130929 Heechul Instagram Update: The song turns me into Kim Bipolar..ㅠㅠ

Sup3rJunior’s Super Show 5 in Malaysia Project Donation

VOTE! For SUP3RJUNIOR & WorldWideELFS 2013 MWAVE K-POP ALLSTAR FAN CLUB AWARDS!

Lim Chang Jung- A Guy Like Me. I downloaded it right after arriving in Korea, and has been listening till now. It just has the piano, and Lim Chang Jung hyung’s voice in it, and it’s really saddening. The song somehow feels painful. The song turns me into Kim Bipolar..ㅠㅠ How is the owner of this song the same Lim ChangJung as one that drinks with me..

http://instagram.com/p/e1ycP6o-dD/

130929 heechul

Source: kimheenim
Translated by: @NKSubs
Shared at sup3rjunior.com by: reneee

TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

View original post

Now and Then (Sequel of B365D) – Chapter 5

Title                     : Now and Then

Rate                    : T

Genre                 : Romance, Fluff, Sad, Mpreg

Pair                     : Yunho x Kyuhyun (YunKyu)

Other Cast       : Changmin, Donghae, Tesa, Kim Isak

Warning            : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary         : Setelah melewati masa perkenalan selama setahun, Yunho dan Kyuhyun akhirnya menikah. Bagaimana perjalanan kehidupan rumah tangga mereka?

CHAPTER 5

Seperti yang direncanakan, Yunho beserta Isak dan Changmin benar-benar berangkat beberapa hari kemudian. Hal ini membuat Kyuhyun semakin merana. Dia sama sekali tidak keberatan Yunho bertemu dengan kawan-kawan lamanya, andai tidak ada Isak di sana. Hanya Isak-lah satu-satunya alasan mengapa Kyuhyun sangat berat melepaskan Yunho.

“Bagaimana kalau disana terjadi sesuatu? Bagaimana kalau teman-teman mereka menjodohkan mereka kembali dan akhirnya Yunho hyung menyadari bahwa selama ini dia masih teramat mencintai Isak?” kata Kyuhyun sedikit histeris.

“Atau.. Bagaimana kalau tiba-tiba Yunho hyung mengalami kecelakaan lalu lupa ingatan dan hanya mengingat Isak lalu tidak pernah kembali kemari?” kini ia terdengar lebih histeris dari sebelumnya.

“Ya, Kyuhyun-ah, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Mana mungkin hal seperti itu akan terjadi?” kata Donghae menenangkan Kyuhyun. Ia sendiri tidak bisa ikut karena ia bukan alumni di kampus Yunho dulu.

“Atau..” kata Kyuhyun seolah tidak mendengar protes Donghae barusan. “Disana akan ada pesta besar lalu mereka minum-minum, keduanya mabuk lalu bangun di tempat tidur dalam sebuah hotel, tanpa selembar benangpun di tubuh mereka. Lalu beberapa bulan kemudian Kim Isak hamil dan Yunho hyung harus bertanggung jawab padanya dan..”

“Ya! Hentikan!” tegur Donghae keras. “Kau ini terlalu banyak menonton drama. Apa kau pikir suamimu akan seperti itu disana?”

“Pasalnya waktu kami mabuk dulu, Yunho hyung langsung menjamahku. Itu adalah kali pertama kami bercinta. Siapa yang tahu kalau Yunho hyung mabuk lagi lalu dia akan melakukan hal yang sama?” Kali ini Kyuhyun yang protes.

“Kyuhyun-ah, kumohon.. Berhentilah bersikap seperti ini. Kau hanya membuat dirimu stress. Kasihan bayimu. Tenanglah, jebal..” Donghae kini memohon.

Kyuhyun lalu berdiri dari duduknya. “Ikut aku hyung. Aku ingin ke suatu tempat.”

Donghae menurut. Ini bukan karena Yunho memintanya tidak meninggalkan Kyuhyun selama ia tidak ada, tapi lebih karena rasa sayangnya pada lelaki manja itu. Setengah jam kemudian, mereka sudah ada di kamar praktek dokter kandungan Kyuhyun, Lee Dong Wook.

“Maaf Kyuhyun-ssi, tidak bisa.” Kata Lee Dong Wook tegas.

“Tapi aku harus melakukannya!” Kyuhyun masih memaksa.

“Kyuhyun-ah, dokter Lee benar. Kau tidak boleh melakukannya. Ingat anakmu. Jangan bertingkah seperti ini, jebal..” Donghae kini nyaris kehilangan kata-kata menghadapi kemauan Kyuhyun yang keras kepala itu.

“Aku tetap akan pergi walau kau tidak mengijinkannya.” Kata Kyuhyun tetap keras kepala.

Lee Dong Wook tampak letih. “Kyuhyun-ssi, kau tahu benar usia kandunganmu hampir memasuki bulan ke tujuh kan? Kau tidak boleh bepergian dengan pesawat apalagi ke tempat sejauh Amerika. Ini membahayakan kandunganmu sendiri. Dan lagi, kalau terjadi sesuatu di pesawat nanti, siapa yang akan menolongmu? Kau butuh bantuan medis nantinya.”

“Karena itulah aku datang. Aku tidak meminta ijinmu, tapi aku meminta kesediaanmu untuk ikut bersamaku ke Amerika, jelas?”

Dong Wook dan Donghae terperangah bersamaan.

“Ya.. Kyuhyunnie..” Donghae sekarang benar-benar kehilangan kata-kata. Ide Kyuhyun untuk memata-matai Yunho di Amerika saja sudah cukup membuatnya bingung. Dan kini ia berpikir untuk membawa Lee Dong Wook untuk ikut serta?

“Dengarkan aku.. Aku mempertaruhkan hal ini demi anakku. Aku tidak mau ayahnya terpikat pada mantan kekasihnya hanya karena aku jauh darinya. Terserah kalian mau menganggapku kekanakan atau bodoh sekalipun. Tapi perasaanku mengatakan sesuatu akan terjadi kalau aku tidak ada disana, dan feeling seorang istri biasanya tepat.”

“Jadi..” kata Kyuhyun melanjutkan sebelum dokternya berniat memotong perkataanya. “Kalian cuma punya dua pilihan. Menemaniku atau membiarkanku pergi sendiri!”

Donghae dan Dongwook sama-sama diam. Keduanya berpikiran sama : tidak tega. Bagaimana mungkin mereka tega melihat Kyuhyun dengan perut menggembung seperti balon itu pergi sendiri ke benua lain sementara mereka sanggup menemani Kyuhyun?

“Baiklah, kita berangkat.” Lee Dongwook akhirnya menyerah.

Kyuhyun bersorak keras. “Yeahhh! Kau dokter terbaik sepanjang masa.”

“Tapi.. Bagaimana kalau Kyuhyun justru..”

“Aku akan memastikan dia baik-baik saja.” Kata Dongwook lagi, memotong perkataan Donghae. Membuat sunbae kesayangan Kyuhyun itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, frustasi.

“Tapi kau harus berjanji satu hal kepadaku.” Kata Dongwook. Ia menatap Kyuhyun tajam, memastikan Kyuhyun mengiyakan permintaannya.

