Obsession – Chapter 5

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, HaeKyu, JoonKyu, ChangKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 5

The Coffee Prince

Aku suka melihatmu tersenyum, aku jadi lupa sejenak dengan semua masalahku..

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang akan selalu membuat hati Kyuhyun hangat.

Kupikir, kau tidak boleh terlalu sering melakukan ekspresi wajah seperti itu. Para lelaki di luar sana akan menculikmu dariku..”

Itu kata-kata Yoon Doojoon yang selalu membuat Kyuhyun tersipu malu.

Bagaimana kalau kita berjanji untuk bersama selamanya?”

Dan itu adalah kata-kata Yoon Doojoon yang langsung membuatnya mengerti bahwa lelaki itu adalah lelaki terbaik untuknya.

Setelah mereka akhirnya melewati empat tahun penuh perjuangan, meyakinkan ibu Doojoon bahwa mereka layak bersatu serta keduanya lulus dengan nilai sempurna dari kampus, membuat jalan untuk mereka tetap bersama semakin terbuka lebar.

Tapi itu dulu.. Tepatnya setahun yang lalu. Seminggu setelah mereka lulus kuliah, prahara itu datang.

Saat itu Kyuhyun menangis. Choi Minho hanya bisa memeluknya, memberi kekuatan agar sahabatnya bisa tetap tegar. Karena Kyuhyun menangis tanpa suara, membuat siapa saja mengerti bahwa apa yang dirasakannya saat ini pastilah sangat berat.

“Kyuhyunnie.. Tenanglah..”

Taecyeon yang juga ada disana membelai rambut caramel lelaki itu. “Menangislah..” katanya yang berlawanan dengan saran Minho. “Menangislah sampai puas, hingga kau lelah dan tak ingin menangis lagi. Setelah itu bangkitlah lagi menjadi Kyuhyun yang dulu.”

Setelah hampir tiga puluh menit airmata Kyuhyun tidak juga berhenti mengalir, Minho dan Taecyeon memutuskan untuk keluar dari kamar Kyuhyun dan memberinya waktu untuk sendiri.

“Aku tidak menyangka mereka akan menikah secepat ini. Maksudku..”

“Sudah saatnya.” Kata Taecyeon memotong perkataan Minho. “Mereka sudah lama bersama, sudah saatnya mereka meresmikan hubungan mereka. Jujur, aku enggan sekali memberikan undangan ini kepada Kyuhyun, tapi.. Ara sendiri yang memintaku menyampaikannya.”

“Kami juga mendapatkan undangannya dari Changmin hyung. Tapi.. aku menyembunyikannya hingga saat yang tepat, aku takut Kyuhyun akan terluka jika tahu Yunho hyung dan Ara noona akan menikah.” Jelas Minho.

“Maaf kalau aku mengacau. Aku sama sekali tidak tahu kalau kau sudah punya rencana.” Taecyeon meminta maaf dengan tulus.

“Tidak apa-apa hyung. Kurasa, Kyuhyun memang harus tahu. Dan lagi, ia tidak boleh seperti ini. Ia sudah punya kekasih. Tidak pantas masih menyimpan rasa untuk cinta pertamanya ketika ia sudah punya kekasih, bukan? Dan lagi, hubungan mereka sudah berjalan empat tahun.” Minho menjawab seraya menghela nafas berat.

“Jangan salahkan dia seperti itu. Aku yakin dia ingin membuang rasa cintanya pada Yunho tapi ia tidak bisa. Sebagai sahabat, sudah sebaiknya kita membantunya.”

Minho mengangguk. “Aku akan terus membantunya melupakan perasaannya pada Yunho hyung. Aku kasihan pada Doojoon, kalau saja ia tahu, ia pasti akan sangat terluka.”

Tanpa mereka sadari, Yoon Doojoon ada disana, bersembunyi di balik tembok, mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka seraya menahan sakit yang menghantam telak di dadanya.

*

            “Aku mencintaimu..”

“Aku lebih mencintaimu.. Tapi aku tahu aku tidak akan pernah memilikimu selamanya.”

“Biarkan aku memperbaiki kesalahanku.”

“Tidak ada yang perlu kau perbaiki, karena kau tidak bersalah sama sekali. Jangan menangis Kyuhyunnie.. Jebal..”

“Jangan tinggalkan aku..”

“Kita tidak bisa bersama jika setengah hatimu masih untuk lelaki lain. Maafkan aku..”

“Tidak, akulah yang harus minta maaf. Aku yang mengacaukan segalanya. Hukum saja aku, tapi jangan tinggalkan aku, jebal.. jebal..”

