Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

Advertisements

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Can You Hear My Heart? – Prologue

Prologue

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Jung Yunho, Lee Joon, Lee Yeon Hee.

Pair      : ChangKyu (MinKyu), YunKyu (Hint!), ChangHee (Hint!)

Genre : BL, Romance, Friendship, Hurt,  OOC, Typo (es)

Rate     : PG-13

Written by Maccihato94

Disclaimer : –

Summary : “Berpura-puralah kau mencintaiku hingga kau lupa bahwa kau tengah berpura-pura…”

 

Selamat pagi…

Bagaimana tidurmu semalam?

Aku tidak sabar melihat wajah manismu hari ini Kyuhyunnie.

 

Senyuman Kyuhyun tak dapat di sembunyikan manakala ia membaca pesan pertama yang ia buka pagi ini. Pesan manis yang selalu ia terima secara rutin beberapa bulan belakangan ini. Sebuah pesan yang selalu datang dari orang yang serupa tiap harinya.

Semburat merah pun kini tampak terlihat dari kedua belah pipi putihnya yang berwarna pucat.

Tok Tok Tok!

Kyuhyun kembali tersadar dari lamunan singkatnya kala pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.

“Kyunnie, kau sudah bangun, chagi?” Suara lembut seorang wanita yang ia yakini sebagai eomanya terdengar dari balik pintu.

“Ne,eomma…setengah jam lagi Kyu akan turun…” Sahut namja manis tersebut tanpa bergerak dari posisinya yang saat ini masih terduduk di tepi tempat tidurnya.

Sudut matanya menangkap jam analog yang terletak disudut meja nakasnya telah menunjukkan angka 6:30 am. Dengan segera ia pun menggerakkan jari-jari panjangnya di layar smarthpone berwarna putihnya sebelum ia benar-benar beranjak dari tempat tidur. Meraih bathrobe yang tergantung di dinding dan masuk ke kamar mandi.

Selamat pagi juga…

Aku tidur dengan sangat nyenyak.

Sampai bertemu di kelas nanti Changminnie..

***

“Kyuhyunniiiiee…”

Kyuhyun yang tengah sibuk berkutat dengan sebuah PSP ditangannya, mengabaikan seruan seorang namja yang memanggil namanya dengan meriah. Sama sekali tidak merasa terganggu dengan seruan nyaring yang membuat beberapa teman dikelasnya itu berdecak kesal. Hingga ia merasakan seseorang merebut paksa benda kesayangannya itu dari tangannya.

“YAA! LEE CHANGSUN!”

Si pelaku perebutan PSP yang di panggil Lee Changsun atau lebih akrab di sapa Lee Joon tersebut hanya tersenyum kaku ketika ia mendapat tatapan nyalang dari sahabatnya itu. Meskipun wajah Kyuhyun ia akui sangat manis, tapi tidak bisa dipungkiri ketika mata besar itu melotot dengan tatapan membunuh miliknya tetap saja terlihat sangat menakutkan.

“Ya! Kau menatapku seperti itu seolah-olah kau ingin memakanku yang tampan ini, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun mendecih mendengar ucapan namja yang duduk di sisinya itu, “Kalau saja aku bisa, aku ingin sekali membuangmu ke dasar neraka saja, Lee Changsun.”

“Ya..ya. Dan dengan senang hati aku akan membawamu bersamaku membusuk di dasar neraka, EvilKyu.” Balas Joon sarkatis.

Bersilat lidah dengan Kyuhyun memang tidak bisa menggunakan kata-kata yang baik. Karena jika sampai itu terjadi, itu sama saja membuat Kyuhyun merasa bangga dengan kemenangan telaknya.

Namun beberapa saat kemudian senyuman sok manis –dimata Kyu- muncul dari bibir Lee Joon. Kyuhyun yang melihat hal tersebut menghela nafasnya. Ia sudah hafal dengan gelagat teman semasa kecilnya itu. Dengan senyuman seperti itu, jika bukan untuk menggodanya, dia pasti akan menceritakan tentang pacar barunya.

“Aku tidak mau mendengarnya.” Acuh Kyuhyun dengan kembali menyibukan diri dengan PSP yang baru saja ditelantarkan oleh Joon dimejanya. Namun belum sempat Kyu memainkan geme-nya kembali, tangan lincah Joon langsung merebut kembali benda hitam tersebut dari tangan Kyuhyun.

“YA!”

“Ayolah, Kyuhyunnie ini—“

“Sekali lagi aku mendengar panggilan itu dari mulutmu, aku patahkan lehermu.” Desis Kyuhyun mengintimidasi yang sayangnya sama sekali tidak membuat Joon takut.

Joon membeku sejenak mendengar ancaman sahabatnya yang terdengar bak seorang psikopat. Namun sedetik kemudian ekspresinya tergantikan dengan seringaian yang sama sekali tak diindahkan oleh Kyuhyun.

“Benarkah? Kalau begitu, kenapa kau tidak pernah berniat mematahkan leher ketua kelas kita itu? Siapa namanya?” Joon mengelus dagunya tampak berpikir, “ Aaa…Shim Changmin?” tanya Joon antusias yang membuat kedua mata Kyuhyun mendelik padanya.

Joon terkekeh. Pasalnya ia tahu tiap kali Changmin memanggil sahabatnya –melalui pesan yang dikirimkan tentunya- itu pasti ia akan memanggilnya dengan sebutan ‘Kyuhyunnie’.

Bukannya takut, namun kali ini namja humoris tersebut tertawa terbahak melihat reaksi Kyuhyun. Huh! Sebegitu berpengaruh kah sosok Shim Changmin bagi sahabatnya ini? Herannya tak habis pikir.

Kyuhyun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Takut-takut jika ada seseorang yang mendengar apa yang baru saja diucapkan namja bermulut besar dihadapannya itu.

Dan ia sangat bersyukur dalam hati ketika ia tidak mendapati sosok namja super tinggi yang menjabat sebagai ketua kelasnya ternyata belum terlihat diruangan kelas yang saat ini ia tempati. Apa ia belum berangkat? Saat ini bahkan hanya kurang 10 menit dari waktu jam pelajaran pertama dimulai, tapi kenapa ia belum datang? Batinnya mulai risau.

Perhatian Kyu terinterupsi dengan tindakan Joon yang menyodorkan ponselnya didepan matanya.

“Imut, kan?” Tanya Joon dengan nada bangga yang sangat kentara. Kyu mengerjapkan matanya cepat. Memperhatikan sebuah foto seorang namja yang terlihat dilayar ponsel Joon. “Namanya Onew.”

“Imut. Tapi ngomong-ngomong, dia namjachingu-mu yang ke berapa?” Tanya Kyu sarkatis.

“YA! Meskipun dia bukan yang pertama, Onew akan menjadi yang terakhir untukku.” Bantah Joon membela diri.

Kyuhyun mendecih, “bukankah kau juga mengatakan hal yang sama ketika kau mengenalkan Yeon Seo-ssi padaku minggu lalu?”

Joon serasa tertohok mendengar ucapan Kyuhyun.

Ya, kalau sudah begini, salahkan saja label player yang  telah melekat pada dirinya. Bergonta-ganti kekasih setiap minggu seolah telah menjadi rutinitasnya. Bahkan tak segan ia akan mengencani dua namja ataupun yeoja sekaligus dalam satu minggu yang kemudian dengan seenak hati akan ia putuskan setelah ia merasa bosan.

“Pokoknya kali ini berbeda. Jinki kan namja yang imut, pengertian, dewasa…” Rentet Joon yang sama sekali tidak diperhatikan lagi oleh Kyuhyun ketika matanya menangkap sosok namja yang baru saja memasuki ruang kelas.

Ia menundukkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata langsung dengan sosok tersebut yang baru saja menyunggingkan senyum padanya. Jantungnya kini berdegup sangat kencang. Hal yang serupa tiap kali ia melihat dan menyadari keberadaan sosok tersebut dari penglihatannya.

