Obsession – Chapter 2

Title                 : Obsession

Rate                 : T

Genre              : Romance, Humor, Fluff, Sad

Pair                  : YunKyu, TaecKyu

Cast                 : Minho ‘Shinee’, Changmin ‘TVXQ’, Doo Joon ‘Beast’, Donghae ‘SJ’, Jonghyun ‘CN Blue’, TOP ‘Big Bang’, Taecyeon ‘2PM’.

Warning          : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read.

Summary          : Sebuah cerita mengenai kehidupan cinta seorang Cho Kyuhyun, dimana banyak lelaki yang datang dan pergi namun ia tetap tidak bisa melupakan cinta pertamanya yang sepertinya tidak pernah memiliki rasa yang sama untuknya. Mampukah Kyuhyun melupakannya? Akankah mereka bertemu lagi?

*Cerita ini terdiri dari beberapa chapter yang mana dalam satu chapter berisikan satu cerita oneshot dengan seme yang berbeda-beda namun di setiap chapternya masih saling berhubungan. Jadi, tolong dimengerti jika dalam satu chapter alurnya terasa agak cepat.

CHAPTER 2

The Charming Boy

            “Kenapa appa dan eomma harus pergi? Seminggu pula! Belum lagi uang yang ditinggalkan tidak banyak. Mana bisa aku membeli makanan terus menerus di luar? Mereka tahu, aku benci memasak sendiri!” gerutu Kyuhyun pada dirinya sendiri.

Di suatu siang yang cerah di musim gugur itu, ia mendorong trolley belanjaannya dan mulai mengisinya dengan bahan masakan sejak lima belas menit yang lalu. Kedua orang tuanya harus mengunjungi paman dan bibinya yang telah pindah dan menetap di Beijing selama lima tahun terakhir. Dan mereka harus meninggalkan Kyuhyun sendiri di rumah karena anak itu harus bersekolah.

Kyuhyun bisa saja selalu menghabiskan waktu di rumah Minho, sahabatnya, dan bisa menumpang makan ketika waktu makan telah tiba. Lagipula, kedua orang tua Minho sudah menganggapnya seperti anak sendiri, pasti mereka tidak akan keberatan. Tapi rasa malu menahannya. Ia tidak mau orang tuanya dianggap tidak memberi Kyuhyun cukup uang saku hingga anaknya terlantar.

Jadi, mau tidak mau Kyuhyu harus berbelanja siang ini guna mengiri kembali kulkasnya yang nyaris kosong hingga seminggu kedepan.

Setelah memastikan ia telah mengisi keranjang belanjaannya dengan bahan makanan sesuai dengan daftar kecil di tangannya, ia pun berjalan ke kasir.

Namun, saat itu juga ia menangkap sosok lelaki dengan gerak-gerik mencurigakan. Lelaki itu tampak mendengarkan musik di telinganya dengan santai, tapi dari raut wajahnya tersirat sedikit kecemasan. Hal itu terlihat dari gerakan kepalanya yang selalu menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah takut ketahuan melakukan sesuatu yang ilegal.

Kyuhyun sempat bertahan beberapa lama untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, namun karena lelaki itu tak kunjung melakukan suatu gerakan yang berarti, Kyuhyun pun menyerah dan kembali ke tujuan utamanya : kasir.

Tak sampai lima menit, Kyuhyun sudah berjalan santai keluar dari supermarket itu. walaupun siang yang cerah itu terasa sedikit dingin, namun Kyuhyun tetap mempertahankan langkahnya yang pelan. Seolah menikmati udara di sekitarnya. Ia bahkan berdendang riang seraya menggoyang-goyangkan kedua kantong plastik di tangan kanan dan kirinya.

“Ya! Cepat tangkap dia! Ya! Jangan lari!”

Kyuhyun menoleh ke belakang. Seorang pemuda tegap berlari melewatinya diikuti beberapa lelaki berseragam yang meneriakkan kekesalan dan tak sengaja menyenggol barang belanjaan di tangan kanannya.

Sreeekkkk.

Kantong plastik itu robek dengan cepat dan memuntahkan isinya ke aspal di bawahnya. Sayurannya berjatuhan, tomat dan ketangnya bergelinding di jalan lalu lenyap dari pandangan. Sebagian lagi malah tergilas ban mobil yang lewat. Sedangkan sepuluh butir telur ayam yang dibungkus menjadi satu dalam sebuah kantong bening kini pecah dengan manisnya.

Dengan wajah padam karena marah, mata Kyuhyun segera mencari sang pelaku yang tadi tengah di kejar oleh segerombolan lelaki berseragam.

“Sebentar.. bukankah lelaki itu yang tadi tampak mencurigakan di supermarket? Dan bukankah para lelaki yang mengejarnya itu adalah para pegawai supermar.. Astaga! Dia pasti pencuri! Sialan! Dasar penjahat! Ya! Kemari kau!”

Kyuhyun ikut berlari mengejar si ‘tersangka’, meninggalkan satu kantong belanjaan yang tergeletak mengenaskan di jalanan. Sedangkan kantong belanjaan lainnya yang masih utuh di tangan kirinya kini digenggam erat-erat seraya berlari dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja mengambil jalan berbelok di sebelah kiri, bertentangan dengan arah lelaki tadi karena ia tahu, di depan sana nantinya akan ada persimpangan yang membuatnya bisa bertemu lelaki yang merobek kantong belanjaannya tadi.

