Sacrificial Love – Chapter 1

Title                 :  Sacrificial Love

Rate                 : M

Genre              : Romance, Hurt, Sad, Angst, PG-13

Cast                  : Cho Kyuhyun, Lee Jonghyun, Park Shin Hye, Jo In Sung, Son Ye Jin, Song Ji Hyo, Choi Siwon, Jung Yonghwa and Mhia Irham

Warning         : BL, OOC, Typo (es), Don’t Like = Don’t Read

Summary       : Keluarga Cho adalah salah satu keluarga bangsawan Korea yang paling terpandang. Ketika hubungan kekeluargaan menyatu dengan konflik cinta dan kekuasaan, apa yang akan dilakukan para anggota keluarga ini untuk terus bertahan?

CHAPTER 1

Kyuhyun membuka lembaran berikutnya pada buku yang tengah ia baca saat ini di hutan pinus kecil di belakang rumahnya. Tidak, bukan rumah lebih tepatnya, tetapi istana. Siapa tidak kenal keluarga Cho? Salah satu keluarga bangsawan paling dihormati di Seoul. Dengan kekayaan yang tak habis-habisnya, property dimana-mana, serta sebuah istana lengkap dengan danau buatan, kolam renang, sarana olah raga, taman bunga dan hutan pinus, serta para pelayan yang dikabarkan mencapai puluhan orang untuk mengurus seisi rumah itu.

Hutan pinus ini adalah tempat favorit Kyuhyun, suasananya yang tenang dan sejuk, membuatnya betah tinggal berlama-lama disana. Apalagi jika mendengar suara gemericik air sungai yang terletak tak jauh dari bangku yang biasa ia duduki ketika membaca.

Hobi utama Kyuhyun memang membaca. Ketika membaca, ia bisa melupakan semua beban di pundak maupun dadanya. Menghilangkan semua keletihan dan keresahannya. Dengan membaca ia merasa memasuki dunia lain yang lebih indah di bandingkan dengan dunia nyata. Bahkan terkadang ia tidak mau kembali lagi ke dunia nyata karena ia terlalu asik menikmati dunia imajinasinya, seperti saat ini.

“Hyungnim..”

Kyuhyun merasakan seseorang menepuk pundaknya pelan. Ia menoleh dan mendapati Jonghyun sudah duduk di sampingnya dan tersenyum kepadanya. Kyuhyun ikut tersenyum melihat adiknya itu.

“Ada apa?”

“Setiap kali ada masalah kau selalu kemari hyung. Aku iri padamu, kau selalu punya tempat untuk melarikan diri, sedangkan aku tidak.” Keluh Jonghyun.

Kyuhyun menatap adiknya itu prihatin. “Kau tidak seharusnya iri padaku. Kau tahu dengan pasti siapa yang lebih beruntung diantara kita. Tetaplah kuat Jonghyun-ah. Kau adalah harapan keluarga, jangan sampai kau mengecewakanmereka semua hanya karena kau lemah.”

Jonghyun memeluk kakinya dan meletakkan dagunya diatas lututnya. “Umurku baru 23 tahun hyung, tapi kenapa aku diberi tanggung jawab seberat ini? Terkadang aku merasa aboji lebih sayang padamu karena ia membiarkanmu bersantai sedangkan ia membebaniku dengan segalanya. Apakah itu adil? Andai aku tidak menyayangimu seperti aku menyayangi diriku sendiri, mungkin aku sudah benci setengah mati kepadamu, hyung.”

Kyuhyun tau dengan pasti beban apa yang kini dirasakan seorang Cho Jonghyun. Sayangnya dengan beban seberat itu, ia justru semakin ditekan oleh kedua orang tua mereka. Ia harus menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, terutama dalam menghadapi Kyuhyun. Darah yang sama mengalir dalam tubuh mereka, wajar jika kecerdasan mereka juga setara, sayangnya tidak semua orang berpendapat seperti itu.

“Mianhae.. Bukannya aku tidak mau membantumu, kau tahu sendiri kalau Ji Hyo omoni..”

“Ne hyung.. Aku tahu.. Omoni tidak mau kau membantuku. Aku hanya minta satu hal hyung, hanya satu..”

Kyuhyun menatap Jonghyun dengan sayang lalu mengangguk. “Katakanlah..”

“Berjanjilah padaku, apapun yang terjadi, kita tidak akan terpisah. Sampai kapanpun kau adalah hyungku, dan aku adalah dongsaengmu. Kita berdua adalah Cho.  Berjanjilah padaku..” kata Jonghyun seolah-olah mereka akan segera terpisah.

