Obsession – Teaser

Proloque

 

Apakah suatu saat ia akan melihatku?

Apakah suatu hari nanti ia akan menyadari,

Bahwa selama ini aku ada dan hidup untuk mencintainya?

Apakah ia akan mengerti perasaanku?

 

Sia-sia kuteriakkan cintaku,

Sia-sia ku lindungi harapanku.

Rasanya sungguh menyakitkan,

Ketika cinta pertama tidak pernah menemukanku.

 

Ketika harapanku musnah,

Ketika tak tahu lagi harus bertahan atau pergi,

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa

Meminta padaNya untuk diberi kekuatan dan jalan terbaik

 

Jika nanti suatu hari kita bertemu lagi,

Maukah kau memberiku kesempatan?

Maukah kau setidaknya memberiku satu tanda,

Bahwa penantianku tidak sia-sia..?

 

 

 

The Casts :

 

Cho Kyuhyun

kyuhyun OBS

Choi Minho

choi minho OBS

Shim Changmin

Changmin OBS

Lee Jonghyun

Jonghyun OBS

Yoon Doojoon

Doojoon OBS

Choi Seunghyun (TOP)

TOP OBS

Lee Donghae

Donghae OBS

Ok Taecyeon

Taecyeon OBS

 

 

Jung Yunho

Yunho OBS

 

 

Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

 

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

To Be Continued..

Advertisements

Sacrificial Love – Chapter 4

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 4

Pesta pertunangan Siwon dan Shin Hye siang itu berlangsung dengan meriah. Para undangan yang hadir tak henti-hentinya memuji sepasang insan yang dinilai sangat serasi itu. Keduanya memaksakan senyum bahagia di wajah mereka. Sempurna. Sandiwara mereka sempurna. Kalau saja Shin Hye tidak mengingat ancaman ibunya, mungkin ia sudah melarikan diri dari pesta itu dan menerima tawaran Jonghyun untuk melarikan diri bersama Yonghwa.

Sementara Siwon sendiri tampak tenang di permukaan, padahal dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Sedih, luka, dan sakit bercampur jadi satu. Apalagi ketika ia harus bertukar cincin dengan Shin Hye. Saat itu, ia justru memandang ke arah Kyuhyun, andai sekali Kyuhyun yang berdiri di sana, bertukar cincin denganya. Dan ketika mata mereka bertemu, Kyuhyun tersenyum tulus. Namun senyum itu justru mengiris hati Siwon.

Kyuhyun sudah berjanji pada dirinya sendiri. Ketika Siwon memeluknya di hutan pinus tadi, ia berjanji bahwa ia akan benar-benar belajar melupakan Siwon. Demi Shin Hye, demi keluarganya, dan demi kebaikan semua orang.

“Kyuhyun-ah, haraboji memanggilmu. Temuilah beliau di ruang kerjanya.”

Kyuhyun menoleh, Mhia berdiri di sampingnya. Tangannya memegang gelas berisi wine kesukaan Kyuhyun.

“Mengapa haraboji ingin bertemu denganku, noona? Bukankah acara masih berlangsung?” tanya Kyuhyun.

Mhia menggeleng. “Haraboji hanya mengatakan bahwa ia ingin bicara denganmu. Tapi aku tidak tahu ada apa. Cepatlah temui beliau, aku tidak mau sampai ia memarahimu karena kau terlambat.”

Kyuhyun menghela nafas. Ia kemudian merebut gelas di tangan Mhia lalu menenggak isinya hingga habis. Mhia hanya bisa tertawa kecil melihat kelakuan adiknya. Ia tahu pasti Kyuhyun enggan bicara dengan kakek mereka maka ia butuh sedikit wine agar bisa mempersiapkan dirinya.

Kyuhyun lalu beranjak dan berjalan menuju ruang kerja kakeknya. Sesampainya disana, ia dipersilahkan duduk sedangkan kakeknya berdiri menghadap jendela. Dengan memunggungi Kyuhyun seperti itu, Kyuhyun jadi tidak tahu apakah kakeknya tengah marah atau senang saat ini.

“Kyuhyun-ah, kau lihat ponsel di depanmu? Bukalah. Aku ingin kau melihat video disana.” Kata kakeknya tanpa basa-basi.

Kyuhyun memang melihat ponsel hitam keluaran terbaru itu. Ponsel itu diletakkan persis di tengah meja. Kyuhyun lalu mengambilnya dan melihat isinya. Begitu melihat isi video itu, ia terkejut luar biasa. Tangannya bergetar. Ketakutan melanda dirinya. Isi video itu adalah rekaman ketika ia dan Siwon tengah berpelukan dan berciuman di hutan pinus beberapa saat tadi sebelum acara pertunangan dilangsungkan.

“Kau sudah liat kan?” tanya kakeknya lagi.

“Haraboji.. Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud untuk..”

“Untuk apa? Untuk merebut tunangan adikmu?” tanya Mr. Cho seraya membalikkan tubuhnya. Ia lalu duduk di depan Kyuhyun seraya memandang cucunya itu dengan tajam.

Kyuhyun menunduk. Ia takut mengangkat wajahnya. Ia tidak pernah mau berurusan dengan kakeknya karena ia tahu, apa yang ia dan Mhia lakukan hanya akan memberikan hukuman untuk ibu mereka.

“Mengapa kau bertemu Siwon? Mengapa kau mengajaknya kesana?” tanya Mr. Cho tajam.

“Aku tidak mengajaknya, haraboji. Siwon-ssi yang mendatangiku di sana.” Jawab Kyuhyun pelan.

“Benarkah? Mengapa aku tidak bisa mempercayaimu? Kau tidak pernah membuat kesalahan selama ini. Tapi mengapa justru kesalahan pertamamu ini membuatku sangat marah. Ada urusan apa yang membuatmu harus berpelukan bahkan berciuman dengan tunangan Shin Hye di hutan pinus?”suara kakeknya kini mulai meninggi.

Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya di atas lututnya. Ia tetap menunduk. Tubuhnya masih bergetar. Ia selalu mendengarkan kata ayahnya bahwa satu kesalahan saja bisa membuatnya ‘dalam bahaya’. Dan kini ia tahu, ia benar-benar tak tertolong. Kesalahan pertama yang fatal. Dan sepertinya kakeknya tidak bisa menerima hal itu. Pasti tadi anak buah kakeknya mengikuti Siwon dan merekam semuanya.

“Cho Kyuhyun! jawab pertanyaanku!”

Kyuhyun tersentak. Lidahnya kelu, sulit sekali bicara namun ia harus berusaha mengatakan sesuatu. Karena ia tidak punya alasan lain. Ia dan Siwon tertangkap sedang berpelukan dan berciuman, tidak mungkin sepasang sahabat atau teman lama melakukan hal itu kan? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa ia adalah mantan kekasih Siwon, bisa jadi kakeknya bertambah marah. Bisa jadi ia dituduh memfitnah Siwon agar ia selamat dari hukuman kakeknya.

“Kami.. Kami dulu berteman baik. Dan aku.. Aku hanya memberinya selamat karena ia akan bertunangan dengan Shin Hye.”

“Dengan ciuman? Dimana harga dirimu? Kau adalah seorang Cho dan kau mencium calon tunangan adikmu? Kau mencoreng nama keluarga ini. Entah apa yang dipikirkan Siwon sekarang. Setelah acara ini selesai, kau harus minta maaf pada Siwon dan Shin Hye.” Kata Mr. Cho keras.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. “Haraboji, mengapa aku harus melakukannya? Aku memang bersalah, tapi tolong jangan..”

“Kau mau membantahku? Setelah mencoreng nama keluarga kini kau mau membantahku?” tanya Mr. Cho tajam.

Kyuhyun menggeleng pelan. “Tidak, haraboji. Aku..”