Namun, baru tiga menit berlari, ia sudah nyaris kehilangan seluruh pasokan oksigen di paru-parunya. Dengan segera ia melambatkan larinya dengan nafas ngos-ngosan. Ia mencoba melihat ke sekelilingnya, namun tak satupun orang lalu lalang di sana.

“Hosshhh.. Kemana dia? Ini adalah jalan tercepat untuk menyusulnya, sudah pasti aku sampai terlebih dahulu. Dimana dia? Lelaki sialan!” kata Kyuhyun dengan nafas sesak seraya membungkukkan badannya. Kedua tangannya bertumpu di lututnya.

“Heyyy, jangan lari kau..!!!”

Teriakan-teriakan marah kembali terdengar. Dengan cepat Kyuhyun menegakkan tubuhnya dan melihat ke belakang. Tak jauh di sana, lelaki tegap tadi masih berlari, tangannya menenteng sebuah tas kecil.

“Dia menuju kemari, aku harus menghalanginya!” kata Kyuhyun dengan yakin pada dirinya sendiri.

Kemudian dengan berani ia berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tujuannya cuma satu, menghalangi niat si ‘pencuri’ tadi untuk kabur. Tapi semakin dekat jarak keduanya, lelaki tadi tidak memperlambat laju larinya. Dengan teriakan keras ia malah menyuruh Kyuhyun agar pergi.

“Ya! Minggir! Pergi dari sana!”

Tapi seakan tidak peduli, Kyuhyun tetap berdiri di sana. Namun di sisi lain, ia juga merasa cemas. Pasalnya lelaki tadi tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. ‘Bagaimana kalau ia menabrakku?’ pikirnya.

Sepuluh langkah lagi.. tujuh langkah.. empat langkah.. dua langkah.. Dan kejadian berikutnya sungguh di luar dugaan. Lelaki tegap itu meyeruduk Kyuhyun dengan keras. Lalu dengan sekali rengkuh, ia membawa Kyuhyun di pundaknya seperti mengangkat sekarung beras. Seolah bebannya tidak bertambah, ia masih terus berlari kencang.

Kyuhyun yang baru sadar apa yang terjadi saat ini, segera meronta kuat. “Ya! Lepaskan aku! Beraninya kau menggendongku seperti ini? Ya!!!!”

Kyuhyun menendang-nendang perut lelaki itu sementara kedua kepalannya memukul-mukul pinggul si ‘pencuri’. Ia bahkan tidak sadar ia akan di bawa kemana. Yang ia tahu, setelah beberapa blok, para pengejarnya tidak lagi terlihat. Sepertinya mereka menyerah, karena mereka sadar pencuri yang satu ini terlalu gesit.

Setelah beberapa lama, akhirnya lelaki itu berhenti dan menurunkan Kyuhyun dari punggungnya.

“Maafkan aku. Bukannya aku ingin melibatkanmu atau membawamu sejauh ini, tapi kau sendiri yang tidak mau pergi. Kau terus-menerus menghalangiku maka..”

“Ya! Bodoh! Kau pikir aku apa? Karung beras? Hewan liar? Kau menggendongku dengan sangat tidak terhormat! Apa kau tahu memperlakukan seseorang dengan baik? Kau ini bodoh sekali!” omel Kyuhyun panjang lebar.

Lelaki di depannya tercengang sesaat lalu tertawa geli.

“Ya! Apa yang kau tertawakan?” teriak Kyuhyun marah.

“Maafkan aku, tapi.. kau marah bukan karena aku membawamu melainkan karena aku menggendongmu dengan cara yang tidak kau suka?” kembali lelaki tadi tertawa geli.

Wajah Kyuhyun memerah karenanya. ‘Sialan!’ rutuknya. Padahal ia ingin marah karena lelaki itu merobek kantong belanjaannya dan membawanya ke tempat yang ia tidak tahu, tapi mengingat cara lelaki itu yang menggendongnya dengan cara yang tidak sopan, ia jadi lupa alasan yang sebenarnya.

“Taecyeon oppaaaaaa…!!!”

Kyuhyun menoleh, dilihatnya segerombolan anak kecil, laki-laki dan perempuan, berlari keluar dari sebuah rumah kumuh kecil di belakangnya, menyongsong si lelaki tegap yang bernama Taecyeon itu.

“Bagaimana pekerjaan kalian hari ini? Apa kalian bekerja dengan baik?” tanya Taecyeon kepada anak-anak itu. Semuanya mengangguk patuh sebagai jawabannya dengan wajah sumringah.

“Baiklah, ini hadiah untuk kalian. Jangan berebutan. Pastikan kalian membaginya secara adil.” Kata Taecyeon seraya memberikan sebuah kantong yang dikeluarkannya dari dalam tas kecilnya tadi. Kyuhyun melirik kantong itu dan melihat isinya yang sedikit menyembul keluar. Mie instan. Isi kantong itu adalah mie instan.

“Terima kasih oppa.. “ kata anak perempuan yang paling besar, disusul ucapan terima kasih dari anak-anak kecil lainnya. Setelah itu mereka berbondong-bondong masuk ke dalam rumah itu lagi.

“Kauuuu.. Kau memberi anak-anak itu makan dengan hasil curian?” tanya Kyuhyun tak percaya setelah anak-anak itu menghilang dari pandangannya.

“Mwo? Hasil curian? Ya! Aku membelinya.” Jawab lelaki itu setengah mendelik pada Kyuhyun.

