I’m Entirely In Your Will [Chapter 4]

Please leave your comments guys, we’ll apreciate it a lot 🙂

Under The Gamboge Tree

Casts :   Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo
Authors :     rioter9   , wonkyuniichan  ,   Aryadhanie
Genre :   Angst, Romance, Ballet!AU
Rating :   T
Summary :   Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.
Warning! :   psychosis

Selama berada di Seoul, baru kali ini Siwon mengenal pria seperti Kangin yang penuh obsesi

View original post 1,431 more words

Million Words – Chapter 7

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin, etc.

Pair : ChangKyu, BinKyu

Genre : BL, Romance, Angst

Rate : T

Warning : BL, OOC, Typo (es)

 

CHAPTER 7

Kyuhyun tak mengerti dengan perasaan sesak yang terasa menghimpit dadanya. Rasa yang bercampur dengan gemuruh hebat hingga menghasilkan rasa sakit dan luka tak kasat mata pada hatinya.

Ia memejamkan kedua matanya. Alih-alih untuk beristirahat dan menenangkan diri, namun sekejap kemudian matanya kembali terbuka seolah tengah dihantui oleh kegelisahan yang tengah mendominasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ia lelah. Tak hanya fisiknya, pikirannya pun merasakan hal yang serupa. Meskipun begitu, raganya seolah tak menginjinkan dirinya untuk beristirahat.

Semenjak kepulangannya setelah mengunjungi rumah saudara Woobin, ia menangis. Hingga Woobin yang mengantarnya pulang ke apartement pun kebingungan. Tak tahu harus bersikap seperti apa melihat guru geografinya itu menangis sepanjang perjalanan. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan kemauan Woobin yang bersikeras ingin menemaninya di apartement hingga ia harus mengusirnya dengan paksa.

Ia masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang ia alami dirumah yang ia tahu merupakan sepupu dari Woobin. Seperti disaat ia melihat sebuah foto yang berisi gambar Changmin, tunangannya tengah tersenyum bahagia dengan seorang wanita dan seorang anak kecil dalam dekapannya.

“Chang..min.” Gumam Kyuhyun lirih.

Ia mematung ditempat untuk memastikan jika sosok lelaki yang tergambar dalam foto di hadapannya merupakan lelaki serupa yang berstatus menjadi tunangannya. Dan ia tak mungkin salah menerka. Menjalin hubungan dengannya selama lebih dari tujuh tahun membuat ia tak mungkin tak mengenali sosok Changmin meski dalam bentuk foto sekalipun.

“Eomma..” Rengek Minseok berusaha melepaskan diri dari gendongan Myungsoo. Anak kecil itu nyaris menangis ketakutan melihat ibunya tiba-tiba menjatuhkan gelas di hadapannya.

Tak jauh berbeda dengan Minseok, Myungsoo dan Jongin pun merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama. Karena dengan sigap Jongin segera meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan tumpahan susu dan serpihan pecahan kaca yang berserakan di sekitar Kyuhyun.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Jongin menyentuh bahu Kyuhyun yang tampak masih terpaku.

“Kyuhyunnie!”

Panggil suara berat milik seorang laki-laki yang langsung menghampiri Kyuhyun. Tanpa ragu ia pun merengkuh tubuh ringkih tersebut yang masih belum beranjak dari posisinya yang tengah menunduk.

“Bibi~” Panggil Minseok dengan riang melihat sosok yang tiba-tiba muncul.

“Woobin-ah?”

“Bisakah kalian berdua membawa Minseok keluar?” Pinta Woobin dengan nada rendahnya yang memerintah.

Mengerti isyarat tersebut, Jongin serta Myungsoo yang masih menggendong Minseok pun melangkah keluar. Tak peduli Minseok yang meronta keras, memaksa untuk menghampiri ibu dan uncle-nya.

“Kyuhyunnie…”

“Woobin, apa maksudnya? Changmin.. dia..”

Woobin memandang foto tersebut dengan tatapan sarat akan kebencian. Kyuhyun pasti akan mengetahui hal ini, cepat atau lambat. Tapi bagaimana jika itu terjadi sepuluh tahun kemudian? Kyuhyun akan terus hidup dalam kebohongan kekasihnya. Maka ia yang harus mengambil tindakan. Namun ia tak pernah menyangka jika melihat keadaan Kyuhyun saat ini pun membuat ia merasakan rasa sakit yang sama.

Ia meraih wajah Kyuhyun dan menghadapkan padanya. Rasa sakit itu semakin menghujam perasaannya kala ia melihat wajah Kyuhyun tampak merah padam dengan bola matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.
Dalam hati ia bersumpah akan membalas perbuatan pria pengecut yang telah membuat Kyuhyun-nya serapuh ini.

“Woobin-ah..”

Suara lembut seorang wanita membuat Woobin mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Seorang wanita yang masih berdiri kaku dihadapannya dengan raut keterkejutan yang belum sirna dari wajahnya.

“Yeon Hee noona..”

*

Woobin menatap Kyuhyun dalam. Saat ini, mereka telah berada di apartemenn Changmin dan Kyuhyun. Semenjak kepulangan mereka dari rumah sepupunya, Yeon Hee, Kyuhyun sama sekali tak mengucapkan kalimat apa pun. Bahkan menatapnya pun ia enggan.

Selama beberapa waktu ia hanya terus memperhatikan sosok Kyuhyun yang terlihat sibuk dalam pikirannya sendiri. Dan ia merasa jengah diacuhkan Kyuhyun seperti ini.

“Ceritakan padaku..”

Suara parau Kyuhyun memecah kebisuan diantara mereka. Meskipun kalimat tersebut jelas ditujukan pada lelaki di hadapannya, namun Kyuhyun sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Woobin. Matanya menatap pada arah lain dengan tatapannya yang kosong sarat tanpa makna.

Baru beberapa saat kemudian ia menatap mata Woobin ketika lelaki tersebut tak merespon pertanyaannya. “Bisakah kau menceritakan padaku, Woobin-ah?”

“Apa yang ingin kau ketahui?” Tanya Woobin seolah menantang.

“Semuanya.”

“Bukankah Yeon Hee noona sudah menjelaskan semuanya padamu?”

Kyuhyun sedikit berjengit kala ia mendengar nama Yeon Hee terucap. Sebuah nama yang menjadi bagian dari kenyataan menyakitkan yang baru ia ketahui.

“Aku hanya sekedar mengetahui jika Minseok merupakan anaknya dengan Changmin..” Kyuhyun menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan dirinya mengucapkan kalimat tersebut.

“…tentang pernikahan mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun serta permintaan maafnya padaku. Saat aku menanyakan cerita lebih lanjut, ia hanya memintaku untuk menanyakan langsung pada Changmin.”

“Kenapa kau tidak bertanya saja pada lelaki pengecut itu?”

“Berhenti menyebut Changmin sebagai lelaki pengecut!”

“Dia memang pengecut!” Sentak Woobin kasar, “Ia seorang pengecut yang menghamili seorang perempuan sementara ia telah bertunangan dengan orang lain!”

Kyuhyun tersentak. “Menghamili?”

“Kau terkejut?” Tanya Woobin dengan nada sinis tanpa mempedulikan reaksi Kyuhyun. “Karena lelaki itulah kehidupan Yeon Hee noona menjadi berantakan.”

Woobin menggeram menahan amarah. “Yeon Hee noona hanyalah seorang gadis lugu yang kemudian dicampakan oleh si pengecut itu, pada awalnya. Mereka berdua adalah rekan bisnis dengan perusahaan ayahnya yang merupakan salah satu donatur untuk yayasan pria tersebut. Dengan relasi yang demikian membuat mereka sering melakukan perjalanan bisnis bersama…

“…hingga pada suatu hari si pengecut itu meminta Yeon Hee nunna untuk melakukan hubungan badan. Noona yang memang pada awalnya tertarik dengannya pun tak menolak.”

Kyuhyun masih terdiam tanpa berkomentar. Meskipun dalam hati ia ingin menyangkal jika Changmin-nya tidak akan tega mengkhianatinya. Dengan perlakuan Changmin selama ini padanya, tentu kenyataan bahwa Changmin mengkhianatinya tidak dapat dengan mudah ia percaya.

“Semenjak itupun hubungan mereka semakin dekat. Noona tentu saja tidak mengetahui jika ia telah memiliki tunangan hingga ia dinyatakan hamil beberapa bulan kemudian.” Rahang Woobin mengeras, seperti tengah menahan emosinya kala ia mengingat cerita tersebut.

“Mengetahui kehamilan noona, orang tuanya pun mengusirnya dari rumah. Kehamilan tersebut tentu saja merupakan aib bagi keluarga, terlebih ketika mereka mengetahui jika noona hamil dengan seorang pria yang telah memiliki tunangan.”

“Yeon Hee noona meminta pertanggung jawaban padanya, awalnya pria brengsek itu menolak dengan dalih jika ia telah memiliki tunangan. Namun dengan desakan noona dan keinginan pria itu untuk memiliki keturunan yang dengan jelas tidak bisa didapatkan darimu yang notabene-nya adalah seorang laki-laki..”

Woobin melirik sekilas pada Kyuhyun saat ia menyinggung tentang gender-nya. Dan ia dapat melihat jika kedua tangan Kyuhyun mengepal erat diatas pahanya. “…ia pun bersedia menikahi noona tiga tahun yang lalu. Demi Minseok, putra mereka. Serta demi rasa cintanya pada Changmin, Yeon Hee noona merelakan dirinya menjadi istri simpanan pria pengecut itu. Merelakan dirinya diusir dan dibuang oleh keluarganya sendiri.”

Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Membiarkan diri mereka terlarut dalam perasaan masing-masing. Perasaan benci pada Changmin yang semakin membuncah dalam diri Woobin, serta rasa sedih dan kecewa yang dirasakan oleh Kyuhyun.

“Apa Changmin mengetahui jika kau adalah sepupu Yeon Hee?” tanya Kyuhyun kemudian.

Ia masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, saat pertama kali ia dan Changmin bertemu dengan Woobin. Changmin sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda jika ia mengenal Woobin. Ia bersikap normal layaknya bertemu dengan orang asing yang baru ia temui. Bahkan tak segan Changmin memuji sikap sopan Woobin yang pada saat itu membuat dirinya jengkel.

Woobin menggeleng, “Aku selalu mengunjunginya setelah memastikan pria itu tak ada di sana. Bertemu dengannya membuat keinginanku untuk menghancurkan kehidupannya semakin besar.” Jelas Woobin tanpa merasa segan mengungkapkan kebenciannya pada Changmin. Menyebut namanya saja ia tak sudi. Dan bertemu dengan pria yang ia cap pengecut itu tentu saja membuat keinginan untuk menghancurkannya semakin meluap.

“Lalu, apa kau mendekatiku pun merupakan salah satu caramu untuk menghancurkan Changmin?”

“Apa?” Sentak Woobin terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika Kyuhyun akan menanyakan hal yang demikian.

“Bukankah sudah jelas? Kau yang seorang siswa biasa, mendekatiku yang merupakan gurumu. Kau pun mengetahui jika aku telah memiliki Changmin, tunanganku sekaligus pria yang sangat ingin kau hancurkan itu. Dan kau sama sekali tak pernah memperdulikan hal tersebut hingga hubunganku dengan Changmin hancur seperti saat ini.”

“Ya. Pada akhirnya..” Suara Woobin lirih.

Kyuhyun tersentak. Untuk kesekian kalinya ia merasakan rasa sakit itu lagi. Ia merasakan belati imajiner terasa mengoyak hatinya. Benarkah apa yang ia dengar? Jika dirinya merupakan alat untuk menghancurkan Changmin karena dendamnya?

“Tapi aku bersumpah, Kyuhyunnie! Jika hal itu tidak sepenuhnya benar. Awalnya aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menghancurkan hubunganmu. Aku tertarik padamu bahkan saat pertama kali aku melihatmu. Dan keinginanku untuk memilikimu semakin besar setelah aku mengetahui jika Changmin adalah tunanganmu…”

Woobin beranjak menghampiri Kyuhyun yang tampak akan menangis. Ia mengulurkan tangannya berniat untuk menghapus air mata lelaki manis itu yang mengalir di pipinya. Namun dengan kasar Kyuhyun menyentaknya.

“Kyuhyunnie..”

“Jangan sentuh aku!”

“Kyu-“

“Pergi.” Pinta Kyuhyun mendorong pelan dada Woobin untuk beranjak dari sisinya. Suaranya bergetar tertelan oleh isakannya. “Aku mohon..pergi dari sini..”

Woobin bergeming. Melihat Kyuhyun yang sehancur ini membuat ia bertekad untuk menenangkannya. Tak mendapat respon, Kyuhyun pun beranjak dan menarik pergelangan Woobin dengan kasar. Menyeretnya keluar setelah ia membuka pintu apartement-nya. Woobin bisa saja memberontak dan melawan Kyuhyun. Namun keinginannya untuk memberontak seketika luluh demi melihat wajah Kyuhyun yang basah karena air mata.

BRAK!

Tubuh Kyuhyun merosot seketika dan bersandar pada pintu. Menangis dalam diam. Meratapi rasa sakit dan kekecewaan yang menguasai hatinya. Rasa kecewa yang ia dapatkan dari Changmin tentang pengkhianatannya semakin bertambah setelah mengetahui motif Woobin mendekatinya. Ia tak pernah berharap jika pria yang mampu membuatnya jatuh cinta padanya tega mempermainkan perasaannya hingga sedemikian rupa.

Di lain sisi, Woobin pun masih berdiri ditempat untuk beberapa saat. Menatapi pintu kayu dihadapannya dengan pandangan kosong. Hingga tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Eomma..”

*

Sudah seminggu Kyuhyun mengurung diri dikamarnya. Tak dipedulikannya orang-orang yang berusaha menghubungi, menemui bahkan mencarinya sekalipun. Ponselnya pun telah mati kehabisan baterai karena ia sama sekali tak berniat untuk mengisinya. Tak terhitung berapa puluh panggilan dan pesan masuk yang ia abaikan. Sama sekali tak berniat untuk menerima dan membukanya sekalipun.

Tak terkecuali Changmin. Ia telah mengetahui semua kejadian yang telah ia lewatkkan setelah Yeon Hee menceritakannya. Hal tersebut tak pelak membuat ia marah dan menyalahkan Yeon Hee yang menurutnya telah lancang menceritakan tentang hubungan mereka pada Kyuhyun.

Segera setelah itu, ia kembali ke apartemennya dan Kyuhyun. Berharap ia dapat menemui pria manisnya untuk menjelaskan dan meminta maaf pada tunangannya.

Namun harapannya sia-sia ketika ia menginjakan kaki di apartement mereka. Yang ia dapati hanyalah Kyuhyun yang terus mengurung diri di kamar. Mengacuhkan bujukan dan usahanya untuk meminta Kyuhyun keluar dari kamar mereka.

“Kyuhyun-ah..” Panggil Changmin setelah ia mengetuk pintu kamar mereka untuk yang kesekian kalinya. “Kyuhyun-ah, aku mohon. Keluarlah dari kamarmu sekarang. Berhenti menyiksa dirimu seperti ini, Kyu.” Pinta Changmin memelas.

Ia telah kehabisan akal membujuk Kyuhyun. Pada saat seperti ini ia sangat merutuki sifat keras kepala Kyuhyun yang sama sekali tidak membantunya.

Lagi, bujukannya sama sekali tak menuai respon. Ia sadar. Sudah sepantasnya Kyuhyun marah padanya setelah apa yang selama ini ia sembunyikan diketahui olehnya. Ia memaklumi kemarahan Kyuhyun. Namun paling tidak, ia berharap jika ia bisa menjelaskan lebih detail pada Kyuhyun. Ia terlalu mencintai Kyuhyun. Dan kekhawatirannya tentang Kyuhyun yang akan meminta berpisah merupakan hal yang paling ia takutkan.

Ting Tong!

Angan Changmin terinterupsi ketika ia mendengar bel pintu berbunyi. Dengan enggan ia pun berjalan ke sumber suara untuk membukakan pintu untuk tamu dilarut malam seperti ini.

“Kau..”

“Dimana Kyuhyun?” tanya Woobin tanpa tedeng aling.

“Berani sekali kau datang ke sini.” Sahut Changmin sarkatik.

Woobin mendecih, “Dan kau sendiri? Apa kau masih punya malu untuk pulang ke apartement ini, Shim Changmin?”

Tubuh Changmin menegang. Pertanyaan Woobin menusuk harga dirinya. Setelah apa yang ia lakukan pada Kyuhyun, ia masih berani menemui Kyuhyun dan bahkan berharap jika Kyuhyun akan memaafkannya serta kembali lagi padanya?

Woobin menyeringai melihat Changmin yang terdiam. Tanpa sungkan ia pun masuk ke apartement dan menabrak tubuh Changmin dengan sengaja.

“Kyuhyunnie…!” Teriak Woobin kencang.

“Apa kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?!”

Woobin terkesiap. Ia menatap tajam Changmin yang ada dibelakangnya. Seketika itu juga emosinya membuncah yang ia lampiaskan dengan pukulan di wajah tirus Changmin.

BUK!

Seketika tubuh Changmin terpental menabrak tembok. Dengan beringas Woobin menghampiri dan mencengkeram kemeja Changmin.

“Jangan pernah sekalipun kau menghina orang tuaku.” Woobin menggeram.

BUK!

“Lalu pernahkah kau diajari oleh orang tuamu untuk menjadi lelaki pengecut, hah?!”

BUK!

Changmin membalas pukulan Woobin. Telak mengenai rahang pria yang lebuh muda darinya itu.

“Jaga ucapanmu! Lagipula siswa macam apa kau yang berani meniduri gurumu sendiri!”

Woobin menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan kasar. Tubuhnya bergetar menahan amarah mendengar hinaan Changmin. Namun seringaian muncul dari bibirnya. “Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri.. kakak sepupu?”

Dahi Changmin mengernyit ketika mendengar panggilan kakak sepupu yang baru saja dilontarkan oleh Woobin.

“Kau pikir aku tidak tahu kebusukanmu selama ini, Shim Changmin? Bersikap seolah-olah kau sangat mencintai Kyuhyun sementara di belakangnya kau telah memiliki anak dari wanita lain?”

Woobin tertawa mengejek melihat raut keterkejutan Changmin. Pria Shim itu terlihat menundukkan wajahnya tanpa berani menatap kearahnya. Woobin berjalan kearah Changmin dan segera menyambar lelaki itu dengan pukulannya kembali.

BUK!

Changmin yang masih dalam keadaan shock seketika tersungkur dilantai. Woobin kembali memburu Changmin.

“Asal kau tahu saja brengsek. Jika wanita yang dulunya sempat kau permainkan itu adalah sepupuku, Lee Yeon Hee!” Raung Woobin tepat diwajah Changmin sebelum ia kembali melayangkan pukulannya.

BUK!

“Ini untuk penghinaan terhadap orang tuaku!”

BUK!

“Dan ini untuk kau yang telah menghancurkan kehidupan sepupuku!”

BUK!

“KIM WOOBIN!”

Pukulan Woobin yang bak kesetanan terhenti ketika ia mendengar pekikan seseorang. Tak jauh darinya, kini terlihat Kyuhyun tengah berdiri diambang pintu kamarnya. Penampilannya tampak berantakan dengan wajah sayu dan mata merahnya yang tampak mencolok.

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun berlari kearah mereka. Dan dengan paksa mendorong tubuh besar Woobin yang tengah menindih Changmin dengan wajah yang babak belur.

“Changmin-ah..Changmin-ah..”

Kyuhyun memangku kepala Changmin dan menyeka darah yang mengalir di pelipis dan bibir sang kekasih. Air matanya kembali mengalir saat Changmin terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara itu, Woobin terhenyak menatap Kyuhyun yang sama sekali tak mempedulikannya. Ada rasa sakit yang ia rasakan saat Kyuhyun mengabaikannya dan lebih mempedulikan lelaki pengecut itu.

“Apa yang kau lakukan Kim Woobin?!”

“Kyuhyunnie, aku..”

“Pergi dari sini sebelum aku memanggil security.”

Ancam Kyuhyun dingin sebelum ia membantu Changmin berdiri dan masuk ke kamar mereka.

*

BRAK!

Woobin membanting pintu mobilnya dengan kasar saat ia telah sampai di pekarangan rumahnya. Ia sedikit meringis saat ia merasakan perih disekitar rahangnya.

“Shim Changmin sialan.” Makinya kesal pada orang yang telah membuat wajahnya memar.

Sebelum ia masuk ke rumah, ia terlebih dahulu mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia tak ingin menghadapi pertanyaan sang ibu tentang lukanya dan membuat beliau khawatir.
Ia pun melangkah menuju rumah bernuansa putih dihadapannya. Rumah mewah yang belakangan hanya ditempati oleh dirinya dan ibu yang sangat ia cintai. Seperti telah menjadi sebuah kebiasaan, ia pun langsung menaiki tangga dan menuju kamar pertama dilantai kedua. Kamar milik sang Ibu.

Ketika ia membuka pintu kamar tersebut, hanya kegelapan yang menyambut pandangannya. Ia sedikit heran. Tidak biasanya ibunya membiarkan keadaan kamarnya terlihat gelap tanpa penerangan. Sebab ia tahu jika sang ibu memang tak menyukai kegelapan.

“Eomma..” Panggilnya dengan satu tangannya menekan sakelar lampu.

Senyuman muncul di balik masker yang ia kenakan saat ia melihat sosok ibunya tengah terbaring di tempat tidur. Pria berusia 17 tahun itu pun memutuskan untuk membuka maskernya dan menghampiri sang ibu. Berniat mengucapkan selamat malam pada wanita yang telah melahirkannya.

Namun senyumannya itu seketika menghilang saat ia melihat cairan serta busa berwarna putih mengalir dari sudut mulut ibunya.

“Eomma!”

Di sisi tubuh yang tergeletak itu terdapat sebuah botol kecil dengan beberapa butir pil yang tercecer. Valium (sejenis obat penenang).

Dengan panik ia pun segera meraih ponselnya, men-dial nomor darurat dan membopong tubuh ibunya dari tempat tidur. Tanpa tahu jika terdapat selembar kertas terjatuh dari genggaman tangan ibunya.

“Eomma..kumohon.. bertahanlah..”

Ia telah pergi, Woobin-ah.

Ia telah pergi meninggalkan kita dengan wanita jalang itu..

*

“Kau mau kemana, Kyu?” Changmin meraih tangan Kyuhyun yang beranjak dari sisinya.

Kyuhyun tersenyum sekilas pada pria yang tengah terbaring di bangsal.

“Aku ingin menemui Dokter Hwang sebentar untuk menanyakan perkembangan kondisimu, Changmin-ah.”

Mereka berdua tengah berada di Rumah sakit saat ini. Mengingat kondisi Changmin yang luka parah pasca baku hantamnya dengan Woobin semalam. Dan Kyuhyun tentu saja akan menemaninya, walau bagaimana pun saat ini ia masih menjadi kekasih sekaligus tunangan Changmin.

Pria tinggi itu pun melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Kyuhyun meskipun enggan. Ia seperti tak rela melepaskan Kyuhyun. Takut jika pria manis itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Aku akan segera kembali.” Janji Kyuhyun melihat keraguan Changmin.

*

Kyuhyun menutup pintu ruangan Dokter Hwang dengan pelan. Kekhawatirannya sedikit berkurang saat Dokter Hwang menjelaskan kondisi Changmin yang semakin membaik.

Sebelum ia kembali ke kamar Changmin, ia terlebih dahulu untuk mampir ke kantin Rumah Sakit. Segelas teh hangat sepertinya akan membantunya terasa segar kembali. Ia nyaris menjerit ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar dari balik koridor Rumah Sakit. Namun suara itu tak terdengar karena mulutnya dibekap oleh sepasang tangan besar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seseorang yang menarik tangan Kyuhyun yang tidak lain adalah Woobin.

Dengan kasar Kyuhyun mendorong tubuh Woobin untuk menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Kyuhyun marah. Sontak saja suara tersebut menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang disekitar mereka.

“Kau sangat suka menarik perhatian orang lain, Kyuhunnie..” Ucap Woobin dengan nada menggoda.

