Heart Without Home – Chapter 5

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 5

 

Kyuhyun masih memandangi Kyungsoo yang tengah menghabiskan suapan terakhir dari makanan di piringnya. Anak itu tampak tidak berselera. Andai saja bukan karena Kyuhyun yang memohon padanya, mungkin ia tidak akan menyentuh apapun di piringnya.

“Kau sudah selesai?” tanya Kyuhyun yang dibalas oleh anggukan kecil dari Kyungsoo. Kyuhyun lalu membereskan meja makan kecil itu kemudian meletakkan piring kotor di sebuah wastafel yang sama kecilnya.

Ia ingin mencucinya saat itu juga namun niatnya terhenti ketika mendengar isakan kecil. Kyuhyun berbalik dan mendapati Kyungsoo tengah terisak. Ia buru-buru duduk di samping pria yang jauh lebih muda darinya itu lalu mendekapnya penuh sayang.

“Kyungsoo, berhentilah menangis. Kumohon, kau membuatku ikut sedih.”

“Aku.. Aku merindukan mereka semua. Rumahku, orang tuaku, kedua saudara ku, kampung halamanku..”

Tidak ada yang bisa mereka lakukan saat ini selain bertahan karena perintah pimpinan mereka sudah jelas, jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Mereka harus menunggu hingga Yunho, Taecyeon dan Yuri atau bahkan ketiganya datang menjemput.

Masih teringat dengan jelas malam itu ketika dirinya juga Kyungsoo, Kris dan Minho harus berpisah dengan sahabat-sahabat mereka. Seumur hidup mereka selalu bersama namun kini mereka harus terpisah karena akan sangat mencurigakan ketika sekelompok orang mendatangi kota besar dengan pengetahuan terbatas mengenai kota. Selama ini para wanita yang berbelanja untuk keperluan desa mereka hanya melakukannya di pinggiran kota. Wajar kalau sisa penduduk cukup asing dengan kota besar.

Apalagi kemungkinan bahwa mereka diikuti oleh musuh, walau kemungkinannya sangat kecil, membuat mereka harus berpencar agar tak tertangkap. Lagi pula bagaimana mungkin kelompok Heglog atau Drygioni bisa muncul di kota dengan penampilan aneh mereka, bukan? Namun mereka adalah kelompok-kelompok licik yang bisa saja melakukan segalanya agar bisa memusnahkan Gyfraddia hingga ke akarnya.

Hingga saat ini saja, setelah seminggu mereka tinggal di kota, Kyuhyun masih belum tahu bagaimana kabar yang lain. Apa kelompok kedua berhasil selamat? Apa Yunho beserta Yuri dan Taecyeon baik-baik saja? Bagaimana hasil pertempuran itu? Bagaimana nasib Gyfraddia selanjutnya? Ia tidak tahu menahu dan nyaris gila karena memikirkannya.

Namun ia tetap percaya pada sang Alpha. Lelaki itu pasti menepati kata-katanya. Walau Kyuhyun dan yang lain harus menunggu selama sepuluh tahun, Yunho pasti akan datang. Cepat atau lambat.

“Hyung.. Apa Kris dan Minho bisa mendapatkan pekerjaan itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Ia sudah berhenti menangis.

Kyuhyun tersenyum. “Aku tidak tahu. Tapi mari berharap mereka bisa mendapatkannya. Kita butuh uang untuk bertahan hidup di sini, bukan?”

Mereka bukannya tidak mempunyai uang. Mereka punya banyak sekali. Gyfraddia bukan bangsa miskin, melainkan cukup kaya dengan penjualan hasil bumi seperti sayur mayur dari ladang mereka, tambang juga kerajinan khas serta obat-obatan tradisional. Hasil dari semua itu ditabung bersama di satu lumbung tersembunyi. Siapa pun yang mendapati lumbung itu, bisa dipastikan akan menjadi milyuner seketika.

Ketika para wanita dan anak-anak Gyfraddia pergi, mereka mengambil setengah dari isi lumbung. Sedangkan para Eifre mengosongkan isinya ketika mereka akan ke kota, atas permintaan sang Alpha sekaligus Arweinydd sendiri.

Tapi mereka tidak boleh mengandalkan uang itu sekarang. Walau jumlahnya sangat banyak, bagaimana jika Yunho dan yang lainnya tak kunjung muncul setelah bertahun-tahun? Lagipula tidak adil rasanya membelanjakan uang yang merupakan milik bangsa Gyfraddia hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Maka mencari pekerjaan adalah jalan satu-satunya saat ini.

*

Jongin hilang. Gikwang dan Hoya sudah berusaha menyisir area selatan yang menuju langsung ke dalam hutan untuk mencari petunjuk di mana gerangan saudara mereka yang satu itu. Sedangkan Sandara dan Yonghwa bertugas mencari di sekitar kota.

Mungkin kata ‘hilang’ bukan kata yang tepat untuk ketidakhadiran Jongin saat ini. Tapi ‘terpisah’. Kota bukanlah tempat yang cocok untuk mereka. Terlalu banyak orang berlalu lalang yang dirasa sangat asing untuk mereka, bangunan-bangunan tinggi, dan kendaraan beroda di mana-mana.

Ketika mereka berusaha mencari pekerjaan dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya Jongin tiba-tiba sudah menghilang. Karena keramaian kota saat itu, mereka langsung kehilangan jejak salah satu anggota dalam kelompok mereka. Dan karena posisi Jongin sebagai yang termuda, membuat kecemasan mereka menjadi-jadi.

Yonghwa yang menjadi benar-benar tertekan karena ia lalai menjaga amanat Yunho. Ia seharusnya menjadi pimpinan diantara kelompok kecil yang ikut bersamanya dan kini ia harus kehilangan Jongin.

Kecemasannya semakin bertambah karena Sandara mulai menangis. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya di luar sana? Kita saja yang sudah cukup dewasa masih merasa takut di kota besar seperti ini, apalagi Jongin yang masih belum dewasa sepenuhnya? Ia bahkan belum tujuh belas tahun.”

Sudah berhari-hari mereka kehilangan kontak dengan para Eifre yang lain. Mereka saling merindukan satu sama lain tentunya. Jika saja mereka diijinkan berubah wujud, mencari Jongin bukanlah hal yang sulit. Namun kata-kata pimpinan mereka sudah jelas, mereka dilarang keras berubah wujud. Penduduk kota bisa saja membunuh mereka jika mengetahui hal ini karena dianggap bisa membahayakan nyawa mereka.

*

“Kris!”

Langkah lelaki jangkung itu terhenti sesaat. Ia lalu menoleh ke belakang. “Ada apa, Soo?”

Kyungsoo tidak balas menatapnya. Ia justru terpaku di tempatnya, menatap lurus ke seberang jalan.

Kris mendekati kekasihnya itu lalu mengelus helaian rambut Kyungsoo dengan sayang. “Kyungsoo, apa yang tengah kau lihat?”

Satu lengan Kyungsoo terangkat. Jarinya menunjuk ke seberang jalan. “Aku melihat Jongin..”

Kris menoleh ke seberang jalan dengan cepat, mencoba mencari kebenaran kata-kata Kyungsoo. Tapi sejauh mata memandang, ia tidak mendapati sosok Jongin sama sekali.

“Apa kau yakin, Soo?”

Kyungsoo mengangguk. “Tapi.. Tapi ia tidak bersama yang lainnya. Ia bersama seorang lelaki tua.. Dia..”

“Kris, ada apa?” Kyuhyun dan Minho baru saja keluar dari sebuah toko kelontong. Keduanya bertanya apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan di sana dan sang pemilik toko dengan ramah menerima keduanya bekerja di sana.

“Kyungsoo bilang ia melihat..”

“JONGIN!” kyungsoo menjerit keras lalu berlari cepat menyebrangi jalanan yang ramai dilewati banyak kendaraan.

“KYUNGSOO!!!” Minho, Kyuhyun, dan Kris ikut menjerit lalu menyebrang, mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang ternyata sangat cepat.

“Kyungsoo, tunggu..” Minho berseru keras tapi Kyungsoo seolah tidak mendengar, ia terus berlari.

Kyungsoo sudah berlari melewati blok demi blok. Ketika sampai di jalan satu arah, ia turun ke jalan raya dan berlari mengikuti mobil van berwarna biru gelap.

“Jongin.. Jongin… Tidak.. Jangan bawa dia.. Jongin..”

Langkah kakinya terhenti. Dadanya nyaris pecah karena terlalu lama berlari dengan kecepatan tinggi. Andai saja ia boleh berubah wujud, mungkin ia bisa dengan mudah mengikuti mobil sialan itu.

“Kyungsoo.. Jangan pergi seperti itu lagi. Kau membuatku takut kehilangan dirimu.” Kata Minho dengan napas memburu yang sama.

“Soo.. Jangan lagi.. Jangan lagi kau tinggalkan aku seperti itu. Kemarilah..” Kris sudah merangkul Kyungsoo dari belakang seraya membenamkan wajahnya ke tengkuk sang kekasih.

Kyuhyun menggenggam jemari Kyungsoo. Dengan sabar ia bertanya. “Kyungsoo, ada apa? Benarkah kau melihat Jongin? Di mana dia?”

Detik berikutnya Kyungsoo menangis. “Hyung.. Jongin.. Dia dibawa oleh lelaki tua di mobil itu.. Jongin ketakutan.. Jongin.. Tolong dia..”

Ketiga rekannya terpaku seketika.

*

“Kita tidak boleh terus seperti ini. Kita harus mencari jalan keluar tercepat untuk menemukan Jongin dan mencari yang lainnya.” Kata Gikwang dengan gelisah. Ia terus berjalan mondar-mandir di dalam ruang tamu di rumah sederhana yang ia dan kawan-kawannya sewa sejak mereka tiba di kota.

“Kita harus memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Kita harus memikirkan semuanya secara seksama.” Ujar Yonghwa, menimpali kegelisahan Gikwang.

“Tapi bagaimana jika kita bergerak lambat dan kita semakin sulit untuk mencari Jongin?” tanya Hoya penuh ragu.

“Kita harus menemukannya sebelum Alpha menjemput kita. Kita tidak boleh sedikit pun memberitahunya bahwa kita kehilangan anggota termuda kita.” Kata Sandara yang terlihat paling cemas.

Wajar saja, ia adalah anak Junjin, sang Arweinydd terdahulu, karena sekarang jabatan itu telah diambil alih oleh sang Alpha. Dan sang Alpha sendiri adalah kakak kandungnya, Yunho.

“Kita sudah kehilangan sebagian besar keluarga kita. Lalu Jiyoung Syr belum kembali bersama Alpha juga Taecyeon dan Yuri. Kita tidak tahu bagaimana kabar mereka semua saat ini, begitu juga dengan para Eifre yang lain. Dan sekarang kita harus kehilangan Jongin. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan hal ini kepada Arweinydd?” Sandara sudah terisak kecil.

Yonghwa mendekat lalu mendekap erat tubuh sang kekasih yang tengah terisak itu. Ia tidak pernah menginginkan hal seperti ini terjadi, namun apa daya? Mereka diharuskan tinggal di kota besar di mana mereka sama sekali tidak pernah menginjakkan kaki di tempat asing seperti itu sebelumnya.

Ia sendiri masih memikirkan bagaimana cara mencari jejak Jongin tanpa berubah menjadi serigala sekaligus kata-kata yang harus ia susun agar sang Alpha sekaligus Arweinydd nya mengampuni kelalaiannya karena ia bertugas sebagai pemimpin saat ini.

*

Yunho menatap pilu desanya yang hancur berantakan dari kejauhan. Sudah lebih dari sebulan yang lalu api dan asap di mana-mana, rumah-rumah penduduk hancur, mayat bergelimpangan di tanah. Jangan tanyakan bagaimana hutan yang mereka kagumi selama ini, pohon-pohon tumbang, bahkan danau kebanggan mereka pun ikut tercemar dengan banyaknya mayat serta darah.

Setelah perang itu, pejuang Gyfraddia yang tersisa menguburkan mayat-mayat, membersihkan desa mereka yang suci serta berdoa untuk semua yang telah pergi.

Jika memikirkan kembali apa yang terjadi dalam beberapa waktu lalu, ingin rasanya ia membunuh dirinya sendiri. Dalam satu malam ia sudah kehilangan ayah, saudara, keluarga, dan teman-temannya sendiri. Ia merasa gagal sebagai pemimpin.

Kekalahan besar ada di pihak mereka. Drygioni dan Heglog yang dibantu oleh kawanan troll kini bisa berbangga hati menyerukan kemenangan mereka dan mengambil alih semua daerah kekuasaan Gyfraddia. Apa yang selama ini mereka jaga dan pertahankan, akhirnya direbut juga oleh musuh. Tiada lagi yang tersisa.

Masih teringat jelas malam itu, ketika para pejuang Gyfraddia semakin sedikit, mereka terpaksa harus mundur atau mereka bisa mati. Walau Gyfraddia bukan lawan yang bisa diremehkan, tapi tetap saja mereka kalah jumlah.

Jika saja bukan Jinyoung Syr yang menariknya mundur, atau bukan karena Taecyeon yang nyaris mati karena racun mematikan dan bukan karena Yuri yang menangis memohon padanya untuk ikut, ia mungkin sudah mati di arena perang malam itu karena bersikeras untuk terus berperang, walau tubuhnya sendiri sudah terluka cukup banyak di beberapa tempat.

Dan ia lebih memilih mati dari pada melihat apa yang selama ini ia pertahankan hancur begitu saja untuk dendam lama yang berujung perebutan kekuasaan. Para wanita, orang tua dan anak-anak telah bersembunyi dengan baik, mereka tidak akan kekurangan dan kelaparan karena tempat yang telah disiapkan sangat dekat dengan sumber kehidupan. Tapi bagaimana nasib para Eifre?

Sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkannya. “Berhentilah memikirkan yang sudah berlalu.”

Yunho menoleh dan mendapati Yuri tengah memandangnya dengan tatapan iba. Gadis kuat itu lalu tersenyum meyakinkan, tapi tetap saja Yunho merasa tidak lebih baik.

“Aku merasa bersalah..”

Yuri menggeleng. “Jangan berkata seperti itu. Jika pertempuran itu memang harus terjadi, artinya memang sudah tidak bisa dihindari lagi. Kumohon, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Yuri benar. Tidak ada gunanya menyesali yang telah berlalu.” Taecyeon sudah muncul di antara mereka. Dengan lengan yang diikat kain dan memar di sekujur tubuhnya, kondisinya tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

“Bagaimana lukamu?” Tanya Yunho.

Taecyeon menggerakkan tangannya sedikit. “Aku baik-baik saja. Luka-lukaku sudah hampir kering dan kain bodoh ini sudah bisa dibuka.”

“Jangan berkata seperti itu.” Sanggah Yuri cepat. “Kain-kain itulah yang menyelamatkan nyawamu.”

Taecyeon hanya tersenyum simpul. “Aku tahu. Nah, kurasa Jinyoung Syr sudah sampai di tempat tujuannya.”

“Kupikir juga begitu. Semoga semuanya baik-baik saja di sana.” Kata Yuri seraya memandang ke satu titik yang tadinya dilalui oleh Jinyoung.

Jinyoung memang pergi bersama sisa prajurit dan Rhyfel milik Gyfraddia. Ia harus menemui para sisa penduduk desa mereka yang tengah bersembunyi dan memberi tahukan kabar terbaru mengenai suku mereka. Walau menyakitkan, tapi kebenaran harus diungkapkan. Sedangkan Yunho, Taecyeon dan Yuri harus ke kota, mencari para Eifre yang tersebar.

Alpha.. Maksudku.. Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Taecyeon diikuti anggukan kecil dari Yuri.

“Kita bergerak besok pagi sebelum matahari terbit. Karena kita tidak boleh bertransformasi selama di kota, maka hari ini kita harus benar-benar mempersiapkan diri. Semoga kita tidak butuh waktu lama untuk menemukan dan mengumpulkan semua Eifre kembali.”

*

Yunho, Yuri dan Taecyeon berjalan pelan memasuki area kota. Ketiganya sudah cukup jauh berjalan. Walau rasa lelah menguasai ketiganya, namun mereka tetap melangkahkan kaki menuju ke tempat tujuan.

Karena transformasi adalah larangan, maka ketiganya berjalan kaki menyusuri jalan-jalan kota yang walaupun masih terlalu pagi namun kegiatan sudah dimulai di sana sini. tampaknya memang sebutan kota yang tidak pernah mati memang benar.

Berdasarkan petunjuk Jinyoung sebelumnya, ketiganya kini sampai di sebuah rumah yang sangat besar dengan pekarangan rindang. Rumah itu adalah milik Junjin, mendiang Arweinydd terdahulu yang juga adalah ayah Yunho. Ia memang sengaja membangun rumah di kota agar suatu saat, jika hal-hal tidak diinginkan terjadi, rumah itu bisa sangat berguna untuk anak-anaknya.

Yunho sedikit kecewa karena Jinyoung tidak memberitahukan mengenai rumah ini lebih awal hingga bisa saja dipakai oleh kelompok Kyungsoo atau pun kelompok Sandara. Namun Jinyoung mengatakan bahwa saat itu tidak ada waktu untuk menjelaskan.

Lagi pula, jika mereka semua berkumpul di satu tempat, mereka bisa saja ketahuan karena kemungkinan bagi suku Drygioni dan Heglog yang suka menyusup di malam hari bisa menemukan mereka. Berencara adalah jalan terbaik. Di samping itu, jika mereka mengetahui rumah persembunyian itu, maka akan susah untuk mereka bersembunyi selama memulihkan kondisi.

Ketiganya tidak beristirahat dengan lama. Mereka bisa beristirahat kapan saja. Menemukan para Eifre saat ini jauh lebih penting dari pada beristirahat. Setelah makan siang seadanya, mereka kembali menyusuri jalan-jalan kota yang ramai untuk menemukan sahabat-sahabat mereka.

Kyungsoo.. Sandara.. Dimana kalian? Apa kalian baik-baik saja?’ bisik Yunho dalam hati. Matanya menerobos kerumunan para pejalan kaki, berusaha mencari-cari sosok yang ia kenal dengan baik. Namun sejauh mata memandang, ia hanya melihat orang-orang tak di kenal.

“Yuri, ada apa?”

Yunho berhenti melangkah. Ia menoleh ke belakang, tampak Taecyeon sedang memegang lengan Yuri yang tengah menatap lurus ke seberang jalan. Yunho jadi ikut-ikutan memandang ke arah itu.

Tampak beberapa orang berkerumun, terutama gadis-gadis muda. Mereka menjerit-jerit riang seraya memotret dengan ponsel mereka.

“Tidak mungkin!”

Sebelum Yunho dan Taecyeon mencerna kalimat Yuri, gadis itu sudah berlari ke seberang jalan. Kedua lelaki yang bersamanya tidak punya pilihan lain selain mengikuti jejak gadis berjulukan Black Pearl itu.

Cukup sulit menerobos kerumunan gadis-gadis yang ternyata cukup kuat itu. semakin didesak, gadis-gadis itu semakin bertahan. Tak sedikit yang mengumpat atau dengan kasar mencaci mereka yang berusaha untuk ikut melihat apa yang tengah terjadi di depan sana.

“Minggir, tolol! Kau sudah terlalu tua untuk hal-hal seperti ini!” bentak gadis cantik bertubuh langsing kepada Yuri.

Yuri tidak menjawab, ia hanya menghujamkan tatapan tajamnya kepada gadis itu. Alhasil gadis itu langsung terdiam seribu bahasa dengan ekspresi wajah takut. Yunho dan Taecyeon jadi menahan tawa karenanya. Tentu saja Yuri tampak sedikit lebih tua dari pada gadis itu, usia Yuri sudah 25 tahun sedangkan gadis itu tampaknya masih sangat muda. Tujuh belas tahun saja belum.

Adegan saling dorong semakin kencang. Membuat Yunho dan Taecyeon harus berdiri tegak karena mereka tidak mungkin mendorong gadis-gadis itu. Lain dengan Yuri yang keras menyikuti gadis di kanan kirinya agar bisa sampai di garis depan. Setelah perjuangan beberapa detik, sampailah ketiganya di garis depan, dimana beberapa lelaki kekar menghalangi mereka untuk maju lebih jauh, melindungi seorang lelaki muda yang tengah berjalan diiringi beberapa bodyguard.

“KAAIIII…!!!” jerit gadis yang berdiri tepat di samping Yunho. Ia tampak histeris sekaligus nyaris pingsan karena terlalu senang.

“KAII.. KAIIII.. LIHATLAH KEMARI.. AKU MENCINTAIMU.. KAIII..!!!”

“KAI OPPAAAA…!!!”

Yuri terkesiap. “Kai?”

Taecyeon dan Yunho ikut terkejut melihat lelaki muda yang tengah berjalan di depan mereka itu. Ia tampak tersenyum malu seraya melambai-lambaikan tangannya ke semua arah, membuat penggemarnya nyaris pingsan karenanya.

“Jongin???” bisik Yunho tak percaya.

“Tidak mungkin.. Jongin.. Mengapa dia..” belum selesai Taecyeon berbicara, Yunho dan Yuri sudah menerobos para lelaki kekar di depan mereka. Yuri lalu menyambar lengan Jongin sedangkan Yunho mencegat langkah anggota termuda mereka itu.

“Jongin! Apa yang kau lakukan di sini? Dimana yang lain?” tanya Yuri.

“Kau ikut dalam rombongan Sandara, bukan?” tanya Taecyeon yang sudah berhasil mengejar kedua rekannya.

“Hei! Siapa kalian? Minggir!” beberapa tangan langsung menarik ketiganya dengan keras. Yuri langsung berontak, berusaha melepaskan pegangan seorang lelaki di lengannya, sementara Taecyeon langsung menghadapi dua lelaki kekar. Yunho sendiri berhasil berkelit dan kembali mencegat Jongin yang sudah akan menaiki mobilnya.

“Jongin! Mengapa kau ada di sini? Dimana yang lain? Katakan padaku. Mengapa kau bersama orang-orang ini?”

Sang lawan bicara berhenti melangkah sejenak, ia memandang Yunho dengn heran lalu tersenyum sopan.

“Siapa kalian? Aku Kai, bukan Jongin. Dan aku tidak mengenal kalian..”

“Apa? Kau tidak mengenal kami? Jongin! Sadarlah! Aku..”

“YAH! Siapa kau! Pergi, jangan ganggu Kai. Penggemar jalam sekarang sudah mulai berani macam-macam.” Sahut salah satu lelaki paruh baya seraya mendorong Jongin masuk ke mobil.

“JANGAN BAWA DIA!” raung Yunho marah. Namun sebelum dia menyentuh pintu mobil, sebuah genggaman keras mendarat di atas tangannya.

“HENTIKAN!” sebuah suara pemilik tangan itu menggelegar di telinganya.

Yunho mengenali suara itu. Dengan cepat ia menoleh dan mendapatkan wajah tak asing tengah menatapnya tajam tanpa senyum sedikit pun.

“HUAAAA MINHO OPPA JUGA ADA.. MINHOO OPPAAAA..!!!”

Yunho sedikit lega karenanya. Akhirnya ia menemukan satu lagi diantara mereka. “Minho.. Itu Jongin, mengapa..”

“Tolong bersikaplah sedikit sopan. Aku mengerti kau menggemari Kai. Terima kasih atas dukungan terhadap adikku. Tapi tolong jaga sikap anda.”

Setelah berkata demikian, ia menaiki mobil itu lalu pergi dalam kecepatan tinggi, meninggalkan Yunho yang terpaku di temmpatnya, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

*

Heart Without a Home 5

To be continued..

 PS : Pasti banyak yg bakal nanya kenapa Minho tiba-tiba bareng ama Jongin. No worries, jawabannya ada di chapter depan 🙂

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Heart Without a Home – Chapter 3

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 3

Yunho sudah tahu bahwa ada yang mengincar desanya. Instingnya yang kuat tidak pernah salah. Begitu Kyungsoo dan Jongin diserang, ia langsung mengerti adanya ancaman untuk sukunya. Dan keselamatan seluruh desa ada padanya. Ia tidak boleh membiarkan mereka terluka.

“Anakku.. Aku bangga padamu dan akan selalu begitu. Tapi.. Apa keputusanmu kali ini telah kau pikirkan baik-baik?”

Yunho menatap sang Arweinydd. “Apa ayah meragukan keputusanku?”

Junjin menggeleng. “Sama sekali tidak. Selain turunan pemimpin, sikap dan sifatmu lah yang membuatmu terpilih menjadi Alpha secara mutlak. Ayah tidak meragukanmu, sebaliknya ayah mengkhawatirkanmu.”

“Bukankah aku punya ayah? Selama ayah ada di sisiku, aku tidak akan khawatir.”

Junjin tahu senyuman Yunho dimaksudkan untuk membuatnya tenang. Tapi, seorang ayah tidak akan tenang melihat anaknya mengorbankan dirinya untuk keselamatan semua orang, bukan?

“Setidaknya kau membiarkan setengah dari kawananmu untuk tinggal dan membantumu. Ahh.. Andai saja mereka mengerti tujuanmu yang sebenarnya..”

“Mereka tidak perlu tahu.” Yunho menghela nafas panjang lalu kembali menatap ayahnya dengan pandangan memohon. “Ayah.. Haruskah kita bahas lagi hal ini?”

Junjin menatap langit kelam di atasnya. “Satu anakku terluka, satu lagi pergi sedangkan kau akan mempertaruhkan nyawamu. Kau tahu bagaimana perasaan ayah saat ini? Apalagi reaksi ibumu ketika tahu hal yang sebenarnya, ia menangis dalam diam. Adalah kesakitan bagi ayah ketika melihat air matanya.”

Yunho terdiam. Ia tahu kalau kedua orang tuanya sudah pasti akan sedih dengan keputusannya walaupun mereka tidak bisa melarang perintah sang Alpha. Mereka yakin Yunho pasti telah memikirkan semuanya baik-baik sebelum bertindak. Tapi mereka hanyalah orang tua yang takut kehilangan anak-anaknya. Salahkah jika mereka terus mempertanyakan keputusan Yunho?

Ya, Yunho sengaja mengirim seluruh anggota kawanannya untuk pergi. Walaupun memang tujuannya adalah untuk menjalankan misi agar mereka bisa mengatur strategi guna menghadapi lawan-lawan mereka, namun ada alasan lain di balik itu. Dan alasan sebenarnya cukup sederhana, mereka disingkirkan.

Yunho membuat mereka pergi sejauh mungkin karena ia tahu desanya akan diserang. Yunho tidak mau membahayakan sahabat-sahabat yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri itu.

Maka mengirim mereka pergi adalah misi kosong, tipuan. Yunho sudah tahu kalau sebagian besar kelompok Drygioni dan Heglog sudah mulai bergerak untuk menyerang Gyfraddia. Satu-satunya yang bisa ditemukan oleh kawanannya nanti hanya Centaurus yang sudah pasti akan menolak untuk bergabung karena mereka tidak suka berperang.

Yunho mengandalkan para Rhyfel, Henuriad dan dirinya sendiri untuk berperang. Kalau mereka ternyata kalah, kesembilan Werewolf yang ia kirim keluar bisa selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang selama berabad-abad tetap hidup. Gyfraddia tidak boleh hilang ditelan sejarah. Itulah sebabnya Yunho nenyingkirkan para Eifre.

“Aku akan baik-baik saja, ayah. Aku berjanji.” kata Yunho pada akhirnya.

“Sebaiknya kau memegang janjimu, anakku. Kalau kau tidak mau melihat kami mati dalam kesedihan.” Jimin, Ibu Yunho sudah ada di sana, berdiri dengan anggun di samping suaminya dan menatap anak pertamanya dengan pandangan cemas namun juga bangga.

“Ibu..” Yunho segera menghampiri ibunya lalu berlutut sebentar. Ketika ia kembali berdiri tegak, ia segera memeluk wanita paruh baya yang sangat cantik itu erat-erat.

Jimin Membelai rambut anaknya penuh sayang. “Ibu langsung tahu tujuanmu ketika kau meminta ibu untuk membuat Chymyst. Kau pasti akan memberikannya pada Sandara dan Kyuhyun. Walaupun ibu khawatir, tapi ibu yakin kau memintanya untuk tujuan baik.”

Chymyst adalah salah satu ramuan kuno milik Gyfraddia. Ramuan bening yang tidak berbau dan tidak berasa ini sifatnya sama dengan air, namun fungsinya untuk melumpuhkan kemampuan indera pendengar ataupun penciuman selama tiga jam. Hanya orang-orang tertentu yang dapat membuatnya dengan sempurna, termasuk ibu Yunho.

Yunho telah memasukkan ramuan itu ke dalam minuman para Eifre sebelum mereka pergi. Anggota lain tidak akan merasakan dampaknya, hal ini hanya berlaku untuk Kyuhyun dan Sandara. Karena jika keduanya menemukan adanya mata-mata di sekitar mereka, sudah pasti mereka tidak akan meninggalkan sang Alpha.

“Pengorbananmu disaksikan oleh langit dan alam semesta, anakku. Dewa akan selalu bersamamu. Bahkan petir pun tidak akan mampu menyambarmu. Kau adalah pahlawan sejati Gyfraddia.”

*

            Sudah seharian para Eifre pergi. Mereka berangkat pada malam hari dari Gyfraddia dan kini matahari sudah mulai tenggelam ketika kesembilan Werewolf ini tiba di tempat tujuan masing-masing. Jarak yang mereka tempuh sangat jauh, namun karena khawatir pada Alpha mereka yang tinggal sendirian, mereka mempercepat laju lari kaki-kaki mereka dan hanya berhenti untuk minum di sungai.

“Aku belum pernah melihat desa Heglog sebelumnya. Tapi ini benar-benar menyeramkan.” ujar Hoya ketika ia mengamati perkampungan Heglog dari balik semak-semak.

Di depannya tampak rumah-rumah kecil berbentuk seperti iglo di sebuah tanah lapang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Rumah-rumah itu terbuat dari kayu dan hampir seluruhnya tertutup sarang laba-laba. Di samping kanan setiap rumah terdapat sebuah tungku kecil, pastinya untuk memasak.

“Mengapa jumlah mereka jauh lebih sedikit daripada yang kita lihat beberapa waktu lalu?” tanya Sandara curiga.

Taecyeon menggeleng tidak yakin. “Aku juga tidak tahu. Apakah mereka pergi berburu dan sebagian lagi mencari daerah kekuasaan baru? Tapi.. mengapa terlalu banyak yang pergi?”

“Sebentar, ada yang aneh! Lihatlah! Para Heglog yang ada hanya sekumpulan Heglog tua dan anak-anak!” seru Hoya dalam bisikan keras.

Jantung Sandara langsung berdetak cepat ketakutan setelah melihat arah yang ditunjuk oleh Hoya.

“Tidak mungkin! Para Heglog ini terlalu lemah. Mereka tidak mungkin bisa..” Taecyeon langsung menghentikan kata-katanya. Mukanya berubah pucat. Ditatapnya Sandara yang terlihat pucat, tegang dan gemetar.

“Oppa.. Jangan katakan kalau.. Keluargaku.. Gyfraddia.. Oppa.. Kyungsoo.. Taecyeon oppa, Kita harus kembali..” Sandara bicara dengan bibir bergetar. Ia bahkan nyaris menangis.

Sementara di tempat lain..

“Apa-apaan ini? Mengapa tidak ada tanda-tanda bahwa ini adalah perkampungan Drygoni? Mengapa tidak satupun orang disini?” tanya Yuri tak percaya ketika melihat perkampungan yang mereka datangi ternyata kosong.

