Million Words – Chapter 7

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin, etc.

Pair : ChangKyu, BinKyu

Genre : BL, Romance, Angst

Rate : T

Warning : BL, OOC, Typo (es)

 

CHAPTER 7

Kyuhyun tak mengerti dengan perasaan sesak yang terasa menghimpit dadanya. Rasa yang bercampur dengan gemuruh hebat hingga menghasilkan rasa sakit dan luka tak kasat mata pada hatinya.

Ia memejamkan kedua matanya. Alih-alih untuk beristirahat dan menenangkan diri, namun sekejap kemudian matanya kembali terbuka seolah tengah dihantui oleh kegelisahan yang tengah mendominasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ia lelah. Tak hanya fisiknya, pikirannya pun merasakan hal yang serupa. Meskipun begitu, raganya seolah tak menginjinkan dirinya untuk beristirahat.

Semenjak kepulangannya setelah mengunjungi rumah saudara Woobin, ia menangis. Hingga Woobin yang mengantarnya pulang ke apartement pun kebingungan. Tak tahu harus bersikap seperti apa melihat guru geografinya itu menangis sepanjang perjalanan. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan kemauan Woobin yang bersikeras ingin menemaninya di apartement hingga ia harus mengusirnya dengan paksa.

Ia masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang ia alami dirumah yang ia tahu merupakan sepupu dari Woobin. Seperti disaat ia melihat sebuah foto yang berisi gambar Changmin, tunangannya tengah tersenyum bahagia dengan seorang wanita dan seorang anak kecil dalam dekapannya.

“Chang..min.” Gumam Kyuhyun lirih.

Ia mematung ditempat untuk memastikan jika sosok lelaki yang tergambar dalam foto di hadapannya merupakan lelaki serupa yang berstatus menjadi tunangannya. Dan ia tak mungkin salah menerka. Menjalin hubungan dengannya selama lebih dari tujuh tahun membuat ia tak mungkin tak mengenali sosok Changmin meski dalam bentuk foto sekalipun.

“Eomma..” Rengek Minseok berusaha melepaskan diri dari gendongan Myungsoo. Anak kecil itu nyaris menangis ketakutan melihat ibunya tiba-tiba menjatuhkan gelas di hadapannya.

Tak jauh berbeda dengan Minseok, Myungsoo dan Jongin pun merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama. Karena dengan sigap Jongin segera meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan tumpahan susu dan serpihan pecahan kaca yang berserakan di sekitar Kyuhyun.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Jongin menyentuh bahu Kyuhyun yang tampak masih terpaku.

“Kyuhyunnie!”

Panggil suara berat milik seorang laki-laki yang langsung menghampiri Kyuhyun. Tanpa ragu ia pun merengkuh tubuh ringkih tersebut yang masih belum beranjak dari posisinya yang tengah menunduk.

“Bibi~” Panggil Minseok dengan riang melihat sosok yang tiba-tiba muncul.

“Woobin-ah?”

“Bisakah kalian berdua membawa Minseok keluar?” Pinta Woobin dengan nada rendahnya yang memerintah.

Mengerti isyarat tersebut, Jongin serta Myungsoo yang masih menggendong Minseok pun melangkah keluar. Tak peduli Minseok yang meronta keras, memaksa untuk menghampiri ibu dan uncle-nya.

“Kyuhyunnie…”

“Woobin, apa maksudnya? Changmin.. dia..”

Woobin memandang foto tersebut dengan tatapan sarat akan kebencian. Kyuhyun pasti akan mengetahui hal ini, cepat atau lambat. Tapi bagaimana jika itu terjadi sepuluh tahun kemudian? Kyuhyun akan terus hidup dalam kebohongan kekasihnya. Maka ia yang harus mengambil tindakan. Namun ia tak pernah menyangka jika melihat keadaan Kyuhyun saat ini pun membuat ia merasakan rasa sakit yang sama.

Ia meraih wajah Kyuhyun dan menghadapkan padanya. Rasa sakit itu semakin menghujam perasaannya kala ia melihat wajah Kyuhyun tampak merah padam dengan bola matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.
Dalam hati ia bersumpah akan membalas perbuatan pria pengecut yang telah membuat Kyuhyun-nya serapuh ini.

“Woobin-ah..”

Suara lembut seorang wanita membuat Woobin mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Seorang wanita yang masih berdiri kaku dihadapannya dengan raut keterkejutan yang belum sirna dari wajahnya.

“Yeon Hee noona..”

*

Woobin menatap Kyuhyun dalam. Saat ini, mereka telah berada di apartemenn Changmin dan Kyuhyun. Semenjak kepulangan mereka dari rumah sepupunya, Yeon Hee, Kyuhyun sama sekali tak mengucapkan kalimat apa pun. Bahkan menatapnya pun ia enggan.

Selama beberapa waktu ia hanya terus memperhatikan sosok Kyuhyun yang terlihat sibuk dalam pikirannya sendiri. Dan ia merasa jengah diacuhkan Kyuhyun seperti ini.

“Ceritakan padaku..”

Suara parau Kyuhyun memecah kebisuan diantara mereka. Meskipun kalimat tersebut jelas ditujukan pada lelaki di hadapannya, namun Kyuhyun sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Woobin. Matanya menatap pada arah lain dengan tatapannya yang kosong sarat tanpa makna.

Baru beberapa saat kemudian ia menatap mata Woobin ketika lelaki tersebut tak merespon pertanyaannya. “Bisakah kau menceritakan padaku, Woobin-ah?”

“Apa yang ingin kau ketahui?” Tanya Woobin seolah menantang.

“Semuanya.”

“Bukankah Yeon Hee noona sudah menjelaskan semuanya padamu?”

Kyuhyun sedikit berjengit kala ia mendengar nama Yeon Hee terucap. Sebuah nama yang menjadi bagian dari kenyataan menyakitkan yang baru ia ketahui.

“Aku hanya sekedar mengetahui jika Minseok merupakan anaknya dengan Changmin..” Kyuhyun menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan dirinya mengucapkan kalimat tersebut.

“…tentang pernikahan mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun serta permintaan maafnya padaku. Saat aku menanyakan cerita lebih lanjut, ia hanya memintaku untuk menanyakan langsung pada Changmin.”

“Kenapa kau tidak bertanya saja pada lelaki pengecut itu?”

“Berhenti menyebut Changmin sebagai lelaki pengecut!”

“Dia memang pengecut!” Sentak Woobin kasar, “Ia seorang pengecut yang menghamili seorang perempuan sementara ia telah bertunangan dengan orang lain!”

Kyuhyun tersentak. “Menghamili?”

“Kau terkejut?” Tanya Woobin dengan nada sinis tanpa mempedulikan reaksi Kyuhyun. “Karena lelaki itulah kehidupan Yeon Hee noona menjadi berantakan.”

Woobin menggeram menahan amarah. “Yeon Hee noona hanyalah seorang gadis lugu yang kemudian dicampakan oleh si pengecut itu, pada awalnya. Mereka berdua adalah rekan bisnis dengan perusahaan ayahnya yang merupakan salah satu donatur untuk yayasan pria tersebut. Dengan relasi yang demikian membuat mereka sering melakukan perjalanan bisnis bersama…

“…hingga pada suatu hari si pengecut itu meminta Yeon Hee nunna untuk melakukan hubungan badan. Noona yang memang pada awalnya tertarik dengannya pun tak menolak.”

Kyuhyun masih terdiam tanpa berkomentar. Meskipun dalam hati ia ingin menyangkal jika Changmin-nya tidak akan tega mengkhianatinya. Dengan perlakuan Changmin selama ini padanya, tentu kenyataan bahwa Changmin mengkhianatinya tidak dapat dengan mudah ia percaya.

“Semenjak itupun hubungan mereka semakin dekat. Noona tentu saja tidak mengetahui jika ia telah memiliki tunangan hingga ia dinyatakan hamil beberapa bulan kemudian.” Rahang Woobin mengeras, seperti tengah menahan emosinya kala ia mengingat cerita tersebut.

“Mengetahui kehamilan noona, orang tuanya pun mengusirnya dari rumah. Kehamilan tersebut tentu saja merupakan aib bagi keluarga, terlebih ketika mereka mengetahui jika noona hamil dengan seorang pria yang telah memiliki tunangan.”

“Yeon Hee noona meminta pertanggung jawaban padanya, awalnya pria brengsek itu menolak dengan dalih jika ia telah memiliki tunangan. Namun dengan desakan noona dan keinginan pria itu untuk memiliki keturunan yang dengan jelas tidak bisa didapatkan darimu yang notabene-nya adalah seorang laki-laki..”

Woobin melirik sekilas pada Kyuhyun saat ia menyinggung tentang gender-nya. Dan ia dapat melihat jika kedua tangan Kyuhyun mengepal erat diatas pahanya. “…ia pun bersedia menikahi noona tiga tahun yang lalu. Demi Minseok, putra mereka. Serta demi rasa cintanya pada Changmin, Yeon Hee noona merelakan dirinya menjadi istri simpanan pria pengecut itu. Merelakan dirinya diusir dan dibuang oleh keluarganya sendiri.”

Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Membiarkan diri mereka terlarut dalam perasaan masing-masing. Perasaan benci pada Changmin yang semakin membuncah dalam diri Woobin, serta rasa sedih dan kecewa yang dirasakan oleh Kyuhyun.

“Apa Changmin mengetahui jika kau adalah sepupu Yeon Hee?” tanya Kyuhyun kemudian.

Ia masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, saat pertama kali ia dan Changmin bertemu dengan Woobin. Changmin sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda jika ia mengenal Woobin. Ia bersikap normal layaknya bertemu dengan orang asing yang baru ia temui. Bahkan tak segan Changmin memuji sikap sopan Woobin yang pada saat itu membuat dirinya jengkel.

Woobin menggeleng, “Aku selalu mengunjunginya setelah memastikan pria itu tak ada di sana. Bertemu dengannya membuat keinginanku untuk menghancurkan kehidupannya semakin besar.” Jelas Woobin tanpa merasa segan mengungkapkan kebenciannya pada Changmin. Menyebut namanya saja ia tak sudi. Dan bertemu dengan pria yang ia cap pengecut itu tentu saja membuat keinginan untuk menghancurkannya semakin meluap.

“Lalu, apa kau mendekatiku pun merupakan salah satu caramu untuk menghancurkan Changmin?”

“Apa?” Sentak Woobin terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika Kyuhyun akan menanyakan hal yang demikian.

“Bukankah sudah jelas? Kau yang seorang siswa biasa, mendekatiku yang merupakan gurumu. Kau pun mengetahui jika aku telah memiliki Changmin, tunanganku sekaligus pria yang sangat ingin kau hancurkan itu. Dan kau sama sekali tak pernah memperdulikan hal tersebut hingga hubunganku dengan Changmin hancur seperti saat ini.”

“Ya. Pada akhirnya..” Suara Woobin lirih.

Kyuhyun tersentak. Untuk kesekian kalinya ia merasakan rasa sakit itu lagi. Ia merasakan belati imajiner terasa mengoyak hatinya. Benarkah apa yang ia dengar? Jika dirinya merupakan alat untuk menghancurkan Changmin karena dendamnya?

“Tapi aku bersumpah, Kyuhyunnie! Jika hal itu tidak sepenuhnya benar. Awalnya aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menghancurkan hubunganmu. Aku tertarik padamu bahkan saat pertama kali aku melihatmu. Dan keinginanku untuk memilikimu semakin besar setelah aku mengetahui jika Changmin adalah tunanganmu…”

Woobin beranjak menghampiri Kyuhyun yang tampak akan menangis. Ia mengulurkan tangannya berniat untuk menghapus air mata lelaki manis itu yang mengalir di pipinya. Namun dengan kasar Kyuhyun menyentaknya.

“Kyuhyunnie..”

“Jangan sentuh aku!”

“Kyu-“

“Pergi.” Pinta Kyuhyun mendorong pelan dada Woobin untuk beranjak dari sisinya. Suaranya bergetar tertelan oleh isakannya. “Aku mohon..pergi dari sini..”

Woobin bergeming. Melihat Kyuhyun yang sehancur ini membuat ia bertekad untuk menenangkannya. Tak mendapat respon, Kyuhyun pun beranjak dan menarik pergelangan Woobin dengan kasar. Menyeretnya keluar setelah ia membuka pintu apartement-nya. Woobin bisa saja memberontak dan melawan Kyuhyun. Namun keinginannya untuk memberontak seketika luluh demi melihat wajah Kyuhyun yang basah karena air mata.

BRAK!

Tubuh Kyuhyun merosot seketika dan bersandar pada pintu. Menangis dalam diam. Meratapi rasa sakit dan kekecewaan yang menguasai hatinya. Rasa kecewa yang ia dapatkan dari Changmin tentang pengkhianatannya semakin bertambah setelah mengetahui motif Woobin mendekatinya. Ia tak pernah berharap jika pria yang mampu membuatnya jatuh cinta padanya tega mempermainkan perasaannya hingga sedemikian rupa.

Di lain sisi, Woobin pun masih berdiri ditempat untuk beberapa saat. Menatapi pintu kayu dihadapannya dengan pandangan kosong. Hingga tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Eomma..”

*

Sudah seminggu Kyuhyun mengurung diri dikamarnya. Tak dipedulikannya orang-orang yang berusaha menghubungi, menemui bahkan mencarinya sekalipun. Ponselnya pun telah mati kehabisan baterai karena ia sama sekali tak berniat untuk mengisinya. Tak terhitung berapa puluh panggilan dan pesan masuk yang ia abaikan. Sama sekali tak berniat untuk menerima dan membukanya sekalipun.

Tak terkecuali Changmin. Ia telah mengetahui semua kejadian yang telah ia lewatkkan setelah Yeon Hee menceritakannya. Hal tersebut tak pelak membuat ia marah dan menyalahkan Yeon Hee yang menurutnya telah lancang menceritakan tentang hubungan mereka pada Kyuhyun.

Segera setelah itu, ia kembali ke apartemennya dan Kyuhyun. Berharap ia dapat menemui pria manisnya untuk menjelaskan dan meminta maaf pada tunangannya.

Namun harapannya sia-sia ketika ia menginjakan kaki di apartement mereka. Yang ia dapati hanyalah Kyuhyun yang terus mengurung diri di kamar. Mengacuhkan bujukan dan usahanya untuk meminta Kyuhyun keluar dari kamar mereka.

“Kyuhyun-ah..” Panggil Changmin setelah ia mengetuk pintu kamar mereka untuk yang kesekian kalinya. “Kyuhyun-ah, aku mohon. Keluarlah dari kamarmu sekarang. Berhenti menyiksa dirimu seperti ini, Kyu.” Pinta Changmin memelas.

Ia telah kehabisan akal membujuk Kyuhyun. Pada saat seperti ini ia sangat merutuki sifat keras kepala Kyuhyun yang sama sekali tidak membantunya.

Lagi, bujukannya sama sekali tak menuai respon. Ia sadar. Sudah sepantasnya Kyuhyun marah padanya setelah apa yang selama ini ia sembunyikan diketahui olehnya. Ia memaklumi kemarahan Kyuhyun. Namun paling tidak, ia berharap jika ia bisa menjelaskan lebih detail pada Kyuhyun. Ia terlalu mencintai Kyuhyun. Dan kekhawatirannya tentang Kyuhyun yang akan meminta berpisah merupakan hal yang paling ia takutkan.

Ting Tong!

Angan Changmin terinterupsi ketika ia mendengar bel pintu berbunyi. Dengan enggan ia pun berjalan ke sumber suara untuk membukakan pintu untuk tamu dilarut malam seperti ini.

“Kau..”

“Dimana Kyuhyun?” tanya Woobin tanpa tedeng aling.

“Berani sekali kau datang ke sini.” Sahut Changmin sarkatik.

Woobin mendecih, “Dan kau sendiri? Apa kau masih punya malu untuk pulang ke apartement ini, Shim Changmin?”

Tubuh Changmin menegang. Pertanyaan Woobin menusuk harga dirinya. Setelah apa yang ia lakukan pada Kyuhyun, ia masih berani menemui Kyuhyun dan bahkan berharap jika Kyuhyun akan memaafkannya serta kembali lagi padanya?

Woobin menyeringai melihat Changmin yang terdiam. Tanpa sungkan ia pun masuk ke apartement dan menabrak tubuh Changmin dengan sengaja.

“Kyuhyunnie…!” Teriak Woobin kencang.

“Apa kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?!”

Woobin terkesiap. Ia menatap tajam Changmin yang ada dibelakangnya. Seketika itu juga emosinya membuncah yang ia lampiaskan dengan pukulan di wajah tirus Changmin.

BUK!

Seketika tubuh Changmin terpental menabrak tembok. Dengan beringas Woobin menghampiri dan mencengkeram kemeja Changmin.

“Jangan pernah sekalipun kau menghina orang tuaku.” Woobin menggeram.

BUK!

“Lalu pernahkah kau diajari oleh orang tuamu untuk menjadi lelaki pengecut, hah?!”

BUK!

Changmin membalas pukulan Woobin. Telak mengenai rahang pria yang lebuh muda darinya itu.

“Jaga ucapanmu! Lagipula siswa macam apa kau yang berani meniduri gurumu sendiri!”

Woobin menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan kasar. Tubuhnya bergetar menahan amarah mendengar hinaan Changmin. Namun seringaian muncul dari bibirnya. “Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri.. kakak sepupu?”

