The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

The Journey – Chapter 5

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 5

Kyuhyun membuka matanya perlahan, begitu matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia tersentak melihat seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh wajahnya dengan malu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini?”

Yunho tersenyum. “Mengapa kau menutupi wajahmu.” Ia berusaha menarik selimut Kyuhyun.

“Hentikan. Aku bahkan belum membasuh wajahku yang kotor.”

“Tapi kau tetap manis di mataku.”

Kyuhyun mengabaikan rayuan Yunho. “Kenapa kau tahu aku ada disini?”

“Aku tahu dari Zhoumi.”

Kyuhyun tertawa mendengarnya.

“Mengapa kau tertawa?”

“Kudengar kau meminum 32 butir obat cacing.” Kyuhyun masih terus tertawa.

Yunho ikut tertawa karenanya. “Zhoumi jahat itu. Mulutnya benar-benar besar. Sial! Apa dia mengatakan hal lainnya?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Ia kemudian membuka selimutnya lalu menjawab. “Tidak. Setelah diam selama beberapa saat, ia pergi.”

“Benarkah?”

Kyuhyun mengangguk.

“Dia benar-benar aneh.” Yunho menatap Kyuhyun. “Apa sakitmu cukup parah?”

Kembali Kyuhyun mengangguk.

“Maafkan aku. Saat itu aku benar-benar tolol. Selain mencintaimu, aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan.”

Kyuhyun tersenyum. “Kau slaah. Kau punya banyak hal yang bisa dibanggakan.”Seperti basah kuyup tersiram hujan dan meminum pil cacing dengan jumlah yang cukup banyak.”

Yunho menyadari bahwa Kyuhyun mencoba bercanda. “Jangan tertawa. Ini serius. Aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita pada Zhoumi. Jadi kita bisa melanjutkan hubungan ini.”

Saat itu Yunho mendengar ada suara langkah-langkah kaki di luar. “Apa ini kamarnya?”

“Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa.” Ia kemudia mencium pipi Kyuhyun sekilas lalu bergegas pergi. Tapi ketika ia akan membuka pintu, benda yang terbuat dari kayu itu mulai terkuak. Yunho segera mundur lalu bersembunyi di balik selimut di atas tempat tidur.

Beberapa orang masuk ke ruangan itu. seorang lelaki paruh baya berpakaian resmi masuk dan berkata. “Oh anakku yang malang, kenapa kau bisa kehujanan seperti itu?”

Kyuhyun hendak bangkit dari tidurnya dan memberi salam. Tapi lelaki itu menolak. “Berbaringlah. Demammu bisa ditangani segera. Kau bisa terkena pneumonia.”

Pelan-pelan Yunho bangkit dari tidurnya lalu berjalan pelan ke pintu saat semua mata disana memandang ke tempat tidur Kyuhyun.

“Apa kau makan dengan baik? Kau harus memakan makanan sehat agar cepat sembuh.”

Namun Kyuhyun tidak memperhatikan dengan baik. Ia melihat Yunho yang hendak keluar ke pintu dengan panik. Ketiga orang lainnya yang ada disana menoleh ke belakang.

Gerakan Yunho yang mengendap-endap masuk ke sebuah ruangan kecil, berusaha untuk lolos terhenti ketika ia menyadari semua orang memergokinya.

“Ah…m…maaf. Se…sepertinya aku salah ruangan.” Ucapnya gugup sebelum ia membungkukan badannya dan menutup pintu dengan kikuk.

Kyuhyun sendiri hanya meringis, merutuki kebodohan namja tersebut yang jelas-jelas memang ‘salah ruangan’.

Sang dokter hanya menghela nafas pelan seraya melangkah menuju ruangan tempat Yunho masuk. Ia membuka pintu tersebut tanpa berkata apapun.

Yunho terkesiap, ia baru menyadari memang dirinya telah salah masuk ruangan ketika melihat satu stel seragam Kyuhyun menggantung di belakangnya. Ruangan yang baru saja ia masuki ternyata adalah sebuah lemari gantung.

“Hahaha, ternyata memang benar salah ruangan…” tawanya semakin gugup dengan menunjuk seragam Kyu yang tergantung. Tanpa sepatah kata pun, ia menundukan tubuhnya dengan memegang erat tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan pasien.

Sementara Kyu hanya tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya.

*

Yunho membalikan tubuhnya ketika ia merasakan seseorang telah berdiri di belakangnya.

“Kepalkan tanganmu.” Pinta namja tersebut pada seseorang yang kini telah berdiri di hadapannya. Tak lupa ia juga ikut mengepalkan tangannya memberi contoh.

Zhoumi, namja tersebut memandang kedua tangannya bingung sebelum ia menuruti permintaan sahabatnya.

“Naikkan kepalanmu seperti ini.” Yunho memasang posisi siaga dengan kedua tangannya yang mengepal erat.

Lagi, Zhoumi pun menurutinya meskipun ia sendiri masih tampak bingung.

Yunho menghela nafas kasar dan menatap lurus pada retina milik lelaki jangkung  yang ada di hadapannya.

“Sekarang, pukul aku.” Pinta Yunho tanpa ragu. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun memejamkan matanya. Menunggu apa yang akan Zhoumi lakukan padanya.

“Kenapa aku harus memukulmu?”

“Lakukan saja dan segera pukul aku!”

“Aku tidak suka memukul ataupun di pukuli oleh orang lain.” Jawab Zhoumi dengan ekspresi wajahnya yang datar.

“Ya!” ia berteriak meminta perhatian Zhoumi. “Kyuhyun. Kami sudah saling mengenal satu sama lain.” Dengan nada tegas ia mencoba menjelaskan kenyataan yang telah ia sembunyikan pada sahabat sekaligus tunangan lelaki yang ia cintai.

Zhoumi sedikit terkejut mendengar ucapan Yunho. Namun ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari wajahnya sebelum ia membalikan tubuhnya dan memilih untuk pergi meninggalkan Yunho dengan terbahak keras.

“Sebenarnya dia yang memberikan kalung ini padaku musim panas lalu!” Teriak namja Jung itu tak memperdulikan Zhomi yang melangkah menjauh darinya.

Awalnya Zhoumi mengacuhkan teriakan tersebut dengan tetap berjalan meninggalkan Yunho. Namun tiba-tiba saja keseimbangan tubuhnya hilang dan membuatnya jatuh tersungkur di tanah lapang tempatnya berpijak.

Sesegera mungkin Yunho berlari menyusul Zhoumi. “Zhoumi-ya, gwenchana?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Sialan. Aku terjatuh lagi.” Rutuk Zhoumi dengan heran. Ia mendesis kesal dengan kebiasaannya yang akhir-akhir ini sering terjatuh tanpa ia ketahui penyebabnya. Ia pun bangkit dari posisinya dan membersihkan seragamnya yang terkena debu dan rumput kering.

“Kau tak perlu khawatir.” Ia bangkit dan berdiri membelakangi Yunho yang berdiri kaku di belakangnya. “Mengenai hal itu, jangan biarkan ayahku melihat kalung tersebut.  Jika tidak, ia pasti akan murka.”

Ia menunduk sekilas, memilih kata yang tepat untuk di ucapkan pada sahabatnya.

“Karena kalung tersebut adalah hadiah pemberian ayahku…” Ia membalikkan wajahnya, menatap Yunho yang tampak menunggu kelanjutan kalimat yang akan ia ucapkan. “… hadiah khusus yang di berikan ayahku untuk Kyuhyun.”

Yunho membeku di tempatnya. Ia tak berusaha menghentikan langkah Zhoumi yang lagi-lagi menjauh darinya. Rasa bersalah di hati semakin dirasakannya setelah mengetahui hal tersebut. Terlebih, saat melihat ekspresi muram dari wajah sahabatnya itu.

*

           Libur musim dingin telah tiba. Yunho pun memilih menghabiskan waktu liburnya di kota tempat pamannya  tinggal. Kota dimana ia pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, namja manis yang sangat ia cintai.

Dan semenjak itulah ia tidak bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun. Hingga ia berpikir bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi selamanya. Namun kekhawatirannya sirna ketika suatu hari ia mendapat sebuah  kiriman surat yang di antar oleh tukang pos.

            Bogoshipo…

            Aku sangat merindukanmu hingga kurasa aku akan mati karenanya. Dan aku penasaran, seberapa banyakkah sungai kenangan kita berubah. Sampaikan salamku pada rumah hantu yang dulu kita kunjungi, pada bangku dan pada deretan perahu dayung di tepi sungai kita. Katakan jika aku merindukan mereka, dan aku akan melakukan yang terbaik.

            Kemarin Zhoumi datang menemuiku dan memberiku alamat tempat tinggal  pamanmu. Selain itu, ia  juga membuat pengakuan padaku yang membuatku sangat terkejut. Ia mengatakan jika kaulah yang selama ini menuliskan suratnya untukku. Huh…bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan kebenaran itu dariku?

            Tapi, tak apa. Padahal awalnya nyaris saja aku membuang surat-surat tersebut. Tapi saat ini aku bisa membacanya lagi dengan memikirkanmu setiap waktu.

            Zhomi juga memberikan saran. Jika kau bisa menggunakan namanya untuk dapat tetap bertukar surat denganku. Jadi orang tuaku nanti akan menganggap bahwa aku dan Zhoumi masih tetap saling bertukar surat.

*

Kyuhyun menundukkan kepalanya ketika ia mendapati appa-nya tengah berdiri di ambang pintu kamar yang baru saja ia buka. Namja peruh baya itu tersenyum sekilas dan  memberikan sebuah surat yang pada sampulnya tertulis nama’ Zhoumi’.

Ia mengucapkan terima kasih pada sang appa sebelum ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ekspresinya seketika berubah riang dengan melonjak-lonjakan tubuhnya karena girang. Tanpa membuang waktu ia pun mendudukkan diri di meja belajarnya untuk membaca surat yang ia dapat yang tidak lain adalah surat dari Jung Yunho, lelaki terkasihnya.

Lihatlah keluar jendela,

Jika terdapat ranting yang jatuh dan terbawa oleh hembusan angin,

Itu berarti orang yang kau cintai adalah orang yang juga mencintaimu…

*

Kyuhyun :

Saat ini, salju sedang turun diluar sana.

Ketika salju pertama turun,

Mereka mengatakan padaku jika ‘kau harus pergi berkencan dengan orang  yang kau cintai’. Tapi yang ku lakukan saat ini  hanyalah menulis surat.

Yunho-ssi, aku sangat merindukanmu. Aku akan menemui appa dan meminta izin  untuk berkunjung ke tempat kakek. Jika aku di ijinkan, aku berjanji akan mengirimimu telegram.

*

Yunho :

Bukalah telingamu,

Jika kau mendengar detakan jantungmu sendiri, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga .

Pejamkanlah matamu.

Jika bibirmu menyunggingkan sebuah senyuman, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga.

*

        Salju berhenti turun siang itu. Meskipun demikian, seluruh permukaan kota tetap tertutup oleh salju putih yang turun semalam.

Di sebuah jalanan kota, terlihat seorang namja manis berbalut mantel panjang serta syal yang melingkar di lehernya melangkah dengan senyum cerah terpatri di bibirnya. Udara dingin seolah tidak menyurutkan kebahagiaannya ketika kakinya melangkah menuju sebuah gedung yang akan ia tuju.  Ia berniat mengirim telegram pada lelaki yang sangat ia rindukan. Sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Yunho melalui surat terakhir yang ia kirim.

“Aku ingin mengirim telegram.” Ucap namja manis tersebut pada seorang petugas ketika ia telah sampai di kantor post. Sesekali ia menggosokan tangannya untuk menghangatkan dirinya yang kedinginan. Bahkan kedua pipinya kini tampak merona, perpaduan dengan rasa bahagia dan dingin yang ia rasakan.

“Silahkan tuliskan pesanmu di sini.” Pinta sang petugas mengangsurkan secarik iertas padanya.

