Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Advertisements

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..

Obsession – Chapter 2

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Humor, Fluff, Sad

Pair                  : YunKyu, TaecKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 2

The Charming Boy

            “Kenapa appa dan eomma harus pergi? Seminggu pula! Belum lagi uang yang ditinggalkan tidak banyak. Mana bisa aku membeli makanan terus menerus di luar? Mereka tahu, aku benci memasak sendiri!” gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Di suatu siang yang cerah di musim gugur itu, ia mendorong trolley belanjaannya dan mulai mengisinya dengan bahan masakan sejak lima belas menit yang lalu. Kedua orang tuanya harus mengunjungi paman dan bibinya yang telah pindah dan menetap di Beijing selama lima tahun terakhir. Dan mereka harus meninggalkan Kyuhyun sendiri di rumah karena anak itu harus bersekolah.

Kyuhyun bisa saja selalu menghabiskan waktu di rumah Minho, sahabatnya, dan bisa menumpang makan ketika waktu makan telah tiba. Lagipula, kedua orang tua Minho sudah menganggapnya seperti anak sendiri, pasti mereka tidak akan keberatan. Tapi rasa malu menahannya. Ia tidak mau orang tuanya dianggap tidak memberi Kyuhyun cukup uang saku hingga anaknya terlantar.

Jadi, mau tidak mau Kyuhyu harus berbelanja siang ini guna mengiri kembali kulkasnya yang nyaris kosong hingga seminggu kedepan.

Setelah memastikan ia telah mengisi keranjang belanjaannya dengan bahan makanan sesuai dengan daftar kecil di tangannya, ia pun berjalan ke kasir.

Namun, saat itu juga ia menangkap sosok lelaki dengan gerak-gerik mencurigakan. Lelaki itu tampak mendengarkan musik di telinganya dengan santai, tapi dari raut wajahnya tersirat sedikit kecemasan. Hal itu terlihat dari gerakan kepalanya yang selalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah takut ketahuan melakukan sesuatu yang ilegal.

Kyuhyun sempat bertahan beberapa lama untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, namun karena lelaki itu tak kunjung melakukan suatu gerakan yang berarti, Kyuhyun pun menyerah dan kembali ke tujuan utamanya : kasir.

Tak sampai lima menit, Kyuhyun sudah berjalan santai keluar dari supermarket itu. walaupun siang yang cerah itu terasa sedikit dingin, namun Kyuhyun tetap mempertahankan langkahnya yang pelan. Seolah menikmati udara di sekitarnya. Ia bahkan berdendang riang seraya menggoyang-goyangkan kedua kantong plastik di tangan kanan dan kirinya.

“Ya! Cepat tangkap dia! Ya! Jangan lari!”

Kyuhyun menoleh ke belakang. Seorang pemuda tegap berlari melewatinya diikuti beberapa lelaki berseragam yang meneriakkan kekesalan dan tak sengaja menyenggol barang belanjaan di tangan kanannya.

Sreeekkkk.

Kantong plastik itu robek dengan cepat dan memuntahkan isinya ke aspal di bawahnya. Sayurannya berjatuhan, tomat dan ketangnya bergelinding di jalan lalu lenyap dari pandangan. Sebagian lagi malah tergilas ban mobil yang lewat. Sedangkan sepuluh butir telur ayam yang dibungkus menjadi satu dalam sebuah kantong bening kini pecah dengan manisnya.

Dengan wajah padam karena marah, mata Kyuhyun segera mencari sang pelaku yang tadi tengah di kejar oleh segerombolan lelaki berseragam.

“Sebentar.. bukankah lelaki itu yang tadi tampak mencurigakan di supermarket? Dan bukankah para lelaki yang mengejarnya itu adalah para pegawai supermar.. Astaga! Dia pasti pencuri! Sialan! Dasar penjahat! Ya! Kemari kau!”

Kyuhyun ikut berlari mengejar si ‘tersangka’, meninggalkan satu kantong belanjaan yang tergeletak mengenaskan di jalanan. Sedangkan kantong belanjaan lainnya yang masih utuh di tangan kirinya kini digenggam erat-erat seraya berlari dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja mengambil jalan berbelok di sebelah kiri, bertentangan dengan arah lelaki tadi karena ia tahu, di depan sana nantinya akan ada persimpangan yang membuatnya bisa bertemu lelaki yang merobek kantong belanjaannya tadi.

Namun, baru tiga menit berlari, ia sudah nyaris kehilangan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya. Dengan segera ia melambatkan larinya dengan nafas ngos-ngosan. Ia mencoba melihat ke sekelilingnya, namun tak satupun orang lalu lalang di sana.

“Hosshhh.. Kemana dia? Ini adalah jalan tercepat untuk menyusulnya, sudah pasti aku sampai terlebih dahulu. Dimana dia? Lelaki sialan!” kata Kyuhyun dengan nafas sesak seraya membungkukkan badannya. Kedua tangannya bertumpu di lututnya.

“Heyyy, jangan lari kau..!!!”

