Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 2

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

CHAPTER 2

“Kau selalu terlambat. Ayo cepat bangun, nanti sarapanmu dingin.”

Siwon bangun dengan enggan namun ia bahagia. Bahagia karena ia bisa melihat wajah itu kala ia membuka matanya. Langkah kakinya dipercepat agar bisa menyusul tepat di belakang sang kekasih dan.. hap! Ia segera melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Hidung Siwon menyusuri leher hingga pundak lelaki itu seraya mengendusnya dalam-dalam. Ia selalu wangi, selalu mampu membuat Siwon tergila-gila bahkan di hari mendung sekali pun.

“Berhenti menggodaku. Kau harus segera bersiap. Bukankah hari ini ada rapat penting?”

Siwon tersenyum lebar. “Benar. Tapi sebelum aku pergi bekerja, sebelum aku menyentuh sarapanku, aku ingin sebuah ciuman.”

Efek luar biasa yang ditimbulkan oleh Siwon. Lelaki di depannya tersenyum malu dengan semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Siwon mendekatkan kedua wajah mereka. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Dan..

Siwon membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ternyata matahari sudah muncul sedari tadi. Peluh membasahi tubuhnya walau pun pendingin ruangan di kamarnya menyala dengan suhu tinggi. Ia menyadari bahwa lagi-lagi ia memimpikan Kyuhyun. Selalu seperti itu. Bagaimana bisa ia mengusir Kyuhyun dari mimpinya? Ini terlalu menyakitkan.

Dering ponselnya menyadarkannya sesaat. Nama Tan Hangeng tertera di layar sentuh itu. Tanpa pikir panjang, Siwon segera menjawab.

“Siwon, apa kau sudah bangun?” Tanya Hangeng dari seberang.

“Tentu saja sudah. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”

Hangeng terdengar agak ragu di seberang sana. Namun akhirnya ia bicara setelah beberapa detik.

“Apa kau punya kegiatan lain hari ini?”

Ini adalah hari minggu. Di hari libur seperti ini biasanya Siwon selalu menghabiskan waktunya di apartemennya. Melakukan semua yang bisa ia lakukan seperti menonton dvd, memasak menu-menu baru atau membersihkan apartemennya sendiri. Ia menolak untuk keluar karena enam hari bekerja membuatnya cukup lelah hingga di hari minggu seperti sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya sendiri.

“Tidak ada. Kau tahu aku kan, aku tidak pernah keluar di hari libur seperti ini.” Jawab Siwon.

“Hm.. Bolehkah aku meminta bantuanmu?” kembali Hangeng bertanya tapi kini terdengar semakin ragu.

“Hey ayolah, kau adalah temanku. Selama aku bisa membantu, sudah pasti akan kulakukan. Apa yang bisa kubantu?”

“Hari ini aku dan Zhoumi harus menghadiri rapat dengan beberapa klien dari Hongkong. Padahal aku sudah berjanji akan menonton dvd bersama Kui Xian sejak minggu lalu. Bisa kau bayangkan betapa kecewanya dia begitu mendengar hal ini. Tapi ia cukup keras kepala, ia tidak masalah jika menontonnya bersama orang lain, yang jelas ia ingin ditemani. Ia tidak mau menonton sendiri.”

Perasaan Siwon mendadak tidak karuan. Ia takut kalau-kalau Hangeng memintanya untuk menemani Kui Xian menonton dvd-nya.

Kemudian Hangeng melanjutkan. “Aku tidak bingung seperti ini jika saja Henry ada di Seoul tapi semalam ia harus kembali ke Beijing karena ada anggota keluarganya yang sakit. Donghae ada kencan dengan Eunhyuk dan.. Kau tahu, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Untuk itu, aku ingin meminta bantuanmu untuk menemaninya menonton dvd itu.”

Dugaan Siwon benar. Dan kini ia sedikit menyesal ketika mengatakan bahwa ia tidak punya kegiatan apa-apa hari ini. Ia mau saja membantu Hangeng, kalau saja hal itu tidak ada hubungannya dengan Kui Xian.

“Siwon.. Kau masih di situ?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku akan membantumu. Tidak masalah buatku. Aku juga suka menonton film jadi kupikir tidak ada salahnya. Lagipula ini hari libur bukan?”

“Ah.. Aku lega sekali. Baiklah, sejam lagi aku akan mengantarnya ke apartemenmu. Setelah aku selesai, aku akan segera menjemputnya.” Suara Hangeng terdengar sangat gembira di seberang sana, sangat kontras dengan suasana hati Siwon saat ini.

“Baiklah, aku akan bersiap-siap. Mungkin aku bisa membuatkan kue coklat sederhana untuk kekasih sahabatku ini.” Kata Siwon yang berusaha keras terdengar sama cerianya dengan Hangeng.

“Kue cokelat? Dia suka sekali dengan kue cokelat. Aku benar-benar telah manjatuhkan pilihan yang benar. Walaupun aku akan meninggalkannya seharian, tapi aku yakin ia tidak akan merasa bosan karena ditemani oleh pria baik seperti kau. Terima kasih.”

That’s what friends are for, right?

Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya memutuskan hubungan telepon. Siwon masih memandang ponselnya dengan hati gundah.

Satu lagi kemiripan mereka : sama-sama menyukai kue cokelat.’ Pikir Siwon.

Kadang ia berpikir, dengan kemiripan-kemiripan Kyuhyun dan Kui Xian, apa ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang yang sama? Tapi mengapa Kyuhyun tidak mengenalinya sama sekali?

*

            Siwon melirik lelaki pucat yang duduk tenang seraya menikmati kue cokelat buatannya itu sesekali. Matanya masih senantiasa terpaku pada televisi yang menyajikan adegan-adegan dari dvd yang dibawanya. Sesekali ia menghela nafas, sesekali tertawa, bahkan kadang ia bahkan marah-marah sendiri. Tergantung dari adegan yang tersaji di depannya.

Tidak ada perbedaan sedikit pun. Segalanya tampak sama, kecuali nama dan warna rambut mereka. Bahkan suara mereka pun nyaris sama jika saja Kui Xian mengeluarkan suara manja yang selalu dilakukan Kyuhyun. Kui Xian terlihat lebih dewasa, dari caranya bicara dan bergerak. Tidak seperti Kyuhyun yang kekanakan dan menggemaskan.

Berhentilah menatap kekasih sahabatmu.’ Bisik Siwon dalam hati.

“Ah.. Selesai.. Uh, film ini seru sekali. Bagaimana menurutmu, Siwon-ssi?”

Siwon segera tersadar dari pikiran-pikirannya. Dengan senyum jengah ia menjawab. “Kupikir juga begitu..”

Bagaimana mungkin aku tahu jika selama menonton yang kulihat hanya dirimu?’ katanya dalam hati lagi.

“Dimana Kibum-ssi? Aku tidak melihatnya.” Tanya Kui Xian lagi.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Eh? Tentu saja di kamarnya. Kenapa?”

Kui Xian menggeleng. “Tidak apa-apa. Bukankah beberapa waktu lalu kau sudah menyatakan bahwa kau akan memberinya kesempatan? Jadi kupikir, di hari yang cerah seperti ini, kenapa tidak kau gunakan untuk berkencan?”

“Itu..” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku belum bicara atau pun bertemu dengannya setelah hari itu. Kami sama-sama sibuk, jadi.. Lagi pula, bukankah hal seperti ini tidak perlu buru-buru.. Maksudku..”

“Ya..ya..ya.. Aku mengerti. Mengapa kau tampak gelisah seperti itu? Bukankah aku hanya bertanya?” balas Kui Xian seraya mendecak.

Lelaki itu lalu berdiri dan berjalan-jalan pelan ke sekeliling ruangan. Matanya mengagumi isi apartemen mewah itu. Sesekali ia menunjuk beberapa benda dan Siwon dengan sigap menjelaskan layaknya seorang kurator di museum seni.

“Huaaaa… Kau punya banyak koleksi wine..!!!!” seru Kui Xian gembira.

Kening Siwon mengernyit bingung. “Kau juga suka wine?”

“Tentu saja! Siapa yang tidak menyukainya? Lihatlah, kau bahkan punya yang berumur beberapa puluh tahun!” pekiknya lagi.

Bagaimana mungkin? Mengapa ia juga menyukai wine seperti Kyuhyun? Oh Tuhan.. Apa yang sebenarnya tengah kuhadapi saat ini?’ pikir Siwon bingung.

Siwon menatap Kui Xian yang tengah memunggunginya dan mengagumi botol-botol wine yang berjejer di rak kaca dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“Kui Xian-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Siwon memberanikan diri.

Kui Xian berbalik setelah meletakkan botol yang dipegangnya ke rak kaca. “Tentu saja.”

“Berapa umurmu?”

“Aku? Dua puluh tujuh.”

Umur mereka sama.

“Dan.. Tanggal lahirmu?”

“2 february 1988.”

Beda sehari.

“Apa kau.. Benar-benar warga asli Cina? Maksudku, tidak ada campuran dari Negara lain atau..”

Kui Xian tersenyum. “Tentu saja. Haruskah aku memperlihatkan akte kelahiranku kepadamu?”

Kebetulan yang sangat aneh..

*

            “Dia bukan Kyuhyun. Dan kau tahu itu.”

“Aku tahu, tapi.. Terlalu banyak kesamaan yang ada pada diri mereka, membuatku nyaris mengira mungkin saja Kui Xian yang aku hadapi kini adalah Kyuhyun sendiri.” Kata Siwon bersikeras.

Donghae menghela nafas berat. “Kau masuk terlalu jauh, kawan. Ingat, dia adalah tunangan sahabatmu sendiri. Jangan membuat masalah sama sekali. Kau tidak ingin Hangeng mengetahui semua ini dan justru menyalahkanmu, bukan?”

Siwon menggeleng. “Bukan kau, yang selama ini tinggal bersamanya. Jadi begitu ada seseorang yang mirip dengannya, kau tidak akan tahu hal itu.”

Kembali Donghae menghela nafas berat. Ia sudah bersahabat dengan Siwon cukup lama untuk mengetahui seberapa keras kepalanya lelaki itu jika menyangkut hal-hal tertentu, terutama yang diyakininya.

Hanya saja, Donghae tidak yakin kalau perspektif Siwon kali ini ada benarnya, walaupun semua kemungkinan itu ada. Ia hanya tidak ingin Siwon masuk terlalu jauh dan akhirnya kembali terluka seperti dulu. Untuk menjadi Siwon yang seperti sekarang saja sudah cukup sulit, ia tidak mau sahabatnya itu kembali terpuruk dengan kasus yang serupa.

“Siwon.. Dengarkan aku..”

“Tidak! Kau yang harus mendengarkan aku. Mereka punya wajah dan tubuh yang serupa. Mereka lahir di tahun yang sama, kecuali tanggal lahir mereka yang berbeda. Hanya berbeda sehari. Apa hal ini tidak membuktikan adanya kesamaan yang janggal diantara mereka?” Siwon bersikeras.

Donghae tidak menjawab. Bukan karena ia berpikiran yang sama tetapi ia lelah menghadapi Siwon yang telah mengatakan hal yang sama berulang-ulang di sepanjang minggu itu. Membuatnya cukup gerah.

Siwon masih terus mengatakan hal yang sama selama beberapa menit ke depan hingga akhirnya Donghae mengangkat tangannya, menarik perhatian Siwon hingga lelaki itu berhenti bergumam pada dirinya sendiri.

“Apakah dia Kyuhyun yang selama ini kau cari atau bukan, kenyataannya dia adalah milik Hangeng saat ini. Ingat itu.”

Donghae berjalan ke luar apartemen Siwon setelah menepuk pelan pundak sahabatnya yang seakan tersadar dengan kenyataan paling pahit di hidupnya. Kui Xian memang milik Hangeng.

*

            Satu pertemuan berlanjut ke pertemuan selanjutnya. Semakin Siwon mencoba menghindari Kui Xian, semakin sering ia harus dihadapkan dengan berbagai permintaan lelaki itu. Mulai dari menemaninya mencari buku, berbelanja bahan makanan, hingga mencari pakaian, baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk Hangeng.

Siwon sama sekali tidak keberatan andai saja Kui Xian bukan milik Hangeng yang wajahnya serupa dengan kekasihnya yang hilang. Karena semakin dirinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, maka semakin kuat pula semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di benaknya.

Siwon sudah mencoba mengelak. Bukan sekali, namun berkali-kali. Namun menolak Kui Xian bukanlah perkara mudah. Ia selalu membalas penolakan Siwon dengan kata-kata yang sama :

Donghae-ssi sudah punya Eunhyuk-ssi. Henry sibuk dengan Zhoumi gege, dan Ryeowook-ssi sudah pasti menikmati masa-masa pernikahannya dengan Yesung-ssi. Mana mungkin aku mengganggu mereka? Hangeng-ge juga sangat sibuk. Dan kau tidak punya kekasih jadi aku meminta bantuanmu. Aku akan berhenti kalau kau benar-benar memantapkan pilihanmu pada Kibum-ssi.

 

Terkadang Siwon beranggapan kalau Kui Xian mungkin dibayar oleh Kibum untuk mempromosikan dirinya kepada Siwon. Tapi hingga detik ini ia sendiri tidak pernah menangkap gelagat aneh dari tetangganya itu kalau-kalau ia benar-benar menyukai dirinya.

