You Belong to Me

Title     : You Belong to Me

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin

Pair      : ChangKyu (MinKyu)

Rate     : T+

Genre : BL, Romance, Drabble, Fluff.

Warning : OOC, Typo (s)

Disclaimer : Hanya sebuah cerita fiktif yang terinspirasi dari twit-an Kyuhyun tentang SMROOKIES beberapa waktu lalu 🙂

Suara-suara jeritan terdengar dari dalam salah satu ruangan yang terdapat di apartemen mewah bernomor  1123. Jeritan-jeritan tersebut tidak lain berasal dari laptop yang berada dihadapan Shim Changmin. Member termuda DBSK itu kini tengah  melihat sebuah  fancam  special stagenya dengan Kyuhyun di SMTOWN Tokyo, Ichigo.

Ia sesekali terbahak melihat video tersebut. Video yang membuat hampir seluruh penonton di Tokyo Dome kala itu menjerit  histeris. Topi strawberry jumbo di lengkapi dengan setelan tuxedo dan kaca mata hitam.  Mereka terlihat sangat konyol dengan kostum tersebut. Terlebih ketika mereka menari secara hiper aktif.

Jika bukan karena Kyuhyun, ia takkan pernah sudi memakai topi strawberry itu dan bertingkah konyol yang sama sekali tidak cocok dengan image cool yang melekat padanya selama ini.

‘Ayolah Minnie… Menyanyikan lagu Ichigo tanpa memakai sesuatu yang berbau strawberry akan terasa kurang.’ Bujuk Kyuhyun kala itu saat mereka tengah rehearsal.

            ‘Aku tidak mau.’ Tolaknya keras.

            ‘Minnie~’

            ‘Tidak.’

            ‘Demi Cassieopeia, Bigeast dan ELF..’ Kyuhyun masih belum menyerah membujuk namjachingunya yang keras kepala itu.

            ‘….’ Changmin terdiam.

            ‘Demi aku. Please…’ Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya dengan pose memohon. Tak lupa ia juga mengeluarkan tatapan puppy eyes miliknya yang ia tahu akan membuat Changmin luluh.

Changmin berpikir sejenak sebelum kemudian ia menghel nafas. Merasa kalah.

Dan kini ia sama sekali tidak menyesali kejadian tersebut. Bagaiamana ia akan menyesal jika kala itu ia disuguhi sosok Kyuhyun yang yang terlihat sangat imut mengenakan topi strawberry tersebut.

Setelah puas menonton video, ia pun iseng membuka salah satu portal berita industri musik dalam negeri.

SMROOKIES?”

Ia kemudian membuka berita yang menjadi headline news pagi ini. Ia belum tahu jika SM Ent. akan mendebutkan grup baru. Dan atensinya seketika langsung tertuju pada gambar satu-satunya member wanita dari grup calon hoobaenya itu.

“Seul Gi?”

Ia  ingat nama tersebut. Dia adalah satu dari sekian banyak gadis yang pernah disebut namanya oleh Kyuhyun dan membuatnya cemburu. Apalagi fakta bahwa Kyuhyun-NYA secara terang-terangan mengaku menyukai gadis tersebut. Serta mengirimkan pesan video khusus  yang ditayangkan di TV Nasional.

Hal yang sama sekali tidak pernah Kyuhyun lakukan untuk dirinya yang berposisi sebagai namjachingunya. Sigh!

Dan dahinya seketika mengernyit ketika ia membaca salah satu komentar dari netizen dalam artikel tersebut.

‘Kyuhyun’s girl’

‘She is the girl that kyuhyun mentioned in radio star right?’

‘Kang  Seul  Gi? I love her voice. Kyu-Gi  jjang! (Kyuhyun – Seul Gi) haha. I agree if oppa with Seul Gi :D’

What the Heck?!

Kyuhyun’s girl?!

“Minnie-“

Kyuhyun yang baru saja selesai mandi menghampiri Changmin yang tengah duduk tenang di atas tempat tidur. Ia pun mendudukkan dirinya di sisi evil magnae milik DBSK itu.

“Kau sudah membaca berita hari ini?” Tanya Changmin langsung.

Kyuhyun mengerjapkan matanya bingung, “Berita apa?”

Karena penasaran ia pun semakin mendekat pada Changmin dan mendorong sedikit layar laptop di hadapan kekasihnya.

“Wooa, akau tidak menyangka jika Seul Gi-ah akan debut secepat ini?” Ucap Kyuhyun terdengar antusias yang semakin membuat aura gelap menguar dari jiwa sang Lord VoldeMin.

Changmin mendelik, “Kau terlihat bahagia sekali membacanya, Cho Kyuhyun.” Pujinya yang terdengar sarkatik yang sama sekali tidak diindahkan oleh Kyuhyun.

Namja berkulit pucat itu terlalu antusias melihat salah satu trainee hoobae favoritnya itu akan segera debut.  Senyuman lebar tampak muncul dari bibir plump miliknya. Namun beberap detik kemudian senyuman itu hilang.Digantikan sebuah kerutan di dahinya dengan matanya yang menyipit. Memastikan apa yang ia baca tidak salah.

Feeling-nya tiba-tiba merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk. Dengan takut-takut ia mengalihkan perhatiannya pada Changmin yang menatapnya intens.

“Chang…Changminnie…” Panggilnya takut-takut melihat tatapan Changmin yang mengintimidasi.

“Mengatakan kau menyukainya, mengiriminya pesan video khusus untuknya. Dan kini? “ Changmin berucap dengan nada datar yang entah kenapa membuat Kyuhyun takut, “…orang-orang telah menganggap jika ia adalah gadismu.”

“…”

“Apa hukuman dariku waktu itu masih belum cukup untukmu, Kyuhyunnie?”

Kyuhyun membelalakan matanya mendengar kalimat Changmin. Terlebih saat mendengar kata hukuman.

Refleks ia menggeleng kepalanya keras. Ia bahkan masih belum melupakan kejadian dimana selama semalam penuh ia menjerit dan memohon pada sang seme untuk berhenti menggagahinya. Dan jangan lupakan jika pasca kejadian tersebut selama tiga hari berikutnya ia sama sekali tidak bisa berjalan. Membuatnya harus berdiam diri diatas tempat tidur dan tidak bisa memenuhi schedule-nya.

Changmin menyeringai. Tangannya segera saja membelai pipi tembam Kyuhyun yang kini mulai panik.

“Jika kau merasa belum cukup.Dengan senang hati aku akan menambah hukuman itu lagi untukmu, chagiya…” Bisik Changmin dengan suara redahnya tepat di telinga Kyuhyun.

“Minnie, a…aku akan menuruti apapun permintaanmu. Asalkan..nnghh…kau tidak menghukumku dengan cara seperti itu…” Pinta Kyuhyun dengan suara bergetar dan menahan desahannya.

Changmin yang mendengar suara desahan tertahan Kyuhyun semakin gencar menggodanya. Kini bahkan ia mulai menjilati telinga Kyu dengan bibirnya yang perlahan turun menyelusuri rahang dan leher sang kekasih.

“Nngh, Minniieh…”

“Tapi sayang sekali, Hyunnie. Saat ini yang ingin aku lakukan  hanyalah membuatmu mengingat siapa kau sebenarnya.” Changmin mengusap lembut punggung Kyuhyun, “Kau adalah milikku,milik Shim Changmin.”

***

“Kyu..”

“Mmmh..” Gumam Kyuhyun. Tubuhnya yang terasa lelah membuatnya enggan melakukan sesuatu. Bahkan berbicara sekalipun.

Changmin sedikit menaikkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada punggung Kyu yang terbuka.

“Aku ingin kau mengatakan pada semua orang  jika artikel itu tidak benar.”

“Aku lelah, Minnie…” Keluh Kyuhyun menolak permintaan Changmin.

“Hhhm, kalau begitu biarkan aku yang  melakukannya.”

SRAK!

“Andwe!” Tolak Kyuhyun keras yang seketika langsung bangkit dari posisi tengkurapnya di tempat tidur.

So?” Tanya Changmin menggantung. Sungguh ekspresi namja Shim tersebut kali ini terlihat sangat menyebalkan dimata Kyuhyun.

Tanpa banyak kata, ia pun meraih smartphone-nya untuk mengetikkan sesuatu. Changmin sendiri masih tetap terdiam dengan mengamati gerak-gerik kekasih imutnya.

Kyuhyun menyerahkan smartphone-nya pada Changmin. Setelahnya ia menjatuhkan tubuhnya kembali di tempat tidur.

@GaemGyu : Sigh… You made me log into twitter.. The news article titles.. it isn’t rightㅜㅜ She’s not something like ‘my girl’.. I’m just an average sunbae that wishes they will do well! Anyways SM ROOKIES? Seulgi, Jeno, Taeyong. I hope you become a romance of not one, but all. Warm ending kk

Changmin tersenyum lebar. Melemparkan ponsel pintar tersebut pada bantal dan segera menyusul Kyuhyun-NYA kealam mimpi dengan senyum kepuasan terpatri di bibir seksinya.

“You belong to me, Shim Kyuhyun.”

Changkyu seulgi

Note : FF ini sebelumnya sudah pernah aku publish di grup MinKyu di FB tepat saat Kyu update twitter tentang SMROOKIES. Jadi mianhe kalo publish disini timingnya telat banget ya..:)

Verry Merry Christsmas 🙂

Advertisements

Fading the Darkness – Chapter 2

The Revenge Poster t

Tittle : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos Vampire dan Dhampire yang berkembang dalam masyarakat. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya yang terbatas.

Warning : Don’t Like = Don’t Read.

 

“Luhan…”

“Tidak.”

“Xi Luhan..”

“Tetap tidak.”

“Apa perlu aku berlutut di hadapanmu agar kau mau membantuku?” Pinta Kyuhyun dengan nada memelas. Mendengar ucapan Kyuhyun tentu saja membuat Luhan mendelik. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan pangeran sekaligus sahabatnya itu untuk berlutut di hadapannya?

“Lu—“

“Kau pangeran, Cho Kyuhyun.” Sahut Luhan jengah. Ia lelah menghadapi sahabatnya yang merengek seperti ini.

Tanpa di ketahui olehnya, seringai licik Kyuhyun tampak muncul di bibirnya.

“Justru karena aku seorang pangeran di sini, sudah sepantasnya kau menuruti apapun permintaanku.” Intonasi Kyuhyun berubah mengintimidasi. Betapa cerdiknya ia memanfaatkan kedudukannya untuk mendesak sahabatnya itu

“Aku akan menuruti apapun permintaan dan perintahmu, Cho Kyuhyun. Tapi tidak dengan yang satu ini. Ini terlalu berresiko.” Jelas Luhan masih mencoba menolak permintaan Kyuhyun yang berdiri di hadapannya.

Ia memang tak membual perihal ucapannya. Posisinya yang sebagai Slave memang sudah sepantasnya untuk mengabdi dan melayani Cho Kingdom. Terlebih di masa lalu ia pun berhutang budi pada Kingdom tersebut.

Dulunya ia hanyalah seorang Alter. Seorang Vampire bertuan yang telah kehilangan Masternya, Sehun. Ia yang kala itu tengah kehilangan arah karena sang master terbunuh oleh Dhampire. Mencoba kabur dari kejaran si pemburu yang terus saja mengejarnya. Ia yang masih anak-anak dengan kondisi fisiknya yang lemah karena kekurangan energi, nyaris saja terkena tebasan katana perak milik Dhampire jika saja ia tidak di selamatkan oleh makhluk sejenisnya yang tidak lain adalah Yoochun. Dimana pada saat itu Cho Kingdom tengah melakukan perjalanan mencari tempat tinggal baru pasca penyerangan kerajaannya.

“Kau hanya perlu menjaga pintu selagi aku masuk dan mengambilnya.” Seru Kyuhyun mulai habis kesabaran. “Aku hanya ingin mempermudah keinginanku untuk memburu Dhampire yang telah membunuh Ayahku.”

*

         Luhan mengangguk setelah memastikan keadaan kastil yang sepi. Yoochun dan Nickhun tengah berada di ruangan khusus milik Yoochun. Membicarakan sesuatu yang tak ia ketahui. Kyuhyun yang mengerti isyarat yang diberikan sahabatnya, perlahan membuka pintu menuju ruangan khusus penyimpanan serum. Ruangan yang selalu di jaga ketat hingga tak seorang pun di perbolehkan masuk kecuali Nickhun dan Yoochun.

Oleh sebab itulah, Luhan menolak rengekan Kyuhyun yang meminta bantuannya untuk melancarkan aksinya. Terlebih setelah mengetahui tujuan Kyuhyun yang dapat membahayakan dirinya sendiri.

Kyuhyun berniat mengambil Kessei Taiyo. Sebuah serum yang membuat seorang Vampire mampu bertahan di bawah sinar matahari. Bahkan mampu menghilangkan aroma tubuh seorang Vampire dan membuat mereka mampu beraktifitas layaknya manusia biasa.

