Fading the Darkness – Chapter 3

Fading the darkness Changkyu Khunkyu

Tittle       : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star   : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair         : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre     : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate        : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos Vampire dan Dhampir yang berkembang dalam masyarakat. Serta berdasarkan kisah fantasi Twilight untuk penggunaan beberapa istilah dan kemampuan tokoh. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya.

Warning : Typo(es), Don’t Like = Don’t Read.

Preview

…Namun, sepersekian detik kemudian, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya.

*

         Wajah itu tampak pucat. Semakin pucat dengan raut wajahnya yang sayu karena kelelahan. Meskipun dengan kondisi tubuh seperti itu, ia dapat menangkap sorot kebencian yang terpancar saat mata merah yang semakin meredup itu bertemu pandang dengannya.

Tanpa sadar, ia menurunkan tangannya yang pada awalnya tengah menghunuskan katana.Perlahan ia pun melangkahkan kakinya, mencoba mendekati makhluk immortal yang berada tak jauh dari hadapannya.

Aaarrghh!”

Changmin tersentak kala ia mendengar jeritan menggema, membelah kesunyian malam yang mencekam. Itu suara Dongwoon. Pendengarannya dapat menangkap sumber suara yang berasal dari arah barat hutan, tempat Dongwoon memilih untuk berpencar dalam perburuanmereka malamini.

Beberapa detik iabergemingditempatnya. Belum berniat menuju suara jeritan Dongwoon. Ia masih saja terpaku, memperhatikan sosok sejenis berkulit pucat tersebut yang tengah bangkit secara perlahan. Ia dapat melihat kontur wajah makhluk yang berjarak tak lebih dari 10 meter dihadapannya dengan jelas. Tak dapat dipungkiri jika ia sedikit terpukau pada makhluk tersebut. Terlebih ketika wajah itu tertimpa sinar bulan melalui celah pepohonan yang membuatnya bak sesosok muse. Sama sekali tak bercela.

“Aarrgh!”

Changmin mengepalkan tangannya demi mendengar jeritan penuh kesakitan itu terdengar kembali. Perasaan khawatirnya akan sang adik mengalahkan rasa egonya yang menginginkan untuk tetap memperhatikan Vampire dihadapannya. Dalam sekejap mata, ia pun segera melesat kearah barat berusaha menyelamatkan Dongwoon. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada saudaranya itu.

Namun, sebelum langkahnya benar-benar menjauh, ia masih sempat menoleh ke belakang. Retinanya menangkap refleksi makhluk yang sesekali terbatuk dengan tubuh yang terlihat limbung dan nyaris terjatuh. Tubuh kurus itu menjadikan pohon di depannya sebagai alat bantunya untuk berdiri.

Keraguan kembali menyelimuti hatinya. Langkahnya seperti terasa enggan meninggalkan tempat tersebut. Nalurinya memerintahkan ia untuk berbalikdan kembali mendekati makhluk berkulit pucat tersebut. Namun akal sehatnya berkehendak lain yangberujung pada mengabaikan kata hatinya dengan memilih untuk menyelamatkan saudaranya.

***

        Meskipun gelap, namun kondisi tersebut sama sekali tidak menyulitkan Changmin untuk menemukan keberadaan Dongwoon. Insting dan ketajaman indera yang dimiliki bangsanya membuat ia mampu mempertahankan diri dan beradaptasi dalam keadaan apapun.

“Dongwoon-ah!”

Changmin memekik ketika menangkap sesosok tubuh yang tengah tergeletak dan menggeliat kasar ditanah. Ia menghampiri Dongwoon dan meraih tubuh sang adik ke pangkuannya.

“Dongwoon-ah!” Changmin menggoncangkan tubuh yang masih menggeliat tersebut. Ia memeriksa tangan Dongwoon dan menemukan luka bekas gigitan berwarna hitam tercetak jelas di pergelangan tangannya. Ia menggeram penuh amarah ketika mengetahui jika Dongwoon baru saja digigit oleh Vampire dan menyalurkan racun kedalam tubuhnya.

“Arrgh! Ha..aargh! Pa..nass! Arrgh!” Tubuh Dongwoon bergetar hebat kala ia merasakan panas menjalar ke seluruh persendian tubuhnya. Organ tubuhnya terasa terbakar bersamaan dengan racun yang mengalir dalam darahnya.

Changmin merogoh saku dibalik zirah yang ia kenakan untuk mencari penawar racun yang selalu ia bawa dalam perburuan. Dengan sedikit panik, ia membuka botol yang tak lebih besar dari ukuran ibu jari itu dan meminumkannya pada Dongwoon.

“Buka mulutmu!”

Meskipun dalam masa transisinya, Dongwoon masih dapat mendengar suara Changmin dan menuruti perintah hyung-nya itu. Dengan susah payah ia meneguk cairan penawar tersebut. Rasa panas yang ia rasakan berangsur menurun ketika penawar yang ia minum telah mengalir ditubuhnya.

Namun, selanjutnya ia mengerang tertahan ketika rasa sakit yang lain terasa mencekiknya hingga ia memuntahkan cairan pekat berwarna hitam dari mulutnya.Selepas itu, tubuhnya melemas laluberangsur-angsur ia mulaikehilangan kesadarannya secara total.

***

“Terima kasih, Nickhun.”

Seseorang yang dipanggil Nickhun itupun menolehkan perhatiannya pada seseorang lain yang tengah duduk di tepi tempat tidur.

Heika..” Gumam Nickhun tak mengerti dengan ucapan terima kasih sang raja muda yang baru saja ia ucapkan.

Yoochun, sang Heika, tak menghiraukan keheranan kensei-nya. Pandangannya masih saja terpaku pada sosok adiknya yang masih tak sadarkan diri di pembaringan. Tatapannya tampak kosong meskipun arah pandangnya jelas tertuju pada sang adik.

“Terima kasih untuk pengabdian dan kesetiaanmu selama ini pada kami.” Ucapnya lirih.

Ia tahu jika sekedar ucapan terima kasih pun tak mampu untuk membalas semua pengabdian dan jasa sang kensei pada keluarganya. Sudah lebih dari 3 abad pasca penyerangan Vampire Hunter dan Dhampire yang membuat Ayah dan kerajaannya tumbang.

Dulunya, Nickhun merupakan kensei dan salah satu orang kepercayaan Ayahnya yang mengabdi pada Cho Kingdom bahkan sejak ia masih menjadi Vampire hijau. Dimasa lalu, Nickhun hanyalah seorang manusia biasa yang menjadi bagian dari pasukan perang khusus sebuah militer dalam perang Balkan. Ia yang kala itu tengah sekarat karena tertembak pihak lawan, ‘diselamatkan’ oleh Cho Nam Gil yang seorang Vampire dimana pada saat itu bertugas sebagai dokter di barak militer.

Sebagai balas budinya, ia yang pada saat itu baru berusia 20 tahun pun memutuskan untuk patuh dan menghormati Nam Gil, sosok yang telah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri.

Meski ratusan tahun telah berlalu, namun kesetiaannya sama sekali tak berkurang hingga saat ini pun ia masih tetap menjadi bagian dari keluarga Cho. Hingga kerajaannya kini telah tumbuh dan berkembang sebagai generasi baru penerus Cho Kingdom dimasa lalu.

“..dan juga untukmu yang telah menyelamatkan adikku untuk yang kesekian kalinya.”

Kejadian penyelamatan Kyuhyun beberapa saat lalu bukanlah untuk pertama kalinya bagi Nickhun. Dimasa lalu, dengan sifat pembangkang Kyuhyun,sang pangeran itu pernah memasuki area terlarang pada wilayah perjanjian antara bangsa Vampire dan Werewolf. Membuat Kyuhyun yang pada saat itu hanya seorang diri, kemudian diserang dan ditawan oleh kawanan manusia serigala yang hingga atas perintah Yoochun, Nickhun beserta pasukannya datang membebaskan Kyuhyun dan meminta maaf pada tetua kawanan Werewolf atas kelancangan sang Pangeran.

Dan beberapa saat lalu, Nickhun melakukan hal serupa meskipun dalam situasi yang berbeda. Vampire rupawan tersebut kembali menyelamatkan Kyuhyun. Ia yang pada awalnya membiarkan Kyuhyun melampiaskan emosinya dengan lari dari istana atas teguran Yoochun pun memilih untuk segera menyusulnya bersama Luhan. Ia merasakam sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada pangeran yang ia cintai.

Kekhawatirannya pun berwujud nyata saat ia mencium aroma makhluk dengan percampuran darah Manusia dan Vampire terjangkau dari indera penciumannya yang tajam. Terlebih saat ia mendapati keadaan Kyuhyun yang seperti siap dimusnahkan oleh sang Dhampir.

Sebelum itu, Ia yang memang mengetahui jika terdapat lebih dari satu Dhampir disekitar mereka pun memerintahkan Luhan untuk menyerang dan mengecoh salah seorang Dhampir yang berada di area barat. Sementara ia sendiri kearah timur dimana ia dapat merasakan aroma Kyuhyun dan Dhampir yang sangat ia kenali menguar.

Ia nyaris saja menyerang makhluk tinggi yang ada dihadapan Kyuhyun yang terlihat kehabisan energi ketika ia mendengar jerit penuh kesakitan terdengar dari arah barat.

Ia tahu jika Luhan telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

“Sudah kewajiban saya untuk mengabdi pada kerajaan serta menjaga Kyuhyun-sama, heika.” Ucapnya seraya menundukan kepala sebagai rasa hormat.

Yoochun bangkit berdiri dan menatap Nickhun. Ia tersenyum bangga pada pria yang secara teknis, usianya lebih muda beberapa tahun darinya.

“Kau memang selalu dapat diandalkan, Nickhun.” Ucap Yoochun memanggil nama asli sang Kensei. Nickhun yang semenjak beberapa saat lalu menunduk pun mulai mengangkat wajahnya dan memandang lawan bicaranya yang kini tengah tersenyum hangat padanya. Pria yang berdiri dihadapannya kini bukan bertindak sebagai seorang Raja yang mesti ia hormati, melainkan menjelma menjadi sosok seorang sahabat yang saling menopang satu sama lain.

Hyung..”

“Ah, mungkin lebih baik aku kembali ke kamarku. Kau pasti ingin menunggu dan menemani Kyuhyun hingga ia siuman, bukan?” Tanyanya seraya menepuk bahu Nickhun dan tersenyum ambigu yang membuat si lawan bicara merasa bingung.

Nickhun masih sibuk menerka maksud dari senyuman Yoochun hingga ia tidak menyadari pria tersebut berlalu meninggalkan dirinya yang masih berdiri mematung.

“Oh, Nickhun.” Yoochun memanggil Nickhun ketika ia telah berada diambang pintu kamar Kyuhyun.

“Ya, hyung?”

“Setelah Kyuhyun siuman, jangan lupa beritahukan pada seluruh penghuni kastil untuk mempersiapkan upacara penyambutan kedatangan King Kingdom besok.” Pintanya sebelum sosoknya perlahan mengabur dari pandangan Nickhun yang belum sempat menjawab perintah Yoochun.

Sepeninggal Yoochun, pria bertubuh atletis itupun menumbukkan pandangannya pada sosok Kyuhyun yang masih belum sadar. Ia kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang tempat Yoochun duduk beberapa saat lalu. Mata tajamnya tak pernah lepas memandang wajah Kyuhyun. Menatapi kontur wajahnya yang rupawan yang membuat ia jatuh hati pada junjungan dan adik angkatnya sendiri.

*

“Ayaaahh~”

Rombongan pria berjubah hitam yang baru saja menginjakan kakinya dibalai kastil pun tersenyum ketika mereka dikejutkan dengan suara nyaring yang menyambut mereka. Tak terkecuali salah seorang pria yang berada paling depan dirombongan tersebut.

Pria tersebut pun segera menyongsong bocah kecil yang baru saja memanggil dan berlari kearahnya. Menggendong dan memeluknya dengan erat.

“Ayah kenapa lama sekali pulangnya?” Tanya bocah tersebut dengan mimik kesal yang terlihat sangat menggemaskan. Membuat Nam Gil, sang Ayah mencium pipi putranya dengan gemas.

“Maafkan Ayah. Ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi selama ini.” Nam Gil mencoba menjelaskan pada Kyuhyun, putra bungsunya. Bukan tanpa alasan ia harus rela meninggalkan keluarga dan kastilnya selama lebih dari 3 bulan. Waktu yang cukup lama baginya dan rombongannya habiskan hanya untuk sekedar ‘berburu’ dan melakukan pertemuan dengan King Kingdom.

