Obsession – Chapter 5

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, HaeKyu, JoonKyu, ChangKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 5

The Coffee Prince

Aku suka melihatmu tersenyum, aku jadi lupa sejenak dengan semua masalahku..

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang akan selalu membuat hati Kyuhyun hangat.

Kupikir, kau tidak boleh terlalu sering melakukan ekspresi wajah seperti itu. Para lelaki di luar sana akan menculikmu dariku..”

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang selalu membuat Kyuhyun tersipu malu.

Bagaimana kalau kita berjanji untuk bersama selamanya?”

Dan itu adalah kata-kata Yoon Doojoon yang langsung membuatnya mengerti bahwa lelaki itu adalah lelaki terbaik untuknya.

Setelah mereka akhirnya melewati empat tahun penuh perjuangan, meyakinkan ibu Doojoon bahwa mereka layak bersatu serta keduanya lulus dengan nilai sempurna dari kampus, membuat jalan untuk mereka tetap bersama semakin terbuka lebar.

Tapi itu dulu.. Tepatnya setahun yang lalu. Seminggu setelah mereka lulus kuliah, prahara itu datang.

Saat itu Kyuhyun menangis. Choi Minho hanya bisa memeluknya, memberi kekuatan agar sahabatnya bisa tetap tegar. Karena Kyuhyun menangis tanpa suara, membuat siapa saja mengerti bahwa apa yang dirasakannya saat ini pastilah sangat berat.

“Kyuhyunnie.. Tenanglah..”

Taecyeon yang juga ada disana membelai rambut caramel lelaki itu. “Menangislah..” katanya yang berlawanan dengan saran Minho. “Menangislah sampai puas, hingga kau lelah dan tak ingin menangis lagi. Setelah itu bangkitlah lagi menjadi Kyuhyun yang dulu.”

Setelah hampir tiga puluh menit airmata Kyuhyun tidak juga berhenti mengalir, Minho dan Taecyeon memutuskan untuk keluar dari kamar Kyuhyun dan memberinya waktu untuk sendiri.

“Aku tidak menyangka mereka akan menikah secepat ini. Maksudku..”

“Sudah saatnya.” Kata Taecyeon memotong perkataan Minho. “Mereka sudah lama bersama, sudah saatnya mereka meresmikan hubungan mereka. Jujur, aku enggan sekali memberikan undangan ini kepada Kyuhyun, tapi.. Ara sendiri yang memintaku menyampaikannya.”

“Kami juga mendapatkan undangannya dari Changmin hyung. Tapi.. aku menyembunyikannya hingga saat yang tepat, aku takut Kyuhyun akan terluka jika tahu Yunho hyung dan Ara noona akan menikah.” Jelas Minho.

“Maaf kalau aku mengacau. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau sudah punya rencana.” Taecyeon meminta maaf dengan tulus.

“Tidak apa-apa hyung. Kurasa, Kyuhyun memang harus tahu. Dan lagi, ia tidak boleh seperti ini. Ia sudah punya kekasih. Tidak pantas masih menyimpan rasa untuk cinta pertamanya ketika ia sudah punya kekasih, bukan? Dan lagi, hubungan mereka sudah berjalan empat tahun.” Minho menjawab seraya menghela nafas berat.

“Jangan salahkan dia seperti itu. Aku yakin dia ingin membuang rasa cintanya pada Yunho tapi ia tidak bisa. Sebagai sahabat, sudah sebaiknya kita membantunya.”

Minho mengangguk. “Aku akan terus membantunya melupakan perasaannya pada Yunho hyung. Aku kasihan pada Doojoon, kalau saja ia tahu, ia pasti akan sangat terluka.”

Tanpa mereka sadari, Yoon Doojoon ada disana, bersembunyi di balik tembok, mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka seraya menahan sakit yang menghantam telak di dadanya.

*

            “Aku mencintaimu..”

“Aku lebih mencintaimu.. Tapi aku tahu aku tidak akan pernah memilikimu selamanya.”

“Biarkan aku memperbaiki kesalahanku.”

“Tidak ada yang perlu kau perbaiki, karena kau tidak bersalah sama sekali. Jangan menangis Kyuhyunnie.. Jebal..”

“Jangan tinggalkan aku..”

“Kita tidak bisa bersama jika setengah hatimu masih untuk lelaki lain. Maafkan aku..”

“Tidak, akulah yang harus minta maaf. Aku yang mengacaukan segalanya. Hukum saja aku, tapi jangan tinggalkan aku, jebal.. jebal..”

Yoon Doojoon memeluk tubuh Kyuhyun yang kini sudah berlutut di lantai, menangis dan memohon padanya. Ia membelai rambut Kyuhyun dengan penuh rasa sayang. “Kyuhyunnie.. Uljima.. Jujur aku sangat terluka.”

“Beri aku kesempatan sekali lagi.. Aku akan memperbaiki segalanya.”

“Empat tahun bukan waktu yang singkat. Aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan.”

“Sekali ini saja, jebal..”

Yoon Doojoon menutup matanya, menahan airmatanya yang hendak tumpah. Ia mencintai Kyuhyun. Tapi rasa sakit di hatinya tidak bisa pergi begitu saja ketika mengingat Kyuhyun mencintai orang lain selain dirinya. Bahkan Kyuhyun sudah membagi hatinya sejak pertama ia menjalin cinta dengan kekasih pertamanya, Changmin.

Doojoon ingin sekali memberi Kyuhyun kesempatan saat itu juga, tapi ia ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Kesempatan untuk bisa menerima kekurangan lelaki yang dicintainya, kesempatan untuk berdamai dengan hatinya juga kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

“Baiklah.. Aku memberimu kesempatan. Jalanilah hidupmu dengan baik. Teruslah melangkah maju. Jangan melihat kebelakang dan menyesali segalanya yang telah berlalu. Bukalah hatimu untuk cinta lain atau setidaknya, jangan lagi biarkan ada hati yang terluka karena cinta pertamamu. Jika suatu hari nanti kau sudah terlepas dengan belenggu itu, aku harap kita bisa bertemu lagi. Aku akan menunggu dan hanya akan menyerah ketika kudengar bahwa kau telah bahagia.”

Itu adalah kalimat terakhir yang di dengar oleh Kyuhyun dari bibir Yoon Doojoon. Setelah hari itu, Kyuhyun tidak pernah lagi melihatnya, mendengar suaranya atau bahkan mengetahui kabar tentang lelaki itu. Yoon Doojoon menghilang. Ia benar-benar keluar dari kehidupan Kyuhyun.

*

            “Maaf aku terlambat. Kau tahu, Minseok hyung sedang sakit jadi aku harus mengerjakan tugasnya. Nah, ceritakan padaku apa yang terjadi tadi.” kata Minho setelah duduk di depan Kyuhyun.

Sore itu mereka bertemu setelah jam kerja usai di sebuah cafe ternama di kawasan Myeongdong. Mereka suka berpindah-pindah tempat tapi ketika café ini dibuka beberapa bulan lalu, keduanya langsung jatuh cinta dan memutuskan tempat itu sebagai tempat favorite mereka. Apalagi mereka kenal dengan anak pemilik café itu.

“Kau masih ingat Jung Yonghwa? Teman kerjaku yang sangat pandai menggambar itu.” kata Kyuhyun memulai ceritanya.

Minho mengangguk. “Tentu saja. Ia berasal dari Busan kan? Ada apa dengannya?”

“Dia menyatakan cinta padaku siang tadi.”

Mata Minho membulat sempurna. “Mwo? Huaaa.. Kyuhyunnie, benarkah? Lalu apa jawabanmu?”

Kyuhyun melambaikan tangannya. “Tentu saja aku menolak. Kau tahu sendiri aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun.”

Minho menggangguk. Jung Yunho telah menikah dan Yoon Doojoon meninggalkannya, wajar kalau Kyuhyun masih sangat trauma untuk jatuh cinta ataupun menjalin hubungan lagi walaupun sudah setahun ia menyendiri. Ia baru saja bisa benar-benar tertawa lepas belakangan ini, belum saatnya mengganggunya dengan urusan asmara.

“Kyuhyun-ssi? Minho-ssi? Kalian datang lagi. Apa kabar?”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Seorang gadis cantik berdiri disana, melambai penuh semangat pada keduanya.

“Lee Yeonhee!” seru Kyuhyun tak kalah bersemangat.

Gadis jangkung dengan wajah innocent itu mendekat seraya tersenyum manis pada keduanya. Lee Yeonhee adalah anak pemilik café tempat mereka bersantai saat ini. Mereka bertemu gadis pemalu dan baik hati itu di pembukaan kantor cabang Minseok, bos Minho di kantor. Minseok jugalah yang mengenalkan mereka pada Lee Yeonhee. Sejak saat itu mereka sering bertemu, terlebih saat Kyuhyun tahu bahwa Minho menyukai Yeonhee walaupun gadis itu setahun lebih tua darinya. Dan Yeonhee melarang keras Kyuhyun dan Minho memanggilnya noona.

Choi Minho segera menegakkan punggungnya, mencari posisi duduk yang baik dan memamerkan seulas senyum yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut karenanya.

“Apa kalian sudah lama disini?” tanya Yeonhee ketika ia sudah berdiri di antara Minho dan Kyuhyun.

“Tidak juga, kira-kira baru sepuluh menit yang lalu kami tiba.” Jawab Kyuhyun.

“Oh.. Begitu..”

Kyuhyun melirik Minho yang hanya diam di depannya. Dengan satu tendangan kecil ke kaki Minho, Kyuhyun menyadarkan sahabatnya itu untuk setidaknya menyapa si pemilik café.

“Oh.. Kau.. Tampak cantik hari ini.” kata Minho terbata-bata.

Kyuhyun memutar bola matanya. Inilah Choi Minho, sahabat terdekatnya yang sangat tampan dan berkharisma. Tapi tidak bisa memilih kata-kata yang baik ketika berada di sekitar Yeonhee.

Tampak cantik hari ini? Bukankah setiap hari Yeonhee memang cantik?’ kata Kyuhyun dalam hati.

Lee Yeonhee tersipu mendegarnya. “Nah, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian.”

“Siapa?” tanya Kyuhyun dan Minho bersamaan namun mendapatkan isyarat untuk menunggu dari gadis itu. Ia lalu menghilang ke arah dapur dan baru kembali beberapa menit kemudian bersama seorang lelaki tampan. Lee Yeonhee menggandeng lelaki itu dengan mesra, membuat ekspresi wajah Minho berubah dari cerah menjadi muram.

“Oppa, kenalkan, ini adalah Cho Kyuhyun dan Choi Minho, pelanggan tetap kita. Ah, tidak, mereka bahkan masuk dalam kelas VIP.” Kata Lee Yeonhee memperkenalkan kedua sahabatnya pda lelaki tampan di sampingnya.

Lelaki itu tersenyum sopan. “Halo, aku Lee Donghae. Senang bertemu kalian. Jadi, kalian lah yang selalu diceritakan oleh Yeonhee?”

Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat. Kalau Yeonhee saja memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’, artinya lelaki itu lebih tua daripada mereka, bukan?

“Yeonhee-ssi terlalu berlebihan. Kami hanya datang saat senggang dan..”

“Dan kebetulan waktu senggang kami banyak.”

Yeonhee dan Donghae tertawa mendengar pengakuan polos Kyuhyun dan Minho.

“Kalian akan sering bertemu nantinya, karena Donghae oppa adalah barista baru di sini. Kalian harus mencoba kopinya, aku yakin kalian akan ketagihan. Dan ia jauh-jauh pindah kemari dari New Zealand hanya untuk membantuku.” Kata Yeonhee lagi, mempromosikan barista-nya.

“Wah.. New Zealand? Aku pernah melihatnya di internet. Disana indah sekali, terutama pada musim dingin. Benar-benar seperti pemandangan di kartu natal.” Kata Kyuhyun bersemangat.