Kekesalan Kyuhyun semakin bertambah. Demi Tuhan, bagaimana ia bisa bersikap demikian? Bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya sementara semalam ia nyaris menghabisi Changmin di depan matanya.

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

“Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?” Woobin membelai pipi Kyuhyun lembut yang segera ditepis kasar oleh Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari wajah yang ada dihadapannya. Melihat wajah tersebut mengingatkan ia pada malam itu. Di mana Woobin secara tidak langsung mengakui bahwa ia hanya dijadikan alat untuk membalas dendam pada Changmin.

“Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku. Ah, aku tahu. Apa kau sedang menunggui pria pengecut yang terbaring di salah satu kamar rumah sakit ini?”

Kyuhyun mendongak, “Tidakkah kau merasa bersalah padaku? Tidakkah kau merasa bersalah pada Changmin?”

Woobin menaikkan salah satu alisnya. “Sama sekali tidak. Bahkan aku menyesal tidak membuatnya langsung mati di tempat.”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema diantara lorong panjang tempat mereka berdiri. Woobin meraba pipinya yang terasa perih. Ditatapnya Kyuhyun yang kini terlihat menggigit bibirnya yang bergetar.
Kyuhyun sndiri yang tak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Woobin yang terdengar menyepelekan, reflek menampar pria tersebut. Tidak tahukah ia jika dirinya merasa marah dan kecewa terhadap bocah tersebut? Marah karena anak itu menghajar Changmin dan kecewa karena tanpa bisa ia cegah, Kyuhyun sudah jatuh hati pada orang yang menjadikannya alat balas dendam. Walaupun Woobin mengatakan bahwa sejak awal ia sudah menyukai dirinya.

“Aku muak dengan segala tingkahmu, Kim Woobin. Aku menyesal telah mengenal manusia arogan dan pembawa masalah sepertimu. Dan kuharap aku tidak akan pernah lagi bertemu manusia sepertimu..” Kyuhyun menatap tepat di manik mata Woobin yang terlihat sayu, “..selamanya.”

Selepas mengucapkan kalimat tersebut, Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Woobin yang masih mematung di tempatnya. Meninggalkan Woobin yang tersenyum miris tanpa ia ketahui.

Million_Words_7_Poster_Finishing

To be continued..

I’m Entirely In Your Will – Chapter 3

Casts           : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors    : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre         : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating        : T

Summary : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!  : psychosis

 

Chapter 3

Kyuhyun duduk di lantai marmer keras seraya bersandar ke dinding di belakangnya. Perlahan, ia mencoba memejamkan matanya. Ia lelah, teramat lelah. Hampir tiga hari ia nyaris tidak memejamkan matanya. Bagaimana mungkin ia bisa tidur jika hati dan pikirannya sedang kacau seperti ini?

“Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja?”

Kyuhyun membuka matanya dan mendapati Jung Yunho tengah berdiri menatapnya dengan sedikit kecemasan tergambar di raut wajahnya.

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.” jawabnya seraya tersenyum sopan.

Yunho lalu ikut duduk di samping Kyuhyun. “Aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi setidaknya kau harus memperhatikan dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kau bisa menjaga kekasihmu kalau kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri?”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak mau mempertanyakan dari mana Yunho tahu bahwa ia dan Roberto memang berhubungan tapi yang jelas ia tahu Yunho benar. Tapi ia tidak bisa sedikit pun mengistirahatkan dirinya jika keadaan buruk seperti ini menimpa Roberto.

“Bukan hanya kau yang cemas, kami semua juga merasakan hal yang sama.” Didengarnya Yunho melanjutkan kata-katanya. “Roberto adalah pemeran utama. Ia yang terbaik. Jika terjadi sesuatu padanya, pertunjukan ini bisa kacau.”

Kyuhyun baru akan menjawab ketika dilihatnya Lee Soo Man muncul dengan langkah-langkah panjang.

“Semuanya berkumpul.”

Mendengar instruksi dari sang produser, para staf beserta para ballerina dan balerino yang hadir disana mendekat lalu membentuk sebuah lingkaran besar.

“Kupikir kalian sudah tahu alasan mengapa kalian dikumpulkan saat ini. Aku sudah bicara dengan dokter dan tampaknya Roberto tidak bisa menari untuk sementara waktu, jadi Choi Siwon akan menggantikannya. Mari berharap Roberto sudah pulih sebelum pementasan Onegin dimulai mengingat waktu pementasan tinggal sebentar lagi. Jadi kuharap, kalian semua bekerja keras dan berdoa semoga Roberto segera kembali.” Kata lelaki parah baya itu dengan lancar, seolah ia telah menghapalnya di luar kepala sebelumnya, mengabaikan tatapan-tatapan sedih dari para pendengarnya.

Ia lalu menghela nafas lelah kemudian berpaling pada Siwon. “Siwon-ssi, tolong berikan yang terbaik untuk pementasan ini. Aku mengandalkanmu.”

Siwon mengangguk patuh. Di wajah tampannya terukir senyum bangga. “Aku akan berusaha sebaik mungkin. Dengan kepercayaan anda juga dukungan dari teman-teman, aku akan melakukan yang terbaik.”

“Baiklah, kalian boleh melanjutkan latihan.” Lee Soo Man lalu berbalik meninggalkan kerumunan itu.

“Kau dengar? Roberto akan digantikan oleh Siwon-ssi. Ini benar-benar mengejutkan.”

“Siwon-ssi sangat beruntung.”

“Roberto pasti sangat kecewa.”

Siwon berjalan pelan ke arah Kyuhyun. Ia bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik di belakangnya. Namun, ia tidak peduli sama sekali pendapat orang mengenai dirinya. Ia hanya peduli bagaimana cara memenangkan pertarungan ini. Mungkin Roberto hanya menganggapnya sosok kecil, bukan penghalang berarti apalagi sejak keputusan Lee Soo Man yang mengatakan bahwa Roberto adalah pemain utama Onegin sedangkan Siwon hanya pemain kedua.

Awalnya Siwon tidak kecewa dengan keputusan itu. Bukankah ia sendiri memenangkan tempat kedua di usia yang masih begitu muda? Namun gairah untuk menang semakin besar ketika melihat Cho Kyuhyun, sosok manis yang merebut pikiran dan hatinya sejak pertama mereka bertemu. Ditambah dengan hubungan Kyuhyun dan Roberto yang semakin dekat dan akhirnya menjadi sepasang kekasih.

Siwon hanya ingin menakut-nakuti Roberto pada awalnya, karena ia benci melihat Kyuhyun bersama lelaki lain selain dirinya. Namun, ternyata Roberto mengalami cedera parah hingga ia harus menggantikan lelaki berusia matang itu. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia mendapat dua keuntungan sekaligus.

“Kyuhyun-ssi, apa kau sudah makan siang? Kau terlihat pucat sekali. Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Aku yang traktir.” Siwon menawarkan dengan senyum cerah terkembang di wajah tampannya.
Kyuhyun ikut tersenyum seraya menggeleng lemah. “Aku tidak bisa, Siwon-ssi. Aku harus kembali ke rumah sakit. Roberto membutuhkanku. Ia pasti sedih jika harus makan siang sendirian.”

“Oh.. Begitu.. Baiklah, sampaikan salamku pada Roberto. Maaf aku belum bisa mengunjunginya. Semoga ia cepat.. pulih.” Berat rasanya menyebut kata ‘pulih’ untuk saingan utamanya itu. Tapi demi melihat senyum Kyuhyun, ia harus bersabar dan terlihat ikhlas ketika mengucapkannya.

Dengan kejadian ini seharusnya ia bisa ikut memenangkan hati Kyuhyun, tapi rasanya sia-sia. Kemarahan kembali menguasai dirinya. Tapi ia kembali memaksakan senyumnya untuk Kyuhyun, menutupi letupan murka didadanya.

*

Roberto memainkan remote control televisi di tangannya. Sedari tadi ia mencari saluran hiburan yang bagus tapi tetap saja tidak ada yang bisa menghiburnya dengan baik selain Kyuhyun.

Roberto menghela nafas nafas panjang. ‘Andai saja Kyuhyun tidak harus pulang.’ Sesalnya dalam hati.

Sebenarnya ia sendiri yang menyarankan Kyuhyun untuk pulang dan beristirahat mengingat lelaki itu menjaganya siang dan malam. Namun tampaknya ia sedikit menyesali keputusannya itu. Rasa sepi dan bosan menghampirinya, ia menginginkan Kyuhyunnya kembali.

“Tampaknya kau sedang sendiri.”

Roberto menoleh cepat ke pintu masuk. Di sana, sosok lelaki tegap berdiri dengan senyum dingin tengah menatap ke arahnya. Choi Siwon.

“Mau apa kau kemari?” tanya Roberto dingin.

Perlahan Siwon melangkah masuk lalu menutup pintu di belakangnya, tak lupa menguncinya dari dalam.

“Apa maumu? Pergi atau aku akan memanggil security.” Ulang Roberto. Nada gugup sedikit terdengar dalam suaranya.

Siwon mengangkat alisnya. “Aku hanya ingin bicara empat mata, apa itu salah? Mengapa kau terlihat ketakutan seperti itu? Kau tidak mau bicara denganku? Bukankah tidak sopan mengusir temanmu yang berniat baik untuk menjengukmu juga menyampaikan pesan dari Lee Soo Man?”

Roberto menatap Siwon dengan tatapan tidak suka. Sungguh, ia membenci lelaki di depannya itu. Ia tidak pernah menyangka seorang Choi Siwon yang tampak ramah dan bersahaja itu ternyata sangat kejam.

“Cepat katakan pesannya lalu pergi.”

Siwon menjatuhkan dirinya di tempat tidur Roberto, tepat di samping kaki kanan sang balerino yang tengah cedera itu.

“Aku akan menggantikan tempatmu dalam pementasan Onegin.. Oh.. Jangan salahkan aku.. Lihat wajahmu sekarang.” Ujar Siwon ketika melihat wajah kaget Roberto.

“Jangan salahkan aku, itu adalah kemauan Lee Soo Man sendiri.” Lanjut Siwon.

“Tidak mungkin! Aku tidak percaya Lee Soo Man menggantikanku begitu saja tanpa sepengetahuanku!” sanggah Roberto cepat.
Siwon tertawa sinis. “Bisa saja. Kau tengah cedera, siapa yang bisa menggantikanmu kecuali aku? Lagipula, tidak mungkin kan pementasan ini diundur hanya karena kau cedera?”

Kumparan amarah menguasai Roberto kini. Kedua tangannya dikepalkan, siap meninju wajah menyebalkan di hadapannya andai saja kakinya bisa bekerja sama saat ini.

“Kauuu.. Kau penyebabnya! Kau yang menyebabkan aku jadi seperti ini!”

Kini Siwon justru tertawa. “Benarkah? Harusnya kau menyadari bahwa kaulah penyebab semua ini. Andai saja kau menjauhkan cakarmu dari Kyuhyun, mungkin saat ini kau tengah mempersiapkan diri untuk pementasan besar itu bukan? Mengapa kau harus menyalahkanku? Lihat dirimu kini, hanya seonggok daging tak berguna. Bukan hanya menyusahkan seluruh staf, kau juga membuat Kyuhyun hanya menghabiskan waktu tak berguna disini sementara kami harus bersiap-siap.”

Roberto meremas selimutnya dengan kasar, tubuhnya memanas seiring dengan amarahnya yang nyaris meledak. “Cho Kyuhyun adalah milikku. Sampai kapan pun tak akan kulepaskan apalagi untuk lelaki keji seperti kau!”

“Kau yakin sekali. Apa kau lupa bagaimana aku bisa membuatmu berada di sini?”

Kali ini Roberto yang tersenyum. “Aku tidak akan melepaskan Kyuhyun. Sampai kapan pun! Walau aku harus mempertaruhkan segalanya, aku akan tetap membuatnya berada di sisiku. Ingat itu.”

Senyum sinis tadi menghilang di wajah Siwon. Tangannya mendarat lalu mencengkram kaki kanan Roberto dengan keras, seolah hendak menghancurkannya dalam sekejap.

Roberto melolong keras karenanya. “Aaaarrggghhh…!!!! Lepaskan, kau bajingan!!!”

Seakan tuli, Siwon tetap mencengkram keras. “Kau akan benar-benar kehilangan kakimu kalau kau bersikeras seperti ini.”

“Aku.. tidak.. peduli.. Lepaskan kakiku!” Roberto tetap bertahan seraya berusaha melepaskan cengkraman Siwon.

Kali ini Siwon menurut. “Cukup untuk hari ini. Aku akan datang lagi nanti dan bersenang-senang denganmu.”

Ia lalu berjalan menuju pintu, membuka kuncinya lalu beranjak keluar. Tapi sebelum ia benar-benar menghilang dari sana, ia sempat berbalik dan berkata dengan nada dingin. “Kau akan tahu akibatnya kalau kau berani bicara tentang kejadian sebenarnya, mau pun malam ini.”

*

Malam itu hanya awal dari rentetan kesengsaraan Roberto. Setelah itu Siwon kerap kali mengunjungi Roberto dan menyiksa lelaki itu ketika Kyuhyun tidak ada di sana. Ia pernah dengan sengaja menutup wajah Roberto dengan selimut, membuat nafas sang Balerino tersedak, nyaris mati. Di lain kesempatan ia pernah membenturkan kepala lelaki itu ke besi keras penyangga tempat tidur hanya karena Roberto masih bersikeras mempertahankan Kyuhyun.

Belum lagi sayatan panjang di lengan Roberto karena berani mencium Kyuhyun di depan mata Siwon. Saat itu Siwon datang ke rumah sakit bersama Hee Seo, Yunho dan Eun Hye. Ternyata Kyuhyun ada di sana dan bersiap untuk pulang. Dan salam perpisahan sepasang kekasih itu tentu saja adalah ciuman penuh kasih yang membuat Siwon nyaris membunuh Roberto saat itu juga, andai akal sehatnya tidak memaksanya untuk tetap berdiri dengan tenang di tempatnya.

“Mengapa akhir-akhir ini kesehatanmu justru semakin menurun? Aku khawatir sekali padamu.” Ujar Kyuhyun seraya menyerahkan segelas air pada kekasihnya.
Roberto menghabiskan isi gelasnya lalu menggeleng. “Entahlah, semakin hari, ada saja kejadian yang membuatku terpaksa tinggal di sini. Aku bosan, aku benar-benar ingin pulang.”

“Kalau begitu kau harus benar-benar menjaga kesehatanmu. Kami semua merindukanmu. Aku merasa sangat tidak nyaman menggantikan tempatmu di pementasan pertama minggu depan.” Kata Siwon dengan raut wajah menyesal.

Ya, Choi Siwon sore itu mengantar Kyuhyun mengunjungi Roberto. Dan ia tampak sangat nyaman memainkan perannya sebagai teman yang baik sekaligus pemangsa ganas yang mengawasi gerak-gerik Roberto dengan cermat.

Roberto hanya bisa menahan amarah setiap kali mendengar Siwon bicara. Terkadang ia malah tidak menjawab sama sekali, membuat Kyuhyun berkali-kali minta maaf pada Siwon karena ketidaksopanan kekasihnya.

“Nah, aku sudah mengupaskan beberapa buah untukmu. Jangan pernah menggunakan pisau lagi sendiri. Aku tidak mau tanganmu yang lain tersayat juga karena kecerobohanmu sendiri.” Ujar Kyuhyun seraya menunjuk sayatan panjang di tangan kiri Roberto yang diakui sebagai kesalahannya sendiri ketika mengupas apel, padahal sudah jelas Siwon yang melakukannya.

“Roberto, kau harus berhati-hati, kalau tidak keadaanmu akan memburuk. Kaki mu saja belum sembuh, bagaimana mungkin kau melukai tanganmu juga?” kata Siwon, lagi-lagi dengan nada prihatin.
‘Munafik!’ pikir Roberto. “Aku akan berhati-hati, tenang saja.” Kata Roberto seraya mengeraskan rahangnya.

“Dan lagi.. Maaf, bukannya aku mencampuri urusan pribadi kalian. Tapi, Kyuhyun-ssi harus berkonsentrasi dalam pementasan ini, bukan? Lihatlah dia baik-baik. Bahkan pada saat latihanpun ia tertidur. Beberapa hari lalu kami mengantarnya ke klinik terdekat karena ia tiba-tiba pingsan.”

Roberto tersentak. “Kau dibawa ke klinik? Kenapa tidak mengabariku? Kau sakit?”

Kyuhyun menggeleng dengan jengah. “Aku tidak apa-apa. Hanya saja aku kekurangan darah merah dan zat besi. Belakangan ini aku kurang tidur dan sering terlambat makan, apalagi dengan keadaanmu seperti ini, aku..”

“Maafkan aku..” kata Roberto menyesal. “Andai saja aku tidak terluka, mungkin kau tidak akan seperti ini.”

Roberto memperhatikan wajah kekasihnya dengan cermat. Bagaimana mungkin ia melewatkannya? Tubuh Kyuhyun semakin kurus, lingkaran hitam menggantung di bawah bola matanya yang hari-hari ini tampak tidak bersinar cerah seperti biasanya. Dan wajah itu, semakin kuyu dan pucat, seolah tidak ada kehidupan di sana.

“Roberto, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu makan lebih banyak, beristirahat dan meminum vitaminku. Aku akan sehat kembali, aku janji.” Kata Kyuhyun dengan cepat, berusaha mengusir rasa bersalah serta kecemasan yang terukir jelas di wajah kekasihnya.

“Sudah seharusnya, Kyuhyun-ssi.” Sambung Siwon. “Para staf dan Lee Soo Man sendiri sangat mengkhawatirkanmu. Kupikir kau harus benar-benar berkonsentrasi penuh pada pementasan minggu depan.”
Kyuhyun menunduk. Ia tahu Siwon benar. Walau ia sangat mengkhawatirkan Roberto, tapi ia tidak seharusnya mengabaikan kesehatannya sendiri. Apalagi pekerjaan yang selama ini ia lakukan akan segera terlihat hasilnya minggu depan.

“Tapi aku.. sangat mengkhawatirkan Roberto. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian seperti ini.”

Roberto tersentuh mendengarnya. Tapi ia tahu hal buruk akan segera terjadi kepadanya jika ia tetap membiarkan Kyuhyun seperti ini. Ketika ia melirik ke arah Siwon, terlihat jelas kilau murka di mata lelaki berumur 20 tahun itu. Tapi sekali lagi, ia tidak akan melepaskan Kyuhyun hanya karena ancaman lelaki yang lebih muda darinya itu.

*

Lagi, Kyuhyun pingsan di sela-sela latihan penyempurnaan hari itu. Pementasan perdana sudah di depan mata dan Kyuhyun lagi-lagi harus ambruk di tengah sibuknya hari itu.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa kau harus menjaga kesehatanmu? Lihat, kau semakin pucat dan kurus. Pementasan ini penting. Kau penting bagi kami. Kau penting.. bagiku.”

Kyuhyun tidak kaget lagi mendengar penuturan Siwon. Sejak mereka kenal, Siwon sudah mendekatinya, memberi tanda bahwa lelaki itu ingin hubungan mereka lebih dari sekedar teman. Walaupun Siwon belum pernah mengungkapkannya secara gamblang, tapi Kyuhyun menyadari sikap Siwon selama ini kepadanya.

Sungguh, ia juga menyukai Siwon. Tapi jika dibandingkan dengan Roberto, perasaannya berbeda. Siwon jauh lebih muda dan bersemangat, sementara Roberto lebih matang dan dewasa. Ia menyukai segalanya dari Roberto, hingga ia tidak mampu berpaling kepada lelaki tampan dengan lesung pipi yang sempurna itu.

“Maafkan aku, Siwon-ssi. Mungkin aku memang buruk dalam membagi waktuku. Tapi, aku benar-benar khawatir dengan Roberto. Aku tidak bisa. Kalau aku pulang ke rumah, pikiranku akan terus berada di rumah sakit. Kalau aku sedang bersamanya, aku tidak ingin tidur karena aku takut jika tertidur dan ia membutuhkan sesuatu, aku tidak bisa membantunya.” Ujar Kyuhyun tanpa menyadari betapa sakitnya Siwon mendengar semua itu.

“Dan aku.. Aku tidak bisa jauh darinya. Jadi, walaupun aku sakit seperti ini, aku tetap bahagia karena bisa bersamanya.”

Siwon tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk seolah mengerti lalu meninggalkan Kyuhyun tanpa kata.

*

“Kami sangat khawatir padanya. Bukankah di saat-saat seperti ini dia seharusnya berkonsentrasi dengan pementasan?”

“Bukannya kami tidak memikirkan keadaanmu, Roberto. Tapi saat ini kami tidak punya pilihan lain. Bagaimana Kyuhyun bisa menjalankan tugasnya jika ia lemah seperti itu? Ia selalu sakit dan pingsan.”

“Pementasan perdana akan dilaksanakan sebentar lagi. Kami butuh tim yang bekerja dengan konsentrasi penuh.”
Roberto mengingat kata beberapa staf yang tadi mengunjunginya. Semua mengeluhkan kondisi Kyuhyun saat ini. Ia merasa bersalah. Awalnya ia yang bermasalah karena cedera yang dialaminya, dan kini Kyuhyun yang dipermasalahkan karena masalah profesionalisme kerja.

Hal ini tidak bisa diteruskan, bagaimana jika Kyuhyun terus seperti ini? Ia hanya menyusahkan semua staf, menggelisahkan para pemain lain dan mengecewakan Lee Soo Man. Dan lagi, Roberto tidak tahan dengan semua intimidasi dari Siwon. Bukan hanya Siwon yang bertindak, tetapi ia juga sudah merasuki pikiran teman-teman lain yang tampaknya menyerukan ketidaksetujuan mereka akan hubungan Roberto dan Kyuhyun.

“Aku tidak hanya akan menyakitimu, tapi juga orang-orang di sekitarmu kalau kau tetap bersikeras berhubungan dengan Kyuhyun. Mari kita mulai dengan kakimu. Tampaknya kau memang cocok berbaring seumur hidup di tempat tidur seperti ini. Mungkin juga kaki palsu cocok untukmu.”

Roberto mendesah berat mengingat beberapa malam lalu Siwon kembali mengancamnya. Ia bahkan menempelkan sebilah pisau di kakinya, benar-benar berniat memotong harta berharga Roberto sebagai balerino jika ia tidak mengindahkan permintaan Siwon sebelumnya.

“Aku datang..”

Roberto menoleh. Kyuhyun baru saja tiba. Senyum cerahnya tidak dapat menutupi wajahnya yang kuyu saat ini. perasaan bersalah semakin menjadi-jadi di hati Roberto.

“Kenapa kau belum makan siang?” tanya Kyuhyun seraya menunjuk nampan berisi makan siang Roberto yang diletakkan di meja.

“Aku menunggumu.” Jawab Roberto pendek.

Kyuhyun tersenyum ceria. “Baiklah, aku akan makan bersamamu.”

Ia baru akan meraih nampan makan siang Roberto ketika kekasihnya itu menarik tubuhnya hingga ia terduduk di tempat tidur.

“Ada apa? Bukankah kita akan makan siang bersama?” tanya Kyuhyun tak mengerti.

Roberto menghela nafas panjang. Ia benar-benar sulit melakukan hal ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Demi pementasan Onegin, demi teman-teman yang lain.

“Roberto, ada ap..”

“Kurasa kita harus berpisah.” Kata Roberto cepat, tanpa memandang mata Kyuhyun yang membulat tak percaya.

“Kau bercanda kan?” tanya Kyuhyun lagi, mencoba tertawa.

Roberto menggeleng tegas. “Aku tidak bercanda. Kurasa memang kita tidak bisa bersama.”

“Tapi.. kenapa?” kumpulan air muncul di pelupuk matanya, membuat Roberto mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk dan menenangkan lelaki rapuh itu.

“Aku hanya ingin kita berkonsentrasi dengan pekerjaan kita masing-masing. Karena selama kau ada di sisiku, semuanya berantakan. Kuharap.. kau mengerti. Aku sudah memikirkannya sejak lama. Kuharap kau mau menghormati keputusanku.” Roberto berupaya menunjukkan raut wajah tegas.

“Tapi..”

“Kau boleh pergi.”

“Roberto..”

“Sekarang.”

