I’m Entirely in Your Will – Chapter 6

Casts               : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Roberto Bolle, Yoon Eun Hye, Hee Seo

Authors           : rioter9, wonkyuniichan, Aryadhanie

Genre              : Angst, Romance, Ballet!AU

Rating             : T

Summary         : Cho Kyuhyun tidak mau menjadi Onegin ataupun Tatiana.

Warning!         : Psychosis

 

CHAPTER 6

 

Kyuhyun bangun dengan rasa pening di kepalanya. Semalam ia terlalu banyak minum dan.. yah.. Ia dan Siwon bercinta. Ia tidak mau menyalahkan dirinya apalagi Siwon atas apa yang telah terjadi.

Walau hati dan pikirannya masih tertuju pada Roberto, namun ia sendiri harus mengakui bahwa ia memang tertarik pada Siwon. Tidak hanya pada fisik semata, tapi juga hal-hal kecil yang telah lelaki itu lakukan untuknya. Dan hal itulah yang membuatnya cukup yakin bahwa ia menyukai lelaki yang jauh lebih muda darinya itu.

Kyuhyun menoleh ke sekeliling dan mendapati kamarnya yang bersih, hanya tempat tidurnya saja yang tampak sedikit berantakan. Aneh, karena walaupun ia sering merapikan kamarnya, dengan kejadian malam tadi, tidak mungkin keadaannya seperti ini.

Ia baru mendapatkan jawabannya ketika matanya menangkap sebuah piring di atas meja pajangan di samping tempat tidurnya. Piring itu berisi beberapa potong home made sandwich. Secarik kertas terbaring di samping piring itu.

‘Siwon.’ Pikir Kyuhyun. Ia segera meraih kertas itu lalu membacanya dengan senyum bahagia terukir di wajahnya.

 

Maafkan karena aku harus pergi pagi-pagi sekali, aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Aku akan kembali sebelum makan malam. Tunggu aku.

PS : Kau benar-benar mengagumkan semalam. Love. Siwon.

 

Pipi Kyuhyun memanas seiring hatinya yang menghangat. Lihat, betapa lelaki itu memanjakan dan memperhatikan segala sesuatu tentang dirinya. Tentang Kyuhyun yang berantakan, tentang Kyuhyun yang enggan memasak sendiri, tentang dirinya yang.. cepat terbuai oleh kata-kata manis..

Perutnya yang berbunyi lemah tanda ia kelaparan menyadarkannya. Dengan cepat dilahapnya beberapa potong sandwich itu lalu bergegas untuk mandi. Kyuhyun menghabiskan waktu berendam di bath up cukup lama, bukan hanya karena ia ingin membersihkan sisa-sisa percintaan semalam yang masih lengket sebelum ia mandi tadi. Tapi entahlah, ia ingin tampak terlihat sempurna saat Siwon datang nanti, atau bahkan ia ingin Siwon segera datang dan mendapatinya dalam keadaan seperti ini. Kembali ia tersenyum malu.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang ketika ia selesai mandi. Apa yang harus ia lakukan setelah ini? Pementasan telah selesai, artinya ia tidak punya naskah yang harus ia kerjakan. Dan apartemennya terlihat sangat bersih walaupun sehari-hari ia selalu merasa cukup berat untuk membersihkannya. Namun tangan lain telah membantunya pagi ini, membuatnya senang sekaligus sedikit kesal karena ia jadi tidak punya pekerjaan.

Andai saja Siwon ada. Mereka mungkin bisa jalan-jalan ke luar, atau mungkin hanya menonton dvd seperti yang beberapa hari ini sering mereka lakukan bersama.

Kyuhyun akhirnya memutuskan untuk pergi ke luar. Berjalan-jalan sendirian sejenak mungkin baik untuknya. Sekalian refreshing, pikirnya. Ia pun meraih jaketnya, memakai sepatunya dan melangkah ke luar apartemennya.

*

 

“Kyuhyun..”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Roberto berdiri di sana. Lelaki itu tampak pucat dan letih, namun masih saja tetap tampan. Tetap bisa membuat hati Kyuhyun bergetar. Namun dengan cepat Kyuhyun menguasai dirinya.

“Ada apa?”

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Roberto.

Kyuhyun tertawa kecil. “Bukankah ini adalah tempat umum? Semua orang boleh datang kemari bukan? Kau tidak kopi ini? Aku datang untuk menikmatinya.”

Saat itu memang dirinya tengah berada di salah satu kedai kopi kecil di ujung jalan. Biasanya tempat itu ramai dikunjungi. Namun di siang hari memang cukup sepi, mengingat pelanggannya adalah pegawai kantoran yang memenuhinya di waktu pulang kerja.

Dekorasinya menarik, ditambah dengan alunan musik yang mengalun dari speaker di setiap sudutnya, membuat siapa saja betah berlama-lama di sana. Dan jangan tanya tentang harganya atau rasa kopi maupun cake-nya, semua orang pasti menyukainya. Sangat cocok dengan selera Kyuhyun.

Roberto tersenyum jengah seraya mengangguk. “Boleh aku duduk di sini?” tanyanya menunjuk kursi di depan Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja.”

“Bagaimana kabarmu? Kau.. Kau tahu.. Kau benar-benar luar biasa mengenai naskah pementasan kemarin dan..”

“Kau sudah mengatakannya, kau ingat?” potong Kyuhyun cepat.

Setelah itu keduanya terdiam cukup lama. Seolah menikmati suara musik yang mengalir diantara mereka, padahal pikiran mereka tengah tertuju satu sama lain.

“Kyu..” Roberto memecah keheningan.

Kyuhyun hanya menjawab dengan ‘hmm’ kecil tanpa mengangkat tatapannya dari cake yang ia permainkan dengan garpu kecilnya.

“Apa kau bahagia? Maksudku.. Apa kau dan Siwon..”

“Aku bahagia.” Lagi-lagi Kyuhyun menjawab cepat memotong perkataan Roberto. Dan ia mendapati wajah lelaki di depannya tampak terkejut. Entah mengapa Kyuhyun merasa puas akan hal ini.

“Dan Siwon adalah lelaki yang sangat baik. Ia memperhatikanku, menjagaku dengan baik dan memanjakanku. Ia juga selalu ada untukku. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia?” jawab Kyuhyun lagi. Kini kepuasannya semakin menjadi-jadi melihat mimik wajah Roberto yang tampak merana.

“Mengapa kau menyukainya? Ia.. Ia adalah milik Hee Seo. Kau tidak boleh masuk begitu saja dalam hubungan percintaan orang lain.” Kata Roberto.

Sungguh, ia tidak mengerti mengapa Kyuhyun bisa jadi seperti ini. Dengan cepat bisa menelan semua kebaikan Siwon tanpa mengindahkan kenyataan bahwa Siwon sudah punya kekasih. Dan parahnya Kyuhyun dan Hee Seo saling mengenal satu sama lain.

“Mereka sudah putus.” Jawab Kyuhyun enteng.

“Apa? Tidak mungkin!” balas Roberto tak percaya.

“Mungkin saja.” Kata Kyuhyun lagi dengan nada yang sama. “Jika dua orang berpacaran, mereka bisa saja putus bukan? Apa yang tidak mungkin di dunia ini?”

Ini bukan dirinya. Kyuhyun menyadari hal ini. Sejak kapan ia berani bicara dengan nada seperti itu kepada Roberto? Tapi ketika mengingat kata-kata penolakan dari Roberto setelah ia menyerahkan seluruh hatinya pada lelaki itu, ia jadi marah. Terlebih setelah Roberto seolah mengingatkannya akan hubungan Siwon dan Hee Seo.

“Mengapa kau jadi seperti ini? Aku ingin kau kembali seperti dulu.”

“Aku sudah seperti ini sejak dulu. Kau hanya belum mengenalku dengan baik.” Walau bibirnya berkata seperti itu, tapi hatinya berkata lain. Entah mengapa ia merasa bodoh.

“Ayolah Kyu, kita mungkin belum lama bersama. Tapi aku cukup mengenalmu. Kembalilah padaku. Kita bisa memulai semua dari awal. Seperti dulu.”

Kyuhyun tertawa. “Setelah kau menolakku, lalu kini kau ingin kembali padaku? Kau ini benar-benar lucu.”

“Aku.. punya alasan mengapa aku harus memutuskanmu.” Jawab Roberto pelan.

“Apa alasannya?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Kyuhyun mendecih. “Kalau begitu aku juga punya alasan untuk tidak kembali padamu.”

“Ini bukan dirimu. Kau adalah lelaki baik hati yang lugu dan sopan. Mengapa kau jadi seperti ini? Apa Siwon telah merubahmu?” tanya Roberto dengan nada tinggi.

“Kenapa kau harus menyalahkan Siwon atas semua ini? Kau lah yang telah merubahkau seperti ini. Kau yang membuat aku harus berjuang untuk membencimu. Kalau bukan karena Siwon, mungkin aku sudah benar-benar terpuruk sekarang!” Kyuhyun berang.

Kali ini Roberto yang tertawa. “Oh, yah.. Siwon yang baik hati. Siwon yang perhatian dan manis. Kau hanya tidak tahu siapa dia yang sebenarnya.”

Kyuhyun mengangkat satu alisnya. “Apa maksudmu? Jangan merendahkan dia seperti itu sedangkan kau sendiri bertingkah seperti lelaki pengecut yang mencampakkan kekasihmu sendiri tanpa alasan yang jelas.”

Roberto tidak tahan lagi. “Kau tahu apa yang menjadi alasanku memutuskanmu? Siwon! Ya, lelaki itu yang membuatku jadi seperti ini, mengubahmu jadi seperti ini, dan menghancurkan hubungan kita.”

“Jaga perkataanmu! Siwon tidak seperti itu.”

Roberto mendelik. “Kau pikir siapa yang membuat kakiku jadi seperti ini? Kau pikir siapa yang membuat aku terpaksa harus tinggal lebih lama di rumah sakit padahal aku telah dirawat sebaik-baiknya tapi kondisiku tidak menunjukkan tanda-tanda baik justru semakin memburuk? Kau kira siapa yang sering mengunjungiku tiap malam dan mengancamku, menorehkan pisau di kulitku, mencekikku bahkan menutupi wajahku dengan bantal hingga aku kesulitan bernapas hanya karena ia ingin aku melepaskanmu?”

“Tidak mungkin!” bantah Kyuhyun keras.

“Dan kau pikir.. Bagaimana mungkin aku melepaskanmu di saat hubungan kita sedang baik-baik saja? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu yang telah merawatku dengan baik bahkan harus ikut jatuh sakit hanya karena fokus menjagaku? Aku mencintaimu, tidak mungkin aku mau melepaskanmu begitu saja andai Siwon tidak masuk dalam hubungan ini. Ia mengancam, setelah aku, ia akan melukai orang-orang di sekelilingmu. Dan jika aku bersikeras, pementasan kemarin akan hancur. Katakan.. Bagaimana aku seharusnya menghadapi masalah itu?”

“Aku tahu, berhentilah bicara omong kosong!”

Kyuhyun berdiri dari kursinya, meletakkan selembar uang yang seharusnya ia menunggu kembalian karena nominal uangnya cukup besar, tapi ia tidak peduli. Ia lalu berjalan keluar dengan langkah-langkah lebar. Ia cukup kesal dengan sikap Roberto yang dinilainya terlalu kekanakan dengan menjelekkan Siwon hanya untuk mendapatkan dirinya kembali.

“Kyu.. Kyuhyun, tunggu! Dengarkan aku dulu.” Roberto sudah berhasil mengejarnya dan menarik tangannya.

Kyuhyun mengibaskan lengannya hingga pegangan Roberto terlepas. “Aku tidak mau dengar apa-apa. Kau membuatku muak. Minggir!”

“Kyu.. Percayalah padaku. Aku tidak berbohong padamu.. Aku..”

“Tinggalkan aku sendiri!” bentak Kyuhyun dengan nada dingin. “Jangan membuatku semakin membencimu.”

Roberto mengalah. Ia hanya bisa memandang sosok Kyuhyun yang berjalan dengan langkah cepat menjauh darinya.

*

 

Roberto masih terus mengganggu Kyuhyun dengan pernyataan yang sama selama beberapa hari ke depan. Dan ia maish tidak peduli. Walau memang Siwon mengejarnya dengan gigih, namun ia tidak mungkin melakukan hal serendah itu, bukan? Roberto terlalu mengada-ada. Melakukan berbagai cara hanya untuk mendapatkan Kyuhyun kembali. Lupakah ia, siapa yang mencampakkan Kyuhyun pada awalnya?

“Kyuhyun? Cho Kyuhyun? Benarkah ini kau?”

Sebuah suara menyapa Kyuhyun yang tengah duduk memegang bukunya di bangku taman. Ia boleh tampak seperti membaca, tapu jika diperhatikan dengan seksama, matanya terpaku pada satu titik, artinya pikirannya sedang tidak ada pada buku di tangannya.

Kyuhyun menegadah. Ketika memperhatikan wajah tampan di depannya dengan seksama, bibir sewarna cherry-nya membentuk lingkaran sempurna. “Oh? Changmin? Shim Changmin? Changmin-ahhhhhhh…!!!!”

Ia bubur-buru bangkit dari duduknya lalu menyerbu lelaki jangkung di depannya dengan pelukan hangat.

“Wah.. kau tampak semakin tampan saja. Dan lihat kulitmu yang kecoklatan. Astaga.. kau tampak benar-benar seksi sekarang!” pekik Kyuhyun girang.

