I’m Entirely in Your Will – Chapter 6

Casts               : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors           : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre              : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating             : T

Summary         : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!         : Psychosis

 

CHAPTER 6

 

Kyuhyun bangun dengan rasa pening di kepalanya. Semalam ia terlalu banyak minum dan.. yah.. Ia dan Siwon bercinta. Ia tidak mau menyalahkan dirinya apalagi Siwon atas apa yang telah terjadi.

Walau hati dan pikirannya masih tertuju pada Roberto, namun ia sendiri harus mengakui bahwa ia memang tertarik pada Siwon. Tidak hanya pada fisik semata, tapi juga hal-hal kecil yang telah lelaki itu lakukan untuknya. Dan hal itulah yang membuatnya cukup yakin bahwa ia menyukai lelaki yang jauh lebih muda darinya itu.

Kyuhyun menoleh ke sekeliling dan mendapati kamarnya yang bersih, hanya tempat tidurnya saja yang tampak sedikit berantakan. Aneh, karena walaupun ia sering merapikan kamarnya, dengan kejadian malam tadi, tidak mungkin keadaannya seperti ini.

Ia baru mendapatkan jawabannya ketika matanya menangkap sebuah piring di atas meja pajangan di samping tempat tidurnya. Piring itu berisi beberapa potong home made sandwich. Secarik kertas terbaring di samping piring itu.

‘Siwon.’ Pikir Kyuhyun. Ia segera meraih kertas itu lalu membacanya dengan senyum bahagia terukir di wajahnya.

 

Maafkan karena aku harus pergi pagi-pagi sekali, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku akan kembali sebelum makan malam. Tunggu aku.

PS : Kau benar-benar mengagumkan semalam. Love. Siwon.

 

Pipi Kyuhyun memanas seiring hatinya yang menghangat. Lihat, betapa lelaki itu memanjakan dan memperhatikan segala sesuatu tentang dirinya. Tentang Kyuhyun yang berantakan, tentang Kyuhyun yang enggan memasak sendiri, tentang dirinya yang.. cepat terbuai oleh kata-kata manis..

Perutnya yang berbunyi lemah tanda ia kelaparan menyadarkannya. Dengan cepat dilahapnya beberapa potong sandwich itu lalu bergegas untuk mandi. Kyuhyun menghabiskan waktu berendam di bath up cukup lama, bukan hanya karena ia ingin membersihkan sisa-sisa percintaan semalam yang masih lengket sebelum ia mandi tadi. Tapi entahlah, ia ingin tampak terlihat sempurna saat Siwon datang nanti, atau bahkan ia ingin Siwon segera datang dan mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Kembali ia tersenyum malu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika ia selesai mandi. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Pementasan telah selesai, artinya ia tidak punya naskah yang harus ia kerjakan. Dan apartemennya terlihat sangat bersih walaupun sehari-hari ia selalu merasa cukup berat untuk membersihkannya. Namun tangan lain telah membantunya pagi ini, membuatnya senang sekaligus sedikit kesal karena ia jadi tidak punya pekerjaan.

Andai saja Siwon ada. Mereka mungkin bisa jalan-jalan ke luar, atau mungkin hanya menonton dvd seperti yang beberapa hari ini sering mereka lakukan bersama.

Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar. Berjalan-jalan sendirian sejenak mungkin baik untuknya. Sekalian refreshing, pikirnya. Ia pun meraih jaketnya, memakai sepatunya dan melangkah ke luar apartemennya.

*

 

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Roberto berdiri di sana. Lelaki itu tampak pucat dan letih, namun masih saja tetap tampan. Tetap bisa membuat hati Kyuhyun bergetar. Namun dengan cepat Kyuhyun menguasai dirinya.

“Ada apa?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Roberto.

Kyuhyun tertawa kecil. “Bukankah ini adalah tempat umum? Semua orang boleh datang kemari bukan? Kau tidak kopi ini? Aku datang untuk menikmatinya.”

Saat itu memang dirinya tengah berada di salah satu kedai kopi kecil di ujung jalan. Biasanya tempat itu ramai dikunjungi. Namun di siang hari memang cukup sepi, mengingat pelanggannya adalah pegawai kantoran yang memenuhinya di waktu pulang kerja.

Dekorasinya menarik, ditambah dengan alunan musik yang mengalun dari speaker di setiap sudutnya, membuat siapa saja betah berlama-lama di sana. Dan jangan tanya tentang harganya atau rasa kopi maupun cake-nya, semua orang pasti menyukainya. Sangat cocok dengan selera Kyuhyun.

Roberto tersenyum jengah seraya mengangguk. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya menunjuk kursi di depan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja.”

“Bagaimana kabarmu? Kau.. Kau tahu.. Kau benar-benar luar biasa mengenai naskah pementasan kemarin dan..”

“Kau sudah mengatakannya, kau ingat?” potong Kyuhyun cepat.

Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Seolah menikmati suara musik yang mengalir diantara mereka, padahal pikiran mereka tengah tertuju satu sama lain.

“Kyu..” Roberto memecah keheningan.

Kyuhyun hanya menjawab dengan ‘hmm’ kecil tanpa mengangkat tatapannya dari cake yang ia permainkan dengan garpu kecilnya.

“Apa kau bahagia? Maksudku.. Apa kau dan Siwon..”

“Aku bahagia.” Lagi-lagi Kyuhyun menjawab cepat memotong perkataan Roberto. Dan ia mendapati wajah lelaki di depannya tampak terkejut. Entah mengapa Kyuhyun merasa puas akan hal ini.

“Dan Siwon adalah lelaki yang sangat baik. Ia memperhatikanku, menjagaku dengan baik dan memanjakanku. Ia juga selalu ada untukku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?” jawab Kyuhyun lagi. Kini kepuasannya semakin menjadi-jadi melihat mimik wajah Roberto yang tampak merana.

“Mengapa kau menyukainya? Ia.. Ia adalah milik Hee Seo. Kau tidak boleh masuk begitu saja dalam hubungan percintaan orang lain.” Kata Roberto.

Sungguh, ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun bisa jadi seperti ini. Dengan cepat bisa menelan semua kebaikan Siwon tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Siwon sudah punya kekasih. Dan parahnya Kyuhyun dan Hee Seo saling mengenal satu sama lain.

“Mereka sudah putus.” Jawab Kyuhyun enteng.

“Apa? Tidak mungkin!” balas Roberto tak percaya.

“Mungkin saja.” Kata Kyuhyun lagi dengan nada yang sama. “Jika dua orang berpacaran, mereka bisa saja putus bukan? Apa yang tidak mungkin di dunia ini?”

Ini bukan dirinya. Kyuhyun menyadari hal ini. Sejak kapan ia berani bicara dengan nada seperti itu kepada Roberto? Tapi ketika mengingat kata-kata penolakan dari Roberto setelah ia menyerahkan seluruh hatinya pada lelaki itu, ia jadi marah. Terlebih setelah Roberto seolah mengingatkannya akan hubungan Siwon dan Hee Seo.

“Mengapa kau jadi seperti ini? Aku ingin kau kembali seperti dulu.”

“Aku sudah seperti ini sejak dulu. Kau hanya belum mengenalku dengan baik.” Walau bibirnya berkata seperti itu, tapi hatinya berkata lain. Entah mengapa ia merasa bodoh.

“Ayolah Kyu, kita mungkin belum lama bersama. Tapi aku cukup mengenalmu. Kembalilah padaku. Kita bisa memulai semua dari awal. Seperti dulu.”

Kyuhyun tertawa. “Setelah kau menolakku, lalu kini kau ingin kembali padaku? Kau ini benar-benar lucu.”

“Aku.. punya alasan mengapa aku harus memutuskanmu.” Jawab Roberto pelan.

“Apa alasannya?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Kyuhyun mendecih. “Kalau begitu aku juga punya alasan untuk tidak kembali padamu.”

“Ini bukan dirimu. Kau adalah lelaki baik hati yang lugu dan sopan. Mengapa kau jadi seperti ini? Apa Siwon telah merubahmu?” tanya Roberto dengan nada tinggi.

“Kenapa kau harus menyalahkan Siwon atas semua ini? Kau lah yang telah merubahkau seperti ini. Kau yang membuat aku harus berjuang untuk membencimu. Kalau bukan karena Siwon, mungkin aku sudah benar-benar terpuruk sekarang!” Kyuhyun berang.

Kali ini Roberto yang tertawa. “Oh, yah.. Siwon yang baik hati. Siwon yang perhatian dan manis. Kau hanya tidak tahu siapa dia yang sebenarnya.”

Kyuhyun mengangkat satu alisnya. “Apa maksudmu? Jangan merendahkan dia seperti itu sedangkan kau sendiri bertingkah seperti lelaki pengecut yang mencampakkan kekasihmu sendiri tanpa alasan yang jelas.”

Roberto tidak tahan lagi. “Kau tahu apa yang menjadi alasanku memutuskanmu? Siwon! Ya, lelaki itu yang membuatku jadi seperti ini, mengubahmu jadi seperti ini, dan menghancurkan hubungan kita.”

“Jaga perkataanmu! Siwon tidak seperti itu.”

Roberto mendelik. “Kau pikir siapa yang membuat kakiku jadi seperti ini? Kau pikir siapa yang membuat aku terpaksa harus tinggal lebih lama di rumah sakit padahal aku telah dirawat sebaik-baiknya tapi kondisiku tidak menunjukkan tanda-tanda baik justru semakin memburuk? Kau kira siapa yang sering mengunjungiku tiap malam dan mengancamku, menorehkan pisau di kulitku, mencekikku bahkan menutupi wajahku dengan bantal hingga aku kesulitan bernapas hanya karena ia ingin aku melepaskanmu?”

“Tidak mungkin!” bantah Kyuhyun keras.

“Dan kau pikir.. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu di saat hubungan kita sedang baik-baik saja? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang telah merawatku dengan baik bahkan harus ikut jatuh sakit hanya karena fokus menjagaku? Aku mencintaimu, tidak mungkin aku mau melepaskanmu begitu saja andai Siwon tidak masuk dalam hubungan ini. Ia mengancam, setelah aku, ia akan melukai orang-orang di sekelilingmu. Dan jika aku bersikeras, pementasan kemarin akan hancur. Katakan.. Bagaimana aku seharusnya menghadapi masalah itu?”

“Aku tahu, berhentilah bicara omong kosong!”

Kyuhyun berdiri dari kursinya, meletakkan selembar uang yang seharusnya ia menunggu kembalian karena nominal uangnya cukup besar, tapi ia tidak peduli. Ia lalu berjalan keluar dengan langkah-langkah lebar. Ia cukup kesal dengan sikap Roberto yang dinilainya terlalu kekanakan dengan menjelekkan Siwon hanya untuk mendapatkan dirinya kembali.

“Kyu.. Kyuhyun, tunggu! Dengarkan aku dulu.” Roberto sudah berhasil mengejarnya dan menarik tangannya.

Kyuhyun mengibaskan lengannya hingga pegangan Roberto terlepas. “Aku tidak mau dengar apa-apa. Kau membuatku muak. Minggir!”

“Kyu.. Percayalah padaku. Aku tidak berbohong padamu.. Aku..”

“Tinggalkan aku sendiri!” bentak Kyuhyun dengan nada dingin. “Jangan membuatku semakin membencimu.”

Roberto mengalah. Ia hanya bisa memandang sosok Kyuhyun yang berjalan dengan langkah cepat menjauh darinya.

*

 

Roberto masih terus mengganggu Kyuhyun dengan pernyataan yang sama selama beberapa hari ke depan. Dan ia maish tidak peduli. Walau memang Siwon mengejarnya dengan gigih, namun ia tidak mungkin melakukan hal serendah itu, bukan? Roberto terlalu mengada-ada. Melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan Kyuhyun kembali. Lupakah ia, siapa yang mencampakkan Kyuhyun pada awalnya?

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Benarkah ini kau?”

Sebuah suara menyapa Kyuhyun yang tengah duduk memegang bukunya di bangku taman. Ia boleh tampak seperti membaca, tapu jika diperhatikan dengan seksama, matanya terpaku pada satu titik, artinya pikirannya sedang tidak ada pada buku di tangannya.

Kyuhyun menegadah. Ketika memperhatikan wajah tampan di depannya dengan seksama, bibir sewarna cherry-nya membentuk lingkaran sempurna. “Oh? Changmin? Shim Changmin? Changmin-ahhhhhhh…!!!!”

Ia bubur-buru bangkit dari duduknya lalu menyerbu lelaki jangkung di depannya dengan pelukan hangat.

“Wah.. kau tampak semakin tampan saja. Dan lihat kulitmu yang kecoklatan. Astaga.. kau tampak benar-benar seksi sekarang!” pekik Kyuhyun girang.

Changmin tersenyum lebar. Kulit coklatnya bahkan tidak bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang muncul ketika mendengar pujian sahabat lamanya itu.

Changmin dan Kyuhyun memang bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka berpisah di tengah masa kuliah mereka karena ayah Changmin dipindah tugaskan ke Australia. Kesibukan masing-masing serta perbedaan waktu membuat keduanya jarang berkomunikasi.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kau lagi di sini. Kudengar kau pergi ke Amerika. Benarkah?” tanya Changmin. Matanya berbinar-binar, masih takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Kyuhyun mengangguk bersemangat. “Aku hanya pergi sebentar, tidak lama. Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali?”

“Aku merindukan kota ini, tentu saja.” Jawab Changmin. “Dan dirimu..” ia menambahkan sembari menyikut lengan Kyuhyun. Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya.

“Kau belum berubah. Masih cheesy seperti dulu. Aku benar-benar merindukanmu. Banyak yang ingin kuceritakan. Ayo ke apartemenku, tempatnya tak jauh dari sini.”

“Baiklah. Kebetulan hari ini aku bebas.”

Sepanjang perjalanan tak hentinya kedua lelaki itu saling bertukar cerita, terkadang diselingi tawa atau protes, tapi percakapan itu terus mengalir tiada henti. Kyuhyun bercerita mengenai New York, pekerjaannya untuk pementasan Onegin dan bagaimana pementasan itu berakhir sempurna. Sedangkan Changmin bercerita tentang semua petualangannya di negeri Kanguru.

“Apartemenmu bagus. Dan cukup rapi. Aku masih ingat betapa berantakannya dirimu.” Sindir Changmin.

“Ada seseorang yang merapikannya untukku.” Jawab Kyuhyun malu-malu.

“Ohoooo.. Rupanya kau punya pendamping sekarang? Kenalkan padaku. Aku harus menilainya terlebih dahulu.” Canda Changmin.

“Kau pasti akan memberinya nilai delapan atau sembilan. Dia tampan, baik hati dan sangat perhatian kepadaku. Yah.. sebelumnya aku memang menjalin kasih dengan lelaki lain, namun saat ia mencampakkanku, lelaki ini lah yang datang dan menghiburku.” Terang Kyuhyun seraya meletakkan secangkir kopi kesukaan Changmin di meja ruang tengah, tempat keduanya kini duduk berhadapan di sofa panjang.

“Kedengarannya ia memang cukup baik.”

Mereka sibuk bercakap-cakap setelah itu. Membicarakan semua yang telah terjadi dan mengenang masa-masa mereka di sekolah dulu. Kyuhyun sudah menganggap Changmin seperti saudaranya sendiri. Ia tidak merasa risih sama sekali jika sahabatnya meletakkan kepalanya di pangkuan Kyuhyun sembari bercerita.

Tiba-tiba bunyi pintu terbanti keras terdengar. Keduanya terlonjak di tempatnya lalu menoleh ke arah pintu masuk utama.

“Siwon? Kau sudah pulang? Kau membuat kami kaget.”

Siwon mendengus. “Iya. Lalu kenapa? Apa kau mau aku mengetuk dulu agar tidak melihatmu bermesraan dengannya?”

Kyuhyun terpana sesaat, mencoba mencerna kata-kata Siwon barusan. Setelah beberapa detik ia terkikik. “Ini Changmin, sahabatku. Kami baru bertemu lagi hari ini dan yah kau tahu, reuni kecil.”

Changmin berdiri dari duduknya. Dengan sikap sopan ia mengangguk kecil. “Halo. Aku Shim Changmin.”

Dengan raut wajah yang tetap datar, Siwon mendekati Changmin dengan cepat. Changmin menyodorkan tangannya, ingin bersalaman. Namun alih-alih menyambut uluran tangan itu, ia justru menghadiahkan tinjunya ke wajah lelaki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya itu.

