Dinner Date

Title                 : Dinner Date

Starring           : Shim Changmin, Cho Kyuhyun.

Pair                  : ChangKyu (MinKyu)

Genre              : BL, Romance, Fluff.

Warn               : BL, Typo (es), No Conflict.

Lanjutan dari drabble kemarin. Voice of Love –> Because I Love You –> Dinner Date. Kali ini udah termasuk oneshot.

“Hyung.. cepat! Kenapa kau lama sekali, sih?”

Teriakan tersebut membahana dalam salah satu kamar hotel suite room dikawasan Guangzhou, China.

“Haish! Sabar sedikit Changmin-ah! Hyung belum selesai berpakaian.” Sahut suara yang tak kalah memekakan telinga terucap dari seseorang dari balik pintu kamar hotel yang masih tertutup.

Teriakan tersebut jelas saja mengundang decakan sebal dari seorang pria yang tengah duduk santai disofa ruang tamu kamar hotel yang mereka tempati sejak kemarin. Gerutuan terdengar terlontar dari bibir lebar sexy-nya.

Sesekali ia merutuki kebiasaan seorang Jung Yunho, Leader sekaligus Hyung-nya yang memiliki kebiasaan menghabiskan waktu mandinya hingga mengalahkan durasi mandi seorang wanita. Entah apa saja yang dilakukan lelaki Jung itu didalam kamar mandi yang sempit dan lembap itu hingga ia betah berlama-lama disana.

Namun, gerutuannya terhenti kala ia mendengar notifikasi pesan terdengar di iPhone-nya. Senyumnya terukir ketika ia melihat dari siapa pesan tersebut terkirim.

Kau sudah take-off?

 

Ia terkekeh pelan membaca pesan singkat yang terkesan acuh itu. Tak ada kalimat manja ataupun sapaan manis yang tertera dipesan tersebut seperti biasanya.

Changmin, pria yang tengah duduk disofa, menghela nafas pelan. Menghadapi sikap Kyuhyun yang tengah merajuk memang membutuhkan cadangan ekstra kesabaran dan keteguhan demi membuat lelaki manis itu ‘jinak’ kembali.

Belum, baby..

Aku masih menunggu Yunho Hyung.

BabyKyu, berhenti mengacuhkanku seperti ini T_T

Bukankah aku sudah menjelaskan semuanya padamu?

 

Meskipun ia menganggap jika Kyuhyun yang tengah merajuk terlihat menggemaskan, namun ia sesekali merasa jengah juga karenanya.

Tidak ada sapaan manis, rengekan manja dan tak ada kontak fisik diantara mereka. Bahkan dengan kejamnya Kyuhyun memberlakukan aturan dimana ia tak boleh mendekatinya kurang dari radius 5 meter.

Beruntung meski dalam setiap mode merajuknya, Kyuhyun akan selalu membalas semua pesan ataupunn mengangkat telepon darinya. Ia tahu, Kyuhyun paham betul dengan ketidaksukaannya akan seseorang yang menghindar ketika berada dalam suatu masalah. Dimasa lalu, Ia bahkan pernah putus dengan yeojachingu-nya ketika mereka tengah terjadi konflik, namun sang gadis malah mengabaikan dan menghindar darinya tanpa memberikan konfirmasi dan penyelesaian yang jelas. Tentu saja itu hanya salah satu bagian dari masa lalunya, sebab kini yang ada dihatinya hanyalah Cho Kyuhyun seorang. Pria manis pemilik suara caramel macchiato yang saat ini tengah merajuk padanya karena rasa cemburu.

Sedikit banyak ia merasa kesal dengan adanya kemajuan teknologi yang serba canggih seperti saat ini. Sebab karena hal tersebutlah hingga membuat Kyuhyun-nya melihat foto-foto dirinya dengan Victoria yang beredar di sosial media dengan cepat dan berujung pada pria Cho itu terbakar api cemburu dan mengacuhkannya.

Oh ayolah, foto tersebut bukan berarti apa-apa. Penggemarnya pun pasti akan menebak jika ia menghadiri acara after party itu tidak lain hanyalah formalitas belaka. Karena Yunho yang lebih memilih untuk beristirahatlah hingga mau tidak mau ia yang harus hadir diacara tersebut. Tentu saja tanpa mengesampingkan fakta jika terdapat banyak makanan diacara tersebut yang membuatnya –sedikit- antusias. Ia bahkan hanya mengenakan sandal hotel pada saat pesta tersbut digelar.

Perkara bagaimana ia bisa tertangkap kamera berdekatan dengan Leader f(x), bukanlah suatu kesengajaan yang ia lakukan. Ia masih mengingat ultimatum Kyuhyun beberapa saat lalu yang melarangnya untuk mendekati dan menebar pesona pada wanita.

Pada saat itu, ia yang tengah mengambil wine disalah satu meja dihampiri oleh salah seorang Event Manager, yang notabenenya orang China, acara konser yang malam itu selenggarakan. Salahkan kemapuan bahasa Mandarinnya yang kurang mahir. Victoria yang pada saat itu berada tak juah darinya pun berinisiatif menghampirinya dan sang Event Manager demi menjadi seorang translator dadakan.

Ya.. Kyuhyun-nya cemburu pada Victoria. Pada wanita yang pernah membuatnya terlibat dalam skandal paling mencengangkan sekaligus menggelikan, spoon scandal.

Cling..

Tak sampai semenit balasan pesannya datang.

Aku tidak mau tahu.

Aku ingin nanti malam kita berdua K-E-N-C-A-N!

Jika tidak, jangan harap aku akan memaafkanmu!

***

Dinginnya malam dimusim gugur sama sekali tak menjadi masalah bagi salah satu pasangan yang tengah menjalankan aksi kencan tengah malamnya. Changmin dan Kyuhyun. Keduanya kini tengah berada didalam mobil yang tengah melaju di jalanan kota Seoul yang lengang. Tanpa menghiraukan cuaca dingin yang serasa menusuk tulang, Changmin pun dengan senang hati menuruti permintaan Kyuhyun atas paksaan kencannya.

Beruntung aksi merajuk Kyuhyun dapat berakhir setelah berbagai macam penjelasan, bujukan dan rayuan Changmin lancarkan untuk membuat Kyuhyun percaya. Ia bahkan sampai meminta tolong pada Victoria untuk membantu menjelaskan pada Kyuhyun yang sialnya malah membuat Kyuhyun menuduh dan menganggap dirinya dan gadis tersebut begitu akrab.

Waktu kini bahkan telah menunjukkan pada angka 01.00 a.m. Namun hal tersebut sama sekali tak menjadi kendala bagi mereka. Semakin larut malah semakin bagus. Kemungkinan mereka akan menjadi pusat perhatian orang banyak atas status public figure pun mengecil.

Selain karena alasan tersebut, karena kendala jadwal Kyuhyun yang padat atas promosi album serta musikalnya pula yang membuat mereka baru bisa melakukan kencan ditengah malam seperti saat ini

Kali ini mereka berdua tengah menuju kearah salah satu rumah makan hot pot dipusat kota Seoul, Haidilao. Rumah makan tersebut merupakan salah satu cabang dari China. Dimana beberapa bulan yang lalu saat SMMTOWN Shanghai, pada tengah malam Kyuhyun pernah merengek padanya untuk makan di rumah makan favoritnya dengan ditemani Heechul yang menahan kantuk.

Changmin yang tengah mengemudikan mobil mereka, melirik kearah Kyuhyun yang duduk disisinya. Ia tersenyum sekilas mendapati sang kekasih yang tengah menyenandungkan lagunya sendiri, at Gwanghwamun , dengan sepenuh hati. Berapa kalipun ia mendengar suara Kyuhyun, ia tek pernah bosan akan suara indah miliknya.

Salah satu tangannya meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya lembut yang membuat maknae Super Junior itu sedikit terkejut.

“Ada apa minnie?”

Changmin tak menjawab. Ia kemudian mengecup punggung tangan Kyuhyun dengan lembut.

Saranghae.” Ucap Changmin lirih menyerupai bisikan. Tatapannya kembali fokus keraah jalan.

Kyuhyun mengerjapkan matanya cepat atas perlakuan Changmin yang tiba-tiba. Tak sampai lima detik kemudian, wajah Kyuhyun memerah karena malu. Beruntung cahaya dalam mobil yang temaram hingga dapat menyembunyikan rona merah tersebut.

Changmin bukannya tak menyadari perubahan Kyuhyun, ia sangat tahu jika kekasihnya pasti saat ini tengah merona malu. Namun ia lebih memilih fokus pada jalan dihadapannya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Kyuhyun.

Dan sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan pun, Kyuhyun sama sekali tak berkutik ditempat duduknya dengan rasa hangat yang berasal dari genggman tangan pria terkasihnya.

***

“Kau carilah meja terlebih dahulu, biar aku yang mengambil makanannya.” Pinta Changmin pada Kyuhyun ketika mereka telah sampai di rumah makan tujuan mereka.

Dengan patuh Kyuhyun pun menuruti permintaan Changmin.

Suasana kedai yang lengang membuat Kyuhyun tak perlu waktu lama untuk menemukan tempat yang strategis. Ia memilih tempat disalah satu sudut ruangan yang menurutnya memberi mereka, ia dan Changmin, sedikit privasi.

Ia sempat menunggu Changmin beberapa saat. Namun karena ia tidak sabar, ia pun memiih untuk menghampiri Changmin yang terlihat tengah meilih menu makanan.

“Minnie?”

Ia menarik ujung jaket Changmin yang membuat pria tinggi itu menoleh.

“Kemarilah.. kau mau memilih apa, hm?”

Kyuhyun pun memilih beberapa potong daging, telur dan beberapa jenis saus yang diletakkan pada nampan yang Changmin bawa. Ia sedikit heran dengan isi nampan tersebut yang berisi cukup banyak sayuran. Tetapi mengingat bagaimana keampuan makan pria yang telah menjadi kekasihnya beberapa tahun itupun membuatnya maklum.

*

“Kyu, say Aah~”

Kyuhyun memandang horor pada Changmin yang saat ini tengah menyodorkan sejumput sawi padanya. Ia yakin pria dihadapannya itu tahu jika ia sangat membenci makanan berjenis sayuran. Tapi kenapa tiba-tiba ia berniat menyuapi jenis makanan yang ia tidak ia sukai itu?
“Baby..”

“Kau tahu aku benci sayur kan, Minnie..” Tolak Kyuhyun menyerupai rengekan.

Changmin tersenyum manis, “Aku tahu. Tapi walau bagaimanapun, kau tetap tidak bisa mengabaikan manfaat dari sayur, Kyuhyunnie.”

Kyuhyun tak perlu mempelajari ilmu kedokteran ataupun ahli gizi demi mengetahui manfaat dari sayur. Meskipun demikian, demi jumlah penggemarnya yang tak dapat dikatakan sedikit, ia sangat membenci SAYUR. Dan mendapati kekasihnya sendiri memaksanya untuk memakan jenis makanan yang ia benci membuat ia sedikit.. sedih?

“Hiks..”

Mata Changmin terbelalak kaget demi mendengar isakan yang tiba-tiba terdengar.

Babykyu?” Panggil Changmin panik, buru-buru ia mencampakan sayur yang beberapa saat lalu hendak disuapkan pada Kyuhyun, dan segera menghampiri pria berkulit pucat yang kini tengah berlinangan air mata itu dan memeluknya erat.

“Omo! Kyuhyunnie.. jangan menangis, baby. Maaf.. maafkan aku, ne?” Ia merengkuh tubuh Kyuhyun yang kini bersandar pada bahu lebar Changmin.

“Hiks..”

Babykyu..”

“Hiks.. aku tidak mau hiks.. makan sayur, Minnie. Hikss..”

Ne, ne. Uljimma. Maafkan aku, Kyu. Aku janji tidak akan pernah memaksamu makan sayuran itu lagi. Mianhe..” Panik Changmin menenangkan Kyuhyun dengan mengusap punggung pria yang lebih kecil darinya itu dengan sayang.

Karena reaksi paniknya tersebut, membuat ia tidak menyadari kekehan tanpa suara milik Kyuhyun yang sarat akan kemenangan terlihat dari balik bahu maknae TVXQ tersebut.

ChangKyu Dinner Date

END

Fading the Darkness – Chapter 3

Fading the darkness Changkyu Khunkyu

Tittle       : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star   : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair         : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre     : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate        : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos Vampire dan Dhampir yang berkembang dalam masyarakat. Serta berdasarkan kisah fantasi Twilight untuk penggunaan beberapa istilah dan kemampuan tokoh. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya.

Warning : Typo(es), Don’t Like = Don’t Read.

Preview

…Namun, sepersekian detik kemudian, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya.

*

         Wajah itu tampak pucat. Semakin pucat dengan raut wajahnya yang sayu karena kelelahan. Meskipun dengan kondisi tubuh seperti itu, ia dapat menangkap sorot kebencian yang terpancar saat mata merah yang semakin meredup itu bertemu pandang dengannya.

Tanpa sadar, ia menurunkan tangannya yang pada awalnya tengah menghunuskan katana.Perlahan ia pun melangkahkan kakinya, mencoba mendekati makhluk immortal yang berada tak jauh dari hadapannya.

Aaarrghh!”

