Million Words – Chapter 4

Title                      : Million Words

Rate                      : T+

Genre                   : BL, Romance, Angst

Pair                        : ChangKyu, BinKyu

Cast                      : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin

Co Star                : Kim Myungsoo, Kim Jongin and others

Warning              : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

 

CHAPTER 4

‘Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku mencintai Changmin dan aku akan terus ada disampingnya.’

Kata-kata itu terus bergema di kepala Kyuhyun tanpa henti. Sebenarnya ia tidak perlu berpikiran seperti itu andai saja Kim Woobin tidak menghadiahkan sebuah ciuman singkat padanya seminggu lalu.

Ciuman itu seharusnya tidak berarti apa-apa. dan memang seharusnya seperti itu. Namun entah mengapa Kyuhyun tidak bisa mengabaikan debaran-debaran aneh di jantungnya saat itu. Debaran yang biasanya hanya untuk Changmin. Dan ia benci harus mengakui kalau ia sempat merasakan debaran seperti itu untuk seseorang anak kecil seperti Kim Woobin.

Kyuhyun bersandar di kaca ruang guru yang menghadap langsung ke lapangan basket di bawah sana. Memandangi anak-anak murid yang melakukan aktivitas di sekitar lapangan basket. Bersenda gurau, bermain basket, mengobrol atau hanya duduk di sana sambil memainkan smartphone mereka.

Kemudian pandangan Kyuhyun jatuh pada sosok lelaki tegap yang belakangan membuat kepalanya pusing setengah mati dengan tingkah, kata-kata dan perlakuan manisnya. Dan nyaris membuat Kyuhyun terbuai. Kim Woobin tengah mengobrol dengan beberapa teman perempuannya sementara kedua kelincinya duduk dengan tenang di samping kanan kirinya bagai pengawal yang tengah menjaga rajanya.

Lelaki itu tampak bicara dengan wajar namun sepertinya ia tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari tatapan-tatapan memuja dari para gadis di sekitarnya. Memang sudah sewajarnya para gadis itu menyukainya. Apa kurangnya anak itu? Walaupun dia malas dan pemberontak, namun ia tampan, cerdas, baik hati dan kaya raya.

Dan sudah semestinya ia bergaul dengan sesamanya. Bahkan ia seharusnya menjalin hubungan dengan gadis seumurannya. Kalaupun ia tidak menyukai wanita, setidaknya ia berhubungan dengan lelaki sepantaran umurnya, bukan dengan Kyuhyun. Salah dan menyalahi aturan. Walaupun dalam cinta segalanya sah-sah saja, tapi dalam kehidupan nyata, perbedaan umur mereka yang cukup jauh apalagi dengan status Kyuhyun sebagai guru membuat mereka memang tidak boleh bersama dalam arti khusus.

Kembali Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri. Ia telah berjanji dalam hati bahwa ia akan menghadapi Woobin dengan perasaan yang netral dan ia harus kembali ke jalan yang lurus, bersama Changmin.

“Mengapa kau selalu melamun akhir-akhir ini?”

Kyuhyun tersentak dari lamunannya lalu menoleh dengan senyum yang dipaksakan. “Aku tidak melamun. Aku hanya sedang berpikir.”

Lee Hyukjae menyipitkan matanya. “Berpikir? Baiklah, aku ralat. Mengapa kau selalu berpikir belakangan ini?”

“Bukankah semua manusia selalu berpikir setiap hari?” Kyuhyun balas bertanya.

“Kau tahu maksudku.”

Kyuhyun menghembuskan nafas berat. Ia tidak ingin membicarakan hal ini dengan siapa-siapa. Hal ini cukup dirinya sendiri yang tahu sebagai rahasia kecil dan gelap didirinya, tidak untuk dibagi ke siapapun.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja memang aku sedang ada sedikit masalah.”

“Dengan Changmin?”

Kyuhyun memberenggut. “Mengapa kau selalu menyangkut-pautkan segala sesuatunya dengan Changmin? Apa aku tidak punya kehidupan lain selain Changmin?”

