Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 1

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

Choi Siwon mematut dirinya di cermin sekali lagi. Sempurna, pikirnya. Hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya, Yesung dan Ryeowook. Setelan jas hitamnya terlihat keren dan rapi di tubuh kekarnya. Dasi kupu-kupu melengkapi ketampanannya malam itu.

Ketika ia sudah siap, ia segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel besar tempat dilangsungkannya acara resepsi pernikahan pasangan YeWook itu.

“Siwonnie, kau juga sudah sampai rupanya. Wah kau tampan sekali.” Kata Donghae, salah satu sahabat baiknya ketika is sudah berada dalam ballroom hotel.

“Tentu saja. Sejak kapan aku terlihat buruk?” kata Siwon dengan bangga.

“Sejak dia meninggalkanmu.” Kata Donghae pelan yang langsung disikut oleh kekasihnya, Eunhyuk.

Eunhyuk langsung meminta maaf pada Siwon karena kelancangan Donghae.

Siwon tertawa. “Ya! Kalian ini kenapa? Jangan terlalu sensitif. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Donghae menghela nafas. “Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengungkit-ungkit masa lalumu, tapi..”

“Aku baik-baik saja. Memang awalnya terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi aku bisa menjalaninya. Lihat aku sekarang, life must go on, right?” kata Siwon ringan.

“Hae, berhentilah mengungkit masa lalu Siwon.” tegur Eunhyuk pada kekasihnya.

“Aku tahu. Aku hanya khawatir. Siwon adalah sahabat baikku. Sudah sepantasnya aku merasa khawatir padanya.” Kata Donghae.

Siwon mengangguk tanda memaklumi maksud Donghae. Memang benar sejak kekasihnya pergi, ia sempat membuat semua orang khawatir. Ia memang masih bekerja dan bepergian keluar rumah seperti aktivitas sehari-harinya. Tapi ia tidak pernah bicara sama sekali! Karena jika ia bicara, ia akan menangis.

Maka semua orang ikut diam, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berpura-pura bahwa Siwon hanya sedang enggan berkomunikasi kepada siapa pun. Walau mereka tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi demi Siwon, semua ikut diam.

Selama hampir dua tahun Siwon terjebak dalam keadaan seperti itu. Diam di depan semua orang, lalu menangis dan mengasihani diri sendiri kala sendirian. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus. Kulitnya semakin pucat. Ia seperti mayat hidup andai saja ia tidak bernafas. Donghae sebagai sahabat terdekatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu terkadang ikut menangis bahkan memohon agar Siwon melupakan yang telah terjadi dan memulai hidup baru.

Hari demi hari ia berusaha membujuk dan membantu Siwon untuk menjalani kehidupan baru. Namun hal itu tidak mudah ia lakukan karena Siwon terlalu mencintai kekasihnya itu. Semua yang dilakukan Donghae sia-sia saja, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin mengembalikan senyum ke wajah sahabatnya itu.

Delapan bulan kemudian, usaha Donghae membuahkan hasil. Siwon mulai mau membuka diri lagi. Mulai bisa berkumpul dengan teman-temannya. Mulai bisa berbagi cerita. Mulai bisa tersenyum dan tertawa. Walau tidak seperti dulu, tapi setidaknya Siwon sudah kembali.

Siwon mulai melakukan kebiasaan lamanya yang sering ia lakukan dulu bersama kekasihnya. Berbelanja, lari pagi, jalan-jalan hingga berkuda. Bedanya kini ia mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang ia ditemani oleh beberapa temannya, termasuk Donghae.

“Siwon-ah, ayo kita harus memberi selamat pada Yesung dan Ryeowook.” Kata Eunhyuk membuat Siwon mengentikan acaranya melihat-lihat desain interior ballroom tersebut.

Siwon mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Donghae dan Eunhyuk. Setelah memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Siwon dan kedua sahabatnya itu mengambil makanan yang tersedia.

“Hei.. Kalian semua berkumpul disini, rupanya.” Kata seorang namja tampan berdarah cina.

“Ah, Hangeng-ssi. Aku tadi sempat mencarimu. Bagaimana kepulanganmu ke Cina? Kapan kau sampai?” Tanya Eunhyuk.

Hangeng adalah salah satu rekan kerja ketiga lelaki itu di kantor. Walaupun ia bukan orang Korea, tapi ia sangat fasih berbahasa Korea juga membaca huruf-huruf hangul. Kalau berbicara dengannya, siapa pun akan melupakan kalau dia adalah lelaki berkebangsaan Cina.

“Aku baru saja kembali sore tadi. Setelah beristirahat sejenak aku langsung bergegas kemari. Tidak mungkin aku melewatkan hari pernikahan teman kita, bukan?” jawab Hangeng.

“Tidak mungkin melewatkan acara makan gratis maksudmu?” ledek Zhoumi, salah satu rekan kerja mereka yang lain. Zhoumi juga berasal dari Cina. Ia tiba-tiba muncul di belakang Hangeng dan merangkul rekan senegaranya itu.

“Ah iya, aku ingat. Jangan lupa besok setelah meeting kita akan makan siang bersama. Bawalah pasangan kalian, karena aku juga akan membawa tunanganku.” Kata Hangeng dengan bangga.

“Benarkah? Kau akan membawa tunanganmu? Kupikir jangan, mereka akan langsung mengerubutinya.” Kata Zhoumi lagi.

“Eh? Kenapa begitu? Mana mungkin kami mau merebut tunangan rekan kami sendiri? Kau ini ada-ada saja.” ujar Donghae sambil tertawa.

“Karena ia tampan sekali. Aku saja sempat terpesona olehnya. Lalu aku ingat bahwa ia milik Hangeng. Kalau tidak sudah kubawa kabur dia.” Zhoumi bergurau.

“Aku tidak percaya kau berniat selingkuh dari adikku, Henry. Awas kau.” Kata Hangeng dengan nada marah yang dibuat-buat lalu ikut tertawa.

“Lalu besok kau akan datang bersama siapa, Siwon-ssi?” tanya Zhoumi pada Siwon.

“Aku? Aku akan datang sendiri.” Jawab Siwon enteng.

“Kau tahu benar kalau aku menyuruhmu membawa pasangan. Bukankah itu sudah jelas?” tanya Hangeng, menekankan kata ‘pasangan’ dalam kata-katanya.

“Baiklah.. Aku akan mencari pasangan secepatnya. Mungkin orang pertama yang lewat depan apartementku akan kubawa ke acara makan siangmu. Tak peduli bagaimana rupanya, yang penting aku datang berpasangan kan?” canda Siwon.

Semua tertawa. Lingkungan kerja yang nyaman membuat semuanya cepat akrab satu sama lain. Walaupun Zhoumi dan Hangeng baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke kantor cabang Seoul, mereka semua sudah dekat satu sama lain.

Dan Siwon mensyukurinya. Membuat semuanya terasa nyaman. Inilah kehidupan barunya. Ia bertekad tidak akan melihat lagi kebelakang. Ia sudah punya sahabat-sahabatnya, ia tidak butuh yang lain lagi, bukan?

*

            Siwon membelai wajah di depannya dengan lembut, menyusuri setiap inci kulitnya yang putih bersih, menambah keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang amat dikaguminya itu. Perlahan ia mencium bibir merah itu, dengan lembut tanpa nafsu, merasakan manisnya bibir sosok manis yang terlihat seperti malaikat itu.

“Kau sudah berkali-kali menciumku, hyung. Hentikan. Kau harus segera mandi lalu sarapan dan berangkat kerja. Jadi berhentilah mencumbuku.” Kata lelaki yang lebih muda darinya itu.

Siwon tersenyum. Sebelum menjawab, dikecupnya sekali lagi bibir menggoda itu. “Aku tergila-gila padamu.. Kau seperti candu, membiusku terus-menerus saat kita bersama. Membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain memujamu tanpa lelah.”

Lelaki di depannya tertawa. “Hentikan rayuan gombalmu. Cepat mandi atau aku akan mengurangi jatah malammu.”

Siwon terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras. Nafasnya tersengal-sengal. Selalu seperti itu setiap malam. Bukan mimpi yang sama, tapi dengan orang yang sama.

Kembali Siwon menangis. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat hatinya tergores pedih. Siwon memang sudah kembali menjadi Siwon yang dulu. Siwon yang ceria, optimis dan percaya diri. Ia sudah menjalani kehidupannya seperti semula. Ia bahkan sudah bisa mengatasi rasa sakit akibat masa lalunya.

Tapi satu rahasia yang mungkin akan ia simpan sendiri adalah ketakutan menutup matanya. Jika manusia pada umumnya menyukai tidur, Siwon justru sebaliknya. Ia membenci kegiatan yang paling nyaman itu. Begitu melihat tempat tidurnya di malam hari, rasa takut menghinggapinya. Seolah-olah hendak membunuhnya.

Begitu ia tertidur, ia akan bermimpi tentang kekasihnya. Mimpi itu selalu datang setiap malam, dengan potongan gambar yang berbeda-beda. Potongan gambar ketika mereka masih bersama.

Terkadang Siwon menjerit frustasi karena ia tidak juga bisa mengusir bayangan  itu ketika tidur. Bayangan itu menyakitinya. Terlalu sakit melihat kekasihnya itu dalam mimpi sementara Siwon tidak tahu dimana dirinya berada kini.

Tapi bayangan itu tak pernah berhenti datang. Setiap malam ia menyusup ke alam bawah sadar Siwon dan mengganggunya lagi. Dalam setiap mimpinya, dimana Siwon tengah berada dalam titik terlemah, tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali.

*

            Akhirnya Siwon datang bersama Kibum keesokan harinya. Kibum adalah tetangga di apartemen Siwon. Keduanya cukup akrab. Maka tanpa berpikir panjang Siwon langsung meminta Kibum menemaninya, karena Hangeng adalah orang yang paling pantang ditolak.

“Rupanya kau pandai juga memilih.” Kata Zhoumi ketika mereka sudah duduk di restaurant tempat Hangeng meminta mereka berkumpul.

Siwon tertawa. “Apa maksudmu? Dia tetanggaku. Kami memang cukup dekat. Tapi tidak ada yang istimewa. Iya kan Bummie?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Kami hanya berteman. Tak ada salahnya kan saling membantu antar tetangga?”

“Ya, ya, terserah kalian saja. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu melihat lebih dari satu pasangan yang saling bermesraan.” Kata Zhoumi lagi sambil mengerling ke arah Donghae dan Eunhyuk yang terus bermesraan sedari tadi.

“Tapi kenapa Hangeng belum datang juga? Bukankah ia yang mengundang kita semua kemari?” tanya Siwon.

Zhoumi mengangkat bahunya tanda tak mengerti. “Ia juga datang bersama Henry. Terakhir Henry meneleponku lima belas menit yang lalu. Katanya mereka sudah dalam perjalanan. Ah itu mereka..”

Baik Siwon, Donghae maupun Eunhyuk segera menoleh ke arah pintu masuk. Hangeng terlihat berjalan dengan dua lelaki. Siwon mengenal salah satunya. Dia adalah Henry, adik kandung Hangeng sekaligus kekasih Zhoumi. Yang satu lagi tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena tubuh Hangeng menutupinya.

“Wah, maaf menunggu lama. Tadi kami sempat singgah ke suatu tempat sebelum datang kemari.” kata Hangeng ramah.

“Tidak apa-apa. Kami juga belum lama menunggumu.” Kata Donghae menanggapi.

“Tentu saja terasa tidak lama bagimu, bukankah sedari tadi kerjamu hanya menyantap bibir kekasihmu?” sindir Zhoumi dengan pedas.

“Ya!” Donghae langsung protes keras namun dengan nada bercanda.

“Hangeng-ssi, itukah tunanganmu? Ah, mengapa kau menyembunyikannya?” ledek Eunhyuk.

Hangeng menepuk keningnya. “Maafkan, aku hampir lupa. Teman-teman sekalian, kenalkan ini tunanganku Kui Xian.”

Lelaki di belakang Hangeng segera menampakkan diri dan berdiri tepat di samping Hangeng. Begitu melihatnya Siwon mendapati dirinya terkejut luar biasa. Jika di dunia ini ada yang namanya reinkarnasi seperti kepercayaan orang-orang Cina kuno, maka ia harus mempercayainya saat ini juga.

Karena tunangan Hangeng itu 100% mirip sekali dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun yang menghilang beberapa tahun lalu. Tidak ada perbedaan sama sekali. Semuanya mirip, kecuali rambut Kui Xian berwarna hitam dan di potong rapi seperti rambuk cepak Hangeng. Tidak seperti Kyuhyunnya yang rambutnya sewarna madu dan sedikit lebih panjang dari milik Kui Xian. Selain dari itu, tidak ada perbedaan sama sekali.

Bukan hanya Siwon yang terkejut, tapi juga Donghae. Keduanya menatap Kui Xian dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang mereka lihat saat ini?

*

            Mentari pagi dengan hangat menyinari Siwon dan Kyuhyun. Keduanya tengah berkuda bersama, menunggangi satu kuda, melewati pepohonan rindang, menaiki jalan-jalan terjal, melewati danau indah yang membentang luas.

Lalu bayangan itu kabur dan berganti dengan bayangan Siwon tengah berkencan di salah satu restaurant dengan bernuansa merah. Siwon menceritakan sebuah lelucon dan Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

Kembali Siwon terbangun. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menguasainya. Kenapa.. kenapa bayangan Kyuhyun datang lagi? Kenapa bayangan itu dengan tega menyakitinya di saat ia berada dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melawan ataupun melarikan diri?

Tiba-tiba Siwon teringat akan Kui Xian, tunangan Hangeng  yang dikenalkan padanya hampir sebulan lalu. Setiap melihat lelaki itu, Siwon selalu teringat akan Kyuhyunnya. Kyuhyunnya yang hilang. Semua bagian tubuhnya sama, bahkan suara mereka pun sama.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini kalau mereka bukan kembar? Dan ia yakin Kyuhyunnya tidak mempunyai kembaran. Tapi mengapa keduanya sangat mirip?

Terkadang Siwon bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan Kui Xian adalah Kyuhyunnya yang hilang. Tapi mana mungkin? Yang pertama, nama lelaki itu adalah Kui Xian, bukan Cho Kyuhyun.

Kedua, lelaki itu berasal dari Cina. Walaupun bahasa Cina Kyuhyun sangat fasih, tapi kemungkinan mereka adalah orang sama kecil sekali. Apakah hanya karena bisa menguasai satu bahasa asing yang sama sudah bisa disebutkan sebagai orang yang sama pula? Tidak.

Ketiga, Kui Xian tidak menunjukkan gejala ia mengenal Siwon atau pun Donghae ketika mereka pertama kali bertemu. Jika memang Kui Xian adalah Kyuhyun, apa motifnya menghilang beberapa tahun lalu? Jika ia adalah Kyuhyun, walau pun setitik, pasti ada kilasan aneh di matanya ketika bersitatap dengan Siwon maupun Donghae, bukan? Namun  sikapnya normal dan alami.

Keempat, ia adalah kekasih Tan Hangeng, rekan kerja Siwon sendiri. Mana mungkin mereka memiliki kekasih yang sama, bukan?

Dan yang terakhir, Kyuhyun tidak ada motif untuk meninggalkan Siwon untuk lelaki lain. Keduanya sudah bertunangan dan berencana menikah beberapa bulan kedepan, tapi tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Tidak ada satu pun orang mengetahui keberadaannya. Bahkan polisi pun tidak pernah menemukan tubuh ataupun mayatnya, jika Kyuhyun memang ternyata sudah meninggal seperti perkiraan orang-orang selama ini.

Terakhir yang ia tahu, Kyuhyun pergi ke Pulau Jeju untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Tapi ia tidak pernah kembali dari Jeju setelah itu. Ketika teman kerja Kyuhyun itu ditanyai, ia berkata dengan yakin bahwa Kyuhyun sudah kembali ke Seoul.

*

            Siwon sedang menimbang-nimbang buku mana yang akan ia beli di kedua tangannya ketika dirasakannya seseorang menyapanya dari depan rak buku tempatnya berdiri.

“Anneyong haseyo..  Siwon-ssi? Masih ingat padaku?”

Siwon tertegun. Pemuda di depannya masih menatapnya dengan senyum manisnya. Tapi Siwon masih tetap diam. Seolah terpana dengan pemandangan yang disajikan di hadapannya.

“Eh? Siwon-ssi? Mungkin kau sudah lupa, aku Kui Xian. Tunangan Hangeng-gege. Kita pernah bertemu sekali di restaurant beberapa minggu lalu sebelum aku kembali ke Cina. Apa kau masih ingat?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku masih ingat. Aku hanya sedikit terkejut ternyata kau masih ingat padaku.”

Mana mungkin Siwon lupa pada sosok yang begitu dicintainya yang dengan tega merusak malam-malamnya karena selalu hadir di mimpinya? Tidak, bukan lelaki di depannya melainkan Kyuhyunnya.

Sejam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu café di dekat toko buku tadi. Keduanya asik bercerita tentang banyak hal dan Siwon menahan keras matanya untuk tidak terus-menerus menatap Kyuhyun. Tidak sopan menatap tunangan sahabatmu dengan intens, bukan?

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu memalingkan wajahmu ketika bicara denganku? Apa kau tidak senang mengobrol denganku?” tanya Kui Xian polos.

“Tidak.. Itu.. aku..” kata Siwon gelagapan.

“Ah aku tahu, mungkin kau sedang terburu-buru tapi karena merasa tidak enak meninggalkanku sendiri maka kau tetap menungguiku di sini. Benar kan?” tanya Kui Xian lagi.

Siwon terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Lidahnya kelu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Kui Xian tidak akan mau melihatnya lagi. Dan jika Hangeng tahu akan hal ini, ia pasti menjaga kekasihnya baik-baik agar tidak bertemu Siwon. Siwon akan di cap lelaki tidak tahu diri yang menyukai kekasih orang lain. Padahal ia sudah berhasil dengan sangat baik bangkit dari luka masa lalunya. Ia tidak mau usahanya yang ia lakukan bertahun-tahun itu gagal.

“Tampaknya aku benar.” Kata Kui Xian lagi. “Baiklah. Sampai jumpa Siwon-ssi. Aku pergi dulu.”

Siwon mengepalkan tangannya dengan keras. Bahkan cara marahnya juga sama. Jika diabaikan, Kyuhyunnya juga akan pergi meninggalkannya seperti tadi. Siwon ingin sekali mengejar Kui Xian. Kakinya memaksanya untuk melangkah tapi otaknya memaksanya untuk tetap tinggal dan tetap duduk. Mengejar lelaki itu sama saja menjatuhkan dirinya ke jurang kelam lagi. Ia tahu, begitu ia membuat hubungan baik dengan Kyuhyun, maka ia akan jatuh dalam pesona itu.

*

            Malam itu, tepat tanggal 19 april, para lelaki itu berkumpul dalam rangka merayakan hari ulang tahun Zhoumi. Semuanya hadir, tak terkecuali Kim Kibum. Zhoumi sendiri yang memintanya untuk membawa serta Kibum karena menurutnya lelaki itu cocok bergaul dengan kelompok mereka. Lagipula ia tidak mau Siwon datang sendiri mengingat semua yang ada di sana sudah berpasangan. Yesung dan Ryeowook bahkan ikut hadir.

“Siwon-ssi?”

Siwon menoleh. ‘Oh tidak..’ pikirnya.

Kui Xian tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini sendiri sementara yang lain tengah berpesta di dalam?”

Saat itu Siwon tengah berdiri di balkon apartemen Zhoumi, memandang hamparan kerlip lampu-lampu dari setiap bangunan di depannya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar. Kurasa aku minum cukup banyak dan merasa cukup panas di dalam.” kata Siwon seraya membalas senyuman Kui Xian.

Kebohongan besar. Ia keluar karena tidak tahan melihat Kyuhyun, maksudnya Kui Xian bermesraan dengan Hangeng. Mereka selalu saling menempel bagai amplop dan perangko. Hangeng tak pernah melepaskan lengannya dari pinggang tunagannya. Tak jarang keduanya berciuman.

Ya, Siwon tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan cemburu yang mencuat bak racun dari dalam hatinya. Ia bahkan merindukan Kui Xian setelah pertemuan singkat mereka di toko buku beberapa hari lalu. Siwon jadi merasa bersalah karena dengan berani merindukan kekasih temannya itu.

“Sepertinya kau punya masalah.” Kata Kui Xian pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Tidak, aku baik-baik saja. Percayalah, aku hanya ingin menghirup udara segar.” Kata Siwon mencoba meyakinkan lelaki di depannya.

“Biasanya orang yang sedang tertekan oleh sesuatu pasti ingin menghirup udara segar.” Kembali Kyuhyun bergumam.

‘Apa sikapku terlalu kentara? Jangan bilang Kui Xian bisa menangkap kecemburuanku. Ini tidak boleh terjadi.’ Batin Siwon.

“Siwon-ssi..”

