Heart Without a Home – Teaser

image

Cast :

Jung Yunho

image

 

 

Cho Kyuhyun

image

 

 

Do Kyungsoo

image

 

 

Ok Taecyeon

image

 

 

Kris Wu

image

 

 

Jung Yonghwa

image

 

 

Choi Minho

image

 

 

Kim Jongin

image

 

 

Lee Gikwang

image

 

 

Lee Ho Woon

image

 

The tale of the werewolf..

When the sun shines brightly on your day and the moonlight falls beautifully on your night, they’re not even perfect for your heart without a sweet home..

And the story has just begun..

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..

Got a Baby

Title : Got a Baby

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline Member’s, Kim Jongin (Kai)

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-15

Genre : BL, Romance, M-Preg, Friendship, Little bit Humor, OOC, Typo(s).

Disclaimer : Another story of ChangKyu. Sequel from PREGNANT???

Summary : Kabar mengejutkan datang dari Kyuhyun ketika ia pulang dari Rumah Sakit. Bagaimana reaksi Shim Changmin mendengar kabar tersebut?

“Min-ah…”

Seseorang yang merasa dipanggil dengan nada manja itu sontak menghentikan kesibukannya yang tengah berkutat dengan pensil mekanik dan music book-nya.

“Eh, kau terbangun, chagi?” tanya Changmin heran pada namja manis yang tengah mendudukan dirinya di ranjang kamar miliknya. Ia pikir Kyuhyun telah tertidur lelap setelah ia meminum obatnya beberapa saat lalu. Maka dari itu ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ternyata Kyuhyun kini malah sedang duduk dengan mengusap mata sayunya serta rambut ikal coklatnya yang berantakan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil.

Kyuhyun hanya mengerang lirih menanggapi pertanyaan Changmin. Meskipun demikian, tak urung juga ia beranjak dari ranjang putih itu untuk  menghampiri sang namjachingu yang masih saja setia duduk di meja belajarnya.

“Kenapa kau terbangun, hm?” Changmin menyentuh kening Kyuhyun yang telah berdiri disisinya dengan memeluk lehernya,“tubuhmu masih panas, Kyu. Apa kau masih pusing?”

Kyuhyun menggeleng pelan, “kau sedang apa?” tanya Kyu mengabaikan kekhawatiran dan pertanyaan dari namja yang satu tangannya kini tengah merengkuh pinggangnya posesif.

Changmin hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, “aku sedang mencoba menulis lirik lagu. Apa kau ingin sesuatu?”

“Aku menginginkanmu.” Tukas Kyuhyun tanpa ragu meskipun dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.

Mendengar pernyataan ambigu tersebut membuat namja bermarga Shim itu menyeringai pervert.

“Aku ingin tidur ditemani olehmu, Changmin-ah…”

Seringai dari bibir lebar Changmin seketika menghilang dan berubah menjadi sorot kekecewaan karena dugaannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Mengabaikan kekecewaannya sendiri, ia pun bangkit dari posisi duduknya dan membopong tubuh Kyu dengan mudah seolah tanpa beban. Ia masih cukup punya hati untuk tidak meminta ber-this  and that ria  pada Kyuhyun yang sedang demam.

Dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh berisi Kyu di ranjangnya. Ia mematikan lampu untuk kemudian ikut merebahkan diri di sisi namjachingu-nya yang terlihat sangat mengantuk.

“Min-ah…” Panggil Kyu lagi. Kali ini dengan menatap langsung manik mata Changmin seperti memohon.

Mengerti dengan intonasi dan isyarat tersebut, Changmin pun tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun sebelum ia melepas beberapa kancing piyama yang ia kenakan. Membiarkan tangan dan wajah maknae Super Junior itu segera merangsek di dada bidangnya yang terbuka.

Sudah seminggu ini Kyuhyun memiliki kebiasaan baru yang entah harus Changmin syukuri atau ratapi. Setiap kali akan tidur, Kyu akan selalu memintanya untuk membuka pakaian atasannya. Melesakan wajahnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang menurutnya sangat maskulin dan membuatnya nyaman. Bahkan tak jarang ia akan mengusap lembut dada dan perut telanjangnya  yang membuat dirinya sedikit…ehm terangsang. Dan hal yang harus ia ratapi adalah ketika pada akhirnya ia sedikit turn on tapi Kyuhyun sendiri malah selalu menolak keinginannya untuk bercinta dengan alasan ia lelah.

Changmin mengusap punggung Kyuhyun lembut selagi kekasihnya itu tengah sibuk dengan hobi barunya. Dapat ia rasakan hembusan nafas panas Kyuhyun menerpa kulitnya, begitupun juga keningnya yang ia yakin memiliki suhu diatas normal.

“Besok kita pergi ke dokter, ne?” ajak Changmin untuk kesekian kalinya. Ia sudah hampir putus asa membujuk Kyuhyun yang semenjak kemarin selalu menolak ajakannya untuk ke dokter dengan berbagai alasan. ‘Aku hanya demam, Min-ah. Besok juga pasti sembuh’ atau ‘hari ini aku ada schedule’ dan berbagai alasan lainnya.

Tapi tanpa ia duga, Kyuhyun mengangguk lemah dengan sedikit gumaman dari bibirnya. Merasakan pergerakan tersebut, Changmin tersenyum sumringah.

Good boy.” Ujarnya seraya mengecup dan menyesap aroma rambut Kyu sebelum ia merengkuh tubuh lemas Kyuhyun untuk semakin mendekat padanya.

***

“Tapi hyung –“

Ucapan Changmin terpotong ketika dari line seberang, si penelepon yang tidak lain adalah manager-nya memutus sambungan teleponnnya tanpa permisi.

“Aissh!” erang Changmin melempar smartphone-nya ke tempat tidur dengan kesal.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun ketika ia yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran melihat Changmin yang mengerang kesal.

Namja yang lebih muda lima belas hari itu bangkit dan menghampiri Kyuhyun. Menggosokkan handuk berwarna putih di kepala Kyu untuk mengeringkan rambut basah sewarna madu milik sang namja imut yang baru saja selesai mandi.

“Kyunnie, mianhe. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit hari ini,”

Kyuhyun memiringkan kepalanya menatap Changmin bingung.

“…tadi manager hyung meneleponku jika sekarang aku ada filming promtional kampus.” Jelas namja jangkung itu dengan kecewa. Berhubung saat ini adalah tahun ajaran baru, ia yang di nobatkan sebagai salah satu ambassador jurusan di universitasnya, Konkuk University mengharuskan ia membintangi film promortional tersebut. Namun yang ia sayangkan, kenapa syuting harus dilakukan hari ini? Padahal hari ini ia berniat untuk memerikasakan Kyuhyun ke Rumah sakit. Dan dengan seenaknya sang manager tiba-tiba memberitahunya jika hari ini ia harus merampungkan schedule terakhirnya sebelum mereka berangkat ke Jepang lusa.

“Gwenchana. Aku kan bisa berangkat sendiri ke rumah sakit.”

“Bwoh? Andwe!” Tolaknya keras hingga tanpa sadar ia menghentikan gerakan mengeringkan rambut namja manis dihadapannya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Kyuhyun yang tengah sakit itu keluar seorang diri? Membayangkannya saja ia tidak mau. Ia terlalu mengkhawatirkan Kyuhyun dan ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai itu.

Kyu memutar bola matanya lelah melihat reaksi Changmin yang menurutnya berlebihan, “ayolah, aku tidak akan pingsan di tengah jalan hanya karena pergi ke Rumah sakit sendirian, Shim Changmin.”

“Justru itu yang aku khawatirkan, Cho Kyuhyun.” Sanggah Changmin tegas. “Aku akan meminta tolong pada Minho dan Jonghyun untuk mengantarmu.”

Dahi Kyuhyun mengerut, “Kenapa harus mereka?”

“Karena mereka tidak akan pernah bisa menolak permintaan sang Lord VoldeMin.” Ucap Changmin dengan seringai liciknya.

***

              Terlihat dua orang namja kini tengah duduk manis di depan meja salah satu dokter Rumah sakit Seoul. Menunggu seseorang yang tengah di periksa di balik tirai ruangan yang mereka tempati. Dua namja tersebut tidak lain adalah Choi Minho dan Lee Jonghyun. Setelah tadi pagi mereka menerima telepon dan sedikit ancaman manis dari sang invisible leader Kyuline, akhirnya mereka berdua bersedia mengantar Kyuhyun ke rumah sakit. Beruntung hari ini mereka berdua sedang jobless sehingga ancaman Changmin untuk memposting foto absurd mereka yang tengah mabuk ke internet melalui twitter Kyuhyun tidak terrealisasi.

Mereka berdua sontak mendongak ketika melihat dokter ber-name tag Nam So Young itu muncul dari balik tirai dan duduk di kursinya. Minho sendiri langsung menghampiri Kyuhyun yang tengah merapikan pakaiannya diatas bangsal setelah melakukan pemeriksaan dengan di bantu oleh perawat.

“Hyung, gwenchana?” tanya namja bermata besar itu khawatir yang dibalas Kyuhyun dengan anggukan singkat.

“Jadi uisanim, Kyuhyun hyung baik-baik saja, kan? Maksudku, dia tidak mengidap penyakit kronis atau terjangkit virus aneh, bukan?”

“Ya! Lee Jonghyun!” sentak Kyuhyun mendengar pertanyaan asal dari dongsaengnya itu.

Sang dokter dan perawat wanita yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tertawa pelan.

“Tenang saja. Kyuhyun-ssi tidak terkena penyakit atupun virus aneh seperti yang anda khawatirkan.” Jawab sang dokter yang membuat Jonghyun bernafas lega.

“Lalu?” tanya Minho yang berdiri dibelakang Kyuhyun yang telah duduk disamping Jonghyun.

Lelaki paruh baya itu tersenyum sesaat sebelum ia meneruskan kalimatnya,”mungkin ini terdengar tidak lazim, namun justru hal ini adalah sesuatu yang patut di syukuri karena apa yang dialami oleh Kyuhyun-ssi merupakan suatu anugerah yang tidak dialami oleh semua namja…”

Ketegangan mulai menghampiri trio berbeda grup tersebut demi mendengar pernyataan sang dokter yang terkesan bijak dan horor di waktu yang bersamaan. Terlebih Kyuhyun yang merupakan objek utama dalam percakapan mereka..

“Setelah mendengar keluhan dan gejala yang dialami Kyuhyun-ssi serta dari hasil pemeriksaan tadi, saya hanya dapat mengucapkan selamat kepada anda Kyuhyun-ssi karena anda dinyatakan positif  hamil .”

“MWO???!” pekik mereka bertiga kompak.

“Ha…hamil?” gumam Kyuhyun tergagap.

“Ya! Sepertinya telingaku bermasalah. Bagaimana denganmu Jonghyun-ah?” Minho menyenggol pundak Jonghyun yang masih belum menunjukan reaksi apapun.

“Hahaha… Jangan bercanda, uisanim. Kami tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya…” bantahnya mengingat kejadian ‘kehamilan’ Kyuhyun dua bulan lalu. Kejadian dimana ia sedikit –banyak- kecewa karena tidak jadi mendapatkan keponakan dari pasangan Changkyu.

Sementara Kyuhyun masih tampak terdiam. Ia seperti larut dalam benaknya sendiri yang tengah berkecamuk memikirkan vonis dokter. Terkejut, tidak percaya, bahagia, cemas dan terharu seolah bertumpuk memenuhi perasaaannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Jonghyun. Ia tidak ingin terlalu berharap kembali dengan sesuatu yang mustahil hingga ia akan kecewa untuk yang kedua kalinya. Meskipun begitu, setitik harapan tumbuh di sudut hatinya jika ia memang benar-benar mengandung darah daging dari Changmin.

Dokter Nam yang sudah menduga dengan reaksi tersebut meminta kepada suster untuk memberikan catatan hasil pemeriksaan kepada tiga namja dihadapannya.

Ketiga namja tersebut saling berpandangan horor setelah mereka mencermati hasil pemeriksaan yang hanya kata ‘positif’ yang dapat mereka mengerti.

Oh..my…God, kau benar-benar…”

“…hamil, hyung.”

***

Tadaima~

Changmin berseru riang ketika ia memasuki apartemennya. Namun tidak lama kemudian ia Ia mengerutkan keningnya ketika ia sama sekali tidak mendengar sahutan salam dari Kyuhyun atau seseorang yang lain.

“Kyuhyunnie?” panggilnya dengan nada memastikan, “apa mereka belum pulang?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Dan dugaannya semakin di perjelas ketika ia tidak menemukan sepatu Kyuhyun di rak depan pintu.

Namja pemilik suara tinggi itu melangkah memasuki dapur dan membuka kulkas yang terdapat di salah satu sudut dapurnya. Meraih sebotol air dingin yang langsung ia habiskan hingga tandas. Ia juga meraih sebuah apel dan menggigitnya sebelum menyandarkan tubuhnya di konter dapur. Sebenarnya ia sangat lapar. Ia belum sempat makan siang karena setelah filming selesai, ia langsung bergegas pulang untuk mengetahui keadaan Kyuhyun. Namun sayangnya Kyuhyun dan kedua dongsaengnya sendiri belum pulang dari Rumah sakit.

Niatannya yang akan menelepon Kyuhyun untuk memastikan keberadaannya terinterupsi ketika ia mendengar kegaduhan dari arah pintu masuk. Sesegera mungkin ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kyu?” Pekiknya.

Kekhawatirannya muncul ketika ia melihat namjachingunya yang tengah melangkah dengan di papah oleh Minho hati-hati.  Sementara Jonghyun lebih memilih untuk meletakan barang-barang bawaannya yang tidak bisa dianggap sedikit itu di sofa ruang tamu. Tangannya serasa akan patah setelah ia membawa seluruh barang belanjaan yang berupa peralatan bayi itu menuju lantai dua belas apartemen Changmin.

Salahkan keantusiasan Minho -dan dirinya sendiri tentunya- setelah mendengar kehamilan leader mereka. Setelah mereka heboh memeluki Kyuhyun yang saat itu masih tidak percaya dengan apa yang ia alami serta setelah mendengarkan wejangan dari dokter Nam tentunya,  mereka langsung menuju toserba untuk membeli semua kebutuhan calon baby dan keponakan pertama mereka. Dan tak lupa juga mereka membeli vitamin atau apapun yang kira-kira di butuhkan Kyuhyun mengingat pesan dokter yang mengatakan jika kandungan Kyuhyun sedikit rentan, pengaruh dari kondisi kesehatannya yang cukup lemah karena anemia. Hal yang lumrah di alami seorang ‘ibu’ yang hamil pada trimester pertama tentunya.

“Min-ah, kau sudah pulang?”

“Ne, Kyu. Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, sayang?” rentet Changmin menuntut jawaban. Memeriksa bagian-bagian tubuh Kyuhyun dari atas-bawah depan-belakang. Memastikan makhluk imut dan manis tercintanya itu baik-baik saja.

“Ya Hyung! Hati-hati! Kau tidak boleh menyentuh Kyuhyunnie hyung sembarangan! Kau bisa membahayakan kandungannya!” Pekik Minho overacted memperingatkan seraya melindungi Kyuhyun dengan protektif. Kyuhyun sendiri hanya menghela nafas mencoba bersabar dengan tingkah Minho dan Jonghyun yang menjadi super protektif padanya. Lihat saja, bahkan berjalan pun ia harus di tuntun oleh namja kodok itu meskipun ia sudah menolaknya. Setidaknya ini lebih baik dari pada ia harus di gendong sepanjang perjalanan.

Changmin mendelik, terlebih ketika ia melihat sang visual group SHINee memeluk pinggang Kyuhyun-NYA. Namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah terkejut ketika ia mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan dongsaeng-nya.

“Kandungan?” pria jangkung itu menatap Minho dan Kyuhyun dengan sorot mengintimidasi.

“Ne, kau akan menjadi seorang appa, Chagiya.” Kyuhyun mengecup pipi tirus Changmin dengan rona bahagia yang jelas terpancar di wajahnyaa. Sementara Changmin? Ia hanya diam membeku mendengar kalimat Kyuhyun. Pendengaran dan otaknya seolah tidak sinkron untuk mencerna makna kalimat tersebut.

Dengan linglung ia menunduk untuk menatap wajah Kyuhyun yang telah melepaskan diri dari Minho dengan kedua tangannya tengah bergelayut di lengannya. Kyuhyun sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi dan reaksi calon ayah dari anaknya itu.

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun memberikan surat hasil pemeriksaan ke depan wajah Changmin. Minho kini sudah menyusul untuk duduk di sisi Jonghyun yang tengah menahan tawa melihat ekspresi bodoh Changmin yang harus ia akui sangat jarang terjadi.

Changmin membuka kertas tersebut dengan masih memandang Kyuhyun yang mengangguk kecil berusaha meyakinkan.

Awalnya ia masih belum menunjukan reaksi apapun hingga matanya tertuju pada kalimat ‘Positif Hamil’ yang tercetak tebal pada surat yang ia baca.

“Kyuhyun-ah…kau….”

Kyuhyun mengangguk semangat seraya menciumi wajah Changmin dengan sesekali menggumamkan kata ‘gomawo’.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba…

BRUKKK!

“OMO! Changmin-ah??!”

***

               Changmin mengerjapkan matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah tangan menepuk pipinya pelan. Kedua matanya menyipit berusaha menyesuaikan sinar asing  yang tiba-tiba masuk ke retinanya.

“Changmin-ah?!” Pekik Kyuhyun senang dan langsung memeluk namjachingunya yang masih terbaring di ranjang. Changmin yang masih dalam masa transnya hanya mengerang pelan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi.

Seingatnya, beberapa saat lalu ia pulang dari kampusnya dan menyambut Kyuhyun pulang dari Rumah Sakit dengan diantar oleh duo Kyuline. Dan seketika ia terkesiap ketika ia mengingat hal terakhir apa yang terjadi.

“Sebenarnya kau ini pingsan apa tidur sih, Hyung?” tanya Jonghyun sarkatik.

“Baru saja aku akan menyirammu dengan air cucian piring. Sayang sekali kau malah sudah siuman duluan, hyung.”

Changmin mendelik pada Minho dan Jonghyun yang tengah berdiri di sisi tempat tidurnya dengan pandangan mencemooh.

“Kau baik-baik saja kan, Min-ah? Kau harus baik-baik saja karena aku tidak mau baby-ku lahir tanpa seorang ayah nantinya.” Panik Kyuhyun berlebihan.

Maknae DBSK itu nyaris saja menjitak kepala Kyuhyun jika ia tidak di sadarkan dengan sesuatu yang membuatnya pingsan. Sementara Minho dan Jonghyun lebih memilih keluar dari kamar bermaksud memberikan privasi pada pasangan maknae itu.

“Kyu, mengenai surat yang ku baca tadi…kau tidak bercanda, kan?” Changmin bertanya dengan hati-hati, takut-takut jika ia akan menyinggung perasaan Kyu.

Hening beberapa saat. Kyuhyun yang masih menindih tubuh Changmin mengerjapkan matanya cepat. Sementara namja yang masih terbaring tersebut hanya menelan ludahnya pelan menunggu reaksi Kyuhyun selanjutnya.  Dan benar saja dugaannya, Kyuhyun tiba-tiba saja mencebikan bibirnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya namja berkulit pucat tersebut dengan suaranya yang bergetar.

“Ya…ya. Uljima Kyu. Mianhe. Aku hanya…aku hanya sedikit tidak menyangka jika kau tengah mengandung baby kita, Hyunnie.” Ujar  Changmin menenangkan Kyuhyun yang kini tengah berada di pangkuannya dengan posisi menyamping setelah tadi ia mendudukan diri dengan bersandar di headboard. Sesekali ia mengusap punggung Kyuhyun lembut.