Krieeett…

Kyuhyun sedikit berjengit ketika mendengar derit pintu yang terbuka. Ia terpaku sejenak mengamati ruangan yang penuh dengan berbagai cairan yang tak ia kenal. Yang ia ketahui hanyalah terdapat darah dalam ruangan tempatnya berada. Namun, Ia mengabaikan rasa panas yag membakar kerongkongannya kala ia mencium aroma darah yang menguar memenuhi ruangan. Tujuan utamanya kali ini adalah untuk mengambil serum yang akan membuatnya layaknya manusia biasa.

Dengan cekatan ia segera mencari serum incarannya diantara ratusan botol-botol kaca yang tersusun rapi di sebuah lemari besar. Satu persatu botol ia perhatikan setiap labelnya, namun apa yang ia cari tak kunjung ia temukan.

Sementara Luhan yang tengah menjaga pintu sesekali melongok kedalam ruangan. Memastikan apakah Kyuhyun sudah menemukan yang ia cari. Karena tidak sabar, akhirnya ia ikut masuk kedalam ruangan penyimpanan dengan sebelumnya memastikan keadaan yang kondusif.

“Kau belum menemukannya juga?”

“Terlalu banyak cairan aneh disini.” Sahut Kyuhyun masih dengan kesibukannya yang tengah meneliti dan membaca tulisan kanji yang tertera ditiap botol.

“Apa Yoochun-sama menyembunyikannya ditempat lain?” Luhan mencoba menebak-nebak.

“Tidak mungkin.” Kyuhyun nyaris saja menutup kembali pintu lemari yang ia pegang ketika matanya menangkap sebuah kotak kecil di sudut lemari kaca itu.

Dengan perlahan ia mengambil kotak persegi usang tersebut dan meletakannya di meja. Luhan yang penasaran pun mendekati Kyuhyun. Mereka saling berpandangan mencoba meyakinkan. Perlahan, Kyuhyun membuka kotak usang tersebut. Terdapat sebuah botol berukuran sedang berisi cairan berwrana merah.

Kessei Taiyo’

“Apa yang kalian lakukan?”

*

“Changmin oppa.”

Langkah Changmin terhenti di ujung koridor ruang Seni ketika mereka mendengar sebuah suara lembut memanggil namanya. Si pemilik suara yang tidak lain adalah seorang yeoja itu kini berlari kecil menghampiri Changmin dan berdiri dihadapan lelaki tinggi tersebut.

“Ada apa Yeon Hee-ssi?” Tanya Changmin berusaha seramah mungkin meskipun pada akhirnya nada datar tanpa intonasi yang terdengar dari ucapannya itu.

Sementara sang gadis bernama Yeon Hee itu menundukkan kepalanya gugup. Terlebih mendengar nada bicara Changmin yang jauh dari kesan bersahabat.

“Ng, apa Oppa sekarang senggang?” Yeon Hee memberanikan diri bertanya meskipun kini suaranya terdengar seperti sebuah cicitan.

Berhadapan langsung dengan seorang The Great Prince Shim Changmin, sang idola kampus membuatnya gugup setengah mati. Padahal bukan kali ini saja ia mengobrol dengan namja tampan dan jenius tersebut. Namun tetap saja sikap gugupnya tak pernah hilang.

“Ada apa?” Kembali ucapan tanpa intonasi itu terdengar.

Yeon hee sendiri berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk tetap berdiri di hadapan Changmin. “Mmm…maukah Oppa pergi bersamaku?”

Changmin menaikkan sebelah alisnya bingung, “Maksudmu berkencan?” tembaknya langsung tanpa tedeng aling.

“Eh?” Yeon Hee refleks mendongak. Dan seketika wajahnya memerah langsung mendapati manik bulat milik lelaki yang ia sukai itu menatap lekat kearahnya.

Oh, bukan rahasia umum lagi jika dia, yang termasuk dalam jajaran yeoja tercantik di Shinki Academy, menyukai Shim Changmin. Lagi pula siapa yang tidak akan menyukai pria tersebut?

Seorang mahasiswa Seni yang terkenal dengan wajah tampannya. Terlebih dengan otaknya yang memiliki klasifikasi IQ superior. Terkecuali sifat dinginnya yang cenderung acuh itu yang anehnya justru membuatnya tampak keren bagi orang lain.

“Mianhe, hari ini aku sibuk. Mungkin kau bisa mengajak pria lain untuk berkencan denganmu.”

Dan Changmin pun langsung berlalu. Meninggalkan Yeon Hee yang mematung di tempat dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.

Tak tahukah jika kata-katamu terdengar sangat kejam, Shim Changmin?

*

“Kulihat di koridor tadi kau mengobrol dengan Lee Yeon Hee, Changmin-ah?”

Donghae membuka percakapan ketika mereka bertiga, ia, Changmin dan Dongwon mendudukan diri di salah satu kursi di kantin.

“Apa dia mengajakmu kencan, hyung?” Tanya Dongwon antusias. Pertanyaan serupa yang selalu ia lontarkan ketika ia mengetahui jika ada seorang yeoja mengobrol dengan sahabat yang telah ia anggap sebagai hyung kandungnya sendiri.

“Kami hanya tak sengaja berpapasan.” Jawab Changmin acuh dengan menyuapkan sebuah onigiri kedalam mulutnya.

“Benarkah? Tapi yang kulihat tadi Yeon Hee mengejar dan berbicara denganmu. Apa itu yang kau sebut dengan berpapasan, Shim Changmin?” desak namja berrambut pirang itu dengan gigih.

Dongwoon hanya terkekeh melihat hyungnya yang belum menyerah mendengar jawaban Changmin. Bukan sekali ini Changmin menolak ajakan kencan dari gadis ataupun mahasiswi lain. Sudah tak terhitung lagi ia dan Donghae menasehati Changmin untuk sesekali menikmati ‘kehidupan normalnya’ dengan berkencan misalnya. Namun jawaban Changmin sama sekali tidak berubah.

Aku lebih memilih untuk menghabisi puluhan Vampire daripada harus berkencan dengan gadis merepotkan seperti mereka.’

“Sepertinya aku akan berburu malam ini.” Tukas Changmin mengalihkan topik pembicaraan.

“Aku ikut!” Sahut Dongwoon antusias, “Sudah lama aku tidak menemukan permainan baru. Bagaimana denganmu, Hae hyung?”

“Aku tidak bisa ikut. Aku sudah berjnji akan membantu Hyukkie untuk menjaga caffe malam ini.” Ucap Donghae. Meskipun mereka seorang Dhampire, namun tidak dapat dipungkiri jika mereka memiliki kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya. Makan, minum, bersekolah bahkan bekerja pun dapat mereka lakukan.

Changmin mengangguk pelan menanggapi ucapan Donghae, “Kuharap malam ini kita beruntung, Dongwon-ah.”

*

       Aura ketegangan tampak menyelimuti salah satu ruangan di kastil milik Cho Kingdom. Tepatnya di sebuah ruangan yang kini terdapat dua bersaudara. Mereka saling melancarkan pandangan membunuh satu sama lain.

“Perbuatanmu kali ini sudah di luar batas, Kyu.” Yoochun memperingatkan Adiknya yang kini tengah berdiri dihadapannya.

Beberapa saat lalu ia mendapat laporan dari Nickhun. Dimana sang Kensei telah memergoki Kyuhyun dan Luhan tengah berada di ruang penyimpanan serum. Dan yang membuat Yoochun murka adalah ketika ia mengetahui motif Kyuhyun mencuri serum Kessei Taiyo.

Nickhun, yang kala itu telah berdiskusi tentang kedatangan Kingdom lain yang akan singgah di wilayah mereka dengan Yoochun, menghampiri ruangan penyimpanan serum yang terbuka dan mendapati Kyuhyun dan Luhan di dalam.

“Aku hanya ingin mencoba kehidupan normal seperti manusia.” Kyuhyun berusaha membela diri.

“Dan membiarkanmu terbunuh kapan saja oleh Dhampire? Tidak.”

“Tapi aku bukan anak kecil lagi, hyung!” Sahut Kyuhyun tak mau kalah, “Aku hanya ingin membalaskan dendamku pada seseorang yang telah membunuh Ayah. Tidakkah kau juga berniat untuk menuntut balas akan kematian Ayah, hyung?”

Yoochun terdiam. Sesungguhnya ia juga memiliki hasrat yang sama dengan sang adik. Namun posisinya sebagai raja atau pemimpin Kingdom membuatnya menahan diri untuk tidak berbuat gegabah dan menuntutnya bersikap lebih bijak. Terlebih menurutnya membalas dendam pun akan sia-sia. Ayahnya tidak akan hidup lagi meskipun ia membunuh pelaku yang membunuh Ayahnya.

Namun pemikiran tersebut tidak berlaku bagi Kyuhyun. Adiknya seperti terobsesi untuk membunuh siapapun yang telah memusnahkan sang Ayah.

“Sampai kapanpun hyung tidak akan membiarkanmu keluar dari batas aman wilayah kita. Mengertilah, Kyu.” Suara Yoochun mulai melirih.

Selama ini ia bersikap protektif terhadap adiknya tidak lain karena ia tidak ingin kehilangan Kyuhyun. Adik sekaligus keluarga satu-satunya yang ia miliki. Ia tidak ingin kejadian Ayahnya yang terbunuh di masa lalu terulang kembali menimpa Kyuhyun.

Dan permintaan Kyuhyun yang meminta izinnya untuk membaur dengan manusia tidak akan pernah ia kabulkan.

“Kuharap mulai saat ini kau berhenti berbuat semaumu, Kyu. Karena aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu. Terlebih tak lama lagi Kim Kingdom akan segera datang ke wilayah kita.“

Yoochun mengultimatum. Dan demi mendengar nama Kim Kingdom disebut, tubuh Kyuhyun sedikit menegang.

“Keluar dari sini dan lupakan keinginan konyolmu itu.” Pungkas Yoochun berbalik meninggalkan Kyuhyun yang masih mematung di tempatnya berdiri.

*

        Changmin dan Dongwoon kini tengah berlari membelah hutan. Mencoba mencari jejak-jejak ataupun aroma memuakkan dari buruannya.

Hingga mereka telah sampai di sebuah tepi sungai. Dimana tak jauh dari tempatnya berdiri terlihat sekelompok laki-laki bertubuh besar. Dan melihat dari ciri-ciri mereka, Changmin dapat menebak jika mereka adalah sekelompok Werewolf.  Sejenis manusia serigala yang bisa dikatakan merupakan sekutu bagi seorang Dhampire dalam menghadapi Vampire.

“Wah.. wah.. mengapa kalian seserius itu?” Sapa Changmin yang menarik perhatian dari kelompok Werewolf tersebut.

Ketujuh lelaki bertubuh kekar itu menoleh padanya dan Dongwoon yang berdiri disisinya.

“Changmin?” sapa Yunho. “Lama tidak berjumpa. Sedang apa kalian disini?” Yunho, yang ia ketahui sebagai Alpha atau pemimpin dari kelompok tersebut menyapanya.

“Memangnya tidak boleh? Bukankah sungai ini adalah tempat umum?” Dongwoon balik bertanya meskipun dengan nada bercanda.

Werewolf yang ada dihadapannya kali ini berasal dari suku Gyfraddia. Salah satu suku tertua yang hingga saat ini masih bertahan hidup. Jika Dhampire memiliki percampuran darah manusia dan Vampire, maka Werewolf merupakan manusia biasa yang memiliki kekuatan luar biasa yang mampu bertransformasi menjadi serigala.

“Tentu saja boleh.” Jawab salah satu dari mereka yang Changmin kenal bernama Taecyeon seraya mengacungkan dua jempolnya.

“Kalian akan berburu?” tanya sang Werewolf bermata besar, Minho.

Changmin mengangguk. “Benar. Apa kalian mencium adanya aroma memuakkan di sekitar sini? Aroma khusus yang membuatku kelaparan setiap menciumnya?” Tanyanya sarkatik.

“Atau mungkin si pemilik aroma tersebut melintas di depan kalian beberapa waktu lalu?” Dongwoon ikut bertanya.

“Oh… Mereka tidak akan berani melintasi daerah ini, ingat? Daerah ini terlarang bagi mereka.” Jawab Hoya cepat.

“Kalau mereka tidak ingin kepala mereka terlepas dari tubuhnya.” Sahut Yonghwa menambahkan dengan nada mengejek.

Dongwoon menggeleng keras, “Jangan! Biarkan kami yang melakukannya. Rasanya pasti menyenangkan.” Jawabnya seraya menyeringai lebar.

Dan semua yang berdiri di tempat itupun tertawa mendengar antusiasme Dongwoon.

“Baiklah. Kami akan kembali berburu. Senang bertemu kalian lagi.” Changmin mengakhiri perbincangan kecil mereka seraya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanannya.

“Hati-hatilah di jalan. Oh, sampaikan salamku pada Donghae.” kata Gikwang seraya melambaikan tangannya.

“Dan jangan lupa kirimkan kami kepala Vampire. Bola yang kami pakai sering hilang dan dibawa kabur oleh babi hutan.” Seru Kris, pria yang paling tinggi diantara kelompok Werewolf itu  gembira, membuat Changmin dan Dongwoon kembali tertawa.

