School Time

Title                :  School Time (1st teaser of the MBIAG’s sequel)

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor

Main Cast      : Baekhyun

Other Cast     : Yunho, Kyuhyun, Je Hoon, TOP, Donghae, Suho, and others

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary       : Akhirnya Baekhyun akan masuk sekolah, bagaimana reaksi para lelaki ini?

 

Mentari pagi bersinar cerah. Langit biru terlihat bersih tanpa awan. Burung-burung bernyanyi menyambut musim semi yang indah itu. Dari balik jendela di lantai dua di sebuah rumah mewah bergaya modern, terlihat seorang anak lelaki berumur tujuh tahun tengah tertidur pulas. Sinar mentari yang jatuh di wajahnya melalui kaca jendela sepertinya tidak mengusiknya sama sekali.

Tak lama kemudian seorang lelaki muda berparas manis memasuki kamar itu lalu tersenyum. “Aigoo.. Tidurnya lelap sekali. Aku tidak tega membangunkannya.”

“Ini adalah hari yang bersejarah untuknya, baby. Hari dimana ia akan menginjakkan kaki di sekolah untuk pertama kalinya.” Jung Yunho ikut masuk ke kamar itu lalu duduk di tempat tidur, tepat di samping kepala anaknya berada.

Cho Kyuhyun tersenyum. “AKu tahu, hyung. Aku masih ingat semalam betapa bersemangatnya ia menyiapkan peralatan sekolahnya dan tidak mengijinkan siapapun menyentuh ranselnya. Ia bahkan terus-menerus membelai seragam sekolahnya dan mengeluh mengapa pagi hari datang terlalu lambat.”

Keduanya tertawa seraya menatap satu-satunya buah hati mereka, Jung Baekhyun, yang masih tertidur pulas.

“Baekki.. Chagi.. Bangun sayang.. Sudah pagi.” Kyuhyun membelai rambut anaknya penuh sayang seraya mencoba membangunkannya.

“Hmmmmm..” Baekhyun hanya mengeliat bak anak kucing tanpa membuka matanya ataupun menjawab.

“Bukankah hari ini Baekhyunnie mau ke sekolah? Hari pertama sekolah tidak boleh terlambat, chagi.”

Mata Baekhyun sepenuhnya terbuka ketika mendengar kata ‘sekolah’. Dengan cepat ia langsung bangun dari tidurnya dan melompat turun dari tempat tidurnya.

“Appa.. Eomma.. Baekki mau mandi.. Sekolah.. Baekki mau sekolah..” ujarnya sambil melompat-lompat riang.

Kyuhyun tertawa lalu berpura-pura cemberut. Tangannya bersedekap di depan dadanya. “Mana ciuman selamat pagi untuk eomma dan appa?”

Baekhyun menyeringai lalu menghampiri kedua orang tuanya, menghadiahkan ciuman kecil di pipi keduanya lalu kembali melompat-lompat dengan tak sabar. “Cepat appa, Baekki mau ke sekolah.”

“Baiklah, kau akan mandi dengan appa sementara eomma akan menyiapkan sarapanmu. Let’s go buddy.” Kata Yunho seraya merentangkan tangannya.

Baekhyun menyambut rengkuhan ayahnya lalu melompat ke dalam pelukan hangat itu.

*

            Baekhyun menyantap sarapannya dengan lahap hanya karena eomma-nya mengatakan bahwa gurunya akan terkesan dengan anak yang pandai karena menghabiskan makanannya. Hal yang sama terjadi ketika ia akan mengenakan sepatunya. Ia melakukannya sendirian, bahkan ia mengikat tali sepatunya dengan benar. Lagi-lagi hal ini terjadi karena hasutan dari sang eomma yang mengatakan kalau ia akan dipuja oleh teman-temannya jika ia bisa mengikat tali sepatunya dengan benar.

Dan Baekhyun menelan semua kata-kata itu seperti ia menelan susunya pagi ini. Ia sama sekali tidak curiga kalau hal itu hanyalan alasan Kyuhyun agar membuat anaknya lebih mandiri.

Waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit ketika Baekhyun sudah siap berangkat. Mereka bisa saja pergi jam tujuh pagi karena sekolah akan di mulai pukul delapan nanti. Tapi Baekhyun bersikeras ingin menjadi orang pertama yang sampai di sekolah sebelum anak-anak lainnya.

Berkali-kali ia mencuri pandang ke arah kaca jendela mobil mewah ayahnya untuk memastikan bahwa ia sudah terlihat tampan dan rapi.

“Narsis sekali.” Bisik Yunho pada Kyuhyun ketika dilihatnya Baekhyun sekali lagi menyisir rambutnya menggunakan jari-jari kecilnya dan merapikan pakaiannya sekali lagi.

“Tentu saja. Ia mengingatkanku pada seorang lelaki yang selalu mengecek penampilannya semenit sekali setiap akan keluar dari rumah. Sifatnya itu pasti menurun pada anakku.” Balas Kyuhyun sambil melirik suaminya.

Yunho tahu, dirinya lah yang disindir oleh Kyuhyun. Karena seperti itulah yang terjadi ketika ia hendak keluar rumah, tidak berhenti berkaca dan memastikan penampilannya sudah sempurna.

Tiba-tiba beberapa mobil mewah muncul di halamannya. Pintu-pintu mobil itu terbuka bersamaan dan dari dalamnya muncul orang-orang yang sangat dikenalnya : Je Hoon dan Seung Hyun di mobil pertama, Donghae dan Suho di mobil kedua, Geun Suk dan In Ah di mobil terakhir. Hanya Ji Sub dan Wonbin yang absen hari ini karena mereka berada di New York sejak dua hari lalu.

Wajah-wajah tampan mereka terlihat mengantuk tapi anehnya mereka tidak tampak lelah. Sebaliknya, mereka justru terlihat sangat ceria. Dan seakan tidak melihat Kyuhyun dan Yunho, mereka menyerbu si kecil Baekhyun.

“Baekhyunnie.. Ini hari pertamamu pergi ke sekolah. Wah kau tampan sekali.” Puji Yoo Ah In seraya mengacak rambut si kecil.

Bukannya senang atas pujian itu, Baekhyun justru menjerit. “Ya! Ahjussi! Jangan mengacak rambutku. Baekki sudah menyisirnya dengan rapi.”

“Jangan marah Baekki. Nanti ketampananmu hilang. Aku akan memperbaikinya.” Suho melangkah ke samping Baekhyun lalu menata kembali rambut halus itu dengan jari-jarinya.

“Kami semua kemari untuk mengantarmu ke sekolah.” Kata Donghae.

Geun Suk mengiyakan. “Benar. Kami ingin melihatmu masuk ke gerbang sekolah. Bahkan kami juga akan menjemputmu sepulang sekolah.”

“Jangan!”

Keenam lelaki itu menoleh. Ternyata Kyuhyun lah yang berbicara.

“Maksudku, jangan menjemputnya beramai-ramai seperti itu.”

Protes-protes langsung terdengar.

“Ya! Mana mungkin kami tidak diijinkan menjemput Baekki?”

“Dia sudah seperti anakku sendiri.”

“Aku akan tetap menjemputnya, tidak peduli kau akan melarang atau tidak.”

Yunho mengangkat tangannya, memberi isyarat agar yang lainnya tenang. Setelah keenam lelaki itu diam, barulah ia bicara. “Maksud Kyuhyun bukan kalian tidak boleh menjemputnya. Boleh saja, tapi tidak beramai-ramai. Kalian boleh mengatur schedule siapa yang akan menjemputnya setiap hari. Jadi setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama.”

“Benar.” Kyuhyun menambahkan. “Karena jika kalian menjemputnya beramai-ramai, akan terlihat aneh. Dia hanya anak biasa, bukan anak presiden atau anak spesial lainnya. Aku tidak mau ia justru mendapat ledekan dari teman-temannya karena hal ini.”

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan menjemputnya bergiliran. Tapi hari ini, karena ini adalah hari pertamanya bersekolah, tolong biarkan kami mengantar dan menjemputnya.” Kata TOP yang langsung diiyakan dengan anggukan dari Yunho.

“Dan kalau kau mengatakan Baekhyun hanya anak biasa, kau salah. Ia sangat spesial untuk kami. Dan untuknya kami rela memberikan apa saja, bahkan nyawa sekalipun.” Kata Je Hoon tajam.

Kyuhyun benar-benar terharu dibuatnya. Ia tidak akan khawatir lagi kalau begini. Baekhyun dicintai oleh para pamannya. Sudah pasti ia akan dilindungi kapan dan dimanapun ia berada.

“Appaaaa… Kenapa kita belum juga berangkat?” Tanya Baekhyun dengan cebikan khas di bibirnya.

“Kita berangkat sekarang chagi, kemarilah, naik ke mobil.” Kata Yunho seraya membukakan pintu mobil untuk putra semata wayangnya itu.

“Tunggu. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan langsung pada Baekhyun.” Kata Geun Suk.

Dahi Kyuhyun berkerut. “Apa itu?”

Keenam laki-laki itu mendekati Baekhyun yang sudah berdiri di antara kedua orang tuanya alih-alih menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Baekki, ini adalah jam tangan perekam. Kau bisa merekam suara melalui jam tangan ini dan hasilnya sangat jernih, seperti mendengarkan seseorang bicara langsung di telingamu.” Kata Je Hoon seraya melingkarkan sebuah jam tangan mungil di pergelangan tangan kiri Baekhyun.

“Ini adalah pena melarikan diri. Tekan tombolnya dan ujungnya akan mengeluarkan tali tipis yang sangat kuat yang lalu mencari sasaran sebagai penyangga. Kau tinggal memegangnya erat-erat dan pena ini akan membawa dan menyelamatkanmu di situasi-situasi tertentu.” Kata Ah In lalu memasukkan pena tersebut ke dalam ransel Baekhyun.

