Million Words – Chapter 4

Title                      : Million Words

Rate                      : T+

Genre                   : BL, Romance, Angst

Pair                        : ChangKyu, BinKyu

Cast                      : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star                : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning              : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 4

‘Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku mencintai Changmin dan aku akan terus ada disampingnya.’

Kata-kata itu terus bergema di kepala Kyuhyun tanpa henti. Sebenarnya ia tidak perlu berpikiran seperti itu andai saja Kim Woobin tidak menghadiahkan sebuah ciuman singkat padanya seminggu lalu.

Ciuman itu seharusnya tidak berarti apa-apa. dan memang seharusnya seperti itu. Namun entah mengapa Kyuhyun tidak bisa mengabaikan debaran-debaran aneh di jantungnya saat itu. Debaran yang biasanya hanya untuk Changmin. Dan ia benci harus mengakui kalau ia sempat merasakan debaran seperti itu untuk seseorang anak kecil seperti Kim Woobin.

Kyuhyun bersandar di kaca ruang guru yang menghadap langsung ke lapangan basket di bawah sana. Memandangi anak-anak murid yang melakukan aktivitas di sekitar lapangan basket. Bersenda gurau, bermain basket, mengobrol atau hanya duduk di sana sambil memainkan smartphone mereka.

Kemudian pandangan Kyuhyun jatuh pada sosok lelaki tegap yang belakangan membuat kepalanya pusing setengah mati dengan tingkah, kata-kata dan perlakuan manisnya. Dan nyaris membuat Kyuhyun terbuai. Kim Woobin tengah mengobrol dengan beberapa teman perempuannya sementara kedua kelincinya duduk dengan tenang di samping kanan kirinya bagai pengawal yang tengah menjaga rajanya.

Lelaki itu tampak bicara dengan wajar namun sepertinya ia tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari tatapan-tatapan memuja dari para gadis di sekitarnya. Memang sudah sewajarnya para gadis itu menyukainya. Apa kurangnya anak itu? Walaupun dia malas dan pemberontak, namun ia tampan, cerdas, baik hati dan kaya raya.

Dan sudah semestinya ia bergaul dengan sesamanya. Bahkan ia seharusnya menjalin hubungan dengan gadis seumurannya. Kalaupun ia tidak menyukai wanita, setidaknya ia berhubungan dengan lelaki sepantaran umurnya, bukan dengan Kyuhyun. Salah dan menyalahi aturan. Walaupun dalam cinta segalanya sah-sah saja, tapi dalam kehidupan nyata, perbedaan umur mereka yang cukup jauh apalagi dengan status Kyuhyun sebagai guru membuat mereka memang tidak boleh bersama dalam arti khusus.

Kembali Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri. Ia telah berjanji dalam hati bahwa ia akan menghadapi Woobin dengan perasaan yang netral dan ia harus kembali ke jalan yang lurus, bersama Changmin.

“Mengapa kau selalu melamun akhir-akhir ini?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya lalu menoleh dengan senyum yang dipaksakan. “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.”

Lee Hyukjae menyipitkan matanya. “Berpikir? Baiklah, aku ralat. Mengapa kau selalu berpikir belakangan ini?”

“Bukankah semua manusia selalu berpikir setiap hari?” Kyuhyun balas bertanya.

“Kau tahu maksudku.”

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia tidak ingin membicarakan hal ini dengan siapa-siapa. Hal ini cukup dirinya sendiri yang tahu sebagai rahasia kecil dan gelap didirinya, tidak untuk dibagi ke siapapun.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja memang aku sedang ada sedikit masalah.”

“Dengan Changmin?”

Kyuhyun memberenggut. “Mengapa kau selalu menyangkut-pautkan segala sesuatunya dengan Changmin? Apa aku tidak punya kehidupan lain selain Changmin?”

“Memang tidak. Aku sudah cukup lama mengenalmu dan hidupmu selalu seputar Changmin. Jadi jika kau jadi seperti ini, sudah pasti ada hubungannya dengan dia.”

Kyuhyun jadi kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa menyalahkan Hyukjae yang setidaknya cukup dekat dengannya di sekolah hingga tahu seperti apa kehidupan sehari-hari Kyuhyun. Namun sekali lagi, Kyuhyun enggan buka mulut. Cukup ia sendiri yang tahu.

*

Rona merah muda yang menjalar di pipinya ketika Changmin memberinya pujian atas inisiatif Kyuhyun untuk membelikan iPad baru untuk Changmin sebagai organizer.

“Terima kasih, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku hanya tidak mau kau kerepotan dengan laptop. Bukankah iPad jauh lebih praktis?”

“Tentu saja. Sekali lagi, terima kasih, Kyu. Kau benar-benar mengerti diriku.”

“Kapan aku tidak mengerti dirimu?”

Itu adalah percakapan terakhirnya dengan Changmin sekitar dua minggu yang lalu sebelum tunangannya itu pergi ke Tokyo. Dan seharusnya Changmin sudah ada di apartemen saat ini, karena pesawatnya tiba pagi tadi.

Akhir-akhir ini Changmin jauh lebih sibuk daripada sebelum-sebelumnya. Yayasan keluarganya benar-benar menarik minat banyak sekali orang di luar sana yang mengharuskan mereka membuka beberapa cabang hingga ke Tokyo.

Andai Kyuhyun tidak punya pekerjaan, ia pasti akan dengan senang hati ikut ke berbagai tempat yang Changmin datangi, walaupun natinya ia hanya akan menonton apa yang dilakukan kekasihnya itu. Tapi tak apa, asal ia bisa terus bersama Changmin daripada sendirian di apartemen mereka.

Sebuah bunyi bip kecil membuat Kyuhyun segera meraih ponselnya dari balik saku celananya dan membaca pesan yang masuk dengan riang. Namun wajahnya berubah ketika ia melihat nama si pengirim pesan.

(From : Idiot) “Mengapa kau terlihat selalu murung akhir-akhir ini? Aku merindukan senyummu.:(“

Kyuhyun mengabaikan pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Namun setelah sepuluh menit, kembali ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan lain masuk.

(From : Idiot) “Mengapa kau tidak membalas pesanku? Jangan memaksaku untuk nekad. Tolong balas pesanku agar aku tahu kau baik-baik saja.”

Kyuhyun memberenggut melihat pesan itu. Mengapa anak kecil ini mudah sekali mengancamnya? Dengan cepat ia membalas pesan itu.

(From : Sweet Pumpkin) “Kau masih juga tidak mengerti mengapa aku murung?”

(From : Idiot) “Bukankah aku sudah minta maaf untuk kesekian kalinya mengenai ciuman itu? Harus berapa kali aku minta maaf? Andai aku tahu bahwa tindakanku tempo hari bisa menghilangkan senyummu, aku tidak akan pernah melakukannya.”

(From : Sweet Pumpkin) “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku enggan membicarakan hal itu lagi? Mengapa kau terus-menerus membicarakannya?”

(From : Idiot) “Karena itulah yang membuatmu murung. Apa yang harus kulakukan agar kau mau tersenyum lagi? Aku bahkan rindu omelanmu.Apa aku harus menciummu sekali lagi agar kau langsung bereaksi?”

(From : Sweet Pumpkin) “Ya! Bukankah sudah kukatakan berhenti membicarakannya? Dan jangan berani menciumku lagi!”

“Anak ini benar-benar membuatku naik darah! Kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan..”

“Akan apa?”

Kyuhyun tersentak. Tanpa memutar tubuhnya pun ia tahu siapa yang tengah berdiri di belakangnya. Tentu saja, ia lupa bahwa Kim Woobin suka mengikutinya kapan dan dimana pun. Bagaimana mungkin ia melupakan hal sesederhana itu?

“Berhenti mengikutiku!” kata Kyuhyun ketus lalu melanjutkan acara jalan kakinya ke halte bus seolah tidak ada interupsi sebelumnya.

Tapi langkah-langkah berat di belakangnya tidak juga berhenti mengikutinya dan harapan Kyuhyun agar bertemu banyak orang di halte bus hancur ketika melihat halte tersebut kosong melompong. Yang artinya hanya akan ada dirinya dan Woobin di sana.

“Mengapa kau menolak aku untuk mengantarmu?”

Masih dengan nada ketus, Kyuhyun menjawab. “Aku bisa pulang sendiri.”

Lalu ponselnya berbunyi lagi, kali ini sebuah nada dering yang Kyuhyun atur khusus untuk Changmin.

“Changmin-ah..!” seru Kyuhyun bersemangat, mengabaikan raut muka menjengkelkan milik Woobin di sebelahnyal ketika ia menyerukan nama Changmin dengan mesra.

“Kyuhyun-ah, apa kau sudah selesai mengajar?” tanya Changmin di seberang sana.

“Tentu saja. Aku sedang menunggu bus. Sebentar lagi aku akan tiba di apartemen. Tunggu aku di sana, ne?”

Sunyi sesaat. Wajah ceria Kyuhyun berangsur-angsur lenyap. Ia kemudian menggigit bibirnya dengan tampang sedih.

Woobin yang sedari tadi memperhatikannya jadi sedikit penasaran. ‘Nah, apa maksudnya itu? Mengapa wajahnya jadi seperti itu?’

“Jadi.. Kau tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini?”

‘Brengsek!’ maki Woobin dalam hati. Kembali ia memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun. Kini lelaki itu menggigit bibirnya lebih keras seraya mati-matian menahan gumpalan air yang mengambang di pelupuk matanya.

Dada Kim Woobin terasa berat. Entahlah, melihat Kyuhyun seperti ini membuat emosinya bergejolak. Lelaki tolol mana yang tega meninggalkan kekasih seperti Kyuhyun seperti ini?

“Tidak apa-apa, sungguh. Aku memang sedikit pilek, tapi aku sudah meminta obat di klinik tadi. Besok pasti akan sembuh. Baiklah, jaga kesehatanmu. Hubungi aku kalau kau sudah tidak sibuk lagi. Sampai jumpa.”

Begitu Kyuhyun memutuskan pembicaraan itu, pecah sudah tangisnya. Sakit di hatinya membuatnya lupa dimana ia berada saat itu dan bagaimana ia sudah berada dalam pelukan Woobin. Dengan perasaannya saat ini, dengan kesedihannya serta kebutuhannya akan teman bicara, ia jadi lupa mengusir Woobin.

Setelah puas menangis, barulah Kyuhyun menyadari bahwa ia tengah memeluk Woobin dengan erat. Seharusnya ia melepaskannya, seharusnya ia segera memisahkan tubuh mereka yang bersatu dan seharusnya ia merasa malu atas tindakannya ini.

Namun sebaliknya, ia merasakan hal yang berbeda. Ia tidak ingin melepaskan dekapan hangat itu. Bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya dari dada bidang itupun ia enggan. Dan anehnya, ia merasa sangat nyaman disana, rasanya seperti.. di rumah.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mendengar suara berat Woobin menanyainya seraya mengelus punggungnya lembut. Karena tak mendengar jawaban apapun, Woobin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah guru Geografinya itu.

