajut sekian lama. Namun ia tidak punya pilihan lain. Jika ia bersikeras mempertahankan Yonghwa, maka keluarga ibu tirinya akan mengalami siksaan. Ia tidak bisa melihat semua itu terjadi.

Walaupun hatinya terluka, walaupun ia harus menanggung rasa sakit itu seumur hidup, ia rela. Asal tidak ada lagi ketidakadilan untuk Son Ye Jin dan kedua anaknya. Ia tidak ingin lagi melihat kesedihan di wajah ibu tirinya itu.

“Shin Hye-ya.. Tolong jawab aku..” kata Yonghwa lagi.

Shin Hye menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya. Ketika ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia membuka serta kedua matanya.

“Kyuhyun oppa.. Tolong antarkan aku pulang.” Kata Shin Hye tegas.

Kyuhyun yang sejak tadi diam karena memikirkan keputusan Shin Hye, tersentak mendengar adiknya itu memanggilnya.

“Shin Hye-ya.. Selesaikanlah dulu urusanmu baru aku akan..”

“Aku tidak punya urusan lagi disini. Oppa, jebal.. Antarkan aku pulang..”

Kyuhyun menuruti kemauan adiknya itu. Membantunya lolos dari pertanyaan-pertanyaan Yonghwa dan memohon pada Yonghwa untuk membiarkan Shin Hye sendiri dulu. Ia diam membisu setelah masuk ke dalam mobil. Pikirannya dipenuhi oleh kenyataan-kenyataan bahwa adiknya akan bertunangan dengan cinta pertamanya. Bahwa sebentar lagi mungkin mereka akan lebih sering bertemu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Bahwa sebentar lagi ia harus menerima Siwon sebagai iparnya sendiri.

Dan sekali lagi ia harus merelakan cintanya pergi. Sekali lagi ia harus terluka karena kenyataan yang terlalu kejam yang tiada henti menghantamnya. Dengan pikiran kacau seperti itu, ia bahkan tidak mendengar tangis putus asa Shin Hye selama dalam perjalanan pulang.

*

            Pertemuan kedua antara keluarga Cho dengan Choi berikutnya berlangsung tertutup. Hanya anggota keluarga saja yang hadir. Para orang tua mendiskusikan bagaimana acara pertunangan Siwon dan Shin Hye akan dilangsungkan, sementara anak-anak mereka hanya duduk diam di sana. Menunjukkan sikap hormat dengan bersikap tenang.

Sedaritadi Siwon tak berhenti melirik ke arah Kyuhyun. Setiap melihat raut wajah murung itu, perasaan bersalah selalu menghampirinya. Ia tahu bahwa ia dan Kyuhyun masih saling mencintai, namun tidak mungkin bagi mereka bersatu jika keinginan orang tua mereka jauh lebih keras daripada keinginan mereka sendiri.

Siwon sendiri tidak mungkin mundur dari perjodohan itu, satu-satunya harapan adalah jika Shin Hye menolak. Mungkin Siwon bisa meminta orang tuanya menjodohkan dengan anak Cho yang lain, dalam hal ini Kyuhyun. Tapi harapannya hancur ketika seminggu lalu dirinya dan Shin Hye ‘berkencan’ atas perintah orang tua mereka, dan Shin Hye menyatakan kesediaannya untuk menerima pertunangan mereka. Maka ia tak punya pilihan lain lagi. Mungkin ia dan Kyuhyun memang tidak berjodoh.

“Baiklah, terima kasih telah berkunjung hari ini.” Terdengar Mr. Cho berkata pada Siwon dan kedua orang tuanya. Kemudian ia dan Mrs. Cho beserta In Sung dan kedua istrinya mengantar keluarga Choi ke halaman depan.

Saat itu juga Jonghyun mendekati adiknya dan menarik lengannya keluar ruangan. “Shin Hye-ya, katakan padaku yang sebenarnya. Mengapa kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini.”

Shin Hye terdiam. Ia tidak berani bicara. Sejak ia memutuskan mengikuti kehendak ibunya, ia memang menghindari semua kontak dengan ketiga kakaknya. Ia takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus menjawab yang sebenarnya.

“Jawab aku!” kata Jonghyun dalam nada tegas.

Shin Hye masih terdiam dan menunduk. Ia tahu benar bagaimana sikap oppanya yang satu ini jika sudah marah. Jonghyun bisa meledak, tidak seperti Kyuhyun yang lebih bisa menahan diri.

“Cho.. Shin.. Hye..!” kata Jonghyun lagi kali ini memberikan tekanan dalam setiap kata-katanya.

“Aku menyukainya, oppa.” Jawab Shin Hye pendek. Ia masih terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.