“Kalau yang ini adalah kalung pengintai yang dilengkapi dengan video recorder berdurasi dua jam. Kau cukup memakainya setiap hari lalu mengaktifkannya di saat-saat tertentu. Ia akan merekam apa saja yang ada di depanmu.” Kali ini Geun Suk memberikan hadiahnya. Baekhyun dengan senang hati memakai kalung berliontin senapan itu ke lehernya.

“Bubuk ajaib. AKu sendiri yang meramunya. Lemparkan sedikit saja kepada seseorang dan ia akan sedikit buta karenanya hingga jika kau dalam kesulitan, ia tidak bisa mengejarmu.” TOP memberikan hadiahnya dengan hati-hati. Bubuk ajaibnya di tempatkan di sebuah botol plastik kecil lalu di letakkan di kantong sebelah kiri ransel Baekhyun.

“Aku butuh tahu dimana kau berada setiap saat, Baekki. Jadi kapanpun kau tidak bersama kami atau kedua orang tuamu, tolong pakailah selalu cincin ini. Ini adalah alat pelacak terbaik. Jangan sampai hilang, ne?” Donghae menyematkan sebuah cincin mungil ke jari tengah Baekhyun, jari yang cukup aman menurutnya dibanding jari lainnya mengingat posisinya di tengah.

“Dan yang ini adalah dariku.” Kata Suho seraya menyerahkan sebuah benda berbentuk kotak, remote control dengan layar kecil. “Mungkin orang-orang akan melihatnya sebagai game controller, tapi fungsinya adalah sebagai senter sekaligus laser.”

Baekhyun sedikit terkejut dengan pemberian semua ahjussi-nya yang secara tiba-tiba itu. Terlebih ketika wajah appanya berubah sedikit cemas.

“Teman-teman, untuk apa memberinya barang-barang seperti itu? Kita tidak lagi dalam masa perang bukan? Lagipula, bisa jadi Baekhyun salah menekan tombol dan terjadi hal-hal yang justru sangat tidak kita inginkan.”

Lee Je Hoon dengan cepat menanggapi. “Mencegah kemungkinan buruk itu jauh lebih baik daripada menghambat. Kami hanya memberinya barang-barang sederhana yang sekiranya nanti dapat ia pakai sebagai pertahanan.”

Yoo Ah In mengangguk setuju. “Benar, kita tidak tahu apa yang akan terjadi bukan? Hanya mencegah kemungkinan buruk.”

“Lagipula..” Donghae menambahkan. “Aku yakin Baekhyun sangat mengerti fungsinya dan ia akan menggunakannya secara bijaksana.”

“Dia masih terlalu kecil. “ sanggah Kyuhyun. “Dia belum mengerti apa maksud kalian semua. Dia hanya menerimanya sebagai hadiah dari keluarganya.”

“Tujuh tahun dia tumbuh di lingkungan kita, Kyu. Walaupun ia tidak pernah melihat kita membunuh atau melukai seseorang, tapi dia adalah anak yang cerdas. Aku sangat yakin kalau Baekhyun sangat mengerti seperti apa kita semua.” Kali ini TOP yang angkat bicara.

Namun perkataan para ahjussinya memang benar. Baekhyun adalah anak yang sangat cerdas. Sifat dan bakat gangster secara tidak langsung sudah menurun kepadanya. Ia memang tidak pernah melihat pertempuran. Ia hanya mendengar bisik-bisik juga beberapa peralatan para pengawalnya itu juga betapa seriusnya para penjaga di sekeliling rumahnya. Belum lagi sikap appa-nya yang selalu serius ketika mengajarinya ilmu bela diri. Ia sudah tahu dari dulu bahwa ini bukanlah keluarga biasa.

“Baekki mengerti. Baekki tahu pekerjaan appa dan ahjussi. Tapi Baekki tidak takut, Baekki sangat bangga. Kalau sudah besar nanti, aku ingin ikut appa dan ahjussi berperang.” Kata Baekhyun dengan lantang.

“Ooopss..” kata Baekhyun seraya membekap mulutnya. “Baekki lupa, mulai hari ini Baekki akan memanggil semua ahjussi dengan sebutan uncle. Karena kata appa kalian semua masih muda. Dan samchon untuk Suho dan Donghae ahjussi, eh maksudnya samchon. Lagipula semua sudah berbaik hati memberikan Baekki hadiah.”

“Mengapa kami dibeda-bedakan seperti ini?” protes Je Hoon. “Harusnya semua menjadi uncle atau samchon.”

“Suho dan Hae samchon adalah paman Baekki.” Baekhyun mempertahankan argumennya.

“Tapi Donghae bukan pamanmu.” Kata Yoo Ah In dengan iri.

“Tapi teman baik eomma. Jadi Donghae ahjussi akan jadi Donghae samchon.”

“Mana bisa seperti itu?”

“Ya! Baekhyunnie, ini tidak adil!”

Kembali protes-protes terdengar. Mau tidak mau Yunho memutuskan untuk berhenti menonton dan langsung turun tangan.

“Baekhyunnie, semuanya sayang padamu dalam porsi yang sama. Semuanya rela mempertaruhkan nyawa untuk Baekki. Jadi, untuk apa ada perbedaan?” tanya Yunho lembut.

Baekhyun mengembungkan kedua pipinya. “Arasso.. Semuanya akan jadi uncle kalau begitu.”

Gumanan lega langsung terdengar dimana-mana.

“Lagipula uncle lebih gampang, appa. Geun Suk uncle, lemparkan senjatanya, ada musuh disana. Dor dor dor!” seru Baekhyun riang seraya memperagakan adegan menembak ke sembarang arah.

“Tidak akan ada peperangan.” Sahut Kyuhyun kesal. “Cepat naik ke mobil atau kau akan terlambat ke sekolah.”

Baekhyun hanya bisa menurut dengan cemberut.

*

Sekolah dasar tempat Baekhyun akan menimba ilmu ke depannya itu bisa dikatakan sebagai yang terbaik di Seoul. Dengan para pengajar handal, kurikulum terdepan disertai fasilitas lengkap, biaya yang dikeluarkan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat ini tidak sedikit.

“Huaaa… appa.. sekolah Baekki besar sekali.. Baekki suka.” Jerit Baekhyun riang ketika ia sudah turun dari mobil.

“Kau suka? Semua yang terbaik ada di sini. Tugasmu di sini adalah bersenang-senang, bermain dan berteman sebanyak-banyaknya. Tapi jangan melupakan tugas utamamu untuk belajar dan menjadi yang terbaik.” Kata Kyuhyun seraya memeluk buah hatinya itu.

“Pasti eomma. Baekki akan mengalahkan semua anak di kelas. Baekki harus jadi ketua kelas.” Kata Baekhyun dengan bangga.

“Tapi kau tidak boleh sombong, ne? Harus selalu mendengarkan gurumu dan menjaga teman-temanmu.”

“Tentu, Baekki ingin punya teman seperti teman-teman appa.”

Yunho tersenyum melihat anaknya yang penuh semangat itu. Ia kemudia berjongkok di depan Baekhyun dan menatap anaknya dengan serius.

“Baekhyunnie, hari ini adalah hari bersejarah yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu. Isilah dengan hal-hal berarti. Hari ini adalah pertama kalinya kau bersekolah, bertemu teman baru atau bahkan sahabat baru, dan sendirian tanpa kami semua selama enam jam kedepan. Buatlah appa dan eomma bangga. Jadilah anak baik.”

Baekhyun melintangkan tangan kanannya di depan dadanya, seperti mengambil sumpah suci, ia berkata dengan serius. “Baik appa. Baekki akan menuruti semua kata-kata appa dan eomma.”

Kedua orang tuanya bergantian memeluknya.

“Ayo kita masuk.” Kata Kyuhyun lalu meraih jemari kecil Baekhyun.

Ketiganya bergerak memasuki halaman sekolah, begitu juga keenam lelaki di belakang mereka.

“Ya! Mengapa kalian ikut masuk? Nanti kalian akan menakuti anak-anak lain di dalam. Lagipula akan menjadi pertanyaan mengapa Baekhyun diantar beramai-ramai seperti ini.” protes Kyuhyun ketika menyadari para lelaki itu mengikuti mereka hingga ke depan kelas Baekhyun.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau hari ini adalah pengecualian?” TOP dengan cepat membalas protes Kyuhyun.

Kyuhyun baru akan meladeni TOP ketika seseorang mendekat. Seorang gadis cantik dengan rambut panjang dan mata bersinar ramah menghapiri mereka.

“Oh.. cantik sekali..” goda Yoo Ah In.

“Hai.. Mentari pagi.. Namamu pasti Sunny..” kali ini godaan keluar dari bibir Geun Suk.

Yunho langsung melemparkan pandangan memperingatkan. Bukan hanya karena wanita itu adalah wanita asing yang harus dihormati melainkan juga karena ia mencegah Baekhyun mendengar hal ini.

Para lelaki itu langsung diam. Mereka tidak ingin hari pertama Baekhyun ke sekolah jadi kacau hanya karena si kecil mengamuk.

“Anneyong haseyo.. Perkenalkan, namaku adalah Seohyun. Aku adalah wali di kelas ini.” kata gadis muda itu seraya menunjuk ke kelas yang akan menjadi kelas Baekhyun nantinya.

Yunho dan Kyuhyun mengangguk bersamaan, memberikan salam pada Seohyun lalu memperkenalkan Baekhyun padanya seraya berdoa gadis muda itu akan tahan terhadap sikap Baekhyun nantinya, siapa tahu Baekhyun tidak menepati janjinya untuk bersikap baik. Mengingat pada saat pre-school yang dilakukan di rumah saja sudah membuat gurunya nyaris menangis setiap hari. Mungkin ia akan mengundurkan diri andai Kyuhyun tak terus menerus menahannya dengan menaikkan bayarannya.

