Long Time Coming – Chapter 7

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. Tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 7

Donghae keluar dari rumah sakit beberapa hari setelahnya. Kyuhyun memutuskan untuk tinggal di apartement Donghae dalam rangka membujuk lelaki itu untuk menerima pengobatan. Selain itu, ia tidak ingin Donghae sendirian dalam menghadapi sakitnya.

Donghae mati-matian menolak bantuan Kyuhyun dengan alasan ia baik-baik saja. Tapi Kyuhyun tidak bisa ditolak. Ia bersikeras tinggal bersama Donghae selama beberapa waktu. Dan Kyuhyun menunjukkan perhatian yang besar pada Donghae. Tidak satupun terlewatkan. Ia juga selalu membuntuti Donghae kemanapun Donghae pergi keluar rumah.

“Hyung, kenapa kau belum juga tidur? Ayo tidur sekarang. Sudah hampir jam sebelas malam sekarang.” Kata Kyuhyun sembari merebut buku di tangan Donghae.

“Ayolah Kyu, aku belum mengantuk. Bagaimana caranya aku tidur?” Protes Donghae.

“Aku akan menemanimu. Aku akan mendongeng untukmu kalau perlu agar kau tertidur sekarang juga.” Balas Kyuhyun.

Donghae baru akan membalas Kyuhyun ketika siaran di televisi menghentikannya. Dilihatnya Choi Siwon bersama tunangannya sedang diinterview di televisi dalam sebuah acara Showbiz. Ternyata mereka ada di Seoul. Keduanya tampak sangat serasi dan mesra. Membuat siapapun iri.

Bagaimana dengan persiapan pernikahan anda? Apakah ada kendala atau hambatan?” Tanya si pembawa acara.

Sejauh ini tidak ada hambatan. Kami melakukan semua persiapannya sendiri karena kami ingin segalanya tampak sempurna.” Jawab Siwon lancar. Raut wajahnya tampak sangat bercahaya, menggambarkan perasaannya.

Lalu setelah kalian menikah kalian akan tinggal dimana? Apakah kalian akan menetap di Cina atau anda akan membawa istri anda kembali ke Korea?

Kali ini tunangan Siwon yang menjawab. “Kami akan kembali ke Korea karena kami sudah membangun agensi artis baru disini. Kami sendiri yang akan menjalankannya. Siwon juga akan melanjutkan karirnya disini

Kalian kelihatan mesra sekali. Kudengar kalian sudah lama berpacaran sebelumnya. Apa rahasia kalian hingga bisa bertahan sejauh ini?

Kami berkenalan ketika aku datang ke Cina. Setelah beberapa lama akhirnya kami pun berpacaran. Sekarang kami genap tujuh tahun bersama.” Kata Siwon. Lalu ia menambahkan.

Tidak ada rahasia khusus. Kami hanya menjalani segalanya apa adanya. Saling mencintai dan memahami satu sama lain. Saling percaya. Saat-saat sulit bagiku adalah ketika Tiffany harus kuliah di Amerika. Tiap hari aku merindukannya. Jika jadwalku kosong, aku segera ke Amerika menyusulnya. Dia benar-benar luar biasa. Dia mampu membuatku tak berpaling sedikitpun darinya.”

Click. Televisi dimatikan. Donghae memandang Kyuhyun dengan iba.

“Tujuh tahun.. tujuh tahun mereka telah bersama. Dan tujuh tahun pula ia tidak pernah menghubungiku. Inilah alasannya mengapa ia tiba-tiba menghilang. Ia mencintai gadis itu dan mencampakkanku begitu saja. Membiarkanku menunggu harapan kosong, membuatku tampak seperti orang idiot yang menanti datangnya pelangi di malam hari.” Bibir Kyuhyun bergetar menahan amarahnya.

“Kyu.. tenanglah.. Jangan lepas kendali..” kata Donghae membujuk Kyuhyun.

Tapi tampaknya Kyuhyun tidak mendengar kata-kata Donghae barusan. Tubuh lelaki itu bergetar menahan amarah. Donghae lalu menenggelamkan tubuh ringkih itu dalam pelukannya. Ia kasihan sekali melihat Kyuhyun menderita seperti itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ini masalah pribadi Siwon dan Kyuhyun, ia tidak berhak ikut campur.