“Ne…”

Kyuhyun menggigit jarinya. Bahkan memikirkan namanya saja membuatnya sangat gugup.Ia bingung pesan apa yang harus ia sampaikan pada Yunho. Meskipun sebenarnya ia sudah menyiapkan apa yang akan ia tulis dari rumah  namun entah kenapa apa tiba-tiba semuanya terlupakan.

*

         Takdir memang tidak selalu berpihak pada setiap orang. Itulah kalimat klasik yang menggambarkan keadaan yang seseorang tidak ia inginkan. Hal itu pulalah yang terjadi antara Yunho dan Kyuhyun.

Hal itu bermula ketika suatu hari, salah satu surat yang Kyuhyun tulis terkirim ke rumah Zhomi.

“Kyuhyun mencintai Yunho, appa.” ucap Zhoumi takut-takut ketika sang appa meminta penjelasan mengenai surat tersebut. “Aku tidak mencintai Kyuhyun. Mereka berdua saling mencintai. Oleh karena itulah aku memilih untuk mundur dan menyerah.”

Sesekali  Zhoumi menatap appa-nya yang rahangnya telah mengatup keras dengan sorot  mata yang mengintimidasinya. Dan ia bersumpah jika ia melihat salah satu tangan ayahnya bergerak melepas ikat pinggang yang ia kenakan dari celananya.

Mengabaikan pergerakan ayahnya, ia terus berucap mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dua orang yang saling mencintai sudah seharusnya bersama, bukan? Aku tidak apa-apa.”

Perlahan Zhoumi mendongakan wajahnya melihat ayahnya bangkit dari posisi duduknya dengan tangannya yang memegang ikat pinggang yang berhasil ia lepas.

“A…ani. Aku…aku mencintai Kyuhyun juga, appa. Aku tidak akan menyerah. ”  pekik Zhoumi tergagap, beringsut dari duduknya menjauhi ayahnya yang terlihat sangat murka.

“Apa kau sedang mengejek appa?” desis ayahnya dengan suara beratnya.”Kau selalu berbuat semaumu sendiri, hm?”

Slapp!

Tak segan Mr. Zhou mengayunkan ikat pinggangnya pada Zhoumi yang meringkuk di hadapannya.

“Jadi kau menganggap orang tuamu tidak berarti apa-apa, hah?!”

Slapp!

“Arrggh!”

Slapp!

“Apa kau tidak tahu Kyuhyun itu siapa, hah?! Dia adalah putra dari kongresman!”

Slapp!

Slapp!

“Arrgghh…!”

Slapp!

“Kau tahu artinya, bocah? Kau pantas mati! Kau bahkan tidak bisa mempertahankan harga diri seorang pria!”

Slapp!

Slapp!

Sementara di lain ruangan, tepatnya di balik dinding rumah tersebut, seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah eomma Zhomi, hanya mampu terisak tertahan melihat  putranya di pukuli oleh suaminya sendiri tanpa mampu berbuat apapun.

Keadaan menegangkan juga terjadi di kediaman Kyuhyun. Dimana ia yang baru saja pulang dari kantor post, langsung masuk ke kamarnya dan mendapati sang ayah tengah duduk di meja belajarnya. Tentu saja dengan sebuah surat yang tergenggam dalam tangan kokoh pria tersebut.

Melihat hal itu, Kyuhyun hanya menahan nafasnya yang tercekat. Menyadari jika apa yang selama ini telah ia sembunyikan rapat-rapat, telah terbongkar tanpa menyisakan apapun.

Dan saat itulah, akhir dari musim dingin. Musim dimana seseorang nan jauh disana harus rela kehilangan harapan serta angannya yang telah membumbung tinggi…

*

          Istirahat sekolah, di sebuah perpustakaan yang tampak lengang itu. Terlihat dua orang namja berseragam hitam tampak duduk saling berhadapan yang terpisahkan oleh sebuah meja. Satu dari mereka tampak tengah larut pada buku yang tengah ia baca sementara namja yang lain tampak menyandarkan tubuh jangkungnya pada kursi yang ia duduki.

Tanpa melepaskan tatapannya dari Yunho, namja yang tengah membaca buku, pria tinggi yang tidak lain adalah Zhoumi, menggerakan tangannya untuk melepas ikat pinggang yang ia kenakan.

Slapp!

Yunho terlonjak ketika ia merasakan seseorang mengayunkan ikat pinggangnya di meja hadapannya. Ia mengerutkan keningnya bingung menatap Zhoumi yang tangah menggenggam erat ikat pinggangnya.

“Yunho-ya, Kau tahu ini apa?”

“Ikat pinggang?” tanya Yunho balik dengan ekspresi malas. Ia kembali menekuni buku yang tengah ia baca tanpa menghiraukan Zhoumi.

“Bukan. Ini adalah cambuk.” Tukas Zhoumi seraya bangkit dari duduknya.”Si bajingan  inilah yang telah memukuliku.”

Yunho hanya melirik sekilas tanpa berniat melupakan bukunya.

“Appa-ku sebenarnya tidak ingin menyakitiku, tapi benda ini tetap saja memukuliku.  Itulah sebabnya aku menggenggam benda ini.” Lelaki tinggi itu menyeringai, masih dengan menggenggam ikat pinggangnya. Seolah ia sangat membenci pada benda sejenis yang kemarin ayahnya gunakan untuk memukulinya “Bagaimana aku harus menghukumnya?”

Yunho kini tengah mengamati pergerakan Zhoumi. Satu tangannya terlihat menopang dagu diatas meja.

“Hukuman mati.” Jawab Yunho enteng di barengi dengan senyuman sinisnya.

Zhoumi menjentikan jarinya. ”Itulah yang aku pikirkan.”

Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho. “Membunuhnya secara perlahan dan menyakitkan?”bisiknya. Sang lawan bicara hanya mengerjapkan matanya tanpa membalas ucapannya.

“Atau paksa dia untuk mati perlahan. Atau berikan obat tidur?”

“Cekik dia hingga mati.” Desis Yunho dari sela bibir berbentuk hatinya.

Zhoumi terdiam dan menatap tajam pria bermata musang dihadapannya. “Ide yang bagus.” Ia menyeringai. Kemudian ia mengedipkan satu matanya.

Ia lalu menjauhkan wajahnya dari Yunho dan menghela nafas panjang. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

“Yunho-ya, jagalah Kyuhyun dengan baik.”

Itulah kata terakhir yang Zhoumi katakan sebelum ia melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

*

          Upacara si tengah terik matahari telah menjadi seremoni rutin di sekolah militer. Begitu pun juga tempat Yunho dan Zhoumi bersekolah. Kali ini, seluruh siswa yang notabene berisi namja tengah melangsungkan upacara di halaman sekolah. Kepala sekolah tampak sangat berapi-api memberi sambutan dan berdiri di podium.

Seluruh siswa mendengarkannya dengan khidmat. Namun perhatian beberapa dari siswa tersebut terpecah ketika ia melihat salah seorang siswa yang berdiri di barisan paling depan tiba-tiba jatuh dan ambruk.

Yunho yang mengetahui kejadian tersebut pun melongokkan kepalanya sedikit untuk mengetahui siapa siswa yang jatuh pingsan. Tampak dua orang siswa membantu namja yang pingsan dan menggendongnya di punggungnya. Dan Yunho hanya mampu tersenyum dan mendecih ketika Zhoumi, siswa pingsan yang berada dalam gendongan temannya itu, menyeringai ke arahnya.

*

             Tampak sesosok tubuh terbaring di bangsal ruang kesehatan sekolah. Pria tersebut mengerjapkan matanya ketika ia bangun dari tidurnya dan bangkit perlahan dari tempatnya berbaring. Sejenak, ia merogoh saku celana seragamnya dan mengambil sebuah kertas berbentuk persegi panjang.

Ia lalu mengiris bagian tengah dari kertas tersebut dengan sebuah cutter dengan beralaskan meja. Setelah itu ia pun memasangkan bagian kertas yang telah berlubang itu dan menyelipkannya di kancing baju seragamnya. Ia mematutkan dirinya di depan cermin. kali ini ia tampak seperti seorang pastur dengan seragam hitam  dan kertas putih yang terdapat di dadanya. Ia tersenyum puas ketika melihat bayangannya sendiri terpantul dalam cermin di hadapannya.

*

         Yunho melangkahkan kakinya dengan tergesa di koridor sekolah. Ia ingin memastikan keadaan Zhoumi yang ia ketahui tengah berada di ruang kesehatan. Ia membuka pintu kaca di depannya tanpa mengucapkan salam atau apapun.

Ia menggaruk kepalanya. Sedikit heran ketika ia memasuki ruang kesehatan namun tak mendapati seorang pun di dalamnya. ia menatap bangsa yang berjejer pun tampak kosong. Perlahan ia menoleh ke arah sudut ruangan ketika ia sudut matanya menangkap siluet hitam tergantung.

Dan seketika ia berlari ke sudut ruangan tersebut hingga ia menubruk sofa ketika ia mendapati tubuh Zhoumi telah tergantug di sebuah besi di sudut ruangan.

“Zhoumi-ya! “ pekikinya seraya memeluk kaki sahabatnya yang telah lemas tak berdaya.

“Seseorang! Tolong! Tolong! Ada orang sekarat di sini!” teriaknya kalap berharap seseorang mendengarnya.

“Zhoumi-ya! Dasar bodoh!” teriaknya panik. “Zhoumi-ya! Bertahanlah! Zhoumi-ya!” Ia sedikit mengangkat kaki Zhomi berharap usahanya tidak terlalu membuat leher Zhoumi tercekik dengan ikat pinggang yang menjerat kuat di lehernya.

“Seseorang! Tolong! Tolong!” teriaknya lagi dengan air matanya yang telah mengalir deras. “Zhomui-ya, kumohon. Bertahanlah. Bertahanlah!”

Isakan Yunho semakin menjadi ketika ia mendapati busa telah mengalir dari sudut bibir sahabatnya. “Aku memintamu untuk membunuh ikat pinggang itu, bukan dirimu sendiri. Zhoumi-ya, sadarlah…! Buka matamu!”

“Jangan mati. Jangan mati…” ratap Yunho memohon, “Jangan mati, bodoh!”

“Bernafaslah!” Pekiknya keras tanpa memperdulikan orang-orang yang berdatangan mencoba membantunya.

zhoumi The Journey 5

TBC

The Journey – Chapter 4

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 4

Present Days

Suara merdu yang mengalun dengan ritme yang teratur terdengar dari ruang musik yang kini terdapat beberapa mahasiswa yang tengah memainkan biolanya. Dengan langkah sedikit berjingkat, Kyujin melangkah masuk dan mendudukan diri di salah satu kursi kosong yang terdapat partitur nada di depannya.

Dengan cekatan ia mengeluarkan biola kesayangannya dari dalam tasnya. Baru saja ia akan mengambil nada, alunan musik gesek itu berhenti. Tanda jika lagu yang dimainkan telah selesai. Ia hanya meringis kecil ketika melihat teman-temannya beranjak meninggalkan ruangan.

“Whuuu…”

Taemin memasuki ruangan musik dengan mengenakan sepatu rodanya. Ia berhenti tepat dihadapan Kyu yang tampak berubah ekspresi enggan ketika melihat Taemin datang.

“Kartunya.” Pinta namja berambut hitam itu seraya mendudukan diri disamping Kyujin. Kyujin mengambil kartu tersebut dari dalam tas biolanya.

“Haaah! Seharusnya aku tahu jika ada kartu dalam kado itu untukku.”

Kyujin hanya memutar bola matanya jengah mendengar rengekan Taemin yang saat ini tengah memeluk kartu ucapan itu.

*

Seorang namja tampak tengah berlari diantara guyuran hujan dipelataran kampus. Dengan langkah tergesa ia menuju sebuah bangku dibawah pohon untuk berteduh. Setelah meletakan tas biolanya di kursi, ia mengusap lengan baju panjangnya mencoba mengeringkan pakaiannya yang sedikit basah.