Yoon Doojoon memeluk tubuh Kyuhyun yang kini sudah berlutut di lantai, menangis dan memohon padanya. Ia membelai rambut Kyuhyun dengan penuh rasa sayang. “Kyuhyunnie.. Uljima.. Jujur aku sangat terluka.”

“Beri aku kesempatan sekali lagi.. Aku akan memperbaiki segalanya.”

“Empat tahun bukan waktu yang singkat. Aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan.”

“Sekali ini saja, jebal..”

Yoon Doojoon menutup matanya, menahan airmatanya yang hendak tumpah. Ia mencintai Kyuhyun. Tapi rasa sakit di hatinya tidak bisa pergi begitu saja ketika mengingat Kyuhyun mencintai orang lain selain dirinya. Bahkan Kyuhyun sudah membagi hatinya sejak pertama ia menjalin cinta dengan kekasih pertamanya, Changmin.

Doojoon ingin sekali memberi Kyuhyun kesempatan saat itu juga, tapi ia ingin memberi kesempatan pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Kesempatan untuk bisa menerima kekurangan lelaki yang dicintainya, kesempatan untuk berdamai dengan hatinya juga kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru.

“Baiklah.. Aku memberimu kesempatan. Jalanilah hidupmu dengan baik. Teruslah melangkah maju. Jangan melihat kebelakang dan menyesali segalanya yang telah berlalu. Bukalah hatimu untuk cinta lain atau setidaknya, jangan lagi biarkan ada hati yang terluka karena cinta pertamamu. Jika suatu hari nanti kau sudah terlepas dengan belenggu itu, aku harap kita bisa bertemu lagi. Aku akan menunggu dan hanya akan menyerah ketika kudengar bahwa kau telah bahagia.”

Itu adalah kalimat terakhir yang di dengar oleh Kyuhyun dari bibir Yoon Doojoon. Setelah hari itu, Kyuhyun tidak pernah lagi melihatnya, mendengar suaranya atau bahkan mengetahui kabar tentang lelaki itu. Yoon Doojoon menghilang. Ia benar-benar keluar dari kehidupan Kyuhyun.

*

            “Maaf aku terlambat. Kau tahu, Minseok hyung sedang sakit jadi aku harus mengerjakan tugasnya. Nah, ceritakan padaku apa yang terjadi tadi.” kata Minho setelah duduk di depan Kyuhyun.

Sore itu mereka bertemu setelah jam kerja usai di sebuah cafe ternama di kawasan Myeongdong. Mereka suka berpindah-pindah tempat tapi ketika café ini dibuka beberapa bulan lalu, keduanya langsung jatuh cinta dan memutuskan tempat itu sebagai tempat favorite mereka. Apalagi mereka kenal dengan anak pemilik café itu.

“Kau masih ingat Jung Yonghwa? Teman kerjaku yang sangat pandai menggambar itu.” kata Kyuhyun memulai ceritanya.

Minho mengangguk. “Tentu saja. Ia berasal dari Busan kan? Ada apa dengannya?”

“Dia menyatakan cinta padaku siang tadi.”

Mata Minho membulat sempurna. “Mwo? Huaaa.. Kyuhyunnie, benarkah? Lalu apa jawabanmu?”

Kyuhyun melambaikan tangannya. “Tentu saja aku menolak. Kau tahu sendiri aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun.”

Minho menggangguk. Jung Yunho telah menikah dan Yoon Doojoon meninggalkannya, wajar kalau Kyuhyun masih sangat trauma untuk jatuh cinta ataupun menjalin hubungan lagi walaupun sudah setahun ia menyendiri. Ia baru saja bisa benar-benar tertawa lepas belakangan ini, belum saatnya mengganggunya dengan urusan asmara.

“Kyuhyun-ssi? Minho-ssi? Kalian datang lagi. Apa kabar?”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Seorang gadis cantik berdiri disana, melambai penuh semangat pada keduanya.

“Lee Yeonhee!” seru Kyuhyun tak kalah bersemangat.

Gadis jangkung dengan wajah innocent itu mendekat seraya tersenyum manis pada keduanya. Lee Yeonhee adalah anak pemilik café tempat mereka bersantai saat ini. Mereka bertemu gadis pemalu dan baik hati itu di pembukaan kantor cabang Minseok, bos Minho di kantor. Minseok jugalah yang mengenalkan mereka pada Lee Yeonhee. Sejak saat itu mereka sering bertemu, terlebih saat Kyuhyun tahu bahwa Minho menyukai Yeonhee walaupun gadis itu setahun lebih tua darinya. Dan Yeonhee melarang keras Kyuhyun dan Minho memanggilnya noona.

Choi Minho segera menegakkan punggungnya, mencari posisi duduk yang baik dan memamerkan seulas senyum yang mampu membuat para wanita bertekuk lutut karenanya.