“Apa itu?”

“Kau harus mendengarkan semua kata-kataku. Kau harus menuruti permintaanku karena semuanya kulakukan untuk kesehatanmu sendiri. Mengerti?”

Kyuhyun memberenggut. “Kenapa aku harus menurutimu? Kau kan bukan suamiku.”

“Kau mau ke Amerika atau tidak?” Kini Dongwook sedikit mengintimidasi.

“Arasso.. Besok kita bisa berangkat kan?” wajah cemberutnya kini berganti rona berah penuh pengharapan.

Dongwook menatap Donghae, meminta persetujuan. Ketika dilihatnya Donghae mengangguk pasrah, ia tersenyum. “Baiklah.”

*

            Kyuhyun tetaplah Kyuhyun. Anak manja yang keras kepala dan sangat cerewet terutama di masa kehamilannya. Ia hanya menuruti kata-kata Dongwook selama di pesawat. Begitu mereka tiba di hotel tempat mereka menginap yang kebetulan sangat dekat dengan hotel tempat Yunho, Changmin dan Isak menginap, ‘kenakalan’nya kembali seperti sedia kala.

Ia memaksa kedua pengawalnya itu untuk menemaninya membeli makanan yang akan diantarkan kepada Yunho. Padahal, mereka baru saja tiba, Donghae malah belum bisa mengembalikan kondisinya menjadi lebih stabil setelah jetlag.

“Tapi bagaimana kalau nanti Yunho hyung lapar? Ini sudah waktunya makan malam.” Rengek Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, saat ini beliau ada di kota besar. Sudah pasti ia akan makan dengan sangat baik. Lagipula, bukankah kita sepakat untuk bersembunyi dari suamimu? Membuntutinya diam-diam jadi kau bisa memantau semua gerak-geriknya kan?” Dongwook menjelaskan seraya mengeluarkan pakaian Kyuhyun dari koper lalu mengaturnya di dalam lemari.

“Hooeeekkkkkkk…!”

Kyuhyun meringis mendengar suara Donghae yang sedang mengeluarkan isi perutnya itu. “Tapi aku merindukannya. Aku ingin makan malam bersama Yunho hyung. Sudah tiga hari aku tidak melihatnya.”

Donghae keluar dari kamar mandi dengan wajah merana. “Bisakah kita istirahat dulu? Aku benar-benar mual.”

Kyuhyun berdiri sambil mengacak pinggangnya. “Ya! Hyung! Bukankah kau sudah terbiasa naik pesawat?”

“Tapi aku masih selalu mual setelahnya.” Bantah Donghae. Ia cukup merasa malu dengan kondisinya yang buruk sementara Kyuhyun yang tengah hamil baik-baik saja.

“Dengarkan. Kalau kau mau bertemu suamimu, tidak masalah sama sekali. Tapi, kurasa kau akan menyesal. Menurutku sebaiknya kau memata-matainya. Siapa tahu dengan tidak adanya kau, mantan kekasihnya itu akan ‘bertindak’? Dan bisa saja suamimu menyambutnya? Benar kan?” ujar sang dokter yang langsung dihadiahi sentuhan kasar dari siku Donghae di pinggangnya.

Kyuhyun tertunduk sedih. Ia menggigit bibir bawahnya dengan tampang nyaris menangis mendengar penuturan sang dokter.

“Lihat dia! Dia nyaris menangis.” Bisik Donghae galak.

Dongwook tersenyum lalu balas berbisik. “Kau mau ia mencari Yunho saat ini? Lagipula, kalau kalian ingin tahu bagaimana sikap siapa nama mantan kekasih Yunho-ssi? Ah ya, Isak-ssi, kalian harus membuntuti mereka diam-diam bukan?”

Donghae tahu, Doongwook benar. Tapi ia tidak tega melihat wajah Kyuhyun yang terlihat sangat merana kala itu.

“Beristirahatlah, Kyu. Besok kita akan mulai membuntuti Yunho dan Isak, bukan? Kau perlu tenaga ekstra besok, jadi kumohon kau beristirahat sekarang.” Kata Donghae seraya membantu Kyuhyun naik ke tempat tidurnya lalu menyelimuti hoobae-nya itu.

“Nah dokter, kau boleh kembali ke kamarmu.” Perintah Donghae layaknya bos.

“Bagaimana denganmu?” tanya Dongwook. Pasalnya Donghae tak terlihat tanda-tanda akan meninggalkan kamar Kyuhyun.

“Aku akan menjaga Kyuhyun malam ini. Tenang saja, aku akan tidur di sofa. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya mengingat ini hari pertamanya di kota lain. Andai saja aku membawa Tesa-ssi, ia pasti akan lebih banyak membantu.”

Kyuhyun diam saja. Setelah Lee Dongwook keluar bahkan setelah Donghae terlelap pun ia masih tetap diam. Matanya masih tetap terbuka, memandang kosong ke jendela hotel. Ia tidak bisa tidur sama sekali. Pikirannya dipenuhi dengan kata-kata dokternya tadi mengeni menangkap basah Yunho dan Isak.

Kalau Yunho tidak terpengaruh oleh masa lalunya itu berarti Kyuhyun bisa tersenyum puas. Namun bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya?

*

            Keesokan harinya Kyuhyun, Donghae dan Dongwook benar-benar melakukan aksi sesuai rencana. Awalnya Lee Dongwook keberatan untuk ikut serta, namun Donghae memarahi dokter jangkung itu habis-habisan karena ia bisa berada di Washington saat ini karena Kyuhyun. Lagipula ia diikutkan karena ia harus merawat Kyuhyun ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Mau tidak mau, ia ikut dalam aksi yang menurutnya childish itu.

Mereka membuntuti kemana pun Yunho, Isak dan Changmin pergi. Tempat pertama adalah sebuah butik khusus wanita. Sudah bisa dipastikan bahwa Isak lah yang punya keperluan di sana. Tapi dua lelaki lainnya mengekori bak pengawal kerajaan.

“Cih.. Mengapa Yunho hyung harus ikut masuk kesana? Lihat! Dia bahkan meminta suamiku untuk menilai.” Kyuhyun mendecih melihat sikap Isak yang dianggapnya berlebihan itu.

“Benar sekali, bukankah disana juga ada si jerapah?” Donghae terdengar ikut kesal. Sebenarnya ia menganggap hal tersebut sah-sah saja. Namun jika ia menanggapinya dengan wajar, Kyuhyun akan marah padanya karena dianggap tidak ikut membelanya.

Tidak ada yang lebih mengerikan selain kemarahan seorang wanita hamil yang tengah cemburu. Jadi lebih baik ia mendukung semua kata-kata Kyuhyun daripada tiba-tiba lelaki keras kepala itu meledak karena tidak ada yang mengindahkannya.

Ponsel Kyuhyun berbunyi. Dengan cepat ia mengangkat telepon ketika melihat nama Tesa di layar ponselnya itu.

“Yeoboseyo?”

“Kyuhyun-ssi, sajangnim menelepon pagi tadi. Ia ingin bicara dengan anda.” Kata Tesa di seberang. Suaranya terdengar khawatir.