“Jadi, namamu adalah Baekhyun? Selamat datang. Rupanya banyak sekali orang yang menyayangimu, terlihat dari banyaknya yang mengantarmu saat ini.” kata Seohyun lagi, melirik kumpulan lelaki tampan yang mengantar Mr. Jung cilik.

“Ahjuss.. maksudnya uncle hanya ingin melihat kelas Baekki.” Jawab Baekhyun malu-malu. Tepat pada saat itu, bel tanda masuk kelas sudah berbunyi.

Seohyun mengangguk. “Baiklah, karena bel sudah berbunyi, artinya Baekhyun harus segera masuk kelas.”

Kyuhyun tahu, ini saatnya melepaskan anaknya untuk sementara. Ia pasti akan sangat merindukan Baekhyun yang nakal dan menggemaskan selama beberapa jam kedepan. Dan ia pasti akan merasa sangat kesepian mengingat ia sudah terbiasa melihat Baekhyun di sekitarnya.

“Rumah pasti akan terasa sangat sepi. Pertama tanpa kau, hyung, karena kau harus bekerja. Sekarang anak kita akan bersekolah.” Kata Kyuhyun sedih, berusaha keras menahan tangisnya. Ia sendiri sudah berhenti bekerja sejak ia melahirkan Baekhyun.

“Jangan sedih, kau bisa jalan-jalan atau bersantai sejenak. Mulanya akan terasa aneh, lama-lama kau akan terbiasa.” Yunho menenangkan istrinya dengan mengusap lembut pundak Kyuhyun.

“Apa ia akan baik-baik saja? Apa uang yang kita berikan cukup untuk membeli makanan di kantin? Apa bekal yang disiapkan bisa membuatnya bertahan? Apa teman-temannya akan bersikap baik padanya?” tanya Kyuhyun ketakutan. Ia masih menggenggam erat jemari kecil Baekhyun, belum rela melepaskannya.

“Baby.. Ia akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Ia adalah anak kita bukan, ia sudah kuat sejak kecil. Jadi, sekali ini, percayalah padanya.” kembali Yunho menenangkan Kyuhyun.

Setelah mendengar kalimat suaminya,  barulah Kyuhyun mau melepaskan genggamannya.

“Appa.. Eomma.. Uncle.. Baekki akan masuk ne? Jemput Baekki sepulang sekolah, ne?” kata Baekhyun dengan suara lemah. Semua tahu, Baekhyun nyaris menangis saat ini. Tapi ia berusaha keras terlihat gembira agar tidak ada yang khawatir terhadapnya.

“Baekhyun-ah, ayo masuk..” panggil Seohyun yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk. Hanya Baekhyun yang tersisa di luar kelas.

Baekhyun melangkah pelan meninggalkan rombongan yang mengantarnya. Air mata Kyuhyun langsung jatuh melihat anaknya melangkah pergi. Langkah Baekhyun terasa sangat berat. Ketika selangkah lagi ia mencapai Seohyun, ia berbalik ke belakang dan melihat wajah-wajah cemas di sana. Dengan cepat ia berlari dan memeluk semua pengantarnya satu persatu. Dan betapa leganya ia karena bebannya terasa ringan kini.

Dengan riang ia berkata. “Sampai jumpa semua, Baekki akan melakukan yang terbaik hari ini.” kemudian ia kembali berlari ke arah wali kelasnya lalu keduanya menghilang ke dalam ruang kelas.

*

“Eommaaaaaaaaa… Appaaaaaaaaaa…” jerit Baekhyun riang ketika melihat kedua orang tuanya menjemputnya sepulang sekolah. Ia memeluk keduanya bersamaan. Kedua tangan kecilnya dikalungkan di leher kedua orang tuanya.

“Baekhyunnieeeee..” jerit para uncle dengan tak kalah riangnya.

“Uncleeeee… Wah, semuanya menjemput Baekki. Semuanya menepati janji. Yeaahhhhh..” jerit riang sekali lagi terdengar dari bibir kecil Baekhyun.

“Nah, bagaimana rasanya ke sekolah untuk pertama kalinya?” tanya Kyuhyun.

“Semuanya menyenangkan, eomma. Teman-temanku, guruku, lapangannya besar sekali, kami tadi bermain bola setelah makan siang. Dan bahkan makanan disini semuanya enak.” Kata Baekhyun berapi-api.

“Lihat kan? Ia baik-baik saja. Kau hanya perlu percaya padanya, baby.” Kata Yunho pada Kyuhyun. Ia lalu berpaling pada anaknya. “Lalu, apa kau mendapatkan teman baru?” tanya Yunho.

Baekhyun menepuk dahinya. “Oh, Baekki lupa. Sebentar..”

Anak kecil itu berlari ke balik tembok sebentar lalu muncul dengan anak lelaki lain. Anak itu terlihat malu-malu ketika Baekhyun menariknya. Ia terus menunduk, menghindari tatapan-tatapan para penjemput Baekhyun, terutama para uncle Baekhyun.

“Appa, eomma, uncle, ini adalah teman sebangku Baekki. Dia sangat baik. Tadi kami bertukar bekal dan membeli minuman bersama. Ia juga menyukai es krim cokelat. Namanya adalah Kyungsoo, Jo Kyungsoo.” Baekhyun memamerkan sahabat barunya.

“Halo, Kyungsoo..” sapa Kyuhyun dengan ramah. Tapi si kecil Kyungsoo tidak mengangkat wajahnya. Ia masih menunduk.

“Tidak apa-apa, Kyungie. Appa, eomma dan uncle Baekki semuanya baik. Mereka akan sayang juga pada Kyungie.” Bisik Baekhyun dengan lembut.

Yunho mengangkat alisnya. ‘Kyungie? Baekhyun bahkan sudah memanggil Kyungsoo dengan nama kecilnya? Betapa mudahnya anak-anak saling dekat, tidak seperti orang dewasa yang membutuhkan proses.

“Tidak apa-apa, Kyungsoo.. Aku adalah appa Baekhyun. Kemarilah.” Pelan-pelan Yunho berjongkok lalu meraih jemari kecil Kyungsoo dan menariknya lebih dekat padanya dan Kyuhyun. Di sebelahnya, Kyuhyun ikut berjongkok.

Dengan ragu Kyungsoo mengangkat wajahnya. Wajah anak itu berbentuk oval dengan pipi gempal dan mata besar yang bersinar malu-malu. Ia mirip dengan Baekhyun, kecuali mata dan bibir keduanya. Mata Kyungsoo berbentuk bulat sedangkan mata Baekhyun lebih kecil dan menyipit. Bibir Kyungsoo berbentuk hati dan berisi sedangkan bibir Baekhyun lebih tipis. Disamping itu, keduanya cukup mirip.

Saat itu juga, entah mengapa, hati Yunho dan Kyuhyun menghangat. Perasaan ketika melihat Kyungsoo sama seperti melihat Baekhyun, penuh rasa sayang.

“Aku terlalu merindukan mempunyai anak lagi hingga aku langsung jatuh cinta ketika melihat Kyungsoo. Oh, dia manis sekali, hyung..” Bisik Kyuhyun pada Yunho.

“Kita sepemikiran, baby. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kau tahu sendiri bagaimana reaksi Baekhyun kalau kita akan memberinya adik.” Yunho ikut berbisik di telinga istrinya.

“Kyungie.. Apa aku boleh memanggilmu, Kyungie?” tanya Kyuhyun.

Jo Kyungsoo mengangguk.

“Kau manis sekali.” Kyuhyun tidak tahan lagi, ia mendaratkan cubitan gemas di kedua pipi Kyungsoo. Membuat sang pemilik pipi bersemu merah.

“Kau benar-benar manis, Kyungie. Orang tuamu pasti sangat sayang padamu.” Kata Yunho seraya mengacak rambut Kyungsoo.

Bahkan rambutnya pun sangat bagus.’ Kata Yunho dalam hati, mengagumi sahabat anaknya itu.

“Nah, Kyungie, itu adalah uncle yang aku ceritakan.” Tunjuk Baekhyun seraya menunjuk para unclenya yang sedaritadi menunggu untuk dikenalkan.

Ia lalu membawa Kyungsoo mendekat pada uncle-uncle nya lalu mengenalkan mereka satu persatu dengan bangga. Seperti biasa, Baekhyun akan sedikit bersikap bossy di depan para uncle-nya.

“Kyungsoo..”

Yunho menoleh, seorang lelaki jangkung berambut pirang berdiri disana, menatap Kyungsoo dengan tatapan yang sama seperti miliknya.

“Krisss….”  Kyungsoo berlari ke pelukan sang lelaki jangkung. Barulah Kyuhyun dan Yunho bisa melihat Kyungsoo bersikap santai. Ia bahkan tersenyum lebar.

“Halo.. Kami adalah orang tua Baekhyun, teman sekelas Kyungsoo.” Kata Yunho memperkenalkan diri.

“Halo.. Aku Kris. Aku adalah paman Kyungsoo. Senang berkenalan dengan kalian. Maaf, kami tidak bisa lama-lama, aku masih ada urusan setelah ini.” kata lelaki jangkung alias Kris itu.

“Tidak sopan sekali.” Bisik Je Hoon dengan kesal. Walaupun ia tertarik dengan gaya berpakaian Kris yang hampir sama dengan caranya dan TOP berpakaian.

“Seolah kita akan menculik Kyungsoo. Lihat caranya memegang anak itu.” Donghae ikut berbisik.

“Tapi anak itu manis sekali.” Kata Suho dengan pandangan memuja.

“Ya! Kami sedang membicarakan pamannya!” hardik Geun Suk.

“Ah, tidak masalah. Kami mengerti. Nah, sampai jumpa lagi, Kyungsoo, Kris. Hati-hati di jalan.” Terdengar Yunho menjawab dengan sopan.

Setelah membungkuk hormat dan melambai pada Baekhyun, Kyungsoo dan Kris berbalik pergi. Anak itu terlihat senang sekali, ia bahkan melompat-lompat riang sambil berjalan.