Tapi kadang Siwon berpikir kalau Kui Xian terlalu memaksakan dirinya untuk berpacaran dengan Kibum. Untuk apa? Apa untungnya untuk lelaki itu?

“Melamun lagi?”

Siwon merasakan tepukan halus di lengannya dan segera tersadar dari pikiran-pikiran yang menguasainya belakangan ini. Ia tersenyum jengah kepada Hangeng yang masih meletakkan telapak tangannya di lengan Siwon.

“Maaf..”

Tidak seharusnya ia melamun pada saat ia, Hangeng dan Zhoumi akan sedang mengadakan rapat kecil mengenai pekerjaan mereka. Walau rapat itu bersifat informal, tetap saja ia seharusnya berkonsentrasi.

Zhoumi menyipitkan matanya. “Kau sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa, Siwon? Apa ada masalah?”

Siwon menggeleng. “Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal. Tapi bukan sesuatu yang penting. Jangan khawatir.”

“Oh ya, Siwon, terima kasih atas bantuanmu akhir-akhir ini.”

Siwon memiringkan kepalanya. “Bantuan apa?”

Hangeng tersenyum. “Kui Xian banyak bercerita mengenai hari-harinya yang menyebalkan karena ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Untung saja kau mau meluangkan waktu untuk menemaninya. Terima kasih.”

“Oh itu.. Aku hanya menemaninya jika memang aku sedang tidak ada pekerjaan. Bukan sesuatu yang besar. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Siwon dengan senyum palsunya. Padalah dalam hati ia enggan sekali menemani lelaki itu. Hanya menambah luka.

“Kau tahu.. Ia tidak terlalu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi melihat perkembangan hubungan kalian yang dengan cepat bisa menjadi teman, membuatku lega. Setidaknya ia berteman dengan orang-orang yang kukenal dengana baik di sini.” kata Hangeng lagi.

Kembali Siwon tersenyum simpul. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya. “Hangeng-ssi, di mana kau bertemu Kui Xian sebelumnya?”

“Apa aku belum pernah menjelaskannya?” Hangeng balik bertanya. “Kurasa sudah.” Ia tertawa kecil lalu melanjutkan. “Seperti yang kau tahu, ia adalah sahabat Henry sejak di junior high school. Aku sudah sering bertemu dengannya, tapi aku baru benar-benar membuka mataku beberapa tahun lalu. Tapi kemudian ia pindah ke Taiwan, ke tempat pamannya. Membuatku patah hati saat itu. Tapi ia rajin mengirim kabar kepada aku dan Henry.”

Hangeng menyesap kopinya sedikit lalu kembali melanjutkan kata-katanya. “Kami baru bertemu lagi tiga tahun yang lalu kemudian menjalin hubungan. Saat itu aku memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku langsung memacarinya. Setahun kemudian aku melamarnya menjadi tunanganku.”

Siwon mengernyit. “Tiga tahun yang lalu?”

Bukan Hangeng yang menjawab melainkan Zhoumi. “Benar. Karena saat itu aku bertemu Henry. Saat Hangeng menceritakan kepadaku mengenai Kui Xian. Saat itu aku masih baru bergabung di perusahaan ini dan kami berdua langsung akrab. Hari itu aku menumpang di mobil Hangeng karena mobilku rusak. Tapi ia mengatakan akan menjemput adiknya dulu. Di sana lah aku bertemu Henry dan Hangeng bertemu Kui Xian lagi. Selanjutnya kau bisa menebak sendiri jalan ceritanya, kan?”

“Apa Kui Xian baru kembali dari Taiwan saat itu?” tanya Siwon lagi. Ia semakin penasaran. Pasalnya Kyuhyun menghilang juga dua tahun yang lalu.

“Benar. Pamannya meninggal di Taiwan jadi ia memutuskan untuk kembali ke Beijing. Ia tampak cukup terluka saat itu. Tapi ia tetap tampan seperti biasa.” Jelas Hangeng.

“Apa.. Ini kali pertama Kui Xian menginjakkan kaki di Seoul?” tanya Siwon lagi. Ia tidak akan menyerah di sini.

Hangeng menggeleng. “Kui Xian pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Ia pernah mengikuti kursus bahasa Korea di Taiwan dan memutuskan untuk pergi ke Seoul untuk memantapkan bahasa Korea-nya.”

Jantung Siwon berdegup kencang kini. “Benarkah? Kapan tepatnya?”

“Entahlah.. Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Aku tidak ingat kapan persisnya.”

Ada kesenangan tidak wajar dalam diri Siwon kini. “Ia pernah tinggal di sini?”

Hangeng dan Zhoumi saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Namun Zhoumi yang menjawab pertanyaan itu.

“Ia tinggal selama setahun. Ah tidak, lebih dari setahun. Dan kau bisa lihat bahasa Korea nya kini, tanpa cela bukan?”

Setahun? Ia dan Kyuhyun menjalin hubungan selama setahun. Ya, hanya setahun namun semua terasa begitu indah. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali ketika ingin menikahi Kyuhyun. Tapi sayang, rencana Siwon gagal karena Kyuhyun tiba-tiba menghilang.

“Apa.. Ia pernah menjalin hubungan dengan lelaki asal Korea di sini?” tanya Siwon penuh harap. Seandainya Hangeng menjawab ‘iya’, artinya Siwon punya kesempatan untuk mencurigai Kui Xian sebagai Kyuhyun. Ia hanya perlu memikirkan mengapa Kyuhyun tidak mengenalnya saat bertemu.

“Seingatku tidak. Itu pun kalau Henry tidak berbohong kepadaku. Kau tahu, biasanya seorang adik menyembunyikan hal-hal tertentu kepada kakaknya, bukan?” Jawab Hangeng seraya mengangkat bahunya.

“Henry?”

Hangeng tertawa kini. “Tentu saja. Ia datang kemari dan tinggal bersama Henry. Itulah sebabnya mengapa bahasa Korea keduanya sangat bagus.”

“Aku tidak mengerti.” Kata Siwon dengan bingung.

“Mereka mengikuti kursus bahasa Korea di tempat berbeda. Henry belajar di Beijing sedangkan Kui Xian belajar di Taiwan. Mereka lalu sepakat untuk memperdalam bahasa itu dengan datang dan tinggal bersama di Seoul.” Jawab Zhoumi.

“Jadi.. Kui Xian dulu memang tinggal di Seoul.. Bersama Henry?”

Zhoumi dan Hangeng mengangguk mantap.

*

            “Aku benar-benar bersemangat ketika kau menelepon tadi, Siwon-ssi. Tidak biasanya kau mengajakku keluar. Biasanya aku lah yang merengek kepadamu.” Kata Kui Xian. Wajahnya tampak berseri-seri karena akhirnya Siwon mengajaknya bertemu duluan.

Kui Xian bahkan diberi kebebasan memilih restaurant yang tempat mereka akan makan siang. Dan pilihan Kui Xian jatuh pada restaurant cina favoritnya. Alasannya selalu sama, ia rindu kampung halamannya. Jika berada di sana, ia serasa pulang ke rumah.

Dan Siwon lega karena akhirnya ia menemukan satu lagi kesamaan Kyuhyun dan Kui Xian. Restaurant ini. Kyuhyun juga sangat menyukainya, namun dengan alasan yang berbeda dengan milik Kui Xian. Bagi Kyuhyun, restaurant ini memiliki cita rasa khas yang tinggi dibandingkan dengan restaurant lain.

“Hari ini aku sedang tidak ingin makan sendiri. Aku tadinya hendak mengajak Donghae. Tapi ternyata ia ada sedikit urusan jadi aku mengajakmu.” Ujar Siwon berbohong.

Kui Xian pura-pura cemberut. “Jadi aku hanya cadangan, begitu?”

Siwon tertawa. “Bukan begitu. Kupikir akan menyenangkan jika makan siang denganmu.”

Kui Xian mengangguk perlahan dengan senyum tertahan, menerima alasan Siwon yang cukup masuk akal itu.

Mereka memesan beberapa hidangan favorit di restaurant itu. Keduanya banyak bercerita tentang banyak hal. Hingga Siwon akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan serangan yang tadinya sengaja disimpannya.

“Jadi, Kui Xian-ssi, menurut Hangeng-ssi, kau pernah tinggal di Seoul sebelumnya?”

Kui Xian mengangguk. “Benar. Aku pernah tinggal di sini. Untuk memperdalam bahasa Korea ku. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran dengan bahasa Koreamu yang sangat lancar. Ternyata kau memang pernah tinggal di sini.”

Kembali Kui Xian mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia sibuk melahap dessert-nya, tanpa sadar bahwa Siwon tengah menatapnya dalam-dalam.

“Lalu.. Selama tinggal di Seoul dahulu, apa kau.. pernah memiliki kekasih?” tanya Siwon lagi, masih menatap Kyuhyun dalam-dalam. Enggan melepaskan tatapannya barang sedetik saja. Namun begitu Kui Xian mengangkat wajahnya dari piring di depannya, ia mengarahkan pandangannya ke gelasnya, berpura-pura mengaduk juice-nya dengan sedotan.

“Hmmmmm… Bagaimana kalau kau menebak? Akan lebih seru dari pada langsung mengatakan jawabannya kan?”

Siwon mengangguk lalu menimbang-nimbang sebentar. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab. “Jawabanku.. ya. Kau pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain di sini.”

Setelah menjawab dengan yakin, Siwon berusaha keras tetap terlihat tenang. Tapi hatinya justru bereaksi sebaliknya. Jantungnya berdetak keras, menunggu apa tanggapan Kui Xian mengenai jawabannya tadi.

Dan Kui Xian entah memang berniat untuk berlama-lama mengungkapkan kebenarannya, atau memang ia tidak menyadari kata-kata lelaki di depannya, Siwon sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas Kui Xian masih sibuk dengan dessert-nya.

Setelah Kui Xian menyelesaikan dessert-nya, ia lalu menenggak isi gelasnya hingga habis. Setelah itu baru lah ia menatap Siwon dengan senyum kecil yang sulit diartikan.

“Tebakanmu benar.. Siwon-ssi, sungguh, aku tidak mengerti. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkin kita mempunyai teman yang sama? Mengapa tampaknya kau tahu banyak mengenai aku?”

Siwon terkesiap.

*

HanWonKyu

To be continued..

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 1

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

Choi Siwon mematut dirinya di cermin sekali lagi. Sempurna, pikirnya. Hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya, Yesung dan Ryeowook. Setelan jas hitamnya terlihat keren dan rapi di tubuh kekarnya. Dasi kupu-kupu melengkapi ketampanannya malam itu.

Ketika ia sudah siap, ia segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel besar tempat dilangsungkannya acara resepsi pernikahan pasangan YeWook itu.

“Siwonnie, kau juga sudah sampai rupanya. Wah kau tampan sekali.” Kata Donghae, salah satu sahabat baiknya ketika is sudah berada dalam ballroom hotel.

“Tentu saja. Sejak kapan aku terlihat buruk?” kata Siwon dengan bangga.

“Sejak dia meninggalkanmu.” Kata Donghae pelan yang langsung disikut oleh kekasihnya, Eunhyuk.

Eunhyuk langsung meminta maaf pada Siwon karena kelancangan Donghae.

Siwon tertawa. “Ya! Kalian ini kenapa? Jangan terlalu sensitif. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Donghae menghela nafas. “Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengungkit-ungkit masa lalumu, tapi..”

“Aku baik-baik saja. Memang awalnya terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi aku bisa menjalaninya. Lihat aku sekarang, life must go on, right?” kata Siwon ringan.

“Hae, berhentilah mengungkit masa lalu Siwon.” tegur Eunhyuk pada kekasihnya.

“Aku tahu. Aku hanya khawatir. Siwon adalah sahabat baikku. Sudah sepantasnya aku merasa khawatir padanya.” Kata Donghae.

Siwon mengangguk tanda memaklumi maksud Donghae. Memang benar sejak kekasihnya pergi, ia sempat membuat semua orang khawatir. Ia memang masih bekerja dan bepergian keluar rumah seperti aktivitas sehari-harinya. Tapi ia tidak pernah bicara sama sekali! Karena jika ia bicara, ia akan menangis.

Maka semua orang ikut diam, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berpura-pura bahwa Siwon hanya sedang enggan berkomunikasi kepada siapa pun. Walau mereka tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi demi Siwon, semua ikut diam.

Selama hampir dua tahun Siwon terjebak dalam keadaan seperti itu. Diam di depan semua orang, lalu menangis dan mengasihani diri sendiri kala sendirian. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus. Kulitnya semakin pucat. Ia seperti mayat hidup andai saja ia tidak bernafas. Donghae sebagai sahabat terdekatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu terkadang ikut menangis bahkan memohon agar Siwon melupakan yang telah terjadi dan memulai hidup baru.

Hari demi hari ia berusaha membujuk dan membantu Siwon untuk menjalani kehidupan baru. Namun hal itu tidak mudah ia lakukan karena Siwon terlalu mencintai kekasihnya itu. Semua yang dilakukan Donghae sia-sia saja, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin mengembalikan senyum ke wajah sahabatnya itu.

Delapan bulan kemudian, usaha Donghae membuahkan hasil. Siwon mulai mau membuka diri lagi. Mulai bisa berkumpul dengan teman-temannya. Mulai bisa berbagi cerita. Mulai bisa tersenyum dan tertawa. Walau tidak seperti dulu, tapi setidaknya Siwon sudah kembali.