“Apa kalian sudah lama disini?” tanya Yeonhee ketika ia sudah berdiri di antara Minho dan Kyuhyun.

“Tidak juga, kira-kira baru sepuluh menit yang lalu kami tiba.” Jawab Kyuhyun.

“Oh.. Begitu..”

Kyuhyun melirik Minho yang hanya diam di depannya. Dengan satu tendangan kecil ke kaki Minho, Kyuhyun menyadarkan sahabatnya itu untuk setidaknya menyapa si pemilik café.

“Oh.. Kau.. Tampak cantik hari ini.” kata Minho terbata-bata.

Kyuhyun memutar bola matanya. Inilah Choi Minho, sahabat terdekatnya yang sangat tampan dan berkharisma. Tapi tidak bisa memilih kata-kata yang baik ketika berada di sekitar Yeonhee.

Tampak cantik hari ini? Bukankah setiap hari Yeonhee memang cantik?’ kata Kyuhyun dalam hati.

Lee Yeonhee tersipu mendegarnya. “Nah, aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian.”

“Siapa?” tanya Kyuhyun dan Minho bersamaan namun mendapatkan isyarat untuk menunggu dari gadis itu. Ia lalu menghilang ke arah dapur dan baru kembali beberapa menit kemudian bersama seorang lelaki tampan. Lee Yeonhee menggandeng lelaki itu dengan mesra, membuat ekspresi wajah Minho berubah dari cerah menjadi muram.

“Oppa, kenalkan, ini adalah Cho Kyuhyun dan Choi Minho, pelanggan tetap kita. Ah, tidak, mereka bahkan masuk dalam kelas VIP.” Kata Lee Yeonhee memperkenalkan kedua sahabatnya pda lelaki tampan di sampingnya.

Lelaki itu tersenyum sopan. “Halo, aku Lee Donghae. Senang bertemu kalian. Jadi, kalian lah yang selalu diceritakan oleh Yeonhee?”

Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat. Kalau Yeonhee saja memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’, artinya lelaki itu lebih tua daripada mereka, bukan?

“Yeonhee-ssi terlalu berlebihan. Kami hanya datang saat senggang dan..”

“Dan kebetulan waktu senggang kami banyak.”

Yeonhee dan Donghae tertawa mendengar pengakuan polos Kyuhyun dan Minho.

“Kalian akan sering bertemu nantinya, karena Donghae oppa adalah barista baru di sini. Kalian harus mencoba kopinya, aku yakin kalian akan ketagihan. Dan ia jauh-jauh pindah kemari dari New Zealand hanya untuk membantuku.” Kata Yeonhee lagi, mempromosikan barista-nya.

“Wah.. New Zealand? Aku pernah melihatnya di internet. Disana indah sekali, terutama pada musim dingin. Benar-benar seperti pemandangan di kartu natal.” Kata Kyuhyun bersemangat.

“Benar. Dan kebetulan rumahku berada di pinggiran kota. Kau benar-benar bisa melihat apa yang kau katakan tadi.” kata Donghae dengan bangga.

“Dan aku akan menghabiskan liburan natal disana tahun ini. Oh, bulan desember hanya tinggal empat bulan lagi. Aku benar-benar tak sabar menunggu.” Lee Yeonhee tersenyum senang, mempererat pelukannya di lengan Donghae.

“Benarkah?” tanya Minho dengan nada janggal.

Kyuhyun melirik Minho tajam. ‘Lelaki bodoh ini bahkan tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya! Aku harus membantunya.

“Maaf, tapi.. apa kalian..”

“Berpacaran?” tebak Donghae langsung.

Kyuhyun mengangguk kecil, membuat Donghae dan Yeonhee meledak tertawa. Donghae langsung menggeleng sedangkan Yeonhee melambaikan tangannya.

“Ayah Yeonhee adalah pamanku. Jadi, gadis lucu ini adalah sepupuku.” Jelas Donghae.

Kyuhyun langsung bisa mendengar desahan lega di sampingnya.

*

            Tidak butuh waktu lama untuk Donghae masuk ke dalam lingkaran persahabatan Kyuhyun, Minho, dan Yeonhee. Lelaki itu sangat bersahaja. Ia mudah di dekati dan sangat percaya diri. Mereka berempat sering menghabiskan waktu senggang di café, di rumah Minho, atau di apartemen Yeonhee ketika gadis itu memasak untuk mereka.

Kyuhyun dan Minho bahkan sudah diajari cara membuat kopi yang enak, walapun mereka tidak bisa membuatnya di rumah karena tidak ada alat dan bahan yang mendukung. Jadi mereka hanya bisa membuatnya di apartemen Donghae, dimana semua mesin pembuat kopi beserta bahan-banhannya tersedia.

