Another WonKyu Moment

Lihat di video ini deh, kelihatan banget kalau Kyuhyun itu butuh perhatian dari Siwon. Yang kita tahu kan dia suka jual mahal kan? Nah disini kelihatan banget ‘butuh’ nya Kyuhyun ke Siwon.

Lagi-lagi ini video Super Show 3 tapi kali ini di Guangzhou. Ada yang mau berfantasi lagi? Silahkan deskripsikan sikap Kyuhyun yang awkward disini..

Credit : The Cho-i Belief on Youtube

Long Time Coming – Chapter 2

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 2

Siang itu Changmin dan Kyuhyun jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kebetulan hari ini mereka dapat hari libur yang sama. Ketika melewati toko yang menjual barang-barang elektronik, Kyuhyun berhenti sebentar di depan televisi yang berjejer. Iklan minuman ringan sedang diputar, ia ingin berlama-lama memandangi wajah sang aktor.

“Kyu, kenapa berhenti disini? Ayo jalan lagi. Aku lapar sekali.” Kata Changmin seraya menarik ujung baju Kyuhyun.

Tapi Kyuhyun tetap diam dan mengamati wajah sang aktor dalam-dalam. ‘Kau tampan sekali sekarang, hyung.’ katanya dalam hati.

“Kyu, berhentilah menatapnya terus-menerus. Kau hanya akan semakin tersiksa karena merindukannya.” Kata Changmin.

Kyuhyun menghela nafas pendek lalu tersenyum menatap Changmin. “Aku memang merindukannya. Tapi aku bahagia ia bisa menggapai impiannya. Dengan menatapnya saja aku sudah bahagia. Tidak penting apakah ia mengingatku atau tidak. Yang penting ia baik-baik saja.”

Changmin memasang tampang masam. “Kau ini bodoh sekali. Kalau saja kau bukan sahabatku, mungkin sudah kupukul kau berlaki-kali.”

“Ya, kau ini jahat sekali. Kau belum pernah jatuh cinta, makanya kau bersikap seperti ini.” Kata Kyuhyun membela diri.

“Kata siapa aku belum pernah jatuh cinta? Aku pernah merasakannya. Tapi aku rasional. Jika memang orang itu tidak menganggapku ada, untuk apa aku menunggunya? Aku tidak mau buta karena cinta.”

Kyuhyun terdiam mendengar kata-kata Changmin. Memang benar ia bodoh karena menunggu selama itu. Tapi apakah ia tidak boleh menunggu seseorang yang amat dicintainya? Apakah menunggu Siwon itu suatu kesalahan?

“Kyu, aku bukannya tidak mau kau bersama Siwon. Tapi aku sebagai sahabatmu merasa kasihan padamu. Kau begitu setia menunggunya. Mendoakan kebahagiaan dan kesehatannya. Tapi ia sendiri tidak pernah memberimu kabar. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Menyerahlah Kyu, mungkin Siwon memang bukan untukmu.” Kata Changmin lagi.

“Biarkan aku menunggu, Minnie. Karena aku sama sekali tidak lelah. Jika suatu saat aku lelah, pasti aku akan menyerah. Menyerah untuk menunggunya, bukan menyerah untuk mencintainya.”

Changmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebodohan sahabatnya itu.

*

            Hari itu pengunjung café ramai sekali. Kyuhyun yang biasanya hanya memantau para pelayan bekerja, mau tidak mau ikut turun tangan mencatat pesanan pelanggan. Barulah menjelang jam pukul 10 malam, jumlah pengunjung menurun.

“Wah.. hari ini ramai sekali. Untung persediaan masih sangat banyak. Kalau tadi tiba-tiba habis, kita bisa mati.” Kata Changmin.

“Benar, aku juga sampai lelah sekali harus menukar uang kecil. Nota juga hampir habis. Wah, kita untung besar hari ini. Pasti Donghae hyung senang sekali ya?” kata Minho menambahkan.

“Tapi, dimana Donghae hyung? terakhir aku melihatnya tadi sore. Apa ia sedang keluar?” Tanya Kyuhyun.