Siwon mulai melakukan kebiasaan lamanya yang sering ia lakukan dulu bersama kekasihnya. Berbelanja, lari pagi, jalan-jalan hingga berkuda. Bedanya kini ia mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang ia ditemani oleh beberapa temannya, termasuk Donghae.

“Siwon-ah, ayo kita harus memberi selamat pada Yesung dan Ryeowook.” Kata Eunhyuk membuat Siwon mengentikan acaranya melihat-lihat desain interior ballroom tersebut.

Siwon mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Donghae dan Eunhyuk. Setelah memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Siwon dan kedua sahabatnya itu mengambil makanan yang tersedia.

“Hei.. Kalian semua berkumpul disini, rupanya.” Kata seorang namja tampan berdarah cina.

“Ah, Hangeng-ssi. Aku tadi sempat mencarimu. Bagaimana kepulanganmu ke Cina? Kapan kau sampai?” Tanya Eunhyuk.

Hangeng adalah salah satu rekan kerja ketiga lelaki itu di kantor. Walaupun ia bukan orang Korea, tapi ia sangat fasih berbahasa Korea juga membaca huruf-huruf hangul. Kalau berbicara dengannya, siapa pun akan melupakan kalau dia adalah lelaki berkebangsaan Cina.

“Aku baru saja kembali sore tadi. Setelah beristirahat sejenak aku langsung bergegas kemari. Tidak mungkin aku melewatkan hari pernikahan teman kita, bukan?” jawab Hangeng.

“Tidak mungkin melewatkan acara makan gratis maksudmu?” ledek Zhoumi, salah satu rekan kerja mereka yang lain. Zhoumi juga berasal dari Cina. Ia tiba-tiba muncul di belakang Hangeng dan merangkul rekan senegaranya itu.

“Ah iya, aku ingat. Jangan lupa besok setelah meeting kita akan makan siang bersama. Bawalah pasangan kalian, karena aku juga akan membawa tunanganku.” Kata Hangeng dengan bangga.

“Benarkah? Kau akan membawa tunanganmu? Kupikir jangan, mereka akan langsung mengerubutinya.” Kata Zhoumi lagi.

“Eh? Kenapa begitu? Mana mungkin kami mau merebut tunangan rekan kami sendiri? Kau ini ada-ada saja.” ujar Donghae sambil tertawa.

“Karena ia tampan sekali. Aku saja sempat terpesona olehnya. Lalu aku ingat bahwa ia milik Hangeng. Kalau tidak sudah kubawa kabur dia.” Zhoumi bergurau.

“Aku tidak percaya kau berniat selingkuh dari adikku, Henry. Awas kau.” Kata Hangeng dengan nada marah yang dibuat-buat lalu ikut tertawa.

“Lalu besok kau akan datang bersama siapa, Siwon-ssi?” tanya Zhoumi pada Siwon.

“Aku? Aku akan datang sendiri.” Jawab Siwon enteng.

“Kau tahu benar kalau aku menyuruhmu membawa pasangan. Bukankah itu sudah jelas?” tanya Hangeng, menekankan kata ‘pasangan’ dalam kata-katanya.

“Baiklah.. Aku akan mencari pasangan secepatnya. Mungkin orang pertama yang lewat depan apartementku akan kubawa ke acara makan siangmu. Tak peduli bagaimana rupanya, yang penting aku datang berpasangan kan?” canda Siwon.

Semua tertawa. Lingkungan kerja yang nyaman membuat semuanya cepat akrab satu sama lain. Walaupun Zhoumi dan Hangeng baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke kantor cabang Seoul, mereka semua sudah dekat satu sama lain.

Dan Siwon mensyukurinya. Membuat semuanya terasa nyaman. Inilah kehidupan barunya. Ia bertekad tidak akan melihat lagi kebelakang. Ia sudah punya sahabat-sahabatnya, ia tidak butuh yang lain lagi, bukan?

*

            Siwon membelai wajah di depannya dengan lembut, menyusuri setiap inci kulitnya yang putih bersih, menambah keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang amat dikaguminya itu. Perlahan ia mencium bibir merah itu, dengan lembut tanpa nafsu, merasakan manisnya bibir sosok manis yang terlihat seperti malaikat itu.

“Kau sudah berkali-kali menciumku, hyung. Hentikan. Kau harus segera mandi lalu sarapan dan berangkat kerja. Jadi berhentilah mencumbuku.” Kata lelaki yang lebih muda darinya itu.

Siwon tersenyum. Sebelum menjawab, dikecupnya sekali lagi bibir menggoda itu. “Aku tergila-gila padamu.. Kau seperti candu, membiusku terus-menerus saat kita bersama. Membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain memujamu tanpa lelah.”

Lelaki di depannya tertawa. “Hentikan rayuan gombalmu. Cepat mandi atau aku akan mengurangi jatah malammu.”

Siwon terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras. Nafasnya tersengal-sengal. Selalu seperti itu setiap malam. Bukan mimpi yang sama, tapi dengan orang yang sama.

Kembali Siwon menangis. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat hatinya tergores pedih. Siwon memang sudah kembali menjadi Siwon yang dulu. Siwon yang ceria, optimis dan percaya diri. Ia sudah menjalani kehidupannya seperti semula. Ia bahkan sudah bisa mengatasi rasa sakit akibat masa lalunya.

Tapi satu rahasia yang mungkin akan ia simpan sendiri adalah ketakutan menutup matanya. Jika manusia pada umumnya menyukai tidur, Siwon justru sebaliknya. Ia membenci kegiatan yang paling nyaman itu. Begitu melihat tempat tidurnya di malam hari, rasa takut menghinggapinya. Seolah-olah hendak membunuhnya.

Begitu ia tertidur, ia akan bermimpi tentang kekasihnya. Mimpi itu selalu datang setiap malam, dengan potongan gambar yang berbeda-beda. Potongan gambar ketika mereka masih bersama.

Terkadang Siwon menjerit frustasi karena ia tidak juga bisa mengusir bayangan  itu ketika tidur. Bayangan itu menyakitinya. Terlalu sakit melihat kekasihnya itu dalam mimpi sementara Siwon tidak tahu dimana dirinya berada kini.

Tapi bayangan itu tak pernah berhenti datang. Setiap malam ia menyusup ke alam bawah sadar Siwon dan mengganggunya lagi. Dalam setiap mimpinya, dimana Siwon tengah berada dalam titik terlemah, tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali.

*

            Akhirnya Siwon datang bersama Kibum keesokan harinya. Kibum adalah tetangga di apartemen Siwon. Keduanya cukup akrab. Maka tanpa berpikir panjang Siwon langsung meminta Kibum menemaninya, karena Hangeng adalah orang yang paling pantang ditolak.

“Rupanya kau pandai juga memilih.” Kata Zhoumi ketika mereka sudah duduk di restaurant tempat Hangeng meminta mereka berkumpul.

Siwon tertawa. “Apa maksudmu? Dia tetanggaku. Kami memang cukup dekat. Tapi tidak ada yang istimewa. Iya kan Bummie?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Kami hanya berteman. Tak ada salahnya kan saling membantu antar tetangga?”

“Ya, ya, terserah kalian saja. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu melihat lebih dari satu pasangan yang saling bermesraan.” Kata Zhoumi lagi sambil mengerling ke arah Donghae dan Eunhyuk yang terus bermesraan sedari tadi.

“Tapi kenapa Hangeng belum datang juga? Bukankah ia yang mengundang kita semua kemari?” tanya Siwon.

Zhoumi mengangkat bahunya tanda tak mengerti. “Ia juga datang bersama Henry. Terakhir Henry meneleponku lima belas menit yang lalu. Katanya mereka sudah dalam perjalanan. Ah itu mereka..”

Baik Siwon, Donghae maupun Eunhyuk segera menoleh ke arah pintu masuk. Hangeng terlihat berjalan dengan dua lelaki. Siwon mengenal salah satunya. Dia adalah Henry, adik kandung Hangeng sekaligus kekasih Zhoumi. Yang satu lagi tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena tubuh Hangeng menutupinya.

“Wah, maaf menunggu lama. Tadi kami sempat singgah ke suatu tempat sebelum datang kemari.” kata Hangeng ramah.

“Tidak apa-apa. Kami juga belum lama menunggumu.” Kata Donghae menanggapi.

“Tentu saja terasa tidak lama bagimu, bukankah sedari tadi kerjamu hanya menyantap bibir kekasihmu?” sindir Zhoumi dengan pedas.

“Ya!” Donghae langsung protes keras namun dengan nada bercanda.

“Hangeng-ssi, itukah tunanganmu? Ah, mengapa kau menyembunyikannya?” ledek Eunhyuk.

Hangeng menepuk keningnya. “Maafkan, aku hampir lupa. Teman-teman sekalian, kenalkan ini tunanganku Kui Xian.”

Lelaki di belakang Hangeng segera menampakkan diri dan berdiri tepat di samping Hangeng. Begitu melihatnya Siwon mendapati dirinya terkejut luar biasa. Jika di dunia ini ada yang namanya reinkarnasi seperti kepercayaan orang-orang Cina kuno, maka ia harus mempercayainya saat ini juga.

Karena tunangan Hangeng itu 100% mirip sekali dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun yang menghilang beberapa tahun lalu. Tidak ada perbedaan sama sekali. Semuanya mirip, kecuali rambut Kui Xian berwarna hitam dan di potong rapi seperti rambuk cepak Hangeng. Tidak seperti Kyuhyunnya yang rambutnya sewarna madu dan sedikit lebih panjang dari milik Kui Xian. Selain dari itu, tidak ada perbedaan sama sekali.

Bukan hanya Siwon yang terkejut, tapi juga Donghae. Keduanya menatap Kui Xian dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang mereka lihat saat ini?

*

            Mentari pagi dengan hangat menyinari Siwon dan Kyuhyun. Keduanya tengah berkuda bersama, menunggangi satu kuda, melewati pepohonan rindang, menaiki jalan-jalan terjal, melewati danau indah yang membentang luas.

Lalu bayangan itu kabur dan berganti dengan bayangan Siwon tengah berkencan di salah satu restaurant dengan bernuansa merah. Siwon menceritakan sebuah lelucon dan Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

Kembali Siwon terbangun. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menguasainya. Kenapa.. kenapa bayangan Kyuhyun datang lagi? Kenapa bayangan itu dengan tega menyakitinya di saat ia berada dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melawan ataupun melarikan diri?

Tiba-tiba Siwon teringat akan Kui Xian, tunangan Hangeng  yang dikenalkan padanya hampir sebulan lalu. Setiap melihat lelaki itu, Siwon selalu teringat akan Kyuhyunnya. Kyuhyunnya yang hilang. Semua bagian tubuhnya sama, bahkan suara mereka pun sama.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini kalau mereka bukan kembar? Dan ia yakin Kyuhyunnya tidak mempunyai kembaran. Tapi mengapa keduanya sangat mirip?

Terkadang Siwon bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan Kui Xian adalah Kyuhyunnya yang hilang. Tapi mana mungkin? Yang pertama, nama lelaki itu adalah Kui Xian, bukan Cho Kyuhyun.

Kedua, lelaki itu berasal dari Cina. Walaupun bahasa Cina Kyuhyun sangat fasih, tapi kemungkinan mereka adalah orang sama kecil sekali. Apakah hanya karena bisa menguasai satu bahasa asing yang sama sudah bisa disebutkan sebagai orang yang sama pula? Tidak.

Ketiga, Kui Xian tidak menunjukkan gejala ia mengenal Siwon atau pun Donghae ketika mereka pertama kali bertemu. Jika memang Kui Xian adalah Kyuhyun, apa motifnya menghilang beberapa tahun lalu? Jika ia adalah Kyuhyun, walau pun setitik, pasti ada kilasan aneh di matanya ketika bersitatap dengan Siwon maupun Donghae, bukan? Namun  sikapnya normal dan alami.

Keempat, ia adalah kekasih Tan Hangeng, rekan kerja Siwon sendiri. Mana mungkin mereka memiliki kekasih yang sama, bukan?

Dan yang terakhir, Kyuhyun tidak ada motif untuk meninggalkan Siwon untuk lelaki lain. Keduanya sudah bertunangan dan berencana menikah beberapa bulan kedepan, tapi tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Tidak ada satu pun orang mengetahui keberadaannya. Bahkan polisi pun tidak pernah menemukan tubuh ataupun mayatnya, jika Kyuhyun memang ternyata sudah meninggal seperti perkiraan orang-orang selama ini.

Terakhir yang ia tahu, Kyuhyun pergi ke Pulau Jeju untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Tapi ia tidak pernah kembali dari Jeju setelah itu. Ketika teman kerja Kyuhyun itu ditanyai, ia berkata dengan yakin bahwa Kyuhyun sudah kembali ke Seoul.

*

            Siwon sedang menimbang-nimbang buku mana yang akan ia beli di kedua tangannya ketika dirasakannya seseorang menyapanya dari depan rak buku tempatnya berdiri.

“Anneyong haseyo..  Siwon-ssi? Masih ingat padaku?”

Siwon tertegun. Pemuda di depannya masih menatapnya dengan senyum manisnya. Tapi Siwon masih tetap diam. Seolah terpana dengan pemandangan yang disajikan di hadapannya.