“Lihatlah, wajahmu sampai memerah karena terlalu banyak menangis. Ayo, aku akan mengantarmu pulang lalu kau bisa makan dan beristirahat.”

Andai saja Woobin tahu wajah Kyuhyun memerah bukan karena menangis, mungkin anak nakal itu akan tertawa terbahak-bahak sambil terus menggoda Kyuhyun.

*

“Makanlah, nanti sup mu dingin.”

Kyuhyun mengamati semangkuk sup yang baru saja selesai dimasak oleh Woobin. Asap menggepul di atas mangkuk itu disertai aroma yang enak, membuat perut Kyuhyun semakin meraung minta diisi.

“Aku baru tahu kalau kau bisa memasak.” Kata Kyuhyun setelah menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Dan ia harus mengakui bahwa masakan Woobin memang lezat. Sungguh kontras dengan wajah si pembuat sup yang begitu dingin.

“Kau tidak pernah belajar untuk mengenalku, wajar saja semuanya terasa asing bagimu.” Kata Woobin seraya ikut duduk di samping Kyuhyun, meraih remote televisi kemudian menyalakan benda kotak bermerek mahal dengan tipe keluaran terbaru itu.

“Jangan sakit hati.”

Woobin tertawa. “Sama sekali tidak. Justru dengan begitu, aku terasa sangat misterius bagimu, bukan? Jauh lebih menantang.”

Keduanya lalu terdiam setelah itu. Kyuhyun sibuk menghabiskan supnya sedangkan kedua mata Woobin terpaku di televisi. Lama-kelamaan Kyuhyun baru menyadari bahwa Woobin sebenarnya tidak menonton. Tatapan lelaki itu kosong dan matanya sama sekali tidak bergerak mengikuti pergerakan di layar televisi.

Kyuhyun ingin menyadarkan lelaki itu namun harga diri menahannya. Maka ia meletakkan mangkuk nya di meja dengan bunyi berisik agar Woobin tersadar. Dan benar saja, segera setelah itu, Kim Woobin menoleh padanya lalu tersenyum.

“Kau sudah selesai makan? Beristirahatlah.”

“Aku tidak lelah.”

“Tapi kau sedang sedih. Tidur akan sangat baik untukmu. Kau bisa melupakan kesedihanmu sejenak.”

“Aku ingin minum sedikit baru tidur.”

“Tidak!” sanggah Woobin dengan nada bossy-nya seperti biasa. “Kau akan mengajar besok pagi. Kau butuh istirahat.”

“Tapi aku ingin minum sedikit untuk meredakan kesedihanku.” Kyuhyun masih bertahan dengan keras kepalanya. Anehnya ada rengekan dalam nada suaranya.

Woobin menatapnya dengan galak. “Tidak akan kubiarkan kau minum walau setetes pun. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Aku akan pergi jika kau sudah benar-benar terlelap.”

Mungkin terdengar biasa saja. Mungkin orang-orang akan membenci sikap berlebihan Woobin atau sikap Kyuhyun yang membiarkannya diatur oleh anak kecil apalagi orang itu sudah jelas-jelas menyukai dirinya. Namun, bagi Kyuhyun ini bagaikan angin segar. Woobin memperlakukannya dengan normal.

Tidak, jangan berpikir bahwa Changmin tidak memperlakukannya dengan normal. Tapi ia sendiri tidak bisa mencegah perasaan hangat yang terbit di hatinya. Ketika Woobin memeluknya kala ia menangis, kala Woobin berdebat dengannya hingga melarangnya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kyuhyun menyukai semua itu. Ia merasa gairahnya kembali membara. Ia seperti.. hidup kembali.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun langsung mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak bisa memanggilku dengan sopan? Setidaknya panggil aku Kyuhyun-ssi.”

“Bagaimana dengan Kyuhyun-ah? Ah.. Itu sama saja dengan panggilan tunanganmu itu. Aku akan memanggilmu Kyuhyunnie.” Kata Woobin dengan cengiran lebar.

Cebikan di bibir Kyuhyun semakin dalam, walau sebenarnya dalam hatinya ia menyukai kata ‘Kyuhyunnie’. Terdengar manis walau sedikit kekanakan.

“Jangan menggodaku.”

Kyuhyun segera melepaskan tautan cebikan di bibirnya ketika jemari Woobin menari diatas permukaan bibirnya.

“Aku benar-benar terpesona olehmu.. Aku.. Sulit sekali mengabaikannya..”

Genderang di jantung Kyuhyun bertabuh dengan kencang ketika wajah Woobin mendekat dan semakin mendekat hingga Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di wajahnya.

Dan ketika bibir mereka bersatu, Kyuhyun hanya bisa terdiam. Terpana akan buaian itu. Terkejut akan manisnya bibir lain yang dengan berani menjamah miliknya saat itu. Kemudian Woobin melepaskan kecupannya. Namun ia tidak menarik wajahnya menjauh, melainkan tetap nyaris menempel. Mata keduanya saling menatap, seolah saling memberikan pesan.

Detik berikutnya, entah siapa yang memulai, mereka sudah mulai saling memagut dengan panas. Bibir keduanya saling beradu dalam tempo cepat, berusaha saling menghancurkan bibir satu sama lain. Ketika Kyuhyun menghisap keras, Woobin juga melakukan hal yang sama, membuat Kyuhyun semakin bersemangat melahap bibir kenyal dalam pagutannya itu.

Lidah mereka saling bermain bagai dua sahabat yang baru saja bertemu setelah terpisah sekian lama, mengalirkan getaran ke seluruh tubuh Kyuhyun. Apalagi tangan Woobin sudah mulai beralih dari mengelus punggung Kyuhyun lalu turun ke paha dan mulai meremas kasar di sana.

“Ahhhhh…”

Kyuhyun hanya bisa mendesah di sela-sela ciuman mereka. Satu tangannya mulai menjambak bagian belakang rambut Woobin sedangkan tangan lainnya menggesek kasar dada bidang lelaki itu.

Ciuman mereka terlepas, Woobin mulai menciumi pipi lalu turun dan menjamah leher jenjang Kyuhyun dengan jilatan-jilatan memabukkan tanpa meninggalkan bekas di sana. Lidahnya menari-nari dnegan lincah, membuat tubuh Kyuhyun semakin bergetar dibakar gairah baru.

“Ohhhh..”

Desahan Kyuhyun semakin kencang tatkala Woobin mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan mendaratkan kecupan serta jilatan lain di sana. Benar-benar membuat Kyuhyun semakin panas dan melupakan akal sehatnya.

Lalu deringan ponsel Woobin menyadarkan mereka. Dengan terengah-engah Woobin meraih ponselnya dan cukup terkejut melihat nama si penelepon. Ia mengatur nafasnya sebentar lalu menjawab telepon itu dengan nada suara yang cukup aneh. Keningnya berkerut ketika mendengar suara di seberangnya lalu dengan sedikit marah, ia menjawab.

“Aku akan segera kesana.”

Ia lalu berpaling pada Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah merona merah. woobin lalu mengancingkan kembali kemeja Kyuhyun serta merapikannya sedikit.

“Aku harus pulang. Ibuku membutuhkanku. Beristirahatlah.” Katanya seraya mengelus pipi Kyuhyun. Sebelum ia bangkit, ia mendaratkan kecupan kecil di dahi Kyuhyun lalu bergegas meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Kyuhyun yang masih belum bisa percaya atas apa yang baru saja terjadi.

*

“Kau suka yang mana? Aku mau yang warna biru.” kata Kyuhyun seraya menunjuk sebuah gambar sofa di katalog yang tadi ia ambil di sebuah toko furniture. Kala itu ia dan Changmin tengah duduk santai di depan televisi sambil bercengkrama.

            “Terserah padamu. Apapun pilihanmu, aku akan mengikutinya.” jawab Changmin seraya mendekap tubuh Kyuhyun lebih erat agar Kyuhyun lebih merapat ke tubuhnya.

            “Eh?¨Terserah padaku? Tapi ini akan jadi sofa milik kita berdua. Kita akan memakainya bersama, bukan? Sudah seharusnya kita memilihnya bersama.”

            Changmin mengangguk. “Benar. Tapi aku menyerahkan keputusannya padamu. Apapun yang kau pilih, aku akan setuju.”

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatap sungai Han yang mengalir tenang di depannya seraya memeluk lututnya. Ia mengingat segala yang pernah ia lewati bersama Changmin. Ia selalu menjadi sosok mandiri ketika bersama tunangannya itu. Ia juga diberikan kebebasan penuh untuk menentukan sesuatu, Changmin akan manuruti kemauannya tanpa protes.

Kalian menyukai hal itu? Mungkin iya. Tapi tidak bagi Kyuhyun. Karena terkadang ia terkesan egois, tidak pernah memikirkan kemauan Changmin seperti apa.

“Mengapa kau selalu mengikuti kemauanku?” tanya Kyuhyun suatu hari.

            “Karena itu bisa membuatmu bahagia.” jawab Changmin dengan santai seolah mereka tengah piknik di alam terbuka.

            “Tapi, seharusnya kau juga mempertahankan pendapatmu. Jadi aku tahu apa yang menjadi keinginanmu.”

            “Kita hanya akan berdebat nantinya.”

            “Bukankah sesekali berdebat itu perlu?”

            Changmin menghela nafas. “Untuk apa berdebat jika masalah bisa terselesaikan dengan mudah?”

Itulah Changmin. Ia mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Ia selalu mengalah, sabar dan menuruti kemauan pasangannya. Siapapun pasti akan sangat betah menjadi kekasihnya. Begitu juga Kyuhyun sampai kemarin. Sampai ia menyadari bahwa sebenarnya banyak kekurangan dalam kisah cintanya dengan Changmin.

“Kyuhyun hyung, maaf menunggu lama. Ayo kita pergi. Aku sudah puas memotret.” Jongin tahu-tahu sudah muncul di depannya dan memamerkan kamera pocket-nya.

Kyuhyun memang meminta Jongin dan Myungsoo untuk memanggilnya dengan sebutan hyung di luar sekolah. Ia sama sekali tidak pernah meminta Woobin untuk melakukannya karena ia sudah tahu jawabannya. Saat ini mereka berempat tengah mengunjungi sungai Han di sore hari yang cerah itu.

“Maksudmu sudah puas bergaya dengan berbagai posisi sementara aku memotretmu?” sindir Myungsoo seraya menyipitkan matanya, menyindir sang sahabat.

Jongin hanya bisa nyegir kuda dengan sindiran Myungsoo. Keduanya memang selalu saling ejek tapi mereka tidak pernah sekalipun berselisih.

“Bukankah aku meminta kalian menemani Kyuhyun? Mengapa kalian meninggalkannya sendiri?” Woobin sudah muncul diantara mereka.

“Kami hanya memotret sebentar. Lagipula tadi hyung sendiri yang minta untuk sendirian.” Jawab Jongin cepat.