Changmin tersentak kala ia mendengar jeritan menggema, membelah kesunyian malam yang mencekam. Itu suara Dongwoon. Pendengarannya dapat menangkap sumber suara yang berasal dari arah barat hutan, tempat Dongwoon memilih untuk berpencar dalam perburuanmereka malamini.

Beberapa detik iabergemingditempatnya. Belum berniat menuju suara jeritan Dongwoon. Ia masih saja terpaku, memperhatikan sosok sejenis berkulit pucat tersebut yang tengah bangkit secara perlahan. Ia dapat melihat kontur wajah makhluk yang berjarak tak lebih dari 10 meter dihadapannya dengan jelas. Tak dapat dipungkiri jika ia sedikit terpukau pada makhluk tersebut. Terlebih ketika wajah itu tertimpa sinar bulan melalui celah pepohonan yang membuatnya bak sesosok muse. Sama sekali tak bercela.

“Aarrgh!”

Changmin mengepalkan tangannya demi mendengar jeritan penuh kesakitan itu terdengar kembali. Perasaan khawatirnya akan sang adik mengalahkan rasa egonya yang menginginkan untuk tetap memperhatikan Vampire dihadapannya. Dalam sekejap mata, ia pun segera melesat kearah barat berusaha menyelamatkan Dongwoon. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada saudaranya itu.

Namun, sebelum langkahnya benar-benar menjauh, ia masih sempat menoleh ke belakang. Retinanya menangkap refleksi makhluk yang sesekali terbatuk dengan tubuh yang terlihat limbung dan nyaris terjatuh. Tubuh kurus itu menjadikan pohon di depannya sebagai alat bantunya untuk berdiri.

Keraguan kembali menyelimuti hatinya. Langkahnya seperti terasa enggan meninggalkan tempat tersebut. Nalurinya memerintahkan ia untuk berbalikdan kembali mendekati makhluk berkulit pucat tersebut. Namun akal sehatnya berkehendak lain yangberujung pada mengabaikan kata hatinya dengan memilih untuk menyelamatkan saudaranya.

***

        Meskipun gelap, namun kondisi tersebut sama sekali tidak menyulitkan Changmin untuk menemukan keberadaan Dongwoon. Insting dan ketajaman indera yang dimiliki bangsanya membuat ia mampu mempertahankan diri dan beradaptasi dalam keadaan apapun.

“Dongwoon-ah!”

Changmin memekik ketika menangkap sesosok tubuh yang tengah tergeletak dan menggeliat kasar ditanah. Ia menghampiri Dongwoon dan meraih tubuh sang adik ke pangkuannya.

“Dongwoon-ah!” Changmin menggoncangkan tubuh yang masih menggeliat tersebut. Ia memeriksa tangan Dongwoon dan menemukan luka bekas gigitan berwarna hitam tercetak jelas di pergelangan tangannya. Ia menggeram penuh amarah ketika mengetahui jika Dongwoon baru saja digigit oleh Vampire dan menyalurkan racun kedalam tubuhnya.

“Arrgh! Ha..aargh! Pa..nass! Arrgh!” Tubuh Dongwoon bergetar hebat kala ia merasakan panas menjalar ke seluruh persendian tubuhnya. Organ tubuhnya terasa terbakar bersamaan dengan racun yang mengalir dalam darahnya.

Changmin merogoh saku dibalik zirah yang ia kenakan untuk mencari penawar racun yang selalu ia bawa dalam perburuan. Dengan sedikit panik, ia membuka botol yang tak lebih besar dari ukuran ibu jari itu dan meminumkannya pada Dongwoon.

“Buka mulutmu!”

Meskipun dalam masa transisinya, Dongwoon masih dapat mendengar suara Changmin dan menuruti perintah hyung-nya itu. Dengan susah payah ia meneguk cairan penawar tersebut. Rasa panas yang ia rasakan berangsur menurun ketika penawar yang ia minum telah mengalir ditubuhnya.

Namun, selanjutnya ia mengerang tertahan ketika rasa sakit yang lain terasa mencekiknya hingga ia memuntahkan cairan pekat berwarna hitam dari mulutnya.Selepas itu, tubuhnya melemas laluberangsur-angsur ia mulaikehilangan kesadarannya secara total.

***

“Terima kasih, Nickhun.”

Seseorang yang dipanggil Nickhun itupun menolehkan perhatiannya pada seseorang lain yang tengah duduk di tepi tempat tidur.

Heika..” Gumam Nickhun tak mengerti dengan ucapan terima kasih sang raja muda yang baru saja ia ucapkan.

Yoochun, sang Heika, tak menghiraukan keheranan kensei-nya. Pandangannya masih saja terpaku pada sosok adiknya yang masih tak sadarkan diri di pembaringan. Tatapannya tampak kosong meskipun arah pandangnya jelas tertuju pada sang adik.

“Terima kasih untuk pengabdian dan kesetiaanmu selama ini pada kami.” Ucapnya lirih.

Ia tahu jika sekedar ucapan terima kasih pun tak mampu untuk membalas semua pengabdian dan jasa sang kensei pada keluarganya. Sudah lebih dari 3 abad pasca penyerangan Vampire Hunter dan Dhampire yang membuat Ayah dan kerajaannya tumbang.

Dulunya, Nickhun merupakan kensei dan salah satu orang kepercayaan Ayahnya yang mengabdi pada Cho Kingdom bahkan sejak ia masih menjadi Vampire hijau. Dimasa lalu, Nickhun hanyalah seorang manusia biasa yang menjadi bagian dari pasukan perang khusus sebuah militer dalam perang Balkan. Ia yang kala itu tengah sekarat karena tertembak pihak lawan, ‘diselamatkan’ oleh Cho Nam Gil yang seorang Vampire dimana pada saat itu bertugas sebagai dokter di barak militer.

Sebagai balas budinya, ia yang pada saat itu baru berusia 20 tahun pun memutuskan untuk patuh dan menghormati Nam Gil, sosok yang telah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri.

Meski ratusan tahun telah berlalu, namun kesetiaannya sama sekali tak berkurang hingga saat ini pun ia masih tetap menjadi bagian dari keluarga Cho. Hingga kerajaannya kini telah tumbuh dan berkembang sebagai generasi baru penerus Cho Kingdom dimasa lalu.

“..dan juga untukmu yang telah menyelamatkan adikku untuk yang kesekian kalinya.”

Kejadian penyelamatan Kyuhyun beberapa saat lalu bukanlah untuk pertama kalinya bagi Nickhun. Dimasa lalu, dengan sifat pembangkang Kyuhyun,sang pangeran itu pernah memasuki area terlarang pada wilayah perjanjian antara bangsa Vampire dan Werewolf. Membuat Kyuhyun yang pada saat itu hanya seorang diri, kemudian diserang dan ditawan oleh kawanan manusia serigala yang hingga atas perintah Yoochun, Nickhun beserta pasukannya datang membebaskan Kyuhyun dan meminta maaf pada tetua kawanan Werewolf atas kelancangan sang Pangeran.

Dan beberapa saat lalu, Nickhun melakukan hal serupa meskipun dalam situasi yang berbeda. Vampire rupawan tersebut kembali menyelamatkan Kyuhyun. Ia yang pada awalnya membiarkan Kyuhyun melampiaskan emosinya dengan lari dari istana atas teguran Yoochun pun memilih untuk segera menyusulnya bersama Luhan. Ia merasakam sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada pangeran yang ia cintai.

Kekhawatirannya pun berwujud nyata saat ia mencium aroma makhluk dengan percampuran darah Manusia dan Vampire terjangkau dari indera penciumannya yang tajam. Terlebih saat ia mendapati keadaan Kyuhyun yang seperti siap dimusnahkan oleh sang Dhampir.

Sebelum itu, Ia yang memang mengetahui jika terdapat lebih dari satu Dhampir disekitar mereka pun memerintahkan Luhan untuk menyerang dan mengecoh salah seorang Dhampir yang berada di area barat. Sementara ia sendiri kearah timur dimana ia dapat merasakan aroma Kyuhyun dan Dhampir yang sangat ia kenali menguar.

Ia nyaris saja menyerang makhluk tinggi yang ada dihadapan Kyuhyun yang terlihat kehabisan energi ketika ia mendengar jerit penuh kesakitan terdengar dari arah barat.

Ia tahu jika Luhan telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

“Sudah kewajiban saya untuk mengabdi pada kerajaan serta menjaga Kyuhyun-sama, heika.” Ucapnya seraya menundukan kepala sebagai rasa hormat.

Yoochun bangkit berdiri dan menatap Nickhun. Ia tersenyum bangga pada pria yang secara teknis, usianya lebih muda beberapa tahun darinya.

“Kau memang selalu dapat diandalkan, Nickhun.” Ucap Yoochun memanggil nama asli sang Kensei. Nickhun yang semenjak beberapa saat lalu menunduk pun mulai mengangkat wajahnya dan memandang lawan bicaranya yang kini tengah tersenyum hangat padanya. Pria yang berdiri dihadapannya kini bukan bertindak sebagai seorang Raja yang mesti ia hormati, melainkan menjelma menjadi sosok seorang sahabat yang saling menopang satu sama lain.

Hyung..”

“Ah, mungkin lebih baik aku kembali ke kamarku. Kau pasti ingin menunggu dan menemani Kyuhyun hingga ia siuman, bukan?” Tanyanya seraya menepuk bahu Nickhun dan tersenyum ambigu yang membuat si lawan bicara merasa bingung.

Nickhun masih sibuk menerka maksud dari senyuman Yoochun hingga ia tidak menyadari pria tersebut berlalu meninggalkan dirinya yang masih berdiri mematung.

“Oh, Nickhun.” Yoochun memanggil Nickhun ketika ia telah berada diambang pintu kamar Kyuhyun.

“Ya, hyung?”

“Setelah Kyuhyun siuman, jangan lupa beritahukan pada seluruh penghuni kastil untuk mempersiapkan upacara penyambutan kedatangan King Kingdom besok.” Pintanya sebelum sosoknya perlahan mengabur dari pandangan Nickhun yang belum sempat menjawab perintah Yoochun.

Sepeninggal Yoochun, pria bertubuh atletis itupun menumbukkan pandangannya pada sosok Kyuhyun yang masih belum sadar. Ia kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang tempat Yoochun duduk beberapa saat lalu. Mata tajamnya tak pernah lepas memandang wajah Kyuhyun. Menatapi kontur wajahnya yang rupawan yang membuat ia jatuh hati pada junjungan dan adik angkatnya sendiri.

*

“Ayaaahh~”

Rombongan pria berjubah hitam yang baru saja menginjakan kakinya dibalai kastil pun tersenyum ketika mereka dikejutkan dengan suara nyaring yang menyambut mereka. Tak terkecuali salah seorang pria yang berada paling depan dirombongan tersebut.

Pria tersebut pun segera menyongsong bocah kecil yang baru saja memanggil dan berlari kearahnya. Menggendong dan memeluknya dengan erat.

“Ayah kenapa lama sekali pulangnya?” Tanya bocah tersebut dengan mimik kesal yang terlihat sangat menggemaskan. Membuat Nam Gil, sang Ayah mencium pipi putranya dengan gemas.

“Maafkan Ayah. Ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi selama ini.” Nam Gil mencoba menjelaskan pada Kyuhyun, putra bungsunya. Bukan tanpa alasan ia harus rela meninggalkan keluarga dan kastilnya selama lebih dari 3 bulan. Waktu yang cukup lama baginya dan rombongannya habiskan hanya untuk sekedar ‘berburu’ dan melakukan pertemuan dengan King Kingdom.

“Kau merindukan Ayah, nak?” Nam Gil menatap wajah Kyuhyun lekat.

“Nng.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya, “tapi sayangnya aku lebih merindukan Nickhun hyung, Ayah.” Jawab Kyuhyun polos seraya melongokkan kepalanya dari sisi bahu sang Ayah untuk mencuri pandang kearah seseorang.

Pemuda yang baru saja disebut namanya oleh sang Pangeran pun mendongakan kepalanya. Tersenyum ketika arah pandangnya bertemu dengan Kyuhyun yang juga menatapnya.

Tak lama kemudian, Kyuhyun pun segera meronta turun dari gendongan sang Ayah dan berlari memeluk kedua kaki Nickhun yang jauh lebih tinggi darinya. Nickhun yang mendapat perlakuan tersebut terenyum dan mengangguk sekilas pada Nam Gil layaknya meminta izin yang dibalas hal serupa oleh Raja Cho tersebut sebelum ia berlalu masuk meninggalkan putra dan kensei-nya.

Nickhun pun berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Kyuhyun yang segera disambut dengan pelukan erat dari Vampire kecil dihadapannya.

“Aku merindukanmu, Hyung. Hehe..” Kekeh Kyuhyun seraya memeluk erat leher pemuda kepercayaan Ayahnya.

Hati Nickhun berdesir kala ia merasakan tubuh kecil Kyuhyun dalam dekapannya. Perasaan abstrak yang serupa tiap kali ia berdekatan ataupun melakukan kontak fisik dengan Kyuhyun. Terlebih ketika ia mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan sang Pangeran dengan kekehan polosnya.

“Saya juga merindukan anda, Kyuhyun-sama.” Jawab Nickhun membelai punggung Kyuhyun yang berada dalam rengkuhannya.