Ia sendiri masih belum mempercayai kenyataan bahwa Kyuhyun-nya tengah hamil. Demi apapun, Kyuhyun itu namja, ia sangat yakin jika seratus persen baik luar ataupun dalam Kyuhyun itu namja. Tapi bagaimana seorang namja bisa hamil? Ia memang pernah membaca sebuah artikel mengenai male pregnancy, namun ia pikir itu hanya artikel omong kosong yang mustahil. Dan dengan tiba-tiba kini ia harus mengubah anggapannya itu karena kekasihnya sendiri mengalami hal yang ia anggap mustahil sebelumnya. Wajar bukan jika ia sedikit shock dan sangsi?

“Minnie…apa kau bahagia?” Kyuhyun bertanya lirih dengan menyandarkan kepalanya di dada Changmin. Air matanya berhenti keluar mendapat perlakuan manis dari Changmin.

“Tentu saja, sayang.” Tangan Changmin merayap masuk ke dalam kaus yang di kenakan Kyu dan mengusap perut datar Kyu, “Aku sudah tidak sabar di panggil appa oleh baby kita. Dan kau akan di panggil eomma olehnya Hyunnie…”

Tentu saja. Lelaki mana yang tidak bahagia jika ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki anak dari orang yang sangat  di cintai?

“Tapi kan aku namja, Min-ah!” Protes Kyuhyun tidak terima.

“Memangnya kau mau di panggil apa oleh baby Shim, Kyu? Dimana-mana, orang  yang melahirkan pasti akan di panggil eomma, ibu, mama, obaasan, umi, mommy…”

“Huh!” Kyuhyun menghela nafas, kalah debat dengan sunbae sekaligus kekasihnya. Tiba-tiba ia terkikik geli ketika ia merasakan tangan besar dan hangat Changmin mengusap lembut perutnya, “Hihihi…Apa yang kau lakukan, Min-ah?”

“Ssshht. Diam dan tenanglah, Kyu. Biarkan aku berbicara dan menyapa baby Shim.” Lelaki bersuara tinggi itu mulai menundukan dirinya dan menyingkap kaus tipis berwarna violet yang Kyuhyun kenakan dengan menampakan kulit pucat Kyu. Kyuhyun sendiri hanya terdiam, menuruti instruksi Changmin sekaligus mengamati pergerakan calon ayah dari anaknya.

“Anyeong, baby Shim. Namaku Shim Changmin. Appa-mu yang sangat tampan, keren, bertalenta, jenius dan berkharisma. ”

Kyuhyun serasa ingin muntah mendengar ucapan narsis Changmin yang sialnya memang ia akui kebenarannya.

“Hey baby, apa yang sedang kau lakukan di dalam perut eomma Hyunnie?” iseng, ia menusuk-nusuk pelan perut Kyuhyun yang terasa keras.

“Ya! Jangan di tusuk-tusuk begitu. Kau bisa menyakitinya, Chwang.”

“Aigoo, kau dengar, baby. Eomma-mu galak dan cerewet sekali, ne? Nanti jika kau lahir, jangan galak –galak seperti eomma.”

Plak!

“Aaww, Kyu…” erang  Changmin mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh namja manis yang tidak terima dengan ucapannya.

“Bahkan eomma berani memukul appa-mu yang tampan ini, baby…” adunya pada sang baby yang usianya bahkan belum genap satu bulan dalam kandungan Kyuhyun.

“Kau sama saja menjelek-jelekan aku pada baby kita sendiri, Changmin-ah.” Ucap Kyuhyun jengah.

Changmin hanya terkekeh. Ia menegakan posisinya sejenak untuk mengecup bibir Kyuhyun sekilas dengan mengucapkan kata ‘mianhe’ sebelum ia menundukan tubuhnya lagi dan melanjutkan kegiatannya untuk mengobrol dengan sang baby.

“Baby, terima kasih kau telah memilih untuk tumbuh dalam kandungan eomma-mu. Kau tahu? Kau adalah anugerah terindah bagi kami.”

Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya mendengar ucapan dan intonasi Changmin yang begitu lembut. Menunjukan bahwa ia benar-benar berterima kasih dan bersyukur dengan kehadiran bayi yang tengah di kandungnya.

“Appa berpesan padamu, tumbuhlah dengan baik dan sehat, baby. Jangan menyakiti dan merepotkan eomma-mu karena kondisi kesehatannya cukup lemah. Lahirlah pula dengan sehat. Kelak jika kau tumbuh dan dewasa nanti, kau harus bisa membantu menjaga eomma untuk appa. Dan juga buat dunia untuk mengenangmu dengan suatu hal yang baik dan membanggakan, sehingga Tuhan tidak merasa sia-sia memberikan satu ruh-Nya untukmu. Arra?” pesan sang maknae DBSK yang tidak lama lagi akan menyandang gelar ‘Appa’ itu dengan takzim pada calon buah hatinya. Sementara Kyuhyun, sekuat hati ia berusaha menahan air mata harunya mendengar ucapan Changmin.

Good night, baby…” Changmin mengakhiri percakapan tunggalnya dengan mengusap dan mencium lembut perut Kyuhyun seolah ia tengah mencium langsung baby Shim. Ia pun kemudian menegakan tubuhnya kembali ke posisi semula, dimana ia menyandarkan punggungnya kembali di headboard Ia tersenyum ketika ia mendapati kedua bola mata sewarna lelehan karamel milik Kyuhyun tengah berkaca-kaca menahan air mata menatapnya.

Crybaby.” Ejek Changmin yang tak kenal suasana seraya mencubit pelan hidung Kyu yang memerah. Biasanya jika ia mengejek ataupun menggoda Kyuhyun, namja yang tak kalah evil darinya itu pasti akan mencubit, memukul ataupun membalas ejekannya dengan lebih sarkatik.

“Aku sedang terharu, pabbo!” sahut Kyuhyun sedikit kesal seraya memeluk erat leher Changmin yang hanya terkekeh. Balas memeluk erat tubuh Kyuhyun, ia pun mengusap lembut punggung namja yang masih duduk di pangkuannya.

Waktu terus berlalu membiarkan keheningan tercipta diantara mereka berdua. Memberikan kesempatan untuk menikmati moment di mana mereka berkomunikasi dengan gesture mereka masing-masing.

“Gomawo…” Bisik Changmin lirih dengan mencium dan menyesap helai rambut namjachingu-nya. Kyuhyun sendiri yang tidak mampu lagi menahan isakannya hanya mengangguk pelan diantara ceruk leher Changmin tanpa merenggangkan pelukannya pada pria tinggi itu.

***

              Senyum dan raut kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampan seorang Shim Changmin. Rasa haru, bahagia dan bangga yang kini ia rasakan seolah membuatnya serasa ingin meledak.

Ia masih ingat lima jam yang lalu merupakan saat-saat paling menegangkan dalam hidupnya. Ia tak pernah merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang luar biasa yang ia alami beberapa saat lalu ketika ia menunggui proses persalinan Kyuhyun di ruang operasi. Bayangan Kyuhyun yang meringis kesakitan karena kontraksi membuatnya merasa sakit dan tidak tega. Nyaris saja ia akan mendobrak pintu yang memisahkan ruangan operasi dan ruang tunggu yang ia tempati dan menerobos masuk untuk menemani Kyuhyun-nya, Kyuhyun-nya yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya untuk calon anaknya. Beruntung niatan anarkisnya itu segera di cegah oleh hyung-deul DBSK dan Super Junior yang juga ikut menemani dan menenangkannya.

Cukup lama aura ketegangan menyelimuti ruang tunggu hingga pintu operasi terbuka. Menampakan sang dokter yang tampak berpeluh karena lelah dan melepas masker yang ia kenakan. Changmin yang saat itu tengah berjalan kesana kemari karena cemas langsung menghampiri sang dokter.

“Selamat tuan Shim, putra anda telah lahir dengan selamat.” Ucap sang dokter ketika ia di serbu oleh sekumpulan orang  yang menatapnya dengan penuh harap, “keadaan Kyuhyun-ssi juga baik-baik saja. Kondisi tubuh serta pikisnya yang stabil sangat membantunya ketika proses kelahiran berlangsung. Saat ini Kyuhyun-ssi masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin tiga atau empat jam lagi ia akan siuman. Sekali lagi saya ucapkan selamat, Changmin-ssi.”

Tangis haru Changmin tidak bisa di tahan lagi begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter. Hal serupa juga terjadi pada kedua orang tua dan mertuanya yang langsung memeluk dan memberinya selamat karena ia telah resmi menjadi seorang ayah.

“Hihihi…Min-ah. Jonginie menjilati jariku…”

Kekehan Kyuhyun sontak menyadarkannya dari memorinya beberapa saat lalu.

Senyum Changmin merekah ketika ia melihat Kyuhyun yang tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan meggendong Shim Jongin, nama sang baby, di dekapannya.

Perlu di ketahui jika nama tersebut merupakan nama pemberian dari kedua ahjusi-nya yang super protektif, Choi Minho dan Lee Jonghyun. Mereka berasumsi jika mereka memiliki hak atas keponakan yang sudah mereka jaga bahkan ketika masih dalam bentuk janin.

Reflek ia mendudukan dirinya di pinggiran ranjang yang di tempati Kyuhyun. Ia ikut terkekeh pelan ketika melihat baby-nya menjilat-jilat jari telunjuk Kyuhyun yang terjulur dan di genggam erat kedua tangan mungil Jongin meskipun kedua matanya tetap tertutup.

“Apa baby lapar, hm?” tanyanya gemas, mengusap-usap lembut hidung putranya.

“Ya! Jongin bukan kau hyung yang selalu lapar setiap saat.”

Changmin memandang sosok Minho yang tengah duduk bersama Jonghyun di sofa ruangan tersebut dengan pandangan mematikan. Ia melupakan jika kedua bocah itu masih berada di ruangan yang sama dengannya. Sebenarnya sudah tak terhitung lagi ia ‘mengusir’ kedua anak itu untuk pulang sekedar untuk beristirahat. Hal serupa yang ia minta kepada Hyungdeul serta orang tuanya mengingat malam telah larut. Namun dengan tegas mereka berdua menolaknya dengan alasan ingin menjaga Jongin.

Minho sendiri yang menyadari sorot membunuh dari maknae DBSK itu mulai menekuni majalah yang tengah ia baca, mencoba menghindar.

Jonghyun mencoba mengabaikan perang tak kasat mata tersebut dan memilih untuk menghampiri ranjang rumah sakit yang Kyuhyun tempati.

“Hyung, sudah malam. Lebih baik kau istirahat. Biar Jongin aku saja yang menjaganya…” ucap namja Lee itu bijak.

“Aniyo. Aku masih ingin bersama baby-ku.” Tolak Kyuhyun menggeleng kuat dan menatap anaknya yang masih saja menjilati jarinya.

“Jonghyun benar, Kyu. Kau ingat apa kata dokter tadi kan? Kau harus banyak istirahat agar segera pulih dan bisa sesegera mungkin bermain dengan Jonginie sepuasmu nanti. Lagi pula Jongin juga sudah tidur kan? Biarkan Jonghyun meletakan Jongin di baby box-nya. Ne?” Changmin mencoba membujuk sang ‘istri’ yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tidak suka karena Changmin tidak mendukungnya, “Tapi, Min-“

“Kyu…”

Kyuhyun menghela nafasnya pasrah mendengar panggilan lelah Changmin. Dengan berat hati ia pun menyerahkan Jongin pada Jonghyun dengan sebelumnya ia mencium bibir duplikat dari Changmin itu dengan lembut. Begitu pun juga Changmin.

Good night, baby. Saranghae…”

Changmin mengelus rambut Kyuhyun lembut yang masih terlihat tidak rela berpisah sesaat dengan Jongin.

“Sekarang istirahatlah, chagi. Aku akan menemanimu di sini…” pinta Changmin membantu merebahkan tubuh Kyuhyun dan menyelimuti tubuh pucat tersebut hingga sebatas dada.

Ia mencium kening Kyu dengan lembut seraya membisikan kata terima kasih padanya. Tangannya mengusap lembut rambut Kyuhyun dengan bibirnya yang menyenandungkan pelan sebuah lagu sebagai lullaby.

Dan nyanyiannya terhenti ketika ia melihat kedua mata Kyu perlahan mulai terpejam dan terlelap. Sejenak ia mengagumi sosok wajah istrinya yang menyiratkan rasa lelah. Meskipun begitu, senyum tipis juga terlihat di wajahnya yang terlihat makin pucat saat ini. Lagi, ia mencium kening Kyuhyun dan mengecup sekilas bibir plump sang istri.

“Terima kasih telah melahirkan Jongin untukku, Shim Kyuhyun…”

Got a baby ChangKyu kai publish

END

Obsession – Chapter 3

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff

Pair                  : YunKyu, JoonKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 3

The Mysterious Man

            “Yoon Doo Joon imnida.”

Lelaki itu memperkenalkan namanya. Ia tersenyum sopan, namun raut wajahnya seperti menunjukkan bahwa ia sulit didekati. Aura misterius terpancar dari dirinya, membuat siapa saja penasaran padanya.

“Nah Yoon Doon Joon, kau boleh duduk di bangku sebelah sana.” Tunjuk Leeteuk songsengnim ke bangku kosong tepat di sebelah Kyuhyun.

Doo Joon mengangguk hormat lalu berjalan ke bangku yang ditunjuk oleh gurunya di kelas barunya itu. Ketika ia sudah duduk di sana, songsengnim melanjutkan.

“Nah Doon Joon, di samping kirimu adalah Cho Kyuhyun dan yang dibelakangnya itu adalah Choi Minho, sang ketua kelas. Berhubung ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, maka kau tidak ketinggalan pelajaran sama sekali walaupun kau datang menjelang waktu sekolah berakhir. Setelah bel nanti, Kyuhyun dan Minho akan menemanimu berkeliling sekolah, memperkenalkan seluruh seluk beluk sekolah ini kepadamu.”

“Aku harus mengikuti rapat OSIS nanti. Bisakah Kyuhyun saja yang menemaninya, songsengnim?” jawab Minho cepat.

Leeteuk songsengnim mengangguk. Namun Kyuhyun malah berdecak kesal karenanya. Mengapa harus dia yang melakukannya? Bukankah banyak siswa lain yang mungkin lebih tertarik melakukannya?

Tak lama kemudian bel panjang tanda sekolah telah usai berbunyi. Dengan cepat para siswa itu merapikan buku-buku mereka lalu memasukkannya ke dalam tas masing-masing. Setelah mereka memberi salam pada Leeteuk songsengnim, mereka pun keluar satu persatu.

“Kyuhyun-ah, rapat OSIS tidak akan berlangsung terlalu lama. Tunggulah aku di kantin, ne? Begitu selesai, aku akan langsung menyusulmu. Ajaklah dia berkeliling. Maaf, aku tidak bisa membantumu.” Kata Minho tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, ia langsung berlari keluar meninggalkan Kyuhyun dengan Doo Joon sendirian.

Hening tercipta diantara keduanya. Tak lama kemudian Doo Joon bangkit dari duduknya dan berkata tanpa menoleh pada Kyuhyun. “Aku bisa berkeliling sendiri. Kau tidak perlu menemaniku.”

Sebenarnya Kyuhyun merasa lega karenanya. Tapi bagaimana kalau songsengnim tahu bahwa Kyuhyun tidak melaksanakan tugas yang diberikan padanya?

“Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu. Itu tugas dari songsengnim, aku harus melakukannya.” Jawab Kyuhyun mencoba ramah. Ia sedikit kurang suka dengan kesan misterius yang ada pada Doo Joon.

Doo Joon menggeleng. “Percayalah, aku baik-baik saja.”

Doo Joon langsung mengenakan tasnya. Kemudian ia membungkuk sebentar pada Kyuhyun dan berjalan keluar kelas.

Kyuhyun langsung mendengus sebal karenanya. Anak baru itu langsung terkesan sombong padahal belum dua jam ia ada di sekolah ini. Dengan jengkel Kyuhyun menyambar tasnya lalu ikut berjalan keluar.

“Kau! Ikut aku! Aku tidak mau mendengar penolakan! Kau merasa baik-baik saja tapi bagaimana denganku? Kau mau aku mendapat hukuman?” kata Kyuhyun dengan galak begitu ia berhasil mengejar Doo Joon dan memblokir jalannya.

Doo Joon tampak sedikit terkejut. “Bukan begitu. Aku hanya tidak mau merepotkan siapapun.”

“Kau tidak merepotkan. Nah, sekarang ikut aku. Aku akan menunjukkan padamu tempat-tempat di sekolah kita.”

*

            Yoon Doo Joon. Namja yang satu itu memang sedikit misterius. Ia selalu sendirian dan tidak pernah mencoba untuk bergaul. Jangankan mencampuri urusan orang lain, bicara saja jarang. Ia datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, beristirahat entah dimana lalu pulang sekolah, semuanya sendiri dan dalam diam. Siswa lainpun enggan mengajaknya bicara kalau tidak benar-benar perlu.

Tapi sepertinya Yoon Doo Joon tidak mempermasalahkan hal itu. Namun justru hal itulah yang membuat Kyuhyun penasaran. Bagaimana mungkin lelaki setampan itu justru sangat pendiam? Seolah-olah ia hanya akan bicara kalau dibayar. Sampai tiga bulan bersekolah pun, ia tetap penyendiri. Berkali-kali Kyuhyun mengajaknya bicara atau menawarkan bantuan padanya, tapi Doo Joon selalu menolak dengan sopan.

“Itu hanya perasaanmu saja. Mungkin sifatnya memang seperti itu. Biarkanlah.” Kata Minho suatu hari ketika Kyuhyun mengutarakan rasa penasarannya mengenai Doo Joon.

“Aku merasa ia menyembunyikan sesuatu. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya dan tidak ada yang tahu?” bantah Kyuhyun.

“Tenang saja, ia punya keluarga kan?” balas Minho cuek dan terus memainkan PSP di tangannya.

“Tapi keluarganya tidak ada di Seoul. Mereka ada di luar negeri.”

Minho menghentikan permainannya. Ia menatap Kyuhyun dengan sedikit bingung. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku.. Bertanya pada songsengnim. Dia.. maksudku Doo Joon, tidak punya keluarga di Seoul. Dia tinggal seorang diri.”

Minho membulatkan matanya mendengar pengakuan Kyuhyun. “Mwo? Ya! Kyuhyun-ah.. Mengapa kau mencari tahu tentang dirinya? Jangan bilang kau menyukainya! Ya! Kau sudah bisa melupakan Changmin hyung. Semudah itu kau jatuh cinta?”

Plaaakkkk. Sebuah tamparan kasar mendarat di kepala Minho.

“Ya! Aku mengkhawatirkannya sebagai teman, bukan apa-apa. Bagaimana mungkin aku dengan cepat menyukainya? Dasar bodoh!” omel Kyuhyun.

Minho mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat tamparan Kyuhyun. “Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan membuntutinya. Aku akan mencari tahu kenapa ia begitu pendiam. Ia seperti punya masalah tapi tidak tahu mau bercerita ke siapa. Dan kalau kau jeli memperhatikannya, ia seolah-olah datang ke sekolah hanya karena ia harus menyelesaikan pendidikannya. Ia seperti.. Ah, sulit untuk menjelaskannya. Bagaimanapun juga, sebagai teman aku harus membantunya.” Kata Kyuhyun yakin.

