The Journey – Chapter 7

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 7

“Sudah sangat lama.” Kyuhyun dan Zhoumi sore itu memutuskan untuk bertemu lagi setelah pertemuan tak terduga mereka beberapa hari yang lalu.

“Apa kau pernah mendengar kabar dari Yunho-ssi?” tanya Kyuhyun.

Zhoumi terdiam. Ia tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya ia menceritakan hal yang seharusnya ia rahasiakan tentang Yunho.

Beberapa hari setelah itu, ia dan Kyuhyun bertemu lagi dan langsung menuju ke stasiun kereta api, tempat dimana mereka berharap bisa bertemu dengan Yunho.

Keduanya tampak melongok ke dalam kereta api yang akan berangkat sebentar lagi. Mencari-cari dengan cemas, dimana gerangan Yunho berada. Tapi semakin mereka cari, semakin sulit Yunho ditemukan.

Hari ini adalah hari yang sangat ditakutkan oleh Kyuhyun. Ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk bertemu cinta pertamanya itu. Karena Yunho yang ternyata hilang tanpa kabar telah berhasil masuk ke dalam jajaran staf militer atau tentara dan kini bersiap untuk berperang melawan Vietnam.

Ketika Kyuhyun telah sampai di ujung kereta api, ia nyaris putus asa karena tidak mendapati Yunho sama sekali. Namun tiba-tiba ia terhenti. Sekilas, ia seperti melihat seseorang duduk diam dengan kepala menunduk. Walaupun hanya sekilas, walaupun orang itu mengenakan topi besi, Kyuhyun tahu itu adalah Yunho-nya.

Dengan segera ia berlari kembali ke belakang dan berhenti tepat di depan jendela, dimana dibaliknya Yunho terlihat duduk dengan sedih. Kyuhyun mulai menangis. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki yang dicintainya selama bertahun-tahun itu? Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan lelaki sederhana yang membuat hari-harinya cerah itu?

Kyuhyun mengetuk jendela kaca itu. “Yunho-ya.. Yunho-ya..”

Yunho menoleh. Sesaat ia terkesima melihat siapa yang datang. Namun ketika matanya melirik Zhoumi, ia mengalihkan pandangannya. Ia berbalik, membelakangi Kyuhyun dan Zhoumi.

Tapi didengarnya Kyuhyun tetap mengetuk jendelanya dengan keras. Hatinya hancur mendengar Kyuhyun menangis di luar sana, seraya memanggil namanya. Mati-matian ia berusaha menahan tangisannya. Ia tidak ingin Kyuhyun tahu, betapa ia terlukanya.

“Yunho-ya.. Tolong kembalilah dengan selamat.. Kumohon..” Kyuhyun masih setia menangis di luar sana. “Kau harus kembali dengan selamat. Yunho-ya.. Jawab aku.. Yunho-ya..”

Kehilangan Yunho selama bertahun-tahun sudah cukup merupakan pukulan berat baginya. Apalagi ia harus menyaksikan Yunho mengabaikannya disaat lelaki itu akan pergi menentang maut.

“Yunho-ya.. Kembalilah dengan selamat..”

Yunho tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia menangis dalam diam. Wajahnya masih senantiasa berpaling dari jendela, tempat dimana Kyuhyun – yang juga menangis – berdiri disana.

Lalu terdengar bunyi peluit panjang. Bersamaan dengan itu, perlahan kereta mulai bergerak maju. Tapi Yunho tidak juga berubah pikiran, ia tetap mengabaikan dua orang yang menunggunya di luar. Semantara itu Kyuhyun dan Zhoumi ikut bergerak, seakan tidak ingin Yunho meninggalkan mereka.

“Yunho-ya..”

Kyuhyun masih memanggil nama Yunho dalam tangisnya. Yunho akhirnya menoleh, meletakkan tangannya di kaca dan memandang Kyuhyun dengan sedih ketika kereta mulai berjalan sedikit lebih cepat. Dilihatnya Kyuhyun mulai berlari mengikuti kereta di luar, di belakangnya Zhoumi ikut berlari.

Ketika akhirnya dilihatnya Kyuhyun tidak mampu mensejajarkan diri dengan jendelanya, Yunho melepas topi beratnya dengan cemas. “Kyuhyun-ah..”

Ia berlari cepat ke gerbong belakang kereta, guna mencari pintu keluar terdekat dengan posisi Kyuhyun saat ini.

Kyuhyun berlari, mengejar kereta yang berjalan semakin kencang. Tangisnya masih tetap menghiasi wajahnya. Tangannya sibuk melepaskan kalung yang menghiasi leher putihnya yang kini terbalut mantel tebal, menghalau dinginnya musim gugur kala itu. Di belakangnya, Zhomi ikut berlari.

“Kyuhyun-ah.. Zhoumi-ya..” teriak Yunho dari pintu gerbong terdekat, melihat dua orang yang disayanginya berlari mengejar keretanya.

Kyuhyun masih berlari, di telapak tangannya kini ada seuntai kalung yang dulu pernah diberikan pada Yunho tapi dikembalikan di hari Zhoumi masuk rumah sakit. Kini, ia ingin memberikannya lagi pada Yunho.

“Yunho-ya..” Kyuhyun menyerahkan kalung itu pada Yunho. Ia masih senantiasa menangis, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Yunho akan kembali dengan selamat? Apakah ia masih bisa melihat lelaki itu?

Kereta berjalan semakin cepat. Kyuhyun dan Zhoumi sudah tidak bisa lagi mensejajarkan langkah mereka dengan alat transportasi panjang itu, tak peduli sekuat apa mereka berlari.

“Yunho-ya, kembalilah dengan selamat.” Teriak Zhoumi seraya berhenti berlari. Kyuhyun pun meneriakkan hal yang sama. Lelaki itu tampak sangat terpukul dengan kepergian Yunho.

Yunho hanya bisa melambaikan tangannya. Airmatanya masih tetap mengalir. Ketika Kyuhyun dan Zhoumi semakin kecil dari pandangannya, ia terduduk di sana, memandang kalung di tangannya dengan perasaan sakit. Kalung itu sangat berharga. Berasal dari keluarga Zhoumi yang diberikan oleh Kyuhyun kepadanya. Artinya, kalung itu merupakan pemberian dari kedua orang yang sangat disayanginya.

Dengan mantap ia lalu mengenakan kalung tersebut di lehernya. Dengan tekad baru, ia menempelkan benda itu ke dadanya.

*

            Deru helikopter membahana di udara. Benda besi raksasa bermotif loreng itu terbang di atas pegunungan dan lautan di salah satu hutan Vietnam, menampung para tentara yang kini siap maju ke medan perang. Tak lama kemudian, dua helikopter itu turun dari angkasa dan mendarat sempurna di sebuah tanah lapang.

Segera setelah helikopter itu menyentuh tanah, para tentara di dalamnya berhamburan keluar seraya menggenggam erat senapan laras panjang di tangan. Dengan langkah-langkah berani, para tentara itu mulai berlari maju, menyerang ke lini depan sang lawan. Ranjau-ranjau yang meledak tak jauh dari kaki mereka sama sekali tidak menyurutkan keteguhan dan keberanian dalam diri ksatria mereka.

Yunho melompati beberapa batang pohon yang tumbang di tanah, melewati ranjau yang baru saja meledak dan memakan korban di belakangnya. Tanpa gentar ia lalu menyusup diantara teman-teman seperjuangannya, berlindung di balik sebuah batang pohon lain yang tumbang dan mulai menembaki para musuh yang berdatangan dari arah berlawanan.

DOR!

DOR!

DOR!

Seorang lelaki dari camp militer yang sama dengannya tersenyum kepadanya. Yunho tidak mengenalnya dengan baik. Ia hanya tahu lelaki itu bernama Kim Youngwoon, mereka beberapa kali berpapasan di camp dan saling menyapa. Yunho ikut tersenyum kepada lelaki tinggi besar itu.

Kemudian mereka meneruskan aksi menembak musuh. Beberapa diantara mereka telah tumbang dengan tubuh tertancap peluru dari mesiu musuh. Semakin lama, musuh yang mendekat semakin banyak, semakin membuat tim Yunho kewalahan.

DOR!

Satu tembakan lain berhasil mengenai sasaran, tubuh salah seorang tim Yunho jatuh. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi melihat siapa yang terluka karena sibuk mengisi peluru ke dalam senjatanya sendiri, hingga sebuah tangan besar meraih keras bajunya dari arah kanan.

Yunho menoleh dan mendapati Kim Youngwoon tengah kesulitan bernafas dengan sebuah luka tembak di dadanya. Bibirnya mengeluarkan darah, tubuhnya kejang-kejang. Hanya genggaman tangannya di kerah seragam Yunho yang membuatnya tampak seperti butuh teman menjelang ajalnya.

“Kopral! Kopral! Sadarlah!” teriak Yunho, berusaha menyadarkan lelaki yang tengah sekarang meregang nyawa itu. “Medis..! Aku butuh bantuan medis!” teriak Yunho lagi seraya menoleh ke kiri dan kanan, mancari bantuan.

“Bertahanlah! Bertahanlah! Kumohon bernapaslah!” Teriak Yunho frustasi seraya mengantamkan telapak tangannya berkali-kali ke dada Kim Youngwoon, airmatanya sudah tumpah melihat korban di depannya. Sementara beberapa temannya sudah mulai mundur, mereka nyaris terkepung.

“Hentikan! Dia sudah mati! Ayo pergi! Dia sudah mati bodoh!” Choi Siwon menariknya mundur, membawanya pergi dari tempat itu atau mereka akan jadi korban berikutnya.

Keduanya berlari, menghindari bom yang dilemparkan ke arah mereka juga peluru yang dengan ganas mengambil nyawa lain. Yunho masih melihat ke belakang sebelum benar-benar berlari sekuat tenaga. Satu dari orang yang dikenalnya mati di depan matanya. Ini adalah kali pertama ia mengalaminya dan entah mengapa terasa sangat berat di dadanya.

Musuh semakin dekat, dengan suara-suara lantang yang menakutkan, mereka menembaki tentara Korea Selatan dengan ganas. Yunho berlari, deru di dadanya dan sesak di tenggorokannya nyaris merobek hatinya. Ia ingin hidup, dan ia harus selamat demi Kyuhyun.

Dari jauh, Yunho bisa melihat tanah lapang dimana ia dan teman-temannya tadi diturunkan. Helikopter yang tadi membawa mereka pun sudah menunggu di sana. Ia baru akan mempercepat laju larinya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di sekeliling lehernya. Ketika ia menyentuh di sana, barulah ia menyadari bahwa kalung pemberian Kyuhyun tidak melingkar di sana seperti biasa. Ia mengingat bahwa orang terakhir yang menyentuh lehernya adalah Kim Youngwoon.

Tanpa pikir panjang, Yunho berlari ke belakang, berlawanan arah dari teman-temannya yang sedang berusaha melarikan diri menuju helikopter.

“Yunho! Kau mau kemana, bajingan! Kembali kemari!” teriak Siwon ketika melihat tindakan bodoh Yunho. “Yunho-ya! Kembali kemari!”

Sementara para tentara Korea Selatan sudah berlomba-lomba menaiki helikopter, beberapa diantaranya bahkan sudah terbang begitu holikopter yang ditumpangi penuh. Tapi Yunho tidak peduli. Ia terus berlari, menyerbu membabi buta, menghabisi siapa saja yang bisa dijangkaunya.

Kalung pemberian Kyuhyun yang juga berasal dari keluarga Zhoumi itu jauh lebih penting baginya. Seperti hartanya, jiwanya, tubuhnya. Beberapa peluru melewatinya, menggores topi bajanya, melewati belakang lehernya. Namun seolah tak kenal takut, ia terus menyerbu.

Ia tidak tahu bahwa seorang tentara Vietnam tengah terfokus menatapnya. Dengan seringai lebar, lelaki itu mengarahkan senjatanya ke tubuh Yunho. Tapi sebelum ia sempat menembak, ia menjerit kesakitan. Sebuah peluru lain meluncur masuk ke tubuhnya, ketika ia menoleh didapatinya tentara lain tengah melindungi targetnya tadi dari jauh. Tentara itu : Choi Siwon.

Siwon menganggap Yunho sudah seperti saudaranya sendiri. Berlatih bersama di camp, memenuhi panggilan Negara untuk membela tanah air dari musuh, membuat keduanya benar-benar saling mendukung.

Dan kini, ketika dilihatnya Yunho kembali ke arena tembak alih-alih menyelamatkan diri, ia segera menyusul. Apapun alasan Yunho kembali, ia tidak peduli, ia hanya ingin Yunho kembali ke Korea dengan selamat bersamanya. Ia tidak bisa mengejar Yunho terlalu jauh karena ia sendiri ditahan oleh beberapa orang sekaligus, maka ia hanya bisa melindungi sahabatnya itu dari jauh.

Yunho sudah hampir sampai ke lapangan tadi, beberapa kali ia bertemu musuh di perjalanannya, tapi dengan sigap ia menyerang dengan tembakan berulang kali.

Begitu sampai disana, ia segera menghampiri mayat Kim Youngwoon lalu meraih tangan kanan lelaki itu. Benar saja, dalam genggaman lelaki itu, ada kalung pemberian Kyuhyun. yunh berusaha melepaskannya namun genggaman Kim Youngwoon sangat kuat, membuat Yunho harus menariknya lebih keras lagi hingga akhirnya terlepas.

Yunho memandang kalung itu sebentar, mensyukuri kembalinya kalung itu ke tangannya. Ia segera menggigit liontin-nya lalu segera beranjak. Ia berlari kembali ke tanah lapang dimana helikopter dan tentara lainnya menunggu.

DOR!

Seorang lelaki dengan seragam yang sama dengannya terkena lemparan bom dan langsung membuatnya roboh ke tanah. Yunho segera menghampiri lelaki itu lalu membawanya di bahunya seraya tetap berlari.

Beban terasa sangat berat di bahunya. Tubuhnya terasa letih luar biasa. Panas yang ia rasakan begitu mengikat, membuatnya nyaris bersimpuh disana, tapi tekadnya yang kuat untuk kembali selamat membuatnya bersemangat. apalagi dengan kembalinya kalung berharganya yang kini berada diantara gigi-gigi serinya.

Para tentara Korea Selatan tengah menunggunya dengan sikap waspada. Senjata mereka terancung, kalau-kalau ada tentara Vietnam yang membuntiti Yunho atau tiba-tiba muncul disana. Semakin dekat ia dengan tentara senegara membuatnya semakin lega.

‘Aku selamat.’

Namun, ketika ia baru akan melangkahkan kakinya lagi, sebuah bom meledak tepat di depannya dengan suara menggelegar. Yunho jatuh tersungkur, begitu juga dengan lelaki di pundaknya tadi. Rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa ia akan mati sebentar lagi. Terlalu sakit, ia benar-benar tidak bisa menahan lagi.

Choi Siwon berlari ke arah sahabatnya, hatinya berdegup kencang dengan kenyataan buruk yang bisa saja menimpa Yunho. Disana, ia melihat sahabatnya dengan napas tersengal, bersimbah darah di wajahnya, dengan tubuh bergetar. Tangan Yunho yang juga bergetar itu pelan-pelan meraih kalung yang tergeletak tak jauh darinya ke dalam genggamannya.

*

            Seorang anak kecil bermain riang di dalam sebuah café kecil di pinggiran kota. Ketika melihat miniature piano berwarna hitam di atas meja, ia segera mengambilnya lalu membawanya bermain.

Cho Kyuhyun duduk dengan sabar disana, matanya tak henti-hentinya melihat ke luar jendela. Ia tampak snagat tampan hari itu, ia bahkan memilih pakaian terbaik untuk moment terbaik sepanjang hidupnya ini.

Tak lama kemudian, senyumnya terkembang ketika melihat sebuah taksi berhenti di depan café kecil itu. Dari dalamnya, turun seorang lelaki yang amat sangat dikenalnya. Jung Yunho.

Yunho melangkah pelan ke dalam café itu. Tubuhnya masih tetap tegap. Rambutnya masih tetap cepak seperti sebelum ia berangkat ke Vietnam. Dan senyumnya, masih tetap senyum yang sangat dikagumi Kyuhyun sepanjang hidupnya. Dibalut setelan jas musim gugur, lelaki itu menghampir Kyuhyun.

Dia tampan. Dan selalu tampan.’ Kyuhyun hanya bisa memikirkannya. Ia begitu terkesima melihat Yunho kembali. Begitu Yunho mengabarinya bahwa ia pulang dengan selamat ke Korea dan ingin bertemu dengannya, kebahagiaan membuncah di dada Kyuhyun saat itu. Walaupun ia harus menunggu beberapa tahun, namun ia dan Yunho akan bersatu lagi. Segera.

“Kau tidak berubah sama sekali.” Puji Yunho. Senyum khasnya masih terukir di wajahnya. “Kau tampak seperti dulu, selalu manis dan mempesona.”

“Tidak, aku semakin tua.”

Keduanya bicara dengan canggung, mengingat mereka tidak bertemu selama beberapa tahun dan perpisahan terakhir mereka bukan perpisahan yang manis. Yunho lalu mendudukkan dirinya di kursi terdekat, Kyuhyun ikut duduk di depan lelaki itu.

“Kau melewati masa-masa sulit, bukan?” tanya Kyuhyun pelan.

“Tidak juga.” Jawab Yunho, masih dengan suara canggung. “Oh.. Bagaimana kabar Zhoumi?”

Kyuhyun melirik Yunho. “Sepertinya ia baik-baik saja.”

Kyuhyun tidak ingin membiarkan Yunho tahu bahwa Zhoumi masih menginginkannya namun lelaki itu setia menunggu, ia tidak memaksakan perasaannya sama sekali karena Kyuhyun tidak ingin memikirkan lelaki lain selain Yunho.

“Mengapa kau belum juga menikah?” tanya Yunho lagi. “Aku sudah menikah.” Ia memaksakan senyum tulus di wajahnya.

