Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

I’m Entirely In Your Will – Chapter 3

Casts           : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors    : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre         : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating        : T

Summary : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!  : psychosis

 

Chapter 3

Kyuhyun duduk di lantai marmer keras seraya bersandar ke dinding di belakangnya. Perlahan, ia mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, teramat lelah. Hampir tiga hari ia nyaris tidak memejamkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur jika hati dan pikirannya sedang kacau seperti ini?

“Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja?”

Kyuhyun membuka matanya dan mendapati Jung Yunho tengah berdiri menatapnya dengan sedikit kecemasan tergambar di raut wajahnya.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.” jawabnya seraya tersenyum sopan.

Yunho lalu ikut duduk di samping Kyuhyun. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi setidaknya kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kau bisa menjaga kekasihmu kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri?”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak mau mempertanyakan dari mana Yunho tahu bahwa ia dan Roberto memang berhubungan tapi yang jelas ia tahu Yunho benar. Tapi ia tidak bisa sedikit pun mengistirahatkan dirinya jika keadaan buruk seperti ini menimpa Roberto.

“Bukan hanya kau yang cemas, kami semua juga merasakan hal yang sama.” Didengarnya Yunho melanjutkan kata-katanya. “Roberto adalah pemeran utama. Ia yang terbaik. Jika terjadi sesuatu padanya, pertunjukan ini bisa kacau.”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika dilihatnya Lee Soo Man muncul dengan langkah-langkah panjang.

“Semuanya berkumpul.”

Mendengar instruksi dari sang produser, para staf beserta para ballerina dan balerino yang hadir disana mendekat lalu membentuk sebuah lingkaran besar.

“Kupikir kalian sudah tahu alasan mengapa kalian dikumpulkan saat ini. Aku sudah bicara dengan dokter dan tampaknya Roberto tidak bisa menari untuk sementara waktu, jadi Choi Siwon akan menggantikannya. Mari berharap Roberto sudah pulih sebelum pementasan Onegin dimulai mengingat waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Jadi kuharap, kalian semua bekerja keras dan berdoa semoga Roberto segera kembali.” Kata lelaki parah baya itu dengan lancar, seolah ia telah menghapalnya di luar kepala sebelumnya, mengabaikan tatapan-tatapan sedih dari para pendengarnya.

Ia lalu menghela nafas lelah kemudian berpaling pada Siwon. “Siwon-ssi, tolong berikan yang terbaik untuk pementasan ini. Aku mengandalkanmu.”

Siwon mengangguk patuh. Di wajah tampannya terukir senyum bangga. “Aku akan berusaha sebaik mungkin. Dengan kepercayaan anda juga dukungan dari teman-teman, aku akan melakukan yang terbaik.”

“Baiklah, kalian boleh melanjutkan latihan.” Lee Soo Man lalu berbalik meninggalkan kerumunan itu.

“Kau dengar? Roberto akan digantikan oleh Siwon-ssi. Ini benar-benar mengejutkan.”

“Siwon-ssi sangat beruntung.”

“Roberto pasti sangat kecewa.”

Siwon berjalan pelan ke arah Kyuhyun. Ia bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik di belakangnya. Namun, ia tidak peduli sama sekali pendapat orang mengenai dirinya. Ia hanya peduli bagaimana cara memenangkan pertarungan ini. Mungkin Roberto hanya menganggapnya sosok kecil, bukan penghalang berarti apalagi sejak keputusan Lee Soo Man yang mengatakan bahwa Roberto adalah pemain utama Onegin sedangkan Siwon hanya pemain kedua.

Awalnya Siwon tidak kecewa dengan keputusan itu. Bukankah ia sendiri memenangkan tempat kedua di usia yang masih begitu muda? Namun gairah untuk menang semakin besar ketika melihat Cho Kyuhyun, sosok manis yang merebut pikiran dan hatinya sejak pertama mereka bertemu. Ditambah dengan hubungan Kyuhyun dan Roberto yang semakin dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Siwon hanya ingin menakut-nakuti Roberto pada awalnya, karena ia benci melihat Kyuhyun bersama lelaki lain selain dirinya. Namun, ternyata Roberto mengalami cedera parah hingga ia harus menggantikan lelaki berusia matang itu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia mendapat dua keuntungan sekaligus.

“Kyuhyun-ssi, apa kau sudah makan siang? Kau terlihat pucat sekali. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.” Siwon menawarkan dengan senyum cerah terkembang di wajah tampannya.
Kyuhyun ikut tersenyum seraya menggeleng lemah. “Aku tidak bisa, Siwon-ssi. Aku harus kembali ke rumah sakit. Roberto membutuhkanku. Ia pasti sedih jika harus makan siang sendirian.”

“Oh.. Begitu.. Baiklah, sampaikan salamku pada Roberto. Maaf aku belum bisa mengunjunginya. Semoga ia cepat.. pulih.” Berat rasanya menyebut kata ‘pulih’ untuk saingan utamanya itu. Tapi demi melihat senyum Kyuhyun, ia harus bersabar dan terlihat ikhlas ketika mengucapkannya.

Dengan kejadian ini seharusnya ia bisa ikut memenangkan hati Kyuhyun, tapi rasanya sia-sia. Kemarahan kembali menguasai dirinya. Tapi ia kembali memaksakan senyumnya untuk Kyuhyun, menutupi letupan murka didadanya.

*

Roberto memainkan remote control televisi di tangannya. Sedari tadi ia mencari saluran hiburan yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bisa menghiburnya dengan baik selain Kyuhyun.

Roberto menghela nafas nafas panjang. ‘Andai saja Kyuhyun tidak harus pulang.’ Sesalnya dalam hati.

Sebenarnya ia sendiri yang menyarankan Kyuhyun untuk pulang dan beristirahat mengingat lelaki itu menjaganya siang dan malam. Namun tampaknya ia sedikit menyesali keputusannya itu. Rasa sepi dan bosan menghampirinya, ia menginginkan Kyuhyunnya kembali.

“Tampaknya kau sedang sendiri.”

Roberto menoleh cepat ke pintu masuk. Di sana, sosok lelaki tegap berdiri dengan senyum dingin tengah menatap ke arahnya. Choi Siwon.

“Mau apa kau kemari?” tanya Roberto dingin.

Perlahan Siwon melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangnya, tak lupa menguncinya dari dalam.

“Apa maumu? Pergi atau aku akan memanggil security.” Ulang Roberto. Nada gugup sedikit terdengar dalam suaranya.

Siwon mengangkat alisnya. “Aku hanya ingin bicara empat mata, apa itu salah? Mengapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Kau tidak mau bicara denganku? Bukankah tidak sopan mengusir temanmu yang berniat baik untuk menjengukmu juga menyampaikan pesan dari Lee Soo Man?”

Roberto menatap Siwon dengan tatapan tidak suka. Sungguh, ia membenci lelaki di depannya itu. Ia tidak pernah menyangka seorang Choi Siwon yang tampak ramah dan bersahaja itu ternyata sangat kejam.

“Cepat katakan pesannya lalu pergi.”

Siwon menjatuhkan dirinya di tempat tidur Roberto, tepat di samping kaki kanan sang balerino yang tengah cedera itu.

“Aku akan menggantikan tempatmu dalam pementasan Onegin.. Oh.. Jangan salahkan aku.. Lihat wajahmu sekarang.” Ujar Siwon ketika melihat wajah kaget Roberto.

“Jangan salahkan aku, itu adalah kemauan Lee Soo Man sendiri.” Lanjut Siwon.

“Tidak mungkin! Aku tidak percaya Lee Soo Man menggantikanku begitu saja tanpa sepengetahuanku!” sanggah Roberto cepat.
Siwon tertawa sinis. “Bisa saja. Kau tengah cedera, siapa yang bisa menggantikanmu kecuali aku? Lagipula, tidak mungkin kan pementasan ini diundur hanya karena kau cedera?”

Kumparan amarah menguasai Roberto kini. Kedua tangannya dikepalkan, siap meninju wajah menyebalkan di hadapannya andai saja kakinya bisa bekerja sama saat ini.

“Kauuu.. Kau penyebabnya! Kau yang menyebabkan aku jadi seperti ini!”

Kini Siwon justru tertawa. “Benarkah? Harusnya kau menyadari bahwa kaulah penyebab semua ini. Andai saja kau menjauhkan cakarmu dari Kyuhyun, mungkin saat ini kau tengah mempersiapkan diri untuk pementasan besar itu bukan? Mengapa kau harus menyalahkanku? Lihat dirimu kini, hanya seonggok daging tak berguna. Bukan hanya menyusahkan seluruh staf, kau juga membuat Kyuhyun hanya menghabiskan waktu tak berguna disini sementara kami harus bersiap-siap.”

Roberto meremas selimutnya dengan kasar, tubuhnya memanas seiring dengan amarahnya yang nyaris meledak. “Cho Kyuhyun adalah milikku. Sampai kapan pun tak akan kulepaskan apalagi untuk lelaki keji seperti kau!”

“Kau yakin sekali. Apa kau lupa bagaimana aku bisa membuatmu berada di sini?”

Kali ini Roberto yang tersenyum. “Aku tidak akan melepaskan Kyuhyun. Sampai kapan pun! Walau aku harus mempertaruhkan segalanya, aku akan tetap membuatnya berada di sisiku. Ingat itu.”

Senyum sinis tadi menghilang di wajah Siwon. Tangannya mendarat lalu mencengkram kaki kanan Roberto dengan keras, seolah hendak menghancurkannya dalam sekejap.

Roberto melolong keras karenanya. “Aaaarrggghhh…!!!! Lepaskan, kau bajingan!!!”

Seakan tuli, Siwon tetap mencengkram keras. “Kau akan benar-benar kehilangan kakimu kalau kau bersikeras seperti ini.”

“Aku.. tidak.. peduli.. Lepaskan kakiku!” Roberto tetap bertahan seraya berusaha melepaskan cengkraman Siwon.

Kali ini Siwon menurut. “Cukup untuk hari ini. Aku akan datang lagi nanti dan bersenang-senang denganmu.”

Ia lalu berjalan menuju pintu, membuka kuncinya lalu beranjak keluar. Tapi sebelum ia benar-benar menghilang dari sana, ia sempat berbalik dan berkata dengan nada dingin. “Kau akan tahu akibatnya kalau kau berani bicara tentang kejadian sebenarnya, mau pun malam ini.”

*

Malam itu hanya awal dari rentetan kesengsaraan Roberto. Setelah itu Siwon kerap kali mengunjungi Roberto dan menyiksa lelaki itu ketika Kyuhyun tidak ada di sana. Ia pernah dengan sengaja menutup wajah Roberto dengan selimut, membuat nafas sang Balerino tersedak, nyaris mati. Di lain kesempatan ia pernah membenturkan kepala lelaki itu ke besi keras penyangga tempat tidur hanya karena Roberto masih bersikeras mempertahankan Kyuhyun.

Belum lagi sayatan panjang di lengan Roberto karena berani mencium Kyuhyun di depan mata Siwon. Saat itu Siwon datang ke rumah sakit bersama Hee Seo, Yunho dan Eun Hye. Ternyata Kyuhyun ada di sana dan bersiap untuk pulang. Dan salam perpisahan sepasang kekasih itu tentu saja adalah ciuman penuh kasih yang membuat Siwon nyaris membunuh Roberto saat itu juga, andai akal sehatnya tidak memaksanya untuk tetap berdiri dengan tenang di tempatnya.

