Now and Then ( Sequel of B365D) – Chapter 6

Title                 : Now and Then

Rate                : T

Genre             : Romance, Fluff, Sad, Mpreg

Pair                  : Yunho x Kyuhyun (YunKyu)

Other Cast    : Changmin, Donghae, Tesa, Kim Isak

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary     : Setelah melewati masa perkenalan selama setahun, Yunho dan Kyuhyun akhirnya menikah. Bagaimana perjalanan kehidupan rumah tangga mereka?

CHAPTER 6

Cho Kyuhyun baru saja akan membuka pintu kaca penghubung ballroom luas itu dengan koridor di sampingnya ketika sebuah tangan besar memeluknya dan menariknya mundur. Tangan itu milik Lee Donghae.

“Kyuhyunnie, andwae! Aku sudah memperingatkanmu sejak awal. Kau mungkin berpikir hal itu akan menyelamatkan pernikahanmu, tapi sebaliknya kau justru akan menghancurkannya. Pikirkanlah. Kau akan mempermalukan Yunho dan dirimu sendiri. Kumohon, tidaklah bijaksana muncul di muka umum dengan kondisi seperti ini.” kata Donghae panjang lebar, setengah memohon pada lelaki manja yang lebih muda darinya itu.

“Tapi hyunnggg, lihatlah gadis itu. Ia terus menerus memaksa Yunho hyung untuk minum anggur sebanyak mungkin. Bagaimana kalau terjadi sesuatu setelah ini?” Kyuhyun nyaris menangis mempertahankan keinginannya untuk mencakar wajah Isak saat ini.

“Kalaupun ada orang yang harus muncul di hadapan mereka, orang itu adalah aku. Jadi tenangkan dirimu. Mari kita lihat apa yang akan terjadi setelah ini. Jika keadaan memburuk, aku berjanji akan segera menghampiri mereka.” Tawar Donghae.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Tawaran Donghae memang lebih baik. Donghae juga lulusan luar negeri, ia lebih tahu cara menghadapi orang-orang di lingkungan seperti ini daripada Kyuhyun sendiri. Ia tidak punya pilihan lain selain bergantung pada lelaki itu saat ini.

“Arasso..” jawab Kyuhyun pada akhirnya.

Donghae lalu menghembuskan nafas lega. Ia kemudian menarik Kyuhyun untuk bersembunyi di belakang vas bunga besar di samping pintu. Yunho, Isak dan Changmin berdiri sangat dekat dengan mereka sebenarnya, hanya saja pandangan ketiganya tertuju ke depan. Kalau saja mereka berbalik dan memperhatikan dengan seksama bahwa vas bunga yang terletak tak jauh di belakang mereka menyembunyikan sepasang lelaki yang sangat mereka kenal, tentunya mereka akan sangat terkejut.

“Lihat kan? Isak terus menuangkan wine ke gelas Yunho hyung..” Kyuhyun mendecak kesal.

Donghae diam saja, ia memutuskan untuk mengamati dalam diam. Walaupun ia sedikit kesal karena Yunho seperti tunduk kepada Isak, ia masih percaya bahwa Yunho tidak akan menghianati Kyuhyun.

“Ini, tambah lagi.” Kyuhyun dan Donghae mendengar Isak berkata pada Yunho seraya tersenyum lebar. Ia kembali mengisi gelas kosong di tangan Yunho dengan wine.

“Sudah cukup! Ia sudah minum terlalu banyak.” Tegur Changmin seraya menahan tangan Isak. “Ia harus berpidato besok siang. Ia harus tampil segar.”

Isak menggeleng. “Bukankah hanya sesekali? Ayolah, kalian berdua sudah bekerja keras selama ini. Saatnya bersenang-senang.” Kata Isak lagi yang mendapat gelengan keras dari Changmin.

“Tidak. Jika besok kita minum lagi bersama, aku tidak keberatan. Tidak malam ini!”

“Wah.. sejak kapan Changmin berani menolak Isak seperti itu?” Donghae mendapati dirinyalah yang memecahkan keheningan antara ia dan Kyuhyun.

“Tidak.. Tidak.. Kau lupa aku sangat kuat dalam hal ini? Ayolah, ini wine kesukaan Kyuhyun. Semakin banyak meminumnya, aku semakin suka. Kerinduanku jadi lebih ringan.” Jawab Yunho dengan bangga. Ia sendiri lalu mengisi gelasnya dengan wine lalu meminumnya dengan sekali tenggak.

Lalu beberapa gadis muncul disana, mereka tampak bercakap-cakap sebentar lalu Isak pergi dengan para gadis itu ke tengah ruangan, dimana para gadis berkumpul. Saat itulah Changmin menampar keras kepala sahabatnya.

“Ya! Mengapa kau memukulku?” gerutu Yunho dengan kesal.

“Harusnya kulakukan sejak tadi, bodoh! Berhenti minum! Aku tidak mau kau mabuk.” Jawab Changmin tak kalah kesalnya.

“Ayolah, kau tahu wine ini enak sekali. Isak benar, kita perlu bersenang-senang sesekali.”

“Kyuhyun tidak akan suka jika melihat hal ini.” ujar Changmin lagi.

“Aku rasa ia tidak akan keberatan. Aku tidak apa-apa. Kau bisa melihatnya bukan?”

“Tidak jika kau mabuk bersama gadis lain. Melihat Isak menggandengmu saja akan membuatnya tersiksa, bagaimana jika ia tahu kau mabuk bersama mantan kekasihmu?”

Yunho terperangah. “Demi Tuhan, Changmin. Mana mungkin aku menghianati Kyuhyun? Kau tahu sendiri bagaimana perasaanku dengannya. Aku memang mencintai Isak, tapi itu dulu. Sekarang semua sudah berakhir, kami hanya rekan kerja. Kau tahu itu.”

“Tetap saja itu tidak membuatmu boleh mabuk bersamanya. Dengar, apapun yang terjadi, kau akan berhenti minum saat ini juga. Dan kita hanya kaan bertahan sampai setengah jam lagi.” Kata Changmin seolah keputusannya tidak akan dibantah.

“Apa kau takut aku akan kembali pada Isak dan menghianati Kyuhyun?” tanya Yunho seraya memicingkan matanya.

Changmin mengangguk jujur. “Kau hanya lelaki biasa. Segalanya bisa terjadi terutama ketika kita mabuk. Kau bisa melakukan hal yang tidak masuk akal sekalipun. Jadi sebelum kau menghancurkan dirimu sendiri, aku akan menghalanginya dengan segala cara.”

Yunho masih terus membujuk Changmin bahwa ia baik-baik saja dan Changmin masih saja bertahan dengan pendapatnya. Namun Kyuhyun sibuk memegangi kedua pipinya yang tengah memerah dengan hati berbunga-bunga. Ia bahkan mengabaikan perutnya yang meraung kesal meminta makanan.

*

            “Ya, Donghae-ssi, jangan mendorongku.” Gerutu Lee Dongwook dengan kesal.

“Siapa suruh tubuhmu terlalu tinggi? Aku tidak bisa melihat. Ya! Minggir!” bisik Donghae keras. Usahanya mendorong tubuh dokter kandungan Kyuhyun itu sepertinya tidak membuahkan hasil.

Ia juga ingin melihat Yunho berpidato menggunakan bahasa Inggris. Selama ini Donghae selalu menganggap bahwa pidato-nya jauh lebih bagus daripada Yunho, kesempatan untuk membuktikannya tidak hanya ingin ia dengar melalui pengeras suara, ia juga ingin melihatnya secara langsung.

Namun tempatnya bersembunyi bersama Kyuhyun dan Lee Dongwook saat ini tidak memungkinkan mereka untuk melakukannya. Ketiganya bersembunyi di belakang sebatang pohon besar, yang ternyata hanya bisa menyembunyikan dua tubuh jika berdiri secara berdampingan. Karena Kyuhyun adalah si pemimpin misi, maka ia mendapat tempat di sebelah kanan, jadi ia bisa dengan puas memandangi suaminya yang kini tengah berdiri dengan gagah di podium, berpidato mewakili teman-teman angkatannya.

Sementara Lee Dongwook mengambil tempat di sebelah kiri, hanya karena ia lebih dulu menemukan pohon itu.

“Ssstttt..! Kalian ini berisik sekali. Aku sulit mendengar kata-kata Yunho hyung.” bisik Kyuhyun memperingatkan.

“Wah, dia benar-benar pandai berbicara. Kata-katanya mengandung arti yang..”

“Aku tidak peduli artinya, aku hanya ingin mendengar suaranya.” Bantah Kyuhyun memotong kata-kata dokternya.

Tepat setelah Kyuhyun berbicara, ratusan suara tepuk tangan membahana di udara, tanda Yunho telah selesai melaksanakan tugasnya. Kini ia turun dari podium lalu mulai menyalami satu persatu dekan, dosen, juga mahasiswa lain yang berdiri menunggu giliran bicara.

“Ya! Lihat dia telah selesai bicara! Ini karena kalian berdua!” Bentak Kyuhyun kesal.

Dongwook dan Donghae sibuk saling menyalahkan setelahnya, membuat Kyuhyun semakin kesal dibuatnya. Bahkan semakin lama keduanya semakin berisik.

“Ahhh.. Perutku..” jerit Kyuhyun tiba-tiba.

Donghae dan Dongwook terkesiap sesaat lalu menoleh ke arah Kyuhyun bersamaan. “Kyuhyunnie, gwenchana?” tanya keduanya secara bersamaan pula.

“Mana yang sakit?” tanya Donghae dengan nada khawatir.

“Apa yang kau rasakan? Perutmu terasa kram atau nyeri?” tanya Dongwook dengan kekhawatiran yang sama.

Kyuhyun segera merubah ekspresi kesakitannya dengan senyum lebar. “Aku tidak apa-apa. Itu hanya taktik untuk membuat kalian berhenti bertengkar. Aku pusing sekali mendengar kata-kata kalian. Kalau kalian masih bertengkar setelah ini, aku akan berlari ke tengah lapangan biar semua orang melihatku. Biar saja aku menjadi buah bibir setelah itu. dan aku tidak peduli jika aku mempermalukan Yunho hyung di depan koleganya.”

Kedua lelaki itu mau tidak mau menuruti kata-kata Kyuhyun karena mereka tahu terkadang Kyuhyun bisa menjadi sangat nekad.

Setelah itu mereka kembali mengamati Yunho dalam diam. Tampak Yunho, Changmin dan Isak tengah berfoto bersama dengan beberapa teman. Kemudian mereka mulai makan siang sambil bercanda.

“Tampaknya segalanya baik-baik saja.” Kata Dongwook. Kelegaan terdengar dalam suaranya.

“Aku setuju.” Donghae menambahkan. “Kau lihat? Tampaknya Changmin memang teman yang baik.”

Kyuhyun mengangguk setuju. “Dan acaranya mungkin sebentar lagi akan selesai. Ah, aku lega sekali. Besok Yunho hyung akan kembali ke Seoul begitu juga kita. Aku benar-benar lega sekarang.”

“Nah, bagaimana kalau kita makan siang sekarang? Sedaritadi kita hanya memandangi orang-orang itu makan siang dengan lahap.” Kata Donghae seraya memegangi perutnya.

“Baiklah. Jung junior juga sudah sangat lapar.” Kyuhyun ikut mengelus perutnya yang sudah sangat besar sekarang.

“Nah, ayo kita kembali ke hotel. Kyuhyun harus beristirahat. Kita pesan saja dari room service di hotel.” Dongwook memutuskan.

Mereka kemudian beranjak dari sana. Namun ketika Kyuhyun akan melangkah, kakinya tersandung akar pohon besar. Tubuhnya melayang perlahan.

“Kyuhyunnie..!” jerit Donghae keras. Sebelum ia sempat bergerak, Dongwook sudah lebih dulu muncul di depan Kyuhyun dan memeluk lelaki itu, memperkokoh kuda-kudanya agar ia dan Kyuhyun tidak terjatuh.

“Donghae-ssi, bantu aku.” Kata Dongwook yang nyaris kehabisan nafas menahan tubuh Kyuhyun.

Donghae bergerak, ia menarik Kyuhyun perlahan. Namun Kyuhyun tidak bergerak. Tubuhnya justru sangat lemah. Wajahnya pucat. Matanya terpejam.

“Kyuhyunnie?” panggil Donghae dengan nada ketakutan.

Kyuhyun pingsan.

Dan saat itulah Jung Yunho melihat mereka dari kejauhan. Dengan mata terbelalak lebar, jantung berdegup kencang, dan aliran darah yang seolah berhenti mengalir, ia memandang horor ke arah ketiga lelaki yang dikenalnya. Salah satunya adalah lelaki yang teramat dicintainya. Lelaki dengan perut membuncit itu tampak jatuh pingsan dan Donghae yang tampak ketakutan berusaha keras membangunkannya dengan raut ketakutan tergambar jelas di wajahnya.

Detik berikutnya Jung Yunho sudah berlari kencang kesana.

*

            Yunho tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir di depan salah satu kamar VIP di sebuah rumah sakit. Kecemasan terukir di wajah tampannya. Donghae berdiri gelisah di depan pintu, sementara Isak duduk di samping Changmin di bangku terdekat. Keduanya juga tampak cemas.

Tak lama kemudian Lee Dongwook keluar dari kamar tempat Kyuhyun di rawat itu. Yunho dan Donghae segera menyambutnya.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Yunho cepat. “Apa aku sudah boleh masuk?”

“Ia baik-baik saja. Kondisinya hanya terlalu lemah. Ia sangat lelah dan.. kelaparan.” Jawab Dongwook dengan nada minta maaf.

“Sudah kukatakan bahwa ia harus makan lebih banyak ketika makan pagi tadi. Ia benar-benar keras kepala.” Kata Donghae. Setengah cemas terdengar di nada suaranya, namun setengah lagi terdengar lega karena Kyuhyun baik-baik saja.

“Kalian belum boleh menjenguknya. Dokter masih melakukan beberapa tes di dalam. Tunggulah disini.” Kata Lee Dongwook lagi.

“Bisakah kalian jelaskan sekarang mengapa kalian menyetujui keberangkatannya?” tanya Yunho setelah mereka menunggu selama sepuluh menit tapi dokter belum juga keluar dari kamar Kyuhyun.

“Sudah kukatakan berulang kali, kau mengenalnya, ia sangat keras kepala. Jika kami tidak mengantarnya, ia akan pergi sendiri.” Jawab Lee Dongwook.

“Ini salahku.” Kata Donghae lemah. “Seharusnya aku menahannya lebih keras lagi, dengan segala cara jika perlu. Aku terlalu lemah padanya, aku tidak bisa melihatnya memohon seperti itu jadi.. Tolong maafkan aku.”

“Kurasa tidak ada yang perlu dimaafkan. Kyuhyun hanya terlalu khawatir jika Yunho jauh darinya, maka ia mengambil keputusan seperti ini.” Isak lah yang menjawab. Ia berdiri dari duduknya lalu mendekati Donghae dan Yunho.

Yunho menghela nafas berat. Ia tidak bisa menyalahkan Donghae. Ia yakin Donghae pasti sudah berusaha keras melarang Kyuhyun. Ia bahkan seharusnya berterima kasih karena Donghae mau menemani Kyuhyun. Ia tidak bisa membayangkan kalau Kyuhyun datang sendirian dengan kondisi hamil tua seperti saat ini.

“Kurasa akulah yang harus disalahkan. Seharusnya aku tidak pergi. Terima kasih Hae, dokter Lee, maaf kalau Kyuhyun sempat merepotkan kalian.” Yunho meminta maaf dengan tulus.

“Kurasa saat ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Kita harus berdoa semoga Kyuhyun cepat sadar dan kita bisa membawanya pulang.” Sela Changmin yang kini ikut mendekati lingkaran kecil itu.

“Anda benar.” Kata Lee Dongwook setuju. Tepat setelah itu, seorang lelaki setengah baya bersama seorang perawat dengan rambut cokelat gelap muncul dari dalam kamar Kyuhyun.

“Dokter, bagaimana keadaannya?” tanya Yunho segera setelah dokter itu menutup pintu di belakangnya.

Dokter itu menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya. “Ia adalah lelaki yang kuat sekaligus lemah. Ia jatuh pingsan karena kelaparan, bukan karena sesuatu yang buruk terjadi pada janinnya. Dan ia kelelahan, tampaknya ia terlalu lama berdiri. Yang jelas, ia dan bayinya baik-baik saja. Kalian boleh menengoknya.”

Setelah mengucapkan terima kasih, kelima orang itu segera memasuki kamar rawat Kyuhyun. Sang lelaki manja itu tampak tersenyum ketika melihat lelaki tampan yang memimpin rombongan kecil itu.

“Kyuhyunnie..” Yunho mendekati ranjang Kyuhyun lalu duduk di kursi yang disediakan di samping ranjang. Keempat orang lainnya berdiri mengelilingi ranjang Kyuhyun.

“Hyung.. Aku merindukanmu..” rajuk Kyuhyun seraya mengerucutkan bibirnya.

Yunho meraih jemari Kyuhyun lalu membawanya ke bibirnya sendiri, mengecupnya dengan lembut.

“Baby.. Kenapa kau menyusulku kemari? Bukankah sudah kukatakan jangan khawatir? Kau nyaris membuatku mati. Kalau saja terjadi sesuatu yang buruk padamu, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.”

“Maafkan aku, hyung.. Aku hanya.. Aku bersikap kekanakan. Aku benar-benar tidak ingin terpisah denganmu saat ini..” balas Kyuhyun lirih.

Yunho kembali mengecup jemari lentik itu. “Hey.. Kau tidak bersalah sama sekali, jadi untuk apa minta maaf? Aku lah yang bersalah dalam hal ini. tidak seharusnya aku meninggalkanmu. Aku lega sekali mendengar kau dan bayi kita baik-baik saja..”

“Kau meragukan kemampuanku, hyung?” Cibir Kyuhyun. “Sampai kapanpun aku akan menjaga bayi kita. Tidak akan kubiarkan ia tersakiti.”

Yunho mengacak rambut Kyuhyun dengan sayang tanpa menjawab. Ia tahu benar bahwa walaupun Kyuhyun terlihat lemah, ia adalah lelaki yang kuat. Walaupun sangat kekanakan.

“Kyuhyun-ah, kau tadi membuatku sangat cemas. Untung saja ada dokter Lee, kalau tidak aku akan gila di sana. Selain aku panik, kau ternyata berat sekali.” Kata Donghae dengan nada polos, membuat semua yang ada disana termasuk Yunho sekalipun menahan tawanya.

“Ya! Hyung! Aku membawa anak lelaki di dalam perutku, tentu saja aku berat.” Kata Kyuhyun sedikit tersinggung. Tapi kemudian ia tersenyum. “Tapi aku senang kaulah yang ada disana bersamaku hyung. Aku tahu, aku pasti akan baik-baik saja kalau aku bersamamu.”

“Bukankah aku juga ada disana?” Lee Dongwook pura-pura tersinggung kini.

“Bukankah sudah tugasmu untuk menjagaku, dokter? Untuk itulah kau kubawa serta bukan?” balas Kyuhyun dengan pedas.

“Jadi, kau sudah berhari-hari di sini? Dan kau hanya membuntuti kami kemana-mana?” tanya Changmin dengan nada geli.

Kyuhyun mengangguk. “Sudah kukatakan, aku hanya khawatir pada Yunho hyung. Lagipula aku senang bisa jalan-jalan kemari.”

“Tapi bukankah itu justru membuatmu jadi seperti ini? Kau justru terbaring di rumah sakit, merepotkan sahabat dan doktermu serta membuat khawatir suamimu sendiri.” Ujar Isak.

Kyuhyun sudah membuka mulutnya untuk membalas ketika Changmin memotong cepat. “Aku sudah lapar lagi, bagaimana kalau kita makan siang lagi? Dan bukankah Kyuhyun harus makan? Ia pingsan karena kelaparan, bukan?”

*

            Beberapa hari kemudian rombongan itu pulang ke Seoul. Mereka pun kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa. Yunho, Changmin dan Isak bekerja dibuntuti oleh Donghae dan Tesa sementara Kyuhyun sibuk menghabiskan waktunya berbelanja, menonton drama atau pun bermain game ditemani Ryeowook.

Terkadang ia malah mengunjungi Lee Dongwook yang kini telah menjadi sahabat keluarga Jung sejak mereka terlibat dalam petualangan mengikuti Yunho ke Amerika.

Hari demi hari berlalu, usia kandungan Kyuhyun kini telah memasuki bulan kesembilan. Sebentar lagi ia akan segera melahirkan putra pertamanya bersama Yunho. Dan seperti setiap makhluk hidup yang tengah hamil, Kyuhyun menggembung seperti balon.

Awalnya Kyuhyun sempat malu dengan keadaannya dan menolak keluar dari rumah. Tapi Yunho justru membawanya kemana-mana, membanggakannya kepada siapa saja bahwa ia punya istri yang lucu dan menggemaskan.

“Mengapa kau justru membanggakanku kepada siapa saja, hyung? Kau bisa malu memiliki pasangan gendut seperti aku.” Rajuk Kyuhyun suatu hari.

“Aku tidak malu. Sama sekali tidak.” Elak Yunho. “Aku justru sangat senang karena kau terlihat sangat sehat.”

“Tapi aku gemuk, hyung.. Aku tidak seperti dulu.” Kembali Kyuhyun merajuk.

“Kata siapa? Kau selalu seksi di mataku.”

Kyuhyun mencibir. “Tidak ada orang yang berukuran sebesar balon yang seksi, hyung. Jangan mencoba menggombaliku.”

“Ada. Kau. Dan aku tidak menggombal. Kau akan selalu seksi di mataku, sampai kapanpun.” Balas Yunho dengan sungguh-sungguh, membuat Kyuhyun langsung menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik bantal.

Bukan sekali itu saja, Kyuhyun semakin hari semakin banyak mengeluh. Jika bukan mengenai berat badannya, ia juga mengeluhkan kakinya yang membengkak, beberapa makanan atau minuman yang terasa aneh di mulutnya, bahkan mengeluhkan betapa membosankannya acara di televisi. Semua hal tak luput dari cecarannya.

Terkadang Ryeowook terkena omelan pedas hanya karena masakannya terasa aneh. Kali lain Changmin yang menerimanya karena ia terlambat menjemput Kyuhyun di rumah, saat itu Yunho meminta Changmin untuk menjemput istrinya karena ia sendiri tengah bertemu klien penting .

Terkadang justru Lee Dongwook yang terkena omelannya hanya karena banyak pasien Dongwook yang mengantri sedangkan Kyuhyun mendapatkan nomor antrian kesekian yang megharuskannya menunggu lama.

Tesa pernah diomeli habis-habisan karena terlambat membeli makanan untuk Kyuhyun ketika ia harus menunggu Yunho selesai bekerja di meeting room. Dan Donghae yang malang adalah orang yang paling sering mendengar keluhan Kyuhyun. Ia beberapa kali disalahkan karena kedua telapak kaki Kyuhyun kini terlihat bagai sepasang kaki gajah. Ia juga dipersalahkan mengapa Kyuhyun jadi segemuk sekarang.