Changmin baru akan melangkah ketika ia berbalik dan menatap Yunho. “Yunho, berhati-hatilah, kudengar ada suku baru di luar sana yang tengah menghimpun kekuatannya untuk mengambil alih beberapa daerah. Kupikir kau harus tahu.”

Pesannya mencoba memeperingatkan sang Alpha dari sekutunya. Ia memang mendengar jika ada sebuah suku asing yang berniat melakukan penyerangan untuk melakukan ekspansi wilayah suku lain.

Yunho tersenyum. “Aku tahu. Terima kasih.”

*

Srak!

Brugh!

Brugh!

Suara gaduh terdengar bersamaan dengan puluhan pohon besar yang tumbang diantara gelapnya hutan. Kyuhyun dengan kalap menendang, menarik dan mencabik-cabik pohon-pohon kokoh yang seketika itu tumbang dibelakangnya. Tak dipedulikannya energinya yang perlahan-lahan mulai berkurang akibat memforsir kekuatnnya secara berlebih. Emosinya seakan melupakan keadaan fisiknya tersebut. Dan emosinya semakin membuncah ketika bayangan wajah Nickhun tiba-tiba muncul dibenaknya.

Jika bukan karena pria itu, dapat dipastikan ia kini telah berhasil kabur dan berada di tengah-tengah kehidupan manusia normal. Mencoba menyelidiki kehidupan Dhampire dan menyelidiki kelemahan sang Vampire Hunter musuh abadinya itu.

Brugh!

Dan tubuh Kyuhyun pun ambruk bersamaan dengan pohon terakhir yang tumbang di belakangnya.

*

Brugh!

Pendengaran tajam Changmin seketika menangkap sebuah suara asing yang terdengar tak jauh dari tempatnya berada. Changmin menatap ke sekeliling. Ia hanya seorang diri saat ini. Sebelumnya ia telah memerintahkan Dongwoon untuk berpencar arah dengannya.

Tanpa menunggu lebih lama lagi ia pun melesat. Berlari menuju sumber suara. Dan senyum tampak terlihat dari bibirnya ketika ia mencium aroma memuakkan yang seketika menaikkan adrenalinnya.

Dengan lincah ia melompati pohon-pohon besar yang tumbang menghalangi laju larinya.

Disana kau rupanya.’

Batinnya ketika mata bulatnya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak diantara reruntuhan pohon. Salah satu tangannya telah menggenggam Katana peraknya yang bersiap menghunus si Vampire yang tergeletak.

Namun, sepersekian detik berikutnya gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya.

normal_kyuhyun_5

TBC

Fading the Darkness – Chapter 1

The Revenge Poster t

Tittle : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos vampire dan dhampire yang berkembang dalam masyarakat. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya yang terbatas.

Warning : Don’t Like = Don’t Read.

Bulan tampak menggantung angkuh di gelapnya langit malam. Kemilau sinarnya membias di permukaan danau hitam yang tenang. Menyusup melalui sela daun pohon Oak di sekitarnya yang tampak menjulang membelah kelamnya malam.

Kesunyian memenuhi udara. Hanya lolongan serigala yang menggema mengisi ruang dengar yang semakin mencekam di malam beku itu.

Di tepi danau itulah, kini terdapat sesosok makhluk yang tampak merengguk kesenangannya. Menghisap darah milik seseorang yang berada di bawah kendalinya. Lelaki dalam cengkeramannya itu terus menjerit dan mengejangkan tubuhnya. Berusaha melakukan perlawanan untuk terlepas dari intimidasi makhluk penghisap darah bermata merah yang berakhir sia-sia.

Byurr!

Tubuh kaku tak bernyawa itu kemudian di lempar ke dalam danau layaknya sebuah benda tak berharga oleh si penghisap darah. Membiarkan tubuh korbannya itu tenggelam di tengah danau tenang. Seringai kepuasan nampak terlihat dari wajah pucatnya yang rupawan. Memperlihatkan bibir dan taringnya yang berlumuran darah. Ia lalu membalikkan tubuhnya seraya mengusap cairan pekat berwarna merah itu dengan punggung tangannya.

“Sudah selesai, Kyuhyun-sama?” Tanya makhluk lain yang sedari tadi mengamati kejadian tersebut tanpa berkomentar apapun. Menyaksikan kejadian seperti itu bukan suatu hal yang membuatnya ketakutan jika ia sendiri merupakan makhluk sejenis dengan pemangsa darah yang baru saja ia panggil dengan sebutan Kyuhyun itu.

Kyuhyun menatap lelaki berambut blonde yang bersandar di salah satu pohon besar dengan pandangan menusuk. Ia lalu memejamkan matanya. Sedetik kemudian bola matanya yang sebelumnya berwarna merah kini telah berubah dengan warna lelehan caramel. Yang membuatnya tampak manusiawi. Begitupun juga taringnya yang sudah tidak tampak.

“Kau tidak berniat untuk melepas dahagamu, Luhan? Ku lihat mangsaku tadi tidak hanya seorang diri di dalam hutan ini.”

Lelaki bernama Luhan, yang tidak lain adalah sahabatnya itu hanya menggeleng pelan.

“Aku sudah cukup puas dengan energi yang ku dapatkan hari ini.”

Kyuhyun mendengus mengerti ucapan Luhan yang terdengar ambigu, “Lelaki mana lagi yang kau tiduri hari ini, heh?”

“Kau—“

Belum sempat Luhan menerjang sahabatnya untuk memberi pelajaran, tiba-tiba tubuhnya tersentak. Begitupun juga Kyuhyun yang tubuhnya terlihat menegang. Mereka saling berpandangan mengerti. Indera mereka dapat menangkap jika ada aroma tanda bahaya yang tengah mendekat kearah mereka.

Mereka berdua pun menyeringai.

***

Masih dalam kawasan hutan, tak jauh dari danau tempat Kyuhyun dan Luhan berada. Kini terlihat dua orang lelaki tengah berlari dengan kecepatan tinggi menuju aroma menyengat yang di tuntun indera penciuman mereka. Bukan hal yang sulit bagi seorang dhampire yang memiliki tingkat penciuman yang sangat sensititif. Terlebih jika aroma itu berasal dari makhluk yang mereka buru.

Mereka berdua terus berlari dengan senjata mereka yang telah siaga di tangan. Sebuah katana, sebuah pedang panjang perak yang menghunus menantang seolah haus akan korbannya. Hasrat mereka untuk memusnahkan vampire yang akan mereka jumpai bergejolak dalam diri mereka.

Dan kecepatan mereka semakin menambah ketika aroma buruannya itu mulai tercium samar-samar.

Srak!

“Sial!” Rutuk salah satu dari dhampire itu ketika mendapati buruannya telah kabur.

Sementara salah seorang lagi terlihat menatap nyalang pada suasana sekitar. Mencoba mengamati kemungkinan jika buruannya bersembunyi di sekitar mereka. Nihil. Ia sedetik kalah cepat dari makhluk penghisap darah itu.

Hingga mata tajamnya menemukan sebuah sosok yang menarik perhatiannya. Sesosok tubuh tak bernyawa yang mengambang di tengah danau. Mayat yang ia ketahui pasti adalah korban sang vampire.

Dongwoon, lelaki yang merutuk tadi memasukkan katananya ke dalam selongsong pedangnya. Ia lalu menghampiri lelaki tinggi yang berdiri di tepi danau.

“Apa perlu aku menepikan mayat itu, hyung?”

Lelaki tinggi itu tak langsung menjawab. Ia memilih untuk berbalik dan berjalan seraya menyimpan katananya, “Kita tak punya waktu untuk mengurusi sisa si penghisap itu.”

Dongwoon tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengikuti langkah hyungnya yang ia ketahui tengah geram karena gagal menghabisi buruannya malam ini.

***

Pintu sebuah kastil besar itu terbuka dengan sendirinya ketika Kyuhyun dan Luhan memijakan kakinya di tanah. Tawa mereka tampak lepas ketika mengingat beberapa waktu lalu saat berhasil kabur dari ancaman Dhampire. Mereka terutama Kyuhyun, memang sanagt suka menantang adrenalin dengan mencoba hal-hal baru. Terutama ketika ia berhasil mempermainkan Dhampire yang memburu makhluk sejenis dengannya.

Kyuhyun menatap sekeliling kastil bernuansa putih yang terlihat sepi dan tak menemukan kakaknya. Mungkin ia sedang berburu, pikirnya.

“Kau dari dari mana saja, Kyu-sama?”

Langkah Kyuhyun dan Luhan terhenti ketika mendengar suara seseorang bertanya. Dan sekejap saja kini seorang lelaki bertubuh tegap telah berdiri di hadapan mereka berdua. Namun tatapannya hanya terarah pada Kyuhyun.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Kyuhun dengan nada tak suka yang sangat kentara.

“Aku disini untuk menjagamu atas perimntaan Yoochun-sama.” Jawab Nickhun, lelaki yang berdiri di hadapan Kyuhyun.

Kyuhyun mendelikan matanya. Ia tahu kakaknya memang sangat protektif terhadap dirinya. Tapi ia tidak pernah menyangka jika kakaknya, Yoochun, sampai akan memperlakukannya laiknya anak kecil dengan meminta Vampire lain untuk menjaga dirinya. Heck, usianya bahkan telah lebih dari satu abad.

“Aku tak butuh di jaga oleh Vampire rendahan sepertimu.”

Nickhun terhenyak. Meskipun perasaannya telah mati bersama organ lain yang ia miliki, namun tak dapat di pungkiri jika kata-kata itu membuat hatinya sakit. Ia merasa harga dirinya di injak oleh cemoohan makhluk yang ia cintai.

Ia memang mencintai Kyuhyun. Mencintai makhluk yang menjadi junjungannya sendiri. Mencintai pangeran yang tak sepantasnya ia cintai yang hanya sebagai seorang kensei dari kerajaan Cho di masa lalu.

“Jaga ucapanmu, Cho Kyuhyun.” Suara geraman terdengar dari arah lain. Sontak mereka bertiga menolehkan pandangannya pada seseorang lain yang baru saja memasuki kastil.

“Hyung…” Gumam Kyuhyun pada hyungnya yang menatapnya dengan pandangan menusuk terarah padanya.

Nickhun dan Luhan menundukan kepalanya sedikit demi memberi penghormatan pada Pangeran besar mereka.

“Aku yang meminta Nickhun untuk menjagamu, Kyu.” Ucap Yoochun pada dongsaengnya. “Dan kau tahu? Karena ulahmu yang dengan seenaknya membunuh manusia, sekarang banyak Dhampire yangyang berkeliaran dan semakin gencar memburu kita.”

Kyuhyun menundukan wajahnya, mengamini dalam hati ucapan kakaknya. Akhir-akhir ini hasratnya untuk meminum darah manusia memang tak terkendali karena hobinya yang sering berpetualang. Ia seolah tak dapat mengontrol dirinya demi mencium aroma darah manusia yang ia jumpai.

“Sebagai sangsinya, aku memutuskan untuk memerintahkan Nickhun untuk menjagamu kemanapun kau pergi.”

“Hyung!” Teriak Kyuhyun tidak terima mendengar keputusan Yoochun. Di buntuti oleh orang lain kemanapun ia pergi saja ia tidak suka. Terlebih jika yang membuntutinya adalah Nickhun!

“Aku tak pernah merubah keputusan apapun yang pernah ku ucapkan.”

***

Donghae yang tengah duduk bersantai di sofa apartemennya sontak berdiri ketika ia mendengar bel pintu berdering.

Tanpa melihat siapa tamu dari interkom yang terpasang, ia pun membuka pintunya yang kemudian menampilkan dua orang lelaki yang sangat ia kenali.

“Masuklah…” Donghae mempersilahkan kedua tamu itu yang tidak lain adalah home mate sekaligus adik dan sahabatnya, Dongwoon dan Changmin. Ia memilih untuk tidak memberondong pertanyaan terlebih dahulu demi melihat air muka kedua sahabatnya yang tampak mengeras. Pertanda buruk.

“Aku sudah memasakan makanan untuk kalian.” Ucap Donghae mencoba mencairkan suasana dengan mood kedua sahabatnya yang buruk.

“Mianhe, aku tidak lapar, hyung. Aku akan istirahat di kamar.” Pinta Changmin mencoba bersikap lembut pada hyung kekanakannya  itu.

“Ne, Changmin-ah. Istirahatlah, jika kau butuh sesuatu, kau bisa memanggilku ataupun Dongwoon.”

Changmin mengangguk dalam diam dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di ujung ruangan. Ia lantas merebahkan tubuh jangkungnya di ranjang miliknya. Mencoba menenangkan emosinya yang naik ketika mengingat ia gagal mengejar Vampire yang hampir ia temui beberapa saat lalu.

Ia yakin jika Vampire tadi bukanlah Vampire biasa mengingat aromanya yang tampak samar. Tidak seperti Vampire muda yang beraroma lebih menyengat.