“Lalu bagaimana kalau ia tidak mau dibantu?”

“Itu urusan nanti. Yang jelas mulai hari ini, aku akan membuntutinya dan mencari tahu tentangnya.”

‘Dasar keras kepala!’ batin Minho.

*

            Seminggu kemudian, setelah direncanakan dengan baik, Kyuhyun dan Minho mulai mengikuti Doo Joon setelah pulang sekolah. Awalnya mereka sempat terkesima karena Doo Joon yang selalu menggunakan bus ke sekolah, ternyata tinggal di daerah elit. Ia juga menghuni salah satu apartemen di sana.

Kyuhyun dan Minho menunggu Doo Joon di pelataran parkir apartemen itu, karena menurut mereka, mungkin saja Doo Joon akan keluar. Namun setelah menunggu sekitar  hampir tiga jam, Doo Joon tidak juga muncul. Akhirnya keduanya menyerah dan memutuskan untuk pulang. Tapi ketika Minho akan menyalakan mesin mobilnya, dilihatnya Doo Joon muncul dengan gaya yang sedikit aneh di mata mereka.

Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam. Jaket kulit yang membungkus tubuhnya terlihat serasi dengan sepatu bootsnya. Yoon Doo Joon menaiki sebuah motor besar yang meraung cukup kencang ketika dinyalakan.

“Lihat! Itu Doo Joon. Mau kemana dia?” seru Minho.

“Ikuti saja dia! Yang jelas kita harus tahu dia akan kemana dan apa yang hendak dilakukannya. Cepat, dia sudah pergi.” Perintah Kyuhyun.

Minho segera menginjak pedal gas lalu melarikan mobilnya, membuntuti Doo Joon. Dalam perjalanan yang cukup panjang itu, Kyuhyun tak henti-hentinya memberikan instruksi agar ia lebih cepat mengejar Doo Joon mengingat lelaki itu melarikan motornya dalam kecepatan tinggi.

“Diamlah, Kyuhyunnie. Aku sudah berusaha mengejarnya. Tapi kau lihat kan, dia lihai sekali. Kalau kau tidak puas, kau saja yang menyetir!” bantah Minho kesal.

“Kalau aku bisa menyetir dengan baik, sudah pasti aku yang akan duduk di tempatmu saat ini. Sudah, cepat kejar dia, jangan sampai dia menghilang.” Balas Kyuhyun.

Keduanya masih saja bertengkar hingga akhirnya Doo Joon mulai melambatkan laju motornya dan berhenti di sebuah tanah lapang yang sangat ramai. Minho dan Kyuhyun mendadak ketakutan melihat apa yang terhampar di depan mata mereka.

Berpuluh-puluh motor besar bersama si pengendara berada disana. Beberapa diantaranya terlihat bersiap-siap untuk melakukan balapan, sementara yang lainnya tengah mengobrol, mengecek mesin motornya atau bahkan minum-minuman keras.

“Kyu, ini.. Ini tempat dimana para pembalap liar berkumpul. Kita harus segera pergi dari sini. Kalau kita sampai ketahuan, mereka tidak akan mengampuni kita.” Kata Minho setengah berbisik.

“Tidak! Aku harus melihat apa yang Doo Joon lakukan disini.”

“Untuk apa melihat lagi? Kau sudah tahu kan apa yang ia lakukan? Mana mungkin ia hanya menjadi penonton disini? Kau lihat sendiri kan bagaimana caranya mengemudikan motornya tadi?” kata Minho setengah histeris.

“Lihat! Dia benar-benar akan melakukan balapan. Oh Minho, apa yang akan kita lakukan?” kata Kyuhyun tanpa menghiraukan perkataan Minho sebelumnya.

Minho melihat Doo Joon sudah bersiap-siap di belakang garis kuning yang bisa dikatakan sebagai garis start bersama beberapa pengendara lainnya. Mesin motor mereka meraung-raung dengan bisingnya, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa akan tuli.

Diantara kebisingan itu, Minho masih bisa mendengar Kyuhyun membuka pintu mobil. “Ya! Kyuhyun!” Dengan cepat Minho menangkap pergelangan tangan Kyuhyun dan menariknya kembali ke dalam mobil.

“Lepaskan aku.” Kata Kyuhyun berusaha melepasan cengkraman Minho.

“Apa yang kau lakukan? Jangan bodoh! Kalau mereka melihatmu, kau akan dibinasakan saat itu juga. Mengertikah kau bahwa yang kita saksikan saat ini adalah ilegal? Kau bisa disangka orang luar yang membahayakan karena akan membawa polisi kemari.” jelas Minho panjang lebar namun dengan nada kesal.

“Tapi kalau kita tidak menghentikan Doo Joon, ia bisa terluka. Kau tahu kan betapa berbahayanya hal ini?” balas Kyuhyun dengan sama kesalnya.

“Tapi bukan berarti kau membahayakan dirimu sendiri karenanya. Lagipula, kau bisa lihat kan, ia bisa mengendarai motornya dengan baik. Kau juga bisa melihat bahwa orang-orang di sana tampak mengenalnya. Ia pasti sudah biasa melakukan hal ini. Tenanglah.”

Peluit panjang dibunyikan. Bersamaan dengan itu, sebuah bendera kecil dikibar-kibarkan. Motor-motor yang tadinya bersiap di belakang garis start segera melaju cepat, saling mendahului yang lain. Hal yang sama dilakukan oleh Doo Joon. Dalam beberapa detik, ia sudah hilang di telan malam.

“Lihat? Dia pergi sekarang. Bagaimana kita mengikutinya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang mengerikan disana?” tanya Kyuhyun dengan marah.

Minho menghela nafas kesal. “Ia akan baik-baik saja. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu. Yang jelas kita tidak boleh ketahuan telah mengikutinya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tahu maksud Minho baik. Tapi Kyuhyun tidak bisa mengusir rasa cemas di hatinya begitu melihat Doo Joon melakukan aksinya. Ia akhirnya menuruti saran Minho untuk tetap diam disana hingga Doo Joon kembali. Akan lebih baik jika mereka tahu rincian kejadiannya dari awal hingga akhir walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi selama Doo Joon melakukan aksi gilanya.

Tak sampai sepuluh menit, dari kejauhan terdengar bunyi suara motor berkejaran. Motor pertama muncul secepat cahaya, melesat dari balik kegelapan lalu dengan sebuah manuver cantik, sang pengendara memasuki garis finish. Pengendara itu Yoon Doo Joon.

*

            Selama berbulan-bulan kedepan, Kyuhyun dan Minho selalu mengikuti Doo Joon. Dari sana, mereka tahu bahwa jadwal balapan liar yang diikuti Doo Joon dilaksanakan setiap dua kali dalam seminggu. Waktunya tidak tetap. Perkiraan Minho, alasan waktu yang tidak tetap itu karena menghindari polisi.

Dari hasil mematai-matai itu pulalah keduanya tahu bahwa Doo Joon adalah seorang anak pengusaha ternama di Jepang. Ia adalah anak satu-satunya dan hanya tinggal sendiri di Seoul. Namun mereka tidak tahu lebih banyak lagi karena kepribadian Doo Joon yang tertutup. Di sekolah pun ia tidak punya teman. Ia melakukan segala sesuatunya seorang diri. Ia terlihat sangat dan menakutkan, tetapi ketika disapa, ia akan membalas dengan sangat sopan.

Hal ini membuat Kyuhyun sedikit frustasi karenanya. Semakin ia berusaha mencari tahu tentang Doo Joon, semakin sulit ia mendapatkannya. Semakin ia coba untuk mendekati lelaki itu, semakin tertutup lelaki itu terhadapnya. Yang kini ia tahu melalui pengamatannya sendiri adalah Doo Joon belajar dengan baik, mendengarkan guru dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik juga karenanya.

“Berhentilah mengkhawatirkannya. Kita sudah membuntutinya, kita tahu bahwa selama ini ia baik-baik saja. Kau lihat sendiri bahwa ia tidak pernah membuat kekacauan, bahkan mendapatkan nilai yang cukup bagus di sekolah. Itu sudah menjadi bukti bahwa ia adalah anak baik-baik, hanya saja ia suka sendirian.” Jelas Minho siang itu ketika ia dan Kyuhyun mendiskusikan tentang Doo Joon.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tahu itu. Tapi tampaknya ia menyembunyikan sesuatu. Ia seperti melarikan diri dari semuanya ketika melakukan balapan itu. Tidakkah hal ini aneh? Bahkan seorang yang benar-benar pendiam pun pasti punya seorang teman.”

Minho menyipitkan matanya kepada Kyuhyun. “Kau tahu?  Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah kau menyukainya?”

Belum sempat Kyuhyun menjawab, sebuah bola basket melayang dan mendarat dengan keras tepat di wajahnya. Ia merasa pusing seketika, pandangan matanya berkunang-kunang. Wajahnya terasa panas dan.. darah segar keluar dari hidungnya.

“Kyuhyunnie..!” Kyuhyun tahu itu suara Minho.

“Kyu? Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja? Biar aku yang membawanya ke klinik.” Suara itu.. Kyuhyun sepertinya mengenal suara itu. Tapi karena kepalanya yang pusing, ia sulit membuka matanya dan melihat dengan jelas.

Detik berikutnya ia merasakan seseorang menggendongnya ala bridal style dan berjalan cepat entah kemana.

“Kyuhyunnie, bertahanlah.” Minho kembali bicara menyemangati Kyuhyun.

Pelan-pelan Kyuhyun membuka matanya. Awalnya, sekelilingnya tampak kabur. Namun lama kelamaan ia bisa melihat dengan jelas setelah beradaptasi dengan cahaya matahari yang menyilaukan. Lalu ia melihat siapa yang menggendongnya.

Rahang kokoh, bibir tegas, hidung lancip, dengan mata tajam yang kini tampak khawatir. Kyuhyun mencengkram jantungnya. Mimpi apa ia semalam? Ia kini tengah berada dalam pelukan seorang Jung Yunho. Dan ini bukan mimpi kan? Pikirnya. Ia rela setiap saat menderita sakit seperti ini kalau imbalannya ia akan terus dipeluk Yunho.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yunho ketika ia membaringkan Kyuhyun di ranjang kecil milik klinik sekolah. Di sebelahnya Minho tampak berdiri dengan cemas.

Kyuhyun mengangguk. “Aku baik-baik saja, sunbae. Tapi.. apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sudah lulus?”

Yunho tersenyum. Ia meraih kapas di samping tempat tidur lalu menyeka darah yang keluar dari hidung Kyuhyun perlahan. “Aku datang untuk mengurus sesuatu. Sebenarnya aku sudah dalam perjalanan pulang. Namun ketika lewat di lapangan basket dan bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain basket, aku tergoda untuk ikut bermain sebentar. Tak kusangka justru membuatmu seperti ini. Maafkan aku, ne?”

Kyuhyun hendak menjawab namun dilihatnya Doo Joon melintas di luar dengan beberapa lelaki yang ia tahu dari kelas lain. Ia tampak dibawa dengan paksa. ‘Tidak. Aku harus melakukan sesuatu.’ Pikirnya.

Dengan cepat ia bangkit lalu duduk tegak dengan pandangan horor. Ia memandang Minho dan berusaha memberi kode melalui matanya. Tapi tampaknya Minho tak juga mengerti.

“Aku harus pergi, hyu-maksudku sunbae. Terima kasih telah membantuku.” Kata Kyuhyun dengan cepat seraya melompat turun dari tempat tidurnya.

“Tapi kau mau kemana? Kau harus mendapatkan perawatan terlebih dahulu.” Cegah Yunho.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Setelah itu Kyuhyun langsung menyambar lengan Minho lalu berjalan tergesa-gesa keluar, membiarkan Yunho bertanya-tanya dengan sikapnya yang aneh.

“Kyu.. Tunggu!”

Kyuhyun berhenti. Ia berbalik dan menatap Yunho. Sungguh ia ingin tinggal lebih lama di samping lelaki itu. Kapan lagi ia punya waktu seperti ini? Tapi saat ini Doo Joon membutuhkan bantuannya.

“Kau.. Kau boleh memanggilku hyung..” kata Yunho pada akhirnya.

Kyuhyun  tersenyum. “Terima kasih hyung.” Setelah itu ia menarik Minho menjauh, membuat sahabatnya itu nyaris jatuh karena ditarik saat ia membungkuk hendak memberi hormat pada Yunho. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan Minho tentang aksinya saat ini.

Akhirnya tiba juga mereka di lorong kecil yang menjadi pembatas antara laboratorium dan gudang. Lorong itu memang sepi. Biasanya dipakai hanya untuk jalan pintas untuk menuju ke perpustakaan atau jadi tempat persembunyian anak-anak yang suka membolos sambil merokok.

Kyuhyun melambatkan laju kakinya. Pelan-pelan ia mengintip, disana tampak Doo Joon yang dikepung tiga lelaki angkatan mereka.

“Dengarkan aku bodoh! Cepat serahkan uang itu. Kau terus-terusan menang, lagipula kau tidak tampak seperti orang susah.” Kata seseorang.

“Hah! Kalau kau tidak menang, itu salahmu sendiri. Kalau kau mau mendapatkan uang, menangkan saja balapan besok. Tidak usah memerasku seperti ini, karena kau tidak akan mendapatkan sepeserpun dariku.” Jawab Doo Joon.

“Jangan membuat kesabaranku habis. Cepat serahkan uang itu atau kau akan menerima akibatnya karena berani menentang kami!” kata lelaki yang lain.

Kyuhyun tak tahan lagi. Ia lalu keluar dari persembunyiannya, mengabaikan kata-kata ‘Jangan’ dari Minho.

“Kalau kalian berani menyentuhnya, aku akan melaporkan kalian ke songsengnim.” Katanya dengan berani.

Ketiga lelaki disana termasuk Doo Joon menoleh pada Kyuhyun. Detik berikutnya ketiga lelaki tadi tertawa terbahak-bahak.

“Lihat dia! Sok pahlawan, sok jagoan. Kau kira kami takut? Kami bahkan belum menyentuhnya. Bagaimana mungkin kami bisa disalahkan? Kau mau ikut campur? Ide bagus, setidaknya kau juga bisa merasakan bagaimana hebatnya tanganku ini.” kata lelaki sangar yang tampaknya menjadi pimpinan gerombolan kecil itu.

“Tidak masalah. Aku juga akan mengatakan bahwa kalian mengikuti balapan liar setiap dua kali seminggu jam sebelas malam. Lalu..”

“Ya! Bodoh! Baik kami pergi. Tapi sekali saja kau berani membuka mulut mengenai hal itu, kami tak akan segan-segan menghajarmu.” Kata lelaki tadi. Ia bahkan tampak sedikit gentar.

Ketiganya lalu pergi dengan marah. Begitu ketiganya tak tampak lagi, Kyuhyun dan Minho segera mendekati Doo Joon.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Doo Joon menggeleng. Ia mengucapkan terima kasih lalu hendak beranjak pergi tapi Kyuhyun langsung memblokir jalannya.

“Setidaknya kau harus mendengarkanku dulu.”

Doo Joon hendak menghindar tapi sekali lagi Kyuhyun memblokir jalannya. “Berterima kasihlah dengan cara yang pantas dengan para penolongmu. Traktir kami makan siang.”

Doo Joon mengerutkan keningnya sebentar. “Traktir? Bukankah kalian baru saja menyelamatkanku dari para pemeras? Dan kini kalian memintaku untuk..”

Kyuhyun tampak malu. Tapi ia sudah bertekad ingin membangun hubungan baik dengan si pendiam nan misterius itu. Maka ia tak gentar dengan sindiran itu.

“Iya, traktir. Bukankah kami teman sekelasmu? Dan kami juga merahasiakan balapan liarmu dari songsengnim. Jadi, setidaknya berikan penghargaan pada kami.”

Doo Joon tersenyum kecil. “Baiklah. Tapi tidak hari ini. AKu berjanji akan mentraktir kalian beberapa hari lagi. Jangan hari ini.”

“Baiklah, kau boleh pergi. Maafkan Kyuhyun kalau ia terkesan berlebihan.” Kata Minho pada akhirnya.

Doo Joon hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan Minho dan Kyuhyun. Namun baru beberapa langkah, ia sudah berbalik lagi. Ia menatap Kyuhyun cukup lama lalu mendekati Kyuhyun. Setelah itu ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sapu tangannya. Pelan-pelan diusapkannya pada hidung Kyuhyun.

“Hidungmu berdarah. Pakai ini untuk sementara. Setelah pulang, pastikan kau membersihkannya dengan baik atau akan menjadi infeksi nantinya.”

Entahlah, tapi sentuhan kecil, perhatian sederhana dibarengi senyuman manis dari seorang Yoon Doo Joon mampu membuat jantung Kyuhyun berdebar kencang.

*

            Setelah pertemuan itu Yoon Doo Joon tidak pernah muncul di sekolah. Awalnya Kyuhyun mengira Doo Joon pulang ke Jepang untuk menemui orang tuanya. Tapi ketika ia bertanya ke wali kelasnya, Leeteuk, lelaki paruh baya itu mengatakan bahwa Doo Joon sedang sakit jadi ia tidak bisa menghadiri sekolah.

Maka siang itu Kyuhyun memberanikan diri menjenguk Doo Joon. Tadinya ia mengajak Minho untuk ikut serta, tapi Minho yang sebentar lagi akan bertanding basket dengan sekolah lain mengharuskannya untuk latihan intensif setiap hari.

402. Menurut pengelola apartment, kamar ini adalah milik Doo Joon. Kyuhyun menguatkan tekadnya lalu menekan bel di samping pintu berwarna silver itu. Butuh kesabaran ekstra untuk menunggu si pemilik kamar membukakan pintu, karena setelah Kyuhyun menekan bel beberapa kali barulah Doo Joon keluar.

Kyuhyun sempat terperangah melihat pemandangan di depannya. Yoon Doo Joon tampak berantakan. Matanya sembab dan merah. Beberapa tempat di wajahnya terlihat lebam, begitu juga di lengannya. Wajahnya pucat dan terlihat lemah.

“Doo Joon-ssi..”

Doo Joon menatap Kyuhyun tanpa ekspresi. “Ada apa?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa denganmu!” kata Kyuhyun dengan galak. Ia lalu memanjangkan lehernya dan mencoba melihat ke dalam kamar Doo Joon.

“Ya ampun! Lihat kamarmu! Minggir!”

Tanpa menghiraukan Doo Joon yang protes, Kyuhyun menyerbu masuk ke kamar lelaki itu lalu mulai melakukan acara bersih-bersih di ruang tamu apartemen mewah itu.

“Mengapa apartemenmu berantakan seperti ini? Kau ini tidak bisa melihat segala sesuatunya rapid an bersih yah? Dan ini, lihat tumpukan piring kotor ini! Belum lagi kardus-kardus pizza ini. Kau jorok sekali! Dan kenapa kau menutup tirai di siang bolong seperti ini? Pantas saja kulitmu jadi pucat seperti itu. Kau tahu, matahari bagus untuk kesehatan..”

Kyuhyun masih terus mengomel panjang lebar sementara tangannya sibuk membersihkan apartemen itu. Doo Joon hanya mengamati Kyuhyun dalam diam. Ia enggan menyela Kyuhyun, karena seperti sebelum-sebelumnya, lelaki itu pantang di tolak dan ia luar biasa keras kepala. Daripada Kyuhyun mengajaknya berdebat, lebih baik ia membiarkan Kyuhyun melakukan semuanya.

Setelah semuanya beres, Kyuhyun menelepon restoran dan memesan makanan. “Sebentar lagi makanan akan datang, aku yakin kau belum makan. Sekarang ceritakan padaku, ada apa denganmu.” Kata Kyuhyun lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di depan Doo Joon.