Kyuhyun tidak tahu harus bagaimana, ia ingin menayakan lebih lanjut mengenai keputusan Roberto, namun dilihatnya lelaki yang dicintainya itu berubah dingin, bahkan tidak memandangnya sama sekali.
Kyuhyun berdiri, meraih ranselnya lalu berjalan keluar. Hatinya sakit sekali mendengar penuturan Roberto tadi. Ia terkesan seperti benalu yang mengganggu hidup Roberto. Dan kumpulan airmata yang sedari tadi ada di matanya, akhirnya jatuh juga.

*

Roberto BolleRoberto Bolle

To be continued..

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 2

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

CHAPTER 2

“Kau selalu terlambat. Ayo cepat bangun, nanti sarapanmu dingin.”

Siwon bangun dengan enggan namun ia bahagia. Bahagia karena ia bisa melihat wajah itu kala ia membuka matanya. Langkah kakinya dipercepat agar bisa menyusul tepat di belakang sang kekasih dan.. hap! Ia segera melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh yang lebih kecil darinya itu.

Hidung Siwon menyusuri leher hingga pundak lelaki itu seraya mengendusnya dalam-dalam. Ia selalu wangi, selalu mampu membuat Siwon tergila-gila bahkan di hari mendung sekali pun.

“Berhenti menggodaku. Kau harus segera bersiap. Bukankah hari ini ada rapat penting?”

Siwon tersenyum lebar. “Benar. Tapi sebelum aku pergi bekerja, sebelum aku menyentuh sarapanku, aku ingin sebuah ciuman.”

Efek luar biasa yang ditimbulkan oleh Siwon. Lelaki di depannya tersenyum malu dengan semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Siwon mendekatkan kedua wajah mereka. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Dan..

Siwon membuka matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ternyata matahari sudah muncul sedari tadi. Peluh membasahi tubuhnya walau pun pendingin ruangan di kamarnya menyala dengan suhu tinggi. Ia menyadari bahwa lagi-lagi ia memimpikan Kyuhyun. Selalu seperti itu. Bagaimana bisa ia mengusir Kyuhyun dari mimpinya? Ini terlalu menyakitkan.

Dering ponselnya menyadarkannya sesaat. Nama Tan Hangeng tertera di layar sentuh itu. Tanpa pikir panjang, Siwon segera menjawab.

“Siwon, apa kau sudah bangun?” Tanya Hangeng dari seberang.

“Tentu saja sudah. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”

Hangeng terdengar agak ragu di seberang sana. Namun akhirnya ia bicara setelah beberapa detik.

“Apa kau punya kegiatan lain hari ini?”

Ini adalah hari minggu. Di hari libur seperti ini biasanya Siwon selalu menghabiskan waktunya di apartemennya. Melakukan semua yang bisa ia lakukan seperti menonton dvd, memasak menu-menu baru atau membersihkan apartemennya sendiri. Ia menolak untuk keluar karena enam hari bekerja membuatnya cukup lelah hingga di hari minggu seperti sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya sendiri.

“Tidak ada. Kau tahu aku kan, aku tidak pernah keluar di hari libur seperti ini.” Jawab Siwon.

“Hm.. Bolehkah aku meminta bantuanmu?” kembali Hangeng bertanya tapi kini terdengar semakin ragu.

“Hey ayolah, kau adalah temanku. Selama aku bisa membantu, sudah pasti akan kulakukan. Apa yang bisa kubantu?”

“Hari ini aku dan Zhoumi harus menghadiri rapat dengan beberapa klien dari Hongkong. Padahal aku sudah berjanji akan menonton dvd bersama Kui Xian sejak minggu lalu. Bisa kau bayangkan betapa kecewanya dia begitu mendengar hal ini. Tapi ia cukup keras kepala, ia tidak masalah jika menontonnya bersama orang lain, yang jelas ia ingin ditemani. Ia tidak mau menonton sendiri.”

Perasaan Siwon mendadak tidak karuan. Ia takut kalau-kalau Hangeng memintanya untuk menemani Kui Xian menonton dvd-nya.

Kemudian Hangeng melanjutkan. “Aku tidak bingung seperti ini jika saja Henry ada di Seoul tapi semalam ia harus kembali ke Beijing karena ada anggota keluarganya yang sakit. Donghae ada kencan dengan Eunhyuk dan.. Kau tahu, aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa. Untuk itu, aku ingin meminta bantuanmu untuk menemaninya menonton dvd itu.”

Dugaan Siwon benar. Dan kini ia sedikit menyesal ketika mengatakan bahwa ia tidak punya kegiatan apa-apa hari ini. Ia mau saja membantu Hangeng, kalau saja hal itu tidak ada hubungannya dengan Kui Xian.

“Siwon.. Kau masih di situ?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku akan membantumu. Tidak masalah buatku. Aku juga suka menonton film jadi kupikir tidak ada salahnya. Lagipula ini hari libur bukan?”

“Ah.. Aku lega sekali. Baiklah, sejam lagi aku akan mengantarnya ke apartemenmu. Setelah aku selesai, aku akan segera menjemputnya.” Suara Hangeng terdengar sangat gembira di seberang sana, sangat kontras dengan suasana hati Siwon saat ini.

“Baiklah, aku akan bersiap-siap. Mungkin aku bisa membuatkan kue coklat sederhana untuk kekasih sahabatku ini.” Kata Siwon yang berusaha keras terdengar sama cerianya dengan Hangeng.

“Kue cokelat? Dia suka sekali dengan kue cokelat. Aku benar-benar telah manjatuhkan pilihan yang benar. Walaupun aku akan meninggalkannya seharian, tapi aku yakin ia tidak akan merasa bosan karena ditemani oleh pria baik seperti kau. Terima kasih.”

That’s what friends are for, right?

Setelah sedikit berbasa-basi, keduanya memutuskan hubungan telepon. Siwon masih memandang ponselnya dengan hati gundah.

Satu lagi kemiripan mereka : sama-sama menyukai kue cokelat.’ Pikir Siwon.

Kadang ia berpikir, dengan kemiripan-kemiripan Kyuhyun dan Kui Xian, apa ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang yang sama? Tapi mengapa Kyuhyun tidak mengenalinya sama sekali?

*

            Siwon melirik lelaki pucat yang duduk tenang seraya menikmati kue cokelat buatannya itu sesekali. Matanya masih senantiasa terpaku pada televisi yang menyajikan adegan-adegan dari dvd yang dibawanya. Sesekali ia menghela nafas, sesekali tertawa, bahkan kadang ia bahkan marah-marah sendiri. Tergantung dari adegan yang tersaji di depannya.

Tidak ada perbedaan sedikit pun. Segalanya tampak sama, kecuali nama dan warna rambut mereka. Bahkan suara mereka pun nyaris sama jika saja Kui Xian mengeluarkan suara manja yang selalu dilakukan Kyuhyun. Kui Xian terlihat lebih dewasa, dari caranya bicara dan bergerak. Tidak seperti Kyuhyun yang kekanakan dan menggemaskan.

Berhentilah menatap kekasih sahabatmu.’ Bisik Siwon dalam hati.

“Ah.. Selesai.. Uh, film ini seru sekali. Bagaimana menurutmu, Siwon-ssi?”

Siwon segera tersadar dari pikiran-pikirannya. Dengan senyum jengah ia menjawab. “Kupikir juga begitu..”

Bagaimana mungkin aku tahu jika selama menonton yang kulihat hanya dirimu?’ katanya dalam hati lagi.

“Dimana Kibum-ssi? Aku tidak melihatnya.” Tanya Kui Xian lagi.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. “Eh? Tentu saja di kamarnya. Kenapa?”

Kui Xian menggeleng. “Tidak apa-apa. Bukankah beberapa waktu lalu kau sudah menyatakan bahwa kau akan memberinya kesempatan? Jadi kupikir, di hari yang cerah seperti ini, kenapa tidak kau gunakan untuk berkencan?”

“Itu..” Siwon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku belum bicara atau pun bertemu dengannya setelah hari itu. Kami sama-sama sibuk, jadi.. Lagi pula, bukankah hal seperti ini tidak perlu buru-buru.. Maksudku..”

“Ya..ya..ya.. Aku mengerti. Mengapa kau tampak gelisah seperti itu? Bukankah aku hanya bertanya?” balas Kui Xian seraya mendecak.

Lelaki itu lalu berdiri dan berjalan-jalan pelan ke sekeliling ruangan. Matanya mengagumi isi apartemen mewah itu. Sesekali ia menunjuk beberapa benda dan Siwon dengan sigap menjelaskan layaknya seorang kurator di museum seni.

“Huaaaa… Kau punya banyak koleksi wine..!!!!” seru Kui Xian gembira.

Kening Siwon mengernyit bingung. “Kau juga suka wine?”

“Tentu saja! Siapa yang tidak menyukainya? Lihatlah, kau bahkan punya yang berumur beberapa puluh tahun!” pekiknya lagi.

Bagaimana mungkin? Mengapa ia juga menyukai wine seperti Kyuhyun? Oh Tuhan.. Apa yang sebenarnya tengah kuhadapi saat ini?’ pikir Siwon bingung.

Siwon menatap Kui Xian yang tengah memunggunginya dan mengagumi botol-botol wine yang berjejer di rak kaca dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

“Kui Xian-ssi, boleh aku bertanya sesuatu?” Tanya Siwon memberanikan diri.

Kui Xian berbalik setelah meletakkan botol yang dipegangnya ke rak kaca. “Tentu saja.”

“Berapa umurmu?”

“Aku? Dua puluh tujuh.”

Umur mereka sama.

“Dan.. Tanggal lahirmu?”

“2 february 1988.”

Beda sehari.

“Apa kau.. Benar-benar warga asli Cina? Maksudku, tidak ada campuran dari Negara lain atau..”

Kui Xian tersenyum. “Tentu saja. Haruskah aku memperlihatkan akte kelahiranku kepadamu?”

Kebetulan yang sangat aneh..

*

            “Dia bukan Kyuhyun. Dan kau tahu itu.”

“Aku tahu, tapi.. Terlalu banyak kesamaan yang ada pada diri mereka, membuatku nyaris mengira mungkin saja Kui Xian yang aku hadapi kini adalah Kyuhyun sendiri.” Kata Siwon bersikeras.

Donghae menghela nafas berat. “Kau masuk terlalu jauh, kawan. Ingat, dia adalah tunangan sahabatmu sendiri. Jangan membuat masalah sama sekali. Kau tidak ingin Hangeng mengetahui semua ini dan justru menyalahkanmu, bukan?”

Siwon menggeleng. “Bukan kau, yang selama ini tinggal bersamanya. Jadi begitu ada seseorang yang mirip dengannya, kau tidak akan tahu hal itu.”

Kembali Donghae menghela nafas berat. Ia sudah bersahabat dengan Siwon cukup lama untuk mengetahui seberapa keras kepalanya lelaki itu jika menyangkut hal-hal tertentu, terutama yang diyakininya.

Hanya saja, Donghae tidak yakin kalau perspektif Siwon kali ini ada benarnya, walaupun semua kemungkinan itu ada. Ia hanya tidak ingin Siwon masuk terlalu jauh dan akhirnya kembali terluka seperti dulu. Untuk menjadi Siwon yang seperti sekarang saja sudah cukup sulit, ia tidak mau sahabatnya itu kembali terpuruk dengan kasus yang serupa.

“Siwon.. Dengarkan aku..”

“Tidak! Kau yang harus mendengarkan aku. Mereka punya wajah dan tubuh yang serupa. Mereka lahir di tahun yang sama, kecuali tanggal lahir mereka yang berbeda. Hanya berbeda sehari. Apa hal ini tidak membuktikan adanya kesamaan yang janggal diantara mereka?” Siwon bersikeras.

Donghae tidak menjawab. Bukan karena ia berpikiran yang sama tetapi ia lelah menghadapi Siwon yang telah mengatakan hal yang sama berulang-ulang di sepanjang minggu itu. Membuatnya cukup gerah.

Siwon masih terus mengatakan hal yang sama selama beberapa menit ke depan hingga akhirnya Donghae mengangkat tangannya, menarik perhatian Siwon hingga lelaki itu berhenti bergumam pada dirinya sendiri.

“Apakah dia Kyuhyun yang selama ini kau cari atau bukan, kenyataannya dia adalah milik Hangeng saat ini. Ingat itu.”

Donghae berjalan ke luar apartemen Siwon setelah menepuk pelan pundak sahabatnya yang seakan tersadar dengan kenyataan paling pahit di hidupnya. Kui Xian memang milik Hangeng.

*

            Satu pertemuan berlanjut ke pertemuan selanjutnya. Semakin Siwon mencoba menghindari Kui Xian, semakin sering ia harus dihadapkan dengan berbagai permintaan lelaki itu. Mulai dari menemaninya mencari buku, berbelanja bahan makanan, hingga mencari pakaian, baik itu untuk dirinya sendiri atau untuk Hangeng.

Siwon sama sekali tidak keberatan andai saja Kui Xian bukan milik Hangeng yang wajahnya serupa dengan kekasihnya yang hilang. Karena semakin dirinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri, maka semakin kuat pula semua pikiran-pikiran aneh yang terlintas di benaknya.

Siwon sudah mencoba mengelak. Bukan sekali, namun berkali-kali. Namun menolak Kui Xian bukanlah perkara mudah. Ia selalu membalas penolakan Siwon dengan kata-kata yang sama :

Donghae-ssi sudah punya Eunhyuk-ssi. Henry sibuk dengan Zhoumi gege, dan Ryeowook-ssi sudah pasti menikmati masa-masa pernikahannya dengan Yesung-ssi. Mana mungkin aku mengganggu mereka? Hangeng-ge juga sangat sibuk. Dan kau tidak punya kekasih jadi aku meminta bantuanmu. Aku akan berhenti kalau kau benar-benar memantapkan pilihanmu pada Kibum-ssi.

 

Terkadang Siwon beranggapan kalau Kui Xian mungkin dibayar oleh Kibum untuk mempromosikan dirinya kepada Siwon. Tapi hingga detik ini ia sendiri tidak pernah menangkap gelagat aneh dari tetangganya itu kalau-kalau ia benar-benar menyukai dirinya.

Tapi kadang Siwon berpikir kalau Kui Xian terlalu memaksakan dirinya untuk berpacaran dengan Kibum. Untuk apa? Apa untungnya untuk lelaki itu?

“Melamun lagi?”

Siwon merasakan tepukan halus di lengannya dan segera tersadar dari pikiran-pikiran yang menguasainya belakangan ini. Ia tersenyum jengah kepada Hangeng yang masih meletakkan telapak tangannya di lengan Siwon.

“Maaf..”

Tidak seharusnya ia melamun pada saat ia, Hangeng dan Zhoumi akan sedang mengadakan rapat kecil mengenai pekerjaan mereka. Walau rapat itu bersifat informal, tetap saja ia seharusnya berkonsentrasi.

Zhoumi menyipitkan matanya. “Kau sering melamun akhir-akhir ini. Ada apa, Siwon? Apa ada masalah?”

Siwon menggeleng. “Aku hanya sedang memikirkan beberapa hal. Tapi bukan sesuatu yang penting. Jangan khawatir.”

“Oh ya, Siwon, terima kasih atas bantuanmu akhir-akhir ini.”

Siwon memiringkan kepalanya. “Bantuan apa?”

Hangeng tersenyum. “Kui Xian banyak bercerita mengenai hari-harinya yang menyebalkan karena ditinggal oleh orang-orang terdekatnya. Untung saja kau mau meluangkan waktu untuk menemaninya. Terima kasih.”

“Oh itu.. Aku hanya menemaninya jika memang aku sedang tidak ada pekerjaan. Bukan sesuatu yang besar. Tidak perlu berterima kasih.” Jawab Siwon dengan senyum palsunya. Padalah dalam hati ia enggan sekali menemani lelaki itu. Hanya menambah luka.

“Kau tahu.. Ia tidak terlalu bisa beradaptasi dengan cepat. Tapi melihat perkembangan hubungan kalian yang dengan cepat bisa menjadi teman, membuatku lega. Setidaknya ia berteman dengan orang-orang yang kukenal dengana baik di sini.” kata Hangeng lagi.

Kembali Siwon tersenyum simpul. Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya. “Hangeng-ssi, di mana kau bertemu Kui Xian sebelumnya?”

“Apa aku belum pernah menjelaskannya?” Hangeng balik bertanya. “Kurasa sudah.” Ia tertawa kecil lalu melanjutkan. “Seperti yang kau tahu, ia adalah sahabat Henry sejak di junior high school. Aku sudah sering bertemu dengannya, tapi aku baru benar-benar membuka mataku beberapa tahun lalu. Tapi kemudian ia pindah ke Taiwan, ke tempat pamannya. Membuatku patah hati saat itu. Tapi ia rajin mengirim kabar kepada aku dan Henry.”

Hangeng menyesap kopinya sedikit lalu kembali melanjutkan kata-katanya. “Kami baru bertemu lagi tiga tahun yang lalu kemudian menjalin hubungan. Saat itu aku memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Aku langsung memacarinya. Setahun kemudian aku melamarnya menjadi tunanganku.”

Siwon mengernyit. “Tiga tahun yang lalu?”

Bukan Hangeng yang menjawab melainkan Zhoumi. “Benar. Karena saat itu aku bertemu Henry. Saat Hangeng menceritakan kepadaku mengenai Kui Xian. Saat itu aku masih baru bergabung di perusahaan ini dan kami berdua langsung akrab. Hari itu aku menumpang di mobil Hangeng karena mobilku rusak. Tapi ia mengatakan akan menjemput adiknya dulu. Di sana lah aku bertemu Henry dan Hangeng bertemu Kui Xian lagi. Selanjutnya kau bisa menebak sendiri jalan ceritanya, kan?”

“Apa Kui Xian baru kembali dari Taiwan saat itu?” tanya Siwon lagi. Ia semakin penasaran. Pasalnya Kyuhyun menghilang juga dua tahun yang lalu.

“Benar. Pamannya meninggal di Taiwan jadi ia memutuskan untuk kembali ke Beijing. Ia tampak cukup terluka saat itu. Tapi ia tetap tampan seperti biasa.” Jelas Hangeng.

“Apa.. Ini kali pertama Kui Xian menginjakkan kaki di Seoul?” tanya Siwon lagi. Ia tidak akan menyerah di sini.

Hangeng menggeleng. “Kui Xian pernah tinggal di sini selama beberapa bulan. Ia pernah mengikuti kursus bahasa Korea di Taiwan dan memutuskan untuk pergi ke Seoul untuk memantapkan bahasa Korea-nya.”

Jantung Siwon berdegup kencang kini. “Benarkah? Kapan tepatnya?”

“Entahlah.. Tiga tahun lalu? Empat tahun lalu? Aku tidak ingat kapan persisnya.”

Ada kesenangan tidak wajar dalam diri Siwon kini. “Ia pernah tinggal di sini?”

Hangeng dan Zhoumi saling berpandangan lalu mengangguk bersamaan. Namun Zhoumi yang menjawab pertanyaan itu.

“Ia tinggal selama setahun. Ah tidak, lebih dari setahun. Dan kau bisa lihat bahasa Korea nya kini, tanpa cela bukan?”

Setahun? Ia dan Kyuhyun menjalin hubungan selama setahun. Ya, hanya setahun namun semua terasa begitu indah. Ia bahkan tidak akan berpikir dua kali ketika ingin menikahi Kyuhyun. Tapi sayang, rencana Siwon gagal karena Kyuhyun tiba-tiba menghilang.

“Apa.. Ia pernah menjalin hubungan dengan lelaki asal Korea di sini?” tanya Siwon penuh harap. Seandainya Hangeng menjawab ‘iya’, artinya Siwon punya kesempatan untuk mencurigai Kui Xian sebagai Kyuhyun. Ia hanya perlu memikirkan mengapa Kyuhyun tidak mengenalnya saat bertemu.

“Seingatku tidak. Itu pun kalau Henry tidak berbohong kepadaku. Kau tahu, biasanya seorang adik menyembunyikan hal-hal tertentu kepada kakaknya, bukan?” Jawab Hangeng seraya mengangkat bahunya.

“Henry?”

Hangeng tertawa kini. “Tentu saja. Ia datang kemari dan tinggal bersama Henry. Itulah sebabnya mengapa bahasa Korea keduanya sangat bagus.”

“Aku tidak mengerti.” Kata Siwon dengan bingung.

“Mereka mengikuti kursus bahasa Korea di tempat berbeda. Henry belajar di Beijing sedangkan Kui Xian belajar di Taiwan. Mereka lalu sepakat untuk memperdalam bahasa itu dengan datang dan tinggal bersama di Seoul.” Jawab Zhoumi.

“Jadi.. Kui Xian dulu memang tinggal di Seoul.. Bersama Henry?”

Zhoumi dan Hangeng mengangguk mantap.

*

            “Aku benar-benar bersemangat ketika kau menelepon tadi, Siwon-ssi. Tidak biasanya kau mengajakku keluar. Biasanya aku lah yang merengek kepadamu.” Kata Kui Xian. Wajahnya tampak berseri-seri karena akhirnya Siwon mengajaknya bertemu duluan.

Kui Xian bahkan diberi kebebasan memilih restaurant yang tempat mereka akan makan siang. Dan pilihan Kui Xian jatuh pada restaurant cina favoritnya. Alasannya selalu sama, ia rindu kampung halamannya. Jika berada di sana, ia serasa pulang ke rumah.

Dan Siwon lega karena akhirnya ia menemukan satu lagi kesamaan Kyuhyun dan Kui Xian. Restaurant ini. Kyuhyun juga sangat menyukainya, namun dengan alasan yang berbeda dengan milik Kui Xian. Bagi Kyuhyun, restaurant ini memiliki cita rasa khas yang tinggi dibandingkan dengan restaurant lain.

“Hari ini aku sedang tidak ingin makan sendiri. Aku tadinya hendak mengajak Donghae. Tapi ternyata ia ada sedikit urusan jadi aku mengajakmu.” Ujar Siwon berbohong.

Kui Xian pura-pura cemberut. “Jadi aku hanya cadangan, begitu?”

Siwon tertawa. “Bukan begitu. Kupikir akan menyenangkan jika makan siang denganmu.”

Kui Xian mengangguk perlahan dengan senyum tertahan, menerima alasan Siwon yang cukup masuk akal itu.

Mereka memesan beberapa hidangan favorit di restaurant itu. Keduanya banyak bercerita tentang banyak hal. Hingga Siwon akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan serangan yang tadinya sengaja disimpannya.

“Jadi, Kui Xian-ssi, menurut Hangeng-ssi, kau pernah tinggal di Seoul sebelumnya?”

Kui Xian mengangguk. “Benar. Aku pernah tinggal di sini. Untuk memperdalam bahasa Korea ku. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran dengan bahasa Koreamu yang sangat lancar. Ternyata kau memang pernah tinggal di sini.”

Kembali Kui Xian mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia sibuk melahap dessert-nya, tanpa sadar bahwa Siwon tengah menatapnya dalam-dalam.

“Lalu.. Selama tinggal di Seoul dahulu, apa kau.. pernah memiliki kekasih?” tanya Siwon lagi, masih menatap Kyuhyun dalam-dalam. Enggan melepaskan tatapannya barang sedetik saja. Namun begitu Kui Xian mengangkat wajahnya dari piring di depannya, ia mengarahkan pandangannya ke gelasnya, berpura-pura mengaduk juice-nya dengan sedotan.

“Hmmmmm… Bagaimana kalau kau menebak? Akan lebih seru dari pada langsung mengatakan jawabannya kan?”

Siwon mengangguk lalu menimbang-nimbang sebentar. Akhirnya ia memutuskan untuk menjawab. “Jawabanku.. ya. Kau pernah menjalin hubungan dengan lelaki lain di sini.”

Setelah menjawab dengan yakin, Siwon berusaha keras tetap terlihat tenang. Tapi hatinya justru bereaksi sebaliknya. Jantungnya berdetak keras, menunggu apa tanggapan Kui Xian mengenai jawabannya tadi.

Dan Kui Xian entah memang berniat untuk berlama-lama mengungkapkan kebenarannya, atau memang ia tidak menyadari kata-kata lelaki di depannya, Siwon sendiri tidak tahu pasti. Yang jelas Kui Xian masih sibuk dengan dessert-nya.

