Update About The Novel

Dear Readers,

I’m glad to say that the novel you’ve been waiting for actually will be done in these few days. If there’s no impediment, I’m gonna send the novel to your address on Monday or Tuesday. So please be patient a little bit longer.

And for your information, the title has been modified to ‘Villain – Phoenix vs Dragon‘ due to the conversion in ownership tittle, reminding the original title’s owner was the 4th winner of Challenge Me. And remember the NC scene had been deleted, just in case some of you raise the issue in further.

For more information, please don’t hesitate to post your query to my email or any social media.

Happy weekend everybody..

 

Advertisements

Million Words – Chapter 6

Title                 : Million Words

Rate                 : M

Genre              : BL, Romance, Angst

Pair                  : ChangKyu, BinKyu

Cast                 : Cho Kyuhyun,  Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star            : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warninng        : BL, OOC, Typo (es), Dont like dont read!

 

CHAPTER 6

Kyuhyun menatap sebagian punggung Woobin yang terlihat dari pintu kamar. Ia ingat tadi sebelum Woobin membawanya masuk ke kamar, anak itu sempat mematikan lampu depan, hingga Kyuhyun tidak bisa melihat dengan jelas keluar. Tapi ia masih bisa menangkap dengan jelas sosok lelaki yang tadi bercinta dengan dahsyat dengannya.

Bukankah ia akan ke dapur? Mengapa ia tidak pergi juga? Ada apa lagi? Jangan bilang ia menerima telepon dari ibunya lagi dan kini ia tengah cemas.’ Pikir Kyuhyun.

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendapati ponsel muridnya itu tergeletak di atas meja kecil di samping tempat tidur.

“Lalu mengapa ia berdiri terpaku seperti itu di depan pintu?” monolog Kyuhyun. Ia lalu bangkit dari tempat tidur tanpa melepaskan selimut yang menutupi tubuh pucatnya dari depan. Kyuhyun melangkah pelan keluar lalu memeluk tubuh kekar Woobin dengan satu tangan sementara tangan lainnya menahan selimut agar tetap menempel di tubuhnya.

“Mengapa kau lama sekali? Bukankah kau tadinya mau mengambilkan air untukku?” Kyuhyun bertanya seraya menempelkan seluruh wajahnya ke punggung lelaki itu.

Kim Woobin tidak menjawab. Ia tetap diam di tempatnya, membuat Kyuhyun cukup penasaran dengan tingkah lelaki itu. Belum sempat ia bertanya lagi, tiba-tiba lampu di ruang tengah itu menyala.

Saat itulah Kyuhyun melihatnya. Seseorang yang paling ditakutkannya melihat dirinya dalam keadaan seperti ini. Shim Changmin berdiri di sana, satu tangannya menekan sakelar lampu sementara tangannya yang lain terkepal keras di samping tubuhnya.

“Chang..min..”

“Bersenang-senang?” Tanya Changmin langsung. Nada dingin itu terdengar bagai mata silet yang siap menggores kulit dengan cepat.

Ingin rasanya Kyuhyun berlari ke luar dari apartemen itu lalu meloncat ke jalan raya dan berharap sebuah truk besar melindasnya hingga ia bisa mati saat itu juga. Pancaran mata Changmin yang penuh amarah sekaligus kekecewaan dengan nada suara seperti itu membuat Kyuhyun ingin mengembalikan waktu dimana ia masih bisa menolak Woobin.

“Mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?” kembali Changmin bertanya.

“Kau sudah tahu jawabannya.” Sambar Woobin cepat. Tanpa gentar sedikit pun.

“Jadi ini yang kalian lakukan selama ini? Bermain di belakangku sementara tampak seperti guru dan murid yang baik di depanku?”

Seumur hidupnya, Kyuhyun tidak pernah melihat Changmin semarah ini. Changmin yang sabar, yang lemah lembut, yang pengertian dan selalu mengalah kini tengah menatap mereka dengan garang.

Kyuhyun tidak berani menjawab. Ia juga tidak berani bergerak. Walau bersembunyi di belakang tubuh Woobin seperti ini sudah jelas salah, tapi ia sama sekali tidak berani keluar dari persembunyiannya. Ia terlalu takut dan malu dengan keadaannya yang telanjang hanya terbalut selimut tebal karena habis bercinta dengan salah satu muridnya.

“Kenapa, Kyu.. Kenapa kau lakukan ini kepadaku?”

Sungguh, Kyuhyun benci kepada dirinya sendiri mendengar kalimat itu. Terlebih Changmin mengucapkannya dengan nada sedih. Hancur sudah semua yang mereka bina selama ini. Dan Kyuhyun mendapati dirinya sendiri sebagai biang keladinya.

“Jangan salahkan dia, salahkan aku.” Woobin lah yang menjawab.

Ingin rasanya Kyuhyun menampar mulut lelaki bebal itu agar tidak menjawab apa pun. Jika tidak, semuanya tidak menjadi semakin rumit.

“Aku tidak bertanya padamu, bajingan!” bentak Changmin murka. Suaranya yang tadi cukup sedih terdengar bagai halilintar kini. Menggelegar keras membuat bulu kuduk meremang seketika.

Woobin merasakan Kyuhyun beringsut takut di belakangnya. Ia lalu melempar pandangan marah pada Changmin. “Kau membuatnya takut!”

“Dia tanggung jawabku! Dia tunanganku! Aku berhak atas dirinya. Tidak perlu ikut campur.”

“Semua yang berhubungan dengannya juga menjadi urusanku!!”

Changmin tersenyum sinis. “Oh yah? Mengapa seperti itu?”

“Karena aku mencintainya.”

“Berani sekali kau mengatakan bahwa kau mencintainya. Inikah pembuktian cintamu? Meniduri gurumu sendiri yang jelas-jelas adalah tunangan orang lain?” Changmin sudah melangkah maju mendekati Woobin.

“Benar sekali. Lalu mengapa? Kau tidak suka?” jawab Woobin dengan tenang walau wajahnya sudah mengeras.

“Bajingan!”

Changmin beringsut maju dengan kepalan terangkat yang sedari tadi telah menanti dengan lapar untuk meninju wajah angkuh di depannya. Namun secepat kilat pula Kyuhyun bergerak maju dan berdiri tepat di depan sang murid.

“Hentikan! Kumohon!” pinta Kyuhyun dengan suara bergetar. Tubuhnya ikut bergetar. Air matanya sudah jatuh dari pelupuknya.

Changmin menghentikan aksinya. Matanya menatap Kyuhyun dengan keterkejutan besar di sana. “Kyu? Kau.. membelanya?”

“Salahkan aku. Aku lah penyebabnya. Dia masih anak-anak. Dia masih di bawah umur. Aku lah yang dewasa di sini, jika ada yang harus di salahkan, aku lah orangnya. Jangan menyentuhnya. Kumohon..” isak Kyuhyun.

“Anak-anak katamu?” Tanya Changmin dengan nada sakit hati. “Tidak ada anak-anak yang berani bertindak sejauh ini.”

“Kyuhyunnie.. Aku lah yang..”

“Kau memanggilnya apa?” raung Changmin ketika mendengar Woobin menyebut mesra nama Kyuhyun seperti itu.

“Pergi.. Kumohon, pergilah..” pinta Kyuhyun tanpa menoleh ke belakang.

“Tidak tanpamu.” Kata Woobin keras kepala.

“Woobin-ah.. Dengarkan aku. Pergilah. Jangan membuat situasi semakin kacau. Kumohon.. Aku akan mencarimu setelah ini, aku berjanji. Aku berjanji.. Kumohon..”

Woobin tidak kuasa mendengar nada itu. Walau ia tidak mau meninggalkan Kyuhyun sendirian menghadapi kemarahan tunangannya, tapi mendengar suara yang memelas kepadanya itu membuatnya tidak tega.

Ia bergegas masuk kembali ke kamar Kyuhyun, mengumpulkan barang-barangnya, memakai kembali bajunya lalu keluar kamar. Sebelum ia pergi, ia memeluk Kyuhyun yang masih terisak dengan tubuh bergetar hebat lalu mencium pipinya.

“Hubungi aku jika terjadi sesuatu. Aku akan datang. Aku berjanji.”

*

            Kyuhyun belum berhenti menangis sejak semalam. Ia bahkan menelepon ke sekolah, melaporkan bahwa dirinya tengah sakit hingga tidak bisa mengajar. Ia masih belum bisa menghadapi semua rekan kerja juga murid-muridnya di sekolah nantinya. Dan ia sendiri terlalu malas memikirkan konsekuensi dari perbuatannya semalam. Perbuatan yang sebenarnya sangat tidak senonoh dilakukan oleh pasangan yang berselingkuh apalagi dengan anak di bawah umur seperti itu. Walau Kim Woobin sendiri sudah berusia 17 tahun, tapi dengan statusnya sebagai murid sekolah, ia tetap masih dikategorikan sebagai anak-anak.

Dan masih terbayang jelas pembicaraannya dengan Changmin semalam setelah Woobin pergi. Bagaimana ia melihat Changmin meminta penjelasannya atas semua yang terjadi dengan pandangan terluka, dengan nada suara yang teramat sedih, membuat Kyuhyun menyesali semua yang telah ia lakukan.

“Mengapa kau lakukan ini padaku? Katakan padaku, apa salahku.. Mengapa, Kyu?”

Kyuhyun menggeleng. “Sudah kukatakan aku lah yang bersalah. Karena perasaanku yang egois membuatku terlena dengan hal-hal yang tidak seharusnya.”

“Jika memang seperti itu, apa yang salah dalam hubungan kita? Terlalu sakit untukku melihatmu bersama dengan lelaki lain. Katakan Kyu.. Katakan padaku..” Changmin mulai menangis.

