Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Heart Without a Home – Chapter 3

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 3

Yunho sudah tahu bahwa ada yang mengincar desanya. Instingnya yang kuat tidak pernah salah. Begitu Kyungsoo dan Jongin diserang, ia langsung mengerti adanya ancaman untuk sukunya. Dan keselamatan seluruh desa ada padanya. Ia tidak boleh membiarkan mereka terluka.

“Anakku.. Aku bangga padamu dan akan selalu begitu. Tapi.. Apa keputusanmu kali ini telah kau pikirkan baik-baik?”

Yunho menatap sang Arweinydd. “Apa ayah meragukan keputusanku?”

Junjin menggeleng. “Sama sekali tidak. Selain turunan pemimpin, sikap dan sifatmu lah yang membuatmu terpilih menjadi Alpha secara mutlak. Ayah tidak meragukanmu, sebaliknya ayah mengkhawatirkanmu.”

“Bukankah aku punya ayah? Selama ayah ada di sisiku, aku tidak akan khawatir.”

Junjin tahu senyuman Yunho dimaksudkan untuk membuatnya tenang. Tapi, seorang ayah tidak akan tenang melihat anaknya mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang, bukan?

“Setidaknya kau membiarkan setengah dari kawananmu untuk tinggal dan membantumu. Ahh.. Andai saja mereka mengerti tujuanmu yang sebenarnya..”

“Mereka tidak perlu tahu.” Yunho menghela nafas panjang lalu kembali menatap ayahnya dengan pandangan memohon. “Ayah.. Haruskah kita bahas lagi hal ini?”

Junjin menatap langit kelam di atasnya. “Satu anakku terluka, satu lagi pergi sedangkan kau akan mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu bagaimana perasaan ayah saat ini? Apalagi reaksi ibumu ketika tahu hal yang sebenarnya, ia menangis dalam diam. Adalah kesakitan bagi ayah ketika melihat air matanya.”

Yunho terdiam. Ia tahu kalau kedua orang tuanya sudah pasti akan sedih dengan keputusannya walaupun mereka tidak bisa melarang perintah sang Alpha. Mereka yakin Yunho pasti telah memikirkan semuanya baik-baik sebelum bertindak. Tapi mereka hanyalah orang tua yang takut kehilangan anak-anaknya. Salahkah jika mereka terus mempertanyakan keputusan Yunho?

Ya, Yunho sengaja mengirim seluruh anggota kawanannya untuk pergi. Walaupun memang tujuannya adalah untuk menjalankan misi agar mereka bisa mengatur strategi guna menghadapi lawan-lawan mereka, namun ada alasan lain di balik itu. Dan alasan sebenarnya cukup sederhana, mereka disingkirkan.

Yunho membuat mereka pergi sejauh mungkin karena ia tahu desanya akan diserang. Yunho tidak mau membahayakan sahabat-sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri itu.

Maka mengirim mereka pergi adalah misi kosong, tipuan. Yunho sudah tahu kalau sebagian besar kelompok Drygioni dan Heglog sudah mulai bergerak untuk menyerang Gyfraddia. Satu-satunya yang bisa ditemukan oleh kawanannya nanti hanya Centaurus yang sudah pasti akan menolak untuk bergabung karena mereka tidak suka berperang.

Yunho mengandalkan para Rhyfel, Henuriad dan dirinya sendiri untuk berperang. Kalau mereka ternyata kalah, kesembilan Werewolf yang ia kirim keluar bisa selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang selama berabad-abad tetap hidup. Gyfraddia tidak boleh hilang ditelan sejarah. Itulah sebabnya Yunho nenyingkirkan para Eifre.

“Aku akan baik-baik saja, ayah. Aku berjanji.” kata Yunho pada akhirnya.

“Sebaiknya kau memegang janjimu, anakku. Kalau kau tidak mau melihat kami mati dalam kesedihan.” Jimin, Ibu Yunho sudah ada di sana, berdiri dengan anggun di samping suaminya dan menatap anak pertamanya dengan pandangan cemas namun juga bangga.

“Ibu..” Yunho segera menghampiri ibunya lalu berlutut sebentar. Ketika ia kembali berdiri tegak, ia segera memeluk wanita paruh baya yang sangat cantik itu erat-erat.

Jimin Membelai rambut anaknya penuh sayang. “Ibu langsung tahu tujuanmu ketika kau meminta ibu untuk membuat Chymyst. Kau pasti akan memberikannya pada Sandara dan Kyuhyun. Walaupun ibu khawatir, tapi ibu yakin kau memintanya untuk tujuan baik.”

Chymyst adalah salah satu ramuan kuno milik Gyfraddia. Ramuan bening yang tidak berbau dan tidak berasa ini sifatnya sama dengan air, namun fungsinya untuk melumpuhkan kemampuan indera pendengar ataupun penciuman selama tiga jam. Hanya orang-orang tertentu yang dapat membuatnya dengan sempurna, termasuk ibu Yunho.

Yunho telah memasukkan ramuan itu ke dalam minuman para Eifre sebelum mereka pergi. Anggota lain tidak akan merasakan dampaknya, hal ini hanya berlaku untuk Kyuhyun dan Sandara. Karena jika keduanya menemukan adanya mata-mata di sekitar mereka, sudah pasti mereka tidak akan meninggalkan sang Alpha.

“Pengorbananmu disaksikan oleh langit dan alam semesta, anakku. Dewa akan selalu bersamamu. Bahkan petir pun tidak akan mampu menyambarmu. Kau adalah pahlawan sejati Gyfraddia.”

*

            Sudah seharian para Eifre pergi. Mereka berangkat pada malam hari dari Gyfraddia dan kini matahari sudah mulai tenggelam ketika kesembilan Werewolf ini tiba di tempat tujuan masing-masing. Jarak yang mereka tempuh sangat jauh, namun karena khawatir pada Alpha mereka yang tinggal sendirian, mereka mempercepat laju lari kaki-kaki mereka dan hanya berhenti untuk minum di sungai.

“Aku belum pernah melihat desa Heglog sebelumnya. Tapi ini benar-benar menyeramkan.” ujar Hoya ketika ia mengamati perkampungan Heglog dari balik semak-semak.

Di depannya tampak rumah-rumah kecil berbentuk seperti iglo di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu dan hampir seluruhnya tertutup sarang laba-laba. Di samping kanan setiap rumah terdapat sebuah tungku kecil, pastinya untuk memasak.

“Mengapa jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada yang kita lihat beberapa waktu lalu?” tanya Sandara curiga.

Taecyeon menggeleng tidak yakin. “Aku juga tidak tahu. Apakah mereka pergi berburu dan sebagian lagi mencari daerah kekuasaan baru? Tapi.. mengapa terlalu banyak yang pergi?”

“Sebentar, ada yang aneh! Lihatlah! Para Heglog yang ada hanya sekumpulan Heglog tua dan anak-anak!” seru Hoya dalam bisikan keras.

Jantung Sandara langsung berdetak cepat ketakutan setelah melihat arah yang ditunjuk oleh Hoya.

“Tidak mungkin! Para Heglog ini terlalu lemah. Mereka tidak mungkin bisa..” Taecyeon langsung menghentikan kata-katanya. Mukanya berubah pucat. Ditatapnya Sandara yang terlihat pucat, tegang dan gemetar.

“Oppa.. Jangan katakan kalau.. Keluargaku.. Gyfraddia.. Oppa.. Kyungsoo.. Taecyeon oppa, Kita harus kembali..” Sandara bicara dengan bibir bergetar. Ia bahkan nyaris menangis.

Sementara di tempat lain..

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah perkampungan Drygoni? Mengapa tidak satupun orang disini?” tanya Yuri tak percaya ketika melihat perkampungan yang mereka datangi ternyata kosong.

Disana-sini hanya terlihat rumah-rumah kecil dengan atap runcing yang dilingkari oleh ular-ular besar yang terbuat dari kayu.

“Ayo kita periksa.” Kata Yonghwa yang memang tak kenal takut itu. Ia menuruni bebatuan di tebing rendah tempat mereka mengamati dan berjalan berjingkat-jingkat ke perkampungan Drygioni. Di belakangnya, Yuri dan Gikwang mengikuti jejaknya.

“Hati-hati, bisa jadi ini jebakan.” Kata Gikwang waspada.

Ketiganya berjalan pelan-pelan, memeriksa desa yang sepenuhnya kosong itu. Mereka berjalan sangat pelan, menghindari timbulnya suara sekecil apapun.

“Lihat, ada sekelompok anak kecil dan juga para tetua disana.” Kata Gikwang menunjuk ke arah sudut desa dimana ada sekelompok anak tengah bermain dan beberapa wanita dan lelaki tua tengah berdoa di depan sebuah altar dengan patung ular besar.

“Dimana yang lain? Mengapa hanya mereka yang tersisa?” tanya Yonghwa seraya mendekati tempat itu.

“Lindungilah prajurit kami dalam perang ini ya Dewa.. Sudah saatnya musuh abadi hancur..”

Yuri tersentak mendengar kata-kata salah satu perempuan tua yang duduk di depan altar itu. Perang? Musuh abadi?

“Kurasa.. Kita berada di tempat yang salah! Kita harus segera kembali. Gyfraddia dalam bahaya!”

Setelah Yuri menyelesaikan ucapannya, ketiganya langsung berlari dalam kecepatan tinggi, kembali ke Gyfraddia.

Dan di tempat lainnya..

“Ada apa gerangan hingga kaum Gyfraddia mengunjungi kami hari ini? Apa ada sesuatu yang khusus?”

Kangta, sang pimpinan Centaurus bertemu secara langsung dengan para tamunya ketika Junsu, salah satu anggota kawanannya datang dan memberitahukan bahwa para Eifre dari Gyfraddia mencarinya.

Kyuhyun membungkuk hormat. “Perkenalkan, aku Kyuhyun, dan ini Kris dan Minho. Kami datang kemari sebenarnya dengan tujuan khusus. Kami ingin.. meminta bantuan.”

“Aku sudah tahu maksud kalian.” Jawab Kangta segera setelah Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

Tentu saja! Para Centaurus terkenal dalam bidang ramalan. Mereka membaca pergerakan bintang di langit hingga bisa mendefinisikan berbagai macam bentuk kemungkinan masa depan yang di sebut ramalan. Walaupun ramalan belum tentu selalu benar, tapi setidkanya para Centaurus telah mengetahui kaitan-kaitan yang akan terjadi di masa depan.