“Lalu apa yang kau katakan?” tanya Kyuhyun sedikit waspada walau matanya tidak berpindah dari tubuh suaminya di dalam toko yang ia amati.

“Aku mengatakan bahwa anda masih tidur karena semalam tidur terlalu larut.”

“Dan apa alasannya aku tidur terlalu larut?”

“Menonton drama.”

“Bagus!” Puji Kyuhyun pada sekretaris suaminya itu. “Kau harus terus memberikan alasan yang logis ketika ia menelepon. Aku akan mengirimkan email kepadanya jadi ia tidak perlu khawatir.”

“Baik. Aku juga akan selalu melaporkan semua perkembangan kepada anda.”

“Baiklah. Sudah dulu, aku sedang sibuk saat ini. Nah, sampai jumpa Tesa-ssi. Aku akan membelikan oleh-oleh yang pantas untukmu nanti. Kalau aku tidak lupa.” Kata Kyuhyun lagi lalu memutuskan hubungan telepon tanpa menunggu jawaban dari seberang.

“Kau tidak akan bisa lari terus menerus. Yunho masih akan tinggal disini sampai tiga hari kedepan. Ia pasti akan curiga jika ia tidak bisa bicara denganmu.” Kata Donghae sedikit khawatir.

Kyuhyun mengeluarkan smirk andalannya. “Jangan khawatir hyung. Besok dan lusa adalah hari yang sibuk untuknya. Ia akan menghadiri reuni kampusnya bukan? Ia pasti akan menelepon sebelum acara atau bahkan sesudah acara. Tenang saja, ia tidak akan tahu.”

“Kalian bisa berbicara lewat skype, bukan? Hal itu lebih mudah. Kau hanya perlu mencari tempat dimana ia tidak menyadari bahwa kau tidak ada di Korea saat ini.” saran Dongwook.

“Wah.. rupanya kau sangat berguna dokter. Aku benar-benar tidak salah membawamu kemari.” kata Kyuhyun bangga seraya menepuk punggung sang dokter.

Lee Dongwook baru akan melakukan aksi protesnya ketika tiba-tiba Donghae terpekik pelan. “Mereka keluar!”

Dua pasang mata lain itu langsung memandang ‘target’ mereka. Yunho, Isak dan Changmin keluar dari butik itu. Changmin terlihat berjalan di belakang, menenteng sebuah kantong belanjaan sedangkan Yunho dan Isak berjalan di depan.

“Dia seperti pengawal yang mengantarkan pangeran dan putri berbelanja.” Kata Donghae dengan sinis. “Jangan tersinggung Kyu, maksudku.. Lihatlah Changmin itu, dia bodoh atau..”

Donghae menggelengkan kepalanya tak percaya. Kyuhyun hanya tertawa maklum. Ia memang tidak suka dengan ide ‘pangeran dan putri’ tapi ia sendiri tidak habis pikir mengapa Changmin dengan bodoh mau membawakan belanjaan Isak.

*

            “Kau mau makan apa?”

Yunho tidak menjawab. Ia masih sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.

“Yunho-ya, ada apa?” Isak bertanya lagi.

Kali ini Yunho mengalihkan pandangan dari ponselnya. Ia mengerutkan keningnya. “Aku tidak bisa menghubungi Kyuhyun. Semalam ia tidur larut dan sekarang aku tidak bisa menghubunginya.”

“Mungkin ia sedang mengisi baterai ponselnya.” Ujar Changmin tanpa memandang Yunho, masih sibuk berkutat dengan buku menu di tangannya.

“Yah.. Mungkin saja. Tapi.. Baiklah, aku akan menghubungi Tesa-ssi lagi.”

Dengan gerakan cepat ia kembali menghubungi nomor ponsel sekretarisnya. Terdengar nada panggil di telinganya, namun tak terdengar tanda-tanda bahwa sang sekretaris akan menjawab teleponnya.

Yunho memutuskan hubungan dengan perasaan kacau. Ia kembali menguhubungi nomor telepon Tesa. Menjelang detik ke tiga puluh, barulah ia mendengar jawaban.

“Yeobosoyo sajang..”

“Ya! Kalau aku menelepon, kau harus langsung menjawabnya!” Yunho menyambar dengan cepat. Tidak kasar tapi cukup tegas, membuat nyali sang sekretaris langsung ciut dibuatnya.

“Ma..maafkan aku sajangnim. Aku sedang tidur. Lain kali aku..”

“Lupakan! Sekarang jelaskan kepadaku dimana Kyuhyun berada. Seharian ini aku tidak bisa menghubunginya. Apa tadi ia ada di rumah? Atau ia ikut ke kantor bersamamu? Apa ia baik-baik saja?” serang Yunho lagi.

“Dia baik-baik saja sajangnim. Saat ini beliau sedang tidur. Tadi ia ada di rumah bersama Donghae-ssi. Anda tidak perlu khawatir.” Terang Tesa di seberang.

Yunho menggigit bibirnya. Perbedaan waktu membuat dirinya dan Kyuhyun tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Dan ini sangat menyiksanya mengingat betapa ia merindukan istrinya itu.

“Baiklah. Katakan padanya untuk meneleponku saat ia bangun. Jam berarpun itu, akan kutunggu. Selamat malam.”

Yunho langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban Tesa. Di seberang sana Tesa mengurut dadanya.

“Sepasang suami istri ini memang aneh. Ketika keduanya saling menghkhawatirkan, mengapa selalu aku yang jadi korban?”

*

            “Kau benar-benar tampan.” Kata Isak seraya merapikan dasi Yunho sebelum masuk ke ballroom hotel tempat dilaksanakan reuni hari pertama kampus mereka.

“Terima kasih.” Jawab Yunho dengan senyum seadanya.

Isak memajukan bibirnya. “Hanya itu saja? Bahkan senyummu tampak tidak ikhlas sama sekali.”

Yunho tidak menjawab. ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Bahkan ketika Isak menggandeng lengannya ataupun Changmin berbicara dengan beberapa kolega mereka, ia tidak juga memperhatikan sama sekali.

Sebuah tepukan ringan menyadarkannya. “Ya! Ada apa denganmu? Lihat! Kita sudah sampai. Sedaritadi beberapa teman kita menyapa tapi kau tidak juga membalas.”

Yunho menoleh dan mendapati Changmin menatapnya dengan pandangan jengkel.

Yunho menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya, aku memang sedang bingung saat ini. Kyuhyun belum juga meneleponku. Aku sangat khawatir dengannya. Kalau memang sampai besok ia belum juga menghubungiku, sepertinya aku akan pulang lebih dulu.”

“Tapi.. mana mungkin kau pergi? Bukankah besok kau akan menjadi salah satu pembicara? Pikirkanlah baik-baik. Kita akan kembali ke Korea keesokan paginya bukan. Hanya sehari, pikirkanlah ini.” protes Isak halus.

“Changmin bisa menggantikanku.”

“Ya! Mana bisa seperti itu?” sambar Changmin tidak terima.

“Atau kau bisa menggantikanku.” Kata Yunho lagi, mengabaikan protes-protes sebelumnya.

