When I’m With You

Title                 : When I’m With You

Rate                 : T

Genre              : AU, Romance, Friendship, Sad, Hurt

Cast                 : Siwon, Kyuhyun, Sooyoung, Yunho, Donghae, Seunghyun

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

When I’m with you..

I knew you’ll gonna be the part of my life since the first time..

Aku mengenalnya sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia dan keluarganya pindah ke rumah sebelah hampir dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku sangat senang melihat akhirnya aku bisa punya teman dari lingkungan tempat tinggalku sendiri.

Tidak, jangan salah paham. Bukan berarti aku tidak punya teman sama sekali. Sebaliknya, aku punya banyak sekali teman di sekolah. Hanya saja rumah kami semua berjauhan satu sama lain. Terkadang aku merasa kesepian jika kedua orang tuaku bepergian mengurusi pekerjaan mereka. Ayahku adalah seorang dokter sedangkan ibuku adalah seorang desainer pakaian di sebuah rumah mode terkenal.

Oh, aku lupa memperkenalkan diriku sendiri. Namaku Choi Siwon. Aku adalah anak satu-satunya di keluarga dengan rumah besar ini. Jadi kalian akan langsung paham mengapa tadi kukatakan aku begitu kesepian, bukan?

Semua orang punya pengalaman yang tertulis di dalam jurnal harian baik itu dalam bentuk tertulis ataupun tersimpan dengan baik di dalam benak kita, termasuk diriku. Jika kau menayakan apa pengalaman terbaikku, aku akan dengan bangga mengatakan bahwa pengalaman terindahku adalah saat aku bertemu dengannya. Adikku, sahabatku, sekaligus cinta pertamaku..

Saat itu ia tengah asyik bermain sendiri dengan Jenga di depannya . Lihat tubuhnya yang kecil, pipinya yang gempal, kulitnya yang pucat serta matanya yang bersinar cerah. Ia benar-benar imut untuk ukuran seorang anak berumur delapan tahun.

“Hai, siapa namamu?”

Anak itu menatapku dengan rasa ingin tahu. Ia tampak berpikir dan menimbang-nimbang apakah ia akan menjawabku atau tidak.

“Jangan takut. Aku tinggal di sebelah rumahmu. Namaku adalah Choi Siwon.”

Ia menunduk sebentar lalu dengan suaranya yang indah ia menjawab. “Cho.. Kyuhyun.”

Aku tersenyum lega karenanya. “Kyuhyun-ah, maukah kau bermain bersamaku?” tanyaku penuh harap.

Ia mengangguk. “Kau tampak lebih besar dariku, apa aku boleh memanggilmu Siwon hyung?”

“Tentu saja boleh!” jawabku bersemangat. “Nah, bolehkah kita mulai permainannya dari awal?”

Kembali ia mengangguk, kali ini dengan keyakinan yang membuatku semakin menyukainya. Dan persahabatan indah kami dimulai sejak saat itu..

*

When I’m with you..

The world is just such a beautiful world in your presence..

Kami tumbuh dengan cepat. Ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat manis sekaligus tampan. Aku selalu berpikir bahwa ia pastilah reinkarnasi dari salah satu malaikat di surga. Percayalah padaku, ia sangat sangat sangat tampan! Kau tidak akan bisa berpaling ketika memandangnya. Kau akan langsung terpaku akan keindahannya.

Dan aku selalu bangga karena akulah orang yang paling dekat dengannya. Aku adalah hyungnya sekaligus sahabat terbaiknya. Aku menjaganya dnegan sangat baik seperti permintaan kedua orang tuanya karena mereka ternyata jauh lebih sibuk daripada orang tuaku sendiri. Kyuhyun sering ditinggal sendirian di rumah sedangkan nasibnya sama denganku, anak tunggal.

Siang itu ia berlari seraya melambaikan tangannya dengan ceria kepadaku. Wajahnya yang sumringah tampak tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.

“Hyuuunggggg.. Tebak apa yang baru saja aku dengar!” serunya tanpa basa-basi ketika ia sudah berdiri di depanku.

Aku menggeleng. “Apa itu?” tanyaku dengan sama bersemangatnya. Lihat kan? Ia benar-benar pandai membuatku ikut merasakan apa yang tengah ia rasakan.

Ia mencebikkan bibirnya. “Aku menyuruhmu untuk menebak!”

Aku tertawa geli. Ia sama sekali tidak tampak seperti anak berusia empat belas tahun jika sudah merajuk seperti ini.

“Baiklah.. Jangan bersedih, ne? Kau tidak tampan lagi kalau cemberut seperti itu.” bujukku.

“Cepat tebak kalau begitu!” katanya dengan nada galak yang dibuat-buat.

“Hm.. Appa mu akan mengajakmu liburan?”

Ia memutar bola matanya. “Mana mungkin? Ia sendiri tidak punya waktu untuk liburan dengan dirinya sendiri, bagaimana mungkin appa akan mengajakku?”

“Bagaimana kalau.. Eomma membelikan sesuatu yang sangat kau inginkan selama ini.” tebakku lagi.

Kali ini ia mengembungkan kedua pipinya seraya melipat kedua lengannya di dadanya. “Tampaknya kau tidak benar-benar berusaha menebak..”

“Ara.. Ara.. Bagaimana kalau.. Kau berhasil mendapatkan penghargaan dari sekolah dalam bidang matematika atau menyanyi.”

Kyuhyun sangat pandai dalam matematika. Ia bahkan beberapa kali memenangkan olimpiade matematika dan selalu menang. Jangan tanya apa aku juga pandai matematika atau tidak, pertanyaan yang benar adalah apakah aku menyukai matematika atau tidak, karena aku benci berhitung.

Selain itu Kyuhyun sangat pandai bernyanyi. Oh, kalian harus mendengar suaranya dan kalian akan sependapat denganku. Jika ia sudah bernyanyi, serasa segalanya berubah menjadi indah. Suaranya terdengar sangat merdu. Seperti mendengar kicau burung di pagi hari, deru angin dan ombak di pantai, serta suara seorang ibu yang menyanyikan lagu pengantar tidur untuk anaknya.

“Hampir benar!” serunya kini, melepaskan wajah cemberutnya tadi. “Kau tahu hyung, aku diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Negara kita di pecan olah raga pelajar bulan depan! Oh.. Aku bahagia sekali!”

Aku terbelalak saat itu juga. Umurnya baru empat belas tahun tapi ia bisa memperoleh penghargaan setinggi ini. Dengan gembira kupeluk tubuhnya yang sedikit lebih pendek dariku itu. aku sangat bangga padanya. Adik kecilku benar-benar membuatku luar biasa gembira hari ini.

“Selamat Kyuhyunnie.. Hyung bangga sekali padamu. Kau benar-benar anak yang sangat berbakat.”

“Tentu saja, siapa dulu hyungnya..” katanya dengan tak kalah gembira saat ia melepaskan pelukanku. “Nah, ayo kita makan siang. Aku yang traktir.”

“Makan mie di depan mini market itu?” tanyaku.

“Dimana lagi tempat favorit kita selain di sana hyung? Kajja..” katanya seraya menggandeng lenganku dan menarikku pergi dari sana.

*

When I’m with you..

You’re just like a very special gift that heaven sent to me..

Ia menangis dalam pelukanku ketika ia patah hati. Ya, patah hati. Ini adalah kali ketiga ia menangis selama delapan tahun persahabatan kami. Pertama saat kedua orang tuanya tidak pulang sesuai janji, bukan karena disengaja, tetapi karena jadwal penerbangan mereka diundur jadi mereka terlambat kembali ke Korea. Kyuhyun menangis keras di rumahku, dalam pelukanku.

Kedua adalah ketika aku mengalami kecelakaan lalu lintas dua tahun lalu dan harus rela melihat kaki kiriku di gips. Aku sempat tidak sadarkan diri selama beberapa jam. Dan Kyuhyun tidak berhenti menangis saat itu, tidak sampai aku membuka mataku. Ia menangis di rumah sakit, tidak dalam pelukanku tetapi sambil memeluk lengan kananku. Saat itu aku sangat menyesal tidak menjaga diriku dengan baik, karena dengan begitu aku telah membuatnya menangis.

Ketika adalah saat ia putus dengan kekasih pertamanya yang telah ia pacari selama hampir tiga tahun. Ia dan Minho memang sudah sering bertengkar. Mungkin karena mereka masih sama-sama muda dan keras kepala. Choi Minho adalah lelaki populer di high school kami. Ia seperti pangeran dalam dongeng yang diimpikan siapa saja. Tampan, berbakat, cerdas dan kaya raya. Ia juga kapten basket sekolah.

Sebenarnya ia adalah kekasih yang baik. Hanya saja perbedaan visi dengan Kyuhyun membuat mereka acap kali bertengkar. Dan terakhir kali mereka bertengkar hebat adalah karena kesibukan Minho di dunia modeling yang mengharuskannya bertemu model-model lain dan akhirnya tenggelam dalam kesibukannya antara sekolah, basket dan modeling. Lalu waktunya untuk Kyuhyun pun berkurang. Dan akhir cerita sudah bisa ditebak, bukan?

“Aku benci padanya, hyung. Benci! Aku benci Choi Minho! Bahkan menyebut namanya saja sudah membuatku marah!” kata Kyuhyun disela-sela isakannya.

Ah.. Mengapa ia harus bermarga sama denganku? Aku jadi sedikit merasa bersalah karena lelaki yang Kyuhyun benci kini juga bermarga Choi.

“Ia lebih menyukai teman-teman model tololnya itu daripada aku. Apa ia tidak tahu betapa aku mencintainya, hyung? Apa arti hubungan kami selama ini?” kembali Kyuhyun tersedu.

“Kyu.. Dia juga mencintaimu. Dia hanya.. sibuk. Memang kesibukannya tidak bisa dijadikan alasan. Seharusnya ia bisa membagi waktunya dengan bijaksana. Sudahlah Kyu, jangan menangis. Dan pikirkan lagi keputusanmu itu. Aku tidak mau melihatmu terus-menerus bersedih seperti ini. Kau hanya dikuasai emosi sesaat, percayalah, kau tidak mau putus dengannya.”