“Kami sudah melihat sejak lama bahwa suatu saat Gyfraddia akan bertemu kembali dengan masa lalu yang didukung oleh kekuatan besar. Dan hal ini merupakan ancaman besar. Kaum kalian bisa hancur dengan bergabungnya dua kekuatan ini. Ular dan tarantula bukan lawan yang mudah.” kata Kangta lagi.

“Untuk itulah kami datang, kami ingin meminta bantuan. Karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak ditambah kekuatan mereka, kami tidak yakin bisa menghadapi mereka sendirian.” Kata Kris dengan sopan.

“Kalian meminta kami untuk ikut berperang?” tanya Junsu dengan sedikit amarah dalam suaranya. Ia pun bergerak maju beberapa langkah dengan tatapannya yang tajam. Beberapa Centaurus di belakangnya ikut maju.

Kangta lalu mengangkat satu tangannya. Melihat itu, Junsu menghentikan langkahnya dan menahan diri di tempatnya.

“Maafkan kami, wahai pahlawan dari Gyfraddia.” Kata Kangta setelah Junsu terlihat tenang. “Tapi kami, Centaurus, adalah para pecinta damai. Kami tidak berperang. Kami hidup dengan nyaman dan hanya memikirkan kelangsungan bangsa kami. Kami tidak berperang apalagi memihak satu pihak dengan keuntungan di pihak lain.”

“Jadi kalian akan berdiam saja di sini seperti pengecut?” tanya Minho lantang.

“Tutup mulutmu! Bicaralah yang sopan kepada pimpinan kami.” Raung Junsu. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

“Tapi itulah kenyataannya. Pada saat kelompok lain sedang mati-matian mempertahankan sukunya, kalian akan diam saja dan menonton? Centaurus dan Gyfraddia sudah lama saling bersahabat. Apa kalian akan membiarkan sahabat kalian hancur begitu saja?” Minho masih mempertahankan pendapatnya.

“Tentu saja kami tidak mau melihat siapapun hancur. Tapi kami tidak mau ikut campur dengan hukum alam. Pergerakan langit sudah jelas, kami tidak boleh mencampuri urusan langit.” Jawab Kangta dengan suara arif seperti sebelumnya.

“Pikirkanlah ini, tuan. Heglog hanya mencari daerah kekuasaan baru, mereka ingin memperluas daerah mereka dan kebetulan saja kaum kami yang mempunyai daerah kekuasaan terluas. Sementara Drygioni ingin membalas dendam pada Gyfraddia. Jadi mereka bersekutu untuk melawan kami. Jika kami hancur, bukan tidak mungkin mereka datang kemari dan ikut menghancurkan kalian, bukan?” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar, berharap sang pimpinan mengubah keputusannya dan membantu kaum mereka.

“Kenapa mereka ingin menghancurkan bangsa yang bahkan tidak pernah mengganggunya sama sekali? Tidak masuk akal. Kami tidak akan memulai peperangan, apapun alasannya.” Kini nada suara Kangta terdengar cukup tegas.

“Lalu apa yang terjadi dengan Gyfraddia? Kami juga tidak punya masalah dengan Heglog. Tidakkah kalian sadari? Mereka menginginkan daerah kekuasaan yang besar beserta para pengikut baru. Apa kalian tidak menangkap maksud kami?” kata Minho dengan tak sabar.

“Diam!” bentak Junsu. “Kami adalah cendekiawan yang terhormat. Berani-beraninya kau mengatakan kami tidak mengerti maksud kalian tadi?”

“Minho!” Minho baru akan buka suara ketika Kyuhyun melarangnya dan memberinya tatapan memperingatkan.

“Tuan, dengarkan kami..” kata Kris dalam nada putus asa. “Kami juga ingin kedamaian. Siapa yang ingin bangsanya musnah? Tidak seorang pun bukan? Kami sama sekali tidak pernah mengganggu mereka, tapi beberapa dari kawanan kami telah di serang..”

Lelaki tampan nan jangkung itu terdiam sebentar, sedih mengingat sang kekasih yang tengah terluka saat ini. Ia menghela nafas sebentar lalu menatap Kangta lagi.

“Kami hanya ingin bantuan kalian. Ini adalah hutang kami kepada Centaurus. Jika suatu saat hal yang sama terjadi pada kalian, kami akan siap membantu.”

“Omong kosong! Kami selalu cinta damai, siapa yang hendak menghancurkan Centaurus?” Junsu kembali berbicara dengan cemooh dalam suaranya.

Kangta tampak menimbang beberapa lama. Namun akhirnya ia bicara. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melibatkan kaum kami dalam pertempuran yang bukan milik kami.”

Minho dan Kris baru akan memprotes ketika Kyuhyun kembali menahan mereka. Ia lalu membungkuk hormat lalu undur diri dari sana.

“Sia-sia kita datang sejauh ini. Mereka sangat mengecewakan.” Kata Minho jengkel ketika mereka sudah cukup jauh dari daerah milik Centaurus.

“Aku tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan pimpinannya tadi. Ia tampak begitu bijaksana tapi terlalu penuh perhitungan dan tidak mau ambil resiko.” Kris menambahkan.

“Tidak ada jalan lain. Ayo kita pulang, mungkin tabib sudah berhasil mengobati Kyungsoo dan Jongin. Setidaknya mereka mungkin sudah sadar dan setengah pulih. Gyfraddia jauh lebih membutuhkan kita daripada berlama-lama di sini.” Kata Kyuhyun lalu dalam hitungan detik ia bertransformasi dalam bentuk serigala berbulu putih yang diikuti oleh kedua temannya.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh. Kangta mendekatinya dengan langkah-langkah mantap. “Cepatlah kembali ke desa kalian. Mereka dalam bahaya. Drygioni dan Heglog akan segera tiba di sana. Tepat sebelum tengah malam, desa kalian akan diserang. Dan kemungkinan besar kalian akan musnah. Semoga kalian beruntung.”

Kyuhyun melolong sebagai tanda terima kasihnya. Ketiganya lalu berlari cepat menembus hutan, kembali ke desa mereka yang tercinta.

*

            Yunho tersenyum lega melihat Kyungsoo dan Jongin akhirnya bisa kembali sadar bahkan sehat seperti sedia kala. Ramuan tabib mereka memang yang terbaik. Menurutnya, masa tidak sadar alias pingsannya Jongin dan Kyungsoo lah yang memakan waktu lama karena racun telah melumpuhkan mereka. Namun setelah tiga hari mengkonsumsi ramuan obat sang tabib, keduanya akan langsung tersadar dan sehat seperti biasa walaupun stamina mereka belum sepenuhnya pulih. Dan kata-kata tabib terbukti. Keduanya bahkan tidak seperti pernah sakit sebelumnya.

Kini yang dicemaskan Yunho hanya satu, ketika gelap tiba. Karena jika mentari terbenam, seperti perkiraannya, desa mereka akan kedatangan tamu. Ia tidak mencemaskan dirinya, ia hanya mencemaskan seluruh penduduk desa juga keluarganya.

”Ingat, begitu peperangan dimulai, segeralah melarikan diri ke utara. Jika beruntung kalian akan menemukan Kyuhyun, Kris dan Minho di sana. Jika kalian tidak bertemu mereka di tempat Centaurus, teruskan berlari hingga ke kota. Bertransformasilah menjadi manusia biasa dan jangan pernah melihat ke belakang.” kata Yunho memaparkan rencananya pada Kyungsoo dan Jongin untuk ketiga kalinya sejak mereka terbangun.

Keduanya mendengarkan dengan sedih. Tak pernah disangka bahwa mereka semua harus terpecah seperti ini apalagi keduanya baru berusia masih sangat muda.

Alpha.. Apa hanya karena kami masih terlalu muda maka kami tidak diikutkan berperang? Apa kami dianggap belum cukup kuat? Apa semua orang takut kami akan merepotkan?” Jongin bertanya. Ada protes dalam nada suaranya.

Yunho menggeleng. “Umur dan kekuatan bukan masalah. Kami sangat bangga kepada siapa saja yang rela mengorbankan diri untuk terjun ke medan perang. Tapi kami perlu keturunan. Apa kalian ingin Gyfraddia musnah sepenuhnya?”

“Tapi kita akan kuat jika bertarung bersama. Kita bisa memenangkan pertarungan ini walau.. Kesembilan Eifre sudah pergi.” kata Kyungsoo sedikit keras kepala. Awalnya ia sedih bercampur marah karena Kris pergi meninggalkannya. Namun setelah tahu alasan sang Alpha, ia justru berharap Kris tidak kembali ke desa mereka dan ia bisa selamat dari bahaya.

“Kita juga bisa kalah, adikku. Dan bagaimana jika hal itu terjadi? Keputusanku sudah bulat. Kerjakan seperti rencana.” kata Yunho tegas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah para Henuriad yang tengah menyusun strategi perang.

Sang Arweinyd yang melihat kedatangannya mengangguk. “Alpha.. Apa ada ide lain? Strategi kami seperti ini.”

Yunho memperhatikan gambar yang digambar oleh Jinyoung di atas perkamen tua besar yang diletakkan di atas meja batu besar. Dengan cepat ia mempelajari strategi itu.

“Aku pikir ini akan berhasil. Dengan para Henuriad di sisi kanan dan kiri berbaur dengan sisa penduduk, para pendekar bersama ayah di lini depan, aku rasa sudah bagus. Sebagian Rhyfel akan nenempati seluruh perbukitan dan sebagian lagi akan menyerang dari hutan dan mengepung mereka dari belakang. Tapi ada yang kurang.. Dimana aku?”

Jinyoung berdehem sebentar lalu menatap sang Alpha. “Hm.. Kami memintamu untuk bersembunyi sejenak. Kami akan menghadapi perang ini sendirian.”

Air muka Yunho berubah keras. “Apa? AKu tidak akan bersembunyi. Aku akan ikut berperang. Syr, aku adalah Alpha, mana mungkin aku bersembunyi sedangkan suku tengah berperang demi kelangsungan hidup kita.”