Disana-sini hanya terlihat rumah-rumah kecil dengan atap runcing yang dilingkari oleh ular-ular besar yang terbuat dari kayu.

“Ayo kita periksa.” Kata Yonghwa yang memang tak kenal takut itu. Ia menuruni bebatuan di tebing rendah tempat mereka mengamati dan berjalan berjingkat-jingkat ke perkampungan Drygioni. Di belakangnya, Yuri dan Gikwang mengikuti jejaknya.

“Hati-hati, bisa jadi ini jebakan.” Kata Gikwang waspada.

Ketiganya berjalan pelan-pelan, memeriksa desa yang sepenuhnya kosong itu. Mereka berjalan sangat pelan, menghindari timbulnya suara sekecil apapun.

“Lihat, ada sekelompok anak kecil dan juga para tetua disana.” Kata Gikwang menunjuk ke arah sudut desa dimana ada sekelompok anak tengah bermain dan beberapa wanita dan lelaki tua tengah berdoa di depan sebuah altar dengan patung ular besar.

“Dimana yang lain? Mengapa hanya mereka yang tersisa?” tanya Yonghwa seraya mendekati tempat itu.

“Lindungilah prajurit kami dalam perang ini ya Dewa.. Sudah saatnya musuh abadi hancur..”

Yuri tersentak mendengar kata-kata salah satu perempuan tua yang duduk di depan altar itu. Perang? Musuh abadi?

“Kurasa.. Kita berada di tempat yang salah! Kita harus segera kembali. Gyfraddia dalam bahaya!”

Setelah Yuri menyelesaikan ucapannya, ketiganya langsung berlari dalam kecepatan tinggi, kembali ke Gyfraddia.

Dan di tempat lainnya..

“Ada apa gerangan hingga kaum Gyfraddia mengunjungi kami hari ini? Apa ada sesuatu yang khusus?”

Kangta, sang pimpinan Centaurus bertemu secara langsung dengan para tamunya ketika Junsu, salah satu anggota kawanannya datang dan memberitahukan bahwa para Eifre dari Gyfraddia mencarinya.

Kyuhyun membungkuk hormat. “Perkenalkan, aku Kyuhyun, dan ini Kris dan Minho. Kami datang kemari sebenarnya dengan tujuan khusus. Kami ingin.. meminta bantuan.”

“Aku sudah tahu maksud kalian.” Jawab Kangta segera setelah Kyuhyun menyelesaikan kalimatnya.

Tentu saja! Para Centaurus terkenal dalam bidang ramalan. Mereka membaca pergerakan bintang di langit hingga bisa mendefinisikan berbagai macam bentuk kemungkinan masa depan yang di sebut ramalan. Walaupun ramalan belum tentu selalu benar, tapi setidkanya para Centaurus telah mengetahui kaitan-kaitan yang akan terjadi di masa depan.

“Kami sudah melihat sejak lama bahwa suatu saat Gyfraddia akan bertemu kembali dengan masa lalu yang didukung oleh kekuatan besar. Dan hal ini merupakan ancaman besar. Kaum kalian bisa hancur dengan bergabungnya dua kekuatan ini. Ular dan tarantula bukan lawan yang mudah.” kata Kangta lagi.

“Untuk itulah kami datang, kami ingin meminta bantuan. Karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak ditambah kekuatan mereka, kami tidak yakin bisa menghadapi mereka sendirian.” Kata Kris dengan sopan.

“Kalian meminta kami untuk ikut berperang?” tanya Junsu dengan sedikit amarah dalam suaranya. Ia pun bergerak maju beberapa langkah dengan tatapannya yang tajam. Beberapa Centaurus di belakangnya ikut maju.

Kangta lalu mengangkat satu tangannya. Melihat itu, Junsu menghentikan langkahnya dan menahan diri di tempatnya.

“Maafkan kami, wahai pahlawan dari Gyfraddia.” Kata Kangta setelah Junsu terlihat tenang. “Tapi kami, Centaurus, adalah para pecinta damai. Kami tidak berperang. Kami hidup dengan nyaman dan hanya memikirkan kelangsungan bangsa kami. Kami tidak berperang apalagi memihak satu pihak dengan keuntungan di pihak lain.”

“Jadi kalian akan berdiam saja di sini seperti pengecut?” tanya Minho lantang.

“Tutup mulutmu! Bicaralah yang sopan kepada pimpinan kami.” Raung Junsu. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah.

“Tapi itulah kenyataannya. Pada saat kelompok lain sedang mati-matian mempertahankan sukunya, kalian akan diam saja dan menonton? Centaurus dan Gyfraddia sudah lama saling bersahabat. Apa kalian akan membiarkan sahabat kalian hancur begitu saja?” Minho masih mempertahankan pendapatnya.

“Tentu saja kami tidak mau melihat siapapun hancur. Tapi kami tidak mau ikut campur dengan hukum alam. Pergerakan langit sudah jelas, kami tidak boleh mencampuri urusan langit.” Jawab Kangta dengan suara arif seperti sebelumnya.

“Pikirkanlah ini, tuan. Heglog hanya mencari daerah kekuasaan baru, mereka ingin memperluas daerah mereka dan kebetulan saja kaum kami yang mempunyai daerah kekuasaan terluas. Sementara Drygioni ingin membalas dendam pada Gyfraddia. Jadi mereka bersekutu untuk melawan kami. Jika kami hancur, bukan tidak mungkin mereka datang kemari dan ikut menghancurkan kalian, bukan?” Kyuhyun menjelaskan panjang lebar, berharap sang pimpinan mengubah keputusannya dan membantu kaum mereka.

“Kenapa mereka ingin menghancurkan bangsa yang bahkan tidak pernah mengganggunya sama sekali? Tidak masuk akal. Kami tidak akan memulai peperangan, apapun alasannya.” Kini nada suara Kangta terdengar cukup tegas.

“Lalu apa yang terjadi dengan Gyfraddia? Kami juga tidak punya masalah dengan Heglog. Tidakkah kalian sadari? Mereka menginginkan daerah kekuasaan yang besar beserta para pengikut baru. Apa kalian tidak menangkap maksud kami?” kata Minho dengan tak sabar.

“Diam!” bentak Junsu. “Kami adalah cendekiawan yang terhormat. Berani-beraninya kau mengatakan kami tidak mengerti maksud kalian tadi?”

“Minho!” Minho baru akan buka suara ketika Kyuhyun melarangnya dan memberinya tatapan memperingatkan.

“Tuan, dengarkan kami..” kata Kris dalam nada putus asa. “Kami juga ingin kedamaian. Siapa yang ingin bangsanya musnah? Tidak seorang pun bukan? Kami sama sekali tidak pernah mengganggu mereka, tapi beberapa dari kawanan kami telah di serang..”

Lelaki tampan nan jangkung itu terdiam sebentar, sedih mengingat sang kekasih yang tengah terluka saat ini. Ia menghela nafas sebentar lalu menatap Kangta lagi.

“Kami hanya ingin bantuan kalian. Ini adalah hutang kami kepada Centaurus. Jika suatu saat hal yang sama terjadi pada kalian, kami akan siap membantu.”

“Omong kosong! Kami selalu cinta damai, siapa yang hendak menghancurkan Centaurus?” Junsu kembali berbicara dengan cemooh dalam suaranya.

Kangta tampak menimbang beberapa lama. Namun akhirnya ia bicara. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melibatkan kaum kami dalam pertempuran yang bukan milik kami.”

Minho dan Kris baru akan memprotes ketika Kyuhyun kembali menahan mereka. Ia lalu membungkuk hormat lalu undur diri dari sana.

“Sia-sia kita datang sejauh ini. Mereka sangat mengecewakan.” Kata Minho jengkel ketika mereka sudah cukup jauh dari daerah milik Centaurus.

“Aku tidak tahu harus bagaimana untuk meyakinkan pimpinannya tadi. Ia tampak begitu bijaksana tapi terlalu penuh perhitungan dan tidak mau ambil resiko.” Kris menambahkan.

“Tidak ada jalan lain. Ayo kita pulang, mungkin tabib sudah berhasil mengobati Kyungsoo dan Jongin. Setidaknya mereka mungkin sudah sadar dan setengah pulih. Gyfraddia jauh lebih membutuhkan kita daripada berlama-lama di sini.” Kata Kyuhyun lalu dalam hitungan detik ia bertransformasi dalam bentuk serigala berbulu putih yang diikuti oleh kedua temannya.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh. Kangta mendekatinya dengan langkah-langkah mantap. “Cepatlah kembali ke desa kalian. Mereka dalam bahaya. Drygioni dan Heglog akan segera tiba di sana. Tepat sebelum tengah malam, desa kalian akan diserang. Dan kemungkinan besar kalian akan musnah. Semoga kalian beruntung.”

Kyuhyun melolong sebagai tanda terima kasihnya. Ketiganya lalu berlari cepat menembus hutan, kembali ke desa mereka yang tercinta.

*

            Yunho tersenyum lega melihat Kyungsoo dan Jongin akhirnya bisa kembali sadar bahkan sehat seperti sedia kala. Ramuan tabib mereka memang yang terbaik. Menurutnya, masa tidak sadar alias pingsannya Jongin dan Kyungsoo lah yang memakan waktu lama karena racun telah melumpuhkan mereka. Namun setelah tiga hari mengkonsumsi ramuan obat sang tabib, keduanya akan langsung tersadar dan sehat seperti biasa walaupun stamina mereka belum sepenuhnya pulih. Dan kata-kata tabib terbukti. Keduanya bahkan tidak seperti pernah sakit sebelumnya.

Kini yang dicemaskan Yunho hanya satu, ketika gelap tiba. Karena jika mentari terbenam, seperti perkiraannya, desa mereka akan kedatangan tamu. Ia tidak mencemaskan dirinya, ia hanya mencemaskan seluruh penduduk desa juga keluarganya.

”Ingat, begitu peperangan dimulai, segeralah melarikan diri ke utara. Jika beruntung kalian akan menemukan Kyuhyun, Kris dan Minho di sana. Jika kalian tidak bertemu mereka di tempat Centaurus, teruskan berlari hingga ke kota. Bertransformasilah menjadi manusia biasa dan jangan pernah melihat ke belakang.” kata Yunho memaparkan rencananya pada Kyungsoo dan Jongin untuk ketiga kalinya sejak mereka terbangun.

Keduanya mendengarkan dengan sedih. Tak pernah disangka bahwa mereka semua harus terpecah seperti ini apalagi keduanya baru berusia masih sangat muda.

Alpha.. Apa hanya karena kami masih terlalu muda maka kami tidak diikutkan berperang? Apa kami dianggap belum cukup kuat? Apa semua orang takut kami akan merepotkan?” Jongin bertanya. Ada protes dalam nada suaranya.

Yunho menggeleng. “Umur dan kekuatan bukan masalah. Kami sangat bangga kepada siapa saja yang rela mengorbankan diri untuk terjun ke medan perang. Tapi kami perlu keturunan. Apa kalian ingin Gyfraddia musnah sepenuhnya?”

“Tapi kita akan kuat jika bertarung bersama. Kita bisa memenangkan pertarungan ini walau.. Kesembilan Eifre sudah pergi.” kata Kyungsoo sedikit keras kepala. Awalnya ia sedih bercampur marah karena Kris pergi meninggalkannya. Namun setelah tahu alasan sang Alpha, ia justru berharap Kris tidak kembali ke desa mereka dan ia bisa selamat dari bahaya.

“Kita juga bisa kalah, adikku. Dan bagaimana jika hal itu terjadi? Keputusanku sudah bulat. Kerjakan seperti rencana.” kata Yunho tegas lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah para Henuriad yang tengah menyusun strategi perang.

Sang Arweinyd yang melihat kedatangannya mengangguk. “Alpha.. Apa ada ide lain? Strategi kami seperti ini.”

Yunho memperhatikan gambar yang digambar oleh Jinyoung di atas perkamen tua besar yang diletakkan di atas meja batu besar. Dengan cepat ia mempelajari strategi itu.

“Aku pikir ini akan berhasil. Dengan para Henuriad di sisi kanan dan kiri berbaur dengan sisa penduduk, para pendekar bersama ayah di lini depan, aku rasa sudah bagus. Sebagian Rhyfel akan nenempati seluruh perbukitan dan sebagian lagi akan menyerang dari hutan dan mengepung mereka dari belakang. Tapi ada yang kurang.. Dimana aku?”

Jinyoung berdehem sebentar lalu menatap sang Alpha. “Hm.. Kami memintamu untuk bersembunyi sejenak. Kami akan menghadapi perang ini sendirian.”

Air muka Yunho berubah keras. “Apa? AKu tidak akan bersembunyi. Aku akan ikut berperang. Syr, aku adalah Alpha, mana mungkin aku bersembunyi sedangkan suku tengah berperang demi kelangsungan hidup kita.”

“Justru karena itu!” bantah Jinyoung tak kalah kerasnya. “Kau telah menyingkirkan para Eifre. Lalu apa gunanya masih ada suku kita di luar sana namun mereka tidak punya pemimpin? Mereka butuh seseorang yang bisa membimbing mereka dan membangun kembali Gyfraddia yang mungkin saja hanya tinggal puing-puing malam nanti.”

“Aku tidak akan bersembunyi. Aku tetap akan ikut berperang. Aku akan berada di lini depan, bersama ayahku.” Yunho masih tetap mempertahankan keinginannya.

“Tapi Henuriad dan Arweinydd sendiri telah memutuskan bahwa kau tidak diikutsertakan dalam perang ini. Keputusan tidak dapat diubah.”

“Aku tidak peduli dengan keputusan kalian. Bukan berarti aku tidak menghormati kalian smeua. Tapi aku lebih memilih mati di medan perang daripada harus menyaksikan saudara-saudaraku terluka sementara aku bersembunyi.”

Dan kata-kata Yunho yang merupakan keputusan mutlaknya membuat sang ibu tersenyum puas sekaligus bangga.

*

            Malam menjelang. Bulan purnama tampak begitu besar dan sempurna, berada di sisi timur yang perlahan memposisikan diri semakin ke tengah langit. Penduduk Gyfraddia telah bersiap. Para wanita dan anak-anak telah diungsikan. Para pejuang telah menanti di lini pertahanan sesuai strategi yang di tetapkan oleh para Henuriad.

Alpha.. mereka semakin dekat..”

Yunho mendengar suara Kyungsoo di kepalanya. Ia dan adik-adiknya memang mempunyai bakat alami dalam diri mereka. Jika Yunho punya naluri yang tajam, Sandara punya pendengaran yang tajam sedangkan penglihatan Kyungsoo sangat jelas. Ia bahkan bisa melihat dengan sangat baik dalam gelap. Maka begitu ia melihat ratusan orang-orang dari arah barat, ia langsung melaporkannya pada kakaknya.

“Aku akan memberitahukannya pada yang lain. Ingat pesanku, begitu pertempuran dimulai, kau dan Jongin harus pergi ke utara.” Kata Yunho dalam kepalanya yang tidak mendapat respon sama sekali dari adiknya. Ia tahu, Kyungsoo tidak ingin pergi, jadi ia akan berpura-pura tidak mendengar.

Yunho menoleh pada ayahnya, yang akhirnya menyerah dan mengijinkannya untuk ikut berperang dengan catatan kalau mereka diambang kekalahan, Yunho harus segera pergi dan mencari sisa Eifre di luar sana, dan menatap matanya dalam-dalam.

“Mereka sudah dekat, ayah. Sudah saatnya..”

Malam itu, hanya Yunho, pejuang dan para Rhyfel yang bertransformasi menjadi serigalanya sedangkan sisanya tetap dalam wujud manusia termasuk ayah Yunho sendiri. Karena ia adalah seorang Arweinydd, maka ia bisa mengerti kata-kata Yunho walaupun ia hanya menatap mata anaknya.

Dan memang betul seperti perkataan Yunho. Tak lama kemudian, ratusan sosok-sosok mengerikan muncul dari dalam hutan, berjalan dengan langkah-langkah berat yang mengerikan. Dan betapa mengerikannya kali ini karena selain sosok-sosok bersisik alias Drygioni dan sosok bungkuk seperti tarantula alias Heglog, ada sekumpulan besar sosok lain yang sangat menakutkan. Mereka ternyata juga meminta bantuan Troll, makhluk-makhluk bertubuh besar berwarna hijau yang mendiami gua-gua di kaki gunung.

Hati Yunho langsung mencelos. Drygioni dan Heglog sendiri saja sudah merupakan ancaman berat untuk mereka, bagaimana dengan bantuan Troll juga? Tamatlah riwayat mereka kini. Ia bisa melihat Jiyong dan Taeyang diantara pada Heglog, tersenyum angkuh seakan sebentar lagi mereka akan menyantap Yunho dalam cakar-cakar mengerikan mereka.

“Kyungsoo.. Jongin.. pergilah sekarang. Jangan buang waktu lagi.” Kata Yunho dalam kepalanya, diantara geramannya.

“Tapi hyung.. Bagaimana mungkin kami pergi meninggalkanmu?”

Alpha.. kami mohon, biarkan kami membantu.”

“Pergi..!!!” raung Yunho. Ia mengabaikan protes-protes kecil Kyungsoo dan Jongin dan berlari ke atas tebing. Dari sana ia bisa melihat dengan jelas berapa banyak pasukan musuh yang kini hanya tinggal beberapa meter lagi dari lini depan, tempat ayahnya memimpin pasukan mereka. Tanpa ia ketahui, Kyungsoo dan Jongin mengabaikan perintahnya dan diam-diam menyelinap ke hutan, dimana sebagian dari para Rhyfel menunggu untuk menyerang.

Dengan dibayangi oleh rembulan, berada di salah satu tebing yang cukup tinggi, bagaikan terompet perang yang dibunyikan sebelum perang dimulai, Yunho melolong keras nan perkasa, membuat para pejuang Gyfraddia bersiaga di tempatnya. Dan begitu lolongan Yunho berhenti, sang Arweinydd pun berseru lantang.

“Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Lalu dua kubu yang tadinya terpisah saling mendekati dan pertempuran besar pun telah di mulai.

*

            “Kita masih sangat jauh.. Ditambah dengan jalan pintas yang kita tempuh saat ini membuat tenaga kita terkuras lebih banyak.” Ujar Minho dalam kepalanya kepada Kyuhyun dan Kris yang berlari kencang di sampingnya.

“Tapi ini adalah jalan terdekat. Jika kita beruntung, kita bisa sampai dalam waktu satu jam. Hanya jika kita berlari dalam kecepatan seperti ini.” Kris menambahkan.

“Kita tidak boleh mengurangi kecepatan, aku sangat takut kalau kita terlambat.” Kata Kyuhyun dalam ketakutan tinggi.

Ketiganya terus berlari membelah hutan. Jalan yang mereka lewati sungguh berbahaya. Melewati tebing-tebing terjal, bebatuan tajam, lumpur hisap hingga semak belukar berduri. Entah sudah berapa kali mereka terluka dalam perjalanan pulang kali ini. Namun mereka terus berlari, seolah luka yang mereka alami bukan apa-apa dibandingkan dengan nyawa-nyawa yang akan melayang malam ini.

“Aaarrgghhh…!”

Dekingan keras membelah malam. Kris dan Minho menghentikan larinya ketika Kyuhyun tergelincir dari tebing dan tubuhnya menghantam bebatuan tajam di tepi sungai. Kyuhyun mencoba bangkit, tapi sangat sulit baginya untuk melakukannya karena ada sesuatu yang salah, kaki belakangnya terluka.

“Kyuhyun.. Kau baik-baik saja?” tanya Minho segera setelah ia turun dari tebing dan menghampiri Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja, tapi kakiku.. Sakit sekali..” keluh Kyuhyun. Ia terus mencoba bangkit namun tetap tidak berhasil hingga ia menangis.

“Kyuhyun, jangan memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Kami akan selalu ada disini menunggumu. Ayo coba lagi.” Kata Kris menyemangatinya.

Kyuhyun mencoba lagi dan lagi selama hampir lima belas menit, membuat Minho dan Kris mengamatinya dengan sama putus asanya.  Ia hampir menyerah lalu ia teringat sang Alpha. Sosok yang ia kagumi dan cintai sepenuh hati. Jika ia tidak bangkit malam ini, mungkin ia tidak akan pernah melihat Yunho lagi seumur hidupnya.

Alpha.. Tunggu aku.. Aku akan datang padamu.. Tunggulah aku..” kata Kyuhyun dalam hati.

Dan entah kekuatan dari mana, dengan sekali sentak, ia bisa berdiri tegak. Walaupun kakinya terasa perih, walaupun darah segar mengucur deras membasahi kemilau bulu putihnya, namun tekad kerasnya membuatnya melupakan sakit yang ia derita saat ini.

Dengan kekuatan baru,  ia berlari memimpin kedua temannya, berlari ke tempat seharusnya ia berada kini, di samping sang Alpha.

“Yunho hyung.. Tunggu aku..”

*

Kaisooho

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 2

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, BL, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin,  Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 2

Bagai mimpi buruk, Yunho harus menghadapi situasi seperti ini. Niat awalnya adalah untuk mencari daerah kekuasaan tapi ia justru terperangkap menghadapi musuh baru. Sebagai pimpinan sudah seharusnya ia maju menerjang siapapun yang dianggap bisa mengancam keselamatan kawanannya.

Namun ia tidak ingin ada peperangan semacam ini. Ia tidak mau membuat masalah dalam kehidupan desanya yang  tenang. Selama ini ia hanya sering mendengar cerita para Henuriad mengenai betapa hebatnya suku mereka dalam membasmi semua musuh mereka. Ia tidak mau menimbulkan keresahan untuk seluruh penduduk desanya. Ia pimpinan para serigala muda, sang Alpha. Dan ia tidak ingin adanya kewaspadaan untuk setiap orang karena akhirnya mereka kembali ke masa perang.

Dan ketika sang pimpinan kecil Heglog itu menerjangnya dengan tombak mengerikan di tangannya, hal pertama yang Yunho lakukan adalah melolong keras memperingatkan para Eifre seraya menghindari tusukan yang diarahkan tepat ke lehernya itu.

“Yonghwa, Kris, bawa Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi.”

Begitu perintah bergema di kepala mereka, Kris dan Yonghwa segera menarik Jongin, Sandara dan Kyungsoo pergi dari sana, mengabaikan protes ketiganya untuk ikut melawan. Tapi perintah sang Alpha sudah sangat jelas. Kewajiban mereka adalah menurutinya.

“Lawan aku, serigala lemah! Jangan terus menghindar, pengecut!” raung si pimpinan Heglog, masih terus berusaha menikam lawannya. Kali ini ia menusuk lebih cepat hingga nyaris menggores bahunya.

Alpha!”

Yunho bisa mendengar jeritan Yuri yang mencemaskannya. Taecyeon sudah menggeram tak sabar namun Yunho tetap memperingatkan para Eifre agar tetap diam di tempatnya, tidak bergerak sebelum ia memerintahkan. Padahal kawanannya sudah sangat bernafsu untuk menanamkan cakar-cakar mereka ke sekujur tubuh anggota Heglog lainnya yang ada di sana.

“Cukup! Hentikan!”

Sang pemimpin Heglog berhenti menyerang. Ia masih menatap Yunho dengan tatapan marah namun ia menuruti perintah suara tanpa tubuh itu. Yunho mencari ke sekelilingnya dan akhirnya ia menemukan sumber suara.

Berdiri dengan raut mengerikan diantara pepohonan, seorang Heglog lain yang tubuhnya sedikit lebih besar menatapnya angkuh.

“Mengapa kau ada disini? Jangan ganggu kesenanganku!” pimpinan Heglog berteriak kasar, masih tanpa menoleh.

Tawa dingin terdengar. “Jangan bertingkah seperti kaulah pimpinan suku. Walau kau adalah pimpinan Heglog muda. Jadi kalau kau mendengarku mengatakan berhenti, artinya kau harus berhenti, adikku.”

Sang pimpinan menampakkan ekspresi hendak membunuh mendengar saudaranya sendiri mempermalukannya di depan musuh. Tapi ia sendiri seperti tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kakaknya.

Ketika ia menurunkan tombaknya, Heglog lain yang tadinya berdiri diantara pepohonan kini mendekati Yunho dan adiknya.

“Aku tahu siapa kau. Yunho, sang Alpha dari Gyfraddia, suku yang dulunya adalah suku terkuat.”

“Dulunya? Kami masih yang terkuat hingga saat ini.” Geram Yunho di kepalanya walau ia tahu hanya kawanannya yang bisa mendengarnya karena mereka tengah berada dalam wujud serigala.

Kembali lelaki bungkuk berbulu itu tertawa. “Aku tahu pasti kau memprotes dalam kepalamu dan aku tidak bisa mendengarnya. Tapi aku tidak berbohong. Jika kalian ingin membuktikannya, kalian harus berperang bersama kami jadi kalian akan tahu mengapa aku mengatakan kata ‘dulu’ pada kalimatku tadi.”

“Tapi tidak hari ini.” Heglog tadi melanjutkan. “Mungkin besok? minggu depan? Yang jelas bukan hari ini.” Kemudian ia menoleh pada adiknya. “Kita harus kembali sekarang.”

Gerutu kasar terdengar namun para Heglog lain tampaknya menurutinya. Lambat laun satu persatu meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi, Heglog tadi berbalik dan berkata. “Ah, aku lupa memperkenalkan namaku. Namaku Ji Yong dan adikku yang pemarah itu adalah Taeyang. Sampai bertemu lagi, Yunho. pertemuan berikutnya tidak akan seramah ini, aku janji.”

Lalu ia ikut melesat memasuki hutan, meninggalkan Yunho dan kawanannya yang masih terpaku.

*

            Yunho masih menerima gumam-gumam ketidaksetujuan sebagai bentuk protes dari kawanannya selama beberapa hari kedepan setelah insiden bersama para Heglog.

“Seharusnya kita ikut menyerang. Mereka sudah dengan tidak sopannya menghina suku kita!” kata Minho yang terkadang paling cepat tersulut emosi.

“Tapi kita membawa Kyungsoo dan Jongin hari itu, tidak mungkin kita membahayakan nyawa mereka hanya karena amarah kita.” Ujar Hoya. Ia berusaha memposisikan dirinya sebagai anggota kawanan serta sahabat dalam hal ini.

“Aku setuju dengan Minho. Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka menghina kita? Lagipula ia hendak mencelakai Alpha kita.” Gikwang ikut menyuarakan pendapatnya.

“Kalian tenanglah. Apa kalian lupa perintah Alpha tidak boleh dilanggar? Tidak seharusnya kalian bersikap seperti ini.” Yonghwa menengahi.

“Kita harus memikirkan jalan keluar bersama bagaimana agar tidak terjadi peperangan. Walaupun aku sendiri sangat ingin menghabisi mereka tempo hari.” Kris menambahkan.

“Aku yakin Alpha punya alasan tersendiri mengapa ia justru menghindar alih-alih menyerang.” Taecyeon akhirnya ikut bicara setelah sedaritadi hanya menjadi pendengar.

Mendengar itu, semua yang ada di sana minus Yuri, Kyuhyun, Sandara, Kyungsoo dan Jongin menatap sang Alpha, menunggu ia angkat bicara dan menjelaskan tindakannya tempo hari setelah ia bungkam selama beberapa hari.

Masih mempermainkan batu-batu kecil dalam genggamannya lalu melemparkannya ke sungai hingga beberapa saat lalu akhirnya memutuskan untuk bicara.

“Aku bukan pengecut. Walaupun tindakanku bisa dikategorikan sebagai pengecut oleh para Heglog tempo hari. Tapi aku punya beberapa pertimbangan. Pertama, kita jauh dari rumah, bahkan sangat jauh. Kita membawa serigala muda bersama kita, bagaimana mungkin kita bisa bertindak yang nantinya bisa membuat mereka terluka? Mereka adalah tanggung jawabku.”

“Dan lagi, sebisa mungkin aku menghindari pertarungan. Jika aku menyerang dan ia terluka, bisa jadi mereka benar-benar menyusun kekuatan dan menyerang kita. Apa kalian tega melihat senyum-senyum bahagia beserta kehidupan kita yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba terusik karena hal ini?”

“Kalaupun kita pada akhirnya akan berperang, alangkah baiknya jika bukan kita yang memulai. Kalau kita gegabah, kita hanya akan menghancurkan suku kita sendiri.”

Para Eifre terdiam. Mereka tahu, Yunho benar. Mereka tidak boleh ceroboh dengan bertindak cepat. Akan ada konsekuensi yang lebih besar menanti mereka jika mereka bersikeras.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?”

Ketujuh lelaki disana menoleh dan mendapati dua orang yang sangat mereka kenal berdiri di sana.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?”

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon, lelaki lain yang berdiri bersama Changmin menjawab sambil balik bertanya dengan nada bercanda.

Changmin dan Dongwoon adalah Dhampire, setengah Vampire dan setengah manusia. Tugas mereka adalah memburu Vampire yang berkeliaran di luar sana. Seperti halnya Dhampire, kaum Werewolf pun tidak menyukai kaum Vampire. Makhluk penghisap darah tersebut dianggap makhluk keji yang mengambil nyawa manusia demi memuaskan dahaga mereka. Werewolf dilarang keras bergaul dengan kaum seperti itu.

“Tentu saja boleh.” Jawab Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?”

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh.. Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

“Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawab Dongwoon seraya menyeringai lebar.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris gembira, membuat Changmin dan Dongwoon tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

Sepeninggal Changmin dan Dongwoon, Yunho berpikir. Sepertinya kekuatan Heglog sudah meyebar luas. Apalagi ditambah dengan dukungan penuh dari suku Drygoni, tidak mustahil kalau mereka nantinya akan menyerang Gyfraddia.

*

            Salju sudah mulai turun, menyambut musim dingin yang membekukan tubuh itu. Tapi tidak bagi pada Werewolf. Tubuh mereka yang tetap hangat sehangat duduk di depan perapian dibalut selimut tebal dan ditemani secangkir cokelat panas. Mereka tidak pernah kedinginan walaupun bertelanjang dada dibawah guyuran hujan ataupun di bawah curahan salju.

Kyuhyun duduk di atas tebing yang cukup tinggi, memandang ke sungai di bawah, tempatnya biasa berkumpul bersama sahabat-sahabatnya. Sebentar lagi sungai itu akan sepenuhnya membeku dan baru akan mencair di bulan maret. Bukankah tempat ini jadi terlihat sangat romantis? Pepohonan dengan daun-daun cokelat yang masih bertahan di rantingnya tertutup salju, sungai yang nyaris beku, angin musim dingin berhembus lembut di hari yang cukup berawan ini.

Dan Kyuhyun harus menahan rasa irinya dalam-dalam melihat sepasang pemuda yang tengah bersenda gurau dengan mesra di bawah sana.

“Mesra sekali..” monolog Kyuhyun.

“Mesra? Siapa?”

Kyuhyun tersentak. Ia tidak menyangka akan ada yang orang lain yang bertransformasi menjadi serigala selain dirinya saat ini. Bukan berarti tidak boleh, tentu saja kawanan lain boleh bertransformasi kapan saja mereka mau. Hanya saja, di hari-hari seperti ini, biasanya teman-temannya akan bermain salju atau melakukan kegiatan lain dengan wujud aslinya. Maka ia tidak berpikir bahwa ada yang akan mencuri dengar perkataannya.

Kyuhyun menoleh dan mendapati serigala paling gagah yang pernah ia temui sepanjang hidupnya berjalan pelan mendatanginya. Dengan rambut-rambut halus berwarna hitam pekat yang sangat kontras dengan salju di sekitarnya, dengan rahang kokoh disertai gigi dan cakar-cakar tajam yang mampu membelah kayu tebal sekalipun, dengan mata tajam yang selalu membuat jantungnya berdebar menyenangkan.