Kembali Siwon menoleh. Kui Xian tengah menatapnya dalam-dalam. Mata indah itu bersinar indah, lebih indah dari kerlip lampu yang tadi sempat menenangkan hati Siwon. Mata yang sama, yang membuat Siwon selalu tergila-gila.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon hampir saja terlena andai saja Kui Xian tidak segera bersuara. Mendengar itu Siwon segera tersadar.

“Ten-tentu.. Tentu saja..”

Kui Xian tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya buka suara. “Apa kau membenciku?”

Siwon terperanjat. “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Kui Xian menunduk. “Karena tampaknya, kau tidak menyukai aku. Kau selalu menghindar ketika bertemu denganku. Kau juga tidak pernah mau menatapku ketika aku bicara padamu.”

“Tidak.. Itu tidak benar. Aku..”

“Dan kau tampaknya selalu mencari cara agar tidak bicara padaku.” Potong Kui Xian cepat. “Setiap aku ingin bicara, kau pasti menjawabnya seperti menutupi sesuatu.”

“Aku tahu, mungkin aku tidak seperti Henry yang lebih cepat bergaul. Tapi aku juga ingin mengenal semua teman gege. Aku ingin merasa betah di kota ini karena aku punya banyak teman. Teman-teman yang lain tampaknya bisa menerimaku, tapi.. Tidak denganmu..” Kui Xian melanjutkan.

Siwon menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada lelaki itu alasan mengapa ia melakukan semua ini? Apa setelah mendengar alasannya, Kui Xian akan mengerti? Apa Hangeng akan mengerti? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengelak.

“Tolong, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Memang seperti inilah diriku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tak nyaman.” Ujar Siwon dengan nada minta maaf.

“Benarkah? Jadi.. Kau tidak membenciku?”

Siwon mengangguk meyakinkan.

Kui Xian jadi bernapas lega karenanya. “Ah.. aku lega sekali karenanya. Aku hanya tidak ingin hubungan kita tidak baik. Bukankah kau adlaah rekan kerja gege, yang artinya kita akan lebih sering bertemu. Apalagi setelah aku dan gege menikah nanti.”

“Tentu saja.” Siwon berusaha tersenyum tulus. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar kata ‘menikah’.

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon sebisa mungkin mengatur agar nada suaranya terdengar biasa saja.

Kui Xian tersipu malu. “Aku belum tahu. Gege tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Seperti ketika kami bertunangan, ia mempersiapkan semuanya secara diam-diam, aku benar-benar terkejut saat itu. Namun aku bahagia.”

‘Cukup.. Kumohon..’

“Kau tahu, Siwon-ssi, gege adalah lelaki idaman setiap pria maupun wanita. Ia sangat lembut, penyayang, perhatian, pandai memasak, pandai membuat aku tertawa dengan lelucon-leluconnya, pandai membuatku merasa melayang hingga ke langit ke tujuh.. Aku benar-benar beruntung, bukan?”

‘Ya, beruntung. Sangat beruntung. Aku lah satu-satunya yang tidak beruntung saat ini.’

“Siwon-ssi.. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih? Menurut Donghae-ssi, Kibum-ssi adalah tetanggamu. Tapi kalian tampak serasi. Apa kau menyukainya?” tanya Kui Xian.

“Aku..” Siwon tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. Tapi akhirnya ia memilih untuk bicara dengan jujur. “Aku sedang tidak punya kekasih. Mungkin orang-orang melihatku sangat cocok dengan Kibum, tapi tidak ada yang terjadi diantara kami.”

“Tahukah kau, tampaknya ia menyukaimu.”

Siwon cukup tercengang mendengar penuturan Kui Xian. “Eh? Benarkah?”

Kui Xian mengangguk. “Makanya sejak awal aku selalu berpikir pastilah kau punya masalah yang cukup berat. Karena ada lelaki manis di sampingmu yang terlihat jelas sangat menyukaimu tapi kau mengabaikannya, atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali. Dan tebakanku tampaknya benar.”

“Apa menurutmu.. Aku harus memberinya kesempatan?” tanya Siwon. Ia berharap Kui Xian setidaknya akan memberi sedikit saja kata yang aneh, atau nada bicara yang aneh atau sinar mata yang tidak biasa atau bahkan ekspresi penuh kepura-puraan ketika menjawab.

Tapi di luar ekspektasinya, lelaki itu justru menjawabnya dengan riang. “Tentu saja. Kau harus memberinya kesempatan. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Carilah kebahagiaanmu. Berhentilah bersedih. Jika kau mempunyai kekasih, kau bisa berbagi suka dan duka  bersamanya, bukan? Maka segalanya akan terasa lebih ringan. Jadi, saranku, cobalah membangun sesuatu yang baru dengannya, kau berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Siwon terpaku di tempatnya. Bagaimana kalau kebahagiaanku adalah sesuatu yang ada dalam dirimu? Bagaimana kalau ternyata dirimulah yang aku harapkan untuk berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau pada kenyataannya aku mengharapkan sebagian darimu adalah milikku yang hilang?

*

wonkyu dwcme

To Be Continued..

PS : HAPPY 26TH BIRTHDAY TO OUR BELOVED EVIL MAGNAE, CHO KYUHYUN

HOPE HE HAS A BLAST TODAY AND MAY GOD ALWAYS BLESS HIM IN EVERYTIME..

MUCH LOVE KYUHYUNNIE.. ❤

Advertisements

When I’m With You

Title                 : When I’m With You

Rate                 : T

Genre              : AU, Romance, Friendship, Sad, Hurt

Cast                 : Siwon, Kyuhyun, Sooyoung, Yunho, Donghae, Seunghyun

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

When I’m with you..

I knew you’ll gonna be the part of my life since the first time..

Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia dan keluarganya pindah ke rumah sebelah hampir dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku sangat senang melihat akhirnya aku bisa punya teman dari lingkungan tempat tinggalku sendiri.

Tidak, jangan salah paham. Bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali. Sebaliknya, aku punya banyak sekali teman di sekolah. Hanya saja rumah kami semua berjauhan satu sama lain. Terkadang aku merasa kesepian jika kedua orang tuaku bepergian mengurusi pekerjaan mereka. Ayahku adalah seorang dokter sedangkan ibuku adalah seorang desainer pakaian di sebuah rumah mode terkenal.

Oh, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Choi Siwon. Aku adalah anak satu-satunya di keluarga dengan rumah besar ini. Jadi kalian akan langsung paham mengapa tadi kukatakan aku begitu kesepian, bukan?

Semua orang punya pengalaman yang tertulis di dalam jurnal harian baik itu dalam bentuk tertulis ataupun tersimpan dengan baik di dalam benak kita, termasuk diriku. Jika kau menayakan apa pengalaman terbaikku, aku akan dengan bangga mengatakan bahwa pengalaman terindahku adalah saat aku bertemu dengannya. Adikku, sahabatku, sekaligus cinta pertamaku..

Saat itu ia tengah asyik bermain sendiri dengan Jenga di depannya . Lihat tubuhnya yang kecil, pipinya yang gempal, kulitnya yang pucat serta matanya yang bersinar cerah. Ia benar-benar imut untuk ukuran seorang anak berumur delapan tahun.

“Hai, siapa namamu?”

Anak itu menatapku dengan rasa ingin tahu. Ia tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan menjawabku atau tidak.

“Jangan takut. Aku tinggal di sebelah rumahmu. Namaku adalah Choi Siwon.”

Ia menunduk sebentar lalu dengan suaranya yang indah ia menjawab. “Cho.. Kyuhyun.”

Aku tersenyum lega karenanya. “Kyuhyun-ah, maukah kau bermain bersamaku?” tanyaku penuh harap.

Ia mengangguk. “Kau tampak lebih besar dariku, apa aku boleh memanggilmu Siwon hyung?”

“Tentu saja boleh!” jawabku bersemangat. “Nah, bolehkah kita mulai permainannya dari awal?”

Kembali ia mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang membuatku semakin menyukainya. Dan persahabatan indah kami dimulai sejak saat itu..

*

When I’m with you..

The world is just such a beautiful world in your presence..

Kami tumbuh dengan cepat. Ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat manis sekaligus tampan. Aku selalu berpikir bahwa ia pastilah reinkarnasi dari salah satu malaikat di surga. Percayalah padaku, ia sangat sangat sangat tampan! Kau tidak akan bisa berpaling ketika memandangnya. Kau akan langsung terpaku akan keindahannya.

Dan aku selalu bangga karena akulah orang yang paling dekat dengannya. Aku adalah hyungnya sekaligus sahabat terbaiknya. Aku menjaganya dnegan sangat baik seperti permintaan kedua orang tuanya karena mereka ternyata jauh lebih sibuk daripada orang tuaku sendiri. Kyuhyun sering ditinggal sendirian di rumah sedangkan nasibnya sama denganku, anak tunggal.

Siang itu ia berlari seraya melambaikan tangannya dengan ceria kepadaku. Wajahnya yang sumringah tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Hyuuunggggg.. Tebak apa yang baru saja aku dengar!” serunya tanpa basa-basi ketika ia sudah berdiri di depanku.

Aku menggeleng. “Apa itu?” tanyaku dengan sama bersemangatnya. Lihat kan? Ia benar-benar pandai membuatku ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan.

Ia mencebikkan bibirnya. “Aku menyuruhmu untuk menebak!”

Aku tertawa geli. Ia sama sekali tidak tampak seperti anak berusia empat belas tahun jika sudah merajuk seperti ini.

“Baiklah.. Jangan bersedih, ne? Kau tidak tampan lagi kalau cemberut seperti itu.” bujukku.

“Cepat tebak kalau begitu!” katanya dengan nada galak yang dibuat-buat.

“Hm.. Appa mu akan mengajakmu liburan?”

Ia memutar bola matanya. “Mana mungkin? Ia sendiri tidak punya waktu untuk liburan dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin appa akan mengajakku?”

“Bagaimana kalau.. Eomma membelikan sesuatu yang sangat kau inginkan selama ini.” tebakku lagi.

Kali ini ia mengembungkan kedua pipinya seraya melipat kedua lengannya di dadanya. “Tampaknya kau tidak benar-benar berusaha menebak..”

“Ara.. Ara.. Bagaimana kalau.. Kau berhasil mendapatkan penghargaan dari sekolah dalam bidang matematika atau menyanyi.”

Kyuhyun sangat pandai dalam matematika. Ia bahkan beberapa kali memenangkan olimpiade matematika dan selalu menang. Jangan tanya apa aku juga pandai matematika atau tidak, pertanyaan yang benar adalah apakah aku menyukai matematika atau tidak, karena aku benci berhitung.

Selain itu Kyuhyun sangat pandai bernyanyi. Oh, kalian harus mendengar suaranya dan kalian akan sependapat denganku. Jika ia sudah bernyanyi, serasa segalanya berubah menjadi indah. Suaranya terdengar sangat merdu. Seperti mendengar kicau burung di pagi hari, deru angin dan ombak di pantai, serta suara seorang ibu yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.

“Hampir benar!” serunya kini, melepaskan wajah cemberutnya tadi. “Kau tahu hyung, aku diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Negara kita di pecan olah raga pelajar bulan depan! Oh.. Aku bahagia sekali!”

Aku terbelalak saat itu juga. Umurnya baru empat belas tahun tapi ia bisa memperoleh penghargaan setinggi ini. Dengan gembira kupeluk tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku itu. aku sangat bangga padanya. Adik kecilku benar-benar membuatku luar biasa gembira hari ini.

“Selamat Kyuhyunnie.. Hyung bangga sekali padamu. Kau benar-benar anak yang sangat berbakat.”

“Tentu saja, siapa dulu hyungnya..” katanya dengan tak kalah gembira saat ia melepaskan pelukanku. “Nah, ayo kita makan siang. Aku yang traktir.”

“Makan mie di depan mini market itu?” tanyaku.

“Dimana lagi tempat favorit kita selain di sana hyung? Kajja..” katanya seraya menggandeng lenganku dan menarikku pergi dari sana.

*

When I’m with you..

You’re just like a very special gift that heaven sent to me..

Ia menangis dalam pelukanku ketika ia patah hati. Ya, patah hati. Ini adalah kali ketiga ia menangis selama delapan tahun persahabatan kami. Pertama saat kedua orang tuanya tidak pulang sesuai janji, bukan karena disengaja, tetapi karena jadwal penerbangan mereka diundur jadi mereka terlambat kembali ke Korea. Kyuhyun menangis keras di rumahku, dalam pelukanku.

Kedua adalah ketika aku mengalami kecelakaan lalu lintas dua tahun lalu dan harus rela melihat kaki kiriku di gips. Aku sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Dan Kyuhyun tidak berhenti menangis saat itu, tidak sampai aku membuka mataku. Ia menangis di rumah sakit, tidak dalam pelukanku tetapi sambil memeluk lengan kananku. Saat itu aku sangat menyesal tidak menjaga diriku dengan baik, karena dengan begitu aku telah membuatnya menangis.

Ketika adalah saat ia putus dengan kekasih pertamanya yang telah ia pacari selama hampir tiga tahun. Ia dan Minho memang sudah sering bertengkar. Mungkin karena mereka masih sama-sama muda dan keras kepala. Choi Minho adalah lelaki populer di high school kami. Ia seperti pangeran dalam dongeng yang diimpikan siapa saja. Tampan, berbakat, cerdas dan kaya raya. Ia juga kapten basket sekolah.

Sebenarnya ia adalah kekasih yang baik. Hanya saja perbedaan visi dengan Kyuhyun membuat mereka acap kali bertengkar. Dan terakhir kali mereka bertengkar hebat adalah karena kesibukan Minho di dunia modeling yang mengharuskannya bertemu model-model lain dan akhirnya tenggelam dalam kesibukannya antara sekolah, basket dan modeling. Lalu waktunya untuk Kyuhyun pun berkurang. Dan akhir cerita sudah bisa ditebak, bukan?

“Aku benci padanya, hyung. Benci! Aku benci Choi Minho! Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku marah!” kata Kyuhyun disela-sela isakannya.

Ah.. Mengapa ia harus bermarga sama denganku? Aku jadi sedikit merasa bersalah karena lelaki yang Kyuhyun benci kini juga bermarga Choi.

“Ia lebih menyukai teman-teman model tololnya itu daripada aku. Apa ia tidak tahu betapa aku mencintainya, hyung? Apa arti hubungan kami selama ini?” kembali Kyuhyun tersedu.

“Kyu.. Dia juga mencintaimu. Dia hanya.. sibuk. Memang kesibukannya tidak bisa dijadikan alasan. Seharusnya ia bisa membagi waktunya dengan bijaksana. Sudahlah Kyu, jangan menangis. Dan pikirkan lagi keputusanmu itu. Aku tidak mau melihatmu terus-menerus bersedih seperti ini. Kau hanya dikuasai emosi sesaat, percayalah, kau tidak mau putus dengannya.”

Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tidak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa membantunya menyadari perasaannya sendiri. Aku lebih tua dua tahun darinya, tapi perbedaan itu tampak jauh karena aku terdidik mandiri dan dewasa. Jadi sebisa mungkin aku selalu menawarkan jalan terbaik untuknya tanpa membuatnya sedih.

Dan dugaanku benar. Baru putus dua hari dari Minho, pertahanan Kyuhyun runtuh saat Minho meminta maaf padanya. Mereka kembali bersama, kembali banyak bertengkar dan Kyuhyun lagi-lagi menangis. Ia bahkan lebih sering menangis sejak saat itu.

“Oppa! Kau mendengarkanku atau tidak? Berhenti memikirkan Kyuhyun. bisakah kau membuangnya dari pikiranmu walau hanya sedetik? Aku tahu ia bagaikan adik bagimu, tapi bukan berarti kau harus selalu memikirkannya. Kau lebih memperhatikannya daripada aku. Aku ini kekasihmu!”

Kurasa wajar saja Sooyoung marah padaku. Ia adalah kekasihku tapi aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Kyuhyun terutama sejak Minho jauh lebih sibuk. Bukan hanya Sooyoung, tetapi juga Heechul, Tiffany, Kibum hingga Luna juga melakukan hal yang sama. Semuanya pernah menjalin hubungan denganku dan semua merasakan kekecewaan yang sama. Apa kalian sedikit bingung dengan nama-nama tadi? Yah, mereka adalah para mantan kekasihku. Dan aku adalah biseks.

“Oppa! Lagi-lagi kau tidak mendengarkanku!” kali ini Sooyoung berdiri dari duduknya dengan geram lalu meninggalkanku sendirian.

*

When I’m with you..

We started as friend, then something happened inside me..

Ujian akhir sudah dekat. Aku harus belajar lebih giat agar bisa lulus dari universitas terkemuka tempatku belajar selama empat tahun itu.  Tapi aku selalu ada untuk Kyuhyun ketika ia membutuhkanku. Ia tidak butuh bimbingan saat belajar karena ia adalah mahasiswa yang cerdas. Ia hanya butuh teman bicara ketika ia sedang tidak bersama Changmin, kekasihnya.

Entahlah, awalnya aku justru bangga karena ia selalu datang padaku. Menceritakan hari-harinya bersama Changmin, seperti yang ia lakukan selama ini dengan kekasih-kekasihnya yang lain. Apa saja yang mereka lakukan hari itu, bagaimana mereka kencan, apa saja yang dibelikan Changmin untuknya, hingga bagaimana mereka bisa saling bercumbu walau belum sampai tahap bercinta atau.. yah, aku enggan menyebutnya, seks.

Namun akhir-akhir ini, aku sedikit kesal dengan cerita-ceritanya. Aku sendiri tidak tahu sebabnya. Dan entah mengapa ketika aku melihat siluet Kyuhyun memasuki pagar rumahku dari jendela, aku langsung berpura-pura tidur. Aku juga sering mematikan ponselku hanya karena aku enggan menerima pesan atau telepon darinya. Bukan apa, yang ia ceritakan hanya Changmin, Changmin dan Changmin, made me feel strange..

“Itu adalah hal yang wajar. Bukankah kini kau sedang sendiri, tidak mempunyai kekasih dan kau dibuat stress oleh ujian akhir yang semakin dekat. Jadi ketika kau mendengar cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau akan merasa jenuh.” Kata Donghae siang itu ketika aku, dia dan Yunho, sahabat-sahabatku tengah belajar materi ujian akhir bersama di café langganan kami yang terletak tak jauh dari kampus.

“Aku setuju. Stres akan ujian bisa membuatmu menjadi orang lain. Jadi kusarankan, ada baiknya kau sedikit bersantai. Atau pacari saja siapa pun agar kau bisa melampiaskan hasrat ehm.. seks yang terpendam..” kata Yunho seraya mengejek.

Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku mendengar kata-kata kedua lelaki tampan itu. Mereka memang benar, aku seharusnya tidak memikirkannya secara berlebihan. Tapi apa benar aku hanya merasakan hal ini karena stress ujian? Namun mengapa ada yang berbeda? Mengapa perasaanku berkata lain?

Semakin hari perasaanku semakin tak tergambarkan. Aku mulai memperbaiki penampilanku yang sebenarnya sudah baik, jangan salah sangka tapi memang aku suka berpenampilan rapi, menjadi lebih rapi lagi ketika ingin bertemu Kyuhyun. Aku mulai merahasiakan hal-hal kecil yang sekiranya akan membuatku tampak malu dan bodoh di depannya.

Aku mulai tidak banyak bicara ketika bersamanya, karena aku takut kata-kataku akan menyinggungnya atau malah membuatku jadi salah di matanya. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa jantungku mulai berdebar-debar saat ia menyentuhku atau menatap mataku. Atau bahkan hanya sekedar memanggilku “Siwon hyung” seperti biasa.

Hei, bukankah aku sudah melewatkan tahun demi tahun bersamanya? Mengapa aku bisa merasa aneh seperti ini? Ini tidak wajar. Mengapa aku merasa kalau.. aku takut kehilangan dirinya? Mengapa aku melihatnya dengan sudut pandang berbeda kini? Apa arti debaran itu? Apa arti hangatnya hatiku kala ia menggenggam tanganku? Apa aku.. mulai melihatnya sebagai lelaki, bukan lagi sahabat?

*

When I’m with you..

It came up without warning.. Everything was right, except my heart..

Seumur hidupku, aku sering melihat lelaki tampan. Ayahku, Yunho dan Donghae, Kibum, bahkan menurutku aktor Jung Woo Sung adalah lelaki paling tampan di seluruh dunia. Namun hari ini semua pemikiranku terbantahkan ketika melihat dirinya.

Bahkan malaikat pun tidak ada yang lebih tampan dari dirinya. Dengan balutan tuksedo putih, dasi kupu-kupu tersemat di lehernya, kulit putihnya yang sedikit kemerahan karena bahagia sangat serasi dengan warna karamel yang menyatu di rambutnya.

Segala keindahan di dunia ini, segala bentuk kesempurnaan yang pernah tercipta, berbaur secara alami di dirinya kini.

Lihatlah dirinya yang tak henti-hentinya tersenyum manis sedaritadi. Lihatlah bagaimana kebahagiaan yang datang di musim semi yang indah ini mampu membuatnya bahagia. Dan mungkin inilah kebahagiaan terbesar yang pernah ia miliki selama hidup di dunia. Betapa aku merasa bersyukur bisa melihat senyum itu selama ini.

