Million Words – Chapter 1

Title : Million Words – Chapter 1

Starring : Cho Kyuhyun, Shim Changmin, Kim Woobin.

Co-Star : Kim Myungsoo, Kim Jongin , and others.

Genre : BL, Romance, Angst.

Rate : T

Seoul International High School merupakan salah satu sekolah lanjutan terbaik yang pernah ada di Korea Selatan. Fasilitas yang memadai, tingkat kecerdasan siswa di atas rata-rata, kedisiplinan, staf  dan tim pengajar yang profesional serta akreditasi sekolah yang baik merupakan kriteria mutlak yang telah di miliki.

Berotak pintar dan berasal dari keluarga terpandang. Jika kau tidak memenuhi salah satu dari kriteria tersebut, jangan pernah berharap untuk dapat mengenyam pendidikan di sekolah impian tersebut. Merupakan sebuah kebanggan tersendiri bagi orang tua manapun jika anaknya mampu bersekolah di tempat itu.

Pluk!

Seseorang yang tengah sibuk dengan kegiatannnya sendiri menoleh dengan enggan pada siapapun yang telah mengusik perhatiannya. Dan sorot ketidaksukaannya terlihat sangat kentara hanya dengan tatapan tajamnya.

“Ya! Woobin-ah, berhenti menatapinya terus menerus seperti itu.” Seru seorang namja tampan bernama Myungsoo yang baru saja menepuk bahu sahabatnya itu.

“Aku tidak melakukan apapun.” Jawab Woobin acuh.

Jongin, namja lain yang sedari tadi sibuk dengan kaleng softdrink-nya mendecih mendengar ucapan Woobin.

“Kau memang tidak melakuakan apapun kecuali memandangi guru itu dengan tatapan seolah-olah kau ingin memakannya, Kim Woobin-ssi.” Sahutnya sarkatik yang sontak membuat Myungsoo terbahak. Sangat kontras dengan Woobin yang bersikap acuh seolah tak terjadi apapun.

Woobin kembali mengedarkan pandangannya. Mengabaikan kedua sahabatnya yang masih terkekeh dengan bodoh, menurutnya. Dan perhatiannya kembali terpusat pada seseorang yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Ia seolah sama sekali tidak terganggu dengan puluhan siswa yang lalu lalang menghalangi objek pandangannya. Kedua mata tajamnya seperti telah terpaku pada seorang lelaki pucat yang tengah duduk bersama kawan sejawatnya.

Dapat ia lihat dari salah satu sudut cafetaria yang ia tempati, sosok yang ia pandangi itu tengah berbicara dan sesekali tersenyum menanggapi lelucon yang di lontarkan lawan bicaranya. Ada rasa tidak suka yang ia rasakan ketika melihat senyuman tersebut bukan di tujukan untuk dirinya. Semacam perasaan posesif? Atau malah cemburu? Entahlah.

Tapi meskipun demikian, tak dapat di pungkiri jika ia juga menyukai, teramat sangat menyukai ketika lelaki manis itu tersenyum yang membuatnya tampak berkali lipat lebih manis dari biasanya.

Ia sendiri tidak tahu semenjak kapan dirinya mulai memiliki rasa tertarik pada sosok yang ia sendiri tidak terlalu mengenalnya dengan baik. Yang ia ketahui hanyalah sekedar bahwa objek perhatiannya itu bernama Cho Kyuhyun, salah satu guru Geografi di sekolahnya. Guru yang cukup populer di kalangan siswa Seoul International High school. Bukan hanya karena wajah manisnya yang membuatnya banyak di idolakan oleh kebanyakan penghuni sekolah, namun juga karena pembawaannya yang menyenangkan. Terlebih ia juga di kenal sebagai guru yang cerdas dan berwawasan luas untuk guru yang usianya baru 27 tahun.

Semenjak masuknya setahun lalu di sekolah ini, Guru Cho itu memang langsung di tugaskan untuk mengajar siswa tingkat akhir. Hingga ia yang dulu masih duduk di tingkat 2 hanya mampu mengamati dan memperhatikan guru idola itu dari jauh. Seperti saat ini yang tengah ia lakukan.