Setelah Kui Xian menyelesaikan dessert-nya, ia lalu menenggak isi gelasnya hingga habis. Setelah itu baru lah ia menatap Siwon dengan senyum kecil yang sulit diartikan.

“Tebakanmu benar.. Siwon-ssi, sungguh, aku tidak mengerti. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Atau mungkin kita mempunyai teman yang sama? Mengapa tampaknya kau tahu banyak mengenai aku?”

Siwon terkesiap.

*

HanWonKyu

To be continued..

Million Words – Chapter 6

Title                 : Million Words

Rate                 : M

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun,  Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warninng        : BL, OOC, Typo (es), Dont like dont read!

 

CHAPTER 6

Kyuhyun menatap sebagian punggung Woobin yang terlihat dari pintu kamar. Ia ingat tadi sebelum Woobin membawanya masuk ke kamar, anak itu sempat mematikan lampu depan, hingga Kyuhyun tidak bisa melihat dengan jelas keluar. Tapi ia masih bisa menangkap dengan jelas sosok lelaki yang tadi bercinta dengan dahsyat dengannya.

Bukankah ia akan ke dapur? Mengapa ia tidak pergi juga? Ada apa lagi? Jangan bilang ia menerima telepon dari ibunya lagi dan kini ia tengah cemas.’ Pikir Kyuhyun.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati ponsel muridnya itu tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Lalu mengapa ia berdiri terpaku seperti itu di depan pintu?” monolog Kyuhyun. Ia lalu bangkit dari tempat tidur tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuh pucatnya dari depan. Kyuhyun melangkah pelan keluar lalu memeluk tubuh kekar Woobin dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan selimut agar tetap menempel di tubuhnya.

“Mengapa kau lama sekali? Bukankah kau tadinya mau mengambilkan air untukku?” Kyuhyun bertanya seraya menempelkan seluruh wajahnya ke punggung lelaki itu.

Kim Woobin tidak menjawab. Ia tetap diam di tempatnya, membuat Kyuhyun cukup penasaran dengan tingkah lelaki itu. Belum sempat ia bertanya lagi, tiba-tiba lampu di ruang tengah itu menyala.

Saat itulah Kyuhyun melihatnya. Seseorang yang paling ditakutkannya melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Shim Changmin berdiri di sana, satu tangannya menekan sakelar lampu sementara tangannya yang lain terkepal keras di samping tubuhnya.

“Chang..min..”

“Bersenang-senang?” Tanya Changmin langsung. Nada dingin itu terdengar bagai mata silet yang siap menggores kulit dengan cepat.

Ingin rasanya Kyuhyun berlari ke luar dari apartemen itu lalu meloncat ke jalan raya dan berharap sebuah truk besar melindasnya hingga ia bisa mati saat itu juga. Pancaran mata Changmin yang penuh amarah sekaligus kekecewaan dengan nada suara seperti itu membuat Kyuhyun ingin mengembalikan waktu dimana ia masih bisa menolak Woobin.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” kembali Changmin bertanya.

“Kau sudah tahu jawabannya.” Sambar Woobin cepat. Tanpa gentar sedikit pun.

“Jadi ini yang kalian lakukan selama ini? Bermain di belakangku sementara tampak seperti guru dan murid yang baik di depanku?”

Seumur hidupnya, Kyuhyun tidak pernah melihat Changmin semarah ini. Changmin yang sabar, yang lemah lembut, yang pengertian dan selalu mengalah kini tengah menatap mereka dengan garang.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia juga tidak berani bergerak. Walau bersembunyi di belakang tubuh Woobin seperti ini sudah jelas salah, tapi ia sama sekali tidak berani keluar dari persembunyiannya. Ia terlalu takut dan malu dengan keadaannya yang telanjang hanya terbalut selimut tebal karena habis bercinta dengan salah satu muridnya.

“Kenapa, Kyu.. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?”

Sungguh, Kyuhyun benci kepada dirinya sendiri mendengar kalimat itu. Terlebih Changmin mengucapkannya dengan nada sedih. Hancur sudah semua yang mereka bina selama ini. Dan Kyuhyun mendapati dirinya sendiri sebagai biang keladinya.

“Jangan salahkan dia, salahkan aku.” Woobin lah yang menjawab.

Ingin rasanya Kyuhyun menampar mulut lelaki bebal itu agar tidak menjawab apa pun. Jika tidak, semuanya tidak menjadi semakin rumit.

“Aku tidak bertanya padamu, bajingan!” bentak Changmin murka. Suaranya yang tadi cukup sedih terdengar bagai halilintar kini. Menggelegar keras membuat bulu kuduk meremang seketika.

Woobin merasakan Kyuhyun beringsut takut di belakangnya. Ia lalu melempar pandangan marah pada Changmin. “Kau membuatnya takut!”

“Dia tanggung jawabku! Dia tunanganku! Aku berhak atas dirinya. Tidak perlu ikut campur.”

“Semua yang berhubungan dengannya juga menjadi urusanku!!”

Changmin tersenyum sinis. “Oh yah? Mengapa seperti itu?”

“Karena aku mencintainya.”

“Berani sekali kau mengatakan bahwa kau mencintainya. Inikah pembuktian cintamu? Meniduri gurumu sendiri yang jelas-jelas adalah tunangan orang lain?” Changmin sudah melangkah maju mendekati Woobin.

“Benar sekali. Lalu mengapa? Kau tidak suka?” jawab Woobin dengan tenang walau wajahnya sudah mengeras.

“Bajingan!”

Changmin beringsut maju dengan kepalan terangkat yang sedari tadi telah menanti dengan lapar untuk meninju wajah angkuh di depannya. Namun secepat kilat pula Kyuhyun bergerak maju dan berdiri tepat di depan sang murid.

“Hentikan! Kumohon!” pinta Kyuhyun dengan suara bergetar. Tubuhnya ikut bergetar. Air matanya sudah jatuh dari pelupuknya.

Changmin menghentikan aksinya. Matanya menatap Kyuhyun dengan keterkejutan besar di sana. “Kyu? Kau.. membelanya?”

“Salahkan aku. Aku lah penyebabnya. Dia masih anak-anak. Dia masih di bawah umur. Aku lah yang dewasa di sini, jika ada yang harus di salahkan, aku lah orangnya. Jangan menyentuhnya. Kumohon..” isak Kyuhyun.

“Anak-anak katamu?” Tanya Changmin dengan nada sakit hati. “Tidak ada anak-anak yang berani bertindak sejauh ini.”

“Kyuhyunnie.. Aku lah yang..”

“Kau memanggilnya apa?” raung Changmin ketika mendengar Woobin menyebut mesra nama Kyuhyun seperti itu.

“Pergi.. Kumohon, pergilah..” pinta Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tidak tanpamu.” Kata Woobin keras kepala.

“Woobin-ah.. Dengarkan aku. Pergilah. Jangan membuat situasi semakin kacau. Kumohon.. Aku akan mencarimu setelah ini, aku berjanji. Aku berjanji.. Kumohon..”

Woobin tidak kuasa mendengar nada itu. Walau ia tidak mau meninggalkan Kyuhyun sendirian menghadapi kemarahan tunangannya, tapi mendengar suara yang memelas kepadanya itu membuatnya tidak tega.

Ia bergegas masuk kembali ke kamar Kyuhyun, mengumpulkan barang-barangnya, memakai kembali bajunya lalu keluar kamar. Sebelum ia pergi, ia memeluk Kyuhyun yang masih terisak dengan tubuh bergetar hebat lalu mencium pipinya.

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang. Aku berjanji.”

*

            Kyuhyun belum berhenti menangis sejak semalam. Ia bahkan menelepon ke sekolah, melaporkan bahwa dirinya tengah sakit hingga tidak bisa mengajar. Ia masih belum bisa menghadapi semua rekan kerja juga murid-muridnya di sekolah nantinya. Dan ia sendiri terlalu malas memikirkan konsekuensi dari perbuatannya semalam. Perbuatan yang sebenarnya sangat tidak senonoh dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh apalagi dengan anak di bawah umur seperti itu. Walau Kim Woobin sendiri sudah berusia 17 tahun, tapi dengan statusnya sebagai murid sekolah, ia tetap masih dikategorikan sebagai anak-anak.

Dan masih terbayang jelas pembicaraannya dengan Changmin semalam setelah Woobin pergi. Bagaimana ia melihat Changmin meminta penjelasannya atas semua yang terjadi dengan pandangan terluka, dengan nada suara yang teramat sedih, membuat Kyuhyun menyesali semua yang telah ia lakukan.

“Mengapa kau lakukan ini padaku? Katakan padaku, apa salahku.. Mengapa, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng. “Sudah kukatakan aku lah yang bersalah. Karena perasaanku yang egois membuatku terlena dengan hal-hal yang tidak seharusnya.”

“Jika memang seperti itu, apa yang salah dalam hubungan kita? Terlalu sakit untukku melihatmu bersama dengan lelaki lain. Katakan Kyu.. Katakan padaku..” Changmin mulai menangis.

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Tapi memang ada yang salah dengan hubungan kita. Bukan, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hanya saja.. Aku tahu kau sibuk, apalagi dengan posisimu sebagai anak tunggal, sudah pasti kau lah yang menjalankan yayasan milik keluargamu.”

“Tapi kau menjadi sibuk bahkan lebih sibuk setelah yayasan itu diperluas. Kau jarang pulang. Kalau pun kau pulang, kita hanya bertemu sebentar. Aku kesepian karenanya. Aku merindukan waktu di mana kita selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, melakukan hal-hal kecil dengan penuh tawa..”

Changmin memotong perkataan Kyuhyun. “Aku tidak bisa meninggalkan yayasan, kau tahu itu. Banyak hal yang bergantung padaku. Dan jika.. Jika aku sibuk, bukankah kita bisa membicarakannya?”

Kyuhyun tersenyum lemah. “Kita bahkan tidak bisa membicarakan hal-hal sepele ketika kau pulang. Kau selalu terlihat lelah. Aku tidak mau menambah bebanmu.”

Changmin terdiam. Walau airmatanya masih menetes, tapi ia ikut mengakui kata-kata Kyuhyun. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat menghabiskan banyak waktu apalagi mendengarkan cerita kekasihnya.

“Dan lagi, kau selalu menanggapi keluhanku dengan datar. Tidak ada perselisihan, tidak ada kemarahan, tidak ada kesalah pahaman. Membuatku selalu berpikir bahwa tidak ada jiwa dalam hubungan kita.” Kata Kyuhyun lagi.

“Mengapa kau terus mengungkit hal itu?”  sanggah Changmin. “Bukan kah semua orang ingin menjalani hubungan yang baik-baik saja tanpa berselisih paham?”

“Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa mencegah perasaan itu begitu saja. Aku ingin menjalani kehidupan yang kau tahu.. Aku.. Aku merasa kehidupan cinta kita terlalu datar. Kau terlalu baik, terlalu penurut dan selalu mengalah. Kita tidak pernah bertengkar. Semua terserah padaku. Tidak ada gairah di dalamnya. Aku..”

“Jadi kau berselingkuh karena mendambakan pertengkaran kecil dengan pasanganmu?” lagi-lagi Changmin menyanggah.

“Dan karena kau tidak punya banyak waktu untukku. Aku kesepian.” Kyuhyun lemah seraya mengingatkan Changmin pokok permasalahannya.

Ia tidak mau membela diri atas apa yang telah terjadi. Memang benar dirinya telah berselingkuh. Ia bahkan tidur dengan lelaki lain di kamar yang ditempatinya bersama Changmin. Ia bisa saja menolak Woobin saat itu, tapi tidak ia lakukan, bukan? Karena walau ia sempat benci, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia menyukai banyak hal tentang lelaki itu. Ia hanya tidak menyangka bahwa Changmin akan menemukan mereka seperti ini.

“Maafkan aku..” suara Changmin memecah kesunyian diantara mereka.

Kyuhyun menoleh, melihat Changmin yang menatapnya dengan mata sembab. Wajah tampan itu tampak sangat terluka, sedih dan sekaligus letih. Kyuhyun jadi benar-benar merasa teramat bersalah kini. Ia bahkan merutuki dirinya karena berani berselingkuh.

“Tidak.. Kau tidak bersalah, aku lah yang menghianatimu. Aku lah yang seharusnya minta maaf.”

“Aku lah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jika saja aku berusaha untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku terlalu sibuk hingga menghindari semua perdebatan. Sibuk di yayasan membuatku sangat lelah ketika pulang ke rumah. Jadi dari pada membuat pikiranku kacau, lebih baik aku mengikuti semua kemauanmu. Aku tidak mau berdebat dan aku tidak pernah suka akan hal seperti itu. Kau tahu kan?”

Kyuhyun tidak menjawab. Walau ia merasa kata-kata Changmin ada benarnya, namun ia enggan bicara untuk membenarkannya. Dengan menyanggah lagi, berarti hanya akan memperpanjang masalah. Keduanya lalu duduk dalam diam di sofa yang terletak saling berhadapan itu, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya ketika Kyuhyun tertidur. Ketika ia terbangun keesokan harinya, ia mendapati tempat duduk Changmin sudah kosong.

Kyuhyun sempat ketakutan sesaat, maka ia segera berlari ke kamarnya dan memeriksa lemari pakaian yang ia pakai bersama Changmin. Dan ia hanya bisa bernafas lega karena baju-baju tunangannya itu masih ada di sana.

*

            Changmin tidak pulang setelah beberapa hari setelah itu. Satu-satunya petunjuk yang Kyuhyun punya hanya pesan teks darinya yang mengatakan bahwa ia kembali sibuk dengan rutinitasnya dan ia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Kyuhyun mengerti. Ia tidak akan menghubungi Changmin dulu untuk beberapa waktu. Ia akan memberi lelaki itu waktu untuk menenangkan diri. Sudah bagus Changmin tidak meninggalkannya.

Kyuhyun sendiri sudah mulai kembali ke sekolah. Ia hanya butuh topeng untuk menghadapi Woobin. Seisi sekolah tidak ada yang tahu mengenai apa yang telah ia lakukan beberapa malam lalu. Dan ia sendiri tidak peduli dengan tanggapan Jongin dan Myungsoo. Ia hanya memikirkan bagaimana cara menatap wajah Woobin seperti biasa setelah peristiwa memalukan di apartemennya.

Ia harus bicara dengan Woobin. Ia harus menjelaskan segalanya. Ia tidak boleh berada dalam persimpangan seperti ini. Ia harus bisa menentukan dengan tegas, di mana tempat seharusnya ia berada. Ia tidak boleh tergoda, ia tidak boleh lemah.

Namun harapannya hancur ketika ia mencari Woobin di sekolah. Anak itu sudah tidak masuk sejak tiga hari yang lalu dan pihak sekolah tidak tahu menahu mengapa ia absen. Anehnya Jongin dan Myungsoo juga tidak muncul di sekolah sejak hari itu.

Kyuhyun sudah mencoba menghubungi ponsel Woobin, tapi layanan kotak suara selalu menyambutnya, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Hal yang sama terjadi ketika ia mencoba menghubungi duo Kim yang selalu membuntuti Woobin. Kemana mereka semua?

Awalnya ia mengacuhkan hal ini. Namun setelah seminggu ketiga anak itu tidak muncul juga di sekolah, mau tidak mau ia penasaran juga. Tidak, mungkin lebih tepatnya khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka bertiga dan tidak ada seorang pun yang tahu?

Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya sendiri. Entah sudah berapa ratus kali ia mencoba menghubungi Woobin, namun hanyalah pesan suara yang menyambutnya. Ia nyaris gila kini. Di satu sisi Changmin mengabaikannya, dan di sisi lain Woobin tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan ia merasa tolol ketika menyadari bahwa ia tidak tahu di mana tempat tinggal anak itu.

Kyuhyun ingin mencari mereka langsung ke rumah mereka melalui data pribadi yang tersimpan di ruang arsip sekolah, namun kuasa itu tidak ada padanya, melainkan pada Hyukjae, sang wali kelas. Maka mau tak mau, siang itu Kyuhyun mulai merayu Hyukjae untuk menemui ketiganya.

“Tidak bisa, Kyu. Bukankah kau tahu sendiri peraturan sekolah bahwa siswa yang tidak muncul di sekolah setelah dua minggu barulah akan dicari ke rumahnya? Dan ketika sebulan mereka tidak muncul juga, barulah sekolah mengambil tindakan untuk mengambil keputusan apakah siswa tersebut akan dikeluarkan atau hanya dikenakan skorsing atau pun hukuman pelayanan di sekolah.” Jelas Hyukjae panjang lebar.

“Hah? Dua minggu katamu? Seminggu saja sudah cukup apalagi ditambah seminggu lagi? Kalau terjadi sesuatu yang mengerikan pada mereka bagaimana? Lagi pula, peraturan sekolah macam apa yang membiarkan muridnya absen begitu lama tanpa mencari tahu di mana keberadaan mereka?” jawab Kyuhyun dengan nada histeris. Untung saja kantin sudah sepi karena sudah jam pulang sekolah ssat itu, kalau tidak Kyuhyun akan disangka tidak waras karena menjerit histeris seperti itu hanya karena mencari tiga siswa yang membolos.

“Sekolah kita bukan sekolah biasa. Para siswa membayar mahal untuk bersekolah di sini. Dan kau tahu benar bahwa ketiga anak itu bukanlah anak-anak bodoh dengan nilai rendah. Mereka hanya membolos saja. Mungkin bahkan orang tua mereka mengetahui hal ini hanya saja tidak terlalu peduli. Kadang aku iri pada mereka karena mempunyai banyak sekali uang untuk dihambur-hamburkan, namun di sisi lain aku juga kasihan pada mereka yang tidak mendapatkan kasih sayang lebih. Orang tua mereka mungkin menganggap sumber kebahagiaan anak mereka sama dengan mereka, yaitu uang.” Hyukjae menanggapi.

“Aku ingin mencari mereka.” Kata Kyuhyun pada akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Kemana? Ponsel mereka saja tidak bisa dihubungi, bagaimana mungkin kau tahu di mana keberadaan mereka?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku akan mencari ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.”

Hyukjae mengernyit menatapnya. “Kau tahu tempat mereka? Bagaimana bisa? Bukankah..”

Kyuhyun terkesiap. Tidak, Hyukjae tidak boleh tahu ketiga anak itu cukup dekat dengannya hingga ia bisa tahu tempat-tempat di mana mereka sering bepergian bersama. Bisa-bisa Hyukjae mencari tahu dan akhirnya hubungan gelapnya dengan Woobin terendus.

“Ma.. Maksudku, tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak muda pada umumnya.” Kilah Kyuhyun cepat.

Hyukjae mengangguk. “Bisa dicoba. Walau aku tak yakin mereka ada di sana. Kau tahu, aku sempat berpikir bahwa kau cukup dekat dengan mereka karena aku pernah melihatmu makan siang bersama mereka di salah satu restaurant.”

Kembali Kyuhyun terkesiap. Namun sebelum ia membel diri, kembali Hyukjae berkata. “Tapi tidak ada salahnya murid dan guru makan siang bersama, bukan? Jadi aku tidak pernah menanyakannya padamu.”

*

            Kyuhyun sudah berupaya mencari ke sana kemari sosok-sosok bengal yang memenuhi pikirannya belakangan ini. Kini sudah genap sepuluh hari ketiganya hilang tanpa kabar. Kyuhyun bahkan sudah nyaris putus asa mencari mereka ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi bersama.

Setiap pulang sekolah, Kyuhyun akan langsung mencari ketiganya di mana-mana. Dan kini ia sudah lelah. Tujuan terakhirnya adalah sungai Han. Tempat terakhir yang cukup dekat dengan tempatnya kini berada dan di sana lah ia berharap bisa melihat ketiganya. Jika mereka tidak ada, Kyuhyun akan pasrah dan berhenti mencari. Itu tekadnya.

Ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di sana, ketika ia berjalan mendekat dan melihat tiga sosok yang begitu ia kenal, matanya nyaris buta karena air matanya yang entah dari mana tiba-tiba muncul dan mengerubungi bola matanya.

Ia berlari cepat mendekati ketiganya lalu menubruk lelaki paling jangkung di sana, memeluknya erat lalu menumpahkan tangisnya.

Kim Woobin tersentak melihat tiba-tiba lelaki yang dirindukannya sudah muncul di hadapannya dan memeluknya sambil menangis. Kyuhyun menangis selama beberapa menit kemudian melepaskan pelukannya lalu menumbuk dada Woobin dengan pukulan-pukulan keras.

“Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau melarikan diri seperti ini? Ada apa denganmu? Kau tahu betapa cemasnya aku? Aku bahkan nyaris gila karena memikirkan..”

Kata-kata Kyuhyun terputus karena tiba-tiba Woobin sudah menariknya dalam pelukan hangatnya. “Maafkan aku.. Maafkan aku..”

Keduanya bertahan dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukan itu. “Dari mana saja kau? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menghubungiku?”

Kim Woobin menggigit bibirnya. Ia tampak jelas sangat ragu bercerita. Namun pada akhirnya ia tersenyum. “Aku hanya sedang bosan bersekolah, jadi aku ingin bebas sejenak.”

“Apa?” Tanya Kyuhyun tak percaya. “Bagaimana mungkin kau membolos selama ini sedangkan ujian akhir sudah dekat?”

“Aku akan mengejar ketinggalanku. Aku hanya sedang banyak pikiran dan.. Aku hanya ingin menyendiri.”

“Menyendiri seperti apa yang ditemani oleh dua orang lain?” sindir Kyuhyun seraya melirik dua bocah lain yang berdiri tak jauh dari Kim Woobin.

Namun ia tampak bingung juga dengan sikap keduanya. Myungsoo tampak sibuk membaca buku pelajarannya sedangkan Jongin tampak mencoret-coret sesuatu, seperti berhitung karena bibirnya ikut komat-kamit. Membolos sambil belajar? Membolos model apa ini?

Otak Kyuhyun berpikir cepat. Kim Woobin pasti lah sedang enggan ke sekolah dan kedua temannya hanya menemaninya. Karena seperti itulah mereka, saling menempel satu sama lain.

“Setidaknya kirim teman-temanmu ke sekolah. Kau bisa membolos sendiri.” Kata Kyuhyun pada akhirnya.

“Itu kemauan mereka sendiri.” Sahut Woobin cepat. Kembali dengan gaya cuek seperti biasa.  Kali ini ia bahkan menyulut rokok di tangannya.

Kyuhyun merebut rokok itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam sungai. Kim Woobin langsung memberenggut.

“Itu rokok terakhirku!”

“Berhenti merusak dirimu sendiri. Aku benci perokok.” Balas Kyuhyun tak kalah galak.

“Tapi toh kau tetap mencariku. Jadi tidak ada hubungannya dengan rokok.”

“Kau masih terlalu kecil untuk merokok.”

“Dan kau sudah terlalu dewasa untuk membuang sampah sembarangan.”

“Aku melakukannya dengan tujuan baik. Agar kau tidak merokok.”

“Apa pun alasannya, membuang sampah sembarangan tetap lah salah. Bukan kah kau ini guru? Seharusnya kau memberi contoh yang baik.”

“YA!” jerit Kyuhyun kesal.

What?!” Woobin menantangnya dengan berani.

“Aku.. merindukanmu..” bisik Kyuhyun jujur.

Kembali Woobin membawa Kyuhyun dalam pelukannya. “Maaf jika tidak mengabarimu setelah malam itu. Aku..” Ia tampak memikirkan kata-kata yang pantas selama beberapa saat ketika akhirnya ia memilih untuk bertanya dengan formal.  “Bagaimana kabarmu?”

“Tidak baik. Aku butuh teman bicara tapi kalian berdua meninggalkanku begitu saja.”

Woobin melepaskan pelukannya. “Seharusnya ia tidak meninggalkanmu.”

“Ia melakukan hal yang benar. Aku lah yang bersalah kepadanya. Tidak, kita bersalah kepadanya. Wajar kalau ia marah dan memilih untuk jauh dariku, menenangkan diri sesaat.”

Kim Woobin tertawa mengejek. “Menenangkan diri? Tak bisa kupercaya.”

“Berhenti bersikap seperti ini. Sejak awal kita memang bersalah. Dan kau, seandainya kau tidak memaksakan diri untuk menyusup dalam hubungan kami, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Kyuhyun.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Aku juga bersalah. Tapi kau lah pembawa masalahnya. Dan kini aku terperangkap di sini, tidak tahu harus bagaimana agar membuat Changmin percaya lagi padaku. Bagaimana kalau ia pergi dariku dan..”