“Kau tahu, hyung?” Sontak Kyuhyun melepaskan diri dari pelukan Nickhun, “Selama kau pergi dengan Ayah, aku tidak memiliki teman disini. Yoochun hyung terlalu sibuk dengan pasukan berperangnya. Aku bermain sendiri, makan sendiri, belajar di perpustakaan sendiri dan latihan pun juga sendirian. Menyebalkan.” Ia merajuk dengan ekspresi sebal.

Nickhun berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Kyuhyun. Menahan diri untuk tidak mencium bibir tipis yang tengah mengerucut lucu dihadapannya. Ia tak menyangka jika kepergiannya selama ini membuat Kyuhyun merasa tak senang yang berakhir dengan rajukan putra bungsu sang Raja. Kebiasaannya yang selalu mendampingi kegiatan Kyuhyun sehari-hari lah yang membuat ia menjadi dekat dan ketergantungan padanya. Kesempatan yang sangat ia syukuri karena dengan kebiasaannya tersebut membuat ia selalu dekat dan merasa dibutuhkan oleh Kyuhyun.

“Maafkan saya, Kyuhyun-sama. Sebagai permintaan maaf, saya berjanji akan menuruti apapun permintaan anda.”

Manik mata Kyuhyun berkilat demi mendengar janji Nickhun yang terdengar sangat menguntungkan baginya, “Sungguh?” tanyanya meyakinkan yang dibalas anggukkan Nickhun.

“Karena kau seorang kensei yang kuat, berjanjilah padaku untuk selalu melindungi kami semua. Aku, Ayah, Yoochun hyung dan semua yang ada dalam Cho Kingdom.”

*

“Pergi dari hadapanku!”

“Kyuhyun-sama..”

“Pergi! Karena kaulah yang membawa kami pergi dari kerajaan sehingga aku dan Yoochun hyung tidak bisa membantu Ayah untuk berperang! Karena kau lah Ayah terbunuh oleh makhluk setengah Vampire yang menyerang kerajaanku!”

“….”

“Aku tak mau melihat wajah seorang pengkhianat sepertimu!”

 

***

    Changmin menggeliatkan tubuhnya guna merelaksasikan persendiannya. Duduk dan berdiam diri didepan komputer selama lebih dari 5 jam membuat tubuhnya terasa kaku. Jika bukan karena tesisnya yang terbengkalai selama ini, mungkin ia akan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat letih.

Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Menghela nafasnya sebelum ia memejamkan mata.

*

…Ia yang kala itu tengah berburu dengan Dongwon yang tengah berpencar dengannya tiba-tiba mencium sebuah aroma yang tak lagi asing baginya. Aroma tersebut adalah aroma yang sama dengan aroma yang ia temui di tepi sungai beberapa waktu lalu.

Menuruti instingnya, ia pun berlari. Melesat menuju arah aroma demi tidak ingin mangsanya lolos unuk yang kesekian kalinya. Dan seringaiannya muncul ketika ia melihat sesosok tubuh yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Adrenalinnya terasa melonjak naik ketika mata bulatnya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak diantara reruntuhan pohon. Salah satu tangannya telah menggenggam Katana peraknya yang bersiap menghunus si Vampire yang tergeletak.

Namun, sepersekian detik berikutnya, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang ditimpa sinar bulan. Nafasnya tercekat. Darahnya terasa mengalir deras dengan dipompa oleh jantungnya yang berdetak keras.

Beberapa detik ia bergeming ditempat demi pandangan matanya yang bertemu dengan bola mata sewarna merah gelap itu. Bola mata yang seolah menariknya ke dimensi lain. Dimensi dimana ia melihat cahaya yang begitu terang. Cahaya yang menariknya dari kegelapan yang selama ini meligkupi diri dan kehidupannya.

*

Kelopak mata Changmin terbuka ketika ia merasakan bahunya disentuh pelan oleh seseorang.

“Aku pikir kau tertidur.”

Pria tinggi itu menggeleng pelan menanggapi pertanyaan seseorang yang kini berdiri disisinya.

“Bagaimana keadaan Dongwoon, hyung?”

Donghae membaringkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur Changmin, “Dia masih tertidur. Kurasa dia masih lemas karena efek penawar yang kau berikan.”

Changmin menegakan posisi duduknya kembali tanpa berniat menanggapi jawaban pria yang lebih tua beberapa tahun darinya. Ia memilih menyibukan perhatiannya pada layar komputer yang tengah menampilkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Dasar ceroboh. Bagaimana bisa ia tak sadar saat silver bracelet-nya hilang? Tsk.” Donghae mendecih mengolok adiknya yang masih tertidur dikamarnya. Pasalnya, karena kecerobohannya yang tidak sadar saat ‘gelang pelindung’-nya hilang itulah nyawanya nyaris melayang. Beruntung Changmin segera datang dan memberikannya penawar.

Changmin masih saja terdiam beberapa saat sebelum ia memecah keheningan dengan memanggil Donghae.

Hyung..”

“Ya?”

“Apa yang kau rasakan saat kau bertemu dengan Eunhyuk hyung?”

“Apa?!” Doghae terkejut dengan pertanyaan aneh dari sahabatnya. Ia bahkan sampai terlonjak dan mendudukkan tubuhnya karena terkejut. Tidak biasanya ia menanyakan Eunhyuk, kekasihnya. Changmin bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Terlebih yang menyangkut dengan kehidupan pribadi.

“Eunhyuk…Glad-mu.” Ucap Changmin memperjelas maksud pertanyaannya. Meskipun begitu, ia sama sekali tak mengubah posisi tubuhnya yang duduk membelakangi Donghae.

“Hey! Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu Changmin-ah? Apa kau sudah bertemu dengan Glad-mu? Siapa dia? Apa dia seorang manusia seperti Eunhyuk? Atau makhluk seperti kita juga?” berondong Donghae yang langsung menghampiri Changmin dan duduk di sudut meja belajar.

“Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaanku saja, hyung.” Changmin menjawab dengan menekankan intonasinya pada kata ‘satu’.

Donghae memutar bola matanya malas mendengar kalimat sarkatik tersebut.

“Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi jika aku telah menjawab pertanyaanmu. Deal?”

“Hhm.”

‘Dinginnya..’ Donghae membatin. Namun tak urung ia pun menjawab pertanyaan Changmin tentang Glad.

“Aku bertemu Eunhyuk ketika aku mengantarkan Bibi Goo ke Rumah sakit untuk medical check up-nya. Saat itu aku berpapasan dengannya yang sedang mendorong kursi roda milik adiknya yang baru saja kecelakaan. Kau tahu? Ketika aku melihatnya, jantungku terasa berdetak sangat kencang..” Donghae meletakkan tangannya pada bagian dadanya, bersikap seolah tengah merasakan detakan jantungnya ketika ia bertemu sang Glad.

“..darahku terasa mengalir deras hingga membuat tubuhku terasa kebas seperti tak memijak bumi. Sorot matanya membuat jiwaku seperti tertarik dalam dimensi lain yang penuh dengan cahaya yang membuatku terasa enggan untuk kembali dalam kegelapan yang seolah menyendera kita selama ini. Dan yang terpenting ialah, muncul perasaan untuk memuja, melindungi, memiliki, dan memenjarakannya untuk diri kita sendiri..”

Donghae terus saja menceritakan apa yang ia rasakan ketika ia bertemu sang Glad tanpa memperhatikan jika kalimat-kalimatnya itu menimbulkan reaksi ekstrem bagi sang lawan bicara. Tubuh Changmin kini menegang dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Mouse dalam genggaman tangannya kini bahkan telah remuk.

‘Perasaan itu..’

changmin beforeu go cap

To be Continue..

Long time no see..

Setelah sekian lama akhirnya bisa update sesuatu juga. Maaf untuk update-an yang superrr lama sampai menjamur T_T

 

I’m Entirely in Your Will – Chapter 6

Casts               : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors           : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre              : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating             : T

Summary         : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!         : Psychosis

 

CHAPTER 6

 

Kyuhyun bangun dengan rasa pening di kepalanya. Semalam ia terlalu banyak minum dan.. yah.. Ia dan Siwon bercinta. Ia tidak mau menyalahkan dirinya apalagi Siwon atas apa yang telah terjadi.

Walau hati dan pikirannya masih tertuju pada Roberto, namun ia sendiri harus mengakui bahwa ia memang tertarik pada Siwon. Tidak hanya pada fisik semata, tapi juga hal-hal kecil yang telah lelaki itu lakukan untuknya. Dan hal itulah yang membuatnya cukup yakin bahwa ia menyukai lelaki yang jauh lebih muda darinya itu.

Kyuhyun menoleh ke sekeliling dan mendapati kamarnya yang bersih, hanya tempat tidurnya saja yang tampak sedikit berantakan. Aneh, karena walaupun ia sering merapikan kamarnya, dengan kejadian malam tadi, tidak mungkin keadaannya seperti ini.

Ia baru mendapatkan jawabannya ketika matanya menangkap sebuah piring di atas meja pajangan di samping tempat tidurnya. Piring itu berisi beberapa potong home made sandwich. Secarik kertas terbaring di samping piring itu.

‘Siwon.’ Pikir Kyuhyun. Ia segera meraih kertas itu lalu membacanya dengan senyum bahagia terukir di wajahnya.

 

Maafkan karena aku harus pergi pagi-pagi sekali, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku akan kembali sebelum makan malam. Tunggu aku.

PS : Kau benar-benar mengagumkan semalam. Love. Siwon.

 

Pipi Kyuhyun memanas seiring hatinya yang menghangat. Lihat, betapa lelaki itu memanjakan dan memperhatikan segala sesuatu tentang dirinya. Tentang Kyuhyun yang berantakan, tentang Kyuhyun yang enggan memasak sendiri, tentang dirinya yang.. cepat terbuai oleh kata-kata manis..

Perutnya yang berbunyi lemah tanda ia kelaparan menyadarkannya. Dengan cepat dilahapnya beberapa potong sandwich itu lalu bergegas untuk mandi. Kyuhyun menghabiskan waktu berendam di bath up cukup lama, bukan hanya karena ia ingin membersihkan sisa-sisa percintaan semalam yang masih lengket sebelum ia mandi tadi. Tapi entahlah, ia ingin tampak terlihat sempurna saat Siwon datang nanti, atau bahkan ia ingin Siwon segera datang dan mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Kembali ia tersenyum malu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika ia selesai mandi. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Pementasan telah selesai, artinya ia tidak punya naskah yang harus ia kerjakan. Dan apartemennya terlihat sangat bersih walaupun sehari-hari ia selalu merasa cukup berat untuk membersihkannya. Namun tangan lain telah membantunya pagi ini, membuatnya senang sekaligus sedikit kesal karena ia jadi tidak punya pekerjaan.

Andai saja Siwon ada. Mereka mungkin bisa jalan-jalan ke luar, atau mungkin hanya menonton dvd seperti yang beberapa hari ini sering mereka lakukan bersama.

Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar. Berjalan-jalan sendirian sejenak mungkin baik untuknya. Sekalian refreshing, pikirnya. Ia pun meraih jaketnya, memakai sepatunya dan melangkah ke luar apartemennya.

*

 

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Roberto berdiri di sana. Lelaki itu tampak pucat dan letih, namun masih saja tetap tampan. Tetap bisa membuat hati Kyuhyun bergetar. Namun dengan cepat Kyuhyun menguasai dirinya.

“Ada apa?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Roberto.

Kyuhyun tertawa kecil. “Bukankah ini adalah tempat umum? Semua orang boleh datang kemari bukan? Kau tidak kopi ini? Aku datang untuk menikmatinya.”

Saat itu memang dirinya tengah berada di salah satu kedai kopi kecil di ujung jalan. Biasanya tempat itu ramai dikunjungi. Namun di siang hari memang cukup sepi, mengingat pelanggannya adalah pegawai kantoran yang memenuhinya di waktu pulang kerja.

Dekorasinya menarik, ditambah dengan alunan musik yang mengalun dari speaker di setiap sudutnya, membuat siapa saja betah berlama-lama di sana. Dan jangan tanya tentang harganya atau rasa kopi maupun cake-nya, semua orang pasti menyukainya. Sangat cocok dengan selera Kyuhyun.

Roberto tersenyum jengah seraya mengangguk. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya menunjuk kursi di depan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja.”

“Bagaimana kabarmu? Kau.. Kau tahu.. Kau benar-benar luar biasa mengenai naskah pementasan kemarin dan..”

“Kau sudah mengatakannya, kau ingat?” potong Kyuhyun cepat.

Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Seolah menikmati suara musik yang mengalir diantara mereka, padahal pikiran mereka tengah tertuju satu sama lain.

“Kyu..” Roberto memecah keheningan.

Kyuhyun hanya menjawab dengan ‘hmm’ kecil tanpa mengangkat tatapannya dari cake yang ia permainkan dengan garpu kecilnya.

“Apa kau bahagia? Maksudku.. Apa kau dan Siwon..”

“Aku bahagia.” Lagi-lagi Kyuhyun menjawab cepat memotong perkataan Roberto. Dan ia mendapati wajah lelaki di depannya tampak terkejut. Entah mengapa Kyuhyun merasa puas akan hal ini.