“Ia pasti menceritakan apa saja yang ia lalui di sekolah hari ini. Ah, aku suka sekali pada anak itu.” kata Kyuhyun, masih tetap memandang sosok Kyungsoo hingga anak itu menaiki mobil mewah berwarna hitam di depan sana.

“Nah, ayo kita pulang.” Kata Kyuhyun seraya menarik Baekhyun ke mobil, diikuti para lelaki yang ikut menjemput Baekhyun hari itu.

Yunho baru akan ikut berbalik ketika dilihatnya TOP berdiri mematung menatap ke depan. Di sampingnya, Yoo Ah In memegang lengan TOP dengan keras, ekspresinya sama dengan ekspresi orang di sebelahnya.

Yunho mengikuti arah pandangan keduanya dan mendapati seorang lelaki bertampang dingin keluar dari salah satu ruangan di sekolah yang tampaknya seperi ruang guru. Lelaki itu awalnya tidak menyadari tatapan TOP maupun Ah In, namun sebelum berhenti di samping mobil sport-nya, ia menoleh lalu tersenyum dingin.

“Nickhun..” bisik TOP. Wajahnya pucat karena shock sedangkan ia sendiri masih mematung di tempatnya. Lain lagi dengan Ah In yang memandang sosok yang bernama Nickhun itu dengan penuh kebencian.

Di sana, lelaki yang bernama Nickhun itu berdiri. Masih dengan senyum dinginnya, ia menatap TOP dan Yoo Ah In. Tiba-tiba lelaki lain keluar dari dalam mobil sport itu, ikut menatap kedua anggota klan Naga itu dengan seringaian mengerikan.

Bahkan Yoo Ah In kini terbelalak. “G-Dragon?”

Nickhun? G-Dragon? Siapa mereka?’ pikir Yunho. Dan entah mengapa, tiba-tiba perasaannya memburuk.

*

yunkyubaek-mbiag2

           To Be Continued..

 

The sequel of My Boyfriend is A Gangster (MBIAG) will be released very soon after the second teaser. Don’t miss it..!

 

 

 

 

 

Advertisements

Obsession – Chapter 3

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff

Pair                  : YunKyu, JoonKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 3

The Mysterious Man

            “Yoon Doo Joon imnida.”

Lelaki itu memperkenalkan namanya. Ia tersenyum sopan, namun raut wajahnya seperti menunjukkan bahwa ia sulit didekati. Aura misterius terpancar dari dirinya, membuat siapa saja penasaran padanya.

“Nah Yoon Doon Joon, kau boleh duduk di bangku sebelah sana.” Tunjuk Leeteuk songsengnim ke bangku kosong tepat di sebelah Kyuhyun.

Doo Joon mengangguk hormat lalu berjalan ke bangku yang ditunjuk oleh gurunya di kelas barunya itu. Ketika ia sudah duduk di sana, songsengnim melanjutkan.

“Nah Doon Joon, di samping kirimu adalah Cho Kyuhyun dan yang dibelakangnya itu adalah Choi Minho, sang ketua kelas. Berhubung ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, maka kau tidak ketinggalan pelajaran sama sekali walaupun kau datang menjelang waktu sekolah berakhir. Setelah bel nanti, Kyuhyun dan Minho akan menemanimu berkeliling sekolah, memperkenalkan seluruh seluk beluk sekolah ini kepadamu.”

“Aku harus mengikuti rapat OSIS nanti. Bisakah Kyuhyun saja yang menemaninya, songsengnim?” jawab Minho cepat.

Leeteuk songsengnim mengangguk. Namun Kyuhyun malah berdecak kesal karenanya. Mengapa harus dia yang melakukannya? Bukankah banyak siswa lain yang mungkin lebih tertarik melakukannya?

Tak lama kemudian bel panjang tanda sekolah telah usai berbunyi. Dengan cepat para siswa itu merapikan buku-buku mereka lalu memasukkannya ke dalam tas masing-masing. Setelah mereka memberi salam pada Leeteuk songsengnim, mereka pun keluar satu persatu.

“Kyuhyun-ah, rapat OSIS tidak akan berlangsung terlalu lama. Tunggulah aku di kantin, ne? Begitu selesai, aku akan langsung menyusulmu. Ajaklah dia berkeliling. Maaf, aku tidak bisa membantumu.” Kata Minho tergesa-gesa. Tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, ia langsung berlari keluar meninggalkan Kyuhyun dengan Doo Joon sendirian.

Hening tercipta diantara keduanya. Tak lama kemudian Doo Joon bangkit dari duduknya dan berkata tanpa menoleh pada Kyuhyun. “Aku bisa berkeliling sendiri. Kau tidak perlu menemaniku.”

Sebenarnya Kyuhyun merasa lega karenanya. Tapi bagaimana kalau songsengnim tahu bahwa Kyuhyun tidak melaksanakan tugas yang diberikan padanya?

“Tidak apa-apa. Aku akan mengantarmu. Itu tugas dari songsengnim, aku harus melakukannya.” Jawab Kyuhyun mencoba ramah. Ia sedikit kurang suka dengan kesan misterius yang ada pada Doo Joon.

Doo Joon menggeleng. “Percayalah, aku baik-baik saja.”

Doo Joon langsung mengenakan tasnya. Kemudian ia membungkuk sebentar pada Kyuhyun dan berjalan keluar kelas.

Kyuhyun langsung mendengus sebal karenanya. Anak baru itu langsung terkesan sombong padahal belum dua jam ia ada di sekolah ini. Dengan jengkel Kyuhyun menyambar tasnya lalu ikut berjalan keluar.

“Kau! Ikut aku! Aku tidak mau mendengar penolakan! Kau merasa baik-baik saja tapi bagaimana denganku? Kau mau aku mendapat hukuman?” kata Kyuhyun dengan galak begitu ia berhasil mengejar Doo Joon dan memblokir jalannya.

Doo Joon tampak sedikit terkejut. “Bukan begitu. Aku hanya tidak mau merepotkan siapapun.”

“Kau tidak merepotkan. Nah, sekarang ikut aku. Aku akan menunjukkan padamu tempat-tempat di sekolah kita.”

*

            Yoon Doo Joon. Namja yang satu itu memang sedikit misterius. Ia selalu sendirian dan tidak pernah mencoba untuk bergaul. Jangankan mencampuri urusan orang lain, bicara saja jarang. Ia datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, beristirahat entah dimana lalu pulang sekolah, semuanya sendiri dan dalam diam. Siswa lainpun enggan mengajaknya bicara kalau tidak benar-benar perlu.

Tapi sepertinya Yoon Doo Joon tidak mempermasalahkan hal itu. Namun justru hal itulah yang membuat Kyuhyun penasaran. Bagaimana mungkin lelaki setampan itu justru sangat pendiam? Seolah-olah ia hanya akan bicara kalau dibayar. Sampai tiga bulan bersekolah pun, ia tetap penyendiri. Berkali-kali Kyuhyun mengajaknya bicara atau menawarkan bantuan padanya, tapi Doo Joon selalu menolak dengan sopan.

“Itu hanya perasaanmu saja. Mungkin sifatnya memang seperti itu. Biarkanlah.” Kata Minho suatu hari ketika Kyuhyun mengutarakan rasa penasarannya mengenai Doo Joon.

“Aku merasa ia menyembunyikan sesuatu. Bagaimana kalau ada apa-apa dengannya dan tidak ada yang tahu?” bantah Kyuhyun.

“Tenang saja, ia punya keluarga kan?” balas Minho cuek dan terus memainkan PSP di tangannya.

“Tapi keluarganya tidak ada di Seoul. Mereka ada di luar negeri.”

Minho menghentikan permainannya. Ia menatap Kyuhyun dengan sedikit bingung. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku.. Bertanya pada songsengnim. Dia.. maksudku Doo Joon, tidak punya keluarga di Seoul. Dia tinggal seorang diri.”

Minho membulatkan matanya mendengar pengakuan Kyuhyun. “Mwo? Ya! Kyuhyun-ah.. Mengapa kau mencari tahu tentang dirinya? Jangan bilang kau menyukainya! Ya! Kau sudah bisa melupakan Changmin hyung. Semudah itu kau jatuh cinta?”

Plaaakkkk. Sebuah tamparan kasar mendarat di kepala Minho.

“Ya! Aku mengkhawatirkannya sebagai teman, bukan apa-apa. Bagaimana mungkin aku dengan cepat menyukainya? Dasar bodoh!” omel Kyuhyun.

Minho mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat tamparan Kyuhyun. “Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan membuntutinya. Aku akan mencari tahu kenapa ia begitu pendiam. Ia seperti punya masalah tapi tidak tahu mau bercerita ke siapa. Dan kalau kau jeli memperhatikannya, ia seolah-olah datang ke sekolah hanya karena ia harus menyelesaikan pendidikannya. Ia seperti.. Ah, sulit untuk menjelaskannya. Bagaimanapun juga, sebagai teman aku harus membantunya.” Kata Kyuhyun yakin.

“Lalu bagaimana kalau ia tidak mau dibantu?”

“Itu urusan nanti. Yang jelas mulai hari ini, aku akan membuntutinya dan mencari tahu tentangnya.”

‘Dasar keras kepala!’ batin Minho.

*

            Seminggu kemudian, setelah direncanakan dengan baik, Kyuhyun dan Minho mulai mengikuti Doo Joon setelah pulang sekolah. Awalnya mereka sempat terkesima karena Doo Joon yang selalu menggunakan bus ke sekolah, ternyata tinggal di daerah elit. Ia juga menghuni salah satu apartemen di sana.

