Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 2

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

CHAPTER 2

“Kau selalu terlambat. Ayo cepat bangun, nanti sarapanmu dingin.”

Siwon bangun dengan enggan namun ia bahagia. Bahagia karena ia bisa melihat wajah itu kala ia membuka matanya. Langkah kakinya dipercepat agar bisa menyusul tepat di belakang sang kekasih dan.. hap! Ia segera melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Hidung Siwon menyusuri leher hingga pundak lelaki itu seraya mengendusnya dalam-dalam. Ia selalu wangi, selalu mampu membuat Siwon tergila-gila bahkan di hari mendung sekali pun.

“Berhenti menggodaku. Kau harus segera bersiap. Bukankah hari ini ada rapat penting?”

Siwon tersenyum lebar. “Benar. Tapi sebelum aku pergi bekerja, sebelum aku menyentuh sarapanku, aku ingin sebuah ciuman.”

Efek luar biasa yang ditimbulkan oleh Siwon. Lelaki di depannya tersenyum malu dengan semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Siwon mendekatkan kedua wajah mereka. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Dan..

Siwon membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ternyata matahari sudah muncul sedari tadi. Peluh membasahi tubuhnya walau pun pendingin ruangan di kamarnya menyala dengan suhu tinggi. Ia menyadari bahwa lagi-lagi ia memimpikan Kyuhyun. Selalu seperti itu. Bagaimana bisa ia mengusir Kyuhyun dari mimpinya? Ini terlalu menyakitkan.

Dering ponselnya menyadarkannya sesaat. Nama Tan Hangeng tertera di layar sentuh itu. Tanpa pikir panjang, Siwon segera menjawab.

“Siwon, apa kau sudah bangun?” Tanya Hangeng dari seberang.

“Tentu saja sudah. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”

Hangeng terdengar agak ragu di seberang sana. Namun akhirnya ia bicara setelah beberapa detik.

“Apa kau punya kegiatan lain hari ini?”

Ini adalah hari minggu. Di hari libur seperti ini biasanya Siwon selalu menghabiskan waktunya di apartemennya. Melakukan semua yang bisa ia lakukan seperti menonton dvd, memasak menu-menu baru atau membersihkan apartemennya sendiri. Ia menolak untuk keluar karena enam hari bekerja membuatnya cukup lelah hingga di hari minggu seperti sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya sendiri.

“Tidak ada. Kau tahu aku kan, aku tidak pernah keluar di hari libur seperti ini.” Jawab Siwon.

“Hm.. Bolehkah aku meminta bantuanmu?” kembali Hangeng bertanya tapi kini terdengar semakin ragu.

“Hey ayolah, kau adalah temanku. Selama aku bisa membantu, sudah pasti akan kulakukan. Apa yang bisa kubantu?”

“Hari ini aku dan Zhoumi harus menghadiri rapat dengan beberapa klien dari Hongkong. Padahal aku sudah berjanji akan menonton dvd bersama Kui Xian sejak minggu lalu. Bisa kau bayangkan betapa kecewanya dia begitu mendengar hal ini. Tapi ia cukup keras kepala, ia tidak masalah jika menontonnya bersama orang lain, yang jelas ia ingin ditemani. Ia tidak mau menonton sendiri.”

Perasaan Siwon mendadak tidak karuan. Ia takut kalau-kalau Hangeng memintanya untuk menemani Kui Xian menonton dvd-nya.

Kemudian Hangeng melanjutkan. “Aku tidak bingung seperti ini jika saja Henry ada di Seoul tapi semalam ia harus kembali ke Beijing karena ada anggota keluarganya yang sakit. Donghae ada kencan dengan Eunhyuk dan.. Kau tahu, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Untuk itu, aku ingin meminta bantuanmu untuk menemaninya menonton dvd itu.”

Dugaan Siwon benar. Dan kini ia sedikit menyesal ketika mengatakan bahwa ia tidak punya kegiatan apa-apa hari ini. Ia mau saja membantu Hangeng, kalau saja hal itu tidak ada hubungannya dengan Kui Xian.

“Siwon.. Kau masih di situ?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku akan membantumu. Tidak masalah buatku. Aku juga suka menonton film jadi kupikir tidak ada salahnya. Lagipula ini hari libur bukan?”

“Ah.. Aku lega sekali. Baiklah, sejam lagi aku akan mengantarnya ke apartemenmu. Setelah aku selesai, aku akan segera menjemputnya.” Suara Hangeng terdengar sangat gembira di seberang sana, sangat kontras dengan suasana hati Siwon saat ini.

“Baiklah, aku akan bersiap-siap. Mungkin aku bisa membuatkan kue coklat sederhana untuk kekasih sahabatku ini.” Kata Siwon yang berusaha keras terdengar sama cerianya dengan Hangeng.

“Kue cokelat? Dia suka sekali dengan kue cokelat. Aku benar-benar telah manjatuhkan pilihan yang benar. Walaupun aku akan meninggalkannya seharian, tapi aku yakin ia tidak akan merasa bosan karena ditemani oleh pria baik seperti kau. Terima kasih.”

That’s what friends are for, right?

Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya memutuskan hubungan telepon. Siwon masih memandang ponselnya dengan hati gundah.

Satu lagi kemiripan mereka : sama-sama menyukai kue cokelat.’ Pikir Siwon.

Kadang ia berpikir, dengan kemiripan-kemiripan Kyuhyun dan Kui Xian, apa ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang yang sama? Tapi mengapa Kyuhyun tidak mengenalinya sama sekali?

*

            Siwon melirik lelaki pucat yang duduk tenang seraya menikmati kue cokelat buatannya itu sesekali. Matanya masih senantiasa terpaku pada televisi yang menyajikan adegan-adegan dari dvd yang dibawanya. Sesekali ia menghela nafas, sesekali tertawa, bahkan kadang ia bahkan marah-marah sendiri. Tergantung dari adegan yang tersaji di depannya.

Tidak ada perbedaan sedikit pun. Segalanya tampak sama, kecuali nama dan warna rambut mereka. Bahkan suara mereka pun nyaris sama jika saja Kui Xian mengeluarkan suara manja yang selalu dilakukan Kyuhyun. Kui Xian terlihat lebih dewasa, dari caranya bicara dan bergerak. Tidak seperti Kyuhyun yang kekanakan dan menggemaskan.

Berhentilah menatap kekasih sahabatmu.’ Bisik Siwon dalam hati.

“Ah.. Selesai.. Uh, film ini seru sekali. Bagaimana menurutmu, Siwon-ssi?”

Siwon segera tersadar dari pikiran-pikirannya. Dengan senyum jengah ia menjawab. “Kupikir juga begitu..”

Bagaimana mungkin aku tahu jika selama menonton yang kulihat hanya dirimu?’ katanya dalam hati lagi.

“Dimana Kibum-ssi? Aku tidak melihatnya.” Tanya Kui Xian lagi.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Eh? Tentu saja di kamarnya. Kenapa?”

Kui Xian menggeleng. “Tidak apa-apa. Bukankah beberapa waktu lalu kau sudah menyatakan bahwa kau akan memberinya kesempatan? Jadi kupikir, di hari yang cerah seperti ini, kenapa tidak kau gunakan untuk berkencan?”

“Itu..” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku belum bicara atau pun bertemu dengannya setelah hari itu. Kami sama-sama sibuk, jadi.. Lagi pula, bukankah hal seperti ini tidak perlu buru-buru.. Maksudku..”

“Ya..ya..ya.. Aku mengerti. Mengapa kau tampak gelisah seperti itu? Bukankah aku hanya bertanya?” balas Kui Xian seraya mendecak.

Lelaki itu lalu berdiri dan berjalan-jalan pelan ke sekeliling ruangan. Matanya mengagumi isi apartemen mewah itu. Sesekali ia menunjuk beberapa benda dan Siwon dengan sigap menjelaskan layaknya seorang kurator di museum seni.

“Huaaaa… Kau punya banyak koleksi wine..!!!!” seru Kui Xian gembira.

Kening Siwon mengernyit bingung. “Kau juga suka wine?”

“Tentu saja! Siapa yang tidak menyukainya? Lihatlah, kau bahkan punya yang berumur beberapa puluh tahun!” pekiknya lagi.

Bagaimana mungkin? Mengapa ia juga menyukai wine seperti Kyuhyun? Oh Tuhan.. Apa yang sebenarnya tengah kuhadapi saat ini?’ pikir Siwon bingung.

Siwon menatap Kui Xian yang tengah memunggunginya dan mengagumi botol-botol wine yang berjejer di rak kaca dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“Kui Xian-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Siwon memberanikan diri.

Kui Xian berbalik setelah meletakkan botol yang dipegangnya ke rak kaca. “Tentu saja.”

“Berapa umurmu?”

“Aku? Dua puluh tujuh.”

Umur mereka sama.

“Dan.. Tanggal lahirmu?”

“2 february 1988.”

Beda sehari.

“Apa kau.. Benar-benar warga asli Cina? Maksudku, tidak ada campuran dari Negara lain atau..”

Kui Xian tersenyum. “Tentu saja. Haruskah aku memperlihatkan akte kelahiranku kepadamu?”

Kebetulan yang sangat aneh..

*

            “Dia bukan Kyuhyun. Dan kau tahu itu.”

“Aku tahu, tapi.. Terlalu banyak kesamaan yang ada pada diri mereka, membuatku nyaris mengira mungkin saja Kui Xian yang aku hadapi kini adalah Kyuhyun sendiri.” Kata Siwon bersikeras.

Donghae menghela nafas berat. “Kau masuk terlalu jauh, kawan. Ingat, dia adalah tunangan sahabatmu sendiri. Jangan membuat masalah sama sekali. Kau tidak ingin Hangeng mengetahui semua ini dan justru menyalahkanmu, bukan?”

Siwon menggeleng. “Bukan kau, yang selama ini tinggal bersamanya. Jadi begitu ada seseorang yang mirip dengannya, kau tidak akan tahu hal itu.”

Kembali Donghae menghela nafas berat. Ia sudah bersahabat dengan Siwon cukup lama untuk mengetahui seberapa keras kepalanya lelaki itu jika menyangkut hal-hal tertentu, terutama yang diyakininya.

Hanya saja, Donghae tidak yakin kalau perspektif Siwon kali ini ada benarnya, walaupun semua kemungkinan itu ada. Ia hanya tidak ingin Siwon masuk terlalu jauh dan akhirnya kembali terluka seperti dulu. Untuk menjadi Siwon yang seperti sekarang saja sudah cukup sulit, ia tidak mau sahabatnya itu kembali terpuruk dengan kasus yang serupa.

“Siwon.. Dengarkan aku..”

“Tidak! Kau yang harus mendengarkan aku. Mereka punya wajah dan tubuh yang serupa. Mereka lahir di tahun yang sama, kecuali tanggal lahir mereka yang berbeda. Hanya berbeda sehari. Apa hal ini tidak membuktikan adanya kesamaan yang janggal diantara mereka?” Siwon bersikeras.

Donghae tidak menjawab. Bukan karena ia berpikiran yang sama tetapi ia lelah menghadapi Siwon yang telah mengatakan hal yang sama berulang-ulang di sepanjang minggu itu. Membuatnya cukup gerah.

Siwon masih terus mengatakan hal yang sama selama beberapa menit ke depan hingga akhirnya Donghae mengangkat tangannya, menarik perhatian Siwon hingga lelaki itu berhenti bergumam pada dirinya sendiri.

“Apakah dia Kyuhyun yang selama ini kau cari atau bukan, kenyataannya dia adalah milik Hangeng saat ini. Ingat itu.”

Donghae berjalan ke luar apartemen Siwon setelah menepuk pelan pundak sahabatnya yang seakan tersadar dengan kenyataan paling pahit di hidupnya. Kui Xian memang milik Hangeng.

*

            Satu pertemuan berlanjut ke pertemuan selanjutnya. Semakin Siwon mencoba menghindari Kui Xian, semakin sering ia harus dihadapkan dengan berbagai permintaan lelaki itu. Mulai dari menemaninya mencari buku, berbelanja bahan makanan, hingga mencari pakaian, baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk Hangeng.