Hanya itu yang bisa aku lakukan, aku tidak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa membantunya menyadari perasaannya sendiri. Aku lebih tua dua tahun darinya, tapi perbedaan itu tampak jauh karena aku terdidik mandiri dan dewasa. Jadi sebisa mungkin aku selalu menawarkan jalan terbaik untuknya tanpa membuatnya sedih.

Dan dugaanku benar. Baru putus dua hari dari Minho, pertahanan Kyuhyun runtuh saat Minho meminta maaf padanya. Mereka kembali bersama, kembali banyak bertengkar dan Kyuhyun lagi-lagi menangis. Ia bahkan lebih sering menangis sejak saat itu.

“Oppa! Kau mendengarkanku atau tidak? Berhenti memikirkan Kyuhyun. bisakah kau membuangnya dari pikiranmu walau hanya sedetik? Aku tahu ia bagaikan adik bagimu, tapi bukan berarti kau harus selalu memikirkannya. Kau lebih memperhatikannya daripada aku. Aku ini kekasihmu!”

Kurasa wajar saja Sooyoung marah padaku. Ia adalah kekasihku tapi aku lebih sering menghabiskan waktuku dengan Kyuhyun terutama sejak Minho jauh lebih sibuk. Bukan hanya Sooyoung, tetapi juga Heechul, Tiffany, Kibum hingga Luna juga melakukan hal yang sama. Semuanya pernah menjalin hubungan denganku dan semua merasakan kekecewaan yang sama. Apa kalian sedikit bingung dengan nama-nama tadi? Yah, mereka adalah para mantan kekasihku. Dan aku adalah biseks.

“Oppa! Lagi-lagi kau tidak mendengarkanku!” kali ini Sooyoung berdiri dari duduknya dengan geram lalu meninggalkanku sendirian.

*

When I’m with you..

We started as friend, then something happened inside me..

Ujian akhir sudah dekat. Aku harus belajar lebih giat agar bisa lulus dari universitas terkemuka tempatku belajar selama empat tahun itu.  Tapi aku selalu ada untuk Kyuhyun ketika ia membutuhkanku. Ia tidak butuh bimbingan saat belajar karena ia adalah mahasiswa yang cerdas. Ia hanya butuh teman bicara ketika ia sedang tidak bersama Changmin, kekasihnya.

Entahlah, awalnya aku justru bangga karena ia selalu datang padaku. Menceritakan hari-harinya bersama Changmin, seperti yang ia lakukan selama ini dengan kekasih-kekasihnya yang lain. Apa saja yang mereka lakukan hari itu, bagaimana mereka kencan, apa saja yang dibelikan Changmin untuknya, hingga bagaimana mereka bisa saling bercumbu walau belum sampai tahap bercinta atau.. yah, aku enggan menyebutnya, seks.

Namun akhir-akhir ini, aku sedikit kesal dengan cerita-ceritanya. Aku sendiri tidak tahu sebabnya. Dan entah mengapa ketika aku melihat siluet Kyuhyun memasuki pagar rumahku dari jendela, aku langsung berpura-pura tidur. Aku juga sering mematikan ponselku hanya karena aku enggan menerima pesan atau telepon darinya. Bukan apa, yang ia ceritakan hanya Changmin, Changmin dan Changmin, made me feel strange..

“Itu adalah hal yang wajar. Bukankah kini kau sedang sendiri, tidak mempunyai kekasih dan kau dibuat stress oleh ujian akhir yang semakin dekat. Jadi ketika kau mendengar cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau akan merasa jenuh.” Kata Donghae siang itu ketika aku, dia dan Yunho, sahabat-sahabatku tengah belajar materi ujian akhir bersama di café langganan kami yang terletak tak jauh dari kampus.

“Aku setuju. Stres akan ujian bisa membuatmu menjadi orang lain. Jadi kusarankan, ada baiknya kau sedikit bersantai. Atau pacari saja siapa pun agar kau bisa melampiaskan hasrat ehm.. seks yang terpendam..” kata Yunho seraya mengejek.

Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku mendengar kata-kata kedua lelaki tampan itu. Mereka memang benar, aku seharusnya tidak memikirkannya secara berlebihan. Tapi apa benar aku hanya merasakan hal ini karena stress ujian? Namun mengapa ada yang berbeda? Mengapa perasaanku berkata lain?

Semakin hari perasaanku semakin tak tergambarkan. Aku mulai memperbaiki penampilanku yang sebenarnya sudah baik, jangan salah sangka tapi memang aku suka berpenampilan rapi, menjadi lebih rapi lagi ketika ingin bertemu Kyuhyun. Aku mulai merahasiakan hal-hal kecil yang sekiranya akan membuatku tampak malu dan bodoh di depannya.

Aku mulai tidak banyak bicara ketika bersamanya, karena aku takut kata-kataku akan menyinggungnya atau malah membuatku jadi salah di matanya. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa jantungku mulai berdebar-debar saat ia menyentuhku atau menatap mataku. Atau bahkan hanya sekedar memanggilku “Siwon hyung” seperti biasa.

Hei, bukankah aku sudah melewatkan tahun demi tahun bersamanya? Mengapa aku bisa merasa aneh seperti ini? Ini tidak wajar. Mengapa aku merasa kalau.. aku takut kehilangan dirinya? Mengapa aku melihatnya dengan sudut pandang berbeda kini? Apa arti debaran itu? Apa arti hangatnya hatiku kala ia menggenggam tanganku? Apa aku.. mulai melihatnya sebagai lelaki, bukan lagi sahabat?

*

When I’m with you..

It came up without warning.. Everything was right, except my heart..

Seumur hidupku, aku sering melihat lelaki tampan. Ayahku, Yunho dan Donghae, Kibum, bahkan menurutku aktor Jung Woo Sung adalah lelaki paling tampan di seluruh dunia. Namun hari ini semua pemikiranku terbantahkan ketika melihat dirinya.

Bahkan malaikat pun tidak ada yang lebih tampan dari dirinya. Dengan balutan tuksedo putih, dasi kupu-kupu tersemat di lehernya, kulit putihnya yang sedikit kemerahan karena bahagia sangat serasi dengan warna karamel yang menyatu di rambutnya.

Segala keindahan di dunia ini, segala bentuk kesempurnaan yang pernah tercipta, berbaur secara alami di dirinya kini.

Lihatlah dirinya yang tak henti-hentinya tersenyum manis sedaritadi. Lihatlah bagaimana kebahagiaan yang datang di musim semi yang indah ini mampu membuatnya bahagia. Dan mungkin inilah kebahagiaan terbesar yang pernah ia miliki selama hidup di dunia. Betapa aku merasa bersyukur bisa melihat senyum itu selama ini.

“Jangan memandangku seperti itu, hyung..” katanya dengan wajah yang merona merah. “Kau membuatku.. malu..”

Aku segera tersadar dari lamunanku. “Ah.. Maafkan aku.. Kau tahu, aku sangat terkesima dengan penampilanmu hari ini.”

“Aku tahu aku tampan.” Katanya tak bisa menyembunyikan seringaian lebar itu. “Bahkan lebih tampan darimu.”

“Kau lebih tampan dariku.” Jawabku setuju. “Lebih tampan dari siapapun.”

“Sudahlah hyung.. Tolong jangan terus-menerus memujiku atau aku akan pingsan saat ini juga!”

Aku tertawa. Aku baru akan menjawab ketika ayahku masuk ke ruangan kami. “Gentlemen, it’s time. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian setelah prosesi selesai.”

Setelah ayahku keluar, aku berbalik menatapnya. “Apa kau siap sekarang?”

Kyuhyun meremas tangannya dengan gugup. Rona merah di wajahnya hilang sudah. “Aku.. Aku takut membuat kesalahan di luar sana, hyung.. Aku takut sekali emmbuat keluargaku dan dirimu malu.. Kau tahu, aku..”

Aku memegang kedua bahunya lalu menatapnya, memberi keyakinan. “Kau akan baik-baik saja, baby. Aku berjanji kau akan menyelesaikannya dengan baik. Kau adalah lelaki yang cerdas. Buatlah kami semua bangga padamu di luar sana.”

Kyuhyun memejamkan matanya beberapa saat lalu membukanya seraya menghembuskan nafas panjang. “Baiklah.. Aku siap.. Selama kau ada di sampingku, hyung, semua akan baik-baik saja..”

Dan akhirnya waktu yang telah dinantikan datang juga. Aku berdiri disini, menatapnya dengan penuh rasa bangga, penuh rasa sayang, penuh kebahagiaan. Ia berjalan pelan dengan ayahnya menuju ke altar suci tempat sesaat lagi pernikahan akan dilangsungkan.

Bagaimana aku bisa melewati prosesi terpenting itu, bagaimana aku bisa berada di podium kini dengan microphone di depanku, aku tidak tahu. Yang kutahu kini, aku harus bicara karena semua mata tengah memandangku.

“Hadirin yang terhormat.. Terima kasih telah datang dihari bahagia ini, membuat kebahagiaan semakin terasa lengkap di sini. Aku berdiri di sini, ingin berbicara mengenai seseorang yang terpenting dalam hidupku.”

Tanganku mulai terasa dingin. Hatiku berdetak lebih kencang. Sama seperti dirinya, ketika aku tengah lemah, hanya dengan melihatnya, bersama dengannya, membuatku terasa jauh lebih kuat.

“Cho Kyuhyun adalah adik, sahabat, dan keluarga bagiku. Kami melewati banyak hal bersama, baik suka dan duka. Saat senang kami saling berbagi, saat susah kami saling mendukung. Menjadikanku lebih kuat dan tegar menghadapi segalanya.”

Aku menatapnya, rona merah kembali menjalar di kedua pipinya. Tuhan.. betapa tampannya dia. Ia lalu menyembunyikan wajahnya di bahu ayahnya di sampingnya.