“Benar. Dan kebetulan rumahku berada di pinggiran kota. Kau benar-benar bisa melihat apa yang kau katakan tadi.” kata Donghae dengan bangga.

“Dan aku akan menghabiskan liburan natal disana tahun ini. Oh, bulan desember hanya tinggal empat bulan lagi. Aku benar-benar tak sabar menunggu.” Lee Yeonhee tersenyum senang, mempererat pelukannya di lengan Donghae.

“Benarkah?” tanya Minho dengan nada janggal.

Kyuhyun melirik Minho tajam. ‘Lelaki bodoh ini bahkan tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya! Aku harus membantunya.

“Maaf, tapi.. apa kalian..”

“Berpacaran?” tebak Donghae langsung.

Kyuhyun mengangguk kecil, membuat Donghae dan Yeonhee meledak tertawa. Donghae langsung menggeleng sedangkan Yeonhee melambaikan tangannya.

“Ayah Yeonhee adalah pamanku. Jadi, gadis lucu ini adalah sepupuku.” Jelas Donghae.

Kyuhyun langsung bisa mendengar desahan lega di sampingnya.

*

            Tidak butuh waktu lama untuk Donghae masuk ke dalam lingkaran persahabatan Kyuhyun, Minho, dan Yeonhee. Lelaki itu sangat bersahaja. Ia mudah di dekati dan sangat percaya diri. Mereka berempat sering menghabiskan waktu senggang di café, di rumah Minho, atau di apartemen Yeonhee ketika gadis itu memasak untuk mereka.

Kyuhyun dan Minho bahkan sudah diajari cara membuat kopi yang enak, walapun mereka tidak bisa membuatnya di rumah karena tidak ada alat dan bahan yang mendukung. Jadi mereka hanya bisa membuatnya di apartemen Donghae, dimana semua mesin pembuat kopi beserta bahan-banhannya tersedia.

“Seoul benar-benar indah sekarang. Aku jarang sekali pulang sepuluh tahun ini.” Kata Donghae malam itu. Ia, Kyuhyun dan Minho sedang menikmati indahnya kota Seoul dari tingkat 14, tempat dimana apartemen Donghae berada. Masing-masing menggenggam mug besar berisi latte hangat.

“Mengapa kau meninggalkan Seoul dulu?” tanya Kyuhyun.

Donghae tersenyum. “Ayahku dipindah tugaskan ke New Zealand. Walau semua keluarga ada di Seoul, tapi kami jarang sekali pulang karena yah, ayahku cukup keras kepala dan ia tidak terlalu akur dengan keluarga kami, jadi.. Yah, kau bisa membaca situasinya kan?”

Kyuhyun mengerti. Itu adalah masalah pribadi. Ia tidak boleh bertanya lebih lanjut.

“Lalu, bagaimana dengan kalian?” Donghae mengalihkan pembicaraan. “Apa langkah selanjutnya yang ingin kalian capai dalam beberapa tahun?”

“Aku ingin membuka usaha sendiri. Setelah aku menabung cukup banyak, aku ingin membuka usaha lain. Jujur saja, aku benci jika harus bekerja di kantor setiap hari.” Jawab Kyuhyun.

“Pemikiran yang bagus. Kau tidak ingin menjadi karyawan, kau ingin menjadi bos.” Donghae menambahkan membuat Kyuhyun takjub.

“Bagaimana kau tahu, hyung? Wah.. Jangan-jangan kau bisa membaca pikiranku.”

Donghae menggeleng. “Bukan hanya pikiranmu, tetapi pikiran semua orang. Maksudku, aku bisa melihat ke dalam pikiranmu. Baik yang terbuka maupun yang ingin kau sembunyikan.”

Minho menyipitkan matanya. “Buktikan.”

“Baiklah. Bagaimana kalau aku memulai darimu?” tawar Donghae.

“Boleh saja.” Tantang Minho.

Donghae mengusap dagunya. Ia menatap Minho dalam-dalam lalu mulai membaca kenangan Minho. “Hm.. Choi Minho.. Menyayangi Kyuhyun melebihi siapapun.. Cukup populer di kalangan para gadis tapi hanya beberapa kali pacaran dan tidak ada yang serius.. Bekerja dengan baik dan merupakan salah satu kesayangan atasannya..”

Kembali Minho menyipitkan matanya. “Kau pasti memata-mataiku, hyung. Iya kan?”

Donghae tertawa. “Untuk apa? Lagipula kita belum lama kenal. Bagaimana mungkin aku memata-mataimu?”

“Lalu bagaimana kau tahu?”

“Sudah kukatakan aku membaca pikiranmu. Aku bisa melihat ke dalam kenanganmu.” Jelas Donghae lagi.

Tapi Minho tetap tidak percaya. Atau lebih tepatnya menolak untuk percaya karena ia tahu apa yang dikatakan Donghae tadi memang benar.

“Baiklah, aku akan membaca yang lebih spesifik.” Kata Donghae yang langsung diikuti anggukan setuju dari Minho.

“Kau diputuskan kekasih pertamamu karena kau tidak siap menciumnya pada hari ulang tahunnya padahal ia sangat berharap untuk itu.”

Minho terkesiap. ‘Bagaimana ia tahu hal ini?’

“Lalu kau pernah berkelahi dengan temanmu semasa kuliah hanya karena ia memutuskan mantan kekasihmu di depan orang banyak. Semua orang menganggapmu pahlawan saat itu, tapi tidak ada yang tahu bahwa kau melakukannya bukan karena kasihan pada mantan kekasihmu melainkan ingin menunjukkan bahwa kau jauh lebih kuat daripada lelaki itu.”

Kyuhyun menutup mulutnya. ‘Hanya aku yang tahu motif Minho yang sebenarnya saat itu.

“Dan saat ini, kau menyukai.. Sepupuku.”

Wajah Minho memerah seketika. Rahasia terbesarnya terbongkar sudah.

“Kau menyukainya kan? Mengaku saja.”

Semua yang dikatakan Donghae memang benar. Mungkin Donghae hanya memaparkan secara garis besar, tapi Kyuhyun yakin Donghae menutupinya atau lebih tepatnya menghargai privasi Minho.

“Baiklah, aku mengaku. Tapi kumohon jangan katakan hal ini pada Yeonhee.”

“Tenang saja. Itu adalah urusan kalian berdua. Aku tidak akan ikut campur. Tapi kulihat kau adalah lelaki yang baik. Jadi aku akan memberimu dukunganku.” Kata Donghae seraya mengancungkan jempolnya.

“Apa Yeonhee-ssi juga suka pada Minho?” tanya Kyuhyun.

Donghae menggeleng. “Aku tidak akan memberitahukan apa-apa kepada kalian. Jika Minho menyukai Yeonhee, sudah seharusnya ia mencari tahu perasaan Yeonhee padanya, bukan?”

Kyuhyun dan Minho mengangguk bersamaan.

“Nah, bagaimana kalau sekarang aku membaca Kyuhyun?” tawar Donghae.

“Aku ingin pulang sekarang!” kata Kyuhyun seraya berdiri dari duduknya dan menghindari tatapan Donghae.

*

            Lee Donghae. Sosok tampan itu benar-benar membantu Kyuhyun untuk menjadi dirinya sendiri. Tepat seperti yang selalu Minho inginkan. Cho Kyuhyun yang dulu. Yang ia kenal sejak kecil. Donghae tidak pernah menanyakan apapun mengenai masa lalu Kyuhyun. Ia seperti tidak peduli sama sekali selama hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Walaupun Kyuhyun tahu bahwa Donghae pasti sudah melihat segalanya dari pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun banyak belajar dari Donghae tentang banyak hal. Donghae selalu memberinya saran dan pendapat mengenai pekerjaan kantor maupun masalah-masalah kecil yang menimpa Kyuhyun. Bahkan tentang para lelaki yang menyukai Kyuhyun sekalipun. Ia akan memberi pandangan mengenai baik dan buruknya lelaki ini di matanya.

“Siwan sangat tampan kan hyung? Menurutmu bagaimana?” tanya Kyuhyun suatu hari.

“Aku setuju. Dia juga tipe lelaki setia dan baik hati. Kau tidak akan pernah menyesal. Tapi.. Dia adalah seorang biseks. Dengan latar belakang keluarganya yang sangat terkenal, dia pastinya akan menikahi seorang gadis nantinya. Kau hanya akan sakit hati.” Jawab Donghae ketika mereka baru saja pulang dari pertemuan dengan Siwan.

Di lain kesempatan ada lelaki lain yang mendekati Kyuhyun.

“Ayolah, Dongwoon ini orang yang tepat untukmu. Kenapa kau menolaknya? Andai saja kau bisa melihat ke dalam kepalanya seperti aku, kau akan tahu betapa baiknya dia.”

Kyuhyun menggeleng. “Hubungan itu butuh chemistry. Dan aku tidak menemukannya diantara kami.”

Terkadang Kyuhyun dengan iseng mengajak Donghae ke beberapa rumah teman baiknya, hanya untuk melihat apakah orang tersebut memang seperti dugaannya.

“Kedua orang itu saling menyelingkuhi pacar mereka masing-masing.” Jawab Donghae ketika Kyuhyun menayakan perihal hubungan Kibum dengan Yoona.

Ekspresi mual langsung tergambar di wajah Kyuhyun. “Sudah bisa kutebak sejak awal. Hanya saja aku tidak yakin.”

Seperti itulah mereka. Terlebih sejak Minho dan Yeonhee sudah resmi menjadi sepasang kekasih, keduanya bagai pria-pria kesepian yang saling mencari hanya untuk makan malam atau sejenak bertemu untuk mengobrol.

Keduanya benar-benar berhubungan baik, tanpa ada ikatan atau cinta. Kyuhyun mendapati dirinya merasa sangat nyaman berada di samping Donghae. Seperti seorang kakak lelaki yang selama ini tidak pernah dimilikinya dan seorang sahabat baru yang benar-benar menyenangkan. Walaupun Donghae sama sekali tidak jahil seperti dirinya dan Minho, tapi ia selalu mendukung Kyuhyun. Membiarkannya melakukan kenakalannya tapi membelanya ketika Kyuhyun ketahuan.

“Kau tahu hyung.. Kau adalah hyung terbaik di dunia. Dan aku sangat bangga karena memilikimu.” Kata Kyuhyun seraya memberikan pelukan hangatnya pada Donghae ketika lelaki itu memberinya tiket untuk ikut berlibur di New Zealand bersamanya.

*

            “Ya! Kyuhyunnie, berhenti. Beri aku kesempatan untuk membalasmu!” jerit Minho yang tengah kewalahan menghadapi serangan bola es dari Kyuhyun.

“Tidak akan!”

Kyuhyun terus menyerang Minho, membuat lelaki itu berlutut minta ampun pada sahabatnya. Diikuti tawa kemenangan, Kyuhyun menghentikan serangannya.

“Ayo kembali ke dalam. Aku nyaris membeku disini.” Kata Kyuhyun setelah membantu Minho membersihkan diri dari serpihan es di tubuh dan rambutnya.

“Kau bilang nyaris membeku tapi tidak berhenti menyerangku.” Gerutu Minho seraya ikut berjalan di samping sahabatnya.

“Justru aku melakukannya untuk menghangatkan tubuhku, tetap bergerak disamping ingin membalasmu karena kau menjahiliku di pesawat semalam.” Balas Kyuhyun sambil memeletkan lidahnya.

Mereka melewati sore yang indah itu di New Zealand. Bersama Yeonhee dan Donghae, keduanya berlibur ke tempat dimana Donghae menghabiskan masa remaja hingga menuju dewasa itu.