“Kau merindukan Ayah, nak?” Nam Gil menatap wajah Kyuhyun lekat.

“Nng.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya, “tapi sayangnya aku lebih merindukan Nickhun hyung, Ayah.” Jawab Kyuhyun polos seraya melongokkan kepalanya dari sisi bahu sang Ayah untuk mencuri pandang kearah seseorang.

Pemuda yang baru saja disebut namanya oleh sang Pangeran pun mendongakan kepalanya. Tersenyum ketika arah pandangnya bertemu dengan Kyuhyun yang juga menatapnya.

Tak lama kemudian, Kyuhyun pun segera meronta turun dari gendongan sang Ayah dan berlari memeluk kedua kaki Nickhun yang jauh lebih tinggi darinya. Nickhun yang mendapat perlakuan tersebut terenyum dan mengangguk sekilas pada Nam Gil layaknya meminta izin yang dibalas hal serupa oleh Raja Cho tersebut sebelum ia berlalu masuk meninggalkan putra dan kensei-nya.

Nickhun pun berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Kyuhyun yang segera disambut dengan pelukan erat dari Vampire kecil dihadapannya.

“Aku merindukanmu, Hyung. Hehe..” Kekeh Kyuhyun seraya memeluk erat leher pemuda kepercayaan Ayahnya.

Hati Nickhun berdesir kala ia merasakan tubuh kecil Kyuhyun dalam dekapannya. Perasaan abstrak yang serupa tiap kali ia berdekatan ataupun melakukan kontak fisik dengan Kyuhyun. Terlebih ketika ia mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan sang Pangeran dengan kekehan polosnya.

“Saya juga merindukan anda, Kyuhyun-sama.” Jawab Nickhun membelai punggung Kyuhyun yang berada dalam rengkuhannya.

“Kau tahu, hyung?” Sontak Kyuhyun melepaskan diri dari pelukan Nickhun, “Selama kau pergi dengan Ayah, aku tidak memiliki teman disini. Yoochun hyung terlalu sibuk dengan pasukan berperangnya. Aku bermain sendiri, makan sendiri, belajar di perpustakaan sendiri dan latihan pun juga sendirian. Menyebalkan.” Ia merajuk dengan ekspresi sebal.

Nickhun berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Kyuhyun. Menahan diri untuk tidak mencium bibir tipis yang tengah mengerucut lucu dihadapannya. Ia tak menyangka jika kepergiannya selama ini membuat Kyuhyun merasa tak senang yang berakhir dengan rajukan putra bungsu sang Raja. Kebiasaannya yang selalu mendampingi kegiatan Kyuhyun sehari-hari lah yang membuat ia menjadi dekat dan ketergantungan padanya. Kesempatan yang sangat ia syukuri karena dengan kebiasaannya tersebut membuat ia selalu dekat dan merasa dibutuhkan oleh Kyuhyun.

“Maafkan saya, Kyuhyun-sama. Sebagai permintaan maaf, saya berjanji akan menuruti apapun permintaan anda.”

Manik mata Kyuhyun berkilat demi mendengar janji Nickhun yang terdengar sangat menguntungkan baginya, “Sungguh?” tanyanya meyakinkan yang dibalas anggukkan Nickhun.

“Karena kau seorang kensei yang kuat, berjanjilah padaku untuk selalu melindungi kami semua. Aku, Ayah, Yoochun hyung dan semua yang ada dalam Cho Kingdom.”

*

“Pergi dari hadapanku!”

“Kyuhyun-sama..”

“Pergi! Karena kaulah yang membawa kami pergi dari kerajaan sehingga aku dan Yoochun hyung tidak bisa membantu Ayah untuk berperang! Karena kau lah Ayah terbunuh oleh makhluk setengah Vampire yang menyerang kerajaanku!”

“….”

“Aku tak mau melihat wajah seorang pengkhianat sepertimu!”

 

***

    Changmin menggeliatkan tubuhnya guna merelaksasikan persendiannya. Duduk dan berdiam diri didepan komputer selama lebih dari 5 jam membuat tubuhnya terasa kaku. Jika bukan karena tesisnya yang terbengkalai selama ini, mungkin ia akan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat letih.

Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Menghela nafasnya sebelum ia memejamkan mata.

*

…Ia yang kala itu tengah berburu dengan Dongwon yang tengah berpencar dengannya tiba-tiba mencium sebuah aroma yang tak lagi asing baginya. Aroma tersebut adalah aroma yang sama dengan aroma yang ia temui di tepi sungai beberapa waktu lalu.

Menuruti instingnya, ia pun berlari. Melesat menuju arah aroma demi tidak ingin mangsanya lolos unuk yang kesekian kalinya. Dan seringaiannya muncul ketika ia melihat sesosok tubuh yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Adrenalinnya terasa melonjak naik ketika mata bulatnya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak diantara reruntuhan pohon. Salah satu tangannya telah menggenggam Katana peraknya yang bersiap menghunus si Vampire yang tergeletak.

Namun, sepersekian detik berikutnya, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang ditimpa sinar bulan. Nafasnya tercekat. Darahnya terasa mengalir deras dengan dipompa oleh jantungnya yang berdetak keras.

Beberapa detik ia bergeming ditempat demi pandangan matanya yang bertemu dengan bola mata sewarna merah gelap itu. Bola mata yang seolah menariknya ke dimensi lain. Dimensi dimana ia melihat cahaya yang begitu terang. Cahaya yang menariknya dari kegelapan yang selama ini meligkupi diri dan kehidupannya.

*

Kelopak mata Changmin terbuka ketika ia merasakan bahunya disentuh pelan oleh seseorang.

“Aku pikir kau tertidur.”

Pria tinggi itu menggeleng pelan menanggapi pertanyaan seseorang yang kini berdiri disisinya.

“Bagaimana keadaan Dongwoon, hyung?”

Donghae membaringkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur Changmin, “Dia masih tertidur. Kurasa dia masih lemas karena efek penawar yang kau berikan.”

Changmin menegakan posisi duduknya kembali tanpa berniat menanggapi jawaban pria yang lebih tua beberapa tahun darinya. Ia memilih menyibukan perhatiannya pada layar komputer yang tengah menampilkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Dasar ceroboh. Bagaimana bisa ia tak sadar saat silver bracelet-nya hilang? Tsk.” Donghae mendecih mengolok adiknya yang masih tertidur dikamarnya. Pasalnya, karena kecerobohannya yang tidak sadar saat ‘gelang pelindung’-nya hilang itulah nyawanya nyaris melayang. Beruntung Changmin segera datang dan memberikannya penawar.

Changmin masih saja terdiam beberapa saat sebelum ia memecah keheningan dengan memanggil Donghae.

Hyung..”

“Ya?”

“Apa yang kau rasakan saat kau bertemu dengan Eunhyuk hyung?”

“Apa?!” Doghae terkejut dengan pertanyaan aneh dari sahabatnya. Ia bahkan sampai terlonjak dan mendudukkan tubuhnya karena terkejut. Tidak biasanya ia menanyakan Eunhyuk, kekasihnya. Changmin bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Terlebih yang menyangkut dengan kehidupan pribadi.

“Eunhyuk…Glad-mu.” Ucap Changmin memperjelas maksud pertanyaannya. Meskipun begitu, ia sama sekali tak mengubah posisi tubuhnya yang duduk membelakangi Donghae.

“Hey! Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu Changmin-ah? Apa kau sudah bertemu dengan Glad-mu? Siapa dia? Apa dia seorang manusia seperti Eunhyuk? Atau makhluk seperti kita juga?” berondong Donghae yang langsung menghampiri Changmin dan duduk di sudut meja belajar.

“Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaanku saja, hyung.” Changmin menjawab dengan menekankan intonasinya pada kata ‘satu’.

Donghae memutar bola matanya malas mendengar kalimat sarkatik tersebut.

“Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi jika aku telah menjawab pertanyaanmu. Deal?”

“Hhm.”

‘Dinginnya..’ Donghae membatin. Namun tak urung ia pun menjawab pertanyaan Changmin tentang Glad.

“Aku bertemu Eunhyuk ketika aku mengantarkan Bibi Goo ke Rumah sakit untuk medical check up-nya. Saat itu aku berpapasan dengannya yang sedang mendorong kursi roda milik adiknya yang baru saja kecelakaan. Kau tahu? Ketika aku melihatnya, jantungku terasa berdetak sangat kencang..” Donghae meletakkan tangannya pada bagian dadanya, bersikap seolah tengah merasakan detakan jantungnya ketika ia bertemu sang Glad.

“..darahku terasa mengalir deras hingga membuat tubuhku terasa kebas seperti tak memijak bumi. Sorot matanya membuat jiwaku seperti tertarik dalam dimensi lain yang penuh dengan cahaya yang membuatku terasa enggan untuk kembali dalam kegelapan yang seolah menyendera kita selama ini. Dan yang terpenting ialah, muncul perasaan untuk memuja, melindungi, memiliki, dan memenjarakannya untuk diri kita sendiri..”

Donghae terus saja menceritakan apa yang ia rasakan ketika ia bertemu sang Glad tanpa memperhatikan jika kalimat-kalimatnya itu menimbulkan reaksi ekstrem bagi sang lawan bicara. Tubuh Changmin kini menegang dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Mouse dalam genggaman tangannya kini bahkan telah remuk.

‘Perasaan itu..’

changmin beforeu go cap

To be Continue..

Long time no see..

Setelah sekian lama akhirnya bisa update sesuatu juga. Maaf untuk update-an yang superrr lama sampai menjamur T_T

 

Advertisements

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Fading the Darkness – Chapter 2

The Revenge Poster t

Tittle : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos Vampire dan Dhampire yang berkembang dalam masyarakat. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya yang terbatas.

Warning : Don’t Like = Don’t Read.

 

“Luhan…”

“Tidak.”

“Xi Luhan..”

“Tetap tidak.”

“Apa perlu aku berlutut di hadapanmu agar kau mau membantuku?” Pinta Kyuhyun dengan nada memelas. Mendengar ucapan Kyuhyun tentu saja membuat Luhan mendelik. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan pangeran sekaligus sahabatnya itu untuk berlutut di hadapannya?

“Lu—“

“Kau pangeran, Cho Kyuhyun.” Sahut Luhan jengah. Ia lelah menghadapi sahabatnya yang merengek seperti ini.

Tanpa di ketahui olehnya, seringai licik Kyuhyun tampak muncul di bibirnya.

“Justru karena aku seorang pangeran di sini, sudah sepantasnya kau menuruti apapun permintaanku.” Intonasi Kyuhyun berubah mengintimidasi. Betapa cerdiknya ia memanfaatkan kedudukannya untuk mendesak sahabatnya itu

“Aku akan menuruti apapun permintaan dan perintahmu, Cho Kyuhyun. Tapi tidak dengan yang satu ini. Ini terlalu berresiko.” Jelas Luhan masih mencoba menolak permintaan Kyuhyun yang berdiri di hadapannya.

Ia memang tak membual perihal ucapannya. Posisinya yang sebagai Slave memang sudah sepantasnya untuk mengabdi dan melayani Cho Kingdom. Terlebih di masa lalu ia pun berhutang budi pada Kingdom tersebut.

Dulunya ia hanyalah seorang Alter. Seorang Vampire bertuan yang telah kehilangan Masternya, Sehun. Ia yang kala itu tengah kehilangan arah karena sang master terbunuh oleh Dhampire. Mencoba kabur dari kejaran si pemburu yang terus saja mengejarnya. Ia yang masih anak-anak dengan kondisi fisiknya yang lemah karena kekurangan energi, nyaris saja terkena tebasan katana perak milik Dhampire jika saja ia tidak di selamatkan oleh makhluk sejenisnya yang tidak lain adalah Yoochun. Dimana pada saat itu Cho Kingdom tengah melakukan perjalanan mencari tempat tinggal baru pasca penyerangan kerajaannya.

“Kau hanya perlu menjaga pintu selagi aku masuk dan mengambilnya.” Seru Kyuhyun mulai habis kesabaran. “Aku hanya ingin mempermudah keinginanku untuk memburu Dhampire yang telah membunuh Ayahku.”