“Di hari yang bahagia ini, aku ingin berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukan kami. Sekaligus berdoa agar ia selalu dilindungi dan diberi kebahagiaan yang melimpah untuk kehidupan baru yang telah diresmikan dalam prosesi suci pernikahan yang sama-sama kita saksikan tadi.”

Semua pertanyaanku terjawab setelah tiga tahun yang panjang. Perasaanku yang sempat membuatku bingung akhirnya membuahkan sebuah jawaban. Ternyata aku mencintainya. Aku mencintainya lebih dari sekedar sahabat. Dan entah mengapa dengan kenyataan itu, aku semakin takut jika aku mengatakannya, ia akan marah karena aku telah menodai persahabatan yang tidak akan pernah kutukar dengan apapun di dunia ini.

“Tidak ada kebahagiaan yang bisa mewakili perasaanku kini. Segalanya sempurna. Bahkan mentari di luar sana bersinar jauh lebih cerah daripada hari-hari sebelumnya. Aku yakin alam pun turut bergembira karena hari besar ini. Hari pernikahan seorang Cho Kyuhyun.. Dengan pendampingnya Choi Seunghyun.”

Hatiku sakit menyebut nama Seunghyun. Lebih sakit lagi ketika melihat Kyuhyun kini melepaskan pelukannya dari ayahnya dan berganti memeluk mesra suaminya. Aku seringkali melihatnya tersenyum, tapi baru kali ini ia tersenyum begitu lebar, tertawa begitu lepas, seolah semua beban di hatinya sirnah. Dan sakit di hatiku semakin menjadi-jadi ketika menyadari bahwa bukan aku lelaki yang membuatnya seperti itu. Bukan aku yang berdiri di sampingnya saat ini dan menerima pelukannya.

“Choi Seunghyun adalah lelaki yang baik dan paling tepat untuk mendampingi Kyuhyun. Aku percaya ia akan menjaga Kyuhyun dengan baik dan memberikan segalanya untuk memenuhi kebutuhan Kyuhyun. Tidak ada orang lain yang lebih tepat selain dirinya. Seunghyun-ssi, ingat janjimu padaku, jangan pernah tinggalkan dan kecewakan Kyuhyun.”

Choi Seunghyun mengangkat satu jempolnya sementara tangan lainnya merengkuh tubuh pasangan hidupnya kini. Lihat? Segalanya sempurna, bahkan sakit hatiku pun sempurna. Bagaimana aku menahan nyeri yang menyerang hatiku selama dua tahun terakhir ketika Kyuhyun mulai mengencani Seunghyun, bagaimana aku berpura-pura tersenyum di depannya ketika ia menceritakan segalanya tentang kekasihnya itu dan bagaimana aku bisa menahan diri untuk tidak menyerang Seunghyun ketika Kyuhyun menangis karenanya.

“Kyuhyunnie.. Adikku.. Akankah aku melihatmu lagi setelah hari ini?”

Ia akan pergi ke Jerman bersama suaminya dan menetap di sana. Akankah aku melihat senyum itu lagi? Akankah aku melihat bibir indah itu bergerak-gerak lincah seperti yang selama ini aku saksikan? Akankah aku bisa menyentuhnya lagi walau hanya sedetik?

“Apa kau akan merindukanku? Karena aku akan sangat kesepian tanpamu.”

Aku sudah terbiasa bersamanya setiap hari. Ketidakhadirannya pasti akan terasa sangat kosong, seperti jauh dari ibumu padahal kau tengah duduk di ruang keluarga bersamanya.

“Apa kau akan baik-baik saja di sana?”

Aku mulai menangis. Aku bisa mengontrol kata-kataku, tapi tidak sakit hatiku. Semakin lama aku melihatnya, semakin sakit rasanya. Namun aku tidak berani memalingkan wajahku, karena ini adalah saat terakhir aku melihatnya. Dan dia juga menangis di sana, bahkan sepertinya airmatanya jauh lebih deras dariku.

Hei, apa yang kau lakukan, Siwon? Mengapa kau membuatnya menangis? Lihat, kau baru saja meruntuhkan kebahagiaannya.

Aku berusaha tersenyum walau hatiku menangis dan airmataku tetap mengalir tanpa henti. Ayahku sudah mulai mengusap-usap punggungku dengan sayang seraya menenangkanku. Aku hanya bisa mendengar ia mengerti perasaanku yang akan ditingalkan oleh sahabat sejati. Walau sebenarnya ia tidak mengerti bagaimana aku tersiksa dengan perasaan cinta ini.

“Kyuhyunnie.. Hyung sayang padamu.. Hyung benar-benar.. berdoa untuk kebahagiaanmu. Tolong jangan lupakan persahabatan kita.. Sering-seringlah memberi kabar dan.. kunjungilah kami di Seoul jika sempat.”

Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Segalanya di depanku tampak buram. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah bayangan putih yang berdiri tak jauh dariku, Kyuhyun.

“Jagalah kesehatanmu. Jangan tidur larut malam hanya karena menonton televisi. Dan jangan lupa meminum vitamin C karena kau paling gampang terkena flu. Ah.. Maafkan aku banyak bicara..”

Aku tidak sanggup lagi. Aku bahkan tidak tahu harus mengakhiri pidatoku ini seperti apa. Yang aku tahu, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin, melarikan diri dari tempat ini. meninggalkan segalanya di belakang. Tapi aku harus menyelesaikannya. Demi Kyuhyun. Demi menyelamatkan pestanya yang sudah ku rusak.

“Terima kasih telah datang ke kehidupanku. Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku. Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Tanpa menunggu lagi, aku segera berlari menuruni podium. Berlari kencang ke arah pintu keluar dan terus berlari tanpa arah tujuan. Udara dingin dengan angin sepoi menerpa wajahku. Akhirnya aku berhenti. Ketika aku menyadari bahwa aku berhenti di taman tempat aku dan Kyuhyun biasa menikmati waktu luang, kembali sakit di hatiku menyerang.

Aku menegadah dan melihat langit kelabu di atas sana. Kemana perginya mentari yang tadi bersinar cerah? Lalu setitik hujan turun diikuti dengan titik lainnya kemudian hujan turun menyerang. Aku membiarkan hujan membasahiku, berharap mereka membawa pergi sedihku ini, membuatku kembali menjadi Siwon yang tegar walau tanpa cahaya di hatiku.

Lalu aku mengingat kata-kata yang sering diucapkannya, ‘Kau adalah yang terbaik, hyung. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu. Namun, selama kau ada di sampingku, semua akan baik-baik saja..

Tapi aku tidak baik-baik saja, Kyu.. Tidak tanpamu.. Tidak akan pernah..

*

            “Hyung.. Siwon hyung..?”

Apa aku bermimpi? Ya, aku pasti bermimpi. Mimpi yang menyakitkan. Aku melihatnya di depan mataku. Bukankah seharusnya ia sudah pergi? Mengapa ia masih ada di sini?

“Hyung.. Apa kau bisa mendengarku?”

Aku mendengarnya bicara. Dan melihatnya! Ia bicara kepadaku dengan nada cemas. “Apa hanya karena hujan dan kelelahan kau jadi seperti ini? Sudah kukatakan jangan terlalu lelah mengurus pernikahan itu.”

Matanya merah dan sembab. Kedua orang tuaku ada di sana. Bahkan.. Seunghyun juga ada di sana. Ini bukan mimpi. Kyuhyun memang telah menikah dengan Seunghyun. Biar kutebak, mereka mencariku setelah keluar dari ruang pesta dan menemukanku yang pingsan di jalan dan membawaku kemari. Entahlah, sakit di hatiku justru bertambah karenanya.

“Siwonnie.. Apa kau baik-baik saja? Eomma sangat mengkhawatirkanmu.” Ibuku tampak sama cemasnya dengan Kyuhyun. Ayahku tengah bicara dengan dokter yang menanganiku. Aku kenal dokter itu, dia adalah rekan kerja ayahku.

“Dia baik-baik saja. Mungkin karena ia sempat terkena demam tinggi maka ia sedikit kebingungan.” Jawab ayahku meyakinkan ibuku.

Setelah beberapa saat keduanya berpamitan. Ayahku akan kembali bekerja dan ibuku akan beristirahat sebentar. Menurut dokter Kim, aku tidak sadarkan diri selama dua hari dan menderita demam tinggi.

“Kau baik-baik saja? Tidak seharusnya kau membuatnya cemas seperti itu.” kata Seunghyun kepadaku. Dagunya mengarah kepada Kyuhyun yang duduk di sebelah kanan sambil menggenggam tanganku.

Aku enggan menatap Kyuhyun yang terlihat kembali terisak pelan. Bukan apa, rasanya sakit sekali melihatnya menangis untukku sementara hatinya sudah milik orang lain. Mengapa aku harus sadar secepat ini? Mengapa mereka tidak pergi saja ke Jerman tanpa menungguiku seperti ini?

“Maafkan aku.. Sudah membuat kami cemas.. Aku.. Maafkan karena telah merusak acara sakral itu..” kataku terbata-bata.

Jujur saja aku nyaris menangis lagi jika mengingat hal itu. Walaupun aku ingin sekali melupakannya, namun bayangan Seunghyun memasangkan cincin ke jari manis Kyuhyun, ketika mereka saling bersumpah setia sehidup semati di hadapan Tuhan, ketika mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, ketika mereka berciuman.. Bagaimana mungkin aku bisa melewati hari-hariku jika mereka masih ada di depanku.

“Jangan lagi.. Jangan lagi kau membuatku cemas seperti itu, hyung. Aku nyaris gila karena memikirkanmu..” Kyuhyun masih terisak. Membuatku merasa bersalah.

“Kyuhyunnie.. Aku baik-baik saja sekarang. Aku sudah kembali. Bukankah.. Kalian akan ke Jerman? Jangan ditunda hanya karena aku. Sungguh.. aku..”