Tapi tidak untuk saat ini, karena semenjak seminggu yang lalu ia telah resmi naik kelas dan menjadi siswa tingkat akhir. Fiuh, ia tidak sabar pada hal menarik apa yang akan terjadi di waktu mendatang.

“Kau merencanakan sesuatu, Binnie?” Tukas Jongin yang melihat seringaian tampak di wajah tegas sahabatnya. Sementara Myungsoo tampak setia menunggu reaksi yang muncul selanjutnya.

Woobin yang di panggil dengan panggilan ‘manis’ itu sontak mendelik pada Jongin, “Berhenti memanggilku dengan nama menggelikan itu, Kim Jongin.” Desisnya mengintimidasi sebelum ia bangkit dari tempat duduknya dan merapikan pakaiannya dengan sikap arogan.

“Palajaran akan segera di mulai, ayo kembali ke kelas.” Ucap Woobin tenang seraya berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang saling bertatapan heran.

Hey, sejak kapan seorang Kim Woobin masuk kelas tepat waktu?

*

Keheranan Duo Kim yang tidak lain adalah Jongin dan Myungsoo terjawab sudah. Ah, mungkin bukan hanya mereka berdua saja yang merasa heran. Bahkan hampir sebagian anak-anak kelas 3 Social 1 pun juga merasakan hal yang sama.

Seorang Kim Woobin, salah satu siswa bad boy yang terkenal bersikap semaunya itu masuk kelas tepat waktu! Terlebih namja itupun kini tampak duduk manis di salah satu sudut kelas, meskipun sikap arogansinya yang tetap tak lepas darinya. Hal yang patut di apresiasi karena kejadian seperti ini sangat langka terjadi.

Guru Cho. Guru geografi itulah jawaban yang Jongin dan Myungsoo yakini yang menjadi penyebab ‘keanehan’ Woobin siang ini. Bukan rahasia lagi bagi mereka berdua jika Woobin tertarik dengan guru berwajah imut itu.

Ini merupakan jam terakhir sebelum kegiatan belajar mengajar hari ini berakhir. Dan beruntung bagi kelas 3 Social 1, setidaknya di siang yang terik saat ini mereka tidak akan mengantuk mendengar ocehan dari guru yang kebanyakan telah lanjut usia yang terdengar monoton dan membosankan.

Ah, bagaimana mungkin mereka akan merelakan pemandangan langka ini. Dimana kini tampak seorang lelaki dengan wajah yang sedap dipandang tengah berdiri di depan kelas. Tampak sangat manis dengan kemeja semi formalnya yang berwarna grey dan celana bahan hitam yang membalut kaki jenjangnya. Rambut sewarna madunya terasa sangat kontras dengan kulit pucatnya. Tak lupa dengan sepasang manik caramel yang berbinar kekanakan. Tampak manis dan imut.

“Anyeonghaseyo. Selamat datang di kelas dan tahun ajaran baru. Perkenalkan, nama saya Cho Kyuhun. Kalian bisa memanggil dengan sebutan Cho Songsaenim. Dan saya adalah guru Geografi kalian selama satu tahun ke depan. Mari kita bekerja sama. Senang bertemu kalian.“ Sapa Kyuhyun seraya membungkukan tubuhnya pada kedua puluh siswa yang perhatiannya kini tertuju padanya. Tak lupa juga dengan senyum yang terpatri dari bibirnya yang membuat beberapa siswa tampak terkesima.

Mengabaikan reaksi siswanya, ia pun kemudian membuka daftar absensi dan mulai memanggil nama mereka satu persatu yang di balas dengan perkenalan singkat. Tak jarang sorakan anak-anak terdengar riuh saat salah satu dari mereka melontarkan rayuan ataupun kata-kata lucu untuk Kyuhyun.

Hingga terdapat jeda waktu sejenak ketika ia tidak mendengar suara dari pemilik nama yang baru saja ia panggil.

“Kim Woobin?”

Kyuhyun nyaris akan melanjutkan ke daftar nama selanjutnya ketika ia melihat salah satu namja mengangkat tangannya. Dan sebisa mungkin Kyuhyun menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat wajah dari pemilik nama Kim Woobin tersebut.