“Kalau kau tak mencurinya, mengapa semua lelaki tadi mengejarmu, hahh? Aku jelas-jelas memperhatikanmu di dalam supermarket. Menoleh kesana kemari seolah takut ketahuan, ternyata benar kau mencuri! Kau ini!” omel Kyuhyun lagi.

Laki-laki itu lagi-lagi tertawa geli. “Ya.. Kau ini lucu sekali. Aku membeli semua mie instan itu. kalau tidak percaya, lihatlah ini.” ia lalu menyodorkan struk belanjaannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil kertas kecil itu dengan curiga lalu membacanya. Ia membaca nama dan jumlah barang yang dibeli, tanggal pembeliannya dengan teliti dan nama supermarket tempat tadi ia bertemu lelaki itu.

“Lalu mengapa mereka mengejarmu?”

Taecyeon tersenyum. “Aku hanya berselisih paham dengan salah satu dari mereka. Karena kesal, ia memanggil teman-temannya lalu mengejarku. Hanya itu. Apa kau juga mau permasalahannya? Lalu.. mau tau tentang kehidupanku? Namaku, pekerjaanku, hobiku, tempat tinggalku..”

“Diam!” Bentak Kyuhyun. “Apa hubunganmu dengan anak-anak itu? Jangan bilang kau ini bos dari anak-anak itu. Kau pasti menyuruh mereka melakukan pekerjaan untukmu lalu kau membayar mereka dengan mie instan, iya kan?”

Kini Taecyeon tidak lagi tertawa geli melainkan terbahak-bahak. “Kau ini.. Khayalanmu tinggi sekali. Mereka bukan anak buahku. Hanya kebetulan aku tahu kalau mereka adalah anak-anak yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita. Karena wanita itu juga bukan orang yang berkecukupan, maka mereka semua bekerja bersama-sama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Anak-anak ini terkadang bekerja di pabrik sebagai buruh. Sedangkan wanita itu bekerja sebagai pembantu rumah tangga.”

“Terkadang aku membelikan mereka beberapa bahan makanan jika aku hendak kemari. Aku sendiri bukan orang kaya, melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah saja aku tidak mampu. Jadi, aku hanya bisa membantu sesama yatim piatu semampuku.” Taecyeon melanjutkan.

Kyuhun jadi tidak enak hati. Tadi ia sepat berpikir kalau Taeyeon adalah pencuri. Lalu menuduhnya sebagai bos dari anak-anak jalanan. Ternyata kehidupan lelaki itu cukup miris. Ia jadi malu pada dirinya sendiri karena ia sempat menyalahkan orang tuanya yang tidak meninggalkan uang cukup banyak untuk dirinya selama seminggu.

“Lalu.. Mengapa kau tadi mengikutiku?” tanya Taecyeon.

“Karena kau tadi menyenggol kantong belanjaku dan membuat semua isinya berhamburan di jalan. Aku sebenarnya ingin kau untuk..”

“Menggantinya?” tebak Taecyeon langsung.

Kyuhyun mengangguk dengan enggan. Mana mungkin ia meminta ganti rugi setelah mendengar pengakuan lelaki yang tampaknya hanya berbeda dua atau tiga tahun darinya itu.

“Jujur saja, aku tidak bisa menggantinya. Sekarang baru pertengahan bulan, aku harus menghemat hingga waktunya upahku dibayar. Dan itu masih dua minggu kedepan. Jika kau tidak keberatan, aku akan menggantinya dengan hal lain, bekerja untukmu mungkin?” tawar Taecyeon.

“Ehh? Mengapa kau ingin bekerja sebagai ganti dari makanan-makanan itu?” tanya Kyuhyun tak mengerti. Pasalnya, isi dari kantong yang robek tadi harganya tak seberapa. Tapi kekesalannya yang membuatnya mengejar Taecyeon.

“Makanan itu sangat penting bagiku. Aku pernah merasakan bagaimana susahnya mencari makan. Jadi, menyia-nyiakan makanan bukan tipeku. Jadi, aku tetap aan mengganti makanan tadi, bagaimanapun caranya. Aku bisa mengangkat barang-barang yang berat, menjadi pengawal, hingga memasak.”

Otak cerdas Kyuhyun langsung bereaksi karenanya. “Memasak? Kau bisa memasak?”

“Tentu saja. Aku bisa memasak dengan sangat baik. Kau boleh mencobanya jika tidak percaya.”

Kyuhyun tersenyum lebar karenanya. “Baiklah. Kau harus mengganti makanan itu dengan memasak untukku selama seminggu. Ini alamatku.” Ia lalu menyodorkan selembar kertas pada Taecyeon.

“Baiklah.. aku akan datang besok. Oh yah, kita belum berkenalan secara resmi. Namaku Taecyeon. Dan kau?”

Kyuhyun tersenyum tulus kini. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Nah, Taecyeon-ssi, sampai ketemu besok.”

*

            Seperti yang dijanjikan, Taecyeon datang setiap hari untuk memasak. Dan seperti promosinya hari itu, masakannya benar-benar lezat. Kyuhyun sampai berkali-kali menambah makanannya.

“Kau benar-benar pandai memasak. Aku sendiri payah dalam memasak. Aku lebih suka membeli di luar daripada memasak sendiri. Merepotkan. Sayangnya kedua orang tuaku sudah pulang, mana mungkin aku bisa menyuruhmu memasak lagi?” Keluh Kyuhyun ketika ia dan Taecyeon berjalan-jalan sore itu.