“…sempurna.“

“Selamat pagi, Joon-ssi..” Lee Joon yang masih sibuk dengan pendeskripsian kekasih barunya itu mendongak demi mendengar sapaan yang berasal dari namja tinggi yang kini ada dihadapannya, “Selamat pagi Kyuhyun-ssi…”

“Pa…pagi Changmin-ssi…”  Balas Kyu gugup.

Karakter aslinya yang terkenal bermulut pedas dengan segala keusilannya itu sama sekali tidak tampak saat ini. Yang ada hanya gerak-geriknya yang tampak gugup dan salah tingkah. Tidak lupa dengan wajahnya yang kini sedikit memerah.

Changmin, namja tadi hanya tersenyum sekilas yang kemudian beranjak pergi menuju tempat duduknya yang berada beberapa baris dibelakang tempat duduk Joon-Kyu.

“Tcih! Dia bertingkah seolah-olah kau adalah orang asing baginya, Kyu.” Joon mendecih tanpa mengalihkan perhatiannya pada teman sekelasnya itu, “Jadi hanya sebatas itu keberaniannya mendekatimu?” Tanya Joon dengan nada sinis.

Kyuhyun refleks menginjak kaki sahabatnya itu yang langsung memekik dan sama sekali tidak dipedulikan olehnya.

Namun tidak bisa ia pungkiri jika kalimat yang dilontarkan Joon membuat ia berpikir kembali tentang sikap Changmin padanya.

‘Dia bertingkah seolah-olah kau adalah orang asing baginya, Kyu…’

***

BbN38JeCQAILphr.jpg large 

Heart Without a Home – Chapter 3

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 3

Yunho sudah tahu bahwa ada yang mengincar desanya. Instingnya yang kuat tidak pernah salah. Begitu Kyungsoo dan Jongin diserang, ia langsung mengerti adanya ancaman untuk sukunya. Dan keselamatan seluruh desa ada padanya. Ia tidak boleh membiarkan mereka terluka.

“Anakku.. Aku bangga padamu dan akan selalu begitu. Tapi.. Apa keputusanmu kali ini telah kau pikirkan baik-baik?”

Yunho menatap sang Arweinydd. “Apa ayah meragukan keputusanku?”

Junjin menggeleng. “Sama sekali tidak. Selain turunan pemimpin, sikap dan sifatmu lah yang membuatmu terpilih menjadi Alpha secara mutlak. Ayah tidak meragukanmu, sebaliknya ayah mengkhawatirkanmu.”

“Bukankah aku punya ayah? Selama ayah ada di sisiku, aku tidak akan khawatir.”

Junjin tahu senyuman Yunho dimaksudkan untuk membuatnya tenang. Tapi, seorang ayah tidak akan tenang melihat anaknya mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang, bukan?

“Setidaknya kau membiarkan setengah dari kawananmu untuk tinggal dan membantumu. Ahh.. Andai saja mereka mengerti tujuanmu yang sebenarnya..”

“Mereka tidak perlu tahu.” Yunho menghela nafas panjang lalu kembali menatap ayahnya dengan pandangan memohon. “Ayah.. Haruskah kita bahas lagi hal ini?”

Junjin menatap langit kelam di atasnya. “Satu anakku terluka, satu lagi pergi sedangkan kau akan mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu bagaimana perasaan ayah saat ini? Apalagi reaksi ibumu ketika tahu hal yang sebenarnya, ia menangis dalam diam. Adalah kesakitan bagi ayah ketika melihat air matanya.”

Yunho terdiam. Ia tahu kalau kedua orang tuanya sudah pasti akan sedih dengan keputusannya walaupun mereka tidak bisa melarang perintah sang Alpha. Mereka yakin Yunho pasti telah memikirkan semuanya baik-baik sebelum bertindak. Tapi mereka hanyalah orang tua yang takut kehilangan anak-anaknya. Salahkah jika mereka terus mempertanyakan keputusan Yunho?

Ya, Yunho sengaja mengirim seluruh anggota kawanannya untuk pergi. Walaupun memang tujuannya adalah untuk menjalankan misi agar mereka bisa mengatur strategi guna menghadapi lawan-lawan mereka, namun ada alasan lain di balik itu. Dan alasan sebenarnya cukup sederhana, mereka disingkirkan.

Yunho membuat mereka pergi sejauh mungkin karena ia tahu desanya akan diserang. Yunho tidak mau membahayakan sahabat-sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri itu.

Maka mengirim mereka pergi adalah misi kosong, tipuan. Yunho sudah tahu kalau sebagian besar kelompok Drygioni dan Heglog sudah mulai bergerak untuk menyerang Gyfraddia. Satu-satunya yang bisa ditemukan oleh kawanannya nanti hanya Centaurus yang sudah pasti akan menolak untuk bergabung karena mereka tidak suka berperang.

Yunho mengandalkan para Rhyfel, Henuriad dan dirinya sendiri untuk berperang. Kalau mereka ternyata kalah, kesembilan Werewolf yang ia kirim keluar bisa selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang selama berabad-abad tetap hidup. Gyfraddia tidak boleh hilang ditelan sejarah. Itulah sebabnya Yunho nenyingkirkan para Eifre.

“Aku akan baik-baik saja, ayah. Aku berjanji.” kata Yunho pada akhirnya.

“Sebaiknya kau memegang janjimu, anakku. Kalau kau tidak mau melihat kami mati dalam kesedihan.” Jimin, Ibu Yunho sudah ada di sana, berdiri dengan anggun di samping suaminya dan menatap anak pertamanya dengan pandangan cemas namun juga bangga.

“Ibu..” Yunho segera menghampiri ibunya lalu berlutut sebentar. Ketika ia kembali berdiri tegak, ia segera memeluk wanita paruh baya yang sangat cantik itu erat-erat.

Jimin Membelai rambut anaknya penuh sayang. “Ibu langsung tahu tujuanmu ketika kau meminta ibu untuk membuat Chymyst. Kau pasti akan memberikannya pada Sandara dan Kyuhyun. Walaupun ibu khawatir, tapi ibu yakin kau memintanya untuk tujuan baik.”

Chymyst adalah salah satu ramuan kuno milik Gyfraddia. Ramuan bening yang tidak berbau dan tidak berasa ini sifatnya sama dengan air, namun fungsinya untuk melumpuhkan kemampuan indera pendengar ataupun penciuman selama tiga jam. Hanya orang-orang tertentu yang dapat membuatnya dengan sempurna, termasuk ibu Yunho.

Yunho telah memasukkan ramuan itu ke dalam minuman para Eifre sebelum mereka pergi. Anggota lain tidak akan merasakan dampaknya, hal ini hanya berlaku untuk Kyuhyun dan Sandara. Karena jika keduanya menemukan adanya mata-mata di sekitar mereka, sudah pasti mereka tidak akan meninggalkan sang Alpha.

“Pengorbananmu disaksikan oleh langit dan alam semesta, anakku. Dewa akan selalu bersamamu. Bahkan petir pun tidak akan mampu menyambarmu. Kau adalah pahlawan sejati Gyfraddia.”

*

            Sudah seharian para Eifre pergi. Mereka berangkat pada malam hari dari Gyfraddia dan kini matahari sudah mulai tenggelam ketika kesembilan Werewolf ini tiba di tempat tujuan masing-masing. Jarak yang mereka tempuh sangat jauh, namun karena khawatir pada Alpha mereka yang tinggal sendirian, mereka mempercepat laju lari kaki-kaki mereka dan hanya berhenti untuk minum di sungai.

“Aku belum pernah melihat desa Heglog sebelumnya. Tapi ini benar-benar menyeramkan.” ujar Hoya ketika ia mengamati perkampungan Heglog dari balik semak-semak.

Di depannya tampak rumah-rumah kecil berbentuk seperti iglo di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu dan hampir seluruhnya tertutup sarang laba-laba. Di samping kanan setiap rumah terdapat sebuah tungku kecil, pastinya untuk memasak.

“Mengapa jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada yang kita lihat beberapa waktu lalu?” tanya Sandara curiga.