Kyuhyun dan Minho menunggu Doo Joon di pelataran parkir apartemen itu, karena menurut mereka, mungkin saja Doo Joon akan keluar. Namun setelah menunggu sekitar  hampir tiga jam, Doo Joon tidak juga muncul. Akhirnya keduanya menyerah dan memutuskan untuk pulang. Tapi ketika Minho akan menyalakan mesin mobilnya, dilihatnya Doo Joon muncul dengan gaya yang sedikit aneh di mata mereka.

Lelaki itu mengenakan pakaian serba hitam. Jaket kulit yang membungkus tubuhnya terlihat serasi dengan sepatu bootsnya. Yoon Doo Joon menaiki sebuah motor besar yang meraung cukup kencang ketika dinyalakan.

“Lihat! Itu Doo Joon. Mau kemana dia?” seru Minho.

“Ikuti saja dia! Yang jelas kita harus tahu dia akan kemana dan apa yang hendak dilakukannya. Cepat, dia sudah pergi.” Perintah Kyuhyun.

Minho segera menginjak pedal gas lalu melarikan mobilnya, membuntuti Doo Joon. Dalam perjalanan yang cukup panjang itu, Kyuhyun tak henti-hentinya memberikan instruksi agar ia lebih cepat mengejar Doo Joon mengingat lelaki itu melarikan motornya dalam kecepatan tinggi.

“Diamlah, Kyuhyunnie. Aku sudah berusaha mengejarnya. Tapi kau lihat kan, dia lihai sekali. Kalau kau tidak puas, kau saja yang menyetir!” bantah Minho kesal.

“Kalau aku bisa menyetir dengan baik, sudah pasti aku yang akan duduk di tempatmu saat ini. Sudah, cepat kejar dia, jangan sampai dia menghilang.” Balas Kyuhyun.

Keduanya masih saja bertengkar hingga akhirnya Doo Joon mulai melambatkan laju motornya dan berhenti di sebuah tanah lapang yang sangat ramai. Minho dan Kyuhyun mendadak ketakutan melihat apa yang terhampar di depan mata mereka.

Berpuluh-puluh motor besar bersama si pengendara berada disana. Beberapa diantaranya terlihat bersiap-siap untuk melakukan balapan, sementara yang lainnya tengah mengobrol, mengecek mesin motornya atau bahkan minum-minuman keras.

“Kyu, ini.. Ini tempat dimana para pembalap liar berkumpul. Kita harus segera pergi dari sini. Kalau kita sampai ketahuan, mereka tidak akan mengampuni kita.” Kata Minho setengah berbisik.

“Tidak! Aku harus melihat apa yang Doo Joon lakukan disini.”

“Untuk apa melihat lagi? Kau sudah tahu kan apa yang ia lakukan? Mana mungkin ia hanya menjadi penonton disini? Kau lihat sendiri kan bagaimana caranya mengemudikan motornya tadi?” kata Minho setengah histeris.

“Lihat! Dia benar-benar akan melakukan balapan. Oh Minho, apa yang akan kita lakukan?” kata Kyuhyun tanpa menghiraukan perkataan Minho sebelumnya.

Minho melihat Doo Joon sudah bersiap-siap di belakang garis kuning yang bisa dikatakan sebagai garis start bersama beberapa pengendara lainnya. Mesin motor mereka meraung-raung dengan bisingnya, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa akan tuli.

Diantara kebisingan itu, Minho masih bisa mendengar Kyuhyun membuka pintu mobil. “Ya! Kyuhyun!” Dengan cepat Minho menangkap pergelangan tangan Kyuhyun dan menariknya kembali ke dalam mobil.

“Lepaskan aku.” Kata Kyuhyun berusaha melepasan cengkraman Minho.

“Apa yang kau lakukan? Jangan bodoh! Kalau mereka melihatmu, kau akan dibinasakan saat itu juga. Mengertikah kau bahwa yang kita saksikan saat ini adalah ilegal? Kau bisa disangka orang luar yang membahayakan karena akan membawa polisi kemari.” jelas Minho panjang lebar namun dengan nada kesal.

“Tapi kalau kita tidak menghentikan Doo Joon, ia bisa terluka. Kau tahu kan betapa berbahayanya hal ini?” balas Kyuhyun dengan sama kesalnya.

“Tapi bukan berarti kau membahayakan dirimu sendiri karenanya. Lagipula, kau bisa lihat kan, ia bisa mengendarai motornya dengan baik. Kau juga bisa melihat bahwa orang-orang di sana tampak mengenalnya. Ia pasti sudah biasa melakukan hal ini. Tenanglah.”

Peluit panjang dibunyikan. Bersamaan dengan itu, sebuah bendera kecil dikibar-kibarkan. Motor-motor yang tadinya bersiap di belakang garis start segera melaju cepat, saling mendahului yang lain. Hal yang sama dilakukan oleh Doo Joon. Dalam beberapa detik, ia sudah hilang di telan malam.

“Lihat? Dia pergi sekarang. Bagaimana kita mengikutinya? Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang mengerikan disana?” tanya Kyuhyun dengan marah.

Minho menghela nafas kesal. “Ia akan baik-baik saja. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu. Yang jelas kita tidak boleh ketahuan telah mengikutinya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tahu maksud Minho baik. Tapi Kyuhyun tidak bisa mengusir rasa cemas di hatinya begitu melihat Doo Joon melakukan aksinya. Ia akhirnya menuruti saran Minho untuk tetap diam disana hingga Doo Joon kembali. Akan lebih baik jika mereka tahu rincian kejadiannya dari awal hingga akhir walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi selama Doo Joon melakukan aksi gilanya.

Tak sampai sepuluh menit, dari kejauhan terdengar bunyi suara motor berkejaran. Motor pertama muncul secepat cahaya, melesat dari balik kegelapan lalu dengan sebuah manuver cantik, sang pengendara memasuki garis finish. Pengendara itu Yoon Doo Joon.

*

            Selama berbulan-bulan kedepan, Kyuhyun dan Minho selalu mengikuti Doo Joon. Dari sana, mereka tahu bahwa jadwal balapan liar yang diikuti Doo Joon dilaksanakan setiap dua kali dalam seminggu. Waktunya tidak tetap. Perkiraan Minho, alasan waktu yang tidak tetap itu karena menghindari polisi.

Dari hasil mematai-matai itu pulalah keduanya tahu bahwa Doo Joon adalah seorang anak pengusaha ternama di Jepang. Ia adalah anak satu-satunya dan hanya tinggal sendiri di Seoul. Namun mereka tidak tahu lebih banyak lagi karena kepribadian Doo Joon yang tertutup. Di sekolah pun ia tidak punya teman. Ia melakukan segala sesuatunya seorang diri. Ia terlihat sangat dan menakutkan, tetapi ketika disapa, ia akan membalas dengan sangat sopan.

Hal ini membuat Kyuhyun sedikit frustasi karenanya. Semakin ia berusaha mencari tahu tentang Doo Joon, semakin sulit ia mendapatkannya. Semakin ia coba untuk mendekati lelaki itu, semakin tertutup lelaki itu terhadapnya. Yang kini ia tahu melalui pengamatannya sendiri adalah Doo Joon belajar dengan baik, mendengarkan guru dengan baik dan mendapatkan hasil yang baik juga karenanya.

“Berhentilah mengkhawatirkannya. Kita sudah membuntutinya, kita tahu bahwa selama ini ia baik-baik saja. Kau lihat sendiri bahwa ia tidak pernah membuat kekacauan, bahkan mendapatkan nilai yang cukup bagus di sekolah. Itu sudah menjadi bukti bahwa ia adalah anak baik-baik, hanya saja ia suka sendirian.” Jelas Minho siang itu ketika ia dan Kyuhyun mendiskusikan tentang Doo Joon.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tahu itu. Tapi tampaknya ia menyembunyikan sesuatu. Ia seperti melarikan diri dari semuanya ketika melakukan balapan itu. Tidakkah hal ini aneh? Bahkan seorang yang benar-benar pendiam pun pasti punya seorang teman.”

Minho menyipitkan matanya kepada Kyuhyun. “Kau tahu?  Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah kau menyukainya?”

Belum sempat Kyuhyun menjawab, sebuah bola basket melayang dan mendarat dengan keras tepat di wajahnya. Ia merasa pusing seketika, pandangan matanya berkunang-kunang. Wajahnya terasa panas dan.. darah segar keluar dari hidungnya.

“Kyuhyunnie..!” Kyuhyun tahu itu suara Minho.

“Kyu? Kyuhyun-ssi, kau baik-baik saja? Biar aku yang membawanya ke klinik.” Suara itu.. Kyuhyun sepertinya mengenal suara itu. Tapi karena kepalanya yang pusing, ia sulit membuka matanya dan melihat dengan jelas.

Detik berikutnya ia merasakan seseorang menggendongnya ala bridal style dan berjalan cepat entah kemana.

“Kyuhyunnie, bertahanlah.” Minho kembali bicara menyemangati Kyuhyun.

Pelan-pelan Kyuhyun membuka matanya. Awalnya, sekelilingnya tampak kabur. Namun lama kelamaan ia bisa melihat dengan jelas setelah beradaptasi dengan cahaya matahari yang menyilaukan. Lalu ia melihat siapa yang menggendongnya.

Rahang kokoh, bibir tegas, hidung lancip, dengan mata tajam yang kini tampak khawatir. Kyuhyun mencengkram jantungnya. Mimpi apa ia semalam? Ia kini tengah berada dalam pelukan seorang Jung Yunho. Dan ini bukan mimpi kan? Pikirnya. Ia rela setiap saat menderita sakit seperti ini kalau imbalannya ia akan terus dipeluk Yunho.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yunho ketika ia membaringkan Kyuhyun di ranjang kecil milik klinik sekolah. Di sebelahnya Minho tampak berdiri dengan cemas.

Kyuhyun mengangguk. “Aku baik-baik saja, sunbae. Tapi.. apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sudah lulus?”