Wajah itu, wajah yang tampak familiar baginya. Ia yakin jika ia tidak salah mengenalinya. Bagaimana mungkin ia akan melupakan garis tegas wajah orang yang selama ini menguntitnya? Menguntit. Mungkin kata itu terdengar sedikit berlebihan. Namun adakah istilah yang lebih tepat untuk menyebut kegiatan seseorang yang mengamatimu dari kejuhan?

Ia tidak sedang berhalusinasi ataupun mengalami ketakutan yang berlebihan. Ia memang sering mendapati namja tersebut memperhatikan gerak-geriknya secara terang-terangan. Siswa bernama Woobin itu bahkan sama sekali tak berniat mengalihkan pandangan darinya ketika beberapa kali ia memergoki siswanya itu menatapnya dengan intens.

Pernah suatu kali ia bersikap acuh dan mengabaikan hal tersebut. Namun sayangnya rekan-rekan guru yang lain pun juga mulai menyadari jika siswa yang menurut mereka bengal itu selalu menatap mereka dengan pandangan menusuk ketika mereka sekedar mengobrol bersama.

Kyuhyun dengan cepat menguasai dirinya dan bersikap normal.

“Kau belum memperkenalkan dirimu, Woobin-ssi.”

Ketegangan terasa menyelimuti ruangan tersebut. Seolah bersama menunggu hal apa yang akan selajutnya terjadi.

“Apa yang ingin kau ketahui dariku?”

Pertanyaan yang sama sekali tak terduga oleh siapapun itu terlontar dari bibir Woobin.

Kyuhyun tersenyum mendengar kalimat tersebut. Ah, sepertinya predikat siswa bengal yang di berikan oleh rekan-rekannya pada Woobin memang benar adanya. Penampilannya memang serupa dengan teman-temannya yang lain. Pakaiannya tampak rapi. Berbeda dari kesan siswa bad boy yang kebanyakan berpakaian berantakan.

Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya. Sikapnya tampak angkuh dengan sorot matanya yang mengitimidasi yang membuatnya tampak membuat orang-orang segan mendekatinya.

“Kau bisa menyebutkan nama, hobi ataupun sekedar kegiatan apa yang kau gemari.”

“Benarkah?”

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah karena gugup di pandangi dengan intens seperti itu.

“Bagaimana kalau aku mengatakan jika aku memiliki hobi memperhatikan setiap gerak-gerikmu dari kejauhan? Lalu, apa kau juga akan keberatan jika akupun memiliki kegemaran memandangi wajah manismu itu ketika kau mengeluarkan berbagai ekspresi yang berbeda setiap saat, Cho Songsaenim?”

Sial! Wajahku pasti memerah!

*

             Kyuhyun menyandarkan tubuhnya lunglai pada pintu yang baru saja ia tutup. Ia menghela nafas panjang penuh kelegaan ketika ia sampai di apartemennya. Akhirnya rutinitasnya  yang melelahkan hari ini telah berakhir. Ia telah membayangkan jika setelah ini ia akan mandi dan segera mengistirahatkan tubuhnya di ranjang nyaman miliknya.

“Kau sudah pulang, chagi?”

Kyuhyun tersentak ketika ia mendengar suara seseorang menyap pendengarannya. Seketika ia tersenyum mendapati seorang laki-laki bertubuh tinggi menjulang telah berdiri di hadapannya.

“Changmin-ah?” Ia menghampiri lelaki tinggi itu, memeluk Changmin erat berusaha melepas kerinduannya pada lelaki tersebut. Changmin yang mendapat sambutan mengejutkan dari orang terkasihnya itu membalas pelukan Kyuhyun seraya membisiskan kalimat rindu padanya. Tidak bertemu dengan tunangan manisnya beberapa hari membuatnya sungguh tersiksa.

Setelah beberapa waktu, mereka pun melepaskan diri dari pelukan masing-masing. Kyuhyun mengecup pipi Changmin sekilas dan tersenyum memandang wajah tampan kekasihnya,

“Kenapa kau tidak mengabariku jika kau akan pulang hari ini?” Tanyanya dengan nada merajuk yang di sambut senyuman maklum Changmin demi melihat sikap kekankan Kyuhyun.