“Memang tidak. Aku sudah cukup lama mengenalmu dan hidupmu selalu seputar Changmin. Jadi jika kau jadi seperti ini, sudah pasti ada hubungannya dengan dia.”

Kyuhyun jadi kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa menyalahkan Hyukjae yang setidaknya cukup dekat dengannya di sekolah hingga tahu seperti apa kehidupan sehari-hari Kyuhyun. Namun sekali lagi, Kyuhyun enggan buka mulut. Cukup ia sendiri yang tahu.

*

Rona merah muda yang menjalar di pipinya ketika Changmin memberinya pujian atas inisiatif Kyuhyun untuk membelikan iPad baru untuk Changmin sebagai organizer.

“Terima kasih, Kyu.”

Kyuhyun tersenyum. “Aku hanya tidak mau kau kerepotan dengan laptop. Bukankah iPad jauh lebih praktis?”

“Tentu saja. Sekali lagi, terima kasih, Kyu. Kau benar-benar mengerti diriku.”

“Kapan aku tidak mengerti dirimu?”

Itu adalah percakapan terakhirnya dengan Changmin sekitar dua minggu yang lalu sebelum tunangannya itu pergi ke Tokyo. Dan seharusnya Changmin sudah ada di apartemen saat ini, karena pesawatnya tiba pagi tadi.

Akhir-akhir ini Changmin jauh lebih sibuk daripada sebelum-sebelumnya. Yayasan keluarganya benar-benar menarik minat banyak sekali orang di luar sana yang mengharuskan mereka membuka beberapa cabang hingga ke Tokyo.

Andai Kyuhyun tidak punya pekerjaan, ia pasti akan dengan senang hati ikut ke berbagai tempat yang Changmin datangi, walaupun natinya ia hanya akan menonton apa yang dilakukan kekasihnya itu. Tapi tak apa, asal ia bisa terus bersama Changmin daripada sendirian di apartemen mereka.

Sebuah bunyi bip kecil membuat Kyuhyun segera meraih ponselnya dari balik saku celananya dan membaca pesan yang masuk dengan riang. Namun wajahnya berubah ketika ia melihat nama si pengirim pesan.

(From : Idiot) “Mengapa kau terlihat selalu murung akhir-akhir ini? Aku merindukan senyummu.:(“

Kyuhyun mengabaikan pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya itu. Namun setelah sepuluh menit, kembali ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan lain masuk.

(From : Idiot) “Mengapa kau tidak membalas pesanku? Jangan memaksaku untuk nekad. Tolong balas pesanku agar aku tahu kau baik-baik saja.”

Kyuhyun memberenggut melihat pesan itu. Mengapa anak kecil ini mudah sekali mengancamnya? Dengan cepat ia membalas pesan itu.

(From : Sweet Pumpkin) “Kau masih juga tidak mengerti mengapa aku murung?”

(From : Idiot) “Bukankah aku sudah minta maaf untuk kesekian kalinya mengenai ciuman itu? Harus berapa kali aku minta maaf? Andai aku tahu bahwa tindakanku tempo hari bisa menghilangkan senyummu, aku tidak akan pernah melakukannya.”

(From : Sweet Pumpkin) “Bukankah sudah kukatakan bahwa aku enggan membicarakan hal itu lagi? Mengapa kau terus-menerus membicarakannya?”

(From : Idiot) “Karena itulah yang membuatmu murung. Apa yang harus kulakukan agar kau mau tersenyum lagi? Aku bahkan rindu omelanmu.Apa aku harus menciummu sekali lagi agar kau langsung bereaksi?”

(From : Sweet Pumpkin) “Ya! Bukankah sudah kukatakan berhenti membicarakannya? Dan jangan berani menciumku lagi!”

“Anak ini benar-benar membuatku naik darah! Kalau kau berani melakukannya lagi, aku akan..”

“Akan apa?”

Kyuhyun tersentak. Tanpa memutar tubuhnya pun ia tahu siapa yang tengah berdiri di belakangnya. Tentu saja, ia lupa bahwa Kim Woobin suka mengikutinya kapan dan dimana pun. Bagaimana mungkin ia melupakan hal sesederhana itu?