“Mengapa akhir-akhir ini kesehatanmu justru semakin menurun? Aku khawatir sekali padamu.” Ujar Kyuhyun seraya menyerahkan segelas air pada kekasihnya.
Roberto menghabiskan isi gelasnya lalu menggeleng. “Entahlah, semakin hari, ada saja kejadian yang membuatku terpaksa tinggal di sini. Aku bosan, aku benar-benar ingin pulang.”

“Kalau begitu kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu. Kami semua merindukanmu. Aku merasa sangat tidak nyaman menggantikan tempatmu di pementasan pertama minggu depan.” Kata Siwon dengan raut wajah menyesal.

Ya, Choi Siwon sore itu mengantar Kyuhyun mengunjungi Roberto. Dan ia tampak sangat nyaman memainkan perannya sebagai teman yang baik sekaligus pemangsa ganas yang mengawasi gerak-gerik Roberto dengan cermat.

Roberto hanya bisa menahan amarah setiap kali mendengar Siwon bicara. Terkadang ia malah tidak menjawab sama sekali, membuat Kyuhyun berkali-kali minta maaf pada Siwon karena ketidaksopanan kekasihnya.

“Nah, aku sudah mengupaskan beberapa buah untukmu. Jangan pernah menggunakan pisau lagi sendiri. Aku tidak mau tanganmu yang lain tersayat juga karena kecerobohanmu sendiri.” Ujar Kyuhyun seraya menunjuk sayatan panjang di tangan kiri Roberto yang diakui sebagai kesalahannya sendiri ketika mengupas apel, padahal sudah jelas Siwon yang melakukannya.

“Roberto, kau harus berhati-hati, kalau tidak keadaanmu akan memburuk. Kaki mu saja belum sembuh, bagaimana mungkin kau melukai tanganmu juga?” kata Siwon, lagi-lagi dengan nada prihatin.
‘Munafik!’ pikir Roberto. “Aku akan berhati-hati, tenang saja.” Kata Roberto seraya mengeraskan rahangnya.

“Dan lagi.. Maaf, bukannya aku mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi, Kyuhyun-ssi harus berkonsentrasi dalam pementasan ini, bukan? Lihatlah dia baik-baik. Bahkan pada saat latihanpun ia tertidur. Beberapa hari lalu kami mengantarnya ke klinik terdekat karena ia tiba-tiba pingsan.”

Roberto tersentak. “Kau dibawa ke klinik? Kenapa tidak mengabariku? Kau sakit?”

Kyuhyun menggeleng dengan jengah. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku kekurangan darah merah dan zat besi. Belakangan ini aku kurang tidur dan sering terlambat makan, apalagi dengan keadaanmu seperti ini, aku..”

“Maafkan aku..” kata Roberto menyesal. “Andai saja aku tidak terluka, mungkin kau tidak akan seperti ini.”

Roberto memperhatikan wajah kekasihnya dengan cermat. Bagaimana mungkin ia melewatkannya? Tubuh Kyuhyun semakin kurus, lingkaran hitam menggantung di bawah bola matanya yang hari-hari ini tampak tidak bersinar cerah seperti biasanya. Dan wajah itu, semakin kuyu dan pucat, seolah tidak ada kehidupan di sana.

“Roberto, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu makan lebih banyak, beristirahat dan meminum vitaminku. Aku akan sehat kembali, aku janji.” Kata Kyuhyun dengan cepat, berusaha mengusir rasa bersalah serta kecemasan yang terukir jelas di wajah kekasihnya.

“Sudah seharusnya, Kyuhyun-ssi.” Sambung Siwon. “Para staf dan Lee Soo Man sendiri sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir kau harus benar-benar berkonsentrasi penuh pada pementasan minggu depan.”
Kyuhyun menunduk. Ia tahu Siwon benar. Walau ia sangat mengkhawatirkan Roberto, tapi ia tidak seharusnya mengabaikan kesehatannya sendiri. Apalagi pekerjaan yang selama ini ia lakukan akan segera terlihat hasilnya minggu depan.

“Tapi aku.. sangat mengkhawatirkan Roberto. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian seperti ini.”

Roberto tersentuh mendengarnya. Tapi ia tahu hal buruk akan segera terjadi kepadanya jika ia tetap membiarkan Kyuhyun seperti ini. Ketika ia melirik ke arah Siwon, terlihat jelas kilau murka di mata lelaki berumur 20 tahun itu. Tapi sekali lagi, ia tidak akan melepaskan Kyuhyun hanya karena ancaman lelaki yang lebih muda darinya itu.

*

Lagi, Kyuhyun pingsan di sela-sela latihan penyempurnaan hari itu. Pementasan perdana sudah di depan mata dan Kyuhyun lagi-lagi harus ambruk di tengah sibuknya hari itu.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus menjaga kesehatanmu? Lihat, kau semakin pucat dan kurus. Pementasan ini penting. Kau penting bagi kami. Kau penting.. bagiku.”

Kyuhyun tidak kaget lagi mendengar penuturan Siwon. Sejak mereka kenal, Siwon sudah mendekatinya, memberi tanda bahwa lelaki itu ingin hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Walaupun Siwon belum pernah mengungkapkannya secara gamblang, tapi Kyuhyun menyadari sikap Siwon selama ini kepadanya.

Sungguh, ia juga menyukai Siwon. Tapi jika dibandingkan dengan Roberto, perasaannya berbeda. Siwon jauh lebih muda dan bersemangat, sementara Roberto lebih matang dan dewasa. Ia menyukai segalanya dari Roberto, hingga ia tidak mampu berpaling kepada lelaki tampan dengan lesung pipi yang sempurna itu.

“Maafkan aku, Siwon-ssi. Mungkin aku memang buruk dalam membagi waktuku. Tapi, aku benar-benar khawatir dengan Roberto. Aku tidak bisa. Kalau aku pulang ke rumah, pikiranku akan terus berada di rumah sakit. Kalau aku sedang bersamanya, aku tidak ingin tidur karena aku takut jika tertidur dan ia membutuhkan sesuatu, aku tidak bisa membantunya.” Ujar Kyuhyun tanpa menyadari betapa sakitnya Siwon mendengar semua itu.

“Dan aku.. Aku tidak bisa jauh darinya. Jadi, walaupun aku sakit seperti ini, aku tetap bahagia karena bisa bersamanya.”

Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk seolah mengerti lalu meninggalkan Kyuhyun tanpa kata.

*

“Kami sangat khawatir padanya. Bukankah di saat-saat seperti ini dia seharusnya berkonsentrasi dengan pementasan?”

“Bukannya kami tidak memikirkan keadaanmu, Roberto. Tapi saat ini kami tidak punya pilihan lain. Bagaimana Kyuhyun bisa menjalankan tugasnya jika ia lemah seperti itu? Ia selalu sakit dan pingsan.”

“Pementasan perdana akan dilaksanakan sebentar lagi. Kami butuh tim yang bekerja dengan konsentrasi penuh.”
Roberto mengingat kata beberapa staf yang tadi mengunjunginya. Semua mengeluhkan kondisi Kyuhyun saat ini. Ia merasa bersalah. Awalnya ia yang bermasalah karena cedera yang dialaminya, dan kini Kyuhyun yang dipermasalahkan karena masalah profesionalisme kerja.

Hal ini tidak bisa diteruskan, bagaimana jika Kyuhyun terus seperti ini? Ia hanya menyusahkan semua staf, menggelisahkan para pemain lain dan mengecewakan Lee Soo Man. Dan lagi, Roberto tidak tahan dengan semua intimidasi dari Siwon. Bukan hanya Siwon yang bertindak, tetapi ia juga sudah merasuki pikiran teman-teman lain yang tampaknya menyerukan ketidaksetujuan mereka akan hubungan Roberto dan Kyuhyun.

“Aku tidak hanya akan menyakitimu, tapi juga orang-orang di sekitarmu kalau kau tetap bersikeras berhubungan dengan Kyuhyun. Mari kita mulai dengan kakimu. Tampaknya kau memang cocok berbaring seumur hidup di tempat tidur seperti ini. Mungkin juga kaki palsu cocok untukmu.”

Roberto mendesah berat mengingat beberapa malam lalu Siwon kembali mengancamnya. Ia bahkan menempelkan sebilah pisau di kakinya, benar-benar berniat memotong harta berharga Roberto sebagai balerino jika ia tidak mengindahkan permintaan Siwon sebelumnya.

“Aku datang..”

Roberto menoleh. Kyuhyun baru saja tiba. Senyum cerahnya tidak dapat menutupi wajahnya yang kuyu saat ini. perasaan bersalah semakin menjadi-jadi di hati Roberto.

“Kenapa kau belum makan siang?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk nampan berisi makan siang Roberto yang diletakkan di meja.

“Aku menunggumu.” Jawab Roberto pendek.

Kyuhyun tersenyum ceria. “Baiklah, aku akan makan bersamamu.”

Ia baru akan meraih nampan makan siang Roberto ketika kekasihnya itu menarik tubuhnya hingga ia terduduk di tempat tidur.

“Ada apa? Bukankah kita akan makan siang bersama?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

Roberto menghela nafas panjang. Ia benar-benar sulit melakukan hal ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Demi pementasan Onegin, demi teman-teman yang lain.

“Roberto, ada ap..”

“Kurasa kita harus berpisah.” Kata Roberto cepat, tanpa memandang mata Kyuhyun yang membulat tak percaya.

“Kau bercanda kan?” tanya Kyuhyun lagi, mencoba tertawa.

Roberto menggeleng tegas. “Aku tidak bercanda. Kurasa memang kita tidak bisa bersama.”

“Tapi.. kenapa?” kumpulan air muncul di pelupuk matanya, membuat Roberto mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk dan menenangkan lelaki rapuh itu.

“Aku hanya ingin kita berkonsentrasi dengan pekerjaan kita masing-masing. Karena selama kau ada di sisiku, semuanya berantakan. Kuharap.. kau mengerti. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Kuharap kau mau menghormati keputusanku.” Roberto berupaya menunjukkan raut wajah tegas.

“Tapi..”

“Kau boleh pergi.”

“Roberto..”

“Sekarang.”

Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin menayakan lebih lanjut mengenai keputusan Roberto, namun dilihatnya lelaki yang dicintainya itu berubah dingin, bahkan tidak memandangnya sama sekali.
Kyuhyun berdiri, meraih ranselnya lalu berjalan keluar. Hatinya sakit sekali mendengar penuturan Roberto tadi. Ia terkesan seperti benalu yang mengganggu hidup Roberto. Dan kumpulan airmata yang sedari tadi ada di matanya, akhirnya jatuh juga.

*

Roberto BolleRoberto Bolle

To be continued..

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Lovely Day

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Jung Yunho, etc.

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-13

Genre : BL, Fiction, Fluff, Romance

Warn : BL, OOC, Typo (es)

Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka dan bersifat hiburan semata. Semua tokoh milik Tuhan, orang tua dan diri mereka masing-masing.

Klik!

Sungmin memicingkan kedua matanya ketika ia membuka pintu kamar dengan disambut sinar lampu yang baru ia nyalakan. Ia mengusap matanya mencoba menyesuaikan keadaan sekitar.

Dengan langkah gontai karena rasa kantuk yang masih menderanya, ia pun melangkah menuju dapur. Bersiap melakukan rutinitasnya dipagi hari. Memasak serta menyiapkan sarapan untuk member-nya dengan berniat membasuh wajahnya di kamar mandi terlebih dahulu.

Namun, belum sempat ia membuka pintu kamar mandi, perhatiannya teralihkan pada sumber suara yang terdengar dari arah belakang tubuhnya.