Taecyeon menggeleng tidak yakin. “Aku juga tidak tahu. Apakah mereka pergi berburu dan sebagian lagi mencari daerah kekuasaan baru? Tapi.. mengapa terlalu banyak yang pergi?”

“Sebentar, ada yang aneh! Lihatlah! Para Heglog yang ada hanya sekumpulan Heglog tua dan anak-anak!” seru Hoya dalam bisikan keras.

Jantung Sandara langsung berdetak cepat ketakutan setelah melihat arah yang ditunjuk oleh Hoya.

“Tidak mungkin! Para Heglog ini terlalu lemah. Mereka tidak mungkin bisa..” Taecyeon langsung menghentikan kata-katanya. Mukanya berubah pucat. Ditatapnya Sandara yang terlihat pucat, tegang dan gemetar.

“Oppa.. Jangan katakan kalau.. Keluargaku.. Gyfraddia.. Oppa.. Kyungsoo.. Taecyeon oppa, Kita harus kembali..” Sandara bicara dengan bibir bergetar. Ia bahkan nyaris menangis.

Sementara di tempat lain..

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah perkampungan Drygoni? Mengapa tidak satupun orang disini?” tanya Yuri tak percaya ketika melihat perkampungan yang mereka datangi ternyata kosong.

Disana-sini hanya terlihat rumah-rumah kecil dengan atap runcing yang dilingkari oleh ular-ular besar yang terbuat dari kayu.

“Ayo kita periksa.” Kata Yonghwa yang memang tak kenal takut itu. Ia menuruni bebatuan di tebing rendah tempat mereka mengamati dan berjalan berjingkat-jingkat ke perkampungan Drygioni. Di belakangnya, Yuri dan Gikwang mengikuti jejaknya.

“Hati-hati, bisa jadi ini jebakan.” Kata Gikwang waspada.

Ketiganya berjalan pelan-pelan, memeriksa desa yang sepenuhnya kosong itu. Mereka berjalan sangat pelan, menghindari timbulnya suara sekecil apapun.

“Lihat, ada sekelompok anak kecil dan juga para tetua disana.” Kata Gikwang menunjuk ke arah sudut desa dimana ada sekelompok anak tengah bermain dan beberapa wanita dan lelaki tua tengah berdoa di depan sebuah altar dengan patung ular besar.

“Dimana yang lain? Mengapa hanya mereka yang tersisa?” tanya Yonghwa seraya mendekati tempat itu.

“Lindungilah prajurit kami dalam perang ini ya Dewa.. Sudah saatnya musuh abadi hancur..”

Yuri tersentak mendengar kata-kata salah satu perempuan tua yang duduk di depan altar itu. Perang? Musuh abadi?

“Kurasa.. Kita berada di tempat yang salah! Kita harus segera kembali. Gyfraddia dalam bahaya!”

Setelah Yuri menyelesaikan ucapannya, ketiganya langsung berlari dalam kecepatan tinggi, kembali ke Gyfraddia.

Dan di tempat lainnya..

“Ada apa gerangan hingga kaum Gyfraddia mengunjungi kami hari ini? Apa ada sesuatu yang khusus?”

Kangta, sang pimpinan Centaurus bertemu secara langsung dengan para tamunya ketika Junsu, salah satu anggota kawanannya datang dan memberitahukan bahwa para Eifre dari Gyfraddia mencarinya.

Kyuhyun membungkuk hormat. “Perkenalkan, aku Kyuhyun, dan ini Kris dan Minho. Kami datang kemari sebenarnya dengan tujuan khusus. Kami ingin.. meminta bantuan.”

“Aku sudah tahu maksud kalian.” Jawab Kangta segera setelah Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

Tentu saja! Para Centaurus terkenal dalam bidang ramalan. Mereka membaca pergerakan bintang di langit hingga bisa mendefinisikan berbagai macam bentuk kemungkinan masa depan yang di sebut ramalan. Walaupun ramalan belum tentu selalu benar, tapi setidkanya para Centaurus telah mengetahui kaitan-kaitan yang akan terjadi di masa depan.

“Kami sudah melihat sejak lama bahwa suatu saat Gyfraddia akan bertemu kembali dengan masa lalu yang didukung oleh kekuatan besar. Dan hal ini merupakan ancaman besar. Kaum kalian bisa hancur dengan bergabungnya dua kekuatan ini. Ular dan tarantula bukan lawan yang mudah.” kata Kangta lagi.

“Untuk itulah kami datang, kami ingin meminta bantuan. Karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak ditambah kekuatan mereka, kami tidak yakin bisa menghadapi mereka sendirian.” Kata Kris dengan sopan.

“Kalian meminta kami untuk ikut berperang?” tanya Junsu dengan sedikit amarah dalam suaranya. Ia pun bergerak maju beberapa langkah dengan tatapannya yang tajam. Beberapa Centaurus di belakangnya ikut maju.

Kangta lalu mengangkat satu tangannya. Melihat itu, Junsu menghentikan langkahnya dan menahan diri di tempatnya.

“Maafkan kami, wahai pahlawan dari Gyfraddia.” Kata Kangta setelah Junsu terlihat tenang. “Tapi kami, Centaurus, adalah para pecinta damai. Kami tidak berperang. Kami hidup dengan nyaman dan hanya memikirkan kelangsungan bangsa kami. Kami tidak berperang apalagi memihak satu pihak dengan keuntungan di pihak lain.”

“Jadi kalian akan berdiam saja di sini seperti pengecut?” tanya Minho lantang.

“Tutup mulutmu! Bicaralah yang sopan kepada pimpinan kami.” Raung Junsu. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

“Tapi itulah kenyataannya. Pada saat kelompok lain sedang mati-matian mempertahankan sukunya, kalian akan diam saja dan menonton? Centaurus dan Gyfraddia sudah lama saling bersahabat. Apa kalian akan membiarkan sahabat kalian hancur begitu saja?” Minho masih mempertahankan pendapatnya.

“Tentu saja kami tidak mau melihat siapapun hancur. Tapi kami tidak mau ikut campur dengan hukum alam. Pergerakan langit sudah jelas, kami tidak boleh mencampuri urusan langit.” Jawab Kangta dengan suara arif seperti sebelumnya.

“Pikirkanlah ini, tuan. Heglog hanya mencari daerah kekuasaan baru, mereka ingin memperluas daerah mereka dan kebetulan saja kaum kami yang mempunyai daerah kekuasaan terluas. Sementara Drygioni ingin membalas dendam pada Gyfraddia. Jadi mereka bersekutu untuk melawan kami. Jika kami hancur, bukan tidak mungkin mereka datang kemari dan ikut menghancurkan kalian, bukan?” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar, berharap sang pimpinan mengubah keputusannya dan membantu kaum mereka.

“Kenapa mereka ingin menghancurkan bangsa yang bahkan tidak pernah mengganggunya sama sekali? Tidak masuk akal. Kami tidak akan memulai peperangan, apapun alasannya.” Kini nada suara Kangta terdengar cukup tegas.

“Lalu apa yang terjadi dengan Gyfraddia? Kami juga tidak punya masalah dengan Heglog. Tidakkah kalian sadari? Mereka menginginkan daerah kekuasaan yang besar beserta para pengikut baru. Apa kalian tidak menangkap maksud kami?” kata Minho dengan tak sabar.

“Diam!” bentak Junsu. “Kami adalah cendekiawan yang terhormat. Berani-beraninya kau mengatakan kami tidak mengerti maksud kalian tadi?”

“Minho!” Minho baru akan buka suara ketika Kyuhyun melarangnya dan memberinya tatapan memperingatkan.

“Tuan, dengarkan kami..” kata Kris dalam nada putus asa. “Kami juga ingin kedamaian. Siapa yang ingin bangsanya musnah? Tidak seorang pun bukan? Kami sama sekali tidak pernah mengganggu mereka, tapi beberapa dari kawanan kami telah di serang..”