“Sudahlah Kyu, ingat apa yang pernah kukatakan padamu. Apapun hasil dari pertemuanmu dengan Siwon, kau harus siap menerimanya. Aku tahu kau terluka, tapi kau harus bisa mengikhlaskan segalanya. Masa lalu terkadang menyakitkan, Kyu. Tapi bukan berarti kau akan menyia-nyiakan masa depanmu hanya karena masih terbebani oleh masa lalu.” Kata Donghae menenangkan Kyuhyun.

Kata-kata Donghae memang menyejukkan. Perih di hati Kyuhyun jadi berkurang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Donghae meninggalkannya. Ia membutuhkan lelaki itu. tapi dia mencintai Siwon.

“Hyung, maukah kau menolongku sekali lagi? Kumohon..” pinta Kyuhyun pada Donghae.

“Tentu saja, Kyu. Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Tolong bantu aku untuk bertemu Siwon hyung untuk terakhir kalinya. Hanya satu kali, dan aku tidak akan pernah menemuinya lagi.” Kata Kyuhyun. Tekadnya udah bulat. Ia hanya ingin memandang wajah Siwon atau mungkin menyentuhnya sekali saja untuk terakhir kalinya dalam hidupnya.

Donghae tersenyum. “Tentu saja Kyu, aku akan membantumu. Aku akan mengatur supaya kau bisa bertemu dengannya. Tapi aku mau kau menahan emosimu. Ikhlaskanlah segalanya, agar hatimu juga bisa lebih rela melepasnya.”

Kyuhyun mengangguk dengan mantap. Ia sudah tahu, inilah akhir perjalanan cintanya dengan Siwon. Kalau mereka memulainya secara baik-baik maka mereka juga harus mengakhirinya dengan baik. tidak ada permusuhan. Tidak ada perkelahian. Walaupun nantinya mungkin ada airmata.

*

            Donghae kembali menepati janjinya pada Kyuhyun. Ia mempertemukan Siwon dan Kyuhyun di apartemennya. Tadinya ia ingin pergi, tapi Kyuhyun melarangnya, pasalnya Kyuhyun takut terjadi sesuatu yang pada Donghae jika lelaki itu sendirian. Maka Donghae mengurung diri di dalam kamarnya. Menyumbat telinganya dengan earphone dari iPodnya, sementara Kyuhyun dan Siwon berbicara di ruang tengah.

Hanya itulah tempat yang paling aman. Karena jika mereka bertemu di luar, resiko ketahuan akan lebih besar. Donghae sempat kesal awalnya karena Siwon sempat menolak menemui Kyuhyun. Donghae harus berulangkali memohon barulah Siwon mau. Itupun Donghae memakai ancaman tidak akan menayangkan iklan Siwon kalau ia tidak mau menemui Kyuhyun.

Kyuhyun kini berhadapan dengan Siwon. Ingin sekali ia bicara duluan, tapi entah mengapa lidahnya kelu. Semua kata-kata yang tersusun rapi di kepalanya jadi buyar. Memandang Siwon saja ia tak mampu. Terlalu menyakitkan mengingat setelah ini mereka akan berpisah selama-lamanya.

“Kyu, aku sudah bersedia menemuimu sekarang. Katakanlah apa yang ingin kau bicarakan denganku.” Kata Siwon.

Kyuhyun mengangkat wajahnya. Matanya menatap Siwon langsung ke manik mata lelaki itu, mencari cinta yang tersisa. Kyuhyun mengambil nafas panjang dan menyiapkan dirinya untuk lebih tegar.

“Maafkan aku kalau aku mengganggu waktumu yang sibuk. Aku hanya ingin bicara denganmu utnuk terakhir kalinya. Aku berjanji, aku tidak akan muncul lagi di hidupmu setelah ini. Bahkan kalau seandainya suatu saat kita bertemu lagi, aku akan pura-pura tidak mengenalmu.”

“Kyu.. kenapa kau bicara seperti itu?” Tanya Siwon tak mengerti.

“Aku dengar kau akan menikah hyung. Sungguh aku turut berbahagia, walaupun tidak bisa kupungkiri bahwa hatiku sakit sekali. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa semuanya jadi seperti ini.”

“Aku bersyukur kita pernah bersama. Setidaknya dulu aku pernah merasakan kebahagiaan bersamamu, walaupun kini kebahagiaan itu milik orang lain. Aku ingin berterima kasih padamu karena kau telah memberiku cinta dan kasih sayang yang mungkin tak kan pernah kulupakan seumur hidupku.”