“Jongin benar. Aku sendiri yang meminta mereka untuk meninggalkanku. Aku hanya ingin menikmati sore hari yang cerah seperti ini di sungai Han. Aku takjub sekali. Sudah bertahun-tahun aku tidak menikmatinya seperti ini.” Kyuhyun membenarkan.

“Hahh? Hyung sudah lama tidak kemari? Huahhh.. Kau pasti sangat kesepian, hyung. Apa kau tidak punya teman untuk diajak kemari, hyung?” tanya Myungsoo dengan polosnya.

Woobin cepat menghardik sahabatnya itu. Jongin bahkan ikut menyikut pinggang Myungsoo agar lelaki itu tutup mulut. Barulah ia sadar bahwa kata-katanya sangat menyinggung. Woobin baru akan mengomeli sahabatnya ketika Kyuhyun menyanggahnya.

“Jangan salahkan mereka. Salahkan dirimu sendiri. Siapa yang tadi mengajakku kemari lalu menjauh dariku karena menerima telepon dari entah siapa.”

Woobin mengerling nakal. “Jangan cemburu. Itu dari ibuku. Akhir-akhir ini beliau memang lebih banyak bicara denganku.”

Entah mengapa raut wajah Woobin sedikit murung ketika topik pembicaraan harus menyebutkan kata ‘ibu’.

“Kau baik-baik saja?” Kyuhyun bertanya seraya menyentuh lengan anak bandel itu.

Kim Woobin tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Nah, sekarang sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar sekali.”

Dengan sekali sentak, tangan besarnya sudah menyelimuti Kyuhyun dan menempelkannya di tubuhnya. Kyuhyun hanya diam dengan perlakuan Woobin. Ia menegadah menatap lelaki itu. Walau ia tengah memeluk Kyuhyun seperti ini dan ia juga tengah bersama sahabat-sahabatnya, tetapi tampaknya ia menyimpan sesuatu, tampak jelas bahwa ia tengah sibuk berpikir.

Apa benar ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati.

*

            Kyuhyun sudah tertidur pulas ketika dirasakannya sebuah ciuman mendarat di pipinya. Bersamaan dengan itu, sebuah lengan hangat memeluknya dari belakang.

“Hei.. Apa kau sudah tidur?”

Suara lembut itu. Shim Changmin. Setelah memperpanjang masa tinggalnya hingga nyaris sebulan di Tokyo, akhirnya ia pulang juga malam itu.

Kyuhyun mengeliat bak anak kucing. “Kau sudah pulang?”

Changmin hanya menjawab dengan ‘hmm’ pendek. Wajahnya tenggelam di lekukan leher Kyuhyun dan menikmati aroma apel segar yang masih melekat di sana, aroma shampo Kyuhyun.

“Maaf kalau aku pergi terlalu lama. Dan maaf telah meninggalkanmu sendirian.”

“Tidak apa-apa. Kau pergi untuk bekerja, bukan? Aku mengerti.” ujar Kyuhyun diantara kantuknya.

“Aku merindukanmu..” kata Changmin lagi, masih membenamkan diri di tubuh kekasihnya.

“Aku tahu. Apa kau sudah makan? Kalau kau sudah, beristirahatlah. Besok kau akan kembali bekerja bukan?”

Changmin menolak dengan gelengan kecil. “Aku lebih lapar melihatmu daripada melihat makanan di meja makan. Aku merindukanmu..”

Kyuhyun bisa merasakan nafas Changmin memberat. Tangannya mulai bergerilya mulai dari dada, perut hingga paha Kyuhyun. Bibirnya sudah mulai memberi kecupan-kecupan kecil di leher Kyuhyun, bahkan terkadang ia menghisap lembut. Changmin ingin bercinta.

Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak merasakan getaran aneh dari rangsangan yang diberikan Changmin? Bahkan ketika Changmin mulai bermain di daerah khususnya, ia tidak merasakan sesuatu yang membakar birahinya.

“Ada apa denganmu?” tanya Changmin keheranan. Ia menghentikan aksinya seketika.

Kyuhyun menjawab tergagap. “A.. Aku baik-baik.. saja. Hanya lelah kurasa. Siswa kelas tiga sudah akan menempuh.. ujian. Jadi aku..”

Changmin menghela nafas panjang. “Baiklah, aku mengerti. Seharusnya aku juga beristirahat karena besok pagi aku harus segera kembali ke kantor. Walaupun ini pertama kalinya kau menolakku, tapi aku mengerti. Kita bisa melakukannya besok. Nah, selamat malam Kyuhyun-ah. Saranghae..”

Changmin lalu mengecup pipi Kyuhyun kemudian berbaring dan mulai terlelap. Kyuhyun menggigit bibirnya. Walaupun nada suara Changmin tidak terdengar kecewa sama sekali, namun di sudut hatinya ia merasa jahat.

Bagaimana mungkin ia menolak Changmin? Mengapa ia melakukannya? Mengapa ia tadi tidak merasakan apa-apa? Dan mengapa.. Ketika Changmin menyentuhnya, ia justru berharap Woobin yang melakukannya?

*

changkyu5

To be continued..

Advertisements

Million Words – Chapter 1

Title : Million Words – Chapter 1

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin.

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin , and others.

Genre : BL, Romance, Angst.

Rate : T

Seoul International High School merupakan salah satu sekolah lanjutan terbaik yang pernah ada di Korea Selatan. Fasilitas yang memadai, tingkat kecerdasan siswa di atas rata-rata, kedisiplinan, staf  dan tim pengajar yang profesional serta akreditasi sekolah yang baik merupakan kriteria mutlak yang telah di miliki.

Berotak pintar dan berasal dari keluarga terpandang. Jika kau tidak memenuhi salah satu dari kriteria tersebut, jangan pernah berharap untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah impian tersebut. Merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi orang tua manapun jika anaknya mampu bersekolah di tempat itu.

Pluk!

Seseorang yang tengah sibuk dengan kegiatannnya sendiri menoleh dengan enggan pada siapapun yang telah mengusik perhatiannya. Dan sorot ketidaksukaannya terlihat sangat kentara hanya dengan tatapan tajamnya.

“Ya! Woobin-ah, berhenti menatapinya terus menerus seperti itu.” Seru seorang namja tampan bernama Myungsoo yang baru saja menepuk bahu sahabatnya itu.

“Aku tidak melakukan apapun.” Jawab Woobin acuh.

Jongin, namja lain yang sedari tadi sibuk dengan kaleng softdrink-nya mendecih mendengar ucapan Woobin.

“Kau memang tidak melakuakan apapun kecuali memandangi guru itu dengan tatapan seolah-olah kau ingin memakannya, Kim Woobin-ssi.” Sahutnya sarkatik yang sontak membuat Myungsoo terbahak. Sangat kontras dengan Woobin yang bersikap acuh seolah tak terjadi apapun.

Woobin kembali mengedarkan pandangannya. Mengabaikan kedua sahabatnya yang masih terkekeh dengan bodoh, menurutnya. Dan perhatiannya kembali terpusat pada seseorang yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Ia seolah sama sekali tidak terganggu dengan puluhan siswa yang lalu lalang menghalangi objek pandangannya. Kedua mata tajamnya seperti telah terpaku pada seorang lelaki pucat yang tengah duduk bersama kawan sejawatnya.

Dapat ia lihat dari salah satu sudut cafetaria yang ia tempati, sosok yang ia pandangi itu tengah berbicara dan sesekali tersenyum menanggapi lelucon yang di lontarkan lawan bicaranya. Ada rasa tidak suka yang ia rasakan ketika melihat senyuman tersebut bukan di tujukan untuk dirinya. Semacam perasaan posesif? Atau malah cemburu? Entahlah.

Tapi meskipun demikian, tak dapat di pungkiri jika ia juga menyukai, teramat sangat menyukai ketika lelaki manis itu tersenyum yang membuatnya tampak berkali lipat lebih manis dari biasanya.

Ia sendiri tidak tahu semenjak kapan dirinya mulai memiliki rasa tertarik pada sosok yang ia sendiri tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Yang ia ketahui hanyalah sekedar bahwa objek perhatiannya itu bernama Cho Kyuhyun, salah satu guru Geografi di sekolahnya. Guru yang cukup populer di kalangan siswa Seoul International High school. Bukan hanya karena wajah manisnya yang membuatnya banyak di idolakan oleh kebanyakan penghuni sekolah, namun juga karena pembawaannya yang menyenangkan. Terlebih ia juga di kenal sebagai guru yang cerdas dan berwawasan luas untuk guru yang usianya baru 27 tahun.

Semenjak masuknya setahun lalu di sekolah ini, Guru Cho itu memang langsung di tugaskan untuk mengajar siswa tingkat akhir. Hingga ia yang dulu masih duduk di tingkat 2 hanya mampu mengamati dan memperhatikan guru idola itu dari jauh. Seperti saat ini yang tengah ia lakukan.

Tapi tidak untuk saat ini, karena semenjak seminggu yang lalu ia telah resmi naik kelas dan menjadi siswa tingkat akhir. Fiuh, ia tidak sabar pada hal menarik apa yang akan terjadi di waktu mendatang.

“Kau merencanakan sesuatu, Binnie?” Tukas Jongin yang melihat seringaian tampak di wajah tegas sahabatnya. Sementara Myungsoo tampak setia menunggu reaksi yang muncul selanjutnya.

Woobin yang di panggil dengan panggilan ‘manis’ itu sontak mendelik pada Jongin, “Berhenti memanggilku dengan nama menggelikan itu, Kim Jongin.” Desisnya mengintimidasi sebelum ia bangkit dari tempat duduknya dan merapikan pakaiannya dengan sikap arogan.

“Palajaran akan segera di mulai, ayo kembali ke kelas.” Ucap Woobin tenang seraya berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang saling bertatapan heran.

Hey, sejak kapan seorang Kim Woobin masuk kelas tepat waktu?

*

Keheranan Duo Kim yang tidak lain adalah Jongin dan Myungsoo terjawab sudah. Ah, mungkin bukan hanya mereka berdua saja yang merasa heran. Bahkan hampir sebagian anak-anak kelas 3 Social 1 pun juga merasakan hal yang sama.

Seorang Kim Woobin, salah satu siswa bad boy yang terkenal bersikap semaunya itu masuk kelas tepat waktu! Terlebih namja itupun kini tampak duduk manis di salah satu sudut kelas, meskipun sikap arogansinya yang tetap tak lepas darinya. Hal yang patut di apresiasi karena kejadian seperti ini sangat langka terjadi.

Guru Cho. Guru geografi itulah jawaban yang Jongin dan Myungsoo yakini yang menjadi penyebab ‘keanehan’ Woobin siang ini. Bukan rahasia lagi bagi mereka berdua jika Woobin tertarik dengan guru berwajah imut itu.

Ini merupakan jam terakhir sebelum kegiatan belajar mengajar hari ini berakhir. Dan beruntung bagi kelas 3 Social 1, setidaknya di siang yang terik saat ini mereka tidak akan mengantuk mendengar ocehan dari guru yang kebanyakan telah lanjut usia yang terdengar monoton dan membosankan.