Kyuhyun dan Minho harus meminta ijin selama sebulan sebelum keberangkatan mereka mengingat kedua orang tua mereka terlalu ketat menjaga keduanya walaupun umur mereka sudah nyaris seperempat abad. Minho bahkan harus mengeluarkan banyak uang untuk membelikan berbagai macam hadiah untuk ibunya.

Sedangkan Kyuhyun tinggal menunggu jawaban dari ibu Minho. Karena ia tidak akan diperbolehkan bepergian terlalu jauh apalagi sampai menyebrangi benua jika Minho tidak bersamanya.

“Bagaimana mungkin kalian merayakan malam natal tanpa keluarga?” tanya ayah Kyuhyun hari itu.

“Bukankah hanya sekali ini? Aku selalu merayakan malam natal bersama keluarga selama 23 tahun. Sekali ini saja, appa, ijinkanlah aku pergi. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mendapat tiket gratis dan aku akan tinggal di rumah teman selama di sana. Lagipula Minho bersamaku.” Rajuk Kyuhyun dengan wajah memelasnya yang khas.

“Ini bukan soal uang. Tapi soal keselamatanmu sendiri. Tidak, keselamatan kalian. Kalian senang sekali mengacau dimana-mana, bagaimana appa tahu kalau kau dan Minho tidak membuat masalah lalu membuat temanmu repot dan kalian dikirim ke kedutaan untuk di deportasi?”

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas. Awal ia meminta ijin seperti itu. maka dengan giat ia terus meminta ijin setiap hari hingga ayahnya bosan dan akhirnya merelakannya pergi dengan catatan jika ia membuat masalah, ayahnya sendiri yang akan menjemputnya dan mengurungnya di basement rumah mereka seumur hidup.

Maka berangkatlah mereka. Seperti yang Kyuhyun lihat di internet, New Zealand memang luar biasa indah. Tidak mungkin lebih tepatnya cantik atau bahkan sangat cantik melebihi gambar yang ia lihat sebelumnya.

Karena Donghae tinggal di pinggiran kota, maka mereka menempati daerah pedesaan yang cantik. Di musim bersalju seperti itu saja sudah sangat cantik, bagaimana jika di musim semi nanti? Kyuhyun bahkan yakin sebenarnya disanalah tempat tinggal Santa Claus yang sebenarnya, membuat Minho mengejeknya seharian karena dianggap tidak pernah membaca dongeng natal.

Rumah Donghae tidaklah sebesar rumah Kyuhyun di Seoul. Maklum saja, sebelumnya Donghae hanya tinggal berdua dengan ayahnya di sana. Namun rumah kecil itu benar-benar nyaman dan hangat. Bahkan mereka punya perapian. Membuat Kyuhyun dan Minho yang memang hidup di dunia modern Seoul dan tidak pernah melihat perapian secara langsung, terlonjak girang. Mereka bahkan beberapa kali bertengkar karena sibuk berlomba memasukkan kayu bakar ke dalam tungku ketika waktunya tiba.

“Kalian cepatlah masuk, Yeonhee sudah memasak.” Kata Donghae. kepala lelaki itu menyembul dari jendela besar yang menghadap ke halaman belakang rumah.

“Yang terakhir masuk adalah troll!” kata Minho seraya berlari mendahului Kyuhyun.

“Ya! Curang!” jerit Kyuhyun.

Kembali, keduanya berlari memasuki rumah sambil saling mengejek seperti sebelum-sebelumnya.

*

            Kyuhyun berbaring dengan bosan di kamar yang ia pakai bersama Minho. Donghae sedang membeli beberapa keperluan di supermarket terdekat sedangkan Yeonhee sedang memasak dibantu oleh Minho di dapur. Kyuhyun ingin sekali membantu seandainya keduanya tidak memasak sambil saling merayu atau beradegan manis.

Malam ini adalah malam natal. Malam yang sangat berarti bagi semua umat nasrani. Konon, di malam natal, semua permintaanmu tercapai.

Bukankah itu dongeng untuk anak kecil?

Itu adalah kata-kata Changmin yang diingat oleh Kyuhyun. Karena menurutnya, semua permintaan dan doa adalah sugesti, dimana kita akan terpacu secara tidak sadar untuk meraihnya.

‘Bagaimana kabar Changmin hyung? Apa ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati. Tanpa sadar ia lalu mencoba online di skype.

“Changmin hyung sedang online.” Kata Kyuhyun seraya tersenyum.

Detik berikutnya sebuah pesan masuk ke chat line-nya. Dari Changmin.

Shim Changmin :

Hi sweet evil, bagaimana kabarmu?

Kyuhyun tersenyum. Dengan cepat ia mengetikkan beberapa kalimat, membalas pesan dari mantan kekasihnya itu.

Cho Kyuhyun :

Hyunggg.. Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?

Shim Changmin :

Tidak pernah baik tanpamu :p Bagaimana Seoul? Aku merindukan kota itu.

Kyuhyun tersipu.

Cho Kyuhyun :

Berhenti merayuku. Kota kita tidak banyak berubah, tetap seperti dulu. Kau tidak pulang natal ini hyung? Sebentar.. Bukankah kau memang tidak pernah pulang?

Shim Changmin :

Sedih rasanya tidak bisa pulang dan menyantap hidangan bersama keluargaku L Aku sangat sibuk tahun ini jadi aku tidak bisa pulang. Tidak, itu tidak benar. Aku selalu pulang setiap tahun. Biasanya hanya tiga hari, yang jelas aku bisa bertemu keluargaku.

Cho Kyuhyun :

Benarkah? Lalu mengapa kau tidak pernah mengabariku? Kita bisa bertemu bukan? Aku dan Minho benar-benar merindukanmu..

Ada jeda sekitar tiga menit sebelum Changmin akhirnya membalas.

Shim Changmin :

Tidak semudah itu, Kyu. Terkadang aku ingin bertemu denganmu, tapi terkadang aku ragu. Kurasa kau tahu jawabannya. Maafkan aku.. Dan, aku juga ingin meminta maaf mengenai undangan yang kukirimkan padamu.

Kali ini, jeda yang cukup lama diciptakan oleh Kyuhyun. Jadi selama ini Changmin sering pulang tapi tidak menghubunginya sama sekali? Kenapa? Apa ada yang salah?

Cho Kyuhyun :

Aku tidak mengerti mengapa kau tidak mau bertemu denganku hyung, tapi apapun itu aku yakin kau punya alasan tersendiri. Mengenai undangan itu.. Terima kasih karena telah mengirimkannya hyung. Sebenarnya aku dan Minho juga dikirimkan oleh Ara noona melalui temannya.

Kening Changmin berkerut. Mengapa Kyuhyun dengan enteng menjawab semua itu? Mengapa ia justru sangat tenang mendengar kabar Yunho akan menikah?

Shim Changmin :

Apa kau baik-baik saja setelah mendengar kabar itu?

Kyuhyun tersentak. Apa maksudnya? Mengapa Changmin bertanya seperti itu? jangan-jangan ia sudah tahu mengenai perasaanku selama ini pada Yunho hyung? Atau bahkan ia sudah sejak lama tahu? Tapi.. Bagaimana?

Shim Changmin :

Kyu? Kau masih disana?

Ayolah Kyu, kumohon jawablah. Aku tahu kau masih disana.

Cho Kyuhyun :

Aku baik-baik saja hyung. Walaupun aku sangat terpukul mendengar kabar itu. Bagaimana sampai kau tahu mengenai perasaanku, aku tidak akan pernah menanyakannya. Tapi yang jelas, aku mau berterima kasih karena kau mau merahasiakannya dari sahabatmu itu, hyung.

“Kyu, sedang apa kau?” Tiba-tiba Donghae sudah muncul di kamarnya.

Kyuhyun segera mematikan laptopnya tanpa berpamitan pada Changmin. “Kau sudah kembali, hyung?”

“Tentu saja. Hm.. mengingat cinta pertamamu?”

Kyuhyun terdiam. Kali ini, ia tidak melarang Donghae membaca pikirannya seperti biasa. Mungkin ia memang butuh teman bicara saat ini. Dan Donghae adalah orang yang tepat. Selain itu tidak bisa memihak, ia juga bisa membaca isi kepala Kyuhyun tanpa Kyuhyun harus repot-repot menceritakan semuanya dari awal.

“Aku sudah melihat semuanya.” Kata Donghae lagi. “Bahkan sejak awal, tanpa kau sadari.”

“Benarkah?” Kyuhyun tersenyum kecut. “Lalu.. Bagaimana menurutmu, hyung? Aku bukan lelaki yang baik kan? Aku selalu saja mengecewakan pasanganku.”

“Cinta pertama, kekasih pertama, lelaki yang mengajarimu memasak, kekasihmu yang nyaris membuatmu putus asa karena meninggalkanmu, seorang artis, dan beberapa lelaki yang tidak pernah kau tanggapi. Wow, kau sungguh populer.” Kata Donghae tanpa menghiraukan perkataan Kyuhyun tadi.

“Tetap saja tidak membuatku lebih baik.”

Donghae tersenyum arif. “Sifat semua orang tidaklah sama. Ada yang dengan cepat bisa melupakan cintanya, namun ada juga yang membutuhkan bertahun-tahun atau bahkan seumur hidupnya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Kyu.”

“Terkadang kita menjadi egois, mencintai dua orang sekaligus dalam kehidupan kita dan tidak mau merelakan salah satunya. Namun hal tersebut manusiawi. Apa yang kau rasakan bukanlah suatu kesalahan. Ketika kau tanpa sengaja melukai hati seseorang, itu juga bukan kesalahanmu karena cinta itu bukan pilihan. Terkadang kau tidak bisa memilih untuk jatuh cinta bukan?”

“Satu-satunya kesalahanmu adalah kau tidak mau belajar untuk melupakan cinta pertamamu. Jangan berbohong Kyu, kau tidak pernah benar-benar berusaha. Kau pernah mencoba sesekali, namun ketika gagal, kau menyerah begitu saja. Itulah yang membuatmu tersiksa dan juga menyakiti orang-orang yang mencintaimu dengan tulus”

“Kau hanya punya dua pilihan, Kyu : maju terus atau mundur. Ia sudah bahagia kini, bukankah sudah saatnya kau memberikan kesempatan untuk dirimu sendiri benar-benar merasakan kebahagiaan?” Terang Donghae panjang lebar.

“Aku bahagia bersama Doojoon.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Kau tidak benar-benar bahagia. Karena separuh hati dan pemikiranmu masih bersama Yunho. Kebahagiaan yang utuh adalah disaat kau mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu, seluruh jiwamu, sampai tidak ada tempat lain untuk nama lain. Jujur Kyu, kau mungkin bukan hanya mencintai Yunho. Kau.. terobsesi padanya.” kata Donghae lagi.

Kyuhyun tahu. Kali ini Donghae benar. Ia memang terobsesi pada Yunho. ia memang tidak pernah benar-benar berusaha menghilangkan Yunho dari hatinya, karena ia tidak pernah mau kehilangan Yunho bahkan setitik tentang dirinya dalam ingatan. Ia rela kehilangan segalanya, tapi tidak Yunho. Bukan Jung Yunho.

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Pikirkanlah. Tanyakanlah pada hatimu, aku yakin suatu saat kau akan menemukan jawabannya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Yang jelas, aku akan selalu mendukung keputusanmu.”

Kyuhyun menatap Donghae dalam-dalam. Andai saja ia tidak menganggap Donghae seperti kakaknya sendiri, mungkin ia akan jatuh cinta kepada lelaki itu. Segala tentang dirinya adalah sesuatu yang luar biasa dan Kyuhyun benar-benar terpesona.

“Oh.. Jangan jatuh cinta padaku. Aku tidak mau terluka seperti para lelaki itu.” elak Donghae seraya tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa. Ia memang tidak bisa jatuh cinta pada malaikatnya itu, tidak bukan tidak bisa tapi tidak boleh. Ia tidak mau kehilangan sahabat sebaik itu. Jadi keputusannya untuk menahan diri sejak awal memang sudah benar.