Ia mengamati sekelilingnya yang terlihat beberapa orang tengah berlarian menghindari hujan karena tidak megenakan payung. Seketika ia terkejut dan membelalakan matanya tidak percaya ketika ia melihat seorang namja tinggi yang  berlari ditengah hujan menuju tempatnya berdiri. Ia membalikan tubuhnya. Berusaha menghindar dan berpura-pura tidak melihat namja yang ia ketahui telah berada dibelakangnya.

“Kyujin-ah?” Panggil namja tersebut ketika ia menyadari jika seseorang yang membelakanginya adalah Kyujin.

“Oh, Anyeonghaseyo…” Sapa Kyujin kikuk sebelum ia membelakangi namja tersebut yang tidak lain adalah Changmin.

Changmin tersenyum. Ia kemudian berjalan kehadapan Kyujin yang menatapnya penasaran.

“Kau akan pergi kemana?” tukas Changmin pada Kyujin yang akan kabur dari sana karena gugup.

Kyujin terdiam ditempatnya berdiri. “Perpustakaan.” Jawabnya singkat.

“Apa letaknya jauh?”

“Aniyo. Tidak begitu jauh dari sini. Aku tidak akan kehujanan dan basah jika aku berhenti di setiap gedung.” Jelas Kyujin menunjuk beberapa gedung yang terlihat.

Tanpa menjawab apapun, Changmin melepaskan jaket cream yang ia kenakan. Ia juga mencangklongkan tas biola milik Kyujin di pundaknya. Sedangkan pemiliknya hanya mengerutkan keningnya heran.

“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana.” Changmin tersenyum seraya menunjukan jaket yang ada ditangannya. “..dengan payungku.”

Namja tinggi tersebut mendekatkan dirinya pada Kyujin untuk memayungi tubuh mereka dengan jaket miliknya.

“Kau lihat gedung itu? Kita akan berlari dari bangku ini dan berhenti disana.” Changmin memberi instruksi pada Kyujin yang mendongak menatapnya.

“Satu..Dua…Tiga!”

Mereka berdua berlari bersama meninggalkan tempat berteduhnya. Menuruni undakan dengan langkah yang seirama. Tak dihiraukannya lagi kecipak air yang membasahi celana mereka berdua. Sesekali mereka saling menatap dengan senyum cerah tersungging di bibir. Sangat kontras dengan cuaca saat ini yang cenderung gelap karena mendung. Dengan langkah yang tetap sama, mereka menaiki undakan menuju gedung pertama yang mereka singgahi.

“Arrh..!” Changmin mengibaskan jaketnya sekedar untuk mengeringkannya agar tidak terlalu basah. Sementara Kyujin sendiri tengah mengusap rambut ikal sewarna madunya yang basah. Mereka mendongak, menatap hujan yang masih deras. Tampak keduanya terasa canggung berdiri dengan jarak sedekat itu.

Beberapa saat kemudian, Changmin memayungi kembali tubuh keduanya yang mau tidak mau membuat Kyujin merapatkan diri dengan tubuh Changmin. Menuruni undakan dan berlari lagi. Dengan satu tangannya Kyujin memegangi ranselnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya.

Tidak lama kemudian mereka kembali berhenti di sebuah pintu masuk yang beratap. “Kau tidak apa-apa?” tanya Changmin memastikan dengan menggulung lengan kaus panjang berwarna biru yang ia kenakan.

“Ne…” hanya kata itu yang terlontar dari bibir Kyujin dengan wajahnya yang merona.

Changmin kembali memayungi tubuh mereka berdua. Menatap lelaki di sebelahnya  seolah memintanya untuk bersiap sebelum mereka berlari kembali. Lagi, mereka berlari menuruni jalan aspal yang basah. Melewati orang-orang disekitarnya yang berlalu lalang dengan payung di tangan. Hingga pada akhirnya keduanya sampai di perpustakaan tempat mereka tuju.

Tawa Kyujin lepas saat ia melihat payung kepala milik seseorang yang berjalan di hadapannya terlepas dari ikatan di kepalanya. Namun tawanya terhenti ketika ia menyadari kini Changmin tengah menatapnya. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona.

“Jeongmal gomawo, Changmin hyung. Karena mengantarku kau jadi basah seperti ini.”

“Gwenchana. Tidak lama lagi  juga ini akan segera kering.” Jawab Changmin seraya memberikan tas biola pada namja manis yang sedikit lebih pendek darinya.

Kyu tersenyum sungkan. ”Aku harus masuk. Sekali lagi terima kasih banyak…” Ia menundukan tubuhnya sekilas.

“Ne. Sampai bertemu lagi..”

“Ne…” gumam Kyu melangkah masuk ke perpustakaan. Senyumnya tidak dapat ia sembunyikan sepanjang ia melangkah. Hatinya serasa meledak karena terlalu bahagia saat ini.

Ia berlari secepat ia mampu menaiki tangga menuju lantai dua saat ia melihat sosok Changmin juga berlari meninggalkan gedung perpustakaan. Ia lalu menuju jendela yang menghadap ke jalan umum. Mencari sosok namja yang baru saja mengantarnya dari balik kaca yang lembap karena tetesan hujan. Seketika ia menyembunyikan diri di balik dinding ketika ia melihat Changmin yang ada di jalan menatap kearahnya.

‘Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi’ batinnya berkata dengan nafasnya yang masih terengah. ‘Tapi, kenapa perpustakaan terasa begitu dekat?’ Rutuknya kembali memandang ke arah jalanan diluar.

*

Past Days

Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat. Para lelaki mendengarkan wejangan dari sang kepala sekolah dalam diam. Tiba-tiba seseorang dari barisan kedua dari depan jatuh pingsan. Beberapa lelaki yang ada disana langsung menghampirinya dan membawanya pergi.

“Dia belum membalas suratku.” Kata Zhoumi pada Yunho. Keduanya berdiri di barisan tengah.

“Kyuhyun-ssi?” tanya Yunho.

“Ya.” Zhoumi mengangguk.

“Kenapa?” tanya Yunho lagi.

“Aku tidak tahu.” Ekspresi wajah Zhoumi terlihat datar. “Seperti yang kau tahu, aku bukan tipe orang yag gampang jatuh cinta. Tapi yang ini berbeda. Aku benar-benar menyukainya.”

Setelah berkata demikian, Zhoumi jatuh pingsan.

*

            Sepulang sekolah Zhoumi mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berdiri cukup lama di depan halaman rumah besar itu, menunggu Kyuhyun keluar. Kyuhyun cukup terkejut melihat siapa yang datang siang itu.

“Zhoumi-ssi?”

“Anneyong haseyo.” Sapa Zhoumi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Aku menunggumu sedari tadi.” Ia lalu menyerahkan sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikannya di balik bahu lebarnya. “Terimalah bunga-bunga ini.”

Kyuhyun memandang bunga-bunga itu dengan tatapan ragu, namun akhirnya ia menerimanya juga.

“Aku menyukaimu, Kyuhyun-ssi.” Kata Zhoumi setelah mengumpulkan keberaniannya. Ia lalu meraih kedua pundak Kyuhyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki imut di depannya. Setelah beberapa detik, ia lalu mencium kening Kyuhyun. “Kumohon, tetaplah mengirimiku surat.”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Zhoumi berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, lututnya terasa goyah, kembali ia terjatuh. Namun dengan cepat ia bangkit.

“Ini aneh. Mengapa aku terus menerus terjatuh? Apa aku jadi seperti ini karena aku terlalu tinggi?” tanya Zhoumi pada dirinya sendiri dengan bingung.

*

            Yunho dan Kyuhyun berlari-lari dengan semangat menaiki tangga batu di malam di musim gugur yang cerah itu. Ketika keduanya cukup lelah, mereka berhenti. Seraya mengatur nafas, keduanya saling menatap dalam diam. Tiba-tiba Yunho maju dan mencium Kyuhyun.

“Aku kehabisan nafas.” Elak Kyuhyun seraya mendorong tubuh Yunho. Ia sendiri tidak bisa mengartikan apa ia memang kehabisan nafas atau ia terlalu malu dicium oleh lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu atau bahkan karena sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan ini.

Yunho segera menyadari bahwa Kyuhyun benar. Namun kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia lalu duduk dan berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu, seraya meredam rasa malunya atas penolakan Kyuhyun.

Melihat itu, dengan rasa bersalah Kyuhyun ikut duduk di samping Yunho, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Yunho lalu meregangkan tangannya dan merangkul tubuh kurus Kyuhyun. Keduanya terdiam cukup lama.

“Kau menolakku karena Zhoumi kan?” tanya Yunho. Akhirnya ia berani juga menyampaikan apa yang tengah dipikirkan atas penolakan tadi.

“Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku..” kata Kyuhyun sedih.

Yunho menghela nafas. “Zhoumi adalah bajingan busuk.” Ia cukup mengenal Zhoumi yang suka mengencani banyak gadis. Dan ia tidak sanggup melihat Kyuhyun jatuh ke pelukan lelaki seperti sahabatnya itu.

“Tidak.. Ia adalah lelaki yang baik.” bela Kyuhyun.

“Ia merupakan lelaki bajingan karena ia baik hati.” Kata Yunho seraya tersenyum kecut. “Zhoumi menunggu suratmu.”

Kyuhyun mendengarnya. Mendengar nada sakit hati dalam suara kekasihnya itu. perlahan ia mengangkat wajahnya, memandang wajah tampan Yunho. “Tidak ada harapan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk hubungan ini.”

“Jangan bicara seperti itu. Pasti akan ada jalan.” Kata Yunho menguatkan hati Kyuhyun. Ia kembali mencoba mencium lelaki itu. Namun dengan cepat Kyuhyun lagi-lagi menghindar.

“Tidak.. Sudah tidak ada jalan lagi. Sudah tidak ada lagi. Kita hanya akan semakin terluka jika kita bertahan.”

Yunho mendekati Kyuhyun. “Hal ini akan berjalan dengan baik, percayalah.”

Kyuhyun menoleh. “Aku tidak akan menemuimu lagi, begitu juga dengan Zhoumi. Aku serius. Aku tidak akan bertemu kalian berdua lagi.”

Kyuhyun tahu, hal ini menyakitkan. Baik untuknya, Yunho maupun Zhoumi. Namun ia harus melakukannya. Ia tidak mungkin membiarkan dua sahabat itu saling menikam dari belakang jika ia memilih salah satunya. Yang satu adalah lelaki yang dicintainya, sementara yang lain adalah lelaki pilihan orang tuanya.

*

            Pagi itu ketika Zhoumi turun dari mobil mewah milik keluarganya, Jungmo, sang senior sekolah melihatnya. Begitu mobil mewah itu berlalu, senior tadi memanggil Zhoumi. “Hey limousine boy. Kemari kau.”

Zhoumi berjalan mendekati sang senior dengan wajah datar. Padahal di depannya, Jay menggenggam sebuah tongkat pemukul. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dipukuli karena terlambat.

Limousine boy, lupa memberi hormat padaku?” tanya Jungmo lagi. “Oh.. Jadi kau memang tidak mau memberi hormat? Aha.. Karena kau mempunyai seorang supir layaknya tuan besar maka kau tidak perlu menghormati seniormu, begitu?”

Zhoumi tidak menjawab, sebaliknya ia malah tersenyum mengejek dengan beraninya. Jungmo semakin jengkel karenanya. “Lihat, pin-mu tidak kau pasang dengan baik dan kemejamu tidak terkancing. Baiklah.. Hari ini aku akan memberimu pukulan terburuk sepanjang masa.”

Zhoumi lalu ikut mengambil sikap seperti teman-teman lainnya, mengambil posisi seperti hendak push up, tapi dengan pantat yang ditonjolkan ke atas, siap menerima pukulan dari tongkat di tangan Jungmo. Begitu ia menyadari bahwa Yunho juga ada dalam barisan itu, ia mengerling nakal ke arah sahabatnya itu.

“Aku akan memukul kalian semua, dimulai dari sebelah kiri.” Kata Jungmo kejam. “Orang yang pertama terlambat akan mendapatkan pukulan sekali, orang kedua akan mendapat pukulan dua kali. Orang ketiga harus meneriakkan angkanya, sesuai keterlambatannya. Mengerti?”