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak menyalahkanmu, sungguh. Tapi memang ada yang salah dengan hubungan kita. Bukan, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Hanya saja.. Aku tahu kau sibuk, apalagi dengan posisimu sebagai anak tunggal, sudah pasti kau lah yang menjalankan yayasan milik keluargamu.”

“Tapi kau menjadi sibuk bahkan lebih sibuk setelah yayasan itu diperluas. Kau jarang pulang. Kalau pun kau pulang, kita hanya bertemu sebentar. Aku kesepian karenanya. Aku merindukan waktu di mana kita selalu bersama, menghabiskan waktu berdua, melakukan hal-hal kecil dengan penuh tawa..”

Changmin memotong perkataan Kyuhyun. “Aku tidak bisa meninggalkan yayasan, kau tahu itu. Banyak hal yang bergantung padaku. Dan jika.. Jika aku sibuk, bukankah kita bisa membicarakannya?”

Kyuhyun tersenyum lemah. “Kita bahkan tidak bisa membicarakan hal-hal sepele ketika kau pulang. Kau selalu terlihat lelah. Aku tidak mau menambah bebanmu.”

Changmin terdiam. Walau airmatanya masih menetes, tapi ia ikut mengakui kata-kata Kyuhyun. Ia terlalu sibuk hingga tidak sempat menghabiskan banyak waktu apalagi mendengarkan cerita kekasihnya.

“Dan lagi, kau selalu menanggapi keluhanku dengan datar. Tidak ada perselisihan, tidak ada kemarahan, tidak ada kesalah pahaman. Membuatku selalu berpikir bahwa tidak ada jiwa dalam hubungan kita.” Kata Kyuhyun lagi.

“Mengapa kau terus mengungkit hal itu?”  sanggah Changmin. “Bukan kah semua orang ingin menjalani hubungan yang baik-baik saja tanpa berselisih paham?”

“Aku tahu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak bisa mencegah perasaan itu begitu saja. Aku ingin menjalani kehidupan yang kau tahu.. Aku.. Aku merasa kehidupan cinta kita terlalu datar. Kau terlalu baik, terlalu penurut dan selalu mengalah. Kita tidak pernah bertengkar. Semua terserah padaku. Tidak ada gairah di dalamnya. Aku..”

“Jadi kau berselingkuh karena mendambakan pertengkaran kecil dengan pasanganmu?” lagi-lagi Changmin menyanggah.

“Dan karena kau tidak punya banyak waktu untukku. Aku kesepian.” Kyuhyun lemah seraya mengingatkan Changmin pokok permasalahannya.

Ia tidak mau membela diri atas apa yang telah terjadi. Memang benar dirinya telah berselingkuh. Ia bahkan tidur dengan lelaki lain di kamar yang ditempatinya bersama Changmin. Ia bisa saja menolak Woobin saat itu, tapi tidak ia lakukan, bukan? Karena walau ia sempat benci, tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia menyukai banyak hal tentang lelaki itu. Ia hanya tidak menyangka bahwa Changmin akan menemukan mereka seperti ini.

“Maafkan aku..” suara Changmin memecah kesunyian diantara mereka.

Kyuhyun menoleh, melihat Changmin yang menatapnya dengan mata sembab. Wajah tampan itu tampak sangat terluka, sedih dan sekaligus letih. Kyuhyun jadi benar-benar merasa teramat bersalah kini. Ia bahkan merutuki dirinya karena berani berselingkuh.

“Tidak.. Kau tidak bersalah, aku lah yang menghianatimu. Aku lah yang seharusnya minta maaf.”

“Aku lah yang membuatmu menjadi seperti ini. Jika saja aku berusaha untuk meluangkan lebih banyak waktu denganmu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku terlalu sibuk hingga menghindari semua perdebatan. Sibuk di yayasan membuatku sangat lelah ketika pulang ke rumah. Jadi dari pada membuat pikiranku kacau, lebih baik aku mengikuti semua kemauanmu. Aku tidak mau berdebat dan aku tidak pernah suka akan hal seperti itu. Kau tahu kan?”

Kyuhyun tidak menjawab. Walau ia merasa kata-kata Changmin ada benarnya, namun ia enggan bicara untuk membenarkannya. Dengan menyanggah lagi, berarti hanya akan memperpanjang masalah. Keduanya lalu duduk dalam diam di sofa yang terletak saling berhadapan itu, sibuk dengan pikiran masing-masing hingga akhirnya ketika Kyuhyun tertidur. Ketika ia terbangun keesokan harinya, ia mendapati tempat duduk Changmin sudah kosong.

Kyuhyun sempat ketakutan sesaat, maka ia segera berlari ke kamarnya dan memeriksa lemari pakaian yang ia pakai bersama Changmin. Dan ia hanya bisa bernafas lega karena baju-baju tunangannya itu masih ada di sana.

*

            Changmin tidak pulang setelah beberapa hari setelah itu. Satu-satunya petunjuk yang Kyuhyun punya hanya pesan teks darinya yang mengatakan bahwa ia kembali sibuk dengan rutinitasnya dan ia butuh waktu untuk menenangkan diri.

Kyuhyun mengerti. Ia tidak akan menghubungi Changmin dulu untuk beberapa waktu. Ia akan memberi lelaki itu waktu untuk menenangkan diri. Sudah bagus Changmin tidak meninggalkannya.

Kyuhyun sendiri sudah mulai kembali ke sekolah. Ia hanya butuh topeng untuk menghadapi Woobin. Seisi sekolah tidak ada yang tahu mengenai apa yang telah ia lakukan beberapa malam lalu. Dan ia sendiri tidak peduli dengan tanggapan Jongin dan Myungsoo. Ia hanya memikirkan bagaimana cara menatap wajah Woobin seperti biasa setelah peristiwa memalukan di apartemennya.

Ia harus bicara dengan Woobin. Ia harus menjelaskan segalanya. Ia tidak boleh berada dalam persimpangan seperti ini. Ia harus bisa menentukan dengan tegas, di mana tempat seharusnya ia berada. Ia tidak boleh tergoda, ia tidak boleh lemah.

Namun harapannya hancur ketika ia mencari Woobin di sekolah. Anak itu sudah tidak masuk sejak tiga hari yang lalu dan pihak sekolah tidak tahu menahu mengapa ia absen. Anehnya Jongin dan Myungsoo juga tidak muncul di sekolah sejak hari itu.

Kyuhyun sudah mencoba menghubungi ponsel Woobin, tapi layanan kotak suara selalu menyambutnya, mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif. Hal yang sama terjadi ketika ia mencoba menghubungi duo Kim yang selalu membuntuti Woobin. Kemana mereka semua?

Awalnya ia mengacuhkan hal ini. Namun setelah seminggu ketiga anak itu tidak muncul juga di sekolah, mau tidak mau ia penasaran juga. Tidak, mungkin lebih tepatnya khawatir. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mereka bertiga dan tidak ada seorang pun yang tahu?

Ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya sendiri. Entah sudah berapa ratus kali ia mencoba menghubungi Woobin, namun hanyalah pesan suara yang menyambutnya. Ia nyaris gila kini. Di satu sisi Changmin mengabaikannya, dan di sisi lain Woobin tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dan ia merasa tolol ketika menyadari bahwa ia tidak tahu di mana tempat tinggal anak itu.

Kyuhyun ingin mencari mereka langsung ke rumah mereka melalui data pribadi yang tersimpan di ruang arsip sekolah, namun kuasa itu tidak ada padanya, melainkan pada Hyukjae, sang wali kelas. Maka mau tak mau, siang itu Kyuhyun mulai merayu Hyukjae untuk menemui ketiganya.

“Tidak bisa, Kyu. Bukankah kau tahu sendiri peraturan sekolah bahwa siswa yang tidak muncul di sekolah setelah dua minggu barulah akan dicari ke rumahnya? Dan ketika sebulan mereka tidak muncul juga, barulah sekolah mengambil tindakan untuk mengambil keputusan apakah siswa tersebut akan dikeluarkan atau hanya dikenakan skorsing atau pun hukuman pelayanan di sekolah.” Jelas Hyukjae panjang lebar.

“Hah? Dua minggu katamu? Seminggu saja sudah cukup apalagi ditambah seminggu lagi? Kalau terjadi sesuatu yang mengerikan pada mereka bagaimana? Lagi pula, peraturan sekolah macam apa yang membiarkan muridnya absen begitu lama tanpa mencari tahu di mana keberadaan mereka?” jawab Kyuhyun dengan nada histeris. Untung saja kantin sudah sepi karena sudah jam pulang sekolah ssat itu, kalau tidak Kyuhyun akan disangka tidak waras karena menjerit histeris seperti itu hanya karena mencari tiga siswa yang membolos.

“Sekolah kita bukan sekolah biasa. Para siswa membayar mahal untuk bersekolah di sini. Dan kau tahu benar bahwa ketiga anak itu bukanlah anak-anak bodoh dengan nilai rendah. Mereka hanya membolos saja. Mungkin bahkan orang tua mereka mengetahui hal ini hanya saja tidak terlalu peduli. Kadang aku iri pada mereka karena mempunyai banyak sekali uang untuk dihambur-hamburkan, namun di sisi lain aku juga kasihan pada mereka yang tidak mendapatkan kasih sayang lebih. Orang tua mereka mungkin menganggap sumber kebahagiaan anak mereka sama dengan mereka, yaitu uang.” Hyukjae menanggapi.

“Aku ingin mencari mereka.” Kata Kyuhyun pada akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

“Kemana? Ponsel mereka saja tidak bisa dihubungi, bagaimana mungkin kau tahu di mana keberadaan mereka?”

Kyuhyun menggeleng. “Aku akan mencari ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi.”

Hyukjae mengernyit menatapnya. “Kau tahu tempat mereka? Bagaimana bisa? Bukankah..”

