The Journey – Chapter 7

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 7

“Sudah sangat lama.” Kyuhyun dan Zhoumi sore itu memutuskan untuk bertemu lagi setelah pertemuan tak terduga mereka beberapa hari yang lalu.

“Apa kau pernah mendengar kabar dari Yunho-ssi?” tanya Kyuhyun.

Zhoumi terdiam. Ia tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya ia menceritakan hal yang seharusnya ia rahasiakan tentang Yunho.

Beberapa hari setelah itu, ia dan Kyuhyun bertemu lagi dan langsung menuju ke stasiun kereta api, tempat dimana mereka berharap bisa bertemu dengan Yunho.

Keduanya tampak melongok ke dalam kereta api yang akan berangkat sebentar lagi. Mencari-cari dengan cemas, dimana gerangan Yunho berada. Tapi semakin mereka cari, semakin sulit Yunho ditemukan.

Hari ini adalah hari yang sangat ditakutkan oleh Kyuhyun. Ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk bertemu cinta pertamanya itu. Karena Yunho yang ternyata hilang tanpa kabar telah berhasil masuk ke dalam jajaran staf militer atau tentara dan kini bersiap untuk berperang melawan Vietnam.

Ketika Kyuhyun telah sampai di ujung kereta api, ia nyaris putus asa karena tidak mendapati Yunho sama sekali. Namun tiba-tiba ia terhenti. Sekilas, ia seperti melihat seseorang duduk diam dengan kepala menunduk. Walaupun hanya sekilas, walaupun orang itu mengenakan topi besi, Kyuhyun tahu itu adalah Yunho-nya.

Dengan segera ia berlari kembali ke belakang dan berhenti tepat di depan jendela, dimana dibaliknya Yunho terlihat duduk dengan sedih. Kyuhyun mulai menangis. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki yang dicintainya selama bertahun-tahun itu? Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan lelaki sederhana yang membuat hari-harinya cerah itu?

Kyuhyun mengetuk jendela kaca itu. “Yunho-ya.. Yunho-ya..”

Yunho menoleh. Sesaat ia terkesima melihat siapa yang datang. Namun ketika matanya melirik Zhoumi, ia mengalihkan pandangannya. Ia berbalik, membelakangi Kyuhyun dan Zhoumi.

Tapi didengarnya Kyuhyun tetap mengetuk jendelanya dengan keras. Hatinya hancur mendengar Kyuhyun menangis di luar sana, seraya memanggil namanya. Mati-matian ia berusaha menahan tangisannya. Ia tidak ingin Kyuhyun tahu, betapa ia terlukanya.

“Yunho-ya.. Tolong kembalilah dengan selamat.. Kumohon..” Kyuhyun masih setia menangis di luar sana. “Kau harus kembali dengan selamat. Yunho-ya.. Jawab aku.. Yunho-ya..”

Kehilangan Yunho selama bertahun-tahun sudah cukup merupakan pukulan berat baginya. Apalagi ia harus menyaksikan Yunho mengabaikannya disaat lelaki itu akan pergi menentang maut.

“Yunho-ya.. Kembalilah dengan selamat..”

Yunho tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia menangis dalam diam. Wajahnya masih senantiasa berpaling dari jendela, tempat dimana Kyuhyun – yang juga menangis – berdiri disana.

Lalu terdengar bunyi peluit panjang. Bersamaan dengan itu, perlahan kereta mulai bergerak maju. Tapi Yunho tidak juga berubah pikiran, ia tetap mengabaikan dua orang yang menunggunya di luar. Semantara itu Kyuhyun dan Zhoumi ikut bergerak, seakan tidak ingin Yunho meninggalkan mereka.

“Yunho-ya..”

Kyuhyun masih memanggil nama Yunho dalam tangisnya. Yunho akhirnya menoleh, meletakkan tangannya di kaca dan memandang Kyuhyun dengan sedih ketika kereta mulai berjalan sedikit lebih cepat. Dilihatnya Kyuhyun mulai berlari mengikuti kereta di luar, di belakangnya Zhoumi ikut berlari.

Ketika akhirnya dilihatnya Kyuhyun tidak mampu mensejajarkan diri dengan jendelanya, Yunho melepas topi beratnya dengan cemas. “Kyuhyun-ah..”

Ia berlari cepat ke gerbong belakang kereta, guna mencari pintu keluar terdekat dengan posisi Kyuhyun saat ini.

Kyuhyun berlari, mengejar kereta yang berjalan semakin kencang. Tangisnya masih tetap menghiasi wajahnya. Tangannya sibuk melepaskan kalung yang menghiasi leher putihnya yang kini terbalut mantel tebal, menghalau dinginnya musim gugur kala itu. Di belakangnya, Zhomi ikut berlari.

“Kyuhyun-ah.. Zhoumi-ya..” teriak Yunho dari pintu gerbong terdekat, melihat dua orang yang disayanginya berlari mengejar keretanya.

Kyuhyun masih berlari, di telapak tangannya kini ada seuntai kalung yang dulu pernah diberikan pada Yunho tapi dikembalikan di hari Zhoumi masuk rumah sakit. Kini, ia ingin memberikannya lagi pada Yunho.

“Yunho-ya..” Kyuhyun menyerahkan kalung itu pada Yunho. Ia masih senantiasa menangis, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Yunho akan kembali dengan selamat? Apakah ia masih bisa melihat lelaki itu?

Kereta berjalan semakin cepat. Kyuhyun dan Zhoumi sudah tidak bisa lagi mensejajarkan langkah mereka dengan alat transportasi panjang itu, tak peduli sekuat apa mereka berlari.

“Yunho-ya, kembalilah dengan selamat.” Teriak Zhoumi seraya berhenti berlari. Kyuhyun pun meneriakkan hal yang sama. Lelaki itu tampak sangat terpukul dengan kepergian Yunho.

Yunho hanya bisa melambaikan tangannya. Airmatanya masih tetap mengalir. Ketika Kyuhyun dan Zhoumi semakin kecil dari pandangannya, ia terduduk di sana, memandang kalung di tangannya dengan perasaan sakit. Kalung itu sangat berharga. Berasal dari keluarga Zhoumi yang diberikan oleh Kyuhyun kepadanya. Artinya, kalung itu merupakan pemberian dari kedua orang yang sangat disayanginya.

Dengan mantap ia lalu mengenakan kalung tersebut di lehernya. Dengan tekad baru, ia menempelkan benda itu ke dadanya.

*

            Deru helikopter membahana di udara. Benda besi raksasa bermotif loreng itu terbang di atas pegunungan dan lautan di salah satu hutan Vietnam, menampung para tentara yang kini siap maju ke medan perang. Tak lama kemudian, dua helikopter itu turun dari angkasa dan mendarat sempurna di sebuah tanah lapang.

Segera setelah helikopter itu menyentuh tanah, para tentara di dalamnya berhamburan keluar seraya menggenggam erat senapan laras panjang di tangan. Dengan langkah-langkah berani, para tentara itu mulai berlari maju, menyerang ke lini depan sang lawan. Ranjau-ranjau yang meledak tak jauh dari kaki mereka sama sekali tidak menyurutkan keteguhan dan keberanian dalam diri ksatria mereka.

Yunho melompati beberapa batang pohon yang tumbang di tanah, melewati ranjau yang baru saja meledak dan memakan korban di belakangnya. Tanpa gentar ia lalu menyusup diantara teman-teman seperjuangannya, berlindung di balik sebuah batang pohon lain yang tumbang dan mulai menembaki para musuh yang berdatangan dari arah berlawanan.

DOR!

DOR!

DOR!

Seorang lelaki dari camp militer yang sama dengannya tersenyum kepadanya. Yunho tidak mengenalnya dengan baik. Ia hanya tahu lelaki itu bernama Kim Youngwoon, mereka beberapa kali berpapasan di camp dan saling menyapa. Yunho ikut tersenyum kepada lelaki tinggi besar itu.

Kemudian mereka meneruskan aksi menembak musuh. Beberapa diantara mereka telah tumbang dengan tubuh tertancap peluru dari mesiu musuh. Semakin lama, musuh yang mendekat semakin banyak, semakin membuat tim Yunho kewalahan.

DOR!

Satu tembakan lain berhasil mengenai sasaran, tubuh salah seorang tim Yunho jatuh. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi melihat siapa yang terluka karena sibuk mengisi peluru ke dalam senjatanya sendiri, hingga sebuah tangan besar meraih keras bajunya dari arah kanan.

Yunho menoleh dan mendapati Kim Youngwoon tengah kesulitan bernafas dengan sebuah luka tembak di dadanya. Bibirnya mengeluarkan darah, tubuhnya kejang-kejang. Hanya genggaman tangannya di kerah seragam Yunho yang membuatnya tampak seperti butuh teman menjelang ajalnya.

“Kopral! Kopral! Sadarlah!” teriak Yunho, berusaha menyadarkan lelaki yang tengah sekarang meregang nyawa itu. “Medis..! Aku butuh bantuan medis!” teriak Yunho lagi seraya menoleh ke kiri dan kanan, mancari bantuan.

“Bertahanlah! Bertahanlah! Kumohon bernapaslah!” Teriak Yunho frustasi seraya mengantamkan telapak tangannya berkali-kali ke dada Kim Youngwoon, airmatanya sudah tumpah melihat korban di depannya. Sementara beberapa temannya sudah mulai mundur, mereka nyaris terkepung.

“Hentikan! Dia sudah mati! Ayo pergi! Dia sudah mati bodoh!” Choi Siwon menariknya mundur, membawanya pergi dari tempat itu atau mereka akan jadi korban berikutnya.

Keduanya berlari, menghindari bom yang dilemparkan ke arah mereka juga peluru yang dengan ganas mengambil nyawa lain. Yunho masih melihat ke belakang sebelum benar-benar berlari sekuat tenaga. Satu dari orang yang dikenalnya mati di depan matanya. Ini adalah kali pertama ia mengalaminya dan entah mengapa terasa sangat berat di dadanya.

Musuh semakin dekat, dengan suara-suara lantang yang menakutkan, mereka menembaki tentara Korea Selatan dengan ganas. Yunho berlari, deru di dadanya dan sesak di tenggorokannya nyaris merobek hatinya. Ia ingin hidup, dan ia harus selamat demi Kyuhyun.

Dari jauh, Yunho bisa melihat tanah lapang dimana ia dan teman-temannya tadi diturunkan. Helikopter yang tadi membawa mereka pun sudah menunggu di sana. Ia baru akan mempercepat laju larinya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di sekeliling lehernya. Ketika ia menyentuh di sana, barulah ia menyadari bahwa kalung pemberian Kyuhyun tidak melingkar di sana seperti biasa. Ia mengingat bahwa orang terakhir yang menyentuh lehernya adalah Kim Youngwoon.

Tanpa pikir panjang, Yunho berlari ke belakang, berlawanan arah dari teman-temannya yang sedang berusaha melarikan diri menuju helikopter.

“Yunho! Kau mau kemana, bajingan! Kembali kemari!” teriak Siwon ketika melihat tindakan bodoh Yunho. “Yunho-ya! Kembali kemari!”

Sementara para tentara Korea Selatan sudah berlomba-lomba menaiki helikopter, beberapa diantaranya bahkan sudah terbang begitu holikopter yang ditumpangi penuh. Tapi Yunho tidak peduli. Ia terus berlari, menyerbu membabi buta, menghabisi siapa saja yang bisa dijangkaunya.

Kalung pemberian Kyuhyun yang juga berasal dari keluarga Zhoumi itu jauh lebih penting baginya. Seperti hartanya, jiwanya, tubuhnya. Beberapa peluru melewatinya, menggores topi bajanya, melewati belakang lehernya. Namun seolah tak kenal takut, ia terus menyerbu.

Ia tidak tahu bahwa seorang tentara Vietnam tengah terfokus menatapnya. Dengan seringai lebar, lelaki itu mengarahkan senjatanya ke tubuh Yunho. Tapi sebelum ia sempat menembak, ia menjerit kesakitan. Sebuah peluru lain meluncur masuk ke tubuhnya, ketika ia menoleh didapatinya tentara lain tengah melindungi targetnya tadi dari jauh. Tentara itu : Choi Siwon.

Siwon menganggap Yunho sudah seperti saudaranya sendiri. Berlatih bersama di camp, memenuhi panggilan Negara untuk membela tanah air dari musuh, membuat keduanya benar-benar saling mendukung.

Dan kini, ketika dilihatnya Yunho kembali ke arena tembak alih-alih menyelamatkan diri, ia segera menyusul. Apapun alasan Yunho kembali, ia tidak peduli, ia hanya ingin Yunho kembali ke Korea dengan selamat bersamanya. Ia tidak bisa mengejar Yunho terlalu jauh karena ia sendiri ditahan oleh beberapa orang sekaligus, maka ia hanya bisa melindungi sahabatnya itu dari jauh.

Yunho sudah hampir sampai ke lapangan tadi, beberapa kali ia bertemu musuh di perjalanannya, tapi dengan sigap ia menyerang dengan tembakan berulang kali.

Begitu sampai disana, ia segera menghampiri mayat Kim Youngwoon lalu meraih tangan kanan lelaki itu. Benar saja, dalam genggaman lelaki itu, ada kalung pemberian Kyuhyun. yunh berusaha melepaskannya namun genggaman Kim Youngwoon sangat kuat, membuat Yunho harus menariknya lebih keras lagi hingga akhirnya terlepas.

Yunho memandang kalung itu sebentar, mensyukuri kembalinya kalung itu ke tangannya. Ia segera menggigit liontin-nya lalu segera beranjak. Ia berlari kembali ke tanah lapang dimana helikopter dan tentara lainnya menunggu.

DOR!

Seorang lelaki dengan seragam yang sama dengannya terkena lemparan bom dan langsung membuatnya roboh ke tanah. Yunho segera menghampiri lelaki itu lalu membawanya di bahunya seraya tetap berlari.

Beban terasa sangat berat di bahunya. Tubuhnya terasa letih luar biasa. Panas yang ia rasakan begitu mengikat, membuatnya nyaris bersimpuh disana, tapi tekadnya yang kuat untuk kembali selamat membuatnya bersemangat. apalagi dengan kembalinya kalung berharganya yang kini berada diantara gigi-gigi serinya.