“Changmin!” pekik Kyuhyun, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Changmin ke lantai.

Siwon tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan aksinya dengan kembali memukuli Changmin hingga babak belur, mengabaikan protes-protes keras yang berujung permohonan agar ia segera menghentikan perbuatannya dari Kyuhyun. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sama sekali walaupun Kyuhyun sudah menangis.

“Siwon-ah.. hentikan.. Kumohon..”

Tapi Siwon tidak peduli. Ia baru berhenti ketika Changmin tak bergerak di bawahnya. Hanya nafas tersengal-sengal yang membuktikan lelaki itu masih hidup. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. Kyuhyun segera menghampiri Changmin dan membersihkan darah di wajah sahabatnya itu dengan ibu jarinya.

“Kau! Berani sekali kau menyentuh Changmin!” jerit Kyuhyun marah, menegadah menatap Siwon dengan berang.

Siwon tampak terhina. “Seharusnya aku yang berkata demikian! Berani sekali ia menyentuhmu!”

“Dia sahabatku! Berani sekali kau membuatnya seperti ini!”

“Tidak ada sahabat yang menyentuh seperti itu. Dia pikir siapa dia? Sekali lagi dia berani melakukannya, akan kupatahkan tangannya.”

“Kau gila!”

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya lalu menelepon ambulans. Setelah itu ia kembali fokus kepada Changmin. Airmatanya kembali menetes, sakit melihat sahabatnya diperlakukan sedemikian rupa. Terlebih yang melakukannya adalah Siwon, lelaki yang ia sukai. Siwon hanya duduk menatap Kyuhyun. Pandangannya tajam dan menusuk.

Ketika akhirnya bantuan datang dan Changmin dibawa oleh para petugas medis, Kyuhyun menyambar jaketnya dan ingin ikut. Namun baru saja kakinya akan melangkah melewati pintu, tangannya sudah ditarik oleh Siwon.

“Kau tidak akan pergi kemana-mana.”

Kyuhyun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi cengkraman Siwon jauh lebih kuat. “Lepaskan. Biarkan aku pergi. Karena aku lah Changmin jadi seperti ini. Setidaknya aku harus menemaninya.”

“Orang lain bisa melakukannya untukmu. Sekarang masuk.” Perintah Siwon seraya menyentakkan lengan Kyuhyun agar lebih mendekat ke tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke tubuh yang masih senantiasa berontak itu. Satu kakinya menendang pintu hingga menutup.

“Lepaskan aku! Lepas..!” jerit Kyuhyun marah. Wajahnya sudah memerah. Hatinya dipenuhi kemarahan sekaligus benci.

“Diam!” bentak Siwon. Ia menyeret Kyuhyun ke kamar lalu menghempaskannya ke tepat tidur. Ia hanya mengalihkan pandangannya sejenak untuk mengunci pintu. Setelah itu ia kembali menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Menyadari hal itu, Kyuhyun bangkit berdiri dan beringsut mundur. Ketakutan tampak jelas di wajahnya. Terlebih ketika Siwon mulai melangkah maju pelan-pelan.

“Mundur.. Jangan mendekat.. Kubilang mundur!”

Tapi Siwon tetap melangkah. “Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Hanya aku!”

Tangan panjang Siwon menjangkau Kyuhyun dengan sigap lalu menyatukan tubuh mereka berdua. Dengan ganas diciumnya bibir Kyuhyun. Berulang kali Kyuhyun berusaha melepaskan pagutan itu, tapi berulang kali pula Siwon tetap mempertahankannya. Kyuhyun sampai susah bernafas. Kembali ia menangis.

Ketika bibir mereka berhasil terlepas, Kyuhyun menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya karena pasokan oksigen di paru-parunya nyaris habis.

“Hentikan.. Ada apa.. denganmu.. Kumohon..” Tersendat-sendat ia bicara, berharap Siwon akan melepaskannya.

Namun jangankan melepaskannya, pelukan lelaki itu justru semakin menguat, nyaris meremukkan tulang-tulang Kyuhyun saat itu.

Berikutnya ciuman-ciuman kasar Siwon beralih ke daun telinga Kyuhyun, lalu turun ke leher mulusnya, meninggalkan bercak-bercak merah di sana.

Kyuhyun menggeleng kuat. Ia tidak mau melayani nafsu lelaki di depannya itu apalagi setelah yang terjadi. Pikirannya hanya tertuju pada Changmin kini. Bagaimana keadaannya? Siapa yang menemaninya di rumah sakit? Apa pihak rumah sakit sudah menghubungi kedua orang tuanya?

“Siwon.. Siwon! Hentikan! Aku tidak mau..”

Seperti sebelumnya, Siwon seperti tuli, sama sekali tidak mendengarkan penolakan Kyuhyun. Ia bahkan semakin gencar menggerayangi tubuh itu tanpa ampun. Ia bahkan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur dengan tubuh Kyuhyun yang tak berdaya di bawahnya.

Susah payah Kyuhyun mendorong tubuh kekar Siwon agar menyingkir dari tubuhnya. Baru kali ini ia menyadari betapa kuatnya lelaki itu. Sebelum-sebelumnya ia selalu memperlakukan Kyuhyun dengan lembut. Mengapa ia jadi seperti ini?

Dan lagi, ia baru saja melukai orang lain, bagaimana mungkin ia memikirkan untuk bercinta padahal nyawa seseorang tengah dipertaruhkan karena egoismenya?

Kyuhyun masih sibuk melarang dan mendorong Siwon sedangkan Siwon melakukan hal sebaliknya. Detik berikutnya, ia sudah merobek kaos yang Kyuhyun kenakan dengan kasar..

*

wonkyu love ieyw6

 To be continued..

 

 

Advertisements

I’m Entirely In Your Will [Chapter 5]

wonkyufairy

Casts :  Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo
Authors :   rioter9 , wonkyuniichanAryadhanie
Genre :  Angst, Romance, Ballet!AU
Rating :  T
Summary :  Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.
Warning! :  psychosis

Chapter 1    Chapter 2Chapter 3Chapter 4

.

.

Mata Kyuhyun refleks menutup saat bibir Siwon menyapu bibirnya. Kyuhyun ingin sekali mendorong pria di atas tubuhnya, namun tubuhnya sendiri seakan menolak pikirannya. Bibir itu kemudian menggigit bibir atasnya, membuat dirinya mati-matian menahan desahan saat lidah Siwon mulai menginvasi rongga mulutnya. Bibir dan lidah Siwon bergerak seirama, seakan memabukan. Gelas yang daritadi ia pegang sudah tergeletak di karpet putih bawah sofanya. Setelah ini dia terpaksa harus mengirimkan karpet itu ke laundry.

Kedua tangan Kyuhyun beralih melingkar di leher Siwon. Meremas tengkuk pria itu, menikmati apa yang Siwon lakukan terhadapnya. Kyuhyun membalas ciuman itu. Siwon tersenyum tipis di sela ciumannya, kini bibirnya beralih…

View original post 2,822 more words

I’m Entirely In Your Will [Chapter 4]

Please leave your comments guys, we’ll apreciate it a lot 🙂

Rollback

Casts :   Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo
Authors :     rioter9   , wonkyuniichan  ,   Aryadhanie
Genre :   Angst, Romance, Ballet!AU
Rating :   T
Summary :   Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.
Warning! :   psychosis

Selama berada di Seoul, baru kali ini Siwon mengenal pria seperti Kangin yang penuh obsesi

View original post 1,431 more words

I’m Entirely In Your Will – Chapter 3

Casts           : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors    : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre         : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating        : T

Summary : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!  : psychosis

 

Chapter 3

Kyuhyun duduk di lantai marmer keras seraya bersandar ke dinding di belakangnya. Perlahan, ia mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, teramat lelah. Hampir tiga hari ia nyaris tidak memejamkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur jika hati dan pikirannya sedang kacau seperti ini?

“Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja?”

Kyuhyun membuka matanya dan mendapati Jung Yunho tengah berdiri menatapnya dengan sedikit kecemasan tergambar di raut wajahnya.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.” jawabnya seraya tersenyum sopan.

Yunho lalu ikut duduk di samping Kyuhyun. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi setidaknya kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kau bisa menjaga kekasihmu kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri?”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak mau mempertanyakan dari mana Yunho tahu bahwa ia dan Roberto memang berhubungan tapi yang jelas ia tahu Yunho benar. Tapi ia tidak bisa sedikit pun mengistirahatkan dirinya jika keadaan buruk seperti ini menimpa Roberto.

“Bukan hanya kau yang cemas, kami semua juga merasakan hal yang sama.” Didengarnya Yunho melanjutkan kata-katanya. “Roberto adalah pemeran utama. Ia yang terbaik. Jika terjadi sesuatu padanya, pertunjukan ini bisa kacau.”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika dilihatnya Lee Soo Man muncul dengan langkah-langkah panjang.

“Semuanya berkumpul.”

Mendengar instruksi dari sang produser, para staf beserta para ballerina dan balerino yang hadir disana mendekat lalu membentuk sebuah lingkaran besar.

“Kupikir kalian sudah tahu alasan mengapa kalian dikumpulkan saat ini. Aku sudah bicara dengan dokter dan tampaknya Roberto tidak bisa menari untuk sementara waktu, jadi Choi Siwon akan menggantikannya. Mari berharap Roberto sudah pulih sebelum pementasan Onegin dimulai mengingat waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Jadi kuharap, kalian semua bekerja keras dan berdoa semoga Roberto segera kembali.” Kata lelaki parah baya itu dengan lancar, seolah ia telah menghapalnya di luar kepala sebelumnya, mengabaikan tatapan-tatapan sedih dari para pendengarnya.

Ia lalu menghela nafas lelah kemudian berpaling pada Siwon. “Siwon-ssi, tolong berikan yang terbaik untuk pementasan ini. Aku mengandalkanmu.”

Siwon mengangguk patuh. Di wajah tampannya terukir senyum bangga. “Aku akan berusaha sebaik mungkin. Dengan kepercayaan anda juga dukungan dari teman-teman, aku akan melakukan yang terbaik.”

“Baiklah, kalian boleh melanjutkan latihan.” Lee Soo Man lalu berbalik meninggalkan kerumunan itu.

“Kau dengar? Roberto akan digantikan oleh Siwon-ssi. Ini benar-benar mengejutkan.”

“Siwon-ssi sangat beruntung.”

“Roberto pasti sangat kecewa.”

Siwon berjalan pelan ke arah Kyuhyun. Ia bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik di belakangnya. Namun, ia tidak peduli sama sekali pendapat orang mengenai dirinya. Ia hanya peduli bagaimana cara memenangkan pertarungan ini. Mungkin Roberto hanya menganggapnya sosok kecil, bukan penghalang berarti apalagi sejak keputusan Lee Soo Man yang mengatakan bahwa Roberto adalah pemain utama Onegin sedangkan Siwon hanya pemain kedua.

Awalnya Siwon tidak kecewa dengan keputusan itu. Bukankah ia sendiri memenangkan tempat kedua di usia yang masih begitu muda? Namun gairah untuk menang semakin besar ketika melihat Cho Kyuhyun, sosok manis yang merebut pikiran dan hatinya sejak pertama mereka bertemu. Ditambah dengan hubungan Kyuhyun dan Roberto yang semakin dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Siwon hanya ingin menakut-nakuti Roberto pada awalnya, karena ia benci melihat Kyuhyun bersama lelaki lain selain dirinya. Namun, ternyata Roberto mengalami cedera parah hingga ia harus menggantikan lelaki berusia matang itu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia mendapat dua keuntungan sekaligus.

“Kyuhyun-ssi, apa kau sudah makan siang? Kau terlihat pucat sekali. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.” Siwon menawarkan dengan senyum cerah terkembang di wajah tampannya.
Kyuhyun ikut tersenyum seraya menggeleng lemah. “Aku tidak bisa, Siwon-ssi. Aku harus kembali ke rumah sakit. Roberto membutuhkanku. Ia pasti sedih jika harus makan siang sendirian.”

“Oh.. Begitu.. Baiklah, sampaikan salamku pada Roberto. Maaf aku belum bisa mengunjunginya. Semoga ia cepat.. pulih.” Berat rasanya menyebut kata ‘pulih’ untuk saingan utamanya itu. Tapi demi melihat senyum Kyuhyun, ia harus bersabar dan terlihat ikhlas ketika mengucapkannya.

Dengan kejadian ini seharusnya ia bisa ikut memenangkan hati Kyuhyun, tapi rasanya sia-sia. Kemarahan kembali menguasai dirinya. Tapi ia kembali memaksakan senyumnya untuk Kyuhyun, menutupi letupan murka didadanya.

*

Roberto memainkan remote control televisi di tangannya. Sedari tadi ia mencari saluran hiburan yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bisa menghiburnya dengan baik selain Kyuhyun.

Roberto menghela nafas nafas panjang. ‘Andai saja Kyuhyun tidak harus pulang.’ Sesalnya dalam hati.

Sebenarnya ia sendiri yang menyarankan Kyuhyun untuk pulang dan beristirahat mengingat lelaki itu menjaganya siang dan malam. Namun tampaknya ia sedikit menyesali keputusannya itu. Rasa sepi dan bosan menghampirinya, ia menginginkan Kyuhyunnya kembali.

“Tampaknya kau sedang sendiri.”

Roberto menoleh cepat ke pintu masuk. Di sana, sosok lelaki tegap berdiri dengan senyum dingin tengah menatap ke arahnya. Choi Siwon.

“Mau apa kau kemari?” tanya Roberto dingin.

Perlahan Siwon melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangnya, tak lupa menguncinya dari dalam.

“Apa maumu? Pergi atau aku akan memanggil security.” Ulang Roberto. Nada gugup sedikit terdengar dalam suaranya.

Siwon mengangkat alisnya. “Aku hanya ingin bicara empat mata, apa itu salah? Mengapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Kau tidak mau bicara denganku? Bukankah tidak sopan mengusir temanmu yang berniat baik untuk menjengukmu juga menyampaikan pesan dari Lee Soo Man?”

Roberto menatap Siwon dengan tatapan tidak suka. Sungguh, ia membenci lelaki di depannya itu. Ia tidak pernah menyangka seorang Choi Siwon yang tampak ramah dan bersahaja itu ternyata sangat kejam.

“Cepat katakan pesannya lalu pergi.”

Siwon menjatuhkan dirinya di tempat tidur Roberto, tepat di samping kaki kanan sang balerino yang tengah cedera itu.

“Aku akan menggantikan tempatmu dalam pementasan Onegin.. Oh.. Jangan salahkan aku.. Lihat wajahmu sekarang.” Ujar Siwon ketika melihat wajah kaget Roberto.

“Jangan salahkan aku, itu adalah kemauan Lee Soo Man sendiri.” Lanjut Siwon.

“Tidak mungkin! Aku tidak percaya Lee Soo Man menggantikanku begitu saja tanpa sepengetahuanku!” sanggah Roberto cepat.
Siwon tertawa sinis. “Bisa saja. Kau tengah cedera, siapa yang bisa menggantikanmu kecuali aku? Lagipula, tidak mungkin kan pementasan ini diundur hanya karena kau cedera?”

Kumparan amarah menguasai Roberto kini. Kedua tangannya dikepalkan, siap meninju wajah menyebalkan di hadapannya andai saja kakinya bisa bekerja sama saat ini.

“Kauuu.. Kau penyebabnya! Kau yang menyebabkan aku jadi seperti ini!”

Kini Siwon justru tertawa. “Benarkah? Harusnya kau menyadari bahwa kaulah penyebab semua ini. Andai saja kau menjauhkan cakarmu dari Kyuhyun, mungkin saat ini kau tengah mempersiapkan diri untuk pementasan besar itu bukan? Mengapa kau harus menyalahkanku? Lihat dirimu kini, hanya seonggok daging tak berguna. Bukan hanya menyusahkan seluruh staf, kau juga membuat Kyuhyun hanya menghabiskan waktu tak berguna disini sementara kami harus bersiap-siap.”

Roberto meremas selimutnya dengan kasar, tubuhnya memanas seiring dengan amarahnya yang nyaris meledak. “Cho Kyuhyun adalah milikku. Sampai kapan pun tak akan kulepaskan apalagi untuk lelaki keji seperti kau!”

“Kau yakin sekali. Apa kau lupa bagaimana aku bisa membuatmu berada di sini?”