Malam itu, ketika semua sudah terlelap, Kyuhyun bangun dan menghampiri jendela. Ia menatap langit malam yang cerah diatas sana. Lalu ia mulai bersedekap. Sambil menutup matanya, ia berbisik :

“Tuhan, terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan. Maafkanlah semua kesalahanku. Berikanlah kebahagiaan untuk orang-orang terdekatku, terutama untuk mereka yang pernah kukecewakan. Ijinkan aku meraih kebahagiaanku sendiri, ijinkan aku benar-benar bisa dengan ihlas merelakan obsesiku. Tapi tolong bahagiakanlah ia selalu. Dan jika, hanya jika kami tidak bisa bersama di masa depan nanti, ijinkan aku diberikan orang terbaik untuk melupakannya.”

*

Haekyu obs

To be continued..

Boyfriend for 365 Days – Chapter 4

Title                 :  Boyfriend for 365 Days

Rate                 : T

Genre              : Romance, Comedy

Pairing             : Yunkyu, Kyuhae

Warning          : BL, OOC, Typo (es)

Summary          : Yang satu cuek dan dingin, yang satu lagi keras kepala dan manja. Apa yang terjadi ketika dua namja tampan ini mengetahui bahwa mereka dijodohkan dan harus melakukan pendekatan dalam setahun? Akankah cinta tumbuh diantara mereka?

CHAPTER 4

Sabtu yang dinantikan datang juga. Kelima namja tampan itu berlibur ke sebuah pantai di daerah Busan. Mereka mengendarai satu mobil yang di supiri oleh Zhoumi sendiri, sang empunya ide. Changmin duduk di depan menemani Zhoumi, sedangkan Donghae, Kyuhyun dan Yunho duduk di kursi tengah bertiga.

Donghae memandang Kyuhyun yang sedang asik main psp. “Kyu, kau masih ingat model rambutmu semasa sekolah dulu? Saat itu kau tampan sekali. Tapi dengan potongan rambutmu sekarang, kau terlihat tampan, manis, imut, cute, cool..”

Mendengar itu Yunho langsung berdehem keras. Donghae memandang Yunho dengan pandangan tidak suka. Tapi sedetik kemudian, ia mulai lagi mengganggu Kyuhyun.

“Kyu, kau masih suka nonton drama kan? Aku punya beberapa drama bagus, kau mau menontonnya nanti?”

“Mau hyung, aku suka sekali drama. Kapan kita nonton bersama?” Tanya Kyuhyun antusias.

Kali ini Yunho terbatuk-batuk dengan nada menjengkelkan. Donghae menarik nafas kesal, tapi karena dilihatnya Yunho sibuk memandang keluar, maka ia bicara lagi pada Kyuhyun.

“Aku juga masih ingat kau suka ice cream, Kyu. Kalau makan ice cream, selalu belepotan. Dan aku selalu membersihkan ice cream itu dari pinggir bibirmu. Wahh, lihat bibirmu Kyu, seempurna sekali.. nanti kalau makan ice cream dan belepotan lagi, aku akan..”

“YA! Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kau tidak boleh bertingkah mesum pada Kyuhyun. Dasar bodoh!” Kata Yunho berang.

“Oww… rupanya si tuan angkuh ini masih saja suka ikut c   ampur urusan orang lain. Kau ini kenapa sih? Urus saja urusanmu sendiri. Toh kau bukan ayahnya Kyuhyun, kenapa ribut sekali?” kata Donghae sinis.

“Aku tunangannya. Jadi aku berhak melarang siapapun untuk dekat dengan Kyuhyun.” Kata Yunho dengan galaknya.

“Wah.. lihat dirimu, baru juga jadi tunangan, sudah seperti ini? Jangan-jangan kalau sudah menikah Kyuhyun akan dikurung. Lagipula sepertinya Kyuhyun tidak tertarik padamu, ia lebih suka dengan orang dengan kepribadian terbuka seperti aku. Bukan namja dingin seperti kau.” Balas Donghae sengit.

“Hei, sudahlah. Kalian kenapa bertengkar? Bukankah kita ingin bersenang-senang?” Tanya Zhoumi dibalik kemudi.

“Aku sudah bilang padamu, Zhoumi-ssi, kalau kau mengajak dia, liburan kita akan berantakan.” Kata Donghae membela diri.

“Donghae-ssi, maafkan aku. Tapi, Yunho memang tunangan Kyuhyun, wajar kalau ia bersikap seperti itu.” kata Changmin berupaya membela Yunho.

“Aku tahu, tapi tidak seharusnya ia seperti itu. Siapa suruh punya tunangan imut seperti Kyuhyun? Siapapun akan dengan senang hati merebutnya.”

“YA!!! Katakan sekali lagi atau kau kubuat menyesal.” Yunho sudah marah sekali sekarang.

“Hentikan. Kalian berdua ini kenapa sih? Dengar, aku menghormati kalian berdua. Yang satu sunbaeku yang sangat dekat denganku dulu, yang satu lagi tunanganku. Bisakah kalian akur sebentar saja?” akhirnya Kyuhyun angkat bicara.

“Shireo..!” Kata Donghae dan Yunho bersamaan lalu membuang muka dan menghadap keluar.

Kyuhyun cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua namja yang lebih tua darinya itu. Kenapa justru mereka yang kekanak-kanakan? Kyuhyun juga jadi bingung, Donghae memang dekat sekali dengannya dulu, tapi tidak seintens ini. Apalagi Yunho yang biasanya dingin, mengapa tiba-tiba marah jika Donghae dekat dengan Kyuhyun?

‘Jangan bilang Yunho hyung mulai menyukaiku.’ Kata Kyuhyun dalam hati. Ia lalu menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya dan tertawa tanpa suara.

*

            Setibanya di pantai, mereka berlari-lari seperti anak kecil yang baru pertama kali diajak ke pantai oleh orang tuanya. Seakan-akan mereka lupa dengan segala beban dunia. Terkadang mereka saling berlomba membuat istana pasir yang kemudian akan hancur dalam sekejap karena Kyuhyun menginjaknya dan melarikan diri. Tapi kalau ia sendiri yang membuat istana pasir, jangan pernah berani menyentuhnya. Karena ia akan mengamuk seperti anak singa.

“Hyung, aku ingin minum air kelapa muda.” Rengek Kyuhyun pada Zhoumi.

“Di ujung sana ada penjualnya Kyu, ayo kita kesana. Aku juga haus sekali.” Kata Zhoumi seraya menunjuk deretan penjual di dekat pos penjaga pantai.

Kyuhyun menggeleng. “Jauh sekali, hyung. Aku tadi berlari terus, aku lelah sekarang.”

“Kita jalan pelan-pelan saja, Kyu. Nanti di tengah jalan kita istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan.” Kata Donghae yang terdengar seperti mereka tengah berada di gurun pasir. Maklum, ia sadar dirinya tidak kuat mengangkat Kyuhyun dengan jarak sejauh itu.

“Aku akan menggendongmu, Kyu. Kemarilah.” Kata Yunho seraya mendekati Kyuhyun lalu berjongkok di depannya.

“Huaaa… terima kasih hyunnggg.. “ kata Kyuhyun riang. Lagi-lagi tanpa disadarinya Donghae dan Zhoumi saling melempar pandang lalu tersenyum.

Kyuhyun memeluk leher Yunho erat. Ia suka sekali tubuh Yunho yang tegap itu. Terkadang ia pikir Yunho pastilah jelmaan dari salah satu dewa-dewa Yunani yang terkenal tampan dan gagah itu.

“Hyung, kalau kau lelah, aku akan turun dan berjalan.” Kata Kyuhyun pelan.

Yunho menggeleng. “Kau meragukanku ya? Jangankan sampai di ujung sana, sampai di Seoul pun aku sanggup menggendongmu.”

Yunho menjawab dengan galak tapi entah bagaimana itu terdengar sangat indah di telinga Kyuhyun. Wajahnya memerah menahan kebahagiaan yang siap meluap dari dalam hatinya. Ia benar-benar di mabuk kepayang saat ini.

Sesampainya di tempat penjual kelapa muda, Kyuhyun langsung memesan dua buah kelapa sekaligus dan menghabiskannya dalam sepuluh menit. Yunho menyeringai melihat Kyuhyun, tak disangkanya tubuh kurus itu sanggup menghabiskan dua buah kelapa dengan waktu cepat.

“Kenapa mereka tidak muncul-muncul juga? Zhoumi bilang dia haus, kenapa ia tidak kesini?” Tanya Yunho. Ia tidak bisa menelepon salah satu diantara mereka karena ponselnya dititipkan pada Changmin.

Kyuhyun angkat bahu. “Mungkin mereka mau menyusul sebentar lagi.”

Ia lalu memeriksa ponselnya dan mendapati satu pesan dari Zhoumi.

Ternyata di dekat sini ada penjual minuman, kami disini saja. Kalau sudah selesai, kembalilah.

Kyuhyun lalu menyampaikan hal itu pada Yunho yang langsung ditanggapi  dengan protes kesal. “Pasti Donghae yang menghasut mereka. Lihat saja tadi ia malas menggendongmu.”

“Hyung, kenapa kau tidak suka pada Donghae hyung? Ia kan sangat baik dan menyenangkan.” Tanya Kyuhyun pada Yunho.

Yunho tertawa sinis. “Namja mesum seperti itu kau bilang menyenangkan?”

“Kami memang dekat sekali semasa sekolah hyung. Donghae hyung lah yang menjagaku hingga ia pindah keluar negeri. Aku sangat menyayanginya.” Kata Kyuhyun membela Donghae.

“Kalau begitu, kenapa kau tidak jatuh cinta padanya?” Tanya Yunho langsung.

Kyuhyun menggeleng. “Aku menganggap Hae hyung seperti kakak kandungku sendiri. Aku tidak pernah menaruh hati padanya, walaupun kini ia jauh lebih tampan dan dewasa.”

Mendengar jawaban Kyuhyun, Yunho tersenyum tapi langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi keras seperti biasanya ketika Kyuhyun memandangnya.

“Lalu kau, hyung? Apa kau menyukai Changmin hyung?” Tanya Kyuhyun hati-hati. Ia sebenarnya enggan sekali bertanya tapi ia penasaran.

“Tentu saja, Changmin adalah lelaki yang cerdas dan baik hati. Ia juga dewasa. Aku suka tipe pekerja keras seperti dia.” Kata Yunho tenang.

Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dari duduknya. “Aku mau kembali sekarang.”

Kyuhyun langsung berjalan cepat meninggalkan Yunho. Melihat itu Yunho segera menyusul Kyuhyun setelah membayar kelapa yang diminum Kyuhyun.

“Kyu, tunggu dulu. Kau kenapa?” Tanya Yunho seraya mencekal lengan Kyuhyun.

Kyuhyun menepiskan tangan Yunho dan terus berjalan. Ia benci sekali mendengar Yunho memuji-muji Changmin. Apalagi dengan gambling Yunho mengatakan bahwa ia menyukai Changmin, yang tidak bisa diartikan Kyuhyun apa itu suka sebagai teman atau cinta. Cukup matahari membuatnya kepanasan hari ini, ia tidak mau hatinya ikut panas.

“Kyuhyun..! Kau kenapa sih? Kenapa tiba-tiba marah?” Tanya Yunho. Mau tidak mau ia memblokir jalan Kyuhyun.

“Minggir hyung, aku tidak marah. Aku hanya lelah.” sangkal Kyuhyun. Ia mencoba jalan ke kanan, tapi Yunho menghalangi jalannya. Jika ia ke kiri, Yunho ikut ke kiri.

“Ya! Hyung, minggir!”

“Tidak sampai kau bilang ada apa.” Kata Yunho tegas.