“Seoul benar-benar indah sekarang. Aku jarang sekali pulang sepuluh tahun ini.” Kata Donghae malam itu. Ia, Kyuhyun dan Minho sedang menikmati indahnya kota Seoul dari tingkat 14, tempat dimana apartemen Donghae berada. Masing-masing menggenggam mug besar berisi latte hangat.

“Mengapa kau meninggalkan Seoul dulu?” tanya Kyuhyun.

Donghae tersenyum. “Ayahku dipindah tugaskan ke New Zealand. Walau semua keluarga ada di Seoul, tapi kami jarang sekali pulang karena yah, ayahku cukup keras kepala dan ia tidak terlalu akur dengan keluarga kami, jadi.. Yah, kau bisa membaca situasinya kan?”

Kyuhyun mengerti. Itu adalah masalah pribadi. Ia tidak boleh bertanya lebih lanjut.

“Lalu, bagaimana dengan kalian?” Donghae mengalihkan pembicaraan. “Apa langkah selanjutnya yang ingin kalian capai dalam beberapa tahun?”

“Aku ingin membuka usaha sendiri. Setelah aku menabung cukup banyak, aku ingin membuka usaha lain. Jujur saja, aku benci jika harus bekerja di kantor setiap hari.” Jawab Kyuhyun.

“Pemikiran yang bagus. Kau tidak ingin menjadi karyawan, kau ingin menjadi bos.” Donghae menambahkan membuat Kyuhyun takjub.

“Bagaimana kau tahu, hyung? Wah.. Jangan-jangan kau bisa membaca pikiranku.”

Donghae menggeleng. “Bukan hanya pikiranmu, tetapi pikiran semua orang. Maksudku, aku bisa melihat ke dalam pikiranmu. Baik yang terbuka maupun yang ingin kau sembunyikan.”

Minho menyipitkan matanya. “Buktikan.”

“Baiklah. Bagaimana kalau aku memulai darimu?” tawar Donghae.

“Boleh saja.” Tantang Minho.

Donghae mengusap dagunya. Ia menatap Minho dalam-dalam lalu mulai membaca kenangan Minho. “Hm.. Choi Minho.. Menyayangi Kyuhyun melebihi siapapun.. Cukup populer di kalangan para gadis tapi hanya beberapa kali pacaran dan tidak ada yang serius.. Bekerja dengan baik dan merupakan salah satu kesayangan atasannya..”

Kembali Minho menyipitkan matanya. “Kau pasti memata-mataiku, hyung. Iya kan?”

Donghae tertawa. “Untuk apa? Lagipula kita belum lama kenal. Bagaimana mungkin aku memata-mataimu?”

“Lalu bagaimana kau tahu?”

“Sudah kukatakan aku membaca pikiranmu. Aku bisa melihat ke dalam kenanganmu.” Jelas Donghae lagi.

Tapi Minho tetap tidak percaya. Atau lebih tepatnya menolak untuk percaya karena ia tahu apa yang dikatakan Donghae tadi memang benar.

“Baiklah, aku akan membaca yang lebih spesifik.” Kata Donghae yang langsung diikuti anggukan setuju dari Minho.

“Kau diputuskan kekasih pertamamu karena kau tidak siap menciumnya pada hari ulang tahunnya padahal ia sangat berharap untuk itu.”

Minho terkesiap. ‘Bagaimana ia tahu hal ini?’

“Lalu kau pernah berkelahi dengan temanmu semasa kuliah hanya karena ia memutuskan mantan kekasihmu di depan orang banyak. Semua orang menganggapmu pahlawan saat itu, tapi tidak ada yang tahu bahwa kau melakukannya bukan karena kasihan pada mantan kekasihmu melainkan ingin menunjukkan bahwa kau jauh lebih kuat daripada lelaki itu.”

Kyuhyun menutup mulutnya. ‘Hanya aku yang tahu motif Minho yang sebenarnya saat itu.

“Dan saat ini, kau menyukai.. Sepupuku.”

Wajah Minho memerah seketika. Rahasia terbesarnya terbongkar sudah.

“Kau menyukainya kan? Mengaku saja.”

Semua yang dikatakan Donghae memang benar. Mungkin Donghae hanya memaparkan secara garis besar, tapi Kyuhyun yakin Donghae menutupinya atau lebih tepatnya menghargai privasi Minho.

“Baiklah, aku mengaku. Tapi kumohon jangan katakan hal ini pada Yeonhee.”

“Tenang saja. Itu adalah urusan kalian berdua. Aku tidak akan ikut campur. Tapi kulihat kau adalah lelaki yang baik. Jadi aku akan memberimu dukunganku.” Kata Donghae seraya mengancungkan jempolnya.