Lelaki tampan nan jangkung itu terdiam sebentar, sedih mengingat sang kekasih yang tengah terluka saat ini. Ia menghela nafas sebentar lalu menatap Kangta lagi.

“Kami hanya ingin bantuan kalian. Ini adalah hutang kami kepada Centaurus. Jika suatu saat hal yang sama terjadi pada kalian, kami akan siap membantu.”

“Omong kosong! Kami selalu cinta damai, siapa yang hendak menghancurkan Centaurus?” Junsu kembali berbicara dengan cemooh dalam suaranya.

Kangta tampak menimbang beberapa lama. Namun akhirnya ia bicara. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melibatkan kaum kami dalam pertempuran yang bukan milik kami.”

Minho dan Kris baru akan memprotes ketika Kyuhyun kembali menahan mereka. Ia lalu membungkuk hormat lalu undur diri dari sana.

“Sia-sia kita datang sejauh ini. Mereka sangat mengecewakan.” Kata Minho jengkel ketika mereka sudah cukup jauh dari daerah milik Centaurus.

“Aku tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan pimpinannya tadi. Ia tampak begitu bijaksana tapi terlalu penuh perhitungan dan tidak mau ambil resiko.” Kris menambahkan.

“Tidak ada jalan lain. Ayo kita pulang, mungkin tabib sudah berhasil mengobati Kyungsoo dan Jongin. Setidaknya mereka mungkin sudah sadar dan setengah pulih. Gyfraddia jauh lebih membutuhkan kita daripada berlama-lama di sini.” Kata Kyuhyun lalu dalam hitungan detik ia bertransformasi dalam bentuk serigala berbulu putih yang diikuti oleh kedua temannya.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh. Kangta mendekatinya dengan langkah-langkah mantap. “Cepatlah kembali ke desa kalian. Mereka dalam bahaya. Drygioni dan Heglog akan segera tiba di sana. Tepat sebelum tengah malam, desa kalian akan diserang. Dan kemungkinan besar kalian akan musnah. Semoga kalian beruntung.”

Kyuhyun melolong sebagai tanda terima kasihnya. Ketiganya lalu berlari cepat menembus hutan, kembali ke desa mereka yang tercinta.

*

            Yunho tersenyum lega melihat Kyungsoo dan Jongin akhirnya bisa kembali sadar bahkan sehat seperti sedia kala. Ramuan tabib mereka memang yang terbaik. Menurutnya, masa tidak sadar alias pingsannya Jongin dan Kyungsoo lah yang memakan waktu lama karena racun telah melumpuhkan mereka. Namun setelah tiga hari mengkonsumsi ramuan obat sang tabib, keduanya akan langsung tersadar dan sehat seperti biasa walaupun stamina mereka belum sepenuhnya pulih. Dan kata-kata tabib terbukti. Keduanya bahkan tidak seperti pernah sakit sebelumnya.

Kini yang dicemaskan Yunho hanya satu, ketika gelap tiba. Karena jika mentari terbenam, seperti perkiraannya, desa mereka akan kedatangan tamu. Ia tidak mencemaskan dirinya, ia hanya mencemaskan seluruh penduduk desa juga keluarganya.

”Ingat, begitu peperangan dimulai, segeralah melarikan diri ke utara. Jika beruntung kalian akan menemukan Kyuhyun, Kris dan Minho di sana. Jika kalian tidak bertemu mereka di tempat Centaurus, teruskan berlari hingga ke kota. Bertransformasilah menjadi manusia biasa dan jangan pernah melihat ke belakang.” kata Yunho memaparkan rencananya pada Kyungsoo dan Jongin untuk ketiga kalinya sejak mereka terbangun.

Keduanya mendengarkan dengan sedih. Tak pernah disangka bahwa mereka semua harus terpecah seperti ini apalagi keduanya baru berusia masih sangat muda.

Alpha.. Apa hanya karena kami masih terlalu muda maka kami tidak diikutkan berperang? Apa kami dianggap belum cukup kuat? Apa semua orang takut kami akan merepotkan?” Jongin bertanya. Ada protes dalam nada suaranya.

Yunho menggeleng. “Umur dan kekuatan bukan masalah. Kami sangat bangga kepada siapa saja yang rela mengorbankan diri untuk terjun ke medan perang. Tapi kami perlu keturunan. Apa kalian ingin Gyfraddia musnah sepenuhnya?”

“Tapi kita akan kuat jika bertarung bersama. Kita bisa memenangkan pertarungan ini walau.. Kesembilan Eifre sudah pergi.” kata Kyungsoo sedikit keras kepala. Awalnya ia sedih bercampur marah karena Kris pergi meninggalkannya. Namun setelah tahu alasan sang Alpha, ia justru berharap Kris tidak kembali ke desa mereka dan ia bisa selamat dari bahaya.

“Kita juga bisa kalah, adikku. Dan bagaimana jika hal itu terjadi? Keputusanku sudah bulat. Kerjakan seperti rencana.” kata Yunho tegas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah para Henuriad yang tengah menyusun strategi perang.

Sang Arweinyd yang melihat kedatangannya mengangguk. “Alpha.. Apa ada ide lain? Strategi kami seperti ini.”

Yunho memperhatikan gambar yang digambar oleh Jinyoung di atas perkamen tua besar yang diletakkan di atas meja batu besar. Dengan cepat ia mempelajari strategi itu.

“Aku pikir ini akan berhasil. Dengan para Henuriad di sisi kanan dan kiri berbaur dengan sisa penduduk, para pendekar bersama ayah di lini depan, aku rasa sudah bagus. Sebagian Rhyfel akan nenempati seluruh perbukitan dan sebagian lagi akan menyerang dari hutan dan mengepung mereka dari belakang. Tapi ada yang kurang.. Dimana aku?”

Jinyoung berdehem sebentar lalu menatap sang Alpha. “Hm.. Kami memintamu untuk bersembunyi sejenak. Kami akan menghadapi perang ini sendirian.”

Air muka Yunho berubah keras. “Apa? AKu tidak akan bersembunyi. Aku akan ikut berperang. Syr, aku adalah Alpha, mana mungkin aku bersembunyi sedangkan suku tengah berperang demi kelangsungan hidup kita.”

“Justru karena itu!” bantah Jinyoung tak kalah kerasnya. “Kau telah menyingkirkan para Eifre. Lalu apa gunanya masih ada suku kita di luar sana namun mereka tidak punya pemimpin? Mereka butuh seseorang yang bisa membimbing mereka dan membangun kembali Gyfraddia yang mungkin saja hanya tinggal puing-puing malam nanti.”

“Aku tidak akan bersembunyi. Aku tetap akan ikut berperang. Aku akan berada di lini depan, bersama ayahku.” Yunho masih tetap mempertahankan keinginannya.

“Tapi Henuriad dan Arweinydd sendiri telah memutuskan bahwa kau tidak diikutsertakan dalam perang ini. Keputusan tidak dapat diubah.”

“Aku tidak peduli dengan keputusan kalian. Bukan berarti aku tidak menghormati kalian smeua. Tapi aku lebih memilih mati di medan perang daripada harus menyaksikan saudara-saudaraku terluka sementara aku bersembunyi.”

Dan kata-kata Yunho yang merupakan keputusan mutlaknya membuat sang ibu tersenyum puas sekaligus bangga.

*

            Malam menjelang. Bulan purnama tampak begitu besar dan sempurna, berada di sisi timur yang perlahan memposisikan diri semakin ke tengah langit. Penduduk Gyfraddia telah bersiap. Para wanita dan anak-anak telah diungsikan. Para pejuang telah menanti di lini pertahanan sesuai strategi yang di tetapkan oleh para Henuriad.

Alpha.. mereka semakin dekat..”

Yunho mendengar suara Kyungsoo di kepalanya. Ia dan adik-adiknya memang mempunyai bakat alami dalam diri mereka. Jika Yunho punya naluri yang tajam, Sandara punya pendengaran yang tajam sedangkan penglihatan Kyungsoo sangat jelas. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat baik dalam gelap. Maka begitu ia melihat ratusan orang-orang dari arah barat, ia langsung melaporkannya pada kakaknya.