“Eh? Siwon-ssi? Mungkin kau sudah lupa, aku Kui Xian. Tunangan Hangeng-gege. Kita pernah bertemu sekali di restaurant beberapa minggu lalu sebelum aku kembali ke Cina. Apa kau masih ingat?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku masih ingat. Aku hanya sedikit terkejut ternyata kau masih ingat padaku.”

Mana mungkin Siwon lupa pada sosok yang begitu dicintainya yang dengan tega merusak malam-malamnya karena selalu hadir di mimpinya? Tidak, bukan lelaki di depannya melainkan Kyuhyunnya.

Sejam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu café di dekat toko buku tadi. Keduanya asik bercerita tentang banyak hal dan Siwon menahan keras matanya untuk tidak terus-menerus menatap Kyuhyun. Tidak sopan menatap tunangan sahabatmu dengan intens, bukan?

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu memalingkan wajahmu ketika bicara denganku? Apa kau tidak senang mengobrol denganku?” tanya Kui Xian polos.

“Tidak.. Itu.. aku..” kata Siwon gelagapan.

“Ah aku tahu, mungkin kau sedang terburu-buru tapi karena merasa tidak enak meninggalkanku sendiri maka kau tetap menungguiku di sini. Benar kan?” tanya Kui Xian lagi.

Siwon terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Lidahnya kelu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Kui Xian tidak akan mau melihatnya lagi. Dan jika Hangeng tahu akan hal ini, ia pasti menjaga kekasihnya baik-baik agar tidak bertemu Siwon. Siwon akan di cap lelaki tidak tahu diri yang menyukai kekasih orang lain. Padahal ia sudah berhasil dengan sangat baik bangkit dari luka masa lalunya. Ia tidak mau usahanya yang ia lakukan bertahun-tahun itu gagal.

“Tampaknya aku benar.” Kata Kui Xian lagi. “Baiklah. Sampai jumpa Siwon-ssi. Aku pergi dulu.”

Siwon mengepalkan tangannya dengan keras. Bahkan cara marahnya juga sama. Jika diabaikan, Kyuhyunnya juga akan pergi meninggalkannya seperti tadi. Siwon ingin sekali mengejar Kui Xian. Kakinya memaksanya untuk melangkah tapi otaknya memaksanya untuk tetap tinggal dan tetap duduk. Mengejar lelaki itu sama saja menjatuhkan dirinya ke jurang kelam lagi. Ia tahu, begitu ia membuat hubungan baik dengan Kyuhyun, maka ia akan jatuh dalam pesona itu.

*

            Malam itu, tepat tanggal 19 april, para lelaki itu berkumpul dalam rangka merayakan hari ulang tahun Zhoumi. Semuanya hadir, tak terkecuali Kim Kibum. Zhoumi sendiri yang memintanya untuk membawa serta Kibum karena menurutnya lelaki itu cocok bergaul dengan kelompok mereka. Lagipula ia tidak mau Siwon datang sendiri mengingat semua yang ada di sana sudah berpasangan. Yesung dan Ryeowook bahkan ikut hadir.

“Siwon-ssi?”

Siwon menoleh. ‘Oh tidak..’ pikirnya.

Kui Xian tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini sendiri sementara yang lain tengah berpesta di dalam?”

Saat itu Siwon tengah berdiri di balkon apartemen Zhoumi, memandang hamparan kerlip lampu-lampu dari setiap bangunan di depannya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar. Kurasa aku minum cukup banyak dan merasa cukup panas di dalam.” kata Siwon seraya membalas senyuman Kui Xian.

Kebohongan besar. Ia keluar karena tidak tahan melihat Kyuhyun, maksudnya Kui Xian bermesraan dengan Hangeng. Mereka selalu saling menempel bagai amplop dan perangko. Hangeng tak pernah melepaskan lengannya dari pinggang tunagannya. Tak jarang keduanya berciuman.

Ya, Siwon tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan cemburu yang mencuat bak racun dari dalam hatinya. Ia bahkan merindukan Kui Xian setelah pertemuan singkat mereka di toko buku beberapa hari lalu. Siwon jadi merasa bersalah karena dengan berani merindukan kekasih temannya itu.

“Sepertinya kau punya masalah.” Kata Kui Xian pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Tidak, aku baik-baik saja. Percayalah, aku hanya ingin menghirup udara segar.” Kata Siwon mencoba meyakinkan lelaki di depannya.

“Biasanya orang yang sedang tertekan oleh sesuatu pasti ingin menghirup udara segar.” Kembali Kyuhyun bergumam.

‘Apa sikapku terlalu kentara? Jangan bilang Kui Xian bisa menangkap kecemburuanku. Ini tidak boleh terjadi.’ Batin Siwon.

“Siwon-ssi..”

Kembali Siwon menoleh. Kui Xian tengah menatapnya dalam-dalam. Mata indah itu bersinar indah, lebih indah dari kerlip lampu yang tadi sempat menenangkan hati Siwon. Mata yang sama, yang membuat Siwon selalu tergila-gila.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon hampir saja terlena andai saja Kui Xian tidak segera bersuara. Mendengar itu Siwon segera tersadar.

“Ten-tentu.. Tentu saja..”

Kui Xian tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya buka suara. “Apa kau membenciku?”

Siwon terperanjat. “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Kui Xian menunduk. “Karena tampaknya, kau tidak menyukai aku. Kau selalu menghindar ketika bertemu denganku. Kau juga tidak pernah mau menatapku ketika aku bicara padamu.”

“Tidak.. Itu tidak benar. Aku..”

“Dan kau tampaknya selalu mencari cara agar tidak bicara padaku.” Potong Kui Xian cepat. “Setiap aku ingin bicara, kau pasti menjawabnya seperti menutupi sesuatu.”

“Aku tahu, mungkin aku tidak seperti Henry yang lebih cepat bergaul. Tapi aku juga ingin mengenal semua teman gege. Aku ingin merasa betah di kota ini karena aku punya banyak teman. Teman-teman yang lain tampaknya bisa menerimaku, tapi.. Tidak denganmu..” Kui Xian melanjutkan.

Siwon menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada lelaki itu alasan mengapa ia melakukan semua ini? Apa setelah mendengar alasannya, Kui Xian akan mengerti? Apa Hangeng akan mengerti? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengelak.

“Tolong, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Memang seperti inilah diriku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tak nyaman.” Ujar Siwon dengan nada minta maaf.

“Benarkah? Jadi.. Kau tidak membenciku?”

Siwon mengangguk meyakinkan.

Kui Xian jadi bernapas lega karenanya. “Ah.. aku lega sekali karenanya. Aku hanya tidak ingin hubungan kita tidak baik. Bukankah kau adlaah rekan kerja gege, yang artinya kita akan lebih sering bertemu. Apalagi setelah aku dan gege menikah nanti.”

“Tentu saja.” Siwon berusaha tersenyum tulus. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar kata ‘menikah’.

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon sebisa mungkin mengatur agar nada suaranya terdengar biasa saja.

Kui Xian tersipu malu. “Aku belum tahu. Gege tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Seperti ketika kami bertunangan, ia mempersiapkan semuanya secara diam-diam, aku benar-benar terkejut saat itu. Namun aku bahagia.”

‘Cukup.. Kumohon..’

“Kau tahu, Siwon-ssi, gege adalah lelaki idaman setiap pria maupun wanita. Ia sangat lembut, penyayang, perhatian, pandai memasak, pandai membuat aku tertawa dengan lelucon-leluconnya, pandai membuatku merasa melayang hingga ke langit ke tujuh.. Aku benar-benar beruntung, bukan?”

‘Ya, beruntung. Sangat beruntung. Aku lah satu-satunya yang tidak beruntung saat ini.’

“Siwon-ssi.. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih? Menurut Donghae-ssi, Kibum-ssi adalah tetanggamu. Tapi kalian tampak serasi. Apa kau menyukainya?” tanya Kui Xian.

“Aku..” Siwon tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. Tapi akhirnya ia memilih untuk bicara dengan jujur. “Aku sedang tidak punya kekasih. Mungkin orang-orang melihatku sangat cocok dengan Kibum, tapi tidak ada yang terjadi diantara kami.”

“Tahukah kau, tampaknya ia menyukaimu.”

Siwon cukup tercengang mendengar penuturan Kui Xian. “Eh? Benarkah?”

Kui Xian mengangguk. “Makanya sejak awal aku selalu berpikir pastilah kau punya masalah yang cukup berat. Karena ada lelaki manis di sampingmu yang terlihat jelas sangat menyukaimu tapi kau mengabaikannya, atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali. Dan tebakanku tampaknya benar.”

“Apa menurutmu.. Aku harus memberinya kesempatan?” tanya Siwon. Ia berharap Kui Xian setidaknya akan memberi sedikit saja kata yang aneh, atau nada bicara yang aneh atau sinar mata yang tidak biasa atau bahkan ekspresi penuh kepura-puraan ketika menjawab.

Tapi di luar ekspektasinya, lelaki itu justru menjawabnya dengan riang. “Tentu saja. Kau harus memberinya kesempatan. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Carilah kebahagiaanmu. Berhentilah bersedih. Jika kau mempunyai kekasih, kau bisa berbagi suka dan duka  bersamanya, bukan? Maka segalanya akan terasa lebih ringan. Jadi, saranku, cobalah membangun sesuatu yang baru dengannya, kau berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Siwon terpaku di tempatnya. Bagaimana kalau kebahagiaanku adalah sesuatu yang ada dalam dirimu? Bagaimana kalau ternyata dirimulah yang aku harapkan untuk berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau pada kenyataannya aku mengharapkan sebagian darimu adalah milikku yang hilang?

*

wonkyu dwcme

To Be Continued..

PS : HAPPY 26TH BIRTHDAY TO OUR BELOVED EVIL MAGNAE, CHO KYUHYUN

HOPE HE HAS A BLAST TODAY AND MAY GOD ALWAYS BLESS HIM IN EVERYTIME..

MUCH LOVE KYUHYUNNIE.. ❤

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

[130602] SS5 INA Day 2 – Part 3

Sorry for the very late post guys.. Here the last pictures of SS5 INA Day 2..

 

Choi Siwon was gorgeous eventhough he just wear a simple shirt.

Siwon : *Seriously thinking* Ah, my baby mad at me. I’ll kill Hae because he wasn’t accompany Kyu while I wasn’t around.

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Siwon : Go away! *punch Hae*

Donghae : Forgive meee… *Stay away from WonKyu sadly*

Zhoumi : Poor you Hae..

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Donghae : Okay, I’m sorry. I’ll look after Kyuhyun better next time

Siwon : You keep promise me like that all the time. C’mon Kyu, leave him alone.

Kyuhyun : No way. Hands off *hold Zhoumi’s shirt tightly*

Zhoumi : *Try hard not to laugh*

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Siwon : Come on baby, don’t be mad anymmore. Are you still mad at me?

Kyuhyun : Hmmm..

Zhoumi : *Whispering*Don’t trust him

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Siwon : My love for you as big as the entire world baby *saranghae pose*

Kyuhyun : Really? *blush*

Zhoumi : Stop being like an idiot, Simba!

Henry : Ieewwhhh..!

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Siwon : So, can I hug you now, baby? And a kiss maybe? Pleaseee..

Kangin : Ok, enough! Stop him!

Ryeowook : Not in front of everyone, hyung!

Donghae : (What should I do? If I forbid him, he would be upset)

Kyuhyun : Please being normal hyung *acting nervous*

Zhoumi : You forgave him too fast. See? He became crazy!

Henry : *pretending look at Eunhyuk seriously*

Eunhyuk : So ELF, we love you so much (Stop doing that Siwon!)

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Donghae : Mimi ge, are they ok now?

Zhoumi : I think so. *Checkin’ on Siwon* Why are you look at me like that?

Siwon : Aniyo, I just.. *Speechless*

Kyuhyun : Yes.. Yes..

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Donghae : *Eavesdropping*

Siwon : I’ll give you anything to see you smile like that, baby. Tell me what you want.

Kyuhyun : Hehehe *while thinking about something he would ask Siwon to do*

Zhoumi : They’re back! *being indifferent*

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Donghae : *Still try to listen everything carefully*

Zhoumi : *Doesn’t care anymore*

Siwon : *Seriously hear what Kyuhyun say*

Kyuhyun : *Whispering*

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Donghae & Zhoumi : *Try hard to guessing what Kyuhyun said to Siwon*

Siwon : Are you sure baby?

Kyuhyun : Yes. That’s all I want to have from you ❤

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Siwon : I will! Tonight?

Kyuhyun : Mwo? Seriously?

Zhoumi : Oh no! Poor the people who stay next to these crazy couple’s room

Donghae : Andwae! Both of them have other exhausting activity tomorrow. They shouldn’t do that tonight!

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Hi INA ELF, pray for me tonight. Kyuhyun asked me to be his horse while he act like a knight. I can do it, anything for him. The only thing I can’t do tonight is seduce him or he’s gonna pending our -you know what- time next week. *Poor Siwon*

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Kyuhyun : Bye everyone.. I’m gonna having such a good time tonight! Yeah!

Siwon : Bye girls.. *sluggish*

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Bow with the dancers

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Bow as a thank you and farewell toINA ELF

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

My favorite picture of all.. Kyuhyun sing in the center of the stage while thousand confetti flying around him. He’s just adorable..