“Aku bisa memasak dan membawakanmu sesekali. Jangan khawatir. Aku senang kalau seseorang menyukai masakanku.”

Keduanya sama-sama tertawa ringan lalu terdiam setelahnya. Tak lama kemudian, Kyuhyun berdehem kecil lalu bertanya dengan hati-hati.

“Taecyeon-ssi, mengapa kau tidak melanjutkan sekolahmu? Maksudku, jaman sekarang pendidikan sangatlah penting. Kalau kau tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, maka..”

Taecyeon berhenti berjalan lalu bersandar di tembok batu pembatas jalan kecil itu. Sambil bersedekap, ia menatap langit jingga sore itu lalu mulai menjawab.

“Seperti yang sudah kukatakan pada pertemuan pertama kita, aku adalah seorang yatim piatu. Aku besar di panti asuhan dan tidak kenal siapa orang tuaku. Impian untuk menemukan siapa orang tua kandungku sudah terkubur sejak lama. Jadi, aku sudah tidak mempermasalahkan mereka lagi atau apa motif mereka membuangku.”

“Setelah aku besar. Aku keluar dari panti asuhanku di Mokpo dan pindah ke Seoul. Yah, sejak saat itu aku bekerja di restaurant sebagai koki. Pendapatanku tidak besar, tapi sangat cukup utnuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan lebih dari cukup. Untuk saat ini, aku belum bisa melanjutkan pendidikan, karena aku masih harus menabung untuk membeli sepeda motor. Tempat kerjaku cukup jauh dengan kampus yang ingin kutuju.”

“Sebentar.” Kata Kyuhyun memotong kata-kata Taecyeon. “Kampus yang ingin kau tuju?”

Taecyeon mengangguk. “Benar. Aku telah mendaftar dan diterima untuk mengikuti program beasiswa untuk tahun ajaran depan. Tapi, karena letaknya cukup jauh dari tempat kerjaku, maka aku butuh kendaraan.”

Kyuhyun menatap Taecyeon dengan bangga. “Kau benar-benar seorang lelaki hebat. Beruntunglah siapapun yang menjadi kekasihmu nanti.”

Taecyeon terdiam. Ia menatap Kyuhyun dalam-dalam, hingga membuat Kyuhyun sempat merasa jengah karenanya.

“Kyuhyun-ssi.. Apa kau sudah memiliki seorang kekasih?”

Kyuhyun tertunduk karenanya. Setelah beberapa saat, ia menegakkan lagi kepalanya. Namun ternyata Taecyeon masih menatapnya dalam-dalam. Mau tidak mau Kyuhyun menjawab dengan gelengan di kepalanya.

“Benarkah? Kupikir, lelaki semanis dirimu sudah pasti punya seorang kekasih.”

“Baru beberapa bulan yang lalu aku berpisah dengannya. Ia harus ke Amerika, mewujudkan mimpinya untuk menjadi pemain basket terkenal.” Jawab Kyuhyun.

Taecyeon mengangguk paham. “Jadi kau belum bisa mencari penggantinya. Bukankah begitu?”

Kyuhyun tidak tahu jawaban apa yang paling tepat. Ia sendiri sebenarnya meragukan perasaan itu. Bukan, bukannya ia tidak mencintai Changmin. Tapi, di sudut kecil hatinya, ia masih terus memikirkan sang cinta pertama. Saat ini bukan permasalahan apakah ia bisa mencari pengganti Changmin atau tidak, melainkan apakah ia bisa melupakan Yunho atau tidak.

“Taecyon oppa..!”

Kyuhyun segera tersadar dari lamunannya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis berdiri di depan Taecyeon. Kyuhyun sangat mengenali gadis cantik yang sekaligus merupakan kakak kelasnya itu.

“Ara.. Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?” tanya Taecyeon bersemangat.

“Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku cukup sibuk saat ini. Kau tahu sendiri, oppa, semester depan sudah dekat, aku sibuk mempersiapkan diri untuk ujian. Semoga aku bisa lulus dengan nilai bagus dannnnnnn.. bisa kuliah di tempat yang sama denganmu.” Jawab Ara tak kalah bersemangat.

“Hm.. Begitu rupanya. Oh yah, kenalkan, ini Kyuhyun.” kata Taecyon.

Go Ara menoleh. “Oh? Bukankah kau adalah mantan kekasih Changmin? Benar kan? Anneyong Kyuhyun-ssi.”

“Anneyong, nuna.” Jawab Kyuhyun pendek.

“Eh? Kau mengenalnya?” tanya Taecyeon bingung.

“Tentu saja. Aku mengenalnya oppa. Dia adalah adik kelasku di sekolah sekaligus mantan kekasih dari sahabat Yunho.” jawab Ara.

Jung Yunho. Tentu saja. Siapapun tahu dengan pasti kalau Go Ara adalah kekasih Yunho, sang siswa teladan sekolah yang tengah mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri. Dan hanya Kyuhyun, dan juga Minho, yang tahu betapa Kyuhyun menyukai Yunho. Hanya saja ia tidak pernah berharap lebih, mengingat Yunho telah memiliki kekasih yang dengan enggan diakui Kyuhyun sebagai gadis yang menarik.