“Aku akan memberitahukannya pada yang lain. Ingat pesanku, begitu pertempuran dimulai, kau dan Jongin harus pergi ke utara.” Kata Yunho dalam kepalanya yang tidak mendapat respon sama sekali dari adiknya. Ia tahu, Kyungsoo tidak ingin pergi, jadi ia akan berpura-pura tidak mendengar.

Yunho menoleh pada ayahnya, yang akhirnya menyerah dan mengijinkannya untuk ikut berperang dengan catatan kalau mereka diambang kekalahan, Yunho harus segera pergi dan mencari sisa Eifre di luar sana, dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mereka sudah dekat, ayah. Sudah saatnya..”

Malam itu, hanya Yunho, pejuang dan para Rhyfel yang bertransformasi menjadi serigalanya sedangkan sisanya tetap dalam wujud manusia termasuk ayah Yunho sendiri. Karena ia adalah seorang Arweinydd, maka ia bisa mengerti kata-kata Yunho walaupun ia hanya menatap mata anaknya.

Dan memang betul seperti perkataan Yunho. Tak lama kemudian, ratusan sosok-sosok mengerikan muncul dari dalam hutan, berjalan dengan langkah-langkah berat yang mengerikan. Dan betapa mengerikannya kali ini karena selain sosok-sosok bersisik alias Drygioni dan sosok bungkuk seperti tarantula alias Heglog, ada sekumpulan besar sosok lain yang sangat menakutkan. Mereka ternyata juga meminta bantuan Troll, makhluk-makhluk bertubuh besar berwarna hijau yang mendiami gua-gua di kaki gunung.

Hati Yunho langsung mencelos. Drygioni dan Heglog sendiri saja sudah merupakan ancaman berat untuk mereka, bagaimana dengan bantuan Troll juga? Tamatlah riwayat mereka kini. Ia bisa melihat Jiyong dan Taeyang diantara pada Heglog, tersenyum angkuh seakan sebentar lagi mereka akan menyantap Yunho dalam cakar-cakar mengerikan mereka.

“Kyungsoo.. Jongin.. pergilah sekarang. Jangan buang waktu lagi.” Kata Yunho dalam kepalanya, diantara geramannya.

“Tapi hyung.. Bagaimana mungkin kami pergi meninggalkanmu?”

Alpha.. kami mohon, biarkan kami membantu.”

“Pergi..!!!” raung Yunho. Ia mengabaikan protes-protes kecil Kyungsoo dan Jongin dan berlari ke atas tebing. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas berapa banyak pasukan musuh yang kini hanya tinggal beberapa meter lagi dari lini depan, tempat ayahnya memimpin pasukan mereka. Tanpa ia ketahui, Kyungsoo dan Jongin mengabaikan perintahnya dan diam-diam menyelinap ke hutan, dimana sebagian dari para Rhyfel menunggu untuk menyerang.

Dengan dibayangi oleh rembulan, berada di salah satu tebing yang cukup tinggi, bagaikan terompet perang yang dibunyikan sebelum perang dimulai, Yunho melolong keras nan perkasa, membuat para pejuang Gyfraddia bersiaga di tempatnya. Dan begitu lolongan Yunho berhenti, sang Arweinydd pun berseru lantang.

“Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Lalu dua kubu yang tadinya terpisah saling mendekati dan pertempuran besar pun telah di mulai.

*

            “Kita masih sangat jauh.. Ditambah dengan jalan pintas yang kita tempuh saat ini membuat tenaga kita terkuras lebih banyak.” Ujar Minho dalam kepalanya kepada Kyuhyun dan Kris yang berlari kencang di sampingnya.

“Tapi ini adalah jalan terdekat. Jika kita beruntung, kita bisa sampai dalam waktu satu jam. Hanya jika kita berlari dalam kecepatan seperti ini.” Kris menambahkan.

“Kita tidak boleh mengurangi kecepatan, aku sangat takut kalau kita terlambat.” Kata Kyuhyun dalam ketakutan tinggi.

Ketiganya terus berlari membelah hutan. Jalan yang mereka lewati sungguh berbahaya. Melewati tebing-tebing terjal, bebatuan tajam, lumpur hisap hingga semak belukar berduri. Entah sudah berapa kali mereka terluka dalam perjalanan pulang kali ini. Namun mereka terus berlari, seolah luka yang mereka alami bukan apa-apa dibandingkan dengan nyawa-nyawa yang akan melayang malam ini.

“Aaarrgghhh…!”

Dekingan keras membelah malam. Kris dan Minho menghentikan larinya ketika Kyuhyun tergelincir dari tebing dan tubuhnya menghantam bebatuan tajam di tepi sungai. Kyuhyun mencoba bangkit, tapi sangat sulit baginya untuk melakukannya karena ada sesuatu yang salah, kaki belakangnya terluka.

“Kyuhyun.. Kau baik-baik saja?” tanya Minho segera setelah ia turun dari tebing dan menghampiri Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja, tapi kakiku.. Sakit sekali..” keluh Kyuhyun. Ia terus mencoba bangkit namun tetap tidak berhasil hingga ia menangis.

“Kyuhyun, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Kami akan selalu ada disini menunggumu. Ayo coba lagi.” Kata Kris menyemangatinya.

Kyuhyun mencoba lagi dan lagi selama hampir lima belas menit, membuat Minho dan Kris mengamatinya dengan sama putus asanya.  Ia hampir menyerah lalu ia teringat sang Alpha. Sosok yang ia kagumi dan cintai sepenuh hati. Jika ia tidak bangkit malam ini, mungkin ia tidak akan pernah melihat Yunho lagi seumur hidupnya.

Alpha.. Tunggu aku.. Aku akan datang padamu.. Tunggulah aku..” kata Kyuhyun dalam hati.

Dan entah kekuatan dari mana, dengan sekali sentak, ia bisa berdiri tegak. Walaupun kakinya terasa perih, walaupun darah segar mengucur deras membasahi kemilau bulu putihnya, namun tekad kerasnya membuatnya melupakan sakit yang ia derita saat ini.

Dengan kekuatan baru,  ia berlari memimpin kedua temannya, berlari ke tempat seharusnya ia berada kini, di samping sang Alpha.

“Yunho hyung.. Tunggu aku..”

*

Kaisooho

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 2

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, BL, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin,  Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 2

Bagai mimpi buruk, Yunho harus menghadapi situasi seperti ini. Niat awalnya adalah untuk mencari daerah kekuasaan tapi ia justru terperangkap menghadapi musuh baru. Sebagai pimpinan sudah seharusnya ia maju menerjang siapapun yang dianggap bisa mengancam keselamatan kawanannya.

Namun ia tidak ingin ada peperangan semacam ini. Ia tidak mau membuat masalah dalam kehidupan desanya yang  tenang. Selama ini ia hanya sering mendengar cerita para Henuriad mengenai betapa hebatnya suku mereka dalam membasmi semua musuh mereka. Ia tidak mau menimbulkan keresahan untuk seluruh penduduk desanya. Ia pimpinan para serigala muda, sang Alpha. Dan ia tidak ingin adanya kewaspadaan untuk setiap orang karena akhirnya mereka kembali ke masa perang.

Dan ketika sang pimpinan kecil Heglog itu menerjangnya dengan tombak mengerikan di tangannya, hal pertama yang Yunho lakukan adalah melolong keras memperingatkan para Eifre seraya menghindari tusukan yang diarahkan tepat ke lehernya itu.

“Yonghwa, Kris, bawa Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi.”

Begitu perintah bergema di kepala mereka, Kris dan Yonghwa segera menarik Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan protes ketiganya untuk ikut melawan. Tapi perintah sang Alpha sudah sangat jelas. Kewajiban mereka adalah menurutinya.

“Lawan aku, serigala lemah! Jangan terus menghindar, pengecut!” raung si pimpinan Heglog, masih terus berusaha menikam lawannya. Kali ini ia menusuk lebih cepat hingga nyaris menggores bahunya.