Teriakan-teriakan marah kembali terdengar. Dengan cepat Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan melihat ke belakang. Tak jauh di sana, lelaki tegap tadi masih berlari, tangannya menenteng sebuah tas kecil.

“Dia menuju kemari, aku harus menghalanginya!” kata Kyuhyun dengan yakin pada dirinya sendiri.

Kemudian dengan berani ia berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tujuannya cuma satu, menghalangi niat si ‘pencuri’ tadi untuk kabur. Tapi semakin dekat jarak keduanya, lelaki tadi tidak memperlambat laju larinya. Dengan teriakan keras ia malah menyuruh Kyuhyun agar pergi.

“Ya! Minggir! Pergi dari sana!”

Tapi seakan tidak peduli, Kyuhyun tetap berdiri di sana. Namun di sisi lain, ia juga merasa cemas. Pasalnya lelaki tadi tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. ‘Bagaimana kalau ia menabrakku?’ pikirnya.

Sepuluh langkah lagi.. tujuh langkah.. empat langkah.. dua langkah.. Dan kejadian berikutnya sungguh di luar dugaan. Lelaki tegap itu meyeruduk Kyuhyun dengan keras. Lalu dengan sekali rengkuh, ia membawa Kyuhyun di pundaknya seperti mengangkat sekarung beras. Seolah bebannya tidak bertambah, ia masih terus berlari kencang.

Kyuhyun yang baru sadar apa yang terjadi saat ini, segera meronta kuat. “Ya! Lepaskan aku! Beraninya kau menggendongku seperti ini? Ya!!!!”

Kyuhyun menendang-nendang perut lelaki itu sementara kedua kepalannya memukul-mukul pinggul si ‘pencuri’. Ia bahkan tidak sadar ia akan di bawa kemana. Yang ia tahu, setelah beberapa blok, para pengejarnya tidak lagi terlihat. Sepertinya mereka menyerah, karena mereka sadar pencuri yang satu ini terlalu gesit.

Setelah beberapa lama, akhirnya lelaki itu berhenti dan menurunkan Kyuhyun dari punggungnya.

“Maafkan aku. Bukannya aku ingin melibatkanmu atau membawamu sejauh ini, tapi kau sendiri yang tidak mau pergi. Kau terus-menerus menghalangiku maka..”

“Ya! Bodoh! Kau pikir aku apa? Karung beras? Hewan liar? Kau menggendongku dengan sangat tidak terhormat! Apa kau tahu memperlakukan seseorang dengan baik? Kau ini bodoh sekali!” omel Kyuhyun panjang lebar.

Lelaki di depannya tercengang sesaat lalu tertawa geli.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?” teriak Kyuhyun marah.

“Maafkan aku, tapi.. kau marah bukan karena aku membawamu melainkan karena aku menggendongmu dengan cara yang tidak kau suka?” kembali lelaki tadi tertawa geli.

Wajah Kyuhyun memerah karenanya. ‘Sialan!’ rutuknya. Padahal ia ingin marah karena lelaki itu merobek kantong belanjaannya dan membawanya ke tempat yang ia tidak tahu, tapi mengingat cara lelaki itu yang menggendongnya dengan cara yang tidak sopan, ia jadi lupa alasan yang sebenarnya.

“Taecyeon oppaaaaaa…!!!”

Kyuhyun menoleh, dilihatnya segerombolan anak kecil, laki-laki dan perempuan, berlari keluar dari sebuah rumah kumuh kecil di belakangnya, menyongsong si lelaki tegap yang bernama Taecyeon itu.

“Bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Apa kalian bekerja dengan baik?” tanya Taecyeon kepada anak-anak itu. Semuanya mengangguk patuh sebagai jawabannya dengan wajah sumringah.

“Baiklah, ini hadiah untuk kalian. Jangan berebutan. Pastikan kalian membaginya secara adil.” Kata Taecyeon seraya memberikan sebuah kantong yang dikeluarkannya dari dalam tas kecilnya tadi. Kyuhyun melirik kantong itu dan melihat isinya yang sedikit menyembul keluar. Mie instan. Isi kantong itu adalah mie instan.

“Terima kasih oppa.. “ kata anak perempuan yang paling besar, disusul ucapan terima kasih dari anak-anak kecil lainnya. Setelah itu mereka berbondong-bondong masuk ke dalam rumah itu lagi.

“Kauuuu.. Kau memberi anak-anak itu makan dengan hasil curian?” tanya Kyuhyun tak percaya setelah anak-anak itu menghilang dari pandangannya.

“Mwo? Hasil curian? Ya! Aku membelinya.” Jawab lelaki itu setengah mendelik pada Kyuhyun.

“Kalau kau tak mencurinya, mengapa semua lelaki tadi mengejarmu, hahh? Aku jelas-jelas memperhatikanmu di dalam supermarket. Menoleh kesana kemari seolah takut ketahuan, ternyata benar kau mencuri! Kau ini!” omel Kyuhyun lagi.