“Benarkah?” tanya Jonghyun tidak percaya. “Jika benar kau jujur pada perasaanmu sendiri, setidaknya kau bisa menatapku saat bicara. Jangan membuatku berpikir bahwa kau melakukan semua ini karena tekanan dari omoni.”

Shin Hye takut sekali. Orang yang paling ditakutinya di dunia ini bukan ayahnya atau ibunya melainkan Jonghyun. Kakaknya yang penyayang itu bisa menjadi sangat ganas bila sedang marah. Namun jika ia tidak menyangkal kecurigaan Jonghyun, bisa jadi ancaman ibunya akan menjadi kenyataan.

Pelan-pelan Shin Hye mengangkat wajahnya dan menatap Jonghyun. Dengan bibir bergetar, ia bicara. “Aku menyukai Siwon oppa. Omoni tidak pernah menyuruhku menerima pertunangan ini. Akulah yang berpikir meninggalkan Yonghwa-ssi karena kupikir tidak ada jalan lagi untuk kami berdua.”

“Kalau memang benar yang kau katakan, mengapa kau tidak membicarakannya dulu denganku? Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu bahwa aku akan mengirim kau pergi jauh bersama Yonghwa jika omoni tetap tidak setuju? Jangan menipuku, aku tidak bodoh!” kata Jonghyun kesal.

“Jonghyun-ah.. Jangan bersikap seperti itu pada Shin Hye.”

Jonghyun dan Shin Hye menoleh. Mhia ada diantara mereka. Melihat itu, Shin Hye langsung berlindung di belakang tubuh kakak tirinya itu dan menyembunyikan wajahnya.

Jonghyun menarik nafas kesal. “Noona, tolong aku. Tolong nasehati dia untuk tidak mengikuti permainan gila ini. Jangan korbankan hatinya sendiri. Bukan hanya dia yang terluka, tapi juga Yonghwa, Siwon dan Kyuhyun hyung.”

“Tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Jadi kau tidak perlu khawatir. Jika memang Shin Hye menyukai Siwon hyung, biarkanlah mereka bersatu. Tugas kita sekarang adalah memberi pengertian pada Yonghwa-ssi.”

Jonghyun berbalik dan mendapati Kyuhyun juga telah hadir diantara mereka. Jonghyun menatap kakaknya yang hanya terpaut beberapa jam lebih tua darinya itu. Sejujurnya ia tidak mengerti, dulu Kyuhyun seakan hendak gila karena Siwon meninggalkannya. Dari rasa kehilangan itu muncul kerinduan yang bercampur kebencian. Tapi ia tidak pernah menyangka Kyuhyun akan merelakan Siwon dengan mudah seperti ini.

“Hyungnim..”

“Jonghyun-ah, ada saat dimana kita harus berjuang dan ada saat dimana kita harus berhenti berharap. Inilah saatnya aku berhenti. Mungkin jalannya memang seperti ini. Setidaknya aku bahagia karena Siwon hyung mendapatkan seseorang yang baik.”

Setelah berkata demikian, Kyuhyun segera meninggalkan saudara-saudaranya itu lalu menyelinap naik ke kamarnya. Son Ye Jin yang ternyata juga sudah berada disana menangis perlahan. Sekali lagi, anaknya harus mengalah demi kebahagiaan saudaranya.

*

            Hari yang telah ditentukan tiba juga. Hari pertama di minggu kedua bulan april itu, pertunangan Siwon dengan Shin Hye dilaksanakan. Di tengah indahnya musim semi, dimana-mana bunga mulai bermekaran, burung-burung berkicau riang, dan matahari bersinar cerah menghangatkan setiap makhluk hidup di muka bumi, Kyuhyun menahan sesak di dadanya. Membiarkan cinta pertamanya pergi begitu saja.

Ia tahu, terkadang hidup itu tidak adil. Ada keadaan dimana dua orang di takdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama. Kadang Kyuhyun berpikir mengapa ia dulu bisa jatuh cinta pada Siwon. Padahal saat itu bukan hanya Siwon yang mengejarnya. Namun jika hati sudah memilih, sulit bagi kita untuk menolaknya.

Dan disaat ia yakin akan pilihannya, ia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan sulit. Pertama Yoona muncul dan membeberkan kisah semalamnya dengan Siwon. Walaupun hal tersebut dilakukan dalam keadaan mabuk, siapapun tidak mau menerima kekasihnya tidur dengan orang lain.

Lalu saat ia berusaha memaafkan Siwon, muncul Kibum. Kembali ia dipisahkan dari Siwon. Hingga akhirnya Siwon benar-benar harus pergi dari Seoul. Kyuhyun memang mendengar bahwa Siwon melanjtkan kuliahnya di luar negeri, tapi ia tidak tahu dan tidak mau tahu dimana. Karena saat itu ia pikir Siwon pergi bersama Kibum.