Changmin tersenyum lebar. Kulit coklatnya bahkan tidak bisa menyembunyikan rona merah di kedua pipinya yang muncul ketika mendengar pujian sahabat lamanya itu.

Changmin dan Kyuhyun memang bersahabat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Mereka berpisah di tengah masa kuliah mereka karena ayah Changmin dipindah tugaskan ke Australia. Kesibukan masing-masing serta perbedaan waktu membuat keduanya jarang berkomunikasi.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu kau lagi di sini. Kudengar kau pergi ke Amerika. Benarkah?” tanya Changmin. Matanya berbinar-binar, masih takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Kyuhyun mengangguk bersemangat. “Aku hanya pergi sebentar, tidak lama. Ada pekerjaan yang harus kulakukan. Lalu bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali?”

“Aku merindukan kota ini, tentu saja.” Jawab Changmin. “Dan dirimu..” ia menambahkan sembari menyikut lengan Kyuhyun. Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak setelahnya.

“Kau belum berubah. Masih cheesy seperti dulu. Aku benar-benar merindukanmu. Banyak yang ingin kuceritakan. Ayo ke apartemenku, tempatnya tak jauh dari sini.”

“Baiklah. Kebetulan hari ini aku bebas.”

Sepanjang perjalanan tak hentinya kedua lelaki itu saling bertukar cerita, terkadang diselingi tawa atau protes, tapi percakapan itu terus mengalir tiada henti. Kyuhyun bercerita mengenai New York, pekerjaannya untuk pementasan Onegin dan bagaimana pementasan itu berakhir sempurna. Sedangkan Changmin bercerita tentang semua petualangannya di negeri Kanguru.

“Apartemenmu bagus. Dan cukup rapi. Aku masih ingat betapa berantakannya dirimu.” Sindir Changmin.

“Ada seseorang yang merapikannya untukku.” Jawab Kyuhyun malu-malu.

“Ohoooo.. Rupanya kau punya pendamping sekarang? Kenalkan padaku. Aku harus menilainya terlebih dahulu.” Canda Changmin.

“Kau pasti akan memberinya nilai delapan atau sembilan. Dia tampan, baik hati dan sangat perhatian kepadaku. Yah.. sebelumnya aku memang menjalin kasih dengan lelaki lain, namun saat ia mencampakkanku, lelaki ini lah yang datang dan menghiburku.” Terang Kyuhyun seraya meletakkan secangkir kopi kesukaan Changmin di meja ruang tengah, tempat keduanya kini duduk berhadapan di sofa panjang.

“Kedengarannya ia memang cukup baik.”

Mereka sibuk bercakap-cakap setelah itu. Membicarakan semua yang telah terjadi dan mengenang masa-masa mereka di sekolah dulu. Kyuhyun sudah menganggap Changmin seperti saudaranya sendiri. Ia tidak merasa risih sama sekali jika sahabatnya meletakkan kepalanya di pangkuan Kyuhyun sembari bercerita.

Tiba-tiba bunyi pintu terbanti keras terdengar. Keduanya terlonjak di tempatnya lalu menoleh ke arah pintu masuk utama.

“Siwon? Kau sudah pulang? Kau membuat kami kaget.”

Siwon mendengus. “Iya. Lalu kenapa? Apa kau mau aku mengetuk dulu agar tidak melihatmu bermesraan dengannya?”

Kyuhyun terpana sesaat, mencoba mencerna kata-kata Siwon barusan. Setelah beberapa detik ia terkikik. “Ini Changmin, sahabatku. Kami baru bertemu lagi hari ini dan yah kau tahu, reuni kecil.”

Changmin berdiri dari duduknya. Dengan sikap sopan ia mengangguk kecil. “Halo. Aku Shim Changmin.”

Dengan raut wajah yang tetap datar, Siwon mendekati Changmin dengan cepat. Changmin menyodorkan tangannya, ingin bersalaman. Namun alih-alih menyambut uluran tangan itu, ia justru menghadiahkan tinjunya ke wajah lelaki yang sedikit lebih tinggi dari dirinya itu.

“Changmin!” pekik Kyuhyun, bersamaan dengan jatuhnya tubuh Changmin ke lantai.

Siwon tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan aksinya dengan kembali memukuli Changmin hingga babak belur, mengabaikan protes-protes keras yang berujung permohonan agar ia segera menghentikan perbuatannya dari Kyuhyun. Lelaki itu bahkan tidak menoleh sama sekali walaupun Kyuhyun sudah menangis.

“Siwon-ah.. hentikan.. Kumohon..”

Tapi Siwon tidak peduli. Ia baru berhenti ketika Changmin tak bergerak di bawahnya. Hanya nafas tersengal-sengal yang membuktikan lelaki itu masih hidup. Darah mengucur dari hidung dan sudut bibirnya. Kyuhyun segera menghampiri Changmin dan membersihkan darah di wajah sahabatnya itu dengan ibu jarinya.

“Kau! Berani sekali kau menyentuh Changmin!” jerit Kyuhyun marah, menegadah menatap Siwon dengan berang.

Siwon tampak terhina. “Seharusnya aku yang berkata demikian! Berani sekali ia menyentuhmu!”

“Dia sahabatku! Berani sekali kau membuatnya seperti ini!”

“Tidak ada sahabat yang menyentuh seperti itu. Dia pikir siapa dia? Sekali lagi dia berani melakukannya, akan kupatahkan tangannya.”

“Kau gila!”

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya lalu menelepon ambulans. Setelah itu ia kembali fokus kepada Changmin. Airmatanya kembali menetes, sakit melihat sahabatnya diperlakukan sedemikian rupa. Terlebih yang melakukannya adalah Siwon, lelaki yang ia sukai. Siwon hanya duduk menatap Kyuhyun. Pandangannya tajam dan menusuk.

Ketika akhirnya bantuan datang dan Changmin dibawa oleh para petugas medis, Kyuhyun menyambar jaketnya dan ingin ikut. Namun baru saja kakinya akan melangkah melewati pintu, tangannya sudah ditarik oleh Siwon.

“Kau tidak akan pergi kemana-mana.”

Kyuhyun berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi cengkraman Siwon jauh lebih kuat. “Lepaskan. Biarkan aku pergi. Karena aku lah Changmin jadi seperti ini. Setidaknya aku harus menemaninya.”

“Orang lain bisa melakukannya untukmu. Sekarang masuk.” Perintah Siwon seraya menyentakkan lengan Kyuhyun agar lebih mendekat ke tubuhnya dan melingkarkan tangannya ke tubuh yang masih senantiasa berontak itu. Satu kakinya menendang pintu hingga menutup.

“Lepaskan aku! Lepas..!” jerit Kyuhyun marah. Wajahnya sudah memerah. Hatinya dipenuhi kemarahan sekaligus benci.

“Diam!” bentak Siwon. Ia menyeret Kyuhyun ke kamar lalu menghempaskannya ke tepat tidur. Ia hanya mengalihkan pandangannya sejenak untuk mengunci pintu. Setelah itu ia kembali menatap Kyuhyun dengan pandangan yang sulit diartikan.

Menyadari hal itu, Kyuhyun bangkit berdiri dan beringsut mundur. Ketakutan tampak jelas di wajahnya. Terlebih ketika Siwon mulai melangkah maju pelan-pelan.

“Mundur.. Jangan mendekat.. Kubilang mundur!”

Tapi Siwon tetap melangkah. “Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu. Hanya aku yang boleh menyentuhmu. Hanya aku!”

Tangan panjang Siwon menjangkau Kyuhyun dengan sigap lalu menyatukan tubuh mereka berdua. Dengan ganas diciumnya bibir Kyuhyun. Berulang kali Kyuhyun berusaha melepaskan pagutan itu, tapi berulang kali pula Siwon tetap mempertahankannya. Kyuhyun sampai susah bernafas. Kembali ia menangis.

Ketika bibir mereka berhasil terlepas, Kyuhyun menghirup dalam-dalam udara di sekitarnya karena pasokan oksigen di paru-parunya nyaris habis.

“Hentikan.. Ada apa.. denganmu.. Kumohon..” Tersendat-sendat ia bicara, berharap Siwon akan melepaskannya.

Namun jangankan melepaskannya, pelukan lelaki itu justru semakin menguat, nyaris meremukkan tulang-tulang Kyuhyun saat itu.

Berikutnya ciuman-ciuman kasar Siwon beralih ke daun telinga Kyuhyun, lalu turun ke leher mulusnya, meninggalkan bercak-bercak merah di sana.

Kyuhyun menggeleng kuat. Ia tidak mau melayani nafsu lelaki di depannya itu apalagi setelah yang terjadi. Pikirannya hanya tertuju pada Changmin kini. Bagaimana keadaannya? Siapa yang menemaninya di rumah sakit? Apa pihak rumah sakit sudah menghubungi kedua orang tuanya?

“Siwon.. Siwon! Hentikan! Aku tidak mau..”

Seperti sebelumnya, Siwon seperti tuli, sama sekali tidak mendengarkan penolakan Kyuhyun. Ia bahkan semakin gencar menggerayangi tubuh itu tanpa ampun. Ia bahkan menjatuhkan tubuh mereka berdua di atas kasur dengan tubuh Kyuhyun yang tak berdaya di bawahnya.

Susah payah Kyuhyun mendorong tubuh kekar Siwon agar menyingkir dari tubuhnya. Baru kali ini ia menyadari betapa kuatnya lelaki itu. Sebelum-sebelumnya ia selalu memperlakukan Kyuhyun dengan lembut. Mengapa ia jadi seperti ini?

Dan lagi, ia baru saja melukai orang lain, bagaimana mungkin ia memikirkan untuk bercinta padahal nyawa seseorang tengah dipertaruhkan karena egoismenya?

Kyuhyun masih sibuk melarang dan mendorong Siwon sedangkan Siwon melakukan hal sebaliknya. Detik berikutnya, ia sudah merobek kaos yang Kyuhyun kenakan dengan kasar..

*

wonkyu love ieyw6

 To be continued..

 

 

Advertisements

Million Words – Chapter 7

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin, etc.

Pair : ChangKyu, BinKyu

Genre : BL, Romance, Angst

Rate : T

Warning : BL, OOC, Typo (es)

 

CHAPTER 7

Kyuhyun tak mengerti dengan perasaan sesak yang terasa menghimpit dadanya. Rasa yang bercampur dengan gemuruh hebat hingga menghasilkan rasa sakit dan luka tak kasat mata pada hatinya.

Ia memejamkan kedua matanya. Alih-alih untuk beristirahat dan menenangkan diri, namun sekejap kemudian matanya kembali terbuka seolah tengah dihantui oleh kegelisahan yang tengah mendominasi.

Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ia lelah. Tak hanya fisiknya, pikirannya pun merasakan hal yang serupa. Meskipun begitu, raganya seolah tak menginjinkan dirinya untuk beristirahat.

Semenjak kepulangannya setelah mengunjungi rumah saudara Woobin, ia menangis. Hingga Woobin yang mengantarnya pulang ke apartement pun kebingungan. Tak tahu harus bersikap seperti apa melihat guru geografinya itu menangis sepanjang perjalanan. Ia bahkan sama sekali tak mempedulikan kemauan Woobin yang bersikeras ingin menemaninya di apartement hingga ia harus mengusirnya dengan paksa.

Ia masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang ia alami dirumah yang ia tahu merupakan sepupu dari Woobin. Seperti disaat ia melihat sebuah foto yang berisi gambar Changmin, tunangannya tengah tersenyum bahagia dengan seorang wanita dan seorang anak kecil dalam dekapannya.

“Chang..min.” Gumam Kyuhyun lirih.

Ia mematung ditempat untuk memastikan jika sosok lelaki yang tergambar dalam foto di hadapannya merupakan lelaki serupa yang berstatus menjadi tunangannya. Dan ia tak mungkin salah menerka. Menjalin hubungan dengannya selama lebih dari tujuh tahun membuat ia tak mungkin tak mengenali sosok Changmin meski dalam bentuk foto sekalipun.

“Eomma..” Rengek Minseok berusaha melepaskan diri dari gendongan Myungsoo. Anak kecil itu nyaris menangis ketakutan melihat ibunya tiba-tiba menjatuhkan gelas di hadapannya.

Tak jauh berbeda dengan Minseok, Myungsoo dan Jongin pun merasa terkejut dengan kejadian tersebut. Namun keterkejutan mereka tak berlangsung lama. Karena dengan sigap Jongin segera meraih beberapa lembar tisu dan membersihkan tumpahan susu dan serpihan pecahan kaca yang berserakan di sekitar Kyuhyun.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Jongin menyentuh bahu Kyuhyun yang tampak masih terpaku.

“Kyuhyunnie!”

Panggil suara berat milik seorang laki-laki yang langsung menghampiri Kyuhyun. Tanpa ragu ia pun merengkuh tubuh ringkih tersebut yang masih belum beranjak dari posisinya yang tengah menunduk.

“Bibi~” Panggil Minseok dengan riang melihat sosok yang tiba-tiba muncul.

“Woobin-ah?”

“Bisakah kalian berdua membawa Minseok keluar?” Pinta Woobin dengan nada rendahnya yang memerintah.

Mengerti isyarat tersebut, Jongin serta Myungsoo yang masih menggendong Minseok pun melangkah keluar. Tak peduli Minseok yang meronta keras, memaksa untuk menghampiri ibu dan uncle-nya.

“Kyuhyunnie…”

“Woobin, apa maksudnya? Changmin.. dia..”