Yunho tersenyum. Ia meraih kapas di samping tempat tidur lalu menyeka darah yang keluar dari hidung Kyuhyun perlahan. “Aku datang untuk mengurus sesuatu. Sebenarnya aku sudah dalam perjalanan pulang. Namun ketika lewat di lapangan basket dan bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain basket, aku tergoda untuk ikut bermain sebentar. Tak kusangka justru membuatmu seperti ini. Maafkan aku, ne?”

Kyuhyun hendak menjawab namun dilihatnya Doo Joon melintas di luar dengan beberapa lelaki yang ia tahu dari kelas lain. Ia tampak dibawa dengan paksa. ‘Tidak. Aku harus melakukan sesuatu.’ Pikirnya.

Dengan cepat ia bangkit lalu duduk tegak dengan pandangan horor. Ia memandang Minho dan berusaha memberi kode melalui matanya. Tapi tampaknya Minho tak juga mengerti.

“Aku harus pergi, hyu-maksudku sunbae. Terima kasih telah membantuku.” Kata Kyuhyun dengan cepat seraya melompat turun dari tempat tidurnya.

“Tapi kau mau kemana? Kau harus mendapatkan perawatan terlebih dahulu.” Cegah Yunho.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak apa-apa. Aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”

Setelah itu Kyuhyun langsung menyambar lengan Minho lalu berjalan tergesa-gesa keluar, membiarkan Yunho bertanya-tanya dengan sikapnya yang aneh.

“Kyu.. Tunggu!”

Kyuhyun berhenti. Ia berbalik dan menatap Yunho. Sungguh ia ingin tinggal lebih lama di samping lelaki itu. Kapan lagi ia punya waktu seperti ini? Tapi saat ini Doo Joon membutuhkan bantuannya.

“Kau.. Kau boleh memanggilku hyung..” kata Yunho pada akhirnya.

Kyuhyun  tersenyum. “Terima kasih hyung.” Setelah itu ia menarik Minho menjauh, membuat sahabatnya itu nyaris jatuh karena ditarik saat ia membungkuk hendak memberi hormat pada Yunho. Ia bahkan mengabaikan pertanyaan Minho tentang aksinya saat ini.

Akhirnya tiba juga mereka di lorong kecil yang menjadi pembatas antara laboratorium dan gudang. Lorong itu memang sepi. Biasanya dipakai hanya untuk jalan pintas untuk menuju ke perpustakaan atau jadi tempat persembunyian anak-anak yang suka membolos sambil merokok.

Kyuhyun melambatkan laju kakinya. Pelan-pelan ia mengintip, disana tampak Doo Joon yang dikepung tiga lelaki angkatan mereka.

“Dengarkan aku bodoh! Cepat serahkan uang itu. Kau terus-terusan menang, lagipula kau tidak tampak seperti orang susah.” Kata seseorang.

“Hah! Kalau kau tidak menang, itu salahmu sendiri. Kalau kau mau mendapatkan uang, menangkan saja balapan besok. Tidak usah memerasku seperti ini, karena kau tidak akan mendapatkan sepeserpun dariku.” Jawab Doo Joon.

“Jangan membuat kesabaranku habis. Cepat serahkan uang itu atau kau akan menerima akibatnya karena berani menentang kami!” kata lelaki yang lain.

Kyuhyun tak tahan lagi. Ia lalu keluar dari persembunyiannya, mengabaikan kata-kata ‘Jangan’ dari Minho.

“Kalau kalian berani menyentuhnya, aku akan melaporkan kalian ke songsengnim.” Katanya dengan berani.

Ketiga lelaki disana termasuk Doo Joon menoleh pada Kyuhyun. Detik berikutnya ketiga lelaki tadi tertawa terbahak-bahak.

“Lihat dia! Sok pahlawan, sok jagoan. Kau kira kami takut? Kami bahkan belum menyentuhnya. Bagaimana mungkin kami bisa disalahkan? Kau mau ikut campur? Ide bagus, setidaknya kau juga bisa merasakan bagaimana hebatnya tanganku ini.” kata lelaki sangar yang tampaknya menjadi pimpinan gerombolan kecil itu.

“Tidak masalah. Aku juga akan mengatakan bahwa kalian mengikuti balapan liar setiap dua kali seminggu jam sebelas malam. Lalu..”

“Ya! Bodoh! Baik kami pergi. Tapi sekali saja kau berani membuka mulut mengenai hal itu, kami tak akan segan-segan menghajarmu.” Kata lelaki tadi. Ia bahkan tampak sedikit gentar.

Ketiganya lalu pergi dengan marah. Begitu ketiganya tak tampak lagi, Kyuhyun dan Minho segera mendekati Doo Joon.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Minho.

Doo Joon menggeleng. Ia mengucapkan terima kasih lalu hendak beranjak pergi tapi Kyuhyun langsung memblokir jalannya.

“Setidaknya kau harus mendengarkanku dulu.”

Doo Joon hendak menghindar tapi sekali lagi Kyuhyun memblokir jalannya. “Berterima kasihlah dengan cara yang pantas dengan para penolongmu. Traktir kami makan siang.”

Doo Joon mengerutkan keningnya sebentar. “Traktir? Bukankah kalian baru saja menyelamatkanku dari para pemeras? Dan kini kalian memintaku untuk..”

Kyuhyun tampak malu. Tapi ia sudah bertekad ingin membangun hubungan baik dengan si pendiam nan misterius itu. Maka ia tak gentar dengan sindiran itu.

“Iya, traktir. Bukankah kami teman sekelasmu? Dan kami juga merahasiakan balapan liarmu dari songsengnim. Jadi, setidaknya berikan penghargaan pada kami.”

Doo Joon tersenyum kecil. “Baiklah. Tapi tidak hari ini. AKu berjanji akan mentraktir kalian beberapa hari lagi. Jangan hari ini.”

“Baiklah, kau boleh pergi. Maafkan Kyuhyun kalau ia terkesan berlebihan.” Kata Minho pada akhirnya.

Doo Joon hanya mengangguk lalu berlalu dari hadapan Minho dan Kyuhyun. Namun baru beberapa langkah, ia sudah berbalik lagi. Ia menatap Kyuhyun cukup lama lalu mendekati Kyuhyun. Setelah itu ia merogoh kantongnya dan mengeluarkan sapu tangannya. Pelan-pelan diusapkannya pada hidung Kyuhyun.

“Hidungmu berdarah. Pakai ini untuk sementara. Setelah pulang, pastikan kau membersihkannya dengan baik atau akan menjadi infeksi nantinya.”

Entahlah, tapi sentuhan kecil, perhatian sederhana dibarengi senyuman manis dari seorang Yoon Doo Joon mampu membuat jantung Kyuhyun berdebar kencang.

*

            Setelah pertemuan itu Yoon Doo Joon tidak pernah muncul di sekolah. Awalnya Kyuhyun mengira Doo Joon pulang ke Jepang untuk menemui orang tuanya. Tapi ketika ia bertanya ke wali kelasnya, Leeteuk, lelaki paruh baya itu mengatakan bahwa Doo Joon sedang sakit jadi ia tidak bisa menghadiri sekolah.

Maka siang itu Kyuhyun memberanikan diri menjenguk Doo Joon. Tadinya ia mengajak Minho untuk ikut serta, tapi Minho yang sebentar lagi akan bertanding basket dengan sekolah lain mengharuskannya untuk latihan intensif setiap hari.

402. Menurut pengelola apartment, kamar ini adalah milik Doo Joon. Kyuhyun menguatkan tekadnya lalu menekan bel di samping pintu berwarna silver itu. Butuh kesabaran ekstra untuk menunggu si pemilik kamar membukakan pintu, karena setelah Kyuhyun menekan bel beberapa kali barulah Doo Joon keluar.

Kyuhyun sempat terperangah melihat pemandangan di depannya. Yoon Doo Joon tampak berantakan. Matanya sembab dan merah. Beberapa tempat di wajahnya terlihat lebam, begitu juga di lengannya. Wajahnya pucat dan terlihat lemah.

“Doo Joon-ssi..”

Doo Joon menatap Kyuhyun tanpa ekspresi. “Ada apa?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Ada apa denganmu!” kata Kyuhyun dengan galak. Ia lalu memanjangkan lehernya dan mencoba melihat ke dalam kamar Doo Joon.

“Ya ampun! Lihat kamarmu! Minggir!”

Tanpa menghiraukan Doo Joon yang protes, Kyuhyun menyerbu masuk ke kamar lelaki itu lalu mulai melakukan acara bersih-bersih di ruang tamu apartemen mewah itu.

“Mengapa apartemenmu berantakan seperti ini? Kau ini tidak bisa melihat segala sesuatunya rapid an bersih yah? Dan ini, lihat tumpukan piring kotor ini! Belum lagi kardus-kardus pizza ini. Kau jorok sekali! Dan kenapa kau menutup tirai di siang bolong seperti ini? Pantas saja kulitmu jadi pucat seperti itu. Kau tahu, matahari bagus untuk kesehatan..”

Kyuhyun masih terus mengomel panjang lebar sementara tangannya sibuk membersihkan apartemen itu. Doo Joon hanya mengamati Kyuhyun dalam diam. Ia enggan menyela Kyuhyun, karena seperti sebelum-sebelumnya, lelaki itu pantang di tolak dan ia luar biasa keras kepala. Daripada Kyuhyun mengajaknya berdebat, lebih baik ia membiarkan Kyuhyun melakukan semuanya.

Setelah semuanya beres, Kyuhyun menelepon restoran dan memesan makanan. “Sebentar lagi makanan akan datang, aku yakin kau belum makan. Sekarang ceritakan padaku, ada apa denganmu.” Kata Kyuhyun lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat di depan Doo Joon.

“Aku tidak apa-apa.” jawab Doo Joon pendek.

“Kalau begitu mengapa kau tidak masuk sekolah? Dan lihat memar di wajah dan lenganmu. Berhentilah berbohong.” Kata Kyuhyun tajam.

