Fading the Darkness – Chapter 3

Fading the darkness Changkyu Khunkyu

Tittle       : Fading the Darkness

Starring : Cho Kyuhyun , Shim Changmin, Nickhun Horvejkul

Co-Star   : Xi Luhan, Park Yoochun, Lee Donghae, Son Dongwoon.

Pair         : ChangKyu (MinKyu), KhunKyu.

Genre     : BL, Fantasy, Romance, Angst.

Rate        : T+

Disclaimer : Karakter tokoh dalam cerita ini diambil dari mitos Vampire dan Dhampir yang berkembang dalam masyarakat. Serta berdasarkan kisah fantasi Twilight untuk penggunaan beberapa istilah dan kemampuan tokoh. Sementara untuk konflik dan jalan cerita bersifat fiktif belaka yang murni berasal dari imajinasi saya.

Warning : Typo(es), Don’t Like = Don’t Read.

Preview

…Namun, sepersekian detik kemudian, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya.

*

         Wajah itu tampak pucat. Semakin pucat dengan raut wajahnya yang sayu karena kelelahan. Meskipun dengan kondisi tubuh seperti itu, ia dapat menangkap sorot kebencian yang terpancar saat mata merah yang semakin meredup itu bertemu pandang dengannya.

Tanpa sadar, ia menurunkan tangannya yang pada awalnya tengah menghunuskan katana.Perlahan ia pun melangkahkan kakinya, mencoba mendekati makhluk immortal yang berada tak jauh dari hadapannya.

Aaarrghh!”

Changmin tersentak kala ia mendengar jeritan menggema, membelah kesunyian malam yang mencekam. Itu suara Dongwoon. Pendengarannya dapat menangkap sumber suara yang berasal dari arah barat hutan, tempat Dongwoon memilih untuk berpencar dalam perburuanmereka malamini.

Beberapa detik iabergemingditempatnya. Belum berniat menuju suara jeritan Dongwoon. Ia masih saja terpaku, memperhatikan sosok sejenis berkulit pucat tersebut yang tengah bangkit secara perlahan. Ia dapat melihat kontur wajah makhluk yang berjarak tak lebih dari 10 meter dihadapannya dengan jelas. Tak dapat dipungkiri jika ia sedikit terpukau pada makhluk tersebut. Terlebih ketika wajah itu tertimpa sinar bulan melalui celah pepohonan yang membuatnya bak sesosok muse. Sama sekali tak bercela.

“Aarrgh!”

Changmin mengepalkan tangannya demi mendengar jeritan penuh kesakitan itu terdengar kembali. Perasaan khawatirnya akan sang adik mengalahkan rasa egonya yang menginginkan untuk tetap memperhatikan Vampire dihadapannya. Dalam sekejap mata, ia pun segera melesat kearah barat berusaha menyelamatkan Dongwoon. Firasatnya mengatakan jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada saudaranya itu.

Namun, sebelum langkahnya benar-benar menjauh, ia masih sempat menoleh ke belakang. Retinanya menangkap refleksi makhluk yang sesekali terbatuk dengan tubuh yang terlihat limbung dan nyaris terjatuh. Tubuh kurus itu menjadikan pohon di depannya sebagai alat bantunya untuk berdiri.

Keraguan kembali menyelimuti hatinya. Langkahnya seperti terasa enggan meninggalkan tempat tersebut. Nalurinya memerintahkan ia untuk berbalikdan kembali mendekati makhluk berkulit pucat tersebut. Namun akal sehatnya berkehendak lain yangberujung pada mengabaikan kata hatinya dengan memilih untuk menyelamatkan saudaranya.

***

        Meskipun gelap, namun kondisi tersebut sama sekali tidak menyulitkan Changmin untuk menemukan keberadaan Dongwoon. Insting dan ketajaman indera yang dimiliki bangsanya membuat ia mampu mempertahankan diri dan beradaptasi dalam keadaan apapun.

“Dongwoon-ah!”

Changmin memekik ketika menangkap sesosok tubuh yang tengah tergeletak dan menggeliat kasar ditanah. Ia menghampiri Dongwoon dan meraih tubuh sang adik ke pangkuannya.

“Dongwoon-ah!” Changmin menggoncangkan tubuh yang masih menggeliat tersebut. Ia memeriksa tangan Dongwoon dan menemukan luka bekas gigitan berwarna hitam tercetak jelas di pergelangan tangannya. Ia menggeram penuh amarah ketika mengetahui jika Dongwoon baru saja digigit oleh Vampire dan menyalurkan racun kedalam tubuhnya.

“Arrgh! Ha..aargh! Pa..nass! Arrgh!” Tubuh Dongwoon bergetar hebat kala ia merasakan panas menjalar ke seluruh persendian tubuhnya. Organ tubuhnya terasa terbakar bersamaan dengan racun yang mengalir dalam darahnya.

Changmin merogoh saku dibalik zirah yang ia kenakan untuk mencari penawar racun yang selalu ia bawa dalam perburuan. Dengan sedikit panik, ia membuka botol yang tak lebih besar dari ukuran ibu jari itu dan meminumkannya pada Dongwoon.

“Buka mulutmu!”

Meskipun dalam masa transisinya, Dongwoon masih dapat mendengar suara Changmin dan menuruti perintah hyung-nya itu. Dengan susah payah ia meneguk cairan penawar tersebut. Rasa panas yang ia rasakan berangsur menurun ketika penawar yang ia minum telah mengalir ditubuhnya.

Namun, selanjutnya ia mengerang tertahan ketika rasa sakit yang lain terasa mencekiknya hingga ia memuntahkan cairan pekat berwarna hitam dari mulutnya.Selepas itu, tubuhnya melemas laluberangsur-angsur ia mulaikehilangan kesadarannya secara total.

***

“Terima kasih, Nickhun.”

Seseorang yang dipanggil Nickhun itupun menolehkan perhatiannya pada seseorang lain yang tengah duduk di tepi tempat tidur.

Heika..” Gumam Nickhun tak mengerti dengan ucapan terima kasih sang raja muda yang baru saja ia ucapkan.

Yoochun, sang Heika, tak menghiraukan keheranan kensei-nya. Pandangannya masih saja terpaku pada sosok adiknya yang masih tak sadarkan diri di pembaringan. Tatapannya tampak kosong meskipun arah pandangnya jelas tertuju pada sang adik.

“Terima kasih untuk pengabdian dan kesetiaanmu selama ini pada kami.” Ucapnya lirih.

Ia tahu jika sekedar ucapan terima kasih pun tak mampu untuk membalas semua pengabdian dan jasa sang kensei pada keluarganya. Sudah lebih dari 3 abad pasca penyerangan Vampire Hunter dan Dhampire yang membuat Ayah dan kerajaannya tumbang.