Ia membalikkan tubuhnya dan melihat seorang lelaki tengah berdiri didepan konter dapur    dengan posisi yang membelakanginya. Dengan perlahan ia pun melangkah menghampiri seseorang yang tengah bergumam menyanyikan sebuah lagu.

“Kyu?” Panggilnya seraya menepuk pelan pundak seseorang yang ternyata adalah maknae-nya.

Aigoo! Hyung! Kau mengagetkanku!” Pekik Kyuhyun terkejut. Terlebih ketika ia mendapati sosok Sungmin yang telah berdiri disisinya dengan rambut yang berantakan akibat bangun tidur.

Sungmin hanya terkekeh meminta maaf melihat reaksi Kyuhyun yang menurutnya berlebihan. Kyuhyun mendelik sekilas pada pria tersebut. Namun, sedetik kemudian ia mengalihkan perhatiannya kembali pada apa yang sedang ia lakukan. Pria manis ahli martial arts itupun mencebikan bibirnya ketika ia merasa diacuhkan oleh Kyuhyun.

“Hey, Kau serius akan memberi kejutan ulang tahunnya sekarang?” tanyanya skeptis pada adik bungsunya yang tengah mengeluarkan sebuah kue kecil dari freezer.

Ia sedikit ragu dan takjub dengan rencana Kyuhyun yang bertekad untuk ‘memberi Changmin kejutan’ di hari ulang tahunnya. Saat ini waktu bahkan baru menunjukan pukul 4.30 dini hari. Dan ini diluar kebiasaan Kyuhyun yang sama sekali bukan tipe morning person. Jangankan untuk menyiapkan sepotong kue, untuk membuka matanya pun ia sangat enggan sebelum hyung-deul yang membangunkannya.

Oh, dia lupa jika apa yang Kyuhyun lakukan kali ini ia dedikasikan spesial untuk seseorang yang ia klaim sebagai kekasih tercintanya.

Kyuhyun hanya bergumam menjawab pertanyaan tersebut.

“Bagaimana menurutmu, hyung?” Tanya Kyuhyun dengan wajahnya yang berbinar seraya mengangkat sebuah kotak kecil berisi kue tart mini berbentuk hati ditangannya.

Sungmin tak langsung menjawab. Ia mengamati sejenak kue ditangan Kyuhyun dengan seksama. Hanya sepotong kue tart berlapis cream dan taburan choco chips. Ukurannya bahkan terlalu  imut untuk sekedar kue ulang tahun. Terlebih mengingat untuk siapa kue itu akan diberikan nantinya yang seorang food monster.

“Masih sama seperti kemarin kau membelinya di bakery, Kyu. Tak ada perubahan sama sekali. Kecuali… coklatnya yang kini sedikit meleleh.” Ucapnya tanpa tedeng aling yang berhasil membuat Kyuhyun merengut.

Ia tahu mantan room mate-nya itu tengah menggodanya. Serupa dengan yang Kangin lakukan kemarin. Mereka berdua dengan sepenuh hati mentertawakannya ketika ia mengatakan jika  kue tersebut ia beli khusus untuk ulang tahun Changmin hari ini.

Ayolah, dia tak punya cukup waktu luang untuk belajar memasak lagi dan membuat kejutan seperti tahun kemarin. Salahkan saja schedule-nya yang tak kalah padat dengan sang kekasih yang dalam masa promo album.

Pada akhirnya, setelah ia sempat pusing memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk merayakan ulang tahun kekasih tiangnya itu, ia pun berinisiatif untuk membeli kue ulang tahun dan akan mengantarkannya ke apartemennya tepat pada pukul 5 dini hari. Waktu dimana Changmin-nya lahir ke dunia 27 tahun yang lalu. Bukankah ia kekasih yang sangat perhatian?

“Kau sama sekali tidak lucu, hyung.” Sahut Kyu sarkatik dan segera menjauhkan kue tersebut dari tangan usil Sungmin yang berniat mencolek lelehan cokelat kue-nya. Dengan cekatan ia pun memasukan kue tersebut kedalam dus dan menutupnya dengan sangat hati-hati.

Tanpa berpamitan terlebih dahulu, ia pun dengan santai berlalu meninggalkan Sungmin yang masih mematung ditempatnya.

*

Cklek!

Suara tersebut terdengar bersamaan dengan pintu sebuah kamar yang terbuka. Kyuhyun  perlahan menutup kembali pintu dibelakangnya. Dengan langkah berjingkat, ia pun berjalan menghampiri sosok seseorang yang masih tampak terlelap diatas tempat tidur. Ia lalu meletakan kue yang  sudah terdapat dua lilin yang menyala telah ia persiapkan di meja nakas  yang berada disisi tempat tidur.

Beruntung pria tampan berwajah kekanakan pemilik aparetem tersebut tidak terganggu dalam tidurnya saat ia menyalakan lampu kamar. Hingga kini ia dapat mengamati fitur wajah kekasihnya yang masih terlelap dengan sempurna.

Kyuhyun melirik jam analog yang berada disisi lampu meja. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pukul 5 untuk ia membangunkan Changmin. Segera saja ia merebahkan tubuhnya disisi maknae DBSK dengan meletakan kepalanya tepat didada Changmin.

Ia memejamkan matanya sejenak. Mencoba meresapi irama detak jantung pria terkasihnya yang terdengar ritmis dengan sesekali membelai dada bidangnya yang hanya tertutupi kaus tak berlengan yang ia kenakan.

Perlahan ia pun mendongakkan wajahnya hingga kini tepat berada didepan wajah polos Changmin.

‘Minnie-ku benar-benar tampan.’

Pujinya dalam hati. Pujian yang sangat jarang ia ucapkan secara langsung meskipun Changmin berkali-kali memohon padanya. Sebenarnya, bagi Changmin sendiri, tak sedikit orang-orang yang mengagumi ketampanan dan pesonanya. Namun ucapan kekaguman tersebut tentu saja tak akan sebanding  jika ia mendengarnya langsung dari bibir kekasih imutnya yang dapat dihitung dengan jari mengatakan hal tersebut.

Tak tahu saja kau Shim Changmin jika Cho Kyuhyun sangat mengagumi ketampananmu itu.

“Minnie~” Ucapnya seraya memberi beberapa kecupan dibibir Changmin yang mengatup.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tak suka saat Changmin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Tak habis akal, ia pun mulai berbisik dan meniup-niup telinga pria jangkung yang ditindihnya.

“Changminnie, bangun…”

“…”

“Minnie…”

Tetap tak ada reaksi. Baiklah, itikad baik Kyuhyun untuk membangunkan Changmin-nya  dengan cara yang romantis dihari ulang tahunnya musnah sudah saat ini.

“Yaaa! Bangun Shim Chwang!” Teriaknya seraya menjambak kasar rambut Changmin yang mulai memanjang.

Tentu saja tindakan sadis tersebut membuahkan pekikan kaget dan kesakitan Changmin. Seketika itu juga pria bermarga Shim itu bangkit dan memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan pening karena jambakan dan dibangunkan dengan paksa.

“Ssshh… apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun?” Erangnya dengan masih memegangi   kepalanya. Kyuhyun yang kini duduk dihadapan Changmin hanya menatap pria itu sebal. Tak peduli dengan apa yang tengah pria itu rasakan.

Ia mengabaikan Changmin yang masih mengerang untuk meraih tart yang telah ia pasang lilin dengan angka 27.

Happy birthday, My love Shim Chwang~”

Seru Kyuhyun riang dengan membawa tart tersebut ke depan wajah Changmin. Changmin sendiri yang awalnya masih sibuk dengan erangannya sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Dan beberapa menit sesaat, ia hanya mampu mengerjapkan matanya cepat.

Terlebih saat ia mendengar suara caramel macchiato voice kesukaannya itu mengalunkan lagu selamat ulang tahun untuknya.

“Ayo Minnie. Ucapkan permohonanmu lalu kau tiup lilinnya, ya?” Pinta Kyu dengan  sumringah. Sepertinya rencana surpsrise-nya berhasil. Terbukti dengan reaksi Changmin yang seperti kehabisan kata-kata dengan menatapnya tak percaya.

Lalu Changmin pun menangkupkan kedua tangan dan memejamkan matanya. Mengucapkan permohonannya yang tak pernah berubah selama tiga tahun belakangan ini. Tidak lain  ingin terus bersama Kyuhyun disisinya, serta dapat membahagiakan Kyuhyun-nya.

Dan jantung Changmin terasa berdesir ketika ia membuka matanya dan mendapati Kyuhyun yang tersenyum sangat manis.

Ia pun meniup lilin tersebut dan segera disambut dengan pelukan erat yang ia terima dari Kyuhyun.

“Selamat ulang tahun, Minnie~” Bisik Kyuhyun diceruk leher Changmin, “Saranghe..” ucapnya yang dilanjutkan dengan sebuah kecupan bibirnya.

Tentu saja kecupan tersebut disambut dengan antusias oleh Changmin. Dengan sigap ia segera melingkarkan tangannya dipinggang Kyuhyun dan memperdalam ciuman mereka. Tautan bibir mereka terlepas ketika pria berwajah tampan itu merasakan nafas Kyuhyun yang mulai tersengal.

Gomawo, chagi…” Ucap Changmin kembali mengecup bibir Kyuhyun yang semakin memerah.

Kyuhyun tersenyum dengan pipinya yang mulai merona. Seperti tersadar, ia pun menyerahkan kue yang masih ada ditangannya pada Changmin yang beruntung tidak rusak karena pelukan mereka beberapa saat lalu.

Aigoo, kenapa kuenya kecil begini, Kyu?” Protesnya setelah melihat wujud kue ulang tahun pemberian kekasih manis dan imutnya. “Apa kau membuatnya sendiri,  chagi?” Tanyanya dengan wajah berbinar.

Baiklah, Ia sudah tidak terlalu mempermasalahkan bentuk dan rupa kue-nya, namun setidaknya ia akan sangat senang  jika kue imut tersebut dibuat khusus oleh Kyuhyun dengan penuh cinta untuknya.

Dan harapan Changmin seketika terpupus ketika ia melihat Kyuhyun yang menggeleng.

Aniyo, aku membelinya di bakery kemarin, Min.” Jawabnya dengan wajah tak berdosa yang membuat perasaan Changmin serasa dipukul dengan godam keras.

Ia tahu Kyuhyun bukan tipe kekasih yang romantis, tapi tidak bisakah ia sedikit berbohong  untuk menyenangkan perasaannya? Setidaknya untuk saat ini di hari ulang tahunnya.

Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar sesaat sebelum ia benar-benar menjatuhkan  tubuhnya kembali dan bersembunyi dalam selimut. Mengindikasikan jika pria bersuara tinggi   itu tengah merajuk. Kyuhyun hanya tersenyum jahil melihat maknae yang berpredikat dewasa dan berkharisma itu merajuk laiknya anak kecil.

“Minnie~” Panggilnya dengan nada manja dengan menindih tubuh yang tertutup selimut  tebal. Ia berusaha menahan tawanya menghadapi sifat kekanakan kekasihnya yang mulai kambuh.

“Shim Chwang, mianhe aku tidak membuat kue itu sendiri. Kemarin aku sibuk dan tidak sempat untuk belajar membuat kue pada Wookie.” Kyuhyun menarik-narik selimut yang menutupi  tubuh jangkung Changmin. Namun sama sekali tak membuahkan apapun. Changmin sama sekali tak bergeming.

Kyuhyun menghela nafas.