Dahi Changmin mengernyit ketika mendengar panggilan kakak sepupu yang baru saja dilontarkan oleh Woobin.

“Kau pikir aku tidak tahu kebusukanmu selama ini, Shim Changmin? Bersikap seolah-olah kau sangat mencintai Kyuhyun sementara di belakangnya kau telah memiliki anak dari wanita lain?”

Woobin tertawa mengejek melihat raut keterkejutan Changmin. Pria Shim itu terlihat menundukkan wajahnya tanpa berani menatap kearahnya. Woobin berjalan kearah Changmin dan segera menyambar lelaki itu dengan pukulannya kembali.

BUK!

Changmin yang masih dalam keadaan shock seketika tersungkur dilantai. Woobin kembali memburu Changmin.

“Asal kau tahu saja brengsek. Jika wanita yang dulunya sempat kau permainkan itu adalah sepupuku, Lee Yeon Hee!” Raung Woobin tepat diwajah Changmin sebelum ia kembali melayangkan pukulannya.

BUK!

“Ini untuk penghinaan terhadap orang tuaku!”

BUK!

“Dan ini untuk kau yang telah menghancurkan kehidupan sepupuku!”

BUK!

“KIM WOOBIN!”

Pukulan Woobin yang bak kesetanan terhenti ketika ia mendengar pekikan seseorang. Tak jauh darinya, kini terlihat Kyuhyun tengah berdiri diambang pintu kamarnya. Penampilannya tampak berantakan dengan wajah sayu dan mata merahnya yang tampak mencolok.

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun berlari kearah mereka. Dan dengan paksa mendorong tubuh besar Woobin yang tengah menindih Changmin dengan wajah yang babak belur.

“Changmin-ah..Changmin-ah..”

Kyuhyun memangku kepala Changmin dan menyeka darah yang mengalir di pelipis dan bibir sang kekasih. Air matanya kembali mengalir saat Changmin terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara itu, Woobin terhenyak menatap Kyuhyun yang sama sekali tak mempedulikannya. Ada rasa sakit yang ia rasakan saat Kyuhyun mengabaikannya dan lebih mempedulikan lelaki pengecut itu.

“Apa yang kau lakukan Kim Woobin?!”

“Kyuhyunnie, aku..”

“Pergi dari sini sebelum aku memanggil security.”

Ancam Kyuhyun dingin sebelum ia membantu Changmin berdiri dan masuk ke kamar mereka.

*

BRAK!

Woobin membanting pintu mobilnya dengan kasar saat ia telah sampai di pekarangan rumahnya. Ia sedikit meringis saat ia merasakan perih disekitar rahangnya.

“Shim Changmin sialan.” Makinya kesal pada orang yang telah membuat wajahnya memar.

Sebelum ia masuk ke rumah, ia terlebih dahulu mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia tak ingin menghadapi pertanyaan sang ibu tentang lukanya dan membuat beliau khawatir.
Ia pun melangkah menuju rumah bernuansa putih dihadapannya. Rumah mewah yang belakangan hanya ditempati oleh dirinya dan ibu yang sangat ia cintai. Seperti telah menjadi sebuah kebiasaan, ia pun langsung menaiki tangga dan menuju kamar pertama dilantai kedua. Kamar milik sang Ibu.

Ketika ia membuka pintu kamar tersebut, hanya kegelapan yang menyambut pandangannya. Ia sedikit heran. Tidak biasanya ibunya membiarkan keadaan kamarnya terlihat gelap tanpa penerangan. Sebab ia tahu jika sang ibu memang tak menyukai kegelapan.

“Eomma..” Panggilnya dengan satu tangannya menekan sakelar lampu.

Senyuman muncul di balik masker yang ia kenakan saat ia melihat sosok ibunya tengah terbaring di tempat tidur. Pria berusia 17 tahun itu pun memutuskan untuk membuka maskernya dan menghampiri sang ibu. Berniat mengucapkan selamat malam pada wanita yang telah melahirkannya.

Namun senyumannya itu seketika menghilang saat ia melihat cairan serta busa berwarna putih mengalir dari sudut mulut ibunya.

“Eomma!”

Di sisi tubuh yang tergeletak itu terdapat sebuah botol kecil dengan beberapa butir pil yang tercecer. Valium (sejenis obat penenang).

Dengan panik ia pun segera meraih ponselnya, men-dial nomor darurat dan membopong tubuh ibunya dari tempat tidur. Tanpa tahu jika terdapat selembar kertas terjatuh dari genggaman tangan ibunya.

“Eomma..kumohon.. bertahanlah..”

Ia telah pergi, Woobin-ah.

Ia telah pergi meninggalkan kita dengan wanita jalang itu..

*

“Kau mau kemana, Kyu?” Changmin meraih tangan Kyuhyun yang beranjak dari sisinya.

Kyuhyun tersenyum sekilas pada pria yang tengah terbaring di bangsal.

“Aku ingin menemui Dokter Hwang sebentar untuk menanyakan perkembangan kondisimu, Changmin-ah.”

Mereka berdua tengah berada di Rumah sakit saat ini. Mengingat kondisi Changmin yang luka parah pasca baku hantamnya dengan Woobin semalam. Dan Kyuhyun tentu saja akan menemaninya, walau bagaimana pun saat ini ia masih menjadi kekasih sekaligus tunangan Changmin.

Pria tinggi itu pun melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Kyuhyun meskipun enggan. Ia seperti tak rela melepaskan Kyuhyun. Takut jika pria manis itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Aku akan segera kembali.” Janji Kyuhyun melihat keraguan Changmin.

*

Kyuhyun menutup pintu ruangan Dokter Hwang dengan pelan. Kekhawatirannya sedikit berkurang saat Dokter Hwang menjelaskan kondisi Changmin yang semakin membaik.

Sebelum ia kembali ke kamar Changmin, ia terlebih dahulu untuk mampir ke kantin Rumah Sakit. Segelas teh hangat sepertinya akan membantunya terasa segar kembali. Ia nyaris menjerit ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar dari balik koridor Rumah Sakit. Namun suara itu tak terdengar karena mulutnya dibekap oleh sepasang tangan besar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seseorang yang menarik tangan Kyuhyun yang tidak lain adalah Woobin.

Dengan kasar Kyuhyun mendorong tubuh Woobin untuk menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Kyuhyun marah. Sontak saja suara tersebut menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang disekitar mereka.

“Kau sangat suka menarik perhatian orang lain, Kyuhunnie..” Ucap Woobin dengan nada menggoda.

Kekesalan Kyuhyun semakin bertambah. Demi Tuhan, bagaimana ia bisa bersikap demikian? Bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya sementara semalam ia nyaris menghabisi Changmin di depan matanya.

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

“Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?” Woobin membelai pipi Kyuhyun lembut yang segera ditepis kasar oleh Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari wajah yang ada dihadapannya. Melihat wajah tersebut mengingatkan ia pada malam itu. Di mana Woobin secara tidak langsung mengakui bahwa ia hanya dijadikan alat untuk membalas dendam pada Changmin.

“Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku. Ah, aku tahu. Apa kau sedang menunggui pria pengecut yang terbaring di salah satu kamar rumah sakit ini?”

Kyuhyun mendongak, “Tidakkah kau merasa bersalah padaku? Tidakkah kau merasa bersalah pada Changmin?”

Woobin menaikkan salah satu alisnya. “Sama sekali tidak. Bahkan aku menyesal tidak membuatnya langsung mati di tempat.”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema diantara lorong panjang tempat mereka berdiri. Woobin meraba pipinya yang terasa perih. Ditatapnya Kyuhyun yang kini terlihat menggigit bibirnya yang bergetar.
Kyuhyun sndiri yang tak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Woobin yang terdengar menyepelekan, reflek menampar pria tersebut. Tidak tahukah ia jika dirinya merasa marah dan kecewa terhadap bocah tersebut? Marah karena anak itu menghajar Changmin dan kecewa karena tanpa bisa ia cegah, Kyuhyun sudah jatuh hati pada orang yang menjadikannya alat balas dendam. Walaupun Woobin mengatakan bahwa sejak awal ia sudah menyukai dirinya.

“Aku muak dengan segala tingkahmu, Kim Woobin. Aku menyesal telah mengenal manusia arogan dan pembawa masalah sepertimu. Dan kuharap aku tidak akan pernah lagi bertemu manusia sepertimu..” Kyuhyun menatap tepat di manik mata Woobin yang terlihat sayu, “..selamanya.”

Selepas mengucapkan kalimat tersebut, Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Woobin yang masih mematung di tempatnya. Meninggalkan Woobin yang tersenyum miris tanpa ia ketahui.

Million_Words_7_Poster_Finishing

To be continued..

Million Words – Chapter 6

Title                 : Million Words

Rate                 : M

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun,  Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warninng        : BL, OOC, Typo (es), Dont like dont read!

 

CHAPTER 6

Kyuhyun menatap sebagian punggung Woobin yang terlihat dari pintu kamar. Ia ingat tadi sebelum Woobin membawanya masuk ke kamar, anak itu sempat mematikan lampu depan, hingga Kyuhyun tidak bisa melihat dengan jelas keluar. Tapi ia masih bisa menangkap dengan jelas sosok lelaki yang tadi bercinta dengan dahsyat dengannya.

Bukankah ia akan ke dapur? Mengapa ia tidak pergi juga? Ada apa lagi? Jangan bilang ia menerima telepon dari ibunya lagi dan kini ia tengah cemas.’ Pikir Kyuhyun.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati ponsel muridnya itu tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Lalu mengapa ia berdiri terpaku seperti itu di depan pintu?” monolog Kyuhyun. Ia lalu bangkit dari tempat tidur tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuh pucatnya dari depan. Kyuhyun melangkah pelan keluar lalu memeluk tubuh kekar Woobin dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan selimut agar tetap menempel di tubuhnya.

“Mengapa kau lama sekali? Bukankah kau tadinya mau mengambilkan air untukku?” Kyuhyun bertanya seraya menempelkan seluruh wajahnya ke punggung lelaki itu.

Kim Woobin tidak menjawab. Ia tetap diam di tempatnya, membuat Kyuhyun cukup penasaran dengan tingkah lelaki itu. Belum sempat ia bertanya lagi, tiba-tiba lampu di ruang tengah itu menyala.

Saat itulah Kyuhyun melihatnya. Seseorang yang paling ditakutkannya melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Shim Changmin berdiri di sana, satu tangannya menekan sakelar lampu sementara tangannya yang lain terkepal keras di samping tubuhnya.

“Chang..min..”

“Bersenang-senang?” Tanya Changmin langsung. Nada dingin itu terdengar bagai mata silet yang siap menggores kulit dengan cepat.

Ingin rasanya Kyuhyun berlari ke luar dari apartemen itu lalu meloncat ke jalan raya dan berharap sebuah truk besar melindasnya hingga ia bisa mati saat itu juga. Pancaran mata Changmin yang penuh amarah sekaligus kekecewaan dengan nada suara seperti itu membuat Kyuhyun ingin mengembalikan waktu dimana ia masih bisa menolak Woobin.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” kembali Changmin bertanya.

“Kau sudah tahu jawabannya.” Sambar Woobin cepat. Tanpa gentar sedikit pun.

“Jadi ini yang kalian lakukan selama ini? Bermain di belakangku sementara tampak seperti guru dan murid yang baik di depanku?”

Seumur hidupnya, Kyuhyun tidak pernah melihat Changmin semarah ini. Changmin yang sabar, yang lemah lembut, yang pengertian dan selalu mengalah kini tengah menatap mereka dengan garang.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia juga tidak berani bergerak. Walau bersembunyi di belakang tubuh Woobin seperti ini sudah jelas salah, tapi ia sama sekali tidak berani keluar dari persembunyiannya. Ia terlalu takut dan malu dengan keadaannya yang telanjang hanya terbalut selimut tebal karena habis bercinta dengan salah satu muridnya.

“Kenapa, Kyu.. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?”

Sungguh, Kyuhyun benci kepada dirinya sendiri mendengar kalimat itu. Terlebih Changmin mengucapkannya dengan nada sedih. Hancur sudah semua yang mereka bina selama ini. Dan Kyuhyun mendapati dirinya sendiri sebagai biang keladinya.

“Jangan salahkan dia, salahkan aku.” Woobin lah yang menjawab.

Ingin rasanya Kyuhyun menampar mulut lelaki bebal itu agar tidak menjawab apa pun. Jika tidak, semuanya tidak menjadi semakin rumit.

“Aku tidak bertanya padamu, bajingan!” bentak Changmin murka. Suaranya yang tadi cukup sedih terdengar bagai halilintar kini. Menggelegar keras membuat bulu kuduk meremang seketika.

Woobin merasakan Kyuhyun beringsut takut di belakangnya. Ia lalu melempar pandangan marah pada Changmin. “Kau membuatnya takut!”

“Dia tanggung jawabku! Dia tunanganku! Aku berhak atas dirinya. Tidak perlu ikut campur.”

“Semua yang berhubungan dengannya juga menjadi urusanku!!”

Changmin tersenyum sinis. “Oh yah? Mengapa seperti itu?”

“Karena aku mencintainya.”

“Berani sekali kau mengatakan bahwa kau mencintainya. Inikah pembuktian cintamu? Meniduri gurumu sendiri yang jelas-jelas adalah tunangan orang lain?” Changmin sudah melangkah maju mendekati Woobin.

“Benar sekali. Lalu mengapa? Kau tidak suka?” jawab Woobin dengan tenang walau wajahnya sudah mengeras.

“Bajingan!”

Changmin beringsut maju dengan kepalan terangkat yang sedari tadi telah menanti dengan lapar untuk meninju wajah angkuh di depannya. Namun secepat kilat pula Kyuhyun bergerak maju dan berdiri tepat di depan sang murid.

“Hentikan! Kumohon!” pinta Kyuhyun dengan suara bergetar. Tubuhnya ikut bergetar. Air matanya sudah jatuh dari pelupuknya.

Changmin menghentikan aksinya. Matanya menatap Kyuhyun dengan keterkejutan besar di sana. “Kyu? Kau.. membelanya?”

“Salahkan aku. Aku lah penyebabnya. Dia masih anak-anak. Dia masih di bawah umur. Aku lah yang dewasa di sini, jika ada yang harus di salahkan, aku lah orangnya. Jangan menyentuhnya. Kumohon..” isak Kyuhyun.

“Anak-anak katamu?” Tanya Changmin dengan nada sakit hati. “Tidak ada anak-anak yang berani bertindak sejauh ini.”

“Kyuhyunnie.. Aku lah yang..”

“Kau memanggilnya apa?” raung Changmin ketika mendengar Woobin menyebut mesra nama Kyuhyun seperti itu.

“Pergi.. Kumohon, pergilah..” pinta Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tidak tanpamu.” Kata Woobin keras kepala.

“Woobin-ah.. Dengarkan aku. Pergilah. Jangan membuat situasi semakin kacau. Kumohon.. Aku akan mencarimu setelah ini, aku berjanji. Aku berjanji.. Kumohon..”

Woobin tidak kuasa mendengar nada itu. Walau ia tidak mau meninggalkan Kyuhyun sendirian menghadapi kemarahan tunangannya, tapi mendengar suara yang memelas kepadanya itu membuatnya tidak tega.

Ia bergegas masuk kembali ke kamar Kyuhyun, mengumpulkan barang-barangnya, memakai kembali bajunya lalu keluar kamar. Sebelum ia pergi, ia memeluk Kyuhyun yang masih terisak dengan tubuh bergetar hebat lalu mencium pipinya.

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang. Aku berjanji.”

*

            Kyuhyun belum berhenti menangis sejak semalam. Ia bahkan menelepon ke sekolah, melaporkan bahwa dirinya tengah sakit hingga tidak bisa mengajar. Ia masih belum bisa menghadapi semua rekan kerja juga murid-muridnya di sekolah nantinya. Dan ia sendiri terlalu malas memikirkan konsekuensi dari perbuatannya semalam. Perbuatan yang sebenarnya sangat tidak senonoh dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh apalagi dengan anak di bawah umur seperti itu. Walau Kim Woobin sendiri sudah berusia 17 tahun, tapi dengan statusnya sebagai murid sekolah, ia tetap masih dikategorikan sebagai anak-anak.

Dan masih terbayang jelas pembicaraannya dengan Changmin semalam setelah Woobin pergi. Bagaimana ia melihat Changmin meminta penjelasannya atas semua yang terjadi dengan pandangan terluka, dengan nada suara yang teramat sedih, membuat Kyuhyun menyesali semua yang telah ia lakukan.

“Mengapa kau lakukan ini padaku? Katakan padaku, apa salahku.. Mengapa, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng. “Sudah kukatakan aku lah yang bersalah. Karena perasaanku yang egois membuatku terlena dengan hal-hal yang tidak seharusnya.”

“Jika memang seperti itu, apa yang salah dalam hubungan kita? Terlalu sakit untukku melihatmu bersama dengan lelaki lain. Katakan Kyu.. Katakan padaku..” Changmin mulai menangis.

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Tapi memang ada yang salah dengan hubungan kita. Bukan, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hanya saja.. Aku tahu kau sibuk, apalagi dengan posisimu sebagai anak tunggal, sudah pasti kau lah yang menjalankan yayasan milik keluargamu.”