Dulunya, Nickhun merupakan kensei dan salah satu orang kepercayaan Ayahnya yang mengabdi pada Cho Kingdom bahkan sejak ia masih menjadi Vampire hijau. Dimasa lalu, Nickhun hanyalah seorang manusia biasa yang menjadi bagian dari pasukan perang khusus sebuah militer dalam perang Balkan. Ia yang kala itu tengah sekarat karena tertembak pihak lawan, ‘diselamatkan’ oleh Cho Nam Gil yang seorang Vampire dimana pada saat itu bertugas sebagai dokter di barak militer.

Sebagai balas budinya, ia yang pada saat itu baru berusia 20 tahun pun memutuskan untuk patuh dan menghormati Nam Gil, sosok yang telah ia anggap sebagai Ayahnya sendiri.

Meski ratusan tahun telah berlalu, namun kesetiaannya sama sekali tak berkurang hingga saat ini pun ia masih tetap menjadi bagian dari keluarga Cho. Hingga kerajaannya kini telah tumbuh dan berkembang sebagai generasi baru penerus Cho Kingdom dimasa lalu.

“..dan juga untukmu yang telah menyelamatkan adikku untuk yang kesekian kalinya.”

Kejadian penyelamatan Kyuhyun beberapa saat lalu bukanlah untuk pertama kalinya bagi Nickhun. Dimasa lalu, dengan sifat pembangkang Kyuhyun,sang pangeran itu pernah memasuki area terlarang pada wilayah perjanjian antara bangsa Vampire dan Werewolf. Membuat Kyuhyun yang pada saat itu hanya seorang diri, kemudian diserang dan ditawan oleh kawanan manusia serigala yang hingga atas perintah Yoochun, Nickhun beserta pasukannya datang membebaskan Kyuhyun dan meminta maaf pada tetua kawanan Werewolf atas kelancangan sang Pangeran.

Dan beberapa saat lalu, Nickhun melakukan hal serupa meskipun dalam situasi yang berbeda. Vampire rupawan tersebut kembali menyelamatkan Kyuhyun. Ia yang pada awalnya membiarkan Kyuhyun melampiaskan emosinya dengan lari dari istana atas teguran Yoochun pun memilih untuk segera menyusulnya bersama Luhan. Ia merasakam sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada pangeran yang ia cintai.

Kekhawatirannya pun berwujud nyata saat ia mencium aroma makhluk dengan percampuran darah Manusia dan Vampire terjangkau dari indera penciumannya yang tajam. Terlebih saat ia mendapati keadaan Kyuhyun yang seperti siap dimusnahkan oleh sang Dhampir.

Sebelum itu, Ia yang memang mengetahui jika terdapat lebih dari satu Dhampir disekitar mereka pun memerintahkan Luhan untuk menyerang dan mengecoh salah seorang Dhampir yang berada di area barat. Sementara ia sendiri kearah timur dimana ia dapat merasakan aroma Kyuhyun dan Dhampir yang sangat ia kenali menguar.

Ia nyaris saja menyerang makhluk tinggi yang ada dihadapan Kyuhyun yang terlihat kehabisan energi ketika ia mendengar jerit penuh kesakitan terdengar dari arah barat.

Ia tahu jika Luhan telah berhasil menyelesaikan tugasnya.

“Sudah kewajiban saya untuk mengabdi pada kerajaan serta menjaga Kyuhyun-sama, heika.” Ucapnya seraya menundukan kepala sebagai rasa hormat.

Yoochun bangkit berdiri dan menatap Nickhun. Ia tersenyum bangga pada pria yang secara teknis, usianya lebih muda beberapa tahun darinya.

“Kau memang selalu dapat diandalkan, Nickhun.” Ucap Yoochun memanggil nama asli sang Kensei. Nickhun yang semenjak beberapa saat lalu menunduk pun mulai mengangkat wajahnya dan memandang lawan bicaranya yang kini tengah tersenyum hangat padanya. Pria yang berdiri dihadapannya kini bukan bertindak sebagai seorang Raja yang mesti ia hormati, melainkan menjelma menjadi sosok seorang sahabat yang saling menopang satu sama lain.

Hyung..”

“Ah, mungkin lebih baik aku kembali ke kamarku. Kau pasti ingin menunggu dan menemani Kyuhyun hingga ia siuman, bukan?” Tanyanya seraya menepuk bahu Nickhun dan tersenyum ambigu yang membuat si lawan bicara merasa bingung.

Nickhun masih sibuk menerka maksud dari senyuman Yoochun hingga ia tidak menyadari pria tersebut berlalu meninggalkan dirinya yang masih berdiri mematung.

“Oh, Nickhun.” Yoochun memanggil Nickhun ketika ia telah berada diambang pintu kamar Kyuhyun.

“Ya, hyung?”

“Setelah Kyuhyun siuman, jangan lupa beritahukan pada seluruh penghuni kastil untuk mempersiapkan upacara penyambutan kedatangan King Kingdom besok.” Pintanya sebelum sosoknya perlahan mengabur dari pandangan Nickhun yang belum sempat menjawab perintah Yoochun.

Sepeninggal Yoochun, pria bertubuh atletis itupun menumbukkan pandangannya pada sosok Kyuhyun yang masih belum sadar. Ia kemudian mendudukkan dirinya di tepi ranjang tempat Yoochun duduk beberapa saat lalu. Mata tajamnya tak pernah lepas memandang wajah Kyuhyun. Menatapi kontur wajahnya yang rupawan yang membuat ia jatuh hati pada junjungan dan adik angkatnya sendiri.

*

“Ayaaahh~”

Rombongan pria berjubah hitam yang baru saja menginjakan kakinya dibalai kastil pun tersenyum ketika mereka dikejutkan dengan suara nyaring yang menyambut mereka. Tak terkecuali salah seorang pria yang berada paling depan dirombongan tersebut.

Pria tersebut pun segera menyongsong bocah kecil yang baru saja memanggil dan berlari kearahnya. Menggendong dan memeluknya dengan erat.

“Ayah kenapa lama sekali pulangnya?” Tanya bocah tersebut dengan mimik kesal yang terlihat sangat menggemaskan. Membuat Nam Gil, sang Ayah mencium pipi putranya dengan gemas.

“Maafkan Ayah. Ayah janji tidak akan meninggalkanmu lagi selama ini.” Nam Gil mencoba menjelaskan pada Kyuhyun, putra bungsunya. Bukan tanpa alasan ia harus rela meninggalkan keluarga dan kastilnya selama lebih dari 3 bulan. Waktu yang cukup lama baginya dan rombongannya habiskan hanya untuk sekedar ‘berburu’ dan melakukan pertemuan dengan King Kingdom.

“Kau merindukan Ayah, nak?” Nam Gil menatap wajah Kyuhyun lekat.