Alpha..”

“Sedang apa kau disini? Dimana yang lain? Dan mengapa kau bertransformasi?”

Kyuhyun merebahkan dagunya di atas kedua kaki depannya yang merapat. “Aku tidak tahu kemana Taecyeon tengah membantu ayahnya. Hoya, Minho dan Jongin tengah berubah menjadi anak-anak liar pencinta salju. Yonghwa tengah pergi bersama Sandara, entah kemana sedangkan Gikwang seperti biasa, ia lebih mencintai kasurnya daripada hal lainnya.”

Yunho sudah ada di samping Kyuhyun. “Yonghwa dan Sandara tadi pamit kepadaku. Mereka ingin jalan-jalan berdua. Ah, kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau katakana mesra tadi?”

Kyuhyun tertawa dengan suaranya yang khas. Suara itu bahkan menggema indah di kepala Yunho. “Adikmu, siapa lagi? Lihatlah..”

Yunho mengikuti arah pandangan Kyuhyun. Benar saja, di bawah sana tampak Kyungsoo dan Kris tengah bermesraan. Kris duduk bersandar di sebatang pohon sedangkan Kyungsoo bersandar di dada kekasihnya yang memeluknya erat. Kyungsoo asik bercerita sedangkan Kris senantiasa mendengarkan dengan seksama sambil sesekali menghadiahkan ciuman-ciuman kecil di pipi atau rambut Kyungsoo.

Yunho tersenyum. Adik bungsunya itu memang suka sekali bercerita selain memasak dan membaca. Dan Yunho selalu bersyukur karena ia mendapatkan lelaki seperti Kris yang selalu sabar menghadapinya.

“Ya aku tahu, kau pasti mengatakan bahwa Kyungsoo beruntung telah mendapatkan Kris, bukan? Kalau tebakanku benar, kau salah. Kris lah yang selalu merasa beruntung telah mendapatkan si ajaib Kyungsoo, percayalah, adikmu terlalu populer. Jadi jangan kaget kalau Kris selalu menempel padanya. Ia adalah pencemburu yang sangat protektif.” Kyuhyun berbicara seolah memahami isi kepala Yunho.

“Aku terlalu sibuk mengatur para Eifre dan memenuhi permintaan Henuriad. Kadang aku kesal jika waktuku kurang untuk dihabiskan bersama Sandara dan Kyungsoo. Walaupun kadang aku pikir mereka tidak akan kesepian karena keduanya telah memiliki kekasih.” Jawab Yunho, matanya masih senantiasa memperhatikan gerak gerik dua pemuda yang kini tengah berciuman mesra itu.

“Oh mataku.. Tidak bisakah mereka melakukannya di tempat lain?” keluh Kyuhyun sambil tertawa kecil.

Yunho ikut tertawa. “Untunglah Kris begitu sopan. Ia bisa menahan hawa nafsunya dan tetap memperlakukan Kyungsoo dengan baik. Kau tahu, aku tidak ingin mereka terlibat sesuatu yang lebih yah.. intim. Kyungsoo masih terlalu kecil dan.. Aku terlalu khawatir pada awalnya tapi kupikir Kris takkan melakukan hal-hal negatif, bukan? Bagaimana menurutmu?”

Kini tawa Kyuhyun lebih keras. “Mana mungkin ia bisa menahan diri jika Kyungsoo ada di dekatnya? Selain ia memang lelaki yang baik, ia tidak akan berani menyentuh anak Arweinydd dan adik sang Alpha jika ia masih tetap ingin diakui sebagai seorang Gyfraddia.”

Yunho menatap Kyuhyun dalam-dalam tanpa kata. Setelah membisu selama hampir semenit, ia akhirnya bicara. “Kau tahu, selalu menyenangkan berbicara denganmu. Kau selalu berada di tengah. Menjadi netral untuk siapa saja. Berpikirab dewasa dan sangat memperhatikan anggota muda. Walau terkadang kau sendiri sangat manja.”

Jika Kyuhyun tidak dalam bentuk serigala saat ini, ia yakin rona merah akan menjalar di seluruh permukaan wajahnya dan membuatnya sulit untuk menyembunyikannya dari Yunho. Yunho memang bukan lelaki yang bisa menggombal atau berkata-kata romantis. Tapi kejujurannya membuat siapa saja akan tersentuh.

“Dan aku sangat mengagumi warna putih yang menempel di tubuhmu itu. Indah sekali. Kau memang sangat rupawan dengan warna putih.” Yunho menambahkan sambil masih terus menatap Kyuhyun.

Tiba-tiba angin berhembus cukup kencang, menerbangkan dedaunan di tanah ke udara, butiran salju yang turun mengikuti arah angin, membuat pandangan menjadi sedikit terhalangi. Kyuhyun mengusap wajahnya dengan satu kakinya. Ketika ia ingin menenggelamkan wajahnya sepenuhnya di antara kedua kakinya, sesuatu terjadi.

Kaki-kaki kokoh sang Alpha berdiri tepat diatasnya, menghalangi angin kencang yang menerpa wajahnya. Sang Alpha berdiri di situ, melindungi Kyuhyun dengan tubuhnya yang besar. Ia tetap diam, tanpa sepatah kata pun. Tapi mampu membuat perasaan Kyuhyun melambung di udara.

Disini, tepat berada di bawah lindungan pemimpin yang dicintainya seraya menyaksikan mentari yang tertutup awan pelan-pelan turun ke peraduannya, di atas tebing kecil, di hutan mereka tercinta, merupakan tempat terindah untuknya. Dan ia tidak ingin beranjak dari sana sedetik pun.

*

            “Alpha..! Arweinydd mencarimu. Sekarang!”

Yunho yang tengah membelah batang pohon besar untuk dijadikan potongan-potongan kecil kayu bakar di belakang rumahnya cukup terkejut ketika melihat Gikwang datang dengan tergesa-gesa. Keringat mengalir dari pelipisnya, wajahnya pucat dan ia tampak shock.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho ketika mereka dalam perjalanan ke Pentrafe atau balai desa, tempat dimana ayahnya menunggunya.

“Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan.. tampaknya itu adalah hal buruk.” Jawab Gikwang, masih terengah.

Alangkah terkejutnya Yunho ketika ia dan Gikwang sudah sampai di Pentrafe. Banyak yang sudah berkumpul di sana dan anehnya sebagian diantaranya tampak marah dan sedih. Begitu melihat kedatangan Yunho, kerumunan terbuka, memberi jalan untuk sang pemimpin. Yunho bisa melihat ayahnya tidak duduk di kursi kebesarannya seperti biasanya melainkan di lantai, seperti seorang lelaki lemah yang terpuruk.

Yunho baru akan bertanya ketika ia melihat dua sosok yang dikenalnya terbaring melintang di atas karpet merah di tengah ruangan. Keduanya masih dalam tubuh serigala. Yang satu berwarna abu-abu kecoklatan, yang satu lagi berwarna putih abu-abu. Dan sama-sama terbujur lemah disana dengan lebam di beberapa bagian tubuh. Yunho akan mengira keduanya sudah tak bernyawa andaikan ia tak melihat perut keduanya bergerak naik turun, berusaha sekuat tenaga untuk bernafas.

Tubuhnya bergetar hebat saat itu. Ketakutan, kecemasan, kesedihan, kemarahan semua bercampur jadi satu.

“Kyungsoo.. Jongin..” Yunho jatuh berlutut, lalu meraih kedua serigala muda itu dalam rengkuhannya. Air matanya turun satu persatu.

Ia menoleh pada ayahnya yang tampak sama terpukulnya dengan dirinya. “Ayah..” bahkan suaranya pun ikut bergetar.

Alpha.. Adikmu dan Jongin.. Keduanya diserang oleh Drygoni. Mereka memakai bisa mereka untuk melumpuhkan keduanya.. Anakku.. Anak lelakiku..”

Bisa Drygoni sangat terkenal bisa melumpuhkan sistem saraf dan otak. Walaupun sifatnya sementara, namun jika terkena melebihi batas, akan berakibat kematian. Dan melihat beberapa tempat yang terkena bisa Drygoni di tubuh Kyungsoo dan Jongin, bisa dikatakan mereka di ambang kematian.

“Tidak.. Kyungsoo.. Jongin.. Bertahanlah.. Aku mohon..” Yunho masih memeluk keduanya.

“Tabib sedang dalam perjalanan. Sebentar lagi ia sampai. Tadi Minho dan Kyuhyun yang menjemputnya. Bersabarlah Alpha, tenangkan dirimu. Kau tidak boleh terlihat lemah di hadapan penduduk lainnya. Kau adalah harapan mereka.”

Tanpa mengangkat kepalanya, Yunho tahu bahwa Jinyoung lah yang berbicara. Walaupun ia benar, namun bagaimana mungkin Yunho bersikap tenang di saat seperti ini?

“Gikwang..”

“Ya, Alpha.”

“Kumpulkan yang lain di rumahku, sekarang. Aku akan segera kesana. Jangan bicara apa-apa sampai aku datang. Aku tidak ingin membuat yang lain khawatir.”

Gikwang membungkuk hormat lalu berlari keluar.

*

            Peraturan baru diberlakukan. Penduduk dilarang keluar dari rumah diatas jam sepuluh malam. Dan setiap wanita juga anak-anak harus ditemani oleh lelaki jika terpaksa harus keluar rumah. Mereka juga dilarang bepergian terlalu jauh. Itupun mereka harus dikawal oleh para Rhyfel.

Sedangkan para Eifre bertugas berjaga bergiliran di setiap pos yang sudah ditentukan. Mereka akan berjaga di empat penjuru utama. Yonghwa dan Sandara di pos timur, Minho dan Gikwang di pos barat, Taecyeon dan Kyuhyun di pos selatan, Kris dan Hoya di pos utara. Sedangkan Yunho dan Yuri akan berkeliling dari satu pos ke pos lainnya.

Absennya Kyungsoo dan Jongin merupakan pukulan berat untuk mereka. Walaupun kata tabib mereka akan baik-baik saja setelah sepuluh hari, bahkan katanya akan kembali sehat seperti biasa, tapi tetap saja membuat para Eifre merasa sangat khawatir.

Kekejian Drygoni ini tidak bisa ditolerir oleh Yunho. Mereka tahu kedua serigala ini masih muda dan belum mendapatkan kekuatan secara menyeluruh jadi merekalah yang diserang. Licik! Seandainya ia yang ada disana, atau Taecyeon, bisa dipastikan suku setengah ular itu akan benar-benar hancur sampai tak berbekas.

Yunho masih bisa mendengar Kris, Sandara dan ibunya terisak sesekali ketika mengunjungi Kyungsoo di kamarnya. Ia juga tidak bisa mengabaikan tangisan kedua orang tua Jongin serta kesedihan Hoya sebagai sahabat terdekat Jongin.

Untuk beberapa hari kedepan, suasana tampak aman. Semuanya terkendali dengan baik. Hingga tiba-tiba serangan lain datang, kali ini menyerang beberapa rumah dan kebun penduduk. Tidak ada yang terluka, namun kerugian materil tidak bisa dibilang sedikit.

Mereka baru saja akan menuduh Drygoni sebagai biang keladinya namun petunjuk lain datang. Mereka menemukan rambut-rambut halus berwarna cokelat tua di beberapa tempat. Dan Yunho pernah melihatnya. Heglog.

“Ini adalah kesengajaan. Mereka sengaja memberi tanda agar kita tahu merekalah pelakunya.” Gikwang menganalisis.

“Aku bahkan masih bisa mengendus bau mereka disini.” Sandara menambahkan.

“Mereka sengaja memperlihatkan diri. Tujuannya sudah jelas, mereka ingin kita menyerang.” Kata Taecyeon dengan nada kesal.

“Tapi kita tidak boleh menyerang terlebih dahulu. Kita harus menyelidiki sekuat apa mereka.” Ujar Kris. Ia masih terlalu sakit hati dengan kejadian yang menimpa kekasihnya. Dan ia tidak akan tinggal diam kini.

Alpha, kami menunggu perintahmu.” Yuri menyentuh lengan sang Alpha yang sedaritadi tampak berpikir sendiri.

Yunho mengembuskan nafas panjang. Dengan ekspresi tegas, ia menatap teman-temannya. “Taecyeon, selidikilah Heglog sekali lagi, bawa Sandara dan Hoya bersamamu. Yuri, pergilah bersama  Gikwang dan Yonghwa, selidiki Drygoni. Kris, Kyuhyun dan Minho, pergilah ke utara, minta bantuan kepada Centaurus. Kita tidak pernah ada masalah dengan mereka, siapa tahu mereka mau membantu kita.”

“Tidak! Bagaimana denganmu, Alpha? Kau tidak boleh tinggal sendirian!” Hoya langsung memprotes ketika ia menyadari bahwa Yunho akan sendirian berjaga.

“Hoya benar, kau tidak boleh sendirian, Alpha. Menyelidiki suku-suku ini memakan waktu berhari-hari. Dan keadaan sedang tidak stabil. Bagaimana mungkin kau bisa berjaga sendirian?” Minho menambahkan dengan cemas.

“Kalian kira aku tidak bisa menjaga desa ini tanpa kalian?” Yunho mengangkat alisnya.

“Bukan begitu, jangan tersingung. Tapi kami sangat cemas padamu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kami pergi? Kau adalah Alpha kami, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu?” kata-kata Kyuhyun yang terkesan khawatir justru terdengar sangat manja bagi Yunho.

‘Dan bagaimana mungkin aku bisa bertahan jika sesuatu terjadi padamu?’ bisik Kyuhyun di hatinya. Ia terlalu takut kehilangan Yunho.

“Aku akan baik-baik saja. Lagipula ada Rhyfel disini bersamaku. Tempatku adalah di sini. Aku tidak boleh meninggalkan desa dalam keadaan seperti ini. Keselamatan desa ini adalah tanggung jawabku. Pergilah, semakin cepat kalian pergi, semakin cepat kalian kembali bukan?” kata Yunho lagi, mencoba tersenyum walaupun ia sendiri tidak yakin dengan kata-katanya.

“Kami akan cepat kembali, aku berjanji.” Yonghwa menghampirinya lalu memberinya tepukan ringan di bahu. “Dan kami akan pulang dengan membawa kabar baik. Tolong jaga dirimu.”

Sandara dan Yuri segera berlari memeluk Alpha mereka sebelum mereka benar-benar meninggalkan desa. Keduanya tidak menangis tapi hati mereka sangat sedih karena harus meninggalkan orang yang mereka sayangi sendirian. Karena memang Yunho tidak bisa pergi. Seluruh beban ada di pundaknya kini.

Kyuhyun adalah orang terakhir yang memeluk Yunho setelah satu persatu kawanannya melakukan hal yang sama.

“Jaga dirimu, Alpha. Tunggulah aku kembali.” Ujar Kyuhyun lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Yunho. Membuat Yunho merasa jauh lebih kuat dan tegar dari sebelumnya.

Satu persatu teman-temannya bertransformasi menjadi serigala lalu berlari masuk dan menghilang ke dalam gelapnya hutan malam itu. Yunho masih berdiri disana, menatap kepergian kesembilan Werewolf perkasa yang dibanggakannya.

Tanpa ia sadari, beberapa makhluk aneh tengah mengintainya. Beberapa diantaranya bersisik seperti ular, beberapa lagi berbulu seperti tarantula.

“Ia mengutus teman-temannya untuk pergi menyelidiki suku kita. Ayo kembali dan memberitahukan anggota suku.” Kata salah satu yang bertubuh penuh sisik.

“Sangat bodoh! Baiklah, kita kembali ke tempat masing-masing.” Kata yang lain, si bungkuk penuh bulu selayaknya tarantula. “Si keparat ini akan merasakan bagaimana rasanya seluruh kawanannya dimusnahkan di tempat berbeda-beda sementara ia juga harus menyaksikan kita membantai desanya tercinta.”

Keduanya lalu tertawa bengis.

*

Yunkyu wolf

To be continued..

Heart Without a Home – Chapter 1

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), TaecKyu, Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Author note : Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 1

Jantungnya berdebar jauh lebih kencang dengan detak tak beraturan. Nafasnya memburu seolah hendak meninggalkan paru-parunya. Kaki-kakinya yang tangguh berlari cepat menyusuri jalan-jalan setapak di hutan lebat itu. Telapak kakinya yang kokoh dengan kuku-kuku setajam pedang membekas dengan anggun di tanah basah. Angin dingin di sore itu menerpanya, menggoyangkan seluruh pelindung yang membungkus tubuhnya yang perkasa.

Yunho masih berlari kencang mendahului kawanannya di belakang sana. Ya, kawanan. Kawanan serigala, atau lebih tepatnya disebut sebagai kawanan manusia serigala mengingat mereka adalah separuh manusia dan separuh serigala. Werewolf.

“Yunho! Tunggu aku, mengapa kau berlari begitu cepat?” sebuah suara dengan nada protes keras muncul di dalam kepalanya.

Yunho tertawa mengejek. “Bukan salahku kalau aku yang tercepat sedangkan kalian lebih lamban daripada aku.”

Ketika kawanan ini berubah bentuk menjadi serigala, mereka hanya bisa berbicara lewat pikiran dimana semua anggota kawanan akan bisa saling mendengarkan asalkan mereka dalam bentuk yang sama pada saat itu.

Perumahan penduduk di desa kecil mereka yang indah sudah terlihat di depan sana. Mentari sudah mulai turun ke peraduannya, siap menyinari belahan bumi lain hari itu. Yunho memperlambat laju dari keempat kakinya dan berhenti di balik sebuah pohon besar. Disana, ia meregangkan otot-ototnya lalu secara perlahan tubuhnya yang kekar kembali ke wujud manusia biasa. Tampan dan rupawan.

Ketika ia melangkah keluar dari balik pohon, dilihatnya teman-temannya juga sudah mulai bertransformasi kembali menjadi manusia. Tubuh-tubuh kekar kecoklatan dengan paras jantan berjalan mendekatinya.

“Bagus sekali. Bagaimana kalau besok kita menelusuri hutan di tenggara?” tanya Yunho.

“Semakin jauh kita pergi semakin bagus, kau tahu aku selalu suka bertualang.” Sahut Yonghwa seraya mengibaskan rambutnya yang diikuti senyum mengejek dari lelaki jangkung di sebelahnya, Kris.

Kumpulan lelaki itu memang selalu bertualang di sela-sela waktu luang mereka. Keinginan untuk menguasai seluruh hutan belantara semakin besar setiap kali mereka berhasil mengintari sebuah daerah baru tanpa tersesat. Tujuannya sudah jelas, mereka perlu menandai setiap hutan yang dilintasi agar bisa memperluas daerah kekuasaan.

“Anak-anak, kembalilah. Hari sudah hampir gelap. Temuilah ibu kalian lalu bersiap-siaplah. Pertemuan akan dilaksanakan sebelum bulan purnama.”

Sosok lelaki tinggi besar memanggil mereka. Tubuhnya kekar, rambutnya hampir seluruhnya berwarna putih dan rahangnya yang kokoh membuat siapa saja langsung menunduk hormat padanya. Jinyoung adalah salah satu Henuriad.

Para pemuda itu mengangguk patuh lalu mengambil jalan yang berbeda-beda guna kembali ke rumah mereka masing-masing untuk bertemu dengan ibu mereka sesuai perintah Jinyoung. Suku ini sangat mendewakan seorang ibu. Konon, wanita Gyfraddia pertama pernah diberkati langsung oleh dewi Aprodhite sendiri. Dan para lelaki ditugaskan untuk menghormati dan menghargai para wanita melebihi apapun. Oleh karena itu para serigala wajib bertemu ibunya sebelum dan  sesudah bepergian.

Mentari sudah benar-benar tenggelam sekarang, bintang-bintang mulai muncul dan berkelip di angkasa. Sebentar lagi, saat purnama sudah benar-benar muncul di arah lintang timur, pertemuan akan dilaksanakan.

*

            Gyfraddia adalah salah satu suku tertua di bumi. Pada awalnya suku ini hanya merupakan  kelompok kecil yang kuat karena kemampuan mereka bertransformasi menjadi makhluk perkasa dan mampu membuat mereka menaklukkan kelompok-kelompok lain dari berbagai belahan bumi hingga akhirnya mereka menjadi satu kelompok besar lalu mengatasnamakan diri mereka sebagai suku Gyfraddia.

Selama ratusan tahun, perkembangan suku ini sangat pesat. Dengan demikian, lahirlah para werewolf muda sebagai penerus. Keberadaan mereka sama sekali tidak mengganggu karena walaupun setengah anggota suku adalah werewolf, mereka tidak memburu manusia sebagai santapan melainkan makan seperti manusia biasa. Namun ternyata karena keresahan para manusia biasa yang sempat melihat transformasi mereka saat berburu di hutan semakin besar, maka suku ini mulai diburu dan dibinasakan.

Oleh karena itu suku Gyfraddia mengambil langkah untuk hidup nomaden alias berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang dianggap aman dari kejaran manusia demi menyelamatkan keeksistensian suku mereka. Namun pada akhirnya mereka memilih untuk menetap dan berkembang biak di salah satu hutan besar yang indah, jauh dari para manusia yang hendak memusnahkan mereka.

Transformasi menjadi manusia serigala bisa dilakukan oleh lelaki maupun wanita asalkan ia merupakan turunan langsung dari werewolf itu sendiri. Karena pada awalnya hanya sebagian dari suku ini yang merupakan werewolf asli, maka mereka menikahi anggota sukunya yang masih sepenuhnya berstatus manusia biasa hingga akhirnya kini tidak ada lagi manusia biasa yang tersisa diantara mereka.

Tahun kelima belas dalam hidup adalah tahun penting bagi suku Gyfraddia dimana mereka mulai bisa bertransformasi menjadi manusia serigala dan akan mendapatkan kekuatan penuh ditahun ke tujuh belas.

Seperti manusia biasa, mereka mempunyai sistem koordinasi kepemimpinan. Para tetua suku disebut Henuriad. Pemimpin suku disebut Arweinydd. Sedangkan pemimpin kawanan manusia serigala adalah alpha. Dan para anggota kawanan disebut Eifre. Pergantian Arweinydd dilakukan setiap sepuluh tahun sekali sedangkan seorang alpha hanya akan diganti apabila Alpha yang bersangkutan meninggal dunia.

Alpha memimpin para serigala muda dengan kisaran umur 15-35 tahun. Sedangkan manusia serigala yang berumur diatas itu, disebut Rhyfel yang hanya bertransformasi jika dalam keadaan mendesak. Rhyfel dipimpin langsung oleh sang Arweinydd, yang saat ini ditatahkan kepada Junjin, ayah Yunho.

“Dan seperti yang kalian ketahui, Alpha kalian adalah Yunho. Artinya, ia adalah pimpinan kalian para serigala muda. Kata-katanya adalah perintah dan kewajiban kalian adalah untuk melaksanakannya. Alpha tidak boleh dilawan. Bagi yang melawan akan dianggap sebagai pemberontak. Dan hukuman bagi pemberontak adalah dikeluarkan dari selamanya dari Gyfraddia. Kalian mengerti?”

Jinyoung, sang pemimpin concinode terpilih malam itu duduk sebagai pusat dari lingkaran besar yang terdiri dari para remaja juga lelaki dan wanita yang hampir dewasa. Matanya yang tajam menyapu seluruh anak didiknya malam itu sementara bibirnya menceritakan kisah suku mereka yang sangat disukai oleh Yunho dan kawan-kawannya walaupun mereka telah mendengarnya berulang kali di setiap tahun.

Terdengar gumam-gumam tanda paham dari para anggota muda saat itu. Wajah-wajah tampan nan lugu dihiasi ketakutan mendengar kata-kata Jinyoung.

“Aku tidak mendengar suara kalian! Ucapkan dengan lantang!” suara Jinyoung menggelegar di udara. Membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya.

“Kami mengerti.” jawab para anggota muda itu dengan suara keras yang terdengar seperti deking ketakutan.

Jinyoung lalu melanjutkan beberapa peraturan yang wajib dipatuhi oleh para serigala muda. Pertemuan yang diadakan setahun sekali itu dinamakan Concinode. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan anak-anak yang telah memasuki usia tiga belas tahun ke atas dan mendidik mereka mengenai budaya, aturan, hak dan kewajiban para penerus dalam suku mereka, baik perempuan maupun lelaki.

“Sedikit saja, hyung.. Aku letih mendengar wejangan dari Jinyoung-syr..” rengek Kyungsoo pada Yunho ketika pertemuan telah selesai. Kini saatnya mereka makan menyantap makan malam dan minum arak, hal yang biasanya dilakukan setelah concinode.

Yunho menggeleng keras. “Besok kita semua akan sibuk berjelajah. Dan ini pertama kalinya kau dan Jongin akan turut serta, aku tidak ingin kau mabuk lalu kelelahan.”

Kyungsoo tidak menyerah, ia menggoyang-goyangkan lengan kakak kandungnya itu dengan rengekan khasnya.

“Ya! Hentikan. Jika henuriad mendengarmu maka mereka akan berpikir kau tak pantas menjadi bagian dari kami.” Bisik Gikwang keras.

“Yunho..”

Yunho menoleh dan mendapati sahabat sedari kecilnya, Yuri, sudah berdiri di sampingnya. Gadis seksi yang terkuat diantara para werewolf wanita itu kemudian menggandeng lengan sang Alpha dengan mesra.

“Hai cantik.. Kau selalu bersinar, seperti biasa.” Puji Yunho.

Yuri tertawa kecil. “Dan kau selalu pandai menggombal, seperti biasa.”

“Hyung..” kembali Kyungsoo terdengar mengeluh.

“Biarkan dia minum segelas atau dua gelas. Usianya baru saja menginjak 17 tahun seminggu yang lalu. Setidaknya biarkan dia merayakan kebebasannya.” Ujar Yuri ketika dilihatnya Yunho akan menghardik adiknya lagi.

Yunho menghela nafas panjang. “Baik. Segelas saja. Hanya segelas atau tidak sama sekali.”

Mata Kyungsoo berbinar ceria. “Arasso! Terima kasih nuna.”

Lelaki bertubuh mungil itu lalu berlari menyongsong Jongin, Hoya dan Minho yang sedaritadi telah menunggunya dengan tatapan was-was kalau saja sang Alpha tidak mengijinkan Kyungsoo untuk ikut minum malam itu.

“Awasi dia.” Perintah Yunho pada Gikwang dan Yonghwa yang langsung dijawab dengan anggukan patuh dari keduanya.

Yunho kembali menoleh pada Yuri. Mereka baru akan mengobrol ketika dilihatnya ayahnya melepaskan diri dari cengkraman para henuriad dan mendatangi mereka.

“Aboji datang.” Bisik Yunho tajam.

Yuri mengerti, ia mempererat pelukannya di lengan Yunho. Seraya tersenyum, ia menyambut kedatangan sang  Arweinyd.

“Abonim..”

Junjin tersenyum melihat putra sulungnya, sang Alpha, berbahagia bersama sahabatnya. “Kalian berdua selalu menempel satu sama lain. Kapan kalian akan mulai saling jatuh cinta? Aku pasti akan lebih bangga lagi padamu, putraku, jika kau berhasil menaklukkan the black pearl.”

“Dia yang terbaik, ayah.” Jawab Yunho dengan bangga. “Aku akan memberitahu ayah jika kami akhirnya memutuskan untuk saling jatuh cinta.”

“Tentu saja. Aku bahkan tidak berpikir ada wanita lain yang pantas mendampingimu selain Yuri. Nah, bersenang-senanglah.” Junjin kemudian pergi menghampiri istrinya yang kini tengah berbicara dengan kedua orang tua Yuri.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yuri sepeninggal Junjin.

Yunho mengangguk walau wajahnya terlihat sedikit murung. Yunho dan Yuri bersahabat dekat seperti saudara kandung. Walaupun kedua orang tua mereka mengharapkan lebih, tapi keduanya masih saja sulit untuk melihat satu sama lain sebagai lelaki dan perempuan pada umumnya, bukan sebagai sahabat. Keduanya mencintai orang lain.

“Oh ayolah, jangan mengeluarkan mimik seperti itu. Lihat, sudah waktunya.” Tunjuk Yuri ke langit. Yunho ikut menegadah. Bulan sudah berada tepat diatas kepala mereka. Wajahnya berubah ceria.

“Ayo ke danau.”

Ia kemudian memimpin langkah keduanya memasuki hutan. Kawanannya mengerti, mereka mengikuti langkah sang Alpha. Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah danau dengan air jernih. Sinar bulan yang indah memantul di atas air, membuat danau itu tampak seperti kerumunan berlian di malam hari.

“Bulan tampak sempurna, oh.. tidak bisakah kita berkelana malam ini?” tanya Yonghwa penuh semangat.

“Tidak.” Sahut Yunho tegas. “Kita sudah berjelajah seharian tadi dan kita akan mengajari Kyungsoo dan Jongin besok, kalian tidak boleh lelah malam ini.”

Alpha benar.” Kata Minho menyetujui. Perlahan ia mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. “Aku lebih suka melakukan hal ini.”

Byur..!

Minho melompat lalu menceburkan diri ke dalam danau gelap itu. Tubuhnya menghilang di dalam kumpulan air itu, namun detik berikutnya ia muncul dengan jeritan riang.

“Whoooo.. Menyenangkan sekali..!”

Hoya dan Gikwang saling melemparkan pandangan bergairah. Mereka kemudian mengikuti jejak sahabat mereka, terjun ke dalam air dan menikmati malam indah itu sambil berenang di bawah sinar rembulan.

Satu persatu mulai ikut menanggalkan atasan mereka dan ikut berenang di sana. Ketika Yunho akhirnya tergoda untuk ikut, sebuah suara menyapanya.

“Kalian tidak mengajakku?”

Yunho menoleh. Disana, berdiri dua pria tampan dan seorang gadis cantik. Sinar bulan jatuh tepat ke tubuh mereka yang rupawan. Taecyeon, Kyuhyun dan Sandara. Hati Yunho berdesir ketika matanya bersitatap dengan pemuda yang tubuhnya lebih kecil dari pada Taecyeon itu.

Yunho lalu berlari menyongsong ketiganya. Pertama-tama ia menyongsong adik kandungnya, Sandara, lalu menyusul kedua lelaki lainnya.

“Kalian sudah kembali? Apa kalian baik-baik saja? Dara, apa kau baik-baik saja?” tanya Yunho seraya memeriksa keadaan adiknya secara menyeluruh.

“Aku baik-baik saja. Oppa tidak perlu khawatir.” Jawab Dara dengan tenang.

Taecyeon mengangguk. “Maaf jika kami kembali cukup lama. Kami benar-benar harus mengamati lebih cermat dan mengumpulkan informasi lebih banyak.”

“Kami juga membawa berita untukmu.” Kyuhyun menambahkan.

“Jelaskan.” Perintah Yunho.

Ketiganya mulai menjelaskan semua hasil pengamatan mereka selama beberapa hari. Dan tampaknya sang Alpha tidak menyukai berita-berita tersebut.

*

            “Apa ada beban pikiran yang mengganggumu? Ayah lihat kau cukup diam sejak semalam.” tanya Junjin pada anak sulungnya, Yunho.

Yunho menghela nafas panjang. Ia adalah seorang Alpha. Sudah seharusnya ia berkonsultasi dengan ayahnya yang sekaligus merupakan Arweinydd sukunya. Namun, ia tidak yakin ayahnya akan bersikap biasa jika mendengar laporannya.

“Yunho..” Junjin kembali memanggil anaknya. “Dan kau juga belum melaporkan hasil pengamatan Taecyeon, Sandara dan Kyuhyun.”