Kumpulan airmata menggenang di pelupuk mata Kyuhyun ketika mendengar kata-kata Yunho barusan. Ia telah menunggu sekian lama tapi ternyata Yunho tidak memberinya kesempatan sama sekali.

“Ya, aku mendengar hal itu.” kata Kyuhyun dengan tenang, menyembunyikan perasaannya yang hancur.

“Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Tapi entah mengapa, ketika kita saling bertemu seperti ini, aku jadi melupakan segalanya.” Yunho tertawa kecil.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman. Ia membuang pandangannya ke luar jendela, berusaha keras menahan airmatanya yang hendak tumpah.

“Kau lihat piano kecil itu? Kami juga punya satu di rumah. Sama persis dengan yang itu.” kata Yunho seraya memalingkan wajahnya ke kanan.

Airmata Kyuhyun sudah jatuh. Tapi ia tidak ingin merusak acara ini, jadi ia meneruskan mendengarkan kata-kata lelaki di depannya. ia ikut menoleh ke arah dimana pandangan mata Yunho berhenti.

“Ketika aku melihatnya, aku teringat saat kau memainkan piano.” Yunho masih terus menatap ke meja itu.

Kyuhyun mendadak bingung di buatnya. Piano? Diatas meja itu hanya ada sebuah pot bunga kecil, tidak ada piano sama sekali. Piano yang tadinya ada disana sudah sedaritadi di bawa oleh anak kecil yang kini memainkannya di meja lain.

“Benar-benar seperti kau. Benarkan?” mata Yunho masih memandang ke meja itu dengan senyumnya.

Kyuhyun menatap Yunho dengan perasaan takut luar biasa. Perlahan ia menaikkan jemarinya ke depan wajah Yunho lalu menggoyang-goyangkannya. Yunho sudah berbalik menatapnya, masih dengan tatapan dan senyum yang sama, namun sama sekali tidak ada reaksi atas pergerakan jemari Kyuhyun di depan matanya.

“Waktu itu kita masih sangat muda.” Yunho melanjutkan kata-katanya.

Di depannya, Kyuhyun menutup mulutnya. Jantungnya serasa berdetak terlalu kencang. Ketakutan menyelimutinya.

“Tapi masa lalu telah pergi.”

Kyuhyun kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini jatuh sudah. Ia menahan suaranya agar tagisnya tak terdengar.

“Kupikir, perasaan kita saat itu adalah perasaan terbaik. Kita menjerit dan tertawa untuk hal-hal kecil.” Yunho masih saja terus bicara dengan lembut, masih dengan senyum dibarengi pandangan mata yang hangat.

Kyuhyun sudah benar-benar menangis kini, namun ia masih berusaha keras menyembunyikan suara tangisnya. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya itu tidak bisa melihat. Yunho buta.

“Bagaimana wajahku saat ini?” tanya Kyuhyun diantara tangisnya, berusaha membuat suara normal.

“Kau terlihat sehat.” Kata Yunho yakin. “Tapi aku ingin melihatmu lebih bahagia dari sekarang.”

“Aku sedang menangis saat ini. Tidak bisakah kau melihat air mataku?” tanya Kyuhyun. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan suara tangisnya yang keras.

Wajah Yunho berubah seketika. Ia baru saja menyadari bahwa ia salah memperkirakan raut wajah Kyuhyun sesaat tadi.

“Mengapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa kau tidak bisa melihat?” Kyuhyun menangis. Airmatanya semakin deras. Sakit yang dirasakan di hatinya begitu kuat, nyaris merobek seluruh sisa perasaannya.

Merasa penyamarannya telah terbongkar, Yunho yang sangat gugup saat itu bangkit dari duduknya. “Hari sudah sore, maaf, aku punya janji lain. Aku harus pergi.”

Yunho berbalik meninggalkan Kyuhyun. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Tapi, tanpa tongkatnya, ia tidak bisa meraba kemana arah yang seharusnya ia ambil. Detik berikutnya ia sudah jatuh tersungkur karena menabrak meja di depannya.

Yunho terpaku disana. Ia hanya bisa diam dan menangis, menyesali nasib buruk yang menimpa dirinya. Perlahan Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu menghampiri lelaki itu. masih dengan tangisnya, ia membantu Yunho berdiri.

“Maafkan aku. Tadi nyaris sempurna. Aku bisa saja berhasil melalui semua itu. Aku bahkan datang kemari tadi malam dan banyak berlatih.” Kata Yunho meminta maaf. Hatinya sakit sekali karena tidak bisa melihat wajah Kyuhyun, lelaki yang teramat dicintainya. Bahkan melihat setitik airmatanya pun ia tidak bisa.

“Kau hampir saja membodohiku. Kau benar-benar bekerja keras. Aku nyaris saja percaya.” Kata Kyuhyun, tersenyum dalam tangisnya.

Yunho merogoh kantongnya lalu mengeluarkan kalung pemberian Kyuhyun beberapa tahun lalu. “Aku.. mempertaruhkan nyawaku untuk mengembalikan kalung ini kepadamu.”

Ia hendak memakaikan kalung itu ke leher Kyuhyun namun Kyuhyun meraihnya. “Jangan.. Kalung ini adalah milikmu.” Kyuhyun lalu melingkarkan kalung itu ke leher Yunho.

Begitu kalung itu melekat sempurna ke lehernya, tangis Yunho kembali pecah. Ia memberanikan diri mengakat tangannya, membelai pipi halus Kyuhun yang saat itu tengah bermandikan air mata.

Cinta mereka hanya sampai disana. Yunho benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun dan tidak pernah kembali sama sekali. Membuat Kyuhyun akhirnya menerima perjodohan ayahnya dengan Zhoumi dan menikahi lelaki jangkung itu. Bahkan, di hari pernikahannya, Kyuhyun masih saja menitikkan airmata. Menangisi cinta pertamanya yang hilang, cinta sejatinya yang pergi dan cinta terakhirnya yang tidak pernah bisa ia dapatkan kembali.

Yunho the journey 7

TBC

The Journey – Chapter 5

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 5

Kyuhyun membuka matanya perlahan, begitu matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia tersentak melihat seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh wajahnya dengan malu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini?”

Yunho tersenyum. “Mengapa kau menutupi wajahmu.” Ia berusaha menarik selimut Kyuhyun.

“Hentikan. Aku bahkan belum membasuh wajahku yang kotor.”

“Tapi kau tetap manis di mataku.”

Kyuhyun mengabaikan rayuan Yunho. “Kenapa kau tahu aku ada disini?”

“Aku tahu dari Zhoumi.”

Kyuhyun tertawa mendengarnya.

“Mengapa kau tertawa?”

“Kudengar kau meminum 32 butir obat cacing.” Kyuhyun masih terus tertawa.

Yunho ikut tertawa karenanya. “Zhoumi jahat itu. Mulutnya benar-benar besar. Sial! Apa dia mengatakan hal lainnya?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Ia kemudian membuka selimutnya lalu menjawab. “Tidak. Setelah diam selama beberapa saat, ia pergi.”

“Benarkah?”

Kyuhyun mengangguk.

“Dia benar-benar aneh.” Yunho menatap Kyuhyun. “Apa sakitmu cukup parah?”

Kembali Kyuhyun mengangguk.

“Maafkan aku. Saat itu aku benar-benar tolol. Selain mencintaimu, aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan.”

Kyuhyun tersenyum. “Kau slaah. Kau punya banyak hal yang bisa dibanggakan.”Seperti basah kuyup tersiram hujan dan meminum pil cacing dengan jumlah yang cukup banyak.”

Yunho menyadari bahwa Kyuhyun mencoba bercanda. “Jangan tertawa. Ini serius. Aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita pada Zhoumi. Jadi kita bisa melanjutkan hubungan ini.”

Saat itu Yunho mendengar ada suara langkah-langkah kaki di luar. “Apa ini kamarnya?”

“Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa.” Ia kemudia mencium pipi Kyuhyun sekilas lalu bergegas pergi. Tapi ketika ia akan membuka pintu, benda yang terbuat dari kayu itu mulai terkuak. Yunho segera mundur lalu bersembunyi di balik selimut di atas tempat tidur.

Beberapa orang masuk ke ruangan itu. seorang lelaki paruh baya berpakaian resmi masuk dan berkata. “Oh anakku yang malang, kenapa kau bisa kehujanan seperti itu?”

Kyuhyun hendak bangkit dari tidurnya dan memberi salam. Tapi lelaki itu menolak. “Berbaringlah. Demammu bisa ditangani segera. Kau bisa terkena pneumonia.”

Pelan-pelan Yunho bangkit dari tidurnya lalu berjalan pelan ke pintu saat semua mata disana memandang ke tempat tidur Kyuhyun.

“Apa kau makan dengan baik? Kau harus memakan makanan sehat agar cepat sembuh.”

Namun Kyuhyun tidak memperhatikan dengan baik. Ia melihat Yunho yang hendak keluar ke pintu dengan panik. Ketiga orang lainnya yang ada disana menoleh ke belakang.

Gerakan Yunho yang mengendap-endap masuk ke sebuah ruangan kecil, berusaha untuk lolos terhenti ketika ia menyadari semua orang memergokinya.

“Ah…m…maaf. Se…sepertinya aku salah ruangan.” Ucapnya gugup sebelum ia membungkukan badannya dan menutup pintu dengan kikuk.

Kyuhyun sendiri hanya meringis, merutuki kebodohan namja tersebut yang jelas-jelas memang ‘salah ruangan’.

Sang dokter hanya menghela nafas pelan seraya melangkah menuju ruangan tempat Yunho masuk. Ia membuka pintu tersebut tanpa berkata apapun.

Yunho terkesiap, ia baru menyadari memang dirinya telah salah masuk ruangan ketika melihat satu stel seragam Kyuhyun menggantung di belakangnya. Ruangan yang baru saja ia masuki ternyata adalah sebuah lemari gantung.

“Hahaha, ternyata memang benar salah ruangan…” tawanya semakin gugup dengan menunjuk seragam Kyu yang tergantung. Tanpa sepatah kata pun, ia menundukan tubuhnya dengan memegang erat tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan pasien.

Sementara Kyu hanya tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya.

*

Yunho membalikan tubuhnya ketika ia merasakan seseorang telah berdiri di belakangnya.

“Kepalkan tanganmu.” Pinta namja tersebut pada seseorang yang kini telah berdiri di hadapannya. Tak lupa ia juga ikut mengepalkan tangannya memberi contoh.

Zhoumi, namja tersebut memandang kedua tangannya bingung sebelum ia menuruti permintaan sahabatnya.

“Naikkan kepalanmu seperti ini.” Yunho memasang posisi siaga dengan kedua tangannya yang mengepal erat.

Lagi, Zhoumi pun menurutinya meskipun ia sendiri masih tampak bingung.

Yunho menghela nafas kasar dan menatap lurus pada retina milik lelaki jangkung  yang ada di hadapannya.

“Sekarang, pukul aku.” Pinta Yunho tanpa ragu. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun memejamkan matanya. Menunggu apa yang akan Zhoumi lakukan padanya.

“Kenapa aku harus memukulmu?”

“Lakukan saja dan segera pukul aku!”

“Aku tidak suka memukul ataupun di pukuli oleh orang lain.” Jawab Zhoumi dengan ekspresi wajahnya yang datar.

“Ya!” ia berteriak meminta perhatian Zhoumi. “Kyuhyun. Kami sudah saling mengenal satu sama lain.” Dengan nada tegas ia mencoba menjelaskan kenyataan yang telah ia sembunyikan pada sahabat sekaligus tunangan lelaki yang ia cintai.

Zhoumi sedikit terkejut mendengar ucapan Yunho. Namun ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari wajahnya sebelum ia membalikan tubuhnya dan memilih untuk pergi meninggalkan Yunho dengan terbahak keras.

“Sebenarnya dia yang memberikan kalung ini padaku musim panas lalu!” Teriak namja Jung itu tak memperdulikan Zhomi yang melangkah menjauh darinya.

Awalnya Zhoumi mengacuhkan teriakan tersebut dengan tetap berjalan meninggalkan Yunho. Namun tiba-tiba saja keseimbangan tubuhnya hilang dan membuatnya jatuh tersungkur di tanah lapang tempatnya berpijak.

Sesegera mungkin Yunho berlari menyusul Zhoumi. “Zhoumi-ya, gwenchana?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Sialan. Aku terjatuh lagi.” Rutuk Zhoumi dengan heran. Ia mendesis kesal dengan kebiasaannya yang akhir-akhir ini sering terjatuh tanpa ia ketahui penyebabnya. Ia pun bangkit dari posisinya dan membersihkan seragamnya yang terkena debu dan rumput kering.

“Kau tak perlu khawatir.” Ia bangkit dan berdiri membelakangi Yunho yang berdiri kaku di belakangnya. “Mengenai hal itu, jangan biarkan ayahku melihat kalung tersebut.  Jika tidak, ia pasti akan murka.”

Ia menunduk sekilas, memilih kata yang tepat untuk di ucapkan pada sahabatnya.

“Karena kalung tersebut adalah hadiah pemberian ayahku…” Ia membalikkan wajahnya, menatap Yunho yang tampak menunggu kelanjutan kalimat yang akan ia ucapkan. “… hadiah khusus yang di berikan ayahku untuk Kyuhyun.”

Yunho membeku di tempatnya. Ia tak berusaha menghentikan langkah Zhoumi yang lagi-lagi menjauh darinya. Rasa bersalah di hati semakin dirasakannya setelah mengetahui hal tersebut. Terlebih, saat melihat ekspresi muram dari wajah sahabatnya itu.

*

           Libur musim dingin telah tiba. Yunho pun memilih menghabiskan waktu liburnya di kota tempat pamannya  tinggal. Kota dimana ia pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, namja manis yang sangat ia cintai.

Dan semenjak itulah ia tidak bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun. Hingga ia berpikir bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi selamanya. Namun kekhawatirannya sirna ketika suatu hari ia mendapat sebuah  kiriman surat yang di antar oleh tukang pos.

            Bogoshipo…

            Aku sangat merindukanmu hingga kurasa aku akan mati karenanya. Dan aku penasaran, seberapa banyakkah sungai kenangan kita berubah. Sampaikan salamku pada rumah hantu yang dulu kita kunjungi, pada bangku dan pada deretan perahu dayung di tepi sungai kita. Katakan jika aku merindukan mereka, dan aku akan melakukan yang terbaik.

            Kemarin Zhoumi datang menemuiku dan memberiku alamat tempat tinggal  pamanmu. Selain itu, ia  juga membuat pengakuan padaku yang membuatku sangat terkejut. Ia mengatakan jika kaulah yang selama ini menuliskan suratnya untukku. Huh…bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan kebenaran itu dariku?

            Tapi, tak apa. Padahal awalnya nyaris saja aku membuang surat-surat tersebut. Tapi saat ini aku bisa membacanya lagi dengan memikirkanmu setiap waktu.

            Zhomi juga memberikan saran. Jika kau bisa menggunakan namanya untuk dapat tetap bertukar surat denganku. Jadi orang tuaku nanti akan menganggap bahwa aku dan Zhoumi masih tetap saling bertukar surat.

*

Kyuhyun menundukkan kepalanya ketika ia mendapati appa-nya tengah berdiri di ambang pintu kamar yang baru saja ia buka. Namja peruh baya itu tersenyum sekilas dan  memberikan sebuah surat yang pada sampulnya tertulis nama’ Zhoumi’.

Ia mengucapkan terima kasih pada sang appa sebelum ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ekspresinya seketika berubah riang dengan melonjak-lonjakan tubuhnya karena girang. Tanpa membuang waktu ia pun mendudukkan diri di meja belajarnya untuk membaca surat yang ia dapat yang tidak lain adalah surat dari Jung Yunho, lelaki terkasihnya.

Lihatlah keluar jendela,

Jika terdapat ranting yang jatuh dan terbawa oleh hembusan angin,

Itu berarti orang yang kau cintai adalah orang yang juga mencintaimu…

*

Kyuhyun :

Saat ini, salju sedang turun diluar sana.

Ketika salju pertama turun,

Mereka mengatakan padaku jika ‘kau harus pergi berkencan dengan orang  yang kau cintai’. Tapi yang ku lakukan saat ini  hanyalah menulis surat.

Yunho-ssi, aku sangat merindukanmu. Aku akan menemui appa dan meminta izin  untuk berkunjung ke tempat kakek. Jika aku di ijinkan, aku berjanji akan mengirimimu telegram.

*

Yunho :

Bukalah telingamu,

Jika kau mendengar detakan jantungmu sendiri, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga .

Pejamkanlah matamu.

Jika bibirmu menyunggingkan sebuah senyuman, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga.

*

        Salju berhenti turun siang itu. Meskipun demikian, seluruh permukaan kota tetap tertutup oleh salju putih yang turun semalam.

Di sebuah jalanan kota, terlihat seorang namja manis berbalut mantel panjang serta syal yang melingkar di lehernya melangkah dengan senyum cerah terpatri di bibirnya. Udara dingin seolah tidak menyurutkan kebahagiaannya ketika kakinya melangkah menuju sebuah gedung yang akan ia tuju.  Ia berniat mengirim telegram pada lelaki yang sangat ia rindukan. Sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Yunho melalui surat terakhir yang ia kirim.

“Aku ingin mengirim telegram.” Ucap namja manis tersebut pada seorang petugas ketika ia telah sampai di kantor post. Sesekali ia menggosokan tangannya untuk menghangatkan dirinya yang kedinginan. Bahkan kedua pipinya kini tampak merona, perpaduan dengan rasa bahagia dan dingin yang ia rasakan.

“Silahkan tuliskan pesanmu di sini.” Pinta sang petugas mengangsurkan secarik iertas padanya.

“Ne…”

Kyuhyun menggigit jarinya. Bahkan memikirkan namanya saja membuatnya sangat gugup.Ia bingung pesan apa yang harus ia sampaikan pada Yunho. Meskipun sebenarnya ia sudah menyiapkan apa yang akan ia tulis dari rumah  namun entah kenapa apa tiba-tiba semuanya terlupakan.