“Nng.” Kyuhyun menganggukkan kepalanya, “tapi sayangnya aku lebih merindukan Nickhun hyung, Ayah.” Jawab Kyuhyun polos seraya melongokkan kepalanya dari sisi bahu sang Ayah untuk mencuri pandang kearah seseorang.

Pemuda yang baru saja disebut namanya oleh sang Pangeran pun mendongakan kepalanya. Tersenyum ketika arah pandangnya bertemu dengan Kyuhyun yang juga menatapnya.

Tak lama kemudian, Kyuhyun pun segera meronta turun dari gendongan sang Ayah dan berlari memeluk kedua kaki Nickhun yang jauh lebih tinggi darinya. Nickhun yang mendapat perlakuan tersebut terenyum dan mengangguk sekilas pada Nam Gil layaknya meminta izin yang dibalas hal serupa oleh Raja Cho tersebut sebelum ia berlalu masuk meninggalkan putra dan kensei-nya.

Nickhun pun berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Kyuhyun yang segera disambut dengan pelukan erat dari Vampire kecil dihadapannya.

“Aku merindukanmu, Hyung. Hehe..” Kekeh Kyuhyun seraya memeluk erat leher pemuda kepercayaan Ayahnya.

Hati Nickhun berdesir kala ia merasakan tubuh kecil Kyuhyun dalam dekapannya. Perasaan abstrak yang serupa tiap kali ia berdekatan ataupun melakukan kontak fisik dengan Kyuhyun. Terlebih ketika ia mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan sang Pangeran dengan kekehan polosnya.

“Saya juga merindukan anda, Kyuhyun-sama.” Jawab Nickhun membelai punggung Kyuhyun yang berada dalam rengkuhannya.

“Kau tahu, hyung?” Sontak Kyuhyun melepaskan diri dari pelukan Nickhun, “Selama kau pergi dengan Ayah, aku tidak memiliki teman disini. Yoochun hyung terlalu sibuk dengan pasukan berperangnya. Aku bermain sendiri, makan sendiri, belajar di perpustakaan sendiri dan latihan pun juga sendirian. Menyebalkan.” Ia merajuk dengan ekspresi sebal.

Nickhun berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Kyuhyun. Menahan diri untuk tidak mencium bibir tipis yang tengah mengerucut lucu dihadapannya. Ia tak menyangka jika kepergiannya selama ini membuat Kyuhyun merasa tak senang yang berakhir dengan rajukan putra bungsu sang Raja. Kebiasaannya yang selalu mendampingi kegiatan Kyuhyun sehari-hari lah yang membuat ia menjadi dekat dan ketergantungan padanya. Kesempatan yang sangat ia syukuri karena dengan kebiasaannya tersebut membuat ia selalu dekat dan merasa dibutuhkan oleh Kyuhyun.

“Maafkan saya, Kyuhyun-sama. Sebagai permintaan maaf, saya berjanji akan menuruti apapun permintaan anda.”

Manik mata Kyuhyun berkilat demi mendengar janji Nickhun yang terdengar sangat menguntungkan baginya, “Sungguh?” tanyanya meyakinkan yang dibalas anggukkan Nickhun.

“Karena kau seorang kensei yang kuat, berjanjilah padaku untuk selalu melindungi kami semua. Aku, Ayah, Yoochun hyung dan semua yang ada dalam Cho Kingdom.”

*

“Pergi dari hadapanku!”

“Kyuhyun-sama..”

“Pergi! Karena kaulah yang membawa kami pergi dari kerajaan sehingga aku dan Yoochun hyung tidak bisa membantu Ayah untuk berperang! Karena kau lah Ayah terbunuh oleh makhluk setengah Vampire yang menyerang kerajaanku!”

“….”

“Aku tak mau melihat wajah seorang pengkhianat sepertimu!”

 

***

    Changmin menggeliatkan tubuhnya guna merelaksasikan persendiannya. Duduk dan berdiam diri didepan komputer selama lebih dari 5 jam membuat tubuhnya terasa kaku. Jika bukan karena tesisnya yang terbengkalai selama ini, mungkin ia akan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat letih.

Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat duduk. Menghela nafasnya sebelum ia memejamkan mata.

*

…Ia yang kala itu tengah berburu dengan Dongwon yang tengah berpencar dengannya tiba-tiba mencium sebuah aroma yang tak lagi asing baginya. Aroma tersebut adalah aroma yang sama dengan aroma yang ia temui di tepi sungai beberapa waktu lalu.

Menuruti instingnya, ia pun berlari. Melesat menuju arah aroma demi tidak ingin mangsanya lolos unuk yang kesekian kalinya. Dan seringaiannya muncul ketika ia melihat sesosok tubuh yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri.

Adrenalinnya terasa melonjak naik ketika mata bulatnya menangkap sesosok tubuh yang tergeletak diantara reruntuhan pohon. Salah satu tangannya telah menggenggam Katana peraknya yang bersiap menghunus si Vampire yang tergeletak.

Namun, sepersekian detik berikutnya, gerakan tangannya terhenti ketika ia mendapati calon buruannya perlahan menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang ditimpa sinar bulan. Nafasnya tercekat. Darahnya terasa mengalir deras dengan dipompa oleh jantungnya yang berdetak keras.

Beberapa detik ia bergeming ditempat demi pandangan matanya yang bertemu dengan bola mata sewarna merah gelap itu. Bola mata yang seolah menariknya ke dimensi lain. Dimensi dimana ia melihat cahaya yang begitu terang. Cahaya yang menariknya dari kegelapan yang selama ini meligkupi diri dan kehidupannya.

*

Kelopak mata Changmin terbuka ketika ia merasakan bahunya disentuh pelan oleh seseorang.

“Aku pikir kau tertidur.”

Pria tinggi itu menggeleng pelan menanggapi pertanyaan seseorang yang kini berdiri disisinya.

“Bagaimana keadaan Dongwoon, hyung?”

Donghae membaringkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur Changmin, “Dia masih tertidur. Kurasa dia masih lemas karena efek penawar yang kau berikan.”

Changmin menegakan posisi duduknya kembali tanpa berniat menanggapi jawaban pria yang lebih tua beberapa tahun darinya. Ia memilih menyibukan perhatiannya pada layar komputer yang tengah menampilkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

“Dasar ceroboh. Bagaimana bisa ia tak sadar saat silver bracelet-nya hilang? Tsk.” Donghae mendecih mengolok adiknya yang masih tertidur dikamarnya. Pasalnya, karena kecerobohannya yang tidak sadar saat ‘gelang pelindung’-nya hilang itulah nyawanya nyaris melayang. Beruntung Changmin segera datang dan memberikannya penawar.

Changmin masih saja terdiam beberapa saat sebelum ia memecah keheningan dengan memanggil Donghae.

Hyung..”

“Ya?”