“Jangan memandangku seperti itu, hyung..” katanya dengan wajah yang merona merah. “Kau membuatku.. malu..”

Aku segera tersadar dari lamunanku. “Ah.. Maafkan aku.. Kau tahu, aku sangat terkesima dengan penampilanmu hari ini.”

“Aku tahu aku tampan.” Katanya tak bisa menyembunyikan seringaian lebar itu. “Bahkan lebih tampan darimu.”

“Kau lebih tampan dariku.” Jawabku setuju. “Lebih tampan dari siapapun.”

“Sudahlah hyung.. Tolong jangan terus-menerus memujiku atau aku akan pingsan saat ini juga!”

Aku tertawa. Aku baru akan menjawab ketika ayahku masuk ke ruangan kami. “Gentlemen, it’s time. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian setelah prosesi selesai.”

Setelah ayahku keluar, aku berbalik menatapnya. “Apa kau siap sekarang?”

Kyuhyun meremas tangannya dengan gugup. Rona merah di wajahnya hilang sudah. “Aku.. Aku takut membuat kesalahan di luar sana, hyung.. Aku takut sekali emmbuat keluargaku dan dirimu malu.. Kau tahu, aku..”

Aku memegang kedua bahunya lalu menatapnya, memberi keyakinan. “Kau akan baik-baik saja, baby. Aku berjanji kau akan menyelesaikannya dengan baik. Kau adalah lelaki yang cerdas. Buatlah kami semua bangga padamu di luar sana.”

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya seraya menghembuskan nafas panjang. “Baiklah.. Aku siap.. Selama kau ada di sampingku, hyung, semua akan baik-baik saja..”

Dan akhirnya waktu yang telah dinantikan datang juga. Aku berdiri disini, menatapnya dengan penuh rasa bangga, penuh rasa sayang, penuh kebahagiaan. Ia berjalan pelan dengan ayahnya menuju ke altar suci tempat sesaat lagi pernikahan akan dilangsungkan.

Bagaimana aku bisa melewati prosesi terpenting itu, bagaimana aku bisa berada di podium kini dengan microphone di depanku, aku tidak tahu. Yang kutahu kini, aku harus bicara karena semua mata tengah memandangku.

“Hadirin yang terhormat.. Terima kasih telah datang dihari bahagia ini, membuat kebahagiaan semakin terasa lengkap di sini. Aku berdiri di sini, ingin berbicara mengenai seseorang yang terpenting dalam hidupku.”

Tanganku mulai terasa dingin. Hatiku berdetak lebih kencang. Sama seperti dirinya, ketika aku tengah lemah, hanya dengan melihatnya, bersama dengannya, membuatku terasa jauh lebih kuat.

“Cho Kyuhyun adalah adik, sahabat, dan keluarga bagiku. Kami melewati banyak hal bersama, baik suka dan duka. Saat senang kami saling berbagi, saat susah kami saling mendukung. Menjadikanku lebih kuat dan tegar menghadapi segalanya.”

Aku menatapnya, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya. Tuhan.. betapa tampannya dia. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya di sampingnya.

“Di hari yang bahagia ini, aku ingin berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan kami. Sekaligus berdoa agar ia selalu dilindungi dan diberi kebahagiaan yang melimpah untuk kehidupan baru yang telah diresmikan dalam prosesi suci pernikahan yang sama-sama kita saksikan tadi.”

Semua pertanyaanku terjawab setelah tiga tahun yang panjang. Perasaanku yang sempat membuatku bingung akhirnya membuahkan sebuah jawaban. Ternyata aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Dan entah mengapa dengan kenyataan itu, aku semakin takut jika aku mengatakannya, ia akan marah karena aku telah menodai persahabatan yang tidak akan pernah kutukar dengan apapun di dunia ini.

“Tidak ada kebahagiaan yang bisa mewakili perasaanku kini. Segalanya sempurna. Bahkan mentari di luar sana bersinar jauh lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Aku yakin alam pun turut bergembira karena hari besar ini. Hari pernikahan seorang Cho Kyuhyun.. Dengan pendampingnya Choi Seunghyun.”

Hatiku sakit menyebut nama Seunghyun. Lebih sakit lagi ketika melihat Kyuhyun kini melepaskan pelukannya dari ayahnya dan berganti memeluk mesra suaminya. Aku seringkali melihatnya tersenyum, tapi baru kali ini ia tersenyum begitu lebar, tertawa begitu lepas, seolah semua beban di hatinya sirnah. Dan sakit di hatiku semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa bukan aku lelaki yang membuatnya seperti itu. Bukan aku yang berdiri di sampingnya saat ini dan menerima pelukannya.

“Choi Seunghyun adalah lelaki yang baik dan paling tepat untuk mendampingi Kyuhyun. Aku percaya ia akan menjaga Kyuhyun dengan baik dan memberikan segalanya untuk memenuhi kebutuhan Kyuhyun. Tidak ada orang lain yang lebih tepat selain dirinya. Seunghyun-ssi, ingat janjimu padaku, jangan pernah tinggalkan dan kecewakan Kyuhyun.”

Choi Seunghyun mengangkat satu jempolnya sementara tangan lainnya merengkuh tubuh pasangan hidupnya kini. Lihat? Segalanya sempurna, bahkan sakit hatiku pun sempurna. Bagaimana aku menahan nyeri yang menyerang hatiku selama dua tahun terakhir ketika Kyuhyun mulai mengencani Seunghyun, bagaimana aku berpura-pura tersenyum di depannya ketika ia menceritakan segalanya tentang kekasihnya itu dan bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyerang Seunghyun ketika Kyuhyun menangis karenanya.

“Kyuhyunnie.. Adikku.. Akankah aku melihatmu lagi setelah hari ini?”

Ia akan pergi ke Jerman bersama suaminya dan menetap di sana. Akankah aku melihat senyum itu lagi? Akankah aku melihat bibir indah itu bergerak-gerak lincah seperti yang selama ini aku saksikan? Akankah aku bisa menyentuhnya lagi walau hanya sedetik?

“Apa kau akan merindukanku? Karena aku akan sangat kesepian tanpamu.”

Aku sudah terbiasa bersamanya setiap hari. Ketidakhadirannya pasti akan terasa sangat kosong, seperti jauh dari ibumu padahal kau tengah duduk di ruang keluarga bersamanya.

“Apa kau akan baik-baik saja di sana?”

Aku mulai menangis. Aku bisa mengontrol kata-kataku, tapi tidak sakit hatiku. Semakin lama aku melihatnya, semakin sakit rasanya. Namun aku tidak berani memalingkan wajahku, karena ini adalah saat terakhir aku melihatnya. Dan dia juga menangis di sana, bahkan sepertinya airmatanya jauh lebih deras dariku.

Hei, apa yang kau lakukan, Siwon? Mengapa kau membuatnya menangis? Lihat, kau baru saja meruntuhkan kebahagiaannya.

Aku berusaha tersenyum walau hatiku menangis dan airmataku tetap mengalir tanpa henti. Ayahku sudah mulai mengusap-usap punggungku dengan sayang seraya menenangkanku. Aku hanya bisa mendengar ia mengerti perasaanku yang akan ditingalkan oleh sahabat sejati. Walau sebenarnya ia tidak mengerti bagaimana aku tersiksa dengan perasaan cinta ini.

“Kyuhyunnie.. Hyung sayang padamu.. Hyung benar-benar.. berdoa untuk kebahagiaanmu. Tolong jangan lupakan persahabatan kita.. Sering-seringlah memberi kabar dan.. kunjungilah kami di Seoul jika sempat.”

Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Segalanya di depanku tampak buram. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah bayangan putih yang berdiri tak jauh dariku, Kyuhyun.

“Jagalah kesehatanmu. Jangan tidur larut malam hanya karena menonton televisi. Dan jangan lupa meminum vitamin C karena kau paling gampang terkena flu. Ah.. Maafkan aku banyak bicara..”

Aku tidak sanggup lagi. Aku bahkan tidak tahu harus mengakhiri pidatoku ini seperti apa. Yang aku tahu, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin, melarikan diri dari tempat ini. meninggalkan segalanya di belakang. Tapi aku harus menyelesaikannya. Demi Kyuhyun. Demi menyelamatkan pestanya yang sudah ku rusak.

“Terima kasih telah datang ke kehidupanku. Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Tanpa menunggu lagi, aku segera berlari menuruni podium. Berlari kencang ke arah pintu keluar dan terus berlari tanpa arah tujuan. Udara dingin dengan angin sepoi menerpa wajahku. Akhirnya aku berhenti. Ketika aku menyadari bahwa aku berhenti di taman tempat aku dan Kyuhyun biasa menikmati waktu luang, kembali sakit di hatiku menyerang.

Aku menegadah dan melihat langit kelabu di atas sana. Kemana perginya mentari yang tadi bersinar cerah? Lalu setitik hujan turun diikuti dengan titik lainnya kemudian hujan turun menyerang. Aku membiarkan hujan membasahiku, berharap mereka membawa pergi sedihku ini, membuatku kembali menjadi Siwon yang tegar walau tanpa cahaya di hatiku.

Lalu aku mengingat kata-kata yang sering diucapkannya, ‘Kau adalah yang terbaik, hyung. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Namun, selama kau ada di sampingku, semua akan baik-baik saja..

Tapi aku tidak baik-baik saja, Kyu.. Tidak tanpamu.. Tidak akan pernah..

*

            “Hyung.. Siwon hyung..?”

Apa aku bermimpi? Ya, aku pasti bermimpi. Mimpi yang menyakitkan. Aku melihatnya di depan mataku. Bukankah seharusnya ia sudah pergi? Mengapa ia masih ada di sini?

“Hyung.. Apa kau bisa mendengarku?”

Aku mendengarnya bicara. Dan melihatnya! Ia bicara kepadaku dengan nada cemas. “Apa hanya karena hujan dan kelelahan kau jadi seperti ini? Sudah kukatakan jangan terlalu lelah mengurus pernikahan itu.”

Matanya merah dan sembab. Kedua orang tuaku ada di sana. Bahkan.. Seunghyun juga ada di sana. Ini bukan mimpi. Kyuhyun memang telah menikah dengan Seunghyun. Biar kutebak, mereka mencariku setelah keluar dari ruang pesta dan menemukanku yang pingsan di jalan dan membawaku kemari. Entahlah, sakit di hatiku justru bertambah karenanya.

“Siwonnie.. Apa kau baik-baik saja? Eomma sangat mengkhawatirkanmu.” Ibuku tampak sama cemasnya dengan Kyuhyun. Ayahku tengah bicara dengan dokter yang menanganiku. Aku kenal dokter itu, dia adalah rekan kerja ayahku.

“Dia baik-baik saja. Mungkin karena ia sempat terkena demam tinggi maka ia sedikit kebingungan.” Jawab ayahku meyakinkan ibuku.

Setelah beberapa saat keduanya berpamitan. Ayahku akan kembali bekerja dan ibuku akan beristirahat sebentar. Menurut dokter Kim, aku tidak sadarkan diri selama dua hari dan menderita demam tinggi.

“Kau baik-baik saja? Tidak seharusnya kau membuatnya cemas seperti itu.” kata Seunghyun kepadaku. Dagunya mengarah kepada Kyuhyun yang duduk di sebelah kanan sambil menggenggam tanganku.

Aku enggan menatap Kyuhyun yang terlihat kembali terisak pelan. Bukan apa, rasanya sakit sekali melihatnya menangis untukku sementara hatinya sudah milik orang lain. Mengapa aku harus sadar secepat ini? Mengapa mereka tidak pergi saja ke Jerman tanpa menungguiku seperti ini?

“Maafkan aku.. Sudah membuat kami cemas.. Aku.. Maafkan karena telah merusak acara sakral itu..” kataku terbata-bata.

Jujur saja aku nyaris menangis lagi jika mengingat hal itu. Walaupun aku ingin sekali melupakannya, namun bayangan Seunghyun memasangkan cincin ke jari manis Kyuhyun, ketika mereka saling bersumpah setia sehidup semati di hadapan Tuhan, ketika mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, ketika mereka berciuman.. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku jika mereka masih ada di depanku.

“Jangan lagi.. Jangan lagi kau membuatku cemas seperti itu, hyung. Aku nyaris gila karena memikirkanmu..” Kyuhyun masih terisak. Membuatku merasa bersalah.

“Kyuhyunnie.. Aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah kembali. Bukankah.. Kalian akan ke Jerman? Jangan ditunda hanya karena aku. Sungguh.. aku..”

Seunghyun mengerutkan keningnya. “Kalian? Maksudmu, aku dan Kyu? Tapi.. Hanya aku yang akan berangkat, ingat? Aku dipindah tugaskan ke Jerman selama tiga tahun.”

“Tapi.. Tapi.. Mengapa kau meninggalkan Kyuhyun di sini sendirian?” tanyaku dengan nada tak mengerti. Mengapa ia meninggalkan orang yang dicintainya di sini? Mereka baru saja menikah, sudah seharusnya mereka tinggal bersama.

“Bukankah di sini ia punya kedua orangtua beserta dirimu? Tentu saja ia akan baik-baik saja.” Jawab Seunghyun acuh seraya meneguk air mineral yang ada di tangannya sedari tadi.

Bagaimana ia bisa sesantai ini? Kemarahan menguasai dadaku. Apa maksudnya ini? Setelah menikahi Kyuhyun kini ia akan meninggalkannya? Bagaimana mungkin aku sanggup melihat airmata itu lagi?

“Seunghyun-ssi.. Kalau tujuanmu untuk mencampakkan Kyuh..”

“MENCAMPAKKAN..???!!” Kyuhyun dan Seunghyun berseru bersamaan. Keduanya saling bertukar pandang dengan bingung.

“Siwonnie, apa kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu ku panggilkan dokter?” tanya Seunghyun. Wajahnya kini terlihat sangat cemas.

“Er.. Hyung.. Mengapa kau jadi berlebihan seperti ini?” tanya Kyuhyun.

“Kau pikir aku gila??!! Katakan padaku mengapa kau meninggalkan Kyuhyun setelah kau menikahinya!” aku tak tahan lagi. Tumpahlah semua kemarahan yang sejak tadi kutahan.

“MENIKAH??!!” kembali Kyuhyun dan Seunghyun berseru keras dengan bingung. Keduanya saling pandang lalu gentian memandangku.

“Ya, menikah! Kau menikahinya dan kini hendak meninggalkannya? Aku menghadiri pernikahan kalian! Aku salah satu bestman kalian. Ketika aku berbicara di podium, bukankah aku memintamu untuk berjanji menjaga Kyuhyun dengan baik dan kau mengiyakannya, bukan? Jangan pura-pura bodoh!”

Aku benci melihat wajah Seunghyun yang tampak shock seperti itu. Seolah-olah semua yang kukatakan tadi hanya omong kosong dan pernikahan tadi tidak ada artinya untuk dia.

“Aku? Me..menikahi Kyuhyun?” kini mata Seunghyun nyaris keluar dari rongganya.

“Ya! Hentikan!” jerit Kyuhyun keras. Membuatku terlonjak. “Hyung, ada apa denganmu? Mengapa kau bicara omong kosong seperti ini?”

Suaraku melembut ketika bicara dengan Kyuhyun. “Kyu.. Ada apa dengan pernikahan kalian? Mengapa Seunghyun..”

“Lagi-lagi pernikahan! Siapa yang menikah dengan siapa? Bagaimana mungkin aku menikahi kakak kandungku sendiri??!!”

Kini gentian aku yang terperangah. “Kakak kandung? Tapi.. Bukankah.. Ya! Choi Seunghyun, bagaimana..”

“Choi?? Aku bukan saudaramu, bagaimana mungkin aku bisa satu marga denganmu. Dan sejak kapan aku berganti marga? Aku masih tetap seorang Cho sampai sekarang! Ya! Apa kepalamu masih bekerja dengan baik? Kau ini sejak tadi bicara yang tidak masuk akal. Ada apa denganmu? Apa demam tinggi membuatmu lupa ingatan terhadap istrimu sendiri?”

Seunghyun menunjuk Kyuhyun yang menatapku dengan galak. Tunggu.. Seunghyun adalah kakak Kyuhyun? Lalu Kyuhyun adalah.. “Istriku?”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di kepalaku. Kulihat tangan Kyuhyun nyaris berayun lagi di udara ketika aku masih bereaksi dengan aneh.

“Kalau memang semua ini benar, lalu pernikahan siapa yang kuhadiri?” tanyaku bingung.

Seunghyun meringis. “Aku akan memanggil dokter sekarang. Kyu, cobalah pukul terus kepalanya, siapa tahu penyakit bodohnya hilang. Mana mungkin ia melupakan pernikahan sahabat baiknya, Donghae, sedangkan ialah yang paling sibuk mempersiapkan semuanya sejak beberapa bulan lalu?”

PLAKK!

Tamparan kedua di kepalaku membuatku pusing. Pandanganku serasa berputar-putar bahkan sedikit gelap.

“Katakan sekali lagi kalau aku adalah istri kakakku dan aku akan meninggalkanmu sendirian, hyung! Kau ini menyebalkan sekali!” Kyuhyun mengomel dengan galak sementara semuanya tampak jelas perlahan.

Bagai film, semuanya tampak jelas di kepalaku. Bagaimana aku dan Kyuhyun akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing setelah ia putus dengan Changmin, bagaimana kami melalui dua tahun masa berpacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikat janji setia, bagaimana kami menikah tahun lalu dan.. bagaimana kami menjodohkan Donghae dengan rekan kerja Kyuhyun, Eunhyuk.

“Baby..”

“Hyung..” Kyuhyun mendekatiku. “Kau baik-baik saja? Maaf aku memukulmu, aku..”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.. Kurasa.. Aku hanya bermimpi buruk dan kehilangan akal sehatku sesaat. Maafkan aku..”

Kyuhyun menarik nafas lega karenanya. Ia lalu memelukku erat. “Syukurlah kau sudah kembali, hyung.. Aku cemas sekali. Kukira kau hilang ingatan dan semacamnya..”

“Maafkan aku.. Sekali lagi maaf.. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti ini.” aku lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pipi dan keningnya. “Bahagia rasanya karena kita telah bersatu.”

“Tolong jangan pernah bertingkah seolah aku milik orang lain, hyung. Karena melihatmu menyangkalku benar-benar membuatku sakit.” Katanya dalam nada manja seperti biasa.

“Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji.” Kataku seraya meraih dagunya, mendekatkan wajah kami berdua dan mulai menyentuh bibirnya yang selalu kukagumi. Ketika aku akan melumat bibirnya, pintu kamar rawatku dibuka dengan keras.

Cho Seunghyun, dokter Kim, ayah dan ibuku menyerbu masuk dengan tatapan luar biasa cemas. Ketika mereka melihat adegan yang tersaji di hadapan mereka, ketiganya menatap Seunghyun dengan curiga.

“Percayalah padaku.. Aku tadi melihat Siwon.. Ya, Kyu.. Bantu aku..”

Aku dan Kyuhyun hanya bisa tertawa melihat ketiga orang itu mengomeli Seunghyun. Senang rasanya melihat semua ternyata hanya mimpi. Walau hanya sebentar, aku benar-benar tidak ingin mimpi seperti itu kembali lagi. Biarlah terkubur dengan masa lalu. Saatnya menyongsong masa depan dengan Kyuhyun. Ahh.. betapa aku mencintainya..

***

wonkyu00

E.N.D

Heart Without a Home – Chapter 3

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 3

Yunho sudah tahu bahwa ada yang mengincar desanya. Instingnya yang kuat tidak pernah salah. Begitu Kyungsoo dan Jongin diserang, ia langsung mengerti adanya ancaman untuk sukunya. Dan keselamatan seluruh desa ada padanya. Ia tidak boleh membiarkan mereka terluka.

“Anakku.. Aku bangga padamu dan akan selalu begitu. Tapi.. Apa keputusanmu kali ini telah kau pikirkan baik-baik?”

Yunho menatap sang Arweinydd. “Apa ayah meragukan keputusanku?”

Junjin menggeleng. “Sama sekali tidak. Selain turunan pemimpin, sikap dan sifatmu lah yang membuatmu terpilih menjadi Alpha secara mutlak. Ayah tidak meragukanmu, sebaliknya ayah mengkhawatirkanmu.”

“Bukankah aku punya ayah? Selama ayah ada di sisiku, aku tidak akan khawatir.”

Junjin tahu senyuman Yunho dimaksudkan untuk membuatnya tenang. Tapi, seorang ayah tidak akan tenang melihat anaknya mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang, bukan?

“Setidaknya kau membiarkan setengah dari kawananmu untuk tinggal dan membantumu. Ahh.. Andai saja mereka mengerti tujuanmu yang sebenarnya..”

“Mereka tidak perlu tahu.” Yunho menghela nafas panjang lalu kembali menatap ayahnya dengan pandangan memohon. “Ayah.. Haruskah kita bahas lagi hal ini?”