Kali ini Roberto yang tersenyum. “Aku tidak akan melepaskan Kyuhyun. Sampai kapan pun! Walau aku harus mempertaruhkan segalanya, aku akan tetap membuatnya berada di sisiku. Ingat itu.”

Senyum sinis tadi menghilang di wajah Siwon. Tangannya mendarat lalu mencengkram kaki kanan Roberto dengan keras, seolah hendak menghancurkannya dalam sekejap.

Roberto melolong keras karenanya. “Aaaarrggghhh…!!!! Lepaskan, kau bajingan!!!”

Seakan tuli, Siwon tetap mencengkram keras. “Kau akan benar-benar kehilangan kakimu kalau kau bersikeras seperti ini.”

“Aku.. tidak.. peduli.. Lepaskan kakiku!” Roberto tetap bertahan seraya berusaha melepaskan cengkraman Siwon.

Kali ini Siwon menurut. “Cukup untuk hari ini. Aku akan datang lagi nanti dan bersenang-senang denganmu.”

Ia lalu berjalan menuju pintu, membuka kuncinya lalu beranjak keluar. Tapi sebelum ia benar-benar menghilang dari sana, ia sempat berbalik dan berkata dengan nada dingin. “Kau akan tahu akibatnya kalau kau berani bicara tentang kejadian sebenarnya, mau pun malam ini.”

*

Malam itu hanya awal dari rentetan kesengsaraan Roberto. Setelah itu Siwon kerap kali mengunjungi Roberto dan menyiksa lelaki itu ketika Kyuhyun tidak ada di sana. Ia pernah dengan sengaja menutup wajah Roberto dengan selimut, membuat nafas sang Balerino tersedak, nyaris mati. Di lain kesempatan ia pernah membenturkan kepala lelaki itu ke besi keras penyangga tempat tidur hanya karena Roberto masih bersikeras mempertahankan Kyuhyun.

Belum lagi sayatan panjang di lengan Roberto karena berani mencium Kyuhyun di depan mata Siwon. Saat itu Siwon datang ke rumah sakit bersama Hee Seo, Yunho dan Eun Hye. Ternyata Kyuhyun ada di sana dan bersiap untuk pulang. Dan salam perpisahan sepasang kekasih itu tentu saja adalah ciuman penuh kasih yang membuat Siwon nyaris membunuh Roberto saat itu juga, andai akal sehatnya tidak memaksanya untuk tetap berdiri dengan tenang di tempatnya.

“Mengapa akhir-akhir ini kesehatanmu justru semakin menurun? Aku khawatir sekali padamu.” Ujar Kyuhyun seraya menyerahkan segelas air pada kekasihnya.
Roberto menghabiskan isi gelasnya lalu menggeleng. “Entahlah, semakin hari, ada saja kejadian yang membuatku terpaksa tinggal di sini. Aku bosan, aku benar-benar ingin pulang.”

“Kalau begitu kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu. Kami semua merindukanmu. Aku merasa sangat tidak nyaman menggantikan tempatmu di pementasan pertama minggu depan.” Kata Siwon dengan raut wajah menyesal.

Ya, Choi Siwon sore itu mengantar Kyuhyun mengunjungi Roberto. Dan ia tampak sangat nyaman memainkan perannya sebagai teman yang baik sekaligus pemangsa ganas yang mengawasi gerak-gerik Roberto dengan cermat.

Roberto hanya bisa menahan amarah setiap kali mendengar Siwon bicara. Terkadang ia malah tidak menjawab sama sekali, membuat Kyuhyun berkali-kali minta maaf pada Siwon karena ketidaksopanan kekasihnya.

“Nah, aku sudah mengupaskan beberapa buah untukmu. Jangan pernah menggunakan pisau lagi sendiri. Aku tidak mau tanganmu yang lain tersayat juga karena kecerobohanmu sendiri.” Ujar Kyuhyun seraya menunjuk sayatan panjang di tangan kiri Roberto yang diakui sebagai kesalahannya sendiri ketika mengupas apel, padahal sudah jelas Siwon yang melakukannya.

“Roberto, kau harus berhati-hati, kalau tidak keadaanmu akan memburuk. Kaki mu saja belum sembuh, bagaimana mungkin kau melukai tanganmu juga?” kata Siwon, lagi-lagi dengan nada prihatin.
‘Munafik!’ pikir Roberto. “Aku akan berhati-hati, tenang saja.” Kata Roberto seraya mengeraskan rahangnya.

“Dan lagi.. Maaf, bukannya aku mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi, Kyuhyun-ssi harus berkonsentrasi dalam pementasan ini, bukan? Lihatlah dia baik-baik. Bahkan pada saat latihanpun ia tertidur. Beberapa hari lalu kami mengantarnya ke klinik terdekat karena ia tiba-tiba pingsan.”

Roberto tersentak. “Kau dibawa ke klinik? Kenapa tidak mengabariku? Kau sakit?”

Kyuhyun menggeleng dengan jengah. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku kekurangan darah merah dan zat besi. Belakangan ini aku kurang tidur dan sering terlambat makan, apalagi dengan keadaanmu seperti ini, aku..”

“Maafkan aku..” kata Roberto menyesal. “Andai saja aku tidak terluka, mungkin kau tidak akan seperti ini.”

Roberto memperhatikan wajah kekasihnya dengan cermat. Bagaimana mungkin ia melewatkannya? Tubuh Kyuhyun semakin kurus, lingkaran hitam menggantung di bawah bola matanya yang hari-hari ini tampak tidak bersinar cerah seperti biasanya. Dan wajah itu, semakin kuyu dan pucat, seolah tidak ada kehidupan di sana.

“Roberto, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu makan lebih banyak, beristirahat dan meminum vitaminku. Aku akan sehat kembali, aku janji.” Kata Kyuhyun dengan cepat, berusaha mengusir rasa bersalah serta kecemasan yang terukir jelas di wajah kekasihnya.

“Sudah seharusnya, Kyuhyun-ssi.” Sambung Siwon. “Para staf dan Lee Soo Man sendiri sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir kau harus benar-benar berkonsentrasi penuh pada pementasan minggu depan.”
Kyuhyun menunduk. Ia tahu Siwon benar. Walau ia sangat mengkhawatirkan Roberto, tapi ia tidak seharusnya mengabaikan kesehatannya sendiri. Apalagi pekerjaan yang selama ini ia lakukan akan segera terlihat hasilnya minggu depan.

“Tapi aku.. sangat mengkhawatirkan Roberto. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian seperti ini.”

Roberto tersentuh mendengarnya. Tapi ia tahu hal buruk akan segera terjadi kepadanya jika ia tetap membiarkan Kyuhyun seperti ini. Ketika ia melirik ke arah Siwon, terlihat jelas kilau murka di mata lelaki berumur 20 tahun itu. Tapi sekali lagi, ia tidak akan melepaskan Kyuhyun hanya karena ancaman lelaki yang lebih muda darinya itu.

*

Lagi, Kyuhyun pingsan di sela-sela latihan penyempurnaan hari itu. Pementasan perdana sudah di depan mata dan Kyuhyun lagi-lagi harus ambruk di tengah sibuknya hari itu.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus menjaga kesehatanmu? Lihat, kau semakin pucat dan kurus. Pementasan ini penting. Kau penting bagi kami. Kau penting.. bagiku.”

Kyuhyun tidak kaget lagi mendengar penuturan Siwon. Sejak mereka kenal, Siwon sudah mendekatinya, memberi tanda bahwa lelaki itu ingin hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Walaupun Siwon belum pernah mengungkapkannya secara gamblang, tapi Kyuhyun menyadari sikap Siwon selama ini kepadanya.

Sungguh, ia juga menyukai Siwon. Tapi jika dibandingkan dengan Roberto, perasaannya berbeda. Siwon jauh lebih muda dan bersemangat, sementara Roberto lebih matang dan dewasa. Ia menyukai segalanya dari Roberto, hingga ia tidak mampu berpaling kepada lelaki tampan dengan lesung pipi yang sempurna itu.

“Maafkan aku, Siwon-ssi. Mungkin aku memang buruk dalam membagi waktuku. Tapi, aku benar-benar khawatir dengan Roberto. Aku tidak bisa. Kalau aku pulang ke rumah, pikiranku akan terus berada di rumah sakit. Kalau aku sedang bersamanya, aku tidak ingin tidur karena aku takut jika tertidur dan ia membutuhkan sesuatu, aku tidak bisa membantunya.” Ujar Kyuhyun tanpa menyadari betapa sakitnya Siwon mendengar semua itu.

“Dan aku.. Aku tidak bisa jauh darinya. Jadi, walaupun aku sakit seperti ini, aku tetap bahagia karena bisa bersamanya.”

Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk seolah mengerti lalu meninggalkan Kyuhyun tanpa kata.

*

“Kami sangat khawatir padanya. Bukankah di saat-saat seperti ini dia seharusnya berkonsentrasi dengan pementasan?”

“Bukannya kami tidak memikirkan keadaanmu, Roberto. Tapi saat ini kami tidak punya pilihan lain. Bagaimana Kyuhyun bisa menjalankan tugasnya jika ia lemah seperti itu? Ia selalu sakit dan pingsan.”

“Pementasan perdana akan dilaksanakan sebentar lagi. Kami butuh tim yang bekerja dengan konsentrasi penuh.”
Roberto mengingat kata beberapa staf yang tadi mengunjunginya. Semua mengeluhkan kondisi Kyuhyun saat ini. Ia merasa bersalah. Awalnya ia yang bermasalah karena cedera yang dialaminya, dan kini Kyuhyun yang dipermasalahkan karena masalah profesionalisme kerja.

Hal ini tidak bisa diteruskan, bagaimana jika Kyuhyun terus seperti ini? Ia hanya menyusahkan semua staf, menggelisahkan para pemain lain dan mengecewakan Lee Soo Man. Dan lagi, Roberto tidak tahan dengan semua intimidasi dari Siwon. Bukan hanya Siwon yang bertindak, tetapi ia juga sudah merasuki pikiran teman-teman lain yang tampaknya menyerukan ketidaksetujuan mereka akan hubungan Roberto dan Kyuhyun.

“Aku tidak hanya akan menyakitimu, tapi juga orang-orang di sekitarmu kalau kau tetap bersikeras berhubungan dengan Kyuhyun. Mari kita mulai dengan kakimu. Tampaknya kau memang cocok berbaring seumur hidup di tempat tidur seperti ini. Mungkin juga kaki palsu cocok untukmu.”

Roberto mendesah berat mengingat beberapa malam lalu Siwon kembali mengancamnya. Ia bahkan menempelkan sebilah pisau di kakinya, benar-benar berniat memotong harta berharga Roberto sebagai balerino jika ia tidak mengindahkan permintaan Siwon sebelumnya.

“Aku datang..”

Roberto menoleh. Kyuhyun baru saja tiba. Senyum cerahnya tidak dapat menutupi wajahnya yang kuyu saat ini. perasaan bersalah semakin menjadi-jadi di hati Roberto.

“Kenapa kau belum makan siang?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk nampan berisi makan siang Roberto yang diletakkan di meja.

“Aku menunggumu.” Jawab Roberto pendek.

Kyuhyun tersenyum ceria. “Baiklah, aku akan makan bersamamu.”

Ia baru akan meraih nampan makan siang Roberto ketika kekasihnya itu menarik tubuhnya hingga ia terduduk di tempat tidur.

“Ada apa? Bukankah kita akan makan siang bersama?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

Roberto menghela nafas panjang. Ia benar-benar sulit melakukan hal ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Demi pementasan Onegin, demi teman-teman yang lain.

“Roberto, ada ap..”

“Kurasa kita harus berpisah.” Kata Roberto cepat, tanpa memandang mata Kyuhyun yang membulat tak percaya.

“Kau bercanda kan?” tanya Kyuhyun lagi, mencoba tertawa.

Roberto menggeleng tegas. “Aku tidak bercanda. Kurasa memang kita tidak bisa bersama.”

“Tapi.. kenapa?” kumpulan air muncul di pelupuk matanya, membuat Roberto mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk dan menenangkan lelaki rapuh itu.

“Aku hanya ingin kita berkonsentrasi dengan pekerjaan kita masing-masing. Karena selama kau ada di sisiku, semuanya berantakan. Kuharap.. kau mengerti. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Kuharap kau mau menghormati keputusanku.” Roberto berupaya menunjukkan raut wajah tegas.

“Tapi..”

“Kau boleh pergi.”

“Roberto..”

“Sekarang.”

Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin menayakan lebih lanjut mengenai keputusan Roberto, namun dilihatnya lelaki yang dicintainya itu berubah dingin, bahkan tidak memandangnya sama sekali.
Kyuhyun berdiri, meraih ranselnya lalu berjalan keluar. Hatinya sakit sekali mendengar penuturan Roberto tadi. Ia terkesan seperti benalu yang mengganggu hidup Roberto. Dan kumpulan airmata yang sedari tadi ada di matanya, akhirnya jatuh juga.

*

Roberto BolleRoberto Bolle

To be continued..

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 2

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

CHAPTER 2

“Kau selalu terlambat. Ayo cepat bangun, nanti sarapanmu dingin.”

Siwon bangun dengan enggan namun ia bahagia. Bahagia karena ia bisa melihat wajah itu kala ia membuka matanya. Langkah kakinya dipercepat agar bisa menyusul tepat di belakang sang kekasih dan.. hap! Ia segera melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Hidung Siwon menyusuri leher hingga pundak lelaki itu seraya mengendusnya dalam-dalam. Ia selalu wangi, selalu mampu membuat Siwon tergila-gila bahkan di hari mendung sekali pun.

“Berhenti menggodaku. Kau harus segera bersiap. Bukankah hari ini ada rapat penting?”

Siwon tersenyum lebar. “Benar. Tapi sebelum aku pergi bekerja, sebelum aku menyentuh sarapanku, aku ingin sebuah ciuman.”

Efek luar biasa yang ditimbulkan oleh Siwon. Lelaki di depannya tersenyum malu dengan semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Siwon mendekatkan kedua wajah mereka. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Dan..

Siwon membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ternyata matahari sudah muncul sedari tadi. Peluh membasahi tubuhnya walau pun pendingin ruangan di kamarnya menyala dengan suhu tinggi. Ia menyadari bahwa lagi-lagi ia memimpikan Kyuhyun. Selalu seperti itu. Bagaimana bisa ia mengusir Kyuhyun dari mimpinya? Ini terlalu menyakitkan.

Dering ponselnya menyadarkannya sesaat. Nama Tan Hangeng tertera di layar sentuh itu. Tanpa pikir panjang, Siwon segera menjawab.

“Siwon, apa kau sudah bangun?” Tanya Hangeng dari seberang.

“Tentu saja sudah. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”

Hangeng terdengar agak ragu di seberang sana. Namun akhirnya ia bicara setelah beberapa detik.

“Apa kau punya kegiatan lain hari ini?”

Ini adalah hari minggu. Di hari libur seperti ini biasanya Siwon selalu menghabiskan waktunya di apartemennya. Melakukan semua yang bisa ia lakukan seperti menonton dvd, memasak menu-menu baru atau membersihkan apartemennya sendiri. Ia menolak untuk keluar karena enam hari bekerja membuatnya cukup lelah hingga di hari minggu seperti sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya sendiri.

“Tidak ada. Kau tahu aku kan, aku tidak pernah keluar di hari libur seperti ini.” Jawab Siwon.

“Hm.. Bolehkah aku meminta bantuanmu?” kembali Hangeng bertanya tapi kini terdengar semakin ragu.

“Hey ayolah, kau adalah temanku. Selama aku bisa membantu, sudah pasti akan kulakukan. Apa yang bisa kubantu?”

“Hari ini aku dan Zhoumi harus menghadiri rapat dengan beberapa klien dari Hongkong. Padahal aku sudah berjanji akan menonton dvd bersama Kui Xian sejak minggu lalu. Bisa kau bayangkan betapa kecewanya dia begitu mendengar hal ini. Tapi ia cukup keras kepala, ia tidak masalah jika menontonnya bersama orang lain, yang jelas ia ingin ditemani. Ia tidak mau menonton sendiri.”

Perasaan Siwon mendadak tidak karuan. Ia takut kalau-kalau Hangeng memintanya untuk menemani Kui Xian menonton dvd-nya.