Para tentara Korea Selatan tengah menunggunya dengan sikap waspada. Senjata mereka terancung, kalau-kalau ada tentara Vietnam yang membuntiti Yunho atau tiba-tiba muncul disana. Semakin dekat ia dengan tentara senegara membuatnya semakin lega.

‘Aku selamat.’

Namun, ketika ia baru akan melangkahkan kakinya lagi, sebuah bom meledak tepat di depannya dengan suara menggelegar. Yunho jatuh tersungkur, begitu juga dengan lelaki di pundaknya tadi. Rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa ia akan mati sebentar lagi. Terlalu sakit, ia benar-benar tidak bisa menahan lagi.

Choi Siwon berlari ke arah sahabatnya, hatinya berdegup kencang dengan kenyataan buruk yang bisa saja menimpa Yunho. Disana, ia melihat sahabatnya dengan napas tersengal, bersimbah darah di wajahnya, dengan tubuh bergetar. Tangan Yunho yang juga bergetar itu pelan-pelan meraih kalung yang tergeletak tak jauh darinya ke dalam genggamannya.

*

            Seorang anak kecil bermain riang di dalam sebuah café kecil di pinggiran kota. Ketika melihat miniature piano berwarna hitam di atas meja, ia segera mengambilnya lalu membawanya bermain.

Cho Kyuhyun duduk dengan sabar disana, matanya tak henti-hentinya melihat ke luar jendela. Ia tampak snagat tampan hari itu, ia bahkan memilih pakaian terbaik untuk moment terbaik sepanjang hidupnya ini.

Tak lama kemudian, senyumnya terkembang ketika melihat sebuah taksi berhenti di depan café kecil itu. Dari dalamnya, turun seorang lelaki yang amat sangat dikenalnya. Jung Yunho.

Yunho melangkah pelan ke dalam café itu. Tubuhnya masih tetap tegap. Rambutnya masih tetap cepak seperti sebelum ia berangkat ke Vietnam. Dan senyumnya, masih tetap senyum yang sangat dikagumi Kyuhyun sepanjang hidupnya. Dibalut setelan jas musim gugur, lelaki itu menghampir Kyuhyun.

Dia tampan. Dan selalu tampan.’ Kyuhyun hanya bisa memikirkannya. Ia begitu terkesima melihat Yunho kembali. Begitu Yunho mengabarinya bahwa ia pulang dengan selamat ke Korea dan ingin bertemu dengannya, kebahagiaan membuncah di dada Kyuhyun saat itu. Walaupun ia harus menunggu beberapa tahun, namun ia dan Yunho akan bersatu lagi. Segera.

“Kau tidak berubah sama sekali.” Puji Yunho. Senyum khasnya masih terukir di wajahnya. “Kau tampak seperti dulu, selalu manis dan mempesona.”

“Tidak, aku semakin tua.”

Keduanya bicara dengan canggung, mengingat mereka tidak bertemu selama beberapa tahun dan perpisahan terakhir mereka bukan perpisahan yang manis. Yunho lalu mendudukkan dirinya di kursi terdekat, Kyuhyun ikut duduk di depan lelaki itu.

“Kau melewati masa-masa sulit, bukan?” tanya Kyuhyun pelan.

“Tidak juga.” Jawab Yunho, masih dengan suara canggung. “Oh.. Bagaimana kabar Zhoumi?”

Kyuhyun melirik Yunho. “Sepertinya ia baik-baik saja.”

Kyuhyun tidak ingin membiarkan Yunho tahu bahwa Zhoumi masih menginginkannya namun lelaki itu setia menunggu, ia tidak memaksakan perasaannya sama sekali karena Kyuhyun tidak ingin memikirkan lelaki lain selain Yunho.

“Mengapa kau belum juga menikah?” tanya Yunho lagi. “Aku sudah menikah.” Ia memaksakan senyum tulus di wajahnya.

Kumpulan airmata menggenang di pelupuk mata Kyuhyun ketika mendengar kata-kata Yunho barusan. Ia telah menunggu sekian lama tapi ternyata Yunho tidak memberinya kesempatan sama sekali.

“Ya, aku mendengar hal itu.” kata Kyuhyun dengan tenang, menyembunyikan perasaannya yang hancur.

“Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Tapi entah mengapa, ketika kita saling bertemu seperti ini, aku jadi melupakan segalanya.” Yunho tertawa kecil.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman. Ia membuang pandangannya ke luar jendela, berusaha keras menahan airmatanya yang hendak tumpah.

“Kau lihat piano kecil itu? Kami juga punya satu di rumah. Sama persis dengan yang itu.” kata Yunho seraya memalingkan wajahnya ke kanan.

Airmata Kyuhyun sudah jatuh. Tapi ia tidak ingin merusak acara ini, jadi ia meneruskan mendengarkan kata-kata lelaki di depannya. ia ikut menoleh ke arah dimana pandangan mata Yunho berhenti.

“Ketika aku melihatnya, aku teringat saat kau memainkan piano.” Yunho masih terus menatap ke meja itu.

Kyuhyun mendadak bingung di buatnya. Piano? Diatas meja itu hanya ada sebuah pot bunga kecil, tidak ada piano sama sekali. Piano yang tadinya ada disana sudah sedaritadi di bawa oleh anak kecil yang kini memainkannya di meja lain.

“Benar-benar seperti kau. Benarkan?” mata Yunho masih memandang ke meja itu dengan senyumnya.

Kyuhyun menatap Yunho dengan perasaan takut luar biasa. Perlahan ia menaikkan jemarinya ke depan wajah Yunho lalu menggoyang-goyangkannya. Yunho sudah berbalik menatapnya, masih dengan tatapan dan senyum yang sama, namun sama sekali tidak ada reaksi atas pergerakan jemari Kyuhyun di depan matanya.

“Waktu itu kita masih sangat muda.” Yunho melanjutkan kata-katanya.

Di depannya, Kyuhyun menutup mulutnya. Jantungnya serasa berdetak terlalu kencang. Ketakutan menyelimutinya.

“Tapi masa lalu telah pergi.”

Kyuhyun kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini jatuh sudah. Ia menahan suaranya agar tagisnya tak terdengar.

“Kupikir, perasaan kita saat itu adalah perasaan terbaik. Kita menjerit dan tertawa untuk hal-hal kecil.” Yunho masih saja terus bicara dengan lembut, masih dengan senyum dibarengi pandangan mata yang hangat.

Kyuhyun sudah benar-benar menangis kini, namun ia masih berusaha keras menyembunyikan suara tangisnya. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya itu tidak bisa melihat. Yunho buta.

“Bagaimana wajahku saat ini?” tanya Kyuhyun diantara tangisnya, berusaha membuat suara normal.

“Kau terlihat sehat.” Kata Yunho yakin. “Tapi aku ingin melihatmu lebih bahagia dari sekarang.”

“Aku sedang menangis saat ini. Tidak bisakah kau melihat air mataku?” tanya Kyuhyun. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan suara tangisnya yang keras.

Wajah Yunho berubah seketika. Ia baru saja menyadari bahwa ia salah memperkirakan raut wajah Kyuhyun sesaat tadi.

“Mengapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa kau tidak bisa melihat?” Kyuhyun menangis. Airmatanya semakin deras. Sakit yang dirasakan di hatinya begitu kuat, nyaris merobek seluruh sisa perasaannya.

Merasa penyamarannya telah terbongkar, Yunho yang sangat gugup saat itu bangkit dari duduknya. “Hari sudah sore, maaf, aku punya janji lain. Aku harus pergi.”

Yunho berbalik meninggalkan Kyuhyun. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Tapi, tanpa tongkatnya, ia tidak bisa meraba kemana arah yang seharusnya ia ambil. Detik berikutnya ia sudah jatuh tersungkur karena menabrak meja di depannya.

Yunho terpaku disana. Ia hanya bisa diam dan menangis, menyesali nasib buruk yang menimpa dirinya. Perlahan Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu menghampiri lelaki itu. masih dengan tangisnya, ia membantu Yunho berdiri.

“Maafkan aku. Tadi nyaris sempurna. Aku bisa saja berhasil melalui semua itu. Aku bahkan datang kemari tadi malam dan banyak berlatih.” Kata Yunho meminta maaf. Hatinya sakit sekali karena tidak bisa melihat wajah Kyuhyun, lelaki yang teramat dicintainya. Bahkan melihat setitik airmatanya pun ia tidak bisa.

“Kau hampir saja membodohiku. Kau benar-benar bekerja keras. Aku nyaris saja percaya.” Kata Kyuhyun, tersenyum dalam tangisnya.

Yunho merogoh kantongnya lalu mengeluarkan kalung pemberian Kyuhyun beberapa tahun lalu. “Aku.. mempertaruhkan nyawaku untuk mengembalikan kalung ini kepadamu.”

Ia hendak memakaikan kalung itu ke leher Kyuhyun namun Kyuhyun meraihnya. “Jangan.. Kalung ini adalah milikmu.” Kyuhyun lalu melingkarkan kalung itu ke leher Yunho.

Begitu kalung itu melekat sempurna ke lehernya, tangis Yunho kembali pecah. Ia memberanikan diri mengakat tangannya, membelai pipi halus Kyuhun yang saat itu tengah bermandikan air mata.

Cinta mereka hanya sampai disana. Yunho benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun dan tidak pernah kembali sama sekali. Membuat Kyuhyun akhirnya menerima perjodohan ayahnya dengan Zhoumi dan menikahi lelaki jangkung itu. Bahkan, di hari pernikahannya, Kyuhyun masih saja menitikkan airmata. Menangisi cinta pertamanya yang hilang, cinta sejatinya yang pergi dan cinta terakhirnya yang tidak pernah bisa ia dapatkan kembali.

Yunho the journey 7

TBC

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

The Journey – Chapter 3

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 3

Present Days

Kyujin tersentak dari imajinya. Refleks ia menatap jam yang melingkar di lengan kirinya dan ia terkejut ketika waktu sudah menunjukan hampir petang. Ia baru ingat jika malam ini ia memiliki janji dengan Taemin untuk datang ke Museum seni bersama Changmin.

Dengan tergesa ia memasukan jurnal yang baru saja ia baca kedalam tas dan beranjak dari bangku taman yang ia tempati. Beberapa saat lalu, karena merasa jenuh di perpustakaan, ia memilih untuk pergi ke taman kampus untuk melanjutkan kembali membaca jurnal yang selalu ia bawa kemanapun itu.

Ketika sampai di Museum, ia tidak mendapati sahabat kekanakannya itu. Begitupun dengan sosok Changmin. Tidak mau membuang waktu dengan percuma, Kyu pun berinisiatif untuk berkeliling ruangan yang penuh dengan hasil karya dari mahasiswa jurusan Seni di kampusnya.

Namun, ketika ia melewati sebuah papan tempat untuk menggantung lukisan, ia melihat Taemin yang tengah bergelayut di lengan Changmin berjalan di sisinya. Ia mengerutkan keningnya heran.

Ia melangkahkan kakinya lagi hingga ia berdiri tepat di hadapan Changmin yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya. Seketika nafasnya tercekat.

“Anyeong…” Sapanya  pada namja tinggi dihadapannya. “Maaf aku terlambat.” Ucapnya menjelaskan sekedarnya. Changmin tersenyum menanggapi ucapan Kyujin.

“Anyeong, Kyujin-ah…” Tukas Taemin yang tiba-tiba muncul dari balik papan kayu.  Kyujin hanya tersenyum canggung seraya mengalihkan wajahnya dari sahabatnya yang tampak tersenyum cerah.

“Changmin hyung. Aku menang!” Seru Taemin riang pada Changmin yang kembali tersenyum. Menahan tawanya melihat sikap Taemin yang tampak kekanakan.

“Kita membuat taruhan. Aku bertaruh jika kau akan datang sementara Changmin hyung bertaruh jika kau tidak akan datang.” Terang Taemin menjawab rasa penasaran Kyujin.

Mendengar itu, Kyujin hanya mampu menelan ludahnya menahan perasaannya yang terasa tidak rela dan kecewa. Padahal ia hanya terlambat beberapa menit, tapi mereka berdua bahkan telah membuat taruhan semacam itu. Sedekat itukah hubungan mereka saat ini?

Taemin kembali merangkul lengan Changmin dengan senyum lebarnya, “Kau harus mentraktirku makan malam, hyung…” Pintanya dengan mengusap pundak Changmin, bertingkah seolah tengah membuang debu di pundak kokoh milik Changmin.

Namja tampan tersebut hanya tersenyum tipis mengabaikan tingkah Taemin padanya. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian.” Balasnya yang juga menatap Kyujin yang hanya mampu berdiri dihadapannya dengan kikuk.

Mereka melanjutkan langkah. Namun Kyujin lebih memilih untuk berjalan di sisi pasangan tersebut dengan sedikit menjaga jarak. Sesekali ia menatap Changmin yang ternyata juga tengah menatap padanya. Ia menundukan wajah seraya menggigit bibir bawahnya. Sedikit malu dan terpesona dengan senyum tulus yang diberikan Changmin padanya.

Setelah berkeliling Museum, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton pentas drama yang tengah berlangsung di teater. Kyujin tampak tenang menikmati jalan cerita dari drama yang tengah ditampilkan.

Berbeda dengan Changmin yang duduk berjarak satu bangku-tempat Taemin duduk- darinya. Ia tampak sedikit risih diposisi duduknya. Terlebih ketika Taemin memeluk lengan Changmin serta menyandarkan kepalanya dengan manja di bahunya. Melihat pergerakan Taemin, Kyujin mengalihkan pandangannya dari arah panggung.

“Lihat apa kau?” sentak Taemin dengan nada menantang. Kyujin tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap Changmin yang rahangnya tampak mengeras, sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Melihat itu, Kyujin hanya mampu tersenyum pahit. Mencoba menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Aku harus pergi.” Ucap Kyujin pada Taemin yang tengah berdiri di pintu masuk ruang staf pemain drama ketika pertunjukan telah selesai.