“Tapi kau menjadi sibuk bahkan lebih sibuk setelah yayasan itu diperluas. Kau jarang pulang. Kalau pun kau pulang, kita hanya bertemu sebentar. Aku kesepian karenanya. Aku merindukan waktu di mana kita selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, melakukan hal-hal kecil dengan penuh tawa..”

Changmin memotong perkataan Kyuhyun. “Aku tidak bisa meninggalkan yayasan, kau tahu itu. Banyak hal yang bergantung padaku. Dan jika.. Jika aku sibuk, bukankah kita bisa membicarakannya?”

Kyuhyun tersenyum lemah. “Kita bahkan tidak bisa membicarakan hal-hal sepele ketika kau pulang. Kau selalu terlihat lelah. Aku tidak mau menambah bebanmu.”

Changmin terdiam. Walau airmatanya masih menetes, tapi ia ikut mengakui kata-kata Kyuhyun. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat menghabiskan banyak waktu apalagi mendengarkan cerita kekasihnya.

“Dan lagi, kau selalu menanggapi keluhanku dengan datar. Tidak ada perselisihan, tidak ada kemarahan, tidak ada kesalah pahaman. Membuatku selalu berpikir bahwa tidak ada jiwa dalam hubungan kita.” Kata Kyuhyun lagi.

“Mengapa kau terus mengungkit hal itu?”  sanggah Changmin. “Bukan kah semua orang ingin menjalani hubungan yang baik-baik saja tanpa berselisih paham?”

“Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa mencegah perasaan itu begitu saja. Aku ingin menjalani kehidupan yang kau tahu.. Aku.. Aku merasa kehidupan cinta kita terlalu datar. Kau terlalu baik, terlalu penurut dan selalu mengalah. Kita tidak pernah bertengkar. Semua terserah padaku. Tidak ada gairah di dalamnya. Aku..”

“Jadi kau berselingkuh karena mendambakan pertengkaran kecil dengan pasanganmu?” lagi-lagi Changmin menyanggah.

“Dan karena kau tidak punya banyak waktu untukku. Aku kesepian.” Kyuhyun lemah seraya mengingatkan Changmin pokok permasalahannya.

Ia tidak mau membela diri atas apa yang telah terjadi. Memang benar dirinya telah berselingkuh. Ia bahkan tidur dengan lelaki lain di kamar yang ditempatinya bersama Changmin. Ia bisa saja menolak Woobin saat itu, tapi tidak ia lakukan, bukan? Karena walau ia sempat benci, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia menyukai banyak hal tentang lelaki itu. Ia hanya tidak menyangka bahwa Changmin akan menemukan mereka seperti ini.

“Maafkan aku..” suara Changmin memecah kesunyian diantara mereka.

Kyuhyun menoleh, melihat Changmin yang menatapnya dengan mata sembab. Wajah tampan itu tampak sangat terluka, sedih dan sekaligus letih. Kyuhyun jadi benar-benar merasa teramat bersalah kini. Ia bahkan merutuki dirinya karena berani berselingkuh.

“Tidak.. Kau tidak bersalah, aku lah yang menghianatimu. Aku lah yang seharusnya minta maaf.”

“Aku lah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jika saja aku berusaha untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku terlalu sibuk hingga menghindari semua perdebatan. Sibuk di yayasan membuatku sangat lelah ketika pulang ke rumah. Jadi dari pada membuat pikiranku kacau, lebih baik aku mengikuti semua kemauanmu. Aku tidak mau berdebat dan aku tidak pernah suka akan hal seperti itu. Kau tahu kan?”

Kyuhyun tidak menjawab. Walau ia merasa kata-kata Changmin ada benarnya, namun ia enggan bicara untuk membenarkannya. Dengan menyanggah lagi, berarti hanya akan memperpanjang masalah. Keduanya lalu duduk dalam diam di sofa yang terletak saling berhadapan itu, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya ketika Kyuhyun tertidur. Ketika ia terbangun keesokan harinya, ia mendapati tempat duduk Changmin sudah kosong.

Kyuhyun sempat ketakutan sesaat, maka ia segera berlari ke kamarnya dan memeriksa lemari pakaian yang ia pakai bersama Changmin. Dan ia hanya bisa bernafas lega karena baju-baju tunangannya itu masih ada di sana.

*

            Changmin tidak pulang setelah beberapa hari setelah itu. Satu-satunya petunjuk yang Kyuhyun punya hanya pesan teks darinya yang mengatakan bahwa ia kembali sibuk dengan rutinitasnya dan ia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Kyuhyun mengerti. Ia tidak akan menghubungi Changmin dulu untuk beberapa waktu. Ia akan memberi lelaki itu waktu untuk menenangkan diri. Sudah bagus Changmin tidak meninggalkannya.

Kyuhyun sendiri sudah mulai kembali ke sekolah. Ia hanya butuh topeng untuk menghadapi Woobin. Seisi sekolah tidak ada yang tahu mengenai apa yang telah ia lakukan beberapa malam lalu. Dan ia sendiri tidak peduli dengan tanggapan Jongin dan Myungsoo. Ia hanya memikirkan bagaimana cara menatap wajah Woobin seperti biasa setelah peristiwa memalukan di apartemennya.

Ia harus bicara dengan Woobin. Ia harus menjelaskan segalanya. Ia tidak boleh berada dalam persimpangan seperti ini. Ia harus bisa menentukan dengan tegas, di mana tempat seharusnya ia berada. Ia tidak boleh tergoda, ia tidak boleh lemah.

Namun harapannya hancur ketika ia mencari Woobin di sekolah. Anak itu sudah tidak masuk sejak tiga hari yang lalu dan pihak sekolah tidak tahu menahu mengapa ia absen. Anehnya Jongin dan Myungsoo juga tidak muncul di sekolah sejak hari itu.

Kyuhyun sudah mencoba menghubungi ponsel Woobin, tapi layanan kotak suara selalu menyambutnya, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Hal yang sama terjadi ketika ia mencoba menghubungi duo Kim yang selalu membuntuti Woobin. Kemana mereka semua?

Awalnya ia mengacuhkan hal ini. Namun setelah seminggu ketiga anak itu tidak muncul juga di sekolah, mau tidak mau ia penasaran juga. Tidak, mungkin lebih tepatnya khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka bertiga dan tidak ada seorang pun yang tahu?

Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya sendiri. Entah sudah berapa ratus kali ia mencoba menghubungi Woobin, namun hanyalah pesan suara yang menyambutnya. Ia nyaris gila kini. Di satu sisi Changmin mengabaikannya, dan di sisi lain Woobin tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan ia merasa tolol ketika menyadari bahwa ia tidak tahu di mana tempat tinggal anak itu.

Kyuhyun ingin mencari mereka langsung ke rumah mereka melalui data pribadi yang tersimpan di ruang arsip sekolah, namun kuasa itu tidak ada padanya, melainkan pada Hyukjae, sang wali kelas. Maka mau tak mau, siang itu Kyuhyun mulai merayu Hyukjae untuk menemui ketiganya.

“Tidak bisa, Kyu. Bukankah kau tahu sendiri peraturan sekolah bahwa siswa yang tidak muncul di sekolah setelah dua minggu barulah akan dicari ke rumahnya? Dan ketika sebulan mereka tidak muncul juga, barulah sekolah mengambil tindakan untuk mengambil keputusan apakah siswa tersebut akan dikeluarkan atau hanya dikenakan skorsing atau pun hukuman pelayanan di sekolah.” Jelas Hyukjae panjang lebar.

“Hah? Dua minggu katamu? Seminggu saja sudah cukup apalagi ditambah seminggu lagi? Kalau terjadi sesuatu yang mengerikan pada mereka bagaimana? Lagi pula, peraturan sekolah macam apa yang membiarkan muridnya absen begitu lama tanpa mencari tahu di mana keberadaan mereka?” jawab Kyuhyun dengan nada histeris. Untung saja kantin sudah sepi karena sudah jam pulang sekolah ssat itu, kalau tidak Kyuhyun akan disangka tidak waras karena menjerit histeris seperti itu hanya karena mencari tiga siswa yang membolos.

“Sekolah kita bukan sekolah biasa. Para siswa membayar mahal untuk bersekolah di sini. Dan kau tahu benar bahwa ketiga anak itu bukanlah anak-anak bodoh dengan nilai rendah. Mereka hanya membolos saja. Mungkin bahkan orang tua mereka mengetahui hal ini hanya saja tidak terlalu peduli. Kadang aku iri pada mereka karena mempunyai banyak sekali uang untuk dihambur-hamburkan, namun di sisi lain aku juga kasihan pada mereka yang tidak mendapatkan kasih sayang lebih. Orang tua mereka mungkin menganggap sumber kebahagiaan anak mereka sama dengan mereka, yaitu uang.” Hyukjae menanggapi.

“Aku ingin mencari mereka.” Kata Kyuhyun pada akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Kemana? Ponsel mereka saja tidak bisa dihubungi, bagaimana mungkin kau tahu di mana keberadaan mereka?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku akan mencari ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.”

Hyukjae mengernyit menatapnya. “Kau tahu tempat mereka? Bagaimana bisa? Bukankah..”

Kyuhyun terkesiap. Tidak, Hyukjae tidak boleh tahu ketiga anak itu cukup dekat dengannya hingga ia bisa tahu tempat-tempat di mana mereka sering bepergian bersama. Bisa-bisa Hyukjae mencari tahu dan akhirnya hubungan gelapnya dengan Woobin terendus.

“Ma.. Maksudku, tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak muda pada umumnya.” Kilah Kyuhyun cepat.

Hyukjae mengangguk. “Bisa dicoba. Walau aku tak yakin mereka ada di sana. Kau tahu, aku sempat berpikir bahwa kau cukup dekat dengan mereka karena aku pernah melihatmu makan siang bersama mereka di salah satu restaurant.”

Kembali Kyuhyun terkesiap. Namun sebelum ia membel diri, kembali Hyukjae berkata. “Tapi tidak ada salahnya murid dan guru makan siang bersama, bukan? Jadi aku tidak pernah menanyakannya padamu.”

*

            Kyuhyun sudah berupaya mencari ke sana kemari sosok-sosok bengal yang memenuhi pikirannya belakangan ini. Kini sudah genap sepuluh hari ketiganya hilang tanpa kabar. Kyuhyun bahkan sudah nyaris putus asa mencari mereka ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi bersama.

Setiap pulang sekolah, Kyuhyun akan langsung mencari ketiganya di mana-mana. Dan kini ia sudah lelah. Tujuan terakhirnya adalah sungai Han. Tempat terakhir yang cukup dekat dengan tempatnya kini berada dan di sana lah ia berharap bisa melihat ketiganya. Jika mereka tidak ada, Kyuhyun akan pasrah dan berhenti mencari. Itu tekadnya.

Ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di sana, ketika ia berjalan mendekat dan melihat tiga sosok yang begitu ia kenal, matanya nyaris buta karena air matanya yang entah dari mana tiba-tiba muncul dan mengerubungi bola matanya.

Ia berlari cepat mendekati ketiganya lalu menubruk lelaki paling jangkung di sana, memeluknya erat lalu menumpahkan tangisnya.

Kim Woobin tersentak melihat tiba-tiba lelaki yang dirindukannya sudah muncul di hadapannya dan memeluknya sambil menangis. Kyuhyun menangis selama beberapa menit kemudian melepaskan pelukannya lalu menumbuk dada Woobin dengan pukulan-pukulan keras.

“Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau melarikan diri seperti ini? Ada apa denganmu? Kau tahu betapa cemasnya aku? Aku bahkan nyaris gila karena memikirkan..”

Kata-kata Kyuhyun terputus karena tiba-tiba Woobin sudah menariknya dalam pelukan hangatnya. “Maafkan aku.. Maafkan aku..”

Keduanya bertahan dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukan itu. “Dari mana saja kau? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menghubungiku?”

Kim Woobin menggigit bibirnya. Ia tampak jelas sangat ragu bercerita. Namun pada akhirnya ia tersenyum. “Aku hanya sedang bosan bersekolah, jadi aku ingin bebas sejenak.”

“Apa?” Tanya Kyuhyun tak percaya. “Bagaimana mungkin kau membolos selama ini sedangkan ujian akhir sudah dekat?”

“Aku akan mengejar ketinggalanku. Aku hanya sedang banyak pikiran dan.. Aku hanya ingin menyendiri.”

“Menyendiri seperti apa yang ditemani oleh dua orang lain?” sindir Kyuhyun seraya melirik dua bocah lain yang berdiri tak jauh dari Kim Woobin.

Namun ia tampak bingung juga dengan sikap keduanya. Myungsoo tampak sibuk membaca buku pelajarannya sedangkan Jongin tampak mencoret-coret sesuatu, seperti berhitung karena bibirnya ikut komat-kamit. Membolos sambil belajar? Membolos model apa ini?

Otak Kyuhyun berpikir cepat. Kim Woobin pasti lah sedang enggan ke sekolah dan kedua temannya hanya menemaninya. Karena seperti itulah mereka, saling menempel satu sama lain.

“Setidaknya kirim teman-temanmu ke sekolah. Kau bisa membolos sendiri.” Kata Kyuhyun pada akhirnya.

“Itu kemauan mereka sendiri.” Sahut Woobin cepat. Kembali dengan gaya cuek seperti biasa.  Kali ini ia bahkan menyulut rokok di tangannya.

Kyuhyun merebut rokok itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam sungai. Kim Woobin langsung memberenggut.

“Itu rokok terakhirku!”

“Berhenti merusak dirimu sendiri. Aku benci perokok.” Balas Kyuhyun tak kalah galak.

“Tapi toh kau tetap mencariku. Jadi tidak ada hubungannya dengan rokok.”

“Kau masih terlalu kecil untuk merokok.”

“Dan kau sudah terlalu dewasa untuk membuang sampah sembarangan.”

“Aku melakukannya dengan tujuan baik. Agar kau tidak merokok.”

“Apa pun alasannya, membuang sampah sembarangan tetap lah salah. Bukan kah kau ini guru? Seharusnya kau memberi contoh yang baik.”

“YA!” jerit Kyuhyun kesal.

What?!” Woobin menantangnya dengan berani.

“Aku.. merindukanmu..” bisik Kyuhyun jujur.

Kembali Woobin membawa Kyuhyun dalam pelukannya. “Maaf jika tidak mengabarimu setelah malam itu. Aku..” Ia tampak memikirkan kata-kata yang pantas selama beberapa saat ketika akhirnya ia memilih untuk bertanya dengan formal.  “Bagaimana kabarmu?”

“Tidak baik. Aku butuh teman bicara tapi kalian berdua meninggalkanku begitu saja.”

Woobin melepaskan pelukannya. “Seharusnya ia tidak meninggalkanmu.”

“Ia melakukan hal yang benar. Aku lah yang bersalah kepadanya. Tidak, kita bersalah kepadanya. Wajar kalau ia marah dan memilih untuk jauh dariku, menenangkan diri sesaat.”

Kim Woobin tertawa mengejek. “Menenangkan diri? Tak bisa kupercaya.”

“Berhenti bersikap seperti ini. Sejak awal kita memang bersalah. Dan kau, seandainya kau tidak memaksakan diri untuk menyusup dalam hubungan kami, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Kyuhyun.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Aku juga bersalah. Tapi kau lah pembawa masalahnya. Dan kini aku terperangkap di sini, tidak tahu harus bagaimana agar membuat Changmin percaya lagi padaku. Bagaimana kalau ia pergi dariku dan..”

“Jadi tujuanmu menemuiku agar kau dapat teman bicara untuk semua pemikiranmu tentang apa yang telah terjadi dan rasa sesalmu terhadap tunanganmu itu?” Tanya Woobin dengan ekspresi sakit hati.

“Tidakkah kau mengerti? Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena kau! Kau lah penyebab utama mengapa hubunganku jadi seperti ini! Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku saat ini??!!!” kini Kyuhyun menjerit nyaris putus asa.

Kim Woobin membeku di tempatnya. Mati-matian ia menahan amarah yang hendak meledak dari dalam dirinya dan melampiaskannya pada lelaki manis yang berprofesi sebagai guru geografinya itu, andai saja rasa cintanya tidak lebih besar.

“YA! Jawab aku! JAWAB!” bentak Kyuhyun kesal.

“Woobin-ah..” Myungsoo dan Jongin sudah ada diantara mereka. Myungsoo memegang pundak sahabatnya itu, berusaha menenangkan.

“Jangan ikut campur!” kembali Kyuhyun membentak namun kali ini kepada Jongin dan Myungsoo.

Jongin menggeleng. “Bukan itu maksud kami, songsaengnim. Tapi.. Woobin harus menerima panggilan ini.” Ia lalu menyodorkan ponsel lain yang kemudian disodorkannya kepada sahabatnya itu.

Woobin menerimanya dengan cepat, ia menjauh sebentar lalu bicara dengan suara pelan. Tak lama kemudian ia kembali, menyerahkan ponselnya kepada Jongin lalu berjalan cepat ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

“Hei.. kembali.. Kita belum selesai bicara.” Kata Kyuhyun yang langsung berlari menyusul Woobin.

I’m done here!” balasnya. Ia terus berjalan, tanpa memanang wajah Kyuhyun.

“Mengapa kau menjadi pengecut seperti ini? Selesaikan masalah ini!” kata Kyuhyun lagi. Karena Woobin tak juga mengindahkannya, ia menarik paksa lengan kekar lelaki itu.

“Berhenti kataku! Selesaikan dulu masalah ini baru kau boleh pergi!”