Seunghyun mengerutkan keningnya. “Kalian? Maksudmu, aku dan Kyu? Tapi.. Hanya aku yang akan berangkat, ingat? Aku dipindah tugaskan ke Jerman selama tiga tahun.”

“Tapi.. Tapi.. Mengapa kau meninggalkan Kyuhyun di sini sendirian?” tanyaku dengan nada tak mengerti. Mengapa ia meninggalkan orang yang dicintainya di sini? Mereka baru saja menikah, sudah seharusnya mereka tinggal bersama.

“Bukankah di sini ia punya kedua orangtua beserta dirimu? Tentu saja ia akan baik-baik saja.” Jawab Seunghyun acuh seraya meneguk air mineral yang ada di tangannya sedari tadi.

Bagaimana ia bisa sesantai ini? Kemarahan menguasai dadaku. Apa maksudnya ini? Setelah menikahi Kyuhyun kini ia akan meninggalkannya? Bagaimana mungkin aku sanggup melihat airmata itu lagi?

“Seunghyun-ssi.. Kalau tujuanmu untuk mencampakkan Kyuh..”

“MENCAMPAKKAN..???!!” Kyuhyun dan Seunghyun berseru bersamaan. Keduanya saling bertukar pandang dengan bingung.

“Siwonnie, apa kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu ku panggilkan dokter?” tanya Seunghyun. Wajahnya kini terlihat sangat cemas.

“Er.. Hyung.. Mengapa kau jadi berlebihan seperti ini?” tanya Kyuhyun.

“Kau pikir aku gila??!! Katakan padaku mengapa kau meninggalkan Kyuhyun setelah kau menikahinya!” aku tak tahan lagi. Tumpahlah semua kemarahan yang sejak tadi kutahan.

“MENIKAH??!!” kembali Kyuhyun dan Seunghyun berseru keras dengan bingung. Keduanya saling pandang lalu gentian memandangku.

“Ya, menikah! Kau menikahinya dan kini hendak meninggalkannya? Aku menghadiri pernikahan kalian! Aku salah satu bestman kalian. Ketika aku berbicara di podium, bukankah aku memintamu untuk berjanji menjaga Kyuhyun dengan baik dan kau mengiyakannya, bukan? Jangan pura-pura bodoh!”

Aku benci melihat wajah Seunghyun yang tampak shock seperti itu. Seolah-olah semua yang kukatakan tadi hanya omong kosong dan pernikahan tadi tidak ada artinya untuk dia.

“Aku? Me..menikahi Kyuhyun?” kini mata Seunghyun nyaris keluar dari rongganya.

“Ya! Hentikan!” jerit Kyuhyun keras. Membuatku terlonjak. “Hyung, ada apa denganmu? Mengapa kau bicara omong kosong seperti ini?”

Suaraku melembut ketika bicara dengan Kyuhyun. “Kyu.. Ada apa dengan pernikahan kalian? Mengapa Seunghyun..”

“Lagi-lagi pernikahan! Siapa yang menikah dengan siapa? Bagaimana mungkin aku menikahi kakak kandungku sendiri??!!”

Kini gentian aku yang terperangah. “Kakak kandung? Tapi.. Bukankah.. Ya! Choi Seunghyun, bagaimana..”

“Choi?? Aku bukan saudaramu, bagaimana mungkin aku bisa satu marga denganmu. Dan sejak kapan aku berganti marga? Aku masih tetap seorang Cho sampai sekarang! Ya! Apa kepalamu masih bekerja dengan baik? Kau ini sejak tadi bicara yang tidak masuk akal. Ada apa denganmu? Apa demam tinggi membuatmu lupa ingatan terhadap istrimu sendiri?”

Seunghyun menunjuk Kyuhyun yang menatapku dengan galak. Tunggu.. Seunghyun adalah kakak Kyuhyun? Lalu Kyuhyun adalah.. “Istriku?”

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di kepalaku. Kulihat tangan Kyuhyun nyaris berayun lagi di udara ketika aku masih bereaksi dengan aneh.

“Kalau memang semua ini benar, lalu pernikahan siapa yang kuhadiri?” tanyaku bingung.

Seunghyun meringis. “Aku akan memanggil dokter sekarang. Kyu, cobalah pukul terus kepalanya, siapa tahu penyakit bodohnya hilang. Mana mungkin ia melupakan pernikahan sahabat baiknya, Donghae, sedangkan ialah yang paling sibuk mempersiapkan semuanya sejak beberapa bulan lalu?”

PLAKK!

Tamparan kedua di kepalaku membuatku pusing. Pandanganku serasa berputar-putar bahkan sedikit gelap.

“Katakan sekali lagi kalau aku adalah istri kakakku dan aku akan meninggalkanmu sendirian, hyung! Kau ini menyebalkan sekali!” Kyuhyun mengomel dengan galak sementara semuanya tampak jelas perlahan.

Bagai film, semuanya tampak jelas di kepalaku. Bagaimana aku dan Kyuhyun akhirnya saling mengakui perasaan masing-masing setelah ia putus dengan Changmin, bagaimana kami melalui dua tahun masa berpacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikat janji setia, bagaimana kami menikah tahun lalu dan.. bagaimana kami menjodohkan Donghae dengan rekan kerja Kyuhyun, Eunhyuk.

“Baby..”

“Hyung..” Kyuhyun mendekatiku. “Kau baik-baik saja? Maaf aku memukulmu, aku..”

Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.. Kurasa.. Aku hanya bermimpi buruk dan kehilangan akal sehatku sesaat. Maafkan aku..”

Kyuhyun menarik nafas lega karenanya. Ia lalu memelukku erat. “Syukurlah kau sudah kembali, hyung.. Aku cemas sekali. Kukira kau hilang ingatan dan semacamnya..”

“Maafkan aku.. Sekali lagi maaf.. Aku tidak bermaksud membuatmu cemas seperti ini.” aku lalu mendaratkan ciuman-ciuman kecil di pipi dan keningnya. “Bahagia rasanya karena kita telah bersatu.”

“Tolong jangan pernah bertingkah seolah aku milik orang lain, hyung. Karena melihatmu menyangkalku benar-benar membuatku sakit.” Katanya dalam nada manja seperti biasa.

“Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji.” Kataku seraya meraih dagunya, mendekatkan wajah kami berdua dan mulai menyentuh bibirnya yang selalu kukagumi. Ketika aku akan melumat bibirnya, pintu kamar rawatku dibuka dengan keras.

Cho Seunghyun, dokter Kim, ayah dan ibuku menyerbu masuk dengan tatapan luar biasa cemas. Ketika mereka melihat adegan yang tersaji di hadapan mereka, ketiganya menatap Seunghyun dengan curiga.

“Percayalah padaku.. Aku tadi melihat Siwon.. Ya, Kyu.. Bantu aku..”

Aku dan Kyuhyun hanya bisa tertawa melihat ketiga orang itu mengomeli Seunghyun. Senang rasanya melihat semua ternyata hanya mimpi. Walau hanya sebentar, aku benar-benar tidak ingin mimpi seperti itu kembali lagi. Biarlah terkubur dengan masa lalu. Saatnya menyongsong masa depan dengan Kyuhyun. Ahh.. betapa aku mencintainya..

***

wonkyu00

E.N.D

School Time

Title                :  School Time (1st teaser of the MBIAG’s sequel)

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Main Cast      : Baekhyun

Other Cast     : Yunho, Kyuhyun, Je Hoon, TOP, Donghae, Suho, and others

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary       : Akhirnya Baekhyun akan masuk sekolah, bagaimana reaksi para lelaki ini?

 

Mentari pagi bersinar cerah. Langit biru terlihat bersih tanpa awan. Burung-burung bernyanyi menyambut musim semi yang indah itu. Dari balik jendela di lantai dua di sebuah rumah mewah bergaya modern, terlihat seorang anak lelaki berumur tujuh tahun tengah tertidur pulas. Sinar mentari yang jatuh di wajahnya melalui kaca jendela sepertinya tidak mengusiknya sama sekali.

Tak lama kemudian seorang lelaki muda berparas manis memasuki kamar itu lalu tersenyum. “Aigoo.. Tidurnya lelap sekali. Aku tidak tega membangunkannya.”

“Ini adalah hari yang bersejarah untuknya, baby. Hari dimana ia akan menginjakkan kaki di sekolah untuk pertama kalinya.” Jung Yunho ikut masuk ke kamar itu lalu duduk di tempat tidur, tepat di samping kepala anaknya berada.

Cho Kyuhyun tersenyum. “AKu tahu, hyung. Aku masih ingat semalam betapa bersemangatnya ia menyiapkan peralatan sekolahnya dan tidak mengijinkan siapapun menyentuh ranselnya. Ia bahkan terus-menerus membelai seragam sekolahnya dan mengeluh mengapa pagi hari datang terlalu lambat.”

Keduanya tertawa seraya menatap satu-satunya buah hati mereka, Jung Baekhyun, yang masih tertidur pulas.

“Baekki.. Chagi.. Bangun sayang.. Sudah pagi.” Kyuhyun membelai rambut anaknya penuh sayang seraya mencoba membangunkannya.

“Hmmmmm..” Baekhyun hanya mengeliat bak anak kucing tanpa membuka matanya ataupun menjawab.

“Bukankah hari ini Baekhyunnie mau ke sekolah? Hari pertama sekolah tidak boleh terlambat, chagi.”

Mata Baekhyun sepenuhnya terbuka ketika mendengar kata ‘sekolah’. Dengan cepat ia langsung bangun dari tidurnya dan melompat turun dari tempat tidurnya.

“Appa.. Eomma.. Baekki mau mandi.. Sekolah.. Baekki mau sekolah..” ujarnya sambil melompat-lompat riang.

Kyuhyun tertawa lalu berpura-pura cemberut. Tangannya bersedekap di depan dadanya. “Mana ciuman selamat pagi untuk eomma dan appa?”

Baekhyun menyeringai lalu menghampiri kedua orang tuanya, menghadiahkan ciuman kecil di pipi keduanya lalu kembali melompat-lompat dengan tak sabar. “Cepat appa, Baekki mau ke sekolah.”