“Tidak bisa seperti itu! Bagaimana mungkin kau mengabaikan tanggung jawabmu seperti itu? Kau lah yang terpilih. Lagipula..”

“Kau benar.” Kata Yunho dengan senyum cerah. “AKu tidak boleh meninggalkan tanggung jawabku seperti itu.”

Changmin menghembuskan nafas lega. “Akhirnya kau menger..”

“Aku tidak boleh meninggalkan istriku yang tengah hamil sendirian. Aku akan pulang besok pagi kalau memang ia tidak mengabariku hari ini.” kata Yunho tegas.

“Bukankah sudah kukatakan bahwa perbedaan waktu adalah inti permasalahan kalian disini bukan? Aku yakin Kyuhyun-ssi baik-baik saja. Kau tidak perlu terlalu khawatir.” Kata isak seraya menepuk pundak Yunho.

“Dengar.. Kau tidak mengerti. Suatu saat nanti, ketika akhirnya kau menikah dan memiliki pasangan hidup, kau akan mengerti apa yang kurasakan saat ini. Tidak mudah bagiku untuk meninggalkan Kyuhyun sendiri sementara aku berpesta disini.”

Dering ponsel milik Yunho menyelamatkan situasi canggung diantara mereka kemudian. Yunho segera menariknya keluar dari kantong celananya. Wajahnya berubah cerah ketika melihat panggilan video call di ponselnya.

“Hyyyuuuuuunnnggggggggggg….!!!!”

Terdengar jerit manja dari seberang. Si penelepon tersenyum lebar memamerkan barisan gigi putihnya. Pipinya yang gempal merona merah. Bibirnya dikerucutkan, membentuk sudut yang lucu dan menggemaskan.

Hati Yunho menghangat seketika. Hanya dengan melihat Kyuhyun saja, hatinya terasa lebih lega. Ingin sekali rasanya ia segera pulang ke Korea demi menemui lelaki keras kepala yang tengah mengandung anaknya itu.

“Baby.. Hyung merindukanmu. Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak bisa dihubungi dalam dua hari ini?”

“Aku baik-baik saja, hyung. Jangan khawatir. Aku cukup sibuk sebenarnya, jalan-jalan bersama Donghae hyung, memasak bersama Ryeowook hyung juga nonton drama bersama Tesa-ssi. Aku bosan sekali tanpamu, jadi aku mengisi waktuku dengan hal-hal tadi.” jawan Kyuhyun dengan nada manja.

“Aku khawatir sekali padamu. Setidaknya kabarilah aku. Aku nyaris saja pulang besok pagi kalau tidak mendengar kabar darimu.” Kata Yunho lembut.

Pipi Kyuhyun kembali merona. “Tidak perlu hyung. Selesaikan saja urusanmu disana, setelah itu cepatlah kembali, ne? Jangan tergiur dengan rayuan-rayuan maut para wanita kesepian disana.”

“Baiklah. Aku mempercayaimu. Jaga kesehatanmu ne? Jangan makan makanan cepat saji, tidak baik untuk kesehatanmu juga anak kita. Aku menyayangi kalian berdua. Dan kau tidak perlu khawatir, tidak ada yang menyaingi kecantikanmu. Tidak ada yang bisa menempati hatiku selain kau.”

Kyuhyun mengangguk. “Sampai jumpa dua hari lagi, hyung. Aku mencintaimu.”

“Sebentar baby.. Jam berapa disana? Kau belum tidur?”

Kyuhyun terkesiap. “Eh.. jam sembilan pagi hyung. Aku hanya sangat merindukanmu. Aku ingin melihat wajahmu jadi aku menelepon.”

“Kau ada dimana? Kau tidak sedang di rumah bukan?” tanya Yunho lagi. Pasalnya ada yang aneh. Dinding di belakang Kyuhyun sudah pasti bukan dinding di kamar mereka.

“Oh.. Aku menginap di rumah Donghae hyung. Ia baru saja mengganti cat kamarnya, bagus bukan?” kata Kyuhyun tanpa menghiraukan protes kecil Donghae di depannya. sebenarnya ia juga ada di hotel yang sama dengan Yunho saat ini, hanya saja ia berada di salah satu kamar mandi di sana.

“Kyu, mana mungkin aku mengecat kamarku dengan warna kuning gading seperti ini? Aku suka warna biru.” Protes Donghae dalam bisikan keras.

“Mengapa kau ada disana sepagi ini? Tunggu, kau menginap di rumah Hae? Dimana dia? Biarkan aku berbicara dengannya.”

Donghae lalu menghampiri Kyuhyun dan duduk di sampingnya. “Wae?”

“Kau membawa istriku menginap di rumahmu? Sekamar denganmu? Kaaauuuu…!” tanya Yunho yang sedikit emosi.

Donghae menggeleng malas. “Aku sama sekali tidak takut denganmu walaupun kau marah sekalipun. Aku jauh lebih takut pada istrimu ini. Dia yang memaksa untuk menginap disini. Dan lagi, kau pikir aku semesum itu? Bagaimana mungkin aku mengambil kesempatan padanya? Ia sedang hamil!”

Yunho baru akan membalas ketika Isak menutup pandangannya dari ponselnya sendiri dan bicara langsung dengan Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi, apa kabar? Apa kau baik-baik saja? Jangan terlalu mengkhawatirkan Yunho, ia baik-baik saja. Aku dan Changmin menjaganya dengan baik di sini.”

Kyuhyun mencebikkan bibirnya. “Arasso. Aku akan menghubunginya lagi nanti.” Ia lalu memutuskan hubungan saat itu juga.

“Kenapa ia harus bicara denganku seperti itu? Aku tidak memintanya menjaga suamiku, bukan? Menyebalkan sekali!” kata Kyuhyun bersungut-sungut.

“Setidaknya kau tidak semerana aku.” Bantah Donghae kesal.

“Bagaimana bisa seperti itu? Tidak ada wanita lain yang tengah mencoba merebut kekasihmu, hyung! Kau bahkan tidak punya kekasih!” balas Kyuhyun, masih dengan kesal.

“Bukan karena kekasih, Kyu. Sadarkah kau bahwa kau baru saja membuatku harus mengganti cat kamarku karena jika Yunho mendatangi rumahku dan.. Arrgghhh.. Kyuhyun-ah.. lihat betapa aku menyayangimu. Jadi, kumohon kau tidak melakukan hal-hal aneh di sini selain memata-matai yunho, ne?” kata Donghae panjang lebar dengan nada frustasi.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya. Sambil tersenyum lebar, ia memeluk Donghae. “Terima kasih hyung.. Kau adalah hyung terhebat sepanjang masa!”

“Baiklah.. Kita harus bersiap-siap. Bukankah kita harus membuntuti Yunho hari ini? Pasti reuninya sudah dimulai.” Kata Donghae seraya melepaskan pelukan Kyuhyun lalu mengacak rambutnya penuh rasa sayang.

Kyuhyun mengangguk bersemangat. Ia sudah memesan satu meja di salah satu restoran.  Kebetulan mejanya menghadap ke arah ballroom, membuatnya lebih mudah memantau gerak-gerik suaminya.