“Aku ingin minta maaf padamu karena banyak membuat kesulitan di hidupmu. Menjadi beban bagimu. Namun percayalah, ini semua jalan kehidupan. Terkadang membahagiakan, namun kadang juga menyakitkan. Selamat menempuh hidup baru, hyung. aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Karena aku mencintaimu.”

Kyuhyun lalu berdiri dari duduknya dan memberi hormat singkat pada Siwon. Ketika ia akan berbalik, dengan cepat Siwon memeluk tubuhnya. Lelaki tegap itu kemudian menangis di bahu Kyuhyun. Mengeluarkan semua kepedihannya. Kyuhyun hanya bisa diam, ia ingin melepaskan diri tapi entah mengapa ia sulit sekali melakukannya.

“Maafkan aku, Kyu. Aku harus melakukan semua ini. Jhonny Chen lah yang membesarkan namaku. Ketika ia tahu putrinya menyukaiku, ia memintaku untuk menerimanya. Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya. Waktu itu aku berpikir suatu saat aku akan terlepas dari Tiffany tapi ternyata semakin hari aku semakin mencintai ketulusannya padaku.”

“Setiap hari aku dilemma, Kyu. Karena begitu aku bersamanya, perasaan bersalah padamu muncul di hatiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku selalu berdoa agar kau mendapatkan penggantiku, seseorang yang lebih baik dariku, yang bisa membahagiakanmu tanpa menyakitimu sepertiku. Karena aku tahu, aku tidak bisa lagi kembali padamu. Aku tidak dalam posisi bisa memilih, Kyu. Kumohon maafkan aku.”

“Melihat Donghae begitu perhatian padamu membuatku cemburu. Membuatku sadar bahwa sebenarnya aku masih teramat mencintaimu. Namun aku tidak bisa meninggalkan Tiffany juga karirku. Jangan membenciku karena ini, Kyu. Aku tahu aku bersalah padamu. Aku tidak minta banyak, cukup maafkan aku, Kyu. Jebal..”

Kyuhyun ikut menangis bersama Siwon. Menangisi perjalanan cintanya. Menangisi kasihnya yang tak sampai. Menangisi perpisahan yang menyedihkan ini.

“Pergilah hyung. Raihlah cinta dan masa depanmu. Aku sudah memaafkanmu. Jangan menangis lagi.” Kata Kyuhyun sambil tersenyum. Ia sungguh ikhlas kini. Ia tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Siwon. Mungkin memang inilah akhir dari cinta mereka.

“Satu pertanyaan, Kyu. Tolong jawab aku dengan jujur, agar aku tenang.” Kata Siwon.

“Apa itu hyung?”

“Apa kau mencintai Donghae?”

Kyuhyun terdiam sesaat. Mencari kebenaran dalam perasaannya pada Donghae. Namun ketika ia akan menjawab, didengarnya suara berdebum keras dari arah kamar Donghae. Tanpa banyak bicara Kyuhyun langsung berlari ke kamar Donghae dan menerjang ke dalam.

Dilihatnya tubuh Donghae sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai. Kursi di samping meja kecil pun ikut terbalik.

“Hyuuunnngggggggg….!!!!” Teriak Kyuhyun histeris.

*

            “Dokter, tolong selamatkan nyawa Donghae hyung. aku mohon.” Kata Kyuhyun. Disampingnya ada Siwon, Changmin dan Minho. Kyuhyun yang menelepon kedua sahabatnya itu dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan Siwon yan sejak awal sudah bersama Kyuhyun bersikeras ingin ikut ke rumah sakit.

“Maafkan kami, Kyuhyun-ssi. Tapi aku tidak bisa melakukan tindakan apapun tanpa seijin Donghae-ssi. Ia sudah melarang kami melakukan tindakan apa-apa. Memang kesehatan dan kesembuhannya jauh lebih penting, tapi ini permintaannya sendiri. Kami tidak boleh melanggarnya. Jika ia setuju, malam ini juga kami akan mengoperasinya. Mengangkat sel-sel kanker dari otaknya.” Kata dokter.

Kyuhyun frustasi sekali mendengarnya. ‘Tuhan, jangan ambil Donghae hyung. Ambil saja aku. Kumohon.’ Batinnya.

