The Journey – Chapter 4

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 4

Present Days

Suara merdu yang mengalun dengan ritme yang teratur terdengar dari ruang musik yang kini terdapat beberapa mahasiswa yang tengah memainkan biolanya. Dengan langkah sedikit berjingkat, Kyujin melangkah masuk dan mendudukan diri di salah satu kursi kosong yang terdapat partitur nada di depannya.

Dengan cekatan ia mengeluarkan biola kesayangannya dari dalam tasnya. Baru saja ia akan mengambil nada, alunan musik gesek itu berhenti. Tanda jika lagu yang dimainkan telah selesai. Ia hanya meringis kecil ketika melihat teman-temannya beranjak meninggalkan ruangan.

“Whuuu…”

Taemin memasuki ruangan musik dengan mengenakan sepatu rodanya. Ia berhenti tepat dihadapan Kyu yang tampak berubah ekspresi enggan ketika melihat Taemin datang.

“Kartunya.” Pinta namja berambut hitam itu seraya mendudukan diri disamping Kyujin. Kyujin mengambil kartu tersebut dari dalam tas biolanya.

“Haaah! Seharusnya aku tahu jika ada kartu dalam kado itu untukku.”

Kyujin hanya memutar bola matanya jengah mendengar rengekan Taemin yang saat ini tengah memeluk kartu ucapan itu.

*

Seorang namja tampak tengah berlari diantara guyuran hujan dipelataran kampus. Dengan langkah tergesa ia menuju sebuah bangku dibawah pohon untuk berteduh. Setelah meletakan tas biolanya di kursi, ia mengusap lengan baju panjangnya mencoba mengeringkan pakaiannya yang sedikit basah.

Ia mengamati sekelilingnya yang terlihat beberapa orang tengah berlarian menghindari hujan karena tidak megenakan payung. Seketika ia terkejut dan membelalakan matanya tidak percaya ketika ia melihat seorang namja tinggi yang  berlari ditengah hujan menuju tempatnya berdiri. Ia membalikan tubuhnya. Berusaha menghindar dan berpura-pura tidak melihat namja yang ia ketahui telah berada dibelakangnya.

“Kyujin-ah?” Panggil namja tersebut ketika ia menyadari jika seseorang yang membelakanginya adalah Kyujin.

“Oh, Anyeonghaseyo…” Sapa Kyujin kikuk sebelum ia membelakangi namja tersebut yang tidak lain adalah Changmin.

Changmin tersenyum. Ia kemudian berjalan kehadapan Kyujin yang menatapnya penasaran.

“Kau akan pergi kemana?” tukas Changmin pada Kyujin yang akan kabur dari sana karena gugup.

Kyujin terdiam ditempatnya berdiri. “Perpustakaan.” Jawabnya singkat.

“Apa letaknya jauh?”

“Aniyo. Tidak begitu jauh dari sini. Aku tidak akan kehujanan dan basah jika aku berhenti di setiap gedung.” Jelas Kyujin menunjuk beberapa gedung yang terlihat.

Tanpa menjawab apapun, Changmin melepaskan jaket cream yang ia kenakan. Ia juga mencangklongkan tas biola milik Kyujin di pundaknya. Sedangkan pemiliknya hanya mengerutkan keningnya heran.

“Baiklah, aku akan mengantarmu kesana.” Changmin tersenyum seraya menunjukan jaket yang ada ditangannya. “..dengan payungku.”

Namja tinggi tersebut mendekatkan dirinya pada Kyujin untuk memayungi tubuh mereka dengan jaket miliknya.

“Kau lihat gedung itu? Kita akan berlari dari bangku ini dan berhenti disana.” Changmin memberi instruksi pada Kyujin yang mendongak menatapnya.

“Satu..Dua…Tiga!”

Mereka berdua berlari bersama meninggalkan tempat berteduhnya. Menuruni undakan dengan langkah yang seirama. Tak dihiraukannya lagi kecipak air yang membasahi celana mereka berdua. Sesekali mereka saling menatap dengan senyum cerah tersungging di bibir. Sangat kontras dengan cuaca saat ini yang cenderung gelap karena mendung. Dengan langkah yang tetap sama, mereka menaiki undakan menuju gedung pertama yang mereka singgahi.