Beberapa meter dari tempat Kyuhyun saat ini, terlihat seorang gadis tengah bergelayut manja di lengan seorang lelaki tampan dan terus-terusan mengisi gelas lelaki tersebut dengan anggur yang memabukkan..

*

uknow-hae

 To be continued..

[Trans] 130925 ‘Our Neighborhood’s Master’ Max Changmin Becomes The Unforgiving ‘Table Tennis Devil’ For Kim Jaekyung

fashion follows yoochun

TVXQ’s Max Changmin was an unforgiving table tennis opponent to Rainbow’s Kim Jaekyung.

During the episode of KBS 2TV’s ‘Our Neighborhood’s Master of Variety and Sports’ that aired on the 24th, Max Changmin and Kim Jaekyung were locked in a table tennis match as the second players of each team.

With Kim Jaekyung as his opponent, Max Changmin immediately began his unforgiving tirade against her. He didn’t go easy on her for being a girl, and smiled like a ‘table tennis devil’ as he continued to dominate the game.

His team members were even more unforgiving as they watched on, encouraging him for his unforgiving attitude and gameplay.

Victory soon went to Max Changmin and he had everyone laughing when he stated, “It was like a festival for me,” after the match.

Meanwhile, the day’s episode featured regulars Kang ho Dong, Lee Soo Geun and Max Changmin, as well as…

View original post 47 more words

The Journey – Chapter 6

Title                 :  The Journey

Rate                 : T

Genre              : Friendship, Romance, Humor, Sad, Angst

Pair                  : YunKyu, ZhouKyu, ChangKyu

Cast                 : Kyuhyun (dan Kyujin), Yunho, Changmin, Zhou Mi

Other Cast       : Taemin, Kibum, Donghae, Heechul, Jungmo,

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Note                : Cerita ini diangkat dari sebuah film Korea dengan perubahan judul serta nama tokoh tanpa merubah isi dan alur cerita serta penggambaran karakter tokoh aslinya. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta dari seorang ibu (Kyuhyun – generasi 1) dan anaknya (Kyujin – generasi 2) di generasi yang berbeda dalam mendapatkan cinta pertama sekaligus cinta sejatinya.

CHAPTER 6

Pintu rumah sakit berwarna putih itu terbuka perlahan. Yunho yang tengah duduk di sisi tubuh Zhoumi yang terbaring di ranjang, mendongakkan kepalanya ketika ia melihat Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Ia tersenyum tipis pada pria manis itu meskipun dengan sorot matanya yang tampak menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Sama halnya dengan Yunho, kedua matanya kini tampak bengkak karena menangis. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya berusaha menahan air matanya. Tidak tahan, ia pun berbalik dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Ia menyandarkan bahunya pada dinding dan menangis.

Mengetahui keadaan Kyuhyun, ia pun menyusul namja tersebut dan menghampiri Kyuhyun yang tengah terisak.

“Masuklah.” Pintanya dari balik punggung Kyu yang tengah membelakanginya.

Kyuhyun menggeleng pelan sebagai jawaban.

“Jika kau bersamanya, ia past akan lebih cepat sadar.”

Kyuhyun tidak memberikan reaksi apapun kecuali tangisannya.

“Cepatlah.”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum ia berbalik dan melangkah menuju ruangan tempat Zhomi di rawat tanpa memandang Yunho sedikit pun.

“Tunggulah aku disini.” Pinta Kyuhyun yang dijawab anggukan dari Yunho.

Yunho menundukan wajahnya dalam. Berusaha menahan perasaannya yang bergejolak. Sekuat hati ia menahan air matanya. Dalam diam, ia menyentuh kalung yang melingkar di lehernya.

*

“Bangunlah…dan segeralah sembuh.” Ucap Kyuhyun lirih. Ia kini telah duduk di kursi di samping ranjang Zhoumi yang terbaring tak sadarkan diri dengan masker oksigen terpasang di hidungnya. Ia menghela nafas panjang, menetralkan sesegukan akibat tangisannya.

Ia menoleh ke arah pintu. Dimana ia melihat sosok Yunho yang berdiri bersandar pada pintu masuk. Ia tersenyum pada lelaki itu. Kyuhyun kembali menundukan kepalanya dalam.

Tanpa ia ketahui, Yunho yang tengah bersandar di pintu menangis tanpa suara.  Tubuhnya bergetar menahan tangis yang tidak dapat ia tahan lagi. Perasaannya sakit melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya serta melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri olehnya. Itulah yang ia pikirkan dalam benaknya. Ia menganggap jika penyebab Zhoumi melakukan tindakan bodoh tersebut adalah karena kata-kataya.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya kembali dan menatap ke arah pintu. Namun ia tidak melihat sosok tegap Yunho lagi berdiri di sana. Mungkin ia pikir jika Yunho memilih untuk menunggunya di luar.

Sedetik kemudian ia baru menyadari sesuatu. Tepatnya setelah ia melihat sebuah benda berkilau yang menggantung di kenop pintu.

Dengan tergesa Kyuhyun berlari menuruni tangga rumah sakit. Berlari menuju pintu keluar dengan menggenggam sebuah kalung. Kalung yang tergantung di kenop pintu dengan di tinggalkan oleh pemiliknya.

Ia terkesiap kaget ketika ia membuka pintu keluar rumah sakit. Di halaman rumah sakit itu, kini terlihat sangat ramai dengan ratusan orang yang tengah melihat parade marching band dalam memperingati hari kemerdekaan.

Tanpa memperdulikan keramaian tersebut, ia berjalan kesana-kemari untuk mencari Yunho. Mencari sosok yang pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

*

Present Days

“Kyujin-ah, kau tahu apa ini?” Kyujin yang tengah meminum kopi dengan mengamati derasnya air hujan yang mengguyur halaman kampus melalui jendela kedai itu sontak mengalihkan pandangannya ketika sebuah suara menginterupsi perhatiannya.

“Payung?” tanyanya retoris pada Ryeowook, seorang namja paruh baya yang tidak lain adalah penjaga kedai kampusnya.

Ryeowook tersenyum simpul mendengar pertanyaan Kyujin, masih tetap memandangi payung berwarna abu-abu yang ada ditangannya. “Sebuah payung yang sangat spesial.”

Kyujin mendecih mendengar kalimat tersebut. Pandangannya kembali terarah ke luar jendela. “Bagiku semua payung itu sama saja, hyung.” Sangkalnya dengan menyesap kopinya lagi.

“Ya! Ini menjadi spesial karena Changmin yang memberikannya padaku.” Sela Ryeowook tidak terima. Mendengar nama Changmin di sebut, Kyujin kembali menatap Ryeowook yang perlahan melangkah mendekatinya. ”Dia pasti tahu jika aku menyukainya.”

Kyujin memutar bola matanya ekspresif. “Bagaimana ia tidak mengetahuinya jika setiap hari ia kesini kau selalu memandanginya?”

Ryeowook mencebikan bibirnya. Namun sesaat kemudian ia merubah ekspresinya. “Ya! Pergi dan kembalikan ini pada Changmin di gedung teater.” Pintanya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Kyujin.