Kyuhyun menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia tidak habis pikir kenapa lelaki cerdas seperti Yunho tidak bisa membaca perasaannya.

“Katanya kau lelah, biarkan aku menggendongmu lagi.” Kata Yunho. Kali ini suaranya jauh lebih lembut.

“Shireo!” kata Kyuhyun kesal.

“Lalu kau mau apa?” Tanya Yunho tak kalah kesalnya.

“Aku mau kau berhenti menyebut-nyebut nama Changmin di depanku. Aku muak!!!” teriak Kyuhyun lalu berlari meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan bingung.

*

            Mereka memutuskan untuk melihat matahari terbenam dulu baru pulang. Kelimanya duduk di pasir sambil menatap mentari yang perlahan-lahan turun ke peraduannya. Sedaritadi Kyuhyun menghindari Yunho maupun Changmin. Ia bahkan jadi pendiam.

Melihat itu, Donghae segera menghampiri Yunho. “Kau apakan Kyuhyun, kenapa ia jadi diam seperti itu?”

“Tidak usah ikut campur. Ini urusan kami.” Kata Yunho dingin tanpa sedikitpun menoleh pada Donghae.

“Dengarkan, aku ini malas sekali berdebat denganmu. Aku sama sekali tidak perduli padamu. Yang kuperdulikan hanya Kyuhyun. Ia jadi seperti itu sejak ia kembali. Aku tidak suka melihatnya bersedih.” Kata Donghae lagi.

Kali ini Yunho menoleh pada Donghae dengan enggan. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tadi kami bercakap-cakap seperti biasa lalu ia berlari meninggalkanku.”

‘Namja bodoh.’ Kata Donghae dalam hati. ‘Kalau seperti ini caranya, ia tidak akan pernah tahu kalau Kyuhyun menyukainya.’

Di perjalanan pulang, semuanya diam. Tak ada satupun yang berniat bicara entah untuk saling menghibur ataupun hanya sekedar basa-basi. Kyuhyun memilih tempat duduk di samping jendela. Ia tidak mau memandang kemana-mana kecuali keluar jendela. Ia dan Yunho bertukar tempat duduk. Ini kemauannya, jika ia duduk di tengah, ia akan sulit untuk menghindari Yunho.

Kyuhyun tahu benar ia sudah jatuh cinta pada Yunho. Tapi sepertinya menggapai Yunho seperti menggapai awan. Terlalu tinggi dan sulit dijangkau. Tampaknya Yunho menyukai Changmin. Sehingga Kyuhyun merasa ia tidak punya kesempatan sama sekali.

Jatuh cinta ternyata menyakitkan. Kyuhyun merutuki dirinya sendiri yang dengan tololnya bisa jatuh dalam pesona Yunho yang dianggapnya tidak peka. Jika orang lain dengan cepat bisa langsung mengetahui perasaannya pada Yunho, mengapa lelaki itu tidak bisa menyadarinya?

Kyuhyun teringat percakapannya dengan Donghae tadi pagi sebelum mereka berangkat.

“Kyu, aku tahu kau menyukainya. Tapi, apa kau sendiri yakin dengan perasaanmu?” Tanya Donghae seraya menunjuk Yunho dengan dagunya.

“Aku yakin hyung, aku hanya tidak yakin akan perasaannya padaku. Terkadang ia manis sekali. Tapi terkadang ia bersikap datar dan dingin. Aku jadi tidak bisa menebak isi hatinya.”

“Aku akan membantumu. Jadi jangan khawatir. Cepat atau lambat, ia akan menyadari perasaannya padamu.” Kata Donghae seraya membelai rambut Kyuhyun dengan sayang.

“Jangan bilang kau juga bagian dari rencana Zhoumi hyung.” tebak Kyuhyun

Donghae tertawa. “Memang itulah kenyataannya.”

Donghae saja bisa mengerti perasaannya, kenapa Yunho tidak? Lalu dirasakannya sebuah tangan kekar melingkari pundaknya. Kyuhyun menoleh dan mendapati Yunho menatapnya lembut. Yunho menarik Kyuhyun dalam pelukannya, menghangatkan tubuh Kyuhyun yang kedinginan.

Kyuhyun menurut. Ia diam saja ketika menyandarkan dagunya di kepala Kyuhyun. ia membalas pelukan Yunho, disandarkan kepalanya ke dada bidang namja dingin itu, lalu menutup matanya yang lelah.

*

            Keesokan harinya Kyuhyun terbangun dengan perasaan senang. Tidurnya nyenyak sekali, bahkan ia bermimpi indah. Ia bermimpi Yunho mengajaknya makan malam romantic di pinggir pantai. Entah mengapa ia lebih suka mimpinya daripada kenyataan yang ia hadapi sehari-hari. Mana mungkin Yunho mengajaknya kencan? Itu mustahil bukan?

Lalu pintu kamarnya terbuka. Kepala Yunho  muncul dari baliknya. “Kau sudah bangun? Aku membawakan sarapan untukmu.”

Kyuhyun tersenyum malu. Ia tidak menyangka akan mendapat kejutan di pagi hari setelah kemarin tidur dalam pelukan Yunho. semuanya benar-benar seperti mimpi.

Yunho membawa nampan berisi makanan dan segelas susu. “Makanlah. Aku harus berangkat kerja sekarang.”

Sepeninggal Yunho, Kyuhyun memakan sarapannya sambil tersenyum-senyum senang. Ketika ia menggeser piringnya, ia baru sadar ada secarik kertas di atas nampan, tepat dibawah piringnya. Ia segera mengambil kertas itu lalu membaca tulisannya.

Kertas itu berisikan alamat sebuah restaurant yang ia tahu letaknya. Tapi siapa yang meletakkannya disini? Belum sempat ia mencari tahu, ponselnya berdering. Yunho meneleponnya.

“Yeoboseyo.”

“Kau sudah lihat kertasnya?” Tanya Yunho di ujung sana.

“Sudah hyung, tapi untuk apa..”

“Kau tahu tempatnya kan? Datanglah jam tujuh malam. Kutunggu disana.”

Lalu Yunho memutuskan hubungan telepon itu. Kyuhyun masih terpaku di tempatnya. Ponselnya masih menempel di telinganya.

“Yunho hyung memintaku datang jam tujuh.. Di restaurant.. Itu, waktu makan malam.. Apa artinya ini.. Yunho hyung… HUUUAAAAAAA YUNHO HYUNG MENGAJAKKU KENCANNNN……!!!!!”

*

kyuhyun love milkyway007

To Be Continued..

PS : Congratulation for Sabrina, the first winner of Challenge Me. Here’s your story..

Boyfriend for 365 Days – Chapter 3

Title                 :  Boyfriend for 365 Days

Rate                 : T

Genre              : Romance, Comedy

Pairing             : Yunkyu, Kyumi

Warning          : BL, OOC, Typo (es)

Summary          : Yang satu cuek dan dingin, yang satu lagi keras kepala dan manja. Apa yang terjadi ketika dua namja tampan ini mengetahui bahwa mereka dijodohkan dan harus melakukan pendekatan dalam setahun? Akankah cinta tumbuh diantara mereka?

CHAPTER 3

Misi Kyuhyun dan Zhoumi dilancarkan keesokan harinya. Zhoumi benar-benar datang untuk mengunjungi Kyuhyun setelah ia selesai meeting. Keduanya sengaja berbincang-bincang di ruang tengah. Dengan harapan Yunho akan melihat mereka. Dan benar saja, tak beberapa lama Yunho keluar dari ruang kerjanya, ditemani oleh Changmin. Kyuhyun langsung cemberut.

“Ada tamu rupanya? Selamat datang. Aku Yunho.” Sapa Yunho dengan sopan.

Zhoumi mengangguk. Ia menyukai kesopanan Yunho, kentara sekali kalau ia dididik dengan baik oleh orang tuanya. “Aku Zhoumi, sunbae Kyuhyun semasa kuliah dulu.”

Zhoumi menyenggol kaki Kyuhyun agar lelaki itu sadar kalau mereka harus melaksanakan rencana mereka. Bukan saatnya cemburu dulu sekarang. Kyuhyun dengan segera melebarkan senyumnya dan merangkul lengan Zhoumi dengan manja.

“Iya hyung, kami memang dekat sekali. Bahkan waktu Zhoumi hyung kembali ke Cina, kami selalu berhubungan.”

Yunho tersenyum menatap mereka. Kyuhyun kesal sekali karena ia tidak bisa menebak arti senyuman itu. Changmin juga tersenyum, tapi Kyuhyun bisa menebak dengan pasti kalau itu senyum menyebalkan.

“Kami akan keluar makan siang. Apa kalian mau bergabung?” kata Yunho.

“Boleh, kebetulan kami juga mau makan siang.” Kata Zhoumi lalu bangkit dari duduknya seraya menarik tangan Kyuhyun.

Yunho lalu mempersilahkan tamu untuk jalan duluan. Dengan senyum menyebalkan Kyuhyun melewati Yunho. tapi betapa kesalnya ia karena lagi-lagi Yunho menatapnya tanpa ekspresi.

Selama di lift Kyuhyun memeluk lengan Zhoumi. Berharap Yunho melihatnya. Tapi Yunho dan Changmin berdiri tepat didepannya dan tak sedikitpun menoleh kebelakang. Ingin rasanya Kyuhyun menarik kemeja Yunho  dan memaksanya melihat kebelakang. Tapi ia tak punya keberanian melakukannya. Maka ia mengajak Yunho berbicara agar Yunho menoleh padanya.

“Yunho hyung, kita mau makan dimana?”

Dalam hati Kyuhyun berharap. ‘Ayo berbalik, ayo lihat aku.’ Tapi harapannya lenyap karena Yunho menjawab pendek seperti biasanya tanpa menoleh sedikitpun. Yunho hanya menoleh ketika Changmin mengajaknya bicara.

“Lihatkan hyung? Dia apatis sekali. Mana mungkin aku bisa tahu perasaannya?” kata Kyuhyun ketika ia dan Zhoumi sudah dalam mobil.

“Tidak mungkin secepat itu, Kyu. Kita harus pelan-pelan melakukannya, dan sesering mungkin. Kalau baru sekali, mana mungkin dia peduli?” kata Zhoumi menenangkan Kyuhyun.

“Bagaimana kalau ia tak juga menampakkan rasa cemburu sampai kau pulang ke Cina hyung?”

Zhoumi tertawa. “Akan kupastikan ia cemburu. Tenang saja adik kecil, hyungmu ini akan membantumu. Jangan khawatir, ne?”

*

            Suasana makan siang itu lebih seperti pertemuan bisnis. Bagaimana tidak, semuanya makan dalam diam. Membosankan. Berkali-kali Zhoumi menyikut Kyuhyun agar bertindak, tapi tetap saja Kyuhyun diam. Ia sudah terlanjur emosi gara-gara tadi waktu Changmin tersedak dengan gentelnya Yunho mengambilkan air putih dan mengusap-usap punggung lelaki pengganggu itu.

Ingin sekali Kyuhyun menghentak-hentakkan kakinya seperti biasa, tapi harga dirinya melarangnya. Ia benci sekali melihat Yunho harus duduk di depannya, tapi lebih memperhatikan lelaki yang duduk disampingnya. Kyuhyun hampir menangis karena kesal. Garpunya digenggam kuat-kuat. Ia mengiris steak nya dengan marah.

“Kyu, sini hyung bantu.” Kata Zhoumi lembut lalu meraih piring Kyuhyun dan memotong steaknya dengan rapi. Lalu memberikannya pada Kyuhyun. tapi selera makan Kyuhyun sudah lenyap entah kemana.

“Kyu, kenapa wajahmu merah? Kau sakit?” Tanya Yunho yang akhirnya memandang Kyuhyun.