Tapi hal tersebut bukan tidak mungkin melihat suasana rumah mereka. Kyuhyun tahu, cepat atau lambat, ia akan terpisah dari Jonghyun. Hanya menunggu waktu yang tepat. Pilihannya hanya dua, keluar dengan sukarela atau keluar dengan paksaan.

Dua puluh lima tahun yang lalu..

            Dalam sebuah ruangan besar dengan interior mewah, seorang lelaki tua tengah menatap seorang lelaki muda yang kira-kira berumur 22 tahun. Lelaki muda itu duduk dengan kedua lututnya menghadap sang ayah yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Sementara tak jauh dari tempatnya duduk, seorang wanita tua berdiri di depan jendela, menghalau bias sinar matahari yang akan masuk ke ruangan dengan angkuhnya.

“In Sung-ah…! Cepat putuskan, kau tidak bisa seperti ini terus menerus. Keluarga Cho membutuhkan seorang pewaris! Kau tidak bisa mempertahankan istrimu jika ia tidak bisa memberimu seorang keturunan. Kalian sudah menikah selama dua tahun tapi ia hanya bisa memberimu anak perempuan! Kau pikir anak perempuan bisa apa? Terimalah tawaran keluarga Song, mereka tidak mempermasalahkan statusmu yang sudah menikah. Anak mereka, Song Ji Hyo, menginginkanmu sebagai suami. Ia rela meski hanya akan menjadi istri kedua.”

Lelaki muda itu mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk. Ia menatap ayahnya tidak percaya. “Aboji! Aku mencintai Ye Jin. Mana mungkin aku mengkhianatinya? Mana mungkin kau tega menyuruhku menikahi wanita lain dan menyakiti hati menantumu sendiri?”

“Cho In Sung! Jangan membantah! Aboji mu benar. Kita butuh penerus, kita butuh pewaris keluarga. Ini karena kau dulu terlalu keras kepala! Lihatlah, ini akibatnya kalau kau tidak mendengarkan kami dulu.” Kini ibu In Sung ikut bicara dengan tajam.

“Omoni.. Jebal.. Jangan bawa-bawa masa lalu.. Ye Jin adalah istriku. Jangan menyalahkannya atas semua ini.”

“Istri yang terpaksa kurestui karena kau sudah terlanjur mengumumkan pernikahanmu di depan semua orang tanpa meminta persetujuan kami.” Kata ibunya lagi, masih dengan nada keras.

“Aku sudah meminta ijin kalian tapi kalian sendiri menolaknya bukan?” kata In Sung lemah.

“Mana mungkin aku mengijinkan kau menikahinya? Dia memang keturunan bangsawan, tapi bangsawan kelas menengah. Ayahnya pun sudah meninggal, menyisakan seorang istri yang menutup diri sejak kematian suaminya. Kau telah sekali mencoreng nama keluarga, tapi karena kau anak satu-satunya, kami tetap menerimamu dengan perempuan itu. Sekarang lihat, ia cuma bisa memberimu seorang anak perempuan. Apa yang harus kami banggakan?” kali ini ayahnya kembali angkat bicara.

Cho In Sung tersudut. Ia tahu, sampai kapanpun ia tidak akan menang melawan kedua orang tuanya. Ia terlalu pengecut untuk membela istrinya sendiri apalagi membawanya pergi dari neraka itu dan memulai hidup baru. Ia terlalu takut dengan dunia luar.

“Joesonghamnida.. Aku tidak bermaksud menguping..” Seorang wanita muda masuk ke dalam ruangan itu lalu memberi hormat kepada ayah dan ibu Cho In Sung. Kemudian ia ikut berlutut di samping Cho In Sung, suaminya.

“Oppa.. Abonim dan Omonim benar.. Keluarga Cho butuh penerus. Kalau kau tetap bersikeras, maka kesempatan untuk mendapatkan anak lelaki akan sulit. Terimalah tawaran keluarga Song, demi keluarga ini. Demi penerusmu sendiri.”

Cho In Sung menatap istrinya yang tersenyum lembut kepadanya. SInar mata wanita itu penuh ketulusan. Ia tahu, walau istrinya tersenyum, hatinya pasti menangis. Wanita mana yang rela berbagi pasangan? Wanita mana yang bisa melihat suaminya menikahi wanita lain?

“Lihatlah, istrimu sendiri mengijinkannya. Apa lagi yang kau pikirkan?” kata ibu In Sung tajam.

“Ye Jin-ah.. Jangan.. Kumohon..” kata In Sung lirih. Tapi Son Ye Jin justru tersenyum menanggapi suaminya. Dengan lembut ia membelai surai In Sung, dengan senyum hangat ia mencoba membesarkan hati lelaki yang dicintainya.