Jangan bilang Yunho ‘selamat’ dari ‘amukan’ sang istri. Ia mungkin tidak dicerca, dimaki, dipersalahkan ataupun diomeli mengenai hal-hal kecil. Namun ia selalu harus mendengar Kyuhyun mengeluh ini dan itu. Membuatnya harus selalu menenangkan istrinya yang kekanankan itu. belum lagi permintaan Kyuhyun yang makin hari semakin menjadi-jadi.

Pernah sekali, di tengah malam yang panas itu, Kyuhyun minta dibelikan susu kedelai murni yang dingin. Mendapatkannya bukan hal sulit seharusnya karena Yunho bisa membelinya di mini market 24 jam, andai saja Kyuhyun tidak meminta susu murni.

Yunho pun harus mencarinya ke pinggiran kota dan harus meminta maaf berkali-kali karena harus membangunkan si penjual di tengah malam buta itu. Setelah itu ia membawakan susu kedelai itu dengan bangga kepada istrinya.

“Minumlah duluan, hyung.” perintah Kyuhyun.

“Tapi.. Tapi kau tahu aku tidak menyukai susu kedelai.” Tolak Yunho sehalus mungkin.

Kyuhyun menggeleng. “Bagaimana kalau terjadi sesuatu denganku setelah minum itu hyung? Apa kau tega? Bagaimana dengan bayi kita nanti? Kau harus meminumnya terlebih dahulu hyung.”

Yunho menghembuskan nafas berat. “Baiklah.” Katanya pasrah. Ia lalu meminum susu itu segelas. Tapi karena ia memang tidak menyukai susu kedelai, maka setelah minum ia mengeluarkan lidahnya tanda muak dan nyaris muntah.

Susu kedelai adalah minuman yang paling dihindari Yunho. Ia benci susu itu sejak ia kecil. Oleh karena itu ia tidak pernah sekalipun menyentuh minuman itu. Tapi malam ini, karena Kyuhyun yang memintanya. Maka mau tidak mau ia menurutinya demi menyenangkan istrinya.

“Bagaimana rasanya hyung?” tanya Kyuhyun.

Yunho yang hendak muntah karena mual yang menguasai seisi mulut dan perutnya menjawab dengan jujur. “Tidak enak. Ini minumlah.”

Kyuhyun menggeleng. “Kalau kau saja yang tidak hamil mengatakan bahwa susu itu tidak enak, bagaimana mungkin aku akan menyukainya, hyung? Tidak. Aku mau tidur saja.”

Dengan santai Kyuhyun lalu berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Yunho yang nyaris pingsan dengan sebotol susu kedelai di tangannya.

*

            “Hyung.. tolong aku.. Sakit sekali..”

            Kyuhyun memohon dengan wajah pucat. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya. Matanya merah menahan tangis dan perih yang ia rasakan. Salah satu tangannya yang bergetar memeluk perut besarnya.

            “Hyung.. Jebal.. Tolong aku..”

            Kini suara Kyuhyun yang lemah dan bergetar terdengar semakin menyayat hati. Yunho mengulurkan tangannya sekuat tenaga tapi ia tidak juga bisa meraih pujaan hatinya itu.

“Kyuhyunnie..!!!”

Yunho tersentak lalu bangun dari tidurnya. Keringat deras mengalir dari dahinya. Ia mengatur nafasnya yang terengah akibat mimpi buruk tadi. Ia lalu menoleh ke sampingnya, tapi Kyuhyun tidak ada di sana.

Matanya mencari liar ke sekeliling ruangan yang gelap. Tapi ia tidak mendapati Kyuhyun dimana-mana. Dengan cepat ia menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurnya, kembali matanya mencari tapi kembali ia tidak mendapati sosok Kyuhyun dimana-mana.

Apa ia ada di kamar mandi?’ pikir Yunho.

Yunho akan turun dari ranjang ketika dilihatnya sebuah tangan pucat mencengkram ujung seprai tempat tidurnya. Tangan itu milik Kyuhyun. Secepat kilat Yunho turun dari tempat tidur dan menghampiri Kyuhyun.

“Hyung.. tolong aku.. Sakit sekali..”

Istrinya itu kini tengah berada di bawah tempat tidur. Keringat mengalir deras di sekujur tubuhnya. Matanya merah menahan tangis dan perih yang ia rasakan. Salah satu tangannya yang bergetar memeluk perut besarnya. Persis seperti mimpi yang baru saja Yunho alami.

“Hyung.. Jebal.. Tolong aku..”

“Kyuhyunnie.. Ada apa? Mengapa kau seperti ini? Mana yang sakit baby?” tanya Yunho cemas. Jantungnya nyaris berhenti bekerja melihat lelaki yang dicintainya itu kesakitan di hadapannya.

“Perutku.. Hyung.. Kurasa.. Aku.. Akan.. Melahirkan..”

*

YunKyu Mpreg

To Be Continued..

Obsession – Chapter 5

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, HaeKyu, JoonKyu, ChangKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 5

The Coffee Prince

Aku suka melihatmu tersenyum, aku jadi lupa sejenak dengan semua masalahku..

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang akan selalu membuat hati Kyuhyun hangat.

Kupikir, kau tidak boleh terlalu sering melakukan ekspresi wajah seperti itu. Para lelaki di luar sana akan menculikmu dariku..”

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang selalu membuat Kyuhyun tersipu malu.

Bagaimana kalau kita berjanji untuk bersama selamanya?”

Dan itu adalah kata-kata Yoon Doojoon yang langsung membuatnya mengerti bahwa lelaki itu adalah lelaki terbaik untuknya.

Setelah mereka akhirnya melewati empat tahun penuh perjuangan, meyakinkan ibu Doojoon bahwa mereka layak bersatu serta keduanya lulus dengan nilai sempurna dari kampus, membuat jalan untuk mereka tetap bersama semakin terbuka lebar.

Tapi itu dulu.. Tepatnya setahun yang lalu. Seminggu setelah mereka lulus kuliah, prahara itu datang.

Saat itu Kyuhyun menangis. Choi Minho hanya bisa memeluknya, memberi kekuatan agar sahabatnya bisa tetap tegar. Karena Kyuhyun menangis tanpa suara, membuat siapa saja mengerti bahwa apa yang dirasakannya saat ini pastilah sangat berat.

“Kyuhyunnie.. Tenanglah..”

Taecyeon yang juga ada disana membelai rambut caramel lelaki itu. “Menangislah..” katanya yang berlawanan dengan saran Minho. “Menangislah sampai puas, hingga kau lelah dan tak ingin menangis lagi. Setelah itu bangkitlah lagi menjadi Kyuhyun yang dulu.”

Setelah hampir tiga puluh menit airmata Kyuhyun tidak juga berhenti mengalir, Minho dan Taecyeon memutuskan untuk keluar dari kamar Kyuhyun dan memberinya waktu untuk sendiri.

“Aku tidak menyangka mereka akan menikah secepat ini. Maksudku..”

“Sudah saatnya.” Kata Taecyeon memotong perkataan Minho. “Mereka sudah lama bersama, sudah saatnya mereka meresmikan hubungan mereka. Jujur, aku enggan sekali memberikan undangan ini kepada Kyuhyun, tapi.. Ara sendiri yang memintaku menyampaikannya.”

“Kami juga mendapatkan undangannya dari Changmin hyung. Tapi.. aku menyembunyikannya hingga saat yang tepat, aku takut Kyuhyun akan terluka jika tahu Yunho hyung dan Ara noona akan menikah.” Jelas Minho.

“Maaf kalau aku mengacau. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau sudah punya rencana.” Taecyeon meminta maaf dengan tulus.

“Tidak apa-apa hyung. Kurasa, Kyuhyun memang harus tahu. Dan lagi, ia tidak boleh seperti ini. Ia sudah punya kekasih. Tidak pantas masih menyimpan rasa untuk cinta pertamanya ketika ia sudah punya kekasih, bukan? Dan lagi, hubungan mereka sudah berjalan empat tahun.” Minho menjawab seraya menghela nafas berat.

“Jangan salahkan dia seperti itu. Aku yakin dia ingin membuang rasa cintanya pada Yunho tapi ia tidak bisa. Sebagai sahabat, sudah sebaiknya kita membantunya.”

Minho mengangguk. “Aku akan terus membantunya melupakan perasaannya pada Yunho hyung. Aku kasihan pada Doojoon, kalau saja ia tahu, ia pasti akan sangat terluka.”

Tanpa mereka sadari, Yoon Doojoon ada disana, bersembunyi di balik tembok, mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka seraya menahan sakit yang menghantam telak di dadanya.

*

            “Aku mencintaimu..”

“Aku lebih mencintaimu.. Tapi aku tahu aku tidak akan pernah memilikimu selamanya.”

“Biarkan aku memperbaiki kesalahanku.”

“Tidak ada yang perlu kau perbaiki, karena kau tidak bersalah sama sekali. Jangan menangis Kyuhyunnie.. Jebal..”

“Jangan tinggalkan aku..”

“Kita tidak bisa bersama jika setengah hatimu masih untuk lelaki lain. Maafkan aku..”

“Tidak, akulah yang harus minta maaf. Aku yang mengacaukan segalanya. Hukum saja aku, tapi jangan tinggalkan aku, jebal.. jebal..”

Yoon Doojoon memeluk tubuh Kyuhyun yang kini sudah berlutut di lantai, menangis dan memohon padanya. Ia membelai rambut Kyuhyun dengan penuh rasa sayang. “Kyuhyunnie.. Uljima.. Jujur aku sangat terluka.”

“Beri aku kesempatan sekali lagi.. Aku akan memperbaiki segalanya.”

“Empat tahun bukan waktu yang singkat. Aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan.”

“Sekali ini saja, jebal..”

Yoon Doojoon menutup matanya, menahan airmatanya yang hendak tumpah. Ia mencintai Kyuhyun. Tapi rasa sakit di hatinya tidak bisa pergi begitu saja ketika mengingat Kyuhyun mencintai orang lain selain dirinya. Bahkan Kyuhyun sudah membagi hatinya sejak pertama ia menjalin cinta dengan kekasih pertamanya, Changmin.

Doojoon ingin sekali memberi Kyuhyun kesempatan saat itu juga, tapi ia ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Kesempatan untuk bisa menerima kekurangan lelaki yang dicintainya, kesempatan untuk berdamai dengan hatinya juga kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

“Baiklah.. Aku memberimu kesempatan. Jalanilah hidupmu dengan baik. Teruslah melangkah maju. Jangan melihat kebelakang dan menyesali segalanya yang telah berlalu. Bukalah hatimu untuk cinta lain atau setidaknya, jangan lagi biarkan ada hati yang terluka karena cinta pertamamu. Jika suatu hari nanti kau sudah terlepas dengan belenggu itu, aku harap kita bisa bertemu lagi. Aku akan menunggu dan hanya akan menyerah ketika kudengar bahwa kau telah bahagia.”

Itu adalah kalimat terakhir yang di dengar oleh Kyuhyun dari bibir Yoon Doojoon. Setelah hari itu, Kyuhyun tidak pernah lagi melihatnya, mendengar suaranya atau bahkan mengetahui kabar tentang lelaki itu. Yoon Doojoon menghilang. Ia benar-benar keluar dari kehidupan Kyuhyun.

*

            “Maaf aku terlambat. Kau tahu, Minseok hyung sedang sakit jadi aku harus mengerjakan tugasnya. Nah, ceritakan padaku apa yang terjadi tadi.” kata Minho setelah duduk di depan Kyuhyun.

Sore itu mereka bertemu setelah jam kerja usai di sebuah cafe ternama di kawasan Myeongdong. Mereka suka berpindah-pindah tempat tapi ketika café ini dibuka beberapa bulan lalu, keduanya langsung jatuh cinta dan memutuskan tempat itu sebagai tempat favorite mereka. Apalagi mereka kenal dengan anak pemilik café itu.

“Kau masih ingat Jung Yonghwa? Teman kerjaku yang sangat pandai menggambar itu.” kata Kyuhyun memulai ceritanya.

Minho mengangguk. “Tentu saja. Ia berasal dari Busan kan? Ada apa dengannya?”

“Dia menyatakan cinta padaku siang tadi.”

Mata Minho membulat sempurna. “Mwo? Huaaa.. Kyuhyunnie, benarkah? Lalu apa jawabanmu?”

Kyuhyun melambaikan tangannya. “Tentu saja aku menolak. Kau tahu sendiri aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun.”

Minho menggangguk. Jung Yunho telah menikah dan Yoon Doojoon meninggalkannya, wajar kalau Kyuhyun masih sangat trauma untuk jatuh cinta ataupun menjalin hubungan lagi walaupun sudah setahun ia menyendiri. Ia baru saja bisa benar-benar tertawa lepas belakangan ini, belum saatnya mengganggunya dengan urusan asmara.

“Kyuhyun-ssi? Minho-ssi? Kalian datang lagi. Apa kabar?”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Seorang gadis cantik berdiri disana, melambai penuh semangat pada keduanya.

“Lee Yeonhee!” seru Kyuhyun tak kalah bersemangat.

Gadis jangkung dengan wajah innocent itu mendekat seraya tersenyum manis pada keduanya. Lee Yeonhee adalah anak pemilik café tempat mereka bersantai saat ini. Mereka bertemu gadis pemalu dan baik hati itu di pembukaan kantor cabang Minseok, bos Minho di kantor. Minseok jugalah yang mengenalkan mereka pada Lee Yeonhee. Sejak saat itu mereka sering bertemu, terlebih saat Kyuhyun tahu bahwa Minho menyukai Yeonhee walaupun gadis itu setahun lebih tua darinya. Dan Yeonhee melarang keras Kyuhyun dan Minho memanggilnya noona.

Choi Minho segera menegakkan punggungnya, mencari posisi duduk yang baik dan memamerkan seulas senyum yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut karenanya.

“Apa kalian sudah lama disini?” tanya Yeonhee ketika ia sudah berdiri di antara Minho dan Kyuhyun.

“Tidak juga, kira-kira baru sepuluh menit yang lalu kami tiba.” Jawab Kyuhyun.

“Oh.. Begitu..”

Kyuhyun melirik Minho yang hanya diam di depannya. Dengan satu tendangan kecil ke kaki Minho, Kyuhyun menyadarkan sahabatnya itu untuk setidaknya menyapa si pemilik café.

“Oh.. Kau.. Tampak cantik hari ini.” kata Minho terbata-bata.

Kyuhyun memutar bola matanya. Inilah Choi Minho, sahabat terdekatnya yang sangat tampan dan berkharisma. Tapi tidak bisa memilih kata-kata yang baik ketika berada di sekitar Yeonhee.

Tampak cantik hari ini? Bukankah setiap hari Yeonhee memang cantik?’ kata Kyuhyun dalam hati.

Lee Yeonhee tersipu mendegarnya. “Nah, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian.”

“Siapa?” tanya Kyuhyun dan Minho bersamaan namun mendapatkan isyarat untuk menunggu dari gadis itu. Ia lalu menghilang ke arah dapur dan baru kembali beberapa menit kemudian bersama seorang lelaki tampan. Lee Yeonhee menggandeng lelaki itu dengan mesra, membuat ekspresi wajah Minho berubah dari cerah menjadi muram.

“Oppa, kenalkan, ini adalah Cho Kyuhyun dan Choi Minho, pelanggan tetap kita. Ah, tidak, mereka bahkan masuk dalam kelas VIP.” Kata Lee Yeonhee memperkenalkan kedua sahabatnya pda lelaki tampan di sampingnya.

Lelaki itu tersenyum sopan. “Halo, aku Lee Donghae. Senang bertemu kalian. Jadi, kalian lah yang selalu diceritakan oleh Yeonhee?”

Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat. Kalau Yeonhee saja memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’, artinya lelaki itu lebih tua daripada mereka, bukan?

“Yeonhee-ssi terlalu berlebihan. Kami hanya datang saat senggang dan..”

“Dan kebetulan waktu senggang kami banyak.”

Yeonhee dan Donghae tertawa mendengar pengakuan polos Kyuhyun dan Minho.

“Kalian akan sering bertemu nantinya, karena Donghae oppa adalah barista baru di sini. Kalian harus mencoba kopinya, aku yakin kalian akan ketagihan. Dan ia jauh-jauh pindah kemari dari New Zealand hanya untuk membantuku.” Kata Yeonhee lagi, mempromosikan barista-nya.

“Wah.. New Zealand? Aku pernah melihatnya di internet. Disana indah sekali, terutama pada musim dingin. Benar-benar seperti pemandangan di kartu natal.” Kata Kyuhyun bersemangat.

“Benar. Dan kebetulan rumahku berada di pinggiran kota. Kau benar-benar bisa melihat apa yang kau katakan tadi.” kata Donghae dengan bangga.

“Dan aku akan menghabiskan liburan natal disana tahun ini. Oh, bulan desember hanya tinggal empat bulan lagi. Aku benar-benar tak sabar menunggu.” Lee Yeonhee tersenyum senang, mempererat pelukannya di lengan Donghae.

“Benarkah?” tanya Minho dengan nada janggal.

Kyuhyun melirik Minho tajam. ‘Lelaki bodoh ini bahkan tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya! Aku harus membantunya.

“Maaf, tapi.. apa kalian..”

“Berpacaran?” tebak Donghae langsung.

Kyuhyun mengangguk kecil, membuat Donghae dan Yeonhee meledak tertawa. Donghae langsung menggeleng sedangkan Yeonhee melambaikan tangannya.

“Ayah Yeonhee adalah pamanku. Jadi, gadis lucu ini adalah sepupuku.” Jelas Donghae.

Kyuhyun langsung bisa mendengar desahan lega di sampingnya.

*

            Tidak butuh waktu lama untuk Donghae masuk ke dalam lingkaran persahabatan Kyuhyun, Minho, dan Yeonhee. Lelaki itu sangat bersahaja. Ia mudah di dekati dan sangat percaya diri. Mereka berempat sering menghabiskan waktu senggang di café, di rumah Minho, atau di apartemen Yeonhee ketika gadis itu memasak untuk mereka.

Kyuhyun dan Minho bahkan sudah diajari cara membuat kopi yang enak, walapun mereka tidak bisa membuatnya di rumah karena tidak ada alat dan bahan yang mendukung. Jadi mereka hanya bisa membuatnya di apartemen Donghae, dimana semua mesin pembuat kopi beserta bahan-banhannya tersedia.

“Seoul benar-benar indah sekarang. Aku jarang sekali pulang sepuluh tahun ini.” Kata Donghae malam itu. Ia, Kyuhyun dan Minho sedang menikmati indahnya kota Seoul dari tingkat 14, tempat dimana apartemen Donghae berada. Masing-masing menggenggam mug besar berisi latte hangat.

“Mengapa kau meninggalkan Seoul dulu?” tanya Kyuhyun.

Donghae tersenyum. “Ayahku dipindah tugaskan ke New Zealand. Walau semua keluarga ada di Seoul, tapi kami jarang sekali pulang karena yah, ayahku cukup keras kepala dan ia tidak terlalu akur dengan keluarga kami, jadi.. Yah, kau bisa membaca situasinya kan?”

Kyuhyun mengerti. Itu adalah masalah pribadi. Ia tidak boleh bertanya lebih lanjut.

“Lalu, bagaimana dengan kalian?” Donghae mengalihkan pembicaraan. “Apa langkah selanjutnya yang ingin kalian capai dalam beberapa tahun?”

“Aku ingin membuka usaha sendiri. Setelah aku menabung cukup banyak, aku ingin membuka usaha lain. Jujur saja, aku benci jika harus bekerja di kantor setiap hari.” Jawab Kyuhyun.

“Pemikiran yang bagus. Kau tidak ingin menjadi karyawan, kau ingin menjadi bos.” Donghae menambahkan membuat Kyuhyun takjub.

“Bagaimana kau tahu, hyung? Wah.. Jangan-jangan kau bisa membaca pikiranku.”

Donghae menggeleng. “Bukan hanya pikiranmu, tetapi pikiran semua orang. Maksudku, aku bisa melihat ke dalam pikiranmu. Baik yang terbuka maupun yang ingin kau sembunyikan.”

Minho menyipitkan matanya. “Buktikan.”

“Baiklah. Bagaimana kalau aku memulai darimu?” tawar Donghae.

“Boleh saja.” Tantang Minho.

Donghae mengusap dagunya. Ia menatap Minho dalam-dalam lalu mulai membaca kenangan Minho. “Hm.. Choi Minho.. Menyayangi Kyuhyun melebihi siapapun.. Cukup populer di kalangan para gadis tapi hanya beberapa kali pacaran dan tidak ada yang serius.. Bekerja dengan baik dan merupakan salah satu kesayangan atasannya..”

Kembali Minho menyipitkan matanya. “Kau pasti memata-mataiku, hyung. Iya kan?”

Donghae tertawa. “Untuk apa? Lagipula kita belum lama kenal. Bagaimana mungkin aku memata-mataimu?”

“Lalu bagaimana kau tahu?”

“Sudah kukatakan aku membaca pikiranmu. Aku bisa melihat ke dalam kenanganmu.” Jelas Donghae lagi.

Tapi Minho tetap tidak percaya. Atau lebih tepatnya menolak untuk percaya karena ia tahu apa yang dikatakan Donghae tadi memang benar.

“Baiklah, aku akan membaca yang lebih spesifik.” Kata Donghae yang langsung diikuti anggukan setuju dari Minho.

“Kau diputuskan kekasih pertamamu karena kau tidak siap menciumnya pada hari ulang tahunnya padahal ia sangat berharap untuk itu.”

Minho terkesiap. ‘Bagaimana ia tahu hal ini?’

“Lalu kau pernah berkelahi dengan temanmu semasa kuliah hanya karena ia memutuskan mantan kekasihmu di depan orang banyak. Semua orang menganggapmu pahlawan saat itu, tapi tidak ada yang tahu bahwa kau melakukannya bukan karena kasihan pada mantan kekasihmu melainkan ingin menunjukkan bahwa kau jauh lebih kuat daripada lelaki itu.”

Kyuhyun menutup mulutnya. ‘Hanya aku yang tahu motif Minho yang sebenarnya saat itu.

“Dan saat ini, kau menyukai.. Sepupuku.”

Wajah Minho memerah seketika. Rahasia terbesarnya terbongkar sudah.

“Kau menyukainya kan? Mengaku saja.”

Semua yang dikatakan Donghae memang benar. Mungkin Donghae hanya memaparkan secara garis besar, tapi Kyuhyun yakin Donghae menutupinya atau lebih tepatnya menghargai privasi Minho.

“Baiklah, aku mengaku. Tapi kumohon jangan katakan hal ini pada Yeonhee.”

“Tenang saja. Itu adalah urusan kalian berdua. Aku tidak akan ikut campur. Tapi kulihat kau adalah lelaki yang baik. Jadi aku akan memberimu dukunganku.” Kata Donghae seraya mengancungkan jempolnya.