“Ye.” Jawab para siswa junior dengan suara lemah.

“Apa kalian semua banci? Aku tidak bisa mendengar suara kalian! Mengerti?” teriak Jungmo lagi.

“Ye!” teriak para siswa junior, dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Giliran Yunho tiba. Ia meneriakkan nomornya. “Tujuh.” Namun begitu Jungmo mengayunkan tongkatnya, Yunho menjatuhkan dirinya dnegan takut.

“Hey, kembali ke posisi semula!” bentak Jungmo.

Mau tidak mau Yunho kembali ke posisi awalnya. Bug! Pukulan pertama yang ia dapatkan di pantatnya terasa begitu menyakitkan. Tapi ia coba bertahan. Berikutnya pukulan kedua, lalu ketiga. Ia tidak tahan lagi.

“Senior, pantatku..”

“Tahan! Atau aku akan mematahkan tanganmu!” bentak Jungmo lagi.

Kembali Yunho ke posisinya. Dan kembali Jungmo menghajar bokongnya dengan sadis. Yunho hanya bisa menerimanya dengandesahan menderita yang keluar dari sela-sela bibirnya. Namun menjelang pukulan terakhir, ia merasa tidak sanggup lagi. Ia lalu berdiri.

“Kau masih harus mendapatkan satu pukulan lagi. Kembali ke posisimu! Dengarkan perintahku, kembali ke posisimu!” Bentak Jungmo seraya menendang kaki Yunho hingga akhirnya Yunho terjatuh dan kembali ke posisinya, kemudian melancarkan pukulan terakhirnya.

Jungmo lalu berjalan ke arah Zhoumi. “Berapa nomormu? Jawab aku, berapa nomormu!” Ketika dilihatnya Zhoumi menatap penuh kebencian terhadapnya, ia kemudian bicara lagi. “Baiklah, aku yang akan memberitahumu. Nomormu adalah sembilan belas.”

Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, Jungmo segera mendaratkan tongkatnya yang keras di bokong Zhoumi seraya berhitung. “Satu.” Zhoumi terlihat kesakitan menerima pukulan tanpa tedeng aling-aling itu.

“Dua.”

“Tiga.”

Ketika pukulan ketiga berakhir, Zhoumi terhempas ke tanah. Melihat itu Jungmo sedikit marah. “Ya! Bangun! Bangun!” Namun karena Zhoumi tidak menjawab, ia membungkuk sedikit dan memperhatikan adik kelasnya itu baik-baik.

“Hei.. Ada apa denganmu?” tanya Jungmo ketakutan.

Zhoumi pingsan.

*

            “Hal ini tentang Kyuhyun.. Kurasa ia tidak menyukaiku.” Kata Zhoumi sedikit sedih. Setelah ia dan Yunho mendapatkan hukuman dari senior mereka, keduanya berbaring telungkup di hutan kecil di belakang sekolah, mengistirahatkan bokong mereka dengan cara membuka separuh celana sekolah mereka dan membiarkan bokong-bokong kemerahan itu tertiup angin, meredakan nyerinya.

“Aku memberinya bunga. Aku bahkan menciumnya, tapi tidak ada respon sama sekali.” Kata Zhoumi lagi.

“Kau menciumnya?” tanya Yunho dengan rasa penasaran.

“Benar.” Zhoumi lalu kembali fokus pada buku di halamannya. Tanpa ia sadari, Yunho nyaris menangis mendengar pengakuannya.

*

            Malam itu juga, Yunho mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berkali-kali memainkan tombol lampu di pekarangan rumah mewah itu, memberi tanda pada Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak kunjung keluar.

Padahal, Kyuhyun melihat semua itu dari balik jendela kamarnya. Namun ia tidak mau mengingkari janjinya. Perlahan dua bulir airmatanya jatuh. Ia hanya bisa memandangi Yunho hingga lelaki itu beranjak pergi.

Keesokan harinya, ketika Kyuhyun akan berangkat ke sekolah, ia melihat sebuah surat kecil tergeletak di depan pagar. Dengan penasaran diraihnya surat yang dilipat dengan sedemikian rupa itu.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Hujan deras mengguyur kota Suwon siang itu. para pejalan kaki sibuk melindungi diri mereka dari terpaan hujan di bawah payung. Yunho sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan. Ia memang tidak membawa payung dan ia seakan tidak tahu jika hujan tengah membasahi dirinya. Ia hanya berdiri tegak, menunggu di depan sebuah gerbang sekolah.

Begitu dilihatnya Kyuhyun keluar dari dalam sekolah bersama Kibum, ia mengikuti lelaki itu dari seberang jalan hingga Kyuhyun berpisah dengan Kibum dan berjalan sendirian. Dengan cepat ia menghampiri Kyuhyun dan ikut masuk ke dalam payung besar di tangan lelaki itu.

Kyuhyun menoleh lalu menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang datang. Ia memandang Yunho dengan canggung lalu menyerahkan payungnya.

“Pakailah ini dan pulang ke rumah. Berteduhlah dari hujan.”

Setelah itu ia keluar dari naungan payungnya dan berlari menembus hujan. Yunho hanya bisa menatap kepergian Kyuhyun dengan sedih. Ia menurnkan payung itu dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Karena benar-benar ingin bicara dengan Kyuhyun, ia mengejar Kyuhyun hingga ke rumahnya. Berkali-kali ia memainkan tombol lampu di pohon di depan rumah Kyuhyun, memberi tanda seperti yang biasanya ia lakukan. Tapi sang penghuni rumah tak kunjung keluar.

“Bodoh! Apa kau mau mati tersengat listrik?”  Kyuhyun muncul dari belakang Yunho, tapi ia sama sekali tidak berhenti. Kemudian seraya berjalan ke udakan, ia menoleh sedikit ke belakang. “Kau gila!”

Yunho segera menaiki undakan, mengejar Kyuhyun dan meraih lengan lelaki yang dicintainya itu.

“Aku tidak mau berpisah seperti ini.” Yunho menarik Kyuhyun menuruni undakan, menjauh dari rumah itu. “Ayo kita bicara, walaupun hanya sebentar.”

Kyuhyun mulai terisak. “Tak aka nada yang akan berubah. Tidak ada gunanya lagi kita bicara. Lepaskan aku!”

Ketika mereka sudah berada di balik tembok besar, Kyuhyun menyentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan Yunho dan berlari pergi. Namun baru beberapa langkah, ia kembali. Masih dengan tangisan yang kini terdengar lebih kencang, ia merebahkan kepalanya yang lelah di bahu sang kekasih.

*

            “Ini suratmu.” Kata Yunho seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Zhoumi.

Namun dengan wajah datar Zhoumi menjawab. “Aku tidak menginginkannya lagi.”

“Kenapa?”

“Selain tidak ada balasan, dan karena kata hatiku, aku akan menulisnya sendiri mulai saat ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Ini adalah kesempatan emas. Kudengar ia sakit setelah terkena hujan deras, saat ini ia tengah dirawat di rumah sakit.”

Yunho bertanya. “Apa sakitnya parah? Dan itu karena.. hujan?”

Zhoumi mengangguk. “Aku akan menjenguknya hari ini. Menjenguknya saat ia sakit mungkin bisa membuatku mendapatkannya. Aku akan mengaku padanya bahwa selama ini bukan aku yang menulis surat-surat itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa kaulah penulisnya. Kau tahu, aku bukan tipe orang yang setia pada pasanganku, tapi aku benar-benar menyukai Kyuhyun.”

“Yunho!” sebuah suara memanggil Yunho. “Jung Yunho!”

“Dia memanggilmu.” Kata Zhoumi mengingatkan.

Yunho tersadar. “Ya?” Ternyata gurunya lah yang memanggilnya.

“Aku harus meminum semuanya?” tanya Yunho tak percaya. Melihat lebih dari dua puluh butir obat di meja gurunya.

“Lihat ini! Cacing tambang, cacing kremi, cacing gelang! Kau punya semuanya! Apa yang kau makan? Karena kau, kelas ini menjadi kelas dengan parasit terbanyak.” Kata wali kelasnya dengan kesal.

“Tapi.. Itu bukan kotoranku.” Bantah Yunho dengan sopan.

“Lalu menurutmu siapa? Kau adalah satu-satunya anak di kelas ini yang mempunyai banyak penyakit. Minum obat-obat ini sekarang!”

Karena bentakan dari gurunya itu, mau tidak mau Yunho menelan semua butiran obat yang diberikan kepadanya.

“Zhoumi!” Panggil gurunya. “Minum tiga butir”

Begitu ia dan Zhoumi berpapasan, Yunho segera memprotes. “Tapi kotoran kami sama.”

Zhoumi tersenyum mengejek. “Tapi di satu sisi punya lebih banyak cacing sedangkan yang satu lagi tidak.”

The Journey Chap 4

TBC

The Journey – Chapter 3

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 3

Present Days

Kyujin tersentak dari imajinya. Refleks ia menatap jam yang melingkar di lengan kirinya dan ia terkejut ketika waktu sudah menunjukan hampir petang. Ia baru ingat jika malam ini ia memiliki janji dengan Taemin untuk datang ke Museum seni bersama Changmin.

Dengan tergesa ia memasukan jurnal yang baru saja ia baca kedalam tas dan beranjak dari bangku taman yang ia tempati. Beberapa saat lalu, karena merasa jenuh di perpustakaan, ia memilih untuk pergi ke taman kampus untuk melanjutkan kembali membaca jurnal yang selalu ia bawa kemanapun itu.

Ketika sampai di Museum, ia tidak mendapati sahabat kekanakannya itu. Begitupun dengan sosok Changmin. Tidak mau membuang waktu dengan percuma, Kyu pun berinisiatif untuk berkeliling ruangan yang penuh dengan hasil karya dari mahasiswa jurusan Seni di kampusnya.

Namun, ketika ia melewati sebuah papan tempat untuk menggantung lukisan, ia melihat Taemin yang tengah bergelayut di lengan Changmin berjalan di sisinya. Ia mengerutkan keningnya heran.

Ia melangkahkan kakinya lagi hingga ia berdiri tepat di hadapan Changmin yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya. Seketika nafasnya tercekat.

“Anyeong…” Sapanya  pada namja tinggi dihadapannya. “Maaf aku terlambat.” Ucapnya menjelaskan sekedarnya. Changmin tersenyum menanggapi ucapan Kyujin.

“Anyeong, Kyujin-ah…” Tukas Taemin yang tiba-tiba muncul dari balik papan kayu.  Kyujin hanya tersenyum canggung seraya mengalihkan wajahnya dari sahabatnya yang tampak tersenyum cerah.

“Changmin hyung. Aku menang!” Seru Taemin riang pada Changmin yang kembali tersenyum. Menahan tawanya melihat sikap Taemin yang tampak kekanakan.

“Kita membuat taruhan. Aku bertaruh jika kau akan datang sementara Changmin hyung bertaruh jika kau tidak akan datang.” Terang Taemin menjawab rasa penasaran Kyujin.

Mendengar itu, Kyujin hanya mampu menelan ludahnya menahan perasaannya yang terasa tidak rela dan kecewa. Padahal ia hanya terlambat beberapa menit, tapi mereka berdua bahkan telah membuat taruhan semacam itu. Sedekat itukah hubungan mereka saat ini?

Taemin kembali merangkul lengan Changmin dengan senyum lebarnya, “Kau harus mentraktirku makan malam, hyung…” Pintanya dengan mengusap pundak Changmin, bertingkah seolah tengah membuang debu di pundak kokoh milik Changmin.

Namja tampan tersebut hanya tersenyum tipis mengabaikan tingkah Taemin padanya. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian.” Balasnya yang juga menatap Kyujin yang hanya mampu berdiri dihadapannya dengan kikuk.

Mereka melanjutkan langkah. Namun Kyujin lebih memilih untuk berjalan di sisi pasangan tersebut dengan sedikit menjaga jarak. Sesekali ia menatap Changmin yang ternyata juga tengah menatap padanya. Ia menundukan wajah seraya menggigit bibir bawahnya. Sedikit malu dan terpesona dengan senyum tulus yang diberikan Changmin padanya.