“Baiklah, kau akan mandi dengan appa sementara eomma akan menyiapkan sarapanmu. Let’s go buddy.” Kata Yunho seraya merentangkan tangannya.

Baekhyun menyambut rengkuhan ayahnya lalu melompat ke dalam pelukan hangat itu.

*

            Baekhyun menyantap sarapannya dengan lahap hanya karena eomma-nya mengatakan bahwa gurunya akan terkesan dengan anak yang pandai karena menghabiskan makanannya. Hal yang sama terjadi ketika ia akan mengenakan sepatunya. Ia melakukannya sendirian, bahkan ia mengikat tali sepatunya dengan benar. Lagi-lagi hal ini terjadi karena hasutan dari sang eomma yang mengatakan kalau ia akan dipuja oleh teman-temannya jika ia bisa mengikat tali sepatunya dengan benar.

Dan Baekhyun menelan semua kata-kata itu seperti ia menelan susunya pagi ini. Ia sama sekali tidak curiga kalau hal itu hanyalan alasan Kyuhyun agar membuat anaknya lebih mandiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit ketika Baekhyun sudah siap berangkat. Mereka bisa saja pergi jam tujuh pagi karena sekolah akan di mulai pukul delapan nanti. Tapi Baekhyun bersikeras ingin menjadi orang pertama yang sampai di sekolah sebelum anak-anak lainnya.

Berkali-kali ia mencuri pandang ke arah kaca jendela mobil mewah ayahnya untuk memastikan bahwa ia sudah terlihat tampan dan rapi.

“Narsis sekali.” Bisik Yunho pada Kyuhyun ketika dilihatnya Baekhyun sekali lagi menyisir rambutnya menggunakan jari-jari kecilnya dan merapikan pakaiannya sekali lagi.

“Tentu saja. Ia mengingatkanku pada seorang lelaki yang selalu mengecek penampilannya semenit sekali setiap akan keluar dari rumah. Sifatnya itu pasti menurun pada anakku.” Balas Kyuhyun sambil melirik suaminya.

Yunho tahu, dirinya lah yang disindir oleh Kyuhyun. Karena seperti itulah yang terjadi ketika ia hendak keluar rumah, tidak berhenti berkaca dan memastikan penampilannya sudah sempurna.

Tiba-tiba beberapa mobil mewah muncul di halamannya. Pintu-pintu mobil itu terbuka bersamaan dan dari dalamnya muncul orang-orang yang sangat dikenalnya : Je Hoon dan Seung Hyun di mobil pertama, Donghae dan Suho di mobil kedua, Geun Suk dan In Ah di mobil terakhir. Hanya Ji Sub dan Wonbin yang absen hari ini karena mereka berada di New York sejak dua hari lalu.

Wajah-wajah tampan mereka terlihat mengantuk tapi anehnya mereka tidak tampak lelah. Sebaliknya, mereka justru terlihat sangat ceria. Dan seakan tidak melihat Kyuhyun dan Yunho, mereka menyerbu si kecil Baekhyun.

“Baekhyunnie.. Ini hari pertamamu pergi ke sekolah. Wah kau tampan sekali.” Puji Yoo Ah In seraya mengacak rambut si kecil.

Bukannya senang atas pujian itu, Baekhyun justru menjerit. “Ya! Ahjussi! Jangan mengacak rambutku. Baekki sudah menyisirnya dengan rapi.”

“Jangan marah Baekki. Nanti ketampananmu hilang. Aku akan memperbaikinya.” Suho melangkah ke samping Baekhyun lalu menata kembali rambut halus itu dengan jari-jarinya.

“Kami semua kemari untuk mengantarmu ke sekolah.” Kata Donghae.

Geun Suk mengiyakan. “Benar. Kami ingin melihatmu masuk ke gerbang sekolah. Bahkan kami juga akan menjemputmu sepulang sekolah.”

“Jangan!”

Keenam lelaki itu menoleh. Ternyata Kyuhyun lah yang berbicara.

“Maksudku, jangan menjemputnya beramai-ramai seperti itu.”

Protes-protes langsung terdengar.

“Ya! Mana mungkin kami tidak diijinkan menjemput Baekki?”

“Dia sudah seperti anakku sendiri.”

“Aku akan tetap menjemputnya, tidak peduli kau akan melarang atau tidak.”

Yunho mengangkat tangannya, memberi isyarat agar yang lainnya tenang. Setelah keenam lelaki itu diam, barulah ia bicara. “Maksud Kyuhyun bukan kalian tidak boleh menjemputnya. Boleh saja, tapi tidak beramai-ramai. Kalian boleh mengatur schedule siapa yang akan menjemputnya setiap hari. Jadi setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama.”

“Benar.” Kyuhyun menambahkan. “Karena jika kalian menjemputnya beramai-ramai, akan terlihat aneh. Dia hanya anak biasa, bukan anak presiden atau anak spesial lainnya. Aku tidak mau ia justru mendapat ledekan dari teman-temannya karena hal ini.”

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan menjemputnya bergiliran. Tapi hari ini, karena ini adalah hari pertamanya bersekolah, tolong biarkan kami mengantar dan menjemputnya.” Kata TOP yang langsung diiyakan dengan anggukan dari Yunho.

“Dan kalau kau mengatakan Baekhyun hanya anak biasa, kau salah. Ia sangat spesial untuk kami. Dan untuknya kami rela memberikan apa saja, bahkan nyawa sekalipun.” Kata Je Hoon tajam.

Kyuhyun benar-benar terharu dibuatnya. Ia tidak akan khawatir lagi kalau begini. Baekhyun dicintai oleh para pamannya. Sudah pasti ia akan dilindungi kapan dan dimanapun ia berada.

“Appaaaa… Kenapa kita belum juga berangkat?” Tanya Baekhyun dengan cebikan khas di bibirnya.

“Kita berangkat sekarang chagi, kemarilah, naik ke mobil.” Kata Yunho seraya membukakan pintu mobil untuk putra semata wayangnya itu.

“Tunggu. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan langsung pada Baekhyun.” Kata Geun Suk.

Dahi Kyuhyun berkerut. “Apa itu?”

Keenam laki-laki itu mendekati Baekhyun yang sudah berdiri di antara kedua orang tuanya alih-alih menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Baekki, ini adalah jam tangan perekam. Kau bisa merekam suara melalui jam tangan ini dan hasilnya sangat jernih, seperti mendengarkan seseorang bicara langsung di telingamu.” Kata Je Hoon seraya melingkarkan sebuah jam tangan mungil di pergelangan tangan kiri Baekhyun.

“Ini adalah pena melarikan diri. Tekan tombolnya dan ujungnya akan mengeluarkan tali tipis yang sangat kuat yang lalu mencari sasaran sebagai penyangga. Kau tinggal memegangnya erat-erat dan pena ini akan membawa dan menyelamatkanmu di situasi-situasi tertentu.” Kata Ah In lalu memasukkan pena tersebut ke dalam ransel Baekhyun.

“Kalau yang ini adalah kalung pengintai yang dilengkapi dengan video recorder berdurasi dua jam. Kau cukup memakainya setiap hari lalu mengaktifkannya di saat-saat tertentu. Ia akan merekam apa saja yang ada di depanmu.” Kali ini Geun Suk memberikan hadiahnya. Baekhyun dengan senang hati memakai kalung berliontin senapan itu ke lehernya.

“Bubuk ajaib. AKu sendiri yang meramunya. Lemparkan sedikit saja kepada seseorang dan ia akan sedikit buta karenanya hingga jika kau dalam kesulitan, ia tidak bisa mengejarmu.” TOP memberikan hadiahnya dengan hati-hati. Bubuk ajaibnya di tempatkan di sebuah botol plastik kecil lalu di letakkan di kantong sebelah kiri ransel Baekhyun.

“Aku butuh tahu dimana kau berada setiap saat, Baekki. Jadi kapanpun kau tidak bersama kami atau kedua orang tuamu, tolong pakailah selalu cincin ini. Ini adalah alat pelacak terbaik. Jangan sampai hilang, ne?” Donghae menyematkan sebuah cincin mungil ke jari tengah Baekhyun, jari yang cukup aman menurutnya dibanding jari lainnya mengingat posisinya di tengah.

“Dan yang ini adalah dariku.” Kata Suho seraya menyerahkan sebuah benda berbentuk kotak, remote control dengan layar kecil. “Mungkin orang-orang akan melihatnya sebagai game controller, tapi fungsinya adalah sebagai senter sekaligus laser.”

Baekhyun sedikit terkejut dengan pemberian semua ahjussi-nya yang secara tiba-tiba itu. Terlebih ketika wajah appanya berubah sedikit cemas.

“Teman-teman, untuk apa memberinya barang-barang seperti itu? Kita tidak lagi dalam masa perang bukan? Lagipula, bisa jadi Baekhyun salah menekan tombol dan terjadi hal-hal yang justru sangat tidak kita inginkan.”

Lee Je Hoon dengan cepat menanggapi. “Mencegah kemungkinan buruk itu jauh lebih baik daripada menghambat. Kami hanya memberinya barang-barang sederhana yang sekiranya nanti dapat ia pakai sebagai pertahanan.”

Yoo Ah In mengangguk setuju. “Benar, kita tidak tahu apa yang akan terjadi bukan? Hanya mencegah kemungkinan buruk.”

“Lagipula..” Donghae menambahkan. “Aku yakin Baekhyun sangat mengerti fungsinya dan ia akan menggunakannya secara bijaksana.”

“Dia masih terlalu kecil. “ sanggah Kyuhyun. “Dia belum mengerti apa maksud kalian semua. Dia hanya menerimanya sebagai hadiah dari keluarganya.”

“Tujuh tahun dia tumbuh di lingkungan kita, Kyu. Walaupun ia tidak pernah melihat kita membunuh atau melukai seseorang, tapi dia adalah anak yang cerdas. Aku sangat yakin kalau Baekhyun sangat mengerti seperti apa kita semua.” Kali ini TOP yang angkat bicara.