SS5 INA Day 2

SS5 INA Day 2

 

 

Actually I have lots of SS5 INA pictures but I can’t share all of it. I just pick some of them which I thought interesting or funny. Once again, sorry for the late post.

 

Cheers..

Missing You

Title : Missing You

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin (Slight)

Pair : ChangKyu (Broken)

Rate : PG-13

Genre : Angst, OOC, BL, Typo(es).

Author : Macchiato94

Disclaimer : Cerita ini masih berhubungan dengan FF CahngKyu yang berjudul …How am I Supposed to Live Without You.

TOK TOK

Seorang pria bertubuh kecil tampak tengah mengetuk pintu kayu berwarna coklat itu dengan hati-hati. Takut jika suara ketukannya yang terlalu nyaring dapat mengganggu ketenangan si pemilik kamar dibalik pintu. Selain karena itu, ia juga tidak ingin membuat kegaduhan dan menarik perhatian dari pernghuni dorm yang lain.

“Kyu…”

 Lelaki tersebut mulai memanggil nama si pemilik kamar setelah beberapa kali ia mengetuk pintu dihadapannya yang sama sekali tidak mendapatkan respon.

“Kyuhyun-ah…”

Panggilnya sekali lagi dengan volume yang –sedikit- lebih keras. Berharap paling tidak panggilannya itu membuahkan hasil dengan sahutan ataupun pintu yang terbuka.

“Ada apa wookie?”

Si pria bertubuh kecil, Ryeowook, sedikit terlonjak ketika ia merasakan pundaknya di tepuk oleh seseorang yang memanggil namanya.

“Bukankah tadi kau ingin memanggil Kyuhyun untuk makan malam? Tapi kenapa kau malah berdiri disini?” Rentet pertanyaan itu terlontar dari bibir Kangin ketika ia melihat eternal maknae-nya terus berdiri di hadapan pintu kamar Kyuhyun yang masih tertutup.

“Nng, iya hyung. Aku memang mau menyuruh Kyuhyun untuk makan malam, tapi…” Ucapannya terhenti. Sedikit enggan untuk menceritakannya pada hyungnya karena ia tidak ingin membuatnya khawatir, “…semenjak tadi aku mengetuk pintu dan memanggil Kyuhyun, ia sama sekali tidak menyahut ataupun membuka pintunya.”

“Sungguh?” tanya Kangin terkejut. Kekhawatiran jelas terpancar dari wajahnya. Tidak biasanya adik bungsunya ini mengabaikan pangilan hyungnya, sesibuk apapun itu.

“Apa mungkin dia sedang tidur?” Gumam kangin seolah tidak yakin dengan dugaannya sendiri yang dibalas oleh Ryowook dengan gelengan kepalanya. Bayangan saat ia memasuki kamar Kyuhyun dan mendapati tubuh Kyu yang tergeletak di lantai karena kehilangan kesadarannya beberapa hari lalu sontak melintas kembali di pikirannya. Dan ia bersumpah tidak ingin hal tersebut terulang kembali untuk kedua kalinya.

Dengan perasaannya yang masih diliputi kekhawatiran, Kangin pun berusaha membuka pintu tersebut dengan memutar kenop pintu.

“Terkunci?” tanya Kangin, ia pun beralih pada Ryeowook yang terlihat mulai gelisah, “Wookie, bisakan kau ambilkan kunci cadangan kamar dorm didalam laci meja kamarku?” pintanya yang langsung disanggupi oleh Ryeowook dan langsung bergegas ke kamar hyung tertuanya saat ini.

Sementara Kangin, saat ini pria bertubuh besar tersebut tengah berusaha memutar-mutar kenop pintu meskipun ia tahu usahanya akan sia-sia. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Kyuhyun.

Semenjak kepergian Changmin yang mendadak, Kyuhyun setiap harinya hanya mengurung diri dalam  kamar yang tertutup rapat. Ia hanya akan keluar dari dalam kamar jika ada schedule ataupun panggilan hyung-nya yang memintanya untuk makan dengan mata yang sembap meskipun senyum tetap terulas dari bibirnya.

Hyung-deulnya sendiri tidak pernah tahu apa yang dilakukan maknae mereka jika sedang mengurung diri. Namun tidak jarang mereka akan mendengar suara teriakan dan isakan tangis dari arah kamar tersebut. Dan puncaknya adalah ketika beberapa hari lalu, ketika Siwon mendobrak pintu kamar Kyuhyun dan mendapati tubuhnya tergeletak pingsan karena demam dan kelelahan.

“Ini hyung…”

Kangin menoleh pada Ryeowook yang mengulurkan kunci padanya. Dangan segera ia memasukkan kunci tersebut dan membuka pintunya dengan sedikit kasar.

“Kyu?”

Panggil Ryeowook setelah ia dan Kangin berhasil masuk kedalam kamar. Sementara Kangin sendiri tengah menjelajahi kamar tersebut karena tidak mendapati sosok Kyuhyun, bahkan di kamar mandi sekalipun.

“Hyung,lihat.” Pinta namja bersuara melengking itu seraya mengangangsurkan secarik kertas pada hyungnya. Kertas yang ia ketahui berisi tulisan tangan Kyuhyun.

Hyung-deul,

Aku tahu kalian pasti akan memintaku untuk makan malam. Jangan mengkhawatirkanku. Saat ini aku hanya ingin keluar dan mencari udara segar. Entah kenapa aku merasa sangat jenuh malam ini. Oh, dan maafkan aku karena aku mengunci pintunya. Tapi meskipun begitu kalian pasti akan tetap bisa masuk, kan? Maka dari itulah aku meninggalkan pesan ini. Dan mungkin nanti aku akan menginap di apartement Changmin.

Kyuhyun.

 

“Kau tidak akan berniat mencarinya, hyung? Aku tetap khawatir dengannya.”

Kangin tersenyum, antara lega karena kekhawatirannya tidak terjadi dan lucu mendengar ucapan Ryeowook yang terdengar seperti seorang ibu mengkhawatirkan anaknya,”Aku percaya padanya…”

***

Ditempat lain, tepatnya di sebuah kawasan apartement yang cukup elit. Tampak sebuah taksi menepi dan berhenti tepat di hall kawasan apartement tersebut. Beberapa saat kemudian, tampak pintu dari bangku penumpang taksi tersebut terbuka dan menampakkan sesosok pria tinggi yang terbalut sweater dan celana jeans panjangnya.

“Kamsahamnida ahjusshi.” Ucap namja tinggi itu pada sang pengemudi taksi sebelum mobil berwarna kuning tersebut berlalu meninggalkannya. Seulas senyum terbentuk dari bibir tipisnya, senyum tulus yang telah lama tidak tersungging dari bibirnya.

“Aku pulang Changminnie…”

***

KLIK

Sinar lampu segera menyergap memenuhi penjuru ruangan ketika sepasang tangan menekan sakelar lampu didekat pintu masuk yang telah terbuka. Sejenak, namja itu hanya terdiam di tempatnya berdiri, pandangan matanya tampak menyusuri setiap sudut apartement yang cukup lama tidak ia datangi.

Masih sama seperti dulu ketika terakhir kali ia datang ke tempat ini. Bahkan aroma dan atmosfernya pun tidak ada yang berbeda, terkesan nyaman dan hangat. Setiap perabotannya masih tertata rapi. Terlalu rapi jika mengingat dulunya apartement ini dihuni oleh seorang namja. Yang berbeda kali ini mungkin suasana apartment bernuansa creamy ini tampak lebih sunyi dan tenang karena ditinggal untuk selamanya oleh penghuninya.

Ya. Saat ini Kyuhyun tengah berada di apartement Changmin, kekasihnya, dulu. Sudah sebulan ini ia tidak pernah atau tepatnya tidak memiliki keberanian untuk datang ke apartement ini. Ia takut, jika semua kenangannya bersama Changmin yang mereka lalui di tempat ini kembali terbayang dalam memorinya dan membuatnya semakin terpuruk.

Namun entah kenapa, malam ini ia ingin sekali datang dan menginap. Dan ia berharap jika kedatangannya ke tempat dimana Changmin menghabiskan waktunya sehari-hari dulu, setidaknya dapat mengurangi kerinduannya yang membuncah pada namja jangkung tersebut.

Setelah sebelumnya ia melepas sepatunya dan meletakannya di rak, ia pun perlahan melangkahkan kaki jenjangnya untuk masuk lebih dalam bagian yang telah ia anggap sebagai rumah keduanya ini.

Seiring dengan kakinya yang  melangkah, satu tangannya pun ikut bergerak. Menyusuri benda apapun yang dapat ia jangkau menggunakan jemarinya. Hingga pada akhirnya ia berdiam diri disudut ruang tamu. Dimana ruangan tersebut yang biasanya digunakan oleh  Changmin untuk menonton TV, bertanding game, bertengkar bahkan hingga saling berebut makanan. Tanpa bisa dicegah, kenangan itu selalu bermunculan dalam ingatannya. Bagaikan deja vu yang seolah membuat dadanya sesak. Ia bahkan tidak tahu apa penyebabnya.

Ia memejamkan matanya erat. Berusaha mengendalikan pikirannya yang tanpa bisa dicegah melayang pada setiap kejadian masa lalu yang terjadi di tempatnya berpijak. Saat dimana ia saling meneriaki satu sama lain karena saling menuduh curang ketika bermain game hingga setiap adegan lovey dovey-nya dengan lelaki bersuara tinggi itu ketika mereka berdua meononton drama ataupun film bersama.

Ia menghela nafas dalam. Menggelengkan kepalanya pelan mencoba mengusir bayangan tersebut. Dengan segera ia melangkahkan kakinya kembali menuju kamar Changmin sekedar untuk mengistirahatkan diri. Ia lelah. Bukan hanya fisiknya saja tetapi batin dan perasaannya juga seakan merasakan hal yang sama.

***

         Kyuhyun menyandarkan tubuhnya dibalik pintu yang baru saja ia tutup. Ia menengadahkan kepalanya keatas seraya memejamkan kedua matanya, berusaha untuk menenangkan diri. Beberapa saat kemudian, ia melangkahkan kakinya dengan gontai. Seperti dituntun, kini dirinya telah berdiri tepat dihadapan lemari pakaian yang terletak disalah satu sudut kamar tersebut. Perlahan, ia menggerakan tangannya dan membuka pintu lemari berwarna cokelat yang berdiri kokoh dihadapannya. Satu tangannya bergerak menyusuri satu persatu pakaian milik Changmin yang tergantung dengan rapi. Hingga gerakan tangannya terhenti pada salah satu pakaian yang sangat familiar baginya. Kaus putih berlengan panjang bermotif strip yang serupa dengan miliknya. Kaus pemberiannya ketika mereka berdua berkencan yang sekaligus menjadi kaus couple bagi mereka.

Ia kemudian mengambil kaus tersebut dari gantungannya dan menciumnya. Mencoba menyesap sebanyak-banyaknya aroma khas milik sang kekasih yang masih tersisa dari pakaian tersebut. Memeluk pakaian berwarna putih itu dengan erat. Membayangkan dirinya yang tengah memeluk tubuh tinggi yang senantiasa memberinya perlindungan.

“Changmin..Changmin…Chang..hiks..Min..”

Racaunya diiringi isakan ketika ia terlalu terbawa perasaannya sendiri. Isakannya berubah menjadi tangisan tak terkontrol seolah ia tengah mengadu dan mengeluarkan seluruh beban beratnya ketika ia mengimajinasikan dirinya yang tengah berada dalam rengkuhan orang terkasihnya. Merasakan hangatnya pelukan kekasihnya yang selalu mampu memberinya kehangatan dan perlindungan. Meringkuk dan melesakkan wajahnya pada dada bidang Changmin. Mendengar tiap detakkan jantungnya yang berdegup kencang. Merasakan belaian lembut tangan besar Changmin dan mendengar nyanyian dengan suara lembut sang namjachingu yang seolah menjadi lullaby untuknya.

Dan seperti kehilangan daya, tubuhnya kini bahkan telah merosot dan jatuh tersungkur dilantai dingin ruangan tersebut. Ruangan gelap yang kini hanya terisi dengan suara isakan milik seorang Cho Kyuhyun.

***

        Namja berkulit pucat itu tanpa sadar mengusap tengkuknya ketika ia merasakan semilir angin malam yang menerpa tubuhnya. Baju hangat yang ia kenakan pun sepertinya tidak sanggup melindingi tubuh ringkihnya dari hawa dingin yang seolah menusuk tulangnya. Meskipun begitu, tak sedikit pun ia ingin beranjak dari posisinya yang kini tengah duduk meringkuk di long bench yang berada di balkon kamar apartment tersebut.

Setelah beberapa saat lalu ia menumpahkan segala bebannya dengan menangis. Kini ia lebih memilih untuk menenangkan dirinya dengan menyendiri di ruangan terbuka. Setidaknya perasaannya kini sedikit terasa ringan dengan melihat ribuan kerlip lampu yang tampak dari lantai sepuluh. Tempat dimana ia biasa menyendiri dan menenangkan diri.

 ________

 “Minnie…”

“…” tidak ada jawaban apapun.

“Minnie…” panggil Kyuhyun sekali lagi.

“…” Masih teteap tak ada respon.

Karena panggilannya tidak mendapatkan tanggapan, dengan kesal akhirnya Kyuhyun pun mencubit kaki Changmin yang tengah melingkari pinggangnya. Dan cubitan yang tidak bisa dibilang pelan itu sontak mengejutkan Changmin.