“Oppa.. Nikahilah Song Ji Hyo.. Demi aku.. Jebal.. Karena kebahagiaan keluarga ini, adalah kebahagiaanku juga. Mhia akan senang sekali mendapatkan ibu baru. Tentunya akan semakin banyak yang menyayangi dan menjaganya.” Bujuk Ye Jin lagi.

In Sung memejamkan matanya. Ia tahu, ia harus melakukannya. Dan ia melakukan semuanya demi istrinya tercinta, Son Ye Jin. Karena ia tidak ingin istrinya terus-terusan dipersalahkan atas ketidakmampuannya memberikan anak laki-laki. Dan ia juga memikirkan buah hatinya, Cho Mhia yang baru berumur setahun. Apa yang akan diterima anak itu jika ayahnya tidak bisa melindunginya? Untuk itu, ia rela mengorbankan hatinya.

*

            Tiga bulan kemudian, pernikahan besar dilaksanakan antara Cho In Sung dan Song Ji Hyo. Pernikahan mereka dilaksanakan lebih mewah dan meriah daripada pernikahan pertama In Sung. Semua orang bersuka ria, bahkan Cho Mhia cilik ikut menari-nari riang di pesta pernikahan ayahnya. Ia juga membuat ibunya tercinta tersenyum dan tertawa setelah semalaman menangis tanpa henti.

Di malam pertama setelah In Sung dan Ji Hyo menikah, pertama kali dalam kehidupan pernikahannya, Ye Jin tidur sendirian. Dinginnya angin musim gugur saat itu seakan menusuk tulang-tulangnya, membuatnya menggigil kedinginan walaupun ia sudah bergelung di bawah selimut tebal.

Ini kali pertama suaminya tidak memeluknya kala ia kedinginan. Bagaimana mungkin In Sung bisa memeluknya jika ia tengah melaksanakan tugasnya sebagai suami dari Song Ji Hyo yang kini menjadi Cho Ji Hyo.

Airmata Ye Jin terus mengalir sepanjang malam. Walaupun telah ia coba untuk berhenti, namun aliran itu semakin deras. Dingin yang ia rasakan seolah merasuki jiwanya, betapa sakitnya membagi suamimu dengan wanita lain.

Ketika dirinya kedinginan, suaminya justru memberikan kehangatan pada wanita lain. Wanita yang akan ikut mendampingi suaminya hingga akhir hayat. Tak ada lagi kebahagiaan itu, tak ada lagi masa ‘berdua’ ketika segalanya harus terbagi.

Setelah itu, malam demi malam Ye Jin lalui sendiri di kamarnya. Walaupun suaminya selalu bersamanya setelah ia pulang kerja dan mengantarkannya tidur di malam hari, namun In Sung akan kembali ke kamar Ji Hyo untuk tidur.

Hati Ye Jin sebenarnya tidak rela, tapi ia tidak pernah mau mempermasalahkan hal itu. Ia sangat mengerti posisinya. Ia telah tidur bersama In Sung selama dua tahun, kini giliran Ji Hyo, karena mereka berdua adalah istri sah dari Cho In Sung. Keduanya layak mendapatkan hak yang sama.

Dan kehadiran Ji Hyo di rumah itu bagaikan matahari. Ia mampu membuat kedua orang tua In Sung tertawa terbahak-bahak dan rela menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengannya ataupun melakukan hal lain bersama. Sesuatu yang tidak pernah bisa dilakukan oleh Ye Jin sejak awal. Bahkan Mhia pun menyayangi Ji Hyo, begitupun sebaliknya. Maka Ye Jin bisa tenang, karena setidaknya anaknya diterima oleh Ji Hyo. Dan yang membuat Ye Jin tetap bertahan adalah karena perasaan In Sung sama sekali tidak berubah. Ia tetap mendahulukan Ye Jin dan mencintainya seperti dulu. Bahkan sesekali ia menyelinap keluar dari kamar Ji Hyo dan tidur bersama Ye Jin di malam hari.

Lalu beberapa bulan kemudian, gemparlah seisi rumah keluarga Cho. Song Ji Hyo mengandung. Betapa bahagianya seisi rumah, bersuka cita dengan kabar gembira itu terutama kedua orang tua In Sung.

Namun, tak berapa lama kemudian, muncul berita menggemparkan lainnya. Son Ye Jin juga mengandung. Dan yang membuat dokter bingung adalah, umur kandungannya sama dengan umur kandungan Song Ji Hyo. Ye Jin benar-benar bahagia, karena ia bisa memberikan kebahagiaan lain kepada mertuanya. Memang sikap kedua mertuanya melunak, tapi mereka tetap menomorsatukan Ji Hyo. Tapi bagi Ye Jin, hal itu tidak masalah, karena dengan terbukanya hati mertuanya, ia sudah bahagia. Ia tidak meminta apa-apa lagi.