*

         Luhan mengangguk setelah memastikan keadaan kastil yang sepi. Yoochun dan Nickhun tengah berada di ruangan khusus milik Yoochun. Membicarakan sesuatu yang tak ia ketahui. Kyuhyun yang mengerti isyarat yang diberikan sahabatnya, perlahan membuka pintu menuju ruangan khusus penyimpanan serum. Ruangan yang selalu di jaga ketat hingga tak seorang pun di perbolehkan masuk kecuali Nickhun dan Yoochun.

Oleh sebab itulah, Luhan menolak rengekan Kyuhyun yang meminta bantuannya untuk melancarkan aksinya. Terlebih setelah mengetahui tujuan Kyuhyun yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Kyuhyun berniat mengambil Kessei Taiyo. Sebuah serum yang membuat seorang Vampire mampu bertahan di bawah sinar matahari. Bahkan mampu menghilangkan aroma tubuh seorang Vampire dan membuat mereka mampu beraktifitas layaknya manusia biasa.

Krieeett…

Kyuhyun sedikit berjengit ketika mendengar derit pintu yang terbuka. Ia terpaku sejenak mengamati ruangan yang penuh dengan berbagai cairan yang tak ia kenal. Yang ia ketahui hanyalah terdapat darah dalam ruangan tempatnya berada. Namun, Ia mengabaikan rasa panas yag membakar kerongkongannya kala ia mencium aroma darah yang menguar memenuhi ruangan. Tujuan utamanya kali ini adalah untuk mengambil serum yang akan membuatnya layaknya manusia biasa.

Dengan cekatan ia segera mencari serum incarannya diantara ratusan botol-botol kaca yang tersusun rapi di sebuah lemari besar. Satu persatu botol ia perhatikan setiap labelnya, namun apa yang ia cari tak kunjung ia temukan.

Sementara Luhan yang tengah menjaga pintu sesekali melongok kedalam ruangan. Memastikan apakah Kyuhyun sudah menemukan yang ia cari. Karena tidak sabar, akhirnya ia ikut masuk kedalam ruangan penyimpanan dengan sebelumnya memastikan keadaan yang kondusif.

“Kau belum menemukannya juga?”

“Terlalu banyak cairan aneh disini.” Sahut Kyuhyun masih dengan kesibukannya yang tengah meneliti dan membaca tulisan kanji yang tertera ditiap botol.

“Apa Yoochun-sama menyembunyikannya ditempat lain?” Luhan mencoba menebak-nebak.

“Tidak mungkin.” Kyuhyun nyaris saja menutup kembali pintu lemari yang ia pegang ketika matanya menangkap sebuah kotak kecil di sudut lemari kaca itu.

Dengan perlahan ia mengambil kotak persegi usang tersebut dan meletakannya di meja. Luhan yang penasaran pun mendekati Kyuhyun. Mereka saling berpandangan mencoba meyakinkan. Perlahan, Kyuhyun membuka kotak usang tersebut. Terdapat sebuah botol berukuran sedang berisi cairan berwrana merah.

Kessei Taiyo’

“Apa yang kalian lakukan?”

*

“Changmin oppa.”

Langkah Changmin terhenti di ujung koridor ruang Seni ketika mereka mendengar sebuah suara lembut memanggil namanya. Si pemilik suara yang tidak lain adalah seorang yeoja itu kini berlari kecil menghampiri Changmin dan berdiri dihadapan lelaki tinggi tersebut.

“Ada apa Yeon Hee-ssi?” Tanya Changmin berusaha seramah mungkin meskipun pada akhirnya nada datar tanpa intonasi yang terdengar dari ucapannya itu.

Sementara sang gadis bernama Yeon Hee itu menundukkan kepalanya gugup. Terlebih mendengar nada bicara Changmin yang jauh dari kesan bersahabat.

“Ng, apa Oppa sekarang senggang?” Yeon Hee memberanikan diri bertanya meskipun kini suaranya terdengar seperti sebuah cicitan.

Berhadapan langsung dengan seorang The Great Prince Shim Changmin, sang idola kampus membuatnya gugup setengah mati. Padahal bukan kali ini saja ia mengobrol dengan namja tampan dan jenius tersebut. Namun tetap saja sikap gugupnya tak pernah hilang.

“Ada apa?” Kembali ucapan tanpa intonasi itu terdengar.

Yeon hee sendiri berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk tetap berdiri di hadapan Changmin. “Mmm…maukah Oppa pergi bersamaku?”

Changmin menaikkan sebelah alisnya bingung, “Maksudmu berkencan?” tembaknya langsung tanpa tedeng aling.

“Eh?” Yeon Hee refleks mendongak. Dan seketika wajahnya memerah langsung mendapati manik bulat milik lelaki yang ia sukai itu menatap lekat kearahnya.

Oh, bukan rahasia umum lagi jika dia, yang termasuk dalam jajaran yeoja tercantik di Shinki Academy, menyukai Shim Changmin. Lagi pula siapa yang tidak akan menyukai pria tersebut?

Seorang mahasiswa Seni yang terkenal dengan wajah tampannya. Terlebih dengan otaknya yang memiliki klasifikasi IQ superior. Terkecuali sifat dinginnya yang cenderung acuh itu yang anehnya justru membuatnya tampak keren bagi orang lain.

“Mianhe, hari ini aku sibuk. Mungkin kau bisa mengajak pria lain untuk berkencan denganmu.”

Dan Changmin pun langsung berlalu. Meninggalkan Yeon Hee yang mematung di tempat dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.

Tak tahukah jika kata-katamu terdengar sangat kejam, Shim Changmin?

*

“Kulihat di koridor tadi kau mengobrol dengan Lee Yeon Hee, Changmin-ah?”

Donghae membuka percakapan ketika mereka bertiga, ia, Changmin dan Dongwon mendudukan diri di salah satu kursi di kantin.

“Apa dia mengajakmu kencan, hyung?” Tanya Dongwon antusias. Pertanyaan serupa yang selalu ia lontarkan ketika ia mengetahui jika ada seorang yeoja mengobrol dengan sahabat yang telah ia anggap sebagai hyung kandungnya sendiri.

“Kami hanya tak sengaja berpapasan.” Jawab Changmin acuh dengan menyuapkan sebuah onigiri kedalam mulutnya.

“Benarkah? Tapi yang kulihat tadi Yeon Hee mengejar dan berbicara denganmu. Apa itu yang kau sebut dengan berpapasan, Shim Changmin?” desak namja berrambut pirang itu dengan gigih.

Dongwoon hanya terkekeh melihat hyungnya yang belum menyerah mendengar jawaban Changmin. Bukan sekali ini Changmin menolak ajakan kencan dari gadis ataupun mahasiswi lain. Sudah tak terhitung lagi ia dan Donghae menasehati Changmin untuk sesekali menikmati ‘kehidupan normalnya’ dengan berkencan misalnya. Namun jawaban Changmin sama sekali tidak berubah.

Aku lebih memilih untuk menghabisi puluhan Vampire daripada harus berkencan dengan gadis merepotkan seperti mereka.’

“Sepertinya aku akan berburu malam ini.” Tukas Changmin mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku ikut!” Sahut Dongwoon antusias, “Sudah lama aku tidak menemukan permainan baru. Bagaimana denganmu, Hae hyung?”

“Aku tidak bisa ikut. Aku sudah berjnji akan membantu Hyukkie untuk menjaga caffe malam ini.” Ucap Donghae. Meskipun mereka seorang Dhampire, namun tidak dapat dipungkiri jika mereka memiliki kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya. Makan, minum, bersekolah bahkan bekerja pun dapat mereka lakukan.

Changmin mengangguk pelan menanggapi ucapan Donghae, “Kuharap malam ini kita beruntung, Dongwon-ah.”

*

       Aura ketegangan tampak menyelimuti salah satu ruangan di kastil milik Cho Kingdom. Tepatnya di sebuah ruangan yang kini terdapat dua bersaudara. Mereka saling melancarkan pandangan membunuh satu sama lain.

“Perbuatanmu kali ini sudah di luar batas, Kyu.” Yoochun memperingatkan Adiknya yang kini tengah berdiri dihadapannya.

Beberapa saat lalu ia mendapat laporan dari Nickhun. Dimana sang Kensei telah memergoki Kyuhyun dan Luhan tengah berada di ruang penyimpanan serum. Dan yang membuat Yoochun murka adalah ketika ia mengetahui motif Kyuhyun mencuri serum Kessei Taiyo.

Nickhun, yang kala itu telah berdiskusi tentang kedatangan Kingdom lain yang akan singgah di wilayah mereka dengan Yoochun, menghampiri ruangan penyimpanan serum yang terbuka dan mendapati Kyuhyun dan Luhan di dalam.

“Aku hanya ingin mencoba kehidupan normal seperti manusia.” Kyuhyun berusaha membela diri.

“Dan membiarkanmu terbunuh kapan saja oleh Dhampire? Tidak.”

“Tapi aku bukan anak kecil lagi, hyung!” Sahut Kyuhyun tak mau kalah, “Aku hanya ingin membalaskan dendamku pada seseorang yang telah membunuh Ayah. Tidakkah kau juga berniat untuk menuntut balas akan kematian Ayah, hyung?”

Yoochun terdiam. Sesungguhnya ia juga memiliki hasrat yang sama dengan sang adik. Namun posisinya sebagai raja atau pemimpin Kingdom membuatnya menahan diri untuk tidak berbuat gegabah dan menuntutnya bersikap lebih bijak. Terlebih menurutnya membalas dendam pun akan sia-sia. Ayahnya tidak akan hidup lagi meskipun ia membunuh pelaku yang membunuh Ayahnya.

Namun pemikiran tersebut tidak berlaku bagi Kyuhyun. Adiknya seperti terobsesi untuk membunuh siapapun yang telah memusnahkan sang Ayah.

“Sampai kapanpun hyung tidak akan membiarkanmu keluar dari batas aman wilayah kita. Mengertilah, Kyu.” Suara Yoochun mulai melirih.

Selama ini ia bersikap protektif terhadap adiknya tidak lain karena ia tidak ingin kehilangan Kyuhyun. Adik sekaligus keluarga satu-satunya yang ia miliki. Ia tidak ingin kejadian Ayahnya yang terbunuh di masa lalu terulang kembali menimpa Kyuhyun.

Dan permintaan Kyuhyun yang meminta izinnya untuk membaur dengan manusia tidak akan pernah ia kabulkan.

“Kuharap mulai saat ini kau berhenti berbuat semaumu, Kyu. Karena aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu. Terlebih tak lama lagi Kim Kingdom akan segera datang ke wilayah kita.“

Yoochun mengultimatum. Dan demi mendengar nama Kim Kingdom disebut, tubuh Kyuhyun sedikit menegang.

“Keluar dari sini dan lupakan keinginan konyolmu itu.” Pungkas Yoochun berbalik meninggalkan Kyuhyun yang masih mematung di tempatnya berdiri.

*

        Changmin dan Dongwoon kini tengah berlari membelah hutan. Mencoba mencari jejak-jejak ataupun aroma memuakkan dari buruannya.

Hingga mereka telah sampai di sebuah tepi sungai. Dimana tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat sekelompok laki-laki bertubuh besar. Dan melihat dari ciri-ciri mereka, Changmin dapat menebak jika mereka adalah sekelompok Werewolf.  Sejenis manusia serigala yang bisa dikatakan merupakan sekutu bagi seorang Dhampire dalam menghadapi Vampire.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?” Sapa Changmin yang menarik perhatian dari kelompok Werewolf tersebut.

Ketujuh lelaki bertubuh kekar itu menoleh padanya dan Dongwoon yang berdiri disisinya.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?” Yunho, yang ia ketahui sebagai Alpha atau pemimpin dari kelompok tersebut menyapanya.

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon balik bertanya meskipun dengan nada bercanda.

Werewolf yang ada dihadapannya kali ini berasal dari suku Gyfraddia. Salah satu suku tertua yang hingga saat ini masih bertahan hidup. Jika Dhampire memiliki percampuran darah manusia dan Vampire, maka Werewolf merupakan manusia biasa yang memiliki kekuatan luar biasa yang mampu bertransformasi menjadi serigala.

“Tentu saja boleh.” Jawab salah satu dari mereka yang Changmin kenal bernama Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya sang Werewolf bermata besar, Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?” Tanyanya sarkatik.

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh… Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

Dongwoon menggeleng keras, “Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawabnya seraya menyeringai lebar.