Alpha!”

Yunho bisa mendengar jeritan Yuri yang mencemaskannya. Taecyeon sudah menggeram tak sabar namun Yunho tetap memperingatkan para Eifre agar tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sebelum ia memerintahkan. Padahal kawanannya sudah sangat bernafsu untuk menanamkan cakar-cakar mereka ke sekujur tubuh anggota Heglog lainnya yang ada di sana.

“Cukup! Hentikan!”

Sang pemimpin Heglog berhenti menyerang. Ia masih menatap Yunho dengan tatapan marah namun ia menuruti perintah suara tanpa tubuh itu. Yunho mencari ke sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan sumber suara.

Berdiri dengan raut mengerikan diantara pepohonan, seorang Heglog lain yang tubuhnya sedikit lebih besar menatapnya angkuh.

“Mengapa kau ada disini? Jangan ganggu kesenanganku!” pimpinan Heglog berteriak kasar, masih tanpa menoleh.

Tawa dingin terdengar. “Jangan bertingkah seperti kaulah pimpinan suku. Walau kau adalah pimpinan Heglog muda. Jadi kalau kau mendengarku mengatakan berhenti, artinya kau harus berhenti, adikku.”

Sang pimpinan menampakkan ekspresi hendak membunuh mendengar saudaranya sendiri mempermalukannya di depan musuh. Tapi ia sendiri seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kakaknya.

Ketika ia menurunkan tombaknya, Heglog lain yang tadinya berdiri diantara pepohonan kini mendekati Yunho dan adiknya.

“Aku tahu siapa kau. Yunho, sang Alpha dari Gyfraddia, suku yang dulunya adalah suku terkuat.”

“Dulunya? Kami masih yang terkuat hingga saat ini.” Geram Yunho di kepalanya walau ia tahu hanya kawanannya yang bisa mendengarnya karena mereka tengah berada dalam wujud serigala.

Kembali lelaki bungkuk berbulu itu tertawa. “Aku tahu pasti kau memprotes dalam kepalamu dan aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku tidak berbohong. Jika kalian ingin membuktikannya, kalian harus berperang bersama kami jadi kalian akan tahu mengapa aku mengatakan kata ‘dulu’ pada kalimatku tadi.”

“Tapi tidak hari ini.” Heglog tadi melanjutkan. “Mungkin besok? minggu depan? Yang jelas bukan hari ini.” Kemudian ia menoleh pada adiknya. “Kita harus kembali sekarang.”

Gerutu kasar terdengar namun para Heglog lain tampaknya menurutinya. Lambat laun satu persatu meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, Heglog tadi berbalik dan berkata. “Ah, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Ji Yong dan adikku yang pemarah itu adalah Taeyang. Sampai bertemu lagi, Yunho. pertemuan berikutnya tidak akan seramah ini, aku janji.”

Lalu ia ikut melesat memasuki hutan, meninggalkan Yunho dan kawanannya yang masih terpaku.

*

            Yunho masih menerima gumam-gumam ketidaksetujuan sebagai bentuk protes dari kawanannya selama beberapa hari kedepan setelah insiden bersama para Heglog.

“Seharusnya kita ikut menyerang. Mereka sudah dengan tidak sopannya menghina suku kita!” kata Minho yang terkadang paling cepat tersulut emosi.

“Tapi kita membawa Kyungsoo dan Jongin hari itu, tidak mungkin kita membahayakan nyawa mereka hanya karena amarah kita.” Ujar Hoya. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai anggota kawanan serta sahabat dalam hal ini.

“Aku setuju dengan Minho. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menghina kita? Lagipula ia hendak mencelakai Alpha kita.” Gikwang ikut menyuarakan pendapatnya.

“Kalian tenanglah. Apa kalian lupa perintah Alpha tidak boleh dilanggar? Tidak seharusnya kalian bersikap seperti ini.” Yonghwa menengahi.

“Kita harus memikirkan jalan keluar bersama bagaimana agar tidak terjadi peperangan. Walaupun aku sendiri sangat ingin menghabisi mereka tempo hari.” Kris menambahkan.

“Aku yakin Alpha punya alasan tersendiri mengapa ia justru menghindar alih-alih menyerang.” Taecyeon akhirnya ikut bicara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.

Mendengar itu, semua yang ada di sana minus Yuri, Kyuhyun, Sandara, Kyungsoo dan Jongin menatap sang Alpha, menunggu ia angkat bicara dan menjelaskan tindakannya tempo hari setelah ia bungkam selama beberapa hari.

Masih mempermainkan batu-batu kecil dalam genggamannya lalu melemparkannya ke sungai hingga beberapa saat lalu akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Aku bukan pengecut. Walaupun tindakanku bisa dikategorikan sebagai pengecut oleh para Heglog tempo hari. Tapi aku punya beberapa pertimbangan. Pertama, kita jauh dari rumah, bahkan sangat jauh. Kita membawa serigala muda bersama kita, bagaimana mungkin kita bisa bertindak yang nantinya bisa membuat mereka terluka? Mereka adalah tanggung jawabku.”

“Dan lagi, sebisa mungkin aku menghindari pertarungan. Jika aku menyerang dan ia terluka, bisa jadi mereka benar-benar menyusun kekuatan dan menyerang kita. Apa kalian tega melihat senyum-senyum bahagia beserta kehidupan kita yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba terusik karena hal ini?”

“Kalaupun kita pada akhirnya akan berperang, alangkah baiknya jika bukan kita yang memulai. Kalau kita gegabah, kita hanya akan menghancurkan suku kita sendiri.”

Para Eifre terdiam. Mereka tahu, Yunho benar. Mereka tidak boleh ceroboh dengan bertindak cepat. Akan ada konsekuensi yang lebih besar menanti mereka jika mereka bersikeras.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?”

Ketujuh lelaki disana menoleh dan mendapati dua orang yang sangat mereka kenal berdiri di sana.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?”

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon, lelaki lain yang berdiri bersama Changmin menjawab sambil balik bertanya dengan nada bercanda.

Changmin dan Dongwoon adalah Dhampire, setengah Vampire dan setengah manusia. Tugas mereka adalah memburu Vampire yang berkeliaran di luar sana. Seperti halnya Dhampire, kaum Werewolf pun tidak menyukai kaum Vampire. Makhluk penghisap darah tersebut dianggap makhluk keji yang mengambil nyawa manusia demi memuaskan dahaga mereka. Werewolf dilarang keras bergaul dengan kaum seperti itu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?”

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh.. Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

“Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawab Dongwoon seraya menyeringai lebar.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris gembira, membuat Changmin dan Dongwoon tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

Sepeninggal Changmin dan Dongwoon, Yunho berpikir. Sepertinya kekuatan Heglog sudah meyebar luas. Apalagi ditambah dengan dukungan penuh dari suku Drygoni, tidak mustahil kalau mereka nantinya akan menyerang Gyfraddia.

*

            Salju sudah mulai turun, menyambut musim dingin yang membekukan tubuh itu. Tapi tidak bagi pada Werewolf. Tubuh mereka yang tetap hangat sehangat duduk di depan perapian dibalut selimut tebal dan ditemani secangkir cokelat panas. Mereka tidak pernah kedinginan walaupun bertelanjang dada dibawah guyuran hujan ataupun di bawah curahan salju.

Kyuhyun duduk di atas tebing yang cukup tinggi, memandang ke sungai di bawah, tempatnya biasa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sebentar lagi sungai itu akan sepenuhnya membeku dan baru akan mencair di bulan maret. Bukankah tempat ini jadi terlihat sangat romantis? Pepohonan dengan daun-daun cokelat yang masih bertahan di rantingnya tertutup salju, sungai yang nyaris beku, angin musim dingin berhembus lembut di hari yang cukup berawan ini.

Dan Kyuhyun harus menahan rasa irinya dalam-dalam melihat sepasang pemuda yang tengah bersenda gurau dengan mesra di bawah sana.