“Justru karena itu!” bantah Jinyoung tak kalah kerasnya. “Kau telah menyingkirkan para Eifre. Lalu apa gunanya masih ada suku kita di luar sana namun mereka tidak punya pemimpin? Mereka butuh seseorang yang bisa membimbing mereka dan membangun kembali Gyfraddia yang mungkin saja hanya tinggal puing-puing malam nanti.”

“Aku tidak akan bersembunyi. Aku tetap akan ikut berperang. Aku akan berada di lini depan, bersama ayahku.” Yunho masih tetap mempertahankan keinginannya.

“Tapi Henuriad dan Arweinydd sendiri telah memutuskan bahwa kau tidak diikutsertakan dalam perang ini. Keputusan tidak dapat diubah.”

“Aku tidak peduli dengan keputusan kalian. Bukan berarti aku tidak menghormati kalian smeua. Tapi aku lebih memilih mati di medan perang daripada harus menyaksikan saudara-saudaraku terluka sementara aku bersembunyi.”

Dan kata-kata Yunho yang merupakan keputusan mutlaknya membuat sang ibu tersenyum puas sekaligus bangga.

*

            Malam menjelang. Bulan purnama tampak begitu besar dan sempurna, berada di sisi timur yang perlahan memposisikan diri semakin ke tengah langit. Penduduk Gyfraddia telah bersiap. Para wanita dan anak-anak telah diungsikan. Para pejuang telah menanti di lini pertahanan sesuai strategi yang di tetapkan oleh para Henuriad.

Alpha.. mereka semakin dekat..”

Yunho mendengar suara Kyungsoo di kepalanya. Ia dan adik-adiknya memang mempunyai bakat alami dalam diri mereka. Jika Yunho punya naluri yang tajam, Sandara punya pendengaran yang tajam sedangkan penglihatan Kyungsoo sangat jelas. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat baik dalam gelap. Maka begitu ia melihat ratusan orang-orang dari arah barat, ia langsung melaporkannya pada kakaknya.

“Aku akan memberitahukannya pada yang lain. Ingat pesanku, begitu pertempuran dimulai, kau dan Jongin harus pergi ke utara.” Kata Yunho dalam kepalanya yang tidak mendapat respon sama sekali dari adiknya. Ia tahu, Kyungsoo tidak ingin pergi, jadi ia akan berpura-pura tidak mendengar.

Yunho menoleh pada ayahnya, yang akhirnya menyerah dan mengijinkannya untuk ikut berperang dengan catatan kalau mereka diambang kekalahan, Yunho harus segera pergi dan mencari sisa Eifre di luar sana, dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mereka sudah dekat, ayah. Sudah saatnya..”

Malam itu, hanya Yunho, pejuang dan para Rhyfel yang bertransformasi menjadi serigalanya sedangkan sisanya tetap dalam wujud manusia termasuk ayah Yunho sendiri. Karena ia adalah seorang Arweinydd, maka ia bisa mengerti kata-kata Yunho walaupun ia hanya menatap mata anaknya.

Dan memang betul seperti perkataan Yunho. Tak lama kemudian, ratusan sosok-sosok mengerikan muncul dari dalam hutan, berjalan dengan langkah-langkah berat yang mengerikan. Dan betapa mengerikannya kali ini karena selain sosok-sosok bersisik alias Drygioni dan sosok bungkuk seperti tarantula alias Heglog, ada sekumpulan besar sosok lain yang sangat menakutkan. Mereka ternyata juga meminta bantuan Troll, makhluk-makhluk bertubuh besar berwarna hijau yang mendiami gua-gua di kaki gunung.

Hati Yunho langsung mencelos. Drygioni dan Heglog sendiri saja sudah merupakan ancaman berat untuk mereka, bagaimana dengan bantuan Troll juga? Tamatlah riwayat mereka kini. Ia bisa melihat Jiyong dan Taeyang diantara pada Heglog, tersenyum angkuh seakan sebentar lagi mereka akan menyantap Yunho dalam cakar-cakar mengerikan mereka.

“Kyungsoo.. Jongin.. pergilah sekarang. Jangan buang waktu lagi.” Kata Yunho dalam kepalanya, diantara geramannya.

“Tapi hyung.. Bagaimana mungkin kami pergi meninggalkanmu?”

Alpha.. kami mohon, biarkan kami membantu.”

“Pergi..!!!” raung Yunho. Ia mengabaikan protes-protes kecil Kyungsoo dan Jongin dan berlari ke atas tebing. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas berapa banyak pasukan musuh yang kini hanya tinggal beberapa meter lagi dari lini depan, tempat ayahnya memimpin pasukan mereka. Tanpa ia ketahui, Kyungsoo dan Jongin mengabaikan perintahnya dan diam-diam menyelinap ke hutan, dimana sebagian dari para Rhyfel menunggu untuk menyerang.

Dengan dibayangi oleh rembulan, berada di salah satu tebing yang cukup tinggi, bagaikan terompet perang yang dibunyikan sebelum perang dimulai, Yunho melolong keras nan perkasa, membuat para pejuang Gyfraddia bersiaga di tempatnya. Dan begitu lolongan Yunho berhenti, sang Arweinydd pun berseru lantang.

“Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Lalu dua kubu yang tadinya terpisah saling mendekati dan pertempuran besar pun telah di mulai.

*

            “Kita masih sangat jauh.. Ditambah dengan jalan pintas yang kita tempuh saat ini membuat tenaga kita terkuras lebih banyak.” Ujar Minho dalam kepalanya kepada Kyuhyun dan Kris yang berlari kencang di sampingnya.

“Tapi ini adalah jalan terdekat. Jika kita beruntung, kita bisa sampai dalam waktu satu jam. Hanya jika kita berlari dalam kecepatan seperti ini.” Kris menambahkan.

“Kita tidak boleh mengurangi kecepatan, aku sangat takut kalau kita terlambat.” Kata Kyuhyun dalam ketakutan tinggi.

Ketiganya terus berlari membelah hutan. Jalan yang mereka lewati sungguh berbahaya. Melewati tebing-tebing terjal, bebatuan tajam, lumpur hisap hingga semak belukar berduri. Entah sudah berapa kali mereka terluka dalam perjalanan pulang kali ini. Namun mereka terus berlari, seolah luka yang mereka alami bukan apa-apa dibandingkan dengan nyawa-nyawa yang akan melayang malam ini.

“Aaarrgghhh…!”

Dekingan keras membelah malam. Kris dan Minho menghentikan larinya ketika Kyuhyun tergelincir dari tebing dan tubuhnya menghantam bebatuan tajam di tepi sungai. Kyuhyun mencoba bangkit, tapi sangat sulit baginya untuk melakukannya karena ada sesuatu yang salah, kaki belakangnya terluka.

“Kyuhyun.. Kau baik-baik saja?” tanya Minho segera setelah ia turun dari tebing dan menghampiri Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja, tapi kakiku.. Sakit sekali..” keluh Kyuhyun. Ia terus mencoba bangkit namun tetap tidak berhasil hingga ia menangis.

“Kyuhyun, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Kami akan selalu ada disini menunggumu. Ayo coba lagi.” Kata Kris menyemangatinya.

Kyuhyun mencoba lagi dan lagi selama hampir lima belas menit, membuat Minho dan Kris mengamatinya dengan sama putus asanya.  Ia hampir menyerah lalu ia teringat sang Alpha. Sosok yang ia kagumi dan cintai sepenuh hati. Jika ia tidak bangkit malam ini, mungkin ia tidak akan pernah melihat Yunho lagi seumur hidupnya.

Alpha.. Tunggu aku.. Aku akan datang padamu.. Tunggulah aku..” kata Kyuhyun dalam hati.

Dan entah kekuatan dari mana, dengan sekali sentak, ia bisa berdiri tegak. Walaupun kakinya terasa perih, walaupun darah segar mengucur deras membasahi kemilau bulu putihnya, namun tekad kerasnya membuatnya melupakan sakit yang ia derita saat ini.

Dengan kekuatan baru,  ia berlari memimpin kedua temannya, berlari ke tempat seharusnya ia berada kini, di samping sang Alpha.

“Yunho hyung.. Tunggu aku..”

*

Kaisooho

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 2

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, BL, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin,  Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 2

Bagai mimpi buruk, Yunho harus menghadapi situasi seperti ini. Niat awalnya adalah untuk mencari daerah kekuasaan tapi ia justru terperangkap menghadapi musuh baru. Sebagai pimpinan sudah seharusnya ia maju menerjang siapapun yang dianggap bisa mengancam keselamatan kawanannya.

Namun ia tidak ingin ada peperangan semacam ini. Ia tidak mau membuat masalah dalam kehidupan desanya yang  tenang. Selama ini ia hanya sering mendengar cerita para Henuriad mengenai betapa hebatnya suku mereka dalam membasmi semua musuh mereka. Ia tidak mau menimbulkan keresahan untuk seluruh penduduk desanya. Ia pimpinan para serigala muda, sang Alpha. Dan ia tidak ingin adanya kewaspadaan untuk setiap orang karena akhirnya mereka kembali ke masa perang.

Dan ketika sang pimpinan kecil Heglog itu menerjangnya dengan tombak mengerikan di tangannya, hal pertama yang Yunho lakukan adalah melolong keras memperingatkan para Eifre seraya menghindari tusukan yang diarahkan tepat ke lehernya itu.

“Yonghwa, Kris, bawa Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi.”

Begitu perintah bergema di kepala mereka, Kris dan Yonghwa segera menarik Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan protes ketiganya untuk ikut melawan. Tapi perintah sang Alpha sudah sangat jelas. Kewajiban mereka adalah menurutinya.

“Lawan aku, serigala lemah! Jangan terus menghindar, pengecut!” raung si pimpinan Heglog, masih terus berusaha menikam lawannya. Kali ini ia menusuk lebih cepat hingga nyaris menggores bahunya.

Alpha!”

Yunho bisa mendengar jeritan Yuri yang mencemaskannya. Taecyeon sudah menggeram tak sabar namun Yunho tetap memperingatkan para Eifre agar tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sebelum ia memerintahkan. Padahal kawanannya sudah sangat bernafsu untuk menanamkan cakar-cakar mereka ke sekujur tubuh anggota Heglog lainnya yang ada di sana.

“Cukup! Hentikan!”