Dan semua yang berdiri di tempat itupun tertawa mendengar antusiasme Dongwoon.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris, pria yang paling tinggi diantara kelompok Werewolf itu  gembira, membuat Changmin dan Dongwoon kembali tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Pesannya mencoba memeperingatkan sang Alpha dari sekutunya. Ia memang mendengar jika ada sebuah suku asing yang berniat melakukan penyerangan untuk melakukan ekspansi wilayah suku lain.

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

*

Srak!

Brugh!

Brugh!

Suara gaduh terdengar bersamaan dengan puluhan pohon besar yang tumbang diantara gelapnya hutan. Kyuhyun dengan kalap menendang, menarik dan mencabik-cabik pohon-pohon kokoh yang seketika itu tumbang dibelakangnya. Tak dipedulikannya energinya yang perlahan-lahan mulai berkurang akibat memforsir kekuatnnya secara berlebih. Emosinya seakan melupakan keadaan fisiknya tersebut. Dan emosinya semakin membuncah ketika bayangan wajah Nickhun tiba-tiba muncul dibenaknya.

Jika bukan karena pria itu, dapat dipastikan ia kini telah berhasil kabur dan berada di tengah-tengah kehidupan manusia normal. Mencoba menyelidiki kehidupan Dhampire dan menyelidiki kelemahan sang Vampire Hunter musuh abadinya itu.

Brugh!

Dan tubuh Kyuhyun pun ambruk bersamaan dengan pohon terakhir yang tumbang di belakangnya.

*

Brugh!

Pendengaran tajam Changmin seketika menangkap sebuah suara asing yang terdengar tak jauh dari tempatnya berada. Changmin menatap ke sekeliling. Ia hanya seorang diri saat ini. Sebelumnya ia telah memerintahkan Dongwoon untuk berpencar arah dengannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi ia pun melesat. Berlari menuju sumber suara. Dan senyum tampak terlihat dari bibirnya ketika ia mencium aroma memuakkan yang seketika menaikkan adrenalinnya.

Dengan lincah ia melompati pohon-pohon besar yang tumbang menghalangi laju larinya.

Disana kau rupanya.’

Batinnya ketika mata bulatnya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak diantara reruntuhan pohon. Salah satu tangannya telah menggenggam Katana peraknya yang bersiap menghunus si Vampire yang tergeletak.

Namun, sepersekian detik berikutnya gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya.

normal_kyuhyun_5

TBC

Fading the Darkness – Chapter 1

The Revenge Poster t

Tittle : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos vampire dan dhampire yang berkembang dalam masyarakat. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya yang terbatas.

Warning : Don’t Like = Don’t Read.

Bulan tampak menggantung angkuh di gelapnya langit malam. Kemilau sinarnya membias di permukaan danau hitam yang tenang. Menyusup melalui sela daun pohon Oak di sekitarnya yang tampak menjulang membelah kelamnya malam.

Kesunyian memenuhi udara. Hanya lolongan serigala yang menggema mengisi ruang dengar yang semakin mencekam di malam beku itu.

Di tepi danau itulah, kini terdapat sesosok makhluk yang tampak merengguk kesenangannya. Menghisap darah milik seseorang yang berada di bawah kendalinya. Lelaki dalam cengkeramannya itu terus menjerit dan mengejangkan tubuhnya. Berusaha melakukan perlawanan untuk terlepas dari intimidasi makhluk penghisap darah bermata merah yang berakhir sia-sia.

Byurr!

Tubuh kaku tak bernyawa itu kemudian di lempar ke dalam danau layaknya sebuah benda tak berharga oleh si penghisap darah. Membiarkan tubuh korbannya itu tenggelam di tengah danau tenang. Seringai kepuasan nampak terlihat dari wajah pucatnya yang rupawan. Memperlihatkan bibir dan taringnya yang berlumuran darah. Ia lalu membalikkan tubuhnya seraya mengusap cairan pekat berwarna merah itu dengan punggung tangannya.

“Sudah selesai, Kyuhyun-sama?” Tanya makhluk lain yang sedari tadi mengamati kejadian tersebut tanpa berkomentar apapun. Menyaksikan kejadian seperti itu bukan suatu hal yang membuatnya ketakutan jika ia sendiri merupakan makhluk sejenis dengan pemangsa darah yang baru saja ia panggil dengan sebutan Kyuhyun itu.

Kyuhyun menatap lelaki berambut blonde yang bersandar di salah satu pohon besar dengan pandangan menusuk. Ia lalu memejamkan matanya. Sedetik kemudian bola matanya yang sebelumnya berwarna merah kini telah berubah dengan warna lelehan caramel. Yang membuatnya tampak manusiawi. Begitupun juga taringnya yang sudah tidak tampak.

“Kau tidak berniat untuk melepas dahagamu, Luhan? Ku lihat mangsaku tadi tidak hanya seorang diri di dalam hutan ini.”

Lelaki bernama Luhan, yang tidak lain adalah sahabatnya itu hanya menggeleng pelan.

“Aku sudah cukup puas dengan energi yang ku dapatkan hari ini.”

Kyuhyun mendengus mengerti ucapan Luhan yang terdengar ambigu, “Lelaki mana lagi yang kau tiduri hari ini, heh?”

“Kau—“

Belum sempat Luhan menerjang sahabatnya untuk memberi pelajaran, tiba-tiba tubuhnya tersentak. Begitupun juga Kyuhyun yang tubuhnya terlihat menegang. Mereka saling berpandangan mengerti. Indera mereka dapat menangkap jika ada aroma tanda bahaya yang tengah mendekat kearah mereka.

Mereka berdua pun menyeringai.

***

Masih dalam kawasan hutan, tak jauh dari danau tempat Kyuhyun dan Luhan berada. Kini terlihat dua orang lelaki tengah berlari dengan kecepatan tinggi menuju aroma menyengat yang di tuntun indera penciuman mereka. Bukan hal yang sulit bagi seorang dhampire yang memiliki tingkat penciuman yang sangat sensititif. Terlebih jika aroma itu berasal dari makhluk yang mereka buru.

Mereka berdua terus berlari dengan senjata mereka yang telah siaga di tangan. Sebuah katana, sebuah pedang panjang perak yang menghunus menantang seolah haus akan korbannya. Hasrat mereka untuk memusnahkan vampire yang akan mereka jumpai bergejolak dalam diri mereka.

Dan kecepatan mereka semakin menambah ketika aroma buruannya itu mulai tercium samar-samar.

Srak!

“Sial!” Rutuk salah satu dari dhampire itu ketika mendapati buruannya telah kabur.

Sementara salah seorang lagi terlihat menatap nyalang pada suasana sekitar. Mencoba mengamati kemungkinan jika buruannya bersembunyi di sekitar mereka. Nihil. Ia sedetik kalah cepat dari makhluk penghisap darah itu.

Hingga mata tajamnya menemukan sebuah sosok yang menarik perhatiannya. Sesosok tubuh tak bernyawa yang mengambang di tengah danau. Mayat yang ia ketahui pasti adalah korban sang vampire.

Dongwoon, lelaki yang merutuk tadi memasukkan katananya ke dalam selongsong pedangnya. Ia lalu menghampiri lelaki tinggi yang berdiri di tepi danau.

“Apa perlu aku menepikan mayat itu, hyung?”

Lelaki tinggi itu tak langsung menjawab. Ia memilih untuk berbalik dan berjalan seraya menyimpan katananya, “Kita tak punya waktu untuk mengurusi sisa si penghisap itu.”

Dongwoon tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengikuti langkah hyungnya yang ia ketahui tengah geram karena gagal menghabisi buruannya malam ini.

***

Pintu sebuah kastil besar itu terbuka dengan sendirinya ketika Kyuhyun dan Luhan memijakan kakinya di tanah. Tawa mereka tampak lepas ketika mengingat beberapa waktu lalu saat berhasil kabur dari ancaman Dhampire. Mereka terutama Kyuhyun, memang sanagt suka menantang adrenalin dengan mencoba hal-hal baru. Terutama ketika ia berhasil mempermainkan Dhampire yang memburu makhluk sejenis dengannya.

Kyuhyun menatap sekeliling kastil bernuansa putih yang terlihat sepi dan tak menemukan kakaknya. Mungkin ia sedang berburu, pikirnya.

“Kau dari dari mana saja, Kyu-sama?”

Langkah Kyuhyun dan Luhan terhenti ketika mendengar suara seseorang bertanya. Dan sekejap saja kini seorang lelaki bertubuh tegap telah berdiri di hadapan mereka berdua. Namun tatapannya hanya terarah pada Kyuhyun.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Kyuhun dengan nada tak suka yang sangat kentara.

“Aku disini untuk menjagamu atas perimntaan Yoochun-sama.” Jawab Nickhun, lelaki yang berdiri di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mendelikan matanya. Ia tahu kakaknya memang sangat protektif terhadap dirinya. Tapi ia tidak pernah menyangka jika kakaknya, Yoochun, sampai akan memperlakukannya laiknya anak kecil dengan meminta Vampire lain untuk menjaga dirinya. Heck, usianya bahkan telah lebih dari satu abad.

“Aku tak butuh di jaga oleh Vampire rendahan sepertimu.”

Nickhun terhenyak. Meskipun perasaannya telah mati bersama organ lain yang ia miliki, namun tak dapat di pungkiri jika kata-kata itu membuat hatinya sakit. Ia merasa harga dirinya di injak oleh cemoohan makhluk yang ia cintai.

Ia memang mencintai Kyuhyun. Mencintai makhluk yang menjadi junjungannya sendiri. Mencintai pangeran yang tak sepantasnya ia cintai yang hanya sebagai seorang kensei dari kerajaan Cho di masa lalu.

“Jaga ucapanmu, Cho Kyuhyun.” Suara geraman terdengar dari arah lain. Sontak mereka bertiga menolehkan pandangannya pada seseorang lain yang baru saja memasuki kastil.

“Hyung…” Gumam Kyuhyun pada hyungnya yang menatapnya dengan pandangan menusuk terarah padanya.

Nickhun dan Luhan menundukan kepalanya sedikit demi memberi penghormatan pada Pangeran besar mereka.

“Aku yang meminta Nickhun untuk menjagamu, Kyu.” Ucap Yoochun pada dongsaengnya. “Dan kau tahu? Karena ulahmu yang dengan seenaknya membunuh manusia, sekarang banyak Dhampire yangyang berkeliaran dan semakin gencar memburu kita.”

Kyuhyun menundukan wajahnya, mengamini dalam hati ucapan kakaknya. Akhir-akhir ini hasratnya untuk meminum darah manusia memang tak terkendali karena hobinya yang sering berpetualang. Ia seolah tak dapat mengontrol dirinya demi mencium aroma darah manusia yang ia jumpai.

“Sebagai sangsinya, aku memutuskan untuk memerintahkan Nickhun untuk menjagamu kemanapun kau pergi.”

“Hyung!” Teriak Kyuhyun tidak terima mendengar keputusan Yoochun. Di buntuti oleh orang lain kemanapun ia pergi saja ia tidak suka. Terlebih jika yang membuntutinya adalah Nickhun!

“Aku tak pernah merubah keputusan apapun yang pernah ku ucapkan.”

***

Donghae yang tengah duduk bersantai di sofa apartemennya sontak berdiri ketika ia mendengar bel pintu berdering.

Tanpa melihat siapa tamu dari interkom yang terpasang, ia pun membuka pintunya yang kemudian menampilkan dua orang lelaki yang sangat ia kenali.

“Masuklah…” Donghae mempersilahkan kedua tamu itu yang tidak lain adalah home mate sekaligus adik dan sahabatnya, Dongwoon dan Changmin. Ia memilih untuk tidak memberondong pertanyaan terlebih dahulu demi melihat air muka kedua sahabatnya yang tampak mengeras. Pertanda buruk.

“Aku sudah memasakan makanan untuk kalian.” Ucap Donghae mencoba mencairkan suasana dengan mood kedua sahabatnya yang buruk.

“Mianhe, aku tidak lapar, hyung. Aku akan istirahat di kamar.” Pinta Changmin mencoba bersikap lembut pada hyung kekanakannya  itu.

“Ne, Changmin-ah. Istirahatlah, jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku ataupun Dongwoon.”

Changmin mengangguk dalam diam dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di ujung ruangan. Ia lantas merebahkan tubuh jangkungnya di ranjang miliknya. Mencoba menenangkan emosinya yang naik ketika mengingat ia gagal mengejar Vampire yang hampir ia temui beberapa saat lalu.

Ia yakin jika Vampire tadi bukanlah Vampire biasa mengingat aromanya yang tampak samar. Tidak seperti Vampire muda yang beraroma lebih menyengat.