“Apa Yeonhee-ssi juga suka pada Minho?” tanya Kyuhyun.

Donghae menggeleng. “Aku tidak akan memberitahukan apa-apa kepada kalian. Jika Minho menyukai Yeonhee, sudah seharusnya ia mencari tahu perasaan Yeonhee padanya, bukan?”

Kyuhyun dan Minho mengangguk bersamaan.

“Nah, bagaimana kalau sekarang aku membaca Kyuhyun?” tawar Donghae.

“Aku ingin pulang sekarang!” kata Kyuhyun seraya berdiri dari duduknya dan menghindari tatapan Donghae.

*

            Lee Donghae. Sosok tampan itu benar-benar membantu Kyuhyun untuk menjadi dirinya sendiri. Tepat seperti yang selalu Minho inginkan. Cho Kyuhyun yang dulu. Yang ia kenal sejak kecil. Donghae tidak pernah menanyakan apapun mengenai masa lalu Kyuhyun. Ia seperti tidak peduli sama sekali selama hubungan pertemanan mereka baik-baik saja. Walaupun Kyuhyun tahu bahwa Donghae pasti sudah melihat segalanya dari pikiran Kyuhyun.

Kyuhyun banyak belajar dari Donghae tentang banyak hal. Donghae selalu memberinya saran dan pendapat mengenai pekerjaan kantor maupun masalah-masalah kecil yang menimpa Kyuhyun. Bahkan tentang para lelaki yang menyukai Kyuhyun sekalipun. Ia akan memberi pandangan mengenai baik dan buruknya lelaki ini di matanya.

“Siwan sangat tampan kan hyung? Menurutmu bagaimana?” tanya Kyuhyun suatu hari.

“Aku setuju. Dia juga tipe lelaki setia dan baik hati. Kau tidak akan pernah menyesal. Tapi.. Dia adalah seorang biseks. Dengan latar belakang keluarganya yang sangat terkenal, dia pastinya akan menikahi seorang gadis nantinya. Kau hanya akan sakit hati.” Jawab Donghae ketika mereka baru saja pulang dari pertemuan dengan Siwan.

Di lain kesempatan ada lelaki lain yang mendekati Kyuhyun.

“Ayolah, Dongwoon ini orang yang tepat untukmu. Kenapa kau menolaknya? Andai saja kau bisa melihat ke dalam kepalanya seperti aku, kau akan tahu betapa baiknya dia.”

Kyuhyun menggeleng. “Hubungan itu butuh chemistry. Dan aku tidak menemukannya diantara kami.”

Terkadang Kyuhyun dengan iseng mengajak Donghae ke beberapa rumah teman baiknya, hanya untuk melihat apakah orang tersebut memang seperti dugaannya.

“Kedua orang itu saling menyelingkuhi pacar mereka masing-masing.” Jawab Donghae ketika Kyuhyun menayakan perihal hubungan Kibum dengan Yoona.

Ekspresi mual langsung tergambar di wajah Kyuhyun. “Sudah bisa kutebak sejak awal. Hanya saja aku tidak yakin.”

Seperti itulah mereka. Terlebih sejak Minho dan Yeonhee sudah resmi menjadi sepasang kekasih, keduanya bagai pria-pria kesepian yang saling mencari hanya untuk makan malam atau sejenak bertemu untuk mengobrol.

Keduanya benar-benar berhubungan baik, tanpa ada ikatan atau cinta. Kyuhyun mendapati dirinya merasa sangat nyaman berada di samping Donghae. Seperti seorang kakak lelaki yang selama ini tidak pernah dimilikinya dan seorang sahabat baru yang benar-benar menyenangkan. Walaupun Donghae sama sekali tidak jahil seperti dirinya dan Minho, tapi ia selalu mendukung Kyuhyun. Membiarkannya melakukan kenakalannya tapi membelanya ketika Kyuhyun ketahuan.

“Kau tahu hyung.. Kau adalah hyung terbaik di dunia. Dan aku sangat bangga karena memilikimu.” Kata Kyuhyun seraya memberikan pelukan hangatnya pada Donghae ketika lelaki itu memberinya tiket untuk ikut berlibur di New Zealand bersamanya.

*

            “Ya! Kyuhyunnie, berhenti. Beri aku kesempatan untuk membalasmu!” jerit Minho yang tengah kewalahan menghadapi serangan bola es dari Kyuhyun.

“Tidak akan!”

Kyuhyun terus menyerang Minho, membuat lelaki itu berlutut minta ampun pada sahabatnya. Diikuti tawa kemenangan, Kyuhyun menghentikan serangannya.