“Mengenai itu.. Aku memang akan melaporkannya pada ayah. Aku hanya sedikit bingung, apa yang harus kulakukan.”

Ya, Yunho sangat bingung saat ini. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa karena ia masih tidak bisa mempercayai telinganya sendiri. Beberapa waktu lalu ia mengutus tiga orang untuk mengawasi daerah barat yang dikabarkan muncul suku baru yang cukup kuat dan mendominasi hampir semua hutan di sana.

Jika Yunho dan kawanannya akan berjelajah, tentu saja mereka harus tahu daerah kekuasaan orang lain agar tidak melanggarnya dan menyebabkan perang. Jika mereka menemukan daerah kosong, mereka bisa menandainya sebagai daerah kekuasaan mereka yang baru. Semua ini adalah tentang memperluas daerah kekuasaan.

Tiga orang tersebut adalah Kyuhyun – sepupu Gikwang yang indera penciumannya sangat tajam, Sandara – adik kandungnya sendiri yang pendengarannya sangat jernih, serta Taecyeon yang terkuat kedua setelah Yunho dalam kawanan. Tujuannya ia ikut agar bisa melindungi Sandara dan Kyuhyun jika tiba-tiba ada hal-hal tak diinginkan terjadi.

“Kau adalah seorang Alpha. Kau tidak boleh berada dalam posisi kebingungan. Semua masalah harus dicarikan jalan keluar secepatnya. Ingat, para werewolf  bergantung padamu.” Kata Junjin dengan bijak. “Nah, mulailah menjelaskan.”

Yunho terlihat menarik nafas sebentar lalu menghembuskannya perlahan barulah ia memulai ceritanya.

“Taecyeon membawa kabar buruk. Selama penjelajahannya ke selatan, ia menemukan banyak dari sisa-sisa suku Drygioni yang masih hidup bersatu dengan suku dari barat yang menamakan diri mereka Heglog. Dan mereka tengah menyusun kekuatan.”

Seperti yang Yunho tebak dari awal, ayahnya terlihat sangat terkejut. “Drygioni? Manusia-manusia bersisik seperti ular itu? Kupikir mereka benar-benar sudah binasa. Dan.. suku apa Heglog itu?”

“Manusia berbulu seperti tarantula. Mereka dikabarkan cukup kuat.” Yunho terdiam sebentar kemudian melanjutkan. “Ayah, inilah yang membuatku cukup bingung. Jika Drygioni kembali membangun pasukannya bahkan menjalin persahabatan dengan Heglog, apa yang akan terjadi? Karena aku masih ingat jelas cerita kakek kalau suku kitalah yang membinasakan Drygioni. Apakah mereka..”

“Pikirkanlah kemungkinan terburuk. Lebih baik waspada. Mulailah mempersiapkan kawananmu.”

Inilah yang Yunho takutkan. Ia tidak ingin ada perang. Selama bertahun-tahun mereka hidup dengan tenang dan kini tiba-tiba mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya karena kembalinya salah satu bangsa yang pernah dimusnahkan oleh bangsanya sendiri.

“Dan jangan berjelajah terlalu jauh terutama ketika kau membawa adik-adikmu. Keselamatan kawanan ada di pundakmu, Alpha. Ingat itu.”

*

            “Tampaknya kosong.” Suara Taecyeon bergema di kepala Yunho.

“Tidak. Jangan gegabah. Teruskan mencari tanda-tanda tertentu. Aku khawatir tempat ini sudah dikuasai suku lain.” kata Yunho lewat pikirannya.

Ia sendiri terus berlari, matanya dengan sigap menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari tanda kekuasaan suku tertentu. Hari itu mereka memulai penjelajahan ke tenggara, mereka hanya berharap mendapatkan daerah baru sebagai daerah kekuasaan mereka.

“Kupikir tempat ini memang kosong. Aku sudah mengecek dengan seksama. Tidak ada tanda-tanda kekuasaan disini, Alpha.” Kali ini Minho yang berbicara.

“Benar. Aku dan Gikwang sudah berbalik dan menelusuri tempat ini dengan teliti. Sepertinya memang kosong.” Hoya menambahkan yang diiyakan oleh Gikwang.

“Apa ini artinya kita mempunyai daerah kekuasaan baru?” tanya Yonghwa.

Yunho tidak langsung menjawab. Ia mencari lokasi terbuka lalu berhenti di tepi sebuah sungai kecil. Di sana, ia meminum air sungai jernih itu, melepaskan dahaganya setelah berlari selama hampir dua jam. Kawanannya mengikuti jejaknya, semua minum dengan cepat, membasahi kerongkongan kering mereka.

“Aku senang karena penjelajahan kita tidak sia-sia. Kita mendapatkan daerah kekuasaan baru. Hidup Gyfraddia.” Seru Yunho dengan bangga.

“Hidup Gyfraddia!” seru kawanannya dengan penuh semangat.

Yunho lalu berlari mendekati sebuah pohon terbesar yang tampak berumur puluhan tahun. Ia lalu meraung keras seraya menanamkan cakarnya dalam-dalam di batang pohon itu kemudian menggoresnya dalam lima garis panjang. Tempat itu telah ditandai oleh Alpha dari Gyfraddia.

Kesebelas werewolf yang ikut bersamanya itu melolong keras. Bersuka cita atas pencapaian mereka hari itu.

“Selamat Alpha, kau berhasil lagi hari ini.” tutur Yuri dari seberang sungai. Ia duduk melintang dengan anggun seraya menatap sang Alpha.

“Terima kasih, black pearl. Kurasa malam nanti kita pantas mengadakan sebuah perayaan.” Balas Yunho dalam pikirannya.

“Aku setuju! Aku ingin berdansa dan bernyanyi di depan api unggun.” Sandara menimpali dengan ceria sementara di sampingnya Yonghwa, sang kekasih, tengah mengendusnya dengan mesra.

“Kasihan sekali Alpha kita harus menonton adik-adiknya bercumbu.” Gikwang menyalak riang ke arah sang Alpha yang duduk sendiri. Minho, Hoya dan Jongin ikut menyalak riang mengejek Alpha mereka yang kesepian.

Yunho mengamati Sandara yang asik bercumbu dengan Yonghwa, keduanya tampak sangat bahagia. Sedangkan si bungu Kyungsoo tengah bersandar di dada Kris, kekasihnya. Kris tampak menanggapi semua cerita-cerita Kyungsoo dengan tenang.

Yunho menyadari, ia memang belum mempunyai pasangan. Bukan berati ia tidak disukai. Siapa yang tidak mau menjadi pasangan sang Alpha? Namun, hatinya sudah terpikat oleh sosok putih bersih yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya, Kyuhyun.

Yunho menyukai Kyuhyun. Dan ia tahu Kyuhyun juga menyukainya. Tapi ia belum menemukan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Mungkin tidak untuk saat ini. mereka masih punya banyak waktu.

Di seberang sana, Kyuhyun masih menatapnya dengan sorot malu-malu. Ia duduk di atas sebuah batu besar dengan dagu bersandar sepenuhnya pada kedua kaki depannya. Lucu dan menggemaskan.

Hanya Kyuhyun dan Sandara yang mempunyai bulu putih bersih. Sedangkan hanya Yunho yang mempunyai bulu hitam pekat dan berkilau.

Seperti julukannya, black pearl, Yuri memiliki bulu yang juga berwarna hitam namun tidak sepekat milik Yunho. Tidak ada yang bisa menyamai warna bulu Yunho karena ia adalah Alpha, pimpinan dari kawanan.

Tiba-tiba tatapan Yunho yang mendalam pada Kyuhyun buyar karena pekikan dari Jongin. Yunho segera menoleh mencari sumber suara dan hatinya langsung mencelos melihat pemandangan yang tersaji di sana.

Sepuluh lelaki gondrong bertubuh besar dengan bulu-bulu kaku berwarna hitam yang tumbuh di seputar lengan dan bahu mereka tengah berdiri dengan sikap arogan, berjejer menghadap kawanan werewolf Gyfraddia. Tubuh mereka sedikit membungkuk. Jika diperhatikan sengan seksama, mereka seperti tarantula berwujud manusia.

“Mereka adalah suku Heglog yang kuceritakan!” seru Taecyeon.

Hoya dan Jongin berada di posisi terdekat dengan para lelaki itu. Jongin bangkit dari posisinya yang tadi sempat terpental. Di sampingnya, Hoya mengeram marah. Dari posisi Jongin saat ini, sepertinya ia baru saja dilukai.

“Jongin.. Apa kau baik-baik saja?” tanya Yunho.

“Aku baik-baik saja, Alpha. Pimpinan mereka tadi menendangku dengan keras. Tapi sepertinya mereka tidak tahu seberapa kuatnya kita hingga mengira dengan tendangan seperti itu akan membuatku terluka.” Jawab Jongin dengan nada sedikit marah.

“Lindungi Kyungsoo dan Sandara!” Perintah Yunho. Segera setelah ia mengucapkan perintahnya, seluruh kawanan membentuk lingkaran dengan Kyungsoo dan Sandara di tengah.

Yunho melangkah maju dengan langkah-langkah waspada dan berhenti tepat di depan Jongin dan Hoya. Matanya tetap mengarah langsung pada mata seseorang yang berada di tengah

barisan Heglog yang diduga adalah pimpinannya jika dilihat dari ukurannya yang sedikit lebih besar daripada yang lain.

“Oh.. Apakah kalian adalah werewolf dari Gyfraddia yang terkenal itu? Sungguh, sudah lama aku ingin mengenal kalian.” Kata sang pemimpin pada Yunho.

Yunho menjawab dengan geraman rendah dan dalam. Posisi waspada tengah menguasainya.

“Aku kemari karena kutahu daerah ini kosong. Tapi sepertinya kalian telah menempatinya terlebih dahulu.” Katanya lagi.

“Mereka telah menandainya.” Bisik seseorang yang berdiri di sebelah kanan sang pemimpin.

“Menandainya? Ah.. curang sekali. Bukankah seharusnya ia memberikannya pada suku kecil seperti kita yang tidak punya banyak daerah kekuasaan? Betapa rakusnya suku yang satu ini.” kata lelaki itu lagi seraya menyeringai memamerkan giginya yang kuning dan gusinya yang menghitam.

Kembali Yunho mengeram. Kali ini sedikit tinggi dari yang pertama. Di belakang, kawanannya tampak siap seperti dirinya.

Alpha, waspadalah.” Suara merdu Kyuhyun muncul dalam kepala Yunho, memberinya kekuatan lebih.

Mereka terlihat kuat. Walaupun jumlah kawnan Yunho sedikit lebih banyak, tapi mereka membawa Kyungsoo dan Jongin hari ini. Dan mereka tidak boleh terluka. Mereka ikut untuk belajar, bukan untuk bertempur. Dan lagi, ia membawa Sandara. Ayahnya tidak akan suka jika anak perempuannya terluka.

Satu-satunya jalan saat ini adalah menghindari pertempuran demi keselamatan yang lain. Pelan-pelan Yunho berjalan mundur, diikuti kawanannya.

“Hei.. Mau kemana kalian? Apa kalian terlalu takut menghadapi kami? Selemah itukah kau sebagai pemimpin?” ejek sang pemimpin Heglog pada Yunho.

“Setelah sekian lama aku ingin bertemu kalian dengan hanya mendengar cerita-cerita tentang betapa kuatnya kalian, kini kalian akan mundur begitu saja? Tidak, tidak akan kubiarkan. Aku ingin membuktikan sendiri legenda kekuatan kalian. Jadi.. bersiaplah..”

Detik berikutnya ia sudah berlari cepat, mengarahkan tombak besarnya kedepan, menerjang sang Alpha..

*

Yunkyu Yuri Sandara

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 7

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa, Lee Joon Hyuk and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 7

Hari yang ditentukan telah tiba, dimana hari yang paling dinantikan oleh Kyuhyun tapi juga paling dibenci oleh kakeknya. Di hari senin yang cerah itu, seluruh anggota keluarga Cho yang awalnya melarikan diri telah kembali ke rumah. Sebenarnya Mr. dan Mrs. Cho juga lega karena kepulangan anak dan cucu-cucunya, kalau saja Kyuhyun tidak melakukan tekanan pada awalnya.

Dan kini, dihadapan seluruh anggota keluarga, disaksikan oleh team pengacara Kyuhyun yang dipimpin oleh Lee Joon Hyuk, Mr. Cho menyerahkan semua hartanya kepada cucu pertamanya, Cho Kyuhyun.

“Dengan ini, saya selaku pihak pertama memberikan 80% hak kepemilikan harta saya kepada cucu pertama saya, Cho Kyuhyun, dan tidak lagi mencampuri urusan keuangan maupun perusahaan utama seperti yang telah saya setujui sebelumnya. Sebanyak 20% sisa properti masih akan menjadi milik saya berikut keuangannya.” Kata Lee Joon Hyuk seraya membacakan isi surat penyerahan harta tersebut.

Kemudian ia melanjutkan. “Kepada Mr. Cho, silahkan tanda tangan disini. Dan anda, Kyuhyun-ssi, silahkan tanda tangan disini.”

Setelah Mr. Cho membubuhkan tanda tangan mereka di tempat yang ditentukan oleh Joon Hyuk, ia lalu memasukkan surat itu kedalam amplop dan menyegelnya dengan rapi. Tidak lupa ia membubuhkan cap dari firma hukumnya.

“Sesuai dengan surat yang ditulis oleh Cho Kyuhyun, maka dengan ini beliau sebagai pemilik semua kekayaan dan properti dari Cho Corporation akan dibagi secara adil kepada Cho Kyuhyun sendiri, Cho Mhia, Cho Jonghyun dan Cho Shin Hye.” Kata Lee Joon Hyuk lagi.

Betapa leganya Cho In Sung saat itu, ia tidak perlu takut lagi anak-anaknya akan terlantar karena kemarahan ayahnya. Kyuhyun sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik seperti yang ia katakan dulu. Ia bahkan membagi dengan adil properti lainnya agar adik-adiknya mendapatkan hak yang sama.

Setelah berita acara pembagian harta dilaksanakan, Mr. dan Mrs. Cho meninggalkan ruangan. Mereka terlalu muak melihat wajah Kyuhyun yang polos tapi ternyata sangat jahat. Namun Song Ji Hyo tetap ada disana. Tetap duduk dengan tegak, menunjukkan sisi tangguhnya.

“Omoni, maafkan kami karena telah meninggalkan omoni sendirian disini.” Kata Mhia membuka percakapan dengan Ji Hyo.

“Mhia benar, kami minta maaf. Bukan maksud kami untuk pergi dan meninggalkanmu sendirian, tapi kami hanya tidak ingin Shin Hye mendapatkan ketidakadilan hanya karena masih bernaung di rumah ini.” kata Ye Jin menjelaskan.

Song Ji Hyo menatap Ye Jin dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apakah dengan itu kalian dengan bebas membawa kedua anakku pergi? Siapa kau? Jonghyun dan Shin Hye adalah anak dari rahimku. Keduanya adalah milikku. Kau tidak berhak membawanya. Bahkan In Sung oppa juga tidak berhak membawanya hanya karena dia adalah ayahnya. Aku ini ibunya!”

Cho In Sung tahu benar bahwa yang dikatakan Song Ji Hyo ada benarnya. Sangat tidak adil membawa anak-anak mereka jauh dari ibunya. Sekaku apapun hubungan mereka, seburuk apapun itu, anak-anak tidak seharusnya dipisahkan dari orang yang yang telah membawa mereka ke dunia ini, ibunya.

“Aku tahu, aku bersalah. Tapi sekarang bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Akupun tidak akan menyalahkanmu karena menjodohkan Shin Hye dengan Siwon. Aku sangat mengerti bahwa kau berpikir yang terbaik untuk anak kita. Tapi setidaknya pikirkanlah kebahagiaan Shin Hye. Dia telah melakukan yang terbaik sesuai keinginanmu selama ini, biarkanlah ia mengikuti kata hatinya sekali ini saja. Aku yakin, jika kau mau mencoba mengenal Yonghwa, kau pasti tahu bahwa dia adalah orang yang tepat untuk Shin Hye. Bukankah seorang ibu selalu tahu?” kata In Sung lembut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menggenggam tangan Ji Hyo atas keinginannya sendiri. Ketika mata keduanya bertemu, lagi-lagi untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tersenyum tulus pada istri keduanya itu. Melihat itu, Ji Hyo menjatuhkan dirinya dalam pelukan In Sung dan menangis tersedu-sedu disana.

Selama pelariannya, In Sung banyak berintrospeksi dan diberi saran oleh Ye Jin. Dari awal ia sudah tahu bahwa ia bertemu dengan seorang wanita berhati paling murni di dunia. Penuh kasih sayang, cinta dan pengertian. Son Ye Jin lah yang membuka mata In Sung bahwa Song Ji Hyo tidak akan mungkin bersikap seperti ini jika dari awal dirinya bisa membagi kasih sayang kepada kedua istrinya dengan adil.

Dengan sabar Ye Jin menyadarkan suaminya agar mulai bersikap adil pada Ji Hyo. Walaupun ia tidak bisa mencintai Ji Hyo sepenuh hati, namun Ji Hyo adalah ibu dari kedua anaknya. Jonghyun dan Shin Hye juga pasti akan bahagia jika ibu mereka bisa diterima oleh ayah mereka sendiri. Jadi tidak ada lagi perbedaan diantara anak-anak Cho. Bahkan Ji Hyo mungkin saja bisa membuka hatinya untuk Kyuhyun dan Mhia.

Sejak saat itu, In Sung banyak berpikir. Pelan-pelan ia mulai menyadari bahwa semua yang dikatakan istrinya memang benar. Bukan kesalahan Ji Hyo sepenuhnya kalau ia harus terjepit dengan keadaan seperti ini tetapi karena intimidasi kedua orang tuanya. Jika Ji Hyo pernah bersalah, sudah seharusnya ia memaafkannya. Karena, sampai kapanpun Ji Hyo tetap ibu dari kedua anaknya. Sudah saatnya merobohkan dinding kokoh yang menghalangi hubungan Ji Hyo dan Ye Jin serta anak-anak mereka.

“Oppa.. Mianhae..” isak Ji Hyo.

“Tidak apa-apa. Aku juga banyak bersalah padamu.  Jadi jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Bisakah kita semua memulai lagi dari awal? Aku, kau, Ye Jin dan anak-anak?” tanya In Sung.

Song Ji Hyo melepaskan pelukannya. Ia menghapus airmatanya lalu memandang suaminya, Son Ye Jin kemudian kedua anak kandungnya dan kedua anak tirinya. Ia tahu, sudah saatnya menghentikan semuanya. Sudah saatnya ia belajar menerima bahwa suaminya mempunyai istri dan anak-anak lain. Artinya In Sung harus membagi kasih sayangnya. Dan kini suaminya itu mengulurkan tawaran baru : memulai segalanya dari awal, meninggalkan segala masalah yang telah lewat di belakang. Bukankah ini bagus? Artinya In Sung sudah mulai membuka dirinya untuk Ji Hyo.

“Aku tahu ini sulit. Oppa akan sulit menerimaku, begitu juga Ye Jin. Aku sendiri merasa cukup sulit menerima kenyataan bahwa aku harus berbagi. Tapi, jika oppa dan Ye Jin mau belajar dan berusaha, mengapa aku tidak? Tolong bantu aku..” kata Ji Hyo akhirnya.

Son Ye Jin mendekatkan dirinya pada Ji Hyo. “Ji Hyo-ssi, aku tidak pernah keberatan jika harus berbagi. Bukankah kita ini keluarga? Sudah sepantasnya keluarga saling berbagi kan?”

Kedua wanita paruh baya itu lalu saling berpelukan sambil menangis. Keempat anak mereka beserta In Sung melihatnya dengan penuh sukacita. Mhia dan Shin Hye bahkan ikut menangis.

Cukup lama situasi haru menyelimuti mereka. Bahkan Ji Hyo memeluk keempat anak-anaknya satu persatu setelah itu.

“Baiklah.. Kita sudah saling menerima sekarang. Bagaimana kalau kita membahas soal pernikahan Kyuhyun dan Siwon?” kata In Sung memecahkan suasana.

“Benar.. Karena Shin Hye dan Yonghwa sudah bersama, tidak mungkin Shin Hye melakukan pernikahan itu kan? Kyu, kapan kau mau membicarakan masalah pernikahannya? Apa kau mau melakukannya di tanggal yang telah di tetapkan? Dengan kata lain kau tinggal menggantikan Shin Hye. Tapi jika kau keberatan, kita bisa memilih tanggal lain.” kata Ji Hyo. Ia terlihat lebih tulus kini.

Kyuhyun tersenyum canggung. Sejak kejadian ia menemukan Siwon bersama wanita lain di hotel tempo hari, ia belum berhubungan lagi dengan Siwon. Ia memblokir nomor telepon Siwon hingga Siwon sendiri sulit menghubungi Kyuhyun. Bukannya tidak mau bersikap dewasa, Kyuhyun hanya ingin fokus pada masalah keluarganya barulah ia bicara dengan Siwon. Karena jika bicara dengan hati panas, maka semua tidak akan berhasil. Ia harus meredakan amarahnya dulu.

“Oppa..?” Shin Hye menyentuh lengan Kyuhyun hingga membuatnya sedikit tersentak dari lamunannya.

“Eh? Bagaimana kalau kita mengundur pernikahannya dulu? Aku.. Ingin membicarakannya lagi dengan Siwon hyung, jadi..”

“Mengundur? Tapi Kyu, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa kau sangat mencintai Siwon? Mengapa kau ingin mengundurnya lagi?” tanya Ye Jin.

Kyuhyun jadi bingung. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana mungkin ia mengatakan pada keluarganya bahwa ia menemukan Siwon sedang telanjang di kasur sementara ada wanita yang juga telanjang dalam kamar itu? Walaupun Kyuhyun tidak melihat kejadiannya, tapi tidak mungkin Siwon dan wanita itu hanya saling menatap dalam keadaan seperti itu kan?

*

            “Kau yakin?” tanya Joon Hyuk pada Kyuhyun.

“Hyung, bisa jadi mereka salah orang. Kita pulang saja, siapa tahu laporan itu salah.” Kata Jonghyun.

Larut malam itu, ketiganya tengah menunggu dengan sabar di dalam mobil Joon Hyuk. Sudah hampir sejam mereka menunggu tapi Kyuhyun tidak juga bergerak.

“Kyuhyun-ssi..” tegur Joon Hyuk lagi.

“Aku yakin mereka benar. Kita akan menunggu sebentar lagi. Kalau kalian mau pulang terlebih dahulu, silahkan. Aku bisa menunggu sendiri.” Jawab Kyuhyun.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri, hyung?” balas Jonghyun. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke jok mobil dan memandang keluar.

Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, namun ketika mendengar pembicaraan Kyuhyun dan Joon Hyuk di telepon tadi, ia memaksa untuk ikut serta. Sebelumnya Kyuhyun memang bercerita tentang kelakuan Siwon beberapa waktu lalu. Ditambah dengan rencana Joon Hyuk dan Kyuhyun malam ini, maka Jonghyun ingin ikut ambil bagian.

Kyuhyun memang menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengikuti Siwon selama Di Seoul. Dan menurut mereka, Siwon suka menghabiskan malam-malam panjang di salah satu bar mewah yang letaknya cukup tersembunyi. Jadilah Kyuhyun, Joon Hyuk dan Jonghyun ada disana malam ini. Kyuhyun ingin memastikan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang dikatakan oleh anak buahnya itu memang benar atau salah.

Lima belas menit kemudian, pertanyaan ketiganya terjawab. Sebuah mobil hitam memasuki pelataran parkir bar itu dan berhenti tak jauh dari mobil Joon Hyuk. Seorang lelaki muda keluar dari dalam mobil itu. Walaupun suasana gelap dan hanya diterangi lampu jalan, tapi Kyuhyun dan Jonghyun tahu benar bahwa lelaki muda itu adalah Siwon.

Wajah kedua besaudara itu menegang. Mungkin karena berasal dari ayah yang sama dan dilahirkan di hari yang sama, keduanya mempunyai banyak sekali persamaan sifat dan terkadang mereka bahkan seperti mempunyai kontak batin.

“Sialan kau, Choi Siwon!” geram Kyuhyun.

“Sabar Kyuhyun-ssi. Kita harus menunggu sampai dia cukup lama di dalam barulah kita bergerak.” Kata Joon Hyuk.

Namun Kyuhyun membantah. “Kurasa, aku berubah pikiran. Sudah cukup melihatnya masuk kesana, tidak ada alasan lagi untukku memergokinya. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi di dalam.”

“Hyung, bagaimana kalau ternyata Siwon melakukan hal lain di dalam? Bukankah kita harus mencari tahu? Kuakui memang akulah yang paling tidak setuju awalnya kalau kita harus kemari, tapi jika kita pergi begitu saja, pertanyaanmu tidak akan terjawab, hyung!” ujar Jonghyun.

“Jonghyun-ssi benar. Mari kita tunggu saja. Percayalah padaku, setidaknya kau harus memastikan sendiri apa yang terjadi di dalam.” Joon Hyuk menambahkan.

Kyuhyun menyerah. Dia akhirnya setuju dengan pendapat kedua lelaki yang bersamanya itu. Namun ia duduk dengan gelisah. Di satu sisi, ia ingin sekali memergoki Siwon, namun di sisi lain dirinya tak sanggup dan memilih pergi. Ia terlalu takut dengan kenyataan yang akan dilihatnya nanti.

Tiga puluh menit kemudian, Kyuhyun, Jonghyun dan Joon Hyuk melangkah masuk ke bar. Ketiganya memandang berkeliling guna mencari sosok Siwon diantara banyaknya lelaki hidung belang disana.

Pemandangan yang disuguhkan di hadapan mereka sungguh membuat ketiganya muak. Para wanita tak henti-hentinya datang kepada mereka lalu merayu dengan segala cara agar mereka mau menghabiskan malam panjang bersama. Di atas panggung, gadis-gadis muda berlenggak-lenggok dengan pakaian serba mini. Pole dance yang terletak di keempat sudut panggung pun tak ada yang menganggur. Tiang-tiang besi itu berdiri tegak sementara dua orang gadis meliuk-liuk melingkarinya.

Di beberapa tempat terlihat sangkar-sangkar ukuran besar tergantung. Di setiap sangkar ada dua orang gadis dengan hanya mengenakan bikini, meliuk-liuk erotis sambil saling menyentuh satu sama lain, mencoba menggoda para pelanggan yang datang.

“Ini bukan bar biasa, ini tempat prostitusi!” erang Jonghyun.

“Jangan sampai terpisah. Pelan-pelan saja. Lihat baik-baik di setiap tempat, siapa tahu salah satu diantara kita menemukan Siwon terlebih dahulu.” Kata Joon Hyuk.

Ketiganya lalu berjalan pelan-pelan, mata mereka bergerak ke segala arah. Lalu Jonghyun memekik tertahan.

“Hyungnim..”

“Ada apa?” tanya Kyuhyun.

Tangan Jonghyun terangkat jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu tangga melingkar di sudut ruangan.

“Aku melihat Siwon hyung menaiki tangga itu.” kata Jonghyun.

“Kau yakin?” kali ini Joon Hyuk yang bertanya.

Jonghyun mengangguk. Ketiganya lalu bergerak dengan cepat mendekati tangga pualam itu. Diliputi rasa penasaran yang besar, mereka tetap bergerak menaiki anak-anak tangga itu dengan kecepatan yang sama dengan sebelumnya.

Ketika mereka sudah sampai di lantai dua, ketiganya sedikit bingung. Pasalnya lantai dua terdiri dari sebuah koridor panjang dengan banyak pintu di sisi kanan dan kiri.

“Di setiap sisi terdiri dari sepuluh pintu, artinya ada dua puluh kamar. Dan kita harus mencari kamar mana yang dimasuki Siwon. Ini tidak mudah.” Kata Joon Hyuk menganalisis.

Belum sempat Joon Hyuk berpikir lebih jauh, Jonghyun sudah bergerak. Dibukanya pintu pertama di sebelah kiri koridor itu. Begitu Jonghyun masuk, ia cepat-cepat membungkuk hormat sambil mengucapkan maaf beberapa kali. Setelah itu  Jonghyun keluar lalu menutup pintu di belakangnya dengan cepat.

“Wae?” tanya Jonghyun ketika didapatinya Kyuhyun dan Joon Hyuk menatapnya dengan pandangan aneh. “Kita harus mencari tahu dimana si brengsek itu berada kan? Bagaimana mungkin kita menunggu terus-menerus disini?”

“Tidak ada cara lain. Baiklah.” Kata Kyuhyun lalu bergerak ke pintu berikutnya. Joon Hyuk dan Jonghyun ikut bergerak membuka pintu lainnya. Ketiganya sama-sama tidak menemukan Siwon. Mereka harus menanggung malu karena terus-menerus berpura-pura salah masuk kamar dan akhirnya mendapat omelan panjang dari si penyewa kamar.

Kyuhyun hampir saja putus asa ketika matanya menangkap kamar nomor tujuh di sisi kanan koridor. Ia berjanji bahwa ini adalah pintu terakhir yang akan dibukanya, jika memang Siwon tidak ada disana, maka ia akan menyerah.

Kyuhyun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan. Ia mempersiapkan diri untuk menerima makian jika ternyata si penyewa kamar bukan orang yang dicarinya. Lalu dengan sekali sentak, ia membuka pintu itu dengan cepat.

Pemandangan yang disajikan di depannya membuatnya membeku di tempatnya. Kamar yang ia buka ternyata memang kamar yang tepat. Di depannya, Choi Siwon sedang duduk berciuman dengan seorang gadis sementara dua gadis lainnya sedang melakukan oral seks di kemaluannya.

Dengan posisi membelakangi Kyuhyun, Siwon masih asik bercumbu dengan gadis di depannya sedangkan tangannya menjamah tubuh sang gadis malam. Ia dan ketiga gadis-nya tidak sadar bahwa Kyuhyun sudah masuk ke ruangan itu.

“Hyungnim!”

Jong Hyun dan Joon Hyuk sudah ikut masuk ke ruangan itu. Seketika keduanya terperangah melihat Siwon yang mereka kenal sebagai anak bangsawan ternama dan bersikap sopan di depan setiap orang ternyata bertingkah seperti ini di belakang.

“CHOI SIWON..!!!” Kyuhyun berteriak keras. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan kecil itu.

Mendengar  itu Siwon dan gadis-gadisnya berhenti beraktivitas dan menoleh ke arah sumber suara.

“Kyu..hyun.. Kau..” Siwon terkejut luar biasa mendapati Kyuhyun lagi-lagi memergokinya melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. Dengan cepat Siwon bergerak memperbaiki celananya yang berantakan lalu berdiri di depan Kyuhyun.

“Kyu.. Kenapa kau ada disini? Aku..”

“Cukup! Jangan bicara lagi! Kau bahkan tidak pantas menyebut nama hyungku dengan mulut kotormu itu!” bentak Jonghyun. Ekspresi lembut kekanakan yang biasanya menghiasi wajahnya hilang berganti ketegangan.

“Dengarkan, Kyu.. Tidak seharusnya kau..”

“Aku tahu. Tidak seharusnya aku kemari. Tidak seharusnya aku melihat semua ini. Bahkan, tidak seharusnya aku mencintai lelaki bejat sepertimu. Aku tahu..” kata Kyuhyun pelan. Dengan wajah sangat terluka ia keluar dari ruangan itu, disusul oleh Jonghyun.

“Kyuhyun..!”