“Jadi tujuanmu menemuiku agar kau dapat teman bicara untuk semua pemikiranmu tentang apa yang telah terjadi dan rasa sesalmu terhadap tunanganmu itu?” Tanya Woobin dengan ekspresi sakit hati.

“Tidakkah kau mengerti? Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena kau! Kau lah penyebab utama mengapa hubunganku jadi seperti ini! Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku saat ini??!!!” kini Kyuhyun menjerit nyaris putus asa.

Kim Woobin membeku di tempatnya. Mati-matian ia menahan amarah yang hendak meledak dari dalam dirinya dan melampiaskannya pada lelaki manis yang berprofesi sebagai guru geografinya itu, andai saja rasa cintanya tidak lebih besar.

“YA! Jawab aku! JAWAB!” bentak Kyuhyun kesal.

“Woobin-ah..” Myungsoo dan Jongin sudah ada diantara mereka. Myungsoo memegang pundak sahabatnya itu, berusaha menenangkan.

“Jangan ikut campur!” kembali Kyuhyun membentak namun kali ini kepada Jongin dan Myungsoo.

Jongin menggeleng. “Bukan itu maksud kami, songsaengnim. Tapi.. Woobin harus menerima panggilan ini.” Ia lalu menyodorkan ponsel lain yang kemudian disodorkannya kepada sahabatnya itu.

Woobin menerimanya dengan cepat, ia menjauh sebentar lalu bicara dengan suara pelan. Tak lama kemudian ia kembali, menyerahkan ponselnya kepada Jongin lalu berjalan cepat ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

“Hei.. kembali.. Kita belum selesai bicara.” Kata Kyuhyun yang langsung berlari menyusul Woobin.

I’m done here!” balasnya. Ia terus berjalan, tanpa memanang wajah Kyuhyun.

“Mengapa kau menjadi pengecut seperti ini? Selesaikan masalah ini!” kata Kyuhyun lagi. Karena Woobin tak juga mengindahkannya, ia menarik paksa lengan kekar lelaki itu.

“Berhenti kataku! Selesaikan dulu masalah ini baru kau boleh pergi!”

“Persetan dengan masalah ini! Aku tidak peduli!” balas Woobin dengan kekesalan yang sama.

“Lalu bagaimana dengan hubunganku yang telah kau hancurkan? Kau akan pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?” Kyuhyun sudah menangis.

“Kau membelanya? Kau membela lelaki pengecut itu?!”

“Ya, lalu mengapa? Dia adalah tunanganku. Dan sebagai lelaki, itu pun jika kau menyebut dirimu sebagai lelaki, seharusnya kau bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi. Dan.. berhenti mengatakan Changmin sebagai pengecut!”

“Pengecut! Pengecut dan munafik!” kini Woobin membentak dengan kasar, membuat Kyuhyun melompat mundur.

Kim Woobin segera menyadari tindakannya. Tapi ia sudah terlalu marah untuk membujuk Kyuhyun yang kini bergetar di depannya. Tanpa banyak bicara ia meraih lengan Kyuhyun dan menuntunnya masuk ke mobilnya dan memerintahkan Jongin dan Myungsoo untuk pergi ke sebuah alamat. Ia sendiri lalu pergi berlawanan arah, tanpa melihat lagi ke belakang.

*

            Kyuhyun tidak pernah mengerti mengapa Jongin dan Myungsoo harus membawanya ke sebuah rumah mewah dengan taman yang cukup asri di depannya. Sepanjang perjalanan keduanya menolak untuk bicara dan hanya menyuruhnya untuk tenang dan percaya bahwa mereka membawanya ke tempat yang paling ingin ia kunjungi.

Namun setelah sampai di rumah itu, ia kembali berpikir. Berusaha mengingat-ingat kembali rumah siapa kah gerangan itu. Apa ia mengenal pemiliknya?

“Uncle..!!”

Seorang anak lelaki yang kira-kira berumur dua tahun berlari kecil menghampiri Jongin dan Myungsoo. Ia melompat-lompat riang melihat kedua tamunya. Myungsoo segera menggendong anak itu lalu mendekapnya dengan sayang.

“Miseokkie.. Aku sangat merindukanmu.” Kata Mungsoo bersemangat.

“Di mana ibumu?” Tanya Jongin setelah ikut memeluk anak kecil bernama Minseok itu.

Anak itu tersenyum lebar lalu menunjuk ke dalam rumah. Kyuhyun langsung paham. Pasti anak itu menunjukkan di mana ibunya kini berada.

“Bibi?”

Jongin dan Myungsoo bertukar pandang sedih. “Ya! Mengapa kau selalu mencarinya ketika ia tidak ada?” kata Jongin pura-pura cemberut.

“Bibi?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Woobin. Minseok memanggilnya bibi karena itu lebih mudah untuk diucapkan. Ia memanggilku Jonin dan memanggil Myungsoo dengan sebutan Soo.”

“Apa Woobin mengenal anak ini?” Tanya Kyuhyun lagi. Ia menatap anak itu dalam-dalam. Wajahnya tampak tak asing.

Myungsoo mengangguk. “Tentu saja. Minseok adalah keponakannya. Anak dari sepupunya.”

“Benarkah? Lalu.. Apa ini adalah rumah Woobin?” Tanya Kyuhyun lagi.

Kembali Myungsoo menggeleng. “Ini adalah rumah sepupunya.”

“Lalu mengapa ia ingin aku kemari?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Ikutlah ke dalam. Hyung akan tahu.” Kata Jongin lalu menarik Kyuhyun dan membimbingnya memasuki rumah itu.

Rumah itu bisa terbilang sangat indah. Dengan penempatan furniture yang sangat cocok, cat dinding dengan warna hiasan di setiap tempat juga sangat serasi. Kyuhyun sedikit merasa heran karena beberapa perabotan milik sang pemilik rumah cukup mirip dengan miliknya di apartemen. Mungkin mereka membeli di tempat yang sama.

“Bibi..”

Kembali terdengar Minseok kecil menyebut nama Woobin. Dengan tawa khasnya Jongin menjawab. “Mengapa kau begitu menyukai Woobin sedangkan ia sangat membencimu? Kau tidak pernah mencari kami.”

“Minseokkie.. Di mana kau, sayang? Sudah waktunya minum susu.”

Seorang wanita cantik keluar memegang segelas susu. Senyumnya mengembang ketika mengetahui dua orang yang dikenalnya datang berkunjung.

“Jonginnie.. Myungsoo-ya.. Kalian sudah lama? Kenapa tidak memberitahukanku terlebih dahulu bahwa kalian akan datang?”

“Kami..”

PRAANNGGGGGG..!!!

Gelas kaca yang tadinya dipegang oleh wanita itu jatuh seketika tatkala ia melihat Kyuhyun. Bagai melihat hantu di siang bolong, ia menup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya langsung tampak pucat dan ketakutan.

Kyuhyun jadi cukup heran karenanya. Mengapa ia bersikap seperti itu? Dengan cepat Kyuhyun meraih beberapa lembar tisu di meja kecil yang tak jauh darinya untuk mengeringkan lantai yang basah oleh tumpahan susu.

Dan dalam kesibukannya itu, ia menangkap sesuatu yang lain. Tepat di sebelah kotak tisu, ia melihat sebuah pigura berukuran sedang yang memuat foto tiga orang yang tengah tersenyum bahagia ke arahnya. Minseok yang berukuran sedikit lebih kecil dari Minseok yang tengah berada dalam pelukan Myungsoo saat ini, wanita yang memecahkan gelas susu dan menatap Kyuhyun ketakutan, dan.. Shim Changmin.

*

kyuhyun woobin myungsoo jongin

To be continued..

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Lovely Day

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Jung Yunho, etc.

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-13

Genre : BL, Fiction, Fluff, Romance

Warn : BL, OOC, Typo (es)

Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka dan bersifat hiburan semata. Semua tokoh milik Tuhan, orang tua dan diri mereka masing-masing.

Klik!

Sungmin memicingkan kedua matanya ketika ia membuka pintu kamar dengan disambut sinar lampu yang baru ia nyalakan. Ia mengusap matanya mencoba menyesuaikan keadaan sekitar.

Dengan langkah gontai karena rasa kantuk yang masih menderanya, ia pun melangkah menuju dapur. Bersiap melakukan rutinitasnya dipagi hari. Memasak serta menyiapkan sarapan untuk member-nya dengan berniat membasuh wajahnya di kamar mandi terlebih dahulu.

Namun, belum sempat ia membuka pintu kamar mandi, perhatiannya teralihkan pada sumber suara yang terdengar dari arah belakang tubuhnya.

Ia membalikkan tubuhnya dan melihat seorang lelaki tengah berdiri didepan konter dapur    dengan posisi yang membelakanginya. Dengan perlahan ia pun melangkah menghampiri seseorang yang tengah bergumam menyanyikan sebuah lagu.

“Kyu?” Panggilnya seraya menepuk pelan pundak seseorang yang ternyata adalah maknae-nya.

Aigoo! Hyung! Kau mengagetkanku!” Pekik Kyuhyun terkejut. Terlebih ketika ia mendapati sosok Sungmin yang telah berdiri disisinya dengan rambut yang berantakan akibat bangun tidur.

Sungmin hanya terkekeh meminta maaf melihat reaksi Kyuhyun yang menurutnya berlebihan. Kyuhyun mendelik sekilas pada pria tersebut. Namun, sedetik kemudian ia mengalihkan perhatiannya kembali pada apa yang sedang ia lakukan. Pria manis ahli martial arts itupun mencebikan bibirnya ketika ia merasa diacuhkan oleh Kyuhyun.

“Hey, Kau serius akan memberi kejutan ulang tahunnya sekarang?” tanyanya skeptis pada adik bungsunya yang tengah mengeluarkan sebuah kue kecil dari freezer.

Ia sedikit ragu dan takjub dengan rencana Kyuhyun yang bertekad untuk ‘memberi Changmin kejutan’ di hari ulang tahunnya. Saat ini waktu bahkan baru menunjukan pukul 4.30 dini hari. Dan ini diluar kebiasaan Kyuhyun yang sama sekali bukan tipe morning person. Jangankan untuk menyiapkan sepotong kue, untuk membuka matanya pun ia sangat enggan sebelum hyung-deul yang membangunkannya.

Oh, dia lupa jika apa yang Kyuhyun lakukan kali ini ia dedikasikan spesial untuk seseorang yang ia klaim sebagai kekasih tercintanya.

Kyuhyun hanya bergumam menjawab pertanyaan tersebut.

“Bagaimana menurutmu, hyung?” Tanya Kyuhyun dengan wajahnya yang berbinar seraya mengangkat sebuah kotak kecil berisi kue tart mini berbentuk hati ditangannya.

Sungmin tak langsung menjawab. Ia mengamati sejenak kue ditangan Kyuhyun dengan seksama. Hanya sepotong kue tart berlapis cream dan taburan choco chips. Ukurannya bahkan terlalu  imut untuk sekedar kue ulang tahun. Terlebih mengingat untuk siapa kue itu akan diberikan nantinya yang seorang food monster.

“Masih sama seperti kemarin kau membelinya di bakery, Kyu. Tak ada perubahan sama sekali. Kecuali… coklatnya yang kini sedikit meleleh.” Ucapnya tanpa tedeng aling yang berhasil membuat Kyuhyun merengut.

Ia tahu mantan room mate-nya itu tengah menggodanya. Serupa dengan yang Kangin lakukan kemarin. Mereka berdua dengan sepenuh hati mentertawakannya ketika ia mengatakan jika  kue tersebut ia beli khusus untuk ulang tahun Changmin hari ini.

Ayolah, dia tak punya cukup waktu luang untuk belajar memasak lagi dan membuat kejutan seperti tahun kemarin. Salahkan saja schedule-nya yang tak kalah padat dengan sang kekasih yang dalam masa promo album.

Pada akhirnya, setelah ia sempat pusing memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk merayakan ulang tahun kekasih tiangnya itu, ia pun berinisiatif untuk membeli kue ulang tahun dan akan mengantarkannya ke apartemennya tepat pada pukul 5 dini hari. Waktu dimana Changmin-nya lahir ke dunia 27 tahun yang lalu. Bukankah ia kekasih yang sangat perhatian?

“Kau sama sekali tidak lucu, hyung.” Sahut Kyu sarkatik dan segera menjauhkan kue tersebut dari tangan usil Sungmin yang berniat mencolek lelehan cokelat kue-nya. Dengan cekatan ia pun memasukan kue tersebut kedalam dus dan menutupnya dengan sangat hati-hati.

Tanpa berpamitan terlebih dahulu, ia pun dengan santai berlalu meninggalkan Sungmin yang masih mematung ditempatnya.

*

Cklek!

Suara tersebut terdengar bersamaan dengan pintu sebuah kamar yang terbuka. Kyuhyun  perlahan menutup kembali pintu dibelakangnya. Dengan langkah berjingkat, ia pun berjalan menghampiri sosok seseorang yang masih tampak terlelap diatas tempat tidur. Ia lalu meletakan kue yang  sudah terdapat dua lilin yang menyala telah ia persiapkan di meja nakas  yang berada disisi tempat tidur.

Beruntung pria tampan berwajah kekanakan pemilik aparetem tersebut tidak terganggu dalam tidurnya saat ia menyalakan lampu kamar. Hingga kini ia dapat mengamati fitur wajah kekasihnya yang masih terlelap dengan sempurna.

Kyuhyun melirik jam analog yang berada disisi lampu meja. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pukul 5 untuk ia membangunkan Changmin. Segera saja ia merebahkan tubuhnya disisi maknae DBSK dengan meletakan kepalanya tepat didada Changmin.

Ia memejamkan matanya sejenak. Mencoba meresapi irama detak jantung pria terkasihnya yang terdengar ritmis dengan sesekali membelai dada bidangnya yang hanya tertutupi kaus tak berlengan yang ia kenakan.

Perlahan ia pun mendongakkan wajahnya hingga kini tepat berada didepan wajah polos Changmin.

‘Minnie-ku benar-benar tampan.’

Pujinya dalam hati. Pujian yang sangat jarang ia ucapkan secara langsung meskipun Changmin berkali-kali memohon padanya. Sebenarnya, bagi Changmin sendiri, tak sedikit orang-orang yang mengagumi ketampanan dan pesonanya. Namun ucapan kekaguman tersebut tentu saja tak akan sebanding  jika ia mendengarnya langsung dari bibir kekasih imutnya yang dapat dihitung dengan jari mengatakan hal tersebut.

Tak tahu saja kau Shim Changmin jika Cho Kyuhyun sangat mengagumi ketampananmu itu.

“Minnie~” Ucapnya seraya memberi beberapa kecupan dibibir Changmin yang mengatup.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tak suka saat Changmin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Tak habis akal, ia pun mulai berbisik dan meniup-niup telinga pria jangkung yang ditindihnya.

“Changminnie, bangun…”

“…”

“Minnie…”

Tetap tak ada reaksi. Baiklah, itikad baik Kyuhyun untuk membangunkan Changmin-nya  dengan cara yang romantis dihari ulang tahunnya musnah sudah saat ini.

“Yaaa! Bangun Shim Chwang!” Teriaknya seraya menjambak kasar rambut Changmin yang mulai memanjang.

Tentu saja tindakan sadis tersebut membuahkan pekikan kaget dan kesakitan Changmin. Seketika itu juga pria bermarga Shim itu bangkit dan memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan pening karena jambakan dan dibangunkan dengan paksa.

“Ssshh… apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun?” Erangnya dengan masih memegangi   kepalanya. Kyuhyun yang kini duduk dihadapan Changmin hanya menatap pria itu sebal. Tak peduli dengan apa yang tengah pria itu rasakan.

Ia mengabaikan Changmin yang masih mengerang untuk meraih tart yang telah ia pasang lilin dengan angka 27.

Happy birthday, My love Shim Chwang~”

Seru Kyuhyun riang dengan membawa tart tersebut ke depan wajah Changmin. Changmin sendiri yang awalnya masih sibuk dengan erangannya sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Dan beberapa menit sesaat, ia hanya mampu mengerjapkan matanya cepat.

Terlebih saat ia mendengar suara caramel macchiato voice kesukaannya itu mengalunkan lagu selamat ulang tahun untuknya.

“Ayo Minnie. Ucapkan permohonanmu lalu kau tiup lilinnya, ya?” Pinta Kyu dengan  sumringah. Sepertinya rencana surpsrise-nya berhasil. Terbukti dengan reaksi Changmin yang seperti kehabisan kata-kata dengan menatapnya tak percaya.

Lalu Changmin pun menangkupkan kedua tangan dan memejamkan matanya. Mengucapkan permohonannya yang tak pernah berubah selama tiga tahun belakangan ini. Tidak lain  ingin terus bersama Kyuhyun disisinya, serta dapat membahagiakan Kyuhyun-nya.

Dan jantung Changmin terasa berdesir ketika ia membuka matanya dan mendapati Kyuhyun yang tersenyum sangat manis.

Ia pun meniup lilin tersebut dan segera disambut dengan pelukan erat yang ia terima dari Kyuhyun.

“Selamat ulang tahun, Minnie~” Bisik Kyuhyun diceruk leher Changmin, “Saranghe..” ucapnya yang dilanjutkan dengan sebuah kecupan bibirnya.

Tentu saja kecupan tersebut disambut dengan antusias oleh Changmin. Dengan sigap ia segera melingkarkan tangannya dipinggang Kyuhyun dan memperdalam ciuman mereka. Tautan bibir mereka terlepas ketika pria berwajah tampan itu merasakan nafas Kyuhyun yang mulai tersengal.

Gomawo, chagi…” Ucap Changmin kembali mengecup bibir Kyuhyun yang semakin memerah.

Kyuhyun tersenyum dengan pipinya yang mulai merona. Seperti tersadar, ia pun menyerahkan kue yang masih ada ditangannya pada Changmin yang beruntung tidak rusak karena pelukan mereka beberapa saat lalu.

Aigoo, kenapa kuenya kecil begini, Kyu?” Protesnya setelah melihat wujud kue ulang tahun pemberian kekasih manis dan imutnya. “Apa kau membuatnya sendiri,  chagi?” Tanyanya dengan wajah berbinar.

Baiklah, Ia sudah tidak terlalu mempermasalahkan bentuk dan rupa kue-nya, namun setidaknya ia akan sangat senang  jika kue imut tersebut dibuat khusus oleh Kyuhyun dengan penuh cinta untuknya.

Dan harapan Changmin seketika terpupus ketika ia melihat Kyuhyun yang menggeleng.

Aniyo, aku membelinya di bakery kemarin, Min.” Jawabnya dengan wajah tak berdosa yang membuat perasaan Changmin serasa dipukul dengan godam keras.

Ia tahu Kyuhyun bukan tipe kekasih yang romantis, tapi tidak bisakah ia sedikit berbohong  untuk menyenangkan perasaannya? Setidaknya untuk saat ini di hari ulang tahunnya.

Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar sesaat sebelum ia benar-benar menjatuhkan  tubuhnya kembali dan bersembunyi dalam selimut. Mengindikasikan jika pria bersuara tinggi   itu tengah merajuk. Kyuhyun hanya tersenyum jahil melihat maknae yang berpredikat dewasa dan berkharisma itu merajuk laiknya anak kecil.

“Minnie~” Panggilnya dengan nada manja dengan menindih tubuh yang tertutup selimut  tebal. Ia berusaha menahan tawanya menghadapi sifat kekanakan kekasihnya yang mulai kambuh.

“Shim Chwang, mianhe aku tidak membuat kue itu sendiri. Kemarin aku sibuk dan tidak sempat untuk belajar membuat kue pada Wookie.” Kyuhyun menarik-narik selimut yang menutupi  tubuh jangkung Changmin. Namun sama sekali tak membuahkan apapun. Changmin sama sekali tak bergeming.

Kyuhyun menghela nafas.

“Sebagai hadiah ulang tahun dan permintaan maafku, aku akan menemanimu selama seharian ini dan menuruti apapun permintaanmu. Bagaimana?” Ia mulai membujuk.

Sebenarnya selain kejutan beberapa saat lalu yang berakhir dengan merajuknya Changmin  kali ini, ia memang telah merencanakan untuk menghabiskan waktunya seharian penuh dengan  sang kekasih. Menemani apapun aktifitas pria berwajah kekanakan itu. Beruntung hari ini ia  jobless sehingga rencananya itu bisa terrealisasi.

Srak!

Dengan cepat selimut bermotif star wars itupun tersingkap. Menampilkan wajah Changmin yang menatap lekat ke manik mata coklat milik Kyuhyun.

“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan, Kyu?” Tanya Changmin dengan nada mengintimidasi. Ia sedikit ragu dengan apa yang diucapkan Kyuhyun. Bukan kali ini saja ia dijanjikan sesuatu oleh Kyuhyun dan kebanyakan diantaranya tidak ditepati.

Kyuhyun mengangguk mengiyakan yang menghasilkan seringaian mengerikan dari bibir lebar milik Changmin. Ah, mood-nya seketika langsung membaik. Membayangkan selama seharian ini ia akan ditemani oleh Kyuhyun saja telah membuatnya sangat senang. Apalagi dengan Kyuhyun yang menjanjikan akan menuruti apapun permintaannya.

Dan hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah…

“Kalau begitu, apa aku boleh meminta jatah-ku…?”

Pintanya tanpa basa-basi yang membuat Kyuhyun mendelik kearahnya.

Hey, jangan anggap ia mesum. Bukankah suatu hal yang lumrah jika ia yang telah lebih dari satu bulan tidak menyentuh kekasihnya itu kini meminta ‘jatah’ darinya? Berterima kasihlah pada jadwal promosi album terbarunya serta sederet jadwal Kyuhyun yang membuat ia dan kekasihnya  menjadi sangat jarang menghabiskan waktu bersama.

Wajah Kyuhyun seketika memerah mendengar pertanyaan tersebut.

“A..apa yang kau katakan, Chwang? Bicaralah yang jelas!” Sahut Kyuhyun dengan gugup dan tatapannya yang menghindar dari intimidasi Changmin.

Seringaian Changmin semakin melebar, “Kau sangat tahu apa yang aku maksud…”

Kyuhyun baru saja akan bangkit dari posisinya yang dengan sigap ditahan oleh satu tangan Changmin yang menahan pinggangnya. Dan ia merasakan tangan berotot milik Changmin mulai bergerak menyusup dan mengusap ke area privatnya dari balik selimut.

“Miinh~”

“Minnie junior sangat merindukan kehangatan rumahnya, baby…” Bisik Changmin  seduktif tepat ditelinga Kyuhyun. Mengirimkan impuls dan rangsangan pada seluruh tubuh pria Cho yang menggeliat geli.

Dan dalam hitungan menit, kesunyian kamar Changmin pun tergantikan dengan suara-suara kenikmatan dari aktifitas pagi mereka.

*

“Simpan dulu PSP-mu untuk sementara, baby.” Kyuhyun mendelik kearah Changmin yang memanggilnya dengan penggilan sayangnya.

Sebenarnya panggilan baby bukanlah hal yang asing lagi baginya mengingat telah ratusan kali Changmin memanggilnya dengan panggilan yang serupa. Tapi entah kenapa ia tidak begitu menyukai jika Changmin memanggil dirinya baby jika didepan umum. Tapi toh pria tinggi itu tetap saja akan memanggilnya baby.

Saat ini mereka berdua tengah berada di studio MBC. Hari ini TVXQ memiliki jadwal pertama untuk recording Music Core untuk panggung Something mereka. Dan sesuai janjinya tadi pagi, Kyuhyun pun dengan setia menemani pria berwajah kekanakan itu.

Menuruti permintaan Changmin, ia yang semenjak berada di mobil tadi terus sibuk dengan PSP-nya itu segera mematikan benda yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, selain Changmin tentunya.

Beberapa orang staff tersenyum dan sesekali menyapa mereka berdua ketika saling berpapasan. Bahkan beberapa diantara mereka mengucapkan selamat ulang tahun untuk Changmin.

“Aku kira kau lupa jalan menuju gedung MBC, Shim Changmin.”