Setelah berkeliling Museum, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton pentas drama yang tengah berlangsung di teater. Kyujin tampak tenang menikmati jalan cerita dari drama yang tengah ditampilkan.

Berbeda dengan Changmin yang duduk berjarak satu bangku-tempat Taemin duduk- darinya. Ia tampak sedikit risih diposisi duduknya. Terlebih ketika Taemin memeluk lengan Changmin serta menyandarkan kepalanya dengan manja di bahunya. Melihat pergerakan Taemin, Kyujin mengalihkan pandangannya dari arah panggung.

“Lihat apa kau?” sentak Taemin dengan nada menantang. Kyujin tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap Changmin yang rahangnya tampak mengeras, sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Melihat itu, Kyujin hanya mampu tersenyum pahit. Mencoba menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Aku harus pergi.” Ucap Kyujin pada Taemin yang tengah berdiri di pintu masuk ruang staf pemain drama ketika pertunjukan telah selesai.

“Kenapa kau harus pergi secepat ini? Changmin hyung akan mentraktir kita makan malam.” Kaluh Taemin menekuk wajahnya.

Kyu menepuk pundak Taemin pelan. “Tiga orang terlalu ramai, Taemin-ah.”

Mendengar ucapan Kyujin, seketika wajah Taemin berbinar. “Aish, dasar kau. Kau terlalu pintar, Kyu.” Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Changmin yang tengah berbicara dengan seseorang di dalam ruang staf. “Changmin hyung, Kyujin mengatakan jika ia akan memilih pulang lebih awal.”

Changmin melangkah menghampiri kedua namja yang berdidi di depan pintu, “Tapi kau harus makan dulu, Kyujin-ah. Dan kita juga bisa bermain atau mengobrol terlebih dahulu.”

Belum sempat Kyujin berkata apa-apa, Taemin telah menyambar terlebih dulu. “Kyu tidak pernah merubah pikirannya secepat itu. Bukankah begitu, Kyujin-ah?” Tanya Taemin dengan nada manis.

Kyujin yang saat itu telah berdiri membelakangi Taemin dan Changmin hanya tersenyum getir. “Ne.” Jawabnya singkat. Mencoba menggunakan nada senormal mungkin. Tanpa mereka berdua ketahui, ekspresi wajah Changmin berubah murung.

“Nah, kan…” Desah Taemin kecewa meskipun wajahnya menunjukan ekspresi yang berbeda dari kalimat yang ia ucapkan.

“Sayang sekali. Pasti akan sangat menyenangkan jika kau juga ikut, Kyu…” Changmin membujuk dengan wajah berharap.

Taemin mengerutkan keningnya, tidak suka mendengar ucapan dan ekspresi yang ditunjukan oleh lelaki yang ia cintai di sisinya.

“Kyunnie, apa kau tahu jika Changmin hyung tidak sering mentarktir teman-temannya seperti ini, kan? Changmin hyung melakukan ini karena kau adalah temanku.” Taemin tersenyum manis pada Changmin yang dibalasnya dengan senyuman terpaksa. “Dia hanya mencoba berlaku baik, jadi kau bisa pergi sekarang. Tidak masalah.” Taemin mendorong tubuh Kyujin yang mematung membelakanginya. Meminta sahabatnya itu untuk pergi secepatnya. Changmin sendiri terus memperhatikan Kyujin dengan sorot mata kekecewaan.

Kyujin berjalan meninggalkan ruang staf dengan langkah sedikit menghentak. Sedikit kesal dengan perlakuan Taemin padanya. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengikuti ajakan makan malam Changmin. Selain itu, ia merasa telah cukup menyiksa dirinya sendiri dengan melihat Taemin yang selalu bersikap mesra pada Changmin.

Ia yang baru saja berjalan sampai di lorong ruangan terkejut ketika ia mendengar suara seseorang.

“Tunggu!”

Kyujin membalikan tubuhnya dan mendapati Changmin yang tengah melongokkan tubuhnya di jendela ruang staf yang terbuka. Kyujin berjalan menghampiri Changmin.

“Aku membawa hadiah hari ini.” Changmin mengeluarkan dua buah kotak kecil dari balik dinding yang membatasinya dengan Kyujin. “Aku juga memberikanmu satu, jadi kau tidak akan merasa sendirian.”

“Aku bertaruh kau tidak akan bisa tidur malam ini.” Tukas Taemin pada Kyujin yang tiba-tiba mendesak tubuh Changmin di jendela. “Changmin hyung tidak bermaksud apa-apa. Changmin hyung memberikan kado ini karena kau adalah teman baikku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

Kyujin hanya terdiam dengan sesekali menatap wajah Changmin yang masih mengulurkan dua buah hadiah padanya.

“Ambillah satu.” Pinta Changmin menghiraukan kata-kata Taemin.

Kyujin melihat dua buah kotak kecil berwarna cokelat muda yang di ikat dengan pita simpul menghiasi keduanya. Yang tampak berbeda adalah hiasan bunga kertas yang hanya terdapat di kotak yang ada ditangan kanan Changmin. Kotak yang  jika sekilas dipandang saja tampak terkesan lebih manis dari yang satunya.

Setelah Kyujin memilih hadiah dari Changmin, ia berniat untuk pulang ke rumah. Sekedar untuk beristirahat dan melanjutkan untuk membaca jurnal yang membuatnya penasaran.

“Kyujin-ah.”

Kyujin berhenti di tempat ketika suara Taemin yang tengah berlari kearahnya memanggil namanya.

“Aku lebih suka hadiah milikmu.” Taemin merebut kotak kecil dengan hiasan bunga kertas dari tangannya dan menggantinya dengan hadiah milik Taemin sendiri. “Kau tidak keberatan jika kita bertukar kan? Bye…”

Taemin melenggang pergi kembali memasuki gedung dengan tanpa memberi kesempatan pada Kyujin untuk mengucapkan sepatah katapun. Kyujin hanya menghela nafas berat menatap kepergian sahabatnya.

Setelah ia sampai di rumah dan membersihkan tubuhnya, Kyu hanya membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Menelungkupkan tubuhnya untuk memandangi hadiah pemberian dari Changmin untuknya, yang telah ditukar dengan milik Taemin.

Ia memainkan pita yang menghiasi penutup kotak persegi dihadapannya. Merasa enggan untuk membukanya. Ia mengocok kotak tersebut. Sedikit heran ketika ia tidak mendengar suara apapun dari dalamnya. Karena kesal ia mengabaikannya namun karena rasa penasarannya akhirnya ia membuka kotak berwarna cokelat tersebut.

Kartu ucapan dan sebuah gantungan ponsel berbentuk beruang putih.

Kyujin merebahkan kembali di kasur dengan kartu ucapan ditangannya.

            Ketika sinar mentari tepancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu.

Kyujin segera menelepon Taemin perihal hadiah itu.

“Benarkah? Apa itu yang ia katakan? Aigoo, Changmin hyung pasti sangat menyukaiku. Kau harus memberikan kartu itu padaku besok, Kyu. Ok?”

“Ok.” Sahut Kyujin lirih sebelum ia memutus telepon dari Taemin yang sangat antusias ketika ia membacakan tulisan yang terdapat di dalam kartu ucapan pemberian Changmin.

Kyujin meletakan teleponnya dengan lunglai. “Aku sama sekali tidak memiliki harapan lagi padanya.” Gumamnya. ”Sudah seharusnya ia dengan Taemin.”

Ia kembali membaca sederet kalimat yang tertulis di kartu ucapan yang tergeletak dihadapannya.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Past Days

Yunho menambahkan tinta pada penanya lalu kembali menulis.

“Apa sudah selesai?” tanya Zhoumi yang tiba-tiba muncul dan duduk di depan Yunho.

“Tinggal sedikit lagi.”

“Perhatian.” Seorang guru mereka memasuki kelas lalu berdiri di depan papan tulis. “Kumpulkan veses kalian di dalam sebuah plastik, mengerti? Lakukan sekarang!”

Tanpa banyak bicara, seluruh isi kelas berhamburan keluar, memegang kantong plastik kecil di tangan lalu berbondong-bondong memasuki toilet. Namun, seluruh isi toilet ternyata telah dipenuhi oleh anak-anak lain yang sudah lebih dulu datang.

Maka, karena tidak ada pilihan lain, mereka melakukannya di balik semak-semak di belakang sekolah.

*

            Hooekk!

Kyujin memuntahkan makanan di mulutnya ketika membaca dan membayangkan apa yang tertulis dalam jurnal yang tengah ia baca.Namun beberapa saat kemudian ia tertawa pelan membayangkan tingkah konyol Yunho dan Zhou Mi…

*

            Past Days

Pagi itu, seluruh isi kelas Yunho melakukan lari pagi mengintari lapangan sekolah bersama-sama. Zhoumi yang tadinya berlari di depan, mengurangi kecepatanya agar bisa sejajar dengan Yunho.

“Yunho-ya, aku akan berlari sambil menutup mataku. Kau harus menuntunku, ne?”

“Baiklah” kata Yunho. Ia lalu menggandeng lengan Zhoumi ketika lelaki jangkung itu mulai menutup matanya.

“Yunho-ya, maukah kau menemaniku belajar dansa polka sepulang sekolah?” tanya Zhoumi lagi.

“Polka?”

“Benar, aku akan menemui Kyuhyun disana. Ini adalah ide ayahku dan temannya itu. Mereka ingin aku dan Kyuhyun bertemu di perhelatan nantinya.” Terang Zhoumi. “Akan ada banyak lelaki disana, kau bisa memilih satu nantinya. Kau bisa datang kan?”

“Aku tidak tahu..” Yunho yang secara tidak sadar sudah melepaskan lengan Zhoumi, tetap berlari sambil berpikir. Detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sudah terpisah dari sahabatnya. Dengan bingung ia mencari Zhoumi.

Ketika menoleh ke kanan, didapatinya Zhoumi yang tetap tenang karena mengira Yunho masih menggandenganya, tetap berlari lurus ke depan dan..

Buuuukkkkkkkk..!

Zhoumi menabrak tiang gawang sepak bola dan langsung terjatuh karenanya.

“Zhoumi-ya..” kata Yunho dengan perasaan bersalah. Mau tidak mau ia harus mengikuti Zhoumi sepulang sekolah nanti ke tempat belajar dansa polka.

Setibanya mereka disana, mata Yunho langsung menangkap Kyuhyun yang juga langsung menyadari kedatangan Yunho dan Zhoumi.

Zhoumi membungkuk hormat pada Kyuhyun lalu memperkenalkan Yunho pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, ini sahabatku, Jung Yunho. Dia adalah sahabat yang pernah aku ceritakan padamu dulu.”

Yunho langsung menyadari bahwa Zhoumi tidak pernah tahu bahwa dirinya dan Kyuhyun sudah saling mengenal terlebih dahulu. Maka dengan berpura-pura, ia membungkuk sedikit, memberi hormat. “Halo, aku Jung Yunho. Senang berkenalan denganmu.”

Kyuhyun yang juga mengerti situasi ini, segera ikut dalam sandiwara yang diciptakan Yunho. “Anneyong haseyo. Jadi.. kalian berteman?”

Zhoumi sedikit bingung. “Apa kalian sudah saling kenal?”

“Oh.. Tidak.” Sangkal Kyuhyun cepat.

Zhoumi tersenyum seraya merangkul pundak Yunho. “Dia adalah sahabat terbaikku.”

Kyuhyun lalu menyadari bahwa ia tidak berdiri sendiri disana. “Oh, kenalkan. Ini temanku, Kibum.”

“Anneyong Haseyo, aku Kim Kibum.” Kata lelaki di samping Kyuhyun.

“Aku Zhoumi.”

“Aku Yunho.”

Acara ramah tamah mereka terhenti dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah pengajar dansa polka mereka hari itu.

“Semuanya, silahkan duduk.”

Para murid yang hadir langsung berebutan tempat duduk, tak terkecuali untuk Yunho dan Kibum yang sedikit terlambat mendapatkan kursi yang mereka inginkan.

