Sacrificial Love – Chapter 3

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 3

Shin Hye memasuki rumah dengan wajah sumringah. Sejak turun dari mobil, wajahnya sudah terlihat berseri-seri. Ia berlari secepatnya menuju ke kebun belakang, tempat Son Ye Jin, ibu tirinya, suka menghabiskan sore yang indah dengan duduk di bangku sambil membaca buku. Ia ingin sekali membagi kebahagiaannya dengan wanita yang telah diangapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Bukannya ia tidak mau menceritakan pada Ji Hyo terlebih dahulu, tapi terkadang ibunya sendiri suka tidak menanggapi hal-hal yang dikatakan Shin Hye.

Begitu tiba disana, wajahnya semakin terlihat cerah karena ternyata Kyuhyun oppanya juga ada disana. Ia mendekati kedua orang itu pelan-pelan dari belakang. Namun langkahnya langsung terhenti ketika mendengar kedua orang itu tengah bicara dengan serius.

“Apa yang harus aku lakukan omoni? Aku mencintai Siwon hyung, sangat mencintainya. Tapi mengapa ketika aku bertemu lagi dengannya, ia harus menjadi milik orang lain?” Shin Hye mendengar Kyuhyun bicara.

Son Ye Jin mengelus rambut anak bungsunya itu seraya berkata. “Kyu, terkadang hidup memang tidak memberikan kita pilihan lain. Apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan.”

“Ye, omoni.. Aku tahu. Tapi belum pernah aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkan Siwon hyung. Sejak dulu aku selalu mengalah. Apapun yang Jonghyun dan Shin Hye dapatkan tidak pernah kudapatkan tapi aku selalu bisa mengerti. Tapi apakah aku harus merelakan kepergian Siwon hyung sekali lagi?”

“Kyu.. Kebahagiaan keluarga adalah diatas segalanya. Apa artinya kita bahagia jika keluarga kita menentang? Bagaimana mungkin kau bisa bahagia sementara keluargamu terluka? Kau adalah anak yang baik, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan lelaki terbaik yang bisa membuatmu bahagia, walaupun itu bukan Siwon. Percayalah.. Jadi dengarkan omoni, lepaskanlah Siwon, biarkan ia bersama adikmu.” Kata Ye Jin lagi pada anaknya.

Shin Hye melihat kedua orang di depannya itu berpelukan. Ia tahu pasti bahwa oppanya sangat terluka dengan perjodohan ini. Ia memang tahu kalau oppanya itu sangat mencintai cinta pertamanya. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau orang itu adalah Siwon. Dan yang membuat mereka tidak bisa bersatu adalah Shin Hye sendiri.

“Kau sudah dengar?”

Terdengar sebuah suara berbisik halus di belakang Shin Hye. Dengan gugup ia menoleh ke belakang dan mendapati ibu kandungnya menatapnya tajam. Detik berikutnya Ji Hyo sudah menyeret Shin Hye menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya barulah Ji Hyo melepaskan cengkramannya di lengan anaknya.

“Kau dengar semuanya kan? Ani.. Kau hanya mendengar sebagian. Kau tidak mendengar secara keseluruhan bahwa bagaimana kuatnya perasaan Kyuhyun pada Siwon. Kau tidak mendengar bahwa..”

“Aku memang tidak mendengar semuanya. Tapi aku tahu bahwa Kyuhyun oppa sangat mencintai Siwon oppa. Dan aku menolak perjodohan ini, omoni. Aku tidak mau menyakiti Kyuhyun oppa, dan.. diriku sendiri..” kata Shin Hye memotong kalimat ibunya.

“Mwo??? Menolak? Apa kau dalam posisi menawar saat ini? Tidak! Kau hanya ada dalam posisi menerima. Kau tidak boleh menolak apa yang sudah ditentukan untukmu. Ini takdirmu, terima itu!” balas Ji Hyo sengit.

“Tapi omoni.. Siwon oppa dan Kyuhyun oppa saling mencintai. Aku pun tidak mencintai Siwon oppa, aku hanya mencintai..”

“Siapa? Lelaki miskin itu? Lelaki yang hanya mengejar uangmu itu? Lelaki seperti itu yang kau inginkan? Demi Tuhan, Shin Hye! Buka matamu! Kau tinggal menerima Siwon, menikah dengannya dan menjalani segalanya. Kau tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi perasaan Kyuhyun. Dia pasti mau mengalah untukmu, seperti yang biasa dilakukannya.” Kata Ji Hyo lagi.

“Tapi mana mungkin membangun hubungan tanpa cinta? Mana mungkin aku dan Siwon oppa bisa bahagia jika kami melukai orang lain?” kata Shin Hye masih tetap pada pendiriannya.

“Cinta? Kau pikir aku dan aboji-mu menikah atas dasar cinta? Apakah ia mencintaiku? Tidak! Apakah ia pernah sekali saja memikirkanku? Tidak! Seluruh hati dan pikirannya hanya untuk Ye Jin. Bahkan aku telah memberikan dua anak padanya pun, ia masih saja tidak menggubrisku. Kau pikir bagaimana perasaanku? Tapi aku tetap bertahan karena aku memikirkan kalian! Kalian adalah cucu sah keluarga Cho. Kalian berhak mendapatkan semua yang dimiliki keluarga ini. Jangan membuat perjuanganku sia-sia..!”

“Omoni.. jebal.. Aku tidak bisa.. Aku..”

Ji Hyo kembali menyambar lengan anaknya. “Dengarkan aku! Aku hanya bicara sekali dan tidak akan kuulangi lagi. Putuskan hubunganmu dengan lelaki miskin itu dan terima perjodohan ini. Kalau kau tidak mau melakukannya, ibu tiri tersayangmu itu beserta kedua anaknya yang akan menerima akibatnya. Dan aku bersungguh-sungguh.”

Shin Hye tahu benar jika ibunya serius. Kalau ia berani menolak, kalau ia berani tidak mengindahkan kata-kata ibunya, maka ia akan menyebabkan kesengsaraan baru pada kedua kakak serta ibu tirinya. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi.

*

            Beberapa hari kemudian, Shin Hye mengajak Kyuhyun untuk bertemu kekasihnya, Jung Yonghwa. Mereka akan bertemu di salah satu kedai kopi yang cukup terkenal di daerah Myeongdong. Ketika Shin Hye dan Kyuhyun tiba disana, Yonghwa sudah menunggu dan tersenyum hangat melihat gadis yang dicintainya datang.

“Anneyong Kyuhyun-ssi.. Tidak kusangka kau juga akan datang kemari.” sapa Yonghwa pada Kyuhyun sembari membungkuk hormat.

“Ah.. Tadi aku sedang di luar. Shin Hye menelepon dan memintaku untuk menemaninya hari ini. Katanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Mianhae Mhia noona tidak bisa hadir hari ini, ia harus menemani omoni untuk menghadiri undangan acara makan siang. Sedangkan Jonghyun sangat sibuk akhir-akhir ini, kami saja jarang sekali bertemu di rumah ataupun di kantor.” Kata Kyuhyun menjelaskan.

Ia sendiri juga heran mengapa Jonghyun sangat sibuk. Ia sudah bertanya pada sekretaris Jonghyun dan gadis itu berkata bahwa Jonghyun memang menangani banyak sekali proyek baru dan ia tidak mengijinkan siapapun membantunya ataupun mengganggunya. Entahlah, tapi Kyuhyun merasa ada jarak antara dirinya dengan Jonghyun akhir-akhir ini.

“Aku merindukan saat-saat kita semua berkumpul bersama. Tapi tidak apa-apa, kehadiranmu hari ini sudah cukup.” Kata Yonghwa seraya mempersilahkan dua orang di depannya duduk.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Shin Hye ketika mereka bertiga sudah duduk.

“Ada apa?” tanya Yonghwa lembut seraya menggenggam jemari Shin Hye.

Namun alangkah terkejutnya Yonghwa ketika Shin Hye menarik tangannya dan melepaskannya dari genggaman Yonghwa.

“Aku ingin kalian berdua mendengarkan dengan baik apa yang akan aku katakan. Dan tolong, jangan suruh aku untuk berubah pikiran karena keputusanku sudah bulat.” Kata Shin Hye lagi. Ia terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya sangat gelisah.

“Ada apa? Kenapa kau serius sekali?” tanya Kyuhyun.

Shin Hye tampak diam sebentar lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kemudian ia mulai bicara. “Kyuhyun Oppa.. Yonghwa-ssi.. Mianhae.. Aku telah memutuskan bahwa aku.. aku akan menerima perjodohanku dengan Siwon oppa.”

Baik Yonghwa maupun Kyuhyun tampak terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka Shin Hye bisa memutuskan hal itu.

“Shin Hye-ah.. Jangan bercanda. Kau sendiri yang bilang saat itu bahwa kau tidak mau menerima perjodohan itu. Kau sendiri yang memintaku untuk membantumu agar keluar dari perjodohan itu. Mengapa tiba-tiba kau..”

Shin Hye memotong perkataan Kyuhyun. “Aku berubah pikiran, oppa.”

“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan hubungan kita? Kau bilang kau tidak mencintainya.. Kau memintaku untuk segera menikahimu. Maka aku berusaha mati-matian. Beberapa hari lalu ketika aku mengabarimu bahwa aku berhasil membangun toko roti itu, kau sangat bahagia. Bahkan kau memintaku untuk segera bersiap-siap karena kau akan mengenalkanku pada kedua orangtuamu. Mengapa sekarang kau..”

Lagi-lagi Shin Hye memotong perkataan, kali ini perkataan Yonghwa. “Sudah kukatakan bahwa aku berubah pikiran. Aku juga manusia yang bisa berubah pikiran. Setelah berkencan dengan Siwon oppa, aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Siapa yang tidak mau menjadi pendampingnya? Ia impian setiap orang. Ia tampan, cerdas, kaya dan dari keturunan bangsawan yang terhormat.”

Bibir Shin Hye bergetar ketika mengatakan semua itu. hatinya sakit sekali karena harus berbohong pada kekasihnya, oppanya, dan pada hatinya sendiri.

“Shin Hye-ya, jebal.. Katakan padaku bahwa kau hanya bercanda. Kau tidak serius kan? Jebal..” tanya Yonghwa masih dengan nada tidak percaya.

Shin Hye menjawab pertanyaan itu tanpa memandang langsung ke kekasihnya. “Aku serius. Aku akan sudah memutuskannya dan aku tidak akan membatalkannya.”

Selesai berkata demikian, Shin Hye langsung berdiri dan hendak pergi namun Yonghwa lebih cepat. Ia sudah menghalangi jalan Shin Hye dengan melebarkan kedua tangannya.

“Kau tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaanku. Katakan sejujurnya, apa kau benar-benar telah jatuh hati padanya?”

Shin Hye masih tetap menolak kontak mata dengan Yonghwa. “Ya, aku telah jatuh hati padanya. Dan aku tidak kuasa menolak pesonanya.”

“Tatap aku ketika kau bicara! Tatap aku!” bentak Yonghwa sedikit kesal.

Namun Shin Hye masih tetap menghindari tatapan mata Yonghwa. Kemudian Yonghwa meraih wajah Shin Hye dan membuat gadis itu menatapnya langsung ke dalam manik matanya.