“Apa Yeonhee-ssi juga suka pada Minho?” tanya Kyuhyun.

Donghae menggeleng. “Aku tidak akan memberitahukan apa-apa kepada kalian. Jika Minho menyukai Yeonhee, sudah seharusnya ia mencari tahu perasaan Yeonhee padanya, bukan?”

Kyuhyun dan Minho mengangguk bersamaan.

“Nah, bagaimana kalau sekarang aku membaca Kyuhyun?” tawar Donghae.

“Aku ingin pulang sekarang!” kata Kyuhyun seraya berdiri dari duduknya dan menghindari tatapan Donghae.

*

            Lee Donghae. Sosok tampan itu benar-benar membantu Kyuhyun untuk menjadi dirinya sendiri. Tepat seperti yang selalu Minho inginkan. Cho Kyuhyun yang dulu. Yang ia kenal sejak kecil. Donghae tidak pernah menanyakan apapun mengenai masa lalu Kyuhyun. Ia seperti tidak peduli sama sekali selama hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Walaupun Kyuhyun tahu bahwa Donghae pasti sudah melihat segalanya dari pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun banyak belajar dari Donghae tentang banyak hal. Donghae selalu memberinya saran dan pendapat mengenai pekerjaan kantor maupun masalah-masalah kecil yang menimpa Kyuhyun. Bahkan tentang para lelaki yang menyukai Kyuhyun sekalipun. Ia akan memberi pandangan mengenai baik dan buruknya lelaki ini di matanya.

“Siwan sangat tampan kan hyung? Menurutmu bagaimana?” tanya Kyuhyun suatu hari.

“Aku setuju. Dia juga tipe lelaki setia dan baik hati. Kau tidak akan pernah menyesal. Tapi.. Dia adalah seorang biseks. Dengan latar belakang keluarganya yang sangat terkenal, dia pastinya akan menikahi seorang gadis nantinya. Kau hanya akan sakit hati.” Jawab Donghae ketika mereka baru saja pulang dari pertemuan dengan Siwan.

Di lain kesempatan ada lelaki lain yang mendekati Kyuhyun.

“Ayolah, Dongwoon ini orang yang tepat untukmu. Kenapa kau menolaknya? Andai saja kau bisa melihat ke dalam kepalanya seperti aku, kau akan tahu betapa baiknya dia.”

Kyuhyun menggeleng. “Hubungan itu butuh chemistry. Dan aku tidak menemukannya diantara kami.”

Terkadang Kyuhyun dengan iseng mengajak Donghae ke beberapa rumah teman baiknya, hanya untuk melihat apakah orang tersebut memang seperti dugaannya.

“Kedua orang itu saling menyelingkuhi pacar mereka masing-masing.” Jawab Donghae ketika Kyuhyun menayakan perihal hubungan Kibum dengan Yoona.

Ekspresi mual langsung tergambar di wajah Kyuhyun. “Sudah bisa kutebak sejak awal. Hanya saja aku tidak yakin.”

Seperti itulah mereka. Terlebih sejak Minho dan Yeonhee sudah resmi menjadi sepasang kekasih, keduanya bagai pria-pria kesepian yang saling mencari hanya untuk makan malam atau sejenak bertemu untuk mengobrol.

Keduanya benar-benar berhubungan baik, tanpa ada ikatan atau cinta. Kyuhyun mendapati dirinya merasa sangat nyaman berada di samping Donghae. Seperti seorang kakak lelaki yang selama ini tidak pernah dimilikinya dan seorang sahabat baru yang benar-benar menyenangkan. Walaupun Donghae sama sekali tidak jahil seperti dirinya dan Minho, tapi ia selalu mendukung Kyuhyun. Membiarkannya melakukan kenakalannya tapi membelanya ketika Kyuhyun ketahuan.

“Kau tahu hyung.. Kau adalah hyung terbaik di dunia. Dan aku sangat bangga karena memilikimu.” Kata Kyuhyun seraya memberikan pelukan hangatnya pada Donghae ketika lelaki itu memberinya tiket untuk ikut berlibur di New Zealand bersamanya.

*

            “Ya! Kyuhyunnie, berhenti. Beri aku kesempatan untuk membalasmu!” jerit Minho yang tengah kewalahan menghadapi serangan bola es dari Kyuhyun.

“Tidak akan!”

Kyuhyun terus menyerang Minho, membuat lelaki itu berlutut minta ampun pada sahabatnya. Diikuti tawa kemenangan, Kyuhyun menghentikan serangannya.

“Ayo kembali ke dalam. Aku nyaris membeku disini.” Kata Kyuhyun setelah membantu Minho membersihkan diri dari serpihan es di tubuh dan rambutnya.

“Kau bilang nyaris membeku tapi tidak berhenti menyerangku.” Gerutu Minho seraya ikut berjalan di samping sahabatnya.

“Justru aku melakukannya untuk menghangatkan tubuhku, tetap bergerak disamping ingin membalasmu karena kau menjahiliku di pesawat semalam.” Balas Kyuhyun sambil memeletkan lidahnya.

Mereka melewati sore yang indah itu di New Zealand. Bersama Yeonhee dan Donghae, keduanya berlibur ke tempat dimana Donghae menghabiskan masa remaja hingga menuju dewasa itu.

Kyuhyun dan Minho harus meminta ijin selama sebulan sebelum keberangkatan mereka mengingat kedua orang tua mereka terlalu ketat menjaga keduanya walaupun umur mereka sudah nyaris seperempat abad. Minho bahkan harus mengeluarkan banyak uang untuk membelikan berbagai macam hadiah untuk ibunya.

Sedangkan Kyuhyun tinggal menunggu jawaban dari ibu Minho. Karena ia tidak akan diperbolehkan bepergian terlalu jauh apalagi sampai menyebrangi benua jika Minho tidak bersamanya.

“Bagaimana mungkin kalian merayakan malam natal tanpa keluarga?” tanya ayah Kyuhyun hari itu.

“Bukankah hanya sekali ini? Aku selalu merayakan malam natal bersama keluarga selama 23 tahun. Sekali ini saja, appa, ijinkanlah aku pergi. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mendapat tiket gratis dan aku akan tinggal di rumah teman selama di sana. Lagipula Minho bersamaku.” Rajuk Kyuhyun dengan wajah memelasnya yang khas.

“Ini bukan soal uang. Tapi soal keselamatanmu sendiri. Tidak, keselamatan kalian. Kalian senang sekali mengacau dimana-mana, bagaimana appa tahu kalau kau dan Minho tidak membuat masalah lalu membuat temanmu repot dan kalian dikirim ke kedutaan untuk di deportasi?”

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas. Awal ia meminta ijin seperti itu. maka dengan giat ia terus meminta ijin setiap hari hingga ayahnya bosan dan akhirnya merelakannya pergi dengan catatan jika ia membuat masalah, ayahnya sendiri yang akan menjemputnya dan mengurungnya di basement rumah mereka seumur hidup.

Maka berangkatlah mereka. Seperti yang Kyuhyun lihat di internet, New Zealand memang luar biasa indah. Tidak mungkin lebih tepatnya cantik atau bahkan sangat cantik melebihi gambar yang ia lihat sebelumnya.

Karena Donghae tinggal di pinggiran kota, maka mereka menempati daerah pedesaan yang cantik. Di musim bersalju seperti itu saja sudah sangat cantik, bagaimana jika di musim semi nanti? Kyuhyun bahkan yakin sebenarnya disanalah tempat tinggal Santa Claus yang sebenarnya, membuat Minho mengejeknya seharian karena dianggap tidak pernah membaca dongeng natal.

Rumah Donghae tidaklah sebesar rumah Kyuhyun di Seoul. Maklum saja, sebelumnya Donghae hanya tinggal berdua dengan ayahnya di sana. Namun rumah kecil itu benar-benar nyaman dan hangat. Bahkan mereka punya perapian. Membuat Kyuhyun dan Minho yang memang hidup di dunia modern Seoul dan tidak pernah melihat perapian secara langsung, terlonjak girang. Mereka bahkan beberapa kali bertengkar karena sibuk berlomba memasukkan kayu bakar ke dalam tungku ketika waktunya tiba.

“Kalian cepatlah masuk, Yeonhee sudah memasak.” Kata Donghae. kepala lelaki itu menyembul dari jendela besar yang menghadap ke halaman belakang rumah.

“Yang terakhir masuk adalah troll!” kata Minho seraya berlari mendahului Kyuhyun.

“Ya! Curang!” jerit Kyuhyun.

Kembali, keduanya berlari memasuki rumah sambil saling mengejek seperti sebelum-sebelumnya.

*

            Kyuhyun berbaring dengan bosan di kamar yang ia pakai bersama Minho. Donghae sedang membeli beberapa keperluan di supermarket terdekat sedangkan Yeonhee sedang memasak dibantu oleh Minho di dapur. Kyuhyun ingin sekali membantu seandainya keduanya tidak memasak sambil saling merayu atau beradegan manis.

Malam ini adalah malam natal. Malam yang sangat berarti bagi semua umat nasrani. Konon, di malam natal, semua permintaanmu tercapai.

Bukankah itu dongeng untuk anak kecil?

Itu adalah kata-kata Changmin yang diingat oleh Kyuhyun. Karena menurutnya, semua permintaan dan doa adalah sugesti, dimana kita akan terpacu secara tidak sadar untuk meraihnya.

‘Bagaimana kabar Changmin hyung? Apa ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati. Tanpa sadar ia lalu mencoba online di skype.

“Changmin hyung sedang online.” Kata Kyuhyun seraya tersenyum.

Detik berikutnya sebuah pesan masuk ke chat line-nya. Dari Changmin.

Shim Changmin :

Hi sweet evil, bagaimana kabarmu?

Kyuhyun tersenyum. Dengan cepat ia mengetikkan beberapa kalimat, membalas pesan dari mantan kekasihnya itu.

Cho Kyuhyun :

Hyunggg.. Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?

Shim Changmin :

Tidak pernah baik tanpamu :p Bagaimana Seoul? Aku merindukan kota itu.

Kyuhyun tersipu.

Cho Kyuhyun :

Berhenti merayuku. Kota kita tidak banyak berubah, tetap seperti dulu. Kau tidak pulang natal ini hyung? Sebentar.. Bukankah kau memang tidak pernah pulang?

Shim Changmin :

Sedih rasanya tidak bisa pulang dan menyantap hidangan bersama keluargaku L Aku sangat sibuk tahun ini jadi aku tidak bisa pulang. Tidak, itu tidak benar. Aku selalu pulang setiap tahun. Biasanya hanya tiga hari, yang jelas aku bisa bertemu keluargaku.

Cho Kyuhyun :

Benarkah? Lalu mengapa kau tidak pernah mengabariku? Kita bisa bertemu bukan? Aku dan Minho benar-benar merindukanmu..

Ada jeda sekitar tiga menit sebelum Changmin akhirnya membalas.

Shim Changmin :

Tidak semudah itu, Kyu. Terkadang aku ingin bertemu denganmu, tapi terkadang aku ragu. Kurasa kau tahu jawabannya. Maafkan aku.. Dan, aku juga ingin meminta maaf mengenai undangan yang kukirimkan padamu.

Kali ini, jeda yang cukup lama diciptakan oleh Kyuhyun. Jadi selama ini Changmin sering pulang tapi tidak menghubunginya sama sekali? Kenapa? Apa ada yang salah?

Cho Kyuhyun :

Aku tidak mengerti mengapa kau tidak mau bertemu denganku hyung, tapi apapun itu aku yakin kau punya alasan tersendiri. Mengenai undangan itu.. Terima kasih karena telah mengirimkannya hyung. Sebenarnya aku dan Minho juga dikirimkan oleh Ara noona melalui temannya.

Kening Changmin berkerut. Mengapa Kyuhyun dengan enteng menjawab semua itu? Mengapa ia justru sangat tenang mendengar kabar Yunho akan menikah?

Shim Changmin :

Apa kau baik-baik saja setelah mendengar kabar itu?

Kyuhyun tersentak. Apa maksudnya? Mengapa Changmin bertanya seperti itu? jangan-jangan ia sudah tahu mengenai perasaanku selama ini pada Yunho hyung? Atau bahkan ia sudah sejak lama tahu? Tapi.. Bagaimana?

Shim Changmin :

Kyu? Kau masih disana?

Ayolah Kyu, kumohon jawablah. Aku tahu kau masih disana.

Cho Kyuhyun :

Aku baik-baik saja hyung. Walaupun aku sangat terpukul mendengar kabar itu. Bagaimana sampai kau tahu mengenai perasaanku, aku tidak akan pernah menanyakannya. Tapi yang jelas, aku mau berterima kasih karena kau mau merahasiakannya dari sahabatmu itu, hyung.

“Kyu, sedang apa kau?” Tiba-tiba Donghae sudah muncul di kamarnya.

Kyuhyun segera mematikan laptopnya tanpa berpamitan pada Changmin. “Kau sudah kembali, hyung?”

“Tentu saja. Hm.. mengingat cinta pertamamu?”

Kyuhyun terdiam. Kali ini, ia tidak melarang Donghae membaca pikirannya seperti biasa. Mungkin ia memang butuh teman bicara saat ini. Dan Donghae adalah orang yang tepat. Selain itu tidak bisa memihak, ia juga bisa membaca isi kepala Kyuhyun tanpa Kyuhyun harus repot-repot menceritakan semuanya dari awal.

“Aku sudah melihat semuanya.” Kata Donghae lagi. “Bahkan sejak awal, tanpa kau sadari.”

“Benarkah?” Kyuhyun tersenyum kecut. “Lalu.. Bagaimana menurutmu, hyung? Aku bukan lelaki yang baik kan? Aku selalu saja mengecewakan pasanganku.”

“Cinta pertama, kekasih pertama, lelaki yang mengajarimu memasak, kekasihmu yang nyaris membuatmu putus asa karena meninggalkanmu, seorang artis, dan beberapa lelaki yang tidak pernah kau tanggapi. Wow, kau sungguh populer.” Kata Donghae tanpa menghiraukan perkataan Kyuhyun tadi.

“Tetap saja tidak membuatku lebih baik.”

Donghae tersenyum arif. “Sifat semua orang tidaklah sama. Ada yang dengan cepat bisa melupakan cintanya, namun ada juga yang membutuhkan bertahun-tahun atau bahkan seumur hidupnya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Kyu.”

“Terkadang kita menjadi egois, mencintai dua orang sekaligus dalam kehidupan kita dan tidak mau merelakan salah satunya. Namun hal tersebut manusiawi. Apa yang kau rasakan bukanlah suatu kesalahan. Ketika kau tanpa sengaja melukai hati seseorang, itu juga bukan kesalahanmu karena cinta itu bukan pilihan. Terkadang kau tidak bisa memilih untuk jatuh cinta bukan?”

“Satu-satunya kesalahanmu adalah kau tidak mau belajar untuk melupakan cinta pertamamu. Jangan berbohong Kyu, kau tidak pernah benar-benar berusaha. Kau pernah mencoba sesekali, namun ketika gagal, kau menyerah begitu saja. Itulah yang membuatmu tersiksa dan juga menyakiti orang-orang yang mencintaimu dengan tulus”

“Kau hanya punya dua pilihan, Kyu : maju terus atau mundur. Ia sudah bahagia kini, bukankah sudah saatnya kau memberikan kesempatan untuk dirimu sendiri benar-benar merasakan kebahagiaan?” Terang Donghae panjang lebar.

“Aku bahagia bersama Doojoon.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Kau tidak benar-benar bahagia. Karena separuh hati dan pemikiranmu masih bersama Yunho. Kebahagiaan yang utuh adalah disaat kau mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu, seluruh jiwamu, sampai tidak ada tempat lain untuk nama lain. Jujur Kyu, kau mungkin bukan hanya mencintai Yunho. Kau.. terobsesi padanya.” kata Donghae lagi.

Kyuhyun tahu. Kali ini Donghae benar. Ia memang terobsesi pada Yunho. ia memang tidak pernah benar-benar berusaha menghilangkan Yunho dari hatinya, karena ia tidak pernah mau kehilangan Yunho bahkan setitik tentang dirinya dalam ingatan. Ia rela kehilangan segalanya, tapi tidak Yunho. Bukan Jung Yunho.

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Pikirkanlah. Tanyakanlah pada hatimu, aku yakin suatu saat kau akan menemukan jawabannya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Yang jelas, aku akan selalu mendukung keputusanmu.”

Kyuhyun menatap Donghae dalam-dalam. Andai saja ia tidak menganggap Donghae seperti kakaknya sendiri, mungkin ia akan jatuh cinta kepada lelaki itu. Segala tentang dirinya adalah sesuatu yang luar biasa dan Kyuhyun benar-benar terpesona.

“Oh.. Jangan jatuh cinta padaku. Aku tidak mau terluka seperti para lelaki itu.” elak Donghae seraya tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa. Ia memang tidak bisa jatuh cinta pada malaikatnya itu, tidak bukan tidak bisa tapi tidak boleh. Ia tidak mau kehilangan sahabat sebaik itu. Jadi keputusannya untuk menahan diri sejak awal memang sudah benar.

Malam itu, ketika semua sudah terlelap, Kyuhyun bangun dan menghampiri jendela. Ia menatap langit malam yang cerah diatas sana. Lalu ia mulai bersedekap. Sambil menutup matanya, ia berbisik :

“Tuhan, terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan. Maafkanlah semua kesalahanku. Berikanlah kebahagiaan untuk orang-orang terdekatku, terutama untuk mereka yang pernah kukecewakan. Ijinkan aku meraih kebahagiaanku sendiri, ijinkan aku benar-benar bisa dengan ihlas merelakan obsesiku. Tapi tolong bahagiakanlah ia selalu. Dan jika, hanya jika kami tidak bisa bersama di masa depan nanti, ijinkan aku diberikan orang terbaik untuk melupakannya.”

*

Haekyu obs

To be continued..

The Journey – Chapter 7

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 7

“Sudah sangat lama.” Kyuhyun dan Zhoumi sore itu memutuskan untuk bertemu lagi setelah pertemuan tak terduga mereka beberapa hari yang lalu.

“Apa kau pernah mendengar kabar dari Yunho-ssi?” tanya Kyuhyun.

Zhoumi terdiam. Ia tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya ia menceritakan hal yang seharusnya ia rahasiakan tentang Yunho.

Beberapa hari setelah itu, ia dan Kyuhyun bertemu lagi dan langsung menuju ke stasiun kereta api, tempat dimana mereka berharap bisa bertemu dengan Yunho.

Keduanya tampak melongok ke dalam kereta api yang akan berangkat sebentar lagi. Mencari-cari dengan cemas, dimana gerangan Yunho berada. Tapi semakin mereka cari, semakin sulit Yunho ditemukan.

Hari ini adalah hari yang sangat ditakutkan oleh Kyuhyun. Ini mungkin kesempatan terakhirnya untuk bertemu cinta pertamanya itu. Karena Yunho yang ternyata hilang tanpa kabar telah berhasil masuk ke dalam jajaran staf militer atau tentara dan kini bersiap untuk berperang melawan Vietnam.

Ketika Kyuhyun telah sampai di ujung kereta api, ia nyaris putus asa karena tidak mendapati Yunho sama sekali. Namun tiba-tiba ia terhenti. Sekilas, ia seperti melihat seseorang duduk diam dengan kepala menunduk. Walaupun hanya sekilas, walaupun orang itu mengenakan topi besi, Kyuhyun tahu itu adalah Yunho-nya.

Dengan segera ia berlari kembali ke belakang dan berhenti tepat di depan jendela, dimana dibaliknya Yunho terlihat duduk dengan sedih. Kyuhyun mulai menangis. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan lelaki yang dicintainya selama bertahun-tahun itu? Bagaimana mungkin ia bisa kehilangan lelaki sederhana yang membuat hari-harinya cerah itu?

Kyuhyun mengetuk jendela kaca itu. “Yunho-ya.. Yunho-ya..”

Yunho menoleh. Sesaat ia terkesima melihat siapa yang datang. Namun ketika matanya melirik Zhoumi, ia mengalihkan pandangannya. Ia berbalik, membelakangi Kyuhyun dan Zhoumi.

Tapi didengarnya Kyuhyun tetap mengetuk jendelanya dengan keras. Hatinya hancur mendengar Kyuhyun menangis di luar sana, seraya memanggil namanya. Mati-matian ia berusaha menahan tangisannya. Ia tidak ingin Kyuhyun tahu, betapa ia terlukanya.

“Yunho-ya.. Tolong kembalilah dengan selamat.. Kumohon..” Kyuhyun masih setia menangis di luar sana. “Kau harus kembali dengan selamat. Yunho-ya.. Jawab aku.. Yunho-ya..”

Kehilangan Yunho selama bertahun-tahun sudah cukup merupakan pukulan berat baginya. Apalagi ia harus menyaksikan Yunho mengabaikannya disaat lelaki itu akan pergi menentang maut.

“Yunho-ya.. Kembalilah dengan selamat..”

Yunho tidak bisa lagi membendung airmatanya. Ia menangis dalam diam. Wajahnya masih senantiasa berpaling dari jendela, tempat dimana Kyuhyun – yang juga menangis – berdiri disana.

Lalu terdengar bunyi peluit panjang. Bersamaan dengan itu, perlahan kereta mulai bergerak maju. Tapi Yunho tidak juga berubah pikiran, ia tetap mengabaikan dua orang yang menunggunya di luar. Semantara itu Kyuhyun dan Zhoumi ikut bergerak, seakan tidak ingin Yunho meninggalkan mereka.

“Yunho-ya..”

Kyuhyun masih memanggil nama Yunho dalam tangisnya. Yunho akhirnya menoleh, meletakkan tangannya di kaca dan memandang Kyuhyun dengan sedih ketika kereta mulai berjalan sedikit lebih cepat. Dilihatnya Kyuhyun mulai berlari mengikuti kereta di luar, di belakangnya Zhoumi ikut berlari.

Ketika akhirnya dilihatnya Kyuhyun tidak mampu mensejajarkan diri dengan jendelanya, Yunho melepas topi beratnya dengan cemas. “Kyuhyun-ah..”

Ia berlari cepat ke gerbong belakang kereta, guna mencari pintu keluar terdekat dengan posisi Kyuhyun saat ini.

Kyuhyun berlari, mengejar kereta yang berjalan semakin kencang. Tangisnya masih tetap menghiasi wajahnya. Tangannya sibuk melepaskan kalung yang menghiasi leher putihnya yang kini terbalut mantel tebal, menghalau dinginnya musim gugur kala itu. Di belakangnya, Zhomi ikut berlari.

“Kyuhyun-ah.. Zhoumi-ya..” teriak Yunho dari pintu gerbong terdekat, melihat dua orang yang disayanginya berlari mengejar keretanya.

Kyuhyun masih berlari, di telapak tangannya kini ada seuntai kalung yang dulu pernah diberikan pada Yunho tapi dikembalikan di hari Zhoumi masuk rumah sakit. Kini, ia ingin memberikannya lagi pada Yunho.