Minho menggeleng. “Aku tidak melihatnya keluar sejak tadi. Mungkin ia masih di kantornya. Siapa tahu pekerjaannya banyak?”

“Tapi ini aneh. Sesibuk apapun Donghae hyung, ia akan turun untuk makan malam. Ataupun jika kita sedang ramai, ia pasti akan mengecek setiap setengah jam sekali. Daritadi ia tidak keluar dari ruangannya.” Kata Changmin. Wajahnya kini terlihat cemas.

“Aku akan mengecek keatas. Kalian lanjutkanlah pekerjaan kalian. Sebentar lagi kita tutup kan?” kata Kyuhyun. Ia lalu berjalan menaiki tangga menuju ke ruang kerja Donghae.

Kyuhyun mengetuk pintu berpelitur indah itu. Beberapa kali mengetuk tapi tetap saja tidak ada jawaban. Kecemasan kini memenuhi hati Kyuhyun. Dibukanya pintu itu lalu melangkah masuk.

Donghae terlihat sedang duduk bersandar di kursi dibalik meja kerjanya. Rupanya ia sedang tidur. Kyuhyun ingin langsung meninggalkan ruangan itu tapi ia ingat Donghae belum makan malam.

Kyuhyun lalu mencoba membangunkan bosnya itu. “Hyung.. Donghae hyung, bangunlah. Sudah malam, kau harus makan.”

Tapi berkali-kali Kyuhyun mengguncang tubuh Donghae, lelaki itu tetap saja diam. Matanya tetap tertutup. Kecemasan Kyuhyun semakin menjadi-jadi.

“Hyung, bangunlah.” Kini Kyuhyun setengah berteriak.

Namun lagi-lagi Donghae tetap bergeming. Kyuhyun meraba nadi Donghae, lelaki itu masih bernafas. Namun badan Donghae panas sekali. Dengan cepat ia menghubungi Changmin dan Minho lewat telepon di ruangan Donghae.

“Donghae hyung pingsan. Ayo segera bantu aku membawanya ke rumah sakit.” Kata Kyuhyun tergesa-gesa setelah Minho menjawab teleponnya.

*

            Kyuhyun dan Minho masih duduk menemani Donghae di ruang rawat inap. Changmin sudah pulang, karena besok jadwalnya masuk pagi. Kata dokter yang tadi memeriksa Donghae, lelaki itu terkena gejala typhus. Karena terlalu lelah bekerja dan kurang tidur.

“Hyung, kau harusnya tidak bekerja selelah ini. Lihatlah kau, belum punya istri tapi sudah sakit-sakitan. Siapa yang nantinya mengurusmu?” kata Minho mengomeli atasannya.

“Kalian tahu sendiri aku sedang dalam proses membuka cabang baru di Myeongdong. Jadi wajar kalau aku lebih sibuk akhir-akhir ini.” Kata Donghae. Suaranya terdengar lemah.

“Kau bisa meminta bantuan kami, hyung. Kau tahu kami selalu bisa membantumu kapanpun kau membutuhkannya.” Kata Kyuhyun.

Donghae menggeleng. “Tidak, Kyu. Kalian harus focus pada café kita ini. Tamu kita kan banyak sekali, aku tidak mau pekerjaan kalian tambah berat. Biarlah aku yang sakit daripada kalian. Café ini hidup karena kalian bertiga juga karyawan lain, aku tidak mau terjadi apa-apa pada kalian.”

“Lalu kalau terjadi apa-apa padamu kami harus bagaimana, hyung? Kau kira kami senang melihatmu seperti ini?” kata Minho kesal. Memang ialah yang paling dekat dengan Donghae. karena apartemen Donghae dekat dengan rumahnya. Donghae juga yang memberi Minho pekerjaan.

“Baiklah, aku minta maaf. Jangan marah padaku seperti itu. Aku sedang sakit, masa kau tega memarahiku?” bujuk Donghae.

“Baiklah. Kau menang, hyung. aku pulang dulu. Eomma sudah meneleponku berulang kali. Jaga dirimu, ne? Aku akan menjengukmu besok. Kyuhyun-ssi, tolong jaga Hae hyung.” kata Minho.

