Long Time Coming – Chapter 2

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 2

Siang itu Changmin dan Kyuhyun jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kebetulan hari ini mereka dapat hari libur yang sama. Ketika melewati toko yang menjual barang-barang elektronik, Kyuhyun berhenti sebentar di depan televisi yang berjejer. Iklan minuman ringan sedang diputar, ia ingin berlama-lama memandangi wajah sang aktor.

“Kyu, kenapa berhenti disini? Ayo jalan lagi. Aku lapar sekali.” Kata Changmin seraya menarik ujung baju Kyuhyun.

Tapi Kyuhyun tetap diam dan mengamati wajah sang aktor dalam-dalam. ‘Kau tampan sekali sekarang, hyung.’ katanya dalam hati.

“Kyu, berhentilah menatapnya terus-menerus. Kau hanya akan semakin tersiksa karena merindukannya.” Kata Changmin.

Kyuhyun menghela nafas pendek lalu tersenyum menatap Changmin. “Aku memang merindukannya. Tapi aku bahagia ia bisa menggapai impiannya. Dengan menatapnya saja aku sudah bahagia. Tidak penting apakah ia mengingatku atau tidak. Yang penting ia baik-baik saja.”

Changmin memasang tampang masam. “Kau ini bodoh sekali. Kalau saja kau bukan sahabatku, mungkin sudah kupukul kau berlaki-kali.”

“Ya, kau ini jahat sekali. Kau belum pernah jatuh cinta, makanya kau bersikap seperti ini.” Kata Kyuhyun membela diri.

“Kata siapa aku belum pernah jatuh cinta? Aku pernah merasakannya. Tapi aku rasional. Jika memang orang itu tidak menganggapku ada, untuk apa aku menunggunya? Aku tidak mau buta karena cinta.”

Kyuhyun terdiam mendengar kata-kata Changmin. Memang benar ia bodoh karena menunggu selama itu. Tapi apakah ia tidak boleh menunggu seseorang yang amat dicintainya? Apakah menunggu Siwon itu suatu kesalahan?

“Kyu, aku bukannya tidak mau kau bersama Siwon. Tapi aku sebagai sahabatmu merasa kasihan padamu. Kau begitu setia menunggunya. Mendoakan kebahagiaan dan kesehatannya. Tapi ia sendiri tidak pernah memberimu kabar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Menyerahlah Kyu, mungkin Siwon memang bukan untukmu.” Kata Changmin lagi.

“Biarkan aku menunggu, Minnie. Karena aku sama sekali tidak lelah. Jika suatu saat aku lelah, pasti aku akan menyerah. Menyerah untuk menunggunya, bukan menyerah untuk mencintainya.”

Changmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebodohan sahabatnya itu.

*

            Hari itu pengunjung café ramai sekali. Kyuhyun yang biasanya hanya memantau para pelayan bekerja, mau tidak mau ikut turun tangan mencatat pesanan pelanggan. Barulah menjelang jam pukul 10 malam, jumlah pengunjung menurun.

“Wah.. hari ini ramai sekali. Untung persediaan masih sangat banyak. Kalau tadi tiba-tiba habis, kita bisa mati.” Kata Changmin.

“Benar, aku juga sampai lelah sekali harus menukar uang kecil. Nota juga hampir habis. Wah, kita untung besar hari ini. Pasti Donghae hyung senang sekali ya?” kata Minho menambahkan.

“Tapi, dimana Donghae hyung? terakhir aku melihatnya tadi sore. Apa ia sedang keluar?” Tanya Kyuhyun.

Minho menggeleng. “Aku tidak melihatnya keluar sejak tadi. Mungkin ia masih di kantornya. Siapa tahu pekerjaannya banyak?”

“Tapi ini aneh. Sesibuk apapun Donghae hyung, ia akan turun untuk makan malam. Ataupun jika kita sedang ramai, ia pasti akan mengecek setiap setengah jam sekali. Daritadi ia tidak keluar dari ruangannya.” Kata Changmin. Wajahnya kini terlihat cemas.