“Aku tidak apa-apa.” jawab Doo Joon pendek.

“Kalau begitu mengapa kau tidak masuk sekolah? Dan lihat memar di wajah dan lenganmu. Berhentilah berbohong.” Kata Kyuhyun tajam.

“Aku hanya terjatuh di kamar mandi lalu demam setelahnya. Hanya itu.”

“Sudah kukatakan berhenti berbohong! Kau habis berkelahi kan?” tanya Kyuhyun lagi.

“Aku tidak.. Ya! Berhenti mengintimidasiku. Kau ini siapa? Mengapa kau selalu mau mencampuri urusanku?” sahut Doo Joon dengan kesal.

“Aku ini teman sekelasmu. Aku peduli padamu. Mungkin orang lain tidak mau tahu apa yang terjadi padamu. Mereka mungkin tidak perduli apa kau akan masuk sekolah lagi atau tidak. Tapi aku tidak seperti itu. Aku peduli padamu. Aku ingin kau baik-baik saja dan kita bisa mengikuti ujian akhir bersama-sama. Ingat, ujian akhir tinggal empat bulan lagi. Apa kau mau merelakan masa depanmu hanya karena urusan tidak penting seperti berkelahi dan balap motor?” kata Kyuhyun tak kalah kesalnya.

Doo Joon bangkit berdiri dan menuju ke balkon. Seolah tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Kyuhyun, ia menyulut rokok di tangannya. Asap menggepul dari balik bibirnya. Namun detik berikutnya Kyuhyun sudah merebutnya dan membuang rokok itu ke bawah sana.

“Ya!”

“Merokok tidak baik untuk kesehatan.” Sahut Kyuhyun. Ia bersedekap sambil memandang Doo Joon dengan tajam.

Doo Joon menghela nafas kesal karenanya. Ia benci diintimidasi. Namun lelaki di depannya tak mau berhenti melakukannya jika ia tidak buka mulut. Ia terdiam cukup lama. Menimbang-nimbang apakah ia bisa mempercayai Kyuhyun atau tidak. Tapi sepertinya ia memang tidak punya pilihan lain. Mungkin saat ini ia memang butuh teman.

“Aku memang berkelahi. Setelah Ayah kandungku meninggal, seluruh warisannya jatuh padaku. Ibuku yang sejak awal memang berselingkuh akhirnya lari ke pelukan lelaki yang kini menjadi ayah tiriku. Sebenarnya lelaki itu cukup baik jika saja sejak awal aku menyadari bahwa ia hendak menjodohkanku dengan anak salah satu pengusaha yang ia kenal. Ia berkali-kali mencoba membujukku namun tidak berhasil. Dan sekarang ia memakai kekerasan agar membuatku tunduk.”

Doo Joon terdiam lagi sejenak lalu melanjutkan ceritanya. “Aku tahu bahwa aku harus menyelesaikan sekolahku lalu mencari universitas terbaik. Aku harus berusaha semampunya memimpin perusahaan ayahku. Ribuan pekerja bergantung padaku. Tapi aku juga manusia. Aku berusaha tidak mempercayai siapapun seperti pesan ayahku, karena teman terkadang menjadi lawan di saat terjepit.”

“Balapan liar adalah tempatku melarikan diri. Di usia seperti ini aku harus menghadapi kematian ayahku dan perselingkuhan ibuku. Belum lagi kemauan ayah tiriku yang didukung oleh ibuku. Lalu dengan perusahaan ayahku. Aku ingin menyerah saja, tapi aku tidak mau mengecewakan mendiang ayahku.”

Kyuhyun dan Doo Joon sama-sama terdiam setelahnya. Kyuhyun tidak menyangka beban yang dipikul Doo Joon sedemikian berat. Kyuhyun ingin sekali membantu, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang ia tahu, saat ini Doo Joon butuh teman.

“Doo Joon-ssi.. Aku mungkin tidak bisa membantumu. Tapi yakinlah, aku akan selalu ada untuk mendengarkan ceritamu. Kau bisa membagi sebagian bebanmu padaku. Kau akan baik-baik saja. Kau sudah bertahan sejauh ini, jangan biarkan semua ini membuatmu gagal. Aku tahu kau pasti bisa melaluinya.”

Doo Joon tersenyum penuh arti. Dan baru kali ini Kyuhyun melihat senyum itu. Senyum tulus seolah tanpa beban. Padahal lelaki itu pasti cukup lelah menghadapi dunianya. Dan kembali, jantung Kyuhyun berdebar keras karenanya..

*

            Setelah hari itu, Kyuhyun dan Doo Joon menjadi sedikit lebih dekat. Walaupun Doo Joon masih tetap cuek seperti sebelumnya, tapi ia sudah mulai terbuka dan bercerita tentang banyak hal pada Kyuhyun. Ia sering menghabiskan waktu bersama Kyuhyun dan Minho di apartementnya hanya untuk menikmati makan siang yang mereka pesan secara berlebihan atau bermain game bersama. Ia bahkan mengijinkan Kyuhyun dan Minho menontonnya diam-diam saat sedang balapan.

Tapi malam itu, karena Minho sedang berhalangan, maka Kyuhyun menonton sendirian.

“Kau yakin tidak apa-apa menonton dari sini?” tanya Doo Joon ketika ia akan meninggalkan Kyuhyun di balik semak-semak.

Kyuhyun menggeleng. “Kau hanya mengikuti satu set balapan kan? Aku baik-baik saja disini.”

Doo Joon menghela nafas. “Sudah kukatakan berkali-kali, kau tidak perlu menontonku balapan, apalagi sendirian.”

“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? Apa kau yakin teman-temanmu itu akan mengurusmu? Jika salah satu dari kalian terluka, aku yakin yang lain akan melarikan diri. Jadi aku harus tetap ada disini untuk memastikan kau baik-baik saja.”

‘Keras kepala!’ pikir Doo Joon. Tanpa menjawab ia lalu memakai helmnya dan menaiki motornya. Sebelum ia benar-benar pergi, ia mengacak rambut Kyuhyun sebentar lalu menjalankan motornya, meninggalkan Kyuhyun dengan dada berdegup kencang karenanya.

Namun belum mencapai ujung jalan, ia sudah berbalik kembali dan berhenti di depan Kyuhyun.

“Naiklah.”

Kyuhyun menatap Doo Joon tidak mengerti. “Apa.. maksudmu?”

“Kau boleh menonton dari dekat. Bilang saja kau pacarku ketika ada yang menanyaimu. Katakan kita sudah berpacaran dua tahun, jadi mereka tidak akan mencurigaimu. Tanpa Minho disini, aku khawatir terjadi sesuatu denganmu.” Kata Doo Joon lagi.

Dengan wajah tersipu malu, Kyuhyun segera duduk di jok belakang motor Doo Joon. Ia berusaha bersikap wajar namun hatinya yang berdegup-degup kencang membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain.

Doo Joon menarik kedua tangan Kyuhyun dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. “Bersikaplah selayaknya seorang kekasih. Jadi mereka tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Apalagi dengan wajahmu yang manis, kau bisa diterkam disana jika ketahuan kita hanya teman biasa. Nah, pegangan yang erat.”

Kyuhyun terlalu senang karenanya, ia sampai tidak menyadari angka di spidometer ‘kekasihnya’. Dan tahu-tahu ia sudah berada di keramaian. Ternyata suara motor-motor itu jauh lebih bising. Dan anehnya lagi, para pembalap itu rata-rata masih muda. Banyak yang masih seumuran dengannya atau setidaknya lebih tua dua sampai tiga tahun darinya.

“Doo Joon-ah, siapa ini? Manis sekali. Baru kali ini kau membawa orang lain kesini.” Sapa seseorang ketika Doo Joon mematikan mesinnya dan melepas helmnya.

“Dia kekasihku. Selama ini dia hanya mendengarkan ceritaku dan malam ini memaksa untuk ikut. Kebetulan orang tuanya sedang ke luar negeri.” Jawab Doo Joon dengan cuek.

“Benarkah? Aku tidak tahu kau sudah punya pacar. Ah.. pantas saja kau selalu menolak ketika didekati oleh gadis-gadis itu. Kekasihmu bahkan jauh lebih cantik dari mereka!” ujar lelaki itu seraya memadang Kyuhyun dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Oh ya, kenalkan, aku Nickhun. Aku salah satu teman dekat Doo Joon disini. Siapa namamu, manis?” tanya Nickhun.

“Kyu.. Kyuhyun imnida.” Jawab Kyuhyun takut-takut.

‘Astaga.. Manis sekali. Ternyata selera Doo Joon bagus sekali.’ Pikir Nickhun.

“Doo Joon-ah. Giliranmu.” Seseorang berteriak seraya memberi kode di jarinya. Doo Joon mengangguk lalu berpaling pada Kyuhyun.

“Aku akan segera kembali. Tunggu aku disini bersama Nickhun, jangan kemana-mana.” Kata Doo Joon yang lebih terdengar seperti perintah. Ia lalu berpaling ke Nickhun. “Jaga dia baik-baik. Jika terjadi apa-apa dengannya, kau tahu akibatnya.”

Nickhun tertawa lalu mengancungkan jempolnya. Setelah itu ia pun melarikan motornya dan berhenti dibalik garis start. Seorang gadis muda berdiri di ujung garis, ia lalu memberi kode dengan bendera kuning kecil di tangannya. Pada lambaian ketiga, para peserta balapan mulai melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.

“Lihat, Doo Joon memang selalu jadi yang terbaik. Saingannya hanya G-Dragon. Kadang GD yang menang, itupun dengan selisih waktu satu detik. Ya, kenapa kau manis sekali?” Tanya Nickhun seraya mendekati Kyuhyun.

“Ada yang menyebut namaku?”

Kyuhyun dan Nickhun menoleh. “Ya! Aku kira kau mengikuti balapan? Kyu, kenalkan ini GD. Dia yang tadi kuceritakan.”

GD mengulurkan tangannya. Kyuhyun menyambut. Tapi ia malah ditarik kedepan dan dalam detik berikutnya, ia sudah berada dalam dekapan lelaki itu.

“Le.. Lepaskan aku..” kata Kyuhyun ketakutan serya berusaha melepaskan pelukan GD.

“Ya! Ya! GD, lepaskan dia! Dia kekasih Doo Joon. Jika ia melihatmu, kau akan habis. Lepaskan dia!” bentak Nickhun.

“Aku tahu. Karena itulah aku mendekatinya. Aku memang menunggu Doo Joon marah lalu.. Kita bisa membuktikan siapa yang terbaik diantara kami setelahnya kan?”

Lalu suara sorak-sorak terdengar. Ketiganya menoleh. Ternyata balapan sesi pertama sudah selesai dan kali ini Doo Joon lagi yang keluar sebagai pemenangnya. Melihat Doo Joon menuju ke arah mereka, GD segera melakukan aksi yang paling berbahaya. Mencium Kyuhyun.

Doo Joon yang melihat semua itu segera berlari ke arah Kyuhyun dan GD. Detik berikutnya ia sudah melepaskan Kyuhyun dari rengkuhan GD dan menghadiahkan tinjunya ke wajah GD.

“Jangan sentuh dia brengsek!”

GD bangkit. Dengan marah, ia membalas pukulan Doo Joon. Doo Joon berhasil mengelak selama beberapa kali sampai akhirnya tendangan GD bersarang di perutnya. Doo Joon jatuh tersungkur karenanya. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan oleh GD. Ia lalu meraih balok kayu di dekatnya dan mengarahkannya pada Doo Joon.

Kyuhyun melihat itu dengan ketakutan. Ia tidak tahu apa yang merasuki pikirannya, namun yang ia tahu, ia berlari memeluk Doo Joon dan menerima pukulan dari balok kayu di tangan GD. Sakit luar biasa langsung terasa di punggungnya. GD sendiri sangat terkejut karenanya, Nickhun memanfaatkan kesempatan itu untuk meringkus GD bersama teman-teman lainnya.

Melihat itu Doo Joon terperangah. “Kyu.. Kyuhyun-ah.. Andwae.. Andwae..”

“Doo Joon-ssi.. Gwenchana?” tanya Kyuhyun dengan suara lemah.

Doo Joon menggeleng. Airmata yang keluar dari matanya yang ketakutan turun ke pipinya dengan cepat. “Mianhae Kyu.. Mianhae.. Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit. Jangan tutup matamu. Jangan tinggalkan aku. Jebal..”

Ia lalu menggendong Kyuhyun dan menaikkannya di atas motornya. Dengan cepat, tanpa berpamitan pada Nickhun, ia melarikan motornya. Satu tangannya memegang setir, sementara tangan lainnya memegang kedua tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya.

‘Kyuhyun.. Bertahanlah.. Jebal.. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku membutuhkanmu..’

*

            Kyuhyun membuka matanya perlahan. ‘Dimana aku?’ pikirnya. Ia masih sedikit bingung ketika dilihatnya ruangan tempatnya berada kini berwarna putih.

“Kyuhyunnie?”

Minho yang baru saja memasuki ruangan langsung berlari ke arah Kyuhyun. “Kau sudah sadar? Ah.. Syukurlah.. Kupikir kau tidak akan bangun lagi. Mengingat sudah dua hari kau tidak sadar. Apa kau baik-baik saja? Apa punggungmu masih terasa sakit?”

Kyuhyun tertawa. “Berhentilah merasa cemas. Aku baik-baik saja.”

“Kau tahu, ibuku memarahiku karena tidak menemanimu. Sekarang aku dilarang keras membiarkanmu pergi sendiri. Dan orang tuamu.. Mereka terus-terusan menangis. Mereka baru saja pulang untuk beristirahat.”

“Lalu.. Dimana Doo Joon-ssi?”

“Dia baik-baik saja. Kau tahu? Kelompok balap liar dibubarkan dan polisi menangkap mereka semua. Tentu saja mereka tidak ditahan terlalu lama karena rata-rata masih di bawah umur. Lagipula mereka hanya balapan kan, tidak melakukan suatu kejahatan serius. Kecuali GD, dia sudah pasti ditahan karena mencelakakanmu.” Kata Minho dengan riang.

“Baguslah kau begitu. Nah, beritahu aku dimana Doo Joon.”

“Oh yah, hasil ujian kita akan segera diumumkan. Aku benar-benar cemas apa kita kan lulus atau tidak. Maksudku, kau tahu pasti kita berdua akan lulus tapi apakah kita mencapai nilai yang kita inginkan jadi kita bisa masuk ke universitas terpilih. Ya.. Untung saja kau pingsan setelah ujian. Bagaimana kalau kau..”

“Minho-ya! Dimana Yoon Doo Joon?”

Minho terdiam sebentar. Ia sudah berusaha mati-matian menutupinya dari Kyuhyun tapi sepertinya Kyuhyun terlalu penasaran. “Dia.. Dia pulang ke Jepang.”

“Mwo???!!!” Kyuhyun langsung bangkit dari tempat tidurnya.

“Ya! Tidak perlu kaget seperti itu. Dia hanya pergi beberapa hari untuk menjelaskan keadaan ini pada kedua orang tuanya. Ia berjanji akan segera kembali.”

“Tapi..” Kyuhyun menggigit bibirnya. Entahlah, tapi mengetahui Doo Joon tidak ada disampingnya kini membuatnya sedikit merasa kosong.

“Jujurlah Kyu.. Kau.. Menyukainya kan?” tanya Minho langsung.

Kyuhyun terdiam cukup lama hingga akhirnya ia mengangguk. “Jangan katakan ini padanya. Aku.. Aku tidak mau persahabatan ini..”

“Aku sudah tahu..”

Dengan cepat Kyuhyun menoleh ke pintu masuk. Saat itu juga wajahnya merona sempurna begitu melihat siapa yang datang.

“Doo Joon-ssi..”

“Maaf kalau aku menguping pembicaraan kalian. Ah, ani, aku tidak menguping. Tapi inilah rencanaku dan Minho untuk membuatmu mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Doo Joon.

“Jadi ini.. Jebakan?”

Doo Joon tertawa kecil melihat wajah bingung Kyuhyun. “Aku tidak pernah berprasangka pada siapapun. Tapi, tindakan keras kepalamu yang terus menerus membuntutiku membuatku berpikir bahwa..”

“Aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Maksudku.. Aku memang menyukaimu tapi.. hanya sebagai teman. Ya, benar. Aku menganggapmu sebagai teman. Bukankah itu wajar? Dan.. YA! Choi Minho! Berhenti tertawa! Kau pikir ini lucu?”

Minho dan Doo Joon tertawa terbahak-bahak karenanya. Melihat sikap Kyuhyun yang salah tingkah sungguh membuat mereka gemas.

“Baiklah.. Jadi kau hanya menganggapku teman?” tanya Doo Joon setelah tawanya reda.

Kyuhyun mengangguk ragu.

“Kalau begitu aku akan menyimpan sendiri perasaanku dan.. aku akan menerima tawaran ayah tiriku untuk bertunangan dengan dengan..”

“Jangan! Jangan berani bertunangan dengan orang lain atau..”

“Atau apa?”

“Atau.. Atau aku akan terus menutupi kenyataan bahwa aku menyukaimu.” Jawab Kyuhyun dengan cepat. Wajahnya kembali merona.

Doo Joon dan Minho saling melirik. Keduanya menyeringai lebar mendengar pengakuan Kyuhyun. Doo Joon lalu duduk di tempat tidur, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Kyuhyun. Jarak diantara mereka hanya beberapa cm saja.

“Maafkan aku karena membuatmu jadi seperti ini. Salahkulah kau harus terbaring seperti ini. Andai saja malam itu..”

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku akan lebih sedih kalau kau yang terbaring disini.” Kata Kyuhyun. Jemarinya diletakkan di bibir Doo Joon, melarangnya bicara.

Doo Joon mengecup perlahan jemari itu. “Aku akan menjagamu. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu. Walaupun aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi yang pasti aku mencintaimu.”

“Kurasa aku tidak perlu mengulangi pernyataanku. Kau tahu benar apa yang kurasakan.” Jawab Kyuhyun.

Doo Joon tersenyum. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun, pelan-pelan ia mulai mengecup bibir itu penuh rasa sayang.

“Oh tidak! Hentikan!” bentak Minho. “Tidak bisakah kalian menungguku pergi?”

Doo Joon dan Kyuhyun melepaskan pagutan mereka dan tertawa. “Kau bisa keluar sekarang. Carilah suster-suster cantik di luar sana dan pacari salah satunya. Jadi kau tidak perlu iri lagi.” Ejek Kyuhyun

“Kekasihku benar, kau harus mulai berkencan. Lihat dirimu, sebentar lagi kau akan bergelar mahasiswa, mengapa kau tak kunjung berkencan?” Doo Joon menimpali.

“Kurasa aku memang harus keluar dari sini. Hahhh.. Musim panas yang indah, kalian bahagia, tapi aku masih sendiri. Kurasa sudah waktunya aku mencari kekasih. Lihat saja nanti, kemesraanku akan membuat kalian iri.” Kata Minho seraya melangkah keluar ruangan.

Begitu Minho menutup pintu, Doo Joon kembali menatap Kyuhyun dengan mesra lalu keduanya melanjutkan pagutan yang tadi sempat terhenti.

*

JoonKyu

To Be Continued..

Note :

*Happy birthday to Beast leader Yoon Doo Joon. 24th International, 25th Korean.