Ketika ia mencoba menatap kakeknya, meminta belas kasihan, sebaliknya mata lelaki tua dihadapannya itu justru memandangnya dingin.  “Aku akan meminta maaf pada Siwon-ssi dan Shin Hye setelah ini.”

“Bagus. Dan kau juga harus menjaga jarak dengan Siwon. Aku tidak tahu kalian ada hubungan apa sebelumnya. Tapi tidak baik terlalu dekat dengan calon suami adikmu. Kalau perlu kau harus mencari pendamping secepatnya, jadi tidak akan ada skandal dalam rumah ini. jika kau belum mempunyai pendamping, aku akan mencarikan lelaki yang pantas untukmu.”

*

            Acara pertunangan telah selesai, keluarga Cho sudah pulang. Namun karena Siwon sebentar lagi akan menjadi keluarga Cho, maka ia sudah mulai tinggal di kediaman Cho mulai hari itu. Kini seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah.

Mr. Cho berbicara banyak mengenai pesta hari itu, juga untuk menyambut kedatangan Siwon ke dalam keluarga mereka. Kyuhyun diam saja sedaritadi, ia tidak berani membuka suara atau memandang siapapun. Ia hanya berharap bahwa kakeknya melupakan pembicaraan mereka di ruang kerjanya tadi. Namun sepertinya kakeknya punya ingatan yang sangat bagus.

“Kyuhyun-ah, ada yang mau kau sampaikan?” tanya Mr. Cho.

Kyuhyun mengumpulkan keberaniannya. Sebentar lagi ia akan membuka aibnya dengan sangat terpaksa. Ia menarik nafas panjang dan mulai bicara.

“Siwon-ssi, maafkan aku karena tadi telah dengan lancang menciummu. Dan untuk Shin Hye, maafkan aku karena mengganggu hubungan kalian. Aku bersalah hari ini, mohon maafkan aku.” Kata Kyuhyun dengan cepat. Betapa malunya ia saat ini. dipaksa mengatakan suatu kebohongan hanya karena keinginan sang kakek.

Siwon dan Shin Hye terpana. Shin Hye tidak perduli apa benar Kyuhyun dan Siwon berciuman, karena ia tahu keduanya masih saling mencintai. Dirinyalah yang tidak tahu malu karena masuk diantara mereka. Namun Siwon tampak marah, ia tahu pasti Kyuhyun dipaksa melakukan semua itu. Ia tahu benar siapa penguasa di rumah itu. Namun pertanyaannya, darimana Mr. Cho mengetahui apa yang mereka berdua lakukan tadi?

“Shin Hye-ya, jawablah oppamu. Ia minta maaf karena berani mencium tunanganmu. Dan kau Siwon-ah, sebagai korban dalam hal ini, bisakah kau memaafkan Kyuhyun?” tanya Mr. Cho pada Shin Hye dan Siwon.

‘Korban? Oh Tuhan, akulah yang mencium Kyuhyun tadi! Dialah korbannya, bukan aku.’ Kata Siwon dalam hati. Ia tahu karena kelancangannya tadi, Kyuhyun harus dihukum. Tapi ia tidak punya keberanian untuk melawan. Ia mempertaruhkan kehormatan keluarganya dalam hal ini.

“Tidak apa-apa, haraboji. Kami memang sangat dekat semasa kuliah dulu, jadi mungkin Kyuhyun menganggap itu adalah hal yang biasa. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang serius.” Kata Siwon dengan hormat.

‘Mianhae Kyu.. Mianhae..’ Siwon ingin sekali merobek mulutnya sendiri yang mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan Kyuhyun seperti tadi. Namun ia hanya bisa diam.

Sedangkan Shin Hye ingin sekali marah pada kakeknya itu. Bagaimana mungkin ia menyuruh Kyuhyun meminta maaf di hadapan seluruh anggota keluarga seperti ini? Ini sama saja membuat Kyuhyun malu. Tapi ia tahu ia tidak punya pilihan lain selain menjawab agar hal ini cepat selesai.

“Aku.. Aku memaafkan Kyuhyun oppa. Siapapun pasti pernah melakukan kesalahan kan? Yang penting oppa tidak melakukannya lagi.”

“Lihat? Shin Hye sangat pemaaf. Bahkan ketika kau menusuknya dari belakang dengan menggoda tunangannya, ia masih bisa memaafkanmu.” Kata Mrs. Cho yang kini ikut bicara.

“Beraninya kau! Kau mencium tunangan Shin Hye?” Song Ji Hyo ikut bicara dengan marah.

“Ji Hyo, hentikan! Kyuhyun sudah minta maaf, jadi jangan memperkeruh suasana.” Tegur In Sung.

“Oppa, kau masih membelanya? Shin Hye juga anakmu. Harusnya kau memberi pelajaran pada anak ini agar lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Kalau kau tidak mau, biar aku yang melakukannya.”

Detik berikutnya Ji Hyo sudah bergerak mendekati Kyuhyun dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tapi sebelum telapak tangan itu sampai ke pipi Kyuhyun, Ye Jin muncul tepat di depan Kyuhyun dan menerima tamparan keras Ji Hyo.

“Omoni…!” jerit Mhia keras. Ia langsung berlari memeluk ibunya. Kyuhyun langsung tersadar karenanya. Ia ikut maju memeluk ibunya.

“Ji Hyo…!” teriak In Sung gusar.

“Kau baik sekali mau menggantikan anakmu.” Kata Ji Hyo kejam tanpa peduli teriakan suaminya. “Tapi ada bagusnya juga kau yang menerima tamparan itu, jadi kau bisa memberitahukan pada Kyuhyun bagaimana rasanya. Ini akibatnya jika mengganggu kedua anakku.”

Cho In Sung segera maju dan membawa Ye Jin, Mhia dan Kyuhyun pergi dari situ. Jonghyun hanya bisa melihat punggung ayahnya yang menjauh. Jika tamparan bisa membuat ayahnya memperlakukannya dengan protektif seperti tadi, ia rela menerima seribu tamparan sekaligus. Tapi apakah itu akan berhasil? Atau mungkin ayahnya hanya akan diam saja karena bukan sekali lagi, Jonghyun tetap Jonghyun. Jonghyun bukan Kyuhyun. Dan sampai kapanpun Jonghyun akan tetap menjadi anak Ji Hyo.

*

            “Aboji, bolehkah aku bicara dengan? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.” Kata Mhia pagi itu. Ia sengaja mendatangi kantor ayahnya pagi-pagi sekali agar tidak ada yang melihat kedatangannya, terutama kakeknya yang belakangan ini sering berkunjung ke perusahaan mereka.

“Tentu saja, kemarilah. Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya In Sung lembut.

Mhia duduk di depan ayahnya. Sebenarnya ia sedikit gelisah, namun ia harus mengatakan segalanya pada ayahnya, satu-satunya harapannya.

“Aboji.. Bolehkah aku meminta sesuatu?”

Cho In Sung tersenyum. “Apapun itu. Katakanlah, apa yang kau inginkan? Mobil baru? Ani.. Kau pasti menginginkan sesuatu yang lebih besar bukan?”

Mhia menggeleng. “Aku selalu merasa cukup. Tapi, aku tidak bisa melihat adik-adikku menderita. Sebagai anak tertua, aku merasa bertanggung jawab membantu adik-adikku ketika mereka kesulitan.”

“Kau adalah anak aboji yang paling mengerti. Tak heran adik-adikmu sangat menyayangimu. Apa yang terjadi hingga kau mau bicara denganku sepagi ini?”

“Aboji, bisakah kau membatalkan pertunangan Shin Hye dan Siwon?”

Cho In Sung cukup terkejut dengan permintaan putri sulungnya itu. “Mwo? Membatalkan? Kau tau sendiri aku meminta haraboji-mu untuk membatalkan semuanya tapi ia tidak mau. Jika sudah menyangkut nama keluarga, bisakah kita melawan kehendak harabojimu?”