“Kumohon, jujurlah padaku. Apa kau masih mencintaiku? Kumohon.. Jika kau memang masih mencintaiku, aku akan melupakan kata-katamu tadi dan aku berjanji akan berjuang untuk kita. Tapi jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Menatap mata itu, melihat sinar mata yang selalu membuatnya bahagia, membuat keteguhan hati Shin Hye mencair. Akhirnya ia menangis pelan. Pelan-pelan ia melepaskan kedua tangan Yonghwa di wajahnya.

“Yonghwa-ssi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu. Kita tidak bisa bersama. Terlalu banyak perbedaan diantara kita.Dan perbedaan-perbedaan itu semakin membuka mataku bahwa kau tidak pantas untukku. Aku lebih memilih Siwon oppa. Ia jauh lebih terpandang, terhormat, terpelajar dan yang penting, ia setara dengan kami. Kumohon, lepaskanlah aku. Karena sampai kapanpun kita berusaha, tidak akan pernah ada jalan keluar untuk kita.”

Sekali lagi Yonghwa memandang Shin Hye dengan tatapan tak percaya. Ia telah mengenal Shin Hye sejak lama. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Dan hubungan mereka sudah terjalin selama empat tahun. Namun, tidak sekalipun ia pernah melihat Shin Hye setegas ini.

Shin Hye adalah gadis rapuh yang selalu ragu dalam mengambil keputusan. Ia tidak pernah bisa memilih dengan baik atau menentukan sesuatu untuknya tanpa bertanya pada siapapun. Melihat Shin Hye begitu yakin saat ini, membuatnya berpikir apakah mungkin memang Shin Hye sudah tidak bisa lagi mempertahankan segalanya.

“Shin Hye-ya.. Apa benar sudah tidak ada lagi jalan untuk kita? Walaupun aku berusaha? Tidak bisakah kau memilihku? Aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu, aku akan memberikan segalanya yang kau inginkan.. Segalanya.. Tapi tolong, jangan menerima perjodohan itu.”

Air mata Shin Hye masih senantiasa mengalir. Sakit sekali melihat kekasihnya memohon seperti itu. Sulit sekali baginya untuk meninggalkan cinta yang telah terajut sekian lama. Namun ia tidak punya pilihan lain. Jika ia bersikeras mempertahankan Yonghwa, maka keluarga ibu tirinya akan mengalami siksaan. Ia tidak bisa melihat semua itu terjadi.

Walaupun hatinya terluka, walaupun ia harus menanggung rasa sakit itu seumur hidup, ia rela. Asal tidak ada lagi ketidakadilan untuk Son Ye Jin dan kedua anaknya. Ia tidak ingin lagi melihat kesedihan di wajah ibu tirinya itu.

“Shin Hye-ya.. Tolong jawab aku..” kata Yonghwa lagi.

Shin Hye menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya. Ketika ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia membuka serta kedua matanya.

“Kyuhyun oppa.. Tolong antarkan aku pulang.” Kata Shin Hye tegas.

Kyuhyun yang sejak tadi diam karena memikirkan keputusan Shin Hye, tersentak mendengar adiknya itu memanggilnya.

“Shin Hye-ya.. Selesaikanlah dulu urusanmu baru aku akan..”

“Aku tidak punya urusan lagi disini. Oppa, jebal.. Antarkan aku pulang..”

Kyuhyun menuruti kemauan adiknya itu. Membantunya lolos dari pertanyaan-pertanyaan Yonghwa dan memohon pada Yonghwa untuk membiarkan Shin Hye sendiri dulu. Ia diam membisu setelah masuk ke dalam mobil. Pikirannya dipenuhi oleh kenyataan-kenyataan bahwa adiknya akan bertunangan dengan cinta pertamanya. Bahwa sebentar lagi mungkin mereka akan lebih sering bertemu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Bahwa sebentar lagi ia harus menerima Siwon sebagai iparnya sendiri.

Dan sekali lagi ia harus merelakan cintanya pergi. Sekali lagi ia harus terluka karena kenyataan yang terlalu kejam yang tiada henti menghantamnya. Dengan pikiran kacau seperti itu, ia bahkan tidak mendengar tangis putus asa Shin Hye selama dalam perjalanan pulang.

*

            Pertemuan kedua antara keluarga Cho dengan Choi berikutnya berlangsung tertutup. Hanya anggota keluarga saja yang hadir. Para orang tua mendiskusikan bagaimana acara pertunangan Siwon dan Shin Hye akan dilangsungkan, sementara anak-anak mereka hanya duduk diam di sana. Menunjukkan sikap hormat dengan bersikap tenang.

Sedaritadi Siwon tak berhenti melirik ke arah Kyuhyun. Setiap melihat raut wajah murung itu, perasaan bersalah selalu menghampirinya. Ia tahu bahwa ia dan Kyuhyun masih saling mencintai, namun tidak mungkin bagi mereka bersatu jika keinginan orang tua mereka jauh lebih keras daripada keinginan mereka sendiri.

Siwon sendiri tidak mungkin mundur dari perjodohan itu, satu-satunya harapan adalah jika Shin Hye menolak. Mungkin Siwon bisa meminta orang tuanya menjodohkan dengan anak Cho yang lain, dalam hal ini Kyuhyun. Tapi harapannya hancur ketika seminggu lalu dirinya dan Shin Hye ‘berkencan’ atas perintah orang tua mereka, dan Shin Hye menyatakan kesediaannya untuk menerima pertunangan mereka. Maka ia tak punya pilihan lain lagi. Mungkin ia dan Kyuhyun memang tidak berjodoh.

“Baiklah, terima kasih telah berkunjung hari ini.” Terdengar Mr. Cho berkata pada Siwon dan kedua orang tuanya. Kemudian ia dan Mrs. Cho beserta In Sung dan kedua istrinya mengantar keluarga Choi ke halaman depan.

Saat itu juga Jonghyun mendekati adiknya dan menarik lengannya keluar ruangan. “Shin Hye-ya, katakan padaku yang sebenarnya. Mengapa kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini.”

Shin Hye terdiam. Ia tidak berani bicara. Sejak ia memutuskan mengikuti kehendak ibunya, ia memang menghindari semua kontak dengan ketiga kakaknya. Ia takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus menjawab yang sebenarnya.

“Jawab aku!” kata Jonghyun dalam nada tegas.

Shin Hye masih terdiam dan menunduk. Ia tahu benar bagaimana sikap oppanya yang satu ini jika sudah marah. Jonghyun bisa meledak, tidak seperti Kyuhyun yang lebih bisa menahan diri.

“Cho.. Shin.. Hye..!” kata Jonghyun lagi kali ini memberikan tekanan dalam setiap kata-katanya.

“Aku menyukainya, oppa.” Jawab Shin Hye pendek. Ia masih terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.

“Benarkah?” tanya Jonghyun tidak percaya. “Jika benar kau jujur pada perasaanmu sendiri, setidaknya kau bisa menatapku saat bicara. Jangan membuatku berpikir bahwa kau melakukan semua ini karena tekanan dari omoni.”

Shin Hye takut sekali. Orang yang paling ditakutinya di dunia ini bukan ayahnya atau ibunya melainkan Jonghyun. Kakaknya yang penyayang itu bisa menjadi sangat ganas bila sedang marah. Namun jika ia tidak menyangkal kecurigaan Jonghyun, bisa jadi ancaman ibunya akan menjadi kenyataan.

Pelan-pelan Shin Hye mengangkat wajahnya dan menatap Jonghyun. Dengan bibir bergetar, ia bicara. “Aku menyukai Siwon oppa. Omoni tidak pernah menyuruhku menerima pertunangan ini. Akulah yang berpikir meninggalkan Yonghwa-ssi karena kupikir tidak ada jalan lagi untuk kami berdua.”

“Kalau memang benar yang kau katakan, mengapa kau tidak membicarakannya dulu denganku? Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu bahwa aku akan mengirim kau pergi jauh bersama Yonghwa jika omoni tetap tidak setuju? Jangan menipuku, aku tidak bodoh!” kata Jonghyun kesal.

“Jonghyun-ah.. Jangan bersikap seperti itu pada Shin Hye.”

Jonghyun dan Shin Hye menoleh. Mhia ada diantara mereka. Melihat itu, Shin Hye langsung berlindung di belakang tubuh kakak tirinya itu dan menyembunyikan wajahnya.

Jonghyun menarik nafas kesal. “Noona, tolong aku. Tolong nasehati dia untuk tidak mengikuti permainan gila ini. Jangan korbankan hatinya sendiri. Bukan hanya dia yang terluka, tapi juga Yonghwa, Siwon dan Kyuhyun hyung.”

“Tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Jadi kau tidak perlu khawatir. Jika memang Shin Hye menyukai Siwon hyung, biarkanlah mereka bersatu. Tugas kita sekarang adalah memberi pengertian pada Yonghwa-ssi.”

Jonghyun berbalik dan mendapati Kyuhyun juga telah hadir diantara mereka. Jonghyun menatap kakaknya yang hanya terpaut beberapa jam lebih tua darinya itu. Sejujurnya ia tidak mengerti, dulu Kyuhyun seakan hendak gila karena Siwon meninggalkannya. Dari rasa kehilangan itu muncul kerinduan yang bercampur kebencian. Tapi ia tidak pernah menyangka Kyuhyun akan merelakan Siwon dengan mudah seperti ini.

“Hyungnim..”

“Jonghyun-ah, ada saat dimana kita harus berjuang dan ada saat dimana kita harus berhenti berharap. Inilah saatnya aku berhenti. Mungkin jalannya memang seperti ini. Setidaknya aku bahagia karena Siwon hyung mendapatkan seseorang yang baik.”

Setelah berkata demikian, Kyuhyun segera meninggalkan saudara-saudaranya itu lalu menyelinap naik ke kamarnya. Son Ye Jin yang ternyata juga sudah berada disana menangis perlahan. Sekali lagi, anaknya harus mengalah demi kebahagiaan saudaranya.

*

            Hari yang telah ditentukan tiba juga. Hari pertama di minggu kedua bulan april itu, pertunangan Siwon dengan Shin Hye dilaksanakan. Di tengah indahnya musim semi, dimana-mana bunga mulai bermekaran, burung-burung berkicau riang, dan matahari bersinar cerah menghangatkan setiap makhluk hidup di muka bumi, Kyuhyun menahan sesak di dadanya. Membiarkan cinta pertamanya pergi begitu saja.

Ia tahu, terkadang hidup itu tidak adil. Ada keadaan dimana dua orang di takdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama. Kadang Kyuhyun berpikir mengapa ia dulu bisa jatuh cinta pada Siwon. Padahal saat itu bukan hanya Siwon yang mengejarnya. Namun jika hati sudah memilih, sulit bagi kita untuk menolaknya.

Dan disaat ia yakin akan pilihannya, ia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan sulit. Pertama Yoona muncul dan membeberkan kisah semalamnya dengan Siwon. Walaupun hal tersebut dilakukan dalam keadaan mabuk, siapapun tidak mau menerima kekasihnya tidur dengan orang lain.