“Yunho-ya..” Kyuhyun menyerahkan kalung itu pada Yunho. Ia masih senantiasa menangis, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Yunho akan kembali dengan selamat? Apakah ia masih bisa melihat lelaki itu?

Kereta berjalan semakin cepat. Kyuhyun dan Zhoumi sudah tidak bisa lagi mensejajarkan langkah mereka dengan alat transportasi panjang itu, tak peduli sekuat apa mereka berlari.

“Yunho-ya, kembalilah dengan selamat.” Teriak Zhoumi seraya berhenti berlari. Kyuhyun pun meneriakkan hal yang sama. Lelaki itu tampak sangat terpukul dengan kepergian Yunho.

Yunho hanya bisa melambaikan tangannya. Airmatanya masih tetap mengalir. Ketika Kyuhyun dan Zhoumi semakin kecil dari pandangannya, ia terduduk di sana, memandang kalung di tangannya dengan perasaan sakit. Kalung itu sangat berharga. Berasal dari keluarga Zhoumi yang diberikan oleh Kyuhyun kepadanya. Artinya, kalung itu merupakan pemberian dari kedua orang yang sangat disayanginya.

Dengan mantap ia lalu mengenakan kalung tersebut di lehernya. Dengan tekad baru, ia menempelkan benda itu ke dadanya.

*

            Deru helikopter membahana di udara. Benda besi raksasa bermotif loreng itu terbang di atas pegunungan dan lautan di salah satu hutan Vietnam, menampung para tentara yang kini siap maju ke medan perang. Tak lama kemudian, dua helikopter itu turun dari angkasa dan mendarat sempurna di sebuah tanah lapang.

Segera setelah helikopter itu menyentuh tanah, para tentara di dalamnya berhamburan keluar seraya menggenggam erat senapan laras panjang di tangan. Dengan langkah-langkah berani, para tentara itu mulai berlari maju, menyerang ke lini depan sang lawan. Ranjau-ranjau yang meledak tak jauh dari kaki mereka sama sekali tidak menyurutkan keteguhan dan keberanian dalam diri ksatria mereka.

Yunho melompati beberapa batang pohon yang tumbang di tanah, melewati ranjau yang baru saja meledak dan memakan korban di belakangnya. Tanpa gentar ia lalu menyusup diantara teman-teman seperjuangannya, berlindung di balik sebuah batang pohon lain yang tumbang dan mulai menembaki para musuh yang berdatangan dari arah berlawanan.

DOR!

DOR!

DOR!

Seorang lelaki dari camp militer yang sama dengannya tersenyum kepadanya. Yunho tidak mengenalnya dengan baik. Ia hanya tahu lelaki itu bernama Kim Youngwoon, mereka beberapa kali berpapasan di camp dan saling menyapa. Yunho ikut tersenyum kepada lelaki tinggi besar itu.

Kemudian mereka meneruskan aksi menembak musuh. Beberapa diantara mereka telah tumbang dengan tubuh tertancap peluru dari mesiu musuh. Semakin lama, musuh yang mendekat semakin banyak, semakin membuat tim Yunho kewalahan.

DOR!

Satu tembakan lain berhasil mengenai sasaran, tubuh salah seorang tim Yunho jatuh. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi melihat siapa yang terluka karena sibuk mengisi peluru ke dalam senjatanya sendiri, hingga sebuah tangan besar meraih keras bajunya dari arah kanan.

Yunho menoleh dan mendapati Kim Youngwoon tengah kesulitan bernafas dengan sebuah luka tembak di dadanya. Bibirnya mengeluarkan darah, tubuhnya kejang-kejang. Hanya genggaman tangannya di kerah seragam Yunho yang membuatnya tampak seperti butuh teman menjelang ajalnya.

“Kopral! Kopral! Sadarlah!” teriak Yunho, berusaha menyadarkan lelaki yang tengah sekarang meregang nyawa itu. “Medis..! Aku butuh bantuan medis!” teriak Yunho lagi seraya menoleh ke kiri dan kanan, mancari bantuan.

“Bertahanlah! Bertahanlah! Kumohon bernapaslah!” Teriak Yunho frustasi seraya mengantamkan telapak tangannya berkali-kali ke dada Kim Youngwoon, airmatanya sudah tumpah melihat korban di depannya. Sementara beberapa temannya sudah mulai mundur, mereka nyaris terkepung.

“Hentikan! Dia sudah mati! Ayo pergi! Dia sudah mati bodoh!” Choi Siwon menariknya mundur, membawanya pergi dari tempat itu atau mereka akan jadi korban berikutnya.

Keduanya berlari, menghindari bom yang dilemparkan ke arah mereka juga peluru yang dengan ganas mengambil nyawa lain. Yunho masih melihat ke belakang sebelum benar-benar berlari sekuat tenaga. Satu dari orang yang dikenalnya mati di depan matanya. Ini adalah kali pertama ia mengalaminya dan entah mengapa terasa sangat berat di dadanya.

Musuh semakin dekat, dengan suara-suara lantang yang menakutkan, mereka menembaki tentara Korea Selatan dengan ganas. Yunho berlari, deru di dadanya dan sesak di tenggorokannya nyaris merobek hatinya. Ia ingin hidup, dan ia harus selamat demi Kyuhyun.

Dari jauh, Yunho bisa melihat tanah lapang dimana ia dan teman-temannya tadi diturunkan. Helikopter yang tadi membawa mereka pun sudah menunggu di sana. Ia baru akan mempercepat laju larinya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di sekeliling lehernya. Ketika ia menyentuh di sana, barulah ia menyadari bahwa kalung pemberian Kyuhyun tidak melingkar di sana seperti biasa. Ia mengingat bahwa orang terakhir yang menyentuh lehernya adalah Kim Youngwoon.

Tanpa pikir panjang, Yunho berlari ke belakang, berlawanan arah dari teman-temannya yang sedang berusaha melarikan diri menuju helikopter.

“Yunho! Kau mau kemana, bajingan! Kembali kemari!” teriak Siwon ketika melihat tindakan bodoh Yunho. “Yunho-ya! Kembali kemari!”

Sementara para tentara Korea Selatan sudah berlomba-lomba menaiki helikopter, beberapa diantaranya bahkan sudah terbang begitu holikopter yang ditumpangi penuh. Tapi Yunho tidak peduli. Ia terus berlari, menyerbu membabi buta, menghabisi siapa saja yang bisa dijangkaunya.

Kalung pemberian Kyuhyun yang juga berasal dari keluarga Zhoumi itu jauh lebih penting baginya. Seperti hartanya, jiwanya, tubuhnya. Beberapa peluru melewatinya, menggores topi bajanya, melewati belakang lehernya. Namun seolah tak kenal takut, ia terus menyerbu.

Ia tidak tahu bahwa seorang tentara Vietnam tengah terfokus menatapnya. Dengan seringai lebar, lelaki itu mengarahkan senjatanya ke tubuh Yunho. Tapi sebelum ia sempat menembak, ia menjerit kesakitan. Sebuah peluru lain meluncur masuk ke tubuhnya, ketika ia menoleh didapatinya tentara lain tengah melindungi targetnya tadi dari jauh. Tentara itu : Choi Siwon.

Siwon menganggap Yunho sudah seperti saudaranya sendiri. Berlatih bersama di camp, memenuhi panggilan Negara untuk membela tanah air dari musuh, membuat keduanya benar-benar saling mendukung.

Dan kini, ketika dilihatnya Yunho kembali ke arena tembak alih-alih menyelamatkan diri, ia segera menyusul. Apapun alasan Yunho kembali, ia tidak peduli, ia hanya ingin Yunho kembali ke Korea dengan selamat bersamanya. Ia tidak bisa mengejar Yunho terlalu jauh karena ia sendiri ditahan oleh beberapa orang sekaligus, maka ia hanya bisa melindungi sahabatnya itu dari jauh.

Yunho sudah hampir sampai ke lapangan tadi, beberapa kali ia bertemu musuh di perjalanannya, tapi dengan sigap ia menyerang dengan tembakan berulang kali.

Begitu sampai disana, ia segera menghampiri mayat Kim Youngwoon lalu meraih tangan kanan lelaki itu. Benar saja, dalam genggaman lelaki itu, ada kalung pemberian Kyuhyun. yunh berusaha melepaskannya namun genggaman Kim Youngwoon sangat kuat, membuat Yunho harus menariknya lebih keras lagi hingga akhirnya terlepas.

Yunho memandang kalung itu sebentar, mensyukuri kembalinya kalung itu ke tangannya. Ia segera menggigit liontin-nya lalu segera beranjak. Ia berlari kembali ke tanah lapang dimana helikopter dan tentara lainnya menunggu.

DOR!

Seorang lelaki dengan seragam yang sama dengannya terkena lemparan bom dan langsung membuatnya roboh ke tanah. Yunho segera menghampiri lelaki itu lalu membawanya di bahunya seraya tetap berlari.

Beban terasa sangat berat di bahunya. Tubuhnya terasa letih luar biasa. Panas yang ia rasakan begitu mengikat, membuatnya nyaris bersimpuh disana, tapi tekadnya yang kuat untuk kembali selamat membuatnya bersemangat. apalagi dengan kembalinya kalung berharganya yang kini berada diantara gigi-gigi serinya.

Para tentara Korea Selatan tengah menunggunya dengan sikap waspada. Senjata mereka terancung, kalau-kalau ada tentara Vietnam yang membuntiti Yunho atau tiba-tiba muncul disana. Semakin dekat ia dengan tentara senegara membuatnya semakin lega.

‘Aku selamat.’

Namun, ketika ia baru akan melangkahkan kakinya lagi, sebuah bom meledak tepat di depannya dengan suara menggelegar. Yunho jatuh tersungkur, begitu juga dengan lelaki di pundaknya tadi. Rasa sakit luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya merasa ia akan mati sebentar lagi. Terlalu sakit, ia benar-benar tidak bisa menahan lagi.

Choi Siwon berlari ke arah sahabatnya, hatinya berdegup kencang dengan kenyataan buruk yang bisa saja menimpa Yunho. Disana, ia melihat sahabatnya dengan napas tersengal, bersimbah darah di wajahnya, dengan tubuh bergetar. Tangan Yunho yang juga bergetar itu pelan-pelan meraih kalung yang tergeletak tak jauh darinya ke dalam genggamannya.

*

            Seorang anak kecil bermain riang di dalam sebuah café kecil di pinggiran kota. Ketika melihat miniature piano berwarna hitam di atas meja, ia segera mengambilnya lalu membawanya bermain.

Cho Kyuhyun duduk dengan sabar disana, matanya tak henti-hentinya melihat ke luar jendela. Ia tampak snagat tampan hari itu, ia bahkan memilih pakaian terbaik untuk moment terbaik sepanjang hidupnya ini.

Tak lama kemudian, senyumnya terkembang ketika melihat sebuah taksi berhenti di depan café kecil itu. Dari dalamnya, turun seorang lelaki yang amat sangat dikenalnya. Jung Yunho.

Yunho melangkah pelan ke dalam café itu. Tubuhnya masih tetap tegap. Rambutnya masih tetap cepak seperti sebelum ia berangkat ke Vietnam. Dan senyumnya, masih tetap senyum yang sangat dikagumi Kyuhyun sepanjang hidupnya. Dibalut setelan jas musim gugur, lelaki itu menghampir Kyuhyun.

Dia tampan. Dan selalu tampan.’ Kyuhyun hanya bisa memikirkannya. Ia begitu terkesima melihat Yunho kembali. Begitu Yunho mengabarinya bahwa ia pulang dengan selamat ke Korea dan ingin bertemu dengannya, kebahagiaan membuncah di dada Kyuhyun saat itu. Walaupun ia harus menunggu beberapa tahun, namun ia dan Yunho akan bersatu lagi. Segera.

“Kau tidak berubah sama sekali.” Puji Yunho. Senyum khasnya masih terukir di wajahnya. “Kau tampak seperti dulu, selalu manis dan mempesona.”

“Tidak, aku semakin tua.”

Keduanya bicara dengan canggung, mengingat mereka tidak bertemu selama beberapa tahun dan perpisahan terakhir mereka bukan perpisahan yang manis. Yunho lalu mendudukkan dirinya di kursi terdekat, Kyuhyun ikut duduk di depan lelaki itu.

“Kau melewati masa-masa sulit, bukan?” tanya Kyuhyun pelan.

“Tidak juga.” Jawab Yunho, masih dengan suara canggung. “Oh.. Bagaimana kabar Zhoumi?”

Kyuhyun melirik Yunho. “Sepertinya ia baik-baik saja.”

Kyuhyun tidak ingin membiarkan Yunho tahu bahwa Zhoumi masih menginginkannya namun lelaki itu setia menunggu, ia tidak memaksakan perasaannya sama sekali karena Kyuhyun tidak ingin memikirkan lelaki lain selain Yunho.

“Mengapa kau belum juga menikah?” tanya Yunho lagi. “Aku sudah menikah.” Ia memaksakan senyum tulus di wajahnya.

Kumpulan airmata menggenang di pelupuk mata Kyuhyun ketika mendengar kata-kata Yunho barusan. Ia telah menunggu sekian lama tapi ternyata Yunho tidak memberinya kesempatan sama sekali.

“Ya, aku mendengar hal itu.” kata Kyuhyun dengan tenang, menyembunyikan perasaannya yang hancur.

“Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Tapi entah mengapa, ketika kita saling bertemu seperti ini, aku jadi melupakan segalanya.” Yunho tertawa kecil.

Kyuhyun hanya membalas dengan senyuman. Ia membuang pandangannya ke luar jendela, berusaha keras menahan airmatanya yang hendak tumpah.

“Kau lihat piano kecil itu? Kami juga punya satu di rumah. Sama persis dengan yang itu.” kata Yunho seraya memalingkan wajahnya ke kanan.

Airmata Kyuhyun sudah jatuh. Tapi ia tidak ingin merusak acara ini, jadi ia meneruskan mendengarkan kata-kata lelaki di depannya. ia ikut menoleh ke arah dimana pandangan mata Yunho berhenti.

“Ketika aku melihatnya, aku teringat saat kau memainkan piano.” Yunho masih terus menatap ke meja itu.

Kyuhyun mendadak bingung di buatnya. Piano? Diatas meja itu hanya ada sebuah pot bunga kecil, tidak ada piano sama sekali. Piano yang tadinya ada disana sudah sedaritadi di bawa oleh anak kecil yang kini memainkannya di meja lain.

“Benar-benar seperti kau. Benarkan?” mata Yunho masih memandang ke meja itu dengan senyumnya.

Kyuhyun menatap Yunho dengan perasaan takut luar biasa. Perlahan ia menaikkan jemarinya ke depan wajah Yunho lalu menggoyang-goyangkannya. Yunho sudah berbalik menatapnya, masih dengan tatapan dan senyum yang sama, namun sama sekali tidak ada reaksi atas pergerakan jemari Kyuhyun di depan matanya.

“Waktu itu kita masih sangat muda.” Yunho melanjutkan kata-katanya.

Di depannya, Kyuhyun menutup mulutnya. Jantungnya serasa berdetak terlalu kencang. Ketakutan menyelimutinya.

“Tapi masa lalu telah pergi.”

Kyuhyun kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela. Air mata yang sedari tadi ditahannya kini jatuh sudah. Ia menahan suaranya agar tagisnya tak terdengar.

“Kupikir, perasaan kita saat itu adalah perasaan terbaik. Kita menjerit dan tertawa untuk hal-hal kecil.” Yunho masih saja terus bicara dengan lembut, masih dengan senyum dibarengi pandangan mata yang hangat.

Kyuhyun sudah benar-benar menangis kini, namun ia masih berusaha keras menyembunyikan suara tangisnya. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya itu tidak bisa melihat. Yunho buta.

“Bagaimana wajahku saat ini?” tanya Kyuhyun diantara tangisnya, berusaha membuat suara normal.

“Kau terlihat sehat.” Kata Yunho yakin. “Tapi aku ingin melihatmu lebih bahagia dari sekarang.”

“Aku sedang menangis saat ini. Tidak bisakah kau melihat air mataku?” tanya Kyuhyun. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan suara tangisnya yang keras.

Wajah Yunho berubah seketika. Ia baru saja menyadari bahwa ia salah memperkirakan raut wajah Kyuhyun sesaat tadi.

“Mengapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa kau tidak bisa melihat?” Kyuhyun menangis. Airmatanya semakin deras. Sakit yang dirasakan di hatinya begitu kuat, nyaris merobek seluruh sisa perasaannya.

Merasa penyamarannya telah terbongkar, Yunho yang sangat gugup saat itu bangkit dari duduknya. “Hari sudah sore, maaf, aku punya janji lain. Aku harus pergi.”

Yunho berbalik meninggalkan Kyuhyun. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Tapi, tanpa tongkatnya, ia tidak bisa meraba kemana arah yang seharusnya ia ambil. Detik berikutnya ia sudah jatuh tersungkur karena menabrak meja di depannya.

Yunho terpaku disana. Ia hanya bisa diam dan menangis, menyesali nasib buruk yang menimpa dirinya. Perlahan Kyuhyun bangkit dari duduknya lalu menghampiri lelaki itu. masih dengan tangisnya, ia membantu Yunho berdiri.

“Maafkan aku. Tadi nyaris sempurna. Aku bisa saja berhasil melalui semua itu. Aku bahkan datang kemari tadi malam dan banyak berlatih.” Kata Yunho meminta maaf. Hatinya sakit sekali karena tidak bisa melihat wajah Kyuhyun, lelaki yang teramat dicintainya. Bahkan melihat setitik airmatanya pun ia tidak bisa.

“Kau hampir saja membodohiku. Kau benar-benar bekerja keras. Aku nyaris saja percaya.” Kata Kyuhyun, tersenyum dalam tangisnya.

Yunho merogoh kantongnya lalu mengeluarkan kalung pemberian Kyuhyun beberapa tahun lalu. “Aku.. mempertaruhkan nyawaku untuk mengembalikan kalung ini kepadamu.”

Ia hendak memakaikan kalung itu ke leher Kyuhyun namun Kyuhyun meraihnya. “Jangan.. Kalung ini adalah milikmu.” Kyuhyun lalu melingkarkan kalung itu ke leher Yunho.

Begitu kalung itu melekat sempurna ke lehernya, tangis Yunho kembali pecah. Ia memberanikan diri mengakat tangannya, membelai pipi halus Kyuhun yang saat itu tengah bermandikan air mata.

Cinta mereka hanya sampai disana. Yunho benar-benar pergi dari kehidupan Kyuhyun dan tidak pernah kembali sama sekali. Membuat Kyuhyun akhirnya menerima perjodohan ayahnya dengan Zhoumi dan menikahi lelaki jangkung itu. Bahkan, di hari pernikahannya, Kyuhyun masih saja menitikkan airmata. Menangisi cinta pertamanya yang hilang, cinta sejatinya yang pergi dan cinta terakhirnya yang tidak pernah bisa ia dapatkan kembali.

Yunho the journey 7

TBC

Now and Then (Sequel of B365D) – Chapter 5

Title                     : Now and Then

Rate                    : T

Genre                 : Romance, Fluff, Sad, Mpreg

Pair                     : Yunho x Kyuhyun (YunKyu)

Other Cast       : Changmin, Donghae, Tesa, Kim Isak

Warning            : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary         : Setelah melewati masa perkenalan selama setahun, Yunho dan Kyuhyun akhirnya menikah. Bagaimana perjalanan kehidupan rumah tangga mereka?

CHAPTER 5

Seperti yang direncanakan, Yunho beserta Isak dan Changmin benar-benar berangkat beberapa hari kemudian. Hal ini membuat Kyuhyun semakin merana. Dia sama sekali tidak keberatan Yunho bertemu dengan kawan-kawan lamanya, andai tidak ada Isak di sana. Hanya Isak-lah satu-satunya alasan mengapa Kyuhyun sangat berat melepaskan Yunho.

“Bagaimana kalau disana terjadi sesuatu? Bagaimana kalau teman-teman mereka menjodohkan mereka kembali dan akhirnya Yunho hyung menyadari bahwa selama ini dia masih teramat mencintai Isak?” kata Kyuhyun sedikit histeris.

“Atau.. Bagaimana kalau tiba-tiba Yunho hyung mengalami kecelakaan lalu lupa ingatan dan hanya mengingat Isak lalu tidak pernah kembali kemari?” kini ia terdengar lebih histeris dari sebelumnya.

“Ya, Kyuhyun-ah, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Mana mungkin hal seperti itu akan terjadi?” kata Donghae menenangkan Kyuhyun. Ia sendiri tidak bisa ikut karena ia bukan alumni di kampus Yunho dulu.

“Atau..” kata Kyuhyun seolah tidak mendengar protes Donghae barusan. “Disana akan ada pesta besar lalu mereka minum-minum, keduanya mabuk lalu bangun di tempat tidur dalam sebuah hotel, tanpa selembar benangpun di tubuh mereka. Lalu beberapa bulan kemudian Kim Isak hamil dan Yunho hyung harus bertanggung jawab padanya dan..”

“Ya! Hentikan!” tegur Donghae keras. “Kau ini terlalu banyak menonton drama. Apa kau pikir suamimu akan seperti itu disana?”

“Pasalnya waktu kami mabuk dulu, Yunho hyung langsung menjamahku. Itu adalah kali pertama kami bercinta. Siapa yang tahu kalau Yunho hyung mabuk lagi lalu dia akan melakukan hal yang sama?” Kali ini Kyuhyun yang protes.

“Kyuhyun-ah, kumohon.. Berhentilah bersikap seperti ini. Kau hanya membuat dirimu stress. Kasihan bayimu. Tenanglah, jebal..” Donghae kini memohon.

Kyuhyun lalu berdiri dari duduknya. “Ikut aku hyung. Aku ingin ke suatu tempat.”

Donghae menurut. Ini bukan karena Yunho memintanya tidak meninggalkan Kyuhyun selama ia tidak ada, tapi lebih karena rasa sayangnya pada lelaki manja itu. Setengah jam kemudian, mereka sudah ada di kamar praktek dokter kandungan Kyuhyun, Lee Dong Wook.

“Maaf Kyuhyun-ssi, tidak bisa.” Kata Lee Dong Wook tegas.

“Tapi aku harus melakukannya!” Kyuhyun masih memaksa.

“Kyuhyun-ah, dokter Lee benar. Kau tidak boleh melakukannya. Ingat anakmu. Jangan bertingkah seperti ini, jebal..” Donghae kini nyaris kehilangan kata-kata menghadapi kemauan Kyuhyun yang keras kepala itu.

“Aku tetap akan pergi walau kau tidak mengijinkannya.” Kata Kyuhyun tetap keras kepala.

Lee Dong Wook tampak letih. “Kyuhyun-ssi, kau tahu benar usia kandunganmu hampir memasuki bulan ke tujuh kan? Kau tidak boleh bepergian dengan pesawat apalagi ke tempat sejauh Amerika. Ini membahayakan kandunganmu sendiri. Dan lagi, kalau terjadi sesuatu di pesawat nanti, siapa yang akan menolongmu? Kau butuh bantuan medis nantinya.”