“Apa yang kau rasakan saat kau bertemu dengan Eunhyuk hyung?”

“Apa?!” Doghae terkejut dengan pertanyaan aneh dari sahabatnya. Ia bahkan sampai terlonjak dan mendudukkan tubuhnya karena terkejut. Tidak biasanya ia menanyakan Eunhyuk, kekasihnya. Changmin bukanlah tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Terlebih yang menyangkut dengan kehidupan pribadi.

“Eunhyuk…Glad-mu.” Ucap Changmin memperjelas maksud pertanyaannya. Meskipun begitu, ia sama sekali tak mengubah posisi tubuhnya yang duduk membelakangi Donghae.

“Hey! Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu Changmin-ah? Apa kau sudah bertemu dengan Glad-mu? Siapa dia? Apa dia seorang manusia seperti Eunhyuk? Atau makhluk seperti kita juga?” berondong Donghae yang langsung menghampiri Changmin dan duduk di sudut meja belajar.

“Kau hanya perlu menjawab satu pertanyaanku saja, hyung.” Changmin menjawab dengan menekankan intonasinya pada kata ‘satu’.

Donghae memutar bola matanya malas mendengar kalimat sarkatik tersebut.

“Tapi kau harus menjawab pertanyaanku tadi jika aku telah menjawab pertanyaanmu. Deal?”

“Hhm.”

‘Dinginnya..’ Donghae membatin. Namun tak urung ia pun menjawab pertanyaan Changmin tentang Glad.

“Aku bertemu Eunhyuk ketika aku mengantarkan Bibi Goo ke Rumah sakit untuk medical check up-nya. Saat itu aku berpapasan dengannya yang sedang mendorong kursi roda milik adiknya yang baru saja kecelakaan. Kau tahu? Ketika aku melihatnya, jantungku terasa berdetak sangat kencang..” Donghae meletakkan tangannya pada bagian dadanya, bersikap seolah tengah merasakan detakan jantungnya ketika ia bertemu sang Glad.

“..darahku terasa mengalir deras hingga membuat tubuhku terasa kebas seperti tak memijak bumi. Sorot matanya membuat jiwaku seperti tertarik dalam dimensi lain yang penuh dengan cahaya yang membuatku terasa enggan untuk kembali dalam kegelapan yang seolah menyendera kita selama ini. Dan yang terpenting ialah, muncul perasaan untuk memuja, melindungi, memiliki, dan memenjarakannya untuk diri kita sendiri..”

Donghae terus saja menceritakan apa yang ia rasakan ketika ia bertemu sang Glad tanpa memperhatikan jika kalimat-kalimatnya itu menimbulkan reaksi ekstrem bagi sang lawan bicara. Tubuh Changmin kini menegang dengan kedua tangannya yang mengepal erat. Mouse dalam genggaman tangannya kini bahkan telah remuk.

‘Perasaan itu..’

changmin beforeu go cap

To be Continue..

Long time no see..

Setelah sekian lama akhirnya bisa update sesuatu juga. Maaf untuk update-an yang superrr lama sampai menjamur T_T

 

Advertisements

Obsession – Teaser

Proloque

 

Apakah suatu saat ia akan melihatku?

Apakah suatu hari nanti ia akan menyadari,

Bahwa selama ini aku ada dan hidup untuk mencintainya?

Apakah ia akan mengerti perasaanku?

 

Sia-sia kuteriakkan cintaku,

Sia-sia ku lindungi harapanku.

Rasanya sungguh menyakitkan,

Ketika cinta pertama tidak pernah menemukanku.

 

Ketika harapanku musnah,

Ketika tak tahu lagi harus bertahan atau pergi,

Satu-satunya yang dapat dilakukan hanyalah berdoa

Meminta padaNya untuk diberi kekuatan dan jalan terbaik

 

Jika nanti suatu hari kita bertemu lagi,

Maukah kau memberiku kesempatan?

Maukah kau setidaknya memberiku satu tanda,

Bahwa penantianku tidak sia-sia..?

 

 

 

The Casts :

 

Cho Kyuhyun

kyuhyun OBS

Choi Minho

choi minho OBS

Shim Changmin

Changmin OBS

Lee Jonghyun

Jonghyun OBS

Yoon Doojoon

Doojoon OBS

Choi Seunghyun (TOP)

TOP OBS

Lee Donghae

Donghae OBS

Ok Taecyeon

Taecyeon OBS

 

 

Jung Yunho

Yunho OBS

 

 

Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi? Akankah akhirnya mereka bersatu?

 

*Cerita multi chapter ini berisikan satu cerita dengan seme yang berbeda-beda di setiap chapternya namun masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

To Be Continued..

Sacrificial Love – Chapter 5

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Sad, Hurt, Angst PG – 13

Cast                 : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary          : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 5

Jonghyun masih menangis keras di atas aspal keras. Udara dingin menyergap tubuhnya yang hanya dibalut baju kaos tipis. Ia enggan bangun dari duduknya, ia bahkan enggan bergerak untuk sekedar pindah ke sisi jalan karena saat ini ia duduk di tengah jalan.

Hatinya terlalu sakit karena ditinggalkan. Seolah ia tidak diinginkan, seolah tiada yang perduli. Ayahnya meninggalkannya, saudara-saudaranya pergi, dan ia sangat amat sadar bahwa ia harus tinggal sebagai tumbal. Jika ia ikut, maka selamanya keluarganya tidak akan pernah tenang. Setidaknya memang ia harus tinggal demi menyelamatkan Shin Hye.

Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya, seiring dengan itu muncul juga ejekan-ejekan lain yang membuatnya berkecil hati. Apa karena ia anak seorang Song Ji Hyo maka ia tidak diinginkan? Apa karena ia pimpinan Cho Corporation maka ia yang harus tinggal? Atau karena ia adalah anak lelaki yang ‘sah’ menurut kakek neneknya maka ia yang harus menanggung semua ini? Bolehkah ia memilih untuk melepaskan semuanya dan tinggal bersama orang-orang yang disayanginya?

Jonghyun masih menangis ketika sebuah tangan hangat memeluknya dari belakang. Sebuah kecupan dalam mendarat di pelipis dan pipi kirinya.

“Jonghyun-ah, uljima.. Omoni disini.”

Jonghyun terkesiap. Dengan cepat ia menoleh ke belakang dan mendapati seraut wajah penuh kasih tersenyum padanya. Wanita cantik yang kini juga menangis itu memeluknya dengan sayang seraya tersenyum padanya.

“Omoni.. Benarkah ini kau? Apakah aku tidak bermimpi?” tanya Jonghyun.

Son Ye Jin kembali memeluk Jonghyun dengan penuh kasih sayang. Ia mempererat pelukannya seolah Jonghyun yang akan pergi.