Lalu saat ia berusaha memaafkan Siwon, muncul Kibum. Kembali ia dipisahkan dari Siwon. Hingga akhirnya Siwon benar-benar harus pergi dari Seoul. Kyuhyun memang mendengar bahwa Siwon melanjtkan kuliahnya di luar negeri, tapi ia tidak tahu dan tidak mau tahu dimana. Karena saat itu ia pikir Siwon pergi bersama Kibum.

Kini, setelah Siwon kembali sebagai lelaki bebas, kembali Kyuhyun harus merelakan Siwon pergi. Karena adiknya sendiri yang memintanya. Tidak, bukan cuma adiknya tapi juga keluarganya. Bagaimana mungkin ia merasakan bahagia jika Shin Hye nantinya akan terluka. Walaupun ia sedikit sangsi dengan keputusan adiknya itu, tapi ia tetap berusaha menghormatinya.

Kyuhyun hanya masih belum bisa mengerti mengapa Shin Hye dengan mudah putus asa padahal ia dan Yonghwa sudah berjuang selama empat tahun bersama. Selama ini mereka berdua selalu baik-baik saja. Yonghwa memang bukan dari kalangan bangsawan, tapi ia adalah lelaki jujur dan bertanggung jawab.

Yonghwa juga adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Ia mengumpulkan uangnya demi mewujudkan mimpi Shin Hye untuk memiliki sebuah bakery. Shin Hye suka membuat kue dan roti, maka ia ingin sekali memiliki toko roti bersama Yonghwa. Dan ketikaYonghwa berhasil membeli sebuah bangunan kosong dan mengisinya kembali dengan apa yang menjadi tujuannya semula, Shin Hye malah meninggalkannya.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia memandangi alam di sekitarnya. Hutan pinus kecil inilah tempatnya selalu melarikan diri. Tempatnya menjernihkan pikiran, tempatnya merasakan kebebasan dalam lingkungan keluarganya sendiri.

“Kyu..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Siwon berdiri disana, di tengah jalan setapak. Lelaki itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas putihnya. Apalagi ia berdiri diantara hijaunya dedaunan hutan pinus itu. Choi Siwon tampak seperti seorang pangeran.

Kyuhyun sempat terpana. Namun seketika ia tersadar bahwa Siwon sebentar lagi akan resmi menjadi iparnya sendiri. Mana mungkin ia berani membayangkan Siwon akan menjadi miliknya seperti dulu?

“Hyung.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencarimu sejak tadi. Ketika kutanyakan pada Jonghyun, ia  bilang aku ada disini.” Jawab Siwon.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin meminta maaf.”

Kyuhyun menoleh, ia menatap Siwon sambil tersenyum jengah. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, hyung. Anggap saja memang kita tidak berjodoh. Lagipula, aku turut bahagia bisa melihatmu bersama Shin Hye. Tolong jaga dia baik-baik, hyung.”

Siwon terdiam. Ia menunduk sebentar lalu menatap Kyuhyun dalam-dalam. Tangannya bergerak membelai wajah Kyuhyun, membelai wajah yang selama ini dirindukannya. Kyuhyun memejamkan matanya merasakan sensasi itu. Sensai hangat yang menghinggapinya ketika tangan Siwon menyentuh kulitnya.

“Kyu.. Ijinkan aku memelukmu. Ijinkan aku melakukannya, sekali saja. Karena setelah ini, tidak ada lagi kesempatan untuk kita berdua.” Kata Siwon pelan.

Kyuhyun membuka matanya perlahan lalu menunduk, ia tidak berani menatap Siwon. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Siwon memeluk tubuh itu. Mendekapnya dalam-dalam, merasakan aroma yang dirindukannya, mengalirkan kasih sayang yang tak mungkin bisa ia berikan lagi setelah ini.

Kyuhyun membalas pelukan itu. Untuk sekali ini saja ia ingin memeluk Siwon sebagai lelaki yang pernah singgah di hatinya. Selanjutnya ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menatap Siwon sebagai anggota keluarganya. Walaupun itu menyakitkan, namun ia akan berusaha sekuatnya untuk kembali menata hatinya.

“Saranghae Kyu.. Jeongmal saranghae..” bisik Siwon pelan.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam dalam pelukan Siwon. Ketika Siwon meregangkan pelukannya lalu mengangkat dagu Kyuhyun menggunakan jemarinya, kedua mata mereka saling beradu. Tatapan mata penuh kerinduan pun mengalir diantara mereka. Tatapan yang juga diisi oleh kesedihan dan luka mendalam.

Pelan-pelan Siwon mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun lalu mengecup lembut. Kyuhyun membalas ciuman itu. Ciuman dalam yang biasanya memabukkan kini terasa menyakitkan. Namun Kyuhyun tahu, ini adalah yang terakhir. Kisah cinta mereka akan selesai sampai disini.

*

wonkyu sad

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 2

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary     : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 2

Lelaki itu tampan. Sangat tampan. Dengan tubuh tinggi tegap dan berotot, ia terkesan seperti lelaki penjaga yang tangguh. Namun dengan sinar dari mata onyx nya serta sepasang dimple yang menghiasi pipinya ketika ia tersenyum membuat ia tampak seperti lelaki paling manis yang penuh kasih sayang.

Lihatlah caranya berjalan, bicara hingga memperlakukan setiap orang di tempat itu. Semua menganggapnya malaikat. Lelaki itu, Choi Siwon.

Choi Siwon tengah berbicara di halaman belakang keluarga Cho yang sangat luas. Dimana pesta penyambutan untuk keluarganya dilakukan. Ia tampak tenang menjawab setiap pertanyaan yang dialamatkan padanya dari Mrs. Cho dan Song Ji Hyo. Ibunya menggandengnya dan dengan penuh semangat ikut membanggakan putra semata wayangnya itu.

Beberapa keluarga bangsawan lain juga diundang. Jadilah pesta para kaum kapitalis berlangsung disana. Halaman belakang rumah keluarga Cho disulap seperti pesta kebun paling mewah yang pernah ada.

Cho In Sung berdiri bersama ayahnya dan beberapa pimpinan keluarga bangsawan lain. Sedangkan Son Ye Jin berdiri anggun bersama Mhia, tak jauh dari tempat suaminya. Ia baru saja selesai menyapa semua tamu yang hadir dan kini memilih untuk berdiri diam dan mengawasi segalanya. Karena itulah tugasnya, mengawasi jalannya pesta ketika yang lain asik berkumpul dan bersenda gurau dengan para keluarga bangsawan lainnya.

Tapi ia tidak mengeluh, semasa ia masih diijinkan mendampingi lelaki yang dicintainya dan anak-anaknya masih tetap mendapat tempat di keluarga itu, ia rela melakukan segalanya.

“Mhia-ya, dimana adikmu?” tanya Ye Jin pada putri sulungnya. Hari itu Ye Jin mengenakan pakaian dari sutera halus dengan bordiran indah. Walaupun make up-nya minimalis, tapi ia tampak jauh lebih bercahaya dibandingkan dengan Song Ji Hyo yang khusus mendatangkan para designer dan tata rias professional untuk merubahnya menjadi lebih menawan.

Mhia menggeleng. “Aku tidak tahu, omoni. Tapi aku tahu pasti kalau ia melarikan diri saat ini. Mungkin ia ada di kamarnya, mungkin juga ia ada di hutan pinus, entahlah..”

Son Ye Jin tersenyum cemas. “Jika ia bersembunyi, sebaiknya ia tidak membawa Jonghyun bersamanya. Sebentar lagi mereka akan sadar bahwa Jonghyun tidak ada. Ah.. Shin Hye..”

Mhia mengikuti arah pandang ibunya dan mendapati Shin Hye sedang diperkenalkan oleh neneknya kepada Choi Siwon. Senyum sopan memang terukir di wajah cantik gadis itu, tapi Mhia tahu Shin Hye tidak akan mengartikannya terlalu jauh. Sementara itu Ji Hyo terlihat sedikit cemas. Ia berkali-kali memandang ke segala arah. Tak jarang ia mengecek ponselnya secara sembunyi-sembunyi.

Tak lama kemudian Ji Hyo terlihat meninggalkan kelompoknya dan berjalan mendatangi Ye Jin dan Mhia.

“Dimana Kyuhyun dan Jonghyun? Kenapa mereka meninggalkan pesta seperti ini? Katakan pada anakmu jangan memberi contoh yang buruk pada anakku.” Kata Ji Hyo dalam bisikan rendah. Ia terlihat seperti sedang berbincang seperti biasa, kemarahannya ditekan kuat-kuat agak tak muncul ke permukaan.

“Aku ada disini. Jadi berhentilah menyalahkan orang lain kalau omoni tidak bisa menemukanku.” Kata Jonghyun tepat di belakang mereka. Ia dan Kyuhyun muncul dari arah rumah. Keduanya tampak sangat tampan dengan setelan kemeja berwarna lembut. Sangat cocok dengan suasana pesta yang sedang berlangsung.

“Darimana saja kau?” tanya Ji Hyo tanpa memperdulikan kata-kata putranya sebelumnya.

“Aku masih di dalam rumah. Jasku terkena air ketika aku ke kamar kecil. Oleh karena itu aku meminta salah seorang pelayan untuk menyetrikakan untukku. Omoni bisa bertanya padanya, namanya..”

“Tidak perlu. Dan kau, apa yang kau lakukan di dalam? Apa kau tidak tahu kalau kita ada pesta hari ini? Betapa memalukannya sebagai tuan rumah tapi kita tidak..”

“Omoni!” kata Jonghyun keras. Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka. Jonghyun langsung maju memeluk ibunya. “Omoni cantik sekali hari ini. Benar-benar luar biasa..”

Para tamu yang melihat kejadian itu hanya tersenyum. Sangat wajar jika anak lelaki mengagumi kecantikan ibunya bukan? Namun sembari memeluk ibunya, Jonghyun berbisik. “Kumohon, berhentilah menyudutkan mereka atau aku akan membuat keributan. Omoni tahu kalau aku tidak main-main.”

Sebenarnya Jonghyun memang berniat melarikan diri bersama Kyuhyun. Lebih tepatnya ia ingin menemani Kyuhyun melarikan diri. Karena ia tahu Choi Siwon yang dimaksud oleh kakeknya kemarin adalah Choi Siwon yang dihindari oleh Kyuhyun selama ini. Ia dan Mhia tahu benar akan hal ini karena merekalah tempat Kyuhyun biasa bercerita. Mhia bahkan sudah pernah melihat Siwon sebelumnya.

Maka ketika mendengar nama Choi Siwon disebutkan, baik Kyuhyun, dirinya dan Mhia langsung bereaksi karenanya. Mereka tidak menyangka seorang Choi Siwon akan kembali lagi dan masuk dalam keluarga mereka.

Setelah Jonghyun melepaskan pelukannya. Ji Hyo tampak bisa menguasai dirinya kembali walau ia sendiri masih sangat kesal dengan keberanian anak lelakinya.

“Baiklah, kalian semua ada disini sekarang. Ayo kita temuai keluarga Choi. Kasihan Shin Hye disana sendirian.” Kini In Sung sudah berada diantara mereka.