“Ayo kembali ke dalam. Aku nyaris membeku disini.” Kata Kyuhyun setelah membantu Minho membersihkan diri dari serpihan es di tubuh dan rambutnya.

“Kau bilang nyaris membeku tapi tidak berhenti menyerangku.” Gerutu Minho seraya ikut berjalan di samping sahabatnya.

“Justru aku melakukannya untuk menghangatkan tubuhku, tetap bergerak disamping ingin membalasmu karena kau menjahiliku di pesawat semalam.” Balas Kyuhyun sambil memeletkan lidahnya.

Mereka melewati sore yang indah itu di New Zealand. Bersama Yeonhee dan Donghae, keduanya berlibur ke tempat dimana Donghae menghabiskan masa remaja hingga menuju dewasa itu.

Kyuhyun dan Minho harus meminta ijin selama sebulan sebelum keberangkatan mereka mengingat kedua orang tua mereka terlalu ketat menjaga keduanya walaupun umur mereka sudah nyaris seperempat abad. Minho bahkan harus mengeluarkan banyak uang untuk membelikan berbagai macam hadiah untuk ibunya.

Sedangkan Kyuhyun tinggal menunggu jawaban dari ibu Minho. Karena ia tidak akan diperbolehkan bepergian terlalu jauh apalagi sampai menyebrangi benua jika Minho tidak bersamanya.

“Bagaimana mungkin kalian merayakan malam natal tanpa keluarga?” tanya ayah Kyuhyun hari itu.

“Bukankah hanya sekali ini? Aku selalu merayakan malam natal bersama keluarga selama 23 tahun. Sekali ini saja, appa, ijinkanlah aku pergi. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku mendapat tiket gratis dan aku akan tinggal di rumah teman selama di sana. Lagipula Minho bersamaku.” Rajuk Kyuhyun dengan wajah memelasnya yang khas.

“Ini bukan soal uang. Tapi soal keselamatanmu sendiri. Tidak, keselamatan kalian. Kalian senang sekali mengacau dimana-mana, bagaimana appa tahu kalau kau dan Minho tidak membuat masalah lalu membuat temanmu repot dan kalian dikirim ke kedutaan untuk di deportasi?”

Kyuhyun memutar bola matanya dengan malas. Awal ia meminta ijin seperti itu. maka dengan giat ia terus meminta ijin setiap hari hingga ayahnya bosan dan akhirnya merelakannya pergi dengan catatan jika ia membuat masalah, ayahnya sendiri yang akan menjemputnya dan mengurungnya di basement rumah mereka seumur hidup.

Maka berangkatlah mereka. Seperti yang Kyuhyun lihat di internet, New Zealand memang luar biasa indah. Tidak mungkin lebih tepatnya cantik atau bahkan sangat cantik melebihi gambar yang ia lihat sebelumnya.

Karena Donghae tinggal di pinggiran kota, maka mereka menempati daerah pedesaan yang cantik. Di musim bersalju seperti itu saja sudah sangat cantik, bagaimana jika di musim semi nanti? Kyuhyun bahkan yakin sebenarnya disanalah tempat tinggal Santa Claus yang sebenarnya, membuat Minho mengejeknya seharian karena dianggap tidak pernah membaca dongeng natal.

Rumah Donghae tidaklah sebesar rumah Kyuhyun di Seoul. Maklum saja, sebelumnya Donghae hanya tinggal berdua dengan ayahnya di sana. Namun rumah kecil itu benar-benar nyaman dan hangat. Bahkan mereka punya perapian. Membuat Kyuhyun dan Minho yang memang hidup di dunia modern Seoul dan tidak pernah melihat perapian secara langsung, terlonjak girang. Mereka bahkan beberapa kali bertengkar karena sibuk berlomba memasukkan kayu bakar ke dalam tungku ketika waktunya tiba.

“Kalian cepatlah masuk, Yeonhee sudah memasak.” Kata Donghae. kepala lelaki itu menyembul dari jendela besar yang menghadap ke halaman belakang rumah.

“Yang terakhir masuk adalah troll!” kata Minho seraya berlari mendahului Kyuhyun.

“Ya! Curang!” jerit Kyuhyun.

Kembali, keduanya berlari memasuki rumah sambil saling mengejek seperti sebelum-sebelumnya.

*

            Kyuhyun berbaring dengan bosan di kamar yang ia pakai bersama Minho. Donghae sedang membeli beberapa keperluan di supermarket terdekat sedangkan Yeonhee sedang memasak dibantu oleh Minho di dapur. Kyuhyun ingin sekali membantu seandainya keduanya tidak memasak sambil saling merayu atau beradegan manis.

Malam ini adalah malam natal. Malam yang sangat berarti bagi semua umat nasrani. Konon, di malam natal, semua permintaanmu tercapai.