Terlahir sebagai Dhampire membuatnya hafal pada aroma dari jenis berbagai Vampire. Sebuah insting alami yang patut ia syukuri. Semakin tinggi derajat atau kekuatan dari seorang Vampire, maka semakin samarlah aroma yang menguar dari tubuhnya. Begitu pun sebaliknya.

Terkadang, ia merasa benci pada dirinya sendiri. Terlahir sebagai makhluk hasil dari hubungan terlarang antara Vampire dan Manusia. Dengan latar belakang itulah yang membuatnya terkucilkan di lingkungannya ketika ia masih anak-anak. Orang-orang di sekitarnya menganggapnya sebagai aib bagi keluarga ibunya yang seorang manusia.

Bahkan kejadian menakutkan ketika ia dan ibunya hampir di bakar warga sekitar pun masih terrekam jelas dalam ingatannya. Mereka menganggap, jika melahirkan seorang Dhampire merupakan aib dan pembawa bencan yang harus di musnahkan. Ia ingat ketika ia masih anak-anak, Ibunya pernah kabur dari rumah dengan membawa dirinya. Mereka kabur dari tempat ia tinggal ketika usianya baru 10 tahun. Hingga akhirnya mereka menemukan suatu kawasan yang ditinggali khusus oleh Dhampire dan kawanan Vampire hunter lainnya.

Semenjak itulah, ibunya yang hanya manusia biasa memilih untuk berlatih menjadi seorang Vampire Hunter.

Hingga suatu hari, ketika ia baru saja pulang bermain bersama teman-temannya. Ia di kejutkan dengan sebuah kabar yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Changmin yang baru saja bermain dengan Donghae dan Dongwoon, sedikit heran ketika ia melihat banyak sekali orang-orang berkerumun di rumahnya.

“Changmin-ah..” Panggil seorang lelaki paruh baya ketika ia melihat Changmin.

Changmin sendiri menatap bingung pada sekelilingnya, “Ada apa paman? Kenapa rumahku ramai sekali seperti ini?” tanyanya pada paman Il Rak, yang tidak lain adalah ayah dari Donghae dan Dongwon  sekaligus tetangganya.

Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu. Jika seharusnya Paman Il Rak saat ini tengah pergi berburu dengan kelompok Dhampire dan Vampire Hunter lainnya, termasuk ibunya, untuk menyerang sebuah kerajaan Vampire yang mereka temukan beberapa minggu lalu.

“Paman, dimana ibuku?” tanyanya dengan sorot penuh harapan. Sudah semimggu ibunya pergi untuk berburu. Ia sungguh sangat merindukan wanita yang ia hormati itu.

“Changmin-ah, ibumu…” Ucap Il Raka tersendat, “Ibumu tewas dalam perburuan kemarin Changmin-ah.”

Deg!

Jantung Changmin berpacu cepat. Darahnya mengalir deras seperti terkumpul dalam kepalanya yang membuatnya terasa pusing. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat mendengar kalimat ayah sahabatnya itu.

Tanpa berkata apapun, ia melesat masuk kedalam rumahnya. Memastikan apa yang Il Rak ucapkan adalah sebuah lelucon. Ia mengabaikan orang-orang yang jatuh karena di tabrak olehnya. Namun, kesadarannya seperti tertampar ketika melihat sebuah peti kayu berada di antara puluhan orang yang kini menatap padanya dengan pandangan iba.

Dengan gontai, ia melangkah mendekati peti kayu tersebut. Peti dimana kini terlihat jasad seorang wanita terbujur kaku dengan seluruh tubuhnya yang memucat. Tampak beberapa luka bekas koyakan dan gigitan di sekitar lehernya. Luka yang ia yakini diciptakan Vampire.

“Ibu…” Gumam namja kecil itu bergetar menahan air mata. Ibunya yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Ibunya yang selama ini menjadi alasan dirinya untuk tetap tersenyum. Ibunya yang selama ini bersuah payah melindungi dirinya pada ancaman apapun. Kini, telah terbunuh. Oleh makhluk penghisap darah yang sangat ia benci sejak dulu.

Ia kemudian meraih tangan ibunya. Berharap dapat menemukan kehangatan yang teasa di genggaman lembut sang Ibu.

Dingin. Keras dan kaku.

Tiba-tiba saja ia merindukan rasa hangat yang tersalur ketika Ibunya membelai wajahnya dengan sayang.

“Ibu…” Ia bergumam kembali. Perlahan ia mengecup tangan ibunya dengan dalam. Mencobaa mengingat kontak terakhir yang akan ia rasakan dengan ibunya. Seraya dalam hati mengucap sebuah janji dan sumpah yang akan ia penuhi demi membalas kematian ibunya..

***

Brak!

Pintu kayu itu terdengar nyaring ketika seseorang membukanya dengan kasar. Menyebabkan seorang namja kecil yang tengah tertidur lelap diatas ranjangnya terusik dari alam bawah sadarnya.

“Kyu…Kyuhyun-ah. Bangunlah.” Panggil seseorang panik dengan menepuk pelan pipi tembam adiknya.

“Nnghh, hyung…” Erang namja kecil yang bernama Kyuhyun itu tak suka ketika kakaknya mengganggu waktu istirahatnya.

Yoochun mengabaikan protes adik semata wayangnya. Tak ada waktu lagi untuk bergerak lambat atau semuanya akan berakhir sia-sia.

“Cepat bangun dan naiklah ke punggung hyung.” Pinta Yoochun tergesa. Dan demi melihat kakaknya yang terlihat panik, Kyuhyun pun memilih menuruti permintaan sang kakak. Naik ke punggung Yoochun yang kemudian terbang melewati jendela kamarnya yang terbuka.

Diluar, ia melihat sosok yang ia kenali sebagai Kensei kepercayaan Ayahnya yang telah berdiri di salah satu pohon besar.

“Yoochun-sama.”

Panggil Nickhun, sang Kensei ketika melihat putra sulung rajanya berhasil keluar dari istana dengan membawa adiknya.

Dari tempat mereka berada, mereka dapat melihat jika di luar istana tempat mereka tainggal terdapat peperangan besar yang terjadi. Kerajaan mereka tengah di serang oleh sekelompok Dhampire dan Vampire Hunter. Sekelompok musuh abadi bagi bangsa Vampire.

Kyuhyun yang semenjak tadi terdiam memberanikan diri untuk melongokan wajahnya dari balik punggung kakaknya.

Mata bulatnya menangkap sebuah kerusuhan yang membuatnya merinding. Di depan sana, terlihat para sekelompok manusia –menurutnya- berbaju hitam sedang berperang dengan pasukan Vampire dari kerajaannya. Terlihat sekelompok orang berbaju hitam itu membawa sebuah pedang yang mengkilap di tempa sinar bulan purnama. Di lain sisi, para Vampire pun terlihat tengah melakukan perlawanan. Dengan mencakar, memukul dan menggigit sekelompok orang berpedang itu yang tak jarang berhasil mengenai tubuh mereka yang seketika ambruk.

“Heika!”

“Ayah!” Pekik ketiga Vampire itu bersamaan. Dengan jelas mereka melihat Ayah dan Raja mereka teterkena sabetan sebuah pedang dari seorang wanita berbaju hitam. Seketika itu tubuh besar sang Raja Cho pun ambruk yang kemudian terbakar menjadi abu.

“Ayah! Ayah!” Pekik Kyuhyun histeris dalam gendongan kakaknya yang menahan tubuh kecilnya yang terus meronta.

Awalnya Yoochun pun berniat turun ke medan pertarungan untuk menyelamatkan kerajaannya. Terlebih hasratnya itu semakin membuncah ketika ia melihat ayahnya terbunuh. Namun tindakannya segera di tahan oleh Nickhun.

“Ingat pesan Nam Gil-heika, Yoochun-sama.” Cegah Nickhun mengingatkan pesan sang Raja pada putra sulungnya.

‘Selamatkan dirimu dan bawa Kyuhyun pergi sejauh mungkin dari tempat ini.’

‘Tapi Ayah—‘

‘ Tak ada waktu untuk membantah ucapan Ayah. Ayah akan meminta Nickhun untu menjaga kalian berdua. Jika perang telah berakhir, Ayah akan menjemput kalian kembali.’

Yoochun memejamkan matanya. Mencoba menguatkan dirinya. Sejujurnya ia merasa tidak berguna menjadi sorang Pangeran. Bagaimana mungkin calon penerus kerajaan sepertinya ‘melarikan diri’ ketika terjadi peperangan yang menyerang kerajaannya. Namun, demi mengingat pesan Ayahnya yang sangat ia hormati, ia memilih untuk menuruti pesan tersebut meski harus menelan harga dirinya bulat-bulat.

“Yoochun-sama.”

“Ayo kita pergi, Nickhun.” Putus Yoochun dingin dan terbang menjauh dari kerajaannya yang telah porak-poranda. Meninggalkan Nickhun yang menatap sendu pada Yoochun dan sosok rajanya yang telah musnah secara bergantian.

Yoochun semakin cepat melesat terbang. Mengabaikan adiknya yang terus saja meronta dan menangis memanggil sang Ayah.

*

“Ayah!”

Tubuh Kyuhyun tersentak ketika ia tersadar dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang membuat pakaiannya tampak lengket.

Ia bermimpi kejadian itu lagi. Kejadian paling mengerikan seumur hidupnya sebagai Vampire. Kyuhyun memejamkan matanya berusaha menenangkan diri. Namun tak lama kemudian matanya terbuka kembali. Kedua matanya kini tampak berubah warna menjadi merah menyala.

Ia mendongak menatap sebuah lukisan yang tergantung di dinding kamarnya. Sebuah lukisan yang menggambarkan sosok lelaki yang sangat ia hormati dan ia sayangi.

Senyuman licik tergurat dari bibir Kyuhyun…

*

‘Aku bersumpah akan menuntut balas pada  siapapun yang telah membunuhmu…’

“…Ibu”

“…Ayah”

Fading the darkness chap 1

TBC

Kosa Kata :

…-sama : Sapaan ini digunakan untuk orang yang memiliki status / kelas yang tinggi.

…-heika : Baginda / Raja

Kensei : Gelar terhormat yang di berikan pada prajurit yang memiliki kemempuan legendaris dalam pedang (Tapi anggep aja di FF ini Kensei itu sejenis panglima perang atu tangan kanan raja. Hehe)

 

 

Obsession – Chapter 4

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Pair                  : YunKyu, TOPKyu, JoonKyu.

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 4

The Artist

            “Summeeeerrrrrr…! Yeeeaaahhhh…!! Jejuuuuuuuuu…!!!” Teriak Kyuhyun bersemangat. Bagaimana tidak, ia akan melewatkan tiga bulan dengan bersenang-senang karena kampusnya telah meliburkan masiswanya setelah ujian panjang dan melelahkan. Apalagi setelah melihat hasil ujiannya yang memuaskan, Kyuhyun rasa memang inilah waktunya untuk bersenang-senang.

“Ya! Berhentilah berpura-pura senang. Aku tahu kau tidak sesenang itu.” sindir Minho.

Kyuhyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya tersenyum malu. “Memang benar.. Tapi, aku cukup senang dengan nilai-nilai kita. Bukankah tahun ini kita diperbolehkan untuk berlibur sendiri karena dinilai cukup dewasa oleh orang tua kita? Walaupun..”

Kyuhyun terdiam. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, orangtuanya berpikir ia sudah benar-benar bisa menanggung segalanya sendiri. Maka ia dan Minho diperbolehkan pergi berlibur kemanapun yang mereka inginkan sebatas masih di dalam Negara mereka dan keduanya memilih pulau Jeju sebagai destinasi pertama. Bayangkan, musim panas yang indah, dengan sahabat terbaikmu dan kalian sudah dikategorikan sebagai lelaki dewasa.

Tapi apakah menyenangkan menghabiskannya tanpa kekasihmu? Disaat Kyuhyun asik berlibur, menikmati sinar mentari, Yoon Doo Joon justru sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus mengunjungi kedua orang tuanya di Jepang lalu bertemu dengan beberapa klien di Seoul dan Taiwan. Walaupun Doo Joon telah berjanji akan segera menyusul Kyuhyun jika semua pekerjaannya selesai, tapi hal itu tidak membuat Kyuhyun merasa lebih baik.