Ji Hyo langsung melingkarkan tangannya di lengan kanan suaminya. Namun In Sung tampak acuh. Ia memandang Ye Jin dengan lembut seraya menyodorkan lengan kirinya. Ye Jin mengerti, ia lalu menggandeng lengan itu dan ikut berjalan bersama In Sung dan Ji Hyo. Di belakang mereka, ketiga anak mereka ikut berjalan.

“Siwon-ssi.. Kenalkan ini istri pertamaku Ye Jin. Tadi ia sudah menyapa kedua orang tuamu. Maafkan karena ia baru sempat menyapamu sekarang.” Kata In Sung pada Siwon.

Siwon membungkuk hormat pada Ye Jin seraya mengucapkan ‘Anneyong Hasimnikka’. Lalu In Sung berbicara lagi. “Ini anak-anakku yang lain. Mhia, Jonghyun dan Kyuhyun.”

Ketika mata Kyuhyun bertemu mata Siwon, tubuhnya menegang. Apakah ayahnya tahu ada apa antara dirinya dan Siwon sebelumnya? Kyuhyun tidak berani menerka-nerka. Ia terlalu takut dengan kenyataannya.

Anak-anak keluarga Cho membungkuk hormat kepada Siwon, begitu juga dengan sebaliknya. Suasana canggung sangat terasa diantara mereka. Untung saja, kedua orang tua Siwon beserta Mr dan Mrs. Cho datang menyelamatkan mereka.

“Rupanya kalian semua sudah bertemu. Baiklah, mungkin aku akan mengumumkan hal penting kepada kalian yang tadi telah kami sepakati.” Kata Mr. Cho.

Perasaan Kyuhyun langsung tidak enak. Jika kakeknya sudah bicara, maka sesuatu yang buruk akan terjadi. Tapi ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Ia hanya berharap perasaannya salah.

“Kami sepakat akan menjodohkan Siwon dengan Shin Hye.” Kata Mr. Choi lagi.

*

            “Aboji.. Kenapa tidak membicarakan hal ini dulu dengan kami?” Cho In Sung meraung keras ketika pesta usai.

“Tanpa kubicarakan lagi, aku tahu kau pasti setuju. Bagaimana denganmu, Ji Hyo?” jawab ayahnya.

Song Ji Hyo langsung menganggung tanda setuju. Wajahnya tampak benar-benar puas. Pelukan Shin Hye di lengan Kyuhyun berubah menjadi cengkraman kuat. Anak-anak Cho sendiri terlihat shock dengan hal itu.

“MWO? KAU SETUJU?” raung In Sung lagi. Ia menatap istri keduanya itu dengan marah.

“Cho In Sung! Kendalikan dirimu!” bentak Mrs. Cho pada anaknya.

“Tidak cukupkah aku sebagai tumbalnya? Tidak cukupkah aku yang kalian jadikan korban karena keserakahan kalian? Karena ego kalian? Lihat..! Kalian sudah pernah mengorbankan kebahagiaan anak kalian satu-satunya. Sekarang kalian juga akan mengorbankan cucu kalian?” kata In Sung marah. Wajahnya merah padam. Matanya berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya.

“Apa kau bilang? Tumbal? Kami melakukan ini demi kau! Demi kehormatan keluarga kita juga! Kau kira kalian akan bahagia jika semua orang meremehkanmu? Kau pikir kau akan bahagia jika semua orang menentangmu?” kata Mrs. Cho tajam.

“Aku lebih baik diremehkan. Lebih baik aku ditentang, daripada aku harus hidup menanggung sakit yang tak berkesudahan. Kalian menganggap ini untuk kebaikanku padahal justru untuk menyelamatkan muka kalian. Kalian tidak merasakan betapa sakitnya aku dan Ye Jin menerima keputusan kalian?” kata In Sung lagi.

“Kalian menikahkanku dengan wanita yang tidak aku cintai sama sekali. Membuat istriku menderita. Kalian menyuruhku untuk lebih memperhatikan Ji Hyo padahal Ye Jin sendiri tersiksa. Dan kini kalian mau melakukannya pada cucu kalian sendiri?”

Cho In Sung menangis keras. Ia berlutut di depan meja seraya menumpahkan kekesalan hatinya. Kembali Ye Jin menghampirinya, meraihnya dalam pelukan hangatnya. Membuat In Sung sedikit lebih tenang.

“Apapun yang kau katakan aku tidak peduli. Perjodohan akan tetap dilaksanakan. Aku akan mengurus pertunangan mereka sendiri. Dan untuk memastikan segalanya baik-baik saja, aku dan ibumu akan kembali kemari untuk sementara waktu.” Kata Mr. Cho lalu keluar dari  ruangan itu bersama istrinya.

“Oppa.. Tolong aku.. Aku tidak mau bertunangan dengan Siwon-ssi.” Kata Shin Hye yang kini terisak dalam pelukan Kyuhyun.

“Shin Hye-ya.. Dengarkan aku. Aku dan Jonghyun akan melakukan apa saja, apa saja agar perjodohan ini tidak terjadi. Tenanglah..” kata Kyuhyun berusaha menenangkan adiknya itu.

“Shin Hye-ya.. Oppa ada disini. Jangan khawatir. Oppa akan bicara dengan haraboji, supaya tidak ada perjodohan tolol antara kau dan Siwon. Uljima..” kini Jonghyun sudah ada disana bersama mereka. Ia ikut membelai rambut adiknya.

Mhia juga ikut mendekati Kyuhyun dan Shin Hye. “Shin Hye-ya, berhentilah menangis. Kuatkan dirimu. Apapun yang terjadi, kami akan selalu ada disini membantumu. Kita semua adalah saudara, tidak mungkin kami membiarkan saudara bungsu kami bersedih.”

Cho Shin Hye melepaskan pelukannya. Ia menatap ketiga saudaranya seraya tersenyum ikhlas. Ia tahu, seberat apapun itu, ia pasti bisa melaluinya karena ia mempunyai tiga orang hebat yang senantiasa akan selalu bersamanya.

*

            Kyuhyun dan Siwon bertemu siang itu di salah satu café yang cukup terkenal di daerah Itaewon. Keduanya tidak boleh kelihatan bersama di Seoul, hanya akan menambah masalah. Siwon yang memaksa Kyuhyun untuk bertemu karena setelah pertunangannya dengan Shin Hye dilaksanakan, mereka akan lebih sering bertemu dan tidak baik jika mereka tetap bersikap kaku seperti sekarang.

“Kyu.. Mianhae..” kata Siwon membuka percakapan.

“Untuk apa?” tanya Kyuhyun cepat.

“Untuk semua yang kulakukan padamu. Aku tau aku bersalah tapi..”

“Kau mengajakku bertemu hanya untuk meracau?”

“Baby..”

“Jangan panggil aku baby dengan mulut kotormu itu!” bentak Kyuhyun dengan galak.

“Kyu.. Kita tidak bisa seperti ini terus menerus. Kau tahu pasti bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu melebihi siapapun. Tapi aku.. aku..”

Kyuhyun tersenyum dingin. “Hentikan omong kosongmu. Aku tidak mau mendengar apa-apa lagi darimu.”

Kyuhyun bangkit berdiri namun Siwon segera menahannya. “Kyu.. Jebal.. dengarkan aku dulu. Kumohon..”

Kyuhyun menurut. Ia terlihat enggan tapi ia tidak sanggup menolak Siwon. Hatinya masih sangat mencintai Siwon. Ya, masih teramat mencintai mantan kekasihnya itu.

Beberapa tahun silam saat mereka masih duduk di bangku kuliah, keduanya pernah menjalin hubungan. Namun ketika hubungan mereka sedang mesra-mesranya, datang prahara lain.

Siang itu, seorang gadis cantik bernama Im Yoona muncul dan menangis histeris. Ia mengatakan bahwa Siwon telah menidurinya dan menolak bertemu lagi setelahnya. Kyuhyun sama sekali tidak percaya karena ia yakin Siwon tidak akan pernah menghianatinya.

Namun setelah Yoona memperlihatkan isi sms Siwon di ponselnya yang mengatakan bahwa Siwon tidak akan menemuinya lagi karena semuanya adalah kesalahpahaman, tidak lebih.

Kyuhyun amat marah saat itu. Namun Siwon membujuknya. Ia berdalih bisa saja Yoona menjebaknya dengan menggunakan nomor Siwon. Ia bahkan mengusir Yoona dengan kasar setelah melemparkan selembar cek dengan angka yang terbilang besar demi membuat Yoona pergi.

Dan hal itu bukan membuat Kyuhyun sadar betapa Siwon hanya mencintainya, namun semakin jijik pada kekasihnya itu.

“Setelah kau berselingkuh di belakangku, kau menidurinya lalu mencampakkannya begitu saja? Kau manusia paling jahat yang pernah aku temui!” kata Kyuhyun saat itu. berhari-hari ia menangis dan menangis.

Bagaimana tidak, Siwon adalah cinta pertamanya. Ia tidak mudah melupakan Siwon yang telah mengenalkan cinta padanya. Merasakan manisnya cinta sekaligus pahitnya cinta itu sendiri. Sudah cukup Siwon mengkhianatinya, ditambah lagi ia memperlakukan orang lain dengan sedemikian kasarnya. Bukan tidak mungkin suatu saat ia memperlakukan Kyuhyun seperti itu kan?

Awalnya Kyuhyun marah. Berhari-hari ia menghindari Siwon. Walaupun ia sangat mencintai kekasihnya itu, namun ia tidak mau Siwon bersikap seperti itu. Namun lama kelamaan kerinduannya mengalahkan segalanya. Ia merindukan Siwonnienya. Maka ia bertekad untuk memaafkan Siwon dan mengakhiri perang dingin mereka selama lebih dari dua minggu itu.

Namun yang dilihat keesokan harinya justru membuatnya semakin patah hati. Siwon dengan mesranya memeluk pinggang Kibum dan berciuman dengan anak pemilik yayasan kampus mereka itu di bawah pohon rindang, di samping lapangan basket. Tempat favorit mereka berdua. Dan Siwon ada disana dengan orang lain.

“Kyu..” Siwon menyadarkan Kyuhyun akan lamunan panjangnya. “Percayalah padaku. Berapa kalipun aku mengkhianatimu, aku hanya mencintaimu. Hanya kau yang ada di hatiku, bahkan hingga saat ini. Aku akui aku memang tidur dengan Yoona. Tapi aku mabuk saat itu. Ia memang gencar mendekatiku sebelumnya. Namun aku tidak terlalu menggubrisnya karena aku yakin ia hanya mendekatiku karena aku punya uang. Malam itu, ketika aku dan teman-temanku berpesta di sebuah klub malam, dia ada disana. Entah mengapa ketika aku mabuk, aku bisa melakukan perbuatan kotor itu dengannya. Maafkan aku.”

Siwon terdiam sebentar lalu melanjutkan. “Aku tahu aku bersalah, maka aku membiarkanmu sendiri dulu. Kau perlu menenangkan dirimu. Namun di saat itu, pemilik yayasan datang ke rumahku dan memohon padaku untuk memacari anaknya, Kibum. Karena Kibum ternyata sakit keras dan tak bisa disembuhkan lagi. Ia hanya mau mengisi hari-hari terakhirnya bersamaku. Ternyata Kibum mencintaiku.”