Siwon sama sekali tidak keberatan andai saja Kui Xian bukan milik Hangeng yang wajahnya serupa dengan kekasihnya yang hilang. Karena semakin dirinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, maka semakin kuat pula semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di benaknya.

Siwon sudah mencoba mengelak. Bukan sekali, namun berkali-kali. Namun menolak Kui Xian bukanlah perkara mudah. Ia selalu membalas penolakan Siwon dengan kata-kata yang sama :

Donghae-ssi sudah punya Eunhyuk-ssi. Henry sibuk dengan Zhoumi gege, dan Ryeowook-ssi sudah pasti menikmati masa-masa pernikahannya dengan Yesung-ssi. Mana mungkin aku mengganggu mereka? Hangeng-ge juga sangat sibuk. Dan kau tidak punya kekasih jadi aku meminta bantuanmu. Aku akan berhenti kalau kau benar-benar memantapkan pilihanmu pada Kibum-ssi.

 

Terkadang Siwon beranggapan kalau Kui Xian mungkin dibayar oleh Kibum untuk mempromosikan dirinya kepada Siwon. Tapi hingga detik ini ia sendiri tidak pernah menangkap gelagat aneh dari tetangganya itu kalau-kalau ia benar-benar menyukai dirinya.

Tapi kadang Siwon berpikir kalau Kui Xian terlalu memaksakan dirinya untuk berpacaran dengan Kibum. Untuk apa? Apa untungnya untuk lelaki itu?

“Melamun lagi?”

Siwon merasakan tepukan halus di lengannya dan segera tersadar dari pikiran-pikiran yang menguasainya belakangan ini. Ia tersenyum jengah kepada Hangeng yang masih meletakkan telapak tangannya di lengan Siwon.

“Maaf..”

Tidak seharusnya ia melamun pada saat ia, Hangeng dan Zhoumi akan sedang mengadakan rapat kecil mengenai pekerjaan mereka. Walau rapat itu bersifat informal, tetap saja ia seharusnya berkonsentrasi.

Zhoumi menyipitkan matanya. “Kau sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa, Siwon? Apa ada masalah?”

Siwon menggeleng. “Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal. Tapi bukan sesuatu yang penting. Jangan khawatir.”

“Oh ya, Siwon, terima kasih atas bantuanmu akhir-akhir ini.”

Siwon memiringkan kepalanya. “Bantuan apa?”

Hangeng tersenyum. “Kui Xian banyak bercerita mengenai hari-harinya yang menyebalkan karena ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Untung saja kau mau meluangkan waktu untuk menemaninya. Terima kasih.”

“Oh itu.. Aku hanya menemaninya jika memang aku sedang tidak ada pekerjaan. Bukan sesuatu yang besar. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Siwon dengan senyum palsunya. Padalah dalam hati ia enggan sekali menemani lelaki itu. Hanya menambah luka.

“Kau tahu.. Ia tidak terlalu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi melihat perkembangan hubungan kalian yang dengan cepat bisa menjadi teman, membuatku lega. Setidaknya ia berteman dengan orang-orang yang kukenal dengana baik di sini.” kata Hangeng lagi.

Kembali Siwon tersenyum simpul. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya. “Hangeng-ssi, di mana kau bertemu Kui Xian sebelumnya?”

“Apa aku belum pernah menjelaskannya?” Hangeng balik bertanya. “Kurasa sudah.” Ia tertawa kecil lalu melanjutkan. “Seperti yang kau tahu, ia adalah sahabat Henry sejak di junior high school. Aku sudah sering bertemu dengannya, tapi aku baru benar-benar membuka mataku beberapa tahun lalu. Tapi kemudian ia pindah ke Taiwan, ke tempat pamannya. Membuatku patah hati saat itu. Tapi ia rajin mengirim kabar kepada aku dan Henry.”

Hangeng menyesap kopinya sedikit lalu kembali melanjutkan kata-katanya. “Kami baru bertemu lagi tiga tahun yang lalu kemudian menjalin hubungan. Saat itu aku memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku langsung memacarinya. Setahun kemudian aku melamarnya menjadi tunanganku.”

Siwon mengernyit. “Tiga tahun yang lalu?”

Bukan Hangeng yang menjawab melainkan Zhoumi. “Benar. Karena saat itu aku bertemu Henry. Saat Hangeng menceritakan kepadaku mengenai Kui Xian. Saat itu aku masih baru bergabung di perusahaan ini dan kami berdua langsung akrab. Hari itu aku menumpang di mobil Hangeng karena mobilku rusak. Tapi ia mengatakan akan menjemput adiknya dulu. Di sana lah aku bertemu Henry dan Hangeng bertemu Kui Xian lagi. Selanjutnya kau bisa menebak sendiri jalan ceritanya, kan?”

“Apa Kui Xian baru kembali dari Taiwan saat itu?” tanya Siwon lagi. Ia semakin penasaran. Pasalnya Kyuhyun menghilang juga dua tahun yang lalu.

“Benar. Pamannya meninggal di Taiwan jadi ia memutuskan untuk kembali ke Beijing. Ia tampak cukup terluka saat itu. Tapi ia tetap tampan seperti biasa.” Jelas Hangeng.

“Apa.. Ini kali pertama Kui Xian menginjakkan kaki di Seoul?” tanya Siwon lagi. Ia tidak akan menyerah di sini.

Hangeng menggeleng. “Kui Xian pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Ia pernah mengikuti kursus bahasa Korea di Taiwan dan memutuskan untuk pergi ke Seoul untuk memantapkan bahasa Korea-nya.”

Jantung Siwon berdegup kencang kini. “Benarkah? Kapan tepatnya?”

“Entahlah.. Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Aku tidak ingat kapan persisnya.”

Ada kesenangan tidak wajar dalam diri Siwon kini. “Ia pernah tinggal di sini?”

Hangeng dan Zhoumi saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Namun Zhoumi yang menjawab pertanyaan itu.

“Ia tinggal selama setahun. Ah tidak, lebih dari setahun. Dan kau bisa lihat bahasa Korea nya kini, tanpa cela bukan?”

Setahun? Ia dan Kyuhyun menjalin hubungan selama setahun. Ya, hanya setahun namun semua terasa begitu indah. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali ketika ingin menikahi Kyuhyun. Tapi sayang, rencana Siwon gagal karena Kyuhyun tiba-tiba menghilang.

“Apa.. Ia pernah menjalin hubungan dengan lelaki asal Korea di sini?” tanya Siwon penuh harap. Seandainya Hangeng menjawab ‘iya’, artinya Siwon punya kesempatan untuk mencurigai Kui Xian sebagai Kyuhyun. Ia hanya perlu memikirkan mengapa Kyuhyun tidak mengenalnya saat bertemu.

“Seingatku tidak. Itu pun kalau Henry tidak berbohong kepadaku. Kau tahu, biasanya seorang adik menyembunyikan hal-hal tertentu kepada kakaknya, bukan?” Jawab Hangeng seraya mengangkat bahunya.

“Henry?”

Hangeng tertawa kini. “Tentu saja. Ia datang kemari dan tinggal bersama Henry. Itulah sebabnya mengapa bahasa Korea keduanya sangat bagus.”

“Aku tidak mengerti.” Kata Siwon dengan bingung.

“Mereka mengikuti kursus bahasa Korea di tempat berbeda. Henry belajar di Beijing sedangkan Kui Xian belajar di Taiwan. Mereka lalu sepakat untuk memperdalam bahasa itu dengan datang dan tinggal bersama di Seoul.” Jawab Zhoumi.

“Jadi.. Kui Xian dulu memang tinggal di Seoul.. Bersama Henry?”

Zhoumi dan Hangeng mengangguk mantap.

*

            “Aku benar-benar bersemangat ketika kau menelepon tadi, Siwon-ssi. Tidak biasanya kau mengajakku keluar. Biasanya aku lah yang merengek kepadamu.” Kata Kui Xian. Wajahnya tampak berseri-seri karena akhirnya Siwon mengajaknya bertemu duluan.

Kui Xian bahkan diberi kebebasan memilih restaurant yang tempat mereka akan makan siang. Dan pilihan Kui Xian jatuh pada restaurant cina favoritnya. Alasannya selalu sama, ia rindu kampung halamannya. Jika berada di sana, ia serasa pulang ke rumah.

Dan Siwon lega karena akhirnya ia menemukan satu lagi kesamaan Kyuhyun dan Kui Xian. Restaurant ini. Kyuhyun juga sangat menyukainya, namun dengan alasan yang berbeda dengan milik Kui Xian. Bagi Kyuhyun, restaurant ini memiliki cita rasa khas yang tinggi dibandingkan dengan restaurant lain.

“Hari ini aku sedang tidak ingin makan sendiri. Aku tadinya hendak mengajak Donghae. Tapi ternyata ia ada sedikit urusan jadi aku mengajakmu.” Ujar Siwon berbohong.

Kui Xian pura-pura cemberut. “Jadi aku hanya cadangan, begitu?”

Siwon tertawa. “Bukan begitu. Kupikir akan menyenangkan jika makan siang denganmu.”

Kui Xian mengangguk perlahan dengan senyum tertahan, menerima alasan Siwon yang cukup masuk akal itu.

Mereka memesan beberapa hidangan favorit di restaurant itu. Keduanya banyak bercerita tentang banyak hal. Hingga Siwon akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan serangan yang tadinya sengaja disimpannya.

“Jadi, Kui Xian-ssi, menurut Hangeng-ssi, kau pernah tinggal di Seoul sebelumnya?”

Kui Xian mengangguk. “Benar. Aku pernah tinggal di sini. Untuk memperdalam bahasa Korea ku. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran dengan bahasa Koreamu yang sangat lancar. Ternyata kau memang pernah tinggal di sini.”

Kembali Kui Xian mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia sibuk melahap dessert-nya, tanpa sadar bahwa Siwon tengah menatapnya dalam-dalam.

“Lalu.. Selama tinggal di Seoul dahulu, apa kau.. pernah memiliki kekasih?” tanya Siwon lagi, masih menatap Kyuhyun dalam-dalam. Enggan melepaskan tatapannya barang sedetik saja. Namun begitu Kui Xian mengangkat wajahnya dari piring di depannya, ia mengarahkan pandangannya ke gelasnya, berpura-pura mengaduk juice-nya dengan sedotan.

“Hmmmmm… Bagaimana kalau kau menebak? Akan lebih seru dari pada langsung mengatakan jawabannya kan?”

Siwon mengangguk lalu menimbang-nimbang sebentar. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab. “Jawabanku.. ya. Kau pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain di sini.”

Setelah menjawab dengan yakin, Siwon berusaha keras tetap terlihat tenang. Tapi hatinya justru bereaksi sebaliknya. Jantungnya berdetak keras, menunggu apa tanggapan Kui Xian mengenai jawabannya tadi.

Dan Kui Xian entah memang berniat untuk berlama-lama mengungkapkan kebenarannya, atau memang ia tidak menyadari kata-kata lelaki di depannya, Siwon sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas Kui Xian masih sibuk dengan dessert-nya.

Setelah Kui Xian menyelesaikan dessert-nya, ia lalu menenggak isi gelasnya hingga habis. Setelah itu baru lah ia menatap Siwon dengan senyum kecil yang sulit diartikan.

“Tebakanmu benar.. Siwon-ssi, sungguh, aku tidak mengerti. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkin kita mempunyai teman yang sama? Mengapa tampaknya kau tahu banyak mengenai aku?”

Siwon terkesiap.

*

HanWonKyu

To be continued..

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 1

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

Choi Siwon mematut dirinya di cermin sekali lagi. Sempurna, pikirnya. Hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya, Yesung dan Ryeowook. Setelan jas hitamnya terlihat keren dan rapi di tubuh kekarnya. Dasi kupu-kupu melengkapi ketampanannya malam itu.

Ketika ia sudah siap, ia segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel besar tempat dilangsungkannya acara resepsi pernikahan pasangan YeWook itu.