“Sebagai hadiah ulang tahun dan permintaan maafku, aku akan menemanimu selama seharian ini dan menuruti apapun permintaanmu. Bagaimana?” Ia mulai membujuk.

Sebenarnya selain kejutan beberapa saat lalu yang berakhir dengan merajuknya Changmin  kali ini, ia memang telah merencanakan untuk menghabiskan waktunya seharian penuh dengan  sang kekasih. Menemani apapun aktifitas pria berwajah kekanakan itu. Beruntung hari ini ia  jobless sehingga rencananya itu bisa terrealisasi.

Srak!

Dengan cepat selimut bermotif star wars itupun tersingkap. Menampilkan wajah Changmin yang menatap lekat ke manik mata coklat milik Kyuhyun.

“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan, Kyu?” Tanya Changmin dengan nada mengintimidasi. Ia sedikit ragu dengan apa yang diucapkan Kyuhyun. Bukan kali ini saja ia dijanjikan sesuatu oleh Kyuhyun dan kebanyakan diantaranya tidak ditepati.

Kyuhyun mengangguk mengiyakan yang menghasilkan seringaian mengerikan dari bibir lebar milik Changmin. Ah, mood-nya seketika langsung membaik. Membayangkan selama seharian ini ia akan ditemani oleh Kyuhyun saja telah membuatnya sangat senang. Apalagi dengan Kyuhyun yang menjanjikan akan menuruti apapun permintaannya.

Dan hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah…

“Kalau begitu, apa aku boleh meminta jatah-ku…?”

Pintanya tanpa basa-basi yang membuat Kyuhyun mendelik kearahnya.

Hey, jangan anggap ia mesum. Bukankah suatu hal yang lumrah jika ia yang telah lebih dari satu bulan tidak menyentuh kekasihnya itu kini meminta ‘jatah’ darinya? Berterima kasihlah pada jadwal promosi album terbarunya serta sederet jadwal Kyuhyun yang membuat ia dan kekasihnya  menjadi sangat jarang menghabiskan waktu bersama.

Wajah Kyuhyun seketika memerah mendengar pertanyaan tersebut.

“A..apa yang kau katakan, Chwang? Bicaralah yang jelas!” Sahut Kyuhyun dengan gugup dan tatapannya yang menghindar dari intimidasi Changmin.

Seringaian Changmin semakin melebar, “Kau sangat tahu apa yang aku maksud…”

Kyuhyun baru saja akan bangkit dari posisinya yang dengan sigap ditahan oleh satu tangan Changmin yang menahan pinggangnya. Dan ia merasakan tangan berotot milik Changmin mulai bergerak menyusup dan mengusap ke area privatnya dari balik selimut.

“Miinh~”

“Minnie junior sangat merindukan kehangatan rumahnya, baby…” Bisik Changmin  seduktif tepat ditelinga Kyuhyun. Mengirimkan impuls dan rangsangan pada seluruh tubuh pria Cho yang menggeliat geli.

Dan dalam hitungan menit, kesunyian kamar Changmin pun tergantikan dengan suara-suara kenikmatan dari aktifitas pagi mereka.

*

“Simpan dulu PSP-mu untuk sementara, baby.” Kyuhyun mendelik kearah Changmin yang memanggilnya dengan penggilan sayangnya.

Sebenarnya panggilan baby bukanlah hal yang asing lagi baginya mengingat telah ratusan kali Changmin memanggilnya dengan panggilan yang serupa. Tapi entah kenapa ia tidak begitu menyukai jika Changmin memanggil dirinya baby jika didepan umum. Tapi toh pria tinggi itu tetap saja akan memanggilnya baby.

Saat ini mereka berdua tengah berada di studio MBC. Hari ini TVXQ memiliki jadwal pertama untuk recording Music Core untuk panggung Something mereka. Dan sesuai janjinya tadi pagi, Kyuhyun pun dengan setia menemani pria berwajah kekanakan itu.

Menuruti permintaan Changmin, ia yang semenjak berada di mobil tadi terus sibuk dengan PSP-nya itu segera mematikan benda yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, selain Changmin tentunya.

Beberapa orang staff tersenyum dan sesekali menyapa mereka berdua ketika saling berpapasan. Bahkan beberapa diantara mereka mengucapkan selamat ulang tahun untuk Changmin.

“Aku kira kau lupa jalan menuju gedung MBC, Shim Changmin.”

Ucapan sarkatik tersebut terucap dari bibir sang leader ketika Changmin dan Kyuhyun menginjakkan kaki di ruang ganti TVXQ.

“Setidaknya aku tidak lupa membawa access card kantor SM dan menjadi bahan lelucon para  Cassieopeia, Jung Yunho.” Balas Changmin lebih sarkatik yang membuahkan kikikan  dari Kyuhyun dan beberapa back dancer mereka yang tengah mempersiapkan diri.

Yunho mendesis kesal mendengar ledekan maknae-nya.

Changmin menyeringai. Ia pun menuju meja rias dan bersiap untuk di make-up sebelum ia mengecup singkat pipi gembil Kyuhyun.

“Eoh, Kyu. Kau datang menemani kekasih setanmu itu?” Sapa Yunho yang telah selesai di make-up seraya mendudukkan diri disisi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan leader berkharisma itu, “Anyeong hyung. Lama tidak bertemu…” Sapanya ramah. Bagaimanapun Yunho merupakan hyung dan sunbae yang sangat ia segani.

“Baik. Lama tidak bertemu kau bertambah manis saja, Kyuhyun-ah.” Puji Yunho dengan mengacak rambut Kyuhyun gemas.

Wajah Kyuhyun sedikit bersemu diperlakukan seperti itu oleh Yunho. Manusia mana yang   tidak akan merasa malu dan senang jika dipuji oleh seseorang? Terlebih jika seseorang  itu adalah orang yang kau segani.

Tanpa mereka sadari, terdapat sepasang mata tajam yang terus mengawasi mereka dari pantulan cermin yang ada dihadapannya.

“Ya! Jung Yunho! Jangan kau coba-coba berani menyentuh apalagi menggoda Kyuhyun-ku!” Pekiknya memperingatkan sang leader yang kini tampak menyeringai kearahnya.

Baiklah, Changmin akui jika ia adalah seorang yang posesif. Ia tidak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya diusik atau disentuh oleh orang lain selain dirinya. Dan melihat Yunho yang menyentuh Kyuhyun yang notabenenya adalah kekasihnya bukanlah hal yang ia sukai.

Anggap saja ia berlebihan. Tapi, bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu pada Kyuhyun. Kyuhyun-nya terlalu menarik perhatian orang lain. Salahkan pada wajah Kyuhyun yang sangat manis dan pembawaannya yang bersahabat.

Hingga karena hal tersebut tak jarang membuatnya cemburu. Sudah terlalu banyak pria dan wanita yang dipasangkan dengan kekasih manisnya itu baik dalam fanfiksi ataupun kehidupan nyata.

Dan satu diantara fanfiksi yang pernah ia baca adalah Kyuhyun-nya dipasangkan dengan   leader kebanggaannya, Jung Yunho!

Adakalanya sebuah fiksi terilhami dan berpengaruh dalam kehidupan nyata. Jadi  jangan salahkan dirinya yang mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk jika kekasihnya akan berselingkuh dengan hyung-nya itu. Terlebih saat melihat Kyuhyun-nya tersipu malu dengan skinship yang dilakukan dengan Yunho.

Yunho menyeringai. Dengan sengaja ia pun merangkul pundak Kyuhyun dan  menariknya kedalam pelukannya.

“KAU BOSAN HIDUP JUNG YUNHO!”

*

“Yunho-ssi, Changmin-ssi. Bersiaplah. Sepuluh menit lagi kalian akan naik ke panggung.” Ucap salah seorang staff memberitahu Yunho dan Changmin yang memang telah bersiap.

Para dancer terlihat tengah melakukan stretching didalam ruang ganti mereka. Begitupun Yunho.

“Minnie, menunduklah sebentar.” Pinta Kyuhyun tiba-tiba pada Changmin yang tengah memasang michrophone-nya.

“Ada apa, Kyu?” Meski heran, Changmin pun tetap menuruti permintaan Kyuhyun untuk menunduk sedikit dihadapan Kyuhyun.

“Rambutmu terlihat sedikit berantakan, Minnie.”

Lagi, perasaan Changmin terasa berdesir menyadari perhatian Kyuhyun yang kini tengah merapikan rambutnya yang memanjang. Banyak orang bahkan fans-nya sekalipun yang protes dengan model rambutnya saat ini.

Namun Kyuhyun tak pernah ambil pusing dengan bagaimanapun model rambutnya. Sebab menurutnya ia tetap terlihat tampan dimatanya. Betapa Changmin sangat bahagia ketika mendengar komentar tersebut ketika ia meminta pendapat Kyuhyun mengenai model   rambut apa yang terlihat cocok baginya.

“Kau tak perlu repot-repot merapikan rambut berantakannya itu, Kyuhyun-ah.”

“Diam kau, hyung. Bilang saja kau iri padaku yang memiliki calon istri idaman seperti Kyuhyun.” Sela Changmin puas. Sepertinya ia masih memiliki dendam pada leader-nya yang beberapa saat lalu berani memeluk Kyuhyun.

Plak!

“Aww, Kyu. Kenapa memukul kepalaku?” Erang Changmin saat ia merasakan jitakan Kyuhyun dikepalanya.

“Jangan berbicara sembarangan, Shim. Siapa yang mau jadi istrimu, tiang?”

“Tentu saja kau, Kyu baby. Kau kan calon istri dan pendamping hidupku dimasa depan kelak.”

Sontak saja jawaban Changmin membuat Kyuhyun malu dan salah tingkah. Changmin tersenyum melihat reaksi pria berkulit pucat dihadapannya yang membuat kadar kemanisannya makin meningkat. Ia pun menyentuh dagu Kyuhyun untuk mendongak menatapnya dan mengusap pipi Kyuhyun yang merona.

Ia baru saja akan mendaratkan ciumannya pada bibir Kyuhyun yang selalu menggodanya saat suara berat Yunho menginterupsi pergerakannya.

“Berhenti menggombal dan berbuat mesum, Changmin-ah. Begegaslah ke panggung. Cassieopeia sudah menunggu kita.”

Changmin mendecih karena kegiatannya diganggu. Namun tak urung ia pun menuruti instruksi sang leader dengan sebelumnya mencuri kecupan kecil dibibir Kyuhyun.

*

          Changmin merebahkan tubuh Kyuhyun dengan hati-hati di tempat tidur miliknya. Menempatkan pria yang ia cintai itu untuk mengistirahatkan dirinya dalam posisi senyaman mungkin.

Ia mengamati wajah damai Kyuhyun yang terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktifitasnya hari ini, membuat Kyuhyun tertidur dengan sangat nyenyak.

Kyuhyun menepati janjinya sepenuhnya hari ini untuk menemaninya seharian. Dimulai dari recording-nya di MBC, melakukan syuting interview tentang drama yang akan ia bintangi, melakukan pemotretan disebuah majalah hingga merayakan pesta ulang tahunnya hingga larut  bersama beberapa temannya bebrapa saat lalu pun Kyuhyun selalu berada di sisinya.

Dan mungkin karena terlalu lelah, Kyuhyun bahkan tertidur didalam mobil saat mereka menuju perjalanan pulang.

Disamping rasa bahagianya hari ini, ada sedikit rasa bersalah karena membuat kyuhyun-nya kelelahan. Namun ia sangat memanfaatkan waktu berharganya dengan kekasihnya yang mulai jarang ia dapatkan karena kesibukan mereka masing-masing itu.