“Dan Siwon adalah lelaki yang sangat baik. Ia memperhatikanku, menjagaku dengan baik dan memanjakanku. Ia juga selalu ada untukku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?” jawab Kyuhyun lagi. Kini kepuasannya semakin menjadi-jadi melihat mimik wajah Roberto yang tampak merana.

“Mengapa kau menyukainya? Ia.. Ia adalah milik Hee Seo. Kau tidak boleh masuk begitu saja dalam hubungan percintaan orang lain.” Kata Roberto.

Sungguh, ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun bisa jadi seperti ini. Dengan cepat bisa menelan semua kebaikan Siwon tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Siwon sudah punya kekasih. Dan parahnya Kyuhyun dan Hee Seo saling mengenal satu sama lain.

“Mereka sudah putus.” Jawab Kyuhyun enteng.

“Apa? Tidak mungkin!” balas Roberto tak percaya.

“Mungkin saja.” Kata Kyuhyun lagi dengan nada yang sama. “Jika dua orang berpacaran, mereka bisa saja putus bukan? Apa yang tidak mungkin di dunia ini?”

Ini bukan dirinya. Kyuhyun menyadari hal ini. Sejak kapan ia berani bicara dengan nada seperti itu kepada Roberto? Tapi ketika mengingat kata-kata penolakan dari Roberto setelah ia menyerahkan seluruh hatinya pada lelaki itu, ia jadi marah. Terlebih setelah Roberto seolah mengingatkannya akan hubungan Siwon dan Hee Seo.

“Mengapa kau jadi seperti ini? Aku ingin kau kembali seperti dulu.”

“Aku sudah seperti ini sejak dulu. Kau hanya belum mengenalku dengan baik.” Walau bibirnya berkata seperti itu, tapi hatinya berkata lain. Entah mengapa ia merasa bodoh.

“Ayolah Kyu, kita mungkin belum lama bersama. Tapi aku cukup mengenalmu. Kembalilah padaku. Kita bisa memulai semua dari awal. Seperti dulu.”

Kyuhyun tertawa. “Setelah kau menolakku, lalu kini kau ingin kembali padaku? Kau ini benar-benar lucu.”

“Aku.. punya alasan mengapa aku harus memutuskanmu.” Jawab Roberto pelan.

“Apa alasannya?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Kyuhyun mendecih. “Kalau begitu aku juga punya alasan untuk tidak kembali padamu.”

“Ini bukan dirimu. Kau adalah lelaki baik hati yang lugu dan sopan. Mengapa kau jadi seperti ini? Apa Siwon telah merubahmu?” tanya Roberto dengan nada tinggi.

“Kenapa kau harus menyalahkan Siwon atas semua ini? Kau lah yang telah merubahkau seperti ini. Kau yang membuat aku harus berjuang untuk membencimu. Kalau bukan karena Siwon, mungkin aku sudah benar-benar terpuruk sekarang!” Kyuhyun berang.

Kali ini Roberto yang tertawa. “Oh, yah.. Siwon yang baik hati. Siwon yang perhatian dan manis. Kau hanya tidak tahu siapa dia yang sebenarnya.”

Kyuhyun mengangkat satu alisnya. “Apa maksudmu? Jangan merendahkan dia seperti itu sedangkan kau sendiri bertingkah seperti lelaki pengecut yang mencampakkan kekasihmu sendiri tanpa alasan yang jelas.”

Roberto tidak tahan lagi. “Kau tahu apa yang menjadi alasanku memutuskanmu? Siwon! Ya, lelaki itu yang membuatku jadi seperti ini, mengubahmu jadi seperti ini, dan menghancurkan hubungan kita.”

“Jaga perkataanmu! Siwon tidak seperti itu.”

Roberto mendelik. “Kau pikir siapa yang membuat kakiku jadi seperti ini? Kau pikir siapa yang membuat aku terpaksa harus tinggal lebih lama di rumah sakit padahal aku telah dirawat sebaik-baiknya tapi kondisiku tidak menunjukkan tanda-tanda baik justru semakin memburuk? Kau kira siapa yang sering mengunjungiku tiap malam dan mengancamku, menorehkan pisau di kulitku, mencekikku bahkan menutupi wajahku dengan bantal hingga aku kesulitan bernapas hanya karena ia ingin aku melepaskanmu?”

“Tidak mungkin!” bantah Kyuhyun keras.

“Dan kau pikir.. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu di saat hubungan kita sedang baik-baik saja? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang telah merawatku dengan baik bahkan harus ikut jatuh sakit hanya karena fokus menjagaku? Aku mencintaimu, tidak mungkin aku mau melepaskanmu begitu saja andai Siwon tidak masuk dalam hubungan ini. Ia mengancam, setelah aku, ia akan melukai orang-orang di sekelilingmu. Dan jika aku bersikeras, pementasan kemarin akan hancur. Katakan.. Bagaimana aku seharusnya menghadapi masalah itu?”

“Aku tahu, berhentilah bicara omong kosong!”

Kyuhyun berdiri dari kursinya, meletakkan selembar uang yang seharusnya ia menunggu kembalian karena nominal uangnya cukup besar, tapi ia tidak peduli. Ia lalu berjalan keluar dengan langkah-langkah lebar. Ia cukup kesal dengan sikap Roberto yang dinilainya terlalu kekanakan dengan menjelekkan Siwon hanya untuk mendapatkan dirinya kembali.

“Kyu.. Kyuhyun, tunggu! Dengarkan aku dulu.” Roberto sudah berhasil mengejarnya dan menarik tangannya.

Kyuhyun mengibaskan lengannya hingga pegangan Roberto terlepas. “Aku tidak mau dengar apa-apa. Kau membuatku muak. Minggir!”

“Kyu.. Percayalah padaku. Aku tidak berbohong padamu.. Aku..”

“Tinggalkan aku sendiri!” bentak Kyuhyun dengan nada dingin. “Jangan membuatku semakin membencimu.”

Roberto mengalah. Ia hanya bisa memandang sosok Kyuhyun yang berjalan dengan langkah cepat menjauh darinya.

*

 

Roberto masih terus mengganggu Kyuhyun dengan pernyataan yang sama selama beberapa hari ke depan. Dan ia maish tidak peduli. Walau memang Siwon mengejarnya dengan gigih, namun ia tidak mungkin melakukan hal serendah itu, bukan? Roberto terlalu mengada-ada. Melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan Kyuhyun kembali. Lupakah ia, siapa yang mencampakkan Kyuhyun pada awalnya?

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Benarkah ini kau?”

Sebuah suara menyapa Kyuhyun yang tengah duduk memegang bukunya di bangku taman. Ia boleh tampak seperti membaca, tapu jika diperhatikan dengan seksama, matanya terpaku pada satu titik, artinya pikirannya sedang tidak ada pada buku di tangannya.

Kyuhyun menegadah. Ketika memperhatikan wajah tampan di depannya dengan seksama, bibir sewarna cherry-nya membentuk lingkaran sempurna. “Oh? Changmin? Shim Changmin? Changmin-ahhhhhhh…!!!!”

Ia bubur-buru bangkit dari duduknya lalu menyerbu lelaki jangkung di depannya dengan pelukan hangat.

“Wah.. kau tampak semakin tampan saja. Dan lihat kulitmu yang kecoklatan. Astaga.. kau tampak benar-benar seksi sekarang!” pekik Kyuhyun girang.

Changmin tersenyum lebar. Kulit coklatnya bahkan tidak bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang muncul ketika mendengar pujian sahabat lamanya itu.

Changmin dan Kyuhyun memang bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka berpisah di tengah masa kuliah mereka karena ayah Changmin dipindah tugaskan ke Australia. Kesibukan masing-masing serta perbedaan waktu membuat keduanya jarang berkomunikasi.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kau lagi di sini. Kudengar kau pergi ke Amerika. Benarkah?” tanya Changmin. Matanya berbinar-binar, masih takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Kyuhyun mengangguk bersemangat. “Aku hanya pergi sebentar, tidak lama. Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali?”

“Aku merindukan kota ini, tentu saja.” Jawab Changmin. “Dan dirimu..” ia menambahkan sembari menyikut lengan Kyuhyun. Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya.

“Kau belum berubah. Masih cheesy seperti dulu. Aku benar-benar merindukanmu. Banyak yang ingin kuceritakan. Ayo ke apartemenku, tempatnya tak jauh dari sini.”

“Baiklah. Kebetulan hari ini aku bebas.”

Sepanjang perjalanan tak hentinya kedua lelaki itu saling bertukar cerita, terkadang diselingi tawa atau protes, tapi percakapan itu terus mengalir tiada henti. Kyuhyun bercerita mengenai New York, pekerjaannya untuk pementasan Onegin dan bagaimana pementasan itu berakhir sempurna. Sedangkan Changmin bercerita tentang semua petualangannya di negeri Kanguru.

“Apartemenmu bagus. Dan cukup rapi. Aku masih ingat betapa berantakannya dirimu.” Sindir Changmin.

“Ada seseorang yang merapikannya untukku.” Jawab Kyuhyun malu-malu.

“Ohoooo.. Rupanya kau punya pendamping sekarang? Kenalkan padaku. Aku harus menilainya terlebih dahulu.” Canda Changmin.

“Kau pasti akan memberinya nilai delapan atau sembilan. Dia tampan, baik hati dan sangat perhatian kepadaku. Yah.. sebelumnya aku memang menjalin kasih dengan lelaki lain, namun saat ia mencampakkanku, lelaki ini lah yang datang dan menghiburku.” Terang Kyuhyun seraya meletakkan secangkir kopi kesukaan Changmin di meja ruang tengah, tempat keduanya kini duduk berhadapan di sofa panjang.

“Kedengarannya ia memang cukup baik.”

Mereka sibuk bercakap-cakap setelah itu. Membicarakan semua yang telah terjadi dan mengenang masa-masa mereka di sekolah dulu. Kyuhyun sudah menganggap Changmin seperti saudaranya sendiri. Ia tidak merasa risih sama sekali jika sahabatnya meletakkan kepalanya di pangkuan Kyuhyun sembari bercerita.

Tiba-tiba bunyi pintu terbanti keras terdengar. Keduanya terlonjak di tempatnya lalu menoleh ke arah pintu masuk utama.

“Siwon? Kau sudah pulang? Kau membuat kami kaget.”

Siwon mendengus. “Iya. Lalu kenapa? Apa kau mau aku mengetuk dulu agar tidak melihatmu bermesraan dengannya?”

Kyuhyun terpana sesaat, mencoba mencerna kata-kata Siwon barusan. Setelah beberapa detik ia terkikik. “Ini Changmin, sahabatku. Kami baru bertemu lagi hari ini dan yah kau tahu, reuni kecil.”

Changmin berdiri dari duduknya. Dengan sikap sopan ia mengangguk kecil. “Halo. Aku Shim Changmin.”

Dengan raut wajah yang tetap datar, Siwon mendekati Changmin dengan cepat. Changmin menyodorkan tangannya, ingin bersalaman. Namun alih-alih menyambut uluran tangan itu, ia justru menghadiahkan tinjunya ke wajah lelaki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya itu.

“Changmin!” pekik Kyuhyun, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Changmin ke lantai.

Siwon tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan aksinya dengan kembali memukuli Changmin hingga babak belur, mengabaikan protes-protes keras yang berujung permohonan agar ia segera menghentikan perbuatannya dari Kyuhyun. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sama sekali walaupun Kyuhyun sudah menangis.

“Siwon-ah.. hentikan.. Kumohon..”

Tapi Siwon tidak peduli. Ia baru berhenti ketika Changmin tak bergerak di bawahnya. Hanya nafas tersengal-sengal yang membuktikan lelaki itu masih hidup. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. Kyuhyun segera menghampiri Changmin dan membersihkan darah di wajah sahabatnya itu dengan ibu jarinya.

“Kau! Berani sekali kau menyentuh Changmin!” jerit Kyuhyun marah, menegadah menatap Siwon dengan berang.

Siwon tampak terhina. “Seharusnya aku yang berkata demikian! Berani sekali ia menyentuhmu!”

“Dia sahabatku! Berani sekali kau membuatnya seperti ini!”

“Tidak ada sahabat yang menyentuh seperti itu. Dia pikir siapa dia? Sekali lagi dia berani melakukannya, akan kupatahkan tangannya.”

“Kau gila!”

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya lalu menelepon ambulans. Setelah itu ia kembali fokus kepada Changmin. Airmatanya kembali menetes, sakit melihat sahabatnya diperlakukan sedemikian rupa. Terlebih yang melakukannya adalah Siwon, lelaki yang ia sukai. Siwon hanya duduk menatap Kyuhyun. Pandangannya tajam dan menusuk.

Ketika akhirnya bantuan datang dan Changmin dibawa oleh para petugas medis, Kyuhyun menyambar jaketnya dan ingin ikut. Namun baru saja kakinya akan melangkah melewati pintu, tangannya sudah ditarik oleh Siwon.

“Kau tidak akan pergi kemana-mana.”

Kyuhyun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi cengkraman Siwon jauh lebih kuat. “Lepaskan. Biarkan aku pergi. Karena aku lah Changmin jadi seperti ini. Setidaknya aku harus menemaninya.”

“Orang lain bisa melakukannya untukmu. Sekarang masuk.” Perintah Siwon seraya menyentakkan lengan Kyuhyun agar lebih mendekat ke tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke tubuh yang masih senantiasa berontak itu. Satu kakinya menendang pintu hingga menutup.