“Siwonnie, kau juga sudah sampai rupanya. Wah kau tampan sekali.” Kata Donghae, salah satu sahabat baiknya ketika is sudah berada dalam ballroom hotel.

“Tentu saja. Sejak kapan aku terlihat buruk?” kata Siwon dengan bangga.

“Sejak dia meninggalkanmu.” Kata Donghae pelan yang langsung disikut oleh kekasihnya, Eunhyuk.

Eunhyuk langsung meminta maaf pada Siwon karena kelancangan Donghae.

Siwon tertawa. “Ya! Kalian ini kenapa? Jangan terlalu sensitif. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Donghae menghela nafas. “Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengungkit-ungkit masa lalumu, tapi..”

“Aku baik-baik saja. Memang awalnya terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi aku bisa menjalaninya. Lihat aku sekarang, life must go on, right?” kata Siwon ringan.

“Hae, berhentilah mengungkit masa lalu Siwon.” tegur Eunhyuk pada kekasihnya.

“Aku tahu. Aku hanya khawatir. Siwon adalah sahabat baikku. Sudah sepantasnya aku merasa khawatir padanya.” Kata Donghae.

Siwon mengangguk tanda memaklumi maksud Donghae. Memang benar sejak kekasihnya pergi, ia sempat membuat semua orang khawatir. Ia memang masih bekerja dan bepergian keluar rumah seperti aktivitas sehari-harinya. Tapi ia tidak pernah bicara sama sekali! Karena jika ia bicara, ia akan menangis.

Maka semua orang ikut diam, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berpura-pura bahwa Siwon hanya sedang enggan berkomunikasi kepada siapa pun. Walau mereka tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi demi Siwon, semua ikut diam.

Selama hampir dua tahun Siwon terjebak dalam keadaan seperti itu. Diam di depan semua orang, lalu menangis dan mengasihani diri sendiri kala sendirian. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus. Kulitnya semakin pucat. Ia seperti mayat hidup andai saja ia tidak bernafas. Donghae sebagai sahabat terdekatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu terkadang ikut menangis bahkan memohon agar Siwon melupakan yang telah terjadi dan memulai hidup baru.

Hari demi hari ia berusaha membujuk dan membantu Siwon untuk menjalani kehidupan baru. Namun hal itu tidak mudah ia lakukan karena Siwon terlalu mencintai kekasihnya itu. Semua yang dilakukan Donghae sia-sia saja, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin mengembalikan senyum ke wajah sahabatnya itu.

Delapan bulan kemudian, usaha Donghae membuahkan hasil. Siwon mulai mau membuka diri lagi. Mulai bisa berkumpul dengan teman-temannya. Mulai bisa berbagi cerita. Mulai bisa tersenyum dan tertawa. Walau tidak seperti dulu, tapi setidaknya Siwon sudah kembali.

Siwon mulai melakukan kebiasaan lamanya yang sering ia lakukan dulu bersama kekasihnya. Berbelanja, lari pagi, jalan-jalan hingga berkuda. Bedanya kini ia mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang ia ditemani oleh beberapa temannya, termasuk Donghae.

“Siwon-ah, ayo kita harus memberi selamat pada Yesung dan Ryeowook.” Kata Eunhyuk membuat Siwon mengentikan acaranya melihat-lihat desain interior ballroom tersebut.

Siwon mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Donghae dan Eunhyuk. Setelah memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Siwon dan kedua sahabatnya itu mengambil makanan yang tersedia.

“Hei.. Kalian semua berkumpul disini, rupanya.” Kata seorang namja tampan berdarah cina.

“Ah, Hangeng-ssi. Aku tadi sempat mencarimu. Bagaimana kepulanganmu ke Cina? Kapan kau sampai?” Tanya Eunhyuk.

Hangeng adalah salah satu rekan kerja ketiga lelaki itu di kantor. Walaupun ia bukan orang Korea, tapi ia sangat fasih berbahasa Korea juga membaca huruf-huruf hangul. Kalau berbicara dengannya, siapa pun akan melupakan kalau dia adalah lelaki berkebangsaan Cina.

“Aku baru saja kembali sore tadi. Setelah beristirahat sejenak aku langsung bergegas kemari. Tidak mungkin aku melewatkan hari pernikahan teman kita, bukan?” jawab Hangeng.

“Tidak mungkin melewatkan acara makan gratis maksudmu?” ledek Zhoumi, salah satu rekan kerja mereka yang lain. Zhoumi juga berasal dari Cina. Ia tiba-tiba muncul di belakang Hangeng dan merangkul rekan senegaranya itu.

“Ah iya, aku ingat. Jangan lupa besok setelah meeting kita akan makan siang bersama. Bawalah pasangan kalian, karena aku juga akan membawa tunanganku.” Kata Hangeng dengan bangga.

“Benarkah? Kau akan membawa tunanganmu? Kupikir jangan, mereka akan langsung mengerubutinya.” Kata Zhoumi lagi.

“Eh? Kenapa begitu? Mana mungkin kami mau merebut tunangan rekan kami sendiri? Kau ini ada-ada saja.” ujar Donghae sambil tertawa.

“Karena ia tampan sekali. Aku saja sempat terpesona olehnya. Lalu aku ingat bahwa ia milik Hangeng. Kalau tidak sudah kubawa kabur dia.” Zhoumi bergurau.

“Aku tidak percaya kau berniat selingkuh dari adikku, Henry. Awas kau.” Kata Hangeng dengan nada marah yang dibuat-buat lalu ikut tertawa.

“Lalu besok kau akan datang bersama siapa, Siwon-ssi?” tanya Zhoumi pada Siwon.

“Aku? Aku akan datang sendiri.” Jawab Siwon enteng.

“Kau tahu benar kalau aku menyuruhmu membawa pasangan. Bukankah itu sudah jelas?” tanya Hangeng, menekankan kata ‘pasangan’ dalam kata-katanya.

“Baiklah.. Aku akan mencari pasangan secepatnya. Mungkin orang pertama yang lewat depan apartementku akan kubawa ke acara makan siangmu. Tak peduli bagaimana rupanya, yang penting aku datang berpasangan kan?” canda Siwon.

Semua tertawa. Lingkungan kerja yang nyaman membuat semuanya cepat akrab satu sama lain. Walaupun Zhoumi dan Hangeng baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke kantor cabang Seoul, mereka semua sudah dekat satu sama lain.

Dan Siwon mensyukurinya. Membuat semuanya terasa nyaman. Inilah kehidupan barunya. Ia bertekad tidak akan melihat lagi kebelakang. Ia sudah punya sahabat-sahabatnya, ia tidak butuh yang lain lagi, bukan?

*

            Siwon membelai wajah di depannya dengan lembut, menyusuri setiap inci kulitnya yang putih bersih, menambah keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang amat dikaguminya itu. Perlahan ia mencium bibir merah itu, dengan lembut tanpa nafsu, merasakan manisnya bibir sosok manis yang terlihat seperti malaikat itu.

“Kau sudah berkali-kali menciumku, hyung. Hentikan. Kau harus segera mandi lalu sarapan dan berangkat kerja. Jadi berhentilah mencumbuku.” Kata lelaki yang lebih muda darinya itu.

Siwon tersenyum. Sebelum menjawab, dikecupnya sekali lagi bibir menggoda itu. “Aku tergila-gila padamu.. Kau seperti candu, membiusku terus-menerus saat kita bersama. Membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain memujamu tanpa lelah.”

Lelaki di depannya tertawa. “Hentikan rayuan gombalmu. Cepat mandi atau aku akan mengurangi jatah malammu.”

Siwon terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras. Nafasnya tersengal-sengal. Selalu seperti itu setiap malam. Bukan mimpi yang sama, tapi dengan orang yang sama.

Kembali Siwon menangis. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat hatinya tergores pedih. Siwon memang sudah kembali menjadi Siwon yang dulu. Siwon yang ceria, optimis dan percaya diri. Ia sudah menjalani kehidupannya seperti semula. Ia bahkan sudah bisa mengatasi rasa sakit akibat masa lalunya.

Tapi satu rahasia yang mungkin akan ia simpan sendiri adalah ketakutan menutup matanya. Jika manusia pada umumnya menyukai tidur, Siwon justru sebaliknya. Ia membenci kegiatan yang paling nyaman itu. Begitu melihat tempat tidurnya di malam hari, rasa takut menghinggapinya. Seolah-olah hendak membunuhnya.

Begitu ia tertidur, ia akan bermimpi tentang kekasihnya. Mimpi itu selalu datang setiap malam, dengan potongan gambar yang berbeda-beda. Potongan gambar ketika mereka masih bersama.

Terkadang Siwon menjerit frustasi karena ia tidak juga bisa mengusir bayangan  itu ketika tidur. Bayangan itu menyakitinya. Terlalu sakit melihat kekasihnya itu dalam mimpi sementara Siwon tidak tahu dimana dirinya berada kini.

Tapi bayangan itu tak pernah berhenti datang. Setiap malam ia menyusup ke alam bawah sadar Siwon dan mengganggunya lagi. Dalam setiap mimpinya, dimana Siwon tengah berada dalam titik terlemah, tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali.

*

            Akhirnya Siwon datang bersama Kibum keesokan harinya. Kibum adalah tetangga di apartemen Siwon. Keduanya cukup akrab. Maka tanpa berpikir panjang Siwon langsung meminta Kibum menemaninya, karena Hangeng adalah orang yang paling pantang ditolak.

“Rupanya kau pandai juga memilih.” Kata Zhoumi ketika mereka sudah duduk di restaurant tempat Hangeng meminta mereka berkumpul.

Siwon tertawa. “Apa maksudmu? Dia tetanggaku. Kami memang cukup dekat. Tapi tidak ada yang istimewa. Iya kan Bummie?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Kami hanya berteman. Tak ada salahnya kan saling membantu antar tetangga?”

“Ya, ya, terserah kalian saja. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu melihat lebih dari satu pasangan yang saling bermesraan.” Kata Zhoumi lagi sambil mengerling ke arah Donghae dan Eunhyuk yang terus bermesraan sedari tadi.

“Tapi kenapa Hangeng belum datang juga? Bukankah ia yang mengundang kita semua kemari?” tanya Siwon.

Zhoumi mengangkat bahunya tanda tak mengerti. “Ia juga datang bersama Henry. Terakhir Henry meneleponku lima belas menit yang lalu. Katanya mereka sudah dalam perjalanan. Ah itu mereka..”

Baik Siwon, Donghae maupun Eunhyuk segera menoleh ke arah pintu masuk. Hangeng terlihat berjalan dengan dua lelaki. Siwon mengenal salah satunya. Dia adalah Henry, adik kandung Hangeng sekaligus kekasih Zhoumi. Yang satu lagi tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena tubuh Hangeng menutupinya.

“Wah, maaf menunggu lama. Tadi kami sempat singgah ke suatu tempat sebelum datang kemari.” kata Hangeng ramah.

“Tidak apa-apa. Kami juga belum lama menunggumu.” Kata Donghae menanggapi.

“Tentu saja terasa tidak lama bagimu, bukankah sedari tadi kerjamu hanya menyantap bibir kekasihmu?” sindir Zhoumi dengan pedas.

“Ya!” Donghae langsung protes keras namun dengan nada bercanda.

“Hangeng-ssi, itukah tunanganmu? Ah, mengapa kau menyembunyikannya?” ledek Eunhyuk.

Hangeng menepuk keningnya. “Maafkan, aku hampir lupa. Teman-teman sekalian, kenalkan ini tunanganku Kui Xian.”

Lelaki di belakang Hangeng segera menampakkan diri dan berdiri tepat di samping Hangeng. Begitu melihatnya Siwon mendapati dirinya terkejut luar biasa. Jika di dunia ini ada yang namanya reinkarnasi seperti kepercayaan orang-orang Cina kuno, maka ia harus mempercayainya saat ini juga.