Junjin menatap langit kelam di atasnya. “Satu anakku terluka, satu lagi pergi sedangkan kau akan mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu bagaimana perasaan ayah saat ini? Apalagi reaksi ibumu ketika tahu hal yang sebenarnya, ia menangis dalam diam. Adalah kesakitan bagi ayah ketika melihat air matanya.”

Yunho terdiam. Ia tahu kalau kedua orang tuanya sudah pasti akan sedih dengan keputusannya walaupun mereka tidak bisa melarang perintah sang Alpha. Mereka yakin Yunho pasti telah memikirkan semuanya baik-baik sebelum bertindak. Tapi mereka hanyalah orang tua yang takut kehilangan anak-anaknya. Salahkah jika mereka terus mempertanyakan keputusan Yunho?

Ya, Yunho sengaja mengirim seluruh anggota kawanannya untuk pergi. Walaupun memang tujuannya adalah untuk menjalankan misi agar mereka bisa mengatur strategi guna menghadapi lawan-lawan mereka, namun ada alasan lain di balik itu. Dan alasan sebenarnya cukup sederhana, mereka disingkirkan.

Yunho membuat mereka pergi sejauh mungkin karena ia tahu desanya akan diserang. Yunho tidak mau membahayakan sahabat-sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri itu.

Maka mengirim mereka pergi adalah misi kosong, tipuan. Yunho sudah tahu kalau sebagian besar kelompok Drygioni dan Heglog sudah mulai bergerak untuk menyerang Gyfraddia. Satu-satunya yang bisa ditemukan oleh kawanannya nanti hanya Centaurus yang sudah pasti akan menolak untuk bergabung karena mereka tidak suka berperang.

Yunho mengandalkan para Rhyfel, Henuriad dan dirinya sendiri untuk berperang. Kalau mereka ternyata kalah, kesembilan Werewolf yang ia kirim keluar bisa selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang selama berabad-abad tetap hidup. Gyfraddia tidak boleh hilang ditelan sejarah. Itulah sebabnya Yunho nenyingkirkan para Eifre.

“Aku akan baik-baik saja, ayah. Aku berjanji.” kata Yunho pada akhirnya.

“Sebaiknya kau memegang janjimu, anakku. Kalau kau tidak mau melihat kami mati dalam kesedihan.” Jimin, Ibu Yunho sudah ada di sana, berdiri dengan anggun di samping suaminya dan menatap anak pertamanya dengan pandangan cemas namun juga bangga.

“Ibu..” Yunho segera menghampiri ibunya lalu berlutut sebentar. Ketika ia kembali berdiri tegak, ia segera memeluk wanita paruh baya yang sangat cantik itu erat-erat.

Jimin Membelai rambut anaknya penuh sayang. “Ibu langsung tahu tujuanmu ketika kau meminta ibu untuk membuat Chymyst. Kau pasti akan memberikannya pada Sandara dan Kyuhyun. Walaupun ibu khawatir, tapi ibu yakin kau memintanya untuk tujuan baik.”

Chymyst adalah salah satu ramuan kuno milik Gyfraddia. Ramuan bening yang tidak berbau dan tidak berasa ini sifatnya sama dengan air, namun fungsinya untuk melumpuhkan kemampuan indera pendengar ataupun penciuman selama tiga jam. Hanya orang-orang tertentu yang dapat membuatnya dengan sempurna, termasuk ibu Yunho.

Yunho telah memasukkan ramuan itu ke dalam minuman para Eifre sebelum mereka pergi. Anggota lain tidak akan merasakan dampaknya, hal ini hanya berlaku untuk Kyuhyun dan Sandara. Karena jika keduanya menemukan adanya mata-mata di sekitar mereka, sudah pasti mereka tidak akan meninggalkan sang Alpha.

“Pengorbananmu disaksikan oleh langit dan alam semesta, anakku. Dewa akan selalu bersamamu. Bahkan petir pun tidak akan mampu menyambarmu. Kau adalah pahlawan sejati Gyfraddia.”

*

            Sudah seharian para Eifre pergi. Mereka berangkat pada malam hari dari Gyfraddia dan kini matahari sudah mulai tenggelam ketika kesembilan Werewolf ini tiba di tempat tujuan masing-masing. Jarak yang mereka tempuh sangat jauh, namun karena khawatir pada Alpha mereka yang tinggal sendirian, mereka mempercepat laju lari kaki-kaki mereka dan hanya berhenti untuk minum di sungai.

“Aku belum pernah melihat desa Heglog sebelumnya. Tapi ini benar-benar menyeramkan.” ujar Hoya ketika ia mengamati perkampungan Heglog dari balik semak-semak.

Di depannya tampak rumah-rumah kecil berbentuk seperti iglo di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu dan hampir seluruhnya tertutup sarang laba-laba. Di samping kanan setiap rumah terdapat sebuah tungku kecil, pastinya untuk memasak.

“Mengapa jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada yang kita lihat beberapa waktu lalu?” tanya Sandara curiga.

Taecyeon menggeleng tidak yakin. “Aku juga tidak tahu. Apakah mereka pergi berburu dan sebagian lagi mencari daerah kekuasaan baru? Tapi.. mengapa terlalu banyak yang pergi?”

“Sebentar, ada yang aneh! Lihatlah! Para Heglog yang ada hanya sekumpulan Heglog tua dan anak-anak!” seru Hoya dalam bisikan keras.

Jantung Sandara langsung berdetak cepat ketakutan setelah melihat arah yang ditunjuk oleh Hoya.

“Tidak mungkin! Para Heglog ini terlalu lemah. Mereka tidak mungkin bisa..” Taecyeon langsung menghentikan kata-katanya. Mukanya berubah pucat. Ditatapnya Sandara yang terlihat pucat, tegang dan gemetar.

“Oppa.. Jangan katakan kalau.. Keluargaku.. Gyfraddia.. Oppa.. Kyungsoo.. Taecyeon oppa, Kita harus kembali..” Sandara bicara dengan bibir bergetar. Ia bahkan nyaris menangis.

Sementara di tempat lain..

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah perkampungan Drygoni? Mengapa tidak satupun orang disini?” tanya Yuri tak percaya ketika melihat perkampungan yang mereka datangi ternyata kosong.

Disana-sini hanya terlihat rumah-rumah kecil dengan atap runcing yang dilingkari oleh ular-ular besar yang terbuat dari kayu.

“Ayo kita periksa.” Kata Yonghwa yang memang tak kenal takut itu. Ia menuruni bebatuan di tebing rendah tempat mereka mengamati dan berjalan berjingkat-jingkat ke perkampungan Drygioni. Di belakangnya, Yuri dan Gikwang mengikuti jejaknya.

“Hati-hati, bisa jadi ini jebakan.” Kata Gikwang waspada.

Ketiganya berjalan pelan-pelan, memeriksa desa yang sepenuhnya kosong itu. Mereka berjalan sangat pelan, menghindari timbulnya suara sekecil apapun.

“Lihat, ada sekelompok anak kecil dan juga para tetua disana.” Kata Gikwang menunjuk ke arah sudut desa dimana ada sekelompok anak tengah bermain dan beberapa wanita dan lelaki tua tengah berdoa di depan sebuah altar dengan patung ular besar.

“Dimana yang lain? Mengapa hanya mereka yang tersisa?” tanya Yonghwa seraya mendekati tempat itu.

“Lindungilah prajurit kami dalam perang ini ya Dewa.. Sudah saatnya musuh abadi hancur..”

Yuri tersentak mendengar kata-kata salah satu perempuan tua yang duduk di depan altar itu. Perang? Musuh abadi?

“Kurasa.. Kita berada di tempat yang salah! Kita harus segera kembali. Gyfraddia dalam bahaya!”

Setelah Yuri menyelesaikan ucapannya, ketiganya langsung berlari dalam kecepatan tinggi, kembali ke Gyfraddia.

Dan di tempat lainnya..

“Ada apa gerangan hingga kaum Gyfraddia mengunjungi kami hari ini? Apa ada sesuatu yang khusus?”

Kangta, sang pimpinan Centaurus bertemu secara langsung dengan para tamunya ketika Junsu, salah satu anggota kawanannya datang dan memberitahukan bahwa para Eifre dari Gyfraddia mencarinya.

Kyuhyun membungkuk hormat. “Perkenalkan, aku Kyuhyun, dan ini Kris dan Minho. Kami datang kemari sebenarnya dengan tujuan khusus. Kami ingin.. meminta bantuan.”

“Aku sudah tahu maksud kalian.” Jawab Kangta segera setelah Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

Tentu saja! Para Centaurus terkenal dalam bidang ramalan. Mereka membaca pergerakan bintang di langit hingga bisa mendefinisikan berbagai macam bentuk kemungkinan masa depan yang di sebut ramalan. Walaupun ramalan belum tentu selalu benar, tapi setidkanya para Centaurus telah mengetahui kaitan-kaitan yang akan terjadi di masa depan.

“Kami sudah melihat sejak lama bahwa suatu saat Gyfraddia akan bertemu kembali dengan masa lalu yang didukung oleh kekuatan besar. Dan hal ini merupakan ancaman besar. Kaum kalian bisa hancur dengan bergabungnya dua kekuatan ini. Ular dan tarantula bukan lawan yang mudah.” kata Kangta lagi.

“Untuk itulah kami datang, kami ingin meminta bantuan. Karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak ditambah kekuatan mereka, kami tidak yakin bisa menghadapi mereka sendirian.” Kata Kris dengan sopan.

“Kalian meminta kami untuk ikut berperang?” tanya Junsu dengan sedikit amarah dalam suaranya. Ia pun bergerak maju beberapa langkah dengan tatapannya yang tajam. Beberapa Centaurus di belakangnya ikut maju.

Kangta lalu mengangkat satu tangannya. Melihat itu, Junsu menghentikan langkahnya dan menahan diri di tempatnya.

“Maafkan kami, wahai pahlawan dari Gyfraddia.” Kata Kangta setelah Junsu terlihat tenang. “Tapi kami, Centaurus, adalah para pecinta damai. Kami tidak berperang. Kami hidup dengan nyaman dan hanya memikirkan kelangsungan bangsa kami. Kami tidak berperang apalagi memihak satu pihak dengan keuntungan di pihak lain.”

“Jadi kalian akan berdiam saja di sini seperti pengecut?” tanya Minho lantang.

“Tutup mulutmu! Bicaralah yang sopan kepada pimpinan kami.” Raung Junsu. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

“Tapi itulah kenyataannya. Pada saat kelompok lain sedang mati-matian mempertahankan sukunya, kalian akan diam saja dan menonton? Centaurus dan Gyfraddia sudah lama saling bersahabat. Apa kalian akan membiarkan sahabat kalian hancur begitu saja?” Minho masih mempertahankan pendapatnya.

“Tentu saja kami tidak mau melihat siapapun hancur. Tapi kami tidak mau ikut campur dengan hukum alam. Pergerakan langit sudah jelas, kami tidak boleh mencampuri urusan langit.” Jawab Kangta dengan suara arif seperti sebelumnya.

“Pikirkanlah ini, tuan. Heglog hanya mencari daerah kekuasaan baru, mereka ingin memperluas daerah mereka dan kebetulan saja kaum kami yang mempunyai daerah kekuasaan terluas. Sementara Drygioni ingin membalas dendam pada Gyfraddia. Jadi mereka bersekutu untuk melawan kami. Jika kami hancur, bukan tidak mungkin mereka datang kemari dan ikut menghancurkan kalian, bukan?” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar, berharap sang pimpinan mengubah keputusannya dan membantu kaum mereka.

“Kenapa mereka ingin menghancurkan bangsa yang bahkan tidak pernah mengganggunya sama sekali? Tidak masuk akal. Kami tidak akan memulai peperangan, apapun alasannya.” Kini nada suara Kangta terdengar cukup tegas.

“Lalu apa yang terjadi dengan Gyfraddia? Kami juga tidak punya masalah dengan Heglog. Tidakkah kalian sadari? Mereka menginginkan daerah kekuasaan yang besar beserta para pengikut baru. Apa kalian tidak menangkap maksud kami?” kata Minho dengan tak sabar.

“Diam!” bentak Junsu. “Kami adalah cendekiawan yang terhormat. Berani-beraninya kau mengatakan kami tidak mengerti maksud kalian tadi?”

“Minho!” Minho baru akan buka suara ketika Kyuhyun melarangnya dan memberinya tatapan memperingatkan.

“Tuan, dengarkan kami..” kata Kris dalam nada putus asa. “Kami juga ingin kedamaian. Siapa yang ingin bangsanya musnah? Tidak seorang pun bukan? Kami sama sekali tidak pernah mengganggu mereka, tapi beberapa dari kawanan kami telah di serang..”

Lelaki tampan nan jangkung itu terdiam sebentar, sedih mengingat sang kekasih yang tengah terluka saat ini. Ia menghela nafas sebentar lalu menatap Kangta lagi.

“Kami hanya ingin bantuan kalian. Ini adalah hutang kami kepada Centaurus. Jika suatu saat hal yang sama terjadi pada kalian, kami akan siap membantu.”

“Omong kosong! Kami selalu cinta damai, siapa yang hendak menghancurkan Centaurus?” Junsu kembali berbicara dengan cemooh dalam suaranya.

Kangta tampak menimbang beberapa lama. Namun akhirnya ia bicara. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melibatkan kaum kami dalam pertempuran yang bukan milik kami.”

Minho dan Kris baru akan memprotes ketika Kyuhyun kembali menahan mereka. Ia lalu membungkuk hormat lalu undur diri dari sana.

“Sia-sia kita datang sejauh ini. Mereka sangat mengecewakan.” Kata Minho jengkel ketika mereka sudah cukup jauh dari daerah milik Centaurus.

“Aku tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan pimpinannya tadi. Ia tampak begitu bijaksana tapi terlalu penuh perhitungan dan tidak mau ambil resiko.” Kris menambahkan.

“Tidak ada jalan lain. Ayo kita pulang, mungkin tabib sudah berhasil mengobati Kyungsoo dan Jongin. Setidaknya mereka mungkin sudah sadar dan setengah pulih. Gyfraddia jauh lebih membutuhkan kita daripada berlama-lama di sini.” Kata Kyuhyun lalu dalam hitungan detik ia bertransformasi dalam bentuk serigala berbulu putih yang diikuti oleh kedua temannya.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh. Kangta mendekatinya dengan langkah-langkah mantap. “Cepatlah kembali ke desa kalian. Mereka dalam bahaya. Drygioni dan Heglog akan segera tiba di sana. Tepat sebelum tengah malam, desa kalian akan diserang. Dan kemungkinan besar kalian akan musnah. Semoga kalian beruntung.”

Kyuhyun melolong sebagai tanda terima kasihnya. Ketiganya lalu berlari cepat menembus hutan, kembali ke desa mereka yang tercinta.

*

            Yunho tersenyum lega melihat Kyungsoo dan Jongin akhirnya bisa kembali sadar bahkan sehat seperti sedia kala. Ramuan tabib mereka memang yang terbaik. Menurutnya, masa tidak sadar alias pingsannya Jongin dan Kyungsoo lah yang memakan waktu lama karena racun telah melumpuhkan mereka. Namun setelah tiga hari mengkonsumsi ramuan obat sang tabib, keduanya akan langsung tersadar dan sehat seperti biasa walaupun stamina mereka belum sepenuhnya pulih. Dan kata-kata tabib terbukti. Keduanya bahkan tidak seperti pernah sakit sebelumnya.

Kini yang dicemaskan Yunho hanya satu, ketika gelap tiba. Karena jika mentari terbenam, seperti perkiraannya, desa mereka akan kedatangan tamu. Ia tidak mencemaskan dirinya, ia hanya mencemaskan seluruh penduduk desa juga keluarganya.

”Ingat, begitu peperangan dimulai, segeralah melarikan diri ke utara. Jika beruntung kalian akan menemukan Kyuhyun, Kris dan Minho di sana. Jika kalian tidak bertemu mereka di tempat Centaurus, teruskan berlari hingga ke kota. Bertransformasilah menjadi manusia biasa dan jangan pernah melihat ke belakang.” kata Yunho memaparkan rencananya pada Kyungsoo dan Jongin untuk ketiga kalinya sejak mereka terbangun.

Keduanya mendengarkan dengan sedih. Tak pernah disangka bahwa mereka semua harus terpecah seperti ini apalagi keduanya baru berusia masih sangat muda.

Alpha.. Apa hanya karena kami masih terlalu muda maka kami tidak diikutkan berperang? Apa kami dianggap belum cukup kuat? Apa semua orang takut kami akan merepotkan?” Jongin bertanya. Ada protes dalam nada suaranya.

Yunho menggeleng. “Umur dan kekuatan bukan masalah. Kami sangat bangga kepada siapa saja yang rela mengorbankan diri untuk terjun ke medan perang. Tapi kami perlu keturunan. Apa kalian ingin Gyfraddia musnah sepenuhnya?”

“Tapi kita akan kuat jika bertarung bersama. Kita bisa memenangkan pertarungan ini walau.. Kesembilan Eifre sudah pergi.” kata Kyungsoo sedikit keras kepala. Awalnya ia sedih bercampur marah karena Kris pergi meninggalkannya. Namun setelah tahu alasan sang Alpha, ia justru berharap Kris tidak kembali ke desa mereka dan ia bisa selamat dari bahaya.

“Kita juga bisa kalah, adikku. Dan bagaimana jika hal itu terjadi? Keputusanku sudah bulat. Kerjakan seperti rencana.” kata Yunho tegas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah para Henuriad yang tengah menyusun strategi perang.

Sang Arweinyd yang melihat kedatangannya mengangguk. “Alpha.. Apa ada ide lain? Strategi kami seperti ini.”

Yunho memperhatikan gambar yang digambar oleh Jinyoung di atas perkamen tua besar yang diletakkan di atas meja batu besar. Dengan cepat ia mempelajari strategi itu.

“Aku pikir ini akan berhasil. Dengan para Henuriad di sisi kanan dan kiri berbaur dengan sisa penduduk, para pendekar bersama ayah di lini depan, aku rasa sudah bagus. Sebagian Rhyfel akan nenempati seluruh perbukitan dan sebagian lagi akan menyerang dari hutan dan mengepung mereka dari belakang. Tapi ada yang kurang.. Dimana aku?”

Jinyoung berdehem sebentar lalu menatap sang Alpha. “Hm.. Kami memintamu untuk bersembunyi sejenak. Kami akan menghadapi perang ini sendirian.”

Air muka Yunho berubah keras. “Apa? AKu tidak akan bersembunyi. Aku akan ikut berperang. Syr, aku adalah Alpha, mana mungkin aku bersembunyi sedangkan suku tengah berperang demi kelangsungan hidup kita.”

“Justru karena itu!” bantah Jinyoung tak kalah kerasnya. “Kau telah menyingkirkan para Eifre. Lalu apa gunanya masih ada suku kita di luar sana namun mereka tidak punya pemimpin? Mereka butuh seseorang yang bisa membimbing mereka dan membangun kembali Gyfraddia yang mungkin saja hanya tinggal puing-puing malam nanti.”

“Aku tidak akan bersembunyi. Aku tetap akan ikut berperang. Aku akan berada di lini depan, bersama ayahku.” Yunho masih tetap mempertahankan keinginannya.

“Tapi Henuriad dan Arweinydd sendiri telah memutuskan bahwa kau tidak diikutsertakan dalam perang ini. Keputusan tidak dapat diubah.”

“Aku tidak peduli dengan keputusan kalian. Bukan berarti aku tidak menghormati kalian smeua. Tapi aku lebih memilih mati di medan perang daripada harus menyaksikan saudara-saudaraku terluka sementara aku bersembunyi.”

Dan kata-kata Yunho yang merupakan keputusan mutlaknya membuat sang ibu tersenyum puas sekaligus bangga.

*

            Malam menjelang. Bulan purnama tampak begitu besar dan sempurna, berada di sisi timur yang perlahan memposisikan diri semakin ke tengah langit. Penduduk Gyfraddia telah bersiap. Para wanita dan anak-anak telah diungsikan. Para pejuang telah menanti di lini pertahanan sesuai strategi yang di tetapkan oleh para Henuriad.

Alpha.. mereka semakin dekat..”

Yunho mendengar suara Kyungsoo di kepalanya. Ia dan adik-adiknya memang mempunyai bakat alami dalam diri mereka. Jika Yunho punya naluri yang tajam, Sandara punya pendengaran yang tajam sedangkan penglihatan Kyungsoo sangat jelas. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat baik dalam gelap. Maka begitu ia melihat ratusan orang-orang dari arah barat, ia langsung melaporkannya pada kakaknya.

“Aku akan memberitahukannya pada yang lain. Ingat pesanku, begitu pertempuran dimulai, kau dan Jongin harus pergi ke utara.” Kata Yunho dalam kepalanya yang tidak mendapat respon sama sekali dari adiknya. Ia tahu, Kyungsoo tidak ingin pergi, jadi ia akan berpura-pura tidak mendengar.

Yunho menoleh pada ayahnya, yang akhirnya menyerah dan mengijinkannya untuk ikut berperang dengan catatan kalau mereka diambang kekalahan, Yunho harus segera pergi dan mencari sisa Eifre di luar sana, dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mereka sudah dekat, ayah. Sudah saatnya..”