“Aku hanya terjatuh di kamar mandi lalu demam setelahnya. Hanya itu.”

“Sudah kukatakan berhenti berbohong! Kau habis berkelahi kan?” tanya Kyuhyun lagi.

“Aku tidak.. Ya! Berhenti mengintimidasiku. Kau ini siapa? Mengapa kau selalu mau mencampuri urusanku?” sahut Doo Joon dengan kesal.

“Aku ini teman sekelasmu. Aku peduli padamu. Mungkin orang lain tidak mau tahu apa yang terjadi padamu. Mereka mungkin tidak perduli apa kau akan masuk sekolah lagi atau tidak. Tapi aku tidak seperti itu. Aku peduli padamu. Aku ingin kau baik-baik saja dan kita bisa mengikuti ujian akhir bersama-sama. Ingat, ujian akhir tinggal empat bulan lagi. Apa kau mau merelakan masa depanmu hanya karena urusan tidak penting seperti berkelahi dan balap motor?” kata Kyuhyun tak kalah kesalnya.

Doo Joon bangkit berdiri dan menuju ke balkon. Seolah tidak ambil pusing dengan apa yang dikatakan oleh Kyuhyun, ia menyulut rokok di tangannya. Asap menggepul dari balik bibirnya. Namun detik berikutnya Kyuhyun sudah merebutnya dan membuang rokok itu ke bawah sana.

“Ya!”

“Merokok tidak baik untuk kesehatan.” Sahut Kyuhyun. Ia bersedekap sambil memandang Doo Joon dengan tajam.

Doo Joon menghela nafas kesal karenanya. Ia benci diintimidasi. Namun lelaki di depannya tak mau berhenti melakukannya jika ia tidak buka mulut. Ia terdiam cukup lama. Menimbang-nimbang apakah ia bisa mempercayai Kyuhyun atau tidak. Tapi sepertinya ia memang tidak punya pilihan lain. Mungkin saat ini ia memang butuh teman.

“Aku memang berkelahi. Setelah Ayah kandungku meninggal, seluruh warisannya jatuh padaku. Ibuku yang sejak awal memang berselingkuh akhirnya lari ke pelukan lelaki yang kini menjadi ayah tiriku. Sebenarnya lelaki itu cukup baik jika saja sejak awal aku menyadari bahwa ia hendak menjodohkanku dengan anak salah satu pengusaha yang ia kenal. Ia berkali-kali mencoba membujukku namun tidak berhasil. Dan sekarang ia memakai kekerasan agar membuatku tunduk.”

Doo Joon terdiam lagi sejenak lalu melanjutkan ceritanya. “Aku tahu bahwa aku harus menyelesaikan sekolahku lalu mencari universitas terbaik. Aku harus berusaha semampunya memimpin perusahaan ayahku. Ribuan pekerja bergantung padaku. Tapi aku juga manusia. Aku berusaha tidak mempercayai siapapun seperti pesan ayahku, karena teman terkadang menjadi lawan di saat terjepit.”

“Balapan liar adalah tempatku melarikan diri. Di usia seperti ini aku harus menghadapi kematian ayahku dan perselingkuhan ibuku. Belum lagi kemauan ayah tiriku yang didukung oleh ibuku. Lalu dengan perusahaan ayahku. Aku ingin menyerah saja, tapi aku tidak mau mengecewakan mendiang ayahku.”

Kyuhyun dan Doo Joon sama-sama terdiam setelahnya. Kyuhyun tidak menyangka beban yang dipikul Doo Joon sedemikian berat. Kyuhyun ingin sekali membantu, tapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Yang ia tahu, saat ini Doo Joon butuh teman.

“Doo Joon-ssi.. Aku mungkin tidak bisa membantumu. Tapi yakinlah, aku akan selalu ada untuk mendengarkan ceritamu. Kau bisa membagi sebagian bebanmu padaku. Kau akan baik-baik saja. Kau sudah bertahan sejauh ini, jangan biarkan semua ini membuatmu gagal. Aku tahu kau pasti bisa melaluinya.”

Doo Joon tersenyum penuh arti. Dan baru kali ini Kyuhyun melihat senyum itu. Senyum tulus seolah tanpa beban. Padahal lelaki itu pasti cukup lelah menghadapi dunianya. Dan kembali, jantung Kyuhyun berdebar keras karenanya..

*

            Setelah hari itu, Kyuhyun dan Doo Joon menjadi sedikit lebih dekat. Walaupun Doo Joon masih tetap cuek seperti sebelumnya, tapi ia sudah mulai terbuka dan bercerita tentang banyak hal pada Kyuhyun. Ia sering menghabiskan waktu bersama Kyuhyun dan Minho di apartementnya hanya untuk menikmati makan siang yang mereka pesan secara berlebihan atau bermain game bersama. Ia bahkan mengijinkan Kyuhyun dan Minho menontonnya diam-diam saat sedang balapan.

Tapi malam itu, karena Minho sedang berhalangan, maka Kyuhyun menonton sendirian.

“Kau yakin tidak apa-apa menonton dari sini?” tanya Doo Joon ketika ia akan meninggalkan Kyuhyun di balik semak-semak.

Kyuhyun menggeleng. “Kau hanya mengikuti satu set balapan kan? Aku baik-baik saja disini.”

Doo Joon menghela nafas. “Sudah kukatakan berkali-kali, kau tidak perlu menontonku balapan, apalagi sendirian.”

“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu? Apa kau yakin teman-temanmu itu akan mengurusmu? Jika salah satu dari kalian terluka, aku yakin yang lain akan melarikan diri. Jadi aku harus tetap ada disini untuk memastikan kau baik-baik saja.”

‘Keras kepala!’ pikir Doo Joon. Tanpa menjawab ia lalu memakai helmnya dan menaiki motornya. Sebelum ia benar-benar pergi, ia mengacak rambut Kyuhyun sebentar lalu menjalankan motornya, meninggalkan Kyuhyun dengan dada berdegup kencang karenanya.

Namun belum mencapai ujung jalan, ia sudah berbalik kembali dan berhenti di depan Kyuhyun.

“Naiklah.”

Kyuhyun menatap Doo Joon tidak mengerti. “Apa.. maksudmu?”

“Kau boleh menonton dari dekat. Bilang saja kau pacarku ketika ada yang menanyaimu. Katakan kita sudah berpacaran dua tahun, jadi mereka tidak akan mencurigaimu. Tanpa Minho disini, aku khawatir terjadi sesuatu denganmu.” Kata Doo Joon lagi.

Dengan wajah tersipu malu, Kyuhyun segera duduk di jok belakang motor Doo Joon. Ia berusaha bersikap wajar namun hatinya yang berdegup-degup kencang membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain.

Doo Joon menarik kedua tangan Kyuhyun dan melingkarkannya di pinggangnya sendiri. “Bersikaplah selayaknya seorang kekasih. Jadi mereka tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Apalagi dengan wajahmu yang manis, kau bisa diterkam disana jika ketahuan kita hanya teman biasa. Nah, pegangan yang erat.”

Kyuhyun terlalu senang karenanya, ia sampai tidak menyadari angka di spidometer ‘kekasihnya’. Dan tahu-tahu ia sudah berada di keramaian. Ternyata suara motor-motor itu jauh lebih bising. Dan anehnya lagi, para pembalap itu rata-rata masih muda. Banyak yang masih seumuran dengannya atau setidaknya lebih tua dua sampai tiga tahun darinya.

“Doo Joon-ah, siapa ini? Manis sekali. Baru kali ini kau membawa orang lain kesini.” Sapa seseorang ketika Doo Joon mematikan mesinnya dan melepas helmnya.

“Dia kekasihku. Selama ini dia hanya mendengarkan ceritaku dan malam ini memaksa untuk ikut. Kebetulan orang tuanya sedang ke luar negeri.” Jawab Doo Joon dengan cuek.

“Benarkah? Aku tidak tahu kau sudah punya pacar. Ah.. pantas saja kau selalu menolak ketika didekati oleh gadis-gadis itu. Kekasihmu bahkan jauh lebih cantik dari mereka!” ujar lelaki itu seraya memadang Kyuhyun dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Oh ya, kenalkan, aku Nickhun. Aku salah satu teman dekat Doo Joon disini. Siapa namamu, manis?” tanya Nickhun.

“Kyu.. Kyuhyun imnida.” Jawab Kyuhyun takut-takut.

‘Astaga.. Manis sekali. Ternyata selera Doo Joon bagus sekali.’ Pikir Nickhun.

“Doo Joon-ah. Giliranmu.” Seseorang berteriak seraya memberi kode di jarinya. Doo Joon mengangguk lalu berpaling pada Kyuhyun.

“Aku akan segera kembali. Tunggu aku disini bersama Nickhun, jangan kemana-mana.” Kata Doo Joon yang lebih terdengar seperti perintah. Ia lalu berpaling ke Nickhun. “Jaga dia baik-baik. Jika terjadi apa-apa dengannya, kau tahu akibatnya.”

Nickhun tertawa lalu mengancungkan jempolnya. Setelah itu ia pun melarikan motornya dan berhenti dibalik garis start. Seorang gadis muda berdiri di ujung garis, ia lalu memberi kode dengan bendera kuning kecil di tangannya. Pada lambaian ketiga, para peserta balapan mulai melarikan motornya dengan kecepatan tinggi.

“Lihat, Doo Joon memang selalu jadi yang terbaik. Saingannya hanya G-Dragon. Kadang GD yang menang, itupun dengan selisih waktu satu detik. Ya, kenapa kau manis sekali?” Tanya Nickhun seraya mendekati Kyuhyun.

“Ada yang menyebut namaku?”

Kyuhyun dan Nickhun menoleh. “Ya! Aku kira kau mengikuti balapan? Kyu, kenalkan ini GD. Dia yang tadi kuceritakan.”