“Bagaimana keadaan Yunho disana? Kalian masih sering bertengkar?” Kyuhyun mendengar Taecyeon bertanya.

“Ia baik-baik saja. Ia bahkan bisa mengikuti semua mata pelajaran dengan baik. Aku bangga sekali padanya. Kami memang masih sesekali bertengkar, namun tidak peduli siapa yang salah diantara kami, ia akan selalu menjadi orang yang meminta maaf lebih dahulu. Kau lihat oppa? Bagaimana mungkin aku melepaskan lelaki seperti itu? Dan lagi, komunikasi kami tidak pernah putus, ia selalu rajin menghubungiku. Sampai-sampai, aku tidak merasa kalau ia ada di negara lain.” kata Ara panjang lebar, membanggakan kekasihnya.

“Aku tahu ia adalah lelaki yang tepat untukmu. Mengingat betapa keras kepalanya dirimu. Aku masih ingat dengan baik betapa khawatirnya ia ketika kau sakit, betapa romantisnya ia saat ulang tahunmu dan betapa sorot matanya menggambarkan betapa ia mencintaimu.” Kata Taecyeon menambahkan.

Sakit. Itulah yang dirasakan Kyuhyun mendengar penuturan yang sangat jujur dari mulut kedua orang di sampingnya itu. Kyuhyun tahu, Yunho dan Ara telah berpacaran sejak keduanya bertemu di masa pengenalan sekolah dan menjadi pasangan paling romantis setelahnya. Yunho yang tampan serta Ara yang cantik, membuat keduanya tampak sangat sempurna bersama, membuat iri siapa saja.

Bagaimana mungkin Yunho berpaling pada Kyuhyun dengan adanya Ara di sampinya? Yunho tidak akan pernah menyadari keberadaan Kyuhyun, walaupun mereka pernah berkenalan sebelumnya. Apalagi dengan kepergiannya ke Amerika untuk pertukaran pelajar. Yang Kyuhyun tahu, Masa belajar Yunho disana adalah lima belas bulan, namun mengapa Yunho belum juga kembali? Kyuhyun menghitung waktu dengan baik, dan seharusnya bulan ini Yunho sudah kembali ke Seoul.

“Kapan Yunho pulang?” tanya Taecyeon.

“Dua minggu lagi. Ia sedikit terlambat, karena ia menghadiri pertemuan pelajar asal Korea Selatan di Washington terlebih dahulu. Akhirnya, aku bisa memeluknya lagi seperti dulu.” Kata Ara dengan gembira.

Mungkin Ara sangat bahagia karena bisa memeluk Yunho-nya lagi. Tapi bagi Kyuhyun, dengan melihat wajah Yunho saja sudah cukup membuat seribu kehangatan menjalar di hatinya. Dengan senyum sumringah, ia menoleh kepada dua orang itu.

“Sudah waktunya makan malam. Maukah kalian makan denganku? Aku yang traktir.”

*

            Kyuhyun tengah duduk sambil membaca buku sejarah dunia yang dipinjamnya dari perpustakaan di pinggir lapangan basket. Ia selalu berada di sana sepulang sekolah setiap hari senin dan kamis, menunggu Minho. Mereka selalu pulang bersama, tapi karena di hari sanin dan kamis setiap anggota pemain basket sekolah harus berkumpul, maka Kyuhyun dengan setia akan menunggu.

“Kyuhyun-ah, koki mu datang.” Seru Minho dari tengah lapangan.

Kyuhyun mengangkat wajah dari bukunya. Ia melihat Taecyeon berdiri di seberang lapangan, tepat dari arah lapangan parkir. Lelaki tegap berlesung pipi itu melambai padanya. Kyuhyun balas melambaikan tangannya dan memberi isyarat agar Taecyeon datang mendekat.

“Serius sekali. Kupikir tadi kau malah tenggelam dalam bukumu.” Kata Tecyeon ketika ia sudah duduk di samping Kyuhyun.

“Aku menyukai buku. Salah satu hobiku adalah membaca. Jadi, kalau aku menemukan buku yang bagus, sudah pasti aku akan melahapnya secepat mungkin.” Jawab Kyuhyun.

“Seharusnya kau belajar memasak. Jadi kau akan bisa melahap hasil masakanmu setelahnya, bukankah lebih nikmat daripada melahap kata-kata?”

Kyuhyun tertawa. Ia senang berbicara dengan Taecyeon yang periang dan suka mengeluarkan sisi humorisnya. Namun ia tidak menyadari bahwa tawanya bisa membuat Taecyeon terpana, seperti saat ini.

Taecyeon selalu suka melihat Kyuhyun tertawa. Lelaki itu bisa tertawa lepas seolah tanpa beban. Tapi ketika ia sedang sendirian, terlihat jelas bahwa otak Kyuhyun dipenuhi oleh berbagai macam pikiran. Taecyeon hanya berharap bahwa namanya bisa muncul di kepala Kyuhyun walaupun hanya sekilas.

“Ya! Hyung, kenapa memandangku seperti itu?” kata Kyuhyun di sela-sela tawanya.

Taecyeon segera menyudahi lamunannya tentang Kyuhyun. “Tidak apa-apa. Kau ini lucu sekali kalau sedang tertawa. Aku jadi sedikit terpana melihatnya.”

“Benarkah? Haha..”

“Kyuhyun-ah, apa kau.. Tidak berpikir untuk mencari kekasih? Tidakkah kau merasa kesepian?” tanya Taecyeon memberanikan diri. Ia tahu, mungkin Kyuhyun akan tersinggung. Tapi ia terlalu penasaran dengan jawabannya.