Laki-laki itu lagi-lagi tertawa geli. “Ya.. Kau ini lucu sekali. Aku membeli semua mie instan itu. kalau tidak percaya, lihatlah ini.” ia lalu menyodorkan struk belanjaannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil kertas kecil itu dengan curiga lalu membacanya. Ia membaca nama dan jumlah barang yang dibeli, tanggal pembeliannya dengan teliti dan nama supermarket tempat tadi ia bertemu lelaki itu.

“Lalu mengapa mereka mengejarmu?”

Taecyeon tersenyum. “Aku hanya berselisih paham dengan salah satu dari mereka. Karena kesal, ia memanggil teman-temannya lalu mengejarku. Hanya itu. Apa kau juga mau permasalahannya? Lalu.. mau tau tentang kehidupanku? Namaku, pekerjaanku, hobiku, tempat tinggalku..”

“Diam!” Bentak Kyuhyun. “Apa hubunganmu dengan anak-anak itu? Jangan bilang kau ini bos dari anak-anak itu. Kau pasti menyuruh mereka melakukan pekerjaan untukmu lalu kau membayar mereka dengan mie instan, iya kan?”

Kini Taecyeon tidak lagi tertawa geli melainkan terbahak-bahak. “Kau ini.. Khayalanmu tinggi sekali. Mereka bukan anak buahku. Hanya kebetulan aku tahu kalau mereka adalah anak-anak yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita. Karena wanita itu juga bukan orang yang berkecukupan, maka mereka semua bekerja bersama-sama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak ini terkadang bekerja di pabrik sebagai buruh. Sedangkan wanita itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga.”

“Terkadang aku membelikan mereka beberapa bahan makanan jika aku hendak kemari. Aku sendiri bukan orang kaya, melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah saja aku tidak mampu. Jadi, aku hanya bisa membantu sesama yatim piatu semampuku.” Taecyeon melanjutkan.

Kyuhun jadi tidak enak hati. Tadi ia sepat berpikir kalau Taeyeon adalah pencuri. Lalu menuduhnya sebagai bos dari anak-anak jalanan. Ternyata kehidupan lelaki itu cukup miris. Ia jadi malu pada dirinya sendiri karena ia sempat menyalahkan orang tuanya yang tidak meninggalkan uang cukup banyak untuk dirinya selama seminggu.

“Lalu.. Mengapa kau tadi mengikutiku?” tanya Taecyeon.

“Karena kau tadi menyenggol kantong belanjaku dan membuat semua isinya berhamburan di jalan. Aku sebenarnya ingin kau untuk..”

“Menggantinya?” tebak Taecyeon langsung.

Kyuhyun mengangguk dengan enggan. Mana mungkin ia meminta ganti rugi setelah mendengar pengakuan lelaki yang tampaknya hanya berbeda dua atau tiga tahun darinya itu.

“Jujur saja, aku tidak bisa menggantinya. Sekarang baru pertengahan bulan, aku harus menghemat hingga waktunya upahku dibayar. Dan itu masih dua minggu kedepan. Jika kau tidak keberatan, aku akan menggantinya dengan hal lain, bekerja untukmu mungkin?” tawar Taecyeon.

“Ehh? Mengapa kau ingin bekerja sebagai ganti dari makanan-makanan itu?” tanya Kyuhyun tak mengerti. Pasalnya, isi dari kantong yang robek tadi harganya tak seberapa. Tapi kekesalannya yang membuatnya mengejar Taecyeon.

“Makanan itu sangat penting bagiku. Aku pernah merasakan bagaimana susahnya mencari makan. Jadi, menyia-nyiakan makanan bukan tipeku. Jadi, aku tetap aan mengganti makanan tadi, bagaimanapun caranya. Aku bisa mengangkat barang-barang yang berat, menjadi pengawal, hingga memasak.”

Otak cerdas Kyuhyun langsung bereaksi karenanya. “Memasak? Kau bisa memasak?”

“Tentu saja. Aku bisa memasak dengan sangat baik. Kau boleh mencobanya jika tidak percaya.”

Kyuhyun tersenyum lebar karenanya. “Baiklah. Kau harus mengganti makanan itu dengan memasak untukku selama seminggu. Ini alamatku.” Ia lalu menyodorkan selembar kertas pada Taecyeon.

“Baiklah.. aku akan datang besok. Oh yah, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Taecyeon. Dan kau?”

Kyuhyun tersenyum tulus kini. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Nah, Taecyeon-ssi, sampai ketemu besok.”

*

            Seperti yang dijanjikan, Taecyeon datang setiap hari untuk memasak. Dan seperti promosinya hari itu, masakannya benar-benar lezat. Kyuhyun sampai berkali-kali menambah makanannya.

“Kau benar-benar pandai memasak. Aku sendiri payah dalam memasak. Aku lebih suka membeli di luar daripada memasak sendiri. Merepotkan. Sayangnya kedua orang tuaku sudah pulang, mana mungkin aku bisa menyuruhmu memasak lagi?” Keluh Kyuhyun ketika ia dan Taecyeon berjalan-jalan sore itu.