Namun suatu hari, ketika umur kandungan mereka mencapai enam bulan, Ji Hyo mendatangi Ye Jin.

“Ye Jin-ssi.. Bisakah kau.. Membiarkan semua perhatian jatuh kepadaku? Ini pertama kalinya aku mengandung, sedangkan ini bukan hal baru untukmu. Apakah aku salah jika aku ingin suamiku lebih memperhatikanku di saat aku tengah mengandung anaknya? Perhatian omonim dan abonim tidak cukup, aku mau suamiku sendiri yang lebih memperhatikanku. Aku tahu ia lebih mencintaimu, tapi.. Ia hanya akan mendengarkanmu. Tidak bisakah kau membiarkan ia mengurusku? Kau bisa mengurus dirimu sendiri bukan?”

Son Ye Jin terpana mendengarnya. Selama ini ia membiarkan suaminya tidur bersama Ji Hyo. Membiarkan kedua mertuanya lebih memperhatikan Ji Hyo. Ia dan anak, Mhia, harus bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Namun ia juga tengah mengandung. Ia juga butuh kasih sayang suaminya.

“Tapi.. Bukankah dia lebih sering menemanimu?” tanya Ye Jin sekaligus balik bertanya pada Ji Hyo.

“Memang, tapi atas permintaan kedua orang tuanya, bukan karena kemauannya sendiri. Lagipula, saat ia bersamaku.. Tubuhnya memang untukku, tapi hatinya masih tetap milikmu.”

“Ji Hyo-ssi.. Kita berdua adalah istrinya. Kita berdua mendapatkan hak yang sama.. Jadi bagaimana mungkin kau..”

“Aku tidak mau berbagi! In Sung oppa, harus kumiliki sendiri..!”

*

            Setelah pertemuan kedua istri In Sung itu, banyak kejadian yang menimpa Ji Hyo. Dan entah mengapa, semua yakin pelakunya adalah Ye Jin. Ia dipercaya menyimpan dendam karena In Sung menikahi wanita lain. Ia pasti iri karena kasih sayang kedua mertuanya juga lebih besar kepada Ji Hyo. Setelah rentetan kejadian itu, kedua orang tua In Sung berhenti memperdulikan Ye Jin. Mereka terlalu marah atas kejadian yang menimpa menantu kesayangan mereka, dan tetap yakin bahwa Ye Jin pelakunya. Perlakuan Ji Hyo pada Mhia pun berubah sejak saat itu.

Hanya In Sung yang masih bertahan membela istri pertamanya walau ia selalu kalah ketika harus berdebat dengan kedua orang tuanya, yang mengakibatkan ia harus menghabiskan waktu lebih banyak untuk Ji Hyo.

Dan hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Kedua istri In Sung akan melahirkan putra mereka. Ya, keduanya mengandung bayi laki-laki. Para lelaki yang nantinya menjadi penerus semua harta kekayaan keluarga besar Cho.

Son Ye Jin dan Song Ji Hyo masuk ke kamar persalinan yang berbeda. Kedua orang tua In Sung beserta In Sung sendiri ada di dalam kamar Ji Hyo. Sedangkan Ye Jin hanya sendiri ditemani Cho Mia, anak perempuan pertamanya. Walaupun di depan kamarnya ada Miss Kim, kepala rumah tangga Cho yang selalu setia kepadanya juga Mr. Lee yang merupakan penasehat keluarga Cho, tetap saja Ye Jin merasa sendirian.

“Omoni, kata dokter Ji Hyo akan melahirkan sejam lagi. Biarkan aku melihat Ye Jin sebentar. Aku berjanji aku akan kembali. Ia tengah melakukan persalinan saat ini.” kata In Sung, memohon pada ibunya.

“Andwae! Kau harus tetap disini. Biarkan Ye Jin sendiri. Ia sudah pernah melewati proses itu, ia pasti bisa melewatinya sendirian.” Kata ibunya kejam.

“Omoni.. Jebal..”

“In Sung ! Temani Ji Hyo disini. Kau tidak boleh pergi kemana-mana! Kalau kau berani melangkahkan kakimu keluar dari kamar ini, berarti kau menyetujui pengusiran Ye Jin beserta anak-anaknya.” Kata ayah In Sung kini.

Cho In Sung membeku di tempatnya. Ia kalah lagi. Ia tidak pernah punya keberanian untuk melawan, walaupun itu untuk kebahagiaannya sendiri.

“Oppa.. khajima..” kata Ji Hyo lirih.