“Aigoo, sakit kyunnie. Kenapa kau suka sekali mencubitku, eoh?” tanya Changmin dengan tangannya yang kini tengah mengusap pahanya yang baru saja menjadi sasaran cubitan kekasih evil-nya ini.

Sementara Kyuhyun, namja manis itu tengah mencebikkan bibir merahnya dengan imut. Beruntung Changmin yang tengah duduk dan memeluknya dari belakang itu tak melihat perbuatannya, sehingga bibir merah  itu selamat dari terkaman namja mesum yang merangkap sebagai namjachingu-nya.

“Kau mengabaikan panggilanku, Shim Changmin. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan saat ini?” Tanyanya yang lebih terdengar seperti merajuk. Mendengar pertanyaan tersebut, mendadak keinginannya untuk menggoda Kyuhyun terlintas dalam pikirannya. Sekali-kali membuat Cho Kyuhyun cemburu tidak masalah kan?

“Aku hanya sedang memikirkan isi pesan Sunhwa.”

Mendengar nama asing terucap dari mulut Changmin sontak membuat Kyuhyun membalikkan wajahnya untuk menatap Changmin dengan sorot penasaran.

“Sunhwa?”

Changmin mengangguk, “Ne, member Secret. Kau tidak lupa dengannya,kan?” tanyanya retoris. “Siang tadi ia mengirimiku pesan jika ia akan menjadi guest star di variety-ku, Cool Kiz on the Block.”

“Sejak kapan kalian berdua menjadi akrab seperti ini?” Tuntut Kyuhyun menatap Changmin dengan curiga. “Apa sejak kau mengatakan jika dia memiliki wajah yang sangat cantik  seperti  Lee Yeon Hee dan Yoona?”

Changmin menerawang, mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu lancipnya, “Mmh, benar juga. Tapi lebih tepatnya mungkin sejak ia menjadi guest star di Moonlight Prince, Kyunnie. Bukan sejak aku memujinya cantik.“ Jawabnya tanpa merasa berdosa, “Dia gadis yang baik, lucu, ramah dan..”

“Dan tentunya sangat cantik.” Sergah Kyuhyun menambahi pernyataan Changmin. Masih teringat dengan jelas dibenaknya ketika ia mendengar dan melihat kekasihnya itu memuji secara terang-terangan gadis lain tepat dihadapannya. Ehm, dari layar televisi tentunya.

“Great!”  pria setinggi tiang listrik itu menyetujui perkataan Kyuhyun.

Kyuhyun melengos, memunggungi Changmin lagi. Merutuki sikap namja Shim yang menurutnya sama sekali tidak peka.

Tanpa sepengetahuan Kyuhyun, seringaian telah muncul dari bibir lebar Changmin. Lalu ia melingkarkan tangan panjangnya untuk melingkari perut Kyuhyun dan meletakkan dagunya di bahunya.

“Kau terlihat seperti sedang cemburu, Kyuhyun-ah…” godanya, sembari menatap wajah manis Kyuhyun dari samping. Tentu saja dengan nada senormal mungkin sebagai kamuflasenya yang tengah menahan senyuman kepuasannya karena telah berhasil menggoda Kyuhyun.

Kyuhyun masih belum menanggapi godaan Changmin. Cemburu? Tentu! Lelaki mana yang tidak akan cemburu ketika melihat kekasihnya memuji gadis lain di TV Nasional dengan tingkahnya yang malu-malu itu. Membuat ia menahan diri untuk tidak menghancurkan remote TV yang ia genggam kala ia melihat tayangan tersebut.

“Ani.” Sahut Kyuhyun cepat. Mencoba mempertahankan harga dirinya yang setinggi langit itu.

“Gotjmal.” Tuduh Changmin tanpa tedeng aling.

“Aniya! Atas dasar apa kau mengatakan kalau aku cemburu Mr. Shim?”

“Tentu saja karena Sunhwa. Karena dia gadis yang cantik, baik, ramah, lucu dan –“

“Ya! Ya! Ya! Puji dia sesuka hatimu saja Shim Changmin!” Seru Kyuhyun dengan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Changmin. Namun dengan sigap, Changmin menahan tubuh yang lebih kecil darinya itu untuk tetap berada ditempat.

“Nah, kan….akhirnya kau mengakuinya. Hahaha..” Gelak Changmin dengan puas. Mengabaikan Kyuhyun yang kini menatapnya dengan tatapan membunuhnya.

Butuh waktu beberapa saat untuk Changmin tertawa lepas sementara Kyuhyun hanya merengut karena kesal.

“Bahagia sekali, hah?”

“Tentu saja. Jarang sekali kan aku melihat kekasihku yang manis dan imut ini cemburu…” Bela Changmin semangat seraya mencolek dagu Kyuhyun dengan genit. Kyuhyun hanya mendecih kesal mendengar jawaban tersebut.

“Ngomong-ngomong, bagaimana bunyi pesan Sunhwa?” Tanya Kyuhyun penasaran meski ia harus menahan bulat-bulat harga dirinya demi rasa penasaran sekaligus cemburunya itu.

“Hhm? Pesan mana yang kau maksud, Kyu?”

“Tsk. Tentu saja pesan Sunhwa yang—tunggu!” Ia menghentikan ucapannya ketika ia menyadari sesuatu. Ia memalingkan wajahnya kembali untuk menatap Changmin, lagi. “Jangan bilang kau telah menipuku, Shim.” Desis Kyuhyun penuh penekanan. Dan demi melihat cengiran Changmin, ia ingin sekali memukul namja tersebut karena telah berhasil mempermainkannya.

Sebagai permintaan maaf, maknae DBSK itu kemudian memeluk tubuh Kyuhyun dan memberikan ciuman singkat di bibir merah dihadapannya, “Mianhe, chagi…”. Tentu saja tidak lupa dengan menampilkan senyumnya yang terkesan kekanakkan yang membuat kekesalan Kyuhyun mau tidak mau sedikit berkurang.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya lemah, “Aku tidak suka jika kau berdekatan dengan wanita ataupun orang lain, Min-ah.  Kau milikku, tak perduli apapun yang terjadi.” Ujarnya seraya mengusap pipi Changmin yang menatapnya dengan sorot mata yang hanya tertuju padanya.

Changmin tersenyum mendengar keposesifan Kyuhyun akan dirinya. Itu menunjukkan seberapa penting eksistensinya untuk namja yang sangat ia cintai itu. Ia kemudian meraih tangan Kyuhyun dan menciumnya dengan sayang, “Aku milikmu, Kyuhyun-ah. Semua yang ada padaku adalah milikmu. Aku tidak peduli pada wanita-wanita ataupun orang lain yang tidak kau sukai itu. Karena seluruh bagian yang ada padaku, telah seutuhnya menjadi milikmu. Tanpa ada celah yang tersisa untuk mereka merebutku dari mu. Aratta?”

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya cepat setelah mendengar pernyataan yang dirasanya terlalu cheesy itu. Tanpa dapat dicegah, rasa panas segera menjalar di wajahnya yang menghasikan semburat merah di kedua pipinya. Dengan cepat ia pun membalikkan tubuhnya. Memunggungi Changmin, lagi, guna menyembunyikan semburat merah yang kini tengah mucul di kedua belah pipi gembilnya itu.

Changmin sendiri tanpa mengucapkan sepatah katapun, memeluk tubuh Kyuhyun lagi. Mengabaikan tingkah malu-malu dari Kyuhyun karena salah tingkah mendengar ucapannnya. Mencoba memberikan kehangatan untuk kekasihnya. Membiarkan keheningan tercipta diantara mereka berdua. Terlarut dalam pikiran masing-masing yang dilatari langit malam dengan berjuta bintang yang membentang di kegelapan malam.

 _______

 “Tidak ada orang yang mampu merebutmu dariku, Min-ah. Tapi…mengapa malah Tuhan sendiri yang merebutmu secara paksa dariku?”

Kedua tangan Kyuhyun semakin merapatkan dirinya demi merasakan semilir angin malam yang menerpa tubuhnya. Meringkukkan tubuhnya dengan menekuk kedua kakinya diatas bangku tempatnya duduk. Ia tahu, sudah seharusnya ia memilih masuk kedalam ruangan dengan bergelung dalam selimut hangatnya. Tapi sekali lagi, demi melihat pemandangan indah yang terlihat dari refleksi matanya, ia enggan untuk beranjak dari tempat tersebut.

Ia kemudian mendongakkan wajahnya, menatap langit malam yang seolah terbentang tak terbatas dengan bulan dan bintang yang seolah menjadi pasangan abadi.

“Apa kau merindukanku diatas sana, Changminnie?” tanyanya pada kegelapan malam dengan seulas senyum getir yang terlukis di bibirnya. Menyuarakan isi hatinya yang selama ini menjadi beban berat dalam hatinya.

”Aku pernah mendengar seseorang yang mengatakan bahwa jika orang yang telah kembali pada Tuhan, ia akan selalu menjaga orang yang ia cintai dan ia sayangi dari atas sana.” Ucapnya seorang diri seraya mendongakkan wajahnya menatap kegelapan malam, “terdengar klise memang. Tapi…entah kenapa aku berharap jika itu memang benar terjadi.” Ia menghela nafasnya pelan sebelum ia melanjutkan kembali ucapannya,”Apa saat ini kau mulai menganggap aku bodoh karena mempercayai hal klise semacam itu, Changminnnie?” Ia terkekeh pelan, mentertawai kebodohannya sendiri.

Namun beberapa saat kemudian, kekehan tersebut berubah menjadi senyum tipis. Senyum yang ia sunggingkan dengan tulus, “Apa kau mendengarku dari atas sana, Min-ah? Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku baik-baik saja disini. Maafkan aku jika selama ini aku membuatmu khawatir ataupun sedih. Kehilangan orang yang kita cintai. Aku rasa sikapku selama ini bukanlah sesuatu yang sangat berlebihan.” Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran long bench yang ada dibelakangnya, “Aku berjanji, mulai saat ini, aku akan kembali menjadi Cho Kyuhyun yang dulu. Cho Kyuhyun yang jenius, Cho Kyuhyun yang suka menjahili hyungdeul-nya, Cho Kyuhyun yang akan tersenyum dan tertawa jika ia bahagia dan Cho Kyuhyun yang akan selalu mencintai Shim Changmin. Itu semua aku lakukan karen aku tak ingin membuatmu merasa terbebani, serta demi orang-orang yang menyayangiku disini. Aku berjanji…”

ChangKyu missing You

END

Hallo… Apa kabar semuanya? saya kembali setelah ujian berakhir, Kekeke…

Saya ucapkan happy reading dan terima kasih 🙂

Now and Then (Sequel of B365D) – Chapter 4

Title                 : Now and Then

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Sad, Mpreg

Pair                  : Yunho x Kyuhyun (YunKyu)

Other Cast       : Changmin, Donghae, Tesa, Kim Isak

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Setelah melewati masa perkenalan selama setahun, Yunho dan Kyuhyun akhirnya menikah. Bagaimana perjalanan kehidupan rumah tangga mereka?

CHAPTER 4

Kyuhyun melakukan aksi diam kepada Yunho selama seminggu setelah kejadian bertemu Isak siang itu. Ia tidak mau mendiamkan Yunho seperti ini, tapi ia sendiri tidak senang dengan cara Yunho yang dianggapnya ‘menyembunyikan’ keberadaan Kyuhyun dari mantan kekasihnya. Siapa tahu Yunho masih mengharapkan Isak, iya kan?

“Tujuan kami hanya membahas masalah pekerjaan, Kyu. Jadi untuk apa aku membicarakan masalah pribadi dengannya? Lagipula, kami sudah tidak ada hubungan apa-apa, untuk apa saling mengetahui apa yang terjadi setelah kami berpisah?” kata Yunho siang itu ketika Kyuhyun akhirnya marah dan memutuskan pulang dengan menggunakan taksi.

Tapi apapun yang dikatakan Yunho hanya dibalas dengan aksi diam oleh Kyuhyun. Ia enggan berbicara yang nantinya hanya akan menyulut emosinya. Lagipula ia sedang hamil, perubahan emosi tidak baik bagi janinnya.

Walaupun Kyuhyun menjalankan aksi diam, ia tidak pernah melalaikan tugasnya sebagai seorang istri. Ia masih menyiapkan makanan, membantu menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Yunho untuk bekerja, menyiapkan air panas untuk Yunho mandi dan sebagainya. Ini membuat Yunho menjadi gila karenanya.

“Ayolah Kyu.. Bicaralah padaku.. Sudah seminggu kau seperti ini, apa kau tidak kasihan padaku?” kata Yunho sebelum mereka tidur. Ia rasa hubungan seperti ini tidak sehat untuk keduanya. Namun seperti biasa, Kyuhyun susah sekali dibujuk kalau sudah seperti ini.

Yunho memeluk tubuh Kyuhyun dari belakang. Lelaki itu selalu memunggunginya selama seminggu ini, membuat tidur Yunho juga tidak nyenyak karenanya.

“Maafkan aku kalau kau terluka karenanya. Tapi aku tidak bermaksud menyembunyikan pernikahan kita dari Isak. Mana mungkin aku tidak mengakui istri semanis dirimu? Berhentilah bersikap seperti ini, Kyu. Kau tahu bahwa aku hanya mencintaimu. Aku tahu kau marah, tapi setidaknya bicaralah padaku. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini.”