“Arrh..!” Changmin mengibaskan jaketnya sekedar untuk mengeringkannya agar tidak terlalu basah. Sementara Kyujin sendiri tengah mengusap rambut ikal sewarna madunya yang basah. Mereka mendongak, menatap hujan yang masih deras. Tampak keduanya terasa canggung berdiri dengan jarak sedekat itu.

Beberapa saat kemudian, Changmin memayungi kembali tubuh keduanya yang mau tidak mau membuat Kyujin merapatkan diri dengan tubuh Changmin. Menuruni undakan dan berlari lagi. Dengan satu tangannya Kyujin memegangi ranselnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya.

Tidak lama kemudian mereka kembali berhenti di sebuah pintu masuk yang beratap. “Kau tidak apa-apa?” tanya Changmin memastikan dengan menggulung lengan kaus panjang berwarna biru yang ia kenakan.

“Ne…” hanya kata itu yang terlontar dari bibir Kyujin dengan wajahnya yang merona.

Changmin kembali memayungi tubuh mereka berdua. Menatap lelaki di sebelahnya  seolah memintanya untuk bersiap sebelum mereka berlari kembali. Lagi, mereka berlari menuruni jalan aspal yang basah. Melewati orang-orang disekitarnya yang berlalu lalang dengan payung di tangan. Hingga pada akhirnya keduanya sampai di perpustakaan tempat mereka tuju.

Tawa Kyujin lepas saat ia melihat payung kepala milik seseorang yang berjalan di hadapannya terlepas dari ikatan di kepalanya. Namun tawanya terhenti ketika ia menyadari kini Changmin tengah menatapnya. Ia menundukan wajahnya, menyembunyikan wajahnya yang kembali merona.

“Jeongmal gomawo, Changmin hyung. Karena mengantarku kau jadi basah seperti ini.”

“Gwenchana. Tidak lama lagi  juga ini akan segera kering.” Jawab Changmin seraya memberikan tas biola pada namja manis yang sedikit lebih pendek darinya.

Kyu tersenyum sungkan. ”Aku harus masuk. Sekali lagi terima kasih banyak…” Ia menundukan tubuhnya sekilas.

“Ne. Sampai bertemu lagi..”

“Ne…” gumam Kyu melangkah masuk ke perpustakaan. Senyumnya tidak dapat ia sembunyikan sepanjang ia melangkah. Hatinya serasa meledak karena terlalu bahagia saat ini.

Ia berlari secepat ia mampu menaiki tangga menuju lantai dua saat ia melihat sosok Changmin juga berlari meninggalkan gedung perpustakaan. Ia lalu menuju jendela yang menghadap ke jalan umum. Mencari sosok namja yang baru saja mengantarnya dari balik kaca yang lembap karena tetesan hujan. Seketika ia menyembunyikan diri di balik dinding ketika ia melihat Changmin yang ada di jalan menatap kearahnya.

‘Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi’ batinnya berkata dengan nafasnya yang masih terengah. ‘Tapi, kenapa perpustakaan terasa begitu dekat?’ Rutuknya kembali memandang ke arah jalanan diluar.

*

Past Days

Pagi itu upacara berlangsung dengan hikmat. Para lelaki mendengarkan wejangan dari sang kepala sekolah dalam diam. Tiba-tiba seseorang dari barisan kedua dari depan jatuh pingsan. Beberapa lelaki yang ada disana langsung menghampirinya dan membawanya pergi.

“Dia belum membalas suratku.” Kata Zhoumi pada Yunho. Keduanya berdiri di barisan tengah.

“Kyuhyun-ssi?” tanya Yunho.

“Ya.” Zhoumi mengangguk.

“Kenapa?” tanya Yunho lagi.

“Aku tidak tahu.” Ekspresi wajah Zhoumi terlihat datar. “Seperti yang kau tahu, aku bukan tipe orang yag gampang jatuh cinta. Tapi yang ini berbeda. Aku benar-benar menyukainya.”

Setelah berkata demikian, Zhoumi jatuh pingsan.

*

            Sepulang sekolah Zhoumi mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berdiri cukup lama di depan halaman rumah besar itu, menunggu Kyuhyun keluar. Kyuhyun cukup terkejut melihat siapa yang datang siang itu.

“Zhoumi-ssi?”

“Anneyong haseyo.” Sapa Zhoumi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyuhyun.