*

         Takdir memang tidak selalu berpihak pada setiap orang. Itulah kalimat klasik yang menggambarkan keadaan yang seseorang tidak ia inginkan. Hal itu pulalah yang terjadi antara Yunho dan Kyuhyun.

Hal itu bermula ketika suatu hari, salah satu surat yang Kyuhyun tulis terkirim ke rumah Zhomi.

“Kyuhyun mencintai Yunho, appa.” ucap Zhoumi takut-takut ketika sang appa meminta penjelasan mengenai surat tersebut. “Aku tidak mencintai Kyuhyun. Mereka berdua saling mencintai. Oleh karena itulah aku memilih untuk mundur dan menyerah.”

Sesekali  Zhoumi menatap appa-nya yang rahangnya telah mengatup keras dengan sorot  mata yang mengintimidasinya. Dan ia bersumpah jika ia melihat salah satu tangan ayahnya bergerak melepas ikat pinggang yang ia kenakan dari celananya.

Mengabaikan pergerakan ayahnya, ia terus berucap mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dua orang yang saling mencintai sudah seharusnya bersama, bukan? Aku tidak apa-apa.”

Perlahan Zhoumi mendongakan wajahnya melihat ayahnya bangkit dari posisi duduknya dengan tangannya yang memegang ikat pinggang yang berhasil ia lepas.

“A…ani. Aku…aku mencintai Kyuhyun juga, appa. Aku tidak akan menyerah. ”  pekik Zhoumi tergagap, beringsut dari duduknya menjauhi ayahnya yang terlihat sangat murka.

“Apa kau sedang mengejek appa?” desis ayahnya dengan suara beratnya.”Kau selalu berbuat semaumu sendiri, hm?”

Slapp!

Tak segan Mr. Zhou mengayunkan ikat pinggangnya pada Zhoumi yang meringkuk di hadapannya.

“Jadi kau menganggap orang tuamu tidak berarti apa-apa, hah?!”

Slapp!

“Arrggh!”

Slapp!

“Apa kau tidak tahu Kyuhyun itu siapa, hah?! Dia adalah putra dari kongresman!”

Slapp!

Slapp!

“Arrgghh…!”

Slapp!

“Kau tahu artinya, bocah? Kau pantas mati! Kau bahkan tidak bisa mempertahankan harga diri seorang pria!”

Slapp!

Slapp!

Sementara di lain ruangan, tepatnya di balik dinding rumah tersebut, seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah eomma Zhomi, hanya mampu terisak tertahan melihat  putranya di pukuli oleh suaminya sendiri tanpa mampu berbuat apapun.

Keadaan menegangkan juga terjadi di kediaman Kyuhyun. Dimana ia yang baru saja pulang dari kantor post, langsung masuk ke kamarnya dan mendapati sang ayah tengah duduk di meja belajarnya. Tentu saja dengan sebuah surat yang tergenggam dalam tangan kokoh pria tersebut.

Melihat hal itu, Kyuhyun hanya menahan nafasnya yang tercekat. Menyadari jika apa yang selama ini telah ia sembunyikan rapat-rapat, telah terbongkar tanpa menyisakan apapun.

Dan saat itulah, akhir dari musim dingin. Musim dimana seseorang nan jauh disana harus rela kehilangan harapan serta angannya yang telah membumbung tinggi…

*

          Istirahat sekolah, di sebuah perpustakaan yang tampak lengang itu. Terlihat dua orang namja berseragam hitam tampak duduk saling berhadapan yang terpisahkan oleh sebuah meja. Satu dari mereka tampak tengah larut pada buku yang tengah ia baca sementara namja yang lain tampak menyandarkan tubuh jangkungnya pada kursi yang ia duduki.

Tanpa melepaskan tatapannya dari Yunho, namja yang tengah membaca buku, pria tinggi yang tidak lain adalah Zhoumi, menggerakan tangannya untuk melepas ikat pinggang yang ia kenakan.

Slapp!

Yunho terlonjak ketika ia merasakan seseorang mengayunkan ikat pinggangnya di meja hadapannya. Ia mengerutkan keningnya bingung menatap Zhoumi yang tangah menggenggam erat ikat pinggangnya.

“Yunho-ya, Kau tahu ini apa?”

“Ikat pinggang?” tanya Yunho balik dengan ekspresi malas. Ia kembali menekuni buku yang tengah ia baca tanpa menghiraukan Zhoumi.

“Bukan. Ini adalah cambuk.” Tukas Zhoumi seraya bangkit dari duduknya.”Si bajingan  inilah yang telah memukuliku.”

Yunho hanya melirik sekilas tanpa berniat melupakan bukunya.

“Appa-ku sebenarnya tidak ingin menyakitiku, tapi benda ini tetap saja memukuliku.  Itulah sebabnya aku menggenggam benda ini.” Lelaki tinggi itu menyeringai, masih dengan menggenggam ikat pinggangnya. Seolah ia sangat membenci pada benda sejenis yang kemarin ayahnya gunakan untuk memukulinya “Bagaimana aku harus menghukumnya?”

Yunho kini tengah mengamati pergerakan Zhoumi. Satu tangannya terlihat menopang dagu diatas meja.

“Hukuman mati.” Jawab Yunho enteng di barengi dengan senyuman sinisnya.

Zhoumi menjentikan jarinya. ”Itulah yang aku pikirkan.”

Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho. “Membunuhnya secara perlahan dan menyakitkan?”bisiknya. Sang lawan bicara hanya mengerjapkan matanya tanpa membalas ucapannya.

“Atau paksa dia untuk mati perlahan. Atau berikan obat tidur?”

“Cekik dia hingga mati.” Desis Yunho dari sela bibir berbentuk hatinya.

Zhoumi terdiam dan menatap tajam pria bermata musang dihadapannya. “Ide yang bagus.” Ia menyeringai. Kemudian ia mengedipkan satu matanya.

Ia lalu menjauhkan wajahnya dari Yunho dan menghela nafas panjang. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

“Yunho-ya, jagalah Kyuhyun dengan baik.”

Itulah kata terakhir yang Zhoumi katakan sebelum ia melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

*

          Upacara si tengah terik matahari telah menjadi seremoni rutin di sekolah militer. Begitu pun juga tempat Yunho dan Zhoumi bersekolah. Kali ini, seluruh siswa yang notabene berisi namja tengah melangsungkan upacara di halaman sekolah. Kepala sekolah tampak sangat berapi-api memberi sambutan dan berdiri di podium.

Seluruh siswa mendengarkannya dengan khidmat. Namun perhatian beberapa dari siswa tersebut terpecah ketika ia melihat salah seorang siswa yang berdiri di barisan paling depan tiba-tiba jatuh dan ambruk.

Yunho yang mengetahui kejadian tersebut pun melongokkan kepalanya sedikit untuk mengetahui siapa siswa yang jatuh pingsan. Tampak dua orang siswa membantu namja yang pingsan dan menggendongnya di punggungnya. Dan Yunho hanya mampu tersenyum dan mendecih ketika Zhoumi, siswa pingsan yang berada dalam gendongan temannya itu, menyeringai ke arahnya.

*

             Tampak sesosok tubuh terbaring di bangsal ruang kesehatan sekolah. Pria tersebut mengerjapkan matanya ketika ia bangun dari tidurnya dan bangkit perlahan dari tempatnya berbaring. Sejenak, ia merogoh saku celana seragamnya dan mengambil sebuah kertas berbentuk persegi panjang.

Ia lalu mengiris bagian tengah dari kertas tersebut dengan sebuah cutter dengan beralaskan meja. Setelah itu ia pun memasangkan bagian kertas yang telah berlubang itu dan menyelipkannya di kancing baju seragamnya. Ia mematutkan dirinya di depan cermin. kali ini ia tampak seperti seorang pastur dengan seragam hitam  dan kertas putih yang terdapat di dadanya. Ia tersenyum puas ketika melihat bayangannya sendiri terpantul dalam cermin di hadapannya.

*

         Yunho melangkahkan kakinya dengan tergesa di koridor sekolah. Ia ingin memastikan keadaan Zhoumi yang ia ketahui tengah berada di ruang kesehatan. Ia membuka pintu kaca di depannya tanpa mengucapkan salam atau apapun.

Ia menggaruk kepalanya. Sedikit heran ketika ia memasuki ruang kesehatan namun tak mendapati seorang pun di dalamnya. ia menatap bangsa yang berjejer pun tampak kosong. Perlahan ia menoleh ke arah sudut ruangan ketika ia sudut matanya menangkap siluet hitam tergantung.

Dan seketika ia berlari ke sudut ruangan tersebut hingga ia menubruk sofa ketika ia mendapati tubuh Zhoumi telah tergantug di sebuah besi di sudut ruangan.

“Zhoumi-ya! “ pekikinya seraya memeluk kaki sahabatnya yang telah lemas tak berdaya.

“Seseorang! Tolong! Tolong! Ada orang sekarat di sini!” teriaknya kalap berharap seseorang mendengarnya.

“Zhoumi-ya! Dasar bodoh!” teriaknya panik. “Zhoumi-ya! Bertahanlah! Zhoumi-ya!” Ia sedikit mengangkat kaki Zhomi berharap usahanya tidak terlalu membuat leher Zhoumi tercekik dengan ikat pinggang yang menjerat kuat di lehernya.

“Seseorang! Tolong! Tolong!” teriaknya lagi dengan air matanya yang telah mengalir deras. “Zhomui-ya, kumohon. Bertahanlah. Bertahanlah!”

Isakan Yunho semakin menjadi ketika ia mendapati busa telah mengalir dari sudut bibir sahabatnya. “Aku memintamu untuk membunuh ikat pinggang itu, bukan dirimu sendiri. Zhoumi-ya, sadarlah…! Buka matamu!”

“Jangan mati. Jangan mati…” ratap Yunho memohon, “Jangan mati, bodoh!”

“Bernafaslah!” Pekiknya keras tanpa memperdulikan orang-orang yang berdatangan mencoba membantunya.

zhoumi The Journey 5

TBC

The Journey – Chapter 4

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 4

Present Days

Suara merdu yang mengalun dengan ritme yang teratur terdengar dari ruang musik yang kini terdapat beberapa mahasiswa yang tengah memainkan biolanya. Dengan langkah sedikit berjingkat, Kyujin melangkah masuk dan mendudukan diri di salah satu kursi kosong yang terdapat partitur nada di depannya.

Dengan cekatan ia mengeluarkan biola kesayangannya dari dalam tasnya. Baru saja ia akan mengambil nada, alunan musik gesek itu berhenti. Tanda jika lagu yang dimainkan telah selesai. Ia hanya meringis kecil ketika melihat teman-temannya beranjak meninggalkan ruangan.

“Whuuu…”

Taemin memasuki ruangan musik dengan mengenakan sepatu rodanya. Ia berhenti tepat dihadapan Kyu yang tampak berubah ekspresi enggan ketika melihat Taemin datang.

“Kartunya.” Pinta namja berambut hitam itu seraya mendudukan diri disamping Kyujin. Kyujin mengambil kartu tersebut dari dalam tas biolanya.

“Haaah! Seharusnya aku tahu jika ada kartu dalam kado itu untukku.”

Kyujin hanya memutar bola matanya jengah mendengar rengekan Taemin yang saat ini tengah memeluk kartu ucapan itu.

*

Seorang namja tampak tengah berlari diantara guyuran hujan dipelataran kampus. Dengan langkah tergesa ia menuju sebuah bangku dibawah pohon untuk berteduh. Setelah meletakan tas biolanya di kursi, ia mengusap lengan baju panjangnya mencoba mengeringkan pakaiannya yang sedikit basah.

Ia mengamati sekelilingnya yang terlihat beberapa orang tengah berlarian menghindari hujan karena tidak megenakan payung. Seketika ia terkejut dan membelalakan matanya tidak percaya ketika ia melihat seorang namja tinggi yang  berlari ditengah hujan menuju tempatnya berdiri. Ia membalikan tubuhnya. Berusaha menghindar dan berpura-pura tidak melihat namja yang ia ketahui telah berada dibelakangnya.

“Kyujin-ah?” Panggil namja tersebut ketika ia menyadari jika seseorang yang membelakanginya adalah Kyujin.

“Oh, Anyeonghaseyo…” Sapa Kyujin kikuk sebelum ia membelakangi namja tersebut yang tidak lain adalah Changmin.

Changmin tersenyum. Ia kemudian berjalan kehadapan Kyujin yang menatapnya penasaran.

“Kau akan pergi kemana?” tukas Changmin pada Kyujin yang akan kabur dari sana karena gugup.

Kyujin terdiam ditempatnya berdiri. “Perpustakaan.” Jawabnya singkat.

“Apa letaknya jauh?”

“Aniyo. Tidak begitu jauh dari sini. Aku tidak akan kehujanan dan basah jika aku berhenti di setiap gedung.” Jelas Kyujin menunjuk beberapa gedung yang terlihat.

Tanpa menjawab apapun, Changmin melepaskan jaket cream yang ia kenakan. Ia juga mencangklongkan tas biola milik Kyujin di pundaknya. Sedangkan pemiliknya hanya mengerutkan keningnya heran.

“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana.” Changmin tersenyum seraya menunjukan jaket yang ada ditangannya. “..dengan payungku.”

Namja tinggi tersebut mendekatkan dirinya pada Kyujin untuk memayungi tubuh mereka dengan jaket miliknya.

“Kau lihat gedung itu? Kita akan berlari dari bangku ini dan berhenti disana.” Changmin memberi instruksi pada Kyujin yang mendongak menatapnya.

“Satu..Dua…Tiga!”

Mereka berdua berlari bersama meninggalkan tempat berteduhnya. Menuruni undakan dengan langkah yang seirama. Tak dihiraukannya lagi kecipak air yang membasahi celana mereka berdua. Sesekali mereka saling menatap dengan senyum cerah tersungging di bibir. Sangat kontras dengan cuaca saat ini yang cenderung gelap karena mendung. Dengan langkah yang tetap sama, mereka menaiki undakan menuju gedung pertama yang mereka singgahi.

“Arrh..!” Changmin mengibaskan jaketnya sekedar untuk mengeringkannya agar tidak terlalu basah. Sementara Kyujin sendiri tengah mengusap rambut ikal sewarna madunya yang basah. Mereka mendongak, menatap hujan yang masih deras. Tampak keduanya terasa canggung berdiri dengan jarak sedekat itu.

Beberapa saat kemudian, Changmin memayungi kembali tubuh keduanya yang mau tidak mau membuat Kyujin merapatkan diri dengan tubuh Changmin. Menuruni undakan dan berlari lagi. Dengan satu tangannya Kyujin memegangi ranselnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya.

Tidak lama kemudian mereka kembali berhenti di sebuah pintu masuk yang beratap. “Kau tidak apa-apa?” tanya Changmin memastikan dengan menggulung lengan kaus panjang berwarna biru yang ia kenakan.

“Ne…” hanya kata itu yang terlontar dari bibir Kyujin dengan wajahnya yang merona.

Changmin kembali memayungi tubuh mereka berdua. Menatap lelaki di sebelahnya  seolah memintanya untuk bersiap sebelum mereka berlari kembali. Lagi, mereka berlari menuruni jalan aspal yang basah. Melewati orang-orang disekitarnya yang berlalu lalang dengan payung di tangan. Hingga pada akhirnya keduanya sampai di perpustakaan tempat mereka tuju.

Tawa Kyujin lepas saat ia melihat payung kepala milik seseorang yang berjalan di hadapannya terlepas dari ikatan di kepalanya. Namun tawanya terhenti ketika ia menyadari kini Changmin tengah menatapnya. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona.

“Jeongmal gomawo, Changmin hyung. Karena mengantarku kau jadi basah seperti ini.”

“Gwenchana. Tidak lama lagi  juga ini akan segera kering.” Jawab Changmin seraya memberikan tas biola pada namja manis yang sedikit lebih pendek darinya.

Kyu tersenyum sungkan. ”Aku harus masuk. Sekali lagi terima kasih banyak…” Ia menundukan tubuhnya sekilas.

“Ne. Sampai bertemu lagi..”

“Ne…” gumam Kyu melangkah masuk ke perpustakaan. Senyumnya tidak dapat ia sembunyikan sepanjang ia melangkah. Hatinya serasa meledak karena terlalu bahagia saat ini.

Ia berlari secepat ia mampu menaiki tangga menuju lantai dua saat ia melihat sosok Changmin juga berlari meninggalkan gedung perpustakaan. Ia lalu menuju jendela yang menghadap ke jalan umum. Mencari sosok namja yang baru saja mengantarnya dari balik kaca yang lembap karena tetesan hujan. Seketika ia menyembunyikan diri di balik dinding ketika ia melihat Changmin yang ada di jalan menatap kearahnya.

‘Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi’ batinnya berkata dengan nafasnya yang masih terengah. ‘Tapi, kenapa perpustakaan terasa begitu dekat?’ Rutuknya kembali memandang ke arah jalanan diluar.

*

Past Days

Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat. Para lelaki mendengarkan wejangan dari sang kepala sekolah dalam diam. Tiba-tiba seseorang dari barisan kedua dari depan jatuh pingsan. Beberapa lelaki yang ada disana langsung menghampirinya dan membawanya pergi.

“Dia belum membalas suratku.” Kata Zhoumi pada Yunho. Keduanya berdiri di barisan tengah.

“Kyuhyun-ssi?” tanya Yunho.

“Ya.” Zhoumi mengangguk.

“Kenapa?” tanya Yunho lagi.

“Aku tidak tahu.” Ekspresi wajah Zhoumi terlihat datar. “Seperti yang kau tahu, aku bukan tipe orang yag gampang jatuh cinta. Tapi yang ini berbeda. Aku benar-benar menyukainya.”

Setelah berkata demikian, Zhoumi jatuh pingsan.