Kini, setelah Siwon kembali sebagai lelaki bebas, kembali Kyuhyun harus merelakan Siwon pergi. Karena adiknya sendiri yang memintanya. Tidak, bukan cuma adiknya tapi juga keluarganya. Bagaimana mungkin ia merasakan bahagia jika Shin Hye nantinya akan terluka. Walaupun ia sedikit sangsi dengan keputusan adiknya itu, tapi ia tetap berusaha menghormatinya.

Kyuhyun hanya masih belum bisa mengerti mengapa Shin Hye dengan mudah putus asa padahal ia dan Yonghwa sudah berjuang selama empat tahun bersama. Selama ini mereka berdua selalu baik-baik saja. Yonghwa memang bukan dari kalangan bangsawan, tapi ia adalah lelaki jujur dan bertanggung jawab.

Yonghwa juga adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Ia mengumpulkan uangnya demi mewujudkan mimpi Shin Hye untuk memiliki sebuah bakery. Shin Hye suka membuat kue dan roti, maka ia ingin sekali memiliki toko roti bersama Yonghwa. Dan ketikaYonghwa berhasil membeli sebuah bangunan kosong dan mengisinya kembali dengan apa yang menjadi tujuannya semula, Shin Hye malah meninggalkannya.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia memandangi alam di sekitarnya. Hutan pinus kecil inilah tempatnya selalu melarikan diri. Tempatnya menjernihkan pikiran, tempatnya merasakan kebebasan dalam lingkungan keluarganya sendiri.

“Kyu..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Siwon berdiri disana, di tengah jalan setapak. Lelaki itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas putihnya. Apalagi ia berdiri diantara hijaunya dedaunan hutan pinus itu. Choi Siwon tampak seperti seorang pangeran.

Kyuhyun sempat terpana. Namun seketika ia tersadar bahwa Siwon sebentar lagi akan resmi menjadi iparnya sendiri. Mana mungkin ia berani membayangkan Siwon akan menjadi miliknya seperti dulu?

“Hyung.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencarimu sejak tadi. Ketika kutanyakan pada Jonghyun, ia  bilang aku ada disini.” Jawab Siwon.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin meminta maaf.”

Kyuhyun menoleh, ia menatap Siwon sambil tersenyum jengah. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, hyung. Anggap saja memang kita tidak berjodoh. Lagipula, aku turut bahagia bisa melihatmu bersama Shin Hye. Tolong jaga dia baik-baik, hyung.”

Siwon terdiam. Ia menunduk sebentar lalu menatap Kyuhyun dalam-dalam. Tangannya bergerak membelai wajah Kyuhyun, membelai wajah yang selama ini dirindukannya. Kyuhyun memejamkan matanya merasakan sensasi itu. Sensai hangat yang menghinggapinya ketika tangan Siwon menyentuh kulitnya.

“Kyu.. Ijinkan aku memelukmu. Ijinkan aku melakukannya, sekali saja. Karena setelah ini, tidak ada lagi kesempatan untuk kita berdua.” Kata Siwon pelan.

Kyuhyun membuka matanya perlahan lalu menunduk, ia tidak berani menatap Siwon. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Siwon memeluk tubuh itu. Mendekapnya dalam-dalam, merasakan aroma yang dirindukannya, mengalirkan kasih sayang yang tak mungkin bisa ia berikan lagi setelah ini.

Kyuhyun membalas pelukan itu. Untuk sekali ini saja ia ingin memeluk Siwon sebagai lelaki yang pernah singgah di hatinya. Selanjutnya ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menatap Siwon sebagai anggota keluarganya. Walaupun itu menyakitkan, namun ia akan berusaha sekuatnya untuk kembali menata hatinya.

“Saranghae Kyu.. Jeongmal saranghae..” bisik Siwon pelan.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam dalam pelukan Siwon. Ketika Siwon meregangkan pelukannya lalu mengangkat dagu Kyuhyun menggunakan jemarinya, kedua mata mereka saling beradu. Tatapan mata penuh kerinduan pun mengalir diantara mereka. Tatapan yang juga diisi oleh kesedihan dan luka mendalam.

Pelan-pelan Siwon mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun lalu mengecup lembut. Kyuhyun membalas ciuman itu. Ciuman dalam yang biasanya memabukkan kini terasa menyakitkan. Namun Kyuhyun tahu, ini adalah yang terakhir. Kisah cinta mereka akan selesai sampai disini.

*

wonkyu sad

To Be Continued..