Karena tunangan Hangeng itu 100% mirip sekali dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun yang menghilang beberapa tahun lalu. Tidak ada perbedaan sama sekali. Semuanya mirip, kecuali rambut Kui Xian berwarna hitam dan di potong rapi seperti rambuk cepak Hangeng. Tidak seperti Kyuhyunnya yang rambutnya sewarna madu dan sedikit lebih panjang dari milik Kui Xian. Selain dari itu, tidak ada perbedaan sama sekali.

Bukan hanya Siwon yang terkejut, tapi juga Donghae. Keduanya menatap Kui Xian dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang mereka lihat saat ini?

*

            Mentari pagi dengan hangat menyinari Siwon dan Kyuhyun. Keduanya tengah berkuda bersama, menunggangi satu kuda, melewati pepohonan rindang, menaiki jalan-jalan terjal, melewati danau indah yang membentang luas.

Lalu bayangan itu kabur dan berganti dengan bayangan Siwon tengah berkencan di salah satu restaurant dengan bernuansa merah. Siwon menceritakan sebuah lelucon dan Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

Kembali Siwon terbangun. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menguasainya. Kenapa.. kenapa bayangan Kyuhyun datang lagi? Kenapa bayangan itu dengan tega menyakitinya di saat ia berada dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melawan ataupun melarikan diri?

Tiba-tiba Siwon teringat akan Kui Xian, tunangan Hangeng  yang dikenalkan padanya hampir sebulan lalu. Setiap melihat lelaki itu, Siwon selalu teringat akan Kyuhyunnya. Kyuhyunnya yang hilang. Semua bagian tubuhnya sama, bahkan suara mereka pun sama.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini kalau mereka bukan kembar? Dan ia yakin Kyuhyunnya tidak mempunyai kembaran. Tapi mengapa keduanya sangat mirip?

Terkadang Siwon bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan Kui Xian adalah Kyuhyunnya yang hilang. Tapi mana mungkin? Yang pertama, nama lelaki itu adalah Kui Xian, bukan Cho Kyuhyun.

Kedua, lelaki itu berasal dari Cina. Walaupun bahasa Cina Kyuhyun sangat fasih, tapi kemungkinan mereka adalah orang sama kecil sekali. Apakah hanya karena bisa menguasai satu bahasa asing yang sama sudah bisa disebutkan sebagai orang yang sama pula? Tidak.

Ketiga, Kui Xian tidak menunjukkan gejala ia mengenal Siwon atau pun Donghae ketika mereka pertama kali bertemu. Jika memang Kui Xian adalah Kyuhyun, apa motifnya menghilang beberapa tahun lalu? Jika ia adalah Kyuhyun, walau pun setitik, pasti ada kilasan aneh di matanya ketika bersitatap dengan Siwon maupun Donghae, bukan? Namun  sikapnya normal dan alami.

Keempat, ia adalah kekasih Tan Hangeng, rekan kerja Siwon sendiri. Mana mungkin mereka memiliki kekasih yang sama, bukan?

Dan yang terakhir, Kyuhyun tidak ada motif untuk meninggalkan Siwon untuk lelaki lain. Keduanya sudah bertunangan dan berencana menikah beberapa bulan kedepan, tapi tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Tidak ada satu pun orang mengetahui keberadaannya. Bahkan polisi pun tidak pernah menemukan tubuh ataupun mayatnya, jika Kyuhyun memang ternyata sudah meninggal seperti perkiraan orang-orang selama ini.

Terakhir yang ia tahu, Kyuhyun pergi ke Pulau Jeju untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Tapi ia tidak pernah kembali dari Jeju setelah itu. Ketika teman kerja Kyuhyun itu ditanyai, ia berkata dengan yakin bahwa Kyuhyun sudah kembali ke Seoul.

*

            Siwon sedang menimbang-nimbang buku mana yang akan ia beli di kedua tangannya ketika dirasakannya seseorang menyapanya dari depan rak buku tempatnya berdiri.

“Anneyong haseyo..  Siwon-ssi? Masih ingat padaku?”

Siwon tertegun. Pemuda di depannya masih menatapnya dengan senyum manisnya. Tapi Siwon masih tetap diam. Seolah terpana dengan pemandangan yang disajikan di hadapannya.

“Eh? Siwon-ssi? Mungkin kau sudah lupa, aku Kui Xian. Tunangan Hangeng-gege. Kita pernah bertemu sekali di restaurant beberapa minggu lalu sebelum aku kembali ke Cina. Apa kau masih ingat?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku masih ingat. Aku hanya sedikit terkejut ternyata kau masih ingat padaku.”

Mana mungkin Siwon lupa pada sosok yang begitu dicintainya yang dengan tega merusak malam-malamnya karena selalu hadir di mimpinya? Tidak, bukan lelaki di depannya melainkan Kyuhyunnya.

Sejam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu café di dekat toko buku tadi. Keduanya asik bercerita tentang banyak hal dan Siwon menahan keras matanya untuk tidak terus-menerus menatap Kyuhyun. Tidak sopan menatap tunangan sahabatmu dengan intens, bukan?

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu memalingkan wajahmu ketika bicara denganku? Apa kau tidak senang mengobrol denganku?” tanya Kui Xian polos.

“Tidak.. Itu.. aku..” kata Siwon gelagapan.

“Ah aku tahu, mungkin kau sedang terburu-buru tapi karena merasa tidak enak meninggalkanku sendiri maka kau tetap menungguiku di sini. Benar kan?” tanya Kui Xian lagi.

Siwon terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Lidahnya kelu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Kui Xian tidak akan mau melihatnya lagi. Dan jika Hangeng tahu akan hal ini, ia pasti menjaga kekasihnya baik-baik agar tidak bertemu Siwon. Siwon akan di cap lelaki tidak tahu diri yang menyukai kekasih orang lain. Padahal ia sudah berhasil dengan sangat baik bangkit dari luka masa lalunya. Ia tidak mau usahanya yang ia lakukan bertahun-tahun itu gagal.

“Tampaknya aku benar.” Kata Kui Xian lagi. “Baiklah. Sampai jumpa Siwon-ssi. Aku pergi dulu.”

Siwon mengepalkan tangannya dengan keras. Bahkan cara marahnya juga sama. Jika diabaikan, Kyuhyunnya juga akan pergi meninggalkannya seperti tadi. Siwon ingin sekali mengejar Kui Xian. Kakinya memaksanya untuk melangkah tapi otaknya memaksanya untuk tetap tinggal dan tetap duduk. Mengejar lelaki itu sama saja menjatuhkan dirinya ke jurang kelam lagi. Ia tahu, begitu ia membuat hubungan baik dengan Kyuhyun, maka ia akan jatuh dalam pesona itu.

*

            Malam itu, tepat tanggal 19 april, para lelaki itu berkumpul dalam rangka merayakan hari ulang tahun Zhoumi. Semuanya hadir, tak terkecuali Kim Kibum. Zhoumi sendiri yang memintanya untuk membawa serta Kibum karena menurutnya lelaki itu cocok bergaul dengan kelompok mereka. Lagipula ia tidak mau Siwon datang sendiri mengingat semua yang ada di sana sudah berpasangan. Yesung dan Ryeowook bahkan ikut hadir.

“Siwon-ssi?”

Siwon menoleh. ‘Oh tidak..’ pikirnya.

Kui Xian tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini sendiri sementara yang lain tengah berpesta di dalam?”

Saat itu Siwon tengah berdiri di balkon apartemen Zhoumi, memandang hamparan kerlip lampu-lampu dari setiap bangunan di depannya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar. Kurasa aku minum cukup banyak dan merasa cukup panas di dalam.” kata Siwon seraya membalas senyuman Kui Xian.

Kebohongan besar. Ia keluar karena tidak tahan melihat Kyuhyun, maksudnya Kui Xian bermesraan dengan Hangeng. Mereka selalu saling menempel bagai amplop dan perangko. Hangeng tak pernah melepaskan lengannya dari pinggang tunagannya. Tak jarang keduanya berciuman.

Ya, Siwon tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan cemburu yang mencuat bak racun dari dalam hatinya. Ia bahkan merindukan Kui Xian setelah pertemuan singkat mereka di toko buku beberapa hari lalu. Siwon jadi merasa bersalah karena dengan berani merindukan kekasih temannya itu.

“Sepertinya kau punya masalah.” Kata Kui Xian pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Tidak, aku baik-baik saja. Percayalah, aku hanya ingin menghirup udara segar.” Kata Siwon mencoba meyakinkan lelaki di depannya.

“Biasanya orang yang sedang tertekan oleh sesuatu pasti ingin menghirup udara segar.” Kembali Kyuhyun bergumam.

‘Apa sikapku terlalu kentara? Jangan bilang Kui Xian bisa menangkap kecemburuanku. Ini tidak boleh terjadi.’ Batin Siwon.

“Siwon-ssi..”

Kembali Siwon menoleh. Kui Xian tengah menatapnya dalam-dalam. Mata indah itu bersinar indah, lebih indah dari kerlip lampu yang tadi sempat menenangkan hati Siwon. Mata yang sama, yang membuat Siwon selalu tergila-gila.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon hampir saja terlena andai saja Kui Xian tidak segera bersuara. Mendengar itu Siwon segera tersadar.

“Ten-tentu.. Tentu saja..”

Kui Xian tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya buka suara. “Apa kau membenciku?”

Siwon terperanjat. “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Kui Xian menunduk. “Karena tampaknya, kau tidak menyukai aku. Kau selalu menghindar ketika bertemu denganku. Kau juga tidak pernah mau menatapku ketika aku bicara padamu.”

“Tidak.. Itu tidak benar. Aku..”

“Dan kau tampaknya selalu mencari cara agar tidak bicara padaku.” Potong Kui Xian cepat. “Setiap aku ingin bicara, kau pasti menjawabnya seperti menutupi sesuatu.”

“Aku tahu, mungkin aku tidak seperti Henry yang lebih cepat bergaul. Tapi aku juga ingin mengenal semua teman gege. Aku ingin merasa betah di kota ini karena aku punya banyak teman. Teman-teman yang lain tampaknya bisa menerimaku, tapi.. Tidak denganmu..” Kui Xian melanjutkan.

Siwon menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada lelaki itu alasan mengapa ia melakukan semua ini? Apa setelah mendengar alasannya, Kui Xian akan mengerti? Apa Hangeng akan mengerti? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengelak.

“Tolong, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Memang seperti inilah diriku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tak nyaman.” Ujar Siwon dengan nada minta maaf.

“Benarkah? Jadi.. Kau tidak membenciku?”

Siwon mengangguk meyakinkan.

Kui Xian jadi bernapas lega karenanya. “Ah.. aku lega sekali karenanya. Aku hanya tidak ingin hubungan kita tidak baik. Bukankah kau adlaah rekan kerja gege, yang artinya kita akan lebih sering bertemu. Apalagi setelah aku dan gege menikah nanti.”

“Tentu saja.” Siwon berusaha tersenyum tulus. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar kata ‘menikah’.

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon sebisa mungkin mengatur agar nada suaranya terdengar biasa saja.

Kui Xian tersipu malu. “Aku belum tahu. Gege tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Seperti ketika kami bertunangan, ia mempersiapkan semuanya secara diam-diam, aku benar-benar terkejut saat itu. Namun aku bahagia.”

‘Cukup.. Kumohon..’

“Kau tahu, Siwon-ssi, gege adalah lelaki idaman setiap pria maupun wanita. Ia sangat lembut, penyayang, perhatian, pandai memasak, pandai membuat aku tertawa dengan lelucon-leluconnya, pandai membuatku merasa melayang hingga ke langit ke tujuh.. Aku benar-benar beruntung, bukan?”

‘Ya, beruntung. Sangat beruntung. Aku lah satu-satunya yang tidak beruntung saat ini.’

“Siwon-ssi.. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih? Menurut Donghae-ssi, Kibum-ssi adalah tetanggamu. Tapi kalian tampak serasi. Apa kau menyukainya?” tanya Kui Xian.

“Aku..” Siwon tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. Tapi akhirnya ia memilih untuk bicara dengan jujur. “Aku sedang tidak punya kekasih. Mungkin orang-orang melihatku sangat cocok dengan Kibum, tapi tidak ada yang terjadi diantara kami.”