*

            Sepulang sekolah Zhoumi mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berdiri cukup lama di depan halaman rumah besar itu, menunggu Kyuhyun keluar. Kyuhyun cukup terkejut melihat siapa yang datang siang itu.

“Zhoumi-ssi?”

“Anneyong haseyo.” Sapa Zhoumi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Aku menunggumu sedari tadi.” Ia lalu menyerahkan sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikannya di balik bahu lebarnya. “Terimalah bunga-bunga ini.”

Kyuhyun memandang bunga-bunga itu dengan tatapan ragu, namun akhirnya ia menerimanya juga.

“Aku menyukaimu, Kyuhyun-ssi.” Kata Zhoumi setelah mengumpulkan keberaniannya. Ia lalu meraih kedua pundak Kyuhyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki imut di depannya. Setelah beberapa detik, ia lalu mencium kening Kyuhyun. “Kumohon, tetaplah mengirimiku surat.”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Zhoumi berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, lututnya terasa goyah, kembali ia terjatuh. Namun dengan cepat ia bangkit.

“Ini aneh. Mengapa aku terus menerus terjatuh? Apa aku jadi seperti ini karena aku terlalu tinggi?” tanya Zhoumi pada dirinya sendiri dengan bingung.

*

            Yunho dan Kyuhyun berlari-lari dengan semangat menaiki tangga batu di malam di musim gugur yang cerah itu. Ketika keduanya cukup lelah, mereka berhenti. Seraya mengatur nafas, keduanya saling menatap dalam diam. Tiba-tiba Yunho maju dan mencium Kyuhyun.

“Aku kehabisan nafas.” Elak Kyuhyun seraya mendorong tubuh Yunho. Ia sendiri tidak bisa mengartikan apa ia memang kehabisan nafas atau ia terlalu malu dicium oleh lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu atau bahkan karena sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan ini.

Yunho segera menyadari bahwa Kyuhyun benar. Namun kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia lalu duduk dan berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu, seraya meredam rasa malunya atas penolakan Kyuhyun.

Melihat itu, dengan rasa bersalah Kyuhyun ikut duduk di samping Yunho, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Yunho lalu meregangkan tangannya dan merangkul tubuh kurus Kyuhyun. Keduanya terdiam cukup lama.

“Kau menolakku karena Zhoumi kan?” tanya Yunho. Akhirnya ia berani juga menyampaikan apa yang tengah dipikirkan atas penolakan tadi.

“Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku..” kata Kyuhyun sedih.

Yunho menghela nafas. “Zhoumi adalah bajingan busuk.” Ia cukup mengenal Zhoumi yang suka mengencani banyak gadis. Dan ia tidak sanggup melihat Kyuhyun jatuh ke pelukan lelaki seperti sahabatnya itu.

“Tidak.. Ia adalah lelaki yang baik.” bela Kyuhyun.

“Ia merupakan lelaki bajingan karena ia baik hati.” Kata Yunho seraya tersenyum kecut. “Zhoumi menunggu suratmu.”

Kyuhyun mendengarnya. Mendengar nada sakit hati dalam suara kekasihnya itu. perlahan ia mengangkat wajahnya, memandang wajah tampan Yunho. “Tidak ada harapan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk hubungan ini.”

“Jangan bicara seperti itu. Pasti akan ada jalan.” Kata Yunho menguatkan hati Kyuhyun. Ia kembali mencoba mencium lelaki itu. Namun dengan cepat Kyuhyun lagi-lagi menghindar.

“Tidak.. Sudah tidak ada jalan lagi. Sudah tidak ada lagi. Kita hanya akan semakin terluka jika kita bertahan.”

Yunho mendekati Kyuhyun. “Hal ini akan berjalan dengan baik, percayalah.”

Kyuhyun menoleh. “Aku tidak akan menemuimu lagi, begitu juga dengan Zhoumi. Aku serius. Aku tidak akan bertemu kalian berdua lagi.”

Kyuhyun tahu, hal ini menyakitkan. Baik untuknya, Yunho maupun Zhoumi. Namun ia harus melakukannya. Ia tidak mungkin membiarkan dua sahabat itu saling menikam dari belakang jika ia memilih salah satunya. Yang satu adalah lelaki yang dicintainya, sementara yang lain adalah lelaki pilihan orang tuanya.

*

            Pagi itu ketika Zhoumi turun dari mobil mewah milik keluarganya, Jungmo, sang senior sekolah melihatnya. Begitu mobil mewah itu berlalu, senior tadi memanggil Zhoumi. “Hey limousine boy. Kemari kau.”

Zhoumi berjalan mendekati sang senior dengan wajah datar. Padahal di depannya, Jay menggenggam sebuah tongkat pemukul. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dipukuli karena terlambat.

Limousine boy, lupa memberi hormat padaku?” tanya Jungmo lagi. “Oh.. Jadi kau memang tidak mau memberi hormat? Aha.. Karena kau mempunyai seorang supir layaknya tuan besar maka kau tidak perlu menghormati seniormu, begitu?”

Zhoumi tidak menjawab, sebaliknya ia malah tersenyum mengejek dengan beraninya. Jungmo semakin jengkel karenanya. “Lihat, pin-mu tidak kau pasang dengan baik dan kemejamu tidak terkancing. Baiklah.. Hari ini aku akan memberimu pukulan terburuk sepanjang masa.”

Zhoumi lalu ikut mengambil sikap seperti teman-teman lainnya, mengambil posisi seperti hendak push up, tapi dengan pantat yang ditonjolkan ke atas, siap menerima pukulan dari tongkat di tangan Jungmo. Begitu ia menyadari bahwa Yunho juga ada dalam barisan itu, ia mengerling nakal ke arah sahabatnya itu.

“Aku akan memukul kalian semua, dimulai dari sebelah kiri.” Kata Jungmo kejam. “Orang yang pertama terlambat akan mendapatkan pukulan sekali, orang kedua akan mendapat pukulan dua kali. Orang ketiga harus meneriakkan angkanya, sesuai keterlambatannya. Mengerti?”

“Ye.” Jawab para siswa junior dengan suara lemah.

“Apa kalian semua banci? Aku tidak bisa mendengar suara kalian! Mengerti?” teriak Jungmo lagi.

“Ye!” teriak para siswa junior, dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Giliran Yunho tiba. Ia meneriakkan nomornya. “Tujuh.” Namun begitu Jungmo mengayunkan tongkatnya, Yunho menjatuhkan dirinya dnegan takut.

“Hey, kembali ke posisi semula!” bentak Jungmo.

Mau tidak mau Yunho kembali ke posisi awalnya. Bug! Pukulan pertama yang ia dapatkan di pantatnya terasa begitu menyakitkan. Tapi ia coba bertahan. Berikutnya pukulan kedua, lalu ketiga. Ia tidak tahan lagi.

“Senior, pantatku..”

“Tahan! Atau aku akan mematahkan tanganmu!” bentak Jungmo lagi.

Kembali Yunho ke posisinya. Dan kembali Jungmo menghajar bokongnya dengan sadis. Yunho hanya bisa menerimanya dengandesahan menderita yang keluar dari sela-sela bibirnya. Namun menjelang pukulan terakhir, ia merasa tidak sanggup lagi. Ia lalu berdiri.

“Kau masih harus mendapatkan satu pukulan lagi. Kembali ke posisimu! Dengarkan perintahku, kembali ke posisimu!” Bentak Jungmo seraya menendang kaki Yunho hingga akhirnya Yunho terjatuh dan kembali ke posisinya, kemudian melancarkan pukulan terakhirnya.

Jungmo lalu berjalan ke arah Zhoumi. “Berapa nomormu? Jawab aku, berapa nomormu!” Ketika dilihatnya Zhoumi menatap penuh kebencian terhadapnya, ia kemudian bicara lagi. “Baiklah, aku yang akan memberitahumu. Nomormu adalah sembilan belas.”

Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, Jungmo segera mendaratkan tongkatnya yang keras di bokong Zhoumi seraya berhitung. “Satu.” Zhoumi terlihat kesakitan menerima pukulan tanpa tedeng aling-aling itu.

“Dua.”

“Tiga.”

Ketika pukulan ketiga berakhir, Zhoumi terhempas ke tanah. Melihat itu Jungmo sedikit marah. “Ya! Bangun! Bangun!” Namun karena Zhoumi tidak menjawab, ia membungkuk sedikit dan memperhatikan adik kelasnya itu baik-baik.

“Hei.. Ada apa denganmu?” tanya Jungmo ketakutan.

Zhoumi pingsan.

*

            “Hal ini tentang Kyuhyun.. Kurasa ia tidak menyukaiku.” Kata Zhoumi sedikit sedih. Setelah ia dan Yunho mendapatkan hukuman dari senior mereka, keduanya berbaring telungkup di hutan kecil di belakang sekolah, mengistirahatkan bokong mereka dengan cara membuka separuh celana sekolah mereka dan membiarkan bokong-bokong kemerahan itu tertiup angin, meredakan nyerinya.

“Aku memberinya bunga. Aku bahkan menciumnya, tapi tidak ada respon sama sekali.” Kata Zhoumi lagi.

“Kau menciumnya?” tanya Yunho dengan rasa penasaran.

“Benar.” Zhoumi lalu kembali fokus pada buku di halamannya. Tanpa ia sadari, Yunho nyaris menangis mendengar pengakuannya.

*

            Malam itu juga, Yunho mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berkali-kali memainkan tombol lampu di pekarangan rumah mewah itu, memberi tanda pada Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak kunjung keluar.

Padahal, Kyuhyun melihat semua itu dari balik jendela kamarnya. Namun ia tidak mau mengingkari janjinya. Perlahan dua bulir airmatanya jatuh. Ia hanya bisa memandangi Yunho hingga lelaki itu beranjak pergi.

Keesokan harinya, ketika Kyuhyun akan berangkat ke sekolah, ia melihat sebuah surat kecil tergeletak di depan pagar. Dengan penasaran diraihnya surat yang dilipat dengan sedemikian rupa itu.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Hujan deras mengguyur kota Suwon siang itu. para pejalan kaki sibuk melindungi diri mereka dari terpaan hujan di bawah payung. Yunho sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan. Ia memang tidak membawa payung dan ia seakan tidak tahu jika hujan tengah membasahi dirinya. Ia hanya berdiri tegak, menunggu di depan sebuah gerbang sekolah.

Begitu dilihatnya Kyuhyun keluar dari dalam sekolah bersama Kibum, ia mengikuti lelaki itu dari seberang jalan hingga Kyuhyun berpisah dengan Kibum dan berjalan sendirian. Dengan cepat ia menghampiri Kyuhyun dan ikut masuk ke dalam payung besar di tangan lelaki itu.

Kyuhyun menoleh lalu menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang datang. Ia memandang Yunho dengan canggung lalu menyerahkan payungnya.

“Pakailah ini dan pulang ke rumah. Berteduhlah dari hujan.”

Setelah itu ia keluar dari naungan payungnya dan berlari menembus hujan. Yunho hanya bisa menatap kepergian Kyuhyun dengan sedih. Ia menurnkan payung itu dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Karena benar-benar ingin bicara dengan Kyuhyun, ia mengejar Kyuhyun hingga ke rumahnya. Berkali-kali ia memainkan tombol lampu di pohon di depan rumah Kyuhyun, memberi tanda seperti yang biasanya ia lakukan. Tapi sang penghuni rumah tak kunjung keluar.

“Bodoh! Apa kau mau mati tersengat listrik?”  Kyuhyun muncul dari belakang Yunho, tapi ia sama sekali tidak berhenti. Kemudian seraya berjalan ke udakan, ia menoleh sedikit ke belakang. “Kau gila!”

Yunho segera menaiki undakan, mengejar Kyuhyun dan meraih lengan lelaki yang dicintainya itu.

“Aku tidak mau berpisah seperti ini.” Yunho menarik Kyuhyun menuruni undakan, menjauh dari rumah itu. “Ayo kita bicara, walaupun hanya sebentar.”

Kyuhyun mulai terisak. “Tak aka nada yang akan berubah. Tidak ada gunanya lagi kita bicara. Lepaskan aku!”

Ketika mereka sudah berada di balik tembok besar, Kyuhyun menyentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan Yunho dan berlari pergi. Namun baru beberapa langkah, ia kembali. Masih dengan tangisan yang kini terdengar lebih kencang, ia merebahkan kepalanya yang lelah di bahu sang kekasih.

*

            “Ini suratmu.” Kata Yunho seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Zhoumi.

Namun dengan wajah datar Zhoumi menjawab. “Aku tidak menginginkannya lagi.”

“Kenapa?”

“Selain tidak ada balasan, dan karena kata hatiku, aku akan menulisnya sendiri mulai saat ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Ini adalah kesempatan emas. Kudengar ia sakit setelah terkena hujan deras, saat ini ia tengah dirawat di rumah sakit.”

Yunho bertanya. “Apa sakitnya parah? Dan itu karena.. hujan?”

Zhoumi mengangguk. “Aku akan menjenguknya hari ini. Menjenguknya saat ia sakit mungkin bisa membuatku mendapatkannya. Aku akan mengaku padanya bahwa selama ini bukan aku yang menulis surat-surat itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa kaulah penulisnya. Kau tahu, aku bukan tipe orang yang setia pada pasanganku, tapi aku benar-benar menyukai Kyuhyun.”

“Yunho!” sebuah suara memanggil Yunho. “Jung Yunho!”

“Dia memanggilmu.” Kata Zhoumi mengingatkan.

Yunho tersadar. “Ya?” Ternyata gurunya lah yang memanggilnya.

“Aku harus meminum semuanya?” tanya Yunho tak percaya. Melihat lebih dari dua puluh butir obat di meja gurunya.

“Lihat ini! Cacing tambang, cacing kremi, cacing gelang! Kau punya semuanya! Apa yang kau makan? Karena kau, kelas ini menjadi kelas dengan parasit terbanyak.” Kata wali kelasnya dengan kesal.

“Tapi.. Itu bukan kotoranku.” Bantah Yunho dengan sopan.

“Lalu menurutmu siapa? Kau adalah satu-satunya anak di kelas ini yang mempunyai banyak penyakit. Minum obat-obat ini sekarang!”

Karena bentakan dari gurunya itu, mau tidak mau Yunho menelan semua butiran obat yang diberikan kepadanya.

“Zhoumi!” Panggil gurunya. “Minum tiga butir”

Begitu ia dan Zhoumi berpapasan, Yunho segera memprotes. “Tapi kotoran kami sama.”

Zhoumi tersenyum mengejek. “Tapi di satu sisi punya lebih banyak cacing sedangkan yang satu lagi tidak.”

The Journey Chap 4

TBC

The Journey – Chapter 3

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 3

Present Days

Kyujin tersentak dari imajinya. Refleks ia menatap jam yang melingkar di lengan kirinya dan ia terkejut ketika waktu sudah menunjukan hampir petang. Ia baru ingat jika malam ini ia memiliki janji dengan Taemin untuk datang ke Museum seni bersama Changmin.

Dengan tergesa ia memasukan jurnal yang baru saja ia baca kedalam tas dan beranjak dari bangku taman yang ia tempati. Beberapa saat lalu, karena merasa jenuh di perpustakaan, ia memilih untuk pergi ke taman kampus untuk melanjutkan kembali membaca jurnal yang selalu ia bawa kemanapun itu.

Ketika sampai di Museum, ia tidak mendapati sahabat kekanakannya itu. Begitupun dengan sosok Changmin. Tidak mau membuang waktu dengan percuma, Kyu pun berinisiatif untuk berkeliling ruangan yang penuh dengan hasil karya dari mahasiswa jurusan Seni di kampusnya.

Namun, ketika ia melewati sebuah papan tempat untuk menggantung lukisan, ia melihat Taemin yang tengah bergelayut di lengan Changmin berjalan di sisinya. Ia mengerutkan keningnya heran.

Ia melangkahkan kakinya lagi hingga ia berdiri tepat di hadapan Changmin yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya. Seketika nafasnya tercekat.

“Anyeong…” Sapanya  pada namja tinggi dihadapannya. “Maaf aku terlambat.” Ucapnya menjelaskan sekedarnya. Changmin tersenyum menanggapi ucapan Kyujin.

“Anyeong, Kyujin-ah…” Tukas Taemin yang tiba-tiba muncul dari balik papan kayu.  Kyujin hanya tersenyum canggung seraya mengalihkan wajahnya dari sahabatnya yang tampak tersenyum cerah.

“Changmin hyung. Aku menang!” Seru Taemin riang pada Changmin yang kembali tersenyum. Menahan tawanya melihat sikap Taemin yang tampak kekanakan.

“Kita membuat taruhan. Aku bertaruh jika kau akan datang sementara Changmin hyung bertaruh jika kau tidak akan datang.” Terang Taemin menjawab rasa penasaran Kyujin.

Mendengar itu, Kyujin hanya mampu menelan ludahnya menahan perasaannya yang terasa tidak rela dan kecewa. Padahal ia hanya terlambat beberapa menit, tapi mereka berdua bahkan telah membuat taruhan semacam itu. Sedekat itukah hubungan mereka saat ini?

Taemin kembali merangkul lengan Changmin dengan senyum lebarnya, “Kau harus mentraktirku makan malam, hyung…” Pintanya dengan mengusap pundak Changmin, bertingkah seolah tengah membuang debu di pundak kokoh milik Changmin.

Namja tampan tersebut hanya tersenyum tipis mengabaikan tingkah Taemin padanya. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian.” Balasnya yang juga menatap Kyujin yang hanya mampu berdiri dihadapannya dengan kikuk.

Mereka melanjutkan langkah. Namun Kyujin lebih memilih untuk berjalan di sisi pasangan tersebut dengan sedikit menjaga jarak. Sesekali ia menatap Changmin yang ternyata juga tengah menatap padanya. Ia menundukan wajah seraya menggigit bibir bawahnya. Sedikit malu dan terpesona dengan senyum tulus yang diberikan Changmin padanya.

Setelah berkeliling Museum, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton pentas drama yang tengah berlangsung di teater. Kyujin tampak tenang menikmati jalan cerita dari drama yang tengah ditampilkan.