“Dua tahun berpacaran dan kau masih saja selalu merasa kesepian tanpa Doo Joon? Baiklah, berhenti bersedih. Sebaiknya kita ke jalan-jalan ke pantai. Kita bisa bersenang-senang, main air, berjemur.. Aku sudah tidak sabar melihat kulitku terlihat lebih cokelat dari sekarang.” Kata Minho. Ia lalu merangkul sahabatnya itu dan menuntunnya keluar dari kamar hotel.

Kyuhyun menurut. Ia sadar, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus menikmati saat-saat seperti ini. Dan bukankah Doo Joon bekerja untuk perusahaan peninggalan ayahnya? Ia jadi sedikit lebih bersemangat kini. Ia bahkan mengajak Minho balapan lari menuju ke pantai, walau ia tahu ia pasti kalah melawan pebasket seperti Minho.

“Kyuhyun sunbae? Minho sunbae? Anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Minho menoleh. Mereka mendapati dua orang junior mereka di kampus tengah berdiri dan tersenyum lebar kepada mereka. Sehun dan Luhan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Kami berlibur berdua. Kebetulan orang tua Luhan memiliki satu resort kecil disini.” Jelas Sehun.

“Benarkah? Apa nama resort orang tuamu?” tanya Minho.

“Star Hotel. Letaknya dekat dari sini, tepat di seberang restaurant cina itu. Nah restaurant itu juga milik kedua orang tuaku.” Jawab Luhan.

“Benarkah? Itu bukan resort kecil, resort itu sangat mewah. Dan lagi.. Kami juga menginap disana. Jadi.. Kita tinggal di hotel yang sama? Menyenangkan sekali, kita bisa berlibur bersama.” Kata Kyuhyun bersemangat. Disusul anggukan mengiyakan dari Minho dan Sehun.

“Bagus sekali. Aku akan mengabari manager hotel agar kalian bisa menginap gratis selama kalian ada disini. Aku senang sekali bertemu kalian, jadi aku dan Sehun tidak perlu berlibur sendirian.” Kata Luhan dengan sama bersemangatnya.

“Kau tidak perlu melakukannya, kami..”

Belum selesai Kyuhyun bicara, Minho sudah memotongnya. “Wah.. Terima kasih. Kau memang hoobae yang baik.” Ia lalu menoleh pada Kyuhyun dengan pandangan mata ‘kau-ini-tidak-mau-liburan-gratis-ya?’

Kyuhyun menyerah. Minho sama keras kepalanya dengan dirinya. Tidak ada gunanya melarangnya. Mereka berempat akhirnya memutuskan untuk bersantai sambil mengobrol di sebuah bakery terlebih dahulu barulah jalan-jalan di pantai ketika matahari tidak terasa terlalu menyengat seperti saat ini.

“Bagaimana nilai ujian kalian?” tanya Minho ketika mereka sudah duduk dan menikmati cemilan mereka.

“Kami mendapat nila-nilai yang bagus. Karenanya, setelah seminggu disini kami berdua akan mengunjungi saudara-saudaraku di Cina.” Jawab Luhan dengan sopan.

Kyuhyun dan Minho saling melirik. Mereka iri sekali dengan keberuntungan Sehun saat ini karena ia bisa dengan bebas pergi kemanapun ia mau, termasuk ke Negara lain. Tidak seperti Minho dan Kyuhyun yang hanya boleh berkeliling Seoul, itupun dengan syarat-syarat tertentu.

“Bolehkah aku bergabung disini?” sebuah suara berat menyapa mereka.

Keempatnya menoleh dan mendapati seorang lelaki asing berdiri dan menyapa mereka. Lelaki itu tampan. Walaupun matanya ditutupi dengan sunglasses bermerek, tapi benda itu tidak menutupi ketampanannya sama sekali. Ia bahkan semakin terlihat trendy, apalagi tubuh atletisnya dibalut dengan pakaian casual yang menarik.

“Dan kau adalah?” tanya Sehun dengan nada curiga.

“Aku? Tidakkah kalian mengenalku? Aku Choi Seung Hyun. Ah.. kalian mungkin lebih mengenalku sebagai TOP.” Katanya sedikit sombong.

Kyuhyun langsung tidak menyukai lelaki itu. “Memangnya kau siapa sampai kami harus mengenalimu? Artis?”

TOP langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah Kyuhyun. “Benar. Hm.. Awalnya aku menjadi model lalu tiba-tiba seorang produser ternama mendatangiku dan taraaaaaa… Inilah aku sekarang. Ya! Apa kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa kau punya TV di rumah?”

“Sebentar! Kau.. TOP yang membintangi iklan sepatu di Amerika itu?” tanya Minho tak percaya. Matanya terbelalak, antara kagum dan tidak percaya.

TOP mengangguk dengan angkuh. “Akhirnya ada yang membuktikan bahwa ia memang selalu menonton televisi selama ini.”

Kyuhyun dan Sehun menatap TOP dengan ketidaksukaan yang sama. Di lain pihak Minho tampak bersemangat sementara Luhan hanya tersenyum sopan menanggapi TOP. Selama lima belas menit kedepan TOP terus-menerus menyombongkan diri tentang betapa hebatnya ia di mata artis-artis lain, tidak peduli hanya Luhan dan Minho yang menanggapi kata-katanya sementara Sehun sibuk menelepon orang lain dan Kyuhyun sibuk dengan PSP-nya.

“Baiklah, kurasa sudah waktunya aku pergi. Kupikir gadis-gadis tadi sudah menyerah.” Kata TOP pada akhirnya.

“Maksudnya?” tanya Minho bingung.

“Sebenarnya aku bergabung disini karena menghindari kejaran beberapa gadis. Kalau aku terus-menerus menanggapi fans, kapan aku bisa berlibur dengan tenang? Iya kan? Maaf, aku bukan bermaksud memanfaatkan kalian, kau hanya butuh pertolongan kalian agar aku bisa terbebas.” Kata TOP seraya tersenyum minta maaf.

Minho menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Kami sangat senang kau mau bergabung dengan kami disini. Aku Minho, yang sedaritadi menelepon terus adalah Sehun, sang pangeran dari Cina itu Luhan dan yang tidak bisa lepas dari PSP ini namanya Kyuhyun. Kalau kau butuh teman-teman yang bisa melindungimu dari kejaran fans, kami ada di Star Hotel. Cari saja kami.”

“Sunbae!”

“Minho-ya!”

Sehun dan Kyuhyun menegur Minho secara bersamaan. Tapi Minho mengabaikannya. Ia malah melambai-lambaikan tangannya dengan riang ketika TOP pergi.

*

            Setelah beberapa hari yang indah di Jeju, akhirnya Kyuhyun, Minho, Sehun dan Luhan harus mengakhiri liburan mereka. Keempatnya kini berada di ruang tunggu bandara.

“Ayo berfoto bersama.” Ujar Minho. Ia lalu mengeluarkan kamera digitalnya dan mulai memotret teman-temannya, terkadang mereka menggunakan timer agar bisa berfoto bersama.

“Sunbae, aku ingin berfoto bersama Kyuhyun sunbae, bisakah sunbae memotret kami?” tanya Sehun pada Minho.

“Tentu saja. Sini.” Minho lalu mengambil kamera Sehun dan mulai membidik keduanya. “Satu, dua. Tiga..! Ya! Siapa.. Oh, halo.. maksudku, anneyong haseyo.”

Kyuhyun dan Sehun berbalik serentak. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang mereka, keduanya langsung berbalik lagi ke depan dengan acuh. Sehun dengan cuek malah langsung berdiri dan mengambil kameranya dari Minho. Namun matanya terbelalak ketika melihat hasil bidikan sunbaenya itu.

“Su..sunbae.. Ini..”

Minho hanya bisa tersenyum minta maaf melihat reaksi Sehun.

“Ada apa Sehun-ah?” tanya Kyuhyun tidak mengerti. Ia lalu menghampiri Sehun dan Minho. Ekspresinya juga sama ketika melihat foto itu.

Dengan marah ia lalu menoleh pada si pengacau. “Ya! Mengapa kau harus ikut berfoto dengan kami?”

“Aku akan menghapusnya saat ini juga.” Ujar Sehun dengan jahatnya.

Si pengacau tadi alaias TOP langsung protes. “Wae? Bukankah itu bagus? Kalian bisa berfoto denganku. Setiap orang ingin berfoto denganku tapi tidak pernah bisa. Jangankan berfoto bersama, mendapatkan fotoku saja sangat sulit. Kini kalian dapat kesempatan itu, kenapa mau dihapus?”

“Kami bukan fans-mu dan kami tidak tertarik berfoto denganmu.” Balas Kyuhyun galak.

“Ayolah.. Aku tahu kau bercanda. Kau sudah pasti mengakui kalau aku tampan kan? Hanya saja kau malu mengatakannya di depanku. Akuilahhhh…” kata TOP dengan kepercayaan diri yang tinggi.

“Kau? Tampan?” ulang Kyuhyun dengan nada suara tinggi.

Para penumpang yang terhormat..” suara wanita yang berasal dari speaker di ruang tunggu itu memberi tanda bahwa pesawat telah siap dan penumpang diharapkan untuk segera naik ke pesawat. Serentak Minho, Luhan dan Sehun mengemasi barang bawaan mereka lalu berjalan menuju ke pesawat.

Kyuhyun yang tertinggal beberapa langkah di belakang teman-temannya merasa sedikit kesal karena harus meladeni TOP dengan sejuta kepercayaan diri yang dirasa berlebihan itu.

“Benarkah?”

“Aku yakin sekali, aku bahkan menanyakannya pada petugas di bawah.”

Kyuhyun mendengar suara-suara berisik beberapa gadis tak jauh darinya.

“Aku tadi melihatnya. Aku yakin dia akan menaiki pesawat yang ini.” kata gadis lainnya.

“Sepupuku sendiri yang tadi mengecek tiketnya. Kau tahu kan dia bekerja di sini.”

“Itukah dia? Ohhh Tidakkk……!!!! Itu diaaa…!!!”

“Cepat kejar..!”

Tiba-tiba Kyuhyun merasakan sebuah tangan menariknya keras dan membenturkannya ke dinding di luar ruang tunggu, tepat di balik pintu keluar menuju lapangan terbang. Kyuhyun baru akan protes ketika tangan lain dari si penariknya tadi membekap bibirnya.

“Sttt.. Kumohon. Jangan berteriak. Aku akan menerima jika kau marah padaku setelah ini. Tapi kumohon, jangan bicara apa-apa.”

“Siaaalll…!!! Dimana dia? Kau lihat kan? Dia benar-benar ada disini!” jerit seorang gadis. Diikuti dengan jeritan-jeritan kesal gadis lainnya.

“Dia tampan sekaliiiiii…! Benar-benar sial kita tidak bisa mendapatkannya. Padahal aku ingin sekali mengambil fotonya.”

“Ya! Ya! Kenapa kalian semua bisa ada di sini. Pergi!” bentak petugas bandara yang ada di sana.

Ternyata TOP yang menariknya. Satu tangan TOP memeluk pinggang Kyuhyun sementara tangan lainnya membekap bibir Kyuhyun. Wajah keduanya sangat dekat saat ini, seolah-olah hendak berciuman.

Otak cerdas Kyuhyun langsung menginterpretasikan hal itu. TOP sedang dikejar-kejar oleh segerombolan gadis. Ia sebenarnya bisa melarikan diri tapi karena lapangan udara itu sangat luas, ia tidak bisa bersembunyi kecuali berpura-pura sebagai lelaki mesum yang tengah mencium kekasihnya di balik pintu.

Begitu para gadis tadi berhasil diusir, Kyuhyun segera melepaskan tangan TOP dari tubuhnya. “Ya! Aku diam karena aku kasihan padamu, tidak lebih. Jadi jaga rahasia ini baik-baik atau..”

“Wah.. kau ternyata manis sekali walau sedang marah sekalipun.” Kata TOP dengan wajah sungguh-sungguh.

Wajah Kyuhyun memerah. Dengan kesal ia berbalik dan berjalan cepat ke pesawat.

“Ya.. Kenapa kau tidak melanjutkan? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak mempermasalahkan kemarahanmu?”

“Diam! Jangan ikuti aku!” bentak Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tapi aku juga naik pesawat yang ini. Wah.. bagus sekali, kita di pesawat yang sama. Bukankah ini bagus? Kita bisa mengobrol banyak dan..”

“Ya amppppuuuunnnnnn…! Diam! Aku bahkan tidak mau mendengar suaramu!”

“Tapi aku..”