Terlahir sebagai Dhampire membuatnya hafal pada aroma dari jenis berbagai Vampire. Sebuah insting alami yang patut ia syukuri. Semakin tinggi derajat atau kekuatan dari seorang Vampire, maka semakin samarlah aroma yang menguar dari tubuhnya. Begitu pun sebaliknya.

Terkadang, ia merasa benci pada dirinya sendiri. Terlahir sebagai makhluk hasil dari hubungan terlarang antara Vampire dan Manusia. Dengan latar belakang itulah yang membuatnya terkucilkan di lingkungannya ketika ia masih anak-anak. Orang-orang di sekitarnya menganggapnya sebagai aib bagi keluarga ibunya yang seorang manusia.

Bahkan kejadian menakutkan ketika ia dan ibunya hampir di bakar warga sekitar pun masih terrekam jelas dalam ingatannya. Mereka menganggap, jika melahirkan seorang Dhampire merupakan aib dan pembawa bencan yang harus di musnahkan. Ia ingat ketika ia masih anak-anak, Ibunya pernah kabur dari rumah dengan membawa dirinya. Mereka kabur dari tempat ia tinggal ketika usianya baru 10 tahun. Hingga akhirnya mereka menemukan suatu kawasan yang ditinggali khusus oleh Dhampire dan kawanan Vampire hunter lainnya.

Semenjak itulah, ibunya yang hanya manusia biasa memilih untuk berlatih menjadi seorang Vampire Hunter.

Hingga suatu hari, ketika ia baru saja pulang bermain bersama teman-temannya. Ia di kejutkan dengan sebuah kabar yang tak pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Changmin yang baru saja bermain dengan Donghae dan Dongwoon, sedikit heran ketika ia melihat banyak sekali orang-orang berkerumun di rumahnya.

“Changmin-ah..” Panggil seorang lelaki paruh baya ketika ia melihat Changmin.

Changmin sendiri menatap bingung pada sekelilingnya, “Ada apa paman? Kenapa rumahku ramai sekali seperti ini?” tanyanya pada paman Il Rak, yang tidak lain adalah ayah dari Donghae dan Dongwon  sekaligus tetangganya.

Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu. Jika seharusnya Paman Il Rak saat ini tengah pergi berburu dengan kelompok Dhampire dan Vampire Hunter lainnya, termasuk ibunya, untuk menyerang sebuah kerajaan Vampire yang mereka temukan beberapa minggu lalu.

“Paman, dimana ibuku?” tanyanya dengan sorot penuh harapan. Sudah semimggu ibunya pergi untuk berburu. Ia sungguh sangat merindukan wanita yang ia hormati itu.

“Changmin-ah, ibumu…” Ucap Il Raka tersendat, “Ibumu tewas dalam perburuan kemarin Changmin-ah.”

Deg!

Jantung Changmin berpacu cepat. Darahnya mengalir deras seperti terkumpul dalam kepalanya yang membuatnya terasa pusing. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat mendengar kalimat ayah sahabatnya itu.

Tanpa berkata apapun, ia melesat masuk kedalam rumahnya. Memastikan apa yang Il Rak ucapkan adalah sebuah lelucon. Ia mengabaikan orang-orang yang jatuh karena di tabrak olehnya. Namun, kesadarannya seperti tertampar ketika melihat sebuah peti kayu berada di antara puluhan orang yang kini menatap padanya dengan pandangan iba.

Dengan gontai, ia melangkah mendekati peti kayu tersebut. Peti dimana kini terlihat jasad seorang wanita terbujur kaku dengan seluruh tubuhnya yang memucat. Tampak beberapa luka bekas koyakan dan gigitan di sekitar lehernya. Luka yang ia yakini diciptakan Vampire.

“Ibu…” Gumam namja kecil itu bergetar menahan air mata. Ibunya yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Ibunya yang selama ini menjadi alasan dirinya untuk tetap tersenyum. Ibunya yang selama ini bersuah payah melindungi dirinya pada ancaman apapun. Kini, telah terbunuh. Oleh makhluk penghisap darah yang sangat ia benci sejak dulu.

Ia kemudian meraih tangan ibunya. Berharap dapat menemukan kehangatan yang teasa di genggaman lembut sang Ibu.

Dingin. Keras dan kaku.

Tiba-tiba saja ia merindukan rasa hangat yang tersalur ketika Ibunya membelai wajahnya dengan sayang.

“Ibu…” Ia bergumam kembali. Perlahan ia mengecup tangan ibunya dengan dalam. Mencobaa mengingat kontak terakhir yang akan ia rasakan dengan ibunya. Seraya dalam hati mengucap sebuah janji dan sumpah yang akan ia penuhi demi membalas kematian ibunya..

***

Brak!

Pintu kayu itu terdengar nyaring ketika seseorang membukanya dengan kasar. Menyebabkan seorang namja kecil yang tengah tertidur lelap diatas ranjangnya terusik dari alam bawah sadarnya.

“Kyu…Kyuhyun-ah. Bangunlah.” Panggil seseorang panik dengan menepuk pelan pipi tembam adiknya.

“Nnghh, hyung…” Erang namja kecil yang bernama Kyuhyun itu tak suka ketika kakaknya mengganggu waktu istirahatnya.

Yoochun mengabaikan protes adik semata wayangnya. Tak ada waktu lagi untuk bergerak lambat atau semuanya akan berakhir sia-sia.

“Cepat bangun dan naiklah ke punggung hyung.” Pinta Yoochun tergesa. Dan demi melihat kakaknya yang terlihat panik, Kyuhyun pun memilih menuruti permintaan sang kakak. Naik ke punggung Yoochun yang kemudian terbang melewati jendela kamarnya yang terbuka.

Diluar, ia melihat sosok yang ia kenali sebagai Kensei kepercayaan Ayahnya yang telah berdiri di salah satu pohon besar.

“Yoochun-sama.”

Panggil Nickhun, sang Kensei ketika melihat putra sulung rajanya berhasil keluar dari istana dengan membawa adiknya.

Dari tempat mereka berada, mereka dapat melihat jika di luar istana tempat mereka tainggal terdapat peperangan besar yang terjadi. Kerajaan mereka tengah di serang oleh sekelompok Dhampire dan Vampire Hunter. Sekelompok musuh abadi bagi bangsa Vampire.

Kyuhyun yang semenjak tadi terdiam memberanikan diri untuk melongokan wajahnya dari balik punggung kakaknya.

Mata bulatnya menangkap sebuah kerusuhan yang membuatnya merinding. Di depan sana, terlihat para sekelompok manusia –menurutnya- berbaju hitam sedang berperang dengan pasukan Vampire dari kerajaannya. Terlihat sekelompok orang berbaju hitam itu membawa sebuah pedang yang mengkilap di tempa sinar bulan purnama. Di lain sisi, para Vampire pun terlihat tengah melakukan perlawanan. Dengan mencakar, memukul dan menggigit sekelompok orang berpedang itu yang tak jarang berhasil mengenai tubuh mereka yang seketika ambruk.

“Heika!”

“Ayah!” Pekik ketiga Vampire itu bersamaan. Dengan jelas mereka melihat Ayah dan Raja mereka teterkena sabetan sebuah pedang dari seorang wanita berbaju hitam. Seketika itu tubuh besar sang Raja Cho pun ambruk yang kemudian terbakar menjadi abu.

“Ayah! Ayah!” Pekik Kyuhyun histeris dalam gendongan kakaknya yang menahan tubuh kecilnya yang terus meronta.

Awalnya Yoochun pun berniat turun ke medan pertarungan untuk menyelamatkan kerajaannya. Terlebih hasratnya itu semakin membuncah ketika ia melihat ayahnya terbunuh. Namun tindakannya segera di tahan oleh Nickhun.

“Ingat pesan Nam Gil-heika, Yoochun-sama.” Cegah Nickhun mengingatkan pesan sang Raja pada putra sulungnya.

‘Selamatkan dirimu dan bawa Kyuhyun pergi sejauh mungkin dari tempat ini.’

‘Tapi Ayah—‘

‘ Tak ada waktu untuk membantah ucapan Ayah. Ayah akan meminta Nickhun untu menjaga kalian berdua. Jika perang telah berakhir, Ayah akan menjemput kalian kembali.’

Yoochun memejamkan matanya. Mencoba menguatkan dirinya. Sejujurnya ia merasa tidak berguna menjadi sorang Pangeran. Bagaimana mungkin calon penerus kerajaan sepertinya ‘melarikan diri’ ketika terjadi peperangan yang menyerang kerajaannya. Namun, demi mengingat pesan Ayahnya yang sangat ia hormati, ia memilih untuk menuruti pesan tersebut meski harus menelan harga dirinya bulat-bulat.

“Yoochun-sama.”

“Ayo kita pergi, Nickhun.” Putus Yoochun dingin dan terbang menjauh dari kerajaannya yang telah porak-poranda. Meninggalkan Nickhun yang menatap sendu pada Yoochun dan sosok rajanya yang telah musnah secara bergantian.

Yoochun semakin cepat melesat terbang. Mengabaikan adiknya yang terus saja meronta dan menangis memanggil sang Ayah.

*

“Ayah!”

Tubuh Kyuhyun tersentak ketika ia tersadar dari tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang membuat pakaiannya tampak lengket.

Ia bermimpi kejadian itu lagi. Kejadian paling mengerikan seumur hidupnya sebagai Vampire. Kyuhyun memejamkan matanya berusaha menenangkan diri. Namun tak lama kemudian matanya terbuka kembali. Kedua matanya kini tampak berubah warna menjadi merah menyala.

Ia mendongak menatap sebuah lukisan yang tergantung di dinding kamarnya. Sebuah lukisan yang menggambarkan sosok lelaki yang sangat ia hormati dan ia sayangi.

Senyuman licik tergurat dari bibir Kyuhyun…

*

‘Aku bersumpah akan menuntut balas pada  siapapun yang telah membunuhmu…’

“…Ibu”

“…Ayah”

Fading the darkness chap 1

TBC

Kosa Kata :

…-sama : Sapaan ini digunakan untuk orang yang memiliki status / kelas yang tinggi.

…-heika : Baginda / Raja

Kensei : Gelar terhormat yang di berikan pada prajurit yang memiliki kemempuan legendaris dalam pedang (Tapi anggep aja di FF ini Kensei itu sejenis panglima perang atu tangan kanan raja. Hehe)

 

 

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

Got a Baby

Title : Got a Baby

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kyuline Member’s, Kim Jongin (Kai)

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-15

Genre : BL, Romance, M-Preg, Friendship, Little bit Humor, OOC, Typo(s).

Disclaimer : Another story of ChangKyu. Sequel from PREGNANT???

Summary : Kabar mengejutkan datang dari Kyuhyun ketika ia pulang dari Rumah Sakit. Bagaimana reaksi Shim Changmin mendengar kabar tersebut?

“Min-ah…”

Seseorang yang merasa dipanggil dengan nada manja itu sontak menghentikan kesibukannya yang tengah berkutat dengan pensil mekanik dan music book-nya.

“Eh, kau terbangun, chagi?” tanya Changmin heran pada namja manis yang tengah mendudukan dirinya di ranjang kamar miliknya. Ia pikir Kyuhyun telah tertidur lelap setelah ia meminum obatnya beberapa saat lalu. Maka dari itu ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Ternyata Kyuhyun kini malah sedang duduk dengan mengusap mata sayunya serta rambut ikal coklatnya yang berantakan yang membuatnya terlihat seperti anak kecil.

Kyuhyun hanya mengerang lirih menanggapi pertanyaan Changmin. Meskipun demikian, tak urung juga ia beranjak dari ranjang putih itu untuk  menghampiri sang namjachingu yang masih saja setia duduk di meja belajarnya.

“Kenapa kau terbangun, hm?” Changmin menyentuh kening Kyuhyun yang telah berdiri disisinya dengan memeluk lehernya,“tubuhmu masih panas, Kyu. Apa kau masih pusing?”

Kyuhyun menggeleng pelan, “kau sedang apa?” tanya Kyu mengabaikan kekhawatiran dan pertanyaan dari namja yang satu tangannya kini tengah merengkuh pinggangnya posesif.

Changmin hanya tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, “aku sedang mencoba menulis lirik lagu. Apa kau ingin sesuatu?”

“Aku menginginkanmu.” Tukas Kyuhyun tanpa ragu meskipun dengan suaranya yang terdengar sedikit parau.

Mendengar pernyataan ambigu tersebut membuat namja bermarga Shim itu menyeringai pervert.

“Aku ingin tidur ditemani olehmu, Changmin-ah…”

Seringai dari bibir lebar Changmin seketika menghilang dan berubah menjadi sorot kekecewaan karena dugaannya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Mengabaikan kekecewaannya sendiri, ia pun bangkit dari posisi duduknya dan membopong tubuh Kyu dengan mudah seolah tanpa beban. Ia masih cukup punya hati untuk tidak meminta ber-this  and that ria  pada Kyuhyun yang sedang demam.