Berbeda dengan Changmin yang duduk berjarak satu bangku-tempat Taemin duduk- darinya. Ia tampak sedikit risih diposisi duduknya. Terlebih ketika Taemin memeluk lengan Changmin serta menyandarkan kepalanya dengan manja di bahunya. Melihat pergerakan Taemin, Kyujin mengalihkan pandangannya dari arah panggung.

“Lihat apa kau?” sentak Taemin dengan nada menantang. Kyujin tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap Changmin yang rahangnya tampak mengeras, sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Melihat itu, Kyujin hanya mampu tersenyum pahit. Mencoba menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Aku harus pergi.” Ucap Kyujin pada Taemin yang tengah berdiri di pintu masuk ruang staf pemain drama ketika pertunjukan telah selesai.

“Kenapa kau harus pergi secepat ini? Changmin hyung akan mentraktir kita makan malam.” Kaluh Taemin menekuk wajahnya.

Kyu menepuk pundak Taemin pelan. “Tiga orang terlalu ramai, Taemin-ah.”

Mendengar ucapan Kyujin, seketika wajah Taemin berbinar. “Aish, dasar kau. Kau terlalu pintar, Kyu.” Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Changmin yang tengah berbicara dengan seseorang di dalam ruang staf. “Changmin hyung, Kyujin mengatakan jika ia akan memilih pulang lebih awal.”

Changmin melangkah menghampiri kedua namja yang berdidi di depan pintu, “Tapi kau harus makan dulu, Kyujin-ah. Dan kita juga bisa bermain atau mengobrol terlebih dahulu.”

Belum sempat Kyujin berkata apa-apa, Taemin telah menyambar terlebih dulu. “Kyu tidak pernah merubah pikirannya secepat itu. Bukankah begitu, Kyujin-ah?” Tanya Taemin dengan nada manis.

Kyujin yang saat itu telah berdiri membelakangi Taemin dan Changmin hanya tersenyum getir. “Ne.” Jawabnya singkat. Mencoba menggunakan nada senormal mungkin. Tanpa mereka berdua ketahui, ekspresi wajah Changmin berubah murung.

“Nah, kan…” Desah Taemin kecewa meskipun wajahnya menunjukan ekspresi yang berbeda dari kalimat yang ia ucapkan.

“Sayang sekali. Pasti akan sangat menyenangkan jika kau juga ikut, Kyu…” Changmin membujuk dengan wajah berharap.

Taemin mengerutkan keningnya, tidak suka mendengar ucapan dan ekspresi yang ditunjukan oleh lelaki yang ia cintai di sisinya.

“Kyunnie, apa kau tahu jika Changmin hyung tidak sering mentarktir teman-temannya seperti ini, kan? Changmin hyung melakukan ini karena kau adalah temanku.” Taemin tersenyum manis pada Changmin yang dibalasnya dengan senyuman terpaksa. “Dia hanya mencoba berlaku baik, jadi kau bisa pergi sekarang. Tidak masalah.” Taemin mendorong tubuh Kyujin yang mematung membelakanginya. Meminta sahabatnya itu untuk pergi secepatnya. Changmin sendiri terus memperhatikan Kyujin dengan sorot mata kekecewaan.

Kyujin berjalan meninggalkan ruang staf dengan langkah sedikit menghentak. Sedikit kesal dengan perlakuan Taemin padanya. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengikuti ajakan makan malam Changmin. Selain itu, ia merasa telah cukup menyiksa dirinya sendiri dengan melihat Taemin yang selalu bersikap mesra pada Changmin.

Ia yang baru saja berjalan sampai di lorong ruangan terkejut ketika ia mendengar suara seseorang.

“Tunggu!”

Kyujin membalikan tubuhnya dan mendapati Changmin yang tengah melongokkan tubuhnya di jendela ruang staf yang terbuka. Kyujin berjalan menghampiri Changmin.

“Aku membawa hadiah hari ini.” Changmin mengeluarkan dua buah kotak kecil dari balik dinding yang membatasinya dengan Kyujin. “Aku juga memberikanmu satu, jadi kau tidak akan merasa sendirian.”

“Aku bertaruh kau tidak akan bisa tidur malam ini.” Tukas Taemin pada Kyujin yang tiba-tiba mendesak tubuh Changmin di jendela. “Changmin hyung tidak bermaksud apa-apa. Changmin hyung memberikan kado ini karena kau adalah teman baikku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

Kyujin hanya terdiam dengan sesekali menatap wajah Changmin yang masih mengulurkan dua buah hadiah padanya.

“Ambillah satu.” Pinta Changmin menghiraukan kata-kata Taemin.

Kyujin melihat dua buah kotak kecil berwarna cokelat muda yang di ikat dengan pita simpul menghiasi keduanya. Yang tampak berbeda adalah hiasan bunga kertas yang hanya terdapat di kotak yang ada ditangan kanan Changmin. Kotak yang  jika sekilas dipandang saja tampak terkesan lebih manis dari yang satunya.

Setelah Kyujin memilih hadiah dari Changmin, ia berniat untuk pulang ke rumah. Sekedar untuk beristirahat dan melanjutkan untuk membaca jurnal yang membuatnya penasaran.

“Kyujin-ah.”

Kyujin berhenti di tempat ketika suara Taemin yang tengah berlari kearahnya memanggil namanya.

“Aku lebih suka hadiah milikmu.” Taemin merebut kotak kecil dengan hiasan bunga kertas dari tangannya dan menggantinya dengan hadiah milik Taemin sendiri. “Kau tidak keberatan jika kita bertukar kan? Bye…”

Taemin melenggang pergi kembali memasuki gedung dengan tanpa memberi kesempatan pada Kyujin untuk mengucapkan sepatah katapun. Kyujin hanya menghela nafas berat menatap kepergian sahabatnya.

Setelah ia sampai di rumah dan membersihkan tubuhnya, Kyu hanya membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Menelungkupkan tubuhnya untuk memandangi hadiah pemberian dari Changmin untuknya, yang telah ditukar dengan milik Taemin.

Ia memainkan pita yang menghiasi penutup kotak persegi dihadapannya. Merasa enggan untuk membukanya. Ia mengocok kotak tersebut. Sedikit heran ketika ia tidak mendengar suara apapun dari dalamnya. Karena kesal ia mengabaikannya namun karena rasa penasarannya akhirnya ia membuka kotak berwarna cokelat tersebut.

Kartu ucapan dan sebuah gantungan ponsel berbentuk beruang putih.

Kyujin merebahkan kembali di kasur dengan kartu ucapan ditangannya.

            Ketika sinar mentari tepancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu.

Kyujin segera menelepon Taemin perihal hadiah itu.

“Benarkah? Apa itu yang ia katakan? Aigoo, Changmin hyung pasti sangat menyukaiku. Kau harus memberikan kartu itu padaku besok, Kyu. Ok?”

“Ok.” Sahut Kyujin lirih sebelum ia memutus telepon dari Taemin yang sangat antusias ketika ia membacakan tulisan yang terdapat di dalam kartu ucapan pemberian Changmin.

Kyujin meletakan teleponnya dengan lunglai. “Aku sama sekali tidak memiliki harapan lagi padanya.” Gumamnya. ”Sudah seharusnya ia dengan Taemin.”

Ia kembali membaca sederet kalimat yang tertulis di kartu ucapan yang tergeletak dihadapannya.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Past Days

Yunho menambahkan tinta pada penanya lalu kembali menulis.

“Apa sudah selesai?” tanya Zhoumi yang tiba-tiba muncul dan duduk di depan Yunho.

“Tinggal sedikit lagi.”

“Perhatian.” Seorang guru mereka memasuki kelas lalu berdiri di depan papan tulis. “Kumpulkan veses kalian di dalam sebuah plastik, mengerti? Lakukan sekarang!”

Tanpa banyak bicara, seluruh isi kelas berhamburan keluar, memegang kantong plastik kecil di tangan lalu berbondong-bondong memasuki toilet. Namun, seluruh isi toilet ternyata telah dipenuhi oleh anak-anak lain yang sudah lebih dulu datang.

Maka, karena tidak ada pilihan lain, mereka melakukannya di balik semak-semak di belakang sekolah.

*

            Hooekk!

Kyujin memuntahkan makanan di mulutnya ketika membaca dan membayangkan apa yang tertulis dalam jurnal yang tengah ia baca.Namun beberapa saat kemudian ia tertawa pelan membayangkan tingkah konyol Yunho dan Zhou Mi…

*

            Past Days

Pagi itu, seluruh isi kelas Yunho melakukan lari pagi mengintari lapangan sekolah bersama-sama. Zhoumi yang tadinya berlari di depan, mengurangi kecepatanya agar bisa sejajar dengan Yunho.

“Yunho-ya, aku akan berlari sambil menutup mataku. Kau harus menuntunku, ne?”

“Baiklah” kata Yunho. Ia lalu menggandeng lengan Zhoumi ketika lelaki jangkung itu mulai menutup matanya.

“Yunho-ya, maukah kau menemaniku belajar dansa polka sepulang sekolah?” tanya Zhoumi lagi.

“Polka?”

“Benar, aku akan menemui Kyuhyun disana. Ini adalah ide ayahku dan temannya itu. Mereka ingin aku dan Kyuhyun bertemu di perhelatan nantinya.” Terang Zhoumi. “Akan ada banyak lelaki disana, kau bisa memilih satu nantinya. Kau bisa datang kan?”

“Aku tidak tahu..” Yunho yang secara tidak sadar sudah melepaskan lengan Zhoumi, tetap berlari sambil berpikir. Detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sudah terpisah dari sahabatnya. Dengan bingung ia mencari Zhoumi.

Ketika menoleh ke kanan, didapatinya Zhoumi yang tetap tenang karena mengira Yunho masih menggandenganya, tetap berlari lurus ke depan dan..

Buuuukkkkkkkk..!

Zhoumi menabrak tiang gawang sepak bola dan langsung terjatuh karenanya.

“Zhoumi-ya..” kata Yunho dengan perasaan bersalah. Mau tidak mau ia harus mengikuti Zhoumi sepulang sekolah nanti ke tempat belajar dansa polka.

Setibanya mereka disana, mata Yunho langsung menangkap Kyuhyun yang juga langsung menyadari kedatangan Yunho dan Zhoumi.

Zhoumi membungkuk hormat pada Kyuhyun lalu memperkenalkan Yunho pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, ini sahabatku, Jung Yunho. Dia adalah sahabat yang pernah aku ceritakan padamu dulu.”

Yunho langsung menyadari bahwa Zhoumi tidak pernah tahu bahwa dirinya dan Kyuhyun sudah saling mengenal terlebih dahulu. Maka dengan berpura-pura, ia membungkuk sedikit, memberi hormat. “Halo, aku Jung Yunho. Senang berkenalan denganmu.”

Kyuhyun yang juga mengerti situasi ini, segera ikut dalam sandiwara yang diciptakan Yunho. “Anneyong haseyo. Jadi.. kalian berteman?”

Zhoumi sedikit bingung. “Apa kalian sudah saling kenal?”

“Oh.. Tidak.” Sangkal Kyuhyun cepat.

Zhoumi tersenyum seraya merangkul pundak Yunho. “Dia adalah sahabat terbaikku.”

Kyuhyun lalu menyadari bahwa ia tidak berdiri sendiri disana. “Oh, kenalkan. Ini temanku, Kibum.”

“Anneyong Haseyo, aku Kim Kibum.” Kata lelaki di samping Kyuhyun.

“Aku Zhoumi.”

“Aku Yunho.”

Acara ramah tamah mereka terhenti dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah pengajar dansa polka mereka hari itu.

“Semuanya, silahkan duduk.”

Para murid yang hadir langsung berebutan tempat duduk, tak terkecuali untuk Yunho dan Kibum yang sedikit terlambat mendapatkan kursi yang mereka inginkan.

“Nah, hari ini aku akan mengajarkan dansa polka pada kalian. Bagaimana? Kedengarannya menarik bukan?” kata guru itu lagi.

Selama sang guru mendengarkan, Kyuhyun tidak berkonsentrasi sama sekali. Ia dan Yunho terus saling bertatapan dengan luapan kegembiraan di hatinya.

“Bogosipphosoyo..” bisiknya mesra ke arah Yunho yang duduk cukup jauh darinya.

“Nado.” Bisik Yunho tak kalah mesra.

Kemudian mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan saling bergandengan satu sama lain. Tangan mereka diangkat sedikit di bawah pundak mereka lalu kaki mereka melangkah mau kemudian mundur sesuai irama musik, sementara sang guru berdiri di tengah lingkaran, memperagakan gaya yang harus mereka pelajari.

Yunho dan Kyuhyun mengikuti setiap arahan dari si pengajar, ketika mereka harus saling membungkuk ke kanan dan ke kiri pada orang di samping mereka, keduanya melakukannya dengan baik, namun mata mereka masih saja saling menatap, seolah takut kehilangan jika mereka berpaling sedikit saja.

Kemudian para murid berdansa dengan pasangan masing-masing, dengan langkah yang telah ditentukan. Pasangan pertama Kyuhyun adalah Zhoumi, karena lelaki itu tepat berada di sebelah kirinya. Berikutnya mereka kembali membentuk lingkaran dan bergerak maju mundur lalu saling membungkuk seperti sebelumnya. Kini pasangan dansa Kyuhyun adalah Yunho. Hatinya bergejolak riang karenanya.

“Aku tidak tahu bahwa kau dan Zhoumi berteman.” Kata Kyuhyun.

Yunho tidak menjawab, ia hanya tertawa geli mendengarnya. Kyuhyun akhirnya ikut tertawa mengingat kejadian tadi dimana ia dan Yunho harus berpura-pura baru saling kenal.

Lalu tiba-tiba musik klasik yang mengalun berhenti berputar, tergantikan dengan musik rock and roll’. Ternyata Zhoumi yang menggantinya. Dengan gaya yang penuh percaya diri, ia berdansa di tengah ruangan, mengabaikan si pengajar yang menatap jengkel padanya. Satu persatu semua murid ikut bergoyang riang, begitu juga Kibum, Yunho dan Kyuhyun.

Setelah latihan itu selesai, Kyuhyun, Kibum, Yunho dan Zhoumi melenggang pulang bersama. Selama perjalanan, Kyuhyun dan Yunho saling mencuri-curi pandang.

“Aku ingin jadi penyiar suatu saat nanti. Aku selalu melatih ketangkasanku berbicara. Bisakah kau melakukan ini?” Kata kibum pada Yunho. Ia lalu mengatakan sesuatu yang cukup panjang dan tampaknya berulang-ulang tapi Yunho tidak memperhatikannya.

“Bagaimana? Keren kan? Aku bisa mengulangi dengan cepat.” Kata Kibum lagi. Namun lagi-lagi diacuhkan oleh Yunho yang sibuk mencuri pandang pada Kyuhyun.

“Bisakah kau melakukannya?” tanya Kibum penuh harap.

Menghormati si lawan bicara, akhirnya Yunho menyanggupi. Ia mencoba mengikuti kata-kata Kibum tadi tadi ia tidak berhasil.

“Kau harus banyak berlatih.” Kata Kibum yang sedikit kecewa. “Nah, coba kau ikuti aku setelah ini.” kembali Kibum melontarkan kata-kata yang sama. Terdengar sedikit menjengkelkan di telinga Yunho, tapi ia masih bertahan, demi menghormati teman Kyuhyun itu.

“Kita berpisah disini. Aku akan mengantar Kyuhyun pulang, jadi kau bisa menjaga Kibum. Oke? Kita bertemu lagi nanti.” Kata Zhoumi di persimpangan jalan.

“Aku pulang dulu. Selamat malam.” Kata Kyuhyun dengan enggan.

“Sampai jumpa Kyuhyun-ah.” Kata Kibum seraya melambaikan tangannya.  Ia lalu menoleh pada Zhoumi dan mengucapkan selamat malam yang dibalas dengan anggukan sopan dari si namja jangkung itu.

Yunho hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Jauh di hati kecilnya, ia masih ingin bersama Kyuhyun, tapi ia tahu hal itu tidak mungkin terjadi selama masih ada Zhoumi di sampingnya.

Kyuhyun berbalik sebentar, ia menatap Yunho dengan pandangan enggan. Ia sendiri tidak ingin waktu berakhir secepat ini. Tapi sepertinya waktu tidak berpihak padanya. dilihatnya kembali Kibum melambai padanya. Ia membalas lambaian itu dengan canggung lalu kembali mengikuti Zhoumi yang telah menunggunya.

“Ayo kita pulang.” Kata Kibum pada Yunho. Mengembalikan khayalan lelaki itu ke dunia nyata. “Yunho-ssi, ayo kita coba yang lebih mudah. Nah, coba ini.”

Kibum kembali melontarkan kata-kata aneh yag diulang-ulang. Mungkin menurutnya itu sedikit lebih mudah daripada kata-katanya sebelum ini, tapi bagi Yunho sama saja, ia bahkan enggan mendengarkan.

“Bagaimana? Mudah kan? Ayo, cobalah..”

“Hahh?”

“Cobalah mengulangi kata-kataku tadi.” kata Kibum lagi.

“Kata-kata yang mana?”

Kembali Kibum berbicara dengan nada menjengkelkan seperti tadi. “Nah, kau bisa melakukannya kan? Ayo cobalah.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan paksa aku.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Hahhh? Kau tidak bisa melakukannya? Ini mudah sekali. Dengarkan.” Kibum lalu bicara lagi dengan kata-kata itu, masih dengan nada yang sama.

Yunho tak tahan lagi, ia melambatkan langkahnya, membiarkan Kibum berjalan duluan lalu berlari dan sembunyi di semak-semak.

Sementara di tempat lain, Kyuhyun sudah sampai di rumahnya. Zhoumi mengucapkan selamat malam lalu meninggalkan rumah Kyuhyun dengan hati riang.