Woobin memandang foto tersebut dengan tatapan sarat akan kebencian. Kyuhyun pasti akan mengetahui hal ini, cepat atau lambat. Tapi bagaimana jika itu terjadi sepuluh tahun kemudian? Kyuhyun akan terus hidup dalam kebohongan kekasihnya. Maka ia yang harus mengambil tindakan. Namun ia tak pernah menyangka jika melihat keadaan Kyuhyun saat ini pun membuat ia merasakan rasa sakit yang sama.

Ia meraih wajah Kyuhyun dan menghadapkan padanya. Rasa sakit itu semakin menghujam perasaannya kala ia melihat wajah Kyuhyun tampak merah padam dengan bola matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.
Dalam hati ia bersumpah akan membalas perbuatan pria pengecut yang telah membuat Kyuhyun-nya serapuh ini.

“Woobin-ah..”

Suara lembut seorang wanita membuat Woobin mengalihkan perhatiannya dari Kyuhyun. Seorang wanita yang masih berdiri kaku dihadapannya dengan raut keterkejutan yang belum sirna dari wajahnya.

“Yeon Hee noona..”

*

Woobin menatap Kyuhyun dalam. Saat ini, mereka telah berada di apartemenn Changmin dan Kyuhyun. Semenjak kepulangan mereka dari rumah sepupunya, Yeon Hee, Kyuhyun sama sekali tak mengucapkan kalimat apa pun. Bahkan menatapnya pun ia enggan.

Selama beberapa waktu ia hanya terus memperhatikan sosok Kyuhyun yang terlihat sibuk dalam pikirannya sendiri. Dan ia merasa jengah diacuhkan Kyuhyun seperti ini.

“Ceritakan padaku..”

Suara parau Kyuhyun memecah kebisuan diantara mereka. Meskipun kalimat tersebut jelas ditujukan pada lelaki di hadapannya, namun Kyuhyun sama sekali tak mengalihkan pandangannya pada Woobin. Matanya menatap pada arah lain dengan tatapannya yang kosong sarat tanpa makna.

Baru beberapa saat kemudian ia menatap mata Woobin ketika lelaki tersebut tak merespon pertanyaannya. “Bisakah kau menceritakan padaku, Woobin-ah?”

“Apa yang ingin kau ketahui?” Tanya Woobin seolah menantang.

“Semuanya.”

“Bukankah Yeon Hee noona sudah menjelaskan semuanya padamu?”

Kyuhyun sedikit berjengit kala ia mendengar nama Yeon Hee terucap. Sebuah nama yang menjadi bagian dari kenyataan menyakitkan yang baru ia ketahui.

“Aku hanya sekedar mengetahui jika Minseok merupakan anaknya dengan Changmin..” Kyuhyun menghela nafas sejenak, berusaha menenangkan dirinya mengucapkan kalimat tersebut.

“…tentang pernikahan mereka yang telah berlangsung selama tiga tahun serta permintaan maafnya padaku. Saat aku menanyakan cerita lebih lanjut, ia hanya memintaku untuk menanyakan langsung pada Changmin.”

“Kenapa kau tidak bertanya saja pada lelaki pengecut itu?”

“Berhenti menyebut Changmin sebagai lelaki pengecut!”

“Dia memang pengecut!” Sentak Woobin kasar, “Ia seorang pengecut yang menghamili seorang perempuan sementara ia telah bertunangan dengan orang lain!”

Kyuhyun tersentak. “Menghamili?”

“Kau terkejut?” Tanya Woobin dengan nada sinis tanpa mempedulikan reaksi Kyuhyun. “Karena lelaki itulah kehidupan Yeon Hee noona menjadi berantakan.”

Woobin menggeram menahan amarah. “Yeon Hee noona hanyalah seorang gadis lugu yang kemudian dicampakan oleh si pengecut itu, pada awalnya. Mereka berdua adalah rekan bisnis dengan perusahaan ayahnya yang merupakan salah satu donatur untuk yayasan pria tersebut. Dengan relasi yang demikian membuat mereka sering melakukan perjalanan bisnis bersama…

“…hingga pada suatu hari si pengecut itu meminta Yeon Hee nunna untuk melakukan hubungan badan. Noona yang memang pada awalnya tertarik dengannya pun tak menolak.”

Kyuhyun masih terdiam tanpa berkomentar. Meskipun dalam hati ia ingin menyangkal jika Changmin-nya tidak akan tega mengkhianatinya. Dengan perlakuan Changmin selama ini padanya, tentu kenyataan bahwa Changmin mengkhianatinya tidak dapat dengan mudah ia percaya.

“Semenjak itupun hubungan mereka semakin dekat. Noona tentu saja tidak mengetahui jika ia telah memiliki tunangan hingga ia dinyatakan hamil beberapa bulan kemudian.” Rahang Woobin mengeras, seperti tengah menahan emosinya kala ia mengingat cerita tersebut.

“Mengetahui kehamilan noona, orang tuanya pun mengusirnya dari rumah. Kehamilan tersebut tentu saja merupakan aib bagi keluarga, terlebih ketika mereka mengetahui jika noona hamil dengan seorang pria yang telah memiliki tunangan.”

“Yeon Hee noona meminta pertanggung jawaban padanya, awalnya pria brengsek itu menolak dengan dalih jika ia telah memiliki tunangan. Namun dengan desakan noona dan keinginan pria itu untuk memiliki keturunan yang dengan jelas tidak bisa didapatkan darimu yang notabene-nya adalah seorang laki-laki..”

Woobin melirik sekilas pada Kyuhyun saat ia menyinggung tentang gender-nya. Dan ia dapat melihat jika kedua tangan Kyuhyun mengepal erat diatas pahanya. “…ia pun bersedia menikahi noona tiga tahun yang lalu. Demi Minseok, putra mereka. Serta demi rasa cintanya pada Changmin, Yeon Hee noona merelakan dirinya menjadi istri simpanan pria pengecut itu. Merelakan dirinya diusir dan dibuang oleh keluarganya sendiri.”

Keheningan kembali tercipta diantara mereka. Membiarkan diri mereka terlarut dalam perasaan masing-masing. Perasaan benci pada Changmin yang semakin membuncah dalam diri Woobin, serta rasa sedih dan kecewa yang dirasakan oleh Kyuhyun.

“Apa Changmin mengetahui jika kau adalah sepupu Yeon Hee?” tanya Kyuhyun kemudian.

Ia masih ingat kejadian beberapa bulan lalu, saat pertama kali ia dan Changmin bertemu dengan Woobin. Changmin sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda jika ia mengenal Woobin. Ia bersikap normal layaknya bertemu dengan orang asing yang baru ia temui. Bahkan tak segan Changmin memuji sikap sopan Woobin yang pada saat itu membuat dirinya jengkel.

Woobin menggeleng, “Aku selalu mengunjunginya setelah memastikan pria itu tak ada di sana. Bertemu dengannya membuat keinginanku untuk menghancurkan kehidupannya semakin besar.” Jelas Woobin tanpa merasa segan mengungkapkan kebenciannya pada Changmin. Menyebut namanya saja ia tak sudi. Dan bertemu dengan pria yang ia cap pengecut itu tentu saja membuat keinginan untuk menghancurkannya semakin meluap.

“Lalu, apa kau mendekatiku pun merupakan salah satu caramu untuk menghancurkan Changmin?”

“Apa?” Sentak Woobin terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika Kyuhyun akan menanyakan hal yang demikian.

“Bukankah sudah jelas? Kau yang seorang siswa biasa, mendekatiku yang merupakan gurumu. Kau pun mengetahui jika aku telah memiliki Changmin, tunanganku sekaligus pria yang sangat ingin kau hancurkan itu. Dan kau sama sekali tak pernah memperdulikan hal tersebut hingga hubunganku dengan Changmin hancur seperti saat ini.”

“Ya. Pada akhirnya..” Suara Woobin lirih.

Kyuhyun tersentak. Untuk kesekian kalinya ia merasakan rasa sakit itu lagi. Ia merasakan belati imajiner terasa mengoyak hatinya. Benarkah apa yang ia dengar? Jika dirinya merupakan alat untuk menghancurkan Changmin karena dendamnya?

“Tapi aku bersumpah, Kyuhyunnie! Jika hal itu tidak sepenuhnya benar. Awalnya aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menghancurkan hubunganmu. Aku tertarik padamu bahkan saat pertama kali aku melihatmu. Dan keinginanku untuk memilikimu semakin besar setelah aku mengetahui jika Changmin adalah tunanganmu…”

Woobin beranjak menghampiri Kyuhyun yang tampak akan menangis. Ia mengulurkan tangannya berniat untuk menghapus air mata lelaki manis itu yang mengalir di pipinya. Namun dengan kasar Kyuhyun menyentaknya.

“Kyuhyunnie..”

“Jangan sentuh aku!”

“Kyu-“

“Pergi.” Pinta Kyuhyun mendorong pelan dada Woobin untuk beranjak dari sisinya. Suaranya bergetar tertelan oleh isakannya. “Aku mohon..pergi dari sini..”

Woobin bergeming. Melihat Kyuhyun yang sehancur ini membuat ia bertekad untuk menenangkannya. Tak mendapat respon, Kyuhyun pun beranjak dan menarik pergelangan Woobin dengan kasar. Menyeretnya keluar setelah ia membuka pintu apartement-nya. Woobin bisa saja memberontak dan melawan Kyuhyun. Namun keinginannya untuk memberontak seketika luluh demi melihat wajah Kyuhyun yang basah karena air mata.

BRAK!

Tubuh Kyuhyun merosot seketika dan bersandar pada pintu. Menangis dalam diam. Meratapi rasa sakit dan kekecewaan yang menguasai hatinya. Rasa kecewa yang ia dapatkan dari Changmin tentang pengkhianatannya semakin bertambah setelah mengetahui motif Woobin mendekatinya. Ia tak pernah berharap jika pria yang mampu membuatnya jatuh cinta padanya tega mempermainkan perasaannya hingga sedemikian rupa.

Di lain sisi, Woobin pun masih berdiri ditempat untuk beberapa saat. Menatapi pintu kayu dihadapannya dengan pandangan kosong. Hingga tak lama kemudian ia merasakan ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.

“Eomma..”

*

Sudah seminggu Kyuhyun mengurung diri dikamarnya. Tak dipedulikannya orang-orang yang berusaha menghubungi, menemui bahkan mencarinya sekalipun. Ponselnya pun telah mati kehabisan baterai karena ia sama sekali tak berniat untuk mengisinya. Tak terhitung berapa puluh panggilan dan pesan masuk yang ia abaikan. Sama sekali tak berniat untuk menerima dan membukanya sekalipun.

Tak terkecuali Changmin. Ia telah mengetahui semua kejadian yang telah ia lewatkkan setelah Yeon Hee menceritakannya. Hal tersebut tak pelak membuat ia marah dan menyalahkan Yeon Hee yang menurutnya telah lancang menceritakan tentang hubungan mereka pada Kyuhyun.

Segera setelah itu, ia kembali ke apartemennya dan Kyuhyun. Berharap ia dapat menemui pria manisnya untuk menjelaskan dan meminta maaf pada tunangannya.

Namun harapannya sia-sia ketika ia menginjakan kaki di apartement mereka. Yang ia dapati hanyalah Kyuhyun yang terus mengurung diri di kamar. Mengacuhkan bujukan dan usahanya untuk meminta Kyuhyun keluar dari kamar mereka.

“Kyuhyun-ah..” Panggil Changmin setelah ia mengetuk pintu kamar mereka untuk yang kesekian kalinya. “Kyuhyun-ah, aku mohon. Keluarlah dari kamarmu sekarang. Berhenti menyiksa dirimu seperti ini, Kyu.” Pinta Changmin memelas.

Ia telah kehabisan akal membujuk Kyuhyun. Pada saat seperti ini ia sangat merutuki sifat keras kepala Kyuhyun yang sama sekali tidak membantunya.

Lagi, bujukannya sama sekali tak menuai respon. Ia sadar. Sudah sepantasnya Kyuhyun marah padanya setelah apa yang selama ini ia sembunyikan diketahui olehnya. Ia memaklumi kemarahan Kyuhyun. Namun paling tidak, ia berharap jika ia bisa menjelaskan lebih detail pada Kyuhyun. Ia terlalu mencintai Kyuhyun. Dan kekhawatirannya tentang Kyuhyun yang akan meminta berpisah merupakan hal yang paling ia takutkan.

Ting Tong!

Angan Changmin terinterupsi ketika ia mendengar bel pintu berbunyi. Dengan enggan ia pun berjalan ke sumber suara untuk membukakan pintu untuk tamu dilarut malam seperti ini.

“Kau..”

“Dimana Kyuhyun?” tanya Woobin tanpa tedeng aling.

“Berani sekali kau datang ke sini.” Sahut Changmin sarkatik.

Woobin mendecih, “Dan kau sendiri? Apa kau masih punya malu untuk pulang ke apartement ini, Shim Changmin?”

Tubuh Changmin menegang. Pertanyaan Woobin menusuk harga dirinya. Setelah apa yang ia lakukan pada Kyuhyun, ia masih berani menemui Kyuhyun dan bahkan berharap jika Kyuhyun akan memaafkannya serta kembali lagi padanya?

Woobin menyeringai melihat Changmin yang terdiam. Tanpa sungkan ia pun masuk ke apartement dan menabrak tubuh Changmin dengan sengaja.

“Kyuhyunnie…!” Teriak Woobin kencang.

“Apa kau tak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?!”