“Tapi.. Tidak bisakah aboji berusaha lebih keras lagi? Jebal.. Shin Hye tidak mencintai Siwon. Dia.. Dia telah mempunyai kekasih.”

Cho In Sung tertawa jengah. “Tidak mungkin. Shin Hye tidak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tengah berkencan dengan seseorang selama ini. Bagaimana mungkin ia punya kekasih?”

Mhia menghela nafas lelah. “Aboji, nama kekasih Shin Hye adalah Yonghwa. Mereka telah menjalin hubungan selama empat tahun dan Ji Hyo omoni mengetahui hal ini tapi beliau meminta Shin Hye untuk menyembunyikannya dari aboji.”

“Apa?! Empat tahun? Dan Shin Hye tidak pernah mengatakannya? Mengapa Ji Hyo menyembunyikan semua ini dariku?”

“Mungkin.. Karena Ji Hyo omoni takut hal yang sama terulang lagi. Karena Yonghwa-ssi bukan keturunan bangsawan.”

Cho In Sung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu, Ji Hyo tidak akan mau menerima menantu dari kalangan bawah. Tidak peduli apakah anaknya akan bahagia atau tidak, kedudukan dan harta jelas paling utama untuk Ji Hyo. Ia sadar, Mhia pasti mengatakan semua ini karena ia tidak tahan lagi melihat adiknya menderita dan ia sudah melakukan hal yang benar.

Namun di satu sisi In Sung merasa amat sedih karena ia merasa gagal menjadi ayah. Karena ia sibuk membenci Ji Hyo, tanpa sengaja ia telah membangun dinding kokoh yang menghalangi hubungannya dengan kedua anaknya dari Ji Hyo ; Jonghyun dan Shin Hye. Dan kalau saja sejak dulu ia tidak bersikap dingin pada kedua anaknya ini, mungkin Shin Hye akan mengatakan semuanya padanya dan mungkin saja pertunangan ini tidak terjadi.

“Apa omoni-mu tahu akan hal ini?”

Mhia mengangguk singkat. “Omoni tahu segalanya, namun omoni tidak berani mencampuri urusan Ji Hyo omoni.”

“Sebentar, bukankah kita tahu pasti bahwa Shin Hye sendiri yang menyetujui pertunangan ini? Ia mengatakan bahwa ia menyukai Siwon.”

“Kami.. Maksudku aku bersama Jonghyun dan Kyuhyun merasa bahwa Shin Hye berbohong. Kami curiga bahwa Ji Hyo omoni memaksa Shin Hye untuk melakukannya. Aku tahu, tidak ada bukti kuat untuk mengatakan hal ini tapi.. Aboji percayalah padaku. Tolong batalkan pertunangan ini.”

In Sung menghela nafas berat. Inilah Song Ji Hyo, dia akan menutupi segalanya dari In Sung. Ia jadi merasa bertanggung jawab atas segala kesedihan anak-anaknya.

“Tapi, mengapa baru sekarang kau katakan hal ini? Pertunangan itu sudah berlangsung seminggu lalu dan pernikahan mereka akan dilaksanakan bulan depan.”

“Karena jika pernikahan itu dilaksanakan, akan ada empat hati yang terluka.” Jawab Mhia. Wajahnya kini terlihat semakin muram.

“Apa? Empat hati? Apa maksudmu? Siapa empat hati yang kau maksud?”

“Shin Hye.. Yonghwa.. Siwon dan.. Kyuhyun.” Jawab Mhia hati-hati.

“Siwon? Kyuhyun? Mhia-ya, jelaskan padaku ada apa sebenarnya. Jangan berbelit-belit!”

Mhia akhirnya menceritakan semuanya. Tentang hubungan Kyuhyun dan Siwon pada awalnya, tentang bagaimana Siwon akhirnya meninggalkan Kyuhyun, tentang perasaan Kyuhyun yang masih tersisa untuk Siwon dan bagaimana keduanya mengalah demi keinginan keluarga.

Kembali In Sung tenggelam dalam penyesalannya. Kini dua anaknya terluka karena keegoisan keluarga. Dan kalau ia tetap diam, maka anak-anaknya akan menerima hal yang sama dengan apa yang ia alami dua puluh lima tahun yang lalu.

*

            Malam itu, Cho In Sung dan Son Ye Jin menemui Mr. Cho. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Tapi karena In Sung tidak bisa tidur karena terus-menerus memikirkan kata-kata semua Mhia pagi tadi mengenai Kyuhyun, Siwon, Shin Hye dan Yonghwa.

“Apa? Membatalkan pertunangan Shin Hye dengan Siwon? Apa kalian sudah tidak waras lagi? Kalian tahu apa artinya ini?” kata Mr. Cho tajam.

“Aku tahu. Aku tahu kita akan mempertaruhkan kehormatan keluarga. Tapi aku tidak ingin membuat anak-anakku menderita sepertiku.” Kata In Sung menjawab perkataan ayahnya.

Brakk..! Mr. Cho menggebrak meja dengan kasar. “Kau bilang menderita? Selama ini kau dan semua anak-anak serta istri-istrimu mendapatkan apapun yang kalian inginkan. Kalian tidak pernah kekurangan apa-apa. dan kini kau bilang kau menderita? Jangan membuatku tertawa!”

“Aboji, tolong.. Aku tidak mau berdebat. Tidak bisakah kau membiarkan cucu-cucumu menentukan apa yang mereka inginkan? Tidak bisakah kau membiarkan mereka bahagia dengan pilihannya sendiri?” kata In Sung masih dengan nada sabar.

“Jika pilihan mereka tepat, mengapa tidak? Sayangnya mereka terkadang tidak mengerti mana yang terbaik untuk mereka. Dan Shin Hye adalah anak yang sangat bijaksana dengan menerima perjodohan ini. Berhenti mencampuri apa yang telah aku tentukan!”

Dengan takut-takut Son Ye Jin mencoba bicara. “Abonim, maafkan aku. Tapi Shin Hye sepertinya tidak menyetujui gagasan ini, namun ia tidak mau membuat kita semua tersinggung. Lagipula ia masih sangat muda, bukankah sebaiknya kita bersikap sedikit lebih lunak kepadanya? Bagaimana kalau kita..”

“Apa kau berhak bicara di rumah ini?” potong Mr. Cho tajam.

Son Ye Jin langsung bungkam sedangkan Cho In Sung tampak berang. “Aboji! Hargai Ye Jin! Selama ia masih menjadi istriku, ia berhak bicara di rumah ini.”

Mr. Cho tampak sedikit terkejut melihat keberanian anaknya. Tapi In Sung memanfaatkan hal itu dengan bicara mengenai apa yang harus dikatakannya sebelum ayahnya mulai bicara lagi.

“Aku tidak bisa membiarkan Shin Hye mengorbankan kebahagiannya. Disamping itu, Kyuhyun dan Siwon saling mencintai. Bukankah sebaiknya kita menjodohkan mereka? Kita tidak akan mencoreng nama keluarga karena Kyuhyun juga merupakan anggota keluarga kita, ia juga anakku. Dan lagi, tidak ada pihak yang tersakiti jika keduanya bersatu.”

“Jadi kau menentang perjodohan ini karena Kyuhyun? Ah.. Aku mengerti sekarang. Setelah kau lebih menyayangi Ye Jin daripada Ji Hyo, sekarang kau mau mendahulukan anaknya daripada anak Ji Hyo? Dimana letak keadilanmu? Aku tidak bisa membiarkannya. Pertunangan tidak akan dibatalkan dan pernikahan akan tetap dilaksanakan bulan depan.” Kata Mr. Cho dengan tenang. Seolah anaknya tidak menyela sebelumnya.