Siwon hendak mengejar Kyuhyun tapi Joon Hyuk menahannya. “Jangan. Tolong jangan memperumit keadaan. Selesaikan saja urusan anda disini.”

“Siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!” bentak Siwon.

“Aku Lee Joon Hyuk, pengacara Cho Corporation sekaligus kuasa hukum Cho Kyuhyun. Jika ada yang ingin anda sampaikan pada Kyuhyun-ssi, sebaiknya anda mengatakannya kepadaku terlebih dahulu. Dan anda dilarang keras menemuinya tanpa seijin beliau terlebih dahulu.”

*

            Dua hari setelah malam itu, Siwon datang ke rumah keluarga Cho dengan kedua orang tuanya. Seakan tidak pernah terjadi kesalahpahaman dengan dirinya dan Kyuhyun, ia bertingkah sangat wajar di depan seluruh anggota keluarga Cho.

Jonghyun yang sedaritadi ingin sekali merobek-robek wajah Siwon mati-matian menahan keinginannya karena Lee Joon Hyuk terus-menerus memperingatinya.

“Tahan dirimu, Jonghyun-ssi. Kedua orang tua kalian tidak tahu-menahu dengan kejadian beberapa malam lalu. Bagaimana caramu menjelaskannya? Jika kejadian tersebut terungkap, maka nama keluarga kalian juga akan terseret karena malam itu kau dan Kyuhyun juga ada di tempat terkutuk itu. Jadi tolong, setidaknya pikirkan perasaan kedua orangtuamu. Lagipula ini masalah Kyuhyun, dialah yang paling berhak memutuskan apa langkah terbaik untuk masalah ini. Jika dia tidak meminta kita melakukan apa-apa, maka kita harus tetap diam.”

Jonghyun tahu, Lee Joon Hyuk benar. Ini mungkin terlihat seperti masalah sepele, ia bisa saja mengatakan kebenarannya pada keluarganya juga keluarga Siwon. Tapi, dampak setelah itulah yang tidak memungkinkannya untuk berterus terang.

Sementara itu, Kyuhyun menatap Siwon seperti biasa. Ekspresi wajahnya tenang, walaupun sebenarnya ia muak sekali melihat wajah tampan yang dicintainya. Ya, sekejam apapun Siwon menyakitinya, ia tidak bisa membuang perasaan cintanya begitu saja. Jika ia bisa memilih, ia ingin sekali melepas semua perasaan cinta itu dan membuangnya jauh-jauh. Tapi ia tidak bisa. Semakin ia coba, semakin kuat rasa itu menjeratnya.

Dan lagi, ia tidak sanggup mengatakannya pada keluarganya. Rasa cinta yang ia miliki selama bertahun-tahun ternyata bermuara di laut petaka. Kakeknya akan menertawainya karena dulu Kyuhyun sangat bernafsu untuk memiliki Siwon, namun ternyata kejadiannya seperti itu. Di sisi lain, ia sendiri tidak sanggup mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orang tua Siwon yang selalu menatap anaknya dengan penuh rasa bangga. Bagaimana mungkin ia tega menghancurkan perasaan kedua orang yang tidak bersalah itu?

“Jadi, kita tetap akan menyelenggarakan pernikahan Siwon dan Kyuhyun sesuai dengan tanggal yang ditetapkan sebelumnya?” tanya Mr. Choi.

“Tentu saja. Rupanya Kyuhyun sudah tidak mau menunggu lebih lama lagi untuk bersanding dengan Siwon hingga ia tidak mengubah tanggal pernikahan.” Kata Mr. Cho. Setelah kejadian Kyuhyun mengambil hampir seluruh harta kekayaannya, Mr. Cho masih tetap bersikap seperti biasa : bossy. Tapi anggota keluarga yang lain tidak memperdulikan hal itu, karena keadaan mereka sudah jauh lebih baik sejak Kyuhyun yang mengendalikan kekayaan keluarga mereka.

“Berarti kita hanya perlu mengganti cincin, juga pakaian dan sepatu untuk pengantin. Aku sendiri yang akan mengantar Kyuhyun untuk melengkapi kebutuhan pernikahannya.” Kata In Sung menambahkan.

“Bagus sekali. Kami juga sudah tidak sabar melihat Siwon menikah. Kami bangga sekali padanya. Pendidikannya sudah selesai dan ia menjalankan semua amanat kami dengan baik. Pastinya ia akan menjadi suami yang baik untuk Kyuhyun.” kata Mrs. Choi.

Muak sekali Kyuhyun mendengarnya. Ia menatap Siwon dengan tajam, sementara Siwon merasa jengah dengan pandangan itu. Ia tahu benar bahwa Kyuhyun marah padanya. Terbukti dengan keengganan Kyuhyun untuk bicara dengan Siwon. Namun keputusan Kyuhyun untuk tetap menikah dengannya membuatnya sedikit bingung. Apakah Kyuhyun memang mencintainya dan memaafkan perbuatannya, ataukah lelaki itu punya rencana lain? Tapi apapun itu, Siwon bersyukur karena Kyuhyun tidak mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya.

“Nah, bagaimana? Apa yang kalian inginkan untuk hadiah pernikahan kalian? Dan dimana kalian berencana menghabiskan bulan madu kalian?” tanya Son Ye Jin. Dengan didampingi suaminya dan Song Ji Hyo yang kini bersikap sangat baik padanya, ia jadi menemukan keberanian untuk ikut bicara dalam pertemuan keluarga seperti ini.

“Tidak usah repot-repot omonim. Kami tidak ingin hadiah, bisa bersatu dengan Kyuhyun saja sudah membuatku sangat bahagia. Aku tidak perlu hadiah. Mengenai tempat bulan madu, kami akan membicarakannya terlebih dahulu. Dimana tepat terbaik untuk kami tuju.” Kata Siwon dengan sangat sopan.

Selama rapat berlangsung, Kyuhyun dan Jonghyun lebih banyak diam. Sedangkan Shin Hye dan Mhia terlihat sangat bersemangat membicarakan pernikahan Kyuhyun dengan kedua omoni mereka. Sementara In Sung tengah bercakap-cakap dengan Jonghyun, Joon Hyuk, dan Yonghwa.

“Kyu, aku ingin bicara denganmu.” Kata Siwon setelah berhasil ‘menculik’ Kyuhyun ketika semua orang tengah sibuk dengan rencana susunan acara pernikahan nanti.

“Lepaskan aku!” kata Kyuhyun tajam seraya mengibaskan lengannya yang di pegang Siwon.

“Apa yang mau kau bicarakan, hyung? Kuharap penjelasanmu masuk akal.” Kata Kyuhyun masih dengan nada tajam seperti sebelumnya.

Siwon terdiam sebentar lalu mulai bicara. “Kyu, aku tahu aku bersalah. Aku bahkan tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Aku akui, aku sudah sering melakukannya, terutama jika aku tengah dirudung masalah.”

“Aku tahu, semua orang punya masalah dan jalan keluar sendiri-sendiri, tidak lantas melampiaskannya dengan perbuatan bodoh seperti yang kulakukan. Tapi, entah mengapa aku justru bisa menghilangkan beban pikiranku jika melakukannya. Sekali lagi kukatakan, aku bersalah dan aku mengerti jika kau tidak bisa memaafkanku.”

“Mungkin kau merasa dibohongi, dikhianati, dan disakiti. Namun aku tidak pernah melakukannya dengan maksud melukaimu. Aku hanya sudah terbiasa melakukannya sejak dulu, maka sulit sekali bagiku untuk menghilangkan kebiasaanku ini. Aku tahu, kau pasti muak mendengarnya. Terkadang aku sendiri muak dengan hidupku, muak dengan segalanya yang aku hadapi. Ditengah semua masalahku, hanya hal menjijikkan itu yang mampu membuatku sedikit lega. Walaupun memang cara yang aku tempuh untuk menemukan kelegaan itu salah.”

“Ketahuilah Kyu, aku memang bukan yang terbaik untukmu. Aku hanya lelaki lemah yang terlalu takut pada kedua orang tuaku. Aku satu-satunya harapan mereka, aku tidak bisa menolak keinginan mereka walaupun itu tidak sesuai dengan keinginanku sendiri. Oleh karena itu, kumohon padamu.. Batalkan pernikahan ini.”

Kyuhyun terkesiap mendengar kata-kata terakhir Siwon. Pada awalnya memang ia kesal setengah mati. Namun dipertengahan ia justru kasihan dengan lelaki itu. Tapi kata-kata terakhir Siwon membuatnya terkejut. Ia bahkan mempertanyakan apakah telinganya masih bekerja dengan baik, karena ia sendiri tidak yakin dengan apa yang didengarnya barusan.

“Hyung.. Jangan bercanda.”

Siwon menggeleng. Wajahnya yang pucat terlihat lelah. Ia lalu menekuk lututnya dan jatuh bersimpuh di hadapan Kyuhyun.

“Kumohon Kyu, kumohon.. Batalkan pernikahan ini.” kata Siwon lagi.

“Hyung.. Sungguh bodoh jika kau merasa tidak pantas menikahiku karena menyakitiku sebelumnya. Karena aku telah memaafkanmu. Aku akan berusaha melupakannya. Aku akan membantumu untuk berhenti dari kegiatan bodohmu itu.” kata Kyuhyun yang terdengar sedikit panik.

Kembali Siwon menggeleng. “Kau tidak boleh memaafkanku. Jangan. Aku tidak bisa mengatakannya di depan semua orang, kedua orang tuaku akan sangat terluka. Aku tidak bisa. Hanya kau yang bisa membatalkan pernikahan ini. Kumohon, jika kau memang mencintaiku, tolong lakukan untukku.”

“Hyung! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu? Sudah kukatakan bahwa aku telah memaafkanmu. Aku akan membantumu keluar dari masalah-masalahmu. Aku akan menjadi pendamping yang baik. Jangan seperti ini hyung, kita bisa mencoba segalanya lagi dari awal hyung..” kata Kyuhyun. Kini ia terdengar sedikit frustasi. Ia bahkan sudah ikut bersimpuh di depan Siwon, memegang kedua bahu lelaki yang dicintainya itu.

“Mianhae Kyu.. Tapi ini bukan karena akan jadi apa kita selanjutnya. Karena tidak ada lagi awal yang baru untuk kita. Aku tidak bisa melakukannya lagi. Aku.. Aku sudah tidak lagi mencintaimu.” Kata Siwon. Airmatanya sudah mulai mengalir.

“Tidak, kau bohong. Pasti kau berbohong kan hyung?”

“Aku tidak bohong.. Dengan banyaknya tekanan dan masalah yang kuhadapi, dengan kegiatan gilaku di luar sana, pelan-pelan hatiku mati. Aku tidak bisa lagi mencintai siapapun, termasuk kau. Mianhae Kyu.. Mianhae.. Tidak ada lagi cinta untukmu. Semuanya telah mati. Semuanya telah pergi. Kumohon, batalkan pernikahan ini, jadi kita bisa berpisah selamanya setelah ini..”

*

wonkyu avoiding

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 6

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa, Lee Joon Hyuk and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 6

Kyuhyun masih menatap Mr. Cho dengan tatapan dingin, tak sedikitpun terbesit rasa ingin beramah-ramah atau bersikap hangat pada kakeknya itu.

“Jangan berpikir terlalu lama. Kalau anda tidak setuju, aku bisa menarik kata-kataku. Dan anda bisa menyelesaikan masalah anda sendiri.” Kata Kyuhyun seraya berbalik hendak meninggalkan ruangan itu.

“Tidak! Tunggu!” kata Mr. Cho cepat.

Mendengar itu Kyuhyun berbalik dengan angkuh. Ia kemudian menatap haraboji-nya, menunggu jawabannya dengan tenang. Ya, tenang di permukaan. Tapi ia sangat gelisah dalam hatinya.

“Baiklah. Kau boleh kembali dan melakukan apa yang kau janjikan.” Kata Mr. Cho pelan. Seolah mengakui kalau ia kalah dari cucunya sendiri.

“Dengan syarat tentu saja.” Kata Kyuhyun tajam.

“Apa itu?”

“Anda harus menyetujui tiga permintaanku.”

“Mana mungkin bisa seperti itu? Kau pikir aku bodoh?”

“Hanya tiga, tidak lebih. Sedangkan anda bisa menggunakanku semau anda, bukankah itu lebih tidak adil lagi?” tanya Kyuhyun.

Kembali Mr. Cho berpikir keras untuk menjawab Kyuhyun.

“Anda mau aku membawa seluruh anggota keluarga dan menyelamatkan wajah dan martabat anda atau tidak?” tantang Kyuhyun lagi.

“Baiklah! Kau mendapatkan apa yang kau inginkan!” kata Mr. Cho dengan kesal karena Kyuhyun dirasa berhasil mengintimidasinya.

“Aku senang anda mau bekerjasama dengan baik. Nah, segeralah siapkan surat kuasa agar aku bisa menggantikan Jonghyun. Paling lambat dalam dua hari, aku sudah harus menjadi pimpinan perusahaan yang resmi.”

“Tunggu! Aku menyetujui usulmu karena kau bisa menggantikan Jonghyun untuk sementara, bukan untuk menggantikannya secara permanen!”

“Terserah.. Aku tidak bisa memaksa. Aku hanya bisa memberikan saran. Keputusan ada di tangan anda. Tapi jika keluarga Song dan keluarga Choi muncul di hadapan anda dan meminta pertanggungjawaban, jangan salahkan aku. Jika rumor meluas diluar sana, jangan katakan kalau aku tidak memperingatkan anda sebelumnya. Dan ingat satu hal, aku bukan Kyuhyun yang dulu, yang bisa kalian tindas begitu saja.”

“Baiklah!” kata Mr. Cho dengan gusar. “Tapi itu kuanggap sebagai permintaan pertama darimu!”

Kyuhyun menggeleng sambil tertawa dingin. “Perusahaan sedang dalam keadaan kacau, Jonghyun meninggalkan sejumlah pekerjaan yang hanya ia sendiri yang tahu disimpan dimana. Anda pikir, anda bisa mencarinya? Ketahuilah, aku bisa memecahkan semua metodenya, kami sangat dekat satu sama lain. Dan lagi, ketika pimpinan tidak ada, bukankah sudah sewajarnya wakilnya yang naik menggantikannya? Jadi itu bukan permintaan, itu adalah bantuan.. Ani, bukan bantuan tapi belas kasihanku. Betapa baiknya aku..”

Wajah Mr. Cho merah padam menahan gejolak emosinya. Ia memang masih kaget dengan sikap Kyuhyun saat ini, namun ia tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Karena meredam kemarahan keluarga Song dan keluarga Choi, serta membungkam publik di luar sana akan jauh lebih sulit daripada mengurus seorang Kyuhyun. Dan untuk itu, ia harus melakukan kemauan Kyuhyun terlebih dahulu. Setelah semuanya beres, ia bisa ‘mengurus’ bocah itu.

*

            Kyuhyun menatap ruang kerja Jonghyun yang kini secara permanen telah menjadi ruang kerjanya. Rupanya kakeknya benar-benar tidak mau kehilangan harga diri di depan keluarga bangsawan lain, maka dengan cepat ia menaikkan jabatan Kyuhyun.

Masih diingatnya dengan jelas ketika malam pertama ia harus kembali ke rumah. Ayahnya datang dan mengamuk di depan pekarangan. Untungnya saat itu haraboji-nya sedang tidak ada di rumah. Mr. dan Mrs. Cho serta Song Ji Hyo sedang menghadiri pertemuan yang Kyuhyun yakin dengan terpaksa mereka hadiri untuk menekan rumor bahwa keluarga mereka sedang berantakan.

Ayahnya tampak kaget mendengar pengakuan Kyuhyun tentang kepulangannya. Ternyata ia sendiri yang menelepon haraboji-nya dan minta di jemput. Ayahnya sangat marah saat itu.

“Ada apa denganmu? Mengapa kau melakukan hal ini? Kau tahu, aboji mempertaruhkan segalanya agar kalian bisa keluar dari neraka ini. Mengapa kau memilih kembali? Kau tahu, omoni-mu tak bisa berhenti menangis di luar sana. Saudara-saudaramu mencemaskanmu. Hentikan kegilaan ini, pulanglah bersama aboji!”

“Tidak! Aboji, dengarkan aku. Sampai kapan kita harus melarikan diri? Selama haraboji dan Ji Hyo omoni masih hidup, mereka tidak akan membiarkan kita begitu saja. Aku harus kembali, aku harus menyelamatkan keluarga kita.” Kata Kyuhyun pada ayahnya.

“Tapi dengan melakukan ini, kau juga mengorbankan dirimu. Tidak, jangan lakukan ini pada aboji dan omoni. Pulanglah. Aboji berjanji, kita akan pergi sejauh mungkin, dimana tidak ada seorangpun akan menemukan kita.” Bujuk In Sung lagi.

“Aboji, kumohon percayalah padaku. Aku bisa mengatasinya. Aku harus mencari cara agar haraboji berhenti menekan kita semua. Aku akan menyusun rencana terbaik yang pernah ada. Aku akan membuat omoni diterima dan menyelamatkan hubungan Shin Hye dan Yonghwa. Kumohon aboji, percayalah padaku. Aku baik-baik saja. Selama 23 tahun aku bisa bertahan, mengapa sekarang tidak? Kumohon..”

Kyuhyun memejamkan matanya. Berat rasanya meninggalkan keluarganya lalu tinggal di tempat yang dingin sendirian. Tapi jika ia tidak melakukannya, keluarganya tidak akan pernah tenang. Kadang ia iri dengan orang-orang di luar sana, mereka bebas bersikap karena tidak harus menjaga kehormatan keluarga bangsawan seperti dirinya.

Seperti yang dikatakan pada ayahnya, ia kembali bukan untuk menyerahkan diri namun untuk memperbaiki segalanya. Selain itu, ia masih terlalu penasaran dengan Siwon. Ia tahu, mungkin Siwon tidak perduli dengan siapa ia akan menikah semasa orang tuanya senang. Tapi Kyuhyun tidak bisa menerima itu. Bukan hanya karena ia tidak ingin Shin Hye dan Yonghwa berpisah, tapi ia sendiri tidak mampu melupakan Siwon. Ia telah mencobanya bertahun-tahun tapi selalu tidak berhasil. Dan kini, mereka punya kesempatan untuk kembali, mengapa tidak ia mengusahakan segalanya?

“Sajangnim, segalanya sudah siap. Mereka menunggu anda sekarang.” Tiba-tiba salah satu pengawalnya masuk dan berkata demikian padanya.

“Baiklah.”

Keduanya berjalan keluar menuju meeting room Cho Corporation yang maha megah dengan dinding kaca. Hari ini Kyuhyun akan berbicara di depan publik sebagai pimpinan yang baru. Ia dan Harabojinya telah berbicara semalam mengenai hal ini. Hanya untuk memulihkan nama keluarga yang sempat tercemar.

Selain itu, Kyuhyun ingin Siwon setidaknya melihat berita itu di internet ataupun surat kabar agar ia bisa cepat kembali ke Seoul. Siwon sendiri tidak ada pada malam In Sung pergi dari rumah. Ia harus menyelesaikan beberapa hal di Kanada dan belum kembali sampai saat ini. Jadi baik Siwon maupun keluarganya tidak ada yang tahu bahwa kekacauan besar tengah terjadi di rumah keluarga Cho.

Begitu Kyuhyun memasuki meeting room itu, puluhan kilatan cahaya yang berasal dari kamera para wartawan menghantamnya. Kyuhyun tersenyum lalu membungkuk hormat pada para wartawan yang hadir. Diantara para pemegang saham, duduk Mr. Cho, Mrs. Cho dan kedua orang tua Siwon. Kyuhyun tersenyum dalam hati, haraboji-nya pasti sengaja mengundang keluarga Siwon agar ia tidak bisa bicara yang aneh-aneh.

“Selamat siang. Terima kasih sudah hadir. Saya, Cho Kyuhyun, dengan bangga memperkenalkan diri sebagai pimpinan Cho Corporation yang baru. Saya akan mengerjakan tugas saya sebaik-baiknya, bekerja lebih keras dan menghasilkan lebih banyak. Mohon dukungannya.”

Kyuhyun kembali memberikan hormat pada para hadirin. Namun beberapa pertanyaan mengenai keluarga lainnya yang tidak tampak saat itu membuatnya harus bicara lagi.

“Seperti yang kalian tahu, Cho Corporation bekerja di berbagai bidang. Kami membagi tugas sehingga semua bisa berhasil dengan baik. Adik saya, Cho Jonghyun bersama ayah saya, Cho In Sung, sedang mancari partner kerja di luar negeri sehubungan dengan akan dibangunnya perusahaan cabang di luar negeri. Oleh karena itu mereka tidak bisa hadir. Sedangkan kedua omoni, noona dan adik termuda Cho, Shin Hye sedang mengurus pernikahan. Seperti kalian ketahui, tak lama lagi pernikahan akbar akan terjadi di keluarga kami. Jadi kami mohon pengertiannya. Maafkan jika tidak semua anggota keluarga bisa hadir.”

“Tapi Kyuhyun-ssi, kami mendengar rumor bahwa semua anggota keluarga pergi meninggalkan rumah dan menghilang lebih dari seminggu ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Bisakah anda menjelaskan kepada kami?” tanya seorang wartawan.

Kyuhyun melirik kakeknya yang tampak tegang. Namun ia tersenyum hangat. “Jika ada kejadian seperti itu, mana mungkin saya berdiri disini? Kami hanya terlalu sibuk dengan persiapan pembukaan perusahaan baru dan pernikahan salah satu anggota keluarga. Jadi saya mohon kalian bisa mengerti.”

Setelah itu Kyuhyun membungkuk sekali lagi dan meninggalkan ruangan. Mr. dan Mrs. Cho beserta kedua orang tua Siwon mengikutinya ke ruang kerjanya.

“Ada apa ini? Mr. Cho, bisakah anda menjelaskannya? Aku tidak mengerti. Mengapa ada rumor bahwa keluarga kalian pergi meninggalkan rumah?” tanya ayah Siwon ketika mereka semua sudah sampai di ruang kerja Kyuhyun.

“Ah, itu tidak benar.. Ada sedikit kesalahan yang..”

“Hal itu benar adanya.” Kata Kyuhyun memotong perkataan haraboji-nya. Para orang tua yang ada di sana bersamanya tercengang.

Kyuhyun melanjutkan. “Kami semua pergi dari rumah sebagai bentuk protes pada pertunangan Shin Hye dan Siwon-ssi. Shin Hye telah memiliki kekasih dan ia menerima pertunangan itu atas dasar paksaan. Tahukah kalian bahwa tidak ada cinta diantara Siwon dan Shin Hye? Tahukah kalian bahwa demi menyenangkan kalian semua, mereka rela mengorbankan diri kalian? Tahukah kalian apa yang menjadi keinginan dan kebahagiaan mereka? Tidak! Kalian tidak tahu menahu. Yang kalian tahu hanya harga diri, martabat dan kejayaan semata.”

“Jika kalian menyempatkan diri sebentar saja mendengar keluhan mereka, mungkin kalian akan mengutuk diri kalian karena merebut kebahagiaan mereka. Apa kalian pikir tanpa cinta keduanya bisa bahagia? Tidak! Mereka hanya tersenyum di depan semua orang dan menangis kala sendirian.”

Kedua orang tua Siwon tampak shock sedangkan Mr. dan Mrs. Cho tampak murka. Tapi Kyuhyun tidak perduli. Ini bagian dari rencananya. Ia harus berbicara dengan kedua orang tua Siwon, keduanya sama-sama orang yang berpikiran terbuka karena belajar di luar negeri dulunya. Pasti mereka bisa menerima andai saja Siwon tidak dengan bodohnya mengikuti kemauan mereka.

“Aku mencintai Siwon hyung. Kami telah bersama sebelumnya saat kuliah dulu. Namun kami tidak melanjutkan hubungan kami ketika Siwon hyung meneruskan kuliahnya di Kanada. Jika kalian tidak keberatan, aku akan menggantikan posisi Shin Hye.”

Kedua orang tua Siwon bertukar pandang heran. Mereka seperti dugaan Kyuhyun, tidak menyangka bahwa Siwon pernah menjalin hubungan dengan salah satu keluarga Cho sebelumnya.

“Kyuhyun!” bentak Mr. Cho.

Tapi seakan tuli, Kyuhyun terus berbicara. “Bukankah tidak ada ruginya jika aku yang menggantikan Shin Hye? Kami berdua sama-sama berasal dari keluarga Cho. Dan lagi, aku dan Siwon-ssi sudah saling mengenal dan masih saling mencintai hingga saat ini, anda bisa menanyakan padanya jika tidak percaya.”

“Yang pasti, sebagai cucu tertua keluarga Cho, aku tidak mau melihat adikku menikah tanpa cinta. Aku akan membantunya untuk tetap bersama kekasihnya dan tidak akan muncul di hari pernikahan. Jadi.. Apakah kalian setuju dengan tawaranku?”

“Anak ini..! Siapa yang mengajarimu tidak sopan seperti ini?” tanya Mrs. Cho.

Kyuhyun tetap menatap orang tua Siwon, seolah tidak ada interupsi sebelumnya. Ia tahu, dengan tawarannya tadi, ia akan tampak seperti seorang lelaki putus asa yang sangat mengharapkan cinta Siwon. Tapi jika ia terus diam, maka ia dan Siwon tidak akan pernah bersatu. Ini satu-satunya harapannya. Ia bahkan terus-menerus berdoa dalam hati agar orang tua Siwon menyetujui tawarannya.

“Sebenarnya.. Kami tidak masalah. Semasa Siwon menikah dengan salah satu keluarga Cho, kami sama sekali tidak keberatan. Jadi, kami terima tawaranmu, Kyuhyun-ssi.” Kata ayah Siwon.

Mendengar itu, Kyuhyun tersenyum puas. Ia bahkan nyaris menjerit riang ketika melihat wajah kakek dan neneknya yang shock seperti habis terkena malapetaka besar.

*

            Sedaritadi Kyuhyun tak henti-hentinya tersenyum-senyum senang. Ia senang sekali karena kemarin kedua orang tua Siwon sudah memberi ijin padanya untuk menggantikan posisi Shin Hye. Dan ia melarang kedua calon mertuanya itu untuk memberi tahu Siwon mengenai hal ini, karena ia ingin melakukannya sendiri. Ia bahkan sudah merangkai kata-kata yang akan disampaikannya pada Siwon nanti.

Dan kini, jantungnya berdegup kencang. Sebentar lagi ia akan melihat pujaan hatinya itu. Menurut informasi anak buahnya, Siwon sudah kembali ke Seoul semalam. Tapi ia tidak langsung pulang, entah apa alasannya, Kyuhyun tidak tahu. Ia akan menanyakannya nanti. Hari ini ia ingin mendatangi Siwon dan memberi kejutan pada calon suaminya itu.

Mobil yang membawa Kyuhyun akhirnya berhenti di depan sebuah hotel bintang lima di kawasan Cheongdam-dong. Sebelum turun, Kyuhyun merapikan rambut dan dasinya terlebih dahulu.

“Selamat pagi. Aku ingin menemui Mr. Choi Siwon. Beliau ada di kamar nomor berapa?” tanya Kyuhyun ketika ia sudah sampai di meja receptionist.

“Selamat pagi. Anda, Mr. Cho Kyuhyun bukan? Mr. Choi Siwon berada di kamar 1201. Terima kasih sudah mengunjungi hotel kami.” Kata si receptionist dengan sopan.

Kyuhyun mengangguk kemudian langsung berjalan menuju kamar 1201 seperti yang diinformasikan tadi. Ketika sampai disana, Kyuhyun membunyikan bel dan menunggu dengan sabar di depan pintu. Namun setelah dua kali membunyikan bel, sang pemilik kamar tidak juga keluar. Setelah ia menekan bel untuk ketiga kalinya, barulah pintu itu terbuka.

Namun alangkah kagetnya Kyuhyun karena yang membuka pintu itu bukan Siwon namun seorang gadis dengan wajah kuyu karena baru saja bangun tidur. Gadis muda itu tampaknya tidak memakai apa-apa dibalik selembar kain putih yang ia gunakan hanya untuk menutupi bagian-bagian intim di tubuhnya.

“Siapa anda?” tanya wanita itu masih terlihat mengantuk dan belum sadar sepenuhnya.

Tanpa menjawab, Kyuhyun mendorong pintu itu agar terbuka lebih lebar. Ia melangkahkan kakinya masuk dengan langkah-langkah panjang. Di sana, di atas ranjang berukuran super besar, Choi Siwon terlihat tidur dengan tenang. Bagian bawah tubuhnya tertutup selimut tebal.

“Siapa chagi?” tanya Siwon dengan nada suara berat, tapi matanya masih tertutup. Gadis yang bersamanya itu terlihat enggan menjawab, tampaknya ia tahu benar apa yang akan terjadi padanya jika ia buka suara.

Dengan geram Kyuhyun menarik lepas selimut itu. seketika tubuh polos Siwon terpampang jelas di depan mata Kyuhyun, membuat darahnya mendidih.

Sementara itu, Siwon langsung membuka matanya ketika selimutnya disingkap. Dan ketika melihat Kyuhyun, kantuknya hilang seketika, berganti kecemasan luar biasa.

*

            Ketukan di pintu kerja Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Dengan enggan ia menyuruh si pengetuk pintu untuk masuk.

“Selamat pagi, Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun menjadi ceria begitu tahu siapa yang datang. Ia lalu tersenyum pada lelaki yang baru saja masuk tadi dan memperhatikan dengan seksama lelaki yang telah ia rekrut sebagai pengacaranya itu. Ia meminta salah satu pegawainya mencari pengacara terbaik untuk membelanya dan keluarganya jika sesuatu yang buruk terjadi.

“Silahkan duduk. Nama anda Lee Joon Hyuk bukan? Terima kasih sudah mau bekerjasama dengan perusahaan kami.” Kata Kyuhyun dengan sopan.

“Seharusnya akulah yang berterima kasih. Karena anda sudah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku telah mempelajari semua berkas yang diberikan oleh pegawai anda. Dan aku juga telah menyiapkan beberapa senjata untuk anda. Silahkan dibaca.” Kata Lee Joon Hyuk seraya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Kyuhyun.

Setelah membaca kertas-kertas itu, Kyuhyun tersenyum cerah. “Brilian. Sungguh, aku tidak menyangka anda akan menyusun strategi sebaik ini. Baiklah, menurut anda, kapan kita bisa mulai bergerak?”

“Aku telah mengatur segalanya, kita bisa bergerak mulai minggu depan.” Kata Joon Hyuk dengan yakin.

*

            Seminggu kemudian, seperti yang dijanjikan Lee Joon Hyuk, dimulailah aksi yang membuat Mr. Cho kalang kabut. Dimulai dari surat kaleng yang dikirimkan pada keluarga Song bahwa In Sung akan menceraikan Ji Hyo. Mr Cho langsung mendapatkan tekanan besar dari keluarga bangsawan kaya raya itu. Mereka bahkan mengancam akan memutuskan hubungan kerja dan akan membuat perhitungan dengan Mr. Cho jika hal itu terjadi.

Kyuhyun muncul menjadi penyelamat saat itu. Dengan gaya meyakinkan ia menemui orang tua Song Ji Hyo dan menjelaskan segalanya.

“Mana mungkin aboji menceraikan Ji Hyo omoni sedangkan beliau tengah mempersiapkan hadiah untuk ulang tahun pernikahan mereka yang ke dua puluh empat? Tapi karena anda sepertinya termakan dengan surat kaleng tolol itu, maka dengan sangat terpaksa aku membocorkan rahasia ini. Jangan salahkan aboji-ku jika ini nantinya tidak lagi menjadi sebuah kejutan.” Kata Kyuhyun seraya menyerahkan sebuah sertifikat beserta memo berisikan keterangan tentang sebuah kalung berlian.