“Mesra sekali..” monolog Kyuhyun.

“Mesra? Siapa?”

Kyuhyun tersentak. Ia tidak menyangka akan ada yang orang lain yang bertransformasi menjadi serigala selain dirinya saat ini. Bukan berarti tidak boleh, tentu saja kawanan lain boleh bertransformasi kapan saja mereka mau. Hanya saja, di hari-hari seperti ini, biasanya teman-temannya akan bermain salju atau melakukan kegiatan lain dengan wujud aslinya. Maka ia tidak berpikir bahwa ada yang akan mencuri dengar perkataannya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati serigala paling gagah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya berjalan pelan mendatanginya. Dengan rambut-rambut halus berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan salju di sekitarnya, dengan rahang kokoh disertai gigi dan cakar-cakar tajam yang mampu membelah kayu tebal sekalipun, dengan mata tajam yang selalu membuat jantungnya berdebar menyenangkan.

Alpha..”

“Sedang apa kau disini? Dimana yang lain? Dan mengapa kau bertransformasi?”

Kyuhyun merebahkan dagunya di atas kedua kaki depannya yang merapat. “Aku tidak tahu kemana Taecyeon tengah membantu ayahnya. Hoya, Minho dan Jongin tengah berubah menjadi anak-anak liar pencinta salju. Yonghwa tengah pergi bersama Sandara, entah kemana sedangkan Gikwang seperti biasa, ia lebih mencintai kasurnya daripada hal lainnya.”

Yunho sudah ada di samping Kyuhyun. “Yonghwa dan Sandara tadi pamit kepadaku. Mereka ingin jalan-jalan berdua. Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau katakana mesra tadi?”

Kyuhyun tertawa dengan suaranya yang khas. Suara itu bahkan menggema indah di kepala Yunho. “Adikmu, siapa lagi? Lihatlah..”

Yunho mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Benar saja, di bawah sana tampak Kyungsoo dan Kris tengah bermesraan. Kris duduk bersandar di sebatang pohon sedangkan Kyungsoo bersandar di dada kekasihnya yang memeluknya erat. Kyungsoo asik bercerita sedangkan Kris senantiasa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di pipi atau rambut Kyungsoo.

Yunho tersenyum. Adik bungsunya itu memang suka sekali bercerita selain memasak dan membaca. Dan Yunho selalu bersyukur karena ia mendapatkan lelaki seperti Kris yang selalu sabar menghadapinya.

“Ya aku tahu, kau pasti mengatakan bahwa Kyungsoo beruntung telah mendapatkan Kris, bukan? Kalau tebakanku benar, kau salah. Kris lah yang selalu merasa beruntung telah mendapatkan si ajaib Kyungsoo, percayalah, adikmu terlalu populer. Jadi jangan kaget kalau Kris selalu menempel padanya. Ia adalah pencemburu yang sangat protektif.” Kyuhyun berbicara seolah memahami isi kepala Yunho.

“Aku terlalu sibuk mengatur para Eifre dan memenuhi permintaan Henuriad. Kadang aku kesal jika waktuku kurang untuk dihabiskan bersama Sandara dan Kyungsoo. Walaupun kadang aku pikir mereka tidak akan kesepian karena keduanya telah memiliki kekasih.” Jawab Yunho, matanya masih senantiasa memperhatikan gerak gerik dua pemuda yang kini tengah berciuman mesra itu.

“Oh mataku.. Tidak bisakah mereka melakukannya di tempat lain?” keluh Kyuhyun sambil tertawa kecil.

Yunho ikut tertawa. “Untunglah Kris begitu sopan. Ia bisa menahan hawa nafsunya dan tetap memperlakukan Kyungsoo dengan baik. Kau tahu, aku tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang lebih yah.. intim. Kyungsoo masih terlalu kecil dan.. Aku terlalu khawatir pada awalnya tapi kupikir Kris takkan melakukan hal-hal negatif, bukan? Bagaimana menurutmu?”

Kini tawa Kyuhyun lebih keras. “Mana mungkin ia bisa menahan diri jika Kyungsoo ada di dekatnya? Selain ia memang lelaki yang baik, ia tidak akan berani menyentuh anak Arweinydd dan adik sang Alpha jika ia masih tetap ingin diakui sebagai seorang Gyfraddia.”

Yunho menatap Kyuhyun dalam-dalam tanpa kata. Setelah membisu selama hampir semenit, ia akhirnya bicara. “Kau tahu, selalu menyenangkan berbicara denganmu. Kau selalu berada di tengah. Menjadi netral untuk siapa saja. Berpikirab dewasa dan sangat memperhatikan anggota muda. Walau terkadang kau sendiri sangat manja.”

Jika Kyuhyun tidak dalam bentuk serigala saat ini, ia yakin rona merah akan menjalar di seluruh permukaan wajahnya dan membuatnya sulit untuk menyembunyikannya dari Yunho. Yunho memang bukan lelaki yang bisa menggombal atau berkata-kata romantis. Tapi kejujurannya membuat siapa saja akan tersentuh.

“Dan aku sangat mengagumi warna putih yang menempel di tubuhmu itu. Indah sekali. Kau memang sangat rupawan dengan warna putih.” Yunho menambahkan sambil masih terus menatap Kyuhyun.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan di tanah ke udara, butiran salju yang turun mengikuti arah angin, membuat pandangan menjadi sedikit terhalangi. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu kakinya. Ketika ia ingin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di antara kedua kakinya, sesuatu terjadi.

Kaki-kaki kokoh sang Alpha berdiri tepat diatasnya, menghalangi angin kencang yang menerpa wajahnya. Sang Alpha berdiri di situ, melindungi Kyuhyun dengan tubuhnya yang besar. Ia tetap diam, tanpa sepatah kata pun. Tapi mampu membuat perasaan Kyuhyun melambung di udara.

Disini, tepat berada di bawah lindungan pemimpin yang dicintainya seraya menyaksikan mentari yang tertutup awan pelan-pelan turun ke peraduannya, di atas tebing kecil, di hutan mereka tercinta, merupakan tempat terindah untuknya. Dan ia tidak ingin beranjak dari sana sedetik pun.

*

            “Alpha..! Arweinydd mencarimu. Sekarang!”

Yunho yang tengah membelah batang pohon besar untuk dijadikan potongan-potongan kecil kayu bakar di belakang rumahnya cukup terkejut ketika melihat Gikwang datang dengan tergesa-gesa. Keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya pucat dan ia tampak shock.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho ketika mereka dalam perjalanan ke Pentrafe atau balai desa, tempat dimana ayahnya menunggunya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan.. tampaknya itu adalah hal buruk.” Jawab Gikwang, masih terengah.

Alangkah terkejutnya Yunho ketika ia dan Gikwang sudah sampai di Pentrafe. Banyak yang sudah berkumpul di sana dan anehnya sebagian diantaranya tampak marah dan sedih. Begitu melihat kedatangan Yunho, kerumunan terbuka, memberi jalan untuk sang pemimpin. Yunho bisa melihat ayahnya tidak duduk di kursi kebesarannya seperti biasanya melainkan di lantai, seperti seorang lelaki lemah yang terpuruk.

Yunho baru akan bertanya ketika ia melihat dua sosok yang dikenalnya terbaring melintang di atas karpet merah di tengah ruangan. Keduanya masih dalam tubuh serigala. Yang satu berwarna abu-abu kecoklatan, yang satu lagi berwarna putih abu-abu. Dan sama-sama terbujur lemah disana dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Yunho akan mengira keduanya sudah tak bernyawa andaikan ia tak melihat perut keduanya bergerak naik turun, berusaha sekuat tenaga untuk bernafas.

Tubuhnya bergetar hebat saat itu. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan semua bercampur jadi satu.

“Kyungsoo.. Jongin..” Yunho jatuh berlutut, lalu meraih kedua serigala muda itu dalam rengkuhannya. Air matanya turun satu persatu.