Woobin terkesiap. Ia menatap tajam Changmin yang ada dibelakangnya. Seketika itu juga emosinya membuncah yang ia lampiaskan dengan pukulan di wajah tirus Changmin.

BUK!

Seketika tubuh Changmin terpental menabrak tembok. Dengan beringas Woobin menghampiri dan mencengkeram kemeja Changmin.

“Jangan pernah sekalipun kau menghina orang tuaku.” Woobin menggeram.

BUK!

“Lalu pernahkah kau diajari oleh orang tuamu untuk menjadi lelaki pengecut, hah?!”

BUK!

Changmin membalas pukulan Woobin. Telak mengenai rahang pria yang lebuh muda darinya itu.

“Jaga ucapanmu! Lagipula siswa macam apa kau yang berani meniduri gurumu sendiri!”

Woobin menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya dengan kasar. Tubuhnya bergetar menahan amarah mendengar hinaan Changmin. Namun seringaian muncul dari bibirnya. “Kau tidak berkaca pada dirimu sendiri.. kakak sepupu?”

Dahi Changmin mengernyit ketika mendengar panggilan kakak sepupu yang baru saja dilontarkan oleh Woobin.

“Kau pikir aku tidak tahu kebusukanmu selama ini, Shim Changmin? Bersikap seolah-olah kau sangat mencintai Kyuhyun sementara di belakangnya kau telah memiliki anak dari wanita lain?”

Woobin tertawa mengejek melihat raut keterkejutan Changmin. Pria Shim itu terlihat menundukkan wajahnya tanpa berani menatap kearahnya. Woobin berjalan kearah Changmin dan segera menyambar lelaki itu dengan pukulannya kembali.

BUK!

Changmin yang masih dalam keadaan shock seketika tersungkur dilantai. Woobin kembali memburu Changmin.

“Asal kau tahu saja brengsek. Jika wanita yang dulunya sempat kau permainkan itu adalah sepupuku, Lee Yeon Hee!” Raung Woobin tepat diwajah Changmin sebelum ia kembali melayangkan pukulannya.

BUK!

“Ini untuk penghinaan terhadap orang tuaku!”

BUK!

“Dan ini untuk kau yang telah menghancurkan kehidupan sepupuku!”

BUK!

“KIM WOOBIN!”

Pukulan Woobin yang bak kesetanan terhenti ketika ia mendengar pekikan seseorang. Tak jauh darinya, kini terlihat Kyuhyun tengah berdiri diambang pintu kamarnya. Penampilannya tampak berantakan dengan wajah sayu dan mata merahnya yang tampak mencolok.

“Kyuhyunnie..”

Kyuhyun berlari kearah mereka. Dan dengan paksa mendorong tubuh besar Woobin yang tengah menindih Changmin dengan wajah yang babak belur.

“Changmin-ah..Changmin-ah..”

Kyuhyun memangku kepala Changmin dan menyeka darah yang mengalir di pelipis dan bibir sang kekasih. Air matanya kembali mengalir saat Changmin terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Sementara itu, Woobin terhenyak menatap Kyuhyun yang sama sekali tak mempedulikannya. Ada rasa sakit yang ia rasakan saat Kyuhyun mengabaikannya dan lebih mempedulikan lelaki pengecut itu.

“Apa yang kau lakukan Kim Woobin?!”

“Kyuhyunnie, aku..”

“Pergi dari sini sebelum aku memanggil security.”

Ancam Kyuhyun dingin sebelum ia membantu Changmin berdiri dan masuk ke kamar mereka.

*

BRAK!

Woobin membanting pintu mobilnya dengan kasar saat ia telah sampai di pekarangan rumahnya. Ia sedikit meringis saat ia merasakan perih disekitar rahangnya.

“Shim Changmin sialan.” Makinya kesal pada orang yang telah membuat wajahnya memar.

Sebelum ia masuk ke rumah, ia terlebih dahulu mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Ia tak ingin menghadapi pertanyaan sang ibu tentang lukanya dan membuat beliau khawatir.
Ia pun melangkah menuju rumah bernuansa putih dihadapannya. Rumah mewah yang belakangan hanya ditempati oleh dirinya dan ibu yang sangat ia cintai. Seperti telah menjadi sebuah kebiasaan, ia pun langsung menaiki tangga dan menuju kamar pertama dilantai kedua. Kamar milik sang Ibu.

Ketika ia membuka pintu kamar tersebut, hanya kegelapan yang menyambut pandangannya. Ia sedikit heran. Tidak biasanya ibunya membiarkan keadaan kamarnya terlihat gelap tanpa penerangan. Sebab ia tahu jika sang ibu memang tak menyukai kegelapan.

“Eomma..” Panggilnya dengan satu tangannya menekan sakelar lampu.

Senyuman muncul di balik masker yang ia kenakan saat ia melihat sosok ibunya tengah terbaring di tempat tidur. Pria berusia 17 tahun itu pun memutuskan untuk membuka maskernya dan menghampiri sang ibu. Berniat mengucapkan selamat malam pada wanita yang telah melahirkannya.

Namun senyumannya itu seketika menghilang saat ia melihat cairan serta busa berwarna putih mengalir dari sudut mulut ibunya.

“Eomma!”

Di sisi tubuh yang tergeletak itu terdapat sebuah botol kecil dengan beberapa butir pil yang tercecer. Valium (sejenis obat penenang).

Dengan panik ia pun segera meraih ponselnya, men-dial nomor darurat dan membopong tubuh ibunya dari tempat tidur. Tanpa tahu jika terdapat selembar kertas terjatuh dari genggaman tangan ibunya.

“Eomma..kumohon.. bertahanlah..”

Ia telah pergi, Woobin-ah.

Ia telah pergi meninggalkan kita dengan wanita jalang itu..

*

“Kau mau kemana, Kyu?” Changmin meraih tangan Kyuhyun yang beranjak dari sisinya.

Kyuhyun tersenyum sekilas pada pria yang tengah terbaring di bangsal.

“Aku ingin menemui Dokter Hwang sebentar untuk menanyakan perkembangan kondisimu, Changmin-ah.”

Mereka berdua tengah berada di Rumah sakit saat ini. Mengingat kondisi Changmin yang luka parah pasca baku hantamnya dengan Woobin semalam. Dan Kyuhyun tentu saja akan menemaninya, walau bagaimana pun saat ini ia masih menjadi kekasih sekaligus tunangan Changmin.

Pria tinggi itu pun melepas cengkeramannya pada pergelangan tangan Kyuhyun meskipun enggan. Ia seperti tak rela melepaskan Kyuhyun. Takut jika pria manis itu akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.

“Aku akan segera kembali.” Janji Kyuhyun melihat keraguan Changmin.

*

Kyuhyun menutup pintu ruangan Dokter Hwang dengan pelan. Kekhawatirannya sedikit berkurang saat Dokter Hwang menjelaskan kondisi Changmin yang semakin membaik.

Sebelum ia kembali ke kamar Changmin, ia terlebih dahulu untuk mampir ke kantin Rumah Sakit. Segelas teh hangat sepertinya akan membantunya terasa segar kembali. Ia nyaris menjerit ketika seseorang menarik tangannya dengan kasar dari balik koridor Rumah Sakit. Namun suara itu tak terdengar karena mulutnya dibekap oleh sepasang tangan besar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya seseorang yang menarik tangan Kyuhyun yang tidak lain adalah Woobin.

Dengan kasar Kyuhyun mendorong tubuh Woobin untuk menjauh darinya. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Kyuhyun marah. Sontak saja suara tersebut menarik perhatian beberapa orang yang berlalu lalang disekitar mereka.

“Kau sangat suka menarik perhatian orang lain, Kyuhunnie..” Ucap Woobin dengan nada menggoda.

Kekesalan Kyuhyun semakin bertambah. Demi Tuhan, bagaimana ia bisa bersikap demikian? Bertingkah seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka sebelumnya sementara semalam ia nyaris menghabisi Changmin di depan matanya.

“Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu.”

“Wajahmu terlihat pucat. Apa kau sakit?” Woobin membelai pipi Kyuhyun lembut yang segera ditepis kasar oleh Kyuhyun.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari wajah yang ada dihadapannya. Melihat wajah tersebut mengingatkan ia pada malam itu. Di mana Woobin secara tidak langsung mengakui bahwa ia hanya dijadikan alat untuk membalas dendam pada Changmin.

“Hey, kau tidak menjawab pertanyaanku. Ah, aku tahu. Apa kau sedang menunggui pria pengecut yang terbaring di salah satu kamar rumah sakit ini?”

Kyuhyun mendongak, “Tidakkah kau merasa bersalah padaku? Tidakkah kau merasa bersalah pada Changmin?”

Woobin menaikkan salah satu alisnya. “Sama sekali tidak. Bahkan aku menyesal tidak membuatnya langsung mati di tempat.”

PLAK!

Suara tamparan itu menggema diantara lorong panjang tempat mereka berdiri. Woobin meraba pipinya yang terasa perih. Ditatapnya Kyuhyun yang kini terlihat menggigit bibirnya yang bergetar.
Kyuhyun sndiri yang tak dapat menahan emosinya mendengar jawaban Woobin yang terdengar menyepelekan, reflek menampar pria tersebut. Tidak tahukah ia jika dirinya merasa marah dan kecewa terhadap bocah tersebut? Marah karena anak itu menghajar Changmin dan kecewa karena tanpa bisa ia cegah, Kyuhyun sudah jatuh hati pada orang yang menjadikannya alat balas dendam. Walaupun Woobin mengatakan bahwa sejak awal ia sudah menyukai dirinya.

“Aku muak dengan segala tingkahmu, Kim Woobin. Aku menyesal telah mengenal manusia arogan dan pembawa masalah sepertimu. Dan kuharap aku tidak akan pernah lagi bertemu manusia sepertimu..” Kyuhyun menatap tepat di manik mata Woobin yang terlihat sayu, “..selamanya.”

Selepas mengucapkan kalimat tersebut, Kyuhyun pun berlalu meninggalkan Woobin yang masih mematung di tempatnya. Meninggalkan Woobin yang tersenyum miris tanpa ia ketahui.

Million_Words_7_Poster_Finishing

To be continued..

Million Words – Chapter 6

Title                 : Million Words

Rate                 : M

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun,  Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warninng        : BL, OOC, Typo (es), Dont like dont read!

 

CHAPTER 6

Kyuhyun menatap sebagian punggung Woobin yang terlihat dari pintu kamar. Ia ingat tadi sebelum Woobin membawanya masuk ke kamar, anak itu sempat mematikan lampu depan, hingga Kyuhyun tidak bisa melihat dengan jelas keluar. Tapi ia masih bisa menangkap dengan jelas sosok lelaki yang tadi bercinta dengan dahsyat dengannya.

Bukankah ia akan ke dapur? Mengapa ia tidak pergi juga? Ada apa lagi? Jangan bilang ia menerima telepon dari ibunya lagi dan kini ia tengah cemas.’ Pikir Kyuhyun.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati ponsel muridnya itu tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Lalu mengapa ia berdiri terpaku seperti itu di depan pintu?” monolog Kyuhyun. Ia lalu bangkit dari tempat tidur tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuh pucatnya dari depan. Kyuhyun melangkah pelan keluar lalu memeluk tubuh kekar Woobin dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan selimut agar tetap menempel di tubuhnya.

“Mengapa kau lama sekali? Bukankah kau tadinya mau mengambilkan air untukku?” Kyuhyun bertanya seraya menempelkan seluruh wajahnya ke punggung lelaki itu.

Kim Woobin tidak menjawab. Ia tetap diam di tempatnya, membuat Kyuhyun cukup penasaran dengan tingkah lelaki itu. Belum sempat ia bertanya lagi, tiba-tiba lampu di ruang tengah itu menyala.

Saat itulah Kyuhyun melihatnya. Seseorang yang paling ditakutkannya melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Shim Changmin berdiri di sana, satu tangannya menekan sakelar lampu sementara tangannya yang lain terkepal keras di samping tubuhnya.

“Chang..min..”

“Bersenang-senang?” Tanya Changmin langsung. Nada dingin itu terdengar bagai mata silet yang siap menggores kulit dengan cepat.

Ingin rasanya Kyuhyun berlari ke luar dari apartemen itu lalu meloncat ke jalan raya dan berharap sebuah truk besar melindasnya hingga ia bisa mati saat itu juga. Pancaran mata Changmin yang penuh amarah sekaligus kekecewaan dengan nada suara seperti itu membuat Kyuhyun ingin mengembalikan waktu dimana ia masih bisa menolak Woobin.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” kembali Changmin bertanya.

“Kau sudah tahu jawabannya.” Sambar Woobin cepat. Tanpa gentar sedikit pun.

“Jadi ini yang kalian lakukan selama ini? Bermain di belakangku sementara tampak seperti guru dan murid yang baik di depanku?”

Seumur hidupnya, Kyuhyun tidak pernah melihat Changmin semarah ini. Changmin yang sabar, yang lemah lembut, yang pengertian dan selalu mengalah kini tengah menatap mereka dengan garang.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia juga tidak berani bergerak. Walau bersembunyi di belakang tubuh Woobin seperti ini sudah jelas salah, tapi ia sama sekali tidak berani keluar dari persembunyiannya. Ia terlalu takut dan malu dengan keadaannya yang telanjang hanya terbalut selimut tebal karena habis bercinta dengan salah satu muridnya.

“Kenapa, Kyu.. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?”

Sungguh, Kyuhyun benci kepada dirinya sendiri mendengar kalimat itu. Terlebih Changmin mengucapkannya dengan nada sedih. Hancur sudah semua yang mereka bina selama ini. Dan Kyuhyun mendapati dirinya sendiri sebagai biang keladinya.