“Kenapa kau harus pergi secepat ini? Changmin hyung akan mentraktir kita makan malam.” Kaluh Taemin menekuk wajahnya.

Kyu menepuk pundak Taemin pelan. “Tiga orang terlalu ramai, Taemin-ah.”

Mendengar ucapan Kyujin, seketika wajah Taemin berbinar. “Aish, dasar kau. Kau terlalu pintar, Kyu.” Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Changmin yang tengah berbicara dengan seseorang di dalam ruang staf. “Changmin hyung, Kyujin mengatakan jika ia akan memilih pulang lebih awal.”

Changmin melangkah menghampiri kedua namja yang berdidi di depan pintu, “Tapi kau harus makan dulu, Kyujin-ah. Dan kita juga bisa bermain atau mengobrol terlebih dahulu.”

Belum sempat Kyujin berkata apa-apa, Taemin telah menyambar terlebih dulu. “Kyu tidak pernah merubah pikirannya secepat itu. Bukankah begitu, Kyujin-ah?” Tanya Taemin dengan nada manis.

Kyujin yang saat itu telah berdiri membelakangi Taemin dan Changmin hanya tersenyum getir. “Ne.” Jawabnya singkat. Mencoba menggunakan nada senormal mungkin. Tanpa mereka berdua ketahui, ekspresi wajah Changmin berubah murung.

“Nah, kan…” Desah Taemin kecewa meskipun wajahnya menunjukan ekspresi yang berbeda dari kalimat yang ia ucapkan.

“Sayang sekali. Pasti akan sangat menyenangkan jika kau juga ikut, Kyu…” Changmin membujuk dengan wajah berharap.

Taemin mengerutkan keningnya, tidak suka mendengar ucapan dan ekspresi yang ditunjukan oleh lelaki yang ia cintai di sisinya.

“Kyunnie, apa kau tahu jika Changmin hyung tidak sering mentarktir teman-temannya seperti ini, kan? Changmin hyung melakukan ini karena kau adalah temanku.” Taemin tersenyum manis pada Changmin yang dibalasnya dengan senyuman terpaksa. “Dia hanya mencoba berlaku baik, jadi kau bisa pergi sekarang. Tidak masalah.” Taemin mendorong tubuh Kyujin yang mematung membelakanginya. Meminta sahabatnya itu untuk pergi secepatnya. Changmin sendiri terus memperhatikan Kyujin dengan sorot mata kekecewaan.

Kyujin berjalan meninggalkan ruang staf dengan langkah sedikit menghentak. Sedikit kesal dengan perlakuan Taemin padanya. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengikuti ajakan makan malam Changmin. Selain itu, ia merasa telah cukup menyiksa dirinya sendiri dengan melihat Taemin yang selalu bersikap mesra pada Changmin.

Ia yang baru saja berjalan sampai di lorong ruangan terkejut ketika ia mendengar suara seseorang.

“Tunggu!”

Kyujin membalikan tubuhnya dan mendapati Changmin yang tengah melongokkan tubuhnya di jendela ruang staf yang terbuka. Kyujin berjalan menghampiri Changmin.

“Aku membawa hadiah hari ini.” Changmin mengeluarkan dua buah kotak kecil dari balik dinding yang membatasinya dengan Kyujin. “Aku juga memberikanmu satu, jadi kau tidak akan merasa sendirian.”

“Aku bertaruh kau tidak akan bisa tidur malam ini.” Tukas Taemin pada Kyujin yang tiba-tiba mendesak tubuh Changmin di jendela. “Changmin hyung tidak bermaksud apa-apa. Changmin hyung memberikan kado ini karena kau adalah teman baikku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

Kyujin hanya terdiam dengan sesekali menatap wajah Changmin yang masih mengulurkan dua buah hadiah padanya.

“Ambillah satu.” Pinta Changmin menghiraukan kata-kata Taemin.

Kyujin melihat dua buah kotak kecil berwarna cokelat muda yang di ikat dengan pita simpul menghiasi keduanya. Yang tampak berbeda adalah hiasan bunga kertas yang hanya terdapat di kotak yang ada ditangan kanan Changmin. Kotak yang  jika sekilas dipandang saja tampak terkesan lebih manis dari yang satunya.

Setelah Kyujin memilih hadiah dari Changmin, ia berniat untuk pulang ke rumah. Sekedar untuk beristirahat dan melanjutkan untuk membaca jurnal yang membuatnya penasaran.

“Kyujin-ah.”

Kyujin berhenti di tempat ketika suara Taemin yang tengah berlari kearahnya memanggil namanya.

“Aku lebih suka hadiah milikmu.” Taemin merebut kotak kecil dengan hiasan bunga kertas dari tangannya dan menggantinya dengan hadiah milik Taemin sendiri. “Kau tidak keberatan jika kita bertukar kan? Bye…”

Taemin melenggang pergi kembali memasuki gedung dengan tanpa memberi kesempatan pada Kyujin untuk mengucapkan sepatah katapun. Kyujin hanya menghela nafas berat menatap kepergian sahabatnya.

Setelah ia sampai di rumah dan membersihkan tubuhnya, Kyu hanya membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Menelungkupkan tubuhnya untuk memandangi hadiah pemberian dari Changmin untuknya, yang telah ditukar dengan milik Taemin.

Ia memainkan pita yang menghiasi penutup kotak persegi dihadapannya. Merasa enggan untuk membukanya. Ia mengocok kotak tersebut. Sedikit heran ketika ia tidak mendengar suara apapun dari dalamnya. Karena kesal ia mengabaikannya namun karena rasa penasarannya akhirnya ia membuka kotak berwarna cokelat tersebut.

Kartu ucapan dan sebuah gantungan ponsel berbentuk beruang putih.

Kyujin merebahkan kembali di kasur dengan kartu ucapan ditangannya.

            Ketika sinar mentari tepancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu.

Kyujin segera menelepon Taemin perihal hadiah itu.

“Benarkah? Apa itu yang ia katakan? Aigoo, Changmin hyung pasti sangat menyukaiku. Kau harus memberikan kartu itu padaku besok, Kyu. Ok?”

“Ok.” Sahut Kyujin lirih sebelum ia memutus telepon dari Taemin yang sangat antusias ketika ia membacakan tulisan yang terdapat di dalam kartu ucapan pemberian Changmin.

Kyujin meletakan teleponnya dengan lunglai. “Aku sama sekali tidak memiliki harapan lagi padanya.” Gumamnya. ”Sudah seharusnya ia dengan Taemin.”

Ia kembali membaca sederet kalimat yang tertulis di kartu ucapan yang tergeletak dihadapannya.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Past Days

Yunho menambahkan tinta pada penanya lalu kembali menulis.

“Apa sudah selesai?” tanya Zhoumi yang tiba-tiba muncul dan duduk di depan Yunho.

“Tinggal sedikit lagi.”

“Perhatian.” Seorang guru mereka memasuki kelas lalu berdiri di depan papan tulis. “Kumpulkan veses kalian di dalam sebuah plastik, mengerti? Lakukan sekarang!”

Tanpa banyak bicara, seluruh isi kelas berhamburan keluar, memegang kantong plastik kecil di tangan lalu berbondong-bondong memasuki toilet. Namun, seluruh isi toilet ternyata telah dipenuhi oleh anak-anak lain yang sudah lebih dulu datang.

Maka, karena tidak ada pilihan lain, mereka melakukannya di balik semak-semak di belakang sekolah.

*

            Hooekk!

Kyujin memuntahkan makanan di mulutnya ketika membaca dan membayangkan apa yang tertulis dalam jurnal yang tengah ia baca.Namun beberapa saat kemudian ia tertawa pelan membayangkan tingkah konyol Yunho dan Zhou Mi…

*

            Past Days

Pagi itu, seluruh isi kelas Yunho melakukan lari pagi mengintari lapangan sekolah bersama-sama. Zhoumi yang tadinya berlari di depan, mengurangi kecepatanya agar bisa sejajar dengan Yunho.

“Yunho-ya, aku akan berlari sambil menutup mataku. Kau harus menuntunku, ne?”

“Baiklah” kata Yunho. Ia lalu menggandeng lengan Zhoumi ketika lelaki jangkung itu mulai menutup matanya.

“Yunho-ya, maukah kau menemaniku belajar dansa polka sepulang sekolah?” tanya Zhoumi lagi.

“Polka?”

“Benar, aku akan menemui Kyuhyun disana. Ini adalah ide ayahku dan temannya itu. Mereka ingin aku dan Kyuhyun bertemu di perhelatan nantinya.” Terang Zhoumi. “Akan ada banyak lelaki disana, kau bisa memilih satu nantinya. Kau bisa datang kan?”

“Aku tidak tahu..” Yunho yang secara tidak sadar sudah melepaskan lengan Zhoumi, tetap berlari sambil berpikir. Detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sudah terpisah dari sahabatnya. Dengan bingung ia mencari Zhoumi.

Ketika menoleh ke kanan, didapatinya Zhoumi yang tetap tenang karena mengira Yunho masih menggandenganya, tetap berlari lurus ke depan dan..

Buuuukkkkkkkk..!

Zhoumi menabrak tiang gawang sepak bola dan langsung terjatuh karenanya.

“Zhoumi-ya..” kata Yunho dengan perasaan bersalah. Mau tidak mau ia harus mengikuti Zhoumi sepulang sekolah nanti ke tempat belajar dansa polka.

Setibanya mereka disana, mata Yunho langsung menangkap Kyuhyun yang juga langsung menyadari kedatangan Yunho dan Zhoumi.

Zhoumi membungkuk hormat pada Kyuhyun lalu memperkenalkan Yunho pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, ini sahabatku, Jung Yunho. Dia adalah sahabat yang pernah aku ceritakan padamu dulu.”

Yunho langsung menyadari bahwa Zhoumi tidak pernah tahu bahwa dirinya dan Kyuhyun sudah saling mengenal terlebih dahulu. Maka dengan berpura-pura, ia membungkuk sedikit, memberi hormat. “Halo, aku Jung Yunho. Senang berkenalan denganmu.”

Kyuhyun yang juga mengerti situasi ini, segera ikut dalam sandiwara yang diciptakan Yunho. “Anneyong haseyo. Jadi.. kalian berteman?”

Zhoumi sedikit bingung. “Apa kalian sudah saling kenal?”

“Oh.. Tidak.” Sangkal Kyuhyun cepat.

Zhoumi tersenyum seraya merangkul pundak Yunho. “Dia adalah sahabat terbaikku.”

Kyuhyun lalu menyadari bahwa ia tidak berdiri sendiri disana. “Oh, kenalkan. Ini temanku, Kibum.”

“Anneyong Haseyo, aku Kim Kibum.” Kata lelaki di samping Kyuhyun.

“Aku Zhoumi.”

“Aku Yunho.”

Acara ramah tamah mereka terhenti dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah pengajar dansa polka mereka hari itu.

“Semuanya, silahkan duduk.”

Para murid yang hadir langsung berebutan tempat duduk, tak terkecuali untuk Yunho dan Kibum yang sedikit terlambat mendapatkan kursi yang mereka inginkan.

“Nah, hari ini aku akan mengajarkan dansa polka pada kalian. Bagaimana? Kedengarannya menarik bukan?” kata guru itu lagi.

Selama sang guru mendengarkan, Kyuhyun tidak berkonsentrasi sama sekali. Ia dan Yunho terus saling bertatapan dengan luapan kegembiraan di hatinya.

“Bogosipphosoyo..” bisiknya mesra ke arah Yunho yang duduk cukup jauh darinya.

“Nado.” Bisik Yunho tak kalah mesra.

Kemudian mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan saling bergandengan satu sama lain. Tangan mereka diangkat sedikit di bawah pundak mereka lalu kaki mereka melangkah mau kemudian mundur sesuai irama musik, sementara sang guru berdiri di tengah lingkaran, memperagakan gaya yang harus mereka pelajari.

Yunho dan Kyuhyun mengikuti setiap arahan dari si pengajar, ketika mereka harus saling membungkuk ke kanan dan ke kiri pada orang di samping mereka, keduanya melakukannya dengan baik, namun mata mereka masih saja saling menatap, seolah takut kehilangan jika mereka berpaling sedikit saja.

Kemudian para murid berdansa dengan pasangan masing-masing, dengan langkah yang telah ditentukan. Pasangan pertama Kyuhyun adalah Zhoumi, karena lelaki itu tepat berada di sebelah kirinya. Berikutnya mereka kembali membentuk lingkaran dan bergerak maju mundur lalu saling membungkuk seperti sebelumnya. Kini pasangan dansa Kyuhyun adalah Yunho. Hatinya bergejolak riang karenanya.

“Aku tidak tahu bahwa kau dan Zhoumi berteman.” Kata Kyuhyun.

Yunho tidak menjawab, ia hanya tertawa geli mendengarnya. Kyuhyun akhirnya ikut tertawa mengingat kejadian tadi dimana ia dan Yunho harus berpura-pura baru saling kenal.

Lalu tiba-tiba musik klasik yang mengalun berhenti berputar, tergantikan dengan musik rock and roll’. Ternyata Zhoumi yang menggantinya. Dengan gaya yang penuh percaya diri, ia berdansa di tengah ruangan, mengabaikan si pengajar yang menatap jengkel padanya. Satu persatu semua murid ikut bergoyang riang, begitu juga Kibum, Yunho dan Kyuhyun.

Setelah latihan itu selesai, Kyuhyun, Kibum, Yunho dan Zhoumi melenggang pulang bersama. Selama perjalanan, Kyuhyun dan Yunho saling mencuri-curi pandang.

“Aku ingin jadi penyiar suatu saat nanti. Aku selalu melatih ketangkasanku berbicara. Bisakah kau melakukan ini?” Kata kibum pada Yunho. Ia lalu mengatakan sesuatu yang cukup panjang dan tampaknya berulang-ulang tapi Yunho tidak memperhatikannya.

“Bagaimana? Keren kan? Aku bisa mengulangi dengan cepat.” Kata Kibum lagi. Namun lagi-lagi diacuhkan oleh Yunho yang sibuk mencuri pandang pada Kyuhyun.

“Bisakah kau melakukannya?” tanya Kibum penuh harap.