Sementara itu di kamar lain, Son Ye Jin sedang berjuang sendirian mengikuti instruksi dokter untuk melahirkan putra pertamanya. Kesakitan yang ia rasakan, baik secara fisik maupun mental membuatnya nyaris menyerah. Namun ketika melihat mata putrinya yang senantianya berdiri di sampingnya, membuatnya kembali kuat.

*

            “Hyungnim.. Kau melamun lagi.”

Kyuhyun tersadar dari lamunannya. Itu sepenggal kisah yang diceritakan Miss Kim beberapa tahun silam ketika Kyuhyun mempertanyakan mengapa kakek dan neneknya tidak terlalu memperhatikannya seperti mereka memberikan kasih sayang kepada Jonghyun dan Shin Hye, anak kedua Song Ji Hyo dan ayahnya, Cho In Sung.

“Ani.. Aku tidak melamun. Aku hanya sedikit memikirkan beberapa hal yang mengganggu pikiranku.” Kata Kyuhyun mengelak.

Lalu ponsel Jonghyun berdering. Ia menjawabnya dengan malas. “Yeoboseyo? Ye? Sekarang? Ah.. Tidak bisakah kita batalkan? Aku sedang tidak enak badan. Haruskah? Arasso.. Aku akan datang. Aku akan bersiap-siap dulu.”

Jonghyun mengakhiri pembicaraan dengan tak kalah malasnya dari pertama kali ia mengangkat teleponnya.

“Aku harus pergi. Aku harus menghadiri pertemuan penting dengan relasi dari Taiwan. Hyung, bisakah kau menolongku? Tolong gantikan aku untuk meeting sore ini di kantor.” kata Jonghyun lagi.

Kyuhyun mengangguk. “Jangan khawatir. Pergilah, lakukan tugasmu. Aku akan menggantikanmu sore nanti.”

“Terima kasih hyung..” Jonghyun memeluk Kyuhyun sebentar lalu meninggalkan hutan kecil itu dengan langkah gontai.

*

            Cho In Sung belum benar-benar tua. Di usianya yang baru 46 tahun, ia lebih banyak mengawasi jalannya perusahaan dan aset-asetnya daripada terjun langsung. Ia membiarkan Jonghyun dan Kyuhyun untuk mengurus perusahaan sedangkan Mhia dan Shin Hye mengurus property kecil lainnya. Karena keduanya perempuan, maka mereka tidak diperkenankan mengurus hal yang lebih besar.

Pimpinan dewan direksi masih tetap Cho In Sung. Namun pimpinan perusahaan utama adalah Cho Jonghyun sedangkan wakilnya adalah Cho Kyuhyun. Dari segi kecerdasan, keduanya tidak ternilai. Sama-sama cerdas dan pandai. Hanya saja, para karyawan masih tetap berpikiran tidak pantas seorang ‘dongsaeng’ memimpin perusahaan sementara sang ‘hyungnim’ hanya jadi wakilnya, walaupun kemampuan keduanya sama.

Namun lama kelamaan para karyawan itu mengerti juga begitu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan yang membuat mereka salut adalah, keempat saudara itu tidak saling memusuhi seperti kedua ibu mereka.

Di rumah, Ye Jin menganggap Jonghyun dan Shin Hye seperti anaknya juga. Namun Ji Hyo tidak pernah mau menganggap Kyuhyun dan Mhia sebagai anaknya juga. Jadi jangan heran kalau sikap Kyuhyun dan Mhia sangat kaku kepada ibu tiri mereka itu. Sedangkan Jonghyun dan Shin Hye selalu ikut bermanja-manja dengan Ye Jin karena ibu mereka terlalu keras dalam mendidik mereka.

Shin Hye berkata saat mereka berlima berkumpul di kamar Ye Jin malam itu. “Aku iri sekali dengan Mhia eonni dengan Kyuhyun oppa. Tugas mereka tidak sebanyak tugasku dan tugas Jonhyun oppa. Tapi ketika mereka pulang ke rumah, rasa lelah mereka terbayarkan dengan perlakuan Ye Jin Omoni.”

“Aku juga iri. Walaupun keduanya sudah besar, tapi Ye Jin omoni masih tetap menyiapkan mereka makanan. Membelai kepala mereka ketika mereka hendak tidur, mengantar mereka ke halaman depan ketika akan pergi bekerja, bahkan membawakan bekal makan siang ke kantor sesekali.” Kala itu Jonghyun ikut merajuk.