Sang pemimpin Heglog berhenti menyerang. Ia masih menatap Yunho dengan tatapan marah namun ia menuruti perintah suara tanpa tubuh itu. Yunho mencari ke sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan sumber suara.

Berdiri dengan raut mengerikan diantara pepohonan, seorang Heglog lain yang tubuhnya sedikit lebih besar menatapnya angkuh.

“Mengapa kau ada disini? Jangan ganggu kesenanganku!” pimpinan Heglog berteriak kasar, masih tanpa menoleh.

Tawa dingin terdengar. “Jangan bertingkah seperti kaulah pimpinan suku. Walau kau adalah pimpinan Heglog muda. Jadi kalau kau mendengarku mengatakan berhenti, artinya kau harus berhenti, adikku.”

Sang pimpinan menampakkan ekspresi hendak membunuh mendengar saudaranya sendiri mempermalukannya di depan musuh. Tapi ia sendiri seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kakaknya.

Ketika ia menurunkan tombaknya, Heglog lain yang tadinya berdiri diantara pepohonan kini mendekati Yunho dan adiknya.

“Aku tahu siapa kau. Yunho, sang Alpha dari Gyfraddia, suku yang dulunya adalah suku terkuat.”

“Dulunya? Kami masih yang terkuat hingga saat ini.” Geram Yunho di kepalanya walau ia tahu hanya kawanannya yang bisa mendengarnya karena mereka tengah berada dalam wujud serigala.

Kembali lelaki bungkuk berbulu itu tertawa. “Aku tahu pasti kau memprotes dalam kepalamu dan aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku tidak berbohong. Jika kalian ingin membuktikannya, kalian harus berperang bersama kami jadi kalian akan tahu mengapa aku mengatakan kata ‘dulu’ pada kalimatku tadi.”

“Tapi tidak hari ini.” Heglog tadi melanjutkan. “Mungkin besok? minggu depan? Yang jelas bukan hari ini.” Kemudian ia menoleh pada adiknya. “Kita harus kembali sekarang.”

Gerutu kasar terdengar namun para Heglog lain tampaknya menurutinya. Lambat laun satu persatu meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, Heglog tadi berbalik dan berkata. “Ah, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Ji Yong dan adikku yang pemarah itu adalah Taeyang. Sampai bertemu lagi, Yunho. pertemuan berikutnya tidak akan seramah ini, aku janji.”

Lalu ia ikut melesat memasuki hutan, meninggalkan Yunho dan kawanannya yang masih terpaku.

*

            Yunho masih menerima gumam-gumam ketidaksetujuan sebagai bentuk protes dari kawanannya selama beberapa hari kedepan setelah insiden bersama para Heglog.

“Seharusnya kita ikut menyerang. Mereka sudah dengan tidak sopannya menghina suku kita!” kata Minho yang terkadang paling cepat tersulut emosi.

“Tapi kita membawa Kyungsoo dan Jongin hari itu, tidak mungkin kita membahayakan nyawa mereka hanya karena amarah kita.” Ujar Hoya. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai anggota kawanan serta sahabat dalam hal ini.

“Aku setuju dengan Minho. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menghina kita? Lagipula ia hendak mencelakai Alpha kita.” Gikwang ikut menyuarakan pendapatnya.

“Kalian tenanglah. Apa kalian lupa perintah Alpha tidak boleh dilanggar? Tidak seharusnya kalian bersikap seperti ini.” Yonghwa menengahi.

“Kita harus memikirkan jalan keluar bersama bagaimana agar tidak terjadi peperangan. Walaupun aku sendiri sangat ingin menghabisi mereka tempo hari.” Kris menambahkan.

“Aku yakin Alpha punya alasan tersendiri mengapa ia justru menghindar alih-alih menyerang.” Taecyeon akhirnya ikut bicara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.

Mendengar itu, semua yang ada di sana minus Yuri, Kyuhyun, Sandara, Kyungsoo dan Jongin menatap sang Alpha, menunggu ia angkat bicara dan menjelaskan tindakannya tempo hari setelah ia bungkam selama beberapa hari.

Masih mempermainkan batu-batu kecil dalam genggamannya lalu melemparkannya ke sungai hingga beberapa saat lalu akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Aku bukan pengecut. Walaupun tindakanku bisa dikategorikan sebagai pengecut oleh para Heglog tempo hari. Tapi aku punya beberapa pertimbangan. Pertama, kita jauh dari rumah, bahkan sangat jauh. Kita membawa serigala muda bersama kita, bagaimana mungkin kita bisa bertindak yang nantinya bisa membuat mereka terluka? Mereka adalah tanggung jawabku.”

“Dan lagi, sebisa mungkin aku menghindari pertarungan. Jika aku menyerang dan ia terluka, bisa jadi mereka benar-benar menyusun kekuatan dan menyerang kita. Apa kalian tega melihat senyum-senyum bahagia beserta kehidupan kita yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba terusik karena hal ini?”

“Kalaupun kita pada akhirnya akan berperang, alangkah baiknya jika bukan kita yang memulai. Kalau kita gegabah, kita hanya akan menghancurkan suku kita sendiri.”

Para Eifre terdiam. Mereka tahu, Yunho benar. Mereka tidak boleh ceroboh dengan bertindak cepat. Akan ada konsekuensi yang lebih besar menanti mereka jika mereka bersikeras.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?”

Ketujuh lelaki disana menoleh dan mendapati dua orang yang sangat mereka kenal berdiri di sana.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?”

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon, lelaki lain yang berdiri bersama Changmin menjawab sambil balik bertanya dengan nada bercanda.

Changmin dan Dongwoon adalah Dhampire, setengah Vampire dan setengah manusia. Tugas mereka adalah memburu Vampire yang berkeliaran di luar sana. Seperti halnya Dhampire, kaum Werewolf pun tidak menyukai kaum Vampire. Makhluk penghisap darah tersebut dianggap makhluk keji yang mengambil nyawa manusia demi memuaskan dahaga mereka. Werewolf dilarang keras bergaul dengan kaum seperti itu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?”

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh.. Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

“Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawab Dongwoon seraya menyeringai lebar.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris gembira, membuat Changmin dan Dongwoon tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

Sepeninggal Changmin dan Dongwoon, Yunho berpikir. Sepertinya kekuatan Heglog sudah meyebar luas. Apalagi ditambah dengan dukungan penuh dari suku Drygoni, tidak mustahil kalau mereka nantinya akan menyerang Gyfraddia.

*

            Salju sudah mulai turun, menyambut musim dingin yang membekukan tubuh itu. Tapi tidak bagi pada Werewolf. Tubuh mereka yang tetap hangat sehangat duduk di depan perapian dibalut selimut tebal dan ditemani secangkir cokelat panas. Mereka tidak pernah kedinginan walaupun bertelanjang dada dibawah guyuran hujan ataupun di bawah curahan salju.

Kyuhyun duduk di atas tebing yang cukup tinggi, memandang ke sungai di bawah, tempatnya biasa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sebentar lagi sungai itu akan sepenuhnya membeku dan baru akan mencair di bulan maret. Bukankah tempat ini jadi terlihat sangat romantis? Pepohonan dengan daun-daun cokelat yang masih bertahan di rantingnya tertutup salju, sungai yang nyaris beku, angin musim dingin berhembus lembut di hari yang cukup berawan ini.

Dan Kyuhyun harus menahan rasa irinya dalam-dalam melihat sepasang pemuda yang tengah bersenda gurau dengan mesra di bawah sana.

“Mesra sekali..” monolog Kyuhyun.

“Mesra? Siapa?”

Kyuhyun tersentak. Ia tidak menyangka akan ada yang orang lain yang bertransformasi menjadi serigala selain dirinya saat ini. Bukan berarti tidak boleh, tentu saja kawanan lain boleh bertransformasi kapan saja mereka mau. Hanya saja, di hari-hari seperti ini, biasanya teman-temannya akan bermain salju atau melakukan kegiatan lain dengan wujud aslinya. Maka ia tidak berpikir bahwa ada yang akan mencuri dengar perkataannya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati serigala paling gagah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya berjalan pelan mendatanginya. Dengan rambut-rambut halus berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan salju di sekitarnya, dengan rahang kokoh disertai gigi dan cakar-cakar tajam yang mampu membelah kayu tebal sekalipun, dengan mata tajam yang selalu membuat jantungnya berdebar menyenangkan.

Alpha..”

“Sedang apa kau disini? Dimana yang lain? Dan mengapa kau bertransformasi?”

Kyuhyun merebahkan dagunya di atas kedua kaki depannya yang merapat. “Aku tidak tahu kemana Taecyeon tengah membantu ayahnya. Hoya, Minho dan Jongin tengah berubah menjadi anak-anak liar pencinta salju. Yonghwa tengah pergi bersama Sandara, entah kemana sedangkan Gikwang seperti biasa, ia lebih mencintai kasurnya daripada hal lainnya.”

Yunho sudah ada di samping Kyuhyun. “Yonghwa dan Sandara tadi pamit kepadaku. Mereka ingin jalan-jalan berdua. Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau katakana mesra tadi?”

Kyuhyun tertawa dengan suaranya yang khas. Suara itu bahkan menggema indah di kepala Yunho. “Adikmu, siapa lagi? Lihatlah..”

Yunho mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Benar saja, di bawah sana tampak Kyungsoo dan Kris tengah bermesraan. Kris duduk bersandar di sebatang pohon sedangkan Kyungsoo bersandar di dada kekasihnya yang memeluknya erat. Kyungsoo asik bercerita sedangkan Kris senantiasa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di pipi atau rambut Kyungsoo.

Yunho tersenyum. Adik bungsunya itu memang suka sekali bercerita selain memasak dan membaca. Dan Yunho selalu bersyukur karena ia mendapatkan lelaki seperti Kris yang selalu sabar menghadapinya.

“Ya aku tahu, kau pasti mengatakan bahwa Kyungsoo beruntung telah mendapatkan Kris, bukan? Kalau tebakanku benar, kau salah. Kris lah yang selalu merasa beruntung telah mendapatkan si ajaib Kyungsoo, percayalah, adikmu terlalu populer. Jadi jangan kaget kalau Kris selalu menempel padanya. Ia adalah pencemburu yang sangat protektif.” Kyuhyun berbicara seolah memahami isi kepala Yunho.