“Aku bisa memasak dan membawakanmu sesekali. Jangan khawatir. Aku senang kalau seseorang menyukai masakanku.”

Keduanya sama-sama tertawa ringan lalu terdiam setelahnya. Tak lama kemudian, Kyuhyun berdehem kecil lalu bertanya dengan hati-hati.

“Taecyeon-ssi, mengapa kau tidak melanjutkan sekolahmu? Maksudku, jaman sekarang pendidikan sangatlah penting. Kalau kau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka..”

Taecyeon berhenti berjalan lalu bersandar di tembok batu pembatas jalan kecil itu. Sambil bersedekap, ia menatap langit jingga sore itu lalu mulai menjawab.

“Seperti yang sudah kukatakan pada pertemuan pertama kita, aku adalah seorang yatim piatu. Aku besar di panti asuhan dan tidak kenal siapa orang tuaku. Impian untuk menemukan siapa orang tua kandungku sudah terkubur sejak lama. Jadi, aku sudah tidak mempermasalahkan mereka lagi atau apa motif mereka membuangku.”

“Setelah aku besar. Aku keluar dari panti asuhanku di Mokpo dan pindah ke Seoul. Yah, sejak saat itu aku bekerja di restaurant sebagai koki. Pendapatanku tidak besar, tapi sangat cukup utnuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan lebih dari cukup. Untuk saat ini, aku belum bisa melanjutkan pendidikan, karena aku masih harus menabung untuk membeli sepeda motor. Tempat kerjaku cukup jauh dengan kampus yang ingin kutuju.”

“Sebentar.” Kata Kyuhyun memotong kata-kata Taecyeon. “Kampus yang ingin kau tuju?”

Taecyeon mengangguk. “Benar. Aku telah mendaftar dan diterima untuk mengikuti program beasiswa untuk tahun ajaran depan. Tapi, karena letaknya cukup jauh dari tempat kerjaku, maka aku butuh kendaraan.”

Kyuhyun menatap Taecyeon dengan bangga. “Kau benar-benar seorang lelaki hebat. Beruntunglah siapapun yang menjadi kekasihmu nanti.”

Taecyeon terdiam. Ia menatap Kyuhyun dalam-dalam, hingga membuat Kyuhyun sempat merasa jengah karenanya.

“Kyuhyun-ssi.. Apa kau sudah memiliki seorang kekasih?”

Kyuhyun tertunduk karenanya. Setelah beberapa saat, ia menegakkan lagi kepalanya. Namun ternyata Taecyeon masih menatapnya dalam-dalam. Mau tidak mau Kyuhyun menjawab dengan gelengan di kepalanya.

“Benarkah? Kupikir, lelaki semanis dirimu sudah pasti punya seorang kekasih.”

“Baru beberapa bulan yang lalu aku berpisah dengannya. Ia harus ke Amerika, mewujudkan mimpinya untuk menjadi pemain basket terkenal.” Jawab Kyuhyun.

Taecyeon mengangguk paham. “Jadi kau belum bisa mencari penggantinya. Bukankah begitu?”

Kyuhyun tidak tahu jawaban apa yang paling tepat. Ia sendiri sebenarnya meragukan perasaan itu. Bukan, bukannya ia tidak mencintai Changmin. Tapi, di sudut kecil hatinya, ia masih terus memikirkan sang cinta pertama. Saat ini bukan permasalahan apakah ia bisa mencari pengganti Changmin atau tidak, melainkan apakah ia bisa melupakan Yunho atau tidak.

“Taecyon oppa..!”

Kyuhyun segera tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis berdiri di depan Taecyeon. Kyuhyun sangat mengenali gadis cantik yang sekaligus merupakan kakak kelasnya itu.

“Ara.. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Taecyeon bersemangat.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku cukup sibuk saat ini. Kau tahu sendiri, oppa, semester depan sudah dekat, aku sibuk mempersiapkan diri untuk ujian. Semoga aku bisa lulus dengan nilai bagus dannnnnnn.. bisa kuliah di tempat yang sama denganmu.” Jawab Ara tak kalah bersemangat.

“Hm.. Begitu rupanya. Oh yah, kenalkan, ini Kyuhyun.” kata Taecyon.

Go Ara menoleh. “Oh? Bukankah kau adalah mantan kekasih Changmin? Benar kan? Anneyong Kyuhyun-ssi.”

“Anneyong, nuna.” Jawab Kyuhyun pendek.

“Eh? Kau mengenalnya?” tanya Taecyeon bingung.

“Tentu saja. Aku mengenalnya oppa. Dia adalah adik kelasku di sekolah sekaligus mantan kekasih dari sahabat Yunho.” jawab Ara.

Jung Yunho. Tentu saja. Siapapun tahu dengan pasti kalau Go Ara adalah kekasih Yunho, sang siswa teladan sekolah yang tengah mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Dan hanya Kyuhyun, dan juga Minho, yang tahu betapa Kyuhyun menyukai Yunho. Hanya saja ia tidak pernah berharap lebih, mengingat Yunho telah memiliki kekasih yang dengan enggan diakui Kyuhyun sebagai gadis yang menarik.