Yunho mempererat pelukannya. Kepalanya disusupkan di tengkuk istrinya itu. Menikmati wangi apel segar yang senantiasa berada disana. Tak lama kemudian dirasakannya nafas Kyuhyun berhembus dengan teratur.

Yunho hanya bisa menghela nafas lelah. ‘Dia tidur. Cepat sekali. Padahal aku sedang membujuknya.’ Pikir Yunho.

Yunho yang memang belum mengantuk sama sekali akhirnya menyalakan televisi dan menonton tayangan hiburan seraya menunggu kantuknya muncul. Selama sejam kedepan ia hanya berbaring di ranjangnya, memandang televisi tapi pikirannya tidak berada disana. Berbagai peristiwa masa lalu muncul di kepalanya tanpa bisa ia cegah, peristiwa dimana dia dan Kyuhyun baru saling mengenal. Bagaimana ia sangat terkejut dengan perjodohan mereka, bagaimana ia tidak menyukai Kyuhyun yang sangat manja dan kekanakan hingga bagaimana ia bisa jatuh cinta pada sosok yang kini menjadi pendamping hidupnya itu.

“Yunho hyung!!!!”

Yunho tersentak. Kyuhyun menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka sepenuhnya. Mata yang biasanya memancarkan sinar hangat kekanakan itu kini memancarkan sinar ketakutan.

“Kyu? Ada apa? Gwenchana?”

Yunho segera merengkuh Kyuhyun dalam pelukannya. Baru disadarinya kalau tubuh kecil itu berkeringat. Tubuh itu bergetar dalam pelukannya.

“Kyu? Kau baik-baik saja?” tanya Yunho lagi.

Kyuhyun menangis keras sebagai jawabannya. “Hyunggg.. Mengapa kau pergi dariku.. Mengapa kau meninggalkanku.. Kau bohong hyung.. Kau berbohong padaku.. Kau bilang akan selalu mencintaiku.. Nyatanya..”

“Ssstttt.. Kyu, kau hanya bermimpi.. Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan selalu disini bersamamu.. Berhentilah menangis..”

Kyuhyun masih terus menangis. Mimpinya tadi terlalu nyata, dimana Yunho melambaikan tangannya dan berbalik menjauh bersama Isak. Kyuhyun takut. Takut jika hal itu terjadi. Ia tidak bisa melihat Yunho bersama orang lain.

Cukup lama keduanya berpelukan seperti itu, hingga Kyuhyun tenang dan melepaskan pelukan Yunho.

“Kau baik-baik saja sekarang?” tanya Yunho.

Kyuhyun mengangguk. Menangis karena mimpi buruk baru kali ini dialaminya, wajar saja kalau ia merasa takut seperti tadi.

“Berhentilah memikirkan hal-hal yang tidak perlu, baby.. Aku tahu saat ini sangat berat untukmu. Dimana kau sedang hamil dan..”

“Aku benci melihatmu dengan wanita lain!” sahut Kyuhyun.

Yunho menghela nafas. “Berhentilah merasa cemburu. Sudah kukatakan berulang kali bahwa kami hanya berteman. Aku hanya mencintaimu. Lagipula kau punya Tesa dan Donghae di kantor, bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal-hal aneh tanpa mereka ketahui?”

Kyuhyun terdiam sebentar. Ia berpikir sebentar lalu berkata. “Baiklah. Aku percaya padamu, hyung. Jangan pernah khianati kepercayaanku.”

Yunho tertawa lega karenanya. “Pasti. Aku tidak akan pernah melakukannya. Nah, sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu hingga kau terlelap.”

Kyuhyun kembali memeluk tubuh suaminya itu lalu mencoba menenangkan pikirannya dan memejamkan matanya. Namun hingga beberapa menit kedepan, ia tetap tidak bisa memejamkan matanya.

“Hyung.. aku tidak bisa tidur.” Rengek Kyuhyun.

Yunho yang ternyata sudah mulai mengantuk itu kembali membuka matanya. “Wae? Cobalah untuk menghitung domba.”

Ia lalu membawa Kyuhyun lebih erat dalam pelukannya seraya membelai punggung istri tersayangnya itu. Mencoba membantu Kyuhyun agar cepat terlelap. Namun Kyuhyun tak juga bisa tidur.

“Hyung.. Aku tetap tidak bisa tidur. Menghitung domba bisa membuatku mengantuk tapi melihat wajah domba-domba itu, aku jadi tidak bisa tidur. Mereka jelek sekali.” Rengek Kyuhyun lagi.

“Bayangkanlah sesuatu yang lebih menarik dan tempatkan ia di wajah domba-domba itu.” jawab Yunho yang setengah sadar.

“Bagiku.. Hanya kau yang paling menarik..” kata Kyuhyun dengan nada minta maaf.

Yunho hanya tersenyum mendengarnya. “Baiklah. Tempatkan saja wajahku di domba-domba itu. Lalu berusahalah untuk tidur baby, kau harus beristirahat.”

Tak lama kemudian, Yunho mulai terlelap. Namun Kyuhyun tak juga bisa tidur. Ia terus berusaha menempelkan wajah Yunho di domba-domba yang muncul di benaknya. Awalnya hal itu menyenangkan, tapi..

“Hyyuuunnggggg….!!!”

Yunho tersentak bangun dengan panik. “Wae baby? Ada apa?”

“Kenapa kau menyuruhku menghitung domba dengan wajahmu sebagai gantinya? Lihat! Sekarang domba-domba berkepala Yunho itu direbut oleh banyak wanita. Dengan centilnya mereka datang berbondong-bondong lalu mengambilmu satu persatu. Kata mereka domba ini tampan sekali, lalu.. lalu.. Huaaaaaaaaa..”

Kyuhyun mulai merengek-rengek layaknya anak kecil seraya menendang-nendangkan kakinya, membuat tempat tidur berantakan dan bantal guling jatuh ke lantai.

Yunho berusaha keras membuka matanya yang seolah ditindih batu seberat satu ton itu lebar-lebar. Dengan sabar diambilnya lagi bantal guling yang terkenal tendangan maut Kyuhyun tadi dan merapikan selimut yang berantakan.

Dengan penuh sayang dibaringkannya lagi Kyuhyun yang tengah cemberut. Seraya membelai rambut sewarna madu itu, Yunho mulai bicara.

“Baby.. berhentilah bersikap seperti ini. Semakin kau bersikap seperti ini, semakin muncul berbagai masalah yang membuatmu tidak nyaman. Brsikaplah sewajarnya. Ingat, aku adalah suamimu. Aku akan selalu mendampingimu dan..”

“Tapi wanita-wanita itu membawamu pergi hyung. Mereka senang sekali bisa mendapatkanmu. Kau hanya..”

“Milikmu! Dan akan selalu seperti itu. Sekarang hingga nanti. Jadi berhentilah merasa khawatir. Jangan pernah meragukan cintaku padamu. Mungkin sekarang kau merasa tidak nyaman, tapi jika kau membiasakan dirimu, segalanya akan baik-baik saja.”

Kyuhyun mengangguk. “Maafkan aku hyung. Aku berjanji akan berusaha memperbaiki sikapku. Kau mau memaafkanku kan?”

“Tentu saja baby. Tidurlah..”

“Tapi aku tidak bisa tidur, hyung.”

“Jadi apa yang ingin kau lakukan, Kyu?”

Kyuhyun terlihat berpikir sebentar. “Aku ingin bercerita sebentar. Maukah kau mendengarkanku, hyung? Kalau aku lelah, aku akan segera tidur. Tugasmu hanya satu hyung : mendengarkanku. Jangan tidur duluan, ne?”

Yunho mengangguk. Memang ia sudah sangat mengantuk, apalagi ia harus bangun pagi dan bekerja esok hari. Tapi ia tidak tega menolak Kyuhyun.

Kyuhyun lalu bercerita dengan riangnya hingga beberapa jam kedepan, tanpa menghiraukan Yunho yang berkali-kali menguap dan berusaha menahan matanya agar tidak tertutup.

*

            Tanpa disadari waktu berlalu dengan cepat. Perut Kyuhyun sudah membesar. Usia kandungannya kini hampir menginjak bulan ke-tujuh. Bukan hanya perutnya yang membesar, tapi juga omelan dan kecemburuannya.

Tak jarang ia mengomeli Tesa karena dianggap lalai menjaga suaminya, atau Donghae yang ogah-ogahan membuntuti Yunho kemanapun ia pergi. Yang paling parah menerima semua omelan Kyuhyun adalah Changmin. Lelaki itu selalu salah di mata Kyuhyun. Pasalnya sederhana, ia selalu merasa Changmin lah yang mendekatkan Isak dengan suaminya. Lihat saja sekarang Isak bahkan sudah pindah ke Busan dan hampir setiap hari mengunjungi kantor Yunho.

Hari ini dengan riang gembira Kyuhyun mengunjungi kantor Yunho. Sambil menenteng makanan yang dimasak oleh Ryeowook, ia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi riang. Wajahnya yang imut semakin lucu dan terlihat kekanakan karena ekspresi yang terpampang saat ini.

“Tesa-ssi, sedang apa suamiku di dalam?” tanya Kyuhyun seraya mengelus perutnya yang kini membuncit.

Tesa menjawab dengan sopan. “Beliau ada di dalam. Sedang rapat bersama Changmin-ssi dan Isak-ssi.”

“Mwo???!!! Lagi? Bersama perempuan itu? Dimana Donghae hyung?” tanya Kyuhyun seraya memandang tajam sekretaris suaminya itu.

Tesa tersentak ketakutan karenanya. Dengan sedikit tergagap ia menjawab. “Eh.. D-Donghae-ssi ada.. di dalam bersama sajangnim.”

Kyuhyun sedikit lega karenanya. “Baiklah. Aku akan masuk.”

Namun ketika Kyuhyun akan melangkah mendekati pintu masuk, Tesa langsung berseru pelan menahannya.

“Ada apa lagi?” tanya Kyuhyun tak sabar.

“Itu.. Kata sajangnim, beliau tidak bisa diganggu. Maaf Kyuhyun-ssi, tapi..”

Kyuhyun menatap Tesa dengan pandangan menusuk. Dengan suara rendah yang dalam dan mengerikan, ia bertanya. “Kau.. berani.. mencegahku?”

Serasa kehabisan udara, dada sang sekretaris terasa sesak. Dengan ketakutan ia menggeleng. Setelah itu Kyuhyun malah tersenyum manis karenanya.

“Terima kasih, Tesa-ssi..”

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kyuhyun memasuki ruang kerja Yunho dan serseru riang. “Aku dataaaannngggggg…!”

Semua yang hadir disana menoleh. Raut wajah mereka berlainan satu sama lain. Changmin terlihat enggan. Isak menatap Kyuhyun dengan senyum hormat. Donghae menatap Kyuhyun dengan ekspresi gembira, terlebih melihat apa yang dibawa Kyuhyun di tangan kanannya. Sedangkan Yunho menatap istrinya dengan hangat.

“Hyuunnggggg… Aku merindukanmu..” kata Kyuhyun manja seraya mendekati Yunho lalu menjatuhkan dirinya di pangkuan Yunho.

“Aku juga merindukanmu, baby. Apa kau sudah makan siang?” tanya Yunho seraya mendekap istrinya dengan sayang.

“Aku membawakan kalian makanan. Ryeowook hyung yang memasak lalu aku membawanya kemari. Kupikir, yang lain pasti ada disini jadi aku memintanya memasak lebih banyak. Ternyata dugaanku benar.”

“Ah kau baik sekali Kyuhyunnie. Aku sudah lapar sekali. Aku hampir putus asa karena mereka lama sekali membicarakan hal ini dan itu. Seolah-olah meeting ini baru akan selesai tahun depan.” Kata Donghae yang terdengar sedikit putus asa.

Yunho dan Changmin memandang Donghae dengan pandangan lebih-baik-kau-diam. Tapi Donghae tidak perduli. Pembelanya ada saat ini, jadi posisinya aman.

“Baiklah.. Aku membawa banyak makanan jadi akan cukup untuk semuanya. Nah Changmin-ssi, tolong panggilkan Tesa-ssi kemari. Dia harus ikut makan siang bersama kita.” Perintah Kyuhyun sambil mengeluarkan kotak-kotak makan siang dari dalam kantong plastiknya.

Changmin hendak protes tapi Yunho memberinya tatapan peringatan. Mau tidak mau ia berdiri juga dan memanggil Tesa untuk datang dan makan siang bersama mereka.

“Ah, Isak-ssi. Kau semakin cantik saja. Bagaimana kabarmu? Kapan kau pulang ke Amerika?” tanya Kyuhyun sopan.

Isak tersenyum simpul. “Aku masih belum tahu. Tapi, karena perusahaanku masih bekerjasama dengan perusahaan ayah Yunho..”

“Juga perusahaanku. Ingat, selain istri dari Yunho hyung, perusahaan ini adalah kolaborasi ayahku dengan mertuaku. Ingat itu.” kata Kyuhyun sedikit tersinggung.

Kembali Isak tersenyum simpul. “Ah, iya.. Maksudku seperti itu.”

Yunho tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu sikap Kyuhyun agak kurang ajar. Tapi jika ia menegur Kyuhyun, lelaki itu akan marah lagi.