Baik Kyuhyun maupun Donghae mengangguk. Tak lama setelah Minho pergi, Donghae menyuruh Kyuhyun pulang.

“Kyu, pulanglah. Kau juga perlu istirahat. Aku baik-baik saja.”

“Tidak. Aku akan menjagamu disini. Kau tidak punya siapa-siapa hyung. Siapa yang akan menjagamu kalau bukan salah satu dari kami?” kata Kyuhyun tegas.

“Aku bisa sendiri. Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Kau harus beristirahat. Aku mempercayakan café padamu, Kyu.” Kata Donghae bersikeras.

“Jangan bicara yang tidak-tidak hyung! Sekarang istirahatlah. Semakin cukup istirahatmu, kau akan lebih cepat pulang.” Kata Kyuhyun yang tidak menggubris perkataan Donghae barusan.

Lalu di televisi muncul iklan minuman ringan yang dibintangi Siwon. Donghae melirik Kyuhyun yang tampaknya terkesima dengan akting Siwon.

“Kyu, tidak pernahkah kau mencoba menghubunginya duluan? Siapa tahu ponselnya rusak atau nomor teleponnya hilang dari ponselnya atau apalah. Kau setidaknya mencari tahu. Kasiahan kau yang terus-terusan seperti ini.” Kata Donghae.

Kyuhyun menggeleng. “Tidak hyung. Aku sudah pernah berjanji tidak akan menghubunginya terlebih dahulu. Ia pernah bilang bahwa ponselnya diawasi oleh managernya. Kalau aku nekad, ia bisa kena masalah.”

‘Kyu, jika saja kau mau membuka hatimu, tentunya aku akan berusaha sekuat tenaga membahagiakanmu. Melihatmu seperti ini membuatku sedih.’ Kata Donghae dalam hati.

“Kyu, aku tahu kau mencintainya. Tapi apa kau mau hidup dengan sejuta pertanyaan di benakmu? Carilah ia Kyu, cari jawaban yang selama ini mengganggumu. Kalau kau terus-terusan menunggunya menghubungimu, itu mungkin tidak akan terjadi. Kaulah yang harus mencari jawabannya. Sesakit apapun, hal itu akan memuaskanmu. Jangan biarkan dirimu bertanya-tanya terus.”

“Apa yang harus kulakukan untuk itu, hyung?” Tanya Kyuhyun.

“Aku akan membantumu. Aku akan mencari cara menghubungi Siwon. Setidaknya kau harus mendengar sendiri dari mulutnya alasan mengapa ia tidak pernah menghubungimu.”

*

            Kyuhyun terbangun dari tidurnya, dirasakan sentuhan lembut di pipinya. Sentuhan itu.. sentuhan yang ia rindukan.. Mengapa terasa lebih nyata? Kyuhyun segera membuka matanya dan mendapati dirinya sedang berada di kamarnya. Lalu ia mendapati Choi Siwon sedang menatapnya penuh kerinduan.

“Hyungg.. Siwon hyunggg..” bisik Kyuhyun. Tangannya menyentuh setiap jengkal dari wajah Siwon. Rasanya ia tidak percaya bahwa Siwon sudah ada di hadapannya kini.

“Stt.. tenanglah baby, hyung ada disini. Kau baik-baik saja selama ini kan?” Tanya Siwon.

“Tidak hyung, aku tidak baik-baik saja. Aku terlalu merindukanmu. Mengapa kau tidak pernah menghubungiku?” Tanya Kyuhyun liar.

Siwon memeluk Kyuhyun erat. “Itu tidak penting, Kyu. Yang penting aku baik-baik saja, dan aku senang ternyata kau baik-baik saja.”

Kyuhyun membalas pelukan Siwon tak kalah erat. Ia tidak ingin melepaskannya. Delapan tahun tidak menyentuh Siwon merupakan siksaan terberat dalam hidupnya.

“Kyu, aku harus pergi. Jagalah dirimu baik-baik. Jangan khawatir padaku. Aku juga baik-baik saja.” Kata Siwon seraya melepaskan pelukannya.