Minho dan Changmin sudah terisak keras di belakangnya. Kyuhyun tetap memohon pada dokter tapi tetap saja dokter tidak mengabulkan permintaannya. Dokter menyarankan ia meminta langsung pada Donghae, jika lelaki itu mengijinkan, maka dokter akan langsung mengambil tindakan.

“Donghae-ssi sudah sadar, ia ingin bicara pada siapapun yang ada.” Kata seorang perawat yang keluar dari unit gawat darurat.

Kyuhyun, Siwon, Changmin dan Minho berbondong-bondong memasuki ruangan itu guna memenuhi panggilan Donghae. Kyuhyun yang paling pertama sampai di tempat tidur Donghae. Ia lalu menangis sambil menggenggam tangan Donghae.

“Tampaknya kalian semua sudah tahu apa yang terjadi padaku. Padahal aku berniat menyimpannya hingga aku pergi.” Kata Donghae lemah. Wajahnya tampak lelah dan pucat.

“Hyung, jangan bicara seperti itu. Jangan pergi, kumohon. Bagaimana dengan kami?” kata Minho yang merengek.

“Kumohon hyung, terimalah pengobatanmu. Kami tidak bisa tanpamu. Hyuuunggg, kalau kau pergi siapa yang akan menjaga kami?” kini Changmin diantara isakannya. Ia jarang menangis tapi kali ini tampaknya isakannyalah yang paling keras.

Lagi-lagi Donghae tersenyum. “Mianhae.. Aku tidak bisa. Aku rasa waktuku di dunia sudah cukup. Aku ingin segera merasakan kedamaian itu. Kalian sudah dewasa, mulailah saling menjaga satu sama lain. Aku juga sudah mengurus semuanya untuk kalian bertiga. Pada waktunya nanti, pengacaraku akan datang menemui kalian. Tolong jaga semua peninggalanku, ne? Aku ingin kalian tahu, aku sangat menyayangi kalian bertiga.”

Lalu Donghae menoleh pada Siwon. Kembali ia tersenyum. “Siwon-ssi, terima kasih sudah mau menemui Kyuhyun hari ini. Setidaknya ia lega karena ia sudah tahu semuanya. Aku juga harus berterima kasih padamu karena kepergianmu dulu. Jika kau tidak pergi, mungkin aku tidak akan pernah mengenal Kyuhyun. Terima kasih telah memberiku delapan tahun paling indah dalam hidupku.”

Siwon ikut menangis mendengar kata-kata Donghae. Begitu tulusnya lelaki itu hingga ia masih saja berterima kasih atas keegoisan Siwon.

“Hyungg.. kumohon, berhentilah bicara yang tidak-tidak. Terimalah pengobatanmu, ne? Kau masih punya harapan. Kita harus mengambil kesempatan itu. Kumohon hyung, jangan tinggalkan aku..” pinta Kyuhyun.

“Kyu, uljima.. jebal.. Kau akan baik-baik saja. Kau punya Changmin dan Minho. Mereka akan menjagamu. Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja. Berjanjilah padaku kau akan selalu tegar dan kuat. Berjanjilah padaku kau akan senantiasa bahagia. Berjanjilah..” kata Donghae. Suaranya makin lemah.

“Tidak hyung, mana mungkin aku bisa kuat, tegar, ataupun baik-baik saja tanpamu? Kebahagiaanku tidak penting hyung, kau lebih penting. Kumohon, dengarkan aku. Terimalah bantuan dokter, kau harus segera dioperasi.” Airmata Kyuhyun mengalir semakin deras.

Namun tampaknya Donghae tidak mendengar kata-kata Kyuhyun. Ia bergumam pelan. “Aku lelah sekali.” Lalu matanya kembali tertutup.

*

193770620

To Be Continued..

Long Time Coming – Chapter 6

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. Tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 6

Kyuhyun mendengar Siwon kembali ke Cina hari itu juga. Tapi ia tidak peduli. Baginya Siwon yang ia kenal sudah mati, membawa serta hatinya. Mungkin untuk kedepannya ia bahkan tidak pernah bisa merasakan cinta lagi. Ia tidak mau merasakan sakit itu lagi. Jadi untuk kedua kali dalam hidudpnya, ia membiarkan Siwon pergi, namun kali ini ia tahu Siwon tidak akan pernah kembali.

“Kyu, kau baik-baik saja? Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal seperti ini. Segalanya bisa dibicarakan baik-baik kan?” kata Donghae ketika semua tamu sudah pulang. Mereka berdua berdiri di balkon memandangi kota Seoul yang indah dari atas.