Dengan perlahan ia pun merebahkan tubuh berisi Kyu di ranjangnya. Ia mematikan lampu untuk kemudian ikut merebahkan diri di sisi namjachingu-nya yang terlihat sangat mengantuk.

“Min-ah…” Panggil Kyu lagi. Kali ini dengan menatap langsung manik mata Changmin seperti memohon.

Mengerti dengan intonasi dan isyarat tersebut, Changmin pun tersenyum dan mengecup kening Kyuhyun sebelum ia melepas beberapa kancing piyama yang ia kenakan. Membiarkan tangan dan wajah maknae Super Junior itu segera merangsek di dada bidangnya yang terbuka.

Sudah seminggu ini Kyuhyun memiliki kebiasaan baru yang entah harus Changmin syukuri atau ratapi. Setiap kali akan tidur, Kyu akan selalu memintanya untuk membuka pakaian atasannya. Melesakan wajahnya untuk menghirup aroma tubuhnya yang menurutnya sangat maskulin dan membuatnya nyaman. Bahkan tak jarang ia akan mengusap lembut dada dan perut telanjangnya  yang membuat dirinya sedikit…ehm terangsang. Dan hal yang harus ia ratapi adalah ketika pada akhirnya ia sedikit turn on tapi Kyuhyun sendiri malah selalu menolak keinginannya untuk bercinta dengan alasan ia lelah.

Changmin mengusap punggung Kyuhyun lembut selagi kekasihnya itu tengah sibuk dengan hobi barunya. Dapat ia rasakan hembusan nafas panas Kyuhyun menerpa kulitnya, begitupun juga keningnya yang ia yakin memiliki suhu diatas normal.

“Besok kita pergi ke dokter, ne?” ajak Changmin untuk kesekian kalinya. Ia sudah hampir putus asa membujuk Kyuhyun yang semenjak kemarin selalu menolak ajakannya untuk ke dokter dengan berbagai alasan. ‘Aku hanya demam, Min-ah. Besok juga pasti sembuh’ atau ‘hari ini aku ada schedule’ dan berbagai alasan lainnya.

Tapi tanpa ia duga, Kyuhyun mengangguk lemah dengan sedikit gumaman dari bibirnya. Merasakan pergerakan tersebut, Changmin tersenyum sumringah.

Good boy.” Ujarnya seraya mengecup dan menyesap aroma rambut Kyu sebelum ia merengkuh tubuh lemas Kyuhyun untuk semakin mendekat padanya.

***

“Tapi hyung –“

Ucapan Changmin terpotong ketika dari line seberang, si penelepon yang tidak lain adalah manager-nya memutus sambungan teleponnnya tanpa permisi.

“Aissh!” erang Changmin melempar smartphone-nya ke tempat tidur dengan kesal.

“Waeyo?” tanya Kyuhyun ketika ia yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran melihat Changmin yang mengerang kesal.

Namja yang lebih muda lima belas hari itu bangkit dan menghampiri Kyuhyun. Menggosokkan handuk berwarna putih di kepala Kyu untuk mengeringkan rambut basah sewarna madu milik sang namja imut yang baru saja selesai mandi.

“Kyunnie, mianhe. Sepertinya aku tidak bisa mengantarmu ke rumah sakit hari ini,”

Kyuhyun memiringkan kepalanya menatap Changmin bingung.

“…tadi manager hyung meneleponku jika sekarang aku ada filming promtional kampus.” Jelas namja jangkung itu dengan kecewa. Berhubung saat ini adalah tahun ajaran baru, ia yang di nobatkan sebagai salah satu ambassador jurusan di universitasnya, Konkuk University mengharuskan ia membintangi film promortional tersebut. Namun yang ia sayangkan, kenapa syuting harus dilakukan hari ini? Padahal hari ini ia berniat untuk memerikasakan Kyuhyun ke Rumah sakit. Dan dengan seenaknya sang manager tiba-tiba memberitahunya jika hari ini ia harus merampungkan schedule terakhirnya sebelum mereka berangkat ke Jepang lusa.

“Gwenchana. Aku kan bisa berangkat sendiri ke rumah sakit.”

“Bwoh? Andwe!” Tolaknya keras hingga tanpa sadar ia menghentikan gerakan mengeringkan rambut namja manis dihadapannya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Kyuhyun yang tengah sakit itu keluar seorang diri? Membayangkannya saja ia tidak mau. Ia terlalu mengkhawatirkan Kyuhyun dan ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada orang yang ia cintai itu.

Kyu memutar bola matanya lelah melihat reaksi Changmin yang menurutnya berlebihan, “ayolah, aku tidak akan pingsan di tengah jalan hanya karena pergi ke Rumah sakit sendirian, Shim Changmin.”

“Justru itu yang aku khawatirkan, Cho Kyuhyun.” Sanggah Changmin tegas. “Aku akan meminta tolong pada Minho dan Jonghyun untuk mengantarmu.”

Dahi Kyuhyun mengerut, “Kenapa harus mereka?”

“Karena mereka tidak akan pernah bisa menolak permintaan sang Lord VoldeMin.” Ucap Changmin dengan seringai liciknya.

***

              Terlihat dua orang namja kini tengah duduk manis di depan meja salah satu dokter Rumah sakit Seoul. Menunggu seseorang yang tengah di periksa di balik tirai ruangan yang mereka tempati. Dua namja tersebut tidak lain adalah Choi Minho dan Lee Jonghyun. Setelah tadi pagi mereka menerima telepon dan sedikit ancaman manis dari sang invisible leader Kyuline, akhirnya mereka berdua bersedia mengantar Kyuhyun ke rumah sakit. Beruntung hari ini mereka berdua sedang jobless sehingga ancaman Changmin untuk memposting foto absurd mereka yang tengah mabuk ke internet melalui twitter Kyuhyun tidak terrealisasi.

Mereka berdua sontak mendongak ketika melihat dokter ber-name tag Nam So Young itu muncul dari balik tirai dan duduk di kursinya. Minho sendiri langsung menghampiri Kyuhyun yang tengah merapikan pakaiannya diatas bangsal setelah melakukan pemeriksaan dengan di bantu oleh perawat.

“Hyung, gwenchana?” tanya namja bermata besar itu khawatir yang dibalas Kyuhyun dengan anggukan singkat.

“Jadi uisanim, Kyuhyun hyung baik-baik saja, kan? Maksudku, dia tidak mengidap penyakit kronis atau terjangkit virus aneh, bukan?”

“Ya! Lee Jonghyun!” sentak Kyuhyun mendengar pertanyaan asal dari dongsaengnya itu.

Sang dokter dan perawat wanita yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tertawa pelan.

“Tenang saja. Kyuhyun-ssi tidak terkena penyakit atupun virus aneh seperti yang anda khawatirkan.” Jawab sang dokter yang membuat Jonghyun bernafas lega.

“Lalu?” tanya Minho yang berdiri dibelakang Kyuhyun yang telah duduk disamping Jonghyun.

Lelaki paruh baya itu tersenyum sesaat sebelum ia meneruskan kalimatnya,”mungkin ini terdengar tidak lazim, namun justru hal ini adalah sesuatu yang patut di syukuri karena apa yang dialami oleh Kyuhyun-ssi merupakan suatu anugerah yang tidak dialami oleh semua namja…”

Ketegangan mulai menghampiri trio berbeda grup tersebut demi mendengar pernyataan sang dokter yang terkesan bijak dan horor di waktu yang bersamaan. Terlebih Kyuhyun yang merupakan objek utama dalam percakapan mereka..

“Setelah mendengar keluhan dan gejala yang dialami Kyuhyun-ssi serta dari hasil pemeriksaan tadi, saya hanya dapat mengucapkan selamat kepada anda Kyuhyun-ssi karena anda dinyatakan positif  hamil .”

“MWO???!” pekik mereka bertiga kompak.

“Ha…hamil?” gumam Kyuhyun tergagap.

“Ya! Sepertinya telingaku bermasalah. Bagaimana denganmu Jonghyun-ah?” Minho menyenggol pundak Jonghyun yang masih belum menunjukan reaksi apapun.

“Hahaha… Jangan bercanda, uisanim. Kami tidak akan tertipu untuk yang kedua kalinya…” bantahnya mengingat kejadian ‘kehamilan’ Kyuhyun dua bulan lalu. Kejadian dimana ia sedikit –banyak- kecewa karena tidak jadi mendapatkan keponakan dari pasangan Changkyu.

Sementara Kyuhyun masih tampak terdiam. Ia seperti larut dalam benaknya sendiri yang tengah berkecamuk memikirkan vonis dokter. Terkejut, tidak percaya, bahagia, cemas dan terharu seolah bertumpuk memenuhi perasaaannya. Dalam hati ia membenarkan ucapan Jonghyun. Ia tidak ingin terlalu berharap kembali dengan sesuatu yang mustahil hingga ia akan kecewa untuk yang kedua kalinya. Meskipun begitu, setitik harapan tumbuh di sudut hatinya jika ia memang benar-benar mengandung darah daging dari Changmin.

Dokter Nam yang sudah menduga dengan reaksi tersebut meminta kepada suster untuk memberikan catatan hasil pemeriksaan kepada tiga namja dihadapannya.

Ketiga namja tersebut saling berpandangan horor setelah mereka mencermati hasil pemeriksaan yang hanya kata ‘positif’ yang dapat mereka mengerti.

Oh..my…God, kau benar-benar…”

“…hamil, hyung.”

***

Tadaima~

Changmin berseru riang ketika ia memasuki apartemennya. Namun tidak lama kemudian ia Ia mengerutkan keningnya ketika ia sama sekali tidak mendengar sahutan salam dari Kyuhyun atau seseorang yang lain.

“Kyuhyunnie?” panggilnya dengan nada memastikan, “apa mereka belum pulang?” gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Dan dugaannya semakin di perjelas ketika ia tidak menemukan sepatu Kyuhyun di rak depan pintu.

Namja pemilik suara tinggi itu melangkah memasuki dapur dan membuka kulkas yang terdapat di salah satu sudut dapurnya. Meraih sebotol air dingin yang langsung ia habiskan hingga tandas. Ia juga meraih sebuah apel dan menggigitnya sebelum menyandarkan tubuhnya di konter dapur. Sebenarnya ia sangat lapar. Ia belum sempat makan siang karena setelah filming selesai, ia langsung bergegas pulang untuk mengetahui keadaan Kyuhyun. Namun sayangnya Kyuhyun dan kedua dongsaengnya sendiri belum pulang dari Rumah sakit.

Niatannya yang akan menelepon Kyuhyun untuk memastikan keberadaannya terinterupsi ketika ia mendengar kegaduhan dari arah pintu masuk. Sesegera mungkin ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kyu?” Pekiknya.

Kekhawatirannya muncul ketika ia melihat namjachingunya yang tengah melangkah dengan di papah oleh Minho hati-hati.  Sementara Jonghyun lebih memilih untuk meletakan barang-barang bawaannya yang tidak bisa dianggap sedikit itu di sofa ruang tamu. Tangannya serasa akan patah setelah ia membawa seluruh barang belanjaan yang berupa peralatan bayi itu menuju lantai dua belas apartemen Changmin.

Salahkan keantusiasan Minho -dan dirinya sendiri tentunya- setelah mendengar kehamilan leader mereka. Setelah mereka heboh memeluki Kyuhyun yang saat itu masih tidak percaya dengan apa yang ia alami serta setelah mendengarkan wejangan dari dokter Nam tentunya,  mereka langsung menuju toserba untuk membeli semua kebutuhan calon baby dan keponakan pertama mereka. Dan tak lupa juga mereka membeli vitamin atau apapun yang kira-kira di butuhkan Kyuhyun mengingat pesan dokter yang mengatakan jika kandungan Kyuhyun sedikit rentan, pengaruh dari kondisi kesehatannya yang cukup lemah karena anemia. Hal yang lumrah di alami seorang ‘ibu’ yang hamil pada trimester pertama tentunya.

“Min-ah, kau sudah pulang?”

“Ne, Kyu. Apa yang terjadi padamu? Kau baik-baik saja kan, sayang?” rentet Changmin menuntut jawaban. Memeriksa bagian-bagian tubuh Kyuhyun dari atas-bawah depan-belakang. Memastikan makhluk imut dan manis tercintanya itu baik-baik saja.

“Ya Hyung! Hati-hati! Kau tidak boleh menyentuh Kyuhyunnie hyung sembarangan! Kau bisa membahayakan kandungannya!” Pekik Minho overacted memperingatkan seraya melindungi Kyuhyun dengan protektif. Kyuhyun sendiri hanya menghela nafas mencoba bersabar dengan tingkah Minho dan Jonghyun yang menjadi super protektif padanya. Lihat saja, bahkan berjalan pun ia harus di tuntun oleh namja kodok itu meskipun ia sudah menolaknya. Setidaknya ini lebih baik dari pada ia harus di gendong sepanjang perjalanan.

Changmin mendelik, terlebih ketika ia melihat sang visual group SHINee memeluk pinggang Kyuhyun-NYA. Namun sedetik kemudian ekspresi wajahnya berubah terkejut ketika ia mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan dongsaeng-nya.