“Hyung.. kau mau kemana? Kumohon, jangan pergi lagi. Bukankah kau datang untuk menjemputku?” Tanya Kyuhyun panik.

Siwon tidak menjawab. Raut wajahnya menegang dan menatap Kyuhyun dingin. Lalu kegelapan menyelimutinya.

“Tidak..! Siwon hyungggg…!” jerit Kyuhyun.

Tepat saat itu ia merasakan guncangan keras di bahunya. Ia lalu membuka matanya. Ternyata ia masih di rumah sakit. Donghae tengah menatapnya cemas.

“Kyu, kau baik-baik saja?” Tanya Donghae.

Kyuhyun lalu memeluk Donghae dan menangis keras. Akhirnya tumpah juga airmata yang ditahannya selama ini.

“Shhh.. Kyu, tenanglah. Itu cuma mimpi.” Kata Donghae lembut. Ia tidak mau berkomentar banyak. Ia tidak ingin Kyuhyun jadi tambah sedih.

“Hyunggg, aku tidak tahan lagi. Aku benar-benar merindukannya. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi agar ia mengingatku. Aku mencoba menunggunya terus-menerus tapi sepertinya ia bahkan tidak sadar kalau aku pernah ada di hidupnya.” Kyuhyun mengeluarkan segala yang selama ini menyesakkan dadanya.

Donghae hanya diam sambil memeluk Kyuhyun. Dibiarkannya Kyuhun menumpahkan semua isi hatinya selama ini. Biar Kyuhyun lega.

“Apa aku masih ada di hatinya, hyung? Apa ia masih ingat semua yang pernah terjadi diantara kami? Apa ia masih bisa mengingat sedikit saja bahwa ada orang lain menunggunya disini?”

Hati Donghae sakit mendengar semuanya. Siapapun tidak akan tega melihat Kyuhyun seperti ini. Siwon benar-benar keterlaluan. Jika memang ia tidak ingin Kyuhyun ada di hidupnya, setidaknya ia harus memberitahu Kyuhyun agar Kyuhyun tidak menunggunya. Menunggu dalam kesia-siaan. Menunggu harapan palsu.

“Uljima Kyu. Tenangkanlah dirimu. Aku tahu kau adalah pria yang kuat. Selama delapan tahun kau berusaha berdiri sendiri dan kau berhasil. Tunjukkan pada dunia bahwa kau adalah lelaki tangguh. Dengar, aku telah berjanji bahwa aku akan membantumu menghubungi Siwon. Tapi kau harus berjanji padaku, apapun kenyataan yang kita dapati, kau akan menerimanya dengan lapang dada.” Kata Donghae.

Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Donghae. Hanya itu harapan satu-satunya. Ia sudah siap jika ternyata Siwon memilih untuk meninggalkannya selamanya. Ia harus merelakan kebahagiannya demi kebahagiaan lelaki yang dicintainya.

Donghae lalu melepaskan pelukannya. “Kembalilah tidur Kyu, kau butuh istirahat. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur.”

Kyuhyun menurut ketika Donghae menyelimutinya. Kyuhyun tidur di sofa karena tempat tidur di kamar itu hanya ada satu. Namun sofa yang ditempati Kyuhyun cukup besar dan panjang.

Kyuhyun berbaring sementara Donghae duduk disampinya. Mengelus rambutnya dengan lembut, membuatnya mengantuk. Namun berkali-kali dicobanya untuk tidur, tetap saja ia tidak bisa. Dipandanginya Donghae yang terlihat mengantuk. Kyuhyun jadi merasa bersalah. Donghae tengah sakit saat ini, tapi ia malah mengurus Kyuhyun yang tengah bermimpi buruk.

“Hyung, maukah kau tidur bersamaku disini? Bolehkah aku memelukmu?” Tanya Kyuhyun hati-hati.

Donghae tersenyum sabar. “Tentu saja Kyu. Kemarilah.”

Kyuhyun lalu memeluk Donghae dan menyandarkan kepalanya di bahu bosnya itu. merasakan tubuh hangat Donghae, menghirup aroma parfumnya yang lembut tapi maskulin, membuat Kyuhyun jadi mengantuk. Dalam beberapa detik ia sudah tertidur pulas.