“Ya! Jonghyun-ah.. Bukankah sudah kami katakan, kalian adalah saudara kami juga. Kalau omoni membawakan kami makanan, bukankah ia membawakan kalian juga? Jika omoni mengantarkan kami ketika akan bekerja, bukankah ia melakukan hal yang sama juga dengan kalian?” bantah Mhia saat itu.

Shin Hye menggeleng. “Tapi aku mau omoni ku sendiri melakukan hal yang sama. Ia hanya sibuk dengan perhiasan ataupun pertemuan-pertemuannya. Ketika kami bertemu, hal yang ditanyakan selalu mengenai perusahaan atau apakah kami sudah melakukan yang terbaik. Omoni sama sekali tidak pernah menanyakan apakah aku senang, apakah aku sudah makan atau..”

“Omoni.. Pernah menanyakan hal itu padaku..” Kata Jonghyun. Ia lalu menambahkan. “Ketika ia menayakan apa aku sudah makan, aku menjawab belum. Lalu ia memarahiku, ia berkata bahwa aku adalah harapan keluarga. Aku harus selalu makan tepat waktu agar aku selalu kuat.”

Semua yang ada di ruangan itu tahu benar bahwa kedua kakak beradik itu sedih sekali. Ayah mereka seolah mesin. Ia hanya bekerja dan bekerja. Ia tidak melakukan hal lain selain mengurusi aset-aset keluarga Cho. Sedangkan ibu mereka terkenal sebagai pemimpin dari perkumpulan ibu-ibu bangsawan. Pertemuan demi pertemuan akan ia hadiri, terkadang ia membawa serta Jonghyun dan Shin Hye, walaupun keduanya ikut karena dipaksa.

“Jonghyun-ah.. Shin Hye-ya.. kemarilah..” kata Ye Jin dengan lembut.

Jonghyun dan Shin Hye segera berlari ke pelukan ibu tiri mereka dan menenggelamkan kepala mereka di bahu wanita tegar itu.

“Jangan menyalahkan omoni kalian. Semua ibu di dunia ini akan melakukan apa saja untuk membuat anaknya bahagia. Hanya saja, cara mereka berbeda-beda. Bukankah kalau ia keras kepada kalian, membuat kalian lebih kuat menghadapi hal-hal yang lebih keras di luar sana? Karena kalian telah terbiasa menghadapinya di rumah.” Kata Ye Jin penuh kasih sayang. Tangannya membelai kedua punggung yang tengah bersandar padanya.

“Omoni benar. Kalian tidak boleh bersikap seperti itu. Percayalah, Ji Hyo omoni menyayangi kalian lebih dari apapun. Hanya saja cara menunjukkannya berbeda.” Kali ini Kyuhyun yang angkat bicara.

Lalu tiba-tiba pintu kamar Ye Jin terbuka. Song Ji Hyo muncul di baliknya. “Jonghyun, Shin Hye, kembali ke kamar kalian. Hari sudah larut, jangan bertamu malam-malam.”

Kedua anaknya melepaskan diri dari Son Ye Jin. Mereka lalu berdiri dan membungkuk hormat pada ibu tiri dan kedua saudara mereka itu.

“Lain kali kalian harus meminta ijinku terlebih dahulu jika mau bertemu Ye Jin omoni.” Kata Ji Hyo lagi.

“Kami tidak bertamu, dia juga omoni kami. Dan untuk apa meminta ijin omoni untuk bertemu omoni kami yang lain?” kata Jonghyun marah. Namun ia tetap berjalan meninggalkan kamar itu. Tangannya menggenggam erat tangan adiknya.

“Kau.. Ya! Jonghyun-ah..! Jonghyun-ah..!” jerit Ji Hyo marah. Namun kedua anaknya tetap pergi meninggalkannya, seolah tidak mendengar teriakan ibunya tadi.

Song Ji Hyo lalu menoleh pada Son Ye Jin. “Terima kasih karena telah meracuni pikiran anak-anakku. Sekarang mereka membenci ibu kandungnya sendiri karena ulahmu, Ye Jin-ssi.”

Ye Jin baru akan membantah ketika Ji Hyo keluar dari kamarnya. Kedua anaknya lalu memeluknya dan memberinya kekuatan.

*

            Seminggu kemudian, para anggota keluarga Cho berkumpul. Kedua orang tua In Sung datang dari Beijing untuk memimpin pertemuan itu. Keduanya memang memutuskan untuk pindah ke Beijing untuk mengurus aset kekayaan mereka disana sejak tiga tahun lalu.