Kyuhyun terkesiap. Tidak, Hyukjae tidak boleh tahu ketiga anak itu cukup dekat dengannya hingga ia bisa tahu tempat-tempat di mana mereka sering bepergian bersama. Bisa-bisa Hyukjae mencari tahu dan akhirnya hubungan gelapnya dengan Woobin terendus.

“Ma.. Maksudku, tempat yang biasa dikunjungi oleh anak-anak muda pada umumnya.” Kilah Kyuhyun cepat.

Hyukjae mengangguk. “Bisa dicoba. Walau aku tak yakin mereka ada di sana. Kau tahu, aku sempat berpikir bahwa kau cukup dekat dengan mereka karena aku pernah melihatmu makan siang bersama mereka di salah satu restaurant.”

Kembali Kyuhyun terkesiap. Namun sebelum ia membel diri, kembali Hyukjae berkata. “Tapi tidak ada salahnya murid dan guru makan siang bersama, bukan? Jadi aku tidak pernah menanyakannya padamu.”

*

            Kyuhyun sudah berupaya mencari ke sana kemari sosok-sosok bengal yang memenuhi pikirannya belakangan ini. Kini sudah genap sepuluh hari ketiganya hilang tanpa kabar. Kyuhyun bahkan sudah nyaris putus asa mencari mereka ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi bersama.

Setiap pulang sekolah, Kyuhyun akan langsung mencari ketiganya di mana-mana. Dan kini ia sudah lelah. Tujuan terakhirnya adalah sungai Han. Tempat terakhir yang cukup dekat dengan tempatnya kini berada dan di sana lah ia berharap bisa melihat ketiganya. Jika mereka tidak ada, Kyuhyun akan pasrah dan berhenti mencari. Itu tekadnya.

Ketika taksi yang ia tumpangi berhenti di sana, ketika ia berjalan mendekat dan melihat tiga sosok yang begitu ia kenal, matanya nyaris buta karena air matanya yang entah dari mana tiba-tiba muncul dan mengerubungi bola matanya.

Ia berlari cepat mendekati ketiganya lalu menubruk lelaki paling jangkung di sana, memeluknya erat lalu menumpahkan tangisnya.

Kim Woobin tersentak melihat tiba-tiba lelaki yang dirindukannya sudah muncul di hadapannya dan memeluknya sambil menangis. Kyuhyun menangis selama beberapa menit kemudian melepaskan pelukannya lalu menumbuk dada Woobin dengan pukulan-pukulan keras.

“Dari mana saja kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Kenapa kau melarikan diri seperti ini? Ada apa denganmu? Kau tahu betapa cemasnya aku? Aku bahkan nyaris gila karena memikirkan..”

Kata-kata Kyuhyun terputus karena tiba-tiba Woobin sudah menariknya dalam pelukan hangatnya. “Maafkan aku.. Maafkan aku..”

Keduanya bertahan dalam posisi seperti itu hingga akhirnya Kyuhyun melepaskan pelukan itu. “Dari mana saja kau? Apa yang terjadi? Mengapa kau tidak menghubungiku?”

Kim Woobin menggigit bibirnya. Ia tampak jelas sangat ragu bercerita. Namun pada akhirnya ia tersenyum. “Aku hanya sedang bosan bersekolah, jadi aku ingin bebas sejenak.”

“Apa?” Tanya Kyuhyun tak percaya. “Bagaimana mungkin kau membolos selama ini sedangkan ujian akhir sudah dekat?”

“Aku akan mengejar ketinggalanku. Aku hanya sedang banyak pikiran dan.. Aku hanya ingin menyendiri.”

“Menyendiri seperti apa yang ditemani oleh dua orang lain?” sindir Kyuhyun seraya melirik dua bocah lain yang berdiri tak jauh dari Kim Woobin.

Namun ia tampak bingung juga dengan sikap keduanya. Myungsoo tampak sibuk membaca buku pelajarannya sedangkan Jongin tampak mencoret-coret sesuatu, seperti berhitung karena bibirnya ikut komat-kamit. Membolos sambil belajar? Membolos model apa ini?

Otak Kyuhyun berpikir cepat. Kim Woobin pasti lah sedang enggan ke sekolah dan kedua temannya hanya menemaninya. Karena seperti itulah mereka, saling menempel satu sama lain.

“Setidaknya kirim teman-temanmu ke sekolah. Kau bisa membolos sendiri.” Kata Kyuhyun pada akhirnya.

“Itu kemauan mereka sendiri.” Sahut Woobin cepat. Kembali dengan gaya cuek seperti biasa.  Kali ini ia bahkan menyulut rokok di tangannya.

Kyuhyun merebut rokok itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam sungai. Kim Woobin langsung memberenggut.

“Itu rokok terakhirku!”

“Berhenti merusak dirimu sendiri. Aku benci perokok.” Balas Kyuhyun tak kalah galak.

“Tapi toh kau tetap mencariku. Jadi tidak ada hubungannya dengan rokok.”

“Kau masih terlalu kecil untuk merokok.”

“Dan kau sudah terlalu dewasa untuk membuang sampah sembarangan.”

“Aku melakukannya dengan tujuan baik. Agar kau tidak merokok.”

“Apa pun alasannya, membuang sampah sembarangan tetap lah salah. Bukan kah kau ini guru? Seharusnya kau memberi contoh yang baik.”

“YA!” jerit Kyuhyun kesal.

What?!” Woobin menantangnya dengan berani.

“Aku.. merindukanmu..” bisik Kyuhyun jujur.

Kembali Woobin membawa Kyuhyun dalam pelukannya. “Maaf jika tidak mengabarimu setelah malam itu. Aku..” Ia tampak memikirkan kata-kata yang pantas selama beberapa saat ketika akhirnya ia memilih untuk bertanya dengan formal.  “Bagaimana kabarmu?”

“Tidak baik. Aku butuh teman bicara tapi kalian berdua meninggalkanku begitu saja.”

Woobin melepaskan pelukannya. “Seharusnya ia tidak meninggalkanmu.”

“Ia melakukan hal yang benar. Aku lah yang bersalah kepadanya. Tidak, kita bersalah kepadanya. Wajar kalau ia marah dan memilih untuk jauh dariku, menenangkan diri sesaat.”

Kim Woobin tertawa mengejek. “Menenangkan diri? Tak bisa kupercaya.”

“Berhenti bersikap seperti ini. Sejak awal kita memang bersalah. Dan kau, seandainya kau tidak memaksakan diri untuk menyusup dalam hubungan kami, mungkin semua ini tidak akan terjadi.” Sesal Kyuhyun.

“Jadi kau menyalahkanku?”

“Aku juga bersalah. Tapi kau lah pembawa masalahnya. Dan kini aku terperangkap di sini, tidak tahu harus bagaimana agar membuat Changmin percaya lagi padaku. Bagaimana kalau ia pergi dariku dan..”

“Jadi tujuanmu menemuiku agar kau dapat teman bicara untuk semua pemikiranmu tentang apa yang telah terjadi dan rasa sesalmu terhadap tunanganmu itu?” Tanya Woobin dengan ekspresi sakit hati.

“Tidakkah kau mengerti? Mengapa semua ini bisa terjadi? Karena kau! Kau lah penyebab utama mengapa hubunganku jadi seperti ini! Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku saat ini??!!!” kini Kyuhyun menjerit nyaris putus asa.

Kim Woobin membeku di tempatnya. Mati-matian ia menahan amarah yang hendak meledak dari dalam dirinya dan melampiaskannya pada lelaki manis yang berprofesi sebagai guru geografinya itu, andai saja rasa cintanya tidak lebih besar.

“YA! Jawab aku! JAWAB!” bentak Kyuhyun kesal.

“Woobin-ah..” Myungsoo dan Jongin sudah ada diantara mereka. Myungsoo memegang pundak sahabatnya itu, berusaha menenangkan.

“Jangan ikut campur!” kembali Kyuhyun membentak namun kali ini kepada Jongin dan Myungsoo.

Jongin menggeleng. “Bukan itu maksud kami, songsaengnim. Tapi.. Woobin harus menerima panggilan ini.” Ia lalu menyodorkan ponsel lain yang kemudian disodorkannya kepada sahabatnya itu.

Woobin menerimanya dengan cepat, ia menjauh sebentar lalu bicara dengan suara pelan. Tak lama kemudian ia kembali, menyerahkan ponselnya kepada Jongin lalu berjalan cepat ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.

“Hei.. kembali.. Kita belum selesai bicara.” Kata Kyuhyun yang langsung berlari menyusul Woobin.

I’m done here!” balasnya. Ia terus berjalan, tanpa memanang wajah Kyuhyun.

“Mengapa kau menjadi pengecut seperti ini? Selesaikan masalah ini!” kata Kyuhyun lagi. Karena Woobin tak juga mengindahkannya, ia menarik paksa lengan kekar lelaki itu.

“Berhenti kataku! Selesaikan dulu masalah ini baru kau boleh pergi!”

“Persetan dengan masalah ini! Aku tidak peduli!” balas Woobin dengan kekesalan yang sama.

“Lalu bagaimana dengan hubunganku yang telah kau hancurkan? Kau akan pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?” Kyuhyun sudah menangis.

“Kau membelanya? Kau membela lelaki pengecut itu?!”

“Ya, lalu mengapa? Dia adalah tunanganku. Dan sebagai lelaki, itu pun jika kau menyebut dirimu sebagai lelaki, seharusnya kau bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi. Dan.. berhenti mengatakan Changmin sebagai pengecut!”

“Pengecut! Pengecut dan munafik!” kini Woobin membentak dengan kasar, membuat Kyuhyun melompat mundur.

Kim Woobin segera menyadari tindakannya. Tapi ia sudah terlalu marah untuk membujuk Kyuhyun yang kini bergetar di depannya. Tanpa banyak bicara ia meraih lengan Kyuhyun dan menuntunnya masuk ke mobilnya dan memerintahkan Jongin dan Myungsoo untuk pergi ke sebuah alamat. Ia sendiri lalu pergi berlawanan arah, tanpa melihat lagi ke belakang.