“Persetan dengan masalah ini! Aku tidak peduli!” balas Woobin dengan kekesalan yang sama.

“Lalu bagaimana dengan hubunganku yang telah kau hancurkan? Kau akan pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?” Kyuhyun sudah menangis.

“Kau membelanya? Kau membela lelaki pengecut itu?!”

“Ya, lalu mengapa? Dia adalah tunanganku. Dan sebagai lelaki, itu pun jika kau menyebut dirimu sebagai lelaki, seharusnya kau bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi. Dan.. berhenti mengatakan Changmin sebagai pengecut!”

“Pengecut! Pengecut dan munafik!” kini Woobin membentak dengan kasar, membuat Kyuhyun melompat mundur.

Kim Woobin segera menyadari tindakannya. Tapi ia sudah terlalu marah untuk membujuk Kyuhyun yang kini bergetar di depannya. Tanpa banyak bicara ia meraih lengan Kyuhyun dan menuntunnya masuk ke mobilnya dan memerintahkan Jongin dan Myungsoo untuk pergi ke sebuah alamat. Ia sendiri lalu pergi berlawanan arah, tanpa melihat lagi ke belakang.

*

            Kyuhyun tidak pernah mengerti mengapa Jongin dan Myungsoo harus membawanya ke sebuah rumah mewah dengan taman yang cukup asri di depannya. Sepanjang perjalanan keduanya menolak untuk bicara dan hanya menyuruhnya untuk tenang dan percaya bahwa mereka membawanya ke tempat yang paling ingin ia kunjungi.

Namun setelah sampai di rumah itu, ia kembali berpikir. Berusaha mengingat-ingat kembali rumah siapa kah gerangan itu. Apa ia mengenal pemiliknya?

“Uncle..!!”

Seorang anak lelaki yang kira-kira berumur dua tahun berlari kecil menghampiri Jongin dan Myungsoo. Ia melompat-lompat riang melihat kedua tamunya. Myungsoo segera menggendong anak itu lalu mendekapnya dengan sayang.

“Miseokkie.. Aku sangat merindukanmu.” Kata Mungsoo bersemangat.

“Di mana ibumu?” Tanya Jongin setelah ikut memeluk anak kecil bernama Minseok itu.

Anak itu tersenyum lebar lalu menunjuk ke dalam rumah. Kyuhyun langsung paham. Pasti anak itu menunjukkan di mana ibunya kini berada.

“Bibi?”

Jongin dan Myungsoo bertukar pandang sedih. “Ya! Mengapa kau selalu mencarinya ketika ia tidak ada?” kata Jongin pura-pura cemberut.

“Bibi?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Woobin. Minseok memanggilnya bibi karena itu lebih mudah untuk diucapkan. Ia memanggilku Jonin dan memanggil Myungsoo dengan sebutan Soo.”

“Apa Woobin mengenal anak ini?” Tanya Kyuhyun lagi. Ia menatap anak itu dalam-dalam. Wajahnya tampak tak asing.

Myungsoo mengangguk. “Tentu saja. Minseok adalah keponakannya. Anak dari sepupunya.”

“Benarkah? Lalu.. Apa ini adalah rumah Woobin?” Tanya Kyuhyun lagi.

Kembali Myungsoo menggeleng. “Ini adalah rumah sepupunya.”

“Lalu mengapa ia ingin aku kemari?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Ikutlah ke dalam. Hyung akan tahu.” Kata Jongin lalu menarik Kyuhyun dan membimbingnya memasuki rumah itu.

Rumah itu bisa terbilang sangat indah. Dengan penempatan furniture yang sangat cocok, cat dinding dengan warna hiasan di setiap tempat juga sangat serasi. Kyuhyun sedikit merasa heran karena beberapa perabotan milik sang pemilik rumah cukup mirip dengan miliknya di apartemen. Mungkin mereka membeli di tempat yang sama.

“Bibi..”

Kembali terdengar Minseok kecil menyebut nama Woobin. Dengan tawa khasnya Jongin menjawab. “Mengapa kau begitu menyukai Woobin sedangkan ia sangat membencimu? Kau tidak pernah mencari kami.”

“Minseokkie.. Di mana kau, sayang? Sudah waktunya minum susu.”

Seorang wanita cantik keluar memegang segelas susu. Senyumnya mengembang ketika mengetahui dua orang yang dikenalnya datang berkunjung.

“Jonginnie.. Myungsoo-ya.. Kalian sudah lama? Kenapa tidak memberitahukanku terlebih dahulu bahwa kalian akan datang?”

“Kami..”

PRAANNGGGGGG..!!!

Gelas kaca yang tadinya dipegang oleh wanita itu jatuh seketika tatkala ia melihat Kyuhyun. Bagai melihat hantu di siang bolong, ia menup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya langsung tampak pucat dan ketakutan.

Kyuhyun jadi cukup heran karenanya. Mengapa ia bersikap seperti itu? Dengan cepat Kyuhyun meraih beberapa lembar tisu di meja kecil yang tak jauh darinya untuk mengeringkan lantai yang basah oleh tumpahan susu.

Dan dalam kesibukannya itu, ia menangkap sesuatu yang lain. Tepat di sebelah kotak tisu, ia melihat sebuah pigura berukuran sedang yang memuat foto tiga orang yang tengah tersenyum bahagia ke arahnya. Minseok yang berukuran sedikit lebih kecil dari Minseok yang tengah berada dalam pelukan Myungsoo saat ini, wanita yang memecahkan gelas susu dan menatap Kyuhyun ketakutan, dan.. Shim Changmin.

*

kyuhyun woobin myungsoo jongin

To be continued..

Million Words – Chapter 4

Title                      : Million Words

Rate                      : T+

Genre                   : BL, Romance, Angst

Pair                        : ChangKyu, BinKyu

Cast                      : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star                : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning              : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 4

‘Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku mencintai Changmin dan aku akan terus ada disampingnya.’

Kata-kata itu terus bergema di kepala Kyuhyun tanpa henti. Sebenarnya ia tidak perlu berpikiran seperti itu andai saja Kim Woobin tidak menghadiahkan sebuah ciuman singkat padanya seminggu lalu.

Ciuman itu seharusnya tidak berarti apa-apa. dan memang seharusnya seperti itu. Namun entah mengapa Kyuhyun tidak bisa mengabaikan debaran-debaran aneh di jantungnya saat itu. Debaran yang biasanya hanya untuk Changmin. Dan ia benci harus mengakui kalau ia sempat merasakan debaran seperti itu untuk seseorang anak kecil seperti Kim Woobin.

Kyuhyun bersandar di kaca ruang guru yang menghadap langsung ke lapangan basket di bawah sana. Memandangi anak-anak murid yang melakukan aktivitas di sekitar lapangan basket. Bersenda gurau, bermain basket, mengobrol atau hanya duduk di sana sambil memainkan smartphone mereka.

Kemudian pandangan Kyuhyun jatuh pada sosok lelaki tegap yang belakangan membuat kepalanya pusing setengah mati dengan tingkah, kata-kata dan perlakuan manisnya. Dan nyaris membuat Kyuhyun terbuai. Kim Woobin tengah mengobrol dengan beberapa teman perempuannya sementara kedua kelincinya duduk dengan tenang di samping kanan kirinya bagai pengawal yang tengah menjaga rajanya.

Lelaki itu tampak bicara dengan wajar namun sepertinya ia tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari tatapan-tatapan memuja dari para gadis di sekitarnya. Memang sudah sewajarnya para gadis itu menyukainya. Apa kurangnya anak itu? Walaupun dia malas dan pemberontak, namun ia tampan, cerdas, baik hati dan kaya raya.

Dan sudah semestinya ia bergaul dengan sesamanya. Bahkan ia seharusnya menjalin hubungan dengan gadis seumurannya. Kalaupun ia tidak menyukai wanita, setidaknya ia berhubungan dengan lelaki sepantaran umurnya, bukan dengan Kyuhyun. Salah dan menyalahi aturan. Walaupun dalam cinta segalanya sah-sah saja, tapi dalam kehidupan nyata, perbedaan umur mereka yang cukup jauh apalagi dengan status Kyuhyun sebagai guru membuat mereka memang tidak boleh bersama dalam arti khusus.

Kembali Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri. Ia telah berjanji dalam hati bahwa ia akan menghadapi Woobin dengan perasaan yang netral dan ia harus kembali ke jalan yang lurus, bersama Changmin.

“Mengapa kau selalu melamun akhir-akhir ini?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya lalu menoleh dengan senyum yang dipaksakan. “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.”

Lee Hyukjae menyipitkan matanya. “Berpikir? Baiklah, aku ralat. Mengapa kau selalu berpikir belakangan ini?”

“Bukankah semua manusia selalu berpikir setiap hari?” Kyuhyun balas bertanya.

“Kau tahu maksudku.”

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia tidak ingin membicarakan hal ini dengan siapa-siapa. Hal ini cukup dirinya sendiri yang tahu sebagai rahasia kecil dan gelap didirinya, tidak untuk dibagi ke siapapun.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja memang aku sedang ada sedikit masalah.”

“Dengan Changmin?”

Kyuhyun memberenggut. “Mengapa kau selalu menyangkut-pautkan segala sesuatunya dengan Changmin? Apa aku tidak punya kehidupan lain selain Changmin?”

“Memang tidak. Aku sudah cukup lama mengenalmu dan hidupmu selalu seputar Changmin. Jadi jika kau jadi seperti ini, sudah pasti ada hubungannya dengan dia.”

Kyuhyun jadi kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa menyalahkan Hyukjae yang setidaknya cukup dekat dengannya di sekolah hingga tahu seperti apa kehidupan sehari-hari Kyuhyun. Namun sekali lagi, Kyuhyun enggan buka mulut. Cukup ia sendiri yang tahu.

*

Rona merah muda yang menjalar di pipinya ketika Changmin memberinya pujian atas inisiatif Kyuhyun untuk membelikan iPad baru untuk Changmin sebagai organizer.

“Terima kasih, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku hanya tidak mau kau kerepotan dengan laptop. Bukankah iPad jauh lebih praktis?”

“Tentu saja. Sekali lagi, terima kasih, Kyu. Kau benar-benar mengerti diriku.”

“Kapan aku tidak mengerti dirimu?”

Itu adalah percakapan terakhirnya dengan Changmin sekitar dua minggu yang lalu sebelum tunangannya itu pergi ke Tokyo. Dan seharusnya Changmin sudah ada di apartemen saat ini, karena pesawatnya tiba pagi tadi.

Akhir-akhir ini Changmin jauh lebih sibuk daripada sebelum-sebelumnya. Yayasan keluarganya benar-benar menarik minat banyak sekali orang di luar sana yang mengharuskan mereka membuka beberapa cabang hingga ke Tokyo.

Andai Kyuhyun tidak punya pekerjaan, ia pasti akan dengan senang hati ikut ke berbagai tempat yang Changmin datangi, walaupun natinya ia hanya akan menonton apa yang dilakukan kekasihnya itu. Tapi tak apa, asal ia bisa terus bersama Changmin daripada sendirian di apartemen mereka.

Sebuah bunyi bip kecil membuat Kyuhyun segera meraih ponselnya dari balik saku celananya dan membaca pesan yang masuk dengan riang. Namun wajahnya berubah ketika ia melihat nama si pengirim pesan.

(From : Idiot) “Mengapa kau terlihat selalu murung akhir-akhir ini? Aku merindukan senyummu.:(“

Kyuhyun mengabaikan pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Namun setelah sepuluh menit, kembali ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan lain masuk.

(From : Idiot) “Mengapa kau tidak membalas pesanku? Jangan memaksaku untuk nekad. Tolong balas pesanku agar aku tahu kau baik-baik saja.”

Kyuhyun memberenggut melihat pesan itu. Mengapa anak kecil ini mudah sekali mengancamnya? Dengan cepat ia membalas pesan itu.

(From : Sweet Pumpkin) “Kau masih juga tidak mengerti mengapa aku murung?”

(From : Idiot) “Bukankah aku sudah minta maaf untuk kesekian kalinya mengenai ciuman itu? Harus berapa kali aku minta maaf? Andai aku tahu bahwa tindakanku tempo hari bisa menghilangkan senyummu, aku tidak akan pernah melakukannya.”

(From : Sweet Pumpkin) “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku enggan membicarakan hal itu lagi? Mengapa kau terus-menerus membicarakannya?”

(From : Idiot) “Karena itulah yang membuatmu murung. Apa yang harus kulakukan agar kau mau tersenyum lagi? Aku bahkan rindu omelanmu.Apa aku harus menciummu sekali lagi agar kau langsung bereaksi?”

(From : Sweet Pumpkin) “Ya! Bukankah sudah kukatakan berhenti membicarakannya? Dan jangan berani menciumku lagi!”

“Anak ini benar-benar membuatku naik darah! Kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan..”

“Akan apa?”

Kyuhyun tersentak. Tanpa memutar tubuhnya pun ia tahu siapa yang tengah berdiri di belakangnya. Tentu saja, ia lupa bahwa Kim Woobin suka mengikutinya kapan dan dimana pun. Bagaimana mungkin ia melupakan hal sesederhana itu?

“Berhenti mengikutiku!” kata Kyuhyun ketus lalu melanjutkan acara jalan kakinya ke halte bus seolah tidak ada interupsi sebelumnya.

Tapi langkah-langkah berat di belakangnya tidak juga berhenti mengikutinya dan harapan Kyuhyun agar bertemu banyak orang di halte bus hancur ketika melihat halte tersebut kosong melompong. Yang artinya hanya akan ada dirinya dan Woobin di sana.

“Mengapa kau menolak aku untuk mengantarmu?”

Masih dengan nada ketus, Kyuhyun menjawab. “Aku bisa pulang sendiri.”

Lalu ponselnya berbunyi lagi, kali ini sebuah nada dering yang Kyuhyun atur khusus untuk Changmin.

“Changmin-ah..!” seru Kyuhyun bersemangat, mengabaikan raut muka menjengkelkan milik Woobin di sebelahnyal ketika ia menyerukan nama Changmin dengan mesra.

“Kyuhyun-ah, apa kau sudah selesai mengajar?” tanya Changmin di seberang sana.

“Tentu saja. Aku sedang menunggu bus. Sebentar lagi aku akan tiba di apartemen. Tunggu aku di sana, ne?”

Sunyi sesaat. Wajah ceria Kyuhyun berangsur-angsur lenyap. Ia kemudian menggigit bibirnya dengan tampang sedih.

Woobin yang sedari tadi memperhatikannya jadi sedikit penasaran. ‘Nah, apa maksudnya itu? Mengapa wajahnya jadi seperti itu?’

“Jadi.. Kau tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini?”

‘Brengsek!’ maki Woobin dalam hati. Kembali ia memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun. Kini lelaki itu menggigit bibirnya lebih keras seraya mati-matian menahan gumpalan air yang mengambang di pelupuk matanya.

Dada Kim Woobin terasa berat. Entahlah, melihat Kyuhyun seperti ini membuat emosinya bergejolak. Lelaki tolol mana yang tega meninggalkan kekasih seperti Kyuhyun seperti ini?

“Tidak apa-apa, sungguh. Aku memang sedikit pilek, tapi aku sudah meminta obat di klinik tadi. Besok pasti akan sembuh. Baiklah, jaga kesehatanmu. Hubungi aku kalau kau sudah tidak sibuk lagi. Sampai jumpa.”

Begitu Kyuhyun memutuskan pembicaraan itu, pecah sudah tangisnya. Sakit di hatinya membuatnya lupa dimana ia berada saat itu dan bagaimana ia sudah berada dalam pelukan Woobin. Dengan perasaannya saat ini, dengan kesedihannya serta kebutuhannya akan teman bicara, ia jadi lupa mengusir Woobin.

Setelah puas menangis, barulah Kyuhyun menyadari bahwa ia tengah memeluk Woobin dengan erat. Seharusnya ia melepaskannya, seharusnya ia segera memisahkan tubuh mereka yang bersatu dan seharusnya ia merasa malu atas tindakannya ini.

Namun sebaliknya, ia merasakan hal yang berbeda. Ia tidak ingin melepaskan dekapan hangat itu. Bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya dari dada bidang itupun ia enggan. Dan anehnya, ia merasa sangat nyaman disana, rasanya seperti.. di rumah.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mendengar suara berat Woobin menanyainya seraya mengelus punggungnya lembut. Karena tak mendengar jawaban apapun, Woobin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah guru Geografinya itu.

“Lihatlah, wajahmu sampai memerah karena terlalu banyak menangis. Ayo, aku akan mengantarmu pulang lalu kau bisa makan dan beristirahat.”

Andai saja Woobin tahu wajah Kyuhyun memerah bukan karena menangis, mungkin anak nakal itu akan tertawa terbahak-bahak sambil terus menggoda Kyuhyun.

*

“Makanlah, nanti sup mu dingin.”

Kyuhyun mengamati semangkuk sup yang baru saja selesai dimasak oleh Woobin. Asap menggepul di atas mangkuk itu disertai aroma yang enak, membuat perut Kyuhyun semakin meraung minta diisi.

“Aku baru tahu kalau kau bisa memasak.” Kata Kyuhyun setelah menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Dan ia harus mengakui bahwa masakan Woobin memang lezat. Sungguh kontras dengan wajah si pembuat sup yang begitu dingin.