Kyuhyun menggeleng. “Aku tidak peduli jika ia mengataiku. Tapi aku tidak terima jika ia membandingkan dirinya denganmu, hyung. Apa haknya untuk melarangku dekat dengan siapapun yang aku mau? Sedangkan ia pergi meninggalkanku begitu lama. Biarlah hyung, mungkin memang akhir cerita kami harus seperti ini.”

Donghae tidak tahu harus bilang apa lagi. Kyuhyun terlalu keras kepala. Seharusnya Donghae senang karena Kyuhyun membelanya di depan Siwon, tapi itu justru tidak membuatnya bangga. Ia memang mencintai Kyuhyun, tapi ia tidak mau Kyuhyun berpaling padanya hanya karena ia patah hati pada Siwon. Donghae mau Kyuhyun menerimanya karena lelaki itu mencintainya tanpa bayang-bayang Siwon bersamanya.

“Semua keputusan ada padamu, Kyu. Hanya kau yang paling tahu mana yang terbaik untukmu. Hanya saja, pikirkanlah baik-baik sebelum kau bertindak. Jangan sampai kau menyesali segalanya hanya karena kau gegabah.” Kata Donghae bijak.

“Terima kasih hyung..” kata Kyuhyun lalu memeluk Donghae dari belakang.

Donghae merasakan jantungnya berdebar keras. “Eh.. untuk apa, Kyu? Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Mungkin kau memang merasa tidak melakukan apa-apa hyung.. Tapi aku yang merasakannya. Jika bukan karena kau, Changmin dan Minho, mungkin aku sekarang sudah jadi orang tak berdaya yang bodoh dan kesepian. Kau memberi segalanya yang kubutuhkan. Dan itu sudah lebih dari cukup dari apa yang sepantasnya kuterima.” Kata Kyuhyun yang semakin meneggelamkan kepalanya di tengkuk Donghae.

“Aku.. Aku..” Donghae ingin menjawab Kyuhyun namun sakit kepala lagi-lagi menyerangnya. Tangannya bertumpu pada besi pegangan balkon. Kepalanya terasa berat dan pandangannya berputar-putar. Ia tak kuat lagi menahannya. Suara terakhir yang didengarnya adalah suara Kyuhyun yang memanggil namanya dengan panik.

*

Kyuhyun, Changmin dan Minho menunggu di luar Unit Gawat Darurat dengan cemas. Wajah ketiganya pucat seperti mayat hidup. Minho bahkan sudah menangis. Mereka masih menunggu dokter yang memeriksa Donghae. harapan mereka semoga Donghae baik-baik saja. Bahkan Changmin mengatakan akan memarahi bosnya itu karena terlalu lelah bekerja.

“Donghae-ssi akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Siapa keluarganya diantara kalian?” Tanya Dokter yang sudah keluar dari UGD.

Ketiganya langsung maju menuju dokter itu.

“Apa kalian keluarganya?” Tanya dokter lagi.

Ketiganya mengangguk. “Donghae hyung tidak punya saudara. Orang tuanya sudah tidak ada. Jadi kamilah yang selalu bersamanya.” Kata Kyuhyun pada dokter.

“Baiklah.. Bisakah kalian ikut ke ruanganku sebentar? Ada hal penting yang harus kubicarakan pada kalian.” Kata dokter yang lalu berbalik dan berjalan menuju ruangannya. Ketiga lelaki itu membuntuti dokter dengan rasa penasaran.

“Aku tidak akan menutupinya lagi. Kupikir kalian harus tahu.” Kata dokter ketika mereka sudah duduk tenang di ruang kerja si dokter.

“Ada apa, dokter? Donghae hyung baik-baik saja kan?” Tanya Minho cemas. Ia kembali menangis.

Dokter menggeleng. “Sebenarnya Donghae-ssi sudah melarangku untuk memberitahukan segalanya pada siapapun. Ia tidak ingin membuat siapapun khawatir akan dirinya. Tapi aku tidak bisa menutupinya lagi.”

“Dokter, tolong beritahu yang sebenarnya pada kami. Jangan buat kami penasaran lebih lama lagi.” Kata Changmin dengan tidak sabar.