Kyuhyun terperanjat mendengar kata-kata Siwon. Tidak pernah disangkanya bahwa Siwon melakukan hal itu hanya untuk menolong Kibum. Terselip rasa bersalah di hati Kyuhyun karena setelah itu ia memutuskan kontak dengan Siwon dan benar-benar menghilang dari kehidupan Siwon.

“Maafkan aku karena aku  sama sekali tidak pernah berusaha mencarimu, bahkan hanya untuk sekedar meminta maaf. Aku tidak takut kau usir atau kau caci maki, tapi aku tidak bisa melakukannya. Kibum berlutut di depanku, meminta belas kasihan. Memintaku untuk berhenti menemuimu, karena hal itu hanya membuatnya semakin sakit.” Kata Siwon lagi.

Kyuhyun menatap Siwon lekat-lekat. Lelaki di depannya bercerita dengan penuh penyesalan. Bahkan matanya berkaca-kaca ketika menceritakan segalanya.

“Dan dia.. Dia meninggal setahun kemudian Kyu.. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana ia tersenyum terakhir kali ketika ia akan pergi. Ia bahkan memintaku menyampaikan permintaan maafnya padamu. Kumohon.. Maafkanlah kami. Lupakanlah amarahmu pada Kibum, biarkan ia beristirahat dengan tenang.” Siwon sudah benar-benar menangis sekarang.

Kyuhyun merasakan sebuah beban berat terlepas dari dadanya. Selama bertahun-tahun ia menanti jawaban atas segala pertanyaannya mengenai Siwon, namun ia tetap tidak mendapatkannya hingga hari ini.

“Aku.. sudah memaafkan kalian.. Walaupun aku sakit, tapi aku tahu tak ada gunanya memikirkan kalian. Hanya membuatku bertambah sakit. Aku sudah lama memaafkan kalian, hanya saja aku tidak mampu mengatakannya. Dan aku yakin, Kibum tahu kalau aku sudah memaafkannya.. Satu pertanyaanku.. Apa kau.. Selama kau bersamanya.. Apa kau.. telah jatuh hati padanya?” kata Kyuhyun yang akhirnya buka suara.

Siwon menghapus airmatanya perlahan lalu menjawab lirih. “Awalnya aku hanya kasihan padanya. Namun lama kelamaan rasa itu muncul. Semakin hari aku semakin mencintainya. Namun ketahuilah Kyu, seberapa besarnya aku mencintainya, posisimu dihatiku takkan tergantikan. Aku terlalu mencintaimu. Walaupun aku ditakdirkan berpacaran dengan sepuluh orang lagi, tetap saja rasa cintaku yang sesungguhnya hanya untukmu.”

Kyuhyun tersenyum pahit namun tetap diam. Ia tak menyangka Siwon akan jatuh cinta pada orang lain ketika ia sendiri mengubur semua rasa cintanya karena ia tidak bisa merasakan cinta lagi sejak Siwon pergi.

Dan Siwon tersenyum lelah karenanya. “Maafkan atas kesalahanku padamu. Maafkan atas segalanya. Setelah kematiannya pun aku harus langsung melanjutkan pendidikanku di Kanada. Maka aku pergi tanpa berpamitan. Karena dugaanku tepat, kau pasti marah dan tidak mau lagi bertemu denganku. Dan lagi saat itu aku diburu waktu.”

“Jujur, waktu aku tahu bahwa keluargaku akan menghadiri pesta keluargamu, aku sangat terkejut. Perasaanku campur aduk. Aku tidak tahu bagaimana harus bersikap ketika menghadapimu. Begitu melihatmu lagi, harapanku untuk memilikimu lagi muncul. Namun harapanku yang tinggi itu langsung terhempas begitu mendengar bahwa aku akan dijodohkan dengan Shin Hye.”

“Aku lelah Kyu.. Aku lelah sekali.. Kenapa kenyataan seperti ini harus menimpaku? Tidak bisakah dunia membiarkanku bersamamu?”

Siwon terlihat putus asa. Dan saat itu Kyuhyun mencoba bicara. “Shin Hye tidak mau dijodohkan denganmu. Ia sudah memiliki kekasih. Dan kami semua- maksudku aku, Jonghyun dan Mhia nuna berjanji akan membantunya keluar dari masalah ini.”

Siwon menggeleng putus asa. “Tidak bisa Kyu.. Aku harus menikahi Shin Hye. Orang tuaku akan murka jika aku menolaknya. Satu-satunya alasan mengapa keluargamu tetap bersikeras menjodohkan kami adalah karena kakek kita pernah bersahabat dan kakekmu punya hutang budi pada kakekku. Inilah caraku membalas kedua orang tuaku. Aku tidak mungkin menolaknya.”

“Tapi.. bukan berarti Shin Hye yang akan membayarnya..” jawab Kyuhyun enggan. Ia memang mengatakan hal sederhana seperti itu, namun ia berharap Siwon menangkapnya dengan baik karena mereka masih saling mencintai. Tapi Kyuhyun tidak mau mengatakannya secara gambling karena ia masih ragu apakah jalan mereka akan mulus setelah keluarganya ikut campur tangan di rencana masa depan para anggota keluarga Cho lainnya.

Siwon kembali menggeleng. “Mereka hanya mau aku menikahi anak dari keluarga terpilih, dan keluarga Song-keluarga ibu tirimu lah yang terpilih. Mianhae Kyu.. Mianhae..”

Kyuhyun terdiam. Cintanya.. Cinta sejatinya.. Mengapa sulit sekali untuknya merasakan bahagia itu? Ia tahu, seberapa keras usahanya, ia akan tetap menjadi anak Son Ye Jin. Ingin sekali ia bertukar tempat dengan Jong Hyun, agar ia bisa menjadi anak Song Ji Hyo. Karena hanya itulah kesempatannya untuk memiliki cinta pertamanya itu.

*

            Jonghyun merapikan penampilannya di depan kaca. Ketika ia merasa penampilannya sudah cukup, ia keluar dari toilet dan bergegas menuju ruangan ayahnya. Ia bermaksud membawakan map berwarna biru ditangannya pada ayahnya. Map itu berisi perincian dana yang akan dikeluarkan untuk pembangunan resort keempat keluarga Cho yang akan dilakukan pembangunannya beberapa bulan lagi.

Sebenarnya Jonghyun bisa membawa perincian dana tersebut kapan saja, tidak harus hari ini. Namun tekadnya untuk membantu Shin Hye keluar dari perjodohan itu membuatnya nekat meminta bantuan ayahnya walaupun ia tahu hasilnya tidak ada. Ayahnya pasti terlalu takut menentang keputusan kakek dan neneknya. Namun semua usaha harus dicoba bukan?

Begitu sampai di depan kantor ayahnya, ia merasa sedikit bingung karena pintu ruangan itu tidak tertutup terlalu rapat, menyisakan 2cm saja. Jonghyun hendak membuka pintu itu ketika ia mendengar suara ayahnya berbincang dengan suara lain yang dikenalnya, Mr. Lee – penasehat perusahaan.

“Tolonglah Mr. Lee, aku tidak mau Ye Jin tersiksa. Tolong urus semuanya secepatnya.” Jonghyun mendengar ayahnya berbicara.

“Jangan khawatir, sajangnim. Aku akan mengurus semuanya. Tapi.. Bagaimana dengan Jonghyun dan Shin Hye?”

Jonghyun terkesiap mendengar namanya disebut. Lalu ia mendengar ayahnya menjawab lagi. “Mereka akan baik-baik saja. Selama ibu mereka masih ada, selama kedua orang tuaku masih hidup, mereka akan selalu dilindungi. Aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka.”

“Baiklah, maka aku hanya perlu mengurus segala sesuatunya untuk Ny. Ye Jin, Mhia dan Kyuhyun bukan?” tanya Mr. Lee memastikan keinginan atasannya itu.

“Benar. Aku lelah sekali dengan keadaan seperti ini. Bertahun-tahun aku hidup dalam keadaan seperti ini. Aku benar-benar tidak sanggup lagi. Pergi adalah keputusan terbaik. Aku hanya bertahan di rumah itu karena aku belum punya cukup keberanian dan modal untuk meninggalkan rumah. Tapi kini aku siap. Sudah cukup penderitaan yang diterima oleh Ye Jin juga Mhia dan Kyuhyun. Mereka seperti dikucilkan oleh keluarga mereka sendiri.” Kata In Sung. Ia terdengar sedih sekali.

“Tapi sajangnim, jika kau pergi, bagaimana dengan Jonghyun dan Shin Hye? Mereka juga anak-anakmu. Bagaimana perasaan mereka jika tahu ayahnya akan pergi membawa kedua saudara mereka? Sama saja kau menempatkan mereka pada posisi Mhia dan Kyuhyun, merasa dikucilkan oleh ayah mereka sendiri. Dan aku yakin Ny. Ye Jin tidak akan mau melakukan hal ini.”

“Tapi mereka akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Sejak kecil mereka sudah dimanja, diberikan segalanya yang mereka inginkan. Lihatlah Mhia dan Kyuhyun, mereka harus belajar menahan diri untuk tidak iri pada kedua saudaranya. Melihat kasih sayang yang tidak wajar mengalir diantara mereka berempat. Tapi Ye Jin selalu membesarkan hati mereka, membuat mereka tidak iri lagi.”

“Kau lihat? Sampai sekarangpun mereka berdua selalu mengutamakan Jonghyun dan Shin Hye. Mereka tetap menyayangi kedua saudaranya itu walau Ji Hyo suka berlaku kasar pada mereka dan tindakan itu di dukung oleh kedua orang tuaku. Kalau kau jadi aku, bagaimana perasaanmu? Itu sebabnya aku selalu mengutamakan Kyuhyun dan Mhia daripada Jonghyun dan Shin Hye, disamping itu.. aku membenci ibu mereka. Terkadang aku merasa seperti melihat jelmaan Ji Hyo dalam diri mereka.”

Jonghyun merasa terpukul mendengar kata-kata ayahnya. Jonghyun tahu pasti bahwa ayahnya tidak pernah mencintai ibunya. Ia juga mengerti bahwa ayahnya menyayanginya juga Shin Hye, namun menjaga jarak karena ia benci pada istri keduanya yang mana merupakan ibu Jonghyun dan Shin Hye. Namun kata-kata ayahnya yang sangat jujur tadi benar-benar menyakitkan hatinya.

Jonghyun selalu iri dengan Mhia dan Kyuhyun. Keduanya sangat disayang dan dikasihi oleh kedua orang tuanya. Walaupun mereka hidup lebih sederhana di istana Cho yang megah, namun mereka selalu saling mendukung satu sama lain.

Ada saat dimana Jonghyun menginginkan Son Ye Jin yang penyabar dan penuh kasih sayang itu menjadi ibunya, bukan Song Ji Hyo yang hanya mementingkan harta dan kedudukan. Ia juga ingin sekali ayahnya bersenda gurau padanya seperti yang sering dilakukannya dengan Mhia dan Kyuhyun. Ayahnya bersikap sedikit kaku jika berhadapan dengan Shin Hye dan dirinya.