Doo Joon

*Happy birthday too to The Swordman Lee Je Hoon (Baekki’s ahjussi on MBIAG) 29th International and 30th Korean.

je hoon

Obsession – Chapter 2

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Humor, Fluff, Sad

Pair                  : YunKyu, TaecKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 2

The Charming Boy

            “Kenapa appa dan eomma harus pergi? Seminggu pula! Belum lagi uang yang ditinggalkan tidak banyak. Mana bisa aku membeli makanan terus menerus di luar? Mereka tahu, aku benci memasak sendiri!” gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Di suatu siang yang cerah di musim gugur itu, ia mendorong trolley belanjaannya dan mulai mengisinya dengan bahan masakan sejak lima belas menit yang lalu. Kedua orang tuanya harus mengunjungi paman dan bibinya yang telah pindah dan menetap di Beijing selama lima tahun terakhir. Dan mereka harus meninggalkan Kyuhyun sendiri di rumah karena anak itu harus bersekolah.

Kyuhyun bisa saja selalu menghabiskan waktu di rumah Minho, sahabatnya, dan bisa menumpang makan ketika waktu makan telah tiba. Lagipula, kedua orang tua Minho sudah menganggapnya seperti anak sendiri, pasti mereka tidak akan keberatan. Tapi rasa malu menahannya. Ia tidak mau orang tuanya dianggap tidak memberi Kyuhyun cukup uang saku hingga anaknya terlantar.

Jadi, mau tidak mau Kyuhyu harus berbelanja siang ini guna mengiri kembali kulkasnya yang nyaris kosong hingga seminggu kedepan.

Setelah memastikan ia telah mengisi keranjang belanjaannya dengan bahan makanan sesuai dengan daftar kecil di tangannya, ia pun berjalan ke kasir.

Namun, saat itu juga ia menangkap sosok lelaki dengan gerak-gerik mencurigakan. Lelaki itu tampak mendengarkan musik di telinganya dengan santai, tapi dari raut wajahnya tersirat sedikit kecemasan. Hal itu terlihat dari gerakan kepalanya yang selalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah takut ketahuan melakukan sesuatu yang ilegal.

Kyuhyun sempat bertahan beberapa lama untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, namun karena lelaki itu tak kunjung melakukan suatu gerakan yang berarti, Kyuhyun pun menyerah dan kembali ke tujuan utamanya : kasir.

Tak sampai lima menit, Kyuhyun sudah berjalan santai keluar dari supermarket itu. walaupun siang yang cerah itu terasa sedikit dingin, namun Kyuhyun tetap mempertahankan langkahnya yang pelan. Seolah menikmati udara di sekitarnya. Ia bahkan berdendang riang seraya menggoyang-goyangkan kedua kantong plastik di tangan kanan dan kirinya.

“Ya! Cepat tangkap dia! Ya! Jangan lari!”

Kyuhyun menoleh ke belakang. Seorang pemuda tegap berlari melewatinya diikuti beberapa lelaki berseragam yang meneriakkan kekesalan dan tak sengaja menyenggol barang belanjaan di tangan kanannya.

Sreeekkkk.

Kantong plastik itu robek dengan cepat dan memuntahkan isinya ke aspal di bawahnya. Sayurannya berjatuhan, tomat dan ketangnya bergelinding di jalan lalu lenyap dari pandangan. Sebagian lagi malah tergilas ban mobil yang lewat. Sedangkan sepuluh butir telur ayam yang dibungkus menjadi satu dalam sebuah kantong bening kini pecah dengan manisnya.

Dengan wajah padam karena marah, mata Kyuhyun segera mencari sang pelaku yang tadi tengah di kejar oleh segerombolan lelaki berseragam.

“Sebentar.. bukankah lelaki itu yang tadi tampak mencurigakan di supermarket? Dan bukankah para lelaki yang mengejarnya itu adalah para pegawai supermar.. Astaga! Dia pasti pencuri! Sialan! Dasar penjahat! Ya! Kemari kau!”

Kyuhyun ikut berlari mengejar si ‘tersangka’, meninggalkan satu kantong belanjaan yang tergeletak mengenaskan di jalanan. Sedangkan kantong belanjaan lainnya yang masih utuh di tangan kirinya kini digenggam erat-erat seraya berlari dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja mengambil jalan berbelok di sebelah kiri, bertentangan dengan arah lelaki tadi karena ia tahu, di depan sana nantinya akan ada persimpangan yang membuatnya bisa bertemu lelaki yang merobek kantong belanjaannya tadi.

Namun, baru tiga menit berlari, ia sudah nyaris kehilangan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya. Dengan segera ia melambatkan larinya dengan nafas ngos-ngosan. Ia mencoba melihat ke sekelilingnya, namun tak satupun orang lalu lalang di sana.

“Hosshhh.. Kemana dia? Ini adalah jalan tercepat untuk menyusulnya, sudah pasti aku sampai terlebih dahulu. Dimana dia? Lelaki sialan!” kata Kyuhyun dengan nafas sesak seraya membungkukkan badannya. Kedua tangannya bertumpu di lututnya.

“Heyyy, jangan lari kau..!!!”

Teriakan-teriakan marah kembali terdengar. Dengan cepat Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan melihat ke belakang. Tak jauh di sana, lelaki tegap tadi masih berlari, tangannya menenteng sebuah tas kecil.

“Dia menuju kemari, aku harus menghalanginya!” kata Kyuhyun dengan yakin pada dirinya sendiri.

Kemudian dengan berani ia berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tujuannya cuma satu, menghalangi niat si ‘pencuri’ tadi untuk kabur. Tapi semakin dekat jarak keduanya, lelaki tadi tidak memperlambat laju larinya. Dengan teriakan keras ia malah menyuruh Kyuhyun agar pergi.

“Ya! Minggir! Pergi dari sana!”

Tapi seakan tidak peduli, Kyuhyun tetap berdiri di sana. Namun di sisi lain, ia juga merasa cemas. Pasalnya lelaki tadi tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. ‘Bagaimana kalau ia menabrakku?’ pikirnya.

Sepuluh langkah lagi.. tujuh langkah.. empat langkah.. dua langkah.. Dan kejadian berikutnya sungguh di luar dugaan. Lelaki tegap itu meyeruduk Kyuhyun dengan keras. Lalu dengan sekali rengkuh, ia membawa Kyuhyun di pundaknya seperti mengangkat sekarung beras. Seolah bebannya tidak bertambah, ia masih terus berlari kencang.

Kyuhyun yang baru sadar apa yang terjadi saat ini, segera meronta kuat. “Ya! Lepaskan aku! Beraninya kau menggendongku seperti ini? Ya!!!!”

Kyuhyun menendang-nendang perut lelaki itu sementara kedua kepalannya memukul-mukul pinggul si ‘pencuri’. Ia bahkan tidak sadar ia akan di bawa kemana. Yang ia tahu, setelah beberapa blok, para pengejarnya tidak lagi terlihat. Sepertinya mereka menyerah, karena mereka sadar pencuri yang satu ini terlalu gesit.

Setelah beberapa lama, akhirnya lelaki itu berhenti dan menurunkan Kyuhyun dari punggungnya.

“Maafkan aku. Bukannya aku ingin melibatkanmu atau membawamu sejauh ini, tapi kau sendiri yang tidak mau pergi. Kau terus-menerus menghalangiku maka..”

“Ya! Bodoh! Kau pikir aku apa? Karung beras? Hewan liar? Kau menggendongku dengan sangat tidak terhormat! Apa kau tahu memperlakukan seseorang dengan baik? Kau ini bodoh sekali!” omel Kyuhyun panjang lebar.

Lelaki di depannya tercengang sesaat lalu tertawa geli.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?” teriak Kyuhyun marah.

“Maafkan aku, tapi.. kau marah bukan karena aku membawamu melainkan karena aku menggendongmu dengan cara yang tidak kau suka?” kembali lelaki tadi tertawa geli.

Wajah Kyuhyun memerah karenanya. ‘Sialan!’ rutuknya. Padahal ia ingin marah karena lelaki itu merobek kantong belanjaannya dan membawanya ke tempat yang ia tidak tahu, tapi mengingat cara lelaki itu yang menggendongnya dengan cara yang tidak sopan, ia jadi lupa alasan yang sebenarnya.

“Taecyeon oppaaaaaa…!!!”

Kyuhyun menoleh, dilihatnya segerombolan anak kecil, laki-laki dan perempuan, berlari keluar dari sebuah rumah kumuh kecil di belakangnya, menyongsong si lelaki tegap yang bernama Taecyeon itu.

“Bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Apa kalian bekerja dengan baik?” tanya Taecyeon kepada anak-anak itu. Semuanya mengangguk patuh sebagai jawabannya dengan wajah sumringah.

“Baiklah, ini hadiah untuk kalian. Jangan berebutan. Pastikan kalian membaginya secara adil.” Kata Taecyeon seraya memberikan sebuah kantong yang dikeluarkannya dari dalam tas kecilnya tadi. Kyuhyun melirik kantong itu dan melihat isinya yang sedikit menyembul keluar. Mie instan. Isi kantong itu adalah mie instan.

“Terima kasih oppa.. “ kata anak perempuan yang paling besar, disusul ucapan terima kasih dari anak-anak kecil lainnya. Setelah itu mereka berbondong-bondong masuk ke dalam rumah itu lagi.

“Kauuuu.. Kau memberi anak-anak itu makan dengan hasil curian?” tanya Kyuhyun tak percaya setelah anak-anak itu menghilang dari pandangannya.

“Mwo? Hasil curian? Ya! Aku membelinya.” Jawab lelaki itu setengah mendelik pada Kyuhyun.

“Kalau kau tak mencurinya, mengapa semua lelaki tadi mengejarmu, hahh? Aku jelas-jelas memperhatikanmu di dalam supermarket. Menoleh kesana kemari seolah takut ketahuan, ternyata benar kau mencuri! Kau ini!” omel Kyuhyun lagi.

Laki-laki itu lagi-lagi tertawa geli. “Ya.. Kau ini lucu sekali. Aku membeli semua mie instan itu. kalau tidak percaya, lihatlah ini.” ia lalu menyodorkan struk belanjaannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil kertas kecil itu dengan curiga lalu membacanya. Ia membaca nama dan jumlah barang yang dibeli, tanggal pembeliannya dengan teliti dan nama supermarket tempat tadi ia bertemu lelaki itu.

“Lalu mengapa mereka mengejarmu?”

Taecyeon tersenyum. “Aku hanya berselisih paham dengan salah satu dari mereka. Karena kesal, ia memanggil teman-temannya lalu mengejarku. Hanya itu. Apa kau juga mau permasalahannya? Lalu.. mau tau tentang kehidupanku? Namaku, pekerjaanku, hobiku, tempat tinggalku..”

“Diam!” Bentak Kyuhyun. “Apa hubunganmu dengan anak-anak itu? Jangan bilang kau ini bos dari anak-anak itu. Kau pasti menyuruh mereka melakukan pekerjaan untukmu lalu kau membayar mereka dengan mie instan, iya kan?”

Kini Taecyeon tidak lagi tertawa geli melainkan terbahak-bahak. “Kau ini.. Khayalanmu tinggi sekali. Mereka bukan anak buahku. Hanya kebetulan aku tahu kalau mereka adalah anak-anak yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita. Karena wanita itu juga bukan orang yang berkecukupan, maka mereka semua bekerja bersama-sama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak ini terkadang bekerja di pabrik sebagai buruh. Sedangkan wanita itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga.”

“Terkadang aku membelikan mereka beberapa bahan makanan jika aku hendak kemari. Aku sendiri bukan orang kaya, melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah saja aku tidak mampu. Jadi, aku hanya bisa membantu sesama yatim piatu semampuku.” Taecyeon melanjutkan.

Kyuhun jadi tidak enak hati. Tadi ia sepat berpikir kalau Taeyeon adalah pencuri. Lalu menuduhnya sebagai bos dari anak-anak jalanan. Ternyata kehidupan lelaki itu cukup miris. Ia jadi malu pada dirinya sendiri karena ia sempat menyalahkan orang tuanya yang tidak meninggalkan uang cukup banyak untuk dirinya selama seminggu.

“Lalu.. Mengapa kau tadi mengikutiku?” tanya Taecyeon.

“Karena kau tadi menyenggol kantong belanjaku dan membuat semua isinya berhamburan di jalan. Aku sebenarnya ingin kau untuk..”

“Menggantinya?” tebak Taecyeon langsung.

Kyuhyun mengangguk dengan enggan. Mana mungkin ia meminta ganti rugi setelah mendengar pengakuan lelaki yang tampaknya hanya berbeda dua atau tiga tahun darinya itu.

“Jujur saja, aku tidak bisa menggantinya. Sekarang baru pertengahan bulan, aku harus menghemat hingga waktunya upahku dibayar. Dan itu masih dua minggu kedepan. Jika kau tidak keberatan, aku akan menggantinya dengan hal lain, bekerja untukmu mungkin?” tawar Taecyeon.

“Ehh? Mengapa kau ingin bekerja sebagai ganti dari makanan-makanan itu?” tanya Kyuhyun tak mengerti. Pasalnya, isi dari kantong yang robek tadi harganya tak seberapa. Tapi kekesalannya yang membuatnya mengejar Taecyeon.

“Makanan itu sangat penting bagiku. Aku pernah merasakan bagaimana susahnya mencari makan. Jadi, menyia-nyiakan makanan bukan tipeku. Jadi, aku tetap aan mengganti makanan tadi, bagaimanapun caranya. Aku bisa mengangkat barang-barang yang berat, menjadi pengawal, hingga memasak.”

Otak cerdas Kyuhyun langsung bereaksi karenanya. “Memasak? Kau bisa memasak?”

“Tentu saja. Aku bisa memasak dengan sangat baik. Kau boleh mencobanya jika tidak percaya.”

Kyuhyun tersenyum lebar karenanya. “Baiklah. Kau harus mengganti makanan itu dengan memasak untukku selama seminggu. Ini alamatku.” Ia lalu menyodorkan selembar kertas pada Taecyeon.

“Baiklah.. aku akan datang besok. Oh yah, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Taecyeon. Dan kau?”

Kyuhyun tersenyum tulus kini. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Nah, Taecyeon-ssi, sampai ketemu besok.”

*

            Seperti yang dijanjikan, Taecyeon datang setiap hari untuk memasak. Dan seperti promosinya hari itu, masakannya benar-benar lezat. Kyuhyun sampai berkali-kali menambah makanannya.

“Kau benar-benar pandai memasak. Aku sendiri payah dalam memasak. Aku lebih suka membeli di luar daripada memasak sendiri. Merepotkan. Sayangnya kedua orang tuaku sudah pulang, mana mungkin aku bisa menyuruhmu memasak lagi?” Keluh Kyuhyun ketika ia dan Taecyeon berjalan-jalan sore itu.

“Aku bisa memasak dan membawakanmu sesekali. Jangan khawatir. Aku senang kalau seseorang menyukai masakanku.”

Keduanya sama-sama tertawa ringan lalu terdiam setelahnya. Tak lama kemudian, Kyuhyun berdehem kecil lalu bertanya dengan hati-hati.

“Taecyeon-ssi, mengapa kau tidak melanjutkan sekolahmu? Maksudku, jaman sekarang pendidikan sangatlah penting. Kalau kau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka..”

Taecyeon berhenti berjalan lalu bersandar di tembok batu pembatas jalan kecil itu. Sambil bersedekap, ia menatap langit jingga sore itu lalu mulai menjawab.

“Seperti yang sudah kukatakan pada pertemuan pertama kita, aku adalah seorang yatim piatu. Aku besar di panti asuhan dan tidak kenal siapa orang tuaku. Impian untuk menemukan siapa orang tua kandungku sudah terkubur sejak lama. Jadi, aku sudah tidak mempermasalahkan mereka lagi atau apa motif mereka membuangku.”

“Setelah aku besar. Aku keluar dari panti asuhanku di Mokpo dan pindah ke Seoul. Yah, sejak saat itu aku bekerja di restaurant sebagai koki. Pendapatanku tidak besar, tapi sangat cukup utnuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan lebih dari cukup. Untuk saat ini, aku belum bisa melanjutkan pendidikan, karena aku masih harus menabung untuk membeli sepeda motor. Tempat kerjaku cukup jauh dengan kampus yang ingin kutuju.”

“Sebentar.” Kata Kyuhyun memotong kata-kata Taecyeon. “Kampus yang ingin kau tuju?”

Taecyeon mengangguk. “Benar. Aku telah mendaftar dan diterima untuk mengikuti program beasiswa untuk tahun ajaran depan. Tapi, karena letaknya cukup jauh dari tempat kerjaku, maka aku butuh kendaraan.”

Kyuhyun menatap Taecyeon dengan bangga. “Kau benar-benar seorang lelaki hebat. Beruntunglah siapapun yang menjadi kekasihmu nanti.”

Taecyeon terdiam. Ia menatap Kyuhyun dalam-dalam, hingga membuat Kyuhyun sempat merasa jengah karenanya.

“Kyuhyun-ssi.. Apa kau sudah memiliki seorang kekasih?”

Kyuhyun tertunduk karenanya. Setelah beberapa saat, ia menegakkan lagi kepalanya. Namun ternyata Taecyeon masih menatapnya dalam-dalam. Mau tidak mau Kyuhyun menjawab dengan gelengan di kepalanya.

“Benarkah? Kupikir, lelaki semanis dirimu sudah pasti punya seorang kekasih.”

“Baru beberapa bulan yang lalu aku berpisah dengannya. Ia harus ke Amerika, mewujudkan mimpinya untuk menjadi pemain basket terkenal.” Jawab Kyuhyun.

Taecyeon mengangguk paham. “Jadi kau belum bisa mencari penggantinya. Bukankah begitu?”

Kyuhyun tidak tahu jawaban apa yang paling tepat. Ia sendiri sebenarnya meragukan perasaan itu. Bukan, bukannya ia tidak mencintai Changmin. Tapi, di sudut kecil hatinya, ia masih terus memikirkan sang cinta pertama. Saat ini bukan permasalahan apakah ia bisa mencari pengganti Changmin atau tidak, melainkan apakah ia bisa melupakan Yunho atau tidak.

“Taecyon oppa..!”

Kyuhyun segera tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis berdiri di depan Taecyeon. Kyuhyun sangat mengenali gadis cantik yang sekaligus merupakan kakak kelasnya itu.

“Ara.. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Taecyeon bersemangat.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku cukup sibuk saat ini. Kau tahu sendiri, oppa, semester depan sudah dekat, aku sibuk mempersiapkan diri untuk ujian. Semoga aku bisa lulus dengan nilai bagus dannnnnnn.. bisa kuliah di tempat yang sama denganmu.” Jawab Ara tak kalah bersemangat.

“Hm.. Begitu rupanya. Oh yah, kenalkan, ini Kyuhyun.” kata Taecyon.

Go Ara menoleh. “Oh? Bukankah kau adalah mantan kekasih Changmin? Benar kan? Anneyong Kyuhyun-ssi.”

“Anneyong, nuna.” Jawab Kyuhyun pendek.

“Eh? Kau mengenalnya?” tanya Taecyeon bingung.

“Tentu saja. Aku mengenalnya oppa. Dia adalah adik kelasku di sekolah sekaligus mantan kekasih dari sahabat Yunho.” jawab Ara.

Jung Yunho. Tentu saja. Siapapun tahu dengan pasti kalau Go Ara adalah kekasih Yunho, sang siswa teladan sekolah yang tengah mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Dan hanya Kyuhyun, dan juga Minho, yang tahu betapa Kyuhyun menyukai Yunho. Hanya saja ia tidak pernah berharap lebih, mengingat Yunho telah memiliki kekasih yang dengan enggan diakui Kyuhyun sebagai gadis yang menarik.