“Kandungan?” pria jangkung itu menatap Minho dan Kyuhyun dengan sorot mengintimidasi.

“Ne, kau akan menjadi seorang appa, Chagiya.” Kyuhyun mengecup pipi tirus Changmin dengan rona bahagia yang jelas terpancar di wajahnyaa. Sementara Changmin? Ia hanya diam membeku mendengar kalimat Kyuhyun. Pendengaran dan otaknya seolah tidak sinkron untuk mencerna makna kalimat tersebut.

Dengan linglung ia menunduk untuk menatap wajah Kyuhyun yang telah melepaskan diri dari Minho dengan kedua tangannya tengah bergelayut di lengannya. Kyuhyun sendiri hanya terkekeh melihat ekspresi dan reaksi calon ayah dari anaknya itu.

Tanpa berkata apapun, Kyuhyun memberikan surat hasil pemeriksaan ke depan wajah Changmin. Minho kini sudah menyusul untuk duduk di sisi Jonghyun yang tengah menahan tawa melihat ekspresi bodoh Changmin yang harus ia akui sangat jarang terjadi.

Changmin membuka kertas tersebut dengan masih memandang Kyuhyun yang mengangguk kecil berusaha meyakinkan.

Awalnya ia masih belum menunjukan reaksi apapun hingga matanya tertuju pada kalimat ‘Positif Hamil’ yang tercetak tebal pada surat yang ia baca.

“Kyuhyun-ah…kau….”

Kyuhyun mengangguk semangat seraya menciumi wajah Changmin dengan sesekali menggumamkan kata ‘gomawo’.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba…

BRUKKK!

“OMO! Changmin-ah??!”

***

               Changmin mengerjapkan matanya perlahan ketika ia merasakan sebuah tangan menepuk pipinya pelan. Kedua matanya menyipit berusaha menyesuaikan sinar asing  yang tiba-tiba masuk ke retinanya.

“Changmin-ah?!” Pekik Kyuhyun senang dan langsung memeluk namjachingunya yang masih terbaring di ranjang. Changmin yang masih dalam masa transnya hanya mengerang pelan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi.

Seingatnya, beberapa saat lalu ia pulang dari kampusnya dan menyambut Kyuhyun pulang dari Rumah Sakit dengan diantar oleh duo Kyuline. Dan seketika ia terkesiap ketika ia mengingat hal terakhir apa yang terjadi.

“Sebenarnya kau ini pingsan apa tidur sih, Hyung?” tanya Jonghyun sarkatik.

“Baru saja aku akan menyirammu dengan air cucian piring. Sayang sekali kau malah sudah siuman duluan, hyung.”

Changmin mendelik pada Minho dan Jonghyun yang tengah berdiri di sisi tempat tidurnya dengan pandangan mencemooh.

“Kau baik-baik saja kan, Min-ah? Kau harus baik-baik saja karena aku tidak mau baby-ku lahir tanpa seorang ayah nantinya.” Panik Kyuhyun berlebihan.

Maknae DBSK itu nyaris saja menjitak kepala Kyuhyun jika ia tidak di sadarkan dengan sesuatu yang membuatnya pingsan. Sementara Minho dan Jonghyun lebih memilih keluar dari kamar bermaksud memberikan privasi pada pasangan maknae itu.

“Kyu, mengenai surat yang ku baca tadi…kau tidak bercanda, kan?” Changmin bertanya dengan hati-hati, takut-takut jika ia akan menyinggung perasaan Kyu.

Hening beberapa saat. Kyuhyun yang masih menindih tubuh Changmin mengerjapkan matanya cepat. Sementara namja yang masih terbaring tersebut hanya menelan ludahnya pelan menunggu reaksi Kyuhyun selanjutnya.  Dan benar saja dugaannya, Kyuhyun tiba-tiba saja mencebikan bibirnya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak percaya padaku?” tanya namja berkulit pucat tersebut dengan suaranya yang bergetar.

“Ya…ya. Uljima Kyu. Mianhe. Aku hanya…aku hanya sedikit tidak menyangka jika kau tengah mengandung baby kita, Hyunnie.” Ujar  Changmin menenangkan Kyuhyun yang kini tengah berada di pangkuannya dengan posisi menyamping setelah tadi ia mendudukan diri dengan bersandar di headboard. Sesekali ia mengusap punggung Kyuhyun lembut.

Ia sendiri masih belum mempercayai kenyataan bahwa Kyuhyun-nya tengah hamil. Demi apapun, Kyuhyun itu namja, ia sangat yakin jika seratus persen baik luar ataupun dalam Kyuhyun itu namja. Tapi bagaimana seorang namja bisa hamil? Ia memang pernah membaca sebuah artikel mengenai male pregnancy, namun ia pikir itu hanya artikel omong kosong yang mustahil. Dan dengan tiba-tiba kini ia harus mengubah anggapannya itu karena kekasihnya sendiri mengalami hal yang ia anggap mustahil sebelumnya. Wajar bukan jika ia sedikit shock dan sangsi?

“Minnie…apa kau bahagia?” Kyuhyun bertanya lirih dengan menyandarkan kepalanya di dada Changmin. Air matanya berhenti keluar mendapat perlakuan manis dari Changmin.

“Tentu saja, sayang.” Tangan Changmin merayap masuk ke dalam kaus yang di kenakan Kyu dan mengusap perut datar Kyu, “Aku sudah tidak sabar di panggil appa oleh baby kita. Dan kau akan di panggil eomma olehnya Hyunnie…”

Tentu saja. Lelaki mana yang tidak bahagia jika ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki anak dari orang yang sangat  di cintai?

“Tapi kan aku namja, Min-ah!” Protes Kyuhyun tidak terima.

“Memangnya kau mau di panggil apa oleh baby Shim, Kyu? Dimana-mana, orang  yang melahirkan pasti akan di panggil eomma, ibu, mama, obaasan, umi, mommy…”

“Huh!” Kyuhyun menghela nafas, kalah debat dengan sunbae sekaligus kekasihnya. Tiba-tiba ia terkikik geli ketika ia merasakan tangan besar dan hangat Changmin mengusap lembut perutnya, “Hihihi…Apa yang kau lakukan, Min-ah?”

“Ssshht. Diam dan tenanglah, Kyu. Biarkan aku berbicara dan menyapa baby Shim.” Lelaki bersuara tinggi itu mulai menundukan dirinya dan menyingkap kaus tipis berwarna violet yang Kyuhyun kenakan dengan menampakan kulit pucat Kyu. Kyuhyun sendiri hanya terdiam, menuruti instruksi Changmin sekaligus mengamati pergerakan calon ayah dari anaknya.

“Anyeong, baby Shim. Namaku Shim Changmin. Appa-mu yang sangat tampan, keren, bertalenta, jenius dan berkharisma. ”

Kyuhyun serasa ingin muntah mendengar ucapan narsis Changmin yang sialnya memang ia akui kebenarannya.

“Hey baby, apa yang sedang kau lakukan di dalam perut eomma Hyunnie?” iseng, ia menusuk-nusuk pelan perut Kyuhyun yang terasa keras.

“Ya! Jangan di tusuk-tusuk begitu. Kau bisa menyakitinya, Chwang.”

“Aigoo, kau dengar, baby. Eomma-mu galak dan cerewet sekali, ne? Nanti jika kau lahir, jangan galak –galak seperti eomma.”

Plak!

“Aaww, Kyu…” erang  Changmin mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh namja manis yang tidak terima dengan ucapannya.

“Bahkan eomma berani memukul appa-mu yang tampan ini, baby…” adunya pada sang baby yang usianya bahkan belum genap satu bulan dalam kandungan Kyuhyun.

“Kau sama saja menjelek-jelekan aku pada baby kita sendiri, Changmin-ah.” Ucap Kyuhyun jengah.

Changmin hanya terkekeh. Ia menegakan posisinya sejenak untuk mengecup bibir Kyuhyun sekilas dengan mengucapkan kata ‘mianhe’ sebelum ia menundukan tubuhnya lagi dan melanjutkan kegiatannya untuk mengobrol dengan sang baby.

“Baby, terima kasih kau telah memilih untuk tumbuh dalam kandungan eomma-mu. Kau tahu? Kau adalah anugerah terindah bagi kami.”

Kyuhyun tak dapat menahan senyumnya mendengar ucapan dan intonasi Changmin yang begitu lembut. Menunjukan bahwa ia benar-benar berterima kasih dan bersyukur dengan kehadiran bayi yang tengah di kandungnya.

“Appa berpesan padamu, tumbuhlah dengan baik dan sehat, baby. Jangan menyakiti dan merepotkan eomma-mu karena kondisi kesehatannya cukup lemah. Lahirlah pula dengan sehat. Kelak jika kau tumbuh dan dewasa nanti, kau harus bisa membantu menjaga eomma untuk appa. Dan juga buat dunia untuk mengenangmu dengan suatu hal yang baik dan membanggakan, sehingga Tuhan tidak merasa sia-sia memberikan satu ruh-Nya untukmu. Arra?” pesan sang maknae DBSK yang tidak lama lagi akan menyandang gelar ‘Appa’ itu dengan takzim pada calon buah hatinya. Sementara Kyuhyun, sekuat hati ia berusaha menahan air mata harunya mendengar ucapan Changmin.

Good night, baby…” Changmin mengakhiri percakapan tunggalnya dengan mengusap dan mencium lembut perut Kyuhyun seolah ia tengah mencium langsung baby Shim. Ia pun kemudian menegakan tubuhnya kembali ke posisi semula, dimana ia menyandarkan punggungnya kembali di headboard Ia tersenyum ketika ia mendapati kedua bola mata sewarna lelehan karamel milik Kyuhyun tengah berkaca-kaca menahan air mata menatapnya.

Crybaby.” Ejek Changmin yang tak kenal suasana seraya mencubit pelan hidung Kyu yang memerah. Biasanya jika ia mengejek ataupun menggoda Kyuhyun, namja yang tak kalah evil darinya itu pasti akan mencubit, memukul ataupun membalas ejekannya dengan lebih sarkatik.

“Aku sedang terharu, pabbo!” sahut Kyuhyun sedikit kesal seraya memeluk erat leher Changmin yang hanya terkekeh. Balas memeluk erat tubuh Kyuhyun, ia pun mengusap lembut punggung namja yang masih duduk di pangkuannya.

Waktu terus berlalu membiarkan keheningan tercipta diantara mereka berdua. Memberikan kesempatan untuk menikmati moment di mana mereka berkomunikasi dengan gesture mereka masing-masing.

“Gomawo…” Bisik Changmin lirih dengan mencium dan menyesap helai rambut namjachingu-nya. Kyuhyun sendiri yang tidak mampu lagi menahan isakannya hanya mengangguk pelan diantara ceruk leher Changmin tanpa merenggangkan pelukannya pada pria tinggi itu.

***

              Senyum dan raut kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampan seorang Shim Changmin. Rasa haru, bahagia dan bangga yang kini ia rasakan seolah membuatnya serasa ingin meledak.

Ia masih ingat lima jam yang lalu merupakan saat-saat paling menegangkan dalam hidupnya. Ia tak pernah merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang luar biasa yang ia alami beberapa saat lalu ketika ia menunggui proses persalinan Kyuhyun di ruang operasi. Bayangan Kyuhyun yang meringis kesakitan karena kontraksi membuatnya merasa sakit dan tidak tega. Nyaris saja ia akan mendobrak pintu yang memisahkan ruangan operasi dan ruang tunggu yang ia tempati dan menerobos masuk untuk menemani Kyuhyun-nya, Kyuhyun-nya yang tengah berjuang di antara hidup dan matinya untuk calon anaknya. Beruntung niatan anarkisnya itu segera di cegah oleh hyung-deul DBSK dan Super Junior yang juga ikut menemani dan menenangkannya.

Cukup lama aura ketegangan menyelimuti ruang tunggu hingga pintu operasi terbuka. Menampakan sang dokter yang tampak berpeluh karena lelah dan melepas masker yang ia kenakan. Changmin yang saat itu tengah berjalan kesana kemari karena cemas langsung menghampiri sang dokter.

“Selamat tuan Shim, putra anda telah lahir dengan selamat.” Ucap sang dokter ketika ia di serbu oleh sekumpulan orang  yang menatapnya dengan penuh harap, “keadaan Kyuhyun-ssi juga baik-baik saja. Kondisi tubuh serta pikisnya yang stabil sangat membantunya ketika proses kelahiran berlangsung. Saat ini Kyuhyun-ssi masih dalam pengaruh obat bius. Mungkin tiga atau empat jam lagi ia akan siuman. Sekali lagi saya ucapkan selamat, Changmin-ssi.”

Tangis haru Changmin tidak bisa di tahan lagi begitu mendengar kabar yang di sampaikan oleh dokter. Hal serupa juga terjadi pada kedua orang tua dan mertuanya yang langsung memeluk dan memberinya selamat karena ia telah resmi menjadi seorang ayah.

“Hihihi…Min-ah. Jonginie menjilati jariku…”

Kekehan Kyuhyun sontak menyadarkannya dari memorinya beberapa saat lalu.