“Eh? Aku? Hm..”

“Taecyeon oppa..!”

Kyuhyun dan Taecyeon menoleh. Rupanya Go Ara yang datang. Dengan langkah-langkah riang, ia menghampiri Taecyeon dan Kyuhyun.

“Anneyong oppa. Oh, ada Kyuhyun-ssi juga rupanya, anneyong..”

Kyuhyun membungkuk sedikit tanda hormat, walaupun ia tidak bangkit dari duduknya. Ara lalu duduk di samping Taecyeon. Tanpa banyak bicara, ia langsung menadahkan tangannya.

“Tidak bisakah kau berbasa-basi dulu?” kata Taecyeon mencela.

Ara menggeleng nakal. “Tidak bisa oppa. Aku sudah terlalu penasaran. Cepat berikan resep itu padaku. Aku ingin sekali membuatnya bersama eomma di rumah.”

“Ne.. Ne.. Ini ambillah..” kata Taecyeon dengan pasrah seraya mengeluarkan secarik kertas dari balik saku jaketnya.

Ara menerimanya dengan senang kemudian menyelipkannya dalam salah satu buku di tas sekolahnya, seolah kertas kecil itu adalah kertas lotre bernilai satu juta won.

“Maaf, bolehkah aku tahu dimana kalian saling mengenal? Apakah sudah lama? Kalian benar-benar tampak akrab, seperti kakak dan adik saja.” Tanya Kyuhyun.

Ara dan Taecyeon saling berpandangan lalu tertawa bersama. Kemudian Ara menjelaskan terlebih dahulu.

“Taecyeon oppa adalah kakak kelasku di junior high school. Kami cukup akrab, apalagi kami dulu tergabung di satu ekstra kurikuler yang sama. Dan yah, aku memang sudah menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri, mengingat aku tidak punya saudara.”

Kyuhyun mengangguk tanda mengerti. “Jadi, karena itukah kau datang kemari hyung? Untuk mencari Ara?”

Taecyeon mengangguk. Kyuhyun langsung berpura-pura sedih seraya memegang dadanya. “Oh.. harga diriku.. Kupikir hyung datang mencariku, hahaha..”

Ketiganya tertawa bersama. Tanpa disadari, mereka jadi cukup akrab karena sering bertemu.

“Anneyong.. Taecyeon hyung, apa kabar?”

Taecyeon menegadah dan langsung terkejut. Begitu melihat Yunho, Taecyeon langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Yunho, lalu memeluk hangat lelaki itu

“Yunho? Yaaa!!! Apa kabar kau? Aku baik-baik saja. Ceritakan tentangmu. Bagaimana Amerika?”

“Aku baik-baik saja. Amerika? Biasa saja. Aku lebih menyukai Seoul. Dimana semua yang kusayangi ada disini. Lagipula, lidahku terasa aneh tanpa makan masakan khas Korea sehari saja. Sehari rasanya lama sekali, aku selalu merasa homesick disana.” Jawab Yunho.

“Semua yang kau sayangi? Tidak usah membual, aku tahu maksudmu adalah Ara, iya kan?” ledek Taecyeon.

Dengan wajah memerah, Yunho akhirnya mengakui yang sebenarnya. “Ya, benar. Aku merasa seperti itu karena aku merindukannya setiap hari. Merindukan senyumannya, merindukan masakannya bahkan omelannya.”

Ara hanya bisa tersenyum malu tanpa bisa berkata apa-apa. Kyuhyun tahu, Yunho tidak berbohong, dilihat dari bagaimana caranya menatap Ara. Tapi hal itu justru membuat Kyuhyun merasa semakin terpuruk. Bagaimana cara mendapatkan cinta Yunho sementara sang pujaan hati sama sekali tidak pernah menyadari kehadirannya?

“Kyu?”

Kyuhyun segera tersadar ketika sebuah sentuhan mendarat di lengannya. Kyuhyun menoleh dan mendapati Yunho sudah duduk di sampingnya. Deg! Jantungnya langsung berdebar keras karenanya. Ini pertama kalinya Yunho menyentuhnya, duduk di sampingnya bahkan bicara padanya!

Dah oh.. Lihat mata itu. Sepasang mata yang biasanya bersinar tajam itu kini menatap lembut kepadanya hanya dalam jarak yang sangat dekat. Kyuhyun merasa nafasnya tercekat. Darahnya seolah-olah berhenti mengalir. Ia terlalu kaget dengan kedatangan Yunho di sampingnya.

“Kyu? Kau baik-baik saja?” Yunho mengulangi pertanyaannya. Ia tampak sedikit bingung kini.

Kyuhyun segera menguasai dirinya. “Oh.. Ya, aku sedikit melamun. Maafkan aku hyu.. maksudku Yunho-ssi.”

Kyuhyun menunduk dalam-dalam seolah menghormati si lawan bicara, padahal ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah.

“Kau lucu sekali kalau malu-malu seperti ini. Ya, jangan malu. Tertangkap sedang melamun bukan suatu kejahatan. Benar kan?” kata Yunho seraya tertawa geli.

Dua suara lain menyahut lalu ikut tertawa. Kyuhyun mengutuk kebodohannya siang ini. Ia lupa sama sekali bahwa ada Ara dan Taecyeon juga disana.