“Uljima, kami datang kembali untukmu. Cepatlah berdiri sebelum anak buah haraboji datang.” Kata Son ye Jin lagi.

Masih dengan tidak percaya, Jonghyun mengikuti instruksi ibu tirinya. Ternyata ini bukan mimpi, begitu ia dan Ye Jin berdiri dan berbalik, ketiga saudara dan ayahnya berdiri disana.

“Cepat masuk ke mobil. Kurasa sebentar lagi mereka akan tiba disini.” Perintah In Sung dengan waspada.

Ye Jin dan Jonghyun berlari ke mobil. Mhia sudah pindah ke kursi depan sedangkan Shin Hye dan Kyuhyun pindah ke kursi belakang agar Jonghyun dan Ye Jin bisa duduk di tengah. Begitu mereka semua sudah duduk di mobil, In Sung lalu melarikan mobilnya dalam kecepatan tinggi, meninggalkan masa lalu yang menyesakkan di belakang.

*

            Cho In Sung dan keluarganya kini duduk di dalam apartemen kecil milik Yonghwa. Awalnya In Sung berencana tidur di mobil sampai pagi lalu mereka akan bergerak ke tempat lain. In Sung memang meminta Mr. Lee secara diam-diam untuk membantunya dalam melakukan strategi ‘melarikan diri’, dan hanya Jonghyun yang tahu mengenai hal ini diantara saudara-saudaranya. Namun karena teryata In Sung ‘meledak’ sebelum rencananya dan Mr. Lee matang, maka terpaksa mereka harus mencari tempat tinggal sementara.

Dan Kyuhyun memberi saran agar mereka menginap di tempat Yonghwa. Walaupun kecil, setidaknya mereka bisa tinggal dulu untuk sementara. Tentu saja Shin Hye keberatan pada awalnya, karena ia merasa malu. Namun karena mereka tidak punya pilihan lain, akhirnya ia menuruti saran Kyuhyun.

“Yonghwa-ssi, maafkan jika aku dan keluargaku merepotkanmu.” Kata In Sung memulai pembicaraan ketika mereka semua sudah duduk dengan tenang di ruang tengah apartemen itu.

“Tidak.. Sama sekali tidak merepotkan. Aku senang bisa membantu kalian.” Kata Yonghwa dengan hormat. Walaupun Shin Hye telah meninggalkannya, bukan berarti ia bisa melupakan gadis itu begitu saja. Apalagi ia juga akrab dengan ketiga saudara Shin Hye. Membantu keluarga Cho adalah kehormatan besar untuknya.

“Kami akan segera mencari tempat tinggal baru besok. Jadi..”

“Kalian boleh tinggal disini selama kalian mau. Sungguh. Aku senang sekali bisa membantu kalian semua.” Kata Yonghwa memotong perkataan In Sung.

Mereka semua terdiam. Rasa bersalah mengaliri hati mereka. Yonghwa lah yang dicampakkan disini, namun dia juga yang menolong mereka ketika mereka kesusahan. Jonghyun lalu menggenggam tangan Shin Hye dan berusaha mendapatkan kontak mata. Ketika mata mereka bertemu, ia hanya memandang adiknya tanpa ekspresi. Namun Shin Hye mengerti maksud tatapan kakaknya.

“Aboji.. Aku.. Ingin mengatakan.. sesuatu..” kata Shin Hye takut-takut.

“Katakanlah.”

Shin Hye kembali menatap Jonghyun setelah itu, seolah meminta dukungan. Ketika kakaknya itu mengangguk, Shin Hye menarik nafas panjang sebentar lalu melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak pernah mencintai Siwon oppa. Aku melakukannya karena terpaksa. Omoni memaksaku melakukannya karena ia tidak mau melihat Kyuhyun oppa bersama dengan Siwon oppa.”

Wajah In Sung mengeras sedangkan wajah Kyuhyun berpendar merah. Ia malu sekali karena namanya disebut-sebut dalam percakapan ini.

“Omoni berpikir bahwa..”

“Cukup!” ujar In Sung memotong perkataan anak bungsunya itu. “Berhentilah berpura-pura mulai saat ini. Kau bukan lagi tunangan Choi Siwon. Jika ada yang ingin menyanggah, ia harus bicara langsung padaku.”

“Tapi aboji.. Aku melakukannya demi Ye Jin omoni. Omoni akan melukai Ye Jin omoni, Kyuhyun oppa dan Mhia eonni jika aku membantah.” Kata Shin Hye sedikit histeris.

Son Ye Jin sangat paham mengapa Ji Hyo membencinya. Bahkan kebenciannya juga menurun pada Mhia dan Kyuhyun. Semua karena kecemburuannya pada In Sung. Jika saja In Sung mau berlaku adil, mungkin saja Ji Hyo tidak akan bertingkah seperti ini.

“Tidak ada yang bisa memaksamu melakukan keinginanya. Jika kau mencintai Yonghwa, maka kembalilah padanya. Tentukan kebahagiaanmu sendiri. Jangan seperti aboji, merelakan kebahagiaanku sendiri dan menyakiti perasaan orang yang aku cintai hanya karena mengikuti kemauan orang tuaku. Cukup aboji yang merasakannya. Kalian tidak boleh ikut merasakannya.” Kata In Sung dengan tegas.

Son Ye Jin menatap suaminya dengan bangga. Mungkin memang sudah saatnya In Sung bangkit dari sikap penurutnya selama ini. Mungkin memang tekanan terhadap anak-anaknyalah yang bisa membuatnya sadar.

Tiba-tiba ponsel Jonghyun berdering. Ia sangat terkejut melihat nama haraboji-nya tertera disana. Namun sebelum ia menjawab telepon itu, ayahnya sudah merebutnya dan menjawab dengan berani.

“Berhenti menghubungi kami. Jika dulu aboji bisa menguasai aku, bukan berarti aboji juga bisa melakukannya pada Jonghyun. Dia adalah anakku, dan sampai kapanpun aku akan melindunginya dari kalian. Selamat tinggal aboji. Silahkan menuai apa yang pernah aboji tanam selama ini.”

In Sung lalu menutup telepon itu, melepas baterainya, mengambil kartu SIM nya kemudian mematahkannya jadi dua. Ia lalu berpaling pada anggota keluarganya yang lain.

“Lakukan hal yang sama dengan kartu SIM kalian. Bisa jadi kita dilacak kalau terus menggunakan nomor yang sama.”

Semuanya menuruti apa yang dikatakan oleh In Sung dengan cepat, termasukYonghwa. Menurut Kyuhyun, bisa saja anak buah kakeknya mencari Yonghwa lewat nomor ponselnya. Dengan kekuasaannya, hal tersebut bisa saja terjadi.