Senyum Changmin merekah ketika ia melihat Kyuhyun yang tengah duduk di ranjang rumah sakit dengan meggendong Shim Jongin, nama sang baby, di dekapannya.

Perlu di ketahui jika nama tersebut merupakan nama pemberian dari kedua ahjusi-nya yang super protektif, Choi Minho dan Lee Jonghyun. Mereka berasumsi jika mereka memiliki hak atas keponakan yang sudah mereka jaga bahkan ketika masih dalam bentuk janin.

Reflek ia mendudukan dirinya di pinggiran ranjang yang di tempati Kyuhyun. Ia ikut terkekeh pelan ketika melihat baby-nya menjilat-jilat jari telunjuk Kyuhyun yang terjulur dan di genggam erat kedua tangan mungil Jongin meskipun kedua matanya tetap tertutup.

“Apa baby lapar, hm?” tanyanya gemas, mengusap-usap lembut hidung putranya.

“Ya! Jongin bukan kau hyung yang selalu lapar setiap saat.”

Changmin memandang sosok Minho yang tengah duduk bersama Jonghyun di sofa ruangan tersebut dengan pandangan mematikan. Ia melupakan jika kedua bocah itu masih berada di ruangan yang sama dengannya. Sebenarnya sudah tak terhitung lagi ia ‘mengusir’ kedua anak itu untuk pulang sekedar untuk beristirahat. Hal serupa yang ia minta kepada Hyungdeul serta orang tuanya mengingat malam telah larut. Namun dengan tegas mereka berdua menolaknya dengan alasan ingin menjaga Jongin.

Minho sendiri yang menyadari sorot membunuh dari maknae DBSK itu mulai menekuni majalah yang tengah ia baca, mencoba menghindar.

Jonghyun mencoba mengabaikan perang tak kasat mata tersebut dan memilih untuk menghampiri ranjang rumah sakit yang Kyuhyun tempati.

“Hyung, sudah malam. Lebih baik kau istirahat. Biar Jongin aku saja yang menjaganya…” ucap namja Lee itu bijak.

“Aniyo. Aku masih ingin bersama baby-ku.” Tolak Kyuhyun menggeleng kuat dan menatap anaknya yang masih saja menjilati jarinya.

“Jonghyun benar, Kyu. Kau ingat apa kata dokter tadi kan? Kau harus banyak istirahat agar segera pulih dan bisa sesegera mungkin bermain dengan Jonginie sepuasmu nanti. Lagi pula Jongin juga sudah tidur kan? Biarkan Jonghyun meletakan Jongin di baby box-nya. Ne?” Changmin mencoba membujuk sang ‘istri’ yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tidak suka karena Changmin tidak mendukungnya, “Tapi, Min-“

“Kyu…”

Kyuhyun menghela nafasnya pasrah mendengar panggilan lelah Changmin. Dengan berat hati ia pun menyerahkan Jongin pada Jonghyun dengan sebelumnya ia mencium bibir duplikat dari Changmin itu dengan lembut. Begitu pun juga Changmin.

Good night, baby. Saranghae…”

Changmin mengelus rambut Kyuhyun lembut yang masih terlihat tidak rela berpisah sesaat dengan Jongin.

“Sekarang istirahatlah, chagi. Aku akan menemanimu di sini…” pinta Changmin membantu merebahkan tubuh Kyuhyun dan menyelimuti tubuh pucat tersebut hingga sebatas dada.

Ia mencium kening Kyu dengan lembut seraya membisikan kata terima kasih padanya. Tangannya mengusap lembut rambut Kyuhyun dengan bibirnya yang menyenandungkan pelan sebuah lagu sebagai lullaby.

Dan nyanyiannya terhenti ketika ia melihat kedua mata Kyu perlahan mulai terpejam dan terlelap. Sejenak ia mengagumi sosok wajah istrinya yang menyiratkan rasa lelah. Meskipun begitu, senyum tipis juga terlihat di wajahnya yang terlihat makin pucat saat ini. Lagi, ia mencium kening Kyuhyun dan mengecup sekilas bibir plump sang istri.

“Terima kasih telah melahirkan Jongin untukku, Shim Kyuhyun…”

Got a baby ChangKyu kai publish

END

… How am I Supposed to Live Without You

Title                 : …How am I Supposed to Live Without You

Starring           : Cho Kyuhyun, Shim  Changmin, Others.

Pair                  : ChangKyu (MinKyu)

Genre              : BL, Romance, Brothership, Hurt.

Rate                 : PG-13

Author             : Macchiato94

Disclaimer       : FF ini bisa dibilang sekuel dari FF yang berjudul  I Love You and … Jadi sebelum baca FF ini, disarankan baca I Love You and … terlebih dulu biar nyambung. Kekeke

Warn               : Timeline disesuaikan dengan jalan cerita. Jadi harap maklum jika ada kejadian yang tidak semestinya. Don’t like don’t read.

Ddddrrrt dddrrtt

Seorang pria yang awalnya masih terlelap dalam buaian mimpinya mulai menunjukkan kesadarannya kala ia mendengar suara getaran dari ponselnya. Ia menggeliatkan tubuhnya terlebih dahulu guna meregangkan otot-ototnya yang kaku. Dengan setengah sadar dan kelopak matanya yang masih enggan untuk membuka, ia menjulurkan tangannya untuk meraih ponsel yang semenjak tadi terus bergetar yang terletak di meja disamping tempat tidur yang ia tempati.

“Yeoboseyo..” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Shim Chang tiaaaannng…!!!”

Refleks namja yang di panggil Shim Chang tiang tersebut langsung menjauhkan ponsel putih tersebut dari jangkauan telinganya. Seketika kesadarannya kembali penuh.

Anak Pengusaha Minyak Timur Tengah.

Aisssh, bocah ini!!! Rutuknya dalam hati saat ia membaca caller ID yang meneleponnya.

“Ada apa, kodok?” tanyanya jengah. Sebenarnya ia ingin sekali membalas teriakan si pengganggu sleeping beauty-nya itu dengan teriakan yang lebih dahsyat miliknya. Namun niatannya segera ia urungkan ketika ia menyadari masih ada sesosok tubuh ramping berwajah manis yang masih terlelap di sisinya.

“Ya! Kapan kau akan berhenti memanggilku kodok, Shim Chang Tiang?”

“Sampai kau berhenti memanggilku tiang dan matamu berubah menjadi sipit.” Ucapnya sarkatik.

“Sinis sekali..” gumam suara dari seberang tersebut.

“Tentu saja! Kau sudah mengganggu waktu tidurku, bodoh! Cepat katakan ada apa kau meneleponku pagi-pagi buta seperti ini?” desis Changmin dengan penekanan di setiap katanya.

“Issh… Aku hanya ingin memberi tahu kalau kita akan bertemu di variety show barumu karena aku akan menjadi bintang tamu di episode perdana acaramu itu.” Jelas namja kodok yang tidak lain adalah Choi Minho itu dengan antusias.

“Demi Tuhan, Choi Minho. Kau dengan beraninya mengganggu waktu tidurku di pagi sedingin ini hanya untuk mengatakan hal seperti itu?” geram Changmin mencoba masih menahan volume suaranya. Sial! Jangan salahkan dirinya jika kali ini ia ingin sekali menguliti rapper SHINee itu. Berani-beraninya ia mengganggu waktu tidur berharganya yang sangat langka. Apalagi dengan kali ini yang terdapat kekasih manisnya juga tidur dalam dekapannya.

“Ada yang salah?” tanya polos Minho.

“Kau berurusan denganku nanti!” Pungkasnya. Dengan sadis ia pun memutuskan sambungan telepon sumber malapetakanya pagi ini. Namun ekspresi wajah masamnya seketika berubah. Senyum terpatri di wajahnya saat matanya menangkap refleksi sosok tubuh yang masih terlelap di sisinya, seolah tidak terusik dengan percakapan alot yang terjadi beberapa saat lalu.

Tanpa sadar ia menggerakkan sebelah tangannya dan menyapukan jemari panjangnya di wajah manis yang hanya berjarak tidak lebih dari 10 cm di hadapannya. Perlahan ia menyibakkan surai brunette Kyuhyun, menampakkan dengan utuh bentuk wajah manis yang selalu ia kagumi selama ini. Ibu jarinya lalu mengusap pelipis dengan alis yang membingkai kedua mata Kyuhyun yang selalu membuatnya jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Bergerak perlahan menuju pipi chubby-nya yang akan selalu merona ketika ia malu. Berlanjut ke hidung bangirnya  dan kedua bibir plumpnya yang mengatup rapat.

“Nngghh…”

Changmin sedikit terkesiap kala ia mendengar lenguhan yang berasal dari belahan bibir yang saat ini tengah ia sentuh.

“Morning, sleeping beauty..” ucapnya seraya mencium kening dan kedua mata Kyuhyun dengan lembut. Senyumannya tidak bisa ia tahan ketika ia melihat Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan dan mengusap matanya dengan imut untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.

“Morning, Minnie..” jawab Kyuhyun lirih. Tak lupa dengan senyuman manisnya yang ia sunggingkan dari bibir pink miliknya.

Betapa Changmin mensyukuri paginya kali ini ketika ia pertama kali membuka matanya dan mendapat suguhan wajah manis serta senyuman yang tak kalah manis dari kekasih tercinta. Oh, dan tentu saja lupakan bagian insiden telepon tidak penting dari manusia kodok itu.

“Mimpi indah?” tanyanya kini mengusap pelipis Kyuhyun, lagi.

Kyuhyun mengangguk pelan, “Selalu jika tiap kali kau muncul dalam mimpiku, Minnie..”

Jawaban tersebut sukses membuat Changmin berbunga-bunga dan tidak bisa menahan diri untuk memberikan morning kiss pertamanya pagi ini.

Setelah beberapa saat mereka menghabiskan waktu dengan obrolan bantal  mereka. Akhirnya partner in crime romance tersebut beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sarapan untuk menjalani rutinitas mereka kembali.

“Pagi hyungdeul, Henry-ah..”

Sapa Changmin ketika ia dan Kyuhyun baru saja keluar dari kamar mereka dan mendapati seluruh member Super Junior telah berkumpul dan duduk di kursi meja makan.

“Pagi Changmin-ah, Kyu.. duduklah, dan kita sarapan bersama.” Pinta Sungmin yang baru saja meletakkan semangkuk besar sup hasil masakannya dan Ryeowook.

Dengan patuh maknae TVXQ itu pun duduk di kursi kosong yang berada di samping Shindong, sementara Kyuhyun sendiri duduk disebelah kanannya.

“Hari ini kita akan melakukan rehearsal sampai malam. Aku harap kalian semua telah mempersiapkan diri dengan kondisi tubuh kalian yang fit.” Ucap Yesung tiba-tiba. Posisinya sebagai member tertua kini mau tidak mau mengharuskan dirinya untuk mengganti  posisi sang leader dengan memantau dan bertanggung  jawab mengenai kondisi adik-adiknya.

“Sip, hyung. Kebetulan semalam aku tidur dengan sangat nyenyak tanpa terganggu suara-suara aneh dari kamar sebelah.” Tukas Eunhyuk melirik penuh arti pada Changmin-Kyuhyun yang tepat berada di hadapannya. Sementara  yang lain hanya tersenyum penuh arti. Kontras dengan reaksi Kyuhyun yang menatapnya dengan pandangan tajamnya.

“Kami tidak melakukan apapun, hyung.” Sahutnya dengan nada sedikit kesal.

“Lho, memang biasanya apa yang kau dan Changmin lakukan selain bermain PSP dengan berteriak-teriak ditengah malam, Kyu?” tembak Donghae tanpa tedeng aling.

Skak mat!

Wajah Kyuhyun seketika memerah dan ia pun segera meraih segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Mengabaikan berbagai ekspresi aneh lainnya yang sedang menahan tawa. Bahkan Changmin sekalipun …

***

“Minnie, kau yakin mau menemaniku melakukan rehearsal sampai selesai? Wajahmu terlihat pucat. Kalau kau lelah kau bisa pulang. Bukankah besok pagi kau harus terbang ke Bangkok?”

“Kau berbicara seperti itu seolah-olah kau tidak menginginkan kehadiranku disisimu, Kyunnie.” Jawab Changmin memasang wajah nelangsa. Pasalnya ini sudah ketiga kalinya Kyuhyun mengatakan hal yang sama dalam kurun waktu 3 jam ia menemani Kyuhyun rehearsal untuk SS5 besok. Sebenarnya ia mengatakan hal tersebut hanya untuk sekedar menggoda namjachingunya saja. Ia sendiri pun paham maksud dari pertanyaan Kyuhyun itu hanya sebagai wujud dari kekhawatiran dan perhatian untuknya.

Belum sempat Kyuhyun menyangkal pemikiran Changmin, ia terlebih dahulu mendengar suara Prince Manager  yang terlihat berdiri diatas panggung memanggil namanya dari pengeras suara. Memintanya untuk segera naik ke atas panggung untuk berlatih lagu yang akan ia nyanyikan bersama Sungmin, Zhou Mi dan Ryeowook untuk SS5 lusa.