*

happybath211

To Be Continued..

Long Time Coming – Chapter 1

Title                 :  Long Time Coming

Rate                 : T

Genre              : Romance, Hurt

Pairing             : WonKyu, KyuHae

Warning          : BL, OOC, typo (es)

Summary          : Kyuhyun selalu terbayang akan memory sang kekasih yang meninggalkannya sekian lama. tidak seharipun ia bisa melupakan kenangan indah mereka. Akankah Kyuhyun menyerah?

CHAPTER 1

Kyuhyun membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Cahaya mentari masuk melalui celah dedaunan menyapa sang namja bertubuh kurus itu.  Ia menutup matanya lalu dihirupnya udara segar pagi itu. Dikepalanya berputar memory indah yang tidak akan pernah ia lupakan. Memory dimana setiap pagi, di tempat yang sama di depan jendela ini, sebuah tangan kekar akan memeluknya hangat seraya mengucapkan selamat pagi.

Kyuhyun tersenyum. Delapan tahun lamanya sang kekasih pergi, demi cita-citanya. Dan sekarang masih juga belum kembali. Walau saat itu sangat berat, tapi demi kebahagiaan sang kekasih yang juga menjanjikan kebahagiaan mereka kelak, ia rela melepaskannya pergi, dengan harapan suatu saat sang kekasih akan kembali padanya.

Kyuhyun lalu segera menyiapkan dirinya untuk pergi kerja. Ketika berjalan menuju tempat kerjanya, ia melewati taman kecil. Taman biasa ia dan sang kekasih menghabiskan waktu bersama. Bahkan musim sudah berganti menjadi musim semi yang indah. Berapa banyak musim telah ia lewati sendiri menunggu sang kekasih, namun sang kekasih tak juga datang. Bahkan kabarpun tak ada. Tapi Kyuhyun tetap setia menunggu. Ia yakin, suatu saat sang kekasih akan datang menjemputnya.membawa harapan dan impian.

Begitu tiba di tempat kerjanya ia lagi-lagi tersenyum. Di cafe inilah ia bekerja selama delapan tahun setelah kepergian kekasihnya. Pekerjaan Kyuhyun disana memang double. Siangnya menjadi pelayan, malamnya ia menjadi penyanyi dengan pianonya.

“Kyu.. Memikirkannya lagi?” Tanya namja yang baru saja datang.

Kyuhyun menoleh dan tersenyum pada salah satu sahabatnya itu. “Selamat pagi Minnie.”

Namja tinggi bernama Changmin itu tersenyum. Ditariknya tangan Kyuhyun memasuki café tersebut.

“Kyu, mengapa kau belum juga bisa melupakannya. Belum tentu ia masih mengingatmu. Lihat saja, ia tidak pernah menghubungimu selama delapan tahun. Kekasih macam apa itu?” omel Changmin.

Kyuhyun lagi-lagi tersenyum. “Ia sibuk, Minnie. Kau lihat saja di televisi. Jadwalnya padat sekali. Dan aku mengerti kalau ia tidak sempat menghubungiku. Tapi aku yakin, aku masih selalu ada di hatinya.”

Changmin mencibir. “Susah sekali bicara denganmu kalau sudah menyangkut kekasih bodohmu itu. Untung saja kau yang jadi pacarnya. Kalau aku yang ada di posisimu, akan kubuat ia menyesal seumur hidup.”

Kyuhyun baru akan membalas ketika lelaki lain muncul dari balik pintu masuk.

“Selamat pagi, hyung.” kata Kyuhyun.

Lelaki yang disapa Kyuhyun hanya tersenyum seraya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya. Lelaki itu bernama Lee Donghae, sang pemilik café.

“Kyu, lebih baik kau bersama Hae Hyung. Dia selalu ada selama ini untukmu, kan? Daripada kau menunggu kekasih tidak jelasmu itu.” lagi-lagi Changmin mengomeli Kyuhyun.