Apa artinya kau mendapatkan semua yang kau inginkan berupa materi namun kau tidak mendapatkan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuamu? Jonghyun dan Shin Hye memang tidak pernah kekurangan dalam mendapatkan segalanya. Mereka selalu memperoleh yang terbaik. Namun hati mereka kosong. Ibunya terlalu keras sementara ayahnya hanya memperhatikan Kyuhyun dan Mhia. Mereka harus bisa menahan sesak di dada ketika melihat Kyuhyun dan Mhia berceloteh riang pada ibu mereka dan ibunya itu mengarkan dengan seksama seraya membelai wajah dan rambut mereka.

Sederhana, ia dan Shin Hye butuh kasih sayang itu, bukan hanya materi semata. Apa gunanya semua kekayaan dan posisi tinggi jika kau haus akan kasih sayang? Namun di sisi lain, ia tidak bisa membenci Kyuhyun dan Mhia yang selalu membagi kasih sayang ibunya pada Jinghyun dan Shin Hye. Mereka juga selalu berupaya membantu kesulitan Jonghyun dan Shin Hye, membuat mereka tahu bahwa mereka juga dicintai dan diinginkan.

“Kau tahu pasti Mr. Lee, bahwa aku memberikan posisi pimpinan kepada Jonghyun karena desakan orang tuaku. Mereka tidak mau anak Ye Jin yang memimpin perusahaan mereka. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa sangat setuju dengan keputusan mereka. Karena jika Kyuhyun menjadi pemimpin, ia akan banyak mendapatkan tekanan. Sudah cukup ia mendapatkan tekanan di rumah, aku tidak ingin ia juga mendapatkan tekanan itu di perusahaan. Joghyun pasti bisa melalui tekanan itu, karena ia telah terbiasa sejak kecil.”

Jonghyun menutup matanya mendengar kata-kata ayahnya itu. Airmatanya akhirnya jatuh juga setelah mati-matian ia menahannya. Ia tidak sanggup mendegar lebih banyak lagi. Ia pergi dengan langkah-langkah cepat lalu mengunci dirinya di ruang kerjanya. Berusaha mati-matian menahan suara tangisnya.

Hatinya sakit sekali mendengar semua kenyataan yang dipaparkan ayahnya. Ia tahu posisinya sama dengan Kyuhyun, dimana masing-masing tidak diinginkan oleh pihak-pihak tertentu. Tapi adakah yang lebih sakit dari selain mengetahui kenyataan bahwa ayahmu tidak menyayangimu sepenuh hati karena ia membenci ibumu?

Dalam kesedihan Jonghyun yang mendalam itu, ia tidak menyadari satu hal. Saat ia pergi, ayahnya melanjutkan kata-katanya.

“Walau begitu, sejujurnya aku tetap tidak mau anak-anakku mendapat tekanan apapun. Aku tidak mau kedua orang tuaku memanfaatkan mereka untuk hal-hal yang tidak seharusnya menjadi tanggung jawab mereka. Aku benar-benar kasihan terhadap Jonghyun dan Shin Hye. Terutama Jonghyun, ia dipermainkan seperti boneka yang harus menuruti kemauan keluarganya. Aku menyayanginya, sama seperti menyayangi Kyuhyun. Hanya saja aku tidak bisa merebutnya dari Ji Hyo dan kedua orang tuaku. Sungguh malang nasib anak-anakku. Terkadang kupikir, mengapa mereka harus menerima beban seperti ini? Saat anak-anak lain bebas melakukan apapun yang mereka mau di luar sana, mereka harus terjebak demi menjaga nama baik keluarga.”

*

double hyun kyuhyun and jonghyun

Jonghyun and Kyuhyun

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 1

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Hurt, Sad, Angst, PG-13

Cast                  : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary       : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 1

Kyuhyun membuka lembaran berikutnya pada buku yang tengah ia baca saat ini di hutan pinus kecil di belakang rumahnya. Tidak, bukan rumah lebih tepatnya, tetapi istana. Siapa tidak kenal keluarga Cho? Salah satu keluarga bangsawan paling dihormati di Seoul. Dengan kekayaan yang tak habis-habisnya, property dimana-mana, serta sebuah istana lengkap dengan danau buatan, kolam renang, sarana olah raga, taman bunga dan hutan pinus, serta para pelayan yang dikabarkan mencapai puluhan orang untuk mengurus seisi rumah itu.

Hutan pinus ini adalah tempat favorit Kyuhyun, suasananya yang tenang dan sejuk, membuatnya betah tinggal berlama-lama disana. Apalagi jika mendengar suara gemericik air sungai yang terletak tak jauh dari bangku yang biasa ia duduki ketika membaca.

Hobi utama Kyuhyun memang membaca. Ketika membaca, ia bisa melupakan semua beban di pundak maupun dadanya. Menghilangkan semua keletihan dan keresahannya. Dengan membaca ia merasa memasuki dunia lain yang lebih indah di bandingkan dengan dunia nyata. Bahkan terkadang ia tidak mau kembali lagi ke dunia nyata karena ia terlalu asik menikmati dunia imajinasinya, seperti saat ini.

“Hyungnim..”

Kyuhyun merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia menoleh dan mendapati Jonghyun sudah duduk di sampingnya dan tersenyum kepadanya. Kyuhyun ikut tersenyum melihat adiknya itu.

“Ada apa?”

“Setiap kali ada masalah kau selalu kemari hyung. Aku iri padamu, kau selalu punya tempat untuk melarikan diri, sedangkan aku tidak.” Keluh Jonghyun.

Kyuhyun menatap adiknya itu prihatin. “Kau tidak seharusnya iri padaku. Kau tahu dengan pasti siapa yang lebih beruntung diantara kita. Tetaplah kuat Jonghyun-ah. Kau adalah harapan keluarga, jangan sampai kau mengecewakanmereka semua hanya karena kau lemah.”

Jonghyun memeluk kakinya dan meletakkan dagunya diatas lututnya. “Umurku baru 23 tahun hyung, tapi kenapa aku diberi tanggung jawab seberat ini? Terkadang aku merasa aboji lebih sayang padamu karena ia membiarkanmu bersantai sedangkan ia membebaniku dengan segalanya. Apakah itu adil? Andai aku tidak menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri, mungkin aku sudah benci setengah mati kepadamu, hyung.”

Kyuhyun tau dengan pasti beban apa yang kini dirasakan seorang Cho Jonghyun. Sayangnya dengan beban seberat itu, ia justru semakin ditekan oleh kedua orang tua mereka. Ia harus menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, terutama dalam menghadapi Kyuhyun. Darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka, wajar jika kecerdasan mereka juga setara, sayangnya tidak semua orang berpendapat seperti itu.

“Mianhae.. Bukannya aku tidak mau membantumu, kau tahu sendiri kalau Ji Hyo omoni..”

“Ne hyung.. Aku tahu.. Omoni tidak mau kau membantuku. Aku hanya minta satu hal hyung, hanya satu..”

Kyuhyun menatap Jonghyun dengan sayang lalu mengangguk. “Katakanlah..”

“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, kita tidak akan terpisah. Sampai kapanpun kau adalah hyungku, dan aku adalah dongsaengmu. Kita berdua adalah Cho.  Berjanjilah padaku..” kata Jonghyun seolah-olah mereka akan segera terpisah.

Tapi hal tersebut bukan tidak mungkin melihat suasana rumah mereka. Kyuhyun tahu, cepat atau lambat, ia akan terpisah dari Jonghyun. Hanya menunggu waktu yang tepat. Pilihannya hanya dua, keluar dengan sukarela atau keluar dengan paksaan.

Dua puluh lima tahun yang lalu..

            Dalam sebuah ruangan besar dengan interior mewah, seorang lelaki tua tengah menatap seorang lelaki muda yang kira-kira berumur 22 tahun. Lelaki muda itu duduk dengan kedua lututnya menghadap sang ayah yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Sementara tak jauh dari tempatnya duduk, seorang wanita tua berdiri di depan jendela, menghalau bias sinar matahari yang akan masuk ke ruangan dengan angkuhnya.

“In Sung-ah…! Cepat putuskan, kau tidak bisa seperti ini terus menerus. Keluarga Cho membutuhkan seorang pewaris! Kau tidak bisa mempertahankan istrimu jika ia tidak bisa memberimu seorang keturunan. Kalian sudah menikah selama dua tahun tapi ia hanya bisa memberimu anak perempuan! Kau pikir anak perempuan bisa apa? Terimalah tawaran keluarga Song, mereka tidak mempermasalahkan statusmu yang sudah menikah. Anak mereka, Song Ji Hyo, menginginkanmu sebagai suami. Ia rela meski hanya akan menjadi istri kedua.”

Lelaki muda itu mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk. Ia menatap ayahnya tidak percaya. “Aboji! Aku mencintai Ye Jin. Mana mungkin aku mengkhianatinya? Mana mungkin kau tega menyuruhku menikahi wanita lain dan menyakiti hati menantumu sendiri?”

“Cho In Sung! Jangan membantah! Aboji mu benar. Kita butuh penerus, kita butuh pewaris keluarga. Ini karena kau dulu terlalu keras kepala! Lihatlah, ini akibatnya kalau kau tidak mendengarkan kami dulu.” Kini ibu In Sung ikut bicara dengan tajam.

“Omoni.. Jebal.. Jangan bawa-bawa masa lalu.. Ye Jin adalah istriku. Jangan menyalahkannya atas semua ini.”

“Istri yang terpaksa kurestui karena kau sudah terlanjur mengumumkan pernikahanmu di depan semua orang tanpa meminta persetujuan kami.” Kata ibunya lagi, masih dengan nada keras.

“Aku sudah meminta ijin kalian tapi kalian sendiri menolaknya bukan?” kata In Sung lemah.

“Mana mungkin aku mengijinkan kau menikahinya? Dia memang keturunan bangsawan, tapi bangsawan kelas menengah. Ayahnya pun sudah meninggal, menyisakan seorang istri yang menutup diri sejak kematian suaminya. Kau telah sekali mencoreng nama keluarga, tapi karena kau anak satu-satunya, kami tetap menerimamu dengan perempuan itu. Sekarang lihat, ia cuma bisa memberimu seorang anak perempuan. Apa yang harus kami banggakan?” kali ini ayahnya kembali angkat bicara.

Cho In Sung tersudut. Ia tahu, sampai kapanpun ia tidak akan menang melawan kedua orang tuanya. Ia terlalu pengecut untuk membela istrinya sendiri apalagi membawanya pergi dari neraka itu dan memulai hidup baru. Ia terlalu takut dengan dunia luar.

“Joesonghamnida.. Aku tidak bermaksud menguping..” Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan itu lalu memberi hormat kepada ayah dan ibu Cho In Sung. Kemudian ia ikut berlutut di samping Cho In Sung, suaminya.

“Oppa.. Abonim dan Omonim benar.. Keluarga Cho butuh penerus. Kalau kau tetap bersikeras, maka kesempatan untuk mendapatkan anak lelaki akan sulit. Terimalah tawaran keluarga Song, demi keluarga ini. Demi penerusmu sendiri.”

Cho In Sung menatap istrinya yang tersenyum lembut kepadanya. SInar mata wanita itu penuh ketulusan. Ia tahu, walau istrinya tersenyum, hatinya pasti menangis. Wanita mana yang rela berbagi pasangan? Wanita mana yang bisa melihat suaminya menikahi wanita lain?