Menghormati si lawan bicara, akhirnya Yunho menyanggupi. Ia mencoba mengikuti kata-kata Kibum tadi tadi ia tidak berhasil.

“Kau harus banyak berlatih.” Kata Kibum yang sedikit kecewa. “Nah, coba kau ikuti aku setelah ini.” kembali Kibum melontarkan kata-kata yang sama. Terdengar sedikit menjengkelkan di telinga Yunho, tapi ia masih bertahan, demi menghormati teman Kyuhyun itu.

“Kita berpisah disini. Aku akan mengantar Kyuhyun pulang, jadi kau bisa menjaga Kibum. Oke? Kita bertemu lagi nanti.” Kata Zhoumi di persimpangan jalan.

“Aku pulang dulu. Selamat malam.” Kata Kyuhyun dengan enggan.

“Sampai jumpa Kyuhyun-ah.” Kata Kibum seraya melambaikan tangannya.  Ia lalu menoleh pada Zhoumi dan mengucapkan selamat malam yang dibalas dengan anggukan sopan dari si namja jangkung itu.

Yunho hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Jauh di hati kecilnya, ia masih ingin bersama Kyuhyun, tapi ia tahu hal itu tidak mungkin terjadi selama masih ada Zhoumi di sampingnya.

Kyuhyun berbalik sebentar, ia menatap Yunho dengan pandangan enggan. Ia sendiri tidak ingin waktu berakhir secepat ini. Tapi sepertinya waktu tidak berpihak padanya. dilihatnya kembali Kibum melambai padanya. Ia membalas lambaian itu dengan canggung lalu kembali mengikuti Zhoumi yang telah menunggunya.

“Ayo kita pulang.” Kata Kibum pada Yunho. Mengembalikan khayalan lelaki itu ke dunia nyata. “Yunho-ssi, ayo kita coba yang lebih mudah. Nah, coba ini.”

Kibum kembali melontarkan kata-kata aneh yag diulang-ulang. Mungkin menurutnya itu sedikit lebih mudah daripada kata-katanya sebelum ini, tapi bagi Yunho sama saja, ia bahkan enggan mendengarkan.

“Bagaimana? Mudah kan? Ayo, cobalah..”

“Hahh?”

“Cobalah mengulangi kata-kataku tadi.” kata Kibum lagi.

“Kata-kata yang mana?”

Kembali Kibum berbicara dengan nada menjengkelkan seperti tadi. “Nah, kau bisa melakukannya kan? Ayo cobalah.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan paksa aku.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Hahhh? Kau tidak bisa melakukannya? Ini mudah sekali. Dengarkan.” Kibum lalu bicara lagi dengan kata-kata itu, masih dengan nada yang sama.

Yunho tak tahan lagi, ia melambatkan langkahnya, membiarkan Kibum berjalan duluan lalu berlari dan sembunyi di semak-semak.

Sementara di tempat lain, Kyuhyun sudah sampai di rumahnya. Zhoumi mengucapkan selamat malam lalu meninggalkan rumah Kyuhyun dengan hati riang.

Sepeninggal Zhoumi, Kyuhyun berlari menaiki tangga rumahnya. Sebelum menekan bel yang terpasang di pintu pagarnya, ia menoleh ke belakang dengan sedih lalu menunduk. Ia senang sekaligus sedih hari ini. Ia benar-benar masih ingin bersama Yunho. Tapi kenyataan menghampirinya bahwa itu tidak mungkin, pasti Yunho tengah mengantarkan Kibum pulang saat ini. Dengan pasrah ia mengarahkan jarinya ke depan, hendak memencet bel.

Namun sebelum tangannya benar-benar menekan bel itu, lampu jalan di depan rumahnya mendadak mati. Kyuhyun menoleh ke belakang. ‘Tidak ada siapa-siapa.’ Pikirnya. Ia lalu kembali hendak menekan bel rumahnya.

Tapi lagi-lagi sebelum menekan bel, sesuatu terjadi. Lampu tadi menyala sebentar lalu dimatikan lagi. Kyuhyun kembali menoleh ke belakang, ke arah lampu yang di pasang di jalan masuk menuju undakan tangga menuju rumahnya.

Ia melihat sosok hitam di bawah tiang penyangga lampu itu. Dengan penasaran ia mencoba melihat  didalam gelap, mencoba menerka siapa orang yang iseng mengerjainya malam-malam begini.

Detik berikutnya, lampu kembali menyala dan.. Jung Yunho berdiri tepat di bawah tiang itu. Tersenyum hangat padanya, memberikan atmosfir membahagiakan di sekeliling Kyuhyun. Kyuhyun menatap lelaki yang berdiri di bawah sana dengan haru. Antara percaya dan tak percaya, ia melepaskan tas yang digengganggmnya sedari tadi lalu mulai melangkah menuruni undakan tangga perlahan.

Begitu ia sadar sepenuhnya bahwa ini bukan mimpi, ia mempercepat langkahnya. Ketika tinggal dua anak tangga lagi yang harus ia tempuh untuk menemui pujaan hatinya, Kyuhyun melompat tak sabar, lalu jatuh dalam pelukan hangat seorang  Jung Yunho.

The journey part 3 pict

PS : Bayangkan Kyujin seperti gambar Kyuhyun yang di bawah.

TBC

Got a Baby

Title : Got a Baby

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline Member’s, Kim Jongin (Kai)

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-15

Genre : BL, Romance, M-Preg, Friendship, Little bit Humor, OOC, Typo(s).

Disclaimer : Another story of ChangKyu. Sequel from PREGNANT???

Summary : Kabar mengejutkan datang dari Kyuhyun ketika ia pulang dari Rumah Sakit. Bagaimana reaksi Shim Changmin mendengar kabar tersebut?

“Min-ah…”

Seseorang yang merasa dipanggil dengan nada manja itu sontak menghentikan kesibukannya yang tengah berkutat dengan pensil mekanik dan music book-nya.

“Eh, kau terbangun, chagi?” tanya Changmin heran pada namja manis yang tengah mendudukan dirinya di ranjang kamar miliknya. Ia pikir Kyuhyun telah tertidur lelap setelah ia meminum obatnya beberapa saat lalu. Maka dari itu ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ternyata Kyuhyun kini malah sedang duduk dengan mengusap mata sayunya serta rambut ikal coklatnya yang berantakan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil.

Kyuhyun hanya mengerang lirih menanggapi pertanyaan Changmin. Meskipun demikian, tak urung juga ia beranjak dari ranjang putih itu untuk  menghampiri sang namjachingu yang masih saja setia duduk di meja belajarnya.

“Kenapa kau terbangun, hm?” Changmin menyentuh kening Kyuhyun yang telah berdiri disisinya dengan memeluk lehernya,“tubuhmu masih panas, Kyu. Apa kau masih pusing?”

Kyuhyun menggeleng pelan, “kau sedang apa?” tanya Kyu mengabaikan kekhawatiran dan pertanyaan dari namja yang satu tangannya kini tengah merengkuh pinggangnya posesif.

Changmin hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, “aku sedang mencoba menulis lirik lagu. Apa kau ingin sesuatu?”

“Aku menginginkanmu.” Tukas Kyuhyun tanpa ragu meskipun dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.

Mendengar pernyataan ambigu tersebut membuat namja bermarga Shim itu menyeringai pervert.

“Aku ingin tidur ditemani olehmu, Changmin-ah…”

Seringai dari bibir lebar Changmin seketika menghilang dan berubah menjadi sorot kekecewaan karena dugaannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Mengabaikan kekecewaannya sendiri, ia pun bangkit dari posisi duduknya dan membopong tubuh Kyu dengan mudah seolah tanpa beban. Ia masih cukup punya hati untuk tidak meminta ber-this  and that ria  pada Kyuhyun yang sedang demam.

Dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh berisi Kyu di ranjangnya. Ia mematikan lampu untuk kemudian ikut merebahkan diri di sisi namjachingu-nya yang terlihat sangat mengantuk.

“Min-ah…” Panggil Kyu lagi. Kali ini dengan menatap langsung manik mata Changmin seperti memohon.

Mengerti dengan intonasi dan isyarat tersebut, Changmin pun tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun sebelum ia melepas beberapa kancing piyama yang ia kenakan. Membiarkan tangan dan wajah maknae Super Junior itu segera merangsek di dada bidangnya yang terbuka.

Sudah seminggu ini Kyuhyun memiliki kebiasaan baru yang entah harus Changmin syukuri atau ratapi. Setiap kali akan tidur, Kyu akan selalu memintanya untuk membuka pakaian atasannya. Melesakan wajahnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang menurutnya sangat maskulin dan membuatnya nyaman. Bahkan tak jarang ia akan mengusap lembut dada dan perut telanjangnya  yang membuat dirinya sedikit…ehm terangsang. Dan hal yang harus ia ratapi adalah ketika pada akhirnya ia sedikit turn on tapi Kyuhyun sendiri malah selalu menolak keinginannya untuk bercinta dengan alasan ia lelah.

Changmin mengusap punggung Kyuhyun lembut selagi kekasihnya itu tengah sibuk dengan hobi barunya. Dapat ia rasakan hembusan nafas panas Kyuhyun menerpa kulitnya, begitupun juga keningnya yang ia yakin memiliki suhu diatas normal.

“Besok kita pergi ke dokter, ne?” ajak Changmin untuk kesekian kalinya. Ia sudah hampir putus asa membujuk Kyuhyun yang semenjak kemarin selalu menolak ajakannya untuk ke dokter dengan berbagai alasan. ‘Aku hanya demam, Min-ah. Besok juga pasti sembuh’ atau ‘hari ini aku ada schedule’ dan berbagai alasan lainnya.

Tapi tanpa ia duga, Kyuhyun mengangguk lemah dengan sedikit gumaman dari bibirnya. Merasakan pergerakan tersebut, Changmin tersenyum sumringah.

Good boy.” Ujarnya seraya mengecup dan menyesap aroma rambut Kyu sebelum ia merengkuh tubuh lemas Kyuhyun untuk semakin mendekat padanya.

***

“Tapi hyung –“

Ucapan Changmin terpotong ketika dari line seberang, si penelepon yang tidak lain adalah manager-nya memutus sambungan teleponnnya tanpa permisi.

“Aissh!” erang Changmin melempar smartphone-nya ke tempat tidur dengan kesal.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun ketika ia yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran melihat Changmin yang mengerang kesal.

Namja yang lebih muda lima belas hari itu bangkit dan menghampiri Kyuhyun. Menggosokkan handuk berwarna putih di kepala Kyu untuk mengeringkan rambut basah sewarna madu milik sang namja imut yang baru saja selesai mandi.

“Kyunnie, mianhe. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit hari ini,”

Kyuhyun memiringkan kepalanya menatap Changmin bingung.

“…tadi manager hyung meneleponku jika sekarang aku ada filming promtional kampus.” Jelas namja jangkung itu dengan kecewa. Berhubung saat ini adalah tahun ajaran baru, ia yang di nobatkan sebagai salah satu ambassador jurusan di universitasnya, Konkuk University mengharuskan ia membintangi film promortional tersebut. Namun yang ia sayangkan, kenapa syuting harus dilakukan hari ini? Padahal hari ini ia berniat untuk memerikasakan Kyuhyun ke Rumah sakit. Dan dengan seenaknya sang manager tiba-tiba memberitahunya jika hari ini ia harus merampungkan schedule terakhirnya sebelum mereka berangkat ke Jepang lusa.

“Gwenchana. Aku kan bisa berangkat sendiri ke rumah sakit.”

“Bwoh? Andwe!” Tolaknya keras hingga tanpa sadar ia menghentikan gerakan mengeringkan rambut namja manis dihadapannya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Kyuhyun yang tengah sakit itu keluar seorang diri? Membayangkannya saja ia tidak mau. Ia terlalu mengkhawatirkan Kyuhyun dan ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai itu.

Kyu memutar bola matanya lelah melihat reaksi Changmin yang menurutnya berlebihan, “ayolah, aku tidak akan pingsan di tengah jalan hanya karena pergi ke Rumah sakit sendirian, Shim Changmin.”

“Justru itu yang aku khawatirkan, Cho Kyuhyun.” Sanggah Changmin tegas. “Aku akan meminta tolong pada Minho dan Jonghyun untuk mengantarmu.”

Dahi Kyuhyun mengerut, “Kenapa harus mereka?”

“Karena mereka tidak akan pernah bisa menolak permintaan sang Lord VoldeMin.” Ucap Changmin dengan seringai liciknya.

***

              Terlihat dua orang namja kini tengah duduk manis di depan meja salah satu dokter Rumah sakit Seoul. Menunggu seseorang yang tengah di periksa di balik tirai ruangan yang mereka tempati. Dua namja tersebut tidak lain adalah Choi Minho dan Lee Jonghyun. Setelah tadi pagi mereka menerima telepon dan sedikit ancaman manis dari sang invisible leader Kyuline, akhirnya mereka berdua bersedia mengantar Kyuhyun ke rumah sakit. Beruntung hari ini mereka berdua sedang jobless sehingga ancaman Changmin untuk memposting foto absurd mereka yang tengah mabuk ke internet melalui twitter Kyuhyun tidak terrealisasi.

Mereka berdua sontak mendongak ketika melihat dokter ber-name tag Nam So Young itu muncul dari balik tirai dan duduk di kursinya. Minho sendiri langsung menghampiri Kyuhyun yang tengah merapikan pakaiannya diatas bangsal setelah melakukan pemeriksaan dengan di bantu oleh perawat.

“Hyung, gwenchana?” tanya namja bermata besar itu khawatir yang dibalas Kyuhyun dengan anggukan singkat.

“Jadi uisanim, Kyuhyun hyung baik-baik saja, kan? Maksudku, dia tidak mengidap penyakit kronis atau terjangkit virus aneh, bukan?”

“Ya! Lee Jonghyun!” sentak Kyuhyun mendengar pertanyaan asal dari dongsaengnya itu.

Sang dokter dan perawat wanita yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tertawa pelan.

“Tenang saja. Kyuhyun-ssi tidak terkena penyakit atupun virus aneh seperti yang anda khawatirkan.” Jawab sang dokter yang membuat Jonghyun bernafas lega.