Kyuhyun diam saja. Ia enggan menjawab. Ia terlalu marah pada Yunho saat ini. Lalu dirasakannya sebuah tangan menyentuh pipinya. Ketika ia mengangkat kepalanya, dilihatnya ternyata tangan Yunho lah yang menyentuh pipinya. Wajah lelaki di depan Kyuhyun itu terlihat sedikit cemas.

“Badanmu panas Kyu. Jangan bilang kau minum semalam. Aku sudah pernah bilang…” Kyuhyun tidak bisa mencerna apa lagi yang dikatakan Yunho. Sentuhan itu membuatnya melayang-layang di udara.

“Kyu? Kyuhyun, kau tidak apa-apa kan? Kenapa wajahmu semakin memerah? Kau alergi ya?” Tanya Yunho semakin cemas.  Ia sudah berjongkok di samping Kyuhyun.

‘Apa pendengaranku tidak salah? Apa penglihatanku tidak salah? Yunho hyung meninggalkan kursinya demi aku.’ Kata Kyuhyun dalam hati.

Kyuhyun berpikir inilah saatnya, kalau tidak ia tidak akan punya kesempatan lagi. “Huaaa.. hyung, kepalaku sakit sekali. Sepertinya aku tidak cocok makan steak ini.”

“Kenapa kau menangis? Eh, uljima Kyu. Ayo, aku akan mengantarmu ke dokter. Kajja.” Kata Yunho seraya membantu Kyuhyun berdiri.

“Aku tidak mau. Bolehkan kita pulang saja? Aku ingin tidur hyung.” kata Kyuhyun dengan manjanya. Wajahnya ditutupi dengan tangannya. Ketika bersitatap dengan Zhoumi, ia mengedip. Zhoumi langsung tahu maksud Kyuhyun. ‘Dasar anak nakal.’ Pikirnya. Tapi ia senang Kyuhyun bisa dapat ide untuk ‘menguasai’ Yunho saat ini.

“Zhoumi-ssi, aku minta maaf karena harus mengantar Kyuhyun pulang. Bagaimanapun ia tanggung jawabku selama kami tinggal bersama.” Kata Yunho pada Zhoumi.

“Tidak apa-apa. Setelah ini juga aku masih ada pekerjaan. Kemungkinan aku tidak bisa mengantar Kyuhyun pulang.” Kata Zhoumi. Ia melirik Changmin lalu berkata. “Aku dan Changmin-ssi bisa menyelesaikan makan siang kami sendiri, iya kan?”

Yunho menatap Changmin dengan perasaan tidak enak. “Minie, maafkan aku. Besok kita lanjutkan pekerjaan kita, ne?”

“Tidak apa-apa hyung. Antar saja tunanganmu pulang. Besok aku akan datang jam sepuluh pagi.” Kata Changmin.

Mendengar itu Kyuhyun berpura-pura pusing hingga nyaris jatuh. Dengan sigap Yunho memeluk tubuh Kyuhyun. Kyuhyun kini terbungkus sempurna dalam pelukan hangat Yunho.

“Kyu? Kau tidak apa-apa?” Tanya Yunho panik.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia sibuk berpikir, apa ia diam saja dan berpura-pura kesakitan hingga tidak bisa menjawab atau pura-pura pingsan sekalian. Tapi opsi kedua segera dibatalkannya karena ia takut membuat heboh seisi restaurant. Maka ia diam saja.

Tanpa berlama-lama lagi, Yunho segera membawa Kyuhyun pulang. Di perjalanan Kyuhyun pura-pura tertidur sambil memeluk dirinya sendiri, agar terlihat kedinginan. Ia ingin merasakan pelukan itu lagi. Pelukan yang membuatnya mabuk kepayang.

Sesampainya di rumah, Yunho segera membuatkan makanan untuk Kyuhyun dan menyuapinya. Kyuhyun sebenarnya lapar sekali, tapi demi aktingnya ia pura-pura makan dengan enggan hingga Yunho harus membujuknya berkali-kali.

Ini menyenangkan, pikir Kyuhyun. Kenapa tidak dari dulu saja ia berakting seperti ini? Kan ia lebih muda mendapatkan perhatian Yunho. walaupun mungkin Yunho terpaksa melakukannya, tapi Kyuhyun tidak peduli, asalkan Yunho bisa tetap seperti ini dengannya.

“Kau istirahatlah sekarang. Aku akan kembali ke kamarku. Panggil saja aku kalau ada apa-apa, ne?” kata Yunho.

“Hyung, tidak bisakah kau menemaniku disini? Aku tidak mau sendirian.” Kata Kyuhyun memelas.

Yunho menatap Kyuhyun tanpa ekspresi. Ia terlihat menimbang-nimbang perkataan Kyuhyun. “Baiklah, tidurlah. Aku akan menjagamu disini.”

Yunho lalu menyelimuti Kyuhyun dan beranjak menuju sofa. Tapi Kyuhyun lebih cepat, ia menarik lengan Yunho.

“Hyung, tempat tidurku cukup besar. Bisakah kamu duduk disampingku selagi aku tertidur?” Tanya Kyuhyun.

Yunho menghela nafas. “Kau ini manja sekali. Baiklah, aku akan ada disampingmu. Tapi kau harus tidur sekarang juga.”

Ia lalu duduk disamping Kyuhyun dan bersandar pada kepala ranjang. Kyuhyun tersenyum senang. “Hyung, ketika aku bangun, kau harus tetap disini, ne?”

Yunho lagi-langi menghela nafas enggan. Tapi ia harus menuruti Kyuhyun. “Yayaya, terserah kau saja. Sekarang berhenti bicara dan segar tidur.” Kata Yunho galak.

Kyuhyun dengan semangat menjawab. “Baiklahhh…” sembari memeluk pinggang Yunho dan memejamkan matanya.

Kyuhyun tahu, mungkin Yunho merasa aneh dengan pelukan Kyuhyun, tapi Kyuhyun tidak perduli. Perasaan senangnya hari ini cukup untuk menutupi kekesalannya pada Changmin selama ini.

*

            Suatu malam Zhoumi mengajak Kyuhyun menemaninya ke pesta pernikahan sahabatnya. Kyuhyun menurut saja, ia juga suntuk di apartemennya terus-terusan karena ayahnya mengangkat asisten baru untuk membantunya bekerja. Ayahnya cuma tidak mau Kyuhyun terlalu lelah mengingat tubuhnya rentan terhadap penyakit.

Lagipula sejak kejadian beberapa waktu lalu, ia dan Yunho tidak pernah bersama lagi. Yunho kembali menjadi orang sibuk sedangkan Kyuhyun kembali jadi pengangguran yang kesepian.

“Kyu, maafkan aku karena tidak bisa banyak membantu. Pekerjaanku banyak sekali. Tapi hari sabtu dan minggu aku bebas. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke pantai hari sabtu?” kata Zhoumi.

“Tidak apa-apa hyung, aku mengerti. Kau mau membantuku saja aku sudah senang. Lagipula kurasa, Yunho hyung memang tidak menyukaiku. Jadi untuk apa dipaksakan. Tapi aku setuju untuk ke pantai. Wah, aku ingin sekali berenang di pantai.” Kata Kyuhyun antusias.

Zhoumi mengangguk. ia kasihan pada Kyuhyun yang kesepian. Ia harus lebih banyak membantu Kyuhyun dan membuatnya gembira sebelum kembali ke Cina.

“Ayo kita ambil minuman disana.” Ajak Zhoumi seraya menunjuk meja bertaplak merah.

Keduanya lalu berjalan kesana. Tapi alangkah terkejutnya Kyuhyun karena ia mendapati Yunho dan Changmin ada disana. Keduanya sedang asik bicara, lalu Yunho tertawa lepas. Kyuhyun tidak pernah melihat Yunho tertawa seperti itu. tidak ada wajah bahagia jika Yunho bersamanya. Tapi dengan mudah Changmin membuatnya tersenyum dan tertawa.

“Wah, kalian juga ada disini rupanya? Kalian juga kenal dengan pengantinnya?” Tanya Zhoumi.

Yunho mengangguk. “Aku mengenal pengantin wanitanya. Ia teman SMA ku dulu. Kebetulan ia dan Changmin bertetangga, makanya kami kemari bersama.”

Lalu Yunho melihat Kyuhyun yang berdiri dibelakang Zhoumi. “Kyu, aku ada disini juga? Kebetulan sekali kita ada disini semua.”

Kyuhyun tersenyum dengan enggan. Changmin tampak gagah, wajah saja Yunho lebih memilihnya daripada dirinya yang tampak kekanakan.

“KYU? KYUHYUNNNN???? Omona…! Benarkah ini kau?”

Tiba-tiba seorang namja tampan mendekati Kyuhyun. Matanya melotot terkejut memandang Kyuhyun.

“Eh? Donghae hyung? Kau..” kata Kyuhyun tak kalah terkejut.

“Wahhh, kau tampan sekali sekarang..!” Donghae mencubit pipi Kyuhyun lalu mencium keningnya dengan gemas.

Mata Zhoumi, Yunho dan Changmin terbelalak karenanya. Tidak ada yang menyangka namja bernama Donghae itu nekat mencium Kyuhyun di muka umum.

“Hae hyung, sedang apa kau disini? Bukankah kau ada di..”

“Sepupuku yang menikah, tentu saja aku harus datang. Wahh, aku tidak percaya semakin besar kau semakin imut.” Kembali Donghae mencubit pipi Kyuhyun dengan gemas.

“Hyungg, appooo..” kata Kyuhyun merajuk. Bibirnya di-pout-kan.

Tapi hal itu malah membuat Donghae histeris. “Kau semakin imut jika begitu.” Dengan gerakan sangat cepat Donghae mencium kedua pipi Kyuhyun secara bergantian.

“YA! Jangan menciumnya di depan umum seperti itu! Kau ini tidak punya tata karma yah?” Bentak Yunho marah.

Donghae melirik Yunho dengan kesal. “Kau siapa? Aku tidak mengenalmu, jangan ikut campur.”

Kyuhyun bertukar pandang dengan Zhoumi dan saling menyeringai. “Tidak apa-apa, hyung. Kenalkan ini Donghae hyung. Dia dulu adalah sunbaeku di SMA. Tapi ia pindah setelah lulu dan menetap di Amerika.”

“Benar, aku sunbaenya dulu. Jadi karena aku tidak mengenalmu, Jangan ikut campur. Lagipula kau ini siapanya Kyuhyun? Ia saja tidak keberatan kucium, kenapa kau yang sibuk?” tantang Donghae dengan sombong.

“Sudah-sudah, kenapa kalian malah bertengkar. Mungkin Donghae hanya terlalu senang bertemu kembali dengan Kyuhyun. Mungkin juga  mereka sangat dekat semasa sekolah dulu. Iya kan Donghae-ssi?” Kata Zhoumi menengahi para namja yang siap tempur itu.

“Tentu saja.” Kata Donghae dengan nada menyebalkan. “Ia dongsaeng kesayanganku. Memangnya kenapa kalau aku menciumnya?”

Lalu ia berpaling pada Kyuhyun. “Kyu, apa kau sudah punya pacar?”

Kyuhyun dengan cepat menggeleng dengan gembira. Melihat itu Donghae lalu kembali menoleh pada Yunho.

“Nah kan? Ia tidak punya pacar. Ia laki-laki bebas. Kenapa kau sibuk melarangku? Jangan bilang kau naksir padanya? Atau jangan-jangan padaku? Oh, maaf saja, aku tidak suka lelaki sepertimu.” Kata Donghae dengan nada mengejek.

Yunho terlihat sangat siap membunuh kini. Sedangkan Kyuhyun berusaha menahan tawanya, begitu juga Zhoumi. Sedangkan Changmin diam saja menatap Donghae, tak tahu harus tertawa karena ada yang berani kurang ajar pada Yunho, atau marah karena Yunho disepelekan oleh namja itu.