Kemudian Hangeng melanjutkan. “Aku tidak bingung seperti ini jika saja Henry ada di Seoul tapi semalam ia harus kembali ke Beijing karena ada anggota keluarganya yang sakit. Donghae ada kencan dengan Eunhyuk dan.. Kau tahu, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Untuk itu, aku ingin meminta bantuanmu untuk menemaninya menonton dvd itu.”

Dugaan Siwon benar. Dan kini ia sedikit menyesal ketika mengatakan bahwa ia tidak punya kegiatan apa-apa hari ini. Ia mau saja membantu Hangeng, kalau saja hal itu tidak ada hubungannya dengan Kui Xian.

“Siwon.. Kau masih di situ?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku akan membantumu. Tidak masalah buatku. Aku juga suka menonton film jadi kupikir tidak ada salahnya. Lagipula ini hari libur bukan?”

“Ah.. Aku lega sekali. Baiklah, sejam lagi aku akan mengantarnya ke apartemenmu. Setelah aku selesai, aku akan segera menjemputnya.” Suara Hangeng terdengar sangat gembira di seberang sana, sangat kontras dengan suasana hati Siwon saat ini.

“Baiklah, aku akan bersiap-siap. Mungkin aku bisa membuatkan kue coklat sederhana untuk kekasih sahabatku ini.” Kata Siwon yang berusaha keras terdengar sama cerianya dengan Hangeng.

“Kue cokelat? Dia suka sekali dengan kue cokelat. Aku benar-benar telah manjatuhkan pilihan yang benar. Walaupun aku akan meninggalkannya seharian, tapi aku yakin ia tidak akan merasa bosan karena ditemani oleh pria baik seperti kau. Terima kasih.”

That’s what friends are for, right?

Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya memutuskan hubungan telepon. Siwon masih memandang ponselnya dengan hati gundah.

Satu lagi kemiripan mereka : sama-sama menyukai kue cokelat.’ Pikir Siwon.

Kadang ia berpikir, dengan kemiripan-kemiripan Kyuhyun dan Kui Xian, apa ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang yang sama? Tapi mengapa Kyuhyun tidak mengenalinya sama sekali?

*

            Siwon melirik lelaki pucat yang duduk tenang seraya menikmati kue cokelat buatannya itu sesekali. Matanya masih senantiasa terpaku pada televisi yang menyajikan adegan-adegan dari dvd yang dibawanya. Sesekali ia menghela nafas, sesekali tertawa, bahkan kadang ia bahkan marah-marah sendiri. Tergantung dari adegan yang tersaji di depannya.

Tidak ada perbedaan sedikit pun. Segalanya tampak sama, kecuali nama dan warna rambut mereka. Bahkan suara mereka pun nyaris sama jika saja Kui Xian mengeluarkan suara manja yang selalu dilakukan Kyuhyun. Kui Xian terlihat lebih dewasa, dari caranya bicara dan bergerak. Tidak seperti Kyuhyun yang kekanakan dan menggemaskan.

Berhentilah menatap kekasih sahabatmu.’ Bisik Siwon dalam hati.

“Ah.. Selesai.. Uh, film ini seru sekali. Bagaimana menurutmu, Siwon-ssi?”

Siwon segera tersadar dari pikiran-pikirannya. Dengan senyum jengah ia menjawab. “Kupikir juga begitu..”

Bagaimana mungkin aku tahu jika selama menonton yang kulihat hanya dirimu?’ katanya dalam hati lagi.

“Dimana Kibum-ssi? Aku tidak melihatnya.” Tanya Kui Xian lagi.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Eh? Tentu saja di kamarnya. Kenapa?”

Kui Xian menggeleng. “Tidak apa-apa. Bukankah beberapa waktu lalu kau sudah menyatakan bahwa kau akan memberinya kesempatan? Jadi kupikir, di hari yang cerah seperti ini, kenapa tidak kau gunakan untuk berkencan?”

“Itu..” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku belum bicara atau pun bertemu dengannya setelah hari itu. Kami sama-sama sibuk, jadi.. Lagi pula, bukankah hal seperti ini tidak perlu buru-buru.. Maksudku..”

“Ya..ya..ya.. Aku mengerti. Mengapa kau tampak gelisah seperti itu? Bukankah aku hanya bertanya?” balas Kui Xian seraya mendecak.

Lelaki itu lalu berdiri dan berjalan-jalan pelan ke sekeliling ruangan. Matanya mengagumi isi apartemen mewah itu. Sesekali ia menunjuk beberapa benda dan Siwon dengan sigap menjelaskan layaknya seorang kurator di museum seni.

“Huaaaa… Kau punya banyak koleksi wine..!!!!” seru Kui Xian gembira.

Kening Siwon mengernyit bingung. “Kau juga suka wine?”

“Tentu saja! Siapa yang tidak menyukainya? Lihatlah, kau bahkan punya yang berumur beberapa puluh tahun!” pekiknya lagi.

Bagaimana mungkin? Mengapa ia juga menyukai wine seperti Kyuhyun? Oh Tuhan.. Apa yang sebenarnya tengah kuhadapi saat ini?’ pikir Siwon bingung.

Siwon menatap Kui Xian yang tengah memunggunginya dan mengagumi botol-botol wine yang berjejer di rak kaca dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“Kui Xian-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Siwon memberanikan diri.

Kui Xian berbalik setelah meletakkan botol yang dipegangnya ke rak kaca. “Tentu saja.”

“Berapa umurmu?”

“Aku? Dua puluh tujuh.”

Umur mereka sama.

“Dan.. Tanggal lahirmu?”

“2 february 1988.”

Beda sehari.

“Apa kau.. Benar-benar warga asli Cina? Maksudku, tidak ada campuran dari Negara lain atau..”

Kui Xian tersenyum. “Tentu saja. Haruskah aku memperlihatkan akte kelahiranku kepadamu?”

Kebetulan yang sangat aneh..

*

            “Dia bukan Kyuhyun. Dan kau tahu itu.”

“Aku tahu, tapi.. Terlalu banyak kesamaan yang ada pada diri mereka, membuatku nyaris mengira mungkin saja Kui Xian yang aku hadapi kini adalah Kyuhyun sendiri.” Kata Siwon bersikeras.

Donghae menghela nafas berat. “Kau masuk terlalu jauh, kawan. Ingat, dia adalah tunangan sahabatmu sendiri. Jangan membuat masalah sama sekali. Kau tidak ingin Hangeng mengetahui semua ini dan justru menyalahkanmu, bukan?”

Siwon menggeleng. “Bukan kau, yang selama ini tinggal bersamanya. Jadi begitu ada seseorang yang mirip dengannya, kau tidak akan tahu hal itu.”

Kembali Donghae menghela nafas berat. Ia sudah bersahabat dengan Siwon cukup lama untuk mengetahui seberapa keras kepalanya lelaki itu jika menyangkut hal-hal tertentu, terutama yang diyakininya.

Hanya saja, Donghae tidak yakin kalau perspektif Siwon kali ini ada benarnya, walaupun semua kemungkinan itu ada. Ia hanya tidak ingin Siwon masuk terlalu jauh dan akhirnya kembali terluka seperti dulu. Untuk menjadi Siwon yang seperti sekarang saja sudah cukup sulit, ia tidak mau sahabatnya itu kembali terpuruk dengan kasus yang serupa.

“Siwon.. Dengarkan aku..”

“Tidak! Kau yang harus mendengarkan aku. Mereka punya wajah dan tubuh yang serupa. Mereka lahir di tahun yang sama, kecuali tanggal lahir mereka yang berbeda. Hanya berbeda sehari. Apa hal ini tidak membuktikan adanya kesamaan yang janggal diantara mereka?” Siwon bersikeras.

Donghae tidak menjawab. Bukan karena ia berpikiran yang sama tetapi ia lelah menghadapi Siwon yang telah mengatakan hal yang sama berulang-ulang di sepanjang minggu itu. Membuatnya cukup gerah.

Siwon masih terus mengatakan hal yang sama selama beberapa menit ke depan hingga akhirnya Donghae mengangkat tangannya, menarik perhatian Siwon hingga lelaki itu berhenti bergumam pada dirinya sendiri.

“Apakah dia Kyuhyun yang selama ini kau cari atau bukan, kenyataannya dia adalah milik Hangeng saat ini. Ingat itu.”

Donghae berjalan ke luar apartemen Siwon setelah menepuk pelan pundak sahabatnya yang seakan tersadar dengan kenyataan paling pahit di hidupnya. Kui Xian memang milik Hangeng.

*

            Satu pertemuan berlanjut ke pertemuan selanjutnya. Semakin Siwon mencoba menghindari Kui Xian, semakin sering ia harus dihadapkan dengan berbagai permintaan lelaki itu. Mulai dari menemaninya mencari buku, berbelanja bahan makanan, hingga mencari pakaian, baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk Hangeng.

Siwon sama sekali tidak keberatan andai saja Kui Xian bukan milik Hangeng yang wajahnya serupa dengan kekasihnya yang hilang. Karena semakin dirinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, maka semakin kuat pula semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di benaknya.

Siwon sudah mencoba mengelak. Bukan sekali, namun berkali-kali. Namun menolak Kui Xian bukanlah perkara mudah. Ia selalu membalas penolakan Siwon dengan kata-kata yang sama :

Donghae-ssi sudah punya Eunhyuk-ssi. Henry sibuk dengan Zhoumi gege, dan Ryeowook-ssi sudah pasti menikmati masa-masa pernikahannya dengan Yesung-ssi. Mana mungkin aku mengganggu mereka? Hangeng-ge juga sangat sibuk. Dan kau tidak punya kekasih jadi aku meminta bantuanmu. Aku akan berhenti kalau kau benar-benar memantapkan pilihanmu pada Kibum-ssi.

 

Terkadang Siwon beranggapan kalau Kui Xian mungkin dibayar oleh Kibum untuk mempromosikan dirinya kepada Siwon. Tapi hingga detik ini ia sendiri tidak pernah menangkap gelagat aneh dari tetangganya itu kalau-kalau ia benar-benar menyukai dirinya.

Tapi kadang Siwon berpikir kalau Kui Xian terlalu memaksakan dirinya untuk berpacaran dengan Kibum. Untuk apa? Apa untungnya untuk lelaki itu?

“Melamun lagi?”

Siwon merasakan tepukan halus di lengannya dan segera tersadar dari pikiran-pikiran yang menguasainya belakangan ini. Ia tersenyum jengah kepada Hangeng yang masih meletakkan telapak tangannya di lengan Siwon.

“Maaf..”

Tidak seharusnya ia melamun pada saat ia, Hangeng dan Zhoumi akan sedang mengadakan rapat kecil mengenai pekerjaan mereka. Walau rapat itu bersifat informal, tetap saja ia seharusnya berkonsentrasi.

Zhoumi menyipitkan matanya. “Kau sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa, Siwon? Apa ada masalah?”

Siwon menggeleng. “Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal. Tapi bukan sesuatu yang penting. Jangan khawatir.”

“Oh ya, Siwon, terima kasih atas bantuanmu akhir-akhir ini.”

Siwon memiringkan kepalanya. “Bantuan apa?”

Hangeng tersenyum. “Kui Xian banyak bercerita mengenai hari-harinya yang menyebalkan karena ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Untung saja kau mau meluangkan waktu untuk menemaninya. Terima kasih.”

“Oh itu.. Aku hanya menemaninya jika memang aku sedang tidak ada pekerjaan. Bukan sesuatu yang besar. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Siwon dengan senyum palsunya. Padalah dalam hati ia enggan sekali menemani lelaki itu. Hanya menambah luka.

“Kau tahu.. Ia tidak terlalu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi melihat perkembangan hubungan kalian yang dengan cepat bisa menjadi teman, membuatku lega. Setidaknya ia berteman dengan orang-orang yang kukenal dengana baik di sini.” kata Hangeng lagi.

Kembali Siwon tersenyum simpul. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya. “Hangeng-ssi, di mana kau bertemu Kui Xian sebelumnya?”

“Apa aku belum pernah menjelaskannya?” Hangeng balik bertanya. “Kurasa sudah.” Ia tertawa kecil lalu melanjutkan. “Seperti yang kau tahu, ia adalah sahabat Henry sejak di junior high school. Aku sudah sering bertemu dengannya, tapi aku baru benar-benar membuka mataku beberapa tahun lalu. Tapi kemudian ia pindah ke Taiwan, ke tempat pamannya. Membuatku patah hati saat itu. Tapi ia rajin mengirim kabar kepada aku dan Henry.”

Hangeng menyesap kopinya sedikit lalu kembali melanjutkan kata-katanya. “Kami baru bertemu lagi tiga tahun yang lalu kemudian menjalin hubungan. Saat itu aku memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku langsung memacarinya. Setahun kemudian aku melamarnya menjadi tunanganku.”

Siwon mengernyit. “Tiga tahun yang lalu?”

Bukan Hangeng yang menjawab melainkan Zhoumi. “Benar. Karena saat itu aku bertemu Henry. Saat Hangeng menceritakan kepadaku mengenai Kui Xian. Saat itu aku masih baru bergabung di perusahaan ini dan kami berdua langsung akrab. Hari itu aku menumpang di mobil Hangeng karena mobilku rusak. Tapi ia mengatakan akan menjemput adiknya dulu. Di sana lah aku bertemu Henry dan Hangeng bertemu Kui Xian lagi. Selanjutnya kau bisa menebak sendiri jalan ceritanya, kan?”

“Apa Kui Xian baru kembali dari Taiwan saat itu?” tanya Siwon lagi. Ia semakin penasaran. Pasalnya Kyuhyun menghilang juga dua tahun yang lalu.

“Benar. Pamannya meninggal di Taiwan jadi ia memutuskan untuk kembali ke Beijing. Ia tampak cukup terluka saat itu. Tapi ia tetap tampan seperti biasa.” Jelas Hangeng.

“Apa.. Ini kali pertama Kui Xian menginjakkan kaki di Seoul?” tanya Siwon lagi. Ia tidak akan menyerah di sini.

Hangeng menggeleng. “Kui Xian pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Ia pernah mengikuti kursus bahasa Korea di Taiwan dan memutuskan untuk pergi ke Seoul untuk memantapkan bahasa Korea-nya.”

Jantung Siwon berdegup kencang kini. “Benarkah? Kapan tepatnya?”

“Entahlah.. Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Aku tidak ingat kapan persisnya.”

Ada kesenangan tidak wajar dalam diri Siwon kini. “Ia pernah tinggal di sini?”

Hangeng dan Zhoumi saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Namun Zhoumi yang menjawab pertanyaan itu.

“Ia tinggal selama setahun. Ah tidak, lebih dari setahun. Dan kau bisa lihat bahasa Korea nya kini, tanpa cela bukan?”

Setahun? Ia dan Kyuhyun menjalin hubungan selama setahun. Ya, hanya setahun namun semua terasa begitu indah. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali ketika ingin menikahi Kyuhyun. Tapi sayang, rencana Siwon gagal karena Kyuhyun tiba-tiba menghilang.

“Apa.. Ia pernah menjalin hubungan dengan lelaki asal Korea di sini?” tanya Siwon penuh harap. Seandainya Hangeng menjawab ‘iya’, artinya Siwon punya kesempatan untuk mencurigai Kui Xian sebagai Kyuhyun. Ia hanya perlu memikirkan mengapa Kyuhyun tidak mengenalnya saat bertemu.

“Seingatku tidak. Itu pun kalau Henry tidak berbohong kepadaku. Kau tahu, biasanya seorang adik menyembunyikan hal-hal tertentu kepada kakaknya, bukan?” Jawab Hangeng seraya mengangkat bahunya.

“Henry?”

Hangeng tertawa kini. “Tentu saja. Ia datang kemari dan tinggal bersama Henry. Itulah sebabnya mengapa bahasa Korea keduanya sangat bagus.”

“Aku tidak mengerti.” Kata Siwon dengan bingung.

“Mereka mengikuti kursus bahasa Korea di tempat berbeda. Henry belajar di Beijing sedangkan Kui Xian belajar di Taiwan. Mereka lalu sepakat untuk memperdalam bahasa itu dengan datang dan tinggal bersama di Seoul.” Jawab Zhoumi.

“Jadi.. Kui Xian dulu memang tinggal di Seoul.. Bersama Henry?”

Zhoumi dan Hangeng mengangguk mantap.