“Lalu?” tanya Minho yang berdiri dibelakang Kyuhyun yang telah duduk disamping Jonghyun.

Lelaki paruh baya itu tersenyum sesaat sebelum ia meneruskan kalimatnya,”mungkin ini terdengar tidak lazim, namun justru hal ini adalah sesuatu yang patut di syukuri karena apa yang dialami oleh Kyuhyun-ssi merupakan suatu anugerah yang tidak dialami oleh semua namja…”

Ketegangan mulai menghampiri trio berbeda grup tersebut demi mendengar pernyataan sang dokter yang terkesan bijak dan horor di waktu yang bersamaan. Terlebih Kyuhyun yang merupakan objek utama dalam percakapan mereka..

“Setelah mendengar keluhan dan gejala yang dialami Kyuhyun-ssi serta dari hasil pemeriksaan tadi, saya hanya dapat mengucapkan selamat kepada anda Kyuhyun-ssi karena anda dinyatakan positif  hamil .”

“MWO???!” pekik mereka bertiga kompak.

“Ha…hamil?” gumam Kyuhyun tergagap.

“Ya! Sepertinya telingaku bermasalah. Bagaimana denganmu Jonghyun-ah?” Minho menyenggol pundak Jonghyun yang masih belum menunjukan reaksi apapun.

“Hahaha… Jangan bercanda, uisanim. Kami tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya…” bantahnya mengingat kejadian ‘kehamilan’ Kyuhyun dua bulan lalu. Kejadian dimana ia sedikit –banyak- kecewa karena tidak jadi mendapatkan keponakan dari pasangan Changkyu.

Sementara Kyuhyun masih tampak terdiam. Ia seperti larut dalam benaknya sendiri yang tengah berkecamuk memikirkan vonis dokter. Terkejut, tidak percaya, bahagia, cemas dan terharu seolah bertumpuk memenuhi perasaaannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Jonghyun. Ia tidak ingin terlalu berharap kembali dengan sesuatu yang mustahil hingga ia akan kecewa untuk yang kedua kalinya. Meskipun begitu, setitik harapan tumbuh di sudut hatinya jika ia memang benar-benar mengandung darah daging dari Changmin.

Dokter Nam yang sudah menduga dengan reaksi tersebut meminta kepada suster untuk memberikan catatan hasil pemeriksaan kepada tiga namja dihadapannya.

Ketiga namja tersebut saling berpandangan horor setelah mereka mencermati hasil pemeriksaan yang hanya kata ‘positif’ yang dapat mereka mengerti.

Oh..my…God, kau benar-benar…”

“…hamil, hyung.”

***

Tadaima~

Changmin berseru riang ketika ia memasuki apartemennya. Namun tidak lama kemudian ia Ia mengerutkan keningnya ketika ia sama sekali tidak mendengar sahutan salam dari Kyuhyun atau seseorang yang lain.

“Kyuhyunnie?” panggilnya dengan nada memastikan, “apa mereka belum pulang?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Dan dugaannya semakin di perjelas ketika ia tidak menemukan sepatu Kyuhyun di rak depan pintu.

Namja pemilik suara tinggi itu melangkah memasuki dapur dan membuka kulkas yang terdapat di salah satu sudut dapurnya. Meraih sebotol air dingin yang langsung ia habiskan hingga tandas. Ia juga meraih sebuah apel dan menggigitnya sebelum menyandarkan tubuhnya di konter dapur. Sebenarnya ia sangat lapar. Ia belum sempat makan siang karena setelah filming selesai, ia langsung bergegas pulang untuk mengetahui keadaan Kyuhyun. Namun sayangnya Kyuhyun dan kedua dongsaengnya sendiri belum pulang dari Rumah sakit.

Niatannya yang akan menelepon Kyuhyun untuk memastikan keberadaannya terinterupsi ketika ia mendengar kegaduhan dari arah pintu masuk. Sesegera mungkin ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kyu?” Pekiknya.

Kekhawatirannya muncul ketika ia melihat namjachingunya yang tengah melangkah dengan di papah oleh Minho hati-hati.  Sementara Jonghyun lebih memilih untuk meletakan barang-barang bawaannya yang tidak bisa dianggap sedikit itu di sofa ruang tamu. Tangannya serasa akan patah setelah ia membawa seluruh barang belanjaan yang berupa peralatan bayi itu menuju lantai dua belas apartemen Changmin.

Salahkan keantusiasan Minho -dan dirinya sendiri tentunya- setelah mendengar kehamilan leader mereka. Setelah mereka heboh memeluki Kyuhyun yang saat itu masih tidak percaya dengan apa yang ia alami serta setelah mendengarkan wejangan dari dokter Nam tentunya,  mereka langsung menuju toserba untuk membeli semua kebutuhan calon baby dan keponakan pertama mereka. Dan tak lupa juga mereka membeli vitamin atau apapun yang kira-kira di butuhkan Kyuhyun mengingat pesan dokter yang mengatakan jika kandungan Kyuhyun sedikit rentan, pengaruh dari kondisi kesehatannya yang cukup lemah karena anemia. Hal yang lumrah di alami seorang ‘ibu’ yang hamil pada trimester pertama tentunya.

“Min-ah, kau sudah pulang?”

“Ne, Kyu. Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, sayang?” rentet Changmin menuntut jawaban. Memeriksa bagian-bagian tubuh Kyuhyun dari atas-bawah depan-belakang. Memastikan makhluk imut dan manis tercintanya itu baik-baik saja.

“Ya Hyung! Hati-hati! Kau tidak boleh menyentuh Kyuhyunnie hyung sembarangan! Kau bisa membahayakan kandungannya!” Pekik Minho overacted memperingatkan seraya melindungi Kyuhyun dengan protektif. Kyuhyun sendiri hanya menghela nafas mencoba bersabar dengan tingkah Minho dan Jonghyun yang menjadi super protektif padanya. Lihat saja, bahkan berjalan pun ia harus di tuntun oleh namja kodok itu meskipun ia sudah menolaknya. Setidaknya ini lebih baik dari pada ia harus di gendong sepanjang perjalanan.

Changmin mendelik, terlebih ketika ia melihat sang visual group SHINee memeluk pinggang Kyuhyun-NYA. Namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah terkejut ketika ia mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan dongsaeng-nya.

“Kandungan?” pria jangkung itu menatap Minho dan Kyuhyun dengan sorot mengintimidasi.

“Ne, kau akan menjadi seorang appa, Chagiya.” Kyuhyun mengecup pipi tirus Changmin dengan rona bahagia yang jelas terpancar di wajahnyaa. Sementara Changmin? Ia hanya diam membeku mendengar kalimat Kyuhyun. Pendengaran dan otaknya seolah tidak sinkron untuk mencerna makna kalimat tersebut.

Dengan linglung ia menunduk untuk menatap wajah Kyuhyun yang telah melepaskan diri dari Minho dengan kedua tangannya tengah bergelayut di lengannya. Kyuhyun sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi dan reaksi calon ayah dari anaknya itu.

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun memberikan surat hasil pemeriksaan ke depan wajah Changmin. Minho kini sudah menyusul untuk duduk di sisi Jonghyun yang tengah menahan tawa melihat ekspresi bodoh Changmin yang harus ia akui sangat jarang terjadi.

Changmin membuka kertas tersebut dengan masih memandang Kyuhyun yang mengangguk kecil berusaha meyakinkan.

Awalnya ia masih belum menunjukan reaksi apapun hingga matanya tertuju pada kalimat ‘Positif Hamil’ yang tercetak tebal pada surat yang ia baca.

“Kyuhyun-ah…kau….”

Kyuhyun mengangguk semangat seraya menciumi wajah Changmin dengan sesekali menggumamkan kata ‘gomawo’.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba…

BRUKKK!

“OMO! Changmin-ah??!”

***

               Changmin mengerjapkan matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah tangan menepuk pipinya pelan. Kedua matanya menyipit berusaha menyesuaikan sinar asing  yang tiba-tiba masuk ke retinanya.

“Changmin-ah?!” Pekik Kyuhyun senang dan langsung memeluk namjachingunya yang masih terbaring di ranjang. Changmin yang masih dalam masa transnya hanya mengerang pelan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi.

Seingatnya, beberapa saat lalu ia pulang dari kampusnya dan menyambut Kyuhyun pulang dari Rumah Sakit dengan diantar oleh duo Kyuline. Dan seketika ia terkesiap ketika ia mengingat hal terakhir apa yang terjadi.

“Sebenarnya kau ini pingsan apa tidur sih, Hyung?” tanya Jonghyun sarkatik.

“Baru saja aku akan menyirammu dengan air cucian piring. Sayang sekali kau malah sudah siuman duluan, hyung.”

Changmin mendelik pada Minho dan Jonghyun yang tengah berdiri di sisi tempat tidurnya dengan pandangan mencemooh.

“Kau baik-baik saja kan, Min-ah? Kau harus baik-baik saja karena aku tidak mau baby-ku lahir tanpa seorang ayah nantinya.” Panik Kyuhyun berlebihan.

Maknae DBSK itu nyaris saja menjitak kepala Kyuhyun jika ia tidak di sadarkan dengan sesuatu yang membuatnya pingsan. Sementara Minho dan Jonghyun lebih memilih keluar dari kamar bermaksud memberikan privasi pada pasangan maknae itu.

“Kyu, mengenai surat yang ku baca tadi…kau tidak bercanda, kan?” Changmin bertanya dengan hati-hati, takut-takut jika ia akan menyinggung perasaan Kyu.

Hening beberapa saat. Kyuhyun yang masih menindih tubuh Changmin mengerjapkan matanya cepat. Sementara namja yang masih terbaring tersebut hanya menelan ludahnya pelan menunggu reaksi Kyuhyun selanjutnya.  Dan benar saja dugaannya, Kyuhyun tiba-tiba saja mencebikan bibirnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya namja berkulit pucat tersebut dengan suaranya yang bergetar.

“Ya…ya. Uljima Kyu. Mianhe. Aku hanya…aku hanya sedikit tidak menyangka jika kau tengah mengandung baby kita, Hyunnie.” Ujar  Changmin menenangkan Kyuhyun yang kini tengah berada di pangkuannya dengan posisi menyamping setelah tadi ia mendudukan diri dengan bersandar di headboard. Sesekali ia mengusap punggung Kyuhyun lembut.

Ia sendiri masih belum mempercayai kenyataan bahwa Kyuhyun-nya tengah hamil. Demi apapun, Kyuhyun itu namja, ia sangat yakin jika seratus persen baik luar ataupun dalam Kyuhyun itu namja. Tapi bagaimana seorang namja bisa hamil? Ia memang pernah membaca sebuah artikel mengenai male pregnancy, namun ia pikir itu hanya artikel omong kosong yang mustahil. Dan dengan tiba-tiba kini ia harus mengubah anggapannya itu karena kekasihnya sendiri mengalami hal yang ia anggap mustahil sebelumnya. Wajar bukan jika ia sedikit shock dan sangsi?

“Minnie…apa kau bahagia?” Kyuhyun bertanya lirih dengan menyandarkan kepalanya di dada Changmin. Air matanya berhenti keluar mendapat perlakuan manis dari Changmin.

“Tentu saja, sayang.” Tangan Changmin merayap masuk ke dalam kaus yang di kenakan Kyu dan mengusap perut datar Kyu, “Aku sudah tidak sabar di panggil appa oleh baby kita. Dan kau akan di panggil eomma olehnya Hyunnie…”

Tentu saja. Lelaki mana yang tidak bahagia jika ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki anak dari orang yang sangat  di cintai?

“Tapi kan aku namja, Min-ah!” Protes Kyuhyun tidak terima.

“Memangnya kau mau di panggil apa oleh baby Shim, Kyu? Dimana-mana, orang  yang melahirkan pasti akan di panggil eomma, ibu, mama, obaasan, umi, mommy…”

“Huh!” Kyuhyun menghela nafas, kalah debat dengan sunbae sekaligus kekasihnya. Tiba-tiba ia terkikik geli ketika ia merasakan tangan besar dan hangat Changmin mengusap lembut perutnya, “Hihihi…Apa yang kau lakukan, Min-ah?”

“Ssshht. Diam dan tenanglah, Kyu. Biarkan aku berbicara dan menyapa baby Shim.” Lelaki bersuara tinggi itu mulai menundukan dirinya dan menyingkap kaus tipis berwarna violet yang Kyuhyun kenakan dengan menampakan kulit pucat Kyu. Kyuhyun sendiri hanya terdiam, menuruti instruksi Changmin sekaligus mengamati pergerakan calon ayah dari anaknya.

“Anyeong, baby Shim. Namaku Shim Changmin. Appa-mu yang sangat tampan, keren, bertalenta, jenius dan berkharisma. ”

Kyuhyun serasa ingin muntah mendengar ucapan narsis Changmin yang sialnya memang ia akui kebenarannya.

“Hey baby, apa yang sedang kau lakukan di dalam perut eomma Hyunnie?” iseng, ia menusuk-nusuk pelan perut Kyuhyun yang terasa keras.

“Ya! Jangan di tusuk-tusuk begitu. Kau bisa menyakitinya, Chwang.”

“Aigoo, kau dengar, baby. Eomma-mu galak dan cerewet sekali, ne? Nanti jika kau lahir, jangan galak –galak seperti eomma.”

Plak!

“Aaww, Kyu…” erang  Changmin mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh namja manis yang tidak terima dengan ucapannya.

“Bahkan eomma berani memukul appa-mu yang tampan ini, baby…” adunya pada sang baby yang usianya bahkan belum genap satu bulan dalam kandungan Kyuhyun.

“Kau sama saja menjelek-jelekan aku pada baby kita sendiri, Changmin-ah.” Ucap Kyuhyun jengah.

Changmin hanya terkekeh. Ia menegakan posisinya sejenak untuk mengecup bibir Kyuhyun sekilas dengan mengucapkan kata ‘mianhe’ sebelum ia menundukan tubuhnya lagi dan melanjutkan kegiatannya untuk mengobrol dengan sang baby.

“Baby, terima kasih kau telah memilih untuk tumbuh dalam kandungan eomma-mu. Kau tahu? Kau adalah anugerah terindah bagi kami.”

Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya mendengar ucapan dan intonasi Changmin yang begitu lembut. Menunjukan bahwa ia benar-benar berterima kasih dan bersyukur dengan kehadiran bayi yang tengah di kandungnya.

“Appa berpesan padamu, tumbuhlah dengan baik dan sehat, baby. Jangan menyakiti dan merepotkan eomma-mu karena kondisi kesehatannya cukup lemah. Lahirlah pula dengan sehat. Kelak jika kau tumbuh dan dewasa nanti, kau harus bisa membantu menjaga eomma untuk appa. Dan juga buat dunia untuk mengenangmu dengan suatu hal yang baik dan membanggakan, sehingga Tuhan tidak merasa sia-sia memberikan satu ruh-Nya untukmu. Arra?” pesan sang maknae DBSK yang tidak lama lagi akan menyandang gelar ‘Appa’ itu dengan takzim pada calon buah hatinya. Sementara Kyuhyun, sekuat hati ia berusaha menahan air mata harunya mendengar ucapan Changmin.

Good night, baby…” Changmin mengakhiri percakapan tunggalnya dengan mengusap dan mencium lembut perut Kyuhyun seolah ia tengah mencium langsung baby Shim. Ia pun kemudian menegakan tubuhnya kembali ke posisi semula, dimana ia menyandarkan punggungnya kembali di headboard Ia tersenyum ketika ia mendapati kedua bola mata sewarna lelehan karamel milik Kyuhyun tengah berkaca-kaca menahan air mata menatapnya.

Crybaby.” Ejek Changmin yang tak kenal suasana seraya mencubit pelan hidung Kyu yang memerah. Biasanya jika ia mengejek ataupun menggoda Kyuhyun, namja yang tak kalah evil darinya itu pasti akan mencubit, memukul ataupun membalas ejekannya dengan lebih sarkatik.

“Aku sedang terharu, pabbo!” sahut Kyuhyun sedikit kesal seraya memeluk erat leher Changmin yang hanya terkekeh. Balas memeluk erat tubuh Kyuhyun, ia pun mengusap lembut punggung namja yang masih duduk di pangkuannya.

Waktu terus berlalu membiarkan keheningan tercipta diantara mereka berdua. Memberikan kesempatan untuk menikmati moment di mana mereka berkomunikasi dengan gesture mereka masing-masing.

“Gomawo…” Bisik Changmin lirih dengan mencium dan menyesap helai rambut namjachingu-nya. Kyuhyun sendiri yang tidak mampu lagi menahan isakannya hanya mengangguk pelan diantara ceruk leher Changmin tanpa merenggangkan pelukannya pada pria tinggi itu.

***

              Senyum dan raut kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampan seorang Shim Changmin. Rasa haru, bahagia dan bangga yang kini ia rasakan seolah membuatnya serasa ingin meledak.

Ia masih ingat lima jam yang lalu merupakan saat-saat paling menegangkan dalam hidupnya. Ia tak pernah merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang luar biasa yang ia alami beberapa saat lalu ketika ia menunggui proses persalinan Kyuhyun di ruang operasi. Bayangan Kyuhyun yang meringis kesakitan karena kontraksi membuatnya merasa sakit dan tidak tega. Nyaris saja ia akan mendobrak pintu yang memisahkan ruangan operasi dan ruang tunggu yang ia tempati dan menerobos masuk untuk menemani Kyuhyun-nya, Kyuhyun-nya yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya untuk calon anaknya. Beruntung niatan anarkisnya itu segera di cegah oleh hyung-deul DBSK dan Super Junior yang juga ikut menemani dan menenangkannya.

Cukup lama aura ketegangan menyelimuti ruang tunggu hingga pintu operasi terbuka. Menampakan sang dokter yang tampak berpeluh karena lelah dan melepas masker yang ia kenakan. Changmin yang saat itu tengah berjalan kesana kemari karena cemas langsung menghampiri sang dokter.

“Selamat tuan Shim, putra anda telah lahir dengan selamat.” Ucap sang dokter ketika ia di serbu oleh sekumpulan orang  yang menatapnya dengan penuh harap, “keadaan Kyuhyun-ssi juga baik-baik saja. Kondisi tubuh serta pikisnya yang stabil sangat membantunya ketika proses kelahiran berlangsung. Saat ini Kyuhyun-ssi masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin tiga atau empat jam lagi ia akan siuman. Sekali lagi saya ucapkan selamat, Changmin-ssi.”

Tangis haru Changmin tidak bisa di tahan lagi begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter. Hal serupa juga terjadi pada kedua orang tua dan mertuanya yang langsung memeluk dan memberinya selamat karena ia telah resmi menjadi seorang ayah.

“Hihihi…Min-ah. Jonginie menjilati jariku…”

Kekehan Kyuhyun sontak menyadarkannya dari memorinya beberapa saat lalu.

Senyum Changmin merekah ketika ia melihat Kyuhyun yang tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan meggendong Shim Jongin, nama sang baby, di dekapannya.

Perlu di ketahui jika nama tersebut merupakan nama pemberian dari kedua ahjusi-nya yang super protektif, Choi Minho dan Lee Jonghyun. Mereka berasumsi jika mereka memiliki hak atas keponakan yang sudah mereka jaga bahkan ketika masih dalam bentuk janin.

Reflek ia mendudukan dirinya di pinggiran ranjang yang di tempati Kyuhyun. Ia ikut terkekeh pelan ketika melihat baby-nya menjilat-jilat jari telunjuk Kyuhyun yang terjulur dan di genggam erat kedua tangan mungil Jongin meskipun kedua matanya tetap tertutup.

“Apa baby lapar, hm?” tanyanya gemas, mengusap-usap lembut hidung putranya.

“Ya! Jongin bukan kau hyung yang selalu lapar setiap saat.”

Changmin memandang sosok Minho yang tengah duduk bersama Jonghyun di sofa ruangan tersebut dengan pandangan mematikan. Ia melupakan jika kedua bocah itu masih berada di ruangan yang sama dengannya. Sebenarnya sudah tak terhitung lagi ia ‘mengusir’ kedua anak itu untuk pulang sekedar untuk beristirahat. Hal serupa yang ia minta kepada Hyungdeul serta orang tuanya mengingat malam telah larut. Namun dengan tegas mereka berdua menolaknya dengan alasan ingin menjaga Jongin.

Minho sendiri yang menyadari sorot membunuh dari maknae DBSK itu mulai menekuni majalah yang tengah ia baca, mencoba menghindar.

Jonghyun mencoba mengabaikan perang tak kasat mata tersebut dan memilih untuk menghampiri ranjang rumah sakit yang Kyuhyun tempati.

“Hyung, sudah malam. Lebih baik kau istirahat. Biar Jongin aku saja yang menjaganya…” ucap namja Lee itu bijak.

“Aniyo. Aku masih ingin bersama baby-ku.” Tolak Kyuhyun menggeleng kuat dan menatap anaknya yang masih saja menjilati jarinya.

“Jonghyun benar, Kyu. Kau ingat apa kata dokter tadi kan? Kau harus banyak istirahat agar segera pulih dan bisa sesegera mungkin bermain dengan Jonginie sepuasmu nanti. Lagi pula Jongin juga sudah tidur kan? Biarkan Jonghyun meletakan Jongin di baby box-nya. Ne?” Changmin mencoba membujuk sang ‘istri’ yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tidak suka karena Changmin tidak mendukungnya, “Tapi, Min-“

“Kyu…”

Kyuhyun menghela nafasnya pasrah mendengar panggilan lelah Changmin. Dengan berat hati ia pun menyerahkan Jongin pada Jonghyun dengan sebelumnya ia mencium bibir duplikat dari Changmin itu dengan lembut. Begitu pun juga Changmin.

Good night, baby. Saranghae…”

Changmin mengelus rambut Kyuhyun lembut yang masih terlihat tidak rela berpisah sesaat dengan Jongin.

“Sekarang istirahatlah, chagi. Aku akan menemanimu di sini…” pinta Changmin membantu merebahkan tubuh Kyuhyun dan menyelimuti tubuh pucat tersebut hingga sebatas dada.

Ia mencium kening Kyu dengan lembut seraya membisikan kata terima kasih padanya. Tangannya mengusap lembut rambut Kyuhyun dengan bibirnya yang menyenandungkan pelan sebuah lagu sebagai lullaby.

Dan nyanyiannya terhenti ketika ia melihat kedua mata Kyu perlahan mulai terpejam dan terlelap. Sejenak ia mengagumi sosok wajah istrinya yang menyiratkan rasa lelah. Meskipun begitu, senyum tipis juga terlihat di wajahnya yang terlihat makin pucat saat ini. Lagi, ia mencium kening Kyuhyun dan mengecup sekilas bibir plump sang istri.

“Terima kasih telah melahirkan Jongin untukku, Shim Kyuhyun…”

Got a baby ChangKyu kai publish

END

PREGNANT???

Tittle : PREGNANT???

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline members.

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Genre : BL, Drabble, Fluff,  Friendship, Mpreg (clue), Typo.

Rate : T

Summary : Kyuhyun menyangkal kemungkinan jika dirinya hamil. Namun kekecewaannya muncul ketika apa yang diam-diam ia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

“Aku akan segera kembali ne…”

Kyuhyun hanya mengangguk pelan dan memejamkan matanya saat ia merasakan pelipisnya dikecup oleh namja yang membisikkan kalimat tersebut. Ia menatap punggung namja tinggi itu yang kemudian melangkah keluar dari kamar yang tengah ia tempati bersama dokter yang baru saja memeriksanya beberapa saat lalu.

Sepeninggal Changmin, namja tinggi tersebut,  Kyuhyun memejamkan kedua matanya seraya memijit keningnya. Berharap setidaknya rasa pusing yang ia rasakan sedikit berkurang. Rasanya kali ini ia seperti baru saja menaiki roller coaster lima kali. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing, terlebih lagi penglihatannya serasa berputar. Dan keadaannya semakin diperparah dengan perutnya yang mual seolah ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya yang bahkan belum terisi sama sekali.

Saat ia membuka kelopak matanya kembali, retinanya menangkap sosok dua orang namja yang duduk dipinggiran dan ujung tempat tidur yang ia tempati. Dua orang namja yang semenjak tadi terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Wae?” tanya Kyu parau saat ia mendapati sorot mata yang mengintimidasi dari dua sosok tersebut.

Mereka berdua tetap terdiam tanpa merubah sorot matanya pada Kyuhyun.

“Berapa bulan, hyung?” celetuk salah satu namja bermata kodok yang duduk di ujung tempat tidurnya itu.

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Belum sempat ia menanyakan apa maksud dari pertanyaan tersebut, seorang namja lagi langsung memotong niatannya.

“Kenapa kau tidak memberi tahu kami, hyung?”

Kyuhyun semakin tidak mengerti dengan tuduhan yang baru saja ia terima. Entah karena pengaruh dari rasa pusing dan mualnya atau entah apa hingga kini ia sulit mencerna maksud dari ucapan ambigu kedua sahabatnya.

“Apa yang kalian katakan?” Tanyanya kebingungan. Kondisinya yang seperti saat ini membuat ia kehilangan gairah untuk bersilat lidah.

Kedua namja tersebut, yang tidak lain adalah member Kyuline, Minho dan Jonghyun saling memutar bola matanya kompak mendengar pertanyaan bodoh dari sang  founder Kyuline.

“Tidak usah berpura-pura bodoh, hyung …” Kyuhyun menggertakan giginya tidak suka demi mendengar kata bodoh ditujukan untuk dirinya, “… kau hamil kan?”

Kyuhyun embelalakkna matanya demi mendengar pertanyaan Minho. Jika Kyuhyun mengidap hipertensi, dapat dipastikan saat ini ia akan terkena stroke mendadak mendengar tuduhan dari pria bermarga Choi dihadapannya itu. Terlebih  saat ia melihat tatapan menusuk dari kedua namja tersebut.

BLUKK

“Aww…” Minho mengerang saat ia merasakan bantal yang baru saja dilempar oleh Kyuhyun telak mengenai wajah tampannya.

“Leluconmu sama sekali tidak lucu Choi Minho!” seru Kyuhyun sarkatik.

“Kami serius Cho Kyuhyun.” Sahut Jonghyun yang dengan sigap langsung menghindar dari lemparan bantal yang Kyuhyun lemparkan padanya.

“Hyung dengar…”

“Apa? Jika kau mengatakan lelucon bodohmu itu lagi, lebih baik kalian keluar.” Dengus Kyuhyun sinis. Ia sudah cukup menderita dengan kondisinya saat ini. Dan lelucon yang dilontarkan oleh kedua bocah tersebut sama sekali tidak membantu.

“HYUNG!”

Kyuhyun tersentak mendengar seruan kedua evil juniornya itu.

“OK hyung, mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Tapi setidaknya berikan kami kesempatan untuk berbicara.”

“Ini hanya dugaan sementara kami, tapi tentu saja dengan didasari alasan yang cukup kuat.” Gitaris CN Blue itu menambahi ucapan Minho. Ia terdiam dan melirik sekilas partnernya yang berada di seberangnya.

“Kau…”

“… hamil”

Kyuhyun terdiam tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.

“Kau mual dan pusing. Bahkan kau sampai nyaris pingsan tadi pagi.“

Kyuhyun masih terdiam belum menanggapi perkataan namja kodok itu.

“Dari artikel yang pernah aku baca, wanita hamil pasti akan mengalami morning sickness. Sama seperti yang kau alami tadi pagi hyung. Selain itu wanita hamil juga mudah kelelahan. Semalam kau juga mengeluh pada kami kan jika kau sangat lelah?” Jonghyun mulai berargumen dengan semangat menggebu yang di iyakan dengan semangat pula oleh Minho.

Kyuhyun menghela nafasnya mencoba bersabar menghadapi kedua sahabat sekaligus dongsaengnya yang mungkin masih terkena pengaruh alkohol semalam.

“Aku ini namja Choi Minho, seratus persen namja. Dan namja tidak mungkin hamil karena aku bahkan kalian berdua pun tidak memiliki rahim, Lee Jonghyun.” Desisnya dengan penekanan pada kata namja.