Dokter menghembuskan nafas berat lalu memulai ceritanya. “Donghae-ssi menderita kanker otak stadium dua. Awalnya ia ingin sembuh, tapi belakangan ini entah mengapa ia memintaku untuk menghentikan semua pengobatannya. Ia menolak datang untuk memeriksakan sakitnya, juga menolak semua obat-obatan yang kuberikan. Yang kutahu ia bahkan sudah menghubungi pengacaranya dan menyiapkan surat wasiat. Sepertinya ia tengah putus asa akan hidupnya. Berulang kali aku memintanya datang bahkan aku beberapa kali mendatanginya, tapi ia selalu menolak pengobatan.”

“Ingat, ini kanker. Penyakit mematikan yang akan membunuhnya pelan-pelan. Ini masih stadium dua, masih bisa disembuhkan sebelum masuk stadium tiga. Kemungkinan sembuhnya ada 50%. Kami bisa mengobatinya dengan radiasi, kemoterapi ataupun operasi. Tolong, bicaralah padanya. Buat ia menerima bantuan kami. Kami tidak bisa melihat pasien kami seperti ini. Jika ia terus-terusan bersikap seperti ini, maka ia akan mati.”

Kyuhyun merasa ingin mati mendengar kata-kata dokter di depannya. Lee Donghae yang ceria, bijaksana, dewasa juga sangat bijak ternyata menyimpan penyakit berbahaya di balik otaknya yang cerdas itu. Bagaimana mungkin mereka bisa hidup tanpa Donghae? Bagaimana mungkin ia bisa bertahan jika Donghae adalah sandaran hidupnya?

Kyuhyun merasakan airmatanya jatuh pelan-pelan tanpa bisa dicegahnya. Sakit sekali rasanya mengetahui orang yang kau kenal dengan baik akan pergi meninggalkanmu karena ia menyerah pada hidupnya. Padahal Donghae lah yang selalu menyadarkannya bahwa hidup selalu berharga. Bahkan terlalu berharga untuk disia-siakan. Mengapa ia sanggup mebahagiakan orang lain tapi tidak mampu membahagiakan dirinya sendiri?

Mengapa seorang Lee Donghae mampu membuat orang lain bangkit dari keterpurukan namun ia tidak bisa bangkit dari sakitnya? Ia selalu menasehati Kyuhyun agar senantiasa kuat, tegar dan tabah menjalani hidup. Namun mengapa Donghae menyerah?

Dipandanginya Changmin yang tengah memeluk Minho. Keduanya menangis lebih keras daripada dirinya. Kyuhyun seperti orang linglung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Donghae hyungnya yang berharga. Yang selama ini hanya ia ‘manfaatkan’ sebagai sandarannya akan pergi meninggalkannya selama-lamanya.

Kyuhyun keluar dari ruang dokter. Ia tidak tahu kemana kakinya melangkah. Ia tidak peduli. Yang dipikirkannya saat ini hanya Donghae. Tanpa sadar ternyata kakinya membawanya ke ruang rawat Donghae.

Kyuhyun terus melangkah masuk dan mendekati Donghae yang sedang tertidur pulas. Dipandanginya wajah seorang kakak sekaligus sahabat yang disayanginya itu. Begitu tampan, begitu muda. Wajah itu yang selalu menjadi penengah diantara Kyuhyun, Changmin dan Minho. Mengajarkan tentang hidup pada ketiganya terutama pada Kyuhyun yang terpuruk.

Namun lelaki bijak itu memilih meninggalkan mereka pada akhirnya. Kyuhyun menggenggam tangan Donghae lalu menangis diam-diam. Ia tidak mau membangunkan Donghae. hatinya serasa diremas-remas. Sakitnya luar biasa. Andai saja bisa, ia rela menukar dirinya dengan Donghae. Biar saja ia yang mendapatkan sakit itu. Donghae terlalu berharga bagi mereka, terutama baginya.

Merasakan sakit hatinya, mengingat semua yang pernah Donghae lakukan untuknya, ia yakin ia tidak akan sanggup menatap ke depan tanpa Donghae disisinya.

“Jangan pergi hyung.. Jangan tinggalkan aku.. Aku membutuhkanmu.. Aku mencintaimu..” Kyuhyun sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi. Isakannya semakin keras. Tanpa disadarinya, mata Donghae yang tertutup ikut mengeluarkan airmata.

*

Changmin dan Minho memutuskan tidak akan membahas hal ini di depan Donghae. mereka mempercayakan Kyuhyun untuk membujuk Donghae. mereka yakin, Donghae akan lebih mendengar Kyuhyun daripada mereka.