Ditengah hiruk pikuk itu, Jonghyun terpaku melihat ayahnya. Dengan mata-berkata-kaca ia menapat ayahnya dengan rasa bangga yang meluap-luap di dadanya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendengar ayahnya menyebutnya sebagai ‘anak yang akan dilindungi’. Dan itu sudah cukup, Joghyun tidak butuh tindakan ayahnya yang lebih. Pengakuan tadi sudah cukup membuatnya bahagia, membuatnya merasa diterima di hati ayahnya.

*

            Kyuhyun terpekur di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi matanya tetap tidak bisa terpejam. Ia tidak tahu kenapa matanya tidak mau bekerja sama malam ini. Sudah seminggu mereka melarikan diri dari rumah, memang sampai saat ini mereka aman , tapi menurutnya hal ini hanya keberuntungan semata. Bahkan Yonghwa pun tidak bekerja dulu untuk sementara sampai keadaan mulai membaik. Namun mereka tidak berani bersantai sedikitpun, mereka sangat mengenal Mr. Cho. Jika satu hal kecil yang bisa menimbulkan jejak dimana anggota keluarganya berada muncul di depannya, dalam waktu singkat ia bisa menemukan mereka semua.

Kyuhyun mengarahkan pandangannya ke sekeliling ruangan, semuanya tertidur lelap. Ibunya tidur sambil bersandar di sandaran ranjang. Jonghyun dan Mhia tidur di pangkuannya. Shin Hye dan Yonghwa tidur di sofa lain. Keduanya tampak lelah namun bahagia.

Hanya Kyuhyun yang masih terjaga, juga ayahnya. Ayahnya itu duduk di sofa bersamanya. Bedanya Kyuhyun duduk bermalas-malasan sedangkan ayahnya tampak waspada..

“Kyu.. Tidurlah..” kata In Sung seraya membelai surai Kyuhyun.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak bisa tidur, aboji.”

“Kenapa? Jangan pikirkan hal lain. beristirahatlah. Beberapa hari lagi semua yang telah aboji siapkan akan selesai. Kita semua bisa pergi dari sini dengan tenang.” Kata In Sung meyakinkan.

“Dari Seoul?”

In Sung mengangguk. “Tentu saja. Kita tidak mungkin tinggal di satu kota dengan haraboji-mu jika ia masih saja memaksakan kehendaknya pada kita semua.”

Kyuhyun terdiam. Ia tahu pemikirannya sangat bodoh saat ini. Di saat keluarganya sedang dalam masalah, ia malah memikirkan Siwon. Entahlah, ia merasa setidaknya Siwon harus tahu yang sebenarnya terjadi. Bukankah ia juga korban dalam hal ini? Bukankah ia hanya mengikuti kemuan orang tuanya juga?

“Aboji tahu kau memikirkan Choi Siwon.”

Kyuhyun terkesiap. Sesaat wajahnya berpendar merah. “Eh.. Aku..”

“Aboji sangat mengerti perasaanmu. Tapi kita saat ini tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kita lakukan hanya menunggu. Jika segalanya telah siap, aboji berjanji, kau akan bertemu Siwon sekali lagi dan disitulah kau bisa memutuskan akan kembali padanya atau tidak.”

“Tapi mengapa aku harus..”

“Memilih? Kyu, aboji tahu dengan sangat baik bahwa kau dan Siwon saling mencintai. Aboji tahu permasalahan yang telah kalian alami sebelumnya. Sebagai orang tua, tentunya aboji akan marah jika kau disakiti berulang kali. Tapi sebagai individu bebas, aboji tahu kau sudah dewasa. Kau bebas menentukan yang terbaik untukmu. Jika suatu saat ternyata pilihanmu salah dan kau kembali sakit karenanya, tugas aboji dan omoni bukan menyalahkanmu melainkan membantumu bangkit dari keterpurukan.”

“Memang saat ini aboji belum bisa sepenuhnya menerima Siwon untukmu. Tapi setiap orang punya alasan dalam melakukan sesuatu. Apapun alasannya, Siwon memang bersalah. Tapi bukan berarti ia tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua. Jika kau bisa memaafkannya, kenapa aboji tidak? Hanya saja, aboji minta padamu untuk bersabar. Akan tiba saatnya kau bisa benar-benar memikirkan masa depanmu. Tapi untuk saat ini, pikirkanlah dulu keselamatan keluarga kita.”

Cho In Sung menjelaskan panjang lebar dengan harapan anaknya itu mengerti. Karena ia hanya ingin mereka semua selamat terlebih dahulu baru memikirkan hal lain. Dan ia juga tahu tidak mudah bagi Kyuhyun yang terperangkap dalam kelainan seksualnya untuk menemukan orang yang benar-benar ia cintai dan juga balik mencintainya.

Cho In Sung berjanji dalam hatinya sendiri. Ketika segala sudah membaik, ia akan membebaskan anaknya memilih segalanya yang mereka inginkan. Karena ia tidak ingin menekan mereka, seperti yang dilakukan ayahnya padanya.

“Ne aboji, aku mengerti.” jawab Kyuhyun dengan patuh.

“Aboji lega mendengarnya. Nah sekarang tidurlah.”

“Aboji, bolehkah aku menanyakan satu hal lagi?” tanya Kyuhyun hati-hati.

“Tentu saja, Kyu. Ada apa?”

“Apakah benar aboji membenci Jonghyun dan Shin Hye hanya karena Ji Hyo omoni?”

Cho In Sung menghela nafas sebentar lalu menjawab. “Sebenarnya.. Ya. Bukannya aboji tidak bisa menerima mereka. Aboji sayang pada keduanya, namun aboji ingin berlaku adil walaupun mungkin caranya salah. Mereka berdua selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan, kau dan Mhia tidak. Mereka selalu dimanja dengan kedua orang tuaku, kalian tidak. Mereka selalu diberikan yang terbaik, kalian tidak.”

“Dari kecil, omoni-mu selalu mengajarkan kalian untuk tidak iri dan mensyukuri segala sesuatu yang diberikan pada kalian walaupun yang kalian terima sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka terima. Aboji masih ingat ketika ulang tahunmu dan Jonghyun beberapa tahun lalu. Jonghyun dibelikan mobil sport mewah oleh haraboji-mu, sedangkan kau hanya diberikan mobil biasa, itupun bukan seri terbaru. Tapi lihat, kau sangat mensyukurinya. Bahkan kau tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada omoni-mu yang membelikan mobil itu dari tabungannya selama bertahun-tahun.”

“Kau tahu, sebagai ayah kalian, hatiku sakit sekali. Melihat kedua anakku diperlakukan secara berbeda. Padahal di mataku kalian berdua sama. Hal itu juga terjadi ketika kalian kecil. Ketika kenaikan kelas kalian berdua mendapatkan nilai teratas di kelas masing-masing, Jonghyun mendapatkan satu set mini theater yang ia impikan. Sedangkan kau hanya dibelikan lapotop baru untuk mengerjakan tugas sekolahmu. Itupun aboji yang membelikannya.”