“Bagaimana keadaan Yunho disana? Kalian masih sering bertengkar?” Kyuhyun mendengar Taecyeon bertanya.

“Ia baik-baik saja. Ia bahkan bisa mengikuti semua mata pelajaran dengan baik. Aku bangga sekali padanya. Kami memang masih sesekali bertengkar, namun tidak peduli siapa yang salah diantara kami, ia akan selalu menjadi orang yang meminta maaf lebih dahulu. Kau lihat oppa? Bagaimana mungkin aku melepaskan lelaki seperti itu? Dan lagi, komunikasi kami tidak pernah putus, ia selalu rajin menghubungiku. Sampai-sampai, aku tidak merasa kalau ia ada di negara lain.” kata Ara panjang lebar, membanggakan kekasihnya.

“Aku tahu ia adalah lelaki yang tepat untukmu. Mengingat betapa keras kepalanya dirimu. Aku masih ingat dengan baik betapa khawatirnya ia ketika kau sakit, betapa romantisnya ia saat ulang tahunmu dan betapa sorot matanya menggambarkan betapa ia mencintaimu.” Kata Taecyeon menambahkan.

Sakit. Itulah yang dirasakan Kyuhyun mendengar penuturan yang sangat jujur dari mulut kedua orang di sampingnya itu. Kyuhyun tahu, Yunho dan Ara telah berpacaran sejak keduanya bertemu di masa pengenalan sekolah dan menjadi pasangan paling romantis setelahnya. Yunho yang tampan serta Ara yang cantik, membuat keduanya tampak sangat sempurna bersama, membuat iri siapa saja.

Bagaimana mungkin Yunho berpaling pada Kyuhyun dengan adanya Ara di sampinya? Yunho tidak akan pernah menyadari keberadaan Kyuhyun, walaupun mereka pernah berkenalan sebelumnya. Apalagi dengan kepergiannya ke Amerika untuk pertukaran pelajar. Yang Kyuhyun tahu, Masa belajar Yunho disana adalah lima belas bulan, namun mengapa Yunho belum juga kembali? Kyuhyun menghitung waktu dengan baik, dan seharusnya bulan ini Yunho sudah kembali ke Seoul.

“Kapan Yunho pulang?” tanya Taecyeon.

“Dua minggu lagi. Ia sedikit terlambat, karena ia menghadiri pertemuan pelajar asal Korea Selatan di Washington terlebih dahulu. Akhirnya, aku bisa memeluknya lagi seperti dulu.” Kata Ara dengan gembira.

Mungkin Ara sangat bahagia karena bisa memeluk Yunho-nya lagi. Tapi bagi Kyuhyun, dengan melihat wajah Yunho saja sudah cukup membuat seribu kehangatan menjalar di hatinya. Dengan senyum sumringah, ia menoleh kepada dua orang itu.

“Sudah waktunya makan malam. Maukah kalian makan denganku? Aku yang traktir.”

*

            Kyuhyun tengah duduk sambil membaca buku sejarah dunia yang dipinjamnya dari perpustakaan di pinggir lapangan basket. Ia selalu berada di sana sepulang sekolah setiap hari senin dan kamis, menunggu Minho. Mereka selalu pulang bersama, tapi karena di hari sanin dan kamis setiap anggota pemain basket sekolah harus berkumpul, maka Kyuhyun dengan setia akan menunggu.

“Kyuhyun-ah, koki mu datang.” Seru Minho dari tengah lapangan.

Kyuhyun mengangkat wajah dari bukunya. Ia melihat Taecyeon berdiri di seberang lapangan, tepat dari arah lapangan parkir. Lelaki tegap berlesung pipi itu melambai padanya. Kyuhyun balas melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar Taecyeon datang mendekat.

“Serius sekali. Kupikir tadi kau malah tenggelam dalam bukumu.” Kata Tecyeon ketika ia sudah duduk di samping Kyuhyun.

“Aku menyukai buku. Salah satu hobiku adalah membaca. Jadi, kalau aku menemukan buku yang bagus, sudah pasti aku akan melahapnya secepat mungkin.” Jawab Kyuhyun.

“Seharusnya kau belajar memasak. Jadi kau akan bisa melahap hasil masakanmu setelahnya, bukankah lebih nikmat daripada melahap kata-kata?”

Kyuhyun tertawa. Ia senang berbicara dengan Taecyeon yang periang dan suka mengeluarkan sisi humorisnya. Namun ia tidak menyadari bahwa tawanya bisa membuat Taecyeon terpana, seperti saat ini.

Taecyeon selalu suka melihat Kyuhyun tertawa. Lelaki itu bisa tertawa lepas seolah tanpa beban. Tapi ketika ia sedang sendirian, terlihat jelas bahwa otak Kyuhyun dipenuhi oleh berbagai macam pikiran. Taecyeon hanya berharap bahwa namanya bisa muncul di kepala Kyuhyun walaupun hanya sekilas.