*

            “Aku benar-benar bersemangat ketika kau menelepon tadi, Siwon-ssi. Tidak biasanya kau mengajakku keluar. Biasanya aku lah yang merengek kepadamu.” Kata Kui Xian. Wajahnya tampak berseri-seri karena akhirnya Siwon mengajaknya bertemu duluan.

Kui Xian bahkan diberi kebebasan memilih restaurant yang tempat mereka akan makan siang. Dan pilihan Kui Xian jatuh pada restaurant cina favoritnya. Alasannya selalu sama, ia rindu kampung halamannya. Jika berada di sana, ia serasa pulang ke rumah.

Dan Siwon lega karena akhirnya ia menemukan satu lagi kesamaan Kyuhyun dan Kui Xian. Restaurant ini. Kyuhyun juga sangat menyukainya, namun dengan alasan yang berbeda dengan milik Kui Xian. Bagi Kyuhyun, restaurant ini memiliki cita rasa khas yang tinggi dibandingkan dengan restaurant lain.

“Hari ini aku sedang tidak ingin makan sendiri. Aku tadinya hendak mengajak Donghae. Tapi ternyata ia ada sedikit urusan jadi aku mengajakmu.” Ujar Siwon berbohong.

Kui Xian pura-pura cemberut. “Jadi aku hanya cadangan, begitu?”

Siwon tertawa. “Bukan begitu. Kupikir akan menyenangkan jika makan siang denganmu.”

Kui Xian mengangguk perlahan dengan senyum tertahan, menerima alasan Siwon yang cukup masuk akal itu.

Mereka memesan beberapa hidangan favorit di restaurant itu. Keduanya banyak bercerita tentang banyak hal. Hingga Siwon akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan serangan yang tadinya sengaja disimpannya.

“Jadi, Kui Xian-ssi, menurut Hangeng-ssi, kau pernah tinggal di Seoul sebelumnya?”

Kui Xian mengangguk. “Benar. Aku pernah tinggal di sini. Untuk memperdalam bahasa Korea ku. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran dengan bahasa Koreamu yang sangat lancar. Ternyata kau memang pernah tinggal di sini.”

Kembali Kui Xian mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia sibuk melahap dessert-nya, tanpa sadar bahwa Siwon tengah menatapnya dalam-dalam.

“Lalu.. Selama tinggal di Seoul dahulu, apa kau.. pernah memiliki kekasih?” tanya Siwon lagi, masih menatap Kyuhyun dalam-dalam. Enggan melepaskan tatapannya barang sedetik saja. Namun begitu Kui Xian mengangkat wajahnya dari piring di depannya, ia mengarahkan pandangannya ke gelasnya, berpura-pura mengaduk juice-nya dengan sedotan.

“Hmmmmm… Bagaimana kalau kau menebak? Akan lebih seru dari pada langsung mengatakan jawabannya kan?”

Siwon mengangguk lalu menimbang-nimbang sebentar. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab. “Jawabanku.. ya. Kau pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain di sini.”

Setelah menjawab dengan yakin, Siwon berusaha keras tetap terlihat tenang. Tapi hatinya justru bereaksi sebaliknya. Jantungnya berdetak keras, menunggu apa tanggapan Kui Xian mengenai jawabannya tadi.

Dan Kui Xian entah memang berniat untuk berlama-lama mengungkapkan kebenarannya, atau memang ia tidak menyadari kata-kata lelaki di depannya, Siwon sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas Kui Xian masih sibuk dengan dessert-nya.

Setelah Kui Xian menyelesaikan dessert-nya, ia lalu menenggak isi gelasnya hingga habis. Setelah itu baru lah ia menatap Siwon dengan senyum kecil yang sulit diartikan.

“Tebakanmu benar.. Siwon-ssi, sungguh, aku tidak mengerti. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkin kita mempunyai teman yang sama? Mengapa tampaknya kau tahu banyak mengenai aku?”

Siwon terkesiap.

*

HanWonKyu

To be continued..

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 1

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

Choi Siwon mematut dirinya di cermin sekali lagi. Sempurna, pikirnya. Hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya, Yesung dan Ryeowook. Setelan jas hitamnya terlihat keren dan rapi di tubuh kekarnya. Dasi kupu-kupu melengkapi ketampanannya malam itu.

Ketika ia sudah siap, ia segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel besar tempat dilangsungkannya acara resepsi pernikahan pasangan YeWook itu.

“Siwonnie, kau juga sudah sampai rupanya. Wah kau tampan sekali.” Kata Donghae, salah satu sahabat baiknya ketika is sudah berada dalam ballroom hotel.

“Tentu saja. Sejak kapan aku terlihat buruk?” kata Siwon dengan bangga.

“Sejak dia meninggalkanmu.” Kata Donghae pelan yang langsung disikut oleh kekasihnya, Eunhyuk.

Eunhyuk langsung meminta maaf pada Siwon karena kelancangan Donghae.

Siwon tertawa. “Ya! Kalian ini kenapa? Jangan terlalu sensitif. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Donghae menghela nafas. “Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengungkit-ungkit masa lalumu, tapi..”

“Aku baik-baik saja. Memang awalnya terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi aku bisa menjalaninya. Lihat aku sekarang, life must go on, right?” kata Siwon ringan.

“Hae, berhentilah mengungkit masa lalu Siwon.” tegur Eunhyuk pada kekasihnya.

“Aku tahu. Aku hanya khawatir. Siwon adalah sahabat baikku. Sudah sepantasnya aku merasa khawatir padanya.” Kata Donghae.

Siwon mengangguk tanda memaklumi maksud Donghae. Memang benar sejak kekasihnya pergi, ia sempat membuat semua orang khawatir. Ia memang masih bekerja dan bepergian keluar rumah seperti aktivitas sehari-harinya. Tapi ia tidak pernah bicara sama sekali! Karena jika ia bicara, ia akan menangis.

Maka semua orang ikut diam, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berpura-pura bahwa Siwon hanya sedang enggan berkomunikasi kepada siapa pun. Walau mereka tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi demi Siwon, semua ikut diam.

Selama hampir dua tahun Siwon terjebak dalam keadaan seperti itu. Diam di depan semua orang, lalu menangis dan mengasihani diri sendiri kala sendirian. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus. Kulitnya semakin pucat. Ia seperti mayat hidup andai saja ia tidak bernafas. Donghae sebagai sahabat terdekatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu terkadang ikut menangis bahkan memohon agar Siwon melupakan yang telah terjadi dan memulai hidup baru.

Hari demi hari ia berusaha membujuk dan membantu Siwon untuk menjalani kehidupan baru. Namun hal itu tidak mudah ia lakukan karena Siwon terlalu mencintai kekasihnya itu. Semua yang dilakukan Donghae sia-sia saja, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin mengembalikan senyum ke wajah sahabatnya itu.

Delapan bulan kemudian, usaha Donghae membuahkan hasil. Siwon mulai mau membuka diri lagi. Mulai bisa berkumpul dengan teman-temannya. Mulai bisa berbagi cerita. Mulai bisa tersenyum dan tertawa. Walau tidak seperti dulu, tapi setidaknya Siwon sudah kembali.

Siwon mulai melakukan kebiasaan lamanya yang sering ia lakukan dulu bersama kekasihnya. Berbelanja, lari pagi, jalan-jalan hingga berkuda. Bedanya kini ia mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang ia ditemani oleh beberapa temannya, termasuk Donghae.

“Siwon-ah, ayo kita harus memberi selamat pada Yesung dan Ryeowook.” Kata Eunhyuk membuat Siwon mengentikan acaranya melihat-lihat desain interior ballroom tersebut.

Siwon mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Donghae dan Eunhyuk. Setelah memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Siwon dan kedua sahabatnya itu mengambil makanan yang tersedia.

“Hei.. Kalian semua berkumpul disini, rupanya.” Kata seorang namja tampan berdarah cina.

“Ah, Hangeng-ssi. Aku tadi sempat mencarimu. Bagaimana kepulanganmu ke Cina? Kapan kau sampai?” Tanya Eunhyuk.

Hangeng adalah salah satu rekan kerja ketiga lelaki itu di kantor. Walaupun ia bukan orang Korea, tapi ia sangat fasih berbahasa Korea juga membaca huruf-huruf hangul. Kalau berbicara dengannya, siapa pun akan melupakan kalau dia adalah lelaki berkebangsaan Cina.

“Aku baru saja kembali sore tadi. Setelah beristirahat sejenak aku langsung bergegas kemari. Tidak mungkin aku melewatkan hari pernikahan teman kita, bukan?” jawab Hangeng.

“Tidak mungkin melewatkan acara makan gratis maksudmu?” ledek Zhoumi, salah satu rekan kerja mereka yang lain. Zhoumi juga berasal dari Cina. Ia tiba-tiba muncul di belakang Hangeng dan merangkul rekan senegaranya itu.

“Ah iya, aku ingat. Jangan lupa besok setelah meeting kita akan makan siang bersama. Bawalah pasangan kalian, karena aku juga akan membawa tunanganku.” Kata Hangeng dengan bangga.

“Benarkah? Kau akan membawa tunanganmu? Kupikir jangan, mereka akan langsung mengerubutinya.” Kata Zhoumi lagi.

“Eh? Kenapa begitu? Mana mungkin kami mau merebut tunangan rekan kami sendiri? Kau ini ada-ada saja.” ujar Donghae sambil tertawa.

“Karena ia tampan sekali. Aku saja sempat terpesona olehnya. Lalu aku ingat bahwa ia milik Hangeng. Kalau tidak sudah kubawa kabur dia.” Zhoumi bergurau.

“Aku tidak percaya kau berniat selingkuh dari adikku, Henry. Awas kau.” Kata Hangeng dengan nada marah yang dibuat-buat lalu ikut tertawa.

“Lalu besok kau akan datang bersama siapa, Siwon-ssi?” tanya Zhoumi pada Siwon.

“Aku? Aku akan datang sendiri.” Jawab Siwon enteng.

“Kau tahu benar kalau aku menyuruhmu membawa pasangan. Bukankah itu sudah jelas?” tanya Hangeng, menekankan kata ‘pasangan’ dalam kata-katanya.

“Baiklah.. Aku akan mencari pasangan secepatnya. Mungkin orang pertama yang lewat depan apartementku akan kubawa ke acara makan siangmu. Tak peduli bagaimana rupanya, yang penting aku datang berpasangan kan?” canda Siwon.

Semua tertawa. Lingkungan kerja yang nyaman membuat semuanya cepat akrab satu sama lain. Walaupun Zhoumi dan Hangeng baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke kantor cabang Seoul, mereka semua sudah dekat satu sama lain.

Dan Siwon mensyukurinya. Membuat semuanya terasa nyaman. Inilah kehidupan barunya. Ia bertekad tidak akan melihat lagi kebelakang. Ia sudah punya sahabat-sahabatnya, ia tidak butuh yang lain lagi, bukan?

*

            Siwon membelai wajah di depannya dengan lembut, menyusuri setiap inci kulitnya yang putih bersih, menambah keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang amat dikaguminya itu. Perlahan ia mencium bibir merah itu, dengan lembut tanpa nafsu, merasakan manisnya bibir sosok manis yang terlihat seperti malaikat itu.

“Kau sudah berkali-kali menciumku, hyung. Hentikan. Kau harus segera mandi lalu sarapan dan berangkat kerja. Jadi berhentilah mencumbuku.” Kata lelaki yang lebih muda darinya itu.

Siwon tersenyum. Sebelum menjawab, dikecupnya sekali lagi bibir menggoda itu. “Aku tergila-gila padamu.. Kau seperti candu, membiusku terus-menerus saat kita bersama. Membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain memujamu tanpa lelah.”

Lelaki di depannya tertawa. “Hentikan rayuan gombalmu. Cepat mandi atau aku akan mengurangi jatah malammu.”

Siwon terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras. Nafasnya tersengal-sengal. Selalu seperti itu setiap malam. Bukan mimpi yang sama, tapi dengan orang yang sama.

Kembali Siwon menangis. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat hatinya tergores pedih. Siwon memang sudah kembali menjadi Siwon yang dulu. Siwon yang ceria, optimis dan percaya diri. Ia sudah menjalani kehidupannya seperti semula. Ia bahkan sudah bisa mengatasi rasa sakit akibat masa lalunya.

Tapi satu rahasia yang mungkin akan ia simpan sendiri adalah ketakutan menutup matanya. Jika manusia pada umumnya menyukai tidur, Siwon justru sebaliknya. Ia membenci kegiatan yang paling nyaman itu. Begitu melihat tempat tidurnya di malam hari, rasa takut menghinggapinya. Seolah-olah hendak membunuhnya.

Begitu ia tertidur, ia akan bermimpi tentang kekasihnya. Mimpi itu selalu datang setiap malam, dengan potongan gambar yang berbeda-beda. Potongan gambar ketika mereka masih bersama.

Terkadang Siwon menjerit frustasi karena ia tidak juga bisa mengusir bayangan  itu ketika tidur. Bayangan itu menyakitinya. Terlalu sakit melihat kekasihnya itu dalam mimpi sementara Siwon tidak tahu dimana dirinya berada kini.

Tapi bayangan itu tak pernah berhenti datang. Setiap malam ia menyusup ke alam bawah sadar Siwon dan mengganggunya lagi. Dalam setiap mimpinya, dimana Siwon tengah berada dalam titik terlemah, tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali.

*

            Akhirnya Siwon datang bersama Kibum keesokan harinya. Kibum adalah tetangga di apartemen Siwon. Keduanya cukup akrab. Maka tanpa berpikir panjang Siwon langsung meminta Kibum menemaninya, karena Hangeng adalah orang yang paling pantang ditolak.

“Rupanya kau pandai juga memilih.” Kata Zhoumi ketika mereka sudah duduk di restaurant tempat Hangeng meminta mereka berkumpul.

Siwon tertawa. “Apa maksudmu? Dia tetanggaku. Kami memang cukup dekat. Tapi tidak ada yang istimewa. Iya kan Bummie?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Kami hanya berteman. Tak ada salahnya kan saling membantu antar tetangga?”

“Ya, ya, terserah kalian saja. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu melihat lebih dari satu pasangan yang saling bermesraan.” Kata Zhoumi lagi sambil mengerling ke arah Donghae dan Eunhyuk yang terus bermesraan sedari tadi.

“Tapi kenapa Hangeng belum datang juga? Bukankah ia yang mengundang kita semua kemari?” tanya Siwon.

Zhoumi mengangkat bahunya tanda tak mengerti. “Ia juga datang bersama Henry. Terakhir Henry meneleponku lima belas menit yang lalu. Katanya mereka sudah dalam perjalanan. Ah itu mereka..”

Baik Siwon, Donghae maupun Eunhyuk segera menoleh ke arah pintu masuk. Hangeng terlihat berjalan dengan dua lelaki. Siwon mengenal salah satunya. Dia adalah Henry, adik kandung Hangeng sekaligus kekasih Zhoumi. Yang satu lagi tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena tubuh Hangeng menutupinya.

“Wah, maaf menunggu lama. Tadi kami sempat singgah ke suatu tempat sebelum datang kemari.” kata Hangeng ramah.

“Tidak apa-apa. Kami juga belum lama menunggumu.” Kata Donghae menanggapi.

“Tentu saja terasa tidak lama bagimu, bukankah sedari tadi kerjamu hanya menyantap bibir kekasihmu?” sindir Zhoumi dengan pedas.

“Ya!” Donghae langsung protes keras namun dengan nada bercanda.

“Hangeng-ssi, itukah tunanganmu? Ah, mengapa kau menyembunyikannya?” ledek Eunhyuk.

Hangeng menepuk keningnya. “Maafkan, aku hampir lupa. Teman-teman sekalian, kenalkan ini tunanganku Kui Xian.”

Lelaki di belakang Hangeng segera menampakkan diri dan berdiri tepat di samping Hangeng. Begitu melihatnya Siwon mendapati dirinya terkejut luar biasa. Jika di dunia ini ada yang namanya reinkarnasi seperti kepercayaan orang-orang Cina kuno, maka ia harus mempercayainya saat ini juga.

Karena tunangan Hangeng itu 100% mirip sekali dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun yang menghilang beberapa tahun lalu. Tidak ada perbedaan sama sekali. Semuanya mirip, kecuali rambut Kui Xian berwarna hitam dan di potong rapi seperti rambuk cepak Hangeng. Tidak seperti Kyuhyunnya yang rambutnya sewarna madu dan sedikit lebih panjang dari milik Kui Xian. Selain dari itu, tidak ada perbedaan sama sekali.