“Memangnya kenapa kalau kau namja? Kau tentu tidak lupa kan fenomena tentang male pregnancy?”

“Apalagi dengan intensitas kegiatan this-and-that-mu dengan Changmin hyung yang errr…“ Jonghyun tidak melanjutkan kata-katanya. Ingatannya kembali pada kejadian semalam dimana ia dan Minho yang harus rela tidur di sofa ruang tamu apartement milik Changmin ini karena terganggu dengan suara-suara penuh hasrat yang terus terdengar bahkan hingga fajar menyingsing.

Blusshh

Kyuhyun merona dan tertohok di saat yang bersamaan. Ia kini mulai termakan dengan lelucon yang ia anggap bodoh beberapa saat lalu. Male pregnancy memang bukan fenomena baru untuk saat ini. Sama halnya dengan LGBT . Tapi… apa mungkin ia merupakan salah satu dari fenomena langka tersebut?

“Kau lihat Kyu, bukankah anak itu terlihat sangat cute?” Changmin menunjuk pada layar kaca yang tengah menampilkan seorang gadis kecil yang tengah menangis karenanya di Moonlight Prince.

“Ya! Kau jahat sekali Min-ah membuat anak seimut itu menangis.” Protes Kyuhyun pada sang namjachingu yang tengah merengkuhnya dalam dekapannya.

Changmin terkekeh mendengar kalimat Kyuhyun, “Aissh, aku kan tidak sengaja membuatnya menangis, chagi…”

“Tapi tetap saja kau membuatnya menangis, kan?” Kyuhyun tidak mau kalah. Ia mencubit kecil paha Changmin yang membuat namja tersebut meringis kecil dan berjengit karena kaget.

“Kau tahu Kyu, jika suatu hari nanti aku memiliki anak, aku tidak ingin memiliki anak perempuan.” Ucap Changmin tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar televisi yang ada dihadapannya.

Kyuhyun seperti tertampar mendengar ucapan Changmin, namun ia segera mengabaikan perasaannya tersebut, “Me… memangnya kenapa Min-ah?”

“Karena aku tidak ingin jika kelak ia menikah, ia akan pergi bersama suaminya dan meninggalkanku.” Jawab Changmin lirih tanpa menyadari ekspresi Kyuhyun yang tengah menundukkan kepalanya, murung. Dia seorang namja,bagaimana bisa ia memberikan anak pada Changmin?

Ia lalu merasakan jemari panjang Changmin mengangkat dagunya untuk menatap wajah tampan dihadapannya.

“Jadi… kau tidak keberatan kan jika kedepannya kita cukup mengadopsi anak laki-laki saja. Nde?”

Kyuhyun tanpa sadar tersenyum kala kilasan memorinya bersama Changmin melintas dengan sendirinya dalam benaknya. Memiliki buah cinta dari orang yang dicintai merupakan impian semua pasangan bukan? Meskipun terdengar mustahil, namun saat ini sedikit-banyak ia jadi berharap jika dalam perutnya kini terdapat kehidupan baru yang nantinya dapat menjadi bukti cinta antara dirinya dengan sang namjachingu, Shim Changmin.

Tanpa sadar ia mengusap perut datarnya dari balik selimut yang menutupi tubuhnya. Mengabaikan kehebohan dua manusia lain yang kini tengah bereuforia jika mereka akan segera memiliki keponakan dan menjadi ahjusshi.

Cklekk

Ketiga namja yang tengah larut dalam kesibukannya masing-masing, refleks mengalihkan pandangannya ketika pintu kamar terbuka dengan menampilkan sosok namja setinggi tiang.

Changmin berjalan menghampiri Kyuhyun yang menyambutnya dengan senyuman tipis dari bibirnya yang kini terlihat pucat.

“Bagaimana keadaanmu sekarang, Kyuhyunnie? Apa yang kau rasakan?” tanya maknae Tohoshinki itu seraya menggenggam dan mencium punggung tangan Kyuhyun.

Minho dan Jonghyun memutar bola matanya bosan melihat adegan lovey dovey didepan matanya yang mereka klaim masih suci itu.

“Aku baik-baik saja, Min-ah. Hanya masih terasa pusing dan sedikit mual.”

“Jadi, hyung…” Minho menginterupsi kemesraan evil couple dihadapannya, “apa yang terjadi pada Kyunnie hyung?”

Dengan sendirinya ketiga namja tersebut, Kyuhyun-Minho-dan-Jonghyun serempak menahan nafas mereka sejenak demi mendengar apa yang akan dikatakan oleh namja bersuara tinggi  itu.

“Kyuhyunnie baik-baik saja. Ia hanya kelelahan karena terlalu memforsir tenaganya. Terlebih semalam ia mabuk karena minum wine terlalu banyak…”

Minho dan Jonghyun menghembuskan nafas kecewa mendengar penjelasan Changmin yang kini menatap mereka berdua dengan heran. Sementara Kyuhyun? Ia hanya dapat menggigit bibir bawahnya untuk menahan kekecewaan yang ia rasakan. Bukankah awalnya ia menyangkal dugaan kehamilannya? Tapi kenapa kini ia malah merasa kecewa saat ia mendengar kenyataan bahwa dirinya tidak hamil?

“Mianhe…” bisik Changmin menyadarkan Kyuhyun. Namja manis itu mengerjapkan matanya dan baru menyadari jika saat ini hanya ada mereka berdua didalam kamar bernuansa putih yang kini mereka tempati.

“Wae?”

“Karena membuat Kyuhyunnie-Ku terbaring lemah dan kepayahan seperti ini.”

Kyuhyun tersenyum, membelai wajah Changmin lembut, “Aniyo. Ini bukan kesalahanmu Min-ah…”

“Saranghe…” Ucap Changmin menggenggam tangan Kyuhyun yang berada di wajahnya dan menciumnya dengan sepenuh hati.

“Nado saranghe…” balas Kyuhyun, mianhe Min-ah sambungnya dalam hati.

pregant 3

END

… How am I Supposed to Live Without You

Title                 : …How am I Supposed to Live Without You

Starring           : Cho Kyuhyun, Shim  Changmin, Others.

Pair                  : ChangKyu (MinKyu)

Genre              : BL, Romance, Brothership, Hurt.

Rate                 : PG-13

Author             : Macchiato94

Disclaimer       : FF ini bisa dibilang sekuel dari FF yang berjudul  I Love You and … Jadi sebelum baca FF ini, disarankan baca I Love You and … terlebih dulu biar nyambung. Kekeke

Warn               : Timeline disesuaikan dengan jalan cerita. Jadi harap maklum jika ada kejadian yang tidak semestinya. Don’t like don’t read.

Ddddrrrt dddrrtt

Seorang pria yang awalnya masih terlelap dalam buaian mimpinya mulai menunjukkan kesadarannya kala ia mendengar suara getaran dari ponselnya. Ia menggeliatkan tubuhnya terlebih dahulu guna meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dengan setengah sadar dan kelopak matanya yang masih enggan untuk membuka, ia menjulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang semenjak tadi terus bergetar yang terletak di meja disamping tempat tidur yang ia tempati.

“Yeoboseyo..” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Shim Chang tiaaaannng…!!!”

Refleks namja yang di panggil Shim Chang tiang tersebut langsung menjauhkan ponsel putih tersebut dari jangkauan telinganya. Seketika kesadarannya kembali penuh.

Anak Pengusaha Minyak Timur Tengah.

Aisssh, bocah ini!!! Rutuknya dalam hati saat ia membaca caller ID yang meneleponnya.

“Ada apa, kodok?” tanyanya jengah. Sebenarnya ia ingin sekali membalas teriakan si pengganggu sleeping beauty-nya itu dengan teriakan yang lebih dahsyat miliknya. Namun niatannya segera ia urungkan ketika ia menyadari masih ada sesosok tubuh ramping berwajah manis yang masih terlelap di sisinya.

“Ya! Kapan kau akan berhenti memanggilku kodok, Shim Chang Tiang?”

“Sampai kau berhenti memanggilku tiang dan matamu berubah menjadi sipit.” Ucapnya sarkatik.

“Sinis sekali..” gumam suara dari seberang tersebut.

“Tentu saja! Kau sudah mengganggu waktu tidurku, bodoh! Cepat katakan ada apa kau meneleponku pagi-pagi buta seperti ini?” desis Changmin dengan penekanan di setiap katanya.

“Issh… Aku hanya ingin memberi tahu kalau kita akan bertemu di variety show barumu karena aku akan menjadi bintang tamu di episode perdana acaramu itu.” Jelas namja kodok yang tidak lain adalah Choi Minho itu dengan antusias.

“Demi Tuhan, Choi Minho. Kau dengan beraninya mengganggu waktu tidurku di pagi sedingin ini hanya untuk mengatakan hal seperti itu?” geram Changmin mencoba masih menahan volume suaranya. Sial! Jangan salahkan dirinya jika kali ini ia ingin sekali menguliti rapper SHINee itu. Berani-beraninya ia mengganggu waktu tidur berharganya yang sangat langka. Apalagi dengan kali ini yang terdapat kekasih manisnya juga tidur dalam dekapannya.

“Ada yang salah?” tanya polos Minho.

“Kau berurusan denganku nanti!” Pungkasnya. Dengan sadis ia pun memutuskan sambungan telepon sumber malapetakanya pagi ini. Namun ekspresi wajah masamnya seketika berubah. Senyum terpatri di wajahnya saat matanya menangkap refleksi sosok tubuh yang masih terlelap di sisinya, seolah tidak terusik dengan percakapan alot yang terjadi beberapa saat lalu.

Tanpa sadar ia menggerakkan sebelah tangannya dan menyapukan jemari panjangnya di wajah manis yang hanya berjarak tidak lebih dari 10 cm di hadapannya. Perlahan ia menyibakkan surai brunette Kyuhyun, menampakkan dengan utuh bentuk wajah manis yang selalu ia kagumi selama ini. Ibu jarinya lalu mengusap pelipis dengan alis yang membingkai kedua mata Kyuhyun yang selalu membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Bergerak perlahan menuju pipi chubby-nya yang akan selalu merona ketika ia malu. Berlanjut ke hidung bangirnya  dan kedua bibir plumpnya yang mengatup rapat.

“Nngghh…”

Changmin sedikit terkesiap kala ia mendengar lenguhan yang berasal dari belahan bibir yang saat ini tengah ia sentuh.

“Morning, sleeping beauty..” ucapnya seraya mencium kening dan kedua mata Kyuhyun dengan lembut. Senyumannya tidak bisa ia tahan ketika ia melihat Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan dan mengusap matanya dengan imut untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.

“Morning, Minnie..” jawab Kyuhyun lirih. Tak lupa dengan senyuman manisnya yang ia sunggingkan dari bibir pink miliknya.

Betapa Changmin mensyukuri paginya kali ini ketika ia pertama kali membuka matanya dan mendapat suguhan wajah manis serta senyuman yang tak kalah manis dari kekasih tercinta. Oh, dan tentu saja lupakan bagian insiden telepon tidak penting dari manusia kodok itu.

“Mimpi indah?” tanyanya kini mengusap pelipis Kyuhyun, lagi.

Kyuhyun mengangguk pelan, “Selalu jika tiap kali kau muncul dalam mimpiku, Minnie..”

Jawaban tersebut sukses membuat Changmin berbunga-bunga dan tidak bisa menahan diri untuk memberikan morning kiss pertamanya pagi ini.

Setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu dengan obrolan bantal  mereka. Akhirnya partner in crime romance tersebut beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sarapan untuk menjalani rutinitas mereka kembali.

“Pagi hyungdeul, Henry-ah..”

Sapa Changmin ketika ia dan Kyuhyun baru saja keluar dari kamar mereka dan mendapati seluruh member Super Junior telah berkumpul dan duduk di kursi meja makan.

“Pagi Changmin-ah, Kyu.. duduklah, dan kita sarapan bersama.” Pinta Sungmin yang baru saja meletakkan semangkuk besar sup hasil masakannya dan Ryeowook.

Dengan patuh maknae TVXQ itu pun duduk di kursi kosong yang berada di samping Shindong, sementara Kyuhyun sendiri duduk disebelah kanannya.

“Hari ini kita akan melakukan rehearsal sampai malam. Aku harap kalian semua telah mempersiapkan diri dengan kondisi tubuh kalian yang fit.” Ucap Yesung tiba-tiba. Posisinya sebagai member tertua kini mau tidak mau mengharuskan dirinya untuk mengganti  posisi sang leader dengan memantau dan bertanggung  jawab mengenai kondisi adik-adiknya.

“Sip, hyung. Kebetulan semalam aku tidur dengan sangat nyenyak tanpa terganggu suara-suara aneh dari kamar sebelah.” Tukas Eunhyuk melirik penuh arti pada Changmin-Kyuhyun yang tepat berada di hadapannya. Sementara  yang lain hanya tersenyum penuh arti. Kontras dengan reaksi Kyuhyun yang menatapnya dengan pandangan tajamnya.

“Kami tidak melakukan apapun, hyung.” Sahutnya dengan nada sedikit kesal.

“Lho, memang biasanya apa yang kau dan Changmin lakukan selain bermain PSP dengan berteriak-teriak ditengah malam, Kyu?” tembak Donghae tanpa tedeng aling.

Skak mat!

Wajah Kyuhyun seketika memerah dan ia pun segera meraih segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Mengabaikan berbagai ekspresi aneh lainnya yang sedang menahan tawa. Bahkan Changmin sekalipun …

***

“Minnie, kau yakin mau menemaniku melakukan rehearsal sampai selesai? Wajahmu terlihat pucat. Kalau kau lelah kau bisa pulang. Bukankah besok pagi kau harus terbang ke Bangkok?”

“Kau berbicara seperti itu seolah-olah kau tidak menginginkan kehadiranku disisimu, Kyunnie.” Jawab Changmin memasang wajah nelangsa. Pasalnya ini sudah ketiga kalinya Kyuhyun mengatakan hal yang sama dalam kurun waktu 3 jam ia menemani Kyuhyun rehearsal untuk SS5 besok. Sebenarnya ia mengatakan hal tersebut hanya untuk sekedar menggoda namjachingunya saja. Ia sendiri pun paham maksud dari pertanyaan Kyuhyun itu hanya sebagai wujud dari kekhawatiran dan perhatian untuknya.