“Bagaimana keadaan Yunho disana? Kalian masih sering bertengkar?” Kyuhyun mendengar Taecyeon bertanya.

“Ia baik-baik saja. Ia bahkan bisa mengikuti semua mata pelajaran dengan baik. Aku bangga sekali padanya. Kami memang masih sesekali bertengkar, namun tidak peduli siapa yang salah diantara kami, ia akan selalu menjadi orang yang meminta maaf lebih dahulu. Kau lihat oppa? Bagaimana mungkin aku melepaskan lelaki seperti itu? Dan lagi, komunikasi kami tidak pernah putus, ia selalu rajin menghubungiku. Sampai-sampai, aku tidak merasa kalau ia ada di negara lain.” kata Ara panjang lebar, membanggakan kekasihnya.

“Aku tahu ia adalah lelaki yang tepat untukmu. Mengingat betapa keras kepalanya dirimu. Aku masih ingat dengan baik betapa khawatirnya ia ketika kau sakit, betapa romantisnya ia saat ulang tahunmu dan betapa sorot matanya menggambarkan betapa ia mencintaimu.” Kata Taecyeon menambahkan.

Sakit. Itulah yang dirasakan Kyuhyun mendengar penuturan yang sangat jujur dari mulut kedua orang di sampingnya itu. Kyuhyun tahu, Yunho dan Ara telah berpacaran sejak keduanya bertemu di masa pengenalan sekolah dan menjadi pasangan paling romantis setelahnya. Yunho yang tampan serta Ara yang cantik, membuat keduanya tampak sangat sempurna bersama, membuat iri siapa saja.

Bagaimana mungkin Yunho berpaling pada Kyuhyun dengan adanya Ara di sampinya? Yunho tidak akan pernah menyadari keberadaan Kyuhyun, walaupun mereka pernah berkenalan sebelumnya. Apalagi dengan kepergiannya ke Amerika untuk pertukaran pelajar. Yang Kyuhyun tahu, Masa belajar Yunho disana adalah lima belas bulan, namun mengapa Yunho belum juga kembali? Kyuhyun menghitung waktu dengan baik, dan seharusnya bulan ini Yunho sudah kembali ke Seoul.

“Kapan Yunho pulang?” tanya Taecyeon.

“Dua minggu lagi. Ia sedikit terlambat, karena ia menghadiri pertemuan pelajar asal Korea Selatan di Washington terlebih dahulu. Akhirnya, aku bisa memeluknya lagi seperti dulu.” Kata Ara dengan gembira.

Mungkin Ara sangat bahagia karena bisa memeluk Yunho-nya lagi. Tapi bagi Kyuhyun, dengan melihat wajah Yunho saja sudah cukup membuat seribu kehangatan menjalar di hatinya. Dengan senyum sumringah, ia menoleh kepada dua orang itu.

“Sudah waktunya makan malam. Maukah kalian makan denganku? Aku yang traktir.”

*

            Kyuhyun tengah duduk sambil membaca buku sejarah dunia yang dipinjamnya dari perpustakaan di pinggir lapangan basket. Ia selalu berada di sana sepulang sekolah setiap hari senin dan kamis, menunggu Minho. Mereka selalu pulang bersama, tapi karena di hari sanin dan kamis setiap anggota pemain basket sekolah harus berkumpul, maka Kyuhyun dengan setia akan menunggu.

“Kyuhyun-ah, koki mu datang.” Seru Minho dari tengah lapangan.

Kyuhyun mengangkat wajah dari bukunya. Ia melihat Taecyeon berdiri di seberang lapangan, tepat dari arah lapangan parkir. Lelaki tegap berlesung pipi itu melambai padanya. Kyuhyun balas melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar Taecyeon datang mendekat.

“Serius sekali. Kupikir tadi kau malah tenggelam dalam bukumu.” Kata Tecyeon ketika ia sudah duduk di samping Kyuhyun.

“Aku menyukai buku. Salah satu hobiku adalah membaca. Jadi, kalau aku menemukan buku yang bagus, sudah pasti aku akan melahapnya secepat mungkin.” Jawab Kyuhyun.

“Seharusnya kau belajar memasak. Jadi kau akan bisa melahap hasil masakanmu setelahnya, bukankah lebih nikmat daripada melahap kata-kata?”

Kyuhyun tertawa. Ia senang berbicara dengan Taecyeon yang periang dan suka mengeluarkan sisi humorisnya. Namun ia tidak menyadari bahwa tawanya bisa membuat Taecyeon terpana, seperti saat ini.

Taecyeon selalu suka melihat Kyuhyun tertawa. Lelaki itu bisa tertawa lepas seolah tanpa beban. Tapi ketika ia sedang sendirian, terlihat jelas bahwa otak Kyuhyun dipenuhi oleh berbagai macam pikiran. Taecyeon hanya berharap bahwa namanya bisa muncul di kepala Kyuhyun walaupun hanya sekilas.

“Ya! Hyung, kenapa memandangku seperti itu?” kata Kyuhyun di sela-sela tawanya.

Taecyeon segera menyudahi lamunannya tentang Kyuhyun. “Tidak apa-apa. Kau ini lucu sekali kalau sedang tertawa. Aku jadi sedikit terpana melihatnya.”

“Benarkah? Haha..”

“Kyuhyun-ah, apa kau.. Tidak berpikir untuk mencari kekasih? Tidakkah kau merasa kesepian?” tanya Taecyeon memberanikan diri. Ia tahu, mungkin Kyuhyun akan tersinggung. Tapi ia terlalu penasaran dengan jawabannya.

“Eh? Aku? Hm..”

“Taecyeon oppa..!”

Kyuhyun dan Taecyeon menoleh. Rupanya Go Ara yang datang. Dengan langkah-langkah riang, ia menghampiri Taecyeon dan Kyuhyun.

“Anneyong oppa. Oh, ada Kyuhyun-ssi juga rupanya, anneyong..”

Kyuhyun membungkuk sedikit tanda hormat, walaupun ia tidak bangkit dari duduknya. Ara lalu duduk di samping Taecyeon. Tanpa banyak bicara, ia langsung menadahkan tangannya.

“Tidak bisakah kau berbasa-basi dulu?” kata Taecyeon mencela.

Ara menggeleng nakal. “Tidak bisa oppa. Aku sudah terlalu penasaran. Cepat berikan resep itu padaku. Aku ingin sekali membuatnya bersama eomma di rumah.”

“Ne.. Ne.. Ini ambillah..” kata Taecyeon dengan pasrah seraya mengeluarkan secarik kertas dari balik saku jaketnya.

Ara menerimanya dengan senang kemudian menyelipkannya dalam salah satu buku di tas sekolahnya, seolah kertas kecil itu adalah kertas lotre bernilai satu juta won.

“Maaf, bolehkah aku tahu dimana kalian saling mengenal? Apakah sudah lama? Kalian benar-benar tampak akrab, seperti kakak dan adik saja.” Tanya Kyuhyun.

Ara dan Taecyeon saling berpandangan lalu tertawa bersama. Kemudian Ara menjelaskan terlebih dahulu.

“Taecyeon oppa adalah kakak kelasku di junior high school. Kami cukup akrab, apalagi kami dulu tergabung di satu ekstra kurikuler yang sama. Dan yah, aku memang sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri, mengingat aku tidak punya saudara.”

Kyuhyun mengangguk tanda mengerti. “Jadi, karena itukah kau datang kemari hyung? Untuk mencari Ara?”

Taecyeon mengangguk. Kyuhyun langsung berpura-pura sedih seraya memegang dadanya. “Oh.. harga diriku.. Kupikir hyung datang mencariku, hahaha..”

Ketiganya tertawa bersama. Tanpa disadari, mereka jadi cukup akrab karena sering bertemu.

“Anneyong.. Taecyeon hyung, apa kabar?”

Taecyeon menegadah dan langsung terkejut. Begitu melihat Yunho, Taecyeon langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Yunho, lalu memeluk hangat lelaki itu

“Yunho? Yaaa!!! Apa kabar kau? Aku baik-baik saja. Ceritakan tentangmu. Bagaimana Amerika?”

“Aku baik-baik saja. Amerika? Biasa saja. Aku lebih menyukai Seoul. Dimana semua yang kusayangi ada disini. Lagipula, lidahku terasa aneh tanpa makan masakan khas Korea sehari saja. Sehari rasanya lama sekali, aku selalu merasa homesick disana.” Jawab Yunho.

“Semua yang kau sayangi? Tidak usah membual, aku tahu maksudmu adalah Ara, iya kan?” ledek Taecyeon.

Dengan wajah memerah, Yunho akhirnya mengakui yang sebenarnya. “Ya, benar. Aku merasa seperti itu karena aku merindukannya setiap hari. Merindukan senyumannya, merindukan masakannya bahkan omelannya.”

Ara hanya bisa tersenyum malu tanpa bisa berkata apa-apa. Kyuhyun tahu, Yunho tidak berbohong, dilihat dari bagaimana caranya menatap Ara. Tapi hal itu justru membuat Kyuhyun merasa semakin terpuruk. Bagaimana cara mendapatkan cinta Yunho sementara sang pujaan hati sama sekali tidak pernah menyadari kehadirannya?

“Kyu?”

Kyuhyun segera tersadar ketika sebuah sentuhan mendarat di lengannya. Kyuhyun menoleh dan mendapati Yunho sudah duduk di sampingnya. Deg! Jantungnya langsung berdebar keras karenanya. Ini pertama kalinya Yunho menyentuhnya, duduk di sampingnya bahkan bicara padanya!

Dah oh.. Lihat mata itu. Sepasang mata yang biasanya bersinar tajam itu kini menatap lembut kepadanya hanya dalam jarak yang sangat dekat. Kyuhyun merasa nafasnya tercekat. Darahnya seolah-olah berhenti mengalir. Ia terlalu kaget dengan kedatangan Yunho di sampingnya.

“Kyu? Kau baik-baik saja?” Yunho mengulangi pertanyaannya. Ia tampak sedikit bingung kini.

Kyuhyun segera menguasai dirinya. “Oh.. Ya, aku sedikit melamun. Maafkan aku hyu.. maksudku Yunho-ssi.”

Kyuhyun menunduk dalam-dalam seolah menghormati si lawan bicara, padahal ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau lucu sekali kalau malu-malu seperti ini. Ya, jangan malu. Tertangkap sedang melamun bukan suatu kejahatan. Benar kan?” kata Yunho seraya tertawa geli.

Dua suara lain menyahut lalu ikut tertawa. Kyuhyun mengutuk kebodohannya siang ini. Ia lupa sama sekali bahwa ada Ara dan Taecyeon juga disana.

“Anneyong semua.”

Ketiganya serentak menoleh. Minho sudah selesai latihan. Ia kini sudah bergabung bersama mereka dan duduk tepat di samping kiri Kyuhyun. Ia ingin sekali menggoda sahabatnya itu, karena kapan lagi Kyuhyun bisa duduk sedekat itu dengan Yunho? Yah, walaupun kekasih Yunho ada di sana juga.

Yunho mengangguk pada Minho sebagai balasannya lalu kembali berpaling pada Kyuhyun. “Apa yang kau lamunkan? Changmin? Aha.. Aku tahu kau merindukannya. Iya kan? Mengaku saja..”

“Mwo? Changmin hyung? Kau merindukannya, Kyu?” tanya Minho bersemangat.

Kyuhyun segera menyikut Minho keras. ‘Jangan sebut nama lelaki lain di depan Yunho hyung.’ pikirnya. Namun seolah mengerti pikiran Kyuhyun, Minho langsung menghentikan aksinya. Keduanya sudah bersahabat sejak kecil, hal-hal seperti ini sudah bisa mereka rasakan sejak dulu : membaca tingkah laku dan pikiran masing-masing.

Yunho melihat pergerakan tangan Kyuhyun tadi. ‘Anak ini masih malu-malu juga. Akui saja, mudah kan?’

“Jadi.. Kau benar merindukannya?” tanya Yunho lagi.

Kyuhyun hanya diam. Ia tidak berani mengangguk ataupun menggeleng. Ia memang merindukan Changmin, namun ia tidak mungkin mengakuinya di depan Yunho. Memang ia bukan siapa-siapa bagi Yunho. Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak mau Yunho melihat bahwa Kyuhyun menyukai lelaki lain.

“Baiklah kalau kau tidak mau menjawab. Aku bertemu dengannya di Washington minggu lalu. Saat itu ada pertemuan pelajar Korea Selatan disana. Kami banyak bicara saat itu. Tentang sekolah, tentang hal-hal yang suka kami lakukan bersama dan.. tentang kau. Ia merindukanmu.” Kata Yunho lagi.

Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Ini untukmu. Changmin menitipkannya padaku untuk diberikan padamu. Ia berharap kau menyimpannya baik-baik.”

Kyuhyun menerimanya lalu mengucapkan terima kasih. Ia masih menunduk, seolah takut menatap Yunho.

“Baiklah. Aku pergi dulu. Nah Minho, sampai jumpa.” Kata Yunho lalu bangkit dari duduknya. Ketika berhadapan dengan Taecyeon, ia sempat berhenti sebentar lalu pergi seraya melambaikan tangannya pada Taecyeon. Go Ara ikut melambai lalu bergelayut manja di lengan kekasihnya.

Saat itu, Kyuhyun mengangkat wajahnya. Ia menatap kepergian Yunho dan Ara dengan raut wajah yang sulit diartikan. Antara sedih, kecewa dan patah hati. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum melihat sang pujaan hati kini bergandengan tangan dengan mesra dengan kekasihnya. Seolah-olah memberitahukan pada Kyuhyun dengan amat sangat jelas bahwa ia tidak pernah memikirkan orang lain selain Ara.

Tanpa ia sadari, Taecyeon melihatnya dengan tatapan yang sama. Mungkin ini terlalu cepat untuknya, tapi begitu ia melihat Kyuhyun, ia tahu lelaki manis itu sulit untuk dihindari. Dan kini Taecyeon mengerti mengapa Kyuhyun sedikit terlihat aneh jika ditanyai mengenai kekasih. Dari caranya bicara, caranya menatap, hingga caranya bersikap, Taecyeon tahu bahwa Kyuhyun memendam rasa pada Yunho.

Taecyeon melangkah mendekati Kyuhyun, namun sepertinya lelaki itu tidak menyadarinya. Ia masih sibuk memandangi Yunho yang sebentar lagi hilang dari pandangan. Taecyeon akhirnya berdiri tepat di depan Kyuhyun, mengacaukan pikiran Kyuhyun akan Yunho.

“Eh? Hyung?” tanya Kyuhyun sedikit terkejut.

“Kau menyukainya?” tanya Taecyeon cepat.

“Mwo? Aku? Menyukai siapa?” Kyuhyun jadi sedikit pucat karenanya.

“Siapa lagi? Yunho!”

“Mana mungkin? Aku.. Aku.. Hanya..”

“Aku melihatnya dengan sangat jelas tadi.”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia menunduk sebagai jawabannya. Melihat itu, Taecyeon segera beralih pada Minho.

“Katakan padaku. Aku yakin kau tahu sesuatu.”

Minho menatap Kyuhyun dengan iba. Ia sebenarnya sedikit bingung. Apa ia akan jujur pada Taecyeon, atau berbohong demi menyelamatkan sahabatnya.

“Dia memang menyukai Yunho hyung.”

Taecyeon menghela nafas kecewa. “Tapi dia milik Ara!”

“Kyuhyun memang menyukainya. Tapi dia bukan orang seperti itu. Tidakkah kau lihat ia tidak pernah berusaha mengambil kesempatan? Tidakkah kau lihat dia sangat menghormati Ara noona? Dan tidakkah kau lihat bahwa Yunho hyung tidak pernah ‘melihatnya’? Jadi dimana letak kesalahan Kyuhyun? Bukankah semua orang berhak mencintai orang yang dia sukai?” kata Minho dengan tegas.

“Dan Yunho mengenal siapa mantan kekasih Kyuhyun?” tanya Taecyeon lagi.

Minho mengangguk. “Mereka bersahabat.”

‘Oh tidak!’ pikir Taecyeon. “Lalu, apakah mantan kekasih Kyuhyun – yang entah siapa namanya itu – mengetahui perasaan Kyuhyun pada Yunho tapi tetap memacarinya?”

“Changmin, namanya Changmin. Dia mengetahui bahwa Kyuhyun sangat menyukai cinta pertamanya, tapi ia tidak pernah tahu bahwa Yunho adalah orangnya.”

Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dari duduknya. “Aku memang menyukainya. Tapi aku tidak berniat merebutnya dari Ara noona kalau itu yang kau takutkan.”

Setelah berkata demikian Kyuhyun berlari meninggalkan Taecyeon dan Minho. Tak peduli bagaimana kedua lelaki itu memanggilnya. Ia terus berlari.

“Kau menyukainya kan? Oleh karena itu kau terus mendesaknya tadi!” sergah Minho.

“Benar, aku menyukainya. Dan aku tidak mau ia tersiksa. Aku memang baru bertemu dengannya, kami baru saling mengenal. Tapi aku bisa merasakan bagaimana ia berharap pada Yunho. Ia harus tahu, harapannya sia-sia! Ia tidak mungkin memiliki Yunho!”

Taecyeon baru akan berlari menyusul Kyuhyun, tapi Minho menghadangnya. “Jangan! Biarkan ia sendiri.”

“Aku khawatir padanya. Bagaimana kalau..”

“Aku lebih mengenalnya!” bentak Minho. “Dalam keadaan seperti ini, biarkan ia sendiri. Hargai privasinya.”

Taecyeon tak punya pilihan lain, ia hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Sementara Kyuhyun terus berlari kencang. Ia tak tahu kemana kakinya membawanya. Ia hanya terus berlari hinga ia kelelahan. Begitu ia lelah, ia menjatuhkan dirinya di balik sebuah pohon rindang lalu menangis tersedu-sedu sambil memeluk hadiah dari Changmin tadi.

“Hyung.. Maafkan aku.. Aku menyayangimu tapi aku tidak bisa benar-benar mencintaimu.. Mengapa kau harus pergi hyung? Mengapa kau meninggalkanku? Sekarang siapa yang bisa melindungi hatiku agar tidak terus jatuh padanya? Tolong aku hyung.. Tolong aku..”

Tak jauh dari tempat Kyuhyun menangis, sepasang muda mudi melintas sambil bergandengan tangan mesra. Keduanya tampak saling bersenda gurau dengan mesra.

“Aku yakin Kyuhyun akan senang sekali melihat hadiah Changmin untuknya. Jadi ia tahu, pengorbanan cinta mereka tidak sia-sia.” Kata Ara.

Yunho mengangguk. “Sebenarnya cukup disayangkan mereka harus putus.”

“Tapi Changmin melakukan hal yang benar. Ia tidak mau membuat Kyuhyun menunggu dalam ketidakpastian. Bagaimana kalau ternyata ia tidak bisa pulang ke Seoul? Bagaimana kalau nantinya mereka lose contact? Kurasa sebaiknya memang mereka putus sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Changmin memang pandai menghadapi berbagai situasi.” Kata Ara lagi.

‘Ya, ia memang pandai menghadapi situasi. Ia bahkan menerima tawaran dari Washington tanpa pikir panjang lagi karena ia tahu Kyuhyun tidak bisa mencintainya sepenuh hati. Siapakah cinta pertama Kyuhyun? Apakah ia begitu sempurna hingga seorang Changmin memutuskan untuk mundur?’ pikir Yunho.

*

TaecKyu

To Be Continued..