Dalam memo tersebut dinyatakan bahwa pemesan kalung berlian itu adalah Cho In Sung sedangkan kepemilikan kalung tersebut atas nama Song Ji Hyo. Melihat itu, keduan orang tua Song Ji Hyo segera menghubungi Mr. Cho dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi dan mengatakan bahwa untunglah Kyuhyun datang dan menjelaskan segalanya. Mereka pikir, mana mungkin ada perceraian jika In Sung bersikap sedemikian romantis pada anak mereka menjelang ulang tahun pernikahannya?

Beberapa hari setelah kejadian itu, muncul kekacauan lain. Berita ini lebih gempar dari berita sebelumnya. Surat kaleng kedua datang pada keluarga Choi. Sebuah amplop besar berisi foto-foto Siwon dengan wanita lain di sebuah kamar hotel tanpa mengenakan pakaian membuat kedua orang tuanya kaget setangah mati. Tidak hanya itu, foto-foto Siwon di luar rumah yang ternyata sangat ‘tak terduga’ terkuak di depan Mr. dan Mrs. Choi.

Tak hanya itu, sebuah ancaman juga muncul dari si pengirim surat yang mengatakan bahwa ia akan menyebarkan foto-foto tersebut ke media jika pertunangan Siwon dan Shin Hye tetap diteruskan. Bahkan si pengirim surat mengatakan bahwa jika pernikahan nantinya dilanjutkan, maka pesta itu akan menjadi lautan darah karena akan di bom hingga tak ada satupun yang hidup.

Dalam situasi itu, kembali Kyuhyun muncul sebagai penolong. Dengan segenap kekuatannya ia dan anak buahnya mencari tahu siapa dalang dari kekacauan itu dan menangkap pelakunya lalu menjebloskannya ke penjara.

Kembali ia mendapat pujian tinggi, tanpa seorangpun menyadari bahwa sebenarnya Kyuhyunlah pelaku dibalik semua itu. Mereka terlalu lega dan cepat merasa puas dengan yang terjadi. Tujuannya memang menekan kakeknya lewat keluarga Song, lalu lewat keluarga Choi dan kini akan langsung mengenai Mr. Cho sendiri.

Dan langkah terakhir Kyuhyun dalam rencananya pun kini dilaksanakan. Pagi itu, di setiap surat kabar muncul berita bahwa Mr. Cho dengan kejam memisahkan hubungan Siwon dan Kyuhyun dan menjodohkan Siwon dengan Shin Hye, hanya karena Kyuhyun adalah anak dari Son Ye Jin, menantu yang tidak diharapkan oleh Mr. Cho.

Masyarakat d luar sana mengunjing keluarga Cho, terutama Mr. Cho karena hal ini. Dan seluruh pekerja Cho Corporation di berbagai bidang mengamuk melihat berita itu. Mereka mogok kerja sebagai protes dari pemberitaan yang mereka baca. Bagaimana tidak, mereka sangat menyayangi Son Ye Jin dan anak-anak keluarga Cho karena mereka sangat baik hati dan rendah diri. Mereka pikir, tidak sepantasnya ada perlakuan tidak adil hanya karena kedudukan yang tidak setara.

Betapa kagetnya Cho In Sung beserta seluruh anggota keluarga yang tengah bersamanya, bisa dikatakan bahwa Kyuhyun memang jenius. Dengan berita ini, bukan hanya membawa nama Cho, tapi nama keluarga Song dan Choi terseret di dalamnya. Selama ini mereka menutup mulut karena tidak ingin diketahui oleh publik, tapi dengan berani Kyuhyun membuka aib ini. Ya, aib untuk Mr. Cho, tapi hadiah terindah untuk Cho In Sung karena pada akhirnya dunia mengetahui kebenarannya.

Namun reaksi ketiga keluarga besar itu adalah sebaliknya. Mereka marah besar. Merasa dipermalukan karena secara tidak langsung, nama keluarga mereka ikut terseret dan disangkut-pautkan di media.

“Cho Kyuhyun! Ani, Kyuhyun! Kau tidak pantas disebut sebagai seorang Cho. Beraninya kau menyebarkan berita seperti ini?” raung Mr. Cho setelah melihat berita-berita itu.

Kyuhyun justru tersenyum. “Kata siapa aku yang menyebarkannya? Apa anda punya cukup bukti yang kuat? Jangan lupa, bahwa akulah yang menyelamatkan muka anda di depan umum di hari pengangkatanku sebagai pimpinan baru perusahaan. Aku juga yang menyelamatkan anda dari amukan keluarga Song dan juga Choi.”

“Aku tidak sebodoh yang kau kira! Aku tahu dengan pasti kaulah yang merencanakan semua ini. Kau yang menyalakan api dan kau juga yang memadamkannya!”

“Tunjukkan buktinya, barulah anda berani bicara di seperti itu.” kata Kyuhyun tajam.

“Aku tahu, aku tidak punya bukti saat ini. Tapi lihat saja nanti. Sejak awal aku sudah mencurigai keinginanmu untuk pulang ke rumah ini. Sekarang, cepat selesaikan kekacauan yang kau sebarkan!” kata Mr. Cho lagi. Wajahnya merah padam menahan amarahnya. Jika ia meledak marah, bisa jadi Kyuhyun menolak membantunya dalam situasi seperti ini.

“Baiklah.. Kurasa sudah saatnya aku mengajukan permintaanku yang pertama.”

“Kita tidak sedang bernegosiasi kini!” bentak Mr. Cho.

“Terserah anda. Jika anda tidak mau mendengarkanku, anda tentu merasa siap dengan amukan para karyawan juga gunjingan masyarakat di luar sana bukan?” kata Kyuhyun kejam.

“Baiklah! Apa maumu! Cepat katakan!”

Dengan senyum puas Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian Lee Joon Hyuk muncul dalam ruangan itu dan membawa sebuah map. Ia lalu meletakkan map itu di meja kerja Mr. Cho.

“Silahkan dibaca, Mr. Cho. Anda hanya punya waktu lima belas menit untuk memutuskan langkah selanjutnya atau Kyuhyun-ssi akan membatalkan semua negosiasi dengan anda.” Kata Lee Joon Hyuk.

Dengan kasar Mr. Cho membuka map itu. Tak sampai lima menit, ia telah selesai membaca berkas-berkas itu lalu menatap Kyuhyun dengan murka.

“KAUUUUUUU…!!! BERANINYA KAU…!!!” raung Mr. Cho.

Kyuhyun membalas tatapan kakeknya. Jika bisa ia lakukan, dengan senang hati ia membunuh orang tua yang telah membuat ibunya terus menerus menangis sepanjang umur pernikahannya. Namun ia rasa kematian terlalu mudah, kakeknya itu harus merasakan bagaimana rasanya segalanya yang ia bangga-banggakan diambil darinya.

“Tidak akan pernah.. Tidak akan pernah kutandatangani hal bodoh seperti ini! Kau.. Pemeras! Tidak tahu balas budi! Kacang lupa pada kulitnya! Seharusnya aku tahu bahwa keturunan kotor dari wanita seperti Ye Jin akan seperti ini! Kau.. Aku kan membunuhmu! Aku akan membunuhmu juga omoni dan noona-mu itu!”

“Jangannn.. Pernah.. Mengucapkan.. Satu kata penghinaan.. Untuk omoniku.. Dari mulut kotor anda..!!!” kata Kyuhyun marah. Tubuhnya bergetar karena kata-kata kakeknya. Silahkan menghina dirinya sepuasnya, tapi jangan pernah menghina ibunya.

“Mr. Cho, anda bisa dituntut karena pencemaran nama baik karena kata-kata anda. Jika anda tidak segera menandatangani surat ini, maka anda akan kami laporkan ke polisi karena anda telah mencemarkan nama baik Son Ye Jin dan mengancam akan membunuh Kyuhyun-ssi.” Kata Joon Hyuk lagi.

Ia lalu menunjukkan sebuah recorder kecil yang ternyata sedaritadi telah ia siapkan di tangannya. Kemudian recorder itu dinyalakan.

“Seharusnya aku tahu bahwa keturunan kotor dari wanita seperti Ye Jin akan seperti ini! Kau.. Aku kan membunuhmu! Aku akan membunuhmu juga omoni dan noona-mu itu!”

Wajah Mr. Cho memucat karenanya. Ia memadang sang pengacara dengan tatapan tidak percaya. Baru ia sadari bahwa sedaritadi ia telah dijebak. Dengan tubuh bergetar, ia meraih pena di saku kemejanya lalu menandatangani berkas itu. Hilang.. Hilanglah sudah semua yang telah ia perjuangkan selama ini, jatuh ke tangan orang yang selama ini selalu ia remehkan : Kyuhyun.

*

wonkyuhyuk

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 5

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 5

Jonghyun masih menangis keras di atas aspal keras. Udara dingin menyergap tubuhnya yang hanya dibalut baju kaos tipis. Ia enggan bangun dari duduknya, ia bahkan enggan bergerak untuk sekedar pindah ke sisi jalan karena saat ini ia duduk di tengah jalan.

Hatinya terlalu sakit karena ditinggalkan. Seolah ia tidak diinginkan, seolah tiada yang perduli. Ayahnya meninggalkannya, saudara-saudaranya pergi, dan ia sangat amat sadar bahwa ia harus tinggal sebagai tumbal. Jika ia ikut, maka selamanya keluarganya tidak akan pernah tenang. Setidaknya memang ia harus tinggal demi menyelamatkan Shin Hye.

Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, seiring dengan itu muncul juga ejekan-ejekan lain yang membuatnya berkecil hati. Apa karena ia anak seorang Song Ji Hyo maka ia tidak diinginkan? Apa karena ia pimpinan Cho Corporation maka ia yang harus tinggal? Atau karena ia adalah anak lelaki yang ‘sah’ menurut kakek neneknya maka ia yang harus menanggung semua ini? Bolehkah ia memilih untuk melepaskan semuanya dan tinggal bersama orang-orang yang disayanginya?

Jonghyun masih menangis ketika sebuah tangan hangat memeluknya dari belakang. Sebuah kecupan dalam mendarat di pelipis dan pipi kirinya.

“Jonghyun-ah, uljima.. Omoni disini.”

Jonghyun terkesiap. Dengan cepat ia menoleh ke belakang dan mendapati seraut wajah penuh kasih tersenyum padanya. Wanita cantik yang kini juga menangis itu memeluknya dengan sayang seraya tersenyum padanya.

“Omoni.. Benarkah ini kau? Apakah aku tidak bermimpi?” tanya Jonghyun.

Son Ye Jin kembali memeluk Jonghyun dengan penuh kasih sayang. Ia mempererat pelukannya seolah Jonghyun yang akan pergi.

“Uljima, kami datang kembali untukmu. Cepatlah berdiri sebelum anak buah haraboji datang.” Kata Son ye Jin lagi.

Masih dengan tidak percaya, Jonghyun mengikuti instruksi ibu tirinya. Ternyata ini bukan mimpi, begitu ia dan Ye Jin berdiri dan berbalik, ketiga saudara dan ayahnya berdiri disana.

“Cepat masuk ke mobil. Kurasa sebentar lagi mereka akan tiba disini.” Perintah In Sung dengan waspada.

Ye Jin dan Jonghyun berlari ke mobil. Mhia sudah pindah ke kursi depan sedangkan Shin Hye dan Kyuhyun pindah ke kursi belakang agar Jonghyun dan Ye Jin bisa duduk di tengah. Begitu mereka semua sudah duduk di mobil, In Sung lalu melarikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, meninggalkan masa lalu yang menyesakkan di belakang.

*

            Cho In Sung dan keluarganya kini duduk di dalam apartemen kecil milik Yonghwa. Awalnya In Sung berencana tidur di mobil sampai pagi lalu mereka akan bergerak ke tempat lain. In Sung memang meminta Mr. Lee secara diam-diam untuk membantunya dalam melakukan strategi ‘melarikan diri’, dan hanya Jonghyun yang tahu mengenai hal ini diantara saudara-saudaranya. Namun karena teryata In Sung ‘meledak’ sebelum rencananya dan Mr. Lee matang, maka terpaksa mereka harus mencari tempat tinggal sementara.

Dan Kyuhyun memberi saran agar mereka menginap di tempat Yonghwa. Walaupun kecil, setidaknya mereka bisa tinggal dulu untuk sementara. Tentu saja Shin Hye keberatan pada awalnya, karena ia merasa malu. Namun karena mereka tidak punya pilihan lain, akhirnya ia menuruti saran Kyuhyun.

“Yonghwa-ssi, maafkan jika aku dan keluargaku merepotkanmu.” Kata In Sung memulai pembicaraan ketika mereka semua sudah duduk dengan tenang di ruang tengah apartemen itu.

“Tidak.. Sama sekali tidak merepotkan. Aku senang bisa membantu kalian.” Kata Yonghwa dengan hormat. Walaupun Shin Hye telah meninggalkannya, bukan berarti ia bisa melupakan gadis itu begitu saja. Apalagi ia juga akrab dengan ketiga saudara Shin Hye. Membantu keluarga Cho adalah kehormatan besar untuknya.

“Kami akan segera mencari tempat tinggal baru besok. Jadi..”

“Kalian boleh tinggal disini selama kalian mau. Sungguh. Aku senang sekali bisa membantu kalian semua.” Kata Yonghwa memotong perkataan In Sung.

Mereka semua terdiam. Rasa bersalah mengaliri hati mereka. Yonghwa lah yang dicampakkan disini, namun dia juga yang menolong mereka ketika mereka kesusahan. Jonghyun lalu menggenggam tangan Shin Hye dan berusaha mendapatkan kontak mata. Ketika mata mereka bertemu, ia hanya memandang adiknya tanpa ekspresi. Namun Shin Hye mengerti maksud tatapan kakaknya.

“Aboji.. Aku.. Ingin mengatakan.. sesuatu..” kata Shin Hye takut-takut.

“Katakanlah.”

Shin Hye kembali menatap Jonghyun setelah itu, seolah meminta dukungan. Ketika kakaknya itu mengangguk, Shin Hye menarik nafas panjang sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak pernah mencintai Siwon oppa. Aku melakukannya karena terpaksa. Omoni memaksaku melakukannya karena ia tidak mau melihat Kyuhyun oppa bersama dengan Siwon oppa.”

Wajah In Sung mengeras sedangkan wajah Kyuhyun berpendar merah. Ia malu sekali karena namanya disebut-sebut dalam percakapan ini.

“Omoni berpikir bahwa..”

“Cukup!” ujar In Sung memotong perkataan anak bungsunya itu. “Berhentilah berpura-pura mulai saat ini. Kau bukan lagi tunangan Choi Siwon. Jika ada yang ingin menyanggah, ia harus bicara langsung padaku.”

“Tapi aboji.. Aku melakukannya demi Ye Jin omoni. Omoni akan melukai Ye Jin omoni, Kyuhyun oppa dan Mhia eonni jika aku membantah.” Kata Shin Hye sedikit histeris.

Son Ye Jin sangat paham mengapa Ji Hyo membencinya. Bahkan kebenciannya juga menurun pada Mhia dan Kyuhyun. Semua karena kecemburuannya pada In Sung. Jika saja In Sung mau berlaku adil, mungkin saja Ji Hyo tidak akan bertingkah seperti ini.

“Tidak ada yang bisa memaksamu melakukan keinginanya. Jika kau mencintai Yonghwa, maka kembalilah padanya. Tentukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan seperti aboji, merelakan kebahagiaanku sendiri dan menyakiti perasaan orang yang aku cintai hanya karena mengikuti kemauan orang tuaku. Cukup aboji yang merasakannya. Kalian tidak boleh ikut merasakannya.” Kata In Sung dengan tegas.

Son Ye Jin menatap suaminya dengan bangga. Mungkin memang sudah saatnya In Sung bangkit dari sikap penurutnya selama ini. Mungkin memang tekanan terhadap anak-anaknyalah yang bisa membuatnya sadar.

Tiba-tiba ponsel Jonghyun berdering. Ia sangat terkejut melihat nama haraboji-nya tertera disana. Namun sebelum ia menjawab telepon itu, ayahnya sudah merebutnya dan menjawab dengan berani.

“Berhenti menghubungi kami. Jika dulu aboji bisa menguasai aku, bukan berarti aboji juga bisa melakukannya pada Jonghyun. Dia adalah anakku, dan sampai kapanpun aku akan melindunginya dari kalian. Selamat tinggal aboji. Silahkan menuai apa yang pernah aboji tanam selama ini.”

In Sung lalu menutup telepon itu, melepas baterainya, mengambil kartu SIM nya kemudian mematahkannya jadi dua. Ia lalu berpaling pada anggota keluarganya yang lain.

“Lakukan hal yang sama dengan kartu SIM kalian. Bisa jadi kita dilacak kalau terus menggunakan nomor yang sama.”

Semuanya menuruti apa yang dikatakan oleh In Sung dengan cepat, termasukYonghwa. Menurut Kyuhyun, bisa saja anak buah kakeknya mencari Yonghwa lewat nomor ponselnya. Dengan kekuasaannya, hal tersebut bisa saja terjadi.

Ditengah hiruk pikuk itu, Jonghyun terpaku melihat ayahnya. Dengan mata-berkata-kaca ia menapat ayahnya dengan rasa bangga yang meluap-luap di dadanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendengar ayahnya menyebutnya sebagai ‘anak yang akan dilindungi’. Dan itu sudah cukup, Joghyun tidak butuh tindakan ayahnya yang lebih. Pengakuan tadi sudah cukup membuatnya bahagia, membuatnya merasa diterima di hati ayahnya.

*

            Kyuhyun terpekur di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi matanya tetap tidak bisa terpejam. Ia tidak tahu kenapa matanya tidak mau bekerja sama malam ini. Sudah seminggu mereka melarikan diri dari rumah, memang sampai saat ini mereka aman , tapi menurutnya hal ini hanya keberuntungan semata. Bahkan Yonghwa pun tidak bekerja dulu untuk sementara sampai keadaan mulai membaik. Namun mereka tidak berani bersantai sedikitpun, mereka sangat mengenal Mr. Cho. Jika satu hal kecil yang bisa menimbulkan jejak dimana anggota keluarganya berada muncul di depannya, dalam waktu singkat ia bisa menemukan mereka semua.

Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan, semuanya tertidur lelap. Ibunya tidur sambil bersandar di sandaran ranjang. Jonghyun dan Mhia tidur di pangkuannya. Shin Hye dan Yonghwa tidur di sofa lain. Keduanya tampak lelah namun bahagia.

Hanya Kyuhyun yang masih terjaga, juga ayahnya. Ayahnya itu duduk di sofa bersamanya. Bedanya Kyuhyun duduk bermalas-malasan sedangkan ayahnya tampak waspada..

“Kyu.. Tidurlah..” kata In Sung seraya membelai surai Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak bisa tidur, aboji.”

“Kenapa? Jangan pikirkan hal lain. beristirahatlah. Beberapa hari lagi semua yang telah aboji siapkan akan selesai. Kita semua bisa pergi dari sini dengan tenang.” Kata In Sung meyakinkan.

“Dari Seoul?”

In Sung mengangguk. “Tentu saja. Kita tidak mungkin tinggal di satu kota dengan haraboji-mu jika ia masih saja memaksakan kehendaknya pada kita semua.”

Kyuhyun terdiam. Ia tahu pemikirannya sangat bodoh saat ini. Di saat keluarganya sedang dalam masalah, ia malah memikirkan Siwon. Entahlah, ia merasa setidaknya Siwon harus tahu yang sebenarnya terjadi. Bukankah ia juga korban dalam hal ini? Bukankah ia hanya mengikuti kemuan orang tuanya juga?

“Aboji tahu kau memikirkan Choi Siwon.”

Kyuhyun terkesiap. Sesaat wajahnya berpendar merah. “Eh.. Aku..”

“Aboji sangat mengerti perasaanmu. Tapi kita saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Jika segalanya telah siap, aboji berjanji, kau akan bertemu Siwon sekali lagi dan disitulah kau bisa memutuskan akan kembali padanya atau tidak.”

“Tapi mengapa aku harus..”

“Memilih? Kyu, aboji tahu dengan sangat baik bahwa kau dan Siwon saling mencintai. Aboji tahu permasalahan yang telah kalian alami sebelumnya. Sebagai orang tua, tentunya aboji akan marah jika kau disakiti berulang kali. Tapi sebagai individu bebas, aboji tahu kau sudah dewasa. Kau bebas menentukan yang terbaik untukmu. Jika suatu saat ternyata pilihanmu salah dan kau kembali sakit karenanya, tugas aboji dan omoni bukan menyalahkanmu melainkan membantumu bangkit dari keterpurukan.”

“Memang saat ini aboji belum bisa sepenuhnya menerima Siwon untukmu. Tapi setiap orang punya alasan dalam melakukan sesuatu. Apapun alasannya, Siwon memang bersalah. Tapi bukan berarti ia tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika kau bisa memaafkannya, kenapa aboji tidak? Hanya saja, aboji minta padamu untuk bersabar. Akan tiba saatnya kau bisa benar-benar memikirkan masa depanmu. Tapi untuk saat ini, pikirkanlah dulu keselamatan keluarga kita.”

Cho In Sung menjelaskan panjang lebar dengan harapan anaknya itu mengerti. Karena ia hanya ingin mereka semua selamat terlebih dahulu baru memikirkan hal lain. Dan ia juga tahu tidak mudah bagi Kyuhyun yang terperangkap dalam kelainan seksualnya untuk menemukan orang yang benar-benar ia cintai dan juga balik mencintainya.

Cho In Sung berjanji dalam hatinya sendiri. Ketika segala sudah membaik, ia akan membebaskan anaknya memilih segalanya yang mereka inginkan. Karena ia tidak ingin menekan mereka, seperti yang dilakukan ayahnya padanya.

“Ne aboji, aku mengerti.” jawab Kyuhyun dengan patuh.

“Aboji lega mendengarnya. Nah sekarang tidurlah.”

“Aboji, bolehkah aku menanyakan satu hal lagi?” tanya Kyuhyun hati-hati.

“Tentu saja, Kyu. Ada apa?”

“Apakah benar aboji membenci Jonghyun dan Shin Hye hanya karena Ji Hyo omoni?”

Cho In Sung menghela nafas sebentar lalu menjawab. “Sebenarnya.. Ya. Bukannya aboji tidak bisa menerima mereka. Aboji sayang pada keduanya, namun aboji ingin berlaku adil walaupun mungkin caranya salah. Mereka berdua selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, kau dan Mhia tidak. Mereka selalu dimanja dengan kedua orang tuaku, kalian tidak. Mereka selalu diberikan yang terbaik, kalian tidak.”

“Dari kecil, omoni-mu selalu mengajarkan kalian untuk tidak iri dan mensyukuri segala sesuatu yang diberikan pada kalian walaupun yang kalian terima sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka terima. Aboji masih ingat ketika ulang tahunmu dan Jonghyun beberapa tahun lalu. Jonghyun dibelikan mobil sport mewah oleh haraboji-mu, sedangkan kau hanya diberikan mobil biasa, itupun bukan seri terbaru. Tapi lihat, kau sangat mensyukurinya. Bahkan kau tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada omoni-mu yang membelikan mobil itu dari tabungannya selama bertahun-tahun.”

“Kau tahu, sebagai ayah kalian, hatiku sakit sekali. Melihat kedua anakku diperlakukan secara berbeda. Padahal di mataku kalian berdua sama. Hal itu juga terjadi ketika kalian kecil. Ketika kenaikan kelas kalian berdua mendapatkan nilai teratas di kelas masing-masing, Jonghyun mendapatkan satu set mini theater yang ia impikan. Sedangkan kau hanya dibelikan lapotop baru untuk mengerjakan tugas sekolahmu. Itupun aboji yang membelikannya.”

“Kau pasti masih ingat dengan jelas masih banyak hal lain yang membuat kalian sangat berbeda dengan Jonghyun dan Shin Hye. Tapi kalian selalu berbesar hati menerimanya. Karena itulah aboji mencurahkan seluruh kasih sayang pada kalian. Apalagi Jonghyun dan Shin Hye tidak pernah mengeluh karenanya, mereka malah tampak biasa saja seolah nyaman dengan keadaan seperti itu. Dan kini aboji sadar, hal itu salah. Bagaimanapun juga, mereka pasti terluka. Mereka butuh kasih sayang aboji.”

“Sungguh, aboji tidak ingin meninggalkan Jonghyun saat itu. Tapi satu orang harus tinggal disana untuk menjinakkan haraboji-mu. Jika waktunya sudah siap, aboji sendiri yang akan mengambil Jonghyun dari rumah itu. Aboji tidak bisa meninggalkan kau ataupun Mhia disana. Mereka tidak akan menekan Jonghyun seperti menekan aboji dulu. Karena Jonghyun lebih tegas dari aboji, ia pasti bisa bertahan. Saat ini yang harus diselamatkan adalah Shin Hye karena dialah yang akan dinikahkan dengan Siwon atas dasar paksaan.”

“Jadi tolong, jangan salah mengerti. Aboji telah memikirkan semuanya. Inilah jalan keluar terbaik. Namun, ketika omoni-mu memohon malam itu untuk kembali mengambil Jonghyun, aboji sadar bahwa seperti itulah keluarga. Bahagia bersama dan menderita juga bersama. Yang perlu kalian tahu adalah, aboji menyayangi kalian semua. Hanya saja, caranya yang berbeda-beda.”

Tanpa Kyuhyun dan In Sung sadari, sedaritadi Jonghyun mendengarkan dengan baik percakapan mereka. Dan ia kini mengerti segalanya dengan baik. Penjelasan ayahnya memberinya kekuatan baru.

‘Terima kasih aboji.’ Bisiknya dalam hati.

Sementara itu, Kyuhyun jadi berpikir tentang banyak hal tentang keluarganya. Bagaimana nasib mereka jika terus melarikan diri, bagaimana jadinya jika suatu saat mereka tertangkap, bagaimana akhir perjalanan cintanya dengan Siwon. Semua ia pikirkan dengan cermat. Seumur hidupnya belum pernah ia seberani ini, namun melihat wajah keluarganya membuat tekadnya semakin kuat. Ya, ia harus mengambil keputusan besar itu. Tidak ada jalan lain lagi.

*

             Shin Hye terbangun pagi itu dengan senyuman. Walaupun tubuhnya terasa pegal karena harus tidur di sofa, tapi ia menikmatinya. Tidur dalam pelukan kekasihnya memang tidur terbaik sepanjang masa. Ia melihat berkeliling. Ye Jin omoni sedang berkutat di dapur, pasti sarapan pagi mereka akan sangat lezat mengingat Ye Jin sangat pandai memasak. Jonghyun terlihat tengah membersihkan ruang tengah. Mhia eonni-nya tengah merapikan bunga-bunga dalam vas. Ia sempat mempertanyakan dimana aboji-nya, tapi mendengar suara dari kamar mandi, ia yakin abojinya ada di baliknya. Ia hanya tidak melihat Kyuhyun oppa-nya dan Yonghwa. Tapi ia rasa, keduanya mungkin menyelinap keluar seperti biasa untuk membeli bahan makanan.

“Selamat pagi, eonni. Dimana Yonghwa-ssi dan Kyuhyun oppa?” tanya Shin Hye pada Mhia.

Cho Mhia tersenyum. “Seperti biasa, mereka menyelinap tadi pagi-pagi sekali untuk berbelanja di pasar. Bahan makanan kita sudah hampir habis, bukan?”

Nah kan, dugaannya benar. Memang keduanya tengah berbelanja. Keduanya memang cukup akrab, jadi bukan hal baru kalau keduanya yang selalu berbelanja. Yonghwa pandai memilih bahan makanan, sedangkan Kyuhyun pandai mencari harga terbaik. Karena ia terbiasa hidup irit sejak kecil, maka ia bisa mendapatkan bahan makanan terbaik dengan harga yang cukup murah.

Tiba-tiba Yonghwa masuk ke muncul dengan tergesa-gesa. Napasnya tak beraturan. Ia seperti habis berlari.

“Yonghwa-ssi, ada apa? Mengapa kau tampak tergesa-gesa seperti ini? Dimana Kyuhyun hyung?” tanya Jonghyun.

“Aku.. Kyuhyun.. Dia..” kata Yonghwa terbata-bata. Sulit baginya untuk bicara saat ini ketika napasnya sendiri nyaris putus.

“Yonghwa-ssi, tenanglah. Ceritakan pada kami, ada apa sebenarnya?” tanya Cho In Sung yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi.

“Maafkan aku. Tadi ketika.. Ketika aku akan membayar sayuran yang kami beli, tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Aku berusaha mencarinya kemana-mana tapi tidak juga menemukannya sampai..”

“Sampai?” tanya Mhia kini.

“Sampai aku melihatnya naik ke dalam satu mobil mewah berwarna hitam dan.. Pergi meninggalkanku.” Kata Yonghwa pelan.

“Tidak…!!!” kata Ye Jin yang terdengar sedikit histeris. “Tidak mungkin.. Oppa.. Mereka menemukan Kyuhyun, mereka mengambilnya.. Bagaimana ini? Kembalikan dia padaku. Kembalikan anakku..”

Son Ye Jin sudah mulai menangis sambil memeluk lengan suaminya. Sedangkan raut wajah Cho In Sung sama seperti yang lain, terkejut sekaligus cemas. Semuanya takut akan terjadi hal buruk pada Kyuhyun.

“Tenanglah, aku akan mencari cara. Kita tidak boleh gegabah.” Kata In Sung menenangkan istrinya.

“Tidak.. Pasti haraboji memaksa Kyuhyun oppa untuk mengatakan dimana kita tinggal. Haraboji dan omoni pasti mencariku karena pernikahanku akan segera dilaksanakan tiga minggu lagi.” Kata Shin Hye panik.

“Shin Hye! Bukan saatnya untuk berpikir seperti ini. Kita semua harus bersatu, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Kyuhyun hyung dari sana.” Hardik Jonghyun.

“Aku akan menemui kakek kalian. Sementara aku pergi, kalian tidak boleh kemana-mana. Tetap tinggal di dalam apartemen dan saling menjaga.” Kata In Sung seraya mengenakan jaketnya.

“Aku ikut!” kata Jonghyun.

“Tidak! Kau harus tetap disini dan memastikan semuanya baik-baik saja.” Bantah In Sung cepat.

“Tapi aku tidak bisa diam saja disini sedangkan Kyuhyun hyung dalam bahaya!” kata Jonghyun tak kalah keras membantah ayahnya.

“Aku bilang tidak! Aku akan pergi sendiri. Tugasmu adalah menjaga omoni dan saudara-saudaramu disini. Jika terjadi sesuatu padaku atau Kyuhyun, setidaknya aku bisa lega karena ada kau yang menjaga anggota keluarga kita disini. Apakah kau mau menyerahkan hidup keluargamu pada Yonghwa? Dimana rasa tanggung jawabmu?”

Jonghyun terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali ikut, tapi ia juga membenarkan kata-kata ayahnya. Jika ia pergi dan seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bagaimana dengan keluarganya disini? Tidak mungkin ia mempercayakan Yonghwa untuk mengurus semuanya, mengingat mereka sudah terlalu banyak menyusahkan Yonghwa.

“Baiklah. Aku akan tinggal.”

“Bagus. Jangan gunakan ponsel atau apapun. Aboji akan berusaha mengeluarkan Kyuhyun dari sana. Jangan membuka pintu sembarangan jika ada yang mengetuk. Kalau aku pulang, kalian akan mendengar suaraku di luar. Jonghyun-ah, Yonghwa-ya, aku mengandalkan kalian.”