“Tahukah kau, tampaknya ia menyukaimu.”

Siwon cukup tercengang mendengar penuturan Kui Xian. “Eh? Benarkah?”

Kui Xian mengangguk. “Makanya sejak awal aku selalu berpikir pastilah kau punya masalah yang cukup berat. Karena ada lelaki manis di sampingmu yang terlihat jelas sangat menyukaimu tapi kau mengabaikannya, atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali. Dan tebakanku tampaknya benar.”

“Apa menurutmu.. Aku harus memberinya kesempatan?” tanya Siwon. Ia berharap Kui Xian setidaknya akan memberi sedikit saja kata yang aneh, atau nada bicara yang aneh atau sinar mata yang tidak biasa atau bahkan ekspresi penuh kepura-puraan ketika menjawab.

Tapi di luar ekspektasinya, lelaki itu justru menjawabnya dengan riang. “Tentu saja. Kau harus memberinya kesempatan. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Carilah kebahagiaanmu. Berhentilah bersedih. Jika kau mempunyai kekasih, kau bisa berbagi suka dan duka  bersamanya, bukan? Maka segalanya akan terasa lebih ringan. Jadi, saranku, cobalah membangun sesuatu yang baru dengannya, kau berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Siwon terpaku di tempatnya. Bagaimana kalau kebahagiaanku adalah sesuatu yang ada dalam dirimu? Bagaimana kalau ternyata dirimulah yang aku harapkan untuk berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau pada kenyataannya aku mengharapkan sebagian darimu adalah milikku yang hilang?

*

wonkyu dwcme

To Be Continued..

PS : HAPPY 26TH BIRTHDAY TO OUR BELOVED EVIL MAGNAE, CHO KYUHYUN

HOPE HE HAS A BLAST TODAY AND MAY GOD ALWAYS BLESS HIM IN EVERYTIME..

MUCH LOVE KYUHYUNNIE.. ❤

The Journey – Chapter 7

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 7

“Sudah sangat lama.” Kyuhyun dan Zhoumi sore itu memutuskan untuk bertemu lagi setelah pertemuan tak terduga mereka beberapa hari yang lalu.

“Apa kau pernah mendengar kabar dari Yunho-ssi?” tanya Kyuhyun.

Zhoumi terdiam. Ia tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya ia menceritakan hal yang seharusnya ia rahasiakan tentang Yunho.

Beberapa hari setelah itu, ia dan Kyuhyun bertemu lagi dan langsung menuju ke stasiun kereta api, tempat dimana mereka berharap bisa bertemu dengan Yunho.

Keduanya tampak melongok ke dalam kereta api yang akan berangkat sebentar lagi. Mencari-cari dengan cemas, dimana gerangan Yunho berada. Tapi semakin mereka cari, semakin sulit Yunho ditemukan.

Hari ini adalah hari yang sangat ditakutkan oleh Kyuhyun. Ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk bertemu cinta pertamanya itu. Karena Yunho yang ternyata hilang tanpa kabar telah berhasil masuk ke dalam jajaran staf militer atau tentara dan kini bersiap untuk berperang melawan Vietnam.

Ketika Kyuhyun telah sampai di ujung kereta api, ia nyaris putus asa karena tidak mendapati Yunho sama sekali. Namun tiba-tiba ia terhenti. Sekilas, ia seperti melihat seseorang duduk diam dengan kepala menunduk. Walaupun hanya sekilas, walaupun orang itu mengenakan topi besi, Kyuhyun tahu itu adalah Yunho-nya.

Dengan segera ia berlari kembali ke belakang dan berhenti tepat di depan jendela, dimana dibaliknya Yunho terlihat duduk dengan sedih. Kyuhyun mulai menangis. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki yang dicintainya selama bertahun-tahun itu? Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan lelaki sederhana yang membuat hari-harinya cerah itu?

Kyuhyun mengetuk jendela kaca itu. “Yunho-ya.. Yunho-ya..”

Yunho menoleh. Sesaat ia terkesima melihat siapa yang datang. Namun ketika matanya melirik Zhoumi, ia mengalihkan pandangannya. Ia berbalik, membelakangi Kyuhyun dan Zhoumi.

Tapi didengarnya Kyuhyun tetap mengetuk jendelanya dengan keras. Hatinya hancur mendengar Kyuhyun menangis di luar sana, seraya memanggil namanya. Mati-matian ia berusaha menahan tangisannya. Ia tidak ingin Kyuhyun tahu, betapa ia terlukanya.

“Yunho-ya.. Tolong kembalilah dengan selamat.. Kumohon..” Kyuhyun masih setia menangis di luar sana. “Kau harus kembali dengan selamat. Yunho-ya.. Jawab aku.. Yunho-ya..”

Kehilangan Yunho selama bertahun-tahun sudah cukup merupakan pukulan berat baginya. Apalagi ia harus menyaksikan Yunho mengabaikannya disaat lelaki itu akan pergi menentang maut.

“Yunho-ya.. Kembalilah dengan selamat..”

Yunho tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia menangis dalam diam. Wajahnya masih senantiasa berpaling dari jendela, tempat dimana Kyuhyun – yang juga menangis – berdiri disana.

Lalu terdengar bunyi peluit panjang. Bersamaan dengan itu, perlahan kereta mulai bergerak maju. Tapi Yunho tidak juga berubah pikiran, ia tetap mengabaikan dua orang yang menunggunya di luar. Semantara itu Kyuhyun dan Zhoumi ikut bergerak, seakan tidak ingin Yunho meninggalkan mereka.

“Yunho-ya..”

Kyuhyun masih memanggil nama Yunho dalam tangisnya. Yunho akhirnya menoleh, meletakkan tangannya di kaca dan memandang Kyuhyun dengan sedih ketika kereta mulai berjalan sedikit lebih cepat. Dilihatnya Kyuhyun mulai berlari mengikuti kereta di luar, di belakangnya Zhoumi ikut berlari.

Ketika akhirnya dilihatnya Kyuhyun tidak mampu mensejajarkan diri dengan jendelanya, Yunho melepas topi beratnya dengan cemas. “Kyuhyun-ah..”

Ia berlari cepat ke gerbong belakang kereta, guna mencari pintu keluar terdekat dengan posisi Kyuhyun saat ini.

Kyuhyun berlari, mengejar kereta yang berjalan semakin kencang. Tangisnya masih tetap menghiasi wajahnya. Tangannya sibuk melepaskan kalung yang menghiasi leher putihnya yang kini terbalut mantel tebal, menghalau dinginnya musim gugur kala itu. Di belakangnya, Zhomi ikut berlari.

“Kyuhyun-ah.. Zhoumi-ya..” teriak Yunho dari pintu gerbong terdekat, melihat dua orang yang disayanginya berlari mengejar keretanya.

Kyuhyun masih berlari, di telapak tangannya kini ada seuntai kalung yang dulu pernah diberikan pada Yunho tapi dikembalikan di hari Zhoumi masuk rumah sakit. Kini, ia ingin memberikannya lagi pada Yunho.

“Yunho-ya..” Kyuhyun menyerahkan kalung itu pada Yunho. Ia masih senantiasa menangis, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Yunho akan kembali dengan selamat? Apakah ia masih bisa melihat lelaki itu?

Kereta berjalan semakin cepat. Kyuhyun dan Zhoumi sudah tidak bisa lagi mensejajarkan langkah mereka dengan alat transportasi panjang itu, tak peduli sekuat apa mereka berlari.

“Yunho-ya, kembalilah dengan selamat.” Teriak Zhoumi seraya berhenti berlari. Kyuhyun pun meneriakkan hal yang sama. Lelaki itu tampak sangat terpukul dengan kepergian Yunho.

Yunho hanya bisa melambaikan tangannya. Airmatanya masih tetap mengalir. Ketika Kyuhyun dan Zhoumi semakin kecil dari pandangannya, ia terduduk di sana, memandang kalung di tangannya dengan perasaan sakit. Kalung itu sangat berharga. Berasal dari keluarga Zhoumi yang diberikan oleh Kyuhyun kepadanya. Artinya, kalung itu merupakan pemberian dari kedua orang yang sangat disayanginya.

Dengan mantap ia lalu mengenakan kalung tersebut di lehernya. Dengan tekad baru, ia menempelkan benda itu ke dadanya.

*

            Deru helikopter membahana di udara. Benda besi raksasa bermotif loreng itu terbang di atas pegunungan dan lautan di salah satu hutan Vietnam, menampung para tentara yang kini siap maju ke medan perang. Tak lama kemudian, dua helikopter itu turun dari angkasa dan mendarat sempurna di sebuah tanah lapang.

Segera setelah helikopter itu menyentuh tanah, para tentara di dalamnya berhamburan keluar seraya menggenggam erat senapan laras panjang di tangan. Dengan langkah-langkah berani, para tentara itu mulai berlari maju, menyerang ke lini depan sang lawan. Ranjau-ranjau yang meledak tak jauh dari kaki mereka sama sekali tidak menyurutkan keteguhan dan keberanian dalam diri ksatria mereka.

Yunho melompati beberapa batang pohon yang tumbang di tanah, melewati ranjau yang baru saja meledak dan memakan korban di belakangnya. Tanpa gentar ia lalu menyusup diantara teman-teman seperjuangannya, berlindung di balik sebuah batang pohon lain yang tumbang dan mulai menembaki para musuh yang berdatangan dari arah berlawanan.

DOR!

DOR!

DOR!

Seorang lelaki dari camp militer yang sama dengannya tersenyum kepadanya. Yunho tidak mengenalnya dengan baik. Ia hanya tahu lelaki itu bernama Kim Youngwoon, mereka beberapa kali berpapasan di camp dan saling menyapa. Yunho ikut tersenyum kepada lelaki tinggi besar itu.

Kemudian mereka meneruskan aksi menembak musuh. Beberapa diantara mereka telah tumbang dengan tubuh tertancap peluru dari mesiu musuh. Semakin lama, musuh yang mendekat semakin banyak, semakin membuat tim Yunho kewalahan.

DOR!

Satu tembakan lain berhasil mengenai sasaran, tubuh salah seorang tim Yunho jatuh. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi melihat siapa yang terluka karena sibuk mengisi peluru ke dalam senjatanya sendiri, hingga sebuah tangan besar meraih keras bajunya dari arah kanan.

Yunho menoleh dan mendapati Kim Youngwoon tengah kesulitan bernafas dengan sebuah luka tembak di dadanya. Bibirnya mengeluarkan darah, tubuhnya kejang-kejang. Hanya genggaman tangannya di kerah seragam Yunho yang membuatnya tampak seperti butuh teman menjelang ajalnya.

“Kopral! Kopral! Sadarlah!” teriak Yunho, berusaha menyadarkan lelaki yang tengah sekarang meregang nyawa itu. “Medis..! Aku butuh bantuan medis!” teriak Yunho lagi seraya menoleh ke kiri dan kanan, mancari bantuan.

“Bertahanlah! Bertahanlah! Kumohon bernapaslah!” Teriak Yunho frustasi seraya mengantamkan telapak tangannya berkali-kali ke dada Kim Youngwoon, airmatanya sudah tumpah melihat korban di depannya. Sementara beberapa temannya sudah mulai mundur, mereka nyaris terkepung.

“Hentikan! Dia sudah mati! Ayo pergi! Dia sudah mati bodoh!” Choi Siwon menariknya mundur, membawanya pergi dari tempat itu atau mereka akan jadi korban berikutnya.

Keduanya berlari, menghindari bom yang dilemparkan ke arah mereka juga peluru yang dengan ganas mengambil nyawa lain. Yunho masih melihat ke belakang sebelum benar-benar berlari sekuat tenaga. Satu dari orang yang dikenalnya mati di depan matanya. Ini adalah kali pertama ia mengalaminya dan entah mengapa terasa sangat berat di dadanya.

Musuh semakin dekat, dengan suara-suara lantang yang menakutkan, mereka menembaki tentara Korea Selatan dengan ganas. Yunho berlari, deru di dadanya dan sesak di tenggorokannya nyaris merobek hatinya. Ia ingin hidup, dan ia harus selamat demi Kyuhyun.