“Aku terlalu sibuk mengatur para Eifre dan memenuhi permintaan Henuriad. Kadang aku kesal jika waktuku kurang untuk dihabiskan bersama Sandara dan Kyungsoo. Walaupun kadang aku pikir mereka tidak akan kesepian karena keduanya telah memiliki kekasih.” Jawab Yunho, matanya masih senantiasa memperhatikan gerak gerik dua pemuda yang kini tengah berciuman mesra itu.

“Oh mataku.. Tidak bisakah mereka melakukannya di tempat lain?” keluh Kyuhyun sambil tertawa kecil.

Yunho ikut tertawa. “Untunglah Kris begitu sopan. Ia bisa menahan hawa nafsunya dan tetap memperlakukan Kyungsoo dengan baik. Kau tahu, aku tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang lebih yah.. intim. Kyungsoo masih terlalu kecil dan.. Aku terlalu khawatir pada awalnya tapi kupikir Kris takkan melakukan hal-hal negatif, bukan? Bagaimana menurutmu?”

Kini tawa Kyuhyun lebih keras. “Mana mungkin ia bisa menahan diri jika Kyungsoo ada di dekatnya? Selain ia memang lelaki yang baik, ia tidak akan berani menyentuh anak Arweinydd dan adik sang Alpha jika ia masih tetap ingin diakui sebagai seorang Gyfraddia.”

Yunho menatap Kyuhyun dalam-dalam tanpa kata. Setelah membisu selama hampir semenit, ia akhirnya bicara. “Kau tahu, selalu menyenangkan berbicara denganmu. Kau selalu berada di tengah. Menjadi netral untuk siapa saja. Berpikirab dewasa dan sangat memperhatikan anggota muda. Walau terkadang kau sendiri sangat manja.”

Jika Kyuhyun tidak dalam bentuk serigala saat ini, ia yakin rona merah akan menjalar di seluruh permukaan wajahnya dan membuatnya sulit untuk menyembunyikannya dari Yunho. Yunho memang bukan lelaki yang bisa menggombal atau berkata-kata romantis. Tapi kejujurannya membuat siapa saja akan tersentuh.

“Dan aku sangat mengagumi warna putih yang menempel di tubuhmu itu. Indah sekali. Kau memang sangat rupawan dengan warna putih.” Yunho menambahkan sambil masih terus menatap Kyuhyun.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan di tanah ke udara, butiran salju yang turun mengikuti arah angin, membuat pandangan menjadi sedikit terhalangi. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu kakinya. Ketika ia ingin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di antara kedua kakinya, sesuatu terjadi.

Kaki-kaki kokoh sang Alpha berdiri tepat diatasnya, menghalangi angin kencang yang menerpa wajahnya. Sang Alpha berdiri di situ, melindungi Kyuhyun dengan tubuhnya yang besar. Ia tetap diam, tanpa sepatah kata pun. Tapi mampu membuat perasaan Kyuhyun melambung di udara.

Disini, tepat berada di bawah lindungan pemimpin yang dicintainya seraya menyaksikan mentari yang tertutup awan pelan-pelan turun ke peraduannya, di atas tebing kecil, di hutan mereka tercinta, merupakan tempat terindah untuknya. Dan ia tidak ingin beranjak dari sana sedetik pun.

*

            “Alpha..! Arweinydd mencarimu. Sekarang!”

Yunho yang tengah membelah batang pohon besar untuk dijadikan potongan-potongan kecil kayu bakar di belakang rumahnya cukup terkejut ketika melihat Gikwang datang dengan tergesa-gesa. Keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya pucat dan ia tampak shock.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho ketika mereka dalam perjalanan ke Pentrafe atau balai desa, tempat dimana ayahnya menunggunya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan.. tampaknya itu adalah hal buruk.” Jawab Gikwang, masih terengah.

Alangkah terkejutnya Yunho ketika ia dan Gikwang sudah sampai di Pentrafe. Banyak yang sudah berkumpul di sana dan anehnya sebagian diantaranya tampak marah dan sedih. Begitu melihat kedatangan Yunho, kerumunan terbuka, memberi jalan untuk sang pemimpin. Yunho bisa melihat ayahnya tidak duduk di kursi kebesarannya seperti biasanya melainkan di lantai, seperti seorang lelaki lemah yang terpuruk.

Yunho baru akan bertanya ketika ia melihat dua sosok yang dikenalnya terbaring melintang di atas karpet merah di tengah ruangan. Keduanya masih dalam tubuh serigala. Yang satu berwarna abu-abu kecoklatan, yang satu lagi berwarna putih abu-abu. Dan sama-sama terbujur lemah disana dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Yunho akan mengira keduanya sudah tak bernyawa andaikan ia tak melihat perut keduanya bergerak naik turun, berusaha sekuat tenaga untuk bernafas.

Tubuhnya bergetar hebat saat itu. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan semua bercampur jadi satu.

“Kyungsoo.. Jongin..” Yunho jatuh berlutut, lalu meraih kedua serigala muda itu dalam rengkuhannya. Air matanya turun satu persatu.

Ia menoleh pada ayahnya yang tampak sama terpukulnya dengan dirinya. “Ayah..” bahkan suaranya pun ikut bergetar.

Alpha.. Adikmu dan Jongin.. Keduanya diserang oleh Drygoni. Mereka memakai bisa mereka untuk melumpuhkan keduanya.. Anakku.. Anak lelakiku..”

Bisa Drygoni sangat terkenal bisa melumpuhkan sistem saraf dan otak. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terkena melebihi batas, akan berakibat kematian. Dan melihat beberapa tempat yang terkena bisa Drygoni di tubuh Kyungsoo dan Jongin, bisa dikatakan mereka di ambang kematian.

“Tidak.. Kyungsoo.. Jongin.. Bertahanlah.. Aku mohon..” Yunho masih memeluk keduanya.

“Tabib sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi ia sampai. Tadi Minho dan Kyuhyun yang menjemputnya. Bersabarlah Alpha, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan penduduk lainnya. Kau adalah harapan mereka.”

Tanpa mengangkat kepalanya, Yunho tahu bahwa Jinyoung lah yang berbicara. Walaupun ia benar, namun bagaimana mungkin Yunho bersikap tenang di saat seperti ini?

“Gikwang..”

“Ya, Alpha.”

“Kumpulkan yang lain di rumahku, sekarang. Aku akan segera kesana. Jangan bicara apa-apa sampai aku datang. Aku tidak ingin membuat yang lain khawatir.”

Gikwang membungkuk hormat lalu berlari keluar.

*

            Peraturan baru diberlakukan. Penduduk dilarang keluar dari rumah diatas jam sepuluh malam. Dan setiap wanita juga anak-anak harus ditemani oleh lelaki jika terpaksa harus keluar rumah. Mereka juga dilarang bepergian terlalu jauh. Itupun mereka harus dikawal oleh para Rhyfel.

Sedangkan para Eifre bertugas berjaga bergiliran di setiap pos yang sudah ditentukan. Mereka akan berjaga di empat penjuru utama. Yonghwa dan Sandara di pos timur, Minho dan Gikwang di pos barat, Taecyeon dan Kyuhyun di pos selatan, Kris dan Hoya di pos utara. Sedangkan Yunho dan Yuri akan berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Absennya Kyungsoo dan Jongin merupakan pukulan berat untuk mereka. Walaupun kata tabib mereka akan baik-baik saja setelah sepuluh hari, bahkan katanya akan kembali sehat seperti biasa, tapi tetap saja membuat para Eifre merasa sangat khawatir.

Kekejian Drygoni ini tidak bisa ditolerir oleh Yunho. Mereka tahu kedua serigala ini masih muda dan belum mendapatkan kekuatan secara menyeluruh jadi merekalah yang diserang. Licik! Seandainya ia yang ada disana, atau Taecyeon, bisa dipastikan suku setengah ular itu akan benar-benar hancur sampai tak berbekas.

Yunho masih bisa mendengar Kris, Sandara dan ibunya terisak sesekali ketika mengunjungi Kyungsoo di kamarnya. Ia juga tidak bisa mengabaikan tangisan kedua orang tua Jongin serta kesedihan Hoya sebagai sahabat terdekat Jongin.

Untuk beberapa hari kedepan, suasana tampak aman. Semuanya terkendali dengan baik. Hingga tiba-tiba serangan lain datang, kali ini menyerang beberapa rumah dan kebun penduduk. Tidak ada yang terluka, namun kerugian materil tidak bisa dibilang sedikit.

Mereka baru saja akan menuduh Drygoni sebagai biang keladinya namun petunjuk lain datang. Mereka menemukan rambut-rambut halus berwarna cokelat tua di beberapa tempat. Dan Yunho pernah melihatnya. Heglog.

“Ini adalah kesengajaan. Mereka sengaja memberi tanda agar kita tahu merekalah pelakunya.” Gikwang menganalisis.

“Aku bahkan masih bisa mengendus bau mereka disini.” Sandara menambahkan.

“Mereka sengaja memperlihatkan diri. Tujuannya sudah jelas, mereka ingin kita menyerang.” Kata Taecyeon dengan nada kesal.

“Tapi kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu. Kita harus menyelidiki sekuat apa mereka.” Ujar Kris. Ia masih terlalu sakit hati dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Dan ia tidak akan tinggal diam kini.

Alpha, kami menunggu perintahmu.” Yuri menyentuh lengan sang Alpha yang sedaritadi tampak berpikir sendiri.

Yunho mengembuskan nafas panjang. Dengan ekspresi tegas, ia menatap teman-temannya. “Taecyeon, selidikilah Heglog sekali lagi, bawa Sandara dan Hoya bersamamu. Yuri, pergilah bersama  Gikwang dan Yonghwa, selidiki Drygoni. Kris, Kyuhyun dan Minho, pergilah ke utara, minta bantuan kepada Centaurus. Kita tidak pernah ada masalah dengan mereka, siapa tahu mereka mau membantu kita.”

“Tidak! Bagaimana denganmu, Alpha? Kau tidak boleh tinggal sendirian!” Hoya langsung memprotes ketika ia menyadari bahwa Yunho akan sendirian berjaga.

“Hoya benar, kau tidak boleh sendirian, Alpha. Menyelidiki suku-suku ini memakan waktu berhari-hari. Dan keadaan sedang tidak stabil. Bagaimana mungkin kau bisa berjaga sendirian?” Minho menambahkan dengan cemas.