“Aku juga tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku tidak akan membuat anak-anakku harus mengikuti keinginan aboji. Mereka anak-anakku, akulah yang berhak atas mereka. Jika aboji memaksa, maka..”

“Maka apa? Apa yang akan kau lakukan?” tantang Mr. Cho.

“Aku akan keluar dari rumah ini. Membawa anak-anakku. Cukup aku yang merasakan penderitaan menikahi orang yang tidak pernah aku cintai. Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah selalu mengikuti kehendakmu dan mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Kali ini aku tidak akan mengalah lagi.” Kata In Sung dengan mantap.

“Kaauuu…! Kau pikir siapa kau bisa bicara seperti itu padaku? Aku adalah aboji-mu! Kau pikir apa yang aku lakukan selama ini untuk diriku? Ini semua untukmu. Agar kau tetap mendapatkan tempat di luar sana. Kau pikir siapa yang akan melihatmu jika kau adalah orang biasa? Jika kau tidak diselamatkan oleh Ji Hyo, kau hanya lelaki lemah yang menikahi wanita dari kalangan menengah!” kini suara Mr. Cho benar-benar sudah meninggi.

Seisi rumah terkejut karenanya dan berkumpul di depan ruang kerja Mr. Cho yang pintunya memang tidak ditutup sejak awal. Son Ye Jin hanya bisa diam mendengar kata-kata mertuanya. Ia tahu benar kedudukannya, berulang kali ia disindir akan kedudukannya tapi entah mengapa ia tidak lagi merasa terhina karenanya. Ia sudah terbiasa.

“Wanita yang haus akan kekuasaan seperti itu yang aboji banggakan? Wanita yang hanya bisa memaksakan kehendak seperti dia? Ji Hyo sama saja dengan aboji dan omoni, sama-sama suka merebut kebahagiaan orang lain!” kata In Sung tak kalah keras dari suara ayahnya.

“Oppa..” Ji Hyo sudah masuk ke dalam ruangan, Shin Hye dan Jonghyun berdiri tak jauh di belakangnya. “Teganya kau berkata demikian? Selama ini aku..”

“Diam! Aku tidak mau lagi mendengar kata-katamu. Sekali lagi kutekankan padamu, aku tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah! Dan karena kau, aku jadi jauh dengan anak-anakku sendiri, karena apa? Karena kebencianku yang mendalam padamu membuatku selalu membayangkan wajahmu di wajah Jonghyun dan Shin Hye. Tapi aku sudah tidak perduli. Aku muak dengan kalian semua yang bertahun-tahun mencoba mengaturku, membuatku tunduk pada kemauan kalian, membuat Ye Jin dan anak-anakku menderita. Tidak akan kubiarkan lagi. Aku pergi dari sini! Selamat tinggal.”

Selesai berkata demikian, In Sung meraih tangan Ye Jin kemudian melangkah ke pintu keluar.

“Cho In Sung, kembali kau! Atau kau akan merasakan akibatnya! Cho In Sung!” teriakan Mr. Cho bergema keras. Namun In Sung tetap berjalan tegak, seolah tuli terhadap teriakan ayahnya.

“Oppa.. Jangan tinggalkan aku.. Oppa jebal..” In Sung juga tidak memperdulikan tangisan Ji Hyo yang kini ikut mengejarnya dan menarik ujung kemejanya. In Sung berhenti dan mendorong Ji Hyo dengan keras. Wanita itu terjatuh. Jonghyun segera membantu ibunya berdiri.

Cho In Sung berbalik dan menatap Ji Hyo. “Maaf jika aku tidak bisa mempertahankan semua ini lagi. Jika kalian masih tetap berpikiran seperti ini, lebih baik aku pergi. Aku tidak butuh semua ini jika sampai mati aku dan anak-anakku tersiksa.”

Kemudian ia beralih pada Kyuhyun dan Mhia. “Bereskan barang kalian. Bawa seperlunya. Kita pergi dari sini. Mhia, bereskan juga barang-barang Shin Hye. Sekarang!”

“Oppa, kau tidak boleh membawa Shin Hye, dia anakku. Tidak.. Kau tidak boleh membawanya..!” jerit Ji Hyo yang terisak keras.

In Sung tersenyum sinis. “Anakmu? Kau lupa? Dia juga anakku. Bagaimana kau bisa menyebut dirimu seorang ibu jika selama ini kau sibuk mengurus hartamu daripada anakmu sendiri? Kau tidak akan pernah melihatnya lagi!”

In Sung segera menarik Shin Hye dan Ye Jin ke halaman depan, dimana satu mobil sudah menunggu. Kyuhyun dan Mhia sudah ada di sana, masing-masing hanya membawa satu ransel. Mhia juga menggandeng sebuah tas yang berisi barang-barang Shin Hye.

“Cepat masuk ke mobil. Jangan berlama-lama disini. Kalian tidak perlu berpamitan. Mereka tidak akan merasa kehilangan kalian. Cepat!” perintah In Sung pada anak-anaknya juga pada istri tuanya, Son Ye Jin.

“Oppa.. Tapi mengapa kau meninggalkan Jonghyun..” kata Ye Jin seraya memandang Jonghyun dengan iba.

Cho In Sung hanya diam sesaat. Kemudian ia berbalik. Dilihatnya Ji Hyo memeluk Jonghyun protektif. Di sebelahnya Mr. Cho dan Mrs. Cho berdiri, menatapnya penuh amarah.

“Aboji.. Jangan tinggalkan aku..” kata Jonghyun. Ia tampak terpukul semua orang yang disayanginya akan pergi meninggalkannya. Ia berusaha menyusul ayah dan saudara-saudaranya tapi anak buah Mr. Cho muncul dan menahannya dengan kuat-kuat.

“Aboji.. Ye Jin omoni.. tolong aku.. Jeballl!!!!” Jonghyun masih berusaha keras lepas dari beberapa lelaki yang menahannya.

“Oppa..” bisik Shin Hye. Ia, Mhia dan Kyuhyun sudah menangis. Ingin sekali mereka menyelamatkan saudaranya, tapi jika mereka kembali kesana, mereka tidak akan pernah bisa keluar lagi dari rumah itu.

“Oppa, tolong dia.. Tolong Jonghyun..” Ye Jin memohon pada suaminya tapi In Sung diam tanpa ekspresi. Satu tangannya menahan Ye Jin kuat-kuat karena istrinya itu hendak lari menyelamatkan Jonghyun.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Hanya ini kesempatan kita untuk pergi. Kalau kita semua pergi, maka aboji dan omoni akan mencari kita. Kita tidak akan pernah tenang. Harus ada satu orang yang tinggal. Dan karena ia cucu kebanggan aboji juga pimpinan Cho Corporation, Jonghyun-lah yang harus tinggal.”

Son Ye Jin menatap suaminya tak percaya. Ia masih berusaha melepaskan diri untuk mengambil Jonghyun yang juga tampak susah payah melepaskan diri dari sergapan anak buah kakeknya. Bahkan Jonghyun kini sudah menangis.

Detik berikutnya In Sung sudah menyeret Ye Jin ke dalam mobil dan menguncinya. Ia lalu duduk di balik kemudi dan segera meninggalkan halaman luas kediaman keluarga Cho.

“Tidakk..!! Abojiii…!! Hyungnimm..!!!” raung Jonghyun keras ketika mobil ayahnya mulai bergerak. Sekuat tenaga ia melepaskan pegangan para penjaganya lalu mulai berlari mengejar mobil hitam itu.

“Abojii… Omoni.. Jangan tinggalkan aku..!!” Tangis Jonghyun semakin deras, matanya kabur karena airmata berkumpul di pelupuk matanya. Namun ia tidak berhenti berlari, di belakangnya para anak buah kakeknya ikut berlari mengejarnya.