Namun perkataan para ahjussinya memang benar. Baekhyun adalah anak yang sangat cerdas. Sifat dan bakat gangster secara tidak langsung sudah menurun kepadanya. Ia memang tidak pernah melihat pertempuran. Ia hanya mendengar bisik-bisik juga beberapa peralatan para pengawalnya itu juga betapa seriusnya para penjaga di sekeliling rumahnya. Belum lagi sikap appa-nya yang selalu serius ketika mengajarinya ilmu bela diri. Ia sudah tahu dari dulu bahwa ini bukanlah keluarga biasa.

“Baekki mengerti. Baekki tahu pekerjaan appa dan ahjussi. Tapi Baekki tidak takut, Baekki sangat bangga. Kalau sudah besar nanti, aku ingin ikut appa dan ahjussi berperang.” Kata Baekhyun dengan lantang.

“Ooopss..” kata Baekhyun seraya membekap mulutnya. “Baekki lupa, mulai hari ini Baekki akan memanggil semua ahjussi dengan sebutan uncle. Karena kata appa kalian semua masih muda. Dan samchon untuk Suho dan Donghae ahjussi, eh maksudnya samchon. Lagipula semua sudah berbaik hati memberikan Baekki hadiah.”

“Mengapa kami dibeda-bedakan seperti ini?” protes Je Hoon. “Harusnya semua menjadi uncle atau samchon.”

“Suho dan Hae samchon adalah paman Baekki.” Baekhyun mempertahankan argumennya.

“Tapi Donghae bukan pamanmu.” Kata Yoo Ah In dengan iri.

“Tapi teman baik eomma. Jadi Donghae ahjussi akan jadi Donghae samchon.”

“Mana bisa seperti itu?”

“Ya! Baekhyunnie, ini tidak adil!”

Kembali protes-protes terdengar. Mau tidak mau Yunho memutuskan untuk berhenti menonton dan langsung turun tangan.

“Baekhyunnie, semuanya sayang padamu dalam porsi yang sama. Semuanya rela mempertaruhkan nyawa untuk Baekki. Jadi, untuk apa ada perbedaan?” tanya Yunho lembut.

Baekhyun mengembungkan kedua pipinya. “Arasso.. Semuanya akan jadi uncle kalau begitu.”

Gumanan lega langsung terdengar dimana-mana.

“Lagipula uncle lebih gampang, appa. Geun Suk uncle, lemparkan senjatanya, ada musuh disana. Dor dor dor!” seru Baekhyun riang seraya memperagakan adegan menembak ke sembarang arah.

“Tidak akan ada peperangan.” Sahut Kyuhyun kesal. “Cepat naik ke mobil atau kau akan terlambat ke sekolah.”

Baekhyun hanya bisa menurut dengan cemberut.

*

Sekolah dasar tempat Baekhyun akan menimba ilmu ke depannya itu bisa dikatakan sebagai yang terbaik di Seoul. Dengan para pengajar handal, kurikulum terdepan disertai fasilitas lengkap, biaya yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat ini tidak sedikit.

“Huaaa… appa.. sekolah Baekki besar sekali.. Baekki suka.” Jerit Baekhyun riang ketika ia sudah turun dari mobil.

“Kau suka? Semua yang terbaik ada di sini. Tugasmu di sini adalah bersenang-senang, bermain dan berteman sebanyak-banyaknya. Tapi jangan melupakan tugas utamamu untuk belajar dan menjadi yang terbaik.” Kata Kyuhyun seraya memeluk buah hatinya itu.

“Pasti eomma. Baekki akan mengalahkan semua anak di kelas. Baekki harus jadi ketua kelas.” Kata Baekhyun dengan bangga.

“Tapi kau tidak boleh sombong, ne? Harus selalu mendengarkan gurumu dan menjaga teman-temanmu.”

“Tentu, Baekki ingin punya teman seperti teman-teman appa.”

Yunho tersenyum melihat anaknya yang penuh semangat itu. Ia kemudia berjongkok di depan Baekhyun dan menatap anaknya dengan serius.

“Baekhyunnie, hari ini adalah hari bersejarah yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Isilah dengan hal-hal berarti. Hari ini adalah pertama kalinya kau bersekolah, bertemu teman baru atau bahkan sahabat baru, dan sendirian tanpa kami semua selama enam jam kedepan. Buatlah appa dan eomma bangga. Jadilah anak baik.”

Baekhyun melintangkan tangan kanannya di depan dadanya, seperti mengambil sumpah suci, ia berkata dengan serius. “Baik appa. Baekki akan menuruti semua kata-kata appa dan eomma.”

Kedua orang tuanya bergantian memeluknya.

“Ayo kita masuk.” Kata Kyuhyun lalu meraih jemari kecil Baekhyun.

Ketiganya bergerak memasuki halaman sekolah, begitu juga keenam lelaki di belakang mereka.

“Ya! Mengapa kalian ikut masuk? Nanti kalian akan menakuti anak-anak lain di dalam. Lagipula akan menjadi pertanyaan mengapa Baekhyun diantar beramai-ramai seperti ini.” protes Kyuhyun ketika menyadari para lelaki itu mengikuti mereka hingga ke depan kelas Baekhyun.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau hari ini adalah pengecualian?” TOP dengan cepat membalas protes Kyuhyun.

Kyuhyun baru akan meladeni TOP ketika seseorang mendekat. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mata bersinar ramah menghapiri mereka.

“Oh.. cantik sekali..” goda Yoo Ah In.

“Hai.. Mentari pagi.. Namamu pasti Sunny..” kali ini godaan keluar dari bibir Geun Suk.

Yunho langsung melemparkan pandangan memperingatkan. Bukan hanya karena wanita itu adalah wanita asing yang harus dihormati melainkan juga karena ia mencegah Baekhyun mendengar hal ini.

Para lelaki itu langsung diam. Mereka tidak ingin hari pertama Baekhyun ke sekolah jadi kacau hanya karena si kecil mengamuk.

“Anneyong haseyo.. Perkenalkan, namaku adalah Seohyun. Aku adalah wali di kelas ini.” kata gadis muda itu seraya menunjuk ke kelas yang akan menjadi kelas Baekhyun nantinya.

Yunho dan Kyuhyun mengangguk bersamaan, memberikan salam pada Seohyun lalu memperkenalkan Baekhyun padanya seraya berdoa gadis muda itu akan tahan terhadap sikap Baekhyun nantinya, siapa tahu Baekhyun tidak menepati janjinya untuk bersikap baik. Mengingat pada saat pre-school yang dilakukan di rumah saja sudah membuat gurunya nyaris menangis setiap hari. Mungkin ia akan mengundurkan diri andai Kyuhyun tak terus menerus menahannya dengan menaikkan bayarannya.

“Jadi, namamu adalah Baekhyun? Selamat datang. Rupanya banyak sekali orang yang menyayangimu, terlihat dari banyaknya yang mengantarmu saat ini.” kata Seohyun lagi, melirik kumpulan lelaki tampan yang mengantar Mr. Jung cilik.

“Ahjuss.. maksudnya uncle hanya ingin melihat kelas Baekki.” Jawab Baekhyun malu-malu. Tepat pada saat itu, bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.

Seohyun mengangguk. “Baiklah, karena bel sudah berbunyi, artinya Baekhyun harus segera masuk kelas.”

Kyuhyun tahu, ini saatnya melepaskan anaknya untuk sementara. Ia pasti akan sangat merindukan Baekhyun yang nakal dan menggemaskan selama beberapa jam kedepan. Dan ia pasti akan merasa sangat kesepian mengingat ia sudah terbiasa melihat Baekhyun di sekitarnya.

“Rumah pasti akan terasa sangat sepi. Pertama tanpa kau, hyung, karena kau harus bekerja. Sekarang anak kita akan bersekolah.” Kata Kyuhyun sedih, berusaha keras menahan tangisnya. Ia sendiri sudah berhenti bekerja sejak ia melahirkan Baekhyun.

“Jangan sedih, kau bisa jalan-jalan atau bersantai sejenak. Mulanya akan terasa aneh, lama-lama kau akan terbiasa.” Yunho menenangkan istrinya dengan mengusap lembut pundak Kyuhyun.

“Apa ia akan baik-baik saja? Apa uang yang kita berikan cukup untuk membeli makanan di kantin? Apa bekal yang disiapkan bisa membuatnya bertahan? Apa teman-temannya akan bersikap baik padanya?” tanya Kyuhyun ketakutan. Ia masih menggenggam erat jemari kecil Baekhyun, belum rela melepaskannya.

“Baby.. Ia akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Ia adalah anak kita bukan, ia sudah kuat sejak kecil. Jadi, sekali ini, percayalah padanya.” kembali Yunho menenangkan Kyuhyun.

Setelah mendengar kalimat suaminya,  barulah Kyuhyun mau melepaskan genggamannya.

“Appa.. Eomma.. Uncle.. Baekki akan masuk ne? Jemput Baekki sepulang sekolah, ne?” kata Baekhyun dengan suara lemah. Semua tahu, Baekhyun nyaris menangis saat ini. Tapi ia berusaha keras terlihat gembira agar tidak ada yang khawatir terhadapnya.

“Baekhyun-ah, ayo masuk..” panggil Seohyun yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk. Hanya Baekhyun yang tersisa di luar kelas.

Baekhyun melangkah pelan meninggalkan rombongan yang mengantarnya. Air mata Kyuhyun langsung jatuh melihat anaknya melangkah pergi. Langkah Baekhyun terasa sangat berat. Ketika selangkah lagi ia mencapai Seohyun, ia berbalik ke belakang dan melihat wajah-wajah cemas di sana. Dengan cepat ia berlari dan memeluk semua pengantarnya satu persatu. Dan betapa leganya ia karena bebannya terasa ringan kini.

Dengan riang ia berkata. “Sampai jumpa semua, Baekki akan melakukan yang terbaik hari ini.” kemudian ia kembali berlari ke arah wali kelasnya lalu keduanya menghilang ke dalam ruang kelas.