Malam itu, hanya Yunho, pejuang dan para Rhyfel yang bertransformasi menjadi serigalanya sedangkan sisanya tetap dalam wujud manusia termasuk ayah Yunho sendiri. Karena ia adalah seorang Arweinydd, maka ia bisa mengerti kata-kata Yunho walaupun ia hanya menatap mata anaknya.

Dan memang betul seperti perkataan Yunho. Tak lama kemudian, ratusan sosok-sosok mengerikan muncul dari dalam hutan, berjalan dengan langkah-langkah berat yang mengerikan. Dan betapa mengerikannya kali ini karena selain sosok-sosok bersisik alias Drygioni dan sosok bungkuk seperti tarantula alias Heglog, ada sekumpulan besar sosok lain yang sangat menakutkan. Mereka ternyata juga meminta bantuan Troll, makhluk-makhluk bertubuh besar berwarna hijau yang mendiami gua-gua di kaki gunung.

Hati Yunho langsung mencelos. Drygioni dan Heglog sendiri saja sudah merupakan ancaman berat untuk mereka, bagaimana dengan bantuan Troll juga? Tamatlah riwayat mereka kini. Ia bisa melihat Jiyong dan Taeyang diantara pada Heglog, tersenyum angkuh seakan sebentar lagi mereka akan menyantap Yunho dalam cakar-cakar mengerikan mereka.

“Kyungsoo.. Jongin.. pergilah sekarang. Jangan buang waktu lagi.” Kata Yunho dalam kepalanya, diantara geramannya.

“Tapi hyung.. Bagaimana mungkin kami pergi meninggalkanmu?”

Alpha.. kami mohon, biarkan kami membantu.”

“Pergi..!!!” raung Yunho. Ia mengabaikan protes-protes kecil Kyungsoo dan Jongin dan berlari ke atas tebing. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas berapa banyak pasukan musuh yang kini hanya tinggal beberapa meter lagi dari lini depan, tempat ayahnya memimpin pasukan mereka. Tanpa ia ketahui, Kyungsoo dan Jongin mengabaikan perintahnya dan diam-diam menyelinap ke hutan, dimana sebagian dari para Rhyfel menunggu untuk menyerang.

Dengan dibayangi oleh rembulan, berada di salah satu tebing yang cukup tinggi, bagaikan terompet perang yang dibunyikan sebelum perang dimulai, Yunho melolong keras nan perkasa, membuat para pejuang Gyfraddia bersiaga di tempatnya. Dan begitu lolongan Yunho berhenti, sang Arweinydd pun berseru lantang.

“Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Lalu dua kubu yang tadinya terpisah saling mendekati dan pertempuran besar pun telah di mulai.

*

            “Kita masih sangat jauh.. Ditambah dengan jalan pintas yang kita tempuh saat ini membuat tenaga kita terkuras lebih banyak.” Ujar Minho dalam kepalanya kepada Kyuhyun dan Kris yang berlari kencang di sampingnya.

“Tapi ini adalah jalan terdekat. Jika kita beruntung, kita bisa sampai dalam waktu satu jam. Hanya jika kita berlari dalam kecepatan seperti ini.” Kris menambahkan.

“Kita tidak boleh mengurangi kecepatan, aku sangat takut kalau kita terlambat.” Kata Kyuhyun dalam ketakutan tinggi.

Ketiganya terus berlari membelah hutan. Jalan yang mereka lewati sungguh berbahaya. Melewati tebing-tebing terjal, bebatuan tajam, lumpur hisap hingga semak belukar berduri. Entah sudah berapa kali mereka terluka dalam perjalanan pulang kali ini. Namun mereka terus berlari, seolah luka yang mereka alami bukan apa-apa dibandingkan dengan nyawa-nyawa yang akan melayang malam ini.

“Aaarrgghhh…!”

Dekingan keras membelah malam. Kris dan Minho menghentikan larinya ketika Kyuhyun tergelincir dari tebing dan tubuhnya menghantam bebatuan tajam di tepi sungai. Kyuhyun mencoba bangkit, tapi sangat sulit baginya untuk melakukannya karena ada sesuatu yang salah, kaki belakangnya terluka.

“Kyuhyun.. Kau baik-baik saja?” tanya Minho segera setelah ia turun dari tebing dan menghampiri Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja, tapi kakiku.. Sakit sekali..” keluh Kyuhyun. Ia terus mencoba bangkit namun tetap tidak berhasil hingga ia menangis.

“Kyuhyun, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Kami akan selalu ada disini menunggumu. Ayo coba lagi.” Kata Kris menyemangatinya.

Kyuhyun mencoba lagi dan lagi selama hampir lima belas menit, membuat Minho dan Kris mengamatinya dengan sama putus asanya.  Ia hampir menyerah lalu ia teringat sang Alpha. Sosok yang ia kagumi dan cintai sepenuh hati. Jika ia tidak bangkit malam ini, mungkin ia tidak akan pernah melihat Yunho lagi seumur hidupnya.

Alpha.. Tunggu aku.. Aku akan datang padamu.. Tunggulah aku..” kata Kyuhyun dalam hati.

Dan entah kekuatan dari mana, dengan sekali sentak, ia bisa berdiri tegak. Walaupun kakinya terasa perih, walaupun darah segar mengucur deras membasahi kemilau bulu putihnya, namun tekad kerasnya membuatnya melupakan sakit yang ia derita saat ini.

Dengan kekuatan baru,  ia berlari memimpin kedua temannya, berlari ke tempat seharusnya ia berada kini, di samping sang Alpha.

“Yunho hyung.. Tunggu aku..”

*

Kaisooho

To be continued..

Million Words – Chapter 4

Title                      : Million Words

Rate                      : T+

Genre                   : BL, Romance, Angst

Pair                        : ChangKyu, BinKyu

Cast                      : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star                : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning              : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 4

‘Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku mencintai Changmin dan aku akan terus ada disampingnya.’

Kata-kata itu terus bergema di kepala Kyuhyun tanpa henti. Sebenarnya ia tidak perlu berpikiran seperti itu andai saja Kim Woobin tidak menghadiahkan sebuah ciuman singkat padanya seminggu lalu.

Ciuman itu seharusnya tidak berarti apa-apa. dan memang seharusnya seperti itu. Namun entah mengapa Kyuhyun tidak bisa mengabaikan debaran-debaran aneh di jantungnya saat itu. Debaran yang biasanya hanya untuk Changmin. Dan ia benci harus mengakui kalau ia sempat merasakan debaran seperti itu untuk seseorang anak kecil seperti Kim Woobin.

Kyuhyun bersandar di kaca ruang guru yang menghadap langsung ke lapangan basket di bawah sana. Memandangi anak-anak murid yang melakukan aktivitas di sekitar lapangan basket. Bersenda gurau, bermain basket, mengobrol atau hanya duduk di sana sambil memainkan smartphone mereka.

Kemudian pandangan Kyuhyun jatuh pada sosok lelaki tegap yang belakangan membuat kepalanya pusing setengah mati dengan tingkah, kata-kata dan perlakuan manisnya. Dan nyaris membuat Kyuhyun terbuai. Kim Woobin tengah mengobrol dengan beberapa teman perempuannya sementara kedua kelincinya duduk dengan tenang di samping kanan kirinya bagai pengawal yang tengah menjaga rajanya.

Lelaki itu tampak bicara dengan wajar namun sepertinya ia tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari tatapan-tatapan memuja dari para gadis di sekitarnya. Memang sudah sewajarnya para gadis itu menyukainya. Apa kurangnya anak itu? Walaupun dia malas dan pemberontak, namun ia tampan, cerdas, baik hati dan kaya raya.

Dan sudah semestinya ia bergaul dengan sesamanya. Bahkan ia seharusnya menjalin hubungan dengan gadis seumurannya. Kalaupun ia tidak menyukai wanita, setidaknya ia berhubungan dengan lelaki sepantaran umurnya, bukan dengan Kyuhyun. Salah dan menyalahi aturan. Walaupun dalam cinta segalanya sah-sah saja, tapi dalam kehidupan nyata, perbedaan umur mereka yang cukup jauh apalagi dengan status Kyuhyun sebagai guru membuat mereka memang tidak boleh bersama dalam arti khusus.

Kembali Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri. Ia telah berjanji dalam hati bahwa ia akan menghadapi Woobin dengan perasaan yang netral dan ia harus kembali ke jalan yang lurus, bersama Changmin.

“Mengapa kau selalu melamun akhir-akhir ini?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya lalu menoleh dengan senyum yang dipaksakan. “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.”

Lee Hyukjae menyipitkan matanya. “Berpikir? Baiklah, aku ralat. Mengapa kau selalu berpikir belakangan ini?”

“Bukankah semua manusia selalu berpikir setiap hari?” Kyuhyun balas bertanya.

“Kau tahu maksudku.”

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia tidak ingin membicarakan hal ini dengan siapa-siapa. Hal ini cukup dirinya sendiri yang tahu sebagai rahasia kecil dan gelap didirinya, tidak untuk dibagi ke siapapun.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja memang aku sedang ada sedikit masalah.”

“Dengan Changmin?”

Kyuhyun memberenggut. “Mengapa kau selalu menyangkut-pautkan segala sesuatunya dengan Changmin? Apa aku tidak punya kehidupan lain selain Changmin?”

“Memang tidak. Aku sudah cukup lama mengenalmu dan hidupmu selalu seputar Changmin. Jadi jika kau jadi seperti ini, sudah pasti ada hubungannya dengan dia.”

Kyuhyun jadi kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa menyalahkan Hyukjae yang setidaknya cukup dekat dengannya di sekolah hingga tahu seperti apa kehidupan sehari-hari Kyuhyun. Namun sekali lagi, Kyuhyun enggan buka mulut. Cukup ia sendiri yang tahu.

*

Rona merah muda yang menjalar di pipinya ketika Changmin memberinya pujian atas inisiatif Kyuhyun untuk membelikan iPad baru untuk Changmin sebagai organizer.

“Terima kasih, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku hanya tidak mau kau kerepotan dengan laptop. Bukankah iPad jauh lebih praktis?”

“Tentu saja. Sekali lagi, terima kasih, Kyu. Kau benar-benar mengerti diriku.”

“Kapan aku tidak mengerti dirimu?”

Itu adalah percakapan terakhirnya dengan Changmin sekitar dua minggu yang lalu sebelum tunangannya itu pergi ke Tokyo. Dan seharusnya Changmin sudah ada di apartemen saat ini, karena pesawatnya tiba pagi tadi.

Akhir-akhir ini Changmin jauh lebih sibuk daripada sebelum-sebelumnya. Yayasan keluarganya benar-benar menarik minat banyak sekali orang di luar sana yang mengharuskan mereka membuka beberapa cabang hingga ke Tokyo.

Andai Kyuhyun tidak punya pekerjaan, ia pasti akan dengan senang hati ikut ke berbagai tempat yang Changmin datangi, walaupun natinya ia hanya akan menonton apa yang dilakukan kekasihnya itu. Tapi tak apa, asal ia bisa terus bersama Changmin daripada sendirian di apartemen mereka.

Sebuah bunyi bip kecil membuat Kyuhyun segera meraih ponselnya dari balik saku celananya dan membaca pesan yang masuk dengan riang. Namun wajahnya berubah ketika ia melihat nama si pengirim pesan.

(From : Idiot) “Mengapa kau terlihat selalu murung akhir-akhir ini? Aku merindukan senyummu.:(“

Kyuhyun mengabaikan pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Namun setelah sepuluh menit, kembali ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan lain masuk.

(From : Idiot) “Mengapa kau tidak membalas pesanku? Jangan memaksaku untuk nekad. Tolong balas pesanku agar aku tahu kau baik-baik saja.”

Kyuhyun memberenggut melihat pesan itu. Mengapa anak kecil ini mudah sekali mengancamnya? Dengan cepat ia membalas pesan itu.

(From : Sweet Pumpkin) “Kau masih juga tidak mengerti mengapa aku murung?”

(From : Idiot) “Bukankah aku sudah minta maaf untuk kesekian kalinya mengenai ciuman itu? Harus berapa kali aku minta maaf? Andai aku tahu bahwa tindakanku tempo hari bisa menghilangkan senyummu, aku tidak akan pernah melakukannya.”

(From : Sweet Pumpkin) “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku enggan membicarakan hal itu lagi? Mengapa kau terus-menerus membicarakannya?”

(From : Idiot) “Karena itulah yang membuatmu murung. Apa yang harus kulakukan agar kau mau tersenyum lagi? Aku bahkan rindu omelanmu.Apa aku harus menciummu sekali lagi agar kau langsung bereaksi?”

(From : Sweet Pumpkin) “Ya! Bukankah sudah kukatakan berhenti membicarakannya? Dan jangan berani menciumku lagi!”

“Anak ini benar-benar membuatku naik darah! Kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan..”

“Akan apa?”

Kyuhyun tersentak. Tanpa memutar tubuhnya pun ia tahu siapa yang tengah berdiri di belakangnya. Tentu saja, ia lupa bahwa Kim Woobin suka mengikutinya kapan dan dimana pun. Bagaimana mungkin ia melupakan hal sesederhana itu?

“Berhenti mengikutiku!” kata Kyuhyun ketus lalu melanjutkan acara jalan kakinya ke halte bus seolah tidak ada interupsi sebelumnya.

Tapi langkah-langkah berat di belakangnya tidak juga berhenti mengikutinya dan harapan Kyuhyun agar bertemu banyak orang di halte bus hancur ketika melihat halte tersebut kosong melompong. Yang artinya hanya akan ada dirinya dan Woobin di sana.

“Mengapa kau menolak aku untuk mengantarmu?”

Masih dengan nada ketus, Kyuhyun menjawab. “Aku bisa pulang sendiri.”

Lalu ponselnya berbunyi lagi, kali ini sebuah nada dering yang Kyuhyun atur khusus untuk Changmin.

“Changmin-ah..!” seru Kyuhyun bersemangat, mengabaikan raut muka menjengkelkan milik Woobin di sebelahnyal ketika ia menyerukan nama Changmin dengan mesra.

“Kyuhyun-ah, apa kau sudah selesai mengajar?” tanya Changmin di seberang sana.

“Tentu saja. Aku sedang menunggu bus. Sebentar lagi aku akan tiba di apartemen. Tunggu aku di sana, ne?”

Sunyi sesaat. Wajah ceria Kyuhyun berangsur-angsur lenyap. Ia kemudian menggigit bibirnya dengan tampang sedih.

Woobin yang sedari tadi memperhatikannya jadi sedikit penasaran. ‘Nah, apa maksudnya itu? Mengapa wajahnya jadi seperti itu?’

“Jadi.. Kau tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini?”

‘Brengsek!’ maki Woobin dalam hati. Kembali ia memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun. Kini lelaki itu menggigit bibirnya lebih keras seraya mati-matian menahan gumpalan air yang mengambang di pelupuk matanya.

Dada Kim Woobin terasa berat. Entahlah, melihat Kyuhyun seperti ini membuat emosinya bergejolak. Lelaki tolol mana yang tega meninggalkan kekasih seperti Kyuhyun seperti ini?

“Tidak apa-apa, sungguh. Aku memang sedikit pilek, tapi aku sudah meminta obat di klinik tadi. Besok pasti akan sembuh. Baiklah, jaga kesehatanmu. Hubungi aku kalau kau sudah tidak sibuk lagi. Sampai jumpa.”

Begitu Kyuhyun memutuskan pembicaraan itu, pecah sudah tangisnya. Sakit di hatinya membuatnya lupa dimana ia berada saat itu dan bagaimana ia sudah berada dalam pelukan Woobin. Dengan perasaannya saat ini, dengan kesedihannya serta kebutuhannya akan teman bicara, ia jadi lupa mengusir Woobin.

Setelah puas menangis, barulah Kyuhyun menyadari bahwa ia tengah memeluk Woobin dengan erat. Seharusnya ia melepaskannya, seharusnya ia segera memisahkan tubuh mereka yang bersatu dan seharusnya ia merasa malu atas tindakannya ini.

Namun sebaliknya, ia merasakan hal yang berbeda. Ia tidak ingin melepaskan dekapan hangat itu. Bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya dari dada bidang itupun ia enggan. Dan anehnya, ia merasa sangat nyaman disana, rasanya seperti.. di rumah.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mendengar suara berat Woobin menanyainya seraya mengelus punggungnya lembut. Karena tak mendengar jawaban apapun, Woobin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah guru Geografinya itu.

“Lihatlah, wajahmu sampai memerah karena terlalu banyak menangis. Ayo, aku akan mengantarmu pulang lalu kau bisa makan dan beristirahat.”

Andai saja Woobin tahu wajah Kyuhyun memerah bukan karena menangis, mungkin anak nakal itu akan tertawa terbahak-bahak sambil terus menggoda Kyuhyun.

*

“Makanlah, nanti sup mu dingin.”

Kyuhyun mengamati semangkuk sup yang baru saja selesai dimasak oleh Woobin. Asap menggepul di atas mangkuk itu disertai aroma yang enak, membuat perut Kyuhyun semakin meraung minta diisi.

“Aku baru tahu kalau kau bisa memasak.” Kata Kyuhyun setelah menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Dan ia harus mengakui bahwa masakan Woobin memang lezat. Sungguh kontras dengan wajah si pembuat sup yang begitu dingin.

“Kau tidak pernah belajar untuk mengenalku, wajar saja semuanya terasa asing bagimu.” Kata Woobin seraya ikut duduk di samping Kyuhyun, meraih remote televisi kemudian menyalakan benda kotak bermerek mahal dengan tipe keluaran terbaru itu.

“Jangan sakit hati.”

Woobin tertawa. “Sama sekali tidak. Justru dengan begitu, aku terasa sangat misterius bagimu, bukan? Jauh lebih menantang.”

Keduanya lalu terdiam setelah itu. Kyuhyun sibuk menghabiskan supnya sedangkan kedua mata Woobin terpaku di televisi. Lama-kelamaan Kyuhyun baru menyadari bahwa Woobin sebenarnya tidak menonton. Tatapan lelaki itu kosong dan matanya sama sekali tidak bergerak mengikuti pergerakan di layar televisi.

Kyuhyun ingin menyadarkan lelaki itu namun harga diri menahannya. Maka ia meletakkan mangkuk nya di meja dengan bunyi berisik agar Woobin tersadar. Dan benar saja, segera setelah itu, Kim Woobin menoleh padanya lalu tersenyum.

“Kau sudah selesai makan? Beristirahatlah.”

“Aku tidak lelah.”

“Tapi kau sedang sedih. Tidur akan sangat baik untukmu. Kau bisa melupakan kesedihanmu sejenak.”

“Aku ingin minum sedikit baru tidur.”

“Tidak!” sanggah Woobin dengan nada bossy-nya seperti biasa. “Kau akan mengajar besok pagi. Kau butuh istirahat.”

“Tapi aku ingin minum sedikit untuk meredakan kesedihanku.” Kyuhyun masih bertahan dengan keras kepalanya. Anehnya ada rengekan dalam nada suaranya.

Woobin menatapnya dengan galak. “Tidak akan kubiarkan kau minum walau setetes pun. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Aku akan pergi jika kau sudah benar-benar terlelap.”

Mungkin terdengar biasa saja. Mungkin orang-orang akan membenci sikap berlebihan Woobin atau sikap Kyuhyun yang membiarkannya diatur oleh anak kecil apalagi orang itu sudah jelas-jelas menyukai dirinya. Namun, bagi Kyuhyun ini bagaikan angin segar. Woobin memperlakukannya dengan normal.

Tidak, jangan berpikir bahwa Changmin tidak memperlakukannya dengan normal. Tapi ia sendiri tidak bisa mencegah perasaan hangat yang terbit di hatinya. Ketika Woobin memeluknya kala ia menangis, kala Woobin berdebat dengannya hingga melarangnya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kyuhyun menyukai semua itu. Ia merasa gairahnya kembali membara. Ia seperti.. hidup kembali.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun langsung mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak bisa memanggilku dengan sopan? Setidaknya panggil aku Kyuhyun-ssi.”

“Bagaimana dengan Kyuhyun-ah? Ah.. Itu sama saja dengan panggilan tunanganmu itu. Aku akan memanggilmu Kyuhyunnie.” Kata Woobin dengan cengiran lebar.

Cebikan di bibir Kyuhyun semakin dalam, walau sebenarnya dalam hatinya ia menyukai kata ‘Kyuhyunnie’. Terdengar manis walau sedikit kekanakan.

“Jangan menggodaku.”

Kyuhyun segera melepaskan tautan cebikan di bibirnya ketika jemari Woobin menari diatas permukaan bibirnya.

“Aku benar-benar terpesona olehmu.. Aku.. Sulit sekali mengabaikannya..”

Genderang di jantung Kyuhyun bertabuh dengan kencang ketika wajah Woobin mendekat dan semakin mendekat hingga Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di wajahnya.