“Oppa..!!” Shin Hye memandang kakaknya dari dalam mobil. Sementara Kyuhyun mengeluarkan satu tangannya untuk menggapai Jonghyun yang kini jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja dari tangannya.

“Hyungnim.. Jangan pergi..!!” teriak Jonghyun.

“Aboji, Jangan tinggalkan Jonghyun.” Kata Mhia dalam tangisnya.

“Oppa, hentikan mobil ini. Jebal. Jangan biarkan Jonghyun sendirian. Jebal oppa.. Jika kita harus menderita, kita menderita bersama. Jangan biarkan dia sendiri. Jeball..” kata Ye Jin yang kini menangis histeris.

Jarak Jonghyun dengan mobil semakin menjauh, ia juga sudah berlari cukup jauh meninggalkan rumah. Namun ia tidak putus asa, ia tetap berlari sekuat tenaga. Harapannya Cuma satu, mobil hitam yang kini semakin jauh itu berhenti dan ia bisa masuk ke dalamnya. Walaupun harapannya kecil, ia tidak putus asa. Ia tidak akan berhenti berlari.

Walaupun hatinya sakit karena ditinggalkan, walaupun kakinya perih karena ia berlari di aspal keras tanpa alas kaki, walau tubuhnya menggigil tanpa jaket dihantam udara malam, ia tidak perduli. Meski ayahnya tidak mau menerimanya, namun ia tidak mau terpisah dari orang-orang yang dicintainya.

“Aboji..”

Jonghyun masih senantiasa menangis, kakinya sudah sangat lelah kini. Kedua kakinya yang kokoh terasa akan patah. Tubuhnya nyaris membeku. Namun airmata dan tekadnya masih kuat.

Kini mobil In Sung bagai titik d kegelapan malam. Jonghyun sudah tidak bisa lagi mengejarnya. Ia menyerang. Ia jatuh berlutut. Satu tangannya memengang dadanya yang terasa sangat sesak karena sedih dan sakit hati, sementara tangan lainnya bertumpu pada aspal di bawahnya.

Jonghyun terisak keras, menangisi kepergian keluarganya terutama orang yang paling ia dambakan kasih sayangnya, ayahnya sendiri. Sakit yang ia rasakan menusuk ke hatinya dan seolah-olah menusuk-nusuknya hingga Jonghyun sulit sekali untuk bernafas. Ia rela kehilangan segalanya, asal ia bisa tetap bersama ayahnya. Karena ia ingin sekali menunjukkan pada ayahnya bahwa ia sangat menyayangi ayahnya yang selama ini menyia-nyiakannya.

“Aboji.. Jangan pergi.. Jangan tinggalkan aku. Bawa aku bersamamu. Saranghaeyo aboji, saranghaeyo..”

*

yongshin1

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 3

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 3

Shin Hye memasuki rumah dengan wajah sumringah. Sejak turun dari mobil, wajahnya sudah terlihat berseri-seri. Ia berlari secepatnya menuju ke kebun belakang, tempat Son Ye Jin, ibu tirinya, suka menghabiskan sore yang indah dengan duduk di bangku sambil membaca buku. Ia ingin sekali membagi kebahagiaannya dengan wanita yang telah diangapnya seperti ibu kandungnya sendiri itu. Bukannya ia tidak mau menceritakan pada Ji Hyo terlebih dahulu, tapi terkadang ibunya sendiri suka tidak menanggapi hal-hal yang dikatakan Shin Hye.

Begitu tiba disana, wajahnya semakin terlihat cerah karena ternyata Kyuhyun oppanya juga ada disana. Ia mendekati kedua orang itu pelan-pelan dari belakang. Namun langkahnya langsung terhenti ketika mendengar kedua orang itu tengah bicara dengan serius.

“Apa yang harus aku lakukan omoni? Aku mencintai Siwon hyung, sangat mencintainya. Tapi mengapa ketika aku bertemu lagi dengannya, ia harus menjadi milik orang lain?” Shin Hye mendengar Kyuhyun bicara.

Son Ye Jin mengelus rambut anak bungsunya itu seraya berkata. “Kyu, terkadang hidup memang tidak memberikan kita pilihan lain. Apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan.”

“Ye, omoni.. Aku tahu. Tapi belum pernah aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkan Siwon hyung. Sejak dulu aku selalu mengalah. Apapun yang Jonghyun dan Shin Hye dapatkan tidak pernah kudapatkan tapi aku selalu bisa mengerti. Tapi apakah aku harus merelakan kepergian Siwon hyung sekali lagi?”

“Kyu.. Kebahagiaan keluarga adalah diatas segalanya. Apa artinya kita bahagia jika keluarga kita menentang? Bagaimana mungkin kau bisa bahagia sementara keluargamu terluka? Kau adalah anak yang baik, aku yakin suatu saat kau akan mendapatkan lelaki terbaik yang bisa membuatmu bahagia, walaupun itu bukan Siwon. Percayalah.. Jadi dengarkan omoni, lepaskanlah Siwon, biarkan ia bersama adikmu.” Kata Ye Jin lagi pada anaknya.

Shin Hye melihat kedua orang di depannya itu berpelukan. Ia tahu pasti bahwa oppanya sangat terluka dengan perjodohan ini. Ia memang tahu kalau oppanya itu sangat mencintai cinta pertamanya. Namun, ia tidak pernah menyangka kalau orang itu adalah Siwon. Dan yang membuat mereka tidak bisa bersatu adalah Shin Hye sendiri.

“Kau sudah dengar?”

Terdengar sebuah suara berbisik halus di belakang Shin Hye. Dengan gugup ia menoleh ke belakang dan mendapati ibu kandungnya menatapnya tajam. Detik berikutnya Ji Hyo sudah menyeret Shin Hye menuju kamarnya. Sesampainya di kamarnya barulah Ji Hyo melepaskan cengkramannya di lengan anaknya.

“Kau dengar semuanya kan? Ani.. Kau hanya mendengar sebagian. Kau tidak mendengar secara keseluruhan bahwa bagaimana kuatnya perasaan Kyuhyun pada Siwon. Kau tidak mendengar bahwa..”

“Aku memang tidak mendengar semuanya. Tapi aku tahu bahwa Kyuhyun oppa sangat mencintai Siwon oppa. Dan aku menolak perjodohan ini, omoni. Aku tidak mau menyakiti Kyuhyun oppa, dan.. diriku sendiri..” kata Shin Hye memotong kalimat ibunya.

“Mwo??? Menolak? Apa kau dalam posisi menawar saat ini? Tidak! Kau hanya ada dalam posisi menerima. Kau tidak boleh menolak apa yang sudah ditentukan untukmu. Ini takdirmu, terima itu!” balas Ji Hyo sengit.

“Tapi omoni.. Siwon oppa dan Kyuhyun oppa saling mencintai. Aku pun tidak mencintai Siwon oppa, aku hanya mencintai..”

“Siapa? Lelaki miskin itu? Lelaki yang hanya mengejar uangmu itu? Lelaki seperti itu yang kau inginkan? Demi Tuhan, Shin Hye! Buka matamu! Kau tinggal menerima Siwon, menikah dengannya dan menjalani segalanya. Kau tidak perlu memikirkan hal lain, apalagi perasaan Kyuhyun. Dia pasti mau mengalah untukmu, seperti yang biasa dilakukannya.” Kata Ji Hyo lagi.

“Tapi mana mungkin membangun hubungan tanpa cinta? Mana mungkin aku dan Siwon oppa bisa bahagia jika kami melukai orang lain?” kata Shin Hye masih tetap pada pendiriannya.