Ah, bagaimana mungkin mereka akan merelakan pemandangan langka ini. Dimana kini tampak seorang lelaki dengan wajah yang sedap dipandang tengah berdiri di depan kelas. Tampak sangat manis dengan kemeja semi formalnya yang berwarna grey dan celana bahan hitam yang membalut kaki jenjangnya. Rambut sewarna madunya terasa sangat kontras dengan kulit pucatnya. Tak lupa dengan sepasang manik caramel yang berbinar kekanakan. Tampak manis dan imut.

“Anyeonghaseyo. Selamat datang di kelas dan tahun ajaran baru. Perkenalkan, nama saya Cho Kyuhun. Kalian bisa memanggil dengan sebutan Cho Songsaenim. Dan saya adalah guru Geografi kalian selama satu tahun ke depan. Mari kita bekerja sama. Senang bertemu kalian.“ Sapa Kyuhyun seraya membungkukan tubuhnya pada kedua puluh siswa yang perhatiannya kini tertuju padanya. Tak lupa juga dengan senyum yang terpatri dari bibirnya yang membuat beberapa siswa tampak terkesima.

Mengabaikan reaksi siswanya, ia pun kemudian membuka daftar absensi dan mulai memanggil nama mereka satu persatu yang di balas dengan perkenalan singkat. Tak jarang sorakan anak-anak terdengar riuh saat salah satu dari mereka melontarkan rayuan ataupun kata-kata lucu untuk Kyuhyun.

Hingga terdapat jeda waktu sejenak ketika ia tidak mendengar suara dari pemilik nama yang baru saja ia panggil.

“Kim Woobin?”

Kyuhyun nyaris akan melanjutkan ke daftar nama selanjutnya ketika ia melihat salah satu namja mengangkat tangannya. Dan sebisa mungkin Kyuhyun menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat wajah dari pemilik nama Kim Woobin tersebut.

Wajah itu, wajah yang tampak familiar baginya. Ia yakin jika ia tidak salah mengenalinya. Bagaimana mungkin ia akan melupakan garis tegas wajah orang yang selama ini menguntitnya? Menguntit. Mungkin kata itu terdengar sedikit berlebihan. Namun adakah istilah yang lebih tepat untuk menyebut kegiatan seseorang yang mengamatimu dari kejuhan?

Ia tidak sedang berhalusinasi ataupun mengalami ketakutan yang berlebihan. Ia memang sering mendapati namja tersebut memperhatikan gerak-geriknya secara terang-terangan. Siswa bernama Woobin itu bahkan sama sekali tak berniat mengalihkan pandangan darinya ketika beberapa kali ia memergoki siswanya itu menatapnya dengan intens.

Pernah suatu kali ia bersikap acuh dan mengabaikan hal tersebut. Namun sayangnya rekan-rekan guru yang lain pun juga mulai menyadari jika siswa yang menurut mereka bengal itu selalu menatap mereka dengan pandangan menusuk ketika mereka sekedar mengobrol bersama.

Kyuhyun dengan cepat menguasai dirinya dan bersikap normal.

“Kau belum memperkenalkan dirimu, Woobin-ssi.”

Ketegangan terasa menyelimuti ruangan tersebut. Seolah bersama menunggu hal apa yang akan selajutnya terjadi.

“Apa yang ingin kau ketahui dariku?”

Pertanyaan yang sama sekali tak terduga oleh siapapun itu terlontar dari bibir Woobin.

Kyuhyun tersenyum mendengar kalimat tersebut. Ah, sepertinya predikat siswa bengal yang di berikan oleh rekan-rekannya pada Woobin memang benar adanya. Penampilannya memang serupa dengan teman-temannya yang lain. Pakaiannya tampak rapi. Berbeda dari kesan siswa bad boy yang kebanyakan berpakaian berantakan.

Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya. Sikapnya tampak angkuh dengan sorot matanya yang mengitimidasi yang membuatnya tampak membuat orang-orang segan mendekatinya.

“Kau bisa menyebutkan nama, hobi ataupun sekedar kegiatan apa yang kau gemari.”

“Benarkah?”

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah karena gugup di pandangi dengan intens seperti itu.

“Bagaimana kalau aku mengatakan jika aku memiliki hobi memperhatikan setiap gerak-gerikmu dari kejauhan? Lalu, apa kau juga akan keberatan jika akupun memiliki kegemaran memandangi wajah manismu itu ketika kau mengeluarkan berbagai ekspresi yang berbeda setiap saat, Cho Songsaenim?”

Sial! Wajahku pasti memerah!

*

             Kyuhyun menyandarkan tubuhnya lunglai pada pintu yang baru saja ia tutup. Ia menghela nafas panjang penuh kelegaan ketika ia sampai di apartemennya. Akhirnya rutinitasnya  yang melelahkan hari ini telah berakhir. Ia telah membayangkan jika setelah ini ia akan mandi dan segera mengistirahatkan tubuhnya di ranjang nyaman miliknya.

“Kau sudah pulang, chagi?”

Kyuhyun tersentak ketika ia mendengar suara seseorang menyap pendengarannya. Seketika ia tersenyum mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi menjulang telah berdiri di hadapannya.

“Changmin-ah?” Ia menghampiri lelaki tinggi itu, memeluk Changmin erat berusaha melepas kerinduannya pada lelaki tersebut. Changmin yang mendapat sambutan mengejutkan dari orang terkasihnya itu membalas pelukan Kyuhyun seraya membisiskan kalimat rindu padanya. Tidak bertemu dengan tunangan manisnya beberapa hari membuatnya sungguh tersiksa.

Setelah beberapa waktu, mereka pun melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Kyuhyun mengecup pipi Changmin sekilas dan tersenyum memandang wajah tampan kekasihnya,

“Kenapa kau tidak mengabariku jika kau akan pulang hari ini?” Tanyanya dengan nada merajuk yang di sambut senyuman maklum Changmin demi melihat sikap kekankan Kyuhyun.

Tiga hari yang lalu Changmin memang tengah melakukan perjalanan dinas di luar kota. Pekerjaannya sebagai pemilik yayasan sosial membuatnya sibuk keluar masuk-kota bahkan luar negeri hanya untuk mengikuti seminar ataupun kegiatan sosial lainnya.

Dan Kyuhyun sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Karena dari awalpun ia menyadari jika itulah konsekuensi yang harus ia hadapi demi menjalani hubungan dengan Changmin yang merupakan pewaris tunggal dari Shim Foundation. Sebuah yayasan sosial yang terkenal aktif dengan kepedulian dan kegiatan kemanusiaan mereka.

“Maafkan aku. Aku lupa memberitahumu, Kyu. Jika bukan karena Eomma yang memintanya, aku pun tidak akan pulang hari ini.”

“Omonim?” tanya Kyuhyun memastikan.

Changmin mengangguk, “Eomma meneleponku kemarin, jika hari ini ada makan malam dengan kolega Appa. Dan beliau pun memintamu juga untuk datang bersamaku, Kyu.”

Changmin mendudukan dirinya sofa, tepatnya di depan laptop yang teletak di meja ruang tamu. Meletakan segelas kopi yang baru saja ia buat di dapur yang untungnya tidak tumpah saat Kyuhyun memeluknya berberapa waktu lalu.

Sebenarnya ia sendiri ingin menolak permintaan ibunya karena pekerjaannya di Mokpo sendiri belum rampung. Terlebih ketika ia di minta harus datang bersama Kyuhyun yang memang kurang menyukai dengan acara-acara ‘membosankan’ seperti itu.

“Tapi jika kau keberatan, aku akan me –“

“Tentu saja tidak.” Kyu memotong ucapan Changmin, ia ikut mendudukkan diri di samping lelaki tinggi itu, “Aku akan datang bersamamu nanti malam.”

Changmin memandang Kyuhyun dengan skeptis, berusaha mencari keyakinan.

“Kau tidak perlu memaksakan diri, chagiya…”

“Pokoknya aku ikut!” Seru Kyuhyun keras kepala. Ia  tidak ingin mengecewakan orang tua Changmin dengan menolak permintaan ibunya. Dan lagi, ia juga tidak akan pernah rela membiarkan Changmin nantinya akan di perkenalkan pada putra-putra kolega ayahnya yang mengharapkan Changmin menjadi menantu mereka. Cemburu? Wajar bukan? Shim Changmin adalah tunangan sekaligus calon suaminya. Wajar jika ia merasa khawatir dan cemburu jika akan ada seseorang yang merebut Changmin dari sisinya.

Namja Shim itu hanya tersenyum mendengar kekeras kepalaan Kyuhyun. 7 Tahun menjalin hubungan dengan Kyuhyun membuat ia hafal dan paham akan sikap tunangannya itu. Salah satunya adalah sifat keras kepalanya yang memang sangat sulit di rubah.

“As you wish, chagiya.” Ucapnya yang di balas dengan senyuman kemenangan Kyuhyun.

Dan Changmin hanya menggelengkan kepalanya maklum ketika dengan seenaknya Kyuhyun meraih dan menghabiskan kopi yang ia buat. Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, lelaki berwajah pucat itu merebahan dirinya di sofa dengan menggunakan paha Changmin sebagai bantalnya. Mengabaikan niat Changmin yang ia tahu jika tunangannya itu berniat meneruskan pekerjaannya di depan laptopnya.

“Aku lelah.” Keluh Kyuhyun seraya memejamkan matanya perlahan.

Tanpa segan, Changmin pun membelai surai lembut Kyuhyun. Mencoba memberi kenyamanan padanya yang terlihat sangat kelelahan. Ia tidak pernah menyangka jika profesi menjadi pengajar membuat lelaki di pangkuannya ini menjadi kelelahan seperti saat ini. Sudah seringkali ia meminta Kyuhyun untuk berhenti dari pekerjaannya, namun dengan tegas Kyuhyun menolaknya. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil. Berbagi pengalaman dan ilmu yang ia miliki merupakan kesenangan tersendiri baginya. Begitulah yang Kyuhyun ucapkan padanya.

Changmin melihat sekilas arloji yang melingkar di tangan kirinya, “Tidurlah. Masih ada sekitar waktu empat jam lagi sebelum kita berangkat.” Pintanya yang dibalas gumaman lirih Kyuhyun yang kesadarannya mulai menipis.

Ia tersenyum. Menundukan kepalanya dan mencium sekilas kening Kyuhyun, “Have a nice dream, chagi…”

*

Entah sudah berapa kali Kyuhyun mengela nafasnya malam ini. Ia tidak peduli pada ungkapan jika satu kebahagiaan akan menghilang dari seseorang ketika ia menghela nafas. Karena pada kenyataannya kebahagiaannya malam ini telah hilang sejak ia menginjakan kaki di acara membosankan yang ia hadiri.

Jika bukan karena permintaan calon mertua dan rasa posesifnya terhadap Changmin,  ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan kaum sosialita yang membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Bahkan rasa kantuknya kini makin menjadi  karena siang tadi Changmin membangunkannya yang masih terlelap.