“Berhenti mengikutiku!” kata Kyuhyun ketus lalu melanjutkan acara jalan kakinya ke halte bus seolah tidak ada interupsi sebelumnya.

Tapi langkah-langkah berat di belakangnya tidak juga berhenti mengikutinya dan harapan Kyuhyun agar bertemu banyak orang di halte bus hancur ketika melihat halte tersebut kosong melompong. Yang artinya hanya akan ada dirinya dan Woobin di sana.

“Mengapa kau menolak aku untuk mengantarmu?”

Masih dengan nada ketus, Kyuhyun menjawab. “Aku bisa pulang sendiri.”

Lalu ponselnya berbunyi lagi, kali ini sebuah nada dering yang Kyuhyun atur khusus untuk Changmin.

“Changmin-ah..!” seru Kyuhyun bersemangat, mengabaikan raut muka menjengkelkan milik Woobin di sebelahnyal ketika ia menyerukan nama Changmin dengan mesra.

“Kyuhyun-ah, apa kau sudah selesai mengajar?” tanya Changmin di seberang sana.

“Tentu saja. Aku sedang menunggu bus. Sebentar lagi aku akan tiba di apartemen. Tunggu aku di sana, ne?”

Sunyi sesaat. Wajah ceria Kyuhyun berangsur-angsur lenyap. Ia kemudian menggigit bibirnya dengan tampang sedih.

Woobin yang sedari tadi memperhatikannya jadi sedikit penasaran. ‘Nah, apa maksudnya itu? Mengapa wajahnya jadi seperti itu?’

“Jadi.. Kau tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini?”

‘Brengsek!’ maki Woobin dalam hati. Kembali ia memusatkan perhatiannya pada Kyuhyun. Kini lelaki itu menggigit bibirnya lebih keras seraya mati-matian menahan gumpalan air yang mengambang di pelupuk matanya.

Dada Kim Woobin terasa berat. Entahlah, melihat Kyuhyun seperti ini membuat emosinya bergejolak. Lelaki tolol mana yang tega meninggalkan kekasih seperti Kyuhyun seperti ini?

“Tidak apa-apa, sungguh. Aku memang sedikit pilek, tapi aku sudah meminta obat di klinik tadi. Besok pasti akan sembuh. Baiklah, jaga kesehatanmu. Hubungi aku kalau kau sudah tidak sibuk lagi. Sampai jumpa.”

Begitu Kyuhyun memutuskan pembicaraan itu, pecah sudah tangisnya. Sakit di hatinya membuatnya lupa dimana ia berada saat itu dan bagaimana ia sudah berada dalam pelukan Woobin. Dengan perasaannya saat ini, dengan kesedihannya serta kebutuhannya akan teman bicara, ia jadi lupa mengusir Woobin.

Setelah puas menangis, barulah Kyuhyun menyadari bahwa ia tengah memeluk Woobin dengan erat. Seharusnya ia melepaskannya, seharusnya ia segera memisahkan tubuh mereka yang bersatu dan seharusnya ia merasa malu atas tindakannya ini.

Namun sebaliknya, ia merasakan hal yang berbeda. Ia tidak ingin melepaskan dekapan hangat itu. Bahkan untuk sekedar mengangkat wajahnya dari dada bidang itupun ia enggan. Dan anehnya, ia merasa sangat nyaman disana, rasanya seperti.. di rumah.

“Kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mendengar suara berat Woobin menanyainya seraya mengelus punggungnya lembut. Karena tak mendengar jawaban apapun, Woobin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah guru Geografinya itu.

“Lihatlah, wajahmu sampai memerah karena terlalu banyak menangis. Ayo, aku akan mengantarmu pulang lalu kau bisa makan dan beristirahat.”

Andai saja Woobin tahu wajah Kyuhyun memerah bukan karena menangis, mungkin anak nakal itu akan tertawa terbahak-bahak sambil terus menggoda Kyuhyun.

*

“Makanlah, nanti sup mu dingin.”