*

            Kyuhyun tidak pernah mengerti mengapa Jongin dan Myungsoo harus membawanya ke sebuah rumah mewah dengan taman yang cukup asri di depannya. Sepanjang perjalanan keduanya menolak untuk bicara dan hanya menyuruhnya untuk tenang dan percaya bahwa mereka membawanya ke tempat yang paling ingin ia kunjungi.

Namun setelah sampai di rumah itu, ia kembali berpikir. Berusaha mengingat-ingat kembali rumah siapa kah gerangan itu. Apa ia mengenal pemiliknya?

“Uncle..!!”

Seorang anak lelaki yang kira-kira berumur dua tahun berlari kecil menghampiri Jongin dan Myungsoo. Ia melompat-lompat riang melihat kedua tamunya. Myungsoo segera menggendong anak itu lalu mendekapnya dengan sayang.

“Miseokkie.. Aku sangat merindukanmu.” Kata Mungsoo bersemangat.

“Di mana ibumu?” Tanya Jongin setelah ikut memeluk anak kecil bernama Minseok itu.

Anak itu tersenyum lebar lalu menunjuk ke dalam rumah. Kyuhyun langsung paham. Pasti anak itu menunjukkan di mana ibunya kini berada.

“Bibi?”

Jongin dan Myungsoo bertukar pandang sedih. “Ya! Mengapa kau selalu mencarinya ketika ia tidak ada?” kata Jongin pura-pura cemberut.

“Bibi?” Tanya Kyuhyun tak mengerti.

“Woobin. Minseok memanggilnya bibi karena itu lebih mudah untuk diucapkan. Ia memanggilku Jonin dan memanggil Myungsoo dengan sebutan Soo.”

“Apa Woobin mengenal anak ini?” Tanya Kyuhyun lagi. Ia menatap anak itu dalam-dalam. Wajahnya tampak tak asing.

Myungsoo mengangguk. “Tentu saja. Minseok adalah keponakannya. Anak dari sepupunya.”

“Benarkah? Lalu.. Apa ini adalah rumah Woobin?” Tanya Kyuhyun lagi.

Kembali Myungsoo menggeleng. “Ini adalah rumah sepupunya.”

“Lalu mengapa ia ingin aku kemari?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Ikutlah ke dalam. Hyung akan tahu.” Kata Jongin lalu menarik Kyuhyun dan membimbingnya memasuki rumah itu.

Rumah itu bisa terbilang sangat indah. Dengan penempatan furniture yang sangat cocok, cat dinding dengan warna hiasan di setiap tempat juga sangat serasi. Kyuhyun sedikit merasa heran karena beberapa perabotan milik sang pemilik rumah cukup mirip dengan miliknya di apartemen. Mungkin mereka membeli di tempat yang sama.

“Bibi..”

Kembali terdengar Minseok kecil menyebut nama Woobin. Dengan tawa khasnya Jongin menjawab. “Mengapa kau begitu menyukai Woobin sedangkan ia sangat membencimu? Kau tidak pernah mencari kami.”

“Minseokkie.. Di mana kau, sayang? Sudah waktunya minum susu.”

Seorang wanita cantik keluar memegang segelas susu. Senyumnya mengembang ketika mengetahui dua orang yang dikenalnya datang berkunjung.

“Jonginnie.. Myungsoo-ya.. Kalian sudah lama? Kenapa tidak memberitahukanku terlebih dahulu bahwa kalian akan datang?”

“Kami..”

PRAANNGGGGGG..!!!

Gelas kaca yang tadinya dipegang oleh wanita itu jatuh seketika tatkala ia melihat Kyuhyun. Bagai melihat hantu di siang bolong, ia menup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya langsung tampak pucat dan ketakutan.

Kyuhyun jadi cukup heran karenanya. Mengapa ia bersikap seperti itu? Dengan cepat Kyuhyun meraih beberapa lembar tisu di meja kecil yang tak jauh darinya untuk mengeringkan lantai yang basah oleh tumpahan susu.

Dan dalam kesibukannya itu, ia menangkap sesuatu yang lain. Tepat di sebelah kotak tisu, ia melihat sebuah pigura berukuran sedang yang memuat foto tiga orang yang tengah tersenyum bahagia ke arahnya. Minseok yang berukuran sedikit lebih kecil dari Minseok yang tengah berada dalam pelukan Myungsoo saat ini, wanita yang memecahkan gelas susu dan menatap Kyuhyun ketakutan, dan.. Shim Changmin.

*

kyuhyun woobin myungsoo jongin

To be continued..

Ahn Jae Hyun dan Jung Joon Young Jadi MC Baru M! Countdown Menggantikan Kim Woo Bin

Korean Wave Indonesia

BhXI69ACcAAP0vk

Setelah aktor Kim Woo Bin pada beberapa kesempatan yang lalu mengumumkan kememunduran dirinya dari posisi MC pada acara musik M! Countdown. Pada 24 Februari yang lalu Mnet mengumumkan Ahn Jae Hyun dan Jung Joon Young sebagai MC baru di M Countdown  pada siaran 27 Febuari mendatang.

Aktor sekaligus model Ahn Jae Hyun yang kini sedang ramai menghiasai layar kaca berkat aktingnya di drama SBS “The Man From Another Star” dan penyanyi Jung Joon Young yang juga merupakan cast member dalam variety show 1N2D season 2, keduanya telah memiliki pengalaman sebagai pembaca acara dalam acara fashion dan siaran radio.

Melalui twitter pribadinya Ahn Jae Hyun menuliskan,  “Sampai jumpa setiap hari kamis”.

Selain keduanya membawakan acara sebagai MC baru, pada 27 Febuari mendatang dalam tayangan M! Countdown juga akan dikemas dengan format acaranya yang lebih baru pula.

 

View original post

140224 CNBLUE Unreleased Song Star Reaction – KYUHYUN [Cut + Transcript]

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=CRlE7U8YqM0]

Credit: re-up/cut by Febbb (@OurGyuhyun) | Kyu Xing

CNBLUE unreleased song Star reaction – Kyuhyun guessing younghwa who is written the song, and he’s right XD

when kyuhyun knowing the song was made by CNBlue members, his comment: “They’re so greedy *laugh*, they cant be like that” XD

at the end after praising CNBlue(talk as sunbae&hyung) kyuhyun say that CNBlue is a role model group for him.

Credit: ★OurGyuhyun@OurGyuhyun
Posted by: firnia (www.sup3rjunior.com)
TAKE OUT WITH FULL & PROPER CREDITS.

View original post

Obsession – Chapter 7

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Fluff, Humor, Sad

Pair                  : YunKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

 

CHAPTER 7

The First Love, The Never Ending Love

            “K-Kyung..soo?”

Kyungsoo membeku di tempatnya, melihat sosok lelaki yang amat dikenalnya berdiri tak sampai dua meter dari tempatnya saat ini.

“Ap.. Appa..”

Lelaki kecil bermata indah itu mulai merasakan genangan air menutupi mata besarnya. Sesak di dadanya yang selama dua tahun karena merindukan kedua orang tua kandungnya, membuatnya menyimpan kenangan sendiri jauh-jauh di lubuk hatinya. Ia mencintai kedua orang tua angkatnya itu, tetapi ia juga merindukan appa dan eomma yang ia kira sudah tiada.

“Appppaaaaaaa….” Kyungsoo berlari menyongsong Yunho, lalu mendekapnya erat-erat seraya menumpahkan seluruh airmata yang sejak tadi ditahannya.

Yunho memeluk tubuh kecil Kyungsoo erat-erat lalu ikut menangis bersamanya. “Kyungsoo.. Kyungsoo..” pelukan posesifnya seolah tak membiarkan si kecil lepas sedetik pun.

“Hyung.. Kyungsoo..”

Kyuhyun yang sedari tadi terperanjat ketika melihat ekspresi anaknya saat bertemu Yunho kini semakin heran dibuatnya. Apalagi ketika ia mendengar Kyungsoo memanggil Yunho dengan sebutan ‘appa’.

Jangan katakan bahwa Yunho adalah..

“Kyuhyun-ah..”

Kyuhyun tersentak lagi, kali ini Yunho menatapnya dengan airmata yang bercucuran dari kedua matanya yang teduh. Kyungsoo masih memeluknya sambil menangis keras.

“Yunho hyung.. Kyungsoo.. Apa dia..”

Kyuhyun ingin sekali bertanya tetapi lidahnya yang kelu serta ketakutannya akan kenyataan membuatnya menahan diri. Bagaimana kalau ketakukannya terjadi? Bagaimana kalau Yunho adalah benar-benar ayah Kyungsoo lalu ia membawa anak itu darinya?

Kyuhyun sudah kehilangan Jonghyun, apa ia harus kehilangan Kyungsoo juga?

*

            Penjelasan Yunho masih membayangi pikiran Kyuhyun hingga malam itu. Ia tidak dapat memejamkan matanya walau hanya sedetik. Ia sibuk memikirkan segalanya yang berkaitan dengan dirinya dan Yunho dalam kurun waktu dua belas tahun terakhir.

Segalanya seolah saling berkaitan, seolah saling bertautan hingga pada akhirnya mereka bertemu kembali walau bukan dalam keadaan yang baik. Tangis sudah seperti makanan sehari-hari bagi Kyuhyun, ia sudah terlalu sering merasakan sakit di dadanya, namun baru kali ini ia benar-benar menangis dan merasakan sakit yang tak tertahankan di dadanya.