Tiga hari yang lalu Changmin memang tengah melakukan perjalanan dinas di luar kota. Pekerjaannya sebagai pemilik yayasan sosial membuatnya sibuk keluar masuk-kota bahkan luar negeri hanya untuk mengikuti seminar ataupun kegiatan sosial lainnya.

Dan Kyuhyun sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut. Karena dari awalpun ia menyadari jika itulah konsekuensi yang harus ia hadapi demi menjalani hubungan dengan Changmin yang merupakan pewaris tunggal dari Shim Foundation. Sebuah yayasan sosial yang terkenal aktif dengan kepedulian dan kegiatan kemanusiaan mereka.

“Maafkan aku. Aku lupa memberitahumu, Kyu. Jika bukan karena Eomma yang memintanya, aku pun tidak akan pulang hari ini.”

“Omonim?” tanya Kyuhyun memastikan.

Changmin mengangguk, “Eomma meneleponku kemarin, jika hari ini ada makan malam dengan kolega Appa. Dan beliau pun memintamu juga untuk datang bersamaku, Kyu.”

Changmin mendudukan dirinya sofa, tepatnya di depan laptop yang teletak di meja ruang tamu. Meletakan segelas kopi yang baru saja ia buat di dapur yang untungnya tidak tumpah saat Kyuhyun memeluknya berberapa waktu lalu.

Sebenarnya ia sendiri ingin menolak permintaan ibunya karena pekerjaannya di Mokpo sendiri belum rampung. Terlebih ketika ia di minta harus datang bersama Kyuhyun yang memang kurang menyukai dengan acara-acara ‘membosankan’ seperti itu.

“Tapi jika kau keberatan, aku akan me –“

“Tentu saja tidak.” Kyu memotong ucapan Changmin, ia ikut mendudukkan diri di samping lelaki tinggi itu, “Aku akan datang bersamamu nanti malam.”

Changmin memandang Kyuhyun dengan skeptis, berusaha mencari keyakinan.

“Kau tidak perlu memaksakan diri, chagiya…”

“Pokoknya aku ikut!” Seru Kyuhyun keras kepala. Ia  tidak ingin mengecewakan orang tua Changmin dengan menolak permintaan ibunya. Dan lagi, ia juga tidak akan pernah rela membiarkan Changmin nantinya akan di perkenalkan pada putra-putra kolega ayahnya yang mengharapkan Changmin menjadi menantu mereka. Cemburu? Wajar bukan? Shim Changmin adalah tunangan sekaligus calon suaminya. Wajar jika ia merasa khawatir dan cemburu jika akan ada seseorang yang merebut Changmin dari sisinya.

Namja Shim itu hanya tersenyum mendengar kekeras kepalaan Kyuhyun. 7 Tahun menjalin hubungan dengan Kyuhyun membuat ia hafal dan paham akan sikap tunangannya itu. Salah satunya adalah sifat keras kepalanya yang memang sangat sulit di rubah.

“As you wish, chagiya.” Ucapnya yang di balas dengan senyuman kemenangan Kyuhyun.

Dan Changmin hanya menggelengkan kepalanya maklum ketika dengan seenaknya Kyuhyun meraih dan menghabiskan kopi yang ia buat. Dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, lelaki berwajah pucat itu merebahan dirinya di sofa dengan menggunakan paha Changmin sebagai bantalnya. Mengabaikan niat Changmin yang ia tahu jika tunangannya itu berniat meneruskan pekerjaannya di depan laptopnya.

“Aku lelah.” Keluh Kyuhyun seraya memejamkan matanya perlahan.

Tanpa segan, Changmin pun membelai surai lembut Kyuhyun. Mencoba memberi kenyamanan padanya yang terlihat sangat kelelahan. Ia tidak pernah menyangka jika profesi menjadi pengajar membuat lelaki di pangkuannya ini menjadi kelelahan seperti saat ini. Sudah seringkali ia meminta Kyuhyun untuk berhenti dari pekerjaannya, namun dengan tegas Kyuhyun menolaknya. Menjadi seorang guru adalah cita-citanya sejak kecil. Berbagi pengalaman dan ilmu yang ia miliki merupakan kesenangan tersendiri baginya. Begitulah yang Kyuhyun ucapkan padanya.