Kyuhyun terdiam. Donghae memang selalu ada saat dibutuhkan, tapi entah mengapa sulit sekali untuk Kyuhyun membuka hati pada orang lain selain pada kekasihnya.

*

            Pernah dengar kalimat “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina” ? Itulah hal yang sedang dilakukan oleh kekasih Kyuhyun saat ini. Tapi bukan menuntut ilmu, melainkan mengejar cita-cita sampai ke Cina.

Choi Siwon, itulah nama lelaki yang teramat dirindukan Kyuhyun. Kekasih hatinya yang selama tiga tahun telah bersama namun Siwon harus meninggalkan Kyuhyun karena cita-citanya. Saat itu Siwon adalah seorang model biasa di Seoul. Ia tidak juga jadi terkenal seperti apa yang diimpikannya, karena ia selalu menempatkan Kyuhyun diatas segalanya. Baginya, Kyuhyun yang terpenting.

Hingga suatu hari seseorang dari agensi model terbesar di Cina menawarinya bergabung. Dengan catatan ia harus pindah ke Cina dan harus menutupi hubungannya dengan Kyuhyun. Karena para model akan cepat redup karirnya jika diketahui telah memiliki kekasih. Sedangkan orang itu berpendapat bahwa Siwon punya talenta yang besar. Sangat sayang jika disia-siakan.

Awalnya Siwon menolak karena ia tidak mau meninggalkan Kyuhyun. Walaupun ia harus melepaskan mimpinya untuk menjadi aktor terkenal. Tapi Kyuhyun memaksanya pergi, karena ia tahu inilah yang diinginkan Siwon.

Dengan berat hati akhirnya Siwon meninggalkan Kyuhyun dengan janji begitu semuanya bisa diatasi, ia akan kembali dan menjemput Kyuhyun.

Enam bulan pertama adalah masa paling berat yang pernah dilewati Kyuhyun. Ia ingin sekali melihat wajah sang kekasih, tapi apa daya semuanya tak mungkin dengan kesibukan Siwon dan peraturan manajemen barunya.

Siwon dikejutkan dengan jadwal yang padat karena ternyata pasar Cina menerimanya dengan baik. Siwon bahkan tidak bisa pulang ke Seoul walau cuma sehari. Maka ia hanya bisa menghubungi Kyuhyun lewat telepon. Itupun hanya bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Awalnya Siwon menghubungi Kyuhyun setiap hari. Lalu berubah jadi beberapa hari sekali, seminggu sekali, sebulan sekali, hingga akhirnya tidak pernah sama sekali dan itu berlangsung selama tujuh tahun.

Saat itu Kyuhyun amat terpukul. Tapi ia tahu Siwon sangat sibuk. Ia pun yakin Siwon masih selalu mencintainya, sama seperti dirinya. Lagipula Kyuhyun sendiri yang meminta Siwon untuk menerima tawaran dari Cina itu.

Tapi saat ini, Kyuhyun sudah bisa mengatasi segalanya. Ia mulai bisa menerima ketidakhadiran Siwon. Hidup dengan tenang tanpa beban. Menjalani semuanya dengan rasa ikhlas. Ia hanya punya satu keyakinan bahwa suatu hari nanti Siwon akan datang menjemputnya, walaupun ia harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menunggu.

*

            Kyuhyun berbelanja di mini market 24 jam terdekat dengan rumahnya sewaktu pulang bekerja. Beberapa kebutuhan sehari-harinya sudah mulai habis. Ia tidak bisa ke pasar karena ia bekerja pagi-pagi dan pulang tengah malam. Dan ia menyukai pekerjaannya lebih dari apapun. Maka ia tidak pernah keberatan jika jam kerjanya lebih dari seharusnya. Dengan kerja kerasnya itu, ia akhirnya diangkat jadi supervisor.

Ketika sedang memilih-milih sayuran, ia melihat poster yang terpampang di dinding. Poster itu berisi iklan  minuman ringan. Seorang lelaki tampan terlihat sedang tersenyum sambil memegang minuman tersebut dalam gambar itu. Kyuhyun meraba poster itu tepat di bagian wajah sang lelaki berada. Siwonnya yang tampan. Kini manjadi begitu terkenal.