“Jangan salahkan dia, salahkan aku.” Woobin lah yang menjawab.

Ingin rasanya Kyuhyun menampar mulut lelaki bebal itu agar tidak menjawab apa pun. Jika tidak, semuanya tidak menjadi semakin rumit.

“Aku tidak bertanya padamu, bajingan!” bentak Changmin murka. Suaranya yang tadi cukup sedih terdengar bagai halilintar kini. Menggelegar keras membuat bulu kuduk meremang seketika.

Woobin merasakan Kyuhyun beringsut takut di belakangnya. Ia lalu melempar pandangan marah pada Changmin. “Kau membuatnya takut!”

“Dia tanggung jawabku! Dia tunanganku! Aku berhak atas dirinya. Tidak perlu ikut campur.”

“Semua yang berhubungan dengannya juga menjadi urusanku!!”

Changmin tersenyum sinis. “Oh yah? Mengapa seperti itu?”

“Karena aku mencintainya.”

“Berani sekali kau mengatakan bahwa kau mencintainya. Inikah pembuktian cintamu? Meniduri gurumu sendiri yang jelas-jelas adalah tunangan orang lain?” Changmin sudah melangkah maju mendekati Woobin.

“Benar sekali. Lalu mengapa? Kau tidak suka?” jawab Woobin dengan tenang walau wajahnya sudah mengeras.

“Bajingan!”

Changmin beringsut maju dengan kepalan terangkat yang sedari tadi telah menanti dengan lapar untuk meninju wajah angkuh di depannya. Namun secepat kilat pula Kyuhyun bergerak maju dan berdiri tepat di depan sang murid.

“Hentikan! Kumohon!” pinta Kyuhyun dengan suara bergetar. Tubuhnya ikut bergetar. Air matanya sudah jatuh dari pelupuknya.

Changmin menghentikan aksinya. Matanya menatap Kyuhyun dengan keterkejutan besar di sana. “Kyu? Kau.. membelanya?”

“Salahkan aku. Aku lah penyebabnya. Dia masih anak-anak. Dia masih di bawah umur. Aku lah yang dewasa di sini, jika ada yang harus di salahkan, aku lah orangnya. Jangan menyentuhnya. Kumohon..” isak Kyuhyun.

“Anak-anak katamu?” Tanya Changmin dengan nada sakit hati. “Tidak ada anak-anak yang berani bertindak sejauh ini.”

“Kyuhyunnie.. Aku lah yang..”

“Kau memanggilnya apa?” raung Changmin ketika mendengar Woobin menyebut mesra nama Kyuhyun seperti itu.

“Pergi.. Kumohon, pergilah..” pinta Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tidak tanpamu.” Kata Woobin keras kepala.

“Woobin-ah.. Dengarkan aku. Pergilah. Jangan membuat situasi semakin kacau. Kumohon.. Aku akan mencarimu setelah ini, aku berjanji. Aku berjanji.. Kumohon..”

Woobin tidak kuasa mendengar nada itu. Walau ia tidak mau meninggalkan Kyuhyun sendirian menghadapi kemarahan tunangannya, tapi mendengar suara yang memelas kepadanya itu membuatnya tidak tega.

Ia bergegas masuk kembali ke kamar Kyuhyun, mengumpulkan barang-barangnya, memakai kembali bajunya lalu keluar kamar. Sebelum ia pergi, ia memeluk Kyuhyun yang masih terisak dengan tubuh bergetar hebat lalu mencium pipinya.

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang. Aku berjanji.”

*

            Kyuhyun belum berhenti menangis sejak semalam. Ia bahkan menelepon ke sekolah, melaporkan bahwa dirinya tengah sakit hingga tidak bisa mengajar. Ia masih belum bisa menghadapi semua rekan kerja juga murid-muridnya di sekolah nantinya. Dan ia sendiri terlalu malas memikirkan konsekuensi dari perbuatannya semalam. Perbuatan yang sebenarnya sangat tidak senonoh dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh apalagi dengan anak di bawah umur seperti itu. Walau Kim Woobin sendiri sudah berusia 17 tahun, tapi dengan statusnya sebagai murid sekolah, ia tetap masih dikategorikan sebagai anak-anak.

Dan masih terbayang jelas pembicaraannya dengan Changmin semalam setelah Woobin pergi. Bagaimana ia melihat Changmin meminta penjelasannya atas semua yang terjadi dengan pandangan terluka, dengan nada suara yang teramat sedih, membuat Kyuhyun menyesali semua yang telah ia lakukan.

“Mengapa kau lakukan ini padaku? Katakan padaku, apa salahku.. Mengapa, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng. “Sudah kukatakan aku lah yang bersalah. Karena perasaanku yang egois membuatku terlena dengan hal-hal yang tidak seharusnya.”

“Jika memang seperti itu, apa yang salah dalam hubungan kita? Terlalu sakit untukku melihatmu bersama dengan lelaki lain. Katakan Kyu.. Katakan padaku..” Changmin mulai menangis.

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Tapi memang ada yang salah dengan hubungan kita. Bukan, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hanya saja.. Aku tahu kau sibuk, apalagi dengan posisimu sebagai anak tunggal, sudah pasti kau lah yang menjalankan yayasan milik keluargamu.”

“Tapi kau menjadi sibuk bahkan lebih sibuk setelah yayasan itu diperluas. Kau jarang pulang. Kalau pun kau pulang, kita hanya bertemu sebentar. Aku kesepian karenanya. Aku merindukan waktu di mana kita selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, melakukan hal-hal kecil dengan penuh tawa..”

Changmin memotong perkataan Kyuhyun. “Aku tidak bisa meninggalkan yayasan, kau tahu itu. Banyak hal yang bergantung padaku. Dan jika.. Jika aku sibuk, bukankah kita bisa membicarakannya?”

Kyuhyun tersenyum lemah. “Kita bahkan tidak bisa membicarakan hal-hal sepele ketika kau pulang. Kau selalu terlihat lelah. Aku tidak mau menambah bebanmu.”

Changmin terdiam. Walau airmatanya masih menetes, tapi ia ikut mengakui kata-kata Kyuhyun. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat menghabiskan banyak waktu apalagi mendengarkan cerita kekasihnya.

“Dan lagi, kau selalu menanggapi keluhanku dengan datar. Tidak ada perselisihan, tidak ada kemarahan, tidak ada kesalah pahaman. Membuatku selalu berpikir bahwa tidak ada jiwa dalam hubungan kita.” Kata Kyuhyun lagi.

“Mengapa kau terus mengungkit hal itu?”  sanggah Changmin. “Bukan kah semua orang ingin menjalani hubungan yang baik-baik saja tanpa berselisih paham?”

“Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa mencegah perasaan itu begitu saja. Aku ingin menjalani kehidupan yang kau tahu.. Aku.. Aku merasa kehidupan cinta kita terlalu datar. Kau terlalu baik, terlalu penurut dan selalu mengalah. Kita tidak pernah bertengkar. Semua terserah padaku. Tidak ada gairah di dalamnya. Aku..”

“Jadi kau berselingkuh karena mendambakan pertengkaran kecil dengan pasanganmu?” lagi-lagi Changmin menyanggah.

“Dan karena kau tidak punya banyak waktu untukku. Aku kesepian.” Kyuhyun lemah seraya mengingatkan Changmin pokok permasalahannya.

Ia tidak mau membela diri atas apa yang telah terjadi. Memang benar dirinya telah berselingkuh. Ia bahkan tidur dengan lelaki lain di kamar yang ditempatinya bersama Changmin. Ia bisa saja menolak Woobin saat itu, tapi tidak ia lakukan, bukan? Karena walau ia sempat benci, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia menyukai banyak hal tentang lelaki itu. Ia hanya tidak menyangka bahwa Changmin akan menemukan mereka seperti ini.

“Maafkan aku..” suara Changmin memecah kesunyian diantara mereka.

Kyuhyun menoleh, melihat Changmin yang menatapnya dengan mata sembab. Wajah tampan itu tampak sangat terluka, sedih dan sekaligus letih. Kyuhyun jadi benar-benar merasa teramat bersalah kini. Ia bahkan merutuki dirinya karena berani berselingkuh.

“Tidak.. Kau tidak bersalah, aku lah yang menghianatimu. Aku lah yang seharusnya minta maaf.”

“Aku lah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jika saja aku berusaha untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku terlalu sibuk hingga menghindari semua perdebatan. Sibuk di yayasan membuatku sangat lelah ketika pulang ke rumah. Jadi dari pada membuat pikiranku kacau, lebih baik aku mengikuti semua kemauanmu. Aku tidak mau berdebat dan aku tidak pernah suka akan hal seperti itu. Kau tahu kan?”

Kyuhyun tidak menjawab. Walau ia merasa kata-kata Changmin ada benarnya, namun ia enggan bicara untuk membenarkannya. Dengan menyanggah lagi, berarti hanya akan memperpanjang masalah. Keduanya lalu duduk dalam diam di sofa yang terletak saling berhadapan itu, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya ketika Kyuhyun tertidur. Ketika ia terbangun keesokan harinya, ia mendapati tempat duduk Changmin sudah kosong.

Kyuhyun sempat ketakutan sesaat, maka ia segera berlari ke kamarnya dan memeriksa lemari pakaian yang ia pakai bersama Changmin. Dan ia hanya bisa bernafas lega karena baju-baju tunangannya itu masih ada di sana.

*

            Changmin tidak pulang setelah beberapa hari setelah itu. Satu-satunya petunjuk yang Kyuhyun punya hanya pesan teks darinya yang mengatakan bahwa ia kembali sibuk dengan rutinitasnya dan ia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Kyuhyun mengerti. Ia tidak akan menghubungi Changmin dulu untuk beberapa waktu. Ia akan memberi lelaki itu waktu untuk menenangkan diri. Sudah bagus Changmin tidak meninggalkannya.

Kyuhyun sendiri sudah mulai kembali ke sekolah. Ia hanya butuh topeng untuk menghadapi Woobin. Seisi sekolah tidak ada yang tahu mengenai apa yang telah ia lakukan beberapa malam lalu. Dan ia sendiri tidak peduli dengan tanggapan Jongin dan Myungsoo. Ia hanya memikirkan bagaimana cara menatap wajah Woobin seperti biasa setelah peristiwa memalukan di apartemennya.

Ia harus bicara dengan Woobin. Ia harus menjelaskan segalanya. Ia tidak boleh berada dalam persimpangan seperti ini. Ia harus bisa menentukan dengan tegas, di mana tempat seharusnya ia berada. Ia tidak boleh tergoda, ia tidak boleh lemah.

Namun harapannya hancur ketika ia mencari Woobin di sekolah. Anak itu sudah tidak masuk sejak tiga hari yang lalu dan pihak sekolah tidak tahu menahu mengapa ia absen. Anehnya Jongin dan Myungsoo juga tidak muncul di sekolah sejak hari itu.

Kyuhyun sudah mencoba menghubungi ponsel Woobin, tapi layanan kotak suara selalu menyambutnya, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Hal yang sama terjadi ketika ia mencoba menghubungi duo Kim yang selalu membuntuti Woobin. Kemana mereka semua?

Awalnya ia mengacuhkan hal ini. Namun setelah seminggu ketiga anak itu tidak muncul juga di sekolah, mau tidak mau ia penasaran juga. Tidak, mungkin lebih tepatnya khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka bertiga dan tidak ada seorang pun yang tahu?

Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya sendiri. Entah sudah berapa ratus kali ia mencoba menghubungi Woobin, namun hanyalah pesan suara yang menyambutnya. Ia nyaris gila kini. Di satu sisi Changmin mengabaikannya, dan di sisi lain Woobin tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan ia merasa tolol ketika menyadari bahwa ia tidak tahu di mana tempat tinggal anak itu.

Kyuhyun ingin mencari mereka langsung ke rumah mereka melalui data pribadi yang tersimpan di ruang arsip sekolah, namun kuasa itu tidak ada padanya, melainkan pada Hyukjae, sang wali kelas. Maka mau tak mau, siang itu Kyuhyun mulai merayu Hyukjae untuk menemui ketiganya.

“Tidak bisa, Kyu. Bukankah kau tahu sendiri peraturan sekolah bahwa siswa yang tidak muncul di sekolah setelah dua minggu barulah akan dicari ke rumahnya? Dan ketika sebulan mereka tidak muncul juga, barulah sekolah mengambil tindakan untuk mengambil keputusan apakah siswa tersebut akan dikeluarkan atau hanya dikenakan skorsing atau pun hukuman pelayanan di sekolah.” Jelas Hyukjae panjang lebar.

“Hah? Dua minggu katamu? Seminggu saja sudah cukup apalagi ditambah seminggu lagi? Kalau terjadi sesuatu yang mengerikan pada mereka bagaimana? Lagi pula, peraturan sekolah macam apa yang membiarkan muridnya absen begitu lama tanpa mencari tahu di mana keberadaan mereka?” jawab Kyuhyun dengan nada histeris. Untung saja kantin sudah sepi karena sudah jam pulang sekolah ssat itu, kalau tidak Kyuhyun akan disangka tidak waras karena menjerit histeris seperti itu hanya karena mencari tiga siswa yang membolos.