Ia mengamati wajah terlelap Kyuhyun yang terasa sangat damai. Tak terdeskripsikan  lagi betapa bahagianya ia memiliki Kyuhyun disisinya. Sosok yang selama ini menjadi sandaran untuknya saat ia terpuruk. Sosok yang menjadi penyemangatnya ketika ia merasa berputus asa serta sosok yang selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Ia sangat mencintai Kyuhyun. Ia bahkan tak pernah sanggup membayangkan bagaimana kehidupannya dimasa depan jika tak ada Kyuhyun disisinya.

Betapa ia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan sosok sesempurna Kyuhyun dalam kehidupannya.

Ia membelai rambut Kyuhyun sayang seraya mengecup kening pria tersbut dengan dalam,

“Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku. Kau adalah hadiah teragung yang  Tuhan kirimkan padaku.”

Changkyu hsppy birthday

Fanfiksi ini aku dedikasikan  untuk ulang tahun Changmin meskipun telat (-_-!)

Happy birthday precious prince Changmin ❤

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Can You Hear My Heart? – Prologue

Prologue

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Jung Yunho, Lee Joon, Lee Yeon Hee.

Pair      : ChangKyu (MinKyu), YunKyu (Hint!), ChangHee (Hint!)

Genre : BL, Romance, Friendship, Hurt,  OOC, Typo (es)

Rate     : PG-13

Written by Maccihato94

Disclaimer : –

Summary : “Berpura-puralah kau mencintaiku hingga kau lupa bahwa kau tengah berpura-pura…”

 

Selamat pagi…

Bagaimana tidurmu semalam?

Aku tidak sabar melihat wajah manismu hari ini Kyuhyunnie.

 

Senyuman Kyuhyun tak dapat di sembunyikan manakala ia membaca pesan pertama yang ia buka pagi ini. Pesan manis yang selalu ia terima secara rutin beberapa bulan belakangan ini. Sebuah pesan yang selalu datang dari orang yang serupa tiap harinya.

Semburat merah pun kini tampak terlihat dari kedua belah pipi putihnya yang berwarna pucat.

Tok Tok Tok!

Kyuhyun kembali tersadar dari lamunan singkatnya kala pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

“Kyunnie, kau sudah bangun, chagi?” Suara lembut seorang wanita yang ia yakini sebagai eomanya terdengar dari balik pintu.

“Ne,eomma…setengah jam lagi Kyu akan turun…” Sahut namja manis tersebut tanpa bergerak dari posisinya yang saat ini masih terduduk di tepi tempat tidurnya.

Sudut matanya menangkap jam analog yang terletak disudut meja nakasnya telah menunjukkan angka 6:30 am. Dengan segera ia pun menggerakkan jari-jari panjangnya di layar smarthpone berwarna putihnya sebelum ia benar-benar beranjak dari tempat tidur. Meraih bathrobe yang tergantung di dinding dan masuk ke kamar mandi.

Selamat pagi juga…

Aku tidur dengan sangat nyenyak.

Sampai bertemu di kelas nanti Changminnie..

***

“Kyuhyunniiiiee…”

Kyuhyun yang tengah sibuk berkutat dengan sebuah PSP ditangannya, mengabaikan seruan seorang namja yang memanggil namanya dengan meriah. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan seruan nyaring yang membuat beberapa teman dikelasnya itu berdecak kesal. Hingga ia merasakan seseorang merebut paksa benda kesayangannya itu dari tangannya.

“YAA! LEE CHANGSUN!”

Si pelaku perebutan PSP yang di panggil Lee Changsun atau lebih akrab di sapa Lee Joon tersebut hanya tersenyum kaku ketika ia mendapat tatapan nyalang dari sahabatnya itu. Meskipun wajah Kyuhyun ia akui sangat manis, tapi tidak bisa dipungkiri ketika mata besar itu melotot dengan tatapan membunuh miliknya tetap saja terlihat sangat menakutkan.

“Ya! Kau menatapku seperti itu seolah-olah kau ingin memakanku yang tampan ini, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mendecih mendengar ucapan namja yang duduk di sisinya itu, “Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali membuangmu ke dasar neraka saja, Lee Changsun.”

“Ya..ya. Dan dengan senang hati aku akan membawamu bersamaku membusuk di dasar neraka, EvilKyu.” Balas Joon sarkatis.

Bersilat lidah dengan Kyuhyun memang tidak bisa menggunakan kata-kata yang baik. Karena jika sampai itu terjadi, itu sama saja membuat Kyuhyun merasa bangga dengan kemenangan telaknya.

Namun beberapa saat kemudian senyuman sok manis –dimata Kyu- muncul dari bibir Lee Joon. Kyuhyun yang melihat hal tersebut menghela nafasnya. Ia sudah hafal dengan gelagat teman semasa kecilnya itu. Dengan senyuman seperti itu, jika bukan untuk menggodanya, dia pasti akan menceritakan tentang pacar barunya.

“Aku tidak mau mendengarnya.” Acuh Kyuhyun dengan kembali menyibukan diri dengan PSP yang baru saja ditelantarkan oleh Joon dimejanya. Namun belum sempat Kyu memainkan geme-nya kembali, tangan lincah Joon langsung merebut kembali benda hitam tersebut dari tangan Kyuhyun.

“YA!”

“Ayolah, Kyuhyunnie ini—“

“Sekali lagi aku mendengar panggilan itu dari mulutmu, aku patahkan lehermu.” Desis Kyuhyun mengintimidasi yang sayangnya sama sekali tidak membuat Joon takut.

Joon membeku sejenak mendengar ancaman sahabatnya yang terdengar bak seorang psikopat. Namun sedetik kemudian ekspresinya tergantikan dengan seringaian yang sama sekali tak diindahkan oleh Kyuhyun.

“Benarkah? Kalau begitu, kenapa kau tidak pernah berniat mematahkan leher ketua kelas kita itu? Siapa namanya?” Joon mengelus dagunya tampak berpikir, “ Aaa…Shim Changmin?” tanya Joon antusias yang membuat kedua mata Kyuhyun mendelik padanya.

Joon terkekeh. Pasalnya ia tahu tiap kali Changmin memanggil sahabatnya –melalui pesan yang dikirimkan tentunya- itu pasti ia akan memanggilnya dengan sebutan ‘Kyuhyunnie’.

Bukannya takut, namun kali ini namja humoris tersebut tertawa terbahak melihat reaksi Kyuhyun. Huh! Sebegitu berpengaruh kah sosok Shim Changmin bagi sahabatnya ini? Herannya tak habis pikir.

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Takut-takut jika ada seseorang yang mendengar apa yang baru saja diucapkan namja bermulut besar dihadapannya itu.

Dan ia sangat bersyukur dalam hati ketika ia tidak mendapati sosok namja super tinggi yang menjabat sebagai ketua kelasnya ternyata belum terlihat diruangan kelas yang saat ini ia tempati. Apa ia belum berangkat? Saat ini bahkan hanya kurang 10 menit dari waktu jam pelajaran pertama dimulai, tapi kenapa ia belum datang? Batinnya mulai risau.

Perhatian Kyu terinterupsi dengan tindakan Joon yang menyodorkan ponselnya didepan matanya.

“Imut, kan?” Tanya Joon dengan nada bangga yang sangat kentara. Kyu mengerjapkan matanya cepat. Memperhatikan sebuah foto seorang namja yang terlihat dilayar ponsel Joon. “Namanya Onew.”

“Imut. Tapi ngomong-ngomong, dia namjachingu-mu yang ke berapa?” Tanya Kyu sarkatis.

“YA! Meskipun dia bukan yang pertama, Onew akan menjadi yang terakhir untukku.” Bantah Joon membela diri.

Kyuhyun mendecih, “bukankah kau juga mengatakan hal yang sama ketika kau mengenalkan Yeon Seo-ssi padaku minggu lalu?”

Joon serasa tertohok mendengar ucapan Kyuhyun.

Ya, kalau sudah begini, salahkan saja label player yang  telah melekat pada dirinya. Bergonta-ganti kekasih setiap minggu seolah telah menjadi rutinitasnya. Bahkan tak segan ia akan mengencani dua namja ataupun yeoja sekaligus dalam satu minggu yang kemudian dengan seenak hati akan ia putuskan setelah ia merasa bosan.

“Pokoknya kali ini berbeda. Jinki kan namja yang imut, pengertian, dewasa…” Rentet Joon yang sama sekali tidak diperhatikan lagi oleh Kyuhyun ketika matanya menangkap sosok namja yang baru saja memasuki ruang kelas.

Ia menundukkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata langsung dengan sosok tersebut yang baru saja menyunggingkan senyum padanya. Jantungnya kini berdegup sangat kencang. Hal yang serupa tiap kali ia melihat dan menyadari keberadaan sosok tersebut dari penglihatannya.

“…sempurna.“

“Selamat pagi, Joon-ssi..” Lee Joon yang masih sibuk dengan pendeskripsian kekasih barunya itu mendongak demi mendengar sapaan yang berasal dari namja tinggi yang kini ada dihadapannya, “Selamat pagi Kyuhyun-ssi…”

“Pa…pagi Changmin-ssi…”  Balas Kyu gugup.

Karakter aslinya yang terkenal bermulut pedas dengan segala keusilannya itu sama sekali tidak tampak saat ini. Yang ada hanya gerak-geriknya yang tampak gugup dan salah tingkah. Tidak lupa dengan wajahnya yang kini sedikit memerah.

Changmin, namja tadi hanya tersenyum sekilas yang kemudian beranjak pergi menuju tempat duduknya yang berada beberapa baris dibelakang tempat duduk Joon-Kyu.

“Tcih! Dia bertingkah seolah-olah kau adalah orang asing baginya, Kyu.” Joon mendecih tanpa mengalihkan perhatiannya pada teman sekelasnya itu, “Jadi hanya sebatas itu keberaniannya mendekatimu?” Tanya Joon dengan nada sinis.

Kyuhyun refleks menginjak kaki sahabatnya itu yang langsung memekik dan sama sekali tidak dipedulikan olehnya.

Namun tidak bisa ia pungkiri jika kalimat yang dilontarkan Joon membuat ia berpikir kembali tentang sikap Changmin padanya.

‘Dia bertingkah seolah-olah kau adalah orang asing baginya, Kyu…’

***

BbN38JeCQAILphr.jpg large 

When I’m With You

Title                 : When I’m With You

Rate                 : T

Genre              : AU, Romance, Friendship, Sad, Hurt

Cast                 : Siwon, Kyuhyun, Sooyoung, Yunho, Donghae, Seunghyun

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

When I’m with you..

I knew you’ll gonna be the part of my life since the first time..

Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia dan keluarganya pindah ke rumah sebelah hampir dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku sangat senang melihat akhirnya aku bisa punya teman dari lingkungan tempat tinggalku sendiri.

Tidak, jangan salah paham. Bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali. Sebaliknya, aku punya banyak sekali teman di sekolah. Hanya saja rumah kami semua berjauhan satu sama lain. Terkadang aku merasa kesepian jika kedua orang tuaku bepergian mengurusi pekerjaan mereka. Ayahku adalah seorang dokter sedangkan ibuku adalah seorang desainer pakaian di sebuah rumah mode terkenal.

Oh, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Choi Siwon. Aku adalah anak satu-satunya di keluarga dengan rumah besar ini. Jadi kalian akan langsung paham mengapa tadi kukatakan aku begitu kesepian, bukan?