“Kalian kira aku tidak bisa menjaga desa ini tanpa kalian?” Yunho mengangkat alisnya.

“Bukan begitu, jangan tersingung. Tapi kami sangat cemas padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kami pergi? Kau adalah Alpha kami, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?” kata-kata Kyuhyun yang terkesan khawatir justru terdengar sangat manja bagi Yunho.

‘Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika sesuatu terjadi padamu?’ bisik Kyuhyun di hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Yunho.

“Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Rhyfel disini bersamaku. Tempatku adalah di sini. Aku tidak boleh meninggalkan desa dalam keadaan seperti ini. Keselamatan desa ini adalah tanggung jawabku. Pergilah, semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian kembali bukan?” kata Yunho lagi, mencoba tersenyum walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

“Kami akan cepat kembali, aku berjanji.” Yonghwa menghampirinya lalu memberinya tepukan ringan di bahu. “Dan kami akan pulang dengan membawa kabar baik. Tolong jaga dirimu.”

Sandara dan Yuri segera berlari memeluk Alpha mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkan desa. Keduanya tidak menangis tapi hati mereka sangat sedih karena harus meninggalkan orang yang mereka sayangi sendirian. Karena memang Yunho tidak bisa pergi. Seluruh beban ada di pundaknya kini.

Kyuhyun adalah orang terakhir yang memeluk Yunho setelah satu persatu kawanannya melakukan hal yang sama.

“Jaga dirimu, Alpha. Tunggulah aku kembali.” Ujar Kyuhyun lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Yunho. Membuat Yunho merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Satu persatu teman-temannya bertransformasi menjadi serigala lalu berlari masuk dan menghilang ke dalam gelapnya hutan malam itu. Yunho masih berdiri disana, menatap kepergian kesembilan Werewolf perkasa yang dibanggakannya.

Tanpa ia sadari, beberapa makhluk aneh tengah mengintainya. Beberapa diantaranya bersisik seperti ular, beberapa lagi berbulu seperti tarantula.

“Ia mengutus teman-temannya untuk pergi menyelidiki suku kita. Ayo kembali dan memberitahukan anggota suku.” Kata salah satu yang bertubuh penuh sisik.

“Sangat bodoh! Baiklah, kita kembali ke tempat masing-masing.” Kata yang lain, si bungkuk penuh bulu selayaknya tarantula. “Si keparat ini akan merasakan bagaimana rasanya seluruh kawanannya dimusnahkan di tempat berbeda-beda sementara ia juga harus menyaksikan kita membantai desanya tercinta.”

Keduanya lalu tertawa bengis.

*

Yunkyu wolf

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 1

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), TaecKyu, Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Author note : Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 1

Jantungnya berdebar jauh lebih kencang dengan detak tak beraturan. Nafasnya memburu seolah hendak meninggalkan paru-parunya. Kaki-kakinya yang tangguh berlari cepat menyusuri jalan-jalan setapak di hutan lebat itu. Telapak kakinya yang kokoh dengan kuku-kuku setajam pedang membekas dengan anggun di tanah basah. Angin dingin di sore itu menerpanya, menggoyangkan seluruh pelindung yang membungkus tubuhnya yang perkasa.

Yunho masih berlari kencang mendahului kawanannya di belakang sana. Ya, kawanan. Kawanan serigala, atau lebih tepatnya disebut sebagai kawanan manusia serigala mengingat mereka adalah separuh manusia dan separuh serigala. Werewolf.

“Yunho! Tunggu aku, mengapa kau berlari begitu cepat?” sebuah suara dengan nada protes keras muncul di dalam kepalanya.

Yunho tertawa mengejek. “Bukan salahku kalau aku yang tercepat sedangkan kalian lebih lamban daripada aku.”

Ketika kawanan ini berubah bentuk menjadi serigala, mereka hanya bisa berbicara lewat pikiran dimana semua anggota kawanan akan bisa saling mendengarkan asalkan mereka dalam bentuk yang sama pada saat itu.

Perumahan penduduk di desa kecil mereka yang indah sudah terlihat di depan sana. Mentari sudah mulai turun ke peraduannya, siap menyinari belahan bumi lain hari itu. Yunho memperlambat laju dari keempat kakinya dan berhenti di balik sebuah pohon besar. Disana, ia meregangkan otot-ototnya lalu secara perlahan tubuhnya yang kekar kembali ke wujud manusia biasa. Tampan dan rupawan.

Ketika ia melangkah keluar dari balik pohon, dilihatnya teman-temannya juga sudah mulai bertransformasi kembali menjadi manusia. Tubuh-tubuh kekar kecoklatan dengan paras jantan berjalan mendekatinya.

“Bagus sekali. Bagaimana kalau besok kita menelusuri hutan di tenggara?” tanya Yunho.

“Semakin jauh kita pergi semakin bagus, kau tahu aku selalu suka bertualang.” Sahut Yonghwa seraya mengibaskan rambutnya yang diikuti senyum mengejek dari lelaki jangkung di sebelahnya, Kris.

Kumpulan lelaki itu memang selalu bertualang di sela-sela waktu luang mereka. Keinginan untuk menguasai seluruh hutan belantara semakin besar setiap kali mereka berhasil mengintari sebuah daerah baru tanpa tersesat. Tujuannya sudah jelas, mereka perlu menandai setiap hutan yang dilintasi agar bisa memperluas daerah kekuasaan.

“Anak-anak, kembalilah. Hari sudah hampir gelap. Temuilah ibu kalian lalu bersiap-siaplah. Pertemuan akan dilaksanakan sebelum bulan purnama.”

Sosok lelaki tinggi besar memanggil mereka. Tubuhnya kekar, rambutnya hampir seluruhnya berwarna putih dan rahangnya yang kokoh membuat siapa saja langsung menunduk hormat padanya. Jinyoung adalah salah satu Henuriad.

Para pemuda itu mengangguk patuh lalu mengambil jalan yang berbeda-beda guna kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bertemu dengan ibu mereka sesuai perintah Jinyoung. Suku ini sangat mendewakan seorang ibu. Konon, wanita Gyfraddia pertama pernah diberkati langsung oleh dewi Aprodhite sendiri. Dan para lelaki ditugaskan untuk menghormati dan menghargai para wanita melebihi apapun. Oleh karena itu para serigala wajib bertemu ibunya sebelum dan  sesudah bepergian.

Mentari sudah benar-benar tenggelam sekarang, bintang-bintang mulai muncul dan berkelip di angkasa. Sebentar lagi, saat purnama sudah benar-benar muncul di arah lintang timur, pertemuan akan dilaksanakan.

*

            Gyfraddia adalah salah satu suku tertua di bumi. Pada awalnya suku ini hanya merupakan  kelompok kecil yang kuat karena kemampuan mereka bertransformasi menjadi makhluk perkasa dan mampu membuat mereka menaklukkan kelompok-kelompok lain dari berbagai belahan bumi hingga akhirnya mereka menjadi satu kelompok besar lalu mengatasnamakan diri mereka sebagai suku Gyfraddia.

Selama ratusan tahun, perkembangan suku ini sangat pesat. Dengan demikian, lahirlah para werewolf muda sebagai penerus. Keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu karena walaupun setengah anggota suku adalah werewolf, mereka tidak memburu manusia sebagai santapan melainkan makan seperti manusia biasa. Namun ternyata karena keresahan para manusia biasa yang sempat melihat transformasi mereka saat berburu di hutan semakin besar, maka suku ini mulai diburu dan dibinasakan.

Oleh karena itu suku Gyfraddia mengambil langkah untuk hidup nomaden alias berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang dianggap aman dari kejaran manusia demi menyelamatkan keeksistensian suku mereka. Namun pada akhirnya mereka memilih untuk menetap dan berkembang biak di salah satu hutan besar yang indah, jauh dari para manusia yang hendak memusnahkan mereka.

Transformasi menjadi manusia serigala bisa dilakukan oleh lelaki maupun wanita asalkan ia merupakan turunan langsung dari werewolf itu sendiri. Karena pada awalnya hanya sebagian dari suku ini yang merupakan werewolf asli, maka mereka menikahi anggota sukunya yang masih sepenuhnya berstatus manusia biasa hingga akhirnya kini tidak ada lagi manusia biasa yang tersisa diantara mereka.

Tahun kelima belas dalam hidup adalah tahun penting bagi suku Gyfraddia dimana mereka mulai bisa bertransformasi menjadi manusia serigala dan akan mendapatkan kekuatan penuh ditahun ke tujuh belas.

Seperti manusia biasa, mereka mempunyai sistem koordinasi kepemimpinan. Para tetua suku disebut Henuriad. Pemimpin suku disebut Arweinydd. Sedangkan pemimpin kawanan manusia serigala adalah alpha. Dan para anggota kawanan disebut Eifre. Pergantian Arweinydd dilakukan setiap sepuluh tahun sekali sedangkan seorang alpha hanya akan diganti apabila Alpha yang bersangkutan meninggal dunia.

Alpha memimpin para serigala muda dengan kisaran umur 15-35 tahun. Sedangkan manusia serigala yang berumur diatas itu, disebut Rhyfel yang hanya bertransformasi jika dalam keadaan mendesak. Rhyfel dipimpin langsung oleh sang Arweinydd, yang saat ini ditatahkan kepada Junjin, ayah Yunho.

“Dan seperti yang kalian ketahui, Alpha kalian adalah Yunho. Artinya, ia adalah pimpinan kalian para serigala muda. Kata-katanya adalah perintah dan kewajiban kalian adalah untuk melaksanakannya. Alpha tidak boleh dilawan. Bagi yang melawan akan dianggap sebagai pemberontak. Dan hukuman bagi pemberontak adalah dikeluarkan dari selamanya dari Gyfraddia. Kalian mengerti?”

Jinyoung, sang pemimpin concinode terpilih malam itu duduk sebagai pusat dari lingkaran besar yang terdiri dari para remaja juga lelaki dan wanita yang hampir dewasa. Matanya yang tajam menyapu seluruh anak didiknya malam itu sementara bibirnya menceritakan kisah suku mereka yang sangat disukai oleh Yunho dan kawan-kawannya walaupun mereka telah mendengarnya berulang kali di setiap tahun.