“Aku menunggumu sedari tadi.” Ia lalu menyerahkan sebuket bunga yang sejak tadi disembunyikannya di balik bahu lebarnya. “Terimalah bunga-bunga ini.”

Kyuhyun memandang bunga-bunga itu dengan tatapan ragu, namun akhirnya ia menerimanya juga.

“Aku menyukaimu, Kyuhyun-ssi.” Kata Zhoumi setelah mengumpulkan keberaniannya. Ia lalu meraih kedua pundak Kyuhyun dan mendekatkan wajahnya pada wajah lelaki imut di depannya. Setelah beberapa detik, ia lalu mencium kening Kyuhyun. “Kumohon, tetaplah mengirimiku surat.”

Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Zhoumi berbalik pergi. Namun baru beberapa langkah, lututnya terasa goyah, kembali ia terjatuh. Namun dengan cepat ia bangkit.

“Ini aneh. Mengapa aku terus menerus terjatuh? Apa aku jadi seperti ini karena aku terlalu tinggi?” tanya Zhoumi pada dirinya sendiri dengan bingung.

*

            Yunho dan Kyuhyun berlari-lari dengan semangat menaiki tangga batu di malam di musim gugur yang cerah itu. Ketika keduanya cukup lelah, mereka berhenti. Seraya mengatur nafas, keduanya saling menatap dalam diam. Tiba-tiba Yunho maju dan mencium Kyuhyun.

“Aku kehabisan nafas.” Elak Kyuhyun seraya mendorong tubuh Yunho. Ia sendiri tidak bisa mengartikan apa ia memang kehabisan nafas atau ia terlalu malu dicium oleh lelaki yang kini berstatus kekasihnya itu atau bahkan karena sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan ini.

Yunho segera menyadari bahwa Kyuhyun benar. Namun kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Ia lalu duduk dan berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu, seraya meredam rasa malunya atas penolakan Kyuhyun.

Melihat itu, dengan rasa bersalah Kyuhyun ikut duduk di samping Yunho, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Yunho lalu meregangkan tangannya dan merangkul tubuh kurus Kyuhyun. Keduanya terdiam cukup lama.

“Kau menolakku karena Zhoumi kan?” tanya Yunho. Akhirnya ia berani juga menyampaikan apa yang tengah dipikirkan atas penolakan tadi.

“Apa yang harus kulakukan? Katakan padaku..” kata Kyuhyun sedih.

Yunho menghela nafas. “Zhoumi adalah bajingan busuk.” Ia cukup mengenal Zhoumi yang suka mengencani banyak gadis. Dan ia tidak sanggup melihat Kyuhyun jatuh ke pelukan lelaki seperti sahabatnya itu.

“Tidak.. Ia adalah lelaki yang baik.” bela Kyuhyun.

“Ia merupakan lelaki bajingan karena ia baik hati.” Kata Yunho seraya tersenyum kecut. “Zhoumi menunggu suratmu.”

Kyuhyun mendengarnya. Mendengar nada sakit hati dalam suara kekasihnya itu. perlahan ia mengangkat wajahnya, memandang wajah tampan Yunho. “Tidak ada harapan. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk hubungan ini.”

“Jangan bicara seperti itu. Pasti akan ada jalan.” Kata Yunho menguatkan hati Kyuhyun. Ia kembali mencoba mencium lelaki itu. Namun dengan cepat Kyuhyun lagi-lagi menghindar.

“Tidak.. Sudah tidak ada jalan lagi. Sudah tidak ada lagi. Kita hanya akan semakin terluka jika kita bertahan.”

Yunho mendekati Kyuhyun. “Hal ini akan berjalan dengan baik, percayalah.”

Kyuhyun menoleh. “Aku tidak akan menemuimu lagi, begitu juga dengan Zhoumi. Aku serius. Aku tidak akan bertemu kalian berdua lagi.”

Kyuhyun tahu, hal ini menyakitkan. Baik untuknya, Yunho maupun Zhoumi. Namun ia harus melakukannya. Ia tidak mungkin membiarkan dua sahabat itu saling menikam dari belakang jika ia memilih salah satunya. Yang satu adalah lelaki yang dicintainya, sementara yang lain adalah lelaki pilihan orang tuanya.