Bukan hanya Siwon yang terkejut, tapi juga Donghae. Keduanya menatap Kui Xian dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang mereka lihat saat ini?

*

            Mentari pagi dengan hangat menyinari Siwon dan Kyuhyun. Keduanya tengah berkuda bersama, menunggangi satu kuda, melewati pepohonan rindang, menaiki jalan-jalan terjal, melewati danau indah yang membentang luas.

Lalu bayangan itu kabur dan berganti dengan bayangan Siwon tengah berkencan di salah satu restaurant dengan bernuansa merah. Siwon menceritakan sebuah lelucon dan Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

Kembali Siwon terbangun. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menguasainya. Kenapa.. kenapa bayangan Kyuhyun datang lagi? Kenapa bayangan itu dengan tega menyakitinya di saat ia berada dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melawan ataupun melarikan diri?

Tiba-tiba Siwon teringat akan Kui Xian, tunangan Hangeng  yang dikenalkan padanya hampir sebulan lalu. Setiap melihat lelaki itu, Siwon selalu teringat akan Kyuhyunnya. Kyuhyunnya yang hilang. Semua bagian tubuhnya sama, bahkan suara mereka pun sama.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini kalau mereka bukan kembar? Dan ia yakin Kyuhyunnya tidak mempunyai kembaran. Tapi mengapa keduanya sangat mirip?

Terkadang Siwon bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan Kui Xian adalah Kyuhyunnya yang hilang. Tapi mana mungkin? Yang pertama, nama lelaki itu adalah Kui Xian, bukan Cho Kyuhyun.

Kedua, lelaki itu berasal dari Cina. Walaupun bahasa Cina Kyuhyun sangat fasih, tapi kemungkinan mereka adalah orang sama kecil sekali. Apakah hanya karena bisa menguasai satu bahasa asing yang sama sudah bisa disebutkan sebagai orang yang sama pula? Tidak.

Ketiga, Kui Xian tidak menunjukkan gejala ia mengenal Siwon atau pun Donghae ketika mereka pertama kali bertemu. Jika memang Kui Xian adalah Kyuhyun, apa motifnya menghilang beberapa tahun lalu? Jika ia adalah Kyuhyun, walau pun setitik, pasti ada kilasan aneh di matanya ketika bersitatap dengan Siwon maupun Donghae, bukan? Namun  sikapnya normal dan alami.

Keempat, ia adalah kekasih Tan Hangeng, rekan kerja Siwon sendiri. Mana mungkin mereka memiliki kekasih yang sama, bukan?

Dan yang terakhir, Kyuhyun tidak ada motif untuk meninggalkan Siwon untuk lelaki lain. Keduanya sudah bertunangan dan berencana menikah beberapa bulan kedepan, tapi tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Tidak ada satu pun orang mengetahui keberadaannya. Bahkan polisi pun tidak pernah menemukan tubuh ataupun mayatnya, jika Kyuhyun memang ternyata sudah meninggal seperti perkiraan orang-orang selama ini.

Terakhir yang ia tahu, Kyuhyun pergi ke Pulau Jeju untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Tapi ia tidak pernah kembali dari Jeju setelah itu. Ketika teman kerja Kyuhyun itu ditanyai, ia berkata dengan yakin bahwa Kyuhyun sudah kembali ke Seoul.

*

            Siwon sedang menimbang-nimbang buku mana yang akan ia beli di kedua tangannya ketika dirasakannya seseorang menyapanya dari depan rak buku tempatnya berdiri.

“Anneyong haseyo..  Siwon-ssi? Masih ingat padaku?”

Siwon tertegun. Pemuda di depannya masih menatapnya dengan senyum manisnya. Tapi Siwon masih tetap diam. Seolah terpana dengan pemandangan yang disajikan di hadapannya.

“Eh? Siwon-ssi? Mungkin kau sudah lupa, aku Kui Xian. Tunangan Hangeng-gege. Kita pernah bertemu sekali di restaurant beberapa minggu lalu sebelum aku kembali ke Cina. Apa kau masih ingat?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku masih ingat. Aku hanya sedikit terkejut ternyata kau masih ingat padaku.”

Mana mungkin Siwon lupa pada sosok yang begitu dicintainya yang dengan tega merusak malam-malamnya karena selalu hadir di mimpinya? Tidak, bukan lelaki di depannya melainkan Kyuhyunnya.

Sejam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu café di dekat toko buku tadi. Keduanya asik bercerita tentang banyak hal dan Siwon menahan keras matanya untuk tidak terus-menerus menatap Kyuhyun. Tidak sopan menatap tunangan sahabatmu dengan intens, bukan?

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu memalingkan wajahmu ketika bicara denganku? Apa kau tidak senang mengobrol denganku?” tanya Kui Xian polos.

“Tidak.. Itu.. aku..” kata Siwon gelagapan.

“Ah aku tahu, mungkin kau sedang terburu-buru tapi karena merasa tidak enak meninggalkanku sendiri maka kau tetap menungguiku di sini. Benar kan?” tanya Kui Xian lagi.

Siwon terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Lidahnya kelu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Kui Xian tidak akan mau melihatnya lagi. Dan jika Hangeng tahu akan hal ini, ia pasti menjaga kekasihnya baik-baik agar tidak bertemu Siwon. Siwon akan di cap lelaki tidak tahu diri yang menyukai kekasih orang lain. Padahal ia sudah berhasil dengan sangat baik bangkit dari luka masa lalunya. Ia tidak mau usahanya yang ia lakukan bertahun-tahun itu gagal.

“Tampaknya aku benar.” Kata Kui Xian lagi. “Baiklah. Sampai jumpa Siwon-ssi. Aku pergi dulu.”

Siwon mengepalkan tangannya dengan keras. Bahkan cara marahnya juga sama. Jika diabaikan, Kyuhyunnya juga akan pergi meninggalkannya seperti tadi. Siwon ingin sekali mengejar Kui Xian. Kakinya memaksanya untuk melangkah tapi otaknya memaksanya untuk tetap tinggal dan tetap duduk. Mengejar lelaki itu sama saja menjatuhkan dirinya ke jurang kelam lagi. Ia tahu, begitu ia membuat hubungan baik dengan Kyuhyun, maka ia akan jatuh dalam pesona itu.

*

            Malam itu, tepat tanggal 19 april, para lelaki itu berkumpul dalam rangka merayakan hari ulang tahun Zhoumi. Semuanya hadir, tak terkecuali Kim Kibum. Zhoumi sendiri yang memintanya untuk membawa serta Kibum karena menurutnya lelaki itu cocok bergaul dengan kelompok mereka. Lagipula ia tidak mau Siwon datang sendiri mengingat semua yang ada di sana sudah berpasangan. Yesung dan Ryeowook bahkan ikut hadir.

“Siwon-ssi?”

Siwon menoleh. ‘Oh tidak..’ pikirnya.

Kui Xian tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini sendiri sementara yang lain tengah berpesta di dalam?”

Saat itu Siwon tengah berdiri di balkon apartemen Zhoumi, memandang hamparan kerlip lampu-lampu dari setiap bangunan di depannya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar. Kurasa aku minum cukup banyak dan merasa cukup panas di dalam.” kata Siwon seraya membalas senyuman Kui Xian.

Kebohongan besar. Ia keluar karena tidak tahan melihat Kyuhyun, maksudnya Kui Xian bermesraan dengan Hangeng. Mereka selalu saling menempel bagai amplop dan perangko. Hangeng tak pernah melepaskan lengannya dari pinggang tunagannya. Tak jarang keduanya berciuman.

Ya, Siwon tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan cemburu yang mencuat bak racun dari dalam hatinya. Ia bahkan merindukan Kui Xian setelah pertemuan singkat mereka di toko buku beberapa hari lalu. Siwon jadi merasa bersalah karena dengan berani merindukan kekasih temannya itu.

“Sepertinya kau punya masalah.” Kata Kui Xian pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Tidak, aku baik-baik saja. Percayalah, aku hanya ingin menghirup udara segar.” Kata Siwon mencoba meyakinkan lelaki di depannya.

“Biasanya orang yang sedang tertekan oleh sesuatu pasti ingin menghirup udara segar.” Kembali Kyuhyun bergumam.

‘Apa sikapku terlalu kentara? Jangan bilang Kui Xian bisa menangkap kecemburuanku. Ini tidak boleh terjadi.’ Batin Siwon.

“Siwon-ssi..”

Kembali Siwon menoleh. Kui Xian tengah menatapnya dalam-dalam. Mata indah itu bersinar indah, lebih indah dari kerlip lampu yang tadi sempat menenangkan hati Siwon. Mata yang sama, yang membuat Siwon selalu tergila-gila.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon hampir saja terlena andai saja Kui Xian tidak segera bersuara. Mendengar itu Siwon segera tersadar.

“Ten-tentu.. Tentu saja..”

Kui Xian tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya buka suara. “Apa kau membenciku?”

Siwon terperanjat. “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Kui Xian menunduk. “Karena tampaknya, kau tidak menyukai aku. Kau selalu menghindar ketika bertemu denganku. Kau juga tidak pernah mau menatapku ketika aku bicara padamu.”

“Tidak.. Itu tidak benar. Aku..”

“Dan kau tampaknya selalu mencari cara agar tidak bicara padaku.” Potong Kui Xian cepat. “Setiap aku ingin bicara, kau pasti menjawabnya seperti menutupi sesuatu.”

“Aku tahu, mungkin aku tidak seperti Henry yang lebih cepat bergaul. Tapi aku juga ingin mengenal semua teman gege. Aku ingin merasa betah di kota ini karena aku punya banyak teman. Teman-teman yang lain tampaknya bisa menerimaku, tapi.. Tidak denganmu..” Kui Xian melanjutkan.

Siwon menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada lelaki itu alasan mengapa ia melakukan semua ini? Apa setelah mendengar alasannya, Kui Xian akan mengerti? Apa Hangeng akan mengerti? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengelak.

“Tolong, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Memang seperti inilah diriku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tak nyaman.” Ujar Siwon dengan nada minta maaf.

“Benarkah? Jadi.. Kau tidak membenciku?”

Siwon mengangguk meyakinkan.

Kui Xian jadi bernapas lega karenanya. “Ah.. aku lega sekali karenanya. Aku hanya tidak ingin hubungan kita tidak baik. Bukankah kau adlaah rekan kerja gege, yang artinya kita akan lebih sering bertemu. Apalagi setelah aku dan gege menikah nanti.”

“Tentu saja.” Siwon berusaha tersenyum tulus. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar kata ‘menikah’.

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon sebisa mungkin mengatur agar nada suaranya terdengar biasa saja.

Kui Xian tersipu malu. “Aku belum tahu. Gege tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Seperti ketika kami bertunangan, ia mempersiapkan semuanya secara diam-diam, aku benar-benar terkejut saat itu. Namun aku bahagia.”

‘Cukup.. Kumohon..’

“Kau tahu, Siwon-ssi, gege adalah lelaki idaman setiap pria maupun wanita. Ia sangat lembut, penyayang, perhatian, pandai memasak, pandai membuat aku tertawa dengan lelucon-leluconnya, pandai membuatku merasa melayang hingga ke langit ke tujuh.. Aku benar-benar beruntung, bukan?”

‘Ya, beruntung. Sangat beruntung. Aku lah satu-satunya yang tidak beruntung saat ini.’

“Siwon-ssi.. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih? Menurut Donghae-ssi, Kibum-ssi adalah tetanggamu. Tapi kalian tampak serasi. Apa kau menyukainya?” tanya Kui Xian.

“Aku..” Siwon tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. Tapi akhirnya ia memilih untuk bicara dengan jujur. “Aku sedang tidak punya kekasih. Mungkin orang-orang melihatku sangat cocok dengan Kibum, tapi tidak ada yang terjadi diantara kami.”

“Tahukah kau, tampaknya ia menyukaimu.”

Siwon cukup tercengang mendengar penuturan Kui Xian. “Eh? Benarkah?”

Kui Xian mengangguk. “Makanya sejak awal aku selalu berpikir pastilah kau punya masalah yang cukup berat. Karena ada lelaki manis di sampingmu yang terlihat jelas sangat menyukaimu tapi kau mengabaikannya, atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali. Dan tebakanku tampaknya benar.”

“Apa menurutmu.. Aku harus memberinya kesempatan?” tanya Siwon. Ia berharap Kui Xian setidaknya akan memberi sedikit saja kata yang aneh, atau nada bicara yang aneh atau sinar mata yang tidak biasa atau bahkan ekspresi penuh kepura-puraan ketika menjawab.

Tapi di luar ekspektasinya, lelaki itu justru menjawabnya dengan riang. “Tentu saja. Kau harus memberinya kesempatan. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Carilah kebahagiaanmu. Berhentilah bersedih. Jika kau mempunyai kekasih, kau bisa berbagi suka dan duka  bersamanya, bukan? Maka segalanya akan terasa lebih ringan. Jadi, saranku, cobalah membangun sesuatu yang baru dengannya, kau berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Siwon terpaku di tempatnya. Bagaimana kalau kebahagiaanku adalah sesuatu yang ada dalam dirimu? Bagaimana kalau ternyata dirimulah yang aku harapkan untuk berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau pada kenyataannya aku mengharapkan sebagian darimu adalah milikku yang hilang?

*

wonkyu dwcme

To Be Continued..

PS : HAPPY 26TH BIRTHDAY TO OUR BELOVED EVIL MAGNAE, CHO KYUHYUN

HOPE HE HAS A BLAST TODAY AND MAY GOD ALWAYS BLESS HIM IN EVERYTIME..

MUCH LOVE KYUHYUNNIE.. ❤

When I’m With You

Title                 : When I’m With You

Rate                 : T

Genre              : AU, Romance, Friendship, Sad, Hurt

Cast                 : Siwon, Kyuhyun, Sooyoung, Yunho, Donghae, Seunghyun

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

When I’m with you..

I knew you’ll gonna be the part of my life since the first time..

Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia dan keluarganya pindah ke rumah sebelah hampir dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku sangat senang melihat akhirnya aku bisa punya teman dari lingkungan tempat tinggalku sendiri.

Tidak, jangan salah paham. Bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali. Sebaliknya, aku punya banyak sekali teman di sekolah. Hanya saja rumah kami semua berjauhan satu sama lain. Terkadang aku merasa kesepian jika kedua orang tuaku bepergian mengurusi pekerjaan mereka. Ayahku adalah seorang dokter sedangkan ibuku adalah seorang desainer pakaian di sebuah rumah mode terkenal.

Oh, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Choi Siwon. Aku adalah anak satu-satunya di keluarga dengan rumah besar ini. Jadi kalian akan langsung paham mengapa tadi kukatakan aku begitu kesepian, bukan?

Semua orang punya pengalaman yang tertulis di dalam jurnal harian baik itu dalam bentuk tertulis ataupun tersimpan dengan baik di dalam benak kita, termasuk diriku. Jika kau menayakan apa pengalaman terbaikku, aku akan dengan bangga mengatakan bahwa pengalaman terindahku adalah saat aku bertemu dengannya. Adikku, sahabatku, sekaligus cinta pertamaku..

Saat itu ia tengah asyik bermain sendiri dengan Jenga di depannya . Lihat tubuhnya yang kecil, pipinya yang gempal, kulitnya yang pucat serta matanya yang bersinar cerah. Ia benar-benar imut untuk ukuran seorang anak berumur delapan tahun.

“Hai, siapa namamu?”

Anak itu menatapku dengan rasa ingin tahu. Ia tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan menjawabku atau tidak.

“Jangan takut. Aku tinggal di sebelah rumahmu. Namaku adalah Choi Siwon.”

Ia menunduk sebentar lalu dengan suaranya yang indah ia menjawab. “Cho.. Kyuhyun.”

Aku tersenyum lega karenanya. “Kyuhyun-ah, maukah kau bermain bersamaku?” tanyaku penuh harap.

Ia mengangguk. “Kau tampak lebih besar dariku, apa aku boleh memanggilmu Siwon hyung?”

“Tentu saja boleh!” jawabku bersemangat. “Nah, bolehkah kita mulai permainannya dari awal?”

Kembali ia mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang membuatku semakin menyukainya. Dan persahabatan indah kami dimulai sejak saat itu..

*

When I’m with you..

The world is just such a beautiful world in your presence..