“Seperti yang kalian ketahui, bahwa besok adalah hari yang besar untuk kita semua. Disamping para keluarga bangsawan akan datang, sebuah keluarga bangsawan lain akan mengunjungi kita. Anak tunggal mereka baru saja menyelesaikan kuliah masternya di Kanada dan akan ikut serta di pertemuan besok. Jadi persiapkan diri kalian. Pakai pakaian terbaik, jamu mereka sebaik-baiknya. Karena aku mengharapkan kita bisa membangun hubungan baik dengan mereka.” Kata Mr. Cho di tengah pertemuan keluarga itu.

“Ingat, jangan menampakkan kalau kalian ada masalah atau apapun itu. terutama kau, Ye Jin, jaga sikapmu. Aku tidak mau melihatmu bertingkah yang aneh-aneh.” Kata Mrs. Cho dengan nada tajam.

Namun suaranya berubah menjadi semanis madu ketika bicara dengan Ji Hyo. “Ji Hyo-ya.. Kau tau apa yang harus dilakukan.”

Ji Hyo tersenyum seraya mengangguk hormat. Ia tampak puas. Sedangkan Mhia sudah akan meledak kalau saja Kyuhyun tidak mati-matian menahannya. Cho In Sung sendiri tampak terluka ketika ibunya berkata kasar pada Ye Jin namun seperti biasa,  ia tidak bisa berkata apa-apa.

Lain lagi dengan Jonghyun dan Kyuhyun yang duduk bersebelahan. Mungkin karena keduanya lahir di hari yang sama, maka keduanya memiliki sifat yang sama pula dengan insting yang kuat. Keduanya sependapat bahwa pertemuan itu bukan pertemuan biasa.

“Ingat, anak lelakinya adalah anak lelaki satu-satunya. Ia sederajat dengan kita. Pendidikannya tinggi dan ia sangat cerdas. Akan lebih baik kalau ia menyukai salah satu dari anggota keluarga kita.” Kata Mrs. Cho lagi.

Jonghyun dan Kyuhyun bertukar pandang suram. Firasat mereka benar. Akan ada perjodohan yang tidak diinginkan dalam pertemuan itu. Siapakah korbannya? Mhia atau Shin Hye? Tapi baik Jonghyun dan Kyuhyun berpendapat bahwa pastilah Shin Hye yang mendapatkan nasib buruk itu, mengingat ia adalah anak Ji Hyo, menantu kesayangan Mr. dan Mrs. Cho.

“Walaupun begitu ia..” Mrs. Cho melanjutkan namun ia tampak ragu. Sesaat kemudian ia melanjutkan. “Menyukai lelaki dan perempuan. Ia.. Biseks.. Aku yakin karena ia bergaul selama dua tahun di Kanada selama menyelesaikan kuliah masternya. Bukankah daerah sana adalah daerah dengan pergulan bebas? Maksudku bukan Kanada yang seperti itu tapi daerah barat pada umumnya.. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting ia bisa mempersunting salah satu dari kalian berempat.”

“Omoni.. Tapi.. Barusan kau bilang mereka berempat?” tanya In Sung.

Ibunya mengangguk. Namun Mr. Cho yang menjawab. “Kami sudah memikirkannya. Siapapun yang akan dipilih oleh anak itu, kami tidak akan melarangnya. Karena keluarga itu tidak suka adanya permusuhan dalam keluarga, jadi sebisa mungkin jangan tunjukan rasa saling benci atau mereka akan pergi. Mereka suka keluarga yang penuh kedamaian.”

“Jadi tolong.. Bersikaplah sebaik mungkin di depan keluarga Choi.” Kata Mr. Cho menambahkan.

“Choi?” tanya Shin Hye.

“Benar, keluarga Choi. Nama pemuda itu adalah Choi Siwon.”

Mendengar nama itu, Kyuhyun dan Jonghyun tersentak. Keduanya membeku di tempatnya sedangkan Mhia yang tahu persis apa yang terjadi segera menggenggam tangan adiknya, memintanya untuk tenang. Karena ia tahu, reaksi Kyuhyun seperti apa jika mendengar nama itu.

*

so ye jin n jo in sung classic

Son Ye Jin & Jo In Sung

To Be Continued..

149 thoughts on “Sacrificial Love – Chapter 1

  1. Ahh~ eonni… Ini kerenn😀
    Aish.. Kenapa Mr. Cho and Mrs. Cho begitu sama Ye Jin?😦
    Eh? Memang ada apa dengan Siwon?😮
    Kenapa Kyuhyun kaget mendengarnya?
    Ahhh~`~ lanjutkan eon~~
    Fighting ne!!😉😀

  2. yaa, tbc..
    lagi serius ini,
    kasian yejin eomonim.. untung mash ada Kyu nd Mhia yg nguatin dia :’)
    GREAT!!