“Aku akan mengecek keatas. Kalian lanjutkanlah pekerjaan kalian. Sebentar lagi kita tutup kan?” kata Kyuhyun. Ia lalu berjalan menaiki tangga menuju ke ruang kerja Donghae.

Kyuhyun mengetuk pintu berpelitur indah itu. Beberapa kali mengetuk tapi tetap saja tidak ada jawaban. Kecemasan kini memenuhi hati Kyuhyun. Dibukanya pintu itu lalu melangkah masuk.

Donghae terlihat sedang duduk bersandar di kursi dibalik meja kerjanya. Rupanya ia sedang tidur. Kyuhyun ingin langsung meninggalkan ruangan itu tapi ia ingat Donghae belum makan malam.

Kyuhyun lalu mencoba membangunkan bosnya itu. “Hyung.. Donghae hyung, bangunlah. Sudah malam, kau harus makan.”

Tapi berkali-kali Kyuhyun mengguncang tubuh Donghae, lelaki itu tetap saja diam. Matanya tetap tertutup. Kecemasan Kyuhyun semakin menjadi-jadi.

“Hyung, bangunlah.” Kini Kyuhyun setengah berteriak.

Namun lagi-lagi Donghae tetap bergeming. Kyuhyun meraba nadi Donghae, lelaki itu masih bernafas. Namun badan Donghae panas sekali. Dengan cepat ia menghubungi Changmin dan Minho lewat telepon di ruangan Donghae.

“Donghae hyung pingsan. Ayo segera bantu aku membawanya ke rumah sakit.” Kata Kyuhyun tergesa-gesa setelah Minho menjawab teleponnya.

*

            Kyuhyun dan Minho masih duduk menemani Donghae di ruang rawat inap. Changmin sudah pulang, karena besok jadwalnya masuk pagi. Kata dokter yang tadi memeriksa Donghae, lelaki itu terkena gejala typhus. Karena terlalu lelah bekerja dan kurang tidur.

“Hyung, kau harusnya tidak bekerja selelah ini. Lihatlah kau, belum punya istri tapi sudah sakit-sakitan. Siapa yang nantinya mengurusmu?” kata Minho mengomeli atasannya.

“Kalian tahu sendiri aku sedang dalam proses membuka cabang baru di Myeongdong. Jadi wajar kalau aku lebih sibuk akhir-akhir ini.” Kata Donghae. Suaranya terdengar lemah.

“Kau bisa meminta bantuan kami, hyung. Kau tahu kami selalu bisa membantumu kapanpun kau membutuhkannya.” Kata Kyuhyun.

Donghae menggeleng. “Tidak, Kyu. Kalian harus focus pada café kita ini. Tamu kita kan banyak sekali, aku tidak mau pekerjaan kalian tambah berat. Biarlah aku yang sakit daripada kalian. Café ini hidup karena kalian bertiga juga karyawan lain, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian.”

“Lalu kalau terjadi apa-apa padamu kami harus bagaimana, hyung? Kau kira kami senang melihatmu seperti ini?” kata Minho kesal. Memang ialah yang paling dekat dengan Donghae. karena apartemen Donghae dekat dengan rumahnya. Donghae juga yang memberi Minho pekerjaan.

“Baiklah, aku minta maaf. Jangan marah padaku seperti itu. Aku sedang sakit, masa kau tega memarahiku?” bujuk Donghae.

“Baiklah. Kau menang, hyung. aku pulang dulu. Eomma sudah meneleponku berulang kali. Jaga dirimu, ne? Aku akan menjengukmu besok. Kyuhyun-ssi, tolong jaga Hae hyung.” kata Minho.

Baik Kyuhyun maupun Donghae mengangguk. Tak lama setelah Minho pergi, Donghae menyuruh Kyuhyun pulang.

“Kyu, pulanglah. Kau juga perlu istirahat. Aku baik-baik saja.”

“Tidak. Aku akan menjagamu disini. Kau tidak punya siapa-siapa hyung. Siapa yang akan menjagamu kalau bukan salah satu dari kami?” kata Kyuhyun tegas.