Jung Yunho dan Go Ara telah bercerai ketika Kyungsoo baru berumur dua tahun. Ara kemudian menikah dengan Changmin. Pernikahan itu terjadi atas dasar cinta, menurut Yunho. Bagaimana Changmin dan Ara bisa saling jatuh cinta sekembalinya Changmin ke Seoul, bagaimana Yunho bisa mengetahui cinta terlarang mereka, Yunho tidak mau menjelaskannya dan Kyuhyun juga enggan bertanya. Ia takut hal itu justru akan kembali menyakiti Yunho.

Yunho tidak mendapatkan hak asuh ketika ia bercerai dengan Ara dikarenakan umur Kyungsoo yang masih dibawah umur yang mengharuskannya diasuh oleh ibu kandungnya. Dan lagi, Yunho memutuskan untuk melupakan perceraiannya yang menyakitkan itu dengan pergi meninggalkan Seoul dan bekerja di luar negeri, tanpa memberitahu siapapun. Ia melarang siapa pun untuk mencari tahu keberadaannya, ia ingin sendirian. Namun, ia masih sesekali menghubungi Kyungsoo hingga anaknya itu tetap bisa mengingat ayahnya.

Karena Yunho tidak diketahui keberadaannya saat itu, maka ia tidak tahu menahu mengenai kecelakaan naas itu. Ia baru mendengarnya setelah beberapa minggu. Ia mencoba menghubungi ponsel Changmin dan Ara tapi tidak mendapatkan jawaban, sedangkan ia sendiri tidak bisa meminta penjelasan kepada kedua orang tuanya sendiri yang sudah menetap di Hongkong selama beberapa tahun. Itulah sebabnya ia bisa bertemu Jonghyun di pesawat karena ia baru saja mengunjungi orang tuanya.

“Akhirnya aku memberanikan diri menelepon ayah Ara dan mendapatkan kabar itu. Ibu Ara sudah meninggal sedangkan ayahnya adalah pemabuk yang tengah direhabilitasi, mungkin itulah sebabnya Kyungsoo tidak diijinkan untuk ikut bersama kakeknya. Jika akhirnya Kyungsoo diberikan kepada panti asuhan, artinya polisi sudah tidak bisa mencari keluarga lain. Dan aku menyesal telah meninggalkannya.”

Siang tadi Yunho menjelaskan seraya menangis. Ia menceritakan semuanya, kecuali mengenai sakit hatinya pada apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

“Aku nyaris gila karena kehilangan Kyungsoo. Aku mencarinya kemana-mana tapi ada ratusan panti asuhan di seluruh pelosok Korea Selatan. Hingga akhirnya aku menemukan tempatnya dulu berada. Tapi aku sudah terlambat, sudah ada yang mengadopsinya dan pihak panti asuhan dilarang keras melanggar kode etik mereka untuk membocorkan siapa pengadopsi.”

“Kau tahu, dialah yang paling berarti dalam hidupku. Begitu aku melihatnya, aku merasakan hidupku kembali sempurna, lukaku terasa terobati, sakitku pergi, cahayaku telah kembali. Dan aku tidak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan karena ia telah dirawat oleh kau dan Jonghyun, orang-orang baik dan penuh kasih sayang. Terima kasih, Kyuhyun-ah..”

Bagaimana mungkin Kyuhyun tidak tersentuh mendengar kisah hidup Yunho yang seperti itu? Jika selama ini ia selalu merasa hidupnya tidak beruntung hanya karena tidak bisa memiliki Yunho, bagaimana dengan Yunho sendiri yang ternyata mengalami hal yang jauh lebih berat?

Dan lagi, kini Yunho tengah sendiri. Usahanya untuk mencari Kyungsoo akhirnya berbuah manis. Ia bisa berkumpul lagi dengan buah hatinya. Namun bagaimana dengan Kyuhyun sendiri? Ia juga sendiri, ia baru ditinggalkan oleh Jonghyun. Dan Kyungsoo adalah satu-satunya amanat Jonghyun yang harus ia jaga sebaik-baiknya.

Apa ia harus melepaskan Kyungsoo begitu saja? Atau bahkan mempertahankannya seperti yang ia inginkan. Lagipula ia adalah orang tua Kyungsoo secara sah, ia sudah mengadopsinya. Tapi apa ia tega memisahkan Yunho dan Kyungsoo? Apalagi ketika melihat keduanya menangis dan berpelukan seperti tadi?

Kyuhyun memeluk tubuh kecil Kyungsoo dengan sayang. Malam ini anak itu tidur di kamarnya atas permintaan Kyuhyun sendiri. Memeluk Kyungsoo serasa memeluk Jonghyun karena mereka bertiga punya banyak kenangan bersama. Tapi memeluknya juga membuatnya tersadar bahwa mungkin saja saat ini Yunho juga ingin memeluk anak lelakinya.

Sesekali Kyuhyun mendengar nafas Kyungsoo yang masih terdengar seperti isakan. Matanya yang sembab dan membengkak karena terlalu banyak menangis hari ini membuatnya tampak lelah. Kyuhyun mempererat pelukannya, sesekali menciumi rambut indah anak itu.

“Kyungsoo-ya.. Eomma sangat menyayangimu.. Jangan pergi.. Jebal.. Jangan tinggalkan eomma sendiri..”

*

            Kyungsoo pergi. Ia pergi bersama Yunho, walau hanya untuk beberapa jam tapi Kyuhyun sempat berpikiran yang tidak-tidak mengenai Yunho akan membawa kabur Kyungsoo dan tidak pernah kembali.

“Kau hanya takut kehilangan Kyungsoo, jadi pikiranmu melantur kemana-mana.” Kata Minho seraya menyesap kopinya.

Kyuhyun tidak tahan tinggal di rumah sendiri, terutama setelah perginya Jonghyun. Maka ia meminta Minho untuk bertemu di café Yeon Hee, dimana Donghae juga berada di sana. Ia belum kembali bekerja karena ia belum bisa mengatasi rasa kehilangannya. Sedangkan Kyungsoo pergi bersama Yunho entah kemana di hari minggu yang cerah ini. Seharusnya Kyungsoo tinggal di rumah atau pergi bersama Kyuhyun, bukankah keesokan harinya ia akan kembali ke sekolah?

“Bukankah kau selalu bertemu dengannya? Ia tinggal denganmu. Biarkan lah ia melepas rindunya pada ayahnya hari ini.” Donghae ikut menambahkan.

Kyuhyun tersenyum lemah. “Berhentilah membaca pikiranku, hyung..”

“Aku tidak bisa.” Balas Donghae seraya tertawa kecil.

“Aku hanya takut..”

“Kalau Yunho hyung tidak akan membawa Kyungsoo pulang?” tebak Minho cepat. Donghae mungkin bisa membaca pikiran Kyuhyun, tapi Minho tidak perlu itu. Keduanya sudah terlalu dekat untuk tahu isi pikiran masing-masing.

Kyuhyun menghela nafas. “Apa aku salah jika mempunyai pikiran seperti itu?”

Baik Minho dan Donghae menggeleng.

“Sama sekali tidak. Itu adalah pemikiran yang wajar bagi setiap orang tua jika anaknya pergi walaupun cukup berlebihan mengingat anakmu pergi bersama ayah kandungnya.” Jelas Donghae.

“Dan lagi, kita cukup mengenal Yunho hyung. Mana mungkin ia melakukan hal-hal seperti itu?” kata Minho.

“Aku..”

Kata-kata Kyuhyun terhenti. Yunho dan Kyungsoo sudah tiba. Sesuai dengan janjinya, Yunho mengembalikan Kyungsoo pukul lima sore. Yunho tengah mengendong Kyungsoo dan keduanya tengah bercakap dengan seru seraya tertawa. Mereka terlihat sangat bahagia. Dan Kyuhyun baru saja menyadari bahwa keduanya sangat mirip. Mengapa ia tidak menyadari hal itu sejak awal? Dan lihat Kyungsoo, ia tampak sangat bahagia. Kyuhyun baru melihatnya tertawa lepas seperti itu sejak Jonghyun pergi.

“Apa kami terlambat?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya. Yunho sudah berdiri di depannya. Lihat dia, umurnya baru akan mencapai 30 tahun depan tapi sosoknya masih tetap seperti dulu, tampan dan berkharisma. Bahkan ia ia justru lebih tampan lagi saat ini.

“Kyuhyunnie.. Hei..”

Minho lah yang mencubit lengannya. Minho pasti tahu bahwa ia tengah mengagumi ketampanan pria yang selalu menjadi obsesinya selama ini. Diliriknya Donghae, lelaki itu terlihat sedang berusaha keras menahan tawanya. Wajah Kyuhyun jadi bersemu merah karenanya.

“Eomma.. Apa eomma baik-baik saja?” tanya Kyungsoo yang langsung menghambur ke dalam pelukannya.

“Eomma baik-baik saja. Hanya.. merindukanmu..” jawab Kyuhyun separuh berbohong dengan sedikit terbata.

“Maaf kalau kami terlambat. Kami tadi mengunjungi makam Ara dan makan siang bersama. Lalu aku membawa Kyungsoo ke game center dan..”

“Kalian sama sekali tidak terlambat, hyung..” potong Kyuhyun cepat. “Aku senang Kyungsoo sudah bisa tertawa lagi sejak Jonghyun meninggal.”

“Kau minum apa, Yunho-ssi?” tawar Donghae. Ia dan Yunho sudah bertemu beberapa minggu yang lalu dan ia bisa mengerti mengapa Kyuhyun tergila-gila kepada lelaki ini. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga sikapnya yang sangat sopan juga bersahaja.

Yunho menggeleng. “Tidak usah repot-repot. Aku baru saja menghabiskan es krim sebelum kami kemari. Kyungsoo ternyata semakin tergila-gila pada es krim. Dulu ia juga begitu.”

“Aku akan pergi ke toilet.” kata Minho seraya bangkit dari duduknya.