Belum sempat Kyuhyun menyangkal pemikiran Changmin, ia terlebih dahulu mendengar suara Prince Manager  yang terlihat berdiri diatas panggung memanggil namanya dari pengeras suara. Memintanya untuk segera naik ke atas panggung untuk berlatih lagu yang akan ia nyanyikan bersama Sungmin, Zhou Mi dan Ryeowook untuk SS5 lusa.

“Hyung, Sungmin hyung dan Zhou Mi hyung dimana?” Tanyanya heran saat ia tidak mendapati kedua hyungnya tidak ada di atas panggung juga.

“Mereka berdua sedang fitting baju untuk besok. Jadi untuk kali ini kau yang mengcover bagian mereka, ne?”

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Namun ia pun segera memposisikan diri di tengah stage dengan Ryeowook yang berdiri tak jauh disisinya. Dari sana ia bisa melihat namjachingu-nya tengah duduk disalah satu sudut panggung dan mengepalkan kedua tangannya seolah mengatakan Fighting! Yang ia balas dengan hal yang serupa.

I could hardly believe it

When i heard the news today

I had to come and get it

Straight from you

They said you were leavin’

Someone’s swept away your heart away

From the look upon your face i see it’s true

Changmin yang tengah memperhatikan bagaimana Kyuhyun menyanyi dengan penuh penghayatan, sontak terlonjak kaget saat merasakan sebuah tepukan pelan dipundaknya.

“Yesung hyung?” ucapnya saat ia mendongak dan mendapati  namja the art of voice itu telah berdiri di sisinya.

“Bagaimana hubunganmu dengan maknae evil-ku, Min-ah?”

Changmin sudah tidak kaget lagi mendapat pertanyaan macam itu dari member Super Junior. Ia mengetahui bagaimana sikap protektif hyungdeul-nya itu  pada kekasihnya, “Sejauh ini kami baik-baik saja, hyung. Dan aku harap keadaan semacam ini akan terus berlanjut sampai nanti.”

Namja Kim tersebut kembali menepuk pundak Changmin, bersikap layaknya seorang kakak yang menasehati adiknya, “Aku harap pun begitu, Min-ah. Mungkin ia tidak sadar jika aku memperhatikan perkembangannya selama ini. Awalnya aku sempat khawatir dengan sikapnya yang pemalu dan sedikit tertutup dengan orang lain …”

Changmin sontak mengalihkan pandangannya pada Yesung. Menatapnya dengan tatapan penuh tanya,

“… tapi perasaan itu menghilang ketika aku menyadari sikapnya mulai berubah semenjak ia mulai sering tampil di Variety show dan khususnya setelah ia menjalin hubungan denganmu Shim Changmin. Setidaknya kali ini ia bukan lagi seorang Cho Kyuhyun si maknae Super Junior yang pendiam dan canggung seperti dulu.” Ia mengalihkan perhatiannya dan menatap Changmin yang kini  masih menatapnya dengan pandangan yang lebih menyerupai intimidasi, “Aku percayakan dongsaengku padamu, Shim Changmin. Jaga dia untukku, untuk kami, untuk orang-orang yang mengasihinya selama ini.”

Changmin mengangguk dengan mantap, “Aku berjanji hyung. Dan terima kasih untuk kepercayaan yang telah kau berikan padaku.”

Tell me how am i supposed

To live without you

Now that I’ve been lovin’ you so long

how am i supposed

to live without you

and how am i supposed to carry on

when all that i’ve been livin’

for is gone..

***

-Backstage-

Ditengah hilir mudik para staff yang telah berlalu lalang dengan kesibukannya, tampak seorang lelaki berbalut jass merah juga tampak sibuk berjalan kesana kemari dengan sesekali menggigit bibirnya gelisah.

“Bisakah kau diam dan duduk, Kyu? Kau mengganggu konsentrasiku!” Tukas Eunhyuk kesal. Pasalnya, konsentrasinya yang sedang berlatih dance untuk pemanasan menjadi buyar karena tingkah laku Kyuhyun. Terlebih lagi beberapa kali ia juga ditabrak oleh maknaenya itu tanpa mengucapkan kata maaf.

“Dan kau juga membuatku pusing.”  Ryeowook yang sedang mendengarkan musik dan melatih vocalnya pun ikut menambahi.

Dengan terpaksa Kyuhyun pun menuruti permintaan Eunhyuk dengan mendudukkan dirinya diantara Siwon dan Ryeowook.

“Minumlah..” Siwon menyodorkan sebotol air mineral pada Kyuhyun yang diterima dan langsung diteguk setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

“Tidak biasanya kau terlihat gugup seperti ini sebelum show, Kyu. Ada apa?” tanya Siwon  penasaran.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya keras,”Aniyo, hyung. Maksudku, mungkin iya aku sedikit gugup. Ini adalah konser pertama dalam rangkaian tour kita,wajar kan kalau aku merasa gugup?”

Siwon tersenyum mendengar pertanyaan maknaenya,”Semuanya akan berjalan dengan lancar.Kita semua sudah bekerja keras, kan? Fighting!”

Mendengar ucapan tersebut mau tidak mau senyum pun tersungging dari bibir Kyuhyun. Beberapa saat kemudian ia merasakan ponsel yang masih berada dalam sakunya bergetar.

Fighting BabyKyu!

Saranghae …  ❤

changkyu billboard

Seketika tawa Kyu meledak saat melihat foto yang dikirim oleh Changmin padanya. Tak dihiraukannya lagi hyung-deul dan orang-orang yang menatap kearahnya dengan pandangan aneh. Dengan segera ia pun membalas pesan Changmin untuknya,

Apa kau begitu mengagumiku, Shim Changmin?

Nado saranghe 🙂

Baik-baiklah disana. Aku merindukanmu …

“Ayo Kyu! Show akan segera dimulai.” Siwon mencoba menyadarkan dongsaengnya yang sekilas tampak seperti seorang autis yang tersenyum-senyum seorang diri.

“Sebentar hyung, aku sedang mengupload gambar dulu di twitter…” Pinta Kyu mengabaikan ajakan Siwon, “Nah, sudah! Kajja hyung!” Seru Kyuhyun riang seraya menggandeng lengan kekar  Siwon yang hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku Kyuhyun.

***

                          Semuanya terasa mimpi bagi Kyuhyun. Mimpi terburuk yang pernah ia alami seumur hidupnya. Ia bahkan masih mengingat tiap kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu. Dimana ia menghabiskan waktu semalaman dengan kekasihnya, melakukan reheseal ditemani namjachingunya, mengucapkan salam perpisahan untuk melepas kepergian Changmin dan Yunho serta berkirim pesan dengan namja terkasihnya. Tapi kenapa semuanya berlalu begitu cepat? Berlalu dengan menyisakan rasa sakit dan penyesalan yang saat ini ia rasakan.

Kyuhyun yang baru saja menyelesaikan perform dengan Sungmin, Zho Mi dan Ryeowook segera memasuki backstage dengan sesekali bercanda dengan sang eternal maknae. Ia segera mengistirahatkan diri dengan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa yang terdapat dalam waiting room. Ia memiliki beberapa waktu untuk beristirahat sebelum seluruh perform solo tiap member selesai.

“Wookie …”Kyuhyun menyodok pinggang Ryeowook yang berada disisinya, “Ada apa disana? Kenapa semua orang terlihat berkumpul didepan TV?” tanyanya penasaran.

Ryeowook mengangkat bahunya tanda jika ia pun tidak mengetahui apapun.  Berbekal rasa penasarannya, lalu ia pun bangkit dari tempat duduknya dan beranjak untuk menghampiri kerumunan didepan TV yang terdiri dari staff dan beberapa hyungnya.

Terlihat kini layar TV yang menjadi pusat perhatian itu kini menayangkan live report dari sebuah acara berita.

Kecelakaan rupanya, batinnya saat ia melihat sebuah van dalam kondisi rusak parah karena terguling ditengah jalan dengan keramaian wartawan yang telah meliput. Ia baru saja akan kembali ke tempat duduknya sebelum penglihatannya menangkap sebuah gambar yang tidak asing baginya itu terpampang di layar kaca, Minnie?

“… Sebelum kecelakaan terjadi, van yang ditumpangi oleh anggota group TVXQ itu tampak melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran mobil yang diduga adalah sasaeng fans. Dilaporkan ketiga penumpang dan pengemudi dalam van tersebut kini telah dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan dua diantaranya adalah Max Changmin dan si pengemudi tewas dan tidak dapat diselamatkan …”

Bagaikan terhempas dalam labirin hampa udara, dadanya kini terasa sesak. Tubuhnya limbung, lemas seperti kehilangan kekuatan untuk menopang beban tubuhya sendiri.

Brukk

“KYU?!!”

Pekik Shindong saat melihat Kyuhyun yang tanpa ia sadari keberadaannya sebelumnya kini telah jatuh terduduk lemas dilantai.

“Minn… nie..” gumamnya lirih dengan pandangan matanya yang kosong.

Seketika pekikan keget dan panik lainnya kembali  terdengar saat mereka melihat kondisi Kyuhyun yang tampak kehilangan kesadarannya.

***

“Jikalau aku pergi pun, aku pasti akan kembali lagi dan membawamu untuk selalu bersamaku, Hyunnie. Karena namamu bahkan telah tertulis dalam catatan takdir kehidupanku. Shim Changmin dan Cho Kyuhyun. Yeongwonhi..”

Kyuhyun hanya mampu tersenyum getir saat ia mengingat janji yang Changmin ucapkan padanya. Janji manis yang pernah Changmin ucapkan saat ia mempertanyakan kesetiaannya pada dirinya. Janji yang hingga saat ini masih ia pegang teguh.

“Dasar Shim Changmin bodoh! Pembohong! Mana janjimu jika kau tidak akan meninggalkanku?” Kyuhyun merutuki sebuah pigura foto yang berada dalam genggaman tangannya. Sebuah foto yang melukiskan wajah seseorang yang dianggapnya sebagai pembohong, “Mana janjimu jika kau akan membawaku pergi bersamamu, hah? Apa janjimu itu hanya sekedar bualan semata?” Ia masih berbicara pada refleksi foto Changmin yang tampak menyunggingkan senyum dengan menampakkan miss match eyes smile-nya.

Seperti terhipnotis, sudut bibirnya pun kini tampak melengkung. Membentuk sebuah senyuman tulus yang beberapa hari ini telah pudar dari wajahnya.

“… kau pasti akan datang dan menjemputku kan, Changminnie? Iya kan?” ia kembali bertanya pada foto tersebut, seakan mengharap sebuah jawaban, “Kau pasti sangat merindukanku. Hiks…”

Tanpa ia sadari air matanya kini telah meleleh membasahi pipinya yang kini terlihat tirus dan lebih pucat dari biasanya.

“Minnie… Minnie… Minnie…” Racaunya seraya menjambak rambutnya dengan frustasi.

“Aaaaaarrggghhh!”

***

PRAANG!!

Seorang namja tinggi menutup pintu yang ada dihadapannya dengan perlahan tanpa menimbulkan suara derikan setelah mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari kamar yang awalnya akan ia masuki. Ia memejamkan matanya, mencoba meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ia tidak dapat menahan kepedihannya ketika ia melihat bagaiamana kondisi  sahabat yang sudah ia anggap sebagai hyungnya itu yang tampak sangat memprihatinkan.

“Minho-ya …”

Namja tinggi yang dipanggil Minho itu pun menolehkan kepalanya saat sebuah suara baritone memanggil namanya.

“Kangin hyung?”

Kangin mencoba tersenyum meskipun ekspresi letih tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya.

“Kenapa tidak masuk?”

Minho menggelengkan kepalanya pelan, “Aku.. aku tidak sanggup melihat keadaan Kyuhyunnie hyung, hyung.” Ucapnya lirih.

Bagaimana bisa ia sanggup melihat keadaan Kyuhyun yang sangat memprihatinkan? Tubuh Kyuhyun yang kini semakin kurus  masih terbalut dengan piyamanya yang terlihat lusuh meringkuk pada salah satu sudut kamar. Matanya memerah karena tangis yang seolah tidak lelah untuk berhenti. Rambut ikalnya berantakan hasil dari perbuatannya sendiri yang sesekali dijambak untuk melampiaskan rasa frustasinya. Bahkan yang membuatnya terasa miris, Kyuhyun selalu meracau menyebut dan memanggil nama Changmin dengan pandangan matanya yang kosong.

Bagaimana kau bisa tega meninggalkan Kyuhyunnie hyung seperti ini, Changmin hyung…

…………………

I sesang anirado eonjenga uri dasi

Mannalthende

(walaupun aku tak ada lagi kesempatan untuk kita bertemu lagi di dunia ini)

Nunmul hanbanguldo

Boyeoseon andoigettjyo

(jangan pernah sekalipun meneteskan air mata)

Saranghe ppajige

Mandeureuttdeon misoro

Nal tteonayo

(kau yang telah membuatku jatuh cinta, meninggalkanmu dengan sebuah senyuman)

Geu miso hanaro

Eonjerado geudareul

Chajanael su ittge

(senyuman itulah, yang dulu selalu ada setiap aku bertemu denganmu)

……………………………

 changkyu crying

130311 Super Junior at Incheon Airport (back from Indonesia) | Part 2 [16P]

Eh? ada foto satu keluarga di paling bawah.. Tapi kenapa daddyx buru2 yah? hahahah..

Sup3rjuniorCharity Fan Project ”Happiness is Best Shared Together”

Compilation: 130308~11 KBS Music Bank in Jakarta with Super Junior

Credit: 시지아 (@shijialee)
Reupload and Posted by: superlove (www.sup3rjunior.com)
TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDITS.
DO NOT HOTLINK, MODIFY OR CUT THE LOGO OF THE PICTURES.
ALWAYS CREDIT ‘SUP3RJUNIOR.COM’ AS WELL. Thank you.

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

View original post