Dari jauh, Yunho bisa melihat tanah lapang dimana ia dan teman-temannya tadi diturunkan. Helikopter yang tadi membawa mereka pun sudah menunggu di sana. Ia baru akan mempercepat laju larinya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di sekeliling lehernya. Ketika ia menyentuh di sana, barulah ia menyadari bahwa kalung pemberian Kyuhyun tidak melingkar di sana seperti biasa. Ia mengingat bahwa orang terakhir yang menyentuh lehernya adalah Kim Youngwoon.

Tanpa pikir panjang, Yunho berlari ke belakang, berlawanan arah dari teman-temannya yang sedang berusaha melarikan diri menuju helikopter.

“Yunho! Kau mau kemana, bajingan! Kembali kemari!” teriak Siwon ketika melihat tindakan bodoh Yunho. “Yunho-ya! Kembali kemari!”

Sementara para tentara Korea Selatan sudah berlomba-lomba menaiki helikopter, beberapa diantaranya bahkan sudah terbang begitu holikopter yang ditumpangi penuh. Tapi Yunho tidak peduli. Ia terus berlari, menyerbu membabi buta, menghabisi siapa saja yang bisa dijangkaunya.

Kalung pemberian Kyuhyun yang juga berasal dari keluarga Zhoumi itu jauh lebih penting baginya. Seperti hartanya, jiwanya, tubuhnya. Beberapa peluru melewatinya, menggores topi bajanya, melewati belakang lehernya. Namun seolah tak kenal takut, ia terus menyerbu.

Ia tidak tahu bahwa seorang tentara Vietnam tengah terfokus menatapnya. Dengan seringai lebar, lelaki itu mengarahkan senjatanya ke tubuh Yunho. Tapi sebelum ia sempat menembak, ia menjerit kesakitan. Sebuah peluru lain meluncur masuk ke tubuhnya, ketika ia menoleh didapatinya tentara lain tengah melindungi targetnya tadi dari jauh. Tentara itu : Choi Siwon.

Siwon menganggap Yunho sudah seperti saudaranya sendiri. Berlatih bersama di camp, memenuhi panggilan Negara untuk membela tanah air dari musuh, membuat keduanya benar-benar saling mendukung.

Dan kini, ketika dilihatnya Yunho kembali ke arena tembak alih-alih menyelamatkan diri, ia segera menyusul. Apapun alasan Yunho kembali, ia tidak peduli, ia hanya ingin Yunho kembali ke Korea dengan selamat bersamanya. Ia tidak bisa mengejar Yunho terlalu jauh karena ia sendiri ditahan oleh beberapa orang sekaligus, maka ia hanya bisa melindungi sahabatnya itu dari jauh.

Yunho sudah hampir sampai ke lapangan tadi, beberapa kali ia bertemu musuh di perjalanannya, tapi dengan sigap ia menyerang dengan tembakan berulang kali.

Begitu sampai disana, ia segera menghampiri mayat Kim Youngwoon lalu meraih tangan kanan lelaki itu. Benar saja, dalam genggaman lelaki itu, ada kalung pemberian Kyuhyun. yunh berusaha melepaskannya namun genggaman Kim Youngwoon sangat kuat, membuat Yunho harus menariknya lebih keras lagi hingga akhirnya terlepas.

Yunho memandang kalung itu sebentar, mensyukuri kembalinya kalung itu ke tangannya. Ia segera menggigit liontin-nya lalu segera beranjak. Ia berlari kembali ke tanah lapang dimana helikopter dan tentara lainnya menunggu.

DOR!

Seorang lelaki dengan seragam yang sama dengannya terkena lemparan bom dan langsung membuatnya roboh ke tanah. Yunho segera menghampiri lelaki itu lalu membawanya di bahunya seraya tetap berlari.

Beban terasa sangat berat di bahunya. Tubuhnya terasa letih luar biasa. Panas yang ia rasakan begitu mengikat, membuatnya nyaris bersimpuh disana, tapi tekadnya yang kuat untuk kembali selamat membuatnya bersemangat. apalagi dengan kembalinya kalung berharganya yang kini berada diantara gigi-gigi serinya.

Para tentara Korea Selatan tengah menunggunya dengan sikap waspada. Senjata mereka terancung, kalau-kalau ada tentara Vietnam yang membuntiti Yunho atau tiba-tiba muncul disana. Semakin dekat ia dengan tentara senegara membuatnya semakin lega.

‘Aku selamat.’

Namun, ketika ia baru akan melangkahkan kakinya lagi, sebuah bom meledak tepat di depannya dengan suara menggelegar. Yunho jatuh tersungkur, begitu juga dengan lelaki di pundaknya tadi. Rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa ia akan mati sebentar lagi. Terlalu sakit, ia benar-benar tidak bisa menahan lagi.

Choi Siwon berlari ke arah sahabatnya, hatinya berdegup kencang dengan kenyataan buruk yang bisa saja menimpa Yunho. Disana, ia melihat sahabatnya dengan napas tersengal, bersimbah darah di wajahnya, dengan tubuh bergetar. Tangan Yunho yang juga bergetar itu pelan-pelan meraih kalung yang tergeletak tak jauh darinya ke dalam genggamannya.

*

            Seorang anak kecil bermain riang di dalam sebuah café kecil di pinggiran kota. Ketika melihat miniature piano berwarna hitam di atas meja, ia segera mengambilnya lalu membawanya bermain.

Cho Kyuhyun duduk dengan sabar disana, matanya tak henti-hentinya melihat ke luar jendela. Ia tampak snagat tampan hari itu, ia bahkan memilih pakaian terbaik untuk moment terbaik sepanjang hidupnya ini.

Tak lama kemudian, senyumnya terkembang ketika melihat sebuah taksi berhenti di depan café kecil itu. Dari dalamnya, turun seorang lelaki yang amat sangat dikenalnya. Jung Yunho.

Yunho melangkah pelan ke dalam café itu. Tubuhnya masih tetap tegap. Rambutnya masih tetap cepak seperti sebelum ia berangkat ke Vietnam. Dan senyumnya, masih tetap senyum yang sangat dikagumi Kyuhyun sepanjang hidupnya. Dibalut setelan jas musim gugur, lelaki itu menghampir Kyuhyun.

Dia tampan. Dan selalu tampan.’ Kyuhyun hanya bisa memikirkannya. Ia begitu terkesima melihat Yunho kembali. Begitu Yunho mengabarinya bahwa ia pulang dengan selamat ke Korea dan ingin bertemu dengannya, kebahagiaan membuncah di dada Kyuhyun saat itu. Walaupun ia harus menunggu beberapa tahun, namun ia dan Yunho akan bersatu lagi. Segera.

“Kau tidak berubah sama sekali.” Puji Yunho. Senyum khasnya masih terukir di wajahnya. “Kau tampak seperti dulu, selalu manis dan mempesona.”

“Tidak, aku semakin tua.”

Keduanya bicara dengan canggung, mengingat mereka tidak bertemu selama beberapa tahun dan perpisahan terakhir mereka bukan perpisahan yang manis. Yunho lalu mendudukkan dirinya di kursi terdekat, Kyuhyun ikut duduk di depan lelaki itu.

“Kau melewati masa-masa sulit, bukan?” tanya Kyuhyun pelan.

“Tidak juga.” Jawab Yunho, masih dengan suara canggung. “Oh.. Bagaimana kabar Zhoumi?”

Kyuhyun melirik Yunho. “Sepertinya ia baik-baik saja.”

Kyuhyun tidak ingin membiarkan Yunho tahu bahwa Zhoumi masih menginginkannya namun lelaki itu setia menunggu, ia tidak memaksakan perasaannya sama sekali karena Kyuhyun tidak ingin memikirkan lelaki lain selain Yunho.

“Mengapa kau belum juga menikah?” tanya Yunho lagi. “Aku sudah menikah.” Ia memaksakan senyum tulus di wajahnya.

Kumpulan airmata menggenang di pelupuk mata Kyuhyun ketika mendengar kata-kata Yunho barusan. Ia telah menunggu sekian lama tapi ternyata Yunho tidak memberinya kesempatan sama sekali.

“Ya, aku mendengar hal itu.” kata Kyuhyun dengan tenang, menyembunyikan perasaannya yang hancur.

“Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Tapi entah mengapa, ketika kita saling bertemu seperti ini, aku jadi melupakan segalanya.” Yunho tertawa kecil.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman. Ia membuang pandangannya ke luar jendela, berusaha keras menahan airmatanya yang hendak tumpah.

“Kau lihat piano kecil itu? Kami juga punya satu di rumah. Sama persis dengan yang itu.” kata Yunho seraya memalingkan wajahnya ke kanan.

Airmata Kyuhyun sudah jatuh. Tapi ia tidak ingin merusak acara ini, jadi ia meneruskan mendengarkan kata-kata lelaki di depannya. ia ikut menoleh ke arah dimana pandangan mata Yunho berhenti.

“Ketika aku melihatnya, aku teringat saat kau memainkan piano.” Yunho masih terus menatap ke meja itu.

Kyuhyun mendadak bingung di buatnya. Piano? Diatas meja itu hanya ada sebuah pot bunga kecil, tidak ada piano sama sekali. Piano yang tadinya ada disana sudah sedaritadi di bawa oleh anak kecil yang kini memainkannya di meja lain.

“Benar-benar seperti kau. Benarkan?” mata Yunho masih memandang ke meja itu dengan senyumnya.

Kyuhyun menatap Yunho dengan perasaan takut luar biasa. Perlahan ia menaikkan jemarinya ke depan wajah Yunho lalu menggoyang-goyangkannya. Yunho sudah berbalik menatapnya, masih dengan tatapan dan senyum yang sama, namun sama sekali tidak ada reaksi atas pergerakan jemari Kyuhyun di depan matanya.

“Waktu itu kita masih sangat muda.” Yunho melanjutkan kata-katanya.

Di depannya, Kyuhyun menutup mulutnya. Jantungnya serasa berdetak terlalu kencang. Ketakutan menyelimutinya.

“Tapi masa lalu telah pergi.”

Kyuhyun kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini jatuh sudah. Ia menahan suaranya agar tagisnya tak terdengar.

“Kupikir, perasaan kita saat itu adalah perasaan terbaik. Kita menjerit dan tertawa untuk hal-hal kecil.” Yunho masih saja terus bicara dengan lembut, masih dengan senyum dibarengi pandangan mata yang hangat.

Kyuhyun sudah benar-benar menangis kini, namun ia masih berusaha keras menyembunyikan suara tangisnya. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya itu tidak bisa melihat. Yunho buta.

“Bagaimana wajahku saat ini?” tanya Kyuhyun diantara tangisnya, berusaha membuat suara normal.

“Kau terlihat sehat.” Kata Yunho yakin. “Tapi aku ingin melihatmu lebih bahagia dari sekarang.”

“Aku sedang menangis saat ini. Tidak bisakah kau melihat air mataku?” tanya Kyuhyun. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan suara tangisnya yang keras.

Wajah Yunho berubah seketika. Ia baru saja menyadari bahwa ia salah memperkirakan raut wajah Kyuhyun sesaat tadi.

“Mengapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa kau tidak bisa melihat?” Kyuhyun menangis. Airmatanya semakin deras. Sakit yang dirasakan di hatinya begitu kuat, nyaris merobek seluruh sisa perasaannya.

Merasa penyamarannya telah terbongkar, Yunho yang sangat gugup saat itu bangkit dari duduknya. “Hari sudah sore, maaf, aku punya janji lain. Aku harus pergi.”

Yunho berbalik meninggalkan Kyuhyun. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Tapi, tanpa tongkatnya, ia tidak bisa meraba kemana arah yang seharusnya ia ambil. Detik berikutnya ia sudah jatuh tersungkur karena menabrak meja di depannya.

Yunho terpaku disana. Ia hanya bisa diam dan menangis, menyesali nasib buruk yang menimpa dirinya. Perlahan Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu menghampiri lelaki itu. masih dengan tangisnya, ia membantu Yunho berdiri.