*

            Pagi itu ketika Zhoumi turun dari mobil mewah milik keluarganya, Jungmo, sang senior sekolah melihatnya. Begitu mobil mewah itu berlalu, senior tadi memanggil Zhoumi. “Hey limousine boy. Kemari kau.”

Zhoumi berjalan mendekati sang senior dengan wajah datar. Padahal di depannya, Jay menggenggam sebuah tongkat pemukul. Ia tahu, sebentar lagi ia akan dipukuli karena terlambat.

Limousine boy, lupa memberi hormat padaku?” tanya Jungmo lagi. “Oh.. Jadi kau memang tidak mau memberi hormat? Aha.. Karena kau mempunyai seorang supir layaknya tuan besar maka kau tidak perlu menghormati seniormu, begitu?”

Zhoumi tidak menjawab, sebaliknya ia malah tersenyum mengejek dengan beraninya. Jungmo semakin jengkel karenanya. “Lihat, pin-mu tidak kau pasang dengan baik dan kemejamu tidak terkancing. Baiklah.. Hari ini aku akan memberimu pukulan terburuk sepanjang masa.”

Zhoumi lalu ikut mengambil sikap seperti teman-teman lainnya, mengambil posisi seperti hendak push up, tapi dengan pantat yang ditonjolkan ke atas, siap menerima pukulan dari tongkat di tangan Jungmo. Begitu ia menyadari bahwa Yunho juga ada dalam barisan itu, ia mengerling nakal ke arah sahabatnya itu.

“Aku akan memukul kalian semua, dimulai dari sebelah kiri.” Kata Jungmo kejam. “Orang yang pertama terlambat akan mendapatkan pukulan sekali, orang kedua akan mendapat pukulan dua kali. Orang ketiga harus meneriakkan angkanya, sesuai keterlambatannya. Mengerti?”

“Ye.” Jawab para siswa junior dengan suara lemah.

“Apa kalian semua banci? Aku tidak bisa mendengar suara kalian! Mengerti?” teriak Jungmo lagi.

“Ye!” teriak para siswa junior, dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Giliran Yunho tiba. Ia meneriakkan nomornya. “Tujuh.” Namun begitu Jungmo mengayunkan tongkatnya, Yunho menjatuhkan dirinya dnegan takut.

“Hey, kembali ke posisi semula!” bentak Jungmo.

Mau tidak mau Yunho kembali ke posisi awalnya. Bug! Pukulan pertama yang ia dapatkan di pantatnya terasa begitu menyakitkan. Tapi ia coba bertahan. Berikutnya pukulan kedua, lalu ketiga. Ia tidak tahan lagi.

“Senior, pantatku..”

“Tahan! Atau aku akan mematahkan tanganmu!” bentak Jungmo lagi.

Kembali Yunho ke posisinya. Dan kembali Jungmo menghajar bokongnya dengan sadis. Yunho hanya bisa menerimanya dengandesahan menderita yang keluar dari sela-sela bibirnya. Namun menjelang pukulan terakhir, ia merasa tidak sanggup lagi. Ia lalu berdiri.

“Kau masih harus mendapatkan satu pukulan lagi. Kembali ke posisimu! Dengarkan perintahku, kembali ke posisimu!” Bentak Jungmo seraya menendang kaki Yunho hingga akhirnya Yunho terjatuh dan kembali ke posisinya, kemudian melancarkan pukulan terakhirnya.

Jungmo lalu berjalan ke arah Zhoumi. “Berapa nomormu? Jawab aku, berapa nomormu!” Ketika dilihatnya Zhoumi menatap penuh kebencian terhadapnya, ia kemudian bicara lagi. “Baiklah, aku yang akan memberitahumu. Nomormu adalah sembilan belas.”

Lalu tanpa menunggu lebih lama lagi, Jungmo segera mendaratkan tongkatnya yang keras di bokong Zhoumi seraya berhitung. “Satu.” Zhoumi terlihat kesakitan menerima pukulan tanpa tedeng aling-aling itu.

“Dua.”

“Tiga.”

Ketika pukulan ketiga berakhir, Zhoumi terhempas ke tanah. Melihat itu Jungmo sedikit marah. “Ya! Bangun! Bangun!” Namun karena Zhoumi tidak menjawab, ia membungkuk sedikit dan memperhatikan adik kelasnya itu baik-baik.