“Kyu? Sedang apa kau disini?”

Kyuhyun menoleh dan mendapati Donghae sudah ada di belakangnya. Kyuhyun segera melepaskan tangannya dari poster itu.

“Eh, Donghae hyung. Aku sedang berbelanja. Kebetulan aku..” kata Kyuhyun terbata-bata.

Donghae tersenyum sabar. “Kau tidak perlu gugup begitu. Wajar kalau kau merindukannya. Ayo, kalau kau sudah selesai berbelanja aku akan mengantarmu pulang.”

Kyuhyun mengangguk. Lee Donghae selalu bisa diandalkan. Selalu ada saat Kyuhyun butuh. Selalu siaga menolong jika diperlukan. Tapi ia juga sangat menghargai perasaan Kyuhyun. ia tidak seperti Changmin yang terang-terangan menyuruh Kyuhyun untuk melupakan Siwon. Donghae justru sebaliknya, ia memberikan nasehat pada Kyuhyun tentang Siwon.

“Kalau aku mencintainya, tunggulah ia. Jangan biarkan angin lain menyapamu. Tapi jika kau sudah lelah menanti, berdoalah semoga ia mendapat yang terbaik. Jangan kau sesali yang sudah terjadi. Jangan kau tangisi yang telah berlalu. Masa depanmu masih panjang. Hidup dan kebahagiaanmu ada ditanganmu sendiri. Putuskanlah yang terbaik.” Begitulah Kata-kata Donghae yang selalu diingatnya.

Betapa dewasanya lelaki itu. Kyuhyun tahu bahwa Donghae menyukainya. Tapi Donghae hanya membiarkan Kyuhyun tahu. Ia tidak pernah memaksakan perasaannya. Membiarkan Kyuhyun selalu berada di bawah bayang-bayang Siwon.

Kyuhyun segera menyelesaikan belanjaannya. Ia tidak mau Donghae menunggunya terlalu lama.

“Kau sudah selesai?” Tanya Donghae ketika Kyuhyun keluar dari mini market.

Kyuhyun mengangguk. “Kau tidak beli apa-apa hyung?”

“Aku hanya beli air mineral dan obat sakit kepala. Aku sedang dalam perjalanan pulang tadi waktu sakit kepalaku kumat. Jadi aku memutuskan untuk membeli obat disini. Tak kusangka kau juga disini.” Kata Donghae seraya memijat kepalanya sedikit.

Donghae lalu mengantar Kyuhyun ke rumahnya.

“Kita sudah sampai Kyu. Istirahatlah. Besok malam minggu, kau harus menyanyi. Jangan lupa aku sudah request. Kau harus membawakan lagu itu.” kata Donghae setelah ia menepikan mobilnya.

Kyuhyun tersenyum. “Jangan khawatir hyung. Aku sudah mempelajari liriknya dengan baik. Kau tunggu saja penampilanku besok malam.”

Donghae mengangguk. “Aku pulang dulu. Sampai ketemu besok.”

Kyuhyun lalu melambaikan tangannya. “Hati-hati di jalan hyung. Selamat malam.”

Sepeninggal Donghae, Kyuhyun memasuki rumahnya. Ketika berjalan melintasi ruang tamu, ia menoleh ke sofa hangat di depan rak buku. Kyuhyun sebenarnya lelah, tapi entah mengapa ia tergoda untuk duduk disana sebentar.

Kyuhyun menjatuhkan pantatnya di sofa empuk itu lalu menyandarkan bahunya yang lelah setelah seharian bekerja. Ia menutup matanya. Lalu kembali memori itu datang. Dirasakannya tangan hangat membelai rambutnya, mencium puncak kepalanya dan menggenggam tangannya.

Sentuhan itu, sentuhan yang ia rindukan. Ia masih bisa merasakan semua dengan jelas walaupun ia tidak bisa mendapatkan sentuhan itu secara nyata semenjak delapan tahun lalu.

Kyuhyun membuka matanya lalu memandang pigura besar di dinding yang menampakkan fotonya bersama Siwon. “Apakah kau baik-baik saja hyung? Apa kau masih mengingatku? Senang rasanya melihatmu sukses sekarang. Seluruh daratan Asia mengenal siapa Choi Siwon. Akhirnya kau dapatkan mimpimu.”