Changmin melihat sekilas arloji yang melingkar di tangan kirinya, “Tidurlah. Masih ada sekitar waktu empat jam lagi sebelum kita berangkat.” Pintanya yang dibalas gumaman lirih Kyuhyun yang kesadarannya mulai menipis.

Ia tersenyum. Menundukan kepalanya dan mencium sekilas kening Kyuhyun, “Have a nice dream, chagi…”

*

Entah sudah berapa kali Kyuhyun mengela nafasnya malam ini. Ia tidak peduli pada ungkapan jika satu kebahagiaan akan menghilang dari seseorang ketika ia menghela nafas. Karena pada kenyataannya kebahagiaannya malam ini telah hilang sejak ia menginjakan kaki di acara membosankan yang ia hadiri.

Jika bukan karena permintaan calon mertua dan rasa posesifnya terhadap Changmin,  ia sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dengan kaum sosialita yang membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Bahkan rasa kantuknya kini makin menjadi  karena siang tadi Changmin membangunkannya yang masih terlelap.

“Ku dengar kau baru saja membuka lembaga sosial baru di daerah Mokpo, Tuan Shim?” Tanya salah seorang lelaki paruh baya yang Kyuhyun kenali bernama Jung Yang Hyun. Salah satu CEO perusahaan marketing yang cukup sukses di Korea Selatan.

“Begitulah Tuan Jung. Realisasi proyek itu juga tidak akan berhasil jika bukan putraku yang memegang kendali. Kurasa sebentar lagi aku harus berpuas diri dengan menikmati masa tuaku  dan berdiam diri di rumah.”

Dan gelak tawa pun terdengar dari meja panjang yang di tempati oleh delapan orang itu. Kyuhyun sendiri hanya tersenyum sekilas demi menghormati orang-orang yang duduk di sekitarnya.

“Ya itulah gunanya regenerasi, tuan Shim. Sudah waktunya yang muda bergerak meneruskan apa yang selama ini kita rintis. Dan kau beruntung memiliki putra yang membanggakan seperti Changmin. Selain cerdas, berattitude baik, ia juga sangat tampan.” Puji Tuan Lee, salah satu pengacara yang juga merupakan sahabat Tuan Shim.

Dan akupun beruntung memiliki calon suami seperti Shim Changmin, ucap Kyuhyun tak kalah bangga dalam hati. Dari sudut matanya, ia dapat meilihat Changmin yang duduk si sisinya itu menundukkan kepalanya sedikit menanggapi pujian yang dilontarkan untuknya.

“Aku sungguh iri dengan kehidupanmu yang nyaris sempurna, Tuan Shim. Ngomong-ngomong soal Changmin…” Tatapan Tuan Lee, tertuju pada Changmin dan Kyuhyun. Dan entah kenapa perasaan tidak enak menghampiri Kyuhyun“…bukankah kalian sudah lama bertunangan? Kapan kalian akan segera menikah?”

Mendengar pertanyaan tersebut sontak saja membuat Kyuhyun menegang. Bukan sekali ini saja orang-orang menanyakan tentang hal tersebut padanya. Terutama dari pihak kedua orang tua Changmin yang seringkali mendesak mereka untuk segera menikah.

Pernikahan merupakan kata sensitif yang membuanya sedikit tidak nyaman. Bahkan tidak jarang karena topik itulah yang selalu menjadi penyebab ia dan Changmin berselisih paham.

Bukan karena ia tidak mencintai Changmin. Itu asumsi terbodoh Changmin yang pernah ia sangkal ketika tunangannya itu mempertanyakan perasaannya. Jika ia tidak mencintai Changmin, atas dasar apa selama ini ia bersedia menjalani hubungan dengannya selama 7 tahun sejak mereka SMA?

Belum siap. Itulah alasan yang selalu ia lontarkan pada Changmin jika namja tersebut mulai membahas mengenai pernikahan.

Ia sontak mendongak menatap Changmin ketika ia merasakan sebuah tangan besar menggenggam tangannya erat. Seolah megerti yang ia rasakan dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Perjalanan kami masih panjang. Masih banyak tujuan dan keinginan kami yang belum terrealisasi.” Changmin menatap Kyuhyun yang tampak terdiam, “Kami yakin, akan tiba masanya Tuhan akan mempersatukan kami suatu hari nanti.”