“Sudahlah hyung. Jangan seperti ini. Yunho hyung adalah anak rekan kerja appaku, wajar saja ia selalu menjagaku. Oh iya, hyung, bagaimana kalau kau ikut aku dan Zhoumi hyung ke pantai hari sabtu nanti?” tanya Kyuhyun dengan riang, mencoba mencairkan ketegangan antara Donghae dan Yunho.

“Aku mau. Dengan senang hati aku akan ikut. Apakah tidak apa-apa, Zhoumi-ssi?’ Tanya Donghae bersemangat.

“Tentu saja, semakin ramai semakin menyenangkan bukan?” kata Zhoumi.

“Aku ikut.” Kata Yunho cepat. Tatapan matanya memaksa Zhoumi untuk meng-iya-kan permintaannya.

“Aku juga ikut.” Kata Changmin.

Mau tidak mau Zhoumi mengangguk. Kelihatannya Yunho sudah mulai cemburu. Bukankah itu lebih bagus?

Donghae langsung protes. “Ya, Zhoumi-ssi, kenapa mereka diikutkan? Liburan kita nantinya tidak akan menyenangkan.”

“Sudahlah hyung, jangan seperti ini. Yunho hyung dan temannya ingin rekreasi juga. Kasihan mereka terlalu lelah bekerja selama ini.” Kata Kyuhyun menengahi. Ia sengaja tidak menyebutkan nama Changmin.

“Baiklah, terserahu kau saja. Mereka boleh ikut.” Kata Donghae seolah-olah rencana rekreasi itu adalah acaranya.

Ia lalu mengajak Kyuhyun dan Zhoumi ikut makan bersamanya dan meninggalkan Yunho dan Changmin. Tangan kanannya merangkul bahu Kyuhyun. ketika bersitatap dengan Zhoumi, ia mengangkat jempolnya dan Zhoumi membalas dengan kedipan matanya.

*

hae kyu milkyway007

To Be Continued..

PS : Congratulation for Sabrina, the first winner of Challenge Me. Here’s your story..

‘Challenge Me’ finally revealed

Met malam menjelang pagi readers..

Mianhae aku telat posting yah, soalnya hari ini (lebih tepatnya kemarin) ada beberapa kesibukan yang tidak bisa ditinggal sama sekali.

Aku mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya pada para readers yang udah mau nyisihin waktunya buat baca ff Long Time Coming. Baca komentar2 kalian bikin aku terharu. Apalagi ada yang bilang ff ini nguras airmata. Seneng deh, tandanya ff aku benar-benar diterima.

Tapi ada satu masalah, mian kalo ada yang tersinggung yah. Tapi author hanya mencoba mengutarakan apa yang ada dipikiranku saat ini.  Aku orangnya terbuka pada hal-hal lain, tidak terpaku pada satu hal aja. Nah, beberapa orang kan compalint tuh karena pairing di ending ff ku bukan seperti kemauannya. Kembali lagi, ini kan cerita aku, jadi aku lah si penentu jalan cerita.

Aku sangat menghargai setiap komentar dan sangat berterima kasih karena kalian udah mau masuk di blog ku and nyempetin diri buat baca ff ku. Tapi please banget, jangan kecewa kalo pairingnya gak sesuai dengan harapan kalian di akhir cerita. Memang ini sepele, tapi bikin aku sebagai penulisnya jadi merasa sedih karena terkesan tidak bisa memenuhi harapan pembacanya.

Padahal aku berusaha bikin ff yang tidak sama dengan ff lainnya. Dengan kata lain, mencoba tampil beda. Yaitu dengan bikin pairing beda-beda, alur yang agak sulit ketebak sampe bikin stripping. Ini semua kan demi readers. Karena setiap penulis menulis untuk para pembaca.

Jadi sekali lagi maafkan kalau tidak sesuai harapan. Ini kan hanya fiksi, dimana fantasi dan imajinasiku bermain trus nyiptain sesuatu untuk dituangkan dalam tulisan. Maaf kalau mengecewakan, tapi sekali lagi author hanya mau berimprovisasi.

Oh ya, aku juga mau bilang makasih buat semua yang udah email aku. Ternyata banyak juga yang minta dibuatin ff (kenapa gk ikutan Challenge Me aja waktu itu yah? hehe). Makasih udah mau request, makasih udah muji gaya menulis aku, makasih udah mau singgah n menyelam di blog ini. Dengan senang hati aku menampung semua masukan itu. Untuk saat ini, aku fokus dulu untuk para pemenang ‘Challenge Me’, setelah itu baru aku tinjau ulang permintaan kalian yah. Tapi aku usahakan memenuhi harapan kalian semua.

And untuk Sabrina, selamat yah, fanfiction dengan judul kamu akan aku publish. Setelah perbincangan di email, semoga kamu suka ff ini. Dan buat pemenang Challenge Me lainnya, bersabar yah. Setelah ff Sabrina, punya kalian akan aku publish secara bergantian.

Thank You readers..

Long Time Coming – Chapter 9

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. Tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 9

Siwon termenung menatap tuxedo putih yang akan dikenakannya minggu depan. Ia pastinya akan tampak gagah memakainya. Tapi entah mengapa semakin dekat hari pernikahannya, ia semakin ragu akan keputusannya. Apalagi setelah ia melihat Donghae dan Kyuhyun berciuman.

Awalnya ia lega karena Kyuhyun mendapatkan orang baik seperti Donghae, ia yakin dengan cepat luka di hati Kyuhyun akan pulih. Tapi lama kelamaan ia jadi tidak rela karena ternyata Kyuhyun mulai mencintai Donghae juga. Siwon akan tenang kalau seandainya Kyuhyun hanya mencintainya tapi raganya bersama Donghae. Egois memang, tapi itulah yang ia rasakan.

Ia masih ingat dengan jelas ketika Kyuhyun dan Donghae berciuman. Entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba mereka sudah saling berpagutan. Tanpa ada paksaan, tanpa nafsu. Mereka berciuman panjang dengan sepenuh jiwa dan perasaan. Dan kenyataan bahwa Kyuhyun tampak menikmatinya lah yang membuat Siwon sakit.

Ia tidak rela Kyuhyun berpaling darinya. Tapi juga ingin Kyuhyun bahagia karena ia sendiri tidak bisa membahagiakan Kyuhun. Lalu diingatnya hari dimana Donghae keluar dari rumah sakit. Kyuhyun dan kedua sahabatnya menjemput Donghae. Ketiganya tampak sangat menyayangi lelaki sakit itu. Beruntungnya Donghae karena punya sahabat-sahabat yang menyayanginya, tidak seperti dirinya yang selalu sendirian. Dulu ia cuma punya Kyuhyun, tapi sekarang walaupun ia punya banyak teman model, tunangan yang cantik, serta penggemarnya di luar sana. Tetap saja ia selalu merasa sendirian.

Beberapa hari ini Siwon terus membuntuti Kyuhyun kemanapun lelaki itu pergi. Ia hanya ingin melihat Kyuhyun sebelum ia benar-benar pergi dari kehidupan lelaki itu. Namun kegiatan Kyuhyun hanya bekerja dan menjaga Donghae. Ia juga sudah pindah ke apartement Donghae. Ini menyakitkan.

Lalu datang pikiran itu. pikiran jahat yang merasukinya. Bagaimana kalau Kyuhyun ternyata mendampingi Donghae hanya karena kasihan? Bukankah Donghae akan mati? Ya, pasti seperti itu. Siwon tersenyum puas akan pemikirannya itu. Namun ia teringat lagi akan adegan ciuman yang dilakukan oleh Donghae dan Kyuhyun. Kembali ia ragu.

“Aku tidak bisa terus begini. Aku harus memastikan kebenarannya.” Kata Siwon pada dirinya sendiri. Ia lalu menyambar kunci mobilnya dan mengemudi ke arah apartement Donghae. Sengaja ia pilih siang hari karena ia tahu Kyuhyun sedang bekerja.

Ketika sampai di pintu apartement Donghae, dengan gugup ia menekan bel. Tak beberapa lama Donghae membuka pintu. Ia tampak terkejut tapi mempersilahkan Siwon masuk.

“Kyuhyun sedang bekerja. Ia ada di café jika kau ingin menemuinya.” Kata Donghae.

Siwon jadi tidak enak hati karena Donghae masih tetap memperlakukannya dengan baik. “Tidak, aku kesini untuk mencarimu.”

Lagi-lagi Donghae tampak terkejut. “Mencariku? Ada apa? Apa kau ingin menanyakan iklanmu? Tenang saja, aku adalah orang yang menepati janji. Iklannya sudah di edit, kemungkinan minggu depan akan segera ditayangkan. Kau tidak usah khawatir.”

Siwon menggeleng. “Bukan, bukan itu. Aku..  AKu ingin menanyakan sesuatu.”

Donghae terdiam. Ia yakin Siwon akan menanyakan perasaannya pada Kyuhyun. Tapi dengan sabar ia tersenyum. “Tanyakanlah.”

Siwon tampak ragu sejenak. Ia memandang Donghae dengan cermat lalu memutuskan untuk menanyakan keraguannya.

“Donghae-ssi, maaf kalau aku terkesan lancang. Aku ingin sekali tahu mengapa kau tidak ingin diobati. Kata dokter kau masih punya harapan hidup tapi kau justru menolaknya. Kenapa? Kukira kau mencintai Kyuhyun?”

Donghae lalu tersenyum sedih. “Aku memang mencintainya. Amat sangat mencintainya. Kau tahu, aku langsung jatuh cinta padanya sejak pertama ia datang dan melamar pekerjaan di cafeku. Awalnya aku berusaha agar ia menyukaiku, namun ketika aku tahu ia tengah menunggu seseorang, aku langsung mundur. Ia sangat terbuka padaku, Changmin dan Minho. Ia selalu menceritakan segalanya tentangmu. Tidak sedikitpun ia mengeluh kalau kau tidak menghubunginya atau kau tidak pulang setelah pergi beberapa lama.”

“Ia selalu bercerita tentang indahnya saat-saat kebersamaan kalian. Tentang cintanya yang terlalu dalam untukmu. Tentang hatinya yang tidak bisa lagi merasakan cinta selain padamu. Kau tahu, kamilah yang mengambil kesimpulan bahwa kau adalah laki-laki brengsek yang dengan tega menggantungkan harapan palsu padanya. Yang dengan tega pergi tanpa memberi kabar.”

“Ia tidak pernah menyalahkanmu. Bahkan menceritakan kejelekanmu saja tidak pernah. Ia hanya bilang kau pasti sibuk sekali hingga tidak sempat menghubunginya. Dan ia yakin bahwa hanya dirinya di hatimu. Naif sekali, tapi itulah Kyuhyun. Ia juga selalu berdoa untuk kesehatan dan keselamatanmu. Changmin dan Minho sampai bosan mendengarnya. Sedangkan aku sangat iri denganmu karena kau dicintai oleh seseorang yang setulus itu.”

“Maka aku hanya bisa membantu melindunginya. Memberinya sandaran ketika ia rapuh, mengobatinya ketika ia terluka, menyemangatinya ketika ia jatuh. Aku tidak berani berharap lebih, karena penantiannya selama delapan tahun adalah bukti nyata betapa ia mencintaimu. Tidak ada tempat lain untuk lelaki lain.”

“Inilah sebabnya aku tidak ingin bertahan hidup. Seumur hidupku, baru kali ini aku mencintai seseorang. Dan ketika aku merasa ‘he is the one’, aku dihadapkan dengan kenyataan bahwa ia takkan pernah jadi milikku. Untuk apa aku bertahan pada ketidakpastian? Tapi aku akan selalu melindunginya walaupun aku sudah tidak ada lagi. Dengan begitu aku akan tenang.”