Obession – Chapter 1

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Sad, Fluff

Pair                  : YunKyu, ChangKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 1

The Tall Guy

                Sorak-sorak keras diiringi tepuk tangan membahana memenuhi udara di sekitar lapangan basket. Kyuhyun dan Minho mempercepat langkah-langkah mereka menuju ke arah kerumunan. Keduanya sampai nekat melompati tembok batu yang membatasi deretan kelas di sisi timur sekolah demi mencapai lapangan basket secepatnya.

Tak perduli dengan aturan sekolah yang melarang siswa-siswanya bertindak ‘sok jagoan’ seperti aksi mereka barusan. Tak perduli juga dengan status mereka yang masih bisa dibilang ‘anak baru’ mengingat keduanya baru sebulan resmi menyandang status siswa Senior High School.

“Ya! Kalian! Beraninya kalian melompati pagar! Kalian anak kelas satu kan? Ya! Kemari kalian..! Ya..!”

Minho dan Kyuhyun tertawa geli seraya berlari kencang tanpa menghiraukan suara senior mereka yang baru saja mempergoki mereka melakukan ‘kejahatan’. Siapapun tahu Kangin adalah salah satu siswa bermasalah di sekolah. Ia bukan anak bodoh atau miskin. Tapi ia suka bertindak semaunya dan meminta ‘uang kemanan’ pada setiap siswa baru. Terlihat keren dengan cara seperti itu mungkin lebih mudah baginya.

Setelah tiga menit berlari dan melarikan diri dari Kangin, keduanya tiba di lapangan basket. Hampir semua tribun sudah diisi oleh para penonton. Tribun di sebelah kanan diisi oleh anak-anak dari sekolah mereka, sedangkan tribun sebelah kiri diisi oleh anak-anak dari sekolah lain yang saat ini tim basketnya sedang berhadapan dengan tim basket sekolah Kyuhyun dalam rangka pertandingan persahabatan.

Pertandingan sudah berlangsung kira-kira lima belas menit yang lalu, jadi keduanya belum bisa dinyatakan terlambat sama sekali. Minho sangat bersemangat ingin masuk dalam tim basket sekolah yang akan memulai audisi penerimaan anggota baru dua minggu mendatang, maka ia ingin menonton para sunbaenya bertanding agar ia bisa mencontoh gerakan-gerakan terbaik yang nantinya bisa membantunya dalam audisi.

“Kyuhyun-ah, masih ada tempat disana.” Tunjuk Minho seraya menarik tangan Kyuhyun menuju tribun kanan yang masih menyisakan sedikit tempat untuk dua orang di baris kedua dari depan. Kyuhyun hanya menurut saja. Ia bukan penggemar basket, namun ia tidak mau mengecewakan sahabatnya itu.

Selama pertandingan berlangsung, Kyuhyun hanya memperhatikan wajah para pemain basketnya. Ekspresi wajah mereka ketika berhasil memasukkan bola ke ring ataupun kebobolan membuatnya tertawa geli. Ia tidak tahu tata cara bermain basket yang benar tapi ia cukup tahu tembakan seperti apa yang membuat pemain memperoleh skor.

Namun entah sudah berapa lama, Kyuhyun baru menyadari bahwa salah satu pemain inti dari tim basket sekolahnya selalu melihat ke arahnya. Setiap lelaki itu ke tempat Kyuhyun berada, Kyuhyun selalu menoleh ke kiri dan kanan bahkan ke belakang, untuk memastikan lelaki itu melihat ke arah siapa.

Awalnya Kyuhyun berpikir lelaki itu mungkin secara tidak sengaja melihat ke arahnya, tapi semakin lama, mata lelaki itu semakin sering melihatnya. Kyuhyun tidak bisa memastikan siapa yang dilihat lelaki itu, mengingat terlalu banyak orang saat ini yang berada di sekelilingnya. Bisa jadi lelaki itu melihat salah satu siswi cantik yang duduk disana, karena Kyuhyun selalu berpikir bahwa kelainan seksual yang dimilikinya yang berorientasi pada kesukaan terhadap sesama jenis membuatnya tidak pernah berharap lebih.

“Kyuhyun-ah.. Sepertinya sunbae itu sering sekali menatapmu. Apa kau mengenalnya?” tanya Minho seraya menyikut lengan Kyuhyun.

Kyuhyun sedikit terkejut karenanya. Ia tidak menyangka Minho yang sangat fokus memperhatikan jalannya pertandingan bisa melihat hal-hal seperti ini.

“Mungkin saja bukan aku yang dilihatnya.” Balas Kyuhyun.

“Tidak mungkin! Dia adalah sunbae favoritku. Daritadi aku selalu memperhatikannya. Tapi ia selalu melihat ke arahmu. Benarkah kau tidak mengenalnya?” tanya Minho lagi.

Kyuhyun menggeleng tegas. “Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali di kantin, tapi aku yakin ia tidak melihatku. Mungkin ia melihat seseorang di sekitar kita atau mungkin dia perlu menanyakan sesuatu padaku. Entahlah.”

“Padahal aku berharap kau mengenalnya. Agar kau bisa ikut mengenalkannya padaku hingga dia bisa mengajariku teknik bermain basket yang benar. Ini bisa membuatku lolos ke dalam tim basket dengan mudah bukan?”

Prriiiiittttt…

Bunyi peluit panjang yang ditiupkan oleh wasit, menandakan bahwa pertandingan telah selesai. Kyuhyun dan Minho saling berpandangan tak mengerti.

“Siapa yang menang?” tanya Minho.

“Tidak tahu. Yang kuingat terakhir skornya sama.” Jawab Kyuhyun.

“Hahhh? Aku tidak melihat siapa pemenangnya hanya karena membahas sunbae itu denganmu? Oh.. Tidak!” kata Minho seraya menepuk keningnya.

“Aku rasa sekolah kita yang menang.”

Minho menoleh dengan cepat. “Benarkah?”

“Lihat, anak-anak sekolah kita yang bersorak-sorak kan? Kau juga bisa lihat ekspresi anak-anak sekolah lawan kita, raut wajah mereka terlihat sedikit sedih.”

“Benar juga.” Minho lalu berlari meninggalkan Kyuhyun dan mengecek skornya di papan skor.

Sepeninggal Minho, Kyuhyun hanya berdiri saja di tribun yang tadi di dudukinya. Ia menoleh kesana kemari, melihat reaksi para gadis yang menjerti-jerit riang karena sekolahnya baru saja memenangkan pertandingan.

“Apa kau mencariku?”

Sebuah suara memecahkan perhatian Kyuhyun. Ia lalu menoleh ke sumber suara dan mendapati sunbaenya yang tadi terus memperhatikannya saat bertanding tadi telah berdiri di depannya. satu tangannya memegang handuk kecil sedangkan tangan lainnya yang bebas dimasukkan ke saku celana olah raganya.

“Apa anda berbicara denganku?” tanya Kyuhyun tak yakin.

Lelaki jangkung itu tersenyum. “Tentu saja. Kepada siapa lagi?”

“Tapi.. Untuk apa aku mencari anda?”

Lelaki itu tertawa. “Bukankah sudah jelas? Selama aku bertanding tadi bukankah kau terus-menerus menatapku?”

??? Tanda tanya besar muncul di benak Kyuhyun. Sejak kapan ia memperhatikan lelaki itu? Bukankah..

“Maaf, bukankah anda sendiri yang sedaritadi memperhatikanku? Aku sama sekali tidak memperhatikan anda.” Jawab Kyuhyun sedikit tidak terima. Bukankah sudah jelas lelaki itu yang terus-menerus menatapnya dan membuatnya jadi sedikit salah tingkah?

“Kau baru saja mengakui tuduhanku.” Balas lelaki itu pendek.

“Mwo? Apa maksud anda? Bagaimana mungkin aku..”

“Aku akui aku memang memperhatikanmu. Tapi kau sendiri melihatnya dengan jelas dan balas memperhatikanku kan? Kalau tidak, mana mungkin kau tahu kalau aku memperhatikanmu jika kau tidak melihatku terus-terusan juga?”

Sial! Rutuk Kyuhyun dalam hati. Bagaimana caranya membalas lelaki ini? Ia malu sekali mendapati ia mempermalukan dirinya sendiri di depan sunbaenya.

“Kyuhyun-ah.. Oh.. Anneyong haseyo sunbae-nim.” Minho sudah ada diantara mereka. Begitu melihat sunbae favoritnya itu, ia segera membungkuk hormat dan mengucapkan salam.

“Anneyong. Kau Choi Minho kan?”

“Ne.. Bagaimana sunbae tahu?”

Lelaki itu kembali tertawa. “Tentu saja aku tahu. Aku yang menyeleksi berkas-berkas seleksi penerimaan anggota baru.”

“Oh begitu. Mohon bantuan dan bimbingannya sunbae-nim. Aku ingin sekali masuk tim basket sekolah.”

“Tidak masalah. Kalau kau mau, aku bisa mengajarimu latihan intensif setiap hari selasa, kamis dan sabtu jam empat sore.”

“Mwo? Benarkah sunbae mau membantuku? Tentu saja aku mau. Terima kasih sunbae-nim.” Jawab Minho dengan senang.

“Tapi.. bawalah temanmu yang pemalu ini bersamamu, ne? Bukankah kalau lebih ramai akan terasa lebih menyenangkan?” kata lelaki itu seraya melirik Kyuhyun.

Minho langsung tahu maksud di balik tawaran sunbae-nya tadi. Tapi tak apalah, iya bisa mendapatkan latihan intensif basket tiga kali seminggu secara gratis dari bintang basket sekolah. Ia hanya perlu membujuk Kyuhyun agar mau ikut menontonnya berlatih.

“Kyuhyun-ah.. Kau mau kan menemaniku berlatih?” tanya Minho pada Kyuhyun. wajahnya dibuat sememelas mungkin agar Kyuhyun mau menyetujui permintaanya.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Sebenarnya ia tidak mau. Karena selain ia tidak tahu banyak soal basket, ia juga masih merasa malu dengan sunbae yang berdiri di samping Minho itu. Namun mengingat cita-cita Minho sejak awal, ia jadi tidak tega.

“Baiklah. Aku akan menemanimu setiap latihan.”

“Bagus sekali. Kalau begitu, sampai ketemu hari sabtu. Aku pergi dulu. Nah, sampai ketemu Minho.. Kyuhyun..”

Lelaki itu lalu berbalik pergi. Namun baru dua langkah, ia berbalik kembali. “Oh ya, namaku Changmin, Shim Changmin. Kalian tidak perlu memanggilku dengan sebutan sunbae atau.. anda. Cukup panggil aku hyung saja.”

*

            Sabtu yang dinantikan akhirnya tiba juga. Changmin sudah menunggu di lapangan basket ketika Minho dan Kyuhyun muncul.

“Tidak seharusnya kau terlambat.” Kata Changmin membuka percakapan, sebelum Minho sempat menyapanya terlebih dahulu.

“Tapi.. aku tidak terlambat. Bukankah sekarang tepat pukul empat sore?” tanya Minho hati-hati.

Changmin tersenyum. “Benar. Tapi ketika kau akan menjadi anggota baru di organisasi manapun, para senior tidak mencari seseorang yang tepat waktu melainkan yang bisa melakukan segala sesuatunya lebih cepat dari yang ditetapkan.”

Minho mengangguk paham. “Maafkan aku hyung. Berikutnya aku tidak akan terlambat lagi.”

Changmin mengangguk seraya tersenyum sekali lagi. Kemudian ia melirik makhluk lain yang sedaritadi hanya diam mendengarkan percakapan antara Changmin dan Minho.

“Kyuhyun-ah?”

Kyuhyun segera tersadar dari lamunannya. “Oh.. Anneyong hyung. Maaf tadi aku sedikit melamun.”

“Tidak apa-apa. Bukankah kau hanya menemani Minho disini? Jadi kau tidak usah merasa wajib untuk berlaku seperti Minho. Nah, kau boleh duduk disana.” Kata Changmin seraya menunjuk tribun di sisi kanan lapangan.

Kyuhyun menurut. Ia segera berlari ke tribun lalu menjatuhkan pantantnya di sana. Ia segera membuka memasang earphone di telinganya dan mulai memutar musik dari iPod-nya. Alunan musik yang disukainya segera mengalun. Sengaja ia memilih lagu up beat agar ia bisa menikmati pemandangan Minho dan Changmin bermain basket dengan lincah.

Sejam kemudian rasa bosan mulai menghampirinya. Ia sudah berusaha menghibur diri dengan ber-internet ria namun hal itu tidak membantu. Dan saat itulah Kyuhyun melihatnya. Seorang lelaki yang mengenakan kemeja flannel berjalan pelan memasuki lapangan basket. Lelaki bertubuh tegap itu tersenyum lebar dan satu tangannya melambai pada Changmin.

Saat melihat lelaki itu untuk pertama kalinya, Kyuhyun tidak bisa bernafas. Ia bahkan tidak bisa berpikir. Ia hanya terpaku di tempatnya, mengagumi ketampanan lelaki yang kini berdiri bersama Changmin dan Minho.

Kyuhyun masih senantiasa menatap lelaki itu tanpa kedip ketika tiba-tiba lelaki itu menoleh padanya dan menatapnya langsung ke mata Kyuhyun. Lelaki itu bahkan tersenyum ramah. Membuat tubuh Kyuhyun mati rasa. Dan yang membuatnya lebih takut sekarang adalah kenyataan bahwa lelaki itu masih menatapnya lurus dan berjalan mendekatinya.

‘Oh tidak! Tuhan, tolong aku. Kenapa kakiku tidak bisa bergerak? Kenapa aku tidak bisa berkedip menatapnya?’ batin Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah.. Kau baik-baik saja?” tanya Minho.

Ternyata persepsi Kyuhyun salah. Bukan hanya lelaki tampan itu yang datang mendekatinya, tapi juga Minho dan Changmin hyung. Lalu dirasakannya sebuah sentuhan hangat di pipi dan keningnya. Barulah Kyuhyun bisa terlepas dari masa paralyze-nya dan menyadari bahwa Changmin-lah yang menyentuhnya tadi.

“Badanmu cukup hangat. Apa kau merasa kurang sehat sekarang?” tanya Changmin.

Kyuhyun menjawab dengan sedikit tergagap. “Aku.. Aku tidak apa-apa. Hanya saja..”

“Lalu mengapa wajahmu memerah seperti itu?” suara berat itu bertanya padanya. Ingin sekali Kyuhyun menenggelamkan dirinya saat ini juga ke dasar laut daripada mereka tahu mengapa dirinya jadi seperti ini.

“Aku.. Baik-baik saja.”

“Baiklah. Aku rasa Kyuhyun mungkin sedikit demam. Kita sudahi saja dulu latihan hari ini. Ayo, aku akan mengantar kalian pulang.” Kata Changmin menengahi.

“Nah, bagaimana kalau aku mentraktir kalian makan? Setelah itu barulah kalian pulang. Bukankah besok hari minggu? Untuk apa kita cepat-cepat pulang?” lelaki itu menyanggah Changmin dengan cepat.

Hati Kyuhyun langsung bersorak-sorak gembira. Ia bisa melihat lelaki tampan itu lebih lama dari yang diperkirakannya.

“Usul yang bagus. Ayo kita berangkat.” Jawab Changmin bersemangat.

*

            “Aku lupa memperkenalkan kalian. Nah, ini Kyuhyun. Dia teman Minho.” Kata Changmin pada lelaki itu ketika mereka sudah duduk di dalam restaurant jepang, menunggu pesanan mereka.

Lalu Changmin menoleh pada Kyuhyun. “Kalau dia adalah teman sekelasku, Kyu. Dia juga ketua OSIS sekolah kita. Namanya Jung Yunho.”

Kyuhyun membungkuk hormat seraya mengucapkan kalimat ‘Kyuhyun imnida’ yang sepertinya tidak bisa di dengar oleh Yunho karena suara Kyuhyun yang luar biasa kecil dan bergetar. Lagipula setelah itu Changmin dan Yunho terlibat pembicaraan seru.

“Jangan bilang kau menyukainya.” Bisik Minho pelan.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya menunduk seraya tersenyum malu. Minho langsung mengetahui jawabannya. Kyuhyun belum perah bertingkah seperti ini sebelumnya. Mereka sudah bersahabat sedari kecil, tentu saja Minho mengenalnya dengan baik. Dan jika Kyuhyun baru pertama kali bertingkah seperti ini, artinya Jung Yunho adalah cinta pertama Kyuhyun.

“Bertengkar? Pantas saja kau mengajak kami keluar. Rupanya kau kesepian. Tapi.. kenapa kalian bertengkar lagi?” tanya Changmin.

Minho dan Kyuhyun langsung menatap Yunho dengan rasa penasaran. Keduanya tidak tahu dengan siapa Yunho bertengkar. Tapi kalau ia sampai ‘melarikan diri’ dengan sahabatnya, bisa jadi orang itu..

“Ya.. Aku tidak bisa mengerti keinginannya. Ia selalu ingin menang sendiri. Keinginannya lah yang harus dituruti. Entahlah.. di satu sisi aku merasa kami tidak cocok. Tapi di sisi lain aku merasa bahwa aku gagal menjadi kekasih yang baik..”

Pranggggg.

Saat itu juga hati Kyuhyun hancur karenanya. Mendengar lelaki yang ia sukai telah mempunyai seorang kekasih membuatnya sangat kecewa. Mengapa ia bisa jatuh hati pada Yunho dan patah hati di hari yang sama?

Minho menatap Kyuhyun dengan iba. Begitu cepat Kyuhyun memutuskan ia menjatuhkan pilihan pada cinta pertamanya tapi secepat itu juga ia patah hati.

“Kyuhyun-ah, kita baru mengenalnya. Jadi jangan sedih ne? Siapa tahu nanti kau bisa menjadi kekasihnya? Lagipula kita baru kelas satu. Kau masih punya dua tahun untuk menarik perhatiannya sebelum ia lulus. Bukankah ia hanya lebih tua setahun dari kita?” bujuk Minho.

“Kau benar. Tidak ada gunanya aku bersedih. Lagipula, ini pertama kalinya aku melihatnya. Siapa tahu setelah pulang nanti aku sudah melupakannya?”

*

            Dan apa yang dikatakan Kyuhyun benar terjadi. Ia sedikit melupakan Yunho karena banyaknya tugas sekolah ditambah dengan keharusan dirinya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler sepulang sekolah di setiap harinya.

Dan lagi.. Entah mengapa ia dan Changmin jadi dekat satu sama lain. Changmin sering mengunjunginya di kelas dan menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengannya setelah jam sekolah usai.

Minho yang akhirnya berhasil masuk ke tim basket sekolah juga menjadi lebih dekat dengan Changmin. Dan tentu saja ia sangat mendukung gerakan Changmin mendekati Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah.. Bolehkah aku bertanya sesuatu?” tanya Changmin malam itu, ketika mereka baru saja pulang dari toko buku di sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota.

“Tentu saja. Ada apa hyung?”

Changmin terdiam sebentar. Ia meremas jari-jarinya barulah ia menjawab dengan keyakinan. “Kyuhyun-ah.. Aku menyukaimu. Apakah kau memiliki rasa yang sama denganku?”

Kyuhyun menunduk menyembunyikan semburat merah di wajahnya. “Aku.. Aku menyukaimu hyung.. Hanya saja.. Aku belum bisa mengartikan hal ini sebagai cinta.”

Kyuhyun tahu, mungkin Changmin akan kecewa dengan jawabannya. Tapi ia hanya berusaha untuk jujur. Ia tidak mau melukai perasaan orang yang sudah terlalu baik padanya itu.