Terdengar gumam-gumam tanda paham dari para anggota muda saat itu. Wajah-wajah tampan nan lugu dihiasi ketakutan mendengar kata-kata Jinyoung.

“Aku tidak mendengar suara kalian! Ucapkan dengan lantang!” suara Jinyoung menggelegar di udara. Membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.

“Kami mengerti.” jawab para anggota muda itu dengan suara keras yang terdengar seperti deking ketakutan.

Jinyoung lalu melanjutkan beberapa peraturan yang wajib dipatuhi oleh para serigala muda. Pertemuan yang diadakan setahun sekali itu dinamakan Concinode. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan anak-anak yang telah memasuki usia tiga belas tahun ke atas dan mendidik mereka mengenai budaya, aturan, hak dan kewajiban para penerus dalam suku mereka, baik perempuan maupun lelaki.

“Sedikit saja, hyung.. Aku letih mendengar wejangan dari Jinyoung-syr..” rengek Kyungsoo pada Yunho ketika pertemuan telah selesai. Kini saatnya mereka makan menyantap makan malam dan minum arak, hal yang biasanya dilakukan setelah concinode.

Yunho menggeleng keras. “Besok kita semua akan sibuk berjelajah. Dan ini pertama kalinya kau dan Jongin akan turut serta, aku tidak ingin kau mabuk lalu kelelahan.”

Kyungsoo tidak menyerah, ia menggoyang-goyangkan lengan kakak kandungnya itu dengan rengekan khasnya.

“Ya! Hentikan. Jika henuriad mendengarmu maka mereka akan berpikir kau tak pantas menjadi bagian dari kami.” Bisik Gikwang keras.

“Yunho..”

Yunho menoleh dan mendapati sahabat sedari kecilnya, Yuri, sudah berdiri di sampingnya. Gadis seksi yang terkuat diantara para werewolf wanita itu kemudian menggandeng lengan sang Alpha dengan mesra.

“Hai cantik.. Kau selalu bersinar, seperti biasa.” Puji Yunho.

Yuri tertawa kecil. “Dan kau selalu pandai menggombal, seperti biasa.”

“Hyung..” kembali Kyungsoo terdengar mengeluh.

“Biarkan dia minum segelas atau dua gelas. Usianya baru saja menginjak 17 tahun seminggu yang lalu. Setidaknya biarkan dia merayakan kebebasannya.” Ujar Yuri ketika dilihatnya Yunho akan menghardik adiknya lagi.

Yunho menghela nafas panjang. “Baik. Segelas saja. Hanya segelas atau tidak sama sekali.”

Mata Kyungsoo berbinar ceria. “Arasso! Terima kasih nuna.”

Lelaki bertubuh mungil itu lalu berlari menyongsong Jongin, Hoya dan Minho yang sedaritadi telah menunggunya dengan tatapan was-was kalau saja sang Alpha tidak mengijinkan Kyungsoo untuk ikut minum malam itu.

“Awasi dia.” Perintah Yunho pada Gikwang dan Yonghwa yang langsung dijawab dengan anggukan patuh dari keduanya.

Yunho kembali menoleh pada Yuri. Mereka baru akan mengobrol ketika dilihatnya ayahnya melepaskan diri dari cengkraman para henuriad dan mendatangi mereka.

“Aboji datang.” Bisik Yunho tajam.

Yuri mengerti, ia mempererat pelukannya di lengan Yunho. Seraya tersenyum, ia menyambut kedatangan sang  Arweinyd.

“Abonim..”

Junjin tersenyum melihat putra sulungnya, sang Alpha, berbahagia bersama sahabatnya. “Kalian berdua selalu menempel satu sama lain. Kapan kalian akan mulai saling jatuh cinta? Aku pasti akan lebih bangga lagi padamu, putraku, jika kau berhasil menaklukkan the black pearl.”

“Dia yang terbaik, ayah.” Jawab Yunho dengan bangga. “Aku akan memberitahu ayah jika kami akhirnya memutuskan untuk saling jatuh cinta.”

“Tentu saja. Aku bahkan tidak berpikir ada wanita lain yang pantas mendampingimu selain Yuri. Nah, bersenang-senanglah.” Junjin kemudian pergi menghampiri istrinya yang kini tengah berbicara dengan kedua orang tua Yuri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yuri sepeninggal Junjin.

Yunho mengangguk walau wajahnya terlihat sedikit murung. Yunho dan Yuri bersahabat dekat seperti saudara kandung. Walaupun kedua orang tua mereka mengharapkan lebih, tapi keduanya masih saja sulit untuk melihat satu sama lain sebagai lelaki dan perempuan pada umumnya, bukan sebagai sahabat. Keduanya mencintai orang lain.

“Oh ayolah, jangan mengeluarkan mimik seperti itu. Lihat, sudah waktunya.” Tunjuk Yuri ke langit. Yunho ikut menegadah. Bulan sudah berada tepat diatas kepala mereka. Wajahnya berubah ceria.

“Ayo ke danau.”

Ia kemudian memimpin langkah keduanya memasuki hutan. Kawanannya mengerti, mereka mengikuti langkah sang Alpha. Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau dengan air jernih. Sinar bulan yang indah memantul di atas air, membuat danau itu tampak seperti kerumunan berlian di malam hari.

“Bulan tampak sempurna, oh.. tidak bisakah kita berkelana malam ini?” tanya Yonghwa penuh semangat.

“Tidak.” Sahut Yunho tegas. “Kita sudah berjelajah seharian tadi dan kita akan mengajari Kyungsoo dan Jongin besok, kalian tidak boleh lelah malam ini.”

Alpha benar.” Kata Minho menyetujui. Perlahan ia mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. “Aku lebih suka melakukan hal ini.”

Byur..!

Minho melompat lalu menceburkan diri ke dalam danau gelap itu. Tubuhnya menghilang di dalam kumpulan air itu, namun detik berikutnya ia muncul dengan jeritan riang.

“Whoooo.. Menyenangkan sekali..!”

Hoya dan Gikwang saling melemparkan pandangan bergairah. Mereka kemudian mengikuti jejak sahabat mereka, terjun ke dalam air dan menikmati malam indah itu sambil berenang di bawah sinar rembulan.

Satu persatu mulai ikut menanggalkan atasan mereka dan ikut berenang di sana. Ketika Yunho akhirnya tergoda untuk ikut, sebuah suara menyapanya.

“Kalian tidak mengajakku?”

Yunho menoleh. Disana, berdiri dua pria tampan dan seorang gadis cantik. Sinar bulan jatuh tepat ke tubuh mereka yang rupawan. Taecyeon, Kyuhyun dan Sandara. Hati Yunho berdesir ketika matanya bersitatap dengan pemuda yang tubuhnya lebih kecil dari pada Taecyeon itu.

Yunho lalu berlari menyongsong ketiganya. Pertama-tama ia menyongsong adik kandungnya, Sandara, lalu menyusul kedua lelaki lainnya.

“Kalian sudah kembali? Apa kalian baik-baik saja? Dara, apa kau baik-baik saja?” tanya Yunho seraya memeriksa keadaan adiknya secara menyeluruh.

“Aku baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir.” Jawab Dara dengan tenang.

Taecyeon mengangguk. “Maaf jika kami kembali cukup lama. Kami benar-benar harus mengamati lebih cermat dan mengumpulkan informasi lebih banyak.”

“Kami juga membawa berita untukmu.” Kyuhyun menambahkan.

“Jelaskan.” Perintah Yunho.

Ketiganya mulai menjelaskan semua hasil pengamatan mereka selama beberapa hari. Dan tampaknya sang Alpha tidak menyukai berita-berita tersebut.

*

            “Apa ada beban pikiran yang mengganggumu? Ayah lihat kau cukup diam sejak semalam.” tanya Junjin pada anak sulungnya, Yunho.

Yunho menghela nafas panjang. Ia adalah seorang Alpha. Sudah seharusnya ia berkonsultasi dengan ayahnya yang sekaligus merupakan Arweinydd sukunya. Namun, ia tidak yakin ayahnya akan bersikap biasa jika mendengar laporannya.

“Yunho..” Junjin kembali memanggil anaknya. “Dan kau juga belum melaporkan hasil pengamatan Taecyeon, Sandara dan Kyuhyun.”

“Mengenai itu.. Aku memang akan melaporkannya pada ayah. Aku hanya sedikit bingung, apa yang harus kulakukan.”

Ya, Yunho sangat bingung saat ini. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa karena ia masih tidak bisa mempercayai telinganya sendiri. Beberapa waktu lalu ia mengutus tiga orang untuk mengawasi daerah barat yang dikabarkan muncul suku baru yang cukup kuat dan mendominasi hampir semua hutan di sana.

Jika Yunho dan kawanannya akan berjelajah, tentu saja mereka harus tahu daerah kekuasaan orang lain agar tidak melanggarnya dan menyebabkan perang. Jika mereka menemukan daerah kosong, mereka bisa menandainya sebagai daerah kekuasaan mereka yang baru. Semua ini adalah tentang memperluas daerah kekuasaan.

Tiga orang tersebut adalah Kyuhyun – sepupu Gikwang yang indera penciumannya sangat tajam, Sandara – adik kandungnya sendiri yang pendengarannya sangat jernih, serta Taecyeon yang terkuat kedua setelah Yunho dalam kawanan. Tujuannya ia ikut agar bisa melindungi Sandara dan Kyuhyun jika tiba-tiba ada hal-hal tak diinginkan terjadi.

“Kau adalah seorang Alpha. Kau tidak boleh berada dalam posisi kebingungan. Semua masalah harus dicarikan jalan keluar secepatnya. Ingat, para werewolf  bergantung padamu.” Kata Junjin dengan bijak. “Nah, mulailah menjelaskan.”

Yunho terlihat menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya perlahan barulah ia memulai ceritanya.

“Taecyeon membawa kabar buruk. Selama penjelajahannya ke selatan, ia menemukan banyak dari sisa-sisa suku Drygioni yang masih hidup bersatu dengan suku dari barat yang menamakan diri mereka Heglog. Dan mereka tengah menyusun kekuatan.”