“Kau pasti masih ingat dengan jelas masih banyak hal lain yang membuat kalian sangat berbeda dengan Jonghyun dan Shin Hye. Tapi kalian selalu berbesar hati menerimanya. Karena itulah aboji mencurahkan seluruh kasih sayang pada kalian. Apalagi Jonghyun dan Shin Hye tidak pernah mengeluh karenanya, mereka malah tampak biasa saja seolah nyaman dengan keadaan seperti itu. Dan kini aboji sadar, hal itu salah. Bagaimanapun juga, mereka pasti terluka. Mereka butuh kasih sayang aboji.”

“Sungguh, aboji tidak ingin meninggalkan Jonghyun saat itu. Tapi satu orang harus tinggal disana untuk menjinakkan haraboji-mu. Jika waktunya sudah siap, aboji sendiri yang akan mengambil Jonghyun dari rumah itu. Aboji tidak bisa meninggalkan kau ataupun Mhia disana. Mereka tidak akan menekan Jonghyun seperti menekan aboji dulu. Karena Jonghyun lebih tegas dari aboji, ia pasti bisa bertahan. Saat ini yang harus diselamatkan adalah Shin Hye karena dialah yang akan dinikahkan dengan Siwon atas dasar paksaan.”

“Jadi tolong, jangan salah mengerti. Aboji telah memikirkan semuanya. Inilah jalan keluar terbaik. Namun, ketika omoni-mu memohon malam itu untuk kembali mengambil Jonghyun, aboji sadar bahwa seperti itulah keluarga. Bahagia bersama dan menderita juga bersama. Yang perlu kalian tahu adalah, aboji menyayangi kalian semua. Hanya saja, caranya yang berbeda-beda.”

Tanpa Kyuhyun dan In Sung sadari, sedaritadi Jonghyun mendengarkan dengan baik percakapan mereka. Dan ia kini mengerti segalanya dengan baik. Penjelasan ayahnya memberinya kekuatan baru.

‘Terima kasih aboji.’ Bisiknya dalam hati.

Sementara itu, Kyuhyun jadi berpikir tentang banyak hal tentang keluarganya. Bagaimana nasib mereka jika terus melarikan diri, bagaimana jadinya jika suatu saat mereka tertangkap, bagaimana akhir perjalanan cintanya dengan Siwon. Semua ia pikirkan dengan cermat. Seumur hidupnya belum pernah ia seberani ini, namun melihat wajah keluarganya membuat tekadnya semakin kuat. Ya, ia harus mengambil keputusan besar itu. Tidak ada jalan lain lagi.

*

             Shin Hye terbangun pagi itu dengan senyuman. Walaupun tubuhnya terasa pegal karena harus tidur di sofa, tapi ia menikmatinya. Tidur dalam pelukan kekasihnya memang tidur terbaik sepanjang masa. Ia melihat berkeliling. Ye Jin omoni sedang berkutat di dapur, pasti sarapan pagi mereka akan sangat lezat mengingat Ye Jin sangat pandai memasak. Jonghyun terlihat tengah membersihkan ruang tengah. Mhia eonni-nya tengah merapikan bunga-bunga dalam vas. Ia sempat mempertanyakan dimana aboji-nya, tapi mendengar suara dari kamar mandi, ia yakin abojinya ada di baliknya. Ia hanya tidak melihat Kyuhyun oppa-nya dan Yonghwa. Tapi ia rasa, keduanya mungkin menyelinap keluar seperti biasa untuk membeli bahan makanan.

“Selamat pagi, eonni. Dimana Yonghwa-ssi dan Kyuhyun oppa?” tanya Shin Hye pada Mhia.

Cho Mhia tersenyum. “Seperti biasa, mereka menyelinap tadi pagi-pagi sekali untuk berbelanja di pasar. Bahan makanan kita sudah hampir habis, bukan?”

Nah kan, dugaannya benar. Memang keduanya tengah berbelanja. Keduanya memang cukup akrab, jadi bukan hal baru kalau keduanya yang selalu berbelanja. Yonghwa pandai memilih bahan makanan, sedangkan Kyuhyun pandai mencari harga terbaik. Karena ia terbiasa hidup irit sejak kecil, maka ia bisa mendapatkan bahan makanan terbaik dengan harga yang cukup murah.

Tiba-tiba Yonghwa masuk ke muncul dengan tergesa-gesa. Napasnya tak beraturan. Ia seperti habis berlari.

“Yonghwa-ssi, ada apa? Mengapa kau tampak tergesa-gesa seperti ini? Dimana Kyuhyun hyung?” tanya Jonghyun.

“Aku.. Kyuhyun.. Dia..” kata Yonghwa terbata-bata. Sulit baginya untuk bicara saat ini ketika napasnya sendiri nyaris putus.

“Yonghwa-ssi, tenanglah. Ceritakan pada kami, ada apa sebenarnya?” tanya Cho In Sung yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi.

“Maafkan aku. Tadi ketika.. Ketika aku akan membayar sayuran yang kami beli, tiba-tiba Kyuhyun menghilang. Aku berusaha mencarinya kemana-mana tapi tidak juga menemukannya sampai..”

“Sampai?” tanya Mhia kini.

“Sampai aku melihatnya naik ke dalam satu mobil mewah berwarna hitam dan.. Pergi meninggalkanku.” Kata Yonghwa pelan.

“Tidak…!!!” kata Ye Jin yang terdengar sedikit histeris. “Tidak mungkin.. Oppa.. Mereka menemukan Kyuhyun, mereka mengambilnya.. Bagaimana ini? Kembalikan dia padaku. Kembalikan anakku..”

Son Ye Jin sudah mulai menangis sambil memeluk lengan suaminya. Sedangkan raut wajah Cho In Sung sama seperti yang lain, terkejut sekaligus cemas. Semuanya takut akan terjadi hal buruk pada Kyuhyun.

“Tenanglah, aku akan mencari cara. Kita tidak boleh gegabah.” Kata In Sung menenangkan istrinya.

“Tidak.. Pasti haraboji memaksa Kyuhyun oppa untuk mengatakan dimana kita tinggal. Haraboji dan omoni pasti mencariku karena pernikahanku akan segera dilaksanakan tiga minggu lagi.” Kata Shin Hye panik.

“Shin Hye! Bukan saatnya untuk berpikir seperti ini. Kita semua harus bersatu, mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Kyuhyun hyung dari sana.” Hardik Jonghyun.

“Aku akan menemui kakek kalian. Sementara aku pergi, kalian tidak boleh kemana-mana. Tetap tinggal di dalam apartemen dan saling menjaga.” Kata In Sung seraya mengenakan jaketnya.

“Aku ikut!” kata Jonghyun.