Dan ketika bibir mereka bersatu, Kyuhyun hanya bisa terdiam. Terpana akan buaian itu. Terkejut akan manisnya bibir lain yang dengan berani menjamah miliknya saat itu. Kemudian Woobin melepaskan kecupannya. Namun ia tidak menarik wajahnya menjauh, melainkan tetap nyaris menempel. Mata keduanya saling menatap, seolah saling memberikan pesan.

Detik berikutnya, entah siapa yang memulai, mereka sudah mulai saling memagut dengan panas. Bibir keduanya saling beradu dalam tempo cepat, berusaha saling menghancurkan bibir satu sama lain. Ketika Kyuhyun menghisap keras, Woobin juga melakukan hal yang sama, membuat Kyuhyun semakin bersemangat melahap bibir kenyal dalam pagutannya itu.

Lidah mereka saling bermain bagai dua sahabat yang baru saja bertemu setelah terpisah sekian lama, mengalirkan getaran ke seluruh tubuh Kyuhyun. Apalagi tangan Woobin sudah mulai beralih dari mengelus punggung Kyuhyun lalu turun ke paha dan mulai meremas kasar di sana.

“Ahhhhh…”

Kyuhyun hanya bisa mendesah di sela-sela ciuman mereka. Satu tangannya mulai menjambak bagian belakang rambut Woobin sedangkan tangan lainnya menggesek kasar dada bidang lelaki itu.

Ciuman mereka terlepas, Woobin mulai menciumi pipi lalu turun dan menjamah leher jenjang Kyuhyun dengan jilatan-jilatan memabukkan tanpa meninggalkan bekas di sana. Lidahnya menari-nari dnegan lincah, membuat tubuh Kyuhyun semakin bergetar dibakar gairah baru.

“Ohhhh..”

Desahan Kyuhyun semakin kencang tatkala Woobin mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan mendaratkan kecupan serta jilatan lain di sana. Benar-benar membuat Kyuhyun semakin panas dan melupakan akal sehatnya.

Lalu deringan ponsel Woobin menyadarkan mereka. Dengan terengah-engah Woobin meraih ponselnya dan cukup terkejut melihat nama si penelepon. Ia mengatur nafasnya sebentar lalu menjawab telepon itu dengan nada suara yang cukup aneh. Keningnya berkerut ketika mendengar suara di seberangnya lalu dengan sedikit marah, ia menjawab.

“Aku akan segera kesana.”

Ia lalu berpaling pada Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah merona merah. woobin lalu mengancingkan kembali kemeja Kyuhyun serta merapikannya sedikit.

“Aku harus pulang. Ibuku membutuhkanku. Beristirahatlah.” Katanya seraya mengelus pipi Kyuhyun. Sebelum ia bangkit, ia mendaratkan kecupan kecil di dahi Kyuhyun lalu bergegas meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Kyuhyun yang masih belum bisa percaya atas apa yang baru saja terjadi.

*

“Kau suka yang mana? Aku mau yang warna biru.” kata Kyuhyun seraya menunjuk sebuah gambar sofa di katalog yang tadi ia ambil di sebuah toko furniture. Kala itu ia dan Changmin tengah duduk santai di depan televisi sambil bercengkrama.

            “Terserah padamu. Apapun pilihanmu, aku akan mengikutinya.” jawab Changmin seraya mendekap tubuh Kyuhyun lebih erat agar Kyuhyun lebih merapat ke tubuhnya.

            “Eh?¨Terserah padaku? Tapi ini akan jadi sofa milik kita berdua. Kita akan memakainya bersama, bukan? Sudah seharusnya kita memilihnya bersama.”

            Changmin mengangguk. “Benar. Tapi aku menyerahkan keputusannya padamu. Apapun yang kau pilih, aku akan setuju.”

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatap sungai Han yang mengalir tenang di depannya seraya memeluk lututnya. Ia mengingat segala yang pernah ia lewati bersama Changmin. Ia selalu menjadi sosok mandiri ketika bersama tunangannya itu. Ia juga diberikan kebebasan penuh untuk menentukan sesuatu, Changmin akan manuruti kemauannya tanpa protes.

Kalian menyukai hal itu? Mungkin iya. Tapi tidak bagi Kyuhyun. Karena terkadang ia terkesan egois, tidak pernah memikirkan kemauan Changmin seperti apa.

“Mengapa kau selalu mengikuti kemauanku?” tanya Kyuhyun suatu hari.

            “Karena itu bisa membuatmu bahagia.” jawab Changmin dengan santai seolah mereka tengah piknik di alam terbuka.

            “Tapi, seharusnya kau juga mempertahankan pendapatmu. Jadi aku tahu apa yang menjadi keinginanmu.”

            “Kita hanya akan berdebat nantinya.”

            “Bukankah sesekali berdebat itu perlu?”

            Changmin menghela nafas. “Untuk apa berdebat jika masalah bisa terselesaikan dengan mudah?”

Itulah Changmin. Ia mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Ia selalu mengalah, sabar dan menuruti kemauan pasangannya. Siapapun pasti akan sangat betah menjadi kekasihnya. Begitu juga Kyuhyun sampai kemarin. Sampai ia menyadari bahwa sebenarnya banyak kekurangan dalam kisah cintanya dengan Changmin.

“Kyuhyun hyung, maaf menunggu lama. Ayo kita pergi. Aku sudah puas memotret.” Jongin tahu-tahu sudah muncul di depannya dan memamerkan kamera pocket-nya.

Kyuhyun memang meminta Jongin dan Myungsoo untuk memanggilnya dengan sebutan hyung di luar sekolah. Ia sama sekali tidak pernah meminta Woobin untuk melakukannya karena ia sudah tahu jawabannya. Saat ini mereka berempat tengah mengunjungi sungai Han di sore hari yang cerah itu.

“Maksudmu sudah puas bergaya dengan berbagai posisi sementara aku memotretmu?” sindir Myungsoo seraya menyipitkan matanya, menyindir sang sahabat.

Jongin hanya bisa nyegir kuda dengan sindiran Myungsoo. Keduanya memang selalu saling ejek tapi mereka tidak pernah sekalipun berselisih.

“Bukankah aku meminta kalian menemani Kyuhyun? Mengapa kalian meninggalkannya sendiri?” Woobin sudah muncul diantara mereka.

“Kami hanya memotret sebentar. Lagipula tadi hyung sendiri yang minta untuk sendirian.” Jawab Jongin cepat.

“Jongin benar. Aku sendiri yang meminta mereka untuk meninggalkanku. Aku hanya ingin menikmati sore hari yang cerah seperti ini di sungai Han. Aku takjub sekali. Sudah bertahun-tahun aku tidak menikmatinya seperti ini.” Kyuhyun membenarkan.

“Hahh? Hyung sudah lama tidak kemari? Huahhh.. Kau pasti sangat kesepian, hyung. Apa kau tidak punya teman untuk diajak kemari, hyung?” tanya Myungsoo dengan polosnya.

Woobin cepat menghardik sahabatnya itu. Jongin bahkan ikut menyikut pinggang Myungsoo agar lelaki itu tutup mulut. Barulah ia sadar bahwa kata-katanya sangat menyinggung. Woobin baru akan mengomeli sahabatnya ketika Kyuhyun menyanggahnya.

“Jangan salahkan mereka. Salahkan dirimu sendiri. Siapa yang tadi mengajakku kemari lalu menjauh dariku karena menerima telepon dari entah siapa.”

Woobin mengerling nakal. “Jangan cemburu. Itu dari ibuku. Akhir-akhir ini beliau memang lebih banyak bicara denganku.”

Entah mengapa raut wajah Woobin sedikit murung ketika topik pembicaraan harus menyebutkan kata ‘ibu’.

“Kau baik-baik saja?” Kyuhyun bertanya seraya menyentuh lengan anak bandel itu.

Kim Woobin tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Nah, sekarang sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar sekali.”

Dengan sekali sentak, tangan besarnya sudah menyelimuti Kyuhyun dan menempelkannya di tubuhnya. Kyuhyun hanya diam dengan perlakuan Woobin. Ia menegadah menatap lelaki itu. Walau ia tengah memeluk Kyuhyun seperti ini dan ia juga tengah bersama sahabat-sahabatnya, tetapi tampaknya ia menyimpan sesuatu, tampak jelas bahwa ia tengah sibuk berpikir.

Apa benar ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati.

*

            Kyuhyun sudah tertidur pulas ketika dirasakannya sebuah ciuman mendarat di pipinya. Bersamaan dengan itu, sebuah lengan hangat memeluknya dari belakang.

“Hei.. Apa kau sudah tidur?”

Suara lembut itu. Shim Changmin. Setelah memperpanjang masa tinggalnya hingga nyaris sebulan di Tokyo, akhirnya ia pulang juga malam itu.

Kyuhyun mengeliat bak anak kucing. “Kau sudah pulang?”

Changmin hanya menjawab dengan ‘hmm’ pendek. Wajahnya tenggelam di lekukan leher Kyuhyun dan menikmati aroma apel segar yang masih melekat di sana, aroma shampo Kyuhyun.

“Maaf kalau aku pergi terlalu lama. Dan maaf telah meninggalkanmu sendirian.”

“Tidak apa-apa. Kau pergi untuk bekerja, bukan? Aku mengerti.” ujar Kyuhyun diantara kantuknya.

“Aku merindukanmu..” kata Changmin lagi, masih membenamkan diri di tubuh kekasihnya.

“Aku tahu. Apa kau sudah makan? Kalau kau sudah, beristirahatlah. Besok kau akan kembali bekerja bukan?”

Changmin menolak dengan gelengan kecil. “Aku lebih lapar melihatmu daripada melihat makanan di meja makan. Aku merindukanmu..”

Kyuhyun bisa merasakan nafas Changmin memberat. Tangannya mulai bergerilya mulai dari dada, perut hingga paha Kyuhyun. Bibirnya sudah mulai memberi kecupan-kecupan kecil di leher Kyuhyun, bahkan terkadang ia menghisap lembut. Changmin ingin bercinta.

Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak merasakan getaran aneh dari rangsangan yang diberikan Changmin? Bahkan ketika Changmin mulai bermain di daerah khususnya, ia tidak merasakan sesuatu yang membakar birahinya.

“Ada apa denganmu?” tanya Changmin keheranan. Ia menghentikan aksinya seketika.

Kyuhyun menjawab tergagap. “A.. Aku baik-baik.. saja. Hanya lelah kurasa. Siswa kelas tiga sudah akan menempuh.. ujian. Jadi aku..”

Changmin menghela nafas panjang. “Baiklah, aku mengerti. Seharusnya aku juga beristirahat karena besok pagi aku harus segera kembali ke kantor. Walaupun ini pertama kalinya kau menolakku, tapi aku mengerti. Kita bisa melakukannya besok. Nah, selamat malam Kyuhyun-ah. Saranghae..”

Changmin lalu mengecup pipi Kyuhyun kemudian berbaring dan mulai terlelap. Kyuhyun menggigit bibirnya. Walaupun nada suara Changmin tidak terdengar kecewa sama sekali, namun di sudut hatinya ia merasa jahat.

Bagaimana mungkin ia menolak Changmin? Mengapa ia melakukannya? Mengapa ia tadi tidak merasakan apa-apa? Dan mengapa.. Ketika Changmin menyentuhnya, ia justru berharap Woobin yang melakukannya?

*

changkyu5

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 2

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, BL, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin,  Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 2

Bagai mimpi buruk, Yunho harus menghadapi situasi seperti ini. Niat awalnya adalah untuk mencari daerah kekuasaan tapi ia justru terperangkap menghadapi musuh baru. Sebagai pimpinan sudah seharusnya ia maju menerjang siapapun yang dianggap bisa mengancam keselamatan kawanannya.

Namun ia tidak ingin ada peperangan semacam ini. Ia tidak mau membuat masalah dalam kehidupan desanya yang  tenang. Selama ini ia hanya sering mendengar cerita para Henuriad mengenai betapa hebatnya suku mereka dalam membasmi semua musuh mereka. Ia tidak mau menimbulkan keresahan untuk seluruh penduduk desanya. Ia pimpinan para serigala muda, sang Alpha. Dan ia tidak ingin adanya kewaspadaan untuk setiap orang karena akhirnya mereka kembali ke masa perang.

Dan ketika sang pimpinan kecil Heglog itu menerjangnya dengan tombak mengerikan di tangannya, hal pertama yang Yunho lakukan adalah melolong keras memperingatkan para Eifre seraya menghindari tusukan yang diarahkan tepat ke lehernya itu.

“Yonghwa, Kris, bawa Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi.”

Begitu perintah bergema di kepala mereka, Kris dan Yonghwa segera menarik Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan protes ketiganya untuk ikut melawan. Tapi perintah sang Alpha sudah sangat jelas. Kewajiban mereka adalah menurutinya.

“Lawan aku, serigala lemah! Jangan terus menghindar, pengecut!” raung si pimpinan Heglog, masih terus berusaha menikam lawannya. Kali ini ia menusuk lebih cepat hingga nyaris menggores bahunya.

Alpha!”

Yunho bisa mendengar jeritan Yuri yang mencemaskannya. Taecyeon sudah menggeram tak sabar namun Yunho tetap memperingatkan para Eifre agar tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sebelum ia memerintahkan. Padahal kawanannya sudah sangat bernafsu untuk menanamkan cakar-cakar mereka ke sekujur tubuh anggota Heglog lainnya yang ada di sana.

“Cukup! Hentikan!”

Sang pemimpin Heglog berhenti menyerang. Ia masih menatap Yunho dengan tatapan marah namun ia menuruti perintah suara tanpa tubuh itu. Yunho mencari ke sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan sumber suara.

Berdiri dengan raut mengerikan diantara pepohonan, seorang Heglog lain yang tubuhnya sedikit lebih besar menatapnya angkuh.

“Mengapa kau ada disini? Jangan ganggu kesenanganku!” pimpinan Heglog berteriak kasar, masih tanpa menoleh.

Tawa dingin terdengar. “Jangan bertingkah seperti kaulah pimpinan suku. Walau kau adalah pimpinan Heglog muda. Jadi kalau kau mendengarku mengatakan berhenti, artinya kau harus berhenti, adikku.”

Sang pimpinan menampakkan ekspresi hendak membunuh mendengar saudaranya sendiri mempermalukannya di depan musuh. Tapi ia sendiri seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kakaknya.

Ketika ia menurunkan tombaknya, Heglog lain yang tadinya berdiri diantara pepohonan kini mendekati Yunho dan adiknya.

“Aku tahu siapa kau. Yunho, sang Alpha dari Gyfraddia, suku yang dulunya adalah suku terkuat.”

“Dulunya? Kami masih yang terkuat hingga saat ini.” Geram Yunho di kepalanya walau ia tahu hanya kawanannya yang bisa mendengarnya karena mereka tengah berada dalam wujud serigala.

Kembali lelaki bungkuk berbulu itu tertawa. “Aku tahu pasti kau memprotes dalam kepalamu dan aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku tidak berbohong. Jika kalian ingin membuktikannya, kalian harus berperang bersama kami jadi kalian akan tahu mengapa aku mengatakan kata ‘dulu’ pada kalimatku tadi.”

“Tapi tidak hari ini.” Heglog tadi melanjutkan. “Mungkin besok? minggu depan? Yang jelas bukan hari ini.” Kemudian ia menoleh pada adiknya. “Kita harus kembali sekarang.”

Gerutu kasar terdengar namun para Heglog lain tampaknya menurutinya. Lambat laun satu persatu meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, Heglog tadi berbalik dan berkata. “Ah, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Ji Yong dan adikku yang pemarah itu adalah Taeyang. Sampai bertemu lagi, Yunho. pertemuan berikutnya tidak akan seramah ini, aku janji.”

Lalu ia ikut melesat memasuki hutan, meninggalkan Yunho dan kawanannya yang masih terpaku.

*

            Yunho masih menerima gumam-gumam ketidaksetujuan sebagai bentuk protes dari kawanannya selama beberapa hari kedepan setelah insiden bersama para Heglog.

“Seharusnya kita ikut menyerang. Mereka sudah dengan tidak sopannya menghina suku kita!” kata Minho yang terkadang paling cepat tersulut emosi.

“Tapi kita membawa Kyungsoo dan Jongin hari itu, tidak mungkin kita membahayakan nyawa mereka hanya karena amarah kita.” Ujar Hoya. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai anggota kawanan serta sahabat dalam hal ini.

“Aku setuju dengan Minho. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menghina kita? Lagipula ia hendak mencelakai Alpha kita.” Gikwang ikut menyuarakan pendapatnya.

“Kalian tenanglah. Apa kalian lupa perintah Alpha tidak boleh dilanggar? Tidak seharusnya kalian bersikap seperti ini.” Yonghwa menengahi.

“Kita harus memikirkan jalan keluar bersama bagaimana agar tidak terjadi peperangan. Walaupun aku sendiri sangat ingin menghabisi mereka tempo hari.” Kris menambahkan.

“Aku yakin Alpha punya alasan tersendiri mengapa ia justru menghindar alih-alih menyerang.” Taecyeon akhirnya ikut bicara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.

Mendengar itu, semua yang ada di sana minus Yuri, Kyuhyun, Sandara, Kyungsoo dan Jongin menatap sang Alpha, menunggu ia angkat bicara dan menjelaskan tindakannya tempo hari setelah ia bungkam selama beberapa hari.

Masih mempermainkan batu-batu kecil dalam genggamannya lalu melemparkannya ke sungai hingga beberapa saat lalu akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Aku bukan pengecut. Walaupun tindakanku bisa dikategorikan sebagai pengecut oleh para Heglog tempo hari. Tapi aku punya beberapa pertimbangan. Pertama, kita jauh dari rumah, bahkan sangat jauh. Kita membawa serigala muda bersama kita, bagaimana mungkin kita bisa bertindak yang nantinya bisa membuat mereka terluka? Mereka adalah tanggung jawabku.”

“Dan lagi, sebisa mungkin aku menghindari pertarungan. Jika aku menyerang dan ia terluka, bisa jadi mereka benar-benar menyusun kekuatan dan menyerang kita. Apa kalian tega melihat senyum-senyum bahagia beserta kehidupan kita yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba terusik karena hal ini?”

“Kalaupun kita pada akhirnya akan berperang, alangkah baiknya jika bukan kita yang memulai. Kalau kita gegabah, kita hanya akan menghancurkan suku kita sendiri.”

Para Eifre terdiam. Mereka tahu, Yunho benar. Mereka tidak boleh ceroboh dengan bertindak cepat. Akan ada konsekuensi yang lebih besar menanti mereka jika mereka bersikeras.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?”

Ketujuh lelaki disana menoleh dan mendapati dua orang yang sangat mereka kenal berdiri di sana.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?”

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon, lelaki lain yang berdiri bersama Changmin menjawab sambil balik bertanya dengan nada bercanda.

Changmin dan Dongwoon adalah Dhampire, setengah Vampire dan setengah manusia. Tugas mereka adalah memburu Vampire yang berkeliaran di luar sana. Seperti halnya Dhampire, kaum Werewolf pun tidak menyukai kaum Vampire. Makhluk penghisap darah tersebut dianggap makhluk keji yang mengambil nyawa manusia demi memuaskan dahaga mereka. Werewolf dilarang keras bergaul dengan kaum seperti itu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?”

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh.. Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

“Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawab Dongwoon seraya menyeringai lebar.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris gembira, membuat Changmin dan Dongwoon tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

Sepeninggal Changmin dan Dongwoon, Yunho berpikir. Sepertinya kekuatan Heglog sudah meyebar luas. Apalagi ditambah dengan dukungan penuh dari suku Drygoni, tidak mustahil kalau mereka nantinya akan menyerang Gyfraddia.

*

            Salju sudah mulai turun, menyambut musim dingin yang membekukan tubuh itu. Tapi tidak bagi pada Werewolf. Tubuh mereka yang tetap hangat sehangat duduk di depan perapian dibalut selimut tebal dan ditemani secangkir cokelat panas. Mereka tidak pernah kedinginan walaupun bertelanjang dada dibawah guyuran hujan ataupun di bawah curahan salju.

Kyuhyun duduk di atas tebing yang cukup tinggi, memandang ke sungai di bawah, tempatnya biasa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sebentar lagi sungai itu akan sepenuhnya membeku dan baru akan mencair di bulan maret. Bukankah tempat ini jadi terlihat sangat romantis? Pepohonan dengan daun-daun cokelat yang masih bertahan di rantingnya tertutup salju, sungai yang nyaris beku, angin musim dingin berhembus lembut di hari yang cukup berawan ini.

Dan Kyuhyun harus menahan rasa irinya dalam-dalam melihat sepasang pemuda yang tengah bersenda gurau dengan mesra di bawah sana.

“Mesra sekali..” monolog Kyuhyun.

“Mesra? Siapa?”