“Baiklah. Bagaimana kalau kita makan saja?” Yunho hanya bisa menengahi.

Kyuhyun menurut. Ia lalu turun dari pangkuan Yunho dan duduk di samping suaminya itu. Ia makan dalam diam. Bukan karena ia menikmati makanannya, tapi karena sibuk memperhatikan Isak yang makan dengan anggun. Wanita cantik itu bahkan makan dengan tenang.

Hal ini membuat Kyuhyun semakin membenci Isak. Wanita itu selama ini diam saja dengan perlakuan Kyuhyun yang terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya pada Isak. Padahal Kyuhyun sering menyindirnya hingga membuatnya tersinggung. Tapi seolah tidak peduli, ia hanya terus-terusan tersenyum. ‘Menyebalkan!’ Pikir Kyuhyun.

Kyuhyun lalu melihat Yunho dan Isak berbicara tentang masa-masa kuliah mereka dulu. Changmin langsung ikut bergabung bersama mereka. Kyuhyun langsung erpaling pada Donghae dan Tesa.

“Lihat? Mereka mulai membicarakan masa-masa tolol mereka di amerika dulu. Apa maksudnya itu? Mau membuatku sakit hati? Cemburu? Tersinggung?” Kyuhyun mem-pout-kan bibirnya dengan kesal karenanya.

“Mungkin mereka hanya bernostalgia, Kyuhyun-ssi. Bukankah hal tersebut wajar saja?” kata Tesa.

Kyuhyun mendelik. “Wajar? Wanita itu adalah mantan kekasih suamiku. Bagaimana mungkin ia menceritakan masa lalunya di kampus sementara dulu keduanya berpacaran semasa mereka masih berstatus mahasiswa? Kau ini mau membela mereka ya? Tidak sayang dengan lehermu sendiri?”

Tesa langsung meminta maaf berkali-kali. Susah sekali rasanya kalau harus dihadapkan dengan orang seperti Kyuhyun. Cemburu adalah sifat dasarnya. Ditambah lagi dengan hormonnya yang meningkat selama kehamilannya. Membuat kecemburuannya naik berkali-kali lipat.

“Tapi mereka selalu membicarakan banyak hal tentang masa kuliah mereka.” Kata Donghae.

Setelah itu terdengar Yunho, Changmin dan Isak tertawa bersama. Mereka tampak hidup di dunia mereka sendiri. Walaupun Yunho duduk persis d sebelah Kyuhyun, bahkan lengannya menenpel di lengan Kyuhyun, tapi Kyuhyun seperti merasa suaminya itu amat sangat jauh, seolah ketiganya punya dunia yang tak bisa ia masuki.

“Kau masih ingat? Dulu kau suka sekali terperangkap oleh jebakan Changmin. Kau selalu makan dengan lahap padahal Changmin membubuhkan saus cabai yang benar-benar pedas ke dalam makananmu.” Kata Isak masih sambil tertawa.

Nah kan? Bahkan ia tahu benar kalau Yunho tidak bisa memakan segala sesuatu yang pedas. Namun seolah tahu apa yang ada di pikiran Kyuhyun, teas kembali membujuk istri bosnya itu.

“Kami di kantor juga tahu sajangnim tidak memakan makanan pedas. Jangan pikirkan hal yang aneh-aneh Kyuhyun-ssi, ingat, anda tengah mengandung.”

Kyuhyun sebenarnya memikirkan hal yang sama, namun cemburu membuatnya sedikit kesal. Yunho tidak pernah tertawa mendengar leluconnya. Itu juga karena Kyuhyun juga tidak tahu bagaimana berkelakar. Yunho selalu memandangnya dengan lembut, itu jauh lebih berarti daripada tawanya. Namun ia juga ingin Yunho tertawa mendengar bayolannya.

“Malam ini aku akan membawa Kyuhyun ke dokter kandungan. Kami akan memeriksakan kondisi kandungannya sekaligus ingin mengetahui jenis kelamin anak kami.” Kata Yunho dengan bangga. Satu tangannya melingkar di pundak Kyuhyun sedangkan tangan lainnya yang sudah selesai dengan sumpitnya kini membelai perut buncit Kyuhyun dengan penuh kasih sayang.

Mau tidak mau Kyuhyun tersenyum malu karenanya. Inilah yang membuatnya tidak bisa marah terlalu lama dengan Yunho. Walaupun baginya betapa menjengkelkan sikap suaminya itu jika sudah berhadapan dengan Isak,  namun ia masih tetap menomorsatukan Kyuhyun.

“Ah.. Akhirnya aku akan segera menjadi paman. Tiga bulan lagi.. Tidak lama lagi..” kata Donghae dengan ceria.

“Kasihan sekali nasib anak Kyuhyun nanti.” Celetuk Changmin.

“Ya! Apa maksudmu?” tanya Donghae dengan nada menantang.

“Tidak ada. Aku hanya berpikir bagaimana nasib anak Kyuhyun dan Yunho nantinya jika ia punya paman sepertimu. Kau kan sangat cerewet dan..”

“Ya! Kau pikir siapa kau? Kau tidak kalah buruknya. Suka mencampuri urusan orang lain seolah kau ini orang penting. Menggelikan sekali.” Balas Donghae.

“Bisakah kalian berhenti? Kalian ini seperti anak-anak saja. Tidak ada gunanya kalian bertengkar. Kalian berdua adalah paman dari anakku kelak. Anakku akan tumbuh menjadi anak cerdas yang pandai melindungi ayahnya dari rayuan wanita-wanita pengganggu.” Kata Kyuhyun menengahi seraya mengelus-elus perutnya.

‘Siapa yang seperti anak kecil? Bukankah ia baru saja menunjukkan betapa kekanakannya ia dengan menyindir Isak seperti itu?’ pikir Changmin.

“Baiklah. Sekarang ada baiknya kita kita melanjutkan rapat. Nah, Kyu, mungkin sebaiknya kau beristirahat. Kau bisa main game di meeting room. Kalau disini kau akan cepat bosan.” Kata Yunho menyarankan.

Tapi Kyuhyun langsung menggeleng tegas. “Aku ingin bersamamu hyunggg.. Bukankah aku kemari karena ingin bersamamu?”

“Tapi kami akan melanjutkan rapat kami yang sempat tertunda tadi, baby. Mengertilah. Tunggulah aku di meeting room. Setelah rapat selesai, aku akan menjemputmu disana lalu kita akan pulang bersama. Mungkin kita bisa singgah di kedai es krim dan membeli beberapa kotak untuk persediaanmu. Bagaimana?” Yunho masih berusaha membujuk Kyuhyun.

“Kupikir ada baiknya seperti itu, Kyu. Daripada kau bosan mendengar pembicaraan kami disini. Donghae bisa menemanimu di meeting room.” Kata Changmin menambahkan.

“Aku tidak diperbolehkan meninggalkan sisi Yunho sedetikpun selama masih dalam jam kerja.” kata Donghae cepat.

“Aku setuju.” Kata Isak. “Maaf Kyuhyun-ssi, tapi kurasa memang lebih menyenangkan kalau kau tidak mendengar pembicaraan bisnis yang cukup berat ini. Aku janji akan menyelesaikannya sesegera mungkin jadi kau dan Yunho bisa segera menikmati waktu bersama. Lagiula.. Kami harus menyelesaikan pembicaraan ini agar kami bisa bekerja secepatnya untuk rancangan..”

“Tapi aku ingin bersama Yunho hyung..” kata Kyuhyun dengan mata berkaca-kaca, bersiap menangis jika permintaannya tidak dikabulkan.

“Baby.. Aku janji akan menyelesaikan rapat ini sesegera mungkin.” Yunho masih tetap berusaha membujuk Kyuhyun.

Satu tetes airmata jatuh di pipi gempal Kyuhyun. Wajahnya memerah. Bibirnya dikatupkan rapat-rapat sementara kedua tangannya saling meremas satu sama lain.

“Baiklah. Rapat ditangguhkan. Kita lanjutkan lagi besok. Kalian boleh keluar.” Kata Yunho secepat kilat.

Changmin hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Kyuhyun sementara Isak hanya bisa mengikuti instruksi Yunho dalam kekecewan. Sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan Yunho, ia masih sempat mendengar Yunho berbicara.

“Aku sudah benar-benar berdua denganmu sekarang, baby. Sekarang apa yang ingin kau lakukan? Katakan padaku. Kau mau minum milkshake cokelat? Atau cheese cake? Uljima.. Maafkan aku, ne?”

Dan entah mengapa tiba-tiba muncul sedikit kecemburuan menyusup di hati Isak saat itu. Dan karenanya, ia jadi tidak rela meninggalkan kantor Yunho.

*

            Lee Dong Wook melepaskan sarung tangannya lalu duduk di hadapan Yunho dan Kyuhyun. Wajahnya yang tampan tampak senang dengan apa yang akan dikatakannya.

“Kondisi tubuh Kyuhyun sangat sehat. Ia makan dengan baik, beristirahat dengan baik dan sepertinya hatinya senang. Jadi hal ini memberi pengaruh yang sangat baik kepada janinnya. Pada saat seseorang tengah mengandung, bukan hanya fisiknya yang harus diperhatikan tetapi juga batinnya. Ia harus senantiasa bahagia dan terlepas dari beban pikiran. Dan tampaknya saat ini Kyuhyun benar-benar memenuhi segalanya. Kau adalah suami yang baik, Yunho-ssi.”

Kyuhyun tampak berseri-seri mendengarnya. Tidak ada yang lebih menyenangkan untuk seorang yang tengah hamil seperti dirinya selain dokter mengatakan bahwa janinnya baik-baik saja dan ia memperoleh suami terbaik, kan?

“Terima kasih.. Sudah tugasku menjaga Kyuhyun sebaik mungkin. Lalu.. bagaimana dengan jenis kelamin anak kami?” tanya Yunho.

Lee Dong Wook tersenyum menggoda. “Rupanya kalian sudah tidak sabar. Anak kalian laki-laki. Selamat, dalam waktu kurang lebih tiga bulan, putra pertama kalian akan lahir.”

Yunho langsung memeluk Kyuhyun erat-erat. “Terima kasih baby.. Terima kasih.. AKu sudah tidak sabar menantikan hari kelahirannya.”

Kyuhyun membalas pelukan Yunho dengan tak kalah eratnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Kebahagiaan besar membuncah di dadanya.

Setelah puas membuat sang dokter iri melihat kemesraan mereka, keduanya pamit dan keluar dari ruangan Lee Dong Wook. Keduanya berjalan pelan menuju ke mobil mereka. Yunho mendekap pundak Kyuhyun sementara tangan Kyuhyun melingkar mesra di pinggang Yunho.

“Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kita dengar hari ini. Tunggu sampai orang tua kita mendengarnya. Mereka pasti akan sangat bahagia.” Kata Yunho. Ia tidak bisa menekan nada bahagia dalam suaranya.

“Aku yakin begitu, hyung. Bagaimana kalau kita merayakannya dengan sebuah pesta keluarga kecil?” usul Kyuhyun.

Yunho menggangguk mantap. “Usul yang sangat bagus. Setelah aku pulang dari Amerika, kita akan merayakannya.”

Kyuhyun langsung terdiam.

“Baby? Ada apa?” tanya Yunho yang cukup terkejut dengan perubahan sikap istrinya.

“Kau akan pergi ke Amerika, hyung?”

“Bukankah kau sudah tau sejak beberapa bulan lalu?”

Kyuhyun mengangguk. Ia tahu Yunho akan pergi ke Amerika sehubungan dengan reuni mahasiswa di kampusnya dulu. Ia akan berangkat bersama Changmin. Namun, ia pikir Yunho akan membatalkan kepergiannya melihat kondisi Kyuhyun.

“Apakah kau akan tetap pergi hyung? Dengan kondisi kehamilanku yang..”

Yunho langsung mengerti maksud Kyuhyun. “Baby, aku hanya pergi selama lima hari. Reuni akan diadakan selama dua hari dan sisanya aku berencana mengunjungi beberapa teman yang berbeda kampus di sana. Jangan khawatir, aku berjanji kalau semua bisa kulakukan dengan cepat, aku akan kembali lebih cepat.”

Kyuhyun mengerti. Yunho kesana setelah menerima undangan beberapa bulan lalu. Ia bahkan sangat bersemangat ketika tahu ia bisa bertemu lagi dengan kawan-kawannya dulu. Mana mungkin Kyuhyun tega merusak kesenangan suaminya itu?

Tapi.. Di sisi lain, alasan Kyuhyun sedikit keberatan dengan kepergian Yunho adalah.. Isak. Bagaimana mungkin ia membiarkan suaminya pergi ke luar negeri, melintasi benua, membuat mereka terpisah oleh jarak dan waktu? Di samping itu, dengan adanya Isak saat ini, sudah pasti Yunho, Changmin dan Isak akan berangkat bersama dari Korea dan akan selalu bersama selama disana. Bukan tidak mungkin kan kalau Yunho dan Isak bisa kembali mengenang masa-masa indah mereka dulu dengan kembali ke tempat dimana mereka memulai segalanya dari awal?

Dengan kenyataan-kenyataan pahit yang kini memenuhi kepala Kyuhyun kini, membuat dirinya semakin tidak rela membiarkan Yunho pergi ke Amerika.

‘Apa yang harus kulakukan?’

*

kyu n isak

To Be Continued..