*

“Eommaaaaaaaaa… Appaaaaaaaaaa…” jerit Baekhyun riang ketika melihat kedua orang tuanya menjemputnya sepulang sekolah. Ia memeluk keduanya bersamaan. Kedua tangan kecilnya dikalungkan di leher kedua orang tuanya.

“Baekhyunnieeeee..” jerit para uncle dengan tak kalah riangnya.

“Uncleeeee… Wah, semuanya menjemput Baekki. Semuanya menepati janji. Yeaahhhhh..” jerit riang sekali lagi terdengar dari bibir kecil Baekhyun.

“Nah, bagaimana rasanya ke sekolah untuk pertama kalinya?” tanya Kyuhyun.

“Semuanya menyenangkan, eomma. Teman-temanku, guruku, lapangannya besar sekali, kami tadi bermain bola setelah makan siang. Dan bahkan makanan disini semuanya enak.” Kata Baekhyun berapi-api.

“Lihat kan? Ia baik-baik saja. Kau hanya perlu percaya padanya, baby.” Kata Yunho pada Kyuhyun. Ia lalu berpaling pada anaknya. “Lalu, apa kau mendapatkan teman baru?” tanya Yunho.

Baekhyun menepuk dahinya. “Oh, Baekki lupa. Sebentar..”

Anak kecil itu berlari ke balik tembok sebentar lalu muncul dengan anak lelaki lain. Anak itu terlihat malu-malu ketika Baekhyun menariknya. Ia terus menunduk, menghindari tatapan-tatapan para penjemput Baekhyun, terutama para uncle Baekhyun.

“Appa, eomma, uncle, ini adalah teman sebangku Baekki. Dia sangat baik. Tadi kami bertukar bekal dan membeli minuman bersama. Ia juga menyukai es krim cokelat. Namanya adalah Kyungsoo, Jo Kyungsoo.” Baekhyun memamerkan sahabat barunya.

“Halo, Kyungsoo..” sapa Kyuhyun dengan ramah. Tapi si kecil Kyungsoo tidak mengangkat wajahnya. Ia masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Kyungie. Appa, eomma dan uncle Baekki semuanya baik. Mereka akan sayang juga pada Kyungie.” Bisik Baekhyun dengan lembut.

Yunho mengangkat alisnya. ‘Kyungie? Baekhyun bahkan sudah memanggil Kyungsoo dengan nama kecilnya? Betapa mudahnya anak-anak saling dekat, tidak seperti orang dewasa yang membutuhkan proses.

“Tidak apa-apa, Kyungsoo.. Aku adalah appa Baekhyun. Kemarilah.” Pelan-pelan Yunho berjongkok lalu meraih jemari kecil Kyungsoo dan menariknya lebih dekat padanya dan Kyuhyun. Di sebelahnya, Kyuhyun ikut berjongkok.

Dengan ragu Kyungsoo mengangkat wajahnya. Wajah anak itu berbentuk oval dengan pipi gempal dan mata besar yang bersinar malu-malu. Ia mirip dengan Baekhyun, kecuali mata dan bibir keduanya. Mata Kyungsoo berbentuk bulat sedangkan mata Baekhyun lebih kecil dan menyipit. Bibir Kyungsoo berbentuk hati dan berisi sedangkan bibir Baekhyun lebih tipis. Disamping itu, keduanya cukup mirip.

Saat itu juga, entah mengapa, hati Yunho dan Kyuhyun menghangat. Perasaan ketika melihat Kyungsoo sama seperti melihat Baekhyun, penuh rasa sayang.

“Aku terlalu merindukan mempunyai anak lagi hingga aku langsung jatuh cinta ketika melihat Kyungsoo. Oh, dia manis sekali, hyung..” Bisik Kyuhyun pada Yunho.

“Kita sepemikiran, baby. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kau tahu sendiri bagaimana reaksi Baekhyun kalau kita akan memberinya adik.” Yunho ikut berbisik di telinga istrinya.

“Kyungie.. Apa aku boleh memanggilmu, Kyungie?” tanya Kyuhyun.

Jo Kyungsoo mengangguk.

“Kau manis sekali.” Kyuhyun tidak tahan lagi, ia mendaratkan cubitan gemas di kedua pipi Kyungsoo. Membuat sang pemilik pipi bersemu merah.

“Kau benar-benar manis, Kyungie. Orang tuamu pasti sangat sayang padamu.” Kata Yunho seraya mengacak rambut Kyungsoo.

Bahkan rambutnya pun sangat bagus.’ Kata Yunho dalam hati, mengagumi sahabat anaknya itu.

“Nah, Kyungie, itu adalah uncle yang aku ceritakan.” Tunjuk Baekhyun seraya menunjuk para unclenya yang sedaritadi menunggu untuk dikenalkan.

Ia lalu membawa Kyungsoo mendekat pada uncle-uncle nya lalu mengenalkan mereka satu persatu dengan bangga. Seperti biasa, Baekhyun akan sedikit bersikap bossy di depan para uncle-nya.

“Kyungsoo..”

Yunho menoleh, seorang lelaki jangkung berambut pirang berdiri disana, menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sama seperti miliknya.

“Krisss….”  Kyungsoo berlari ke pelukan sang lelaki jangkung. Barulah Kyuhyun dan Yunho bisa melihat Kyungsoo bersikap santai. Ia bahkan tersenyum lebar.

“Halo.. Kami adalah orang tua Baekhyun, teman sekelas Kyungsoo.” Kata Yunho memperkenalkan diri.

“Halo.. Aku Kris. Aku adalah paman Kyungsoo. Senang berkenalan dengan kalian. Maaf, kami tidak bisa lama-lama, aku masih ada urusan setelah ini.” kata lelaki jangkung alias Kris itu.

“Tidak sopan sekali.” Bisik Je Hoon dengan kesal. Walaupun ia tertarik dengan gaya berpakaian Kris yang hampir sama dengan caranya dan TOP berpakaian.

“Seolah kita akan menculik Kyungsoo. Lihat caranya memegang anak itu.” Donghae ikut berbisik.

“Tapi anak itu manis sekali.” Kata Suho dengan pandangan memuja.

“Ya! Kami sedang membicarakan pamannya!” hardik Geun Suk.

“Ah, tidak masalah. Kami mengerti. Nah, sampai jumpa lagi, Kyungsoo, Kris. Hati-hati di jalan.” Terdengar Yunho menjawab dengan sopan.

Setelah membungkuk hormat dan melambai pada Baekhyun, Kyungsoo dan Kris berbalik pergi. Anak itu terlihat senang sekali, ia bahkan melompat-lompat riang sambil berjalan.

“Ia pasti menceritakan apa saja yang ia lalui di sekolah hari ini. Ah, aku suka sekali pada anak itu.” kata Kyuhyun, masih tetap memandang sosok Kyungsoo hingga anak itu menaiki mobil mewah berwarna hitam di depan sana.

“Nah, ayo kita pulang.” Kata Kyuhyun seraya menarik Baekhyun ke mobil, diikuti para lelaki yang ikut menjemput Baekhyun hari itu.

Yunho baru akan ikut berbalik ketika dilihatnya TOP berdiri mematung menatap ke depan. Di sampingnya, Yoo Ah In memegang lengan TOP dengan keras, ekspresinya sama dengan ekspresi orang di sebelahnya.

Yunho mengikuti arah pandangan keduanya dan mendapati seorang lelaki bertampang dingin keluar dari salah satu ruangan di sekolah yang tampaknya seperi ruang guru. Lelaki itu awalnya tidak menyadari tatapan TOP maupun Ah In, namun sebelum berhenti di samping mobil sport-nya, ia menoleh lalu tersenyum dingin.

“Nickhun..” bisik TOP. Wajahnya pucat karena shock sedangkan ia sendiri masih mematung di tempatnya. Lain lagi dengan Ah In yang memandang sosok yang bernama Nickhun itu dengan penuh kebencian.

Di sana, lelaki yang bernama Nickhun itu berdiri. Masih dengan senyum dinginnya, ia menatap TOP dan Yoo Ah In. Tiba-tiba lelaki lain keluar dari dalam mobil sport itu, ikut menatap kedua anggota klan Naga itu dengan seringaian mengerikan.

Bahkan Yoo Ah In kini terbelalak. “G-Dragon?”

Nickhun? G-Dragon? Siapa mereka?’ pikir Yunho. Dan entah mengapa, tiba-tiba perasaannya memburuk.

*

yunkyubaek-mbiag2

           To Be Continued..

 

The sequel of My Boyfriend is A Gangster (MBIAG) will be released very soon after the second teaser. Don’t miss it..!

 

 

 

 

 

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..

Obsession – Teaser

Proloque

 

Apakah suatu saat ia akan melihatku?

Apakah suatu hari nanti ia akan menyadari,

Bahwa selama ini aku ada dan hidup untuk mencintainya?

Apakah ia akan mengerti perasaanku?

 

Sia-sia kuteriakkan cintaku,

Sia-sia ku lindungi harapanku.

Rasanya sungguh menyakitkan,

Ketika cinta pertama tidak pernah menemukanku.

 

Ketika harapanku musnah,

Ketika tak tahu lagi harus bertahan atau pergi,

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa

Meminta padaNya untuk diberi kekuatan dan jalan terbaik

 

Jika nanti suatu hari kita bertemu lagi,

Maukah kau memberiku kesempatan?

Maukah kau setidaknya memberiku satu tanda,

Bahwa penantianku tidak sia-sia..?

 

 

 

The Casts :

 

Cho Kyuhyun

kyuhyun OBS

Choi Minho

choi minho OBS

Shim Changmin

Changmin OBS

Lee Jonghyun

Jonghyun OBS

Yoon Doojoon

Doojoon OBS

Choi Seunghyun (TOP)

TOP OBS

Lee Donghae

Donghae OBS

Ok Taecyeon

Taecyeon OBS

 

 

Jung Yunho

Yunho OBS

 

 

Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

 

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

To Be Continued..