“Hei.. Ada apa denganmu?” tanya Jungmo ketakutan.

Zhoumi pingsan.

*

            “Hal ini tentang Kyuhyun.. Kurasa ia tidak menyukaiku.” Kata Zhoumi sedikit sedih. Setelah ia dan Yunho mendapatkan hukuman dari senior mereka, keduanya berbaring telungkup di hutan kecil di belakang sekolah, mengistirahatkan bokong mereka dengan cara membuka separuh celana sekolah mereka dan membiarkan bokong-bokong kemerahan itu tertiup angin, meredakan nyerinya.

“Aku memberinya bunga. Aku bahkan menciumnya, tapi tidak ada respon sama sekali.” Kata Zhoumi lagi.

“Kau menciumnya?” tanya Yunho dengan rasa penasaran.

“Benar.” Zhoumi lalu kembali fokus pada buku di halamannya. Tanpa ia sadari, Yunho nyaris menangis mendengar pengakuannya.

*

            Malam itu juga, Yunho mendatangi rumah Kyuhyun. Ia berkali-kali memainkan tombol lampu di pekarangan rumah mewah itu, memberi tanda pada Kyuhyun. Tapi Kyuhyun tak kunjung keluar.

Padahal, Kyuhyun melihat semua itu dari balik jendela kamarnya. Namun ia tidak mau mengingkari janjinya. Perlahan dua bulir airmatanya jatuh. Ia hanya bisa memandangi Yunho hingga lelaki itu beranjak pergi.

Keesokan harinya, ketika Kyuhyun akan berangkat ke sekolah, ia melihat sebuah surat kecil tergeletak di depan pagar. Dengan penasaran diraihnya surat yang dilipat dengan sedemikian rupa itu.

Ketika sinar mentari terpancar di lautan. Aku selalu memikirkanmu. Ketika bulan bersinar temaram di musim semi, aku memikirkanmu…

*

            Hujan deras mengguyur kota Suwon siang itu. para pejalan kaki sibuk melindungi diri mereka dari terpaan hujan di bawah payung. Yunho sama sekali tidak peduli dengan tubuhnya yang basah kuyup karena hujan. Ia memang tidak membawa payung dan ia seakan tidak tahu jika hujan tengah membasahi dirinya. Ia hanya berdiri tegak, menunggu di depan sebuah gerbang sekolah.

Begitu dilihatnya Kyuhyun keluar dari dalam sekolah bersama Kibum, ia mengikuti lelaki itu dari seberang jalan hingga Kyuhyun berpisah dengan Kibum dan berjalan sendirian. Dengan cepat ia menghampiri Kyuhyun dan ikut masuk ke dalam payung besar di tangan lelaki itu.

Kyuhyun menoleh lalu menghentikan langkahnya begitu melihat siapa yang datang. Ia memandang Yunho dengan canggung lalu menyerahkan payungnya.

“Pakailah ini dan pulang ke rumah. Berteduhlah dari hujan.”

Setelah itu ia keluar dari naungan payungnya dan berlari menembus hujan. Yunho hanya bisa menatap kepergian Kyuhyun dengan sedih. Ia menurnkan payung itu dan membiarkan hujan membasahi tubuhnya.

Karena benar-benar ingin bicara dengan Kyuhyun, ia mengejar Kyuhyun hingga ke rumahnya. Berkali-kali ia memainkan tombol lampu di pohon di depan rumah Kyuhyun, memberi tanda seperti yang biasanya ia lakukan. Tapi sang penghuni rumah tak kunjung keluar.

“Bodoh! Apa kau mau mati tersengat listrik?”  Kyuhyun muncul dari belakang Yunho, tapi ia sama sekali tidak berhenti. Kemudian seraya berjalan ke udakan, ia menoleh sedikit ke belakang. “Kau gila!”

Yunho segera menaiki undakan, mengejar Kyuhyun dan meraih lengan lelaki yang dicintainya itu.

“Aku tidak mau berpisah seperti ini.” Yunho menarik Kyuhyun menuruni undakan, menjauh dari rumah itu. “Ayo kita bicara, walaupun hanya sebentar.”

Kyuhyun mulai terisak. “Tak aka nada yang akan berubah. Tidak ada gunanya lagi kita bicara. Lepaskan aku!”