Bukankah itu dongeng untuk anak kecil?

Itu adalah kata-kata Changmin yang diingat oleh Kyuhyun. Karena menurutnya, semua permintaan dan doa adalah sugesti, dimana kita akan terpacu secara tidak sadar untuk meraihnya.

‘Bagaimana kabar Changmin hyung? Apa ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati. Tanpa sadar ia lalu mencoba online di skype.

“Changmin hyung sedang online.” Kata Kyuhyun seraya tersenyum.

Detik berikutnya sebuah pesan masuk ke chat line-nya. Dari Changmin.

Shim Changmin :

Hi sweet evil, bagaimana kabarmu?

Kyuhyun tersenyum. Dengan cepat ia mengetikkan beberapa kalimat, membalas pesan dari mantan kekasihnya itu.

Cho Kyuhyun :

Hyunggg.. Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu?

Shim Changmin :

Tidak pernah baik tanpamu :p Bagaimana Seoul? Aku merindukan kota itu.

Kyuhyun tersipu.

Cho Kyuhyun :

Berhenti merayuku. Kota kita tidak banyak berubah, tetap seperti dulu. Kau tidak pulang natal ini hyung? Sebentar.. Bukankah kau memang tidak pernah pulang?

Shim Changmin :

Sedih rasanya tidak bisa pulang dan menyantap hidangan bersama keluargaku L Aku sangat sibuk tahun ini jadi aku tidak bisa pulang. Tidak, itu tidak benar. Aku selalu pulang setiap tahun. Biasanya hanya tiga hari, yang jelas aku bisa bertemu keluargaku.

Cho Kyuhyun :

Benarkah? Lalu mengapa kau tidak pernah mengabariku? Kita bisa bertemu bukan? Aku dan Minho benar-benar merindukanmu..

Ada jeda sekitar tiga menit sebelum Changmin akhirnya membalas.

Shim Changmin :

Tidak semudah itu, Kyu. Terkadang aku ingin bertemu denganmu, tapi terkadang aku ragu. Kurasa kau tahu jawabannya. Maafkan aku.. Dan, aku juga ingin meminta maaf mengenai undangan yang kukirimkan padamu.

Kali ini, jeda yang cukup lama diciptakan oleh Kyuhyun. Jadi selama ini Changmin sering pulang tapi tidak menghubunginya sama sekali? Kenapa? Apa ada yang salah?

Cho Kyuhyun :

Aku tidak mengerti mengapa kau tidak mau bertemu denganku hyung, tapi apapun itu aku yakin kau punya alasan tersendiri. Mengenai undangan itu.. Terima kasih karena telah mengirimkannya hyung. Sebenarnya aku dan Minho juga dikirimkan oleh Ara noona melalui temannya.

Kening Changmin berkerut. Mengapa Kyuhyun dengan enteng menjawab semua itu? Mengapa ia justru sangat tenang mendengar kabar Yunho akan menikah?

Shim Changmin :

Apa kau baik-baik saja setelah mendengar kabar itu?

Kyuhyun tersentak. Apa maksudnya? Mengapa Changmin bertanya seperti itu? jangan-jangan ia sudah tahu mengenai perasaanku selama ini pada Yunho hyung? Atau bahkan ia sudah sejak lama tahu? Tapi.. Bagaimana?

Shim Changmin :

Kyu? Kau masih disana?

Ayolah Kyu, kumohon jawablah. Aku tahu kau masih disana.

Cho Kyuhyun :

Aku baik-baik saja hyung. Walaupun aku sangat terpukul mendengar kabar itu. Bagaimana sampai kau tahu mengenai perasaanku, aku tidak akan pernah menanyakannya. Tapi yang jelas, aku mau berterima kasih karena kau mau merahasiakannya dari sahabatmu itu, hyung.

“Kyu, sedang apa kau?” Tiba-tiba Donghae sudah muncul di kamarnya.

Kyuhyun segera mematikan laptopnya tanpa berpamitan pada Changmin. “Kau sudah kembali, hyung?”

“Tentu saja. Hm.. mengingat cinta pertamamu?”

Kyuhyun terdiam. Kali ini, ia tidak melarang Donghae membaca pikirannya seperti biasa. Mungkin ia memang butuh teman bicara saat ini. Dan Donghae adalah orang yang tepat. Selain itu tidak bisa memihak, ia juga bisa membaca isi kepala Kyuhyun tanpa Kyuhyun harus repot-repot menceritakan semuanya dari awal.

“Aku sudah melihat semuanya.” Kata Donghae lagi. “Bahkan sejak awal, tanpa kau sadari.”