“Nah, hari ini aku akan mengajarkan dansa polka pada kalian. Bagaimana? Kedengarannya menarik bukan?” kata guru itu lagi.

Selama sang guru mendengarkan, Kyuhyun tidak berkonsentrasi sama sekali. Ia dan Yunho terus saling bertatapan dengan luapan kegembiraan di hatinya.

“Bogosipphosoyo..” bisiknya mesra ke arah Yunho yang duduk cukup jauh darinya.

“Nado.” Bisik Yunho tak kalah mesra.

Kemudian mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan saling bergandengan satu sama lain. Tangan mereka diangkat sedikit di bawah pundak mereka lalu kaki mereka melangkah mau kemudian mundur sesuai irama musik, sementara sang guru berdiri di tengah lingkaran, memperagakan gaya yang harus mereka pelajari.

Yunho dan Kyuhyun mengikuti setiap arahan dari si pengajar, ketika mereka harus saling membungkuk ke kanan dan ke kiri pada orang di samping mereka, keduanya melakukannya dengan baik, namun mata mereka masih saja saling menatap, seolah takut kehilangan jika mereka berpaling sedikit saja.

Kemudian para murid berdansa dengan pasangan masing-masing, dengan langkah yang telah ditentukan. Pasangan pertama Kyuhyun adalah Zhoumi, karena lelaki itu tepat berada di sebelah kirinya. Berikutnya mereka kembali membentuk lingkaran dan bergerak maju mundur lalu saling membungkuk seperti sebelumnya. Kini pasangan dansa Kyuhyun adalah Yunho. Hatinya bergejolak riang karenanya.

“Aku tidak tahu bahwa kau dan Zhoumi berteman.” Kata Kyuhyun.

Yunho tidak menjawab, ia hanya tertawa geli mendengarnya. Kyuhyun akhirnya ikut tertawa mengingat kejadian tadi dimana ia dan Yunho harus berpura-pura baru saling kenal.

Lalu tiba-tiba musik klasik yang mengalun berhenti berputar, tergantikan dengan musik rock and roll’. Ternyata Zhoumi yang menggantinya. Dengan gaya yang penuh percaya diri, ia berdansa di tengah ruangan, mengabaikan si pengajar yang menatap jengkel padanya. Satu persatu semua murid ikut bergoyang riang, begitu juga Kibum, Yunho dan Kyuhyun.

Setelah latihan itu selesai, Kyuhyun, Kibum, Yunho dan Zhoumi melenggang pulang bersama. Selama perjalanan, Kyuhyun dan Yunho saling mencuri-curi pandang.

“Aku ingin jadi penyiar suatu saat nanti. Aku selalu melatih ketangkasanku berbicara. Bisakah kau melakukan ini?” Kata kibum pada Yunho. Ia lalu mengatakan sesuatu yang cukup panjang dan tampaknya berulang-ulang tapi Yunho tidak memperhatikannya.

“Bagaimana? Keren kan? Aku bisa mengulangi dengan cepat.” Kata Kibum lagi. Namun lagi-lagi diacuhkan oleh Yunho yang sibuk mencuri pandang pada Kyuhyun.

“Bisakah kau melakukannya?” tanya Kibum penuh harap.

Menghormati si lawan bicara, akhirnya Yunho menyanggupi. Ia mencoba mengikuti kata-kata Kibum tadi tadi ia tidak berhasil.

“Kau harus banyak berlatih.” Kata Kibum yang sedikit kecewa. “Nah, coba kau ikuti aku setelah ini.” kembali Kibum melontarkan kata-kata yang sama. Terdengar sedikit menjengkelkan di telinga Yunho, tapi ia masih bertahan, demi menghormati teman Kyuhyun itu.

“Kita berpisah disini. Aku akan mengantar Kyuhyun pulang, jadi kau bisa menjaga Kibum. Oke? Kita bertemu lagi nanti.” Kata Zhoumi di persimpangan jalan.

“Aku pulang dulu. Selamat malam.” Kata Kyuhyun dengan enggan.

“Sampai jumpa Kyuhyun-ah.” Kata Kibum seraya melambaikan tangannya.  Ia lalu menoleh pada Zhoumi dan mengucapkan selamat malam yang dibalas dengan anggukan sopan dari si namja jangkung itu.

Yunho hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Jauh di hati kecilnya, ia masih ingin bersama Kyuhyun, tapi ia tahu hal itu tidak mungkin terjadi selama masih ada Zhoumi di sampingnya.

Kyuhyun berbalik sebentar, ia menatap Yunho dengan pandangan enggan. Ia sendiri tidak ingin waktu berakhir secepat ini. Tapi sepertinya waktu tidak berpihak padanya. dilihatnya kembali Kibum melambai padanya. Ia membalas lambaian itu dengan canggung lalu kembali mengikuti Zhoumi yang telah menunggunya.

“Ayo kita pulang.” Kata Kibum pada Yunho. Mengembalikan khayalan lelaki itu ke dunia nyata. “Yunho-ssi, ayo kita coba yang lebih mudah. Nah, coba ini.”

Kibum kembali melontarkan kata-kata aneh yag diulang-ulang. Mungkin menurutnya itu sedikit lebih mudah daripada kata-katanya sebelum ini, tapi bagi Yunho sama saja, ia bahkan enggan mendengarkan.

“Bagaimana? Mudah kan? Ayo, cobalah..”

“Hahh?”

“Cobalah mengulangi kata-kataku tadi.” kata Kibum lagi.

“Kata-kata yang mana?”

Kembali Kibum berbicara dengan nada menjengkelkan seperti tadi. “Nah, kau bisa melakukannya kan? Ayo cobalah.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan paksa aku.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Hahhh? Kau tidak bisa melakukannya? Ini mudah sekali. Dengarkan.” Kibum lalu bicara lagi dengan kata-kata itu, masih dengan nada yang sama.

Yunho tak tahan lagi, ia melambatkan langkahnya, membiarkan Kibum berjalan duluan lalu berlari dan sembunyi di semak-semak.

Sementara di tempat lain, Kyuhyun sudah sampai di rumahnya. Zhoumi mengucapkan selamat malam lalu meninggalkan rumah Kyuhyun dengan hati riang.

Sepeninggal Zhoumi, Kyuhyun berlari menaiki tangga rumahnya. Sebelum menekan bel yang terpasang di pintu pagarnya, ia menoleh ke belakang dengan sedih lalu menunduk. Ia senang sekaligus sedih hari ini. Ia benar-benar masih ingin bersama Yunho. Tapi kenyataan menghampirinya bahwa itu tidak mungkin, pasti Yunho tengah mengantarkan Kibum pulang saat ini. Dengan pasrah ia mengarahkan jarinya ke depan, hendak memencet bel.

Namun sebelum tangannya benar-benar menekan bel itu, lampu jalan di depan rumahnya mendadak mati. Kyuhyun menoleh ke belakang. ‘Tidak ada siapa-siapa.’ Pikirnya. Ia lalu kembali hendak menekan bel rumahnya.

Tapi lagi-lagi sebelum menekan bel, sesuatu terjadi. Lampu tadi menyala sebentar lalu dimatikan lagi. Kyuhyun kembali menoleh ke belakang, ke arah lampu yang di pasang di jalan masuk menuju undakan tangga menuju rumahnya.

Ia melihat sosok hitam di bawah tiang penyangga lampu itu. Dengan penasaran ia mencoba melihat  didalam gelap, mencoba menerka siapa orang yang iseng mengerjainya malam-malam begini.

Detik berikutnya, lampu kembali menyala dan.. Jung Yunho berdiri tepat di bawah tiang itu. Tersenyum hangat padanya, memberikan atmosfir membahagiakan di sekeliling Kyuhyun. Kyuhyun menatap lelaki yang berdiri di bawah sana dengan haru. Antara percaya dan tak percaya, ia melepaskan tas yang digengganggmnya sedari tadi lalu mulai melangkah menuruni undakan tangga perlahan.

Begitu ia sadar sepenuhnya bahwa ini bukan mimpi, ia mempercepat langkahnya. Ketika tinggal dua anak tangga lagi yang harus ia tempuh untuk menemui pujaan hatinya, Kyuhyun melompat tak sabar, lalu jatuh dalam pelukan hangat seorang  Jung Yunho.

The journey part 3 pict

PS : Bayangkan Kyujin seperti gambar Kyuhyun yang di bawah.

TBC

The Journey – Chapter 1

Title              : The Journey

Rate             : T

Genre          : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair               : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast              : Kyuhyun (dan Kyujin – anak Kyuhyun), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning      : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note             : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 1

Present Days

Fajar kembali menghampiri kota berkabut itu. Menampilkan semburat jingga dari ufuk timur yang tampak berkilau melalui sela pepohonan. Pohon pinus yang menjulang setinggi kaki langit membentuk siluet teratur yang berjejer, tergambar jelas dalam aliran anak sungai yang mengalir tenang. Diantara langit yang berselimut warna keemasan itu, tampak puluhan burung gereja terbang berkejaran.

Disebuah rumah sederhana. Tepatnya dihalaman belakang rumah tersebut. Seorang lelaki tampak tengah sibuk berkutat dengan tumpukan buku-buku usang. Sesekali ia membuka buku tersebut satu persatu untuk memastikannya telah bersih dari debu dan kotoran. Setelah ia menyusun dan membersihkannya, lelaki manis itupun membawa tumpukan buku yang menjulang melebihi tinggi tubuhnya sendiri itu menaiki tangga. Menuju salah satu kamar yang terdapat dalam rumahnya.

BRAKK!

Tumpukan buku tersebut terjatuh dari kedua lengannya ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap refleksi pelangi yang tampak dari jendela di kamar yang tepat menghadap ke arah padatnya kota. Mengabaikan beberapa buku yang tercecer di lantai, dengan perlahan ia pun melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah jendela.

(Kyujin POV)

Dengan perlahan, aku melangkahkan kakiku menuju jendela kamar yang tampak menampilkan refleksi pelangi dari kaca bening tersebut. Setiap kali aku melihat pelangi, aku jadi teringat dengan ucapan yang eomma katakan padaku ketika dulu aku melihat pelangi yang melengkung membelah sungai.

Tanpa mengalihkan pandanganku dari fenomena alam itu, kubuka jendela kamar yang dihadapanku. Membuat satu dari tiga burung merpati putih yang bertengger di sana terbang menjauh karena terkejut.

“Ya! Pergilah!” Pekikku pada dua merpati tersebut yang langsung terbang menjauh.

Aku melongokkan wajahku sesaat keluar sebelum aku menopangkan wajahku dengan lengan kananku dan bersandar di tepian jendela yang terbuka. Tatapanku menerawang jauh, menatap refleksi pelangi yang kini tampak melengkung diantara padatnya gedung bangunan yang memadati kota yang tampak kecil dari tempatku berada saat ini.

Perihal cerita eomma tentang pelangi, beliau pernah berkata bahwa pelangi merupakan pintu menuju surga. Ketika seseorang meninggal, ia akan menuju surga melalui pintu tersebut. Appaku telah meninggal ketika aku masih anak-anak. Dan setelah itu, eomma membawaku pergi keluar negeri.

Sesungguhnya aku ingin sekali eomma untuk menikah lagi. Namun ketika aku mangajukan hal tersebut, eomma menolaknya.

Namaku Kyujin dan golongan darahku O. Sejak usia tujuh tahun aku mulai mempelajari taekwondo bahkan hingga sekarang setelah aku menjadi mahasiswa di sebuah universitas.

Pernah suatu kali, saat aku tengah berlatih bersama para sunbae-ku di kampus. Karena terlalu bersemangat dan bersungguh-sungguh, aku membuat pelatihku terluka karena aku terlalu keras menendang balok kayu yang ia pegang hingga telak mengenai wajahnya dan membuat hidungnya berdarah.

Dan bodohnya aku bahkan baru menyadari kesalahanku tersebut ketika melihat teman-temanku yang lain berlari menghampiri pelatih yang saat itu hanya mendengus menatapku, menahan kemarahan dengan darah yang mengalir dari hidungnya.