Kyuhyun tersentak. Ia tidak menyangka akan ada yang orang lain yang bertransformasi menjadi serigala selain dirinya saat ini. Bukan berarti tidak boleh, tentu saja kawanan lain boleh bertransformasi kapan saja mereka mau. Hanya saja, di hari-hari seperti ini, biasanya teman-temannya akan bermain salju atau melakukan kegiatan lain dengan wujud aslinya. Maka ia tidak berpikir bahwa ada yang akan mencuri dengar perkataannya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati serigala paling gagah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya berjalan pelan mendatanginya. Dengan rambut-rambut halus berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan salju di sekitarnya, dengan rahang kokoh disertai gigi dan cakar-cakar tajam yang mampu membelah kayu tebal sekalipun, dengan mata tajam yang selalu membuat jantungnya berdebar menyenangkan.

Alpha..”

“Sedang apa kau disini? Dimana yang lain? Dan mengapa kau bertransformasi?”

Kyuhyun merebahkan dagunya di atas kedua kaki depannya yang merapat. “Aku tidak tahu kemana Taecyeon tengah membantu ayahnya. Hoya, Minho dan Jongin tengah berubah menjadi anak-anak liar pencinta salju. Yonghwa tengah pergi bersama Sandara, entah kemana sedangkan Gikwang seperti biasa, ia lebih mencintai kasurnya daripada hal lainnya.”

Yunho sudah ada di samping Kyuhyun. “Yonghwa dan Sandara tadi pamit kepadaku. Mereka ingin jalan-jalan berdua. Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau katakana mesra tadi?”

Kyuhyun tertawa dengan suaranya yang khas. Suara itu bahkan menggema indah di kepala Yunho. “Adikmu, siapa lagi? Lihatlah..”

Yunho mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Benar saja, di bawah sana tampak Kyungsoo dan Kris tengah bermesraan. Kris duduk bersandar di sebatang pohon sedangkan Kyungsoo bersandar di dada kekasihnya yang memeluknya erat. Kyungsoo asik bercerita sedangkan Kris senantiasa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di pipi atau rambut Kyungsoo.

Yunho tersenyum. Adik bungsunya itu memang suka sekali bercerita selain memasak dan membaca. Dan Yunho selalu bersyukur karena ia mendapatkan lelaki seperti Kris yang selalu sabar menghadapinya.

“Ya aku tahu, kau pasti mengatakan bahwa Kyungsoo beruntung telah mendapatkan Kris, bukan? Kalau tebakanku benar, kau salah. Kris lah yang selalu merasa beruntung telah mendapatkan si ajaib Kyungsoo, percayalah, adikmu terlalu populer. Jadi jangan kaget kalau Kris selalu menempel padanya. Ia adalah pencemburu yang sangat protektif.” Kyuhyun berbicara seolah memahami isi kepala Yunho.

“Aku terlalu sibuk mengatur para Eifre dan memenuhi permintaan Henuriad. Kadang aku kesal jika waktuku kurang untuk dihabiskan bersama Sandara dan Kyungsoo. Walaupun kadang aku pikir mereka tidak akan kesepian karena keduanya telah memiliki kekasih.” Jawab Yunho, matanya masih senantiasa memperhatikan gerak gerik dua pemuda yang kini tengah berciuman mesra itu.

“Oh mataku.. Tidak bisakah mereka melakukannya di tempat lain?” keluh Kyuhyun sambil tertawa kecil.

Yunho ikut tertawa. “Untunglah Kris begitu sopan. Ia bisa menahan hawa nafsunya dan tetap memperlakukan Kyungsoo dengan baik. Kau tahu, aku tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang lebih yah.. intim. Kyungsoo masih terlalu kecil dan.. Aku terlalu khawatir pada awalnya tapi kupikir Kris takkan melakukan hal-hal negatif, bukan? Bagaimana menurutmu?”

Kini tawa Kyuhyun lebih keras. “Mana mungkin ia bisa menahan diri jika Kyungsoo ada di dekatnya? Selain ia memang lelaki yang baik, ia tidak akan berani menyentuh anak Arweinydd dan adik sang Alpha jika ia masih tetap ingin diakui sebagai seorang Gyfraddia.”

Yunho menatap Kyuhyun dalam-dalam tanpa kata. Setelah membisu selama hampir semenit, ia akhirnya bicara. “Kau tahu, selalu menyenangkan berbicara denganmu. Kau selalu berada di tengah. Menjadi netral untuk siapa saja. Berpikirab dewasa dan sangat memperhatikan anggota muda. Walau terkadang kau sendiri sangat manja.”

Jika Kyuhyun tidak dalam bentuk serigala saat ini, ia yakin rona merah akan menjalar di seluruh permukaan wajahnya dan membuatnya sulit untuk menyembunyikannya dari Yunho. Yunho memang bukan lelaki yang bisa menggombal atau berkata-kata romantis. Tapi kejujurannya membuat siapa saja akan tersentuh.

“Dan aku sangat mengagumi warna putih yang menempel di tubuhmu itu. Indah sekali. Kau memang sangat rupawan dengan warna putih.” Yunho menambahkan sambil masih terus menatap Kyuhyun.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan di tanah ke udara, butiran salju yang turun mengikuti arah angin, membuat pandangan menjadi sedikit terhalangi. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu kakinya. Ketika ia ingin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di antara kedua kakinya, sesuatu terjadi.

Kaki-kaki kokoh sang Alpha berdiri tepat diatasnya, menghalangi angin kencang yang menerpa wajahnya. Sang Alpha berdiri di situ, melindungi Kyuhyun dengan tubuhnya yang besar. Ia tetap diam, tanpa sepatah kata pun. Tapi mampu membuat perasaan Kyuhyun melambung di udara.

Disini, tepat berada di bawah lindungan pemimpin yang dicintainya seraya menyaksikan mentari yang tertutup awan pelan-pelan turun ke peraduannya, di atas tebing kecil, di hutan mereka tercinta, merupakan tempat terindah untuknya. Dan ia tidak ingin beranjak dari sana sedetik pun.

*

            “Alpha..! Arweinydd mencarimu. Sekarang!”

Yunho yang tengah membelah batang pohon besar untuk dijadikan potongan-potongan kecil kayu bakar di belakang rumahnya cukup terkejut ketika melihat Gikwang datang dengan tergesa-gesa. Keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya pucat dan ia tampak shock.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho ketika mereka dalam perjalanan ke Pentrafe atau balai desa, tempat dimana ayahnya menunggunya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan.. tampaknya itu adalah hal buruk.” Jawab Gikwang, masih terengah.

Alangkah terkejutnya Yunho ketika ia dan Gikwang sudah sampai di Pentrafe. Banyak yang sudah berkumpul di sana dan anehnya sebagian diantaranya tampak marah dan sedih. Begitu melihat kedatangan Yunho, kerumunan terbuka, memberi jalan untuk sang pemimpin. Yunho bisa melihat ayahnya tidak duduk di kursi kebesarannya seperti biasanya melainkan di lantai, seperti seorang lelaki lemah yang terpuruk.

Yunho baru akan bertanya ketika ia melihat dua sosok yang dikenalnya terbaring melintang di atas karpet merah di tengah ruangan. Keduanya masih dalam tubuh serigala. Yang satu berwarna abu-abu kecoklatan, yang satu lagi berwarna putih abu-abu. Dan sama-sama terbujur lemah disana dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Yunho akan mengira keduanya sudah tak bernyawa andaikan ia tak melihat perut keduanya bergerak naik turun, berusaha sekuat tenaga untuk bernafas.

Tubuhnya bergetar hebat saat itu. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan semua bercampur jadi satu.

“Kyungsoo.. Jongin..” Yunho jatuh berlutut, lalu meraih kedua serigala muda itu dalam rengkuhannya. Air matanya turun satu persatu.

Ia menoleh pada ayahnya yang tampak sama terpukulnya dengan dirinya. “Ayah..” bahkan suaranya pun ikut bergetar.

Alpha.. Adikmu dan Jongin.. Keduanya diserang oleh Drygoni. Mereka memakai bisa mereka untuk melumpuhkan keduanya.. Anakku.. Anak lelakiku..”

Bisa Drygoni sangat terkenal bisa melumpuhkan sistem saraf dan otak. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terkena melebihi batas, akan berakibat kematian. Dan melihat beberapa tempat yang terkena bisa Drygoni di tubuh Kyungsoo dan Jongin, bisa dikatakan mereka di ambang kematian.

“Tidak.. Kyungsoo.. Jongin.. Bertahanlah.. Aku mohon..” Yunho masih memeluk keduanya.

“Tabib sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi ia sampai. Tadi Minho dan Kyuhyun yang menjemputnya. Bersabarlah Alpha, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan penduduk lainnya. Kau adalah harapan mereka.”

Tanpa mengangkat kepalanya, Yunho tahu bahwa Jinyoung lah yang berbicara. Walaupun ia benar, namun bagaimana mungkin Yunho bersikap tenang di saat seperti ini?

“Gikwang..”

“Ya, Alpha.”

“Kumpulkan yang lain di rumahku, sekarang. Aku akan segera kesana. Jangan bicara apa-apa sampai aku datang. Aku tidak ingin membuat yang lain khawatir.”

Gikwang membungkuk hormat lalu berlari keluar.

*

            Peraturan baru diberlakukan. Penduduk dilarang keluar dari rumah diatas jam sepuluh malam. Dan setiap wanita juga anak-anak harus ditemani oleh lelaki jika terpaksa harus keluar rumah. Mereka juga dilarang bepergian terlalu jauh. Itupun mereka harus dikawal oleh para Rhyfel.

Sedangkan para Eifre bertugas berjaga bergiliran di setiap pos yang sudah ditentukan. Mereka akan berjaga di empat penjuru utama. Yonghwa dan Sandara di pos timur, Minho dan Gikwang di pos barat, Taecyeon dan Kyuhyun di pos selatan, Kris dan Hoya di pos utara. Sedangkan Yunho dan Yuri akan berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Absennya Kyungsoo dan Jongin merupakan pukulan berat untuk mereka. Walaupun kata tabib mereka akan baik-baik saja setelah sepuluh hari, bahkan katanya akan kembali sehat seperti biasa, tapi tetap saja membuat para Eifre merasa sangat khawatir.

Kekejian Drygoni ini tidak bisa ditolerir oleh Yunho. Mereka tahu kedua serigala ini masih muda dan belum mendapatkan kekuatan secara menyeluruh jadi merekalah yang diserang. Licik! Seandainya ia yang ada disana, atau Taecyeon, bisa dipastikan suku setengah ular itu akan benar-benar hancur sampai tak berbekas.

Yunho masih bisa mendengar Kris, Sandara dan ibunya terisak sesekali ketika mengunjungi Kyungsoo di kamarnya. Ia juga tidak bisa mengabaikan tangisan kedua orang tua Jongin serta kesedihan Hoya sebagai sahabat terdekat Jongin.

Untuk beberapa hari kedepan, suasana tampak aman. Semuanya terkendali dengan baik. Hingga tiba-tiba serangan lain datang, kali ini menyerang beberapa rumah dan kebun penduduk. Tidak ada yang terluka, namun kerugian materil tidak bisa dibilang sedikit.

Mereka baru saja akan menuduh Drygoni sebagai biang keladinya namun petunjuk lain datang. Mereka menemukan rambut-rambut halus berwarna cokelat tua di beberapa tempat. Dan Yunho pernah melihatnya. Heglog.

“Ini adalah kesengajaan. Mereka sengaja memberi tanda agar kita tahu merekalah pelakunya.” Gikwang menganalisis.

“Aku bahkan masih bisa mengendus bau mereka disini.” Sandara menambahkan.

“Mereka sengaja memperlihatkan diri. Tujuannya sudah jelas, mereka ingin kita menyerang.” Kata Taecyeon dengan nada kesal.

“Tapi kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu. Kita harus menyelidiki sekuat apa mereka.” Ujar Kris. Ia masih terlalu sakit hati dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Dan ia tidak akan tinggal diam kini.

Alpha, kami menunggu perintahmu.” Yuri menyentuh lengan sang Alpha yang sedaritadi tampak berpikir sendiri.

Yunho mengembuskan nafas panjang. Dengan ekspresi tegas, ia menatap teman-temannya. “Taecyeon, selidikilah Heglog sekali lagi, bawa Sandara dan Hoya bersamamu. Yuri, pergilah bersama  Gikwang dan Yonghwa, selidiki Drygoni. Kris, Kyuhyun dan Minho, pergilah ke utara, minta bantuan kepada Centaurus. Kita tidak pernah ada masalah dengan mereka, siapa tahu mereka mau membantu kita.”

“Tidak! Bagaimana denganmu, Alpha? Kau tidak boleh tinggal sendirian!” Hoya langsung memprotes ketika ia menyadari bahwa Yunho akan sendirian berjaga.

“Hoya benar, kau tidak boleh sendirian, Alpha. Menyelidiki suku-suku ini memakan waktu berhari-hari. Dan keadaan sedang tidak stabil. Bagaimana mungkin kau bisa berjaga sendirian?” Minho menambahkan dengan cemas.

“Kalian kira aku tidak bisa menjaga desa ini tanpa kalian?” Yunho mengangkat alisnya.

“Bukan begitu, jangan tersingung. Tapi kami sangat cemas padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kami pergi? Kau adalah Alpha kami, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?” kata-kata Kyuhyun yang terkesan khawatir justru terdengar sangat manja bagi Yunho.

‘Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika sesuatu terjadi padamu?’ bisik Kyuhyun di hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Yunho.

“Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Rhyfel disini bersamaku. Tempatku adalah di sini. Aku tidak boleh meninggalkan desa dalam keadaan seperti ini. Keselamatan desa ini adalah tanggung jawabku. Pergilah, semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian kembali bukan?” kata Yunho lagi, mencoba tersenyum walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

“Kami akan cepat kembali, aku berjanji.” Yonghwa menghampirinya lalu memberinya tepukan ringan di bahu. “Dan kami akan pulang dengan membawa kabar baik. Tolong jaga dirimu.”

Sandara dan Yuri segera berlari memeluk Alpha mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkan desa. Keduanya tidak menangis tapi hati mereka sangat sedih karena harus meninggalkan orang yang mereka sayangi sendirian. Karena memang Yunho tidak bisa pergi. Seluruh beban ada di pundaknya kini.

Kyuhyun adalah orang terakhir yang memeluk Yunho setelah satu persatu kawanannya melakukan hal yang sama.

“Jaga dirimu, Alpha. Tunggulah aku kembali.” Ujar Kyuhyun lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Yunho. Membuat Yunho merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Satu persatu teman-temannya bertransformasi menjadi serigala lalu berlari masuk dan menghilang ke dalam gelapnya hutan malam itu. Yunho masih berdiri disana, menatap kepergian kesembilan Werewolf perkasa yang dibanggakannya.

Tanpa ia sadari, beberapa makhluk aneh tengah mengintainya. Beberapa diantaranya bersisik seperti ular, beberapa lagi berbulu seperti tarantula.

“Ia mengutus teman-temannya untuk pergi menyelidiki suku kita. Ayo kembali dan memberitahukan anggota suku.” Kata salah satu yang bertubuh penuh sisik.

“Sangat bodoh! Baiklah, kita kembali ke tempat masing-masing.” Kata yang lain, si bungkuk penuh bulu selayaknya tarantula. “Si keparat ini akan merasakan bagaimana rasanya seluruh kawanannya dimusnahkan di tempat berbeda-beda sementara ia juga harus menyaksikan kita membantai desanya tercinta.”

Keduanya lalu tertawa bengis.

*

Yunkyu wolf

To be continued..

Million Words – Chapter 3

Title                 : Million Words

Rate                 : T

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 3

Hari-hari berikutnya tidak bisa dibilang lebih baik untuk Kyuhyun juga Woobin. Kyuhyun tidak bisa berhenti mengumpat dalam hati dan menahan amarah setiap saat ketika Woobin menatapnya dalam-dalam dengan pandangan menjijikkan di dalam kelas lalu menjilat bibirnya dengan gaya sensual. Ingin sekali ia melemparkan jurnal-nya yang setebal karton pizza ke wajah tolol itu.

Ia tidak mengerti mengapa anak itu bisa bertingkah seperti pelacur kesepian sementara Kyuhyun tidak pernah memberinya perhatian apalagi sedikit pun celah. Namun anak lelaki yang berbeda sepuluh tahun darinya itu tampaknya amat sangat tidak peduli. Dan herannya ia tidak terganggu sama sekali dengan kenyataan bahwa Kyuhyun sudah punya Changmin.

Kyuhyun sudah berusaha mengabaikannya, terkadang membentaknya atau bahkan memaki anak itu. Tapi sama sekali ia tidak berhenti mengejar gurunya ini. Kyuhyun bahkan pernah mengancam akan melaporkannya pada pihak sekolah atau ke polisi sekalian agar Woobin berhenti.

Namun Woobin justru tertawa dengan mengatakan bahwa ia masih di bawah umur dan Kyuhyun adalah gurunya, sudah pasti yang akan terkena omelan adalah Kyuhyun sebagai guru yang dianggap tidak bisa mengatur muridnya sendiri atau bahkan mungkin mengada-ngada mengenai Woobin yang menyukainya. Mungkin bisa jadi ia benar-benar dituduh sebagai pedofilia.

“Cho songsaengnim..”

Kyuhyun memejamkan matanya seraya menahan emosinya. Ia mengenal suara itu. Siapa lagi kalau bukan salah satu monyet kesayangan Kim Woobin? Pasti ini ada kaitannya dengan lelaki tolol yang tengah membuatnya nyaris gila saat ini. Ia lalu berbalik dengan wajah datar dan dugaannya benar.

“Ya? Ada apa?”

Jongin dan Myungsoo terlihat sedikit ragu, namun kedua anak bandel yang sebenarnya sangat tampan itu akhirnya berbicara juga setelah beberapa detik.

“Hm.. Begini. Hari ini akan ada tes di kelas kami. Tes bahasa Inggris. Dan pengajarnya adalah Kim Youngwoon jadi..”

“Aku tahu itu.” potong Kyuhyun tak sabar, membuat Jongin kembali terlihat ragu.

Kim Myungsoo berdehem kecil lalu ikut bicara. “Kim Woobin tidak mau masuk kelas.”

Kyuhyun mendecih. “Seperti biasanya, bukan? Walaupun ia tidak masuk kelas, bukankah ia akan mendapatkan nilai seperti yang dia inginkan? Jadi untuk apa kalian cemas?”

“Bukan.. Bukan seperti itu, songsaengnim. Tapi.. Kim songsaengnim mengatakan bahwa jika siapa saja tidak mengikuti ujian kali ini, maka tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir bahasa Inggris nanti.” Jongin menjelaskan dengan nada yang lebih tegas daripada sebelumnya.

Namun Kyuhyun hanya menggeleng tak peduli. “Lalu mengapa kalian datang padaku? Bukankah ia adalah teman kalian? Kalian tinggal menyeretnya kemari atau hubungi Lee Hyukjae karena ia adalah wali kelas kalian. Gampang kan?”

“Kami bisa saja menyeretnya andai saja kami tahu ia ada dimana.” Kim Myungsoo langsung menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon. “Kami sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi ia tidak membalas pesan kami ataupun menjawab teleponnya. Kami pikir.. Mungkin anda bisa membantu.”

What??!! Membantu? Membantu anak nakal itu? Apa urusan Kyuhyun hingga ia harus mengusahakan agar anak itu mengikuti ujian? Untuk apa ia turun tangan sedangkan ia tidak merasa punya kewajiban terhadap anak itu?

Bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran yang ia ajarkan, ia juga bukan wali kelas Woobin. Jadi untuk apa ia bersusah payah membantu dua anak yang sama nakalnya dengan ketua mereka walaupun mereka tidak kurang ajar.

Tapi Kim Youngwoon adalah lelaki galak yang tidak pernah main-main jika mengancam muridnya. Jika ia mengatakan bahwa seseorang dilarang ikut pelajarannya selama sisa semester, maka hal itu benar-benar dilarang. Ia selalu tegas dalam mendidik muridnya.

Dan jika Woobin tidak mengikuti ujian, artinya anak itu tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir semester nanti. Dan artinya lagi, tanpa nilai akhir semester pertama, ia tidak akan diijinkan mengikuti kelas ataupun ujian di semester berikutnya padahal ini adalah tahun terakhirnya di sekolah ini. Apa Kyuhyun akan setega itu?

“Songsaengnim..”

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu tanpa menjawab kedua sahabat Woobin, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang pernah ia sumpahi tidak akan pernah dihubungi seumur hidupnya.

*

            “Kau sudah pulang?”

Kyuhyun berlari memeluk Changmin ketika lelaki jangkung yang berstatus tunangannya itu memasuki apartemen mereka setelah hampir dua minggu tidak pulang karena kegiatan yang berhubungan dengan yayasan keluarganya.

Changmin mengangguk singkat. Lalu dengan wajah lelah ia balas memeluk Kyuhyun kemudian mengecup dahinya sekilas.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Baik-baik saja. Dan aku lelah sekali. Aku akan mandi lalu tidur.”

Changmin baru akan beranjak ke kamar ketika Kyuhyun menahan tangannya. “Aku sudah menyiapkan masakan spesial malam ini, tidak bisakah kita makan bersama terlebih dahulu lalu kau beristirahat setelahnya?”

Changmin tampak berpikir sebentar. “Baiklah.”