“Sekolah kita bukan sekolah biasa. Para siswa membayar mahal untuk bersekolah di sini. Dan kau tahu benar bahwa ketiga anak itu bukanlah anak-anak bodoh dengan nilai rendah. Mereka hanya membolos saja. Mungkin bahkan orang tua mereka mengetahui hal ini hanya saja tidak terlalu peduli. Kadang aku iri pada mereka karena mempunyai banyak sekali uang untuk dihambur-hamburkan, namun di sisi lain aku juga kasihan pada mereka yang tidak mendapatkan kasih sayang lebih. Orang tua mereka mungkin menganggap sumber kebahagiaan anak mereka sama dengan mereka, yaitu uang.” Hyukjae menanggapi.

“Aku ingin mencari mereka.” Kata Kyuhyun pada akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Kemana? Ponsel mereka saja tidak bisa dihubungi, bagaimana mungkin kau tahu di mana keberadaan mereka?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku akan mencari ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.”

Hyukjae mengernyit menatapnya. “Kau tahu tempat mereka? Bagaimana bisa? Bukankah..”

Kyuhyun terkesiap. Tidak, Hyukjae tidak boleh tahu ketiga anak itu cukup dekat dengannya hingga ia bisa tahu tempat-tempat di mana mereka sering bepergian bersama. Bisa-bisa Hyukjae mencari tahu dan akhirnya hubungan gelapnya dengan Woobin terendus.

“Ma.. Maksudku, tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak muda pada umumnya.” Kilah Kyuhyun cepat.

Hyukjae mengangguk. “Bisa dicoba. Walau aku tak yakin mereka ada di sana. Kau tahu, aku sempat berpikir bahwa kau cukup dekat dengan mereka karena aku pernah melihatmu makan siang bersama mereka di salah satu restaurant.”

Kembali Kyuhyun terkesiap. Namun sebelum ia membel diri, kembali Hyukjae berkata. “Tapi tidak ada salahnya murid dan guru makan siang bersama, bukan? Jadi aku tidak pernah menanyakannya padamu.”

*

            Kyuhyun sudah berupaya mencari ke sana kemari sosok-sosok bengal yang memenuhi pikirannya belakangan ini. Kini sudah genap sepuluh hari ketiganya hilang tanpa kabar. Kyuhyun bahkan sudah nyaris putus asa mencari mereka ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi bersama.

Setiap pulang sekolah, Kyuhyun akan langsung mencari ketiganya di mana-mana. Dan kini ia sudah lelah. Tujuan terakhirnya adalah sungai Han. Tempat terakhir yang cukup dekat dengan tempatnya kini berada dan di sana lah ia berharap bisa melihat ketiganya. Jika mereka tidak ada, Kyuhyun akan pasrah dan berhenti mencari. Itu tekadnya.

Ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di sana, ketika ia berjalan mendekat dan melihat tiga sosok yang begitu ia kenal, matanya nyaris buta karena air matanya yang entah dari mana tiba-tiba muncul dan mengerubungi bola matanya.

Ia berlari cepat mendekati ketiganya lalu menubruk lelaki paling jangkung di sana, memeluknya erat lalu menumpahkan tangisnya.

Kim Woobin tersentak melihat tiba-tiba lelaki yang dirindukannya sudah muncul di hadapannya dan memeluknya sambil menangis. Kyuhyun menangis selama beberapa menit kemudian melepaskan pelukannya lalu menumbuk dada Woobin dengan pukulan-pukulan keras.

“Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau melarikan diri seperti ini? Ada apa denganmu? Kau tahu betapa cemasnya aku? Aku bahkan nyaris gila karena memikirkan..”

Kata-kata Kyuhyun terputus karena tiba-tiba Woobin sudah menariknya dalam pelukan hangatnya. “Maafkan aku.. Maafkan aku..”

Keduanya bertahan dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukan itu. “Dari mana saja kau? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menghubungiku?”

Kim Woobin menggigit bibirnya. Ia tampak jelas sangat ragu bercerita. Namun pada akhirnya ia tersenyum. “Aku hanya sedang bosan bersekolah, jadi aku ingin bebas sejenak.”

“Apa?” Tanya Kyuhyun tak percaya. “Bagaimana mungkin kau membolos selama ini sedangkan ujian akhir sudah dekat?”

“Aku akan mengejar ketinggalanku. Aku hanya sedang banyak pikiran dan.. Aku hanya ingin menyendiri.”

“Menyendiri seperti apa yang ditemani oleh dua orang lain?” sindir Kyuhyun seraya melirik dua bocah lain yang berdiri tak jauh dari Kim Woobin.

Namun ia tampak bingung juga dengan sikap keduanya. Myungsoo tampak sibuk membaca buku pelajarannya sedangkan Jongin tampak mencoret-coret sesuatu, seperti berhitung karena bibirnya ikut komat-kamit. Membolos sambil belajar? Membolos model apa ini?

Otak Kyuhyun berpikir cepat. Kim Woobin pasti lah sedang enggan ke sekolah dan kedua temannya hanya menemaninya. Karena seperti itulah mereka, saling menempel satu sama lain.

“Setidaknya kirim teman-temanmu ke sekolah. Kau bisa membolos sendiri.” Kata Kyuhyun pada akhirnya.

“Itu kemauan mereka sendiri.” Sahut Woobin cepat. Kembali dengan gaya cuek seperti biasa.  Kali ini ia bahkan menyulut rokok di tangannya.

Kyuhyun merebut rokok itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam sungai. Kim Woobin langsung memberenggut.

“Itu rokok terakhirku!”

“Berhenti merusak dirimu sendiri. Aku benci perokok.” Balas Kyuhyun tak kalah galak.

“Tapi toh kau tetap mencariku. Jadi tidak ada hubungannya dengan rokok.”

“Kau masih terlalu kecil untuk merokok.”

“Dan kau sudah terlalu dewasa untuk membuang sampah sembarangan.”

“Aku melakukannya dengan tujuan baik. Agar kau tidak merokok.”

“Apa pun alasannya, membuang sampah sembarangan tetap lah salah. Bukan kah kau ini guru? Seharusnya kau memberi contoh yang baik.”

“YA!” jerit Kyuhyun kesal.

What?!” Woobin menantangnya dengan berani.

“Aku.. merindukanmu..” bisik Kyuhyun jujur.

Kembali Woobin membawa Kyuhyun dalam pelukannya. “Maaf jika tidak mengabarimu setelah malam itu. Aku..” Ia tampak memikirkan kata-kata yang pantas selama beberapa saat ketika akhirnya ia memilih untuk bertanya dengan formal.  “Bagaimana kabarmu?”

“Tidak baik. Aku butuh teman bicara tapi kalian berdua meninggalkanku begitu saja.”

Woobin melepaskan pelukannya. “Seharusnya ia tidak meninggalkanmu.”

“Ia melakukan hal yang benar. Aku lah yang bersalah kepadanya. Tidak, kita bersalah kepadanya. Wajar kalau ia marah dan memilih untuk jauh dariku, menenangkan diri sesaat.”

Kim Woobin tertawa mengejek. “Menenangkan diri? Tak bisa kupercaya.”

“Berhenti bersikap seperti ini. Sejak awal kita memang bersalah. Dan kau, seandainya kau tidak memaksakan diri untuk menyusup dalam hubungan kami, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Kyuhyun.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Aku juga bersalah. Tapi kau lah pembawa masalahnya. Dan kini aku terperangkap di sini, tidak tahu harus bagaimana agar membuat Changmin percaya lagi padaku. Bagaimana kalau ia pergi dariku dan..”

“Jadi tujuanmu menemuiku agar kau dapat teman bicara untuk semua pemikiranmu tentang apa yang telah terjadi dan rasa sesalmu terhadap tunanganmu itu?” Tanya Woobin dengan ekspresi sakit hati.

“Tidakkah kau mengerti? Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena kau! Kau lah penyebab utama mengapa hubunganku jadi seperti ini! Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku saat ini??!!!” kini Kyuhyun menjerit nyaris putus asa.

Kim Woobin membeku di tempatnya. Mati-matian ia menahan amarah yang hendak meledak dari dalam dirinya dan melampiaskannya pada lelaki manis yang berprofesi sebagai guru geografinya itu, andai saja rasa cintanya tidak lebih besar.

“YA! Jawab aku! JAWAB!” bentak Kyuhyun kesal.

“Woobin-ah..” Myungsoo dan Jongin sudah ada diantara mereka. Myungsoo memegang pundak sahabatnya itu, berusaha menenangkan.

“Jangan ikut campur!” kembali Kyuhyun membentak namun kali ini kepada Jongin dan Myungsoo.

Jongin menggeleng. “Bukan itu maksud kami, songsaengnim. Tapi.. Woobin harus menerima panggilan ini.” Ia lalu menyodorkan ponsel lain yang kemudian disodorkannya kepada sahabatnya itu.

Woobin menerimanya dengan cepat, ia menjauh sebentar lalu bicara dengan suara pelan. Tak lama kemudian ia kembali, menyerahkan ponselnya kepada Jongin lalu berjalan cepat ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

“Hei.. kembali.. Kita belum selesai bicara.” Kata Kyuhyun yang langsung berlari menyusul Woobin.

I’m done here!” balasnya. Ia terus berjalan, tanpa memanang wajah Kyuhyun.

“Mengapa kau menjadi pengecut seperti ini? Selesaikan masalah ini!” kata Kyuhyun lagi. Karena Woobin tak juga mengindahkannya, ia menarik paksa lengan kekar lelaki itu.

“Berhenti kataku! Selesaikan dulu masalah ini baru kau boleh pergi!”

“Persetan dengan masalah ini! Aku tidak peduli!” balas Woobin dengan kekesalan yang sama.

“Lalu bagaimana dengan hubunganku yang telah kau hancurkan? Kau akan pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?” Kyuhyun sudah menangis.

“Kau membelanya? Kau membela lelaki pengecut itu?!”

“Ya, lalu mengapa? Dia adalah tunanganku. Dan sebagai lelaki, itu pun jika kau menyebut dirimu sebagai lelaki, seharusnya kau bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi. Dan.. berhenti mengatakan Changmin sebagai pengecut!”

“Pengecut! Pengecut dan munafik!” kini Woobin membentak dengan kasar, membuat Kyuhyun melompat mundur.

Kim Woobin segera menyadari tindakannya. Tapi ia sudah terlalu marah untuk membujuk Kyuhyun yang kini bergetar di depannya. Tanpa banyak bicara ia meraih lengan Kyuhyun dan menuntunnya masuk ke mobilnya dan memerintahkan Jongin dan Myungsoo untuk pergi ke sebuah alamat. Ia sendiri lalu pergi berlawanan arah, tanpa melihat lagi ke belakang.

*

            Kyuhyun tidak pernah mengerti mengapa Jongin dan Myungsoo harus membawanya ke sebuah rumah mewah dengan taman yang cukup asri di depannya. Sepanjang perjalanan keduanya menolak untuk bicara dan hanya menyuruhnya untuk tenang dan percaya bahwa mereka membawanya ke tempat yang paling ingin ia kunjungi.

Namun setelah sampai di rumah itu, ia kembali berpikir. Berusaha mengingat-ingat kembali rumah siapa kah gerangan itu. Apa ia mengenal pemiliknya?

“Uncle..!!”

Seorang anak lelaki yang kira-kira berumur dua tahun berlari kecil menghampiri Jongin dan Myungsoo. Ia melompat-lompat riang melihat kedua tamunya. Myungsoo segera menggendong anak itu lalu mendekapnya dengan sayang.

“Miseokkie.. Aku sangat merindukanmu.” Kata Mungsoo bersemangat.

“Di mana ibumu?” Tanya Jongin setelah ikut memeluk anak kecil bernama Minseok itu.

Anak itu tersenyum lebar lalu menunjuk ke dalam rumah. Kyuhyun langsung paham. Pasti anak itu menunjukkan di mana ibunya kini berada.

“Bibi?”

Jongin dan Myungsoo bertukar pandang sedih. “Ya! Mengapa kau selalu mencarinya ketika ia tidak ada?” kata Jongin pura-pura cemberut.

“Bibi?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Woobin. Minseok memanggilnya bibi karena itu lebih mudah untuk diucapkan. Ia memanggilku Jonin dan memanggil Myungsoo dengan sebutan Soo.”

“Apa Woobin mengenal anak ini?” Tanya Kyuhyun lagi. Ia menatap anak itu dalam-dalam. Wajahnya tampak tak asing.

Myungsoo mengangguk. “Tentu saja. Minseok adalah keponakannya. Anak dari sepupunya.”

“Benarkah? Lalu.. Apa ini adalah rumah Woobin?” Tanya Kyuhyun lagi.

Kembali Myungsoo menggeleng. “Ini adalah rumah sepupunya.”

“Lalu mengapa ia ingin aku kemari?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Ikutlah ke dalam. Hyung akan tahu.” Kata Jongin lalu menarik Kyuhyun dan membimbingnya memasuki rumah itu.

Rumah itu bisa terbilang sangat indah. Dengan penempatan furniture yang sangat cocok, cat dinding dengan warna hiasan di setiap tempat juga sangat serasi. Kyuhyun sedikit merasa heran karena beberapa perabotan milik sang pemilik rumah cukup mirip dengan miliknya di apartemen. Mungkin mereka membeli di tempat yang sama.

“Bibi..”

Kembali terdengar Minseok kecil menyebut nama Woobin. Dengan tawa khasnya Jongin menjawab. “Mengapa kau begitu menyukai Woobin sedangkan ia sangat membencimu? Kau tidak pernah mencari kami.”

“Minseokkie.. Di mana kau, sayang? Sudah waktunya minum susu.”