“Ya! Hyung, kenapa memandangku seperti itu?” kata Kyuhyun di sela-sela tawanya.

Taecyeon segera menyudahi lamunannya tentang Kyuhyun. “Tidak apa-apa. Kau ini lucu sekali kalau sedang tertawa. Aku jadi sedikit terpana melihatnya.”

“Benarkah? Haha..”

“Kyuhyun-ah, apa kau.. Tidak berpikir untuk mencari kekasih? Tidakkah kau merasa kesepian?” tanya Taecyeon memberanikan diri. Ia tahu, mungkin Kyuhyun akan tersinggung. Tapi ia terlalu penasaran dengan jawabannya.

“Eh? Aku? Hm..”

“Taecyeon oppa..!”

Kyuhyun dan Taecyeon menoleh. Rupanya Go Ara yang datang. Dengan langkah-langkah riang, ia menghampiri Taecyeon dan Kyuhyun.

“Anneyong oppa. Oh, ada Kyuhyun-ssi juga rupanya, anneyong..”

Kyuhyun membungkuk sedikit tanda hormat, walaupun ia tidak bangkit dari duduknya. Ara lalu duduk di samping Taecyeon. Tanpa banyak bicara, ia langsung menadahkan tangannya.

“Tidak bisakah kau berbasa-basi dulu?” kata Taecyeon mencela.

Ara menggeleng nakal. “Tidak bisa oppa. Aku sudah terlalu penasaran. Cepat berikan resep itu padaku. Aku ingin sekali membuatnya bersama eomma di rumah.”

“Ne.. Ne.. Ini ambillah..” kata Taecyeon dengan pasrah seraya mengeluarkan secarik kertas dari balik saku jaketnya.

Ara menerimanya dengan senang kemudian menyelipkannya dalam salah satu buku di tas sekolahnya, seolah kertas kecil itu adalah kertas lotre bernilai satu juta won.

“Maaf, bolehkah aku tahu dimana kalian saling mengenal? Apakah sudah lama? Kalian benar-benar tampak akrab, seperti kakak dan adik saja.” Tanya Kyuhyun.

Ara dan Taecyeon saling berpandangan lalu tertawa bersama. Kemudian Ara menjelaskan terlebih dahulu.

“Taecyeon oppa adalah kakak kelasku di junior high school. Kami cukup akrab, apalagi kami dulu tergabung di satu ekstra kurikuler yang sama. Dan yah, aku memang sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri, mengingat aku tidak punya saudara.”

Kyuhyun mengangguk tanda mengerti. “Jadi, karena itukah kau datang kemari hyung? Untuk mencari Ara?”

Taecyeon mengangguk. Kyuhyun langsung berpura-pura sedih seraya memegang dadanya. “Oh.. harga diriku.. Kupikir hyung datang mencariku, hahaha..”

Ketiganya tertawa bersama. Tanpa disadari, mereka jadi cukup akrab karena sering bertemu.

“Anneyong.. Taecyeon hyung, apa kabar?”

Taecyeon menegadah dan langsung terkejut. Begitu melihat Yunho, Taecyeon langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Yunho, lalu memeluk hangat lelaki itu

“Yunho? Yaaa!!! Apa kabar kau? Aku baik-baik saja. Ceritakan tentangmu. Bagaimana Amerika?”

“Aku baik-baik saja. Amerika? Biasa saja. Aku lebih menyukai Seoul. Dimana semua yang kusayangi ada disini. Lagipula, lidahku terasa aneh tanpa makan masakan khas Korea sehari saja. Sehari rasanya lama sekali, aku selalu merasa homesick disana.” Jawab Yunho.

“Semua yang kau sayangi? Tidak usah membual, aku tahu maksudmu adalah Ara, iya kan?” ledek Taecyeon.

Dengan wajah memerah, Yunho akhirnya mengakui yang sebenarnya. “Ya, benar. Aku merasa seperti itu karena aku merindukannya setiap hari. Merindukan senyumannya, merindukan masakannya bahkan omelannya.”

Ara hanya bisa tersenyum malu tanpa bisa berkata apa-apa. Kyuhyun tahu, Yunho tidak berbohong, dilihat dari bagaimana caranya menatap Ara. Tapi hal itu justru membuat Kyuhyun merasa semakin terpuruk. Bagaimana cara mendapatkan cinta Yunho sementara sang pujaan hati sama sekali tidak pernah menyadari kehadirannya?

“Kyu?”

Kyuhyun segera tersadar ketika sebuah sentuhan mendarat di lengannya. Kyuhyun menoleh dan mendapati Yunho sudah duduk di sampingnya. Deg! Jantungnya langsung berdebar keras karenanya. Ini pertama kalinya Yunho menyentuhnya, duduk di sampingnya bahkan bicara padanya!

Dah oh.. Lihat mata itu. Sepasang mata yang biasanya bersinar tajam itu kini menatap lembut kepadanya hanya dalam jarak yang sangat dekat. Kyuhyun merasa nafasnya tercekat. Darahnya seolah-olah berhenti mengalir. Ia terlalu kaget dengan kedatangan Yunho di sampingnya.