“Cinta? Kau pikir aku dan aboji-mu menikah atas dasar cinta? Apakah ia mencintaiku? Tidak! Apakah ia pernah sekali saja memikirkanku? Tidak! Seluruh hati dan pikirannya hanya untuk Ye Jin. Bahkan aku telah memberikan dua anak padanya pun, ia masih saja tidak menggubrisku. Kau pikir bagaimana perasaanku? Tapi aku tetap bertahan karena aku memikirkan kalian! Kalian adalah cucu sah keluarga Cho. Kalian berhak mendapatkan semua yang dimiliki keluarga ini. Jangan membuat perjuanganku sia-sia..!”

“Omoni.. jebal.. Aku tidak bisa.. Aku..”

Ji Hyo kembali menyambar lengan anaknya. “Dengarkan aku! Aku hanya bicara sekali dan tidak akan kuulangi lagi. Putuskan hubunganmu dengan lelaki miskin itu dan terima perjodohan ini. Kalau kau tidak mau melakukannya, ibu tiri tersayangmu itu beserta kedua anaknya yang akan menerima akibatnya. Dan aku bersungguh-sungguh.”

Shin Hye tahu benar jika ibunya serius. Kalau ia berani menolak, kalau ia berani tidak mengindahkan kata-kata ibunya, maka ia akan menyebabkan kesengsaraan baru pada kedua kakak serta ibu tirinya. Dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi.

*

            Beberapa hari kemudian, Shin Hye mengajak Kyuhyun untuk bertemu kekasihnya, Jung Yonghwa. Mereka akan bertemu di salah satu kedai kopi yang cukup terkenal di daerah Myeongdong. Ketika Shin Hye dan Kyuhyun tiba disana, Yonghwa sudah menunggu dan tersenyum hangat melihat gadis yang dicintainya datang.

“Anneyong Kyuhyun-ssi.. Tidak kusangka kau juga akan datang kemari.” sapa Yonghwa pada Kyuhyun sembari membungkuk hormat.

“Ah.. Tadi aku sedang di luar. Shin Hye menelepon dan memintaku untuk menemaninya hari ini. Katanya sudah lama kita tidak berkumpul bersama. Mianhae Mhia noona tidak bisa hadir hari ini, ia harus menemani omoni untuk menghadiri undangan acara makan siang. Sedangkan Jonghyun sangat sibuk akhir-akhir ini, kami saja jarang sekali bertemu di rumah ataupun di kantor.” Kata Kyuhyun menjelaskan.

Ia sendiri juga heran mengapa Jonghyun sangat sibuk. Ia sudah bertanya pada sekretaris Jonghyun dan gadis itu berkata bahwa Jonghyun memang menangani banyak sekali proyek baru dan ia tidak mengijinkan siapapun membantunya ataupun mengganggunya. Entahlah, tapi Kyuhyun merasa ada jarak antara dirinya dengan Jonghyun akhir-akhir ini.

“Aku merindukan saat-saat kita semua berkumpul bersama. Tapi tidak apa-apa, kehadiranmu hari ini sudah cukup.” Kata Yonghwa seraya mempersilahkan dua orang di depannya duduk.

“Aku ingin membicarakan sesuatu dengan kalian.” Kata Shin Hye ketika mereka bertiga sudah duduk.

“Ada apa?” tanya Yonghwa lembut seraya menggenggam jemari Shin Hye.

Namun alangkah terkejutnya Yonghwa ketika Shin Hye menarik tangannya dan melepaskannya dari genggaman Yonghwa.

“Aku ingin kalian berdua mendengarkan dengan baik apa yang akan aku katakan. Dan tolong, jangan suruh aku untuk berubah pikiran karena keputusanku sudah bulat.” Kata Shin Hye lagi. Ia terlihat sangat tenang padahal dalam hatinya sangat gelisah.

“Ada apa? Kenapa kau serius sekali?” tanya Kyuhyun.

Shin Hye tampak diam sebentar lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Kemudian ia mulai bicara. “Kyuhyun Oppa.. Yonghwa-ssi.. Mianhae.. Aku telah memutuskan bahwa aku.. aku akan menerima perjodohanku dengan Siwon oppa.”

Baik Yonghwa maupun Kyuhyun tampak terkejut luar biasa. Mereka tidak menyangka Shin Hye bisa memutuskan hal itu.

“Shin Hye-ah.. Jangan bercanda. Kau sendiri yang bilang saat itu bahwa kau tidak mau menerima perjodohan itu. Kau sendiri yang memintaku untuk membantumu agar keluar dari perjodohan itu. Mengapa tiba-tiba kau..”

Shin Hye memotong perkataan Kyuhyun. “Aku berubah pikiran, oppa.”

“Tapi.. Tapi.. Bagaimana dengan hubungan kita? Kau bilang kau tidak mencintainya.. Kau memintaku untuk segera menikahimu. Maka aku berusaha mati-matian. Beberapa hari lalu ketika aku mengabarimu bahwa aku berhasil membangun toko roti itu, kau sangat bahagia. Bahkan kau memintaku untuk segera bersiap-siap karena kau akan mengenalkanku pada kedua orangtuamu. Mengapa sekarang kau..”

Lagi-lagi Shin Hye memotong perkataan, kali ini perkataan Yonghwa. “Sudah kukatakan bahwa aku berubah pikiran. Aku juga manusia yang bisa berubah pikiran. Setelah berkencan dengan Siwon oppa, aku sadar bahwa aku jatuh cinta padanya. Siapa yang tidak mau menjadi pendampingnya? Ia impian setiap orang. Ia tampan, cerdas, kaya dan dari keturunan bangsawan yang terhormat.”

Bibir Shin Hye bergetar ketika mengatakan semua itu. hatinya sakit sekali karena harus berbohong pada kekasihnya, oppanya, dan pada hatinya sendiri.

“Shin Hye-ya, jebal.. Katakan padaku bahwa kau hanya bercanda. Kau tidak serius kan? Jebal..” tanya Yonghwa masih dengan nada tidak percaya.

Shin Hye menjawab pertanyaan itu tanpa memandang langsung ke kekasihnya. “Aku serius. Aku akan sudah memutuskannya dan aku tidak akan membatalkannya.”

Selesai berkata demikian, Shin Hye langsung berdiri dan hendak pergi namun Yonghwa lebih cepat. Ia sudah menghalangi jalan Shin Hye dengan melebarkan kedua tangannya.

“Kau tidak boleh pergi sebelum menjawab pertanyaanku. Katakan sejujurnya, apa kau benar-benar telah jatuh hati padanya?”

Shin Hye masih tetap menolak kontak mata dengan Yonghwa. “Ya, aku telah jatuh hati padanya. Dan aku tidak kuasa menolak pesonanya.”

“Tatap aku ketika kau bicara! Tatap aku!” bentak Yonghwa sedikit kesal.

Namun Shin Hye masih tetap menghindari tatapan mata Yonghwa. Kemudian Yonghwa meraih wajah Shin Hye dan membuat gadis itu menatapnya langsung ke dalam manik matanya.

“Kumohon, jujurlah padaku. Apa kau masih mencintaiku? Kumohon.. Jika kau memang masih mencintaiku, aku akan melupakan kata-katamu tadi dan aku berjanji akan berjuang untuk kita. Tapi jangan tinggalkan aku seperti ini.”

Menatap mata itu, melihat sinar mata yang selalu membuatnya bahagia, membuat keteguhan hati Shin Hye mencair. Akhirnya ia menangis pelan. Pelan-pelan ia melepaskan kedua tangan Yonghwa di wajahnya.

“Yonghwa-ssi, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu. Kita tidak bisa bersama. Terlalu banyak perbedaan diantara kita.Dan perbedaan-perbedaan itu semakin membuka mataku bahwa kau tidak pantas untukku. Aku lebih memilih Siwon oppa. Ia jauh lebih terpandang, terhormat, terpelajar dan yang penting, ia setara dengan kami. Kumohon, lepaskanlah aku. Karena sampai kapanpun kita berusaha, tidak akan pernah ada jalan keluar untuk kita.”