Mereka makan dalam diam. Changmin tampak makan dengan setengah hati, wajar saja, ia sangat lelah. Namun Kyuhyun makan dengan berbagai pikiran di kepalanya. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya lalu menatap Changmin dengan ragu.

“Changmin-ah, hm.. Aku ingin pindah kerja.”

Changmin mengangkat wajahnya dari piringnya sambil masih terus mengunyah. “Kenapa?”

“Aku hanya ingin mengajar di tempat lain.”

“Tapi itu adalah sekolah terbaik di Seoul. Untuk apa mencari pekerjaan lain jika kau sudah punya yang terbaik?” tanya Changmin lagi.

“Kurasa.. aku bosan.”

“Sepertinya kau perlu angin segar. Kenapa tidak mengajukan cuti?”

“Disamping itu.. Ada seseorang yang membuatku tidak nyaman.” Kali ini suara Kyuhyun mengecil.

Changmin tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan isi piringnya dengan cepat, meneguk sisa air di gelasnya lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Kyuhyun.

“Jika ada masalah, bukankah seharusnya kau menyelesaikannya? Jika ada yang membuatmu tak nyaman, berusahalah menghadapinya, bukan lari seperti ini. Besok kita akan membicarakannya. Nah, aku akan mandi lalu beristirahat, tulangku serasa remuk semua.”

Ia bangkit dan meninggalkan Kyuhyun yang termenung sendiri. Kyuhyun sangat mengerti saat ini Changmin lelah. Tapi dengan waktunya yang minim untuk Kyuhyun, kapan lagi mereka bisa bicara dan mendiskusikan keresahan Kyuhyun saat ini? Kesibukan Changmin semakin menjadi-jadi karena perluasan cabang yayasan di beberapa tempat secara berkala, lalu kapan ia punya waktu untuk Kyuhyun?

“Ia terlalu lelah saat ini. Aku akan membicarakannya besok.” Kata Kyuhyun, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

*

            Keesokan harinya hingga beberapa minggu kedepan bukanlah waktu yang tepat untuk Kyuhyun dan Changmin. Jangankan membicarakan masalah Kyuhyun, bertemu saja mereka jarang. Jika Changmin tidak pergi ke luar kota, ia akan pulang lewat tengah malam dimana Kyuhyun sudah tertidur.

Terkadang ia berangkat terlebih dahulu sebelum Kyuhyun bangun karena mengejar rapat-rapat atau seminar yang telah menantinya dan meletakkan selembar note permintaan maaf di meja kecil di samping tempat tidur mereka untuk Kyuhyun.

Terkadang Kyuhyun bahkan yang bangun terlebih dahulu karena harus berangkat ke sekolah sementara Changmin belum bangun karena jadwalnya baru di mulai siang nanti. Dan Kyuhyun tidak akan tega membangunkan lelaki yang kelelahan yang terdengar dari dengkurannya. Mereka bahkan sudah tidak pernah berhubungan sex sejak beberapa bulan lalu.

Dan hal-hal seperti ini sudah berlangsung sejak dua tahun ini. jadi jangan salahkan jika tingkat kejenuhan Kyuhyun semakin menjadi-jadi belakangan ini karena kesibukan Changmin yang juga semakin meningkat.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun enggan menggeleng ataupun mengangguk. Ia bahkan melupakan es krim kesukaannya dan membiarkannya mencair sementara ia memikirkan hubungannya dengan Changmin yang terasa sangat hambar. Adakah yang bisa mengerti perasaannya saat ini?

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun menoleh, menyeruput juice jambunya sebentar lalu kembali memandang lelaki di depannya.

“Bersikaplah sedikit lebih sopan.” Kyuhyun menjawab dengan nada enggan yang terdengar sangat lemah. Ia lalu kembali menoleh ke jalanan luar.

Kim Woobin sedikit tersentak mendengarnya. Biasanya Kyuhyun akan mengomelinya atau bahkan langsung pergi jika Woobin mendekatinya.

‘Ada apa ini? Mengapa ia tidak seperti biasanya?’ pikir Woobin seraya menatap Kyuhyun heran.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun menghela nafas panjang. Pandangannya belum menoleh dari jalanan di luar sana. “Jawaban seperti apa yang kau inginkan?”

Sungguh, Woobin lebih baik mendengar Kyuhyun marah-marah seperti biasa. Memaki, mengumpat atau bahkan mencercanya dengan kalimat-kalimat menyakitkan hati daripada melihatnya seperti kehilangan semangat hidup seperti ini.

“Katakan padaku ada apa denganmu.” Kata Woobin lagi. Kali ini dengan nada yang cukup tegas.

“Pulanglah. Tinggalkan aku sendiri, jangan ganggu aku.” Kyuhyun menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia lelah. Sangat lelah. Ia butuh teman bicara. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritanya.

“Kau bisa menceritakan masalahmu padaku.”

Dengan cepat Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajahnya. ‘Apa benar anak ini tidak bisa membaca pikiranku? Ini sudah kedua kalinya ia menebak pikiranku dengan tepat.’

Kyuhyun menatap lelaki muda di depannya. Mata lelaki yang biasanya memancarkan sinar nakal kekanakan itu kini menatapnya tajam dengan sinar yang sulit ia artikan. Dan entah mengapa ia jadi sulit beranjak dari sana, terpaku dengan tatapan itu.

“Katakan padaku siapa yang membuatmu jadi seperti ini!”

Bagai cambuk, Kyuhyun segera tersadar mendengar suara berat itu. Ia tidak boleh berlama-lama dengan bocah ini. Ia bangkit dari duduknya lalu bergegas meninggalkan Woobin di café yang tadinya cukup membuatnya nyaman.

“Hei, tunggu aku. Aku tengah bertanya kepadamu. Mengapa kau melarikan diri seperti ini?” Woobin sudah muncul dan menghadang jalannya.

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Minggir!” bentak Kyuhyun kesal.

Kembali Woobin menghalangi jalannya. “Tidak sampai kau bicara mengenai apa yang membuatmu murung seperti tadi. Apa lelaki itu yang membuatmu seperti ini?”

Kyuhyun kembali tersentak. Namun kali ini bukan hanya dikarenakan suara Woobin yang meninggi tapi juga tebakan anak itu yang lagi-lagi tepat.

“Dia tunanganku! Dan ini urusan kami.” Jawab Kyuhyun enggan.

Ekspresi Woobin semakin mengeras. “Ah.. Jadi dugaanku benar kan? Lelaki brengsek itu yang membuatmu seperti ini. Apa yang ia lakukan padamu? Apa ia melukaimu?”

“Ya! Berhenti menyebutnya seperti itu. Dia tunanganku!” kini Kyuhyun menjerit keras hingga kerongkongannya terasa perih.

“Aku tahu!” Woobin balas menjerit keras.

“Bagus kalau kau mengerti! Jadi berhenti mengendus urusan pribadiku. Tugasmu hanya satu, belajar dengan baik agar kau bisa lulus sekolah tahun depan dan membuat kedua orang tuamu bangga. Bukan menjadi sampah di sekolah seperti yang selalu kau lakukan. Aku muak padamu!”

Woobin terdiam sejenak tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kyuhyun. “Setidaknya aku hanya merugikan diriku sendiri. Aku menjadi sampah untuk diriku sendiri. Aku tidak merugikan dirimu. Aku tidak merugikan orang tuaku karena aku tetap mendapatkan nilai yang baik dan aku tidak merugikan sekolah karena aku tetap membayar kewajibanku. Namun pantang bagiku menjadi sampah yang merugikan orang lain.”

Setelah itu Woobin berbalik pergi. Wajahnya yang sempat terlihat sedih segera ditutupinya dengan kacamata yang ia kantongi sedaritadi, meninggalkan Kyuhyun yang merasa amat bersalah karena bersikap kekanakan dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dikatakan oleh seorang guru kepada muridnya. Siapa yang kekanakan dan tidak dewasa kini?

*

            Kyuhyun benar-benar dilanda perasaan bersalah hingga beberapa hari kedepan. Kim Woobin masih melakukan kebiasaannya, hanya memasuki kelas jika ia menginginkannya. Ia juga bersikap acuh terhadap Kyuhyun yang membuat Kyuhyun setidaknya merasa beryukur karena tidak adanya penginterupsi setiap kegiatannya.

Namun di sisi lain ia merasa aneh. Jujur ia menikmati pertengkaran kecil yang hanya berdurasi tak lebih dari satu menit bersama Woobin beberapa hari lalu walaupun ia harus meminum pereda sakit untuk kerongkongannya setelah itu. Ia tidak punya banyak teman. Ia selalu bersama Changmin. Hidupnya adalah Changmin, teman-teman Changmin di yayasan dan kedua orang tua Changmin. Jadi ketika ia punya masalah seperti ini dan Changmin tengah sibuk dengan pekerjaannya, Kyuhyun akan merasa amat kesepian.

Kyuhyun memperhatikan Woobin yang tengah mengerjakan soal-soal pertanyaan yang diberikan Kyuhyun kepada seluruh kelas siang itu sebagai tes kecil untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan anak-anak didiknya dalam mencerna mata pelajaran yang ia ajarkan. Lelaki itu tampak mengisi lembaran kertas di atas mejanya dengan serius. Ia tampak jauh lebih baik daripada berkeliaran di luar kelas dengan sikap menyebalkan.

Tiba-tiba Woobin mengangkat wajahnya, menatap langsung ke wajah gurunya. Kyuhyun yang tersentak segera membuang pandangannya ke luar lain sambil mengumpat dalam hati.

Tak lama kemudian bel tanda sekolah sudah usai berbunyi. Kyuhyun bisa bernafas lega karena di menit-menit terakhir pelajarannya harus dihabiskan dengan menghindari tatapan tajam Kim Woobin.

“Kumpulkan kertas ujian kalian dan kalian boleh pulang.” Ujar Kyuhyun yang disusul bunyi kursi-kursi digeser dan langkah-langkah kaki bersemangat.

Dalam sekejap ruang kelas itu kosong, menyisakan Woobin dan kedua kroni-nya yang kini berdiri di depan meja guru, mengumpulkan kertas ujian mereka sendiri. Ketika Myungsoo dan Jongin sudah keluar, Woobin segera menyusul tanpa memandang Kyuhyun lagi.

“Maaf..” Kata Kyuhyun pelan ketika tubuh Woobin sudah nyaris keluar dari ruang kelas.

Kim Woobin berhenti di tempatnya. Ia tidak menjawab atau pun menoleh. Ia hanya berdiri di tempatnya, mendengarkan kalimat Kyuhyun.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Ia jadi agak menyesal kini melihat sikap Woobin yang acuh seperti itu.

“Maafkan kata-kataku beberapa hari lalu. Aku.. Aku sedang ada masalah dan benar-benar sedang tidak ingin berdebat jadi..”

Kebohongan lain Kyuhyun ciptakan karena malu. Tidak mungkin ia mengakui pada Woobin kalau ia menikmati pertengkaran mereka. Ia rindu berdebat. Ia rindu bertengkar dengan orang lain. Memperebutkan sesuatu,berargumen atau mempertahankan pendapat.

“Kata-kataku kemarin cukup bodoh. Maaf kalau membuatmu tersinggung.” Ujar Kyuhyun akhirnya.

Woobin belum menjawab apa-apa. Ia masih berdiri mematung selama beberapa detik lalu pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang. Kyuhyun menghela nafas lega karenanya. Setidaknya ia sudah meminta maaf atas kesalahannya. Terasa sangat menyiksa beberapa hari ini karena mengeluarkan kata-kata tolol kepada muridnya sendiri.

“Seperti biasa.. Tidak sopan dan tidak peduli.”

Kyuhyun beranjak keluar. Ia berpikir untuk singgah sebentar ke restaurant untuk membeli makanan. Lagi-lagi makan siang sendiri. Tapi apa boleh buat?

Namun alangkah terkejutnya ia melihat trio Kim berdiri di depan gerbang, apalagi Woobin kembali melayangkan tatapan tajam kepadanya.

‘Ada apa lagi ini?’ pikir Kyuhyun. ‘Apa ia masih tersinggung dengan kata-kataku tempo hari dan kini mengajak teman-temannya untuk mengeroyokku?’

“Songsaenim.. Apa anda akan pulang?”

Kyuhyun menatap Jongin dengan ragu. Anak itu tersenyum, namun Kyuhyun khawatir hal buruk akan menimpanya jika ia ikut tersenyum.

“Kami juga akan pulang tapi seperti biasa, kami ingin makan siang terlebih dahulu bersama.” Kali ini Kim Myungsoo yang berbicara.

Kyuhyun masih belum berani menjawab. Jadi ketiganya akan makan siang sebelum pulang. Tunggu, makan siang? Jangan bilang Kyuhyun akan menjadi santapan makan siang mereka karena berani membuat pimpinan mereka tersinggung. Bulu kuduk Kyuhyun jadi sedikit meremang karenanya.

“Kami ingin kau ikut dengan kami. Bukankah makan siang beramai-ramai jauh lebih menyenangkan daripada makan sendirian?” akhirnya Woobin angkat bicara setelah sekian lama ia hanya memandangi wajah Kyuhyun tanpa berkedip.

“Aku?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk dirinya sendiri. “Makan siang bersama kalian?”

Myungsoo dan Jongin mengangguk. Senyum lebar masih terpatri di wajah tampan keduanya. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Kim Woobin sudah menarik tangannya. Detik berikutnya ia sudah berada di dalam mobil, duduk di kursi belakang berdampingan dengan sang pemilik mobil sementara Jongin duduk di depan menemani Myungsoo yang bertugas mengemudi siang itu.

*

            Dari satu makan siang berlanjut ke makan siang lainnya. Kyuhyun baru tahu bahwa Jongin dan Myungsoo adalah anak-anak pejabat kota Seoul tapi tidak pernah membuka identitas mereka di depan teman-teman sekolahnya dan bertindak seolah-olah mereka lahir dari keluarga biasa.

Dan Kim Woobin yang selalu bersikap seenaknya ternyata adalah sahabat yang sangat setia serta merupakan anak yang sangat menyayangi ibunya. Walaupun ia tengah melakukan hal yang disukainya, jika ibunya menelepon karena butuh bantuan, saat itu juga Woobin akan mendatangi ibunya. Membuat Kyuhyun menggeleng tak percaya mengetahui kenyataan yang sangat kontras dengan kelakuan Woobin di sekolah. Don’t judge the book by it’s cover!

Seperti Jongin dan Myungsoo menyayangi Woobin, mereka juga menyayangi Kyuhyun. Mungkin dikarenakan akhir-akhir ini mereka sering bersama Kyuhyun, atau karena Woobin menyukai Kyuhyun, atau karena Kyuhyun dengan berbaik hati memberi mereka ‘pelajaran tambahan’ di sela-sela pertemuan mereka yang sangat berguna dalam pelajaran geografi.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Kyuhyun merasa hidup kembali. Ia punya teman-teman baru, atau mungkin adik-adik baru, dimana ia bisa merasa cemas ketika adik-adiknya belum juga muncul di sekolah tepat pada waktunya, atau adik-adiknya terkena masalah atau bahkan ketika mereka mengeluh mengenai hal-hal kecil. Ia jadi punya banyak teman bicara, lebih sering mengomel dan memberi nasihat juga teman berdebat.

Terutama ketika Kim Woobin ikut di dalam pembicaraannya dengan Jongin dan Myungsoo. Woobin akan bertindak seperti sahabat yang mengenal duo Kim selama bertahun-tahun sedangkan Kyuhyun akan bertindak sebagai kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya. Jika ia akhirnya kalah berdebat dengan Woobin, ia akan kembali menjadi Cho songsaengnim yang bisa mengancam akan memberikan nilai jelek kepada murid-muridnya yang suka membangkang. Kalau sudah begini, kemenangan sudah pasti ada di tangan Kyuhyun.

Kyuhyun benar-benar menyukai hari-harinya kini. Ia tidak lagi sedih ataupun kesepian. Ia tidak harus menghabiskan hari-hari membosankan seorang diri di apartemen ketika Changmin tidak ada karena trio Kim membuatnya selalu sibuk. Sibuk bepergian, berbelanja, atau bahkan mengomel.

“Aku senang kau kini lebih banyak tersenyum. Dulu kau selalu murung.” Kata Woobin di balik kemudi ketika mengantar Kyuhyun pulang malam itu. Mereka baru saja selesai jalan-jalan dengan Jongin dan Myungsoo di penghujung minggu itu. Dan kedua sahabatnya itu melarikan diri agar Woobin bisa mengantar Kyuhyun pulang sendirian setelah acara mereka sepanjang hari itu telah usai.

“Aku tidak murung dahulu. Aku hanya sedang banyak masalah.” Sambar Kyuhyun cepat.

“Tetap saja kau murung. Lihatlah bagaimana menyenangkannya hidupmu sekarang setelah kami bertiga muncul di kehidupanmu.” Serang Woobin lagi.

“Ohhh.. Sangat membuatku menderita. Mengomel lebih banyak, menghabiskan asupan energiku.” Balas Kyuhyun dengan nada sarkastik.

“Tapi kau menyukainya, jangan bohong. Aku bisa melihatmu sangat cemas pada kami. Kau tahu, mengomel tanda menyayangi.” Kata Woobin lagi.

Kyuhyun tersenyum kecil. Ia memang menyukainya. Berdebat seperti ini, membuatnya bisa merasakan ketegangan di dadanya, bahkan ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Segalanya menyenangkan. Atau mungkin terlihat menyenangkan karena ia tengah berada dalam puncak kejenuhan? Ia tidak tahu, yang jelas Kyuhyun menikmati segalanya yang terjadi saat ini. Dan melupakan sejenak masalah pribadinya.

“Kita sudah sampai.”

Kata-kata Woobin membawanya kembali ke dunia nyata, meninggalkan lamunanya sebentar. Ia memandang areal parkir yang ia kenal selama ini sebagai areal parkir apartemennya.

“Terima kasih untuk hari ini. Katakan pada Jongin dan Myungsoo kalau aku akan menjewer mereka besok di sekolah karena berani melarikan diri hari ini. Dan ingat janjimu tadi bahwa kau akan masuk ke kelas besok pagi.”

“Shireo!”

“Ya! Kau sudah berjanji.” Kata Kyuhyun. Lagi-lagi emosinya dibuat naik.

“Aku akan masuk untuk menyimpan tasku di loker. Setelah itu aku akan keluar.” Jawab Woobin seenaknya.

“Kim Woobin!”

“Sudah kukatakan, aku tidak mau.”

Kyuhyun menangkupkan wajah Woobin di kedua belah telapak tangannya. Menatapnya lekat-lekat. “Aku benci dengan pengingkar janji.”

Woobin meraih tangan-tangan itu lalu menyatukannya dalam genggaman besarnya. “Arasso.. Aku akan masuk kelas besok pagi. Ini karena kau yang memintanya.”

Tatapan itu membuat Kyuhyun merona. “Dan tolong panggil aku Cho songsaengnim di depan anak-anak lain.”

“Kau manis sekali jika tengah merona seperti itu.” kata Woobin seraya mengelus lembut jari-jari dalam genggamannya. Namun ketika ia melihat Kyuhyun semakin merona, ia tertawa. “Baiklah, di depan semua orang aku akan memanggilmu seperti yang kau mau. Tapi di depan Jongin dan Kyungsoo serta ketika kita sedang berdua, aku akan memanggilmu seperti yang kumau.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak mau memanggilku dengan sopan? Menggunakan embel-embel ‘ssi’ atau hyung pun aku tidak keberatan. Kau sungguh tidak sopan.”

“Aku tidak terbiasa memanggil calon kekasihku dengan panggilan-panggilan seperti itu.”

Mata Kyuhyun membulat sempurna. “Ca-calon kekasih?” Ia segera menarik tangannya. “Jangan bermimpi! Aku sudah punya kekasih, tidak, lebih tepatnya tunangan dan kami akan segera menikah.”

“Aku tidak akan berhenti mengejarmu. Jadi kau juga jangan pernah bermimpi.” Balas Woobin.

“Terserah! Aku mau pulang.” Kyuhyun membuka pintu mobil lalu berjalan keluar ke arah lift terdekat.

“Cho songsaengnim..”

Ternyata Woobin mengikutinya. “Selamat malam.”

Kyuhyun berbalik menatap lelaki jangkung yang berdiri sangat dekat dengannya itu. “Selamat ma..”

Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sepenuhnya diambil alih oleh kecupan mesra dari bibir Woobin. Kyuhyun hanya diam, tidak membalas atau mungkin tidak sanggup membalas. Ia terlalu terkejut dengan aksi muridnya itu.

Sebuah sentuhan mendarat di pipinya lalu mengelusnya perlahan. Detik berikutnya bibir mereka terpisah. Ketika bibirnya benar-benar bebas, ketika wajah di depannya benar-benar menjauh, dan ketika kelumpuhannya akhirnya benar-benar sirnah, Kyuhyun merasakan debaran keras di dadanya. Berdetak lembut dengan irama menyenangkan dan membuatnya tak kuasa untuk mengabaikannya.

*

changkyubin

To be continued..