“Kyu? Kau baik-baik saja?” Yunho mengulangi pertanyaannya. Ia tampak sedikit bingung kini.

Kyuhyun segera menguasai dirinya. “Oh.. Ya, aku sedikit melamun. Maafkan aku hyu.. maksudku Yunho-ssi.”

Kyuhyun menunduk dalam-dalam seolah menghormati si lawan bicara, padahal ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau lucu sekali kalau malu-malu seperti ini. Ya, jangan malu. Tertangkap sedang melamun bukan suatu kejahatan. Benar kan?” kata Yunho seraya tertawa geli.

Dua suara lain menyahut lalu ikut tertawa. Kyuhyun mengutuk kebodohannya siang ini. Ia lupa sama sekali bahwa ada Ara dan Taecyeon juga disana.

“Anneyong semua.”

Ketiganya serentak menoleh. Minho sudah selesai latihan. Ia kini sudah bergabung bersama mereka dan duduk tepat di samping kiri Kyuhyun. Ia ingin sekali menggoda sahabatnya itu, karena kapan lagi Kyuhyun bisa duduk sedekat itu dengan Yunho? Yah, walaupun kekasih Yunho ada di sana juga.

Yunho mengangguk pada Minho sebagai balasannya lalu kembali berpaling pada Kyuhyun. “Apa yang kau lamunkan? Changmin? Aha.. Aku tahu kau merindukannya. Iya kan? Mengaku saja..”

“Mwo? Changmin hyung? Kau merindukannya, Kyu?” tanya Minho bersemangat.

Kyuhyun segera menyikut Minho keras. ‘Jangan sebut nama lelaki lain di depan Yunho hyung.’ pikirnya. Namun seolah mengerti pikiran Kyuhyun, Minho langsung menghentikan aksinya. Keduanya sudah bersahabat sejak kecil, hal-hal seperti ini sudah bisa mereka rasakan sejak dulu : membaca tingkah laku dan pikiran masing-masing.

Yunho melihat pergerakan tangan Kyuhyun tadi. ‘Anak ini masih malu-malu juga. Akui saja, mudah kan?’

“Jadi.. Kau benar merindukannya?” tanya Yunho lagi.

Kyuhyun hanya diam. Ia tidak berani mengangguk ataupun menggeleng. Ia memang merindukan Changmin, namun ia tidak mungkin mengakuinya di depan Yunho. Memang ia bukan siapa-siapa bagi Yunho. Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak mau Yunho melihat bahwa Kyuhyun menyukai lelaki lain.

“Baiklah kalau kau tidak mau menjawab. Aku bertemu dengannya di Washington minggu lalu. Saat itu ada pertemuan pelajar Korea Selatan disana. Kami banyak bicara saat itu. Tentang sekolah, tentang hal-hal yang suka kami lakukan bersama dan.. tentang kau. Ia merindukanmu.” Kata Yunho lagi.

Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Ini untukmu. Changmin menitipkannya padaku untuk diberikan padamu. Ia berharap kau menyimpannya baik-baik.”

Kyuhyun menerimanya lalu mengucapkan terima kasih. Ia masih menunduk, seolah takut menatap Yunho.

“Baiklah. Aku pergi dulu. Nah Minho, sampai jumpa.” Kata Yunho lalu bangkit dari duduknya. Ketika berhadapan dengan Taecyeon, ia sempat berhenti sebentar lalu pergi seraya melambaikan tangannya pada Taecyeon. Go Ara ikut melambai lalu bergelayut manja di lengan kekasihnya.

Saat itu, Kyuhyun mengangkat wajahnya. Ia menatap kepergian Yunho dan Ara dengan raut wajah yang sulit diartikan. Antara sedih, kecewa dan patah hati. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum melihat sang pujaan hati kini bergandengan tangan dengan mesra dengan kekasihnya. Seolah-olah memberitahukan pada Kyuhyun dengan amat sangat jelas bahwa ia tidak pernah memikirkan orang lain selain Ara.

Tanpa ia sadari, Taecyeon melihatnya dengan tatapan yang sama. Mungkin ini terlalu cepat untuknya, tapi begitu ia melihat Kyuhyun, ia tahu lelaki manis itu sulit untuk dihindari. Dan kini Taecyeon mengerti mengapa Kyuhyun sedikit terlihat aneh jika ditanyai mengenai kekasih. Dari caranya bicara, caranya menatap, hingga caranya bersikap, Taecyeon tahu bahwa Kyuhyun memendam rasa pada Yunho.

Taecyeon melangkah mendekati Kyuhyun, namun sepertinya lelaki itu tidak menyadarinya. Ia masih sibuk memandangi Yunho yang sebentar lagi hilang dari pandangan. Taecyeon akhirnya berdiri tepat di depan Kyuhyun, mengacaukan pikiran Kyuhyun akan Yunho.

“Eh? Hyung?” tanya Kyuhyun sedikit terkejut.

“Kau menyukainya?” tanya Taecyeon cepat.