Jonghyun dan Yonghwa mengangguk mantap.

Kemudian In Sung menoleh pada Mhia dan Shin Hye. “Tetaplah siaga. Dengarkan Jonghyun dan Yonghwa. Jaga omoni. Aboji akan segera kembali.”

Kali ini Mhia dan Shin Hye yang mengangguk patuh.

Terakhir, In Sung menoleh pada istrinya dan bicara dengan nada lembut seraya menghapus airmata istrinya. “Ye Jin-ah, jangan khawatir. Kyuhyun akan baik-baik saja. Kau tahu betul bahwa ia adalah anak yang kuat. Aku akan membawanya pulang. Aku berjanji.”

Ye Jin menatap suaminya penuh keyakinan. “Kumohon, kembalilah dengan selamat.”

Cho In Sung tersenyum seraya mengangguk. Ia kemudian melangkah keluar. Sebelumnya, ia menoleh ke belakang untuk melihat seluruh keluarganya. Dalam hati ia bertekad akan pulang membawa Kyuhyun. Namun jika dalam usahanya itu ia gagal, setidaknya ia tahu Jonghyun ada disana, menjaga anggota keluarga yang lain. seperti itulah keluarga yang sebenarnya, saling menjaga dan mengasihi.

*

Sementara itu, di tempat lain..

Seorang lelaki muda tengah berdiri di depan seorang lelaki tua. Keduanya tengah saling menatap penuh kebencian dan bersikap kaku satu sama lain, padahal mereka telah hidup di bawah satu atap yang sama selama bertahun-tahun.

“Mengapa kau memutuskan untuk kembali? Apa karena kau takut aku akan menyeret semua kembali? Percayalah, akan kulakukan. Kau tidak perlu pura-pura berkorban seperti ini.” Kata Mr. Cho dingin.

“Aku kembali bukan untuk berpura-pura. Aku hanya ingin kembali dan menjalani semua yang seharusnya dijalani oleh Jonghyun dan Shin Hye. Aku akan menggantikan tempat mereka. Kalian boleh menekan aku, memperalat aku, bahkan menggunakan aku untuk kepentingan kalian. Tapi lepaskan mereka.” Jawab Kyuhyun dengan tekad besar di dadanya.

Ya, Kyuhyun telah kembali. Ia sendiri yang memutuskan akan kembali. Pagi itu dia menelepon haraboji-nya dan mengatakan bahwa ia ingin bicara. Ternyata setelah menemui kakeknya itu, ia menyampaikan maksudnya akan kembali.

“Walaupun kau tidak kembali, aku masih bisa mengatasi segala kekacauan yang telah kalian lakukan.”

Kyuhyun tersenyum dingin. “Benarkah? Bagaimana dengan perusahaan yang sedikit tak terurus karena pimpinan mereka pergi? Bagaimana pula anda menjelaskan pada keluarga Choi mengenai tunangan Siwon yang melarikan diri bersama kekasihnya? Dan lagi, apa yang bisa anda lakukan untuk meredam rumor di luar sana mengenai cara anda memimpin keluarga dengan tangan besi sehingga semuanya pergi begitu saja?”

“Dan lagi, bagaimana anda melarang Shin Hye tampil di muka umum dengan kekasihnya padahal tanggal pernikahannya telah ditentukan? Bagaimana cara menyelamatkan muka anda di depan keluarga Song Ji Hyo apabila mereka sadar aboji telah meninggalkan anak mereka?”

Kata ‘anda’ memang sangat tidak sopan untuk ukuran cucu pada kakeknya. Tapi Kyuhyun sudah terlalu muak dengan perlakuan tidak adil pada ibu dan noona-nya.

Mr. Cho tampak terkejut. Ia tidak menyangka dalam pelariannya Kyuhyun akan mendengar rumor yang beredar di luar. Ia juga tidak menyangka bahwa Kyuhyun cukup teliti menganalisa perasaan yang ditutupinya karena ego dan keangkuhannya.

Tanpa menunggu jawaban haraboji-nya, Kyuhyun kembali melanjutkan kata-katanya. “Hanya aku yang bisa membawa mereka kembali kesini. Hanya aku yang bisa membujuk aboji, omoni, bahkan Jonghyun dan Shin Hye sekaligus. Aku juga bisa memimpin perusahaan dengan baik. Anda tahu benar bahwa aku jauh lebih cerdas daripada Jonghyun.”

Kembali Mr. Cho terperanjat. Ia tahu benar apa yang dikatakan Kyuhyun benar adanya. Jika ia mendapatkan Kyuhyun, ia bisa memulangkan anggota keluarga yang lain. Yang artinya, ia bisa menyelamatkan mukanya di depan keluarga Song dan keluarga Choi. Ia juga bisa mendapatkan kembali anaknya satu-satunya, Cho In Sung. Dan juga bisa menyelamatkan perusahaan yang telah di pindahtangankan pada Jonghyun sebelumnya.

Jika Kyuhyun ingin kembali dengan sukarela, bukankah itu adalah sebuah ide bagus? Ia bisa menggunakan Kyuhyun seperti yang Kyuhyun tawarkan. Mr. Cho menatap cucunya itu dalam-dalam, mencari kebenaran dalam setiap kata-kata Kyuhyun. Ia berpikir keras, bagaimana cara memanfaatkan anak itu sebelum dirinyalah yang dimanfaatkan.

*

yong-kyu-jong

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 4

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 4

Pesta pertunangan Siwon dan Shin Hye siang itu berlangsung dengan meriah. Para undangan yang hadir tak henti-hentinya memuji sepasang insan yang dinilai sangat serasi itu. Keduanya memaksakan senyum bahagia di wajah mereka. Sempurna. Sandiwara mereka sempurna. Kalau saja Shin Hye tidak mengingat ancaman ibunya, mungkin ia sudah melarikan diri dari pesta itu dan menerima tawaran Jonghyun untuk melarikan diri bersama Yonghwa.

Sementara Siwon sendiri tampak tenang di permukaan, padahal dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Sedih, luka, dan sakit bercampur jadi satu. Apalagi ketika ia harus bertukar cincin dengan Shin Hye. Saat itu, ia justru memandang ke arah Kyuhyun, andai sekali Kyuhyun yang berdiri di sana, bertukar cincin denganya. Dan ketika mata mereka bertemu, Kyuhyun tersenyum tulus. Namun senyum itu justru mengiris hati Siwon.

Kyuhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ketika Siwon memeluknya di hutan pinus tadi, ia berjanji bahwa ia akan benar-benar belajar melupakan Siwon. Demi Shin Hye, demi keluarganya, dan demi kebaikan semua orang.

“Kyuhyun-ah, haraboji memanggilmu. Temuilah beliau di ruang kerjanya.”

Kyuhyun menoleh, Mhia berdiri di sampingnya. Tangannya memegang gelas berisi wine kesukaan Kyuhyun.

“Mengapa haraboji ingin bertemu denganku, noona? Bukankah acara masih berlangsung?” tanya Kyuhyun.

Mhia menggeleng. “Haraboji hanya mengatakan bahwa ia ingin bicara denganmu. Tapi aku tidak tahu ada apa. Cepatlah temui beliau, aku tidak mau sampai ia memarahimu karena kau terlambat.”

Kyuhyun menghela nafas. Ia kemudian merebut gelas di tangan Mhia lalu menenggak isinya hingga habis. Mhia hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan adiknya. Ia tahu pasti Kyuhyun enggan bicara dengan kakek mereka maka ia butuh sedikit wine agar bisa mempersiapkan dirinya.

Kyuhyun lalu beranjak dan berjalan menuju ruang kerja kakeknya. Sesampainya disana, ia dipersilahkan duduk sedangkan kakeknya berdiri menghadap jendela. Dengan memunggungi Kyuhyun seperti itu, Kyuhyun jadi tidak tahu apakah kakeknya tengah marah atau senang saat ini.

“Kyuhyun-ah, kau lihat ponsel di depanmu? Bukalah. Aku ingin kau melihat video disana.” Kata kakeknya tanpa basa-basi.

Kyuhyun memang melihat ponsel hitam keluaran terbaru itu. Ponsel itu diletakkan persis di tengah meja. Kyuhyun lalu mengambilnya dan melihat isinya. Begitu melihat isi video itu, ia terkejut luar biasa. Tangannya bergetar. Ketakutan melanda dirinya. Isi video itu adalah rekaman ketika ia dan Siwon tengah berpelukan dan berciuman di hutan pinus beberapa saat tadi sebelum acara pertunangan dilangsungkan.

“Kau sudah liat kan?” tanya kakeknya lagi.

“Haraboji.. Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud untuk..”

“Untuk apa? Untuk merebut tunangan adikmu?” tanya Mr. Cho seraya membalikkan tubuhnya. Ia lalu duduk di depan Kyuhyun seraya memandang cucunya itu dengan tajam.

Kyuhyun menunduk. Ia takut mengangkat wajahnya. Ia tidak pernah mau berurusan dengan kakeknya karena ia tahu, apa yang ia dan Mhia lakukan hanya akan memberikan hukuman untuk ibu mereka.

“Mengapa kau bertemu Siwon? Mengapa kau mengajaknya kesana?” tanya Mr. Cho tajam.

“Aku tidak mengajaknya, haraboji. Siwon-ssi yang mendatangiku di sana.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Benarkah? Mengapa aku tidak bisa mempercayaimu? Kau tidak pernah membuat kesalahan selama ini. Tapi mengapa justru kesalahan pertamamu ini membuatku sangat marah. Ada urusan apa yang membuatmu harus berpelukan bahkan berciuman dengan tunangan Shin Hye di hutan pinus?”suara kakeknya kini mulai meninggi.

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya di atas lututnya. Ia tetap menunduk. Tubuhnya masih bergetar. Ia selalu mendengarkan kata ayahnya bahwa satu kesalahan saja bisa membuatnya ‘dalam bahaya’. Dan kini ia tahu, ia benar-benar tak tertolong. Kesalahan pertama yang fatal. Dan sepertinya kakeknya tidak bisa menerima hal itu. Pasti tadi anak buah kakeknya mengikuti Siwon dan merekam semuanya.

“Cho Kyuhyun! jawab pertanyaanku!”

Kyuhyun tersentak. Lidahnya kelu, sulit sekali bicara namun ia harus berusaha mengatakan sesuatu. Karena ia tidak punya alasan lain. Ia dan Siwon tertangkap sedang berpelukan dan berciuman, tidak mungkin sepasang sahabat atau teman lama melakukan hal itu kan? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah mantan kekasih Siwon, bisa jadi kakeknya bertambah marah. Bisa jadi ia dituduh memfitnah Siwon agar ia selamat dari hukuman kakeknya.

“Kami.. Kami dulu berteman baik. Dan aku.. Aku hanya memberinya selamat karena ia akan bertunangan dengan Shin Hye.”

“Dengan ciuman? Dimana harga dirimu? Kau adalah seorang Cho dan kau mencium calon tunangan adikmu? Kau mencoreng nama keluarga ini. Entah apa yang dipikirkan Siwon sekarang. Setelah acara ini selesai, kau harus minta maaf pada Siwon dan Shin Hye.” Kata Mr. Cho keras.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. “Haraboji, mengapa aku harus melakukannya? Aku memang bersalah, tapi tolong jangan..”

“Kau mau membantahku? Setelah mencoreng nama keluarga kini kau mau membantahku?” tanya Mr. Cho tajam.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak, haraboji. Aku..”

Ketika ia mencoba menatap kakeknya, meminta belas kasihan, sebaliknya mata lelaki tua dihadapannya itu justru memandangnya dingin.  “Aku akan meminta maaf pada Siwon-ssi dan Shin Hye setelah ini.”

“Bagus. Dan kau juga harus menjaga jarak dengan Siwon. Aku tidak tahu kalian ada hubungan apa sebelumnya. Tapi tidak baik terlalu dekat dengan calon suami adikmu. Kalau perlu kau harus mencari pendamping secepatnya, jadi tidak akan ada skandal dalam rumah ini. jika kau belum mempunyai pendamping, aku akan mencarikan lelaki yang pantas untukmu.”

*

            Acara pertunangan telah selesai, keluarga Cho sudah pulang. Namun karena Siwon sebentar lagi akan menjadi keluarga Cho, maka ia sudah mulai tinggal di kediaman Cho mulai hari itu. Kini seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.

Mr. Cho berbicara banyak mengenai pesta hari itu, juga untuk menyambut kedatangan Siwon ke dalam keluarga mereka. Kyuhyun diam saja sedaritadi, ia tidak berani membuka suara atau memandang siapapun. Ia hanya berharap bahwa kakeknya melupakan pembicaraan mereka di ruang kerjanya tadi. Namun sepertinya kakeknya punya ingatan yang sangat bagus.

“Kyuhyun-ah, ada yang mau kau sampaikan?” tanya Mr. Cho.

Kyuhyun mengumpulkan keberaniannya. Sebentar lagi ia akan membuka aibnya dengan sangat terpaksa. Ia menarik nafas panjang dan mulai bicara.

“Siwon-ssi, maafkan aku karena tadi telah dengan lancang menciummu. Dan untuk Shin Hye, maafkan aku karena mengganggu hubungan kalian. Aku bersalah hari ini, mohon maafkan aku.” Kata Kyuhyun dengan cepat. Betapa malunya ia saat ini. dipaksa mengatakan suatu kebohongan hanya karena keinginan sang kakek.

Siwon dan Shin Hye terpana. Shin Hye tidak perduli apa benar Kyuhyun dan Siwon berciuman, karena ia tahu keduanya masih saling mencintai. Dirinyalah yang tidak tahu malu karena masuk diantara mereka. Namun Siwon tampak marah, ia tahu pasti Kyuhyun dipaksa melakukan semua itu. Ia tahu benar siapa penguasa di rumah itu. Namun pertanyaannya, darimana Mr. Cho mengetahui apa yang mereka berdua lakukan tadi?

“Shin Hye-ya, jawablah oppamu. Ia minta maaf karena berani mencium tunanganmu. Dan kau Siwon-ah, sebagai korban dalam hal ini, bisakah kau memaafkan Kyuhyun?” tanya Mr. Cho pada Shin Hye dan Siwon.

‘Korban? Oh Tuhan, akulah yang mencium Kyuhyun tadi! Dialah korbannya, bukan aku.’ Kata Siwon dalam hati. Ia tahu karena kelancangannya tadi, Kyuhyun harus dihukum. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melawan. Ia mempertaruhkan kehormatan keluarganya dalam hal ini.

“Tidak apa-apa, haraboji. Kami memang sangat dekat semasa kuliah dulu, jadi mungkin Kyuhyun menganggap itu adalah hal yang biasa. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.” Kata Siwon dengan hormat.

‘Mianhae Kyu.. Mianhae..’ Siwon ingin sekali merobek mulutnya sendiri yang mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan Kyuhyun seperti tadi. Namun ia hanya bisa diam.

Sedangkan Shin Hye ingin sekali marah pada kakeknya itu. Bagaimana mungkin ia menyuruh Kyuhyun meminta maaf di hadapan seluruh anggota keluarga seperti ini? Ini sama saja membuat Kyuhyun malu. Tapi ia tahu ia tidak punya pilihan lain selain menjawab agar hal ini cepat selesai.

“Aku.. Aku memaafkan Kyuhyun oppa. Siapapun pasti pernah melakukan kesalahan kan? Yang penting oppa tidak melakukannya lagi.”

“Lihat? Shin Hye sangat pemaaf. Bahkan ketika kau menusuknya dari belakang dengan menggoda tunangannya, ia masih bisa memaafkanmu.” Kata Mrs. Cho yang kini ikut bicara.

“Beraninya kau! Kau mencium tunangan Shin Hye?” Song Ji Hyo ikut bicara dengan marah.

“Ji Hyo, hentikan! Kyuhyun sudah minta maaf, jadi jangan memperkeruh suasana.” Tegur In Sung.

“Oppa, kau masih membelanya? Shin Hye juga anakmu. Harusnya kau memberi pelajaran pada anak ini agar lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya.”

Detik berikutnya Ji Hyo sudah bergerak mendekati Kyuhyun dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tapi sebelum telapak tangan itu sampai ke pipi Kyuhyun, Ye Jin muncul tepat di depan Kyuhyun dan menerima tamparan keras Ji Hyo.

“Omoni…!” jerit Mhia keras. Ia langsung berlari memeluk ibunya. Kyuhyun langsung tersadar karenanya. Ia ikut maju memeluk ibunya.

“Ji Hyo…!” teriak In Sung gusar.

“Kau baik sekali mau menggantikan anakmu.” Kata Ji Hyo kejam tanpa peduli teriakan suaminya. “Tapi ada bagusnya juga kau yang menerima tamparan itu, jadi kau bisa memberitahukan pada Kyuhyun bagaimana rasanya. Ini akibatnya jika mengganggu kedua anakku.”

Cho In Sung segera maju dan membawa Ye Jin, Mhia dan Kyuhyun pergi dari situ. Jonghyun hanya bisa melihat punggung ayahnya yang menjauh. Jika tamparan bisa membuat ayahnya memperlakukannya dengan protektif seperti tadi, ia rela menerima seribu tamparan sekaligus. Tapi apakah itu akan berhasil? Atau mungkin ayahnya hanya akan diam saja karena bukan sekali lagi, Jonghyun tetap Jonghyun. Jonghyun bukan Kyuhyun. Dan sampai kapanpun Jonghyun akan tetap menjadi anak Ji Hyo.

*

            “Aboji, bolehkah aku bicara dengan? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Kata Mhia pagi itu. Ia sengaja mendatangi kantor ayahnya pagi-pagi sekali agar tidak ada yang melihat kedatangannya, terutama kakeknya yang belakangan ini sering berkunjung ke perusahaan mereka.

“Tentu saja, kemarilah. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya In Sung lembut.

Mhia duduk di depan ayahnya. Sebenarnya ia sedikit gelisah, namun ia harus mengatakan segalanya pada ayahnya, satu-satunya harapannya.

“Aboji.. Bolehkah aku meminta sesuatu?”

Cho In Sung tersenyum. “Apapun itu. Katakanlah, apa yang kau inginkan? Mobil baru? Ani.. Kau pasti menginginkan sesuatu yang lebih besar bukan?”

Mhia menggeleng. “Aku selalu merasa cukup. Tapi, aku tidak bisa melihat adik-adikku menderita. Sebagai anak tertua, aku merasa bertanggung jawab membantu adik-adikku ketika mereka kesulitan.”

“Kau adalah anak aboji yang paling mengerti. Tak heran adik-adikmu sangat menyayangimu. Apa yang terjadi hingga kau mau bicara denganku sepagi ini?”

“Aboji, bisakah kau membatalkan pertunangan Shin Hye dan Siwon?”

Cho In Sung cukup terkejut dengan permintaan putri sulungnya itu. “Mwo? Membatalkan? Kau tau sendiri aku meminta haraboji-mu untuk membatalkan semuanya tapi ia tidak mau. Jika sudah menyangkut nama keluarga, bisakah kita melawan kehendak harabojimu?”

“Tapi.. Tidak bisakah aboji berusaha lebih keras lagi? Jebal.. Shin Hye tidak mencintai Siwon. Dia.. Dia telah mempunyai kekasih.”

Cho In Sung tertawa jengah. “Tidak mungkin. Shin Hye tidak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tengah berkencan dengan seseorang selama ini. Bagaimana mungkin ia punya kekasih?”

Mhia menghela nafas lelah. “Aboji, nama kekasih Shin Hye adalah Yonghwa. Mereka telah menjalin hubungan selama empat tahun dan Ji Hyo omoni mengetahui hal ini tapi beliau meminta Shin Hye untuk menyembunyikannya dari aboji.”

“Apa?! Empat tahun? Dan Shin Hye tidak pernah mengatakannya? Mengapa Ji Hyo menyembunyikan semua ini dariku?”

“Mungkin.. Karena Ji Hyo omoni takut hal yang sama terulang lagi. Karena Yonghwa-ssi bukan keturunan bangsawan.”

Cho In Sung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu, Ji Hyo tidak akan mau menerima menantu dari kalangan bawah. Tidak peduli apakah anaknya akan bahagia atau tidak, kedudukan dan harta jelas paling utama untuk Ji Hyo. Ia sadar, Mhia pasti mengatakan semua ini karena ia tidak tahan lagi melihat adiknya menderita dan ia sudah melakukan hal yang benar.

Namun di satu sisi In Sung merasa amat sedih karena ia merasa gagal menjadi ayah. Karena ia sibuk membenci Ji Hyo, tanpa sengaja ia telah membangun dinding kokoh yang menghalangi hubungannya dengan kedua anaknya dari Ji Hyo ; Jonghyun dan Shin Hye. Dan kalau saja sejak dulu ia tidak bersikap dingin pada kedua anaknya ini, mungkin Shin Hye akan mengatakan semuanya padanya dan mungkin saja pertunangan ini tidak terjadi.

“Apa omoni-mu tahu akan hal ini?”

Mhia mengangguk singkat. “Omoni tahu segalanya, namun omoni tidak berani mencampuri urusan Ji Hyo omoni.”

“Sebentar, bukankah kita tahu pasti bahwa Shin Hye sendiri yang menyetujui pertunangan ini? Ia mengatakan bahwa ia menyukai Siwon.”

“Kami.. Maksudku aku bersama Jonghyun dan Kyuhyun merasa bahwa Shin Hye berbohong. Kami curiga bahwa Ji Hyo omoni memaksa Shin Hye untuk melakukannya. Aku tahu, tidak ada bukti kuat untuk mengatakan hal ini tapi.. Aboji percayalah padaku. Tolong batalkan pertunangan ini.”

In Sung menghela nafas berat. Inilah Song Ji Hyo, dia akan menutupi segalanya dari In Sung. Ia jadi merasa bertanggung jawab atas segala kesedihan anak-anaknya.

“Tapi, mengapa baru sekarang kau katakan hal ini? Pertunangan itu sudah berlangsung seminggu lalu dan pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan.”

“Karena jika pernikahan itu dilaksanakan, akan ada empat hati yang terluka.” Jawab Mhia. Wajahnya kini terlihat semakin muram.

“Apa? Empat hati? Apa maksudmu? Siapa empat hati yang kau maksud?”

“Shin Hye.. Yonghwa.. Siwon dan.. Kyuhyun.” Jawab Mhia hati-hati.

“Siwon? Kyuhyun? Mhia-ya, jelaskan padaku ada apa sebenarnya. Jangan berbelit-belit!”

Mhia akhirnya menceritakan semuanya. Tentang hubungan Kyuhyun dan Siwon pada awalnya, tentang bagaimana Siwon akhirnya meninggalkan Kyuhyun, tentang perasaan Kyuhyun yang masih tersisa untuk Siwon dan bagaimana keduanya mengalah demi keinginan keluarga.

Kembali In Sung tenggelam dalam penyesalannya. Kini dua anaknya terluka karena keegoisan keluarga. Dan kalau ia tetap diam, maka anak-anaknya akan menerima hal yang sama dengan apa yang ia alami dua puluh lima tahun yang lalu.

*

            Malam itu, Cho In Sung dan Son Ye Jin menemui Mr. Cho. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi karena In Sung tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan kata-kata semua Mhia pagi tadi mengenai Kyuhyun, Siwon, Shin Hye dan Yonghwa.

“Apa? Membatalkan pertunangan Shin Hye dengan Siwon? Apa kalian sudah tidak waras lagi? Kalian tahu apa artinya ini?” kata Mr. Cho tajam.

“Aku tahu. Aku tahu kita akan mempertaruhkan kehormatan keluarga. Tapi aku tidak ingin membuat anak-anakku menderita sepertiku.” Kata In Sung menjawab perkataan ayahnya.

Brakk..! Mr. Cho menggebrak meja dengan kasar. “Kau bilang menderita? Selama ini kau dan semua anak-anak serta istri-istrimu mendapatkan apapun yang kalian inginkan. Kalian tidak pernah kekurangan apa-apa. dan kini kau bilang kau menderita? Jangan membuatku tertawa!”

“Aboji, tolong.. Aku tidak mau berdebat. Tidak bisakah kau membiarkan cucu-cucumu menentukan apa yang mereka inginkan? Tidak bisakah kau membiarkan mereka bahagia dengan pilihannya sendiri?” kata In Sung masih dengan nada sabar.

“Jika pilihan mereka tepat, mengapa tidak? Sayangnya mereka terkadang tidak mengerti mana yang terbaik untuk mereka. Dan Shin Hye adalah anak yang sangat bijaksana dengan menerima perjodohan ini. Berhenti mencampuri apa yang telah aku tentukan!”

Dengan takut-takut Son Ye Jin mencoba bicara. “Abonim, maafkan aku. Tapi Shin Hye sepertinya tidak menyetujui gagasan ini, namun ia tidak mau membuat kita semua tersinggung. Lagipula ia masih sangat muda, bukankah sebaiknya kita bersikap sedikit lebih lunak kepadanya? Bagaimana kalau kita..”

“Apa kau berhak bicara di rumah ini?” potong Mr. Cho tajam.

Son Ye Jin langsung bungkam sedangkan Cho In Sung tampak berang. “Aboji! Hargai Ye Jin! Selama ia masih menjadi istriku, ia berhak bicara di rumah ini.”

Mr. Cho tampak sedikit terkejut melihat keberanian anaknya. Tapi In Sung memanfaatkan hal itu dengan bicara mengenai apa yang harus dikatakannya sebelum ayahnya mulai bicara lagi.

“Aku tidak bisa membiarkan Shin Hye mengorbankan kebahagiannya. Disamping itu, Kyuhyun dan Siwon saling mencintai. Bukankah sebaiknya kita menjodohkan mereka? Kita tidak akan mencoreng nama keluarga karena Kyuhyun juga merupakan anggota keluarga kita, ia juga anakku. Dan lagi, tidak ada pihak yang tersakiti jika keduanya bersatu.”

“Jadi kau menentang perjodohan ini karena Kyuhyun? Ah.. Aku mengerti sekarang. Setelah kau lebih menyayangi Ye Jin daripada Ji Hyo, sekarang kau mau mendahulukan anaknya daripada anak Ji Hyo? Dimana letak keadilanmu? Aku tidak bisa membiarkannya. Pertunangan tidak akan dibatalkan dan pernikahan akan tetap dilaksanakan bulan depan.” Kata Mr. Cho dengan tenang. Seolah anaknya tidak menyela sebelumnya.

“Aku juga tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak akan membuat anak-anakku harus mengikuti keinginan aboji. Mereka anak-anakku, akulah yang berhak atas mereka. Jika aboji memaksa, maka..”

“Maka apa? Apa yang akan kau lakukan?” tantang Mr. Cho.

“Aku akan keluar dari rumah ini. Membawa anak-anakku. Cukup aku yang merasakan penderitaan menikahi orang yang tidak pernah aku cintai. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah selalu mengikuti kehendakmu dan mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi.” Kata In Sung dengan mantap.

“Kaauuu…! Kau pikir siapa kau bisa bicara seperti itu padaku? Aku adalah aboji-mu! Kau pikir apa yang aku lakukan selama ini untuk diriku? Ini semua untukmu. Agar kau tetap mendapatkan tempat di luar sana. Kau pikir siapa yang akan melihatmu jika kau adalah orang biasa? Jika kau tidak diselamatkan oleh Ji Hyo, kau hanya lelaki lemah yang menikahi wanita dari kalangan menengah!” kini suara Mr. Cho benar-benar sudah meninggi.

Seisi rumah terkejut karenanya dan berkumpul di depan ruang kerja Mr. Cho yang pintunya memang tidak ditutup sejak awal. Son Ye Jin hanya bisa diam mendengar kata-kata mertuanya. Ia tahu benar kedudukannya, berulang kali ia disindir akan kedudukannya tapi entah mengapa ia tidak lagi merasa terhina karenanya. Ia sudah terbiasa.

“Wanita yang haus akan kekuasaan seperti itu yang aboji banggakan? Wanita yang hanya bisa memaksakan kehendak seperti dia? Ji Hyo sama saja dengan aboji dan omoni, sama-sama suka merebut kebahagiaan orang lain!” kata In Sung tak kalah keras dari suara ayahnya.

“Oppa..” Ji Hyo sudah masuk ke dalam ruangan, Shin Hye dan Jonghyun berdiri tak jauh di belakangnya. “Teganya kau berkata demikian? Selama ini aku..”

“Diam! Aku tidak mau lagi mendengar kata-katamu. Sekali lagi kutekankan padamu, aku tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah! Dan karena kau, aku jadi jauh dengan anak-anakku sendiri, karena apa? Karena kebencianku yang mendalam padamu membuatku selalu membayangkan wajahmu di wajah Jonghyun dan Shin Hye. Tapi aku sudah tidak perduli. Aku muak dengan kalian semua yang bertahun-tahun mencoba mengaturku, membuatku tunduk pada kemauan kalian, membuat Ye Jin dan anak-anakku menderita. Tidak akan kubiarkan lagi. Aku pergi dari sini! Selamat tinggal.”

Selesai berkata demikian, In Sung meraih tangan Ye Jin kemudian melangkah ke pintu keluar.

“Cho In Sung, kembali kau! Atau kau akan merasakan akibatnya! Cho In Sung!” teriakan Mr. Cho bergema keras. Namun In Sung tetap berjalan tegak, seolah tuli terhadap teriakan ayahnya.

“Oppa.. Jangan tinggalkan aku.. Oppa jebal..” In Sung juga tidak memperdulikan tangisan Ji Hyo yang kini ikut mengejarnya dan menarik ujung kemejanya. In Sung berhenti dan mendorong Ji Hyo dengan keras. Wanita itu terjatuh. Jonghyun segera membantu ibunya berdiri.

Cho In Sung berbalik dan menatap Ji Hyo. “Maaf jika aku tidak bisa mempertahankan semua ini lagi. Jika kalian masih tetap berpikiran seperti ini, lebih baik aku pergi. Aku tidak butuh semua ini jika sampai mati aku dan anak-anakku tersiksa.”

Kemudian ia beralih pada Kyuhyun dan Mhia. “Bereskan barang kalian. Bawa seperlunya. Kita pergi dari sini. Mhia, bereskan juga barang-barang Shin Hye. Sekarang!”

“Oppa, kau tidak boleh membawa Shin Hye, dia anakku. Tidak.. Kau tidak boleh membawanya..!” jerit Ji Hyo yang terisak keras.

In Sung tersenyum sinis. “Anakmu? Kau lupa? Dia juga anakku. Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang ibu jika selama ini kau sibuk mengurus hartamu daripada anakmu sendiri? Kau tidak akan pernah melihatnya lagi!”

In Sung segera menarik Shin Hye dan Ye Jin ke halaman depan, dimana satu mobil sudah menunggu. Kyuhyun dan Mhia sudah ada di sana, masing-masing hanya membawa satu ransel. Mhia juga menggandeng sebuah tas yang berisi barang-barang Shin Hye.

“Cepat masuk ke mobil. Jangan berlama-lama disini. Kalian tidak perlu berpamitan. Mereka tidak akan merasa kehilangan kalian. Cepat!” perintah In Sung pada anak-anaknya juga pada istri tuanya, Son Ye Jin.

“Oppa.. Tapi mengapa kau meninggalkan Jonghyun..” kata Ye Jin seraya memandang Jonghyun dengan iba.

Cho In Sung hanya diam sesaat. Kemudian ia berbalik. Dilihatnya Ji Hyo memeluk Jonghyun protektif. Di sebelahnya Mr. Cho dan Mrs. Cho berdiri, menatapnya penuh amarah.