“Hyung, Sungmin hyung dan Zhou Mi hyung dimana?” Tanyanya heran saat ia tidak mendapati kedua hyungnya tidak ada di atas panggung juga.

“Mereka berdua sedang fitting baju untuk besok. Jadi untuk kali ini kau yang mengcover bagian mereka, ne?”

Kyuhyun memutar bola matanya malas. Namun ia pun segera memposisikan diri di tengah stage dengan Ryeowook yang berdiri tak jauh disisinya. Dari sana ia bisa melihat namjachingu-nya tengah duduk disalah satu sudut panggung dan mengepalkan kedua tangannya seolah mengatakan Fighting! Yang ia balas dengan hal yang serupa.

I could hardly believe it

When i heard the news today

I had to come and get it

Straight from you

They said you were leavin’

Someone’s swept away your heart away

From the look upon your face i see it’s true

Changmin yang tengah memperhatikan bagaimana Kyuhyun menyanyi dengan penuh penghayatan, sontak terlonjak kaget saat merasakan sebuah tepukan pelan dipundaknya.

“Yesung hyung?” ucapnya saat ia mendongak dan mendapati  namja the art of voice itu telah berdiri di sisinya.

“Bagaimana hubunganmu dengan maknae evil-ku, Min-ah?”

Changmin sudah tidak kaget lagi mendapat pertanyaan macam itu dari member Super Junior. Ia mengetahui bagaimana sikap protektif hyungdeul-nya itu  pada kekasihnya, “Sejauh ini kami baik-baik saja, hyung. Dan aku harap keadaan semacam ini akan terus berlanjut sampai nanti.”

Namja Kim tersebut kembali menepuk pundak Changmin, bersikap layaknya seorang kakak yang menasehati adiknya, “Aku harap pun begitu, Min-ah. Mungkin ia tidak sadar jika aku memperhatikan perkembangannya selama ini. Awalnya aku sempat khawatir dengan sikapnya yang pemalu dan sedikit tertutup dengan orang lain …”

Changmin sontak mengalihkan pandangannya pada Yesung. Menatapnya dengan tatapan penuh tanya,

“… tapi perasaan itu menghilang ketika aku menyadari sikapnya mulai berubah semenjak ia mulai sering tampil di Variety show dan khususnya setelah ia menjalin hubungan denganmu Shim Changmin. Setidaknya kali ini ia bukan lagi seorang Cho Kyuhyun si maknae Super Junior yang pendiam dan canggung seperti dulu.” Ia mengalihkan perhatiannya dan menatap Changmin yang kini  masih menatapnya dengan pandangan yang lebih menyerupai intimidasi, “Aku percayakan dongsaengku padamu, Shim Changmin. Jaga dia untukku, untuk kami, untuk orang-orang yang mengasihinya selama ini.”

Changmin mengangguk dengan mantap, “Aku berjanji hyung. Dan terima kasih untuk kepercayaan yang telah kau berikan padaku.”

Tell me how am i supposed

To live without you

Now that I’ve been lovin’ you so long

how am i supposed

to live without you

and how am i supposed to carry on

when all that i’ve been livin’

for is gone..

***

-Backstage-

Ditengah hilir mudik para staff yang telah berlalu lalang dengan kesibukannya, tampak seorang lelaki berbalut jass merah juga tampak sibuk berjalan kesana kemari dengan sesekali menggigit bibirnya gelisah.

“Bisakah kau diam dan duduk, Kyu? Kau mengganggu konsentrasiku!” Tukas Eunhyuk kesal. Pasalnya, konsentrasinya yang sedang berlatih dance untuk pemanasan menjadi buyar karena tingkah laku Kyuhyun. Terlebih lagi beberapa kali ia juga ditabrak oleh maknaenya itu tanpa mengucapkan kata maaf.

“Dan kau juga membuatku pusing.”  Ryeowook yang sedang mendengarkan musik dan melatih vocalnya pun ikut menambahi.

Dengan terpaksa Kyuhyun pun menuruti permintaan Eunhyuk dengan mendudukkan dirinya diantara Siwon dan Ryeowook.

“Minumlah..” Siwon menyodorkan sebotol air mineral pada Kyuhyun yang diterima dan langsung diteguk setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

“Tidak biasanya kau terlihat gugup seperti ini sebelum show, Kyu. Ada apa?” tanya Siwon  penasaran.

Kyuhyun menghembuskan nafasnya keras,”Aniyo, hyung. Maksudku, mungkin iya aku sedikit gugup. Ini adalah konser pertama dalam rangkaian tour kita,wajar kan kalau aku merasa gugup?”

Siwon tersenyum mendengar pertanyaan maknaenya,”Semuanya akan berjalan dengan lancar.Kita semua sudah bekerja keras, kan? Fighting!”

Mendengar ucapan tersebut mau tidak mau senyum pun tersungging dari bibir Kyuhyun. Beberapa saat kemudian ia merasakan ponsel yang masih berada dalam sakunya bergetar.

Fighting BabyKyu!

Saranghae …  ❤

changkyu billboard

Seketika tawa Kyu meledak saat melihat foto yang dikirim oleh Changmin padanya. Tak dihiraukannya lagi hyung-deul dan orang-orang yang menatap kearahnya dengan pandangan aneh. Dengan segera ia pun membalas pesan Changmin untuknya,

Apa kau begitu mengagumiku, Shim Changmin?

Nado saranghe 🙂

Baik-baiklah disana. Aku merindukanmu …

“Ayo Kyu! Show akan segera dimulai.” Siwon mencoba menyadarkan dongsaengnya yang sekilas tampak seperti seorang autis yang tersenyum-senyum seorang diri.

“Sebentar hyung, aku sedang mengupload gambar dulu di twitter…” Pinta Kyu mengabaikan ajakan Siwon, “Nah, sudah! Kajja hyung!” Seru Kyuhyun riang seraya menggandeng lengan kekar  Siwon yang hanya bisa menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah laku Kyuhyun.

***

                          Semuanya terasa mimpi bagi Kyuhyun. Mimpi terburuk yang pernah ia alami seumur hidupnya. Ia bahkan masih mengingat tiap kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu. Dimana ia menghabiskan waktu semalaman dengan kekasihnya, melakukan reheseal ditemani namjachingunya, mengucapkan salam perpisahan untuk melepas kepergian Changmin dan Yunho serta berkirim pesan dengan namja terkasihnya. Tapi kenapa semuanya berlalu begitu cepat? Berlalu dengan menyisakan rasa sakit dan penyesalan yang saat ini ia rasakan.

Kyuhyun yang baru saja menyelesaikan perform dengan Sungmin, Zho Mi dan Ryeowook segera memasuki backstage dengan sesekali bercanda dengan sang eternal maknae. Ia segera mengistirahatkan diri dengan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa yang terdapat dalam waiting room. Ia memiliki beberapa waktu untuk beristirahat sebelum seluruh perform solo tiap member selesai.

“Wookie …”Kyuhyun menyodok pinggang Ryeowook yang berada disisinya, “Ada apa disana? Kenapa semua orang terlihat berkumpul didepan TV?” tanyanya penasaran.

Ryeowook mengangkat bahunya tanda jika ia pun tidak mengetahui apapun.  Berbekal rasa penasarannya, lalu ia pun bangkit dari tempat duduknya dan beranjak untuk menghampiri kerumunan didepan TV yang terdiri dari staff dan beberapa hyungnya.

Terlihat kini layar TV yang menjadi pusat perhatian itu kini menayangkan live report dari sebuah acara berita.

Kecelakaan rupanya, batinnya saat ia melihat sebuah van dalam kondisi rusak parah karena terguling ditengah jalan dengan keramaian wartawan yang telah meliput. Ia baru saja akan kembali ke tempat duduknya sebelum penglihatannya menangkap sebuah gambar yang tidak asing baginya itu terpampang di layar kaca, Minnie?

“… Sebelum kecelakaan terjadi, van yang ditumpangi oleh anggota group TVXQ itu tampak melaju dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran mobil yang diduga adalah sasaeng fans. Dilaporkan ketiga penumpang dan pengemudi dalam van tersebut kini telah dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan dua diantaranya adalah Max Changmin dan si pengemudi tewas dan tidak dapat diselamatkan …”

Bagaikan terhempas dalam labirin hampa udara, dadanya kini terasa sesak. Tubuhnya limbung, lemas seperti kehilangan kekuatan untuk menopang beban tubuhya sendiri.

Brukk

“KYU?!!”

Pekik Shindong saat melihat Kyuhyun yang tanpa ia sadari keberadaannya sebelumnya kini telah jatuh terduduk lemas dilantai.

“Minn… nie..” gumamnya lirih dengan pandangan matanya yang kosong.

Seketika pekikan keget dan panik lainnya kembali  terdengar saat mereka melihat kondisi Kyuhyun yang tampak kehilangan kesadarannya.

***

“Jikalau aku pergi pun, aku pasti akan kembali lagi dan membawamu untuk selalu bersamaku, Hyunnie. Karena namamu bahkan telah tertulis dalam catatan takdir kehidupanku. Shim Changmin dan Cho Kyuhyun. Yeongwonhi..”

Kyuhyun hanya mampu tersenyum getir saat ia mengingat janji yang Changmin ucapkan padanya. Janji manis yang pernah Changmin ucapkan saat ia mempertanyakan kesetiaannya pada dirinya. Janji yang hingga saat ini masih ia pegang teguh.

“Dasar Shim Changmin bodoh! Pembohong! Mana janjimu jika kau tidak akan meninggalkanku?” Kyuhyun merutuki sebuah pigura foto yang berada dalam genggaman tangannya. Sebuah foto yang melukiskan wajah seseorang yang dianggapnya sebagai pembohong, “Mana janjimu jika kau akan membawaku pergi bersamamu, hah? Apa janjimu itu hanya sekedar bualan semata?” Ia masih berbicara pada refleksi foto Changmin yang tampak menyunggingkan senyum dengan menampakkan miss match eyes smile-nya.

Seperti terhipnotis, sudut bibirnya pun kini tampak melengkung. Membentuk sebuah senyuman tulus yang beberapa hari ini telah pudar dari wajahnya.

“… kau pasti akan datang dan menjemputku kan, Changminnie? Iya kan?” ia kembali bertanya pada foto tersebut, seakan mengharap sebuah jawaban, “Kau pasti sangat merindukanku. Hiks…”

Tanpa ia sadari air matanya kini telah meleleh membasahi pipinya yang kini terlihat tirus dan lebih pucat dari biasanya.

“Minnie… Minnie… Minnie…” Racaunya seraya menjambak rambutnya dengan frustasi.

“Aaaaaarrggghhh!”

***

PRAANG!!

Seorang namja tinggi menutup pintu yang ada dihadapannya dengan perlahan tanpa menimbulkan suara derikan setelah mendengar suara pecahan kaca yang berasal dari kamar yang awalnya akan ia masuki. Ia memejamkan matanya, mencoba meredakan rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ia tidak dapat menahan kepedihannya ketika ia melihat bagaiamana kondisi  sahabat yang sudah ia anggap sebagai hyungnya itu yang tampak sangat memprihatinkan.

“Minho-ya …”

Namja tinggi yang dipanggil Minho itu pun menolehkan kepalanya saat sebuah suara baritone memanggil namanya.

“Kangin hyung?”

Kangin mencoba tersenyum meskipun ekspresi letih tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya.

“Kenapa tidak masuk?”

Minho menggelengkan kepalanya pelan, “Aku.. aku tidak sanggup melihat keadaan Kyuhyunnie hyung, hyung.” Ucapnya lirih.

Bagaimana bisa ia sanggup melihat keadaan Kyuhyun yang sangat memprihatinkan? Tubuh Kyuhyun yang kini semakin kurus  masih terbalut dengan piyamanya yang terlihat lusuh meringkuk pada salah satu sudut kamar. Matanya memerah karena tangis yang seolah tidak lelah untuk berhenti. Rambut ikalnya berantakan hasil dari perbuatannya sendiri yang sesekali dijambak untuk melampiaskan rasa frustasinya. Bahkan yang membuatnya terasa miris, Kyuhyun selalu meracau menyebut dan memanggil nama Changmin dengan pandangan matanya yang kosong.

Bagaimana kau bisa tega meninggalkan Kyuhyunnie hyung seperti ini, Changmin hyung…

…………………

I sesang anirado eonjenga uri dasi

Mannalthende

(walaupun aku tak ada lagi kesempatan untuk kita bertemu lagi di dunia ini)

Nunmul hanbanguldo

Boyeoseon andoigettjyo

(jangan pernah sekalipun meneteskan air mata)

Saranghe ppajige

Mandeureuttdeon misoro

Nal tteonayo

(kau yang telah membuatku jatuh cinta, meninggalkanmu dengan sebuah senyuman)

Geu miso hanaro

Eonjerado geudareul

Chajanael su ittge

(senyuman itulah, yang dulu selalu ada setiap aku bertemu denganmu)

……………………………

 changkyu crying