“Aku bisa sendiri. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Kau harus beristirahat. Aku mempercayakan café padamu, Kyu.” Kata Donghae bersikeras.

“Jangan bicara yang tidak-tidak hyung! Sekarang istirahatlah. Semakin cukup istirahatmu, kau akan lebih cepat pulang.” Kata Kyuhyun yang tidak menggubris perkataan Donghae barusan.

Lalu di televisi muncul iklan minuman ringan yang dibintangi Siwon. Donghae melirik Kyuhyun yang tampaknya terkesima dengan akting Siwon.

“Kyu, tidak pernahkah kau mencoba menghubunginya duluan? Siapa tahu ponselnya rusak atau nomor teleponnya hilang dari ponselnya atau apalah. Kau setidaknya mencari tahu. Kasiahan kau yang terus-terusan seperti ini.” Kata Donghae.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung. Aku sudah pernah berjanji tidak akan menghubunginya terlebih dahulu. Ia pernah bilang bahwa ponselnya diawasi oleh managernya. Kalau aku nekad, ia bisa kena masalah.”

‘Kyu, jika saja kau mau membuka hatimu, tentunya aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakanmu. Melihatmu seperti ini membuatku sedih.’ Kata Donghae dalam hati.

“Kyu, aku tahu kau mencintainya. Tapi apa kau mau hidup dengan sejuta pertanyaan di benakmu? Carilah ia Kyu, cari jawaban yang selama ini mengganggumu. Kalau kau terus-terusan menunggunya menghubungimu, itu mungkin tidak akan terjadi. Kaulah yang harus mencari jawabannya. Sesakit apapun, hal itu akan memuaskanmu. Jangan biarkan dirimu bertanya-tanya terus.”

“Apa yang harus kulakukan untuk itu, hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Aku akan membantumu. Aku akan mencari cara menghubungi Siwon. Setidaknya kau harus mendengar sendiri dari mulutnya alasan mengapa ia tidak pernah menghubungimu.”

*

            Kyuhyun terbangun dari tidurnya, dirasakan sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan itu.. sentuhan yang ia rindukan.. Mengapa terasa lebih nyata? Kyuhyun segera membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada di kamarnya. Lalu ia mendapati Choi Siwon sedang menatapnya penuh kerinduan.

“Hyungg.. Siwon hyunggg..” bisik Kyuhyun. Tangannya menyentuh setiap jengkal dari wajah Siwon. Rasanya ia tidak percaya bahwa Siwon sudah ada di hadapannya kini.

“Stt.. tenanglah baby, hyung ada disini. Kau baik-baik saja selama ini kan?” Tanya Siwon.

“Tidak hyung, aku tidak baik-baik saja. Aku terlalu merindukanmu. Mengapa kau tidak pernah menghubungiku?” Tanya Kyuhyun liar.

Siwon memeluk Kyuhyun erat. “Itu tidak penting, Kyu. Yang penting aku baik-baik saja, dan aku senang ternyata kau baik-baik saja.”

Kyuhyun membalas pelukan Siwon tak kalah erat. Ia tidak ingin melepaskannya. Delapan tahun tidak menyentuh Siwon merupakan siksaan terberat dalam hidupnya.

“Kyu, aku harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik. Jangan khawatir padaku. Aku juga baik-baik saja.” Kata Siwon seraya melepaskan pelukannya.

“Hyung.. kau mau kemana? Kumohon, jangan pergi lagi. Bukankah kau datang untuk menjemputku?” Tanya Kyuhyun panik.

Siwon tidak menjawab. Raut wajahnya menegang dan menatap Kyuhyun dingin. Lalu kegelapan menyelimutinya.

“Tidak..! Siwon hyungggg…!” jerit Kyuhyun.

Tepat saat itu ia merasakan guncangan keras di bahunya. Ia lalu membuka matanya. Ternyata ia masih di rumah sakit. Donghae tengah menatapnya cemas.