Dan Kyuhyun bersumpah jika ia dapat melihat senyum keterpaksaan muncul dari bibir Shim Changmin.

*

            Sunyi. Atmosfer itulah yang kini tengah menyelimuti keadaan dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang membelah malam kota Seoul. Lebih dari sepuluh menit tak ada kata yang terucap dari Changmin dan Kyuhyun. Changmin yang berkonsentrasi mengemudikan mobilnya. Sementara Kyuhyun sibuk memandang keluar jendela. Memperhatikan setiap bayangan yang berkelebat dikegelapan malam. Entah apa yang terdapat dalam pikiran mereka.

Kyuhyun sendiri dalam keheningannya tengah memikirkan percakapan yang beberapa saat lalu membuatnya terasa canggung.

Selepas tuan Lee mempertanyakan tentang pernikahan, Changmin yang mengerti dengan ketidaknyamanan yang di rasakan Kyuhyun memilih untuk pamit pulang dengan alasan Kyuhyun yang tidak enak badan. Tentu saja mendengar alasan tersebut membuat Mrs. dan Mr. Shim khawatir. Pada awalnya mereka bahkan melarang Changmin dan Kyuhun untuk pulang dan memaksanya untuk menginap di rumah mereka. Namun sekali lagi, dengan sifat keras kepalanya Kyuhyun menolak hingga akhirnya mereka di perbolehkan pulang dengan catatan Changmin harus merawat Kyuhyun dengan baik.

Sungguh, mengingat perlakuan orang tua Changmin terhadap dirinya membuat Kyuhyun sangat bahagia dan bersyukur. Kedua orang tua Changmin telah ia anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri mengingat ia yang seorang yatim piatu yang berasal dari panti asuhan.

Sejak bayi, ia tidak pernah mengetahui siapa kedua orang tua kandungnya. Pengurus panti yang merawatnya hingga ia dewasa mengatakan jika ia menemukan dirinya di sebuah rumah kosong tak jauh dari panti asuhan tempat ia tinggal. Ia di buang. Itulah satu keyakinan yang tumbuh dalam pikirannya hingga saat ini. Dan karena itulah, seumur hidupnya ia tidak pernah mencoba atupun memiliki keinginan untuk mengetahui siapa kedua orang tuanya.

Dan kini ia telah menemukan kasih sayang orang tua pada sosok kedua orang tua Changmin. Sikap mereka sama sekali tidak berubah semenjak dulu pertama kali ia berpredikat sebagai sahabat Changmin hingga saat ini. Tetap saja perhatian dan menyayanginya layaknya putra kandung mereka sendiri. Tak jarang Changmin pun merasa cemburu dengan orang tua mereka yang menurutnya lebih menyayangi Kyuhyun dibanding dirinya.

Meskipun tidak pernah mengakuinya secara langsung, namun rasa kekecewaan jelas terlihat dari raut wajah kedua orang tua Changmin tiap kali mereka mendenggar jawaban Kyuhyun jika memintanya sesegera mungkin untuk menikah. Dan kini ia mulai mempertanyakan pada dirinya sendiri. Pantaskah ia mengecewakan kedua orang  tuanya itu dengan mempertahankan pemikiran egoisnya? Terlebih pada Changmin, pria yang selama ini ia cintai?

Selain alasan kesiapannya yang selalu ia ucapkan pada orang lain, sesungguhnya dalam hati kecilnya ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan hubungan mereka. Jujur saja, ia merasa sedikit jenuh dengan hubungannya dengan Changmin selama ini. Bukan karena ia kekurangan kasih sayang dari kekasihnya, justru sebaliknya. Ia bahkan menerima limpahan kasih sayang dari Changmin hingga berujung pada kejenuhan.

Bisa dikatakan jika hubungan mereka selama ini datar, tanpa perselisihan yang berarti. Changmin seolah selalu menjadi sosok sempurna yang berusaha keras menjaga hubungan mereka agar tetap stabil. Saat mereka berselisih paham, Changmin akan segera mengalah demi menghentikan perselisihan itu.

Bahkan jika seseorang meracuni pikirannya dengan berita jika Kyuhyun akan direbut lelaki lain’ pun, ia hanya akan tersenyum dan menolak untuk percaya. Sama sekali tidak marah ataupun menunjukkan sisi cemburu yang sangat Kyuhyun dambakan.