“Lihatlah, istrimu sendiri mengijinkannya. Apa lagi yang kau pikirkan?” kata ibu In Sung tajam.

“Ye Jin-ah.. Jangan.. Kumohon..” kata In Sung lirih. Tapi Son Ye Jin justru tersenyum menanggapi suaminya. Dengan lembut ia membelai surai In Sung, dengan senyum hangat ia mencoba membesarkan hati lelaki yang dicintainya.

“Oppa.. Nikahilah Song Ji Hyo.. Demi aku.. Jebal.. Karena kebahagiaan keluarga ini, adalah kebahagiaanku juga. Mhia akan senang sekali mendapatkan ibu baru. Tentunya akan semakin banyak yang menyayangi dan menjaganya.” Bujuk Ye Jin lagi.

In Sung memejamkan matanya. Ia tahu, ia harus melakukannya. Dan ia melakukan semuanya demi istrinya tercinta, Son Ye Jin. Karena ia tidak ingin istrinya terus-terusan dipersalahkan atas ketidakmampuannya memberikan anak laki-laki. Dan ia juga memikirkan buah hatinya, Cho Mhia yang baru berumur setahun. Apa yang akan diterima anak itu jika ayahnya tidak bisa melindunginya? Untuk itu, ia rela mengorbankan hatinya.

*

            Tiga bulan kemudian, pernikahan besar dilaksanakan antara Cho In Sung dan Song Ji Hyo. Pernikahan mereka dilaksanakan lebih mewah dan meriah daripada pernikahan pertama In Sung. Semua orang bersuka ria, bahkan Cho Mhia cilik ikut menari-nari riang di pesta pernikahan ayahnya. Ia juga membuat ibunya tercinta tersenyum dan tertawa setelah semalaman menangis tanpa henti.

Di malam pertama setelah In Sung dan Ji Hyo menikah, pertama kali dalam kehidupan pernikahannya, Ye Jin tidur sendirian. Dinginnya angin musim gugur saat itu seakan menusuk tulang-tulangnya, membuatnya menggigil kedinginan walaupun ia sudah bergelung di bawah selimut tebal.

Ini kali pertama suaminya tidak memeluknya kala ia kedinginan. Bagaimana mungkin In Sung bisa memeluknya jika ia tengah melaksanakan tugasnya sebagai suami dari Song Ji Hyo yang kini menjadi Cho Ji Hyo.

Airmata Ye Jin terus mengalir sepanjang malam. Walaupun telah ia coba untuk berhenti, namun aliran itu semakin deras. Dingin yang ia rasakan seolah merasuki jiwanya, betapa sakitnya membagi suamimu dengan wanita lain.

Ketika dirinya kedinginan, suaminya justru memberikan kehangatan pada wanita lain. Wanita yang akan ikut mendampingi suaminya hingga akhir hayat. Tak ada lagi kebahagiaan itu, tak ada lagi masa ‘berdua’ ketika segalanya harus terbagi.

Setelah itu, malam demi malam Ye Jin lalui sendiri di kamarnya. Walaupun suaminya selalu bersamanya setelah ia pulang kerja dan mengantarkannya tidur di malam hari, namun In Sung akan kembali ke kamar Ji Hyo untuk tidur.

Hati Ye Jin sebenarnya tidak rela, tapi ia tidak pernah mau mempermasalahkan hal itu. Ia sangat mengerti posisinya. Ia telah tidur bersama In Sung selama dua tahun, kini giliran Ji Hyo, karena mereka berdua adalah istri sah dari Cho In Sung. Keduanya layak mendapatkan hak yang sama.

Dan kehadiran Ji Hyo di rumah itu bagaikan matahari. Ia mampu membuat kedua orang tua In Sung tertawa terbahak-bahak dan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengannya ataupun melakukan hal lain bersama. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Ye Jin sejak awal. Bahkan Mhia pun menyayangi Ji Hyo, begitupun sebaliknya. Maka Ye Jin bisa tenang, karena setidaknya anaknya diterima oleh Ji Hyo. Dan yang membuat Ye Jin tetap bertahan adalah karena perasaan In Sung sama sekali tidak berubah. Ia tetap mendahulukan Ye Jin dan mencintainya seperti dulu. Bahkan sesekali ia menyelinap keluar dari kamar Ji Hyo dan tidur bersama Ye Jin di malam hari.

Lalu beberapa bulan kemudian, gemparlah seisi rumah keluarga Cho. Song Ji Hyo mengandung. Betapa bahagianya seisi rumah, bersuka cita dengan kabar gembira itu terutama kedua orang tua In Sung.

Namun, tak berapa lama kemudian, muncul berita menggemparkan lainnya. Son Ye Jin juga mengandung. Dan yang membuat dokter bingung adalah, umur kandungannya sama dengan umur kandungan Song Ji Hyo. Ye Jin benar-benar bahagia, karena ia bisa memberikan kebahagiaan lain kepada mertuanya. Memang sikap kedua mertuanya melunak, tapi mereka tetap menomorsatukan Ji Hyo. Tapi bagi Ye Jin, hal itu tidak masalah, karena dengan terbukanya hati mertuanya, ia sudah bahagia. Ia tidak meminta apa-apa lagi.

Namun suatu hari, ketika umur kandungan mereka mencapai enam bulan, Ji Hyo mendatangi Ye Jin.

“Ye Jin-ssi.. Bisakah kau.. Membiarkan semua perhatian jatuh kepadaku? Ini pertama kalinya aku mengandung, sedangkan ini bukan hal baru untukmu. Apakah aku salah jika aku ingin suamiku lebih memperhatikanku di saat aku tengah mengandung anaknya? Perhatian omonim dan abonim tidak cukup, aku mau suamiku sendiri yang lebih memperhatikanku. Aku tahu ia lebih mencintaimu, tapi.. Ia hanya akan mendengarkanmu. Tidak bisakah kau membiarkan ia mengurusku? Kau bisa mengurus dirimu sendiri bukan?”

Son Ye Jin terpana mendengarnya. Selama ini ia membiarkan suaminya tidur bersama Ji Hyo. Membiarkan kedua mertuanya lebih memperhatikan Ji Hyo. Ia dan anak, Mhia, harus bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Namun ia juga tengah mengandung. Ia juga butuh kasih sayang suaminya.

“Tapi.. Bukankah dia lebih sering menemanimu?” tanya Ye Jin sekaligus balik bertanya pada Ji Hyo.

“Memang, tapi atas permintaan kedua orang tuanya, bukan karena kemauannya sendiri. Lagipula, saat ia bersamaku.. Tubuhnya memang untukku, tapi hatinya masih tetap milikmu.”

“Ji Hyo-ssi.. Kita berdua adalah istrinya. Kita berdua mendapatkan hak yang sama.. Jadi bagaimana mungkin kau..”

“Aku tidak mau berbagi! In Sung oppa, harus kumiliki sendiri..!”

*

            Setelah pertemuan kedua istri In Sung itu, banyak kejadian yang menimpa Ji Hyo. Dan entah mengapa, semua yakin pelakunya adalah Ye Jin. Ia dipercaya menyimpan dendam karena In Sung menikahi wanita lain. Ia pasti iri karena kasih sayang kedua mertuanya juga lebih besar kepada Ji Hyo. Setelah rentetan kejadian itu, kedua orang tua In Sung berhenti memperdulikan Ye Jin. Mereka terlalu marah atas kejadian yang menimpa menantu kesayangan mereka, dan tetap yakin bahwa Ye Jin pelakunya. Perlakuan Ji Hyo pada Mhia pun berubah sejak saat itu.

Hanya In Sung yang masih bertahan membela istri pertamanya walau ia selalu kalah ketika harus berdebat dengan kedua orang tuanya, yang mengakibatkan ia harus menghabiskan waktu lebih banyak untuk Ji Hyo.

Dan hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Kedua istri In Sung akan melahirkan putra mereka. Ya, keduanya mengandung bayi laki-laki. Para lelaki yang nantinya menjadi penerus semua harta kekayaan keluarga besar Cho.

Son Ye Jin dan Song Ji Hyo masuk ke kamar persalinan yang berbeda. Kedua orang tua In Sung beserta In Sung sendiri ada di dalam kamar Ji Hyo. Sedangkan Ye Jin hanya sendiri ditemani Cho Mia, anak perempuan pertamanya. Walaupun di depan kamarnya ada Miss Kim, kepala rumah tangga Cho yang selalu setia kepadanya juga Mr. Lee yang merupakan penasehat keluarga Cho, tetap saja Ye Jin merasa sendirian.

“Omoni, kata dokter Ji Hyo akan melahirkan sejam lagi. Biarkan aku melihat Ye Jin sebentar. Aku berjanji aku akan kembali. Ia tengah melakukan persalinan saat ini.” kata In Sung, memohon pada ibunya.

“Andwae! Kau harus tetap disini. Biarkan Ye Jin sendiri. Ia sudah pernah melewati proses itu, ia pasti bisa melewatinya sendirian.” Kata ibunya kejam.

“Omoni.. Jebal..”

“In Sung ! Temani Ji Hyo disini. Kau tidak boleh pergi kemana-mana! Kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar dari kamar ini, berarti kau menyetujui pengusiran Ye Jin beserta anak-anaknya.” Kata ayah In Sung kini.

Cho In Sung membeku di tempatnya. Ia kalah lagi. Ia tidak pernah punya keberanian untuk melawan, walaupun itu untuk kebahagiaannya sendiri.

“Oppa.. khajima..” kata Ji Hyo lirih.

Sementara itu di kamar lain, Son Ye Jin sedang berjuang sendirian mengikuti instruksi dokter untuk melahirkan putra pertamanya. Kesakitan yang ia rasakan, baik secara fisik maupun mental membuatnya nyaris menyerah. Namun ketika melihat mata putrinya yang senantianya berdiri di sampingnya, membuatnya kembali kuat.

*

            “Hyungnim.. Kau melamun lagi.”

Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Itu sepenggal kisah yang diceritakan Miss Kim beberapa tahun silam ketika Kyuhyun mempertanyakan mengapa kakek dan neneknya tidak terlalu memperhatikannya seperti mereka memberikan kasih sayang kepada Jonghyun dan Shin Hye, anak kedua Song Ji Hyo dan ayahnya, Cho In Sung.

“Ani.. Aku tidak melamun. Aku hanya sedikit memikirkan beberapa hal yang mengganggu pikiranku.” Kata Kyuhyun mengelak.

Lalu ponsel Jonghyun berdering. Ia menjawabnya dengan malas. “Yeoboseyo? Ye? Sekarang? Ah.. Tidak bisakah kita batalkan? Aku sedang tidak enak badan. Haruskah? Arasso.. Aku akan datang. Aku akan bersiap-siap dulu.”

Jonghyun mengakhiri pembicaraan dengan tak kalah malasnya dari pertama kali ia mengangkat teleponnya.

“Aku harus pergi. Aku harus menghadiri pertemuan penting dengan relasi dari Taiwan. Hyung, bisakah kau menolongku? Tolong gantikan aku untuk meeting sore ini di kantor.” kata Jonghyun lagi.

Kyuhyun mengangguk. “Jangan khawatir. Pergilah, lakukan tugasmu. Aku akan menggantikanmu sore nanti.”