Aku beranjak dari posisiku. Membalikkan tubuhku dan menghela nafas panjang ketika aku melihat buku-buku yang berserakan dilantai. Dengan sigap akupun segera membereskan dan menata buku-buku milik eomma itu dan memasukkannya kembali kedalam lemari yang tingginya bahkan melebihi tinggi tubuhku.

Baru saja aku akan melangkah menjauh, namun niatku terhenti ketika aku kembali mengingat ada sesuatu yang menarik perhatianku.

Kubuka kembali lemari yang baru saja kututup beberapa saat lalu dengan menggunakan tangga kecil yang terbuat dari kayu sebagai pijakan. Dan perhatianku seketika tertuju pada sebuah benda. Tepatnya sebuah kotak kecil yang berada diantara tumpukan buku-buku usang milik eomma.

Sebuah kotak berwarna abu-abu yang warnanya kini telah memudar di makan usia. Kotak kecil itu berisi surat dan jurnal milik orang tuaku. Tiap kali eomma membaca surat-surat itu, ia selalu menangis. Eomma pernah memberitahuku bahwa surat tersebut berisi kenangan masa lalu miliknya. Kisah tentang cinta pertamanya.

“Uhuk uhuk”

Aku terbatuk ketika hidungku menghirup debu yang terbang ketika aku meniup permukaan kotak yang kini berada dalam pangkuanku. Setelah turun dari tangga dan memastikan pintu lemari tersebut telah tertutup, aku kemudian meletakan kotak kecil berbentuk persegi itu di meja yang terdapat di sisi jendela kamar yang terbuka.

Kubuka kotak tersebut lalu mengambil surat pertama dari puluhan surat yang ada di dalam kotak itu. Meskipun telah sekian lama, namun kondisi surat-surat itu masih tetap terjaga. Terlihat dari bekas lipatannya yang tetap utuh. Tak berubah sama sekali meskipun warnanya telah kusam.

Kring Kring

Aku mendongak ketika mendengar suar dering telepon. Dengan tergesa kuletakan kembali surat yang baru saja aku pegang dan beranjak untuk mengangkat telepon yang tergantung di dinding luar kamar.

“Yeoboseyo…”

“Kyujin-ah, ini aku Taemin.” Sapa suara dari seberang yang tidak lain adalah sahabatku, Lee Taemin.

“Wae Taemin-ah? Ada apa kau meneleponku sepagi ini?” Tanyaku penasaran. Tidak biasanya anak itu meneleponku sepagi ini kecuali untuk mengingatkanku tentang sesuatu yang berhubungan dengan tugas kuliah. Dan ini adalah hari libur. Tentu saja ini sangat aneh.

“Hey Kyu, kau mau menemaniku pergi ke Museum seni bersama Changmin hyung?” Tanyanya langsung tanpa tedeng aling.

Changmin hyung?

“Ya! Kau mau membuatku menjadi pengganggu diantara kalian?” sahutku kesal menanggapi ajakannya. Menyembunyikan keherananku ketika mendengar nama Changmin disebut olehnya.

“Aniyo! Changmin hyung sendiri yang memintaku untuk mengajakmu.”

“Jeongmal?” ucapku lirih. Tidak yakin dengan apa yang baru saja Taemin ucapkan padaku yang ditanggapi kesungguhan olehnya.

Aku tertegun. Benarkah Changmin hyung sendiri yang mengajakku untuk ikut pergi bersamanya? Aku sendiri tidak yakin.

Changmin. Aku mengetahui dan mengenal namja tinggi tersebut melalui Taemin. Di awali suatu hari saat Taemin yang memintaku untuk menuliskan e-mail untuk Changmin hyung. Dan aku menuruti permintaannya itu. Selama dua bulan, aku menuliskan e-mail untuknya atas nama Taemin.

Hari ini, aku melihatmu sedang membaca buku di bangku taman kampus. Dan kau tahu? Kau terlihat seperti sebuah lukisan yang terdapat di kartu pos bergambar.

“Ini terlalu kekanakan.” Tukas Taemin tiba-tiba menghampiriku yang saat itu tengah duduk di hadapan komputer, mengetik e-mail yang akan dikirimkan untuk Changmin hyung.

“Jeongmal? Apa perlu aku menulis ulang lagi?” Tanyaku meminta pendapatnya tanpa mengalihkan pandanganku dari layar komputer.

Kudengar Taemin terkekeh kecil dengan mulutnya yang tengah sibuk mengunyah snack-nya. “Ani. Aku menyukainya. Aku suka terdengar kekanakan…”

Dan suatu hari, kami berdua, menonton drama pertunjukan kampus yang dibintangi oleh Changmin sebagai pemeran utama. Aku yang duduk bersamanya di deretan pertama, dikejutkan oleh aksi Taemin yang tiba-tiba menaiki panggung teater pada saat drama tengah berlangsung. Ia memberikan karangan bunga pada Changmin yang tengah mengucapkan dialognya.

“Changmin hyung, aku mengirimkan surat padamu tanpa terlewat satu haripun.” Bisiknya yang terlalu keras tepat di telinga Changmin yang hanya mematung ditempatnya sebagai reaksinya karena terkejut. Bukan hanya Changmin saja yang tampak terkejut. Bahkan penonton dan pemain lain pun saling menatap satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

Setelah itu, Taemin pun kembali ke tempat duduknya dengan senyum lebar yang tersungging di wajah imutnya tanpa merasa canggung sedikitpun.

“…Jika…Jika kau ingin tetap menikah, kau akan menikah dengan orang idiot sepertiku.” Ucap Changmin tergagap mengucapkan dialognya dengan memberikan bunga yang ia terima dari Taemin kepada lawan mainnya.

Taemin memang sangat menyukai Changmin. Ah, bukan menyukai. Tapi mencintai Changmin. Itu yang ia katakan padaku. Changmin sendiri merupakan sunbae-ku di kampus yang aktif di kegiatan teater.

Berbagai cara dilakukan Taemin guna mendekatkan diri pada sunbae tampan itu. Bahkan hanya untuk sekedar selalu dekat dengan Changmin, Taemin sampai ikut mendaftar di klub teater tersebut. Tak jarang jika ia berlatih, akupun menyempatkan diri untuk ikut dengannya walau hanya sekedar menontonnya berlatih.

“Ya! Ya! Ya! Bukan seperti itu!” Teriak Changmin tiba-tiba ketika ia yang tengah memperhatikan teman-teman klubnya berlatih, mendengar salah satu pemain salah mengucapkan dialog. Klub teater memang tengah berlatih keras membuat pertunjukan untuk mengisi dies natalis kampus yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi.

Aku yang saat itu baru saja memasuki ruangan teater hanya mendudukkan diri di salah satu kursi dengan memangku tas biolaku, beberapa baris di belakang Changmin yang tengah berdiri tegap dari duduknya, meneriaki teman-temannya yang tengah berlatih di panggung.

“Sinar bulan yang temaram, tak terduga membentuk bayanganmu yang terlihat di jendelaku. Dan Jordan tersentuh ketika Emily kembali lagi padanya” Ucap Changmin keras memperbaiki dialog yang salah, ”Kau harus menjiwai perasaan mereka berdua yang merasa bahagia dan patah hati di waktu yang bersamaan. Lakukan itu dengan perasaan.”

Setelah mengucapkan kalimat dan anjuran tersebut, tubuh tinggi milik Changmin pun kembali duduk di kursinya. Meskipun aku tak melihat ekspresi wajahnya, namun aku yakin jika ia terlihat sangat kesal. Terdengar dari intonasi ucapannya yang nyaring dan penuh penekanan. Taemin yang baru menyadari keberadaanku pun melambaikan tanganya yang tengah memegang naskah dialog yang aku balas dengan hal serupa.

Kupandangi sosok tinggi namja yang duduk memunggungiku itu dalam-dalam. Entah mengapa,tiap kali aku melihat sosok tingginya, aku merasa nafasku tercekat hingga seolah tak mampu bernafas. Sayangnya selama ini ia tak pernah sekalipun menatapku. Terdengar sangat menyedihkan bukan?

Aku akan mengucapkan mantra untuknya, tekadku menatap tajam punggung lebarnya. ‘Lihat ke belakang! Lihat ke belakang! Lihat ke belakang!’ Seruku dalam hati sembari terus menatap kearahnya.

Gotcha! Ia membalikkan tubuhnya tiba-tiba. Dengan gugup aku pun mengalihkan tatapanku ke sembarang tempat, kecuali pada sosoknya yang menatapku sekilas sebelum ia membalikkan tubuhnya kembali ke posisi semula.

Dengan sembunyi-sembunyi, kutatap kembali sosoknya yang tengah menekuni naskah ditangannya. Kulihat ia menjentikkan jarinya seperti menemukan sebuah inspirasi baru, “Ah…Musik!” Gumamnya yang masih dapat ku dengar.

Aku melipatkan tanganku di sandaran kursi di depanku tanpa mengalihkan pandanganku darinya. Meletakan wajahku diatas lenganku sendiri sembari kembali mengamati sosok Changmin dari belakang yang menggumamkan dialog naskah.

“Aku ingat, ketika pertama kali aku melihatmu, kau telah mencuri hatiku. Tapi sekarang kau datang padaku, dan kau merasa kita ditakdirkan untuk bersama selamanya. Good! Hatiku milikmu selamanya.”

Kusandarkan tubuhku kembali ke kursiku. Masih dengan menatap sosok mengagumkan yang ada di hadapanku. Merasa mengasihani sendiri yang hanya mampu memperhatikan seseorang yang ia sukai tanpa diketahui oleh orang yang bersangkutan.

“Bukankah Changmin hyung sangat luar biasa? Aku sangat menyukai orang yang sangat bekerja keras sepertinya. Kau melihatnya tadi?” Tanya Taemin antusias yang kini duduk disisiku, “Ya! Ya! Ya! Bukan seperti itu!” Teriaknya mencoba menirukan ucapan dan gesture Changmin beberapa saat lalu dengan sempurna, “Sinar bulan yang temaram, tak terduga membentuk bayanganmu yang terlihat di jendelaku.”

Aku hanya tersenyum sendu melihat tingkahnya yang antusias tersebut. Taemin sangat polos. Dan yang aku kagumi dari dirinya adalah sikapnya yang berani menunjukkan rasa sukanya pada orang yang ia sukai meskipun kadang kala cenderung terlalu vulgar dan berlebihan. Tapi itulah nilai lebihnya yang tidak dapat aku lakukan.

Kami berdua terkejut ketika tiba-tiba Changmin yang baru saja selesai memberikan pengarahan pada klubnya, mendudukkan diri tepat disamping Taemin. Dan itu berarti ia hanya berjarak beberapa meter di sisiku. Tanpa bisa dicegah, aku memalingkan wajah gugupku darinya.

“Mambicarakanku?” tembak Changmin langsung pada Taemin yang sama gugupnya denganku.

“A..aniyo, hyung.” Sahut Taemin gugup. “Ah, hyung kenal Kyujin, kan?” Ia mengalihkan perhatian. Aku pun terkejut ketika tiba-tiba Taemin memegang tanganku dan menanyakan tentangku pada Changmin. “Dia yang bersamaku ketika pertama kali aku datang ke tempat ini.”

Meskipun aku tak mengalihkan wajahku, namun aku dapat melihat dari sudut mataku yang menangkap bayangan Changmin yang mencondongkan tubuhnya sedikit untuk melihat kearahku. Jantungku seketika berpacu dengan cepat dengan tingkahku yang semakin gelisah karena malu tanpa mampu mengucapkan sepatah katapun.

“Ooh, yang waktu itu.” Ucapnya singkat dengan tetap menatapku.

Dengan ragu dan gugup, aku mengalihkan wajahku untuk menatapnya. Hanya sedikit, “N…ne..Anyeonghaseyo.” sapaku lirih dengan nada bergetar. Sementara Changmin sendiri tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap ke arah panggung dengan wajah datarnya.