“Aniyo. Kau berikan saja sendiri pada orangnya, hyung. Aku tidak akan pernah lagi pergi kesana.”

“Wae?” sambar Ryeowook masih menyodorkan ‘payung spesial’ itu pada Kyujin yang masih duduk setia di kursi dekat jendela. “Apa kau dan Taemin sedang bertengkar?” Tanya pria itu heran. Pasalnya ia sendiri mengetahui perihal kedekatan Taemin dengan Changmin. Dan ia pun juga mengetahuinya, jika dimana ada Changmin dapat dipastikan juga akan ada Taemin disisi lelaki jangkung tersebut.

Kyujin hanya menggeleng dengan menundukan kepalanya sebagai jawaban. Ia enggan berkomentar apapun. Sejujurnya, ia ingin sekali bertemu dan bertatapan langsung dengan sunbae-nya itu. Namun mengingat tentang kalimat yang tertulis dalam kartu untuk Taemin kemarin, membuatnya kembali tersadar bahwa ia sama sekali tidak memilki harapan lagi untuk mencoba mendekati Changmin.

“Kau ingat ketika hujan tiba-tiba turun di tengah hari beberapa hari lalu, Kyu?” Kyujin mendongak menatap Ryeowook yang sedang menatap keluar jendela.

“Sebenarnya Changmin sedang meminum kopi di sini. Sambil menyesap kopinya, ia berdiri di depan jendela dan menatap ke arah luar. Dan kemudian ia mengalihkan pandangannya dan bertanya padaku. “Hyung, apa kau membawa payung hari ini?”

Tanpa sadar Kyujin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat dimana Ryeowook berdiri. Tepat di tempat ia membayangkan Changmin meminum kopinya dengan bediri di depan jendela dan menatap ke arah luar.

“Lalu tanpa berkata apapun ia meletakan payungnya sendiri di sini dan berkata, ‘kau bisa menyimpan payung ini, hyung.” Jelas Ryeowook mempraktikan bagaimana hari itu Changmin meletakan payungnya di samping pintu masuk kedai.

“Dia juga mengatakan ia akan baik-baik saja meskipun nantinya ia akan basah karena kehujanan.”

Kyujin tak mengucapkan kalimat apapun. Pikirannya masih sibuk dengan membayangkan apa yang di lakukan Changmin sesuai dengan yang diceritakan oleh Ryeowook. Kedua matanya kini bahkan telah memerah karena menahan air mata kebahagiaannya yang seolah membuncah mendengar penuturan tersebut. Antara bahagia dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“…setelah mengatakan itu kemudian ia berlari menembus hujan.”

Kyujin kembali menatap ke arah luar jendela. Dimana dari tempat ia berdiri kini dapat terlihat bangku dan pohon tempat ia berteduh ketika hujan tiba-tiba turun kemarin. Tempat dimana ia dan Changmin berteduh bersama sebelum ia diantar oleh namja tersbut ke Perpustakaan dengan ‘payung’ nya.

Kemudian ia membayangkan namja yang diam-diam ia sukai itu meninggalkan payungnya disamping pintu kedai sebelum ia berlari menembus hujan untuk menghampirinya yang kala itu tengah berteduh seorang diri di bangku bawah pohon.

“Padahal waktu itu hujan turun dengan sangat deras. Anak itu pasti kehujanan dan basah tanpa payungnya…” Pungkas Ryeowook mengakhiri ceritanya.

Perlahan kaki Kyujin melangkah mengampiri payung abu-abu yang kini telah tergeletak di pintu masuk kedai. Dengan senyum terkembang di bibirnya, ia lalu mengambil payung tersebut.

“Payung ini.. adalah payung yang sangat spesial.” Ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis dan perasaannya yang meledak-ledak. “Hyung, aku akan mengembalikan payung ini pada pemiliknya.”

Dengan bergegas ia pun berlari keluar kedai dengan membawa payung milik Changmin ditangannya, namun langkahnya kembali terhenti ketika ia mengingat seseuatu.

“Hyung, apa kau membawa payung hari ini?” tanyanya setelah ia mengambil payung miliknya yang awalnya tergeleletak disamping payung milik Changmin.

Ryeowook mengangguk cepat. “Tentu saja aku membawanya.”

“Jeongmal?” gumam Kyu pelan, ia kembali meletakan payung kuning miliknya di tempatnya semula. “Baiklah.. Kau bisa menyimpan miliku, hyung.” Seru Kyujin sebelum ia benar-benar berlari keluar menembus hujan yang belum reda.

Meninggalkan Ryeowook yang hanya terheran melihat kelakuan namja manis itu yang terlihat aneh. “Apa dia gila?” gumamnya keheranan.

Sepeninggal dari kedai, Kyujin yang dengan membawa ‘payung spesial’ ditangannya itu berlari menembus hujan tanpa memperdulikan tubuhnya yang basah tersiram air. Dengan perasaannya yang ringan, ia terus saja berlari dengan sesekali membuka kedua tangannya lebar seolah tengah menikmati jatuhnya air langit yang turun membasahi tubuhnya.

Senyumannya kian melebar ketika ia mengingat bagaimana Changmin rela meninggalkan payungnya sendiri hanya untuk menemaninya berteduh dan mengantarnya ke perpustakaan. Bolehkah saat ini ia mengartikan jika apa yang di lakukan Changmin merupakan pertanda bahwa lelaki itupun juga memiliki perasaan yang sama dengannya?

Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang menatapnya, ia tetap saja berlari menuju gedung teater. Ia membalas sikap hormat dengan riang ketika ia berpapasan dengan serombongan polisi yang sedang latihan militer di tengah hujan.

Sementara di gedung teater, seorang namja dengan tubuh tinggi menjulang tengah berdiam diri diantara kesibukan orang-orang yang berlalu lalang membereskan properti. Entah apa yang tengah di pikirkan namja tersebut dalam benaknya.

Ia menolehkan pandangannya ketika ia merasakan kehadiran seseorang yang berjalan menghampirinya. Setelah orang yang menggotong properti itu berlalu, berulah ia dapat melihat dengan jelas sosok yang berjalan mendekatinya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Kyujin dengan tubuhnya yang basah kuyup tersenyum menghampirinya.

Beberapa menit waktu mereka lalui tanpa sepatah katapun. Kyujin sendiri berusaha menstabilkan nafasnya yang masih tersengal akibat berlari tadi dan tetap menyunggingkan senyumnya pada Changmin, pria bertubuh tinggi tersebut, yang tampak menelan ludahnya gugup.

“Bukankah kau membawa payung, tapi mengapa tubuhmu basah seperti ini?” tanya Changmin dengan tatapan bingung, tak lupa senyum tipis tercetak dari bibir lebarnya. Mata bulatnya sendiri tak lepas memperhatikan namja yang tengah berdiri di hadapannya dengan seluruh pakaian dan tubuhnya yang basah, nafasnya yang tersengal serta wajah dan hidungnya yang memerah yang tampak membuatnya semakin manis dan imut.

“Karena ini bukan payung milikku.” Ucap Kyujin dengan nafasnya yang terputus-putus. “Aku datang untuk mengembalikan ini padamu. Kau meninggalkannya di kedai.” Kyujin menundukan wajahnya sesaat sebelum kembali menatap Changmin yang masih setia berdiri di hadapannya.