Seperti yang Yunho tebak dari awal, ayahnya terlihat sangat terkejut. “Drygioni? Manusia-manusia bersisik seperti ular itu? Kupikir mereka benar-benar sudah binasa. Dan.. suku apa Heglog itu?”

“Manusia berbulu seperti tarantula. Mereka dikabarkan cukup kuat.” Yunho terdiam sebentar kemudian melanjutkan. “Ayah, inilah yang membuatku cukup bingung. Jika Drygioni kembali membangun pasukannya bahkan menjalin persahabatan dengan Heglog, apa yang akan terjadi? Karena aku masih ingat jelas cerita kakek kalau suku kitalah yang membinasakan Drygioni. Apakah mereka..”

“Pikirkanlah kemungkinan terburuk. Lebih baik waspada. Mulailah mempersiapkan kawananmu.”

Inilah yang Yunho takutkan. Ia tidak ingin ada perang. Selama bertahun-tahun mereka hidup dengan tenang dan kini tiba-tiba mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya karena kembalinya salah satu bangsa yang pernah dimusnahkan oleh bangsanya sendiri.

“Dan jangan berjelajah terlalu jauh terutama ketika kau membawa adik-adikmu. Keselamatan kawanan ada di pundakmu, Alpha. Ingat itu.”

*

            “Tampaknya kosong.” Suara Taecyeon bergema di kepala Yunho.

“Tidak. Jangan gegabah. Teruskan mencari tanda-tanda tertentu. Aku khawatir tempat ini sudah dikuasai suku lain.” kata Yunho lewat pikirannya.

Ia sendiri terus berlari, matanya dengan sigap menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tanda kekuasaan suku tertentu. Hari itu mereka memulai penjelajahan ke tenggara, mereka hanya berharap mendapatkan daerah baru sebagai daerah kekuasaan mereka.

“Kupikir tempat ini memang kosong. Aku sudah mengecek dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda kekuasaan disini, Alpha.” Kali ini Minho yang berbicara.

“Benar. Aku dan Gikwang sudah berbalik dan menelusuri tempat ini dengan teliti. Sepertinya memang kosong.” Hoya menambahkan yang diiyakan oleh Gikwang.

“Apa ini artinya kita mempunyai daerah kekuasaan baru?” tanya Yonghwa.

Yunho tidak langsung menjawab. Ia mencari lokasi terbuka lalu berhenti di tepi sebuah sungai kecil. Di sana, ia meminum air sungai jernih itu, melepaskan dahaganya setelah berlari selama hampir dua jam. Kawanannya mengikuti jejaknya, semua minum dengan cepat, membasahi kerongkongan kering mereka.

“Aku senang karena penjelajahan kita tidak sia-sia. Kita mendapatkan daerah kekuasaan baru. Hidup Gyfraddia.” Seru Yunho dengan bangga.

“Hidup Gyfraddia!” seru kawanannya dengan penuh semangat.

Yunho lalu berlari mendekati sebuah pohon terbesar yang tampak berumur puluhan tahun. Ia lalu meraung keras seraya menanamkan cakarnya dalam-dalam di batang pohon itu kemudian menggoresnya dalam lima garis panjang. Tempat itu telah ditandai oleh Alpha dari Gyfraddia.

Kesebelas werewolf yang ikut bersamanya itu melolong keras. Bersuka cita atas pencapaian mereka hari itu.

“Selamat Alpha, kau berhasil lagi hari ini.” tutur Yuri dari seberang sungai. Ia duduk melintang dengan anggun seraya menatap sang Alpha.

“Terima kasih, black pearl. Kurasa malam nanti kita pantas mengadakan sebuah perayaan.” Balas Yunho dalam pikirannya.

“Aku setuju! Aku ingin berdansa dan bernyanyi di depan api unggun.” Sandara menimpali dengan ceria sementara di sampingnya Yonghwa, sang kekasih, tengah mengendusnya dengan mesra.

“Kasihan sekali Alpha kita harus menonton adik-adiknya bercumbu.” Gikwang menyalak riang ke arah sang Alpha yang duduk sendiri. Minho, Hoya dan Jongin ikut menyalak riang mengejek Alpha mereka yang kesepian.

Yunho mengamati Sandara yang asik bercumbu dengan Yonghwa, keduanya tampak sangat bahagia. Sedangkan si bungu Kyungsoo tengah bersandar di dada Kris, kekasihnya. Kris tampak menanggapi semua cerita-cerita Kyungsoo dengan tenang.

Yunho menyadari, ia memang belum mempunyai pasangan. Bukan berati ia tidak disukai. Siapa yang tidak mau menjadi pasangan sang Alpha? Namun, hatinya sudah terpikat oleh sosok putih bersih yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya, Kyuhyun.

Yunho menyukai Kyuhyun. Dan ia tahu Kyuhyun juga menyukainya. Tapi ia belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mungkin tidak untuk saat ini. mereka masih punya banyak waktu.

Di seberang sana, Kyuhyun masih menatapnya dengan sorot malu-malu. Ia duduk di atas sebuah batu besar dengan dagu bersandar sepenuhnya pada kedua kaki depannya. Lucu dan menggemaskan.

Hanya Kyuhyun dan Sandara yang mempunyai bulu putih bersih. Sedangkan hanya Yunho yang mempunyai bulu hitam pekat dan berkilau.

Seperti julukannya, black pearl, Yuri memiliki bulu yang juga berwarna hitam namun tidak sepekat milik Yunho. Tidak ada yang bisa menyamai warna bulu Yunho karena ia adalah Alpha, pimpinan dari kawanan.

Tiba-tiba tatapan Yunho yang mendalam pada Kyuhyun buyar karena pekikan dari Jongin. Yunho segera menoleh mencari sumber suara dan hatinya langsung mencelos melihat pemandangan yang tersaji di sana.

Sepuluh lelaki gondrong bertubuh besar dengan bulu-bulu kaku berwarna hitam yang tumbuh di seputar lengan dan bahu mereka tengah berdiri dengan sikap arogan, berjejer menghadap kawanan werewolf Gyfraddia. Tubuh mereka sedikit membungkuk. Jika diperhatikan sengan seksama, mereka seperti tarantula berwujud manusia.

“Mereka adalah suku Heglog yang kuceritakan!” seru Taecyeon.

Hoya dan Jongin berada di posisi terdekat dengan para lelaki itu. Jongin bangkit dari posisinya yang tadi sempat terpental. Di sampingnya, Hoya mengeram marah. Dari posisi Jongin saat ini, sepertinya ia baru saja dilukai.

“Jongin.. Apa kau baik-baik saja?” tanya Yunho.

“Aku baik-baik saja, Alpha. Pimpinan mereka tadi menendangku dengan keras. Tapi sepertinya mereka tidak tahu seberapa kuatnya kita hingga mengira dengan tendangan seperti itu akan membuatku terluka.” Jawab Jongin dengan nada sedikit marah.

“Lindungi Kyungsoo dan Sandara!” Perintah Yunho. Segera setelah ia mengucapkan perintahnya, seluruh kawanan membentuk lingkaran dengan Kyungsoo dan Sandara di tengah.

Yunho melangkah maju dengan langkah-langkah waspada dan berhenti tepat di depan Jongin dan Hoya. Matanya tetap mengarah langsung pada mata seseorang yang berada di tengah

barisan Heglog yang diduga adalah pimpinannya jika dilihat dari ukurannya yang sedikit lebih besar daripada yang lain.

“Oh.. Apakah kalian adalah werewolf dari Gyfraddia yang terkenal itu? Sungguh, sudah lama aku ingin mengenal kalian.” Kata sang pemimpin pada Yunho.

Yunho menjawab dengan geraman rendah dan dalam. Posisi waspada tengah menguasainya.

“Aku kemari karena kutahu daerah ini kosong. Tapi sepertinya kalian telah menempatinya terlebih dahulu.” Katanya lagi.

“Mereka telah menandainya.” Bisik seseorang yang berdiri di sebelah kanan sang pemimpin.

“Menandainya? Ah.. curang sekali. Bukankah seharusnya ia memberikannya pada suku kecil seperti kita yang tidak punya banyak daerah kekuasaan? Betapa rakusnya suku yang satu ini.” kata lelaki itu lagi seraya menyeringai memamerkan giginya yang kuning dan gusinya yang menghitam.

Kembali Yunho mengeram. Kali ini sedikit tinggi dari yang pertama. Di belakang, kawanannya tampak siap seperti dirinya.

Alpha, waspadalah.” Suara merdu Kyuhyun muncul dalam kepala Yunho, memberinya kekuatan lebih.

Mereka terlihat kuat. Walaupun jumlah kawnan Yunho sedikit lebih banyak, tapi mereka membawa Kyungsoo dan Jongin hari ini. Dan mereka tidak boleh terluka. Mereka ikut untuk belajar, bukan untuk bertempur. Dan lagi, ia membawa Sandara. Ayahnya tidak akan suka jika anak perempuannya terluka.

Satu-satunya jalan saat ini adalah menghindari pertempuran demi keselamatan yang lain. Pelan-pelan Yunho berjalan mundur, diikuti kawanannya.

“Hei.. Mau kemana kalian? Apa kalian terlalu takut menghadapi kami? Selemah itukah kau sebagai pemimpin?” ejek sang pemimpin Heglog pada Yunho.

“Setelah sekian lama aku ingin bertemu kalian dengan hanya mendengar cerita-cerita tentang betapa kuatnya kalian, kini kalian akan mundur begitu saja? Tidak, tidak akan kubiarkan. Aku ingin membuktikan sendiri legenda kekuatan kalian. Jadi.. bersiaplah..”

Detik berikutnya ia sudah berlari cepat, mengarahkan tombak besarnya kedepan, menerjang sang Alpha..

*

Yunkyu Yuri Sandara

To Be Continued..

Heart Without a Home – Teaser

image

Cast :

Jung Yunho

image

 

 

Cho Kyuhyun

image

 

 

Do Kyungsoo

image

 

 

Ok Taecyeon

image

 

 

Kris Wu

image

 

 

Jung Yonghwa

image

 

 

Choi Minho

image

 

 

Kim Jongin

image

 

 

Lee Gikwang

image

 

 

Lee Ho Woon

image

 

The tale of the werewolf..

When the sun shines brightly on your day and the moonlight falls beautifully on your night, they’re not even perfect for your heart without a sweet home..

And the story has just begun..