Behind the Mask

Title                 : Behind the Mask

Starring          : Cho Kyuhyun, Cho Jino, Kim Jungmo, Anonymous chara.

Pair                  : Crack pair, 2Hyun.

Genre              : Ficlet, Romance, Brothership, Fluff, Typo(s)

Rate                 : T

Author            : Maccihato94

Disclaimer     : No conflict. Crack pair. Don’t like don’t read. No bash.

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya malam ini. Ia bosan. Jengah. Dan mirisnya, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kebosanan yang tengah ia rasakan. Terlebih lagi si tersangka yang membuatnya terjebak dalam situasi kali ini malah meninggalkannya seorang diri setelah bocah itu bertemu dengan namjachingu-nya.

Jika bukan karena Jino, namdongsaeng-nya yang terus mendesaknya. Sekarang ia pasti sedang menghabiskan waktu berharganya untuk memainkan PSP kesayangannya dengan bergelung dibawah selimut hangat miliknya. Tidak seperti saat ini yang malah terjebak dalam ruangan besar yang penuh sesak dengan manusia asing -menurutnya-.

Demi semua koleksi kaset game miliknya. Ia paling tidak suka berada di tengah keramaian orang-orang asing. Ia tipe anti-sosial. Dan keberadaannya di prom nite kali ini merupakan salah satu bencana untuknya. Catat itu baik-baik. BENCANA!

            Awas kau Cho Jino! Ancamnya dalam hati.

Dengan kesal ia melepas topeng yang ia kenakan dan membuangnya sembarangan. Melangkahkan kakinya menuju tempat yang setidaknya membuat ia sedikit leluasa menghirup udara segar. Namun langkahnya seketika terhenti kala ia merasakan sebuah tangan asing menyentuh pundaknya.

“Would you dance with me?”

Namja manis itu membalikkan tubuhnya. Menaikkan sudut alisnya bingung. Dia mengajakku berdansa? Apa dia gila?

Tiba-tiba lampu padam. Di gantikan oleh sinar lampu temaram dan alunan musik yang mengalun lembut memenuhi ruangan tersebut. The Blue Danube.

Belum sempat kata penolakkan Kyuhyun lontarkan. Namja bertubuh tinggi tegap itu menggenggam tangannya. Menariknya lembut menuju lantai dansa dan bergabung dengan beberapa pasangan yang tengah berdansa.

Ia bisa saja menolak. Namun entah kenapa saat tangan namja bertopeng itu kini melingkar di pinggangya, ia merasa penolakannya akan berakhir sia-sia.

“Aku..aku tidak bisa berdansa.”

Meskipun gelap, Kyuhyun masih bisa melihat bibir namja tersebut melengkung membentuk sebuah senyuman tipis. Dan ia bersumpah, senyum tersebut terlihat sangat menawan.

“Kau bisa menumpukkan kakimu padaku. Aku yang akan menuntunmu.”

Perlahan namja tersebut mengangkat pinggang Kyuhyun sedikit dan menumpukkan kaki Kyuhyun di kakinya sendiri

“Ap..apa kakimu tidak sakit?” tanya Kyuhyun. Pertanyaan bodoh yang sialnya baru ia sadari setelah kata itu meluncur dari bibirnya.

Namja yang bahkan Kyuhyun tidak ketahui namanya itu meraih kedua tangannya. Melingkarkannya disekeliling lehernya.

“Tidak masalah asal itu kau.” Ucap namja dengan rambut bercat dark white itu singkat.

Mendengar jawaban itu membuat Kyuhyun sedikit terpesona. Ruangan yang awalnya terasa bising penuh dengan celotehan dan obrolan ratusan manusia, kini terasa khidmat dengan instrumen lagu klasik yang mengalun lembut.

Kyuhyun yang masih berdansa atau lebih tepatnya mengikuti gerakan namja asing tersebut, mencoba mengamati wajah yang tersembunyi dibalik topeng berwarna ungu yang hampir menutupi sebagian wajah laki-laki dihadapannya.

Sebenarnya dalam hati Kyuhyun masih menerka-nerka siapa sebenarnya sosok yang tengah menjadi pasangannya. Ia bukan tipe orang yang suka bergaul. Dan lagi ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang ada selalu berada disekelilingnya selama ini. Namun, entah kenapa kali ini ia ingin sekali mengetahui sosok dibalik topeng tersebut.

Tubuhnya tinggi tegap. Rahangnya terlihat kokoh membingkai garis wajahnya yang tegas. Tidak bisa dipungkiri bahwa namja bertopeng itu terlihat tampan. Dan ia sontak menundukkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu. Menyadari sepasang mata tajam dihadapannya menatap lurus padanya.

Apa dia mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya?

“Butuh waktu lama untuk aku bisa menunggu moment seperti ini.”

Kyuhyun mendongak. Dan matanya kembali bertumbukan dengan mata tajam itu, namun ia mencoba mengabaikan tatapan yang sejenak membuatnya gugup.

“Apa maksudmu?”

Namja itu membawanya melangkah dengan gerak tariannya yang teratur. Menuju tengah lantai dansa dengan pandangan mereka yang belum juga terlepas.

“Sudah lama aku memperhatikanmu. Tapi baru kali ini aku bisa berbicara denganmu.”

Oke. Jangan salahkan Kyuhyun jika saat ini ia berpikiran kalau namja yang ada dihadapannya ini adalah seorang stalker.

Gerakan mereka mulai melambat. Bahkan mereka kini hanya menggerakkan kedua kakinya secara perlahan menyerupai sebuah langkah-langkah kecil.

“Kau bahkan jauh lebih manis jika dilihat dari jarak sedekat ini.” bisik namja asing itu dengan suara bass rendahnya.

Kyuhyun baru menyesali tindakannya yang telah melepas topeng yang ia kenakan. Paling tidak topeng merah yang beberapa saat lalu ia buang itu bisa sedikit menyembunyikan rona yang serupa dengan warna topeng miliknya yang kini muncul dikedua pipinya.

Shit! Ini benar-benar memalukan! Rutuknya seraya menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang kini telah memerah sempurna. Cukup lama ia menundukkan kepalanya untuk menghindari sorot mata yang seolah mengintimidasinya yang ia yakini masih terus berlanjut. Sorot mata yang seolah mengirimkan getaran lembut di sepanjang tulang belakangnya.

Kakinya terus bergerak pelan mengikuti gerakan lembut namja yang belum ia ketahui namanya tersebut. Tanpa sadar ia mengeratkan kedua tangannya dileher jenjang namja misterius itu. Meletakkan kepalanya di dada bidang yang terbalut jas hitam dihadapannya. Bahkan kini ia dapat menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya yang anehnya membuatnya merasa terbuai karena nyaman.

“You look so beautiful, Cho Kyuhyun. You…”

Kyuhyun terkesiap. Bukan. Bukan karena sorot lampu yang tiba-tiba menyala dan membuatnya silau ataupun suara tepuk tangan yang menggema disekitarnya. Ia mematung ditempatnya berpijak bahkan saat namja tersebut perlahan melepaskan diri dari pinggangnya dan memberikan senyuman penuh arti miliknya. Melangkah menjauh darinya.

Meninggalkannya seorang diri ditengah ruangan dan menjadi pusat perhatian bagi seluruh undangan pesta. Butuh beberapa saat bagi Kyuhyun untuk kembali pada kesadarannya sebelum ia merasakan sebuah sodokan yang cukup keras mengenai lengannya.

“Hyung! Kau benar-benar membuatku iri!” Pekik Jino menggerakkan kedua pundak hyungnya dengan brutal. Mengabaikan tatapan penuh kecemburuan yang dialamatkan kekasihnya, Jungmo, padanya.

Kyuhyun mengerjapkan matanya. “A..apa maksudmu, Jino-ah?” Ucapnya terbata. Efek dari masa transnya yang belum pulih.

“Kau benar-benar namja beruntung karena bisa berdansa dengannya, Kyuhyun Hyung!”

“Dia? Dia siapa maksudmu?”

Jino mempoutkan bibirnya. Sementara Jungmo hanya menahan senyum melihat interaksi dua bersaudara di hadapannya itu.

“Aigo,hyung. Kau tidak tahu siapa yang menjadi pasanganmu tadi? Dia itu sunbae tampan yang di idolakan oleh seluruh yeoja maupun namja di universitas kita.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Masih belum menangkap siapa maksud dari orang yang dibicarakan oleh adiknya.

Jino memutar bola matanya kesal, “Ini pasti karena pribadimu yang terlalu tertutup bahkan sampai kau tidak mengenali idola di kampus kita, hyung. Dia itu sunbae dari jurusan Teater dan Film tingkat 6. Namanya Seung Hyun. Choi Seung Hyun atau biasa dipanggil TOP.”

“Seung..Hyun..?” Gumam Kyuhyun sedikit ragu.

Sementara Jino hanya mengangguk dengan semangat.

Kyuhyun membeku ditempat. Seung Hyun. TOP. Bukankah..bukankah dia adalah namja yang dikenal dengan pribadinya yang dingin serta tatapan tajamnya yang menusuk. Namja yang dikagumi oleh teman-teman dikampusnya bahkan oleh adiknya sendiri. Tapi..tapi bagaimana ia bisa mengetahui namanya?

Lalu ingatannya kembali memutar pada saat namja bernama TOP itu membisikkan sesuatu yang bahkan masih bisa ia dengar dengan jelas diantara suara gemuruh tepuk tangan orang-orang disekitarnya.

“You look so beautiful, Cho Kyuhyun.You will be mine.”

Kyuhyun tersadar kembali saat ia merasakan getaran ponsel yang berada di saku jas yang ia kenakan. Ia mengerutkan keningnya saat mendapati sebuah pesan dari sebuah nomor asing yang terpampang di layar smartphonenya.

            Aku menunggumu. Malam ini.
Gedung kesenian. Pukul 22.30 p.m.
TOP

TOP-KYU

END