Changmin tersenyum maklum. Ia sendiri tidak bisa memaksakan kehendaknya. Bukankah ini hal baru untuk Kyuhyun? Lelaki itu memang butuh waktu untuk mencerna perasaannya sendiri.

“Kalau kau mau berusaha sedikit lagi, mungkin aku akan benar-benar jatuh cinta padamu, hyung. Jadi.. berusahalah, ne?” kata Kyuhyun melanjutkan. Setelah itu ia mengecup singkat pipi Changmin dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Menyisakan harapan baru di hati seorang Shim Changmin.

Changmin membelai pipinya. Ia masih tidak percaya Kyuhyun memberinya kesempatan. Dan ia berjanji akan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.

“Aku akan berusaha, Kyuhyun-ah.. Gomawo..”

*

            Changmin membuktikan kata-katanya. Ia berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Kyuhyun jatuh hati padanya. Keberhasilan utamanya tentu saja karena Minho. Sahabat Kyuhyun itu dengan baik hati memberitahukan semua tentang Kyuhyun. Membuat Changmin sangat mengerti bagaimana cara memperlakukan lelaki itu.

Dan bukan hal sulit sebenarnya untuk memenangkan hati seorang Cho Kyuhyun jika kau benar-benar berusaha. Ia menyukai ketulusan hati seseorang. Jika ia melihatnya dengan sungguh-sungguh, maka ia akan takluk seutuhnya.

Dan hari yang dinantikan Changmin pun datang juga. Hari dimana untuk kedua kalinya ia menyatakan cintanya dan Kyuhyun akhirnya menerimanya tanpa rasa ragu. Kyuhyun tahu, memberikan hatinya untuk Changmin adalah hal terbaik. Lelaki itu mampu menunjukkan pada Kyuhyun bahwa ia layak menjadi kekasih pertama Kyuhyun. Ia mampu membuka hati Kyuhyun akan cinta yang sesungguhnya.

“Kyuhyun-ah, mengapa kau terlalu sering melamun? Jangan bilang kau memikirkan lelaki lain.” kata Changmin pura-pura cemberut.

Kyuhyun tertawa. “Ani, aku melamunkanmu hyung. Aku sangat bersyukur karena kau lah kekasih pertamaku. Dan aku bangga akan hal itu. Suatu saat, jika aku tua nanti, aku bisa bercerita kepada anak cucuku bahwa aku punya kekasih yang luar biasa semasa aku sekolah. Dia tampan, baik hati, ditambah lagi ia adalah bintang di lapangan basket. Betapa beruntungnya aku.”

Namun Changmin malah mendelik mendengarnya. “Ya! Apa maksudmu semasa sekolah? Jadi kau tidak mau menjadi kekasihku seumur hidup? Ani, maksudku kau tidak mau menikah denganku, mempunyai keturunan lalu menjadi tua bersamaku?”

“Tidak.. Bukan begitu.. Hahaha.. Kau ini cepat sekali tersinggung, hyung. Aku hanya memikirkan masa depan. Siapa yang tahu kalau suatu hari nanti kita tidak berjodoh? Jadi, berjodoh ataupun tidak, aku akan bercerita tentang dirimu pada anak cucuku kelak.” Jawab Kyuhyun yang masih tertawa.

Changmin menghela nafas kesal karenanya. “Pokoknya kau akan menikah denganku nanti. Akulah yang akan menjadi kekasih pertamamu sekaligus yang terakhir. Akulah yang akan menikahimu dan hidup denganmu sampai ajal menjemput kita. Arasso?”

Kyuhyun masih tertawa tapi ia mengangguk meyakinkan kekasihnya itu. “Hyung.. Janganlah memikirkan hal-hal yang masih terlalu jauh dari kita. Kita masih sekolah.. Setidaknya aku ingin menikah sekitar sepuluh tahun lagi.”

“Aku akan menunggumu. Karena kau ditakdirkan untuk menjadi Ny. Shim, bukan yang lain. Tapi.. Kalau ternyata kita memang tidak berjodoh, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu.” Ujar Changmin sungguh-sungguh seraya menggenggam jemari Kyuhyun.

“Aku percaya hyung.. Tidak sedikitpun aku meragukanmu. Walaupun kita baru berpacaran selama delapan bulan, tapi aku tahu kalau kau serius denganku.”

Changmin mengangguk. “Tapi.. Aku masih penasaran. Kau bilang aku adalah kekasih pertamamu, bukan? Apakah aku juga cinta pertamamu?”

Kyuhyun terdiam. Ini adalah topik terakhir yang ingin ia bahas dengan Changmin. Bukan apa, mana mungkin ia mengakui bahwa cinta pertamanya adalah Jung Yunho, sahabat Changmin sendiri?

“Eh.. itu..” jawab Kyuhyun ragu-ragu.

“Wae? Apa aku mengenalnya? Apa ia juga dari sekolah kita?” tanya Changmin semakin penasaran.

Kyuhyun semakin bingung menjawab. Ia berharap Changmin menangkap keengganannya dalam menjawab. Tapi harapannya sia-sia ketika melihat Changmin menatapnya dengan pandangan ingin tahu yang besar. Mau tidak mau Kyuhyun mengangguk dengan malas.

“Mwo? Benarkah dia dari sekolah kita? Ya.. Biar kutebak, Minho? Ah, tidak mungkin. Ia kan sahabatmu. Atau.. jangan bilang kau menyukai Donghae? Ia memang sangat tampan dan bersahaja, siapapun dengan mudah bisa jatuh cinta padanya. Atau.. Yunho?”

Kyuhyun tidak berani menjawab.

*

            Percaya atau tidak. Kyuhyun masih sering memikirkannya. Ia memang sedikit sibuk setelah pertemuan mereka yang pertama di lapangan basket sore itu. Namun bukan berarti ia berhenti merindukan sosok namja tegap dengan tatapan mata tajam itu. Sebisa mungkin ia mengintai kemana Yunho pergi dan apapun yang ia lakukan. Dengan melihatnya saja, Kyuhyun sudah merasa bahagia.

Yunho-lah yang membuat Kyuhyun awalnya menolak Changmin. Karena ia berharap Yunho bisa melihatnya. Namun setelah ia menunggu, Yunho tidak juga lepas dari Go Ara, kekasihnya. Walaupun mereka kerap bertengkar, tetapi Yunho adalah lelaki setia. Jika ia sudah berjanji akan bersama dengan seseorang, maka ia akan menepati janjinya, apapun yang terjadi. Semakin besarlah rasa iri Kyuhyun pada Ara, dan semakin besar juga rasa kagumnya pada ketua OSIS-nya itu.

Namun beberapa bulan kemudian, Yunho harus meninggalkan sekolah karena ia mengikuti program pertukaran pelajar ke benua Amerika. Dengan absennya Yunho di mata Kyuhyun, ia jadi bisa menata hatinya yang hancur dan benar-benar bisa melihat Changmin.

Ya, melihat dan memberikan hatinya untuk Changmin. Namun ia tidak bisa memberikan hati itu seutuhnya karena satu sudut special telah ia berikan untuk Yunho yang bahkan tidak pernah memperdulikannya sama sekali. Tapi tidak mengapa, bukankah cinta berarti mau memberi dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan?

“Kyuhyun-ah, kalau suatu hari nanti kau akan menikah denganku tapi di sisi lain ada lelaki yang jauh lebih baik dari aku dan ingin mempersuntingmu, siapa yang akan kau pilih?” tanya Changmin malam itu.

Keduanya menginap di rumah Minho. Kyuhyun duduk bersandar di dinding sementara Changmin merebahkan kepalanya di pangkuan kekasihnya itu. sementara Minho yang bosan dengan adegan lovey dovey kedua makhluk itu langsung memasang headset di telinganya dan bermain online games dalam diam dengan posisi memunggungi mereka.

Kyuhyun pura-pura berpikir sebentar. “Hm.. Aku jadi bingung menjawabnya.. Pasalnya kau membandingkan dirimu dengan seseorang yang lebih segala-galanya darimu, hyung. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan seperti itu?”

Changmin memberenggut. “Ya! Sudah kuduga kau tidak serius mencintaiku. Huhh..! Apakah ini tandanya kalau aku sudah harus mencari kekasih gelap?”

“Ohh.. Jangan kira hanya kau yang bisa selingkuh dariku!” tantang Kyuhyun.

“Kauuu.. Kemari kau!” kata Changmin dengan galak lalu meraih leher Kyuhyun agar merunduk lebih dalam hingga ia bisa mencapai bibir kekasihnya itu.

Detik berikutnya keduanya sudah larut dalam ciuman hangat nan panjang mereka. Bukan ciuman nafsu melainkan ciuman penuh kasih sayang diantara keduanya.

“YA! Hentikan!”

Changmin dan Kyuhyun menghentikan kegiatan mereka sesaat mendengar raungan Minho. Si pemilik kamar menatap mereka dengan galak. Kedua tangannya dilipat di depan dadanya dengan angkuh.

“Wae? Kami hanya berciuman, tidak lebih.” jawab Changmin enteng.

“Hanya berciuman katamu hyung? Berkali-kali aku berbalik dan kalian maish terus berciuman selama hampir lima menit? Siapa yang tahu akan ada adegan buka-bukaan setelah itu? Jangan mengotori kamarku yang suci!”

Baik Kyuhyun maupun Changmin tertawa lepas karenanya. Melihat itu, Minho semakin kesal dibuatnya.

“Ya, Minho-ya.. Mana mungkin kami melakukan hal seperti itu? Kami sangat sadar bahwa kami tengah berada di kamar orang lain dan si pemilik kamar tengah bersama kami saat ini. Jangan khawatir.” Jawab Kyuhyun setelah ia bisa menguasai dirinya.

“Benar. Lagipula aku masih punya moral untuk melakukan hal-hal seperti itu. Umurku baru akan menginjak 17 tahun. Mana mungkin aku menodai Kyuhyun disaat aku sendiri belum sepenuhnya dewasa?” Changmin menambahkan.

“Aku yakin Kyuhyun akan dengan senang hati dinodai olehmu hyung. Jadi hentikanlah!” kata Minho yang masih tetap pada pendiriannya.

Wajah Kyuhyun bersemu merah karenanya. “Ya! Apa maksudmu aku mau dinodai? Pabbo!”

“Siapa tahu? Pernahkah kau melihat Changmin hyung telanjang? Jika iya, kau akan dengan rela dinodai.” Ejek Minho.

Bruukkk. Sebuah bantal kecil melayang dan mendarat dengan sempurna di wajah tampan Choi Minho. Dengan kesal ia melemparkan bantal itu kembali pada Kyuhyun lalu menyerang sepasang kekasih itu dengan bantal lainnya. Jadilah perang bantal diantara ketiga namja berisik itu hingga mereka kelelahan.

“Hossshhh.. Aku lelah sekali..” kata Minho seraya berusaha menstabilkan nafasnya yang memburu.

“Siapa suruh kau yang memulai duluan.” Balas Kyuhyun.

“Tapi kalian yang duluan membuatku harus melempar bantal itu kan? Berhentilah bermesraan di depanku sebelum aku mendapatkan seorang kekasih.” Kata Minho lagi.

“Kalau begitu cepatlah mencari, agar aku bisa melakukan hal-hal yang diinginkan bersama Kyuhyun.” ejek Changmin.

“Dasar mesum! Selain basket, di otakmu cuma ada Kyuhyun ya?” kata Minho dengan nada mencela.

“Benar, tepat sekali! Sayangnya Kyuhyun lebih memilihku daripada orang lain.” sindir Changmin sekenanya.

“Ya! Hyung! Mengapa kau menganggap serius kata-kataku tadi? Bukankah aku hanya bercanda? Lagipula mana mungkin aku memilih orang yang baru ku kenal sebagai pendampingku dibandingkan denganmu yang sudah ku menjalin hubungan denganku cukup lama?” kata Kyuhyun tidak terima.

“Aku tidak bicara mengenai orang baru, Kyu. Aku bicara mengenai cinta pertamamu. Setiap aku menyinggungnya, kau pasti salah tingkah. Ah.. aku benar-benar cemburu dibuatnya.” Kata Changmin dengan nada suara merana yang dibuat-buat.

“Cinta pertama Kyuhyun? Oh.. Dia..” kata Minho terbata-bata.

“Dan kini kau juga ikut bertingkah seperti Kyuhyun. Aku benar-benar penasaran, siapa cinta pertamamu itu, Kyu?” tanya Changmin.

Baik Kyuhyun dan Minho tak berani saling menatap.

*

            “Apa kau yakin, hyung? Kau tidak sedang mengelabuiku kan?” tanya Kyuhyun siang itu. Ia sangat gembira hari itu karena ia mendapatkan peringkat pertama di kelasnya, juga ia akhirnya terbebas dari predikat ‘junior’ yang selama ini disandangnya bersama teman-teman seangkatannya karena mereka dinyatakan lulus dan kini menduduki kelas dua.

Namun, siang yang cerah itu mendadak kelabu ketika mendengar pengakuan Changmin, kekasihnya.

Ketika dilihatnya Changmin menggeleng dengan sedih, hati Kyuhyun mencelos. “Wae?”

“Aku mendapatkan tawaran untuk pindah ke Washington DC. Aku akan meneruskan sekolahku di sana dan akan dilatih menjadi atlit basket professional, seperti yang selama ini kuimpikan.” Jawab Changmin pelan.

Changmin tahu benar bahwa pasti Kyuhyun kecewa dengan keputusannya. Ia mencintai Kyuhyun tapi ia juga mencintai mimpinya. Dan ia tidak bisa melepaskannya begitu saja, karena kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Di samping itu, ibunya yang sangat mengidolakannya juga berharap ia mengambil tawaran itu.

Changmin mengangkat wajahnya dan menatap lurus-lurus ke wajah orang yang dicintainya itu. “Kyu.. Mianhae.. Ini demi diriku, orang tuaku juga mimpi-mimpiku..”

“Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan mimpi kita? Bagaimana dengan janjimu?” tanya Kyuhyun intens. Ia terlalu sedih mendengar kata-kata Changmin. Ia tahu, ia tidak rela melepaskan Changmin begitu saja.

“Aku tahu ini berat. Tapi aku yakin kita bisa melewatinya dengan mudah asal kita berdua ikhlas.”

Kyuhyun menatap Changmin tidak mengerti. “Apa maksudmu hyung? Bukankah kau hanya pergi? Lalu kita bisa tetap berhubungan kan?”

Changmin tertawa jengah. “Kyu.. Kita tidak bisa lagi terus berhubungan. Selama disana, aku akan benar-benar ditempa. Aku tidak akan punya waktu untuk bersenang-senang apalagi berpacaran. Aku tidak bisa membuatmu kecewa karena menungguku. Jadi, sebaiknya kita..”

“Yahh, aku tahu. Kau ingin kita mengakhiri hubungan kita kan? Pertama aku kalah dengan mimpimu, kini dengan jadwalmu. Aku sangat mengerti.” tebak Kyuhyun langsung.

“Kyuhyun-ah.. Ketahuilah bahwa aku mencintaimu. Dan aku akan terus mencintaimu. Aku hanya berharap, suatu hari nanti, jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, kita pasti akan dipertemukan lagi. Jadi kumohon.. Mengertilah..”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia mulai menangis dalam diam. Satu persatu airmatanya turun membasahi pipinya. Changmin segera memeluk Kyuhyun dengan erat karenanya. Ia sendiri tidak siap kehilangan Kyuhyun secepat itu. Namun ia harus melakukannya. Dan ia berjanji, jika suatu hari nanti hatinya tidak jatuh pada orang lain, ia akan mencari Kyuhyun begitu semuanya bisa teratasi.

“Kyuhyun-ah.. Kumohon, jangan menangis. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu. Tapi aku tidak mau kau menunggu dalam sebuah ketidakpastian. Bagaimana kalau kita tetap berhubungan tapi ternyata aku tidak bisa memperhatikanmu? Tidak bisa memberimu kasih sayang seperti biasa? Kau akan lebih kecewa lagi. Untuk itu, aku mohon kau mengerti. Mungkin saat ini kita tidak berjodoh.” Ujar Changmin panjang lebar. Ia sendiri sudah mulai mengeluarkan airmatanya.

Selama beberapa menit, keduanya hanya berpelukan dalam diam. Hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia lalu menegadah menatap lelaki jangkung yang dicintainya itu.

“Aku mengerti. Aku sangat mengerti. Tidak seharusnya aku bersikap egois. Aku bereaksi seperti itu karena aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu. Tapi aku sadar, semua orang punya mimpi dan cita-citanya. Aku juga punya. Dan aku bangga padamu karena kau rela mengorbankan perasaanmu demi cita-citamu. Tidak banyak orang yang bisa melakukannya, hyung.”

Kyuhyun menghapus airmata Changmin dan mulai berbicara lagi. “Kau benar. Mungkin saat ini bukan waktu untuk kita. Mungkin di lain kesempatan atau mungkin tidak pernah ada lagi. Tapi yang pasti, aku sangat bersyukur dengan kehadiranmu. Pernah menjadi kekasihmu adalah suatu kehormatan bagimu. Kalau kau sudah menjadi bintang basket terkenal, jangan lupakan aku dan Minho,ne? Kami berdua adalah penggemar sejatimu.”

Setelah berkata demikian, Kyuhyun tersenyum tulus. Lega rasanya mengikhlaskan kepergian Changmin seperti ini walaupu masih ada sedikit rasa sedih. Tapi ia sadar, tidak ada gunanya menangisi semua itu. Tuhan pasti punya jalan sendiri untuk setiap makhluk ciptaanNya. Dan mungkin, jalannya bersama Changmin memang hanya sampai disini.

Changmin ikut melepaskan pelukannya. Ia menggenggam jemari Kyuhyun lalu keduanya saling menatap dalam senyum tulus. “Terima kasih, Kyu. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Aku akan berusaha keras dan menjadi bintang basket terkenal. Aku akan membuatmu bangga. Aku akan membuktikan bahwa pengorbanan kita hari ini tidak akan sia-sia.”

Keduanya saling bertatapan mesra, tangan mereka masih saling berpaut. Pelan-pelan wajah mereka maju dan saling mendekatkan diri satu sama lain, begitu juga kedua bibir mereka. Sebuah ciuman perpisahan tercipta. Meski sakit, namun manis pada akhirnya.

*

changkyu

To Be Continued..

Obsession – Teaser

Proloque

 

Apakah suatu saat ia akan melihatku?

Apakah suatu hari nanti ia akan menyadari,

Bahwa selama ini aku ada dan hidup untuk mencintainya?

Apakah ia akan mengerti perasaanku?

 

Sia-sia kuteriakkan cintaku,

Sia-sia ku lindungi harapanku.

Rasanya sungguh menyakitkan,

Ketika cinta pertama tidak pernah menemukanku.

 

Ketika harapanku musnah,

Ketika tak tahu lagi harus bertahan atau pergi,

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa

Meminta padaNya untuk diberi kekuatan dan jalan terbaik

 

Jika nanti suatu hari kita bertemu lagi,

Maukah kau memberiku kesempatan?

Maukah kau setidaknya memberiku satu tanda,

Bahwa penantianku tidak sia-sia..?

 

 

 

The Casts :

 

Cho Kyuhyun

kyuhyun OBS

Choi Minho

choi minho OBS

Shim Changmin

Changmin OBS

Lee Jonghyun

Jonghyun OBS

Yoon Doojoon

Doojoon OBS

Choi Seunghyun (TOP)

TOP OBS

Lee Donghae

Donghae OBS

Ok Taecyeon

Taecyeon OBS

 

 

Jung Yunho

Yunho OBS

 

 

Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

 

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

To Be Continued..