Siwon terdiam cukup lama. Lidahnya kelu. Di sisi lain ia merasa bahagia karena ternyata Kyuhyun mencintainya lebih dari yang ia bayangkan selama ini. Tapi di sisi lain ia merasa amat berdosa dan jahat karena meninggalkan Kyuhyun sekian lama. Ia salut pada rasa cinta Donghae yang begitu tulus. Ia sendiri tidak yakin apa ia juga bisa melakukan hal yang sama untuk Kyuhyun. Ia tidak bisa merelakan karirnya sementara Donghae rela meninggalkan dunia hanya untuk Kyuhyun. Dan Siwon belum pernah merasa amat berdosa seperti ini.

“Donghae-ssi, sembuhlah untuk Kyuhyun. Aku yakin hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. Aku tidak mau ia sendirian.” Kata Siwon memohon.

Donghae tersenyum sembari menggeleng lemah. “Walaupun aku ada disampingnya, ia tetap tidak bisa melihatku. Ia hanya mencintaimu. Seribu lelaki pun tak ada yang bisa menggantikan tempatmu di hatinya. Jika aku tetap disampingnya, aku hanya bisa merasakan sakit karena ia tidak akan pernah mencintaiku. Saat ini ia hanya sedang rapuh karena ia kecewa padamu. Ia ingin aku ada disampingnya karena selama delapan tahun terakhir akulah yang selalu menemaninya. Aku tahu ia menyanyangiku, tapi itu bukan cinta.”

Siwon ingin mencakar dirinya sendiri. Jika ia tidak haus akan kejayaan, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Cara apapun yang ditempuh hanya akan membuat Kyuhyun yang terpuruk. Ia korban dari segala masalah yang terjadi. Dan untuk itu Siwonlah yang patut dipersalahkan.

*

            Sepulangnya dari tempat Donghae, Siwon menelepon Kyuhyun dan meminta lelaki itu menemuinya di depan café, tepat dalam mobil Siwon. Ia tidak ingin masuk ke dalam karena jika Changmin atau Minho melihatnya, maka keributan akan terjadi. Maka Siwon hanya menunggu Kyuhyun dengan sabar dalam mobilnya. Tak lama kemudian Kyuhyun muncul lalu segera masuk dalam mobil Siwon.

“Kau ingin bicara apa, Siwon-ssi? Cepat katakan karena aku tidak punya banyak waktu.”kata Kyuhyun dingin.

Siwon sadar sekali bahwa Kyuhyun amat membencinya saat ini. Dan ia menerima itu. ia memang layak mendapatkannya. Kyuhyun bahkan tidak memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’ seperti biasanya.

“Aku tidak akan lama, aku janji. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”

“Apa lagi? Bukankah semuanya sudah jelas?” kata Kyuhyun masih dengan nada dingin yang sama.

“Aku ingin menanyakan, apakah kau benar-benar menyukai Donghae atau hanya kasihan padanya?” Tanya Siwon.

Kyuhyun mendengus. “Untuk apa kau tahu? Itu bukan urusanmu, bukan?”

“Kumohon Kyu, aku hanya ingin tahu. Setidaknya aku benar-benar yakin kau sudah menemukan pendamping yang tepat.”

Kyuhyun menoleh memandang Siwon tajam. “Kau tahu dengan pasti tidak akan ada yang jadi pendampingku. Mengapa masih bertanya? Kau tahu benar kalau Donghae hyung menolak untuk sembuh dan lebih memilih mati daripada hidup denganku. Lalu untuk apa kau menanyakannya? Kau ingin mengejekku?”

Raut wajah Siwon berubah sedih. “Karena aku baru saja bertemu Donghae. Dan ia menceritakan segalanya padaku. Tentang perasaanya, tentang rasa sakitnya, tentang alasan mengapa ia lebih memilih mati.”

“Katakan padaku, semua yang diceritakan Donghae hyung padamu. Aku harus tahu.” Kata Kyuhyun cepat.

“Tidak sebelum kau menceritakan perasaanmu yang sesungguhnya padanya. Aku juga harus tahu,” Kata Siwon tegas.

“AKU MENCINTAINYA…! PUAS?” Raung Kyuhyun marah. “Kau pikir aku kasihan padanya? TIDAK! KAU SALAH! Aku mencintainya karena segalanya yang ia lakukan untukku. Aku mencintainya karena perhatiannya padaku. Aku mencintai semua yang ada dalam dirinya. Kesabarannya, ketulusannya, keikhlasannya. Semuanya! Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaanmu jika orang yang kau cintai meregang nyawa? Apa yang kau rasakan jika orang yang kau kasihi akan pergi meninggalkanmu selamanya?”

Siwon terdiam sebentar lalu menceritakan segalanya pada Kyuhyun. alasan mengapa Donghae tidak mau hidup lagi. Alasan mengapa Donghae sangat mencintai Kyuhyun. lalu ia melanjutkan.

“Tapi dia memilih mati, Kyu. Ia tidak mau hidup lagi. Dan kau akan sendirian lagi selamanya. Aku sudah berpikir, aku akan membatalkan pernikahanku dengan Tiffany. Aku akan mengakui semuanya pada pers dan menanggung akibatnya. Aku tidak ingin kau sendirian, Kyu. Aku sudah pernah melakukan kesalahan, aku akan menebusnya kembali.” Kata Siwon mantap.

“Kembali padaku? Dan menghancurkan hati orang lain? Aku tidak perduli pada karirmu, aku hanya peduli oleh korbanmu yang lain. Orang yang akan merasakan sakit yang sama setelah kau tinggalkan. Kau pikir aku tega melakukannya? Dan mengapa baru sekarang kau menyadarinya? Mengapa bukan dari dulu, sebelum kau menjamah hati tunanganmu?” kata Kyuhyun tajam. Ia marah sekali pada Siwon saat ini.

“Karena aku mencintaimu, Kyu. Aku baru sadar kalau kaulah yang kubutuhkan. Aku tidak bisa bahagia jika melihatmu sakit. Jika aku menikah, Donghae meninggal, siapa yang akan menjagamu? Aku tidak sanggup melihatmu menderita lagi, Kyu. Aku akan meninggalkan semuanya, hanya untukmu.” Kata Siwon seraya menggenggam kedua belah tangan Kyuhyun.

Kyuhyun segera menarik tangannya dan memandang Siwon dengan tatapan jijik. “Kau… kau bukan manusia. Jika kau memang manusia, kau adalah mausia paling jahat yang pernah aku kenal. Lebih baik aku sendirian selamanya daripada harus hidup bahagia denganmu diatas penderitaan orang lain. Cukup aku yang menderita, aku tidak ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama denganku. Selamat tinggal Choi Siwon.”

Kyuhyun lalu keluar dari mobil Siwon dan berlari secepat mungkin memasuki café. Tanpa peduli Siwon yang memanggil-manggilnya dengan raungan histeris.

*

            Ketika Kyuhyun pulang, ia mendapati Donghae sedang duduk di meja kerjanya sambil  memandang obat-obatan yang diberikan dokter padanya. entah apa yang dipikirkan lelaki itu. tapi tampaknya ia bimbang sekali.

“Minum obat-obat mu hyung.” Perintah Kyuhyun dengan tegas.

Donghae terlonjak. “Kyu, kau membuatku kaget setengah mati. Kau sudah pulang rupanya. Makanlah dulu, aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Aku juga akan menyiapkan air panas untukmu agar setelah makan kau bisa mandi lalu beristirahat.”

“Aku tidak akan makan sebelum kau meminum obatmu, hyung.” kata Kyuhyun tanpa mengindahkan kata-kata Donghae sebelumnya.

“Kyu, jangan seperti ini. Kau tahu aku sangat menyayangimu. Aku akan sedih jika kau sakit. Apa kau tega melihatku bersedih?” bujuk Donghae.

“Kau juga tahu aku menyayangimu, hyung. Jika kau tidak mau minum obatmu, kau akan membuatku sedih. Apa kau tega melihatku sedih?” balas Kyuhyun. Raut mukanya tampak keras.

“Ayolah Kyu, kau tahu ini berbeda. Aku..”

“Aku tidak mau mendengar alasan. Kau akan meminum obatmu sekarang lalu akan pergi bersamaku ke riumah sakit besok untuk mengatakan pada dokter bahwa kau siap untuk dioperasi.” Kyuhyun melanjutkan.

“Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Kau tahu pasti itu.” Tolak Donghae seraya memalingkah wajahnya dari Kyuhyun.

“Aku tahu semua alasanmu mengapa kau menolak untuk hidup. Karena kau merasa terbebani olehku. Kau ingin menghindariku yang selalu menyusahkanmu. Bahkan kau benci sekali karena aku terus-terusan merepotkanmu.” Kata Kyuhyun. Ia tahu yang ia ucapkan 100% berbeda dari apa yang didengarnya dari Siwon. Tapi ia harus melakukan ini.

“Tidak! Itu tidak benar. Hal terakhir yang ingin kulakukan sebelum aku mati adalah membahagiakanmu. Kau yang terpenting, kaulah yang utama Kyu. Mana mungkin aku pernah merasa terbebani? Aku.. aku mencintaimu Kyu, lebih dari apapun.” kata Donghae. Sakit sekali rasanya mendengar Kyuhyun bicara seperti itu.

“Kalau begitu buktikan. Hiduplah dan damping aku hingga tua nanti. Matilah bersamaku. Jangan pernah meninggalkanku, karena aku juga mencintaimu.”

“Tapi Kyu, aku tidak bisa.. hatimu.. kau hanya mencintai..”

Kyuhyun lalu mengeluarkan sebilah pisau dari balik saku jaketnya. Pisau itu diarahkan tepat di depan perutnya.

“Kalau kau tidak mau meminum obatmu, kalau kau tidak mau ke rumah sakit besok dan meminta dokter untuk mengoperasimu, kau akan melihat mayatku sebentar lagi. Lebih baik aku mati daripada harus hidup tanpamu.” Kata Kyuhyun nekad.

“TIDAK! Jangan Kyu, kumohon.. Baiklah.. aku akan meminumnya sekarang juga. Tapi tolong, buang pisau itu, jebal..” kata Donghae panik. Dengan cepat ia meraih botol obatnya dan mengeluarkan isinya. Diminumnya obat-obatnya lalu menenggak air putih.

Melihat itu Kyuhyun lalu jatuh bersimpuh dengan kedua lututnya. Ia menangis. Donghae berlari ke arahnya. Mengambil pisau Kyuhyun dan membuangnya sembarangan. Dipeluknya tubuh Kyuhyun dan ikut menangis bersama lelaki yang dicintainya itu.

“Jangan lagi, Kyu. Jangan lagi kau mencoba membunuh dirimu. Kumohon. Jangan buat diriku menderita. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku akan meminum obatku dengan rutin, aku akan ke rumh sakit besok dan mengatakan pada dokter bahwa aku siap menjalani operasi dan pengobatan lainnya. Aku akan sembuh untukmu, Kyu. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji.” Kata Donghae dalam tangisnya. Terdengar jelas ketakutan dalam suaranya.

Kyuhyun bernafas lega. Akhirnya Donghae mau mendengarkannya. Ia sempat berpikir bahwa ia benar-benar akan menusukkan pisau tadi ke perutnya agar Donghae tahu bahwa ia benar-benar serius dengan perkataanya. Ia hanya ingin lelaki itu tahu bahwa ia benar-benar mencintai Donghae.

“Kyu.. kau mendengarkanku kan? Jangan pernah melakukan hal bodoh itu lagi, ne?” kata Donghae masih khawatir.

Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Donghae. “Asal kau mau sembuh, itu sudah cukup bagiku. Saranghae hyung..”

“Nado.. Nado saranghae, Kyu.”

*

tumblr_ltdrhhZjj91qdrljto7_250

To Be Continued..