“Lepaskan aku! Lepas..!” jerit Kyuhyun marah. Wajahnya sudah memerah. Hatinya dipenuhi kemarahan sekaligus benci.

“Diam!” bentak Siwon. Ia menyeret Kyuhyun ke kamar lalu menghempaskannya ke tepat tidur. Ia hanya mengalihkan pandangannya sejenak untuk mengunci pintu. Setelah itu ia kembali menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Menyadari hal itu, Kyuhyun bangkit berdiri dan beringsut mundur. Ketakutan tampak jelas di wajahnya. Terlebih ketika Siwon mulai melangkah maju pelan-pelan.

“Mundur.. Jangan mendekat.. Kubilang mundur!”

Tapi Siwon tetap melangkah. “Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Hanya aku!”

Tangan panjang Siwon menjangkau Kyuhyun dengan sigap lalu menyatukan tubuh mereka berdua. Dengan ganas diciumnya bibir Kyuhyun. Berulang kali Kyuhyun berusaha melepaskan pagutan itu, tapi berulang kali pula Siwon tetap mempertahankannya. Kyuhyun sampai susah bernafas. Kembali ia menangis.

Ketika bibir mereka berhasil terlepas, Kyuhyun menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya karena pasokan oksigen di paru-parunya nyaris habis.

“Hentikan.. Ada apa.. denganmu.. Kumohon..” Tersendat-sendat ia bicara, berharap Siwon akan melepaskannya.

Namun jangankan melepaskannya, pelukan lelaki itu justru semakin menguat, nyaris meremukkan tulang-tulang Kyuhyun saat itu.

Berikutnya ciuman-ciuman kasar Siwon beralih ke daun telinga Kyuhyun, lalu turun ke leher mulusnya, meninggalkan bercak-bercak merah di sana.

Kyuhyun menggeleng kuat. Ia tidak mau melayani nafsu lelaki di depannya itu apalagi setelah yang terjadi. Pikirannya hanya tertuju pada Changmin kini. Bagaimana keadaannya? Siapa yang menemaninya di rumah sakit? Apa pihak rumah sakit sudah menghubungi kedua orang tuanya?

“Siwon.. Siwon! Hentikan! Aku tidak mau..”

Seperti sebelumnya, Siwon seperti tuli, sama sekali tidak mendengarkan penolakan Kyuhyun. Ia bahkan semakin gencar menggerayangi tubuh itu tanpa ampun. Ia bahkan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur dengan tubuh Kyuhyun yang tak berdaya di bawahnya.

Susah payah Kyuhyun mendorong tubuh kekar Siwon agar menyingkir dari tubuhnya. Baru kali ini ia menyadari betapa kuatnya lelaki itu. Sebelum-sebelumnya ia selalu memperlakukan Kyuhyun dengan lembut. Mengapa ia jadi seperti ini?

Dan lagi, ia baru saja melukai orang lain, bagaimana mungkin ia memikirkan untuk bercinta padahal nyawa seseorang tengah dipertaruhkan karena egoismenya?

Kyuhyun masih sibuk melarang dan mendorong Siwon sedangkan Siwon melakukan hal sebaliknya. Detik berikutnya, ia sudah merobek kaos yang Kyuhyun kenakan dengan kasar..

*

wonkyu love ieyw6

 To be continued..

 

 

I’m Entirely In Your Will [Chapter 5]

wonkyufairy

Casts :  Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo
Authors :   rioter9 , wonkyuniichanAryadhanie
Genre :  Angst, Romance, Ballet!AU
Rating :  T
Summary :  Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.
Warning! :  psychosis

Chapter 1    Chapter 2Chapter 3Chapter 4

.

.

Mata Kyuhyun refleks menutup saat bibir Siwon menyapu bibirnya. Kyuhyun ingin sekali mendorong pria di atas tubuhnya, namun tubuhnya sendiri seakan menolak pikirannya. Bibir itu kemudian menggigit bibir atasnya, membuat dirinya mati-matian menahan desahan saat lidah Siwon mulai menginvasi rongga mulutnya. Bibir dan lidah Siwon bergerak seirama, seakan memabukan. Gelas yang daritadi ia pegang sudah tergeletak di karpet putih bawah sofanya. Setelah ini dia terpaksa harus mengirimkan karpet itu ke laundry.

Kedua tangan Kyuhyun beralih melingkar di leher Siwon. Meremas tengkuk pria itu, menikmati apa yang Siwon lakukan terhadapnya. Kyuhyun membalas ciuman itu. Siwon tersenyum tipis di sela ciumannya, kini bibirnya beralih…

View original post 2,822 more words

Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

I’m Entirely In Your Will [Chapter 4]

Please leave your comments guys, we’ll apreciate it a lot 🙂

Under The Gamboge Tree

Casts :   Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo
Authors :     rioter9   , wonkyuniichan  ,   Aryadhanie
Genre :   Angst, Romance, Ballet!AU
Rating :   T
Summary :   Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.
Warning! :   psychosis

Selama berada di Seoul, baru kali ini Siwon mengenal pria seperti Kangin yang penuh obsesi

View original post 1,431 more words

Million Words – Chapter 7

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin, etc.

Pair : ChangKyu, BinKyu

Genre : BL, Romance, Angst

Rate : T

Warning : BL, OOC, Typo (es)

 

CHAPTER 7

Kyuhyun tak mengerti dengan perasaan sesak yang terasa menghimpit dadanya. Rasa yang bercampur dengan gemuruh hebat hingga menghasilkan rasa sakit dan luka tak kasat mata pada hatinya.

Ia memejamkan kedua matanya. Alih-alih untuk beristirahat dan menenangkan diri, namun sekejap kemudian matanya kembali terbuka seolah tengah dihantui oleh kegelisahan yang tengah mendominasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ia lelah. Tak hanya fisiknya, pikirannya pun merasakan hal yang serupa. Meskipun begitu, raganya seolah tak menginjinkan dirinya untuk beristirahat.

Semenjak kepulangannya setelah mengunjungi rumah saudara Woobin, ia menangis. Hingga Woobin yang mengantarnya pulang ke apartement pun kebingungan. Tak tahu harus bersikap seperti apa melihat guru geografinya itu menangis sepanjang perjalanan. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan kemauan Woobin yang bersikeras ingin menemaninya di apartement hingga ia harus mengusirnya dengan paksa.

Ia masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang ia alami dirumah yang ia tahu merupakan sepupu dari Woobin. Seperti disaat ia melihat sebuah foto yang berisi gambar Changmin, tunangannya tengah tersenyum bahagia dengan seorang wanita dan seorang anak kecil dalam dekapannya.

“Chang..min.” Gumam Kyuhyun lirih.

Ia mematung ditempat untuk memastikan jika sosok lelaki yang tergambar dalam foto di hadapannya merupakan lelaki serupa yang berstatus menjadi tunangannya. Dan ia tak mungkin salah menerka. Menjalin hubungan dengannya selama lebih dari tujuh tahun membuat ia tak mungkin tak mengenali sosok Changmin meski dalam bentuk foto sekalipun.

“Eomma..” Rengek Minseok berusaha melepaskan diri dari gendongan Myungsoo. Anak kecil itu nyaris menangis ketakutan melihat ibunya tiba-tiba menjatuhkan gelas di hadapannya.

Tak jauh berbeda dengan Minseok, Myungsoo dan Jongin pun merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama. Karena dengan sigap Jongin segera meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan tumpahan susu dan serpihan pecahan kaca yang berserakan di sekitar Kyuhyun.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Jongin menyentuh bahu Kyuhyun yang tampak masih terpaku.

“Kyuhyunnie!”

Panggil suara berat milik seorang laki-laki yang langsung menghampiri Kyuhyun. Tanpa ragu ia pun merengkuh tubuh ringkih tersebut yang masih belum beranjak dari posisinya yang tengah menunduk.

“Bibi~” Panggil Minseok dengan riang melihat sosok yang tiba-tiba muncul.

“Woobin-ah?”

“Bisakah kalian berdua membawa Minseok keluar?” Pinta Woobin dengan nada rendahnya yang memerintah.

Mengerti isyarat tersebut, Jongin serta Myungsoo yang masih menggendong Minseok pun melangkah keluar. Tak peduli Minseok yang meronta keras, memaksa untuk menghampiri ibu dan uncle-nya.

“Kyuhyunnie…”

“Woobin, apa maksudnya? Changmin.. dia..”

Woobin memandang foto tersebut dengan tatapan sarat akan kebencian. Kyuhyun pasti akan mengetahui hal ini, cepat atau lambat. Tapi bagaimana jika itu terjadi sepuluh tahun kemudian? Kyuhyun akan terus hidup dalam kebohongan kekasihnya. Maka ia yang harus mengambil tindakan. Namun ia tak pernah menyangka jika melihat keadaan Kyuhyun saat ini pun membuat ia merasakan rasa sakit yang sama.

Ia meraih wajah Kyuhyun dan menghadapkan padanya. Rasa sakit itu semakin menghujam perasaannya kala ia melihat wajah Kyuhyun tampak merah padam dengan bola matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.
Dalam hati ia bersumpah akan membalas perbuatan pria pengecut yang telah membuat Kyuhyun-nya serapuh ini.

“Woobin-ah..”

Suara lembut seorang wanita membuat Woobin mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Seorang wanita yang masih berdiri kaku dihadapannya dengan raut keterkejutan yang belum sirna dari wajahnya.

“Yeon Hee noona..”

*

Woobin menatap Kyuhyun dalam. Saat ini, mereka telah berada di apartemenn Changmin dan Kyuhyun. Semenjak kepulangan mereka dari rumah sepupunya, Yeon Hee, Kyuhyun sama sekali tak mengucapkan kalimat apa pun. Bahkan menatapnya pun ia enggan.

Selama beberapa waktu ia hanya terus memperhatikan sosok Kyuhyun yang terlihat sibuk dalam pikirannya sendiri. Dan ia merasa jengah diacuhkan Kyuhyun seperti ini.

“Ceritakan padaku..”

Suara parau Kyuhyun memecah kebisuan diantara mereka. Meskipun kalimat tersebut jelas ditujukan pada lelaki di hadapannya, namun Kyuhyun sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Woobin. Matanya menatap pada arah lain dengan tatapannya yang kosong sarat tanpa makna.

Baru beberapa saat kemudian ia menatap mata Woobin ketika lelaki tersebut tak merespon pertanyaannya. “Bisakah kau menceritakan padaku, Woobin-ah?”

“Apa yang ingin kau ketahui?” Tanya Woobin seolah menantang.

“Semuanya.”

“Bukankah Yeon Hee noona sudah menjelaskan semuanya padamu?”

Kyuhyun sedikit berjengit kala ia mendengar nama Yeon Hee terucap. Sebuah nama yang menjadi bagian dari kenyataan menyakitkan yang baru ia ketahui.

“Aku hanya sekedar mengetahui jika Minseok merupakan anaknya dengan Changmin..” Kyuhyun menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan dirinya mengucapkan kalimat tersebut.

“…tentang pernikahan mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun serta permintaan maafnya padaku. Saat aku menanyakan cerita lebih lanjut, ia hanya memintaku untuk menanyakan langsung pada Changmin.”

“Kenapa kau tidak bertanya saja pada lelaki pengecut itu?”

“Berhenti menyebut Changmin sebagai lelaki pengecut!”

“Dia memang pengecut!” Sentak Woobin kasar, “Ia seorang pengecut yang menghamili seorang perempuan sementara ia telah bertunangan dengan orang lain!”

Kyuhyun tersentak. “Menghamili?”

“Kau terkejut?” Tanya Woobin dengan nada sinis tanpa mempedulikan reaksi Kyuhyun. “Karena lelaki itulah kehidupan Yeon Hee noona menjadi berantakan.”

Woobin menggeram menahan amarah. “Yeon Hee noona hanyalah seorang gadis lugu yang kemudian dicampakan oleh si pengecut itu, pada awalnya. Mereka berdua adalah rekan bisnis dengan perusahaan ayahnya yang merupakan salah satu donatur untuk yayasan pria tersebut. Dengan relasi yang demikian membuat mereka sering melakukan perjalanan bisnis bersama…

“…hingga pada suatu hari si pengecut itu meminta Yeon Hee nunna untuk melakukan hubungan badan. Noona yang memang pada awalnya tertarik dengannya pun tak menolak.”

Kyuhyun masih terdiam tanpa berkomentar. Meskipun dalam hati ia ingin menyangkal jika Changmin-nya tidak akan tega mengkhianatinya. Dengan perlakuan Changmin selama ini padanya, tentu kenyataan bahwa Changmin mengkhianatinya tidak dapat dengan mudah ia percaya.

“Semenjak itupun hubungan mereka semakin dekat. Noona tentu saja tidak mengetahui jika ia telah memiliki tunangan hingga ia dinyatakan hamil beberapa bulan kemudian.” Rahang Woobin mengeras, seperti tengah menahan emosinya kala ia mengingat cerita tersebut.

“Mengetahui kehamilan noona, orang tuanya pun mengusirnya dari rumah. Kehamilan tersebut tentu saja merupakan aib bagi keluarga, terlebih ketika mereka mengetahui jika noona hamil dengan seorang pria yang telah memiliki tunangan.”