“Anneyong semua.”

Ketiganya serentak menoleh. Minho sudah selesai latihan. Ia kini sudah bergabung bersama mereka dan duduk tepat di samping kiri Kyuhyun. Ia ingin sekali menggoda sahabatnya itu, karena kapan lagi Kyuhyun bisa duduk sedekat itu dengan Yunho? Yah, walaupun kekasih Yunho ada di sana juga.

Yunho mengangguk pada Minho sebagai balasannya lalu kembali berpaling pada Kyuhyun. “Apa yang kau lamunkan? Changmin? Aha.. Aku tahu kau merindukannya. Iya kan? Mengaku saja..”

“Mwo? Changmin hyung? Kau merindukannya, Kyu?” tanya Minho bersemangat.

Kyuhyun segera menyikut Minho keras. ‘Jangan sebut nama lelaki lain di depan Yunho hyung.’ pikirnya. Namun seolah mengerti pikiran Kyuhyun, Minho langsung menghentikan aksinya. Keduanya sudah bersahabat sejak kecil, hal-hal seperti ini sudah bisa mereka rasakan sejak dulu : membaca tingkah laku dan pikiran masing-masing.

Yunho melihat pergerakan tangan Kyuhyun tadi. ‘Anak ini masih malu-malu juga. Akui saja, mudah kan?’

“Jadi.. Kau benar merindukannya?” tanya Yunho lagi.

Kyuhyun hanya diam. Ia tidak berani mengangguk ataupun menggeleng. Ia memang merindukan Changmin, namun ia tidak mungkin mengakuinya di depan Yunho. Memang ia bukan siapa-siapa bagi Yunho. Tapi entah mengapa Kyuhyun tidak mau Yunho melihat bahwa Kyuhyun menyukai lelaki lain.

“Baiklah kalau kau tidak mau menjawab. Aku bertemu dengannya di Washington minggu lalu. Saat itu ada pertemuan pelajar Korea Selatan disana. Kami banyak bicara saat itu. Tentang sekolah, tentang hal-hal yang suka kami lakukan bersama dan.. tentang kau. Ia merindukanmu.” Kata Yunho lagi.

Ia lalu mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus kertas kado dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Kyuhyun.

“Ini untukmu. Changmin menitipkannya padaku untuk diberikan padamu. Ia berharap kau menyimpannya baik-baik.”

Kyuhyun menerimanya lalu mengucapkan terima kasih. Ia masih menunduk, seolah takut menatap Yunho.

“Baiklah. Aku pergi dulu. Nah Minho, sampai jumpa.” Kata Yunho lalu bangkit dari duduknya. Ketika berhadapan dengan Taecyeon, ia sempat berhenti sebentar lalu pergi seraya melambaikan tangannya pada Taecyeon. Go Ara ikut melambai lalu bergelayut manja di lengan kekasihnya.

Saat itu, Kyuhyun mengangkat wajahnya. Ia menatap kepergian Yunho dan Ara dengan raut wajah yang sulit diartikan. Antara sedih, kecewa dan patah hati. Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum melihat sang pujaan hati kini bergandengan tangan dengan mesra dengan kekasihnya. Seolah-olah memberitahukan pada Kyuhyun dengan amat sangat jelas bahwa ia tidak pernah memikirkan orang lain selain Ara.

Tanpa ia sadari, Taecyeon melihatnya dengan tatapan yang sama. Mungkin ini terlalu cepat untuknya, tapi begitu ia melihat Kyuhyun, ia tahu lelaki manis itu sulit untuk dihindari. Dan kini Taecyeon mengerti mengapa Kyuhyun sedikit terlihat aneh jika ditanyai mengenai kekasih. Dari caranya bicara, caranya menatap, hingga caranya bersikap, Taecyeon tahu bahwa Kyuhyun memendam rasa pada Yunho.

Taecyeon melangkah mendekati Kyuhyun, namun sepertinya lelaki itu tidak menyadarinya. Ia masih sibuk memandangi Yunho yang sebentar lagi hilang dari pandangan. Taecyeon akhirnya berdiri tepat di depan Kyuhyun, mengacaukan pikiran Kyuhyun akan Yunho.

“Eh? Hyung?” tanya Kyuhyun sedikit terkejut.

“Kau menyukainya?” tanya Taecyeon cepat.

“Mwo? Aku? Menyukai siapa?” Kyuhyun jadi sedikit pucat karenanya.

“Siapa lagi? Yunho!”

“Mana mungkin? Aku.. Aku.. Hanya..”

“Aku melihatnya dengan sangat jelas tadi.”

Kyuhyun tidak menjawab. Ia menunduk sebagai jawabannya. Melihat itu, Taecyeon segera beralih pada Minho.

“Katakan padaku. Aku yakin kau tahu sesuatu.”

Minho menatap Kyuhyun dengan iba. Ia sebenarnya sedikit bingung. Apa ia akan jujur pada Taecyeon, atau berbohong demi menyelamatkan sahabatnya.

“Dia memang menyukai Yunho hyung.”

Taecyeon menghela nafas kecewa. “Tapi dia milik Ara!”

“Kyuhyun memang menyukainya. Tapi dia bukan orang seperti itu. Tidakkah kau lihat ia tidak pernah berusaha mengambil kesempatan? Tidakkah kau lihat dia sangat menghormati Ara noona? Dan tidakkah kau lihat bahwa Yunho hyung tidak pernah ‘melihatnya’? Jadi dimana letak kesalahan Kyuhyun? Bukankah semua orang berhak mencintai orang yang dia sukai?” kata Minho dengan tegas.