Kyuhyun sudah berlari cepat menaiki tangga pesawat dan menghilang di dalamnya.

*

            TOP mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya terburu-buru. Ia lalu membuka emailnya dengan hati berdetak keras. Ketika membaca email yang baru saja masuk, hatinya menghangat seketika. Dengan cepat ia mengganti pakaiannya, meraih kunci mobilnya, lalu beranjak pergi.

Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bernyanyi-nyanyi riang, mengikuti irama musik yang melantun dari stereo mobilnya. Sesekali ia melirik ke kaca dan merapikan rambutnya.

TOP sampai di tempat tujuannya dua puluh menit kemudian. Setelah menyemprotkan sedikit parfume beraroma gentle, ia pun turun dari mobil mewahnya dan melangkah dengan gaya yang cukup berkelas.

Tak perlu mencari lama, ia bisa langsung melihat apa yang menjadi tujuannya saat ini. Ia melangkah mendekat. Dia, bersama teman-teman yang sama saat pertama kali mereka bertemu, sedang bersenda gurau di sebuah bangku panjang di bawah pohon.

“Hai, kita bertemu lagi.” Ujar TOP pada seseorang ketika ia mendekat.

Cho Kyuhyun menoleh. “Kau??? Ya! Apa yang kau lakukan disini?”

Minho, Sehun dan Luhan ikut menoleh. Kembali raut wajah berbeda-beda tergambar di wajah ketiganya. Minho terlihat bersemangat, Sehun terlihat jengkel sedangkan Luhan memilih diam tanpa ekspresi.

“Aku baru saja bertemu teman di kampus ini. Aku baru saja hendak pulang tapi aku melihat kalian disini jadi..”

“Kami tidak mau mengganggu waktu sibukmu, jadi kau bisa pulang.” Sambar Sehun cuek.

TOP menahan sedikit kejengkelan yang menyeruak di dadanya. “Ya, aku hanya ingin menyapa kalian, mungkin berbincang-bincang sedikit. Kita semua pernah bertemu, bukankah lebih baik kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.”

“Wahhhh.. kau mau mentraktir? Aku ikut!” seru Minho.

“Luhan jauh lebih kaya hingga bisa makan siang di luar negeri saat ini. Dan dia tidak pernah bilang ‘traktir’. Begitu kami bersamanya, ia pasti langsung akan membayar.” Sahut Sehun lagi.

“Ya! Tidak boleh bersikap seperti itu.” kata Minho dengan pandangan memperingatkan pada Sehun. Ia lalu menoleh pada TOP dan tersenyum ramah. “Kami semua akan ikut.”

“Baiklah aku ikut. Kebetulan aku lapar.” Kata Luhan, menanggapi Minho. Ia tidak menyukai TOP, tapi ia juga bukan tipe orang yang terlalu kejam seperti Sehun atau Kyuhyun.

Kyuhyun mendecak. “Arasso.. Kita makan dimana?”

TOP tersenyum lebar. “Terserah, kalian boleh menentukan tempatnya. Dimana saja, aku akan membayar.”

“Baiklah! Kita berangkat!” seru Minho seraya merangkul Kyuhyun yang terlihat setengah hati.

TOP membimbing jalan mereka ke arah lapangan parkir, tempat dimana mobilnya berada. Sebelum ia membuka pintu mobilnya, ia sempat mendengar seseorang berkata ‘sok pamer’, dan ia yakin kata-kata itu keluar dari mulut Sehun.

*

            Setelah acara makan siang waktu itu, TOP jadi sering mengunjungi kelompok kecil Kyuhyun di kampusnya, entah untuk sekedar mengajak mereka mengobrol atau jalan-jalan. Yang  jelas, ia sudah bisa lebih dekat dengan kelompok itu. Walaupun ia harus mengatur jadwal padatnya agar ia bisa punya waktu luang bersama teman-teman barunya, terutama.. Kyuhyun.

Ini tidak bisa dihindari. Ia memang menyukai Kyuhyun. Lelaki bermulut tajam yang tidak pernah peduli dengan kehadiran TOP. Semakin Kyuhyun tidak peduli padanya, semakin ia penasaran. Dan ia tidak akan pernah berhenti untuk mendekati Kyuhyun hingga Kyuhyun-lah yang menyerahkan dirinya pada TOP.

Siang itu, kembali TOP mendatangi kelompok kecil Kyuhyun, namun kali ini mereka ada di sebuah toko buku.

“Maaf aku terlambat, sesi pemotretan baru saja selesai.”

Sehun lalu memutar bola matanya dengan bosan begitu melihat ‘musuh’nya, sedangkan Kyuhyun pura-pura tidak mendengar sama sekali.

Luhan mengangguk sopan. “Tidak apa-apa. Kami juga belum lama ada disini.”

“Benar. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?” Minho menambahkan.

“Aku punya ide, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Namsan sore ini? Bukankah suasana di sana cukup menyenangkan di sore hari?” kata Minho lagi.

Luhan dan Kyuhyun langsung mengangguk bersemangat. Keduanya selalu menyukai Namsan. Baik itu taman ataupun menaranya.

“Aku.. Aku tidak bisa..” kata TOP pelan.

“Kenapa?” tanya Minho. Terdengar sedikit kekecewaan dalam nada suaranya.

“Disana terlalu ramai, aku tidak bisa.. Akan banyak fans yang..”

“Bagus sekali! Aku setuju kita mengunjungi Namsan sore ini!” kata Sehun dengan suara besar yang sama sekali tidak terdengar seperti ia mendengar keluhan TOP sebelumnya.

“Ah? Sunbae.. Anneyong haseyo.”

Semua menoleh. Mereka melihat dua orang yang sangat terkenal di sekolah mereka dulu – yang tidak berlaku untuk Luhan dan Sehun. Yunho dan Ara.

Buru-buru Kyuhyun dan Minho membungkuk hormat pada kedua orang itu. Kedua sunbae itu tersenyum lebar seraya mengangguk.

“Kalian sedang apa disini?”tanya Yunho.

“Kami sedang mencari buku untuk tugas kuliah kami.” Jawab Minho antusias. “Lalu bagaimana dengan sunbae?”

“Bukankah sudah kukatakan, kalian boleh memanggilku hyung. Kami baru selesai membeli cincin pertunangan. Yah, memang terdengar terlalu cepat. Kami masih terlalu muda tapi untuk membuat ikatan kami lebih kuat maka kami memutuskan untuk bertunangan minggu depan. Bagaimana menurut kalian?” kata Yunho menjelaskan disusul anggukan dari Ara yang bergelayut manja di lengannya.

Minho sekali lagi berusaha terdengar antusias. “Wah.. bagus sekali. Aku harap kalian bahagia selamanya. Undanglah kami ke pernikahan kalian, walaupun mungkin masih lama.” Walaupun begitu ia menggenggam jemari Kyuhyun yang tiba-tiba membeku kuat-kuat.

Kyuhyun menggigit bibirnya. Melihat Yunho dan Ara bersama saja sudah membuatnya merana apalagi mendengar kabar bahwa mereka akan bertunangan?

“Baiklah, teruskanlah kegiatan kalian. Kami harus pulang sekarang. Sampai ketemu lagi.” Kata Ara. Sebelum ia pergi, ia menoleh sebentar pada Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi, Taecyeon oppa sekarang sudah menjadi asisten manager di restaurant tempatnya bekerja. Kupikir.. mungkin ada baiknya memberitahukanmu.”

Kyuhyun hanya mengangguk lalu membungkuk hormat. Sungguh, ia tidak membenci Ara. Ia hanya tidak suka dengan kenyataan bahwa Ara berpacaran dengan Yunho.

“Aku.. Aku ingin pulang.” Kata Kyuhyun begitu Yunho dan Ara benar-benar telah pergi.

“Waeyo? Hyung, bukankah kita mau jalan-jalan ke Namsan?” tanya Luhan terdengar sedikit kecewa.

“Sudah kukatakan, tanpaku akan terasa hambar. Itulah sebabnya Kyuhyun tidak mau ikut. Bagaimana kalau diganti ke hari yang lain, Kyu? Aku berjanji akan ikut.”  Kata TOP dengan senyum andalannya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Tanpa menunggu jawaban dari siapapun, Kyuhyun berlari meninggalkan teman-temannya.

Ia menahan airmatanya, agar tidak jatuh di depan Luhan dan Sehun. Minho sudah biasa melihatnya menangis. Dan ia tidak pernah peduli pada TOP. Begitu dilihatnya pintu lift terbuka, ia segera bergerak masuk dan menekan tombol 1.

“Jangan berlari seperti itu, kau membuatku cemas.”

Kyuhyun menoleh. “Ya! Mengapa kau mengikutiku?”

TOP membulatkan matanya. “Aku khawatir. Kau terlihat seperti hendak menangis dan.. Ya! Ya! Mengapa kau benar-benar menangis sekarang?”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika guncangan besar terjadi di dalam lift. Saat itu juga lift mereka berhenti bergerak.

“A-apa.. yang terjadi?” tanya Kyuhyun. Ketakutan terdengar dalam suaranya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu mencoba menghubungi Minho.

“Sial!” terdengar TOP mengeluh. “Tidak ada signal disini.”

Jantung Kyuhyun berdebar takut karenanya. bagaimana kalau ia terperangkap disini selamanya? Apalagi bersama TOP.

“Mundurlah sedikit Kyu, aku akan menghubungi petugasnya.”

Kyuhyun menurut. Ia membiarkan TOP mendekati tombol emergency dan bicara disana. Terdengar jawaban dari si petugas bahwa lift sedang rusak dan akan segera diperbaiki. Mereka diminta agar sedikit bersabar.

Kyuhyun mendudukkan tubuhnya di lantai lift yang keras, bersandar tepat di bawah tombol-tombol di dinding sebelah kanan lift.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun diam. Ia enggan menjawab. Harinya sudah cukup buruk karena melihat Yunho dengan gamblangnya berbicara tentang pertunangannya dengan Ara. Ditambah dengan ia harus terkurung di dalam lift bersama idiot narsis seperti TOP. Ia jadi menyesali mengapa tadi ia begitu ceroboh meninggalkan teman-temannya. Kalaupun akhirnya mereka semua terjebak bersama di dalam lift, ia masih punya Minho, Luhan dan Sehun.

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun mendelik kepada TOP. “Aku sedang tidak ingin bicara. Jadi jangan ganggu aku.”

“Tapi.. Bagaimana mungkin kita saling diam dalam keadaan seperti ini?”

Kyuhyun tidak peduli, ia memejamkan matanya, mencoba mengabaikan si artis yang terlalu cerewet. Ketika diingatnya lagi tentang Yunho, hatinya sakit. Ia tahu, sampai kapanpun Yunho tidak akan pernah ‘melihatnya’. Ia sangat mengerti dan sadar akan hal itu. Tapi apakah ia harus mendengar kabar buruk itu sendiri? Apa ia harus melihat betapa bahagianya kedua orang itu?

Kembali airmatanya mengalir. Ia tahu, ia tidak boleh seperti ini. Yunho mencintai Ara dan Kyuhyun sudah punya Doo Joon. Tidak seharusnya ia memikirkan lelaki lain ketika ia sudah punya kekasih yang benar-benar dicintainya.

Ya, ia mencintai Doo Joon. Sangat mencintai lelaki yang telah bersama dengannya selama dua tahun terakhir itu. Tapi pikirannya tidak pernah bisa menghilangkan seorang Jung Yunho. Mungkin, ia akan mencintai Yunho sampai ia mati nanti. Terkadang ia benci, mengapa cinta pertama harus sesulit ini.

“Kyuhyun-ah.. Mengapa kau menangis? Kau baik-baik saja tadi. Ada apa? Maukah kau bercerita kepadaku?” tanya TOP yang kini sudah duduk menyandar di dinding seberang, berhadapan dengan Kyuhyun.

Bukannya menjawab, airmata Kyuhyun jadi semakin deras. Hal ini membuat TOP semakin bingung. “Ya.. Kyuhyun-ah, jangan menangis. Aku tidak bisa melihat orang yang kusukai menangis seperti ini.”

Kyuhyun terkejut. Dengan bingung ia menatap TOP. “Apa maksudmu?”

“Aku menyukaimu. Entahlah, karena kau orang pertama yang mengabaikanku sejak awal. Aku selalu menjadi pusat perhatian, aku selalu menjadi yang utama, baik dalam pekerjaanku maupun dalam keluargaku. Dan kau adalah orang pertama yang mengabaikanku. Membuatku penasaran dan..”