“Karena itulah aku datang. Aku tidak meminta ijinmu, tapi aku meminta kesediaanmu untuk ikut bersamaku ke Amerika, jelas?”

Dong Wook dan Donghae terperangah bersamaan.

“Ya.. Kyuhyunnie..” Donghae sekarang benar-benar kehilangan kata-kata. Ide Kyuhyun untuk memata-matai Yunho di Amerika saja sudah cukup membuatnya bingung. Dan kini ia berpikir untuk membawa Lee Dong Wook untuk ikut serta?

“Dengarkan aku.. Aku mempertaruhkan hal ini demi anakku. Aku tidak mau ayahnya terpikat pada mantan kekasihnya hanya karena aku jauh darinya. Terserah kalian mau menganggapku kekanakan atau bodoh sekalipun. Tapi perasaanku mengatakan sesuatu akan terjadi kalau aku tidak ada disana, dan feeling seorang istri biasanya tepat.”

“Jadi..” kata Kyuhyun melanjutkan sebelum dokternya berniat memotong perkataanya. “Kalian cuma punya dua pilihan. Menemaniku atau membiarkanku pergi sendiri!”

Donghae dan Dongwook sama-sama diam. Keduanya berpikiran sama : tidak tega. Bagaimana mungkin mereka tega melihat Kyuhyun dengan perut menggembung seperti balon itu pergi sendiri ke benua lain sementara mereka sanggup menemani Kyuhyun?

“Baiklah, kita berangkat.” Lee Dongwook akhirnya menyerah.

Kyuhyun bersorak keras. “Yeahhh! Kau dokter terbaik sepanjang masa.”

“Tapi.. Bagaimana kalau Kyuhyun justru..”

“Aku akan memastikan dia baik-baik saja.” Kata Dongwook lagi, memotong perkataan Donghae. Membuat sunbae kesayangan Kyuhyun itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, frustasi.

“Tapi kau harus berjanji satu hal kepadaku.” Kata Dongwook. Ia menatap Kyuhyun tajam, memastikan Kyuhyun mengiyakan permintaannya.

“Apa itu?”

“Kau harus mendengarkan semua kata-kataku. Kau harus menuruti permintaanku karena semuanya kulakukan untuk kesehatanmu sendiri. Mengerti?”

Kyuhyun memberenggut. “Kenapa aku harus menurutimu? Kau kan bukan suamiku.”

“Kau mau ke Amerika atau tidak?” Kini Dongwook sedikit mengintimidasi.

“Arasso.. Besok kita bisa berangkat kan?” wajah cemberutnya kini berganti rona berah penuh pengharapan.

Dongwook menatap Donghae, meminta persetujuan. Ketika dilihatnya Donghae mengangguk pasrah, ia tersenyum. “Baiklah.”

*

            Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Anak manja yang keras kepala dan sangat cerewet terutama di masa kehamilannya. Ia hanya menuruti kata-kata Dongwook selama di pesawat. Begitu mereka tiba di hotel tempat mereka menginap yang kebetulan sangat dekat dengan hotel tempat Yunho, Changmin dan Isak menginap, ‘kenakalan’nya kembali seperti sedia kala.

Ia memaksa kedua pengawalnya itu untuk menemaninya membeli makanan yang akan diantarkan kepada Yunho. Padahal, mereka baru saja tiba, Donghae malah belum bisa mengembalikan kondisinya menjadi lebih stabil setelah jetlag.

“Tapi bagaimana kalau nanti Yunho hyung lapar? Ini sudah waktunya makan malam.” Rengek Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, saat ini beliau ada di kota besar. Sudah pasti ia akan makan dengan sangat baik. Lagipula, bukankah kita sepakat untuk bersembunyi dari suamimu? Membuntutinya diam-diam jadi kau bisa memantau semua gerak-geriknya kan?” Dongwook menjelaskan seraya mengeluarkan pakaian Kyuhyun dari koper lalu mengaturnya di dalam lemari.

“Hooeeekkkkkkk…!”

Kyuhyun meringis mendengar suara Donghae yang sedang mengeluarkan isi perutnya itu. “Tapi aku merindukannya. Aku ingin makan malam bersama Yunho hyung. Sudah tiga hari aku tidak melihatnya.”

Donghae keluar dari kamar mandi dengan wajah merana. “Bisakah kita istirahat dulu? Aku benar-benar mual.”

Kyuhyun berdiri sambil mengacak pinggangnya. “Ya! Hyung! Bukankah kau sudah terbiasa naik pesawat?”

“Tapi aku masih selalu mual setelahnya.” Bantah Donghae. Ia cukup merasa malu dengan kondisinya yang buruk sementara Kyuhyun yang tengah hamil baik-baik saja.

“Dengarkan. Kalau kau mau bertemu suamimu, tidak masalah sama sekali. Tapi, kurasa kau akan menyesal. Menurutku sebaiknya kau memata-matainya. Siapa tahu dengan tidak adanya kau, mantan kekasihnya itu akan ‘bertindak’? Dan bisa saja suamimu menyambutnya? Benar kan?” ujar sang dokter yang langsung dihadiahi sentuhan kasar dari siku Donghae di pinggangnya.

Kyuhyun tertunduk sedih. Ia menggigit bibir bawahnya dengan tampang nyaris menangis mendengar penuturan sang dokter.

“Lihat dia! Dia nyaris menangis.” Bisik Donghae galak.

Dongwook tersenyum lalu balas berbisik. “Kau mau ia mencari Yunho saat ini? Lagipula, kalau kalian ingin tahu bagaimana sikap siapa nama mantan kekasih Yunho-ssi? Ah ya, Isak-ssi, kalian harus membuntuti mereka diam-diam bukan?”

Donghae tahu, Doongwook benar. Tapi ia tidak tega melihat wajah Kyuhyun yang terlihat sangat merana kala itu.

“Beristirahatlah, Kyu. Besok kita akan mulai membuntuti Yunho dan Isak, bukan? Kau perlu tenaga ekstra besok, jadi kumohon kau beristirahat sekarang.” Kata Donghae seraya membantu Kyuhyun naik ke tempat tidurnya lalu menyelimuti hoobae-nya itu.

“Nah dokter, kau boleh kembali ke kamarmu.” Perintah Donghae layaknya bos.

“Bagaimana denganmu?” tanya Dongwook. Pasalnya Donghae tak terlihat tanda-tanda akan meninggalkan kamar Kyuhyun.

“Aku akan menjaga Kyuhyun malam ini. Tenang saja, aku akan tidur di sofa. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya mengingat ini hari pertamanya di kota lain. Andai saja aku membawa Tesa-ssi, ia pasti akan lebih banyak membantu.”

Kyuhyun diam saja. Setelah Lee Dongwook keluar bahkan setelah Donghae terlelap pun ia masih tetap diam. Matanya masih tetap terbuka, memandang kosong ke jendela hotel. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya dipenuhi dengan kata-kata dokternya tadi mengeni menangkap basah Yunho dan Isak.

Kalau Yunho tidak terpengaruh oleh masa lalunya itu berarti Kyuhyun bisa tersenyum puas. Namun bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?

*

            Keesokan harinya Kyuhyun, Donghae dan Dongwook benar-benar melakukan aksi sesuai rencana. Awalnya Lee Dongwook keberatan untuk ikut serta, namun Donghae memarahi dokter jangkung itu habis-habisan karena ia bisa berada di Washington saat ini karena Kyuhyun. Lagipula ia diikutkan karena ia harus merawat Kyuhyun ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Mau tidak mau, ia ikut dalam aksi yang menurutnya childish itu.

Mereka membuntuti kemana pun Yunho, Isak dan Changmin pergi. Tempat pertama adalah sebuah butik khusus wanita. Sudah bisa dipastikan bahwa Isak lah yang punya keperluan di sana. Tapi dua lelaki lainnya mengekori bak pengawal kerajaan.

“Cih.. Mengapa Yunho hyung harus ikut masuk kesana? Lihat! Dia bahkan meminta suamiku untuk menilai.” Kyuhyun mendecih melihat sikap Isak yang dianggapnya berlebihan itu.

“Benar sekali, bukankah disana juga ada si jerapah?” Donghae terdengar ikut kesal. Sebenarnya ia menganggap hal tersebut sah-sah saja. Namun jika ia menanggapinya dengan wajar, Kyuhyun akan marah padanya karena dianggap tidak ikut membelanya.

Tidak ada yang lebih mengerikan selain kemarahan seorang wanita hamil yang tengah cemburu. Jadi lebih baik ia mendukung semua kata-kata Kyuhyun daripada tiba-tiba lelaki keras kepala itu meledak karena tidak ada yang mengindahkannya.

Ponsel Kyuhyun berbunyi. Dengan cepat ia mengangkat telepon ketika melihat nama Tesa di layar ponselnya itu.

“Yeoboseyo?”

“Kyuhyun-ssi, sajangnim menelepon pagi tadi. Ia ingin bicara dengan anda.” Kata Tesa di seberang. Suaranya terdengar khawatir.

“Lalu apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun sedikit waspada walau matanya tidak berpindah dari tubuh suaminya di dalam toko yang ia amati.

“Aku mengatakan bahwa anda masih tidur karena semalam tidur terlalu larut.”

“Dan apa alasannya aku tidur terlalu larut?”

“Menonton drama.”

“Bagus!” Puji Kyuhyun pada sekretaris suaminya itu. “Kau harus terus memberikan alasan yang logis ketika ia menelepon. Aku akan mengirimkan email kepadanya jadi ia tidak perlu khawatir.”

“Baik. Aku juga akan selalu melaporkan semua perkembangan kepada anda.”

“Baiklah. Sudah dulu, aku sedang sibuk saat ini. Nah, sampai jumpa Tesa-ssi. Aku akan membelikan oleh-oleh yang pantas untukmu nanti. Kalau aku tidak lupa.” Kata Kyuhyun lagi lalu memutuskan hubungan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang.

“Kau tidak akan bisa lari terus menerus. Yunho masih akan tinggal disini sampai tiga hari kedepan. Ia pasti akan curiga jika ia tidak bisa bicara denganmu.” Kata Donghae sedikit khawatir.

Kyuhyun mengeluarkan smirk andalannya. “Jangan khawatir hyung. Besok dan lusa adalah hari yang sibuk untuknya. Ia akan menghadiri reuni kampusnya bukan? Ia pasti akan menelepon sebelum acara atau bahkan sesudah acara. Tenang saja, ia tidak akan tahu.”

“Kalian bisa berbicara lewat skype, bukan? Hal itu lebih mudah. Kau hanya perlu mencari tempat dimana ia tidak menyadari bahwa kau tidak ada di Korea saat ini.” saran Dongwook.

“Wah.. rupanya kau sangat berguna dokter. Aku benar-benar tidak salah membawamu kemari.” kata Kyuhyun bangga seraya menepuk punggung sang dokter.

Lee Dongwook baru akan melakukan aksi protesnya ketika tiba-tiba Donghae terpekik pelan. “Mereka keluar!”

Dua pasang mata lain itu langsung memandang ‘target’ mereka. Yunho, Isak dan Changmin keluar dari butik itu. Changmin terlihat berjalan di belakang, menenteng sebuah kantong belanjaan sedangkan Yunho dan Isak berjalan di depan.

“Dia seperti pengawal yang mengantarkan pangeran dan putri berbelanja.” Kata Donghae dengan sinis. “Jangan tersinggung Kyu, maksudku.. Lihatlah Changmin itu, dia bodoh atau..”

Donghae menggelengkan kepalanya tak percaya. Kyuhyun hanya tertawa maklum. Ia memang tidak suka dengan ide ‘pangeran dan putri’ tapi ia sendiri tidak habis pikir mengapa Changmin dengan bodoh mau membawakan belanjaan Isak.

*

            “Kau mau makan apa?”

Yunho tidak menjawab. Ia masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Yunho-ya, ada apa?” Isak bertanya lagi.

Kali ini Yunho mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia mengerutkan keningnya. “Aku tidak bisa menghubungi Kyuhyun. Semalam ia tidur larut dan sekarang aku tidak bisa menghubunginya.”

“Mungkin ia sedang mengisi baterai ponselnya.” Ujar Changmin tanpa memandang Yunho, masih sibuk berkutat dengan buku menu di tangannya.

“Yah.. Mungkin saja. Tapi.. Baiklah, aku akan menghubungi Tesa-ssi lagi.”

Dengan gerakan cepat ia kembali menghubungi nomor ponsel sekretarisnya. Terdengar nada panggil di telinganya, namun tak terdengar tanda-tanda bahwa sang sekretaris akan menjawab teleponnya.

Yunho memutuskan hubungan dengan perasaan kacau. Ia kembali menguhubungi nomor telepon Tesa. Menjelang detik ke tiga puluh, barulah ia mendengar jawaban.

“Yeobosoyo sajang..”

“Ya! Kalau aku menelepon, kau harus langsung menjawabnya!” Yunho menyambar dengan cepat. Tidak kasar tapi cukup tegas, membuat nyali sang sekretaris langsung ciut dibuatnya.

“Ma..maafkan aku sajangnim. Aku sedang tidur. Lain kali aku..”

“Lupakan! Sekarang jelaskan kepadaku dimana Kyuhyun berada. Seharian ini aku tidak bisa menghubunginya. Apa tadi ia ada di rumah? Atau ia ikut ke kantor bersamamu? Apa ia baik-baik saja?” serang Yunho lagi.

“Dia baik-baik saja sajangnim. Saat ini beliau sedang tidur. Tadi ia ada di rumah bersama Donghae-ssi. Anda tidak perlu khawatir.” Terang Tesa di seberang.

Yunho menggigit bibirnya. Perbedaan waktu membuat dirinya dan Kyuhyun tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dan ini sangat menyiksanya mengingat betapa ia merindukan istrinya itu.

“Baiklah. Katakan padanya untuk meneleponku saat ia bangun. Jam berarpun itu, akan kutunggu. Selamat malam.”

Yunho langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban Tesa. Di seberang sana Tesa mengurut dadanya.

“Sepasang suami istri ini memang aneh. Ketika keduanya saling menghkhawatirkan, mengapa selalu aku yang jadi korban?”

*

            “Kau benar-benar tampan.” Kata Isak seraya merapikan dasi Yunho sebelum masuk ke ballroom hotel tempat dilaksanakan reuni hari pertama kampus mereka.

“Terima kasih.” Jawab Yunho dengan senyum seadanya.

Isak memajukan bibirnya. “Hanya itu saja? Bahkan senyummu tampak tidak ikhlas sama sekali.”

Yunho tidak menjawab. ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan ketika Isak menggandeng lengannya ataupun Changmin berbicara dengan beberapa kolega mereka, ia tidak juga memperhatikan sama sekali.

Sebuah tepukan ringan menyadarkannya. “Ya! Ada apa denganmu? Lihat! Kita sudah sampai. Sedaritadi beberapa teman kita menyapa tapi kau tidak juga membalas.”

Yunho menoleh dan mendapati Changmin menatapnya dengan pandangan jengkel.

Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya, aku memang sedang bingung saat ini. Kyuhyun belum juga meneleponku. Aku sangat khawatir dengannya. Kalau memang sampai besok ia belum juga menghubungiku, sepertinya aku akan pulang lebih dulu.”

“Tapi.. mana mungkin kau pergi? Bukankah besok kau akan menjadi salah satu pembicara? Pikirkanlah baik-baik. Kita akan kembali ke Korea keesokan paginya bukan. Hanya sehari, pikirkanlah ini.” protes Isak halus.

“Changmin bisa menggantikanku.”

“Ya! Mana bisa seperti itu?” sambar Changmin tidak terima.

“Atau kau bisa menggantikanku.” Kata Yunho lagi, mengabaikan protes-protes sebelumnya.

“Tidak bisa seperti itu! Bagaimana mungkin kau mengabaikan tanggung jawabmu seperti itu? Kau lah yang terpilih. Lagipula..”

“Kau benar.” Kata Yunho dengan senyum cerah. “AKu tidak boleh meninggalkan tanggung jawabku seperti itu.”

Changmin menghembuskan nafas lega. “Akhirnya kau menger..”

“Aku tidak boleh meninggalkan istriku yang tengah hamil sendirian. Aku akan pulang besok pagi kalau memang ia tidak mengabariku hari ini.” kata Yunho tegas.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa perbedaan waktu adalah inti permasalahan kalian disini bukan? Aku yakin Kyuhyun-ssi baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir.” Kata isak seraya menepuk pundak Yunho.

“Dengar.. Kau tidak mengerti. Suatu saat nanti, ketika akhirnya kau menikah dan memiliki pasangan hidup, kau akan mengerti apa yang kurasakan saat ini. Tidak mudah bagiku untuk meninggalkan Kyuhyun sendiri sementara aku berpesta disini.”

Dering ponsel milik Yunho menyelamatkan situasi canggung diantara mereka kemudian. Yunho segera menariknya keluar dari kantong celananya. Wajahnya berubah cerah ketika melihat panggilan video call di ponselnya.

“Hyyyuuuuuunnnggggggggggg….!!!!”

Terdengar jerit manja dari seberang. Si penelepon tersenyum lebar memamerkan barisan gigi putihnya. Pipinya yang gempal merona merah. Bibirnya dikerucutkan, membentuk sudut yang lucu dan menggemaskan.

Hati Yunho menghangat seketika. Hanya dengan melihat Kyuhyun saja, hatinya terasa lebih lega. Ingin sekali rasanya ia segera pulang ke Korea demi menemui lelaki keras kepala yang tengah mengandung anaknya itu.

“Baby.. Hyung merindukanmu. Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak bisa dihubungi dalam dua hari ini?”

“Aku baik-baik saja, hyung. Jangan khawatir. Aku cukup sibuk sebenarnya, jalan-jalan bersama Donghae hyung, memasak bersama Ryeowook hyung juga nonton drama bersama Tesa-ssi. Aku bosan sekali tanpamu, jadi aku mengisi waktuku dengan hal-hal tadi.” jawan Kyuhyun dengan nada manja.

“Aku khawatir sekali padamu. Setidaknya kabarilah aku. Aku nyaris saja pulang besok pagi kalau tidak mendengar kabar darimu.” Kata Yunho lembut.

Pipi Kyuhyun kembali merona. “Tidak perlu hyung. Selesaikan saja urusanmu disana, setelah itu cepatlah kembali, ne? Jangan tergiur dengan rayuan-rayuan maut para wanita kesepian disana.”

“Baiklah. Aku mempercayaimu. Jaga kesehatanmu ne? Jangan makan makanan cepat saji, tidak baik untuk kesehatanmu juga anak kita. Aku menyayangi kalian berdua. Dan kau tidak perlu khawatir, tidak ada yang menyaingi kecantikanmu. Tidak ada yang bisa menempati hatiku selain kau.”

Kyuhyun mengangguk. “Sampai jumpa dua hari lagi, hyung. Aku mencintaimu.”

“Sebentar baby.. Jam berapa disana? Kau belum tidur?”

Kyuhyun terkesiap. “Eh.. jam sembilan pagi hyung. Aku hanya sangat merindukanmu. Aku ingin melihat wajahmu jadi aku menelepon.”

“Kau ada dimana? Kau tidak sedang di rumah bukan?” tanya Yunho lagi. Pasalnya ada yang aneh. Dinding di belakang Kyuhyun sudah pasti bukan dinding di kamar mereka.

“Oh.. Aku menginap di rumah Donghae hyung. Ia baru saja mengganti cat kamarnya, bagus bukan?” kata Kyuhyun tanpa menghiraukan protes kecil Donghae di depannya. sebenarnya ia juga ada di hotel yang sama dengan Yunho saat ini, hanya saja ia berada di salah satu kamar mandi di sana.

“Kyu, mana mungkin aku mengecat kamarku dengan warna kuning gading seperti ini? Aku suka warna biru.” Protes Donghae dalam bisikan keras.

“Mengapa kau ada disana sepagi ini? Tunggu, kau menginap di rumah Hae? Dimana dia? Biarkan aku berbicara dengannya.”

Donghae lalu menghampiri Kyuhyun dan duduk di sampingnya. “Wae?”

“Kau membawa istriku menginap di rumahmu? Sekamar denganmu? Kaaauuuu…!” tanya Yunho yang sedikit emosi.

Donghae menggeleng malas. “Aku sama sekali tidak takut denganmu walaupun kau marah sekalipun. Aku jauh lebih takut pada istrimu ini. Dia yang memaksa untuk menginap disini. Dan lagi, kau pikir aku semesum itu? Bagaimana mungkin aku mengambil kesempatan padanya? Ia sedang hamil!”

Yunho baru akan membalas ketika Isak menutup pandangannya dari ponselnya sendiri dan bicara langsung dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, apa kabar? Apa kau baik-baik saja? Jangan terlalu mengkhawatirkan Yunho, ia baik-baik saja. Aku dan Changmin menjaganya dengan baik di sini.”

Kyuhyun mencebikkan bibirnya. “Arasso. Aku akan menghubunginya lagi nanti.” Ia lalu memutuskan hubungan saat itu juga.

“Kenapa ia harus bicara denganku seperti itu? Aku tidak memintanya menjaga suamiku, bukan? Menyebalkan sekali!” kata Kyuhyun bersungut-sungut.

“Setidaknya kau tidak semerana aku.” Bantah Donghae kesal.

“Bagaimana bisa seperti itu? Tidak ada wanita lain yang tengah mencoba merebut kekasihmu, hyung! Kau bahkan tidak punya kekasih!” balas Kyuhyun, masih dengan kesal.

“Bukan karena kekasih, Kyu. Sadarkah kau bahwa kau baru saja membuatku harus mengganti cat kamarku karena jika Yunho mendatangi rumahku dan.. Arrgghhh.. Kyuhyun-ah.. lihat betapa aku menyayangimu. Jadi, kumohon kau tidak melakukan hal-hal aneh di sini selain memata-matai yunho, ne?” kata Donghae panjang lebar dengan nada frustasi.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Sambil tersenyum lebar, ia memeluk Donghae. “Terima kasih hyung.. Kau adalah hyung terhebat sepanjang masa!”

“Baiklah.. Kita harus bersiap-siap. Bukankah kita harus membuntuti Yunho hari ini? Pasti reuninya sudah dimulai.” Kata Donghae seraya melepaskan pelukan Kyuhyun lalu mengacak rambutnya penuh rasa sayang.

Kyuhyun mengangguk bersemangat. Ia sudah memesan satu meja di salah satu restoran.  Kebetulan mejanya menghadap ke arah ballroom, membuatnya lebih mudah memantau gerak-gerik suaminya.

Beberapa meter dari tempat Kyuhyun saat ini, terlihat seorang gadis tengah bergelayut manja di lengan seorang lelaki tampan dan terus-terusan mengisi gelas lelaki tersebut dengan anggur yang memabukkan..

*

uknow-hae

 To be continued..

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..