Sekali lagi Yonghwa memandang Shin Hye dengan tatapan tak percaya. Ia telah mengenal Shin Hye sejak lama. Mereka saling mengenal sejak duduk di bangku sekolah menengah tingkat pertama. Dan hubungan mereka sudah terjalin selama empat tahun. Namun, tidak sekalipun ia pernah melihat Shin Hye setegas ini.

Shin Hye adalah gadis rapuh yang selalu ragu dalam mengambil keputusan. Ia tidak pernah bisa memilih dengan baik atau menentukan sesuatu untuknya tanpa bertanya pada siapapun. Melihat Shin Hye begitu yakin saat ini, membuatnya berpikir apakah mungkin memang Shin Hye sudah tidak bisa lagi mempertahankan segalanya.

“Shin Hye-ya.. Apa benar sudah tidak ada lagi jalan untuk kita? Walaupun aku berusaha? Tidak bisakah kau memilihku? Aku berjanji akan memenuhi semua kebutuhanmu, aku akan memberikan segalanya yang kau inginkan.. Segalanya.. Tapi tolong, jangan menerima perjodohan itu.”

Air mata Shin Hye masih senantiasa mengalir. Sakit sekali melihat kekasihnya memohon seperti itu. Sulit sekali baginya untuk meninggalkan cinta yang telah terajut sekian lama. Namun ia tidak punya pilihan lain. Jika ia bersikeras mempertahankan Yonghwa, maka keluarga ibu tirinya akan mengalami siksaan. Ia tidak bisa melihat semua itu terjadi.

Walaupun hatinya terluka, walaupun ia harus menanggung rasa sakit itu seumur hidup, ia rela. Asal tidak ada lagi ketidakadilan untuk Son Ye Jin dan kedua anaknya. Ia tidak ingin lagi melihat kesedihan di wajah ibu tirinya itu.

“Shin Hye-ya.. Tolong jawab aku..” kata Yonghwa lagi.

Shin Hye menarik nafas panjang seraya memejamkan matanya. Ketika ia menghembuskan nafasnya perlahan, ia membuka serta kedua matanya.

“Kyuhyun oppa.. Tolong antarkan aku pulang.” Kata Shin Hye tegas.

Kyuhyun yang sejak tadi diam karena memikirkan keputusan Shin Hye, tersentak mendengar adiknya itu memanggilnya.

“Shin Hye-ya.. Selesaikanlah dulu urusanmu baru aku akan..”

“Aku tidak punya urusan lagi disini. Oppa, jebal.. Antarkan aku pulang..”

Kyuhyun menuruti kemauan adiknya itu. Membantunya lolos dari pertanyaan-pertanyaan Yonghwa dan memohon pada Yonghwa untuk membiarkan Shin Hye sendiri dulu. Ia diam membisu setelah masuk ke dalam mobil. Pikirannya dipenuhi oleh kenyataan-kenyataan bahwa adiknya akan bertunangan dengan cinta pertamanya. Bahwa sebentar lagi mungkin mereka akan lebih sering bertemu dalam situasi yang tidak menyenangkan. Bahwa sebentar lagi ia harus menerima Siwon sebagai iparnya sendiri.

Dan sekali lagi ia harus merelakan cintanya pergi. Sekali lagi ia harus terluka karena kenyataan yang terlalu kejam yang tiada henti menghantamnya. Dengan pikiran kacau seperti itu, ia bahkan tidak mendengar tangis putus asa Shin Hye selama dalam perjalanan pulang.

*

            Pertemuan kedua antara keluarga Cho dengan Choi berikutnya berlangsung tertutup. Hanya anggota keluarga saja yang hadir. Para orang tua mendiskusikan bagaimana acara pertunangan Siwon dan Shin Hye akan dilangsungkan, sementara anak-anak mereka hanya duduk diam di sana. Menunjukkan sikap hormat dengan bersikap tenang.

Sedaritadi Siwon tak berhenti melirik ke arah Kyuhyun. Setiap melihat raut wajah murung itu, perasaan bersalah selalu menghampirinya. Ia tahu bahwa ia dan Kyuhyun masih saling mencintai, namun tidak mungkin bagi mereka bersatu jika keinginan orang tua mereka jauh lebih keras daripada keinginan mereka sendiri.

Siwon sendiri tidak mungkin mundur dari perjodohan itu, satu-satunya harapan adalah jika Shin Hye menolak. Mungkin Siwon bisa meminta orang tuanya menjodohkan dengan anak Cho yang lain, dalam hal ini Kyuhyun. Tapi harapannya hancur ketika seminggu lalu dirinya dan Shin Hye ‘berkencan’ atas perintah orang tua mereka, dan Shin Hye menyatakan kesediaannya untuk menerima pertunangan mereka. Maka ia tak punya pilihan lain lagi. Mungkin ia dan Kyuhyun memang tidak berjodoh.

“Baiklah, terima kasih telah berkunjung hari ini.” Terdengar Mr. Cho berkata pada Siwon dan kedua orang tuanya. Kemudian ia dan Mrs. Cho beserta In Sung dan kedua istrinya mengantar keluarga Choi ke halaman depan.

Saat itu juga Jonghyun mendekati adiknya dan menarik lengannya keluar ruangan. “Shin Hye-ya, katakan padaku yang sebenarnya. Mengapa kau dengan mudahnya menerima perjodohan ini.”

Shin Hye terdiam. Ia tidak berani bicara. Sejak ia memutuskan mengikuti kehendak ibunya, ia memang menghindari semua kontak dengan ketiga kakaknya. Ia takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya harus menjawab yang sebenarnya.

“Jawab aku!” kata Jonghyun dalam nada tegas.

Shin Hye masih terdiam dan menunduk. Ia tahu benar bagaimana sikap oppanya yang satu ini jika sudah marah. Jonghyun bisa meledak, tidak seperti Kyuhyun yang lebih bisa menahan diri.

“Cho.. Shin.. Hye..!” kata Jonghyun lagi kali ini memberikan tekanan dalam setiap kata-katanya.

“Aku menyukainya, oppa.” Jawab Shin Hye pendek. Ia masih terus menunduk dan tidak berani mengangkat wajahnya.

“Benarkah?” tanya Jonghyun tidak percaya. “Jika benar kau jujur pada perasaanmu sendiri, setidaknya kau bisa menatapku saat bicara. Jangan membuatku berpikir bahwa kau melakukan semua ini karena tekanan dari omoni.”

Shin Hye takut sekali. Orang yang paling ditakutinya di dunia ini bukan ayahnya atau ibunya melainkan Jonghyun. Kakaknya yang penyayang itu bisa menjadi sangat ganas bila sedang marah. Namun jika ia tidak menyangkal kecurigaan Jonghyun, bisa jadi ancaman ibunya akan menjadi kenyataan.

Pelan-pelan Shin Hye mengangkat wajahnya dan menatap Jonghyun. Dengan bibir bergetar, ia bicara. “Aku menyukai Siwon oppa. Omoni tidak pernah menyuruhku menerima pertunangan ini. Akulah yang berpikir meninggalkan Yonghwa-ssi karena kupikir tidak ada jalan lagi untuk kami berdua.”

“Kalau memang benar yang kau katakan, mengapa kau tidak membicarakannya dulu denganku? Bukankah aku sudah pernah berjanji padamu bahwa aku akan mengirim kau pergi jauh bersama Yonghwa jika omoni tetap tidak setuju? Jangan menipuku, aku tidak bodoh!” kata Jonghyun kesal.

“Jonghyun-ah.. Jangan bersikap seperti itu pada Shin Hye.”

Jonghyun dan Shin Hye menoleh. Mhia ada diantara mereka. Melihat itu, Shin Hye langsung berlindung di belakang tubuh kakak tirinya itu dan menyembunyikan wajahnya.