“Yeon Hee noona meminta pertanggung jawaban padanya, awalnya pria brengsek itu menolak dengan dalih jika ia telah memiliki tunangan. Namun dengan desakan noona dan keinginan pria itu untuk memiliki keturunan yang dengan jelas tidak bisa didapatkan darimu yang notabene-nya adalah seorang laki-laki..”

Woobin melirik sekilas pada Kyuhyun saat ia menyinggung tentang gender-nya. Dan ia dapat melihat jika kedua tangan Kyuhyun mengepal erat diatas pahanya. “…ia pun bersedia menikahi noona tiga tahun yang lalu. Demi Minseok, putra mereka. Serta demi rasa cintanya pada Changmin, Yeon Hee noona merelakan dirinya menjadi istri simpanan pria pengecut itu. Merelakan dirinya diusir dan dibuang oleh keluarganya sendiri.”

Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Membiarkan diri mereka terlarut dalam perasaan masing-masing. Perasaan benci pada Changmin yang semakin membuncah dalam diri Woobin, serta rasa sedih dan kecewa yang dirasakan oleh Kyuhyun.

“Apa Changmin mengetahui jika kau adalah sepupu Yeon Hee?” tanya Kyuhyun kemudian.

Ia masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, saat pertama kali ia dan Changmin bertemu dengan Woobin. Changmin sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda jika ia mengenal Woobin. Ia bersikap normal layaknya bertemu dengan orang asing yang baru ia temui. Bahkan tak segan Changmin memuji sikap sopan Woobin yang pada saat itu membuat dirinya jengkel.

Woobin menggeleng, “Aku selalu mengunjunginya setelah memastikan pria itu tak ada di sana. Bertemu dengannya membuat keinginanku untuk menghancurkan kehidupannya semakin besar.” Jelas Woobin tanpa merasa segan mengungkapkan kebenciannya pada Changmin. Menyebut namanya saja ia tak sudi. Dan bertemu dengan pria yang ia cap pengecut itu tentu saja membuat keinginan untuk menghancurkannya semakin meluap.

“Lalu, apa kau mendekatiku pun merupakan salah satu caramu untuk menghancurkan Changmin?”

“Apa?” Sentak Woobin terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika Kyuhyun akan menanyakan hal yang demikian.

“Bukankah sudah jelas? Kau yang seorang siswa biasa, mendekatiku yang merupakan gurumu. Kau pun mengetahui jika aku telah memiliki Changmin, tunanganku sekaligus pria yang sangat ingin kau hancurkan itu. Dan kau sama sekali tak pernah memperdulikan hal tersebut hingga hubunganku dengan Changmin hancur seperti saat ini.”

“Ya. Pada akhirnya..” Suara Woobin lirih.

Kyuhyun tersentak. Untuk kesekian kalinya ia merasakan rasa sakit itu lagi. Ia merasakan belati imajiner terasa mengoyak hatinya. Benarkah apa yang ia dengar? Jika dirinya merupakan alat untuk menghancurkan Changmin karena dendamnya?

“Tapi aku bersumpah, Kyuhyunnie! Jika hal itu tidak sepenuhnya benar. Awalnya aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menghancurkan hubunganmu. Aku tertarik padamu bahkan saat pertama kali aku melihatmu. Dan keinginanku untuk memilikimu semakin besar setelah aku mengetahui jika Changmin adalah tunanganmu…”

Woobin beranjak menghampiri Kyuhyun yang tampak akan menangis. Ia mengulurkan tangannya berniat untuk menghapus air mata lelaki manis itu yang mengalir di pipinya. Namun dengan kasar Kyuhyun menyentaknya.

“Kyuhyunnie..”

“Jangan sentuh aku!”

“Kyu-“

“Pergi.” Pinta Kyuhyun mendorong pelan dada Woobin untuk beranjak dari sisinya. Suaranya bergetar tertelan oleh isakannya. “Aku mohon..pergi dari sini..”

Woobin bergeming. Melihat Kyuhyun yang sehancur ini membuat ia bertekad untuk menenangkannya. Tak mendapat respon, Kyuhyun pun beranjak dan menarik pergelangan Woobin dengan kasar. Menyeretnya keluar setelah ia membuka pintu apartement-nya. Woobin bisa saja memberontak dan melawan Kyuhyun. Namun keinginannya untuk memberontak seketika luluh demi melihat wajah Kyuhyun yang basah karena air mata.

BRAK!

Tubuh Kyuhyun merosot seketika dan bersandar pada pintu. Menangis dalam diam. Meratapi rasa sakit dan kekecewaan yang menguasai hatinya. Rasa kecewa yang ia dapatkan dari Changmin tentang pengkhianatannya semakin bertambah setelah mengetahui motif Woobin mendekatinya. Ia tak pernah berharap jika pria yang mampu membuatnya jatuh cinta padanya tega mempermainkan perasaannya hingga sedemikian rupa.

Di lain sisi, Woobin pun masih berdiri ditempat untuk beberapa saat. Menatapi pintu kayu dihadapannya dengan pandangan kosong. Hingga tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Eomma..”

*

Sudah seminggu Kyuhyun mengurung diri dikamarnya. Tak dipedulikannya orang-orang yang berusaha menghubungi, menemui bahkan mencarinya sekalipun. Ponselnya pun telah mati kehabisan baterai karena ia sama sekali tak berniat untuk mengisinya. Tak terhitung berapa puluh panggilan dan pesan masuk yang ia abaikan. Sama sekali tak berniat untuk menerima dan membukanya sekalipun.

Tak terkecuali Changmin. Ia telah mengetahui semua kejadian yang telah ia lewatkkan setelah Yeon Hee menceritakannya. Hal tersebut tak pelak membuat ia marah dan menyalahkan Yeon Hee yang menurutnya telah lancang menceritakan tentang hubungan mereka pada Kyuhyun.

Segera setelah itu, ia kembali ke apartemennya dan Kyuhyun. Berharap ia dapat menemui pria manisnya untuk menjelaskan dan meminta maaf pada tunangannya.

Namun harapannya sia-sia ketika ia menginjakan kaki di apartement mereka. Yang ia dapati hanyalah Kyuhyun yang terus mengurung diri di kamar. Mengacuhkan bujukan dan usahanya untuk meminta Kyuhyun keluar dari kamar mereka.

“Kyuhyun-ah..” Panggil Changmin setelah ia mengetuk pintu kamar mereka untuk yang kesekian kalinya. “Kyuhyun-ah, aku mohon. Keluarlah dari kamarmu sekarang. Berhenti menyiksa dirimu seperti ini, Kyu.” Pinta Changmin memelas.

Ia telah kehabisan akal membujuk Kyuhyun. Pada saat seperti ini ia sangat merutuki sifat keras kepala Kyuhyun yang sama sekali tidak membantunya.

Lagi, bujukannya sama sekali tak menuai respon. Ia sadar. Sudah sepantasnya Kyuhyun marah padanya setelah apa yang selama ini ia sembunyikan diketahui olehnya. Ia memaklumi kemarahan Kyuhyun. Namun paling tidak, ia berharap jika ia bisa menjelaskan lebih detail pada Kyuhyun. Ia terlalu mencintai Kyuhyun. Dan kekhawatirannya tentang Kyuhyun yang akan meminta berpisah merupakan hal yang paling ia takutkan.

Ting Tong!

Angan Changmin terinterupsi ketika ia mendengar bel pintu berbunyi. Dengan enggan ia pun berjalan ke sumber suara untuk membukakan pintu untuk tamu dilarut malam seperti ini.

“Kau..”

“Dimana Kyuhyun?” tanya Woobin tanpa tedeng aling.

“Berani sekali kau datang ke sini.” Sahut Changmin sarkatik.

Woobin mendecih, “Dan kau sendiri? Apa kau masih punya malu untuk pulang ke apartement ini, Shim Changmin?”

Tubuh Changmin menegang. Pertanyaan Woobin menusuk harga dirinya. Setelah apa yang ia lakukan pada Kyuhyun, ia masih berani menemui Kyuhyun dan bahkan berharap jika Kyuhyun akan memaafkannya serta kembali lagi padanya?

Woobin menyeringai melihat Changmin yang terdiam. Tanpa sungkan ia pun masuk ke apartement dan menabrak tubuh Changmin dengan sengaja.

“Kyuhyunnie…!” Teriak Woobin kencang.

“Apa kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?!”

Woobin terkesiap. Ia menatap tajam Changmin yang ada dibelakangnya. Seketika itu juga emosinya membuncah yang ia lampiaskan dengan pukulan di wajah tirus Changmin.

BUK!

Seketika tubuh Changmin terpental menabrak tembok. Dengan beringas Woobin menghampiri dan mencengkeram kemeja Changmin.

“Jangan pernah sekalipun kau menghina orang tuaku.” Woobin menggeram.

BUK!

“Lalu pernahkah kau diajari oleh orang tuamu untuk menjadi lelaki pengecut, hah?!”

BUK!

Changmin membalas pukulan Woobin. Telak mengenai rahang pria yang lebuh muda darinya itu.

“Jaga ucapanmu! Lagipula siswa macam apa kau yang berani meniduri gurumu sendiri!”

Woobin menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan kasar. Tubuhnya bergetar menahan amarah mendengar hinaan Changmin. Namun seringaian muncul dari bibirnya. “Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri.. kakak sepupu?”

Dahi Changmin mengernyit ketika mendengar panggilan kakak sepupu yang baru saja dilontarkan oleh Woobin.

“Kau pikir aku tidak tahu kebusukanmu selama ini, Shim Changmin? Bersikap seolah-olah kau sangat mencintai Kyuhyun sementara di belakangnya kau telah memiliki anak dari wanita lain?”

Woobin tertawa mengejek melihat raut keterkejutan Changmin. Pria Shim itu terlihat menundukkan wajahnya tanpa berani menatap kearahnya. Woobin berjalan kearah Changmin dan segera menyambar lelaki itu dengan pukulannya kembali.

BUK!

Changmin yang masih dalam keadaan shock seketika tersungkur dilantai. Woobin kembali memburu Changmin.

“Asal kau tahu saja brengsek. Jika wanita yang dulunya sempat kau permainkan itu adalah sepupuku, Lee Yeon Hee!” Raung Woobin tepat diwajah Changmin sebelum ia kembali melayangkan pukulannya.

BUK!

“Ini untuk penghinaan terhadap orang tuaku!”

BUK!

“Dan ini untuk kau yang telah menghancurkan kehidupan sepupuku!”

BUK!

“KIM WOOBIN!”

Pukulan Woobin yang bak kesetanan terhenti ketika ia mendengar pekikan seseorang. Tak jauh darinya, kini terlihat Kyuhyun tengah berdiri diambang pintu kamarnya. Penampilannya tampak berantakan dengan wajah sayu dan mata merahnya yang tampak mencolok.

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun berlari kearah mereka. Dan dengan paksa mendorong tubuh besar Woobin yang tengah menindih Changmin dengan wajah yang babak belur.

“Changmin-ah..Changmin-ah..”

Kyuhyun memangku kepala Changmin dan menyeka darah yang mengalir di pelipis dan bibir sang kekasih. Air matanya kembali mengalir saat Changmin terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara itu, Woobin terhenyak menatap Kyuhyun yang sama sekali tak mempedulikannya. Ada rasa sakit yang ia rasakan saat Kyuhyun mengabaikannya dan lebih mempedulikan lelaki pengecut itu.

“Apa yang kau lakukan Kim Woobin?!”

“Kyuhyunnie, aku..”

“Pergi dari sini sebelum aku memanggil security.”

Ancam Kyuhyun dingin sebelum ia membantu Changmin berdiri dan masuk ke kamar mereka.

*

BRAK!

Woobin membanting pintu mobilnya dengan kasar saat ia telah sampai di pekarangan rumahnya. Ia sedikit meringis saat ia merasakan perih disekitar rahangnya.

“Shim Changmin sialan.” Makinya kesal pada orang yang telah membuat wajahnya memar.

Sebelum ia masuk ke rumah, ia terlebih dahulu mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia tak ingin menghadapi pertanyaan sang ibu tentang lukanya dan membuat beliau khawatir.
Ia pun melangkah menuju rumah bernuansa putih dihadapannya. Rumah mewah yang belakangan hanya ditempati oleh dirinya dan ibu yang sangat ia cintai. Seperti telah menjadi sebuah kebiasaan, ia pun langsung menaiki tangga dan menuju kamar pertama dilantai kedua. Kamar milik sang Ibu.

Ketika ia membuka pintu kamar tersebut, hanya kegelapan yang menyambut pandangannya. Ia sedikit heran. Tidak biasanya ibunya membiarkan keadaan kamarnya terlihat gelap tanpa penerangan. Sebab ia tahu jika sang ibu memang tak menyukai kegelapan.

“Eomma..” Panggilnya dengan satu tangannya menekan sakelar lampu.

Senyuman muncul di balik masker yang ia kenakan saat ia melihat sosok ibunya tengah terbaring di tempat tidur. Pria berusia 17 tahun itu pun memutuskan untuk membuka maskernya dan menghampiri sang ibu. Berniat mengucapkan selamat malam pada wanita yang telah melahirkannya.

Namun senyumannya itu seketika menghilang saat ia melihat cairan serta busa berwarna putih mengalir dari sudut mulut ibunya.

“Eomma!”