Kami tumbuh dengan cepat. Ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat manis sekaligus tampan. Aku selalu berpikir bahwa ia pastilah reinkarnasi dari salah satu malaikat di surga. Percayalah padaku, ia sangat sangat sangat tampan! Kau tidak akan bisa berpaling ketika memandangnya. Kau akan langsung terpaku akan keindahannya.

Dan aku selalu bangga karena akulah orang yang paling dekat dengannya. Aku adalah hyungnya sekaligus sahabat terbaiknya. Aku menjaganya dnegan sangat baik seperti permintaan kedua orang tuanya karena mereka ternyata jauh lebih sibuk daripada orang tuaku sendiri. Kyuhyun sering ditinggal sendirian di rumah sedangkan nasibnya sama denganku, anak tunggal.

Siang itu ia berlari seraya melambaikan tangannya dengan ceria kepadaku. Wajahnya yang sumringah tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Hyuuunggggg.. Tebak apa yang baru saja aku dengar!” serunya tanpa basa-basi ketika ia sudah berdiri di depanku.

Aku menggeleng. “Apa itu?” tanyaku dengan sama bersemangatnya. Lihat kan? Ia benar-benar pandai membuatku ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan.

Ia mencebikkan bibirnya. “Aku menyuruhmu untuk menebak!”

Aku tertawa geli. Ia sama sekali tidak tampak seperti anak berusia empat belas tahun jika sudah merajuk seperti ini.

“Baiklah.. Jangan bersedih, ne? Kau tidak tampan lagi kalau cemberut seperti itu.” bujukku.

“Cepat tebak kalau begitu!” katanya dengan nada galak yang dibuat-buat.

“Hm.. Appa mu akan mengajakmu liburan?”

Ia memutar bola matanya. “Mana mungkin? Ia sendiri tidak punya waktu untuk liburan dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin appa akan mengajakku?”

“Bagaimana kalau.. Eomma membelikan sesuatu yang sangat kau inginkan selama ini.” tebakku lagi.

Kali ini ia mengembungkan kedua pipinya seraya melipat kedua lengannya di dadanya. “Tampaknya kau tidak benar-benar berusaha menebak..”

“Ara.. Ara.. Bagaimana kalau.. Kau berhasil mendapatkan penghargaan dari sekolah dalam bidang matematika atau menyanyi.”

Kyuhyun sangat pandai dalam matematika. Ia bahkan beberapa kali memenangkan olimpiade matematika dan selalu menang. Jangan tanya apa aku juga pandai matematika atau tidak, pertanyaan yang benar adalah apakah aku menyukai matematika atau tidak, karena aku benci berhitung.

Selain itu Kyuhyun sangat pandai bernyanyi. Oh, kalian harus mendengar suaranya dan kalian akan sependapat denganku. Jika ia sudah bernyanyi, serasa segalanya berubah menjadi indah. Suaranya terdengar sangat merdu. Seperti mendengar kicau burung di pagi hari, deru angin dan ombak di pantai, serta suara seorang ibu yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.

“Hampir benar!” serunya kini, melepaskan wajah cemberutnya tadi. “Kau tahu hyung, aku diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Negara kita di pecan olah raga pelajar bulan depan! Oh.. Aku bahagia sekali!”

Aku terbelalak saat itu juga. Umurnya baru empat belas tahun tapi ia bisa memperoleh penghargaan setinggi ini. Dengan gembira kupeluk tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku itu. aku sangat bangga padanya. Adik kecilku benar-benar membuatku luar biasa gembira hari ini.

“Selamat Kyuhyunnie.. Hyung bangga sekali padamu. Kau benar-benar anak yang sangat berbakat.”

“Tentu saja, siapa dulu hyungnya..” katanya dengan tak kalah gembira saat ia melepaskan pelukanku. “Nah, ayo kita makan siang. Aku yang traktir.”

“Makan mie di depan mini market itu?” tanyaku.

“Dimana lagi tempat favorit kita selain di sana hyung? Kajja..” katanya seraya menggandeng lenganku dan menarikku pergi dari sana.

*

When I’m with you..

You’re just like a very special gift that heaven sent to me..

Ia menangis dalam pelukanku ketika ia patah hati. Ya, patah hati. Ini adalah kali ketiga ia menangis selama delapan tahun persahabatan kami. Pertama saat kedua orang tuanya tidak pulang sesuai janji, bukan karena disengaja, tetapi karena jadwal penerbangan mereka diundur jadi mereka terlambat kembali ke Korea. Kyuhyun menangis keras di rumahku, dalam pelukanku.

Kedua adalah ketika aku mengalami kecelakaan lalu lintas dua tahun lalu dan harus rela melihat kaki kiriku di gips. Aku sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Dan Kyuhyun tidak berhenti menangis saat itu, tidak sampai aku membuka mataku. Ia menangis di rumah sakit, tidak dalam pelukanku tetapi sambil memeluk lengan kananku. Saat itu aku sangat menyesal tidak menjaga diriku dengan baik, karena dengan begitu aku telah membuatnya menangis.

Ketika adalah saat ia putus dengan kekasih pertamanya yang telah ia pacari selama hampir tiga tahun. Ia dan Minho memang sudah sering bertengkar. Mungkin karena mereka masih sama-sama muda dan keras kepala. Choi Minho adalah lelaki populer di high school kami. Ia seperti pangeran dalam dongeng yang diimpikan siapa saja. Tampan, berbakat, cerdas dan kaya raya. Ia juga kapten basket sekolah.

Sebenarnya ia adalah kekasih yang baik. Hanya saja perbedaan visi dengan Kyuhyun membuat mereka acap kali bertengkar. Dan terakhir kali mereka bertengkar hebat adalah karena kesibukan Minho di dunia modeling yang mengharuskannya bertemu model-model lain dan akhirnya tenggelam dalam kesibukannya antara sekolah, basket dan modeling. Lalu waktunya untuk Kyuhyun pun berkurang. Dan akhir cerita sudah bisa ditebak, bukan?

“Aku benci padanya, hyung. Benci! Aku benci Choi Minho! Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku marah!” kata Kyuhyun disela-sela isakannya.

Ah.. Mengapa ia harus bermarga sama denganku? Aku jadi sedikit merasa bersalah karena lelaki yang Kyuhyun benci kini juga bermarga Choi.

“Ia lebih menyukai teman-teman model tololnya itu daripada aku. Apa ia tidak tahu betapa aku mencintainya, hyung? Apa arti hubungan kami selama ini?” kembali Kyuhyun tersedu.

“Kyu.. Dia juga mencintaimu. Dia hanya.. sibuk. Memang kesibukannya tidak bisa dijadikan alasan. Seharusnya ia bisa membagi waktunya dengan bijaksana. Sudahlah Kyu, jangan menangis. Dan pikirkan lagi keputusanmu itu. Aku tidak mau melihatmu terus-menerus bersedih seperti ini. Kau hanya dikuasai emosi sesaat, percayalah, kau tidak mau putus dengannya.”

Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tidak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa membantunya menyadari perasaannya sendiri. Aku lebih tua dua tahun darinya, tapi perbedaan itu tampak jauh karena aku terdidik mandiri dan dewasa. Jadi sebisa mungkin aku selalu menawarkan jalan terbaik untuknya tanpa membuatnya sedih.

Dan dugaanku benar. Baru putus dua hari dari Minho, pertahanan Kyuhyun runtuh saat Minho meminta maaf padanya. Mereka kembali bersama, kembali banyak bertengkar dan Kyuhyun lagi-lagi menangis. Ia bahkan lebih sering menangis sejak saat itu.

“Oppa! Kau mendengarkanku atau tidak? Berhenti memikirkan Kyuhyun. bisakah kau membuangnya dari pikiranmu walau hanya sedetik? Aku tahu ia bagaikan adik bagimu, tapi bukan berarti kau harus selalu memikirkannya. Kau lebih memperhatikannya daripada aku. Aku ini kekasihmu!”

Kurasa wajar saja Sooyoung marah padaku. Ia adalah kekasihku tapi aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Kyuhyun terutama sejak Minho jauh lebih sibuk. Bukan hanya Sooyoung, tetapi juga Heechul, Tiffany, Kibum hingga Luna juga melakukan hal yang sama. Semuanya pernah menjalin hubungan denganku dan semua merasakan kekecewaan yang sama. Apa kalian sedikit bingung dengan nama-nama tadi? Yah, mereka adalah para mantan kekasihku. Dan aku adalah biseks.

“Oppa! Lagi-lagi kau tidak mendengarkanku!” kali ini Sooyoung berdiri dari duduknya dengan geram lalu meninggalkanku sendirian.

*

When I’m with you..

We started as friend, then something happened inside me..

Ujian akhir sudah dekat. Aku harus belajar lebih giat agar bisa lulus dari universitas terkemuka tempatku belajar selama empat tahun itu.  Tapi aku selalu ada untuk Kyuhyun ketika ia membutuhkanku. Ia tidak butuh bimbingan saat belajar karena ia adalah mahasiswa yang cerdas. Ia hanya butuh teman bicara ketika ia sedang tidak bersama Changmin, kekasihnya.

Entahlah, awalnya aku justru bangga karena ia selalu datang padaku. Menceritakan hari-harinya bersama Changmin, seperti yang ia lakukan selama ini dengan kekasih-kekasihnya yang lain. Apa saja yang mereka lakukan hari itu, bagaimana mereka kencan, apa saja yang dibelikan Changmin untuknya, hingga bagaimana mereka bisa saling bercumbu walau belum sampai tahap bercinta atau.. yah, aku enggan menyebutnya, seks.

Namun akhir-akhir ini, aku sedikit kesal dengan cerita-ceritanya. Aku sendiri tidak tahu sebabnya. Dan entah mengapa ketika aku melihat siluet Kyuhyun memasuki pagar rumahku dari jendela, aku langsung berpura-pura tidur. Aku juga sering mematikan ponselku hanya karena aku enggan menerima pesan atau telepon darinya. Bukan apa, yang ia ceritakan hanya Changmin, Changmin dan Changmin, made me feel strange..

“Itu adalah hal yang wajar. Bukankah kini kau sedang sendiri, tidak mempunyai kekasih dan kau dibuat stress oleh ujian akhir yang semakin dekat. Jadi ketika kau mendengar cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau akan merasa jenuh.” Kata Donghae siang itu ketika aku, dia dan Yunho, sahabat-sahabatku tengah belajar materi ujian akhir bersama di café langganan kami yang terletak tak jauh dari kampus.

“Aku setuju. Stres akan ujian bisa membuatmu menjadi orang lain. Jadi kusarankan, ada baiknya kau sedikit bersantai. Atau pacari saja siapa pun agar kau bisa melampiaskan hasrat ehm.. seks yang terpendam..” kata Yunho seraya mengejek.

Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku mendengar kata-kata kedua lelaki tampan itu. Mereka memang benar, aku seharusnya tidak memikirkannya secara berlebihan. Tapi apa benar aku hanya merasakan hal ini karena stress ujian? Namun mengapa ada yang berbeda? Mengapa perasaanku berkata lain?

Semakin hari perasaanku semakin tak tergambarkan. Aku mulai memperbaiki penampilanku yang sebenarnya sudah baik, jangan salah sangka tapi memang aku suka berpenampilan rapi, menjadi lebih rapi lagi ketika ingin bertemu Kyuhyun. Aku mulai merahasiakan hal-hal kecil yang sekiranya akan membuatku tampak malu dan bodoh di depannya.

Aku mulai tidak banyak bicara ketika bersamanya, karena aku takut kata-kataku akan menyinggungnya atau malah membuatku jadi salah di matanya. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa jantungku mulai berdebar-debar saat ia menyentuhku atau menatap mataku. Atau bahkan hanya sekedar memanggilku “Siwon hyung” seperti biasa.

Hei, bukankah aku sudah melewatkan tahun demi tahun bersamanya? Mengapa aku bisa merasa aneh seperti ini? Ini tidak wajar. Mengapa aku merasa kalau.. aku takut kehilangan dirinya? Mengapa aku melihatnya dengan sudut pandang berbeda kini? Apa arti debaran itu? Apa arti hangatnya hatiku kala ia menggenggam tanganku? Apa aku.. mulai melihatnya sebagai lelaki, bukan lagi sahabat?

*

When I’m with you..

It came up without warning.. Everything was right, except my heart..

Seumur hidupku, aku sering melihat lelaki tampan. Ayahku, Yunho dan Donghae, Kibum, bahkan menurutku aktor Jung Woo Sung adalah lelaki paling tampan di seluruh dunia. Namun hari ini semua pemikiranku terbantahkan ketika melihat dirinya.

Bahkan malaikat pun tidak ada yang lebih tampan dari dirinya. Dengan balutan tuksedo putih, dasi kupu-kupu tersemat di lehernya, kulit putihnya yang sedikit kemerahan karena bahagia sangat serasi dengan warna karamel yang menyatu di rambutnya.

Segala keindahan di dunia ini, segala bentuk kesempurnaan yang pernah tercipta, berbaur secara alami di dirinya kini.

Lihatlah dirinya yang tak henti-hentinya tersenyum manis sedaritadi. Lihatlah bagaimana kebahagiaan yang datang di musim semi yang indah ini mampu membuatnya bahagia. Dan mungkin inilah kebahagiaan terbesar yang pernah ia miliki selama hidup di dunia. Betapa aku merasa bersyukur bisa melihat senyum itu selama ini.

“Jangan memandangku seperti itu, hyung..” katanya dengan wajah yang merona merah. “Kau membuatku.. malu..”

Aku segera tersadar dari lamunanku. “Ah.. Maafkan aku.. Kau tahu, aku sangat terkesima dengan penampilanmu hari ini.”

“Aku tahu aku tampan.” Katanya tak bisa menyembunyikan seringaian lebar itu. “Bahkan lebih tampan darimu.”

“Kau lebih tampan dariku.” Jawabku setuju. “Lebih tampan dari siapapun.”

“Sudahlah hyung.. Tolong jangan terus-menerus memujiku atau aku akan pingsan saat ini juga!”

Aku tertawa. Aku baru akan menjawab ketika ayahku masuk ke ruangan kami. “Gentlemen, it’s time. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian setelah prosesi selesai.”

Setelah ayahku keluar, aku berbalik menatapnya. “Apa kau siap sekarang?”

Kyuhyun meremas tangannya dengan gugup. Rona merah di wajahnya hilang sudah. “Aku.. Aku takut membuat kesalahan di luar sana, hyung.. Aku takut sekali emmbuat keluargaku dan dirimu malu.. Kau tahu, aku..”

Aku memegang kedua bahunya lalu menatapnya, memberi keyakinan. “Kau akan baik-baik saja, baby. Aku berjanji kau akan menyelesaikannya dengan baik. Kau adalah lelaki yang cerdas. Buatlah kami semua bangga padamu di luar sana.”

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya seraya menghembuskan nafas panjang. “Baiklah.. Aku siap.. Selama kau ada di sampingku, hyung, semua akan baik-baik saja..”

Dan akhirnya waktu yang telah dinantikan datang juga. Aku berdiri disini, menatapnya dengan penuh rasa bangga, penuh rasa sayang, penuh kebahagiaan. Ia berjalan pelan dengan ayahnya menuju ke altar suci tempat sesaat lagi pernikahan akan dilangsungkan.

Bagaimana aku bisa melewati prosesi terpenting itu, bagaimana aku bisa berada di podium kini dengan microphone di depanku, aku tidak tahu. Yang kutahu kini, aku harus bicara karena semua mata tengah memandangku.

“Hadirin yang terhormat.. Terima kasih telah datang dihari bahagia ini, membuat kebahagiaan semakin terasa lengkap di sini. Aku berdiri di sini, ingin berbicara mengenai seseorang yang terpenting dalam hidupku.”

Tanganku mulai terasa dingin. Hatiku berdetak lebih kencang. Sama seperti dirinya, ketika aku tengah lemah, hanya dengan melihatnya, bersama dengannya, membuatku terasa jauh lebih kuat.

“Cho Kyuhyun adalah adik, sahabat, dan keluarga bagiku. Kami melewati banyak hal bersama, baik suka dan duka. Saat senang kami saling berbagi, saat susah kami saling mendukung. Menjadikanku lebih kuat dan tegar menghadapi segalanya.”

Aku menatapnya, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya. Tuhan.. betapa tampannya dia. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya di sampingnya.