“Apakah hanya aku yang kehujanan meskipun aku memiliki payung?” Tanyanya ambigu. Tanpa menunggu jawaban dari Changmin, ia kemudian memberikan payung yang ia bawa kepada namja yang masih mematung di tempat. Setelah menyerahkan payung tersebut, ia pun membalikan tubuhnya berniat untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.

“Jangan pergi!”

Kyujin menghentikan langkahnya seketika saat ia mendengar Changmin berseru dari belakangnya. Ia bisa mendengar suara langkah namja itu mendekat ke arahnya.

“Kau sudah mengetahuinya bukan?” Changmin mencoba menebak. “Perasaanku.. Kau telah mengetahui semuanya.”

Meskipun Changmin mengucapkannya dengan lirih, namun Kyujin dapat mendengarnya dengan jelas. Perlahan, ia membalikan tubuhnya untuk menghadap Changmin yang kini tengah menerawang jauh. Tidak berani menatap matanya.

“Ya. Ketika aku melihatmu berlarian di tengah hujan tanpa membawa payung. Aku memang sengaja meninggalkan payungku sendiri di kedai.”

Kyujin menatap dalam pada Changmin yang tengah mengungkapkan kejadian yang sebenarnya.

”Bahkan saat kita berada di museum beberapa waktu lalu, aku ingin memberimu sebuah hadiah, jadi aku sengaja membawakannya juga untuk Taemin.” Changmin menatap tepat ke arah manik sewarna caramel milik Kyujin yang dibalas senyuman lembut oleh namja berkulit pucat itu.

“Dan jika takdir berpihak padaku, aku berharap jika kau akan mengambil hadiah dengan kartu yang ada didalamnya…”

Kyujin menundukkan wajahnya dan tersenyum membayangkan jika apa yang diharapkan Changmin memang terjadi pada awalnya. Namun sayangnya ia sendiri malah menganggap kartu itu diberikan untuk Taemin mengingat pada waktu itu Taemin menukar hadiahnya.

“…aku pikir hubungan kita akan menjauh jika aku memberitahukan langsung perasaanku padamu. Aku ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, namun aku tidak bisa —”

“Aku akan datang dan melihat pertunjukanmu lusa.” Sanggah Kyujin memotong ucapan Changmin. Ia tidak sanggup mendengar kelanjutan kalimat yang akan di ucapkan Changmin padanya. Karena baginya untuk saat ini, mengetahui bahwa orang yang ia sukai memiliki perasaan yang sama padanya saja telah membuat hatinya teramat bahagia.

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, dengan wajahnya yang memerah ia pergi dan berlari menuruni panggung. Meninggalkan Changmin yang menatap kepergiannya dengan ekspresi antara kecewa dan sedikit lega. Meskipun sebenarnya ia belum dapat mengungkapkan perasaannya secara gamblang pada Kyujin.

*

            “Lihat! Aku mengiris pergelangan tanganku sendiri.” Taemin yang sedang berbaring di bangsal pasien mengulurkan kedua tangannya pada Changmin yang duduk di sisinya. Memperlihatkan kedua pergelangan tangannya yang di tutupi oleh perban.

Namja kekanakan itu hanya menghela nafasnya melihat sikap Changmin yang sama sekali tidak memperhatikannya. “Baiklah. Aku mengetahui semuanya sekarang.  Kalian berdua saling membisikan kata cinta. Apakah kau sungguh mencintainya? Apa kau sungguh-sungguh?!” Seru Taemin menahan emosinya.

“Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri.” Balas Changmin dengan suaranya yang penuh penekanan. “Tiap kali mataku menatapnya, perasaanku sendiri juga merasa bingung.”

“Bisakah aku mempercayai kata-kata itu? Bisakah aku menganggap kata-kata itu sebagai sebuah janji?” Rentet Temin dengan nada menuntut yang dibalas anggukan kepala meyakinkan dari Changmin yang menahan air matanya.

“Ya.” Jawab Changmin yakin, ia menarik nafasnya dalam sebelum melenjutkan ucapannya, “Aku hanya mencintai satu orang…”

“Dan orang itu adalah aku, kan?” Suara Taemin kembali meninggi.

“Aku mencintaimu! Aku bersumpah bahwa aku mencintaimu–“

“Aku juga mencintaimu, hyung!” Sahut Taemin seraya bangkit dari posisi berbaringnya dan langsung memeluk leher Changmin dengan erat. “Changmin hyung, aku juga sangat mencintaimu.

Mata Changmin membelalak kaget ketika Taemin langsung memeluk dan menyebut namanya,’Changmin?!’

Belum sempat Changmin lepas dari keterkejutannya, tiba-tiba Taemin langsung mencium dan melumat bibirnya dengan agresif. Changmin yang masih duduk di posisinya dengan Taemin yang memeluk dan menciumnya hanya membelalakan matanya dengan menatap ke arah penonton yang hanya saling memandang ke arah panggung, tempatnya berada saat ini dengan tatapan bingung dan terkejut.

Perlahan-lahan kain hitam besar bergerak menutupi panggung. Setelah yakin tidak terlihat oleh penonton, dengan kasar Changmin melepaskan diri dari rengkuhan dan ciuman Taemin padanya dan bangkit dari bangsal yang baru saja ia duduki.

Tanpa diketahui oleh mereka berdua, dari balik kain penutup panggung itu, ratusan penonton yang hadir menyaksikan pementasan drama tersebut hanya saling memandang satu sama lain dengan pandangan bertanya-tanya.

“Apa yang baru saja kau lakukan, Taemin-ah?! Aku bahkan belum menyelesaikan dialogku dan kau tiba-tiba memanggil namaku?!” Murka Changmin dengan berkacak pinggang, “Kau tidak bisa mengubah dialohmu seperti itu. Kau mengacaukan segalanya!”

“Changmin hyung, aku tidak sedang berakting. Apa yang aku ucapkan tadi adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu. Saranghae.” Taemin beranjak dari tempat tidurnya dan kembali memeluk Changmin lagi dengan slang infus yang berguna sebagai properti menancap di lengan kanannya.

“Cinta itu lebih penting dari sekedar permainan dan akting, hyung.” Rengeknya berusaha mempertahankan posisinya meskipun Changmin berusaha berontak.

Dengan sekuat tenaga akhirnya Changmin mampu melepaskan diri dari Taemin yang membuat namja imut itu jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur.

Merasakan perlakuan kasar Changmin seketika membuat dada Taemin bergemuruh menahan amarah. Dengan sekali gerakan ia pun mengayunkan tangannya dan menampar telak pipi tirus Changmin.

PLAKK!

Changmin menyentuh pipinya yang terasa perih dan membalas menampar wajah Taemin. Tidak terima, Taemin pun menampar lagi pipi Changmin.

PLAKK!

Penonton yang mendengar suara tamparan bersahutan dari balik panggung yang tertutup kain semakin kebingungan. Meskipun begitu, tak urung mereka semua bertepuk tangan atas pertunjukan yang beru saja mereka saksikan.