Banyak orang yang menyukainya. Bukan hanya Taemin. Bahkan pegawai yang bekerja di kedai kampus yang cukup akrab denganku pun sangat menyukainya.

Aku menghela nafasku setelah sambungan telepon dari Taemin terputus dengan jawabanku yang menerima ajakannya. Akupun kembali menuju kamar, berniat untuk melanjutkan kembali membaca surat milik eomma.

Namun baru sampai diambang pintu, mataku terbelalak kaget saat mendapati surat yang awalnya tertata rapi didalam kotak kini telah berserakan dilantai tertiup angin yang berasal dari jendela yang terbuka. Apalagi dengan merpati putih yang beberapa saat lalu hinggap di jendela kini telah masuk dan berada di dalam kamar.

Dengan kesal ku raih sebatang bilah yang kugunakan untuk mengusir merpati-merpati itu kemudian menutup jendela dengan kasar. Ku punguti satu persatu surat yang berserakan dan menatanya kembali kedalam kotak milik eomma.

Kuraih selembar surat yang berada di penutup kotak yang terbuka. Nama Cho Kyuhyun tertera di salah satu sisi amplop yang membungkus surat yang ada ditanganku. Dan ketika aku membalikkan ampolp tersebut ke sisi yang lain, aku mendapati nama Zhoumi disana.

Dengan rasa penasaran,aku pun menarik dan mengeluarkan surat itu dari amplop. Berisi dua lembar surat yang berisi tulisan tangan yang sangat rapi. Keningku berkerut bingung ketika ada nama lain tercantum dalam salah satu sudut kertas yang ku genggam. Jung Yunho?

Ku baca sekali lagi nama yang tertera di amplop. Bukankah surat ini dari Zhou Mi? Tapi mengapa ada nama lain yang tertulis di surat ini? Kubaca kalimat pertama yang tertulis dalam kertas tersebut.

“Ketika aku membuka jendela di pagi hari, romantic breeze yang bertiup pertanda datangnya musim gugur. Aku akan menggenggam angin tersebut kedalam surat ini dan mengirimkannya padamu.”

Aku terdiam sesaat. Membelai tengkukku dengan perasaan canggung.

“Romantic breeze? Bukankah ini terdengar sangat klise?” Ucapku seorang diri dengan heran. Senyum tidak dapat ku tahan ketika aku kembali meresapi kalimat tersebut. “Baiklah. Aku pikir ini terlihat sangat klasik.”

Kuletakkan surat tadi dan beralih meraih sebuah buku bersampul cokelat yang tertindih diantara tumpukan surat milik eomma. Kurasa ini adalah jurnal milik eomma. Kubuka beberapa lembar dari halaman buku itu. Dan mataku menangkap pada sebuah benda, lebih tepatnya sebuah foto yang terdapat diantara halaman jurnal eomma.

Ku perhatikan foto tersebut dengan seksama. Foto seorang lelaki yang tengah membaca buku dan duduk di sebuah jendela. Kemudian ku letakan foto tersebut di meja untuk kembali membuka halaman lain jurnal yang ada ditanganku…

Flashback – Past Days

Diantara gemerisik dedaunan di siang yang cerah itu, Jung Yunho duduk di jendela perpustakaan sambil membaca buku. Membaca dan menulis adalah dua hal yang disukainya. Dan mungkin kedua hal tersebut-lah yang membuatnya sedikit romantis di mata teman-temannya.

“Yunho-ya.”

Yunho menoleh. Dilihatnya Zhou Mi berdiri di sana, menyandarkan tangannya di salah satu rak buku terdekat. Lelaki jangkung itu tersenyum pada Yunho. Hal ini membuat Yunho sedikit bingung. Pasalnya, Zhou Mi tidak pernah bicara padanya sebelumnya, tapi hari ini ia datang dengan sikap bersahabat.

“Tuliskan sebuah surat untukku.” Kata Zhou Mi.

Zhou Mi mendengar bahwa Yunho pernah menuliskan sebuah surat untuk seorang teman, oleh karena itulah ia datang dan meminta bantuan. Yunho bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Zhou Mi. Menurut teman-teman mereka, Zhou Mi terus tumbuh selama musim dingin, itu sebabnya ia terlihat sedikit lebih tinggi daripada Yunho saat ini.

“Untuk siapa?” tanya Yunho.

“Untuk tunanganku.”

“Tunanganmu?” tanya Yunho lagi.

Zhou Mi berjalan ke cermin di sisi kiri Yunho. “Kami dijodohkan. Dia adalah anak dari teman ayahku.”

“Kau sungguh beruntung. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mengajak lelaki manapun untuk berkencan denganmu.” Kata Yunho seraya tersenyum.

“Huhh.. Aku muak. Aku bukan tipe lelaki yang hanya mengencani satu lelaki saja. Jika lelaki ini mengirimiku surat, ayahku akan mengeceknya. Ia ingin tahu segalanya. Terkadang, ia bertingkah seperti agen FBI.” Jawab Zhou Mi.

Ia lalu merongoh saku kemejanya lalu mengeluarkan sebuah foto. Dengan bersemangat ia mendorong foto itu di meja, niatnya foto itu akan berhenti tepat di depan Yunho, tapi karena ia terlalu bersemangat mendorong, foto itu malah melewati Yunho dan jatuh di ke lantai.

“Aigooo..” Zhou Mi lalu buru-buru mengambil foto tersebut kemudian meletakkannya di depan Yunho.

Yunho mendekat dan memperhatikan wajah dalam foto itu baik-baik.

“Ia adalah anak seorang Congressman. Dan karena itulah mungkin dia sedikit sulit dijangkau.” Zhou Mi melanjutkan.

Namun Yunho tidak memperhatikan perkataan temannya itu sama sekali. Ditatapnya foto itu dalam-dalam. Lalu ingatannya terbang ke beberapa waktu silam, dimana ia dan kedua orang sahabatnya di desa, Donghae dan Heechul, tengah berusaha menangkap ikan di sungai.

“Cepat tangkap! Itu dia.. Itu dia!” seru Heechul.

“Kenaa..!!!” seru Donghae.

Begitu jala mereka di naikkan, ternyata bukan seekor ikan yang mereka dapatkan melainkan cuma seekor kumbang.

“Ah, kau membiarkannya lolos diantara kakimu! Inikah keahlian yang kau dapat di kotamu tercinta?” Omel Heechul pada Yunho.

“Suwon bukan kota, Seoul barulah kota yang sebenarnya.” Bantah Donghae.

“Tapi kami punya balai kota!” kata Yunho membela diri.

“Ya! Berhenti bicara. Ini!” kata Heechul seraya memberikan jaring pada Yunho. “Aku akan memancing mereka agar mendekat, kau yang menangkapnya! Perhatikan baik-baik.”

“Ayo!” kata Heechul kemudian pada Donghae. Keduanya lalu sedikit menjauhi Yunho dan memulai aksi mencari ikan lagi.

Selama beberapa waktu kedepan, mereka sibuk dengan kegiatannya hingga sebuah gerobak kecil melintas tak jauh di depan mereka. Gerobak yang ditarik oleh seekor sapi dan dipandu seorang gembala itu memuat beberapa karung dan.. seorang lelaki manis diatasnya.

Yunho tertegun menatap lelaki itu, membuat Donghae dan Heechul yang berdiri membelakangi gerobak itu terheran-heran.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Heechul.

Yunho menjawab dengan mengarahkan dagunya ke arah pemandangan yang dilihatnya saat ini. Donghae dan Heechul serentak menoleh ke belakang.

“Dia adalah cucu dari si tua Cho. Aku dengar ia dari Suwon.” Kata Heechul. Kemudian dahinya mengernyit. Ia lalu menoleh pada Yunho. “Tunggu, bukankah kau juga dari Suwon?”

Yunho mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari makhluk manis di atas gerobak itu.

“Kita tidak bisa bermimpi untuk mendapatkannya. Anak dari si tua Cho itu adalah seorang Congressman.” Kata Heechul lagi.

“Jadi.. Dia adalah anak lelaki si Congressman?” tanya Yunho.

Heechul memutar bola matanya dengan bosan, sementara Donghae menanggapi Yunho. “Tentu saja, mana mungkin ia anak perempuan Congressman? Bodoh!”

Lelaki manis diatas gerobak itu menatap ketiga lelaki di bawah sana sambil tersenyum. Yunho yang berdiri ditengah melambaikan tangannya. Lelaki itu balas melambai.

“Ya! Lihat! Dia balas melambai. Ayo kita melambai lagi.” pekik Yunho.

Ketiganya lalu melambai dengan riang. “Anneyong haseyo..!”

Yunho tersenyum. Ia sedikit merindukan kedua sahabatnya, Heechul dan Donghae karenanya. Kemudian ingatannya melayang ke peristiwa lainnya.

“Aku dapat!” teriak Yunho.

“Benarkah? Coba kulihat!” tanya Donghae lalu mendekati Yunho. Heechul juga berlari mendekati Yunho. Yunho dan Donghae lalu mengorek-ngorek kotoran sapi di depan mereka.

“Baunya menjijikkan.” Kata Donghae dengan jijik.

Yunho lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. “Ya. Aku dapat lagi. Lihat, yang ini lebih besar. Aku yakin ini banyak terdapat di dalam kotoran sapi.”

Namun kali ini Heechul dan Donghae tidak menjawabnya. Keduanya sibuk memandangi sesuatu di belakang Yunho. Yunho akhirnya menyadari dan ikut berbalik. Disana, diatas bukit kecil di depan mereka, berdiri dua orang lelaki yang sedang memperhatikan mereka. Dan salah satunya adalah cucu dari si tua Cho.

“Itu kumbang kotoran sapi.” Kata lelaki yang satu.

“Kumbang kotoran? Aku sama sekali tidak pernah melihatnya.” tanya si lelaki manis.

Yunho kemudian bertanya. “Apa kau mau melihat ini?”

Kedua lelaki tadi saling berpandangan lalu tersenyum sumringah. Si manis lalu menuruni undakan ketika Yunho berlari ke arahnya.

“Ya! Itu kotoran sapi. Kotor!” teriak sahabatnya di belakang.

Tapi si manis tidak perduli, dengan antusias ia menyentuh kumbang yang disodorkan Yunho. Namun detik berikutnya ia menarik tangannya dan tersenyum malu. “Apa kau pernah melihat rumah hantu di seberang sungai?”

“Eh? Rumah hantu? Oh, iya..” kata Yunho dengan ragu.

“Bisakah kau mengantarku kesana?” tanya lelaki manis itu penuh harap.

Kembali Yunho menjawab dengan ragu. “Ya.”

“Apa kau bisa mendayung sampan?” tanya si manis lagi.

“Tentu saja.” Jawab Yunho singkat.

“Baiklah. Kalau begitu sampai ketemu di dekat penyebrangan besok pukul dua belas siang.”

Si manis lalu berlari meninggalkan Yunho, menggandeng sahabatnya lalu berjalan menjauh. Sesekali ia masih mencuri pandang pada Yunho sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.

Sedangkan Yunho yang merasa Tuhan tengah memberikan anugerah untuknya tersenyum senang. Donghae dan Heechul lalu menghampiri Yunho.

“Apa yang kau katakan padanya?” tanya Donghae bersemangat. “Anak kota yang satu ini benar-benar berbeda.” Ia lalu mengusapkan kotoran sapi di tangannya ke kedua pipi Yunho.

Tapi Yunho sama sekali tidak marah. Ia malah memegang erat wajah Donghae dengan ceria lalu berkata. “Ya! Ajari aku cara mendayung.”

*

YunKyu - Journey

To be continued..

Super Show 5 to Start in March 2013?

suju16 ss4

An online store for South Korean entertainment events’ tickets, @TicketKorea, shocks Super Junior‘s fans after their tweet regarding the possible dates of the next Super Junior’s concert tour, Super Show 5. The account tweeted, 《Ticketing KOREA》SS5 (tentative name) is said to be two days concert on March 23-24. It’s close to be accepted. Sorry. I decided to tweet it. True or not, let’s hope for the yearly concert to soon be held!

 

Source : koreanupdates.com