“Aboji.. Jangan tinggalkan aku..” kata Jonghyun. Ia tampak terpukul semua orang yang disayanginya akan pergi meninggalkannya. Ia berusaha menyusul ayah dan saudara-saudaranya tapi anak buah Mr. Cho muncul dan menahannya dengan kuat-kuat.

“Aboji.. Ye Jin omoni.. tolong aku.. Jeballl!!!!” Jonghyun masih berusaha keras lepas dari beberapa lelaki yang menahannya.

“Oppa..” bisik Shin Hye. Ia, Mhia dan Kyuhyun sudah menangis. Ingin sekali mereka menyelamatkan saudaranya, tapi jika mereka kembali kesana, mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu.

“Oppa, tolong dia.. Tolong Jonghyun..” Ye Jin memohon pada suaminya tapi In Sung diam tanpa ekspresi. Satu tangannya menahan Ye Jin kuat-kuat karena istrinya itu hendak lari menyelamatkan Jonghyun.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Hanya ini kesempatan kita untuk pergi. Kalau kita semua pergi, maka aboji dan omoni akan mencari kita. Kita tidak akan pernah tenang. Harus ada satu orang yang tinggal. Dan karena ia cucu kebanggan aboji juga pimpinan Cho Corporation, Jonghyun-lah yang harus tinggal.”

Son Ye Jin menatap suaminya tak percaya. Ia masih berusaha melepaskan diri untuk mengambil Jonghyun yang juga tampak susah payah melepaskan diri dari sergapan anak buah kakeknya. Bahkan Jonghyun kini sudah menangis.

Detik berikutnya In Sung sudah menyeret Ye Jin ke dalam mobil dan menguncinya. Ia lalu duduk di balik kemudi dan segera meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Cho.

“Tidakk..!! Abojiii…!! Hyungnimm..!!!” raung Jonghyun keras ketika mobil ayahnya mulai bergerak. Sekuat tenaga ia melepaskan pegangan para penjaganya lalu mulai berlari mengejar mobil hitam itu.

“Abojii… Omoni.. Jangan tinggalkan aku..!!” Tangis Jonghyun semakin deras, matanya kabur karena airmata berkumpul di pelupuk matanya. Namun ia tidak berhenti berlari, di belakangnya para anak buah kakeknya ikut berlari mengejarnya.

“Oppa..!!” Shin Hye memandang kakaknya dari dalam mobil. Sementara Kyuhyun mengeluarkan satu tangannya untuk menggapai Jonghyun yang kini jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja dari tangannya.

“Hyungnim.. Jangan pergi..!!” teriak Jonghyun.

“Aboji, Jangan tinggalkan Jonghyun.” Kata Mhia dalam tangisnya.

“Oppa, hentikan mobil ini. Jebal. Jangan biarkan Jonghyun sendirian. Jebal oppa.. Jika kita harus menderita, kita menderita bersama. Jangan biarkan dia sendiri. Jeball..” kata Ye Jin yang kini menangis histeris.

Jarak Jonghyun dengan mobil semakin menjauh, ia juga sudah berlari cukup jauh meninggalkan rumah. Namun ia tidak putus asa, ia tetap berlari sekuat tenaga. Harapannya Cuma satu, mobil hitam yang kini semakin jauh itu berhenti dan ia bisa masuk ke dalamnya. Walaupun harapannya kecil, ia tidak putus asa. Ia tidak akan berhenti berlari.

Walaupun hatinya sakit karena ditinggalkan, walaupun kakinya perih karena ia berlari di aspal keras tanpa alas kaki, walau tubuhnya menggigil tanpa jaket dihantam udara malam, ia tidak perduli. Meski ayahnya tidak mau menerimanya, namun ia tidak mau terpisah dari orang-orang yang dicintainya.

“Aboji..”

Jonghyun masih senantiasa menangis, kakinya sudah sangat lelah kini. Kedua kakinya yang kokoh terasa akan patah. Tubuhnya nyaris membeku. Namun airmata dan tekadnya masih kuat.

Kini mobil In Sung bagai titik d kegelapan malam. Jonghyun sudah tidak bisa lagi mengejarnya. Ia menyerang. Ia jatuh berlutut. Satu tangannya memengang dadanya yang terasa sangat sesak karena sedih dan sakit hati, sementara tangan lainnya bertumpu pada aspal di bawahnya.

Jonghyun terisak keras, menangisi kepergian keluarganya terutama orang yang paling ia dambakan kasih sayangnya, ayahnya sendiri. Sakit yang ia rasakan menusuk ke hatinya dan seolah-olah menusuk-nusuknya hingga Jonghyun sulit sekali untuk bernafas. Ia rela kehilangan segalanya, asal ia bisa tetap bersama ayahnya. Karena ia ingin sekali menunjukkan pada ayahnya bahwa ia sangat menyayangi ayahnya yang selama ini menyia-nyiakannya.

“Aboji.. Jangan pergi.. Jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersamamu. Saranghaeyo aboji, saranghaeyo..”

*

yongshin1

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 3

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 3

Shin Hye memasuki rumah dengan wajah sumringah. Sejak turun dari mobil, wajahnya sudah terlihat berseri-seri. Ia berlari secepatnya menuju ke kebun belakang, tempat Son Ye Jin, ibu tirinya, suka menghabiskan sore yang indah dengan duduk di bangku sambil membaca buku. Ia ingin sekali membagi kebahagiaannya dengan wanita yang telah diangapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Bukannya ia tidak mau menceritakan pada Ji Hyo terlebih dahulu, tapi terkadang ibunya sendiri suka tidak menanggapi hal-hal yang dikatakan Shin Hye.

Begitu tiba disana, wajahnya semakin terlihat cerah karena ternyata Kyuhyun oppanya juga ada disana. Ia mendekati kedua orang itu pelan-pelan dari belakang. Namun langkahnya langsung terhenti ketika mendengar kedua orang itu tengah bicara dengan serius.

“Apa yang harus aku lakukan omoni? Aku mencintai Siwon hyung, sangat mencintainya. Tapi mengapa ketika aku bertemu lagi dengannya, ia harus menjadi milik orang lain?” Shin Hye mendengar Kyuhyun bicara.

Son Ye Jin mengelus rambut anak bungsunya itu seraya berkata. “Kyu, terkadang hidup memang tidak memberikan kita pilihan lain. Apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan.”

“Ye, omoni.. Aku tahu. Tapi belum pernah aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkan Siwon hyung. Sejak dulu aku selalu mengalah. Apapun yang Jonghyun dan Shin Hye dapatkan tidak pernah kudapatkan tapi aku selalu bisa mengerti. Tapi apakah aku harus merelakan kepergian Siwon hyung sekali lagi?”

“Kyu.. Kebahagiaan keluarga adalah diatas segalanya. Apa artinya kita bahagia jika keluarga kita menentang? Bagaimana mungkin kau bisa bahagia sementara keluargamu terluka? Kau adalah anak yang baik, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan lelaki terbaik yang bisa membuatmu bahagia, walaupun itu bukan Siwon. Percayalah.. Jadi dengarkan omoni, lepaskanlah Siwon, biarkan ia bersama adikmu.” Kata Ye Jin lagi pada anaknya.

Shin Hye melihat kedua orang di depannya itu berpelukan. Ia tahu pasti bahwa oppanya sangat terluka dengan perjodohan ini. Ia memang tahu kalau oppanya itu sangat mencintai cinta pertamanya. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau orang itu adalah Siwon. Dan yang membuat mereka tidak bisa bersatu adalah Shin Hye sendiri.

“Kau sudah dengar?”

Terdengar sebuah suara berbisik halus di belakang Shin Hye. Dengan gugup ia menoleh ke belakang dan mendapati ibu kandungnya menatapnya tajam. Detik berikutnya Ji Hyo sudah menyeret Shin Hye menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya barulah Ji Hyo melepaskan cengkramannya di lengan anaknya.

“Kau dengar semuanya kan? Ani.. Kau hanya mendengar sebagian. Kau tidak mendengar secara keseluruhan bahwa bagaimana kuatnya perasaan Kyuhyun pada Siwon. Kau tidak mendengar bahwa..”

“Aku memang tidak mendengar semuanya. Tapi aku tahu bahwa Kyuhyun oppa sangat mencintai Siwon oppa. Dan aku menolak perjodohan ini, omoni. Aku tidak mau menyakiti Kyuhyun oppa, dan.. diriku sendiri..” kata Shin Hye memotong kalimat ibunya.

“Mwo??? Menolak? Apa kau dalam posisi menawar saat ini? Tidak! Kau hanya ada dalam posisi menerima. Kau tidak boleh menolak apa yang sudah ditentukan untukmu. Ini takdirmu, terima itu!” balas Ji Hyo sengit.

“Tapi omoni.. Siwon oppa dan Kyuhyun oppa saling mencintai. Aku pun tidak mencintai Siwon oppa, aku hanya mencintai..”

“Siapa? Lelaki miskin itu? Lelaki yang hanya mengejar uangmu itu? Lelaki seperti itu yang kau inginkan? Demi Tuhan, Shin Hye! Buka matamu! Kau tinggal menerima Siwon, menikah dengannya dan menjalani segalanya. Kau tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi perasaan Kyuhyun. Dia pasti mau mengalah untukmu, seperti yang biasa dilakukannya.” Kata Ji Hyo lagi.

“Tapi mana mungkin membangun hubungan tanpa cinta? Mana mungkin aku dan Siwon oppa bisa bahagia jika kami melukai orang lain?” kata Shin Hye masih tetap pada pendiriannya.

“Cinta? Kau pikir aku dan aboji-mu menikah atas dasar cinta? Apakah ia mencintaiku? Tidak! Apakah ia pernah sekali saja memikirkanku? Tidak! Seluruh hati dan pikirannya hanya untuk Ye Jin. Bahkan aku telah memberikan dua anak padanya pun, ia masih saja tidak menggubrisku. Kau pikir bagaimana perasaanku? Tapi aku tetap bertahan karena aku memikirkan kalian! Kalian adalah cucu sah keluarga Cho. Kalian berhak mendapatkan semua yang dimiliki keluarga ini. Jangan membuat perjuanganku sia-sia..!”

“Omoni.. jebal.. Aku tidak bisa.. Aku..”

Ji Hyo kembali menyambar lengan anaknya. “Dengarkan aku! Aku hanya bicara sekali dan tidak akan kuulangi lagi. Putuskan hubunganmu dengan lelaki miskin itu dan terima perjodohan ini. Kalau kau tidak mau melakukannya, ibu tiri tersayangmu itu beserta kedua anaknya yang akan menerima akibatnya. Dan aku bersungguh-sungguh.”

Shin Hye tahu benar jika ibunya serius. Kalau ia berani menolak, kalau ia berani tidak mengindahkan kata-kata ibunya, maka ia akan menyebabkan kesengsaraan baru pada kedua kakak serta ibu tirinya. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi.

*

            Beberapa hari kemudian, Shin Hye mengajak Kyuhyun untuk bertemu kekasihnya, Jung Yonghwa. Mereka akan bertemu di salah satu kedai kopi yang cukup terkenal di daerah Myeongdong. Ketika Shin Hye dan Kyuhyun tiba disana, Yonghwa sudah menunggu dan tersenyum hangat melihat gadis yang dicintainya datang.

“Anneyong Kyuhyun-ssi.. Tidak kusangka kau juga akan datang kemari.” sapa Yonghwa pada Kyuhyun sembari membungkuk hormat.

“Ah.. Tadi aku sedang di luar. Shin Hye menelepon dan memintaku untuk menemaninya hari ini. Katanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Mianhae Mhia noona tidak bisa hadir hari ini, ia harus menemani omoni untuk menghadiri undangan acara makan siang. Sedangkan Jonghyun sangat sibuk akhir-akhir ini, kami saja jarang sekali bertemu di rumah ataupun di kantor.” Kata Kyuhyun menjelaskan.

Ia sendiri juga heran mengapa Jonghyun sangat sibuk. Ia sudah bertanya pada sekretaris Jonghyun dan gadis itu berkata bahwa Jonghyun memang menangani banyak sekali proyek baru dan ia tidak mengijinkan siapapun membantunya ataupun mengganggunya. Entahlah, tapi Kyuhyun merasa ada jarak antara dirinya dengan Jonghyun akhir-akhir ini.

“Aku merindukan saat-saat kita semua berkumpul bersama. Tapi tidak apa-apa, kehadiranmu hari ini sudah cukup.” Kata Yonghwa seraya mempersilahkan dua orang di depannya duduk.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Shin Hye ketika mereka bertiga sudah duduk.

“Ada apa?” tanya Yonghwa lembut seraya menggenggam jemari Shin Hye.

Namun alangkah terkejutnya Yonghwa ketika Shin Hye menarik tangannya dan melepaskannya dari genggaman Yonghwa.

“Aku ingin kalian berdua mendengarkan dengan baik apa yang akan aku katakan. Dan tolong, jangan suruh aku untuk berubah pikiran karena keputusanku sudah bulat.” Kata Shin Hye lagi. Ia terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya sangat gelisah.

“Ada apa? Kenapa kau serius sekali?” tanya Kyuhyun.

Shin Hye tampak diam sebentar lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kemudian ia mulai bicara. “Kyuhyun Oppa.. Yonghwa-ssi.. Mianhae.. Aku telah memutuskan bahwa aku.. aku akan menerima perjodohanku dengan Siwon oppa.”

Baik Yonghwa maupun Kyuhyun tampak terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka Shin Hye bisa memutuskan hal itu.

“Shin Hye-ah.. Jangan bercanda. Kau sendiri yang bilang saat itu bahwa kau tidak mau menerima perjodohan itu. Kau sendiri yang memintaku untuk membantumu agar keluar dari perjodohan itu. Mengapa tiba-tiba kau..”

Shin Hye memotong perkataan Kyuhyun. “Aku berubah pikiran, oppa.”

“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan hubungan kita? Kau bilang kau tidak mencintainya.. Kau memintaku untuk segera menikahimu. Maka aku berusaha mati-matian. Beberapa hari lalu ketika aku mengabarimu bahwa aku berhasil membangun toko roti itu, kau sangat bahagia. Bahkan kau memintaku untuk segera bersiap-siap karena kau akan mengenalkanku pada kedua orangtuamu. Mengapa sekarang kau..”

Lagi-lagi Shin Hye memotong perkataan, kali ini perkataan Yonghwa. “Sudah kukatakan bahwa aku berubah pikiran. Aku juga manusia yang bisa berubah pikiran. Setelah berkencan dengan Siwon oppa, aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Siapa yang tidak mau menjadi pendampingnya? Ia impian setiap orang. Ia tampan, cerdas, kaya dan dari keturunan bangsawan yang terhormat.”

Bibir Shin Hye bergetar ketika mengatakan semua itu. hatinya sakit sekali karena harus berbohong pada kekasihnya, oppanya, dan pada hatinya sendiri.

“Shin Hye-ya, jebal.. Katakan padaku bahwa kau hanya bercanda. Kau tidak serius kan? Jebal..” tanya Yonghwa masih dengan nada tidak percaya.

Shin Hye menjawab pertanyaan itu tanpa memandang langsung ke kekasihnya. “Aku serius. Aku akan sudah memutuskannya dan aku tidak akan membatalkannya.”

Selesai berkata demikian, Shin Hye langsung berdiri dan hendak pergi namun Yonghwa lebih cepat. Ia sudah menghalangi jalan Shin Hye dengan melebarkan kedua tangannya.

“Kau tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaanku. Katakan sejujurnya, apa kau benar-benar telah jatuh hati padanya?”

Shin Hye masih tetap menolak kontak mata dengan Yonghwa. “Ya, aku telah jatuh hati padanya. Dan aku tidak kuasa menolak pesonanya.”

“Tatap aku ketika kau bicara! Tatap aku!” bentak Yonghwa sedikit kesal.

Namun Shin Hye masih tetap menghindari tatapan mata Yonghwa. Kemudian Yonghwa meraih wajah Shin Hye dan membuat gadis itu menatapnya langsung ke dalam manik matanya.

“Kumohon, jujurlah padaku. Apa kau masih mencintaiku? Kumohon.. Jika kau memang masih mencintaiku, aku akan melupakan kata-katamu tadi dan aku berjanji akan berjuang untuk kita. Tapi jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Menatap mata itu, melihat sinar mata yang selalu membuatnya bahagia, membuat keteguhan hati Shin Hye mencair. Akhirnya ia menangis pelan. Pelan-pelan ia melepaskan kedua tangan Yonghwa di wajahnya.

“Yonghwa-ssi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu. Kita tidak bisa bersama. Terlalu banyak perbedaan diantara kita.Dan perbedaan-perbedaan itu semakin membuka mataku bahwa kau tidak pantas untukku. Aku lebih memilih Siwon oppa. Ia jauh lebih terpandang, terhormat, terpelajar dan yang penting, ia setara dengan kami. Kumohon, lepaskanlah aku. Karena sampai kapanpun kita berusaha, tidak akan pernah ada jalan keluar untuk kita.”

Sekali lagi Yonghwa memandang Shin Hye dengan tatapan tak percaya. Ia telah mengenal Shin Hye sejak lama. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Dan hubungan mereka sudah terjalin selama empat tahun. Namun, tidak sekalipun ia pernah melihat Shin Hye setegas ini.

Shin Hye adalah gadis rapuh yang selalu ragu dalam mengambil keputusan. Ia tidak pernah bisa memilih dengan baik atau menentukan sesuatu untuknya tanpa bertanya pada siapapun. Melihat Shin Hye begitu yakin saat ini, membuatnya berpikir apakah mungkin memang Shin Hye sudah tidak bisa lagi mempertahankan segalanya.

“Shin Hye-ya.. Apa benar sudah tidak ada lagi jalan untuk kita? Walaupun aku berusaha? Tidak bisakah kau memilihku? Aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu, aku akan memberikan segalanya yang kau inginkan.. Segalanya.. Tapi tolong, jangan menerima perjodohan itu.”

Air mata Shin Hye masih senantiasa mengalir. Sakit sekali melihat kekasihnya memohon seperti itu. Sulit sekali baginya untuk meninggalkan cinta yang telah terajut sekian lama. Namun ia tidak punya pilihan lain. Jika ia bersikeras mempertahankan Yonghwa, maka keluarga ibu tirinya akan mengalami siksaan. Ia tidak bisa melihat semua itu terjadi.

Walaupun hatinya terluka, walaupun ia harus menanggung rasa sakit itu seumur hidup, ia rela. Asal tidak ada lagi ketidakadilan untuk Son Ye Jin dan kedua anaknya. Ia tidak ingin lagi melihat kesedihan di wajah ibu tirinya itu.

“Shin Hye-ya.. Tolong jawab aku..” kata Yonghwa lagi.

Shin Hye menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya. Ketika ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia membuka serta kedua matanya.

“Kyuhyun oppa.. Tolong antarkan aku pulang.” Kata Shin Hye tegas.

Kyuhyun yang sejak tadi diam karena memikirkan keputusan Shin Hye, tersentak mendengar adiknya itu memanggilnya.

“Shin Hye-ya.. Selesaikanlah dulu urusanmu baru aku akan..”

“Aku tidak punya urusan lagi disini. Oppa, jebal.. Antarkan aku pulang..”

Kyuhyun menuruti kemauan adiknya itu. Membantunya lolos dari pertanyaan-pertanyaan Yonghwa dan memohon pada Yonghwa untuk membiarkan Shin Hye sendiri dulu. Ia diam membisu setelah masuk ke dalam mobil. Pikirannya dipenuhi oleh kenyataan-kenyataan bahwa adiknya akan bertunangan dengan cinta pertamanya. Bahwa sebentar lagi mungkin mereka akan lebih sering bertemu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Bahwa sebentar lagi ia harus menerima Siwon sebagai iparnya sendiri.

Dan sekali lagi ia harus merelakan cintanya pergi. Sekali lagi ia harus terluka karena kenyataan yang terlalu kejam yang tiada henti menghantamnya. Dengan pikiran kacau seperti itu, ia bahkan tidak mendengar tangis putus asa Shin Hye selama dalam perjalanan pulang.

*

            Pertemuan kedua antara keluarga Cho dengan Choi berikutnya berlangsung tertutup. Hanya anggota keluarga saja yang hadir. Para orang tua mendiskusikan bagaimana acara pertunangan Siwon dan Shin Hye akan dilangsungkan, sementara anak-anak mereka hanya duduk diam di sana. Menunjukkan sikap hormat dengan bersikap tenang.

Sedaritadi Siwon tak berhenti melirik ke arah Kyuhyun. Setiap melihat raut wajah murung itu, perasaan bersalah selalu menghampirinya. Ia tahu bahwa ia dan Kyuhyun masih saling mencintai, namun tidak mungkin bagi mereka bersatu jika keinginan orang tua mereka jauh lebih keras daripada keinginan mereka sendiri.

Siwon sendiri tidak mungkin mundur dari perjodohan itu, satu-satunya harapan adalah jika Shin Hye menolak. Mungkin Siwon bisa meminta orang tuanya menjodohkan dengan anak Cho yang lain, dalam hal ini Kyuhyun. Tapi harapannya hancur ketika seminggu lalu dirinya dan Shin Hye ‘berkencan’ atas perintah orang tua mereka, dan Shin Hye menyatakan kesediaannya untuk menerima pertunangan mereka. Maka ia tak punya pilihan lain lagi. Mungkin ia dan Kyuhyun memang tidak berjodoh.

“Baiklah, terima kasih telah berkunjung hari ini.” Terdengar Mr. Cho berkata pada Siwon dan kedua orang tuanya. Kemudian ia dan Mrs. Cho beserta In Sung dan kedua istrinya mengantar keluarga Choi ke halaman depan.

Saat itu juga Jonghyun mendekati adiknya dan menarik lengannya keluar ruangan. “Shin Hye-ya, katakan padaku yang sebenarnya. Mengapa kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini.”

Shin Hye terdiam. Ia tidak berani bicara. Sejak ia memutuskan mengikuti kehendak ibunya, ia memang menghindari semua kontak dengan ketiga kakaknya. Ia takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus menjawab yang sebenarnya.

“Jawab aku!” kata Jonghyun dalam nada tegas.

Shin Hye masih terdiam dan menunduk. Ia tahu benar bagaimana sikap oppanya yang satu ini jika sudah marah. Jonghyun bisa meledak, tidak seperti Kyuhyun yang lebih bisa menahan diri.

“Cho.. Shin.. Hye..!” kata Jonghyun lagi kali ini memberikan tekanan dalam setiap kata-katanya.

“Aku menyukainya, oppa.” Jawab Shin Hye pendek. Ia masih terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.

“Benarkah?” tanya Jonghyun tidak percaya. “Jika benar kau jujur pada perasaanmu sendiri, setidaknya kau bisa menatapku saat bicara. Jangan membuatku berpikir bahwa kau melakukan semua ini karena tekanan dari omoni.”

Shin Hye takut sekali. Orang yang paling ditakutinya di dunia ini bukan ayahnya atau ibunya melainkan Jonghyun. Kakaknya yang penyayang itu bisa menjadi sangat ganas bila sedang marah. Namun jika ia tidak menyangkal kecurigaan Jonghyun, bisa jadi ancaman ibunya akan menjadi kenyataan.

Pelan-pelan Shin Hye mengangkat wajahnya dan menatap Jonghyun. Dengan bibir bergetar, ia bicara. “Aku menyukai Siwon oppa. Omoni tidak pernah menyuruhku menerima pertunangan ini. Akulah yang berpikir meninggalkan Yonghwa-ssi karena kupikir tidak ada jalan lagi untuk kami berdua.”

“Kalau memang benar yang kau katakan, mengapa kau tidak membicarakannya dulu denganku? Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu bahwa aku akan mengirim kau pergi jauh bersama Yonghwa jika omoni tetap tidak setuju? Jangan menipuku, aku tidak bodoh!” kata Jonghyun kesal.

“Jonghyun-ah.. Jangan bersikap seperti itu pada Shin Hye.”

Jonghyun dan Shin Hye menoleh. Mhia ada diantara mereka. Melihat itu, Shin Hye langsung berlindung di belakang tubuh kakak tirinya itu dan menyembunyikan wajahnya.

Jonghyun menarik nafas kesal. “Noona, tolong aku. Tolong nasehati dia untuk tidak mengikuti permainan gila ini. Jangan korbankan hatinya sendiri. Bukan hanya dia yang terluka, tapi juga Yonghwa, Siwon dan Kyuhyun hyung.”

“Tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Jadi kau tidak perlu khawatir. Jika memang Shin Hye menyukai Siwon hyung, biarkanlah mereka bersatu. Tugas kita sekarang adalah memberi pengertian pada Yonghwa-ssi.”

Jonghyun berbalik dan mendapati Kyuhyun juga telah hadir diantara mereka. Jonghyun menatap kakaknya yang hanya terpaut beberapa jam lebih tua darinya itu. Sejujurnya ia tidak mengerti, dulu Kyuhyun seakan hendak gila karena Siwon meninggalkannya. Dari rasa kehilangan itu muncul kerinduan yang bercampur kebencian. Tapi ia tidak pernah menyangka Kyuhyun akan merelakan Siwon dengan mudah seperti ini.

“Hyungnim..”

“Jonghyun-ah, ada saat dimana kita harus berjuang dan ada saat dimana kita harus berhenti berharap. Inilah saatnya aku berhenti. Mungkin jalannya memang seperti ini. Setidaknya aku bahagia karena Siwon hyung mendapatkan seseorang yang baik.”

Setelah berkata demikian, Kyuhyun segera meninggalkan saudara-saudaranya itu lalu menyelinap naik ke kamarnya. Son Ye Jin yang ternyata juga sudah berada disana menangis perlahan. Sekali lagi, anaknya harus mengalah demi kebahagiaan saudaranya.

*

            Hari yang telah ditentukan tiba juga. Hari pertama di minggu kedua bulan april itu, pertunangan Siwon dengan Shin Hye dilaksanakan. Di tengah indahnya musim semi, dimana-mana bunga mulai bermekaran, burung-burung berkicau riang, dan matahari bersinar cerah menghangatkan setiap makhluk hidup di muka bumi, Kyuhyun menahan sesak di dadanya. Membiarkan cinta pertamanya pergi begitu saja.

Ia tahu, terkadang hidup itu tidak adil. Ada keadaan dimana dua orang di takdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama. Kadang Kyuhyun berpikir mengapa ia dulu bisa jatuh cinta pada Siwon. Padahal saat itu bukan hanya Siwon yang mengejarnya. Namun jika hati sudah memilih, sulit bagi kita untuk menolaknya.

Dan disaat ia yakin akan pilihannya, ia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan sulit. Pertama Yoona muncul dan membeberkan kisah semalamnya dengan Siwon. Walaupun hal tersebut dilakukan dalam keadaan mabuk, siapapun tidak mau menerima kekasihnya tidur dengan orang lain.

Lalu saat ia berusaha memaafkan Siwon, muncul Kibum. Kembali ia dipisahkan dari Siwon. Hingga akhirnya Siwon benar-benar harus pergi dari Seoul. Kyuhyun memang mendengar bahwa Siwon melanjtkan kuliahnya di luar negeri, tapi ia tidak tahu dan tidak mau tahu dimana. Karena saat itu ia pikir Siwon pergi bersama Kibum.

Kini, setelah Siwon kembali sebagai lelaki bebas, kembali Kyuhyun harus merelakan Siwon pergi. Karena adiknya sendiri yang memintanya. Tidak, bukan cuma adiknya tapi juga keluarganya. Bagaimana mungkin ia merasakan bahagia jika Shin Hye nantinya akan terluka. Walaupun ia sedikit sangsi dengan keputusan adiknya itu, tapi ia tetap berusaha menghormatinya.

Kyuhyun hanya masih belum bisa mengerti mengapa Shin Hye dengan mudah putus asa padahal ia dan Yonghwa sudah berjuang selama empat tahun bersama. Selama ini mereka berdua selalu baik-baik saja. Yonghwa memang bukan dari kalangan bangsawan, tapi ia adalah lelaki jujur dan bertanggung jawab.

Yonghwa juga adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Ia mengumpulkan uangnya demi mewujudkan mimpi Shin Hye untuk memiliki sebuah bakery. Shin Hye suka membuat kue dan roti, maka ia ingin sekali memiliki toko roti bersama Yonghwa. Dan ketikaYonghwa berhasil membeli sebuah bangunan kosong dan mengisinya kembali dengan apa yang menjadi tujuannya semula, Shin Hye malah meninggalkannya.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia memandangi alam di sekitarnya. Hutan pinus kecil inilah tempatnya selalu melarikan diri. Tempatnya menjernihkan pikiran, tempatnya merasakan kebebasan dalam lingkungan keluarganya sendiri.

“Kyu..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Siwon berdiri disana, di tengah jalan setapak. Lelaki itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas putihnya. Apalagi ia berdiri diantara hijaunya dedaunan hutan pinus itu. Choi Siwon tampak seperti seorang pangeran.

Kyuhyun sempat terpana. Namun seketika ia tersadar bahwa Siwon sebentar lagi akan resmi menjadi iparnya sendiri. Mana mungkin ia berani membayangkan Siwon akan menjadi miliknya seperti dulu?

“Hyung.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencarimu sejak tadi. Ketika kutanyakan pada Jonghyun, ia  bilang aku ada disini.” Jawab Siwon.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin meminta maaf.”

Kyuhyun menoleh, ia menatap Siwon sambil tersenyum jengah. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, hyung. Anggap saja memang kita tidak berjodoh. Lagipula, aku turut bahagia bisa melihatmu bersama Shin Hye. Tolong jaga dia baik-baik, hyung.”

Siwon terdiam. Ia menunduk sebentar lalu menatap Kyuhyun dalam-dalam. Tangannya bergerak membelai wajah Kyuhyun, membelai wajah yang selama ini dirindukannya. Kyuhyun memejamkan matanya merasakan sensasi itu. Sensai hangat yang menghinggapinya ketika tangan Siwon menyentuh kulitnya.

“Kyu.. Ijinkan aku memelukmu. Ijinkan aku melakukannya, sekali saja. Karena setelah ini, tidak ada lagi kesempatan untuk kita berdua.” Kata Siwon pelan.

Kyuhyun membuka matanya perlahan lalu menunduk, ia tidak berani menatap Siwon. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Siwon memeluk tubuh itu. Mendekapnya dalam-dalam, merasakan aroma yang dirindukannya, mengalirkan kasih sayang yang tak mungkin bisa ia berikan lagi setelah ini.

Kyuhyun membalas pelukan itu. Untuk sekali ini saja ia ingin memeluk Siwon sebagai lelaki yang pernah singgah di hatinya. Selanjutnya ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menatap Siwon sebagai anggota keluarganya. Walaupun itu menyakitkan, namun ia akan berusaha sekuatnya untuk kembali menata hatinya.

“Saranghae Kyu.. Jeongmal saranghae..” bisik Siwon pelan.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam dalam pelukan Siwon. Ketika Siwon meregangkan pelukannya lalu mengangkat dagu Kyuhyun menggunakan jemarinya, kedua mata mereka saling beradu. Tatapan mata penuh kerinduan pun mengalir diantara mereka. Tatapan yang juga diisi oleh kesedihan dan luka mendalam.

Pelan-pelan Siwon mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun lalu mengecup lembut. Kyuhyun membalas ciuman itu. Ciuman dalam yang biasanya memabukkan kini terasa menyakitkan. Namun Kyuhyun tahu, ini adalah yang terakhir. Kisah cinta mereka akan selesai sampai disini.

*

wonkyu sad

To Be Continued..