Jadi mereka mengunjungi Donghae dengan wajah riang seperti biasanya. Pura-pura tidak tahu apa yang akan sebenarnya terjadi. Mereka pura-pura percaya ketika lagi-lagi Donghae mengatakan bahwa ia terlalu lelah dan kurang darah hingga harus lebih banyak istirahat.

Mereka bahkan menghibur Donghae agar cepat sembuh dan untuk sementara tidak perlu mencemaskan urusan café dulu. Mereka akan mengerjakannya. Kyuhyunlah yang ditugaskan menjaga Donghae di rumah sakit. Karena Changmin harus mengawasi café. Tingkat rasionalnya jauh lebih tinggi. Ia tipe berkepala dingin yang bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan pribadi. Ia tidak akan membiarkan café jadi terbengkalai hanya karena ownernya sakit.

Sedangkan Minho dengan keras langsung menolak untuk menjaga Donghae. Karena ia tidak tahan untuk menangis setiap melihat wajah bosnya itu. Ia takut upaya mereka untuk menutupi hal ini dari Donghae akan terbongkar.

“Kyu, tolong jangan biarkan ia melakukan hal-hal aneh. Paksa dia minum obatnya dan usahakan tidurnya cukup. Kami bergantung padamu, Kyu.” Kata Changmin. Sedangkan Minho disampingnya lagi-lagi menangis.

“Minho-ya, sudahlah. Menangis tidak akan membuat Donghae hyung sembuh. Lagipula kau membuat kami sedih mendengar tangisanmu. Ingat, kau harus kuat. Kita harus kuat demi Donghae hyung.” kata Kyuhyun pada Minho.

Changmin dan Minho lalu pamit pulang dan Kyuhyun kembali masuk ke kamar Donghae. Donghae terlihat sedang mengutak-atik ponselnya. Melihat itu Kyuhyun segera merebut ponsel itu dan mematikannya.

“Ya! Kyuhyun-ah, kenapa kau mengambil ponselku? Kembalikan. Aku sedang bicara dengan pengacaraku.” Kata Donghae terlihat sedikit kesal.

“Pengacara katamu, hyung? Ada apa? Biarkan aku membantumu jika kau ada pekerjaan. Selama kau sakit, aku akan mengurus semua pekerjaanmu. Kau hanya boleh beristirahat dan minum obat.” Kata Kyuhyun yang lalu mengantongi ponsel Donghae.

Donghae terlihat gugup. “Itu.. itu.. aku.. aku ada pekerjaan sedikit. Dan aku meminta pengacaraku membereskannya. Ayolah, kembalikan ponselku.”

Kyuhyun menggeleng tegas.”Tidak! Aku tidak akan mengutak-atik ponselmu, hyung. Aku hanya ingin melihatmu sehat kembali. Jadi selama kau dirawat disini, aku tidak akan membiarkanmu memikirkan pekerjaan. Kau punya aku, Changmin dan Minho. Kau bisa mengandalkan kami dan kau tahu itu. Setelah kau keluar dari sini, aku boleh kembali sibuk, aku berjanji tidak akan mengganggumu. Tapi kumohon, kali ini dengarkan aku.”

Donghae menggerutu kecil. Tapi ia menuruti Kyuhyun. ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti kehendak lelaki yang dicintainya itu. Ia lalu menyantap makanannya dan meminum obatnya. Tak lama setelah itu, Donghae kembali tertidur pulas.

*

Kyuhyun memandang ponsel Donghae di tangannya. Ingin sekali ia cari tahu apa yang sedang dikerjakan Donghae bersama pengacaranya. Ia tahu sebenarnya ini lancang, tapi ia tidak punya pilihan lain. Mungkin ini adalah cara untuk membantu Donghae.

Segera diaktifkannya ponsel itu. Kemudian ada perintah untuk memasukkan password. Kyuhyun menghela nafas. Ternyata ponsel Donghae terkunci. Kembali keraguan menyergapnya. Namun segera ditepiskannya keraguan itu dan mulai mengetik nama lengkap Donghae. Wrong Combination.

Kemudian Kyuhyun mencoba memasukkan tanggal lahir Donghae. Kembali tulisan wrong combination muncul. Lalu ia mencoba memasukkan nama café mereka, namun tetap saja perintahnya salah. Ia punya satu kata terlintas dikepalanya, tapi ia merasa tidak mungkin jika passwordnya demikian. Akhirnya Kyuhyun mencoba harapan terakhirnya. Diketikkan namanya sendiri. Lalu muncul tulisan “Welcome”. Kembali airmata Kyuhyun jatuh.