“Mwo? Aku? Menyukai siapa?” Kyuhyun jadi sedikit pucat karenanya.

“Siapa lagi? Yunho!”

“Mana mungkin? Aku.. Aku.. Hanya..”

“Aku melihatnya dengan sangat jelas tadi.”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia menunduk sebagai jawabannya. Melihat itu, Taecyeon segera beralih pada Minho.

“Katakan padaku. Aku yakin kau tahu sesuatu.”

Minho menatap Kyuhyun dengan iba. Ia sebenarnya sedikit bingung. Apa ia akan jujur pada Taecyeon, atau berbohong demi menyelamatkan sahabatnya.

“Dia memang menyukai Yunho hyung.”

Taecyeon menghela nafas kecewa. “Tapi dia milik Ara!”

“Kyuhyun memang menyukainya. Tapi dia bukan orang seperti itu. Tidakkah kau lihat ia tidak pernah berusaha mengambil kesempatan? Tidakkah kau lihat dia sangat menghormati Ara noona? Dan tidakkah kau lihat bahwa Yunho hyung tidak pernah ‘melihatnya’? Jadi dimana letak kesalahan Kyuhyun? Bukankah semua orang berhak mencintai orang yang dia sukai?” kata Minho dengan tegas.

“Dan Yunho mengenal siapa mantan kekasih Kyuhyun?” tanya Taecyeon lagi.

Minho mengangguk. “Mereka bersahabat.”

‘Oh tidak!’ pikir Taecyeon. “Lalu, apakah mantan kekasih Kyuhyun – yang entah siapa namanya itu – mengetahui perasaan Kyuhyun pada Yunho tapi tetap memacarinya?”

“Changmin, namanya Changmin. Dia mengetahui bahwa Kyuhyun sangat menyukai cinta pertamanya, tapi ia tidak pernah tahu bahwa Yunho adalah orangnya.”

Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dari duduknya. “Aku memang menyukainya. Tapi aku tidak berniat merebutnya dari Ara noona kalau itu yang kau takutkan.”

Setelah berkata demikian Kyuhyun berlari meninggalkan Taecyeon dan Minho. Tak peduli bagaimana kedua lelaki itu memanggilnya. Ia terus berlari.

“Kau menyukainya kan? Oleh karena itu kau terus mendesaknya tadi!” sergah Minho.

“Benar, aku menyukainya. Dan aku tidak mau ia tersiksa. Aku memang baru bertemu dengannya, kami baru saling mengenal. Tapi aku bisa merasakan bagaimana ia berharap pada Yunho. Ia harus tahu, harapannya sia-sia! Ia tidak mungkin memiliki Yunho!”

Taecyeon baru akan berlari menyusul Kyuhyun, tapi Minho menghadangnya. “Jangan! Biarkan ia sendiri.”

“Aku khawatir padanya. Bagaimana kalau..”

“Aku lebih mengenalnya!” bentak Minho. “Dalam keadaan seperti ini, biarkan ia sendiri. Hargai privasinya.”

Taecyeon tak punya pilihan lain, ia hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Sementara Kyuhyun terus berlari kencang. Ia tak tahu kemana kakinya membawanya. Ia hanya terus berlari hinga ia kelelahan. Begitu ia lelah, ia menjatuhkan dirinya di balik sebuah pohon rindang lalu menangis tersedu-sedu sambil memeluk hadiah dari Changmin tadi.

“Hyung.. Maafkan aku.. Aku menyayangimu tapi aku tidak bisa benar-benar mencintaimu.. Mengapa kau harus pergi hyung? Mengapa kau meninggalkanku? Sekarang siapa yang bisa melindungi hatiku agar tidak terus jatuh padanya? Tolong aku hyung.. Tolong aku..”

Tak jauh dari tempat Kyuhyun menangis, sepasang muda mudi melintas sambil bergandengan tangan mesra. Keduanya tampak saling bersenda gurau dengan mesra.

“Aku yakin Kyuhyun akan senang sekali melihat hadiah Changmin untuknya. Jadi ia tahu, pengorbanan cinta mereka tidak sia-sia.” Kata Ara.

Yunho mengangguk. “Sebenarnya cukup disayangkan mereka harus putus.”

“Tapi Changmin melakukan hal yang benar. Ia tidak mau membuat Kyuhyun menunggu dalam ketidakpastian. Bagaimana kalau ternyata ia tidak bisa pulang ke Seoul? Bagaimana kalau nantinya mereka lose contact? Kurasa sebaiknya memang mereka putus sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Changmin memang pandai menghadapi berbagai situasi.” Kata Ara lagi.

‘Ya, ia memang pandai menghadapi situasi. Ia bahkan menerima tawaran dari Washington tanpa pikir panjang lagi karena ia tahu Kyuhyun tidak bisa mencintainya sepenuh hati. Siapakah cinta pertama Kyuhyun? Apakah ia begitu sempurna hingga seorang Changmin memutuskan untuk mundur?’ pikir Yunho.

*

TaecKyu

To Be Continued..