Ucapan sarkatik tersebut terucap dari bibir sang leader ketika Changmin dan Kyuhyun menginjakkan kaki di ruang ganti TVXQ.

“Setidaknya aku tidak lupa membawa access card kantor SM dan menjadi bahan lelucon para  Cassieopeia, Jung Yunho.” Balas Changmin lebih sarkatik yang membuahkan kikikan  dari Kyuhyun dan beberapa back dancer mereka yang tengah mempersiapkan diri.

Yunho mendesis kesal mendengar ledekan maknae-nya.

Changmin menyeringai. Ia pun menuju meja rias dan bersiap untuk di make-up sebelum ia mengecup singkat pipi gembil Kyuhyun.

“Eoh, Kyu. Kau datang menemani kekasih setanmu itu?” Sapa Yunho yang telah selesai di make-up seraya mendudukkan diri disisi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan leader berkharisma itu, “Anyeong hyung. Lama tidak bertemu…” Sapanya ramah. Bagaimanapun Yunho merupakan hyung dan sunbae yang sangat ia segani.

“Baik. Lama tidak bertemu kau bertambah manis saja, Kyuhyun-ah.” Puji Yunho dengan mengacak rambut Kyuhyun gemas.

Wajah Kyuhyun sedikit bersemu diperlakukan seperti itu oleh Yunho. Manusia mana yang   tidak akan merasa malu dan senang jika dipuji oleh seseorang? Terlebih jika seseorang  itu adalah orang yang kau segani.

Tanpa mereka sadari, terdapat sepasang mata tajam yang terus mengawasi mereka dari pantulan cermin yang ada dihadapannya.

“Ya! Jung Yunho! Jangan kau coba-coba berani menyentuh apalagi menggoda Kyuhyun-ku!” Pekiknya memperingatkan sang leader yang kini tampak menyeringai kearahnya.

Baiklah, Changmin akui jika ia adalah seorang yang posesif. Ia tidak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya diusik atau disentuh oleh orang lain selain dirinya. Dan melihat Yunho yang menyentuh Kyuhyun yang notabenenya adalah kekasihnya bukanlah hal yang ia sukai.

Anggap saja ia berlebihan. Tapi, bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu pada Kyuhyun. Kyuhyun-nya terlalu menarik perhatian orang lain. Salahkan pada wajah Kyuhyun yang sangat manis dan pembawaannya yang bersahabat.

Hingga karena hal tersebut tak jarang membuatnya cemburu. Sudah terlalu banyak pria dan wanita yang dipasangkan dengan kekasih manisnya itu baik dalam fanfiksi ataupun kehidupan nyata.

Dan satu diantara fanfiksi yang pernah ia baca adalah Kyuhyun-nya dipasangkan dengan   leader kebanggaannya, Jung Yunho!

Adakalanya sebuah fiksi terilhami dan berpengaruh dalam kehidupan nyata. Jadi  jangan salahkan dirinya yang mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk jika kekasihnya akan berselingkuh dengan hyung-nya itu. Terlebih saat melihat Kyuhyun-nya tersipu malu dengan skinship yang dilakukan dengan Yunho.

Yunho menyeringai. Dengan sengaja ia pun merangkul pundak Kyuhyun dan  menariknya kedalam pelukannya.

“KAU BOSAN HIDUP JUNG YUNHO!”

*

“Yunho-ssi, Changmin-ssi. Bersiaplah. Sepuluh menit lagi kalian akan naik ke panggung.” Ucap salah seorang staff memberitahu Yunho dan Changmin yang memang telah bersiap.

Para dancer terlihat tengah melakukan stretching didalam ruang ganti mereka. Begitupun Yunho.

“Minnie, menunduklah sebentar.” Pinta Kyuhyun tiba-tiba pada Changmin yang tengah memasang michrophone-nya.

“Ada apa, Kyu?” Meski heran, Changmin pun tetap menuruti permintaan Kyuhyun untuk menunduk sedikit dihadapan Kyuhyun.

“Rambutmu terlihat sedikit berantakan, Minnie.”

Lagi, perasaan Changmin terasa berdesir menyadari perhatian Kyuhyun yang kini tengah merapikan rambutnya yang memanjang. Banyak orang bahkan fans-nya sekalipun yang protes dengan model rambutnya saat ini.

Namun Kyuhyun tak pernah ambil pusing dengan bagaimanapun model rambutnya. Sebab menurutnya ia tetap terlihat tampan dimatanya. Betapa Changmin sangat bahagia ketika mendengar komentar tersebut ketika ia meminta pendapat Kyuhyun mengenai model   rambut apa yang terlihat cocok baginya.

“Kau tak perlu repot-repot merapikan rambut berantakannya itu, Kyuhyun-ah.”

“Diam kau, hyung. Bilang saja kau iri padaku yang memiliki calon istri idaman seperti Kyuhyun.” Sela Changmin puas. Sepertinya ia masih memiliki dendam pada leader-nya yang beberapa saat lalu berani memeluk Kyuhyun.

Plak!

“Aww, Kyu. Kenapa memukul kepalaku?” Erang Changmin saat ia merasakan jitakan Kyuhyun dikepalanya.

“Jangan berbicara sembarangan, Shim. Siapa yang mau jadi istrimu, tiang?”

“Tentu saja kau, Kyu baby. Kau kan calon istri dan pendamping hidupku dimasa depan kelak.”

Sontak saja jawaban Changmin membuat Kyuhyun malu dan salah tingkah. Changmin tersenyum melihat reaksi pria berkulit pucat dihadapannya yang membuat kadar kemanisannya makin meningkat. Ia pun menyentuh dagu Kyuhyun untuk mendongak menatapnya dan mengusap pipi Kyuhyun yang merona.

Ia baru saja akan mendaratkan ciumannya pada bibir Kyuhyun yang selalu menggodanya saat suara berat Yunho menginterupsi pergerakannya.

“Berhenti menggombal dan berbuat mesum, Changmin-ah. Begegaslah ke panggung. Cassieopeia sudah menunggu kita.”

Changmin mendecih karena kegiatannya diganggu. Namun tak urung ia pun menuruti instruksi sang leader dengan sebelumnya mencuri kecupan kecil dibibir Kyuhyun.

*

          Changmin merebahkan tubuh Kyuhyun dengan hati-hati di tempat tidur miliknya. Menempatkan pria yang ia cintai itu untuk mengistirahatkan dirinya dalam posisi senyaman mungkin.

Ia mengamati wajah damai Kyuhyun yang terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktifitasnya hari ini, membuat Kyuhyun tertidur dengan sangat nyenyak.

Kyuhyun menepati janjinya sepenuhnya hari ini untuk menemaninya seharian. Dimulai dari recording-nya di MBC, melakukan syuting interview tentang drama yang akan ia bintangi, melakukan pemotretan disebuah majalah hingga merayakan pesta ulang tahunnya hingga larut  bersama beberapa temannya bebrapa saat lalu pun Kyuhyun selalu berada di sisinya.

Dan mungkin karena terlalu lelah, Kyuhyun bahkan tertidur didalam mobil saat mereka menuju perjalanan pulang.

Disamping rasa bahagianya hari ini, ada sedikit rasa bersalah karena membuat kyuhyun-nya kelelahan. Namun ia sangat memanfaatkan waktu berharganya dengan kekasihnya yang mulai jarang ia dapatkan karena kesibukan mereka masing-masing itu.

Ia mengamati wajah terlelap Kyuhyun yang terasa sangat damai. Tak terdeskripsikan  lagi betapa bahagianya ia memiliki Kyuhyun disisinya. Sosok yang selama ini menjadi sandaran untuknya saat ia terpuruk. Sosok yang menjadi penyemangatnya ketika ia merasa berputus asa serta sosok yang selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Ia sangat mencintai Kyuhyun. Ia bahkan tak pernah sanggup membayangkan bagaimana kehidupannya dimasa depan jika tak ada Kyuhyun disisinya.

Betapa ia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan sosok sesempurna Kyuhyun dalam kehidupannya.

Ia membelai rambut Kyuhyun sayang seraya mengecup kening pria tersbut dengan dalam,

“Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku. Kau adalah hadiah teragung yang  Tuhan kirimkan padaku.”

Changkyu hsppy birthday

Fanfiksi ini aku dedikasikan  untuk ulang tahun Changmin meskipun telat (-_-!)

Happy birthday precious prince Changmin ❤

Heart Without a Home – Chapter 4

Title           : Heart Without a Home

Rate           : T

Genre        : Fantasy, Adventure, Bromance, Friendship, Family, Romance, Sad

Pair            : YunKyu (main), Krisoo

Cast           : Yunho, Kyuhyun, Kyungsoo, Taecyeon, Kris, Yonghwa, Minho, Gikwang, Hoya

Other Cast: Yuri, Sandara, Junjin, Jimin, Jinyoung, dan banyak lagi yang akan bermunculan

Warning    : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary  : Pada jaman dahulu kala, di sebuah desa yang dikelilingi hutan lebat nan indah, hidup sebuah suku dengan kekuatan tersembunyi. Kisah mereka ditelan oleh munculnya kaum modern yang akhirnya membuat mitos keberadaan mereka berangsur lenyap. Sebagian orang masih mengingat dengan jelas legenda yang diceritakan oleh orang tua mereka sebagai dongeng sebelum tidur, sebagian lagi menganggap keberadaan mereka hanyalah isapan jempol yang belum tentu benar. Namun, sebenarnya.. Mereka masih ada di sana dan tidak pernah pergi sama sekali..

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Beberapa ide diambil dari cerita Twilight sedangkan sisanya adalah imajinasi liar author.

 

CHAPTER 4

Yunho tahu inilah saatnya. Saat dimana ia harus mengorbankan segala yang ia cintai demi kehidupan sukunya, bangsanya, tanah airnya. Mungkin waktunya belum tepat karena ia masih begitu muda. Ia masih harus banyak belajar dan berlatih. Tapi ia tidak pernah menyesal sedikit pun karena setidaknya, jika ia memang harus mati malam ini, ia mati dengan terhormat. Sebagai pahlawan Gyfraddia.

Ketika ayahnya, sang Arweinydd berseru lantang, “Demi Gyfraddia..! Seerraaannnggggg…!!!”

Para pendekar di lini depan ikut berseru lantang, menyerbu medan perang, menyambut sang musuh yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah mereka. Kaki-kaki Yunho bergerak cepat, menghujam di atas salju tebal penutup tanah malam itu, meninggalkan jejak-jejak perkasa di sana.

Para Heglog dan Drygioni semakin dekat, wajah-wajah keji nan angkuh terukir di sana. Semakin dekat.. Semakin dekat.. Jarak mereka kini hanya satu meter.. Dan akhirnya kedua kubu pun berbaur.

Sosok pertama yang muncul di depan Yunho adalah Drygioni muda, sepertinya seumuran dengannya. Dengan satu terjangan kuat, Yunho melompat dan menerkam leher si Drygioni muda. Tanpa ampun ia mengoyak leher bersisik itu dengan kasar lalu meludahkan kepala yang telah tercabut dari tubuhnya itu dengan kasar. Darah segar menetes di sela-sela giginya yang runcing. Tapi ia tidak peduli, ia kembali menyerang musuh lain dan mengeksekusi setiap yang ia temui dengan cepat.

Tak jauh dari sana sang Arweinydd bertarung dengan gagah menggunakan pedangnya. Karena keahliannya sejak dulu, pimpinan utama suku Gyfraddia itu bisa membunuh sepuluh lawannya dalam waktu yang sangat singkat.

Namun, pertarungan itu sungguh tidak seimbang. Apalagi ditambah dengan adanya pasukan Troll, Gyfraddia semakin terlihat mudah untuk dibinasakan. Satu persatu pendekar Gyfraddia mulai gugur. Pada saat itu, muncul gema dari teriakan lain dari balik hutan. Pasukan Henuriad yang dipimpin oleh Jinyoung keluar dari balik hutan di kanan dan kiri area perang, menyerang para musuh dengan gagah berani.

Walaupun mereka adalah tetua suku yang berarti umur mereka sudah tidak bisa dibilang muda lagi, namun semangat mereka masih sama seperti anak muda lainnya. Tombak-tombak mereka menghujam keras di setiap dada dan perut musuh. Tanpa takut, tanpa ragu sedikit pun.

Jinyoung yang memang ahli dalam berperang terlihat sangat perkasa mendampingi sang Arweinydd. Rambut keduanya sudah beruban dimana-mana, tapi tampaknya gerakan mereka tidak sebanding dengan warna rambut mereka.

“Ah.. Kita bertemu lagi rupanya.. Senang bertemu denganmu.”

Yunho yang baru saja selesai menarik lepas kepala lain dari tubuh salah seorang Heglog menoleh cepat dengan waspada. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan karena ia tahu cepat atau lambat ia akan berhadapan dengan makhluk yang satu ini, Jiyong.

“Atau.. mungkin lebih tepatnya aku memanggilmu.. Alpha? Ah.. Kau bukan pemimpinku, untuk apa aku memanggilmu seperti itu?” kata Jiyong lagi. Seringaian lebar terbentuk sempurna di bibirnya.

Yunho mengeram rendah sebagai balasannya. Ia bisa merasakan bahwa lelaki bertubuh tinggi tapi sedikit bungkuk dengan kerutan-kerutan halus di wajahnya dan bulu-bulu di sekitar lengan serta kakinya yang membuatnya tampak seperti tarantula manusia itu mempunyai hawa dingin.

Jiyong adalah salah satu pimpinan muda di sukunya, sama seperti Yunho sendiri. Sudah pasti ia tidak boleh dianggap remeh.

“Mengapa kau diam saja? Takut?” lagi-lagi Jiyong bersuara. Membuat Yunho semakin waspada.

Saat itu salah satu pendekar Gyfraddia menyerang Jiyong, namun dengan sekali tangkis,  hanya dengan menghindar sedikit, Jiyong menggenggam keras lengan sang pendekar, menyeretnya tepat menghadap padanya lalu mencekiknya dengan kasar sehingga bunyi tulang berderak terdengar. Sang pendekar mati saat itu juga, tubuhnya membiru setelah menyentuh tanah.

Hati Yunho mencelos karenanya. Bagaimana mungkin Jiyong bisa mempunyai tenaga sekuat itu? Yunho sering mendengar tentang bisa mereka yang sangat mematikan selain bisa milik Drygioni, namun ia tidak pernah melihatnya secara langsung seperti ini.

“Kalian mudah sekali dilumpuhkan. Kalian bukan tandingan kami sama sekali. Bagaimana mungkin para Drygioni sampai meminta kami bergabung dengan pasukan mereka hanya karena kalian yang katanya sangat menakutkan dan kuat? Aku tidak mengerti. Nah.. Bisakah kita mulai bermain?”

Belum sempat Yunho menjawab, Jiyong sudah menyerangnya dengan satu teriakan kuat. Lelaki itu hendak menyambar leher besar Yunho tapi dengan sigap Yunho menghindar. Tapi Jiyong yang ternyata sangat lincah itu kembali menyerangnya bertubi-tubi, cukup membuat sang Alpha kewalahan.

Namun ketika Jiyong tampak lengah, Yunho segera menghadiahkan cakaran panjang di dada lelaki itu.

“Arrrgghhhhhhhhhh…!!!” Jiyong menjerit keras merasakan sakit di dadanya. Cakaran panjang yang bagaikan sabetan pedang itu tercetak jelas di sana. Darah segar keluar dan mengalir turun ke perutnya.

“Serigala bodoh! Beraninya kau melukaiku! Kubunuh kau!”

Namun sebelum ia sempat menyerang Yunho, muncul lolongan lain. Tak lama kemudian muncul serigala-serigala lain yang keluar dari balik hutan dan perbukitan dan menuju area peperangan. Ia sangat terkejut melihat jumlah itu. Tadinya ia kira pasukan Gyfraddia hanya yang ada di medan perang saat ini. Ia tidak menyangka masih banyak di luar sana yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang.

Walaupun jumlah mereka tetap lebih besar dari jumlah Gyfraddia sendiri, tapi ia cukup gentar karena melihat ketangguhan para serigala itu. Namun Yunho tersenyum dalam hati. Kini giliran Rhyfel, para serigala senior keluar dari persembunyian dan menyerang musuh.

Yunho melolong penuh semangat. Semangatnya kini semakin bertambah. Kembali ia melolong, yang membuat Jiyong tersadar dari keterkejutannya.

“Membunuhmu akan membuat sukumu tersiksa, bukan? Dan merupakan kemenangan terbesar untuk kami.” Jiyong menatapnya penuh kebencian. Ia lalu menerjang Yunho. “Mati kau, serigala…!”

Pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Baik Yunho dan Jiyong sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk saling bunuh walau terkadang mereka harus menghindari serang satu sama lain.

Tiba-tiba terdengar suara lain di kepala Yunho. “Jongin awas di belakangmu. Tidak, Jongin!”

Yunho segera menoleh dan mendapati adik bungsunya, Kyungsoo tengah menerjang Jongin agar terhindar dari serangan Troll.

“Tidak! Jongin, Kyungsoo! Bukankah kalian sudah kuperintahkan untuk pergi? Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi!” kata Yunho marah dalam kepalanya.

“Aku tidak bisa, pergi. Alpha, Jinyoung Syr tengah terluka saat ini. Bagaimana mungkin kami bisa pergi melihat semua ini?” sanggah Jongin cepat.

Kembali hati Yunho mencelos, Jinyoung? Salah satu Henuriad terkuat terluka? Bagaimana nasib ayahnya? Saat itu tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di satu kaki depannya. Jiyong sudah menerjang kuat sembari menyeringai jahat.

*

            “Tidak! Alpha!” Jongin dan Kyungsoo berseru bersamaan, ketika melihat sang Alpha di serang oleh salah satu dari anggota Heglog yang pernah mereka temui di hutan. Keduanya berlari cepat meninggalkan musuh yang tengah mereka hadapi, menuju kepada sang pemimpin.

“Alpha.. Kau tidak apa-apa?” Kyungsoo bicara pada kakaknya melalui pikirannya.

“Aku tidak apa-apa. Kalian pergilah, ini perintah! Pergi! Tinggalkan arena ini! Per..” balas Yunho cepat. Namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Jiyoung sudah menyerang lagi. Kali ini ia menyerang dada sang Alpha dengan menghujamkan kaki kanannya ke sana.

Kembali Yunho melolong keras merasakan kesakitan itu. Bagi kaum Gyfraddia yang berwujud serigala, tangan dan kaki adalah segalanya. Karena dalam wujud serigala mereka bertumpu dengan empat kaki, maka jika satu saja terluka, maka cukup sulit jika bertarung sendirian.

Kyungsoo dan Jongin semakin dekat, namun ketika hampir mencapai sang Alpha, keduanya dihalau oleh  beberapa anggota Drygioni sekaligus. Drygioni lain menyerang Kyungsoo dengan menghadiahkan tinju besar mereka ke dada dan perut kanannya, sedangkan Drygioni lain yang menyerang Jongin menendang sang werewolf muda itu dengan kasar hingga Jongin terpelanting dengan keras ke tanah.

“Sudah kukatakan kalian terlalu lemah! Cukup sudah aku berbelas kasihan. Sekarang saatnya kau menyambut kematian, Alpha..”

Seperti kata-katanya, Jiyong tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mengerang keras lalu muncul sepasang capit mengerikan yang muncul dari dalam tubuhnya, mencuat dari balik bahunya. Capi-capit itu berbentuk panjang melengkung berwarna cokelat kelam dipenuhi bulu-bulu halus, persis seperti kaki tarantula.

Kembali Jiyong mengerang keras, kali ini sembari menyerang Yunho dengan satu capitnya. Capit itu diarahkan tepat ke dada Yunho.  Namun sebelum capit itu menyentuh bahkan ujung cakar Yunho saja, tiba-tiba capit itu terpotong. Satu potongannya terlempar ke udara dan dan menancap ke tanah bersalju ketika turun ke bawah.

Rupanya sang Arweinydd datang untuk menolong anaknya. Pedangnya yang tajam memotong satu capit itu, membuat Jiyong menjerit kesakitan karenanya.

Alpha.. Kau tidak apa-apa? Kau baik-baik saja? Cepat berdiri, anakku, kita tidak boleh lengah sedikit saja.” Kata Junjin memperingatkan anaknya.

Yunho segera mematuhi ayahnya. Dengan cepat ia berusaha bangkit walau satu kaki depannya terluka, apalagi tampaknya ia terkena racun Heglog, namun ia tetap bertahan.

“Kita akan hadapi ini semua bersama, ayah. Aku siap.” Kata Yunho meyakinkan dirinya juga ayahnya.

“Lindungi Kyungsoo dan Jongin, ayah akan menghadapi yang satu ini.” kata Arweinydd.

Namun sebelum Yunho bergerak, tiba-tiba wajah ayahnya berubah. Bibirnya membentuk lingkaran sempurna, wajahnya tampak terkejut dan matanya melotot.

“Ayah.. ada apa?” tanya Yunho. Perasaannya campur aduk saat itu. Antara takut juga bingung menjadi satu.

Detik berikutnya, dari dalam tubuh ayahnya, tepat di jantungnya, muncul sebuah capit yang semakin lama semakin tampak besar. Darah mulai keluar dari balik pakaian sang Arweinydd, membuat Yunho terkesiap. Rupanya Jiyong diam-diam menyerang ayahnya dari belakang, dipenuhi racun, capit tajam itu tampak sangat mengerikan dengan posisi mencuat dari dalam dada ayah Yunho.

“Ayah..!!!!”

Jeritan Kyungsoo lah yang menyadarkan Yunho. Dengan cepat Yunho bergerak, menyerang Jiyong dengan kekuatan penuh, tak peduli satu kakinya terluka parah dan membuatnya nyaris tak merasakan apa-apa. Diterjangnya tubuh kekar Jiyong hingga jatuh ke tanah lalu gigi-giginya yang runcing langsung meyambar capit yang tumbuh dari dalam bahu lelaki itu.

Jiyong menjerit kesakitan ketika capit yang masih tersisa satu itu tiba-tiba terlepas dari tubuhnya. Belum sempat ia menghadiahkan racun lain dari cakarnya pada Yunho, tiba-tiba lengannya sudah tertimpa sesuatu yang berat, ketika ia menegadah ke atas, hal terakhir yang bisa ia lihat adalah mata serigala lain yang menatapnya penuh kebencian.

Yunho menoleh dan mendapati serigala lain yang juga berbulu hitam baru saja menarik lepas kepala Jiyong dari tubuhnya. Yuri telah datang. Tak jauh dari tempat Yuri berdiri, terlihat Yonghwa dan Gikwang sudah ikut bertempur dengan pasukan lainnya.

“Mengapa kalian kembali?” raung Yunho marah di dalam pikirannya.

“Apa maksudmu, Alpha? Tentu saja kami datang untuk membantu. Ini tanah air kami!” balas Yuri.

“Tidak.. Kalian tidak boleh ada di sini.”

Yuri cukup terkejut mendengar kata-kata pimpinannya itu. Ia cepat-cepat kembali ke Gyfraddia karena ia takut pikirannya salah kalau Drygioni sudah dalam perjalanan untuk menghancurkan desanya. Tapi dengan kata-kata Yunho tadi berarti..

Alpha.. Jangan bilang kalau kau.. sengaja membuat kami pergi..” tanya Yuri setengah tak yakin.

“Memang seperti itu keadaannya. Aku tidak ingin kalian terluka. Aku sudah tahu bahwa akan ada serangan dalam waktu dekat maka aku menyuruh kalian pergi, aku tidak mau kalian terluka. Aku ingin kalian selamat dan meneruskan garis keturunan Gyfraddia yang mungkin saja akan hancur malam ini!”

“Apa? Bagaimana mungkin kami membiarkanmu menyelamatkan desa ini sendirian?” tiba-tiba Yonghwa ikut dalam pembicaraan itu walau tubuhnya masih sibuk melawan beberapa Heglog yang tengah mengepungnya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan kami begitu saja, Alpha. Ini adalah desa kita, seharusnya kita menyelamatkannya bersama-sama.” Gikwang juga sudah ikut bergabung.

“Kalian tidak mengerti, bagaimana jika kita kalah malam ini? Bagaimana jika tidak ada satu pun yang tersisa? Aku ingin setidaknya kalian selamat dan tetap hidup dengan anak-anak kalian nanti. Aku ingin Gyfraddia tetap ada hingga akhir dunia!”