“Di hari yang bahagia ini, aku ingin berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan kami. Sekaligus berdoa agar ia selalu dilindungi dan diberi kebahagiaan yang melimpah untuk kehidupan baru yang telah diresmikan dalam prosesi suci pernikahan yang sama-sama kita saksikan tadi.”

Semua pertanyaanku terjawab setelah tiga tahun yang panjang. Perasaanku yang sempat membuatku bingung akhirnya membuahkan sebuah jawaban. Ternyata aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Dan entah mengapa dengan kenyataan itu, aku semakin takut jika aku mengatakannya, ia akan marah karena aku telah menodai persahabatan yang tidak akan pernah kutukar dengan apapun di dunia ini.

“Tidak ada kebahagiaan yang bisa mewakili perasaanku kini. Segalanya sempurna. Bahkan mentari di luar sana bersinar jauh lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Aku yakin alam pun turut bergembira karena hari besar ini. Hari pernikahan seorang Cho Kyuhyun.. Dengan pendampingnya Choi Seunghyun.”

Hatiku sakit menyebut nama Seunghyun. Lebih sakit lagi ketika melihat Kyuhyun kini melepaskan pelukannya dari ayahnya dan berganti memeluk mesra suaminya. Aku seringkali melihatnya tersenyum, tapi baru kali ini ia tersenyum begitu lebar, tertawa begitu lepas, seolah semua beban di hatinya sirnah. Dan sakit di hatiku semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa bukan aku lelaki yang membuatnya seperti itu. Bukan aku yang berdiri di sampingnya saat ini dan menerima pelukannya.

“Choi Seunghyun adalah lelaki yang baik dan paling tepat untuk mendampingi Kyuhyun. Aku percaya ia akan menjaga Kyuhyun dengan baik dan memberikan segalanya untuk memenuhi kebutuhan Kyuhyun. Tidak ada orang lain yang lebih tepat selain dirinya. Seunghyun-ssi, ingat janjimu padaku, jangan pernah tinggalkan dan kecewakan Kyuhyun.”

Choi Seunghyun mengangkat satu jempolnya sementara tangan lainnya merengkuh tubuh pasangan hidupnya kini. Lihat? Segalanya sempurna, bahkan sakit hatiku pun sempurna. Bagaimana aku menahan nyeri yang menyerang hatiku selama dua tahun terakhir ketika Kyuhyun mulai mengencani Seunghyun, bagaimana aku berpura-pura tersenyum di depannya ketika ia menceritakan segalanya tentang kekasihnya itu dan bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyerang Seunghyun ketika Kyuhyun menangis karenanya.

“Kyuhyunnie.. Adikku.. Akankah aku melihatmu lagi setelah hari ini?”

Ia akan pergi ke Jerman bersama suaminya dan menetap di sana. Akankah aku melihat senyum itu lagi? Akankah aku melihat bibir indah itu bergerak-gerak lincah seperti yang selama ini aku saksikan? Akankah aku bisa menyentuhnya lagi walau hanya sedetik?

“Apa kau akan merindukanku? Karena aku akan sangat kesepian tanpamu.”

Aku sudah terbiasa bersamanya setiap hari. Ketidakhadirannya pasti akan terasa sangat kosong, seperti jauh dari ibumu padahal kau tengah duduk di ruang keluarga bersamanya.

“Apa kau akan baik-baik saja di sana?”

Aku mulai menangis. Aku bisa mengontrol kata-kataku, tapi tidak sakit hatiku. Semakin lama aku melihatnya, semakin sakit rasanya. Namun aku tidak berani memalingkan wajahku, karena ini adalah saat terakhir aku melihatnya. Dan dia juga menangis di sana, bahkan sepertinya airmatanya jauh lebih deras dariku.

Hei, apa yang kau lakukan, Siwon? Mengapa kau membuatnya menangis? Lihat, kau baru saja meruntuhkan kebahagiaannya.

Aku berusaha tersenyum walau hatiku menangis dan airmataku tetap mengalir tanpa henti. Ayahku sudah mulai mengusap-usap punggungku dengan sayang seraya menenangkanku. Aku hanya bisa mendengar ia mengerti perasaanku yang akan ditingalkan oleh sahabat sejati. Walau sebenarnya ia tidak mengerti bagaimana aku tersiksa dengan perasaan cinta ini.

“Kyuhyunnie.. Hyung sayang padamu.. Hyung benar-benar.. berdoa untuk kebahagiaanmu. Tolong jangan lupakan persahabatan kita.. Sering-seringlah memberi kabar dan.. kunjungilah kami di Seoul jika sempat.”

Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Segalanya di depanku tampak buram. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah bayangan putih yang berdiri tak jauh dariku, Kyuhyun.

“Jagalah kesehatanmu. Jangan tidur larut malam hanya karena menonton televisi. Dan jangan lupa meminum vitamin C karena kau paling gampang terkena flu. Ah.. Maafkan aku banyak bicara..”

Aku tidak sanggup lagi. Aku bahkan tidak tahu harus mengakhiri pidatoku ini seperti apa. Yang aku tahu, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin, melarikan diri dari tempat ini. meninggalkan segalanya di belakang. Tapi aku harus menyelesaikannya. Demi Kyuhyun. Demi menyelamatkan pestanya yang sudah ku rusak.

“Terima kasih telah datang ke kehidupanku. Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Tanpa menunggu lagi, aku segera berlari menuruni podium. Berlari kencang ke arah pintu keluar dan terus berlari tanpa arah tujuan. Udara dingin dengan angin sepoi menerpa wajahku. Akhirnya aku berhenti. Ketika aku menyadari bahwa aku berhenti di taman tempat aku dan Kyuhyun biasa menikmati waktu luang, kembali sakit di hatiku menyerang.

Aku menegadah dan melihat langit kelabu di atas sana. Kemana perginya mentari yang tadi bersinar cerah? Lalu setitik hujan turun diikuti dengan titik lainnya kemudian hujan turun menyerang. Aku membiarkan hujan membasahiku, berharap mereka membawa pergi sedihku ini, membuatku kembali menjadi Siwon yang tegar walau tanpa cahaya di hatiku.

Lalu aku mengingat kata-kata yang sering diucapkannya, ‘Kau adalah yang terbaik, hyung. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Namun, selama kau ada di sampingku, semua akan baik-baik saja..

Tapi aku tidak baik-baik saja, Kyu.. Tidak tanpamu.. Tidak akan pernah..

*

            “Hyung.. Siwon hyung..?”

Apa aku bermimpi? Ya, aku pasti bermimpi. Mimpi yang menyakitkan. Aku melihatnya di depan mataku. Bukankah seharusnya ia sudah pergi? Mengapa ia masih ada di sini?

“Hyung.. Apa kau bisa mendengarku?”

Aku mendengarnya bicara. Dan melihatnya! Ia bicara kepadaku dengan nada cemas. “Apa hanya karena hujan dan kelelahan kau jadi seperti ini? Sudah kukatakan jangan terlalu lelah mengurus pernikahan itu.”

Matanya merah dan sembab. Kedua orang tuaku ada di sana. Bahkan.. Seunghyun juga ada di sana. Ini bukan mimpi. Kyuhyun memang telah menikah dengan Seunghyun. Biar kutebak, mereka mencariku setelah keluar dari ruang pesta dan menemukanku yang pingsan di jalan dan membawaku kemari. Entahlah, sakit di hatiku justru bertambah karenanya.

“Siwonnie.. Apa kau baik-baik saja? Eomma sangat mengkhawatirkanmu.” Ibuku tampak sama cemasnya dengan Kyuhyun. Ayahku tengah bicara dengan dokter yang menanganiku. Aku kenal dokter itu, dia adalah rekan kerja ayahku.

“Dia baik-baik saja. Mungkin karena ia sempat terkena demam tinggi maka ia sedikit kebingungan.” Jawab ayahku meyakinkan ibuku.

Setelah beberapa saat keduanya berpamitan. Ayahku akan kembali bekerja dan ibuku akan beristirahat sebentar. Menurut dokter Kim, aku tidak sadarkan diri selama dua hari dan menderita demam tinggi.

“Kau baik-baik saja? Tidak seharusnya kau membuatnya cemas seperti itu.” kata Seunghyun kepadaku. Dagunya mengarah kepada Kyuhyun yang duduk di sebelah kanan sambil menggenggam tanganku.

Aku enggan menatap Kyuhyun yang terlihat kembali terisak pelan. Bukan apa, rasanya sakit sekali melihatnya menangis untukku sementara hatinya sudah milik orang lain. Mengapa aku harus sadar secepat ini? Mengapa mereka tidak pergi saja ke Jerman tanpa menungguiku seperti ini?

“Maafkan aku.. Sudah membuat kami cemas.. Aku.. Maafkan karena telah merusak acara sakral itu..” kataku terbata-bata.

Jujur saja aku nyaris menangis lagi jika mengingat hal itu. Walaupun aku ingin sekali melupakannya, namun bayangan Seunghyun memasangkan cincin ke jari manis Kyuhyun, ketika mereka saling bersumpah setia sehidup semati di hadapan Tuhan, ketika mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, ketika mereka berciuman.. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku jika mereka masih ada di depanku.

“Jangan lagi.. Jangan lagi kau membuatku cemas seperti itu, hyung. Aku nyaris gila karena memikirkanmu..” Kyuhyun masih terisak. Membuatku merasa bersalah.

“Kyuhyunnie.. Aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah kembali. Bukankah.. Kalian akan ke Jerman? Jangan ditunda hanya karena aku. Sungguh.. aku..”

Seunghyun mengerutkan keningnya. “Kalian? Maksudmu, aku dan Kyu? Tapi.. Hanya aku yang akan berangkat, ingat? Aku dipindah tugaskan ke Jerman selama tiga tahun.”

“Tapi.. Tapi.. Mengapa kau meninggalkan Kyuhyun di sini sendirian?” tanyaku dengan nada tak mengerti. Mengapa ia meninggalkan orang yang dicintainya di sini? Mereka baru saja menikah, sudah seharusnya mereka tinggal bersama.

“Bukankah di sini ia punya kedua orangtua beserta dirimu? Tentu saja ia akan baik-baik saja.” Jawab Seunghyun acuh seraya meneguk air mineral yang ada di tangannya sedari tadi.

Bagaimana ia bisa sesantai ini? Kemarahan menguasai dadaku. Apa maksudnya ini? Setelah menikahi Kyuhyun kini ia akan meninggalkannya? Bagaimana mungkin aku sanggup melihat airmata itu lagi?

“Seunghyun-ssi.. Kalau tujuanmu untuk mencampakkan Kyuh..”

“MENCAMPAKKAN..???!!” Kyuhyun dan Seunghyun berseru bersamaan. Keduanya saling bertukar pandang dengan bingung.

“Siwonnie, apa kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu ku panggilkan dokter?” tanya Seunghyun. Wajahnya kini terlihat sangat cemas.

“Er.. Hyung.. Mengapa kau jadi berlebihan seperti ini?” tanya Kyuhyun.

“Kau pikir aku gila??!! Katakan padaku mengapa kau meninggalkan Kyuhyun setelah kau menikahinya!” aku tak tahan lagi. Tumpahlah semua kemarahan yang sejak tadi kutahan.

“MENIKAH??!!” kembali Kyuhyun dan Seunghyun berseru keras dengan bingung. Keduanya saling pandang lalu gentian memandangku.

“Ya, menikah! Kau menikahinya dan kini hendak meninggalkannya? Aku menghadiri pernikahan kalian! Aku salah satu bestman kalian. Ketika aku berbicara di podium, bukankah aku memintamu untuk berjanji menjaga Kyuhyun dengan baik dan kau mengiyakannya, bukan? Jangan pura-pura bodoh!”

Aku benci melihat wajah Seunghyun yang tampak shock seperti itu. Seolah-olah semua yang kukatakan tadi hanya omong kosong dan pernikahan tadi tidak ada artinya untuk dia.

“Aku? Me..menikahi Kyuhyun?” kini mata Seunghyun nyaris keluar dari rongganya.

“Ya! Hentikan!” jerit Kyuhyun keras. Membuatku terlonjak. “Hyung, ada apa denganmu? Mengapa kau bicara omong kosong seperti ini?”

Suaraku melembut ketika bicara dengan Kyuhyun. “Kyu.. Ada apa dengan pernikahan kalian? Mengapa Seunghyun..”

“Lagi-lagi pernikahan! Siapa yang menikah dengan siapa? Bagaimana mungkin aku menikahi kakak kandungku sendiri??!!”

Kini gentian aku yang terperangah. “Kakak kandung? Tapi.. Bukankah.. Ya! Choi Seunghyun, bagaimana..”

“Choi?? Aku bukan saudaramu, bagaimana mungkin aku bisa satu marga denganmu. Dan sejak kapan aku berganti marga? Aku masih tetap seorang Cho sampai sekarang! Ya! Apa kepalamu masih bekerja dengan baik? Kau ini sejak tadi bicara yang tidak masuk akal. Ada apa denganmu? Apa demam tinggi membuatmu lupa ingatan terhadap istrimu sendiri?”

Seunghyun menunjuk Kyuhyun yang menatapku dengan galak. Tunggu.. Seunghyun adalah kakak Kyuhyun? Lalu Kyuhyun adalah.. “Istriku?”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di kepalaku. Kulihat tangan Kyuhyun nyaris berayun lagi di udara ketika aku masih bereaksi dengan aneh.

“Kalau memang semua ini benar, lalu pernikahan siapa yang kuhadiri?” tanyaku bingung.

Seunghyun meringis. “Aku akan memanggil dokter sekarang. Kyu, cobalah pukul terus kepalanya, siapa tahu penyakit bodohnya hilang. Mana mungkin ia melupakan pernikahan sahabat baiknya, Donghae, sedangkan ialah yang paling sibuk mempersiapkan semuanya sejak beberapa bulan lalu?”

PLAKK!

Tamparan kedua di kepalaku membuatku pusing. Pandanganku serasa berputar-putar bahkan sedikit gelap.

“Katakan sekali lagi kalau aku adalah istri kakakku dan aku akan meninggalkanmu sendirian, hyung! Kau ini menyebalkan sekali!” Kyuhyun mengomel dengan galak sementara semuanya tampak jelas perlahan.

Bagai film, semuanya tampak jelas di kepalaku. Bagaimana aku dan Kyuhyun akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing setelah ia putus dengan Changmin, bagaimana kami melalui dua tahun masa berpacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikat janji setia, bagaimana kami menikah tahun lalu dan.. bagaimana kami menjodohkan Donghae dengan rekan kerja Kyuhyun, Eunhyuk.

“Baby..”

“Hyung..” Kyuhyun mendekatiku. “Kau baik-baik saja? Maaf aku memukulmu, aku..”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.. Kurasa.. Aku hanya bermimpi buruk dan kehilangan akal sehatku sesaat. Maafkan aku..”

Kyuhyun menarik nafas lega karenanya. Ia lalu memelukku erat. “Syukurlah kau sudah kembali, hyung.. Aku cemas sekali. Kukira kau hilang ingatan dan semacamnya..”

“Maafkan aku.. Sekali lagi maaf.. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti ini.” aku lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pipi dan keningnya. “Bahagia rasanya karena kita telah bersatu.”

“Tolong jangan pernah bertingkah seolah aku milik orang lain, hyung. Karena melihatmu menyangkalku benar-benar membuatku sakit.” Katanya dalam nada manja seperti biasa.

“Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji.” Kataku seraya meraih dagunya, mendekatkan wajah kami berdua dan mulai menyentuh bibirnya yang selalu kukagumi. Ketika aku akan melumat bibirnya, pintu kamar rawatku dibuka dengan keras.

Cho Seunghyun, dokter Kim, ayah dan ibuku menyerbu masuk dengan tatapan luar biasa cemas. Ketika mereka melihat adegan yang tersaji di hadapan mereka, ketiganya menatap Seunghyun dengan curiga.

“Percayalah padaku.. Aku tadi melihat Siwon.. Ya, Kyu.. Bantu aku..”

Aku dan Kyuhyun hanya bisa tertawa melihat ketiga orang itu mengomeli Seunghyun. Senang rasanya melihat semua ternyata hanya mimpi. Walau hanya sebentar, aku benar-benar tidak ingin mimpi seperti itu kembali lagi. Biarlah terkubur dengan masa lalu. Saatnya menyongsong masa depan dengan Kyuhyun. Ahh.. betapa aku mencintainya..

***

wonkyu00

E.N.D