Ia menoleh pada ayahnya yang tampak sama terpukulnya dengan dirinya. “Ayah..” bahkan suaranya pun ikut bergetar.

Alpha.. Adikmu dan Jongin.. Keduanya diserang oleh Drygoni. Mereka memakai bisa mereka untuk melumpuhkan keduanya.. Anakku.. Anak lelakiku..”

Bisa Drygoni sangat terkenal bisa melumpuhkan sistem saraf dan otak. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terkena melebihi batas, akan berakibat kematian. Dan melihat beberapa tempat yang terkena bisa Drygoni di tubuh Kyungsoo dan Jongin, bisa dikatakan mereka di ambang kematian.

“Tidak.. Kyungsoo.. Jongin.. Bertahanlah.. Aku mohon..” Yunho masih memeluk keduanya.

“Tabib sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi ia sampai. Tadi Minho dan Kyuhyun yang menjemputnya. Bersabarlah Alpha, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan penduduk lainnya. Kau adalah harapan mereka.”

Tanpa mengangkat kepalanya, Yunho tahu bahwa Jinyoung lah yang berbicara. Walaupun ia benar, namun bagaimana mungkin Yunho bersikap tenang di saat seperti ini?

“Gikwang..”

“Ya, Alpha.”

“Kumpulkan yang lain di rumahku, sekarang. Aku akan segera kesana. Jangan bicara apa-apa sampai aku datang. Aku tidak ingin membuat yang lain khawatir.”

Gikwang membungkuk hormat lalu berlari keluar.

*

            Peraturan baru diberlakukan. Penduduk dilarang keluar dari rumah diatas jam sepuluh malam. Dan setiap wanita juga anak-anak harus ditemani oleh lelaki jika terpaksa harus keluar rumah. Mereka juga dilarang bepergian terlalu jauh. Itupun mereka harus dikawal oleh para Rhyfel.

Sedangkan para Eifre bertugas berjaga bergiliran di setiap pos yang sudah ditentukan. Mereka akan berjaga di empat penjuru utama. Yonghwa dan Sandara di pos timur, Minho dan Gikwang di pos barat, Taecyeon dan Kyuhyun di pos selatan, Kris dan Hoya di pos utara. Sedangkan Yunho dan Yuri akan berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Absennya Kyungsoo dan Jongin merupakan pukulan berat untuk mereka. Walaupun kata tabib mereka akan baik-baik saja setelah sepuluh hari, bahkan katanya akan kembali sehat seperti biasa, tapi tetap saja membuat para Eifre merasa sangat khawatir.

Kekejian Drygoni ini tidak bisa ditolerir oleh Yunho. Mereka tahu kedua serigala ini masih muda dan belum mendapatkan kekuatan secara menyeluruh jadi merekalah yang diserang. Licik! Seandainya ia yang ada disana, atau Taecyeon, bisa dipastikan suku setengah ular itu akan benar-benar hancur sampai tak berbekas.

Yunho masih bisa mendengar Kris, Sandara dan ibunya terisak sesekali ketika mengunjungi Kyungsoo di kamarnya. Ia juga tidak bisa mengabaikan tangisan kedua orang tua Jongin serta kesedihan Hoya sebagai sahabat terdekat Jongin.

Untuk beberapa hari kedepan, suasana tampak aman. Semuanya terkendali dengan baik. Hingga tiba-tiba serangan lain datang, kali ini menyerang beberapa rumah dan kebun penduduk. Tidak ada yang terluka, namun kerugian materil tidak bisa dibilang sedikit.

Mereka baru saja akan menuduh Drygoni sebagai biang keladinya namun petunjuk lain datang. Mereka menemukan rambut-rambut halus berwarna cokelat tua di beberapa tempat. Dan Yunho pernah melihatnya. Heglog.

“Ini adalah kesengajaan. Mereka sengaja memberi tanda agar kita tahu merekalah pelakunya.” Gikwang menganalisis.

“Aku bahkan masih bisa mengendus bau mereka disini.” Sandara menambahkan.

“Mereka sengaja memperlihatkan diri. Tujuannya sudah jelas, mereka ingin kita menyerang.” Kata Taecyeon dengan nada kesal.

“Tapi kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu. Kita harus menyelidiki sekuat apa mereka.” Ujar Kris. Ia masih terlalu sakit hati dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Dan ia tidak akan tinggal diam kini.

Alpha, kami menunggu perintahmu.” Yuri menyentuh lengan sang Alpha yang sedaritadi tampak berpikir sendiri.

Yunho mengembuskan nafas panjang. Dengan ekspresi tegas, ia menatap teman-temannya. “Taecyeon, selidikilah Heglog sekali lagi, bawa Sandara dan Hoya bersamamu. Yuri, pergilah bersama  Gikwang dan Yonghwa, selidiki Drygoni. Kris, Kyuhyun dan Minho, pergilah ke utara, minta bantuan kepada Centaurus. Kita tidak pernah ada masalah dengan mereka, siapa tahu mereka mau membantu kita.”

“Tidak! Bagaimana denganmu, Alpha? Kau tidak boleh tinggal sendirian!” Hoya langsung memprotes ketika ia menyadari bahwa Yunho akan sendirian berjaga.

“Hoya benar, kau tidak boleh sendirian, Alpha. Menyelidiki suku-suku ini memakan waktu berhari-hari. Dan keadaan sedang tidak stabil. Bagaimana mungkin kau bisa berjaga sendirian?” Minho menambahkan dengan cemas.

“Kalian kira aku tidak bisa menjaga desa ini tanpa kalian?” Yunho mengangkat alisnya.

“Bukan begitu, jangan tersingung. Tapi kami sangat cemas padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kami pergi? Kau adalah Alpha kami, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?” kata-kata Kyuhyun yang terkesan khawatir justru terdengar sangat manja bagi Yunho.

‘Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika sesuatu terjadi padamu?’ bisik Kyuhyun di hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Yunho.

“Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Rhyfel disini bersamaku. Tempatku adalah di sini. Aku tidak boleh meninggalkan desa dalam keadaan seperti ini. Keselamatan desa ini adalah tanggung jawabku. Pergilah, semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian kembali bukan?” kata Yunho lagi, mencoba tersenyum walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

“Kami akan cepat kembali, aku berjanji.” Yonghwa menghampirinya lalu memberinya tepukan ringan di bahu. “Dan kami akan pulang dengan membawa kabar baik. Tolong jaga dirimu.”

Sandara dan Yuri segera berlari memeluk Alpha mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkan desa. Keduanya tidak menangis tapi hati mereka sangat sedih karena harus meninggalkan orang yang mereka sayangi sendirian. Karena memang Yunho tidak bisa pergi. Seluruh beban ada di pundaknya kini.

Kyuhyun adalah orang terakhir yang memeluk Yunho setelah satu persatu kawanannya melakukan hal yang sama.

“Jaga dirimu, Alpha. Tunggulah aku kembali.” Ujar Kyuhyun lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Yunho. Membuat Yunho merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Satu persatu teman-temannya bertransformasi menjadi serigala lalu berlari masuk dan menghilang ke dalam gelapnya hutan malam itu. Yunho masih berdiri disana, menatap kepergian kesembilan Werewolf perkasa yang dibanggakannya.

Tanpa ia sadari, beberapa makhluk aneh tengah mengintainya. Beberapa diantaranya bersisik seperti ular, beberapa lagi berbulu seperti tarantula.

“Ia mengutus teman-temannya untuk pergi menyelidiki suku kita. Ayo kembali dan memberitahukan anggota suku.” Kata salah satu yang bertubuh penuh sisik.

“Sangat bodoh! Baiklah, kita kembali ke tempat masing-masing.” Kata yang lain, si bungkuk penuh bulu selayaknya tarantula. “Si keparat ini akan merasakan bagaimana rasanya seluruh kawanannya dimusnahkan di tempat berbeda-beda sementara ia juga harus menyaksikan kita membantai desanya tercinta.”

Keduanya lalu tertawa bengis.

*

Yunkyu wolf

To be continued..