“Ku dengar kau baru saja membuka lembaga sosial baru di daerah Mokpo, Tuan Shim?” Tanya salah seorang lelaki paruh baya yang Kyuhyun kenali bernama Jung Yang Hyun. Salah satu CEO perusahaan marketing yang cukup sukses di Korea Selatan.

“Begitulah Tuan Jung. Realisasi proyek itu juga tidak akan berhasil jika bukan putraku yang memegang kendali. Kurasa sebentar lagi aku harus berpuas diri dengan menikmati masa tuaku  dan berdiam diri di rumah.”

Dan gelak tawa pun terdengar dari meja panjang yang di tempati oleh delapan orang itu. Kyuhyun sendiri hanya tersenyum sekilas demi menghormati orang-orang yang duduk di sekitarnya.

“Ya itulah gunanya regenerasi, tuan Shim. Sudah waktunya yang muda bergerak meneruskan apa yang selama ini kita rintis. Dan kau beruntung memiliki putra yang membanggakan seperti Changmin. Selain cerdas, berattitude baik, ia juga sangat tampan.” Puji Tuan Lee, salah satu pengacara yang juga merupakan sahabat Tuan Shim.

Dan akupun beruntung memiliki calon suami seperti Shim Changmin, ucap Kyuhyun tak kalah bangga dalam hati. Dari sudut matanya, ia dapat meilihat Changmin yang duduk si sisinya itu menundukkan kepalanya sedikit menanggapi pujian yang dilontarkan untuknya.

“Aku sungguh iri dengan kehidupanmu yang nyaris sempurna, Tuan Shim. Ngomong-ngomong soal Changmin…” Tatapan Tuan Lee, tertuju pada Changmin dan Kyuhyun. Dan entah kenapa perasaan tidak enak menghampiri Kyuhyun“…bukankah kalian sudah lama bertunangan? Kapan kalian akan segera menikah?”

Mendengar pertanyaan tersebut sontak saja membuat Kyuhyun menegang. Bukan sekali ini saja orang-orang menanyakan tentang hal tersebut padanya. Terutama dari pihak kedua orang tua Changmin yang seringkali mendesak mereka untuk segera menikah.

Pernikahan merupakan kata sensitif yang membuanya sedikit tidak nyaman. Bahkan tidak jarang karena topik itulah yang selalu menjadi penyebab ia dan Changmin berselisih paham.

Bukan karena ia tidak mencintai Changmin. Itu asumsi terbodoh Changmin yang pernah ia sangkal ketika tunangannya itu mempertanyakan perasaannya. Jika ia tidak mencintai Changmin, atas dasar apa selama ini ia bersedia menjalani hubungan dengannya selama 7 tahun sejak mereka SMA?

Belum siap. Itulah alasan yang selalu ia lontarkan pada Changmin jika namja tersebut mulai membahas mengenai pernikahan.

Ia sontak mendongak menatap Changmin ketika ia merasakan sebuah tangan besar menggenggam tangannya erat. Seolah megerti yang ia rasakan dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Perjalanan kami masih panjang. Masih banyak tujuan dan keinginan kami yang belum terrealisasi.” Changmin menatap Kyuhyun yang tampak terdiam, “Kami yakin, akan tiba masanya Tuhan akan mempersatukan kami suatu hari nanti.”

Dan Kyuhyun bersumpah jika ia dapat melihat senyum keterpaksaan muncul dari bibir Shim Changmin.

*

            Sunyi. Atmosfer itulah yang kini tengah menyelimuti keadaan dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang membelah malam kota Seoul. Lebih dari sepuluh menit tak ada kata yang terucap dari Changmin dan Kyuhyun. Changmin yang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Sementara Kyuhyun sibuk memandang keluar jendela. Memperhatikan setiap bayangan yang berkelebat dikegelapan malam. Entah apa yang terdapat dalam pikiran mereka.

Kyuhyun sendiri dalam keheningannya tengah memikirkan percakapan yang beberapa saat lalu membuatnya terasa canggung.

Selepas tuan Lee mempertanyakan tentang pernikahan, Changmin yang mengerti dengan ketidaknyamanan yang di rasakan Kyuhyun memilih untuk pamit pulang dengan alasan Kyuhyun yang tidak enak badan. Tentu saja mendengar alasan tersebut membuat Mrs. dan Mr. Shim khawatir. Pada awalnya mereka bahkan melarang Changmin dan Kyuhun untuk pulang dan memaksanya untuk menginap di rumah mereka. Namun sekali lagi, dengan sifat keras kepalanya Kyuhyun menolak hingga akhirnya mereka di perbolehkan pulang dengan catatan Changmin harus merawat Kyuhyun dengan baik.

Sungguh, mengingat perlakuan orang tua Changmin terhadap dirinya membuat Kyuhyun sangat bahagia dan bersyukur. Kedua orang tua Changmin telah ia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri mengingat ia yang seorang yatim piatu yang berasal dari panti asuhan.

Sejak bayi, ia tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya. Pengurus panti yang merawatnya hingga ia dewasa mengatakan jika ia menemukan dirinya di sebuah rumah kosong tak jauh dari panti asuhan tempat ia tinggal. Ia di buang. Itulah satu keyakinan yang tumbuh dalam pikirannya hingga saat ini. Dan karena itulah, seumur hidupnya ia tidak pernah mencoba atupun memiliki keinginan untuk mengetahui siapa kedua orang tuanya.

Dan kini ia telah menemukan kasih sayang orang tua pada sosok kedua orang tua Changmin. Sikap mereka sama sekali tidak berubah semenjak dulu pertama kali ia berpredikat sebagai sahabat Changmin hingga saat ini. Tetap saja perhatian dan menyayanginya layaknya putra kandung mereka sendiri. Tak jarang Changmin pun merasa cemburu dengan orang tua mereka yang menurutnya lebih menyayangi Kyuhyun dibanding dirinya.

Meskipun tidak pernah mengakuinya secara langsung, namun rasa kekecewaan jelas terlihat dari raut wajah kedua orang tua Changmin tiap kali mereka mendenggar jawaban Kyuhyun jika memintanya sesegera mungkin untuk menikah. Dan kini ia mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri. Pantaskah ia mengecewakan kedua orang  tuanya itu dengan mempertahankan pemikiran egoisnya? Terlebih pada Changmin, pria yang selama ini ia cintai?

Selain alasan kesiapannya yang selalu ia ucapkan pada orang lain, sesungguhnya dalam hati kecilnya ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan hubungan mereka. Jujur saja, ia merasa sedikit jenuh dengan hubungannya dengan Changmin selama ini. Bukan karena ia kekurangan kasih sayang dari kekasihnya, justru sebaliknya. Ia bahkan menerima limpahan kasih sayang dari Changmin hingga berujung pada kejenuhan.

Bisa dikatakan jika hubungan mereka selama ini datar, tanpa perselisihan yang berarti. Changmin seolah selalu menjadi sosok sempurna yang berusaha keras menjaga hubungan mereka agar tetap stabil. Saat mereka berselisih paham, Changmin akan segera mengalah demi menghentikan perselisihan itu.

Bahkan jika seseorang meracuni pikirannya dengan berita jika Kyuhyun akan direbut lelaki lain’ pun, ia hanya akan tersenyum dan menolak untuk percaya. Sama sekali tidak marah ataupun menunjukkan sisi cemburu yang sangat Kyuhyun dambakan.

Semua orang pasti memimpikan hubungan yang harmonis. Begitu juga Kyuhyun. Namun, dengan tidak adanya perselisihan, amarah dan kesalah pahaman, semuanya terasa hambar.

Ia ingin memiliki hubungan yang harmonis namun tetap bergejolak, yang menciptakan berbagai warna dalam hubungan mereka. Tapi dengan sikap Changmin yang terlalu sabar selama ini membuat Kyuhyun mempertanyakan dalam benaknya, apa ia bisa terus bertahan?

Jangan ragukan rasa cinta Kyuhyun. Ia sangat mencintai Changmin. Tapi ia ingin segalanya lebih berwarna, ia ingin segalanya lebih bergejolak, bukan datar seperti ini. Terkadang dengan jahatnya ia berpikir kalau hari-harinya bersama Changmin seperti rutinitas yang membosankan. Datar dan tanpa rasa. Bahkan hal itu terasa jelas ketika mereka berhubungan intim sekalipun.

“…Kyu? Chagiya?”

“Nng?” Kyuhyun sontak menoleh pada asal suara yang berasal dari sebelah kirinya. “Ada apa?” Tanyanya. Changmin terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun yang tampak terkejut dan bingung.

“Kau melamun.” Tuduh Changmin yang membuat wajah Kyuhyun memerah. Dan Kyuhyun merutuki dirinya sendiri yang sibuk melamun hingga tidak menyadari jika kini mobil yang mereka kendarai telah berhenti di depan apartemen mereka.

Changmin mengusap pipi tembam Kyuhyun dengan sebelah tangannya, “apa yang kau pikirkan, hm?”

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, sebelah tangannya menggenggam tangan Changmin yang ada di wajahnya, “Maaf…”

Kedua alis Changmin bertaut, tidak mengerti akan maksud dari kata yang Kyuhyun ucapkan.

“Maafkan aku yang telah mengecewakanmu…”

Changmin masih terdiam belum menanggapi apapun.

“Maafkan aku yang belum siap untuk melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih serius. Maafkan aku yang bersikap egois dan belum siap untuk menikah denganmu. Maafkan aku yang—“

Dan racauan Kyuhyun terhenti ketika Changmin menarik dirinya kedalam pelukannya. Menghentikan kalimat  dari bentuk rasa bersalah orang terkasihnya yang seolah menyalahkan dirinya sendiri.

“Jangan pernah sekalipun kau menyalahkan dirimu sendiri. Jangan sekalipun kau pedulikan pendapat ataupun tekanan orang lain di sekitar kita. Ini hidup kita. Kita yang akan menjalani kehidupan kita ke depannya. Bukan mereka. Kita yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita sendiri. Bukan juga orang lain.” Changmin mempererat pelukannya, memberi keyakinan pada Kyuhyun yang terdiam.

“Maafkan aku juga yang kadang bersikap egois dengan terus membahas hal yang aku tahu kau sendiri belum siap menjalaninya. Aku…aku hanya takut jika seseorang akan merebutmu dariku Kyuhyun-ah. Aku takut…”

Dan Kyuhyun hanya mampu mengeratkan pelukannya pada tubuh besar yang melingkupi dirinya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri dalam hati sebelum ia mengucapkan,

“Sampai kapanpun, aku tak akan pernah meninggalkanmu, Changmin-ah. Aku…aku berjanji…”

kyukyukyu

TBC

Heart Without a Home – Teaser

image

Cast :

Jung Yunho

image

 

 

Cho Kyuhyun

image

 

 

Do Kyungsoo

image

 

 

Ok Taecyeon

image

 

 

Kris Wu

image

 

 

Jung Yonghwa

image

 

 

Choi Minho

image

 

 

Kim Jongin

image

 

 

Lee Gikwang

image

 

 

Lee Ho Woon

image

 

The tale of the werewolf..