Jonghyun menarik nafas kesal. “Noona, tolong aku. Tolong nasehati dia untuk tidak mengikuti permainan gila ini. Jangan korbankan hatinya sendiri. Bukan hanya dia yang terluka, tapi juga Yonghwa, Siwon dan Kyuhyun hyung.”

“Tidak ada apa-apa lagi diantara kami. Jadi kau tidak perlu khawatir. Jika memang Shin Hye menyukai Siwon hyung, biarkanlah mereka bersatu. Tugas kita sekarang adalah memberi pengertian pada Yonghwa-ssi.”

Jonghyun berbalik dan mendapati Kyuhyun juga telah hadir diantara mereka. Jonghyun menatap kakaknya yang hanya terpaut beberapa jam lebih tua darinya itu. Sejujurnya ia tidak mengerti, dulu Kyuhyun seakan hendak gila karena Siwon meninggalkannya. Dari rasa kehilangan itu muncul kerinduan yang bercampur kebencian. Tapi ia tidak pernah menyangka Kyuhyun akan merelakan Siwon dengan mudah seperti ini.

“Hyungnim..”

“Jonghyun-ah, ada saat dimana kita harus berjuang dan ada saat dimana kita harus berhenti berharap. Inilah saatnya aku berhenti. Mungkin jalannya memang seperti ini. Setidaknya aku bahagia karena Siwon hyung mendapatkan seseorang yang baik.”

Setelah berkata demikian, Kyuhyun segera meninggalkan saudara-saudaranya itu lalu menyelinap naik ke kamarnya. Son Ye Jin yang ternyata juga sudah berada disana menangis perlahan. Sekali lagi, anaknya harus mengalah demi kebahagiaan saudaranya.

*

            Hari yang telah ditentukan tiba juga. Hari pertama di minggu kedua bulan april itu, pertunangan Siwon dengan Shin Hye dilaksanakan. Di tengah indahnya musim semi, dimana-mana bunga mulai bermekaran, burung-burung berkicau riang, dan matahari bersinar cerah menghangatkan setiap makhluk hidup di muka bumi, Kyuhyun menahan sesak di dadanya. Membiarkan cinta pertamanya pergi begitu saja.

Ia tahu, terkadang hidup itu tidak adil. Ada keadaan dimana dua orang di takdirkan untuk bertemu tapi tidak untuk bersama. Kadang Kyuhyun berpikir mengapa ia dulu bisa jatuh cinta pada Siwon. Padahal saat itu bukan hanya Siwon yang mengejarnya. Namun jika hati sudah memilih, sulit bagi kita untuk menolaknya.

Dan disaat ia yakin akan pilihannya, ia dihadapkan pada kenyataan-kenyataan sulit. Pertama Yoona muncul dan membeberkan kisah semalamnya dengan Siwon. Walaupun hal tersebut dilakukan dalam keadaan mabuk, siapapun tidak mau menerima kekasihnya tidur dengan orang lain.

Lalu saat ia berusaha memaafkan Siwon, muncul Kibum. Kembali ia dipisahkan dari Siwon. Hingga akhirnya Siwon benar-benar harus pergi dari Seoul. Kyuhyun memang mendengar bahwa Siwon melanjtkan kuliahnya di luar negeri, tapi ia tidak tahu dan tidak mau tahu dimana. Karena saat itu ia pikir Siwon pergi bersama Kibum.

Kini, setelah Siwon kembali sebagai lelaki bebas, kembali Kyuhyun harus merelakan Siwon pergi. Karena adiknya sendiri yang memintanya. Tidak, bukan cuma adiknya tapi juga keluarganya. Bagaimana mungkin ia merasakan bahagia jika Shin Hye nantinya akan terluka. Walaupun ia sedikit sangsi dengan keputusan adiknya itu, tapi ia tetap berusaha menghormatinya.

Kyuhyun hanya masih belum bisa mengerti mengapa Shin Hye dengan mudah putus asa padahal ia dan Yonghwa sudah berjuang selama empat tahun bersama. Selama ini mereka berdua selalu baik-baik saja. Yonghwa memang bukan dari kalangan bangsawan, tapi ia adalah lelaki jujur dan bertanggung jawab.

Yonghwa juga adalah pekerja keras yang pantang menyerah. Ia mengumpulkan uangnya demi mewujudkan mimpi Shin Hye untuk memiliki sebuah bakery. Shin Hye suka membuat kue dan roti, maka ia ingin sekali memiliki toko roti bersama Yonghwa. Dan ketikaYonghwa berhasil membeli sebuah bangunan kosong dan mengisinya kembali dengan apa yang menjadi tujuannya semula, Shin Hye malah meninggalkannya.

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia memandangi alam di sekitarnya. Hutan pinus kecil inilah tempatnya selalu melarikan diri. Tempatnya menjernihkan pikiran, tempatnya merasakan kebebasan dalam lingkungan keluarganya sendiri.

“Kyu..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Siwon berdiri disana, di tengah jalan setapak. Lelaki itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas putihnya. Apalagi ia berdiri diantara hijaunya dedaunan hutan pinus itu. Choi Siwon tampak seperti seorang pangeran.

Kyuhyun sempat terpana. Namun seketika ia tersadar bahwa Siwon sebentar lagi akan resmi menjadi iparnya sendiri. Mana mungkin ia berani membayangkan Siwon akan menjadi miliknya seperti dulu?

“Hyung.. Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mencarimu sejak tadi. Ketika kutanyakan pada Jonghyun, ia  bilang aku ada disini.” Jawab Siwon.

“Ada apa mencariku?”

“Aku ingin meminta maaf.”

Kyuhyun menoleh, ia menatap Siwon sambil tersenyum jengah. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, hyung. Anggap saja memang kita tidak berjodoh. Lagipula, aku turut bahagia bisa melihatmu bersama Shin Hye. Tolong jaga dia baik-baik, hyung.”

Siwon terdiam. Ia menunduk sebentar lalu menatap Kyuhyun dalam-dalam. Tangannya bergerak membelai wajah Kyuhyun, membelai wajah yang selama ini dirindukannya. Kyuhyun memejamkan matanya merasakan sensasi itu. Sensai hangat yang menghinggapinya ketika tangan Siwon menyentuh kulitnya.

“Kyu.. Ijinkan aku memelukmu. Ijinkan aku melakukannya, sekali saja. Karena setelah ini, tidak ada lagi kesempatan untuk kita berdua.” Kata Siwon pelan.

Kyuhyun membuka matanya perlahan lalu menunduk, ia tidak berani menatap Siwon. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, Siwon memeluk tubuh itu. Mendekapnya dalam-dalam, merasakan aroma yang dirindukannya, mengalirkan kasih sayang yang tak mungkin bisa ia berikan lagi setelah ini.

Kyuhyun membalas pelukan itu. Untuk sekali ini saja ia ingin memeluk Siwon sebagai lelaki yang pernah singgah di hatinya. Selanjutnya ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan menatap Siwon sebagai anggota keluarganya. Walaupun itu menyakitkan, namun ia akan berusaha sekuatnya untuk kembali menata hatinya.

“Saranghae Kyu.. Jeongmal saranghae..” bisik Siwon pelan.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia hanya terdiam dalam pelukan Siwon. Ketika Siwon meregangkan pelukannya lalu mengangkat dagu Kyuhyun menggunakan jemarinya, kedua mata mereka saling beradu. Tatapan mata penuh kerinduan pun mengalir diantara mereka. Tatapan yang juga diisi oleh kesedihan dan luka mendalam.

Pelan-pelan Siwon mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun lalu mengecup lembut. Kyuhyun membalas ciuman itu. Ciuman dalam yang biasanya memabukkan kini terasa menyakitkan. Namun Kyuhyun tahu, ini adalah yang terakhir. Kisah cinta mereka akan selesai sampai disini.

*

wonkyu sad

To Be Continued..