GD mengulurkan tangannya. Kyuhyun menyambut. Tapi ia malah ditarik kedepan dan dalam detik berikutnya, ia sudah berada dalam dekapan lelaki itu.

“Le.. Lepaskan aku..” kata Kyuhyun ketakutan serya berusaha melepaskan pelukan GD.

“Ya! Ya! GD, lepaskan dia! Dia kekasih Doo Joon. Jika ia melihatmu, kau akan habis. Lepaskan dia!” bentak Nickhun.

“Aku tahu. Karena itulah aku mendekatinya. Aku memang menunggu Doo Joon marah lalu.. Kita bisa membuktikan siapa yang terbaik diantara kami setelahnya kan?”

Lalu suara sorak-sorak terdengar. Ketiganya menoleh. Ternyata balapan sesi pertama sudah selesai dan kali ini Doo Joon lagi yang keluar sebagai pemenangnya. Melihat Doo Joon menuju ke arah mereka, GD segera melakukan aksi yang paling berbahaya. Mencium Kyuhyun.

Doo Joon yang melihat semua itu segera berlari ke arah Kyuhyun dan GD. Detik berikutnya ia sudah melepaskan Kyuhyun dari rengkuhan GD dan menghadiahkan tinjunya ke wajah GD.

“Jangan sentuh dia brengsek!”

GD bangkit. Dengan marah, ia membalas pukulan Doo Joon. Doo Joon berhasil mengelak selama beberapa kali sampai akhirnya tendangan GD bersarang di perutnya. Doo Joon jatuh tersungkur karenanya. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan oleh GD. Ia lalu meraih balok kayu di dekatnya dan mengarahkannya pada Doo Joon.

Kyuhyun melihat itu dengan ketakutan. Ia tidak tahu apa yang merasuki pikirannya, namun yang ia tahu, ia berlari memeluk Doo Joon dan menerima pukulan dari balok kayu di tangan GD. Sakit luar biasa langsung terasa di punggungnya. GD sendiri sangat terkejut karenanya, Nickhun memanfaatkan kesempatan itu untuk meringkus GD bersama teman-teman lainnya.

Melihat itu Doo Joon terperangah. “Kyu.. Kyuhyun-ah.. Andwae.. Andwae..”

“Doo Joon-ssi.. Gwenchana?” tanya Kyuhyun dengan suara lemah.

Doo Joon menggeleng. Airmata yang keluar dari matanya yang ketakutan turun ke pipinya dengan cepat. “Mianhae Kyu.. Mianhae.. Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit. Jangan tutup matamu. Jangan tinggalkan aku. Jebal..”

Ia lalu menggendong Kyuhyun dan menaikkannya di atas motornya. Dengan cepat, tanpa berpamitan pada Nickhun, ia melarikan motornya. Satu tangannya memegang setir, sementara tangan lainnya memegang kedua tangan Kyuhyun yang melingkar di pinggangnya.

‘Kyuhyun.. Bertahanlah.. Jebal.. Jangan tinggalkan aku sendiri, aku membutuhkanmu..’

*

            Kyuhyun membuka matanya perlahan. ‘Dimana aku?’ pikirnya. Ia masih sedikit bingung ketika dilihatnya ruangan tempatnya berada kini berwarna putih.

“Kyuhyunnie?”

Minho yang baru saja memasuki ruangan langsung berlari ke arah Kyuhyun. “Kau sudah sadar? Ah.. Syukurlah.. Kupikir kau tidak akan bangun lagi. Mengingat sudah dua hari kau tidak sadar. Apa kau baik-baik saja? Apa punggungmu masih terasa sakit?”

Kyuhyun tertawa. “Berhentilah merasa cemas. Aku baik-baik saja.”

“Kau tahu, ibuku memarahiku karena tidak menemanimu. Sekarang aku dilarang keras membiarkanmu pergi sendiri. Dan orang tuamu.. Mereka terus-terusan menangis. Mereka baru saja pulang untuk beristirahat.”

“Lalu.. Dimana Doo Joon-ssi?”

“Dia baik-baik saja. Kau tahu? Kelompok balap liar dibubarkan dan polisi menangkap mereka semua. Tentu saja mereka tidak ditahan terlalu lama karena rata-rata masih di bawah umur. Lagipula mereka hanya balapan kan, tidak melakukan suatu kejahatan serius. Kecuali GD, dia sudah pasti ditahan karena mencelakakanmu.” Kata Minho dengan riang.

“Baguslah kau begitu. Nah, beritahu aku dimana Doo Joon.”

“Oh yah, hasil ujian kita akan segera diumumkan. Aku benar-benar cemas apa kita kan lulus atau tidak. Maksudku, kau tahu pasti kita berdua akan lulus tapi apakah kita mencapai nilai yang kita inginkan jadi kita bisa masuk ke universitas terpilih. Ya.. Untung saja kau pingsan setelah ujian. Bagaimana kalau kau..”

“Minho-ya! Dimana Yoon Doo Joon?”

Minho terdiam sebentar. Ia sudah berusaha mati-matian menutupinya dari Kyuhyun tapi sepertinya Kyuhyun terlalu penasaran. “Dia.. Dia pulang ke Jepang.”

“Mwo???!!!” Kyuhyun langsung bangkit dari tempat tidurnya.

“Ya! Tidak perlu kaget seperti itu. Dia hanya pergi beberapa hari untuk menjelaskan keadaan ini pada kedua orang tuanya. Ia berjanji akan segera kembali.”

“Tapi..” Kyuhyun menggigit bibirnya. Entahlah, tapi mengetahui Doo Joon tidak ada disampingnya kini membuatnya sedikit merasa kosong.

“Jujurlah Kyu.. Kau.. Menyukainya kan?” tanya Minho langsung.

Kyuhyun terdiam cukup lama hingga akhirnya ia mengangguk. “Jangan katakan ini padanya. Aku.. Aku tidak mau persahabatan ini..”

“Aku sudah tahu..”

Dengan cepat Kyuhyun menoleh ke pintu masuk. Saat itu juga wajahnya merona sempurna begitu melihat siapa yang datang.

“Doo Joon-ssi..”

“Maaf kalau aku menguping pembicaraan kalian. Ah, ani, aku tidak menguping. Tapi inilah rencanaku dan Minho untuk membuatmu mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Doo Joon.

“Jadi ini.. Jebakan?”

Doo Joon tertawa kecil melihat wajah bingung Kyuhyun. “Aku tidak pernah berprasangka pada siapapun. Tapi, tindakan keras kepalamu yang terus menerus membuntutiku membuatku berpikir bahwa..”

“Aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud mengatakannya. Maksudku.. Aku memang menyukaimu tapi.. hanya sebagai teman. Ya, benar. Aku menganggapmu sebagai teman. Bukankah itu wajar? Dan.. YA! Choi Minho! Berhenti tertawa! Kau pikir ini lucu?”

Minho dan Doo Joon tertawa terbahak-bahak karenanya. Melihat sikap Kyuhyun yang salah tingkah sungguh membuat mereka gemas.

“Baiklah.. Jadi kau hanya menganggapku teman?” tanya Doo Joon setelah tawanya reda.

Kyuhyun mengangguk ragu.

“Kalau begitu aku akan menyimpan sendiri perasaanku dan.. aku akan menerima tawaran ayah tiriku untuk bertunangan dengan dengan..”

“Jangan! Jangan berani bertunangan dengan orang lain atau..”

“Atau apa?”

“Atau.. Atau aku akan terus menutupi kenyataan bahwa aku menyukaimu.” Jawab Kyuhyun dengan cepat. Wajahnya kembali merona.

Doo Joon dan Minho saling melirik. Keduanya menyeringai lebar mendengar pengakuan Kyuhyun. Doo Joon lalu duduk di tempat tidur, wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Kyuhyun. Jarak diantara mereka hanya beberapa cm saja.

“Maafkan aku karena membuatmu jadi seperti ini. Salahkulah kau harus terbaring seperti ini. Andai saja malam itu..”

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku akan lebih sedih kalau kau yang terbaring disini.” Kata Kyuhyun. Jemarinya diletakkan di bibir Doo Joon, melarangnya bicara.

Doo Joon mengecup perlahan jemari itu. “Aku akan menjagamu. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu. Walaupun aku tidak bisa menjanjikan banyak hal, tapi yang pasti aku mencintaimu.”

“Kurasa aku tidak perlu mengulangi pernyataanku. Kau tahu benar apa yang kurasakan.” Jawab Kyuhyun.

Doo Joon tersenyum. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Kyuhyun, pelan-pelan ia mulai mengecup bibir itu penuh rasa sayang.

“Oh tidak! Hentikan!” bentak Minho. “Tidak bisakah kalian menungguku pergi?”

Doo Joon dan Kyuhyun melepaskan pagutan mereka dan tertawa. “Kau bisa keluar sekarang. Carilah suster-suster cantik di luar sana dan pacari salah satunya. Jadi kau tidak perlu iri lagi.” Ejek Kyuhyun

“Kekasihku benar, kau harus mulai berkencan. Lihat dirimu, sebentar lagi kau akan bergelar mahasiswa, mengapa kau tak kunjung berkencan?” Doo Joon menimpali.

“Kurasa aku memang harus keluar dari sini. Hahhh.. Musim panas yang indah, kalian bahagia, tapi aku masih sendiri. Kurasa sudah waktunya aku mencari kekasih. Lihat saja nanti, kemesraanku akan membuat kalian iri.” Kata Minho seraya melangkah keluar ruangan.

Begitu Minho menutup pintu, Doo Joon kembali menatap Kyuhyun dengan mesra lalu keduanya melanjutkan pagutan yang tadi sempat terhenti.

*

JoonKyu

To Be Continued..

Note :

*Happy birthday to Beast leader Yoon Doo Joon. 24th International, 25th Korean.

Doo Joon

*Happy birthday too to The Swordman Lee Je Hoon (Baekki’s ahjussi on MBIAG) 29th International and 30th Korean.

je hoon