  3. Eonni~ Mianhae baru sempet review sekarang T^T aku kmrn2 sibuk UTs~ hehe

    Aigoo~ Critanya pasti bakalan seru!
    apalgi kayaknya konfliknya bakalan berat😀 tokoh antagonisnya lumayan banyak~
    hehe pair Fav aku lagi yg jdi Maincast WonKyu :*
    Aa~ jeongmal saranghae deh sama FF2nya eonni ^,^)~ ♥

  4. This fanfic full of conflicts hehe…
    I’m curious about siwon, I think babykyu knew him, right?? I hope next chap I get the answer:-)

  5. Yaah untunglah anak mreka tdak sling membenci… tmbah nyesek klo mreka sling bnci jga…
    ada apa dngan kyu,,knapa respon nya gtu dnger nma choi siwon?!!!!!

  6. Kesian Yejin sama anak2nya.. Mr. Cho + Mrs. Cho benar2. Ckckck
    pasti ada something antara Won-Kyu..
    Ceritanya keren.. suka konfliknya ^^

  7. hmm…..
    Sedih….
    Kasihan ye jin nuna ;( coba In sung oppa tegas dan berani…
    Ji hyo nuna kok jahat ya…

  8. akhirx aq baca jg hehehe.. penasaran sih..
    tapi pemeranx bxk bgt ya.. d endapkan d otak dulu tokoh2x😛

  9. maap baru baca chap 1 nya…
    ye jin omoni good mommy deh pokoknya ga pernah beda’in ank walaupun bukan ank kandungnya sendiri.. beda banget ya ma song ji hye yg selalu beda’ in kyu n mhia…

  10. Uwoooooo konflik keluarga yg complex asdfghjklmnbvcxz
    Hhmmhh jd Ji Hyo mak lampirnya disini :<
    In Sung is too obedient, ga bs memperthnkan keluarganya, pdhal dy kepala keluarganya huuuhhh
    Emang susah dehhh di keluarga bangsawan wkwkwkwk
    Smoa all Cho siblings tetep kompak sampe akhir crita :')
    ……n ada apa dg Siwon n Kyu? o.o

  11. Akhirnya kelar juga baca chapter 1 :’)
    Ye Jin kelewat sabar ah~😥
    Tapi, berkat dia yg sabar, anak-anaknya pun tumbuh menjadi sosok yang luar biasa..

    Ada apa sama keluarga Choi? Kenapa Kyu shock?
    Apa ada rahasia besar yang mereka sembunyikan?

  12. Jadi kyu udah kenal siwon ya?wah..jangan2 ntar kyu sama jonghyun sama2 suka siwon…update kilat ya chingu…

  13. Woow, bru nemu nih ff ceritanya seruuu n bagus q suka, thor😀
    btw q reader bru nih slm kenal ya author-ssi🙂
    lanjuuuut ne penasaran nih😀
    keep writing n fighting ne😉

  14. kehdupan yg rumit yya..
    apa akk.a yg krang feel yya…🙂
    adpah yah dgn kyu dan siwon.?
    apa mreka udh prnh ktm sblmnya

  15. Rumit banget kehidupan keluarga Cho..
    Trus kenapa Jonghyun dan kyuhyun tersentak pas nama Choi Siwon disebut,,

  16. hi chingu… salam kenal, gak sengaja ketemu blog ini… dan baca cerita ini…
    ceritanya bikin penasaran… kakek cho benar2 agak2 kejam yaa.. selalu mengambil keputusan sendiri dengan mengabaikan perasaan anaknya sendiri… kasian nasib in sung dengan ye jin..
    salut sama ye jin yang tetap menyanyangi anak2 tirinya jonghyun dengan shinhye…
    gregetan sama ji hyo..!!

  17. yach aq ckup sedih ye jin akan d madu, tp aq yakin in sung always luv her no matter what…kyunnie luv u beib..;D

  18. kasian sama ye jin omoni hrs berbagi suami dah gtu dimusuhin sama ji hyo omoni dan mertua’a….untung aja anak” mereka pada saling akur.
    kehidupan yg rumit…
    oia, tp knpa kyuhyun, jonghyun, n mhia pda kaget ngedenger nama siwon ya?

  19. astaga… kasihan bgt mhia sma kyu dan ye jin.. in sung trllu lemah dalm keluarganya.. klo kaya gtu kasihan anak” dan istrinya…

  20. Gatau kenapa, sebel sama Cho In Sung. Tapi ya mau gimana lagi. Dia begitu karena terpaksa oleh keadaan. Untung aja anak2 mereka akur2 semua.

    Ada apa dengan Kyu? Kayaknya dia udah pernah ketemu Siwon sebelumnya. Ahh, semoga aja yang dipilih buat jadi istrinya Siwon itu Kyu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s