“Terima kasih hyung..” Jonghyun memeluk Kyuhyun sebentar lalu meninggalkan hutan kecil itu dengan langkah gontai.

*

            Cho In Sung belum benar-benar tua. Di usianya yang baru 46 tahun, ia lebih banyak mengawasi jalannya perusahaan dan aset-asetnya daripada terjun langsung. Ia membiarkan Jonghyun dan Kyuhyun untuk mengurus perusahaan sedangkan Mhia dan Shin Hye mengurus property kecil lainnya. Karena keduanya perempuan, maka mereka tidak diperkenankan mengurus hal yang lebih besar.

Pimpinan dewan direksi masih tetap Cho In Sung. Namun pimpinan perusahaan utama adalah Cho Jonghyun sedangkan wakilnya adalah Cho Kyuhyun. Dari segi kecerdasan, keduanya tidak ternilai. Sama-sama cerdas dan pandai. Hanya saja, para karyawan masih tetap berpikiran tidak pantas seorang ‘dongsaeng’ memimpin perusahaan sementara sang ‘hyungnim’ hanya jadi wakilnya, walaupun kemampuan keduanya sama.

Namun lama kelamaan para karyawan itu mengerti juga begitu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang membuat mereka salut adalah, keempat saudara itu tidak saling memusuhi seperti kedua ibu mereka.

Di rumah, Ye Jin menganggap Jonghyun dan Shin Hye seperti anaknya juga. Namun Ji Hyo tidak pernah mau menganggap Kyuhyun dan Mhia sebagai anaknya juga. Jadi jangan heran kalau sikap Kyuhyun dan Mhia sangat kaku kepada ibu tiri mereka itu. Sedangkan Jonghyun dan Shin Hye selalu ikut bermanja-manja dengan Ye Jin karena ibu mereka terlalu keras dalam mendidik mereka.

Shin Hye berkata saat mereka berlima berkumpul di kamar Ye Jin malam itu. “Aku iri sekali dengan Mhia eonni dengan Kyuhyun oppa. Tugas mereka tidak sebanyak tugasku dan tugas Jonhyun oppa. Tapi ketika mereka pulang ke rumah, rasa lelah mereka terbayarkan dengan perlakuan Ye Jin Omoni.”

“Aku juga iri. Walaupun keduanya sudah besar, tapi Ye Jin omoni masih tetap menyiapkan mereka makanan. Membelai kepala mereka ketika mereka hendak tidur, mengantar mereka ke halaman depan ketika akan pergi bekerja, bahkan membawakan bekal makan siang ke kantor sesekali.” Kala itu Jonghyun ikut merajuk.

“Ya! Jonghyun-ah.. Bukankah sudah kami katakan, kalian adalah saudara kami juga. Kalau omoni membawakan kami makanan, bukankah ia membawakan kalian juga? Jika omoni mengantarkan kami ketika akan bekerja, bukankah ia melakukan hal yang sama juga dengan kalian?” bantah Mhia saat itu.

Shin Hye menggeleng. “Tapi aku mau omoni ku sendiri melakukan hal yang sama. Ia hanya sibuk dengan perhiasan ataupun pertemuan-pertemuannya. Ketika kami bertemu, hal yang ditanyakan selalu mengenai perusahaan atau apakah kami sudah melakukan yang terbaik. Omoni sama sekali tidak pernah menanyakan apakah aku senang, apakah aku sudah makan atau..”

“Omoni.. Pernah menanyakan hal itu padaku..” Kata Jonghyun. Ia lalu menambahkan. “Ketika ia menayakan apa aku sudah makan, aku menjawab belum. Lalu ia memarahiku, ia berkata bahwa aku adalah harapan keluarga. Aku harus selalu makan tepat waktu agar aku selalu kuat.”

Semua yang ada di ruangan itu tahu benar bahwa kedua kakak beradik itu sedih sekali. Ayah mereka seolah mesin. Ia hanya bekerja dan bekerja. Ia tidak melakukan hal lain selain mengurusi aset-aset keluarga Cho. Sedangkan ibu mereka terkenal sebagai pemimpin dari perkumpulan ibu-ibu bangsawan. Pertemuan demi pertemuan akan ia hadiri, terkadang ia membawa serta Jonghyun dan Shin Hye, walaupun keduanya ikut karena dipaksa.

“Jonghyun-ah.. Shin Hye-ya.. kemarilah..” kata Ye Jin dengan lembut.

Jonghyun dan Shin Hye segera berlari ke pelukan ibu tiri mereka dan menenggelamkan kepala mereka di bahu wanita tegar itu.

“Jangan menyalahkan omoni kalian. Semua ibu di dunia ini akan melakukan apa saja untuk membuat anaknya bahagia. Hanya saja, cara mereka berbeda-beda. Bukankah kalau ia keras kepada kalian, membuat kalian lebih kuat menghadapi hal-hal yang lebih keras di luar sana? Karena kalian telah terbiasa menghadapinya di rumah.” Kata Ye Jin penuh kasih sayang. Tangannya membelai kedua punggung yang tengah bersandar padanya.

“Omoni benar. Kalian tidak boleh bersikap seperti itu. Percayalah, Ji Hyo omoni menyayangi kalian lebih dari apapun. Hanya saja cara menunjukkannya berbeda.” Kali ini Kyuhyun yang angkat bicara.

Lalu tiba-tiba pintu kamar Ye Jin terbuka. Song Ji Hyo muncul di baliknya. “Jonghyun, Shin Hye, kembali ke kamar kalian. Hari sudah larut, jangan bertamu malam-malam.”

Kedua anaknya melepaskan diri dari Son Ye Jin. Mereka lalu berdiri dan membungkuk hormat pada ibu tiri dan kedua saudara mereka itu.

“Lain kali kalian harus meminta ijinku terlebih dahulu jika mau bertemu Ye Jin omoni.” Kata Ji Hyo lagi.

“Kami tidak bertamu, dia juga omoni kami. Dan untuk apa meminta ijin omoni untuk bertemu omoni kami yang lain?” kata Jonghyun marah. Namun ia tetap berjalan meninggalkan kamar itu. Tangannya menggenggam erat tangan adiknya.

“Kau.. Ya! Jonghyun-ah..! Jonghyun-ah..!” jerit Ji Hyo marah. Namun kedua anaknya tetap pergi meninggalkannya, seolah tidak mendengar teriakan ibunya tadi.

Song Ji Hyo lalu menoleh pada Son Ye Jin. “Terima kasih karena telah meracuni pikiran anak-anakku. Sekarang mereka membenci ibu kandungnya sendiri karena ulahmu, Ye Jin-ssi.”

Ye Jin baru akan membantah ketika Ji Hyo keluar dari kamarnya. Kedua anaknya lalu memeluknya dan memberinya kekuatan.

*

            Seminggu kemudian, para anggota keluarga Cho berkumpul. Kedua orang tua In Sung datang dari Beijing untuk memimpin pertemuan itu. Keduanya memang memutuskan untuk pindah ke Beijing untuk mengurus aset kekayaan mereka disana sejak tiga tahun lalu.

“Seperti yang kalian ketahui, bahwa besok adalah hari yang besar untuk kita semua. Disamping para keluarga bangsawan akan datang, sebuah keluarga bangsawan lain akan mengunjungi kita. Anak tunggal mereka baru saja menyelesaikan kuliah masternya di Kanada dan akan ikut serta di pertemuan besok. Jadi persiapkan diri kalian. Pakai pakaian terbaik, jamu mereka sebaik-baiknya. Karena aku mengharapkan kita bisa membangun hubungan baik dengan mereka.” Kata Mr. Cho di tengah pertemuan keluarga itu.

“Ingat, jangan menampakkan kalau kalian ada masalah atau apapun itu. terutama kau, Ye Jin, jaga sikapmu. Aku tidak mau melihatmu bertingkah yang aneh-aneh.” Kata Mrs. Cho dengan nada tajam.

Namun suaranya berubah menjadi semanis madu ketika bicara dengan Ji Hyo. “Ji Hyo-ya.. Kau tau apa yang harus dilakukan.”

Ji Hyo tersenyum seraya mengangguk hormat. Ia tampak puas. Sedangkan Mhia sudah akan meledak kalau saja Kyuhyun tidak mati-matian menahannya. Cho In Sung sendiri tampak terluka ketika ibunya berkata kasar pada Ye Jin namun seperti biasa,  ia tidak bisa berkata apa-apa.

Lain lagi dengan Jonghyun dan Kyuhyun yang duduk bersebelahan. Mungkin karena keduanya lahir di hari yang sama, maka keduanya memiliki sifat yang sama pula dengan insting yang kuat. Keduanya sependapat bahwa pertemuan itu bukan pertemuan biasa.

“Ingat, anak lelakinya adalah anak lelaki satu-satunya. Ia sederajat dengan kita. Pendidikannya tinggi dan ia sangat cerdas. Akan lebih baik kalau ia menyukai salah satu dari anggota keluarga kita.” Kata Mrs. Cho lagi.

Jonghyun dan Kyuhyun bertukar pandang suram. Firasat mereka benar. Akan ada perjodohan yang tidak diinginkan dalam pertemuan itu. Siapakah korbannya? Mhia atau Shin Hye? Tapi baik Jonghyun dan Kyuhyun berpendapat bahwa pastilah Shin Hye yang mendapatkan nasib buruk itu, mengingat ia adalah anak Ji Hyo, menantu kesayangan Mr. dan Mrs. Cho.

“Walaupun begitu ia..” Mrs. Cho melanjutkan namun ia tampak ragu. Sesaat kemudian ia melanjutkan. “Menyukai lelaki dan perempuan. Ia.. Biseks.. Aku yakin karena ia bergaul selama dua tahun di Kanada selama menyelesaikan kuliah masternya. Bukankah daerah sana adalah daerah dengan pergulan bebas? Maksudku bukan Kanada yang seperti itu tapi daerah barat pada umumnya.. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting ia bisa mempersunting salah satu dari kalian berempat.”

“Omoni.. Tapi.. Barusan kau bilang mereka berempat?” tanya In Sung.

Ibunya mengangguk. Namun Mr. Cho yang menjawab. “Kami sudah memikirkannya. Siapapun yang akan dipilih oleh anak itu, kami tidak akan melarangnya. Karena keluarga itu tidak suka adanya permusuhan dalam keluarga, jadi sebisa mungkin jangan tunjukan rasa saling benci atau mereka akan pergi. Mereka suka keluarga yang penuh kedamaian.”

“Jadi tolong.. Bersikaplah sebaik mungkin di depan keluarga Choi.” Kata Mr. Cho menambahkan.

“Choi?” tanya Shin Hye.

“Benar, keluarga Choi. Nama pemuda itu adalah Choi Siwon.”

Mendengar nama itu, Kyuhyun dan Jonghyun tersentak. Keduanya membeku di tempatnya sedangkan Mhia yang tahu persis apa yang terjadi segera menggenggam tangan adiknya, memintanya untuk tenang. Karena ia tahu, reaksi Kyuhyun seperti apa jika mendengar nama itu.

*

so ye jin n jo in sung classic

Son Ye Jin & Jo In Sung

To Be Continued..