Sepeninggal Zhoumi, Kyuhyun berlari menaiki tangga rumahnya. Sebelum menekan bel yang terpasang di pintu pagarnya, ia menoleh ke belakang dengan sedih lalu menunduk. Ia senang sekaligus sedih hari ini. Ia benar-benar masih ingin bersama Yunho. Tapi kenyataan menghampirinya bahwa itu tidak mungkin, pasti Yunho tengah mengantarkan Kibum pulang saat ini. Dengan pasrah ia mengarahkan jarinya ke depan, hendak memencet bel.

Namun sebelum tangannya benar-benar menekan bel itu, lampu jalan di depan rumahnya mendadak mati. Kyuhyun menoleh ke belakang. ‘Tidak ada siapa-siapa.’ Pikirnya. Ia lalu kembali hendak menekan bel rumahnya.

Tapi lagi-lagi sebelum menekan bel, sesuatu terjadi. Lampu tadi menyala sebentar lalu dimatikan lagi. Kyuhyun kembali menoleh ke belakang, ke arah lampu yang di pasang di jalan masuk menuju undakan tangga menuju rumahnya.

Ia melihat sosok hitam di bawah tiang penyangga lampu itu. Dengan penasaran ia mencoba melihat  didalam gelap, mencoba menerka siapa orang yang iseng mengerjainya malam-malam begini.

Detik berikutnya, lampu kembali menyala dan.. Jung Yunho berdiri tepat di bawah tiang itu. Tersenyum hangat padanya, memberikan atmosfir membahagiakan di sekeliling Kyuhyun. Kyuhyun menatap lelaki yang berdiri di bawah sana dengan haru. Antara percaya dan tak percaya, ia melepaskan tas yang digengganggmnya sedari tadi lalu mulai melangkah menuruni undakan tangga perlahan.

Begitu ia sadar sepenuhnya bahwa ini bukan mimpi, ia mempercepat langkahnya. Ketika tinggal dua anak tangga lagi yang harus ia tempuh untuk menemui pujaan hatinya, Kyuhyun melompat tak sabar, lalu jatuh dalam pelukan hangat seorang  Jung Yunho.

The journey part 3 pict

PS : Bayangkan Kyujin seperti gambar Kyuhyun yang di bawah.

TBC

The Journey – Chapter 2

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast    : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 2

Keesokan harinya..

            Yunho sudah menunggu di atas sampan di tepi sungai ketika sosok manis itu datang. Yunho lalu mengulurkan tangannya dan membantu lelaki itu menaiki sampan ketika ia datang mendekat.

            Lelaki manis itu langsung duduk dengan tenang di atas sampan sementara Yunho mulai mendayung. “Kakekku menceritakan banyak hal tentang rumah itu dan melarangku pergi. Sebenarnya, ia melarangku pergi kemana-mana. Dan aku sangat ingin pergi ke rumah itu, tapi tidak ada teman yang bisa ku ajak. Jika aku mengajak seseorang di sekitar sini, mereka pasti akan melaporkannya pada kakek.”

            Setelah bicara, lelaki itu terdiam. Ia memperhatikan sampan mereka dengan bingung. “Tapi.. Kenapa sampan ini tidak juga bergerak?”

            Yunho langsung tersenyum malu karenanya. Dengan terbata-bata ia mengaku. “Sebenarnya.. Ini kali pertama aku mendayung.”

            Lalu tanpa melihat wajah keheranan Kyuhyun, ia terus mencoba. Dan setelah beberapa lama mencoba, ia akhirnya bisa menguasai dayung beserta sampannya dan berlayar menuju ke tempat tujuan mereka.

             “Namaku Jung Yunho.”

            “Oh, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Cho Kyuhyun.” kata lelaki itu juga ikut menyebut namanya.

            “Apa kau berasal dari Suwon?”

            “Benar.”

            “Aku juga dari Suwon. Aku datang kemari untuk mengunjungi pamanku.”

            “Benarkah? Kebetulan sekali..”

            “Atau mungkin takdir.”

            “Hahh?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

            “Ah.. Bukan apa-apa..” Yunho tersenyum malu karenanya. Canggung sekali berada di hadapan lelaki manis seperti Kyuhyun.

            Tak lama kemudian, mereka sampai di daratan. Keduanya pun berjalan menuju ke rumah hantu yang ingin dilihat Kyuhyun. Begitu sampai disana, mereka memperhatikan bangunan tua itu dengan seksama. Seluruh bangunan itu terbuat dari kayu. Karena umurnya sudah tua, maka kayu-kayu tampak lapuk dan usang. Bahkan tanaman liar sudah tumbuh dan merambat di beberapa tempat bobrok itu. 

            Kyuhyun lalu membuka pintu gerbang kayu berwarna cokelat gelap itu. Bunyi berderit berat membuat suasana makin mencekam, tapi ia tidak peduli. Rasa penasarannya lebih besar saat ini, mengalahkan rasa takutnya.

            Pelan-pelan ia memasuki halaman rumah itu. Sejenak ia berbalik ke belakang. Dilihatnya Yunho masih berdiri ketakutan di balik pintu. Tapi melihat pandangan mata Kyuhyun, mau tidak mau lelaki itu ikut masuk ke dalam, menjaga harga dirinya yang nyaris kalah.

            “Apa tempat ini benar-benar berhantu?” tanya Kyuhyun. Tapi Yunho tidak menjawab. Begitu Kyuhyun berbalik, didapatinya Yunho berjalan ke arah yang berlawanan dengannya. Maka dengan cepat ia berlari menghampiri Yunho. Berdua lebih baik daripada sendiri, bukan?

             “Apa kau pernah melihat hantu sebelumnya?” tanya Kyuhyun lagi.

            “Tentu saja. Bahkan setiap hari.” Jawab Yunho dengan percaya diri.

            “Benarkah?” Kyuhyun terdengar ketakutan.

            “Di.. cermin” Yunho terdiam sebentar lalu melanjutkan. “Sebenarnya.. Aku adalah..” pelan-pelan ia berbalik ke belakang dan menakut-nakuti Kyuhyun. “Hantuuuuuu..”

            “Hentikan!” kata Kyuhyun dengan nada manja sekaligus takut.

            Yunho lalu berbalik dan melanjutkan perjalanan. Tadinya ia pikir, bercanda seperti itu akan membuat Kyuhyun sedikit lega, tapi tampaknya ia tidak berhasil. Keduanya lalu melanjutkan perjalanan. Begitu sampai di teras atas rumah hantu tersebut, kembali keduanya mengambil jalan yang terpisah. Yunho ke kiri, Kyuhyun ke kanan.

            “Aaadduuhhhhh…!!”

            Yunho jadi terjatuh karena kaget. Ketika ia berbalik ke belakang, ternyata kaki Kyuhyun terperosok masuk ke dalam lantai teras yang kayunya sudah sangat lapuk.

            “Apa kau baik-baik saja?” tanya Yunho setelah menghampiri Kyuhyun.

            Kyuhyun mengangguk. Yunho pun membantu Kyuhyun untuk berdiri. Namun tiba-tiba keduanya terdiam. Mereka sempat mendengar suara aneh di belakang mereka. Dan tanpa sepengetahuan mereka, sosok putih berambut panjang melintas tak jauh disana.

            Keduanya lalu mengendap-endap ke sebuah rumah kecil di sudut yang tertutup pintu kayu yang terlihat sangat usang, tempat mereka mendengar suara aneh tadi.

            Yunho menghampiri rumah itu, sementara Kyuhyun bersembunyi di tembok. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Yunho mencoba membuka pintu itu. Namun begitu ia melihat ke dalam..

            “Huuuuaaaaaaaa….!!!”

            Dengan cepat Yunho berbalik, lari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Kyuhyun tampak kebingungan melihat Yunho. Namun sekali lagi, ia memutuskan untuk mengikuti rasa penasarannya. Maka ia pun keluar dari persembunyiannya dan menuju ke rumah itu. 

            Pintu itu terlihat sedikit terkuak, karena Yunho tadi langsung melarikan diri setelah melihat ke dalam. Begitu Kyuhyun sampai di depan undakan, pintu itu menutup dengan kencang. Kyuhyun tersentak. Ia tak berani bergerak sama sekali. Ketakutan menjalar di tubuhnya.

            Detik berikutnya, pintu itu membuka sepenuhnya lalu sebuah sosok muncul dari dalam. Sosok tinggi besar dengan wajah seram dipenuhi rambut.

            “Huuuuaaaaaaa….!!! Huuaaaaa….!!!!”

            Di luar, Yunho baru sadar kalau ia melupakan Kyuhyun. Dengan cepat ia kembali ke dalam. Namun, di gerbang ia berpapasan dengan Kyuhyun yang kaget melihatnya. Kyuhyun menjerit karenanya. Melihat itu, Yunho ikut menjerit. Keduanya lalu menjerit-jerit riang seraya tertawa terbahak-bahak akibat ketololan yang baru saja mereka lakukan.

            Tiba-tiba sosok yang tadi mereka lihat muncul dan lewat diantara mereka. Sosok itu ternyata lelaki paruh baya bertubuh tinggi besar dengan tampilan kumal. Kembali Yunho dan Kyuhyun menjerit keras.

*

            Hujan turun dengan deras tak setelah itu. Kyuhyun dan Yunho yang sudah hendak pulang, baru menyadari kalau mereka tidak menambatkan sampan mereka dengan benar. Akibatnya, sampan itu terbawa arus ke daratan seberang, tempat dimana mereka seharusnya berada kini.

            Keduanya lalu berbalik dan lari meninggalkan sungai, mencari tempat berteduh yang aman. Kyuhyun berlari tepat di belakang Yunho. Tubuhnya yang kurus menggigil kedinginan. Karena matanya dibutakan oleh air hujan yang cukup deras juga rasa dingin yang menguasai tubuhnya, Kyuhyun tidak memperhatikan jalanan dengan baik dan akhirnya ia terjatuh.

            Yunho menghampiri Kyuhyun. Dilihatnya lelaki imut itu meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. “Kurasa kakiku terkilir.”

            “Naiklah ke pundakku.” Kata Yunho.

            “Tapi..”

            “Cepatlah.. Naik saja.”

            Kyuhyun menurut. Ia lalu naik ke punggung Yunho, membiarkan lelaki itu membawanya. Yunho lalu berjalan cepat, menembus hujan, melintasi padang rumput yang cukup luas, dan mendatangi sebuah pondok kecil yang bisa ia gunakan untuk berteduh walaupun sudah tidak ada gunanya lagi karena tubuh keduanya sudah terlanjur basah kuyup.

            “Jangan khawatir, hujan akan segera berhenti.” Kata Yunho menenangkan Kyuhyun ketika dilihatnya lelaki itu duduk meringkuk memeluk tubuhnya sendiri.

            Yunho melepas kemejanya, mengerikannya sedikit  lalu menyodorkan kemeja itu pada Kyuhyun. “Pakai ini untuk mengeringkan tubuhmu.”

            Kyuhyun menerimanya. Ia mengusapkan kemeja itu ke bagian tubuhnya yang basah lalu kembali menyodorkannya pada Yunho.

            “Begitu hujan sudah berhenti, kita bisa kembali ke sungai dan menyebrang dengan perahu sewaan. Tapi.. jaraknya sedikit lebih jauh.” Kembali Yunho mencoba mengeringkannya lalu kembali memberikannya pada Kyuhyun.

            Tanpa mereka sadari, dari hal kecil seperti itu, ada rasa tertarik satu-sama lain yang tumbuh di hati mereka. Apalagi di umur mereka yang masih terbilang sangat muda.

            Namun ketika hujan berhenti, keduanya malah merasa lapar. Jadi mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka dulu barulah kembali ke seberang. Untuk mengatasi rasa lapar itu, Yunho mengambil – atau lebih tepatnya mencuri – sebuah semangka di ladang terdekat.

            Ia lalu memotongnya menjadi beberapa bagian dengan tangan kosong kemudian memberikan sepotong pada Kyuhyun. Keduanya makan dengan lahap, mensyukuri apa yang mereka makan saat itu.

            Ketika hari sudah hampir gelap, barulah keduanya beranjak. Yunho masih tetap menggendong Kyuhyun di punggungnya karena lelaki itu masih belum kuat berjalan.

            “Tubuhku berat kan?” tanya Kyuhyun.

            “Tidak sama sekali.” sahut Yunho.

            “Tapi berat badanku lumayan.”

            Yunho tertawa kecil. “Jangan khawatir. Kau cukup ringan, aku bahkan bisa menggendongmu sampai ke Seoul.”

            “Kau berbohong.” Kata Kyuhyun malu-malu.

            “Aku tidak bohong.” Elak Yunho.

            Mereka terus bercanda seperti itu hingga mereka melintasi sebuah jembatan kecil. Jembatan itu sangat sederhana. Terdiri dari papan-papan kokoh yang tidak sama panjangnya, berjejer membentuk satu garis lurus, guna menjadi tempat melintas bagi pejalan kaki diatas  aliran sungai keci itu.

            Keduanya terhenti sesaat, mengangumi keindahan di depan mereka. Malam sudah hampir tiba, puluhan kunang-kunang keluar dari sarangnya, terbang indah seolah menari tak jauh dari tempat keduanya berdiri.

            Yunho mendudukkan Kyuhyun di jembatan. Ia sendiri lalu turun pelan-pelan ke air dan mendekati sarang kunang-kunang. Dengan usaha yang cukup gigih, akhirnya ia bisa menangkap  sseekor hewan yang bersinar dalam gelap itu lalu membawanya dengan hati-hati di dalam kedua telapak tangannya. Yunho mendekati Kyuhyun lalu menyerahkan kunang-kunang itu kepada Kyuhyun dari bawah jembatan kecil itu.

            Kyuhyun tersenyum bahagia. Memegang kunang-kunang kecil itu di tangannya secara langsung adalah pengalaman baru baginya. Ia hanya bisa menatap Yunho tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun.

            Ini adalah pengalaman pertamanya dekat dengan lelaki lain selain sahabatnya, Kibum. Ia menyukai Yunho, lelaki sederhana dan apa adanya. Ia sudah tahu sejak awal bahwa ia tidak bisa mengabaikan lelaki tampan itu begitu saja.

            Dan kunang-kunang dalam genggamannya itu kini bersinar terang, berkelap-kelip layaknya bintang mungil. Perasaan Kyuhyun bertambah berkali-kali lipat karena mengingat orang yang memberikan kunang-kunang ini, lelaki yang bisa membuat jantungya berdebar-debar.

            Ketika mereka akhirnya mendapatkan perahu lain yang bisa mengantarkan mereka kembali ke seberang, hari sudah sangat larut. Beberapa anak buah kakek Kyuhyun sudah menunggu dengan membawa obor di ujung dermaga.

            Kyuhyun baru menyadari bahwa kini ia berada dalam masalah. Kakeknya pasti khawatir dan mencarinya kemana-mana seharian ini.

            “Tolong pegang kunang-kunang ini.” Kata Kyuhyun. Kunang-kunang yang tadi masih berada dalam telapak tangannya, diserahkan pada Yunho.

            “Kau telah memberiku kunang-kunang juga menggendongku saat kakiku sakit.” Ia lalu melepaskan kalungnya. “Hanya ini yang bisa kuberikan padamu sebagai rasa terima kasihku.” Kyuhyun lalu memasangkan kalung itu ke leher Yunho.

            “Berikan kembali kunang-kunang itu.”

            Yunho lalu menyerahkan kunang-kunang itu kembali. Kyuhyun menerimanya lalu meletakkannya dalam genggamannya dengan hati-hati. Keduanya hanya saling bertatapan dalam senyum hingga mereka tiba ke seberang. Betapa beratnya harus berpisah disaat keduanya baru saja melewati hari yang menyenangkan.

            Begitu mereka sampai, Yunho hendak membantu Kyuhyun turun tetapi sebuah tangan besar menariknya mundur. Ia mengerti, mereka telah kembali ke tempat mereka. Semua orang kepercayaan kakek Kyuhyun ada disana. Lelaki yang tadi menarik Yunho kini menggendong Kyuhyun di bahunya. Seorang wanita menyelimuti bahu Kyuhyun dengan sebuah kain besar.

            Sebelum pergi, Kyuhyun sempat menoleh kepada Yunho. “Terima kasih untuk hari ini.”

            Yunho hanya bisa menatap Kyuhyun dalam diam. Sesungguhnya ia masih ingin bersama Kyuhyun, tapi ia tahu hal itu tidak mungkin. Lalu muncul seorang kakek tua di depan Yunho. Ia menatap dengan garang lalu menampar pipi Yunho dengan sadis. Setelah itu ia berbalik pergi, meninggalkan Yunho yang merasa semakin kecil di tempatnya.

*

            Dia sakit setelah itu, bahkan di bawa ke rumah sakit di Seoul. Apalagi setelah ibunya meninggal, ia benar-benar terpuruk. Tapi setelah ia kembali dari desa, ia terlihat lebih sehat dan lebih ceria. 

*

            Yunho dan Zhoumi siang itu mendapat hukuman untuk membersihkan perpustakaan. Tapi bukannya melakukan tugas mereka. Keduanya malah duduk bersantai. Zhoumi duduk selayaknya bos besar, menaikkan kedua kakinya di meja sementara kepalanya bersandar di kedua tangannya. Sementara Yunho menuliskan surat yang diminta Zhoumi untuk tunangannya.

“Ini, sudah selesai.” Yunho menyerahkan surat yang baru saja selesai ia tulis kepada Zhoumi.

“Benarkah? Coba kulihat?”

‘Menulis surat untuk Zhoumi sebenarnya sangat menyakitkan untukku, apalagi untuk Kyuhyun. Terlalu banyak kata yang ingin kusampaikan padanya.’ kata Yunho dalam hati.

“Wow.. Aku menyukainya! Ini bagus sekali!” Kata Zhoumi antusias. “Aku akan membayarnya dengan menunjukkan keahlianku padamu.”

“Baiklah.”