Kyuhyun mengamati semangkuk sup yang baru saja selesai dimasak oleh Woobin. Asap menggepul di atas mangkuk itu disertai aroma yang enak, membuat perut Kyuhyun semakin meraung minta diisi.

“Aku baru tahu kalau kau bisa memasak.” Kata Kyuhyun setelah menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. Dan ia harus mengakui bahwa masakan Woobin memang lezat. Sungguh kontras dengan wajah si pembuat sup yang begitu dingin.

“Kau tidak pernah belajar untuk mengenalku, wajar saja semuanya terasa asing bagimu.” Kata Woobin seraya ikut duduk di samping Kyuhyun, meraih remote televisi kemudian menyalakan benda kotak bermerek mahal dengan tipe keluaran terbaru itu.

“Jangan sakit hati.”

Woobin tertawa. “Sama sekali tidak. Justru dengan begitu, aku terasa sangat misterius bagimu, bukan? Jauh lebih menantang.”

Keduanya lalu terdiam setelah itu. Kyuhyun sibuk menghabiskan supnya sedangkan kedua mata Woobin terpaku di televisi. Lama-kelamaan Kyuhyun baru menyadari bahwa Woobin sebenarnya tidak menonton. Tatapan lelaki itu kosong dan matanya sama sekali tidak bergerak mengikuti pergerakan di layar televisi.

Kyuhyun ingin menyadarkan lelaki itu namun harga diri menahannya. Maka ia meletakkan mangkuk nya di meja dengan bunyi berisik agar Woobin tersadar. Dan benar saja, segera setelah itu, Kim Woobin menoleh padanya lalu tersenyum.

“Kau sudah selesai makan? Beristirahatlah.”

“Aku tidak lelah.”

“Tapi kau sedang sedih. Tidur akan sangat baik untukmu. Kau bisa melupakan kesedihanmu sejenak.”

“Aku ingin minum sedikit baru tidur.”

“Tidak!” sanggah Woobin dengan nada bossy-nya seperti biasa. “Kau akan mengajar besok pagi. Kau butuh istirahat.”

“Tapi aku ingin minum sedikit untuk meredakan kesedihanku.” Kyuhyun masih bertahan dengan keras kepalanya. Anehnya ada rengekan dalam nada suaranya.

Woobin menatapnya dengan galak. “Tidak akan kubiarkan kau minum walau setetes pun. Sekarang pergilah ke kamarmu dan tidurlah. Aku akan pergi jika kau sudah benar-benar terlelap.”

Mungkin terdengar biasa saja. Mungkin orang-orang akan membenci sikap berlebihan Woobin atau sikap Kyuhyun yang membiarkannya diatur oleh anak kecil apalagi orang itu sudah jelas-jelas menyukai dirinya. Namun, bagi Kyuhyun ini bagaikan angin segar. Woobin memperlakukannya dengan normal.

Tidak, jangan berpikir bahwa Changmin tidak memperlakukannya dengan normal. Tapi ia sendiri tidak bisa mencegah perasaan hangat yang terbit di hatinya. Ketika Woobin memeluknya kala ia menangis, kala Woobin berdebat dengannya hingga melarangnya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Kyuhyun menyukai semua itu. Ia merasa gairahnya kembali membara. Ia seperti.. hidup kembali.

“Kyuhyun..”

Kyuhyun langsung mengerucutkan bibirnya. “Mengapa kau tidak bisa memanggilku dengan sopan? Setidaknya panggil aku Kyuhyun-ssi.”

“Bagaimana dengan Kyuhyun-ah? Ah.. Itu sama saja dengan panggilan tunanganmu itu. Aku akan memanggilmu Kyuhyunnie.” Kata Woobin dengan cengiran lebar.

Cebikan di bibir Kyuhyun semakin dalam, walau sebenarnya dalam hatinya ia menyukai kata ‘Kyuhyunnie’. Terdengar manis walau sedikit kekanakan.

“Jangan menggodaku.”

Kyuhyun segera melepaskan tautan cebikan di bibirnya ketika jemari Woobin menari diatas permukaan bibirnya.