“Maka kita harus memenangkan pertarungan ini!” seru Yuri yang lalu melompat seolah hendak menerjang sang Alpha. Namun alih-alih melakukan hal itu, ia justru menerjang satu troll yang tadinya hendak menyambar tubuh Yunho.

Yunho ingin membantu Yuri yang walau pun tampak lincah dalam menghadapi seorang troll gunung sendirian, namun ia tahu bahwa seekor serigala saja tidak cukup untuk membunuh troll. Tapi ia sudah dihadang oleh dua Drygioni lain. Keduanya tampak kuat dan bersemangat.  tanpa basa-basi, mereka sudah menerjang Yunho.

Yunho menghindar. Ia mengandalkan gigi dan satu kaki depannya saat ini. sekuat tenaga ia berusaha keras melawan, namun ketika satu tinju Drygioni menyentuh lengannya yang terluka, ia tampak goyah walau tidak mengeluarkan pekikan sedikit pun. Para musuh tidak boleh tahu jika sang Alpha tengah kesakitan saat ini. Mereka tidak boleh mendapatkan kepuasan karena pimpinan muda dari musuh abadi mereka tengah terluka.

Tapi salah satu dari Drygioni itu tampaknya paham walau sedikit tidak yakin kalau serigala besar di depannya itu tengah terluka. Untuk membenarkan keyakinannya, ia menyerang satu kaki depan Yunho yang dicurigainya telah terluka. Benar saja, sang Alpha tampak sedikit kesakitan walau tidak ada erangan yang lolos dari balik gigi-gigi runcingnya.

Kedua Drygioni itu saling bertukar pandang penuh gairah. Tawa dengan kesenangan tak wajar lalu tercipta diantaranya. Mereka tahu serigala di depannya kini tengah terkena racun, walau bukan racun mereka. Tapi mereka harus berterima kasih kepada sang pemberi racun karena telah memudahkan jalan mereka untuk membunuh sang Alpha.

Kini mereka hanya akan melakukan satu hal, menyerang titik lemah sang Alpha lalu membunuhnya dengan cepat. Drygioni pertama langsung menyerang cepat. Namun tiba-tiba tubuhnya dicengkram oleh kuku-kuku tajam yang membawanya jatuh ke tanah. Ia bangkit berdiri, namun ia kembali diserang oleh seekor serigala lain berbulu cokelat lebat.

Serigala itu menyeringai mengerikan sebelum akhirnya menghabisi lawannya. Sementara Drygioni kedua langsung kabur karena ketakutan melihat beberapa serigala lain yang datang bergabung. Namun sebelum ia benar-benar kabur, serigala putih lain menerjangnya lalu ikut menghabisinya.

Taecyeon, Sandara dan Hoya sudah datang. Taecyeon lah yang menyelamatkan Yunho, Sandara yang menghabisi Drygioni kedua tadi, sedangkan Hoya sudah ikut berperang membantu Jongin.

“Lindungi Alpha! Ia terluka!” kata Taecyeon dalam pikirannya.

“Apa? Alpha terluka? Bagaimana mungkin? Alpha.. apa kau baik-baik saja?” tanya Sandara yang langsung menghampiri kakak tertuanya.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit terluka. Kalian, bantulah yang lain. Aku bisa menjaga diriku.” Tolak Yunho. “Apa kalian semua ada di sini?”

“Aku sedang membantu Jongin.” Jawab Hoya yang diikuti geraman Jongin tanda bahwa ia juga ada di sana walau sedang sibuk dengan lawannya.

“Aku masih selalu ada di sini. Masih akan terus mendampingimu, Alpha.” Jawab Yuri yang masih menghadapi seorang troll namun kini dibantu oleh Taecyeon.

“Aku juga. Tahukah kau, aku sudah menghabisi lebih dari 30 Drygioni dan Heglog.Wow! Aku suka berperang.” Jawab Yonghwa penuh semangat.

“Aku juga masih di sini.” Jawab Gikwang. Ia terdengar sedikit terengah. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu Gikwang tengah bergumul dengan musuh.

“Aku harap Kris, Minho dan Kyuhyun tidak kembali. Mereka tidak boleh datang. Aku takut mereka ikut terluka..” kata Yunho lagi.

Kyuhyun.. Aku tidak ingin ia terluka.. Walau menungkin dengan kepergiannya aku tidak bisa melihatnya lagi, tapi jika itu berarrti dia baik-baik saja, aku rela..’ Bisik hatinya. Ia tidak akan bicara dengan pikirannya, ia takut yang lain akan mendengarnya. Ini bukan saatnya untuk memikirkan masalah hati. Desa mereka lah perhatian utama kini disamping keselamatan semua penduduk Gyfraddia.

Tapi Yunho tidak bisa mencegah pikirannya sama sekali ketika berbicara mengenai Kyuhyun. Ia akan terus mengingat lelaki manis itu hingga ia sendiri lupa waktu. Kyu.. Seketika Yunho terkesiap.

“Kyungsoo.. Dimana Kyungsoo..”

“Aku belum melihatnya sejak ia berubah wujud kembali menjadi manusia dan berlari memeluk Arweinydd.” Jawab Jongin cepat.

Hati Yunho mencelos. Ia terlalu sibuk mengkhawatirkan teman-temannya, menghadapi musuh hingga menahan sakit di satu kakinya hingga ia lupa dengan adik bungsunya dan ayahnya yang tadi terluka.

Yunho tidak akan bisa bicara dengan Kyungsoo saat ini karena adiknya itu tengah berwujud manusia. Seakan tahu apa yang ia pikirkan, Sandara menjawab.

“Ia membawa ayah ke hutan untuk bersembunyi. Oppa, jangan khawatirkan Kyungsoo. Dia baik-baik saja. Dirimu lah yang harus kau khawatirkan. Kau tengah terluka.”

Alpha.. Kau terluka? Dimana dirimu?”

Hati Yunho langsung mencelos. Suara indah itu adalah suara yang paling ia rindukan tapi juga ia takutkan untuk didengar saat ini. Suara Kyuhyun.

“Kyuhyun.. Kau..”

“Aku datang, Alpha.. Aku sudah kembali.. Katakan padaku kau baik-baik saja. Aku tidak bisa melihatmu. Katakan padaku kau ada dimana..”

Suara Kyuhyun terdengar sedih bercampur cemas, membuat Yunho semakin merasa bersalah. Tak sampai sepuluh detik, Yunho bisa melihat seekor serigala berwarna putih bersih berdiri di antara dua kubu yang berperang. Mata mereka lalu bersitatap. Kyuhyun langsung berlari menghampiri sang Alpha lalu menubruknya keras.

Alpha.. kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” tanya Kyuhyun seraya menyatukan kedua kepala mereka lalu mengusap lembut, membuat hati Yunho terasa sangat ringan saat itu juga.

“Aku baik-baik saja, Kyu. Jangan khawatir.”

Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Yunho. Sebaliknya ia justru mendorong Yunho ke balik semak-semak. “Tolong jangan banyak bergerak. Sepertinya kau terkena racun. Aku akan menolongmu. Dimana ibumu?”

“Beliau sudah pergi bersama para wanita dan anak-anak kecil lainnya. Aku akan berusaha tetap kuat. Kau pergilah, bawa Jongin bersamamu. Carilah Kyungsoo di hutan. Tunggu aku di sana. Ayahku juga tengah berada bersama Kyungsoo saat ini. Jika kau ingin membantu, bantulah ayahku.”

“Tapi..”

“Ini perintah!” kata Yunho dengan nada tegas namun pandangan matanya memohon pada Kyuhyun.

“Baiklah. Tolong jaga dirimu. Aku akan menunggumu.”

*

            Pertempuran masih berlangsung. Mayat yang tergeletak di tanah sudah tak terhitung jumlahnya. Jumlah Drygioni dan Heglog yang masih bertahan berikut troll yang membantu mereka sudah tidak banyak lagi. Namun jumlah Gyfraddia lebih sedikit lagi. Sudah bisa dipastika bahwa kemenangan ada di pihak lawan apalagi dengan terlukanya sejumlah pahlawan Gyfraddia.

“Sandara, awas!”

Yunho menoleh dan mendapati Yonghwa menyelamatkan kekasihnya dari serangan tinju raksasa troll.

“Kris, tolong kami, Hoya dan Gikwang terluka.” Seru Yuri di seberang.

“Aaarrrghhhhhh…!”

“Tidak! Minho!”

Minho terluka. Namun dengan segenap kekuatannya, ia berusaha keras berdiri dan kembali bertarung. Namun Taecyeon segera menghalanginya dan menghabisi lawan Minho.

Tak jauh dari sana, Yunho masih bertarung juga seperti yang lainnya walau kini ia merasa seluruh tubuhnya nyaris mati karena racun itu tampak sudah menyebar ke seluruh penjuru tubuhnya.

Tiba-tiba Jinyoung, sang pimpinan Henuriad mendatangi mereka dengan tubuh penuh goresan. Beberapa tempat di tubuhnya tersayat. Ia memberi aba-aba pada para Eifre dan Yunho sendiri agar ikut masuk ke dalam hutan, tampat dimana Kyungsoo dan ayahnya bersembunyi.

Kyungsoo sudah berubah menjadi serigala lagi karena ia tengah menghangatkan tubuh sang Arweinydd yang sekarat karena terluka parah dan tampaknya sangat kedinginan. Namun Jinyoung memberi mereka aba-aba untuk berubah wujud menjadi manusia agar ia bisa bicara dengan mereka. Para Eifre melakukan permintaannya.

“Ayah..!” jerit Yunho dan Sandara bersamaan lalu menghampiri ayah mereka.

“Anak-anak.. Pergilah! Selamatkan diri kalian!” Jinyoung berkata setelah ia berlutut di samping pemimpinnya yang merupakan sahabat baiknya.

“Jinyoung benar. Kalian harus pergi. Kalian harus menyelamatkan diri kalian. Sudah cukup banyak korban yang jatuh malam ini, beberapa diantara kalian sudah terluka. Aku tidak mau kalian mati sia-sia dalam pertempuran ini.” Arweinydd berbicara pelan. Walau ia terlihat kesakitan, namun ia tetap terlihat bijak.

“Tidak! Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini, Syr.” Jerit Sandara. Gadis itu sudah menangis.

“Selamatkan diri kalian! Himpun kekuatan baru. Buatlah Gyfraddia tetap hidup walau hanya sedikit yang tersisa! Cepat! Waktu kalian tidak banyak, jumlah kita semakin menipis.” Kata Jinyoung lagi. “Aku sebisa mungkin akan menahan mereka di sini agar kalian bisa pergi lebih jauh sebelum mereka bisa menyusul kalian.”

Protes-protes langsung terdengar. Namun langsung terhenti ketika sebelah tangan sang Arweinyydd terangkat.

“Jika kalian tidak ingin mengikuti perintah ini, anggap lah ini adalah permintaan terakhirku sebagai pemimpin suku kita kepada kalian. Kumohon, pergilah.. Selamatkan diri kalian. Masa depan Gyfraddia ada di pundak kalian.”

Kyungsoo dan Sandara sudah terisak keras kini. Yunho sendiri mati-matian menahan tangisnya agar kedua adiknya tidak lebih hancur lagi. Ia harus kuat demi keduanya.

Sang Arweinyydd lalu berpaling kepada Yunho. “Alpha, anakku.. Selamatkan bangsa kita. Mulai saat ini aku menyerahkan kepemimpinan Gyfraddia kepadamu. Kau lah Alpha sekaligus Arweinydd saat ini, harapan kami ada padamu. Ayah tidak akan memaksamu untuk melakukan apa-apa. Kau boleh mengambil keputusan sesuai instingmu. Ayah hanya minta, kau menjaga kedua adikmu. Jangan biarkan mereka terluka. Dan jika semua ini sudah selesai, jemputlah ibumu. Kau tahu harus mencarinya di mana.”

Hati Yunho hancur mendengar kata-kata ayahnya. Ia ingin menolak karena ia masih butuh ayahnya untuk membimbingnya. Tapi ia tahu, ayahnya sudah tidak punya banyak waktu lagi.

“Ayah.. Maafkan kesalahanku selama ini. Semoga aku bisa memenuhi amanatmu, menjadi pemimpin yang baik untuk kaum kita. Terima kasih karena telah menyelamatkanku malam ini.” sebutir air mata jatuh mewakili perasaan sang Alpha.

“Aku akan selalu melindungimu, anakku. Walau aku tidak ada, percayalah aku akan selalu menyertaimu. Aku menyayangi kalian bertiga. Jika kalian bertemu ibu kalian, katakan padanya kalau ayah mencintainya. Maaf karena ayah tidak bisa menepati janji untuk kembali padanya..”

Setelah berkata demikian, sang Arweinydd tersenyum. Ia terus tersenyum seperti itu hingga semua yang ada di sana akhirnya tersadar setelah beberapa detik kalau pimpinan mereka telah pergi.

Tangis pun pecah setelah itu. Mereka semua menangisi kepergian sang Arweinyyd yang dirasa terlalu cepat. Yunho meredam suaranya, ia menangis dalam diam. Sepasang tangan  merengkuh tubuhnya dari belakang, membuatnya merasa sedikit tenang.

“Alpha.. Jangan menangis. Aku yakin ayahmu tidak ingin kau bersedih. Kau harus kuat untuk adik-adikmu, untuk kami semua.”

Yunho memeluk kedua tangan yang bersedekap di dadanya itu. “Terima kasih Kyu.. Terima kasih..”

Arweinydd.. Kami menunggu perintahmu.” Kata Jinyoung akhirnya.

Barulah Yunho tersadar bahwa dirinya kini mengemban dua tugas berat. Ia baru saja dipilih sebagai pimpinan baru oleh Arweinydd terdahulu. Dan ia harus melaksanakan tugasnya. Seperti kata ayahnya, harapan Gyfraddia kini ada padanya.

“Pergi..” Suara sang Alpha langsung membuat para Eifre tersentak.

“Tapi Alpha.. Kami ingin terus berada di sini, mendampingimu. Jika memang kita harus mati, kita semua harus mati bersama.” kata Kris pelan.

“Jangan lakukan hal ini pada kami. Biarkan kami tetap di sini!” Yonghwa ikut memohon.

“Kami masih kuat bertarung, Alpha. Biarkan kami membantu.” Ujar Minho dengan suara rendah yang dalam.

“DENGARKAN AKU!” raung Yunho keras yang langsung membuat para Eifre menunduk ketakukan. “Kalian harus pergi dari sini. Untuk nama suku kita sendiri. Harus ada yang melanjutkan garis keturunan kita. Di setiap peperangan sudah pasti ada yang kalah bukan, walau ini artinya kekalahan, namun bukan berrati kita semua hancur di sini. Aku ingin kalian bisa tetap memelihara suku kita, biarkan nama Gyfraddia tetap hidup selamanya.”

“Tapi kami tidak ingin kehilangan dirimu juga, Alpha..” ujar Hoya yang terdengar sangat lemah.

“Sudah saatnya kalian belajar mandiri. Aku berjanji, jika aku selamat, aku akan mencari kalian. Aku berjanji. Kita semua akan menjadi Gyfraddia lagi.” Kata Yunho meyakinkan.

“Dengarkan Alpha kalian, teman-teman. Ia selalu menepati janjinya, bukan? Ia akan kembali.” Suara Kyuhyun yang merdu mengisi telinga para Eifre.

“Baiklah.. kami mengerti..” jawab Gikwang yang terdengar sama lemahnya dengan Hoya. Diikuti gumaman protes dari yang lain tapi akhirnya mereka juga setuju dengan keputusan sang Alpha sekaligus Arweinyyd mereka yang baru itu.

“Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan membagi kalian menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah Kris, Kyungsoo, Kyuhyun dan Minho. Sedangkan kelompok kedua adalah Yonghwa, Sandara, Gikwang, Hoya, dan Jongin.”

Alasan mengapa Yunho membagi kelompok seperti itu karena alasan-alasan tertentu. Kris sudah pasti bisa menjaga adiknya, Kyungsoo. Kyuhyun dan Minho sangat dekat. Kris dan Minho bisa melindungi dua anggota lainnya jika tiba-tiba mereka berada dalam bahaya karena keduanya cukup kuat, walau sebenarnya Minho jauh lebih kuat, namun karena ia sedang terluka, maka Yunho mengandalkan Kris dalam hal ini.

Di sisi lain, Sandara tidak bisa dipisahkan dari Yonghwa. Gikwang dan Hoya sangat dekat dan mereka bisa menjaga Jongin. Yonghwa dan Hoya adalah dua serigala kuat, ditambah kemampuan Sandara, mereka bisa melewati masa sulit nantinya.

Bukan kemauan Yunho untuk memisahkan kedua adiknya. Namun inilah jalan terbaik. Ia harus memisahkan kepentingan pribadi agar semua Eifre selamat.

“Aku, Taecyeon dan Yuri akan tetap berada di sini, mendampingi Jinyoung Syr untuk bertarung.” Kata Yunho pada akhirnya.

“Tapi Hyung.. kau sedang terluka..” kata Kyungsoo dengan nada khawatir.

“Aku bisa pulih dengan cepat. Kau lupa siapa yang bersamaku nanti?”

Para Eifre tidak bisa menentang lagi. Ini permintaan sang Alpha sekaligus perintah. Apalagi pimpinan mereka kini telah menjadi pimpinan suku juga, mereka dilarang keras membantah.

“Kalian harus berubah menjadi serigala setelah ini. Pergi lah ke tempat penyimpanan, ambillah yang bisa kalian bawa. Pergilah ke kota, hanya tempat itu yang tidak akan dimasuki oleh para musuh kita. Aku yakin kalian bisa melewati kehidupan di sana. Ingat, sesampainya di kota, kalian dilarang keras untuk berubah menjadi serigala lagi. Berbaur lah dengan sesama manusia di sana.  Jangan kembali ke Gyfraddia dengan alasan apa pun. Tunggulah di sana. Salah satu dari kami akan datang dan mencari kalian. Jika beruntung, kami bertiga yang akan datang.” Yunho menjelaskan panjang lebar.

Para Eifre mengangguk. Beberapa diantaranya masih tetap terisak. Setelah hidup bertahun-tahun bersama, ini saatnya mereka terpisah-pisah. Bagaimana mungkin kau tidak sedih jika rumahmu hancur, keluargamu dibantai dan kini kau harus rela terpisah dari saudara-saudaramu?

“Jangan menangis lagi. Hapus air mata kalian. Seorang pemberani dari Gyfraddia tidak boleh terlihat lemah.”

Para Eifre menghapus air mata mereka. “Nah, begitu lebih baik. Ingat, saling menjaga satu sama lain dan jangan bertengkar. Apa pun masalahnya, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

Yunho melangkah, memeluk para Eifre satu persatu. Ia memeluk kedua adiknya cukup lama sebelum akhirnya melepaskannya. Ia memeluk Kyuhyun lebih lama lagi seraya berbisik, “Aku pasti akan datang padamu, aku berjanji.” Setelah itu ia mengecup kening Kyuhyun dalam-dalam kemudian melepaskan rengkuhannya.

“Sampai bertemu lagi, saudara-saudaraku.. Jaga diri kalian..”

Sembilan figur itu lalu berubah menjadi serigala kemudian berbalik pergi, berlari cepat menembus hutan dalam dua kelompok. Yunho, Yuri, Taecyeon dan Jinyoung menatap kepergian mereka dalam diam hingga Sembilan sosok tadi tidak terlihat lagi.

“Baiklah.. Mari selesaikan pertarungan ini. Apa pun yang terjadi, kita tetap bangga menjadi bagian dari Gyfraddia. Demi Gyfraddia.”

“Demi Gyfraddia!” seru tiga orang lainnya. Yunho, Yuri dan Taecyeon lalu berubah wujud menjadi serigala. Mereka bersama Jinyoung lalu berlari, kembali ke medan pertempuran.

*

hwh4

To Be Continued..

Happy 29th Birthday to My Hero Jung Yunho

Wishing him all the best for his future.. ❤

Don’t Wanna Close My Eyes – Chapter 1

Title                 : Don’t Wanna Close My Eyes

Rate                 : T

Pair                  : WonKyu, HanXian, EunHae, ZhouRy

Genre              : Romance, Sad

Cast                 : Siwon, Hangeng, Kyuhyun, Kibum, Donghae, Eunhyuk, Zhoumi.

Warning        : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

 

Choi Siwon mematut dirinya di cermin sekali lagi. Sempurna, pikirnya. Hari ini ia akan menghadiri acara pernikahan rekan kerjanya, Yesung dan Ryeowook. Setelan jas hitamnya terlihat keren dan rapi di tubuh kekarnya. Dasi kupu-kupu melengkapi ketampanannya malam itu.

Ketika ia sudah siap, ia segera mengemudikan mobilnya menuju salah satu hotel besar tempat dilangsungkannya acara resepsi pernikahan pasangan YeWook itu.

“Siwonnie, kau juga sudah sampai rupanya. Wah kau tampan sekali.” Kata Donghae, salah satu sahabat baiknya ketika is sudah berada dalam ballroom hotel.

“Tentu saja. Sejak kapan aku terlihat buruk?” kata Siwon dengan bangga.

“Sejak dia meninggalkanmu.” Kata Donghae pelan yang langsung disikut oleh kekasihnya, Eunhyuk.

Eunhyuk langsung meminta maaf pada Siwon karena kelancangan Donghae.

Siwon tertawa. “Ya! Kalian ini kenapa? Jangan terlalu sensitif. Sudahlah, aku tidak apa-apa.”

Donghae menghela nafas. “Maafkan aku. Bukannya aku ingin mengungkit-ungkit masa lalumu, tapi..”

“Aku baik-baik saja. Memang awalnya terasa berat, bahkan sangat berat. Tapi aku bisa menjalaninya. Lihat aku sekarang, life must go on, right?” kata Siwon ringan.

“Hae, berhentilah mengungkit masa lalu Siwon.” tegur Eunhyuk pada kekasihnya.

“Aku tahu. Aku hanya khawatir. Siwon adalah sahabat baikku. Sudah sepantasnya aku merasa khawatir padanya.” Kata Donghae.

Siwon mengangguk tanda memaklumi maksud Donghae. Memang benar sejak kekasihnya pergi, ia sempat membuat semua orang khawatir. Ia memang masih bekerja dan bepergian keluar rumah seperti aktivitas sehari-harinya. Tapi ia tidak pernah bicara sama sekali! Karena jika ia bicara, ia akan menangis.

Maka semua orang ikut diam, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja dan berpura-pura bahwa Siwon hanya sedang enggan berkomunikasi kepada siapa pun. Walau mereka tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tapi demi Siwon, semua ikut diam.

Selama hampir dua tahun Siwon terjebak dalam keadaan seperti itu. Diam di depan semua orang, lalu menangis dan mengasihani diri sendiri kala sendirian. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus. Kulitnya semakin pucat. Ia seperti mayat hidup andai saja ia tidak bernafas. Donghae sebagai sahabat terdekatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar itu terkadang ikut menangis bahkan memohon agar Siwon melupakan yang telah terjadi dan memulai hidup baru.

Hari demi hari ia berusaha membujuk dan membantu Siwon untuk menjalani kehidupan baru. Namun hal itu tidak mudah ia lakukan karena Siwon terlalu mencintai kekasihnya itu. Semua yang dilakukan Donghae sia-sia saja, tapi ia tidak pernah menyerah. Ia ingin mengembalikan senyum ke wajah sahabatnya itu.

Delapan bulan kemudian, usaha Donghae membuahkan hasil. Siwon mulai mau membuka diri lagi. Mulai bisa berkumpul dengan teman-temannya. Mulai bisa berbagi cerita. Mulai bisa tersenyum dan tertawa. Walau tidak seperti dulu, tapi setidaknya Siwon sudah kembali.

Siwon mulai melakukan kebiasaan lamanya yang sering ia lakukan dulu bersama kekasihnya. Berbelanja, lari pagi, jalan-jalan hingga berkuda. Bedanya kini ia mengerjakan semuanya sendiri. Terkadang ia ditemani oleh beberapa temannya, termasuk Donghae.

“Siwon-ah, ayo kita harus memberi selamat pada Yesung dan Ryeowook.” Kata Eunhyuk membuat Siwon mengentikan acaranya melihat-lihat desain interior ballroom tersebut.