Ketika mereka sudah berada di balik tembok besar, Kyuhyun menyentakkan tangannya hingga terlepas dari pegangan Yunho dan berlari pergi. Namun baru beberapa langkah, ia kembali. Masih dengan tangisan yang kini terdengar lebih kencang, ia merebahkan kepalanya yang lelah di bahu sang kekasih.

*

            “Ini suratmu.” Kata Yunho seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Zhoumi.

Namun dengan wajah datar Zhoumi menjawab. “Aku tidak menginginkannya lagi.”

“Kenapa?”

“Selain tidak ada balasan, dan karena kata hatiku, aku akan menulisnya sendiri mulai saat ini. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun. Ini adalah kesempatan emas. Kudengar ia sakit setelah terkena hujan deras, saat ini ia tengah dirawat di rumah sakit.”

Yunho bertanya. “Apa sakitnya parah? Dan itu karena.. hujan?”

Zhoumi mengangguk. “Aku akan menjenguknya hari ini. Menjenguknya saat ia sakit mungkin bisa membuatku mendapatkannya. Aku akan mengaku padanya bahwa selama ini bukan aku yang menulis surat-surat itu. Aku tidak akan mengatakan bahwa kaulah penulisnya. Kau tahu, aku bukan tipe orang yang setia pada pasanganku, tapi aku benar-benar menyukai Kyuhyun.”

“Yunho!” sebuah suara memanggil Yunho. “Jung Yunho!”

“Dia memanggilmu.” Kata Zhoumi mengingatkan.

Yunho tersadar. “Ya?” Ternyata gurunya lah yang memanggilnya.

“Aku harus meminum semuanya?” tanya Yunho tak percaya. Melihat lebih dari dua puluh butir obat di meja gurunya.

“Lihat ini! Cacing tambang, cacing kremi, cacing gelang! Kau punya semuanya! Apa yang kau makan? Karena kau, kelas ini menjadi kelas dengan parasit terbanyak.” Kata wali kelasnya dengan kesal.

“Tapi.. Itu bukan kotoranku.” Bantah Yunho dengan sopan.

“Lalu menurutmu siapa? Kau adalah satu-satunya anak di kelas ini yang mempunyai banyak penyakit. Minum obat-obat ini sekarang!”

Karena bentakan dari gurunya itu, mau tidak mau Yunho menelan semua butiran obat yang diberikan kepadanya.

“Zhoumi!” Panggil gurunya. “Minum tiga butir”

Begitu ia dan Zhoumi berpapasan, Yunho segera memprotes. “Tapi kotoran kami sama.”

Zhoumi tersenyum mengejek. “Tapi di satu sisi punya lebih banyak cacing sedangkan yang satu lagi tidak.”

The Journey Chap 4

TBC

Behind the Mask

Title                 : Behind the Mask

Starring          : Cho Kyuhyun, Cho Jino, Kim Jungmo, Anonymous chara.

Pair                  : Crack pair, 2Hyun.

Genre              : Ficlet, Romance, Brothership, Fluff, Typo(s)

Rate                 : T

Author            : Maccihato94

Disclaimer     : No conflict. Crack pair. Don’t like don’t read. No bash.

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas untuk kesekian kalinya malam ini. Ia bosan. Jengah. Dan mirisnya, ia bahkan tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghilangkan kebosanan yang tengah ia rasakan. Terlebih lagi si tersangka yang membuatnya terjebak dalam situasi kali ini malah meninggalkannya seorang diri setelah bocah itu bertemu dengan namjachingu-nya.

Jika bukan karena Jino, namdongsaeng-nya yang terus mendesaknya. Sekarang ia pasti sedang menghabiskan waktu berharganya untuk memainkan PSP kesayangannya dengan bergelung dibawah selimut hangat miliknya. Tidak seperti saat ini yang malah terjebak dalam ruangan besar yang penuh sesak dengan manusia asing -menurutnya-.

Demi semua koleksi kaset game miliknya. Ia paling tidak suka berada di tengah keramaian orang-orang asing. Ia tipe anti-sosial. Dan keberadaannya di prom nite kali ini merupakan salah satu bencana untuknya. Catat itu baik-baik. BENCANA!

            Awas kau Cho Jino! Ancamnya dalam hati.