“Tidak! Kau harus tetap disini dan memastikan semuanya baik-baik saja.” Bantah In Sung cepat.

“Tapi aku tidak bisa diam saja disini sedangkan Kyuhyun hyung dalam bahaya!” kata Jonghyun tak kalah keras membantah ayahnya.

“Aku bilang tidak! Aku akan pergi sendiri. Tugasmu adalah menjaga omoni dan saudara-saudaramu disini. Jika terjadi sesuatu padaku atau Kyuhyun, setidaknya aku bisa lega karena ada kau yang menjaga anggota keluarga kita disini. Apakah kau mau menyerahkan hidup keluargamu pada Yonghwa? Dimana rasa tanggung jawabmu?”

Jonghyun terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali ikut, tapi ia juga membenarkan kata-kata ayahnya. Jika ia pergi dan seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bagaimana dengan keluarganya disini? Tidak mungkin ia mempercayakan Yonghwa untuk mengurus semuanya, mengingat mereka sudah terlalu banyak menyusahkan Yonghwa.

“Baiklah. Aku akan tinggal.”

“Bagus. Jangan gunakan ponsel atau apapun. Aboji akan berusaha mengeluarkan Kyuhyun dari sana. Jangan membuka pintu sembarangan jika ada yang mengetuk. Kalau aku pulang, kalian akan mendengar suaraku di luar. Jonghyun-ah, Yonghwa-ya, aku mengandalkan kalian.”

Jonghyun dan Yonghwa mengangguk mantap.

Kemudian In Sung menoleh pada Mhia dan Shin Hye. “Tetaplah siaga. Dengarkan Jonghyun dan Yonghwa. Jaga omoni. Aboji akan segera kembali.”

Kali ini Mhia dan Shin Hye yang mengangguk patuh.

Terakhir, In Sung menoleh pada istrinya dan bicara dengan nada lembut seraya menghapus airmata istrinya. “Ye Jin-ah, jangan khawatir. Kyuhyun akan baik-baik saja. Kau tahu betul bahwa ia adalah anak yang kuat. Aku akan membawanya pulang. Aku berjanji.”

Ye Jin menatap suaminya penuh keyakinan. “Kumohon, kembalilah dengan selamat.”

Cho In Sung tersenyum seraya mengangguk. Ia kemudian melangkah keluar. Sebelumnya, ia menoleh ke belakang untuk melihat seluruh keluarganya. Dalam hati ia bertekad akan pulang membawa Kyuhyun. Namun jika dalam usahanya itu ia gagal, setidaknya ia tahu Jonghyun ada disana, menjaga anggota keluarga yang lain. seperti itulah keluarga yang sebenarnya, saling menjaga dan mengasihi.

*

Sementara itu, di tempat lain..

Seorang lelaki muda tengah berdiri di depan seorang lelaki tua. Keduanya tengah saling menatap penuh kebencian dan bersikap kaku satu sama lain, padahal mereka telah hidup di bawah satu atap yang sama selama bertahun-tahun.

“Mengapa kau memutuskan untuk kembali? Apa karena kau takut aku akan menyeret semua kembali? Percayalah, akan kulakukan. Kau tidak perlu pura-pura berkorban seperti ini.” Kata Mr. Cho dingin.

“Aku kembali bukan untuk berpura-pura. Aku hanya ingin kembali dan menjalani semua yang seharusnya dijalani oleh Jonghyun dan Shin Hye. Aku akan menggantikan tempat mereka. Kalian boleh menekan aku, memperalat aku, bahkan menggunakan aku untuk kepentingan kalian. Tapi lepaskan mereka.” Jawab Kyuhyun dengan tekad besar di dadanya.

Ya, Kyuhyun telah kembali. Ia sendiri yang memutuskan akan kembali. Pagi itu dia menelepon haraboji-nya dan mengatakan bahwa ia ingin bicara. Ternyata setelah menemui kakeknya itu, ia menyampaikan maksudnya akan kembali.

“Walaupun kau tidak kembali, aku masih bisa mengatasi segala kekacauan yang telah kalian lakukan.”

Kyuhyun tersenyum dingin. “Benarkah? Bagaimana dengan perusahaan yang sedikit tak terurus karena pimpinan mereka pergi? Bagaimana pula anda menjelaskan pada keluarga Choi mengenai tunangan Siwon yang melarikan diri bersama kekasihnya? Dan lagi, apa yang bisa anda lakukan untuk meredam rumor di luar sana mengenai cara anda memimpin keluarga dengan tangan besi sehingga semuanya pergi begitu saja?”

“Dan lagi, bagaimana anda melarang Shin Hye tampil di muka umum dengan kekasihnya padahal tanggal pernikahannya telah ditentukan? Bagaimana cara menyelamatkan muka anda di depan keluarga Song Ji Hyo apabila mereka sadar aboji telah meninggalkan anak mereka?”

Kata ‘anda’ memang sangat tidak sopan untuk ukuran cucu pada kakeknya. Tapi Kyuhyun sudah terlalu muak dengan perlakuan tidak adil pada ibu dan noona-nya.

Mr. Cho tampak terkejut. Ia tidak menyangka dalam pelariannya Kyuhyun akan mendengar rumor yang beredar di luar. Ia juga tidak menyangka bahwa Kyuhyun cukup teliti menganalisa perasaan yang ditutupinya karena ego dan keangkuhannya.

Tanpa menunggu jawaban haraboji-nya, Kyuhyun kembali melanjutkan kata-katanya. “Hanya aku yang bisa membawa mereka kembali kesini. Hanya aku yang bisa membujuk aboji, omoni, bahkan Jonghyun dan Shin Hye sekaligus. Aku juga bisa memimpin perusahaan dengan baik. Anda tahu benar bahwa aku jauh lebih cerdas daripada Jonghyun.”

Kembali Mr. Cho terperanjat. Ia tahu benar apa yang dikatakan Kyuhyun benar adanya. Jika ia mendapatkan Kyuhyun, ia bisa memulangkan anggota keluarga yang lain. Yang artinya, ia bisa menyelamatkan mukanya di depan keluarga Song dan keluarga Choi. Ia juga bisa mendapatkan kembali anaknya satu-satunya, Cho In Sung. Dan juga bisa menyelamatkan perusahaan yang telah di pindahtangankan pada Jonghyun sebelumnya.

Jika Kyuhyun ingin kembali dengan sukarela, bukankah itu adalah sebuah ide bagus? Ia bisa menggunakan Kyuhyun seperti yang Kyuhyun tawarkan. Mr. Cho menatap cucunya itu dalam-dalam, mencari kebenaran dalam setiap kata-kata Kyuhyun. Ia berpikir keras, bagaimana cara memanfaatkan anak itu sebelum dirinyalah yang dimanfaatkan.

*

yong-kyu-jong

To Be Continued..