“Aku benar-benar terpesona olehmu.. Aku.. Sulit sekali mengabaikannya..”

Genderang di jantung Kyuhyun bertabuh dengan kencang ketika wajah Woobin mendekat dan semakin mendekat hingga Kyuhyun bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di wajahnya.

Dan ketika bibir mereka bersatu, Kyuhyun hanya bisa terdiam. Terpana akan buaian itu. Terkejut akan manisnya bibir lain yang dengan berani menjamah miliknya saat itu. Kemudian Woobin melepaskan kecupannya. Namun ia tidak menarik wajahnya menjauh, melainkan tetap nyaris menempel. Mata keduanya saling menatap, seolah saling memberikan pesan.

Detik berikutnya, entah siapa yang memulai, mereka sudah mulai saling memagut dengan panas. Bibir keduanya saling beradu dalam tempo cepat, berusaha saling menghancurkan bibir satu sama lain. Ketika Kyuhyun menghisap keras, Woobin juga melakukan hal yang sama, membuat Kyuhyun semakin bersemangat melahap bibir kenyal dalam pagutannya itu.

Lidah mereka saling bermain bagai dua sahabat yang baru saja bertemu setelah terpisah sekian lama, mengalirkan getaran ke seluruh tubuh Kyuhyun. Apalagi tangan Woobin sudah mulai beralih dari mengelus punggung Kyuhyun lalu turun ke paha dan mulai meremas kasar di sana.

“Ahhhhh…”

Kyuhyun hanya bisa mendesah di sela-sela ciuman mereka. Satu tangannya mulai menjambak bagian belakang rambut Woobin sedangkan tangan lainnya menggesek kasar dada bidang lelaki itu.

Ciuman mereka terlepas, Woobin mulai menciumi pipi lalu turun dan menjamah leher jenjang Kyuhyun dengan jilatan-jilatan memabukkan tanpa meninggalkan bekas di sana. Lidahnya menari-nari dnegan lincah, membuat tubuh Kyuhyun semakin bergetar dibakar gairah baru.

“Ohhhh..”

Desahan Kyuhyun semakin kencang tatkala Woobin mulai membuka kancing kemejanya satu persatu dan mendaratkan kecupan serta jilatan lain di sana. Benar-benar membuat Kyuhyun semakin panas dan melupakan akal sehatnya.

Lalu deringan ponsel Woobin menyadarkan mereka. Dengan terengah-engah Woobin meraih ponselnya dan cukup terkejut melihat nama si penelepon. Ia mengatur nafasnya sebentar lalu menjawab telepon itu dengan nada suara yang cukup aneh. Keningnya berkerut ketika mendengar suara di seberangnya lalu dengan sedikit marah, ia menjawab.

“Aku akan segera kesana.”

Ia lalu berpaling pada Kyuhyun yang menatapnya dengan wajah merona merah. woobin lalu mengancingkan kembali kemeja Kyuhyun serta merapikannya sedikit.

“Aku harus pulang. Ibuku membutuhkanku. Beristirahatlah.” Katanya seraya mengelus pipi Kyuhyun. Sebelum ia bangkit, ia mendaratkan kecupan kecil di dahi Kyuhyun lalu bergegas meninggalkan apartemen itu. Meninggalkan Kyuhyun yang masih belum bisa percaya atas apa yang baru saja terjadi.

*

“Kau suka yang mana? Aku mau yang warna biru.” kata Kyuhyun seraya menunjuk sebuah gambar sofa di katalog yang tadi ia ambil di sebuah toko furniture. Kala itu ia dan Changmin tengah duduk santai di depan televisi sambil bercengkrama.

            “Terserah padamu. Apapun pilihanmu, aku akan mengikutinya.” jawab Changmin seraya mendekap tubuh Kyuhyun lebih erat agar Kyuhyun lebih merapat ke tubuhnya.

            “Eh?¨Terserah padaku? Tapi ini akan jadi sofa milik kita berdua. Kita akan memakainya bersama, bukan? Sudah seharusnya kita memilihnya bersama.”