Seorang wanita cantik keluar memegang segelas susu. Senyumnya mengembang ketika mengetahui dua orang yang dikenalnya datang berkunjung.

“Jonginnie.. Myungsoo-ya.. Kalian sudah lama? Kenapa tidak memberitahukanku terlebih dahulu bahwa kalian akan datang?”

“Kami..”

PRAANNGGGGGG..!!!

Gelas kaca yang tadinya dipegang oleh wanita itu jatuh seketika tatkala ia melihat Kyuhyun. Bagai melihat hantu di siang bolong, ia menup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya langsung tampak pucat dan ketakutan.

Kyuhyun jadi cukup heran karenanya. Mengapa ia bersikap seperti itu? Dengan cepat Kyuhyun meraih beberapa lembar tisu di meja kecil yang tak jauh darinya untuk mengeringkan lantai yang basah oleh tumpahan susu.

Dan dalam kesibukannya itu, ia menangkap sesuatu yang lain. Tepat di sebelah kotak tisu, ia melihat sebuah pigura berukuran sedang yang memuat foto tiga orang yang tengah tersenyum bahagia ke arahnya. Minseok yang berukuran sedikit lebih kecil dari Minseok yang tengah berada dalam pelukan Myungsoo saat ini, wanita yang memecahkan gelas susu dan menatap Kyuhyun ketakutan, dan.. Shim Changmin.

*

kyuhyun woobin myungsoo jongin

To be continued..

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..

Lovely Day

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Jung Yunho, etc.

Pair : ChangKyu (MinKyu)

Rate : PG-13

Genre : BL, Fiction, Fluff, Romance

Warn : BL, OOC, Typo (es)

Disclaimer : Cerita ini hanya fiktif belaka dan bersifat hiburan semata. Semua tokoh milik Tuhan, orang tua dan diri mereka masing-masing.

Klik!

Sungmin memicingkan kedua matanya ketika ia membuka pintu kamar dengan disambut sinar lampu yang baru ia nyalakan. Ia mengusap matanya mencoba menyesuaikan keadaan sekitar.

Dengan langkah gontai karena rasa kantuk yang masih menderanya, ia pun melangkah menuju dapur. Bersiap melakukan rutinitasnya dipagi hari. Memasak serta menyiapkan sarapan untuk member-nya dengan berniat membasuh wajahnya di kamar mandi terlebih dahulu.

Namun, belum sempat ia membuka pintu kamar mandi, perhatiannya teralihkan pada sumber suara yang terdengar dari arah belakang tubuhnya.

Ia membalikkan tubuhnya dan melihat seorang lelaki tengah berdiri didepan konter dapur    dengan posisi yang membelakanginya. Dengan perlahan ia pun melangkah menghampiri seseorang yang tengah bergumam menyanyikan sebuah lagu.

“Kyu?” Panggilnya seraya menepuk pelan pundak seseorang yang ternyata adalah maknae-nya.

Aigoo! Hyung! Kau mengagetkanku!” Pekik Kyuhyun terkejut. Terlebih ketika ia mendapati sosok Sungmin yang telah berdiri disisinya dengan rambut yang berantakan akibat bangun tidur.

Sungmin hanya terkekeh meminta maaf melihat reaksi Kyuhyun yang menurutnya berlebihan. Kyuhyun mendelik sekilas pada pria tersebut. Namun, sedetik kemudian ia mengalihkan perhatiannya kembali pada apa yang sedang ia lakukan. Pria manis ahli martial arts itupun mencebikan bibirnya ketika ia merasa diacuhkan oleh Kyuhyun.

“Hey, Kau serius akan memberi kejutan ulang tahunnya sekarang?” tanyanya skeptis pada adik bungsunya yang tengah mengeluarkan sebuah kue kecil dari freezer.

Ia sedikit ragu dan takjub dengan rencana Kyuhyun yang bertekad untuk ‘memberi Changmin kejutan’ di hari ulang tahunnya. Saat ini waktu bahkan baru menunjukan pukul 4.30 dini hari. Dan ini diluar kebiasaan Kyuhyun yang sama sekali bukan tipe morning person. Jangankan untuk menyiapkan sepotong kue, untuk membuka matanya pun ia sangat enggan sebelum hyung-deul yang membangunkannya.

Oh, dia lupa jika apa yang Kyuhyun lakukan kali ini ia dedikasikan spesial untuk seseorang yang ia klaim sebagai kekasih tercintanya.

Kyuhyun hanya bergumam menjawab pertanyaan tersebut.

“Bagaimana menurutmu, hyung?” Tanya Kyuhyun dengan wajahnya yang berbinar seraya mengangkat sebuah kotak kecil berisi kue tart mini berbentuk hati ditangannya.

Sungmin tak langsung menjawab. Ia mengamati sejenak kue ditangan Kyuhyun dengan seksama. Hanya sepotong kue tart berlapis cream dan taburan choco chips. Ukurannya bahkan terlalu  imut untuk sekedar kue ulang tahun. Terlebih mengingat untuk siapa kue itu akan diberikan nantinya yang seorang food monster.

“Masih sama seperti kemarin kau membelinya di bakery, Kyu. Tak ada perubahan sama sekali. Kecuali… coklatnya yang kini sedikit meleleh.” Ucapnya tanpa tedeng aling yang berhasil membuat Kyuhyun merengut.

Ia tahu mantan room mate-nya itu tengah menggodanya. Serupa dengan yang Kangin lakukan kemarin. Mereka berdua dengan sepenuh hati mentertawakannya ketika ia mengatakan jika  kue tersebut ia beli khusus untuk ulang tahun Changmin hari ini.

Ayolah, dia tak punya cukup waktu luang untuk belajar memasak lagi dan membuat kejutan seperti tahun kemarin. Salahkan saja schedule-nya yang tak kalah padat dengan sang kekasih yang dalam masa promo album.

Pada akhirnya, setelah ia sempat pusing memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk merayakan ulang tahun kekasih tiangnya itu, ia pun berinisiatif untuk membeli kue ulang tahun dan akan mengantarkannya ke apartemennya tepat pada pukul 5 dini hari. Waktu dimana Changmin-nya lahir ke dunia 27 tahun yang lalu. Bukankah ia kekasih yang sangat perhatian?

“Kau sama sekali tidak lucu, hyung.” Sahut Kyu sarkatik dan segera menjauhkan kue tersebut dari tangan usil Sungmin yang berniat mencolek lelehan cokelat kue-nya. Dengan cekatan ia pun memasukan kue tersebut kedalam dus dan menutupnya dengan sangat hati-hati.

Tanpa berpamitan terlebih dahulu, ia pun dengan santai berlalu meninggalkan Sungmin yang masih mematung ditempatnya.

*

Cklek!

Suara tersebut terdengar bersamaan dengan pintu sebuah kamar yang terbuka. Kyuhyun  perlahan menutup kembali pintu dibelakangnya. Dengan langkah berjingkat, ia pun berjalan menghampiri sosok seseorang yang masih tampak terlelap diatas tempat tidur. Ia lalu meletakan kue yang  sudah terdapat dua lilin yang menyala telah ia persiapkan di meja nakas  yang berada disisi tempat tidur.

Beruntung pria tampan berwajah kekanakan pemilik aparetem tersebut tidak terganggu dalam tidurnya saat ia menyalakan lampu kamar. Hingga kini ia dapat mengamati fitur wajah kekasihnya yang masih terlelap dengan sempurna.

Kyuhyun melirik jam analog yang berada disisi lampu meja. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pukul 5 untuk ia membangunkan Changmin. Segera saja ia merebahkan tubuhnya disisi maknae DBSK dengan meletakan kepalanya tepat didada Changmin.

Ia memejamkan matanya sejenak. Mencoba meresapi irama detak jantung pria terkasihnya yang terdengar ritmis dengan sesekali membelai dada bidangnya yang hanya tertutupi kaus tak berlengan yang ia kenakan.

Perlahan ia pun mendongakkan wajahnya hingga kini tepat berada didepan wajah polos Changmin.

‘Minnie-ku benar-benar tampan.’

Pujinya dalam hati. Pujian yang sangat jarang ia ucapkan secara langsung meskipun Changmin berkali-kali memohon padanya. Sebenarnya, bagi Changmin sendiri, tak sedikit orang-orang yang mengagumi ketampanan dan pesonanya. Namun ucapan kekaguman tersebut tentu saja tak akan sebanding  jika ia mendengarnya langsung dari bibir kekasih imutnya yang dapat dihitung dengan jari mengatakan hal tersebut.

Tak tahu saja kau Shim Changmin jika Cho Kyuhyun sangat mengagumi ketampananmu itu.

“Minnie~” Ucapnya seraya memberi beberapa kecupan dibibir Changmin yang mengatup.

Kyuhyun mencebikan bibirnya tak suka saat Changmin sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Tak habis akal, ia pun mulai berbisik dan meniup-niup telinga pria jangkung yang ditindihnya.

“Changminnie, bangun…”

“…”

“Minnie…”

Tetap tak ada reaksi. Baiklah, itikad baik Kyuhyun untuk membangunkan Changmin-nya  dengan cara yang romantis dihari ulang tahunnya musnah sudah saat ini.

“Yaaa! Bangun Shim Chwang!” Teriaknya seraya menjambak kasar rambut Changmin yang mulai memanjang.

Tentu saja tindakan sadis tersebut membuahkan pekikan kaget dan kesakitan Changmin. Seketika itu juga pria bermarga Shim itu bangkit dan memegangi kepalanya yang terasa nyeri dan pening karena jambakan dan dibangunkan dengan paksa.

“Ssshh… apa yang kau lakukan Cho Kyuhyun?” Erangnya dengan masih memegangi   kepalanya. Kyuhyun yang kini duduk dihadapan Changmin hanya menatap pria itu sebal. Tak peduli dengan apa yang tengah pria itu rasakan.

Ia mengabaikan Changmin yang masih mengerang untuk meraih tart yang telah ia pasang lilin dengan angka 27.

Happy birthday, My love Shim Chwang~”

Seru Kyuhyun riang dengan membawa tart tersebut ke depan wajah Changmin. Changmin sendiri yang awalnya masih sibuk dengan erangannya sedikit terkejut dengan apa yang ia lihat. Dan beberapa menit sesaat, ia hanya mampu mengerjapkan matanya cepat.

Terlebih saat ia mendengar suara caramel macchiato voice kesukaannya itu mengalunkan lagu selamat ulang tahun untuknya.

“Ayo Minnie. Ucapkan permohonanmu lalu kau tiup lilinnya, ya?” Pinta Kyu dengan  sumringah. Sepertinya rencana surpsrise-nya berhasil. Terbukti dengan reaksi Changmin yang seperti kehabisan kata-kata dengan menatapnya tak percaya.

Lalu Changmin pun menangkupkan kedua tangan dan memejamkan matanya. Mengucapkan permohonannya yang tak pernah berubah selama tiga tahun belakangan ini. Tidak lain  ingin terus bersama Kyuhyun disisinya, serta dapat membahagiakan Kyuhyun-nya.

Dan jantung Changmin terasa berdesir ketika ia membuka matanya dan mendapati Kyuhyun yang tersenyum sangat manis.

Ia pun meniup lilin tersebut dan segera disambut dengan pelukan erat yang ia terima dari Kyuhyun.

“Selamat ulang tahun, Minnie~” Bisik Kyuhyun diceruk leher Changmin, “Saranghe..” ucapnya yang dilanjutkan dengan sebuah kecupan bibirnya.

Tentu saja kecupan tersebut disambut dengan antusias oleh Changmin. Dengan sigap ia segera melingkarkan tangannya dipinggang Kyuhyun dan memperdalam ciuman mereka. Tautan bibir mereka terlepas ketika pria berwajah tampan itu merasakan nafas Kyuhyun yang mulai tersengal.

Gomawo, chagi…” Ucap Changmin kembali mengecup bibir Kyuhyun yang semakin memerah.

Kyuhyun tersenyum dengan pipinya yang mulai merona. Seperti tersadar, ia pun menyerahkan kue yang masih ada ditangannya pada Changmin yang beruntung tidak rusak karena pelukan mereka beberapa saat lalu.

Aigoo, kenapa kuenya kecil begini, Kyu?” Protesnya setelah melihat wujud kue ulang tahun pemberian kekasih manis dan imutnya. “Apa kau membuatnya sendiri,  chagi?” Tanyanya dengan wajah berbinar.

Baiklah, Ia sudah tidak terlalu mempermasalahkan bentuk dan rupa kue-nya, namun setidaknya ia akan sangat senang  jika kue imut tersebut dibuat khusus oleh Kyuhyun dengan penuh cinta untuknya.

Dan harapan Changmin seketika terpupus ketika ia melihat Kyuhyun yang menggeleng.

Aniyo, aku membelinya di bakery kemarin, Min.” Jawabnya dengan wajah tak berdosa yang membuat perasaan Changmin serasa dipukul dengan godam keras.

Ia tahu Kyuhyun bukan tipe kekasih yang romantis, tapi tidak bisakah ia sedikit berbohong  untuk menyenangkan perasaannya? Setidaknya untuk saat ini di hari ulang tahunnya.

Ia menatap Kyuhyun dengan ekspresi datar sesaat sebelum ia benar-benar menjatuhkan  tubuhnya kembali dan bersembunyi dalam selimut. Mengindikasikan jika pria bersuara tinggi   itu tengah merajuk. Kyuhyun hanya tersenyum jahil melihat maknae yang berpredikat dewasa dan berkharisma itu merajuk laiknya anak kecil.