“Kau tidak pernah belajar untuk mengenalku, wajar saja semuanya terasa asing bagimu.” Kata Woobin seraya ikut duduk di samping Kyuhyun, meraih remote televisi kemudian menyalakan benda kotak bermerek mahal dengan tipe keluaran terbaru itu.

“Jangan sakit hati.”

Woobin tertawa. “Sama sekali tidak. Justru dengan begitu, aku terasa sangat misterius bagimu, bukan? Jauh lebih menantang.”

Keduanya lalu terdiam setelah itu. Kyuhyun sibuk menghabiskan supnya sedangkan kedua mata Woobin terpaku di televisi. Lama-kelamaan Kyuhyun baru menyadari bahwa Woobin sebenarnya tidak menonton. Tatapan lelaki itu kosong dan matanya sama sekali tidak bergerak mengikuti pergerakan di layar televisi.

Kyuhyun ingin menyadarkan lelaki itu namun harga diri menahannya. Maka ia meletakkan mangkuk nya di meja dengan bunyi berisik agar Woobin tersadar. Dan benar saja, segera setelah itu, Kim Woobin menoleh padanya lalu tersenyum.

“Kau sudah selesai makan? Beristirahatlah.”

“Aku tidak lelah.”

“Tapi kau sedang sedih. Tidur akan sangat baik untukmu. Kau bisa melupakan kesedihanmu sejenak.”

“Aku ingin minum sedikit baru tidur.”

“Tidak!” sanggah Woobin dengan nada bossy-nya seperti biasa. “Kau akan mengajar besok pagi. Kau butuh istirahat.”

“Tapi aku ingin minum sedikit untuk meredakan kesedihanku.” Kyuhyun masih bertahan dengan keras kepalanya. Anehnya ada rengekan dalam nada suaranya.

Woobin menatapnya dengan galak. “Tidak akan kubiarkan kau minum walau setetes pun. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Aku akan pergi jika kau sudah benar-benar terlelap.”

Mungkin terdengar biasa saja. Mungkin orang-orang akan membenci sikap berlebihan Woobin atau sikap Kyuhyun yang membiarkannya diatur oleh anak kecil apalagi orang itu sudah jelas-jelas menyukai dirinya. Namun, bagi Kyuhyun ini bagaikan angin segar. Woobin memperlakukannya dengan normal.

Tidak, jangan berpikir bahwa Changmin tidak memperlakukannya dengan normal. Tapi ia sendiri tidak bisa mencegah perasaan hangat yang terbit di hatinya. Ketika Woobin memeluknya kala ia menangis, kala Woobin berdebat dengannya hingga melarangnya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kyuhyun menyukai semua itu. Ia merasa gairahnya kembali membara. Ia seperti.. hidup kembali.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun langsung mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak bisa memanggilku dengan sopan? Setidaknya panggil aku Kyuhyun-ssi.”

“Bagaimana dengan Kyuhyun-ah? Ah.. Itu sama saja dengan panggilan tunanganmu itu. Aku akan memanggilmu Kyuhyunnie.” Kata Woobin dengan cengiran lebar.

Cebikan di bibir Kyuhyun semakin dalam, walau sebenarnya dalam hatinya ia menyukai kata ‘Kyuhyunnie’. Terdengar manis walau sedikit kekanakan.

“Jangan menggodaku.”

Kyuhyun segera melepaskan tautan cebikan di bibirnya ketika jemari Woobin menari diatas permukaan bibirnya.

“Aku benar-benar terpesona olehmu.. Aku.. Sulit sekali mengabaikannya..”

Genderang di jantung Kyuhyun bertabuh dengan kencang ketika wajah Woobin mendekat dan semakin mendekat hingga Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di wajahnya.

Dan ketika bibir mereka bersatu, Kyuhyun hanya bisa terdiam. Terpana akan buaian itu. Terkejut akan manisnya bibir lain yang dengan berani menjamah miliknya saat itu. Kemudian Woobin melepaskan kecupannya. Namun ia tidak menarik wajahnya menjauh, melainkan tetap nyaris menempel. Mata keduanya saling menatap, seolah saling memberikan pesan.

Detik berikutnya, entah siapa yang memulai, mereka sudah mulai saling memagut dengan panas. Bibir keduanya saling beradu dalam tempo cepat, berusaha saling menghancurkan bibir satu sama lain. Ketika Kyuhyun menghisap keras, Woobin juga melakukan hal yang sama, membuat Kyuhyun semakin bersemangat melahap bibir kenyal dalam pagutannya itu.

Lidah mereka saling bermain bagai dua sahabat yang baru saja bertemu setelah terpisah sekian lama, mengalirkan getaran ke seluruh tubuh Kyuhyun. Apalagi tangan Woobin sudah mulai beralih dari mengelus punggung Kyuhyun lalu turun ke paha dan mulai meremas kasar di sana.

“Ahhhhh…”

Kyuhyun hanya bisa mendesah di sela-sela ciuman mereka. Satu tangannya mulai menjambak bagian belakang rambut Woobin sedangkan tangan lainnya menggesek kasar dada bidang lelaki itu.

Ciuman mereka terlepas, Woobin mulai menciumi pipi lalu turun dan menjamah leher jenjang Kyuhyun dengan jilatan-jilatan memabukkan tanpa meninggalkan bekas di sana. Lidahnya menari-nari dnegan lincah, membuat tubuh Kyuhyun semakin bergetar dibakar gairah baru.

“Ohhhh..”

Desahan Kyuhyun semakin kencang tatkala Woobin mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan mendaratkan kecupan serta jilatan lain di sana. Benar-benar membuat Kyuhyun semakin panas dan melupakan akal sehatnya.

Lalu deringan ponsel Woobin menyadarkan mereka. Dengan terengah-engah Woobin meraih ponselnya dan cukup terkejut melihat nama si penelepon. Ia mengatur nafasnya sebentar lalu menjawab telepon itu dengan nada suara yang cukup aneh. Keningnya berkerut ketika mendengar suara di seberangnya lalu dengan sedikit marah, ia menjawab.

“Aku akan segera kesana.”

Ia lalu berpaling pada Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah merona merah. woobin lalu mengancingkan kembali kemeja Kyuhyun serta merapikannya sedikit.

“Aku harus pulang. Ibuku membutuhkanku. Beristirahatlah.” Katanya seraya mengelus pipi Kyuhyun. Sebelum ia bangkit, ia mendaratkan kecupan kecil di dahi Kyuhyun lalu bergegas meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Kyuhyun yang masih belum bisa percaya atas apa yang baru saja terjadi.

*

“Kau suka yang mana? Aku mau yang warna biru.” kata Kyuhyun seraya menunjuk sebuah gambar sofa di katalog yang tadi ia ambil di sebuah toko furniture. Kala itu ia dan Changmin tengah duduk santai di depan televisi sambil bercengkrama.

            “Terserah padamu. Apapun pilihanmu, aku akan mengikutinya.” jawab Changmin seraya mendekap tubuh Kyuhyun lebih erat agar Kyuhyun lebih merapat ke tubuhnya.

            “Eh?¨Terserah padaku? Tapi ini akan jadi sofa milik kita berdua. Kita akan memakainya bersama, bukan? Sudah seharusnya kita memilihnya bersama.”

            Changmin mengangguk. “Benar. Tapi aku menyerahkan keputusannya padamu. Apapun yang kau pilih, aku akan setuju.”

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatap sungai Han yang mengalir tenang di depannya seraya memeluk lututnya. Ia mengingat segala yang pernah ia lewati bersama Changmin. Ia selalu menjadi sosok mandiri ketika bersama tunangannya itu. Ia juga diberikan kebebasan penuh untuk menentukan sesuatu, Changmin akan manuruti kemauannya tanpa protes.

Kalian menyukai hal itu? Mungkin iya. Tapi tidak bagi Kyuhyun. Karena terkadang ia terkesan egois, tidak pernah memikirkan kemauan Changmin seperti apa.

“Mengapa kau selalu mengikuti kemauanku?” tanya Kyuhyun suatu hari.

            “Karena itu bisa membuatmu bahagia.” jawab Changmin dengan santai seolah mereka tengah piknik di alam terbuka.

            “Tapi, seharusnya kau juga mempertahankan pendapatmu. Jadi aku tahu apa yang menjadi keinginanmu.”

            “Kita hanya akan berdebat nantinya.”

            “Bukankah sesekali berdebat itu perlu?”

            Changmin menghela nafas. “Untuk apa berdebat jika masalah bisa terselesaikan dengan mudah?”

Itulah Changmin. Ia mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Ia selalu mengalah, sabar dan menuruti kemauan pasangannya. Siapapun pasti akan sangat betah menjadi kekasihnya. Begitu juga Kyuhyun sampai kemarin. Sampai ia menyadari bahwa sebenarnya banyak kekurangan dalam kisah cintanya dengan Changmin.

“Kyuhyun hyung, maaf menunggu lama. Ayo kita pergi. Aku sudah puas memotret.” Jongin tahu-tahu sudah muncul di depannya dan memamerkan kamera pocket-nya.

Kyuhyun memang meminta Jongin dan Myungsoo untuk memanggilnya dengan sebutan hyung di luar sekolah. Ia sama sekali tidak pernah meminta Woobin untuk melakukannya karena ia sudah tahu jawabannya. Saat ini mereka berempat tengah mengunjungi sungai Han di sore hari yang cerah itu.

“Maksudmu sudah puas bergaya dengan berbagai posisi sementara aku memotretmu?” sindir Myungsoo seraya menyipitkan matanya, menyindir sang sahabat.

Jongin hanya bisa nyegir kuda dengan sindiran Myungsoo. Keduanya memang selalu saling ejek tapi mereka tidak pernah sekalipun berselisih.

“Bukankah aku meminta kalian menemani Kyuhyun? Mengapa kalian meninggalkannya sendiri?” Woobin sudah muncul diantara mereka.

“Kami hanya memotret sebentar. Lagipula tadi hyung sendiri yang minta untuk sendirian.” Jawab Jongin cepat.

“Jongin benar. Aku sendiri yang meminta mereka untuk meninggalkanku. Aku hanya ingin menikmati sore hari yang cerah seperti ini di sungai Han. Aku takjub sekali. Sudah bertahun-tahun aku tidak menikmatinya seperti ini.” Kyuhyun membenarkan.

“Hahh? Hyung sudah lama tidak kemari? Huahhh.. Kau pasti sangat kesepian, hyung. Apa kau tidak punya teman untuk diajak kemari, hyung?” tanya Myungsoo dengan polosnya.

Woobin cepat menghardik sahabatnya itu. Jongin bahkan ikut menyikut pinggang Myungsoo agar lelaki itu tutup mulut. Barulah ia sadar bahwa kata-katanya sangat menyinggung. Woobin baru akan mengomeli sahabatnya ketika Kyuhyun menyanggahnya.

“Jangan salahkan mereka. Salahkan dirimu sendiri. Siapa yang tadi mengajakku kemari lalu menjauh dariku karena menerima telepon dari entah siapa.”

Woobin mengerling nakal. “Jangan cemburu. Itu dari ibuku. Akhir-akhir ini beliau memang lebih banyak bicara denganku.”

Entah mengapa raut wajah Woobin sedikit murung ketika topik pembicaraan harus menyebutkan kata ‘ibu’.

“Kau baik-baik saja?” Kyuhyun bertanya seraya menyentuh lengan anak bandel itu.

Kim Woobin tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Nah, sekarang sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar sekali.”

Dengan sekali sentak, tangan besarnya sudah menyelimuti Kyuhyun dan menempelkannya di tubuhnya. Kyuhyun hanya diam dengan perlakuan Woobin. Ia menegadah menatap lelaki itu. Walau ia tengah memeluk Kyuhyun seperti ini dan ia juga tengah bersama sahabat-sahabatnya, tetapi tampaknya ia menyimpan sesuatu, tampak jelas bahwa ia tengah sibuk berpikir.

Apa benar ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati.

*

            Kyuhyun sudah tertidur pulas ketika dirasakannya sebuah ciuman mendarat di pipinya. Bersamaan dengan itu, sebuah lengan hangat memeluknya dari belakang.

“Hei.. Apa kau sudah tidur?”

Suara lembut itu. Shim Changmin. Setelah memperpanjang masa tinggalnya hingga nyaris sebulan di Tokyo, akhirnya ia pulang juga malam itu.

Kyuhyun mengeliat bak anak kucing. “Kau sudah pulang?”

Changmin hanya menjawab dengan ‘hmm’ pendek. Wajahnya tenggelam di lekukan leher Kyuhyun dan menikmati aroma apel segar yang masih melekat di sana, aroma shampo Kyuhyun.

“Maaf kalau aku pergi terlalu lama. Dan maaf telah meninggalkanmu sendirian.”

“Tidak apa-apa. Kau pergi untuk bekerja, bukan? Aku mengerti.” ujar Kyuhyun diantara kantuknya.

“Aku merindukanmu..” kata Changmin lagi, masih membenamkan diri di tubuh kekasihnya.

“Aku tahu. Apa kau sudah makan? Kalau kau sudah, beristirahatlah. Besok kau akan kembali bekerja bukan?”

Changmin menolak dengan gelengan kecil. “Aku lebih lapar melihatmu daripada melihat makanan di meja makan. Aku merindukanmu..”

Kyuhyun bisa merasakan nafas Changmin memberat. Tangannya mulai bergerilya mulai dari dada, perut hingga paha Kyuhyun. Bibirnya sudah mulai memberi kecupan-kecupan kecil di leher Kyuhyun, bahkan terkadang ia menghisap lembut. Changmin ingin bercinta.

Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak merasakan getaran aneh dari rangsangan yang diberikan Changmin? Bahkan ketika Changmin mulai bermain di daerah khususnya, ia tidak merasakan sesuatu yang membakar birahinya.

“Ada apa denganmu?” tanya Changmin keheranan. Ia menghentikan aksinya seketika.

Kyuhyun menjawab tergagap. “A.. Aku baik-baik.. saja. Hanya lelah kurasa. Siswa kelas tiga sudah akan menempuh.. ujian. Jadi aku..”

Changmin menghela nafas panjang. “Baiklah, aku mengerti. Seharusnya aku juga beristirahat karena besok pagi aku harus segera kembali ke kantor. Walaupun ini pertama kalinya kau menolakku, tapi aku mengerti. Kita bisa melakukannya besok. Nah, selamat malam Kyuhyun-ah. Saranghae..”

Changmin lalu mengecup pipi Kyuhyun kemudian berbaring dan mulai terlelap. Kyuhyun menggigit bibirnya. Walaupun nada suara Changmin tidak terdengar kecewa sama sekali, namun di sudut hatinya ia merasa jahat.

Bagaimana mungkin ia menolak Changmin? Mengapa ia melakukannya? Mengapa ia tadi tidak merasakan apa-apa? Dan mengapa.. Ketika Changmin menyentuhnya, ia justru berharap Woobin yang melakukannya?

*

changkyu5

To be continued..

Million Words – Chapter 3

Title                 : Million Words

Rate                 : T

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 3

Hari-hari berikutnya tidak bisa dibilang lebih baik untuk Kyuhyun juga Woobin. Kyuhyun tidak bisa berhenti mengumpat dalam hati dan menahan amarah setiap saat ketika Woobin menatapnya dalam-dalam dengan pandangan menjijikkan di dalam kelas lalu menjilat bibirnya dengan gaya sensual. Ingin sekali ia melemparkan jurnal-nya yang setebal karton pizza ke wajah tolol itu.

Ia tidak mengerti mengapa anak itu bisa bertingkah seperti pelacur kesepian sementara Kyuhyun tidak pernah memberinya perhatian apalagi sedikit pun celah. Namun anak lelaki yang berbeda sepuluh tahun darinya itu tampaknya amat sangat tidak peduli. Dan herannya ia tidak terganggu sama sekali dengan kenyataan bahwa Kyuhyun sudah punya Changmin.

Kyuhyun sudah berusaha mengabaikannya, terkadang membentaknya atau bahkan memaki anak itu. Tapi sama sekali ia tidak berhenti mengejar gurunya ini. Kyuhyun bahkan pernah mengancam akan melaporkannya pada pihak sekolah atau ke polisi sekalian agar Woobin berhenti.

Namun Woobin justru tertawa dengan mengatakan bahwa ia masih di bawah umur dan Kyuhyun adalah gurunya, sudah pasti yang akan terkena omelan adalah Kyuhyun sebagai guru yang dianggap tidak bisa mengatur muridnya sendiri atau bahkan mungkin mengada-ngada mengenai Woobin yang menyukainya. Mungkin bisa jadi ia benar-benar dituduh sebagai pedofilia.

“Cho songsaengnim..”

Kyuhyun memejamkan matanya seraya menahan emosinya. Ia mengenal suara itu. Siapa lagi kalau bukan salah satu monyet kesayangan Kim Woobin? Pasti ini ada kaitannya dengan lelaki tolol yang tengah membuatnya nyaris gila saat ini. Ia lalu berbalik dengan wajah datar dan dugaannya benar.

“Ya? Ada apa?”

Jongin dan Myungsoo terlihat sedikit ragu, namun kedua anak bandel yang sebenarnya sangat tampan itu akhirnya berbicara juga setelah beberapa detik.

“Hm.. Begini. Hari ini akan ada tes di kelas kami. Tes bahasa Inggris. Dan pengajarnya adalah Kim Youngwoon jadi..”

“Aku tahu itu.” potong Kyuhyun tak sabar, membuat Jongin kembali terlihat ragu.