Dengan kesal ia melepas topeng yang ia kenakan dan membuangnya sembarangan. Melangkahkan kakinya menuju tempat yang setidaknya membuat ia sedikit leluasa menghirup udara segar. Namun langkahnya seketika terhenti kala ia merasakan sebuah tangan asing menyentuh pundaknya.

“Would you dance with me?”

Namja manis itu membalikkan tubuhnya. Menaikkan sudut alisnya bingung. Dia mengajakku berdansa? Apa dia gila?

Tiba-tiba lampu padam. Di gantikan oleh sinar lampu temaram dan alunan musik yang mengalun lembut memenuhi ruangan tersebut. The Blue Danube.

Belum sempat kata penolakkan Kyuhyun lontarkan. Namja bertubuh tinggi tegap itu menggenggam tangannya. Menariknya lembut menuju lantai dansa dan bergabung dengan beberapa pasangan yang tengah berdansa.

Ia bisa saja menolak. Namun entah kenapa saat tangan namja bertopeng itu kini melingkar di pinggangya, ia merasa penolakannya akan berakhir sia-sia.

“Aku..aku tidak bisa berdansa.”

Meskipun gelap, Kyuhyun masih bisa melihat bibir namja tersebut melengkung membentuk sebuah senyuman tipis. Dan ia bersumpah, senyum tersebut terlihat sangat menawan.

“Kau bisa menumpukkan kakimu padaku. Aku yang akan menuntunmu.”

Perlahan namja tersebut mengangkat pinggang Kyuhyun sedikit dan menumpukkan kaki Kyuhyun di kakinya sendiri

“Ap..apa kakimu tidak sakit?” tanya Kyuhyun. Pertanyaan bodoh yang sialnya baru ia sadari setelah kata itu meluncur dari bibirnya.

Namja yang bahkan Kyuhyun tidak ketahui namanya itu meraih kedua tangannya. Melingkarkannya disekeliling lehernya.

“Tidak masalah asal itu kau.” Ucap namja dengan rambut bercat dark white itu singkat.

Mendengar jawaban itu membuat Kyuhyun sedikit terpesona. Ruangan yang awalnya terasa bising penuh dengan celotehan dan obrolan ratusan manusia, kini terasa khidmat dengan instrumen lagu klasik yang mengalun lembut.

Kyuhyun yang masih berdansa atau lebih tepatnya mengikuti gerakan namja asing tersebut, mencoba mengamati wajah yang tersembunyi dibalik topeng berwarna ungu yang hampir menutupi sebagian wajah laki-laki dihadapannya.

Sebenarnya dalam hati Kyuhyun masih menerka-nerka siapa sebenarnya sosok yang tengah menjadi pasangannya. Ia bukan tipe orang yang suka bergaul. Dan lagi ia tidak terlalu peduli dengan orang-orang yang ada selalu berada disekelilingnya selama ini. Namun, entah kenapa kali ini ia ingin sekali mengetahui sosok dibalik topeng tersebut.

Tubuhnya tinggi tegap. Rahangnya terlihat kokoh membingkai garis wajahnya yang tegas. Tidak bisa dipungkiri bahwa namja bertopeng itu terlihat tampan. Dan ia sontak menundukkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu. Menyadari sepasang mata tajam dihadapannya menatap lurus padanya.

Apa dia mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya?

“Butuh waktu lama untuk aku bisa menunggu moment seperti ini.”

Kyuhyun mendongak. Dan matanya kembali bertumbukan dengan mata tajam itu, namun ia mencoba mengabaikan tatapan yang sejenak membuatnya gugup.

“Apa maksudmu?”

Namja itu membawanya melangkah dengan gerak tariannya yang teratur. Menuju tengah lantai dansa dengan pandangan mereka yang belum juga terlepas.

“Sudah lama aku memperhatikanmu. Tapi baru kali ini aku bisa berbicara denganmu.”

Oke. Jangan salahkan Kyuhyun jika saat ini ia berpikiran kalau namja yang ada dihadapannya ini adalah seorang stalker.

Gerakan mereka mulai melambat. Bahkan mereka kini hanya menggerakkan kedua kakinya secara perlahan menyerupai sebuah langkah-langkah kecil.

“Kau bahkan jauh lebih manis jika dilihat dari jarak sedekat ini.” bisik namja asing itu dengan suara bass rendahnya.