Diantara ratusan penonton itu, tampak Kyujin tertawa dengan buket bunga yang berada di pangkuannya. Sebuah buket bunga yang akan ia berikan pada Changmin, namja yang ia cintai begitupun juga sebaliknya.

*

(Kyujin POV)

Setelah drama tersebut, aku dan Changmin hyung mulai berkencan. Kami memutuskan untuk berkencan di sungai penuh kenangan eomma-ku. Kami berdua melangkah dengan kedua tangan saling bertautan setelah kami berdiri di tepian sungai yang dikelilingi oleh ilalang. Kumasukan satu tanganku kedalam kantung coat yang ku kenakan untuk mengurangi hawa dingin yang berasal dari angin yang bertiup kencang.

Aku bahagia. Teramat sangat bahagia ketika aku dapat menjalani hari-hariku bersama dengan orang yang aku cintai. Ku dongakan wajahku menatap wajah namja yang lebih tinggi dariku itu. Ia menyunggingkan senyum hangatnya ketika mengetahui bahwa aku tengah mengamati wajahnya dari samping yang kubalas dengan senyum maluku. Aissh, wajahku pasti sudah memerah saat ini…

“Kyuhyun-ah…”

Kami berdua menoleh kebelakang ketika seseorang memanggil nama eomma-ku. Dimana terdapat seorang  kakek yang aku ketahui baru saja melewati kami dengan sepedanya itu berhenti beberapa meter dariku.

“Aniyo, harabeoji. Aku bukan Kyuhyun. Namaku Kyujin. Aku adalah anaknya…”

Dari sudut mataku, aku dapat melihat Changmin menatapku dengan bingung.

“Aa,begitukah? Berarti aku salah orang.” Kakek itu terlihat menggaruk pipinya bingung. “Tapi kau terlihat sangat mirip dengan eomma-mu.”

Aku hanya tertawa dan menatap namjachingu-ku yang terlihat sama bingungnya dengan kakek tersebut.

“Aku mengantar banyak surat untuk eomma-mu dulu.”

“Gomawoyo, harabeoji.” Seruku seraya membungkukan badan pada kakek yang masih duduk di sepedanya. Kakek tersebut menganggukan kepalanya sebelum ia kembali mengayuh sepedanya menjauh dari kami.

Aku dan Changmin pun kembali melanjutkan langkah kami. Ia menggenggaam tanganku lagi yang tanpa sengaja terlepas ketika aku mengobrol dengan kakek.

Sekarang aku mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku di masa lalu…

*

 

Past Days

Beberapa bulan kemudian..

“Para pelajar dan penduduk sekalian. Ini adalah bentuk dari protes yang sah.” Seorang lelaki berteriak lewat microphone dengan keras, membangkitkan semangat para peserta demonstrasi siang itu.

“Ganti pemerintah!”

“Turunkan diktator!”

Ketika para pendemo tersebut semakin dekat, dengan kumpulan polisi yang berjaga ketat, terdengar letusan-letusan gas airmata meledak, menghantam kerumunan sang pendemo. Para peserta demo langsung berlarian ke segala arah.

Kyuhyun yang berada disana segera melarikan diri. Matanya terasa perih dan dadanya terasa sesak. Ia tak henti-hentinya terbatuk seraya berlari mencari tempat yang cukup aman.

“Kalau kau mengoleskan pasta gigi, matamu akan terasa lebih baik.” Seseorang berkata dari belakang membuat Kyuhyun berbalik.

“Kyuhyun-ssi?” Disana, berdiri lelaki jangkung yang selama ini ia kenal dengan cukup baik. Zhoumi melihat Kyuhun dengan kaget. Lelaki jangkung yang kini telah mengubah penampilannya menjadi lebih dewasa. Lelaki periang itu terlihat mengenakan pasta gigi di bawah kantung matanya.

“Zhoumi-ssi?”

Zhoumi tersenyum lebar. “Ini, oleskan pasta gigi di bawah matamu.” Dengan cekatan Zhoumi lalu mengoleskan pasta gigi di bawah mata Kyuhyun lalu tersenyum segara meniupkan anak rambutnya, seperti kebiasaannya selama ini.

The Journey 6

TBC

130923 Jang Guen Suk about Kim Heechul [Fan Account]

Sup3rJunior’s Super Show 5 in Malaysia Project Donation

VOTE! For SUP3RJUNIOR & WorldWideELFS 2013 MWAVE K-POP ALLSTAR FAN CLUB AWARDS!

Jang Geunsuk mentioned to Heechul: ‘After attending a wedding, I was getting into the car when I saw Chinese fans running towards me…I was happy thinking that everyone recognized me and wanted to wave but then I realized the car in front was SJ’s Kim Heechul’s.’ (The fans were running to Heechul instead)

Source: Mikolah ‏@Luv_Opera
Shared at sup3rjunior.com by uksujusid

TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

View original post

130924 Donghae Twitter Update: I just got back from Germany !! Korea!!!!!!!!!!!!!!!

Sup3rJunior’s Super Show 5 in Malaysia Project Donation

VOTE! For SUP3RJUNIOR & WorldWideELFS 2013 MWAVE K-POP ALLSTAR FAN CLUB AWARDS!

Compilation: Eunhyuk, Donghae, Ryeowook and Kyuhyun Chuseok Vacation in Germany

I just got back from Germany !! Korea!!!!!!!!!!!!!!! Its Autumn ^^

[Deleted Tweet] as expected(,) you were looking at me ? 🙂 RT @/AllRiseSilver: its Korea(,) donghae-ya!!!!!!!^^^^^^^^^^ pic.twitter.com/azAwQ9Efgd

eunhyuk-ah You Are Always Behind Me…^^ RT @/AllRiseSilver: its Korea(,) donghae-ya!!!!!!!^^^^^^^^^^ pic.twitter.com/azAwQ9Efgd

130924hyukjae

I’m gonna go to taco !! So hungry 😦

Source: Super Junior 이동해 ‏@donghae861015
Translated by:  유진♡ ‏@teukables
Shared at sup3rjunior.com by salimahsj
TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

View original post

130924 Kyuhyun Twitter Update: Oktoberfest Munchen Oktoberfest Munchen~^^

Sup3rJunior’s Super Show 5 in Malaysia Project Donation

VOTE! For SUP3RJUNIOR & WorldWideELFS 2013 MWAVE K-POP ALLSTAR FAN CLUB AWARDS!

Compilation: Eunhyuk, Donghae, Ryeowook and Kyuhyun Chuseok Vacation in Germany

As a memorial for our comeback to Korea, here’s a cut of the 1000cc’s worth (of beer) at Oktoberfest! On that day the members went back to our accommodation first, but I stayed till evening on my own and went back after having lots of fun with people from all over the world.. The best festival that I want to go to again!! Oktoberfest Munchen Oktoberfest Munchen~^^

130924kyu

Source: ChoKyuHyun ‏@GaemGyu
Translated by: DBSJYJ♔ ‏@AllRiseXiahtic
Shared at sup3rjunior.com by salimahsj
TAKE OUT WITH FULL AND PROPER CREDITS.

View original post