Kim Myungsoo berdehem kecil lalu ikut bicara. “Kim Woobin tidak mau masuk kelas.”

Kyuhyun mendecih. “Seperti biasanya, bukan? Walaupun ia tidak masuk kelas, bukankah ia akan mendapatkan nilai seperti yang dia inginkan? Jadi untuk apa kalian cemas?”

“Bukan.. Bukan seperti itu, songsaengnim. Tapi.. Kim songsaengnim mengatakan bahwa jika siapa saja tidak mengikuti ujian kali ini, maka tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir bahasa Inggris nanti.” Jongin menjelaskan dengan nada yang lebih tegas daripada sebelumnya.

Namun Kyuhyun hanya menggeleng tak peduli. “Lalu mengapa kalian datang padaku? Bukankah ia adalah teman kalian? Kalian tinggal menyeretnya kemari atau hubungi Lee Hyukjae karena ia adalah wali kelas kalian. Gampang kan?”

“Kami bisa saja menyeretnya andai saja kami tahu ia ada dimana.” Kim Myungsoo langsung menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon. “Kami sudah mencoba menghubungi ponselnya tapi ia tidak membalas pesan kami ataupun menjawab teleponnya. Kami pikir.. Mungkin anda bisa membantu.”

What??!! Membantu? Membantu anak nakal itu? Apa urusan Kyuhyun hingga ia harus mengusahakan agar anak itu mengikuti ujian? Untuk apa ia turun tangan sedangkan ia tidak merasa punya kewajiban terhadap anak itu?

Bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran yang ia ajarkan, ia juga bukan wali kelas Woobin. Jadi untuk apa ia bersusah payah membantu dua anak yang sama nakalnya dengan ketua mereka walaupun mereka tidak kurang ajar.

Tapi Kim Youngwoon adalah lelaki galak yang tidak pernah main-main jika mengancam muridnya. Jika ia mengatakan bahwa seseorang dilarang ikut pelajarannya selama sisa semester, maka hal itu benar-benar dilarang. Ia selalu tegas dalam mendidik muridnya.

Dan jika Woobin tidak mengikuti ujian, artinya anak itu tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian akhir semester nanti. Dan artinya lagi, tanpa nilai akhir semester pertama, ia tidak akan diijinkan mengikuti kelas ataupun ujian di semester berikutnya padahal ini adalah tahun terakhirnya di sekolah ini. Apa Kyuhyun akan setega itu?

“Songsaengnim..”

Kyuhyun menghela nafas panjang lalu tanpa menjawab kedua sahabat Woobin, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor yang pernah ia sumpahi tidak akan pernah dihubungi seumur hidupnya.

*

            “Kau sudah pulang?”

Kyuhyun berlari memeluk Changmin ketika lelaki jangkung yang berstatus tunangannya itu memasuki apartemen mereka setelah hampir dua minggu tidak pulang karena kegiatan yang berhubungan dengan yayasan keluarganya.

Changmin mengangguk singkat. Lalu dengan wajah lelah ia balas memeluk Kyuhyun kemudian mengecup dahinya sekilas.

“Bagaimana perjalananmu?” tanya Kyuhyun lagi.

“Baik-baik saja. Dan aku lelah sekali. Aku akan mandi lalu tidur.”

Changmin baru akan beranjak ke kamar ketika Kyuhyun menahan tangannya. “Aku sudah menyiapkan masakan spesial malam ini, tidak bisakah kita makan bersama terlebih dahulu lalu kau beristirahat setelahnya?”

Changmin tampak berpikir sebentar. “Baiklah.”

Mereka makan dalam diam. Changmin tampak makan dengan setengah hati, wajar saja, ia sangat lelah. Namun Kyuhyun makan dengan berbagai pikiran di kepalanya. Tak lama kemudian ia mengangkat kepalanya lalu menatap Changmin dengan ragu.

“Changmin-ah, hm.. Aku ingin pindah kerja.”

Changmin mengangkat wajahnya dari piringnya sambil masih terus mengunyah. “Kenapa?”

“Aku hanya ingin mengajar di tempat lain.”

“Tapi itu adalah sekolah terbaik di Seoul. Untuk apa mencari pekerjaan lain jika kau sudah punya yang terbaik?” tanya Changmin lagi.

“Kurasa.. aku bosan.”

“Sepertinya kau perlu angin segar. Kenapa tidak mengajukan cuti?”

“Disamping itu.. Ada seseorang yang membuatku tidak nyaman.” Kali ini suara Kyuhyun mengecil.

Changmin tidak langsung menjawab. Ia menghabiskan isi piringnya dengan cepat, meneguk sisa air di gelasnya lalu bangkit dari duduknya dan mendekati Kyuhyun.

“Jika ada masalah, bukankah seharusnya kau menyelesaikannya? Jika ada yang membuatmu tak nyaman, berusahalah menghadapinya, bukan lari seperti ini. Besok kita akan membicarakannya. Nah, aku akan mandi lalu beristirahat, tulangku serasa remuk semua.”

Ia bangkit dan meninggalkan Kyuhyun yang termenung sendiri. Kyuhyun sangat mengerti saat ini Changmin lelah. Tapi dengan waktunya yang minim untuk Kyuhyun, kapan lagi mereka bisa bicara dan mendiskusikan keresahan Kyuhyun saat ini? Kesibukan Changmin semakin menjadi-jadi karena perluasan cabang yayasan di beberapa tempat secara berkala, lalu kapan ia punya waktu untuk Kyuhyun?

“Ia terlalu lelah saat ini. Aku akan membicarakannya besok.” Kata Kyuhyun, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

*

            Keesokan harinya hingga beberapa minggu kedepan bukanlah waktu yang tepat untuk Kyuhyun dan Changmin. Jangankan membicarakan masalah Kyuhyun, bertemu saja mereka jarang. Jika Changmin tidak pergi ke luar kota, ia akan pulang lewat tengah malam dimana Kyuhyun sudah tertidur.

Terkadang ia berangkat terlebih dahulu sebelum Kyuhyun bangun karena mengejar rapat-rapat atau seminar yang telah menantinya dan meletakkan selembar note permintaan maaf di meja kecil di samping tempat tidur mereka untuk Kyuhyun.

Terkadang Kyuhyun bahkan yang bangun terlebih dahulu karena harus berangkat ke sekolah sementara Changmin belum bangun karena jadwalnya baru di mulai siang nanti. Dan Kyuhyun tidak akan tega membangunkan lelaki yang kelelahan yang terdengar dari dengkurannya. Mereka bahkan sudah tidak pernah berhubungan sex sejak beberapa bulan lalu.

Dan hal-hal seperti ini sudah berlangsung sejak dua tahun ini. jadi jangan salahkan jika tingkat kejenuhan Kyuhyun semakin menjadi-jadi belakangan ini karena kesibukan Changmin yang juga semakin meningkat.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun enggan menggeleng ataupun mengangguk. Ia bahkan melupakan es krim kesukaannya dan membiarkannya mencair sementara ia memikirkan hubungannya dengan Changmin yang terasa sangat hambar. Adakah yang bisa mengerti perasaannya saat ini?

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun menoleh, menyeruput juice jambunya sebentar lalu kembali memandang lelaki di depannya.

“Bersikaplah sedikit lebih sopan.” Kyuhyun menjawab dengan nada enggan yang terdengar sangat lemah. Ia lalu kembali menoleh ke jalanan luar.

Kim Woobin sedikit tersentak mendengarnya. Biasanya Kyuhyun akan mengomelinya atau bahkan langsung pergi jika Woobin mendekatinya.

‘Ada apa ini? Mengapa ia tidak seperti biasanya?’ pikir Woobin seraya menatap Kyuhyun heran.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun menghela nafas panjang. Pandangannya belum menoleh dari jalanan di luar sana. “Jawaban seperti apa yang kau inginkan?”

Sungguh, Woobin lebih baik mendengar Kyuhyun marah-marah seperti biasa. Memaki, mengumpat atau bahkan mencercanya dengan kalimat-kalimat menyakitkan hati daripada melihatnya seperti kehilangan semangat hidup seperti ini.

“Katakan padaku ada apa denganmu.” Kata Woobin lagi. Kali ini dengan nada yang cukup tegas.

“Pulanglah. Tinggalkan aku sendiri, jangan ganggu aku.” Kyuhyun menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia lelah. Sangat lelah. Ia butuh teman bicara. Ia butuh seseorang yang mau mendengarkan ceritanya.

“Kau bisa menceritakan masalahmu padaku.”

Dengan cepat Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajahnya. ‘Apa benar anak ini tidak bisa membaca pikiranku? Ini sudah kedua kalinya ia menebak pikiranku dengan tepat.’

Kyuhyun menatap lelaki muda di depannya. Mata lelaki yang biasanya memancarkan sinar nakal kekanakan itu kini menatapnya tajam dengan sinar yang sulit ia artikan. Dan entah mengapa ia jadi sulit beranjak dari sana, terpaku dengan tatapan itu.

“Katakan padaku siapa yang membuatmu jadi seperti ini!”

Bagai cambuk, Kyuhyun segera tersadar mendengar suara berat itu. Ia tidak boleh berlama-lama dengan bocah ini. Ia bangkit dari duduknya lalu bergegas meninggalkan Woobin di café yang tadinya cukup membuatnya nyaman.

“Hei, tunggu aku. Aku tengah bertanya kepadamu. Mengapa kau melarikan diri seperti ini?” Woobin sudah muncul dan menghadang jalannya.

“Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Minggir!” bentak Kyuhyun kesal.

Kembali Woobin menghalangi jalannya. “Tidak sampai kau bicara mengenai apa yang membuatmu murung seperti tadi. Apa lelaki itu yang membuatmu seperti ini?”

Kyuhyun kembali tersentak. Namun kali ini bukan hanya dikarenakan suara Woobin yang meninggi tapi juga tebakan anak itu yang lagi-lagi tepat.

“Dia tunanganku! Dan ini urusan kami.” Jawab Kyuhyun enggan.

Ekspresi Woobin semakin mengeras. “Ah.. Jadi dugaanku benar kan? Lelaki brengsek itu yang membuatmu seperti ini. Apa yang ia lakukan padamu? Apa ia melukaimu?”

“Ya! Berhenti menyebutnya seperti itu. Dia tunanganku!” kini Kyuhyun menjerit keras hingga kerongkongannya terasa perih.

“Aku tahu!” Woobin balas menjerit keras.

“Bagus kalau kau mengerti! Jadi berhenti mengendus urusan pribadiku. Tugasmu hanya satu, belajar dengan baik agar kau bisa lulus sekolah tahun depan dan membuat kedua orang tuamu bangga. Bukan menjadi sampah di sekolah seperti yang selalu kau lakukan. Aku muak padamu!”

Woobin terdiam sejenak tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Kyuhyun. “Setidaknya aku hanya merugikan diriku sendiri. Aku menjadi sampah untuk diriku sendiri. Aku tidak merugikan dirimu. Aku tidak merugikan orang tuaku karena aku tetap mendapatkan nilai yang baik dan aku tidak merugikan sekolah karena aku tetap membayar kewajibanku. Namun pantang bagiku menjadi sampah yang merugikan orang lain.”

Setelah itu Woobin berbalik pergi. Wajahnya yang sempat terlihat sedih segera ditutupinya dengan kacamata yang ia kantongi sedaritadi, meninggalkan Kyuhyun yang merasa amat bersalah karena bersikap kekanakan dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas dikatakan oleh seorang guru kepada muridnya. Siapa yang kekanakan dan tidak dewasa kini?

*

            Kyuhyun benar-benar dilanda perasaan bersalah hingga beberapa hari kedepan. Kim Woobin masih melakukan kebiasaannya, hanya memasuki kelas jika ia menginginkannya. Ia juga bersikap acuh terhadap Kyuhyun yang membuat Kyuhyun setidaknya merasa beryukur karena tidak adanya penginterupsi setiap kegiatannya.

Namun di sisi lain ia merasa aneh. Jujur ia menikmati pertengkaran kecil yang hanya berdurasi tak lebih dari satu menit bersama Woobin beberapa hari lalu walaupun ia harus meminum pereda sakit untuk kerongkongannya setelah itu. Ia tidak punya banyak teman. Ia selalu bersama Changmin. Hidupnya adalah Changmin, teman-teman Changmin di yayasan dan kedua orang tua Changmin. Jadi ketika ia punya masalah seperti ini dan Changmin tengah sibuk dengan pekerjaannya, Kyuhyun akan merasa amat kesepian.

Kyuhyun memperhatikan Woobin yang tengah mengerjakan soal-soal pertanyaan yang diberikan Kyuhyun kepada seluruh kelas siang itu sebagai tes kecil untuk melihat sudah sejauh mana perkembangan anak-anak didiknya dalam mencerna mata pelajaran yang ia ajarkan. Lelaki itu tampak mengisi lembaran kertas di atas mejanya dengan serius. Ia tampak jauh lebih baik daripada berkeliaran di luar kelas dengan sikap menyebalkan.

Tiba-tiba Woobin mengangkat wajahnya, menatap langsung ke wajah gurunya. Kyuhyun yang tersentak segera membuang pandangannya ke luar lain sambil mengumpat dalam hati.

Tak lama kemudian bel tanda sekolah sudah usai berbunyi. Kyuhyun bisa bernafas lega karena di menit-menit terakhir pelajarannya harus dihabiskan dengan menghindari tatapan tajam Kim Woobin.

“Kumpulkan kertas ujian kalian dan kalian boleh pulang.” Ujar Kyuhyun yang disusul bunyi kursi-kursi digeser dan langkah-langkah kaki bersemangat.

Dalam sekejap ruang kelas itu kosong, menyisakan Woobin dan kedua kroni-nya yang kini berdiri di depan meja guru, mengumpulkan kertas ujian mereka sendiri. Ketika Myungsoo dan Jongin sudah keluar, Woobin segera menyusul tanpa memandang Kyuhyun lagi.

“Maaf..” Kata Kyuhyun pelan ketika tubuh Woobin sudah nyaris keluar dari ruang kelas.

Kim Woobin berhenti di tempatnya. Ia tidak menjawab atau pun menoleh. Ia hanya berdiri di tempatnya, mendengarkan kalimat Kyuhyun.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Ia jadi agak menyesal kini melihat sikap Woobin yang acuh seperti itu.

“Maafkan kata-kataku beberapa hari lalu. Aku.. Aku sedang ada masalah dan benar-benar sedang tidak ingin berdebat jadi..”

Kebohongan lain Kyuhyun ciptakan karena malu. Tidak mungkin ia mengakui pada Woobin kalau ia menikmati pertengkaran mereka. Ia rindu berdebat. Ia rindu bertengkar dengan orang lain. Memperebutkan sesuatu,berargumen atau mempertahankan pendapat.

“Kata-kataku kemarin cukup bodoh. Maaf kalau membuatmu tersinggung.” Ujar Kyuhyun akhirnya.

Woobin belum menjawab apa-apa. Ia masih berdiri mematung selama beberapa detik lalu pergi meninggalkan Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang. Kyuhyun menghela nafas lega karenanya. Setidaknya ia sudah meminta maaf atas kesalahannya. Terasa sangat menyiksa beberapa hari ini karena mengeluarkan kata-kata tolol kepada muridnya sendiri.

“Seperti biasa.. Tidak sopan dan tidak peduli.”

Kyuhyun beranjak keluar. Ia berpikir untuk singgah sebentar ke restaurant untuk membeli makanan. Lagi-lagi makan siang sendiri. Tapi apa boleh buat?

Namun alangkah terkejutnya ia melihat trio Kim berdiri di depan gerbang, apalagi Woobin kembali melayangkan tatapan tajam kepadanya.

‘Ada apa lagi ini?’ pikir Kyuhyun. ‘Apa ia masih tersinggung dengan kata-kataku tempo hari dan kini mengajak teman-temannya untuk mengeroyokku?’

“Songsaenim.. Apa anda akan pulang?”

Kyuhyun menatap Jongin dengan ragu. Anak itu tersenyum, namun Kyuhyun khawatir hal buruk akan menimpanya jika ia ikut tersenyum.

“Kami juga akan pulang tapi seperti biasa, kami ingin makan siang terlebih dahulu bersama.” Kali ini Kim Myungsoo yang berbicara.

Kyuhyun masih belum berani menjawab. Jadi ketiganya akan makan siang sebelum pulang. Tunggu, makan siang? Jangan bilang Kyuhyun akan menjadi santapan makan siang mereka karena berani membuat pimpinan mereka tersinggung. Bulu kuduk Kyuhyun jadi sedikit meremang karenanya.

“Kami ingin kau ikut dengan kami. Bukankah makan siang beramai-ramai jauh lebih menyenangkan daripada makan sendirian?” akhirnya Woobin angkat bicara setelah sekian lama ia hanya memandangi wajah Kyuhyun tanpa berkedip.

“Aku?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk dirinya sendiri. “Makan siang bersama kalian?”

Myungsoo dan Jongin mengangguk. Senyum lebar masih terpatri di wajah tampan keduanya. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Kim Woobin sudah menarik tangannya. Detik berikutnya ia sudah berada di dalam mobil, duduk di kursi belakang berdampingan dengan sang pemilik mobil sementara Jongin duduk di depan menemani Myungsoo yang bertugas mengemudi siang itu.