“Dan Yunho mengenal siapa mantan kekasih Kyuhyun?” tanya Taecyeon lagi.

Minho mengangguk. “Mereka bersahabat.”

‘Oh tidak!’ pikir Taecyeon. “Lalu, apakah mantan kekasih Kyuhyun – yang entah siapa namanya itu – mengetahui perasaan Kyuhyun pada Yunho tapi tetap memacarinya?”

“Changmin, namanya Changmin. Dia mengetahui bahwa Kyuhyun sangat menyukai cinta pertamanya, tapi ia tidak pernah tahu bahwa Yunho adalah orangnya.”

Tiba-tiba Kyuhyun berdiri dari duduknya. “Aku memang menyukainya. Tapi aku tidak berniat merebutnya dari Ara noona kalau itu yang kau takutkan.”

Setelah berkata demikian Kyuhyun berlari meninggalkan Taecyeon dan Minho. Tak peduli bagaimana kedua lelaki itu memanggilnya. Ia terus berlari.

“Kau menyukainya kan? Oleh karena itu kau terus mendesaknya tadi!” sergah Minho.

“Benar, aku menyukainya. Dan aku tidak mau ia tersiksa. Aku memang baru bertemu dengannya, kami baru saling mengenal. Tapi aku bisa merasakan bagaimana ia berharap pada Yunho. Ia harus tahu, harapannya sia-sia! Ia tidak mungkin memiliki Yunho!”

Taecyeon baru akan berlari menyusul Kyuhyun, tapi Minho menghadangnya. “Jangan! Biarkan ia sendiri.”

“Aku khawatir padanya. Bagaimana kalau..”

“Aku lebih mengenalnya!” bentak Minho. “Dalam keadaan seperti ini, biarkan ia sendiri. Hargai privasinya.”

Taecyeon tak punya pilihan lain, ia hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Sementara Kyuhyun terus berlari kencang. Ia tak tahu kemana kakinya membawanya. Ia hanya terus berlari hinga ia kelelahan. Begitu ia lelah, ia menjatuhkan dirinya di balik sebuah pohon rindang lalu menangis tersedu-sedu sambil memeluk hadiah dari Changmin tadi.

“Hyung.. Maafkan aku.. Aku menyayangimu tapi aku tidak bisa benar-benar mencintaimu.. Mengapa kau harus pergi hyung? Mengapa kau meninggalkanku? Sekarang siapa yang bisa melindungi hatiku agar tidak terus jatuh padanya? Tolong aku hyung.. Tolong aku..”

Tak jauh dari tempat Kyuhyun menangis, sepasang muda mudi melintas sambil bergandengan tangan mesra. Keduanya tampak saling bersenda gurau dengan mesra.

“Aku yakin Kyuhyun akan senang sekali melihat hadiah Changmin untuknya. Jadi ia tahu, pengorbanan cinta mereka tidak sia-sia.” Kata Ara.

Yunho mengangguk. “Sebenarnya cukup disayangkan mereka harus putus.”

“Tapi Changmin melakukan hal yang benar. Ia tidak mau membuat Kyuhyun menunggu dalam ketidakpastian. Bagaimana kalau ternyata ia tidak bisa pulang ke Seoul? Bagaimana kalau nantinya mereka lose contact? Kurasa sebaiknya memang mereka putus sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Changmin memang pandai menghadapi berbagai situasi.” Kata Ara lagi.

‘Ya, ia memang pandai menghadapi situasi. Ia bahkan menerima tawaran dari Washington tanpa pikir panjang lagi karena ia tahu Kyuhyun tidak bisa mencintainya sepenuh hati. Siapakah cinta pertama Kyuhyun? Apakah ia begitu sempurna hingga seorang Changmin memutuskan untuk mundur?’ pikir Yunho.

*

TaecKyu

To Be Continued..

Advertisements

115 thoughts on “Obsession – Chapter 2

  1. Qm orngnya Yun oppa…. -_- nggk peka banget ya oppa. Ksian Kyu, pasti sakit banget nggk d liat sm sekali……
    Chwang trhyata ngrs Kyu nggk bs mencintainya spnuh ht shingga ngmbil kptsn itu, cinta yg rumit. Taecyeon oppa, sprtinya juga blm bisa nyntuh hatinya kyunie. Cuma minho yg ngrti Kyu kl gt…. wah, ini bakal jadi cinta segi brapa? authornya hebat dech. semkin seru crtnya. 🙂

  2. Oh God,,,, it’s complicated
    Ok Taecyeon,, jadi inget moment mreka pas jadi MC,, kyu muji taecyeon tampan dan taecyeon muji kyu cute,, hahaha

    Klo gini sih rahasia public namanya,, smuanya tau soal cinta pertama Kyukyu,, bahkan yunho sendiri juga tau,, jadi yunho yg bener2 gag peka ato gimana,,! Bahkan orang lain aja bisa langsung tau dengan sekali liat gimana tingkah dan ekspresi kyu ketika melihat ato di dekat yunho,,

  3. aduuuhh aku iri sama pesona babykyu,, gilaaa banyak yang suka sama kyunnie hihi ^^

    tapi kasian kyunnie,, yang harus terus jatuh pada yunho yg jelas2 udh punya kekasih 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s