When the sun shines brightly on your day and the moonlight falls beautifully on your night, they’re not even perfect for your heart without a sweet home..

And the story has just begun..

Million Words – Teaser

image

 

Cast :

 

Cho Kyuhyun

image

 

 

Shim Changmin

image

 

 

Kim Woobin

image

 

 

Kim Jongin

image

 

 

Kim Myungsoo

image

“Love is undeniable. The more I avoid it, the more it get in and embrace me tightly..”
Cho Kyuhyun

 

“I’ve tried my best to defeat this. And I’m surely know that someday love will find a way..”
Shim Changmin

 

“Being in love is not a mistake, unless you fell for someone prohibited..”
Kim Woobin

 

It has been built for years. When the love was between the intersections, the uninvited intruder came then ruin everything right away all of a sudden. It’s hard to solve the chaos, it’s uneasy to getaway. How to apologize.. How to proclaim your love..

 

It’s not just a word, it’s millions..

Got a Baby

Title : Got a Baby

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline Member’s, Kim Jongin (Kai)

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-15

Genre : BL, Romance, M-Preg, Friendship, Little bit Humor, OOC, Typo(s).

Disclaimer : Another story of ChangKyu. Sequel from PREGNANT???

Summary : Kabar mengejutkan datang dari Kyuhyun ketika ia pulang dari Rumah Sakit. Bagaimana reaksi Shim Changmin mendengar kabar tersebut?

“Min-ah…”

Seseorang yang merasa dipanggil dengan nada manja itu sontak menghentikan kesibukannya yang tengah berkutat dengan pensil mekanik dan music book-nya.

“Eh, kau terbangun, chagi?” tanya Changmin heran pada namja manis yang tengah mendudukan dirinya di ranjang kamar miliknya. Ia pikir Kyuhyun telah tertidur lelap setelah ia meminum obatnya beberapa saat lalu. Maka dari itu ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ternyata Kyuhyun kini malah sedang duduk dengan mengusap mata sayunya serta rambut ikal coklatnya yang berantakan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil.

Kyuhyun hanya mengerang lirih menanggapi pertanyaan Changmin. Meskipun demikian, tak urung juga ia beranjak dari ranjang putih itu untuk  menghampiri sang namjachingu yang masih saja setia duduk di meja belajarnya.

“Kenapa kau terbangun, hm?” Changmin menyentuh kening Kyuhyun yang telah berdiri disisinya dengan memeluk lehernya,“tubuhmu masih panas, Kyu. Apa kau masih pusing?”

Kyuhyun menggeleng pelan, “kau sedang apa?” tanya Kyu mengabaikan kekhawatiran dan pertanyaan dari namja yang satu tangannya kini tengah merengkuh pinggangnya posesif.

Changmin hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, “aku sedang mencoba menulis lirik lagu. Apa kau ingin sesuatu?”

“Aku menginginkanmu.” Tukas Kyuhyun tanpa ragu meskipun dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.

Mendengar pernyataan ambigu tersebut membuat namja bermarga Shim itu menyeringai pervert.

“Aku ingin tidur ditemani olehmu, Changmin-ah…”

Seringai dari bibir lebar Changmin seketika menghilang dan berubah menjadi sorot kekecewaan karena dugaannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Mengabaikan kekecewaannya sendiri, ia pun bangkit dari posisi duduknya dan membopong tubuh Kyu dengan mudah seolah tanpa beban. Ia masih cukup punya hati untuk tidak meminta ber-this  and that ria  pada Kyuhyun yang sedang demam.

Dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh berisi Kyu di ranjangnya. Ia mematikan lampu untuk kemudian ikut merebahkan diri di sisi namjachingu-nya yang terlihat sangat mengantuk.

“Min-ah…” Panggil Kyu lagi. Kali ini dengan menatap langsung manik mata Changmin seperti memohon.

Mengerti dengan intonasi dan isyarat tersebut, Changmin pun tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun sebelum ia melepas beberapa kancing piyama yang ia kenakan. Membiarkan tangan dan wajah maknae Super Junior itu segera merangsek di dada bidangnya yang terbuka.

Sudah seminggu ini Kyuhyun memiliki kebiasaan baru yang entah harus Changmin syukuri atau ratapi. Setiap kali akan tidur, Kyu akan selalu memintanya untuk membuka pakaian atasannya. Melesakan wajahnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang menurutnya sangat maskulin dan membuatnya nyaman. Bahkan tak jarang ia akan mengusap lembut dada dan perut telanjangnya  yang membuat dirinya sedikit…ehm terangsang. Dan hal yang harus ia ratapi adalah ketika pada akhirnya ia sedikit turn on tapi Kyuhyun sendiri malah selalu menolak keinginannya untuk bercinta dengan alasan ia lelah.

Changmin mengusap punggung Kyuhyun lembut selagi kekasihnya itu tengah sibuk dengan hobi barunya. Dapat ia rasakan hembusan nafas panas Kyuhyun menerpa kulitnya, begitupun juga keningnya yang ia yakin memiliki suhu diatas normal.

“Besok kita pergi ke dokter, ne?” ajak Changmin untuk kesekian kalinya. Ia sudah hampir putus asa membujuk Kyuhyun yang semenjak kemarin selalu menolak ajakannya untuk ke dokter dengan berbagai alasan. ‘Aku hanya demam, Min-ah. Besok juga pasti sembuh’ atau ‘hari ini aku ada schedule’ dan berbagai alasan lainnya.

Tapi tanpa ia duga, Kyuhyun mengangguk lemah dengan sedikit gumaman dari bibirnya. Merasakan pergerakan tersebut, Changmin tersenyum sumringah.

Good boy.” Ujarnya seraya mengecup dan menyesap aroma rambut Kyu sebelum ia merengkuh tubuh lemas Kyuhyun untuk semakin mendekat padanya.

***

“Tapi hyung –“

Ucapan Changmin terpotong ketika dari line seberang, si penelepon yang tidak lain adalah manager-nya memutus sambungan teleponnnya tanpa permisi.

“Aissh!” erang Changmin melempar smartphone-nya ke tempat tidur dengan kesal.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun ketika ia yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran melihat Changmin yang mengerang kesal.

Namja yang lebih muda lima belas hari itu bangkit dan menghampiri Kyuhyun. Menggosokkan handuk berwarna putih di kepala Kyu untuk mengeringkan rambut basah sewarna madu milik sang namja imut yang baru saja selesai mandi.

“Kyunnie, mianhe. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit hari ini,”

Kyuhyun memiringkan kepalanya menatap Changmin bingung.

“…tadi manager hyung meneleponku jika sekarang aku ada filming promtional kampus.” Jelas namja jangkung itu dengan kecewa. Berhubung saat ini adalah tahun ajaran baru, ia yang di nobatkan sebagai salah satu ambassador jurusan di universitasnya, Konkuk University mengharuskan ia membintangi film promortional tersebut. Namun yang ia sayangkan, kenapa syuting harus dilakukan hari ini? Padahal hari ini ia berniat untuk memerikasakan Kyuhyun ke Rumah sakit. Dan dengan seenaknya sang manager tiba-tiba memberitahunya jika hari ini ia harus merampungkan schedule terakhirnya sebelum mereka berangkat ke Jepang lusa.

“Gwenchana. Aku kan bisa berangkat sendiri ke rumah sakit.”

“Bwoh? Andwe!” Tolaknya keras hingga tanpa sadar ia menghentikan gerakan mengeringkan rambut namja manis dihadapannya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Kyuhyun yang tengah sakit itu keluar seorang diri? Membayangkannya saja ia tidak mau. Ia terlalu mengkhawatirkan Kyuhyun dan ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai itu.

Kyu memutar bola matanya lelah melihat reaksi Changmin yang menurutnya berlebihan, “ayolah, aku tidak akan pingsan di tengah jalan hanya karena pergi ke Rumah sakit sendirian, Shim Changmin.”

“Justru itu yang aku khawatirkan, Cho Kyuhyun.” Sanggah Changmin tegas. “Aku akan meminta tolong pada Minho dan Jonghyun untuk mengantarmu.”

Dahi Kyuhyun mengerut, “Kenapa harus mereka?”

“Karena mereka tidak akan pernah bisa menolak permintaan sang Lord VoldeMin.” Ucap Changmin dengan seringai liciknya.

***

              Terlihat dua orang namja kini tengah duduk manis di depan meja salah satu dokter Rumah sakit Seoul. Menunggu seseorang yang tengah di periksa di balik tirai ruangan yang mereka tempati. Dua namja tersebut tidak lain adalah Choi Minho dan Lee Jonghyun. Setelah tadi pagi mereka menerima telepon dan sedikit ancaman manis dari sang invisible leader Kyuline, akhirnya mereka berdua bersedia mengantar Kyuhyun ke rumah sakit. Beruntung hari ini mereka berdua sedang jobless sehingga ancaman Changmin untuk memposting foto absurd mereka yang tengah mabuk ke internet melalui twitter Kyuhyun tidak terrealisasi.

Mereka berdua sontak mendongak ketika melihat dokter ber-name tag Nam So Young itu muncul dari balik tirai dan duduk di kursinya. Minho sendiri langsung menghampiri Kyuhyun yang tengah merapikan pakaiannya diatas bangsal setelah melakukan pemeriksaan dengan di bantu oleh perawat.

“Hyung, gwenchana?” tanya namja bermata besar itu khawatir yang dibalas Kyuhyun dengan anggukan singkat.

“Jadi uisanim, Kyuhyun hyung baik-baik saja, kan? Maksudku, dia tidak mengidap penyakit kronis atau terjangkit virus aneh, bukan?”

“Ya! Lee Jonghyun!” sentak Kyuhyun mendengar pertanyaan asal dari dongsaengnya itu.

Sang dokter dan perawat wanita yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tertawa pelan.

“Tenang saja. Kyuhyun-ssi tidak terkena penyakit atupun virus aneh seperti yang anda khawatirkan.” Jawab sang dokter yang membuat Jonghyun bernafas lega.

“Lalu?” tanya Minho yang berdiri dibelakang Kyuhyun yang telah duduk disamping Jonghyun.

Lelaki paruh baya itu tersenyum sesaat sebelum ia meneruskan kalimatnya,”mungkin ini terdengar tidak lazim, namun justru hal ini adalah sesuatu yang patut di syukuri karena apa yang dialami oleh Kyuhyun-ssi merupakan suatu anugerah yang tidak dialami oleh semua namja…”

Ketegangan mulai menghampiri trio berbeda grup tersebut demi mendengar pernyataan sang dokter yang terkesan bijak dan horor di waktu yang bersamaan. Terlebih Kyuhyun yang merupakan objek utama dalam percakapan mereka..

“Setelah mendengar keluhan dan gejala yang dialami Kyuhyun-ssi serta dari hasil pemeriksaan tadi, saya hanya dapat mengucapkan selamat kepada anda Kyuhyun-ssi karena anda dinyatakan positif  hamil .”

“MWO???!” pekik mereka bertiga kompak.

“Ha…hamil?” gumam Kyuhyun tergagap.