Semua orang pasti memimpikan hubungan yang harmonis. Begitu juga Kyuhyun. Namun, dengan tidak adanya perselisihan, amarah dan kesalah pahaman, semuanya terasa hambar.

Ia ingin memiliki hubungan yang harmonis namun tetap bergejolak, yang menciptakan berbagai warna dalam hubungan mereka. Tapi dengan sikap Changmin yang terlalu sabar selama ini membuat Kyuhyun mempertanyakan dalam benaknya, apa ia bisa terus bertahan?

Jangan ragukan rasa cinta Kyuhyun. Ia sangat mencintai Changmin. Tapi ia ingin segalanya lebih berwarna, ia ingin segalanya lebih bergejolak, bukan datar seperti ini. Terkadang dengan jahatnya ia berpikir kalau hari-harinya bersama Changmin seperti rutinitas yang membosankan. Datar dan tanpa rasa. Bahkan hal itu terasa jelas ketika mereka berhubungan intim sekalipun.

“…Kyu? Chagiya?”

“Nng?” Kyuhyun sontak menoleh pada asal suara yang berasal dari sebelah kirinya. “Ada apa?” Tanyanya. Changmin terkekeh melihat ekspresi Kyuhyun yang tampak terkejut dan bingung.

“Kau melamun.” Tuduh Changmin yang membuat wajah Kyuhyun memerah. Dan Kyuhyun merutuki dirinya sendiri yang sibuk melamun hingga tidak menyadari jika kini mobil yang mereka kendarai telah berhenti di depan apartemen mereka.

Changmin mengusap pipi tembam Kyuhyun dengan sebelah tangannya, “apa yang kau pikirkan, hm?”

Kyuhyun memejamkan matanya sejenak, sebelah tangannya menggenggam tangan Changmin yang ada di wajahnya, “Maaf…”

Kedua alis Changmin bertaut, tidak mengerti akan maksud dari kata yang Kyuhyun ucapkan.

“Maafkan aku yang telah mengecewakanmu…”

Changmin masih terdiam belum menanggapi apapun.

“Maafkan aku yang belum siap untuk melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih serius. Maafkan aku yang bersikap egois dan belum siap untuk menikah denganmu. Maafkan aku yang—“

Dan racauan Kyuhyun terhenti ketika Changmin menarik dirinya kedalam pelukannya. Menghentikan kalimat  dari bentuk rasa bersalah orang terkasihnya yang seolah menyalahkan dirinya sendiri.

“Jangan pernah sekalipun kau menyalahkan dirimu sendiri. Jangan sekalipun kau pedulikan pendapat ataupun tekanan orang lain di sekitar kita. Ini hidup kita. Kita yang akan menjalani kehidupan kita ke depannya. Bukan mereka. Kita yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hidup kita sendiri. Bukan juga orang lain.” Changmin mempererat pelukannya, memberi keyakinan pada Kyuhyun yang terdiam.

“Maafkan aku juga yang kadang bersikap egois dengan terus membahas hal yang aku tahu kau sendiri belum siap menjalaninya. Aku…aku hanya takut jika seseorang akan merebutmu dariku Kyuhyun-ah. Aku takut…”

Dan Kyuhyun hanya mampu mengeratkan pelukannya pada tubuh besar yang melingkupi dirinya. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri dalam hati sebelum ia mengucapkan,

“Sampai kapanpun, aku tak akan pernah meninggalkanmu, Changmin-ah. Aku…aku berjanji…”

kyukyukyu

TBC

Advertisements

56 thoughts on “Million Words – Chapter 1

  1. kim woobin emang pantes banget jadi bad boy kkkk … kyu makanya kalo punya muka jangan terlalu imut bikin orang kesemsem aja .

    apa woobin bakalan bikin kyu jatuh hati atau tetep sama cwang ?

  2. Ceritax bagus deh..
    Mending kyu langsung nikah aja ma chwang kan keren.
    eh.. q gk nyangka lo klo ternyata woobin bkal suka gtu ma kyu, ya.. emang sih kyunya imut tp kyk gk co2k ma woobin. Kyu lbih co2k ma Changmin ja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s