The Journey – Chapter 5

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 5

Kyuhyun membuka matanya perlahan, begitu matanya sudah terbuka sepenuhnya, ia tersentak melihat seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Dengan cepat ia menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh wajahnya dengan malu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku ada disini?”

Yunho tersenyum. “Mengapa kau menutupi wajahmu.” Ia berusaha menarik selimut Kyuhyun.

“Hentikan. Aku bahkan belum membasuh wajahku yang kotor.”

“Tapi kau tetap manis di mataku.”

Kyuhyun mengabaikan rayuan Yunho. “Kenapa kau tahu aku ada disini?”

“Aku tahu dari Zhoumi.”

Kyuhyun tertawa mendengarnya.

“Mengapa kau tertawa?”

“Kudengar kau meminum 32 butir obat cacing.” Kyuhyun masih terus tertawa.

Yunho ikut tertawa karenanya. “Zhoumi jahat itu. Mulutnya benar-benar besar. Sial! Apa dia mengatakan hal lainnya?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Ia kemudian membuka selimutnya lalu menjawab. “Tidak. Setelah diam selama beberapa saat, ia pergi.”

“Benarkah?”

Kyuhyun mengangguk.

“Dia benar-benar aneh.” Yunho menatap Kyuhyun. “Apa sakitmu cukup parah?”

Kembali Kyuhyun mengangguk.

“Maafkan aku. Saat itu aku benar-benar tolol. Selain mencintaimu, aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa dibanggakan.”

Kyuhyun tersenyum. “Kau slaah. Kau punya banyak hal yang bisa dibanggakan.”Seperti basah kuyup tersiram hujan dan meminum pil cacing dengan jumlah yang cukup banyak.”

Yunho menyadari bahwa Kyuhyun mencoba bercanda. “Jangan tertawa. Ini serius. Aku harus mengatakan yang sebenarnya tentang hubungan kita pada Zhoumi. Jadi kita bisa melanjutkan hubungan ini.”

Saat itu Yunho mendengar ada suara langkah-langkah kaki di luar. “Apa ini kamarnya?”

“Aku akan menemuimu lagi nanti. Sampai jumpa.” Ia kemudia mencium pipi Kyuhyun sekilas lalu bergegas pergi. Tapi ketika ia akan membuka pintu, benda yang terbuat dari kayu itu mulai terkuak. Yunho segera mundur lalu bersembunyi di balik selimut di atas tempat tidur.

Beberapa orang masuk ke ruangan itu. seorang lelaki paruh baya berpakaian resmi masuk dan berkata. “Oh anakku yang malang, kenapa kau bisa kehujanan seperti itu?”

Kyuhyun hendak bangkit dari tidurnya dan memberi salam. Tapi lelaki itu menolak. “Berbaringlah. Demammu bisa ditangani segera. Kau bisa terkena pneumonia.”

Pelan-pelan Yunho bangkit dari tidurnya lalu berjalan pelan ke pintu saat semua mata disana memandang ke tempat tidur Kyuhyun.

“Apa kau makan dengan baik? Kau harus memakan makanan sehat agar cepat sembuh.”

Namun Kyuhyun tidak memperhatikan dengan baik. Ia melihat Yunho yang hendak keluar ke pintu dengan panik. Ketiga orang lainnya yang ada disana menoleh ke belakang.

Gerakan Yunho yang mengendap-endap masuk ke sebuah ruangan kecil, berusaha untuk lolos terhenti ketika ia menyadari semua orang memergokinya.

“Ah…m…maaf. Se…sepertinya aku salah ruangan.” Ucapnya gugup sebelum ia membungkukan badannya dan menutup pintu dengan kikuk.

Kyuhyun sendiri hanya meringis, merutuki kebodohan namja tersebut yang jelas-jelas memang ‘salah ruangan’.

Sang dokter hanya menghela nafas pelan seraya melangkah menuju ruangan tempat Yunho masuk. Ia membuka pintu tersebut tanpa berkata apapun.

Yunho terkesiap, ia baru menyadari memang dirinya telah salah masuk ruangan ketika melihat satu stel seragam Kyuhyun menggantung di belakangnya. Ruangan yang baru saja ia masuki ternyata adalah sebuah lemari gantung.

“Hahaha, ternyata memang benar salah ruangan…” tawanya semakin gugup dengan menunjuk seragam Kyu yang tergantung. Tanpa sepatah kata pun, ia menundukan tubuhnya dengan memegang erat tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan pasien.

Sementara Kyu hanya tertawa pelan melihat tingkah lucu kekasihnya.

*

Yunho membalikan tubuhnya ketika ia merasakan seseorang telah berdiri di belakangnya.

“Kepalkan tanganmu.” Pinta namja tersebut pada seseorang yang kini telah berdiri di hadapannya. Tak lupa ia juga ikut mengepalkan tangannya memberi contoh.

Zhoumi, namja tersebut memandang kedua tangannya bingung sebelum ia menuruti permintaan sahabatnya.

“Naikkan kepalanmu seperti ini.” Yunho memasang posisi siaga dengan kedua tangannya yang mengepal erat.

Lagi, Zhoumi pun menurutinya meskipun ia sendiri masih tampak bingung.

Yunho menghela nafas kasar dan menatap lurus pada retina milik lelaki jangkung  yang ada di hadapannya.

“Sekarang, pukul aku.” Pinta Yunho tanpa ragu. Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia pun memejamkan matanya. Menunggu apa yang akan Zhoumi lakukan padanya.

“Kenapa aku harus memukulmu?”

“Lakukan saja dan segera pukul aku!”

“Aku tidak suka memukul ataupun di pukuli oleh orang lain.” Jawab Zhoumi dengan ekspresi wajahnya yang datar.

“Ya!” ia berteriak meminta perhatian Zhoumi. “Kyuhyun. Kami sudah saling mengenal satu sama lain.” Dengan nada tegas ia mencoba menjelaskan kenyataan yang telah ia sembunyikan pada sahabat sekaligus tunangan lelaki yang ia cintai.

Zhoumi sedikit terkejut mendengar ucapan Yunho. Namun ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dari wajahnya sebelum ia membalikan tubuhnya dan memilih untuk pergi meninggalkan Yunho dengan terbahak keras.

“Sebenarnya dia yang memberikan kalung ini padaku musim panas lalu!” Teriak namja Jung itu tak memperdulikan Zhomi yang melangkah menjauh darinya.

Awalnya Zhoumi mengacuhkan teriakan tersebut dengan tetap berjalan meninggalkan Yunho. Namun tiba-tiba saja keseimbangan tubuhnya hilang dan membuatnya jatuh tersungkur di tanah lapang tempatnya berpijak.

Sesegera mungkin Yunho berlari menyusul Zhoumi. “Zhoumi-ya, gwenchana?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Sialan. Aku terjatuh lagi.” Rutuk Zhoumi dengan heran. Ia mendesis kesal dengan kebiasaannya yang akhir-akhir ini sering terjatuh tanpa ia ketahui penyebabnya. Ia pun bangkit dari posisinya dan membersihkan seragamnya yang terkena debu dan rumput kering.

“Kau tak perlu khawatir.” Ia bangkit dan berdiri membelakangi Yunho yang berdiri kaku di belakangnya. “Mengenai hal itu, jangan biarkan ayahku melihat kalung tersebut.  Jika tidak, ia pasti akan murka.”

Ia menunduk sekilas, memilih kata yang tepat untuk di ucapkan pada sahabatnya.

“Karena kalung tersebut adalah hadiah pemberian ayahku…” Ia membalikkan wajahnya, menatap Yunho yang tampak menunggu kelanjutan kalimat yang akan ia ucapkan. “… hadiah khusus yang di berikan ayahku untuk Kyuhyun.”

Yunho membeku di tempatnya. Ia tak berusaha menghentikan langkah Zhoumi yang lagi-lagi menjauh darinya. Rasa bersalah di hati semakin dirasakannya setelah mengetahui hal tersebut. Terlebih, saat melihat ekspresi muram dari wajah sahabatnya itu.

*

           Libur musim dingin telah tiba. Yunho pun memilih menghabiskan waktu liburnya di kota tempat pamannya  tinggal. Kota dimana ia pertama kali bertemu dengan Kyuhyun, namja manis yang sangat ia cintai.

Dan semenjak itulah ia tidak bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun. Hingga ia berpikir bahwa mereka tidak akan bisa bertemu lagi selamanya. Namun kekhawatirannya sirna ketika suatu hari ia mendapat sebuah  kiriman surat yang di antar oleh tukang pos.

            Bogoshipo…

            Aku sangat merindukanmu hingga kurasa aku akan mati karenanya. Dan aku penasaran, seberapa banyakkah sungai kenangan kita berubah. Sampaikan salamku pada rumah hantu yang dulu kita kunjungi, pada bangku dan pada deretan perahu dayung di tepi sungai kita. Katakan jika aku merindukan mereka, dan aku akan melakukan yang terbaik.

            Kemarin Zhoumi datang menemuiku dan memberiku alamat tempat tinggal  pamanmu. Selain itu, ia  juga membuat pengakuan padaku yang membuatku sangat terkejut. Ia mengatakan jika kaulah yang selama ini menuliskan suratnya untukku. Huh…bagaimana mungkin kau bisa menyembunyikan kebenaran itu dariku?

            Tapi, tak apa. Padahal awalnya nyaris saja aku membuang surat-surat tersebut. Tapi saat ini aku bisa membacanya lagi dengan memikirkanmu setiap waktu.

            Zhomi juga memberikan saran. Jika kau bisa menggunakan namanya untuk dapat tetap bertukar surat denganku. Jadi orang tuaku nanti akan menganggap bahwa aku dan Zhoumi masih tetap saling bertukar surat.

*

Kyuhyun menundukkan kepalanya ketika ia mendapati appa-nya tengah berdiri di ambang pintu kamar yang baru saja ia buka. Namja peruh baya itu tersenyum sekilas dan  memberikan sebuah surat yang pada sampulnya tertulis nama’ Zhoumi’.

Ia mengucapkan terima kasih pada sang appa sebelum ia kembali masuk ke kamar dan menutup pintunya. Ekspresinya seketika berubah riang dengan melonjak-lonjakan tubuhnya karena girang. Tanpa membuang waktu ia pun mendudukkan diri di meja belajarnya untuk membaca surat yang ia dapat yang tidak lain adalah surat dari Jung Yunho, lelaki terkasihnya.

Lihatlah keluar jendela,

Jika terdapat ranting yang jatuh dan terbawa oleh hembusan angin,

Itu berarti orang yang kau cintai adalah orang yang juga mencintaimu…

*

Kyuhyun :

Saat ini, salju sedang turun diluar sana.

Ketika salju pertama turun,

Mereka mengatakan padaku jika ‘kau harus pergi berkencan dengan orang  yang kau cintai’. Tapi yang ku lakukan saat ini  hanyalah menulis surat.

Yunho-ssi, aku sangat merindukanmu. Aku akan menemui appa dan meminta izin  untuk berkunjung ke tempat kakek. Jika aku di ijinkan, aku berjanji akan mengirimimu telegram.

*

Yunho :

Bukalah telingamu,

Jika kau mendengar detakan jantungmu sendiri, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga .

Pejamkanlah matamu.

Jika bibirmu menyunggingkan sebuah senyuman, maka orang yang kau cintai adalah orang yang mencintaimu juga.

*

        Salju berhenti turun siang itu. Meskipun demikian, seluruh permukaan kota tetap tertutup oleh salju putih yang turun semalam.

Di sebuah jalanan kota, terlihat seorang namja manis berbalut mantel panjang serta syal yang melingkar di lehernya melangkah dengan senyum cerah terpatri di bibirnya. Udara dingin seolah tidak menyurutkan kebahagiaannya ketika kakinya melangkah menuju sebuah gedung yang akan ia tuju.  Ia berniat mengirim telegram pada lelaki yang sangat ia rindukan. Sesuai dengan apa yang ia janjikan pada Yunho melalui surat terakhir yang ia kirim.

“Aku ingin mengirim telegram.” Ucap namja manis tersebut pada seorang petugas ketika ia telah sampai di kantor post. Sesekali ia menggosokan tangannya untuk menghangatkan dirinya yang kedinginan. Bahkan kedua pipinya kini tampak merona, perpaduan dengan rasa bahagia dan dingin yang ia rasakan.

“Silahkan tuliskan pesanmu di sini.” Pinta sang petugas mengangsurkan secarik iertas padanya.

“Ne…”

Kyuhyun menggigit jarinya. Bahkan memikirkan namanya saja membuatnya sangat gugup.Ia bingung pesan apa yang harus ia sampaikan pada Yunho. Meskipun sebenarnya ia sudah menyiapkan apa yang akan ia tulis dari rumah  namun entah kenapa apa tiba-tiba semuanya terlupakan.

*

         Takdir memang tidak selalu berpihak pada setiap orang. Itulah kalimat klasik yang menggambarkan keadaan yang seseorang tidak ia inginkan. Hal itu pulalah yang terjadi antara Yunho dan Kyuhyun.

Hal itu bermula ketika suatu hari, salah satu surat yang Kyuhyun tulis terkirim ke rumah Zhomi.

“Kyuhyun mencintai Yunho, appa.” ucap Zhoumi takut-takut ketika sang appa meminta penjelasan mengenai surat tersebut. “Aku tidak mencintai Kyuhyun. Mereka berdua saling mencintai. Oleh karena itulah aku memilih untuk mundur dan menyerah.”

Sesekali  Zhoumi menatap appa-nya yang rahangnya telah mengatup keras dengan sorot  mata yang mengintimidasinya. Dan ia bersumpah jika ia melihat salah satu tangan ayahnya bergerak melepas ikat pinggang yang ia kenakan dari celananya.

Mengabaikan pergerakan ayahnya, ia terus berucap mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

“Dua orang yang saling mencintai sudah seharusnya bersama, bukan? Aku tidak apa-apa.”

Perlahan Zhoumi mendongakan wajahnya melihat ayahnya bangkit dari posisi duduknya dengan tangannya yang memegang ikat pinggang yang berhasil ia lepas.

“A…ani. Aku…aku mencintai Kyuhyun juga, appa. Aku tidak akan menyerah. ”  pekik Zhoumi tergagap, beringsut dari duduknya menjauhi ayahnya yang terlihat sangat murka.

“Apa kau sedang mengejek appa?” desis ayahnya dengan suara beratnya.”Kau selalu berbuat semaumu sendiri, hm?”

Slapp!

Tak segan Mr. Zhou mengayunkan ikat pinggangnya pada Zhoumi yang meringkuk di hadapannya.

“Jadi kau menganggap orang tuamu tidak berarti apa-apa, hah?!”

Slapp!

“Arrggh!”

Slapp!

“Apa kau tidak tahu Kyuhyun itu siapa, hah?! Dia adalah putra dari kongresman!”

Slapp!

Slapp!

“Arrgghh…!”

Slapp!

“Kau tahu artinya, bocah? Kau pantas mati! Kau bahkan tidak bisa mempertahankan harga diri seorang pria!”

Slapp!

Slapp!

Sementara di lain ruangan, tepatnya di balik dinding rumah tersebut, seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah eomma Zhomi, hanya mampu terisak tertahan melihat  putranya di pukuli oleh suaminya sendiri tanpa mampu berbuat apapun.

Keadaan menegangkan juga terjadi di kediaman Kyuhyun. Dimana ia yang baru saja pulang dari kantor post, langsung masuk ke kamarnya dan mendapati sang ayah tengah duduk di meja belajarnya. Tentu saja dengan sebuah surat yang tergenggam dalam tangan kokoh pria tersebut.

Melihat hal itu, Kyuhyun hanya menahan nafasnya yang tercekat. Menyadari jika apa yang selama ini telah ia sembunyikan rapat-rapat, telah terbongkar tanpa menyisakan apapun.

Dan saat itulah, akhir dari musim dingin. Musim dimana seseorang nan jauh disana harus rela kehilangan harapan serta angannya yang telah membumbung tinggi…

*

          Istirahat sekolah, di sebuah perpustakaan yang tampak lengang itu. Terlihat dua orang namja berseragam hitam tampak duduk saling berhadapan yang terpisahkan oleh sebuah meja. Satu dari mereka tampak tengah larut pada buku yang tengah ia baca sementara namja yang lain tampak menyandarkan tubuh jangkungnya pada kursi yang ia duduki.

Tanpa melepaskan tatapannya dari Yunho, namja yang tengah membaca buku, pria tinggi yang tidak lain adalah Zhoumi, menggerakan tangannya untuk melepas ikat pinggang yang ia kenakan.

Slapp!

Yunho terlonjak ketika ia merasakan seseorang mengayunkan ikat pinggangnya di meja hadapannya. Ia mengerutkan keningnya bingung menatap Zhoumi yang tangah menggenggam erat ikat pinggangnya.

“Yunho-ya, Kau tahu ini apa?”

“Ikat pinggang?” tanya Yunho balik dengan ekspresi malas. Ia kembali menekuni buku yang tengah ia baca tanpa menghiraukan Zhoumi.

“Bukan. Ini adalah cambuk.” Tukas Zhoumi seraya bangkit dari duduknya.”Si bajingan  inilah yang telah memukuliku.”

Yunho hanya melirik sekilas tanpa berniat melupakan bukunya.

“Appa-ku sebenarnya tidak ingin menyakitiku, tapi benda ini tetap saja memukuliku.  Itulah sebabnya aku menggenggam benda ini.” Lelaki tinggi itu menyeringai, masih dengan menggenggam ikat pinggangnya. Seolah ia sangat membenci pada benda sejenis yang kemarin ayahnya gunakan untuk memukulinya “Bagaimana aku harus menghukumnya?”

Yunho kini tengah mengamati pergerakan Zhoumi. Satu tangannya terlihat menopang dagu diatas meja.

“Hukuman mati.” Jawab Yunho enteng di barengi dengan senyuman sinisnya.

Zhoumi menjentikan jarinya. ”Itulah yang aku pikirkan.”

Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho. “Membunuhnya secara perlahan dan menyakitkan?”bisiknya. Sang lawan bicara hanya mengerjapkan matanya tanpa membalas ucapannya.

“Atau paksa dia untuk mati perlahan. Atau berikan obat tidur?”

“Cekik dia hingga mati.” Desis Yunho dari sela bibir berbentuk hatinya.

Zhoumi terdiam dan menatap tajam pria bermata musang dihadapannya. “Ide yang bagus.” Ia menyeringai. Kemudian ia mengedipkan satu matanya.

Ia lalu menjauhkan wajahnya dari Yunho dan menghela nafas panjang. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.

“Yunho-ya, jagalah Kyuhyun dengan baik.”

Itulah kata terakhir yang Zhoumi katakan sebelum ia melangkah pergi meninggalkan perpustakaan. Meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan pandangan penuh tanya.

*

          Upacara si tengah terik matahari telah menjadi seremoni rutin di sekolah militer. Begitu pun juga tempat Yunho dan Zhoumi bersekolah. Kali ini, seluruh siswa yang notabene berisi namja tengah melangsungkan upacara di halaman sekolah. Kepala sekolah tampak sangat berapi-api memberi sambutan dan berdiri di podium.

Seluruh siswa mendengarkannya dengan khidmat. Namun perhatian beberapa dari siswa tersebut terpecah ketika ia melihat salah seorang siswa yang berdiri di barisan paling depan tiba-tiba jatuh dan ambruk.

Yunho yang mengetahui kejadian tersebut pun melongokkan kepalanya sedikit untuk mengetahui siapa siswa yang jatuh pingsan. Tampak dua orang siswa membantu namja yang pingsan dan menggendongnya di punggungnya. Dan Yunho hanya mampu tersenyum dan mendecih ketika Zhoumi, siswa pingsan yang berada dalam gendongan temannya itu, menyeringai ke arahnya.

*

             Tampak sesosok tubuh terbaring di bangsal ruang kesehatan sekolah. Pria tersebut mengerjapkan matanya ketika ia bangun dari tidurnya dan bangkit perlahan dari tempatnya berbaring. Sejenak, ia merogoh saku celana seragamnya dan mengambil sebuah kertas berbentuk persegi panjang.

Ia lalu mengiris bagian tengah dari kertas tersebut dengan sebuah cutter dengan beralaskan meja. Setelah itu ia pun memasangkan bagian kertas yang telah berlubang itu dan menyelipkannya di kancing baju seragamnya. Ia mematutkan dirinya di depan cermin. kali ini ia tampak seperti seorang pastur dengan seragam hitam  dan kertas putih yang terdapat di dadanya. Ia tersenyum puas ketika melihat bayangannya sendiri terpantul dalam cermin di hadapannya.

*

         Yunho melangkahkan kakinya dengan tergesa di koridor sekolah. Ia ingin memastikan keadaan Zhoumi yang ia ketahui tengah berada di ruang kesehatan. Ia membuka pintu kaca di depannya tanpa mengucapkan salam atau apapun.

Ia menggaruk kepalanya. Sedikit heran ketika ia memasuki ruang kesehatan namun tak mendapati seorang pun di dalamnya. ia menatap bangsa yang berjejer pun tampak kosong. Perlahan ia menoleh ke arah sudut ruangan ketika ia sudut matanya menangkap siluet hitam tergantung.

Dan seketika ia berlari ke sudut ruangan tersebut hingga ia menubruk sofa ketika ia mendapati tubuh Zhoumi telah tergantug di sebuah besi di sudut ruangan.

“Zhoumi-ya! “ pekikinya seraya memeluk kaki sahabatnya yang telah lemas tak berdaya.

“Seseorang! Tolong! Tolong! Ada orang sekarat di sini!” teriaknya kalap berharap seseorang mendengarnya.

“Zhoumi-ya! Dasar bodoh!” teriaknya panik. “Zhoumi-ya! Bertahanlah! Zhoumi-ya!” Ia sedikit mengangkat kaki Zhomi berharap usahanya tidak terlalu membuat leher Zhoumi tercekik dengan ikat pinggang yang menjerat kuat di lehernya.

“Seseorang! Tolong! Tolong!” teriaknya lagi dengan air matanya yang telah mengalir deras. “Zhomui-ya, kumohon. Bertahanlah. Bertahanlah!”

Isakan Yunho semakin menjadi ketika ia mendapati busa telah mengalir dari sudut bibir sahabatnya. “Aku memintamu untuk membunuh ikat pinggang itu, bukan dirimu sendiri. Zhoumi-ya, sadarlah…! Buka matamu!”

“Jangan mati. Jangan mati…” ratap Yunho memohon, “Jangan mati, bodoh!”

“Bernafaslah!” Pekiknya keras tanpa memperdulikan orang-orang yang berdatangan mencoba membantunya.

zhoumi The Journey 5

TBC

The Journey – Chapter 4

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 4

Present Days

Suara merdu yang mengalun dengan ritme yang teratur terdengar dari ruang musik yang kini terdapat beberapa mahasiswa yang tengah memainkan biolanya. Dengan langkah sedikit berjingkat, Kyujin melangkah masuk dan mendudukan diri di salah satu kursi kosong yang terdapat partitur nada di depannya.