“Minnie~” Panggilnya dengan nada manja dengan menindih tubuh yang tertutup selimut  tebal. Ia berusaha menahan tawanya menghadapi sifat kekanakan kekasihnya yang mulai kambuh.

“Shim Chwang, mianhe aku tidak membuat kue itu sendiri. Kemarin aku sibuk dan tidak sempat untuk belajar membuat kue pada Wookie.” Kyuhyun menarik-narik selimut yang menutupi  tubuh jangkung Changmin. Namun sama sekali tak membuahkan apapun. Changmin sama sekali tak bergeming.

Kyuhyun menghela nafas.

“Sebagai hadiah ulang tahun dan permintaan maafku, aku akan menemanimu selama seharian ini dan menuruti apapun permintaanmu. Bagaimana?” Ia mulai membujuk.

Sebenarnya selain kejutan beberapa saat lalu yang berakhir dengan merajuknya Changmin  kali ini, ia memang telah merencanakan untuk menghabiskan waktunya seharian penuh dengan  sang kekasih. Menemani apapun aktifitas pria berwajah kekanakan itu. Beruntung hari ini ia  jobless sehingga rencananya itu bisa terrealisasi.

Srak!

Dengan cepat selimut bermotif star wars itupun tersingkap. Menampilkan wajah Changmin yang menatap lekat ke manik mata coklat milik Kyuhyun.

“Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan, Kyu?” Tanya Changmin dengan nada mengintimidasi. Ia sedikit ragu dengan apa yang diucapkan Kyuhyun. Bukan kali ini saja ia dijanjikan sesuatu oleh Kyuhyun dan kebanyakan diantaranya tidak ditepati.

Kyuhyun mengangguk mengiyakan yang menghasilkan seringaian mengerikan dari bibir lebar milik Changmin. Ah, mood-nya seketika langsung membaik. Membayangkan selama seharian ini ia akan ditemani oleh Kyuhyun saja telah membuatnya sangat senang. Apalagi dengan Kyuhyun yang menjanjikan akan menuruti apapun permintaannya.

Dan hal pertama yang terlintas dalam benaknya adalah…

“Kalau begitu, apa aku boleh meminta jatah-ku…?”

Pintanya tanpa basa-basi yang membuat Kyuhyun mendelik kearahnya.

Hey, jangan anggap ia mesum. Bukankah suatu hal yang lumrah jika ia yang telah lebih dari satu bulan tidak menyentuh kekasihnya itu kini meminta ‘jatah’ darinya? Berterima kasihlah pada jadwal promosi album terbarunya serta sederet jadwal Kyuhyun yang membuat ia dan kekasihnya  menjadi sangat jarang menghabiskan waktu bersama.

Wajah Kyuhyun seketika memerah mendengar pertanyaan tersebut.

“A..apa yang kau katakan, Chwang? Bicaralah yang jelas!” Sahut Kyuhyun dengan gugup dan tatapannya yang menghindar dari intimidasi Changmin.

Seringaian Changmin semakin melebar, “Kau sangat tahu apa yang aku maksud…”

Kyuhyun baru saja akan bangkit dari posisinya yang dengan sigap ditahan oleh satu tangan Changmin yang menahan pinggangnya. Dan ia merasakan tangan berotot milik Changmin mulai bergerak menyusup dan mengusap ke area privatnya dari balik selimut.

“Miinh~”

“Minnie junior sangat merindukan kehangatan rumahnya, baby…” Bisik Changmin  seduktif tepat ditelinga Kyuhyun. Mengirimkan impuls dan rangsangan pada seluruh tubuh pria Cho yang menggeliat geli.

Dan dalam hitungan menit, kesunyian kamar Changmin pun tergantikan dengan suara-suara kenikmatan dari aktifitas pagi mereka.

*

“Simpan dulu PSP-mu untuk sementara, baby.” Kyuhyun mendelik kearah Changmin yang memanggilnya dengan penggilan sayangnya.

Sebenarnya panggilan baby bukanlah hal yang asing lagi baginya mengingat telah ratusan kali Changmin memanggilnya dengan panggilan yang serupa. Tapi entah kenapa ia tidak begitu menyukai jika Changmin memanggil dirinya baby jika didepan umum. Tapi toh pria tinggi itu tetap saja akan memanggilnya baby.

Saat ini mereka berdua tengah berada di studio MBC. Hari ini TVXQ memiliki jadwal pertama untuk recording Music Core untuk panggung Something mereka. Dan sesuai janjinya tadi pagi, Kyuhyun pun dengan setia menemani pria berwajah kekanakan itu.

Menuruti permintaan Changmin, ia yang semenjak berada di mobil tadi terus sibuk dengan PSP-nya itu segera mematikan benda yang ia anggap sebagai belahan jiwanya, selain Changmin tentunya.

Beberapa orang staff tersenyum dan sesekali menyapa mereka berdua ketika saling berpapasan. Bahkan beberapa diantara mereka mengucapkan selamat ulang tahun untuk Changmin.

“Aku kira kau lupa jalan menuju gedung MBC, Shim Changmin.”

Ucapan sarkatik tersebut terucap dari bibir sang leader ketika Changmin dan Kyuhyun menginjakkan kaki di ruang ganti TVXQ.

“Setidaknya aku tidak lupa membawa access card kantor SM dan menjadi bahan lelucon para  Cassieopeia, Jung Yunho.” Balas Changmin lebih sarkatik yang membuahkan kikikan  dari Kyuhyun dan beberapa back dancer mereka yang tengah mempersiapkan diri.

Yunho mendesis kesal mendengar ledekan maknae-nya.

Changmin menyeringai. Ia pun menuju meja rias dan bersiap untuk di make-up sebelum ia mengecup singkat pipi gembil Kyuhyun.

“Eoh, Kyu. Kau datang menemani kekasih setanmu itu?” Sapa Yunho yang telah selesai di make-up seraya mendudukkan diri disisi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan leader berkharisma itu, “Anyeong hyung. Lama tidak bertemu…” Sapanya ramah. Bagaimanapun Yunho merupakan hyung dan sunbae yang sangat ia segani.

“Baik. Lama tidak bertemu kau bertambah manis saja, Kyuhyun-ah.” Puji Yunho dengan mengacak rambut Kyuhyun gemas.

Wajah Kyuhyun sedikit bersemu diperlakukan seperti itu oleh Yunho. Manusia mana yang   tidak akan merasa malu dan senang jika dipuji oleh seseorang? Terlebih jika seseorang  itu adalah orang yang kau segani.

Tanpa mereka sadari, terdapat sepasang mata tajam yang terus mengawasi mereka dari pantulan cermin yang ada dihadapannya.

“Ya! Jung Yunho! Jangan kau coba-coba berani menyentuh apalagi menggoda Kyuhyun-ku!” Pekiknya memperingatkan sang leader yang kini tampak menyeringai kearahnya.

Baiklah, Changmin akui jika ia adalah seorang yang posesif. Ia tidak akan membiarkan apa yang menjadi miliknya diusik atau disentuh oleh orang lain selain dirinya. Dan melihat Yunho yang menyentuh Kyuhyun yang notabenenya adalah kekasihnya bukanlah hal yang ia sukai.

Anggap saja ia berlebihan. Tapi, bukan tanpa alasan ia bersikap seperti itu pada Kyuhyun. Kyuhyun-nya terlalu menarik perhatian orang lain. Salahkan pada wajah Kyuhyun yang sangat manis dan pembawaannya yang bersahabat.

Hingga karena hal tersebut tak jarang membuatnya cemburu. Sudah terlalu banyak pria dan wanita yang dipasangkan dengan kekasih manisnya itu baik dalam fanfiksi ataupun kehidupan nyata.

Dan satu diantara fanfiksi yang pernah ia baca adalah Kyuhyun-nya dipasangkan dengan   leader kebanggaannya, Jung Yunho!

Adakalanya sebuah fiksi terilhami dan berpengaruh dalam kehidupan nyata. Jadi  jangan salahkan dirinya yang mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk jika kekasihnya akan berselingkuh dengan hyung-nya itu. Terlebih saat melihat Kyuhyun-nya tersipu malu dengan skinship yang dilakukan dengan Yunho.

Yunho menyeringai. Dengan sengaja ia pun merangkul pundak Kyuhyun dan  menariknya kedalam pelukannya.

“KAU BOSAN HIDUP JUNG YUNHO!”

*

“Yunho-ssi, Changmin-ssi. Bersiaplah. Sepuluh menit lagi kalian akan naik ke panggung.” Ucap salah seorang staff memberitahu Yunho dan Changmin yang memang telah bersiap.

Para dancer terlihat tengah melakukan stretching didalam ruang ganti mereka. Begitupun Yunho.

“Minnie, menunduklah sebentar.” Pinta Kyuhyun tiba-tiba pada Changmin yang tengah memasang michrophone-nya.

“Ada apa, Kyu?” Meski heran, Changmin pun tetap menuruti permintaan Kyuhyun untuk menunduk sedikit dihadapan Kyuhyun.

“Rambutmu terlihat sedikit berantakan, Minnie.”

Lagi, perasaan Changmin terasa berdesir menyadari perhatian Kyuhyun yang kini tengah merapikan rambutnya yang memanjang. Banyak orang bahkan fans-nya sekalipun yang protes dengan model rambutnya saat ini.

Namun Kyuhyun tak pernah ambil pusing dengan bagaimanapun model rambutnya. Sebab menurutnya ia tetap terlihat tampan dimatanya. Betapa Changmin sangat bahagia ketika mendengar komentar tersebut ketika ia meminta pendapat Kyuhyun mengenai model   rambut apa yang terlihat cocok baginya.

“Kau tak perlu repot-repot merapikan rambut berantakannya itu, Kyuhyun-ah.”

“Diam kau, hyung. Bilang saja kau iri padaku yang memiliki calon istri idaman seperti Kyuhyun.” Sela Changmin puas. Sepertinya ia masih memiliki dendam pada leader-nya yang beberapa saat lalu berani memeluk Kyuhyun.

Plak!

“Aww, Kyu. Kenapa memukul kepalaku?” Erang Changmin saat ia merasakan jitakan Kyuhyun dikepalanya.

“Jangan berbicara sembarangan, Shim. Siapa yang mau jadi istrimu, tiang?”

“Tentu saja kau, Kyu baby. Kau kan calon istri dan pendamping hidupku dimasa depan kelak.”

Sontak saja jawaban Changmin membuat Kyuhyun malu dan salah tingkah. Changmin tersenyum melihat reaksi pria berkulit pucat dihadapannya yang membuat kadar kemanisannya makin meningkat. Ia pun menyentuh dagu Kyuhyun untuk mendongak menatapnya dan mengusap pipi Kyuhyun yang merona.

Ia baru saja akan mendaratkan ciumannya pada bibir Kyuhyun yang selalu menggodanya saat suara berat Yunho menginterupsi pergerakannya.

“Berhenti menggombal dan berbuat mesum, Changmin-ah. Begegaslah ke panggung. Cassieopeia sudah menunggu kita.”

Changmin mendecih karena kegiatannya diganggu. Namun tak urung ia pun menuruti instruksi sang leader dengan sebelumnya mencuri kecupan kecil dibibir Kyuhyun.

*

          Changmin merebahkan tubuh Kyuhyun dengan hati-hati di tempat tidur miliknya. Menempatkan pria yang ia cintai itu untuk mengistirahatkan dirinya dalam posisi senyaman mungkin.

Ia mengamati wajah damai Kyuhyun yang terlelap. Mungkin karena terlalu lelah dengan aktifitasnya hari ini, membuat Kyuhyun tertidur dengan sangat nyenyak.

Kyuhyun menepati janjinya sepenuhnya hari ini untuk menemaninya seharian. Dimulai dari recording-nya di MBC, melakukan syuting interview tentang drama yang akan ia bintangi, melakukan pemotretan disebuah majalah hingga merayakan pesta ulang tahunnya hingga larut  bersama beberapa temannya bebrapa saat lalu pun Kyuhyun selalu berada di sisinya.

Dan mungkin karena terlalu lelah, Kyuhyun bahkan tertidur didalam mobil saat mereka menuju perjalanan pulang.

Disamping rasa bahagianya hari ini, ada sedikit rasa bersalah karena membuat kyuhyun-nya kelelahan. Namun ia sangat memanfaatkan waktu berharganya dengan kekasihnya yang mulai jarang ia dapatkan karena kesibukan mereka masing-masing itu.

Ia mengamati wajah terlelap Kyuhyun yang terasa sangat damai. Tak terdeskripsikan  lagi betapa bahagianya ia memiliki Kyuhyun disisinya. Sosok yang selama ini menjadi sandaran untuknya saat ia terpuruk. Sosok yang menjadi penyemangatnya ketika ia merasa berputus asa serta sosok yang selama ini menjadi tempatnya mencurahkan segenap cinta dan kasih sayang yang ia miliki. Ia sangat mencintai Kyuhyun. Ia bahkan tak pernah sanggup membayangkan bagaimana kehidupannya dimasa depan jika tak ada Kyuhyun disisinya.

Betapa ia sangat bersyukur pada Tuhan karena telah memberikan sosok sesempurna Kyuhyun dalam kehidupannya.

Ia membelai rambut Kyuhyun sayang seraya mengecup kening pria tersbut dengan dalam,

“Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku. Kau adalah hadiah teragung yang  Tuhan kirimkan padaku.”

Changkyu hsppy birthday

Fanfiksi ini aku dedikasikan  untuk ulang tahun Changmin meskipun telat (-_-!)

Happy birthday precious prince Changmin ❤