“Duduklah dan perhatikan.” Kata Zhoumi lagi. “Ketika aku melakukannya, kau harus membuka mulutmu, seperti orang takjub. Karena jika kau hanya menutup mulutmu, orang-orang akan berpikir kalau ini hanya sebuah tipuan.”

Yunho hanya bisa mengikuti saran Zhoumi.

“Nah, perhatikan ini.” Zhoumi mundur beberapa langkah lalu menggoyangkan pinggulnya dengan hentakan-hentakan aneh. Bersamaan dengan itu sebuah bunyi tak asing keluar dari balik celananya dengan irama beraturan.

Dat dit dut. Dat dit duuuuuuut.

Zhoumi yang terlihat bangga lalu menghampiri Yunho. “Kau tahu lagu apa itu?”

Moonlight of Shilla?” tebak Yunho dengan wajah datarnya yang khas.

Dengan malas Zhoumi mengangguk. Tak disangkanya Yunho akan menebak dengan benar secepat itu.

“Ya! Kalian!” sebuah suara marah menggelegar dari arah pintu masuk.

Yunho dan Zhoumi berbalik dengan takut. Guru mereka berdiri disana dengan tampang menyeramkan. “Kenapa kalian bermain-main? Cepat selesaikan! Aku akan mengecek setelah ini. Awas kalau masih kotor!”

Yunho dan Zhoumi segera mengambil peralatan bersih-bersih mereka lalu membungkuk hormat pada sang guru dan berlari keluar.

“Bau apa ini!” Teriak si guru, masih dengan nada marah. “Apa ada yang buang angin disini? Hahhhh??!!”

Yunho dan Zhoumi sudah menghilang dari pandangannya.

*

            Beberapa hari kemudian..

“Yunho-ya! Yunho-ya!” Zhoumi berlari-lari menaiki tangga sekolah demi mencari sahabatnya. Di tangannya, terlihat sebuah amplop putih yang dikibar-kibarkan dengan senang. Ia berlari masuk ke perpustakaan. Tanpa pikir panjang, kembali ia menjerit riang.

“Yunho-ya! Jung Yunho!”

Semua yang hadir disana terdiam. Beberapa diantaranya berekspresi datar, sebagian lagi memberi pandangan ‘kau-tidak-tahu-ini-perpustakaan-ya?’ Yunho yang duduk paling dekat dengan pintu menatap Zhoumi dengan pandangan horor.

“Apa kau gila? Kenapa kau berteriak seperti itu di perpustakaan?” Yunho lalu melangkah keluar, menghindari caci maki yang mungkin saja akan mereka terima dari penghuni perpustakaan lainnya.

“Kau lihat? Ini adalah sebuah undangan.” Kata Zhoumi setengah berbisik seraya merangkul sahabatnya itu. Sebelum keluar ia mendengar seseorang berkata ‘apa semua orang disini bernama Jung Yunho?’. Zhoumi kembali menoleh ke belakang dan bicara dengan suara keras. “Suara apa itu, hah?”

“Terima kasih.” Kata Yunho sedikit tidak enak karena Zhoumi membelanya. Walaupun sebenarnya Zhoumi lah yang salah.

*

            Undangan itu ternyata adalah sebuah undangan untuk menghadiri pentas seni di sekolah lain. Beberapa anak di sekolah Yunho dan Zhoumi menimba ilmu, memang di undang.

Yunho duduk di barisan tengah dalam sebuah aula besar di sekolah itu. Sedangkan Zhoumi duduk di barisan terdepan bersama ayahnya. Para undangan yang ternyata banyak sekali itu tengah menikmati sebuah lagu klasik yang mengalun lembut dari para pemain biola di atas panggung.

Ketika akhirnya para pemain biola itu menuntaskan lagunya, para hadirin bertepuk tangan meriah. Kemudian, muncul seorang wanita dengan microphone di tangannya maju ke tengah panggung sementara para pemain biola tadi membereskan peralatan musik mereka dan menghilang ke belakang panggung dengan teratur.

“Berikutnya kita akan mendengar sebuah persembahan dari Cho Kyuhyun. Dia akan membawakan Sonata Bethoven 8 lewat iringan pianonya. Berikan tepuk tangan yang meriah untuknya.”

Yunho terlihat bergairah mendengar nama pujaan hatinya. Begitu Kyuhyun melangkah masuk ke panggung, Yunho langsung berdiri dari duduknya. Seluruh hadirin kembali bertepuk tangan menyambut Kyuhyun.

“Ya, duduk! Jangan mengganggu orang lain.” bisik seorang teman Yunho seraya menarik lengan lelaki itu dan memaksanya duduk.

Yunho menurut, walaupun setengah hati. Di depan sana, tampak Kyuhyun melangkah mendekati pianonya, membentangkan buku yang ia bawa di atas piano lalu duduk. Kemudian ia mulai memainkan jari-jarinya yang lentik diatas tuts piano dan menghasilkan nada-nada indah dari setiap dentingannya.

Ketika Kyuhyun memainkan piano itu, Yunho menatapnya dengan bangga. Alunan lagu dari piano itu seolah bersatu dengan suasana yang begitu hening. Yunho dan yang lain mendengarkan dengan seksama, menikmati musik itu, juga keindahan wajah sang pianis.

Yunho langsung tahu bahwa ia benar-benar jatuh cinta pada sosok Cho Kyuhyun. Dengan hati mantap, ia menggenggam buket bunga yang sudah ia persiapkan sejak tadi untuk diberikan pada Kyuhyun.

Namun ketika acara sudah selesai, ia menjadi ragu ketika dilihatnya Kyuhyun sedang berdiri bersama Zhoumi, didampingi kedua orang tua mereka. Zhoumi memberikan sebuah buket bunga yang diterima dengan senyum lebar Kyuhyun.

Pada saat itulah Kyuhyun menatap lurus ke depan dan mendapati Yunho berdiri disana, menatapnya dalam diam dengan raut wajah tenang seraya tersenyum. Kyuhyun ikut menatap Yunho dengan senyum, mengabaikan permintaan ‘calon mertua’nya untuk makan siang bersama.

“Ayo, kyu.. Kita pergi.” Ujar ibunya. Wanita setengah baya itu lalu menuntun Kyuhyun ke pintu depan, sementara Kyuhyun ikut berjalan namun pandangannya tak pernah lepas dari Yunho sampai ia benar-benar keluar dari aula itu.

Yunho hanya bisa melihat kepergian Kyuhyun dengan kekecewaan yang dalam. Ia tahu diri. Predikat ‘orang biasa’ yang melekat di dirinya memenag tidak memungkinkannya berdiri di samping Kyuhyun saat ini.

Dengan langkah gontai ia lalu berjalan keluar dan duduk di taman. Ia hanya duduk dalam diam selama berjam-jam. Tak tahu harus melakukan apa. Ia terlalu kecewa saat ini. Bunga yang tadi dibawa, hanya diletakkan di pangkuannya saja.

Namun suara langkah-langkah keras membuyarkan lamunannya. Ia mencari sumber suara dan mendapati Kyuhyun berlari di kejauhan. Sosok manis itu berlari kencang memasuki aula. Dengan wajah cemas ia membuka pintu aula dan melihat ke sekeliling, berharap apa yang ingin dilihatnya ada disana. Namun, aula itu kosong. Dengan napas terengah-engah, Kyuhyun mencari lagi. Benar-benar berharap ia bisa melihat sosok yang dirindukannya.

Diluar, Yunho tersenyum melihat itu. Dengan segera ia berlari menuju ke aula, mengikuti Kyuhyun. Namun, baru setengah perjalanan, didapatinya Kyuhyun sudah keluar dari aula. Keduanya bertemu di jalan masuk ke halaman aula besar itu.

Dengan napas terengah-engah, keduanya berdiri berhadapan, saling menatap penuh kebahagiaan. Jarak yang memisahkan mereka mereka hanya satu meter, membuat raut wajah masing-masing terlihat jelas.

Yunho lalu menyerahkan buket bungan yang sejak tadi dipeganggnya pada Kyuhyun. “Selamat.”

“Terima kasih.” Kata Kyuhyun seraya menerima buket bunga itu.

“Apa kakimu sudah membaik?” tanya Yunho malu-malu.

Kyuhyun mengangguk. “Sudah.”

“Lalu, bagaimana dengan demammu?” tanya Yunho lagi.

Kembali Kyuhyun mengangguk. “Sudah mereda.”

“Aku benar-benar khawatir padamu. Dan kau tahu, aku benar-benar menikmati penampilanmu tadi.”

Kyuhyun tersenyum malu. “Aku harus lebih banyak berlatih.” Kyuhyun lalu terlihat sedikit menyesal. “Semua orang tengah menunggu. Tadi aku menyelinap keluar.”

Yunho mengerti. Ia tidak butuh apa-apa. Dengan melihat dan berbicara dengan Kyuhyun seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Dengan anggukan mantap ia merelakan kepergian Kyuhyun.

Namun baru beberapa langkah, Kyuhyun berbalik. “Aku masih menyimpan kunang-kunangnya. Dia sehat, sama seperti aku.”  Lalu dengan senyum malu, kembali Kyuhyun meneruskan langkahnya meninggalkan Yunho.

Yunho hanya bisa melambai kecil seraya tersenyum senang. Dengan gaya kolokan, ia berbalik dan berlari seraya menendang-nendang udara dengan senang hingga ia terjatuh di hadapan dua gadis yang lewat dan tertawa geli karenanya.

*

Yunho Zhoumi

To be continued..

The Journey – Chapter 1

Title              : The Journey

Rate             : T

Genre          : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair               : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast              : Kyuhyun (dan Kyujin – anak Kyuhyun), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning      : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note             : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 1

Present Days

Fajar kembali menghampiri kota berkabut itu. Menampilkan semburat jingga dari ufuk timur yang tampak berkilau melalui sela pepohonan. Pohon pinus yang menjulang setinggi kaki langit membentuk siluet teratur yang berjejer, tergambar jelas dalam aliran anak sungai yang mengalir tenang. Diantara langit yang berselimut warna keemasan itu, tampak puluhan burung gereja terbang berkejaran.

Disebuah rumah sederhana. Tepatnya dihalaman belakang rumah tersebut. Seorang lelaki tampak tengah sibuk berkutat dengan tumpukan buku-buku usang. Sesekali ia membuka buku tersebut satu persatu untuk memastikannya telah bersih dari debu dan kotoran. Setelah ia menyusun dan membersihkannya, lelaki manis itupun membawa tumpukan buku yang menjulang melebihi tinggi tubuhnya sendiri itu menaiki tangga. Menuju salah satu kamar yang terdapat dalam rumahnya.

BRAKK!

Tumpukan buku tersebut terjatuh dari kedua lengannya ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap refleksi pelangi yang tampak dari jendela di kamar yang tepat menghadap ke arah padatnya kota. Mengabaikan beberapa buku yang tercecer di lantai, dengan perlahan ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah jendela.

(Kyujin POV)

Dengan perlahan, aku melangkahkan kakiku menuju jendela kamar yang tampak menampilkan refleksi pelangi dari kaca bening tersebut. Setiap kali aku melihat pelangi, aku jadi teringat dengan ucapan yang eomma katakan padaku ketika dulu aku melihat pelangi yang melengkung membelah sungai.

Tanpa mengalihkan pandanganku dari fenomena alam itu, kubuka jendela kamar yang dihadapanku. Membuat satu dari tiga burung merpati putih yang bertengger di sana terbang menjauh karena terkejut.

“Ya! Pergilah!” Pekikku pada dua merpati tersebut yang langsung terbang menjauh.

Aku melongokkan wajahku sesaat keluar sebelum aku menopangkan wajahku dengan lengan kananku dan bersandar di tepian jendela yang terbuka. Tatapanku menerawang jauh, menatap refleksi pelangi yang kini tampak melengkung diantara padatnya gedung bangunan yang memadati kota yang tampak kecil dari tempatku berada saat ini.

Perihal cerita eomma tentang pelangi, beliau pernah berkata bahwa pelangi merupakan pintu menuju surga. Ketika seseorang meninggal, ia akan menuju surga melalui pintu tersebut. Appaku telah meninggal ketika aku masih anak-anak. Dan setelah itu, eomma membawaku pergi keluar negeri.

Sesungguhnya aku ingin sekali eomma untuk menikah lagi. Namun ketika aku mangajukan hal tersebut, eomma menolaknya.

Namaku Kyujin dan golongan darahku O. Sejak usia tujuh tahun aku mulai mempelajari taekwondo bahkan hingga sekarang setelah aku menjadi mahasiswa di sebuah universitas.

Pernah suatu kali, saat aku tengah berlatih bersama para sunbae-ku di kampus. Karena terlalu bersemangat dan bersungguh-sungguh, aku membuat pelatihku terluka karena aku terlalu keras menendang balok kayu yang ia pegang hingga telak mengenai wajahnya dan membuat hidungnya berdarah.

Dan bodohnya aku bahkan baru menyadari kesalahanku tersebut ketika melihat teman-temanku yang lain berlari menghampiri pelatih yang saat itu hanya mendengus menatapku, menahan kemarahan dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

Aku beranjak dari posisiku. Membalikkan tubuhku dan menghela nafas panjang ketika aku melihat buku-buku yang berserakan dilantai. Dengan sigap akupun segera membereskan dan menata buku-buku milik eomma itu dan memasukkannya kembali kedalam lemari yang tingginya bahkan melebihi tinggi tubuhku.

Baru saja aku akan melangkah menjauh, namun niatku terhenti ketika aku kembali mengingat ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Kubuka kembali lemari yang baru saja kututup beberapa saat lalu dengan menggunakan tangga kecil yang terbuat dari kayu sebagai pijakan. Dan perhatianku seketika tertuju pada sebuah benda. Tepatnya sebuah kotak kecil yang berada diantara tumpukan buku-buku usang milik eomma.

Sebuah kotak berwarna abu-abu yang warnanya kini telah memudar di makan usia. Kotak kecil itu berisi surat dan jurnal milik orang tuaku. Tiap kali eomma membaca surat-surat itu, ia selalu menangis. Eomma pernah memberitahuku bahwa surat tersebut berisi kenangan masa lalu miliknya. Kisah tentang cinta pertamanya.

“Uhuk uhuk”

Aku terbatuk ketika hidungku menghirup debu yang terbang ketika aku meniup permukaan kotak yang kini berada dalam pangkuanku. Setelah turun dari tangga dan memastikan pintu lemari tersebut telah tertutup, aku kemudian meletakan kotak kecil berbentuk persegi itu di meja yang terdapat di sisi jendela kamar yang terbuka.

Kubuka kotak tersebut lalu mengambil surat pertama dari puluhan surat yang ada di dalam kotak itu. Meskipun telah sekian lama, namun kondisi surat-surat itu masih tetap terjaga. Terlihat dari bekas lipatannya yang tetap utuh. Tak berubah sama sekali meskipun warnanya telah kusam.

Kring Kring

Aku mendongak ketika mendengar suar dering telepon. Dengan tergesa kuletakan kembali surat yang baru saja aku pegang dan beranjak untuk mengangkat telepon yang tergantung di dinding luar kamar.

“Yeoboseyo…”

“Kyujin-ah, ini aku Taemin.” Sapa suara dari seberang yang tidak lain adalah sahabatku, Lee Taemin.

“Wae Taemin-ah? Ada apa kau meneleponku sepagi ini?” Tanyaku penasaran. Tidak biasanya anak itu meneleponku sepagi ini kecuali untuk mengingatkanku tentang sesuatu yang berhubungan dengan tugas kuliah. Dan ini adalah hari libur. Tentu saja ini sangat aneh.

“Hey Kyu, kau mau menemaniku pergi ke Museum seni bersama Changmin hyung?” Tanyanya langsung tanpa tedeng aling.

Changmin hyung?

“Ya! Kau mau membuatku menjadi pengganggu diantara kalian?” sahutku kesal menanggapi ajakannya. Menyembunyikan keherananku ketika mendengar nama Changmin disebut olehnya.

“Aniyo! Changmin hyung sendiri yang memintaku untuk mengajakmu.”

“Jeongmal?” ucapku lirih. Tidak yakin dengan apa yang baru saja Taemin ucapkan padaku yang ditanggapi kesungguhan olehnya.

Aku tertegun. Benarkah Changmin hyung sendiri yang mengajakku untuk ikut pergi bersamanya? Aku sendiri tidak yakin.

Changmin. Aku mengetahui dan mengenal namja tinggi tersebut melalui Taemin. Di awali suatu hari saat Taemin yang memintaku untuk menuliskan e-mail untuk Changmin hyung. Dan aku menuruti permintaannya itu. Selama dua bulan, aku menuliskan e-mail untuknya atas nama Taemin.

Hari ini, aku melihatmu sedang membaca buku di bangku taman kampus. Dan kau tahu? Kau terlihat seperti sebuah lukisan yang terdapat di kartu pos bergambar.

“Ini terlalu kekanakan.” Tukas Taemin tiba-tiba menghampiriku yang saat itu tengah duduk di hadapan komputer, mengetik e-mail yang akan dikirimkan untuk Changmin hyung.

“Jeongmal? Apa perlu aku menulis ulang lagi?” Tanyaku meminta pendapatnya tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Kudengar Taemin terkekeh kecil dengan mulutnya yang tengah sibuk mengunyah snack-nya. “Ani. Aku menyukainya. Aku suka terdengar kekanakan…”

Dan suatu hari, kami berdua, menonton drama pertunjukan kampus yang dibintangi oleh Changmin sebagai pemeran utama. Aku yang duduk bersamanya di deretan pertama, dikejutkan oleh aksi Taemin yang tiba-tiba menaiki panggung teater pada saat drama tengah berlangsung. Ia memberikan karangan bunga pada Changmin yang tengah mengucapkan dialognya.

“Changmin hyung, aku mengirimkan surat padamu tanpa terlewat satu haripun.” Bisiknya yang terlalu keras tepat di telinga Changmin yang hanya mematung ditempatnya sebagai reaksinya karena terkejut. Bukan hanya Changmin saja yang tampak terkejut. Bahkan penonton dan pemain lain pun saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

Setelah itu, Taemin pun kembali ke tempat duduknya dengan senyum lebar yang tersungging di wajah imutnya tanpa merasa canggung sedikitpun.