*

            Dari satu makan siang berlanjut ke makan siang lainnya. Kyuhyun baru tahu bahwa Jongin dan Myungsoo adalah anak-anak pejabat kota Seoul tapi tidak pernah membuka identitas mereka di depan teman-teman sekolahnya dan bertindak seolah-olah mereka lahir dari keluarga biasa.

Dan Kim Woobin yang selalu bersikap seenaknya ternyata adalah sahabat yang sangat setia serta merupakan anak yang sangat menyayangi ibunya. Walaupun ia tengah melakukan hal yang disukainya, jika ibunya menelepon karena butuh bantuan, saat itu juga Woobin akan mendatangi ibunya. Membuat Kyuhyun menggeleng tak percaya mengetahui kenyataan yang sangat kontras dengan kelakuan Woobin di sekolah. Don’t judge the book by it’s cover!

Seperti Jongin dan Myungsoo menyayangi Woobin, mereka juga menyayangi Kyuhyun. Mungkin dikarenakan akhir-akhir ini mereka sering bersama Kyuhyun, atau karena Woobin menyukai Kyuhyun, atau karena Kyuhyun dengan berbaik hati memberi mereka ‘pelajaran tambahan’ di sela-sela pertemuan mereka yang sangat berguna dalam pelajaran geografi.

Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Kyuhyun merasa hidup kembali. Ia punya teman-teman baru, atau mungkin adik-adik baru, dimana ia bisa merasa cemas ketika adik-adiknya belum juga muncul di sekolah tepat pada waktunya, atau adik-adiknya terkena masalah atau bahkan ketika mereka mengeluh mengenai hal-hal kecil. Ia jadi punya banyak teman bicara, lebih sering mengomel dan memberi nasihat juga teman berdebat.

Terutama ketika Kim Woobin ikut di dalam pembicaraannya dengan Jongin dan Myungsoo. Woobin akan bertindak seperti sahabat yang mengenal duo Kim selama bertahun-tahun sedangkan Kyuhyun akan bertindak sebagai kakak yang sangat menyayangi adik-adiknya. Jika ia akhirnya kalah berdebat dengan Woobin, ia akan kembali menjadi Cho songsaengnim yang bisa mengancam akan memberikan nilai jelek kepada murid-muridnya yang suka membangkang. Kalau sudah begini, kemenangan sudah pasti ada di tangan Kyuhyun.

Kyuhyun benar-benar menyukai hari-harinya kini. Ia tidak lagi sedih ataupun kesepian. Ia tidak harus menghabiskan hari-hari membosankan seorang diri di apartemen ketika Changmin tidak ada karena trio Kim membuatnya selalu sibuk. Sibuk bepergian, berbelanja, atau bahkan mengomel.

“Aku senang kau kini lebih banyak tersenyum. Dulu kau selalu murung.” Kata Woobin di balik kemudi ketika mengantar Kyuhyun pulang malam itu. Mereka baru saja selesai jalan-jalan dengan Jongin dan Myungsoo di penghujung minggu itu. Dan kedua sahabatnya itu melarikan diri agar Woobin bisa mengantar Kyuhyun pulang sendirian setelah acara mereka sepanjang hari itu telah usai.

“Aku tidak murung dahulu. Aku hanya sedang banyak masalah.” Sambar Kyuhyun cepat.

“Tetap saja kau murung. Lihatlah bagaimana menyenangkannya hidupmu sekarang setelah kami bertiga muncul di kehidupanmu.” Serang Woobin lagi.

“Ohhh.. Sangat membuatku menderita. Mengomel lebih banyak, menghabiskan asupan energiku.” Balas Kyuhyun dengan nada sarkastik.

“Tapi kau menyukainya, jangan bohong. Aku bisa melihatmu sangat cemas pada kami. Kau tahu, mengomel tanda menyayangi.” Kata Woobin lagi.

Kyuhyun tersenyum kecil. Ia memang menyukainya. Berdebat seperti ini, membuatnya bisa merasakan ketegangan di dadanya, bahkan ia bisa merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Segalanya menyenangkan. Atau mungkin terlihat menyenangkan karena ia tengah berada dalam puncak kejenuhan? Ia tidak tahu, yang jelas Kyuhyun menikmati segalanya yang terjadi saat ini. Dan melupakan sejenak masalah pribadinya.

“Kita sudah sampai.”

Kata-kata Woobin membawanya kembali ke dunia nyata, meninggalkan lamunanya sebentar. Ia memandang areal parkir yang ia kenal selama ini sebagai areal parkir apartemennya.

“Terima kasih untuk hari ini. Katakan pada Jongin dan Myungsoo kalau aku akan menjewer mereka besok di sekolah karena berani melarikan diri hari ini. Dan ingat janjimu tadi bahwa kau akan masuk ke kelas besok pagi.”

“Shireo!”

“Ya! Kau sudah berjanji.” Kata Kyuhyun. Lagi-lagi emosinya dibuat naik.

“Aku akan masuk untuk menyimpan tasku di loker. Setelah itu aku akan keluar.” Jawab Woobin seenaknya.

“Kim Woobin!”

“Sudah kukatakan, aku tidak mau.”

Kyuhyun menangkupkan wajah Woobin di kedua belah telapak tangannya. Menatapnya lekat-lekat. “Aku benci dengan pengingkar janji.”

Woobin meraih tangan-tangan itu lalu menyatukannya dalam genggaman besarnya. “Arasso.. Aku akan masuk kelas besok pagi. Ini karena kau yang memintanya.”

Tatapan itu membuat Kyuhyun merona. “Dan tolong panggil aku Cho songsaengnim di depan anak-anak lain.”

“Kau manis sekali jika tengah merona seperti itu.” kata Woobin seraya mengelus lembut jari-jari dalam genggamannya. Namun ketika ia melihat Kyuhyun semakin merona, ia tertawa. “Baiklah, di depan semua orang aku akan memanggilmu seperti yang kau mau. Tapi di depan Jongin dan Kyungsoo serta ketika kita sedang berdua, aku akan memanggilmu seperti yang kumau.”

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak mau memanggilku dengan sopan? Menggunakan embel-embel ‘ssi’ atau hyung pun aku tidak keberatan. Kau sungguh tidak sopan.”

“Aku tidak terbiasa memanggil calon kekasihku dengan panggilan-panggilan seperti itu.”

Mata Kyuhyun membulat sempurna. “Ca-calon kekasih?” Ia segera menarik tangannya. “Jangan bermimpi! Aku sudah punya kekasih, tidak, lebih tepatnya tunangan dan kami akan segera menikah.”

“Aku tidak akan berhenti mengejarmu. Jadi kau juga jangan pernah bermimpi.” Balas Woobin.

“Terserah! Aku mau pulang.” Kyuhyun membuka pintu mobil lalu berjalan keluar ke arah lift terdekat.

“Cho songsaengnim..”

Ternyata Woobin mengikutinya. “Selamat malam.”

Kyuhyun berbalik menatap lelaki jangkung yang berdiri sangat dekat dengannya itu. “Selamat ma..”

Kyuhyun tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Bibirnya sepenuhnya diambil alih oleh kecupan mesra dari bibir Woobin. Kyuhyun hanya diam, tidak membalas atau mungkin tidak sanggup membalas. Ia terlalu terkejut dengan aksi muridnya itu.

Sebuah sentuhan mendarat di pipinya lalu mengelusnya perlahan. Detik berikutnya bibir mereka terpisah. Ketika bibirnya benar-benar bebas, ketika wajah di depannya benar-benar menjauh, dan ketika kelumpuhannya akhirnya benar-benar sirnah, Kyuhyun merasakan debaran keras di dadanya. Berdetak lembut dengan irama menyenangkan dan membuatnya tak kuasa untuk mengabaikannya.

*

changkyubin

To be continued..

Million Words – Chapter 2

Title                 : Million Words

Rate                 : T

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star          : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

CHAPTER 2

Kyuhyun menghembuskan nafas kesal setibanya ia di toilet. Bagaimana mungkin ia bisa diintimidasi oleh seorang murid biasa seperti Kim Woobin? Apa kelebihan anak bandel itu hingga ia dengan lancangnya bisa membuat Kyuhyun benar-benar berdebar seperti ini?

“Tidak, tidak, jangan pikir aku menyukainya. Dia membuatku berdebar karena terus menerus menatapku seolah siap menyantapku kapan saja. Siapa yang bisa tahan ditatap seperti itu?” monolog Kyuhyun dengan nada luar biasa kesal.

Kembali Kyuhyun menghembuskan nafas kesal. Ia memandangi wajahnya di kaca besar. Tiba-tiba ia tersentak dengan munculnya lelaki lain dari balik bilik salah satu toilet di belakangnya.

“Kyuhyun-ssi? Kau bicara sendiri?”

Lelaki itu adalah salah satu rekan kerjanya. Lee Hyukjae. Lelaki kurus yang terkenal dengan gummy smile-nya itu menatapnya dengan senyum mengejek.

“Tidak.. tidak apa-apa. Aku hanya bercanda tadi. Aku hanya mengingat sepenggal kalimat dari drama yang aku tonton semalam.” Jawab Kyuhyun.

Sudah pasti jawabannya adalah sebuah kebohongan besar. Mana mungkin ia membiarkan seorang Hyukjae yang sangat pandai menyebarkan gosip tahu mengenai keresahannya? Berbohong adalah hal paling tepat saat ini.

Hyukjae mengangguk. “Lalu bagaimana hubunganmu dengan Changmin? Kapan kalian akan menikah?”

Lagi-lagi pertanyaan seperti ini. Tidak bisakah orang-orang berhenti menanyakan hal yang paling dihindari Kyuhyun saat ini?

“Oh.. Kami sedang memikirkannya. Tapi karena kesibukan masing-masing, kami memutuskan untuk menundanya sebentar.”

Enggan. Itulah yang ia rasakan. Enggan menjawab. Enggan membicarakannya. Bahkan enggan memikirkan mengenai hal itu.

“Jangan terlalu lama berpacaran, tidak baik. Biasanya salah satu diantaranya akan merasa jenuh. Sebenarnya sudah seharusnya kalian menikah. Apalagi yang kalian tunggu? Kalian sudah sama-sama bekerja. Keluarga Changmin sangat menyayangimu, bukan? Dan yang terpenting, kalian berdua saling mencintai. Apa lagi yang kalian tunggu?”

Kyuhyun sedikit terperangah dengan kata-kata Hyukjae barusan. Terlalu lama berpacaran? Jenuh? Bagaimana setidaknya lelaki di depannya itu bisa berpikir sesuatu yang sama dengannya saat ini, Kyuhyun tidak berani bertanya.

Kyuhyun tahu bahwa Hyukjae benar, ia dan Changmin sudah terlalu lama berpacaran. Seandainya Changmin tidak terlalu sibuk, seandainya ia sendiri tidak terlalu bersikap dewasa dengan menunda pernikahan pada tahun ketiga hubungan mereka, mungkin kejenuhan ini tidak akan terasa.

Dengan menikah, Kyuhyun akan mempunyai kesibukan lain. Ia bisa mengadopsi seorang anak dan mengurusnya setiap hari seperti yang selalu ia dan Changmin impikan selama ini.

“Ya! Mengapa kau malah melamun? Aku sedang bicara padamu.” Protes Hyukjae.

Kyuhyun mencoba tertawa walau terdengar cukup kering. “Maafkan aku. Saat ini aku hanya sedang banyak pikiran. Aku terkadang tidak fokus dengan hal-hal di sekitarku.”

Hyukjae menyipitkan matanya. “Apa kau dan Changmin baik-baik saja?”

Kyuhyun mengangguk cepat. “Kami baik-baik saja. Dan aku tahu kau pasti menebak bahwa masalahku adalah dengan Changmin saat ini, bukan? Tidak, jangan khawatir. Ada hal lain yang cukup menggangguku saat ini. Tapi aku baik-baik saja.”

Hyukjae menghembuskan nafas lega. “Baguslah kalau begitu. Aku pikir ada yang terjadi diantara kalian.”

Dan entah mengapa Kyuhyun ikut menghembuskan nafas lega.

*

            “Ya! Woobin-ah, bangun! Mau sampai kapan kau tidur? Ayo bangun.” Teriak Myungsoo dengan putus asa selama nyaris 30 menit berusaha membangunkan sahabatnya yang bagaikan mati jika bertemu dengan bantal dan tempat tidurnya.

“Woobin-ah, bukankah kita akan pergi hari ini? Ya! Bangun!” kali ini Jongin yang berteriak kesal.

Tapi lagi-lagi lelaki itu tetap diam. Tetap bergelung nyaman di bawah selimutnya, seolah tidak ada interupsi ataupun teriakan-teriakan marah yang mengganggu.

Jongin dan Myungsoo saling melemparkan tatapan licik. Senyum-senyum nakal terukir di bibir keduanya.

“Kupikir tidak ada jalan lain.” kata Jongin.

Myungsoo mengangguk. “Aku bahkan tidak peduli kalau ia marah sekalipun.”

Dengan gerakan super cepat nan kuat, keduanya membuka selimut Woobin lalu menarik paksa lelaki bertubuh besar itu turun dari tempat tidurnya.

Bukkkk…!

Suara bedebuk keras langsung terdengar disusul raungan murka di kamar mewah itu.

“YA…!!!!! KENAPA KALIAN MEMBANGUNKANKU???”

Suara Woobin menggelegar bagai guntur di siang itu karena hal yang paling disukainya terusik dengan datangnya dua monyet pengacau.

“Bukankah kita akan mengunjungi villa orang tuamu? Apa kau lupa? Sudah tugasmu untuk mengeceknya setiap sebulan sekali.” Jawab Jongin dengan nada kalem.

Kim Woobin masih menyesuaikan matanya dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya sebelum ia menjawab.

“Oh.. Aku lupa kalau sudah waktunya.”

“Tentu saja kau lupa. Semalam kau sibuk memata-matai guru geografi kita hingga larut malam. Kau bahkan tidak mau pulang dari kegiatanmu yang memuakkan itu kalau kami tidak menyeretmu.” Myungsoo menambahkan.

Kim Woobin tersenyum. “Dia manis, bukan?”

Jongin dan Myungsoo menyeringai. “Yeah, manis sekali.”

Woobin mendelik. “Ya! Aku serius. Dia manis sekali. Lihatlah caranya tersenyum. Caranya bicara dengan bibirnya yang merah itu dan lihatlah caranya memberenggut ketika aku menggodanya. Belum lagi dengan rona di kedua pipinya. Oh Tuhan.. dia benar-benar makhluk paling manis yang pernah aku temui!”

“Ya, ya, ya, aku tahu. Sekarang kau mandi dulu lalu kau bisa melanjutkan khayalanmu setelah itu.” usul Jongin seraya melemparkan handuk pada sahabatnya itu.

Kini gantian Woobin yang menyeringai. “Nanti? Tidak.. Tidak.. Aku tidak bisa menunggu. Kurasa aku akan melanjutkan khayalanku di kamar mandi.”

Pandangan lelaki itu menerawang. Sesekali ia menggigit bibirnya seraya tersenyum nakal.

Myungsoo menatap Woobin dengan pandangan horor. “Ya! Jangan bilang kau akan..”

“Dia pasti akan lebih mempesona jika tak ada selembar benangpun menutupi kulit pucatnya itu.. Oh, aku akan banyak bersenang-senang jika itu terjadi. Kalian bersantailah dulu, mungkin aku akan sedikit lama. Dan jangan hiraukan suara-suara yang nantinya akan kalian dengar dari kamar mandi.”

*

            Kim Woobin mungkin terlihat sangat brengsek di depan semua orang. Tubuh tinggi dengan berat yang proposional serta kesukaannya pada olah raga membuatnya terlihat seperti algojo seksi. Wajahnya yang tampan dengan rahang kokoh dan tatapan matanya yang tajam membuatnya tampak seperti malaikat pencabut nyawa paling menggoda yang pernah ada.

Siapapun yang mengenalnya di sekolah pasti hapal dengan kebiasaannya yang hanya mengikuti kelas hanya kalau ia menginginkannya serta sikapnya yang bossy. Ia bahkan suka sekali tidur di kelas daripada mendengarkan gurunya bercuap-cuap di depan kelas.

Tapi tidak ada yang bisa menghentikannya karena selain cukup tajam dengan kata-katanya, ia ternyata mempunyai otak yang sangat cerdas. Nilainya selalu sempurna. Metode belajarnya adalah dengan mendengarkan. Walaupun ia tidak mencatat seperti teman-temannya, tetapi informasi yang didengarnya akan langsung ditangkap dan dimasukkan ke dalam otaknya.

Namun dibalik semua itu, ia adalah anak yang sangat menyayangi orang tuanya juga sangat setia kepada teman-temannya. Itulah yang membuat Kim Jongin dan Kim Myungsoo tahan berteman dengan anak keras kepala ini.

Dan mengenai kesukaannya pada Cho Kyuhyun, mungkin hal ini menjadi hal paling spesial mengingat ia belum pernah seberani ini membuntuti gurunya sendiri dan mengintai semua kegiatannya tanpa peduli apakah Kyuhyun akan keberatan atau marah, tanpa mau tahu apa incarannya itu telah memiliki kekasih selama bertahun-tahun. Ketika ia sudah menjatuhkan pilihan, pantang baginya untuk mundur.

*

            “Bagaimana kalau yang ini?”