TOP berhenti bicara ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya dengan ekspresi tak tergambarkan. Lelaki itu hanya diam, padahal TOP ingin tahu apa pendapat Kyuhyun mengenai pengakuannya barusan.

Tapi Kyuhyun hanya diam, membuat sang artis di depannya hanya bisa menerka-nerka apa gerangan isi kepala Kyuhyun.

“Maaf kalau aku terkesan lancang. Tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu seperti ini. Aku hanya.. berusaha jujur tentang perasaanku. Jika kau merasa terganggu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya.” Kata TOP lagi.

Selama hampir dua puluh menit keduanya terdiam. Tampak tidak ada diantara mereka yang enggan berkata hingga akhirnya Kyuhyun memecah kesunyian.

“Mianhae..”

TOP mengangkat wajahnya, menatap lurus kepada Kyuhyun. “Untuk apa?”

“Tidak bisa membalas perasaanmu.” Jawab Kyuhyun singkat.

“Apa kau sudah punya kekasih?”

Kyuhyun mengangguk pelan. “Kami sudah berhubungan selama dua tahun.”

I see. Kau pasti sangat mencintainya hingga mengabaikan lelaki seperti aku.” TOP mencoba berkelakar, sayangnya Kyuhyun sama sekali tidak tertawa.

“Dia adalah orang yang sangat beruntung. Bisa mendapatkan lelaki sepertimu. Dan pastinya dia adalah lelaki yang hebat dan istimewa hingga mampu membuatmu tak berpaling. Dia pasti sangat setia, jadi kau juga mengikuti jejaknya.”

Kyuhyun tersenyum sinis. “Dia memang sangat setia. Sangat menyayangiku, memberiku segalanya. Lelaki terbaik yang mungkin tidak akan kutemukan di luar sana.”

Perasaan aneh menyelubungi hati sang artis. Ia cemburu. “Berarti dia benar-benar lelaki yang..”

“Tapi semakin aku mencintainya, semakin aku bersamanya, itu hanya akan menyakitinya.” Kyuhyun memotong perkataan TOP.

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun menghela nafas lelah. Ia menatap nanar lututnya sendiri. Lalu sebutir air matanya jatuh.

“Kyuhyunnie.. Kenapa kau..”

“Jangan jatuh cinta padaku, TOP-ssi. Aku bukan orang yang baik. Bahkan mencintai kekasihku sepenuh hatipun aku tidak mampu.”

TOP menatap Kyuhyun dengan bingung, sementara air mata Kyuhyun mengalir semakin deras.

“Aku adalah lelaki yang tidak pantas dicintai siapapun. Aku adalah lelaki jahat. Bahkan sampai sekarang aku masih terus membohongi kekasihku bahwa hanya dia satu-satunya. Aku.. Aku.. Aku tidak pantas mendapatkannya ataupu orang lain..”

‘Jadi.. Dia mencintai orang lain selain kekasihnya dan menutupinya selama ini?’ pikir TOP. ‘Bagaimana mungkin dia masih bisa mencintai lelaki lain ketika ia sudah mendapatkan yang terbaik? Seperti apa lelaki itu?’

TOP baru saja akan menenangkan lelaki yang lebih muda di depannya itu ketika tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benaknya.

‘Tunggu. Mengapa tiba-tiba Kyuhyun jadi seperti ini? Tadi ia baik-baik saja. Ia mulai bertingkah seperti ini sejak..’

TOP membekap mulutnya sendiri ketika ia menyadari kemungkinan tentang siapa lelaki yang dimaksudkan Kyuhyun sebagai ‘cinta tak terlupakan’ tadi.

‘Mungkinkah..’

“Maaf, tadi aku terlalu banyak bicara. Aku tidak minta banyak, tapi.. Bisakah kau merahasiakan apa yang kau dengar tadi?” kata Kyuhyun, membuyarkan pikiran-pikiran TOP.

TOP menimbang sebentar. Ada baiknya ia memang menahan mulut besarnya untuk Kyuhyun. Karena jika ia berani buka mulut atau setidaknya memberikan clue kepada orang lain, hal itu hanya akan membuat Kyuhyun menderita.

“Kyuhyunnie.. Aku mungkin bukan orang yang kau pilih untuk mengatakan hal rahasia tadi. Mungkin kau bahkan tidak menganggapku sebagai teman sama sekali. Tapi, percayalah, aku akan menjaga kepercayaanmu.”

Kyuhyun tersenyum tulus untuk pertama kalinya. “Terima kasih.”

TOP balas tersenyum. “Jika aku boleh memberi saran, hanya jika kau mau menerimanya..”

“Katakanlah..”

“Jangan mempermainkan perasaan orang lain. Mungkin sekarang kau bisa menutupinya. Tapi suatu saat kebenaran akan terungkap. Dan mungkin, pada saat itu kau tidak bisa mempertahankan milikmu lagi. Jika kau mencintai kekasihmu, belajarlah melupakan Yunho. Tapi jika kau tetap tidak bisa, tinggalkanlah kekasihmu, jangan biarkan ia mengalami sakit yang sama sepertimu.”

Kyuhyun terkejut ketika TOP mengucapkan kata ‘Yunho’. “Bagaimana.. Bagaimana kau tahu..”

“Aku mungkin tidak secerdas dirimu. Tapi, aku bisa langsung tahu siapa orangnya, karena ketika bertemu dengannya lah kau menjadi seperti ini. Dan aku sepertinya bisa menebak pemicunya, pertunangannya dengan gadis itu bukan?”

Kembali Kyuhyun menangis. “Aku mencintainya sejak dulu. Aku sudah berusaha menghilangkannya dari kepalaku. Tapi aku tidak bisa. Aku.. Aku seperti lelaki bodoh yang mengejar cinta yang tak pasti sementara di sisiku ada lelaki hebat yang mencintaiku lebih dari apapun.”

TOP beranjak dari duduknya lalu menjatuhkan dirinya tepat di samping Kyuhyun. Perlahan ia menepuk pundak Kyuhyun, berusaha menguatkan lelaki rapuh itu. “Aku bukan penasehat yang baik, tapi.. Aku tahu kau pasti bisa menentukan sikap suatu hari nanti. Tersenyumlah, Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun menghapus air matanya. “Kenapa justru kau yang ada disini, membuatku merasa lebih tenang?”

TOP tertawa. “Apa kau benar-benar membenciku?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak membencimu. Aku hanya sedikit tidak suka padamu yang terlalu angkuh dan sangat percaya diri. Kempiskan sedikit kepalamu, maka orang-orang akan tahu kalau kau adalah orang yang baik. Apa gunanya menjadi sombong jika tidak ada yang mau berteman denganmu?”

Sang artis mengangguk seraya tersenyum malu. “Terima kasih atas saranmu. Aku sudah seperti ini sejak dulu. Jadi, agak sulit merubahnya secara instan. Butuh waktu dan orang lain yang mau membantuku berubah.”

“Aku dan teman-teman lain akan berusaha membantumu, jika kau memang mau membantu dirimu sendiri.” Tawar Kyuhyun.

Mata TOP membulat sempurna. “Benarkah? Apa artinya aku boleh menjadi teman kalian?”

“Tentu saja. Tapi berjanjilah kau akan merubah sedikit kebiasaanmu. Kami tidak suka dengan sikapmu yang terlalu angkuh dan sok pamer itu.” jawab Kyuhyun sedikit ketus.

“Tapi aku tidak pamer. Aku memang kaya, tampan dan berbakat. Disamping itu, aku..”

TOP segera menghentikan aksi pamernya ketika dilihatnya Kyuhyun menatapnya tak suka. Ia tersenyum jengah lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kau lihat? Seperti itu yang kumaksud. Berhenti melakukannya. Biarkan orang lain yang menilai dirimu sesuai kemampuanmu. Jangan membuat mereka mundur sebelum mengenalmu.” Kata Kyuhyun galak.

“Ne.. ne.. Ara.. Kau ini galak sekali. Tidak cocok lelaki manis sepertimu menjadi galak seperti tadi. Hanya merusak image-mu sendiri.”

Ketika Kyuhyun baru akan membantah, tiba-tiba lift mereka bergerak turun perlahan. Lalu beberapa detik berikutnya terdengan dentingan halus kemudian pintu lift itu memisahkan diri. Lift telah selesai diperbaiki.

“Doojoonie…!!!” jerit Kyuhyun ketika melihat kekasihnya berdiri di deretan terdepan, di sampingnya terlihat Minho, Luhan dan Sehun yang menatapnya dengan cemas. Dengan segera Kyuhyun berdiri lalu berlari ke pelukan kekasihanya.

“Kyuhyunnie, kau baik-baik saja? Aku cemas sekali tadi waktu Minho meneleponku.” Kata Yoon Doojoon seraya memeluk erat kekasihnya.

Kyuhyun mendeking pelan dengan manja seraya menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang kekasih. “Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah datang.”

“Walaupun kau terjebak di kutub utara sekalipun, aku akan langsung datang menemuimu. Jadi, kumohon berhati-hatilah.” Jawab Doojoon. Kecemasan masih terdengar dalam suaranya.

“Sunbae, gwenchana?”

Kyuhyun mengangkat wajahnya dan mendapati Luhan menatapnya khawatir. “Ah.. Gwenchana..”

“Kyuhyunnie, mengapa matamu.. Apa kau tadi menangis?” giliran Minho yang bertanya padanya.

“Aku..”

“Ya! Kau apakan Kyuhyun sunbae tadi? Pasti kaulah penyebabnya!” Tuduh Sehun pada TOP yang kini sudah berdiri di belakang Kyuhyun.

“Mwo? Aku? Aku tidak melakukan apa-apa. Bukan salahku dia menangis. Tadi dia..” TOP baru akan mengatakan hal yang sebenarnya ketika ia menyadari Kyuhyun memberikan pandangan memohon padanya. Apalagi saat ini lelaki yang ia duga sebagai kekasih Kyuhyun juga ada disana.

“Tadi ia ketakutan karena lift yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.” Katanya pada akhirnya.

“Terima kasih sudah menemani Kyuhyun di dalam. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia sendirian tadi. Menurut Minho, begitu Kyuhyun pergi, kaulah yang menyusulnya. Apapun alasannya, terima kasih. Aku Yoon Doojoon.” Doojoon menyodorkan tangannya pada TOP yang lalu disambut hangat oleh lelaki di depannya.

“Choi Seung Hyun. Tapi aku dipanggil TOP.”

Doojoon mengangguk. “Ya, aku tahu. Kau adalah seorang artis, mana mungkin aku tidak mengenalimu.”

TOP baru saja akan pamer sekaligus memuji Doojoon karena sepertinya lelaki berpenampilan seperti eksekutif muda itu baru saja menunjukkan bahwa ia menonton televisi di rumah ketika lagi-lagi Kyuhyun melemparkan pandangan memperingatkan kepadanya.

“Kurasa kami harus pulang. Sampai jumpa. Senang bertemu denganmu, Seung hyun-ssi.” Kata Doojoon.

TOP mengangguk. “Nah, sampai ketemu lagi. Kyuhyun-ah, kau sudah berjanji kalau aku boleh bergabung dengan kalian kapan saja, bukan? Pegang janjimu.”

Kyuhyun tertawa lepas, mengabaikan protes-protes dari Luhan dan Sehun di belakangnya. “Baiklah. Kabari saja kami kalau kau ingin bergabung.”

Setelah melambai pada TOP, rombongannya berbalik dan meninggalkan mal itu, menuju ke tempat parkir. Disana Luhan dan Sehun pamit kemudian menuju ke mobil Luhan yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku senang kau baik-baik saja. Lain kali, tunggulah Minho kalau kau mau pergi. Walaupun aku sangat berterima kasih pada Seung Hyun karena ia sudah menemanimu di dalam lift tadi, tapi tetap saja aku cemas karena kau bersama lelaki asing tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?” ujar Doojoon panjang lebar ketika ia, Kyuhyun dan Minho sudah dalam perjalanan pulang dengan mobilnya.

“Tidak akan terjadi apa-apa, percayalah. Kau lupa betapa kuatnya aku?”

Doojoon tersenyum seraya mengacak rambut kekasihnya penuh sayang. “Tapi.. Mengapa tadi kau berlari begitu saja dari teman-temanmu? Kau bahkan tidak mengindahkan panggilan Minho.”

Kyuhyun terkesiap. Kali ini, ia tidak berani menjawab.

*

joontopkyu

To be continued..