“Ya! Sepertinya telingaku bermasalah. Bagaimana denganmu Jonghyun-ah?” Minho menyenggol pundak Jonghyun yang masih belum menunjukan reaksi apapun.

“Hahaha… Jangan bercanda, uisanim. Kami tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya…” bantahnya mengingat kejadian ‘kehamilan’ Kyuhyun dua bulan lalu. Kejadian dimana ia sedikit –banyak- kecewa karena tidak jadi mendapatkan keponakan dari pasangan Changkyu.

Sementara Kyuhyun masih tampak terdiam. Ia seperti larut dalam benaknya sendiri yang tengah berkecamuk memikirkan vonis dokter. Terkejut, tidak percaya, bahagia, cemas dan terharu seolah bertumpuk memenuhi perasaaannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Jonghyun. Ia tidak ingin terlalu berharap kembali dengan sesuatu yang mustahil hingga ia akan kecewa untuk yang kedua kalinya. Meskipun begitu, setitik harapan tumbuh di sudut hatinya jika ia memang benar-benar mengandung darah daging dari Changmin.

Dokter Nam yang sudah menduga dengan reaksi tersebut meminta kepada suster untuk memberikan catatan hasil pemeriksaan kepada tiga namja dihadapannya.

Ketiga namja tersebut saling berpandangan horor setelah mereka mencermati hasil pemeriksaan yang hanya kata ‘positif’ yang dapat mereka mengerti.

Oh..my…God, kau benar-benar…”

“…hamil, hyung.”

***

Tadaima~

Changmin berseru riang ketika ia memasuki apartemennya. Namun tidak lama kemudian ia Ia mengerutkan keningnya ketika ia sama sekali tidak mendengar sahutan salam dari Kyuhyun atau seseorang yang lain.

“Kyuhyunnie?” panggilnya dengan nada memastikan, “apa mereka belum pulang?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Dan dugaannya semakin di perjelas ketika ia tidak menemukan sepatu Kyuhyun di rak depan pintu.

Namja pemilik suara tinggi itu melangkah memasuki dapur dan membuka kulkas yang terdapat di salah satu sudut dapurnya. Meraih sebotol air dingin yang langsung ia habiskan hingga tandas. Ia juga meraih sebuah apel dan menggigitnya sebelum menyandarkan tubuhnya di konter dapur. Sebenarnya ia sangat lapar. Ia belum sempat makan siang karena setelah filming selesai, ia langsung bergegas pulang untuk mengetahui keadaan Kyuhyun. Namun sayangnya Kyuhyun dan kedua dongsaengnya sendiri belum pulang dari Rumah sakit.

Niatannya yang akan menelepon Kyuhyun untuk memastikan keberadaannya terinterupsi ketika ia mendengar kegaduhan dari arah pintu masuk. Sesegera mungkin ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kyu?” Pekiknya.

Kekhawatirannya muncul ketika ia melihat namjachingunya yang tengah melangkah dengan di papah oleh Minho hati-hati.  Sementara Jonghyun lebih memilih untuk meletakan barang-barang bawaannya yang tidak bisa dianggap sedikit itu di sofa ruang tamu. Tangannya serasa akan patah setelah ia membawa seluruh barang belanjaan yang berupa peralatan bayi itu menuju lantai dua belas apartemen Changmin.

Salahkan keantusiasan Minho -dan dirinya sendiri tentunya- setelah mendengar kehamilan leader mereka. Setelah mereka heboh memeluki Kyuhyun yang saat itu masih tidak percaya dengan apa yang ia alami serta setelah mendengarkan wejangan dari dokter Nam tentunya,  mereka langsung menuju toserba untuk membeli semua kebutuhan calon baby dan keponakan pertama mereka. Dan tak lupa juga mereka membeli vitamin atau apapun yang kira-kira di butuhkan Kyuhyun mengingat pesan dokter yang mengatakan jika kandungan Kyuhyun sedikit rentan, pengaruh dari kondisi kesehatannya yang cukup lemah karena anemia. Hal yang lumrah di alami seorang ‘ibu’ yang hamil pada trimester pertama tentunya.

“Min-ah, kau sudah pulang?”

“Ne, Kyu. Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, sayang?” rentet Changmin menuntut jawaban. Memeriksa bagian-bagian tubuh Kyuhyun dari atas-bawah depan-belakang. Memastikan makhluk imut dan manis tercintanya itu baik-baik saja.

“Ya Hyung! Hati-hati! Kau tidak boleh menyentuh Kyuhyunnie hyung sembarangan! Kau bisa membahayakan kandungannya!” Pekik Minho overacted memperingatkan seraya melindungi Kyuhyun dengan protektif. Kyuhyun sendiri hanya menghela nafas mencoba bersabar dengan tingkah Minho dan Jonghyun yang menjadi super protektif padanya. Lihat saja, bahkan berjalan pun ia harus di tuntun oleh namja kodok itu meskipun ia sudah menolaknya. Setidaknya ini lebih baik dari pada ia harus di gendong sepanjang perjalanan.

Changmin mendelik, terlebih ketika ia melihat sang visual group SHINee memeluk pinggang Kyuhyun-NYA. Namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah terkejut ketika ia mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan dongsaeng-nya.

“Kandungan?” pria jangkung itu menatap Minho dan Kyuhyun dengan sorot mengintimidasi.

“Ne, kau akan menjadi seorang appa, Chagiya.” Kyuhyun mengecup pipi tirus Changmin dengan rona bahagia yang jelas terpancar di wajahnyaa. Sementara Changmin? Ia hanya diam membeku mendengar kalimat Kyuhyun. Pendengaran dan otaknya seolah tidak sinkron untuk mencerna makna kalimat tersebut.

Dengan linglung ia menunduk untuk menatap wajah Kyuhyun yang telah melepaskan diri dari Minho dengan kedua tangannya tengah bergelayut di lengannya. Kyuhyun sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi dan reaksi calon ayah dari anaknya itu.

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun memberikan surat hasil pemeriksaan ke depan wajah Changmin. Minho kini sudah menyusul untuk duduk di sisi Jonghyun yang tengah menahan tawa melihat ekspresi bodoh Changmin yang harus ia akui sangat jarang terjadi.

Changmin membuka kertas tersebut dengan masih memandang Kyuhyun yang mengangguk kecil berusaha meyakinkan.

Awalnya ia masih belum menunjukan reaksi apapun hingga matanya tertuju pada kalimat ‘Positif Hamil’ yang tercetak tebal pada surat yang ia baca.

“Kyuhyun-ah…kau….”

Kyuhyun mengangguk semangat seraya menciumi wajah Changmin dengan sesekali menggumamkan kata ‘gomawo’.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba…

BRUKKK!

“OMO! Changmin-ah??!”

***

               Changmin mengerjapkan matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah tangan menepuk pipinya pelan. Kedua matanya menyipit berusaha menyesuaikan sinar asing  yang tiba-tiba masuk ke retinanya.

“Changmin-ah?!” Pekik Kyuhyun senang dan langsung memeluk namjachingunya yang masih terbaring di ranjang. Changmin yang masih dalam masa transnya hanya mengerang pelan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi.

Seingatnya, beberapa saat lalu ia pulang dari kampusnya dan menyambut Kyuhyun pulang dari Rumah Sakit dengan diantar oleh duo Kyuline. Dan seketika ia terkesiap ketika ia mengingat hal terakhir apa yang terjadi.

“Sebenarnya kau ini pingsan apa tidur sih, Hyung?” tanya Jonghyun sarkatik.

“Baru saja aku akan menyirammu dengan air cucian piring. Sayang sekali kau malah sudah siuman duluan, hyung.”

Changmin mendelik pada Minho dan Jonghyun yang tengah berdiri di sisi tempat tidurnya dengan pandangan mencemooh.

“Kau baik-baik saja kan, Min-ah? Kau harus baik-baik saja karena aku tidak mau baby-ku lahir tanpa seorang ayah nantinya.” Panik Kyuhyun berlebihan.

Maknae DBSK itu nyaris saja menjitak kepala Kyuhyun jika ia tidak di sadarkan dengan sesuatu yang membuatnya pingsan. Sementara Minho dan Jonghyun lebih memilih keluar dari kamar bermaksud memberikan privasi pada pasangan maknae itu.

“Kyu, mengenai surat yang ku baca tadi…kau tidak bercanda, kan?” Changmin bertanya dengan hati-hati, takut-takut jika ia akan menyinggung perasaan Kyu.

Hening beberapa saat. Kyuhyun yang masih menindih tubuh Changmin mengerjapkan matanya cepat. Sementara namja yang masih terbaring tersebut hanya menelan ludahnya pelan menunggu reaksi Kyuhyun selanjutnya.  Dan benar saja dugaannya, Kyuhyun tiba-tiba saja mencebikan bibirnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya namja berkulit pucat tersebut dengan suaranya yang bergetar.

“Ya…ya. Uljima Kyu. Mianhe. Aku hanya…aku hanya sedikit tidak menyangka jika kau tengah mengandung baby kita, Hyunnie.” Ujar  Changmin menenangkan Kyuhyun yang kini tengah berada di pangkuannya dengan posisi menyamping setelah tadi ia mendudukan diri dengan bersandar di headboard. Sesekali ia mengusap punggung Kyuhyun lembut.

Ia sendiri masih belum mempercayai kenyataan bahwa Kyuhyun-nya tengah hamil. Demi apapun, Kyuhyun itu namja, ia sangat yakin jika seratus persen baik luar ataupun dalam Kyuhyun itu namja. Tapi bagaimana seorang namja bisa hamil? Ia memang pernah membaca sebuah artikel mengenai male pregnancy, namun ia pikir itu hanya artikel omong kosong yang mustahil. Dan dengan tiba-tiba kini ia harus mengubah anggapannya itu karena kekasihnya sendiri mengalami hal yang ia anggap mustahil sebelumnya. Wajar bukan jika ia sedikit shock dan sangsi?

“Minnie…apa kau bahagia?” Kyuhyun bertanya lirih dengan menyandarkan kepalanya di dada Changmin. Air matanya berhenti keluar mendapat perlakuan manis dari Changmin.

“Tentu saja, sayang.” Tangan Changmin merayap masuk ke dalam kaus yang di kenakan Kyu dan mengusap perut datar Kyu, “Aku sudah tidak sabar di panggil appa oleh baby kita. Dan kau akan di panggil eomma olehnya Hyunnie…”

Tentu saja. Lelaki mana yang tidak bahagia jika ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki anak dari orang yang sangat  di cintai?

“Tapi kan aku namja, Min-ah!” Protes Kyuhyun tidak terima.

“Memangnya kau mau di panggil apa oleh baby Shim, Kyu? Dimana-mana, orang  yang melahirkan pasti akan di panggil eomma, ibu, mama, obaasan, umi, mommy…”

“Huh!” Kyuhyun menghela nafas, kalah debat dengan sunbae sekaligus kekasihnya. Tiba-tiba ia terkikik geli ketika ia merasakan tangan besar dan hangat Changmin mengusap lembut perutnya, “Hihihi…Apa yang kau lakukan, Min-ah?”