Dengan cekatan ia mengeluarkan biola kesayangannya dari dalam tasnya. Baru saja ia akan mengambil nada, alunan musik gesek itu berhenti. Tanda jika lagu yang dimainkan telah selesai. Ia hanya meringis kecil ketika melihat teman-temannya beranjak meninggalkan ruangan.

“Whuuu…”

Taemin memasuki ruangan musik dengan mengenakan sepatu rodanya. Ia berhenti tepat dihadapan Kyu yang tampak berubah ekspresi enggan ketika melihat Taemin datang.

“Kartunya.” Pinta namja berambut hitam itu seraya mendudukan diri disamping Kyujin. Kyujin mengambil kartu tersebut dari dalam tas biolanya.

“Haaah! Seharusnya aku tahu jika ada kartu dalam kado itu untukku.”

Kyujin hanya memutar bola matanya jengah mendengar rengekan Taemin yang saat ini tengah memeluk kartu ucapan itu.

*

Seorang namja tampak tengah berlari diantara guyuran hujan dipelataran kampus. Dengan langkah tergesa ia menuju sebuah bangku dibawah pohon untuk berteduh. Setelah meletakan tas biolanya di kursi, ia mengusap lengan baju panjangnya mencoba mengeringkan pakaiannya yang sedikit basah.

Ia mengamati sekelilingnya yang terlihat beberapa orang tengah berlarian menghindari hujan karena tidak megenakan payung. Seketika ia terkejut dan membelalakan matanya tidak percaya ketika ia melihat seorang namja tinggi yang  berlari ditengah hujan menuju tempatnya berdiri. Ia membalikan tubuhnya. Berusaha menghindar dan berpura-pura tidak melihat namja yang ia ketahui telah berada dibelakangnya.

“Kyujin-ah?” Panggil namja tersebut ketika ia menyadari jika seseorang yang membelakanginya adalah Kyujin.

“Oh, Anyeonghaseyo…” Sapa Kyujin kikuk sebelum ia membelakangi namja tersebut yang tidak lain adalah Changmin.

Changmin tersenyum. Ia kemudian berjalan kehadapan Kyujin yang menatapnya penasaran.

“Kau akan pergi kemana?” tukas Changmin pada Kyujin yang akan kabur dari sana karena gugup.

Kyujin terdiam ditempatnya berdiri. “Perpustakaan.” Jawabnya singkat.

“Apa letaknya jauh?”

“Aniyo. Tidak begitu jauh dari sini. Aku tidak akan kehujanan dan basah jika aku berhenti di setiap gedung.” Jelas Kyujin menunjuk beberapa gedung yang terlihat.

Tanpa menjawab apapun, Changmin melepaskan jaket cream yang ia kenakan. Ia juga mencangklongkan tas biola milik Kyujin di pundaknya. Sedangkan pemiliknya hanya mengerutkan keningnya heran.

“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana.” Changmin tersenyum seraya menunjukan jaket yang ada ditangannya. “..dengan payungku.”

Namja tinggi tersebut mendekatkan dirinya pada Kyujin untuk memayungi tubuh mereka dengan jaket miliknya.

“Kau lihat gedung itu? Kita akan berlari dari bangku ini dan berhenti disana.” Changmin memberi instruksi pada Kyujin yang mendongak menatapnya.

“Satu..Dua…Tiga!”

Mereka berdua berlari bersama meninggalkan tempat berteduhnya. Menuruni undakan dengan langkah yang seirama. Tak dihiraukannya lagi kecipak air yang membasahi celana mereka berdua. Sesekali mereka saling menatap dengan senyum cerah tersungging di bibir. Sangat kontras dengan cuaca saat ini yang cenderung gelap karena mendung. Dengan langkah yang tetap sama, mereka menaiki undakan menuju gedung pertama yang mereka singgahi.

“Arrh..!” Changmin mengibaskan jaketnya sekedar untuk mengeringkannya agar tidak terlalu basah. Sementara Kyujin sendiri tengah mengusap rambut ikal sewarna madunya yang basah. Mereka mendongak, menatap hujan yang masih deras. Tampak keduanya terasa canggung berdiri dengan jarak sedekat itu.

Beberapa saat kemudian, Changmin memayungi kembali tubuh keduanya yang mau tidak mau membuat Kyujin merapatkan diri dengan tubuh Changmin. Menuruni undakan dan berlari lagi. Dengan satu tangannya Kyujin memegangi ranselnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya.

Tidak lama kemudian mereka kembali berhenti di sebuah pintu masuk yang beratap. “Kau tidak apa-apa?” tanya Changmin memastikan dengan menggulung lengan kaus panjang berwarna biru yang ia kenakan.

“Ne…” hanya kata itu yang terlontar dari bibir Kyujin dengan wajahnya yang merona.

Changmin kembali memayungi tubuh mereka berdua. Menatap lelaki di sebelahnya  seolah memintanya untuk bersiap sebelum mereka berlari kembali. Lagi, mereka berlari menuruni jalan aspal yang basah. Melewati orang-orang disekitarnya yang berlalu lalang dengan payung di tangan. Hingga pada akhirnya keduanya sampai di perpustakaan tempat mereka tuju.

Tawa Kyujin lepas saat ia melihat payung kepala milik seseorang yang berjalan di hadapannya terlepas dari ikatan di kepalanya. Namun tawanya terhenti ketika ia menyadari kini Changmin tengah menatapnya. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona.

“Jeongmal gomawo, Changmin hyung. Karena mengantarku kau jadi basah seperti ini.”

“Gwenchana. Tidak lama lagi  juga ini akan segera kering.” Jawab Changmin seraya memberikan tas biola pada namja manis yang sedikit lebih pendek darinya.

Kyu tersenyum sungkan. ”Aku harus masuk. Sekali lagi terima kasih banyak…” Ia menundukan tubuhnya sekilas.

“Ne. Sampai bertemu lagi..”

“Ne…” gumam Kyu melangkah masuk ke perpustakaan. Senyumnya tidak dapat ia sembunyikan sepanjang ia melangkah. Hatinya serasa meledak karena terlalu bahagia saat ini.

Ia berlari secepat ia mampu menaiki tangga menuju lantai dua saat ia melihat sosok Changmin juga berlari meninggalkan gedung perpustakaan. Ia lalu menuju jendela yang menghadap ke jalan umum. Mencari sosok namja yang baru saja mengantarnya dari balik kaca yang lembap karena tetesan hujan. Seketika ia menyembunyikan diri di balik dinding ketika ia melihat Changmin yang ada di jalan menatap kearahnya.

‘Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi’ batinnya berkata dengan nafasnya yang masih terengah. ‘Tapi, kenapa perpustakaan terasa begitu dekat?’ Rutuknya kembali memandang ke arah jalanan diluar.

*

Past Days

Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat. Para lelaki mendengarkan wejangan dari sang kepala sekolah dalam diam. Tiba-tiba seseorang dari barisan kedua dari depan jatuh pingsan. Beberapa lelaki yang ada disana langsung menghampirinya dan membawanya pergi.

“Dia belum membalas suratku.” Kata Zhoumi pada Yunho. Keduanya berdiri di barisan tengah.

“Kyuhyun-ssi?” tanya Yunho.

“Ya.” Zhoumi mengangguk.

“Kenapa?” tanya Yunho lagi.

“Aku tidak tahu.” Ekspresi wajah Zhoumi terlihat datar. “Seperti yang kau tahu, aku bukan tipe orang yag gampang jatuh cinta. Tapi yang ini berbeda. Aku benar-benar menyukainya.”

Setelah berkata demikian, Zhoumi jatuh pingsan.

*

            Sepulang sekolah Zhoumi mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berdiri cukup lama di depan halaman rumah besar itu, menunggu Kyuhyun keluar. Kyuhyun cukup terkejut melihat siapa yang datang siang itu.

“Zhoumi-ssi?”

“Anneyong haseyo.” Sapa Zhoumi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Aku menunggumu sedari tadi.” Ia lalu menyerahkan sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikannya di balik bahu lebarnya. “Terimalah bunga-bunga ini.”

Kyuhyun memandang bunga-bunga itu dengan tatapan ragu, namun akhirnya ia menerimanya juga.

“Aku menyukaimu, Kyuhyun-ssi.” Kata Zhoumi setelah mengumpulkan keberaniannya. Ia lalu meraih kedua pundak Kyuhyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki imut di depannya. Setelah beberapa detik, ia lalu mencium kening Kyuhyun. “Kumohon, tetaplah mengirimiku surat.”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Zhoumi berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, lututnya terasa goyah, kembali ia terjatuh. Namun dengan cepat ia bangkit.

“Ini aneh. Mengapa aku terus menerus terjatuh? Apa aku jadi seperti ini karena aku terlalu tinggi?” tanya Zhoumi pada dirinya sendiri dengan bingung.

*

            Yunho dan Kyuhyun berlari-lari dengan semangat menaiki tangga batu di malam di musim gugur yang cerah itu. Ketika keduanya cukup lelah, mereka berhenti. Seraya mengatur nafas, keduanya saling menatap dalam diam. Tiba-tiba Yunho maju dan mencium Kyuhyun.

“Aku kehabisan nafas.” Elak Kyuhyun seraya mendorong tubuh Yunho. Ia sendiri tidak bisa mengartikan apa ia memang kehabisan nafas atau ia terlalu malu dicium oleh lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu atau bahkan karena sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan ini.

Yunho segera menyadari bahwa Kyuhyun benar. Namun kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia lalu duduk dan berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu, seraya meredam rasa malunya atas penolakan Kyuhyun.

Melihat itu, dengan rasa bersalah Kyuhyun ikut duduk di samping Yunho, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Yunho lalu meregangkan tangannya dan merangkul tubuh kurus Kyuhyun. Keduanya terdiam cukup lama.

“Kau menolakku karena Zhoumi kan?” tanya Yunho. Akhirnya ia berani juga menyampaikan apa yang tengah dipikirkan atas penolakan tadi.

“Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku..” kata Kyuhyun sedih.

Yunho menghela nafas. “Zhoumi adalah bajingan busuk.” Ia cukup mengenal Zhoumi yang suka mengencani banyak gadis. Dan ia tidak sanggup melihat Kyuhyun jatuh ke pelukan lelaki seperti sahabatnya itu.

“Tidak.. Ia adalah lelaki yang baik.” bela Kyuhyun.

“Ia merupakan lelaki bajingan karena ia baik hati.” Kata Yunho seraya tersenyum kecut. “Zhoumi menunggu suratmu.”

Kyuhyun mendengarnya. Mendengar nada sakit hati dalam suara kekasihnya itu. perlahan ia mengangkat wajahnya, memandang wajah tampan Yunho. “Tidak ada harapan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk hubungan ini.”

“Jangan bicara seperti itu. Pasti akan ada jalan.” Kata Yunho menguatkan hati Kyuhyun. Ia kembali mencoba mencium lelaki itu. Namun dengan cepat Kyuhyun lagi-lagi menghindar.

“Tidak.. Sudah tidak ada jalan lagi. Sudah tidak ada lagi. Kita hanya akan semakin terluka jika kita bertahan.”

Yunho mendekati Kyuhyun. “Hal ini akan berjalan dengan baik, percayalah.”

Kyuhyun menoleh. “Aku tidak akan menemuimu lagi, begitu juga dengan Zhoumi. Aku serius. Aku tidak akan bertemu kalian berdua lagi.”

Kyuhyun tahu, hal ini menyakitkan. Baik untuknya, Yunho maupun Zhoumi. Namun ia harus melakukannya. Ia tidak mungkin membiarkan dua sahabat itu saling menikam dari belakang jika ia memilih salah satunya. Yang satu adalah lelaki yang dicintainya, sementara yang lain adalah lelaki pilihan orang tuanya.

*

            Pagi itu ketika Zhoumi turun dari mobil mewah milik keluarganya, Jungmo, sang senior sekolah melihatnya. Begitu mobil mewah itu berlalu, senior tadi memanggil Zhoumi. “Hey limousine boy. Kemari kau.”

Zhoumi berjalan mendekati sang senior dengan wajah datar. Padahal di depannya, Jay menggenggam sebuah tongkat pemukul. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dipukuli karena terlambat.

Limousine boy, lupa memberi hormat padaku?” tanya Jungmo lagi. “Oh.. Jadi kau memang tidak mau memberi hormat? Aha.. Karena kau mempunyai seorang supir layaknya tuan besar maka kau tidak perlu menghormati seniormu, begitu?”

Zhoumi tidak menjawab, sebaliknya ia malah tersenyum mengejek dengan beraninya. Jungmo semakin jengkel karenanya. “Lihat, pin-mu tidak kau pasang dengan baik dan kemejamu tidak terkancing. Baiklah.. Hari ini aku akan memberimu pukulan terburuk sepanjang masa.”

Zhoumi lalu ikut mengambil sikap seperti teman-teman lainnya, mengambil posisi seperti hendak push up, tapi dengan pantat yang ditonjolkan ke atas, siap menerima pukulan dari tongkat di tangan Jungmo. Begitu ia menyadari bahwa Yunho juga ada dalam barisan itu, ia mengerling nakal ke arah sahabatnya itu.

“Aku akan memukul kalian semua, dimulai dari sebelah kiri.” Kata Jungmo kejam. “Orang yang pertama terlambat akan mendapatkan pukulan sekali, orang kedua akan mendapat pukulan dua kali. Orang ketiga harus meneriakkan angkanya, sesuai keterlambatannya. Mengerti?”

“Ye.” Jawab para siswa junior dengan suara lemah.

“Apa kalian semua banci? Aku tidak bisa mendengar suara kalian! Mengerti?” teriak Jungmo lagi.

“Ye!” teriak para siswa junior, dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Giliran Yunho tiba. Ia meneriakkan nomornya. “Tujuh.” Namun begitu Jungmo mengayunkan tongkatnya, Yunho menjatuhkan dirinya dnegan takut.

“Hey, kembali ke posisi semula!” bentak Jungmo.

Mau tidak mau Yunho kembali ke posisi awalnya. Bug! Pukulan pertama yang ia dapatkan di pantatnya terasa begitu menyakitkan. Tapi ia coba bertahan. Berikutnya pukulan kedua, lalu ketiga. Ia tidak tahan lagi.

“Senior, pantatku..”

“Tahan! Atau aku akan mematahkan tanganmu!” bentak Jungmo lagi.

Kembali Yunho ke posisinya. Dan kembali Jungmo menghajar bokongnya dengan sadis. Yunho hanya bisa menerimanya dengandesahan menderita yang keluar dari sela-sela bibirnya. Namun menjelang pukulan terakhir, ia merasa tidak sanggup lagi. Ia lalu berdiri.

“Kau masih harus mendapatkan satu pukulan lagi. Kembali ke posisimu! Dengarkan perintahku, kembali ke posisimu!” Bentak Jungmo seraya menendang kaki Yunho hingga akhirnya Yunho terjatuh dan kembali ke posisinya, kemudian melancarkan pukulan terakhirnya.

Jungmo lalu berjalan ke arah Zhoumi. “Berapa nomormu? Jawab aku, berapa nomormu!” Ketika dilihatnya Zhoumi menatap penuh kebencian terhadapnya, ia kemudian bicara lagi. “Baiklah, aku yang akan memberitahumu. Nomormu adalah sembilan belas.”

Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, Jungmo segera mendaratkan tongkatnya yang keras di bokong Zhoumi seraya berhitung. “Satu.” Zhoumi terlihat kesakitan menerima pukulan tanpa tedeng aling-aling itu.

“Dua.”

“Tiga.”

Ketika pukulan ketiga berakhir, Zhoumi terhempas ke tanah. Melihat itu Jungmo sedikit marah. “Ya! Bangun! Bangun!” Namun karena Zhoumi tidak menjawab, ia membungkuk sedikit dan memperhatikan adik kelasnya itu baik-baik.

“Hei.. Ada apa denganmu?” tanya Jungmo ketakutan.

Zhoumi pingsan.

*

            “Hal ini tentang Kyuhyun.. Kurasa ia tidak menyukaiku.” Kata Zhoumi sedikit sedih. Setelah ia dan Yunho mendapatkan hukuman dari senior mereka, keduanya berbaring telungkup di hutan kecil di belakang sekolah, mengistirahatkan bokong mereka dengan cara membuka separuh celana sekolah mereka dan membiarkan bokong-bokong kemerahan itu tertiup angin, meredakan nyerinya.

“Aku memberinya bunga. Aku bahkan menciumnya, tapi tidak ada respon sama sekali.” Kata Zhoumi lagi.

“Kau menciumnya?” tanya Yunho dengan rasa penasaran.

“Benar.” Zhoumi lalu kembali fokus pada buku di halamannya. Tanpa ia sadari, Yunho nyaris menangis mendengar pengakuannya.

*

            Malam itu juga, Yunho mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berkali-kali memainkan tombol lampu di pekarangan rumah mewah itu, memberi tanda pada Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak kunjung keluar.

Padahal, Kyuhyun melihat semua itu dari balik jendela kamarnya. Namun ia tidak mau mengingkari janjinya. Perlahan dua bulir airmatanya jatuh. Ia hanya bisa memandangi Yunho hingga lelaki itu beranjak pergi.

Keesokan harinya, ketika Kyuhyun akan berangkat ke sekolah, ia melihat sebuah surat kecil tergeletak di depan pagar. Dengan penasaran diraihnya surat yang dilipat dengan sedemikian rupa itu.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Hujan deras mengguyur kota Suwon siang itu. para pejalan kaki sibuk melindungi diri mereka dari terpaan hujan di bawah payung. Yunho sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan. Ia memang tidak membawa payung dan ia seakan tidak tahu jika hujan tengah membasahi dirinya. Ia hanya berdiri tegak, menunggu di depan sebuah gerbang sekolah.

Begitu dilihatnya Kyuhyun keluar dari dalam sekolah bersama Kibum, ia mengikuti lelaki itu dari seberang jalan hingga Kyuhyun berpisah dengan Kibum dan berjalan sendirian. Dengan cepat ia menghampiri Kyuhyun dan ikut masuk ke dalam payung besar di tangan lelaki itu.

Kyuhyun menoleh lalu menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang datang. Ia memandang Yunho dengan canggung lalu menyerahkan payungnya.

“Pakailah ini dan pulang ke rumah. Berteduhlah dari hujan.”

Setelah itu ia keluar dari naungan payungnya dan berlari menembus hujan. Yunho hanya bisa menatap kepergian Kyuhyun dengan sedih. Ia menurnkan payung itu dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Karena benar-benar ingin bicara dengan Kyuhyun, ia mengejar Kyuhyun hingga ke rumahnya. Berkali-kali ia memainkan tombol lampu di pohon di depan rumah Kyuhyun, memberi tanda seperti yang biasanya ia lakukan. Tapi sang penghuni rumah tak kunjung keluar.

“Bodoh! Apa kau mau mati tersengat listrik?”  Kyuhyun muncul dari belakang Yunho, tapi ia sama sekali tidak berhenti. Kemudian seraya berjalan ke udakan, ia menoleh sedikit ke belakang. “Kau gila!”

Yunho segera menaiki undakan, mengejar Kyuhyun dan meraih lengan lelaki yang dicintainya itu.

“Aku tidak mau berpisah seperti ini.” Yunho menarik Kyuhyun menuruni undakan, menjauh dari rumah itu. “Ayo kita bicara, walaupun hanya sebentar.”

Kyuhyun mulai terisak. “Tak aka nada yang akan berubah. Tidak ada gunanya lagi kita bicara. Lepaskan aku!”

Ketika mereka sudah berada di balik tembok besar, Kyuhyun menyentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan Yunho dan berlari pergi. Namun baru beberapa langkah, ia kembali. Masih dengan tangisan yang kini terdengar lebih kencang, ia merebahkan kepalanya yang lelah di bahu sang kekasih.

*

            “Ini suratmu.” Kata Yunho seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Zhoumi.

Namun dengan wajah datar Zhoumi menjawab. “Aku tidak menginginkannya lagi.”

“Kenapa?”

“Selain tidak ada balasan, dan karena kata hatiku, aku akan menulisnya sendiri mulai saat ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Ini adalah kesempatan emas. Kudengar ia sakit setelah terkena hujan deras, saat ini ia tengah dirawat di rumah sakit.”

Yunho bertanya. “Apa sakitnya parah? Dan itu karena.. hujan?”

Zhoumi mengangguk. “Aku akan menjenguknya hari ini. Menjenguknya saat ia sakit mungkin bisa membuatku mendapatkannya. Aku akan mengaku padanya bahwa selama ini bukan aku yang menulis surat-surat itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa kaulah penulisnya. Kau tahu, aku bukan tipe orang yang setia pada pasanganku, tapi aku benar-benar menyukai Kyuhyun.”

“Yunho!” sebuah suara memanggil Yunho. “Jung Yunho!”

“Dia memanggilmu.” Kata Zhoumi mengingatkan.

Yunho tersadar. “Ya?” Ternyata gurunya lah yang memanggilnya.

“Aku harus meminum semuanya?” tanya Yunho tak percaya. Melihat lebih dari dua puluh butir obat di meja gurunya.

“Lihat ini! Cacing tambang, cacing kremi, cacing gelang! Kau punya semuanya! Apa yang kau makan? Karena kau, kelas ini menjadi kelas dengan parasit terbanyak.” Kata wali kelasnya dengan kesal.

“Tapi.. Itu bukan kotoranku.” Bantah Yunho dengan sopan.

“Lalu menurutmu siapa? Kau adalah satu-satunya anak di kelas ini yang mempunyai banyak penyakit. Minum obat-obat ini sekarang!”

Karena bentakan dari gurunya itu, mau tidak mau Yunho menelan semua butiran obat yang diberikan kepadanya.

“Zhoumi!” Panggil gurunya. “Minum tiga butir”

Begitu ia dan Zhoumi berpapasan, Yunho segera memprotes. “Tapi kotoran kami sama.”

Zhoumi tersenyum mengejek. “Tapi di satu sisi punya lebih banyak cacing sedangkan yang satu lagi tidak.”

The Journey Chap 4

TBC

The Journey – Chapter 3

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 3

Present Days

Kyujin tersentak dari imajinya. Refleks ia menatap jam yang melingkar di lengan kirinya dan ia terkejut ketika waktu sudah menunjukan hampir petang. Ia baru ingat jika malam ini ia memiliki janji dengan Taemin untuk datang ke Museum seni bersama Changmin.

Dengan tergesa ia memasukan jurnal yang baru saja ia baca kedalam tas dan beranjak dari bangku taman yang ia tempati. Beberapa saat lalu, karena merasa jenuh di perpustakaan, ia memilih untuk pergi ke taman kampus untuk melanjutkan kembali membaca jurnal yang selalu ia bawa kemanapun itu.

Ketika sampai di Museum, ia tidak mendapati sahabat kekanakannya itu. Begitupun dengan sosok Changmin. Tidak mau membuang waktu dengan percuma, Kyu pun berinisiatif untuk berkeliling ruangan yang penuh dengan hasil karya dari mahasiswa jurusan Seni di kampusnya.