Kyuhyun baru menyesali tindakannya yang telah melepas topeng yang ia kenakan. Paling tidak topeng merah yang beberapa saat lalu ia buang itu bisa sedikit menyembunyikan rona yang serupa dengan warna topeng miliknya yang kini muncul dikedua pipinya.

Shit! Ini benar-benar memalukan! Rutuknya seraya menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang kini telah memerah sempurna. Cukup lama ia menundukkan kepalanya untuk menghindari sorot mata yang seolah mengintimidasinya yang ia yakini masih terus berlanjut. Sorot mata yang seolah mengirimkan getaran lembut di sepanjang tulang belakangnya.

Kakinya terus bergerak pelan mengikuti gerakan lembut namja yang belum ia ketahui namanya tersebut. Tanpa sadar ia mengeratkan kedua tangannya dileher jenjang namja misterius itu. Meletakkan kepalanya di dada bidang yang terbalut jas hitam dihadapannya. Bahkan kini ia dapat menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya yang anehnya membuatnya merasa terbuai karena nyaman.

“You look so beautiful, Cho Kyuhyun. You…”

Kyuhyun terkesiap. Bukan. Bukan karena sorot lampu yang tiba-tiba menyala dan membuatnya silau ataupun suara tepuk tangan yang menggema disekitarnya. Ia mematung ditempatnya berpijak bahkan saat namja tersebut perlahan melepaskan diri dari pinggangnya dan memberikan senyuman penuh arti miliknya. Melangkah menjauh darinya.

Meninggalkannya seorang diri ditengah ruangan dan menjadi pusat perhatian bagi seluruh undangan pesta. Butuh beberapa saat bagi Kyuhyun untuk kembali pada kesadarannya sebelum ia merasakan sebuah sodokan yang cukup keras mengenai lengannya.

“Hyung! Kau benar-benar membuatku iri!” Pekik Jino menggerakkan kedua pundak hyungnya dengan brutal. Mengabaikan tatapan penuh kecemburuan yang dialamatkan kekasihnya, Jungmo, padanya.

Kyuhyun mengerjapkan matanya. “A..apa maksudmu, Jino-ah?” Ucapnya terbata. Efek dari masa transnya yang belum pulih.

“Kau benar-benar namja beruntung karena bisa berdansa dengannya, Kyuhyun Hyung!”

“Dia? Dia siapa maksudmu?”

Jino mempoutkan bibirnya. Sementara Jungmo hanya menahan senyum melihat interaksi dua bersaudara di hadapannya itu.

“Aigo,hyung. Kau tidak tahu siapa yang menjadi pasanganmu tadi? Dia itu sunbae tampan yang di idolakan oleh seluruh yeoja maupun namja di universitas kita.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya. Masih belum menangkap siapa maksud dari orang yang dibicarakan oleh adiknya.

Jino memutar bola matanya kesal, “Ini pasti karena pribadimu yang terlalu tertutup bahkan sampai kau tidak mengenali idola di kampus kita, hyung. Dia itu sunbae dari jurusan Teater dan Film tingkat 6. Namanya Seung Hyun. Choi Seung Hyun atau biasa dipanggil TOP.”

“Seung..Hyun..?” Gumam Kyuhyun sedikit ragu.

Sementara Jino hanya mengangguk dengan semangat.

Kyuhyun membeku ditempat. Seung Hyun. TOP. Bukankah..bukankah dia adalah namja yang dikenal dengan pribadinya yang dingin serta tatapan tajamnya yang menusuk. Namja yang dikagumi oleh teman-teman dikampusnya bahkan oleh adiknya sendiri. Tapi..tapi bagaimana ia bisa mengetahui namanya?

Lalu ingatannya kembali memutar pada saat namja bernama TOP itu membisikkan sesuatu yang bahkan masih bisa ia dengar dengan jelas diantara suara gemuruh tepuk tangan orang-orang disekitarnya.

“You look so beautiful, Cho Kyuhyun.You will be mine.”

Kyuhyun tersadar kembali saat ia merasakan getaran ponsel yang berada di saku jas yang ia kenakan. Ia mengerutkan keningnya saat mendapati sebuah pesan dari sebuah nomor asing yang terpampang di layar smartphonenya.

            Aku menunggumu. Malam ini.
Gedung kesenian. Pukul 22.30 p.m.
TOP

TOP-KYU

END