“Kyu, kau baik-baik saja?” Tanya Donghae.

Kyuhyun lalu memeluk Donghae dan menangis keras. Akhirnya tumpah juga airmata yang ditahannya selama ini.

“Shhh.. Kyu, tenanglah. Itu cuma mimpi.” Kata Donghae lembut. Ia tidak mau berkomentar banyak. Ia tidak ingin Kyuhyun jadi tambah sedih.

“Hyunggg, aku tidak tahan lagi. Aku benar-benar merindukannya. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar ia mengingatku. Aku mencoba menunggunya terus-menerus tapi sepertinya ia bahkan tidak sadar kalau aku pernah ada di hidupnya.” Kyuhyun mengeluarkan segala yang selama ini menyesakkan dadanya.

Donghae hanya diam sambil memeluk Kyuhyun. Dibiarkannya Kyuhun menumpahkan semua isi hatinya selama ini. Biar Kyuhyun lega.

“Apa aku masih ada di hatinya, hyung? Apa ia masih ingat semua yang pernah terjadi diantara kami? Apa ia masih bisa mengingat sedikit saja bahwa ada orang lain menunggunya disini?”

Hati Donghae sakit mendengar semuanya. Siapapun tidak akan tega melihat Kyuhyun seperti ini. Siwon benar-benar keterlaluan. Jika memang ia tidak ingin Kyuhyun ada di hidupnya, setidaknya ia harus memberitahu Kyuhyun agar Kyuhyun tidak menunggunya. Menunggu dalam kesia-siaan. Menunggu harapan palsu.

“Uljima Kyu. Tenangkanlah dirimu. Aku tahu kau adalah pria yang kuat. Selama delapan tahun kau berusaha berdiri sendiri dan kau berhasil. Tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah lelaki tangguh. Dengar, aku telah berjanji bahwa aku akan membantumu menghubungi Siwon. Tapi kau harus berjanji padaku, apapun kenyataan yang kita dapati, kau akan menerimanya dengan lapang dada.” Kata Donghae.

Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Donghae. Hanya itu harapan satu-satunya. Ia sudah siap jika ternyata Siwon memilih untuk meninggalkannya selamanya. Ia harus merelakan kebahagiannya demi kebahagiaan lelaki yang dicintainya.

Donghae lalu melepaskan pelukannya. “Kembalilah tidur Kyu, kau butuh istirahat. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”

Kyuhyun menurut ketika Donghae menyelimutinya. Kyuhyun tidur di sofa karena tempat tidur di kamar itu hanya ada satu. Namun sofa yang ditempati Kyuhyun cukup besar dan panjang.

Kyuhyun berbaring sementara Donghae duduk disampinya. Mengelus rambutnya dengan lembut, membuatnya mengantuk. Namun berkali-kali dicobanya untuk tidur, tetap saja ia tidak bisa. Dipandanginya Donghae yang terlihat mengantuk. Kyuhyun jadi merasa bersalah. Donghae tengah sakit saat ini, tapi ia malah mengurus Kyuhyun yang tengah bermimpi buruk.

“Hyung, maukah kau tidur bersamaku disini? Bolehkah aku memelukmu?” Tanya Kyuhyun hati-hati.

Donghae tersenyum sabar. “Tentu saja Kyu. Kemarilah.”

Kyuhyun lalu memeluk Donghae dan menyandarkan kepalanya di bahu bosnya itu. merasakan tubuh hangat Donghae, menghirup aroma parfumnya yang lembut tapi maskulin, membuat Kyuhyun jadi mengantuk. Dalam beberapa detik ia sudah tertidur pulas.

*

happybath211

To Be Continued..

74 thoughts on “Long Time Coming – Chapter 2

  1. Ohgohho lebih kyu ama donghae aja kasian kan donghae nya rela nungguin kyu sampai kyu mau buka hati buat dia

  2. huaaaaa haekyu nya romantis waktu tidur bareng aku lebih setuju kyuhyun sama donghae karena donghae rela melakukan apa saja untuk kyu semoga endingnya bener bener haekyu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s