“Ssshht. Diam dan tenanglah, Kyu. Biarkan aku berbicara dan menyapa baby Shim.” Lelaki bersuara tinggi itu mulai menundukan dirinya dan menyingkap kaus tipis berwarna violet yang Kyuhyun kenakan dengan menampakan kulit pucat Kyu. Kyuhyun sendiri hanya terdiam, menuruti instruksi Changmin sekaligus mengamati pergerakan calon ayah dari anaknya.

“Anyeong, baby Shim. Namaku Shim Changmin. Appa-mu yang sangat tampan, keren, bertalenta, jenius dan berkharisma. ”

Kyuhyun serasa ingin muntah mendengar ucapan narsis Changmin yang sialnya memang ia akui kebenarannya.

“Hey baby, apa yang sedang kau lakukan di dalam perut eomma Hyunnie?” iseng, ia menusuk-nusuk pelan perut Kyuhyun yang terasa keras.

“Ya! Jangan di tusuk-tusuk begitu. Kau bisa menyakitinya, Chwang.”

“Aigoo, kau dengar, baby. Eomma-mu galak dan cerewet sekali, ne? Nanti jika kau lahir, jangan galak –galak seperti eomma.”

Plak!

“Aaww, Kyu…” erang  Changmin mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh namja manis yang tidak terima dengan ucapannya.

“Bahkan eomma berani memukul appa-mu yang tampan ini, baby…” adunya pada sang baby yang usianya bahkan belum genap satu bulan dalam kandungan Kyuhyun.

“Kau sama saja menjelek-jelekan aku pada baby kita sendiri, Changmin-ah.” Ucap Kyuhyun jengah.

Changmin hanya terkekeh. Ia menegakan posisinya sejenak untuk mengecup bibir Kyuhyun sekilas dengan mengucapkan kata ‘mianhe’ sebelum ia menundukan tubuhnya lagi dan melanjutkan kegiatannya untuk mengobrol dengan sang baby.

“Baby, terima kasih kau telah memilih untuk tumbuh dalam kandungan eomma-mu. Kau tahu? Kau adalah anugerah terindah bagi kami.”

Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya mendengar ucapan dan intonasi Changmin yang begitu lembut. Menunjukan bahwa ia benar-benar berterima kasih dan bersyukur dengan kehadiran bayi yang tengah di kandungnya.

“Appa berpesan padamu, tumbuhlah dengan baik dan sehat, baby. Jangan menyakiti dan merepotkan eomma-mu karena kondisi kesehatannya cukup lemah. Lahirlah pula dengan sehat. Kelak jika kau tumbuh dan dewasa nanti, kau harus bisa membantu menjaga eomma untuk appa. Dan juga buat dunia untuk mengenangmu dengan suatu hal yang baik dan membanggakan, sehingga Tuhan tidak merasa sia-sia memberikan satu ruh-Nya untukmu. Arra?” pesan sang maknae DBSK yang tidak lama lagi akan menyandang gelar ‘Appa’ itu dengan takzim pada calon buah hatinya. Sementara Kyuhyun, sekuat hati ia berusaha menahan air mata harunya mendengar ucapan Changmin.

Good night, baby…” Changmin mengakhiri percakapan tunggalnya dengan mengusap dan mencium lembut perut Kyuhyun seolah ia tengah mencium langsung baby Shim. Ia pun kemudian menegakan tubuhnya kembali ke posisi semula, dimana ia menyandarkan punggungnya kembali di headboard Ia tersenyum ketika ia mendapati kedua bola mata sewarna lelehan karamel milik Kyuhyun tengah berkaca-kaca menahan air mata menatapnya.

Crybaby.” Ejek Changmin yang tak kenal suasana seraya mencubit pelan hidung Kyu yang memerah. Biasanya jika ia mengejek ataupun menggoda Kyuhyun, namja yang tak kalah evil darinya itu pasti akan mencubit, memukul ataupun membalas ejekannya dengan lebih sarkatik.

“Aku sedang terharu, pabbo!” sahut Kyuhyun sedikit kesal seraya memeluk erat leher Changmin yang hanya terkekeh. Balas memeluk erat tubuh Kyuhyun, ia pun mengusap lembut punggung namja yang masih duduk di pangkuannya.

Waktu terus berlalu membiarkan keheningan tercipta diantara mereka berdua. Memberikan kesempatan untuk menikmati moment di mana mereka berkomunikasi dengan gesture mereka masing-masing.

“Gomawo…” Bisik Changmin lirih dengan mencium dan menyesap helai rambut namjachingu-nya. Kyuhyun sendiri yang tidak mampu lagi menahan isakannya hanya mengangguk pelan diantara ceruk leher Changmin tanpa merenggangkan pelukannya pada pria tinggi itu.

***

              Senyum dan raut kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampan seorang Shim Changmin. Rasa haru, bahagia dan bangga yang kini ia rasakan seolah membuatnya serasa ingin meledak.

Ia masih ingat lima jam yang lalu merupakan saat-saat paling menegangkan dalam hidupnya. Ia tak pernah merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang luar biasa yang ia alami beberapa saat lalu ketika ia menunggui proses persalinan Kyuhyun di ruang operasi. Bayangan Kyuhyun yang meringis kesakitan karena kontraksi membuatnya merasa sakit dan tidak tega. Nyaris saja ia akan mendobrak pintu yang memisahkan ruangan operasi dan ruang tunggu yang ia tempati dan menerobos masuk untuk menemani Kyuhyun-nya, Kyuhyun-nya yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya untuk calon anaknya. Beruntung niatan anarkisnya itu segera di cegah oleh hyung-deul DBSK dan Super Junior yang juga ikut menemani dan menenangkannya.

Cukup lama aura ketegangan menyelimuti ruang tunggu hingga pintu operasi terbuka. Menampakan sang dokter yang tampak berpeluh karena lelah dan melepas masker yang ia kenakan. Changmin yang saat itu tengah berjalan kesana kemari karena cemas langsung menghampiri sang dokter.

“Selamat tuan Shim, putra anda telah lahir dengan selamat.” Ucap sang dokter ketika ia di serbu oleh sekumpulan orang  yang menatapnya dengan penuh harap, “keadaan Kyuhyun-ssi juga baik-baik saja. Kondisi tubuh serta pikisnya yang stabil sangat membantunya ketika proses kelahiran berlangsung. Saat ini Kyuhyun-ssi masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin tiga atau empat jam lagi ia akan siuman. Sekali lagi saya ucapkan selamat, Changmin-ssi.”

Tangis haru Changmin tidak bisa di tahan lagi begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter. Hal serupa juga terjadi pada kedua orang tua dan mertuanya yang langsung memeluk dan memberinya selamat karena ia telah resmi menjadi seorang ayah.

“Hihihi…Min-ah. Jonginie menjilati jariku…”

Kekehan Kyuhyun sontak menyadarkannya dari memorinya beberapa saat lalu.

Senyum Changmin merekah ketika ia melihat Kyuhyun yang tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan meggendong Shim Jongin, nama sang baby, di dekapannya.

Perlu di ketahui jika nama tersebut merupakan nama pemberian dari kedua ahjusi-nya yang super protektif, Choi Minho dan Lee Jonghyun. Mereka berasumsi jika mereka memiliki hak atas keponakan yang sudah mereka jaga bahkan ketika masih dalam bentuk janin.

Reflek ia mendudukan dirinya di pinggiran ranjang yang di tempati Kyuhyun. Ia ikut terkekeh pelan ketika melihat baby-nya menjilat-jilat jari telunjuk Kyuhyun yang terjulur dan di genggam erat kedua tangan mungil Jongin meskipun kedua matanya tetap tertutup.

“Apa baby lapar, hm?” tanyanya gemas, mengusap-usap lembut hidung putranya.

“Ya! Jongin bukan kau hyung yang selalu lapar setiap saat.”

Changmin memandang sosok Minho yang tengah duduk bersama Jonghyun di sofa ruangan tersebut dengan pandangan mematikan. Ia melupakan jika kedua bocah itu masih berada di ruangan yang sama dengannya. Sebenarnya sudah tak terhitung lagi ia ‘mengusir’ kedua anak itu untuk pulang sekedar untuk beristirahat. Hal serupa yang ia minta kepada Hyungdeul serta orang tuanya mengingat malam telah larut. Namun dengan tegas mereka berdua menolaknya dengan alasan ingin menjaga Jongin.

Minho sendiri yang menyadari sorot membunuh dari maknae DBSK itu mulai menekuni majalah yang tengah ia baca, mencoba menghindar.

Jonghyun mencoba mengabaikan perang tak kasat mata tersebut dan memilih untuk menghampiri ranjang rumah sakit yang Kyuhyun tempati.

“Hyung, sudah malam. Lebih baik kau istirahat. Biar Jongin aku saja yang menjaganya…” ucap namja Lee itu bijak.

“Aniyo. Aku masih ingin bersama baby-ku.” Tolak Kyuhyun menggeleng kuat dan menatap anaknya yang masih saja menjilati jarinya.

“Jonghyun benar, Kyu. Kau ingat apa kata dokter tadi kan? Kau harus banyak istirahat agar segera pulih dan bisa sesegera mungkin bermain dengan Jonginie sepuasmu nanti. Lagi pula Jongin juga sudah tidur kan? Biarkan Jonghyun meletakan Jongin di baby box-nya. Ne?” Changmin mencoba membujuk sang ‘istri’ yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tidak suka karena Changmin tidak mendukungnya, “Tapi, Min-“

“Kyu…”

Kyuhyun menghela nafasnya pasrah mendengar panggilan lelah Changmin. Dengan berat hati ia pun menyerahkan Jongin pada Jonghyun dengan sebelumnya ia mencium bibir duplikat dari Changmin itu dengan lembut. Begitu pun juga Changmin.

Good night, baby. Saranghae…”

Changmin mengelus rambut Kyuhyun lembut yang masih terlihat tidak rela berpisah sesaat dengan Jongin.

“Sekarang istirahatlah, chagi. Aku akan menemanimu di sini…” pinta Changmin membantu merebahkan tubuh Kyuhyun dan menyelimuti tubuh pucat tersebut hingga sebatas dada.

Ia mencium kening Kyu dengan lembut seraya membisikan kata terima kasih padanya. Tangannya mengusap lembut rambut Kyuhyun dengan bibirnya yang menyenandungkan pelan sebuah lagu sebagai lullaby.

Dan nyanyiannya terhenti ketika ia melihat kedua mata Kyu perlahan mulai terpejam dan terlelap. Sejenak ia mengagumi sosok wajah istrinya yang menyiratkan rasa lelah. Meskipun begitu, senyum tipis juga terlihat di wajahnya yang terlihat makin pucat saat ini. Lagi, ia mencium kening Kyuhyun dan mengecup sekilas bibir plump sang istri.

“Terima kasih telah melahirkan Jongin untukku, Shim Kyuhyun…”

Got a baby ChangKyu kai publish

END