Lama sekali ia duduk diam dan menatap foto Siwon. Lalu ia tersadar malam sudah sangat larut. Ia harus segera beristirahat. Kyuhyun lalu bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke kamarnya.

*

            Para pengunjung café bertepuk tangan ketika Minho menyebutkan nama Kyuhyun malam itu. Kyuhyun menunduk hormat ke para pengunjung café lalu duduk di balik piano. Jari-jarinya lincah bermain diatas tuts piano.

Na oerowododoe neol saenggakhalddaen

Misoga naui eolgule beonjyeo

Na himdeuleododoe niga haengbokhalddaen

Sarangi nae mam gadeukhi chaewo

 

Oneuldo nan geochin sesangsoke saljiman

Himdeuleodo nungameumyeon ni moseubbun

Ajikgo gwitgae deulryeooneun kkumdeuli

Naui gyeoteseo neol hyanghae gago itjana

 

Nae salmi haruharu kkumeul kkuneun geotcheoreom

Neowa hamgge majubomyeo saranghalsu itdamyeon

Dasi ileoseol geoya

 

Naege sojunghaetdeon gieoksokui haengbokdeul

Himdeun sigan sokeseodo deouk ddaseuhaetdeon

Huimangeun naegen jamdeulji aneun kkum

Kyuhyun menanyikan lagu Hope is a Dream That Never Sleep dengan sempurna. Kembali tepuk tangan riuh memenuhi udara.

“Wahhh.. Kyu, suaramu semakin hari semakin bagus saja. Kalau kau jadi artis, jangan lupa mengajakku juga yah?” kata Minho.

Mendengar kata ‘artis’, raut wajah Kyuhyun jadi sedikit murung. Namun dengan tenang ia membalas.

“Kalau begitu, kubur saja mimpimu. Karena aku tidak ingin jadi artis.”

“Kenapa? Suaramu bagus sekali. Lihat, orang-orang disini menyukaimu. Kau harus jadi penyanyi suatu saat nanti.” Kata Changmin menambahkan.

Kyuhyun menggeleng. “Jadi artis memang menyenangkan. Punya popularitas, uang banyak, dipuja dimana-mana dan mendapatkan perlakuan khusus. Tapi ia akan jadi orang lain. Begitu sibuk, hingga menelantarkan orang-orang terdekatnya. Bahkan mungkin ia tidak punya waktu untuk mengurus diri dan kebahagiannya sendiri karena sibuk membuat penggemarnya bahagia.”

Changmin dan Minho terdiam. Mereka tahu Kyuhyun membicarakan Siwon. Donghae yang sedaritadi menguping pembicaraan mereka segera mencairkan suasana.

“Kalian ini bagaimana? Kyuhyun tidak mau jadi artis karena ia terlalu sayang pada kalian. Kalau ia begitu sibuk, bagaimana ia menghabiskan waktu dengan kalian? Benar kan Kyu?”

Kyuhyun mengangguk. “Tentu saja. Lagipula aku mencintai pekerjaan ini. Bersama kalian disini, bernyanyi untuk pelanggan kita, itu sudah cukup. Ini rumah keduaku. Dan karena ini semua, aku bisa bertahan hidup.”

“Kami sayang padamu Kyu, jangan jadi artis kalau begitu. Supaya kita semua bisa selalu bersama-sama.” Kata Changmin lalu memeluk sahabatnya itu. Minho ikut memeluk Kyuhyun dan Changmin.

Donghae tersenyum melihat para pegawainya itu. Changmin sang barista, Minho sang kasir dan Kyuhyun sang supervisor. Ia menjatuhkan matanya pada tubuh kurus Kyuhyun. lelaki itu sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya. Tapi Donghae tahu hatinya terluka.

‘Tabahlah Kyu, suatu saat kebahagiaan akan datang padamu.’ Kata Donghae dalam hati.

*

tumblr_l7kmkdJNE71qbnykoo1_500

To Be Continued..