Kyuhyun mendekati patung petani mini di atas rak pajangan yang ditunjukkan Changmin. Patung yang terbuat dari keramik hijau itu sangat cantik, Kyuhyun pun menyukainya. Siang itu ia dan Changmin akhirnya bisa pergi bersama setelah beberapa bulan belakangan Changmin sangat sibuk dengan yayasan sosialnya.

Keduanya tengah mencari kado yang bagus untuk ulang tahun sepupu Changmin yang jatuh dua hari lagi. Mereka sudah berkeliling ke beberapa tempat dan belum juga menemukan hadiah yang paling pantas untuk Junsu.

“Bagus, aku suka. Kau mau beli yang ini?”

Changmin tampak berpikir sebentar lalu menjawab. “Kurasa aku akan melihat-lihat ke dalam sebentar, tolong carilah di sekitar sini, siapa tahu ada yang lebih menarik.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu menjelajahi rak-rak pajangan di sekitarnya. Dan detik berikutnya, ketika ia melihat ke luar jendela, barulah ia sadari bahwa ia menemukan pemandangan tak asing.

Di sana, di seberang jalan, tepat di depan sebuah mini market, berdiri seorang lelaki yang cukup dikenalnya. Lelaki jangkung itu bersandar di dinding bata sambil merokok dengan gaya menyebalkan. Matanya yang tajam terus memantau Kyuhyun tanpa henti.

“Sial! Kenapa dia ada di sini? Apa sudah sedaritadi ia membuntutiku?” erang Kyuhyun.

Kyuhyun membuang pandangannya. Ia berusaha keras mencari hadiah yang pantas untuk Junsu. Tapi entah mengapa ia justru merasa canggung. Kembali ia menoleh pada lelaki tolol di luar sana. Namun lelaki itu masih menatapnya dengan tatapan nakal yang sama. Ia bahkan berkedip menggoda, membuat Kyuhyun nyaris melemparkan patung-patung kecil di sekitarnya ke wajah menyebalkan sang stalker.

“Aku tidak mendapatkan sesuatu yang bagus di dalam. Ayo ke tempat lain.”

Suara Changmin membuatnya nyaris melompat dari tempatnya berdiri. “Ya! Changmin-ah, kau membuatku terkejut. Aku nyaris terkena serangan jantung!”

Changmin tertawa geli melihat Kyuhyun yang mengelus dadanya. “Mengapa kau begitu terkejut?”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya sedang melamum tadi. Ayo, kita cari hadiah di tempat lain.”

Ia lalu menggandeng lengan Changmin dengan mesra, berharap Kim Woobin bisa melihat dengan jelas betapa Kyuhyun tidak tertarik padanya. Ketika ia menoleh lagi, lelaki itu sudah menghilang. Hal ini membuat Kyuhyun sedikit penasaran.

Dimana dia? Kenapa dia menghilang begitu saja? Tunggu, mengapa aku justru mencarinya? Bukankah lebih baik ia pergi?

“Kurasa aku akan membelikannya pakaian saja. Lihat, sepertinya toko ini menjual banyak barang bagus. Ayo melihat ke dalam.” kata Changmin ketika keduanya sudah sampai di salah satu toko pakaian yang cukup terkenal di daerah itu.

Keduanya langsung masuk dan melihat-lihat di sekitar toko. Setelah lima menit mencari, Changmin berpamitan karena akan menjelajahi lantai dua sedangkan Kyuhyun ditugaskan untuk melihat-lihat di lantai satu.

Kembali Kyuhyun berjalan sendiri, melewati puluhan pakaian yang berjejer rapi di sana, mencari hadiah paling pantas untuk seorang Junsu yang terkenal menyukai barang bagus.

Sreettt..!

Tiba-tiba sebuah tangan besar menariknya masuk ke dalam kamar ganti paling ujung di sebelah kiri. Detik berikutnya ia sudah berada dalam sebuah dekapan hangat dan disambut dengan aroma maskulin yang memabukkan. Kyuhyun tidak bisa melihat apa-apa, wajahnya sepenuhnya tenggelam di dada bidang sang ‘penculik’nya. Ia hanya bisa mendengar suara besi digesek tanda pintu kamar itu telah terkunci.

“Ya! Siapa kau? Lepaskan aku!”

Kyuhyun berusaha berontak sekuat tenaga, tapi semakin kuat ia berusaha lepas, semakin kuat pula sepasang tangan kokoh itu memeluknya. Akhirnya ia menyerah karena kekuatannya tidak sebanding dengan si pemeluk.

“Siapa kau? Katakan!” tanya Kyuhyun dalam bisikan keras.

“Bukankah tanpa kukatakan, kau sudah tahu siapa aku?”

Deg! Suara itu.. Kyuhyun membelakkan matanya. Ia sangat menghapal suara berat yang kerap kali ia dengar kala menggodanya.

Tidak.. Tidak mungkin! Bagaimana mungkin anak ini ada disini? Bukankah ia sudah pergi tadi?’ pikir Kyuhyun. ‘Bagaimana kalau..

“Apa kau takut kekasihmu yang baik hati itu akan melihat kita?” bisik Woobin di telinga Kyuhyun.

Tunggu, bagaimana ia tahu? Apa ia bisa membaca pikiranku?

“Jangan khawatir, aku tidak sedang membaca pikiranmu. Aku hanya menebak. Bukankah kau kemari dengan kekasihmu itu? Jadi sudah pasti kau ketakutan jika ia menemukanmu terjebak dengan nyaman di dalam pelukanku, kan?”

Kyuhyun melepaskan pelukan Woobin dengan cara halus, anehnya muridnya itu justru melepaskannya dengan mudah.

“Terjebak dengan nyaman? Siapa yang nyaman dengan pelukanmu, hah?” tanya Kyuhyun tajam.

“Oh.. Jangan berpura-pura. Aku tahu kau menyukainya, kan?” kata Woobin dengan senyum menggoda.

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas. Kim Woobin pasti jenis makhluk hidup yang langka dan perlu dilestarikan mengingat betapa percaya dirinya ia dengan setiap kata-katanya.

“Kauuu? K-A-U? Ya! Aku ini gurumu! Mengapa kau..”

Tapi protes Kyuhyun langsung dipotong oleh Woobin. “Bukankah kita tidak sedang berada di lingkungan sekolah? Lagipula.. Apa kau lebih nyaman dipanggil dengan sebutan Cho Songsaengnim?”

“Te-tentu saja! Di dalam maupun di luar sekolah sama saja. Tunjukkan rasa hormatmu.” Kata Kyuhyun lagi.

“Tapi.. Apa kau tidak berpikir bahwa ketika kita berdua ketahuan tengah bermesraan di sini, orang-orang akan menyangkamu sebagai pedofilia mengingat aku adalah muridmu?” kembali Woobin menyerangnya.

Kyuhyun baru akan menjawab ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Changmin tercetak di layarnya, membuat jantung Kyuhyun berdetak cepat karena takut.

“Pacarmu?”

Kyuhyun memberenggut. “Dia tunanganku! Ya! Berhenti bersikap kurang ajar! Panggil aku songsaengnim!”

“Shireo..!” jawab Woobin keras kepala.

“Kyuhyun-ah, apa kau ada di dalam?” suara Changmin terdengar dari luar. Kyuhyun terkesiap.

“Bagaimana ini?” tanya Kyuhyun dalam bisikan kecil pada dirinya sendiri. Wajahnya menjadi semakin pucat karenanya. Ia benar-benar tidak mau Changmin salah paham karena hal ini.

Kim Woobin tertawa senang melihat kegelisahan gurunya itu. ‘Manis sekali.’ Pikirnya. Andai saja mereka sedang tidak dalam keadaan seperti ini, mungkin ia akan melumat bibir merah itu dan membuat pemiliknya mabuk kepayang.

Tapi Woobin mencegah niatnya. Ia malah membuka pintu dan tersenyum lebar kepada kekasih gurunya itu.

“Anneyong haseyo, Kim Woobin imnida.”

Changmin sedikit terkejut karena ternyata yang keluar adalah seorang pemuda jangkung yang kelihatan jauh lebih muda darinya. Di belakangnya tampak Kyuhyun yang sibuk menatap ke arah lain.

“Oh.. Anneyong haseyo. Apa aku mengenalmu?” tanya Changmin dengan sedikit ragu.

Woobin menggeleng. “Tentu saja tidak, anda mungkin tidak pernah melihat aku sebelumnya. Aku adalah murid dari Cho songsaengnim. Tadi kami bertemu disini, lalu beliau mengatakan bahwa beliau tengah mencari kado ulang tahun untuk sepupu anda. Jadi, ketika beliau melihat aku dan memilih jaket ini, beliau memintaku untuk mencobanya karena tidak mau salah ukuran.”

Beliau? Sejak kapan anak ini menjadi sangat sopan seperti ini? Oh.. Changmin harus mendengar bagaimana kurang ajarnya anak ini kalau berbicara denganku.’ Keluh Kyuhyun dalam hati seraya menatap punggung Woobin dengan tatapan tidak suka.

Mendengar penjelasan Woobin yang panjang itu, Changmin hanya mengangguk. Tubuh anak muda di depannya itu memang sedikit mirip Junsu walaupun sudah jelas pemuda itu jauh lebih tinggi. Changmin lalu menerima jaket yang disodorkan oleh Woobin dan mengamatinya.

“Kyuhyun-ah, pilihanmu tepat sekali. Junsu pasti suka. Ini benar-benar seleranya. Ya.. Kau memang yang terbaik.” kata Changmin riang.

Cih! Pilihannya? Terbaik? Tidak bisakah lelaki ini melihat bahwa jaket yang kukenakan hampir mirip dengan jaket yang kuberikan? Tidak bisakah ia melihat bahwa gaya berpakaianku lah yang tengah ia genggam? Tidak bisakah ia melihat bahwa pacarnya tidak terlalu pandai dalam berbusana?’ Woobin mendecih dalam hati.

“Oh.. Tidak juga.. Itu.. Woobin tadi membantuku.. jadi..” Kyuhyun menjawab dengan terbata-bata. Untunglah Woobin sedikit berbohong, kalau tidak mungkin kejadiannya akan lain, walaupun Kyuhyun masih mempertanyakan dalam hati bagaimana Woobin bisa tahu apa yang mereka cari di sini.

“Apapun itu. Terima kasih. Setelah ini kita bisa pulang dan beristirahat. Aku lega sekali kita sudah mendapatkan hadiah yang cocok mengingat kita mencarinya hampir seharian.” Kata Changmin menatap jaket di tangannya dengan bangga.  “Nah, aku akan membayarnya di kasir sekarang, tapi.. Woobin-ssi, maukah kau makan siang dengan kami?”

Tolak! Jangan ikut dengan kami!’ seru Kyuhyun dalam hati.

Senyum Woobin mengembang. “Tentu saja, aku akan senang sekali.”

*

            “Kau benar-benar anak yang baik hati. Juga sangat perhatian dengan gurumu sendiri. Kyuhyun sangat beruntung punya murid sepertimu.” Ujar Changmin dengan bangga.

“Benarkah? Kurasa anda terlalu berlebihan. Aku hanya berusaha lebih baik.” jawab Woobin dengan sopan.

Entah sudah berapa kali Kyuhyun memutar bola matanya dengan rasa mual. Kata-kata dan sikap Woobin berbeda 180 derajat ketika sedang bersamanya dan kini ia menampakkan image baik di depan Changmin?

“Tidak, kau sungguh anak yang baik. Di usia 17 tahun seperti ini kau sudah menunjukkan  sikap yang baik kepada sesama. Itu sangat penting sebagai tabunganmu di hari nanti. Bagaimana dengan nilai-nilaimu di sekolah?”

“Aku? Oh.. Sebenarnya nilaiku biasa saja. Tapi aku terus berusaha keras dengan mengerjakan tugas sekolah sebaik-baiknya serta rajin masuk kelas. Aku harus lulus dengan nilai bagus tahun depan, bukan?” jawab Woobin lagi, kali ini dengan susah payah menahan tawanya.

Berusaha keras? Nilai biasa? Rajin masuk kelas? Oh.. Bagaimana mungkin ia menyembunyikan reputasinya? Penipu kecil!’ geraman lain muncul di kepala Kyuhyun.

“Chagi-ah, kenapa kau tidak makan banyak seperti biasanya? Apa kau sakit?” tanya Changmin pada Kyuhyun ketika dilihatnya makanan pada piring Kyuhyun masih tersisa sangat banyak.

“Aku.. Tidak apa-apa, hanya saja selera makanku hilang. Mungkin karena aku lelah. Kupikir, aku hanya butuh istirahat.” Jawab Kyuhyun.

Keduanya masih sibuk berbicara, tanpa memperhatikan tatapan tajam Woobin ketika melihat interaksi keduanya, apalagi saat Changmin berusaha menyuapkan sesendok makanan ke mulut Kyuhyun.

Dan sepanjang makan siang itu di penuhi oleh kegundahan Kyuhyun, kemarahan Woobin dan ketidak tahuan Changmin.

*

            (From : Idiot)  “Belum apa-apa aku sudah merindukanmu..

(From : Sweet Pumpkin) “Hentikan! Kau pikir siapa kau? Jangan pernah berani merindukanku! Bermimpipun kau tidak boleh!

(From : Idiot) “Kemarilah, datanglah padaku dan hentikan mimpi-mimpi liarku tentangmu.

(From : Sweet Pumpkin) “Kurasa kau harus memeriksakan dirimu ke rumah sakit jiwa karena mentalmu yang bobrok dilengkapi dengan otak tololmu serta sikapmu yang munafik! Jangan ganggu aku!

(From : Idiot) “Tidak sadarkah kau bahwa kaulah yang membuatku jadi seperti ini? Kau harus bertanggung jawab, songsaengnim! Atau aku akan terus melekat padamu hingga kau berpaling padaku.”

Kyuhyun meremas ponselnya. Anak kurang ajar itu bahkan dengan berani mencari nomor teleponnya dan menerornya seperti ini. dengan kesal ia kembali membalas pesan singkat itu.

(From : Sweet Pumpkin) “Aku tidak membuat perubahan apa-apa padamu jadi tidak ada yang harus kupertanggung jawabkan. Dan kau idiot, berhentilah melarikan diri dari kelasmu! Aku lelah mendengar Hyukjae-ssi mengeluh betapa tidak bisa diaturnya dirimu beserta dua kelincimu itu! Setidaknya berbaik hatilah pada wali kelasmu itu.”

(From : Idiot) “Aku hanya mengikuti kelas yang aku inginkan. Seandainya bukan kau yang mengajar Geografi, aku pun akan melakukan hal yang sama.

(From : Sweet Pumpkin) “Ya! Apa kau tidak mau lulus nanti? Apa kau pikir dengan nilai bagus saja sudah pasti akan membuat sekolah meluluskanmu? Kehadiran juga diperlukan! Mengapa kau sulit sekali untuk mendengarkan gurumu?

(From : Idiot) “Sebentar.. Mengapa kau peduli? Apa kau sudah mulai khawatir padaku? Oh.. Kau membuatku berseri-seri malam ini.

Peduli? Peduli? Siapa yang peduli pada anak tolol seperti itu? Kyuhyun mendecih pelan lalu kembali membalas pesan itu dengan ketukan-ketukan kasar pada layar ponselnya, tanpa mengindahkan apakah Changmin yang tertidur pulas di sampingnya akan terbangun atau tidak.

(From : Sweet Pumpkin) “Mengapa kau begitu percaya diri?

(From : Idiot) “Dan mengapa kau selalu membohongi perasaanmu? Ayolah, aku tahu benar kau juga menyukaiku.

(From : Sweet Pumpkin) “What??!! Menyukaimu? Ohh, kempiskan sedikit kepalamu yang sebesar labu Halloween itu, idiot! Untuk apa aku menyukai pemberontak sepertimu?

(From : Idiot) “Aku tahu kau juga sangat menginginkanku. Mungkin sekarang kau menyangkalnya, tapi nanti.. Nanti kau akan benar-benar menyukaiku, ah tidak.. menginginkanku..

(From : Sweet Pumpkin) “Terserah! Aku muak bicara denganmu! Aku mau tidur! Berhenti mengirimiku pesan, idiot!

(From : Idiot) “Kau seharusnya berhenti sejak tadi jika kau memang muak. See? Tanda-tanda kesukaan pertama : tidak bisa menghentikan tanganmu ketika mengetik pesan pada seseorang.

Kyuhyun membacanya dengan perasaan murka. Ingin sekali ia meremas ponselnya hingga hancur berkeping-keping seperti keinginannya menghancurkan Kim Woobin yang terlalu percaya diri dan luar biasa menyebalkan.

Tapi di sisi lain ia menyadari bahwa lelaki itu benar, jika ia memang muak, sudah sedaritadi ia menghentikan obrolan mereka atau langsung menghapusnya sejak awal, bukan? Mengapa ia justru terus terpancing dengan obrolan itu?

Tidak.. Tidak.. Ia tidak memiliki tanda-tanda kesukaan pertama seperti yang Woobin sebutkan tadi. Tapi.. Sepertinya.. Sedikit ruang di hatinya menikmati pertengkaran yang tidak pernah ia alami bersama Changmin.

Kyuhyun menoleh dan memandangi wajah tampan yang terlelap di sampingnya. Ia mencintai Changmin. Dan karena cinta inilah ia bertahan dalam hubungan ini.

“Changmin-ah.. Haruskah kita bertengkar agar aku merasa hubungan kita lebih hidup?”

*

PhotoGrid_1383715792058

To Be Continued..