“Aku akan membuatkan Yunho kopi. Dan aku memaksa.” Kata Donghae ketika dilihatnya Yunho hendak menolak lagi.

Namun, alih-alih pergi ke toilet, Minho justru bergabung dengan Donghae di belakang bar dan mengintip aktivitas Kyuhyun dan Yunho. Keduanya memang sengaja meninggalkan Kyuhyun dan Yunho sendirian.

“Hyung, lihat wajah Kyuhyun. Walau masih ada sisa-sisa kesedihan karena ditinggalkan oleh Jonghyun, ia masih terlihat mengagumi Yunho hyung. Bagaimana mungkin ia tidak bisa melupakan lelaki itu?” bisik Minho keras. Matanya masih tertancap pada kedua lelaki yang duduk tak jauh dari sana.

“Bisakah kau menghindari cinta? Kadang kita sendiri tidak mau jatuh cinta pada orang yang salah. Tapi jika hatimu telah berbicara, apa kau bisa menghindarinya?” jawab Donghae yang masih sibuk membuat kopi spesial untuk Yunho.

“Kau tahu hyung, cerita ini akan berakhir manis jika keduanya bersatu. Jika Yunho hyung akhirnya menyadari bahwa Kyuhyun selama ini menyukainya dan meminta Kyuhyun untuk hidup bersamanya. Aku yakin tidak ada lagi air mata, kesedihan dan rasa sepi. Lihat, keduanya ditinggalkan oleh pasangan masing-masing, lalu bertemu lagi setelah beberapa tahun. Dan Kyungsoo butuh kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya.” Kata Minho panjang lebar.

“Aku tahu. Tapi apa kita bisa memaksa Yunho? Tidak! Kita saja tidak tahu jika Yunho juga menyukai Kyuhyun atau tidak. Kalau memang tidak, maka pertemuan ini seharusnya tidak terjadi. Karena Kyuhyun akan semakin menderita. Ia kehilangan Jonghyun, tapi juga tetap tidak bisa mendapatkan cinta pertamanya.”

“Sebentar.” Pekik Minho tertahan. “Hyung.. gunakan kekuatanmu.”

Donghae mengernyit. “Kekuatan? Kau pikir aku bisa menghajar Yunho? Lihat tubuhnya yang sebesar itu!”

“Bukan itu maksudku! Bukankah kau bisa membaca pikiran? Ayolah hyung.. Baca pikiran Yunho hyung untuk Kyuhyun.”

Donghae langsung menggeleng tegas. “Itu tidak sopan. Tidak mau!”

“Ayolah hyung.. Bukankah hal ini bisa membantu Kyuhyun? Jadi dia tidak perlu terus-menerus memikirkan Yunho hyung jika memang tidak ada cinta untuknya.” Bujuk Minho lagi.

Donghae tetap menggeleng. “Kalau pun aku melihat ke dalam pikirannya dan aku mendapatkan jawaban, bagaimana jika jawaban itu tetap tidak? Kau pikir Kyuhyun akan senang? Ia lebih baik tidak tahu sama sekali atau langsung mendapatkan jawaban dari setiap pertanyaannya dari Yunho sendiri dari pada adanya pihak ketiga seperti ini.”

Minho menghembuskan nafas berat. Ia tahu Donghae benar. Sebenarnya, bukan hanya karena kebahagiaan Kyuhyun semata, tapi ia pribadi juga sangat penasaran dengan perasaan Yunho terhadap sahabatnya itu.

Minho memandang Kyuhyun dan Yunho yang tengah bercakap-cakap dengan canggung. Kyungsoo duduk di pangkuan Kyuhyun sementara ia terus memandang wajah appa-nya dengan senyum. Kyuhyun sendiri terlihat berusaha keras tidak menatap lelaki di depannya dengan intens.

Bahkan ia sendiri belum bisa melupakan perasaannya kepada Yunho hyung..

*

             Sejak saat itu, Yunho sering berkunjung ke rumah keluarga Lee. Entah untuk sekedar menjemput Kyungsoo dan mengajaknya jalan-jalan keluar, atau hanya sekedar bermain game atau menemani Kyungsoo belajar di rumah. Yang jelas, ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anak semata wayangnya itu.

Kyuhyun sendiri tidak bisa menentukan apa ia akan merasa senang atau merasa bersalah karena hal ini. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena setidaknya ia dan Yunho bisa menjadi dekat seperti sekarang walau pun Kyungsoo lah yang menjadi alasan utama.

Namun di sisi lain ia merasa bersalah kepada Jonghyun karena terkesan menghianati cinta suaminya itu dengan cinta pertamanya sendiri. Karena sekuat apa pun Kyuhyun berusaha, ia tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Yunho.

Ia pernah sangat mendambakan Yunho menjadi kekasihnya, hingga saat ia masih bersama Doojoon. Namun kepergian Doojoon setidaknya membuatnya sedikit tersadar bahwa jika ia tetap bertahan dengan obsesinya, ia akan kehilangan orang-orang yang disayanginya. Ia juga sudah belajar mengatasi rasa sukanya kepada Yunho terlebih ketika ia memilih menjadi pendamping hidup Lee Jonghyun.

Tapi kini ia tak kuasa menolak godaan itu untuk datang kembali dan menuntunnya untuk tetap mendambakan seorang Yunho bahkan menginginkannya seperti perasaannya dulu. Walau hatinya selalu mengingatkannya mengenai Yunho yang mungkin saja tidak pernah mempunyai perasaan khusus padanya, tentang perasaan Jonghyun jika tahu hal ini, tentang Kyungsoo yang mungkin saja justru jadi berbalik membenci Kyuhyun.. Semua pertanyaan seolah berputar di kepalanya.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa kita semua berkumpul di sini untuk melihatmu melamun?”

Kyuhyun meyeringai lebar mendengar hardikan lelaki tampan di depannya. Lelaki itu memberenggut seraya menggosok dagunya dengan tak sabar, membuat wajah tampannya justru  tampak jauh lebih tampan.

“Maafkan aku. Aku hanya sedang memikirkan Kyungsoo.” Jawab Kyuhyun sedikit berbohong.

Namun kebohongannya ternyata berhasil. Choi Seunghyun alias TOP jadi melunak karenanya.

“Benarkah? Kyungsoo atau appa-nya yang kau pikirkan?” sindir Minho kejam.

Luhan dan sehun tertawa bersamaan karenanya. Reuni yang telah mereka rencanakan cukup lama itu akhirnya terlaksana juga karena kesibukan masing-masing.

“Aku senang kita semua bisa hadir di sini.” Kata Seunghyun lagi. “Terima kasih karena sudah mau menjadi sahabatku.”

“Aku bukan sahabatmu.” Jawab Sehun ketus seraya menjulurkan lidahnya.

“Ya!”

Kembali Luhan tertawa, kali ini diikuti oleh Minho dan Kyuhyun. Mereka akhirnya benar-benar bisa bersahabat dengan TOP pada akhirnya walaupun terkadang Sehun masih suka meledek TOP bahwa ia tidak ikhlas berteman dengannya. TOP juga sudah menjadi pribadi yang lebih baik beberapa tahun belakangan ini dan kini menjadi artis papan atas di Seoul, bahkan hingga ke mancanegara.

“Seharusnya kita bersulang untuk kebahagiaan kita semua.” Usul Luhan.

“Kupikir benar juga.” Sambung TOP. “Luhan kini sukses menjalankan perusahaan ayahnya, Minho juga sukses dengan karirnya dan telah memiliki seorang istri yang cantik, Sehun telah mengikuti jejakku untuk menjadi model terkenal..”

“Aku tidak mengikuti jejakmu!” sanggah Sehun cepat.

“Tapi akulah yang membuatmu jadi seperti ini. Kalau saja produserku..”

“Produsermu melihatku di jalan lalu menawariku untuk menjadi model di agensi nya. Kau hanya mengatakan bahwa kau mengenalku jadi aku lolos dengan sangat cepat.” Sanggah Sehun lagi.

“Ya! Panggil aku hyung! Kau ini tidak sopan sekali.” Hardik TOP keras dengan roman muka yang pura-pura cemberut.

Kembali kelimanya tertawa. Walau TOP dan Sehun masih sering bertengkar untuk hal-hal sepele, namun hubungan keduanya sungguh tidak seperti yang terlihat. Keduanya bahkan sangat akrab di agensi mereka.

“Dan Kyuhyun.. Telah mendapatkan seorang malaikat kecil untuk mengisi hari-harinya.” Kata TOP pada akhirnya.

Kyuhyun tersenyum. “Kyungsoo.. adalah segalanya bagiku. Setelah kepergian Jonghyun, aku merasa tetap kuat karena walau aku punya banyak sahabat baik, tapi aku juga memiliki dirinya. Walau mungkin saja, Yunho hyung akan..”

“Ya! Mana mungkin Yunho hyung mengambilnya darimu?” Minho menyanggah. “Dia mungkin kesepian dan dirinya adalah ayah kandung Kyungsoo, tapi ia tidak seperti itu. Kau hanya ketakutan, Kyu..”

“Kupikir Minho hyung benar.” Luhan menanggapi. “Kami mungkin tidak mengenal Jung Yunho dengan baik, tapi kami yakin ia bukanlah tipe orang seperti itu.”

“Dan lagi, bukankah hyung adalah orang tua Kyungsoo di mata hukum? Hyung jauh lebih berhak atas Kyungsoo dari pada ayahnya sendiri.” Sehun menambahkan.

“Aku mengerti perasaanmu. Kau hanya berpikir mungkin dia lebih membutuhkan Kyungsoo mengingat ia telah kehilangan istri dan sahabatnya, dan kau tidak tega melihatnya sendirian. Tapi di lain pihak, kau sendiri tidak mau kehilangan Kyungsoo.” TOP menjelaskan secara detail sudut pandangnya mengenai masalah yang dihadapi Kyuhyun.