Siwon mengangguk. Kemudian ia melangkahkan kakinya mengikuti Donghae dan Eunhyuk. Setelah memberi selamat dan berfoto bersama kedua mempelai, Siwon dan kedua sahabatnya itu mengambil makanan yang tersedia.

“Hei.. Kalian semua berkumpul disini, rupanya.” Kata seorang namja tampan berdarah cina.

“Ah, Hangeng-ssi. Aku tadi sempat mencarimu. Bagaimana kepulanganmu ke Cina? Kapan kau sampai?” Tanya Eunhyuk.

Hangeng adalah salah satu rekan kerja ketiga lelaki itu di kantor. Walaupun ia bukan orang Korea, tapi ia sangat fasih berbahasa Korea juga membaca huruf-huruf hangul. Kalau berbicara dengannya, siapa pun akan melupakan kalau dia adalah lelaki berkebangsaan Cina.

“Aku baru saja kembali sore tadi. Setelah beristirahat sejenak aku langsung bergegas kemari. Tidak mungkin aku melewatkan hari pernikahan teman kita, bukan?” jawab Hangeng.

“Tidak mungkin melewatkan acara makan gratis maksudmu?” ledek Zhoumi, salah satu rekan kerja mereka yang lain. Zhoumi juga berasal dari Cina. Ia tiba-tiba muncul di belakang Hangeng dan merangkul rekan senegaranya itu.

“Ah iya, aku ingat. Jangan lupa besok setelah meeting kita akan makan siang bersama. Bawalah pasangan kalian, karena aku juga akan membawa tunanganku.” Kata Hangeng dengan bangga.

“Benarkah? Kau akan membawa tunanganmu? Kupikir jangan, mereka akan langsung mengerubutinya.” Kata Zhoumi lagi.

“Eh? Kenapa begitu? Mana mungkin kami mau merebut tunangan rekan kami sendiri? Kau ini ada-ada saja.” ujar Donghae sambil tertawa.

“Karena ia tampan sekali. Aku saja sempat terpesona olehnya. Lalu aku ingat bahwa ia milik Hangeng. Kalau tidak sudah kubawa kabur dia.” Zhoumi bergurau.

“Aku tidak percaya kau berniat selingkuh dari adikku, Henry. Awas kau.” Kata Hangeng dengan nada marah yang dibuat-buat lalu ikut tertawa.

“Lalu besok kau akan datang bersama siapa, Siwon-ssi?” tanya Zhoumi pada Siwon.

“Aku? Aku akan datang sendiri.” Jawab Siwon enteng.

“Kau tahu benar kalau aku menyuruhmu membawa pasangan. Bukankah itu sudah jelas?” tanya Hangeng, menekankan kata ‘pasangan’ dalam kata-katanya.

“Baiklah.. Aku akan mencari pasangan secepatnya. Mungkin orang pertama yang lewat depan apartementku akan kubawa ke acara makan siangmu. Tak peduli bagaimana rupanya, yang penting aku datang berpasangan kan?” canda Siwon.

Semua tertawa. Lingkungan kerja yang nyaman membuat semuanya cepat akrab satu sama lain. Walaupun Zhoumi dan Hangeng baru beberapa bulan lalu dipindah tugaskan ke kantor cabang Seoul, mereka semua sudah dekat satu sama lain.

Dan Siwon mensyukurinya. Membuat semuanya terasa nyaman. Inilah kehidupan barunya. Ia bertekad tidak akan melihat lagi kebelakang. Ia sudah punya sahabat-sahabatnya, ia tidak butuh yang lain lagi, bukan?

*

            Siwon membelai wajah di depannya dengan lembut, menyusuri setiap inci kulitnya yang putih bersih, menambah keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang amat dikaguminya itu. Perlahan ia mencium bibir merah itu, dengan lembut tanpa nafsu, merasakan manisnya bibir sosok manis yang terlihat seperti malaikat itu.

“Kau sudah berkali-kali menciumku, hyung. Hentikan. Kau harus segera mandi lalu sarapan dan berangkat kerja. Jadi berhentilah mencumbuku.” Kata lelaki yang lebih muda darinya itu.

Siwon tersenyum. Sebelum menjawab, dikecupnya sekali lagi bibir menggoda itu. “Aku tergila-gila padamu.. Kau seperti candu, membiusku terus-menerus saat kita bersama. Membuatku tidak bisa melakukan hal lain selain memujamu tanpa lelah.”

Lelaki di depannya tertawa. “Hentikan rayuan gombalmu. Cepat mandi atau aku akan mengurangi jatah malammu.”

Siwon terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras. Nafasnya tersengal-sengal. Selalu seperti itu setiap malam. Bukan mimpi yang sama, tapi dengan orang yang sama.

Kembali Siwon menangis. Memang tidak banyak, tapi cukup membuat hatinya tergores pedih. Siwon memang sudah kembali menjadi Siwon yang dulu. Siwon yang ceria, optimis dan percaya diri. Ia sudah menjalani kehidupannya seperti semula. Ia bahkan sudah bisa mengatasi rasa sakit akibat masa lalunya.

Tapi satu rahasia yang mungkin akan ia simpan sendiri adalah ketakutan menutup matanya. Jika manusia pada umumnya menyukai tidur, Siwon justru sebaliknya. Ia membenci kegiatan yang paling nyaman itu. Begitu melihat tempat tidurnya di malam hari, rasa takut menghinggapinya. Seolah-olah hendak membunuhnya.

Begitu ia tertidur, ia akan bermimpi tentang kekasihnya. Mimpi itu selalu datang setiap malam, dengan potongan gambar yang berbeda-beda. Potongan gambar ketika mereka masih bersama.

Terkadang Siwon menjerit frustasi karena ia tidak juga bisa mengusir bayangan  itu ketika tidur. Bayangan itu menyakitinya. Terlalu sakit melihat kekasihnya itu dalam mimpi sementara Siwon tidak tahu dimana dirinya berada kini.

Tapi bayangan itu tak pernah berhenti datang. Setiap malam ia menyusup ke alam bawah sadar Siwon dan mengganggunya lagi. Dalam setiap mimpinya, dimana Siwon tengah berada dalam titik terlemah, tidak mampu melakukan perlawanan sama sekali.

*

            Akhirnya Siwon datang bersama Kibum keesokan harinya. Kibum adalah tetangga di apartemen Siwon. Keduanya cukup akrab. Maka tanpa berpikir panjang Siwon langsung meminta Kibum menemaninya, karena Hangeng adalah orang yang paling pantang ditolak.

“Rupanya kau pandai juga memilih.” Kata Zhoumi ketika mereka sudah duduk di restaurant tempat Hangeng meminta mereka berkumpul.

Siwon tertawa. “Apa maksudmu? Dia tetanggaku. Kami memang cukup dekat. Tapi tidak ada yang istimewa. Iya kan Bummie?”

Kibum mengangguk membenarkan. “Kami hanya berteman. Tak ada salahnya kan saling membantu antar tetangga?”

“Ya, ya, terserah kalian saja. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu melihat lebih dari satu pasangan yang saling bermesraan.” Kata Zhoumi lagi sambil mengerling ke arah Donghae dan Eunhyuk yang terus bermesraan sedari tadi.

“Tapi kenapa Hangeng belum datang juga? Bukankah ia yang mengundang kita semua kemari?” tanya Siwon.

Zhoumi mengangkat bahunya tanda tak mengerti. “Ia juga datang bersama Henry. Terakhir Henry meneleponku lima belas menit yang lalu. Katanya mereka sudah dalam perjalanan. Ah itu mereka..”

Baik Siwon, Donghae maupun Eunhyuk segera menoleh ke arah pintu masuk. Hangeng terlihat berjalan dengan dua lelaki. Siwon mengenal salah satunya. Dia adalah Henry, adik kandung Hangeng sekaligus kekasih Zhoumi. Yang satu lagi tidak bisa dilihatnya dengan jelas karena tubuh Hangeng menutupinya.

“Wah, maaf menunggu lama. Tadi kami sempat singgah ke suatu tempat sebelum datang kemari.” kata Hangeng ramah.

“Tidak apa-apa. Kami juga belum lama menunggumu.” Kata Donghae menanggapi.

“Tentu saja terasa tidak lama bagimu, bukankah sedari tadi kerjamu hanya menyantap bibir kekasihmu?” sindir Zhoumi dengan pedas.

“Ya!” Donghae langsung protes keras namun dengan nada bercanda.

“Hangeng-ssi, itukah tunanganmu? Ah, mengapa kau menyembunyikannya?” ledek Eunhyuk.

Hangeng menepuk keningnya. “Maafkan, aku hampir lupa. Teman-teman sekalian, kenalkan ini tunanganku Kui Xian.”

Lelaki di belakang Hangeng segera menampakkan diri dan berdiri tepat di samping Hangeng. Begitu melihatnya Siwon mendapati dirinya terkejut luar biasa. Jika di dunia ini ada yang namanya reinkarnasi seperti kepercayaan orang-orang Cina kuno, maka ia harus mempercayainya saat ini juga.

Karena tunangan Hangeng itu 100% mirip sekali dengan kekasihnya, Cho Kyuhyun yang menghilang beberapa tahun lalu. Tidak ada perbedaan sama sekali. Semuanya mirip, kecuali rambut Kui Xian berwarna hitam dan di potong rapi seperti rambuk cepak Hangeng. Tidak seperti Kyuhyunnya yang rambutnya sewarna madu dan sedikit lebih panjang dari milik Kui Xian. Selain dari itu, tidak ada perbedaan sama sekali.

Bukan hanya Siwon yang terkejut, tapi juga Donghae. Keduanya menatap Kui Xian dengan tatapan tidak percaya. Benarkah yang mereka lihat saat ini?

*

            Mentari pagi dengan hangat menyinari Siwon dan Kyuhyun. Keduanya tengah berkuda bersama, menunggangi satu kuda, melewati pepohonan rindang, menaiki jalan-jalan terjal, melewati danau indah yang membentang luas.

Lalu bayangan itu kabur dan berganti dengan bayangan Siwon tengah berkencan di salah satu restaurant dengan bernuansa merah. Siwon menceritakan sebuah lelucon dan Kyuhyun tertawa terbahak-bahak.

Kembali Siwon terbangun. Tubuhnya bergetar menahan amarah yang menguasainya. Kenapa.. kenapa bayangan Kyuhyun datang lagi? Kenapa bayangan itu dengan tega menyakitinya di saat ia berada dalam keadaan seperti ini, tidak bisa melawan ataupun melarikan diri?

Tiba-tiba Siwon teringat akan Kui Xian, tunangan Hangeng  yang dikenalkan padanya hampir sebulan lalu. Setiap melihat lelaki itu, Siwon selalu teringat akan Kyuhyunnya. Kyuhyunnya yang hilang. Semua bagian tubuhnya sama, bahkan suara mereka pun sama.

Bagaimana mungkin ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini kalau mereka bukan kembar? Dan ia yakin Kyuhyunnya tidak mempunyai kembaran. Tapi mengapa keduanya sangat mirip?

Terkadang Siwon bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan Kui Xian adalah Kyuhyunnya yang hilang. Tapi mana mungkin? Yang pertama, nama lelaki itu adalah Kui Xian, bukan Cho Kyuhyun.

Kedua, lelaki itu berasal dari Cina. Walaupun bahasa Cina Kyuhyun sangat fasih, tapi kemungkinan mereka adalah orang sama kecil sekali. Apakah hanya karena bisa menguasai satu bahasa asing yang sama sudah bisa disebutkan sebagai orang yang sama pula? Tidak.

Ketiga, Kui Xian tidak menunjukkan gejala ia mengenal Siwon atau pun Donghae ketika mereka pertama kali bertemu. Jika memang Kui Xian adalah Kyuhyun, apa motifnya menghilang beberapa tahun lalu? Jika ia adalah Kyuhyun, walau pun setitik, pasti ada kilasan aneh di matanya ketika bersitatap dengan Siwon maupun Donghae, bukan? Namun  sikapnya normal dan alami.

Keempat, ia adalah kekasih Tan Hangeng, rekan kerja Siwon sendiri. Mana mungkin mereka memiliki kekasih yang sama, bukan?

Dan yang terakhir, Kyuhyun tidak ada motif untuk meninggalkan Siwon untuk lelaki lain. Keduanya sudah bertunangan dan berencana menikah beberapa bulan kedepan, tapi tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Tidak ada satu pun orang mengetahui keberadaannya. Bahkan polisi pun tidak pernah menemukan tubuh ataupun mayatnya, jika Kyuhyun memang ternyata sudah meninggal seperti perkiraan orang-orang selama ini.

Terakhir yang ia tahu, Kyuhyun pergi ke Pulau Jeju untuk menemui salah satu rekan kerjanya. Tapi ia tidak pernah kembali dari Jeju setelah itu. Ketika teman kerja Kyuhyun itu ditanyai, ia berkata dengan yakin bahwa Kyuhyun sudah kembali ke Seoul.

*

            Siwon sedang menimbang-nimbang buku mana yang akan ia beli di kedua tangannya ketika dirasakannya seseorang menyapanya dari depan rak buku tempatnya berdiri.

“Anneyong haseyo..  Siwon-ssi? Masih ingat padaku?”

Siwon tertegun. Pemuda di depannya masih menatapnya dengan senyum manisnya. Tapi Siwon masih tetap diam. Seolah terpana dengan pemandangan yang disajikan di hadapannya.

“Eh? Siwon-ssi? Mungkin kau sudah lupa, aku Kui Xian. Tunangan Hangeng-gege. Kita pernah bertemu sekali di restaurant beberapa minggu lalu sebelum aku kembali ke Cina. Apa kau masih ingat?”

Siwon segera tersadar. “Tentu saja. Aku masih ingat. Aku hanya sedikit terkejut ternyata kau masih ingat padaku.”

Mana mungkin Siwon lupa pada sosok yang begitu dicintainya yang dengan tega merusak malam-malamnya karena selalu hadir di mimpinya? Tidak, bukan lelaki di depannya melainkan Kyuhyunnya.

Sejam kemudian, keduanya sudah duduk di salah satu café di dekat toko buku tadi. Keduanya asik bercerita tentang banyak hal dan Siwon menahan keras matanya untuk tidak terus-menerus menatap Kyuhyun. Tidak sopan menatap tunangan sahabatmu dengan intens, bukan?

“Siwon-ssi, kenapa kau selalu memalingkan wajahmu ketika bicara denganku? Apa kau tidak senang mengobrol denganku?” tanya Kui Xian polos.

“Tidak.. Itu.. aku..” kata Siwon gelagapan.

“Ah aku tahu, mungkin kau sedang terburu-buru tapi karena merasa tidak enak meninggalkanku sendiri maka kau tetap menungguiku di sini. Benar kan?” tanya Kui Xian lagi.

Siwon terdiam. Ia benar-benar bingung sekarang. Lidahnya kelu. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, maka Kui Xian tidak akan mau melihatnya lagi. Dan jika Hangeng tahu akan hal ini, ia pasti menjaga kekasihnya baik-baik agar tidak bertemu Siwon. Siwon akan di cap lelaki tidak tahu diri yang menyukai kekasih orang lain. Padahal ia sudah berhasil dengan sangat baik bangkit dari luka masa lalunya. Ia tidak mau usahanya yang ia lakukan bertahun-tahun itu gagal.

“Tampaknya aku benar.” Kata Kui Xian lagi. “Baiklah. Sampai jumpa Siwon-ssi. Aku pergi dulu.”

Siwon mengepalkan tangannya dengan keras. Bahkan cara marahnya juga sama. Jika diabaikan, Kyuhyunnya juga akan pergi meninggalkannya seperti tadi. Siwon ingin sekali mengejar Kui Xian. Kakinya memaksanya untuk melangkah tapi otaknya memaksanya untuk tetap tinggal dan tetap duduk. Mengejar lelaki itu sama saja menjatuhkan dirinya ke jurang kelam lagi. Ia tahu, begitu ia membuat hubungan baik dengan Kyuhyun, maka ia akan jatuh dalam pesona itu.

*

            Malam itu, tepat tanggal 19 april, para lelaki itu berkumpul dalam rangka merayakan hari ulang tahun Zhoumi. Semuanya hadir, tak terkecuali Kim Kibum. Zhoumi sendiri yang memintanya untuk membawa serta Kibum karena menurutnya lelaki itu cocok bergaul dengan kelompok mereka. Lagipula ia tidak mau Siwon datang sendiri mengingat semua yang ada di sana sudah berpasangan. Yesung dan Ryeowook bahkan ikut hadir.

“Siwon-ssi?”

Siwon menoleh. ‘Oh tidak..’ pikirnya.

Kui Xian tersenyum. “Apa yang kau lakukan di sini sendiri sementara yang lain tengah berpesta di dalam?”

Saat itu Siwon tengah berdiri di balkon apartemen Zhoumi, memandang hamparan kerlip lampu-lampu dari setiap bangunan di depannya.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar. Kurasa aku minum cukup banyak dan merasa cukup panas di dalam.” kata Siwon seraya membalas senyuman Kui Xian.

Kebohongan besar. Ia keluar karena tidak tahan melihat Kyuhyun, maksudnya Kui Xian bermesraan dengan Hangeng. Mereka selalu saling menempel bagai amplop dan perangko. Hangeng tak pernah melepaskan lengannya dari pinggang tunagannya. Tak jarang keduanya berciuman.

Ya, Siwon tahu tidak seharusnya ia bersikap seperti itu. Namun ia tidak bisa mencegah perasaan ini. Perasaan cemburu yang mencuat bak racun dari dalam hatinya. Ia bahkan merindukan Kui Xian setelah pertemuan singkat mereka di toko buku beberapa hari lalu. Siwon jadi merasa bersalah karena dengan berani merindukan kekasih temannya itu.

“Sepertinya kau punya masalah.” Kata Kui Xian pelan. Terdengar seperti gumaman.

“Tidak, aku baik-baik saja. Percayalah, aku hanya ingin menghirup udara segar.” Kata Siwon mencoba meyakinkan lelaki di depannya.

“Biasanya orang yang sedang tertekan oleh sesuatu pasti ingin menghirup udara segar.” Kembali Kyuhyun bergumam.

‘Apa sikapku terlalu kentara? Jangan bilang Kui Xian bisa menangkap kecemburuanku. Ini tidak boleh terjadi.’ Batin Siwon.

“Siwon-ssi..”

Kembali Siwon menoleh. Kui Xian tengah menatapnya dalam-dalam. Mata indah itu bersinar indah, lebih indah dari kerlip lampu yang tadi sempat menenangkan hati Siwon. Mata yang sama, yang membuat Siwon selalu tergila-gila.

“Boleh aku bertanya sesuatu?”

Siwon hampir saja terlena andai saja Kui Xian tidak segera bersuara. Mendengar itu Siwon segera tersadar.

“Ten-tentu.. Tentu saja..”

Kui Xian tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya buka suara. “Apa kau membenciku?”

Siwon terperanjat. “Mengapa kau berpikir seperti itu?”

Kui Xian menunduk. “Karena tampaknya, kau tidak menyukai aku. Kau selalu menghindar ketika bertemu denganku. Kau juga tidak pernah mau menatapku ketika aku bicara padamu.”

“Tidak.. Itu tidak benar. Aku..”

“Dan kau tampaknya selalu mencari cara agar tidak bicara padaku.” Potong Kui Xian cepat. “Setiap aku ingin bicara, kau pasti menjawabnya seperti menutupi sesuatu.”

“Aku tahu, mungkin aku tidak seperti Henry yang lebih cepat bergaul. Tapi aku juga ingin mengenal semua teman gege. Aku ingin merasa betah di kota ini karena aku punya banyak teman. Teman-teman yang lain tampaknya bisa menerimaku, tapi.. Tidak denganmu..” Kui Xian melanjutkan.

Siwon menggigit bibirnya. Bagaimana caranya ia menjelaskan kepada lelaki itu alasan mengapa ia melakukan semua ini? Apa setelah mendengar alasannya, Kui Xian akan mengerti? Apa Hangeng akan mengerti? Tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mengelak.

“Tolong, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Semua itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak menghindarimu. Memang seperti inilah diriku. Maaf jika sikapku membuatmu merasa tak nyaman.” Ujar Siwon dengan nada minta maaf.

“Benarkah? Jadi.. Kau tidak membenciku?”

Siwon mengangguk meyakinkan.

Kui Xian jadi bernapas lega karenanya. “Ah.. aku lega sekali karenanya. Aku hanya tidak ingin hubungan kita tidak baik. Bukankah kau adlaah rekan kerja gege, yang artinya kita akan lebih sering bertemu. Apalagi setelah aku dan gege menikah nanti.”

“Tentu saja.” Siwon berusaha tersenyum tulus. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya sakit mendengar kata ‘menikah’.

“Kapan kalian akan menikah?” Siwon sebisa mungkin mengatur agar nada suaranya terdengar biasa saja.

Kui Xian tersipu malu. “Aku belum tahu. Gege tidak pernah bicara tentang itu. Tapi ia adalah lelaki yang penuh dengan kejutan. Seperti ketika kami bertunangan, ia mempersiapkan semuanya secara diam-diam, aku benar-benar terkejut saat itu. Namun aku bahagia.”

‘Cukup.. Kumohon..’

“Kau tahu, Siwon-ssi, gege adalah lelaki idaman setiap pria maupun wanita. Ia sangat lembut, penyayang, perhatian, pandai memasak, pandai membuat aku tertawa dengan lelucon-leluconnya, pandai membuatku merasa melayang hingga ke langit ke tujuh.. Aku benar-benar beruntung, bukan?”

‘Ya, beruntung. Sangat beruntung. Aku lah satu-satunya yang tidak beruntung saat ini.’

“Siwon-ssi.. Bagaimana denganmu? Apa kau sudah punya kekasih? Menurut Donghae-ssi, Kibum-ssi adalah tetanggamu. Tapi kalian tampak serasi. Apa kau menyukainya?” tanya Kui Xian.

“Aku..” Siwon tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. Tapi akhirnya ia memilih untuk bicara dengan jujur. “Aku sedang tidak punya kekasih. Mungkin orang-orang melihatku sangat cocok dengan Kibum, tapi tidak ada yang terjadi diantara kami.”

“Tahukah kau, tampaknya ia menyukaimu.”

Siwon cukup tercengang mendengar penuturan Kui Xian. “Eh? Benarkah?”

Kui Xian mengangguk. “Makanya sejak awal aku selalu berpikir pastilah kau punya masalah yang cukup berat. Karena ada lelaki manis di sampingmu yang terlihat jelas sangat menyukaimu tapi kau mengabaikannya, atau mungkin malah tidak menyadarinya sama sekali. Dan tebakanku tampaknya benar.”

“Apa menurutmu.. Aku harus memberinya kesempatan?” tanya Siwon. Ia berharap Kui Xian setidaknya akan memberi sedikit saja kata yang aneh, atau nada bicara yang aneh atau sinar mata yang tidak biasa atau bahkan ekspresi penuh kepura-puraan ketika menjawab.

Tapi di luar ekspektasinya, lelaki itu justru menjawabnya dengan riang. “Tentu saja. Kau harus memberinya kesempatan. Bukankah setiap orang berhak untuk bahagia? Carilah kebahagiaanmu. Berhentilah bersedih. Jika kau mempunyai kekasih, kau bisa berbagi suka dan duka  bersamanya, bukan? Maka segalanya akan terasa lebih ringan. Jadi, saranku, cobalah membangun sesuatu yang baru dengannya, kau berhak mendapatkan kebahagiaan.”

Siwon terpaku di tempatnya. Bagaimana kalau kebahagiaanku adalah sesuatu yang ada dalam dirimu? Bagaimana kalau ternyata dirimulah yang aku harapkan untuk berbagi suka dan duka? Bagaimana kalau pada kenyataannya aku mengharapkan sebagian darimu adalah milikku yang hilang?

*

wonkyu dwcme

To Be Continued..

PS : HAPPY 26TH BIRTHDAY TO OUR BELOVED EVIL MAGNAE, CHO KYUHYUN

HOPE HE HAS A BLAST TODAY AND MAY GOD ALWAYS BLESS HIM IN EVERYTIME..

MUCH LOVE KYUHYUNNIE.. ❤