Semua orang punya pengalaman yang tertulis di dalam jurnal harian baik itu dalam bentuk tertulis ataupun tersimpan dengan baik di dalam benak kita, termasuk diriku. Jika kau menayakan apa pengalaman terbaikku, aku akan dengan bangga mengatakan bahwa pengalaman terindahku adalah saat aku bertemu dengannya. Adikku, sahabatku, sekaligus cinta pertamaku..

Saat itu ia tengah asyik bermain sendiri dengan Jenga di depannya . Lihat tubuhnya yang kecil, pipinya yang gempal, kulitnya yang pucat serta matanya yang bersinar cerah. Ia benar-benar imut untuk ukuran seorang anak berumur delapan tahun.

“Hai, siapa namamu?”

Anak itu menatapku dengan rasa ingin tahu. Ia tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan menjawabku atau tidak.

“Jangan takut. Aku tinggal di sebelah rumahmu. Namaku adalah Choi Siwon.”

Ia menunduk sebentar lalu dengan suaranya yang indah ia menjawab. “Cho.. Kyuhyun.”

Aku tersenyum lega karenanya. “Kyuhyun-ah, maukah kau bermain bersamaku?” tanyaku penuh harap.

Ia mengangguk. “Kau tampak lebih besar dariku, apa aku boleh memanggilmu Siwon hyung?”

“Tentu saja boleh!” jawabku bersemangat. “Nah, bolehkah kita mulai permainannya dari awal?”

Kembali ia mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang membuatku semakin menyukainya. Dan persahabatan indah kami dimulai sejak saat itu..

*

When I’m with you..

The world is just such a beautiful world in your presence..

Kami tumbuh dengan cepat. Ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat manis sekaligus tampan. Aku selalu berpikir bahwa ia pastilah reinkarnasi dari salah satu malaikat di surga. Percayalah padaku, ia sangat sangat sangat tampan! Kau tidak akan bisa berpaling ketika memandangnya. Kau akan langsung terpaku akan keindahannya.

Dan aku selalu bangga karena akulah orang yang paling dekat dengannya. Aku adalah hyungnya sekaligus sahabat terbaiknya. Aku menjaganya dnegan sangat baik seperti permintaan kedua orang tuanya karena mereka ternyata jauh lebih sibuk daripada orang tuaku sendiri. Kyuhyun sering ditinggal sendirian di rumah sedangkan nasibnya sama denganku, anak tunggal.

Siang itu ia berlari seraya melambaikan tangannya dengan ceria kepadaku. Wajahnya yang sumringah tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Hyuuunggggg.. Tebak apa yang baru saja aku dengar!” serunya tanpa basa-basi ketika ia sudah berdiri di depanku.

Aku menggeleng. “Apa itu?” tanyaku dengan sama bersemangatnya. Lihat kan? Ia benar-benar pandai membuatku ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan.

Ia mencebikkan bibirnya. “Aku menyuruhmu untuk menebak!”

Aku tertawa geli. Ia sama sekali tidak tampak seperti anak berusia empat belas tahun jika sudah merajuk seperti ini.

“Baiklah.. Jangan bersedih, ne? Kau tidak tampan lagi kalau cemberut seperti itu.” bujukku.

“Cepat tebak kalau begitu!” katanya dengan nada galak yang dibuat-buat.

“Hm.. Appa mu akan mengajakmu liburan?”

Ia memutar bola matanya. “Mana mungkin? Ia sendiri tidak punya waktu untuk liburan dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin appa akan mengajakku?”

“Bagaimana kalau.. Eomma membelikan sesuatu yang sangat kau inginkan selama ini.” tebakku lagi.

Kali ini ia mengembungkan kedua pipinya seraya melipat kedua lengannya di dadanya. “Tampaknya kau tidak benar-benar berusaha menebak..”

“Ara.. Ara.. Bagaimana kalau.. Kau berhasil mendapatkan penghargaan dari sekolah dalam bidang matematika atau menyanyi.”

Kyuhyun sangat pandai dalam matematika. Ia bahkan beberapa kali memenangkan olimpiade matematika dan selalu menang. Jangan tanya apa aku juga pandai matematika atau tidak, pertanyaan yang benar adalah apakah aku menyukai matematika atau tidak, karena aku benci berhitung.

Selain itu Kyuhyun sangat pandai bernyanyi. Oh, kalian harus mendengar suaranya dan kalian akan sependapat denganku. Jika ia sudah bernyanyi, serasa segalanya berubah menjadi indah. Suaranya terdengar sangat merdu. Seperti mendengar kicau burung di pagi hari, deru angin dan ombak di pantai, serta suara seorang ibu yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.

“Hampir benar!” serunya kini, melepaskan wajah cemberutnya tadi. “Kau tahu hyung, aku diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Negara kita di pecan olah raga pelajar bulan depan! Oh.. Aku bahagia sekali!”

Aku terbelalak saat itu juga. Umurnya baru empat belas tahun tapi ia bisa memperoleh penghargaan setinggi ini. Dengan gembira kupeluk tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku itu. aku sangat bangga padanya. Adik kecilku benar-benar membuatku luar biasa gembira hari ini.

“Selamat Kyuhyunnie.. Hyung bangga sekali padamu. Kau benar-benar anak yang sangat berbakat.”

“Tentu saja, siapa dulu hyungnya..” katanya dengan tak kalah gembira saat ia melepaskan pelukanku. “Nah, ayo kita makan siang. Aku yang traktir.”

“Makan mie di depan mini market itu?” tanyaku.

“Dimana lagi tempat favorit kita selain di sana hyung? Kajja..” katanya seraya menggandeng lenganku dan menarikku pergi dari sana.

*

When I’m with you..

You’re just like a very special gift that heaven sent to me..

Ia menangis dalam pelukanku ketika ia patah hati. Ya, patah hati. Ini adalah kali ketiga ia menangis selama delapan tahun persahabatan kami. Pertama saat kedua orang tuanya tidak pulang sesuai janji, bukan karena disengaja, tetapi karena jadwal penerbangan mereka diundur jadi mereka terlambat kembali ke Korea. Kyuhyun menangis keras di rumahku, dalam pelukanku.

Kedua adalah ketika aku mengalami kecelakaan lalu lintas dua tahun lalu dan harus rela melihat kaki kiriku di gips. Aku sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Dan Kyuhyun tidak berhenti menangis saat itu, tidak sampai aku membuka mataku. Ia menangis di rumah sakit, tidak dalam pelukanku tetapi sambil memeluk lengan kananku. Saat itu aku sangat menyesal tidak menjaga diriku dengan baik, karena dengan begitu aku telah membuatnya menangis.

Ketika adalah saat ia putus dengan kekasih pertamanya yang telah ia pacari selama hampir tiga tahun. Ia dan Minho memang sudah sering bertengkar. Mungkin karena mereka masih sama-sama muda dan keras kepala. Choi Minho adalah lelaki populer di high school kami. Ia seperti pangeran dalam dongeng yang diimpikan siapa saja. Tampan, berbakat, cerdas dan kaya raya. Ia juga kapten basket sekolah.

Sebenarnya ia adalah kekasih yang baik. Hanya saja perbedaan visi dengan Kyuhyun membuat mereka acap kali bertengkar. Dan terakhir kali mereka bertengkar hebat adalah karena kesibukan Minho di dunia modeling yang mengharuskannya bertemu model-model lain dan akhirnya tenggelam dalam kesibukannya antara sekolah, basket dan modeling. Lalu waktunya untuk Kyuhyun pun berkurang. Dan akhir cerita sudah bisa ditebak, bukan?

“Aku benci padanya, hyung. Benci! Aku benci Choi Minho! Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku marah!” kata Kyuhyun disela-sela isakannya.

Ah.. Mengapa ia harus bermarga sama denganku? Aku jadi sedikit merasa bersalah karena lelaki yang Kyuhyun benci kini juga bermarga Choi.

“Ia lebih menyukai teman-teman model tololnya itu daripada aku. Apa ia tidak tahu betapa aku mencintainya, hyung? Apa arti hubungan kami selama ini?” kembali Kyuhyun tersedu.

“Kyu.. Dia juga mencintaimu. Dia hanya.. sibuk. Memang kesibukannya tidak bisa dijadikan alasan. Seharusnya ia bisa membagi waktunya dengan bijaksana. Sudahlah Kyu, jangan menangis. Dan pikirkan lagi keputusanmu itu. Aku tidak mau melihatmu terus-menerus bersedih seperti ini. Kau hanya dikuasai emosi sesaat, percayalah, kau tidak mau putus dengannya.”

Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tidak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa membantunya menyadari perasaannya sendiri. Aku lebih tua dua tahun darinya, tapi perbedaan itu tampak jauh karena aku terdidik mandiri dan dewasa. Jadi sebisa mungkin aku selalu menawarkan jalan terbaik untuknya tanpa membuatnya sedih.

Dan dugaanku benar. Baru putus dua hari dari Minho, pertahanan Kyuhyun runtuh saat Minho meminta maaf padanya. Mereka kembali bersama, kembali banyak bertengkar dan Kyuhyun lagi-lagi menangis. Ia bahkan lebih sering menangis sejak saat itu.

“Oppa! Kau mendengarkanku atau tidak? Berhenti memikirkan Kyuhyun. bisakah kau membuangnya dari pikiranmu walau hanya sedetik? Aku tahu ia bagaikan adik bagimu, tapi bukan berarti kau harus selalu memikirkannya. Kau lebih memperhatikannya daripada aku. Aku ini kekasihmu!”

Kurasa wajar saja Sooyoung marah padaku. Ia adalah kekasihku tapi aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Kyuhyun terutama sejak Minho jauh lebih sibuk. Bukan hanya Sooyoung, tetapi juga Heechul, Tiffany, Kibum hingga Luna juga melakukan hal yang sama. Semuanya pernah menjalin hubungan denganku dan semua merasakan kekecewaan yang sama. Apa kalian sedikit bingung dengan nama-nama tadi? Yah, mereka adalah para mantan kekasihku. Dan aku adalah biseks.

“Oppa! Lagi-lagi kau tidak mendengarkanku!” kali ini Sooyoung berdiri dari duduknya dengan geram lalu meninggalkanku sendirian.

*

When I’m with you..

We started as friend, then something happened inside me..

Ujian akhir sudah dekat. Aku harus belajar lebih giat agar bisa lulus dari universitas terkemuka tempatku belajar selama empat tahun itu.  Tapi aku selalu ada untuk Kyuhyun ketika ia membutuhkanku. Ia tidak butuh bimbingan saat belajar karena ia adalah mahasiswa yang cerdas. Ia hanya butuh teman bicara ketika ia sedang tidak bersama Changmin, kekasihnya.

Entahlah, awalnya aku justru bangga karena ia selalu datang padaku. Menceritakan hari-harinya bersama Changmin, seperti yang ia lakukan selama ini dengan kekasih-kekasihnya yang lain. Apa saja yang mereka lakukan hari itu, bagaimana mereka kencan, apa saja yang dibelikan Changmin untuknya, hingga bagaimana mereka bisa saling bercumbu walau belum sampai tahap bercinta atau.. yah, aku enggan menyebutnya, seks.

Namun akhir-akhir ini, aku sedikit kesal dengan cerita-ceritanya. Aku sendiri tidak tahu sebabnya. Dan entah mengapa ketika aku melihat siluet Kyuhyun memasuki pagar rumahku dari jendela, aku langsung berpura-pura tidur. Aku juga sering mematikan ponselku hanya karena aku enggan menerima pesan atau telepon darinya. Bukan apa, yang ia ceritakan hanya Changmin, Changmin dan Changmin, made me feel strange..