“Benarkah?” Kyuhyun tersenyum kecut. “Lalu.. Bagaimana menurutmu, hyung? Aku bukan lelaki yang baik kan? Aku selalu saja mengecewakan pasanganku.”

“Cinta pertama, kekasih pertama, lelaki yang mengajarimu memasak, kekasihmu yang nyaris membuatmu putus asa karena meninggalkanmu, seorang artis, dan beberapa lelaki yang tidak pernah kau tanggapi. Wow, kau sungguh populer.” Kata Donghae tanpa menghiraukan perkataan Kyuhyun tadi.

“Tetap saja tidak membuatku lebih baik.”

Donghae tersenyum arif. “Sifat semua orang tidaklah sama. Ada yang dengan cepat bisa melupakan cintanya, namun ada juga yang membutuhkan bertahun-tahun atau bahkan seumur hidupnya. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Kyu.”

“Terkadang kita menjadi egois, mencintai dua orang sekaligus dalam kehidupan kita dan tidak mau merelakan salah satunya. Namun hal tersebut manusiawi. Apa yang kau rasakan bukanlah suatu kesalahan. Ketika kau tanpa sengaja melukai hati seseorang, itu juga bukan kesalahanmu karena cinta itu bukan pilihan. Terkadang kau tidak bisa memilih untuk jatuh cinta bukan?”

“Satu-satunya kesalahanmu adalah kau tidak mau belajar untuk melupakan cinta pertamamu. Jangan berbohong Kyu, kau tidak pernah benar-benar berusaha. Kau pernah mencoba sesekali, namun ketika gagal, kau menyerah begitu saja. Itulah yang membuatmu tersiksa dan juga menyakiti orang-orang yang mencintaimu dengan tulus”

“Kau hanya punya dua pilihan, Kyu : maju terus atau mundur. Ia sudah bahagia kini, bukankah sudah saatnya kau memberikan kesempatan untuk dirimu sendiri benar-benar merasakan kebahagiaan?” Terang Donghae panjang lebar.

“Aku bahagia bersama Doojoon.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Kau tidak benar-benar bahagia. Karena separuh hati dan pemikiranmu masih bersama Yunho. Kebahagiaan yang utuh adalah disaat kau mencintai seseorang dengan sepenuh hatimu, seluruh jiwamu, sampai tidak ada tempat lain untuk nama lain. Jujur Kyu, kau mungkin bukan hanya mencintai Yunho. Kau.. terobsesi padanya.” kata Donghae lagi.

Kyuhyun tahu. Kali ini Donghae benar. Ia memang terobsesi pada Yunho. ia memang tidak pernah benar-benar berusaha menghilangkan Yunho dari hatinya, karena ia tidak pernah mau kehilangan Yunho bahkan setitik tentang dirinya dalam ingatan. Ia rela kehilangan segalanya, tapi tidak Yunho. Bukan Jung Yunho.

Donghae menepuk bahu Kyuhyun. “Pikirkanlah. Tanyakanlah pada hatimu, aku yakin suatu saat kau akan menemukan jawabannya. Mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Yang jelas, aku akan selalu mendukung keputusanmu.”

Kyuhyun menatap Donghae dalam-dalam. Andai saja ia tidak menganggap Donghae seperti kakaknya sendiri, mungkin ia akan jatuh cinta kepada lelaki itu. Segala tentang dirinya adalah sesuatu yang luar biasa dan Kyuhyun benar-benar terpesona.

“Oh.. Jangan jatuh cinta padaku. Aku tidak mau terluka seperti para lelaki itu.” elak Donghae seraya tertawa.

Kyuhyun ikut tertawa. Ia memang tidak bisa jatuh cinta pada malaikatnya itu, tidak bukan tidak bisa tapi tidak boleh. Ia tidak mau kehilangan sahabat sebaik itu. Jadi keputusannya untuk menahan diri sejak awal memang sudah benar.

Malam itu, ketika semua sudah terlelap, Kyuhyun bangun dan menghampiri jendela. Ia menatap langit malam yang cerah diatas sana. Lalu ia mulai bersedekap. Sambil menutup matanya, ia berbisik :

“Tuhan, terima kasih atas segalanya yang telah kau berikan. Maafkanlah semua kesalahanku. Berikanlah kebahagiaan untuk orang-orang terdekatku, terutama untuk mereka yang pernah kukecewakan. Ijinkan aku meraih kebahagiaanku sendiri, ijinkan aku benar-benar bisa dengan ihlas merelakan obsesiku. Tapi tolong bahagiakanlah ia selalu. Dan jika, hanya jika kami tidak bisa bersama di masa depan nanti, ijinkan aku diberikan orang terbaik untuk melupakannya.”

*

Haekyu obs

To be continued..

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..