Kyuhyun hanya bisa tersenyum lemah menanggapi pernyataan TOP yang memang benar itu. Namun di sisi lain, ia ingin tidak ada perpisahan. Ia ingin bisa bersatu dengan Yunho atau selamanya cukup seperti ini. Ia tidak perlu menjadi orang nomor satu untuk Yunho, tapi ia hanya ingin selalu berada di dekat lelaki itu. Apa yang diinginkan ini salah?

Reuni hari itu berlangsung cukup lama hingga akhirnya mereka harus berpisah menjelang pukul sepuluh malam. TOP dan Sehun yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara radio memutuskan untuk berpisah duluan, meninggalkan tiga lainnya.

“Hujan..” kata Kyuhyun seraya memandang ke luar jendela.

“Ah.. Andai saja hujan turun ketika aku sudah berada di rumah..” keluh Luhan.

“Bukankah sopirmu akan menjemputmu? Kau cukup beruntung karena di malam basah seperti ini, kau tidak perlu menyetir.” Sahut Minho yang mengingat setelah ini ia harus menjemput Yeonhee di cafe.

“Bagaimana dengan Kyuhyun hyung?” Tanya Luhan pada Kyuhyun yang masih memandang tetes hujan yang menempel di jendela kaca kedai kopi itu.

“Seperti biasa, aku akan pulang naik bus.”

“Apa? Di waktu seperti ini? Selain sudah malam, di luar sangat dingin. Mana mungkin hyung bisa pulang sendiri seperti ini?”

“Aku sudah biasa melakukannya.”

“Tapi..”

Belum sempat Luhan menyelesaikan kalimatnya, Minho sudah menendang kakinya di bawah meja dengan pandangan memperingatkan. Luhan sempat tidak mengerti namun memutuskan untuk tidak menyanggah lagi dan menunggu penjelasan Minho nantinya.

Tak lama kemudian pertanyaan di dalam kepalanya terjawab. Seorang lelaki tampan tampak memasuki kedai kopi dan berjalan menuju meja mereka. Lelaki itu Jung Yunho.

“Anneyong haseyo.” Sapa Yunho kepada mereka semua. Ia lalu berpaling kepada Kyuhyun. “Kau sudah siap?”

Kyuhyun yang terkesiap memandang Yunho sejak lelaki itu menampakkan diri di sana, jadi cukup bingung dengan pertanyaan yang ditujukan kepadanya.

“Aku?” tanyanya seraya menunjuk dirinya sendiri dengan tidak yakin.

Yunho mengangguk. “Minho mengirimiku pesan bahwa kalian ada di sini dalam rangka reuni dan ia tidak bisa mengantarmu pulang karena harus menjemput Yeonhee. Di samping itu, hari sudah malam dan kau tidak membawa payungmu, maka ia memintaku untuk menjemputmu.”

Luhan langsung paham namun tak kuasa menahan diri untuk tidak tersenyum lebar dengan akal Choi Minho. Di sampingnya, Kyuhyun tampak malu. Terlihat dari rona kemerahan yang muncul di kedua pipi pucatnya.

“Jadi, apa kau sudah siap?” ulang Yunho.

Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah Minho dan memberikan tatapan kau-akan-menjelaskan-semuanya-padaku-nanti. Kemudian ia menoleh pada Yunho dan mengangguk. Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya yang tetap tersenyum lebar padanya, ia akhirnya pergi juga bersama Yunho.

Kyuhyun belum pernah ditinggal berduaan bersama Yunho seperti ini sebelumnya. Minho selalu ada bersamanya karena lelaki itu tahu pasti bagaimana gugupnya Kyuhyun jika ia harus berhadapan dengan cinta sejatinya itu. Memang ia pernah berdua dengan Yunho sebelumnya. Tetapi saat itu mereka bertemu di areal pemakaman Jonghyun dan Kyuhyun sendiri sedang dalam keadaan sedih hingga sedikit melupakan perasaannya.

Tapi kini, di malam dingin seperti ini, di bawah guyuran hujan, bagaimana mungkin perasaan itu tidak muncul lagi?

“Dingin sekali. Apa kau tidak kedinginan?” Tanya Yunho, memecah keheningan diantara mereka.

Keduanya tengah berdesakan di bawah payung besar Yunho, berjalan pelan menyusuri trotoar, menuju ke halte bus terdekat.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk. Ia takut menjawab, takut Yunho bisa mencerna kegugupan dalam nada suaranya. Yunho hanya tersenyum melihat reaksi lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak bicara, ia meraih tangan kanan Kyuhyun dan menggenggamnya erat.

Sontak Kyuhyun tersentak. Aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengali. Otaknya serasa berhenti bekerja. Kakinya bahkan ikut goyah, tak sanggup melangkah. Kalau bukan Yunho yang masih menuntunnya untuk tetap melangkah bersamanya, Kyuhyun mungkin sudah pingsan.

“Tanganmu dingin sekali. Kau pasti sangat kedinginan.” Kata Yunho setibanya mereka di halte bus yang sepi itu. Hanya mereka berdua di sana. Yunho melepaskan genggamannya sesaat guna menutup payungnya dan menyandarkannya di tiang penyangga besi di sebelah Kyuhyun. Ada rasa tidak rela saat itu. Kyuhyun masih menginginkannya. Ia masih berharap Yunho menggenggam tangannya seperti tadi dan tidak pernah melepaskannya.

Namun impiannya tidak pernah menjadi nyata, justru semakin indah. Karena alih-alih menggenggam tangannya seperti sebelumnya, Yunho justru menariknya dalam pelukan hangatnya.

Feels like home..’ pikir Kyuhyun.

Ia merebahkan kepalanya di dada bidang itu dan memejamkan matanya, meresapi kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya. Rasanya lebih hangat dari pada kopi yang ia nikmati di café tadi. Bahkan hembusan angin seolah mendorongnya untuk tenggelam lebih dalam di pelukan itu.

“Lain kali, jangan pulang terlalu malam. Dan jangan pernah lupa membawa payung di musim-musim seperti ini. Kau harus kuat demi Kyungsoo. Ia akan lebih kuat jika eomma-nya sehat selalu bukan?” kata Yunho penuh kasih.

Sungguh ia rela mendengar omelan Yunho walau nada suaranya barusan benar-benar lemah lembut atau pun kemarahan lelaki itu dan meninggalkan segalanya, melupakan segalanya untuk sesaat berada di kondisi seperti ini.

“Maafkan aku..”

Yunho tertawa kecil. “Mengapa kau minta maaf? Kau sama sekali tidak bersalah kepadaku. Aku hanya mengingatkanmu. Karena aku cukup khawatir ketika melihat isi pesan Minho tadi. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu jika kau pulang selarut ini? Lain kali, kabari saja aku jika memang kau terjebak seperti ini. Aku akan datang menjemputmu.”

Kata-kata Yunho bagai lagu terindah, menyusup masuk ke gendang telinga Kyuhyun, menari-nari di sana, lalu berbaring, enggan untuk beranjak. Dan Kyuhyun terbuai, ia bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Yunho melepaskan pelukannya. “Bus kita sudah datang, ayo naik.”

Kyuhyun sedikit menyesal mengapa bus itu terlalu cepat datang, tentu saja ia lelah dan ingin segera bertemu dengan tempat tidurnya tetapi dengan adanya Yunho di sampingnya, sepertinya ia tidak membutuhkan apa-apa lagi, segalanya sempurna.

“Maaf aku tidak membawa mobilku.” Kata Yunho ketika keduanya sudah duduk dengan nyaman di dalam bus yang kini bergerak dengan kecepatan sedang.

“Eh? Mobil?” Tanya Kyuhyun bingung.

“Benar. Setelah aku mengantar Kyungsoo ke rumahmu, mobilku mogok jadi aku memasukkannya ke bengkel dan baru bisa kupakai kembali besok pagi. Jadi, aku terpaksa menjemputmu dengan kendaraan umum seperti ini.” Jelas Yunho dengan nada menyesal dalam suaranya.

Kyuhyun baru ingat, ketika ia akan pergi reuni bersama teman-temannya, Yunho membawa Kyungsoo jalan-jalan dan berjanji akan mengembalikan anak itu ke rumah Kyuhyun, di mana Donghae sudah menunggu untuk menjaga si kecil Kyungsoo hingga sang eomma pulang.

Lihat kan? Karena terlalu sibuk menenangkan debar jantungnya, ia baru menyadari bahwa Yunho menjemputnya bukan dengan mobilnya. Dan dengan nada suara Yunho seperti itu, sungguh, Kyuhyun ingin sekali menyanggah kalau situasinya justru jauh lebih menyenangkan jika seperti saat ini. Tapi ia tidak mungkin mengatakan hal itu kepada Yunho, bisa-bisa Yunho menganggapnya aneh.

Bus mereka akhirnya berhenti di tempat tujuan mereka. Hujan sudah reda. Namun dinginnya masih menusuk kulit, menyusup ke tulang-tulang Kyuhyun. Ia dan Yunho kini berjalan pelan, memasuki area perumahan Kyuhyun.

“Kyungsoo.. Bertambah cerdas kini.. Terima kasih karena telah mengajarkannya banyak hal..”

Kyuhyun menoleh. Ia mendapati Yunho sedang tersenyum bangga sedangkan pandangan matanya menerawang ke depan sana.

“Ia memang cerdas dari dulu. Walau pun aku dan Jonghyun banyak mengajarinya, namun akarnya lah yang berperan penting. Ia sudah pasti cerdas karena dirimu, hyung. Karena ia adalah anakmu. Tentu saja ia mewarisi kecerdasanmu. Apa kau lupa, dulu kau adalah satu-satunya pelajar di sekolah kita yang mengikuti pertukaran pelajar di Amerika?”

Yunho tertawa kecil. “Kau masih ingat hal itu?”