“…Jika…Jika kau ingin tetap menikah, kau akan menikah dengan orang idiot sepertiku.” Ucap Changmin tergagap mengucapkan dialognya dengan memberikan bunga yang ia terima dari Taemin kepada lawan mainnya.

Taemin memang sangat menyukai Changmin. Ah, bukan menyukai. Tapi mencintai Changmin. Itu yang ia katakan padaku. Changmin sendiri merupakan sunbae-ku di kampus yang aktif di kegiatan teater.

Berbagai cara dilakukan Taemin guna mendekatkan diri pada sunbae tampan itu. Bahkan hanya untuk sekedar selalu dekat dengan Changmin, Taemin sampai ikut mendaftar di klub teater tersebut. Tak jarang jika ia berlatih, akupun menyempatkan diri untuk ikut dengannya walau hanya sekedar menontonnya berlatih.

“Ya! Ya! Ya! Bukan seperti itu!” Teriak Changmin tiba-tiba ketika ia yang tengah memperhatikan teman-teman klubnya berlatih, mendengar salah satu pemain salah mengucapkan dialog. Klub teater memang tengah berlatih keras membuat pertunjukan untuk mengisi dies natalis kampus yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

Aku yang saat itu baru saja memasuki ruangan teater hanya mendudukkan diri di salah satu kursi dengan memangku tas biolaku, beberapa baris di belakang Changmin yang tengah berdiri tegap dari duduknya, meneriaki teman-temannya yang tengah berlatih di panggung.

“Sinar bulan yang temaram, tak terduga membentuk bayanganmu yang terlihat di jendelaku. Dan Jordan tersentuh ketika Emily kembali lagi padanya” Ucap Changmin keras memperbaiki dialog yang salah, ”Kau harus menjiwai perasaan mereka berdua yang merasa bahagia dan patah hati di waktu yang bersamaan. Lakukan itu dengan perasaan.”

Setelah mengucapkan kalimat dan anjuran tersebut, tubuh tinggi milik Changmin pun kembali duduk di kursinya. Meskipun aku tak melihat ekspresi wajahnya, namun aku yakin jika ia terlihat sangat kesal. Terdengar dari intonasi ucapannya yang nyaring dan penuh penekanan. Taemin yang baru menyadari keberadaanku pun melambaikan tanganya yang tengah memegang naskah dialog yang aku balas dengan hal serupa.

Kupandangi sosok tinggi namja yang duduk memunggungiku itu dalam-dalam. Entah mengapa,tiap kali aku melihat sosok tingginya, aku merasa nafasku tercekat hingga seolah tak mampu bernafas. Sayangnya selama ini ia tak pernah sekalipun menatapku. Terdengar sangat menyedihkan bukan?

Aku akan mengucapkan mantra untuknya, tekadku menatap tajam punggung lebarnya. ‘Lihat ke belakang! Lihat ke belakang! Lihat ke belakang!’ Seruku dalam hati sembari terus menatap kearahnya.

Gotcha! Ia membalikkan tubuhnya tiba-tiba. Dengan gugup aku pun mengalihkan tatapanku ke sembarang tempat, kecuali pada sosoknya yang menatapku sekilas sebelum ia membalikkan tubuhnya kembali ke posisi semula.

Dengan sembunyi-sembunyi, kutatap kembali sosoknya yang tengah menekuni naskah ditangannya. Kulihat ia menjentikkan jarinya seperti menemukan sebuah inspirasi baru, “Ah…Musik!” Gumamnya yang masih dapat ku dengar.

Aku melipatkan tanganku di sandaran kursi di depanku tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Meletakan wajahku diatas lenganku sendiri sembari kembali mengamati sosok Changmin dari belakang yang menggumamkan dialog naskah.

“Aku ingat, ketika pertama kali aku melihatmu, kau telah mencuri hatiku. Tapi sekarang kau datang padaku, dan kau merasa kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Good! Hatiku milikmu selamanya.”

Kusandarkan tubuhku kembali ke kursiku. Masih dengan menatap sosok mengagumkan yang ada di hadapanku. Merasa mengasihani sendiri yang hanya mampu memperhatikan seseorang yang ia sukai tanpa diketahui oleh orang yang bersangkutan.

“Bukankah Changmin hyung sangat luar biasa? Aku sangat menyukai orang yang sangat bekerja keras sepertinya. Kau melihatnya tadi?” Tanya Taemin antusias yang kini duduk disisiku, “Ya! Ya! Ya! Bukan seperti itu!” Teriaknya mencoba menirukan ucapan dan gesture Changmin beberapa saat lalu dengan sempurna, “Sinar bulan yang temaram, tak terduga membentuk bayanganmu yang terlihat di jendelaku.”

Aku hanya tersenyum sendu melihat tingkahnya yang antusias tersebut. Taemin sangat polos. Dan yang aku kagumi dari dirinya adalah sikapnya yang berani menunjukkan rasa sukanya pada orang yang ia sukai meskipun kadang kala cenderung terlalu vulgar dan berlebihan. Tapi itulah nilai lebihnya yang tidak dapat aku lakukan.

Kami berdua terkejut ketika tiba-tiba Changmin yang baru saja selesai memberikan pengarahan pada klubnya, mendudukkan diri tepat disamping Taemin. Dan itu berarti ia hanya berjarak beberapa meter di sisiku. Tanpa bisa dicegah, aku memalingkan wajah gugupku darinya.

“Mambicarakanku?” tembak Changmin langsung pada Taemin yang sama gugupnya denganku.

“A..aniyo, hyung.” Sahut Taemin gugup. “Ah, hyung kenal Kyujin, kan?” Ia mengalihkan perhatian. Aku pun terkejut ketika tiba-tiba Taemin memegang tanganku dan menanyakan tentangku pada Changmin. “Dia yang bersamaku ketika pertama kali aku datang ke tempat ini.”

Meskipun aku tak mengalihkan wajahku, namun aku dapat melihat dari sudut mataku yang menangkap bayangan Changmin yang mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat kearahku. Jantungku seketika berpacu dengan cepat dengan tingkahku yang semakin gelisah karena malu tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.

“Ooh, yang waktu itu.” Ucapnya singkat dengan tetap menatapku.

Dengan ragu dan gugup, aku mengalihkan wajahku untuk menatapnya. Hanya sedikit, “N…ne..Anyeonghaseyo.” sapaku lirih dengan nada bergetar. Sementara Changmin sendiri tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap ke arah panggung dengan wajah datarnya.

Banyak orang yang menyukainya. Bukan hanya Taemin. Bahkan pegawai yang bekerja di kedai kampus yang cukup akrab denganku pun sangat menyukainya.

Aku menghela nafasku setelah sambungan telepon dari Taemin terputus dengan jawabanku yang menerima ajakannya. Akupun kembali menuju kamar, berniat untuk melanjutkan kembali membaca surat milik eomma.

Namun baru sampai diambang pintu, mataku terbelalak kaget saat mendapati surat yang awalnya tertata rapi didalam kotak kini telah berserakan dilantai tertiup angin yang berasal dari jendela yang terbuka. Apalagi dengan merpati putih yang beberapa saat lalu hinggap di jendela kini telah masuk dan berada di dalam kamar.

Dengan kesal ku raih sebatang bilah yang kugunakan untuk mengusir merpati-merpati itu kemudian menutup jendela dengan kasar. Ku punguti satu persatu surat yang berserakan dan menatanya kembali kedalam kotak milik eomma.

Kuraih selembar surat yang berada di penutup kotak yang terbuka. Nama Cho Kyuhyun tertera di salah satu sisi amplop yang membungkus surat yang ada ditanganku. Dan ketika aku membalikkan ampolp tersebut ke sisi yang lain, aku mendapati nama Zhoumi disana.

Dengan rasa penasaran,aku pun menarik dan mengeluarkan surat itu dari amplop. Berisi dua lembar surat yang berisi tulisan tangan yang sangat rapi. Keningku berkerut bingung ketika ada nama lain tercantum dalam salah satu sudut kertas yang ku genggam. Jung Yunho?

Ku baca sekali lagi nama yang tertera di amplop. Bukankah surat ini dari Zhou Mi? Tapi mengapa ada nama lain yang tertulis di surat ini? Kubaca kalimat pertama yang tertulis dalam kertas tersebut.

“Ketika aku membuka jendela di pagi hari, romantic breeze yang bertiup pertanda datangnya musim gugur. Aku akan menggenggam angin tersebut kedalam surat ini dan mengirimkannya padamu.”

Aku terdiam sesaat. Membelai tengkukku dengan perasaan canggung.

“Romantic breeze? Bukankah ini terdengar sangat klise?” Ucapku seorang diri dengan heran. Senyum tidak dapat ku tahan ketika aku kembali meresapi kalimat tersebut. “Baiklah. Aku pikir ini terlihat sangat klasik.”

Kuletakkan surat tadi dan beralih meraih sebuah buku bersampul cokelat yang tertindih diantara tumpukan surat milik eomma. Kurasa ini adalah jurnal milik eomma. Kubuka beberapa lembar dari halaman buku itu. Dan mataku menangkap pada sebuah benda, lebih tepatnya sebuah foto yang terdapat diantara halaman jurnal eomma.

Ku perhatikan foto tersebut dengan seksama. Foto seorang lelaki yang tengah membaca buku dan duduk di sebuah jendela. Kemudian ku letakan foto tersebut di meja untuk kembali membuka halaman lain jurnal yang ada ditanganku…

Flashback – Past Days

Diantara gemerisik dedaunan di siang yang cerah itu, Jung Yunho duduk di jendela perpustakaan sambil membaca buku. Membaca dan menulis adalah dua hal yang disukainya. Dan mungkin kedua hal tersebut-lah yang membuatnya sedikit romantis di mata teman-temannya.

“Yunho-ya.”

Yunho menoleh. Dilihatnya Zhou Mi berdiri di sana, menyandarkan tangannya di salah satu rak buku terdekat. Lelaki jangkung itu tersenyum pada Yunho. Hal ini membuat Yunho sedikit bingung. Pasalnya, Zhou Mi tidak pernah bicara padanya sebelumnya, tapi hari ini ia datang dengan sikap bersahabat.

“Tuliskan sebuah surat untukku.” Kata Zhou Mi.

Zhou Mi mendengar bahwa Yunho pernah menuliskan sebuah surat untuk seorang teman, oleh karena itulah ia datang dan meminta bantuan. Yunho bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Zhou Mi. Menurut teman-teman mereka, Zhou Mi terus tumbuh selama musim dingin, itu sebabnya ia terlihat sedikit lebih tinggi daripada Yunho saat ini.

“Untuk siapa?” tanya Yunho.

“Untuk tunanganku.”

“Tunanganmu?” tanya Yunho lagi.

Zhou Mi berjalan ke cermin di sisi kiri Yunho. “Kami dijodohkan. Dia adalah anak dari teman ayahku.”

“Kau sungguh beruntung. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mengajak lelaki manapun untuk berkencan denganmu.” Kata Yunho seraya tersenyum.

“Huhh.. Aku muak. Aku bukan tipe lelaki yang hanya mengencani satu lelaki saja. Jika lelaki ini mengirimiku surat, ayahku akan mengeceknya. Ia ingin tahu segalanya. Terkadang, ia bertingkah seperti agen FBI.” Jawab Zhou Mi.

Ia lalu merongoh saku kemejanya lalu mengeluarkan sebuah foto. Dengan bersemangat ia mendorong foto itu di meja, niatnya foto itu akan berhenti tepat di depan Yunho, tapi karena ia terlalu bersemangat mendorong, foto itu malah melewati Yunho dan jatuh di ke lantai.

“Aigooo..” Zhou Mi lalu buru-buru mengambil foto tersebut kemudian meletakkannya di depan Yunho.

Yunho mendekat dan memperhatikan wajah dalam foto itu baik-baik.

“Ia adalah anak seorang Congressman. Dan karena itulah mungkin dia sedikit sulit dijangkau.” Zhou Mi melanjutkan.

Namun Yunho tidak memperhatikan perkataan temannya itu sama sekali. Ditatapnya foto itu dalam-dalam. Lalu ingatannya terbang ke beberapa waktu silam, dimana ia dan kedua orang sahabatnya di desa, Donghae dan Heechul, tengah berusaha menangkap ikan di sungai.

“Cepat tangkap! Itu dia.. Itu dia!” seru Heechul.

“Kenaa..!!!” seru Donghae.

Begitu jala mereka di naikkan, ternyata bukan seekor ikan yang mereka dapatkan melainkan cuma seekor kumbang.

“Ah, kau membiarkannya lolos diantara kakimu! Inikah keahlian yang kau dapat di kotamu tercinta?” Omel Heechul pada Yunho.

“Suwon bukan kota, Seoul barulah kota yang sebenarnya.” Bantah Donghae.

“Tapi kami punya balai kota!” kata Yunho membela diri.

“Ya! Berhenti bicara. Ini!” kata Heechul seraya memberikan jaring pada Yunho. “Aku akan memancing mereka agar mendekat, kau yang menangkapnya! Perhatikan baik-baik.”

“Ayo!” kata Heechul kemudian pada Donghae. Keduanya lalu sedikit menjauhi Yunho dan memulai aksi mencari ikan lagi.

Selama beberapa waktu kedepan, mereka sibuk dengan kegiatannya hingga sebuah gerobak kecil melintas tak jauh di depan mereka. Gerobak yang ditarik oleh seekor sapi dan dipandu seorang gembala itu memuat beberapa karung dan.. seorang lelaki manis diatasnya.

Yunho tertegun menatap lelaki itu, membuat Donghae dan Heechul yang berdiri membelakangi gerobak itu terheran-heran.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Heechul.

Yunho menjawab dengan mengarahkan dagunya ke arah pemandangan yang dilihatnya saat ini. Donghae dan Heechul serentak menoleh ke belakang.

“Dia adalah cucu dari si tua Cho. Aku dengar ia dari Suwon.” Kata Heechul. Kemudian dahinya mengernyit. Ia lalu menoleh pada Yunho. “Tunggu, bukankah kau juga dari Suwon?”

Yunho mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari makhluk manis di atas gerobak itu.

“Kita tidak bisa bermimpi untuk mendapatkannya. Anak dari si tua Cho itu adalah seorang Congressman.” Kata Heechul lagi.

“Jadi.. Dia adalah anak lelaki si Congressman?” tanya Yunho.

Heechul memutar bola matanya dengan bosan, sementara Donghae menanggapi Yunho. “Tentu saja, mana mungkin ia anak perempuan Congressman? Bodoh!”

Lelaki manis diatas gerobak itu menatap ketiga lelaki di bawah sana sambil tersenyum. Yunho yang berdiri ditengah melambaikan tangannya. Lelaki itu balas melambai.

“Ya! Lihat! Dia balas melambai. Ayo kita melambai lagi.” pekik Yunho.

Ketiganya lalu melambai dengan riang. “Anneyong haseyo..!”

Yunho tersenyum. Ia sedikit merindukan kedua sahabatnya, Heechul dan Donghae karenanya. Kemudian ingatannya melayang ke peristiwa lainnya.

“Aku dapat!” teriak Yunho.

“Benarkah? Coba kulihat!” tanya Donghae lalu mendekati Yunho. Heechul juga berlari mendekati Yunho. Yunho dan Donghae lalu mengorek-ngorek kotoran sapi di depan mereka.

“Baunya menjijikkan.” Kata Donghae dengan jijik.

Yunho lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. “Ya. Aku dapat lagi. Lihat, yang ini lebih besar. Aku yakin ini banyak terdapat di dalam kotoran sapi.”

Namun kali ini Heechul dan Donghae tidak menjawabnya. Keduanya sibuk memandangi sesuatu di belakang Yunho. Yunho akhirnya menyadari dan ikut berbalik. Disana, diatas bukit kecil di depan mereka, berdiri dua orang lelaki yang sedang memperhatikan mereka. Dan salah satunya adalah cucu dari si tua Cho.

“Itu kumbang kotoran sapi.” Kata lelaki yang satu.

“Kumbang kotoran? Aku sama sekali tidak pernah melihatnya.” tanya si lelaki manis.

Yunho kemudian bertanya. “Apa kau mau melihat ini?”

Kedua lelaki tadi saling berpandangan lalu tersenyum sumringah. Si manis lalu menuruni undakan ketika Yunho berlari ke arahnya.

“Ya! Itu kotoran sapi. Kotor!” teriak sahabatnya di belakang.

Tapi si manis tidak perduli, dengan antusias ia menyentuh kumbang yang disodorkan Yunho. Namun detik berikutnya ia menarik tangannya dan tersenyum malu. “Apa kau pernah melihat rumah hantu di seberang sungai?”

“Eh? Rumah hantu? Oh, iya..” kata Yunho dengan ragu.

“Bisakah kau mengantarku kesana?” tanya lelaki manis itu penuh harap.

Kembali Yunho menjawab dengan ragu. “Ya.”

“Apa kau bisa mendayung sampan?” tanya si manis lagi.

“Tentu saja.” Jawab Yunho singkat.

“Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu di dekat penyebrangan besok pukul dua belas siang.”

Si manis lalu berlari meninggalkan Yunho, menggandeng sahabatnya lalu berjalan menjauh. Sesekali ia masih mencuri pandang pada Yunho sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.

Sedangkan Yunho yang merasa Tuhan tengah memberikan anugerah untuknya tersenyum senang. Donghae dan Heechul lalu menghampiri Yunho.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Donghae bersemangat. “Anak kota yang satu ini benar-benar berbeda.” Ia lalu mengusapkan kotoran sapi di tangannya ke kedua pipi Yunho.

Tapi Yunho sama sekali tidak marah. Ia malah memegang erat wajah Donghae dengan ceria lalu berkata. “Ya! Ajari aku cara mendayung.”

*

YunKyu - Journey

To be continued..