“Itu adalah hal yang wajar. Bukankah kini kau sedang sendiri, tidak mempunyai kekasih dan kau dibuat stress oleh ujian akhir yang semakin dekat. Jadi ketika kau mendengar cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau akan merasa jenuh.” Kata Donghae siang itu ketika aku, dia dan Yunho, sahabat-sahabatku tengah belajar materi ujian akhir bersama di café langganan kami yang terletak tak jauh dari kampus.

“Aku setuju. Stres akan ujian bisa membuatmu menjadi orang lain. Jadi kusarankan, ada baiknya kau sedikit bersantai. Atau pacari saja siapa pun agar kau bisa melampiaskan hasrat ehm.. seks yang terpendam..” kata Yunho seraya mengejek.

Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku mendengar kata-kata kedua lelaki tampan itu. Mereka memang benar, aku seharusnya tidak memikirkannya secara berlebihan. Tapi apa benar aku hanya merasakan hal ini karena stress ujian? Namun mengapa ada yang berbeda? Mengapa perasaanku berkata lain?

Semakin hari perasaanku semakin tak tergambarkan. Aku mulai memperbaiki penampilanku yang sebenarnya sudah baik, jangan salah sangka tapi memang aku suka berpenampilan rapi, menjadi lebih rapi lagi ketika ingin bertemu Kyuhyun. Aku mulai merahasiakan hal-hal kecil yang sekiranya akan membuatku tampak malu dan bodoh di depannya.

Aku mulai tidak banyak bicara ketika bersamanya, karena aku takut kata-kataku akan menyinggungnya atau malah membuatku jadi salah di matanya. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa jantungku mulai berdebar-debar saat ia menyentuhku atau menatap mataku. Atau bahkan hanya sekedar memanggilku “Siwon hyung” seperti biasa.

Hei, bukankah aku sudah melewatkan tahun demi tahun bersamanya? Mengapa aku bisa merasa aneh seperti ini? Ini tidak wajar. Mengapa aku merasa kalau.. aku takut kehilangan dirinya? Mengapa aku melihatnya dengan sudut pandang berbeda kini? Apa arti debaran itu? Apa arti hangatnya hatiku kala ia menggenggam tanganku? Apa aku.. mulai melihatnya sebagai lelaki, bukan lagi sahabat?

*

When I’m with you..

It came up without warning.. Everything was right, except my heart..

Seumur hidupku, aku sering melihat lelaki tampan. Ayahku, Yunho dan Donghae, Kibum, bahkan menurutku aktor Jung Woo Sung adalah lelaki paling tampan di seluruh dunia. Namun hari ini semua pemikiranku terbantahkan ketika melihat dirinya.

Bahkan malaikat pun tidak ada yang lebih tampan dari dirinya. Dengan balutan tuksedo putih, dasi kupu-kupu tersemat di lehernya, kulit putihnya yang sedikit kemerahan karena bahagia sangat serasi dengan warna karamel yang menyatu di rambutnya.

Segala keindahan di dunia ini, segala bentuk kesempurnaan yang pernah tercipta, berbaur secara alami di dirinya kini.

Lihatlah dirinya yang tak henti-hentinya tersenyum manis sedaritadi. Lihatlah bagaimana kebahagiaan yang datang di musim semi yang indah ini mampu membuatnya bahagia. Dan mungkin inilah kebahagiaan terbesar yang pernah ia miliki selama hidup di dunia. Betapa aku merasa bersyukur bisa melihat senyum itu selama ini.

“Jangan memandangku seperti itu, hyung..” katanya dengan wajah yang merona merah. “Kau membuatku.. malu..”

Aku segera tersadar dari lamunanku. “Ah.. Maafkan aku.. Kau tahu, aku sangat terkesima dengan penampilanmu hari ini.”

“Aku tahu aku tampan.” Katanya tak bisa menyembunyikan seringaian lebar itu. “Bahkan lebih tampan darimu.”

“Kau lebih tampan dariku.” Jawabku setuju. “Lebih tampan dari siapapun.”

“Sudahlah hyung.. Tolong jangan terus-menerus memujiku atau aku akan pingsan saat ini juga!”

Aku tertawa. Aku baru akan menjawab ketika ayahku masuk ke ruangan kami. “Gentlemen, it’s time. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian setelah prosesi selesai.”

Setelah ayahku keluar, aku berbalik menatapnya. “Apa kau siap sekarang?”

Kyuhyun meremas tangannya dengan gugup. Rona merah di wajahnya hilang sudah. “Aku.. Aku takut membuat kesalahan di luar sana, hyung.. Aku takut sekali emmbuat keluargaku dan dirimu malu.. Kau tahu, aku..”

Aku memegang kedua bahunya lalu menatapnya, memberi keyakinan. “Kau akan baik-baik saja, baby. Aku berjanji kau akan menyelesaikannya dengan baik. Kau adalah lelaki yang cerdas. Buatlah kami semua bangga padamu di luar sana.”

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya seraya menghembuskan nafas panjang. “Baiklah.. Aku siap.. Selama kau ada di sampingku, hyung, semua akan baik-baik saja..”

Dan akhirnya waktu yang telah dinantikan datang juga. Aku berdiri disini, menatapnya dengan penuh rasa bangga, penuh rasa sayang, penuh kebahagiaan. Ia berjalan pelan dengan ayahnya menuju ke altar suci tempat sesaat lagi pernikahan akan dilangsungkan.

Bagaimana aku bisa melewati prosesi terpenting itu, bagaimana aku bisa berada di podium kini dengan microphone di depanku, aku tidak tahu. Yang kutahu kini, aku harus bicara karena semua mata tengah memandangku.

“Hadirin yang terhormat.. Terima kasih telah datang dihari bahagia ini, membuat kebahagiaan semakin terasa lengkap di sini. Aku berdiri di sini, ingin berbicara mengenai seseorang yang terpenting dalam hidupku.”

Tanganku mulai terasa dingin. Hatiku berdetak lebih kencang. Sama seperti dirinya, ketika aku tengah lemah, hanya dengan melihatnya, bersama dengannya, membuatku terasa jauh lebih kuat.

“Cho Kyuhyun adalah adik, sahabat, dan keluarga bagiku. Kami melewati banyak hal bersama, baik suka dan duka. Saat senang kami saling berbagi, saat susah kami saling mendukung. Menjadikanku lebih kuat dan tegar menghadapi segalanya.”

Aku menatapnya, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya. Tuhan.. betapa tampannya dia. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya di sampingnya.

“Di hari yang bahagia ini, aku ingin berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan kami. Sekaligus berdoa agar ia selalu dilindungi dan diberi kebahagiaan yang melimpah untuk kehidupan baru yang telah diresmikan dalam prosesi suci pernikahan yang sama-sama kita saksikan tadi.”

Semua pertanyaanku terjawab setelah tiga tahun yang panjang. Perasaanku yang sempat membuatku bingung akhirnya membuahkan sebuah jawaban. Ternyata aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Dan entah mengapa dengan kenyataan itu, aku semakin takut jika aku mengatakannya, ia akan marah karena aku telah menodai persahabatan yang tidak akan pernah kutukar dengan apapun di dunia ini.

“Tidak ada kebahagiaan yang bisa mewakili perasaanku kini. Segalanya sempurna. Bahkan mentari di luar sana bersinar jauh lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Aku yakin alam pun turut bergembira karena hari besar ini. Hari pernikahan seorang Cho Kyuhyun.. Dengan pendampingnya Choi Seunghyun.”

Hatiku sakit menyebut nama Seunghyun. Lebih sakit lagi ketika melihat Kyuhyun kini melepaskan pelukannya dari ayahnya dan berganti memeluk mesra suaminya. Aku seringkali melihatnya tersenyum, tapi baru kali ini ia tersenyum begitu lebar, tertawa begitu lepas, seolah semua beban di hatinya sirnah. Dan sakit di hatiku semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa bukan aku lelaki yang membuatnya seperti itu. Bukan aku yang berdiri di sampingnya saat ini dan menerima pelukannya.

“Choi Seunghyun adalah lelaki yang baik dan paling tepat untuk mendampingi Kyuhyun. Aku percaya ia akan menjaga Kyuhyun dengan baik dan memberikan segalanya untuk memenuhi kebutuhan Kyuhyun. Tidak ada orang lain yang lebih tepat selain dirinya. Seunghyun-ssi, ingat janjimu padaku, jangan pernah tinggalkan dan kecewakan Kyuhyun.”

Choi Seunghyun mengangkat satu jempolnya sementara tangan lainnya merengkuh tubuh pasangan hidupnya kini. Lihat? Segalanya sempurna, bahkan sakit hatiku pun sempurna. Bagaimana aku menahan nyeri yang menyerang hatiku selama dua tahun terakhir ketika Kyuhyun mulai mengencani Seunghyun, bagaimana aku berpura-pura tersenyum di depannya ketika ia menceritakan segalanya tentang kekasihnya itu dan bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyerang Seunghyun ketika Kyuhyun menangis karenanya.

“Kyuhyunnie.. Adikku.. Akankah aku melihatmu lagi setelah hari ini?”

Ia akan pergi ke Jerman bersama suaminya dan menetap di sana. Akankah aku melihat senyum itu lagi? Akankah aku melihat bibir indah itu bergerak-gerak lincah seperti yang selama ini aku saksikan? Akankah aku bisa menyentuhnya lagi walau hanya sedetik?

“Apa kau akan merindukanku? Karena aku akan sangat kesepian tanpamu.”

Aku sudah terbiasa bersamanya setiap hari. Ketidakhadirannya pasti akan terasa sangat kosong, seperti jauh dari ibumu padahal kau tengah duduk di ruang keluarga bersamanya.

“Apa kau akan baik-baik saja di sana?”

Aku mulai menangis. Aku bisa mengontrol kata-kataku, tapi tidak sakit hatiku. Semakin lama aku melihatnya, semakin sakit rasanya. Namun aku tidak berani memalingkan wajahku, karena ini adalah saat terakhir aku melihatnya. Dan dia juga menangis di sana, bahkan sepertinya airmatanya jauh lebih deras dariku.

Hei, apa yang kau lakukan, Siwon? Mengapa kau membuatnya menangis? Lihat, kau baru saja meruntuhkan kebahagiaannya.

Aku berusaha tersenyum walau hatiku menangis dan airmataku tetap mengalir tanpa henti. Ayahku sudah mulai mengusap-usap punggungku dengan sayang seraya menenangkanku. Aku hanya bisa mendengar ia mengerti perasaanku yang akan ditingalkan oleh sahabat sejati. Walau sebenarnya ia tidak mengerti bagaimana aku tersiksa dengan perasaan cinta ini.

“Kyuhyunnie.. Hyung sayang padamu.. Hyung benar-benar.. berdoa untuk kebahagiaanmu. Tolong jangan lupakan persahabatan kita.. Sering-seringlah memberi kabar dan.. kunjungilah kami di Seoul jika sempat.”

Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Segalanya di depanku tampak buram. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah bayangan putih yang berdiri tak jauh dariku, Kyuhyun.

“Jagalah kesehatanmu. Jangan tidur larut malam hanya karena menonton televisi. Dan jangan lupa meminum vitamin C karena kau paling gampang terkena flu. Ah.. Maafkan aku banyak bicara..”

Aku tidak sanggup lagi. Aku bahkan tidak tahu harus mengakhiri pidatoku ini seperti apa. Yang aku tahu, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin, melarikan diri dari tempat ini. meninggalkan segalanya di belakang. Tapi aku harus menyelesaikannya. Demi Kyuhyun. Demi menyelamatkan pestanya yang sudah ku rusak.