“Maafkan aku. Tadi nyaris sempurna. Aku bisa saja berhasil melalui semua itu. Aku bahkan datang kemari tadi malam dan banyak berlatih.” Kata Yunho meminta maaf. Hatinya sakit sekali karena tidak bisa melihat wajah Kyuhyun, lelaki yang teramat dicintainya. Bahkan melihat setitik airmatanya pun ia tidak bisa.

“Kau hampir saja membodohiku. Kau benar-benar bekerja keras. Aku nyaris saja percaya.” Kata Kyuhyun, tersenyum dalam tangisnya.

Yunho merogoh kantongnya lalu mengeluarkan kalung pemberian Kyuhyun beberapa tahun lalu. “Aku.. mempertaruhkan nyawaku untuk mengembalikan kalung ini kepadamu.”

Ia hendak memakaikan kalung itu ke leher Kyuhyun namun Kyuhyun meraihnya. “Jangan.. Kalung ini adalah milikmu.” Kyuhyun lalu melingkarkan kalung itu ke leher Yunho.

Begitu kalung itu melekat sempurna ke lehernya, tangis Yunho kembali pecah. Ia memberanikan diri mengakat tangannya, membelai pipi halus Kyuhun yang saat itu tengah bermandikan air mata.

Cinta mereka hanya sampai disana. Yunho benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun dan tidak pernah kembali sama sekali. Membuat Kyuhyun akhirnya menerima perjodohan ayahnya dengan Zhoumi dan menikahi lelaki jangkung itu. Bahkan, di hari pernikahannya, Kyuhyun masih saja menitikkan airmata. Menangisi cinta pertamanya yang hilang, cinta sejatinya yang pergi dan cinta terakhirnya yang tidak pernah bisa ia dapatkan kembali.

Yunho the journey 7

TBC

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

The Journey – Chapter 5

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 5

Kyuhyun membuka matanya perlahan, begitu matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia tersentak melihat seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh wajahnya dengan malu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini?”

Yunho tersenyum. “Mengapa kau menutupi wajahmu.” Ia berusaha menarik selimut Kyuhyun.

“Hentikan. Aku bahkan belum membasuh wajahku yang kotor.”

“Tapi kau tetap manis di mataku.”

Kyuhyun mengabaikan rayuan Yunho. “Kenapa kau tahu aku ada disini?”

“Aku tahu dari Zhoumi.”

Kyuhyun tertawa mendengarnya.

“Mengapa kau tertawa?”

“Kudengar kau meminum 32 butir obat cacing.” Kyuhyun masih terus tertawa.

Yunho ikut tertawa karenanya. “Zhoumi jahat itu. Mulutnya benar-benar besar. Sial! Apa dia mengatakan hal lainnya?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Ia kemudian membuka selimutnya lalu menjawab. “Tidak. Setelah diam selama beberapa saat, ia pergi.”

“Benarkah?”

Kyuhyun mengangguk.

“Dia benar-benar aneh.” Yunho menatap Kyuhyun. “Apa sakitmu cukup parah?”

Kembali Kyuhyun mengangguk.

“Maafkan aku. Saat itu aku benar-benar tolol. Selain mencintaimu, aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan.”

Kyuhyun tersenyum. “Kau slaah. Kau punya banyak hal yang bisa dibanggakan.”Seperti basah kuyup tersiram hujan dan meminum pil cacing dengan jumlah yang cukup banyak.”

Yunho menyadari bahwa Kyuhyun mencoba bercanda. “Jangan tertawa. Ini serius. Aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita pada Zhoumi. Jadi kita bisa melanjutkan hubungan ini.”

Saat itu Yunho mendengar ada suara langkah-langkah kaki di luar. “Apa ini kamarnya?”

“Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa.” Ia kemudia mencium pipi Kyuhyun sekilas lalu bergegas pergi. Tapi ketika ia akan membuka pintu, benda yang terbuat dari kayu itu mulai terkuak. Yunho segera mundur lalu bersembunyi di balik selimut di atas tempat tidur.

Beberapa orang masuk ke ruangan itu. seorang lelaki paruh baya berpakaian resmi masuk dan berkata. “Oh anakku yang malang, kenapa kau bisa kehujanan seperti itu?”

Kyuhyun hendak bangkit dari tidurnya dan memberi salam. Tapi lelaki itu menolak. “Berbaringlah. Demammu bisa ditangani segera. Kau bisa terkena pneumonia.”

Pelan-pelan Yunho bangkit dari tidurnya lalu berjalan pelan ke pintu saat semua mata disana memandang ke tempat tidur Kyuhyun.

“Apa kau makan dengan baik? Kau harus memakan makanan sehat agar cepat sembuh.”

Namun Kyuhyun tidak memperhatikan dengan baik. Ia melihat Yunho yang hendak keluar ke pintu dengan panik. Ketiga orang lainnya yang ada disana menoleh ke belakang.

Gerakan Yunho yang mengendap-endap masuk ke sebuah ruangan kecil, berusaha untuk lolos terhenti ketika ia menyadari semua orang memergokinya.

“Ah…m…maaf. Se…sepertinya aku salah ruangan.” Ucapnya gugup sebelum ia membungkukan badannya dan menutup pintu dengan kikuk.

Kyuhyun sendiri hanya meringis, merutuki kebodohan namja tersebut yang jelas-jelas memang ‘salah ruangan’.

Sang dokter hanya menghela nafas pelan seraya melangkah menuju ruangan tempat Yunho masuk. Ia membuka pintu tersebut tanpa berkata apapun.

Yunho terkesiap, ia baru menyadari memang dirinya telah salah masuk ruangan ketika melihat satu stel seragam Kyuhyun menggantung di belakangnya. Ruangan yang baru saja ia masuki ternyata adalah sebuah lemari gantung.

“Hahaha, ternyata memang benar salah ruangan…” tawanya semakin gugup dengan menunjuk seragam Kyu yang tergantung. Tanpa sepatah kata pun, ia menundukan tubuhnya dengan memegang erat tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan pasien.

Sementara Kyu hanya tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya.

*

Yunho membalikan tubuhnya ketika ia merasakan seseorang telah berdiri di belakangnya.

“Kepalkan tanganmu.” Pinta namja tersebut pada seseorang yang kini telah berdiri di hadapannya. Tak lupa ia juga ikut mengepalkan tangannya memberi contoh.

Zhoumi, namja tersebut memandang kedua tangannya bingung sebelum ia menuruti permintaan sahabatnya.

“Naikkan kepalanmu seperti ini.” Yunho memasang posisi siaga dengan kedua tangannya yang mengepal erat.

Lagi, Zhoumi pun menurutinya meskipun ia sendiri masih tampak bingung.

Yunho menghela nafas kasar dan menatap lurus pada retina milik lelaki jangkung  yang ada di hadapannya.

“Sekarang, pukul aku.” Pinta Yunho tanpa ragu. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun memejamkan matanya. Menunggu apa yang akan Zhoumi lakukan padanya.

“Kenapa aku harus memukulmu?”

“Lakukan saja dan segera pukul aku!”

“Aku tidak suka memukul ataupun di pukuli oleh orang lain.” Jawab Zhoumi dengan ekspresi wajahnya yang datar.

“Ya!” ia berteriak meminta perhatian Zhoumi. “Kyuhyun. Kami sudah saling mengenal satu sama lain.” Dengan nada tegas ia mencoba menjelaskan kenyataan yang telah ia sembunyikan pada sahabat sekaligus tunangan lelaki yang ia cintai.

Zhoumi sedikit terkejut mendengar ucapan Yunho. Namun ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari wajahnya sebelum ia membalikan tubuhnya dan memilih untuk pergi meninggalkan Yunho dengan terbahak keras.

“Sebenarnya dia yang memberikan kalung ini padaku musim panas lalu!” Teriak namja Jung itu tak memperdulikan Zhomi yang melangkah menjauh darinya.

Awalnya Zhoumi mengacuhkan teriakan tersebut dengan tetap berjalan meninggalkan Yunho. Namun tiba-tiba saja keseimbangan tubuhnya hilang dan membuatnya jatuh tersungkur di tanah lapang tempatnya berpijak.

Sesegera mungkin Yunho berlari menyusul Zhoumi. “Zhoumi-ya, gwenchana?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Sialan. Aku terjatuh lagi.” Rutuk Zhoumi dengan heran. Ia mendesis kesal dengan kebiasaannya yang akhir-akhir ini sering terjatuh tanpa ia ketahui penyebabnya. Ia pun bangkit dari posisinya dan membersihkan seragamnya yang terkena debu dan rumput kering.

“Kau tak perlu khawatir.” Ia bangkit dan berdiri membelakangi Yunho yang berdiri kaku di belakangnya. “Mengenai hal itu, jangan biarkan ayahku melihat kalung tersebut.  Jika tidak, ia pasti akan murka.”

Ia menunduk sekilas, memilih kata yang tepat untuk di ucapkan pada sahabatnya.

“Karena kalung tersebut adalah hadiah pemberian ayahku…” Ia membalikkan wajahnya, menatap Yunho yang tampak menunggu kelanjutan kalimat yang akan ia ucapkan. “… hadiah khusus yang di berikan ayahku untuk Kyuhyun.”

Yunho membeku di tempatnya. Ia tak berusaha menghentikan langkah Zhoumi yang lagi-lagi menjauh darinya. Rasa bersalah di hati semakin dirasakannya setelah mengetahui hal tersebut. Terlebih, saat melihat ekspresi muram dari wajah sahabatnya itu.

*

           Libur musim dingin telah tiba. Yunho pun memilih menghabiskan waktu liburnya di kota tempat pamannya  tinggal. Kota dimana ia pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, namja manis yang sangat ia cintai.

Dan semenjak itulah ia tidak bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun. Hingga ia berpikir bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi selamanya. Namun kekhawatirannya sirna ketika suatu hari ia mendapat sebuah  kiriman surat yang di antar oleh tukang pos.

            Bogoshipo…

            Aku sangat merindukanmu hingga kurasa aku akan mati karenanya. Dan aku penasaran, seberapa banyakkah sungai kenangan kita berubah. Sampaikan salamku pada rumah hantu yang dulu kita kunjungi, pada bangku dan pada deretan perahu dayung di tepi sungai kita. Katakan jika aku merindukan mereka, dan aku akan melakukan yang terbaik.

            Kemarin Zhoumi datang menemuiku dan memberiku alamat tempat tinggal  pamanmu. Selain itu, ia  juga membuat pengakuan padaku yang membuatku sangat terkejut. Ia mengatakan jika kaulah yang selama ini menuliskan suratnya untukku. Huh…bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan kebenaran itu dariku?

            Tapi, tak apa. Padahal awalnya nyaris saja aku membuang surat-surat tersebut. Tapi saat ini aku bisa membacanya lagi dengan memikirkanmu setiap waktu.

            Zhomi juga memberikan saran. Jika kau bisa menggunakan namanya untuk dapat tetap bertukar surat denganku. Jadi orang tuaku nanti akan menganggap bahwa aku dan Zhoumi masih tetap saling bertukar surat.

*

Kyuhyun menundukkan kepalanya ketika ia mendapati appa-nya tengah berdiri di ambang pintu kamar yang baru saja ia buka. Namja peruh baya itu tersenyum sekilas dan  memberikan sebuah surat yang pada sampulnya tertulis nama’ Zhoumi’.

Ia mengucapkan terima kasih pada sang appa sebelum ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ekspresinya seketika berubah riang dengan melonjak-lonjakan tubuhnya karena girang. Tanpa membuang waktu ia pun mendudukkan diri di meja belajarnya untuk membaca surat yang ia dapat yang tidak lain adalah surat dari Jung Yunho, lelaki terkasihnya.

Lihatlah keluar jendela,

Jika terdapat ranting yang jatuh dan terbawa oleh hembusan angin,

Itu berarti orang yang kau cintai adalah orang yang juga mencintaimu…

*

Kyuhyun :

Saat ini, salju sedang turun diluar sana.