“Tentu saja. Ara noona sangat merindukanmu. Ia sering bercerita padaku dan Taecyon hyung.”

Kyuhyun langsung menyesali kata-katanya ketika melihat perubahan wajah Yunho saat ia menyebutkan nama mantan istri lelaki itu.

“Maaf.. Aku..”

Yunho menggeleng. “Tidak apa-apa. Memang sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh terus menerus terperangkap dalam perasaan ini. Walau cukup sulit, tapi aku harus bisa melakukannya.”

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena ia takut satu kata saja bisa membuka kembali luka lama Yunho. Dan ia tidak mau melihat lelaki tegar itu bersedih. Tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin dilakukannya.

“Kau tahu, mungkin kau akan merasa aneh dengan penuturanku setelah ini. Tapi aku sendiri tidak mengerti mengapa tahun-tahun ini cepat berlalu dengan ketidakbahagiaan di pihakku.”

Kyuhyun sama sekali tidak mengerti maksud perkataan lelaki di sampingnya itu. Namun ia memutuskan untuk tetap mendengarkan, menjadi pendengar yang baik baginya. Dan Yunho pun melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Ara menikah setelah menjalin hubungan bertahun-tahun. Siapa lagi ayng bisa mendampingiku selain dirinya? Walau ia memang cukup manja dan sedikit kekanakan, tapi ia juga wanita yang kuat dan mandiri. Kekagumanku padanya sangat besar, sebesar rasa cintaku. Dulu..”

Yunho terdiam sesaat, menelan ludah dengan susah payah lalu kembali bercerita. “Kehidupan keluarga kami setelah menikah selalu baik-baik saja. Tidak ada satu pun cacat. Aku bekerja dengan baik, begitu juga dirinya. Bahkan di tengah karirnya yang cemerlang, ia memutuskan untuk mengundurkan diri saat ia mengetahui dirinya tengah hamil. Ia ingin mengurus anak kami dengan baik hingga mengorbankan cita-citanya. Lihat, bagaimana aku tidak mengagumi wanita seperti itu?”

Hati dan perasaan Kyuhyun kini serasa ditusuk-tusuk. Bagaimana rasanya jika lelaki yang kau cintai secara terang-terangan berbicara dan mengagung-agungkan wanita lain di depanmu? Walau itu istrinya sendiri, tapi tetap saja tidak akan terasa mudah untukmu bukan?

“Ketika Kyungsoo lahir, semuanya terasa lebih sempurna. Dan aku tidak meminta hal lain lagi. Semuanya cukup bagiku. Kami sehat dan bahagia adalah karunia terbesar untukku. Hingga aku menemui beberapa kejanggalan ketika Changmin akhirnya memutuskan untuk kembali dan menetap di Seoul.”

Shim Changmin.. Changmin hyung.. Kekasih pertamaku, sahabat Jung Yunho, menghianati persahabatannya sendiri..’ bisik Kyuhyun dalam hati.

“Changmin sering datang ke rumahku, ia sering menemani Ara karena ia sendiri akhirnya menjadi pelatih termuda yang direkrut oleh tim basket nasional Seoul. Saat itu bukan musim tanding, jadi Changmin punya banyak waktu. Sedangkan aku tidak punya banyak waktu karena aku dipromosikan di kantorku. Dengan naiknya jabatanku, pekerjaanku semakin banyak.”

Yunho menghela nafas panjang lalu kembali bercerita. “Suatu hari aku pulang lebih awal karena kondisi badanku yang cukup lemah. Aku bahkan sempat menemui dokter dan meminta beberapa obat untuk demamku. Karena saat itu aku tidak kuat untuk menyetir sendiri, maka salah satu teman kantorku mengantarku pulang. Dan di sanalah aku melihatnya.”

Melihat apa?’ pikir Kyuhyun. Ia ingin bertanya tapi ia terlalu takut menyakiti perasaan Yunho. Apalagi mata lelaki itu kini tampak berkaca-kaca. Dan bagai mengerti isi pikiran Kyuhyun, Yunho melanjutkan kata-katanya.

“Aku melihat Ara, duduk di atas pangkuan Changmin. Mereka tengah berciuman dengan mesra. Sekali melihat, aku langsung tahu bahwa ciuman itu bukan ciuman yang pertama. Mereka berciuman dengan mesra dan penuh kasih. Bahkan bahasa tubuh mereka pun seolah memberiku kenyataan lain, mungkin saja mereka telah melakukan hal yang lain, yang aku sendiri enggan menebaknya.”

“Aku marah, sedih, sakit, tapi aku tidak bisa muncul begitu saja di depan mereka. Maka seperti kedatanganku yang diam-diam, aku juga pergi diam-diam. Aku menginap di hotel dan mengabari Ara bahwa aku akan terlambat pulang karena pekerjaanku. Dan betapa sakitnya aku karena ia mengatakan bahwa semuanya di rumah baik-baik saja, aku hanya harus menyelesaikan pekerjaanku dulu barulah kembali ke rumah. Belakangan aku jadi sadar bahwa itu adalah jawaban yang selalu diberikan Ara ketika aku akan terlambat pulang. Mungkinkah saat itu ia sedang bersama Changmin?”

Kyuhyun bisa melihat kesedihan di mata Yunho walau lelaki itu mencoba menahannya sekuat tenaga. Ia sendiri merasa terlalu marah pada Ara karena membuat lelaki baik seperti Yunho bisa terluka seperti itu. Ia sama sekali tidak sanggup. Keduanya pun berhenti melangkah karena sudah tiba tepat di depan rumah Kyuhyun. Namun Kyuhyun maish bertahan di sana, ingin mendengar lebih lanjut.

“Aku membiarkan hal itu terus terjadi dengan harapan salah satu dari mereka akan sadara dan menghentikan affair mereka. Aku bahkan menyewa seorang detektif untuk mengawasi rumahku dan mendapatkan jawaban yang lebih menyakitkan. Mereka memang sudah melakukannya, bahkan sudah berkali-kali. Istri dan sahabatku sendiri, orang-orang yang kusayangi.”

“Karena aku merasa segalanya sudah terlalu menyakitiku, aku pun berniat bicara pada Ara. Namun tepat di saat itu, ia justru memberiku surat permohonan cerai. Saat itu juga, dunia ku terasa hancur. Hal pertama yang kupikirkan hanya Kyungsoo. Bagaimana anak itu akan bereaksi nanti jika ia akhirnya tumbuh besar dan mengetahui cerita yang sebenarnya? Lagi pula, ia masih terlalu kecil saat itu untuk dipisahkan dari kedua orang tua kandungnya.”

“Pertengkaran pun sering terjadi karena berebut hak asuh anak kami. Dan akhirnya pengadilan memutuskan ia harus ikut dengan ibunya karena masih di bawah umur. Dan seperti yang kuceritakan dulu, aku akhirnya pergi dari hidup Ara dan Changmin, meninggalkan anak semata wayangku. Walau masih sering menghubungi Kyungsoo, tapi tetap saja hal ini tidak cukup untuknya. Dan aku sangat menyesal karena mengikuti emosiku saat itu. Andai aku tetap berada di Seoul, mungkin aku tidak akan pernah kehilangan Kyungsoo..”

Yunho sudah menitikkan air matanya. Hal-hal yang terjadi di kehidupannya sungguh berat hingga membuatnya nyaris susah bernafas saat itu. Kyuhyun hanya bisa memeluknya erat, memberi dukungan moral walau ia tidak tahu apa hal itu masih berguna saat ini.

“Menangis lah, hyung. Terkadang setelah menangis, kita justru menjadi lebih lega. Aku tahu kau adalah lelaki yang kuat. Maka kau bisa melewati semuanya dan kembali menjadi Yunho yang dulu.”

Yunho membalas pelukan itu sebentar lalu melepaskannya. Ia menghapus airmatanya seraya tersenyum.

“Maaf karena membuatmu mendengarkan ceritaku yang sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Maafkan aku.”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung, aku justru senang karena kau mau berbagi cerita denganku. Aku sungguh menghargai kepercayaanmu padaku.”

“Kau tahu, ketika aku menceritakannya pada kedua orang tuaku, aku tidak menangis. Ketika aku bercerita kepada salah satu sahabatku di Inggris, aku tidak menangis. Namun entah mengapa, ketika bercerita kepadamu, aku justru menangis. Dan anehnya aku merasa lega. Padahal sebelumnya aku selalu merasa masih ada sesuatu yang mengganjal di hatiku walau aku sudah berbagi cerita dengan orang lain.” Jawab Yunho dengan raut wajah penasaran.

“Mungkin memang sudah saatnya kau berdamai dengan dirimu sendiri dan masa lalumu, hyung. Mungkin kebetulan aku lah orang yang tadi mendengarkan ceritamu. Bisa saja orang lain bukan? Jadi, bukan karena aku.” Kata Kyuhyun dengan nada rendah tapi tidak bisa menyembunyikan rona kemerahan di pipinya.

“Tidak.. Aku merasa.. Mungkin kau lah orang yang tepat..” kata Yunho lagi seraya menatap mata Kyuhyun dalam-dalam. Ia tidak bicara lagi selama hampir semenit ke depan dan hanya menatap Kyuhyun dengan lembut. “Aku selalu menyukai matamu yang indah..”

Kyuhyun jadi terpaku dengan kata-kata itu. Ia terbuai dan terlena. Kakinya pun terasa berat untuk membantunya berbalik dan memasuki rumahnya. Dan entah keberanian dari mana, bibirnya bergerak, mengucapkan kata-kata yang ia sendiri tidak pernah berani mengatakannya, meluncur keluar dari balik bibirnya bagai mantra yang sudah dihapalnya di luar kepala sejak dulu.

“Hyung.. Aku mencintaimu..”

*

yunkyu hug

To be continued..