Namun, ketika ia melewati sebuah papan tempat untuk menggantung lukisan, ia melihat Taemin yang tengah bergelayut di lengan Changmin berjalan di sisinya. Ia mengerutkan keningnya heran.

Ia melangkahkan kakinya lagi hingga ia berdiri tepat di hadapan Changmin yang hanya berjarak beberapa meter dihadapannya. Seketika nafasnya tercekat.

“Anyeong…” Sapanya  pada namja tinggi dihadapannya. “Maaf aku terlambat.” Ucapnya menjelaskan sekedarnya. Changmin tersenyum menanggapi ucapan Kyujin.

“Anyeong, Kyujin-ah…” Tukas Taemin yang tiba-tiba muncul dari balik papan kayu.  Kyujin hanya tersenyum canggung seraya mengalihkan wajahnya dari sahabatnya yang tampak tersenyum cerah.

“Changmin hyung. Aku menang!” Seru Taemin riang pada Changmin yang kembali tersenyum. Menahan tawanya melihat sikap Taemin yang tampak kekanakan.

“Kita membuat taruhan. Aku bertaruh jika kau akan datang sementara Changmin hyung bertaruh jika kau tidak akan datang.” Terang Taemin menjawab rasa penasaran Kyujin.

Mendengar itu, Kyujin hanya mampu menelan ludahnya menahan perasaannya yang terasa tidak rela dan kecewa. Padahal ia hanya terlambat beberapa menit, tapi mereka berdua bahkan telah membuat taruhan semacam itu. Sedekat itukah hubungan mereka saat ini?

Taemin kembali merangkul lengan Changmin dengan senyum lebarnya, “Kau harus mentraktirku makan malam, hyung…” Pintanya dengan mengusap pundak Changmin, bertingkah seolah tengah membuang debu di pundak kokoh milik Changmin.

Namja tampan tersebut hanya tersenyum tipis mengabaikan tingkah Taemin padanya. “Baiklah, aku akan mentraktir kalian.” Balasnya yang juga menatap Kyujin yang hanya mampu berdiri dihadapannya dengan kikuk.

Mereka melanjutkan langkah. Namun Kyujin lebih memilih untuk berjalan di sisi pasangan tersebut dengan sedikit menjaga jarak. Sesekali ia menatap Changmin yang ternyata juga tengah menatap padanya. Ia menundukan wajah seraya menggigit bibir bawahnya. Sedikit malu dan terpesona dengan senyum tulus yang diberikan Changmin padanya.

Setelah berkeliling Museum, akhirnya mereka memutuskan untuk menonton pentas drama yang tengah berlangsung di teater. Kyujin tampak tenang menikmati jalan cerita dari drama yang tengah ditampilkan.

Berbeda dengan Changmin yang duduk berjarak satu bangku-tempat Taemin duduk- darinya. Ia tampak sedikit risih diposisi duduknya. Terlebih ketika Taemin memeluk lengan Changmin serta menyandarkan kepalanya dengan manja di bahunya. Melihat pergerakan Taemin, Kyujin mengalihkan pandangannya dari arah panggung.

“Lihat apa kau?” sentak Taemin dengan nada menantang. Kyujin tidak menjawab apapun. Ia hanya menatap Changmin yang rahangnya tampak mengeras, sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Melihat itu, Kyujin hanya mampu tersenyum pahit. Mencoba menahan perasaannya yang tiba-tiba terasa sesak.

“Aku harus pergi.” Ucap Kyujin pada Taemin yang tengah berdiri di pintu masuk ruang staf pemain drama ketika pertunjukan telah selesai.

“Kenapa kau harus pergi secepat ini? Changmin hyung akan mentraktir kita makan malam.” Kaluh Taemin menekuk wajahnya.

Kyu menepuk pundak Taemin pelan. “Tiga orang terlalu ramai, Taemin-ah.”

Mendengar ucapan Kyujin, seketika wajah Taemin berbinar. “Aish, dasar kau. Kau terlalu pintar, Kyu.” Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Changmin yang tengah berbicara dengan seseorang di dalam ruang staf. “Changmin hyung, Kyujin mengatakan jika ia akan memilih pulang lebih awal.”

Changmin melangkah menghampiri kedua namja yang berdidi di depan pintu, “Tapi kau harus makan dulu, Kyujin-ah. Dan kita juga bisa bermain atau mengobrol terlebih dahulu.”

Belum sempat Kyujin berkata apa-apa, Taemin telah menyambar terlebih dulu. “Kyu tidak pernah merubah pikirannya secepat itu. Bukankah begitu, Kyujin-ah?” Tanya Taemin dengan nada manis.

Kyujin yang saat itu telah berdiri membelakangi Taemin dan Changmin hanya tersenyum getir. “Ne.” Jawabnya singkat. Mencoba menggunakan nada senormal mungkin. Tanpa mereka berdua ketahui, ekspresi wajah Changmin berubah murung.

“Nah, kan…” Desah Taemin kecewa meskipun wajahnya menunjukan ekspresi yang berbeda dari kalimat yang ia ucapkan.

“Sayang sekali. Pasti akan sangat menyenangkan jika kau juga ikut, Kyu…” Changmin membujuk dengan wajah berharap.

Taemin mengerutkan keningnya, tidak suka mendengar ucapan dan ekspresi yang ditunjukan oleh lelaki yang ia cintai di sisinya.

“Kyunnie, apa kau tahu jika Changmin hyung tidak sering mentarktir teman-temannya seperti ini, kan? Changmin hyung melakukan ini karena kau adalah temanku.” Taemin tersenyum manis pada Changmin yang dibalasnya dengan senyuman terpaksa. “Dia hanya mencoba berlaku baik, jadi kau bisa pergi sekarang. Tidak masalah.” Taemin mendorong tubuh Kyujin yang mematung membelakanginya. Meminta sahabatnya itu untuk pergi secepatnya. Changmin sendiri terus memperhatikan Kyujin dengan sorot mata kekecewaan.

Kyujin berjalan meninggalkan ruang staf dengan langkah sedikit menghentak. Sedikit kesal dengan perlakuan Taemin padanya. Ia cukup tahu diri untuk tidak mengikuti ajakan makan malam Changmin. Selain itu, ia merasa telah cukup menyiksa dirinya sendiri dengan melihat Taemin yang selalu bersikap mesra pada Changmin.

Ia yang baru saja berjalan sampai di lorong ruangan terkejut ketika ia mendengar suara seseorang.

“Tunggu!”

Kyujin membalikan tubuhnya dan mendapati Changmin yang tengah melongokkan tubuhnya di jendela ruang staf yang terbuka. Kyujin berjalan menghampiri Changmin.

“Aku membawa hadiah hari ini.” Changmin mengeluarkan dua buah kotak kecil dari balik dinding yang membatasinya dengan Kyujin. “Aku juga memberikanmu satu, jadi kau tidak akan merasa sendirian.”

“Aku bertaruh kau tidak akan bisa tidur malam ini.” Tukas Taemin pada Kyujin yang tiba-tiba mendesak tubuh Changmin di jendela. “Changmin hyung tidak bermaksud apa-apa. Changmin hyung memberikan kado ini karena kau adalah teman baikku. Jika bukan karena aku, kau tidak akan pernah mendapatkannya.”

Kyujin hanya terdiam dengan sesekali menatap wajah Changmin yang masih mengulurkan dua buah hadiah padanya.

“Ambillah satu.” Pinta Changmin menghiraukan kata-kata Taemin.

Kyujin melihat dua buah kotak kecil berwarna cokelat muda yang di ikat dengan pita simpul menghiasi keduanya. Yang tampak berbeda adalah hiasan bunga kertas yang hanya terdapat di kotak yang ada ditangan kanan Changmin. Kotak yang  jika sekilas dipandang saja tampak terkesan lebih manis dari yang satunya.

Setelah Kyujin memilih hadiah dari Changmin, ia berniat untuk pulang ke rumah. Sekedar untuk beristirahat dan melanjutkan untuk membaca jurnal yang membuatnya penasaran.

“Kyujin-ah.”

Kyujin berhenti di tempat ketika suara Taemin yang tengah berlari kearahnya memanggil namanya.

“Aku lebih suka hadiah milikmu.” Taemin merebut kotak kecil dengan hiasan bunga kertas dari tangannya dan menggantinya dengan hadiah milik Taemin sendiri. “Kau tidak keberatan jika kita bertukar kan? Bye…”

Taemin melenggang pergi kembali memasuki gedung dengan tanpa memberi kesempatan pada Kyujin untuk mengucapkan sepatah katapun. Kyujin hanya menghela nafas berat menatap kepergian sahabatnya.

Setelah ia sampai di rumah dan membersihkan tubuhnya, Kyu hanya membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya. Menelungkupkan tubuhnya untuk memandangi hadiah pemberian dari Changmin untuknya, yang telah ditukar dengan milik Taemin.

Ia memainkan pita yang menghiasi penutup kotak persegi dihadapannya. Merasa enggan untuk membukanya. Ia mengocok kotak tersebut. Sedikit heran ketika ia tidak mendengar suara apapun dari dalamnya. Karena kesal ia mengabaikannya namun karena rasa penasarannya akhirnya ia membuka kotak berwarna cokelat tersebut.

Kartu ucapan dan sebuah gantungan ponsel berbentuk beruang putih.

Kyujin merebahkan kembali di kasur dengan kartu ucapan ditangannya.

            Ketika sinar mentari tepancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu.

Kyujin segera menelepon Taemin perihal hadiah itu.

“Benarkah? Apa itu yang ia katakan? Aigoo, Changmin hyung pasti sangat menyukaiku. Kau harus memberikan kartu itu padaku besok, Kyu. Ok?”

“Ok.” Sahut Kyujin lirih sebelum ia memutus telepon dari Taemin yang sangat antusias ketika ia membacakan tulisan yang terdapat di dalam kartu ucapan pemberian Changmin.

Kyujin meletakan teleponnya dengan lunglai. “Aku sama sekali tidak memiliki harapan lagi padanya.” Gumamnya. ”Sudah seharusnya ia dengan Taemin.”

Ia kembali membaca sederet kalimat yang tertulis di kartu ucapan yang tergeletak dihadapannya.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Past Days

Yunho menambahkan tinta pada penanya lalu kembali menulis.

“Apa sudah selesai?” tanya Zhoumi yang tiba-tiba muncul dan duduk di depan Yunho.

“Tinggal sedikit lagi.”

“Perhatian.” Seorang guru mereka memasuki kelas lalu berdiri di depan papan tulis. “Kumpulkan veses kalian di dalam sebuah plastik, mengerti? Lakukan sekarang!”

Tanpa banyak bicara, seluruh isi kelas berhamburan keluar, memegang kantong plastik kecil di tangan lalu berbondong-bondong memasuki toilet. Namun, seluruh isi toilet ternyata telah dipenuhi oleh anak-anak lain yang sudah lebih dulu datang.

Maka, karena tidak ada pilihan lain, mereka melakukannya di balik semak-semak di belakang sekolah.

*

            Hooekk!

Kyujin memuntahkan makanan di mulutnya ketika membaca dan membayangkan apa yang tertulis dalam jurnal yang tengah ia baca.Namun beberapa saat kemudian ia tertawa pelan membayangkan tingkah konyol Yunho dan Zhou Mi…

*

            Past Days

Pagi itu, seluruh isi kelas Yunho melakukan lari pagi mengintari lapangan sekolah bersama-sama. Zhoumi yang tadinya berlari di depan, mengurangi kecepatanya agar bisa sejajar dengan Yunho.

“Yunho-ya, aku akan berlari sambil menutup mataku. Kau harus menuntunku, ne?”

“Baiklah” kata Yunho. Ia lalu menggandeng lengan Zhoumi ketika lelaki jangkung itu mulai menutup matanya.

“Yunho-ya, maukah kau menemaniku belajar dansa polka sepulang sekolah?” tanya Zhoumi lagi.

“Polka?”

“Benar, aku akan menemui Kyuhyun disana. Ini adalah ide ayahku dan temannya itu. Mereka ingin aku dan Kyuhyun bertemu di perhelatan nantinya.” Terang Zhoumi. “Akan ada banyak lelaki disana, kau bisa memilih satu nantinya. Kau bisa datang kan?”

“Aku tidak tahu..” Yunho yang secara tidak sadar sudah melepaskan lengan Zhoumi, tetap berlari sambil berpikir. Detik berikutnya ia baru sadar bahwa ia sudah terpisah dari sahabatnya. Dengan bingung ia mencari Zhoumi.

Ketika menoleh ke kanan, didapatinya Zhoumi yang tetap tenang karena mengira Yunho masih menggandenganya, tetap berlari lurus ke depan dan..

Buuuukkkkkkkk..!

Zhoumi menabrak tiang gawang sepak bola dan langsung terjatuh karenanya.

“Zhoumi-ya..” kata Yunho dengan perasaan bersalah. Mau tidak mau ia harus mengikuti Zhoumi sepulang sekolah nanti ke tempat belajar dansa polka.

Setibanya mereka disana, mata Yunho langsung menangkap Kyuhyun yang juga langsung menyadari kedatangan Yunho dan Zhoumi.

Zhoumi membungkuk hormat pada Kyuhyun lalu memperkenalkan Yunho pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, ini sahabatku, Jung Yunho. Dia adalah sahabat yang pernah aku ceritakan padamu dulu.”

Yunho langsung menyadari bahwa Zhoumi tidak pernah tahu bahwa dirinya dan Kyuhyun sudah saling mengenal terlebih dahulu. Maka dengan berpura-pura, ia membungkuk sedikit, memberi hormat. “Halo, aku Jung Yunho. Senang berkenalan denganmu.”

Kyuhyun yang juga mengerti situasi ini, segera ikut dalam sandiwara yang diciptakan Yunho. “Anneyong haseyo. Jadi.. kalian berteman?”

Zhoumi sedikit bingung. “Apa kalian sudah saling kenal?”

“Oh.. Tidak.” Sangkal Kyuhyun cepat.

Zhoumi tersenyum seraya merangkul pundak Yunho. “Dia adalah sahabat terbaikku.”

Kyuhyun lalu menyadari bahwa ia tidak berdiri sendiri disana. “Oh, kenalkan. Ini temanku, Kibum.”

“Anneyong Haseyo, aku Kim Kibum.” Kata lelaki di samping Kyuhyun.

“Aku Zhoumi.”

“Aku Yunho.”

Acara ramah tamah mereka terhenti dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang ternyata adalah pengajar dansa polka mereka hari itu.

“Semuanya, silahkan duduk.”

Para murid yang hadir langsung berebutan tempat duduk, tak terkecuali untuk Yunho dan Kibum yang sedikit terlambat mendapatkan kursi yang mereka inginkan.

“Nah, hari ini aku akan mengajarkan dansa polka pada kalian. Bagaimana? Kedengarannya menarik bukan?” kata guru itu lagi.

Selama sang guru mendengarkan, Kyuhyun tidak berkonsentrasi sama sekali. Ia dan Yunho terus saling bertatapan dengan luapan kegembiraan di hatinya.

“Bogosipphosoyo..” bisiknya mesra ke arah Yunho yang duduk cukup jauh darinya.

“Nado.” Bisik Yunho tak kalah mesra.

Kemudian mereka semua berdiri membentuk lingkaran dan saling bergandengan satu sama lain. Tangan mereka diangkat sedikit di bawah pundak mereka lalu kaki mereka melangkah mau kemudian mundur sesuai irama musik, sementara sang guru berdiri di tengah lingkaran, memperagakan gaya yang harus mereka pelajari.

Yunho dan Kyuhyun mengikuti setiap arahan dari si pengajar, ketika mereka harus saling membungkuk ke kanan dan ke kiri pada orang di samping mereka, keduanya melakukannya dengan baik, namun mata mereka masih saja saling menatap, seolah takut kehilangan jika mereka berpaling sedikit saja.

Kemudian para murid berdansa dengan pasangan masing-masing, dengan langkah yang telah ditentukan. Pasangan pertama Kyuhyun adalah Zhoumi, karena lelaki itu tepat berada di sebelah kirinya. Berikutnya mereka kembali membentuk lingkaran dan bergerak maju mundur lalu saling membungkuk seperti sebelumnya. Kini pasangan dansa Kyuhyun adalah Yunho. Hatinya bergejolak riang karenanya.

“Aku tidak tahu bahwa kau dan Zhoumi berteman.” Kata Kyuhyun.

Yunho tidak menjawab, ia hanya tertawa geli mendengarnya. Kyuhyun akhirnya ikut tertawa mengingat kejadian tadi dimana ia dan Yunho harus berpura-pura baru saling kenal.

Lalu tiba-tiba musik klasik yang mengalun berhenti berputar, tergantikan dengan musik rock and roll’. Ternyata Zhoumi yang menggantinya. Dengan gaya yang penuh percaya diri, ia berdansa di tengah ruangan, mengabaikan si pengajar yang menatap jengkel padanya. Satu persatu semua murid ikut bergoyang riang, begitu juga Kibum, Yunho dan Kyuhyun.

Setelah latihan itu selesai, Kyuhyun, Kibum, Yunho dan Zhoumi melenggang pulang bersama. Selama perjalanan, Kyuhyun dan Yunho saling mencuri-curi pandang.

“Aku ingin jadi penyiar suatu saat nanti. Aku selalu melatih ketangkasanku berbicara. Bisakah kau melakukan ini?” Kata kibum pada Yunho. Ia lalu mengatakan sesuatu yang cukup panjang dan tampaknya berulang-ulang tapi Yunho tidak memperhatikannya.

“Bagaimana? Keren kan? Aku bisa mengulangi dengan cepat.” Kata Kibum lagi. Namun lagi-lagi diacuhkan oleh Yunho yang sibuk mencuri pandang pada Kyuhyun.

“Bisakah kau melakukannya?” tanya Kibum penuh harap.

Menghormati si lawan bicara, akhirnya Yunho menyanggupi. Ia mencoba mengikuti kata-kata Kibum tadi tadi ia tidak berhasil.

“Kau harus banyak berlatih.” Kata Kibum yang sedikit kecewa. “Nah, coba kau ikuti aku setelah ini.” kembali Kibum melontarkan kata-kata yang sama. Terdengar sedikit menjengkelkan di telinga Yunho, tapi ia masih bertahan, demi menghormati teman Kyuhyun itu.

“Kita berpisah disini. Aku akan mengantar Kyuhyun pulang, jadi kau bisa menjaga Kibum. Oke? Kita bertemu lagi nanti.” Kata Zhoumi di persimpangan jalan.

“Aku pulang dulu. Selamat malam.” Kata Kyuhyun dengan enggan.

“Sampai jumpa Kyuhyun-ah.” Kata Kibum seraya melambaikan tangannya.  Ia lalu menoleh pada Zhoumi dan mengucapkan selamat malam yang dibalas dengan anggukan sopan dari si namja jangkung itu.

Yunho hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Jauh di hati kecilnya, ia masih ingin bersama Kyuhyun, tapi ia tahu hal itu tidak mungkin terjadi selama masih ada Zhoumi di sampingnya.

Kyuhyun berbalik sebentar, ia menatap Yunho dengan pandangan enggan. Ia sendiri tidak ingin waktu berakhir secepat ini. Tapi sepertinya waktu tidak berpihak padanya. dilihatnya kembali Kibum melambai padanya. Ia membalas lambaian itu dengan canggung lalu kembali mengikuti Zhoumi yang telah menunggunya.

“Ayo kita pulang.” Kata Kibum pada Yunho. Mengembalikan khayalan lelaki itu ke dunia nyata. “Yunho-ssi, ayo kita coba yang lebih mudah. Nah, coba ini.”

Kibum kembali melontarkan kata-kata aneh yag diulang-ulang. Mungkin menurutnya itu sedikit lebih mudah daripada kata-katanya sebelum ini, tapi bagi Yunho sama saja, ia bahkan enggan mendengarkan.

“Bagaimana? Mudah kan? Ayo, cobalah..”

“Hahh?”

“Cobalah mengulangi kata-kataku tadi.” kata Kibum lagi.

“Kata-kata yang mana?”

Kembali Kibum berbicara dengan nada menjengkelkan seperti tadi. “Nah, kau bisa melakukannya kan? Ayo cobalah.”

“Aku tidak bisa melakukannya. Tolong jangan paksa aku.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Hahhh? Kau tidak bisa melakukannya? Ini mudah sekali. Dengarkan.” Kibum lalu bicara lagi dengan kata-kata itu, masih dengan nada yang sama.

Yunho tak tahan lagi, ia melambatkan langkahnya, membiarkan Kibum berjalan duluan lalu berlari dan sembunyi di semak-semak.

Sementara di tempat lain, Kyuhyun sudah sampai di rumahnya. Zhoumi mengucapkan selamat malam lalu meninggalkan rumah Kyuhyun dengan hati riang.

Sepeninggal Zhoumi, Kyuhyun berlari menaiki tangga rumahnya. Sebelum menekan bel yang terpasang di pintu pagarnya, ia menoleh ke belakang dengan sedih lalu menunduk. Ia senang sekaligus sedih hari ini. Ia benar-benar masih ingin bersama Yunho. Tapi kenyataan menghampirinya bahwa itu tidak mungkin, pasti Yunho tengah mengantarkan Kibum pulang saat ini. Dengan pasrah ia mengarahkan jarinya ke depan, hendak memencet bel.

Namun sebelum tangannya benar-benar menekan bel itu, lampu jalan di depan rumahnya mendadak mati. Kyuhyun menoleh ke belakang. ‘Tidak ada siapa-siapa.’ Pikirnya. Ia lalu kembali hendak menekan bel rumahnya.

Tapi lagi-lagi sebelum menekan bel, sesuatu terjadi. Lampu tadi menyala sebentar lalu dimatikan lagi. Kyuhyun kembali menoleh ke belakang, ke arah lampu yang di pasang di jalan masuk menuju undakan tangga menuju rumahnya.

Ia melihat sosok hitam di bawah tiang penyangga lampu itu. Dengan penasaran ia mencoba melihat  didalam gelap, mencoba menerka siapa orang yang iseng mengerjainya malam-malam begini.

Detik berikutnya, lampu kembali menyala dan.. Jung Yunho berdiri tepat di bawah tiang itu. Tersenyum hangat padanya, memberikan atmosfir membahagiakan di sekeliling Kyuhyun. Kyuhyun menatap lelaki yang berdiri di bawah sana dengan haru. Antara percaya dan tak percaya, ia melepaskan tas yang digengganggmnya sedari tadi lalu mulai melangkah menuruni undakan tangga perlahan.

Begitu ia sadar sepenuhnya bahwa ini bukan mimpi, ia mempercepat langkahnya. Ketika tinggal dua anak tangga lagi yang harus ia tempuh untuk menemui pujaan hatinya, Kyuhyun melompat tak sabar, lalu jatuh dalam pelukan hangat seorang  Jung Yunho.

The journey part 3 pict

PS : Bayangkan Kyujin seperti gambar Kyuhyun yang di bawah.

TBC