Ketika salju pertama turun,

Mereka mengatakan padaku jika ‘kau harus pergi berkencan dengan orang  yang kau cintai’. Tapi yang ku lakukan saat ini  hanyalah menulis surat.

Yunho-ssi, aku sangat merindukanmu. Aku akan menemui appa dan meminta izin  untuk berkunjung ke tempat kakek. Jika aku di ijinkan, aku berjanji akan mengirimimu telegram.

*

Yunho :

Bukalah telingamu,

Jika kau mendengar detakan jantungmu sendiri, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga .

Pejamkanlah matamu.

Jika bibirmu menyunggingkan sebuah senyuman, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga.

*

        Salju berhenti turun siang itu. Meskipun demikian, seluruh permukaan kota tetap tertutup oleh salju putih yang turun semalam.

Di sebuah jalanan kota, terlihat seorang namja manis berbalut mantel panjang serta syal yang melingkar di lehernya melangkah dengan senyum cerah terpatri di bibirnya. Udara dingin seolah tidak menyurutkan kebahagiaannya ketika kakinya melangkah menuju sebuah gedung yang akan ia tuju.  Ia berniat mengirim telegram pada lelaki yang sangat ia rindukan. Sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Yunho melalui surat terakhir yang ia kirim.

“Aku ingin mengirim telegram.” Ucap namja manis tersebut pada seorang petugas ketika ia telah sampai di kantor post. Sesekali ia menggosokan tangannya untuk menghangatkan dirinya yang kedinginan. Bahkan kedua pipinya kini tampak merona, perpaduan dengan rasa bahagia dan dingin yang ia rasakan.

“Silahkan tuliskan pesanmu di sini.” Pinta sang petugas mengangsurkan secarik iertas padanya.

“Ne…”

Kyuhyun menggigit jarinya. Bahkan memikirkan namanya saja membuatnya sangat gugup.Ia bingung pesan apa yang harus ia sampaikan pada Yunho. Meskipun sebenarnya ia sudah menyiapkan apa yang akan ia tulis dari rumah  namun entah kenapa apa tiba-tiba semuanya terlupakan.

*

         Takdir memang tidak selalu berpihak pada setiap orang. Itulah kalimat klasik yang menggambarkan keadaan yang seseorang tidak ia inginkan. Hal itu pulalah yang terjadi antara Yunho dan Kyuhyun.

Hal itu bermula ketika suatu hari, salah satu surat yang Kyuhyun tulis terkirim ke rumah Zhomi.

“Kyuhyun mencintai Yunho, appa.” ucap Zhoumi takut-takut ketika sang appa meminta penjelasan mengenai surat tersebut. “Aku tidak mencintai Kyuhyun. Mereka berdua saling mencintai. Oleh karena itulah aku memilih untuk mundur dan menyerah.”

Sesekali  Zhoumi menatap appa-nya yang rahangnya telah mengatup keras dengan sorot  mata yang mengintimidasinya. Dan ia bersumpah jika ia melihat salah satu tangan ayahnya bergerak melepas ikat pinggang yang ia kenakan dari celananya.

Mengabaikan pergerakan ayahnya, ia terus berucap mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dua orang yang saling mencintai sudah seharusnya bersama, bukan? Aku tidak apa-apa.”

Perlahan Zhoumi mendongakan wajahnya melihat ayahnya bangkit dari posisi duduknya dengan tangannya yang memegang ikat pinggang yang berhasil ia lepas.

“A…ani. Aku…aku mencintai Kyuhyun juga, appa. Aku tidak akan menyerah. ”  pekik Zhoumi tergagap, beringsut dari duduknya menjauhi ayahnya yang terlihat sangat murka.

“Apa kau sedang mengejek appa?” desis ayahnya dengan suara beratnya.”Kau selalu berbuat semaumu sendiri, hm?”

Slapp!

Tak segan Mr. Zhou mengayunkan ikat pinggangnya pada Zhoumi yang meringkuk di hadapannya.

“Jadi kau menganggap orang tuamu tidak berarti apa-apa, hah?!”

Slapp!

“Arrggh!”

Slapp!

“Apa kau tidak tahu Kyuhyun itu siapa, hah?! Dia adalah putra dari kongresman!”

Slapp!

Slapp!

“Arrgghh…!”

Slapp!

“Kau tahu artinya, bocah? Kau pantas mati! Kau bahkan tidak bisa mempertahankan harga diri seorang pria!”

Slapp!

Slapp!

Sementara di lain ruangan, tepatnya di balik dinding rumah tersebut, seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah eomma Zhomi, hanya mampu terisak tertahan melihat  putranya di pukuli oleh suaminya sendiri tanpa mampu berbuat apapun.

Keadaan menegangkan juga terjadi di kediaman Kyuhyun. Dimana ia yang baru saja pulang dari kantor post, langsung masuk ke kamarnya dan mendapati sang ayah tengah duduk di meja belajarnya. Tentu saja dengan sebuah surat yang tergenggam dalam tangan kokoh pria tersebut.

Melihat hal itu, Kyuhyun hanya menahan nafasnya yang tercekat. Menyadari jika apa yang selama ini telah ia sembunyikan rapat-rapat, telah terbongkar tanpa menyisakan apapun.

Dan saat itulah, akhir dari musim dingin. Musim dimana seseorang nan jauh disana harus rela kehilangan harapan serta angannya yang telah membumbung tinggi…

*

          Istirahat sekolah, di sebuah perpustakaan yang tampak lengang itu. Terlihat dua orang namja berseragam hitam tampak duduk saling berhadapan yang terpisahkan oleh sebuah meja. Satu dari mereka tampak tengah larut pada buku yang tengah ia baca sementara namja yang lain tampak menyandarkan tubuh jangkungnya pada kursi yang ia duduki.

Tanpa melepaskan tatapannya dari Yunho, namja yang tengah membaca buku, pria tinggi yang tidak lain adalah Zhoumi, menggerakan tangannya untuk melepas ikat pinggang yang ia kenakan.

Slapp!

Yunho terlonjak ketika ia merasakan seseorang mengayunkan ikat pinggangnya di meja hadapannya. Ia mengerutkan keningnya bingung menatap Zhoumi yang tangah menggenggam erat ikat pinggangnya.

“Yunho-ya, Kau tahu ini apa?”

“Ikat pinggang?” tanya Yunho balik dengan ekspresi malas. Ia kembali menekuni buku yang tengah ia baca tanpa menghiraukan Zhoumi.

“Bukan. Ini adalah cambuk.” Tukas Zhoumi seraya bangkit dari duduknya.”Si bajingan  inilah yang telah memukuliku.”

Yunho hanya melirik sekilas tanpa berniat melupakan bukunya.

“Appa-ku sebenarnya tidak ingin menyakitiku, tapi benda ini tetap saja memukuliku.  Itulah sebabnya aku menggenggam benda ini.” Lelaki tinggi itu menyeringai, masih dengan menggenggam ikat pinggangnya. Seolah ia sangat membenci pada benda sejenis yang kemarin ayahnya gunakan untuk memukulinya “Bagaimana aku harus menghukumnya?”

Yunho kini tengah mengamati pergerakan Zhoumi. Satu tangannya terlihat menopang dagu diatas meja.

“Hukuman mati.” Jawab Yunho enteng di barengi dengan senyuman sinisnya.

Zhoumi menjentikan jarinya. ”Itulah yang aku pikirkan.”

Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho. “Membunuhnya secara perlahan dan menyakitkan?”bisiknya. Sang lawan bicara hanya mengerjapkan matanya tanpa membalas ucapannya.

“Atau paksa dia untuk mati perlahan. Atau berikan obat tidur?”

“Cekik dia hingga mati.” Desis Yunho dari sela bibir berbentuk hatinya.

Zhoumi terdiam dan menatap tajam pria bermata musang dihadapannya. “Ide yang bagus.” Ia menyeringai. Kemudian ia mengedipkan satu matanya.

Ia lalu menjauhkan wajahnya dari Yunho dan menghela nafas panjang. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

“Yunho-ya, jagalah Kyuhyun dengan baik.”

Itulah kata terakhir yang Zhoumi katakan sebelum ia melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

*

          Upacara si tengah terik matahari telah menjadi seremoni rutin di sekolah militer. Begitu pun juga tempat Yunho dan Zhoumi bersekolah. Kali ini, seluruh siswa yang notabene berisi namja tengah melangsungkan upacara di halaman sekolah. Kepala sekolah tampak sangat berapi-api memberi sambutan dan berdiri di podium.

Seluruh siswa mendengarkannya dengan khidmat. Namun perhatian beberapa dari siswa tersebut terpecah ketika ia melihat salah seorang siswa yang berdiri di barisan paling depan tiba-tiba jatuh dan ambruk.

Yunho yang mengetahui kejadian tersebut pun melongokkan kepalanya sedikit untuk mengetahui siapa siswa yang jatuh pingsan. Tampak dua orang siswa membantu namja yang pingsan dan menggendongnya di punggungnya. Dan Yunho hanya mampu tersenyum dan mendecih ketika Zhoumi, siswa pingsan yang berada dalam gendongan temannya itu, menyeringai ke arahnya.

*

             Tampak sesosok tubuh terbaring di bangsal ruang kesehatan sekolah. Pria tersebut mengerjapkan matanya ketika ia bangun dari tidurnya dan bangkit perlahan dari tempatnya berbaring. Sejenak, ia merogoh saku celana seragamnya dan mengambil sebuah kertas berbentuk persegi panjang.

Ia lalu mengiris bagian tengah dari kertas tersebut dengan sebuah cutter dengan beralaskan meja. Setelah itu ia pun memasangkan bagian kertas yang telah berlubang itu dan menyelipkannya di kancing baju seragamnya. Ia mematutkan dirinya di depan cermin. kali ini ia tampak seperti seorang pastur dengan seragam hitam  dan kertas putih yang terdapat di dadanya. Ia tersenyum puas ketika melihat bayangannya sendiri terpantul dalam cermin di hadapannya.

*

         Yunho melangkahkan kakinya dengan tergesa di koridor sekolah. Ia ingin memastikan keadaan Zhoumi yang ia ketahui tengah berada di ruang kesehatan. Ia membuka pintu kaca di depannya tanpa mengucapkan salam atau apapun.

Ia menggaruk kepalanya. Sedikit heran ketika ia memasuki ruang kesehatan namun tak mendapati seorang pun di dalamnya. ia menatap bangsa yang berjejer pun tampak kosong. Perlahan ia menoleh ke arah sudut ruangan ketika ia sudut matanya menangkap siluet hitam tergantung.

Dan seketika ia berlari ke sudut ruangan tersebut hingga ia menubruk sofa ketika ia mendapati tubuh Zhoumi telah tergantug di sebuah besi di sudut ruangan.

“Zhoumi-ya! “ pekikinya seraya memeluk kaki sahabatnya yang telah lemas tak berdaya.

“Seseorang! Tolong! Tolong! Ada orang sekarat di sini!” teriaknya kalap berharap seseorang mendengarnya.

“Zhoumi-ya! Dasar bodoh!” teriaknya panik. “Zhoumi-ya! Bertahanlah! Zhoumi-ya!” Ia sedikit mengangkat kaki Zhomi berharap usahanya tidak terlalu membuat leher Zhoumi tercekik dengan ikat pinggang yang menjerat kuat di lehernya.

“Seseorang! Tolong! Tolong!” teriaknya lagi dengan air matanya yang telah mengalir deras. “Zhomui-ya, kumohon. Bertahanlah. Bertahanlah!”

Isakan Yunho semakin menjadi ketika ia mendapati busa telah mengalir dari sudut bibir sahabatnya. “Aku memintamu untuk membunuh ikat pinggang itu, bukan dirimu sendiri. Zhoumi-ya, sadarlah…! Buka matamu!”

“Jangan mati. Jangan mati…” ratap Yunho memohon, “Jangan mati, bodoh!”

“Bernafaslah!” Pekiknya keras tanpa memperdulikan orang-orang yang berdatangan mencoba membantunya.

zhoumi The Journey 5

TBC