Di sisi tubuh yang tergeletak itu terdapat sebuah botol kecil dengan beberapa butir pil yang tercecer. Valium (sejenis obat penenang).

Dengan panik ia pun segera meraih ponselnya, men-dial nomor darurat dan membopong tubuh ibunya dari tempat tidur. Tanpa tahu jika terdapat selembar kertas terjatuh dari genggaman tangan ibunya.

“Eomma..kumohon.. bertahanlah..”

Ia telah pergi, Woobin-ah.

Ia telah pergi meninggalkan kita dengan wanita jalang itu..

*

“Kau mau kemana, Kyu?” Changmin meraih tangan Kyuhyun yang beranjak dari sisinya.

Kyuhyun tersenyum sekilas pada pria yang tengah terbaring di bangsal.

“Aku ingin menemui Dokter Hwang sebentar untuk menanyakan perkembangan kondisimu, Changmin-ah.”

Mereka berdua tengah berada di Rumah sakit saat ini. Mengingat kondisi Changmin yang luka parah pasca baku hantamnya dengan Woobin semalam. Dan Kyuhyun tentu saja akan menemaninya, walau bagaimana pun saat ini ia masih menjadi kekasih sekaligus tunangan Changmin.

Pria tinggi itu pun melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Kyuhyun meskipun enggan. Ia seperti tak rela melepaskan Kyuhyun. Takut jika pria manis itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Aku akan segera kembali.” Janji Kyuhyun melihat keraguan Changmin.

*

Kyuhyun menutup pintu ruangan Dokter Hwang dengan pelan. Kekhawatirannya sedikit berkurang saat Dokter Hwang menjelaskan kondisi Changmin yang semakin membaik.

Sebelum ia kembali ke kamar Changmin, ia terlebih dahulu untuk mampir ke kantin Rumah Sakit. Segelas teh hangat sepertinya akan membantunya terasa segar kembali. Ia nyaris menjerit ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar dari balik koridor Rumah Sakit. Namun suara itu tak terdengar karena mulutnya dibekap oleh sepasang tangan besar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seseorang yang menarik tangan Kyuhyun yang tidak lain adalah Woobin.

Dengan kasar Kyuhyun mendorong tubuh Woobin untuk menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Kyuhyun marah. Sontak saja suara tersebut menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang disekitar mereka.

“Kau sangat suka menarik perhatian orang lain, Kyuhunnie..” Ucap Woobin dengan nada menggoda.

Kekesalan Kyuhyun semakin bertambah. Demi Tuhan, bagaimana ia bisa bersikap demikian? Bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya sementara semalam ia nyaris menghabisi Changmin di depan matanya.

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

“Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?” Woobin membelai pipi Kyuhyun lembut yang segera ditepis kasar oleh Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari wajah yang ada dihadapannya. Melihat wajah tersebut mengingatkan ia pada malam itu. Di mana Woobin secara tidak langsung mengakui bahwa ia hanya dijadikan alat untuk membalas dendam pada Changmin.

“Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku. Ah, aku tahu. Apa kau sedang menunggui pria pengecut yang terbaring di salah satu kamar rumah sakit ini?”

Kyuhyun mendongak, “Tidakkah kau merasa bersalah padaku? Tidakkah kau merasa bersalah pada Changmin?”

Woobin menaikkan salah satu alisnya. “Sama sekali tidak. Bahkan aku menyesal tidak membuatnya langsung mati di tempat.”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema diantara lorong panjang tempat mereka berdiri. Woobin meraba pipinya yang terasa perih. Ditatapnya Kyuhyun yang kini terlihat menggigit bibirnya yang bergetar.
Kyuhyun sndiri yang tak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Woobin yang terdengar menyepelekan, reflek menampar pria tersebut. Tidak tahukah ia jika dirinya merasa marah dan kecewa terhadap bocah tersebut? Marah karena anak itu menghajar Changmin dan kecewa karena tanpa bisa ia cegah, Kyuhyun sudah jatuh hati pada orang yang menjadikannya alat balas dendam. Walaupun Woobin mengatakan bahwa sejak awal ia sudah menyukai dirinya.

“Aku muak dengan segala tingkahmu, Kim Woobin. Aku menyesal telah mengenal manusia arogan dan pembawa masalah sepertimu. Dan kuharap aku tidak akan pernah lagi bertemu manusia sepertimu..” Kyuhyun menatap tepat di manik mata Woobin yang terlihat sayu, “..selamanya.”

Selepas mengucapkan kalimat tersebut, Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Woobin yang masih mematung di tempatnya. Meninggalkan Woobin yang tersenyum miris tanpa ia ketahui.

Million_Words_7_Poster_Finishing

To be continued..

I’m Entirely In Your Will – Chapter 3

Casts           : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors    : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre         : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating        : T

Summary : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!  : psychosis

 

Chapter 3

Kyuhyun duduk di lantai marmer keras seraya bersandar ke dinding di belakangnya. Perlahan, ia mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, teramat lelah. Hampir tiga hari ia nyaris tidak memejamkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur jika hati dan pikirannya sedang kacau seperti ini?

“Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja?”

Kyuhyun membuka matanya dan mendapati Jung Yunho tengah berdiri menatapnya dengan sedikit kecemasan tergambar di raut wajahnya.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.” jawabnya seraya tersenyum sopan.

Yunho lalu ikut duduk di samping Kyuhyun. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi setidaknya kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kau bisa menjaga kekasihmu kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri?”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak mau mempertanyakan dari mana Yunho tahu bahwa ia dan Roberto memang berhubungan tapi yang jelas ia tahu Yunho benar. Tapi ia tidak bisa sedikit pun mengistirahatkan dirinya jika keadaan buruk seperti ini menimpa Roberto.

“Bukan hanya kau yang cemas, kami semua juga merasakan hal yang sama.” Didengarnya Yunho melanjutkan kata-katanya. “Roberto adalah pemeran utama. Ia yang terbaik. Jika terjadi sesuatu padanya, pertunjukan ini bisa kacau.”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika dilihatnya Lee Soo Man muncul dengan langkah-langkah panjang.

“Semuanya berkumpul.”

Mendengar instruksi dari sang produser, para staf beserta para ballerina dan balerino yang hadir disana mendekat lalu membentuk sebuah lingkaran besar.

“Kupikir kalian sudah tahu alasan mengapa kalian dikumpulkan saat ini. Aku sudah bicara dengan dokter dan tampaknya Roberto tidak bisa menari untuk sementara waktu, jadi Choi Siwon akan menggantikannya. Mari berharap Roberto sudah pulih sebelum pementasan Onegin dimulai mengingat waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Jadi kuharap, kalian semua bekerja keras dan berdoa semoga Roberto segera kembali.” Kata lelaki parah baya itu dengan lancar, seolah ia telah menghapalnya di luar kepala sebelumnya, mengabaikan tatapan-tatapan sedih dari para pendengarnya.

Ia lalu menghela nafas lelah kemudian berpaling pada Siwon. “Siwon-ssi, tolong berikan yang terbaik untuk pementasan ini. Aku mengandalkanmu.”

Siwon mengangguk patuh. Di wajah tampannya terukir senyum bangga. “Aku akan berusaha sebaik mungkin. Dengan kepercayaan anda juga dukungan dari teman-teman, aku akan melakukan yang terbaik.”

“Baiklah, kalian boleh melanjutkan latihan.” Lee Soo Man lalu berbalik meninggalkan kerumunan itu.

“Kau dengar? Roberto akan digantikan oleh Siwon-ssi. Ini benar-benar mengejutkan.”

“Siwon-ssi sangat beruntung.”

“Roberto pasti sangat kecewa.”

Siwon berjalan pelan ke arah Kyuhyun. Ia bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik di belakangnya. Namun, ia tidak peduli sama sekali pendapat orang mengenai dirinya. Ia hanya peduli bagaimana cara memenangkan pertarungan ini. Mungkin Roberto hanya menganggapnya sosok kecil, bukan penghalang berarti apalagi sejak keputusan Lee Soo Man yang mengatakan bahwa Roberto adalah pemain utama Onegin sedangkan Siwon hanya pemain kedua.

Awalnya Siwon tidak kecewa dengan keputusan itu. Bukankah ia sendiri memenangkan tempat kedua di usia yang masih begitu muda? Namun gairah untuk menang semakin besar ketika melihat Cho Kyuhyun, sosok manis yang merebut pikiran dan hatinya sejak pertama mereka bertemu. Ditambah dengan hubungan Kyuhyun dan Roberto yang semakin dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Siwon hanya ingin menakut-nakuti Roberto pada awalnya, karena ia benci melihat Kyuhyun bersama lelaki lain selain dirinya. Namun, ternyata Roberto mengalami cedera parah hingga ia harus menggantikan lelaki berusia matang itu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia mendapat dua keuntungan sekaligus.

“Kyuhyun-ssi, apa kau sudah makan siang? Kau terlihat pucat sekali. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.” Siwon menawarkan dengan senyum cerah terkembang di wajah tampannya.
Kyuhyun ikut tersenyum seraya menggeleng lemah. “Aku tidak bisa, Siwon-ssi. Aku harus kembali ke rumah sakit. Roberto membutuhkanku. Ia pasti sedih jika harus makan siang sendirian.”

“Oh.. Begitu.. Baiklah, sampaikan salamku pada Roberto. Maaf aku belum bisa mengunjunginya. Semoga ia cepat.. pulih.” Berat rasanya menyebut kata ‘pulih’ untuk saingan utamanya itu. Tapi demi melihat senyum Kyuhyun, ia harus bersabar dan terlihat ikhlas ketika mengucapkannya.

Dengan kejadian ini seharusnya ia bisa ikut memenangkan hati Kyuhyun, tapi rasanya sia-sia. Kemarahan kembali menguasai dirinya. Tapi ia kembali memaksakan senyumnya untuk Kyuhyun, menutupi letupan murka didadanya.

*

Roberto memainkan remote control televisi di tangannya. Sedari tadi ia mencari saluran hiburan yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bisa menghiburnya dengan baik selain Kyuhyun.

Roberto menghela nafas nafas panjang. ‘Andai saja Kyuhyun tidak harus pulang.’ Sesalnya dalam hati.

Sebenarnya ia sendiri yang menyarankan Kyuhyun untuk pulang dan beristirahat mengingat lelaki itu menjaganya siang dan malam. Namun tampaknya ia sedikit menyesali keputusannya itu. Rasa sepi dan bosan menghampirinya, ia menginginkan Kyuhyunnya kembali.

“Tampaknya kau sedang sendiri.”

Roberto menoleh cepat ke pintu masuk. Di sana, sosok lelaki tegap berdiri dengan senyum dingin tengah menatap ke arahnya. Choi Siwon.

“Mau apa kau kemari?” tanya Roberto dingin.

Perlahan Siwon melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangnya, tak lupa menguncinya dari dalam.

“Apa maumu? Pergi atau aku akan memanggil security.” Ulang Roberto. Nada gugup sedikit terdengar dalam suaranya.

Siwon mengangkat alisnya. “Aku hanya ingin bicara empat mata, apa itu salah? Mengapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Kau tidak mau bicara denganku? Bukankah tidak sopan mengusir temanmu yang berniat baik untuk menjengukmu juga menyampaikan pesan dari Lee Soo Man?”

Roberto menatap Siwon dengan tatapan tidak suka. Sungguh, ia membenci lelaki di depannya itu. Ia tidak pernah menyangka seorang Choi Siwon yang tampak ramah dan bersahaja itu ternyata sangat kejam.

“Cepat katakan pesannya lalu pergi.”

Siwon menjatuhkan dirinya di tempat tidur Roberto, tepat di samping kaki kanan sang balerino yang tengah cedera itu.

“Aku akan menggantikan tempatmu dalam pementasan Onegin.. Oh.. Jangan salahkan aku.. Lihat wajahmu sekarang.” Ujar Siwon ketika melihat wajah kaget Roberto.

“Jangan salahkan aku, itu adalah kemauan Lee Soo Man sendiri.” Lanjut Siwon.

“Tidak mungkin! Aku tidak percaya Lee Soo Man menggantikanku begitu saja tanpa sepengetahuanku!” sanggah Roberto cepat.
Siwon tertawa sinis. “Bisa saja. Kau tengah cedera, siapa yang bisa menggantikanmu kecuali aku? Lagipula, tidak mungkin kan pementasan ini diundur hanya karena kau cedera?”

Kumparan amarah menguasai Roberto kini. Kedua tangannya dikepalkan, siap meninju wajah menyebalkan di hadapannya andai saja kakinya bisa bekerja sama saat ini.

“Kauuu.. Kau penyebabnya! Kau yang menyebabkan aku jadi seperti ini!”

Kini Siwon justru tertawa. “Benarkah? Harusnya kau menyadari bahwa kaulah penyebab semua ini. Andai saja kau menjauhkan cakarmu dari Kyuhyun, mungkin saat ini kau tengah mempersiapkan diri untuk pementasan besar itu bukan? Mengapa kau harus menyalahkanku? Lihat dirimu kini, hanya seonggok daging tak berguna. Bukan hanya menyusahkan seluruh staf, kau juga membuat Kyuhyun hanya menghabiskan waktu tak berguna disini sementara kami harus bersiap-siap.”