            Changmin mengangguk. “Benar. Tapi aku menyerahkan keputusannya padamu. Apapun yang kau pilih, aku akan setuju.”

Kyuhyun membuka matanya. Ia menatap sungai Han yang mengalir tenang di depannya seraya memeluk lututnya. Ia mengingat segala yang pernah ia lewati bersama Changmin. Ia selalu menjadi sosok mandiri ketika bersama tunangannya itu. Ia juga diberikan kebebasan penuh untuk menentukan sesuatu, Changmin akan manuruti kemauannya tanpa protes.

Kalian menyukai hal itu? Mungkin iya. Tapi tidak bagi Kyuhyun. Karena terkadang ia terkesan egois, tidak pernah memikirkan kemauan Changmin seperti apa.

“Mengapa kau selalu mengikuti kemauanku?” tanya Kyuhyun suatu hari.

            “Karena itu bisa membuatmu bahagia.” jawab Changmin dengan santai seolah mereka tengah piknik di alam terbuka.

            “Tapi, seharusnya kau juga mempertahankan pendapatmu. Jadi aku tahu apa yang menjadi keinginanmu.”

            “Kita hanya akan berdebat nantinya.”

            “Bukankah sesekali berdebat itu perlu?”

            Changmin menghela nafas. “Untuk apa berdebat jika masalah bisa terselesaikan dengan mudah?”

Itulah Changmin. Ia mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Ia selalu mengalah, sabar dan menuruti kemauan pasangannya. Siapapun pasti akan sangat betah menjadi kekasihnya. Begitu juga Kyuhyun sampai kemarin. Sampai ia menyadari bahwa sebenarnya banyak kekurangan dalam kisah cintanya dengan Changmin.

“Kyuhyun hyung, maaf menunggu lama. Ayo kita pergi. Aku sudah puas memotret.” Jongin tahu-tahu sudah muncul di depannya dan memamerkan kamera pocket-nya.

Kyuhyun memang meminta Jongin dan Myungsoo untuk memanggilnya dengan sebutan hyung di luar sekolah. Ia sama sekali tidak pernah meminta Woobin untuk melakukannya karena ia sudah tahu jawabannya. Saat ini mereka berempat tengah mengunjungi sungai Han di sore hari yang cerah itu.

“Maksudmu sudah puas bergaya dengan berbagai posisi sementara aku memotretmu?” sindir Myungsoo seraya menyipitkan matanya, menyindir sang sahabat.

Jongin hanya bisa nyegir kuda dengan sindiran Myungsoo. Keduanya memang selalu saling ejek tapi mereka tidak pernah sekalipun berselisih.

“Bukankah aku meminta kalian menemani Kyuhyun? Mengapa kalian meninggalkannya sendiri?” Woobin sudah muncul diantara mereka.

“Kami hanya memotret sebentar. Lagipula tadi hyung sendiri yang minta untuk sendirian.” Jawab Jongin cepat.

“Jongin benar. Aku sendiri yang meminta mereka untuk meninggalkanku. Aku hanya ingin menikmati sore hari yang cerah seperti ini di sungai Han. Aku takjub sekali. Sudah bertahun-tahun aku tidak menikmatinya seperti ini.” Kyuhyun membenarkan.

“Hahh? Hyung sudah lama tidak kemari? Huahhh.. Kau pasti sangat kesepian, hyung. Apa kau tidak punya teman untuk diajak kemari, hyung?” tanya Myungsoo dengan polosnya.

Woobin cepat menghardik sahabatnya itu. Jongin bahkan ikut menyikut pinggang Myungsoo agar lelaki itu tutup mulut. Barulah ia sadar bahwa kata-katanya sangat menyinggung. Woobin baru akan mengomeli sahabatnya ketika Kyuhyun menyanggahnya.

“Jangan salahkan mereka. Salahkan dirimu sendiri. Siapa yang tadi mengajakku kemari lalu menjauh dariku karena menerima telepon dari entah siapa.”

Woobin mengerling nakal. “Jangan cemburu. Itu dari ibuku. Akhir-akhir ini beliau memang lebih banyak bicara denganku.”