Donghae menggunakan namanya sebagai password ponselnya. Artinya Kyuhyun punya pengaruh besar di hidup Donghae. Sedih sekali ia rasa, karena ia tidak mampu memberikan apapun sebagai balasannya selama ini.

Dibukanya kotak pesan Donghae lalu membaca pesannya mulai dari bawah. Begitu banyak pesan, diantaranya dari Changmin, Minho, Kyuhyun sendiri, beberapa nomor tak dikenal,juga dari Mr. Kim, pengacara Donghae.

Kyuhyun membuka pesan dari nama-nama yang ia kenal.

Dari Changmin : “Ia baik-baik saja, hyung. hanya sedikit flu dan demam kurasa. Kau sendiri bagaimana? Cepatlah pulang, kami merindukanmu.”

Dari Minho : “Jangan begitu hyung, aku tahu kau cemas. Tapi aku yakin Kyuhyun baik-baik saja. Aku akan selalu mengabarkan perkembangannya padamu.”

Dari Mr.Kim : “Semua akan diurus sesuai permintaan anda. Saya sudah menyiapkan segalanya. Anda hanya perlu mempelajarinya dulu.”

Dari Changmin : “Aku tahu kau mencintainya, hyung. Walaupun kecil kemungkinannya ia akan melihatmu, tetaplah berusaha. Aku yakin, suatu saat pintu hatinya akan terbuka untukmu.”

Dari Minho : “Walaupun ia tidak pernah bisa menerimamu, aku tahu bahwa ia menyayangimu, hyung. Betapa beruntungnya Kyuhyun memiliki seseorang yang amat mencintainya seperti kau.”

Dari Mr. Kim : “Semua sudah beres, tuan. Anda tinggal menandatanganinya. Begitu waktu yang ditentukan tiba, para pewaris ini akan segera menerima haknya.”

Penglihatan Kyuhyun menjadi kabur. Airmata sudah mengumpul di depan bola matanya. Siap-siap untuk meluncur turun. Begitu berharganya kah dirinya hingga Donghae selalu mencari kabarnya? Masih banyak pesan lain di kotak masuk itu, tapi Kyuhyun tidak mau membacanya. Hanya membuatnya semakin merasa bersalah.

Lalu ia tertarik melihat sebuah pesan di kotak keluar. Hanya ada satu. Dengan cepat Kyuhyun membukanya.

To Changmin : “Melihatnya sudah membuatku bahagia, mengetahui ia bahagia sudah membuatku merasa kuat, melihat senyumnya memberiku semangat dalam menjalani hari-hariku. Aku tidak akan minta apa-apa lagi pada Tuhan selama Kyuhyun bahagia.”

Kyuhyun tidak tahan lagi, airmatanya mengalir deras. Namun sekuat tenaga ia menahan suaranya keluar. Ia  merasakan keinginan kuat untuk membunuh dirinya sendiri yang selama ini begitu apatis terhadap Donghae.

Lalu Kyuhyun tidak sengaja melihat televisi yang menayangkan berita terkini. Seorang penyiar wanita tengah membacakan berita.

Choi Siwon, seorang artis asal Korea yang berkibar di Cina hari ini mengumumkan pertunangannya dengan anak produser terkenal, Jhonny Chen. Anak gadis semata wayang Jhonny Chen yang diketahui bertama Tiffany Chen itu baru saja menyelesaikan pendidikannya di salah satu universitas ternama di Amerika. Pernikahan yang diduga akan digelar secara megah ini kemungkinan akan dilaksanakan..

Kyuhyun tidak dapat mendengar kelanjutan kata-kata si penyiar. Ia mendadak tuli. Dunianya terhenti. Otaknya berhenti bekerja. Bahkan darahnya terasa berhenti mengalir. Ia juga tidak bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

‘Tuhan, jika kau berkenan, tolong ambil nyawaku sekarang juga. Hentikan rasa sakit ini. Hentikan penderitaanku. Biarkan aku pergi tanpa beban.’ Kata Kyuhyun dalam hati.

*

 sifany-siwon-tiffany-super-generation-super-junior-and-girls-generation-17286062-540-469-1

To Be Continued..