Roberto meremas selimutnya dengan kasar, tubuhnya memanas seiring dengan amarahnya yang nyaris meledak. “Cho Kyuhyun adalah milikku. Sampai kapan pun tak akan kulepaskan apalagi untuk lelaki keji seperti kau!”

“Kau yakin sekali. Apa kau lupa bagaimana aku bisa membuatmu berada di sini?”

Kali ini Roberto yang tersenyum. “Aku tidak akan melepaskan Kyuhyun. Sampai kapan pun! Walau aku harus mempertaruhkan segalanya, aku akan tetap membuatnya berada di sisiku. Ingat itu.”

Senyum sinis tadi menghilang di wajah Siwon. Tangannya mendarat lalu mencengkram kaki kanan Roberto dengan keras, seolah hendak menghancurkannya dalam sekejap.

Roberto melolong keras karenanya. “Aaaarrggghhh…!!!! Lepaskan, kau bajingan!!!”

Seakan tuli, Siwon tetap mencengkram keras. “Kau akan benar-benar kehilangan kakimu kalau kau bersikeras seperti ini.”

“Aku.. tidak.. peduli.. Lepaskan kakiku!” Roberto tetap bertahan seraya berusaha melepaskan cengkraman Siwon.

Kali ini Siwon menurut. “Cukup untuk hari ini. Aku akan datang lagi nanti dan bersenang-senang denganmu.”

Ia lalu berjalan menuju pintu, membuka kuncinya lalu beranjak keluar. Tapi sebelum ia benar-benar menghilang dari sana, ia sempat berbalik dan berkata dengan nada dingin. “Kau akan tahu akibatnya kalau kau berani bicara tentang kejadian sebenarnya, mau pun malam ini.”

*

Malam itu hanya awal dari rentetan kesengsaraan Roberto. Setelah itu Siwon kerap kali mengunjungi Roberto dan menyiksa lelaki itu ketika Kyuhyun tidak ada di sana. Ia pernah dengan sengaja menutup wajah Roberto dengan selimut, membuat nafas sang Balerino tersedak, nyaris mati. Di lain kesempatan ia pernah membenturkan kepala lelaki itu ke besi keras penyangga tempat tidur hanya karena Roberto masih bersikeras mempertahankan Kyuhyun.

Belum lagi sayatan panjang di lengan Roberto karena berani mencium Kyuhyun di depan mata Siwon. Saat itu Siwon datang ke rumah sakit bersama Hee Seo, Yunho dan Eun Hye. Ternyata Kyuhyun ada di sana dan bersiap untuk pulang. Dan salam perpisahan sepasang kekasih itu tentu saja adalah ciuman penuh kasih yang membuat Siwon nyaris membunuh Roberto saat itu juga, andai akal sehatnya tidak memaksanya untuk tetap berdiri dengan tenang di tempatnya.

“Mengapa akhir-akhir ini kesehatanmu justru semakin menurun? Aku khawatir sekali padamu.” Ujar Kyuhyun seraya menyerahkan segelas air pada kekasihnya.
Roberto menghabiskan isi gelasnya lalu menggeleng. “Entahlah, semakin hari, ada saja kejadian yang membuatku terpaksa tinggal di sini. Aku bosan, aku benar-benar ingin pulang.”

“Kalau begitu kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu. Kami semua merindukanmu. Aku merasa sangat tidak nyaman menggantikan tempatmu di pementasan pertama minggu depan.” Kata Siwon dengan raut wajah menyesal.

Ya, Choi Siwon sore itu mengantar Kyuhyun mengunjungi Roberto. Dan ia tampak sangat nyaman memainkan perannya sebagai teman yang baik sekaligus pemangsa ganas yang mengawasi gerak-gerik Roberto dengan cermat.

Roberto hanya bisa menahan amarah setiap kali mendengar Siwon bicara. Terkadang ia malah tidak menjawab sama sekali, membuat Kyuhyun berkali-kali minta maaf pada Siwon karena ketidaksopanan kekasihnya.

“Nah, aku sudah mengupaskan beberapa buah untukmu. Jangan pernah menggunakan pisau lagi sendiri. Aku tidak mau tanganmu yang lain tersayat juga karena kecerobohanmu sendiri.” Ujar Kyuhyun seraya menunjuk sayatan panjang di tangan kiri Roberto yang diakui sebagai kesalahannya sendiri ketika mengupas apel, padahal sudah jelas Siwon yang melakukannya.

“Roberto, kau harus berhati-hati, kalau tidak keadaanmu akan memburuk. Kaki mu saja belum sembuh, bagaimana mungkin kau melukai tanganmu juga?” kata Siwon, lagi-lagi dengan nada prihatin.
‘Munafik!’ pikir Roberto. “Aku akan berhati-hati, tenang saja.” Kata Roberto seraya mengeraskan rahangnya.

“Dan lagi.. Maaf, bukannya aku mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi, Kyuhyun-ssi harus berkonsentrasi dalam pementasan ini, bukan? Lihatlah dia baik-baik. Bahkan pada saat latihanpun ia tertidur. Beberapa hari lalu kami mengantarnya ke klinik terdekat karena ia tiba-tiba pingsan.”

Roberto tersentak. “Kau dibawa ke klinik? Kenapa tidak mengabariku? Kau sakit?”

Kyuhyun menggeleng dengan jengah. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku kekurangan darah merah dan zat besi. Belakangan ini aku kurang tidur dan sering terlambat makan, apalagi dengan keadaanmu seperti ini, aku..”

“Maafkan aku..” kata Roberto menyesal. “Andai saja aku tidak terluka, mungkin kau tidak akan seperti ini.”

Roberto memperhatikan wajah kekasihnya dengan cermat. Bagaimana mungkin ia melewatkannya? Tubuh Kyuhyun semakin kurus, lingkaran hitam menggantung di bawah bola matanya yang hari-hari ini tampak tidak bersinar cerah seperti biasanya. Dan wajah itu, semakin kuyu dan pucat, seolah tidak ada kehidupan di sana.

“Roberto, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu makan lebih banyak, beristirahat dan meminum vitaminku. Aku akan sehat kembali, aku janji.” Kata Kyuhyun dengan cepat, berusaha mengusir rasa bersalah serta kecemasan yang terukir jelas di wajah kekasihnya.

“Sudah seharusnya, Kyuhyun-ssi.” Sambung Siwon. “Para staf dan Lee Soo Man sendiri sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir kau harus benar-benar berkonsentrasi penuh pada pementasan minggu depan.”
Kyuhyun menunduk. Ia tahu Siwon benar. Walau ia sangat mengkhawatirkan Roberto, tapi ia tidak seharusnya mengabaikan kesehatannya sendiri. Apalagi pekerjaan yang selama ini ia lakukan akan segera terlihat hasilnya minggu depan.

“Tapi aku.. sangat mengkhawatirkan Roberto. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian seperti ini.”

Roberto tersentuh mendengarnya. Tapi ia tahu hal buruk akan segera terjadi kepadanya jika ia tetap membiarkan Kyuhyun seperti ini. Ketika ia melirik ke arah Siwon, terlihat jelas kilau murka di mata lelaki berumur 20 tahun itu. Tapi sekali lagi, ia tidak akan melepaskan Kyuhyun hanya karena ancaman lelaki yang lebih muda darinya itu.

*

Lagi, Kyuhyun pingsan di sela-sela latihan penyempurnaan hari itu. Pementasan perdana sudah di depan mata dan Kyuhyun lagi-lagi harus ambruk di tengah sibuknya hari itu.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus menjaga kesehatanmu? Lihat, kau semakin pucat dan kurus. Pementasan ini penting. Kau penting bagi kami. Kau penting.. bagiku.”

Kyuhyun tidak kaget lagi mendengar penuturan Siwon. Sejak mereka kenal, Siwon sudah mendekatinya, memberi tanda bahwa lelaki itu ingin hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Walaupun Siwon belum pernah mengungkapkannya secara gamblang, tapi Kyuhyun menyadari sikap Siwon selama ini kepadanya.

Sungguh, ia juga menyukai Siwon. Tapi jika dibandingkan dengan Roberto, perasaannya berbeda. Siwon jauh lebih muda dan bersemangat, sementara Roberto lebih matang dan dewasa. Ia menyukai segalanya dari Roberto, hingga ia tidak mampu berpaling kepada lelaki tampan dengan lesung pipi yang sempurna itu.

“Maafkan aku, Siwon-ssi. Mungkin aku memang buruk dalam membagi waktuku. Tapi, aku benar-benar khawatir dengan Roberto. Aku tidak bisa. Kalau aku pulang ke rumah, pikiranku akan terus berada di rumah sakit. Kalau aku sedang bersamanya, aku tidak ingin tidur karena aku takut jika tertidur dan ia membutuhkan sesuatu, aku tidak bisa membantunya.” Ujar Kyuhyun tanpa menyadari betapa sakitnya Siwon mendengar semua itu.

“Dan aku.. Aku tidak bisa jauh darinya. Jadi, walaupun aku sakit seperti ini, aku tetap bahagia karena bisa bersamanya.”

Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk seolah mengerti lalu meninggalkan Kyuhyun tanpa kata.

*

“Kami sangat khawatir padanya. Bukankah di saat-saat seperti ini dia seharusnya berkonsentrasi dengan pementasan?”

“Bukannya kami tidak memikirkan keadaanmu, Roberto. Tapi saat ini kami tidak punya pilihan lain. Bagaimana Kyuhyun bisa menjalankan tugasnya jika ia lemah seperti itu? Ia selalu sakit dan pingsan.”

“Pementasan perdana akan dilaksanakan sebentar lagi. Kami butuh tim yang bekerja dengan konsentrasi penuh.”
Roberto mengingat kata beberapa staf yang tadi mengunjunginya. Semua mengeluhkan kondisi Kyuhyun saat ini. Ia merasa bersalah. Awalnya ia yang bermasalah karena cedera yang dialaminya, dan kini Kyuhyun yang dipermasalahkan karena masalah profesionalisme kerja.

Hal ini tidak bisa diteruskan, bagaimana jika Kyuhyun terus seperti ini? Ia hanya menyusahkan semua staf, menggelisahkan para pemain lain dan mengecewakan Lee Soo Man. Dan lagi, Roberto tidak tahan dengan semua intimidasi dari Siwon. Bukan hanya Siwon yang bertindak, tetapi ia juga sudah merasuki pikiran teman-teman lain yang tampaknya menyerukan ketidaksetujuan mereka akan hubungan Roberto dan Kyuhyun.

“Aku tidak hanya akan menyakitimu, tapi juga orang-orang di sekitarmu kalau kau tetap bersikeras berhubungan dengan Kyuhyun. Mari kita mulai dengan kakimu. Tampaknya kau memang cocok berbaring seumur hidup di tempat tidur seperti ini. Mungkin juga kaki palsu cocok untukmu.”

Roberto mendesah berat mengingat beberapa malam lalu Siwon kembali mengancamnya. Ia bahkan menempelkan sebilah pisau di kakinya, benar-benar berniat memotong harta berharga Roberto sebagai balerino jika ia tidak mengindahkan permintaan Siwon sebelumnya.

“Aku datang..”

Roberto menoleh. Kyuhyun baru saja tiba. Senyum cerahnya tidak dapat menutupi wajahnya yang kuyu saat ini. perasaan bersalah semakin menjadi-jadi di hati Roberto.

“Kenapa kau belum makan siang?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk nampan berisi makan siang Roberto yang diletakkan di meja.

“Aku menunggumu.” Jawab Roberto pendek.

Kyuhyun tersenyum ceria. “Baiklah, aku akan makan bersamamu.”

Ia baru akan meraih nampan makan siang Roberto ketika kekasihnya itu menarik tubuhnya hingga ia terduduk di tempat tidur.

“Ada apa? Bukankah kita akan makan siang bersama?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

Roberto menghela nafas panjang. Ia benar-benar sulit melakukan hal ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Demi pementasan Onegin, demi teman-teman yang lain.

“Roberto, ada ap..”

“Kurasa kita harus berpisah.” Kata Roberto cepat, tanpa memandang mata Kyuhyun yang membulat tak percaya.

“Kau bercanda kan?” tanya Kyuhyun lagi, mencoba tertawa.

Roberto menggeleng tegas. “Aku tidak bercanda. Kurasa memang kita tidak bisa bersama.”

“Tapi.. kenapa?” kumpulan air muncul di pelupuk matanya, membuat Roberto mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk dan menenangkan lelaki rapuh itu.

“Aku hanya ingin kita berkonsentrasi dengan pekerjaan kita masing-masing. Karena selama kau ada di sisiku, semuanya berantakan. Kuharap.. kau mengerti. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Kuharap kau mau menghormati keputusanku.” Roberto berupaya menunjukkan raut wajah tegas.

“Tapi..”

“Kau boleh pergi.”

“Roberto..”

“Sekarang.”

Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin menayakan lebih lanjut mengenai keputusan Roberto, namun dilihatnya lelaki yang dicintainya itu berubah dingin, bahkan tidak memandangnya sama sekali.
Kyuhyun berdiri, meraih ranselnya lalu berjalan keluar. Hatinya sakit sekali mendengar penuturan Roberto tadi. Ia terkesan seperti benalu yang mengganggu hidup Roberto. Dan kumpulan airmata yang sedari tadi ada di matanya, akhirnya jatuh juga.

*

Roberto BolleRoberto Bolle

To be continued..