Entah mengapa raut wajah Woobin sedikit murung ketika topik pembicaraan harus menyebutkan kata ‘ibu’.

“Kau baik-baik saja?” Kyuhyun bertanya seraya menyentuh lengan anak bandel itu.

Kim Woobin tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Nah, sekarang sebaiknya kita makan. Aku sudah lapar sekali.”

Dengan sekali sentak, tangan besarnya sudah menyelimuti Kyuhyun dan menempelkannya di tubuhnya. Kyuhyun hanya diam dengan perlakuan Woobin. Ia menegadah menatap lelaki itu. Walau ia tengah memeluk Kyuhyun seperti ini dan ia juga tengah bersama sahabat-sahabatnya, tetapi tampaknya ia menyimpan sesuatu, tampak jelas bahwa ia tengah sibuk berpikir.

Apa benar ia baik-baik saja?’ tanya Kyuhyun dalam hati.

*

            Kyuhyun sudah tertidur pulas ketika dirasakannya sebuah ciuman mendarat di pipinya. Bersamaan dengan itu, sebuah lengan hangat memeluknya dari belakang.

“Hei.. Apa kau sudah tidur?”

Suara lembut itu. Shim Changmin. Setelah memperpanjang masa tinggalnya hingga nyaris sebulan di Tokyo, akhirnya ia pulang juga malam itu.

Kyuhyun mengeliat bak anak kucing. “Kau sudah pulang?”

Changmin hanya menjawab dengan ‘hmm’ pendek. Wajahnya tenggelam di lekukan leher Kyuhyun dan menikmati aroma apel segar yang masih melekat di sana, aroma shampo Kyuhyun.

“Maaf kalau aku pergi terlalu lama. Dan maaf telah meninggalkanmu sendirian.”

“Tidak apa-apa. Kau pergi untuk bekerja, bukan? Aku mengerti.” ujar Kyuhyun diantara kantuknya.

“Aku merindukanmu..” kata Changmin lagi, masih membenamkan diri di tubuh kekasihnya.

“Aku tahu. Apa kau sudah makan? Kalau kau sudah, beristirahatlah. Besok kau akan kembali bekerja bukan?”

Changmin menolak dengan gelengan kecil. “Aku lebih lapar melihatmu daripada melihat makanan di meja makan. Aku merindukanmu..”

Kyuhyun bisa merasakan nafas Changmin memberat. Tangannya mulai bergerilya mulai dari dada, perut hingga paha Kyuhyun. Bibirnya sudah mulai memberi kecupan-kecupan kecil di leher Kyuhyun, bahkan terkadang ia menghisap lembut. Changmin ingin bercinta.

Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak merasakan getaran aneh dari rangsangan yang diberikan Changmin? Bahkan ketika Changmin mulai bermain di daerah khususnya, ia tidak merasakan sesuatu yang membakar birahinya.

“Ada apa denganmu?” tanya Changmin keheranan. Ia menghentikan aksinya seketika.

Kyuhyun menjawab tergagap. “A.. Aku baik-baik.. saja. Hanya lelah kurasa. Siswa kelas tiga sudah akan menempuh.. ujian. Jadi aku..”

Changmin menghela nafas panjang. “Baiklah, aku mengerti. Seharusnya aku juga beristirahat karena besok pagi aku harus segera kembali ke kantor. Walaupun ini pertama kalinya kau menolakku, tapi aku mengerti. Kita bisa melakukannya besok. Nah, selamat malam Kyuhyun-ah. Saranghae..”

Changmin lalu mengecup pipi Kyuhyun kemudian berbaring dan mulai terlelap. Kyuhyun menggigit bibirnya. Walaupun nada suara Changmin tidak terdengar kecewa sama sekali, namun di sudut hatinya ia merasa jahat.

Bagaimana mungkin ia menolak Changmin? Mengapa ia melakukannya? Mengapa ia tadi tidak merasakan apa-apa? Dan mengapa.. Ketika Changmin menyentuhnya, ia justru berharap Woobin yang melakukannya?

*

changkyu5

To be continued..

53 thoughts on “Million Words – Chapter 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s