“Terima kasih telah datang ke kehidupanku. Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Tanpa menunggu lagi, aku segera berlari menuruni podium. Berlari kencang ke arah pintu keluar dan terus berlari tanpa arah tujuan. Udara dingin dengan angin sepoi menerpa wajahku. Akhirnya aku berhenti. Ketika aku menyadari bahwa aku berhenti di taman tempat aku dan Kyuhyun biasa menikmati waktu luang, kembali sakit di hatiku menyerang.

Aku menegadah dan melihat langit kelabu di atas sana. Kemana perginya mentari yang tadi bersinar cerah? Lalu setitik hujan turun diikuti dengan titik lainnya kemudian hujan turun menyerang. Aku membiarkan hujan membasahiku, berharap mereka membawa pergi sedihku ini, membuatku kembali menjadi Siwon yang tegar walau tanpa cahaya di hatiku.

Lalu aku mengingat kata-kata yang sering diucapkannya, ‘Kau adalah yang terbaik, hyung. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Namun, selama kau ada di sampingku, semua akan baik-baik saja..

Tapi aku tidak baik-baik saja, Kyu.. Tidak tanpamu.. Tidak akan pernah..

*

            “Hyung.. Siwon hyung..?”

Apa aku bermimpi? Ya, aku pasti bermimpi. Mimpi yang menyakitkan. Aku melihatnya di depan mataku. Bukankah seharusnya ia sudah pergi? Mengapa ia masih ada di sini?

“Hyung.. Apa kau bisa mendengarku?”

Aku mendengarnya bicara. Dan melihatnya! Ia bicara kepadaku dengan nada cemas. “Apa hanya karena hujan dan kelelahan kau jadi seperti ini? Sudah kukatakan jangan terlalu lelah mengurus pernikahan itu.”

Matanya merah dan sembab. Kedua orang tuaku ada di sana. Bahkan.. Seunghyun juga ada di sana. Ini bukan mimpi. Kyuhyun memang telah menikah dengan Seunghyun. Biar kutebak, mereka mencariku setelah keluar dari ruang pesta dan menemukanku yang pingsan di jalan dan membawaku kemari. Entahlah, sakit di hatiku justru bertambah karenanya.

“Siwonnie.. Apa kau baik-baik saja? Eomma sangat mengkhawatirkanmu.” Ibuku tampak sama cemasnya dengan Kyuhyun. Ayahku tengah bicara dengan dokter yang menanganiku. Aku kenal dokter itu, dia adalah rekan kerja ayahku.

“Dia baik-baik saja. Mungkin karena ia sempat terkena demam tinggi maka ia sedikit kebingungan.” Jawab ayahku meyakinkan ibuku.

Setelah beberapa saat keduanya berpamitan. Ayahku akan kembali bekerja dan ibuku akan beristirahat sebentar. Menurut dokter Kim, aku tidak sadarkan diri selama dua hari dan menderita demam tinggi.

“Kau baik-baik saja? Tidak seharusnya kau membuatnya cemas seperti itu.” kata Seunghyun kepadaku. Dagunya mengarah kepada Kyuhyun yang duduk di sebelah kanan sambil menggenggam tanganku.

Aku enggan menatap Kyuhyun yang terlihat kembali terisak pelan. Bukan apa, rasanya sakit sekali melihatnya menangis untukku sementara hatinya sudah milik orang lain. Mengapa aku harus sadar secepat ini? Mengapa mereka tidak pergi saja ke Jerman tanpa menungguiku seperti ini?

“Maafkan aku.. Sudah membuat kami cemas.. Aku.. Maafkan karena telah merusak acara sakral itu..” kataku terbata-bata.

Jujur saja aku nyaris menangis lagi jika mengingat hal itu. Walaupun aku ingin sekali melupakannya, namun bayangan Seunghyun memasangkan cincin ke jari manis Kyuhyun, ketika mereka saling bersumpah setia sehidup semati di hadapan Tuhan, ketika mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, ketika mereka berciuman.. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku jika mereka masih ada di depanku.

“Jangan lagi.. Jangan lagi kau membuatku cemas seperti itu, hyung. Aku nyaris gila karena memikirkanmu..” Kyuhyun masih terisak. Membuatku merasa bersalah.

“Kyuhyunnie.. Aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah kembali. Bukankah.. Kalian akan ke Jerman? Jangan ditunda hanya karena aku. Sungguh.. aku..”

Seunghyun mengerutkan keningnya. “Kalian? Maksudmu, aku dan Kyu? Tapi.. Hanya aku yang akan berangkat, ingat? Aku dipindah tugaskan ke Jerman selama tiga tahun.”

“Tapi.. Tapi.. Mengapa kau meninggalkan Kyuhyun di sini sendirian?” tanyaku dengan nada tak mengerti. Mengapa ia meninggalkan orang yang dicintainya di sini? Mereka baru saja menikah, sudah seharusnya mereka tinggal bersama.

“Bukankah di sini ia punya kedua orangtua beserta dirimu? Tentu saja ia akan baik-baik saja.” Jawab Seunghyun acuh seraya meneguk air mineral yang ada di tangannya sedari tadi.

Bagaimana ia bisa sesantai ini? Kemarahan menguasai dadaku. Apa maksudnya ini? Setelah menikahi Kyuhyun kini ia akan meninggalkannya? Bagaimana mungkin aku sanggup melihat airmata itu lagi?

“Seunghyun-ssi.. Kalau tujuanmu untuk mencampakkan Kyuh..”

“MENCAMPAKKAN..???!!” Kyuhyun dan Seunghyun berseru bersamaan. Keduanya saling bertukar pandang dengan bingung.

“Siwonnie, apa kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu ku panggilkan dokter?” tanya Seunghyun. Wajahnya kini terlihat sangat cemas.

“Er.. Hyung.. Mengapa kau jadi berlebihan seperti ini?” tanya Kyuhyun.

“Kau pikir aku gila??!! Katakan padaku mengapa kau meninggalkan Kyuhyun setelah kau menikahinya!” aku tak tahan lagi. Tumpahlah semua kemarahan yang sejak tadi kutahan.

“MENIKAH??!!” kembali Kyuhyun dan Seunghyun berseru keras dengan bingung. Keduanya saling pandang lalu gentian memandangku.

“Ya, menikah! Kau menikahinya dan kini hendak meninggalkannya? Aku menghadiri pernikahan kalian! Aku salah satu bestman kalian. Ketika aku berbicara di podium, bukankah aku memintamu untuk berjanji menjaga Kyuhyun dengan baik dan kau mengiyakannya, bukan? Jangan pura-pura bodoh!”

Aku benci melihat wajah Seunghyun yang tampak shock seperti itu. Seolah-olah semua yang kukatakan tadi hanya omong kosong dan pernikahan tadi tidak ada artinya untuk dia.

“Aku? Me..menikahi Kyuhyun?” kini mata Seunghyun nyaris keluar dari rongganya.

“Ya! Hentikan!” jerit Kyuhyun keras. Membuatku terlonjak. “Hyung, ada apa denganmu? Mengapa kau bicara omong kosong seperti ini?”

Suaraku melembut ketika bicara dengan Kyuhyun. “Kyu.. Ada apa dengan pernikahan kalian? Mengapa Seunghyun..”

“Lagi-lagi pernikahan! Siapa yang menikah dengan siapa? Bagaimana mungkin aku menikahi kakak kandungku sendiri??!!”

Kini gentian aku yang terperangah. “Kakak kandung? Tapi.. Bukankah.. Ya! Choi Seunghyun, bagaimana..”

“Choi?? Aku bukan saudaramu, bagaimana mungkin aku bisa satu marga denganmu. Dan sejak kapan aku berganti marga? Aku masih tetap seorang Cho sampai sekarang! Ya! Apa kepalamu masih bekerja dengan baik? Kau ini sejak tadi bicara yang tidak masuk akal. Ada apa denganmu? Apa demam tinggi membuatmu lupa ingatan terhadap istrimu sendiri?”

Seunghyun menunjuk Kyuhyun yang menatapku dengan galak. Tunggu.. Seunghyun adalah kakak Kyuhyun? Lalu Kyuhyun adalah.. “Istriku?”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di kepalaku. Kulihat tangan Kyuhyun nyaris berayun lagi di udara ketika aku masih bereaksi dengan aneh.

“Kalau memang semua ini benar, lalu pernikahan siapa yang kuhadiri?” tanyaku bingung.

Seunghyun meringis. “Aku akan memanggil dokter sekarang. Kyu, cobalah pukul terus kepalanya, siapa tahu penyakit bodohnya hilang. Mana mungkin ia melupakan pernikahan sahabat baiknya, Donghae, sedangkan ialah yang paling sibuk mempersiapkan semuanya sejak beberapa bulan lalu?”

PLAKK!

Tamparan kedua di kepalaku membuatku pusing. Pandanganku serasa berputar-putar bahkan sedikit gelap.

“Katakan sekali lagi kalau aku adalah istri kakakku dan aku akan meninggalkanmu sendirian, hyung! Kau ini menyebalkan sekali!” Kyuhyun mengomel dengan galak sementara semuanya tampak jelas perlahan.

Bagai film, semuanya tampak jelas di kepalaku. Bagaimana aku dan Kyuhyun akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing setelah ia putus dengan Changmin, bagaimana kami melalui dua tahun masa berpacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikat janji setia, bagaimana kami menikah tahun lalu dan.. bagaimana kami menjodohkan Donghae dengan rekan kerja Kyuhyun, Eunhyuk.

“Baby..”

“Hyung..” Kyuhyun mendekatiku. “Kau baik-baik saja? Maaf aku memukulmu, aku..”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.. Kurasa.. Aku hanya bermimpi buruk dan kehilangan akal sehatku sesaat. Maafkan aku..”

Kyuhyun menarik nafas lega karenanya. Ia lalu memelukku erat. “Syukurlah kau sudah kembali, hyung.. Aku cemas sekali. Kukira kau hilang ingatan dan semacamnya..”

“Maafkan aku.. Sekali lagi maaf.. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti ini.” aku lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pipi dan keningnya. “Bahagia rasanya karena kita telah bersatu.”

“Tolong jangan pernah bertingkah seolah aku milik orang lain, hyung. Karena melihatmu menyangkalku benar-benar membuatku sakit.” Katanya dalam nada manja seperti biasa.

“Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji.” Kataku seraya meraih dagunya, mendekatkan wajah kami berdua dan mulai menyentuh bibirnya yang selalu kukagumi. Ketika aku akan melumat bibirnya, pintu kamar rawatku dibuka dengan keras.

Cho Seunghyun, dokter Kim, ayah dan ibuku menyerbu masuk dengan tatapan luar biasa cemas. Ketika mereka melihat adegan yang tersaji di hadapan mereka, ketiganya menatap Seunghyun dengan curiga.

“Percayalah padaku.. Aku tadi melihat Siwon.. Ya, Kyu.. Bantu aku..”

Aku dan Kyuhyun hanya bisa tertawa melihat ketiga orang itu mengomeli Seunghyun. Senang rasanya melihat semua ternyata hanya mimpi. Walau hanya sebentar, aku benar-benar tidak ingin mimpi seperti itu kembali lagi. Biarlah terkubur dengan masa lalu. Saatnya menyongsong masa depan dengan Kyuhyun. Ahh.. betapa aku mencintainya..

***

wonkyu00

E.N.D